Perbedaan Nilai Kekuatan Tekan Pada: Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Perbedaan Nilai Kekuatan Tekan Pada: Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Kedokteran Gigi
Diajukan Oleh
31101700017
SEMARANG
2022
u
ii
iii
iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
PERSEMBAHAN
v
PRAKATA
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini yang berjudul
CEMENT KONVENSIONAL TIPE II” guna memenuhi salah satu persyaratan untuk
memeroleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi pada Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam
Penulis menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan yang ada sehingga dalam
penyelesaian Karya Tulis Ilmiah ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari beberapa
pihak. Pada kesempatan ini dengan penuh kerendahan hati penulis menyampaikan ucapan
1. Dr. drg. Yayun Siti Rochmah, [Link] selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi
2. drg. Muhammad Dian Firdausy [Link] (DMS) selaku pembimbing I yang telah
meluangkan waktu dan pikirannya dengan sabar untuk membimbing saya, memberi
arahan, dukungan, serta motivasi selama penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
3. drg. Tahta Danifatis Sunnah, [Link] selaku pembimbing II yang telah meluangkan
waktu dan pikirannya dengan sabar untuk membimbing saya, memberi arahan,
vi
4. drg. Eko Hadianto, MDSc. selaku penguji yang telah meluangkan waktu, memberi
arahan, nasihat, masukan, dan membantu dalam penyelesaian penyusunan Karya Tulis
Ilmiah ini.
5. Seluruh dosen dan staff karyawan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Islam Sultan
Agung Semarang yang telah mendidik, memberi bimbingan, dan banyak ilmu selama
6. Mama, Adik, dan keluarga besar yang selalu memberikan doa, membantu, serta
mendukung moril & materil sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah
ini.
7. Terimakasih kepada Muhammad Difa Althof, Millienanda Chiara, Meutia Vina, Dea
Nurus, Assyifa Irwanto, Rizqiatul Ardani, Lutfiah Karenina, Khaleda Luthfiani dan
teman-teman saya yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang telah membantu,
Ilmiah ini.
8. Terimakasih kepada teman-teman seperbimbingan; Vina, Syifa, dan Lula yang sudah
memberi saran, semangat, doa, dan menjadi teman diskusi dalam penelitian dan
Sultan Agung Semarang Angkatan 2017 (Xalvadenta) dan semua pihak yang telah
Penulis menyadari bahwasanya Karya Tulis Ilmiah ini masih banyak kekurangan dan
keterbatasan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik serta saran yang membangun demi
perbaikan. Akhir kata penulis berharap semoga Karya Tulis Ilmiah ini dapat bermanfaat tidak
hanya bagi penulis juga bagi perkembangan kemajuan pengetahuan khususnya di bidang
vii
kedokteran gigi. Semoga semua pihak yang telah membantu jalannya Karya Tulis Ilmiah ini
Penulis
viii
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
x
xi
DAFTAR TABEL
xii
DAFTAR SINGKATAN
xiii
ABSTRAK
Glass Ionomer Cement ialah bahan restoratif yang umum digunakan pada bidang
kedokteran gigi karena sifat menguntungkannya. Di pasaran sendiri terdapat berbagai merek
Glass Ionomer Cement yang beredar dengan rentang harga yang berbeda-beda. Dengan
adanya perbedaan harga pada Glass Ionomer Cement, maka performa dan kemampuan
klinisnya perlu diperhatikan. Penelitian berikut bertujuan untuk mengetahui perbedaan
kekuatan tekan Glass Ionomer Cement dari berbagai segmen harga pada beberapa merk yang
berbeda.
Metode penelitian berikut berjenis analitik eksperimental dengan rancangan penelitian
post-test only design group. Glass Ionomer Cement dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan
merknya yaitu FUJI IX, FX ULTRA, Ionglass R, dan Shangchi yang masing-masing
berjumlah 6 sampel. Sampel dipersiapkan kemudian disimpan selama 24 jam. Sampel
dilakukan pengujian kekuatan tekan dengan alat Universal Testing Machine. Data yang
diperoleh kemudian dilakukan uji statistik Saphiro-Wilk dan Post-Hoc.
Hasil penelitian menunjukkan dari beberapa merk Glass Ionomer Cement
Konvensional Tipe II terdapat perbedaan nilai kekuatan tekan yang signifikan dari tiap
kelompok uji (p<0.05), kecuali untuk merk Fuji IX dengan FX Ultra dan merk Ionglass R
dengan Shangchi (p>0.05).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan nilai kekuatan tekan pada
beberapa merk Glass Ionomer Cement Konvensional Tipe II. Hasil penelitian menjelaskan
rerata nilai kekuatan tekan merk Fuji IX (37,818 MPa) lebih tinggi dibanding kelompok
lainnya. Posisi kedua yaitu kelompok Glass Ionomer Cement merk FX Ultra (33,307 MPa),
kemudian posisi ketiga adalah kelompok Glass Ionomer Cement merk Ionglas R (16,852
MPa). Kekuatan tekan paling rendah ditempati kelompok Glass Ionomer Cement merk
Shangchi (11,412 MPa).
xiv
ABSTRACT
xv
BAB I
PENDAHULUAN
Kesehatan adalah bagian terpenting dalam hidup manusia. Selain kesehatan tubuh
secara umum, kesehatan gigi juga perlu diperhatikan. Kesehatan gigi merupakan bagian
fundamental dalam kesehatan secara umum karena dapat memengaruhi kesehatan tubuh
kesehatan gigi meskipun hal tersebut sebenarnya merupakan bagian vital dalam
Salah satu masalah pada kesehatan gigi adalah karies gigi. Karies gigi adalah
penyakit infeksi yang merusak jaringan keras gigi yaitu email, dentin, dan sementum.
Salah satu penyebab karies gigi adalah adanya penumpukan plak (Listrianah, 2017).
Dampaknya, gigi menjadi keropos, berlubang, bahkan patah (Widayati, 2014). Hal
tersebut tentu mengganggu produktivitas individu karena menyebabkan rasa sakit, dan
juga dapat memengaruhi beberapa penyakit sistemik (Bebe & Susanto, 2018).
ْال َه َر ُم
1
2
yang ada di dunia ini. Termasuk dengan penyakit gigi dan mulut yang mana dapat diatasi.
Salah satu upaya penanggulangan karies ialah dengan melakukan penumpatan sebagai
upaya konservatif.
Penumpatan gigi merupakan suatu tindakan restorasi gigi dengan cara membuang
jaringan karies dan meletakan bahan restorasi pada gigi yang mengalami kerusakan.
Bahan restorasi yang sewarna dengan gigi yang sering digunakan pada fasilitas kesehatan,
puskesmas maupun rumah sakit salah satunya yaitu Glass Ionomer Cement (GIC)
(Lengkey, Mariati and Pangemanan, 2015). Glass Ionomer Cement konvensional sering
digunakan dalam bidang kedokteran gigi sebagai material restorasi karena biokompatibel
dengan jaringan pulpa, berikatan dengan baik terhadap struktur gigi, serta melepaskan
Glass Ionomer Cement sudah umum digunakan pada pelayanan kesehatan seperti
puskesmas, klinik maupun rumah sakit umum daerah yang mana telah menjadi program
Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan yang bebas biaya bagi pasien. Dengan ini, biaya
Hasil lain yang harus dipertimbangkan adalah keadaan gigi selanjutnya, walau dengan
bahan yang lebih murah tetapi tidak mengurangi keefektivitasannya (Bonifácio et al.,
2013). Di pasaran sendiri terdapat berbagai merek Glass Ionomer Cement yang beredar
3
dengan rentang harga yang berbeda-beda. Sebagai contoh Fuji IX dan FX Ultra memiliki
rentang harga yang cukup mahal. Sedangkan merk Ionglass R dan ShangChi memiliki
rentang harga yang lebih murah. Secara umum Glass Ionomer Cement lebih sering
digunakan daripada bahan seperti komposit karena dari segi ekonomi harga Glass
Ionomer Cement lebih ekonomis daripada komposit (Lengkey, Mariati and Pangemanan,
2015). Dengan adanya perbedaan harga pada Glass Ionomer Cement, maka performa
klinisnya perlu diperhatikan. Belum ada studi yang membandingkan Glass Ionomer
Selain kelebihan Glass Ionomer Cement yang telah disebutkan sebelumnya, Glass
Ionomer Cement juga mempunyai beberapa kelemahan seperti brittle (mudah rapuh),
lamanya waktu setting, memiliki ketahanan asam yang rendah, memiliki kekuatan tekan
yang rendah, serta mudah abrasi sehingga penggunaannya sebagai bahan restorasi
terbatas. (Sofiani, 2015; Kumala, Rachmawati and Sari, 2017). Kekuatan tekan adalah
kemampuan suatu material untuk menahan gaya yang menyebabkan rekahan. Kekuatan
tekan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kekerasan dan abrasinya suatu
material. Jika kekuatan tekan bertambah, maka kekerasan dan ketahanan material
terhadap abrasi ikut bertambah. Kekuatan tekan penting dalam memastikan bahwa sifat
mekanik material cukup kuat untuk menahan beban pengunyahan sehingga sangat
dibutuhkan untuk menahan gaya dalam proses pengunyahan. Glass Ionomer Cement
kovensional biasanya kurang dianjurkan untuk dipakai dalam merestorasi gigi beban
besar dikarenakan daya tahan yang rendah terhadap keausan yang dipengaruhi oleh sifat
kekuatan tekan permukaan (Roeroe, Wicaksono and ., 2015; Wajong, Damiyanti and
Irawan, 2017).
4
perbedaan kekuatan tekan Glass Ionomer Cement dari beberapa merk dengan segmen
harga berbeda.
Apakah terdapat perbedaan kekuatan tekan Glass Ionomer Cement dari berbagai segmen
Untuk mengetahui perbedaan kekuatan tekan Glass Ionomer Cement dari berbagai
a. Untuk mengetahui seberapa besar kekuatan tekan dari Glass Ionomer Cement
b. Untuk mengetahui seberapa besar kekuatan tekan dari Glass Ionomer Cement
c. Untuk mengetahui seberapa besar kekuatan tekan dari Glass Ionomer Cement
d. Untuk mengetahui seberapa besar kekuatan tekan dari Glass Ionomer Cement
mengenai perbedaan kekuatan tekan Glass Ionomer Cement dari berbagai segmen harga
Untuk memberikan gambaran bagi klinisi mengenai perbedaan kekuatan tekan Glass
Ionomer Cement dari berbagai segmen harga pada beberapa merk yang berbeda.
6
TINJAUAN PUSTAKA
fungsi dari gigi dengan cara melekat terhadap enamel serta dentin melalui suatu ikatan
kimia asam basa antara bubuk kaca aluminosilikat dan asam poliakrilat. Wilson dan Kent
memperkenalkan bahan restoratif Glass Ionomer Cement pada awal 1970 yang
merupakan suatu gabungan senyawa yang berasal dari semen silikat serta semen
estetika Glass Ionomer Cement terlihat lebih baik daripada restorasi logam. Tidak seperti
bahan restoratif lainnya, semen ini membutuhkan preparasi kavitas yang minimal karena
dapat mengikat secara adhesif pada struktur gigi. (Diansari, Ningsih and Moulinda, 2016;
Singh, 2017)
karena memiliki beberapa sifat yang menguntungkan. Sifat menguntungkan dari GIC
yang baik, rendahnya daya larut, sifat translusensi tinggi serta mempunyai sifat antibaktri.
Fluoride yang terlepas dari GIC membantu dapat mencegah karies atau pertumbuhan
karies (Roeroe et al., 2015). Namun Glass Ionomer Cement juga memiliki kekurangan,
penggunaannya dalam kedokteran gigi sebagai bahan restoratif di area penahan tekanan
8
9
dibatasi karena sifat mekanik yang buruk, seperti kekuatan fraktur yang rendah, kekuatan
tekan yang rendah, dan mudah abrasi (Kumala, Rachmawati and Sari, 2017; Singh, 2017).
Penggunaan Glass Ionomer Cement restoratif secara klinis meliputi rongga Kelas I, II, III
dan V pada gigi sulung serta rongga Kelas III dan V pada gigi permanen (Zhang, Braun
Glass Ionomer Cement konvensional terdiri dari dua komponen utama dalam
penggunaanya, yaitu bubuk atau powder dan cairan atau liquid. Komposisi utama dari
bubuk Glass Ionomer Cement adalah kaca aluminosilikat sedangkan komposisi utama
cairan Glass Ionomer Cement adalah larutan air dari polimer dan kopolimer asam
akrilat. Saat bubuk dicampur dengan air, bubuk asam poliakrilat masuk ke dalam
dan dapat larut dalam liquid yang bersiat asam. Kandungan powder dari Glass
Ionomer Cement konvensional terdiri dari silika (SiO2), aluminium fluorida (AlF3),
natrium fluorida (NaF), alumina (Al2O3), aluminium fluorida (AlF3), kalsium fluorida
(CaF2), aluminium fosfat (AlPO4) (Tabel 2.1). Bahan-bahan dasar tersebut akan
digabung dan akan membentuk suatu kaca yang tidak bervariasi atau sama dengan
stronsium, atau oksida seng ditambahkan dengan tujuan dapat membuat sifat
partikel berkisar antara 15–50 μm. Terdapat perbedaan manfaat darri bahan Glass
Inomer Cement yaitu terdapat di ukuran partikel. Material atau bahan yang berfungsi
10
GIC yang memiliki ukuran partikel untuk bahan bonding kurang dari 20 μm
Glass Ionomer Cement terdiri atas 50% larutan asam poliakrilat yang memiliki
viskositas tinggi ditandai dengan sangat kental serta mempunyai kecenderungan untuk
membentuk suatu gel. Glass Ionomer Cement yang beredar di pasaran saat ini, liquid
asamnya mempunyai bentuk kopolimer dengan asam maleik, itakonik, san juga
trikarbosilik. Asam-asam ini dinilai dapat membuat peningkatan reaktivitas dari liquid,
mampu mengurangi sifat yang kental, serta dapat mengurangi GIC menjadi suatu gel.
Liquid ini memiliki kandungan asam tartarik. Asam ini dapat melakukan karakteristik
dari manipulasi serta membuat peningkatan dari waktu kerja, namun hal ini berdampak
pada penurunan setting time. Viskositas yang terdapat di semen yang mengandung
asam tartarik tidak dapat mengalami adanya perubahan sesuai dengan berjalannya
waktu. Perubahan sifat kental dapat terjadi bila kadaluwarsa (Anusavice, 2013).
Reaksi setting Glass Ionomer Cement terdiri atas 3 fase, yaitu fase pelepasan ion,
fase hidrogel, serta fase gel poligaram. Dimulainya fase pelepasan dari ion saat
11
pencampuran bubuk dengan cairan untuk menjadi Glass Ionomer Cement. Dalam
proses ini asam akan menjadi larut dengan kaca dan berdampak pada pelepasan suatu
ion-ion seperti alumunium, kalsium, fluor dan natrium, sedangkan H2O mempunyai
Fase dilanjutkan dengan fase hydrogel dimulai 5–10 menit setelah pencampuran
hingga mulai setting. Pada fase hydrogel ditandai dengan ion kalsium yang
mempunyai muatan positif dilepaskan menjadi lebih cepat serta adanya reaksi dengan
membentuk suatu ikatan silang ion. Selama 24 jam berikutnya, ion-ion kalsium akan
digantikan oleh ion aluminium. Ion natrium dan fluor dari kaca tidak ikut bereaksi
dalam ikatan silang pada semen. Ion natrium juga akan menggantikan ion hidrogen
dari gugus karboksilat, serta ion fluor terdispersi dalam fase ikatan silang dalam
Fase yang terakhir merupakan suatu fase gel poligaram yang terjadi saat GIC
sudah mengalami setting total, fase ini mungkin bisa terjadi selama beberapa bulan.
Maturasi dari matriks semen saat ion [Al3+] yang dilepaskan mulai membentuk suatu
hidrogel poligaram menyelubungi suatu filler glass. Bagian partikel kaca yang tidak
dapat larut adalah bagian yang dilapisi oleh gel dari bahan silika dan terbentuk
dibagian permukaan partikel kaca. Hasil akhir dari semen set terdiri atas partikel kaca
yang tidak larut jika ada lapisan gel silika dan terendam dalam matriks amorf kalsium
terhidrasi serta polisalin aluminium yang mempunyai kandungan fluoride. Fase ini
menghasilkan peningkatan sifat fisik dari Glass Ionomer Cement (Anusavice, 2013).
12
Glass Ionomer Cement telah digunakan untuk restorasi estetik gigi anterior,
misalnya, area Kelas III dan V, sebagai semen luting, sebagai perekat untuk alat
ortodontik dan restorasi menengah, sebagai bahan restorative, liner dan base. Glass
mahkota jembatan, dan braket ortodontik. Pada tipe II dibagi menjadi 2 yaitu tipe IIa
dan tipe IIb, pada tipe IIa digunakan sebagai semen restoratif estetik sedangkan tipe
IIb adalah semen restorasi yang diperkuat. Tipe terakhir yaitu tipe III adalah semen
Secara kimiawi, jenis-jenis semen Glass Ionomer Cement bisa dikatakan identik.
Variasi biasanya terletak pada rasio bubuk dan liquid serta ukuran partikel. Glass
Ionomer Cement yang digunakan untuk luting memiliki rasio bubuk/cairan yang lebih
rendah dan ukuran partikel yang lebih kecil jika dibandingkan dengan varietas
restoratif. Fitur-fitur ini mengaktifkan luting Glass Ionomer Cement untuk memiliki
ketebalan lapisan film yang lebih tipis dan aliran yang lebih baik, sedangkan Glass
Ionomer Cement tipe II secara umum mempunyai sifat lebih keras dan kuat
dibandingkan tipe I, karena mempunyai rasio bubuk terhadap cairan lebih tinggi
(Manappallil, 2010).
1. GC Fuji IX
konvensional yang bekerja secara kimiawi berikatan dengan email dan dentin.
Merk ini tersedia dalam campuran powder-liquid dan kapsul yang telah diukur
Komposisi powder dari Fuji IX meliputi 95% alumino fluoro silicate glass dan 5%
bubuk asam polyacrilic, sedangkan untuk liquid mengandung 50% air distilasi,
40% asam poliakrilik, dan 10% asam polybasic carboxylic. GC Fuji IX memiliki
rasio antara powder dengan liquid 1:1. Waktu kerja untuk GC Fuji IX adalah 1,25
menit dari awal pencampuran. Finishing dapat dimulai sekitar 2,5 menit setelah
2. FX Ultra
diproduksi oleh Shofu Inc. Satu kemasan dari FX Ultra memiliki harga Rp.
pencampuran powder dan liquid untuk FX Ultra sendiri adalah 1:1. Waktu kerja
untuk FX Ultra adalah 2 menit 20 detik dari awal pencampuran, dan waktu
2013).
3. Ionglass R
cured yang diproduksi oleh Maquira Dental Products. Pada satu kemasan Ionglass
asam tartaric dan distilled water. Rasio pencampuran powder dan liquid dari
4. ShangChi
diproduksi oleh Changshu Shangchi Dental Materials Co., Ltd. Dalam satu
kemasan dari ShangChi terdapat powder 20 gr dan liquid 15 ml dengan harga Rp.
57.000,00. Powder dari ShangChi terdiri dari silicon oxide, kalsium, serta
15
fluoride, sedangkan komposisi liquid terdiri dari asam poliakrilik, asam tartaric,
dan asam fosfat. Rasio pencampuran antara powder dan liquid pada ShangChi
adalah 2:1.
Glass Ionomer Cement adalah semen berbasis air yang terbentuk melalui reaksi
asam-basa antara bubuk aluminosilikat kaca dengan asam poliakrilik sebagai likuid.
Sifat utama Glass Ionomer Cement adalah mampu melekat pada email dan dentin
dengan jaringan periodontal dan pulpa, pelepasan fluor yang bereaksi baik sebagai
sedikit, dan koefisien ekspansi termal sama dengan struktur gigi, sehingga
Pangemanan and Fitriyana, 2014). Waktu setting dari awal pencampuran adalah 6-8
menit, namun untuk mencapai setting yang tuntas, Glass Ionomer Cement
tekan pada enamel adalah 100-380 Mpa sedangkan dentin sebesar 250-350 Mpa
([Link] et al., 2008; O'brien, 2002). Menurut ISO 9917–1 kekuatan tekan dari
Glass Ionomer Cement yang dapat beredar di pasaran adalah minimal 100 MPa untuk
tipe restorative dan 70 MPa untuk tipe luting. (Sidhu et al., 2016). Kekurangan lain
dari Glass Ionomer Cement adalah seperti ketahanan aus yang rendah, kekuatan
fraktur yang rendah, sifat mekanis yang rendah, dan sensitivitas kelembaban awal
yang tinggi. Batasan ini telah membatasi penggunaan Glass Ionomer Cement
16
konvensional di area yang menahan tekanan tinggi seperti pada gigi posterior
f. Adhesi
Kata adhesi berasal dari bahasa latin adhaerere (menempel). Adhesi didefinisikan
sebagai keadaan di mana dua permukaan disatukan oleh gaya antarmuka, yang dapat
terdiri dari gaya valensi, atau gaya yang saling terkait, sedangkan permukaan bahan
berikatan secara fisiko-kimia dengan struktur gigi. Ikatan fisiko-kimia ini terbentuk
dengan adanya adhesi antara Glass Ionomer Cement dan struktur gigi. (Sungkar,
2014). Ionomer kaca berikatan ke struktur gigi melalui pengelatan gugus karboksil
dari asam poliakrilat dengan kalsium apatit email dan dentin. Ikatan email selalu lebih
tinggi dari pada dentin, mungkin karena kandungan anorganik email yang lebih besar
Terdapat dua jenis mekanisme adhesi pada Glass Ionomer Cement, yaitu secara
difusi dan adsorpsi. Pada mekanisme adsorpsi, terjadi ikatan kimiawi antara adhesive
(bahan perekat) dan adherent (bahan yang melekat); gaya yang terlibat dapat berupa
gaya valensi primer (ionik dan kovalen) atau gaya valensi sekunder (ikatan hidrogen,
interaksi dipol, atau van der Waals). Ini akan melibatkan ikatan kimiawi dengan
I) dari struktur gigi. Sedangkan pada mekanisme difusi adalah hasil dari ikatan antara
molekul-molekul yang bergerak. Polimer dari masing-masing sisi dari interface dapat
menyeberangi dan bereaksi dengan molekul-molekul pada sisi yang lain. Pada
17
akhirnya, interface akan hilang dan dua bagian akan menjadi satu (Heyman et al.,
2014).
struktur di jaringan salah satunya jaringan keras gigi dengan cara menghasilkan suatu
mekanisme yang kompleks. Tahapan awal dari adhesi Glass Ionomer Cement terjadi
dengan adanya suatu ikatan hydrogen. Ikata hydrogen ada karena terjadi suatu
interaksi polar. Interaksi polar ini adalah interaksi antara jaringan keras gigi gigi
dengan material Glass Ionomer Cement saat dilakukan aplikasi. Ikatan hidrogen
kemudian akan diganti oleh suatu ikatan kimia dengan ikatan yang jauh lebih kuat.
Ikatan yang akan menggantikan adalah suatu ikatan ion. Ikatan ion tercipta karena
adnaya reaksi dari ion-ion karboksil [COO-] dari asam di Glass Ionomer Cement
dengan ion kalsium [Ca2+] yang ada pada email dan dentin gigi. Ion fosfat
mempunyai sifat muatan negatif [(PO4)3-] dan ion kalsium mempunyai sifat positif
[Ca2+]. Ion fosfat akan melakukan perpindahan dari struktur gigi (hidroksiapatit)
kemudian memasuki semen, serta dapat membuat hasil berupa lapisan di antara Glass
Ionomer Cement dengan jaringan keras gigi. Lapisan ini disebut juga lapisan
Lapisan pertukaran ion terdiri dari ion-ion kalsium dan fosfat dari jaringan keras gigi
yaitu ion-ion aluminium, silika, fluor, kalsium, dan strontium dari Glass Ionomer
A. Definisi
Kekuatan tekan merupakan kemampuan dari suatu bahan untuk menahan tekanan
yang diberikan pada benda tersebut. Kekuatan tekan adalah kekuatan yang dinilai saat
bahan tersebut menahan beban hingga berdampak pada penurunan ukuran bahan
hingga terjadi fraktur. Kekuatan tekan dapat diaplikan untuk melakukan perbandingan
material yang mudah patah dan mempunyai tegangan yang lemah (Sakaguchi and
Powers, 2012). Kekuatan tekan adalah suatu sifat mekanis yang diperlukan pada bahan
difokuskan pada gigi bagian posterior. Apabila beban yang diberikan terhadap bahan
restorasi lebih besar dari kekuatan material itu berdampak pada fraktur di bahan
2.1). Untuk menghitung tegangan tekan, gaya yang diberikan dibagi dengan luas
penampang tegak lurus sumbu gaya yang diberikan (Anusavice, 2013). Kekuatan tekan
dihasilkan dari dua gaya dengan arah menuju satu sama lainnya pada suatu garis lurus.
Universal Testing Machine dapat menganalisa sifat material seperti tarikan (tension),
Cara kerja dari alat Universal Testing Machine dengan cara meletakkan sampel
tepat di tengah meja uji. Mata uji atau indentor diletakkan pada posisi tepat di atas
sampel sehingga ujung mata uji menyentuh permukaan sampel, kemudian dilakukan
19
pemberian tekanan sehingga mata uji bergerak turun dan menekan sampel. Pemberian
tekanan dilakukan sampai sampel pecah. Jika sampel telah fraktur, maka pemberian
beban harus berhenti. Besar tekanan yang diberikan tercatat pada layar digital,
kemudian besar tekanan tersebut dimasukkan ke dalam rumus kekuatan tekan: (Andari
𝑃
𝐶𝑆 =
𝜋𝑟 2
Keterangan: CS= kekuatan tekan (MPa), P= beban yang diberikan (N), r= jari-jari
Glass Ionomer
Cement
Mekanisme Setting
Ketahanan di Dalam
Rongga Mulut
21
Beberapa merk
Kekuatan Tekan
Glass Ionomer Cement
2.4 Hipotesis
Hipotesis penelitian berikut adalah adanya perbedaan kekuatan tekan yang signifikan
METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Post Test Only Design Group.
Variabel terikat penelitian berikut adalah kekuatan tekan Glass Ionomer Cement.
Variabel bebas penelitian berikut adalah beberapa merk Glass Ionomer Cement
22
23
Kekuatan tekan adalah kemampuan suatu material untuk menahan gaya yang
menyebabkan rekahan (Roeroe et al., 2015). Pada penelitian ini nilai kekuatan tekan
pada beberapa merk Glass Ionomer Cement akan diukur menggunakan Universal
dalam bidang kedokteran gigi dan telah umum digunakan pada pelayanan kesehatan.
Di pasaran sendiri terdapat berbagai macam merk Glass Ionomer Cement dengan
rentang harga yang berbeda. Pada penelitian ini menggunakan Glass Ionomer Cement
Sampel yang digunakan pada penelitian berikut yaitu Glass Ionomer Cement
(t-1)(r-1) ≥15
(t-1)(r-1)≥15
(4-1)(r-1)≥15
3(r-1)≥15
3r-3≥15
3r≥18
r≥6
b. Glass plate
c. Paper pad
e. Agate spatel
f. Semen stopper
g. Celluloid strip
h. Beban 0,5 kg
i. Scalpel
j. Wadah spesimen
k. Label
l. Pinset
m. Tissue
n. Timer
e. Vaseline
26
c. Manipulasi Glass Ionomer Cement sesuai dengan takaran standar pabrik dari
masing-masing merk
1) Rasio powder dan liquid untuk satu sampel yaitu 2 kali dari standar
rasio aturan pabrik. Glass Ionomer Cement merk GC Fuji IX, FX Ultra,
detik kemudian masukkan sisa powder dan diaduk selama 15-20 detik
e. Bagian atas cetakan dilapisi celluloid strip dan diberi beban 0,5 kg sampai
mengeras
scalpel
27
𝑃
𝐾𝑒𝑘𝑢𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑘𝑎𝑛 =
𝜋𝑟 2
Keterangan:
π = konstanta 3,14
28
Analisa hasil
29
Data dari uji kekuatan tekan yang didapatkan kemudian dilakukan uji normalitas
menggunakan uji Saphiro-Wilk karena jumlah sampel tidak lebih dari 50 Lalu dilakukan
uji homogenitas menggunakan uji Levene’s Test. Jika pada uji normalitas dan
homogenitas didapatkan data yang terdistribusi normal, maka dilanjutkan dengan uji One
Way Annova. Apabila didapatkan data yang tidak terdistribusi normal, maka dilakukan uji
Kruskal-Wallis. Kemudian apabila dalam uji One Way Annova atau uji Kruskal-Wallis
terdapat perbedaan yang signifikan maka dapat dilanjutkan dengan uji Post Hoc.
30
BAB IV
FKG/XI/2021. Pada penelitian ini telah dilakukan uji kekuatan tekan pada 4 merk Glass
Ionomer Cement. Hasil penelitian mengenai uji kekuatan tekan dari beberapa merk Glass
Ionomer Cement Konvensional Tipe II memiliki nilai rata-rata seperti pada tabel berikut:
Tabel 4. 1 nilai rata-rata kekuatan tekan beberapa merk Glass Ionomer Cement
Kelompok Glass Ionomer Cement merk Fuji IX memiliki kekuatan tekan paling tinggi
dibandingkan kelompok Glass Ionomer Cement lainnya yaitu 37,818 MPa, posisi kedua
yaitu kelompok Glass Ionomer Cement merk FX Ultra sebesar 33,307 MPa, kemudian
posisi ketiga adalah kelompok Glass Ionomer Cement merk Ionglas R dengan kekuatan
tekan 16,852. Kekuatan tekan paling rendah ditempati kelompok Glass Ionomer Cement
dari beberapa merk Glass Ionomer Cement perlu dilakukan uji normalitas serta uji
homogenitas terlebih dahulu. Hasil dari uji normalitas kekuatan tekan dari beberapa merk
Fuji IX ,101
Ionglass R ,830
Shangchi ,919
Keterangan: *Signifikan
Pada tabel 4.2 terlihat bahwa nilai uji normalitas dan dan homogenitas p >0,005
yang artinya data terdistribusi normal dan homogen. Sehingga dilanjutkan dengan uji
One-Way ANOVA. Pada uji One-Way ANOVA didapatkan nilai signifikansi p = 0.000
yang artinya terdapat perbedaan kekuatan tekan yang signifikan di antara kelompok uji.
Dilakukan uji lanjutan Post-Hoc untuk membandingkan kekuatan tekan antar kelompok.
Hasil uji Post-Hoc pada tabel 4.3 dari beberapa merk Glass Ionomer Cement
Konvensional Tipe II menunjukkan perbedaan nilai kekuatan tekan yang signifikan dari
tiap kelompok uji (p<0.05), kecuali untuk merk Fuji IX dengan FX Ultra dan merk
perbedaan nilai kekuatan tekan pada beberapa merek Glass Ionomer Cement
Konvensional Tipe II. Perbedaan yang signifikan didapatkan antara kelompok segmen
harga tinggi (Fuji IX, FX Ultra) dengan segmen harga yang lebih rendah (Ionglass R,
Shangchi). Dimana didapatkan nilai kekuatan tekan merek Fuji IX tidak berbeda secara
signifikan dengan merek FX Ultra, begitu halnya antara merek Ionglass R dengan
Shangchi.
4.2 Pembahasan
tekan pada beberapa merk Glass Ionomer Cement Konvensional Tipe II. Hasil analisa
statistik didapatkan nilai kekuatan tekan Glass Ionomer Cement merk Fuji IX (37,8200
MPa) dan merk FX Ultra (33,307) memiliki nilai kekuatan tinggi yang tinggi. Sedangkan
untuk Glass Ionomer Cement merk Ionglass R (16,8533 MPa) dan merk Shangchi
(11,4100 MPa) memiliki nilai kekuatan tekan yang cenderung rendah dibandingkan
dengan dua merk lainnya. Kekuatan tekan merupakan salah satu indikator penting karena
kekuatan tekan yang tinggi diperlukan untuk menahan beban tekan mastikasi (Cho et al.,
1999). Kekuatan tekan adalah kemampuan suatu material dalam menahan beban
gigi perlu memiliki daya tahan jangka panjang dalam rongga mulut. Kekuatan tekan yang
rendah akan menyebabkan kegagalan restorasi secara klinis yang salah satunya
33
dipengaruhi oleh beban kunyah, proses polimerisasi, jenis Glass Ionomer Cement, dan
Diketahui bahwa variasi rasio powder terhadap liquid Glass Ionomer Cement
memengaruhi sifat fisik dan mekanik dari material. Rasio powder dengan liquid yang
lebih tinggi dapat meningkatkan viskositas atau kekentalan dari Glass Ionomer Cement
((Yap, et al., 2003)). Glass Ionomer Cement yang memiliki viskositas tinggi memiliki
sifat mekanik yang lebih baik (Yap, et al., 2003). Faktor eksternal yang turut
memengaruhi viskositas yaitu suhu, kelembaban lingkungan pada saat mixing, waktu, dan
Faktor lain yang memengaruhi kekuatan tekan yaitu jenis Glass Ionomer Cement.
Beberapa jenis Glass Ionomer Cement memiliki perbedaan pada ukuran partikel, setting
time
R fluorosilicate [Link]
3. calcium
4. aluminium
Shangchi 1. SiliconOxid-e, 1. Asam akrilat, 2,0g:1.0g 6 menit Rp.
2. Calcium- 2. Asam-Tartarat
Fluoride 3. Asam Fosfat
[Link]
Hasil analisis statistik menunjukkan perbedaan nilai kekuatan tekan dari beberapa
merk Glass Ionomer Cement Konvensional Tipe II. Pada hasil analisis statistic didapatkan
nilai kekuatan tekan Glass Ionomer Cement merk Fuji IX (37.818 MPa), merupakan nilai
kekuatan tekan tertinggi dibanding dengan merk lainnya. Glass Ionomer Cement merk
Fuji IX memiliki nilai kekuatan tekan tertinggi dari merk lainnya. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan komposisinya (Xie et al., 2000). Komposisi utama Glass Ionomer Cement
adalah polimer asam seperti asam polyalkenoik, komposisi kedua yakni glass yang akan
bereaksi dengan asam, dan komposisi ketiga yaitu air (Sidhu and Nicholson, 2016). Pada
Glass Ionomer Cement merk Fuji IX terdapat komposisi tambahan yang berbeda dari
merk lainnya yaitu Strontium (Sr). Keberadaan strontium pada senyawa kaca mampu
meningkatkan kemampuan mekanik serta kinerja klinis dan karakteristik biologis dari
semen (Khaghani et al., 2013). Strontium dapat bersubtitusi dengan kalsium di dalam
komposisi dari struktur hidroksi apatit. Subtitusi ini terjadi agar hidroksi apatit dapat
berasimilasi dengan struktur komposisi kimia dari gigi sehingga meningkatkan sifat-sifat
Faktor lainnya yang memengaruhi kekuatan yaitu setting time, pada Glass
Ionomer Cement merk Fuji IX memiliki setting time lebih cepat dari merk-merk lain yaitu
2 menit 20 detik. Reaksi setting yang lebih cepat dapat menghasilkan sifat mekanik yang
unggul dan memiliki ketahanan aus yang baik sehingga dapat mencapai kekuatan yang
35
cukup untuk menahan beban pengunyahan (Yap, et al., 2003). Glass Ionomer Cement
posterior dan diketahui memiliki viskositas tinggi sehingga memiliki sifat fisik yang baik
(Upadhya P and Kishore, 2005). Namun, dari segi ekonomis merk Fuji IX memiliki harga
jual yang paling tinggi dibandingkan dengan merk lainnya yakni Rp. [Link] dengan
kemasan powder 15gr dan liquid 6,4 ml yang mana hampir sama seperti kemasan merk
Salah satu hal yang dapat memengaruhi kekuatan tekan Glass Ionomer Cement
merk FX Ultra yakni FX Ultra memiliki kandungan polyacrilic acid pada powder yang
mana dapat meningkatkan sifat mekanik dari kekuatan tekan (Kaga et al., 2020). Selain
itu Glass Ionomer Cement merk FX Ultra memiliki rasio powder 2,7gr : liquid 1,0g yang
mana lebih rendah dari merk Fuji IX dan lebih tinggi dari merk Ionglass R dan Shangchi.
Hal tersebut berhubungan dengan kecepatan reaksi setting dimana Glass Ionomer Cement
merk FX Ultra memiliki kecepatan setting time 2 menit 30 detik yang mana lebih cepat
dari merk Ionglass R dan Shangchi namun lebih lama 10 detik dibandingkan merk Fuji
IX. Glass Ionomer Cement merk FX Ultra dengan kekuatan tekan di bawah merk Fuji IX
dari segi ekonomis mempunyai harga jual Rp. [Link] yang cukup jauh lebih terjangkau
Kekuatan tekan Glass Ionomer Cement merk Ionglass R dapat dipengaruhi dari
rasio powder dan liquid yang mana merk Ionglass R memiliki rasio powder dan liquid
yang lebih rendah dari Fuji IX dan FX Ultra dengan rasio powder 2,5gr : liquid 1,0g yang
memengaruhi kecepatan setting time, setting time Ionglass R yaitu 4 menit yang mana
lebih lama dari merk Fuji IX dan FX Ultra. Tetapi dari segi ekonomis harga jual Ionglass
36
R sebesar Rp. [Link] dengan kemasan powder 10gr : liquid 8g dengan harga yang jauh
Glass Ionomer Cement merk Shangchi memiliki nilai kekuatan tekan (11.4100
MPa) yang merupakan nilai kekuatan tekan paling rendah dari Glass Ionomer Cement
merk lainnya. Hal ini dapat dipengaruhi oleh rasio powder dan liquid dimana merk
Shangchi memiliki rasio powder dan liquid yang lebih rendah dari merk lainnya yaitu
rasio powder 2.0gr : liquid 1.0g. Semua bahan dengan rasio powder dan liquid yang sama
atau di bawah 2:1 dianggap memiliki viskositas atau kekentalan yang rendah sehingga
memiliki kekuatan mekanik berupa kekuatan tekan yang lebih rendah (Menezes-Silva et
al., 2020). Glass Ionomer Cement merk Shangchi memiliki setting time 6 menit yang
mana lebih lama dari merk-merk lainnya. Dengan nilai kekuatan tekan yang paling rendah
merk Shangchi memiliki harga jual yang jauh berbeda dan paling terjangkau dibanding
merk lainnya yakni Rp. [Link] dengan kemasan yang lebih banyak dari merk lain yaitu
terdapat perbedaan nilai kekuatan tekan pada beberapa merk Glass Ionomer Cement
Konvensional Tipe II merk Fuji IX, FX Ultra, Ionglass R, dan Shangchi. Bahan restorasi
gigi memiliki peran utama untuk menggantikan struktur gigi yang hilang, penting untuk
bahan restorasi memiliki sifat mekanik yang baik sehingga mengarah ke daya tahan
secara jangka panjang di rongga mulut (Khodadadi et al., 2015). Dengan kekuatan tekan
yang tinggi ketahanan dari bahan restoratif akan lebih baik karena material mampu
menahan beban mastikasi dimana proses pengunyahan di dalam rongga mulut merupakan
tekanan yang rutin dan alamiah (Menezes-Silva et al., 2020). Berdasarkan hasil penelitian
37
perbedaan segmen harga antar merk menunjukkan kualitas yang berbeda. Glass Ionomer
Cement dengan segmen harga yang lebih tinggi (Fuji IX, FX Ultra) menunjukkan kualitas
yang lebih baik dan kuat dibanding Glass Ionomer Cement dengan segmen harga yang
lebih rendah (Ionglass R, Shangchi). Hal ini disebabkan pada Glass Ionomer Cement
dengan segmen harga yang tinggi memiliki komposisi yang lebih lengkap seperti
kandungan Strontium pada merk Fuji IX. Selain itu pada Glass Ionomer Cement segmen
harga tinggi juga memiliki rasio powder dengan liquid yang lebih tinggi dibandingkan
dengan Glass Ionomer Cement segmen harga yang lebih rendah. Hal tersebut berdampak
pada keunggulan sifat mekanik dan kekuatan dari Glass Ionomer Cement yang dihasilkan.
38
BAB V
5.1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian terkait perbedaan nilai kekuatan tekan pada beberapa
merk Glass Ionomer Cement Konvensional Tipe II, maka dapat disimpulkan
bahwa:
5.2 Saran
Hasil dari penelitian yang di lakukan, maka peneliti memberi sejumlah saran
sebagai berikut:
Albers, H. F. (2002) ‘Tooth-colored restoratives : principles and techniques Medicine and the
internet — the essential guide for doctors’, BC Deker Inc, (9 Edition).
Andari, E. S., Wulandari, E. and Robin, D. M. C. (2014) ‘Efek Larutan Kopi Robusta terhadap
Kekuatan Tekan Resin Komposit Nanofiller (The Effect of Robusta Coffee Solution to
Nanofilled Composite Resin Compressive Strength)’, Stomatognatic (J.K.G Unej), 11(1),
pp. 6–11.
Anusavice (2013) Phillips’ Science of Dental Materials.
Aryanto, M., Armilia, M. and Aripin, D. (2013) ‘Compressive strength resin komposit hybrid
post curing dengan light emitting diode menggunakan tiga ukuran lightbox yang berbeda’,
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi), 46(2), p. 101. doi:
10.20473/[Link].v46.i2.p101-106.
Bohner DDS, MSc, Ph, L. O. L. and Prates, L. H. M. (2018) ‘Compressive Strength of a Glass
Ionomer Cement Under the Influence of Varnish Protection and Dietary Fluids’, Odovtos
- International Journal of Dental Sciences, 20(3), pp. 61–69. doi:
10.15517/ijds.2018.33607.
Bonifácio, C. C. et al. (2013) ‘The effect of GIC-brand on the survival rate of proximal-art
restorations’, International Journal of Paediatric Dentistry, 23(4), pp. 251–258. doi:
10.1111/j.1365-263X.2012.01259.x.
BRESCIANI, E. et al. (2004) ‘Compressive and Diametral Tensile Strength’, 12(4), pp. 344–348.
Cho, G. C. et al. (1999) ‘Diametral and compressive strength of dental core materials.’, The
Journal of prosthetic dentistry, 82(3), pp. 272–276. doi: 10.1016/S0022-3913(99)70079-
X.
Diansari, V., Ningsih, D. S. and Moulinda, C. (2016) ‘Evaluasi kekasaran permukaan Glass
Ionomer Cement (GIC) konvensional setelah perendaman dalam minuman berkarbonasi’,
J. Cakradonya Dent, 8(2), pp. 111–116.
Fitriyana, D. C., Pangemanan, D. H. C. and . J. (2014) ‘Uji Pengaruh Saliva Buatan Terhadap
Kekuatan Tekan Semen Ionomer Kaca Tipe Ii Yang Direndam Dalam Minuman
Isotonik’, e-GIGI, 2(2). doi: 10.35790/eg.2.2.2014.5900.
Garain, R., Abidi, M. and Mehkri, Z. (2020) ‘Compressive and Flexural Strengths of High-
strength Glass Ionomer Cements: A Systematic Review’, International Journal of
Experimental Dental Science, 9(1), pp. 25–29. doi: 10.5005/jp-journals-10029-1207.
Heyman HO, Swift EJ, R. A. (2014) ‘Sturdevant’s Art and Science of Operative Dentistry -
South Asian Edition’, (July 2013), pp. 25–48.
Juliatri, J., Pangemanan, D. H. C. and Fitriyana, D. C. (2014) ‘Saliva buatan meningkatkan
kekuatan tekan semen ionomer kaca tipe II yang direndam dalam minuman isotonik
40
41
(Artificial saliva increases the compressive strength of glass ionomer cement type II
soaked in isotonic drinks)’, Journal of Dentomaxillofacial Science, 13(2), p. 101. doi:
10.15562/jdmfs.v13i2.397.
Kaga, N. et al. (2020) ‘Protective effects of GIC and S-PRG filler restoratives on
demineralization of bovine enamel in lactic acid solution’, Materials, 13(9). doi:
10.3390/ma13092140.
Kumala, Y. R., Rachmawati, D. and Sari, A. A. (2017) ‘Modifikasi Resin Nano Dan Modifikasi
Resin’, ODONTO Dental Journal, 4, pp. 7–12.
Kutuk, Z. B. et al. (2019) ‘Mechanical properties and water sorption of two experimental glass
ionomer cements with hydroxyapatite or calcium fluorapatite formulation’, Dental
Materials Journal, 38(3), pp. 471–479. doi: 10.4012/dmj.2018-085.
Lengkey, C. H. E., Mariati, N. W. and Pangemanan, D. H. C. (2015) ‘Gambaran Penggunaan
Bahan Tumpatan Di Poliklinik Gigi Puskesmas Kota Bitung Tahun 2014’, e-GIGI, 3(2).
doi: 10.35790/eg.3.2.2015.9601.
Manappallil, J. (2010) Basic Dental Materials, Basic Dental Materials. doi:
10.5005/jp/books/11146.
Menezes-Silva, R. et al. (2020) ‘Correlation between mechanical properties and stabilization time
of chemical bonds in glass-ionomer cements’, Brazilian Oral Research, 34, pp. 1–12. doi:
10.1590/1807-3107BOR-2020.VOL34.0053.
Moheet, I. A. et al. (2018) ‘Evaluation of mechanical properties and bond strength of nano-
hydroxyapatite-silica added glass ionomer cement’, Ceramics International, 44(8), pp.
9899–9906. doi: 10.1016/[Link].2018.03.010.
Okada, K. et al. (2001) ‘Surface hardness change of restorative filling materials stored in saliva’,
Dental Materials, 17(1), pp. 34–39. doi: 10.1016/S0109-5641(00)00053-1.
Özbek, Y. Y., Baştan, F. E. and Üstel, F. (2016) ‘Synthesis and characterization of strontium-
doped hydroxyapatite for biomedical applications’, Journal of Thermal Analysis and
Calorimetry, 125(2), pp. 745–750. doi: 10.1007/s10973-016-5607-3.
Roeroe, V. M., Wicaksono, D. A. and . J. (2015) ‘Gambaran Kekuatan Tekan Bahan Tumpatan
Semen Ionomer Kaca Yang Direndam Dalam Minuman Beralkohol’, e-GIGI, 3(1). doi:
10.35790/eg.3.1.2015.6408.
Sakaguchi, R. L. and Powers, J. M. (2012) Craig ’s Restorative Dental Materials Thirteenth
Edition.
Shiozawa, M. et al. (2013) ‘Effect of calcium chloride solution immersion on surface hardness of
restorative glass ionomer cements’, Dental Materials Journal, 32(5), pp. 828–833. doi:
10.4012/dmj.2013-143.
Sidhu, S. and Nicholson, J. (2016) ‘A Review of Glass-Ionomer Cements for Clinical Dentistry’,
Journal of Functional Biomaterials, 7(3), p. 16. doi: 10.3390/jfb7030016.
Singh, S. (2017) ‘A Comparative Evaluation of Sorption, Solubility, and Compressive Strength
of Three Different Glass Ionomer Cements in Artificial Saliva: An in vitro Study’,
42
International Journal of Clinical Pediatric Dentistry, 10(1), pp. 49–54. doi: 10.5005/jp-
journals-10005-1407.
Sofiani, E. (2015) ‘PERBEDAAN KEKUATAN TEKAN PADA PENGGUNAAN GLASS
IONOMER CEMENT ( GIC ) HIGH STRENGTH DAN SMART DENTIN
REPLACEMENT ( SDR ) PADA CLOSE SANDWICH TECHNIQUE Pemilihan bahan
restorasi yang tepat disesuaikan pada seleksi kasus yang ada . Karies yang sering muncul’,
pp. 1–8.
Sungkar, S. (2014) ‘Peran Kondisioner Pada Ahesi Bahan Restorasi Semen Ionomer Kaca
Dengan Struktur Dentin’, Cakradonya Dent J, 6(2), pp. 678–744.
Upadhya P, N. and Kishore, G. (2005) ‘Glass ionomer cement - The different generations’,
Trends in Biomaterials and Artificial Organs, 18(2), pp. 158–165.
Wajong, K. H., Damiyanti, M. and Irawan, B. (2017) ‘The effects of shelf life on the compressive
strength of resin-modified glass ionomer cement’, Journal of Physics: Conference Series,
884(1). doi: 10.1088/1742-6596/884/1/012101.
Yap, A. U. J., Pek, Y. S. and Cheang, P. (2003) ‘Physico-mechanical properties of a fast-set
highly viscous gic restorative’, Journal of Oral Rehabilitation, 30(1), pp. 1–8. doi:
10.1046/j.1365-2842.2003.01006.x.
Zhang, J., Braun, P. and Banerjee, A. (2020) ‘In vitro compressive strength and edge stability
testing of directly repaired glass-ionomer cements’, Clinical Oral Investigations, 24(9),
pp. 3029–3038. doi: 10.1007/s00784-019-03170-x.