0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
243 tayangan9 halaman

Tantangan dan Peluang Era 4.0 dan 5.0

Makalah ini membahas tentang tantangan dan peluang Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, termasuk strategi kompetitif yang dibutuhkan untuk bersaing di era tersebut. Revolusi Industri 4.0 membawa perubahan besar di dunia bisnis akibat otomatisasi, sementara Society 5.0 menawarkan masyarakat yang seimbang antara kemajuan ekonomi dan penyelesaian masalah sosial. Literasi data, teknologi, dan manusia diperl

Diunggah oleh

ndod iswahyudi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
243 tayangan9 halaman

Tantangan dan Peluang Era 4.0 dan 5.0

Makalah ini membahas tentang tantangan dan peluang Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0, termasuk strategi kompetitif yang dibutuhkan untuk bersaing di era tersebut. Revolusi Industri 4.0 membawa perubahan besar di dunia bisnis akibat otomatisasi, sementara Society 5.0 menawarkan masyarakat yang seimbang antara kemajuan ekonomi dan penyelesaian masalah sosial. Literasi data, teknologi, dan manusia diperl

Diunggah oleh

ndod iswahyudi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

(Makalah ini telah diterbitkan di Jurnal Maksipreneur Manajemen Koperasi dan Entrepreneurship 

10(1):1-12,
Edisi Desember 2020; DOI: 10.30588/jmp.v10i1.657; Dengan Judul Competing in the Era of Industrial
Revolution 4.0 and Society 5.0

Bersaing di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0”


Lena Ellitan
Program Studi Manajemen
Fakultas Bisnis Unika Widya Mandala Surabaya
lena@[Link]; ellistya@[Link]

Abstract
Revolusi industri 4.0 memberikan tantangan-tantangan yang harus dihadapi dunia bisnis yaitu
kurangnya keterampilan SDM yang memadai, masalah kemanan teknologi komunikasi,
keandalan stabilitas mesin produksi, ketidak mampuan untuk berubah oleh pemangku
kepentingan, serta banyaknya kehilangan pekerjaan karena berubah menjadi otomasi. Society 5.0
menawarkan masyarakat yang berpusat pada manusia yang membuat seimbang antara kemajuan
ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat menghubungkan
melalui dunia maya dan dunia nyata. Jika society 4.0 memungkinkan siapapun untuk mengakses
juga membagikan informasi di internet. Society 5.0 adalah era di mana semua teknologi adalah
bagian dari manusia itu sendiri. Untuk memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan revolusi
industri 4.0, masyarakat Indonesia khususnya wajib memiliki kemampuan literasi data, teknologi
dan manusia. Literasi data dibutuhkan oleh SDM untuk meningkatkan skill dalam mengolah dan
menganalisis big data untuk kepentingan peningkatan layanan publik dan bisnis. Literasi
teknologi menunjukkan kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital guna mengolah data
dan informasi, sedangkan literasi manusia wajib dikuasai karena menunjukan elemen softskill
atau pengembangan karakter individu untuk bisa berkolaborasi, adaptif, dan innovative.
Key words: Industrial Revolution 4.0., Society 5.0. opportunity vs threat, SDM skills and literacy

Pendahuluan
Revolusi industri merupakan suatu perubahan besar di bidang teknologi yang menyebabkan
perubahan cara hidup manusia dan proses kerja secara fundamental, dimana adanya kemajuan
teknologi informasi dapat mengintegrasikan dalam dunia kehidupan dengan digital yang dapat
memberikan dampak disiplin ilmu. Terjadinya revolusi industri 4.0 membut wajah baru dalam
fase kemajuan teknologi. Revolusi industri dimulai pada tahun 1750 dan biasa disebut revolusi
industri 1.0 ketika ditemukan mesin uap. Revolusi industri 2.0 dimulai ketika adanya pergantian
penggunaan mesin uap ke mesin yang menggunakan tenaga listrik. Revolusi industri 3.0 dimulai
ketika proses produksi sudah menggunakan mesin yang mampu bergerak dan dikontrol, mulai
digunakannya robot sederhana, hingga penggunaan komputer. Saat ini revolusi industri sudah
mencapai tahap yang lebih tinggi yang disebut revolusi industri 4.0. Di era ini sistem diarahkan
ke bentuk digital dibantu dengan jaringan. Di Indonesia revolusi industri 4.0 sudah merambah di
berbagai bidang kehidupan seperti pemerintahan, transportasi, pendidikan, kesehatan dan
ekonomi (Natalia dan Ellitan, 2018). Hal ini mengakibatkan perubahan dan dampak yang
dirasakan oleh masyarakat, baik sebagai pelaku (dunia bisnis) maupun pengguna (konsumen).
Revolusi industri 4.0 membawa teknologi manufaktur masuk pada tren otomasi dan pertukaran
data. Hal tersebut mencakup sistem cyber-fisik, internet of things (IoT) dan komputasi kognitif.
Dengan lahirnya teknologi digital saat ini pada revolusi industri 4.0 berdampak terhadap
kehidupan manusia diseluruh dunia (Muljani dan Ellitan, 2019).
Tjandrawinata (2016), mengemukakan bahwa perkembangan teknologi informasi dengan pesat
saat ini terjadi otomotisasi yang terjadi diseluruh bidang, teknologi dan pendekatan baru yang
lebih memanfaatkan digitalisasi secara fundamental. Revolusi industri 4.0 memberikan
tantangan-tantangan yang harus dihadapi dunia bisnis yaitu kurangnya keterampilan SDM yang
memadai, masalah kemanan teknologi komunikasi, keandalan stabilitas mesin produksi, ketidak
mampuan untuk berubah oleh pemangku kepentingan, serta banyaknya kehilangan pekerjaan
karena berubah menjadi otomasi. Society 5.0 menawarkan masyarakat yang berpusat pada
manusia yang membuat seimbang antara kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial
melalui sistem yang sangat menghubungkan melalui dunia maya dan dunia nyata. Konsep
revolusi industri 4.0 dan society 5.0 tidak memiliki perbedaan yang jauh. Revolusi industri 4.0
menggunakan kecerdasan buatan (artificial intellegent) sedangkan society 5.0 memfokuskan
kepada komponen manusianya. Konsep society 5.0 ini, menjadi inovasi baru dari society 1.0
sampai society 4.0 dalam sejarah peradaban manusia (Mayasari, 2019).

Strategi Kompetitif Industri 4.0.


Strategi kompetitif akan menentukan kinerja perusahaan (Anis, [Link]. 2018). Strategi bersaing
dilihat secara eksternal sedangkan strategi positioning dilihat secara internal. Diferensiasi
merupakan perbedaan pasar agar tidak memiliki kesamaan dengan pasar/market lain di suatu
perusahaan atau institusi, yang memberi alasan konsumen membeli produk atau menggunakan
jasa perusahaan. Strategi ini dapat dilihat pada industry penerbangan yaitu Garuda vs Citilink.
Kaitan dengan industri 4.0 perusahaan harus mampu menetapkan strategi kompetitif dan terus
berinovasi yang kadag tidak diketahui kapan hal tersebut berubah atau tidak dapat diprediksi.
Untuk mampu bersaing secara berkalanjutan diperlukan SDM yang peka dan pimpinan yang jeli
melihat peluang dan berani melakukan perombakan apabila ingin tetap ada di pusaran bisnis
masa kini dengan para kompetitornya. Revolusi industri adalah perubahan cepat di bidang
ekonomi dan produksi berupa peningkatan efisiensi yang menyebabkan pengaruh ke bidang-
bidang kehidupan lainnya. Hingga sekarang ini telah terjadi 4 kali revolusi industri mulai dari
revolusi industri 1.0, dan sekarang ini yang sedang terjadi yaitu revolusi 4.0. Revolusi Industri
4.0 merupakan revolusi industri keempat. Pada revolusi industri keempat ini diperkenalkannya
istilah machine learning yaitu mesin yang memiliki kemampuan untuk belajar yang bisa sadar
bahwa dirinya melakukan kesalahan sehingga melakukan koreksi yang tepat untuk memperbaiki
hasil berikutnya. Namun, machine learning ini masih masih terbatas untuk melakukan hal-hal
tertentu. Di Indonesia, revolusi industri ini sangat mempengaruhi setiap bidang kehidupan
(Hamdanunsera, 2018).
Saat ini yang dapat dilihat sehari hari terkait dunia usaha yaitu adanya transportasi online (go-
jek dan grab), online shopping, dan diberlakukannya uang elektronik. Namun demikian, selain
memiliki dampak yang positif, dampak negatif dari revolusi industri 4.0 ini juga tidak dapat
dihindarkan (Natalia dan Ellitan, 2019). Tidak hanya Indonesia, di negara-negara maju seperti
Jepang, Jerman dan Amerika Serikat saja masih terus menerus memperdebatkan konsekuensi
dari revolusi industri keempat ini, karena revolusi ini masih berlangsung atau bahkan dapat
dibilang baru dimulai.
Beberapa perusahaan multinasional maupun nasional yang seperti; Apple, Inc dan Go Jek, dari
sudut strategi kompetitif memiliki pangsa pasar sendiri dibanding rivalnya. Komposisi pasar
Apple naik sedikit demi sedikit tetapi lebih pasti dan berfokus. Budaya kerja dan kepemimpinan
serta inovasi terus menerus membuat Apple mampu bertahan dan bersaing dengan produk lain
dari Eropa maupun Asia. Perusahaan GoJek sebagai alat transportasi mampu bersaing
kompetitif dengan rivalnya Grab asal Malaysia yang tetap bertahan hingga kini. Memanfaatkan
aplikasi digitasl dan alasan pendirian demi kemudahan penggunaan alat transportasi mengurangi
kemacetan lalu lintas.
Keberadaannya sama seperti Traveloka yang menyerap perhatian publik. Market value
Traveloka yang besar mengundang modal asing ke Indonesia. Industri 4.0 berciri kreativitas,
leadership (kepemimpinan) dan entrepreneurship (kewirausahaan) yang mendobrak "mindset"
cara bekerja revolusi industri sebelumnya. Dengan berciri efisiensi dalam komunikasi dan
transportasi serta mengarahkan masyarakat untuk memecahkan masalah dengan sistem "one stop
shopping" atau "one stop solution" diperlukan atmosfir dunia usaha yang lepas dari lilitan dan
hambatan birokrasi dan itu tidak hanya soal cara bekerja tapi juga mentalitas pegawai dan
tenaga kerjanya. Pada gilirannya output revolusi ini cukup banyak mendatangkan keuntungan
dan kesejahteraan seperti harga barang murah serta kesehatan terjamin. Kebutuhan akan alat
penunjang dibidang pendidikan kian maju dan mendorong anak bangsa mau belajar unggul atau
setidaknya sama kemampuan intelegensianya dengan bangsa lain. Di sisi lain dampak negatif
industri 4.0 sedikit demi sedikit akan mengubah sistem manajemen didalam perusahaan yang
beberapa posisi kerja tidak lagi membutuhkan tenaga manusia. Dalam masa yang akan datang
akan lebih banyak perusahaan yang menggunakan mesin /alat teknologi canggih sudah mampu
menggantikan fungsi manusia dengan alasan efisiensi waktu dan tenaga pekerjaan. Kondisi
seperti ini menuntut kesiapan teknologi bagi perusahaan-perusahaan dalam insustri 4.0. baik
perusahaan besar maupun UMKM (Ellitan & Muljani 2019).
Beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam revolusi industri 4.0 yaitu yang pertama adalah
keamanan, yang kedua adalah permodalan, kemudian yang ketiga yaitu ketenagakerjaan, serta
yang keempat adalah privasi. Namun demikian adapula beberapa manfaat yang dapat
ditimbulkan dengan adanya revolusi industry 4.0 adalah mendorong penelitian, penyesuaian serta
optimasi. Kemudian, ada beberapa prinsip pada revolusi industri yang memungkinkan setiap
perusahaan dalam mengidentifikasi dan mengimplementasikan berbagai skenario revolusi
industri 4.0 adalah sebagai berikut: Pertama adalah Interoperabilitas, yaitu seperti halnya
kemampuan mesin, perangkat, sensor, serta manusia untuk terhubung dan saling komunikasi
antara satu sama lain melalui media yang dimanakan internet. Kedua adalah transparansi
informasi, dapat memberikan kemampuan sistem informasi dalam membuat lisensi dunia fisik
dengan memperkaya model pabrik digital dan dengan sensor data, dan yang ketiga adalah adanya
bantuan teknis, yaitu kemampuan sistem bantuan dalam membantu manusia untuk
mengumpulkan data dan membuat visualisasi agar mampu membuat keputusan yang baik dan
bijak se[erti yang dilakukan oleh Microsoft dan Astra.

Menyandingkan industri 4.0 dengan Society 5.0.


Kehadiran internet of thing (IoT) dalam industri 4.0 melahirkan gagasan baru dari peradaban
Jepang yakni; society 5.0 yang disampaikan dalam Forum Ekonomi Dunia 2019 di Davos, Swiss.
Gagasan ini muncul atas respon revolusi Industri 4.0 sebagai signifikannya perkembangan
teknolog tetapi peran masyarakat sangat menjadi pertimbangan atas terjadinya revolusi industri
4.0 ini. Mengutip dari World Economic Forum (WEF), pernyataan perdana menteri Jepang,
Shinzo Abe menjelasakan “di society 5.0 itu bukan lagi modal tetapi data yang menghubungkan
dan menggerakkan segalanya, membantu mengisi kesenjangan antara yang kaya dan yang
kurang beruntung. Layanan kedokteran dan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan
tinggi akan mencapai desa-desa kecil." Jika society 4.0 memungkinkan masyarakat untuk
mengakses juga membagikan informasi di internet. Society 5.0 adalah era di mana semua
teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri (Yunda, 2019).
Internet bukan hanya sebagai informasi melainkan untuk menjalani kehidupan. Sehingga
perkembangan teknologi dapat meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan masalah
ekonomi di kemudian hari. Contoh perusahaan ialah Astra. Diketahui pada tahun 2014, Astra
melakukan studi dimulai dari transformasi internet dari business enabler menjadi business
driven. Tahun 2016 merupakan langkah fundamental Astra untuk menyeimbangkan hadirnya
revolusi industri 4.0 dalam tatanan kerja perusahaan. Pada 2017 Astra mengakselerasi inisiatif
digitalnya terutama merespons VUCA yaitu, Volatile, Uncertain, Complex, dan Ambigue
merupakan gambaran situasi di dunia bisnis di masa kini. Hingga di tahun 2019, Astra mematok
digitalisasi sebagai tonggak arah bisnis di masa depan. Sumber Daya manusia (SDM) kemudian
tidak dilupakan begitu saja. Astra masih mampu memilah digitalisasi dengan kebutuhan
Leadership Competency yang telah disesuaikan dengan key of behaviornya sesuai karakteristik
future of work Kompetensi tersebut ialah vision & business sense, customer focus, planning &
driving action, analysis & judgement, teamwork, leading & motivating interpersonal skill dan
drive & courage. Astra leadership competence adalah core pada proses rekrutmen, people
mapping hingga development. Dengan demikian, pihak Astra mengharapkan ke depannya dapat
merekrut SDM sesuai konteks future of work (Usman, 2019).
Jika society 4.0 memungkinkan kita untuk mengakses juga membagikan informasi di internet.
Society 5.0 adalah era di mana semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri. Internet
bukan hanya sebagai informasi melainkan untuk menjalani kehidupan (Mayasari, 2019),
sehingga perkembangan teknologi dapat meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan
masalah ekonomi pada kemudian hari. Indonesia merupakan negara berkembang yang bahkan
bisa dikatakan hanya sebagian kecil saja orang yang mengenal Revolusi Industri 4.0 ataupun
society 5.0. Hanya di kalangan akademis yang melek akan kemajuan zamannya, pebisnis yang
memang punya kepentingan keberlangsungan usahanya, juga pemangku kebijakan publik yang
memperhatikan. Institusi pendidikan yang dikategorikan unggulan di Indonesia pun belum
menerapkan sistem industri 4.0 dan society 5.0 ini. Dari mulai sistem pendidikannya, cara
berinteraksi pendidik dan yang terdidik, hanya sebatas penerapan kurikulum saja. Pemupukan
paradigma berpikir modernnya belum semua rata dilakukan.
Indonesia sudah hampir sembilan tahun menerapkan 4.0 namun masih dinilai relatif berjalan
lamban. Pemerintah berupaya menggalakkan terus peningkatan mutu sumber daya manusia
melalui dukungan pendidikan dan infrastruktur yang memadai. Hal yang sama juga terjadi pada
industri manufaktur. Indonesia masih cenderung mengimport barang dari luar negeri, khususnya
dari China. Padahal negara ini sudah melaju sangat pesat disegi perekonomian dan distribusi
serta manufakturnya. Indonesia diharapkan mampu mulai mengurangi impor barang, mencoba
membuat dan berkreasi akan produk-produk barang yang dapat menembus pasar global. Era
industri 4.0 dan society 5.0 akan segera berjalan bersamaan. Di negara-negara maju tindakan
tersebut telah terjadi. Jepang salah satu contoh konkrit yang juga pemrakarsa lahirnya society
5.0. Jepang memiliki ambisi melakukan digitalisasi di seluruh aspek kehidupan mengingat
semakin memburuknya krisis buruh dan pesatnya penuaan penduduk di negara itu. Kesiapan
Jepang menuju era society 5.0 sebenarnya sudah dimulai diperkenalkan pada Juni 2017 silam.
Saat itu, Kantor Perdana Menteri Jepang merilis rincian strategis, termasukpenggunaan teknologi
baru untuk menyelesaikan permasalahan sosial dan ekonomi.
Society 5.0 bukan hanya tentang teknologi, tapi juga kebijakan dan regulasi. Pemerintah Jepang
mendorong pebisnis setempat untuk berbagi big data dan meningkatkan kerja sama untuk
menciptakan inovasi baru (Haryanti, 2019). Saat ini, kemampuan perusahaan masih terbatas
karena data yang diperlukan dimiliki entitas lain. Pada masa depan, sektor swasta dan umum
dapat bekerja sama untuk menciptakan sistem baru yang lebih aman dan efektif. Hal itu dinilai
akan mendorong lebih banyak perusahaan untuk berbagi informasi dan mengizinkan perusahaan
lain menggunakan data mereka guna mengembangkan produk yang lebih baik dan bagus.

Kesiapan Indonesia dalam Menghadapi Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0
Dampak revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 membuat kesempatan baru untuk Indonesia.
Revolusi industri 4.0 justru memberi kesempatan bagi Indonesia untuk berinovasi. Tahun 2019
ini Apple membuka peluang kerja di Indonesia dengan memilih Indoneisa sebagai tempat
research & development (R&D) pertama di Asia. Pemerintah Indonesia wajib mengajak dan
mendorong para generasi milenial sebagai yang dominan menggunakan internet untuk menguasi
teknologi digital. Salah satunya diterapkan melalui jurusan SMK dan industri untuk memacu
politeknik melalui program skill competitiveness (Yunda, 2019)
Indonesia berkomitmen untuk membangun industri manufaktur yang berdaya saing global
melalui percepatan industri 4.0, hal ini ditandai dengan peluncuran Making Indonesia 4.0 sebagai
sebuah peta jalan dan strategi Indonesia memasuki era digital yang tengah berjalan saat ini.
Making Indonesia 4.0 dapat memberikan arah yang jelas bagi pergerakan industri nasional di
masa depan, terasuk fokus pada pengembangan lima sektor manufaktur yang akan menjadi
percontohan ([Link], 4 April 2018). Pada penyusunan peta jalan ini telah
melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Institusi Pemerintahan, pelaku usaha,
asosiasi industri, penyedia teknologi, maupun lembaga riset dan pendidikan. Malalui komitmen
serta partisipasi aktif dari seluruh pihak tersebut, dapat diyakini implementasi Industri 4.0 di
Indonesia akan berjalan sukses dan sesuai sasaran.
Dalam menghadapi revolusi industry 4.0. dan society 5.0. terdapat lima industri yang menjadi
fokus implementasi industri 4.0 di Indonesia, yaitu; makanan dan minuman, tekstil, otomotif,
elektronik dan kimia. Kelima industri ini merupakan tulang punggung, dan diharapkan
membawa pengaruh yang besar dalam hal daya saing dan kontribusinya terhadap ekonomi
Indonesia menuju 10 besar ekonomi dunia di 2030. Hal ini lah yang akan menjadi contoh bagi
penerapan industri 4.0, penciptaan lapangan kerja baru dan investasi baru berbasis teknologi.
Selanjutnya hal ini diharapkan menarik minat investasi asing, peningkatan kualitas sumber daya
manusia, pembangunan ekosistem inovasi, insentif untuk investasi teknologi, serta harmonisasi
aturan dan kebijakan.
Indonesia berkomitmen untuk mengimplementasikan Making Indonesia 4.0 dan menjadikannya
sebagai agenda nasional. Pada konsep ini ditengah dunia berfokus pada Industri 4.0 (Penggunaan
Teknologi, Data, dan Automation), terdapat sentuhan humanisme di dalam Society 5.0 akan
menjadi modal dasar konsep ini akan diterima oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia. Fokus
yang menjadi dari dalam Society 5.0 menjadi peluang besar bagi Indonsia untuk mempercepat
transformasi masyarakatnya. Dunia Industri Indonesia akan menghadapi berbagai tantangan
maupun peluang di era industri 4.0, khususnya bagi tenaga kerja Indonesia terjadi job
destruction. Selama prosesnya menuju society 5.0 industri, perusahaan, dan pelaku usaha harus
pandai melihat tantangan maupun peluang Industri 4.0. Adapun tantangan utama menghadapi
Industri 4.0 ialah SDM karena revolusi industri keempat ini mengalami dua fase yakni fase job
disruption dan fase job creation (Natalia dan Ellitan, 2019).
Indonesia dalam 2 sampai 3 tahun ke depan akan membenahi target pembangunan di bidang
ekonomi produk dan jasa yang dicanangkan sebelumnya untuk diselesaikan lebih lanjut.
Pemerintah harus memberi aturan disetiap daerah UKM untuk dapat menghasilkan 2-3 produk
barang yang kompetitif dan unik untuk mendukung anggaran kebutuhan seperti, penyediaan
gratis listrik, air juga dukungan alat bantu produksi barang yang kemudian dapat dijual lokal
maupun ekspor. Penetapan harga sesuai bahan baku dari dalam negeri tanpa mengimpor guna
mengurangi kenaikan harga jual. Saling kerja sama dalam setiap UKM penting dilakukan.
Sementara ini wilayah Jawa Timur cukup bagus dalam pengembangan UKM, Bali dan
Yogyakarta yang potensial dalam mendatangkan turis mancanegara (Ellitan, 2018). Menurut
Azhar (2018) setidaknya ada tiga manfaat platform digital di era Revolusi Industri 4.0 harus
diterapkan, yaitu: 1. Inovasi : model-model bisnis baru tidak lepas dari kemampuan para inovator
untuk merancang strategi lewat platform digital. Di Indonesia inovasi digital yang terjadi tidak
hanya di dunia ritel, tapi juga di bidang pendidikan, katering, kesehatan, bahkan di dunia hukum.
2. Inklusivitas: melalui platform digital, segala macam layanan dapat dengan mudah menjangkau
banyak orang di berbagai daerah. Hal ini pada gilirannya akan menghasilkan inklusivitas yang
menguntungkan orang-orang yang bertempat tinggal jauh dari daerah metropolitan, sehingga
mereka turut menikmati layanan digital. 3. Efisiensi: dengan berkembangnya inovasi platform
digital, otomatis akan ada efisiensi, baik dari segi manufaktur maupun pemasaran.
Selanjutnya Azhar (2018) juga menjelaskan bahwa ketiga hal ini tentu memiliki beberapa
tantangan diantaranya: Pertama, Masalah Kendali Ekonomi digital yang mengendalikan
masyarakat pastinya mempengaruhi perilaku publik yang tadinya masyarakat belanja ke toko
ritel, saat ini mulai beralih ke belanja online. Aspek sosial dan kultural seperti ini juga perlu
mendapatkan perhatian dari pihak seperti pemerintah maupun masyarakat agar toko ritel tidak
banyak yang berguguran satu persatu. Kedua, masalah ketidaksetaraan yang diakibatkan
masyarakat yang kehilangan pekerjaan karena digantikan robot atau semua pekerjaan saat ini
bisa dikerjakan oleh sebuah sistem adalah momok yang paling mengerikan. Otomatisasi yang
disebabkan Revolusi Digital 4.0 perlu disikapi dengan serius agar masyarakat dapat menyiapkan
skill untuk ke depannya sehingga angka pengangguran di Indonesia bisa ditekan. Ketiga,
masalah persaingan yaitu masalah kompetisi yang tidak sehat patut diwaspadai. Bila satu
platform terlalu mendominasi, maka pengguna tidak dapat melakukan pilihan layanan yang
paling cocok untuk mereka. Untuk menghadapi revolusi industri 4.0 sektor industri nasional
perlu banyak pembenahan terutama dalam aspek teknologi, karena penguasaan teknologi
menjadi kunci utama untuk menentukan daya saing Indonesia di era industry 4.0.

Berdasarkan tulisan yang diterbitkan di [Link] 29 Apr 2018, dalam menghadapi


industry 4.0 ini, Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas SDM. Jika hal ini tidak dilakukan
maka industri Indonesia akan semakin tertinggal dari negara-negara lainya. Jika Indonesia tidak
melakukan peningkatan kemampuan dan daya saing di sektor (industri) prioritas, maka Indonesia
bukan saja tidak akan mampu mencapai aspirasi, namun akan digilas oleh negara negara lain
yang lebih siap di pasar global maupun domestik. Transfer teknologi oleh perusahaan local
harus secara intensif dilakukan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) adalah hal
yang penting untuk mencapai kesuksesan pelaksanaan Making Indonesia 4.0. Selanjutnya,
pemerintah perlu pembangunan ekosistem inovasi, mengembangkan cetak biru pusat inovasi
nasional, mempersiapkan percontohan pusat inovasi dan mengoptimalkan regulasi terkait,
termasuk di antaranya yaitu perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan insentif fiskal untuk
mempercepat kolaborasi lintas sektor diantara pelaku usaha baik swasta, BUMN dengan
universitas.

Masyarakat Indonesia membutuhkan keahlian utama menghadapi industri 4.0 yaitu memiliki
keterampilan informasi, media, dan teknologi. Dengan perkataan lain, masyarakat harus melek
teknologi (Muljani and Ellitan, 2019) yaitu masyarakat yang memiliki keterampilan informasi,
media, dan teknologi meliputi literasi media, keaksaraan visual, literasi multikultural, kesadaran
global, dan literasi teknologi. Masyarakat juga dituntut untuk memiliki keterampilan belajar dan
berinovasi yang meliputi kreativitas dan keingintahuan, pemecah masalah (problem solving), dan
pengambil resiko. Keterampilan lain yang tidak kalah pentingnya adalah keterampilan dalam
hidup dan belajar seperti memiliki jiwa kepemimpinan dan bertanggung jawab, memiliki nilai
etis dan moral, produktivitas dan akuntabilitas, fleksibilitas dan adaptasi, sosial dan lintas
budaya, inisiatif dan mengarahkan diri. Dalam Society 5.0. masyarakat juga wajib memiliki
kemampuan dalam berkomunikasi yang efektif seperti mampu bekerja dalam tim dan
berkolaborasi, memiliki tanggung jawab pribadi dan sosial, dalam berkomunikasi harus
interaktif, memiliki orientasi nasional dan global.

Kesimpulan dan Saran


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat memberikan dampak yang
besar terhadap kehidupan manusia. Banyak kemudahan dan inovasi yang diperoleh dengan
adanya dukungan teknologi digital. Layanan menjadi lebih cepat dan efisien serta memiliki
jangkauan koneksi yang lebih luas dengan sistem online. Hidup menjadi lebih mudah dan murah
namun demikian, digitalisasi program juga membawa dampak negatif. Peran manusia setahap
demi setahap diambil alih oleh mesin otomatis. Namun demikian hal ini memberikan dampak
negative seperti meningkatnya jumlah dan menambah beban masalah lokal maupun nasional.
Untuk memanfaatkan peluang dan menjawab tantangan revolusi industri 4.0, masyarakat
Indonesia khususnya wajib memiliki kemampuan literasi data, teknologi dan manusia. Literasi
data dibutuhkan oleh SDM untuk meningkatkan skill dalam mengolah dan menganalisis big data
untuk kepentingan peningkatan layanan publik dan bisnis. Literasi teknologi menunjukkan
kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital guna mengolah data dan informasi,
sedangkan literasi manusia wajib dikuasai karena menunjukan elemen softskill atau
pengembangan karakter individu untuk bisa berkolaborasi, adaptif dan menjadi arif di era
“banjir” informasi.
Dalam era menuju society 5.0, Indonesia diharapkan mampu mengejar ketertinggalan. Hal ini
disebabkan oleh luasnya wilayah. Indonesia dituntut mampu mengikuti alur kerja industri 4.0
disandingkan dengan society 5.0. Kebutuhan akan sumber daya manusia di beberapa bidang
usaha masih sangat masif apabila kesemuanya dijalankan oleh robotik. Indonesia salah satu
negara berkembang dengan penduduk yang cukup padat tentu mampu menyelaraskan antara
kebutuhan di industri 4.0 dan society 5.0. Leadership dalam organisasi harus tetap hidup agar
setiap strategi kompetitif yang inovatif mampu dijalankan dengan visi yang ada. Untuk menuju
era society 5.0 pemerintah wajib secara berkelanjutan mengawalnya.

Daftar Pustaka
1. Anonim, 2018. Sepuluh langkah Indonesia Menghadapi Revolusi Industri 4.0,
[Link] 29 April
2018
2. Anonim, 2018. Making Indonesia 4.0 Bikin Industri Nasional Berdaya Saing Global di
Era Digital, [Link] 4 April
2019
3. Azhar. 2018. Manfaat dan Tantangan Platform Digital Di Era Revolusi Industry 4.0;
[Link] 12 April 2018
4. Anis, B.J., Christiananta, B. & Ellitan, L. 2018. The effect of Entrepreneurship
orientation, information technology, strategic planning to competitive advantages with
the business performance as intervelling variable, International Journal of Advances.
Research, 6(1), 230-242.
5. Ellitan, L. 2018 Creating Sustainability of Small and Medium Enterprises in Surabaya
and Surrounding Area., International Journal Of Research Culture Society, Vol 8 (1), p
157-167.
6. Ellitan, L. & Muljani, N. 2019. The Impact Of Knowledge Management, Technology
Readiness And External Environment On The Extent Of E-Business Adoption,
International Journal Of Research Culture Society, Vol 3 (11), p 63-69.
7. Hamdanunsera. (2018). Industri 4.0: Pengaruh Revolusi Industri Pada Kewirausahaan
Demi Kemandirian Ekonomi. Jurnal Nusamba 3(2), 2-4
8. Haryanti, R. 2019. Jepang Menjelang "5.0 Society" dan Era Menikmati Hidup
[Link]
dan-era-menikmati-hidup, 25 Januari 2019.
9. Natalia, I and Ellitan, L (2019) Srategiesto Achieve Competitive Advantage in Industrial
Revolution 4.0. International Journal of Research Culture Society, 3 (6). pp. 10-16.
10. Mayasari, D. 2019. Mengenal Society 5.0, Transformasi Kehidupan yang Dikembangkan
Jepang. Retrieved April 2019, from [Link].
11. Muljani, Ninuk & Ellitan, Lena., 2019. Developing Competitiveness in Industrial
Revolution 4.0., International Journal of Trend in Research and Development, Volume
6(5), p. 1-3
12. Tjandrawinata, R.R. 2016. Industri 4.0 : Revolusi Industri Abad Ini dan Pengaruhnya
pada Bidang Kesehatan dan Bioteknologi. MEDICINUS. Vol. 29(1) : 31-39
13. Usman, S. 2019. Digitalisasi, Direktur Astra International: Seluruh Aplikasi akan
Nyambung ke Depan, [Link]
[Link], 20 September 2019.
14. Yunda, NR. 2019. Dampak Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 Menciptakan
Kesempatan Baru bagi Indonesia, [Link] 26 Mei
2019.

Common questions

Didukung oleh AI

Tantangan utama yang dihadapi Indonesia dalam mengimplementasikan Industri 4.0 dan Society 5.0 adalah kesenjangan keterampilan SDM. Indonesia harus membangun kemampuan literasi data, teknologi, dan manusia, karena SDM yang kurang terampil dapat mengganggu pemanfaatan penuh teknologi baru. Selain itu, SDM perlu adaptif dan kolaboratif untuk menghadapi job disruption serta memanfaatkan job creation dalam era baru ini .

Dampak negatif Revolusi Industri 4.0 terhadap tenaga kerja meliputi pengurangan pekerjaan karena otomatisasi dan pergeseran keterampilan yang dibutuhkan. Solusi jangka panjang mencakup peningkatan kualitas pendidikan dan training untuk mendorong keterampilan baru yang relevan serta memperhatikan aspek sosial seperti inklusivitas dan keamanan kerja bagi pekerja yang terdampak .

Literasi teknologi, data, dan manusia penting karena teknologi Industri 4.0 mengharuskan kemampuan memproses dan menganalisis big data serta penggunaan alat digital untuk mengambil keputusan yang bijaksana. Tanpa literasi ini, potensi penggunaan teknologi dapat terhambat, mengganggu efisiensi operasional dan peluang kerja di masa depan .

Society 5.0 menawarkan masyarakat yang berpusat pada manusia dengan menyeimbangkan antara kemajuan ekonomi dan penyelesaian masalah sosial melalui integrasi dunia maya dan dunia nyata. Sistem ini memungkinkan distribusi informasi dan teknologi yang lebih merata, memastikan solusi berbasis teknologi dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, sehingga ekonomi dan pemecahan masalah sosial berjalan seiring .

Strategi kompetitif perusahaan dalam menghadapi revolusi industri 4.0 mencakup inovasi berkelanjutan, kepemimpinan yang tanggap terhadap perubahan, dan diferensiasi pasar. Perusahaan seperti Apple dan GoJek berhasil karena fokus pada inovasi yang membedakan mereka dari pesaing dan mengadopsi manajemen digital yang efisien, memungkinkan mereka untuk menguasai pangsa pasar dengan lebih baik .

Inovasi dalam platform digital meningkatkan inklusivitas ekonomi dan sosial dengan menjembatani kesenjangan akses layanan antara daerah metropolitan dan terpencil. Layanan digital mudah menjangkau bagian masyarakat yang terpinggirkan, mengurangi biaya akses dan mempercepat penyebaran informasi yang dapat diakses semua kalangan, sehingga mendorong kesetaraan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih merata .

Revolusi Industri 4.0 berfokus pada penggunaan kecerdasan buatan dan otomasi untuk meningkatkan efisiensi industri, sementara Society 5.0 menekankan integrasi teknologi dengan aspek kemanusiaan untuk menyelesaikan masalah sosial dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Revolusi Industri 4.0 mengadopsi teknologi seperti IoT dan komputasi kognitif, sedangkan Society 5.0 lebih menekankan pada nilai humanis dan penggunaan teknologi untuk keberlanjutan sosial .

Prinsip interoperabilitas dalam Industri 4.0, seperti kemampuan mesin, perangkat, dan manusia untuk berkomunikasi, serta transparansi informasi dan bantuan teknis, dapat membantu Indonesia menciptakan lingkungan yang kondusif untuk Society 5.0 dengan meningkatkan efisiensi dan inovasi. Implementasi teknologi dalam industri kunci dapat menyejahterakan masyarakat sambil menjaga keseimbangan dengan perkembangan sosial dan ekonomi .

Society 5.0 memanfaatkan peradaban digital dengan menghubungkan dunia maya dan fisik melalui teknologi untuk menyediakan solusi yang memberdayakan komunitas manusia. Teknologi berperan untuk meningkatkan aksesibilitas informasi, mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi, dan membantu manusia mencapai potensi optimalnya dengan memberikan solusi dalam pendidikan, kesehatan, dan inklusi ekonomi .

Pemerintah berperan dalam membangun infrastruktur, menetapkan regulasi yang mendukung inovasi, dan mengembangkan program pendidikan untuk memastikan SDM siap menghadapi tuntutan Society 5.0. Pemerintah harus juga berkolaborasi dengan industri untuk pemanfaatan teknologi yang efektif dan mengatasai masalah seperti ketimpangan akses untuk mencapai transformasi yang inklusif .

Anda mungkin juga menyukai