i
KESUCIAN HIDUP
MENURUT DIOGENES D’SINNOPE
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama
Disusun oleh :
Ahmad Pujianto
12510079
Pembimbing:
Novian Widyadharma S. Fil. M. Hum.
NIP. 19741114 200801 1 009
PROGRAM STUDI AQIDAH DAN FILSAFAT ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN DAN PEMIKIRAN ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2017
ii
iii
iv
v
MOTTO
Terbanglah terbang lepaskan kaki, tangan, mata dan pikiranmu !
(Giarian Harik H.– Gorong-Gorong Institute)
vi
PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan untuk mboe, Ny. Zamzarotun di rumah
Semoga dalam kebahagiaan slalu.
Untuk kakak-kakakku, mas & mbak yang sukanya memarah-marahi aku
dan menyuruh-nyuruhku menjadi ini-itu, aku cuma ingin bilang:
Sebenarnya tak harus seperti itu...
Untuk adik-adik dan ponakan-ponakanku, sayang kalian slalu..
Dan untuk teman-teman
seperjuanganku.
vii
ABSTRAK
Beberapa kebuntuan-kebuntuan hidup manusia saat ini yang menjadi
penghalang kebahagiaan diantaranya: absurditas hidup, modernisme yang
mekanistik, One Dimentional Man, kedangkalan pengetahuan,
penderitaan dan hawa nafsu. Penulis berusaha mencari solusinya dalam
literatur filsafat Yunani klasik dan mengambil satu tokoh yang unik
bernama Diogenes d‟Sinnope (±404-323 SM) dari madzhab cynism.
Diogenes banyak mengkritik masyarakatnya dengan perilaku yang ganjil
dan bernilai humoris tinggi, juga kaya akan renungan filosofis.
Metode pengolahan data yang dipakai penulis yaitu verstehen
(pemahaman yang mendalam terhadap ekspresi batiniah tokoh),
dialektika (mempertemukan pemikiran tokoh dengan para pemikir lain
secara tematik), dan refleksi (menarik hikmah dari setiap kejadian).
Kesucian yang ingin penulis kaji yaitu kesucian dalam perspektif
humanistik, terutama ketia kesucian (yang sakral) berhadapan dengan
kebuntuan-kebuntuan dan krisis dalam modernitas (yang profan).
Hasi dari penelitian ini, diketahui laku suci yang diterapkan Diogenes
diantaranya: (1.)kesederhanaan hidup; (2.)sikap anti-normalitas dan
pembelaannya pada the others; (3.)kegilaan sebagai upaya desakralisasi,
memberontak pada hidup yang absurd, dan sarana menghibur masyarakat;
(4.)keterbukaan dan (5.)persaudaraan antar sesama manusia. Hikmah yang bisa
diteladani dari sosok Diogenes yaitu tetaplah menjaga otentisitas diri, karena
dengan begitu seseorang berani mengeluarkan sikap kritisnya merespon kondisi
sosial, tidak munafik, dan aktif mencari kebenaran baik melalui pertanyaan
ataupun tindakan.
viii
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur senantiasa penulis haturkan ke hadirat Allah azza wa
jalla. Pesona cahaya-Nya melimpah di alam raya pada setiap makhluknya dan
kasih sayang-Nya senantiasa memeluk makhlukNya yang kebingungan ini,
membimbing, dan memberi kami petunjuk. Sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan judul „KESUCIAN HIDUP MENURUT DIOGENES
D‟SINNOPE‟ ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga tercurahkan kepada
junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai suritauladan manusia, dan kepada
keluarga Nabi serta para sahabatnya.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa
adanya bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Alim Roswantoro [Link]. selaku Dekan Fakultas Ushuluddin dan
Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2. Bapak Dr. H. Robby Habiba Abror, [Link]., [Link]. selaku Dosen Pembimbing
Akademik yang telah membimbing, memberi nasehat serta masukan yang tak
ternilai sejak awal masuk kuliah sampai mau lulus.
3. Bapak Novian Widiadharma [Link]., [Link]. selaku Pembimbing skripsi yang
telah meluangkan segenap waktunya untuk mengarahkan serta memberi petunjuk
kepada penulis dengan penuh kesabaran dan pemahaman yang mendalam.
4. Segenap Dosen dan Karyawan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta.
ix
5. Ibuku, Ny. Zamzarotun yang senantiasa memberikan dukungan baik spiritual
maupun material, kasih sayang dan do‟a yang tak henti-hentinya untuk
kelancaran penulis.
6. Kakak-kakakku, Mas dan Mbak yang tak terhitung rasa perhatian dan kasih
sayangnya pada penulis, yang senantiasa memberikan nasehat dan mengingatkan
tentang kebaikan. Pak Lek dan Bu Lek yang rajin menanyakan kabarku,
7. Kawan-kawanku baik teman kelas maupun luar-kelas, yang pernah
mengenalku... Terimakasih sudah mau jadi kawanku. Terkadang Engkau hafal
namaku, namun aku tak tahu... maafkan aku..
8. Semua pihak yang telah membantu penulis baik secara langsung maupun tidak
langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Akhir kata, penulisan skripsi ini merupakan proses pembelajaran dan
aktualisasi diri, sehingga penulis menyadari adanya kekurangan ataupun
kesalahan di dalam penulisan ini yang belum kami ketahui.. Oleh karena itu, kami
memohon kritik, saran, dan nasehat dari pembaca sekalian. Mudah-mudahan
karya kecil ini ada manfaatnya bagi perubahan bangsa ke depannya, minimal bagi
diri penulis sendiri.
Yogayakarta, Mei 2017
Penulis
Ahmad Pujianto
12510079
x
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................................i
HALAMAN NOTA DINAS.....................................................................................ii
HALAMAN PERNYATAAN ..................................................................................iii
HALAMAN PENGESAHAN ..................................................................................iv
HALAMAN MOTTO ..............................................................................................v
HALAMAN PERSEMBAHAN ..............................................................................vi
ABSTRAK ................................................................................................................vii
KATA PENGANTAR ..............................................................................................viii
DAFTAR ISI .............................................................................................................x
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...........................................................................1
B. Rumusan Masalah ....................................................................................11
C. Tujuan Penelitian .....................................................................................12
D. Kegunaan Penelitian.................................................................................12
E. Tinjauan Pustaka ......................................................................................13
F. Metode Penelitian.....................................................................................17
G. Sistematika Pembahasan ..........................................................................20
BAB II. APA ITU KESUCIAN
A. Definisi Kesucian ....................................................................................23
B. Kesucian menurut Para Filsuf .................................................................24
C. Klasifikasi Paradigma Kesucian..............................................................31
a. Berdasarkan Jumlah Ontologis ............................................................31
xi
b. Berdasarkan nalar „Appolonian-Dyonisian‟........................................35
D. Kesucian dalam Perspektif Humanistik ...................................................47
E. Kegilaan, Kesucian, dan Modernitas........................................................50
BAB III. ALIRAN CYNISM DAN DIOGENES D’SINNOPE
A. Pengertian Cyinisme ...............................................................................56
B. Sejarah Aliran Cynism .............................................................................60
C. Capaian Spiritual Kaum Cynic ................................................................65
D. Kebudayaan Cynism Hari Ini ..................................................................71
E. Biografi Diogenes d‟Sinnope ..................................................................73
BAB IV. LAKU SUCI DIOGENES D’SINNOPE
A. Kesederhanaan Hidup Diogees d‟Sinnope .....................................................85
B. Anti-Normalitas dan Pandangan the Others ...................................................89
C. Memahami Nalar Kegilaan Diogenes d‟Sinnope ...........................................94
D. Keterbukaan Sesama Manusia .......................................................................98
E. Persaudaraan Sesama Manusia.......................................................................101
BAB V PENUTUP
A. Simpulan ........................................................................................................103
B. Kritik ..............................................................................................................104
C. Saran ...............................................................................................................105
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................106
CURRICULUM VITAE ............................................................................................xii
1
BAB I.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia menurut Gilles Deleuze (1925-1995) dan Felix Guatarri
(1930-1992) dapat dikatakan sebagai makhluk yang suka mengkonsep
dan mencipta.1 Setiap orang hendaknya terus bereksplorasi menembus
batas-batas kemanusiaan yang ada.2 Di dalam diri manusia terkandung
beragam potensi, baik itu fisik maupun ruhani. Manusia juga merupakan
makhluk multidimensi. Disadari ataupun tidak, setiap orang terlibat dalam
dimensi ekonomi, sosial, politik, dan keagamaan. Banyak misteri
kemanusiaan yang belum tersibak sampai hari ini. Di dalam diri terus
bergejolak dan berproses. E. F. Schumacher (1911-1977) mengakui
adanya kondisi jiwa yang gelisah, bergejolak, buntu, paradoks, dan acak.
Namun seorang manusia tidak boleh berhenti di situ.3 Mulailah
melakukan upaya “penyadaran diri”.4 Hanya manusialah satu-satunya
makhluk yang sanggup mempertanyakan dan memikirkan tentang
1
Gilles Deleuze dan Felix Guattari, What is Philosophy ? translated by Hugh Tomlinson and
Graham Burchell. ( New York: Columbia University Press, 1994), hal. 6.
2
Gilles Deleuze dan Felix Guattari, Anti-oedipus: Capitalism and Schizophrenia. ( Mineapolis:
Columbia University Press, 1994), hal. 140.
3
E. F. Schumacher. Keluar dari Kemelut terj. Mochtar Pabotinggi. (LP3ES, 1988), hal. 13-16.
4
E. F. Schumacher. Keluar dari Kemelut...hal. 57
2
kedalaman dirinya sendiri.5 Kegiatan ini membuka jalan bagi manusia
untuk memasuki dunia refleksi di kedalaman batinnya yang menjadikan
hidupnya begitu berharga.
Dengan melontarkan beberapa pertanyaan, manusia aktif mencari
jawaban, terus bereksplorasi, melampaui eksistensinya sendiri dan
mampu melihat kenyataan hidup. Dari hasil refleksi tersebut, dapat
diketahui beberapa kebuntuan hidup yang menghalangi manusia modern
untuk bahagia, diantaranya:
1. Absurditas hidup.
Albert Camus (1913-1960), seorang novelis dan filsuf Prancis dalam
eksplorasi filosofisnya sampai pada penglihatan tentang absurditas hidup
dan kondisi anomali.6 Penulis melihat banyak manusia modern yang
hidupnya hanya mengikuti arus. Hidup hanya sekedar menjalani dan tahu-
tahu sudah tua. Saat seseorang berada pada puncak, atau sedang bahagia,
ia akan jatuh dan sedih lagi. Suatu bangsa yang jaya akan runtuh dan
kembali membangun dirinya lagi untuk kembali berjaya dan untuk runtuh
lagi.7 Manusia dipaksa menjalani kejadian yang berulang-ulang dan tak
ada pilihan. Tak ada kesempatan bagi dirinya untuk bertanya dan
merefleksikan hidupnya agar memperoleh jalan keluar. Yang penulis
5
Kasdin Sitohang. Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme (Yogyakarta: Pustaka
Filsafat, 2013), hal. 15 - 28
6
Simon Blacburn. Kamus Filsafat terj. Yudi Santoso. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), hal. 124.
7 Albert Camus. The Myth of Sisyphus, translated by Justin O'Brien. (Alfred A. Knopf, Inc., 1955),
hal. 3-4.
3
rasakan, orang-orang hanya mondar-mandir tanpa suatu kejelasan pada
raut wajahnya.
2. Hidup yang mekanis.
Manusia modern, terutama masyarakat urban hidup secara mekanis,
yaitu ditentukan oleh perputaran waktu dan uang. Mereka harus bangun
pagi lalu segera pergi ke tempat kerja. Orang modern harus mempunyai
HP sebagai alat komunikasi, khususnya smartphone android. Bangun
tidur mereka harus membuka social media untuk mendapatkan update
kabar dan informasi. Orang modern harus membeli kuota, jika tidak maka
ia akan bingung dan stress karena terputusnya komunikasi. Orang modern
tak sempat mengamati embun di pagi hari, tetumbuhan yang hijau dan
bebungaan yang mekar, ilalang yang tersentuh cahaya matahari. Tak ada
waktu menikmati sungai yang jernih dan sungai yang jernih pun
nampaknya susah ditemukan karena terkontaminasi oleh timbunan efek
ulah manusia. Dalam pikiran orang modern dipenuhi dengan beban tugas-
tugas yang berat. Teringat ungkapan filsuf eksistensialis Jerman, Martin
Heiddeger (1889-1976) bahwa banyak manusia modern dihinggapi “lupa
akan makna Ada“, atau hidup tanpa kehadiran hidup itu sendiri.8
8
Herbert Spiegelberg. “Eksistensi yang Otentik menurut Heiddeger” dalam Zaenal Abidin (ed.),
Filsafat Manusia: Memahami Manusia melalui Filsafat (Bandung: Remaja rosdakarya, 2000), hal.
169.
4
Sebagian besar orang berada dalam kebencian akan hidupnya sendiri yang
mekanis, namun bagaimana lagi ?9
3. Masyarakat yang dikendalikan.
Akibat kurang kritis dalam menjalani kehidupan, seseorang menjadi
mudah dikotak-kotakkan dan dipengaruhi, terutama di era modern ini.
Jean Baudrillard (1929-2007) menyebutnya dengan istilah “simulacra”,
manakala dunia sudah penuh dengan tanda-tanda baik di dunia viral
seperti baliho-baliho di sepanjang jalan, dan dunia virtual seperti
selebaran-selebaran di internet. Pengirim informasi ini (adressee) dapat
berasal dari aliran keagamaan, grup sepakbola, brand bisnis tertentu,
agenda event, dan lain-lain sehingga penerima informasi (adress)
menikmati citra-citra visual yang dikirimkannya lalu terbujuk.10
Kemudian tanpa disadari, hidupnya dikontrol oleh siaran televisi,
ataupun iklan-iklan dan seruan media massa dan social media. Masing-
masing orang ditarik ke dalam suatu dunia tertentu, sehingga terjadi
pengkotak-kotakan pengetahuan. Masing-masing berdiri dalam
perspektifnya sendiri-sendiri tentang kebenaran dan parahnya lagi jika
mengatakan kelompoknya yang terbaik. Artinya, cakrawala pemahaman
belum mengalami perluasan dalam memandang dunia (weltanschauung).
Namun, ilmu menjadi kurang diminati karena orang lebih tergiur dengan
9
Arthur Schopenhauer. The World as Will and Representation trans. (New York: Dover
Publications Inc, 1966), hal. 304-307.
10
Madan Sarup. Postrukturalisme & Posmodernisme terj. Medhy Aginta H. (Yogyakarta: Jalasutra,
2011), hal. 256.
5
hingar-bingar iklan dan kekuasaan. Teknologi yang dipakai sebagian
masyarakat bukan karya sendiri, namun hasil impor pabrik besar yang
memproduksinya atau neoimperialisme asing. Hal ini sebenarnya pernah
diangkat oleh Louis Althusser (1918-1990) tentang “ideological state
aparatuses” yang bekerja untuk mengkontrol masyarakat dalam berbagai
segi kehidupan. Tujuannya yaitu Negara sebagai kaki tangan kapitalis
dalam melancarkan dan melindungi produksinya. Lebih lanjut lagi, filsuf
Herbert Marcuse (1878-1979) dalam One Dimentional Man (1964)
mendapati masyarakat sekarang sudah dipukul rata. Mereka tak mampu
membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Setiap harinya masyarakat
disuapi kesadaran palsu, kebutuhan palsu, sehingga merasa dituntut untuk
berlaku sebagaimana yang dikehendaki pengirim kesadaran. Artinya
masyarakat dibuat sama semua, yaitu masyarakat konsumtif. Hidup
mereka dibuat sedemikian rupa sehingga terangsang untuk membeli. Jiwa
mereka sudah diambil dan susah menjadi otentik.
4. Kedangkalan pengetahuan.
Era modern dibanggakan sebagai zaman keemasan, namun
kenyataannya orang modern justru hidupnya ketergantungan dengan
pengetahuannya yang dangkal dan hidupnya tidak menyejarah.
Kedangkalan ini dikarenakan masyarakat kurang kritis dan cenderung
dimanjakan dengan teknologi yang sudah ada. Masyarakat tinggal
memakai suatu alat dan tak perlu repot-repot merakitnya atau minimal
memahami mekanisme kerjanya. Masyarakat tinggal membaca sumber
6
online daripada membuka buku yang lebih terpercaya sebagai
referensinya. Kritikus dan budayawan Indonesia, Sudjiwo Tedjo
menyebut zaman ini sebagai zaman batu, karena hidup manusia menjadi
begitu ketergantungan. Manusia sesuai pesanan dari otoritas ataupun
sistem yang ada. Hidup tak ada martabatnya.
5. Penderitaan hidup dan hawa nafu.
Seiring berjalannya teori Malthus tentang ledakan penduduk yang
tak sebanding dengan ketersediaan pangan, penulis banyak melihat orang
yang putus asa dan hidupnya terlempar dalam nasib yang tidak mujur.
Sudah banyak manusia yang menjadi korban dan hidupnya tak berguna.
Hal inipun akan diwariskan dari generasi ke generasi. Masyarakat kelas
bawah hidup di bawah himpitan kemiskinan dan deraan kebutuhan. Uang
yang dikantonginya tidak seberapa. Obrolan kalau berkumpul tidak
bosan-bosannya yaitu seputar seks kelas rendah atau perselingkuhan
dengan tetangganya sendiri. Ada sesuatu yang sedang menindas manusia,
namun lagi-lagi manusia tak mampu mengenalinya. Kebanyakan yang
manusia rasakan adalah penderitaan semata. Bahkan, ironi dari Arthur
Schoepenhauer (1788-1860) bahwa semakin seseorang itu mencapai
puncak ilmu pengetahuan, justru ia akan banyak melihat hal-hal tragis dan
hal itu menjadikan hidupnya semakin menderita, bukannya mendapat
kebahagiaan. Ketika manusia hendak melampiaskan nafsunya, pada
7
ujungnya pun hanyalah ketidakbahagiaan.11 Lantas di manakah arti
penting hidup ini? Apa hidup hanya begitu-begitu saja? Apakah hidup ini
suci dan bermuatan sakral? Atau manusia hanya sekedar makhluk yang
diternakkan begitu saja? Bagaimana pula caranya agar manusia sanggup
menyalurkan kehendaknya secara lebih leluasa di antara pranata sosial
yang membelenggu?
Dari sekian problematika yang ada, diharapkan kajian filsafat tampil
memberikan jawabannya dan memberikan terobosan solusi yang jitu.
Akan tetapi, ironi yang muncul kemudian di dunia filsafat kontemprer
sendiri, penulis merasakan para filsuf terlalu berkutat pada perdebatan
kata-kata (teks) dan terjebak di dalamnya. Jacques Derrida (1930-2004)
menerbitkan bukunya Of Gramatology yang menandai bergesernya corak
kajian “logosentrisme/ fonosentrisme” menuju era “gramatologi”.12
Logosentrisme dalam memahami realitas cenderung mengacu pada dalil
kebenaran universal, bahasa dipahami sebagai „tuturan‟, pemikiran adalah
ucapan, dan ada makna di balik bahasa. Sedangkan Gramatologi
merupakan cara membaca bahasa sebagai teks/ tulisan, mengkaji bahasa
secara spesifik, dan kata Derrida, “Tidak ada apa-apa di luar teks”.13
Derrida mengajak setiap orang untuk lebih kritis lagi dengan bahasa yang
masuk padanya dengan menganalisis dan membongkar kedok yang ada
dibalik bahasa itu. Sebenarnya ini capaian yang bagus karena berupaya
11
Arthur Schopenhauer. The World as Will..hal.
12
Kaelan. Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya. (Yogyakarta: Paradigma, 2002.), hal.
243.
13
Muzairi dan Novian Widiadharma. (Metafisika. Yogyakarta: Pokja UIN,2013.), hal. 112-114.
8
menggugah kesadaran manusia bahwa bahasa yang sampai padanya
bukan suatu kebenaran yang final, namun bermakna relatif. Bahasa
muncul bukan sebagai sesuatu yang sudah jadi dan baku, namun itu dapat
dibuat sedemikian rupa sesuai keinginan dan pemahaman penulis. Derrida
mencetuskan metode “dekonstruksi” untuk membedah dan meragukan
kalimat-kalimat keagamaan, sosial-politik, bisnis, media massa,
pendidikan, lalu mencari asal-usulnya darimana kalimat itu berasal. Sama
halnya yang tertuang dalam Critique of Practical Reason yang ditulis
Immanuel Kant (1724-1804), sangsi terhadap rasio praktis yang dipakai
bahwa itu bukan fakta objektif, namun dibumbui oleh kepentingan
tersembunyi dari ego diri. Maka dari itu, Kant mengarahkan hendaknya
pengetahuan untuk keadilan dan kebajikan.14
Menurut hemat penulis, gramatology bagus namun masih pada
tangga awal sehingga perlu dikembangkan lagi serta didorong lagi proses
kemenjadiannya. Lantas penulis bertanya, apakah dekonstruksi bahasa
memiliki dimensi praksis? Dekonstruksi bahasa hendaknya menjadi
pertimbangan dalam menentukan sikap dan membuat tindakan menjadi
lebih mudah dan nyaman dijalani. Alhasil, dunia epistem bahasa tidak
terjauhkan dari sisi aksiologis atau prakteknya. Filsuf hari ini disadari
atau tidak masih terkena pengaruh idealisme Plato (429-347 SM) dan
nalar cogito Descartes (1596-1650). Melanjutkan semangat dekonstruksi,
nampaknya seseorang perlu meragukan dan mempertanyakan apa yang
14
Bertrand Russel. Sejarah Filsafat Barat terj. Sigit Jatmiko dkk. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2007), hal. 926.
9
tengah dipahami dan dijalaninya dalam hidup secara lebih luas. Perlu
kiranya seseorang itu menengok ke belakang pada filsafat Yunani klasik
di mana mereka mampu terbebas dari pikirannya dan menjalani hari-hari
dengan bebasnya15.
Laku merupakan tindakan yang kaya akan renungan dan
pertimbangan kebijaksanaan yang matang. Filsafat laku berupaya
membumikan gagasan dengan gerak tindakan yang berangkat dari
keluhuran untuk mengubah realitas disekitarnya. Filsafat laku
mengkristalisasikan pemikiran dengan bahasa yang sederhana dan
secukupnya, karena bahasa bukan sebagai tujuan. Tujuan yang sejati
supaya mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan batin. Buku-buku
filsafat yang ada hendaknya tidak membingungkan namun menjadi
pemandu setiap perbuatan dalam bergelut dengan kenyataan.
Penulis berniat meneliti salah satu tokoh filsafat Yunani klasik yang
sarat akan laku hidup dan menurut kami buah pikirnya tidak kalah dengan
filsuf kontemporer. Namanya Diogenes d‟Sinnope (±412-323 SM).
Penulis memilih tokoh ini karena laku hidupnya tergolong unik. Diogenes
dapat dikatakan sebagai filsuf yang „lain daripada yang lain‟, (karena itu
bagian dari filsafatnya). Penulis ingin belajar darinya tentang kesucian
hidup. Penulis akan mencoba menguak kesucian hidup dari akar
sejarahnya (masa-masa awal dibicarakan). Kesucian hidup yang dijalani
pada masa filsafat Yunani klasik pada gilirannya mempunyai andil
15
E. M. Cioran. Air Mata dan Orang-Orang Suci terj. (Penerbit Gitanyali), hal. 81-83
10
pengaruh besar pada filsafat dan kebudayaan abad pertengahan, seperti
neophytagoreanisme, Platonisme, dan mistisisme. Kajian ini juga
berusaha menyibak kesucian menurut nalar Appolonian dan nalar
Dionysan, seperti yang pernah digelisahkan Friedrich Nietzsche dalam
The Birth of Tragedy (1872). Nalar Appolonian biasanya dilakoni oleh
kaum mistisism seperti kaum Phytagorean, Neoplatonisme, maupun gaya
filsafat abad pertengahan. Sedangkan nalar Dionysan lebih identik pada
kaum eksistensialis seperti Heraklitos ( ±480 SM), Schopenhauer (1788-
1860), Nietzsche (1844-1900), Albert Camus (1913-1960), dan Søren
Aabye Kierkegaard (1813-1855). Diogenes sendiri menurut penulis
mengagumkan karena berhasil membawakan orisinalitas dirinya baik itu
pemikiran maupun perilaku. Ia pun berani mengkritik masyarakatnya
secara satir dan sederhana lewat perilakunya yang nyleneh. Dapat
dikatakan ia sanggup menjawab problem absurditas hidup, mekanistik,
ataupun penderitaan hidup. Ia berani menjadi dirinya yang otentik,
sehingga resikonya ia dijauhi orang pada masanya, dianggap sinting,
porno, kumuh, dan menjijikkan. Bahkan banyak orang masih salah
menafsirkan perilakunya hingga hari ini.
Oleh karena itu penulis berniat menyusun penelitian skripsi ini
dengan judul “Kesucian Hidup menurut Diogenes d‟Sinnope”.
Diharapkan dengan skripsi yang akan kami susun, kami akan mempelajari
dan mengenalkan siapa Diogenes d‟Sinnope itu. Kemungkinan, maksud
dan tujuan dia menjalani semua itu masih salah dipahami oleh
11
kebanyakan orang khususnya pengkaji sampai hari ini. Bagi penulis
sendiri, ekspresi yang dicurahkan Diogenes begitu kentara dan belum ada
filsuf Barat yang sanggup menandingi corak filsafatnya. Dalam
mengkritik sosial, Diogenes dengan nalar kegilaannya jauh melampaui
aphorisme Nietzsche. Meskipun berada dalam „kegilaan‟, ia pun tetap
tenang dan justru berkenan memberikan humor dengan kegilaannya itu.16
Manusiapun akan merefleksikannya pada dunia kekinian dan mengambil
hikmah darinya. Setiap orang dapat belajar dari Diogenes untuk menjadi
manusia yang otentik di tengah gencarnya arus modernisasi seperti
sekarang ini.
B. Rumusan Masalah
Secara ringkas, rumusan masalah dapat penulis sederhanakan sebagai
berikut:
1. Bagaimana diskursus kesucian sejauh ini ?
2. Bagaimana perkembangan aliran Cynism dan pengaruh Diogenes
d‟Sinnope ?
3. Apa saja hikmah dari laku suci Diogenes d‟Sinnope ?
16
Dalam tradisi Stoic, perasaan ini disebut ataraxia: tenang dalam segala kegelisahan.
12
C. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, dapat ditarik beberapa tujuan
penulisan skripsi ini diantaranya:
1. Mampu mendudukkan ketokohan Diogenes dalam diskursus
kesucian hidup.
2. Untuk melacak perkembangan Cynism sejauh ini dan pengaruh
Diogenes d‟Sinnope dalam aliran cynism.
3. Menarik nilai-nilai hikmah dari jalan kesucian yang ditempuh
Diogenes
D. Kegunaan Penelitian
a. Manfaat teoritis
Dikarenakan dalam referensi Bahasa Indonesia belum ada yang
membahas secara spesifik mengenai tokoh Diogenes ini, sehingga
diharapkan penulisan skripsi ini bermanfaat untuk menambahi khasanah
filsafat klasik di Indonesia. Upaya ini tidak hanya untuk mengkaji ulang
pemikiran tokoh, namun juga mereproduksi kembali gagasan Diogenes
d‟Sinnope menurut keadaan zaman ini.17 Sehingga dapat menimba
pengetahuan dari sumur tak terbatas khazanah filsafat klasik.
17
Budiono Kusumohamidjojo. Filsafat Yunani Klasik: Relevansi untuk Abad XXI. (Yogyakarta:
Jalasutra, 2013), hal. ix-xiii.
13
Di samping itu, penelitian ini juga akan menjadi proyek baru dalam
penelitian filsafat di masa kini. Hal ini dikarenakan pemikiran Diogenes
yang masih begitu relevan dengan kajian saat ini. Bukannya tidak
mungkin kalau melampaui wacana hari ini, karena Diogenes banyak
mengangkat proyeksi futuris moralitas dan kemanusiaan.
b. Manfaat praktis
Pemikiran Diogenes dapat dikatakan melampaui zamannya. Konsep-
konsep pemikirannya seperti “the citizen of the world” relevan di era
cyber ini. Penelitian ini juga dapat digunakan untuk membaca nalar-nalar
Diogenesan yang berkembang seperti gerakan punx, hippies, atau gerakan
kebudayaan lain yang sangat berpengaruh. Efeknya pun berpotensi
melahirkan gerakan politik tertentu yang khas.
Jika diterapkanpun, pemikiran Diogenes akan memberikan
sumbangsih yang besar dalam menciptakan dunia yang luhur, jujur, dan
kosmopolit.
E. Tinjauan Pustaka
Karya-karya yang secara spesifik membahas mengenai „Kesucian
Hidup menurut Diogenes‟ belum ada. Filsuf bernama Diogenes d‟Sinnope
pun belum banyak dibicarakan, terutama dalam literatur filsafat di
Indonesia. Dalam perkuliahan kamipun tokoh ini luput dibahas. Pertama
kali penulis mengenal kisah Diogenes ini hanya dari buku pengantar
filsafat umum saja. Sehingga, hal ini menjadikan penulis merasa
14
tertantang untuk melakukan penelusuran lebih lanjut guna mendalami
pemikiran tokoh ini.
Tidak semua buku pengantar filsafat umum memuat kisah mengenai
filsuf Diogenes d‟Sinnope. Dan sebagian buku yang memuat kisah
tersebutpun hanya sekelumit saja sebagai salah satu murid dari Sokrates.
Buku-buku yang memuat nama/ kisah Diogenes D‟Sinnope yaitu Filsafat
Yunani Klasik: Relevansi untuk Abad XXI (Budiono Kusumohamidjodjo),
Filosof juga Manusia (Fahruddin Faiz), dan lain-lain.
Untuk referensi dari bahasa asing terutama kami ambil dari buku
Lives and Opinions of Eminent Philosophers,18 karya sejarawan bernama
Diogenes Laertius (± abad ke-3 M). Naskah tersebut biasa digunakan
sebagai rujukan pokok dalam penelitian filsafat Yunani klasik, karena
memuat sekitar 250 tokoh filsuf Yunani klasik. Buku ini menjadi
sumbangsih biografi yang penting dalam sejarah filsafat, karena banyak
teks filsafat klasik yang sudah hilang ataupun filsuf tersebut tidak
meninggalkan tulisan. Meskipun rentang penulisannya lima abad sesudah
kehidupan Diogenes, namun sumber referensi Laertius sendiri berasal dari
tulisan masa Helenistik yang waktunya tidak jauh dari kematian Diogenes
d‟Sinnope.19
18
Diogenes Laertieus. The Lives and Opinions of Eminent Philosophers trans. C. D.
Yonge. (London: Henry G. Bohn, 1853.)
19
Martin Sirois. The Early Cynic Tradition: Shaping Diogenes’s Character. (Princeton University,
2014.), hal. 56.
15
Penulis juga menemukan tulisan lain dalam bahasa asing mengenai
pemikiran Diogenes ini, namun lebih pada pandangan kosmopolitannya
(the citizen of the world). Itu tertuang dalam jurnal yang ditulis oleh
Philip R. Bosman (University of South Africa) dengan judul “Citizencip
of the World – the Cynic Way”20. Penelitian ini mengambil sudut pandang
mengenai pandangan Diogenes terhadap dunia secara universalitas dan
mencoba mengeksplorasi kehidupan sosial politik kalangan Cynic.
Penulis juga banyak menelusuri referensi dari internet dan
menemukan hubungan Diogenes dengan pemikiran neo-Cynism abad ini.
Diantaranya jurnal yang ditulis oleh John Cristian Laursen (California of
University), yang berjudul “Cynism Then and Now”21. Tulisan ini
diterbitkan pada jurnal IRIS Vol. 1, Firense University Press, pada
October 2009. Tulisan ini begitu membantu karena menyajikan sejarah
madzhab cynism dimulai dari Antisthenes (446-366 SM) yang hidup serba
sederhana, Diogenes d‟Sinnope si anjing, Monimus, Onesicritus,
Menedemus (± 400 SM), Hipparchia, Crates (± 300 SM), Epictetus dari
madzhab Stoic (55-135 M), orator Dio Crysostom (40-112 M), dan
penyair Lucian (120-190 M) hingga masa modern ini. Dalam tulisan
Laursen, diuraikan juga perbedaan cynism kuno dan cynism modern.
20
Philip R. Bosman. “Citizen of the World – the Cynic Way” dalam Phronimon. Vol. VIII.
2007.
21
John Christian Laursen. “Cynism Then and Now” dalam Jurnal IRIS. (Firenze University
Press. 2009.)
16
Tulisan lain yang cukup menarik dan berhubungan dengannya yaitu
Kynicism, Cynicism and Implication for the Democratic Process yang
ditulis oleh Oana Matei22. Secara umum perbedaan antara cynism kuno
(dia menyebutnya Kynicism) dengan cynism modern (dia menyebutnya
Cynicism) hampir senada dengan Laursen dan Sloterdick. Oana Matei
menambahkan, bahwa sikap Kynicism merupakan sikap personal dalam
merespon situasi dunia dan sekitarnya (landasan moral). Namun,
Cynicism modern lebih ditujukan pada respon sosial-politik. Oana Matei
juga menjelaskan capaian-capaian madzhab Cynism di mana itu lebih
identik dengan madzhab Stoic daripada Epicurean.
Sebagai tambahan referensi juga ada disertasi yang ditulis oleh
Martin Sirois (Princeton University) yang berjudul “The Early Cynic
Tradition: Shaping Diogenes’s Characters.”23 Ia menguraikan cynism
sebagai tradisi (sejarah), sumber-sumber referensi yang menjadi rujukan,.
biografi Diogenes, ide cynism, karakternya, dan cynism sebagai model
atau keluaran dari pemikiran cynism ini seperti lahirnya anak punx,
gerakan hippies, ataupun musik rock alternatif.
22
Oana Matei. “Kynicism, Cynicism, and the Implication for Democratic Process” dalam
Jurnal Anul. Vol. I. (Universitatea de Vest. 2010.)
23
Martin Sirois. The Early Cynic Tradition: Shaping Diogenes’s Character. (Princeton
University, 2014.)
17
F. Metode Penelitian
Secara umum, penulis akan mengerjakan penelitian ini dengan
metode deduktif-induktif. Yaitu mulai dari premis umum ke premis
khusus.24 Penulis akan memulai membahas mengenai kesucian, lalu
penulis akan menghantarkan pada sejarah cynism dan biografi/ riwayat
hidup Diogenes. Secara khusus penulis akan memaparkan perilaku-
perilaku apa saja dari Diogenes yang perlu ditafsirkan ulang. Lalu pada
bagian akhir, penulis akan menyimpulkan nilai hikmah apa yang dapat
diteladani dari sosok Diogenes.
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini termasuk penelitian kualitatif, karena lebih
mengarah pada cabang filsafat etika. Penelitian kualitatif mencakup sifat-
sifat, konsep-konsep, dan buah pikir yang tertuang di dalamnya.
2. Sumber Data
Penelitian dalam mengungkap kesucian hidup yang dilakoni
Diogenes d‟Sinnope ini menggunakan sumber data sekunder. Data
sekunder didapat dari referensi-referensi karya orang lain yang
membicarakan tentangnya. Referensi-referensi itu seperti tulisan, lukisan,
buku, peta, artikel dari internet, anekdot, dan kisah-kisah. Hal ini
dikarenakan tokoh yang akan kami lakukan pembahasan tidak
24
James S. Stramel. Cara Menulis Makalah Filsafat [Link] Wahyudi.(Yogyakarta: Pustaka
Pelajar,2009), hal. 18.
18
meninggalkan buah karya apapun. Hanya menjalani harinya dengan
perkataan dan perbuatan di masyarakat.
3. Teknik Pengumpulan Data
Cara atau teknik yang kami lakukan dalam mengumpulkan informasi
yaitu dari pengumpulan buku-buku lalu mencupliknya, dan memparafrase
dengan bahasa sendiri. Cara ini biasa disebut dengan dokumentasi.
4. Teknik Pengolahan Data
a. Metode Verstehen
Dikarenakan penelitian ini membahas tentang manusia dan
perilakunya dalam kedirian tokoh Diogenes d‟Sinnope, penulis mencoba
memahaminya melalui ekspresi yang keluar dari tokoh Diogenes tersebut.
Metode ini biasa disebut verstehen, baik yang dicetuskan oleh Edmund
Husserl (1859-1938), Wilhelm Dilthey (1833-1911), Max. Weber (1864-
1920), Warner Sombart, Ernst Troetch, Eduard Spranger, William James
(1842-1910), Carl Roger, dan Abraham Maslow.
Verstehen diartikan sebagai metode untuk mengungkap dan
memahami makna-makna yang terkandung dalam ekspresi-ekspresi
manusia.25 Oleh karena itu, penulis menggunakan verstehen untuk
memahami perilaku-perilaku yang dimunculkan Diogenes d‟Sinnope dan
maksud yang ingin disampaikan oleh tokoh tersebut. Penulis ingin
mengetahui gejolak jiwa Diogenes dalam merespon isu yang ada,
25
Zainal Abidin. Filsafat Manusia: Memahami Manusia..., hal.44-45.
19
sikapnya terhadap nilai-nilai yang ada di masyarakat, dan perubahan apa
yang diinginkan Diogenes terhadap masyarakatnya.
b. Metode Dialektika
Dialektika diartikan sebagai seni bertanya menurut aturan khusus;
seni berdebat, atau seni penyelidikan khusus.26 Dialektika kami gunakan
agar kebenaran yang diupayakan tidak hanya satu wacana saja, namun
juga dipertemukan dengan pendapat tokoh-tokoh yang lain yang terkait
dengan topik yang sedang dibicarakan. Sehingga, dengan metode
dialektika, kebenaran yang didapat lebih kompleks dan luas. Hal ini
penting karena barangkali ada tokoh lain yang pernah merasakan hal yang
sama dengan yang dialami Diogenes, atau berhubungan dengan itu, atau
justru berlawanan. Contohnya kebebasan berkehendak yang dilakukan
Diogenes, penulis akan menelaahnya dengan tesis Anti-Oedipus Gilles
Deleuze dan Felix Guattari. Perilaku yang serba-berlawanan juga akan
penulis hubungkan dengan karya-karya Fredrich Nietzsche yang anti-
modernitas, anti-spiritualitas candu, anti-moralitas lembek, yang skeptis
dan nihilis. Apakah kegilaan Diogenes ini mampu dilacak dengan
pendekatan tokoh poststrukturalisme Michel Foucault (1926-1984)?
Dalam penelitian ini, penulis akan berusaha senantiasa membuka
cakrawala pemahaman dalam mengikuti alur pemikiran Diogenes
d‟Sinnope.
26
Muzairi dan Novian Widiadharma. Metafisika.., hal.26
20
c. Refleksi
Metode ini merupakan bagian dari kerja filsafat untuk memasuki dan
mengenal dunia nomena.27 Metode ini berupaya melakukan penelusuran
terhadap hal-hal yang bersifat metaempirik. Penulis tidak mau berhenti
pada hal-hal yang nampak, namun menembusnya untuk sampai pada
hakikat kesucian hidup itu. Sehingga ilmu yang didapatkan akan
diaktualisasikan dan dijadikan acuan dalam setiap melangkah.
G. Sistematika Pembahasan
Penulis akan memulai membahas mengenai apa itu kesucian, lalu
penulis akan menghantarkan pada biografi / riwayat hidup Diogenes.
Secara khusus penulis akan memaparkan perilaku-perilaku apa saja dari
Diogenes yang perlu ditafsirkan ulang. Lalu pada bagian akhir, penulis
akan menyimpulkan nilai hikmah apa yang dapat dteladani dari sosok
Diogenes.
1. Bab I, Pendahuluan
Pada bab ini akan diuraikan mengenai penjelasan dan gambaran
umum mengenai penelitian yang akan dikerjakan. Pada Bab I
berisikan: Latar Belakang Masalah, Tujuan Penelitian, Kegunaan
27
Kasdin Sitohang, Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme (Yogyakarta: Pustaka
Filsafat, 2013), hal.24
21
Penelitian, Telaah Pustaka, Metodologi Penelitian, dan Sistematika
Pembahasan
2. Bab II, Apa itu Kesucian
Terlebih dulu penulis akan menguraikan definisi Kesucian secara
umum, aliran-aliran dan tokoh yang terlibat di dalamnya. Sehingga
dapat mendudukkan Diogenes d‟Sinnnope dalam diskursus Kesucian
hidup.
3. Bab III, Aliran Cynism dan Diogenes d‟Sinnope
Penulis akan memberikan gambaran umum mengenai aliran
filsafat yang dilakoni Diogenes d‟Sinnope yaitu aliran Cynism.
Sehingga pembaca akan mudah memahami untuk masuk ke dunia
pemikiran Diogenes d‟Sinnope. Di sini penulis juga akan
memaparkan tentang riwayat hidup, pertemuan dengan tokoh lain,
dan latar belakang konteks pemikiran Diogenes d‟Sinnope.
4. Bab IV, Laku Suci Diogenes d‟Sinnope
Berisi perilaku-perilaku yang dilakukan oleh Diogenes yang perlu
ditafsirkan lebih lanjut beserta uraiannya. Perilaku itu dianalisis satu
per satu. Kemudian dipetik hikmahnya atau sisi positif dari sosok
Diogenes d‟Sinnope yang dapat diteladani dan saripati pemikirannya
dalam merespon problem zaman.
5. Bab V, Penutup
Pada bab Penutup terdiri dari kesimpulan, kritik dan saran, serta
daftar pustaka. Kesimpulan ditujukan untuk menjawab secara ringkas
22
pertanyaan yang tertuang dalam rumusan masalah. Kritik merupakan
tanggapan penulis mengenai tokoh Diogenes dan mugkin
kekurangan-kekurangannya. Saran merupakan informasi dan harapan
dari penulis untuk penelitian yang selanjutnya.
103
BAB V.
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan pemaparan dari bab-bab di atas, dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Diogenes d‟Sinnope dalam diskursus kesucian hidup masuk ke dalam
kelompok yang berpandangan pluralisme, hal ini dikarenakan Diogenes
banyak mengangkat konsep the others (ada paradigma kesucian lain yang
berjalan, disamping paradigma normal), banyak membela kaum marginal
dan minoritas.
Berdasarkan sikapnya terhadap takdir, Diogenes dapat dikategorikan
sebagai filsuf dengan nalar kesucian Dyonisian dikarenakan ia banyak
menertawai setiap fenomena yang datang, ia berani melawan paradigma
umum dan selalu berseberangan dengan masyarakat, dan sudah keluar
dari lingkaran hidup yang absurd.
2. Cynism adalah suatu aliran dalam filsafat yang berupa sikap yang
hampir-hampir tiada kebenaran dalam realitas. Sehingga kaum cynic
bersikap kritis, skeptis, radikal, dan ektrem dalam menyikapi setiap
pernyataan kebenaran yang datang. Banyak referensi mengatakan, cynism
klasik lebih mulia daripada cynism modern. Cynism klasik bekerja dalam
104
moralitas yang tinggi. Sebaliknya, cynism modern justru bersifat amoral,
egoistik, manipulatif dan munafik.
Diogenes d‟Sinnope merupakan salah satu pendiri madzhab Cynism.
Ia merupakan tokoh cynism yang paling terkenal, dikarenakan pemikiran
dan perilakunya yang eksentrik menyangkut moralitas dan kemanusiaan.
3. Hikmah yang dapat dipetik dari jalan kesucian yang ditempuh
Diogenes yaitu:
a. Hidup sederhana dan dekat dengan alam.
b. Menjaga otentisitas diri
c. Tetap kritis terhadap realitas yang datang.
d. Menghargai the Others (paradigma lain yang berseberangan)
e. Tidak munafik dan mengakui kekurangan diri.
f. Tidak berhenti pada kenyamanan dan terus melakukan eksplorasi dalam
hidup.
g. Terbuka dan tidak berbohong.
h. Bersahabat dengan semua orang.
B. Kritik
Diogenes sudah dua puluh enam abad yang lalu meninggal, namun
pemikirannya masih hidup hingga sekarang. Diogenes merupakan simbol
seorang manusia otentik yang sederhana, anti-materi, dan anti pada
kemunafikan diri sendiri dan masyarakat.
105
Jika ingin menjalankan perilaku sama seperti Diogenes, tidak
mungkin jika secara tiba-tiba turun ke jalan dan menerapkannya. Menurut
penulis, upaya ini membutuhkan persiapan fisik, mental, dan kecerdasan
yang memadai untuk membaca situasi masyarakat. Pembaca juga perlu
menentukan siasat yang jitu untuk mengkritik masyarakat. Jika seseorang
hanya modal nekat, maka seseorang tersebut hanya akan menjadi
gelandangan, korban modernitas, dan sampah masyarakat. Kesadaran dan
kebersihan hatinya dimungkinkan akan tercerabut oleh ganasnya
kehidupan di jalanan.
Menjalankan cynism saat ini juga membutuhkan skills yang
mumpuni, mengingat hari ini sudah era cyber digital, dan penyaluran
cynism juga memungkinkan melalui seni, seperti komik, anime, tulisan
sastra, gambar ilustrasi maupun lukisan. Tindakan praksis secara nyata
juga perlu diperhitungkan lagi mengingat efek dari pembangunan sudah
sedemikian akut dan semakin hari semakin bertambah mengerikan.
C. Saran
Untuk penelitian selanjutnya, penulis menyarankan perlunya
menelusuri lebih jauh lagi seperti apa kebudayaan Diogenesan yang
berkembang saat ini, baik di Indonesia maupun luar negeri.
106
Daftar Pustaka
Abidin, Zainal. Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat.
Bandung: Rosdakarya. 2000.
______________. Pengantar Filsafat Barat. Jakarta: Rajawali Press.
2011.
Armstrong, Karen. Menerobos Kegelapan: Sebuah Autobiogafi Spiritual
terj. Yuliani Liputo. Bandung: Mizan. 2005.
Attar, Fariduddin. Musyawarah Burung terj. Agus Supriyanto dan A.
Samhuri. Yogyakarta: Tarawang Press. 2013.
Bakker, Anton. Ontologi atau Metafisika Umum. Yogyakarta: Kanisius.
1992.
_____________. Antropologi Metafisik. Yogyakarta: Kanisius. 2000.
Beerling. Filsafat Dewasa Ini terj. Hasan Amin. Jakarta: Balai Pustaka.
1994.
Bertens, Kees. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius. 1999
_____________. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Kanisius. 2011.
_____________. Panorama Filsafat Modern. Jakarta: Teraju. 2005.
Blackburn, Simon. Kamus Filsafat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 2013.
Bosman, Philip R. “Citizen of the World – the Cynic Way” dalam
Phronimon. Vol. VIII. 2007.
Albert Camus. Krisis Kebebasan terj. Edhi Martono. Jakarta: Pustaka
Obor Indonesia.2013.
107
Cioran, E. M. Air Mata dan Orang-Orang Suci terj. Penerbit Gitanyali.
Chirzin, Muhammad. Menempuh Jalan Alloh. Yogyakarta: Madani
Pustaka Hikmah. 2000.
Davenport, Guy. The Fragments of Heraklitos and Diogenes. Gay Fox
Press. San Fransisco. 1999
Drijarkara, N. Filsafat Manusia. Yogyakarta: Kanisius. 1978.
Faiz, Fahruddin. Filosof Juga Manusia. Yogyakarta: MJS Press. 2016.
Foucault Michel. Madness and Civilitation. New York: Vintage. 1988.
Hadiwijono, Harun. Sari Sejarah Filsafat Barat I. Yogyakarta: Kanisius.
1985.
------------------------. Sari Sejarah Filsafat Barat II. Yogyakarta: Kanisius.
1985.
Hatta, Mohammad. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: UI-Pres. 1986.
Hanafi, Ahmad. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1990.
Kaelan. Filsafat Bahasa: Masalah dan Perkembangannya. Yogyakarta:
Paradigma. 2002.
Kusumohamidjodjo, Budiono. Filsafat Yunani Klasik: Relevansi untuk
Abad XXI. Yogyakarta: Jalasutr. 2013.
Laertieus, Diogenes. The Lives and Opinions of Eminent Philosophers
trans. C. D. Yonge. London: Henry G. Bohn. 1853.
__________________. Lives of Eminent Philosophers Vol. 2 focus on
Diogenes d’Sinnope Trans. R. D. Hicks. London. William
Heinemann: 1925
108
Laursen, John Christian. “Cynism Then and Now” dalam Jurnal IRIS.
Firenze University Press. 2009.
Lettevall, Rebecka and My Klockar Linder (ed.) . The Idea of Cosmopolis.
Södertörns högskola. 2008.
Matei, Oana. “Kynicism, Cynicism, and the Implicaation for Democratic
Process” dalam Jurnal Anul. Vol. I. Universitatea de Vest. 2010.
Muzairi dan Novian Widiadharma. Metafisika. Yokyakarta: Pokja
Akademik. 2008.
Nasr, Sayyed Hossein. Pengetahuan dan Kesucian terj. Sudarsono.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 1997.
Netton, Ian Richard. Muslim Kebatinan, Pengantar untuk Memahami
Pemikiran Neoplatonis Persaudaraan Kesucian (Ikhwan al-Safa’)
terj. Moch. Mushofa Ihsan. Yogyakarta: Aditya Media, 1994.
Nietzsche, Friedrich. Beyond Good and Evil transl. by Judith Norman (ed).
UK: Cambridge University Press. 2002.
O‟Donnell, Kevin. Postmodernisme terj. Jan Riberu. Yogyakarta:
Kanisius. 2009.
Osborne, Richard dan Ralph Edney. Filsafat untuk Pemula terj. P.
Hardono Hadi. Yogyakarta: Kanisius. 2008.
Russel, Bertrand. Sejarah Filsafat Barat terj. Sigit Jatmiko, dkk.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2007.
Russell, Bertrand. Bertuhan Tanpa Agama terj. Imam Baehaqy.
Yogyakarta: Resist Book. 2008.
109
Sarup, Madan. Postrukturalisme & Posmodernisme terj. Medhy Aginta H.
Yogyakarta: Jalasutra. 2011.
Sartre, Jean Paul. Eksistensialisme dan Humanisme. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar. 2002.
Schumacher, E. F. Keluar dari Kemelut terj. Mochtar Pabotinggi. LP3ES.
1988.
Schmitz, Timo. [Link] Diogenes of Sinope as
Rebel and Founding of Cynicism. 2016. Diunduh pada tanggal 16
Maret 2017 pukul 18.00 WIB.
Sihotang, Kasdin. Filsafat Manusia: Upaya Membangkitkan Humanisme.
Yogyakarta: Kanisius. 2013.
Sirois, Martin. The Early Cynic Tradition: Shaping Diogenes’s Character.
Princeton University. 2014.
Sloterdijk, Peter. Critique of Cynical Reason transl. by Michael Eldred
dalam Jurnal Theory and History of Literature. Vol. 40. London:
University of Minnesota Press. 1987.
Stramel, James S. Cara Menulis Makalah Filsafat terj. Agus Wahyudi.
Yoyakarta: Pustaka Pelajar. 2009.
Sunardi, St. Nietzsche. Yogyakarta: Lkis. 1996.
Murchland, Bernard. Humanisme dan Kapitalisme: Kajian Pemikiran
tentang Moralitas terj. Hartono Hadikusumo. Yogyakarta: Tiara
Wacana. 1992.
Weber, Max. Sosiologi Agama terj. Yudi Santoso. Yogyakarta: IRCiSoD, 2012.
110
Weij, Van Der. Filsuf-Filsuf Besar tentang Manusia terj. K Bertens. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama. 1991.
xii
CURRICULUM VITAE
Nama : Ahmad Pujianto
NIM : 12510079
Jurusan : Aqidah dan Filsafat Islam
Fakultas : Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Tempat, Tanggal Lahir : Magelang, 08 Juni 1994
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Agama : Islam
Alamat Asal : Sokorini, Muntilan, Kab. Magelang, Jawa Tengah.
Nama Ibu : Zamzarotun
Nama Ayah : Hadi Mustaq
No. HP : 0858-6764-2723
Email : madpuji14@[Link]
Riwayat Pendidikan : MI Ma‟arif Sokorini (2000-2006)
SMP N 2 Muntilan (2006-2009)
SMA N 1 Muntilan (2009-2012)
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2012-sekarang)
Pengalaman Organisasi : - Komunitas Perdu Magelang
- LDK UIN Sunan Kalijaga
- Waterforum Kalijogo
- KARISMA (Keluarga Besar Mahasiswa Magelang)
- UNASCO (UIN Nasyid Community)
- Forum Sahabat Inklusi (ForSI)
- Volunteer in PLD UIN Sunan Kalijaga
- Jamaah Cinema Film (JCM)
- LeKFiS (Lembaga Kajian Filsafat Sosial)
xiii
- Centre for Integrative Zoology
- SloRocK Music Management
- Sajak Kolong Kampus (SKK)
- PB Production.