1
PERSEPSI REMAJA TERHADAP APLIKASI TINDER SEBAGAI SARANA
MENCARI PASANGAN
(Survei pada Remaja Rt 1 Rw 22 Jebres Surakarta)
SKRIPSI
Diajukan Guna Melengkapi Tugas-tugas Untuk Mencapai
Gelar Sarjana Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Ilmu Komunikasi
Oleh:
BAYU AJI PANGESTU
NPM. 17410058
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SLAMET RIYADI
SURAKARTA
2023
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia pada umumnya merupakan makhluk sosial yang tidak dapat
hidup sendiri tanpa bantuan manusia lain, dengan kata lain manusia
membutuhkan komunikasi dan saling ketergantungan satu dengan lainnya.
Komunikasi berperan penting dalam membantu manusia untuk menjalin suatu
hubungan. Batoebara dan Hasugian (2021: 44) menyatakan bahwa hubungan
atau relasi itu dapat berbentuk berteman, bersahabat, berpacaran, suami-istri,
orang tua dan anak. Komunikasi menjadi syarat agar hubungan terbina dengan
baik tanpa mengenal jarak dan waktu
Perkembangan teknologi membuat penyampaian informasi menjadi
cepat dan mudah diperoleh tidak memandang seberapa jauh jarak dan letak
tempat tinggal orang tersebut. Contoh perkembangan teknologi dalam bidang
komunikasi adalah dengan terciptanya media sosial melalui internet Jumlah
pengguna internet di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Berdasarkan
hasil survei mengenai penggunaan internet diketahui bahwa sebanyak 210,03
juta pengguna internet di dalam negeri pada periode 2021-2022. Jumlah itu
meningkat 6,78% dibandingkan pada periode sebelumnya yang sebesar 196,7
juta orang, sehingga tingkat penetrasi internet di Indonesia sebesar 77,02%
dengan rentang usia mayoritas pada usia 13-18 tahun yaitu 99,16%, kemudian
1
2
usia 19-3APJII, 4 tahun dengan tingkat penetrasi sebesar 98,64% (APJII,
2022).
Penguna internet yang semakin banyak sebagai dampak dari
perkembangan teknologi telah membawa perubahan yang signifikan pada pola
interaksi masyarakat, karena semua hal dapat dilakukan secara daring, mulai
dari bermain game, berbelanja, belajar, diskusi dan beberapa kegiatan lainnya,
sehingga telah membuat fungsi internet kian meluas dan banyak
menghadirkan aplikasi baru dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, salah
satunya hadirnya aplikasi bagi orang-orang yang ingin mencari jodoh.
Berbeda dengan zaman dahulu, pencarian jodoh terkadang diatur dan
dikontrol orang tua karena pada zaman dulu perkawinan adalah suatu kesatuan
dan bukan hanya antara dua individu, tetapi juga di antara dua keluarga yang
menjadi satu, sehinga orang tua merasa harus berperan aktif dalam memilih
pasangan untuk anaknya, tetapi perkembangan zaman membuat beragam cara
bagi seseorang untuk mendapatkan jodoh, salah satunya adalah melalui
aplikasi kencan online (dating app).
Salah satu inovasi dan menjadi tren bagi kalangan pengguna internet
ialah munculnya aplikasi pencarian jodoh atau sering disebut dengan aplikasi
kencan online (datting apps). Aplikasi kencan online semakin memiliki
banyak penggemar setelah kemunculan dan sistem cara kerjanya yang unik,
dimana setiap pengguna aplikasi ini dapat berkenalan secara langsung dengan
banyak orang baru dan menjalin banyak hubungan pertemanan bahkan hingga
ke hubungan yang lebih serius, hal tersebut membuat situs dan aplikasi kencan
3
online ini menjadi wadah yang menarik bagi orang-orang yang ingin menjalin
pertemanan dan ingin menemukan pasangan.
Menurut data dari [Link], pada 2021 jumlah pengguna
aplikasi kencan online sudah mencapai 323,9 juta di seluruh dunia. Angka ini
meningkat 10,3% dibandingkan tahun 2020 yaitu 293,7 juta pengguna.
Peningkatan pengguna aplikasi kencan online paling banyak terjadi pada
aplikasi Tinder Bumble, dan Engsel. Tinder sendiri memiliki pelanggan
sebanyak 9,6 juta orang di seluruh dunia pada kuartal II 2021 (Rizaty, 2022).
Sumber: Wahyudi (2022)
Gambar 1. 10 Aplikasi Kencan Terpopuler
Tinder adalah aplikasi kencan berbasis online yang memfasilitasi
komunikasi antara pengguna yang saling tertarik satu sama lain. Melalui
aplikasi tersebut, seseorang bisa dengan mudah berinteraksi dan mengobrol
secara pribadi dengan pria/wanita yang disukainya (Julianti dan Andhika,
2021: 4). Tinder memiliki fitur yang sederhana dan berbeda dengan aplikasi
kencan lain. Cara log in terbilang mudah, dimana user hanya perlu membuka
4
aplikasi Tinder dan menghubungkannya dengan akun Facebook atau melalui
verifikasi SMS, kemudian diarahkan ke halaman utama berisikan pilihan foto
profil pengguna Tinder lainnya. Seseorang dapat memilih siapa yang akan
dijadikan teman kencannya. Tinder merupakan media sosial kencan berbasis
daring yang digunakan mayoritas kalangan anak muda. Hasil survei
menunjukkan bahwa 35% pengguna aplikasi Tinder berada di rentang usia 18
– 24 tahun, sebesar 25% pengguna di usia 25 – 34 tahun sedangkan pengguna
berusia 45–54 tahun hanya 8% (Databoks, 2022).
Kepopuleran Tinder sebagai media berinteraksi di ruang digital
menjadikannya penting dalam proses perubahan sosial masyarakat. Media
sosial secara general adalah tempat untuk menunjukkan ekspresi diri,
memberikan kesenangan sosial dan memicu rasa ingin tahu serta pengalaman
emosional dan hedonis (Prettyoni, 2020). Keberadaan aplikasi kencan online
Tinder telah merubah pola perilaku masyarakat dalam hal pencarian jodoh.
Tinder memang memudahkan pencarian jodoh namun sebagian masyarakat
memberikan penilaian negatif. Banyak pengguna Tinder menyalahgunakan
aplikasi tersebut sehingga menimbulkan publisitas negatif. Misalnya berita
tentang peristiwa mutilasi di apartemen Kalibata City, penipuan dan pencurian
sepeda motor di kota Banyumas, dan predator seksual yang memanfaatkan
aplikasi Tinder (Annisa, 2022). Kasus lain yaitu mengenai kasus mutilasi
Rinaldi Harley Wismanu (32) yang berawal dari aplikasi kencan, Tinder.
Rinaldi Harley Wismanu berkenalan dengan sang pembunuh di Tinder. Yaitu
Laeli Atik Supriyatin alias LAS (27) dan Djumadil Al Fajar alias DAF (26).
5
Rinaldi dan Laeli berkenalan di Tinder kemudian Rinaldi dijebak diajak
menginap di apartemen bersama Laeli, sementara Djumadil menyiapkan
eksekusi pembunuhan Rinaldi ([Link], 2020).
Hasil observasi peneliti yang dilakukan di Ngoresan Jebres, Surakarta
melalui wawancara dengan beberapa remaja, juga menggunakan aplikasi
Tinder untuk menambah teman dan dari hasil wawancara pendahuluan dengan
pengguna Tinder di Ngoresan Jebres Surakarta juga berencana untuk mencari
jodoh. Hasil wawancara lanjutan menunjukkan bahwa di Kelurahan Ngoresan
pada khususnya belum pernah terjadi penyalahgunaan aplikasi Tinder yang
digunakan untuk kegiatan yang melanggar hukum, sehingga hal ini menarik
minat peneliti untuk melakukan penelitian tentang persepsi masyarakat pada
aplikasi Tinder khususnya pada remaja di Ngoresan RT 01/ RW 22, Jebres,
Surakarta.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka yang
menjadi pertanyaan penelitian adalah bagaimana persepsi remaja Kelurahan
Jebres terhadap aplikasi kencan online tinder sebagai sarana untuk mencari
pasangan ?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah penelitian, tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui tentang persepsi remaja terhadap aplikasi kencan
online Tinder sebagai sarana untuk mencari pasangan.
6
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Komunikasi Interpersonal
a. Pengertian
Komunikasi manusia adalah proses yang melibatkan individu-
individu dalam suatu hubungan, kelompok, organisasi dan masyarakat
yang merespon dan menciptakan pesan untuk beradaptasi dengan
lingkungan satu sama lain (Sendjaja, 2016 : 7). Salah satu bentuk
komunikasi adalah komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal
merupakan proses pengiriman dan penerimaan pesanpesan antara dua
orang atau di antara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa
efek dan beberapa umpan balik seketika (Devito, 2011: 280).
Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) adalah
komunikasi antara orang–orang secara tatap muka, yang
memungkinkan setiap pesertanya menangkap reaksi orang lain secara
langsung, baik verbal maupun nonverbal (Mulyana, 2014: 73)
Muhammad (2015: 159) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal
adalah proses pertukaran informasi diantara seseorang dengan paling
kurang seorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat
langsung diketahui balikannya”
6
7
Berdasarkan pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa
komunikasi antar pribadi adalah komunikasi yang dilakukan antara
seseorang dengan orang lain dalam suatu masyarakat maupun
organisasi (bisnis dan non-bisnis), dengan menggunakan media
komunikasi tertentu dan bahasa yang mudah dipahami (informal)
untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
b. Komponen-komponen Komunikasi Interpersonal
Dari pengertian komunikasi interpersonal yang telah diuraikan di
atas, dapat diidentifikasikan beberapa komponen yang harus ada dalam
komunikasi interpersonal. Menurut Suranto A. W (2011: 9)
komponen-komponen komunikasi interpersonal yaitu:\
a. Sumber/ komunikator
Merupakan orang yang mempunyai kebutuhan untuk
berkomunikasi, yakni keinginan untuk membagi keadaan internal
sendiri, baik yang bersifat emosional maupun informasional dengan
orang lain. Kebutuhan ini dapat berupa keinginan untuk memperoleh
pengakuan sosial sampai pada keinginan untuk mempengaruhi sikap
dan tingkah laku orang lain. Dalam konteks komunikasi
interpersonal komunikator adalah individu yang menciptakan,
memformulasikan, dan menyampaikan pesan.
b. Encoding
Encoding adalah suatu aktifitas internal pada komunikator
dalam menciptakan pesan melalui pemilihan simbol-simbol verbal
8
dan non verbal, yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata bahasa,
serta disesuaikan dengan karakteristik komunikan.
c. Pesan
Merupakan hasil encoding. Pesan adalah seperangkat simbol-
simbol baik verbal maupun non verbal, atau gabungan keduanya,
yang mewakili keadaan khusus komunikator untuk disampaikan
kepada pihak lain. Dalam aktivitas komunikasi, pesan merupakan
unsur yang sangat penting. Pesan itulah disampaikan oleh
komunikator untuk diterima dan diinterpretasi oleh komunikan.
d. Saluran
Merupakan sarana fisik penyampaian pesan dari sumber ke
penerima atau yang menghubungkan orang ke orang lain secara
umum. Dalam konteks komunikasi interpersonal, penggunaan
saluran atau media semata-mata karena situasi dan kondisi tidak
memungkinkan dilakukan komunikasi secara tatap muka.
e. Penerima/ komunikan
Penerima atau komunikan adalah seseorang yang menerima,
memahami, dan menginterpretasi pesan. Dalam proses komunikasi
interpersonal, penerima bersifat aktif, selain menerima pesan
melakukan pula proses interpretasi dan memberikan umpan balik.
Berdasarkan umpan balik dari komunikan inilah seorang
komunikator akan dapat mengetahui keefektifan komunikasi yang
9
telah dilakukan, apakah makna pesan dapat dipahami secara bersama
oleh kedua belah pihak yakni komunikator dan komunikan.
f. Decoding
Decoding merupakan kegiatan internal dalam diri penerima.
Melaui indera, penerima mendapatkan macam-macam data dalam
bentuk “mentah”, berupa kata-kata dan simbol-simbol yang harus
diubah kedalam pengalaman-pengalaman yang mengandung makna.
Secara bertahap dimulai dari proses sensasi, yaitu proses di mana
indera menangkap stimuli.
g. Respon
Respon yakni apa yang telah diputuskan oleh penerima
untukdijadikan sebagai sebuah tanggapan terhadap pesan. Respon
dapat bersifat positif, netral, maupun negatif. Respon positif apabila
sesuai dengan yang dikehendaki komunikator. Netral berarti respon
itu tidak menerima ataupun menolak keinginan komunikator.
Dikatakan respon negatif apabila tanggapan yang diberikan
bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator.
h. Gangguan (noise)
Gangguan atau noise atau barier beraneka ragam, untuk itu
harus didefinisikan dan dianalisis. Noise dapat terjadi di dalam
komponen-komponen manapun dari sistem komunikasi. Noise
merupakan apa saja yang mengganggu atau membuat kacau
10
penyampaian dan penerimaan pesan, termasuk yang bersifat fisik
dan phsikis.
i. Konteks komunikasi
Komunikasi selalu terjadi dalam suatu konteks tertentu, paling
tidak ada tiga dimensi yaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang
menunjuk pada lingkungan konkrit dan nyata tempat terjadinya
komunikasi, seperti ruangan, halaman dan jalanan. Konteks waktu
menunjuk pada waktu kapan komunikasi tersebut dilaksanakan,
misalnya: pagi, siang, sore, malam. Konteks nilai, meliputi nilai
sosial dan budaya yang mempengaruhi suasana komunikasi, seperti:
adat istiadat, situasi rumah, norma pergaulan, etika, tata krama, dan
sebagainya.
Komunikasi interpersonal merupakan suatu proses pertukaran
makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Orang yang
saling berkomunikasi tersebut adalah sumber dan penerima. Sumber
melakukan encoding untuk menciptakan dan memformulasikan
menggunakan saluran. Penerima melakukan decoding untuk
memahami pesan, dan selanjutnya menyampaikan respon atau umpan
balik. Tidak dapat dihindarkan bahwa proses komunikasi senantiasa
terkait dengan konteks tertentu, misalnya konteks waktu. Hambatan
dapat terjadi pada sumber, encoding, pesan, saluran, decoding, maupun
pada diri penerima.
11
c. Tujuan Komunikasi Interpersonal
Muhammad (2015:168) menyatakan bahwa komunikasi
interpersonal mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
a. Menemukan Diri Sendiri
Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan
personal atau pribadi. Bila kita terlibat dalam pertemuan
interpersonal dengan orang lain kita belajar banyak sekali tentang
diri kita maupun orang lain. Komunikasi interpersonal memberikan
kesempatan untuk berbicara tentang apa yang disukai, atau
mengenai diri. Adalah sangat menarik dan mengasyikkan bila
berdiskusi mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita
sendiri. Dengan membicarakan diri kita dengan orang lain, kita
memberikan sumber balikan yang luar biasa pada perasaan, pikiran,
dan tingkah laku kita.
b. Menemukan Dunia Luar
Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat
memahami lebih banyak tentang diri kita dan orang lain yang
berkomunikasi dengan kita. Banyak informasi yang kita ketahui
datang dari komunikasi interpersonal, meskipun banyak jumlah
informasi yang datang kepada kita dari media massa hal itu
seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari atau didalami
melalui interaksi interpersonal.
12
c. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh
Arti
Salah satu keinginan orangyang paling besar adalah
membentuk dan memelihara hubungan dengan orang lain. Banyak
dari waktu kita pergunakan dalam komunikasi interpersonal
diabadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan sosial dengan
orang lain.
d. Berubah Sikap Dan Tingkah Laku
Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan
tingkah laku orang lain dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh
menginginkan mereka memilih cara tertentu, misalnya mencoba
diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film, menulis
membaca buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa
sesuatu itu benar atau salah. Kita banyak menggunakan waktu
waktu terlibat dalam posisi interpersonal.
e. Untuk Bermain Dan Kesenangan
Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan
utama adalah mencari kesenangan. Berbicara dengan teman
mengenai aktivitas kita pada waktu akhir pecan, berdiskusi
mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu pada
umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang untuk
menghabiskan waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal
semacam itu dapat memberikan keseimbangan yang penting dalam
13
pikiran yang memerlukan rileks dari semua keseriusan di
lingkungan kita.
f. Untuk Membantu
Ahli-ahli kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi
menggunakkan komunikasi interpersonal dalam kegiatan
profesional mereka untuk mengarahkan kliennya. Kita semua juga
berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita
sehari-hari. Kita berkonsultasi dengan seorang teman yang putus
cinta, berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah y ang
sebaiknya diambil dan lain sebagainya.
Berdasarkan beberapa tujuan tertsebut dapat disimpulkan bahwa tujuan
dari komunikasi interpersonal dapat berbeda-beda sesuai dengan
kebutuhannya masing-masing.
2. Persepsi
a. Pengertian
Persepsi adalah tanggapan (penerimaan) langsung dari sesuatu
proses seseorang mengetahui melalui panca inderanya (Kamisa, 2014:
863). Persepsi diartikan sebagai suatu proses pengamatan seseorang
terhadap lingkungan dengan menggunakan indera-indera yang dimiliki
sehingga ia menjadi sadar akan segala sesuatu yang ada
dilingkungannya (Tanra, 2015: 118).
Persepsi adalah suatu proses yang didahului oleh penginderaan,
yaitu merupakan proses yang berwujud diterimanya stimulus oleh
14
individu melalui alat inderanya atau juga disebut proses sensoris, tetapi
proses itu tidak berhenti sampai di situ saja, melainkan stimulus itu
diteruskan dan selanjutnya merupakan proses persepsi (Walgito, 2004:
87).
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan
bahwa persepsi merupakan suatu proses pengolahan informasi yang
diterima oleh panca indera dari lingkungan dan diteruskan ke otak
untuk diseleksi sehingga menimbulkan penafsiran yang berupa
penilaian dari penginderaan atau pengalaman sebelumnya.
b. Bentuk-Bentuk Persepsi
Menurut Walgito (2004: 90-91) menyatakan bahwa proses
pemahaman terhadap rangsang atau stimulus yang diperoleh oleh indera
menyebabkan persepsi terbagi menjadi beberapa bentuk:
a. Persepsi melalui Indera. Penglihatan alat indera
merupakan alat utama dalam individu mengadakan persepsi.
Seseorang dapat melihat dengan matanya tetapi mata bukanlah satu-
satunya bagian hingga individu dapat mempersepsi apa yang
dilihatnya, mata hanyalah merupakan salah satu alat atau bagian
yang menerima stimulus, dan stimulus ini dilangsungkan oleh syaraf
sensoris ke otak, hingga akhirnya individu dapat menyadari apa yang
dilihat.
b. Persepsi melalui indera pendengaran. Orang dapat
mendengar sesuatu dengan alat pendengaran, yaitu telinga. Telinga
15
merupakan salah satu alat untuk dapat mengetahui sesuatu yang ada
di sekitarnya. Seperti halnya dengan penglihatan, dalam pendengaran
individu dapat mendengar apa yang mengenai reseptor sebagai suatu
respon terhadap stimulus tersebut. Kalau individu dapat menyadari
apa yang didengar, maka dalam hal ini individu dapat mempersepsi
apa yang didengar, dan terjadilah suatu pengamatan atau persepsi.
c. Persepsi melalui indera penciuman. Orang dapat
mencium bau sesuatu melalui alat indera pencium yaitu hidung. Sel-
sel penerima atau reseptor bau terletak dalam hidung sebelah dalam.
Stimulusnya berwujud benda-benda yang bersifat khemis atau gas
yang dapat menguap, dan mengenai alat-alat penerima yang ada
dalam hidung, kemudian diteruskan oleh syaraf sensoris ke otak, dan
sebagian respon dari stimulus tersebut orang dapat menyadari apa
yang diciumnya yaitu bau yang diciumnya.
d. Persepsi melalui indera pndera pengecap terdapat di
lidah. Stimulusnya merupakan benda cair. Zat cair itu mengenai
ujung sel penerima yang terdapat pada lidah, yang kemudian
dilangsungkan oleh syaraf sensoris ke otak, hingga akhirnya orang
dapat menyadari atau mempersepsi tentang apa yang dikecap itu.
e. Persepsi melalui indera peraba (kulit). Indera ini
dapat merasakan rasa sakit, rabaan, tekanan dan temperatur, tetapi
tidak semua bagian kulit dapat menerima rasa-rasa ini. Pada bagian-
bagian tertentu saja yang dapat untuk menerima stimulus-stimulus
16
tertentu. Rasa-rasa tersebut merupakan rasa-rasa kulit yang primer,
sedangkan di samping itu masih terdapat variasi yang bermacam-
macam. Dalam teknan atau rabaan, stimulusnya langsung mengenai
bagian kulit bagian rabaan atau tekanan. Stimulus ini akan
menimbulkan kesadaran akan lunak, keras, halus, kasar.
Bentuk persepsi pada intinya merupakan persepsi yang tidak
hanya dilakukan oleh penglihatan saja, namun dengan alat indera secara
lengkap agar menghasilkan suatu data yang maksimal dan sesuai
dengan kenyataan yang ada di lapangan. Dimana stimulus itu bersifat
kuat maka hasil yang didapat agar lebih spesifik. Pratiwi, dkk (2019 :
286) menyatakan bahwa setelah individu melakukan interaksi dengan
obyek-obyek yang dipersepsikan maka hasil persepsi dapat dibagi
menjadi dua yaitu
1) Persepsi positif yaitu persepsi yang menggambarkan segala
pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan
yang diteruskan dengan upaya pemanfaatannya. Hal itu akan di
teruskan dengan keaktifan atau menerima dan mendukung obyek
yang dipersepsikan.
2) Persepsi negatif yaitu persepsi yang menggambarkan segala
pengetahuan (tahu tidaknya atau kenal tidaknya) dan tanggapan
yang tidak selaras dengan obyek yang di persepsi. Hal itu akan di
teruskan dengan kepasifan atau menolak dan menentang terhadap
obyek yang dipersepsikan.
17
Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa persepsi itu
baik yang positif maupun yang negatif akan selalu mempengaruhi diri
seseorang dalam melakukan sesuatu tindakan dan munculnya suatu
persepsi positif ataupun persepsi negatif semua itu bergantung pada
bagaimana cara individu menggambarkan segala pengetahuannya
tentang suatu obyek yang dipersepsikan.
c. Faktor yang mempengaruhi persepsi
Menurut Walgito (2014: 92-93) bahwa faktor-faktor yang
mempengaruhi persepsi adalah faktor internal individu seseorang dan
faktor eksternal atau objek persepsi. Faktor-faktor internal yang
mempengaruhi persepsi sebagai berikut:
a. Latar belakang. Latar belakang yang mempengaruhi
hal-hal yang dipilih dalam persepsi. Contohnya orang yang
pendidikannya lebih tinggi atau pengetahuan ilmu agamanya luas
yang memiliki cara tertentu untuk menyeleksi sebuah informasi.
b. Pengalaman. hal yang sama dengan latar belakang
ialah faktor pengalaman, pengalaman mempersiapkan seseorang
untuk mencari orang-orang, hal-hal, dan gejala-gejala yang mungkin
serupa dengan pengalaman pribadinya.
c. Kepribadian, dimana pola kepribadian yang dimiliki
oleh individu akan menghasilkan persepsi yang berbeda.
Sehubungan dengan itu maka proses terbentuknya persepsi
dipengaruhi oleh diri seseorang persepsi antara satu orang dengan
18
yang lain itu berbeda atau juga antara satu kelompok dengan
kelompok lain.
d. Sistem nilai. Sistem nilai yang berlaku dalam suatu
masyarakat juga berpengaruh pula terhadap persepsi
e. Penerimaan diri. Penerimaan diri merupakan sifat
penting yang memepengaruhi persepsi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi secara eksternal atau datang
dari luar objek persepsi adalah:
1) Intensitas. Umumnya, rangsangan yang lebih intensif, mendapatkan
lebih banyak tanggapan daripada rangsangan yang kurang intens.
2) Ukuran. Benda-benda yang lebih besar umumnya lebih menarik
perhatian.
3) Kontras. Secara umum hal-hal yang biasa dilihat akan cepat
menarik perhatian.
4) Gerakan. Benda yang bergerak lebih menarik perhatian dari hal
yang diam.
5) Ulangan. Biasanya hal yang terulang-ulang dapat menarik
perhatian.
6) Keakraban. Suatu yang akrab atau dikenal lebih menarik perhatian.
7) Sesuatu yag baru. Faktor ini kedengarannya bertentangan dengan
keakraban, namun unsur ini juga berpengaruh pada seseorang dalam
menyeleksi informasi.
19
d. Aspek-aspek Persepsi
Aspek-aspek persepsi menurut Walgito (2014: 94) menjelaskan
bahwa aspek-aspek persepsi dibagi menjadi tiga, diantaranya sebagai
berikut:
a. Aspek kognitif. Pada aspek ini berhubungan dengan
pengenalan aspek kognitif ini menyangkut komponen pengetahuan,
pengharapan, cara berfikir atau mendapatkan pengetahuan dan
pengalaman masalalu, serta segala sesuatu yang diperoleh dari hasil
pikiran individu pelaku persepsi.
b. Aspek efektif. Dalam aspek ini berhubungan dengan
komponen perasaan dan keadaan emosi individu terhadap objek
tertentu serta segala sesuatu yang menyangkut evaluasi baik ataupun
buruk berdasarkan faktor emosional seseorang. Perasaan seseorang
berkaitan dengan kebutuhan yang dimiliki tiap individu. Objek-objek
yang dapat melayani kebutuhan saya, akan saya hargai positif
sedangkan objek-objek yang justru menghalangi akan dinilai negatif.
Jadi, evaluatif yang berhubungan erat dengan nilai-nilai kebudayaan
atau sistem yang dimilikinya.
c. Aspek Konatif. Aspek ini berhubungan motif dan
tujuan timbulnya suatu perilaku yang terjadi disekitar yang
diwujudkan dalam sikap perilaku individu dalam kehidupan sehari-
hari sesuai persepsinya terhadap suatu objek atau keadaan tertentu.
20
e. Indikator Persepsi
Menurut Sunaryo (2014: 98) bahwa indikator dari persepsi
adalah sebagai berikut:
a. Sensasi merupakan pesan yang dikirimkan ke otak lewat
penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, dan pengecapan.
Persepsi pertama yang muncul berdasarkan dari apa yang mereka
lihat, dengar, dan rasakan.
b. Atensi merupakan perhatian yang didapatkan seseorang mengenai
suatu hal yang dipersepsikan. Persepsi yang muncul saat
seseorang mendengarkan penjelasan dan membaca suatu objek.
c. Interpretasi merupakan kesan yang didapatkan oleh seseorang
sesudah mengerti mengenai suatu objek. Persepsi yang muncul
saat seseorang sudah mengerti dan memahami suatu objek.
Persepsinya bukan lagi berdasarkan pada dugaan atau subjektif,
tetapi berdasarkan pada pengetahuan.
3. Media Sosial
a. Pengertian
Media sosial adalah sebuah kelompok aplikasi berbasis internet
yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0, dan
yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated
content. (Haenlein, 2010: 59). Media sosial ialah fitur berbasis website
yang dapat membentuk jaringan serta memungkinkan orang untuk
berinteraksi dalam sebuah komunitas. Pada media sosial kita dapat
21
melakukan berbagai bentuk pertukaran, kolaborasi, dan saling
berkenalan dalam bentuk tulisan visual maupun audiovisual.
Contohnya seperti twittwer, facebook, blog, forsquare, dan lainnya
(Puntoadi, 2012: 1).
Media sosial adalah media online yang mendukung interaksi
sosial. Sosial media menggunakan teknologi berbasis web yang
mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif. Beberapa situs media
sosial yang populer sekarang ini antara lain : Blog, Twitter, Facebook,
Instagram, Path, dan Wikipedia. Definisi lain dari sosial media juga di
jelaskan oleh Van Dijk media sosial adalah platform media yang
memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka
dalam beraktivitas maupun berkolaborasi, karena itu media sosial
dapat dilihat sebagai fasilitator online yang menguatkan hubungan
antar pengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial (Nasrullah,
2017: 11).
Beberapa pengertian di atas tentang penggunaan media sosial
maka dapat disimpulkan penggunaan media sosial adalah proses atau
kegiatan yang dilakukan seseorang dengan sebuah media yang dapat
digunakan untuk berbagi informasi, berbagi ide, berkreasi, berfikir,
berdebat, menemukan teman baru dengan sebuah aplikasi online yang
dapat digunakan melalui smartphone (telefon genggam).
Berbagai alasan mengapa seseorang membuat sebuah akun pada
media sosial, diantaranya untuk tetap terhubung dengan keluarga dan
22
teman, memperoleh informasi dan kabar melalui news feed yang
disediakan oleh media sosial, hingga menunjukkan eksistensi diri.
b. Karakteristik Media Sosial
Ada ciri khusus yang hanya dimiliki oleh media sosial dibanding
media lainnya. Salah satunya adalah media sosial beranjak dari
pemahaman bagaimana media tersebut digunakan sebagai sarana sosial
di dunia virtual. Nasrullah (2017: 12-13) menyatakan bahwa
karakteristik media sosial, yaitu:
a. Jaringan (Network). Antar pengguna Media sosial memiliki
karakter jaringan sosial. Media sosial terbangun dari struktur
sosial yang terbentuk di dalam jaringan. Jaringan yang terbentuk
antar pengguna merupakan jaringan yang secara teknologi
dimediasi oleh perangkat teknologi, seperti komputer, telepon
genggam atau tablet. Karakter media sosial adalah membentuk
jaringan di antara penggunanya. Tidak peduli apakah di dunia
nyata (offline) antar pengguna itu saling kenal atau tidak, namun
kehadiran media sosial memberikan medium bagi pengguna
untuk terhubung secara mekanisme teknologi.
b. Informasi. Informasi menjadi entitas yang penting dari media
sosial, sebab tidak seperti media-media lainnya di internet,
pengguna media sosial mengkreasikan representasi identitasnya,
memproduksi konten, dan melakukan interaksi berdasarkan
informasi. Bahkan informasi menjadi semacam komoditas. Di
23
media sosial, informasi menjadi komoditas yang dikonsumsi oleh
pengguna. Komoditas tersebut pada dasarnya merupakan
komoditas yang diproduksi dan didistribusikan antar pengguna itu
sendiri. Dari kegiatan konsumsi inilah pengguna dan pengguna
lain membentuk sebuah jaringan yang pada akhirnya secara sadar
atau tidak bermuara pada isntitusi masyarakat berjejaring
(network society).
c. Arsip. Bagi pengguna media sosial, arsip menjadi sebuah karakter
yang menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa
menjadi akses kapan pun dan melalui perangkat apapun. Setiap
informasi apa pun yang diunggah di facebook sebagai contoh,
informasi itu tidak hilang begitu saja saat pergantian hari, bulan,
sampai tahun. Informasi itu akan terus tersimpan dan bahkan
dengan mudahnya bisa diakses.
d. Interaksi, secara sederhana interaksi yang terjadi di media sosial
minimal berbentuk saling mengomentari atau memberikan tanda,
seperti jempol di facebook atau hati di Instagram. Interaksi dalam
kajian media merupakan salah satu pembeda antara media lama
(old media) dengan media baru (new media).
e. Simulasi Sosial Media sosial memiliki karakter sebagai medium
berlangsungnyamasyarakat (society) di dunia virtual. Pengguna
media sosial bisadikatakan sebagai warga negara digital yang
berlandaskan keterbukaantanpa adanya batasan-batasan.
24
Layaknya masyarakat atau Negara, dimedia sosial juga terdapat
aturan dan etika yang mengikat penggunanya. Media sosial tidak
lagi menampilkan realitas, tetapi sudah menjadirealitas tersendiri,
bahkan apa yang ada di media sosial lebih nyata (real)dari realitas
itu sendiri.
f. Konten oleh pengguna. Karakteristik media sosial lainnya adalah
konten oleh pengguna atau lebih popular disebut dengan user
generated content (UGC). Konten oleh pengguna ini adalah
sebagai penanda bahwa di media sosial khalayak tidak hanya
memproduksi konten, tetapi juga mengonsumsi konten yang
diproduksi oleh orang lain. Konten ini adalah format baru dari
budaya interaksi dimana para pengguna dalam waktu yang
bersamaan berlaku sebagai produser pada satu sisi dan sebagai
konsumen dari konten yang dihasilkan di ruang online pada lain
sisi.
g. Penyebaran (Share) Penyebaran atau sharing merupakan karakter
lainnya dari media sosial. Sharing merupakan ciri khas dari media
sosial yang menunjukkan bahwa khalayak aktif menyebarkan
konten sekaligus mengembangkannya. Maksud dari
pengembangan ini misalnya, komentar yang tidak sekadar opini,
tetapi juga data atas fakta terbaru. Di media sosial konten tidak
hanya diproduksi oleh khalayak pengguna, tetapi juga
didistribusikan secara manual oleh pengguna lain
25
c. Jenis-jenis Media Online
Tim Pusat Kementrian Perdagangan RI (2014: 26) menyatakan
bahwa media sosial dapat dibagi menjadi enam jenis, yaitu:
a. Proyek kolaborasi website, di mana user-nya
diizinkan untuk dapat mengubah, menambah, atau pun membuang
konten-konten yang termuat di website tersebut, seperti Wikipedia.
b. Blog dan microblog, di mana user mendapat
kebebasan dalam mengungkapkan suatu hal di blog itu, seperti
perasaan, pengalaman, pernyataan, sampai kritikan terhadap suatu
hal, seperti Twitter.
c. Konten atau isi, di mana para user di website ini
saling membagikan konten-konten multimedia, seperti e-book,
video, foto, gambar, dan lain-lain seperti Instagram dan Youtube.
d. Situs jejaring sosial, di mana user memperoleh izin
untuk terkoneksi dengan cara membuat informasi yang bersifat
pribadi, kelompok atau sosial sehingga dapat terhubung atau
diakses oleh orang lain, seperti misalnya Facebook.
e. Virtual game world, di mana pengguna melalui
aplikasi 3D dapat muncul dalam wujud avatar-avatar sesuai
keinginan dan kemudian berinteraksi dengan orang lain yang
mengambil wujud avatar juga layaknya di dunia nyata, seperti
online game.
26
f. Virtual social world, merupakan aplikasi berwujud
dunia virtual yang memberi kesempatan pada penggunanya berada
dan hidup di dunia virtual untuk berinteraksi dengan yang lain.
Virtual social world ini tidak jauh berbeda dengan virtual game
world, namun lebih bebas terkait dengan berbagai aspek kehidupan,
seperti Second Life.
d. Manfaat Media Sosial
Merebaknya situs media sosial yang muncul menguntungkan
banyak orang dari berbagai belahan dunia untuk berinteraksi dengan
mudah dan dengan ongkos yang murah ketimbang memakai telepon.
Media sosial merupakan bagian dari sistem relasi, koneksi dan
komunikasi. Romli (2018: 35) menyatakan beberapa manfaat media
sosial antara lain sebagai berikut:
a. Sarana belajar, mendengarkan, dan menyampaikan.
Berbagai aplikasi media sosial dapat dimanfaatkan untuk belajar
melalui beragam informasi, data dan isu yang termuat di dalamnya.
Pada aspek lain, media sosial juga menjadi sarana untuk
menyampaikan berbagai informasi kepada pihak lain. Konten-konten
di dalam media sosial berasal dari berbagai belahan dunia dengan
beragam latar belakang budaya, sosial, ekonomi, keyakinan, tradisi
dan tendensi. Oleh karena itu, benar jika dalam arti positif, media
sosial adalah sebuah ensiklopedi global yang tumbuh dengan cepat.
Dalam konteks ini, pengguna media sosial perlu sekali membekali
27
diri dengan kekritisan, pisau analisa yang tajam, perenungan yang
mendalam, kebijaksanaan dalam penggunaan dan emosi yang
terkontrol.
b. Sarana dokumentasi, administrasi dan integrasi.
Bermacam aplikasi media sosial pada dasarnya merupakan gudang
dan dokumentasi beragam konten, dari yang berupa profil, informasi,
reportase kejadian, rekaman peristiwa, sampai pada hasil-hasil riset
kajian. Dalam konteks ini, organisasi, lembaga dan perorangan dapat
memanfaatkannya dengan cara membentuk kebijakan penggunaan
media sosial dan pelatihannya bagi segenap karyawan, dalam rangka
memaksimalkan fungsi media sosial sesuai dengan target-target yang
telah dicanangkan. Beberapa hal yang bisa dilakukan dengan media
sosial, antara lain membuat blog organisasi, mengintegrasikan
berbagai lini di perusahaan, menyebarkan konten yang relevan sesuai
target di masyarakat, atau memanfaatkan media sosial sesuai
kepentingan, visi, misi, tujuan, efisiensi, dan efektifitas operasional
organisasi.
c. Sarana perencanaan, strategi dan manajemen. Akan
diarahkan dan dibawa ke mana media sosial, merupakan domain dari
penggunanya. Oleh sebab itu, media sosial di tangan para pakar
manajemen dan marketing dapat menjadi senjata yang dahsyat untuk
melancarkan perencanaan dan strateginya. Misalnya saja untuk
melakukan promosi, menggaet pelanggan setia, menghimpun
28
loyalitas customer, menjajaki market, mendidik publik, sampai
menghimpun respons masyarakat.
d. Sarana kontrol, evaluasi dan pengukuran. Media
sosial berfaedah untuk melakukan kontrol organisasi dan juga
mengevaluasi berbagai perencanaan dan strategi yang telah
dilakukan. Ingat, respons publik dan pasar menjadi alat ukur,
kalibrasi dan parameter untuk evaluasi. Sejauh mana masyarakat
memahami suatu isu atau persoalan, bagaimana prosedur-prosedur
ditaati atau dilanggar publik, dan seperti apa keinginan dari
masyarakat, akan bisa dilihat langsung melalui media sosial.
Pergerakan keinginan, ekspektasi, tendensi, opsi dan posisi
pemahaman publik akan dapat terekam dengan baik di dalam media
sosial. Oleh sebab itu, media sosial juga dapat digunakan sebagai
sarana preventif yang ampuh dalam memblok atau memengaruhi
pemahaman publik.
B. Penelitian Terdahulu
Peneliti menemukan 3 penelitian yang relevan mengenai kajian tinder
sebagai sarana untuk mencari pasangan. Penelitian-penelitian tersebut akan
dijadikan bahan rujukan bagi peneliti agar peneliti memperoleh tambahan
informasi mengenai topik pembahasan penelitian yang akan dilakukan.
Dalam kajian penelitian terdahulu, berikut peneliti paparkan melalui abstrak
penelitian.
29
1. Safala (2013) melakukan penelitian dengan judul “Trend
Masyarakat Global Dalam Pemilihan Pasangan & Perkawinan Antar Ras
Prespektif Umum dan Islam”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kecenderungan masyarakat global dalam memilih pasangan antar ras yang
berujung pada sebuah perkawinan dalam temuan yang dipapar kan dalam
tabel menunjukkan paling tidak 36 peserta atau user pada situssitus ini, ini
berarti terdapat sekitar 92% dari individu tersebut yang menginginkan atau
lebih menginginkan pasangan dari negeri lain. Terdapat sekitar 7%
pasangan yang menginginkan pasangan dari ras dan atau negara lain
termasuk negara Australia sendiri. Dua setengah (2.5%) dari ras Asia yang
meng ingin kan pasangan dari ras ataupun negara lain; Tujuh belas sampai
duapuluh tiga persen (17%23%) warga Amerika lebih mengingin kan
pasangan dari ras ataupun negara lain; sedangkan yang lain nya sekitar
2.5% sampai 5% lebih menginginkan pasangan dari ras ataupun negara
lain. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu bahwa penelitian
terdahulu adalah pada sampel penelitian dimana penelitian terdahulu
cakupan wilayah sedangkan penelitian sekarang fokus pada pengguna
Tinder di Kelurahan Jebres Surakarta. Persamaan penelitian adalah
bertujuan untuk mencari pasangan.
2. Putri, dkk (2015) melakukan penelitian dengan judul “Motif Pria
Pengguna Tinder Sebagai Jejaring Sosial Pencarian Jodoh”. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pengguna aplikasi Tinder untuk
menggunakan aplikasi ini didasari atas meniru orang-orang di lingkungan
30
sosialnya, mengisi kegiatan di waktu kosong dengan aplikasi Tinder,
menunjukkan eksistensi didepan pengguna lain, keinginan untuk
mempertahankan identitas dirinya, mencari perhatian lawan jenis untuk
memperoleh suatu hubungan, mencari teman mengobrol untuk mereduksi
tegangan, serta keinginan memperoleh penghargaan oleh lingkungan
sekitarnya. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu bahwa
penelitian terdahulu adalah dengan subjek penelitian pria pengguna Tinder
sedangkan penelitian sekarang subjeknya adalah pira dan wanita pengguna
Tinder di Kelurahan Jebres Surakarta. Persamaan penelitian adalah pada
pengguna Tinder.
3. Ferdiana, dkk (2020) melakukan penelitian dengan judul
“Penggunaan Media Sosial Tinder dan Fenomena Pergaulan Bebas di
Indonesia”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat adanya
peningkatan pergaulan bebas di kalangan anak muda Indonesia dengan
menggunakan media sosial kencan daring Tinder. Hal ini karena mayoritas
pengguna Tinder mempunyai pemahaman atau pola pikir yang terbuka,
rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi untuk mencoba sesuatu yang
baru, dan faktor lingkungan yang mendukung individu untuk memasuki
pergaulan bebas. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu
pada sampel penelitian dimana penelitian terdahulu pada remaja di Jakarta
sedangkan penelitian sekarang fokus pada pengguna Tinder di Kelurahan
Jebres Surakarta.
31
C. Kerangka Berpikir
Kerangka pikir dibuat untuk mempermudah proses penelitian karena
telah mencakup tujuan dari penelitian itu sendiri. Penelitian ini dilakukan
untuk mengkaji fenomena populernya aplikasi kencan online Tinder. Tujuan
utama dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana presepsi masyarakat
terhadap mencari pasangan meggunakan aplikasi kencan berbasis online
Tinder.
Aplikasi Tinder adalah sebuah platform yang memungkinkan
penggunanya untuk mendapatkan teman berbincang, pasangan, atau teman
kencan dengan melihat identitas masing-masing dan berkenalan melalui fitur
chat. Seiring berjalanya waktu Tinder tidak hanya memberi efek positif bagi
penggunanya dimana seseorang dapat menemukan pasangan, akan tetapi juga
memiliki efek negatif sebagai sarana mencari teman pergaulan bebas dan juga
sebagai sarana motif kejahatan baru.
Sensasi
Remaja di Ngoresan Persepsi Remaja Aplikasi
Atensi
Jebres Surakarta Aplikasi Online Tinder
Interpretasi
Gamba 2. Kerangka Pemikiran
Remaja di Ngoresan Jebres Surakarta di dalam menggunakan aplikasi
Tinder digunakan untuk menambah teman dan juga diharapkan dapat juga
untuk mencari jodoh. Persepsi masyarakat pada aplikasi Tinder dapat dilihat
32
dari tiga indikator dari persepsi yaitu sensasi,a tensi dan interpretasi. Sensasi
merupakan pengindraan yang meliputi penglihatan, pendengaran serta remaja
terhadap aplikasi Tinder. Atensi Atensi yaitu bagaimana remaja menerima
apa yang dilihat dan dirasakan dalam penggunaan aplikasi Tinder, dimana hal
tersebut diproses secara sadar hingga menghasilkan sebuah informasi dan
interpretasi atau penafsiran remaja tentang aplikasi Tinder.
D. Definisi Konsep dan Operasional
1. Definisi Konsep
a. Persepsi
Persepsi merupakan suatu proses yang didahului oleh penginderaan.
Penginderaan merupakan suatu proses diterimanya stimulus oleh
individu melalui alat indera. Stimulus yang mengenai individu
kemudian diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga individu
menyadari apa yang diinderanya itu. Proses inilah yang dimaksudkan
dengan persepsi” (Sunarjo, 2014: .97). Persepsi dapat dilihat dari tiga
hal yaitu:
1) Sensasi merujuk pada pesan yang dikirimkan otak melalui
penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman dan pengecapan.
2) Atensi, berkaitan dengan apa yang menarik minat kita untuk
memperhatikan kejadian atau rangsangan tertentu.
3) Interpretasi. Pengetahuan yang diperoleh melalui persepsi bukan
pengetahuan mengenai objek yang sebenarnya, melainkan
pengetahuan mengenai bagaimana tampaknya objek tersebut.
33
b. Aplikasi Tinder
Tinder adalah aplikasi online yang merupakan sebuah inovasi untuk
dapat mencari pasangan atau teman baru. Tinder dirancang khusus
sebagai media sosial pencarian jodoh atau bisa disebut kencan online
yang didukung dengan aplikasi yang bekerja dengan mengandalkan
internet dan sistem satelit navigasi yang dapat mengatur jarak dan
lokasi tertentu untuk mempertemukan pasangan atau teman baru bagi
penggunanya. Aplikasi media sosial Tinder dapat diunduh secara gratis
melalui smartphone Android atau Ios di Play Store atau Apple Store
(Nadya, dkk, 2016: 14).
2. Definisi Operasional
a. Persepsi terhadap aplikasi Tinder
Persepsi remaja Ngoresan Kecamatan Jebres Kota Surakarta terhadap
aplikasi kencan online Tinder sebagai sarana untuk mencari pasangan
adalah pandangan responden terhadap aplikasi kencan Tinder yang
digunakan oleh masyarakat untuk mencari pasangan atau jodoh.
Indikator persepsi berdasarkan pernyataan dari Sunaryo (2014: 98)
bahwa indikator dari persepsi adalah sebagai berikut:
1) Sensasi, berkaitan dengan rasa yang ditimbulkan
setelah remaja Ngoresan Kecamatan Jebres Kota Surakrata
menggunakan aplikasi Tinder sehingga menimbulkan suatu
ketertarikan untuk terus menggunakannya.
34
2) Atensi atau perhatian dari remaja Ngoresan
Kecamatan Jebres Kota Surakarta menerima apa yang dilihat dan
dirasakan pada saat menggunakan aplikasi Tinder, dimana hal
tersebut diproses secara sadar hingga menghasilkan sebuah
informasi
3) Interpretasi atau penafsiran remaja remaja Ngoresan
Kecamatan Jebres Kota Surakarta tentang aplikasi Tinder
b. Aplikasi Tinder
Tinder merupakan salah satu aplikasi media sosial yang sering dikenal
sebagai situs atau aplikasi kencan yang digunakan olreh remaja
Ngoresan Kecamatan Jebres Kota Surakarta untuk mencari teman
ataupun mencari jodoh.
35
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan
pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan metode-metode untuk
mengeksplorasi dan memahami makna oleh sejumlah individu atau
sekelompok orang yang dianggap berasal dari masalah sosial atau
kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini melibatkan upaya-upaya penting,
seperti mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan prosedur-prosedur,
mengumpulkan data yang spesifik dari partisipan, menganalisis data secara
induktif mulai dari tema-tema yang khusus ke tema-tema umum, dan
menafsirkan makna data (Creswell, 2013: 4-5).
Metode penelitian yang bersifat deskriptif kualitatif ini dilakukan
terhadap variabel mandiri dan tanpa membuat perbandingan atau
menghubungkan dengan variabel lain, sehingga berdasarkan uraian tersebut,
dapat menggambarkan kondisi riil dari suatu obyek/subyek yang diteliti dan
kemudian digunakan peneliti untuk menarik kesimpulan, dalam hal ini adalah
tentang persepsi masyarakat Kelurahan Jebres terhadap aplikasi kencan online
Tinder sebagai sarana mencari pasangan.
B. Lokasi/Obyek Penelitian
36
Lokasi penelitian dilakukan di Kelurahan Jebres, dan yang menjadi objek
penelitian adalah remaja di Ngoresan RT 01/ RW 22, Jebres, Surakarta.
C. Jenis dan Sumber Data 35
Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode pendekatan kualitatif deskripstif. Penelitian deskriptif kualitatif
ditujukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkan fenomena-fenomena
yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yang lebih
memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan.
Selain itu, Penelitian deskriptif tidak memberikan perlakuan, manipulasi atau
pengubahan pada variabel - variabel yang diteliti, melainkan menggambarkan
suatu kondisi yang apa adanya. Satu-satunya perlakuan yang diberikan
hanyalah penelitian itu sendiri, yang dilakukan melalui observasi, wawancara,
dan dokumentasi (Sukmadinata, 2011: 73).
“Sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan
tindakan, selebihnya adalah tambahan seperti dokumen dan lain-lain” Lofland
(Moleong, 2013:157). Sumber data akan diambil dari dokumen, hasil
wawancara, catatan lapangan dan hasil dari observasi.
D. Teknik Penentuan Informan
Teknik penentuan informan yang penulis gunakan adalah teknik
penentuan informan sering digunakan dalam penelitian kualitatif yaitu
purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling adalah
teknik pengambilan sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan
37
dalam hal ini yakni orang-orang yang memiliki kriteria dan dianggap paling
tahu tentang topik penelitian. Sedangkan yang dimaksud snowball sampling
adalah teknik pengambilan sampel yang awalnya jumlahnya sedikit, lama-
lama menjadi besar. Dasar pertimbangan digunakannya teknik snowball
sampling ini adalah karena dengan teknik penarikan sampel ini, dianggap
akan lebih representatif baik ditinjau dari segi pengumpulan data maupun
dalam pegembangan data. Pengambilan sumber data yang dipilih secara
purposive dan bersifat snowball sampling, maka sumber data dipilih adalah
orang-orang yang dianggap sangat mengetahui permasalahan yang akan
diteliti atau juga yang berwenang dalam masalah tersebut dan jumlahnya
tidak dapat ditentukan, karena dengan sumber data yang sedikit itu apabila
belum dapat memberikan data yang lengkap, maka mencari orang lain lagi
yang dapat digunakan sumber data. Ada beberapa kriteria untuk pemilihan
informan, diantaranya:
1. Informan memiliki akun Tinder
2. Merupakan orang yang masih lajang
3. Menggunakan aplikasi Tinder sekurang-kurangnya 1 bulan
4. Berusia 18-25 tahun karena usia tersebut dianggap usia yang ideal untuk
mencari pasangan
Berdasarkan teknik snowball sampling maka jumlah sumber data tidak dapat
ditentukan pada awal penelitian, baru kemudian setelah akhir penelitian
diketahui jumlah sumber data.
E. Teknik Pengumpulan Data
38
Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara,
dan dokumentasi. Jenis wawancara yang digunakan yaitu wawancara tidak
terstruktur (unstructured interview), wawancara ini merupakan jenis
wawancara yang memberi peluang peneliti untuk mengembangkan pertanyaan
pertanyaannya dengan tetap memperhatikan fokus pembicaraan. Teknik
dokumentasi menjadi teknik pengumpulan data terakhir untuk mendukung dan
memperkuat data yang didapatkan selama melakukan penelitian dilapangan,
serta sebgai bukti dalam penelitian lapangan.
F. Validitas dan Realiabilitas Data
Validitas dalam penelitian kualitatif didasarkan pada kepastian apakah
hasil penelitian sudah akurat dari sudut pandang peneliti, partisipasi, atau
pembaca secara umum, istilah validitas dalam penelitian kualitatif dapat
disebut pula dengan trusworthiness, authenticity, dan credibility Creswell
(Susanto, 2013). Dalam penelitian ini, uji validitas yang digunakan adalah
Triangulasi. Triangulasi yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data dengan
melakukan pengecekan atau perbandingan terhadap data yang diperoleh
dengan sumber atau kriteria yang lain diluar data itu, untuk meningkatkan
keabsahan data (Moleong, 2014).
Pada penelitian ini, triangulasi yang dilakukan adalah triangulasi
sumber dan metode. Triangulasi sumber yaitu dengan cara membandingkan
apa yang dikatakan oleh subyek dengan dikatakan informan, dengan maksud
agar data yang diperoleh dapat dipercaya karena tidak hanya diperoleh dari
39
satu sumber saja. Triangulasi metode, yaitu dengan cara membandingkan data
hasil pengamatan dengan data hasil wawancara dan dengan isi dokumen yang
berkaitan. Dalam hal ini peneliti berusaha mengecek kembali data yang
diperoleh melalui wawancara.
G. Teknik Analisis Data
Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber,
dengan menggunakan menggunakan teknik pengumpulan data yang
bermacam-macam (trianggulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai
datanya jenuh (Sugiyono, 2014:243). menurut Bogdan (dalam Sugiyono,
2014: 244) analisis data adalah proses mencari dan menyususn secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan
bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami, dan temuannya dapat
diinformasikan kepada orang lain.
Pengumpulan Penyajian Data
Data
Kondensasi Penarikan
Data
Kesimpulan
Gambar 2. Komponen Analisis Data
40
Sumber: Miles and Huberman (2014)
Di dalam sebuah penelitian diperlukan analisis data agar penelitian
dapat berjalan dengan baik dan efektif sehingga di dalam proses penelitian
tidak terjadi kesalahan. Adapun metode yang digunakan dalam analisis data
menurut Miles dan Huberman (2014: 10-11) yang meliputi kondensasi data,
penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan, yang dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data
yang diperlukan. Pengumpulan data dilakukan dengan informan yang telah
ditetapkan khususnya mengenai persepsi remaja terhadap aplikasi Tinder.
2. Data Condensation (kondensasi data)
Data kondensasi mengacu pada proses proses pemilihan atau seleksi,
fokus, menyederhanakan serta melakukan pergantian data yang terdapat
pada catatan lapangan, transkrip wawancara, dokumen maupun data
empiris yang telah didapatkan. Data kualitatif tersebut dapat diubah
dengan cara seleksi, ringkasan, atau uraian menggunakan kata-kata sendiri
dan lain-lain. Berdasarkan data yang dimiliki, peneliti akan mencari data,
tema, dan pola mana yang penting, sedangkan data yang dianggap tidak
penting akan [Link] penelitian kali ini Pengumpulan data dilakukan
dengan wawancara dan observasi langsung pada informan mengenai
persepsi remaja terhadap aplikasi Tinder.
3. Data Display (penyajian data)
41
Selanjutnya peneliti melakukan penyajian data. Data yang disajikan
telah melewati tahap reduksi. Penyajian data dilakukan dengan tujuan agar
penulis lebih mudah untuk memahami permasalahan yang terkait dalam
penelitian dan dapat melanjutkan langkah berikutnya. Pada umumnya
penyajian merupakan suatu pengaturan, kumpulan informasi yang telah
dikerucutkan sehingga dapat ditarik sebuah kesimpulan. Penyajian data
dapat dilakukan dengan bagan, uraian singkat, skema dan lain-lain. Setelah
mengumpulkan data terkait dengan persepsi remaja pada aplikasi Tinder
maka langkah selanjutnya peneliti mengelompokkan hasil observasi dan
wawancara untuk disajikan dan dibahas lebih detail.
4. Conclusion drawing/ verification (pengambilan kesimpulan)
Apabila tahap kondensasi dan penyajian data telah dilakukan, maka
langkah terakhir yang dilakukan adalah mengambil kesimpulan.
Pengambilan kesimpulan merupakan suatu proses dimana peneliti
menginterprestasikan data dari awal pengumpulan disertai pembuatan pola
dan uraian atau penjelasan. Pengambilan kesimpulan merupakan bukti
terhadap penelitian yang dilakukan. Setelah menyajikan data terkait
persepsi remaja terhadap aplikasi Tinder maka peneliti melakukan
penarikan kesimpulan.
42
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsi Lokasi Penelitian
1. Sejarah Kelurahan Jebres
Kelurahan Jebres merupakn salah satu wilayah yang ada di
Kecamatan Jebres. Wilayah Jebres meliputi perempatan panggung ke
timur sampai depan Rumah Sakit Dr. Muwardi, ke selatan berbatasan
dengan kampung Ngemingan. Ada beberapa versi asal-usul penamaan
daerah Jebres, diantaranya :
a. Menurut beberapa sumber disebutkan bahwa pada masa lalu daerah ini
merupakan tempat tinggal Ki Jebres, seorang abdi dalem kusir jaman
Sunan Pakubuwono IV
b. Menurut Majalah Dharma Kandha ( Februari, 1972, Tahun III,
No.117), Jebres berasal dari nama seorang berkebangsaan Belanda
bernama [Link], beliau adalah pengusaha kaleng susu. Bekas
Rumah tempat tinggal [Link] terletak di sebelah utara Stasiun
Jebres. Rumah ini berdekatan dengan rumah seorang pengusaha
pemerahan susu sapi bernama [Link] (daerah itu sekarang dikenal
dengan nama Kampung Ngemingan). Lokasi sekitar tempat pemerahan
susu tersebut sekarang digunakan untuk kantor kelurahan Jebres.
42
43
c. Raden Tumenggung Taryakusuma mengatakan bahwa Jebres dahulu
merupakan tempat tinggal seorang Belanda bernama Jasper, seorang
pedagang besi.
d. Dalam babad Prambanan, dikatakan Jebres adalah hutan belantara
yang tumbuh di selatam Tembayat dan Masaran, sudah dipenuhi
dengan prajurit bersenjata lengkap. Daerah ini konon merupakan
tempat berburu para raja.
2. Batas Wilayah Kelurahan Jebres
Luas wilayah Kelurahan Jebres adalah ± 317 ha, merupakan dataran
rendah, ketinggian ± 110 M di atas permukaan laut, sedangkan suhu rata-
rata 38°C yang terbagi dalam 36 RW dan 128 RT. Jika dilihat dari letak
lokasi Kantor Kelurahan Jebres berada pada posisi yang memungkinkan
semua warga masyarakat dapat dengan mudah dan terjangkau dalam
mengakses segala keperluannya. Kelurahan Jebres merupakan bagian dari
wilayah Kecamatan Jebres Kota Surakarta dengan batas wilayah sebagai
berikut :
a. Sebelah Utara : Kelurahan Mojosongo + Karanganyar
b. Sebelah Timur : Kabupaten Karanganyar
c. Sebelah Selatan : Kelurahan Purwodiningraan + Pucangsawit
d. Sebelah Barat : Kelurahan Tegalharjo
Jarak Geografis :
a. Jarak tempuh menuju Kantor Kec. Jebres : 1 km
b. Jarak tempuh menuju pusat Pemkot Ska : 3 km
44
c. Jarak tempuh menuju Kantor KORAMIL : 1,5 km
d. Jarak tempuh menuju Kantor POLSEK : 0,25 km
Jarak Kelurahan Jebres ke Pusat Pemerintahan :
a. Pemerintahan Kecamatan : 1 Km
b. Pemerintahan Kota : 3 Km
c. Pemerintahan Propinsi : 100 Km
d. Pemerintah Pusat : 600 Km
B. Hasil Penelitian
1. Profil Informan
Profil dari masing-msing informan adalah sebagai berikut:
a. Informan 1
Nama : H.A
Umur : 23 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Mulai Memakai Tinder : 1 tahun
Informan 1 tertarik untuk menggunakan Tinder karena informasi
habis putus dari pasangan dan direkomendasikan oleh teman ada
aplikasi untuk mencari pasangan lalu melakukan download aplikasi
tinder ini dan sampai saat ini masih digunakan.
b. Informan 2
Nama : SP
Umur : 20 tahun
45
Jenis Kelamin : Laki-laki
Mulai Memakai Tinder : 2 tahun
Informan 2 tertarik untuk menggunakan Tinder bermula dari
keisengan informan untuk mendapat teman/kenalan baru terlebih lagi
dapat menjadi pacar.
c. Informan 3
Nama : MH
Umur : 20 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Mulai Memakai Tinder : 2 tahun
Informan 3 tertarik menggunakan Tinder karena berdasarkan
pernyataan dari teman-temannya bahwa di Aplikasi Tinder banyak
cowok yang keren-keren, cakep sehingga menjadi penasaran untuk
menambah relasi dan juga teman.
d. Informan 4
Nama : PL
Umur : 22 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Mulai Memakai Tinder : 3 bulan
Informan 4 tertarik menggunakan Tinder bermotif coba-coba
atau iseng karena banyak temannya yang lain menggunakan aplikasi
Tinder sehingga kemungkinan dapat memperoleh pacar.
46
Beragam media sosial kencan daring tersebar di platform digital
android googleplay maupun playstore. Adanya media sosial kencan daring
memungkinkan seseorang dengan mudah dan praktis dalam bertemu dan
berinteraksi antar individu baru tanpa mengenal jarak dan waktu. Tinder
merupakan salah satu contoh jenis situs jejaring sosial yang populer secara
global dan digemari oleh masyarakat anak muda Indonesia. Kemudahan
penggunaan aplikasi Tinder dan banyaknya penggunanya menjadi daya tarik
tersendiri bagi pengguna Tinder untuk mencobanya. Hasil Wawancara
dengan informan menunjukkan bahwa responden tertarik untuk
menggunakan aplikasi Tinder untuk mencari teman, relasi dan mungkin
juga untuk mendapatkan pasangan.
Persepsi remaja Remaja Rt 1 Rw 22 Jebres Surakarta terhadap aplikasi
Tinder merupakan proses yang didahului dari adanya proses pengindraan,
yaitu merupakan proses diterimanya stimulus oleh individu melalui alat
indra atau juga disebut proses sensoris, tetapi proses tersebut tidak berhenti
begitu saja, melainkan stimulus tersebut diteruskan dan proses selanjutnya
merupakan proses persepsi. Proses persepsi tidak dapat lepas dari proses
pengindraan, dan proses pengindraan merupakan proses pendahulu dari
proses persepsi, sehingga proses pegindraan yang dimaksud di sini
merupakan bentuk rangsangan dari luar yang mempengaruhi seseorang
melalui kelima alat indranya yaitu indra peraba atau sentuhan, indra
penciuman, indra pengecap, indra pendengaran dan indra penglihatan yang
selanjutnya akan diinterpresentasikan oleh setiap orang dengan caranya
47
masing-masing. Ada dua faktor utama dalam persepsi faktor sensori dan
faktor struktural adapun faktor sensori tadi yaitu meliputi dari kelima alat
indra yang dimiliki. Hasil Wawancara peneliti terhadap remaja Rt 1 Rw 22
Jebres Surakarta mengenai awal mula menggunakan Tinder adalah
disebabkan karena putus dengan pacar dan rekomendasi dari teman
(Informan 1, III dan IV), dan karena iseng ingin mencoba aplikasi Tinder
untuk mendapatkan pasangan (Informan (II)
Hasil Wawancara tersebut menunjukkan bahwa informan
menggunakan aplikasi Tinder karena rekomendasi teman untuk mencari
pacar atau pasangan, mencari teman baru serta karena iseng-isen untuk
menambah relasi. Untuk mendapatkan teman atau pasangan maka setiap
pengguna Tinder harus memasang profil agar dapat dikenal oleh pengguna
yang lain, sehingga diperlukan foto profil agar orang lain dapat melihat
wajah aslinya. Hasil Wawancara dengan mengenai informan mengenai
pentingnya penggunaan poto profil dan biografi bahwa keseluruhan
informan menyatakan bahwa penggunaan poto profil dan biodata penting
di dalam aplikasi Tinder karena hal tersebut akan menjadi daya tarik
pertama bagi orang lain atau calon pasangan untuk mengetahui jati diri
informan baik dari wajah, selera musik serta hobi.
Pada awalnya aplikasi Tinder banyak ditemukan pengguna Tinder
yang tidak menggunakan foto profil yang sesuai dengan foto aslinya dan
dengan kemajuan teknologi maka Tinder bertujuan untuk meningkatkan
keamanan para pengguna Tinder dengan memastikan keaslian profil dan
48
meningkatkan kepercayaan terhadap profil pengguna Tinder. Fitur dalam
aplikasi Tinder menggunakan teknologi yang dapat membandingkan pose
foto yang diambil langsung dengan foto yang ada di profil setiap
pengguna. Berdasarkan hal tersebut maka foto profil dan biodata dalam
aplikasi Tinder sangat penting karena berfungsi sebagai tanda pengenal
pertama, hal ini sesuai dengan hasil Wawancara dengan informan
mengenai pengisian biodata di dalam aplikasi Tinder bahwa informan I, II
dan IV menyatakan bahwa keberadaan biodata diisi dengan kesukaan,
hobi, selera musik serta juga asal daerah agar calon pasangan mengetahui
kriteria yang diiinginkan sedangkan informan III menyatakan bahwa
biodata sengaja dibiarkan kosong agar orang lain lebih penasaran terhadap
dirinya.
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa tiga responden
mengisi biodata pribadinya dengan tujuan agar anggota Tinder
mengetahuinya sehingga apabila ingin memilih pasangan sudah dapat
diketahui sesuai atau tidaknya kriterianya, tetapi satu responden tidak
mengisi biodata pribadinya dengan alasan agar kelihatan misterius, hal ini
terkadang menunjukkan bahwa pengguna Tinder yang tidak mengisi
biodata tidak ingin diketahui aktivitas kesehariannya.
2. Persepsi Remaja terhadap Aplikasi Tinder sebagai Sarana Mencari
Pasangan pada Remaja Rt 1 Rw 22 Jebres Surakarta
Persepsi pada hakikatanya adalah proses kognitif yang dialami oleh
setiap orang di dalam memahami informasi tentang lingkungannya, baik
49
lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan, perasaan, dan penciuman.
Kunci untuk memahami persepsi adalah terletak pada pengenalan bahwa
persepsi itu merupakan suatu penfsiran yang unik terhadap situasi, dan
bukannya suatu pencatatan yang benar terhadap situasi. Persepsi remaja di
Rt 1 Rw 22 Jebres Surakarta terhadap penggunaan aplikasi Tinder akan
berbeda-beda, oleh karena itu persepsi memiliki sifat subjektif. Persepsi
memiliki tiga tahapan yaitu sensasi, atensi dan interpretasi yang dapat
dijabarkan dalam penelitian ini sebagai berikut:
a. Sensasi
Tinder bertujuan untuk memudahkan pengguna dalam
menemukan teman atupun pasangan. Dalam penggunaanya sehari-hari,
media sosial kencan daring Tinder dapat dikatakan sudah tidak asing
lagi bagi kalangan anak [Link] keseringan penggunaan aplikasi
Tinder dari informan I, II dan III menyatakan bahwa menggunakan
Tinder waktu tahap untuk mencari pasangan yang sesuai dengan
tipenya, kemudian setelah memperoleh pasangan maka tidak
menggunakan, tetapi setelah hubungan tersebut berakhir maka akan
menggunakan Tinder kembali sedangkan Informan II menggunakan
Tinder hanya pada saat-saat tertentu ketika ada pesan yang masuk saja.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa informan rata-rata tidak
terlalu sering menggunakan Tinder, dimana hanya sebatas keperluannya
yaitu memperoleh pasangan ketika sudah memiliki pasangan maka
informan tidak menggunakan Tinder tetapi ketika putus maka
50
menggunakan Tinder lagi untuk mencari pasangan. Informan lain
menyatakan bahwa hanya membuka ketika ada notif saja. Motif remaja
di Rt 1 Rw 2 Jebres Kota Surakarta menjadi pembeda mengenai tingkat
keseringan menggunakan Tinder. Fungsi sebuah aplikasi kencan daring
ditentukan oleh orang-orang yang menggunakannya. Motif remaja
menggunakan aplikasi Tinder yaitu mencari belahan jiwa, mencari
pasangan seks, mencari kesenangan, relaksasi, untuk mengurangi
kebosanan, atau karena sepertinya dengan menggunakan aplikasi
kencan daring merupakan salah satu cara mudah untuk bertemu orang-
orang.
Perkembangan teknologi sudah sangat maju dan bisa mengakses
internet dimana saja dengan cepat. Salah satu kemajuan teknologi
adalah dengan adanya sosial media Tinder yang berfungsi untuk
menambah relasi, teman ataupun untuk mencari pasangan. Peneliti
membahas mengenai pengalaman remaja dalam menggunakan Tinder
menunjukkan bahwa pengalaman memakai Tinder sangat beragam ada
yang menyenangkan dan ada yang kurang menyenangkan, hal yang
menyenangkan adalah sempat mendapat pacar yang sesuai dengan
ekspetasi sedangkan hal yang kurang menyenangkan adalah putus
hubungan (Informan I), pengalaman menggunakan Tinder sampai saat
ini belum dapat pacar tetapi hanya digunakan untuk mengobrol biasa
saja (Informan II), mendapat teman dari dalam dan luar kota hingga
51
memperoleh pacar (Informan III) pengalaman menggunakan Tinder
baru pada taraf pendekatan dengan seseorang (Informan IV).
Dalam tema ini penliti membahas mengenai pengalaman remaja
dalam menggunakan Tinder. Ada beberapa memiliki pengalaman
menyenangkan dan ada juga yang menceritakan pengalaman yang
kurang menyenangkan saat mereka menggunakan Tinder. Pengalaman
yang menyenangkan diperoleh informan karena mendapatkan pasangan
atau pacar sedangkan pengalaman yang kurang menyenangkan dari
informan bahwa belum memiliki pasangan atau pacar setelah
menggunakan Tinder. Pengalaman yang diperoleh dari penggunaan
sosial media Tinder yaitu sebagai tempat mencari dan memperbanyak
teman serta menambah relasi bisnis dengan mudah, selain itu juga
media sosial menjadi media komunikasi yang baik dan mudah. Dari
pernyataan tersebut menunjukkan bahwa informan senang
menggunakan Tinder karena mampu mendapat kenalan baru yang lebih
luas jangkauannya daripada sebelumnya terlebih dapat memperoleh
pasangan.
Keberadaan aplikasi Tinder telah mengubah perilaku pencarian
pasangan yang dahulunya, diawali dengan tahapan perkenalan secara
tatap muka, pendekatan, melakukan penjajakan dengan waktu yang
cukup atau bahkan memakan waktu, jika menemukan kecocokan para
pasangan memutuskan untuk menikah. Berbagai macam cerita cinta
perjodohan yang terjadi di Tinder, kebanyakan mereka menggunakan
52
Tinder hanya untuk mendapatkan pasangan. Hasil wawancara dengan
informan mengenai perasaannya di dalam menggunakan aplikasi Tinder
bahwa keseluruhan informan menyatakan menyenangkan di dlam
menggunakan Tinder karena banyak alternatif calon pasangan yang di
Tinder, walaupun awalnya sempat grogi tetapi akhirnya dapat
berinteraksi dengan orang lain yang belum dikenal dengan baik.
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa informan merasa
senang menggunakan aplikasi Tinder karena bisa berkenalan dengan
orang yang belum dikenal, bisa menambah teman ataupun bisa menjadi
pasangan. Para informan menggunakan aplikasi Tinder untuk mencari
teman ataupun pasangan.
b. Atensi
Informan mengetahui bahwa aplikasi Tinder merupakan aplikasi
untuk mencari teman ataupun pasangan selanjutnya masuk dalam tahap
atensi atau perhatian apa saja yang diperhatikan selama menggunakan
aplikasi Tinder. Tahap atensi dari hasil penelitian ini informan
memusatkan perhatian kepada beberapa bentuk antara lain ketertarikan
penggunaan, ketertarikan berpartisipasi, memilih calon atau teman
kencan serta bagaimana memulai percakapan di Tinder. Perkenalan di
dunia maya yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah
relasi khususnya pada remaja. Hasil wawancara dengan informan
menyatakan bahwa tertarik mengenai menggunakan aplikasi Tinder
karena banyak orang asing yang belum dikenal sehingga bisa memilih
53
teman ataupun calon pasangan sesuai dengan kriteria (Informan I),
karena ingin mendapatkan teman baru (informan II dan IV), tertarik
menggunakan Tinder karena berkenalan secara online terlebih dahulu
sehingga lebih mudah dalam melihat potensi kecocokan sebelum
bertemu secara langsung (informan III)
Hasil wawancara menunjukkan bahwa informan tertarik untuk
menggunakan aplikasi Tinder dimana memiliki jaringan yang lebih luas
sehingga memiliki banyak pilihan untuk mencari pasangan sekaligus
dengan menggunakan Tinder maka lebih nyaman karena bisa kenalana
lewat online terlebih dahulu. Hasil wawancara dengan informan
mengenai ketertarikan untuk berpartisipasi untuk mencari teman atau
jodoh dengan menggunakan aplikasi Tinder bahwa keseluruhan
informan menyatakan inin memperoleh teman terlebih lagi pasangan
dengan hobi dan kegemaran yang diharapkan sama.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa informan tertarik untuk
untuk menggunakan aplikasi Tinder karena informan dapat dengan
bebas memilih teman atau pasangan, tidak terbatas tempat atau lokasi di
suatu daerah. Ketertarikan di dalam menggunakan Tinder ditandai
dengan adanya kenyamanan dan komitmen yang sama-sama dirasakan
para informan, dimana apabila semakin intim dengan calon
pasangannya di Tinder maka akan dilanjutkan di dunia nyata. Interaksi
yang dilakukan pada tahap ini membuat informan menjalaninya dengan
santai dan tanpa beban, dimana komunikasi berjalan lebih spontan dan
54
individu membuat keputusan yang cepat, tetapi sebelum melakukan
tatap muka maka para penggunaTinder harus memilih terlebih dahulu
calon teman atau pasangan di Tinder, hasil wawancara mengenai cara
memilih calon teman kencan di Tinder bahwa informan menyatakan
dengan melihat poto propil, hobi, selera musik serta jarak.
Hasil wawancara dengan informan menunjukkan bahwa cara
memilih teman kencan di Tinder adalah dengan melihat poto profil
terlebih dahulu, baru kemudian dari percakapan yang terjadi akan
terlihat kecocokannya, juga dilihat dari bio data yang ditampilkan oleh
pengguna Tinder dan informan juga menyatakan bahwa cara mencari
teman kencan di Tinder adalah melalui notif yang dibuat baru kemudian
dilanjutkan dengan japri.
Cara bermain Tinder terbilang cukup sederhana dibanding
aplikasi dating online lainnya. Cukup dengan mengisi informasi
personal, lalu mengunggah foto profil dan mengisi informasi pribadi
seperti umur, mengisi biodata pendek pada bagian about me, hingga
memasukkan daftar lagu kesukaan yang terhubung dengan aplikasi
Spotify, setelah selesai, aplikasi tersebut akan menampilkan calon-
calon yang mereka pilihkan berdasarkan lokasi atau jarak yang tidak
terlalu jauh. Setelah itu pengguna dapat menggeser ke kiri yang berarti
pengguna tidak memilih orang tersebut. Sebaliknya, jika pengguna
menggeser ke kanan berarti pengguna memilih orang tersebutt. Hal
ini harus dilakukan oleh keduanya agar bisa terhubung satu sama lain.
55
Tahap selanjutnya adalah berkomunikasi, jika mereka memiliki
keserasian dan kenyamanan dalam berkomunikasi satu sama lain,
kemungkinan mereka akan bertemu secara langsung, namun dalam
prosesnya akan ada tahap yang harus dilewati oleh para pengguna
tinder jika ingin mencapai tahap hubungan berkelanjutan atau bertemu
secara langsung. Seseorang harus bisa mengugkapkan dirinya dengan
baik agar lawan bicara bisa tertarik dengan dirinya, baru kemudian
dapat melakukan pecakapan. Hasil wawancara di dalam memulai
percakapan di Tinder adalah memperkenalkan diri terlebih dahulu dan
tujuan dari percakapan tersebut.
Hasil wawawancara dengan informan mengenai cara memulai
percakapan di aplikasi Tinder antara informan laki-laki dengan
perempuan berbeda, dimana pengguna Laki-laki langsung
memperkenalkan diri terlebih dahulu sedangkan informan perempuan
lebih bersikap menunggu kalau ada yang ngechat baru di balas. Media
Tinder sangat akrab dengan aktivitas sehari-hari khusnya bagi remaja,
dimana remaja dapat mengungkapkan apa yang dimilikinya di aplikasi
Tinder untuk menarik atau memikat lawan jenis. Remaja dapat
membagikan moment, poto profil dan bio data sebagai langkah
pengenalan awal. Dari banyaknya manfaat media sosial Tinder yang
dirasakan oleh penggunanya khususnya remaja, media sosial dapat
menjadi cara untuk memperoleh teman ataupun pasangan yang tidak
terbatas pada satu lokasi. Remaja yang membutuhkan teman ataupun
56
pasangan untuk berbagi kemudian mencari pasangannya di media
Tinder. Remaja yang hanya mengenal melalui melalui Tinder nyatanya
dapat jatuh cinta kepada lawan bicaranya.
c. Interpretasi
Interpretasi adalah tahap terpenting dalam membentuk persepsi,
interpretasi merupakan informasi yang diperoleh melalui salah satu atau
lebih dari indra yang dimiliki manusia. Remaja tidak bisa
menginterpretasikan makna setiap objek secara langsung melainkan
menginterpretasikan makna yang dipercayai mewakili objek tersebut.
Interpretasi dalam hal ini adalah pemahaman informan tentang aplikasi
Tinder.
Kehadiran aplikasi Tinder memberikan keleluasaan bagi remaja
untuk memperoleh teman ataupun calon pasangan, Kebutuhan remaja
akan hadirnya aplikasi Tinder ini memiliki pengaruh besar karena
terbukti informan cukup sering membuka atupun menggunakan aplikasi
Tinder. Peneliti juga menanyakan menanyakan bagaimana pendapat
remaja terhadap kelebihan dan kekurangan dari aplikasi Tinder. Hasil
wawancara dengan informan mengenai kelebihan Tinder adalah
memudahkan di dalam mencari teman ataupun pasangan (informan I),
cakupan wilayah untuk memperoleh teman atau pasangan yang lebih
luas (Informan II dan III) serta dapat memperoleh teman secara acak
(infomran IV) sedangkan belum ada sisi kekurangan dari aplikasi
Tinder (Informan I dan IV) tetapi informan II dan III menyatakan
57
bahwa kekurangan Tinder adalah di dalam pemasangan poto profil yang
diedit sehingga terkadang apabila bertemu secara langsung akan
berbeda antara poto dengan aslinya.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa kelebihan dari Tinder
adalah mendapatkan teman ataupun pasangan yang tidak terbatas
karena cakupannya lebih luas bisa satu kota, satu daerah, satu provinsi
bahkan hingga ke luar negeri sedangkan kekurangan dari Tinder maka
beberapa informan menyatakan tidak ada kekurangan sama sekali
sedangkan informan lain menunjukkan bahwa kekurangan Tinder
adalah terkadang foto profil berbeda dengan aslinya, karena foto bisa
diedit menjadi lebih menarik.
Pengguna Tinder dapat mengekspresikan diri mereka sebebas-
bebasnya sesuai dengan apa yang ingin mereka tampilkan di profil
Tinder. Hal ini menarik karena mereka dapat menyembunyikan sisi
negatif dan menonjolkan sisi positif dari diri mereka untuk
mendapatkan pasangan. Hal ini terbukti dari hasil wawancara dengan
informan mengenai manfaat menggunakan Tinder adalah memperoleh
pasangan dan beberapa teman serta menambah relasi sehingga persepsi
remaja di Rt 1 Rw 22 Kelurahan Jebres menyatakan bahwa manfaat
dari Tinder memang sesuai dengan fungsi dari aplikasi Tinder itu
sendiri yaitu untuk memperoleh teman ataupun pasangan.
58
C. Pembahasan
Peneliti melakukan pengumpulan data wawancara dan observasi dengan
mewawancarai informan melalui bertatap muka langsung kepada keempat
informan pada saat wawancara dan melakukan hal yang sama tetapi tidak
mengizinkan untuk disebutkan namanya sehingga digunakan nama inisial
sesuai kesepakatan dengan para informan.
Penelitian ini menggunakan teori persepsi dari Deddy Mulyana (2011).
Proses persepsi terbagi menjadi tiga aktivitas meliputi penginderaan (sensasi)
melalui alat-alat indera kita (indera peraba, indera penglihat, indera pencium,
indera pengecap dan indera pendengar), atensi dan interpretasi (Sunarjo,
2014: 97). Setiap individu akan memiliki kriterianya sendiri dalam
menentukan terhadap apa mereka akan menarik perhatian mereka. Masing-
masing individu akan memandang dunia berkaitan dengan apa yang mereka
butuhkan, apa yang dinilai, apakah sesuai dengan keyakinan dan budayanya.
(Liliweri, 2011 : 153). Menyadari hal ini, kita sadar bahwa stimulus dapat
datang dari mana pun. Artinya, stimulus dapat datang dari luar diri individu,
tetapi juga dapat datang dari dalam diri individu yang bersangkutan. Persepsi
remaja terhadap aplikasi Tinder sebagai sarana mencari pasangan dalam
penelitian ini difokuskan pada tiga hal yaitu sensasi, atensi dan interpersonal.
1. Sensasi
Sensasi adalah tahap pertama stimuli mengenai alat indera. Sensasi
berasal dari kata sense yang artinya penginderaan, yang menghubungkan
organisme dengan lingkungannya. Sensasi yang dimaksud dalam
59
penelitian ini adalah tahap pertama yang dirasakan remaja setelah
mengetahui adanya aplikasi Tinder sebagai aplikasi untuk mencari
pasangan. Aplikasi Tinder ini memberikan stimulus yang kuat terhadap
informan untuk memperoleh teman atau pasangan, sehingga setelah selesai
melakukan download aplikasi dan menggunakannya, para informan
memberikan sensasi yang dirasakannya. Sensasi yang ditunjukan oleh
beberapa informan terhadap aplikasi Tinder adalah merasa senang dengan
adanya aplikasi Tinder dimana informan juga memiliki pengalaman
menyenangkan yang kurang menyenangkan, untuk yang menyenangkan
kaerna sempat mendapat pacar yang sesuai dengan ekspetasi kemudian
yang kurang menyenangkan adalah hubungan tersebut terputus selain itu
informan juga menyatakan bahwa memiliki perasaan yang seru karena
dapat berkenalan dengan orang-orang baru yang baru di kenal.
Ssensasi melibatkan alat indera manusia diantaranya, penglihatan,
penciuman, pendengaran, pengecap dan peraba. Dalam penelitian ini
sensasi yang didapat lebih banyak dilihat dari indera penglihatan, hal ini
kaerna informan melihat berbagai foto profil yang ada di Tinder dimana
ketika cocok maka informan melakukan komunikasi dengan lebih intens.
Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi proses sensasi meliputi
faktor fisik, fisiologis dan psikologis. Faktor fisik dimana alat indera yaitu
penglihatan menangkap stimulus yang diberikan melalu foto profil dan bio
data yang disertakan oleh masing-nasing anggota Tinder. Selanjutnya
fisiologis dimana proses alat indera yang meneruskan stimulus ke saraf
60
sensorik menuju otak, dan psikologis yaitu proses dimana otak menyadari
apa yang diterima dari penglihatan. Hal tersebut merupakan proses terakhir
dari sensasi atau pengamatan yang sebenarnya. Setelah melakukan
wawancara dengan informan tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan
bahwa remaja memiliki sensasi yang positif terhadap aplikasi Tinder
karena dapat dilihat dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh
peneliti maka informan menyatakan senang terhadap aplikasi Tinder untuk
mencari pasangan. Informan menganggap bahwa aplikasi Tinder dapat
memotivasi dirinya untuk berkenalan dengan orang yang baru ataupun
untuk berkenalan dengan calon pasangannya.
2. Atensi
Atensi atau perhatian adalah pemrosesan secara sadar sejumlah kecil
informasi dari sejumlah besar informasi yang tersedia. Informasi
didapatkan dari penginderaan, ingatan maupun proses kognitif lainnya.
Proses atensi membantu efisiensi penggunaan sumber daya mental yang
terbatas dan kemudian akan membantu kecepatan reaksi terhadap
rangsangan tertentu. Aplikasi Tinder memiliki bagian-bagian tertentu yang
menjadi perhatian para informan, seperti ketika Tinder menampilkan profil
dan biodata dari anggota Tinder. Profil dan biodata tersebut mereka
anggap sebagai informasi baru yang mereka dapatkan.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa informan berpendapat bahwa
atensi atau perhatian remaja terhadap aplikasi Tinder sebagai sarana untuk
mencari pasangan menyatakan bahwa informan menganggap mereka
61
tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder untuk mendapatkan teman
atau pasangan dan itulah daya tarik utama dari dari aplikasi Tinder itu
sendiri. Informan juga menyatakan bahwa tertarik menggunakan aplikasi
Tinder karena informan dapat dengan bebas memilih teman atau pasangan,
tidak terbatas tempat atau lokasi di suatu daerah. Informan menyatakan
juga bahwa cara memilih teman adalah dengan melihat poto profil dan
juga selera dari masing-masing anggota Tinder dan kecocokan saat
berkomunikasi dan cara informan untuk memulai percakapan di aplikasi
Tinder antara informan laki-laki dengan perempuan berbeda, dimana
pengguna Laki-laki langsung memperkenalkan diri terlebih dahulu
sedangkan informan perempuan lebih bersikap menunggu kalau ada yang
ngechat baru dibalas.
Hal tersebut menunjukkan bahwa berdasarkan atensi dari aplikasi
Tinder menunjukkan bahwa Tinder sangat menarik bagi informan di dalam
mencari pasangan. Atensi atau perhatian adalah pemrosesan secara sadar
sejumlah kecil informasi dari sejumlah besar informasi yang tersedia.
Informasi didapatkan dari penginderaan, ingatan maupun proses kognitif
lainnya. Atensi berdasarkan faktor eksternal yang berasal dari luar
individu, informan mempunyai perhatian untuk menggunakan aplikasi
Tinder disebabkan karena tertarik terhadap aplikasi, kemudian
berpartisipasi dengan cara memilih teman, dilanjutkan dengan melihat foto
profil untuk menentukan mana yang dipilih kemudian berlanjut dengan
komunikasi. Hal lain juga disebabkan oleh indikator intesitas stimuli,
62
stimuli yang menonjol dari stimuli yang lainnya. Stimuli yang menonjol
ini berupa adanya foto profil yang ada di Tinder sehingga cukup menarik
perhatian informan untuk melihat biodata dari calon pasangan yang
diinginkan. Dalam faktor internal yang datang dari dalam diri individu
informan, terdapat dua indikator yaitu faktor biologis. Faktor yang
mempengaruhi informan untuk memenuhi kebutuhannya dalam hal
mendapatkan informasi yang berhubungan dengan calon teman atau
pasangan yang diharapkan memiliki selera ataupun kegemaran yang
diharapkan sama. Indikator kedua adalah faktor sosiopsikologis
merupakan faktor yang bersifat psikologis atau yang berkaitan dengan jiwa
seseorang yang terkait dengan kebutuhan-kebutuhan sosial. Dari hasil
wawancara dengan informan, memiliki harapan yang sama atas informasi
yang diharapkan di dalam aplikasi Tinder yaitu informasi yang bersifat
personal masing-masing Tinder yang harus disajikan apa adanya tentang
jati diri dari anggota Tinder. Dari tahapan atensi melalui faktor internal
dan eksternal, sama-sama mampu menarik perhatian informan untuk
menggunakan aplikasi Tinder sebagai upaya untuk mencari teman atau
pasangan.
3. Interpretasi
Interpretasi atau penafsiran adalah proses komunikasi lisan atau
gerakan antara dua atau lebih pembicara yang tidak dapat menggunakan
symbol-simbol yang sama, baik secara simultan (dikenal sebagai
interpretasi simultan) atau berurutan (dikenal sebagai interpretasi
63
berurutan) (Liliweri, 2011). Interpretasi digunakan sebagai suatu metode
jika dibutuhkan. Interpretasi umumnya dilakukan untuk mendapatkan
pengertian atau pengetahuan yang lebih jelas dan mendalam tentang
sesuatu. Interpretasi sangat bergantung dari sudut pandang dan latar
belakang orang yang menginterpretasikan, sehingga interpretasi terhadap
objek yang sama bisa memberikan hasil yang berbeda. Seperti pada
aplikasi Tinder yang memberikan respon positif mengenai kelebihan dari
aplikasi Tinder adalah untuk berkenalan dengan orang-orang baru yang
cakupannya lebih luas sehingga informan dapat memilih calon teman
ataupun pasangan sesuai kehinginan. Mengenai kelemahan dari aplikasi
Tinder informan menyatakan dua hal yang berbeda dimana terdapat
informan yang menyatakan tidak ada kelemahan atau kekurangan, tetapi
informan lain juga menyatakan bahwa kekurangan dari aplikasi Tinder
adalah karena adanya foto yang diedit sehingga terkadang ketika bertemu
maka tidak sesuai dengan fotonya.
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan para informan,
peneliti menyimpulkan interpretasi remaja terhadap aplikasi Tinder
sebagai upaya untuk mencari pasangan yaitu dengan adanya aplikasi
Tinder maka dapat memberikan manfaat bagi mereka untuk berkenalan
dan memperoleh teman atau bahkan pasangan
64
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi
remaja ditinjau dari indikator sensasi bahwa remaja merasa senang terhadap
aplikasi Tinder untuk mencari pasangan, memiliki pengalaman
menyenangkan dan tidak menyenangkan. Persepsi remaja ditinjau dari
indikator atensi bahwa remaja menyatakan aplikasi Tinder sebagai sarana
untuk mencari pasangan dan memilih pasangan yang tidak terbatas lokasi
dengan cara melihat poto profil dan biodata. Persepsi remaja ditinjau dari
indikator interpretasi bahwa remaja memberikan respon positif mengenai
kelebihan aplikasi Tinder adalah untuk berkenalan dengan orang-orang baru
yang cakupannya lebih luas sehingga informan dapat memilih calon teman
ataupun pasangan sesuai kehinginan sedangkan kelemahan aplikasi Tinder
karena foto yang diedit sehingga ketika bertemu tidak sesuai dengan fotonya.
B. Implikasi
Tinder sebagai salah satu media sosial yang memungkinkan seseorang
untuk mengunggah foto dan bidodata dari para penggunanya yang bertujuan
untuk memperoleh teman atau pasangan. Perubahan gaya hidup yang paling
dirasakan dari adanya Tinder adalah remaja mempunyai keinginan yang
tinggi untuk menggunakan Tinder sebagai salah satu sarana untuk
64
64
65
memperkenalkan dirinya kepada orang lain melalui media online. Hasil
penelitian ini digunkan sebagai masukan bagi remaja dalam menggunakan
aplikasi Tinder secara bijak dan tetap berhati-hati di dalam mencari pasangan.
Penggunaan aplikasi tinder yang mudah sehingga dapat digunakan dari
berbagai usia dimana remaja dapat menjalin sebuah hubungan ketika
pengguna sama-sama menunjukkan ketertarikan satu sama lainnya setelah
menekan tombol “like” tanpa adanya paksaan atau notification
C. Rekomendasi
Saran yang dapat diberikan adalah remaja hendaknya juga tetap
berhati-hati di dalam menggunakan aplikasi Tinder karena kemungkinan
terdapat unsur penipuan ataupun kejahatan dengan berkedok mencari teman
ataupun pasangan.
66
DAFTAR PUSTAKA
Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), 2020. Pengguna Internet
di Indonesia Tembus 210 juta pada 2022. Diakses dari https://
[Link]..
Batoebara, MU dan Hasugian, BS.2021. Komunikasi Romantisme Masa Pandemi
Melalui Sosial Media. Jurnal Network Media. Vol: 4 No.1, hal 44 – 54.
Creswell W.J. 2013. Research Design Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan
Mixed. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Devito, Joseph. 2011. Komunikasi Antar Manusia, Edisi Kelima. (Judul Asli
Human Communication). Jakarta: Professional Books.
Ferdiana, Cervia, Susanto, Eko Harry dan Aulia, Sisca. 2020. Penggunaan Media
Sosial Tinder dan Fenomena Pergaulan Bebas di Indonesia. Koneksi. Vol 4
No 1, hal 112-118.
Haenlein, Michael. 2010. Users of the world, unite! The challenges and
opportunities of Social Media. London : Business Horizons.
[Link]. 2020. Kasus Mutilasi Rinaldi Berawal dari Aplikasi Kencan
Tinder. Diakses dari [Link]
Muhammad, Arni, 2015, Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Mulyana, Dedy. 2014. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung : Remaja
Rosdakarya.
Nadya, Karlina, dkk. 2016. Makna Hubungan Antarpribadi Melalui Media Online
Tinder. Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. III No. 1, hal 11-17.
Nasrullah, Rulli. 2017. Media Sosial : Perspektif Komunikasi, Budaya, dan
Sosioteknologi. Bandung : Remaja Rosdakarya.
67
Pratiwi, Eliska, Sujana, N dan Haris, I.A. 2019. Persepsi dan Partisipasi
Masyarakat terhadap Penerapan Program Kerja BUMDES Dwi Amertha
Sari di Desa Jinengdalem. Jurnal Pendidikan Ekonomi Undiksha. Vol. 11
No.1.
Puntoadi, Danis. 2012. Menciptakan Penjualan Melalui Media Sosial. Jakarta: PT
Elex Komputindo.
Putri, Tessa Novala, dkk. 2015. Motif Pria Pengguna Tinder sebagai Jejaring
Sosial Pencarian Jodoh (Studi Virtual Etnografi Mengenai Motif Pengguna
Tinder). e-Proceeding of Management. Vol. 2, No.3, hal 4051-4057.
Rizaty, Monavia Ayu. 2022. Pengguna Aplikasi Kencan Online Tembus 323 Juta
Orang pada 2021. Diakses dari [Link]
Romli, Asep Syamsul M. 2018. Jurnalistik Online. Panduan Praktis Mengelola
Media Online, Bandung: Nuansa Cendikia.
Safala, Udin. 2013. Trend Masyarakat Global dalam Pemilihan Pasangan &
Perkawinan Antar Ras Prespektif Umum dan Islam. Kodifikasia. Vol 7 No.
1, hal 41-62.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung :
Alfabeta.
Suranto, AW. 2011. Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Tanra, Indra. 2015. Persepsi Masyarakat Tentang Perempuan Bercadar. Jurnal
Equilibrium Pendidikan Sosiologi. Vol. III No. 1, hal 117-129.
Tim Pusat Humas Kementerian Perdagangan RI. 2014. Panduan Optimalisasi
Media Sosial Untuk Kemantrian Perdagangan RI. Jakarta : Pusat Humas
Kementerian Perdagangan RI.
Wahyudi. Muchamad Zaid. 2022. Jebakan Aplikasi Kencan. Diakses dari
[Link]/baca/gawai/2022/03/29/
Walgito, Bimo. 2004. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.
68
PEDOMAN WAWANCARA
PENDAHULUAN
1. Sudah berapa lama sebagai pengguna aktif tinder ?
2. Apa yang mengawali anda untuk meggunakan tinder?
3. Apakah anda memasang foto profil diri anda ? Jika iya seberapa penting
pemilihan foto profil menurut anda ?
4. Apakah anda menggunakan data diri di tinder ? Jika iya, seberapa penting bio
untuik menggambarkan diri anda ?
SENSASI
1. Apakah anda sering
menggunakan aplikasi Tinder dan kenapa ?
2. Bagaimana pengalaman anda
mengenai aplikasi Tinder ?
3. Bagaimana perasaan anda
mengenai penggunaan aplikasi Tinder ?
ATENSI
4. Apa yang membuat anda
tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder ?
5. Apakah Anda tertarik untuk
berpartisipasi untuk mencari teman atau jodoh dengan menggunakan aplikasi
Tinder ?
6. Bagaimana anda memilih
calon teman kencan di tinder?
7. Bagaimana biasanya anda
memulai percakapan di tinder ?
INTERPRETASI
8. Apa kelebihan dan
kekurangan menggunakan aplikasi Tinder ?
9. Apa manfaat yang anda
peroleh dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
69
HASIL WAWANCARA DENGAN INFORMAN I
PENDAHULUAN
1. Sudah berapa lama sebagai pengguna aktif tinder ?
Jawab: 1 tahun
2. Apa yang mengawali anda untuk meggunakan tinder?
Jawab :tertarik untuk menggunakan Tinder sejak putus dari pasangan dan
direkomendasikan oleh teman ada aplikasi untuk mencari pasangan lalu
melakukan download aplikasi tinder ini dan sampai saat ini masih digunakan.
3. Apakah anda memasang foto profil diri anda ? Jika iya seberapa penting
pemilihan foto profil menurut anda ?
Jawab: Penting karena untuk mengenalkan diri kita ke lawan jenis, kita itu
seperti apa, pakai kacamata atau tidak dan agar tidak kelihatan palsu
4. Apakah anda menggunakan data diri di tinder ? Jika iya, seberapa penting bio
untuik menggambarkan diri anda ?
Jawab : Untuk bio biasanya saya isi tentang diri pribadi saya mulai dari
kesukaan, hobi, selera musik. Menurut saya itu penting agar calon pasngan
yang saya cari itu bisa sesuai dengan kriteria saya
SENSASI
1. Apakah anda sering menggunakan aplikasi Tinder dan kenapa ?
Jawab : Tinder sering saya gunakan waktu saya dalam tahap mencari sih
sampai dapat pasangan seperti yang saya mau, maksudnya yang sesuai
dengan tipe saya. Dan setelah itu yaudah saya jeda dulu pakai aplikasi ini,
nanti kalau semisal pasangan yang saya temuin ini tidak sesuai saya akan
pakai tinder lagi sih untuk mencari calon pasangan yang lain lagi
2. Bagaimana pengalaman anda mengenai aplikasi Tinder ?
70
Jawab : Kalau pengalaman si ada yang menyenangkan ada juga yang kurang
menyenangkan, untuk yang menyenangkan sekali duakali ini sempat
mendapat pacar yang sesuai dengan ekspetasi saya. Yang kurang
menyenangkan si beberapa kali sempat dapat yang sudah komunikasi intens
namun tiba tiba menghilang atau tidak memberi kabar lagi. Itu sudah ada
yang ketemu dan ada juga baru komunikasi intens di media social
3. Bagaimana perasaan anda mengenai penggunaan aplikasi Tinder ?
Jawab : selama ini menyenangkan sih karna sepengalaman saya terlebih di
solo sendiri itu benyak pilihan (calon pasangan), mungkin karna yang pakai
banyak ya jadi banyak pilihan, dibanding aplikasi lain itu untuk pilihan (calon
pasangan) sendiri paling banyak di tinder ini sepengalaman saya
ATENSI
1. Apa yang membuat anda tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : karena di tinder ini kebanyakan orang asing ya jadi ga melulu di
circle kita, cakupannya luas banyak pilihan dan kebanyakan memiliki tujuan
yang sama yaitu mencari pasangan
2. Apakah Anda tertarik untuk berpartisipasi untuk mencari teman atau jodoh
dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : ya karena ingin mencari teman atau bahkan pasangan, itu yang
utama, disini kita bisa bebas memilih kalau cocok dilanjutkan kalau nggak
cocok ya sudah gakpapa
3. Bagaimana anda memilih calon teman kencan di tinder?
Jawab : caranya dari photo profile, hobi, selera music dan juga jarak si kalau
bisa di solo aja biar ga ldr gitu
4. Bagaimana biasanya anda memulai percakapan di tinder ?
Jawab : say hello, perkenalan diri, lalu tanya diam atau cari teman atau
pasangan seperti itu
INTERPRETASI
1. Apa kelebihan dan kekurangan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : kekurangan sejauh ini belum merasakan, untuk kelebihannya
memudahkan dalam mencari pasngan karena pada dating app ini rata rata
penggunanya memiliki tujuan yang sama yaitu mencari pasangan
2. Apa manfaat yang anda peroleh dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : Manfaat menggunakan inder yang saya alami adalah sempat
memperoleh pasangan dan beberapa teman
71
HASIL WAWANCARA DENGAN INFORMAN II
PENDAHULUAN
1. Sudah berapa lama sebagai
pengguna aktif tinder ?
Jawab: dua tahun
2. Apa yang mengawali anda untuk meggunakan tinder ?
Jawab : Awal mula menggunakan Tinder, hanya iseng tujuannya untuk
mendapat teman/kenalan baru, terlebih lagi bisa punya pacar lewat aplikasi
Tinder
3. Apakah anda memasang foto profil diri anda ? Jika iya seberapa
penting pemilihan foto profil menurut anda ?
Jawab: Di tinder foto dan bio sangat penting karena calon teman atau
pasangan pada awalnya akan mengenali kita melalui foto dan bio yang
dicantumkan di profil, karena sebelumnya belum pernah bertemu
4. Apakah anda menggunakan data diri di tinder ? Jika iya, seberapa
penting bio untuik menggambarkan diri anda ?
Jawab : biasanya si tentang minat (hobi, selera music, dll), sama region
mungkin
SENSASI
1. Apakah anda sering menggunakan aplikasi Tinder dan kenapa ?
Jawab : jarang si paling waktu ada notif yang ngelike baru saya buka tinder,
sekalian scroll scroll cari pasangan, habis itu biasanya saya buka waktu ada
notif lagi. jadi saya ngga terlalu ngebet mencari pasangan disini
2. Bagaimana pengalaman anda mengenai aplikasi Tinder ?
Jawab : belum pernah dapet pacar, paling dapet temen ngobrol virtual sama
temen nongkrong ada beberapa
72
3. Bagaimana perasaan anda mengenai penggunaan aplikasi Tinder ?
Jawab : seru si sama deg-degan soalnya kan kenalan sama orang orang baru
yang kita itu bener bener asing gitu lo
ATENSI
1. Apa yang membuat anda tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : ya dapat teman baru, yang tidak kenal sama sekali, kalau cocok kan
lumayan
2. Apakah Anda tertarik untuk berpartisipasi untuk mencari teman atau jodoh
dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : Saya itu agak bosen main sama temen yang itu itu aja, kalo disini kan
kita bisa dapet kenalan itu dari orang yang bener-bener asing dari circle yang
beda, jadi kita kenal sama satu orang trus kaya bisa dapet circle baru itu si
yang membat saya tertarik
3. Bagaimana anda memilih calon teman kencan di tinder?
Jawab : kalo pasangan ya ga munafik dari photo profil dulu bar uke bio kira
kira cocok engga, kalo cari temen biasanya lihat bionya kira kira cocok ngga
nih ama kita, ngobrolnya nyambung ngga nih ama kita gitu sih
4. Bagaimana biasanya anda memulai percakapan di tinder ?
Jawab : pake pickup line template kaya knock knock dan sebagainya,
perkenalan diri juga
INTERPRETASI
1. Apa kelebihan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : kelebihannya itu kalo dibandingkan dunia nyata cakupannya luas bisa
dapet kenalan dari luar kota/provinsi/bahkan sampe luar negri dan di tinder
ini rata rata kan tujuannya juga sama yaitu cari pasangan jadi mempermudah
untuk cari pasangan gitu sih, kalo kekurangannya itu kita hanya dinilai dari
foto sama bio doang, kaya kadang ada yang fotonya editan trus nanti pas
ketemu lho kok beda, yah seputar itu si kalo kekurangan
2. Apa manfaat yang anda peroleh dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : kalau bagi saya tentunya menambah teman dan kalau dapat pasangan
yang cocok kalau bisa
73
HASIL WAWANCARA DENGAN INFORMAN III
PENDAHULUAN
1. Sudah berapa lama sebagai
pengguna aktif tinder ?
Jawab: 2 tahun
2. Apa yang mengawali anda
untuk meggunakan tinder?
Jawab : Saya memakai Tinder atas saran dari teman-teman, karena di Tinder
banyak cowok yang keren sehingga saya jadi penasaran, selain itu dengan
memakai Tinder kita juga bisa menambah relasi ataupun teman
3. Apakah anda memasang foto
profil diri anda ? Jika iya seberapa penting pemilihan foto profil menurut
anda ?
Jawab: Penting karena di tinder yang bisa diliat awalnya hanya foto sama
bio, terkadang ada yang mencantumkan akun sosial media yang dimilikinya,
tetapi yang bisa dilihat pertama tetap foto dan bio yang ada di aplikasi Tinder
4. Apakah anda menggunakan
data diri di tinder ? Jika iya, seberapa penting bio untuik menggambarkan diri
anda ?
Jawab : biasanya aku kosongin si biar keliatan misterius aja
SENSASI
1. Apakah anda sering menggunakan aplikasi Tinder dan kenapa ?
Jawab : dulu lumayan sering sih, berenti pake tinder Cuma pas missal ada
yang nyantol satu gitu ya dijalanin dulu sama calon pasangan ini, kalo
ternyata ngga cocok sama satu orang ini ya aku main tinder lagi buat cari
calon pasangan lain
74
2. Bagaimana pengalaman anda mengenai aplikasi Tinder ?
Jawab : dapet temen dari dalam sampai luar kota juga ada, terus awal tahun
kemarin saya punya pacar juga awal kenalnya dari tinder
3. Bagaimana perasaan anda mengenai penggunaan aplikasi Tinder ?
Jawab : ya senang sih, karena bisa dapat teman baru, atau pasangan
ATENSI
1. Apa yang membuat anda tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : ya kalau pakai Tinder kan lebih enak karena kenalan dulu lewat
online, karna ngajak kenalan langsung di dunia nyata itu rasanya aga gimana
ya “aneh mungkin” kalo di dating apps kan jelas aplikasi buat kenalan/cari
pasangan, kaya lebih simple aja, dan rekomendasi temen temen juga sih
2. Apakah Anda tertarik untuk berpartisipasi untuk mencari teman atau jodoh
dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : kalau kita lebih bebas berekspresi, kita dapat dipilih dan memilih
teman atau calon pasangan
3. Bagaimana anda memilih calon teman kencan di tinder ?
Jawab : ya mesti lihat profilnya dulu, baru kemudian ngobrolnya nyambung
nggak, sesuai kriteria yang kita inginkan atau tidak
4. Bagaimana biasanya anda memulai percakapan di tinder ?
Jawab : ya biasanya ada yang dm atau notif ke saya, baru saya balas
INTERPRETASI
1. Apa kelebihan dan kekurangan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : Kelebihan dan kekurangan Tinder ya kalau kelebihannya
jangakauannya luas, kita bisa memilih semau kita calon teman atau pasangan,
kalau kekurangannya saya kira sih kadang foto sama aslinya kadang beda
2. Apa manfaat yang anda peroleh dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : Kalau manfaat Tinder bagi saya adalah dapat teman baru dan mesti
juga ada yang dapat pasangan juga
75
HASIL WAWANCARA DENGAN INFORMAN IV
PENDAHULUAN
1. Sudah berapa lama sebagai pengguna aktif tinder ?
Jawab : 4 bulan
2. Apa yang mengawali anda untuk meggunakan tinder?
Jawab : Awal mula menggunakan Tinder kaerna iseng, karena teman-teman
temen banyak yang menggunakannya, sehingga timbul keinginan untuk
download dan berharap dapat pacar
3. Apakah anda memasang foto profil diri dan biodata anda ? Jika iya seberapa
penting pemilihan foto profil dan biodata menurut anda ?
Jawab : Iya, Adanya foto dan biodata cukup penting, karena yang pertama kali
dilihat oleh orang lain adalah foto dan biodata
4. Apakah anda menggunakan data diri di tinder ? Jika iya, seberapa penting bio
untuik menggambarkan diri anda ?
Jawab : kalau saya bisanya region, akun sosmed, sama beberapa hal kesukaan
saya seperti selera music sama hobi
SENSASI
1. Apakah anda sering menggunakan aplikasi Tinder dan kenapa ?
Jawab: agak jarang ya, paling kalau ada notif sama buka pas malem gitu
sambil rebahan sebelum tidur sempetin scroll scroll dulu
2. Bagaimana pengalaman anda mengenai aplikasi Tinder ?
76
Jawab : ini baru deket sama sesorang tapi belum jadi pacar, kalo kemarin
kemarin belum ada ya baru ini
3. Bagaimana perasaan anda mengenai penggunaan aplikasi Tinder ?
Jawab : lumayan seru ya ternyata, bisa kenalan sama orang asing, dan
kebetulan saya ini orangnya ngga punya banyak temen jadi lumayan seru/asik
pake tinder ini
ATENSI
1. Apa yang membuat anda tertarik untuk menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : karena menarik bisa kenalan sama teman baru, siapa tahu jadi
pasangan kita karena memang ini kan khusus untuk cari pasangan aplikasinya
2. Apakah Anda tertarik untuk berpartisipasi untuk mencari teman atau jodoh
dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : ya tertarik karena aplikasi ini memang dasarnya untuk cari pasangan,
siapa tahu dapat yang benar-benar serius dengan kita
3. Bagaimana anda memilih calon teman kencan di tinder?
Jawab : caranya ya kita notif mungkin nanti ada yang bales mungkin bisa
lanjut japri, kalau cocok ya nanti jalan ke depannya apa lihat nanti aja
4. Bagaimana biasanya anda memulai percakapan di tinder ?
Jawab : kalau saya sih lihat notif dulu.. kalau ada yang notif saya balas
INTERPRETASI
1. Apa kelebihan dan kekurangan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : kelebihannya itu seperti kita ngga bisa nih ngajak kenalan orang
random di dunia nyata, kalau kekurangan belum ada ya untuk saat ini
2. Apa manfaat yang anda peroleh dengan menggunakan aplikasi Tinder ?
Jawab : Manfaat Tinder bagi saya pastinya nambah teman, nambah relasi, atau
mungkin juga dapat pacar atau pasangan