LAPORAN KASUS
STASE VI
ASUHAN KEBIDANAN PADA BY MBEF UMUR 2 BULAN 16 HARI
DENGAN DIAPER RASH DI KLINIK ANAK
RSUD UPTD DR ADJIDARMO
TAHUN 2023
Disusun Oleh:
ETI SUHAETI
NIM: 2215901052
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
2022/2023
LEMBAR PENGESAHAN
Telah disahkan Laporan Pendahuluan sebagai Salah Satu Persyaratan dalam
penyelenggaraan Praktik Stase Asuhan Kebidanan pada Bayi, Balita, dan Anak
Pra Sekolah Program Studi Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Tangerang Tahun 2022/2023.
Tangerang, 8 Maret 2023
Mengetahui :
Pembimbing Stase Pembimbing Lahan /CI
(Eka Mardiana Afrilia, SST., MKM) (Yiyin Aminah, SST)
NBM: 119250 NIK: 196312301984022001
i
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus pada Stase Asuhan
Kebidanan pada BBL. Penulisanan laporan ini dalam rangka menerapkan tugas
Pencapaian Kompetensi Asuhan Kebidanan yang merupakan salah satu
persyaratan yang harus dilalui dalam proses pendidikan profesi bidan. Dalam
penyusunan laporan pendahuluan ini penulis banyak mendapatkan bantuan,
bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam
kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1. Imas Yoyoh, [Link]., selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Tangerang;
2. Catur Erty Suksesty, [Link]., selaku Ketua Prodi Profesi Bidan Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Tangerang;
3. Eka Mardiana Afrilia, SST., MKM., selaku Dosen Pembimbing Institusi
sekaligus Wali Kelas;
4. Yiyin Aminah, SST., selaku Pembimbing Lahan di UPTD RSUD dr.
Adjidarmo;
5. Teman-teman seperjuangan yang sudah membantu dan memberikan
dukungan.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan pendahuluan ini masih jauh
dari kesempurnaan. Dengan demikian, penulis sangat mengharapkan petunjuk,
saran serta kritik dari berbagai pihak. Akhir kata, semoga hasil laporan ini
memberikan manfaat yang berguna bagi yang membutuhkannya.
Tangerang, 8 Maret 2023
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
LEMBAR PENGESAHAN…………………………….………………………...i
KATA PENGANTAR……………………………………………………………ii
DAFTAR
ISI……………………………………………………………………..iii
BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………...1
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………1
1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………...4
1.3 Tujuan Penulisan ……………………………………………………………
4
BAB II LAPORAN KASUS……………………………………………………..5
A. DATA SUBJEKTIF…………………………………………………………5
B. DATA OBYKTIF……………………………………………………………5
C. DATA OBJEKTIF…………………………………………………………..9
D. ANALISA ……………………………………………………………………9
E. PELAKSANAAN……………………………………………………………9
BAB III PEMBAHASAN ………………………………………………………
11
BAB IV PENUTUP……………………………………………………………..13
4. 1 Kesimpulan………………………………………………………………...13
4.2 Saran………………………………………………………………………..13
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………...14
iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diaper rash merupakan istilah nonspesifik yang digunakan untuk menggambarkan
berbagai reaksi peradangan kulit di area popok, termasuk area gluteal, area
perianal, alat kelamin, paha bagian dalam, dan lingkar pinggang . Diaper rash
merupakan salah satu gangguan kulit yang paling umum terjadi pada neonatus dan
bayi, dengan prevalensi antara 7%-50% . Meskipun gangguan ini jarang
menyebabkan masalah dalam jangka waktu panjang, namun seringkali
menyebabkan masalah pada bayi dan orang tua. Lebih lanjut, banyak orang tua
melaporkan periode menangis yang lebih lama sebagai gejala pertama timbulnya
nyeri yang diikuti dengan agitasi, perubahan pola tidur, dan berkurangnya
frekuensi buang air kecil dan buang air besar .
Tingkat kortisol saliva juga meningkat pada beberapa bayi selama periode diaper
rash
Diaper rash ringan sering terjadi pada bayi saat fase sebelum latihan
menggunakan toilet, dan belum terdapat data yang menunjukkan perbedaan
signifikan dalam prevalensi antar jenis kelamin bayi. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa bayi yang disusui memiliki risiko diaper rash yang lebih
rendah .
Dermatitis chaffing, dermatitis kontak, dan kandidiasis popok merupakan tiga
jenis diaper rash yang paling umum terjadi. Bentuk utama dari diaper rash adalah
dermatitis kontak, dimana ruam paling umum ditemukan di area popok yang
disebabkan oleh kombinasi faktor-faktor seperti: popok yang lama tidak diganti
yang menyebabkan kulit bayi lembab akibat kontak dengan urine, gesekan antar
kulit, dan abrasi mekanis.
Keberadaan garam empedu dan iritan lain dalam feses juga dapat merusak lapisan
lipid dan protein pelindung yang terdapat di lapisan teratas kulit. Selain itu,
peningkatan kadar pH kulit akibat urine dan feses dan mikroba juga
1
mengakibatkan diaper rash . Meskipun secara umum diaper rash tidak
membahayakan dan mudah diobati dengan pengaplikasian barrier topikal serta
penyuluhan terhadap orang tua untuk mengganti popok secara teratur, namun
beberapa bentuk keparahan diaper rash akan memerlukan perhatian medis .
Pada tingkat keparahan tinggi, diaper rash menunjukkan kondisi yang lebih serius,
namun dalam banyak kasus tidak berhubungan langsung dengan iritasi popok.
Sebanyak 50 % bayi yang memakai diaper akan mengalami iritasi pada kulit
ditandai dengan adanya kemerahan, menggelembung yang biasanya terjadi pada
bokong, lipatan paha dan region genetalia, serta bayi menjadi rewel. Hal ini
biasanya dialami pada bayi 7-35 % dari populasi bayi di Indonesia. Berdasarkan
penelitian sebelumnya tentang lamanya penggunaan diaper didapatkan hasil
bahwa penggunaan diaper yang terlalu lama akan menyebabkan perkembangan
bakteri mikro yang semakin meningkat sehingga dapat menyebabkan terjadinya
diaper rash dengan nilai p value 0,004. Penelitian tersebut menyebutkan bahwa
66,67 % mengalami diaper rash dan 33,33 % yang tidak mengalami diaper rash
(8). Beberapa diaper rash dengan tingkat keparahan tinggi adalah akibat defisiensi
nutrisi, sindrom malabsorpsi usus, kelainan kongenital saluran kemih,
permasalahan pada saluran cerna bagian bawah, atau reaksi toksik .
Popok umumnya disusun menjadi tiga lapisan yaitu, lapisan dalam, lapisan
inti yang mengandung bahan absorben, dan lapisan luar. Pada popok sekali pakai
lapisan dalam umunya berpori untuk mengurangi gesekan kulit dan di tambah
dengan formula khusus, seperti zincoxide, [Link], dan pertrolium untuk
menjaga agar kulit tetap kering (ydi, 2008).
Ruam popok merupakan salah satu dari sekian banyak masalah kulit yang
sering terjadi pada bayi dan batita akibat penggunaan popok, yaitu sekitar 7-35%
terjadi pada bayi pada 2 tahun pertama kehidupan.
Ruam popok dapat bermula pada periode neonatus ketika pertama kali memakai
popok. Prevalensi terjadinya ruam popok tertinggi yaitu pada bayi usia 9-12 bulan
dan menurun sesuai usia, tetapi dapat pula terjadi diberbagai umur pada mereka
yang menggunakan popok akibat inkontinensia urin atau alvi. Ruam popok
2
biasanya akan berhenti setelah anak mendapatkan pelatihan toilet sekitar usia 2
tahunan (Susanti, 2013).
Angka kejadian Ruam popok (diaper rash) di Indonesia telah
mencapai 7-35%, yang menimpa bayi laki-laki dan perempuan berusia kurang
dari tiga tahun dari angka kelahiran 4.746.438 dari jumlah perempuan 2.322.652
dan jumlah laki-laki 2.423.786 (Kementerian Kesehatan RI, 2018).
Di Indonesia hasil laporan tentang angka insidensi ruam popok
belum tersedia, penelitian sebelumnya yang di lakukan di Jakarta, 26% total
sampel mempunyai ruam popok (Rustianingsih, 2018).
Bidan dalam memberikan asuhan kebidanan menggunakan metode atau
pendekatan pemecahan masalah yaitu cara kerja sistematis dan analitik yang
memudahkan dan mengarahkan kegiatan-kegiatan bidan dalam memecahkan
masalah kesehatan ibu dan anak yang dihadapi dalam lingkup tanggung jawabnya
secara tepat guna dan berhasil guna. Penatalaksanaan kasus bisa dilakukan dengan
menggunakan panduan bagan MTBS (Kemenkes RI, 2020).
Bidan memiliki kemandirian untuk melakukan asuhan dalam
PERMENKES NOMOR 1464/MENKES/PER/X/2010 tentang izin dan
menyelanggarakan praktik bidan hal ini sudah tercantum dalam pasal 11 yang
berbunyi penanganan bayi dan anak balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan
(Kemenkes RI, 2020). Penatalaksanaan terhadap diaper rush harus dilakukan
sebaik-baiknya, serta kerja sama dengan pihak keluarga sangat diperlukan untuk
dapat mencegah terjadinya diaper rush yang berat yang bersifat patologis yang
dapat berakibat buruk.
Adapun laporan kasus ini berjudul, “Asuhan Kebidanan pada Bayi MBEF
Umur 2 bulan dengan Diarper rush di Klinik Anak RSUD dr. Adjidarmo
Kabupaten Lebak .” Penulisanan laporan kasus ini dalam rangka menerapkan
tugas Pencapaian Kompetensi Asuhan Kebidanan pada bayi, Balita dan anak pra
sekolah yang merupakan salah satu persyaratan yang harus dilalui dalam proses
Pendidikan Profesi Bidan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah
Tangerang Tahun 2022/2023.
3
1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian di atas, maka rumusan laporan kasus ini adalah, “Bagaimana
penatalaksanaan asuhan kebidanan pada bayi dengan diaper rush?”
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Mengetahui manfaat asuhan kebidanan pada bayi dengan diaper rush
1.3.2 Mampu mempraktikkan standar asuhan kebidanan pada bayi dengan
diaper rush
1.3.3 Mampu melakukan penanganan awal pada kasus diaper rush pada bayi;
dan
1.3.4 Mampu menegakkan diagnosa dan tata laksana awal pada kasus Diaper
rush sesuai dengan kewenangan bidan.
4
BAB II
LAPORAN KASUS
ASUHAN KEBIDANAN PADA BY. MBEF UMUR 2 BULAN 16 HARI
DENGAN DIAPER RASH DI KLINIK ANAK
RSUD [Link]
TAHUN 2023
No. Reg. : 488698
Nama Pengkaji : Eti Suhaeti
Hari/tanggal : Kamis, 16 Februari 2023
Waktu Pengkajian : 09.00 WIB
Tempat Pengkajian : Klinik Anak RSUD dr. Adjidarmo
A. DATA SUBJEKTIF (S)
1. Identitas Bayi
Nama : Bayi “MBEF”
Umur : 2 bulan 16 HARI
Tgl/jam lahir : 28 Nopember 2022
Jenis kelamin : Laki-laki
BB Lahir : 2900 gram
Panjang badan : 48 cm
2. Identitas Ibu Identitas Ayah
Jenis Ibu Ayah
Identitas
Nama nN Ny. “SR” Tn. “M”
Umur 26 tahun 30 tahun
Suku/bangsa Sunda N Sunda
Agama Islam Islam
Pendidikan SLTA W PT
5
Pekerjaan Mengurus Rumah Tangga Wiraswasta
Alamat Kp. Cipining, RT/RW 003/004 K Kp. Cipining, RT/RW
rumah Desa Curug badak, Kecamatan 003/004 Desa Curug
Tlp. Maja, Kabupaten Lebak. badak, Kecamatan Maja,
Kabupaten Lebak.
Alamat
kantor Tidak ada Tidak ada
Tlp.
3. ANAMNESA
- Keluhan utama :
Pada Tanggal 16 Februari 2023 pukul 09.00 WIB ibu datang ke Klinik
Anak RSUD [Link] mengatakan ingin memeriksakan bayinya
sudah sejak 1 minggu yang lalu dikulit pantatnya terdapat bercak - bercak
merah basah, bayi sering menangis /rewel setiap bak dan bab, bayi belum
minum obat apapun hanya diberikan bedak talk saja setiap selesai bak dan
bab.
4..Riwayat Kesehatan
- Quick Cek :
Tidak mau minum atau memuntahkan semua : Tidak
Kejang : Tidak
Bergerak hanya jika dirangsang : Tidak
Napas cepat ( ≥ 60 kali / menit ) : Tidak
Napas lambat ( < 30 kali / menit ) : Tidak
Tarikan dinding dada kedalam yang sangat kuat : Tidak
Merintih : Tidak
Teraba demam (suhu ketiak > 37,50C) : Tidak
Teraba dingin (suhu ketiak < 360C) : Tidak
Tampak kuning pada telapak tangan dan kaki : Tidak
Perdarahan : Tidak
6
a. Riwayat Imunisasi
Imunisasi 0 1 2 3 4 5 6 7 8
Hepatitis 28/11/2022
B
BCG 12/1/23
Polio 12/1/23
DPT
HiB
b. Riwayat penyakit yang lalu : ibu mengatakan bayinya tidak
pernah mengalami sakit berat, operasi, dan tidak pernah cidera.
c. Riwayat Penyakit sekarang : ibu mengatakan anaknya tampak
gelisah, rewel dan menangis setiap menderita penyakit menular
bak dan bab, terdapat bintil – bitnik merah pada daerah pantatnya
d. Riwayat penyakit keluarga : ibu mengatakan dari keluarganya
maupun dari keluarga suaminya tidak ada yang menderita penyakit
menular ( TBC, Hepatitis ) ataupun penyakit menurun ( Hipertensi,
asma, DM )
5. Riwayat Sosial
a. Yang mengasuh By : Ibu mengatakan mengasuh anaknya sendiri
b. Hubungan dengan anggota keluarga : Ibu mengatakan hubungan dengan
semua
anggota keluarga baik/harmonis
c. lingkungan Rumah : Ibu mengatakan lingkungan rumahnya aman, bersih
dan
nyaman
6. Pola Kebiasaan sehari-hari
a. Nutrisi
Ibu mengatakan bayinya hanya diberi ASI saja
7
b. Istirshat/Tidur
Ibu mengatakan bayinya tidur 16 – 18 jam / hari
c. Mandi
Sebelum sakit : Ibu mengatakan bayinya mandi pagi pukul
07.00 WIB, mandi sore pukul 16.00 WIB
Selama sakit : Ibu mengatakan selama sakit bayinya hanya
dibasuh waslap basah pukul 07.00 dan 16.00 WIB
d. Aktifitas
Ibu mengatakan bayinya bisa melihat dan menatap wajah
ibu dan menggerakkan kepala dari kiri atau kanan ke
tengah, mulai memiringkan badan ke kanan dan ke kiri
e. Eliminasi
Sebelum sakit
1) BAK : Ibu mengatakan banyinya BAK ± 3 kali
sehari,warna kuning jernih
2) BAB : Ibu mengatakan bayinya BAB ± 3 - 4 kali
sehari, warna kuning, tidak lembek Selama sakit
1) BAK :Ibu mengatakan banyinya BAK ± 4 kali sehari, warna
kuning jernih
2) BAB :Ibu mengatakan bayinya BAB ± 3 - 4 kali sehari warna
kuning, dengan konsisten sedikit cair.
f. Penyebab ruam popok
a) Ibu mengatakan sejak timbul bintik merah di hari pertama
langsung diberikan bedak
b) Ibu mengatakan sering menggunakan bayinya popok disposable
(sekali pakai) dan sedikit ketat
c) Ibu mengatakan tidak segera mengganti popok setelah bayi b.a.k,
diganti jika popok sudah dirasa penuh
g. Gejala ruam popok
8
a) Ibu mengatakan terdapat bintik kemerahan pada daerah pantat
bayi dan basah
B. DATA OBJEKTIF (O)
Keadaan umum dan antropometri
a. Keadaan umum : baik
Kesadaran : Composmentis
b. Tanda-tanda vital
Nadi : 112 x/m
Suhu : 36.7 ⁰ C
Pernafasan : 58 x/m
c. Antropometri
BB : 4230 gram
PB : 49 cm
Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : kepala bersih
b. Rambut : bersih, hitam, tidak mudah rontok
c. Mata : konjungtiva merah, sklera putih
d. Telinga : bersih, simetris, tidak ada pengeluaran
e. Hidung : bersih, simetris, tidak terdapatsecret
f. Mulut : bibir tidak pucat, tidak ada labioskisis, dan
labiopalatoskisis, tidak stomatitis, lidah bersih
g. Dada : tampak simetris, tidak ada retraksi dada
i. Perut : tidak kembung
j. Kulit : - tampak bintik – bintik kemerahan di sekitar
pantat yang luas
k. Ekstremitas : dapat bergerak bebas, jari kaki dan tangan lengka
ANALISA (A)
“ Bayi MBEF usia 2 bulan 16 hari dengan diaper rash ”
9
PENATALAKSANAAN (P)
1. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan dan keadaan bayinya Ibu
mengetahui hasil pemeriksaan dan keadaan bayinya
2. Melakukan informed concent dan informed choice kepada ibu terkait
tindakan pengolesan obat salep yang diresepkan dokter dan minyak
zaitun terhadap bayinya Ibu setuju atas tindakan yang akan dilakukan,
yaitu pengolesan obat salep kulit yang diresepkan dokter dan minyak
zaitun pada bayinya dan Ibu sudah menandatangani inform concent
3. Memberikan penjelasan kepada ibu tentang gejala, penyebab, dan
penanganan ruam popok pada bayi kepada ibu Ibu mengerti dan
memahami apa saja penyebab,gejala dan cara menangani ruam popok,
yaitu ruam popok tdk boleh diobati dengan bedak/talk, tapi bisa diolesi
dengan coconat oil/minyak kelapa, minyak zaitun atau air rebusan
[Link] apabila ruam popoknya parah sudah terjadi infeksi maka bayi
harus dibawa untuk diperiksa dan diobati oleh dokter.
4. Memberikan contoh perawatan ruam popok pada bayi dan pengolesan
minyak zaitun kepada ibu. Ibu mengerti dan bisa mempraktikan cara
melakukan perawatan ruam popok dan cara mengoleskan minyak zaitun
5. Memberitahu ibu untuk tetap menjaga daerah selangkangan,pantat dan
area kelamin bayi agar tetap kering sehingga ruam popok pada
[Link] akan segera sembuh, Ibu mengerti dan bersedia untuk tetap
menjaga daerah selangkangan, pantat dan area kelamin bayi tetap
kering.
6. Memberitahu ibu untuk tidak menggunakan bayinya popok disposable
terlebih dahulu , Ibu mengerti dan bersedia untuk tidak menggunakan
bayinya popok disposable terlebih dahulu
7. Memberitahu ibu untuk segera mengganti popok bayi jika bayi bak/bab
agar kulit bayi tidak terlalu lama terpapar oleh urine/feses sehingga
dapat memperparah ruam popok bayi. Ibu mengerti dan bersedia untuk
segera mengganti popok bayi setelah bayi bak/bab.
10
8. Menjelaskan kepada ibu apabila tidak ada perubahan setelah dilakukan
perawatan, ibu dianjurkan untuk segera datang kembali control ke
klinik anak.
BAB III
PEMBAHASAN
HASIL DAN PEMBAHASAN
Diaper rash sering terjadi pada bayi yang memakai popok sekali pakai atau
diaper disposable. Diaper rash adalah ruam yang terjadi di dalam area popok.
Diaper rash bisa menyebar ke seluruh tubuh dan harus segera diobati .
Pada kasus Bayi MBEF dari data subyektif maupun obyektif yang didapat dapat
disimpulkan penyebab terjadinya diaper rash karena bayi menggunakan popok
disposable yang sering dibiarkan sampai penuh dan penggunaan bedak /talk pada
area popok setiap setelah bayi bak atau bab yang menyebabkan area pantat menjadi
lembab dan lecet yaitu ruam popok.
Penatalaksanaan diaper rash berfokus pada dua tujuan utama, yaitu
percepatan
penyembuhan kulit dan pencegahan ruam berulang .
penatalaksanaan yang dapat dilakukan terhadap kejadian diaper rash antara lain
menjaga kebersihan popok dengan mengganti popok secara teratur, mengoleskan
coconut oil/minyak kelapa, mengoleskan minyak zaitun, dan dapat juga
menggunakan air rebusan daun sirih.
Faktor terpenting dalam mencegah diaper rash adalah seringnya mengganti
popok bayi. Kontak yang terlalu lama dengan urin atau feses menyebabkan iritasi.
Penatalaksanaan yang tepat adalah mengganti popok setiap jam untuk bayi baru
lahir dan setiap 3-4 jam untuk bayi yang lebih besar. Jika memungkinkan, anak
harus dibiarkan tanpa popok selama beberapa waktu agar area tersebut tetap kering.
Penggantian popok secara rutin (setiap 1-3 jam) sangat penting dalam
penatalaksanaan diaper rash, karena membantu mengurangi jumlah waktu kontak
kulit dengan kelembaban dan iritasi . Hal ini sejalan dengan penelitian
11
(Salsabilah, 2021) bahwa penatalaksanaan yang tepat pada diaper rash dapat
dilakukan dengan menjaga kebersihan kulit bayi, mengganti popok secara teratur,
dan tidak menggunakan bedak di area popok .
Coconut oil atau biasa disebut minyak kelapa merupakan salah satu bentuk
barrier yang bisa dimanfaatkan dalam penatalaksanaan diaper rash. Coconut oil
mempunyai struktur biokimia yang baik untuk penyembuhan luka karena memiliki
kandungan asam jenuh. Pemberian coconut oil meningkatkan efektifitas
perawatan kulit pada bayi dengan diaper rash dan mengurangi rasa tidak nyaman
yang dirasakan bayi .
Menurut penelitian yang dilakukan (Nurhaeni & Wanda, 2019)
menyebutkan bahwa bayi yang diberikan intervensi Coconut Oil memperlihatkan
penyembuhan diaper rash yang lebih cepat dibandingkan bayi yang
tidak mendapatkan intervensi Coconut Oil. Lama hari penyembuhan pada bayi
dengan menggunakan Coconut Oil adalah 3-5 hari sedangkan pada bayi yang tidak
diberikam Coconut Oil selama 1-2 minggu . Hal ini sejalan dengan penelitian
(Meliyana & Hikmalia, 2018) menyebutkan bahwa Coconut oil berpotensi untuk
menurunkan insidensi diaper rash pada bayi. Hasil analisa univariat yang dilakukan
oleh peneliti menunjukan bahwa kondisi ruam popok bayi sesudah dilakukan
pemberian Coconut oil dari 16 (100%) responden, terdapat 13 bayi yang mengalami
perubahan, 2 bayi yang menetap/tidak mengalami perubahan, 1 bayi yang
mengalami peningkatan .Salah satu perawatan kulit pada bayi dan balita dengan
diaper rash adalah pemberian minyak zaitun.
Pemberian minyak zaitun mempunyai efek yang baik terhadap diaper
rash,karena minyak zaitun merupakan herbal yang dapat membantu dan
mempunyai efek anti inflamasi, analgesic, anti-mikroba, dan antioksidan,
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Murni Teguh et al., 2020)
pemberian minyak zaitun efektif untuk ruam popok dibandingkan dengan
pengobatan standar. Anggota keluarga diberitahu tentang pentingnya kebersihan
dan kekeringan ruam popok dan frekuensi penggantian ruam popok. Minyak zaitun
dapat mengurangi timbulnya penyakit. Minyak zaitun bisa menjadi alternatif
12
pengobatan ruam popok pada bayi.
BAB IV
PENUTUP
4. 1 Kesimpulan
Pada interpretasi data didapatkan diagnosa kebidanan bayi “MBEF” usia 2
bulan 16 hari dengan diaper rash . Masalah bayi adalah rewel,menangis kuat
setiap bak dan bab,suhu normal, bayi masih aktif dan mau minum, keadaan umum
baik. Pada kasus by dengan diaper rash kebutuhan yang diperlukan bayi adalah
penuhi kebutuhan nutrisi ASI, rasa nyaman dan pencegahan terjadinya perluasan
dan peningkatan keparahan dari derajat diaper rash yaitu agar ibu menjaga
kebersihan dan mempertahankan agar area pantat bayi tetap kering dengan
mengganti popok secara teratur dan mengolesinya dengan minyak zaitun,coconut
oil/minyak kelapa,atau air rebusan sirih dan tidak menggunakan bedak atau talk
sampai ruam popok/diaper rash kering atau sembuh.
4.2 Saran
Setelah menyelesaikan laporan kasus ini, bidan diharapkan:
4.2.1 Mengetahui manfaat asuhan kebidanan pada bayi dengan diaper rash;
4.2.2 Mampu mempraktikkan standar asuhan kebidanan pada bayi dengan
diaper rash;
4.2.3 Mampu melakukan penanganan awal pada kasus diaper rash pada bayi;
dan
4.2.4 Mampu menegakkan diagnosa dan tata laksana awal pada kasus bayi
dengan diaper rash sesuai dengan kewenangan bidan.
4.2.5 Mendapatkan masukan, kritik dan saran agar laporan pada stase ini dapat
dibuat lebih baik lagi.
.
13
DAFTAR PUSTAKA
Cunningham, F. G. (2018). Obstetri Williams. Edisi 23. Volume 1. Jakarta: EGC.
Budiarja, Siti Aisah (2009), Perawatan Kulit Pada Bayi Dan Balita, Jakarta :
FKUI Press
M. Andi, ( 2012). Makalah Diaper Rash. ([Link] diakses
pada tanggal 4 maret 2023
Maryunani, Anik (2011), Ilmi Kesehatan Anak Dalam Kebidanan, Jakarta: Trans
Info Media
Mayo (2008), Mencegah Ruam Popok, Tersedia di [Link]
Nariko (2013), Diapers Bagi Kesehatan Bayi dan Lingkungan. Jakarta: Trans Info
Medika
Sudarti, (2010). Kelainan dan Penyakit Pada Bayi & Anak, Yogyakarta :
Muha Medika.
Hikmah. 2020. Konsep Tumbuh Kembang Bayi, Balita dan Anak Pra Sekolah
[Link] kembang-
[Link], diakses pada Tanggal 2 Maret 2023.
Kemenkes RI. 2020. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
Hk.01.07/Mentri Kesehatan/320/2020 Tentang Standar Profesi Bidan.
[Link]
+2020.+Keputusan+Menteri+Kesehatan+Republik+Indonesia+Nomor+Hk.01.07%
2FMenkes%2F320%2F2020+Tentang+Standar+Profesi+Bidan, diakses 3 Maret
2023.
Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia. In: Kesehatan, editor. Jakarta:
Kementrian Kesehatan RI; 2020. [Link]
mampu-mengecap-membau-dan mengecap, diakses 16 Februari 2023.
Ladewing. W. Marcia. Buku Saku Asuhan Ibu Dan Bayi Baru Lahir: Jakarta
14
:alih bahasa; 2015. H. 153. [Link]
%[Link], diakses 16 Februari 2023.
Marmi K, R,. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, dan Anak Prasekolah. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar; 2015. [Link]
%[Link], diakses 17 Februari 2023.
Maryanti, dwi, dkk. 2021. Buku Ajar Neonatus, Bayi & Balita. Jakarta : Trans Info
Media.
Maryunani & Eka. 2018. Asuhan Kegawatdaruratan Maternal & Neonatal. Jakarta :
Trans Info Media.
Mendri, Ni Ketut. 2018. Asuhan Keperawatan pada Anak Sakit & Bayi Resiko
Tinggi. Yogyakarta : Pustaka Baru Press.
Mclntyre.2018. RIE – Respectful Care with Infants. Diakses pada Tanggal 3 Maret
2023 dari [Link]
Ratnasari, 2020. Modul Pembelajaran Etikolegal dalam Praktik Kebidanan. Diakses
pada Tanggal 3 Maret 2023. dari [Link]
[Link]
Sembiring.2019. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita, Anak Pra Sekolah.
[Link]
hl=id&lr=&id=ZAyfDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR5&dq=bayi+balita+dan+prasek
olah&ots, diakses pada tanggal 3 Maret 2023.
Soebandi. 2015. Asuhan Kebidanan Pada Neonatus Bayi Dan Balita Dengan
Penyulit dan Komplikasi. [Link]
15
[Link], diakses pada Tanggal 3 Maret 2023.
Susilaningrum, rekawati, dkk. 2018. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak. Jakarta:
Salemba Medika. Wahyuni, sari. 2018. Asuhan Neonatus, Bayi dan Balita. Jakarta :
EGC.
Wahyuni. 2015. Kebutuhan Dasar Neonatus, Bayi, Balita dan Anak Prasekolah.
[Link]
dan-anak-prasekolah, diakses pada tangaal 3 Maret 2023.
Rehan (2015). Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Fitramaya.
[Link]
kota-tahun-2021, diakses 19 Februari 2019.
Yesserie, Vivian Nanny, Lia Dewi. Asuhan Neonatus Bayi Dan Anak Balita.
Jakarta: Salemba Medika. 2015.
Balitbang Kemenkes RI., 2016. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS, Balitbang,
Kemenkes RI., Jakarta, [Link]
diakses 17 November 2022.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu
di Fasilitas Kesehatan Dasar dan Rujukan, 2019. Bina Kesehatan Ibu,
Jakarta.
16
LAMPIRAN
DOKUMENRASI
17