Pembangunan Berorientasi Transit di Kota
Pembangunan Berorientasi Transit di Kota
Kunci Sukses ●
1 Kunci Sukses ●
4
Pemanfaatan Konektivitas
Regulasi dan Sistem Antarmoda
Pendukung
Kunci Sukses ●
2
Pemicu* Kunci Sukses ●
5
TOD
Beragam Skema (Waktu-Lahan- Pentingnya Bisnis
Pendanaan Kolaborasi) Non-kereta
2
Tiga Visi Wilayah Metropolitan yang Terwujud Melalui TOD
【Struktur Perkotaan yang Dapat Mengatasi Permasalahan Sosial dan Lingkungan】
・Struktur perkotaan terdesentralisasi melalui pengembangan subpusat kota dan kota baru
Kawasan perkotaan yang kompak dan tidak bergantung pada penggunaan kendaraan
pribadi melalui peningkatan aksesibilitas pejalan kaki dan transportasi umum.
【Peningkatan Taraf Ekonomi dan Kualitas Hidup (QOL) di Kawasan Metropolitan】
・Peningkatan perekonomian melalui pengembangan kawasan bisnis dan industri
yang nyaman, dinamis, dan atraktif.
・Kawasan permukiman yang nyaman dengan akses yang mudah ke fasilitas
perbelanjaan
*
・Peningkatan kenyamanan dan keamanan transportasi umum dan penciptaan
kawasan yang ramai melalui penyediaan fasilitas
【Visual Kota yang Atraktif dan Mencerminkan Budaya dan Sejarah Lokal】
・Fasad dan ruang perkotaan yang berakar pada sejarah dan kebudayaan
setempat dan disesuaikan dengan lanskap kawasan sekitar
3
4. Studi Kasus TOD di Jepang
Kunci Sukses 1 Pemanfaatan Regulasi dan Sistem Pendukung
● Struktur Perkotaan yang Dapat Me
Permasalahan Sosial dan Lingk
[Stasiun Tokyo] KLB Khusus dan Penjualan KLB yang Tidak Terpakai
Pemerintah melakukan pembaharuan hukum yang memungkinkan JR East
menjual KLB yang tidak terpakai dan mendanai restorasi dan preservasi Pada era 1980-an, Tsukuba Science City,
bangunan stasiun Tokyo. Urban Center, Minato Mirai 21, dan lai
GranTokyo South Tower pembangunan jalur kereta menuju kota-kota
Tokyo Building
GranTokyo North Tower
Tambahan KLB 404% Tambahan KLB 266% kemacetan di pusat kota Tokyo.
Tambahan KLB 404% Keiyo Line yang menghubungkannya de
JP Tower KITTE skema pemisahan sarana dan prasarana (ve
Tambahan KLB 220%
menjadi subpusat Kota Chiba.
Marunouchi Bulding
Tambahan KLB 365%
(Sumber: Tim Studi JICA dengan foto dari JR East Design Corporation)
[Stasiun Shinjuku] Pembangunan Terminal Angkutan Umum dan Pintu Masuk Stasiun Peningkatan Taraf Ekonomi dan
Melalui pembangunan yang berbagi biaya dengan proyek perbaikan jalan, Hidup (QOL) di Kawasan Metro
pembangunan artificial floor diatas rel kereta, pembangunan terminal angkutan
umum, renovasi dan pengembangan bangunan stasiun, pengembangan pusat
perbelanjaan dan lainnya bisa dilakukan secara terintegrasi. Pembangunan Pengembangan ulang area timur Stasiun S
artificial floor menghasilkan KLB dari ruang diatasnya. pinggiran kota. Renovasi dan pengembanga
penghubung timur-barat, hotel, dan lainnya
4
Mengatasi Kunci Sukses 4 Konektivitas Antarmoda
●
kungan
[Makuhari New Urban Center]
[Stasiun Shibuya] Pengembangan Jaringan Pedestrian [Stasiun Sakudaira] Pengembangan Station Plaza
Jaringan pedestrian bertingkat yang menghubungkan Mesk ipun merupakan sebuah
, Saitama New Urban Center, Makuhari New Stasiun Shibuya, yang terletak di sebuah lembah, stasiun denga n ska la kecil,
innya dikembangkan bersamaan dengan dengan lingkungan sekitarnya, saat ini sedang keberadaan station plaza untuk
a tersebut untuk mengurangi kepadatan dan dalam proses pembangunan. perpindahan dari moda kereta api
dengan moda transportasi lainnya
engan pusat kota Tokyo, dibangun dengan sangatlah penting.
ertical separation). Sekarang kota ini sudah
30
20
10
0
JNR JR East JR West
(1986) (2019) (2019)
Non-tiket Tiket
(Foto: JR East Design Corporation) Sumber: Laporan keuangan
tiap perusahaan
5
5. Studi Kasus Penerapan TOD di Enam Wilayah Metropolitan
Studi kasus berikut adalah referensi bagi para inisiator CDM.
6
Studi Kasus 3 Wilayah Metropolitan Paris(sejak tahun 2009)
Sebagai bagian dari“Grand Paris Act”di tahun 2010,“Grand Paris Project”meliputi
pembangunan jaringan kereta bawah tanah dan penataan ulang di kawasan stasiun.
Tujuan utamanya adalah untuk mendorong ekonomi yang berkelanjutan dan
memperbaiki inefesiensi dari terpisahnya administrasi kota Paris dan kota-kota sekitarnya.
Tingkat Kawasan
Tingkat Metropolis Tingkat Koridor Stasiun Tingkat Tapak
Bersaing dengan kota-kota Memperkuat sistem transportasi Mendorong pembangunan (ulang) yang
besar lain di dunia dan umum yang menghubungkan terhubung dengan kebijakan di tingkat
Tujuan m e nd oron g pe rtu mbu h a n seluruh area metropolitan Paris metropolis dan jalur arteri.
Kebijakan ekonomi yang berkelanjutan. sebagai sebuah kawasan
Memperbaiki inefesiensi terintegrasi dengan kota Paris
administratif antara pemerintah sebagai pusatnya.
kota Paris dan kota di sekitarnya.
Mendirikan perusahaan publik yang secara efektif memimpin proyek Pembangunan ulang sepanjang jalur
Rencana sebagai perwakilan dari para stakeholder, terutamanya pemerintah kereta bawah tanah untuk meningkatkan
Kebijakan daerah, yang juga bertanggung jawab pada pembangunan sarana manfaat pengembangan kereta bawah
perkeretaapian dan pengembangan tiap stasiun. tanah.
Meningkatkan kapabilitas organisasi dari
Kelembagaan Mendirikan Société du Grand Paris (SGP). pemangku kebijakan di tiap daerah.
Kerangka “Grand Paris Act”(2010) dan meningkatkan pajak perhotelan dan pajak badan usaha.
Kerja
Hasil dari peningkatan pajak Pembangunan kereta bawah Belasan stasiun direnovasi bersamaan
Pengembangan ( 1 2 0 j u t a € / t a h u n ) a k a n tanah oleh SGP di kedalaman dengan pembangunan kereta bawah
digunakan oleh SGP sebagai lebih dari 30m yang tidak tanah.
Peta Grand Paris Express Kebijakan organisasi pelaksana. perlu kompensasi pada pemilik
tanah diatasnya.
7
Studi Kasus 6 Wilayah Metropolitan Bangkok(sejak tahun 2000)
Kota Bangkok memiliki penduduk dan fungsi perkotaan yang terpusat. Stasiun Sentral Bangkok di Hua
Lamphong pun memiliki permasalahan penuaan dan juga kemacetan di sepanjang hari. Untuk mengatasi
masalah tersebut, pemerintah Thailand mencanangkan program“ Thailand 4.0”yang mendorong pertumbuhan
industri berteknologi tinggi dan juga kota pintar (Smart City). Sebagai langkah awal dari program tersebut,
Kementerian Transportasi Thailand dan State Railways of Thailand (SRT) memutuskan untuk membangun stasiun
sentral baru di lahan luas milik SRT di wilayah Bang Sue, dimana stasiun tersebut akan terhubung dengan
berbagai jalur kereta dan pengembangan kawasan seluas 372 hektar pun dilakukan di area sekitarnya.
Tingkat Kawasan
Tingkat Metropolis Tingkat Koridor Stasiun Tingkat Tapak
Kepadatan dan konsentrasi Dimulai dari integrasi Blue Line Kawasan stasiun seluas 372 hektar akan
penduduk dan fungsi (dari Hua Lamphong ke Bang dibangun menjadi“smart city”dengan
Tujuan perkotaan di pusat kota Sue), jalur lain berangsur dengan beragam fasilitas bisnis,
Kebijakan Bangkok. dipusatkan di Stasiun Bang perbelanjaan, hunian, budaya, dan
Sue, menjadikannya stasiun pariwisata yang menjadikan Bangkok kota
sentral baru dari kota Bangkok. bertaraf internasional.
Mengimplementasikan program ”Thailand 4.0”yang mendorong Memperkenalkan beragam teknologi
Rencana digitalisasi ekonomi dan masyarakat. Hal ini bertujuan untuk terkini dan ICT pada kota-kota pintar
dapat keluar dari“middle income trap”dan menjadikan Thailand untuk menanggulangi potensi
Kebijakan negara maju dalam 20 tahun. permasalahan perkotaan di masa yang
akan datang.
National Digital Economy Commission (dikepalai oleh Perdana Mengembangkan institusi yang
Menteri dan beranggotakan tenaga ahli) mengepalai penerapan konsep“Smart
Kelembagaan Smart Cities Commission (dikepalai oleh Deputi Kementrian City”di Bang Sue.
Transportasi)
Merumuskan tujuh buah kriteria kota pintar. Membentuk K arena in i a da lah perta ma kal in y a
Kerangka kelompok-kelompok kerja untuk perumusan tiap kriteria, dengan menerapkan“Smart City”, diperlukan
Kerja “Office of Transportation Policy and Planning”(OTP) sebagai bantuan teknis dari JICA dan UR dari
sekretariat. Jepang.
Kontraktor pemenang tender Kereta: Mengembangkan BTS Implementasi proyek dalam 3 tahap
mengoperasikan infrastruktur Line, Purple Line, Red Line, (pendek, menengah, panjang) yang
Gambaran Pengembangan Pengembangan dengan batas tarif yang Yellow Line, dan Airport Link masing-masingnya berselang 5 tahun,
Wilayah Bang Sue Kebijakan ditentukan pemerintah, untuk dengan memanfaatkan dan direncanakan selesai di tahun 2032,
(Sumber: Laporan JICA)」 mencegah resiko terkait pinjaman luar negeri dari dengan memanfaatkan pinjaman luar
operasi dan perawatan Jepang dan sumber lainnya. negeri dari Jepang dan sumber lainnya.
infrastruktur.
▼
2 Proposal2Rencana Induk Koridor dan Rencana Tata Ruang (CDM)
Langkah ステップ
(Termasuk mengenai siapa yang berperan sebagai inisiator, mengenai regulasi, dan pendanaan)
▼
Dokumen ini dibuat berdasarkan "Information Collection & Confirmation Study on Planning & Implementation of Transit Oriented Development (TOD) for Sustainable Cities around the World"
Ringkasan dari studi ini dapat diakses melalui JICA Library Portal Site.
([Link]
Kolaborasi antar berbagai pihak seperti institusi pemerintah terkait tata kota, pengembang swasta, dan operator perkeretaapian sangat penting dalam implementasi TOD untuk mengatasi kesulitan teknis atau kekurangan sumber daya manusia dan untuk memaksimalkan pendanaan serta efeisiensi operasional. Selain itu, kolaborasi ini membantu dalam menghubungkan perencanaan kota dan transportasi umum agar lebih efisien dan berkelanjutan .
Stasiun berperan sebagai pintu gerbang visual kota yang mencerminkan budaya dan sejarah lokal, yang penting dalam menciptakan identitas kota yang kuat dan menarik bagi wisatawan serta penduduk lokal. Dalam konteks TOD, stasiun tidak hanya harus fungsional, tetapi juga harus estetis dan menyenangkan, yang dapat meningkatkan daya tarik kawasan sekaligus memenuhi kebutuhan pengguna transportasi .
Regulasi dan sistem pendukung berperan dalam memberikan kerangka kerja hukum dan perizinan yang memudahkan pengembangan TOD. Misalnya, peraturan mengenai penggunaan lahan, sistem pajak, dan insentif pengembangan dapat mempermudah pengembang swasta untuk berpartisipasi secara aktif. Penguatan regulasi dalam pengaturan lahan juga dapat membantu mengurangi risiko dan meningkatkan investasi .
Pengembangan TOD skala besar lebih dimungkinkan pada stasiun dengan rata-rata pengguna harian lebih dari 200,000 orang karena tingginya jumlah pengguna menunjukkan adanya permintaan yang cukup besar untuk layanan dan fasilitas tambahan. Hal ini juga berarti adanya potensi besar untuk mengoptimalkan pendapatan dari sumber bisnis non-kereta, yang menjadikan investasi lebih layak dari segi ekonomis dan komersial .
Model pengembangan metropolitan yang terdesentralisasi dapat mengatasi permasalahan sosial dan lingkungan dengan mengurangi konsentrasi populasi dan aktivitas ekonomi di pusat kota. Ini mendorong pengembangan wilayah sub-pusat dan kota baru, yang meningkatkan kenyamanan hidup, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, dan meningkatkan aksesibilitas fasilitas umum. Dengan demikian, beban infrastruktur pusat kota berkurang, mengurangi kemacetan serta dampak lingkungan .
Salah satu kendala utama dalam penerapan TOD adalah pendanaan. Untuk mengatasi hal ini, disarankan adanya beragam skema pendanaan seperti subsidi silang, pendapatan dari penjualan KLB, atau pinjaman dari lembaga pembiayaan publik. Selain itu, pengurangan beban biaya awal dengan memisahkan penyelenggaraan sarana dan prasarana juga bisa menjadi solusi. Perlu dipahami juga pentingnya mendiversifikasi bisnis operator transportasi untuk meningkatkan keuntungan .
Diversifikasi bisnis non-kereta dapat meningkatkan keuntungan operator transportasi dengan menciptakan sumber pendapatan tambahan di luar tiket transportasi, seperti melalui pengembangan pusat perbelanjaan, perkantoran, dan fasilitas komersial lain di sekitar stasiun. Ini menciptakan sinergi antara peningkatan jumlah pengguna transportasi publik dan peningkatan keuntungan dari bisnis non-kereta, sehingga keseluruhan sistem transportasi menjadi lebih berkelanjutan dan profitable .
Perpindahan moda transportasi yang cepat, aman, dan mudah sangat penting dalam meningkatkan kenyamanan pengguna karena mengurangi waktu perjalanan dan meningkatkan efisiensi transportasi. Kenyamanan ini berpotensi meningkatkan jumlah pengguna transportasi umum, yang pada akhirnya mendukung keberhasilan TOD secara keseluruhan dengan meningkatkan aksesibilitas dan penerimaan masyarakat terhadap sistem transportasi .
Pemahaman terhadap kondisi kawasan stasiun dan tapak penting agar pengembangan TOD sesuai dengan karakteristik lokal dan kebutuhan masyarakat sekitar. Pemahaman ini membantu dalam menentukan prioritas infrastruktur dan fasilitas yang perlu dibangun untuk mendukung keberlanjutan dan efisiensi transportasi umum. Hal ini juga memungkinkan identifikasi potensi masalah dan peluang yang ada .
Penggunaan model regresi logaritma membantu dalam perencanaan pengembangan TOD dengan cara mengkorelasikan jumlah pengguna stasiun dengan kepadatan penduduk dan luas area kota, sehingga dapat memprediksi kebutuhan infrastruktur dan layanan transportasi yang diperlukan. Indikator seperti ini memungkinkan optimalisasi fasilitas transportasi dan pengelolaan sumber daya secara efektif .