BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Distribusi
2.1.1 Pengertian Distribusi
Dalam usaha untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi atau
perusahaan di bidang pemasaran, setiap organisasi maupun perusahaan
melakukan kegiatan penyaluran. Penyaluran merupakan kegiatan
penyampaian produk sampai ke tangan si pemakai atau konsumen pada
waktu yang tepat.
Menurut Anwar (2008:125) dalam kamus besar bahasa
Indonesia, pengertian distribusi adalah pembagian pengiriman barang-
barang kepada orang banyak atau ke beberapa tempat.
Kegiatan distribusi merupakan salah satu fungsi pemasaran yang
sangat penting dilakukan dalam pemasaran yaitu untuk mengembangkan
dan memperluas arus barang atau jasa mulai dari produsen sampai
ketangan konsumen sesuai dengan jumlah dan waktu yang telah
ditentukan.
Pemilihan proses distribusi merupakan suatu masalah yang
sangat penting sebab kesalahan dalam pemilihan proses distribusi dapat
memperlambat proses penyaluran barang dan jasa sampai ketangan
konsumen atau pemakai.
Untuk mengetahui lebih jelas mengenai pengertian distribusi,
berikut ini dikemukakan pendapat dari beberapa ahli antara lain :
15
16
Menurut Aziz (2008:87) selain ilmuan ekonomi konvensional
Philip kotler mendefinisikan distribusi adalah himpunan perusahaan dan
perorangan yang mengambil alih hak, atau membantu dalam
mengalihkan ha katas barang atau jasa tersebut berpindah dari produsen
ke konsumen.
Secara garis besar, pendistribusian dapat diartikan sebagai
kegiatan pemasaran yang berusaha memperlancar dan mempermudah
penyampaian barang dan jasa dari produsen ke konsumen, sehingga
penggunaannya sesuai dengan yang diperlukan (jenis, harga, tempat dan
saat dibutuhkan).
Ditinjau dari bagian-bagiannya, distribusi merupakan suatu sub
system yang saling bekerja sama untuk membentuk suatu system yang
sesuai dengan tujuan tertentu. System ini harus diawasi agar dapat
berjalan sebagaimana mestinya. Secara sederhana system ini juga
merupakan seperangkat elemen yang saling bekerja sama untuk suatu
tujuan tertentu.
2.1.2 Fungsi Saluran Distribusi
Mengingat saluran distribusi merupakan suatu struktur yang
menggambarkan situasi pemasaran yang berbeda oleh berbagai macam
lembaga usaha (seperti produsen, pedagang besar dan pengecer), maka
kegiatan saluran distribusi harus dapat dipertimbangkan dan dilakukan
secara efisien dan efektif.
17
Fungsi distribusi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu fungsi
pokok dan fungsi tambahan.
1. Fungsi Pokok Distribusi
a. Pengangkatan (Transportasi)
Pada umumnya tempat kegiatan produksi berbeda dengan tempat
konsumen. Perbedaan tempat ini harus diatasi dengan kegiatan
pengangkutan. Seiring dengan bertabahnya jumlah penduduk dan
semakin majunya teknologi, maka kebutuhan manusiapun semakin
bertambah banyak. Hal ini mengakibatkan barang yng disalurkan
semakin besar sehingga membutuhkan alat transportasi
(pengangkatan).
b. Penjualan (Selling)
Di dalam pemasaran barang selalu ada kegiatan menjual yang
dilakukan oleh produsen. Pengalihan hak dari produsen kepada
konsumen dapat dilakukan dengan penjualan. Dengan adanya
kegiatan penjualan maka konsumen dapat menggunakan barang
tersebut.
c. Pembelian (Buying)
Setiap ada penjualan berarti ada kegiatan pembelian. Jika penjualan
barang dilakukan oleh produsen maka pembelian dilakukan oleh
orang yang membutuhkan barang tersebut.
d. Penyimpanan (Stooring)
18
Sebelum barang disalurkan kepada konsumen, biasanya disimpan
terlebih dahulu. Dalam menjamin kesinambungan, keselamatan
dan keutuhan barang-barang perlu adanya penyimpanan.
e. Pembakuan Standar Kualitas Barang
Dalam setiap transaksi jual beli, banyak penjual maupun pembeli
selalu menghendaki adanya ketentuan mutu, jenis dan ukuran
barang yang akan diperjual belikan. Oleh karena itu perlu adanya
pembakuan standar baik jenis, ukuran maupun kualitas barang
yang akan diperjualbelikan dengan tujuan barang yang akan
diperdagangkan atau saluran sesuai dengan yang diharapkan.
f. Penanggung Resiko
Seorang distributor harus menanggung resiko baik kerusakan
maupun penyusutan barang.
2. Fungsi Tambahan Distribusi
a. Menyeleksi
Kegiatan ini biasanya diperlukan untuk distribusi hasil pertanian
dan produksi yang dikumpulkan dari beberapa pengusaha.
b. Mengepak/mengemas
Untuk menghindari adanya kerusakan atau hilang dalam
pendistribusian maka barang harus dikemas dengan baik.
c. Memberi Informasi
Untuk memberi kepuasan yang maksimal kepada konsumen,
produsen perlu memberi informasi secukupnya kepada perwakilan
19
daerah atau kepada konsumen yang dianggap perlu inforasmasi,
informasi yang paling tepat bisa melalui iklan.
2.1.3 Jenis Saluran Distribusi
Saluran distribusi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu :
1. Saluran distribusi intensif
Distribusi di mana barang yang dipasarkan itu diusahakan agar
dapat menyebar seluas mungkin hingga dapat secara intensif
menjangkau semua lokasi dimana calon konsumen berada.
2. Saluran distribusi selektif
Distribusi di mana barang- barang hanya disalurkan oleh beberapa
penyalur saja yang terpilih atau selektif.
3. Saluran distribusi ekslusif
Bentuk penyaluran yang hanya menggunakan penyalur yang sangat
terbatas jumlahnya bahkan pada umumnya hanya ada satu penyalur
tunggal untuk satu daerah tertentu.
2.1.4 Kebijakan Saluran Distribusi
Kebijakan saluran distribusi lembaga-lembaga yang digunakan
perusahaan untuk membantu memasarkan produk kepada pembeli ini
biasa disebut perantara. Dalam melakukan saluran distribusi, maka
sebaiknya menetapkan tujuan dalam menggunakan saluran distribusi
terlebih dahulu.
Adapun yang menjadi tugas-tugas penting dan harus dijalankan
oleh para anggota saluran distribusi adalah :
20
1. Penelitian, mengumpulkan informasi-informasi penting untuk
perencanaan dan melancarkan pertukaran.
2. Promosi, pengembangan dan penyebaran komunikasi yang
persuasive mengenai penawaran.
3. Kontrak, pencapaian dan menjalin hubungan dengan calon pembeli.
4. Penyelaras, mempertemukan penawaran sesuai dengan permintaan
pembeli
5. Negosiasi, usaha untuk mencapai persetujuan akhir mengenai harga
dan hal-hal lain sehubungan perpindahan hak pemilik atau
penguasaan bisa dilakukan.
6. Distribusi fisik, transportasi dan penyimpanan barang.
7. Pembiayaan, permintaan dan penyebaran dana untuk menutup biaya
dari saluran pemasaran tersebut.
8. Pengambilan resiko, perkiraan mengenai resiko sehubungan dengan
pekerjaan saluran distribusi.
2.1.5 Indikator Distribusi
Raskin merupakan subsidi pangan dalam bentuk beras yang
diperuntukkan bagi rumah tangga berpenghasilan rendah sebagai upaya
dari pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memberikan
perlindungan sosial pada rumah tangga sasaran. Keberhasilan Program
Raskin diukur berdasarkan tingkat pencapaian indikator yang tercantum
dalam Kepmenko Kesra No. 57 Tahun 2012, yaitu : Tepat Sasaran,
Tepat Waktu dan tepat Kualitas.
21
1. Tepat Sasaran Penerima Manfaat yaitu RASKIN hanya diberikan
kepada RTM penerima manfaat Raskin hasil musyawarah
desa/kelurahan yang terdaftar dalam DPM-1 dan diberi identitas
(Kartu RASKIN atau bentuk lain).
2. Tepat Waktu yaitu Waktu pelaksanaan Distribusi beras RASKIN
kepada RTM Penerima Manfaat Raskin (PMR) sesuai dengan
Rencana Distribusi.
3. Tepat Kualitas: Terpenuhinya persyaratan kualitas beras sesuai
dengan kualitas beras BULOG.
Dalam keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan
Rakyat No 52 Tahun 2012 tercantum tujuan program Raskin. Program
ini bertujuan untuk mengurangi beban pengeluaran Rumah Tangga
Sasaran (RTS) melalui pemenuhan sebagian kebutuhan pangan pokok
dalam bentuk beras dan mencegah penurunan konsumsi energi dan
[Link] itu raskin bertujuan untuk meningkatkan / membuka akses
pangan keluarga melalui penjualan beras kepada keluarga penerima
manfaat dengan jumlah yang telah ditentukan. Rumah tangga yang
berhak menerima beras Raskin, atau juga disebut Rumah Tangga
Sasaran Penerima Manfaat (RTS-PM) Program Raskin, adalah rumah
tangga yang terdapat dalam data yang diterbitkan dari Basis Data
Terpadu hasil PPLS 2011 yang dikelola oleh Tim Nasional Percepatan
Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan disahkan oleh Kemenko
Kesra RI.
22
2.1.6 Distribusi dalam Perspektif Islam
Sebagaimana dikemukakan oleh al-Maliki: “persoalan ekonomi
bukanlah kekurangan sumber daya alam (resources) yang tersedia,
karena sumber daya itu cukup disediakan oleh Allah SWT (QS. Hud
[11]: 6), tetapi terletak pada cara mendistribusikan sumber daya itu
kepada seluruh manusia. Sebab, sebanyak apa pun barang dan jasa yang
tersedia, tanpa adanya pola distribusi yang tepat, dan pembatasan
konsumsi, tetap akan timbul masalah kekurangan bagi yang lain”
Dengan demikian, makna distribusi dalam ekonomi Islam sangatlah luas,
yaitu mencakup pengaturan kepemilikan unsur-unsur produksi dan
sumber-sumber kekayaan. Dimana, Islam memperbolehkan kepemilikan
umum dan kepemilikan khusus, dan meletakkan masing-masingnya
kaidah untuk mendapatkan dan mempergunakannya, dan kaidah–kaidah
untuk warisan, hibah dan wasiat. Sebagaimana ekonomi Islam juga
memiliki politik dalam distibusi pemasukan, baik antar unsur–unsur
produksi maupun antara individu masyarakat dan kelompok–
kelompoknya, dan pengembalian distribusi dalam sistem jaminan sosial
yang disampaikan dalam ajaran Islam. Adapun dasar hukum distribusi
menurut ekonomi Islam adalah:
Artinya: “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi)
zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang
23
hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan
serta merta mereka menjadi marah” (TQS. at- Taubah [9]: 58).
Allah SWT juga berfirman:
Artinya: “Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya
(dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah
untuk Allah, untuk Rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu
jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa
yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang
dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya” (QS. al-Hasyr
[59]: 7).”
Karena memperhatikan bahayanya pendistribusian harta yang
bukan pada haknya dan terjadinya penyelewengan distribusi pada
jalannya yang benar ini, maka Islam mengutamakan tema distribusi
dengan perhatian besar yang terlihat dalam beberapa fenomena, dimana
yang terpenting adalah sebagai berikut:
24
1. Banyaknya nash al-Qur’an dan hadits Nabawi yang mencakup tema
distribusi dengan menjelaskan sistem manajemennya, himbauan
komitmen dan cara-caranya yang terbaik dan memperingatkan
penyimpangan dari sistem yang benar.
2. Syariat Islam tidak hanya menetapkan prinsip–prinsip umum bagi
distribusi dan pengembalian distribusi, namun juga merincikan
dengan jelas dan lugas cara pendistribusian harta dan sumber-
sumbernya.
3. Banyaknya dan komperhensifnya system dan cara distribusi yang
ditegakkan dalam Islam, baik dengan cara pengharusan (wajib)
maupun yang secara suka rela (sunnah).
4. Al-Qur’an menyebutkan secara tekstual dan eksplisit tentang tujuan
peringatan perbedaan di dalam kekayaan, dan mengantisipasi
pemusatan harta dalam kalangan minoritas.
5. Dalam fikih ekonomi Umar Radhiyallahu Anhu, tema distribusi
mendapat porsi besar yang dijelaskan dalam kepemimpinannya,
yakni dalam perkataannya, “ Sesungguhnya aku telah meninggalkan
kepada kalian dua hal yang akan selalu kalian dalam kebaikan
selama kalian komitmen kepada keduanya, yaitu adil dalam hukum,
dan adil dalam pendistribusian.”
25
2.2 Pengawasan
2.2.1 Pengertian Pengawasan
Berbagai fungsi manajemen dilaksanakan oleh para pemimpin
dalam rangka mencapai tujuan organisasi. Fungsi-fungsi yang ada di
dalam manajemen diantaranya adalah fungsi perencanaan (planning),
fungsi pengorganisasian (organizing), fungsi pelaksanaan (actuating)
dan fungsi pengawasan (controlling) menurut Griffin (2004 : 44).
Keempat fungsi manajemen tersebut harus dilaksanakan oleh seorang
manajer secara berkesinambungan, sehingga dapat merealisasikan tujuan
organisasi. Pengawasan merupakan bagian dari fungsi manajemen yang
berupaya agar rencana yang sudah ditetapkan dapat tercapai dengan
efektif dan efesien.
Pengawasan secara umum dapat didefinisikan sebagai cara suatu
organisasi mewujudkan kinerja yang efektif dan efisien, serta lebih jauh
mendukung terwujudnya visi dan misi organisasi (Fahmi, 2011 : 84).
Pengawasan juga dapat didefinisikan sebagai proses penentuan, apa yang
harus dicapai yaitu standar apa yang sedang dilakukan yaitu
pelaksanaan, menilai pelaksanaan dan apabila perlu dilakukan
perbaikan-perbaikan, sehingga pelaksanaan sesuai dengan rencana yaitu
selaras dengan standar .
Menurut Siagian (2011 : 50) pengawasan merupakan proses
pengamatan dari seluruh kegiatan organisasi guna lebih menjamin bahwa
26
semua pekerjaan yang sedang dilakukan sesuai dengan rencana yang
telah ditentukan sebelumnya.
Menurut Kartono (2014 : 51) memberi pengertian pengawasan
adalah pada umumnya para pengikut dapat bekerja sama dengan baik
kearah pencapaian sasaran dan tujuan umum organisasi pengawasan
untuk mengukur hasil pekerjaan dan menghindari penyimpangan-
penyimpangan jika perlu segera velakukan tindakan korektif terhadap
penyimpangan-penyimpangan tersebut.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, maka secara singkat inti
dari definisi pengawasan adalah usaha untuk menjamin agar pelaksanaan
sesuai dengan rencana yang telah ditentukan dan disepakati bersama.
2.2.2 Tujuan Pengawasan
Kegiatan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
memerlukan pengawasan agar perencanaan yang telah disusun dapat
terlaksana dengan baik. Pengawasan dikatakan sangat penting karena
pada dasarnya manusia sebagai objek pengawasan mempunyai sifat
salah dan khilaf. Oleh karena itu manusia dalam organisasi perlu
diawasi, bukan mencari kesalahannya kemudian menghukumnya, tetapi
mendidik dan membimbingnya. Adapun maksud dan tujuan pengawasan
adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui jalannya pekerjaan apakah lancar atau tidak.
27
2. Untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai
dan mengusahakan pencegahan supaya tidak terulang kembali
kesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan-kesalahan yang baru.
3. Untuk mengetahui apakah penggunaan budget yang telah ditetapkan
dalam planning terarah kepada sasarannya dan sesuai dengan yang
telah ditentukan.
4. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan biaya sesuai dengan program
seperti yang telah ditentukan dalam planning atau tidak.
5. Untuk mengetahui hasil pekerjaan dengan dibandingkan dengan
yang telah ditetapkan dalam rencana (standar).
6. Untuk mengetahui apakah pelaksanaan kerja sesuai dengan prosedur
dan kebijaksanaan yang telah ditentukan.
2.2.3 Indikator Pengawasan
Indikator untuk mengukur pengawasan kerja adalah sebagai
berikut :
1. Pengawasan langsung.
Pengawasan langsung dimaksudkan disini adalah kegiatan yang
dilakukan oleh pimpinan untuk mengetahui secara langsung dan
mengusahakan agar tugas yang dilaksanakan oleh bawahannya
sesuai rencana, perintah, maupun peraturan yang berlaku.
Pengawasan langsung ini dapat dilaksanakan dengan cara
engunjungi karyawan ditepat kerjanya.
28
2. Pengawasan tidak langsung.
Pengawasan tidak langsung dimaksudkan disini adalah
pengawasan yang dilakukan untuk memahami semua kegiatan
yang telah dilakukan oleh karyawan. Pengawasan tidak langsung
ini dilakukan mempelajari laporan yang disampaikan oleh para
bawahan, baik dalam bentuk laporan tertulis maupun laporan
secara lisan.
3. Pengawasan preventif.
Pengawasan preventif dimaksudkan disini adalah pengawasan yang
dilakukan sebelum para bawahan melaksanakan pekerjaan yang
dibebankan kepadanya. Pengawasan preventif ini dilakukan
melalui berbagai cara, seperti membuat peraturan-peraturan,
memberikan pengarahan-pengarahan tentang kedudukan, tugas dan
tanggung jawab para karyawan.
2.2.4 Pengawasan dalam Perspektif Islam
Ar-riqobah atau proses pengawasan merupakan kewajiban yang
terus-menerus harus dilaksanakan, karena pengawasan merupakan
pengecekan jalannya rencana dalam organisasi guna menghindari
kegagalan atau akibat yang lebih buruk.
Mengenai faktor ini Al-Qur’an memberikan konsepsi yang tegas
agar hal yang bersifat merugikan tidak terjadi. Tekanan Al-Qur’an lebih
dahulu pada intropeksi, kontrol diri pribadi sebagai pimpinan apakah
sudah sejalan dengan pola dan tingkah berdasarkan rencana dan program
29
yang telah dirumuskan semula. Setidak-tidaknya menunjukkan sikap
yang simpatik dalam menjalankan tugas, selanjutnya mengadakan
pengecekan atau memeriksa kerja anggotanya.
Al-Qur’an banyak menyebutkan mengenai mengawasi dan
mengkoreksi kepada diri sendiri dan ancaman bagi yang melanggarnya.
Surat At-Tahrim ayat 6 menyebutkan :
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada
mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (Q.S. At-
Tahrim : 6)
Ayat lain menyatakan mengenai proses pengawasan dan
ancaman terhadap orang atau pimpinan yang tidak melaksanakan amanat
perencanaan dan program yang telah disepakati. Hal ini diterangkan
dalam surat Al-Baqarah ayat 44 :
30
Artinya : “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang
kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca
Al-kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berfikir?”
Dalam sebuah organisasi atau perusahaan, manajer atau
pemimpin sangat penting dalam menjalankan fungsinya yaitu
menggerakkan bawahan, memotivasi dan juga dalam pengawasan
terhadap semua program yang dilaksanakan bawahan sesuai
perencanaan. Karena adanya tindakan pengawasan dari suatu pimpinan
organisasi atau perusahaan dapat memberikan dorongan, penggerakan
dan kesadaran terhadap dasar dari pada pekerjaan yang mereka lakukan,
yaitu menuju tujuan yang telah ditetapkan, disertai dengan memberi
motivasi-motivasi baru, bimbingan atau pengarahan, sehingga mereka
bisa menyadari dan timbul kemauan untuk bekerja dengan tekun dan
baik.
Oleh karena itu manajemen pengawasan dapat diartikan sebagai
proses kegiatan monitoringuntuk meyakinkan bahwa semua kegiatan
organisasi terlaksana seperti yang direncanakan dan sekaligus juga
merupakan kegiatan untuk mengkoreksi dan memperbaiki bila
ditemukan adanya penyimpangan yang akan mengganggu pencapaian
tujuan.
2.3 Hubungan Pengawasan Dengan Distribusi
Dalam distribusi beras bersubsidi di Kecamatan Sungai Lala ,
dengan adanya ketidaktepatan sasaran penerima beras bersubsidi ,
31
ketidaktepatan waktu pendistribusian, kualitas beras bersubsidi yang
diterima keluarga miskin , serta penyimpangan pendistribusian beras
bersubsidi lainnya merupakan permasalahan yang muncul dan segera
diselesaikan.
Permasalahan tersebut dikarenakan belum optimalnya
pengawasan yang dilakukan oleh Tim Pengawasan beras bersubsidi
Kecamatan Sungai Lala. Sebagai pihak yang terdiri atas lintas sector, tim
pengawasan belum dapat melaksanakan tugas dan fungsinya dengan
baik, sehingga permasalahan ketidaktepatan sasaran penerima beras
bersubsidi , ketidaktepatan waktu pendistribusian, kualitas beras
bersubsidi yang diterima keluarga miskin , serta terdapat penyimpangan
pendistribusian beras bersubsidi lainnya masih saja terjadi di Kecamatan
Sungai Lala.
Maka untuk itu diperlukan sebuah cara agar tim pengawas
Kecamatan Sungai Lala dalam melakukan pengawasan distribusi beras
bersubsidi dapat berjalan optimal. Cara tersebut bisa melalui optimalisasi
fungsi prngawasan dari tim pengawas yang dapat dilakukan dengan
penerapan teknik-teknik pengawasan menurut Siagian dan Bohari, yaitu
pengawasan langsung dan pengawasan tidak langsung, serta pengawasan
preventif dan pengawasan represif.
Dengan adanya penerapan konsep tersebut diharapkan
pengawasan dapat berjalan optimal, sehingga ketidaktepatan sasaran
penerima beras bersubsidi, ketidaktepatan waktu pendistribusian,
32
kualitas beras bersubsidi yang diterima keluarga miskin , serta
penyimpangan pendistribusian beras bersubsidi lainnya dapat di
minimalisir.
2.4 Penelitian Terdahulu
Penelitian-penelitian yang berkaitan dengan Pengawasan dan
Distribusi adalah sebagai berikut :
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu
Persamaan Perbedaan
No Nama Judul penelitian penelitian Kesimpulan
saat ini saat ini
1. Ratna Sari, Pengawasan Sama-sama Penelitian Penelitian ini
Dr. Enos Lurah dalam meneliti saat inimembuktikan
Pasella, Penyaluran tentang menggunak bahwa
[Link], Raskin di variabel an variabel pengawasan
[Link], Kelurahan bebas terikat Lurah di
Budiman, Sidomulyo pengawasan distribusi. Kelurahan
[Link], [Link] Kecamatan . Sidomulyo
(2017) Samarinda Ilir memiliki
Kota Samarinda. peengaruh
positif dan
signifikan dalam
penyaluran
raskin di
Kecamatan
Samarinda Ilir
kota Samarinda.
2. Rizka Dwi Pengawasan Sama-sama Penelitian Hasil penelitian
Oktaviani Pemerintah Kota meneliti saat ini ini menunjukkan
(2017) Cilegon dalam variabel menggunak bahwa
Penyaluran bebas an variabel pengawasan
Raskin di pengawasan terikat pemerintah kota
Kecamatan . distribusi. Cilegon
Citangkil Kota berpengaruh
Cilegon tahun positif dan
2015 (Studi signifikan dalam
Kasus di penyaluran
33
Kelurahan Lebak raskin di
Denok Citangkil). Kecamatan
Citangkil kota
Cilegon tahun
2015.
3. Ageng Analisis Sama-sama Penelitian Hasil penelitian
Aditama Pengawasan meneliti saat ini ini menunjukkan
(2016) Distribusi Pupuk variabel menggunak bahwa
Bersubsidi dalam bebas an variabel pengawasan
Upaya pengawasan terikat distribusi pupuk
Peningkatan . distribusi bersubsidi
Produktivitas subsidi berpengaruh
Tanaman Padi beras. positif dalam
(Studi Kasus upaya
Kabupaten meningkatkan
Lampung Timur produktivitas
tahun 2015). tanaman padi di
Kabupaten
Lampung Timur
pada tahun
2015.
4. Yeti (2011) Pengaruh Sama-sama Penelitian Hasil penelitian
Pengawasan meneliti saat ini menunjukkan
Ketua Tim variabel menggunak bahwa terdapat
Koordinasi bebas an variabel pengaruh positif
Raskin Kabupaten pengawasan terikat pengawasan dari
terhadap . distribusi ketua tim
Efektifitas Kerja koordinasi
Pegawai dalam terhadap
Pendistriibusian pendistribusian
Program Raskin raskin di
di Kabupaten Kabupaten
Ciamis. Ciamis.
34
2.5 Kerangka Pemikiran
1. Pengaruh Pengawasan terhadap Distribusi Subsidi Beras
Pengawasan adalah keseluruhan upaya pengamatan pelaksanaan
kegiatan operasional guna menjamin bahwa sebagian kegiatan tersebut
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan sebelumnya (Siagian : 2011).
Oleh karena itu, pengawasan sangatlah berpengaruh terhadap pelaksanaan
penyaluran subsidi beras , apabila pengawasan yang dilakukan baik pasti
pelaksanaan distribusi juga akan baik, sebaliknya jika pengawasan yang
dilakukan kurang, maka hal tersebut akan berpengaruh tidak baik pada
pelaksanaan distribusi subsidi beras bagi masyarakat berpendapatan
rendah di kecamatan Sungai Lala.
Teori Karakteristik-Karakteristik Pengawasan yang efektif dapat
dilihat sebagai berikut:
a. Akurat
Informasi tentang pelaksanaan kegiatan harus akurat. Data yang tidak
akurat dari system pengawasan dapat menyebabkan organisasi
mengambil tindakan koreksi yang keliru atau bahkan menciptakan
masalah yang sebenarnya tidak ada.
b. Tepat waktu
Informasi harus dikumpulkan, disampaikan dievaluasi secepatnya bila
kegiatan perbaikan harus dilakukan segera.
c. Obyektif dan menyeluruh
Informasi harus mudah dipahami dan bersifat obyektif serta lengkap.
35
d. Terpusat pada titik-titik pengawasan strategik
System pengawasan harus memusatkan perhatian pada bidang-bidang
dimana penyimpangan-penyimpangan dari standar paling sering terjadi
atau yang akan mengakibatkan kerusakan paling fatal.
e. Realistik secara ekonomis
Biaya pelaksanaan harus lebih rendah, atau paling tidak sama dengan
kegunaan yang diperoleh dari sistem tersebut.
f. Realistik secara organisasional
Sistem pengawasan harus cocok atau harmonis dengan kenyataan-
kenyataan organisasi.
g. Terkoordinasi dengan aliran kerja organisasi
Informasi pengawasan harus terkoordinasi dengan aliran kerja
organisasi, karena 1) setiap tahap dari proses pekerjaan dapat
mempengaruhi sukses atau kegagalan keseluruhan operasi, dan 2)
informasi pengawasan harus sampai pada seluruh persoalan yang
memerlukannya.
h. Fleksibel
Pengawasan harus mempunyai fleksibelitas untuk memberikan
tanggapan atau reaksi terhadap ancaman ataupun kesempatan dari
lingkungan.
i. Bersifat sebagai petunjuk dan operasional
Sistem pengawasan efektif harus menunjukkan baik deteksi atau
deviasi dan standar, tindakan koreksi apa yang seharusnya diambil.
36
j. Diterima para anggota organisasi
Sistem pengawasan harus mampu mengarahkan pelaksanaan kerja para
anggota organisasi dengan mendorong perasaan otonomi, tanggung
jawab dan berprestasi.
Karakteristik-karakteristik pengawasan yang telah disebutkan di
atas, dinilai dan dianggap lebih rasional dan tepat untuk menjawab
permasalahan-permasalahan yang ada pada pengawasan program distribusi
beras bersubsidi di kecamatan Sungai Lala. Dengan diadakannya
pengukuran pengawasan sesuai indikator pengawasan yang telah
disebutkan di atas, maka diharapkan pemerintah kabupaten Indragiri hulu
lebih optimal lagi dalam pengawasan program distribusi beras bersubsidi
bagi masyarakat berpendapatan rendah khususnya di kecamatan Sungai
Lala. Berdasarkan uraian di atas, diperoleh asumsi awal penulis yaitu
bahwa pengawasan yang baik di Kecamatan Sungai Lala Kabupaten
Indragiri Hulu akan mampu meningkatkan pelaksanaan distribusi subsidi
beras bagi masyarakat berpendapatan rendah.
Berdasarkan kerangka berfikir, skema dalam penelitian ini, adalah
sebagai berikut:
Pengawasan (X) Distribusi (Y)
Gambar 1.1 Kerangka Pemikiran Penelitian
Pengaruh Pengawasan (X)
Terhadap Distribusi (Y)
Sumber : Siagian (2011) dan Aziz (2008)
37
2.6 Konsep Operasional Variabel Penelitian
Tabel 2.2 Konsep Operasional Variabel Penelitian
No Variabel Definisi Indikator Skala
1. Distribusi (Y) distribusi adalah himpunan 1. Tepat sasaran Likert
perusahaan dan perorangan penerima
yang mengambil alih hak, manfaat
atau membantu dalam subsidi beras.
mengalihkan ha katas 2. Tepat waktu
barang atau jasa tersebut pendistribusia
berpindah dari produsen ke n subsidi
konsumen. (Aziz, 2008:87) beras.
3. Tepat kualitas.
2. Pengawasan Pengawasan merupakan 1. Pengawasan Likert
(X1) proses pengamatan dari langsung
seluruh kegiatan organisasi 2. Pengawasan
guna lebih menjamin bahwa tidak langsung
semua pekerjaan yang 3. Pengawasan
sedang dilakukan sesuai preventif
dengan rencana yang telah
ditentukan sebelumnya
(Siagian, 2011:50).
2.7 Hipotesis
Berdasarkan deskripsi teoritis, kerangka berfikir dan hasil-hasil
penelitian yang relevan di atas, dapat ditarik hipotesis penelitian yang
merupakan jawaban sementara sendiri dari masalah penelitian yang telah
dirumuskan, yaitu sebagai berikut :
H1. Diduga Pengawasan berpengaruh terhadap Distribusi subsidi beras bagi
masyarakat berpendapatan rendah di Kecamatan Sungai Lala Kabupaten Indragiri
Hulu.