0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan125 halaman

Strategi Meningkatkan Muzakki di Baznas

Strategi Pengelolaan Zakat dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Muzakki (Studi Deskriptif Di Baznas Kota Tangerang) Skripsi ini membahas strategi pengelolaan zakat yang dilakukan Baznas Kota Tangerang dalam upaya meningkatkan jumlah muzakki. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan strategi pengelolaan zakat terdiri

Diunggah oleh

Sandi Nugraha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan125 halaman

Strategi Meningkatkan Muzakki di Baznas

Strategi Pengelolaan Zakat dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Muzakki (Studi Deskriptif Di Baznas Kota Tangerang) Skripsi ini membahas strategi pengelolaan zakat yang dilakukan Baznas Kota Tangerang dalam upaya meningkatkan jumlah muzakki. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasilnya menunjukkan strategi pengelolaan zakat terdiri

Diunggah oleh

Sandi Nugraha
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

STRATEGI PENGELOLAAN ZAKAT DALAM UPAYA

MENINGKATKAN JUMLAH MUZAKKI

(Studi Deskriptif Di Baznas Kota Tangerang)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sosial pada

Jurusan Manajemen Dakwah Fakultas Dakwah dan Komunikasi

Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Oleh

Haryadi

1174030051

BANDUNG

2022 M/1443 H
ABSTRAK

Haryadi. Strategi Pengelolaan Zakat dalam Upaya Meningkatkan Jumlah


Muzakki (Studi Deskriptif di Baznas Kota Tangerang).

Badan Amil Zakat Nasiomal (Baznas) adalah suatu lembaga yang dibentuk
berdasarkan undang-undang dengan tugas pokoknya yaitu melakukan pengelolaan
zakat yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengordinasian
dalam hal pengumpulan, pendistibusian dan pendayagunaan zakat. dalam
praktiknya pengelolaan zakat seringkali dilakukan dengan tidak maksimal, oleh
karenanya membutuhkan strategi pengelolaan untuk dapat mempermudah dan
memaksimalkan kinerja yang dilakukan. Penerapan strategi juga dimaksudkan
untuk dapat menciptakan suatu pengelolaan zakat yang cepat, tepat, aman, dan
akuntabel
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi pengelolaan
zakat yang terdiri dari formulasi strategi, implementasi strategi, dan evaluasi yang
dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang dalam upaya meningkatkan jumlah
muzakki.
Teori yang digunakan didasarkan pada teori yang diungkapkan
Taufiqurrahman (2020: 27-28) bahwa manajemnen strategi memilikiki tiga
tahapan utama, yaitu formulasi strategi, implementasi strategi, dan evaluasi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif
yang bertujuan untuk menggambarkan dan memeberikan penjelasan serta fakta-
fakta mengenai proses strategi pengelolaan zakat di Baznas Kota Tangerang
dalam upayanya meniningkatkan jumlah muzakki. Adapun jenis penelitian yang
dilakukan adalah jenis penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data
berupa observasi langsung, wawancara dan dokumentasi.
Hasil penelitian menyatakan bahwa strategi pengelolaan zakat di Baznas
Kota Tangerang terdiri dari tiga tahapan: Pertama, formulasi strategi meliputi
pengembangan visi msi, analisis lingkungan eksternal dan internal melalui
analisis peluang, tantangan, kekuatan dan kelemahan, penentuan targer dan
terakhir ialah menetukan alternatif strategi. Kedua, Implementasi strategi yang
meliputi pengembangan strategi dan juga pelaksanaan program-program yang
telah dirumuskan baik pada bidang pengumpulan maupun pada bidang
pendistribudian dan pendayagunaan zakat. Ketiga, evaluasi yang meliputi
kegiatan menganalisis faktor-faktor interal dan eksternal, pengukuran kinerja
pegawai dan pengambilan tindakan koreksi dan perbaikan. Dari hasil penelitian
disimpulkan bahwa strategi pengelolaan zakat di Baznas Kota Tangerang dalam
upayanya meningkatkan jumlah muzakki sudah berjalan dengan lancar hal ini
terlihat dari data peningkatan jumlah muzakki di kurun waktu 2016 sampai
dengan 2019 meski terjadi penurunan di tahun 2020 karena wabah covid-19 yang
membut muzakki menyalurkan dana zaktnya secara pribadi dilingkungannya
sendiri.

Kata Kunci: Strategi, Zakat, Muzakki

i
LEMBAR PERSETUJUAN

ii
LEMBAR PERNYATAAN

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Haryadi

Tempat dan tanggal lahir : Tangerang, 03 September 1998

Nomor induk mahasiswa : 1174030051

Jurusan/prodi : Manajemen Dakwah

Alamat lengkap : Kp. Tegal Jawa RT/RW 001/001 Ds. Tegal Kunir

Lors kec. Mauk kab. Tangerang 15530

Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Strategi Pengelolaan


Zakat dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Muzakki (Studi Deskriptif Di
BAZNAS Kota Tangerang)” adalah asli karya tulis ilmiah sendiri dan bukan hasil
salinan dari karya tulis ilmiah (skripsi) orang lain.
Demikian surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya tanpa ada paksaan
dari pihak manapun. Apabila pernyataan ini tidak benar saya siap menerima
segala konsekuensi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh
Bandung, April 2022
Pembuat Pernyataan

Haryadi
NIM: 1174030051

iii
KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah peneliti panjatkan kehadirat Allah Swt atas segala

rahmat dan hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penyusunan

skripsi dengan judul “Strategi Pengelolaan Zakat dalam Upaya Meningkatkan

Jumlah Muzakki (Studi Deskriptif Baznas Kota Tangerang)” dengan lancar.

Sholawat dan salam penulis curahkan pada manusia paling mulia dimuka bumi

yang diutus sebagai suri tauladan bagi seluruh alam yaitu Nabi Muhammad

SAW., juga kepada para keluarganya, sahabatnya, sampai kepada kita semua

sebagi umatnya.

Penyusunan skripsi ini merupakan salah satu syarat yang harus ditempuh

untuk meraih gelar sarjana pada Jurusan Manajmen Dakwah Fakultas Dakwah

dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung.

Melalui penyusunan skripsi ini diharapkan dapat menambah wawasan dan

pengalaman bagi peneliti, sehingga dapat menjadi bekal di masa depan.

Selesainya skripsi ini tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, oleh

karena itu dalam kesempatan ini peneliti menyampaikan ucapan terima kasih yang

sebanyak-banyaknya kepada :

1. Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Prof. Dr. H. Sarbini yang telah

memberikan ijin untuk mengadakan penelitian.

2. Ketua Jurusan Manajemen Dakwah, Bapak H. Arif Rahman, [Link],. [Link].

dan Sekretaris Jurusan Manajemen Dakwah, Bapak Herman, [Link]. yang

telah memeberikan persetujuan atas penyusunan skripsi ini.

iv
3. Dr. H. Yusuf Zainal Abidin, MM., selaku Pembimbing I yang telah sabar

memberikan bimbingan dan pengarahan dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Dra. Hj. Yuliani, [Link], selaku Pembimbing II dan dosen wali studi yang

telah tulus memotivasi, memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis

mulai dari awal perkuliahan sampai dengan selesainya skripsi ini.

5. pak dan Ibu Dosen Jurusan Manajemen Dakwah, yang telah mendidik dan

membimbing selama masa kuliah.

6. Bapak Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tangerang telah

memberikan izin untuk melakukan penelitian.

7. Kepala Pelaksana Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tangerang

yang telah membantu penyusunan skripsi ini.

8. Para pegawai Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tangerang yang

telah membantu penyusunan skripsi ini.

9. Bapak dan Ibuku atas semua usaha, pengorbanan, bimbingan, dan doanya

sehingga aku dapat menyelesaikan kuliah.

10. Maelly dan Ahmad Juaeni selaku kakak penulis yang memberikan

dukungan, do’a dan motivasi untuk penulis.

11. Maulana Malik, Muhsin Nursholih dan Saepullah Anshori sebagai sahabat

penulis yang senantiasa memberi dukungan kepada penulis.

12. Teman-teman seperjuangan manajemen dakwah angkatan 2017 yang ikut

memberikan dorongan, dan menemani penulis disegala kondisi selama

masa perkuliahan.

v
Peneliti menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat

kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat peneliti

harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi peneliti

khususnya, pembaca pada umumnya dan juga dapat berguan untuk

pengembangan ilmu pengetahuan khususnya dibidang manajemen dakwah.

Bandung, April 2022

Haryadi

vi
DAFTAR ISI

ABSTRAK .............................................................................................................. i

LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................. ii

LEMBAR PERNYATAAN .................................................................................. ii

KATA PENGANTAR ......................................................................................... iiv

DAFTAR ISI ........................................................................................................ vii

DAFTAR TABEL................................................................................................. xi

DAFTAR GAMBAR ........................................................................................... xii

RIWAYAT HIDUP ............................................................................................ xiii

MOTTO .............................................................................................................. xiv

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1

A. Latar Belakang Penelitian ............................................................................ 1

B. Fokus Penelitian ........................................................................................... 6

C. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 7

D. Kegunaan Penelitian..................................................................................... 7

E. Landasan Pemikiran ..................................................................................... 8

F. Langkah-Langkah Penelitian ..................................................................... 16

vii
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 21

A. Konsep Strategi .......................................................................................... 21

1. Pengertian Strategi.................................................................................. 21

2. Jenis-Jenis Strategi ................................................................................ 23

3. Tahapan Strategi ..................................................................................... 24

B. Konsep Pengelolaan ................................................................................... 29

1. Pengertian Pengelolaan .......................................................................... 29

2. Fungsi-Fungsi Pengelolaan .................................................................. 30

3. Aspek Pengelolaan Zakat ....................................................................... 34

C. Konsep Zakat ............................................................................................. 35

1. Pengertian Zakat ..................................................................................... 35

2. Dasar Hukum Zakat................................................................................ 36

3. Tujuan Zakat........................................................................................... 38

4. Syarat Wjib Zakat ................................................................................... 41

5. Macam-Macam Zakat............................................................................. 42

6. Hikmah Zakat ......................................................................................... 48

D. Konsep Muzakki ........................................................................................ 49

1. Pengertian Muzakki ................................................................................ 49

2. Syarat-Syarat Muzakki ........................................................................... 51

viii
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 53

A. Gambaran Umum Kondisi Objektif Baznas Kota Tangerang.................... 53

1. Sejarah dan latar belakang berdirinya Badan Amil Zakat Nasional

(Baznas) Kota Tangerang .......................................................................... 53

2. Landasan Hukum Pengelolaan Zakat ..................................................... 54

3. Visi, Misi dan Motto Baznas Kota Tangerang ....................................... 56

4. Sususnan Kepengurusan Baznas Kota Tangerang ................................. 57

5. Program Baznas Kota Tangerang ........................................................... 64

B. Hasil Penelitian .......................................................................................... 67

1. Formulasi Strategi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tangerang

dalam Meningkatkan Jumlah Muzakki ..................................................... 67

2. Implementasi Strategi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota

Tangerang dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Muzakki........................ 75

3. Evaluasi strategi pengelolaan zakat dalam upaya meningkatkan jumlah

muzakki ..................................................................................................... 91

C. Pembahasan Hasil Penelitian ..................................................................... 95

1. Formulasi strategi ................................................................................... 96

2. Implementasi Strategi ............................................................................. 97

3. Evaluasi .................................................................................................. 97

ix
BAB IV PENUTUP ............................................................................................. 99

A. Kesimpulan ................................................................................................ 99

B. Saran......................................................................................................... 100

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 102

LAMPIRAN ....................................................................................................... 105

x
DAFTAR TABEL

Table 1.1 Data Realisasi Muzakki (orang/badan) ................................................... 4

Tabel 3. 1 Rencana penyaluran dana zakat berdasarhkan asnaf ........................... 74

Tabel 3. 2 Realisasi Pengumpulan ZIS Baznas Kota Tangerang .......................... 82

Tabel 3. 3 Realisasi Muzakki (orang/badan) Baznas Kota Tangerang ................. 82

Tabel 3. 4 Data Realisasi Penyaluran Zakat Berdasarkan Program ...................... 90

xi
DAFTAR GAMBAR

Gambar 0. 1 SK Penetapan Pembimbing Skripsi ............................................... 105

Gambar 0. 2 Wawancara Dengan Bapak Jaka Firmansyah (Ketua Pelaksana

Baznas Kota Tangerang) ..................................................................................... 109

Gambar 0. 3 Wawancara dengan Bapak Rifti Fauzan (Bidang Pengumpulan

Baznas Kota Tangerang) ..................................................................................... 110

Gambar 0. 4 Wawancara Online dengan Bapak H. Khudhori (Muzakki Baznas

Kota Tangerang).................................................................................................. 110

xii
RIWAYAT HIDUP

Haryadi, lahir di Tangerang pada tanggal 3 September

1998. Anak dari 2 bersaudara dari pasangan Bapak.

Mulyadi dan Ibu Satirah. Bertempat Tinggal di Kampung.


Photo
Tegal Jawa , Desa. Tegal Kunir Lor, Kecamatan Mauk,

Kabupaten Tangerang, Banten.

Penulis mulai bersekolah di Sekolah Dasar Negeri (SDN)

Tegal Kunir Lor II pada tahun 2006 dan lulus pada tahun 20011. Setelah itu

penulis melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) Islam Da’ar el Arqam

dan lulus pada tahun 2014. Setelah itu penulis melanjurkan sekolah ke jenjang

selanjutnya yaitu bersekolah di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Kabupaten

Tangerang dan menyelesaikan sekolah pada tahun 2017. Setelah itu pada tahun

2017 penulis terdaftar sebagai Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan

Gunung Djati Bandung Fakultas Dakwah dan Komunikasi Jurusan Manajemen

Dakwah sampai 2022.

Untuk menperoleh gelar Sarjana Sosial ([Link]) penulis mengajukan skripsi

dengan judul Strategi Pengelolaan Zakat dalam Upaya Meningkatkan Jumlah

Muzakki (Studi Desktiptif di Baznas Kota Tangerang).

xiii
MOTTO

“Dalam hidup ini pastilah ada pilihan. Apabila kamu telah memilih salah
satunya, lakukanlah dengan sebaik mungkin. Anggaplah yang kamu lakukan
demi orang-orang yang ada di sekitarmu, orang-orang yang kamu sayangi,
orang-orang yang kamu cintai. Jadikanlah mereka semangat bagimu”

( Penulis )

xiv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Indonesia merupakan salah satu Negara dengan penduduk muslim terbesar di

dunia, sehingga setiap mereka memiliki kewajiban ibadah sebagai hamba

Allah yang harus dilaksanakan, salah satunya ialah menunaikan zakat, sebagai

rukun ke tiga dari rukun Islam yang lima (Rosadi, 2019:1). Sebagai negara

yang memiliki jumlah penduduk mayoritas muslim iindonesia memiliki

potensi zakat yang besar, hal ini tercermin dari angka potensi zakat tahun 2020

dengan nilai potensi zakat sebesar 233,84 triliun rupiah yang meningkat dari

tahun sebelumnya sbesar 233,6 triliun rupiah. Potensi zakat yang besar

tersebut tidak diimbangi dengan realisasinya yang hanya sebesar 10.116 triliun

rupiah (Baznas, 2019). Dengan potensi yang besar itu harus mampu dikelola

dengan maksimal menggunakan strategi yang mampu memikat muzakki untuk

menyertakan zakatnya pada lembaga atau badan pengelola zakat.

Zakat berasal dari kata zaka, yang diterjemahkan tumbuh, suci atau bersih

dan maslahah (Abbas, 2017: 4). Dalam istilah fiqih zakat merupakan

sejumlah harta tertentu yang Allah wajibkan untuk disalurkan kepada setiap

orang yang berhak (al-mustahiq) (Abbas, 2017: 10). Istilah zakat dipakai

untuk beberapa arti, namun yang sering digunakan masyarakat ialah istilah

zakat untuk sedekah yang wajib, sedangkan kata sedekah sendiri digunakan

untuk sedekah sunnah. Para ulama berpendapat bahwa zakat termasuk

kedalam ibadah maliyah. Zakat merupakan bentuk manifestasi dari

1
kegotongroyongan dalam hal ekonomi antara para hartawan dan fakir miskin.

Penyaluran zakat yang dikeluarkan oleh para muzakki merupakan

perlindungan bagi masyarakat dari bencana kefakiran dan kemiskinan baik

fisik maupun mental. Masyarakat yang dipelihara dan dihindarkan dari

bencana tersebut akan menjadi masyarakat yang hidup sejahtera, subur dan

berkembang keutamaan didalamnya. Para ulama mendefinisikan zakat sebagai

suatu kewajiban tertentu terhadap harta setiap orang yang mampu untuk

diberikan kepada orang yang syarat dan ketentuannya sudah ditetapkan.

Maksud dari harta tertentu ialah harta yang telah mencapai nisab (satu nisab

sama dengan 85 gram emas, atau ada juga yang mengatakan 90 sampai 95

gram). Apabila harta yang dimiliki nilainya tidak sampai dengan yang sudah

ditentukan, maka berarti tidak ada kewajiban bagi pemilik harta untuk

mengeluarkan hartanya sebagai zakat (Rosadi, 2019:13-14).

Zakat ialah salah satu ibadah wajib yang perintah dan anjurannya banyak

ditemukan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Syariat zakat dalam Islam

memberikan gambaran bahwa agama Islam sangat memperhatikan

permasalahan sosial kemasyarakatan terutama hidup orang-orang yang lemah

(Rosadi, 2019:21). Oleh karena pentingnya zakat maka diperlukan suatu

mekanisme pengelolaan zakat untuk dapat memaksimalkan manfaat zakat bagi

umat.

Pengelolaan adalah proses penataan kegiatan yang akan dilaksanakan

melalui fungsi-fungsi manajemem sebagai tolak ukur untuk menentukan

keberhasilan sebagai bentuk dar pencapaian tujuan yang telah disepakati

2
(Naway, 2016: 8). Fungsi-fungsi manajemn meliputi perencanaan,

pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang keempatnya saling

terkait satu dengan yang lainnya. Menurut Undang-undang No. 32 tahun 2011

pasal 1 ayat 1 terdapat tiga aspek kegiatan pengelolaan, yaitu pengumpulan

zakat, pendistribusian zakat dan pendayagunaan zakat. Oleh karena

pentingnya pengelolaan zakat, Departemen Agama Republik Indonesia

membentuk suatu lembaga untuk mengatur pengelolaan dana zakat, infaq dan

sodaqoh, yang dikenal dengan nama Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga

Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk atas prakarsa masyarakat yang kemudian di

sahkan oleh pemerintah. Adapun Badan Amil Zakat terdiri dari Baznas pusat,

BAZ Provinsi, BAZ kota dan BAZ Kecamatan (UU. NO. 38/1999).

Baznas Kota Tangerang merupakan transformasi dari Badan Amil Zakat

Daerah (Bazda) Kota Tangerang yang dibentuk pada hari Jumat, tanggal 20

Oktober 2003 sesuai dengan Surat Keputusan Walikota Tangerang No

451.12/Kep.112/2003 tertanggal 13 Juni 2003 tentang Pembentukan Badan

Amil Zakat Kota Tangerang. Bazda Kota Tangerang yang kemudian saat ini

berubah menjadi Baznas Kota Tangerang telah berperan aktif dalam upaya

memaksimalkan peran zakat dalam mengurangi kemiskinan di Kota

Tangerang melalui kerjasama dengan lembaga terkait sebagimana tercantum

dalam salah satu misi Baznas kota tangerang. Perubahan nama Badan Amil

Zakat (BAZ) menjadi Badan Amil Zakat Nasional ialah didasari dengan

penetapan undang-undang baru, yaitu Undang-undang No 32 tahun 2011.

3
Keberadaan Baznas Kota Tangerang menjadi sesuatu hal yang penting

bagi masyarakat kota Tangerang, sebab Baznas sendiri keberadaannya

dimaksudkan untuk membantu masyarakat dengan tugas dan fungsinya yaitu

menghimpun, dan menyalurkan dana zakat infaq dan sodaqoh. Hal ini dapat

terlihat dari program-program yang dikeluarkan oleh Baznas Kota Tangerang

baik dibidang pendidikan, kesehatan dan bidang-bidang lain yang manfaatnya

langsung dirasakan oleh masyarakat. Meskipun demikian Baznas Kota

Tangerang terus berupaya meningkatkan perannya untuk terus

mengoptimalkan pengelolaan zakat agar mampu menjadi badan amil zakat

yang transparan, amanah dan profesional sebagaimana tercantum dalam visi

Baznas Kota Tangerang. Upaya Baznas dalam meningkatkan pengelolaan

dana zakat dapat terlihat dari jumlah muzakki yang tercermin dalam tabel

realisasi jumlah muzakki berikut:

Tabel Realisasi Jumlah Muzakki (orang/badan)

Tahun 2016-2020

Muzakki Muzakki
Tahun
(perorangan) (badan/instansi)

2016 1.470 0
2017 1.559 0
2018 4.239 0
2019 5.138 0
2020 300 17

Table ‎3.1 Data Realisasi Muzakki (orang/badan) 2016-2020

4
Berdasarkan data yang peneliti peroleh dari data realisasi jumalah muzakki

dan hasil wawancara, diketahui terdapat tren kenaikan dari tahun 2016 sampai

2019 secara signifikan, akan tetapi pada tahun 2020 terdapat penurunan

jumalah muzakki meskipun data yang tertera terdapat muzakki yang tergabung

dalam badan dan institusi akan tetapi berdasarkan wawancara dengan ketua

pelaksana diakui terdapat penurunan jumlah muzakki dari tahun sebelumnya.

Meskipun demikian Baznas Kota Tangerang akan terus menerapkan strategi

untuk dapat terus memaksimalkan penerimaan zakat yang ada di Kota

Tangerang. Salah satu hal terpenting dalam pengelolaan zakat ialah bagaimana

suatu program dapat diimplementasikan dengan baik sesuai dengan apa yang

direncanakan, sehigga mampu meningkatkan minat muzakki untuk menitipkan

zakatnya kepada Baznas Kota Tangerang, untuk mencapai hal tersebut

dibutuhkan suatu strategi pengelolaan zakat yang baik.

Dalam suatu lembaga, badan, organisasi dan perusahan, strategi

merupakan hal penting yang digunakan untuk menjalin hubungan atau

mempengaruhi konsumen untuk percaya dengan apa yang ditawarkan.

Berkaitan dengan hal tersebut Baznas Kota Tangerang harus memiliki strategi

yang tepat dan bisa digunakan untuk meningkatkan jumlah muzakki yang

mempercayakan zakat mereka untuk dikelola oleh Baznas Kota Tangerang.

Setrategi ialah suatu tindakan yang dilakukan terus menerus serta

mengalami peningkatan yang didasarkan terhadap apa yang diinginkan oleh

konsumen atau pasar dimasa depan (Taufiqurokhman, 2016: 21). Witcher

yang dikutip oleh Bahaudin, menjelaskan bahwa strategi ialah suatu

5
pendekatan untuk mengarahkan operasi-operasi perusahaan kepada tujuan dan

arah yang terus-menerus berkelenjutan dari masa kemasa. (Bahaudin dkk,

2020: 72).

Baznas Kota Tangerang adalah suatu badan yang pada pelaksanaan

fungsinya sangat bergantung pada seberapa besar masyarakat (muzaki) mau

menunaikan atau menitipkan zakatnya kepada Baznas Kota Tangerang untuk

dapat dikelola dengan baik. Dalam pengelolaan zakat ada tiga hal penting

yaitu berkaitan dengan penghimpunan, pendistribusian dan pendayagunaan

dana zakat. Semua hal tersebut harus di kelola dengan strategi yang baik

sehingga para muzakki percaya dan akan terus setia menitipkan zakatya

kepada Baznas Kota Tangerang sehingga jumlah muzakki terus bertambah

setiap tahunnya.

Berdasarkan permasalahan di atas, penulis tertarik melakukan penelitian

mengenai strategi pengelolaan zakat di Baznas Kota Tangerang untuk

mengetahui bagaimana proses formulasi strategi, implementas strategi dan

evaluasi strategi yang dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang.

B. Fokus Penelitian

Fokus penelitian ini ialah “Bagaimana Strategi Pengelolaan Zakat yang

Dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang dalam Upaya Meningkatkan Jumlah

Muzakki” dari fokus penelitian tersebut diajukan pertanyaan penelitian

sebagai berikut:

1. Bagaimana proses formulasi strategi Baznas Kota Tangerang dalam

meningkatkan jumlah muzakki?

6
2. Bagaimana implementasi strategi Baznas Kota Tangerang dalam upaya

meningkatkan Jumlah muzakki?

3. Bagaimana evaluasi strategi pengelolaan zakat dalam upaya meningkatkan

jumlah muzakki?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian yang sudah dibuat, maka tujuan penelitian ini

adalah:

1. Mengetahui proses formulasi strategi Baznas Kota Tangerang dalam

meningkatkan jumlah muzakki.

2. Mengetahui implementasi strategi Baznas Kota Tangerang dalam upaya

meningkatkan Jumlah muzakki.

3. Mengetahun evaluasi strategi pengelolaan zakat dalam upaya

meningkatkan jumlah muzakki.

D. Kegunaan Penelitian

1. Dari segi teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat memperluas khasanah pemikiran,

pengetahuan dan pemahaman dalam ilmu manajemen terutama yang berkaitan

dengan strategi pengelolaan zakat, serta diharapkan dapat dijadikan sebagai

salah satu bahan studi banding oleh peneliti lain, dan dapat digunakan dalam

pengembangan keilmuan terutama dalam ilmu manajemen dakwah.

2. Dari segi praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan positif bagi

organisasi dalam upaya merumuskan, melaksanakan dan melakukan evaluasi

7
secara mendalam terkait dengan strategi yang dijalankan oleh Baznas Kota

Tangerang.

E. Landasan Pemikiran

1. Hasil Penelitian Sebelumnya

Sesuai dengan judul penelitian yang akan dilakukan, penulis kemudian

menganalisis secara mendalam terhadap hasil penelitian terdahulu yang

menurut penulis memiliki kesamaan dengan penelitian yang akan penulis

lakukan. Dalam tinjawan pustaka ini ada beberapa penelitian yang sudah

dilakukan, diantaranya ialah:

Pertama, penelitian yang dilakukan Rita Cantika pada tahun 2018 dengan

penelitian yang berjudul Strategi Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah

Muhamadiyah (Lazizmu) dalam Mendapatkan Kepercayaan Muzakki. Hasil

dari penelitian tersebut mengatakan bahwa strategi yang dijalankan oleh

Lazismu secara umum dapat direalisasikan dengan baik yang tercermin dari

pelaksanaan program-programnya dilapangan meskipun dalam

pelaksanaannya ketika dihadapkan dengan kondisi dilapangan dari 12 program

8 program dapat direalisasikan dan 4 program lainnya tidak direalisasikan

Kedua, penelitian yang dilakukan Ziyan Lutfiani Noor Falah pada tahun

2016 dengan judul penelitian Strategi Marketing Dompet Dhuafa Jawa Barat

dalam Meningkatkan Kepercayaan Muzakki. Hasil dari penelitian ini ialah

strategi marketing yang dijalankan oleh dompet dhuafa dengan melalui

strategi marketing secara langsung atau direct marketing dan juga melalui

strategi marketing in direct marketing atau metode fundraising yang dilakukan

8
dalam bentuk iklan di media masa seperti televisi, radio dan Koran. Selain itu

implementasi strategi yang dijalankan dompet dhuafa dalam upaya

meningkatkan kepercayaan muzakki adalah dengan mengimplementasikan

program-programnya, baik dibidang kesehatan, pendidikan, ekonomi maupun

program insidental seperti bulan ramadhan dan hari raya qurban.

Ketiga, penelitain yang dilakukan oleh Rizkiyah Audina pada tahun 2019

dengan judul penelitian, Strategi Pengelolaan Zakat Rumah Yatim dalam

Upaya Optimalisasi Pemberdayaan Umat. Hasil dari penelitian ini

menyatakan bahwa strategi pengelolaan zakat pada rumah yatim dalam upaya

memberdayakan zakat menggunakan tiga aspek, yaitu pengumpulan

(fundraising) dengan metode open booth, media sosial serta kemitraan dengan

perusahaan-perusahaan dibidang finansial, kemudian pendistribuasian zakat

dengan program-program yang telah direncanakan dan selanjutnya

didayagunakan.

Dari ketiga penelitian d iatas terdapat persamaan dengan penelitian yang

dilakukan oleh penulis, yaitu sama-sama meneliti tentang strategi dalam

pengelolaan zakat, akan tetepi terdapat perbedaan objek penelitian dan tujuan

akhir penelitian. Dalam penelitian ini penulis berfokus pada peningkatan

jumlah muzakki sementara peneliti yang lain berfokus pada upaya

pemberdayaan umat dan kepercayaan muzakki.

2. Landasan Teoretis

Untuk mrmberikan suatu gambaran yang lebih jelas terkait penelitian ini

serta untuk menghindari kesalahan atas pengertian tentang judul penelitian

9
yang digunakan, maka penulis perlu memberikan penegasan dengan beberapa

teori yang akan penulis gunakan. Sebagaimana teori yang dikemukakan oleh

Jauch and Glueeck yang dikutip oleh Suci dalam bukunya yaitu:

A Strategic is a unified, comprehensive, and integrated plan that


relates the strategic advantages of the firm to the challenges of the
environment and that is designed to ensure that basic objectives of the
enterprise are achieved through proper execution by the organization.

Sebuah rencana yang disatukan, luas dan terintegerasi, yang

menghubungkan keunggulan strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan

yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat

dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi. (Suci, 2015: 1)

Berdasarkan pengeritan strategi di atas didapati makna bahwa strategi

perusahaan ialah satu kesatuan rencana, yang luas, komprehensif serta

terintegerasi satu sama lain yang dimaksudkan agar tujuan perusahaan dapat

tercapai dengan baik.

Ada beberapa hal dari pengertian di atas yang dapat ditarik kesimpulan,

antara lain:

a. Adanya berbagai rencana yang kemudian dibuat dan bisa disatukan

untuk dapat mencapai tujuan dalam perusahaan, baik tujuan jangka

pendek maupun tujuan jangka panjang.

b. Sebuah strategi dibuat dengan memerhatiakan tantangan lingkungan

yang dihadapi oleh perusahaan, dengan demikian sebuah strategi

perusahaan dibuat berdasarkan analisis lingkungan, baik analisis

eksternal maupun analisis internal, yaitu kekuatan, kelemahan,

10
peluang, tantangan dan ancaman. Kesemuanya itu penting untuk dapat

menjawab perubahan yang terjadi.

c. Pelaksanaan strategi dilakukan dengan terarah, tepat guna, dengan

keputusan-keputusan yang tepat untuk mencapai tujuan perusahaan.

d. Sebuah strategi dibuat untuk dapat memastikan tujuan perusahaan

dapat dicapai dengan tepat.

Mintezberg dan McHugh dalam Bahaudin dkk. (2020: 73-74).

menjelaskan bahwa strategi itu dalam prosesnya dapat dibedakan menjadi lima

jenis, yaitu:

a. Strategi yang direncanakan atau planned strategy, yaitu sejumlah

strategi yang sudah dipikirkan terlebih dahulu dalam sebuah

perencanaan sebelum diimplementasikan.

b. Strategi disengaja atau deliberate strategy, yaitu strategi yang dipilih

dari strategi yang direncanakan untuk dilaksanakan.

c. Strategi yang tidak direalisasikan atau Unrealized strategy, yaitu

karena dalam prosesnya terjadi perubahan-perubahan yang luput dari

prediksi saat penyusunan perencanaan menyebebkan banyak rencana

yang tidak direalisasikan.

d. Strategi muncul tengah jalan atau emergent strategy, yaitu karena

factor ketidak sengajaan atau kebetulan, tindakan spontan dari

manajemen lapis bawah, atau juga perubahan yang tak terencana dari

pimpinan puncak dalam organisasi menyebabkan munculnya strategi-

11
strategi baru yang tidak terpikirkan sebelumnya dalam proses

perencanaan.

e. Strategi yang terealisasi atau realized strategi, yaitu strategi yang

dilaksanakan baik karena sudah terencana sebelumnya maupun yang

muncul ditengah jalan.

Menurut Taufiqurokhman (2020: 27-28) mengatakan bahwa pada

perinsipnya manajemen strategik terdiri atas tiga Tahapan strategi yaitu:

1. Tahap formulasi: pada tahap formulasi ini didalamnya terdapat

pembuatan dan pengembagan visi dan misi, menemukan peluang dan

tantangan eksternal organisasi, menentukan kekuatan dan kelemahan

internal, pembuatan sasaran jangka panjang, menentukan pilihan-

pilihan strategi, serta pengambilan keputusan strategi yang dipilih dan

kemudian diterapkan dalam organisasi.

2. Tahap implementasi (bisa juga disebut proses tindakan): meliputi

pemilihan dan penentuan sasaran tahunan, pengelolaan kebijakan,

pengalokasian sumber-sumber, pemotivasian pegawai, agar strategi

yang diformulasikan dapat terlaksana dengan baik. termasuk

didalamnya adalah pengembangan kultur yang mendukung strategi,

pembuatan struktur organisasi yang efektif, penyiapan anggaran, serta

mengkaitkan kompensasi pegawai dengan kinerja organisasi.

3. Tahap evaluasi: dalam tahap ini meliputi kegiatan mencermati apakah

strategi yang telah dirumuskan berjalan dengan baik atau tidak. Hal ini

dibutuhkan untuk memenuhi prinsip bahwa strategi perusahaan

12
haruslah secara terus-menerus disesuaikan dengan kondisi perubahan-

perubahan yang selalu terjadi dilingkungan internal dan eksternal. Tiga

kegiatan utama pada tahap ini adalah: menganalisa faktor-faktor

internal dan eksternal sebagai basis strategi yang berjalan, pengukuran

kinerja, dan pengambilan tindakan perbaikan.

Organisasi pengelolaan zakat dapat dilakukan oleh Badan Amil Zakat

(BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). Organisasi pengelolaan zakat seperti

BAZ dan LAZ mempunyai tugas pokok mengumpulkan, mendistribusikan dan

mendayagunakan zakat sesuai dengan ketentuan agama (UU No. 38 tahun

1999).

Berdasarkan pasal 5 dan 15 Undang-undang no 23 tahun 2011 penamaan

Badan Amil Zakat (BAZ) kemudian berubah menjadi Badan Amil Zakat

Nazional (Baznas) baik pusat maupun daerah. Adapun tujuan dari pengelolaan

zakat yaitu meningkatkan evektifitas dan efisiensi pelayanan dalam

pengelolaan zakat dan meningkatkan manfaat zakat untuk dapat mewujudkan

kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan. Dalam

pelaksanaan zakat harus berdasarkan asas syariat Islam, amanah, kemanfaatan,

keadilah, kepastian hukum, integerasi dan akuntabilitas. (UU No. 23 Tahun

2011 Pasal 2 dan 3).

Sedangkan zakat secara bahasa berasal dari kata zaka adalah bentuk

masdar dari kata zaki (bersih). Zakat diterjemakan “berkah” tumbuh,

suci/bersih dan maslahah. Dalam kitab-kitab fikih, perkataan zakat diartikan

suci, tumbuh dan berkembang serta berkah. Jika pengertian ini dihubungkan

13
dengan harta, secara Islam harta tersebut (yang sudah dizakati) akan tumbuh

dan berkembang serta suci dan bersih (Abas, 2017 :4) Sedangkan menurut

Undang-undang No. 23 tahun 2011 pasal 1, zakat adalah harta yang wajib

dikeluarkan oleh seorang muslim atau badan usaha untuk diberikan kepada

yang berhak menerimanya menurut syariat Islam.

Zakat merupakan suatu bntuk pengikat yang kuat dalam menjalin

hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar sesama manusia (kaya

dan miskin). Zakat merupakan salah satu bentuk cara hidup sosial yang

menunjukan sifat peduli antar sesama manusia, dimana zakat berfungsi

sebagai jembatan kasih sayang antar sesama manusia. Selain itu zakat juga

merupakan bentuk kongkrit ajaran Islam tentang persaudaraan dan ajang

tolong-menolong. Oleh karenanya pengelolaan zakat dilakukan dengan

sebaik-baiknya sehingga manfaatnya dapat dinikmati secara luas oleh manusia

(Abas, 2017 :11).

Pengelolaan ialah suatu proses penataan kegiatan yang

dilaksanakan dengan fungsi-fungsi manajemen yang digunakan sebagai

acuan untuk menentukan keberhasilan sebagai bentuk dari pencapaian

tujuan yang telah disepakati. (Nawai, 2016: 8). Pengelolaan zakat di

Indonesia pada dasarnya dilakukan oleh sebuah badan atau lembaga yang

diatur dalam Undang-undang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan

pengordinasian dalam pengumpulah, pendistribusian, dan pendayagunaan

zakat (UU No. 23 Tahun 2011).

14
3. Kerangka Konseptual

Strategi pengelolaan zakat yang dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang

dimulai dengan pengembangan visi dan misi yang ditentukan oleh pimpinan

Baznas Kota Tangerang dengan mempertimbangkan sumberdaya yang

dimiliki dan kebutuhan yang dihadapi.

Visi dan misi yang telah dibuat kemudian dikembangkan untuk dapat

diformulasikan menjadi strategi pengelolaan zakat. Formulasi strategi

dilakukan secara bersama oleh pimpinan dan pewagai Baznas dalam sebuah

rapat Rencana Kerja Tahunan (RKT).

Setelah diformulasikan, selanjutnya strategi pengelolaan zakat akan

diimplementasikan dalam bentuk program kerja baik itu dibidang

pengumpulan zakat maupun dibidang pendistribusian dan pendayagunaan

zakat.

Setelah diformulasikan dan diimplementasikan, selanjutnya ialah

dilakukan evaluasi terhadap strategi yang telah diimplementasikan untuk

mengetahuai kendala dan hambatan yang dihadapai untuk dapat kemudian

diambil tingadakan-tindakan perbaikan dan evaluasi secara menyeluruh.

Tujuan akhir dari pengembangan visi misi, formulasi strategi,

implementasi dan evaluasi strategi ialah untuk mencapai target akhir yaitu

meningkatkan jumlah muzakki di Baznas Kota Tangerang.

15
VISI DAN
MISI

FORMULASI
STRATEGI

IMPLEMENTAS
ISTRATEGI

EVALUASI
STRATEGI

PENINGKATAN
JUMLAH MUZAKKI

F. Langkah-Langkah Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota

Tangerang yang beralamat di Jalan Nyimas Melati No. 21A, Rt.005/Rw.001,

Sukasari, Kecamatan Tangerang, Kota Tangerang, Provinsi Banten, Kode pos:

15117. Lokasi ini dipilih karena refresentatif dalam pengumpulan data dan

tersedianya data yang diperlukan untuk mengungkap permasalahan penelitian.

2. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif.

Menurut Sugiono sebagaimana yang dikutip oleh Sadiah mengatakan bahwa

penelitian deskriptif ialah suatu rumusan masalah yang memandu peneliti

16
untuk mengeksplorasi atau memotret situasi yang akan diteliti secara

menyeluruh, luas, dan mendalam (Sadiah, 2015: 19). Hal ini dimaksudkan

untuk menggambarkan, memaparkan dan menjelaskan mengenai judul

penelitian yang penulis angkat yaitu strategi pengelolaan zakat dalam upaya

meningkatkan jumlah muzakki. Adapun yang dimaksud dengan meningkatkan

jumlah muzakki ialah peningkatan jumlah muzakki pada tahun 2016 sampai

tahun 2020. Dalam upaya untuk menggambarkan, memaparkan dan

menjelaskan penelitian ini, peneliti melaksanakan observasi, wawancara dan

studi kepustakaan secara cermat dan mendalam. Dengan menggunakan

metode tersebut dapat menghantarkan peneliti untuk memperoleh data secara

benar, akurat dan lengkap berdasarkan hasil pengumpulan data dan

pengolahan data secara sistematis.

3. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kulitatif. Data

dalam penelitian kualitatif bersifat deskriptif bukan angka, data dapat berupa

gejala-gejala, kejadian dan peristiwa yang kemudian dianalisis dalam bentuk

akategori-kategori. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini

merupakan jawaban atas pertanyaan penelitian yang diajukan. Oleh karena itu

jenis data tersebut diklasifikasikan menjadi:

a. Data yang berkaitan dengan proses formulasi strategi Baznas Kota

Tangerang.

b. Data yang berkaitan dengan implementasi strategi yang dilakukan

Baznas Kota Tangerang.

17
c. Data yang berhubungan dengan evalusi strategi yang digunakan

Baznas Kota.

4. Sumber Data

Sumber data yang digunakan peneliti terdiri dari dua data, yaitu data

primer dan data sekunder.

a. Data Primer

Data primer ialah data dari hasil informasi tertentu mengenai suatu

data dari seseorang tentang masalah yang sedang akan diteliti oleh

seorang peneliti (Sadiah, 2015: 87). Data primer ini diperoleh dari

kata-kata tau tindakan orang yang diamati dan diwawancarai pada saat

penelitian berlangsung.

b. Data Sekunder

Data sekunder ialah berupa data-data yang sudah tersedia dan dapat

diperoleh oleh peneliti dengan cara membaca, melihat atau

mendengarkan. Data yang diperoleh bisa berupa arsip, dokumentasi,

setruktur kepengurusan serta program kerja yang terdapat pada Baznas

Kota Tangerang.

c. Informan Penelitian

1) Ketua pelaksana Baznas Kota Tangerang.

2) Bidang pengumpulan zakat Baznas Kota Tangerang.

3) Muzakki Baznas Kota Tangerang.

18
5. Teknik Pengumpulan Data

a. Observasi

Sutrisno Hadi sebagaimana dikutip oleh Sugiono berpendapat bahwa

observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang

tersusun dari berbagai proses biologis dan psikologis. Dua diantara

yang penting adalah proses-proses pengamatan dan ingatan (Sugiono,

2019: 203). Tekhnik ini penting digunakan untuk mengumpulkan data

sebanyak-banyaknya tentang kondisi objektif Baznas Kota Tangerang.

b. Wawancara

Wawancara adalah teknik yang dapat digunakan oleh peneliti ketika

melakukan studi pendahuluan serta ingin mengetahui informasi dari

responden yang jumlahnya sedikit (Sugiono, 2019: 195). Teknik

wawancara ini dilakukan ke beberapa narasumber, diantaranya: Kepala

pelaksana Baznas Kota Tangerang dan bidang pengumpulan Baznas

Kota Tangerang, dan para muzakki. Hal-hal yang ditanyakan

berhubungan dengan formulasi strategi, implementasi strategi dan

evalusi strategi yang dilakukan Baznas Kota Tangerang dalam uapaya

meningkatkan jumlah muzakki.

c. Studi Dokumentasi

studi dokumentasi adalah sarana pembantu peneliti dalam memperoleh

suatu data atau informasi dengan cara membaca surat-surat, iktisar

rapat, pernyataan tertulis kebijakan tertentu serta bahan-bahan tulisan

lain (Sugiono, 2019: 197). Teknik ini tidak secara langsung ditujukan

19
kepada subjek penelitian dalam rangka memperoleh informasi terkait

objek penelitian, dalam studi dokumentasi peneliti melakukan

penelusuran data historis objek penelitian dengan menganalisis

Rencana Kerja Tahunan (RKT) untuk mengetahui informasi terkait

rofmulasi, implementasi dan evaluasi starategi pengelolaan zakat yang

dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang.

6. Analisis Data

Dalam penelitian ini analisis data dilakukan setelah keseluruhan data

selesai dikumpulkan kemudian data baik itu hasil observasi atapun wawancara

dibaca dan dipelajari dengan cermat. Setelah itu maka tahap selanjutnya

adalah sebagai berikut (Sugiono, 2019: 199) :

1) Mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan strategi

pengelolaan zakat di Baznas Kota Tangerang melalui metode observasi

dan wawancara yang berkaitan strategi pengelolaan Zakat di Baznas

Kota Tangerang

2) Setalah informasi dan data dapat terkumpul, kemudian data

diklasifikasikan menurut jenis data masing-masing.

3) Setelah data di klarifikasikan menurut jenisnya, data tersebut kemudian

dihubungkan antara fakta yang satu dengan fakta yang lainnya.

4) Setelah itu, data kemudian dianalisis secara kualitatif

5) Lalu langkah terakhir ialah penarikan kesimpulan.

20
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Strategi

Strategi didalam organisasi atau perusahaan menjadi bagian penting dalam

rangka memastikan setiap keinginan dan harapan dapat diformulasikan dalam

bentuk program dan dilaksanakan serta dievaluasi secara menyeluruh untuk

dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Oleh karena penting keberadaannya

dalam organisasi perlu kiranya diuraikan mulaidari pengertian, jenis-jenis

sampai dengan tahapan strategi secara seksama.

1. Pengertian Strategi

Strategi atau stratogos atau strategia berasal dari bahasa yunani Greek

yang berarti general or generalship atau dapat diartikan sebagai sesuatu yang

berhubungan dengan tingkat manajemen atas atau top level management pada

suatu organisasi (Suci, 2015: 1).

Ada beberapa pengertian strategi menurut beberapa ahli, diantaranya:

a. Menurut Witcher dalam Bahaudin dkk. (2020: 72) mengatakan bahwa

strategi adalah suatu oprasi yang mengarahkan perusahaan kepada arah

dan tujuan yang berkelanjutan dari masa ke masa sehingga menjadi

acuan bagi perusahaan atau organisasi dalam mengambil keputusan

sesuai dengan prioritas dan tujuan yang telah ditentukan.

b. Menurut Ahmad (2020: 2) strategi adalah suatu bentuk perencanaan

yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang dirancang untuk mencapai

21
suatu tujuan yang telah tertentu bersama. Strategi juga dapat diartikan

sebagai suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam rangkan

mencapai sesuatu yang telah ditentukan.

c. Menurut Clausewitz dalam Yunus (2016: 11) mengatakan bahwa

strategi adalah seni yang menggunakan pertempuran untud dapat

memenangkan suatu perang. Strategi merupakan suatu rencana yang

disusun untuk digunakan dalam jangka panjang guna mencapai tujuan.

Strategi juga terdiri atas aktivitas-aktivitas penting yang diperlukan

untuk mencapai tujuan.

d. Porter dalam Yunus (2016: 12) berpendapat bahwa strategi merupakan

sekumpulan aktivitas atau tindakan yang berbeda untuk

menghantarkan sebuah nilai yang unik.

e. Arthur A. J dalam Yunus (2016:12) mengungkapkan bahwa strategi

terdiri dari rangkaian aktivitas-aktivitas yang penuh daya saing serta

pendekatan-pendekatan bisnis untuk mencapai kinerja yang

memuaskan (sesuai target).

Dari berbagai pengertian di atas maka perencanaan dapat di artikan

sebagai suatu proses yang ditempuh untuk dapat menentukan arah dan

tujuan yang dijalani oleh sebuah organisasi agar semuanya dapat tercapai

sesui dengan keinginan yang diharapkan. Dengan adanya strategi yang

disusun matang maka suatu organisasi akan memperoleh posisi dan

kedudukan yang kuat dalam wilayah kerjanya, dan juga akan lebih

maksimal dalam menjacapai sasaran dan tujuan yang ditetapkan.

22
2. Jenis-Jenis Strategi

Menurut Whelen dan Hunger dalam Saladin (2010: 15) menyatakan ada

beberapa tingkatan strategi dalam sebuah perusahaan atau organisasi. Terdapat

tiga jenis strategi yang berkembang seiring dengan perkembangan perusahaan

atau organisasi

a. Strategi korporasi (Corporate strategy)

Strategi korporasi ialah strategi yang dapat mencerminkan arah

perusahaan dengan bertujuan menciptakan pertumbuhan bagi sebuah

perusahaan secara menyeluruh dan juga bagi berbagai macam lini

bisnis dan produk.

b. Strategi bisnis (Business Strategy)

Strategi bisnis digunakan pada unit bisnis atau tingkat produk dan

merupakan strategi yang menitikberatkan pada perbaikan posisi

bersaing produk atau jasa pada tingkatan atau segmen pasar tertentu.

c. Strategi fungsional (Fungsional Strategy)

Strategi fungsional digunakan pada tingkat fungsional, pemasaran,

keuangan, dan sumber daya manusia. Strategi ini pada dasarnya

mengacu pada dua tingkatan startegi sebelumnya yaitu strategi

korporasi dan strategi bisnis. Strategi fungsional juga disebut sebagai

value-based-strategy. Berfokus pada memaksimumkan produktivitas

sumber daya yang digunakan untuk memberikan value terbaik dalam

pemenuhan kebutuhan pelanggan.

23
3. Tahapan Strategi

Taufiqurokhman (2020: 27-28) mengatakan bahwa pada perinsipnya

manajemen strategik terdiri tahapan formulasi strategi, implementasi strategi

dan evaluasi strategi dengan penjelasan secara rinci sebagai berikut:

a. Formulasi strategi (Formulation Strategy)

Formulasi strategi merupakan prores merencanakan atau menetapkan

program yang akan dilaksanakan organisasi untuk mencapai segala target

dan tujuan yang ingin dicapai. Dalam merumuskan strategi terdapat lima

langkah formulasi strategi yang harus dilakukan oleh sebuah organisasi

atau perusahaan. Adapun lima tahapan yang dimaksud ialah:

1) Perumusan visi (vision determination) yaitu pencitraan bagaimana

perusahaan bereksistensi.

2) Asesmen lingkungan eksternal (environmental external

assessment) yaitu mengakomodasi kebutuhan lingkungan akan

mutu pendidikan yang bisa disediakan perusahaan.

3) Asesmen organisasi (organization assessment) yaitu proses untuk

merumuskan dan mendayagunakan segala sumberdaya perusahaan

secara optimal.

4) Perumusan tujuan khusus (objective setting) yaitu penjabaran

dalam rangka menuju pencapaian misi perusahaan agar dapat

ditampakkan dalam tujuan perusahaan.

24
5) Penentuan strategi (strategi setting) yaitu memilih strategi yang

diyakini paling tepat untuk mencapai tujuan yang ditetapkan dalam

menyediakan anggaran serta sarana dan prasarana.

b. Implementasi strategi (Strategi Implementation)

Strategi yang telah dirumuskan akan tetapi jika tidak dilaksanakan

akan terbuang sia-sia dan tidak berguna. Perumusan target atau tujuan

tahunan, kebijakan untuk memotivasi pegawai, alokasi sumber daya oleh

perusahaan diperlukan dalam implementasi strategi. Implementasi strategi

mencakup Struktur organisasi yang efektif, perkembangan dan

pemanfaatan sistem informasi, persiapan anggaran, arahan kembali

pemasaran, kesinambungan antara kompensasi dan kinerja karyawan.

Tujuan yang telah dibuat dari strategi perusahaan selanjutnya akan

diimplementasikan dengan meramunya dalam bentuk program kerja yang

telah terjadwal secara jelas dan mendapatkan alokasi sumber daya yang

berwujud anggaran untuk mendukung keberhasilan setiap program.

Program kerja yang dibuat menyesuaikan dengan visi dan misi serta

mampu menjelaskan secara detail tentang suatu kegiatan yang

dilakukan. Berbagai aktivitas harus bisa dijelaskan oleh prosedur untuk

menyelesaikan program. Kemudian perusahaan juga membuat struktur

organisasi untuk memudahkan implementasi strategi yang telah dibuat.

Implementasi strategi dikenal juga dengan sebutan tahapan aksi atau

pelaksanaan. Dalam implementasi strategi, karyawan dan manajer dituntut

untuk lebih sinkron atau menyesuaikan dalam mengubah formulasi strategi

25
ke dalam tindakan, komitmen, kedisiplinan, dan pengorbanan yang

dibutuhkan dalam tahap implementasi strategi, hal ini karena implementasi

strategi tergolong kedalam tahap yang paling sulit dalam manajemen

strategi. Kemampuan manajer dalam memberikan arahani dan dukungan

kepada para bawahannya akan sangat menentukan keberhasilan

implementasi strategi.

Setiap divisi atau bagian dalam perusahaan harus merumuskan atau

menentukan jawaban dari suatu pertanyaan tentang apa yang harus

dilakukan untuk mengimplementasikan strategi dan juga seberapa jauh

kita melakukan pekerjaan dengan benar. Tantangan yang dihadapi dalam

implementasi strategi adalah menstimulus manajer dan pegawai untuk

melakukan pekerjaan dengan rasa bangga dan antusiasme demi tercapainya

sebuah tujuan (Fred R. David, 2016:82).

Implementasi strategi yang baik menjadikan keputusan strategi yang

kurang baik menjadi ekdektif, atau pilihan yang awalnya diragukan

menjadi sukses, hal ini penting untuk meneliti proses- proses pelaksanaan

dengan tujuan untuk menganalisis pilihan strategi yang menguntungkan.

Implementasi straetgi mencakup beberapa sub kegiatan yang pada

umumnya secara administratif. Jika keinginan telah ditentukan, maka

sumber daya yang terdapat dalam perusahaan diarahkan, pembagian tugas-

tugas dalam strukrut organisasi perusahaan harus dilakukan secara tepat

sesuai dengan kemampuan di bidangnya agar perusahaan berjalan dengan

efektif. Proses-proses organisasi yang meliputi kompensasi, pegukuran

26
prestasi, perkembangan manajemen yang berhubungan dengan sistem

pengawasan harus diarahkan kedalam jenis perilaku yang sesuai dengan

tujuan organisasi.

Jumlah pihak yang ikut andil dalam implementasi strategi biasanya

akan lebih banyak dibanding dengan formulasi strategi. Pihak yang terkait

dalam implementasi strategi meliputi para direktur fungsional (bagian

keuangan, sumber daya manusia, operasi, pemasaran), para direktur divisi,

atau mungkin juga melibatkan bawahan dalam mengimplementasikan

suatu rencana yang telah sirumuskan pada tahap formulasi yang telah

dirumuskan bersama (Nilasari, 2014: 15 )

c. Evaluasi Strategi

Evaluasi strategi amerupakan usaha-usaha untuk yang dilakukan

memonitor segala hasil dari formulasi dan implementasi strategi termasuk

mengukur keberhasilan kinerja organisasi, serta mengambil langkah-

langkah perbaikan jika diperlukan.

David Hunger dan L. Wheelen dalam (Ahmad, 2020: 12-13)

menegaskan bahwa meskipin evaluasi adalah bagian terakhir dari sebuah

proses strategi, namun evaluasi dapat mengidentifikasi secara tepat dan

menyeluruh mengenai kekurangan dan kelemahan dalam implementasi

strategi sebelumnya dan dapat mendorong proses keseluruhan untuk

memeperbaiki segala kekurangan. Dalam rangka menjamin proses

evaluasi berjalan dengan baik dan efektif, maka seorang pemimpin harus

27
memperoleh umpan balik yang jelas, tepat dan tidak bias dari bawahannya

dalam organisasi tersebut.

Menurut Taufiqurakhman (2016: 28) tahapan evaluasi meliputi

kegiatan mengamati apakah strategi yang telah dirumuskan berjalan

bejalan sesuai rencana atau tidak. Hal ini dimaksudkan untuk memenuhi

prinsip bahwa strategi perusahaan marus mampu menyesuaikan dengan

perubahan-perubahan yang selalu terjadi di lingkungan baik eksternal

maupun internal. Tiga kegiatan utama pada tahap evaluasi adalah:

menganalisis faktor-faktor eksternal dan internal, pengukuran kinerja, dan

pengambilan tindakan koreksi dan perbaikan.

Secara garis besar ada tiga tahapan evaluasi strategi yang dipandang

penting untuk dilakukan, yaitu:

1) Meninjau faktor internal dan eksternal.

Perkembangan situasi lingkungan perusahaan harus dapat dipantau

dengan baik dan rutin, hal ini dikarenakan perubahan faktor internal

dan eksterlan terus berlangsung dengan dinamis. Apabila terdapat

perubahan maka harus ditinjau kembali dan dinilai apakan strategi yang

digunakan masih mampu menjawab perubahan atau tidak.

2) Mengukur kinerja

Kinerja merupakan suatu hasil kerja atau prestasi kerja yang

mengukur apakah pekerjaan berhasil atau tidak. Pengukuran kinerja ini

perlu untuk mengukur dan mengevaluasi sebuah strategi berhasil atau

tidak.

28
3) Mengoreksi tindakan.

Proses koreksi dilaksanakan untuk menentukan agar strategi

selanjutnya lebih baik dan dapat meminimalisir kesalahan yang

mungkin terjadi dalam sebuah strategi. (Kadmasasmita, 2005 : 5).

B. Konsep Pengelolaan

1. Pengertian Pengelolaan

Pengelolaan adalah suatu proses penataan kegiatan yang

dilaksanakan melalui fungsi-fungsi manajemen yang berfungsi sebagai

tolak ukur untuk menentukan keberhasilan sebagai bentuk dari pencapaian

tujuan yang telah ditentukan. (Naway, 2016: 8). Suprianto dan Muhsin

dalam (Naway, 2008:142), mengungkapkan bahwa pengelolaan adalah

keterampilan untuk meramu komponen dan unsur-unsur yang terlibat

dalam suatu sistem untuk mencapai hasil/tujuan yang direncanakan.

Sedangkan menurut Hamidi dan Lutfi dalam (Naway, 2010:153),

Pengelolaan didefinisikan sebagai suatu peroses bekerja dengan orang-orang

secara pribadi dan kelompok untuk mencapai tujuan organisasional atau

lembaga yang telah ditentukan. Lebih lanjut Hasibuan (2006:2),

mengatakan bahwa pengelolaan adalah Ilmu atau seni untuk mengatur

proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber days lainnya secara

efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dan di

disepakati secara bersama.

29
2. Fungsi-Fungsi Pengelolaan

Fungsi pengelolaan atau fungsi manajemen ialah sejumlah kegiatan yang

meliputi berbagai jenis pekerjaan yang dapat diklasifikasikan dalam suatu

kelompok sehingga membentuk suatu kesatuan administratif. Para ilmuan

sepakat bahwa pada dasarnya jenis keseluruhan fungsi-fungsi manajemen

dapat digolongkan kepada dua jenis utama, fungsi yang digolongkan kepada

jenis fungsi-fungsi organik dan fungsi penunjang, sebagaimana dinyatakan

dalam bukunya fungsi-fungsi manajemen yang ditulis oleh Sondang P. Siagian

(1992: 44) yaitu:

a. Fungsi organik, yaitu keseluruhan fungsi utama, yang pasti diperlukan

oleh seorang manajer dalam rangka pencapaian suatu tujuan dan

berbagai sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Fungsi-fungsi

organik tersebut merupakan penjabaran kebijaksanaan dasar atau

strategi organisasi yang telah ditetapkan dan harus digunakan sebagai

dasar dalam bertindak/bekerja.

b. Fungsi-fungsi penunjang, yaitu berbagai kegiatan yang dilakukan

oleh orang-orang atau satuan kerja dalam organisasi dan dimaksudkan

mendukung semua fungsi organik para manajer.

Adapun diantara fungsi-fungsi manajemen yang secara umum diketahui

yaitu fungsi perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing),

Pelaksanaan (Actuating) dan Pengawasan (Controlling) yang kemudian

disingkat dengan POAC.

30
a. Fungsi perencanaan (Planning)

Perencanaan adalah starting point dari aktivitas manajerial, karena

bagaimanapun secara sempurna aktivitas manajemen pasti membutuhkan

sebuah perencanaan. Perencanaan ialah langkah pertama dalam melakukan

sebuah kegiatan memikirkan hal yang terkait agar sesuai dengan hasil

yang optimal. Perencanaaan juga sebuah keputusan untuk waktu yang

akan datang, apa yang akandilakukan, walaupun terkadang apa yang

diperkirakan jarang sesuai keadaan, terutama faktor yang diluar

darikeadaan, tetapi apabila dengan proses perencanaan akan mendekati

dengan kebenaran dan sesuai keinginan.

Perencanaan juga bukan merupakan sebuah tindakan, melaikan suatu

proses untuk memecahkan sebuah masalah. Selama perencanaan masih

dalam proses yang tidak dibatasi dalam pembahasannya, sebelum diambil

sebuah keputusan sebab mungkin akan selalu diadakan perubahan-

perubahan.

Adapun tujuan dari diadakannya sebuah perencanaan dalam ogranisasi

ialah sebagi berikut:

a) Perencanaan dimaksudkan untuk menentukan kebijakan-

kebijakan, prosedur dan memberikan acuan pelaksanaan yang

efektif dalam mencapai sebuah tujuan.

b) Perencanaan juga bertujuan untuk menjadikan tindakan lebih

hemat dan praktis, karena semua potensi yang ada terarah

31
dengan baiksesuai tujuan.

c) Perencanaan salah satu cara untuk memperkecil resiko yang

dihadapidimasa yang akan datang.

d) Perencanaan memberikan gambaran secara lengkap tentang

seluruh kegiatan dan pekerjaan.

e) Perencanaan menyebabkan kegiatan dilakukan secara teratur

dan efisien.

f) Perencanaan membantu meningkatkan saya guna dan hasil

organisasi (Hasibuan, 2011: 95).

b. Fungsi Pengorganisasian (organizing)

Pengorganisasian diartikan sebagai penentuan pekerjaan yang harus

dilakuka, pengelompokan tugas-tugas dan membagikkan berbagai

pekerjaan kepada setiap pegawai/karyawan, penetapan departemen serta

menentukan hubungan-hubungan. Fungsi pengorganisasian berkaitan erat

dengan fungsi perencanaan karena pengorganisasian juga harus

direncanakan. Pengorganisasian merupakan fungsi manajemen dan juga

merupakan proses yang dinamis, dan organisasi merupakan alat atau

wadah yang statis.

Pengorganisasian adalah suatu proses penentuan, pengelompokan dan

pengaturan dari berbagai macam aktivitas, menyediakan alat-alat yang

diperlukan, dan menetapkan wewenang yang secara relative di berikan

kepada individu yang akan melakukan pekerjaan/tugas tersebut.

32
c. Fungsi Pelaksanaan (Actuating)

Pelaksanaan merupakan kegiatan mendorong seluruh anggota

organisasi agar dapat berusaha keras untuk mencapai tujuan dengan baik

serta sesuai dengan perencanaan dan usaha pengorganisasian dari

pimpinan. Tercapainya sebuah tujuan bukan hanya bergantung kepada

planning dan organizing yang baik, melaikan juga tergantung pada

pelaksanaan. Perencanaan dan perorganisasian hanya meruppakan

landasan yang kuat untuk adanya pergerakan yang terarah dan sesuai

kepada sasaran tujuan yang diinginkan. Pelaksanaan tanpa adanya sebuah

perencanaan tidak akan berjalan secara efektif karena dalam perencanaan

itulah ditentukan sebuah tujuan, budget dan standard, metode kerja,

prosedur dan program-program. (Sukarna, 2011:82-83)

d. Fungsi Pengawasan (Controlling)

Pengawasan atau controlling merupakan salah satu fungsi manajemen

yang mengadakan sebuah penilaian, jika perlu bahkan mengadakan

koreksi sehingga yang dilakukan sebuah bawahan atau karyawan dapat

diarahkan ke jalan yang sesuai pada perencanaan yang sebelumnya telah

dibuat. Dalam sebuah kegiatan pengawasan ini, atasan melakukan

pemeriksaan, pencocokan, serta mengusahakan agar kegiatan-kegiatan

yang sedang atau sudah dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah

ditetapkan dan sesuan dengan sesuai tujuan yang ingin dicapai (Sukarna,

2011: 83).

33
3. Aspek Pengelolaan Zakat

Menurut Undang–Undang Republik Indonesia no. 23 tahun 2011 pasal 1

ayat 1 terdapat 3 aspek kegiatan pengelolaan :

a. Pengumpulan zakat (Fundarising)

Pengumpulan dapat dilakukan langsung oleh badan atau lembaga

amil zakat yang dibentuk langsung oleh pemerintah ataupun atas inisiasi

dari masyarakat dan di sahkan oleh pemerintah. Pngesahan dapat

dilakkukan baik secara langsung ataupun tidak langsung.

b. Pendistribusian zakat (Distribution)

Yaitu mendistribusikan dana zakat kepada orang yang berhak

menerima zakat (mustahik) sesuai asnaf yang telah di tentukan baik dalam

bentuk pola produktif maupun konsumtif.

1) Distribusi konsumtif tradisional, yaitu pembagain zakat yang di

manfaatkannya dirasakan secara langsung, seperti zakat fitrah

yang diberikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

2) Distribusi konsumtif kreatif, yaitu pembagian zakat yang

diberikan dalam bentuk lain dari barang semula, seperti alat –

alat sekolah,beasiswa.

3) Distribusi Produktif tradisional , yaitu pemberian zakat yang

diberikan dalam bentuk barang proktif, dan dapat menciptakan

suatu usaha dalam membuka lapangan pekerjaan. Seperti

pemberian sapi, kambing, barang jualan.

4) Distribusi produktif kreatif, yaitu pemberian dalam bentuk

34
permodalan, baik dalam bentuk modal untuk berdagang maupun

membuka usaha awal (Arief Mufraini, 2008 : 153).

c. Pendayagunaan Zakat

Pendayagunaan zakat yaitu pemberian zakat dapat menghasilkan usaha

yang bernilai dan manfaat yang lebih besar. Menurut kamus besar bahasa

indonesia pendayagunaan yakni pengusaha yang dapat menghasilkan

manfaat dan pengusaha yang mampu menjalankan tugasnya secara baik

(Arief Mufraini, 2008:153).

C. Konsep Zakat

1. Pengertian Zakat

Secara bahasa (etimologi) zakat berasal dari kata zaka yang berarti

berkembang, berkah, tumbuh, suci, dan baik (Asnaini, 2008: 23). Dengan

demikian, zakat berfungsi untuk membersihkan (menyucikan) diri dan

hartanya sehingga pahalanya bertambah, hartanya tumbuh (berkembang) dan

membawa berkah (Hasan, 2008: 15).

Secara istilah syari’ah (syara’) zakat berarti sejumlah harta tertentu yang

diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada orang-orang tertentu dan dengan

syarat-syarat yang ditentukan pula (Ilmi, 2002: 67).

Menurut terminologi para fuqaha, zakat dimaksudkan sebagai penunaian,

yakni penunaian hak yang wajib yang terdapat dalam harta.

35
Zakat juga dimaksudkan sebagai bagian harta tertentu dan yang

diwajibkan oleh Allah untuk diberikan kepada orang-orang fakir (Al-Zuhayly,

2008: 85).

Adapun pengertian zakat sebagaimana diungkapkan oleh para ahli ialah

sebagai berikut:

a. Menurut Yusuf Qardhawi, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang

diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada orang-orang yang berhak

menerimanya (Qardhawi, 2004: 34).

b. Abdurrahman al-Jaziri berpendapat bahwa zakat adalah penyerahan

kepemilikan tertentu kepada orang yang berhak menerimanya dengan

syarat- syarat tertentu pula (Inoed dkk, 2005: 9).

c. Muhammad Al-Jarjani dalam bukunya Al-Ta’rifat mendefiniskan zakat

sebagai suatu kewajiban yang telah ditentukan Allah bagi orang-orang

islam untuk mengeluarkan sejumlah harta yang dimiliki (Inoed dkk,

2005: 12.

d. Menurut Sayid Sabiq mengatakan bahwa zakat adalah sesuatu harta

yang harus dikeluarkan manusia sebagai hak Allah untuk diserahkan

kepada fakir miskin, disebut zakat karena dapat memberikan

keberkahan, kesucian jiwa, dan berkembangnya harta (Mardani, 2015:

399).

2. Dasar Hukum Zakat

Zakat merupakan salah satu rukun Islam, zakat diwajibkan di Madinah

pada bulan Syawal tahun kedua Hijriyah. Dalam Al-Qur’an zakat

36
digandengkan dengan kata shalat sebanyak delapan puluh dua tempat. Hal ini

menunjukkan bahwa keduanya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Selain

itu zakat juga menjadi salah satu diantara panji-panji Islam yang tidak boleh

diabaikan oleh siapa pun juga. Karena dalam penunaian zakat itu memiliki arti

yang sangat penting. Adapun hukumnya zakat adalah aini dalam arti

kewajiban yang ditetapkan untuk diri pribadi dan tidak mungkin dibebankan

pada orang lain. Adapun dasar-dasar hukum zakat diantaranya adalah:

a. Al-Qur’an

َ ‫علَيْ ِِ ْن ۖ ِإ َّى‬
َ‫ص ََلتَك‬ َ َّ ‫ط ِ ِّ ُشُُ ْن َّتُزَ ِ ّكي ِِ ْن بِ َِا‬
َ ‫ص ِّل‬ َ ‫ُخزْ ِه ْي أ َ ْه َْا ِل ِِ ْن‬
َ ُ ‫صذَقَةً ت‬

‫ع ِلي ٌن‬
َ ‫س ِوي ٌع‬ َّ َّ ۗ ‫س َك ٌي لَ ُِ ْن‬
َ ُ‫َّللا‬ َ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu


kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk
mereka Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman
jiwa bagi mereka dan Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui”(QS, At-Taubah:103)

َّ َّ ‫ت َّالٌَّ ْخ َل‬
َ‫الز ْسع‬ ٍ ‫غي َْش َه ْع ُشّشَا‬
َ َّ ‫ت‬ ٍ ‫َُُّ َْ الَّزِي أ َ ًْشَأ َ َجٌَّا‬
ٍ ‫ت َه ْع ُشّشَا‬

ٍِ ‫غي َْش ُهتَشَا ِب ٍَ ۚ كُلُْا ِه ْي ث َ َو ِش‬ َّ َّ َُُ‫ُه ْخت َ ِلفًا أ ُ ُكل‬


ُّ َّ َ‫الز ْيتُْى‬
َ َّ ‫الش َّهاىَ ُهتَشَا ِب ًِا‬

َ‫صا ِد ٍِ ۖ َّ ََل تُس ِْشفُْا ۚ إًََُِّ ََل يُ ِحبُّ الْ ُوس ِْشفِيي‬
َ ‫إِرَا أَثْ َو َش َّآتُْا َحقََُّ يَ ْْ َم َح‬
“Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan
yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-
macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan
warnanya) dan tidak sama (rasanya) Makanlah dari buahnya (yang
bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di
hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin);
dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang yang berlebih-lebihan”(QS, Al-Ma’idah :141)

37
a. Hadits

Adapun dalil-dalil sunnah mengenai zakat ialah sebagai berikut:

Sabda Rasulullah, yang artinya:

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar r.a. Sesungguhnya Rasulullah SAW.,


bersabda: “Islam itu dibina di atas lima pilar (dasar): bersaksi bahwa
tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah, Muhammad hamba-
Nya dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat,
melaksanakan haji ke Baitullah (bagi yang mampu), dan puasa
Ramadhan.” (HR. Mutafaq Alaih) (M. Ali Hasan. 2008: 15)

Sabda Rasulullah, yang artinya:

“Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. Sesungguhnya Rasulullah SAW.,


mengutus Mu’az ke negeri Yaman, beliau pun bersabda: “Ajaklah
mereka supaya meyakini (mengakui), bahwa tidak ada Tuhan yang
patut disembah kecuali Allah. Jika mereka mematuhinya (taat), maka
beritahulah kepada mereka, bahwa Allah mewajibkan atas mereka
shalat lima waktu sehari semalam. Jika mereka menaatinya, maka
beritahulah, bahwa Allah mewajibkan sedekah (zakat) atas mereka
(zakat itu) dikenakan kepada orang kaya dan diberikan kepada fakir
dikalangan mereka.” (H.R. Muttafaq Alaih) ([Link] Hasan. 2008: 15)

Berdasarkan ayat-ayat dan hadis-hadis di atas, jelas bahwa

mengeluarkan zakat itu hukumnya wajib sebagai salah satu rukun Islam.

Bahkan dalam sejarah Islam, sahabat Abu Bakar pernah memerangi orang

yang tidak menunaikan zakat. Beliau mengatakan dengan tegas bahwa “demi

Allah akan kuperangi orang-orang yang membedakan antara shalat dengan

zakat” (Az-Zabidi, 2002: 328).

3. Tujuan Zakat

Ada beberapa macam tujuan zakat, diantaranya yaitu:

a. Bertujuan untuk menutupi kebutuhan pihak-pihak yang

memerlukannya, misalnya anak yatim yang tidak punya harta dan tidak

38
ada seseorangpun yang menafkahinya, orang fakir yang tidak

mempunyai harta untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri dan

keluarganya, orang-orang yang berjuang di jalan Allah dan lain

sebagainya. Karena itu zakat bisa menjadi aspek penting dalam

kehidupan, terutama jika mengetahui cara pengelolaannya. Selain itu,

jika mengerti bahwa dengan zakat tersebut Allah akan menutupi

beberapa celah persoalan yang ada dalam masyarakat, seperti

persoalan iri dan dengki bagi orang-orang yang berhak menerimanya

terhadap orang-orang yang kaya harta. Jika berhasil zakat diberikan

kepada golongan yang berhak benerimanya, sehingga orang fakir,

orang miskin, anak yatim dan orang melarat merasa tercukupi

kebutuhannya, niscaya mereka menegadahkan tangan kepada Allah

SWT, untuk mendo’akan orang-orang kaya yang dermawan. Bahkan

batin mereka juga merasa puas dan hati mereka bersih dari sifat iri

dan dengki.

b. Dari sisi pembangunan kesejahteraan ummat, zakat merupakan

salah satu instrumen pemerataan pendapatan. Melihat kenyataan

sekarang, masyarakat ummat Islam yang mayoritas di Indonesia ini,

yang status sosialnya masih lemah dan ekonominya belum mapan.

Kalau kita berbicara makmur atau tidaknya bangsa kita, tentu tidak

terlepas dari umat Islam. Berhasil atau tidaknya pembangunan

bangsa juga sangat bergantung kepada umat Islam. Pada keadaan

sekarang, kita masih merasa perihatin. Sebagai contoh untuk

39
membangun masjid, ada yang masih meminta sumbangan di

pinggir jalan lewat kotak amal dari penumpang kendaraan yang

lewat. Belum kita melihat orang meminta sumbangan dari rumah ke

rumah untuk panti asuhan, pembangunan sekolah dan sebagainya.

Rumah yang didatangi, tidak hanya rumah-rumah yang ada di

wilayahnya, tetapi jauh ke daerah-daerah lain. Hal ini suatu pertanda

bahwa ekonomi masyarakat pada daerah itu masih lemah. Sehingga

membangun sekolah atau masjid pun terpaksa pergi ke tempat yang

jauh. Pada daerah yang didatanginya itu juga mempunyai masalah

yang sama. Masih banyak masalah sosial kemasyarakatan yang

memerlukan dana. Untuk itulah salah satu jalan yang dapat

ditempuh untuk menanggulangi masalah tersebut adalah melalui

zakat.

c. Supaya harta itu tidak hanya beredar dikalangan orang-orang kaya

saja. Maka diperlukan suatu pemrataan dalam hal ekonomi berupa

menunaikan zakat kepada orang lain yang membutuhkan. Hal ini

sebagaimana disebutkan oleh firman Allah SWT dalam surat Al-

Hasyr ayat 7 yang artinya:

”Harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya


(dari harta benda) yang berasal dari penduduk kota-kota Maka adalah
untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu
jangan beredar di antara orang-orang Kaya saja di antara kamu.
apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa
yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS.
Al-Hasyr: 7)

40
4. Syarat Wjib Zakat

Zakat mempunyai beberapa syarat wajib dan syarat sah. Menurut

kesepakatan para ulama, bahwa syarat wajib zakat adalah sebagai berikut (Al-

Zuhayly, 2008: 98-106):

a. Merdeka

Zakat dikenakan kepada orang-orang yang bebas dan dapat bertindak

bebas, menurut kesepakatan para ulama zakat tidak wajib atas hamba

sahaya yang tidak mempunyai hak milik.

b. Muslim

Menurut Ijma' zakat tidak wajib atas orang kafir karena zakat ini

merupakan ibadah mahdah yang suci sedangkan orang kafir bukan orang

suci maka tidak wajib mengeluarkan zakat.

c. Baligh dan berakal,

Zakat tidak wajib diambil atas harta anak kecil dan orang- orang gila

sebab keduanya tidak termasuk ke dalam ketentuan orang yang wajib

rnengerjakan ibadah seperti sholat dan puasa. Oleh karena itu zakat hanya

diwajibkan kepada mereka yang secara usia memenuhi syarat untuk

berzakat dan secara akal pikiran mampu membedakan kewajiban dan

larangan dalam agama

d. Kepemilikan harta yang penuh

Harta yang akan dikeluarkan zakatnya haruslah murni harta pribadi

dan tidak bercampur dengan harta milik orang lain. Jika dalam harta kita

41
bercampur dengan harta milik orang lain sedangkan kita akan

mengeluarkan zakat, maka harus dikeluarkan terlebih dahulu harta milik

orang lain tersebut.

e. Mencapai nishab

Nishab adalah batasan antara apakah kekayaan itu wajib zakat atau

tidak sesuai ketentuan syara' sebagai pertanda kayanya seseorang dan

kadar-kadar yang mewajibkannya berzakat. Jika harta yang dimiliki

seseorang telah mencapai nishab, maka kekayaan tersebut wajib zakat, jika

belum mencapai nishab, maka tidak wajib zakat.

f. Mencapai haul

Haul, yaitu kekayaan yang dimiliki seseorang apabila sudah mencapai

satu tahun hijriyah atau telah mencapai jangka waktu yang mewajibkan

seseorang mengeluarkan zakat. Sedangkan syarat sah zakat ialah niat yang

menyertai pelaksanaan zakat tersebut (Al-Zuhayly, 2008: 106).

5. Macam-Macam Zakat

Zakat merupakan shodaqoh wajib yang telah ditentukan macam dan

jenisnya. Dalam ilmu fiqih zakat dibagi menjadi dua macam, yaitu zakat fitrah

dan zakat maal.

a. Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang dikeluarkan oleh setiap orang Islam

yang mempunyai kelebihan untuk keperluan keluarga yang wajar pada

malam hari raya Idul Fitri. Zakat ini dinamakan zakat fitrah karena di

42
kaitkan dengan diri (al-Fitrah) seseorang. Zakat fitrah dibayarkan pada

bulan Ramadhan hingga sholat Idul Fitri. Adapun jumlah dan jenis zakat

ini adalah 1 sha (2, 304 kg) tamar atau satu sha (2, 304 kg) gandum,

tergantung enis makanan pokok yang terdapat di daerah tertentu (Ridwan,

2004: 197)

b. Zakat Maal

Zakat maal adalah zakat yang berupa harta kekayaan yang dikeluarkan

oleh seseorang atau badan hukum dengan ketentuan telah memenuhi satu

nishab dan telah dimiliki salama satu. Zakat maal disyariatkan berdasarkan

Surat Al-Baqarah : 267

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan


Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik, dan sebagian dari
apa yang kamu keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu
memilih yang buruk- buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya,
padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan
memicingkan mata terhadapnya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha
kaya lagi Maha terpuji. (QS. Al- Baqarah : 267)

Dalam kitab fiqih klasik, harta kekayaan yang wajib dizakati meliputi:

binatang ernak, emas dan perak, barang perdagangan, hasil bumi serta

barang tambang dan rikaz.

Adapun Pembahasan mengenai zakat harta kekayaan akan dibahas

lebih lanjut dalam uraian sebagai berikut :

1) Binatang ternak

Dalam kelompok ini para fukaha sepakat bahwa binatang ternak

yang wajib dizakati meliputi unta, sapi, kambing dan semisalnya. Para

43
fuqaha mensyaratkan beberapa hal dalam pengeluaran zakat untuk

binatang ternak, meskipun masih ada perselisihan pendapat di

dalamnya. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

a) Binatang ternak itu unta, sapi, dan kambing yang jinak.

b) Jumlah binatang ternak itu hendaknya mencapai nisab

c) Pemilik binatang itu telah memilikinya selama satu tahun

penuh terhitung dari hari pertama ia memilikinya dan

pemilikan itu tetap tertahan selama masa kepemilikan.

d) Binatang itu termasuk binatang yang mencari rumput sendiri

dan bukan binatang yang diupayakan rumputnya dengan biaya

pemiliknya (Zuhaili, 2008: 225-226).

2) Zakat Emas dan Perak

Dasar diwajibkan zakat terhadap emas dan perak adalah sesuai

dengan Surat At- Taubah 34:

Artinya : “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan


tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukan pada
mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”(QS. At-
Taubah : 34)
Diwajibkan zakat atas emas dan perak baik berupa mata uang

kepingan atau bongkahan, dengan syarat emas dan perak tersebut

sudah sampai satu nishab serta telah dimiliki selama satu tahun. Jika

tidak sampai satu nishab, maka tidak wajib mengeluarkan zakat

kecuali emas tersebut diperdagangkan. Adapun zakat yang dikeluarkan

masuk dalam kategori zakat perniagaan (Ash-Shiddiqi, 1967: 57).

44
Ulama fiqih berpendapat bahwa emas dan perak wajib dizakati jika

cukup nishabnya. Menurut pendapat mereka, nishab emas adalah 20

mitsqal (91 gram), sedangkan perak adalah 200 dirham (643 gram).

Mereka juga memberi syarat yaitu berlakunya waktu satu tahun. Dan

zakat yang wajib dikeluarkan adalah 2,5% dari harta yang dimiliki

(Mughniyah, 1996: 185).

3) Zakat Barang Tambang (ma’din) dan Barang Temuan (rikaz)

Barang tambang adalah segala sesuatu yang berharga yang

ditemukan atau dikeluarkan dari dalam bumi, seperti : besi, timah dan

sebagainya (Ash-Shidiqi, 1967: 104). Sedangkan yang dimaksud

dengan rikaz adalah harta simpanan pada masa dahulu yang terpendam

di dalam tanah dan tidak ada yang memilikinya. Hasil tambang apabila

telah sampai satu nishab, maka wajib dikeluarkan zakatnya pada waktu

itu juga dan tidak disyaratkan sampai satu tahun. Adapun zakat yang

wajib dikeluarkan dari harta hasil tambang ialah sebanyak 2,5 %

(Ash-Shidiqi, 1967: 106). Sedangkan untuk rikaz, zakat yang

dikeluarkan adalah 1/5. Sama halnya hasil tanmbang, rikaz juga tidak

disyaratkan sampai satu tahun melainkan dikeluarkan zakatnya pada

waktu itu juga (Ash-Shidiqi, 1967: 107).

4) Harta Perdagangan

Harta perdagangan adalah harta yang berupa benda, tempat tinggal,

jenis-jenis binatang, pakaian, maupun barang-barang yang lainnya

yang disediakan untuk diperdagangkan. Termasuk dalam kategori ini

45
menurut Mazhab Maliki ialah perhiasan yang diperdagangkan (Ash-

Shidiqi, 1967: 108).

Zakat atas barang-barang perniagaan didasarkan pada Surat Al-

Baqarah: 267:

Artinya : ”Hai orang-orang yang beiman, nafkahkanlah (di jalan


Allah) sebagian dari usahamu yang baik-baik dan sebagian dari
apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. (QS. al-
Baqarah:267)
Zakat yang wajib dikeluarkan dari harta perdagangan ialah 2,5 %

harga barang dagangan. Jumlah zakat yang wajib dikeluarkan darinya

sama dengan zakat emas dan perak (Ash-Shidiqi, 1967: 104).

5) Tanam-Tanaman dan Buah-Buahan

Kewajiban zakat hasil tanaman dan buah-buahan ini terdapat dalam

Surat Al- An‟am: 141:

Artinya: “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang


berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon kurma, tanaman
yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa
(bentuk dan warnanya), dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari
buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan
tunaikanlah haknya dihari memetik hasilnya (dengan disedekahkan
kepada fakir miskin) dan janganlah kamu berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang berlebih-
lebihan”. (QS. al-An‟am: 141)
Zakat hasil bumi ini tanpa adanya syarat haul, sebab setiap kali

panen harus dikeluarkan zakatnya. Sedangkan hasil bumi ada yang

sekali setahun dan ada yang dua sampai tiga kali dalam satu tahun. Jadi

setiap kali panen jika hasilnya telah mencapai satu nishab, maka wajib

untuk dikeluarkan zakat.

46
6) Zakat Profesi

Dewasa ini kita telah mengalami perubahan struktural ekonomi,

dari ekonomi agraris beralih ke ekonomi industri atau jasa, seperti

pegawai, dokter, dan pekerjaan lainnya yang memperoleh pendapatan

dari upah, gaji, honorarium, atau berbagai pungutan tertentu atas jasa

yang diberikan. Hasil profesi merupakan sumber pendapatan atau

kekayaan yang tidak banyak dikenal pada masa lampau, oleh

karenanya bentuk pendapatan ini tidak banyak dibahas, khususnya

yang berkaitan dengan zakat.

Meskipun demikian bukan berarti harta yang didapatkan dari hasil

profesi tersebut bebas dari zakat, sebab zakat pada hakekatnya adalah

pungutan harta yang diambil dari orang-orang kaya yang menurut

ketentuan syariat memenuhi sayarat untuk dizakati yang kemudian

dimanfaatkan baik secara langsung atau dikelola melalui lembaga

resmi untuk dibagikan kepada orang-orang miskin. Dengan demikian

hasil profesi seseorang apabila telah memenuhi ketentuan wajib zakat

maka wajib baginya untuk menunaikan zakat.

Kewajiban zakat profesi ini berdasarkan pemahaman kembali

terhadap keumuman makna yang terkandung dalam surat al-Baqarah

267.

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah


sebagian dari sebagian usahamu yang baik-baik dan sebagian dari
apa yang kamu keluarkan dari bumi untuk kamu.(QS. Al-Baqarah
:267).

47
Zakat penghasilan bersih dari seorang pegawai atau dari profesi

tertentu dapat diambil dari dalam setahun penuh jika pendapatan bersih

setahun itu mencapai satu nishab. Zakat tersebut hanya diambil dari

pendapatan bersih, sedangkan gaji atau upah setahun yang tidak

mencapai nishab (setelah dikurangi biaya hidup) tidak wajib dizakati.

Menurut Didin Hafidhuddin ( 2002 :97) bahwa zakat profesi dapat

dianalogikan pada dua hal, yaitu pada zakat pertanian serta zakat emas

dan perak. Jika dianalogikan pada zakat pertanian, maka zakat profesi

tidak ada ketentuan haul. Dan nishabnya senilai 653 kilogram padi dan

waktu mengeluarkan zakatnya adalah pada saat menerima gaji.

Sedangkan bila dianalogikan dengan zakat emas dan perak, maka zakat

yang wajib dikeluarkan dari suatu profesi adalah seperempat puluh

atau 2,5%. Hal ini karenakan gaji, upah, atau yang lainnya pada

umumnya diterima dalam bentuk uang. Qiyas yang digunakan dalam

menentukan zakat profesi adalah qiyas syabah, yaitu qiyas yang „illat

hukumnya ditetapkan dengan metode syabah.

6. Hikmah Zakat

Zakat memiliki hikmah yang besar bagi muzakki maupun masyarakat,

diantaranya (Yunus, 2001: 20) :

a. Mendidik diri supaya bersifat pemurah dan penyayang kepada fakir

miskin dan orang-orang yang tidak mampu serta membersihkan hati

dari bersifat kikir.

48
b. Memelihara kehidupan fakir miskin dan orang-orang yang tidak

sanggup berusaha.

c. Menumbuhkan sifat berkasih-kasihan diantara semua umat Islam dan

menguatkan persatuan rakyat.

d. Membersihkan negeri dari bahaya pencurian, perampokan,

pembunuhan dan kekacauan yang disebabkan oleh kemiskinan rakyat

atau mengurangi resiko tersebut.

D. Konsep Muzakki

1. Pengertian Muzakki

Muzakki adalah orang atau badan yang dimiliki oleh orang Muslim yang

bekewajiban menunaikan zakat. (Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 Tentang

Pengelolaan Zakat). dari pengertian Diatas tergambarkan dengan jelas bahwa

muzakki bukan hanya diartikan sebagai perorangan akan tetapi muzakki juga

bisa digolongkan dalam suatu badan yang dimiliki oleh siapapun yang

beragama Islam. Dengan demikian telah jelas bahwa muzakki adalah

perseorangan atau pun badan seperli yang tercantum dalam undang-undang.

Seluruh ahli fiqih sepakat bahwa setiap muslim, merdeka, baligh dan

berakal wajib menunaikan zakat. Akan tetapi mereka berbeda pendapat

tentang orang yang belum baligh dan gila. Menurut mazhab imamiyah, harta

orang gila, anak-anak dan budak tidak wajib dizakati dan baru wajib di zakati

ketika pemiliknya sudah baligh, berakal dan merdeka. Ini berdasarkan sabda

rasulallah SAW.

49
“Tiga orang terbebas dari ketentuan hukum; kanak-kanak hingga
dia baligh, orang tidur hingga ia bangun dan orang gila hingga
dia sembuh”.
Pendapat sama dikemukakan mazhab Hanafi, kecuali dalam zakat hasil

tanaman dan buah-buahan, karena menurut mereka dalam hal ini tidak

diperlukan syarat berakal dan baligh. Manurut mazhab Maliki, Hambali,

Syafi‟i, berakal dan baligh tidak menjadi syarat bagi diwajibkannya zakat.

Oleh sebab itu, harta orang gila dan anak-anak wajib di zakati oleh walinya.

Bagi mereka yang memahami zakat seperti ibadah yang lain, yakni seperti

sholat, puasa dan lain-lain, tidak mewajibkan anak-anak yang belum baligh

dan orang gila menunaikan zakat. Adapun mereka yang menganggap zakat

sebagai hak orang-orang fakir atas harta orang-orang kaya, mewajibkan anak-

anak yang belum baligh dan orang gila menunaikan zakat. Manurut mazhab

Hanafi, Syafi‟i dan Hanbali Islam merupakan syarat atas kewajiban

menunaikan zakat. Dengan demikian, zakat tidak diwajibkan atas non-

Muslim. Sementara, menurut mazhab yang lain, orang kafir juga diwajibkan

menunaikan zakat. Mereka tidak mewajibkan zakat atas non-Muslim

mendasarkan pendapatnya kepada ucapan Abu Bakar bahwa zakat adalah

sebuah kewajiban dari Rasulallah SAW., kepada kaum Muslimin. Sementara,

orang kafir baik pada masa kekafirannya atau sesudahnya, tidak diwajibkan

menunaikan zakat sebagaimana mereka tidak dikenai pula kewajiban sholat.

Adapun mereka yang mewajibkan zakat atas non-Muslim mendasarkan

pendapatnya pada dalil bahwa orang-orang kafir juga terbebani melakukan

berbagai perkara yang bersifat furu. ( Jannati, 2007 :65)

50
Pembayar zakat bukan hanya menunjukkan kesalehan individual tetapi

juga mencerminkan kesalehan sosial. Zakat dibayarkan oleh aghniya, orang

yang dipandang kaya menurut aturan syara’ wajib membayar zakat (muzakki)

kepada orang-orang miskin sesuai pedoman Syar‟i (fuqoro) yang

dikategorikan dalam delapan golongan penerima (mustahik). Zakat merupakan

sumber dana potensial dalam program pengentasan kemiskinan dan

pemberdayaan ekonomi masyarakat level bawah. Dilihat dari satu segi,

apabila seseorang mengeluarkan zakat, maka hartanya akan berkurang. Tetapi

jika dilihat dari sudut pandangan Agama Islam, pahala akan bertambah dan

harta pun berkembang karena mendapat ridho dari Allah SWT dan berkat doa

dari fakir miskin, anak-anak yatim dan para mustahik lainnya yang merasa

disantuni dari hasil zakat tersebut. (Hasan, 2003: 1)

2. Syarat-Syarat Muzakki

Muzzaki memiliki peranan penting dalam pelaksanaan zakat, sebab

muzakki keberadaan muzakki sangat dibutuhkan dalam rangka menjadi

sumber dana zakat yang akan diperoleh oleh lembaga atau badan amil zakat.

oleh karena keberadaannya yang penting maka syarat-syarat menjadi muzakki

juga diatur dalam syariat Islam. Berikut adalah syarat-syarat bagi seseorang

dikenai wajib berzakat adalah:

a. Islam, zakat merupakan ibadah yang wajib bagi setiap muslim. Ia

merupakan salah satu pilar agama Islam. Dengan demikian zakat tidak

diwajibkan bagi orang non Muslim ataupun orang kafir, karena zakat

merupakan ibadah suci.

51
b. Merdeka, merupakan suatu kesepakatan para ulama bahwa zakat tidak

wajib bagi hama sahaya atau budak karena hamba sahaya dan budak

tidak memiliki hak milik atas harta apaun yang secara ketentuan

dikenai kewajiban untuk berzakat. Oleh karena itu budak dan hamba

sahaya tidak dikenai kewajiban untuk menunaikan zakat sebagimana

diwajibkan kepada umat Islam lainnya.

c. Baligh berakal, menurut pendapat para ulama madzhab Hanafi, orang

yang dikenai kewajiban untuk berzakat adalah orang yang sudah baligh

dan berakal, sehingga harta anak kecil dan orang gila tidak wajib untuk

dizakati.

Selain syarat-syarat tersebut, ulama fiqih juga mengemukakan syarat lain

dalam pelaksanaan zakat, yaitu:

1. Niat, zakat merupakan ibadah mahdah yang bertujuan mencapai pahala

dan keridhaan Allah, yang sama nilainya dengan ibadah-ibadah lain.

Niat menjadi syarat paling utama dalam menunaikan ibadah kepada

Allah termasik dalam menunaikan zakat.

2. Bersifat pemilikan, maksud dari pemilikan ialah sebagaimana

pengertian zakat yang telah dikemukakan, bahwa zakat merupakan

pengeluaran harta tertentu yang dimiliki untuk orang yang menerut

ketentuan berhak menerimanya, maka harta yang wajib diberikan

kepada para penerima zakat ialah harta yang secara penuh menjadi

pemilikan seseorang. (Akramunnas dan Syarifuddin, 2021: 167-168)

52
BAB III

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Kondisi Objektif Baznas Kota Tangerang

1. Sejarah dan latar belakang berdirinya Badan Amil Zakat Nasional

(Baznas) Kota Tangerang

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Baznas dan hasil wawancara

(16 Desesmber 2021) diperoleh data bahwa Baznas Kota Tangerang ialah

transformasi dari Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) Kota Tangerang yang

didirikan pada hari Jumat, tanggal 20 Oktober 2003 yang didasarkan dengan

Surat Keputusan Walikota Tangerang No 451.12/Kep.112/2003 tertanggal 13

Juni 2003 tentang Pembentukan Badan Amil Zakat Kota Tangerang. Ketua

Bazda Kota Tangerang pada periode I (2003-2006) adalah Drs. H.

Saefulmillah MM MBA. Pada periode II dan III (2007-2012) Ketua Badan

Amil Zakat Daerah (Bazda) Kota Tangerang tetap dijabat oleh Drs. H.

Saefulmillah, MM MBA.

Menyesuaikan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang

Pengelolaan Zakat, maka Bazda dituntut untuk segera menyesuaikan diri

terhadap Undang-Undang tersebut agar pengelolaan zakat saling terintegrasi

dari pusat sampai daerah. Oleh karena itu, guna mengisi masa transisi sebelum

terbentuknya Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Tangerang, maka

dibentuklah tim pengendali BAZDA Kota Tangerang yang di pimpin oleh

bapak H. Ahmad Suchaemi SH dengan anggota Drs. H. Arsyad dan Drs. H.

Anwar Musaddad. Pada tanggal 21 Oktober 2016 terbentuklah Pengurus

53
Baznas Kota Tangerang sesuai dengan surat keputusan Walikota Tangerang

No.451.12/[Link]/2016 tentang Pimpinan Badan Amil Zakat

Nasional Kota Tangerang Periode 2016 – 2021

2. Landasan Hukum Pengelolaan Zakat

a. Al-Qur’an dan Hadits.

b. UU No. 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat.

c. PP No. 14 tahun 2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan UU No. 23 Tahun

2011 tentang Pengelolaan Zakat.

d. Instruksi Presiden No. 3 Tahun 2014 tentang Optimalisasi

Pengumpulan Zakat di Kementerian/ Lembaga, Sekretariat Jenderal

Lembaga Negara, Sekretariat Jenderal Komisi Negara, Pemerintah

Daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha Milik Daerah

Melalui Badan Amil Zakat Nasional.

e. Keputusan Menteri Agama RI No. 118 Tahun 2014 tentang

Pembentukan Baznas Provinsi.

f. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri RI No. 450.12/3302/SJ tanggal 30

Juni 2014 tentang Optimalisasi Pengumpulan Zakat.

g. Surat Edaran Menteri BUMN RI No. SE-06/MBU/WK/2014 tanggal

10 Juli 2014 tentang Optimalisasi Pengumpulan Zakat di BUMN.

h. Surat Edaran Panglima TNI No. SE/6/IX/2014 tanggal 1 September

2014 tentang Pengumpulan Zakat di Lingkungan TNI Melalui Badan

Amil Zakat Nasional.

54
i. Keputusan Dirjen Bimas Islam No. [Link]/568 Tahun 2014 tentang

Pembentukan Baznas Kabupaten/Kota se-Indonesia.

j. UU No. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UU No. 7

Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan.

k. PP No. 60 Tahun 2010 tentang Zakat atau Sumbangan Keagamaan

yang Sifatnya Wajib yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto;

Daftar Landasan Hukum Pengelolaan Zakat.

l. Peraturan Baznas No. 1 Tahun 2014 tentang Pedoman Tata Cara

Pengajuan Pertimbangan Pengangkatan/Pemberhentian Pimpinan

Badan Amil Zakat Nasional Provinsi dan Badan Amil Zakat Nasional

17. Kabupaten/Kota .

m. Peraturan Baznas No. 2 Tahun 2014 tentang Pedoman Tata Cara

Pemberian Rekomendasi Izin Pembentukan Lembaga Amil Zakat.

n. Peraturan Baznas No. 3 Tahun 2014 tentang Organisasi dan Tata Kerja

Badan Amil Zakat Provinsi dan Badan Amil Zakat Nasional

Kabupaten/Kota.

o. Peraturan Baznas No. 4 Tahun 2014 tentang Pedoman Penyusunan

Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan Badan Amil Zakat Nasional,

Badan Amil Zakat Nasional Provinsi dan Badan Amil Zakat Nasional

Kabupaten/Kota.

p. Kep. Dirjen Pajak No. KEP-163/PJ./2003 tentang Perlakuan Zakat atas

Penghasilan dalam Perhitungan Penghasilan Kena Pajak Penghasilan.

55
q. Kesepakatan Bersama Menteri Agama Republik Indonesia, Menteri

Keuangan Republik Indonesia dan Ketua Umum Kamar Dagang dan

Industri (Kadin) Indonesia No. 17 Tahun 2003-No. 29/KMK.01/2003-

No. 001/DP/I/2003 tentang Sosialisasi dan Penggalangan Zakat di

Kalangan Dunia Usaha Nasional untuk Meningkatkan Kesejahteraan

Masyarakat.

r. Peraturan Daerah Provinsi Banten No. 04 Tahun 2004 tentang

Pengelolaan Zakat.

s. Instruksi Gubernur Banten No. 451/1122-Kesra/2005 tentang Zakat,

Infaq dan Shadaqah.

t. Fatwa MUI Provinsi Banten No. 23/MUI-BTN/FT/III/2004 tentang

Zakat Profesi.

u. Keputusan Walikota Tangerang No. 800/[Link]/2015

tentang Pembentukan Pengurus Baznas Kota Tangerang.

v. Surat Edaran Walikota Tangerang No. 451.12/ 01483. Kesra/ 2015

tentang Pengumpulaan Zakat, infaq dan shodaqoh dari para

Pejabat/Pegawai Pemerintah, Swasta dan Masyarakat di Kota

Tangerang.

3. Visi, Misi dan Motto Baznas Kota Tangerang

a. Visi

“Menjadi Badan Zakat yang Amanah, Transparan dan Profesional”

56
b. Misi

1) Meningkatkan kesadaran umat untuk berzakat melalui amil zakat.

2) Meningkatkan penghimpunan dan pendayagunaan zakat sesuai

dengan ketentuan syariah dan prinsip manajemen modern.

3) Menumbuh kembangkan pengelola/amil zakat yang amanah,

transparan, profesional, dan terintegrasi.

4) Mewujudkan pusat data zakat daerah

5) Memaksimalkan peran zakat dalam menanggulangi kemiskinan di

Kota Tangerang melalui sinergi dan koordinasi dengan lembaga

terkait.

c. Moto

“Mengubah mustahiq menjadi muzakki”

4. Sususnan Kepengurusan Baznas Kota Tangerang

a. Struktur Organisasi

Dalam menjalankan amanat pengelolaan zakat, Baznas memilki bentuk

organisasi yang secara rinci diatur dalam Peraturan Baznas No. 03 Tahun

2014, adapun susunan Organisasi Baznas kabupaten/kota terdiri atas:

1) Ketua:

2) Wakil ketua bidang pendistribusian dan pendayagunaan

57
3) Wakil ketua bidang pengumpulan, perencanaan, keuangan dan

pelaporan

4) Wakil ketua bidang administrasi, sdm dan umum

5) Sekretaris

6) Bidang pengumpulan.

7) Bidang pendistribusian dan pendayagunaan.

8) Bagian perencanaan, keuangan, dan pelaporan.

9) Bagian administrasi, sumber daya manusia, dan umum dan

10) Satuan audit internal.

KETUA

Drs. H.M. Aslie Elhusyairi

WK. Bidang WK Bidang Pengumpulan, Wk. Bidang Administrasi,


Pendistribusian & Perencanaan, Keuangan & SDM & Umum
Pendayagunaan Pelaporan

Drs. H. Ahmad Usman Drs. H. A. Khoirul, A, S,SI Subur Amin Mubarok,


[Link].I

Kepala Pelaksana Sekretaris


Satuan Auditur Internal
Jaka Firmansyah, [Link].I Drs. H. A. Mursadad, [Link]

Bidang Biang Bidang Bidang


Pengumpulan Pendistribudian & Perencsnaan, Administrasi,
pendayagunaan Keuangan & SDM, dan Umum
Rifti Fauzan Pelaporan
Aida Nurdiani Putri
Rifti Fauzan Rifti Fauzan Rifti Fauzan
Aida Nurdiani Putri Aida Nurdiani Putri Aida Nurdiani Putri

58
b. Tugas dan fungsi

1) Ketua

Ketua bertanggung jawab pada semua kegiatan Baznas Kota

Tangerang Selatan, mulai dari pengumpulan, pendistribusian maupun

pendayagunaan, menjalin kerjasama kemitraan baik dengan berbagai

lembaga sebagai penunjang setiap kegiatan dan program, membina dan

membimbing semua anggota dalam lingkupnya memahami setiap

Undang-undang tentang zakat, hukum, konsep, serta tujuan

kelembagaan.

2) Wakil Ketua I Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan

Secara umum tanggung jawab wakil ketua I adalah pada

pendistribusian dan pendayagunaan zakat. oleh karenanya wakil ketua

I membawahi bidang pendistribusian dan pendayagunaan zakat.

3) Wakil Ketua II Bidang Pengumpulan, Perencanaan, Keuangan dan

Pelaporan

Secara umum wakil ketua II membawahi dua bidang yaitu:

a) Bidang pengumpulan

b) Bidang perencanaan, keuangan dan pelaporan

4) Wakil III Ketua Bidang Administrasi, SDM & Umum

Secara umum tanggung jawab wakil ketua III ini adalah pada

administrasi, SDM dan Umum. oleh karenanya wakil ketua III

membawahi bidang administrasi, SDM dan Umum.

59
5) Sekretaris

a) Melakukan penataan administrasi surat menyurat (kode surat)

danlain-lain dan penataan arsip surat.

b) Melakukan penataan kantor dari segi kelengkapan dan tata

letakarsip dan lain-lain.

c) Menghimpun data seluruh bidang untuk bahan laporan dan

publikasi.

d) Menyusun laporan bulanan, triwulan dan tahunan

bekerjasama dan berkoordinasi dengan bidang-bidang lain.

e) Mengadakan dan membuat data inventaris Baznas

6) Bidang pengumpulan

Bidang Pengumpulan dipimpin oleh satu orang wakil ketua II

dengan sebutan jabatan Wakil Ketua Bidang Pengumpulan mempunyai

tugas melaksanakan pengelolaan pengumpulan zakat. Dalam

menjalankan tugas, Bidang Pengumpulan menyelenggarakan fungsi:

a) Penyusunan strategi pengumpulan zakat.

b) Pelaksanaan pengelolaan dan pengembangan data muzaki.

c) Pelaksanaan kampanye zakat.

d) Pelaksanaan dan pengendalian pengumpulan zakat.

e) Pelaksanaan pelayanan muzaki.

f) Pelaksanaan evaluasi pengelolaan pengumpulan zakat.

g) Penyusunan pelaporan dan pertanggungjawaban pengumpulan

zakat.

60
h) Pelaksanaan penerimaan dan tindak lanjut komplain atas

layanan muzaki.

i) Koordinasi pelaksanaan pengumpulan zakat tingkat

kabupaten/kota.

7) Bidang Pendistribusian Dan Pendayagunaan

Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan dipimpin oleh satu

orang wakil ketua dengan sebutan jabatan Wakil Ketua I. Bidang

Pendistribusian dan Pendayagunaan mempunyai tugas melaksanakan

pengelolaan pendistribusian dan pendayagunaan zakat. Dalam

menjalankan tugas Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan

menyelenggarakan fungsi:

a) Penyusunan strategi pendistribusian dan pendayagunaan zakat;

b) Pengelolaan dan pengembangan data mustahik.

c) Pelaksanaan dan pengendalian pendistribusian dan

pendayagunaan zakat.

d) Pelaksanaan evaluasi pengelolaan pendistribusian dan

pendayagunaan zakat.

e) Penyusunan laporan dan pertanggungjawaban pendistribusian

dan pendayagunaan zakat.

f) Koordinasi pelaksanaan pendistribusian dan pendayagunaan

zakat tingkat kabupaten/kota.

61
8) Bidang Perencanaan, Pelaporan dan Keuangan

Bagian Perencanaan, Keuangan, dan Pelaporan dipimpin oleh satu

orang wakil ketua dengan sebutan jabatan Wakil Ketua II. Bagian

Perencanaan, Keuangan, dan Pelaporan mempunyai tugas

melaksanakan pengelolaan perencanaan, keuangan, dan pelaporan.

Dalam menjalankan tugas, Bagian Perencanaan, Keuangan, dan

Pelaporan menyelenggarakan fungsi:

a) Penyiapan penyusunan rencana strategis pengelolaan zakat

tingkat kabupaten/kota.

b) Penyusunan rencana tahunan Baznas kabupaten/kota.

c) Pelaksanaan evaluasi tahunan dan lima tahunan rencana

pengelolaan zakat kabupaten/kota.

d) Pelaksanaan pengelolaan keuangan Baznas kabupaten/kota;

e) Pelaksanaan sistem akuntansi Baznas kabupaten/kota.

f) Penyusunan Laporan Keuangan dan Laporan Akuntabilitas

Kinerja Baznas kabupaten/kota.

g) Penyiapan penyusunan laporan pengelolaan zakat tingkat

kabupaten/kota.

9) Bidang Administrasi, Sumber Daya Manusia dan Umum.

Bagian Administrasi, Sumber Daya Manusia, dan Umum dipimpin

oleh satu orang wakil ketua dengan sebutan jabatan Wakil Ketua III.

Bagian Administrasi, Sumber Daya Manusia, dan Umum mempunyai

62
tugas melaksanakan pengelolaan amil Baznas Kabupaten/Kota,

administrasi perkantoran, komunikasi, umum, dan pemberian

rekomendasi. Dalam menjalankan tugas, Bagian Administrasi, Sumber

Daya Manusia, dan Umum menyelenggarakan fungsi:

a) Penyusunan strategi pengelolaan Amil Baznas

Kabupaten/Kota.

b) Pelaksanaan perencanaan Amil Baznas Kabupaten/Kota.

c) Pelaksanaan rekrutmen Amil Baznas Kabupaten/Kota.

d) Pelaksanaan pengembangan Amil Baznas Kabupaten/Kota.

e) Pelaksanaan fungsi administrasi perkantoran Baznas

kabupaten/kota.

f) Penyusunan rencana strategi komunikasi dan hubungan

masyarakat Baznas kabupaten/kota.

g) Pelaksanaan strategi komunikasi dan hubungan masyarakat

Baznas kabupaten/kota.

h) Pengadaan, pencatatan, pemeliharaan, pengendalian, dan

pelaporan aset Baznas kabupaten/kota.

i) Pemberian rekomendasi pembukaan perwakilan LAZ berskala

provinsi di kabupaten/kota.

10) Satuan Audit Internal

Satuan Audit Internal berada di bawah dan bertanggung jawab

kepada Ketua Baznas kabupaten/kota. Satuan Audit Internal

63
mempunyai tugas pelaksanaan audit keuangan, audit manajemen, audit

mutu, dan audit kepatuhan internal Baznas kabupaten/kota.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, Satuan Audit Internal

menyelenggarakan fungsi:

a) Penyiapan program audit.

b) Pelaksanaan audit.

c) Pelaksanaan audit untuk tujuan tertentu atas penugasan Ketua

Baznas.

d) Penyusunan laporan hasil audit.

e) Penyiapan pelaksanaan audit yang dilakukan oleh pihak

eksternal.

5. Program Baznas Kota Tangerang

a. Bidang Pendidikan

Baznas memberikan program bantuan pendidikan meliputi dua

program turunan yaitu bantuan langsung pendidikan berupa: pelunasan

SPP, biaya ujian, biaya praktikun, dan pengambilan ijazah. Turunan

kedua yaitu bantuan berupa beasiswa dalam program S1 kepada

mahasiswa untuk meraih gelar sarjana pada universitas dan jurusan yang

telah dipilih. Bantuan diberikan dengan persyaratan berkas administrasi

sebagai berikut:

1) SKTM (asli) ditujukan kepada Baznas.

2) Fotocopy KTP dan KK (domisili kota tangerang).

3) Surat permohonan bantuan (form bebas)

64
4) FC kartu pelajar / mahasiswa

5) FC raport / transkip nilai

6) Surat keterangan mahasiswa

7) Rincian biaya pendidikan

8) No. rekening sekolah / kampus

9) Mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar

a. Bidang kemanusiaan

Pada program ini, Baznas menjalankan program utamanya membantu

masyarakat dalam hal kemanusiaan berupa paket zakat fitrah, pekat

santunan anak yatim, serta memberikan bantuan biaya hidup meliputi

biaya kebutuhan pokok sehari-hari, dengan persyaratan berkas

administrasi sebagai berikut:

1) SKTM (Asli) ditujukan kepada Baznas.

2) Fotocopy KTP dan KK (domisili kota tangerang).

3) Surat permohonan bantuan (form bebas).

Bantuan terakhir dalam bidang kemanusiaan berupa bantuan

transportasi. Bantuan yang diberikan kepada mustahiq yang mengalami

keterlambatan akibat kehabisan bekal dan biaya transportasi, dengan

persyaratan berkas administrasi berupa surat keterangan kehabisan

ongkos dari kepolisian (ditujukan kepada Baznas)

b. Bantuan Kesehatan

Baznas memberikan program pembiayaan bantuan kesehatan /

pengobatan, yakni memberikan Biaya pengobatan pada fasilitas /

65
pengelola kesehatan baik alternative maupun medis serta bantun

pembelian obat, alat kesehatan, dengan persyaratan bantuan

kesehatan / pengobatan sebagi berikut:

1) SKTM (Asli) ditujukan kepada Baznas.

2) Fotocopy KTP dan KK (domisili kota tangerang).

3) Surat permohonan bantuan (form bebas).

4) FC BPJS kesehatan, nomor rekening instansi kesehatan.

5) Resume medis, rincian biaya pengobatan

6) Nomor rekening instansi kesehatan.

c. Bidang ekonomi

Baznas memberikan program bantuan dalam bidang ekonomi

berupa bantuan modal usaha dan bantuan pemberian hutang piutang

dengan diutamakan hutang atas kebutuhan primer kepada orang lain,

bukan hutang pada keluarga inti, dengan persyaratan berkas

administrasi sebagai berikut:

1) SKTM (Asli) ditujukan kepada Baznas.

2) Fotocopy KTP dan KK (domisili kota tangerang).

3) Surat permohonan bantuan (form bebas).

4) Fotocopy KTP dan KK pemberi hutang.

5) Bukti hutang bermaterai.

d. Bidang dakwah dan advokasi

Bantuan dalam bidang dakwah dan advokasi ini diberikan kepada

para da’i dan guru ngaji serta masyarakat umum di wilayah Kota

66
Tangerang yang terbagi dalam bantuan langsung dakwah dan

advokasi berupa bantuan langsung kepada da’i dan guru ngaji dalam

rangka meningkatkan kesejahteraan mereka, paket ifthar ramadhan,

bantuan biaya khitanan dan bantuan ekonomi kepada mualaf.

B. Hasil Penelitian

1. Formulasi Strategi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota

Tangerang dalam Meningkatkan Jumlah Muzakki

Formulasi strategi pengelolaan zakat Badan Amil Zakat (Baznas) Kota

tangerang merupakan pengembangan rencana yang dilakukan baik oleh

pimpinan maupun pengusus Baznas lainnya. Pada pelaksanaannya perumusan

strategi dilakukan secara bersama dalam sebuah rapat Rencana Kerja Tahunan

(RKT) yang pembahasannya dilakukan secara bersama baik oleh pimpinan

maupun pengurus lainnya.

Formulasi strategi memiliki beberapa langkah yang harus ditempuh, mulai

dari pengembangan visi, misi serta tujuan dan juga menelaah berbagai peluang

ancaman dan juga mengetahui faktor internal Baznas Kota Tangrrang yang

menjadikan sebuah kekuatan dan kelemahan yang akan di terima Baznas yang

kemudian memilih dari banyaknya strtategi yang di rencanakan untuk

pencapaian tujuan Baznas Dalam hal ini yakni meningkatkan jumlah muzakki.

Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam formulasi strategi

pengelolaan zakat yanga akan menghasilkan sebuah program yaitu sebagai

berikut:

67
a. Mengembangkan visi dan misi Baznas Kota Tangerang

Formulasi strategi diawali dengan mengembangkan visi yang merupakan

gambaran masadepan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga atau organisasi.

Selain visi Formulasi strategi juga mencakup misi, yaitu “maksud” dari

berdirinya organisasi dan memberi “makna” eksistensi organisasi. Misi

tersebut merupakan fungsi yang dilakukan oleh organisasi.

Adapun visi dan misi yang telah ditetapkan oleh BAZNAS Kota Tangeran

ialah sebagi berikut :

a. Visi

“Menjadi Badan Zakat yang Amanah, Transparan dan Profesional”

b. Misi

1) Meningkatkan kesadaran umat untuk berzakat melalui amil zakat.

2) Meningkatkan penghimpunan dan pendayagunaan zakat sesuai

dengan ketentuan syariah dan prinsip manajemen modern.

3) Menumbuh kembangkan pengelola/amil zakat yang amanah,

transparan, profesional, dan terintegrasi.

4) Mewujudkan pusat data zakat daerah.

5) Memaksimalkan peran zakat dalam menanggulangi kemiskinan di

Kota Tangerang melalui sinergi dan koordinasi dengan lembaga

terkait.

68
Visi misi yang telah ditetapkan kemudian dijadikan tolak ukur dan patokan

dalam menjalankan segala kegiatan dan aktivitas yang dilakukan oleh Baznas

Kota Tangerang. Visi dan misi kemudian juga akan dikembangkan dalam

ferumusan strategi pengelolaan zakat. Formulasi strategi dilakukan dengan

mempertimbangkan hasil evaluasi dari pelaksanaan strategi tahun lalu, tahun

berjalan serta kebutuhan yang akan dihadapi di tahun mendatang.

b. Mengidentifikasi peluang dan ancama yang akan dihadapi oleh Baznas

Kota Tangerang.

Mengidentifikasi peluang dan ancama diawali dengan melakukan

pengamatan terhadap perkembangan yang terjadi kemudian dari hasil

pengamatan Baznas Kota Tangerang melakukan analisis terkait hal-hal yang

kemudian akan menjadi peluang dan ancaman yang akan dihadapi dimasa

depan. Dari hasil analisis yang dilakukan maka Baznas Kota Tangerang dapat

menghindar dari segala ancama serta dapat melihat peluang-peluang yang bisa

didapatkan. Salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan yaitu kemajuan

teknologi dan informasi yang berkembang pesat di era ini.

Menanggapi perkembangan teknoligi dan informasi yang maju, Baznas

Kota Tangerang menyesuaikan diri dengan melakukan digitalisasi dalam hal

sosialisasi dan pelayanan terhadap para muzakki yang dmaksudkan untuk

mempermudah dan memepercepat pelayanan untuk muzakki sebagaimana

tercermin dalam hasil wawancara berikut:

69
Berdasarkan hasil wawancara bersama Bapak. Jaka Firmasyah pada (24,
November 2021) didapati informasi bahwa sejak tahun 2016 sampai
dengan sekarang Baznas Kota Tangerang bekerjasama dengan pemerintah
Kota Tangerang memasukan fitur ayo zakat di aplikasi tangerang live
milik pemerintah kota. Fitur ini dimanfaatkan sebagai sarana sosialisasi
dan pelayanan zakat dengan memuat informasi zakat, layanan konsultasi,
sampai dengan tata cara pembayaran zakat secara digital.
Baznas Kota Tangerang telah melakukan digitalisasi pengelolaan zakat,

baik sosialisasi zakat maupun proses pembayaran zakat yang lebih mudah.

Sosialisasi zakat yang dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang kini

informasinya bisa diperoleh oleh masyarakat melalui website, media sosial,

maupun fitur ayo zakat di aplikasi tangerang live. Didalam aplikasi tangerang

live terdapat informasi mengenai zakat, baik pengetahuan tentang zakat

sampai dengan pembayaran zakat yang mudah. Selain untuk saranan

sosialisasi ayo zakat di aplikasi tangerang kive juga digunakan oleh Baznas

Kota Tangeran untuk mengedukasi masyarakat terutama calon muzakkin

untuk dapat mengetahui apa itu zakat, kewajiban zakat, orang yang berhak

menerima zakat, sampai dengan hikmah zakat. Aplikasi ayo zakat juga

menyesiakan fitur konsultasi zakat, fitur ini dimaksudkan untuk

mempermudah para muzakki apabila mengalami kendala dalam hal

pembayaran zakat, sehingga dapat dikonsultasikan dengan petugas pengumpul

zakat di Baznas Kota Tangerang.

Digitalisasi yang dilakukan Baznas Kota Tangerang juga mencakup

metode pembayaran yang dapat dilakukan oleh muzakki secara digital.

Didalam menu ayo zakat di aplikasi tangerang live disediakan tatacara serta

perhitungan zakat secara digital. Baznas Kota Tangerang menyediakan dua

70
metode pembayaran digital yaitu berupa transfer bank dengan beberapa mitra

bank Baznas Kota Tangerang ataupun dengan metode pembayaran melalui

gopay yang tersedia. Penggunaaan metode pembayaran gopay merupakan

wujud penyesuaian yang dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang terhadap

perkembangan teknologi saat ini sehingga hal ini dapat mempermudah

masyarakat dalam menyalurkan zakat.

Peluang yang didapat ini juga sekaligus akan menjadi tantangan yang

dihadapi oleh Baznas Kota Tangerang yang apabila tidak mampu

menyesuaikan dan mengikuti perkembangan teknologi yang ada Baznas Kota

Tangerang akan ditinggalkan oleh para muzakki dan akan memilih badan atau

lembaga pengelola zakat lain yang dinilai lebih mudan dan kompeten dalam

mengelola zakat.

c. Identifikasi kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh Baznas Kota

Tangerang

Berdasarkan hasil wawancara bersama Bapak. Jaka Firmasyah sebagai


pada (24, November 2021) didapati informasi bahwa diantara kekuatan
yang dimiliki oleh Baznas Kota Tangerang ialah berkaitan dengan SDM
yang terlatih, Sarana dan prasarana yang nyaman, playanan langsung dan
digital, kantor yang nyaman. Adapun kekurangannya ialah terkait jumlah
SDM yang menurut kebutuhan masih sangat kurang.
Hasil wawancara menggambarkan informasi bahwa diantara kekuatan

yang dimiliki oleh Baznas Kota Tangerang ialah sebagai berikut:

1) Sumber daya manusia (SDM) yang memiliki sifat shiddiq, tabligh,

amanah, dan fathanah.

71
2) Perkantoran yang baik, mudah dijangkau dan memiliki suasana

yang nyaman dan layak

3) Sarana komunikasi dan sosialisasi yang baik, mudah diakses dan

juga mudah dimengerti

4) Memiliki srana dan prasarana yang memadai, baik tempat yang

nyaman dan perlengkapan administarsi yang baik.

5) Sarana pembayaran zakat yang mudah. Baznas kota tangerang

telah mengembangkan sistem pembayaran zakat yang mudah dan

sesuai engan perkembangan teknologi. Hari ini selain metode

pembayaran zakat bisa dilakukan secara langsung (cas) Baznas

kota tangerang juga telah menyiapkan metode pembayaran baru

seperti lewat transfer bank, dan gopay yamg tersedia di aplikasi

tangerang live.

Adapun kelemahan yang dihadapi ialah kurangnya jumlah pegawai atau

SDM yang sering kali menghambat ketika sebuah program sedang

dilaksanakan. Kekurangan sdm ini juga sedikit banyak mengganggu jalanya

kinerja yang dijalankan oleh Baznas Kota Tangerang.

Berikut merupakan perencanaan starategi yang disusun oleh Badan Amil

Zakat Nasional (Baznas) Kota Tangerang:

d. Menetapkan target tahunan oleh Baznas Kota Tangerang dalam

pengelolaan zakat.

72
Dari hasil wawancara yang dilakukan bersama ketua pelaksana Bapak.
Jaka Fiermansyah yang dilakukan pada (16 Desember 2021) diperoleh
informai bahwa penentuan target tahunan dilakukan dalam sebuah rapat
Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang dilakukan secara bersama oleh
pimpinan dan pegawai Baznas Kota Tangerang dengan menuntukan target
mustahik serta menentukan program penyaluran dan pendistribusian
selama satu tahun.
Perencanaan program pada Baznas Kota Tangerang diawali dengan

melakukan indentifikasi dan mengamati berbagai situasi dan kondisi

kemudian dilanjutkan dengan menuntukan program baru untuk dilaksanakan

di tahun mendatang. Baznas Kota Tangerang berupaya meminimaliasir

terjadinya penyelewengan atau salah sasaran yang akan mengakibatkan

kerugian-kerugian atau tujuan yang tidak tercapai.

Dalam rapat Rencana Kerja Tahunan (RKT) juga dibahas mengenai

anggaran yang akan dialokasikan kepada setiap program yang telah

dirumuskan, termasuk anggaran yang digunakan untuk program

pendistribusian dan pendayagunaan dana zakat. selain persiapan anggaran

penentuan mustahik atau orang yang berhak menerima zakat juga dibahas

dalam RKT dengan memilih target mustahik dengan memepertimbangkan

segala masukan dan saran dari masyarakat. Dalam penentuan mustahik ini

Baznas Kota Tangerang juga bekerjasama dengan instansi terkait mulai dari

pemerintah kota sampai dengan pemerintah desa diwilayah Kota Tangerang

untuk dapat memastikan bahwa dana zakat dapat tersalurkan secara tepat

sasaran dan manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal.

73
Adapun rencana penyaluran dana zakat tercermin dalam table rencana

penyaluran dana zakat sebagi berikut:

No Penyaluran Dana Zakat Jumlah


1 Penyaluran dana zakat untuk fakir [Link]
2 Penyaluran dana zakat untuk miskin [Link]
3 Penyaluran dana zakat untuk miskin [Link]
4 Penyaluran dana zakat untuk amil [Link]
5 Penyaluran dana zakat untuk muallaf 348.187.500
6 Penyaluran dana zakat untuk riqab 0
7 Penyaluran dana zakat untuk gharimin [Link]
8 Penyaluran dana zakat untuk sabilillah 75.000.000
9 Penyaluran dana zakat untuk ibnu sabil 266.812.500

Tabel 3. 1 Rencana penyaluran dana zakat berdasarhkan

asnaf Baznas Kota Tangerang


e. Penentuan alternatif strategi

Penentuan alternati strategi dilakukan untuk mempermudah serta

meminimalisir terjadinya kesalahan-kesalahan prngelolaan zakat. sama

halnya dengan perusahaan, Baznas Kota Tangerang dalam menentukan

alternatif strategi didahului dengan menganalisis hal-hal yang berkaitan

dengan kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang akan dihadapi

dimasa mendatang, seperti contonya yaitu:

1) Menentukan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dalam satu tahun

mendatang yang mencakup target penerimaan, anggaran, serta

sasaran mustahik. Apabila target sesuai dengan perencanaan maka

akan dilakukan penyesuaian diwaktu mendatang.

74
2) Melakukan kerjasama dengan para mitra Baznas Kota Tangerang

baik perorangan, lembaga, instansi, maupun perusahaan.

3) Melantik dan mensertifikasi para amail dan Unit Pengumpulan

Zakat (UPZ) disetiap mitra Baznas Kota Tangerang bail lembaga,

instansi maupun perusahaan.

2. Implementasi Strategi Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota

Tangerang dalam Upaya Meningkatkan Jumlah Muzakki

Setelah proses perumusan strategi, tahap selanjutnya ialah melaksanakan

strategi yang telah dirumuskan dalam bentuk tindakan-tindakan yang

dilakukan dalam rangka meningkatkan jumlah muzakki.

a. Pengumpulan zakat

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan bersama Bapak. Rifti


Fauzan sebagai bidang pengumpulan pada (24, November, 2021)
diperoleh informasi bahwa strategi yang dilakukan dalam
pengumpulan zakat ialah dengan menyebarkan informasi dan
sosialisasi baik secara langsung ataupun melalui media digital yang
dimiliki seperti instagram, facebook dan youtube. Adapun sosialisasi
secara langsung dilakukan di lembaga, instansi dan perusahaan baik
atas permintaan mitra ataupun memeng sudadah menjadi program dari
Baznas Kota Tangerang.
Implementasi strategi Baznas Kota Tangerang dalam hal pengumpulan

zakat diupayakan dilakukan secara baik dalam rangka meningkatkan

jumlah muzakki. bidang pengumpulan merupakan garda terdepan bagi

Baznas Kota Tangerang dalam membangun dan merawat komunikasi

dengan muzakki sehingga implementasi strategi dalam pengumpulan zakat

mampu menarik muzakki sehingga percaya dan menyalurkan zakatnya

75
untuk dikelola oleh Baznas Kota Tangerang. Keberhasilan pengumpulan

zakat dipengeruhi oleh beberapa hal sebagai berikut:

1) Sosialisasi Zakat

Sosialilasi zakat merupakan salah strategi Baznas Kota Tangerang

untuk menarik minat dan perhatian muzakki. Sosialisasi zakat

dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan edukasi kepada

masyarakat sebagai calon muzakki terkait kewajiban zakat, manfaat

zakat, hikmah zakat dan hal lain terkait zakat. sosialisassi terkait zakat

penting untuk diketahui masyarakat, apalagi terkait dengan kinerja

Baznas dan pendayagunaan zakat bagi masyarakat. Zakat sebagai

solusi bagi permasalahan sosial seperti ekonomi, pendidikan dan lain

sebagainya penting untuk diketahui dan dipahami oleh masyarakat.

Baznas berusaha mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa apabila

zakat dikelola dengan baik, maka zakat mampu menjawab persoalan

yang ada ditengah masyarakat. Oleh karena pengelolaan zakat

sangatlah penting Baznas Kota Tangerang berusaha memberikan

pemahaman bahwa zakat akan terkeloala dengan baik apabila

dilakukan dengan menggunakan strategi pengelolaan yang yang baik

pula. Sosialisai tentang zakat yang dilakukan oleh Baznas Kota

Tangerang dimaksudkan untuk memberikan wawasan yang luas

tentang zakat kepada masyarakat, sehingga mereka mau dan percaya

menyalurkan zakatnya kepada Baznas Kota Tangerang. Adapun

sasaran sosialisasi Baznas Kota Tangerang ialah sebagai berikut:

76
a) Lembaga pendidikan

Sosialasi zakat yang dilakukan sebagai upaya memberikan

wawasan perlu dilakukan kepada masyarakat sejak dini, termasuk

sejak usia sekolah, sebab pemahaman dan kebiasaan berzakat harus

ditanamkan dan dilatih sejak usia dini. Baznas Kota Tangerang

melakukan sosialisasi kepada lembaga pendidikan baik, universitas

maupun sekolah yang ada di Kota Tangerang. Sosialisasi zakat

terhadap lembaga pendidikan dilakukan atas dasar permintaan dari

lembaga pendidikan kepada Baznas atau sosialisasi dilakukan atas

dasar program kerja yang telah di tetapkan.

b) Instansi pemerintah

Instansi pemerintah yang berada di Kota Tangerang menjadi

target sosialisasi zakat oleh Baznas Kota Tangerang. Sosialisasi

terhadap instansi pemerintah Kota Tangrang diharapkan mampu

menarik para pegawai negeri di lingkup Pemerintah Kota

Tangerang untuk menyalurkan zakatnya di Baznas Kota

Tangerang. Sosialisasi zakat ini juga dilakukan dalamrangka

mengumpulkan zakat dari para pegawai di setiap instansi untuk

menyalurkan zakat malnya dalam bentuk zakat profesi.

c) Perusahaan

Sosialisasi zakat juga dilakukan kepada setiap perusahaan di

wilayah Kota Tangerang baik dilakukan oleh Baznas atau atas

77
permintaan dari perusahaan. Sosialisasi zakat kepada perusahaan

dilakukan dalam rangka menjelaskan zakat dan mekanisme tentang

zakat kepada perusahaan untuk dapat menarik minat dari pimpinan

dan kariawan perusahaan untuk melakukan kerjasama dengan

membentuk Unit Pengumpulan Zakat (UPZ) disetiap perusahaan.

d) Sosialisasi melalui media cetak

Dalam menjalankan sosialisasi zakat Baznas Kota Tangerang

juga mempublikasikan segala kegiatannya didalam surat kabar

yaitu Koran benteng. Publikasi ini juga dimaksudkan untuk

memberikan pengetahun dan gambaran kepada masyarakat terkait

kinerja yang dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang kepada

masyarakat luas.

e) Sosialisasi melalui media sosial, website dan aplikasi tangerang

live

Menanggapi perkembangan teknologi yang berkembang saat

ini maka Baznas Kota tangerang menyesuaikan diri dengan

perkembangan itu dalam bentuk aktif menyebarkan dan

mempublikasikan segala ainformasi, kegiatan dan ajakan untuk

menunaikan zakat melalui media sosial yang dimiliki Baznas

seperti instagram, facebook dan juga aplikasi tangerang live yang

tersedia di play store. Aplikasi tangerang live merupakan aplikasi

milik pemerintah Kota Tangerang yang didalamnya terdapat

78
berbagai fitur pelayanan publik termasuk fitur ayo zakat yang

secara langsung dioperasikan oleh Baznas Kota Tangerang dalam

rangka sosialisasi dan pelayanan terhadap masyarakat.

2) Pelayanan Baznas Kota Tangerang

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan bersama Bapak. Rifti


Fauzan pada (28, November 2021) diperoleh informasi bahwa
dalam upaya meningkatkan jumlah muzakki Baznas Kota
Tangerang berupaya memberikan pelayanan terbaik dengan tujuan
untuk mempermudan dan memepercepat proses pelayanan. Baznas
Kota Tangerang memeberikan dua jenis pelayanan yaitu pelayanan
secara langsung dan pelayanan secara digital. Pelayanan langsung
dilakukan secara kekeluargaan antara petugas Baznas dan para
muzakki sementara pelayanan digital melalui aplikasi tengrang
live.
Impelementasi berikutnya yang dilakukan oleh Baznas Kota

Tangerang ialah mengenai pelayanan terhadap Muzakki. Dalam rangka

meningkatkan jumlah muzakki, pelayanan yang dilakukan oleh Baznas

Kota Tangerang dilakukan dengan berorientasi pada kenyamanan dan

kemudahan muzakki dengan melakukakan hal-hal sebagai berikut:

a) Pelayanan secara langsung

Dalam rangka memberikan kenyamanan kepada muzakki dan

calon muzakki Baznas Kota Tangerang berupaya memberikan

pelayanan yang prima berupa menyapa dan melayani muzakki

secara langsung sehingga suasana kekeluargaan dapat terjalain

antara Baznas dan muzakki. Baznas Kota Tangerang secara berkala

juga menjalin komunikasi dengan para muzakki baik secara

langsung maupun melalui pesan singkat. Sebagai bentuk pelayanan

79
kepada para muzakki Baznas Kota Tangerang dalam melakukan

komunikasi dengan para muzakki juga selalu melaporkan tentang

segala program dan kegiatan yang dilakukan oleh Baznas Kota

Tangerang. Hal ini dilakukan untuk membangung kepercayaan dan

hubungan baik antara Baznas dengan para mitra Baznas baik itu

lembaga, instansi pemerintah, perusahaan sampaidengan

perorangan.

b) Pelayanan digital

Pelayanan terhadap Muzakki juga dilakukan oleh Baznas Kota

Tangerang melalui digital, perwujudan dari pelayanan digital ini

dapat kita lihat dalam fitur ayo zakat di aplikasi tangerang live.

Fitur ayo zakat menyediakan segala perangkat pelayanan zakat,

mulai dari edukasi tentang zakat, informasi alur pembayaran zakat,

sampai dengan metode dalam menyalurkan zakatnya di Baznas

Kota Tangerang. Pembayaran dana zakat saat ini dapat dilakukan

oleh para muzakki melalui digital yaitu dengan menggunakan

alplikasi tangerang live. Didalam aplikasi tangerang live dengan

fitur ayo zakatnya menyediakan informasi dan mekanisme

pembayaran zakat, mulai dari menentukan nominal harta yang

wajib dizakati sampai dengan penyelesaian pembayaran zakat.

Fitur ayo zakat memudahkan muzakki dalam menghitung jumlah

zakat yang akan dikeluarkan zakatnya, para muzakki hanya cukup

mengikuti instruksi yang tertera di fitur ayo zakat kemudian

80
mengisi data diri dan memasukan jumlah harta yang dimiliki

(belum diketahui nominal zaktnya) kemudian secara otomatis akan

keluar nomilan harta yang harus dibayarkan dizakati. Setelah

selesai muzakki ditawarkan metode pembayaran yang beragam,

mulai dari transfer bank sampai dengan metode pembayaran lain,

yaitu melalui gopay.

3) Membangun kerjasama dan kemitraan

Kerjasama yang dibangun dan diupayakan oleh Baznas Kota

Tangerang dalam rangka membangun Unit Pengumpulan Zakat (UPZ)

baru di instansi dan lembaga yang menjalin kerjasama. Sejak tahun

2016 Baznas Kota Tangerang telah mensertifikasi 800 UPZ baru di

diwilayah Kota Tangerang diantara instansi dan lembaga yang

mendirikan UPZ ialah Masjid-Masjid dan Mushola, perusahaan, dan

instansi pemerintah. Dalam pelaksanaannya khusus UPZ yang berada

di masjid dan mushola mengelola dana zakatnya secara mandiri, akan

tetapi dalam hal pelaporan mereka melaporkan pengelolaan zakatnya

kepada Baznas Kota Tangerang. UPZ juga dibentuk di instansi

pemerinta dan perusahaan yang berada di wilayah Kota Tangerang.

Pembentukan UPZ ini dilakukan dalam upaya mempermudah

pengumpulan zakat oleh Baznas Kota Tangerang dari muzakki yang

berada di instansi dan perusahaan. Para muzakki yang berasal dari

instansi dan perusahaan dalam menyalurkan zakatnya, mereka cukup

81
menyalurkan zakatnya melelui UPZ yang telah dibentuk. (Hasil

wawancara dengan Bapak. Jaka Firmansyah pada 3 Januari 2021).

Adapun realisasi pengumpulan dana zakat dapat kita lihat dari data

realisasi pengumpulan dana zakat sebagai berikut:

Jenis Data 2020 2019 2018 2017 2016


Zakat Mal
[Link] [Link] [Link] [Link] [Link]
Zakat Fitrah
[Link] [Link] [Link] 2425.898.350 823.548.200
Infaq/Sedekah
Terikat 61.479.928 278.037.727 187.121.470 114.001.500 172.192.720
Infaq/Sedekah
400.000 [Link] [Link] 162.960.000 19.690.000
Tidak Terikat
Corporate
Sosial
Responsibility 0 0 0 0 0
(CSR)
Dana Sosial
Keagamaan 2. 537.306.377 431.485.893 0 0 50.000
Lainnya

Tabel 3. 2 Realisasi Pengumpulan ZIS Baznas Kota Tangerang

Berdasarkan data realisasi pengumpulan dana zakat diperoleh


informasi bahwa dari tahun 2016 sampai dengan 2019 terjadi trend
kenaikan penerimaan dana Zakat, akan tetapi pada tahun 2020 terjadi
penurunan penerimaan disbanding tahun sebelumnya, hal ini juga sejalan
dengan angka realisasi jumlah muzakki yang tercermin dari table realsasi
sebagai berikut:
No Jenis Data 2020 2019 2018 2017 2016
1 Muzakki Perorangan 300 5.138 4.239 1.559 1.470
2 Muzakki Badan/Istansi 17 0 0 0 0

Tabel 3. 3 Realisasi Muzakki (orang/badan) Baznas Kota Tangerang

Sejalan dengan data relisasi pengumpulan zakat realisasi jumlah

muzakki juga mengalami trend kenikan di kurun waktu 2016 sampai

82
dengan 2019 dan mengalami penurunan ditahun 2020, meskipun data

muzakki masih ada yang tergabung didalam data instansi dan badang akan

tetapi hal ini diterangkan oleh ketua pelaksana Baznas Kota Tangerang

bahwa penurunan penerimaan dan jumlah muzakki di tahun 2020

dibanding tahun 2019 memang terjadi dikarenakan pandemi covid-19

sehingga menyebabkan sebagian muzakki mendistribusikan zakatnya

secara mandiri kepada kerabat atau tetanga sekitar. Hal ini juga dikuatkan

dengan informasi dari hasil wawancara bersama Bapak. H. Khudori

(muzakki) (pada tanggal 5 April, 2022) yang mengatakan bahwa dirinya

pada tahun 2020 tidak menitipkan dana zakatnya kepada Baznas Kota

Tangerang dikarenakan pada tahun itu dirinya mendistribusikan zakatnya

melalui masjid setempat yang kemudian didistribusikan kepada dhuafa

sebagai santunan dan bantiuan ekonomi covid-19.

b. Pendistribusian dan pendayagunaan zakat

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan bersama Bapak. Jaka


Firmansyah pada (3 Januari, 2021) diperoleh informasi bahwa program
pendistribusian dan pendayagunaan zakat mencakup lima kategori
yaitu pendiikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan serta dakwah dan
advokasi. Ketegoti pendidikan mencakup beasiswa baik siswa sekolah
maupun mahasiswa, ketegori kesehatan seperti bantuan biaya
kesehatan, kategori ekonmi seperti bantuan modal usaha, bidang
kemanusiaan seperti bantuan biaya hidup, paket zakat, bantuan ibnu
sabil, sunatan anak yatim, yang terakhir kategori dakwah dan advokasi
seperti bantuan mualaf, bantuan biaya khitanan, infthar ramadhan,
bantuan langsung dakwah dan advokasi pada ustadz dan guru ngaji.
Implementasi strategi dalam bidang pendistribusian dan

pendayagunaan zakat Baznas Kota Tangerang melaksanakan program-

program yang sebelumnya telah dirumuskan berdasarkan kebutuhan

83
mustahik. Pengaplikasian semua program dilaksanakan setelah perumusan

strategi dilakukan. Pelaksanaan program akan disesuaikan dengan situasi

dan kondisi yang dihadapi dilapangan. Program-program yang

dilaksanakan oleh Baznas Kota Tangerang meliputi lima kategori yaitu

pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemanusiaan, serta dakwah dan

advokasi. Kelima kategori program tersebut didasarkan pada kebutuhan

yang dihadapi oleh mustahik.

Adapun program yang diimplementasikan oleh Baznas Kota

Tangerang ialah sebagai berikut:

1) Bidang pendidikan

a) Bantuan langsung pendidikan

Bantuan langsung pendidikan ialah bantuan biaya pendidikan

yang diperuntukan bagi anak usia sekolah yang secara finansial

mengalami kesulitan dan dapat mengancam keberlanjutan

sekolahnya. Pemberian bantuan ini deberikan langsung kepada

siswa yang secara kategori memenuhi syarat untuk menerima

bantuan pendidikan ini. Program bantuan pendidikan ini

diharapkan dapat menekan angka putus sekolah di wilayah Kota

Tangerang akibat hambatan finansial.

b) Beasiswa sarjana

Program ini sesuai dengan namanya ialah membentu setiap

siswa yang berperestasi untuk dapat melanjutkan sekolah ke

jenjang yang lebih tinggi. Program bantuan biaya kuliah ini

84
dilakukan secara berkelanjutan dan bertahap kepada setiap

penerima beasiswa dari awal kuliah sampai dengan menerima gelar

sarjana. Bantuan ini diharapkan mampu mengurangi beban

pendidikan starata satu kepada mereka yang kesulitan secara

finansial untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya.

2) Bidang kesehatan

a) Bantung langsung pengobatan

Dalam upaya membantu dan mendukung program Pemerintah

Kota Tangerang dibidang kesehatan Baznas Kota Tangerang

meluncurkan program bantuan langsung biaya pengobatan bagi

setiap masyarakat yang mengalami kesulitan dalam hal biaya

pengobatan terutama meraka yang menderita penyakit kronis dan

tidak tercover oleh asuransi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

(BPJS) atau tidak memiliki asuransi sejenisnya. Bantuan langsung

pengobatan ini merupakan kebutuhan pokok bagi manusia

sehingga Baznas Kota Tangerang menaruh perhatian besar

terhadap program kesehatan ini. Oleh karenanya dalam rangka

mempermudah program ini Baznas Kota Tangerang melakukan

kerjasama dengan bekerjasama dengan pihak terkait seperti rumah

sakit dan pemerintah, baik pemerintah kota maupun pemerintah

desa yang berada di wilayah Kota Tangerang.

85
b) Program bantuan operasional pengobatan

Selain biaya kesehatan, hal yang sering luput ialah kebutuhan

akomodasi bagi orang yang mengalami gangguan kesehatan dalam

hal transportasi dari rumah menuju rumah sakit atau kelinik,

sehingga bantuan ini menjadi penting bagi mereka yang memang

betul-betul membutuhkan biaya tersebut. Oleh karena kebutuhan

akomodasi yang harus dipenuhi, Baznas Kota Tangerang berupaya

mengakomodir kebutuhan ini dengan memberikan bantuan

operasional pengobatan bagi mereka yang membutuhkan bantuan

tersebut. Kesehatan merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia,

dan harus dibantu apabila setiap masyarakat memiliki kendala

tersebut.

3) Bidang ekonomi

a) Bantuan modal usaha

Bantuan modal usaha ialah bantun berupa uang tunai yang

diberikan oleh Baznas Kota Tangerang dalam rangka membantu

masyarakat miskin di wilayah Kota Tangerang yang membutuhkan

bantuan karena kesulitan dalam hal pemenuhan modal usahanya.

Pemberian modal usaha ini juga sebagai langkah mengentaskan

kemiskinan di Kota Tangerang dan juga sesuai dengan moto yang

diangkat oleh Baznas Kota Tangerang, yaitu “mengubah mustahiq

menjadi muzakki”.

86
b) Gerakan anti rentenir/riba

Masalah keungan seringkali memaksa masyarakat miskin

masuk kedelam jebakan riba melalui hutang piutang. Orang yang

berutang (gharimin) ialah salah satu asnaf dari delapan asnaf yang

telah disebuatkan dalam Al-Qur’an yang menjadi tujuan

penyeluran zakat. Baznas Kota Tangerang menyediakan solusi bagi

masyarakat miskin untuk keluar dari jeratan praktik riba dengan

memberikan bantuan untuk membayar hutang mereka kepada

pemberi hutang atau mereka memang meminta bantuan Baznas

untuk membantu kesulitan ekonomi mereka sebelum mereka harus

terpaksa meminjam kepada rentenir sehingga Baznas Kota

Tangerang mamapu mencegahnya masuk kedalam praktik riba.

4) Bidang kemanusiaan

a) Paket zakat fitrah

Program ini dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang

bekerjasama dengan Pemerintah Desa, dan unit pengumpulan zakat

di setiap kecamatan di wilayah Kota Tangerang. paket bantuan

yang diberikan berupa uang tunai dan kebutuhan pokok berupa

sembako yang dikemas dalam satu paket kontainer yang kemudian

disalurkan secara langsung kepada mustahiq dengan mendatangi

rumah mereka secara langsung oleh petugas Baznas, UPZ dan

Pemerintah Desa setempat.

87
b) Paket santunan yatim dan dhuafa

Program ini dilakukan oleh Baznas Kota Tangrang bekerja

sama dengan pemerintah Kota Tangerang untuk menyalurkan zakat

kepada anak yatim dan dhuafa diwilayah Kota Tangerang. program

ini dilaksanakan pada 10 Muharam disetiap tahunnya dengan

memberikan bantuan secara langsung kepada mustahik zakat yaitu

kategori yatim dan dhuafa sesuai dengan data yang dimiliki oleh

Baznas Kota Tangerang.

c) Bantuan biaya hidup

Program ini dimaksudkan untuk memberi bantuan biaya hidup

secara tunai kepada mustahiq dan keluarganaya dalam bentuk uang

tunai secara langsung untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-

hari. Program ini diberikan kepada mereka yang secara realita

termasuk dalam kategori fakir dan miskin yang secara mendesak

membutuhkan bantuan hidup untuk dapat melanjutkan hidup

mereka.

d) Bantuan ibnu sabil

Bantuan transportasi diberikan Baznas Kota Tangerang kepada

mustahik yang mengalami kesulitan biaya transportasi, bantuan ini

diberikan mereka yang dalam perjalanan mengalami kehabisan

bekal dan biaya transportasi. Adapun pengajuan bantuan ini

diberikan dengan syarat menunjukan surat keterangan kehabisan

ongkon dari kepolisian.

88
5) Bidang dakwah dan advokasi

a) Bantuan langsung dakwah dan advokasi

Program ini dilakukan dengan memberikan santunan secara

langsung kepada para da’i dan guru ngaji serta pejuang dakwah

lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka yang telah

menghabiskan waktu dan tenaganya untuk mengabdi kepada

agama dengan mendidik masyarakat dalam hal pengetahuan agama

Islam. Bantuan ini diberikan secara langsung kepada mereka yang

termasuk dalam kategori yang telah ditetapkan.

b) Paket ifthar ramadhan

Program ini memberikan layanan untuk memfasilitasi buka

puasa bersama dengan masyarakat. Kegiatan ini juga seringkali

bersamaan dengan kegiatan lain, seperti buka puasa saat peyaluran

zakat kepada amsyarakat atau saat santunan anak yatim yang

diberkan oleh Baznas Kota Tangerang.

c) Bantuan biaya khitanan

Bantuan biaya khitanan diberikan oleh Baznas Kota Tangerang

kepada masyarakat Kota Tangerang. Dalam praktiknya Baznas

Kota Tangerang bekerjasama dengan beberapa pihak untuk dapat

menyelenggarakan kegiatan ini, seperti dengan lembaga kesehatan

atau korporasi yang juga kerapkali ikut serta dalam kegiatan ini.

89
d) Bantuan ekonomi mualaf

Mualaf merupakan salah satu asnaf dari delapan asnaf yang

ada dalam Al-Qur’an. Selain karena kewajiban yang harus

dilaksanakan, penyaluran zakat kepada mualaf dilakukan dalam

rangkan memberikan support secara finansial peda mualaf yang

membutuhkan bantuan ekonomi oleh Baznas Kota tangerang.

Dari kelima program diatas diperoleh data realisasi penyaluran dari

tahun 2016 sampai dengan 2020 yang tercermin dalam tabel berikut:

201
No Kategori 2020 2019 2017 2016
8
1 Ekonomi [Link] 937.258.000 0 842.308.350 357.192.716
2 Pendidikan 516.528.000 110.941.800 0 565.554.350 188.944.771
3 Kesehatan 18.755.000 [Link] 0 477.993.350 178.999.309
4 Kemanusiaan [Link] 700.491.799 0 593.787.200 208.720.397
5 Dakwah- 701.334.492 [Link] 0 632.701.350 401.012.384
advokasi

Tabel 3. 4 Data Realisasi Penyaluran Zakat Berdasarkan Program

Baznas Kota Tangerang

Berdasarkan data realisasi penyaluran zakat di atas diperoleh data bahwa

penyaluran dana zakat pada tahun 2016, 2017 dan 2019 mengalami

peningkatan jumlah dana yang disalurkan, meskipun pada tahun 2020 terjadi

penurunan, hal ini sejalan dengan realisasi penerimaan dengan trend kenaikan

dan penurunan yang sama. Adapun pada tahun 2018 penulis tidak memperoleh

data penyaluran dana zakat dari, akan tetapi hal ini diterangkan pada saat

wawancara bahwa di tahun 2018 juga mengalami peningkatan penyaluran

dana zakat.

90
3. Evaluasi strategi pengelolaan zakat dalam upaya meningkatkan

jumlah muzakki

Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Jaka Firmansyah sebagai


ketua pelaksana pada tanggal 16 Desember 2021 diperoleh informasi
bahwa evaluasi dilakukan dengan meninjau faktor eksternal berkaitan
dengan tanggapan muzakki dan faktor internal yang berkaitan dengan
hambatan yang dialami. Setalah itu kemudian dilakukan evaluasi
kinerja setiap individu pegawai Baznas. Setelah itu kemudian
dilakukan koreksi dan tindakan perbaikan yang diambil untuk
menanggapi segala kekurang yang dimiliki.
a. Meninjau faktor eksternal dan internal

Evaluasi dilakukan dengan melakukan peninjauan terhadap baik dan

buruknya kinerja Baznas Kota Tangerang. Tinjauan dilakukan dalam dua

faktor, yaitu faktor internal dan eksternal untuk dijadikan bahan acuan

dalam melakukan evaluasi.

1) Faktor eksternal

Sebagaimana lembaga atau badan amil zakat yang lainnya, Baznas

Kota Tangerang tergolong dalam salah satu lembaga atau organisasi

NGO (Non Govermental Organizational) atau yang sering disebut

sebagai lembaga non provit dengan tujuan utama melayani masyarakat

tanpa mengaharapkan dan mengambil keuntungan berupa materi dari

apa yang dikerjakan. Sebagai NGO kepercayaan dari mitra organisasi

menjadi penting untuk didapatkan. Oleh karena itu Baznas Kota

Tangerang memastikan seluruh mitra termasuk didalamnya muzakki

91
dan mustahiq menaruh kepercayaannya kepada Baznas Kota

Tangerang.

Evalusai dari faktor eksternal dilakukan oleh Baznas Kota

Tangerang dengan mengumpulkan informasi secara langsung dari

mitra yakni muzakki dan mustahiq dengan melakukan komunikasi baik

secara kelembagaan maupun secara personal. Cara ini dilakukan untuk

dapat mengetahui tanggapan dari para mitra terkait pengelolaan zakat

yang dilakukan selama ini. Komunikasi ini biasanya dilakukan setiap

minggu oleh pimpinan Baznas ataupun bidang penumpulan terhadap

para mitra. Informasi yang didapat terkait pengelolaan zakat dari para

mitra kemudian akan dipelajari dan dijadikan bahan evaluasi kinerja di

masa mendatang. Baznas Kota Tangerang memandang perlu untuk

melakukan hal ini sebagai wujud pelayanan dan pertanggung jawaban

kepada para mitra terkait kinerja Baznas dan juga dalam rangka

meningkatkan jumlah muzakki.

2) Faktor internal

Peninjauan faktor internal dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang

dengan memastikan bahwa dalam menjalankan pengelolaan zakat baik

pelayanan, ataupun implementasi program berjalan dengan lancar.

Evaluasi ini juga dilakukan untuk mengetahuai apa saja hambatan yang

dihadapi oleh Baznas dalam menjalankan setiap kinerjanya. Salah satu

contoh dari hambatan yang dialami ialah jumlah muzakki atau

92
penerimaan zakat tidak sesuai dengan yang telah ditargetkan, maka hal

ini akan dijadikan bahan evaluasi pengelolaan zakat untuk dapat

meningkatkan kinerja dimasa depan.

Evaluasi semacam ini dilakukan setiap bulan dan tahunnya dengan

melakukan rapat bersama dan juga menerbitkan laporan yang

kemudian akan dipublikasikan melalui website Baznas sebagai

pertanggung jawaban kepada para mitra Baznas. Evaluasai semacam

ini penting dilakukan untuk memastikan bahwa kinerja dari sisi

internal dapat berjalan sesuai dengan strategi yang telah ditetapkan.

b. Evaluasi kinerja pegawai

Hal yang juga sangat penting dari sebuah organisasi ialah mengenai

Sumber daya Manusia (SDM). Dari hasil wawancara yang dilakukan oleh

peneliti denga ketua pelaksana Baznas Kota Tangerang didapati informasi

bahwa salah satu kendala yang dialami oleh Baznas ialah mengenai

keterbatasan SDM yang dimiliki. Kekurangan SDM atau pegawai ini

sedikit banyak mempengaruhi kinerja yang dilakukan oleh Baznas Kota

Tangerang. Meski demikian ketua pelaksana mengatakan bahwa

keterbatasan ini tidak menghalangi apa yang telah direncanakan dalam hal

kinerja Baznas. Oleh karena hal itu dilakukan evaluasi kinerja setiap

bulannya dengan mengadakan rapat bersama mulai dari unsur pimpinan

sampai dengan pegawai di bawahnya. Dalam rapat ini dibahas secara

kesuluruhan terkait dengan kinerja pegawai. Beberapa komponen umum

93
yang dibahas dalam rapat evaluasi ini ialah terkait dengan kualitas

pekerjaan individu, kehadiran, tanggung jawab, kejujuran dan kerja tim

Baznas Kota Tangerang memiliki standar kinerja bagi setiap pegawai

didalamnya, sehingga standar ini dapat dijadikan sebagai acuan utama bagi

setiap pegawai dalam melaksanakan tugas dan fungsinya masing-masing.

Kinerja yang baik dari setiap pegwai Baznas Kota Tangerang merupakan

salah satu faktor penting dalam rangka meningkatkan jumlah muzakki.

c. Mengoreksi dan mengambil tindakan

Sebagaiman telah di sampaikan sebelumnya terkait dengan evaluasi

yang dilakukan sehingga dapat nampak jelas kekurangan dan kelebihan

dari strategi yang dilakukan. Maka Baznas Kota Tangerang selanjutnya

melakukan pengoreksian dari setiap tindakan yang dilakukan oleh

organisasi, baik dari segi pencapaian program-program sampai dengan

kinerja dari organiasai. Koreksi ini dilakukan terhadap setiap kekurangan

yang didapati dari proses pengelolaan zakat. evaluasi yang dilakukan

dalam rangka meningkatkan jumlah muzakki dilakukan terhadap dua

bidang pengelolaan zakat terkait yaitu bidang pengumpulan zakat dan

bidang pendistribusain dan pendayagunaan zakat.

1) Bidang pengumpulan zakat

Koreaksi yang dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang dengan

memeriksa dan mengevaluasi secara langsung terkait dengan kinerja

secara tim di bidang pengumpulan zakat. sebagai mana disebutkan dalam

94
proses perumusan strategi, bidang pengumpulan sebelumnya

menentukan target kinerja yang harus dicapai berupa jumlah penerimaan

dan jumlah muzakki. Target ini kemudian akan di periksa dan diambil

tindakan apabila terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya.

2) Bidang pendistribusian dan pendayagunaan zakat

Koreksi yang dilakukan pada bidang pendistribusian dan

pendayagunaan zakat ialah mengenai pencapaian kinerja dalam hal

pelaksanaan program pendistribusian dan pendayagunaan zakat. program

program yang sebelumnya disusun seringkali dalam pelaksanaannya

mengalami hambatan-hambatan, biasanya hambatan yang di alami

berupa hambatan teknis pelaksanaan program, seperti kesiapan

pelaksanaan program. Hambatan semacam ini kemudian dikoreksi dan

dievaluasi untuk kemudian diambil tindakan perbaikan.

C. Pembahasan Hasil Penelitian Strategi Pengelolaan Zakat dalam Upaya

Meningkatkan Jumlah Muzakki

Strategi pengelolaan zakat Baznas Kota Tangerang dalam upaya

meningkatkan jumlah muzakki yang digunakan ialah sesuai dengan teori

manajemen strategi dari Taufiqurahman (2020: 27-29) dengan tiga tahapan

strategi yaitu, formulasi strategi, implementasi strategi dan juga evaluasi.

95
1. Formulasi strategi

Tahapan paling awal dalam strategi pengelolaan zakat yang diterapkan di

Baznas Kota Tangerang ialah tahap formulasi yang diawali dengan

pengembangan visi misi dan oraganisasi. Baznas Kota Tangerang sebelumnya

telah menetapkan visi, misi dan yang dibuat berdasarkan realita faktual yang

dihadapi dan selanjutnya menjadi tolak ukur kemajuan organisasi. Dari

pengembangan visi dan misi kemudian diturunkan dan diterjemahkan dalam

sebuah strategi pengelolaan zakat yang kemudian digunakan untuk mencapai

tujuan yang diinginkan. Perumusan strategi akan dibahas dalam sebuah rapat

Rencana Kerja Tahunan (RKT) yang dilakukan oleh seluruh anggota Baznas

mulai dari pimpinan sampai dengan pegawai. Dalam rapat tahunan ini Baznas

merumuskan strategi pengelolaan dalam waktu satu tahun kedepan dengan

mempertimbangkan segala kekurang dan kelebihan pelaksanaan strategi tahun

lalu dan kebutuhan yang dihadapi ditahun depan. Strategi yang dibahas

mengenai pengumpulan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat.

Dalam rangka meningkatkan jumlah muzakki strategi pengelolaan zakat

dirumuskan melalui rapat RKT, dengan terlebih dahulu melakukan analisisi

lingkungan eksternal dan internal berupa pelunag, ancaman, kekuatan dan

kelemahan yang dimiliki Baznas Kota Tangerang. setelah melakukan nalisis

tahap selanjutnya ilah menentukan targer yang akan dilaksanakan dalam kurun

wakti satu tahuh mulai dari menentukan target Muzakki dan target mustahik.

96
2. Implementasi Strategi

Sebagi organisasi non profit kepercayaan para mitra terhadap organisasi

sangatlah penting dipertimbangkan dalam penerapan strategi. Oleh karena hal

tersebut strategi yang digunakan oleh Baznas Kota Tangerang mulai dari

strategi promosi melalui seminar/penyuluhan baik secara langsung, media

cetak ataupun media sosial yang dimiliki. Selain promosi hal lain yang

dilakukan ialah dengan menjalin kerjasama dengan semua pihak mitra Baznas

Kota Tangerang, mulai dari instansi pemerintah, perusahaan, dan juga

lembaga untuk dapat mendukung setiap program Baznas. Salah satu capaian

yang diperoleh oleh Baznas ialah pada sejak tahun 2016 telah diresmikan Unit

Pengumpulan Zakat (UPZ) baru sebanyak 800 UPZ yang tersebar di sejumlah

instansi, lembaga, perusahaan serta masjid dan mushola di wulayah Kota

Tangerang. selain itu dalam rangka memudahkan para muzakki untuk

menyalurkan zakatnya dibuatlah sebuah sitem aplikasi ayo zakat yang

tergabung dalam aplikasi tangerang live milik pemerintah kota Tangerang.

Dalam rangka meningkatkan jumlah muzakki Baznas Kota Tangerang

mengimplentasikan program-program yang telah dirumuskan. Program yang

di realisasikan oleh Baznas meliputi lima kategori, yaitu kategori pendidikan,

kesehatan, ekonomi, kemanusian dan kategori dakwah dan advokasi.

3. Evaluasi

Evaluasi dilakukan diawali dengan peninjaun faktor eksternal dan internal.

Faktor eksternal berkaitan dengan kepercayaan mitra Baznas terutama

97
muzakki. Baznas Kota Tangerang mengumpulkan informasi dari mitra

terutama informasi mengenai tanggapan para mitra terkait dengan pengelolaan

zakat yang dilakukan. Informasi yang terkumpul kemudian akan di himpun

sebagai bahan evaluasi dalam pelaksanaan kinerja. Tinjaun yang kedua

dilakukan didalam atau internal dari organisasi. Tinjauan ini dimaksudkan

untuk mengetahui secara menyeluruh apa yang menjadi hambatan dalam

kinerja yang dijalankan.

Setelah melakukan peninjauan baik secara eksternal, maupun secara

internal tahapan selanjutnya ialah melakukan evaluasi kinerja pegawai.

Evaluasi ini dilakukan dengan memberi penilaian terhadap setiap individu

pegawai Baznas Kota Tangerang dengan menilai kedisiplinan, tanggungjawab

sampai dengan kemampuan kerja dalam tim. Evaluasi pegawai ini dilakukan

dalam rangka memastikan kinerja yang dijalankan oleh setiap pegawai Baznas

dilakukan dengan baik sesuai dengan ketentuan yang ada.

Setelah meninjau dan mengevaluasi kinerja pegawai hal selanjutnya ialah

memberikan koreksi terhadap setiap kekuranagn yang ditemukan dan

mengambil tindakan perbaikan atas kekurangan yang ada. Koreksi dilakukan

terhadap semua bidang terutama bidang pengumpulan serta bidang

pendistribusian dan pendayagunaan zakat.

Evaluasi dilakukan secara bertahap baik dilakukan setiap satu bulan sekali

ataupun satu tahun sekali dalam sesi rapat Rencana Kerja Tahunan (RKT)

yang dilakukan secara bersama-sama oleh pimpinan dan pegawai.

98
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari penelitian tentang strategi pengelolaan zakat dalam upaya

meningkatkan jumlah muzakki yang dilakukan di Badan Amil Zakat Nasional

(Baznas) Kota Tangerang diawali oleh jawaban atas prtanyaan penelitian:

1. Perumusan strategi diawali dengan mengembangkan visi dan misi,

mengidentifikasi peluang, tantangan, kekuatan dan kelemahan, kemudian

dilanjutkan dengan menentukan target tahunan yang dituangkan dalam

Rencana Kerja Tahunan (RKT), dan yang terakhit ialah menentukan

alternatif strategi yang diterapkan dalam pengelolaan dana zakat Baznas

Kota Tangerang.

2. Implementasi strategi pengelolaan zakat Baznas Kota Tangerang dimulai

dengan mengarahkan bidang pengumpulan zakat untuk melaksanakan

sosialisasi zakat yang dilakukan di berbagai instansi dan lembaga dan

perusahaan diwilayah Kota Tangerang sosialisasi juga dilakukan dengan

menggunakan media sosial, website dan melalui aplikasi tangerang live

yang dimiliki oleh Baznas Kota Tangerang. Dalam bidang pendistribusian

dan pendayagunaan zakat implementasi strategi dilakukan dengan

melaksanakan segala program pendistribusian dan pendayagunaan zakat

pada lima kategori yaitu pendidikan, ekonomi, kesehatan, kemanusiaan

serta dakwah dan advokasi.

99
3. Evaluasi strategi pengelolaan zakat diawali dengan melakukan peninjauan

secara eksternal dengan dan internal dan selanjutnya dilakukan evaluasi

kinerja pegawai dengan menilai kinerja para pegawai, setelah itu langkah

selanjutnya ialah mengkoreksi dan mengambil tindakan. Koreksi akan

dilakukan terhadap kesalahan dan kekurangan yang diketahui setelah

diketahui kemudian diambil langkah perbaikan sesuai dengan kekurangan

dan kendala yang dihadapi.

Berdasarkan atas jawaban pertanyaan penelitian di atas, diperoleh

kesimpulan bahwa strategi pengelolaan zakat yang dilakukan oleh Baznas

Kota Tangerang dalam meningkatkan jumlah muzakki telah dilakukan dengan

baik, hal ini terlihat dari angka peningkatan jumlah muzakki dari kurun waktu

2016 sampai dengan 2019 meski terjadi penurunan di tahun 2020 karena

pandemic covid-19

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas maka penulis memberikan saran sebagi

berikut:

1. Baznas Kota Tangerang diharapkan mampu memaksimalkan segala

potensi sumberdaya yang dimiliki serta mampu mematangkan segala

persiapan implementasi strategi sehingga strategi yang telah disusun dapat

terlaksana dengan maksimal.

100
2. Bagi muzakki diharapkan mampu menilai dan mengetahui dengan baik

terkait pengelolaan zakat sehingga tercipta rasa percaya dan dapat

menitipkan zakatnya kepada Baznas untuk mengelolanya dengan baik

sehingga dana zakat yang dititipkan mampu didistribusi dan

didayagunakan sesuai dengan kebutuhan para mustahik.

3. Bagi penulis dan seluruh civitas akademika untuk dapat terus

mengembangkan penelitian dibidang pengelolaan zakat sehingga mampu

menjawab persoalan dalam praktik pengelolaan zakat baik dibadan amil

zakat maupun di lembaga pengelolaan zakat lainnya.

101
DAFTAR PUSTAKA

Abas, Ahmad Sudirman. 2017. Zakat Ketentuan dan Pengelolaannya. Bogor. CV.

Anugerah Berkah Sentosa.

Ahmad. 2020. Manajemen Strategis. Makasar: CV Nasa Media Pustaka.

Akbar, Wahyu dan Jefri Tarangtang. 2018. Manajemen Zakat. Yogyakarta:

K-Media

Akramunnas dan Syarifuddin, 2021. Ekonomi Islam Suatu Pengantar.

Tasikmalaya: Edu Publisher.

Ash-Shiddiqi, Hasbi. 1967. Pedoman Zakat, Jakarta : Bulan Bintang.

Asnaini. 2008. Zakat Produktif dalam Prespektif Hukum Islam. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Al-Zuhayly, Wahbah . 2008. Zakat Kajian Berbagai Mazhab. Bandung:

PT. Remaja Rosdakarya.

Az-Zabidi. 2002. Ringkasan hadis shahih Al-Bukhari. Jakarta; Pustaka Amani.

Bahaudin, Achmad dkk. 2020. Manajemen Bisnis Kontemporer. Yogyakarta: CV.

Diandra Primamita Media.

Hafidhuddin, Didin. 2002. Zakat dalam Perekonomian Modern. Jakarta: Gema

Insani Press.

Hasan, Ali. 2003. Masail Fiqhiyah. Jakarta: PT. Raja Grafindo.

Hasan, Ali. 2008. M. Zakat dan Infak Salah Satu Solusi Mengatasi Problem

Sosial di Indonesia, Jakarta: Kencana.

Hasibuan, Malayu SP, 2006. Manajemen Sumber DayaManusia. Jakarta: Bumi

Aksara.

102
Hasibuan, Malayu S.P. 2011. Manajemen Dasar, Pengertian dan Masalah.

Bandung: PT. Bumi Askara.

Ilmi, Makhalul. 2002. Teori dan Praktek Lembaga Keuangan Syari’ah.

Yogyakarta: UII Press.

Inoed, Amiruddin dkk. Anatomi Fiqh Zakat : Potret & Pemahaman Badan Amil

Zakat Sumatera Selatan. Yogyakarta : Pustaka.

Jannati, Muhammad Ibrahim.2007. Fiqih Perbandingan Lima Mazhab 2.

Jakarta: Cahaya.

Kadmasasmita, A. D. 2005. Manajemen Strategis Konsep dan Aplikasi. Bandung:

Lembaga Administrasi Negara RI Pusat Kajian dan Diklat Aparatur

Mardani. 2015 Aspek Hukum Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia,. Jakarta:

Kencana.

Murfiani, A. Arief. 2008. Akuntansi dan Manajemen Zakat. Jakarta : Kencana

Prenada Media Group

Naway, A Fori. 2016. Strategi Pengelolaan Pembelajaran. Gorontalo: Ideas

Publishing.

Nilasari, Senja. 2014. Manajemen Strategi Itu Gampang. Jakarta : Dunia Cerdas.

Pahdepie, D. Fahd. 2006. Pemberdayaan Ekonomi berbasis Umat. Bandung:

Sekretariat Daerah Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Pemerintah Indonesia. 2011. Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 Tentang

Pengelolaan Zakat. Lembaran Negara Republik Indonesia No. 3885.

Jakarta: Sekretariat Negara,

Pemenrintah Indonesia. 2011. Undang-Undang No. 23 Tahun 2011 Tentang

103
Pengelolaan Zakat. Lembaran Negara Republik Indonesia No. 5255.

Jakarta: Sekretariat Negara.

Qardhawi , Yusuf.2004. Fiqh Az-Zakah. terj. Salman Harun dkk, Hukum Zakat.

Jakarta: Pustaka Litera Antarnusa.

Ridwan, Muhammad. 2004. Manajemen Baitul Maal wa Tamwil, Yogyakarta: UII

Press.

Rosadi, Aden. 2019. Zakat dan Wakaf. Bandung: Simbiosis Rekatama Media.

Sadiah, Dewi. 2015. Metode penelitian Dakwah Pendekatan Kualitatif dan

Kuantitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Saladin, Djaslim. 2010. Manajemen Strategik. Bandung: Agung Ilmu.

Siagian, Sondang P. 1992. Fungsi-fingsi Manajerial. Jakarta: Bumi Aksara

Suci, Rahayu Puji. 2015. Esensi Manajemen Strategi. Sidoarjo: Zifatama

Publisher.

Sugiono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung: Alfabeta.

Sukarna . 2011. Dasar-dasar Manajemen. Bandung : CV. Mandar Maju.

Taufiqurokhman.2016, Manajemen Strategik. Jakarta: Fakultas Sosial dan Ilmu

Politik Universitas Prof. Dr. Moestopo Beragama.

Thoriquddin, Moh. 2014. Pengelolaan Zakat Produktif. Malang: Uin Maliki Prees

Yunus, Eddy. 2016. Manajemen Strategis. Yogyakarta: CV Andi Offset

Yunus, Mahmud. 2001. Ibadah Puasa dan Zakat. Jakarta: Hadi Karya Agung.

104
LAMPIRAN

Gambar 0. 1 SK Penetapan Pembimbing Skripsi

105
A. Pedoman Wawancara

Pedoman wawancara Strategi Pengelolaan Zakat dalam upaya Meningkatkan

Jumlah Muzakki (Studi Deskriptif di Baznas Kota Tangerang) ialah sebagai

berikut:

I. Identitas Informan

Nama : Jaka Firmansyah, [Link].I

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 42 Tahun

Jabatan : Ketua Pelaksana

Mulai Jabatan : 2016

II. Identitas Informan

Nama : Rifti Fauzan

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 31 Tahun

Jabatan : Bidang Pengumpulan

Mulai Jabatan : 2016

III. Identitas Informan

Nama : H. Ahmad Khudhori

Jenis Kelamin : Laki-laki

Usia : 55 Tahun

Pekerjaan : PNS

106
IV. Pertanyaan Penelitian

1. Bagaimana sejarah berdirinya Baznas Kota Tangerang?

2. Apa visi, misi dan tujuan Baznas Kota Tangerang?

3. Bagaimana struktur organisasi Baznas Kota Tangerang beserta tugas

dan fungsinya?

4. Apa saja program kerja BaznaS Kota Tangerang?

5. Apa bentuk kerjasama yang dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang

dengan para mitra zakat?

Fase 1 Perumusan Strategi

1. Bagaimana Baznas Kota Tangerang mengembangkan visi dan misi

yang telah ditetepkan?

2. Bagaimana Baznas Kota Tangerang mengidentifikasi pelung dan

tantangan yang dihadapi?

3. Bagaimana Baznas Kota Tangerang mengidentifikasi kekuatan dan

kelemahan yang dimiliki?

4. Apa alternatif strategi yang diformulasikan Baznas Kota Tangerang

dalam rangka meningkatkan jumlah muzakki?

5. Siapa saja yang terlibat dalam proses formulasi strategi yang dilakukan

oleh Baznas Kota Tangerang?

107
Fase 2 Implementasi Strategi

1. Apa program yang digunakan dalam bidang pengumpulan zakat

kaitannya dengan meningkatkan jumlah muzakki?

2. Bagiamana implementasi program yang telah dirumuskan bidang

pengumpulan zakat dalam upaya meningkatkan jumlah muzakki?

3. Apa program yang digunakan dalam bidang pendistribusian dan

pendayagunaan zakat Baznas Kota Tangerang?

4. Bagaimana implementasi program bidang pendistribusian dan

pendayagunaan zakat Baznas Kota Tangerang?

5. Siapa saja yang terlibat dalam proses implementasi strategi yang

dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang?

Fase 3 evaluasi strategi

1. Apa yang dilakukan oleh Baznas Kota Tangerang untuk meninjau

faktor eksternal dan internal dalam rangka melakukan evaluasi?

2. Bagaimana cara Baznas Kota Tangerang mengevaluasi kinerja setiap

pegawai Baznas Kota Tangerang?

3. Bagaimana langkah-langkah koreksi dan perbaikan yang dilakukan

oleh Baznas Kota Tangerang?

108
Wawancara dengan muzakki

1. Apa yang membuat bapak/ibu tertarik menitipkan zakatnya untuk dikelola

oleh Baznas Kota Tangerang?

2. Bagaima pengelolaan zakat yang dilakukan oleh BAZNAS Kota

Tangerang?

3. Bagaimana menurut bapak/ibu terkait program-program yang dijalankan

oleh Baznas Kota Tangerang?

4. Bagaimana harapan bapak kedepan terkait pengelolaan zakat yang

dijalankan oleh Baznas Kota Tangerang?

5. Mengapa di tahun 2020 bapak tidak menyetorkan zakatnya ke BAZNAS

kota Tangerang?

B. Dokumentasi

Gambar 0. 2 Wawancara Dengan Bapak Jaka Firmansyah (Ketua Pelaksana


Baznas Kota Tangerang)

109
Gambar 0. 3 Wawancara dengan Bapak Rifti Fauzan (Bidang Pengumpulan
Baznas Kota Tangerang)

Gambar 0. 4 Wawancara Online dengan Bapak H. Khudhori (Muzakki


Baznas Kota Tangerang)

110

Anda mungkin juga menyukai