Norma dan UUD NRI 1945 untuk SMP
Norma dan UUD NRI 1945 untuk SMP
Bab II
Norma dan Uud Nri
Tahun 1945
Tujuan Pembelajaran:
1. Peserta didik mampu menghayati dan menjelaskan pentingnya norma
dan hubungannya dengan Undang-Undang Dasar.
2. Peserta didik mampu menjelaskan perumusan, pengesahan, dan per
ubahan UUD NRI Tahun 1945.
3. Peserta didik berdisiplin menjalankan hak dan kewajibannya sehari-hari.
Pembelajaran:
Kontekstual
TP1: Peserta & Inkuiri
didik mampu Penilaian:
menjelaskan Norma Sikap &
pentingnya Masyarakat Keterampilan
norma dan
hubungannya Pembelajaran:
dengan Undang- Kontekstual &
Undang Dasar Diskusi Kelom
Hak dan
Kewajiban pok Penilaian:
dalam Norma Sikap &
Keterampilan
TP2: Peserta
didik mampu Pembelajaran:
Undang- Kontekstual &
menjelaskan
Capaian Undang Da
perumusan, Bermain Peran
Pembel sar sebagai Penilaian:
pengesahan, dan
ajaran perubahan UUD
Norma Dasar Sikap &
NRI Tahun 1945 Pengetahuan
Perumusan Pembelajaran:
dan Penge Kontekstual
sahan UUD & Presentasi
NRI Tahun Penilaian:
1945 Sikap &
TP3: Peserta
Pengetahuan
didik berdisiplin
menjalankan
hak dan Pembelajaran:
Amendemen Diskusi Kelom
kewajibannya UUD NRI
sehari-hari pok & Pre
Tahun 1945 sentasi Peni
laian: Sikap &
Pengetahuan
36 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
A. Pendahuluan
Bab ini menguraikan aspek norma secara menyeluruh, terutama dalam
kaitannya dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945 (UUD NRI Tahun 1945) sebagai norma dasar negara. Bahasan diawali
dengan uraian tentang norma masyarakat, hak dan kewajiban pada norma,
hingga mencakup berbagai aspek terkait UUD NRI Tahun 1945. Penekanannya
adalah pentingnya norma untuk mengatur kehidupan bermasyarakat hingga
berbangsa dan bernegara agar tercipta ketertiban bersama.
Untuk mempermudah penjelasan pada siswa, UUD NRI Tahun 1945 sebagai
konstitusi tertulis Indonesia digambarkan sebagai batang utama dari sebuah
pohon besar. Batang tersebut tumbuh dari akar yang kuat berupa Pancasila.
Batang itulah yang kemudian membentuk cabang-cabang dan kemudian
ranting-ranting yang mencakup seluruh norma hukum, baik berupa undang-
undang maupun peraturan-peraturan.
Narasi apersepsi tentang seorang gadis kecil yang suka mengantungi
sampah menjadi pemancing bagi siswa untuk lebih tertarik mempelajari bab
ini. Kisah itu menunjukkan betapa penting untuk tertib dan membangun
norma bersama dalam menjaga lingkungan. Amira, sosok dalam kisah itu,
mempraktikkan prinsip TSP dalam soal sampah. T adalah tahan untuk tidak
membuang sampah sembarangan, S adalah simpan di tempat semestinya, dan
P adalah pungut sampah yang ada. Guru dapat mengajak siswa menerapkan
prinsip TSP tersebut.
Pentingnya aturan bersama dalam bermasyarakat merupakan pesan
terpenting dalam bahasan tentang norma ini. Penyampaian contoh-contoh
nyata yang sesuai dengan kebutuhan generasi milenial akan sangat membantu
proses pembelajaran bab ini. Apalagi contoh yang akrab dengan kehidupan
sehari-hari para siswa. Seperti contoh menyangkut kehidupan di keluarga, di
lingkungan bertetangga, dan juga di lingkungan sekolah. Dari contoh nyata
tersebut, masalah hak dan kewajiban akan lebih mudah dipelajari.
Tantangan tidak mudah adalah terkait dengan pembelajaran menyangkut
UUD NRI Tahun 1945 sebagai Dasar Hukum Tertulis Negara. Bagi para siswa
SMP/Madrasah Tsanawiyah pada umumnya, Undang-Undang Dasar itu tidak
secara langsung terkait dengan kehidupan sehari-hari, melainkan lebih
berhubungan dengan penyelenggaraan negara. Pandangan tersebut perlu
diluruskan kembali, yakni bahwa seluruh sendi kehidupan bermasyarakat
di Indonesia akan selalu terkait dengan UUD NRI Tahun 1945. Kepercayaan
yang kuat para siswa terhadap guru akan dapat membantu mengatasi distorsi
pemahaman yang ada.
ara
ilay
b ah
kat
w
ing
asan
as
L
ku
gan keluarg
Bat
nga
yah
w
n bangsa wila
ilaya
lah
seko
a
gan
Di lingkun
Me rsatua
Pe
mp n
ert dan
sia ra
ah K
one ega
ank es
Ind ah N
1
an atua
ay
Wil
5 Bab 3
n
Kesatuan Indonesia 2
Ka dan Karakteristik In
aerah
rak do
ters
tik
Wila
tik D
kteris KRI 4
Daerah Nega ensia seb
ra K aga
yah Kara dalam N esatu
an
i
esia
3
Persatuan dan
Kesatuan Indon
Pem
baha
san negara kesatuan
sia
o ne
Ind
n
tua
Mak
Kesa
na Pe
rsatuan d
d an
an Kesatuan
tuan
Memperjuangkan Persa
Gambar 2.1 Pemetaan Pikiran Norma dan UUD NRI Tahun 1945
Secara menyeluruh materi norma dan UUD NRI Tahun 1945 ini dapat
disampaikan dalam 6 pekan atau 12 kali pertemuan. Pembagian waktu
pembelajaran sesuai dengan keperluan masing-masing lingkungan satuan
pendidikan, atau dapat mengacu pada pembagian waktu sebagai berikut:
38 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
Tabel 2.1 Contoh Pembagian Waktu Pembelajaran Norma dan UUD NRI Tahun 1945
1. Norma Masyarakat
Bagian ini mengajak siswa untuk mendalami pengertian serta nilai penting
norma. Yakni bahwa norma merupakan aturan yang mengikat bagi seluruh
masyarakat. Norma diperlukan untuk menciptakan ketertiban dan keamanan
bersama, mencegah benturan kepentingan antarwarga, hingga mewujudkan
keadilan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Selain
itu juga dipaparkan jenis-jenis norma, seperti norma agama, norma susila,
normal sosial hingga norma hukum.
Gambar 2.2 Alur Pembelajaran Norma dan UUD NRI Tahun 1945
40 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
14 Pembuka 1. Mengucap salam dan menyapa siswa.
2. Meminta seorang siswa memimpin doa.
3. Menyapa dan berinteraksi dengan 2–3 siswa.
4. Mengecek kehadiran dan mengondisikan kelas.
5. Menyampaikan rencana pembelajaran hari itu.
6. Meminta siswa mereview pembelajaran sebelumnya
dan mengklarifikasinya.
7. Menyerukan yel pembelajaran PPKn.
42 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
16 Pembuka 1. Mengucap salam dan menyapa siswa.
2. Meminta seorang siswa memimpin doa.
3. Menyapa dan berinteraksi dengan 2–3 siswa.
4. Mengecek kehadiran dan mengondisikan kelas.
5. Menyampaikan rencana pembelajaran hari itu.
6. Meminta siswa mereview pembelajaran sebelumnya
dan mengklarifikasinya.
7. Menyerukan yel pembelajaran PPKn
Gambar 2.4 Alur Pembelajaran UUD NRI Tahun 1945 sebagai Dasar Hukum Tertulis Negara
Tabel 2.4 Contoh pembelajaran UUD NRI Tahun 1945 sebagai Dasar Hukum Tertulis
Negara (Pertemuan 17–18)
44 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
18 Pembuka 1. Mengucap salam dan menyapa siswa.
2. Meminta seorang siswa memimpin doa.
3. Menyapa dan berinteraksi dengan 2–3 siswa.
4. Mengecek kehadiran dan mengondisikan kelas.
5. Menyampaikan rencana pembelajaran hari itu.
6. Meminta siswa mereview pembelajaran sebelumnya
dan mengklarifikasinya.
7. Menyerukan yel pembelajaran PPKn.
Gambar 2.5 Alur Pembelajaran Perumusan dan Pengesahan UUD NRI Tahun 1945
Tabel 2.5 Contoh Perumusan dan Pengesahan UUD NRI Tahun 1945 (Pertemuan 19–20)
19 Pembuka 3. Mengucap
1. Minta setiap kelompok
salam menggambarkan
dan menyapa siswa. wujud ‘adil
makmur’ yang mereka pahami.
2. Meminta seorang siswa memimpin doa.
4. Minta setiap kelompok bergiliran maju ke depan kelas
3. Berinteraksi sebentar dengan 2-3 siswa.
mempresentasikan gambaran ‘adil makmur’ menurut
4. Mengecek dan mengondisikan suasana kelas.
kelompoknya.
5.
5. Mengajak menyanyi
Menyimpulkan lagu Padamu Negeri.
dan mengapresiasi hasil kerja setiap
kelompok.
6. Menyampaikan rencana pembelajaran hari itu.
6. Meminta
7. Membuatsiswa
penilaian terhadap
mereview siswa.
pembelajaran sebelumnya
dan mengklarifikasinya.
Penutup 1. Meminta tanggapan siswa atas pembelajaran hari
Inti itu dan AMBAK
1. Meminta (apa manfaatnya
wakil siswa bagiku) ‘pohon
mempresentasikan yang hak
dan kewajiban’ yang telah dibuat bersama.
didapatkannya.
2. Mengapresiasi
Meminta siswakerja bersama
sepulang para
sekolah siswa, dan subbab
mempelajari
menjelaskan ulang posisi UUD
Amendemen UUD NRI Tahun 1945. NRI Tahun 1945 sebagai
hukum dasar.
3. Menyerukan bersama yel PPKn dan salam penutup.
3. Menunjukkan dan menjelaskan Pemetaan Pikiran
4. terkait
Mengevaluasi diri atas
perumusan dan efektivitas
pengesahan pembelajaran.
UUD NRI Tahun
1945.
4. Meminta siswa menjelaskan sidang BPUPK
5. Amendemen UUD yang
NRImembentuk
Tahun 1945 Panita Hukum Dasar dan
mendiskusikannya.
Bagian ini mengajak siswa untuk mendalami
5. Meminta perubahan
siswa menjelaskan Panitia atau amendemen
Rancangan UUD
UUD NRI Tahun 1945. Bahasan dimulai dari
serta rumusannya, danperlunya amendemen setelah
mendiskusikannya.
lebih dari 50 tahun kelahiran
6. MemintaUUD NRImenjelaskan
siswa Tahun 1945, yakni
struktur UUDsetelah masa
NRI Tahun
Reformasi 1998. Setelah itu adalah
1945 menyangkut tahapan
dan pengesahannya, amendemen oleh
serta mendiskusikannya.
Majelis Permusyawaratan Rakyat sebanyak empat kali. Kemudian
7. Merangkum dan menjelaskan perumusan dan perubahan
dari setiap tahap, termasukpengesahan
pembatasan masa
UUD NRIjabatan presiden maksimal dua
Tahun 1945.
kali serta penetapan anggaran pendidikan minimal 20 persen.
8. Membuat penilaian terhadap siswa.
Alur pembelajaran Amendemen UUD NRI Tahun 1945 ini dapat dijelaskan
dalam gambarPenutup
berikut: 1. Meminta tanggapan siswa atas pembelajaran hari
itu dan AMBAK (apa manfaatnya bagiku) yang
didapatkannya.
2. Meminta siswa sepulang sekolah mempelajari
Tahapkembali Perumusan dan Hasil
Pengesahan UUD NRI
Tahun 1945.
perubahan Perubahan
3. Menyerukan bersama yel PPKn dan salam penutup.
48 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
Adapun proses pembelajarannya dapat dikembangkan sendiri sebagai
mana yang ada dalam contoh berikut ini:
Tabel 2.6 Contoh Pembelajaran Amendemen UUD NRI Tahun 1945 (Pertemuan 21–22)
50 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
Tahapan refleksi dan penilaian terhadap hasil pembelajaran dilakukan
pada pertemuan ke-23 dan 24 dari proses pembelajaran ini. Pelaksanaannya
dapat mengacu pada contoh berikut ini:
Contoh refleksi untuk pembelajaran norma dan UUD NRI Tahun 1945
adalah:
Refleksi
52 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
Adapun materi uji kompetensi tentang norma dan UUD NRI Tahun 1945
ini adalah sebagai berikut:
Uji Kompetensi
D. Penilaian
Dalam pembelajaran Norma dan UUD NRI Tahun 1945, penilaian sikap
menjadi hal utama dan disusul dengan penilaian keterampilan. Sedangkan
penilaian pengetahuan lebih bersifat terbatas. Hal ini disebabkan karakter
materi pembelajaran bagian ini lebih mengarah pada pemenuhan kepatuhan,
terutama menyangkut hak dan kewajiban pada norma.
54 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
Jujur, rajin beribadah, dan menjauhi larangan agama merupakan indi
kator sikap spiritual. Partisipasi dan ketekunan belajar menjadi indikator
sikap intelektual. Bersih, disiplin, dan tanggung jawab adalah indikator sikap
mental. Sedangkan ramah, antusias, dan kolaborasi termasuk indikator sikap
emosi-sosial.
Pelaksanan penilaian sikap dalam dua kategori. Kategori pertama
penilaian sikap adalah yang dilakukan setiap akhir pertemuan yang berarti
sebanyak 36 kali dalam satu semester. Adapun kategori kedua yang dilakukan
secara berkala per semester berdasarkan hasil pengamatan langsung maupun
tidak langsung yang telah terverifikasi terlebih dahulu.
Penilaian menggunakan empat tingkat, yakni Baik Sekali (A=4), Baik
(B=3), Sedang (C=2), serta Kurang (D=1). Untuk penilaian sikap di setiap akhir
pertemuan dilakukan dengan merangkum seluruh aspek sikap, dan dapat
menggunakan format sebagai berikut:
1 Edo 4 3 3 2 .. .. 3 39 3.25/B
2 Fenny 3 4 4 4 .. .. 4 46 3.8/A
3 …
.. …
.. …
.. Yana 2 4 3 2 4 35 2.9/B
1 Edo A B B C B
2 Fenny B A A A A
3 …
.. …
.. …
.. Yana A A B A A
Nilai sikap pada akhir semester = (Nilai rata-rata per pertemuan + Nilai berkala
rata-rata)/2.
56 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
penilaian keterampilan, dengan menggunakan empat tingkat penilaian, yakni
Baik Sekali (A=4), Baik (B=3), Sedang (C=2), serta Kurang (D=1).
1 2 3 4 5 dst Rata-rata
2 Mampu mengomunikasikan
ide dan gagasan dengan
terarah dan sistematis
3 Mampu merespons
pertanyaan yang pada sesi
diskusi
.. ….
Nilai Akhir
58 Buku Panduan Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk SMP Kelas VII
The PKN curriculum uses relatable examples like waste management, societal integration, and contemporary governance to engage the millennial audience, aligning teaching methods with their interests and everyday experiences. This approach enhances understanding and relevance, making civic knowledge applicable and interesting .
The amendment process of UUD NRI Tahun 1945 reflects the evolving needs and values by addressing governance, extending democratic principles, and ensuring social justice, such as setting educational budgets and limiting presidential terms. These changes correspond to societal demands for transparency, accountability, and improved public services .
The BPUPK session was pivotal in formulating the foundational law of Indonesia as it led to the establishment of the Panitia Hukum Dasar, which crafted the Basic Law. This session marked the beginning of structuring Indonesia's governance framework and legal system after gaining independence, underscoring its historical significance .
The amendment was deemed necessary after over 50 years to adapt to modern democratic practices and governance needs following the Reform era in 1998. Significant changes included limiting the presidential term to two periods and mandating a minimum of 20 percent national budget allocation for education, reflecting a shift towards democratic reforms and focus on development .
Student proficiency is assessed through a combination of attitude, skills, and knowledge metrics. Key indicators include honesty, collaboration, intellectual contribution, and responsiveness during discussions, ensuring a comprehensive evaluation of students' civic understanding and engagement. These assessments are grounded in practical observations and interactive participation .
Civic disposition assessments capture students' attitudes and behaviors across spiritual, intellectual, physical-mental, and emotional-social domains, ensuring a holistic understanding of civic responsibilities. This integration underscores the importance of character education within the curriculum, aligning practical civic engagement with theoretical knowledge .
The metaphor of the tree is used to describe the system of norms and laws within Indonesia, with the trunk representing the UUD NRI Tahun 1945 as the fundamental written constitution, growing from the strong roots of Pancasila. The trunk signifies the backbone of the legal system, from which branches and twigs extend, symbolizing all other legal norms, laws, and regulations .
The task 'pohon hak dan kewajiban' or 'tree of rights and responsibilities' allows students to visually map out and understand their civic duties and rights, promoting active engagement and better retention of the concepts. This educational approach enhances analytical thinking and the integration of theoretical knowledge with practical understanding .
The pedagogical approaches emphasized include contextual learning, discussions, role-playing, group presentations, and reflective exercises. These methods aim to make learning interactive and relevant, encouraging critical thinking, collaboration, and the connection of theoretical knowledge to real-life situations .
The TSP principle stands for Tahan (refrain from), Simpan (store), and Pungut (pick up) in dealing with waste management, exemplifying the importance of adhering to societal norms to maintain cleanliness and order. It can be applied in daily life by instilling discipline in environmental practices, highlighting the practical aspect of societal norms .