0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan77 halaman

Persepsi Remaja Terhadap Tinder

Skripsi ini membahas persepsi remaja terhadap aplikasi Tinder sebagai sarana mencari pasangan berdasarkan survei di Ngoresan RT 1 RW 22 Jebres Surakarta. Tinder populer digunakan anak muda untuk berkenalan dan berteman, namun juga dituduh digunakan untuk kejahatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi remaja tentang manfaat dan risiko Tinder dalam mencari pasangan.

Diunggah oleh

Faletehan Sekti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
37 tayangan77 halaman

Persepsi Remaja Terhadap Tinder

Skripsi ini membahas persepsi remaja terhadap aplikasi Tinder sebagai sarana mencari pasangan berdasarkan survei di Ngoresan RT 1 RW 22 Jebres Surakarta. Tinder populer digunakan anak muda untuk berkenalan dan berteman, namun juga dituduh digunakan untuk kejahatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui persepsi remaja tentang manfaat dan risiko Tinder dalam mencari pasangan.

Diunggah oleh

Faletehan Sekti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

PERSEPSI REMAJA TERHADAP APLIKASI TINDER SEBAGAI SARANA

MENCARI PASANGAN

(Survei pada Remaja Rt 1 Rw 22 Jebres Surakarta)

SKRIPSI

Diajukan Guna Melengkapi Tugas-tugas Untuk Mencapai


Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi
Oleh:

BAYU AJI PANGESTU


NPM. 17410058

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SLAMET RIYADI

SURAKARTA

2023
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Manusia pada umumnya merupakan makhluk sosial yang tidak dapat

hidup sendiri tanpa bantuan manusia lain, dengan kata lain manusia

membutuhkan komunikasi dan saling ketergantungan satu dengan lainnya.

Komunikasi berperan penting dalam membantu manusia untuk menjalin suatu

hubungan. Batoebara dan Hasugian (2021: 44) menyatakan bahwa hubungan

atau relasi itu dapat berbentuk berteman, bersahabat, berpacaran, suami-istri,

orang tua dan anak. Komunikasi menjadi syarat agar hubungan terbina dengan

baik tanpa mengenal jarak dan waktu

Perkembangan teknologi membuat penyampaian informasi menjadi

cepat dan mudah diperoleh tidak memandang seberapa jauh jarak dan letak

tempat tinggal orang tersebut. Contoh perkembangan teknologi dalam bidang

komunikasi adalah dengan terciptanya media sosial melalui internet Jumlah

pengguna internet di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan

hasil survei mengenai penggunaan internet diketahui bahwa sebanyak 210,03

juta pengguna internet di dalam negeri pada periode 2021-2022. Jumlah itu

meningkat 6,78% dibandingkan pada periode sebelumnya yang sebesar 196,7

juta orang, sehingga tingkat penetrasi internet di Indonesia sebesar 77,02%

dengan rentang usia mayoritas pada usia 13-18 tahun yaitu 99,16%, kemudian

1
2

usia 19-3APJII, 4 tahun dengan tingkat penetrasi sebesar 98,64% (APJII,

2022).

Penguna internet yang semakin banyak sebagai dampak dari

perkembangan teknologi telah membawa perubahan yang signifikan pada pola

interaksi masyarakat, karena semua hal dapat dilakukan secara daring, mulai

dari bermain game, berbelanja, belajar, diskusi dan beberapa kegiatan lainnya,

sehingga telah membuat fungsi internet kian meluas dan banyak

menghadirkan aplikasi baru dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, salah

satunya hadirnya aplikasi bagi orang-orang yang ingin mencari jodoh.

Berbeda dengan zaman dahulu, pencarian jodoh terkadang diatur dan

dikontrol orang tua karena pada zaman dulu perkawinan adalah suatu kesatuan

dan bukan hanya antara dua individu, tetapi juga di antara dua keluarga yang

menjadi satu, sehinga orang tua merasa harus berperan aktif dalam memilih

pasangan untuk anaknya, tetapi perkembangan zaman membuat beragam cara

bagi seseorang untuk mendapatkan jodoh, salah satunya adalah melalui

aplikasi kencan online (dating app).

Salah satu inovasi dan menjadi tren bagi kalangan pengguna internet

ialah munculnya aplikasi pencarian jodoh atau sering disebut dengan aplikasi

kencan online (datting apps). Aplikasi kencan online semakin memiliki

banyak penggemar setelah kemunculan dan sistem cara kerjanya yang unik,

dimana setiap pengguna aplikasi ini dapat berkenalan secara langsung dengan

banyak orang baru dan menjalin banyak hubungan pertemanan bahkan hingga

ke hubungan yang lebih serius, hal tersebut membuat situs dan aplikasi kencan
3

online ini menjadi wadah yang menarik bagi orang-orang yang ingin menjalin

pertemanan dan ingin menemukan pasangan.

Menurut data dari [Link], pada 2021 jumlah pengguna

aplikasi kencan online sudah mencapai 323,9 juta di seluruh dunia. Angka ini

meningkat 10,3% dibandingkan tahun 2020 yaitu 293,7 juta pengguna.

Peningkatan pengguna aplikasi kencan online paling banyak terjadi pada

aplikasi Tinder Bumble, dan Engsel. Tinder sendiri memiliki pelanggan

sebanyak 9,6 juta orang di seluruh dunia pada kuartal II 2021 (Rizaty, 2022).

Sumber: Wahyudi (2022)

Gambar 1. 10 Aplikasi Kencan Terpopuler

Tinder adalah aplikasi kencan berbasis online yang memfasilitasi

komunikasi antara pengguna yang saling tertarik satu sama lain. Melalui

aplikasi tersebut, seseorang bisa dengan mudah berinteraksi dan mengobrol

secara pribadi dengan pria/wanita yang disukainya (Julianti dan Andhika,

2021: 4). Tinder memiliki fitur yang sederhana dan berbeda dengan aplikasi

kencan lain. Cara log in terbilang mudah, dimana user hanya perlu membuka
4

aplikasi Tinder dan menghubungkannya dengan akun Facebook atau melalui

verifikasi SMS, kemudian diarahkan ke halaman utama berisikan pilihan foto

profil pengguna Tinder lainnya. Seseorang dapat memilih siapa yang akan

dijadikan teman kencannya. Tinder merupakan media sosial kencan berbasis

daring yang digunakan mayoritas kalangan anak muda. Hasil survei

menunjukkan bahwa 35% pengguna aplikasi Tinder berada di rentang usia 18

– 24 tahun, sebesar 25% pengguna di usia 25 – 34 tahun sedangkan pengguna

berusia 45–54 tahun hanya 8% (Databoks, 2022).

Kepopuleran Tinder sebagai media berinteraksi di ruang digital

menjadikannya penting dalam proses perubahan sosial masyarakat. Media

sosial secara general adalah tempat untuk menunjukkan ekspresi diri,

memberikan kesenangan sosial dan memicu rasa ingin tahu serta pengalaman

emosional dan hedonis (Prettyoni, 2020). Keberadaan aplikasi kencan online

Tinder telah merubah pola perilaku masyarakat dalam hal pencarian jodoh.

Tinder memang memudahkan pencarian jodoh namun sebagian masyarakat

memberikan penilaian negatif. Banyak pengguna Tinder menyalahgunakan

aplikasi tersebut sehingga menimbulkan publisitas negatif. Misalnya berita

tentang peristiwa mutilasi di apartemen Kalibata City, penipuan dan pencurian

sepeda motor di kota Banyumas, dan predator seksual yang memanfaatkan

aplikasi Tinder (Annisa, 2022). Kasus lain yaitu mengenai kasus mutilasi

Rinaldi Harley Wismanu (32) yang berawal dari aplikasi kencan, Tinder.

Rinaldi Harley Wismanu berkenalan dengan sang pembunuh di Tinder. Yaitu

Laeli Atik Supriyatin alias LAS (27) dan Djumadil Al Fajar alias DAF (26).
5

Rinaldi dan Laeli berkenalan di Tinder kemudian Rinaldi dijebak diajak

menginap di apartemen bersama Laeli, sementara Djumadil menyiapkan

eksekusi pembunuhan Rinaldi ([Link], 2020).

Hasil observasi peneliti yang dilakukan di Ngoresan Jebres, Surakarta

melalui wawancara dengan beberapa remaja, juga menggunakan aplikasi

Tinder untuk menambah teman dan dari hasil wawancara pendahuluan dengan

pengguna Tinder di Ngoresan Jebres Surakarta juga berencana untuk mencari

jodoh. Hasil wawancara lanjutan menunjukkan bahwa di Kelurahan Ngoresan

pada khususnya belum pernah terjadi penyalahgunaan aplikasi Tinder yang

digunakan untuk kegiatan yang melanggar hukum, sehingga hal ini menarik

minat peneliti untuk melakukan penelitian tentang persepsi masyarakat pada

aplikasi Tinder khususnya pada remaja di Ngoresan RT 01/ RW 22, Jebres,

Surakarta.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang

menjadi pertanyaan penelitian adalah bagaimana persepsi remaja Kelurahan

Jebres terhadap aplikasi kencan online tinder sebagai sarana untuk mencari

pasangan ?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian ini

adalah untuk mengetahui tentang persepsi remaja terhadap aplikasi kencan

online Tinder sebagai sarana untuk mencari pasangan.


6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori

1. Komunikasi Interpersonal

a. Pengertian

Komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-

individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat

yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan

lingkungan satu sama lain (Sendjaja, 2016 : 7). Salah satu bentuk

komunikasi adalah komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal

merupakan proses pengiriman dan penerimaan pesanpesan antara dua

orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa

efek dan beberapa umpan balik seketika (Devito, 2011: 280).

Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah

komunikasi antara orang–orang secara tatap muka, yang

memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara

langsung, baik verbal maupun nonverbal (Mulyana, 2014: 73)

Muhammad (2015: 159) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal

adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling

kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat

langsung diketahui balikannya”

6
7

Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa

komunikasi antar pribadi adalah komunikasi yang dilakukan antara

seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat maupun

organisasi (bisnis dan non-bisnis), dengan menggunakan media

komunikasi tertentu dan bahasa yang mudah dipahami (informal)

untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

b. Komponen-komponen Komunikasi Interpersonal

Dari pengertian komunikasi interpersonal yang telah diuraikan di

atas, dapat diidentifikasikan beberapa komponen yang harus ada dalam

komunikasi interpersonal. Menurut Suranto A. W (2011: 9)

komponen-komponen komunikasi interpersonal yaitu:\

a. Sumber/ komunikator

Merupakan orang yang mempunyai kebutuhan untuk

berkomunikasi, yakni keinginan untuk membagi keadaan internal

sendiri, baik yang bersifat emosional maupun informasional dengan

orang lain. Kebutuhan ini dapat berupa keinginan untuk memperoleh

pengakuan sosial sampai pada keinginan untuk mempengaruhi sikap

dan tingkah laku orang lain. Dalam konteks komunikasi

interpersonal komunikator adalah individu yang menciptakan,

memformulasikan, dan menyampaikan pesan.

b. Encoding

Encoding adalah suatu aktifitas internal pada komunikator

dalam menciptakan pesan melalui pemilihan simbol-simbol verbal


8

dan non verbal, yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata bahasa,

serta disesuaikan dengan karakteristik komunikan.

c. Pesan

Merupakan hasil encoding. Pesan adalah seperangkat simbol-

simbol baik verbal maupun non verbal, atau gabungan keduanya,

yang mewakili keadaan khusus komunikator untuk disampaikan

kepada pihak lain. Dalam aktivitas komunikasi, pesan merupakan

unsur yang sangat penting. Pesan itulah disampaikan oleh

komunikator untuk diterima dan diinterpretasi oleh komunikan.

d. Saluran

Merupakan sarana fisik penyampaian pesan dari sumber ke

penerima atau yang menghubungkan orang ke orang lain secara

umum. Dalam konteks komunikasi interpersonal, penggunaan

saluran atau media semata-mata karena situasi dan kondisi tidak

memungkinkan dilakukan komunikasi secara tatap muka.

e. Penerima/ komunikan

Penerima atau komunikan adalah seseorang yang menerima,

memahami, dan menginterpretasi pesan. Dalam proses komunikasi

interpersonal, penerima bersifat aktif, selain menerima pesan

melakukan pula proses interpretasi dan memberikan umpan balik.

Berdasarkan umpan balik dari komunikan inilah seorang

komunikator akan dapat mengetahui keefektifan komunikasi yang


9

telah dilakukan, apakah makna pesan dapat dipahami secara bersama

oleh kedua belah pihak yakni komunikator dan komunikan.

f. Decoding

Decoding merupakan kegiatan internal dalam diri penerima.

Melaui indera, penerima mendapatkan macam-macam data dalam

bentuk “mentah”, berupa kata-kata dan simbol-simbol yang harus

diubah kedalam pengalaman-pengalaman yang mengandung makna.

Secara bertahap dimulai dari proses sensasi, yaitu proses di mana

indera menangkap stimuli.

g. Respon

Respon yakni apa yang telah diputuskan oleh penerima

untukdijadikan sebagai sebuah tanggapan terhadap pesan. Respon

dapat bersifat positif, netral, maupun negatif. Respon positif apabila

sesuai dengan yang dikehendaki komunikator. Netral berarti respon

itu tidak menerima ataupun menolak keinginan komunikator.

Dikatakan respon negatif apabila tanggapan yang diberikan

bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator.

h. Gangguan (noise)

Gangguan atau noise atau barier beraneka ragam, untuk itu

harus didefinisikan dan dianalisis. Noise dapat terjadi di dalam

komponen-komponen manapun dari sistem komunikasi. Noise

merupakan apa saja yang mengganggu atau membuat kacau


10

penyampaian dan penerimaan pesan, termasuk yang bersifat fisik

dan phsikis.

i. Konteks komunikasi

Komunikasi selalu terjadi dalam suatu konteks tertentu, paling

tidak ada tiga dimensi yaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang

menunjuk pada lingkungan konkrit dan nyata tempat terjadinya

komunikasi, seperti ruangan, halaman dan jalanan. Konteks waktu

menunjuk pada waktu kapan komunikasi tersebut dilaksanakan,

misalnya: pagi, siang, sore, malam. Konteks nilai, meliputi nilai

sosial dan budaya yang mempengaruhi suasana komunikasi, seperti:

adat istiadat, situasi rumah, norma pergaulan, etika, tata krama, dan

sebagainya.

Komunikasi interpersonal merupakan suatu proses pertukaran

makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Orang yang

saling berkomunikasi tersebut adalah sumber dan penerima. Sumber

melakukan encoding untuk menciptakan dan memformulasikan

menggunakan saluran. Penerima melakukan decoding untuk

memahami pesan, dan selanjutnya menyampaikan respon atau umpan

balik. Tidak dapat dihindarkan bahwa proses komunikasi senantiasa

terkait dengan konteks tertentu, misalnya konteks waktu. Hambatan

dapat terjadi pada sumber, encoding, pesan, saluran, decoding, maupun

pada diri penerima.


11

c. Tujuan Komunikasi Interpersonal

Muhammad (2015:168) menyatakan bahwa komunikasi

interpersonal mempunyai beberapa tujuan, yaitu:

a. Menemukan Diri Sendiri

Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan

personal atau pribadi. Bila kita terlibat dalam pertemuan

interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak sekali tentang

diri kita maupun orang lain. Komunikasi interpersonal memberikan

kesempatan untuk berbicara tentang apa yang disukai, atau

mengenai diri. Adalah sangat menarik dan mengasyikkan bila

berdiskusi mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita

sendiri. Dengan membicarakan diri kita dengan orang lain, kita

memberikan sumber balikan yang luar biasa pada perasaan, pikiran,

dan tingkah laku kita.

b. Menemukan Dunia Luar

Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat

memahami lebih banyak tentang diri kita dan orang lain yang

berkomunikasi dengan kita. Banyak informasi yang kita ketahui

datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah

informasi yang datang kepada kita dari media massa hal itu

seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari atau didalami

melalui interaksi interpersonal.


12

c. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh

Arti

Salah satu keinginan orangyang paling besar adalah

membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Banyak

dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal

diabadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan

orang lain.

d. Berubah Sikap Dan Tingkah Laku

Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan

tingkah laku orang lain dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh

menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya mencoba

diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis

membaca buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa

sesuatu itu benar atau salah. Kita banyak menggunakan waktu

waktu terlibat dalam posisi interpersonal.

e. Untuk Bermain Dan Kesenangan

Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan

utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman

mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi

mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada

umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang untuk

menghabiskan waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal

semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting dalam


13

pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di

lingkungan kita.

f. Untuk Membantu

Ahli-ahli kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi

menggunakkan komunikasi interpersonal dalam kegiatan

profesional mereka untuk mengarahkan kliennya. Kita semua juga

berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita

sehari-hari. Kita berkonsultasi dengan seorang teman yang putus

cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah y ang

sebaiknya diambil dan lain sebagainya.

Berdasarkan beberapa tujuan tertsebut dapat disimpulkan bahwa tujuan

dari komunikasi interpersonal dapat berbeda-beda sesuai dengan

kebutuhannya masing-masing.

2. Persepsi

a. Pengertian

Persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu

proses seseorang mengetahui melalui panca inderanya (Kamisa, 2014:

863). Persepsi diartikan sebagai suatu proses pengamatan seseorang

terhadap lingkungan dengan menggunakan indera-indera yang dimiliki

sehingga ia menjadi sadar akan segala sesuatu yang ada

dilingkungannya (Tanra, 2015: 118).

Persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh penginderaan,

yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh


14

individu melalui alat inderanya atau juga disebut proses sensoris, tetapi

proses itu tidak berhenti sampai di situ saja, melainkan stimulus itu

diteruskan dan selanjutnya merupakan proses persepsi (Walgito, 2004:

87).

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan

bahwa persepsi merupakan suatu proses pengolahan informasi yang

diterima oleh panca indera dari lingkungan dan diteruskan ke otak

untuk diseleksi sehingga menimbulkan penafsiran yang berupa

penilaian dari penginderaan atau pengalaman sebelumnya.

b. Bentuk-Bentuk Persepsi

Menurut Walgito (2004: 90-91) menyatakan bahwa proses

pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera

menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa bentuk:

a. Persepsi melalui Indera. Penglihatan alat indera

merupakan alat utama dalam individu mengadakan persepsi.

Seseorang dapat melihat dengan matanya tetapi mata bukanlah satu-

satunya bagian hingga individu dapat mempersepsi apa yang

dilihatnya, mata hanyalah merupakan salah satu alat atau bagian

yang menerima stimulus, dan stimulus ini dilangsungkan oleh syaraf

sensoris ke otak, hingga akhirnya individu dapat menyadari apa yang

dilihat.

b. Persepsi melalui indera pendengaran. Orang dapat

mendengar sesuatu dengan alat pendengaran, yaitu telinga. Telinga


15

merupakan salah satu alat untuk dapat mengetahui sesuatu yang ada

di sekitarnya. Seperti halnya dengan penglihatan, dalam pendengaran

individu dapat mendengar apa yang mengenai reseptor sebagai suatu

respon terhadap stimulus tersebut. Kalau individu dapat menyadari

apa yang didengar, maka dalam hal ini individu dapat mempersepsi

apa yang didengar, dan terjadilah suatu pengamatan atau persepsi.

c. Persepsi melalui indera penciuman. Orang dapat

mencium bau sesuatu melalui alat indera pencium yaitu hidung. Sel-

sel penerima atau reseptor bau terletak dalam hidung sebelah dalam.

Stimulusnya berwujud benda-benda yang bersifat khemis atau gas

yang dapat menguap, dan mengenai alat-alat penerima yang ada

dalam hidung, kemudian diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak, dan

sebagian respon dari stimulus tersebut orang dapat menyadari apa

yang diciumnya yaitu bau yang diciumnya.

d. Persepsi melalui indera pndera pengecap terdapat di

lidah. Stimulusnya merupakan benda cair. Zat cair itu mengenai

ujung sel penerima yang terdapat pada lidah, yang kemudian

dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga akhirnya orang

dapat menyadari atau mempersepsi tentang apa yang dikecap itu.

e. Persepsi melalui indera peraba (kulit). Indera ini

dapat merasakan rasa sakit, rabaan, tekanan dan temperatur, tetapi

tidak semua bagian kulit dapat menerima rasa-rasa ini. Pada bagian-

bagian tertentu saja yang dapat untuk menerima stimulus-stimulus


16

tertentu. Rasa-rasa tersebut merupakan rasa-rasa kulit yang primer,

sedangkan di samping itu masih terdapat variasi yang bermacam-

macam. Dalam teknan atau rabaan, stimulusnya langsung mengenai

bagian kulit bagian rabaan atau tekanan. Stimulus ini akan

menimbulkan kesadaran akan lunak, keras, halus, kasar.

Bentuk persepsi pada intinya merupakan persepsi yang tidak

hanya dilakukan oleh penglihatan saja, namun dengan alat indera secara

lengkap agar menghasilkan suatu data yang maksimal dan sesuai

dengan kenyataan yang ada di lapangan. Dimana stimulus itu bersifat

kuat maka hasil yang didapat agar lebih spesifik. Pratiwi, dkk (2019 :

286) menyatakan bahwa setelah individu melakukan interaksi dengan

obyek-obyek yang dipersepsikan maka hasil persepsi dapat dibagi

menjadi dua yaitu

1) Persepsi positif yaitu persepsi yang menggambarkan segala

pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan

yang diteruskan dengan upaya pemanfaatannya. Hal itu akan di

teruskan dengan keaktifan atau menerima dan mendukung obyek

yang dipersepsikan.

2) Persepsi negatif yaitu persepsi yang menggambarkan segala

pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan

yang tidak selaras dengan obyek yang di persepsi. Hal itu akan di

teruskan dengan kepasifan atau menolak dan menentang terhadap

obyek yang dipersepsikan.


17

Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa persepsi itu

baik yang positif maupun yang negatif akan selalu mempengaruhi diri

seseorang dalam melakukan sesuatu tindakan dan munculnya suatu

persepsi positif ataupun persepsi negatif semua itu bergantung pada

bagaimana cara individu menggambarkan segala pengetahuannya

tentang suatu obyek yang dipersepsikan.

c. Faktor yang mempengaruhi persepsi

Menurut Walgito (2014: 92-93) bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi persepsi adalah faktor internal individu seseorang dan

faktor eksternal atau objek persepsi. Faktor-faktor internal yang

mempengaruhi persepsi sebagai berikut:

a. Latar belakang. Latar belakang yang mempengaruhi

hal-hal yang dipilih dalam persepsi. Contohnya orang yang

pendidikannya lebih tinggi atau pengetahuan ilmu agamanya luas

yang memiliki cara tertentu untuk menyeleksi sebuah informasi.

b. Pengalaman. hal yang sama dengan latar belakang

ialah faktor pengalaman, pengalaman mempersiapkan seseorang

untuk mencari orang-orang, hal-hal, dan gejala-gejala yang mungkin

serupa dengan pengalaman pribadinya.

c. Kepribadian, dimana pola kepribadian yang dimiliki

oleh individu akan menghasilkan persepsi yang berbeda.

Sehubungan dengan itu maka proses terbentuknya persepsi

dipengaruhi oleh diri seseorang persepsi antara satu orang dengan


18

yang lain itu berbeda atau juga antara satu kelompok dengan

kelompok lain.

d. Sistem nilai. Sistem nilai yang berlaku dalam suatu

masyarakat juga berpengaruh pula terhadap persepsi

e. Penerimaan diri. Penerimaan diri merupakan sifat

penting yang memepengaruhi persepsi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi secara eksternal atau datang

dari luar objek persepsi adalah:

1) Intensitas. Umumnya, rangsangan yang lebih intensif, mendapatkan

lebih banyak tanggapan daripada rangsangan yang kurang intens.

2) Ukuran. Benda-benda yang lebih besar umumnya lebih menarik

perhatian.

3) Kontras. Secara umum hal-hal yang biasa dilihat akan cepat

menarik perhatian.

4) Gerakan. Benda yang bergerak lebih menarik perhatian dari hal

yang diam.

5) Ulangan. Biasanya hal yang terulang-ulang dapat menarik

perhatian.

6) Keakraban. Suatu yang akrab atau dikenal lebih menarik perhatian.

7) Sesuatu yag baru. Faktor ini kedengarannya bertentangan dengan

keakraban, namun unsur ini juga berpengaruh pada seseorang dalam

menyeleksi informasi.
19

d. Aspek-aspek Persepsi

Aspek-aspek persepsi menurut Walgito (2014: 94) menjelaskan

bahwa aspek-aspek persepsi dibagi menjadi tiga, diantaranya sebagai

berikut:

a. Aspek kognitif. Pada aspek ini berhubungan dengan

pengenalan aspek kognitif ini menyangkut komponen pengetahuan,

pengharapan, cara berfikir atau mendapatkan pengetahuan dan

pengalaman masalalu, serta segala sesuatu yang diperoleh dari hasil

pikiran individu pelaku persepsi.

b. Aspek efektif. Dalam aspek ini berhubungan dengan

komponen perasaan dan keadaan emosi individu terhadap objek

tertentu serta segala sesuatu yang menyangkut evaluasi baik ataupun

buruk berdasarkan faktor emosional seseorang. Perasaan seseorang

berkaitan dengan kebutuhan yang dimiliki tiap individu. Objek-objek

yang dapat melayani kebutuhan saya, akan saya hargai positif

sedangkan objek-objek yang justru menghalangi akan dinilai negatif.

Jadi, evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan

atau sistem yang dimilikinya.

c. Aspek Konatif. Aspek ini berhubungan motif dan

tujuan timbulnya suatu perilaku yang terjadi disekitar yang

diwujudkan dalam sikap perilaku individu dalam kehidupan sehari-

hari sesuai persepsinya terhadap suatu objek atau keadaan tertentu.


20

e. Indikator Persepsi

Menurut Sunaryo (2014: 98) bahwa indikator dari persepsi

adalah sebagai berikut:

a. Sensasi merupakan pesan yang dikirimkan ke otak lewat

penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan pengecapan.

Persepsi pertama yang muncul berdasarkan dari apa yang mereka

lihat, dengar, dan rasakan.

b. Atensi merupakan perhatian yang didapatkan seseorang mengenai

suatu hal yang dipersepsikan. Persepsi yang muncul saat

seseorang mendengarkan penjelasan dan membaca suatu objek.

c. Interpretasi merupakan kesan yang didapatkan oleh seseorang

sesudah mengerti mengenai suatu objek. Persepsi yang muncul

saat seseorang sudah mengerti dan memahami suatu objek.

Persepsinya bukan lagi berdasarkan pada dugaan atau subjektif,

tetapi berdasarkan pada pengetahuan.

3. Media Sosial

a. Pengertian

Media sosial adalah sebuah kelompok aplikasi berbasis internet

yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan

yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated

content. (Haenlein, 2010: 59). Media sosial ialah fitur berbasis website

yang dapat membentuk jaringan serta memungkinkan orang untuk

berinteraksi dalam sebuah komunitas. Pada media sosial kita dapat


21

melakukan berbagai bentuk pertukaran, kolaborasi, dan saling

berkenalan dalam bentuk tulisan visual maupun audiovisual.

Contohnya seperti twittwer, facebook, blog, forsquare, dan lainnya

(Puntoadi, 2012: 1).

Media sosial adalah media online yang mendukung interaksi

sosial. Sosial media menggunakan teknologi berbasis web yang

mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif. Beberapa situs media

sosial yang populer sekarang ini antara lain : Blog, Twitter, Facebook,

Instagram, Path, dan Wikipedia. Definisi lain dari sosial media juga di

jelaskan oleh Van Dijk media sosial adalah platform media yang

memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka

dalam beraktivitas maupun berkolaborasi, karena itu media sosial

dapat dilihat sebagai fasilitator online yang menguatkan hubungan

antar pengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial (Nasrullah,

2017: 11).

Beberapa pengertian di atas tentang penggunaan media sosial

maka dapat disimpulkan penggunaan media sosial adalah proses atau

kegiatan yang dilakukan seseorang dengan sebuah media yang dapat

digunakan untuk berbagi informasi, berbagi ide, berkreasi, berfikir,

berdebat, menemukan teman baru dengan sebuah aplikasi online yang

dapat digunakan melalui smartphone (telefon genggam).

Berbagai alasan mengapa seseorang membuat sebuah akun pada

media sosial, diantaranya untuk tetap terhubung dengan keluarga dan


22

teman, memperoleh informasi dan kabar melalui news feed yang

disediakan oleh media sosial, hingga menunjukkan eksistensi diri.

b. Karakteristik Media Sosial

Ada ciri khusus yang hanya dimiliki oleh media sosial dibanding

media lainnya. Salah satunya adalah media sosial beranjak dari

pemahaman bagaimana media tersebut digunakan sebagai sarana sosial

di dunia virtual. Nasrullah (2017: 12-13) menyatakan bahwa

karakteristik media sosial, yaitu:

a. Jaringan (Network). Antar pengguna Media sosial memiliki

karakter jaringan sosial. Media sosial terbangun dari struktur

sosial yang terbentuk di dalam jaringan. Jaringan yang terbentuk

antar pengguna merupakan jaringan yang secara teknologi

dimediasi oleh perangkat teknologi, seperti komputer, telepon

genggam atau tablet. Karakter media sosial adalah membentuk

jaringan di antara penggunanya. Tidak peduli apakah di dunia

nyata (offline) antar pengguna itu saling kenal atau tidak, namun

kehadiran media sosial memberikan medium bagi pengguna

untuk terhubung secara mekanisme teknologi.

b. Informasi. Informasi menjadi entitas yang penting dari media

sosial, sebab tidak seperti media-media lainnya di internet,

pengguna media sosial mengkreasikan representasi identitasnya,

memproduksi konten, dan melakukan interaksi berdasarkan

informasi. Bahkan informasi menjadi semacam komoditas. Di


23

media sosial, informasi menjadi komoditas yang dikonsumsi oleh

pengguna. Komoditas tersebut pada dasarnya merupakan

komoditas yang diproduksi dan didistribusikan antar pengguna itu

sendiri. Dari kegiatan konsumsi inilah pengguna dan pengguna

lain membentuk sebuah jaringan yang pada akhirnya secara sadar

atau tidak bermuara pada isntitusi masyarakat berjejaring

(network society).

c. Arsip. Bagi pengguna media sosial, arsip menjadi sebuah karakter

yang menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa

menjadi akses kapan pun dan melalui perangkat apapun. Setiap

informasi apa pun yang diunggah di facebook sebagai contoh,

informasi itu tidak hilang begitu saja saat pergantian hari, bulan,

sampai tahun. Informasi itu akan terus tersimpan dan bahkan

dengan mudahnya bisa diakses.

d. Interaksi, secara sederhana interaksi yang terjadi di media sosial

minimal berbentuk saling mengomentari atau memberikan tanda,

seperti jempol di facebook atau hati di Instagram. Interaksi dalam

kajian media merupakan salah satu pembeda antara media lama

(old media) dengan media baru (new media).

e. Simulasi Sosial Media sosial memiliki karakter sebagai medium

berlangsungnyamasyarakat (society) di dunia virtual. Pengguna

media sosial bisadikatakan sebagai warga negara digital yang

berlandaskan keterbukaantanpa adanya batasan-batasan.


24

Layaknya masyarakat atau Negara, dimedia sosial juga terdapat

aturan dan etika yang mengikat penggunanya. Media sosial tidak

lagi menampilkan realitas, tetapi sudah menjadirealitas tersendiri,

bahkan apa yang ada di media sosial lebih nyata (real)dari realitas

itu sendiri.

f. Konten oleh pengguna. Karakteristik media sosial lainnya adalah

konten oleh pengguna atau lebih popular disebut dengan user

generated content (UGC). Konten oleh pengguna ini adalah

sebagai penanda bahwa di media sosial khalayak tidak hanya

memproduksi konten, tetapi juga mengonsumsi konten yang

diproduksi oleh orang lain. Konten ini adalah format baru dari

budaya interaksi dimana para pengguna dalam waktu yang

bersamaan berlaku sebagai produser pada satu sisi dan sebagai

konsumen dari konten yang dihasilkan di ruang online pada lain

sisi.

g. Penyebaran (Share) Penyebaran atau sharing merupakan karakter

lainnya dari media sosial. Sharing merupakan ciri khas dari media

sosial yang menunjukkan bahwa khalayak aktif menyebarkan

konten sekaligus mengembangkannya. Maksud dari

pengembangan ini misalnya, komentar yang tidak sekadar opini,

tetapi juga data atas fakta terbaru. Di media sosial konten tidak

hanya diproduksi oleh khalayak pengguna, tetapi juga

didistribusikan secara manual oleh pengguna lain


25

c. Jenis-jenis Media Online

Tim Pusat Kementrian Perdagangan RI (2014: 26) menyatakan

bahwa media sosial dapat dibagi menjadi enam jenis, yaitu:

a. Proyek kolaborasi website, di mana user-nya

diizinkan untuk dapat mengubah, menambah, atau pun membuang

konten-konten yang termuat di website tersebut, seperti Wikipedia.

b. Blog dan microblog, di mana user mendapat

kebebasan dalam mengungkapkan suatu hal di blog itu, seperti

perasaan, pengalaman, pernyataan, sampai kritikan terhadap suatu

hal, seperti Twitter.

c. Konten atau isi, di mana para user di website ini

saling membagikan konten-konten multimedia, seperti e-book,

video, foto, gambar, dan lain-lain seperti Instagram dan Youtube.

d. Situs jejaring sosial, di mana user memperoleh izin

untuk terkoneksi dengan cara membuat informasi yang bersifat

pribadi, kelompok atau sosial sehingga dapat terhubung atau

diakses oleh orang lain, seperti misalnya Facebook.

e. Virtual game world, di mana pengguna melalui

aplikasi 3D dapat muncul dalam wujud avatar-avatar sesuai

keinginan dan kemudian berinteraksi dengan orang lain yang

mengambil wujud avatar juga layaknya di dunia nyata, seperti

online game.
26

f. Virtual social world, merupakan aplikasi berwujud

dunia virtual yang memberi kesempatan pada penggunanya berada

dan hidup di dunia virtual untuk berinteraksi dengan yang lain.

Virtual social world ini tidak jauh berbeda dengan virtual game

world, namun lebih bebas terkait dengan berbagai aspek kehidupan,

seperti Second Life.

d. Manfaat Media Sosial

Merebaknya situs media sosial yang muncul menguntungkan

banyak orang dari berbagai belahan dunia untuk berinteraksi dengan

mudah dan dengan ongkos yang murah ketimbang memakai telepon.

Media sosial merupakan bagian dari sistem relasi, koneksi dan

komunikasi. Romli (2018: 35) menyatakan beberapa manfaat media

sosial antara lain sebagai berikut:

a. Sarana belajar, mendengarkan, dan menyampaikan.

Berbagai aplikasi media sosial dapat dimanfaatkan untuk belajar

melalui beragam informasi, data dan isu yang termuat di dalamnya.

Pada aspek lain, media sosial juga menjadi sarana untuk

menyampaikan berbagai informasi kepada pihak lain. Konten-konten

di dalam media sosial berasal dari berbagai belahan dunia dengan

beragam latar belakang budaya, sosial, ekonomi, keyakinan, tradisi

dan tendensi. Oleh karena itu, benar jika dalam arti positif, media

sosial adalah sebuah ensiklopedi global yang tumbuh dengan cepat.

Dalam konteks ini, pengguna media sosial perlu sekali membekali


27

diri dengan kekritisan, pisau analisa yang tajam, perenungan yang

mendalam, kebijaksanaan dalam penggunaan dan emosi yang

terkontrol.

b. Sarana dokumentasi, administrasi dan integrasi.

Bermacam aplikasi media sosial pada dasarnya merupakan gudang

dan dokumentasi beragam konten, dari yang berupa profil, informasi,

reportase kejadian, rekaman peristiwa, sampai pada hasil-hasil riset

kajian. Dalam konteks ini, organisasi, lembaga dan perorangan dapat

memanfaatkannya dengan cara membentuk kebijakan penggunaan

media sosial dan pelatihannya bagi segenap karyawan, dalam rangka

memaksimalkan fungsi media sosial sesuai dengan target-target yang

telah dicanangkan. Beberapa hal yang bisa dilakukan dengan media

sosial, antara lain membuat blog organisasi, mengintegrasikan

berbagai lini di perusahaan, menyebarkan konten yang relevan sesuai

target di masyarakat, atau memanfaatkan media sosial sesuai

kepentingan, visi, misi, tujuan, efisiensi, dan efektifitas operasional

organisasi.

c. Sarana perencanaan, strategi dan manajemen. Akan

diarahkan dan dibawa ke mana media sosial, merupakan domain dari

penggunanya. Oleh sebab itu, media sosial di tangan para pakar

manajemen dan marketing dapat menjadi senjata yang dahsyat untuk

melancarkan perencanaan dan strateginya. Misalnya saja untuk

melakukan promosi, menggaet pelanggan setia, menghimpun


28

loyalitas customer, menjajaki market, mendidik publik, sampai

menghimpun respons masyarakat.

d. Sarana kontrol, evaluasi dan pengukuran. Media

sosial berfaedah untuk melakukan kontrol organisasi dan juga

mengevaluasi berbagai perencanaan dan strategi yang telah

dilakukan. Ingat, respons publik dan pasar menjadi alat ukur,

kalibrasi dan parameter untuk evaluasi. Sejauh mana masyarakat

memahami suatu isu atau persoalan, bagaimana prosedur-prosedur

ditaati atau dilanggar publik, dan seperti apa keinginan dari

masyarakat, akan bisa dilihat langsung melalui media sosial.

Pergerakan keinginan, ekspektasi, tendensi, opsi dan posisi

pemahaman publik akan dapat terekam dengan baik di dalam media

sosial. Oleh sebab itu, media sosial juga dapat digunakan sebagai

sarana preventif yang ampuh dalam memblok atau memengaruhi

pemahaman publik.

B. Penelitian Terdahulu

Peneliti menemukan 3 penelitian yang relevan mengenai kajian tinder

sebagai sarana untuk mencari pasangan. Penelitian-penelitian tersebut akan

dijadikan bahan rujukan bagi peneliti agar peneliti memperoleh tambahan

informasi mengenai topik pembahasan penelitian yang akan dilakukan.

Dalam kajian penelitian terdahulu, berikut peneliti paparkan melalui abstrak

penelitian.
29

1. Safala (2013) melakukan penelitian dengan judul “Trend

Masyarakat Global Dalam Pemilihan Pasangan & Perkawinan Antar Ras

Prespektif Umum dan Islam”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

kecenderungan masyarakat global dalam memilih pasangan antar ras yang

berujung pada sebuah perkawinan dalam temuan yang dipapar kan dalam

tabel menunjukkan paling tidak 36 peserta atau user pada situssitus ini, ini

berarti terdapat sekitar 92% dari individu tersebut yang menginginkan atau

lebih menginginkan pasangan dari negeri lain. Terdapat sekitar 7%

pasangan yang menginginkan pasangan dari ras dan atau negara lain

termasuk negara Australia sendiri. Dua setengah (2.5%) dari ras Asia yang

meng ingin kan pasangan dari ras ataupun negara lain; Tujuh belas sampai

duapuluh tiga persen (17%23%) warga Amerika lebih mengingin kan

pasangan dari ras ataupun negara lain; sedangkan yang lain nya sekitar

2.5% sampai 5% lebih menginginkan pasangan dari ras ataupun negara

lain. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu bahwa penelitian

terdahulu adalah pada sampel penelitian dimana penelitian terdahulu

cakupan wilayah sedangkan penelitian sekarang fokus pada pengguna

Tinder di Kelurahan Jebres Surakarta. Persamaan penelitian adalah

bertujuan untuk mencari pasangan.

2. Putri, dkk (2015) melakukan penelitian dengan judul “Motif Pria

Pengguna Tinder Sebagai Jejaring Sosial Pencarian Jodoh”. Hasil

penelitian menunjukkan bahwa pengguna aplikasi Tinder untuk

menggunakan aplikasi ini didasari atas meniru orang-orang di lingkungan


30

sosialnya, mengisi kegiatan di waktu kosong dengan aplikasi Tinder,

menunjukkan eksistensi didepan pengguna lain, keinginan untuk

mempertahankan identitas dirinya, mencari perhatian lawan jenis untuk

memperoleh suatu hubungan, mencari teman mengobrol untuk mereduksi

tegangan, serta keinginan memperoleh penghargaan oleh lingkungan

sekitarnya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu bahwa

penelitian terdahulu adalah dengan subjek penelitian pria pengguna Tinder

sedangkan penelitian sekarang subjeknya adalah pira dan wanita pengguna

Tinder di Kelurahan Jebres Surakarta. Persamaan penelitian adalah pada

pengguna Tinder.

3. Ferdiana, dkk (2020) melakukan penelitian dengan judul

“Penggunaan Media Sosial Tinder dan Fenomena Pergaulan Bebas di

Indonesia”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat adanya

peningkatan pergaulan bebas di kalangan anak muda Indonesia dengan

menggunakan media sosial kencan daring Tinder. Hal ini karena mayoritas

pengguna Tinder mempunyai pemahaman atau pola pikir yang terbuka,

rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi untuk mencoba sesuatu yang

baru, dan faktor lingkungan yang mendukung individu untuk memasuki

pergaulan bebas. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu

pada sampel penelitian dimana penelitian terdahulu pada remaja di Jakarta

sedangkan penelitian sekarang fokus pada pengguna Tinder di Kelurahan

Jebres Surakarta.
31

C. Kerangka Berpikir

Kerangka pikir dibuat untuk mempermudah proses penelitian karena

telah mencakup tujuan dari penelitian itu sendiri. Penelitian ini dilakukan

untuk mengkaji fenomena populernya aplikasi kencan online Tinder. Tujuan

utama dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana presepsi masyarakat

terhadap mencari pasangan meggunakan aplikasi kencan berbasis online

Tinder.

Aplikasi Tinder adalah sebuah platform yang memungkinkan

penggunanya untuk mendapatkan teman berbincang, pasangan, atau teman

kencan dengan melihat identitas masing-masing dan berkenalan melalui fitur

chat. Seiring berjalanya waktu Tinder tidak hanya memberi efek positif bagi

penggunanya dimana seseorang dapat menemukan pasangan, akan tetapi juga

memiliki efek negatif sebagai sarana mencari teman pergaulan bebas dan juga

sebagai sarana motif kejahatan baru.

Sensasi

Remaja di Ngoresan Persepsi Remaja Aplikasi


Atensi
Jebres Surakarta Aplikasi Online Tinder

Interpretasi

Gamba 2. Kerangka Pemikiran

Remaja di Ngoresan Jebres Surakarta di dalam menggunakan aplikasi

Tinder digunakan untuk menambah teman dan juga diharapkan dapat juga

untuk mencari jodoh. Persepsi masyarakat pada aplikasi Tinder dapat dilihat
32

dari tiga indikator dari persepsi yaitu sensasi,a tensi dan interpretasi. Sensasi

merupakan pengindraan yang meliputi penglihatan, pendengaran serta remaja

terhadap aplikasi Tinder. Atensi Atensi yaitu bagaimana remaja menerima

apa yang dilihat dan dirasakan dalam penggunaan aplikasi Tinder, dimana hal

tersebut diproses secara sadar hingga menghasilkan sebuah informasi dan

interpretasi atau penafsiran remaja tentang aplikasi Tinder.

D. Definisi Konsep dan Operasional

1. Definisi Konsep

a. Persepsi

Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan.

Penginderaan merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh

individu melalui alat indera. Stimulus yang mengenai individu

kemudian diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga individu

menyadari apa yang diinderanya itu. Proses inilah yang dimaksudkan

dengan persepsi” (Sunarjo, 2014: .97). Persepsi dapat dilihat dari tiga

hal yaitu:

1) Sensasi merujuk pada pesan yang dikirimkan otak melalui

penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman dan pengecapan.

2) Atensi, berkaitan dengan apa yang menarik minat kita untuk

memperhatikan kejadian atau rangsangan tertentu.

3) Interpretasi. Pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi bukan

pengetahuan mengenai objek yang sebenarnya, melainkan

pengetahuan mengenai bagaimana tampaknya objek tersebut.


33

b. Aplikasi Tinder

Tinder adalah aplikasi online yang merupakan sebuah inovasi untuk

dapat mencari pasangan atau teman baru. Tinder dirancang khusus

sebagai media sosial pencarian jodoh atau bisa disebut kencan online

yang didukung dengan aplikasi yang bekerja dengan mengandalkan

internet dan sistem satelit navigasi yang dapat mengatur jarak dan

lokasi tertentu untuk mempertemukan pasangan atau teman baru bagi

penggunanya. Aplikasi media sosial Tinder dapat diunduh secara gratis

melalui smartphone Android atau Ios di Play Store atau Apple Store

(Nadya, dkk, 2016: 14).

2. Definisi Operasional

a. Persepsi terhadap aplikasi Tinder

Persepsi remaja Ngoresan Kecamatan Jebres Kota Surakarta terhadap

aplikasi kencan online Tinder sebagai sarana untuk mencari pasangan

adalah pandangan responden terhadap aplikasi kencan Tinder yang

digunakan oleh masyarakat untuk mencari pasangan atau jodoh.

Indikator persepsi berdasarkan pernyataan dari Sunaryo (2014: 98)

bahwa indikator dari persepsi adalah sebagai berikut:

1) Sensasi, berkaitan dengan rasa yang ditimbulkan

setelah remaja Ngoresan Kecamatan Jebres Kota Surakrata

menggunakan aplikasi Tinder sehingga menimbulkan suatu

ketertarikan untuk terus menggunakannya.


34

2) Atensi atau perhatian dari remaja Ngoresan

Kecamatan Jebres Kota Surakarta menerima apa yang dilihat dan

dirasakan pada saat menggunakan aplikasi Tinder, dimana hal

tersebut diproses secara sadar hingga menghasilkan sebuah

informasi

3) Interpretasi atau penafsiran remaja remaja Ngoresan

Kecamatan Jebres Kota Surakarta tentang aplikasi Tinder

b. Aplikasi Tinder

Tinder merupakan salah satu aplikasi media sosial yang sering dikenal

sebagai situs atau aplikasi kencan yang digunakan olreh remaja

Ngoresan Kecamatan Jebres Kota Surakarta untuk mencari teman

ataupun mencari jodoh.


35

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan

pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk

mengeksplorasi dan memahami makna oleh sejumlah individu atau

sekelompok orang yang dianggap berasal dari masalah sosial atau

kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting,

seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur,

mengumpulkan data yang spesifik dari partisipan, menganalisis data secara

induktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema umum, dan

menafsirkan makna data (Creswell, 2013: 4-5).

Metode penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif ini dilakukan

terhadap variabel mandiri dan tanpa membuat perbandingan atau

menghubungkan dengan variabel lain, sehingga berdasarkan uraian tersebut,

dapat menggambarkan kondisi riil dari suatu obyek/subyek yang diteliti dan

kemudian digunakan peneliti untuk menarik kesimpulan, dalam hal ini adalah

tentang persepsi masyarakat Kelurahan Jebres terhadap aplikasi kencan online

Tinder sebagai sarana mencari pasangan.

B. Lokasi/Obyek Penelitian
36

Lokasi penelitian dilakukan di Kelurahan Jebres, dan yang menjadi objek

penelitian adalah remaja di Ngoresan RT 01/ RW 22, Jebres, Surakarta.

C. Jenis dan Sumber Data 35

Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode pendekatan kualitatif deskripstif. Penelitian deskriptif kualitatif

ditujukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena-fenomena

yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yang lebih

memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan.

Selain itu, Penelitian deskriptif tidak memberikan perlakuan, manipulasi atau

pengubahan pada variabel - variabel yang diteliti, melainkan menggambarkan

suatu kondisi yang apa adanya. Satu-satunya perlakuan yang diberikan

hanyalah penelitian itu sendiri, yang dilakukan melalui observasi, wawancara,

dan dokumentasi (Sukmadinata, 2011: 73).

“Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan

tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain-lain” Lofland

(Moleong, 2013:157). Sumber data akan diambil dari dokumen, hasil

wawancara, catatan lapangan dan hasil dari observasi.

D. Teknik Penentuan Informan

Teknik penentuan informan yang penulis gunakan adalah teknik

penentuan informan sering digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu

purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling adalah

teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan


37

dalam hal ini yakni orang-orang yang memiliki kriteria dan dianggap paling

tahu tentang topik penelitian. Sedangkan yang dimaksud snowball sampling

adalah teknik pengambilan sampel yang awalnya jumlahnya sedikit, lama-

lama menjadi besar. Dasar pertimbangan digunakannya teknik snowball

sampling ini adalah karena dengan teknik penarikan sampel ini, dianggap

akan lebih representatif baik ditinjau dari segi pengumpulan data maupun

dalam pegembangan data. Pengambilan sumber data yang dipilih secara

purposive dan bersifat snowball sampling, maka sumber data dipilih adalah

orang-orang yang dianggap sangat mengetahui permasalahan yang akan

diteliti atau juga yang berwenang dalam masalah tersebut dan jumlahnya

tidak dapat ditentukan, karena dengan sumber data yang sedikit itu apabila

belum dapat memberikan data yang lengkap, maka mencari orang lain lagi

yang dapat digunakan sumber data. Ada beberapa kriteria untuk pemilihan

informan, diantaranya:

1. Informan memiliki akun Tinder

2. Merupakan orang yang masih lajang

3. Menggunakan aplikasi Tinder sekurang-kurangnya 1 bulan

4. Berusia 18-25 tahun karena usia tersebut dianggap usia yang ideal untuk

mencari pasangan

Berdasarkan teknik snowball sampling maka jumlah sumber data tidak dapat

ditentukan pada awal penelitian, baru kemudian setelah akhir penelitian

diketahui jumlah sumber data.

E. Teknik Pengumpulan Data


38

Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara,

dan dokumentasi. Jenis wawancara yang digunakan yaitu wawancara tidak

terstruktur (unstructured interview), wawancara ini merupakan jenis

wawancara yang memberi peluang peneliti untuk mengembangkan pertanyaan

pertanyaannya dengan tetap memperhatikan fokus pembicaraan. Teknik

dokumentasi menjadi teknik pengumpulan data terakhir untuk mendukung dan

memperkuat data yang didapatkan selama melakukan penelitian dilapangan,

serta sebgai bukti dalam penelitian lapangan.

F. Validitas dan Realiabilitas Data

Validitas dalam penelitian kualitatif didasarkan pada kepastian apakah

hasil penelitian sudah akurat dari sudut pandang peneliti, partisipasi, atau

pembaca secara umum, istilah validitas dalam penelitian kualitatif dapat

disebut pula dengan trusworthiness, authenticity, dan credibility Creswell

(Susanto, 2013). Dalam penelitian ini, uji validitas yang digunakan adalah

Triangulasi. Triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data dengan

melakukan pengecekan atau perbandingan terhadap data yang diperoleh

dengan sumber atau kriteria yang lain diluar data itu, untuk meningkatkan

keabsahan data (Moleong, 2014).

Pada penelitian ini, triangulasi yang dilakukan adalah triangulasi

sumber dan metode. Triangulasi sumber yaitu dengan cara membandingkan

apa yang dikatakan oleh subyek dengan dikatakan informan, dengan maksud

agar data yang diperoleh dapat dipercaya karena tidak hanya diperoleh dari
39

satu sumber saja. Triangulasi metode, yaitu dengan cara membandingkan data

hasil pengamatan dengan data hasil wawancara dan dengan isi dokumen yang

berkaitan. Dalam hal ini peneliti berusaha mengecek kembali data yang

diperoleh melalui wawancara.

G. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber,

dengan menggunakan menggunakan teknik pengumpulan data yang

bermacam-macam (trianggulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai

datanya jenuh (Sugiyono, 2014:243). menurut Bogdan (dalam Sugiyono,

2014: 244) analisis data adalah proses mencari dan menyususn secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan

bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami, dan temuannya dapat

diinformasikan kepada orang lain.

Pengumpulan Penyajian Data


Data

Kondensasi Penarikan
Data
Kesimpulan

Gambar 2. Komponen Analisis Data


40

Sumber: Miles and Huberman (2014)

Di dalam sebuah penelitian diperlukan analisis data agar penelitian

dapat berjalan dengan baik dan efektif sehingga di dalam proses penelitian

tidak terjadi kesalahan. Adapun metode yang digunakan dalam analisis data

menurut Miles dan Huberman (2014: 10-11) yang meliputi kondensasi data,

penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan, yang dapat

dijelaskan sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data

yang diperlukan. Pengumpulan data dilakukan dengan informan yang telah

ditetapkan khususnya mengenai persepsi remaja terhadap aplikasi Tinder.

2. Data Condensation (kondensasi data)

Data kondensasi mengacu pada proses proses pemilihan atau seleksi,

fokus, menyederhanakan serta melakukan pergantian data yang terdapat

pada catatan lapangan, transkrip wawancara, dokumen maupun data

empiris yang telah didapatkan. Data kualitatif tersebut dapat diubah

dengan cara seleksi, ringkasan, atau uraian menggunakan kata-kata sendiri

dan lain-lain. Berdasarkan data yang dimiliki, peneliti akan mencari data,

tema, dan pola mana yang penting, sedangkan data yang dianggap tidak

penting akan [Link] penelitian kali ini Pengumpulan data dilakukan

dengan wawancara dan observasi langsung pada informan mengenai

persepsi remaja terhadap aplikasi Tinder.

3. Data Display (penyajian data)


41

Selanjutnya peneliti melakukan penyajian data. Data yang disajikan

telah melewati tahap reduksi. Penyajian data dilakukan dengan tujuan agar

penulis lebih mudah untuk memahami permasalahan yang terkait dalam

penelitian dan dapat melanjutkan langkah berikutnya. Pada umumnya

penyajian merupakan suatu pengaturan, kumpulan informasi yang telah

dikerucutkan sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan. Penyajian data

dapat dilakukan dengan bagan, uraian singkat, skema dan lain-lain. Setelah

mengumpulkan data terkait dengan persepsi remaja pada aplikasi Tinder

maka langkah selanjutnya peneliti mengelompokkan hasil observasi dan

wawancara untuk disajikan dan dibahas lebih detail.

4. Conclusion drawing/ verification (pengambilan kesimpulan)

Apabila tahap kondensasi dan penyajian data telah dilakukan, maka

langkah terakhir yang dilakukan adalah mengambil kesimpulan.

Pengambilan kesimpulan merupakan suatu proses dimana peneliti

menginterprestasikan data dari awal pengumpulan disertai pembuatan pola

dan uraian atau penjelasan. Pengambilan kesimpulan merupakan bukti

terhadap penelitian yang dilakukan. Setelah menyajikan data terkait

persepsi remaja terhadap aplikasi Tinder maka peneliti melakukan

penarikan kesimpulan.
42

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian

1. Sejarah Kelurahan Jebres

Kelurahan Jebres merupakn salah satu wilayah yang ada di

Kecamatan Jebres. Wilayah Jebres meliputi perempatan panggung ke

timur sampai depan Rumah Sakit Dr. Muwardi, ke selatan berbatasan

dengan kampung Ngemingan. Ada beberapa versi asal-usul penamaan

daerah Jebres, diantaranya :

a. Menurut beberapa sumber disebutkan bahwa pada masa lalu daerah ini

merupakan tempat tinggal Ki Jebres, seorang abdi dalem kusir jaman

Sunan Pakubuwono IV

b. Menurut Majalah Dharma Kandha ( Februari, 1972, Tahun III,

No.117), Jebres berasal dari nama seorang berkebangsaan Belanda

bernama [Link], beliau adalah pengusaha kaleng susu. Bekas

Rumah tempat tinggal [Link] terletak di sebelah utara Stasiun

Jebres. Rumah ini berdekatan dengan rumah seorang pengusaha

pemerahan susu sapi bernama [Link] (daerah itu sekarang dikenal

dengan nama Kampung Ngemingan). Lokasi sekitar tempat pemerahan

susu tersebut sekarang digunakan untuk kantor kelurahan Jebres.

42
43

c. Raden Tumenggung Taryakusuma mengatakan bahwa Jebres dahulu

merupakan tempat tinggal seorang Belanda bernama Jasper, seorang

pedagang besi.

d. Dalam babad Prambanan, dikatakan Jebres adalah hutan belantara

yang tumbuh di selatam Tembayat dan Masaran, sudah dipenuhi

dengan prajurit bersenjata lengkap. Daerah ini konon merupakan

tempat berburu para raja.

2. Batas Wilayah Kelurahan Jebres

Luas wilayah Kelurahan Jebres adalah ± 317 ha, merupakan dataran

rendah, ketinggian  ± 110 M di atas permukaan laut, sedangkan suhu rata-

rata 38°C  yang terbagi dalam 36 RW dan 128 RT. Jika dilihat dari letak

lokasi Kantor Kelurahan Jebres berada pada posisi yang memungkinkan

semua warga masyarakat dapat dengan mudah dan terjangkau dalam

mengakses segala keperluannya. Kelurahan Jebres merupakan bagian dari

wilayah Kecamatan Jebres Kota Surakarta dengan batas wilayah sebagai

berikut :

a. Sebelah Utara              : Kelurahan Mojosongo + Karanganyar

b. Sebelah Timur             : Kabupaten Karanganyar

c. Sebelah Selatan           : Kelurahan Purwodiningraan + Pucangsawit

d. Sebelah Barat              : Kelurahan Tegalharjo

Jarak Geografis :

a. Jarak tempuh menuju Kantor Kec. Jebres    : 1 km

b. Jarak tempuh menuju pusat Pemkot Ska     : 3 km


44

c. Jarak tempuh menuju Kantor KORAMIL    : 1,5 km

d. Jarak tempuh menuju Kantor POLSEK        : 0,25 km

Jarak Kelurahan Jebres ke Pusat Pemerintahan :

a. Pemerintahan Kecamatan             :  1      Km

b. Pemerintahan Kota :  3      Km

c. Pemerintahan  Propinsi                 : 100 Km

d. Pemerintah Pusat                          :  600  Km

B. Hasil Penelitian

1. Profil Informan

Profil dari masing-msing informan adalah sebagai berikut:

a. Informan 1

Nama : H.A

Umur : 23 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Mulai Memakai Tinder : 1 tahun

Informan 1 tertarik untuk menggunakan Tinder karena informasi

habis putus dari pasangan dan direkomendasikan oleh teman ada

aplikasi untuk mencari pasangan lalu melakukan download aplikasi

tinder ini dan sampai saat ini masih digunakan.

b. Informan 2

Nama : SP

Umur : 20 tahun
45

Jenis Kelamin : Laki-laki

Mulai Memakai Tinder : 2 tahun

Informan 2 tertarik untuk menggunakan Tinder bermula dari

keisengan informan untuk mendapat teman/kenalan baru terlebih lagi

dapat menjadi pacar.

c. Informan 3

Nama : MH

Umur : 20 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Mulai Memakai Tinder : 2 tahun

Informan 3 tertarik menggunakan Tinder karena berdasarkan

pernyataan dari teman-temannya bahwa di Aplikasi Tinder banyak

cowok yang keren-keren, cakep sehingga menjadi penasaran untuk

menambah relasi dan juga teman.

d. Informan 4

Nama : PL

Umur : 22 tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Mulai Memakai Tinder : 3 bulan

Informan 4 tertarik menggunakan Tinder bermotif coba-coba

atau iseng karena banyak temannya yang lain menggunakan aplikasi

Tinder sehingga kemungkinan dapat memperoleh pacar.


46

Beragam media sosial kencan daring tersebar di platform digital

android googleplay maupun playstore. Adanya media sosial kencan daring

memungkinkan seseorang dengan mudah dan praktis dalam bertemu dan

berinteraksi antar individu baru tanpa mengenal jarak dan waktu. Tinder

merupakan salah satu contoh jenis situs jejaring sosial yang populer secara

global dan digemari oleh masyarakat anak muda Indonesia. Kemudahan

penggunaan aplikasi Tinder dan banyaknya penggunanya menjadi daya tarik

tersendiri bagi pengguna Tinder untuk mencobanya. Hasil Wawancara

dengan informan menunjukkan bahwa responden tertarik untuk

menggunakan aplikasi Tinder untuk mencari teman, relasi dan mungkin

juga untuk mendapatkan pasangan.

Persepsi remaja Remaja Rt 1 Rw 22 Jebres Surakarta terhadap aplikasi

Tinder merupakan proses yang didahului dari adanya proses pengindraan,

yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat

indra atau juga disebut proses sensoris, tetapi proses tersebut tidak berhenti

begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya

merupakan proses persepsi. Proses persepsi tidak dapat lepas dari proses

pengindraan, dan proses pengindraan merupakan proses pendahulu dari

proses persepsi, sehingga proses pegindraan yang dimaksud di sini

merupakan bentuk rangsangan dari luar yang mempengaruhi seseorang

melalui kelima alat indranya yaitu indra peraba atau sentuhan, indra

penciuman, indra pengecap, indra pendengaran dan indra penglihatan yang

selanjutnya akan diinterpresentasikan oleh setiap orang dengan caranya


47

masing-masing. Ada dua faktor utama dalam persepsi faktor sensori dan

faktor struktural adapun faktor sensori tadi yaitu meliputi dari kelima alat

indra yang dimiliki. Hasil Wawancara peneliti terhadap remaja Rt 1 Rw 22

Jebres Surakarta mengenai awal mula menggunakan Tinder adalah

disebabkan karena putus dengan pacar dan rekomendasi dari teman

(Informan 1, III dan IV), dan karena iseng ingin mencoba aplikasi Tinder

untuk mendapatkan pasangan (Informan (II)

Hasil Wawancara tersebut menunjukkan bahwa informan

menggunakan aplikasi Tinder karena rekomendasi teman untuk mencari

pacar atau pasangan, mencari teman baru serta karena iseng-isen untuk

menambah relasi. Untuk mendapatkan teman atau pasangan maka setiap

pengguna Tinder harus memasang profil agar dapat dikenal oleh pengguna

yang lain, sehingga diperlukan foto profil agar orang lain dapat melihat

wajah aslinya. Hasil Wawancara dengan mengenai informan mengenai

pentingnya penggunaan poto profil dan biografi bahwa keseluruhan

informan menyatakan bahwa penggunaan poto profil dan biodata penting

di dalam aplikasi Tinder karena hal tersebut akan menjadi daya tarik

pertama bagi orang lain atau calon pasangan untuk mengetahui jati diri

informan baik dari wajah, selera musik serta hobi.

Pada awalnya aplikasi Tinder banyak ditemukan pengguna Tinder

yang tidak menggunakan foto profil yang sesuai dengan foto aslinya dan

dengan kemajuan teknologi maka Tinder bertujuan untuk meningkatkan

keamanan para pengguna Tinder dengan memastikan keaslian profil dan


48

meningkatkan kepercayaan terhadap profil pengguna Tinder. Fitur dalam

aplikasi Tinder menggunakan teknologi yang dapat membandingkan pose

foto yang diambil langsung dengan foto yang ada di profil setiap

pengguna. Berdasarkan hal tersebut maka foto profil dan biodata dalam

aplikasi Tinder sangat penting karena berfungsi sebagai tanda pengenal

pertama, hal ini sesuai dengan hasil Wawancara dengan informan

mengenai pengisian biodata di dalam aplikasi Tinder bahwa informan I, II

dan IV menyatakan bahwa keberadaan biodata diisi dengan kesukaan,

hobi, selera musik serta juga asal daerah agar calon pasangan mengetahui

kriteria yang diiinginkan sedangkan informan III menyatakan bahwa

biodata sengaja dibiarkan kosong agar orang lain lebih penasaran terhadap

dirinya.

Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa tiga responden

mengisi biodata pribadinya dengan tujuan agar anggota Tinder

mengetahuinya sehingga apabila ingin memilih pasangan sudah dapat

diketahui sesuai atau tidaknya kriterianya, tetapi satu responden tidak

mengisi biodata pribadinya dengan alasan agar kelihatan misterius, hal ini

terkadang menunjukkan bahwa pengguna Tinder yang tidak mengisi

biodata tidak ingin diketahui aktivitas kesehariannya.

2. Persepsi Remaja terhadap Aplikasi Tinder sebagai Sarana Mencari

Pasangan pada Remaja Rt 1 Rw 22 Jebres Surakarta

Persepsi pada hakikatanya adalah proses kognitif yang dialami oleh

setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik


49

lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman.

Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa

persepsi itu merupakan suatu penfsiran yang unik terhadap situasi, dan

bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi. Persepsi remaja di

Rt 1 Rw 22 Jebres Surakarta terhadap penggunaan aplikasi Tinder akan

berbeda-beda, oleh karena itu persepsi memiliki sifat subjektif. Persepsi

memiliki tiga tahapan yaitu sensasi, atensi dan interpretasi yang dapat

dijabarkan dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Sensasi

Tinder bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam

menemukan teman atupun pasangan. Dalam penggunaanya sehari-hari,

media sosial kencan daring Tinder dapat dikatakan sudah tidak asing

lagi bagi kalangan anak [Link] keseringan penggunaan aplikasi

Tinder dari informan I, II dan III menyatakan bahwa menggunakan

Tinder waktu tahap untuk mencari pasangan yang sesuai dengan

tipenya, kemudian setelah memperoleh pasangan maka tidak

menggunakan, tetapi setelah hubungan tersebut berakhir maka akan

menggunakan Tinder kembali sedangkan Informan II menggunakan

Tinder hanya pada saat-saat tertentu ketika ada pesan yang masuk saja.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa informan rata-rata tidak

terlalu sering menggunakan Tinder, dimana hanya sebatas keperluannya

yaitu memperoleh pasangan ketika sudah memiliki pasangan maka

informan tidak menggunakan Tinder tetapi ketika putus maka


50

menggunakan Tinder lagi untuk mencari pasangan. Informan lain

menyatakan bahwa hanya membuka ketika ada notif saja. Motif remaja

di Rt 1 Rw 2 Jebres Kota Surakarta menjadi pembeda mengenai tingkat

keseringan menggunakan Tinder. Fungsi sebuah aplikasi kencan daring

ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya. Motif remaja

menggunakan aplikasi Tinder yaitu mencari belahan jiwa, mencari

pasangan seks, mencari kesenangan, relaksasi, untuk mengurangi

kebosanan, atau karena sepertinya dengan menggunakan aplikasi

kencan daring merupakan salah satu cara mudah untuk bertemu orang-

orang.

Perkembangan teknologi sudah sangat maju dan bisa mengakses

internet dimana saja dengan cepat. Salah satu kemajuan teknologi

adalah dengan adanya sosial media Tinder yang berfungsi untuk

menambah relasi, teman ataupun untuk mencari pasangan. Peneliti

membahas mengenai pengalaman remaja dalam menggunakan Tinder

menunjukkan bahwa pengalaman memakai Tinder sangat beragam ada

yang menyenangkan dan ada yang kurang menyenangkan, hal yang

menyenangkan adalah sempat mendapat pacar yang sesuai dengan

ekspetasi sedangkan hal yang kurang menyenangkan adalah putus

hubungan (Informan I), pengalaman menggunakan Tinder sampai saat

ini belum dapat pacar tetapi hanya digunakan untuk mengobrol biasa

saja (Informan II), mendapat teman dari dalam dan luar kota hingga
51

memperoleh pacar (Informan III) pengalaman menggunakan Tinder

baru pada taraf pendekatan dengan seseorang (Informan IV).

Dalam tema ini penliti membahas mengenai pengalaman remaja

dalam menggunakan Tinder. Ada beberapa memiliki pengalaman

menyenangkan dan ada juga yang menceritakan pengalaman yang

kurang menyenangkan saat mereka menggunakan Tinder. Pengalaman

yang menyenangkan diperoleh informan karena mendapatkan pasangan

atau pacar sedangkan pengalaman yang kurang menyenangkan dari

informan bahwa belum memiliki pasangan atau pacar setelah

menggunakan Tinder. Pengalaman yang diperoleh dari penggunaan

sosial media Tinder yaitu sebagai tempat mencari dan memperbanyak

teman serta menambah relasi bisnis dengan mudah, selain itu juga

media sosial menjadi media komunikasi yang baik dan mudah. Dari

pernyataan tersebut menunjukkan bahwa informan senang

menggunakan Tinder karena mampu mendapat kenalan baru yang lebih

luas jangkauannya daripada sebelumnya terlebih dapat memperoleh

pasangan.

Keberadaan aplikasi Tinder telah mengubah perilaku pencarian

pasangan yang dahulunya, diawali dengan tahapan perkenalan secara

tatap muka, pendekatan, melakukan penjajakan dengan waktu yang

cukup atau bahkan memakan waktu, jika menemukan kecocokan para

pasangan memutuskan untuk menikah. Berbagai macam cerita cinta

perjodohan yang terjadi di Tinder, kebanyakan mereka menggunakan


52

Tinder hanya untuk mendapatkan pasangan. Hasil wawancara dengan

informan mengenai perasaannya di dalam menggunakan aplikasi Tinder

bahwa keseluruhan informan menyatakan menyenangkan di dlam

menggunakan Tinder karena banyak alternatif calon pasangan yang di

Tinder, walaupun awalnya sempat grogi tetapi akhirnya dapat

berinteraksi dengan orang lain yang belum dikenal dengan baik.

Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa informan merasa

senang menggunakan aplikasi Tinder karena bisa berkenalan dengan

orang yang belum dikenal, bisa menambah teman ataupun bisa menjadi

pasangan. Para informan menggunakan aplikasi Tinder untuk mencari

teman ataupun pasangan.

b. Atensi

Informan mengetahui bahwa aplikasi Tinder merupakan aplikasi

untuk mencari teman ataupun pasangan selanjutnya masuk dalam tahap

atensi atau perhatian apa saja yang diperhatikan selama menggunakan

aplikasi Tinder. Tahap atensi dari hasil penelitian ini informan

memusatkan perhatian kepada beberapa bentuk antara lain ketertarikan

penggunaan, ketertarikan berpartisipasi, memilih calon atau teman

kencan serta bagaimana memulai percakapan di Tinder. Perkenalan di

dunia maya yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah

relasi khususnya pada remaja. Hasil wawancara dengan informan

menyatakan bahwa tertarik mengenai menggunakan aplikasi Tinder

karena banyak orang asing yang belum dikenal sehingga bisa memilih
53

teman ataupun calon pasangan sesuai dengan kriteria (Informan I),

karena ingin mendapatkan teman baru (informan II dan IV), tertarik

menggunakan Tinder karena berkenalan secara online terlebih dahulu

sehingga lebih mudah dalam melihat potensi kecocokan sebelum

bertemu secara langsung (informan III)

Hasil wawancara menunjukkan bahwa informan tertarik untuk

menggunakan aplikasi Tinder dimana memiliki jaringan yang lebih luas

sehingga memiliki banyak pilihan untuk mencari pasangan sekaligus

dengan menggunakan Tinder maka lebih nyaman karena bisa kenalana

lewat online terlebih dahulu. Hasil wawancara dengan informan

mengenai ketertarikan untuk berpartisipasi untuk mencari teman atau

jodoh dengan menggunakan aplikasi Tinder bahwa keseluruhan

informan menyatakan inin memperoleh teman terlebih lagi pasangan

dengan hobi dan kegemaran yang diharapkan sama.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa informan tertarik untuk

untuk menggunakan aplikasi Tinder karena informan dapat dengan

bebas memilih teman atau pasangan, tidak terbatas tempat atau lokasi di

suatu daerah. Ketertarikan di dalam menggunakan Tinder ditandai

dengan adanya kenyamanan dan komitmen yang sama-sama dirasakan

para informan, dimana apabila semakin intim dengan calon

pasangannya di Tinder maka akan dilanjutkan di dunia nyata. Interaksi

yang dilakukan pada tahap ini membuat informan menjalaninya dengan

santai dan tanpa beban, dimana komunikasi berjalan lebih spontan dan
54

individu membuat keputusan yang cepat, tetapi sebelum melakukan

tatap muka maka para penggunaTinder harus memilih terlebih dahulu

calon teman atau pasangan di Tinder, hasil wawancara mengenai cara

memilih calon teman kencan di Tinder bahwa informan menyatakan

dengan melihat poto propil, hobi, selera musik serta jarak.

Hasil wawancara dengan informan menunjukkan bahwa cara

memilih teman kencan di Tinder adalah dengan melihat poto profil

terlebih dahulu, baru kemudian dari percakapan yang terjadi akan

terlihat kecocokannya, juga dilihat dari bio data yang ditampilkan oleh

pengguna Tinder dan informan juga menyatakan bahwa cara mencari

teman kencan di Tinder adalah melalui notif yang dibuat baru kemudian

dilanjutkan dengan japri.

Cara bermain Tinder terbilang cukup sederhana dibanding

aplikasi dating online lainnya. Cukup dengan mengisi informasi

personal, lalu mengunggah foto profil dan mengisi informasi pribadi

seperti umur, mengisi biodata pendek pada bagian about me, hingga

memasukkan daftar lagu kesukaan yang terhubung dengan aplikasi

Spotify, setelah selesai, aplikasi tersebut akan menampilkan calon-

calon yang mereka pilihkan berdasarkan lokasi atau jarak yang tidak

terlalu jauh. Setelah itu pengguna dapat menggeser ke kiri yang berarti

pengguna tidak memilih orang tersebut. Sebaliknya, jika pengguna

menggeser ke kanan berarti pengguna memilih orang tersebutt. Hal

ini harus dilakukan oleh keduanya agar bisa terhubung satu sama lain.
55

Tahap selanjutnya adalah berkomunikasi, jika mereka memiliki

keserasian dan kenyamanan dalam berkomunikasi satu sama lain,

kemungkinan mereka akan bertemu secara langsung, namun dalam

prosesnya akan ada tahap yang harus dilewati oleh para pengguna

tinder jika ingin mencapai tahap hubungan berkelanjutan atau bertemu

secara langsung. Seseorang harus bisa mengugkapkan dirinya dengan

baik agar lawan bicara bisa tertarik dengan dirinya, baru kemudian

dapat melakukan pecakapan. Hasil wawancara di dalam memulai

percakapan di Tinder adalah memperkenalkan diri terlebih dahulu dan

tujuan dari percakapan tersebut.

Hasil wawawancara dengan informan mengenai cara memulai

percakapan di aplikasi Tinder antara informan laki-laki dengan

perempuan berbeda, dimana pengguna Laki-laki langsung

memperkenalkan diri terlebih dahulu sedangkan informan perempuan

lebih bersikap menunggu kalau ada yang ngechat baru di balas. Media

Tinder sangat akrab dengan aktivitas sehari-hari khusnya bagi remaja,

dimana remaja dapat mengungkapkan apa yang dimilikinya di aplikasi

Tinder untuk menarik atau memikat lawan jenis. Remaja dapat

membagikan moment, poto profil dan bio data sebagai langkah

pengenalan awal. Dari banyaknya manfaat media sosial Tinder yang

dirasakan oleh penggunanya khususnya remaja, media sosial dapat

menjadi cara untuk memperoleh teman ataupun pasangan yang tidak

terbatas pada satu lokasi. Remaja yang membutuhkan teman ataupun


56

pasangan untuk berbagi kemudian mencari pasangannya di media

Tinder. Remaja yang hanya mengenal melalui melalui Tinder nyatanya

dapat jatuh cinta kepada lawan bicaranya.

c. Interpretasi

Interpretasi adalah tahap terpenting dalam membentuk persepsi,

interpretasi merupakan informasi yang diperoleh melalui salah satu atau

lebih dari indra yang dimiliki manusia. Remaja tidak bisa

menginterpretasikan makna setiap objek secara langsung melainkan

menginterpretasikan makna yang dipercayai mewakili objek tersebut.

Interpretasi dalam hal ini adalah pemahaman informan tentang aplikasi

Tinder.

Kehadiran aplikasi Tinder memberikan keleluasaan bagi remaja

untuk memperoleh teman ataupun calon pasangan, Kebutuhan remaja

akan hadirnya aplikasi Tinder ini memiliki pengaruh besar karena

terbukti informan cukup sering membuka atupun menggunakan aplikasi

Tinder. Peneliti juga menanyakan menanyakan bagaimana pendapat

remaja terhadap kelebihan dan kekurangan dari aplikasi Tinder. Hasil

wawancara dengan informan mengenai kelebihan Tinder adalah

memudahkan di dalam mencari teman ataupun pasangan (informan I),

cakupan wilayah untuk memperoleh teman atau pasangan yang lebih

luas (Informan II dan III) serta dapat memperoleh teman secara acak

(infomran IV) sedangkan belum ada sisi kekurangan dari aplikasi

Tinder (Informan I dan IV) tetapi informan II dan III menyatakan


57

bahwa kekurangan Tinder adalah di dalam pemasangan poto profil yang

diedit sehingga terkadang apabila bertemu secara langsung akan

berbeda antara poto dengan aslinya.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa kelebihan dari Tinder

adalah mendapatkan teman ataupun pasangan yang tidak terbatas

karena cakupannya lebih luas bisa satu kota, satu daerah, satu provinsi

bahkan hingga ke luar negeri sedangkan kekurangan dari Tinder maka

beberapa informan menyatakan tidak ada kekurangan sama sekali

sedangkan informan lain menunjukkan bahwa kekurangan Tinder

adalah terkadang foto profil berbeda dengan aslinya, karena foto bisa

diedit menjadi lebih menarik.

Pengguna Tinder dapat mengekspresikan diri mereka sebebas-

bebasnya sesuai dengan apa yang ingin mereka tampilkan di profil

Tinder. Hal ini menarik karena mereka dapat menyembunyikan sisi

negatif dan menonjolkan sisi positif dari diri mereka untuk

mendapatkan pasangan. Hal ini terbukti dari hasil wawancara dengan

informan mengenai manfaat menggunakan Tinder adalah memperoleh

pasangan dan beberapa teman serta menambah relasi sehingga persepsi

remaja di Rt 1 Rw 22 Kelurahan Jebres menyatakan bahwa manfaat

dari Tinder memang sesuai dengan fungsi dari aplikasi Tinder itu

sendiri yaitu untuk memperoleh teman ataupun pasangan.


58

C. Pembahasan

Peneliti melakukan pengumpulan data wawancara dan observasi dengan

mewawancarai informan melalui bertatap muka langsung kepada keempat

informan pada saat wawancara dan melakukan hal yang sama tetapi tidak

mengizinkan untuk disebutkan namanya sehingga digunakan nama inisial

sesuai kesepakatan dengan para informan.

Penelitian ini menggunakan teori persepsi dari Deddy Mulyana (2011).

Proses persepsi terbagi menjadi tiga aktivitas meliputi penginderaan (sensasi)

melalui alat-alat indera kita (indera peraba, indera penglihat, indera pencium,

indera pengecap dan indera pendengar), atensi dan interpretasi (Sunarjo,

2014: 97). Setiap individu akan memiliki kriterianya sendiri dalam

menentukan terhadap apa mereka akan menarik perhatian mereka. Masing-

masing individu akan memandang dunia berkaitan dengan apa yang mereka

butuhkan, apa yang dinilai, apakah sesuai dengan keyakinan dan budayanya.

(Liliweri, 2011 : 153). Menyadari hal ini, kita sadar bahwa stimulus dapat

datang dari mana pun. Artinya, stimulus dapat datang dari luar diri individu,

tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan. Persepsi

remaja terhadap aplikasi Tinder sebagai sarana mencari pasangan dalam

penelitian ini difokuskan pada tiga hal yaitu sensasi, atensi dan interpersonal.

1. Sensasi

Sensasi adalah tahap pertama stimuli mengenai alat indera. Sensasi

berasal dari kata sense yang artinya penginderaan, yang menghubungkan

organisme dengan lingkungannya. Sensasi yang dimaksud dalam


59

penelitian ini adalah tahap pertama yang dirasakan remaja setelah

mengetahui adanya aplikasi Tinder sebagai aplikasi untuk mencari

pasangan. Aplikasi Tinder ini memberikan stimulus yang kuat terhadap

informan untuk memperoleh teman atau pasangan, sehingga setelah selesai

melakukan download aplikasi dan menggunakannya, para informan

memberikan sensasi yang dirasakannya. Sensasi yang ditunjukan oleh

beberapa informan terhadap aplikasi Tinder adalah merasa senang dengan

adanya aplikasi Tinder dimana informan juga memiliki pengalaman

menyenangkan yang kurang menyenangkan, untuk yang menyenangkan

kaerna sempat mendapat pacar yang sesuai dengan ekspetasi kemudian

yang kurang menyenangkan adalah hubungan tersebut terputus selain itu

informan juga menyatakan bahwa memiliki perasaan yang seru karena

dapat berkenalan dengan orang-orang baru yang baru di kenal.

Ssensasi melibatkan alat indera manusia diantaranya, penglihatan,

penciuman, pendengaran, pengecap dan peraba. Dalam penelitian ini

sensasi yang didapat lebih banyak dilihat dari indera penglihatan, hal ini

kaerna informan melihat berbagai foto profil yang ada di Tinder dimana

ketika cocok maka informan melakukan komunikasi dengan lebih intens.

Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi proses sensasi meliputi

faktor fisik, fisiologis dan psikologis. Faktor fisik dimana alat indera yaitu

penglihatan menangkap stimulus yang diberikan melalu foto profil dan bio

data yang disertakan oleh masing-nasing anggota Tinder. Selanjutnya

fisiologis dimana proses alat indera yang meneruskan stimulus ke saraf


60

sensorik menuju otak, dan psikologis yaitu proses dimana otak menyadari

apa yang diterima dari penglihatan. Hal tersebut merupakan proses terakhir

dari sensasi atau pengamatan yang sebenarnya. Setelah melakukan

wawancara dengan informan tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan

bahwa remaja memiliki sensasi yang positif terhadap aplikasi Tinder

karena dapat dilihat dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh

peneliti maka informan menyatakan senang terhadap aplikasi Tinder untuk

mencari pasangan. Informan menganggap bahwa aplikasi Tinder dapat

memotivasi dirinya untuk berkenalan dengan orang yang baru ataupun

untuk berkenalan dengan calon pasangannya.

2. Atensi

Atensi atau perhatian adalah pemrosesan secara sadar sejumlah kecil

informasi dari sejumlah besar informasi yang tersedia. Informasi

didapatkan dari penginderaan, ingatan maupun proses kognitif lainnya.

Proses atensi membantu efisiensi penggunaan sumber daya mental yang

terbatas dan kemudian akan membantu kecepatan reaksi terhadap

rangsangan tertentu. Aplikasi Tinder memiliki bagian-bagian tertentu yang

menjadi perhatian para informan, seperti ketika Tinder menampilkan profil

dan biodata dari anggota Tinder. Profil dan biodata tersebut mereka

anggap sebagai informasi baru yang mereka dapatkan.

Hasil wawancara menunjukkan bahwa informan berpendapat bahwa

atensi atau perhatian remaja terhadap aplikasi Tinder sebagai sarana untuk

mencari pasangan menyatakan bahwa informan menganggap mereka


61

tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder untuk mendapatkan teman

atau pasangan dan itulah daya tarik utama dari dari aplikasi Tinder itu

sendiri. Informan juga menyatakan bahwa tertarik menggunakan aplikasi

Tinder karena informan dapat dengan bebas memilih teman atau pasangan,

tidak terbatas tempat atau lokasi di suatu daerah. Informan menyatakan

juga bahwa cara memilih teman adalah dengan melihat poto profil dan

juga selera dari masing-masing anggota Tinder dan kecocokan saat

berkomunikasi dan cara informan untuk memulai percakapan di aplikasi

Tinder antara informan laki-laki dengan perempuan berbeda, dimana

pengguna Laki-laki langsung memperkenalkan diri terlebih dahulu

sedangkan informan perempuan lebih bersikap menunggu kalau ada yang

ngechat baru dibalas.

Hal tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan atensi dari aplikasi

Tinder menunjukkan bahwa Tinder sangat menarik bagi informan di dalam

mencari pasangan. Atensi atau perhatian adalah pemrosesan secara sadar

sejumlah kecil informasi dari sejumlah besar informasi yang tersedia.

Informasi didapatkan dari penginderaan, ingatan maupun proses kognitif

lainnya. Atensi berdasarkan faktor eksternal yang berasal dari luar

individu, informan mempunyai perhatian untuk menggunakan aplikasi

Tinder disebabkan karena tertarik terhadap aplikasi, kemudian

berpartisipasi dengan cara memilih teman, dilanjutkan dengan melihat foto

profil untuk menentukan mana yang dipilih kemudian berlanjut dengan

komunikasi. Hal lain juga disebabkan oleh indikator intesitas stimuli,


62

stimuli yang menonjol dari stimuli yang lainnya. Stimuli yang menonjol

ini berupa adanya foto profil yang ada di Tinder sehingga cukup menarik

perhatian informan untuk melihat biodata dari calon pasangan yang

diinginkan. Dalam faktor internal yang datang dari dalam diri individu

informan, terdapat dua indikator yaitu faktor biologis. Faktor yang

mempengaruhi informan untuk memenuhi kebutuhannya dalam hal

mendapatkan informasi yang berhubungan dengan calon teman atau

pasangan yang diharapkan memiliki selera ataupun kegemaran yang

diharapkan sama. Indikator kedua adalah faktor sosiopsikologis

merupakan faktor yang bersifat psikologis atau yang berkaitan dengan jiwa

seseorang yang terkait dengan kebutuhan-kebutuhan sosial. Dari hasil

wawancara dengan informan, memiliki harapan yang sama atas informasi

yang diharapkan di dalam aplikasi Tinder yaitu informasi yang bersifat

personal masing-masing Tinder yang harus disajikan apa adanya tentang

jati diri dari anggota Tinder. Dari tahapan atensi melalui faktor internal

dan eksternal, sama-sama mampu menarik perhatian informan untuk

menggunakan aplikasi Tinder sebagai upaya untuk mencari teman atau

pasangan.

3. Interpretasi

Interpretasi atau penafsiran adalah proses komunikasi lisan atau

gerakan antara dua atau lebih pembicara yang tidak dapat menggunakan

symbol-simbol yang sama, baik secara simultan (dikenal sebagai

interpretasi simultan) atau berurutan (dikenal sebagai interpretasi


63

berurutan) (Liliweri, 2011). Interpretasi digunakan sebagai suatu metode

jika dibutuhkan. Interpretasi umumnya dilakukan untuk mendapatkan

pengertian atau pengetahuan yang lebih jelas dan mendalam tentang

sesuatu. Interpretasi sangat bergantung dari sudut pandang dan latar

belakang orang yang menginterpretasikan, sehingga interpretasi terhadap

objek yang sama bisa memberikan hasil yang berbeda. Seperti pada

aplikasi Tinder yang memberikan respon positif mengenai kelebihan dari

aplikasi Tinder adalah untuk berkenalan dengan orang-orang baru yang

cakupannya lebih luas sehingga informan dapat memilih calon teman

ataupun pasangan sesuai kehinginan. Mengenai kelemahan dari aplikasi

Tinder informan menyatakan dua hal yang berbeda dimana terdapat

informan yang menyatakan tidak ada kelemahan atau kekurangan, tetapi

informan lain juga menyatakan bahwa kekurangan dari aplikasi Tinder

adalah karena adanya foto yang diedit sehingga terkadang ketika bertemu

maka tidak sesuai dengan fotonya.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan para informan,

peneliti menyimpulkan interpretasi remaja terhadap aplikasi Tinder

sebagai upaya untuk mencari pasangan yaitu dengan adanya aplikasi

Tinder maka dapat memberikan manfaat bagi mereka untuk berkenalan

dan memperoleh teman atau bahkan pasangan


64

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi

remaja ditinjau dari indikator sensasi bahwa remaja merasa senang terhadap

aplikasi Tinder untuk mencari pasangan, memiliki pengalaman

menyenangkan dan tidak menyenangkan. Persepsi remaja ditinjau dari

indikator atensi bahwa remaja menyatakan aplikasi Tinder sebagai sarana

untuk mencari pasangan dan memilih pasangan yang tidak terbatas lokasi

dengan cara melihat poto profil dan biodata. Persepsi remaja ditinjau dari

indikator interpretasi bahwa remaja memberikan respon positif mengenai

kelebihan aplikasi Tinder adalah untuk berkenalan dengan orang-orang baru

yang cakupannya lebih luas sehingga informan dapat memilih calon teman

ataupun pasangan sesuai kehinginan sedangkan kelemahan aplikasi Tinder

karena foto yang diedit sehingga ketika bertemu tidak sesuai dengan fotonya.

B. Implikasi

Tinder sebagai salah satu media sosial yang memungkinkan seseorang

untuk mengunggah foto dan bidodata dari para penggunanya yang bertujuan

untuk memperoleh teman atau pasangan. Perubahan gaya hidup yang paling

dirasakan dari adanya Tinder adalah remaja mempunyai keinginan yang

tinggi untuk menggunakan Tinder sebagai salah satu sarana untuk

64

64
65

memperkenalkan dirinya kepada orang lain melalui media online. Hasil

penelitian ini digunkan sebagai masukan bagi remaja dalam menggunakan

aplikasi Tinder secara bijak dan tetap berhati-hati di dalam mencari pasangan.

Penggunaan aplikasi tinder yang mudah sehingga dapat digunakan dari

berbagai usia dimana remaja dapat menjalin sebuah hubungan ketika

pengguna sama-sama menunjukkan ketertarikan satu sama lainnya setelah

menekan tombol “like” tanpa adanya paksaan atau notification

C. Rekomendasi

Saran yang dapat diberikan adalah remaja hendaknya juga tetap

berhati-hati di dalam menggunakan aplikasi Tinder karena kemungkinan

terdapat unsur penipuan ataupun kejahatan dengan berkedok mencari teman

ataupun pasangan.
66

DAFTAR PUSTAKA

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), 2020. Pengguna Internet


di Indonesia Tembus 210 juta pada 2022. Diakses dari https://
[Link]..

Batoebara, MU dan Hasugian, BS.2021. Komunikasi Romantisme Masa Pandemi


Melalui Sosial Media. Jurnal Network Media. Vol: 4 No.1, hal 44 – 54.

Creswell W.J. 2013. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan


Mixed. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Devito, Joseph. 2011. Komunikasi Antar Manusia, Edisi Kelima. (Judul Asli
Human Communication). Jakarta: Professional Books.

Ferdiana, Cervia, Susanto, Eko Harry dan Aulia, Sisca. 2020. Penggunaan Media
Sosial Tinder dan Fenomena Pergaulan Bebas di Indonesia. Koneksi. Vol 4
No 1, hal 112-118.

Haenlein, Michael. 2010. Users of the world, unite! The challenges and
opportunities of Social Media. London : Business Horizons.

[Link]. 2020. Kasus Mutilasi Rinaldi Berawal dari Aplikasi Kencan


Tinder. Diakses dari [Link]

Muhammad, Arni, 2015, Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.

Mulyana, Dedy. 2014. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Remaja


Rosdakarya.

Nadya, Karlina, dkk. 2016. Makna Hubungan Antarpribadi Melalui Media Online
Tinder. Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. III No. 1, hal 11-17.

Nasrullah, Rulli. 2017. Media Sosial : Perspektif Komunikasi, Budaya, dan


Sosioteknologi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
67

Pratiwi, Eliska, Sujana, N dan Haris, I.A. 2019. Persepsi dan Partisipasi
Masyarakat terhadap Penerapan Program Kerja BUMDES Dwi Amertha
Sari di Desa Jinengdalem. Jurnal Pendidikan Ekonomi Undiksha. Vol. 11
No.1.

Puntoadi, Danis. 2012. Menciptakan Penjualan Melalui Media Sosial. Jakarta: PT


Elex Komputindo.

Putri, Tessa Novala, dkk. 2015. Motif Pria Pengguna Tinder sebagai Jejaring
Sosial Pencarian Jodoh (Studi Virtual Etnografi Mengenai Motif Pengguna
Tinder). e-Proceeding of Management. Vol. 2, No.3, hal 4051-4057.

Rizaty, Monavia Ayu. 2022. Pengguna Aplikasi Kencan Online Tembus 323 Juta
Orang pada 2021. Diakses dari [Link]

Romli, Asep Syamsul M. 2018. Jurnalistik Online. Panduan Praktis Mengelola


Media Online, Bandung: Nuansa Cendikia.

Safala, Udin. 2013. Trend Masyarakat Global dalam Pemilihan Pasangan &
Perkawinan Antar Ras Prespektif Umum dan Islam. Kodifikasia. Vol 7 No.
1, hal 41-62.

Sugiyono. 2014. Metode Penelitian  Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung :


Alfabeta.

Suranto, AW. 2011. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tanra, Indra. 2015. Persepsi Masyarakat Tentang Perempuan Bercadar. Jurnal


Equilibrium Pendidikan Sosiologi. Vol. III No. 1, hal 117-129.

Tim Pusat Humas Kementerian Perdagangan RI. 2014. Panduan Optimalisasi


Media Sosial Untuk Kemantrian Perdagangan RI. Jakarta : Pusat Humas
Kementerian Perdagangan RI.

Wahyudi. Muchamad Zaid. 2022. Jebakan Aplikasi Kencan. Diakses dari


[Link]/baca/gawai/2022/03/29/

Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.


68

PEDOMAN WAWANCARA

PENDAHULUAN
1. Sudah berapa lama sebagai pengguna aktif tinder ?
2. Apa yang mengawali anda untuk meggunakan tinder?
3. Apakah anda memasang foto profil diri anda ? Jika iya seberapa penting
pemilihan foto profil menurut anda ?
4. Apakah anda menggunakan data diri di tinder ? Jika iya, seberapa penting bio
untuik menggambarkan diri anda ?
SENSASI
1. Apakah anda sering
menggunakan aplikasi Tinder dan kenapa ?
2. Bagaimana pengalaman anda
mengenai aplikasi Tinder ?
3. Bagaimana perasaan anda
mengenai penggunaan aplikasi Tinder ?
ATENSI
4. Apa yang membuat anda
tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder ?
5. Apakah Anda tertarik untuk
berpartisipasi untuk mencari teman atau jodoh dengan menggunakan aplikasi
Tinder ?
6. Bagaimana anda memilih
calon teman kencan di tinder?
7. Bagaimana biasanya anda
memulai percakapan di tinder ?
INTERPRETASI
8. Apa kelebihan dan
kekurangan menggunakan aplikasi Tinder ?
9. Apa manfaat yang anda
peroleh dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
69

HASIL WAWANCARA DENGAN INFORMAN I

PENDAHULUAN
1. Sudah berapa lama sebagai pengguna aktif tinder ?
Jawab: 1 tahun
2. Apa yang mengawali anda untuk meggunakan tinder?
Jawab :tertarik untuk menggunakan Tinder sejak putus dari pasangan dan
direkomendasikan oleh teman ada aplikasi untuk mencari pasangan lalu
melakukan download aplikasi tinder ini dan sampai saat ini masih digunakan.
3. Apakah anda memasang foto profil diri anda ? Jika iya seberapa penting
pemilihan foto profil menurut anda ?
Jawab: Penting karena untuk mengenalkan diri kita ke lawan jenis, kita itu
seperti apa, pakai kacamata atau tidak dan agar tidak kelihatan palsu
4. Apakah anda menggunakan data diri di tinder ? Jika iya, seberapa penting bio
untuik menggambarkan diri anda ?
Jawab : Untuk bio biasanya saya isi tentang diri pribadi saya mulai dari
kesukaan, hobi, selera musik. Menurut saya itu penting agar calon pasngan
yang saya cari itu bisa sesuai dengan kriteria saya
SENSASI
1. Apakah anda sering menggunakan aplikasi Tinder dan kenapa ?
Jawab : Tinder sering saya gunakan waktu saya dalam tahap mencari sih
sampai dapat pasangan seperti yang saya mau, maksudnya yang sesuai
dengan tipe saya. Dan setelah itu yaudah saya jeda dulu pakai aplikasi ini,
nanti kalau semisal pasangan yang saya temuin ini tidak sesuai saya akan
pakai tinder lagi sih untuk mencari calon pasangan yang lain lagi
2. Bagaimana pengalaman anda mengenai aplikasi Tinder ?
70

Jawab : Kalau pengalaman si ada yang menyenangkan ada juga yang kurang
menyenangkan, untuk yang menyenangkan sekali duakali ini sempat
mendapat pacar yang sesuai dengan ekspetasi saya. Yang kurang
menyenangkan si beberapa kali sempat dapat yang sudah komunikasi intens
namun tiba tiba menghilang atau tidak memberi kabar lagi. Itu sudah ada
yang ketemu dan ada juga baru komunikasi intens di media social
3. Bagaimana perasaan anda mengenai penggunaan aplikasi Tinder ?
Jawab : selama ini menyenangkan sih karna sepengalaman saya terlebih di
solo sendiri itu benyak pilihan (calon pasangan), mungkin karna yang pakai
banyak ya jadi banyak pilihan, dibanding aplikasi lain itu untuk pilihan (calon
pasangan) sendiri paling banyak di tinder ini sepengalaman saya
ATENSI
1. Apa yang membuat anda tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : karena di tinder ini kebanyakan orang asing ya jadi ga melulu di
circle kita, cakupannya luas banyak pilihan dan kebanyakan memiliki tujuan
yang sama yaitu mencari pasangan
2. Apakah Anda tertarik untuk berpartisipasi untuk mencari teman atau jodoh
dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : ya karena ingin mencari teman atau bahkan pasangan, itu yang
utama, disini kita bisa bebas memilih kalau cocok dilanjutkan kalau nggak
cocok ya sudah gakpapa
3. Bagaimana anda memilih calon teman kencan di tinder?
Jawab : caranya dari photo profile, hobi, selera music dan juga jarak si kalau
bisa di solo aja biar ga ldr gitu
4. Bagaimana biasanya anda memulai percakapan di tinder ?
Jawab : say hello, perkenalan diri, lalu tanya diam atau cari teman atau
pasangan seperti itu
INTERPRETASI
1. Apa kelebihan dan kekurangan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : kekurangan sejauh ini belum merasakan, untuk kelebihannya
memudahkan dalam mencari pasngan karena pada dating app ini rata rata
penggunanya memiliki tujuan yang sama yaitu mencari pasangan
2. Apa manfaat yang anda peroleh dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : Manfaat menggunakan inder yang saya alami adalah sempat
memperoleh pasangan dan beberapa teman
71

HASIL WAWANCARA DENGAN INFORMAN II

PENDAHULUAN
1. Sudah berapa lama sebagai
pengguna aktif tinder ?
Jawab: dua tahun
2. Apa yang mengawali anda untuk meggunakan tinder ?
Jawab : Awal mula menggunakan Tinder, hanya iseng tujuannya untuk
mendapat teman/kenalan baru, terlebih lagi bisa punya pacar lewat aplikasi
Tinder
3. Apakah anda memasang foto profil diri anda ? Jika iya seberapa
penting pemilihan foto profil menurut anda ?
Jawab: Di tinder foto dan bio sangat penting karena calon teman atau
pasangan pada awalnya akan mengenali kita melalui foto dan bio yang
dicantumkan di profil, karena sebelumnya belum pernah bertemu
4. Apakah anda menggunakan data diri di tinder ? Jika iya, seberapa
penting bio untuik menggambarkan diri anda ?
Jawab : biasanya si tentang minat (hobi, selera music, dll), sama region
mungkin
SENSASI
1. Apakah anda sering menggunakan aplikasi Tinder dan kenapa ?
Jawab : jarang si paling waktu ada notif yang ngelike baru saya buka tinder,
sekalian scroll scroll cari pasangan, habis itu biasanya saya buka waktu ada
notif lagi. jadi saya ngga terlalu ngebet mencari pasangan disini
2. Bagaimana pengalaman anda mengenai aplikasi Tinder ?
Jawab : belum pernah dapet pacar, paling dapet temen ngobrol virtual sama
temen nongkrong ada beberapa
72

3. Bagaimana perasaan anda mengenai penggunaan aplikasi Tinder ?


Jawab : seru si sama deg-degan soalnya kan kenalan sama orang orang baru
yang kita itu bener bener asing gitu lo
ATENSI
1. Apa yang membuat anda tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : ya dapat teman baru, yang tidak kenal sama sekali, kalau cocok kan
lumayan
2. Apakah Anda tertarik untuk berpartisipasi untuk mencari teman atau jodoh
dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : Saya itu agak bosen main sama temen yang itu itu aja, kalo disini kan
kita bisa dapet kenalan itu dari orang yang bener-bener asing dari circle yang
beda, jadi kita kenal sama satu orang trus kaya bisa dapet circle baru itu si
yang membat saya tertarik
3. Bagaimana anda memilih calon teman kencan di tinder?
Jawab : kalo pasangan ya ga munafik dari photo profil dulu bar uke bio kira
kira cocok engga, kalo cari temen biasanya lihat bionya kira kira cocok ngga
nih ama kita, ngobrolnya nyambung ngga nih ama kita gitu sih
4. Bagaimana biasanya anda memulai percakapan di tinder ?
Jawab : pake pickup line template kaya knock knock dan sebagainya,
perkenalan diri juga
INTERPRETASI
1. Apa kelebihan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : kelebihannya itu kalo dibandingkan dunia nyata cakupannya luas bisa
dapet kenalan dari luar kota/provinsi/bahkan sampe luar negri dan di tinder
ini rata rata kan tujuannya juga sama yaitu cari pasangan jadi mempermudah
untuk cari pasangan gitu sih, kalo kekurangannya itu kita hanya dinilai dari
foto sama bio doang, kaya kadang ada yang fotonya editan trus nanti pas
ketemu lho kok beda, yah seputar itu si kalo kekurangan
2. Apa manfaat yang anda peroleh dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : kalau bagi saya tentunya menambah teman dan kalau dapat pasangan
yang cocok kalau bisa
73

HASIL WAWANCARA DENGAN INFORMAN III

PENDAHULUAN
1. Sudah berapa lama sebagai
pengguna aktif tinder ?
Jawab: 2 tahun
2. Apa yang mengawali anda
untuk meggunakan tinder?
Jawab : Saya memakai Tinder atas saran dari teman-teman, karena di Tinder
banyak cowok yang keren sehingga saya jadi penasaran, selain itu dengan
memakai Tinder kita juga bisa menambah relasi ataupun teman
3. Apakah anda memasang foto
profil diri anda ? Jika iya seberapa penting pemilihan foto profil menurut
anda ?
Jawab: Penting karena di tinder yang bisa diliat awalnya hanya foto sama
bio, terkadang ada yang mencantumkan akun sosial media yang dimilikinya,
tetapi yang bisa dilihat pertama tetap foto dan bio yang ada di aplikasi Tinder
4. Apakah anda menggunakan
data diri di tinder ? Jika iya, seberapa penting bio untuik menggambarkan diri
anda ?
Jawab : biasanya aku kosongin si biar keliatan misterius aja
SENSASI
1. Apakah anda sering menggunakan aplikasi Tinder dan kenapa ?
Jawab : dulu lumayan sering sih, berenti pake tinder Cuma pas missal ada
yang nyantol satu gitu ya dijalanin dulu sama calon pasangan ini, kalo
ternyata ngga cocok sama satu orang ini ya aku main tinder lagi buat cari
calon pasangan lain
74

2. Bagaimana pengalaman anda mengenai aplikasi Tinder ?


Jawab : dapet temen dari dalam sampai luar kota juga ada, terus awal tahun
kemarin saya punya pacar juga awal kenalnya dari tinder
3. Bagaimana perasaan anda mengenai penggunaan aplikasi Tinder ?
Jawab : ya senang sih, karena bisa dapat teman baru, atau pasangan
ATENSI
1. Apa yang membuat anda tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : ya kalau pakai Tinder kan lebih enak karena kenalan dulu lewat
online, karna ngajak kenalan langsung di dunia nyata itu rasanya aga gimana
ya “aneh mungkin” kalo di dating apps kan jelas aplikasi buat kenalan/cari
pasangan, kaya lebih simple aja, dan rekomendasi temen temen juga sih
2. Apakah Anda tertarik untuk berpartisipasi untuk mencari teman atau jodoh
dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : kalau kita lebih bebas berekspresi, kita dapat dipilih dan memilih
teman atau calon pasangan
3. Bagaimana anda memilih calon teman kencan di tinder ?
Jawab : ya mesti lihat profilnya dulu, baru kemudian ngobrolnya nyambung
nggak, sesuai kriteria yang kita inginkan atau tidak
4. Bagaimana biasanya anda memulai percakapan di tinder ?
Jawab : ya biasanya ada yang dm atau notif ke saya, baru saya balas
INTERPRETASI
1. Apa kelebihan dan kekurangan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : Kelebihan dan kekurangan Tinder ya kalau kelebihannya
jangakauannya luas, kita bisa memilih semau kita calon teman atau pasangan,
kalau kekurangannya saya kira sih kadang foto sama aslinya kadang beda
2. Apa manfaat yang anda peroleh dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : Kalau manfaat Tinder bagi saya adalah dapat teman baru dan mesti
juga ada yang dapat pasangan juga
75

HASIL WAWANCARA DENGAN INFORMAN IV

PENDAHULUAN
1. Sudah berapa lama sebagai pengguna aktif tinder ?
Jawab : 4 bulan
2. Apa yang mengawali anda untuk meggunakan tinder?
Jawab : Awal mula menggunakan Tinder kaerna iseng, karena teman-teman
temen banyak yang menggunakannya, sehingga timbul keinginan untuk
download dan berharap dapat pacar
3. Apakah anda memasang foto profil diri dan biodata anda ? Jika iya seberapa
penting pemilihan foto profil dan biodata menurut anda ?
Jawab : Iya, Adanya foto dan biodata cukup penting, karena yang pertama kali
dilihat oleh orang lain adalah foto dan biodata
4. Apakah anda menggunakan data diri di tinder ? Jika iya, seberapa penting bio
untuik menggambarkan diri anda ?
Jawab : kalau saya bisanya region, akun sosmed, sama beberapa hal kesukaan
saya seperti selera music sama hobi
SENSASI
1. Apakah anda sering menggunakan aplikasi Tinder dan kenapa ?
Jawab: agak jarang ya, paling kalau ada notif sama buka pas malem gitu
sambil rebahan sebelum tidur sempetin scroll scroll dulu
2. Bagaimana pengalaman anda mengenai aplikasi Tinder ?
76

Jawab : ini baru deket sama sesorang tapi belum jadi pacar, kalo kemarin
kemarin belum ada ya baru ini
3. Bagaimana perasaan anda mengenai penggunaan aplikasi Tinder ?
Jawab : lumayan seru ya ternyata, bisa kenalan sama orang asing, dan
kebetulan saya ini orangnya ngga punya banyak temen jadi lumayan seru/asik
pake tinder ini
ATENSI
1. Apa yang membuat anda tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : karena menarik bisa kenalan sama teman baru, siapa tahu jadi
pasangan kita karena memang ini kan khusus untuk cari pasangan aplikasinya
2. Apakah Anda tertarik untuk berpartisipasi untuk mencari teman atau jodoh
dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : ya tertarik karena aplikasi ini memang dasarnya untuk cari pasangan,
siapa tahu dapat yang benar-benar serius dengan kita
3. Bagaimana anda memilih calon teman kencan di tinder?
Jawab : caranya ya kita notif mungkin nanti ada yang bales mungkin bisa
lanjut japri, kalau cocok ya nanti jalan ke depannya apa lihat nanti aja
4. Bagaimana biasanya anda memulai percakapan di tinder ?
Jawab : kalau saya sih lihat notif dulu.. kalau ada yang notif saya balas
INTERPRETASI
1. Apa kelebihan dan kekurangan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : kelebihannya itu seperti kita ngga bisa nih ngajak kenalan orang
random di dunia nyata, kalau kekurangan belum ada ya untuk saat ini
2. Apa manfaat yang anda peroleh dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : Manfaat Tinder bagi saya pastinya nambah teman, nambah relasi, atau
mungkin juga dapat pacar atau pasangan

Anda mungkin juga menyukai