BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pelayanan
2.1.1. Pengertian Pelayanan
Pelayanan merupakan hal yang paling utama dalam setiap organisasi atau
perusahaan karena dengan pelayanan yang terbaik akan mampu bersaing dengan
perusahaan-perusahaan pesaing. Berikut adalah beberapa pendapat dari para ahli tentang
pelayanan yaitu :
Menurut Moenir (2015:17) “Pelayanan adalah proses pemenuhan kebutuhan
aktivitas orang lain”.
Menurut Kotler dalam Daryanto dan Setyabudi (2014:135) menjelaskan bahwa:
“pelayanan adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu perkumpulan atau
kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat pada suatu produk
secara fisik”.
Menurut Gronroos dalam Daryanto dan Setyabudi (2014:135) mendefinisikan
bahwa “pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat
tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi
antara konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh
perusahaan pemberian pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan
permasalahan konsumen/pelanggan”.
Menurut Riyanto dalam (Nurhidayati &Silpia 2018) ”Pelayanan merupakan salah
satu bentuk kegiatan/aktifitas yang diberikan oleh satu pihak atau lebih kepada pihak
lain yang memiliki hubungan dengan tujuan untuk dapat memberikan kepuasan kepada
pihak kedua yang bersangkutan atas barang dan jasa yang diberikan”.
8
9
Menurut Semil dalam (Nurhidayati & Silpia 2018) ”hakikat pelayanan publik
adalah pemberian pelayanan yang memuaskan kepada khalayak umum (masyarakat)
sebagai perwujudan dari kewajiban aparatur pemerintah sebagai abdi negara dan abdi
masyarakat”.
Pengertian pelayanan Ratminto dalam (Nurdiansyah,Andriani,&Hastuti 2019)”
Pelayanan adalah produk-produk yang tidak kasat maya yang melibatkan usaha-usaha
manusia menggunakan peralatan”.
Dari pengertian pelayanan diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan adalah
suatu kumpulan tindakan nyata untuk memenuhi orang lain yang melakukan kegiatan
menguntungkan untuk suatu kepuasan.
2.1.2. Karakteristik Pelayanan
Karakteristika pelayanan menurut Suyono dalam Karlina, Rosanto, dan Saputra (2019)
mengemukakan bahwa jasa atau layanan dapat dibedakan menjadi empat yaitu:
1. Tidak berwujud: pelayanan atau jasa mempunyai sifat tidak berwujud karena tidak bisa
di lihat, diraba, didengar atau dicium sebelum ada interaksi pembelian, agar kepercayaan
konsumen dapat ditingkatkan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
meningkatkan visualisai pelayanan, memberi pelaynan tidak haya menggambarkan ciri-
ciri suatu pelayanan tetapi lebih meningkatkan manfaat dari jasa tersebut, penataan fisik
pelayaan yang cepat dan efisien dan menimbulkan kesan yang berish dan rapih, penataan
dokumentasi harus dilakukan dengan rapih terjamin keamanananya dan efisien.
9
10
2. Tidak dapat di pisahkan: pelayanan tidak bisa dipisahkan dari sumbernya, apabila
sumber tersebut merupakan orang atau mesin sehingga produk fisik yang berwujud tetap
ada.
3. Heterogenitas: standarisasi output setiap unit jasa itu berbeda satu sama lain
4. Cepat hilang dan peminatan yang fluktuasi: pelayanan cepet hilang tidak bisa di
simpan dan berubah-ubah menurut musim,jam dan hari.
2.1.3. Dimensi Kualitas Pelayanan
Menurut Hardiyansyah dalam (Mulyapradana dan Rizky 2017) suatu model dimensi
kualitas jasa yang ideal baru memenuhi beberapa syarat apabila:
1. Dimensi harus bersifat satuan yang komprehensif, artinya dapat menjelaskan karakteristik
secara menyeluruh mengenai persepsi terhadap kualitas karena adanya perbedaan dari
masing- masing dimensi yang diusulkan.
2. Model juga harus bersifat umum, artinya masing- masing dimensi harus bersifat
umum dan valid untuk berbagai spektrum bidang jasa.
3. Masing- masing dimensi dalam model yang diajukan haruslah bersifat bebas.
4. Sebaiknya jumlah dimensi dibatasi (limited).
2.2. Pelayanan Umum
2.2.1. Pengertian Pelayanan Umum
Menurut Setyobudi dan Daryanto (2014:141) Pelayanan umum yang harus diberikan
pemerintah terbagi dalam beberapa kelompok, yaitu :
11
1. Pelayanan Administratif yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai dokumen resmi
yang dibutuhkan oleh publik, misalnya: Pembuatan Kartu Tanda Peduduk (KTP),
Sertifikat Tanah, Akta Kelahiran, Akta Kematian, Bukti Kepemilikan Kendaraan
Bermotor (BPKB), Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK), Ijin Mendirikan Bangunan
(IMB), Paspor, dan sebagainya.
2. Pelayanan Barang yaitu menghasilkan berbagai bentuk/jenis barang yang digunakan
oleh publik, misalnya: jaringan telepon, penyedia tenaga listrik, penyediaan air bersih.
3. Pelayanan Jasa yaitu pelayanan yang menghasilkan berbagai jasa yang dibutuhkan
oleh publik, misalnya: pendidikan tinggi dan menengah, pemeliharaan kesehatan,
penyelenggaraan transportasi, jasa pos, sanitasi lingkungan, persampahan, drainase,
jalan dan trotoar, penanggulangan bencana banjir, gempa gunung meletus, kebakaran
dan pelayanan sosial (asuransi atau jaminan sosial/sosial security).
4. Pelayanan Regulatif yaitu pelayanan melalui penegakan hukum dan peraturan
perundang-undangan, maupun kebijakan publik yang mengatur sendi-sendi kehidupan
masyarakat.
2.2.2. Bentuk-Bentuk Layanan
Menurut Moenir (2015:190) Layanan umum yang dilakukan oleh siapapun, bentuknya
tidak terlepas dari 3 macam yaitu :
1. Layanan dengan lisan
Layanan dengan lisan dilakukan oleh petugas-petugas di bidang Hubungan Masyarakat
(HUMAS), bidang layanan informasi dan bidang-bidang lain yang tugasnya memberikan
penjelasan atau keterangan kepada siapapun yang memerlukan.
12
2. Layanan melalui tulisan
Layanan melalui tulisan merupakan bentuk layanan yang paling menonjol dalam
pelaksanaan tugas, tidak hanya dari segi jumlah tetapi juga dari segi peranannya.
3. Layanan berbentuk perbuatan
Pada umumnya layanan dalam bentuk perbuatan 70% -80% dilakukan oleh petugas-
petugas tingkat menengah dan bawah. Faktor keahlian dan keterampilan petugas tersebut
sangat menentukan terhadap hasil perbuatan dan pekerjaan.
2.2.3. Sasaran Pelayanan
Menurut Moenir (2015:196) Sasaran Manajemen Pelayanan Umum sederhana saja,
yaitu kepuasan. Manajemen pelayanan juga mempunyai fungsi untuk menetapkan pola
pelayanan yang terbaik menurut ukuran organisasi (berdasarkan sistem, prosedur dan
metode yang baku). Mengenai kepuasan sebagai sasaran utama manajemen pelayanan,
didalamnya terdiri atas dua komponen besar yaitu :
1. Layanan
Agar layanan dapat memuaskan kepada orang atau sekelompok orang yang dilayani,
maka si pelaku dalam hal ini petugas harus dapat memenuhi empat persyaratan pokok,
ialah :
a. Tingkah laku yang sopan
b. Cara menyampaikan sesuatu yang berkaitan dengan apa yang seharusnya diterima
oleh orang yang bersangkutan.
c. Waktu menyampaikan yang tepat.
d. Keramahan.
13
2. Produk
Produk yang dimaksud dalam hubungan dengan sasaran manajemen pelayanan yaitu
kepuasan yang dapat berbentuk, antara lain:
a. Barang
b. Jasa
c. Surat berharga
2.2.4. Pengertian Pelayanan Publik
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik memberikan
definisi pelayanan publik adalah kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara dan penduduk atas
barang,jasa, dan/atau pelayanan administratif yang disediakan oleh penyelenggara pelayanan
publik.
Menurut J.S. Bowman dalam (Nurdiansyah, Andriani & Hastuti 2019) “pelayanan
publik merupakan lembaga rakyat yang memberi pelayanan kepada warga Negara,
memperjuangkan kepentingan kolektif dan menerima tanggung jawab untuk memberi hasil”.
Menurut Ratminto dan Winarsih dalam (Nurdiansyah, Andriani &Hastuti 2019)
menyimpulkan bahwa “pelayanan publik atau pelayanan umum dapat didefinisikan
sebagai segala bentuk jasa pelayanan, baik dalam bentuk barang publik maupun jasa
publik yang pada prinsipnya menjadi tanggung jawab dan dilaksanakan oleh instansi
pemerintah di pusat, daerah dan lingkungan dalam upaya memenuhi kebutuhan
masyarakat”.
Menurut Indri dan Hayat (2015), adalah memberikan pelayanan secara profesional dan
berkualitas yang mempunyai implikasi positif terhadap kepuasan masyarakat. Profesionalitas
pelayanan ditunjang oleh sikap dan perilaku dalam pemberian layanan. Sumber daya manusia
menjadi indikator penting dalam pelayanan publik.
14
Menurut Sinambela dkk dalam Mulyadi dkk (2018:39) mendefinisikan “pelayanan
publik dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah terhadap
sejumlah manusia yang memiliki setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu
kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak terikat
pada suatu produk secara fisik.”
Menurut Kurniawan dalam Mulyadi dkk (2018:39) “pelayanan publik dapat diartikan
sebagai pemberian pelayanan (melayani) keperluan orang atau masyarakat yang mempunyai
kepentingan pada organisasi itu sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang telah
ditetapkan.”
Dari pengertian pelayanan publik diatas dapat disimpulkan bahwa pelayanan publik
dapat dimaknai sebagai aktivitas pelayanan yang dilakukan oleh lembaga pemerintah untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat.
2.2.5. Tujuan Pelayanan Publik
Menurut Pasal 3 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 menyebutkan bahwa tujuan
pelayanan publik antara lain :
1. Terwujudnya batasan dan hubungan yang jelas tentang hak, tanggung jawab, kewajiban,
dan kewenangan seluruh pihak yang terikat dengan penyelenggaraan pelayanan publik.
2. Terwujudnya sistem penyelenggaraan pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas-
asas umum pelayanan publik yang layak sesuai dengan asas-asas umum pemerintahan
dan korporasi yang baik.
3. Terpenuhnya penyelenggaraan pelayanan publik sesuai dengan peraturan perundang-
undangan; dan
4. Terwujudnya perlindungan dan kepastian hukum bagi masyarakat dalam
penyelenggaraan pelayanan publik.
15
2.2.6. Kualitas Pelayanan Publik
Dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, perlu diperhatikan komponen-
komponen pelayanan, yang meliputi sebagai berikut:
1. Prosedur pelayanan: Prosedur pelayanan yang dibakukan bagi pemberi dan
penerima pelayanan termasuk pengaduan.
2. Waktu penyelesaian : ditetapkan sejak saat pengajuan permohonan sampai dengan
penyelesaian pelayanan termasuk pengaduan.
3. Biaya pelayanan dalam hal ini biaya/tarif pelayanan termasuk rinciannya yang
ditetapkan dalam proses pemberian layanan.
4. Produk pelayanan, hasil pelayanan yang akan diterima sesuai dengan ketentuan
yang telah ditetapkan.
5. Sarana dan prasarana harus disesuaikan secara memadai oleh penyelenggara
pelayanan publik.
6. Kompetensi petugas pemberi pelayanan,harus ditetapkan dengan tepat
berdasarkan pengetahuan, keahlian, keterampilan, sikap, dan perilaku yang
dibutuhkan.
Sedangkan menurut Wyok dalam (Karlina, Rosanto,& Saputra 2019) “kualitas
pelayanan merupakan tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas keunggulan
tersebut untuk memenuhi kebutuhan konsumen”.
2.2.7. Etika Publik
16
Menurut Haryatmoko dalam Mulyadi dkk (2018:50) konsep moral selalu dikaitkan
dengan kewajiban khusus, dihubungkan norma sebagai cara bertindak yang berupa tuntutan,
entah mutlak. Oleh karena itu, konsep etika publik dalam buku ini dimaknai sebagai refleksi
tentang standar atau norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan atau
keputusan untuk mengarahkan aparatur birokrasi pemerintahan dalam rangka menjalankan
tanggung jawab pelayanan publik.
Menurut Paul Ricoeur dalam Mulyadi dkk (2018:50) mengemukakan bahwa
“penggunaan istilah moral dan etika ditinjau dari dua tradisi pemikiran filsafat yang berbeda.
Istilah moral dikaitkan tradisi pemikiran filosofis Immanuel Kant. Konsep moral
pemahamannya lebih mengarah pada kewajiban norma, prinsip-prinsip bertindak, dan norma
yang berasal dari akal budi yang mengacu ke dirinya sendiri sebagai keharusan. Sedangkan
konsep etika dalam tradisi pemikiran Aristoteles lebih bersifat tujuan, sehingga pemahaman
terhadap konsep etika adalah tujuan yang baik bersama dan untuk orang lain di dalam institusi
yang adil”.
Dari pengertian etika publik diatas dapat disimpulkan sebagai refleksi tentang standar atau
norma yang menentukan baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan atau keputusan untuk
mengarahkan aparatur birokrasi pemerintahan dalam rangka menjalankan tanggung jawab
pelayanan publik.
2.2.8. Pengertian Online
Online merupakan suatu istilah yang digunakan pada saat terhubung dengan internet.
Menurut Andi dalam (Yesi, Siswanto, & Yupianti 2015) Online berfungsi sebagai
petunjuk waktu saat memakai internet. Online adalah terhubung, terkoneksi, aktif dan siap
17
untuk operasi, dapat berkomunikasi atau dikontrol oleh komputer. Online ini biasanya
digunakan sebagai istilah untuk menyebutkan suatu keadaan komputer yang terkoneksi
kejaringan internet.
Dari pengertian online dapat disimpulkan online merupakan pemakaian internet melalui
komputer sehingga dapat terhubung dan siap untuk beroperasi.
2.2.9. Pengertian Pelayanan Secara Online
Pelayanan secara online adalah pelayanan melalui website atau internet untuk
menyampaikan informasi-informasi seiring dengan perkembangan zaman dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi. Kekurangan dari media online adalah tidak semua orang apalagi
masyarakat miskin dapat menggunakannya. Menurut Budi Harjono dalam (Yesi 2015) Website
adalah aplikasi yang disimpan di lingkungan web server. Setiap permintaan yang dilakukan oleh
user melalui web browser akan direspon oleh aplikasi web dan hasilnya akan dikembalikan lagi
kehadapan user.
Sedangkan internet adalah data yang disimpan dalam server yang hanya dapat diakses
oleh pihak-pihak tertentu. Menurut Andi dalam (Yesi 2015) Internet adalah jaringan komunikasi
global yang terbuka dan menghubungkan ribuan jaringan komputer, yang menawarkan
kecepatan jaringan beragam. Dari definisi dapat disimpulkan bahwa internet adalah jaringan
komputer yang bersifat global, sebagai fasilitas berbagi informasi tanpa batas.
2.2.10. Pengertian Apoteker
Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus sebagai apoteker dan telah mengucapkan sumpah
jabatan apoteker. Peran Apoteker dituntut untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku
18
agar dapat melaksanakan interaksi langsung dengan pasien. Bentuk interaksi tersebut antara lain adalah
pemberian informasi Obat dan konseling kepada pasien yang membutuhkan. Apoteker harus memahami
dan menyadari kemungkinan terjadinya kesalahan pengobatan (medication error) dalam proses
pelayanan dan mengidentifikasi, mencegah, serta mengatasi masalah terkait Obat (drug related
problems). Untuk menghindari hal tersebut, Apoteker harus menjalankan praktik sesuai standar
pelayanan. Apoteker juga harus mampu berkomunikasi dengan tenaga kesehatan lainnya dalam
menetapkan terapi untuk mendukung penggunaan Obat yang rasional. Dalam melakukan praktik tersebut,
Apoteker juga dituntut untuk melakukan monitoring penggunaan Obat, melakukan evaluasi serta
mendokumentasikan segala aktivitas kegiatannya. Untuk melaksanakan semua kegiatan itu, diperlukan
Standar Pelayanan Kefarmasian. Apoteker juga dapat melayani Obat non Resep atau pelayanan
swamedikasi. Apoteker harus memberikan edukasi kepada pasien yang memerlukan Obat non Resep
untuk penyakit ringan dengan memilihkan Obat bebas atau bebas terbatas yang sesuai.