0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
89 tayangan12 halaman

Konflik Ojek Online vs Konvensional

1. Terjadi konflik antara pengemudi ojek online dan ojek konvensional karena persaingan sumber pendapatan 2. Ojek konvensional merasa dirugikan karena konsumen lebih memilih ojek online 3. Diperlukan mediasi pemerintah untuk menyelesaikan konflik dan menemukan keseimbangan kepentingan para pihak

Diunggah oleh

Nararia Aji
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
89 tayangan12 halaman

Konflik Ojek Online vs Konvensional

1. Terjadi konflik antara pengemudi ojek online dan ojek konvensional karena persaingan sumber pendapatan 2. Ojek konvensional merasa dirugikan karena konsumen lebih memilih ojek online 3. Diperlukan mediasi pemerintah untuk menyelesaikan konflik dan menemukan keseimbangan kepentingan para pihak

Diunggah oleh

Nararia Aji
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama: Celia Rahma Putri Eritika

NIM: 031914153055

1. TABEL ANALISIS KONFLIK dan RENCANA STRATEGI


Sengketa Transportasi Umum Berbasis Aplikasi Online
Kemacetan membuat keuntungan pasar Gojek berkembang besar. Meski tarif yang tak menentu, banyak masyarakat mengandalkan ojek
sebagai transportasi sehari-hari. Ojek konvesional adalah sebuah komunitas, sebuah paguyuban para tukang ojek. Disana ada aturan-aturan yang
tak tertulis yang berlaku seperti ada antrian, ada bagi-bagi rejeki dan ada pelanggan-pelanggan lokal. Sering kali keributan terjadiketika ada
tukang ojek dadakan yang merebut penumpang tanpa mau antri atau bergabung dengan pangkalan tersebut.
Tahun 2011, Gojek (Ojek Online) hadir di indonesia untuk mendorong perubahan sektor transportasi informal agar dapat beroperasi
secara profesional. Manajemen Gojek menerapkan sistem bagi hasil dengan pengemudi ojek yang berada dibawah naungannya. Pembagiannya
ada 80% penghasilan untuk pengemudi ojek dan 20% untuk Gojek. Saat ini anggotanya sudah mencapai sekitar 1000-an.
Gojek menawarkan 4 jasa layanan yaitu instant Courier (pengantar barang), Transport (jasa angkutan), Shopping (belanja) dan Corporate
(kerjasama perusahaan untuk jasa kurir) yang menekankan keunggulan dalam kecepatan, inovasi dan interaksi sosial. Para pengguna Gojek,
harus mengunduh gojek Mobile App dari hp mereka, baru mereka bisa memesan layanan Gojek. Para Gojek dengan mudah mendapatkan
konsumen karena sudah mengandalkan kemajuan teknologi, tanpa harus nongkrong menunggu.
Gojek kemudian merebat menjadi salah satu kata topik yang bermunculan di berbagai media. Tetapi, yang lebih mengemuka saat ini
adalah adanya konflik antara Gojek dengan ojek konvesional. Keberadaan layanan gojek di kota Semarang mulai memicu konflik. Suara
penolakan terhadap Gojek mulai mengalir dari para pengemudi ojek konvesional. Konflik yang terjadi antara pengemudi Gojek dengan ojek
konvesional karena sumber ekonomi. Hal ini terjadi karena adanya kecemburuan sosial oleh pengemudi ojek konvesional, mereka merasa
sumber memperoleh uang mereka diambil oleh pengemudi ojek.
Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

Namun dengan adanya ojek online banyak masyarakat yang beralih untuk menggunakan ojek online, masyarakat lebih memilih
menggunakan layanan ojek online dibanding ojek konvesional karena :
• Tarif lebih terjangkau
• Tarif gojek ditentukan oleh aplikasi yang sudah diatur dari perusahaan ojek online tersebut yang tidak membuat rugi pengemudi dan
pelanggan.
• Pelayanan yang profesional
• Selain menyediakan helm bagi pengendara dan penumpang (lengkap dengan masker), gojek juga melengkapi supir-supirnya dengan
perangkat yang menunjang pemesanan dan aktivitas lainnya
• Diskon dan harga promosi
• Semua orang suka diskon, ini yang digunakan oleh Gojek untuk menarik masyarakat
• Tidak perlu ke pangkalan
• Aplikasi gojek memungkikan pengguna untuk memesan ojek tanpa harus ke pangkalan. Mereka bisa mendapatkan ojek dimanapun dan
kapan pun.
Tak lama, akhir akhir ini masyarakat di hebohkan dengan adanya demo. ojek konvesional mengadakan demo di sekitar stasiun poncol Semarang,
pengemudi ojek online yang ikut dengan perusahaan gojek untuk segera keluar dari perusahaan ojek online tersebut. Semakin lama semakin
memanas, sehingga ada batasan untuk ojek online mengantar penumpang ke staisun poncol.
Sistem batas mengantar penumpang ke sarana transportasi umum ini tidak hanya berlaku di stasiun saja, bahkan seperti di bandara dan
terminal pun diberlakukan sistem yang sama hingga saat ini. Konflik seperti ini justru membahayakan penumpang tidak salah apa apa namun
terkena dampak dari konflik ini.
Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

Lebih jauh bahkan di dalam realitas banyak Gojek yang menghadapi serangan secara fisik dengan penghadangan ketika memasuki
wilayah tertentu. Disamping itu mulai bermunculan baliho-baliho berisik penolakan dimasukinya wilayah oleh Gojek. Terjadinya penentangan
ojek konvesional ini berpontensi membuka konflik di antara mereka jika tidak dicegah dan dicarikan jalan keluarnya. Oleh karena itu pemerintah
seharusnya tidaklah terlambat hadir [Link] dalam konteks ini dapat berperan sebagai penengah dan bertindak adil di
antara yang berseteru ini dengan tujuan mencari solusi keseimbangan kepentingan antara pihak-pihak yang berbeda ini.

Pilihan
Dinamika
Para Pihak Posisi Kepentingan Kekuatan Isu yang Dibahas Penyelesaian
Eksternal
Sengketa
Pengemudi Pro Merupakan mata Mempunyai Consumer’s -Bagaimana Mediasi atas
ojek/taksi online pencaharian yang bargain yang preference yang Kedudukan Hukum inisiatif
menjanjikan cukup kuat cenderung Transportasi pemerintah untuk
mengingat memilih Berbasis aplikasi memfasilitasi
ojek/taksi online transportasi online di kepentingan dari
sangat online dengan Indonesia? para pihak yakni
memudahkan dan fasilitas dan mitra dan
dinikmati kenyamanan serta -Apakah perusahaan
masyarakat luas kemudahan transportasi online penyedia jasa
Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

membuat dapat beroprasi transportasi


keberadaan bedampingan online dan
transportasi dengan ojek transportasi
online, tidak konvensional? konvensional
dapat dipungkiri untuk mencari
sangat membantu jalan keluar dari
konsumen atau sengketa terkait,
masyarakat, dengan
kendati belum ada pertimbangan
aturan hukum consumer’s
yang mengatur preferences,
tentang hal ini sehingga baik
Pengemudi Kontra Merasa dirugikan Jika dihadapkan Pelayanan yang konsumen
ojek/taksi karena konsumen dengan mitra kurang baik dan maupun pihak
konvesional lebih memilih ojek/taksi online efisiensi serta transportasi
transportasi dan penyedia jasa kenyamanan konvensional
online aplikasi menjadi alasan tidak dirugikan.
transportasi dari para
online, posisi dari konsumen untuk Selain itu juga
Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

ojek/taksi beralih dari bisa ditempuh


konvensional ini ojek/taksi dengan alternative
tidak sekuat konvensional ke negosiasi yang
posisi dari para transportasi dilakuan pihak
driver online, hal ini pengemudi
dikarenakan juga memperberat ojek/taksi
masyarakat lebih posisi dari konvensional dan
memilih transportasi penyedia jasa
transportasi konvensional jika aplikasi
online yang lebih dihadapkan transportasi
efisien dengan online
transportasi
online
Penyedia jasa Pro Mensejahterakan Jika dihadapkan Konsumen yang
aplikasi transportasi kehidupan dengan ojek/taksi puas dengan
online pengemudi ojek konvensional, sistem yang
di Indonesia, dan perusahaan ditawarkan oleh
memberikan penyedia jasa penyedia jasa
kemudahan bagi aplikasi aplikasi berbasis
Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

masyarakat dalam transportasi online menjadi


bidang transportai online masih faktor yang cukup
memiliki bargain menguatkan
yang cukup kuat eksistensi dari
mengingat transportasi
keberadaannya online
sangat diperlukan
oleh masyarakat
dan tentu
memudahkan
masyarakat
Pemerintah Pusat Membuat regulasi Pemerintah dalam Tuntutan dari
untuk mengatur sengketa ini pihak transportasi
transportasi memiliki bargain berbasis aplikasi
online position dengan online yang
legitimasinya mendesak
sebagai pembuat Pemerintah agar
regulasi mengatur regulasi
tentang
Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

transportasi
berbasis online,
agar pihak
transportasi
online dapat
berjalan dengan
semestinya tanpa
ada kericuhan
antara ojek/taksi
online dengan
ojek/taksi
konvensional.
Sehingga dapat
berjalan secara
berdampingan

− Kedudukan Hukum Transportasi Berbasis Aplikasi Online Di Indonesia


Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

Pasal 47 ayat (1) UU LLAJ membagi kendaraan menjadi kendaraan bermotor dan kendaraan tidak bermotor, kemudian pada
Pasal 47 ayat (2), kendaraan bermotor dibagi lagi menjadi sepeda motor, mobil penumpang, mobil bus, mobil barang dan kendaraan
khusus, kendaraan bermotor ada yang perseorangan dan ada juga kendaraan bermotor umum . Berdasarkan Pasal 1 poin ke 10 UU LLAJ,
kendaraan bermotor umum adalah setiap kendaraan yang digunakan untuk angkutan barang dan/atau orang dengan dipungut bayaran,
ojek sendiri merupakan jasa transportasi menggunakan sepeda motor dan dengan dipungut bayaran, dengan membandingkan dua hal di
atas maka seharusnya dapatlah kita simpulkan bahwa Ojek merupakan kendaraan bermotor umum Akan tetapi, permasalahan utamanya
justru terletak pada kendaraan itu sendiri, yaitu sepeda motor.
Sepeda motor dinilai tidak sesuai dengan angkutan perkotaan di jalan jalan utama. Bahkan ojek tidak termasuk dalam angkutan
umum yang terdapat dalam UU No 22 Tahun 2009 (menurut Djoko Setijowarno, Pengamat Transportasi Universitas Atma Jaya) .
Pendapat dari Djoko Soetijowarno tidaklah salah, namun juga tidak benar seluruhnya. UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan memang tidak menyebutkan dengan jelas bahwa sepeda motor termasuk kendaraan bermotor umum, tetapi dalam UU
tersebut juga tidak terdapat larangan mengenai penggunaan sepeda motor sebagai kendaraan bermotor umum. Contohnya yaitu Pasal 137
ayat (2), “Angkutan orang yang menggunakan kendaraan bermotor berupa sepeda motor, mobil penumpang, atau bus.
Ojek, telah ada di masyarakat Indonesia sejak lama dan pada hakekatnya merupakan sebuah usaha perorangan dari tukang ojek
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Keberadaan PT Gojek sendiri ialah memberikan fasilitas berupa aplikasi Gojek, jaket dan helm
yang memudahkan tukang ojek dalam 10 Pasal 47 Angka 1 dan Angka 2 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Dan
Angkutan Jalan. Pasal 137 Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas Dan Angkutan Jalan melangsungkan sahanya.
Dalam situsnya, [Link], mereka sendiri menyatakan bahwa “Gojek adalah perusahaan berjiwa sosial yang memimpin revolusi
industri transportasi Ojek”.
Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

Gojek bermitra dengan para pengendara ojek yang telah berpengalaman untuk menjalankan usahanya. Oleh karena itu, jika di
cermati, keberadaan Ojek dan PT Gojek sesungguhnya merupakan 2 hal yang berbeda, driver Gojek tidak menerima perintah kerja dari
PT Gojek, tetapi dari pelanggan ojek dan dikerjakan secara pribadi seperti halnya tukang ojek pada umumnya. Hubungan kerja yang ada
antara PT Gojek dan Driver Gojek bukanlah hubungan buruh dan majikannya sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 1601 dan Pasal
1602 KUHPerdata. Saat ini PT Gojek juga telah mengantongi Surat Izin Usaha Perdagangan(SIUP) sebagaimana yang diamanatkan oleh
peraturan menteri perdagangan. Sehingga, Gojek pun juga turut membayar pajak pada pemerintah sejak awal tahun 2016. Kekhawatiran
mungkin timbul karena begitu banyaknya Driver Gojek dan mereka menggunakan kendaraannya sendiri (tidak disediakan oleh Gojek).
Dengan demikian PT Gojek sebenernya tidak menyelenggarakan jasa transportasi. Pasal 201 ayat (2) UU No 22 Tahun 2009
menyebutkan, “Kendaraan Bermotor Umum harus dilengkapi dengan alat pemberi informasi untuk memudahkan pendeteksian kejadian
kejahatan di Kendaraan Bermotor.” , driver Gojek dibekali dengan smartphone, dan dalam aplikasi Gojek itu sendiri terdapat GPS yang
melacak keberadaan Driver, sehingga ketentuan Pasal 201 ayat (2) telah terpenuhi. Sekalipun Gojek belum memiliki pengaturan yang
jelas, perusahaan ini tetap diijinkan berjalan, karena dampak positif yang ditimbulkannya sangat besar. Walaupun sempat diberitakan
soal adanya larangan bagi taksi dan ojek online namun transportasi umum berbasis aplikasi online dinyatakan tetap dapat beroperasi oleh
Menteri Perhubungan seperti yang tertuang dalam Permenhub 26 Tahun 2017. Surat ini ditandatangani oleh Menteri Perhubungan.
Selain ditujukan kepada Kepolisian RI, surat ini juga ditembuskan kepada Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan
Kemanaan Republik Indonesia, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, serta Gubernur, Kapolda, Korlantas, Dirjen Perhubungan
Darat dan Ketua Umum DPP Organda, akan tetapi kemudian Ignasius Jonan membatalkan surat tersebut dan menyatakan bahwa jasa
transportasi online dan layanan sejenisnya dipersilakan untuk beroperasi sebagai solusi sampai transportasi publik dapat terpenuhi
dengan layak. Jika dicermati dari isi surat ini, sebenarnya surat tersebut berisikan pemberitahuan kepada instansi-instansi yang
disebutkan di atas bahwa taksi maupun ojek online dinilai tidak memenuhi ketentuan sebagai angkutan umum karena tidak sesuai dengan
Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (“UU LLAJ”) dan Peraturan Pemerintah Nomor 74
Tahun 2014 Tentang Angkutan Jalan (“PP 74/2014”)

− Transportasi online dapat beroprasi bedampingan dengan ojek konvensional


Pada dasarnya transportasi online dapat beroprasi berdampingan dengan ojek konvensional. Namun pada kenyataannya di
lapangan masih banyak perseteruan antara penyedia jasa transportasi online dan transportasi konvensional. Peraturan Menteri
Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 tentang Perlindungan Keselamatan Pengguna Sepeda Motor menjadi dasar yang digunakan untuk
kepentingan mengatur secara tegas mengenai regulasi yang mengatur tentang transportasi online, Peraturan ini sendiri diharapkan dapat
mengakomodasi kepentingan sejumlah pihak, dari sopir, aplikator, hingga konsumen. Lalu, aspek yang diatur ialah meliputi keselamatan,
kemitraan, suspensi, dan biaya jasa.

2. Perbedaan mediasi di luar pengadilan dengan mediasi yang terintegrasi dengan pengadilan
Secara umum, mediasi adalah salah satu alternatif penyelesaian sengketa. Ada 2 jenis mediasi, yaitu di dalam pengadilan dan di luar
pengadilan. Mediasi di luar pengadilan ditangani oleh mediator swasta, perorangan, maupun sebuah lembaga independen alternatif
penyelesaian sengketa yang dikenal sebagai Pusat Mediasi Nasional (PMN). Mediasi yang berada di dalam pengadilan diatur oleh
Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. 2 Tahun 2003 yang mewajibkan ditempuhnya proses mediasi sebelum pemeriksaan pokok
perkara perdata dengan mediator terdiri dari hakim-hakim Pengadilan Negeri tersebut yang tidak menangani perkaranya.
a. Jangka waktu pelaksanaan mediasi
Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

Jangka waktu proses mediasi di dalam pengadilan adalah 40 hari dan dapat diperpanjang selama 14 hari (Pasal 13 ayat (3) Perma
No.1 Tahun 2008), sedangkan untuk mediasi di luar pengadilan jangka waktunya tunduk pada UU No.30 Tahun 1999 Pasal 6
Yang berbunyi:
(2) Penyelesaian sengketa atau beda pendapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselesaikan dalam pertemuan langsung oleh
para pihak dalam waktu paling lama 14 (empat belas hari) dan hasilnya dituangkan dalam kesepakatan tertulis.
(3) Dalam hal sengketa atau beda pendapat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tidak dapat diselesaikan maka atas kesepakatan
tertulis para pihak, sengketa atau beda pendapat diselesaikan melalui bantuan seorang atau lebih penasihat ahli maupun melalui
seorang mediator.
(4) Apabila para pihak tersebut dalam waktu paling lama 14 (empat belas) hari dengan bantuan seorang atau lebih penasihat ahli
maupun melalui seorang mediator tidak berhasil mencapai kata sepakat, atau mediator tidak berhasil mempertemukan kedua
belah pihak, maka para pihak dapat menghubungi sebuah lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa untuk
menunjuk seorang mediator.
(5) Setelah menunjuk mediator atau lembaga arbitrase atau lembaga alternatif penyelesaian sengketa, dalam waktu paling lama 7
(tujuh) hari usaha mediasi sudah harus dapat dimulai.
b. Persyaratan untuk menjadi mediator
Mediator tunduk pada persyaratan yang ada dalam Pasal 5 Perma No.1 Tahun 2008 yang berbunyi :
Sertifikasi Mediator
(1) Kecuali keadaan sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 11 ayat (6), setiap orang yang menjalankan fungsi mediator
pada asasnya wajib memiliki sertifikat mediator yang diperoleh setelah mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga
yang telah memperoleh akreditasi dari Mahkamah Agung Republik Indonesia.
Nama: Celia Rahma Putri Eritika
NIM: 031914153055

(2) Jika dalam wilayah sebuah Pengadilan tidak ada hakim, advokat, akademisi hukum dan profesi bukan hukum yang
bersertifikat mediator, hakim di lingkungan Pengadilan yang bersangkutan berwenang menjalankan fungsi mediator.
(3) Untuk memperoleh akreditasi, sebuah lembaga harus memenuhi syarat-syarat berikut:
a. mengajukan permohonan kepada Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia;
b. memiliki instruktur atau pelatih yang memiliki sertifikat telah mengikuti pendidikan atau pelatihan mediasi dan
pendidikan atau pelatihan sebagai instruktur untuk pendidikan atau pelatihan mediasi;
c. sekurang-kurangnya telah dua kali melaksanakan pelatihan mediasi bukan untuk mediator bersertifikat di pengadilan;
d. memiliki kurikulum pendidikan atau pelatihan mediasi di pengadilan yang disahkan oleh Mahkamah Agung Republik
Indonesia.
c. Hasil akhir proses mediasi
Jika mediasi menghasilkan kesepakatan, para pihak wajib merumuskan secara tertulis kesepakatan yang dicapai dan
ditandatangani kedua pihak, dimana hakim dapat mengukuhkannya sebagai sebuah akta perdamaian. Sedangkan mediasi di luar
pengadilan seperti yang diatur dalam pasal 23 ayat (1) Perma No.1 tahun 2008 “Para pihak dengan bantuan mediator besertifikat
yang berhasil menyelesaikan sengketa di luar pengadilan dengan kesepakatan perdamaian dapat mengajukan kesepakatan
perdamaian tersebut ke pengadilan yang berwenang untuk memperoleh akta perdamaian dengan cara mengajukan gugatan.”
Penyelesaian sengketa para pihak di luar pengadilan secara mediasi apabila tidak diajukan ke pengadilan yang berwenang
untuk memperoleh akta perdamaian, jika salah satu pihak mengingkari hasil kesepakatan mediasi tersebut, maka upaya
hukum yang dapat ditempuh adalah melakukan gugatan wanprestasi, karena kesepakatan damai tanpa akta perdamaian
dari pengadilan status hukumnya adalah sebagai perjanjian bagi para pihak.

Anda mungkin juga menyukai