0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan6 halaman

K3 di Bengkel SMK: Tantangan dan Solusi

Dokumen tersebut membahas latar belakang perlunya mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja di bengkel SMK khususnya SMK Taman Siswa 2 Jakarta. Dokumen menjelaskan pentingnya penerapan aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), termasuk melakukan identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko untuk mencegah kecelakaan kerja siswa selama praktikum di bengkel. Dokumen ini juga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan6 halaman

K3 di Bengkel SMK: Tantangan dan Solusi

Dokumen tersebut membahas latar belakang perlunya mengidentifikasi risiko kecelakaan kerja di bengkel SMK khususnya SMK Taman Siswa 2 Jakarta. Dokumen menjelaskan pentingnya penerapan aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), termasuk melakukan identifikasi bahaya, penilaian risiko, dan pengendalian risiko untuk mencegah kecelakaan kerja siswa selama praktikum di bengkel. Dokumen ini juga
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sekolah Menengah Kejuruan merupakan wadah untuk membentuk sumber
daya manusia yang terampil dalam bidang tertentu agar dihasilkan lulusan yang
siap kerja. Lulusan SMK diharapkan mempunyai kemampuan yang sesuai dengan
kebutuhan industri. Oleh karena itu, bidang keahlian di SMK harus disesuaikan
dengan bidang keahlian yang dibutuhkan oleh industri. Bidang keahlian di SMK
menurut Kurikulum 2013 terbagi menjadi beberapa bidang keahlian yang sudah
disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri. Bidang keahlian tersebut masih
dibagi lagi menjadi beberapa jurusan. Salah satu bidang keahlian dan jurusan yang
ada di SMK Taman Siswa 2 Jakarta yaitu Bidang Keahlian Teknik Mesin dengan
Jurusan Teknik Pemesinan. Siswa/siswi SMK dibekali dengan beberapa
kompetensi untuk membentuk lulusan yang siap kerja. Salah satunya yaitu
kompetensi tentang teknik pemesinan seperti keahlian dalam menggunakan mesin
bubut, mesin frais, mesin bor serta praktik kerja bangku. Berdasarkan Peraturan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 54 Tahun 2013 tentang Standar
Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah terdapat tiga dimensi
kompetensi lulusan untuk SMK ketiga dimensi kompetensi tersebut yaitu dimensi
sikap (afektif), dimensi pengetahuan (kognitif) dan dimensi keterampilan
(psikomotorik). Ketiga dimensi tersebut harus bersinergi agar siswa/siswi tidak
hanya mengetahui tentang teorinya saja, tetapi juga dapat melakukan praktik
tentang pemesinan dan mempunyai sikap dan etika yang baik.

Salah satu aspek untuk menunjang proses pembelajaran praktik di SMK


adalah bengkel. Bengkel merupakan sarana penting dalam pendidikan kejuruan
untuk menerima pembelajaran praktik dan mengaplikasikan teori melalui
praktikum. Bengkel yang baik harus memenuhi beberapa indikator, diantaranya:
luas bengkel memadai untuk kegiatan proses belajar praktik, bengkel diusahakan
terpisah dengan kelas, mudah diakses kendaraan transportasi penyedia bahan
praktik, menyediakan ruang yang berkaitan dengan pekerjaan praktik seperti
ruang teknisi dan ruang alat, pencahayaan yang cukup terang dan melengkapi alat-
alat pencegah kecelakaan kerja (Sukardi dan Siti Nurjanah, 2015: 13). Bengkel

1
2

sebagai tempat siswa melaksanakan praktik juga harus memenuhi aspek


Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3). Aspek K3 sangat perlu diperhatikan
dalam penyelenggaraan pengelolaan bengkel karena menyangkut nyawa manusia.
Penyelenggaraan bengkel yang tidak memenuhi aspek K3 dapat menimbulkan
potensi bahaya. Potensi bahaya yang tidak dapat dikendalikan mengakibatkan
terjadinya kecelakaan kerja. Hal ini tentunya tidak diharapkan oleh siswa/siswi,
guru maupun manajemen bengkel.

Setiap tempat kerja selalu mempunyai risiko terjadinya kecelakaan.


Besarnya risiko yang terjadi tergantung dari jenis industri, teknologi serta upaya
pengendalian risiko yang dilakukan. Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan
yang terjadi dikarenakan oleh pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan
pada suatu instansi. Secara garis besar kejadian kecelakaan kerja disebabkan oleh
dua faktor, yaitu tindakan manusia yang tidak memenuhi keselamatan kerja
(unsafe act) dan juga keadaan-keadaan lingkungan yang tidak aman (unsafe
condition) (Suma’mur, 1984). Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia
No. 1 Tahun 1970 tentang keselamatan kerja dituliskan bahwa setiap tenaga kerja
berhak mendapatkan perlindungan atas keselamatannya dalam melakukan
pekerjaan kesejahteraan hidup dan meningkatkan produksi serta produktivitas
nasional. Begitu juga dengan setiap orang lain yang berada di tempat kerja dalam
hal ini adalah siswa/siswi yang melakukan kegiatan praktikum perlu terjamin pula
keselamatannya. Oleh karena itu, sesuai dengan peraturan yang berlaku setiap
instansi yang didalamnya terdapat pekerja dan resiko terjadinya bahaya wajib
untuk memberikan perlindungan keselamatan.

Analisa tentang kecelakaan dan resikonya dilakukan atas dasar pengenalan


atau identifikasi bahaya di lingkungan kerja dan pengukuran bahaya di tempat
kerja. Secara garis besar ada empat faktor utama yang mempengaruhi kecelakaan
yaitu faktor manusia, alat atau mesin, material dan lingkungan (Suma’mur, 1986).
Proses identifikasi bahaya merupakan salah satu bagian dari manajemen resiko.
Penilaian resiko merupakan proses untuk menentukan prioritas pengendalian
terhadap tingkat resiko kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Proses identifikasi
bahaya bisa dimulai berdasarkan kelompok, seperti: kegiatan, lokasi, aturan-
aturan, dan fungsi atau proses produksi. Ada berbagai cara yang dapat dilakukan
3

guna mengidentifikasi bahaya di lingkungan kerja, misalnya melalui inspeksi,


informasi mengenai data kecelakaan kerja, penyakit dan absensi, laporan dari tim
K3, P2K3, supervisor dan keluhan pekerja, pengetahuan tentang industri, lembar
data keselamatan bahan dan lain-lain. Salah satu sistem manajemen K3 yang
berlaku global atau Internasional adalah OHSAS 18001;2007. Menurut OHSAS
18001, manajemen K3 adalah upaya terpadu untuk mengelola risiko yang ada
dalam aktivitas suatu instansi yang dapat mengakibatkan cidera pada manusia,
kerusakan atau gangguan terhadap instansi itu sendiri. Manajemen risiko terbagi
atas tiga bagian yaitu Hazard Identification, Risk Assessment dan Risk Control.
Biasanya dikenal dengan singkatan HIRARC. Metode ini merupakan bagian dari
manajemen risiko dan yang menentukan arah penerapan K3 dalam suatu instansi
(Ramli, 2010).

Metode HIRARC (Hazard Indentification, Risk Assessment, And Risk


Control) adalah serangkaian proses identifikasi bahaya yang terjadi dalam
aktivitas rutin maupun non rutin di suatu instansi yang diharapkan dapat
dilakukan usaha untuk pencegahan dan pengurangan terjadinya kecelakaan kerja
yang terjadi, dan menghindari serta meminimalisir risiko dengan cara yang tepat
dengan menghindari dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan kerja serta
pengendaliannya dalam melakukan proses kegiatan perbaikan dan perawatan
sehingga prosesnya menjadi aman. Identifikasi bahaya serta penilaian risiko dan
pengendaliannya merupakan bagian dari sistem manajemen risiko yang
merupakan dasar dari SMK3 Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan
Kerja yang terdiri dari identifikasi bahaya (hazard indentification), penilaian
risiko (risk assessment) dan pengendalian risiko (risk control). Besar kecil nya
suatu kecelakaan akan berdampak besar pada suatu instansi dan pada pekerja yang
bekerja pada instansi itu sendiri dalam penelitian ini instansi itu adalah sekolah
dan karyawan dalam perusahaan itu adalah siswa/siswi. Sehingga digunakanlah
metode Hazzard Identification, Risk Assessment, and Risk Control. Yang
bertujuan agar mampu mengidentifikasi potensi bahaya, mampu menilai risiko,
serta mampu mengendalikan risiko sesuai dengan norma K3 sehingga dapat
menciptakan kondisi kerja yang aman sehingga dapat mencegah kejadian,
kecelakaan, dan penyakit akibat kerja.
4

Sebagai lembaga pendidikan pihak sekolah dalam hal ini SMK Taman
Siswa 2 Jakarta merupakan pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
K3 dilingkungan sekolah sesuai dengan perintah Undang-Undang No. 1 tahun
1970. Berdasarkan pengamatan saat melakukan observasi khususnya pada
program keahlian teknik pemesinan dalam pelajaran praktikum pembubutan,
pengefraisan, penggerindaan, pengelasan, dan kerja bangku masih ada beberapa
siswa yang belum sadar atau kurang tertib dalam melaksanakan peraturan yang
ada dalam bengkel seperti tidak memakai wearpack, alat pelindung diri,
penggunaan kunci dan alat yang tidak sesuai ukuran maupun fungsinya masih
dipaksakan sehingga seringkali meleset dan menimbulkan kecelakaan kerja.

Dalam Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan Sistem

Manjemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, dijelaskan bahwa K3 harus


dilaksanakan oleh pengurus atau tempat kerja dengan menyediakan sumber daya.
Pihak sekolah juga belum mempehatikan perihal aspek K3 dengan cukup baik.
Hal ini dapat dilihat dengan minimnya petunjuk jalur evakuasi, poster-poster
pentingnya K3, petunjuk penggunaan alat atau mesin, perawatan mesin dan alat,
belum adanya exhaust pada area pengelasan serta kurangnya sosialiasi dan kurang
tegasnya guru menindaklanjuti siswa yang melangggar aspek K3 pada saat
kegiatan praktikum berlangsung. Guru lebih memfokuskan perhatian pada siswa
yang tidak melakukan praktik atau bolos mata pelajaran praktik tanpa melakukan
pengawasan terhadap siswa yang sedang melakukan praktik. Berdasarkan
keterangan yang saya dapatkan dari salah seorang siswa, telah terjadi kecelakaan
kerja kurang lebih sebanyak 4 kasus sepanjang tahun 2015-2020, diantaranya saat
melakukan praktik pembubutan benda kerja siswa ada yang terpental mengenai
wajah, tangan siswa melepuh karena memegang benda hasil pengelasan, dan lain-
lain. Dengan ini menunjukan bahwa kesadaran siswa dalam berperilaku K3 masih
sangat kurang. Dilihat dari beberapa permasalahan di atas melihat hasil
pengamatan dan observasi dari praktikum pemesinan yang dilakukan siswa pada
bengkel pemesinan jelas siswa menggunakan peralatan dan mesin yang rawan
akan terjadinya kecelakaan kerja, sehingga bisa disimpulkan bahwa pengetahuan
mengenai K3 siswa teknik pemesinan SMK Taman Siswa 2 Jakarta masih sangat
kurang dan perlu dibenahi agar kecelakaan pada saat praktikum dapat dicegah dan
5

dihindari. Selain permasalahan diatas, belum pernah adanya penelitian tentang


risiko kecelakaan kerja pada kegiatan praktek di bengkel teknik pemesinan di
SMK Taman Siswa 2 Jakarta membuat penulis berinisiatif membuat judul
penelitian “ANALISIS RISIKO KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
(K3) PADA RUANG BENGKEL TEKNIK PEMESINAN SMK TAMAN
SISWA 2 JAKARTA DENGAN MENGGUNAKAN METODE HIRARC
(HAZARD IDENTIFICATION, RISK ASSESMENT AND RISK CONTROL)”

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang penelitian yang telah diuraikan maka penulis
dapat mengidentifikasi masalah sebagai berikut:

1. Menentukan bahaya apa saja yang teridentifikasi pada ruang bengkel


Teknik Pemesinan di SMK Taman Siswa 2 Jakarta
2. Menentukan tingkatan risiko bahaya pada ruang bengkel Teknik
Pemesinan di SMK Taman Siswa 2 Jakarta
3. Menentukan bagaimana pengendalian risiko yang dilakukan pada ruang
bengkel Teknik Pemesinan di SMK Taman Siswa 2 Jakarta
1.3 Pembatasan Masalah
Penulis berfokus untuk memberikan batasan masalah terhadap penelitian
ini yaitu mengidentifikasi bahaya dan menganalisis risiko serta menentukan
pengendalian risiko yang terdapat pada ruang bengkel teknik pemesinan
SMK Taman Siswa 2 Jakarta demi terciptanya penganggulangan kecelakaan
kerja yang efektif.

1.4 Rumusan Masalah


Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka penulis membuat rumusan
masalah sebagai berikut:

a. Apa saja bahaya yang teridentifikasi pada ruang bengkel Teknik


Pemesinan di SMK Taman Siswa 2 Jakarta?
b. Bagaimana tingkatan risiko bahaya pada ruang bengkel Teknik Pemesinan
di SMK Taman Siswa 2 Jakarta?
c. Bagaimana pelaksanaan pengendalian risiko pada ruang bengkel Teknik
Pemesinan di SMK Taman Siswa 2 Jakarta?
6

1.5 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah maka penelitian ini memiliki tujuan yang
ingin dicapai yaitu sebagai berikut:

a. Untuk mengidentifikasi bahaya yang terdapat pada ruang bengkel Teknik


Pemesinan di SMK Taman Siswa 2 Jakarta
b. Untuk menganalisa tingkatan risiko yang terdapat pada ruang bengkel
teknik pemesinan di SMK Taman Siswa 2 jakarta
c. Untuk mengetahui pelaksanaan pengendalian risiko yang terdapat pada
ruang bengkel teknik pemesinan di SMK Taman Siswa 2 Jakarta
1.6 Manfaat Penelitian
a. Bagi Penulis

Memberikan manfaat bagi penulis untuk memperdalam pengetahuan,


wawasan serta kemampuan untuk mengaplikasikan ilmu tentang
keselamatan kerja. Terutama mengenai analisis risiko keselamatan kerja
menggunakan metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment
and Risk Control).

b. Bagi Sekolah
Hasil dari penelitian ini dapat menjadi informasi dan rekomendasi kepada
Instansi/sekolah sebagai bahan pertimbangan atau masukan tentang
potensi bahaya dan cara penganggulangan bahaya nya yang terdapat di
ruang praktek bengkel teknik pemesinan di SMK Taman Siswa 2 Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai