0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan9 halaman

Evaluasi K3 di SMK Negeri 1 Sedayu

Penelitian ini mengevaluasi penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel SMK Negeri 1 Sedayu dengan model Countenance Stake. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan sistem manajemen K3 berada pada kategori baik, namun masih ada faktor penghambat seperti kendala APD dan belum adanya organisasi khusus penanggung jawab K3.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
19 tayangan9 halaman

Evaluasi K3 di SMK Negeri 1 Sedayu

Penelitian ini mengevaluasi penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel SMK Negeri 1 Sedayu dengan model Countenance Stake. Hasilnya menunjukkan bahwa penerapan sistem manajemen K3 berada pada kategori baik, namun masih ada faktor penghambat seperti kendala APD dan belum adanya organisasi khusus penanggung jawab K3.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

43

EVALUASI PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN


KESEHATAN KERJA DI BENGKEL PRAKTIK SMK NEGERI 1 SEDAYU
EVALUATION OF THE IMPLEMENTATION OF OCCUPATIONAL HEALTH AND SAFETY
MANAGEMENT SYSTEM IN WORKSHOPS OF SMK NEGERI 1 SEDAYU

Oleh: Agung Prabowo, Nurhening Yuniarti


Program studi pendidikan teknik elektro, fakultas teknik, universitas negeri yogyakarta
[Link]@[Link], nurhening@[Link]

Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui: (1) penerapan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
(K3) di bengkel praktik SMK Negeri 1 Sedayu dengan model Countenance Stake, (2) faktor-faktor yang
mempengaruhi dalam penerapan sistem manajemen K3 di bengkel praktik SMK Negeri 1 Sedayu. Penelitian ini
termasuk jenis penelitian evaluasi dengan menggunakan model countenance stake yang terdiri dari tiga tahapan
evaluasi yaitu antecedents, transaction, dan output. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) penerapan sistem
manajemen K3 di bengkel praktik SMK Negeri 1 Sedayu dengan model Countenance Stake: a) Antecedents -
berada pada kategori baik; b) Transaction - berada pada kategori baik; c) Output- di SMK Negeri 1 Sedayu telah
terbentuk sistem keselamatan dan kesehatan kerja pada setiap bengkel praktik; (2) faktor pendukung adalah
komitmen dan kebijakan K3, dan pembinaan/pelatihan K3; faktor penghambat adalah kendala dalam penyediaan
APD dan belum adanya personal/organisasi khusus yang mempunyai tanggung jawab, wewenang dan kewajiban
yang jelas dalam penanganan K3.

Kata kunci: evaluasi, keselamatan dan kesehatan kerja, SMK

Abstract
The purposes of this research are to find out: (1) the implementation of occupational health and safety
(OHS) management system in workshops of SMK Negeri 1 Sedayu according to Countenance Stake Model, (2) the
factors that affect the implementation of OHS management system in workshops of SMK Negeri 1 Sedayu. This
research is evaluation research which consists of three evaluation stages: the antecedents, transactions, and an
output. The results of this research are: (1) the implementation of OHS management system in workshops of SMK
Negeri 1 Sedayu according to Countenance Stake Model obtained: a) Antecedents-OHS implementation was
classified good; b) Transaction-OHS implementation was classified good; c) Output-SMK Negeri 1 Sedayu has
established OHS system in each workshops; (2) supporting factors are the commitment and policy of OHS, and
coaching/training of OHS; obstacle factors are the constraints in personal protective equipments (PPE) supply and
in availability of personal/special authority managing the OHS.

Keywords: evaluation, occupational health and safety, SMK

Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen… (Agung Prabowo)


44
PENDAHULUAN dan juga untuk menghindarkan siswa terhadap
Era globalisasi dan perdagangan bebas resiko kecelakaan kerja yang mungkin terjadi.
tingkat dunia Word Trade Organization (WTO) Oleh karena itu pembelajaran praktik di bengkel
yang akan berlaku tahun 2020 mendatang, pada SMK hendaknya menerapkan K3 seperti
keselamatan dan kesehatan kerja merupakan salah standar yang diterapkan di dunia industri karena
satu persyaratan yang ditetapkan dalam hubungan pada pembelajaran praktik, siswa berhadapan
ekonomi perdagangan barang dan jasa antar dengan bahan, peralatan, dan perlengkapan kerja
negara yang harus dipenuhi oleh seluruh negara yang memiliki potensi bahaya.
anggota, termasuk Indonesia. Untuk Dengan adanya tuntutan dari dunia
mengantisipasi hal tersebut Indonesia harus industri tentang penerapan sistem manajemen K3
mempersiapkan diri sebaik mungkin, terutama maka dalam dunia pendidikan di Indonesia
dari ketersediaan sumber daya manusia (SDM). penerapan sistem manajemen K3 perlu
Sumber daya manusia dipandang sebagai dimatangkan lagi karena masih banyak sekolah
unsur yang sangat menentukan dalam proses yang belum memberikan perhatian dengan serius
pencapaian tujuan pembangunan, terutama di terhadap materi pelajaran K3. Materi pelajaran
negara berkembang termasuk Indonesia. K3 yang sudah diberikan belum efektif karena
Indonesia sebagai negara berkembang harus dominan pada pengetahuan saja, dan juga
mampu bersaing di era globalisasi untuk mampu pelaksanaan K3 di sekolah masih belum sejalan
bertahan sehingga tidak tergilas oleh negara lain. dengan standar K3 yang diterapkan di dunia
Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk industri.
mempersiapkan SDM yang berkualitas yaitu Berdasarkan observasi yang telah
melalui strategi di bidang pendidikan. dilakukan di SMK N 1 Sedayu, sikap kerja siswa
Sistem pendidikan di Indonesia dalam penerapan K3 saat praktik di bengkel
menjelaskan bahwa sekolah menengah kejuruan belum berjalan dengan baik. Hal ini terlihat masih
(SMK) merupakan wadah penghasil tenaga kerja ada beberapa siswa yang mengabaikan K3, serta
yang dituntut dapat membentuk SDM yang mengabaikan potensi bahaya yang ada,
terampil dan mempunyai kemampuan sesuai penggunaan alat pelindung diri (APD) masih
kebutuhan di industri. Penguasaan keterampilan belum maksimal. Karena kebanyakan siswa
dan pengetahuan tentang keselamatan dan berasumsi bahwa APD hanya akan mengganggu
kesehatan kerja (K3) termasuk hal yang penting proses praktik yang dilakukan. Padahal penerapan
untuk dimiliki dalam menunjang proses produksi APD penting untuk mencegah kecelakaan dan
dalam suatu industri. Pengetahuan dan penyakit akibat kerja yang terjadi saat praktik di
pemahaman K3 wajib dimiliki setiap orang yang bengkel. Selain itu juga belum diterapkan
bekerja. Siswa sebagai salah satu komponen bagaimana cara menangani bahaya yang dapat
dalam SMK harus memiliki pengetahuan dan terjadi pada saat praktik, masih kurangnya
pemahaman yang baik terkait K3, oleh karena itu peringatan bahaya yang ada disekitar area kerja
untuk dapat melaksanakan pekerjaan dengan mengakibatkan kewaspadaan menurun,
aman dan produktif maka siswa harus berusaha pengawasan yang kurang maksimal dari guru
agar selalu dalam keadaan aman dan sehat saat pembimbing praktik dapat mengakibatkan
bekerja. Sekolah sebagai tempat belajar menjadi timbulnya potensi bahaya kerja, serta
kunci untuk menerapkan pemahaman dan pengetahuan dan kesadaran yang kurang, dapat
penguasaan tentang K3. Pengetahuan tentang K3 mengakibatkan siswa kurang memperhatikan
yang diajarkan oleh guru di sekolah yaitu akan pentingnya K3. Saat pembelajaran praktik,
bertujuan untuk menjaga keselamatan dan guru juga terkadang tidak memakai APD
kesehatan kerja pada saat siswa bekerja di dikarenakan terbatasnya APD yang dimiliki.
bengkel sekolah maupun di dalam dunia industri

Prodi Pendidikan Teknik Elektro, Vol.6, No.4, Nopember 2016 : 44-52


45
Pelaksanaan K3 siswa ketika Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di
melaksanakan pembelajaran praktik tidak lepas Bengkel Praktik SMK Negeri 1 Sedayu.” Model
dari tanggung jawab manajemen K3, termasuk evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini
peran dari guru pembimbing praktik. Manajemen adalah model evaluasi Countenance Stake yang
K3 di bengkel praktik SMK N 1 Sedayu masih memiliki tiga tahapan evaluasi yaitu antecedents,
kurang efektif, hal ini dapat terlihat dari masih transaction dan output.
kurangnya sarana sosialisasi penerapan K3 seperti
poster dan slogan tentang K3, dalam setiap METODE PENELITIAN
bengkel belum tersedia alat penanggulangan
Jenis Penelitian
bahaya atau kecelakaan kerja seperti alat
Jenis penelitian yang digunakan adalah
pemadam api ringan (APAR) dan pertolongan
penelitian evaluasi. Model evaluasi ini
pertama pada kecelakaan (P3K), aturan-aturan
menggunakan model evaluasi countenance stake
bengkel yang masih kurang jelas karena selama
yang terdiri dari tiga tahapan evaluasi yaitu,
ini aturan-aturan yang dipakai hanya berasal dari
antecedents, transaction, dan output.
buku pegangan praktik para siswa, serta dalam
struktur organisasi SMK N 1 Sedayu belum
Tempat dan Waktu Penelitian
adanya organisasi yang ditugaskan khusus untuk
menangani K3, selama ini segala sesuatu yang Penelitian ini dilaksanakan di SMK
berkaitan dengan K3 di bengkel praktik menjadi Negeri 1 Sedayu yang beralamat di Jl. Kemusuk,
tanggung jawab masing-masing jurusan. Untuk RT: 004 RW: 007. Desa Argomulyo, Kecamatan
dapat menerapkan K3 dengan baik perlu adanya Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa
manajemen K3 yang baik pula karena dengan Yogyakarta. Waktu penelitian dilaksanakan pada
adanya manajemen K3 yang baik maka siswa bulan Februari 2016 sampai dengan Agustus
akan mendapatkan pengetahuan yang lebih akan 2016.
K3 dan juga dapat meningkatkan kesadaran para
siswa untuk selalu menerapkan K3 saat Target/Subjek Penelitian
melaksanakan praktik di bengkel. Dengan Subyek penelitian sebagai responden
demikian akan terbentuk sikap kerja siswa yang dalam pengumpulan data adalah 189 siswa kelas
teliti dan produktif sehingga dapat menghasilkan XI SMK Negeri 1 sedayu dan 11 guru SMK
sumber daya manusia yang berkualitas dan dapat Negeri 1 Sedayu
bekerja secara maksimal jika sudah terjun
kedunia industri nantinya. Kecerobohan akibat Prosedur Penelitian
kelengahan baik yang disengaja maupun tidak Penelitian evaluasi ini menggunakan
disengaja terhadap keselamatan kerja dapat model countenance stake, dimana ada 3 (tiga)
merugikan diri sendiri maupun lingkungan tempat tahapan yang dibagi lagi menjadi 2 (dua) tahapan
kerja. yaitu deskripsi (description) dan keputusan
Masalah K3 menarik untuk diteliti, karena (judgment). Ketiga tahapan yakni antecedents,
dengan adanya penerapan program K3 maka transaction dan output. Dalam menilai suatu
resiko kecelakaan akan dapat dikurangi, serta program, perlu dilakukan perbandingan yang
siswa kelak diharapkan dapat mempunyai bekal relatif antara satu program dengan yang lain, atau
untuk menggunakan apa yang sudah dipelajari perbandingan yang absolut (satu program dengan
tentang keselamatan dan kesehatan kerja apabila standar). Penekanan yang secara umum adalah
nantinya mereka bekerja pada industri maupun evaluator yang membuat penilaian tentang
berwirausaha sendiri. Atas dasar pemikiran program yang dievaluasi.
tersebut, peneliti tertarik mengadakan penelitian
dengan judul “Evaluasi Penerapan Sistem

Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen… (Agung Prabowo)


46
Data, Intrumen, dan Teknik Pengumpulan Tabel 1. Kategori Penskoran
Data Interval Skor Kategori
Data yang diperoleh pada penelitian ini
Mi + 1,5SDi < X ≤ Mi + 3SDi Sangat Baik
berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data Mi < X ≤ Mi + 1,5SDi Baik
kuantitatif diperoleh dari kuesioner sedangkan Mi – 1,5SDi < X ≤ Mi Tidak Baik
data kualitatif diperoleh dari observasi. Instrumen Mi - 3SDi < X ≤ Mi – 1,5SDi Sangat Tidak Baik
yang digunakan adalah instrumen berupa (Nana Sudjana, 2014: 122)
kuesioner dan lembar observasi. Keterangan:
Teknik pengumpulan data yang digunakan Mi : Rata-rata Ideal
dalam pemelitian ini yaitu: (1) Observasi SDi : Simpangan Baku Ideal
langsung ke lapangan dimana penelitian akan ST : Skor Tertinggi Ideal
SR : Skor Terendah Ideal
dilaksanakan (2) dokumentasi (3) kuesioner untuk
Mi :
guru dan kuesioner untuk siswa. Kuesioner
digunakan untuk mengungkap data antesedents SDi :
dan transaction, sedangkan observasi dan
dokumentasi untuk mengungkap data output dan HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
juga untuk mendukung data antesedents dan 1. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan
transaction. Kuesioner yang dipakai dalam dan kesehatan Kerja di Bengkel Praktik
pengambilan data adalah tipe pernyataan tertutup SMK Negeri 1 Sedayu
menggunakan skala likert dengan pilihan respon a. Antecedents (Masukan)
skala empat.
1) Komitmen dan Kebijakan K3
Teknik analisis data
Penelitian ini menggunakan teknik Komitmen dan Kebijakan K3
analisis data deskriptif kuantitatif dan deskriptif 100
kualitatif. Analisis data kualitatif yang digunakan
Persentase (%)

63.64
52.38
dalam penelitian ini menggunakan model analisis 46.03
50 36.36
interaktif yang memiliki 3 komponen yaitu:
reduksi data, penyajian data, dan penarikan
0 0.53 0 1.06
kesimpulan. Sedangkan Analisis data kuantiatif 0
menggunakan statistik deskriptif kuantitatif. Sangat Baik Baik Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Guru Kategori
Analisis data dilakukan dengan tahap penyekoran
jawaban, penjumlahan skor total masing-masing Gambar 1. Diagram Indikator Komitmen
indikator dan pengelompokan skor yang didapat. dan Kebijakan K3
Kemudian dicari besarnya skor rata-rata (Mean), Berdasarkan Gambar 1 dapat dilihat untuk
Median (Me), Modus (Mo), simpangan baku atau indikator komitmen dan kebijakan K3 dari
standar deviasi (SD).. Tabel kategori penskoran kuesioner untuk guru berada pada kategori sangat
adalah seperti pada Tabel 1 berikut. baik dengan memperoleh persentase sebesar
63,64%, sedangkan kuesioner untuk siswa berada
pada kategori baik dengan persentase sebesar
52,38%. sekolah.

Prodi Pendidikan Teknik Elektro, Vol.6, No.4, Nopember 2016 : 44-52


47
2) Organisasi atau Unit yang Bertanggung Jawab 4) Penyediaan Alat Pelindung Diri (APD)
di Bidang K3 Penyediaan APD
100
Organisasi di Bidang K3
80

Persentase (%)
100
54.55
80 60 45.45
Persentase (%)

42.33
60 45.45 40 28.04 24.87
41.8
40 32.28 36.36 20
18.18
23.81 4.76
0 0
20 0
0 2.12
0 Sangat Baik Tidak Baik Sangat
Sangat Baik Tidak Baik Sangat Baik Kategori Tidak Baik
Baik Tidak Baik Guru
Kategori
Guru Siswa Gambar 4. Diagram Indikator Penyediaan
Gambar 2. Diagram Indikator Organisasi di APD
Bidang K3
Berdasarkan Gambar 2 dapat dilihat untuk Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat untuk
indikator organisasi yang bertanggung jawab di indikator penyediaan APD dari kuesioner untuk
bidang K3 dari kuesioner untuk guru berada pada guru berada pada kategori baik dengan
kategori tidak baik dengan memperoleh memperoleh persentase sebesar 54,55%,
persentase sebesar 45,45%, sedangkan kuesioner sedangkan kuesioner untuk siswa berada pada
untuk siswa berada pada kategori baik dengan kategori baik dengan persentase sebesar 42,33%.
persentase sebesar 41,80%.
5) Standar Operasional Prosedur (SOP)
3) Penyuluhan/Sosialisasi/Promosi K3
Penyuluhan/Sosialisasi K3 SOP
100
100
80
Persentase (%)

80
Persentase (%)

63.64 54.55
60 51.32
60 36.36 35.98
35.45 40
40 27.27 29.1 31.75
20 12.7
9.09
20 9.09 0 0
0 3.7 0
0
Sangat Baik Tidak Baik Sangat
Sangat Baik Tidak Baik Sangat Baik Tidak Baik
Kategori
Baik Kategori Tidak Baik Guru
Guru Siswa

Gambar 3. Diagram Indikator Penyuluhan K3 Gambar 5. Diagram Indikator SOP


Berdasarkan Gambar 3 dapat dilihat untuk Berdasarkan Gambar 5 dapat dilihat untuk
indikator penyuluhan K3 dari kuesioner untuk indikator standar operasional prosedur dari
guru berada pada kategori baik dengan kuesioner untuk guru berada pada kategori baik
memperoleh persentase sebesar 63,64%, dengan memperoleh persentase sebesar 54,55%,
sedangkan kuesioner untuk siswa berada pada sedangkan kuesioner untuk siswa berada pada
kategori baik dengan persentase sebesar 35,45%. kategori baik dengan persentase sebesar 51,32%.

Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen… (Agung Prabowo)


48
6) Rambu-Rambu dan Perangkat Pendukung K3 2) Identifikasi Bahaya/Hazard
Identifikasi Bahaya
Rambu-Rambu dan Perangkat 100
Pendukung K3 80 72.73

Persentase (%)
100
60 51.32
80 63.64
Persentase (%)

62.96
40 30.16
60 17.99 18.18
36.36 20 9.09
40 22.22 0 0.53
14.29 0
20
0 0 0.53 Sangat Baik Tidak Baik Sangat
0 Baik Tidak Baik
Kategori
Sangat Baik Tidak Baik Sangat Guru
Baik Tidak Baik Gambar 8. Diagram Indikator Identifikasi Bahaya
Kategori
Guru
Berdasarkan Gambar 8 dapat dilihat untuk
indikator identifikasi bahaya dari kuesioner untuk
Gambar 6. Diagram Indikator Rambu dan
guru berada pada kategori baik dengan
Perangkat Pendukung K3
memperoleh persentase sebesar 72,73%,
Berdasarkan Gambar 6 dapat dilihat untuk
sedangkan kuesioner untuk siswa berada pada
indikator rambu-rambu dan perangkat pendukung
kategori baik dengan persentase sebesar 51,32%.
K3 dari kuesioner untuk guru berada pada
3) Resiko
kategori sangat baik dengan memperoleh
persentase sebesar 63,64%, sedangkan kuesioner Resiko
100
untuk siswa berada pada kategori baik dengan
Persentase (%)

63.64
persentase sebesar 62,96%.
44.97
50
23.81 27.27 29.63
b. Transactions (Proses) 9.09
0 1.59
1) Motivasi dan Kesadaran Terhadap K3 0
Sangat Baik Baik Tidak Baik
Sangat Tidak Baik
Motivasi dan Kesadaran Kategori
terhadap K3 Guru
100 Gambar 9. Diagram Indikator Resiko
Berdasarkan Gambar 9 dapat dilihat untuk
Persentase (%)

54.55 55.03 indikator resiko dari kuesioner untuk guru berada


45.45
50 38.62
pada kategori baik dengan memperoleh
persentase sebesar 63,64%, sedangkan kuesioner
6.35
0 0 0 untuk siswa berada pada kategori baik dengan
0
Sangat Baik Baik Tidak Baik Sangat persentase sebesar 44,97%.
Tidak Baik 4) Pengendalian Resiko/Solusi
Guru Siswa Kategori
Pengendalian Resiko/Solusi
100
Gambar 7. Diagram Indikator Motivasi dan
80
Kesadaran terhadap K3
Persentase (%)

60 46.62 45.45 48.68


Berdasarkan Gambar 7 dapat dilihat untuk 40
36.36
indikator motivasi dan kesadaran terhadap K3 18.18
20
dari kuesioner untuk guru berada pada kategori 3.17
0 0.53
0
baik dengan memperoleh persentase sebesar
Sangat Baik Tidak Baik Sangat
54,55%, sedangkan kuesioner untuk siswa berada Baik Tidak Baik
Kategori
pada kategori baik dengan persentase sebesar Guru Siswa

55,03%. Gambar 10. Diagram Indikator Solusi

Prodi Pendidikan Teknik Elektro, Vol.6, No.4, Nopember 2016 : 44-52


49
Berdasarkan Gambar 10 dapat dilihat untuk Terciptanya Sistem K3 yang melibatkan
indikator pengendalian resiko/solusi dari Manajemen, Guru serta Siswa Guna Mengurangi
kuesioner untuk guru berada pada kategori baik terjadinya Kecelakaan Kerja di Bengkel Praktik
dengan memperoleh persentase sebesar 45,45%, SMK Negeri 1 Sedayu.
sedangkan kuesioner untuk siswa berada pada Telah terbentuk sistem keselamatan dan
kategori baik dengan persentase sebesar 48,68%. kesehatan kerja pada masing-masing bengkel
praktik di SMK Negeri 1 Sedayu. Hal ini
5) Pembinaan/Pelatihan K3 berdasarkan hasil observasi yang menunjukkan
bahwa tidak pernah terjadi kecelakaan serius
Pembinaan/Pelatihan K3 maupun terkena penyakit akibat praktik di
100
bengkel yang dialami oleh siswa maupun guru,
Persentase (%)

menunjukkan bahwa di dalam bengkel telah


45.45 50.79
50 terpasang rambu-rambu keselamatan, tersedianya
27.27 27.27
25.93 alat-alat pendukung keselamatan. Sistem yang
20.11
0 3.17 terbentuk meskipun belum dapat sepenuhnya
0
dikatakan sempurna mengacu pada sistem
Sangat Baik Tidak Baik Sangat
Baik Tidak Baik
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di
Kategori
Guru industri, namun telah terbentuk budaya sadar
Gambar 11. Diagram Indikator Pembinaan K3 akan keselamatan dan kesehatan kerja yang
selama ini dilaksanakan di masing-masing
Berdasarkan Gambar 11 dapat dilihat untuk bengkel praktik SMK Negeri 1 Sedayu. Hal ini
indikator pembinaan K3 dari kuesioner untuk jadi pondasi penting akan penerapan keselamatan
guru berada pada kategori sangat baik dengan dan kesehatan kerja di setiap praktik.
memperoleh persentase sebesar 45,45%,
sedangkan kuesioner untuk siswa berada pada 2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
kategori baik dengan persentase sebesar 50,79%. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan
dan kesehatan Kerja di Bengkel Praktik
6) Perilaku/Budaya K3 SMK Negeri 1 Sedayu

Budaya K3 Berdasarkan hasil penelitian yang telah


100
dilakukan, faktor-faktor yang mempengaruhi
80
Persentase (%)

penerapan sistem manajemen keselamatan dan


60 54.55 56.08
36.36 38.1
kesehatan kerja di bengkel praktik SMK Negeri 1
40 Sedayu terbagi menjadi dua faktor yaitu: faktor
20 9.09 pendukung dan faktor penghambat. Faktor
5.29 0 0.53
0 pendukung dalam penerapan sistem manajemen
Sangat Baik Tidak Baik Sangat keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel
Baik Kategori Tidak Baik
Guru praktik SMK Negeri 1 Sedayu adalah komitmen
Gambar 12. Diagram Indikator Budaya K3 dan kebijakan K3 serta pembinaan/pelatihan K3.
Faktor Penghambat dalam penerapan sistem
Berdasarkan Gambar 12 dapat dilihat untuk manajemen keselamatan dan kesehatan kerja di
indikator perilaku/budaya K3, kuesioner untuk bengkel praktik SMK Negeri 1 Sedayu adalah
guru berada pada kategori baik dengan kendala dalam penyediaan alat pelindung diri dan
memperoleh persentase sebesar 54,55%, belum adanya personal/organisasi khusus di
sedangkan kuesioner untuk siswa berada pada bidang K3.
kategori baik dengan persentase sebesar 56,08%.
c. Output (Hasil)
Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen… (Agung Prabowo)
50
SIMPULAN DAN SARAN Sedayu, Faktor pendukung dalam penerapan
sistem manajemen keselamatan dan kesehatan
Simpulan
kerja di bengkel praktik SMK Negeri 1 Sedayu
Berdasarkan hasil penelitian dan
adalah komitmen dan kebijakan K3 serta
pembahasan hasil penelitian dapat diambil
pembinaan/pelatihan K3. Faktor penghambat
kesimpulan sebagai berikut:
dalam penerapan sistem manajemen keselamatan
Penerapan sistem manajemen keselamatan
dan kesehatan kerja di bengkel praktik SMK
dan kesehatan kerja di bengkel praktik SMK
Negeri 1 Sedayu adalah kendala dalam
Negeri 1 Sedayu dengan model countenance
penyediaan alat pelindung diri di bengkel praktik
stake. Antecedents: (1) Menurut pendapat guru
yang masih terbatas dan juga belum adanya
komitmen dan kebijakan K3 berada pada kategori
personal/organisasi khusus yang mempunyai
sangat baik sedangkan menurut pendapat siswa
tanggung jawab, wewenang dan kewajiban yang
berada pada kategori baik, (2) Menurut pendapat
jelas dalam penanganan keselamatan dan
guru organisasi yang bertanggung jawab di
kesehatan kerja.
bidang K3 berada pada kategori tidak baik
sedangkan menurut pendapat siswa berada pada
kategori baik, (3) Menurut pendapat guru dan Saran
Berdasarkan kesimpulan maka peneliti
siswa penyuluhan/sosialisasi/promosi K3 berada
memiliki saran kepada berbagai pihak antara lain
pada kategori baik (4) Menurut pendapat guru
sebagai berikut: (1) Pihak sekolah hendaknya
dan siswa penyediaan APD berada pada kategori
memperjelas dan memperinci jobdesk
baik, (5) Menurut pendapat guru dan siswa
keselamatan dan kesehatan kerja di bengkel
standar operasional prosedur berada pada kategori
praktik sekolah dengan memasukkannya ke
baik, (6) Menurut pendapat guru rambu-rambu
dalam uraian tugas kepala bengkel masing-
dan perangkat pendukung K3 berada pada
masing jurusan, (2) Pihak sekolah hendaknya
kategori sangat baik sedangkan menurut pendapat
menetapkan personal yang memiliki tanggung
siswa berada pada kategori baik. Transaction: (1)
jawab, wewenang dan kewajiban yang jelas
Motivasi dan kesadaran terhadap K3 oleh guru
dalam penanganan keselamatan dan kesehatan
maupun siswa berada pada kategori baik, (2)
kerja di bengkel praktik, (3) Pihak sekolah
Identifikasi bahaya/hazard oleh guru maupun
hendaknya melengkapi kekurangan bengkel pada
siswa berada pada kategori baik, (3) Menurut
penyediaan alat pelindung diri, (4) Pihak sekolah
pendapat guru dan siswa resiko berada pada
melalui guru pengampu hendaknya lebih kompak,
kategori baik, (4) Pengendalian resiko/solusi oleh
konsisten dan giat lagi dalam memberikan
guru maupun siswa berada pada kategori baik, (5)
motivasi kepada siswa demi meningkatkan
Menurut pendapat guru pembinaan/pelatihan K3
kesadaran siswa terhadap pentingnya keselamatan
berada pada kategori sangat baik sedangkan
dan kesehatan kerja, tidak hanya ketika praktik
menurut pendapat siswa berada pada kategori
tapi juga ketika terjun langsung ke dunia kerja
baik, (6) Perilaku/budaya K3 oleh guru maupun
sebenarnya.
siswa berada pada kategori baik. Output sudah
berjalan dengan baik karena pada masing-masing
jurusan di SMK Negeri 1 Sedayu tidak ada
catatan/laporan KAK/PAK sehingga dapat
disimpulkan bahwa di SMK negeri 1 Sedayu
telah terbentuk sistem keselamatan dan kesehatan
kerja pada setiap bengkel praktik.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
penerapan sistem manajemen keselamatan dan
kesehatan kerja di bengkel praktik SMK Negeri 1

Prodi Pendidikan Teknik Elektro, Vol.6, No.4, Nopember 2016 : 44-52


51
DAFTAR PUSTAKA

Anas Sudijono. (2012). Pengantar Statistik


Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Persada.

Nana Sudjana. (2014). Penilaian Proses Belajar


Mengajar. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya.

Nana Syaodih Sukmadinata. (2012). Metode


Penelitian Pendidikan. Bandung:Remaja
Rosdakarya

Suharsimi Arikunto. (2010). Prosedur Penelitian


Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
Rineka Cipta.

Suharsimi Arikunto., Cepi Safruddin. (2010).


Evaluasi Program Pendidikan. Jakarta:
Bumi Aksara

Evaluasi Penerapan Sistem Manajemen… (Agung Prabowo)

Anda mungkin juga menyukai