0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan15 halaman

Gambar Standar Clear Zone Jalan

Suplemen Pedoman Gambar Standar Pekerjaan Jalan dan Jembatan menambahkan gambar ruang bebas di lokasi galian dan timbunan serta kereb beton tipe S pada jalan utama. Ruang bebas merupakan area yang harus dikosongkan dari segala bentuk penghalang di sepanjang jalan. Suplemen ini melengkapi pedoman sebelumnya dan membentuk satu kesatuan pedoman.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
18 tayangan15 halaman

Gambar Standar Clear Zone Jalan

Suplemen Pedoman Gambar Standar Pekerjaan Jalan dan Jembatan menambahkan gambar ruang bebas di lokasi galian dan timbunan serta kereb beton tipe S pada jalan utama. Ruang bebas merupakan area yang harus dikosongkan dari segala bentuk penghalang di sepanjang jalan. Suplemen ini melengkapi pedoman sebelumnya dan membentuk satu kesatuan pedoman.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

A N

I N
A L
S
NO. 02/S/Pd/BM/2022

SUPLEMEN PEDOMAN

AN
I N
Gambar Standar Pekerjaan Jalan dan Jembatan

A L
S
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT

DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA


PRAKATA

Dalam rangka melengkapi gambar standar untuk pekerjaan jalan dan jembatan di Indonesia, maka diperlukan penambahan gambar ruang bebas (clear
zone) di lokasi galian dan timbunan dan kereb beton tipe S pada jalan utama yang tertuang di dalam Pedoman Gambar Standar Pekerjaan Jalan dan
Jembatan Nomor 08/P/BM/2021. Optimalisasi ini dituangkan ke dalam Suplemen Pedoman Gambar Standar Pekerjaan Jalan dan Jembatan Nomor
02/S/Pd/BM/2022.

N
Adapun substansi suplemen pedoman ini, meliputi:
a. Gambar ruang bebas (clear zone) di lokasi galian dan timbunan; dan

A
b. Gambar kereb beton untuk jalan dengan tipe S.
Suplemen pedoman ini merupakan pelengkap dan bagian yang tidak terpisahkan dari Pedoman Gambar Standar Pekerjaan Jalan dan Jembatan Nomor
08/P/BM/2021 dan untuk itu harus dibaca sebagai satu kesatuan pedoman.

I N
AL Jakarta, Desember 2022

S Direktur Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Nyoman Suaryana
DAFTARA
N
ISI
I N
A L
S
PAKET PEKERJAAN No. Paket : KONSULTAN PERENCANA Judul Gambar :
REPUBLIK INDONESIA No. Ruas : Logo Konsultan Digambar Direncanakan Diperiksa No. Lembar : 0.01
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Nama Ruas : DAFTAR GAMBAR (1)
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Provinsi : Jml. Lembar :
Juru Gambar Ahli Jalan Raya Ketua Tim

AN
I N
A L
S
A. RUANG BEBAS A
N
(CLEAR ZONE)
I N
DI LOKASI GALIAN DAN TIMBUNAN
A L
S
PAKET PEKERJAAN No. Paket : KONSULTAN PERENCANA Judul Gambar :
REPUBLIK INDONESIA Logo Konsultan Digambar Direncanakan Diperiksa No. Lembar : 1.01
No. Ruas :
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Nama Ruas : POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Provinsi :
PADA DAERAH GALIAN Jml. Lembar :
Juru Gambar Ahli Jalan Raya Ketua Tim

TIPIKAL POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA PADA DAERAH GALIAN


( KECEPATAN RENCANA 100 km/jam )

1000 VARIASI
DRAINASE

7709 6000
CLEAR ZONE

3000
BAHU
LUAR
2 @ 3600 = 7200
JALUR LALU - LINTAS
1500
BAHU
DALAM
ROW

2500

AN
1500
BAHU
DALAM
2 @ 3600 = 7200
JALUR LALU - LINTAS
3000
BAHU
LUAR
CLEAR ZONE

6000
DRAINASE

7709 VARIASI 1000

I CL

N
RUMIJA

RUMIJA
1:3
1200

1:3
1:6
min 500

A
-2 %

L
FG FG

-2%
1:6

min 500 1:3


1200
1:3
800

800
CATATAN DAN KETENTUAN :

A. Kondisi Belum Ada Penetapan Lokasi (Penlok) S MENERAPKAN CLEAR ZONE

1. Ruang Bebas Jalan (Clear Zone) diterapkan dengan kemiringan fore slope 1:6 dan kemiringan lereng saluran samping 1:3.

B. Kondisi Sudah Ada Penetapan Lokasi (Penlok)


Pada lokasi galian, selain dari ketentuan butir A dan B, ketentuan berikut harus dipenuhi,
antara lain:
1. Kemiringan lereng galian di luar saluran samping didasarkan pada hasil analisis
geoteknik.
2. Tinggi elevasi permukaan subgrade terhadap elevasi muka air rencana pada saluran
a) Lahan ROW mencukupi
1. Ruang Bebas Jalan (Clear Zone) diterapkan dengan kemiringan fore slope 1:6 dan kemiringan lereng saluran samping 1:3. samping yang tidak diperkeras minimal 0,5 m.
3. Penggunaan subdrain didasarkan pada identifikasi dan analisis muka air tanah pada
b) Lahan ROW tidak mencukupi (Clear Zone tidak diterapkan)
tanah eksisting.
1. Langkah Pertama: Lereng di luar bahu jalan dan lereng saluran samping menerus 1:3.
4. Permukaan lereng di luar bahu jalan yang berupa tanah harus diberi gebalan rumput
2. Langkah Kedua: Bila langkah pertama tidak dapat diterapkan maka lereng 1:3 ditiadakan dan digunakan guardrail (solid sodding)
dengan menerapkan ruang defleksi 1 m setelah bahu jalan, lereng setelah ruang defleksi menggunakan kemiringan 1:2,
saluran dapat berupa saluran tanah/pasangan batu/beton.
PAKET PEKERJAAN No. Paket : KONSULTAN PERENCANA Judul Gambar :
REPUBLIK INDONESIA No. Ruas : Logo Konsultan Digambar Direncanakan Diperiksa No. Lembar : 1.02.1
POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Nama Ruas : PADA DAERAH TIMBUNAN 0,5 m ≤ h ≤ 2,75 m
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Provinsi : (KECEPATAN RENCANA 100 km/jam) Jml. Lembar :
Juru Gambar Ahli Jalan Raya Ketua Tim

TIPIKAL POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA PADA DAERAH TIMBUNAN 0,5 m ≤ h ≤ 2,75 m
( KECEPATAN RENCANA 100 km/jam )

DRAINASE
1500
ROUNDING
CLEAR ZONE

3000 1500
ROW

25900

AN
1500 3000
CLEAR ZONE
1500
ROUNDING
DRAINASE

N
1000 6260 1000 VARIASI 6000 BAHU 2 @ 3600 = 7200 BAHU BAHU 2 @ 3600 = 7200 BAHU 6000 VARIASI 1000 6260 1000
750 750 LUAR JALUR LALU - LINTAS DALAM 2500 DALAM JALUR LALU - LINTAS LUAR 750 750

L I CL

A
FG FG

-2 % -2%
1:6 1:6
RUMIJA

RUMIJA
1:3
1:3

S
500 ≤ h ≤ 2750

10% 10%
1:3 1:3
1:3 1:3
800

800
1200 1200
MENERAPKAN CLEAR ZONE
CATATAN DAN KETENTUAN :

A. Kondisi Belum Terbit Penlok


1. Clear zone diterapkan dengan fore slope 1:6.
2. Lereng timbunan setelah clear zone diterapkan dengan kemiringan 1:3.
3. Lereng saluran samping 1:3.

B. Kondisi Sudah Terbit Penlok


a) Apabila lahan ROW mencukupi
1. Clear zone diterapkan dengan kemiringan fore slope 1:6.
2. Kemiringan lereng timbunan dan saluran samping 1:3.
b) Apabila lahan ROW tidak mencukupi (clear zone tidak diterapkan)
1. Langkah Pertama: Kemiringan lereng timbunan di luar bahu jalan dan lereng saluran samping menerus 1:3.
2. Langkah Kedua: Bila langkah pertama tidak dapat diterapkan maka lereng 1:3 ditiadakan dan digunakan guardrail
dengan menerapkan ruang defleksi 1 m setelah bahu jalan, kemiringan lereng timbunan setelah ruang defleksi
disarankan 1:2, saluran dapat berupa saluran tanah atau pasangan batu/beton.
PAKET PEKERJAAN No. Paket : KONSULTAN PERENCANA Judul Gambar :
REPUBLIK INDONESIA No. Ruas : Logo Konsultan Digambar Direncanakan Diperiksa No. Lembar : 1.02.2
POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Nama Ruas : PADA DAERAH TIMBUNAN 0,5 m ≤ h ≤ 2,75 m
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Provinsi : (KECEPATAN RENCANA 80 km/jam) Jml. Lembar :
Juru Gambar Ahli Jalan Raya Ketua Tim

TIPIKAL POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA PADA DAERAH TIMBUNAN 0,5 m ≤ h ≤ 2,75 m
( KECEPATAN RENCANA 80 km/jam )

DRAINASE
1500
ROUNDING
CLEAR ZONE

3000 1500
ROW

25900

AN
1500
CLEAR ZONE

3000
1500
ROUNDING
DRAINASE

N
1000 6260 1000 VARIASI 3000 BAHU 2 @ 3600 = 7200 BAHU BAHU 2 @ 3600 = 7200 BAHU 3000 VARIASI 1000 6260 1000
750 750 LUAR JALUR LALU - LINTAS DALAM 2500 DALAM JALUR LALU - LINTAS LUAR 750 750

L I CL

A
FG FG

-2 % -2%
1:6
RUMIJA

RUMIJA
1:3
1:3

S
500 ≤ h ≤ 2750

10% 10%
1:3 1:3
1:3 1:3
800

800
1200 1200

MENERAPKAN CLEAR ZONE


CATATAN DAN KETENTUAN :

A. Kondisi Belum Terbit Penlok


1. Clear zone diterapkan dengan fore slope 1:6.
2. Lereng timbunan setelah clear zone diterapkan dengan kemiringan 1:3.
3. Lereng saluran samping 1:3.

B. Kondisi Sudah Terbit Penlok


a) Apabila lahan ROW mencukupi
1. Clear zone diterapkan dengan kemiringan fore slope 1:6.
2. Kemiringan lereng timbunan dan saluran samping 1:3.
b) Apabila lahan ROW tidak mencukupi (clear zone tidak diterapkan)
1. Langkah Pertama: Kemiringan lereng timbunan di luar bahu jalan dan lereng saluran samping menerus 1:3.
2. Langkah Kedua: Bila langkah pertama tidak dapat diterapkan maka lereng 1:3 ditiadakan dan digunakan guardrail
dengan menerapkan ruang defleksi 1 m setelah bahu jalan, kemiringan lereng timbunan setelah ruang defleksi
disarankan 1:2, saluran dapat berupa saluran tanah atau pasangan batu/beton.
PAKET PEKERJAAN No. Paket : KONSULTAN PERENCANA Judul Gambar :
REPUBLIK INDONESIA No. Ruas : Logo Konsultan Digambar Direncanakan Diperiksa No. Lembar : 1.03.1
POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Nama Ruas : PADA DAERAH TIMBUNAN 2,75 m < h ≤ 5 m
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Provinsi : (KECEPATAN RENCANA 100 km/jam) Jml. Lembar :
Juru Gambar Ahli Jalan Raya Ketua Tim

TIPIKAL POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA PADA DAERAH TIMBUNAN 2,75 m < h ≤ 5 m
( KECEPATAN RENCANA 100 km/jam )

1000
DRAINASE

6260 1000 VARIASI


1500
ROUNDING

750 750
6000
CLEAR ZONE

3000
BAHU
LUAR
2 @ 3600 = 7200
JALUR LALU - LINTAS
1500
BAHU
DALAM
ROW

25900

2500

AN
1500
BAHU
DALAM
2 @ 3600 = 7200
JALUR LALU - LINTAS
3000
BAHU
LUAR
CLEAR ZONE

6000
1500
ROUNDING

750 750
VARIASI 1000
DRAINASE

6260 1000

I CL

N
L
FG FG

-2 % -2%
1:6 1:6

A
RUMIJA

RUMIJA
1:3
2750 < h ≤ 5000 1:3

10% 10%

S
1:3
1:3 1:3
800

800
1:3

1200 1200
PENLOK SUDAH TERBIT, MENERAPKAN CLEAR ZONE, LAHAN ROW MENCUKUPI

CATATAN DAN KETENTUAN :

A. Kondisi Belum Terbit Penlok


1. Clear zone tidak diterapkan tetapi lereng timbunan diterapkan dengan kemiringan 1:3.
2. Lereng saluran samping diterapkan dengan kemiringan 1:3.
3. Antara bahu jalan dan lereng timbunan diberi verge rounding dengan lebar 1,5 m.

B. Kondisi Sudah Terbit Penlok


a) Apabila lahan ROW mencukupi
1. Clear zone diterapkan dengan kemiringan fore slope 1:6.
2. Antara clear zone dan lereng timbunan diberi verge rounding dengan lebar 1,5 m.
3. Kemiringan lereng timbunan dan lereng saluran samping menerus 1:3.
b) Apabila lahan ROW tidak mencukupi (clear zone tidak diterapkan)
1. Langkah Pertama: Clear zone tidak diterapkan, lereng timbunan di luar bahu jalan dan lereng saluran samping 1:3.
2. Langkah Kedua: Bila langkah pertama tidak dapat diterapkan maka lereng 1:3 ditiadakan dan digunakan guardrail
dengan menerapkan ruang defleksi 1 m setelah bahu jalan, kemiringan lereng timbunan setelah ruang defleksi
disarankan 1:2, saluran dapat berupa saluran tanah atau pasangan batu/beton.
PAKET PEKERJAAN No. Paket : KONSULTAN PERENCANA Judul Gambar :
REPUBLIK INDONESIA No. Ruas : Logo Konsultan Digambar Direncanakan Diperiksa No. Lembar : 1.03.2
POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Nama Ruas : PADA DAERAH TIMBUNAN 2,75 m < h ≤ 5 m
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Provinsi : (KECEPATAN RENCANA 80 km/jam) Jml. Lembar :
Juru Gambar Ahli Jalan Raya Ketua Tim

TIPIKAL POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA PADA DAERAH TIMBUNAN 2,75 m < h ≤ 5 m
( KECEPATAN RENCANA 80 km/jam )

1000
DRAINASE

6260 1000 VARIASI


1500
ROUNDING

750 750
CLEAR ZONE

3000
3000
BAHU
LUAR
2 @ 3600 = 7200
JALUR LALU - LINTAS
1500
BAHU
DALAM
ROW

25900

2500

AN
1500
BAHU
DALAM
2 @ 3600 = 7200
JALUR LALU - LINTAS
CLEAR ZONE

3000
BAHU
LUAR
3000
1500
ROUNDING

750 750
VARIASI 1000
DRAINASE

6260 1000

I CL

N
L
FG FG

-2 % -2%

A
RUMIJA

RUMIJA
1:3
1:3
2750 < h ≤ 5000

10% 10%

S
1:3
1:3 1:3
800

800
1:3

1200
PENLOK SUDAH TERBIT, MENERAPKAN CLEAR ZONE, LAHAN ROW MENCUKUPI 1200

CATATAN DAN KETENTUAN :

A. Kondisi Belum Terbit Penlok


1. Clear zone tidak diterapkan tetapi lereng timbunan diterapkan dengan kemiringan 1:3.
2. Lereng saluran samping diterapkan dengan kemiringan 1:3.
3. Antara bahu jalan dan lereng timbunan diberi verge rounding dengan lebar 1,5 m.

B. Kondisi Sudah Terbit Penlok


a) Apabila lahan ROW mencukupi
1. Clear zone diterapkan dengan kemiringan fore slope 1:6.
2. Antara clear zone dan lereng timbunan diberi verge rounding dengan lebar 1,5 m.
3. Kemiringan lereng timbunan dan lereng saluran samping menerus 1:3.
b) Apabila lahan ROW tidak mencukupi (clear zone tidak diterapkan)
1. Langkah Pertama: Clear zone tidak diterapkan, lereng timbunan di luar bahu jalan dan lereng saluran samping 1:3.
2. Langkah Kedua: Bila langkah pertama tidak dapat diterapkan maka lereng 1:3 ditiadakan dan digunakan guardrail
dengan menerapkan ruang defleksi 1 m setelah bahu jalan, kemiringan lereng timbunan setelah ruang defleksi
disarankan 1:2, saluran dapat berupa saluran tanah atau pasangan batu/beton.
PAKET PEKERJAAN No. Paket : KONSULTAN PERENCANA Judul Gambar :
REPUBLIK INDONESIA No. Ruas : Logo Konsultan Digambar Direncanakan Diperiksa No. Lembar : 1.03.3
POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Nama Ruas : PADA DAERAH TIMBUNAN 2,75 m < h ≤ 5 m
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Provinsi : (TANPA CLEAR ZONE) Jml. Lembar :
Juru Gambar Ahli Jalan Raya Ketua Tim

TIPIKAL POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA PADA DAERAH TIMBUNAN 2,75 m < h ≤ 5 m
( TANPA CLEAR ZONE )

1000
DRAINASE

6260 1000 VARIASI


1500
ROUNDING

750 750
3000
BAHU
LUAR
2 @ 3600 = 7200
JALUR LALU - LINTAS
1500
BAHU
DALAM
ROW

25900

2500

AN
1500
BAHU
DALAM
2 @ 3600 = 7200
JALUR LALU - LINTAS
3000
BAHU
LUAR
1500
ROUNDING

750750
VARIASI 1000
DRAINASE

6260 1000

I CL

N
L
FG FG

-2 % -2%

A
RUMIJA

RUMIJA
1:3
1:3
≤ 5000

10% 10%

S
1:3
1:3 1:3
800

800
1:3

1200 1200

CATATAN DAN KETENTUAN :

A. Kondisi Belum Terbit Penlok


1. Clear zone tidak diterapkan tetapi lereng timbunan diterapkan dengan kemiringan 1:3.
2. Lereng saluran samping diterapkan dengan kemiringan 1:3.
3. Antara bahu jalan dan lereng timbunan diberi verge rounding dengan lebar 1,5 m.

B. Kondisi Sudah Terbit Penlok tetapi ROW Tidak Mencukupi


1. Langkah pertama: Clear zone tidak diterapkan, lereng timbunan di luar bahu jalan dan lereng saluran samping 1:3.
2. Langkah kedua: Bila langkah pertama tidak bisa diterapkan, maka lereng timbunan 1:3 ditiadakan dan digunakan guardrail dengan
menerapkan ruang defleksi 1 m setelah bahu jalan, kemiringan lereng timbunan setelah ruang defleksi disarankan 1:2, saluran dapat
berupa saluran tanah atau pasangan batu/beton.
PAKET PEKERJAAN No. Paket : KONSULTAN PERENCANA Judul Gambar :
REPUBLIK INDONESIA No. Ruas : Logo Konsultan Digambar Direncanakan Diperiksa No. Lembar : 1.04
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA
Nama Ruas : PADA DAERAH TIMBUNAN h > 5 m
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA Provinsi : Jml. Lembar :
Juru Gambar Ahli Jalan Raya Ketua Tim

TIPIKAL POTONGAN MELINTANG JALAN UTAMA PADA DAERAH TIMBUNAN h > 5 m

≥ 3000
DRAINASE

3000 1000 VARIASI 3000 10000


1500
ROUNDING

750 750 1000


3000
BAHU
LUAR
2 @ 3600 = 7200
JALUR LALU - LINTAS
1500
BAHU
DALAM
ROW

25900

2500

AN
1500
BAHU
DALAM
2 @ 3600 = 7200
JALUR LALU - LINTAS
3000
BAHU
LUAR
1500
ROUNDING

1000 750750
10000 3000 VARIASI 1000
DRAINASE

3000 ≥ 3000

N
CL

1:
2
-2 %

L I FG FG

-2%

1:
2
5000

A
4% 4%
RUMIJA

RUMIJA
2 1:
1: 2
≤ 5000
DS 1 10% DS 1
10%

CATATAN DAN KETENTUAN :


1. Clear zone tidak diterapkan.
S
2. Di luar bahu jalan dipasang guardrail dengan ruang defleksi 1 m dan diberi verge rounding dengan lebar 1,5 m terhadap lereng timbunan.
3. Saluran dapat berupa saluran tanah atau pasangan batu/beton.

Pada lokasi timbunan, selain dari ketentuan sebelumnya ketentuan berikut harus
dipenuhi, antara lain:
1. Kemiringan lereng timbunan pada sisi luar guardrail (badan timbunan),
didasarkan pada hasil analisis geoteknik.
2. Permukaan lereng di luar bahu jalan yang berupa tanah harus diberi gebalan
rumput (solid sodding).
A N
B. KEREB
I N BETON

A L
S
PAKET PEKERJAAN No. Paket : KONSULTAN PERENCANA Judul Gambar :
REPUBLIK INDONESIA No. Ruas : Logo Konsultan Digambar Direncanakan Diperiksa No. Lembar : 1.05
KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT Nama Ruas : KEREB TIPE S
DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA
Provinsi : Jml. Lembar :
Juru Gambar Ahli Jalan Raya Ketua Tim

150 N

50
300 400
400

N A TAMPAK ATAS
(Ukuran dalam mm)

L I
150

150
80

80
A
300
400

TAMPAK SAMPING TAMPAK DEPAN


(Ukuran dalam mm)

S
(Ukuran dalam mm)

Kereb Tipe S
Dimensi :

Panjang : 40 cm
Lebar : 30 cm
CATATAN :
Tinggi (Depan) : 8 cm
1. Kemiringan melintang trotoar 2 - 4 % Tinggi (Belakang) : 15 cm
2. Semua ukuran dalam milimiter
3. Kerb tipe A Kerb peninggi
4. Kerb tipe B Kerb peninggi berparit

Anda mungkin juga menyukai