BAB I
PENDAHULUAN
A. Penegasan Judul
Judul merupakan gambaran pokok yang akan menjadi
pembahasan dalam suatu karya ilmiah, serta akan memberikan arah
yang konkrit terhadap apa yang telah diujinya. Maka untuk
menghindari kesalahfahaman dalam penafsirannya, penulis perlu
mengemukakan pengertian-pengertian atau istilah yang terkandung
dalam judul proposal “KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DEWAN
DA’WAH ISLAMIYAH INDONESIA PROVINSI LAMPUNG”
dengan demikian agar pembahasan selanjutnya dapat terarah dan dapat
diambil suatu pengertian yang lebih nyata. Adapun istilah-istilah yang
perlu ditegaskan adalah sebagai berikut :
1. Konsep
Konsep menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu
“Gambaran dari objek, proses ataupun yang diluar bahasa yang
digunakan oleh akal budi untuk memahami hasil-hasil lain.1 Ada
pula yang mengartikan konsep sebagai ide umum, pengertian,
pemikiran, rancangan, rencana dasar.2
2. Pendidikan Islam
1
Poerdarwinta, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakartka: Balai Pustaka, 2007), h. 250
2
Endarmoko, Tesaurus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007),
h.334
Istilah pendidikan berasal dari kata “didik” dengan
memberinya awalan “pe” dan akhiran “an” yang mengandung arti
“perbuatan” (hal, cara dan sebagainya). Istilah pendidikan semula
berasal dari bahasa Yunani, yaitu “Paedagoie” yang berarti
bimbingan yang diberikan kepada anak. Istilah ini kemudian
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan “education” yang
berarti pengembangan atau bimbingan. Dalam bahasa Arab, Istilah
ini sering diterjemahkan dengan “tarbiyah” yang berarti
pendidikan.3 Pendidikan dari segi bahasa berasal dari kata dasar
didik, dan diberi awalan men, menjadi mendidik, yaitu kata kerja
yang artinya memelihara dan memberi latihan (ajaran). Pendidikan
sebagai kata benda berarti proses perubahan sikap dan tingkah laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan
manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.4
Selanjutnya dari berbagai definisi tersebut dapat dipahami
bahwas hakikat pendidikan Islam itu adalah proses dari upaya
ikhtiar manusia yang menyentuh wujud manusia seutuhnya, baik
segi jasmani maupun dan segi rohaninya. Hal itu seirama dengan
pandangan Islam terhadap manusia yang memandang secara
totalitas pula. Dengan demikian, misi ajaran Islam, yaitu
terwujudnya manusia yang paripurna (insan kamil) sehat
jasmaninya, sehat rohani, dan akal pikirannya (berakhlak mulia),
3
Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta, Kalam Mulia, 2015), h.111
4
Poerwadarwinta, Kamus Besar Bahasa Indonesi, (Jakarta: Balai Pustaka,2007), h.702
serta memiliki pengetahuan, dan keterampilan hidup (Life skill)
yang memungkinkannya dapat memanfaatkan berbagai peluang
yang Allah ciptakan di muka bumi, serta dapat mengelolahnya
demi kemaslahatan hidupnya secara pribadi dan untuk
kemaslahatan bersama secara umum.5
3. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung
Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (disingkat Dewan
Da’wah) didirikan atas inisiatip alm DR Mohammad Natsir
(terlahir 1908), Perdana Menteri NKRI pertama tahun 1950-1951
melalui musyawarah alim ulama dan tokoh-tokoh Nasional dari
berbagai kalangan dan daerah tgl 26 Februari 1967. Dewan
Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) Provinsi Lampung adalah
sebuah organisasi yang bergerak di bidang dakwah baik dalam
bidang sosial, kebudayaan, keagamaan dan pendidikan yang
beralamatkan di [Link] Jamil No. 28, Gedung Meneng, Rajabasa,
Kota Bandar Lampung Provinsi Lampung Indonesia.
Dewan Da’wah didirikan untuk membentengi dan membela
aqidah dan meningkatkan kefahaman Ummat terhadap nilai-nilai
Islam dalam segala aspek kehidupan : Aqidah, Ibadah, Akhlaq dan
Muamalah termasuk politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan
dan keamanan sebagai sumbangan dan partisipasi mereka yang
cerdas dalam membangun kehidupan beragama, berbangsa dan
5
Ramayulis, [Link]. h. 121-122
bernegara melanggengkan NKRI untuk Indonesia seutuhnya.
Dewan Da’wah mendirikan lembaga pendidikan dari tingkat TK
sampai Perguruan Tinggi, lebih dari 750 mesjid dan musalla
termasuk mesjid kampus, Islamic Centre di daerah pedalaman dan
terpencil dan menerima amanah waqaf dari masyarakat untuk
membangun dan mengelola mesjid/musalla diperkotaan, pedesaan
dan daerah terpencil.6
B. Alasan Memilih Judul
Alasan yang melatar belakangi penulis memilih judul skripsi
adalah :
1. Alasan Obyektif
a. Karna peran pendidikan sangat penting dalam menjawab krisis
intelektual, moral dan kerohanian manusia saat ini, atau paling
tidak sebagai penyimbang terhadap kecenderungan pola hidup
matrialistik di masyarakat. Diperlukan suatu konsep tersendiri
yang keberadaanya perlu mendapat dukungan dari semua
pihak dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia.
b. Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung
memiliki sebuah konsep menarik yang dibutuhkan para
pendidik dan lembaga pendidikan di lampung khususnya
dalam menciptakan sebuah pembelajaran yang berkualitas
6
Profil Dewan Da’wah, Profil Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, (Jakarta, Dewan
Da’wah, 2005), h. 2
c. Konsep Pendidikan Islam Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
memiliki tawaran solusi dalam menajawab kesenjengan yang
terjadi antara Pendidikan Islam dan Pendidikan Umum saat ini
yang akan membantu meluruskan segala prespektif negatif
masyarakat soal pendidikan Islam
2. Alasan Subyektif
a. Judul di atas menarik untuk diteliti dan tidak menyimpang dari
spesialisasi keilmuan dari peneliti pada fakultas Tarbiyah dan
Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam.
b. Keterbutuhan penulis dan khalayak akan untuk konsep
pendidikan Islam dalam rangka meningkatkan sumber daya
manusia.
c. Tersedia beberapa literatur dan berbagai sumber lain sebagai
referensi untuk dijadikan rujukan penelitian.
d. Penulis yakin Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi
Lampung memliki suatu konsep pendidikan Islam tertentu yang
mampu menjadi solusi dari permasalahan Pendidikan yang
muncul di masyarakat hari ini
C. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan dasar utama bagi perubahan dan
perkembangan manusia. Artinya perkembangan peradaban manusia
dibangun diatas pondasi ilmu dan pendidikan. Pendidikan sangat
menentukan pola pikir dan sikap suatu masyarakat. Menurut
Mohammad Natsir maju mundurnya salah satu kaum bergantung besar
kepada pelajaran dan pendidikan yang berlaku dalam kalangan mereka
itu. Tak ada suatu bangsa yang terbelakang menjadi maju, melainkan
sesudahnya mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan
pemuda-pemuda mereka7
Pendidikan bertujuan untuk menimbulkan pertumbuhan yang
seimbang dari kepribadian total manusia melalui latihan spiritual,
intelektual, rasional diri, perasaan dan kepekaan tubuh manusia, oleh
karena itu pendidikan seharusnya memenuhi pertumbuhan manusia
dalam segala aspeknya : spiritual, intelektual, imaginatif, fisik, ilmiah,
linguistik, baik secara individual maupun secara kolektif dan
memotivasi semua aspek untuk mencapai kebaikan dan kesempurnaan.
Proses pendidikan sebenarnya telah berlangsung lama, yaitu
sepanjang sejarah manusia itu sendiri, dan seiring pula dengan
perkembangan social budayanya. Secara umum aktivitas pendidikan
sudah ada sejak manusia diciptakan. Betapapun sederhana bentuknya,
manusia memang melakukan pendidikan sebab manusia bukan
termasuk mahluk instintif 8
Pendidikan merupakan bagian vital dalam kehidupan manusia.
Pendidikan (Terutama Islam) dengan bermacam-macam coraknya
berorientasi memberikan bekal kepada manusia untuk mencapai
7
Mohammad Natsir, Capita Selecta, (Jakarta, Bulan Bintang, 1973), Cet.3, h. 77
8
Jalaluddin, Teologi Pendidikan (Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 114
kebahagian dunia dan akhirat. Oleh karna itu, semestinya pendidikan
Islam selalu diperbaharui konsep aktualisasinya dalam merespon
perkembangan zaman yang sangat dinamis dan temporal, agar peserta
didik dalam pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada
kebahagian hidup setalah mati tetapi kebahagiaan hidup didunia dapat
diraih.
Allah SWT telah meanugrahkan potensi pada diri manusia antara
lain daya pikir (akal) dan fitrah yang melekat pada manusia sejak dia
diciptakan. Juga dikaruniakan panca-indera sebagai salah satu unsur
penting dalam proses berfikir. Allah SWT Berfirman :
Artinya : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam
keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu
pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur” (Q.S. An-
Nahl 16 : 78)
Manusia diciptakan Allah dalam struktur yang paling baik diantara
makhluk Allah yang lain, struktur manusia terdiri atas jasmani dan
rohani, atau unsur fisiologis dan unsur psikologis. Dalam struktur
jasmani dan rohani itu Allah memberikan seperangkat kemampuan
dasar yang memiliki kencenderungan berkembang, dalam psikologis
disebut potensialitas, yang menurut aliran behaviorisme disebut
kemampuan dasar yang secara otomatis dapat berkembang.9
9
HM. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, (Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan
Pendekatan Interdisipliner), (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 88
Namun dewasa ini ditemukan kesenjangan yang terjadi antara
Pendidikan Islam dengan Pendidikan Umum yang ada di Indonesia,
masyarakat memandang bahwa Pendidikan Islam dan lembaganya
sebagai pelarian dari mereka yang tidak mampu untuk melanjutkan
studi di lembaga pendidikan umum yang notabennya memilki kualitas
SDM dan keilmuan yang lebih mempuni, ditambah lagi Output dan
lulusan dari lembaga pendidikan Islam tidak menjamin memiliki kadar
keilmuan Islam yang mendalam dan menerapkan hasil belajarnya
dengan akhlak yang baik di masyarakat, untuk itu menjadi PR besar
bagi para pendidik di pendidikan Islam untuk membuang semua
Stigma Negatif Masyarakat soal pendidikan Islam dan lembaganya ini.
Sebagai aktifitas yang bergerak dalam bidang pendidikan dan
pembenahan kepribadian, tentunya pendidikan Islam memerlukan
landasan kerja bagi programnya. Sebab dengan adanya dasar juga
berfungsi sebagai sumber semua peraturan yang akan diciptakan
sebagai pegangan langkah pelaksanaan dan sebagai jalur langkah yang
menentukan arah usaha tersebut.
Adapun dasar pelaksanaan pendidikan Islam yang tertera dalam
firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yaitu sebagai berikut :
Artinya : Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke
medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara
mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang
agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka
Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.
(Q.S. At-Taubah 9 : 122)
Berbicara tentang pendidikan Islam, pastilah berbicara tentang
konsep pendidikannya. Konsep-konsep pendidikan Islam yang ada saat ini
terutama di Indonesia tidak lepas dari konsep-konsep para tokoh pemikir
pendidikan Islam Indonesia. Banyak para tokoh pemikir pendidikan Islam
di Indonesia yang menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan
pendidikan di negeri ini. Umat Islam di Indonesia pada saat ini merupakan
penduduk dengan jumlah populasi umat Islam terbanyak di dunia, dan
banyak juga lembaga pendidikan Islam baik dari tingkat sekolah dasar,
sampai tinggkat perguruan tinggi yang menerapkan konsep pendidikan
Islam. Namun keadaan umat Islam saat ini berbanding terbalik dari apa
yang diharapkan konsep pendidkan Islam tersebut.
Salah satu tokoh dalam Islam yang dapat dijadikan tauladan dalam
pendidikan Islam adalah Mohammad Natsir. Mohammad Natsir adalah
tokoh pembaharu pendidikan Islam sekaligus pendiri Dewan Da’wah
Islamiyah Indonesia beliau adalah salah satu pemikir pendidikan Islam dan
pendidikan umum. pemikirannya tentang pendidikan Islam yang universal
dan integral hampir keseluruhanya dituangkan dalam konsep pendidikan
yayasan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia yang hari ini memiliki
ratusan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia dan cabang daerah di
berbagai provinsi yang salah satunya ada di Provinsi Lampung
Dan untuk di Provinsi lampung itu sendiri Dewan Da’awah
Islamiyah Indonesia memiliki aktivitas pendidikan dan lembaga
pendidikan yang beragam dan cukup banyak untuk kemudian menjadi
sarana mendidik anak bangsa menjadi insan yang berkualitas dan
paripurna, antara lain di Bidang Pemuda Dewan Da’wah memilki agenda
pendidikan untuk para pemuda dan pelajar di provinsi lampung dalam
rangka meningkatkan pengetahuan tentang keisalam melalui Program
Pelatihan Kader Da’I (PKD) Serta DDII Provinsi lampung memiliki
lembaga pendidikan mulai dari Perguruan Tinggi, Ma dan Ponpes Tahfizh
serta Ponpes untuk Yatim dan Dua’fah.
Berdasarkan uraian di atas yang merupakan gambaran untuk
memperoleh hasil pembelajaran yang lebih baik lagi mengenai konsep
pendidikan Islam, maka penulis tertarik untuk membahas masalah ini
dalam sebuah karya ilmiah dalam bentuk skripsi yang berjudul “Konsep
Pendidikan Islam Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi
Lampung”.
D. Fokus Masalah
Untuk memperjelas dan memberi arahan yang tepat dalam
pembahasan penelitian ini, perlu adanya fokus masalah pada pembahasan,
yaitu konsep pendidikan Islam Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
Provinsi Lampung serta solusi DDII dalam menyelesaikan permasalahan
Pendidikan Islam yang di dasarkan pada penelitian di Dewan Da’wah
Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung
E. Rumusan Masalah
Sebelum penulis mengajukan apa yang menjadi masalah dalam
penelitian ini, akan dikemukakan pengertian masalah sebagai berikut :
“Masalah adalah segala pertanyaan yang perlu dicarikan kunci jawabannya
atau segala hambatan atau kesulitan yang perlu disikapi.”10 Sesuai dengan
Latar belakang dan fokus masalah di atas, maka rumusan masalah yang
akan diteliti adalah :
1. Bagaimana konsep pendidikan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia
Provinsi Lampung ?
2. Bagaimana Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung
memberikan solusi untuk permasalahan pendidikan Islam yang terjadi ?
F. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Mengetahui konsep pendidikan Islam Dewan Da’wah Islamiyah
Indonesia Provinsi Lampung
b. Mengetahui solusi permasalahan pendidikan Islam masa kini dari
Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung
2. Manfaat Penelitian
a. Teoritis
Dapat memperoleh pemahaman secara menyeluruh berkaitan
dengan konsep pendidikan Islam yang di usung Dewan Da’wah
10
Muhammad Ali, Prosedur Penelitian dan Strategi, (Bandung : Alumni, 1998), h. 24
Islamiyah Indonesia. Memperkaya khasanah keilmuan tentang
konsep pendidikan Islam, penelitian ini menjadi salah satu
sumbangan pemikiran bagi perbaikan pendidikan di masa yang akan
datang.
b. Praktis
Dapat diperoleh pemahaman tentang konsep pendidikan
Islam dan dapat dijadikan dasar dan pertimbangan bagi
pembentukan dan peningkatan profesionalitas penulis sebagai
calon pendidik. Memberikan kontribusi pemikiran bagi pemikir
dan praktisi pendidikan. Menambah penegetahuan penulis
mengenai kajian konsep pendidikn Islam. Selain itu karya ilmiah
digharapkan menjadi sumbangsih pemikiran dalam rangka
melakuakan perbaikan terhadap pendidikan Islam khususnya di
Indonesia kearah yang lebih baik.
G. Metode Penelitian
Untuk memahami serta memudahkan pembahasan masalah yang
telah dirumuskan dan untuk mencapai tujuan penelitian ini, maka perlu
adanya metode penelitian yang cocok dan sesuai untuk menyimpulkan dan
mengolah data yang dikumpulkan. Setiap pembahasan tentunya
menggunakan metode untuk menganalisis dan mendeskripsikan suatu
masalah dalam karya ilmiah. adapun metode penelitian ini akan
diugkapkan jenis dan sifat penelitian, sumber data, metode pengumpulan
data, dan teknik analisis data.
1. Jenis Penelitian
Jenis Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research)
yaitu penelitian yang langsung dilakukan di lapangan atau pada
responden.11 Dalam hal ini penulis menjadikan Dewan Da’wah Provinsi
Lampung sebagai objek penelitian, karena disanalah tempat yang
mengambarkan konsep pendidikan Islam Dewan Da’wah Islamiyah
Indonesia Provinsi Lampung secara garis besar.
2. Sifat Penelitian
Penelitian yang penulis buat ini bersifat deskriptif yakni metode
penelitian yang akan berusaha menggambarkan dan menginterpretasi
objek sesuai apa adanya. Penelitian deskriptif pada umumnya dilakukan
dengan tujuan utama, yaitu menggambarkan secara sistematis fakta dan
karakteristik objek atau subjek yang diteliti secara tepat. 12 Dengan itu
dapat disimpulkan bahwa penelitian yang dilakukan dengan menggali data
dan informasi dari teori dan pendapat para ahli yang terdapat pada karya
tulis, baik berupa buku, artikel mengenai konsep pendidikan Islam Dewan
Da’wah Islamiyah Indonesia.
3. Waktu Dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kantor Dewan Da’wah Islamiyah
Indonesia Provinsi Lampung. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2020.
11
Muhammad Iqbal Hasan, Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, (Jakarta: Ghalia
Indonesia, 2002), h. 11.
12
Sukardi, Metode Penelitian Pendidikan, ( Jakarta: Bumi Akasara, 2011), h. 157
Metode penelitian adalah tata cara bagaiamana suatu penelitian itu
dilaksanakan.13 Penelitian dilaksanakan langsung oleh peneliti dan untuk
mencapai pengetahuan yang benar, maka diperlukan metode yang mampu
mengantarkan penelitian mendapatkan data yang valid dan otentik
4. Sumber Data
Adapun sumber data dalam penelitian ini terbagai menjadi dua
macam, yakni :
a. Sumber Data Primer
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung
memberikan data kepada pengumpul data.14 Adapun yang menjadi
sumber data primer dalam penelitian ini adalah data yang didapat dari
tempat yang menjadi objek penelitian yaitu Kantor Dewan Da’wah
Islamyah Provinsi Lampung. Sumber data primer diperoleh dari Ketua
DDII Provinsi Lampung, Ketua Bidang pendidikan DDII Provinsi
Lampung dan Para Ustadz yang menunjang aktivitas pendidikan di
Dewan Da’wah
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data skunder adalah sumber data yang tidak langsung
memberikan data kepada pengumpul data.15 Atau data yang mendukung
dan melengkapi data-data primer yang didaptkan dari orang lain atau
dokumen. Data sekunder yang diperoleh peneliti dari buku-buku yang
13
Susiadi, Metode Penelitian, (Bandar Lampung: Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M
IAIN Raden Intan Lampung, 2015), h. 21.
14
Sugiyono. Metode Penelitiam Kombinasi, (Bandung: Alfabeta, 2012), Cet Ke-3, h.308.
15
Ibid, h. 309
membicarakan topik yang berkaitan langsung maupun tidak langsung
dengan judul dan pokok bahasan kajian ini akan tetapi mempunyai
relevansi dengan permasalahan yang akan dikaji.
4. Metode Pengumpulan Data
a. Metode Observasi
Menurut Irawan Soehartono observasi adalah pengamatan yang
menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak mengajukan
pertanyaan-pertanyaan.16
Jadi metode observasi yaitu proses melihat atau mengamati
langsung dan mencatat dengan sistem kejadian atau fenomena yang
akan diselidiki langsung dilapangan ini akan menghasilkan data yang
akurat dan objektif sebagai fakta atau bukti yang kuat.
Berdasarkan jenisnya observasi dibagi menjadi dua yaitu :
1) Participant Observation, adalah peneliti ikut menjadi objek
yang akan diteliti.
2) Non Participant Observation, adalah peneliti tidak harus ikut
menjadi objek yang akan diteliti.
Dalam hal ini penulis menggunakan Participant Observation
yang mana penulis ikut langsung mencatat dan mengamati segala
bentuk kegiatan dan kejadian yang ada untuk disajikan dalam
pengumpulan data. Dengan demikian pengamat akan lebih mudah
mengamati kemunculan tingkah laku yang diharapkan. Pada penelitian
ini observasi dilakukan di Kantor Dewan Da’wah Provinsi Lampung.
16
Muhammad Iqbal Hasan, [Link]., h. 69.
observasi ini berkaitan dengan proses mengetahui konsep Pendidikan
Islam Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi Lampung
b. Metode Wawancara (Interview)
Wawancara adalah pertemuan dua orang untuk bertukar
informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat di kontruksikan
makna dalam suatu topik tertentu.17 Wawancara secara garis besar
dibedakan menjadi dua, yaitu wawancara berstruktur dan wawancara
tidak berstruktur.18
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode interview
berstruktur, yaitu teknik wawancara dimana pewawancara
menggunakan (mempersiapkan) daftar pertanyaan atau daftar isian
sebagai pedoman saat melakukan wawancara.19 Metode ini penulis
gunakan untuk memperoleh informasi dari Dewan Guru, para Ustadz
dan Ketua Bidang Pendidikan berkaitan dengan bagaimana konsep
pendidikan Islam Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Provinsi
Lampung. Pedoman wawancara berisi tentang pertanyaan-pertanyaan
secara garis besar yang kemudian dalam pelaksanaan wawancara dapat
dikembangkan secara mendalam untuk mendapatkan suatu gambaran
subjek dan pemaparan gejala yang tampak sebagai suatu fenomena.
Dalam pengumpulan data ini, peneliti menggunakan alat bantu berupa
buku catatan, kamera Handphone dan alat perekam suara (recorder).
c. Metode Dokumentasi
17
Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2018), h. 114.
18
Muhammad Iqbal Hasan, Op. Cit., h. 85.
19
Ibid
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya
monumental dari seseorang.20 Maka dalam penelitian ini penulis
menggunakan metode dokumentasi untuk memperoleh data mengenai
proses kegiatan pembelajaran di Pondok Tahfizh Qur’an Dewan
Da’wah Provinsi Lampung, berupa gambaran umum tentang konsep
Pendidikan Islam, foto wawancara maupun kegiatan yang
berhubungan dengan proses penerepan konsep tersebut.
Dalam pengumpulan data ini, peneliti menggunakan alat bantu
berupa kamera Handphone.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data yaitu proses mencari serta menyusun secara
sistematis data yang di peroleh dari hasil wawancara, catatan lapangan,
dan dokumentasi, dengan cara menggolongkan data ke dalam kategori,
menjabarkan kedalam bagian-bagian, melakukan sintesa, menyusun
kedalam pola, memilih mana yang akan di pelajari, mana yang penting,
serta membuat kesimpulan sehingga mudah di pahami oleh orang lain
maupun diri sendiri.21 Dalam penelitian kualitatif ada banyak analisis yang
dapat digunakan.
Namun demikian, semua analisis data dilakukan sepanjang
penelitian. Dengan kata lain, kegiatannya dilakukan bersama dengan
20
Sugiyono, Op. Cit., h. 124.
21
Sugiyono, Metode Penelitian (Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), (Bandung: Alfabeta,
2018), h. 244.
proses pelaksanaan pengumpulan data. Adapun langkah yang digunakan
ialah sebagai berikut :
a. Reduksi Data
Reduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok,
memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya, dan
membuang yang tidak perlu, untuk mengorgnisasikan data sehingga
kesimpulan akhirnya dapat diverifikasi.22
Data yang telah di reduksi akan memberikan gambaran yang
lebih jelas dan mempermudah dalam pengumpulan data selanjutnya.
Data yang dikumpul dipilih kedalam fokus penelitian itu.
b. Display/ Penyajian Data
Display data adalah penyajian atau menyajikan sekumpulan
informasi yang tersusun dalam bentuk uraian singkat, hubungan antar
kategori, bagan dan lain sebagainya.23
Sehubungan dengan ini penulis berusaha menyusun data yang
relevan sehingga dapat menjadi informasi yang memiliki makna
tertentu. Tahap ini, peneliti melakukan pengorganisasian dalam bentuk
penyajian informasi berupa teks naratif. Lebih lanjut, teks naratif
tersebut diringkas kedalam bentuk beberapa bagan yang
menggambarkan interpretasi pemahaman tentang makna tindakan
subyek peneliti.
22
Ibid., h. 247
23
Ibid. , h. 249.
c. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan tentang peningkatan atau perubahan
yang terjadi dilakukan secara bertahap mulai dari kesimpulan
sementara yang ditarik pada akhir siklus satu ke kesimpulan terevisi
pada siklus dua dan seterusnya dan kesimpulan terakhir pada siklus
terakhir. Kesimpulan yang pertama sampai dengan yang terakhir saling
terkait dan kesimpulan pertama sebagai pijakan.24
Tahap ini merupakan rangkaian analisis data puncak. Meskipun
begitu, kesimpulan juga membutuhkan verifikasi selama penelitian
berlangsung. Verifikasi dimaksudkan untuk menghasilkan kesimpulan
yang valid. Oleh karena itu, ada baiknya kesimpulan ditinjau ulang
dengan cara memverifikasi kembali catatan-catatan selama penelitian
dan mencari pola, tema, model, hubungan, dan persamaan untuk
diambil sebuah kesimpulan.
6. Uji Keabsahan Data
a. Triangulasi
Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai
teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai
teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila
penelitian mengumpulkan data yang sekaligus menguji keredibilitas
data, yaitu mengecek keredibilitas data dengan berbagai teknik
pengumpulan data dan berbagai sumber data.25
24
Ibid
25
Ibid., h. 241
Triangulasi adalah tehnik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain. Diluar data itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Tehnik
trigulasi yang paling banyak digunakan ialah pemeriksaan melalui
sumber lainnya.26 Trigulasi yang penulis gunakan adalah trigulasi
sumber dalam mengecek data tentang Konsep Pendidikan Islam
Dewan Da’wah Provinsi Lampung
26
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosda Karya,
2011), h. 330 .