PERSEPSI &
ATRIBUSI
Persepsi adalah akar dari semua perilaku organisasi. Di dalam suatu
kelompok atau organisasi terdapat hubungan antarpribadi yang bersifat
vertikal yaitu hubungan antara atasan dengan bawahan dan sebaliknya,
dan hubungan yang bersifat horizontal yaitu hubungan dengan orang-
orang yang setingkat dalam struktur organisasi. Persepsi terhadap perilaku
orang lain menentukan keharmonisan hubungan tersebut. Menurut
Schermerhorn, Hunt, dan Osborn, persepsi adalah proses yang dilalui
Persepsi
orang-orang di dalam menerima, mengatur, dan menafsirkan informasi dari
lingkungan. Persepsi adalah cara membentuk kesan tentang diri, orang lain,
dan pengalaman hidup sehari-hari. Kualitas dan ketepatan persepsi
seseorang, mempunyai pengaruh besar terhadap responnya untuk suatu
situasi tertentu. Menurut Ivancevich, Konopaske, dan Matteson, persepsi
adalah proses yang dilalui individu dalam memberikan arti dari suatu
lingkungan tertentu dengan melibatkan pengaturan dan
penginterprestasian berbagai macam stimuli (rangsangan) ke dalam sebuah
pengalaman psikologis. Secara umum, orang-orang mempersepsikan stimuli
yang memenuhi kebutuhan, emosi, sikap, atau konsep diri. Individu
mencoba untuk mengartikan stimuli lingkungan dengan pengamatan,
pemilihan, dan penerjemahan. Menurut Kinicki dan Kreitner, persepsi
adalah proses kognitif yang memungkinkan kita menafsirkan dan memahami
keadaan di sekitar kita. Pengenalan obyek adalah fungsi utama dari proses
ini. Karena fokus utama perilaku organisasi adalah orang, maka penekanan
Kinicki dan Kreitner pada persepsi sosial bukan persepsi obyek.
Kesadaran sosial adalah jendela yang kita semua menggunakannya untuk
mengamati, menafsirkan, dan menyiapkan tanggapan kita terhadap orang
atau kejadian. Aktivitas manajemen yang sangat beraneka ragam, proses-
proses organisasional, dan masalah kualitas kehidupan, semuanya
dipengaruhi oleh persepsi.
Proses persepsi menerangkan cara informasi (stimuli) dari lingkungan sekitar kita dipilih dan diorganisasikan, untuk memberikan makna bagi
individu. Persepsi adalah fungsi mental dari pemberian makna informasi semacam bentuk, warna, gerakan, rasa, suara, sentuhan, bau, rasa sakit,
tekanan dan perasaan. Proses persepsi didasarkan atas keterbatasan individu. Faktor psikologis juga akan mempengaruhi apa yang dipersepsikan.
Perlu diketahui bersama bahwa, sebuah persepsi muncul atau terjadi tidak instan begitu saja. Ada tahapan-tahapan proses yang dilalui sehingga
informasi yang terkumpul melahirkan sebuah persepsi terhadap objek persepsi. Bimo Walgito menjelaskan (yang maknanya lebih kurang) yaitu:
Sebuah persepsi terbentuk melalui tahapan-tahapan proses, antara lain:
Adanya objek yang menimbulkan rangsangan stimulus.
Kemudian stimulus tersebut memicu alat indera atau reseptor (disebut proses kealaman reseptor).
Lalu, stimulus yang diterima oleh alat indera atau reseptor diteruskan oleh syaraf sensorik ke otak (disebut proses fisiologis).
Kemudian terjadi sebuah proses di dalam otak, sehingga individu tersebut mampu menyadari apa yang telah ia terima dari reseptor atau alat
indera. Terjadinya proses di bagian pusat otak ini dikenal dengan sebutan proses psikologis.
Ketika seseorang telah menyadari apa yang diterima melalui reseptor ke bagian otak
pusat, lalu mendapatkan sebuah kesimpulan dari informasi yang ia terima. Maka itulah
yang disebut dengan proses terjadinya persepsi. Persepsi adalah sesuatu yang
dihasilkan melalui tahapan proses, hingga kemudian menghasilkan sebuah tanggapan,
respon, atau kesimpulan, dan siap untuk disampaikan kepada manusia.
Adapun sub-sub dari proses terjadi persepsi itu sendiri antara lain ialah:
1. Pengenalan
2. Perasaan
3. Penalaran
Persepsi dan kognisi (proses memperoleh pengetahuan), berperan sangat penting pada
seluruh kegiatan psikologis. Dan sejauh ini, sebuah proses persepsi terdiri dari 3
komponen utama, sebagai berikut:
1. Seleksi
Seleksi merupakan komponen pertama yang bertugas menyaring rangsangan dari luar,
baik itu berupa jenis, intesitas atau banyak sedikitnya rangsangan yang masuk.
2. Interpretasi
Yang dimaksud dengan interpretasi disini ialah sebuah proses mengorganisasikan
informasi, sehingga informasi tersebut memiliki arti dan makna bagi seseorang.
Beberapa faktor yang mempengaruhi sebuah interpretasi antara lain seperti:
pengalaman, motivasi, intelegensi (kecerdasan), kepribadian, dan sistem nilai yang ia
anut.
3. Menyimpulkan
Komponen ketiganya ialah menterjemahkan atau menyimpulkan interpretasi dan
persepsi ke dalam bentuk tingkah laku sebagai reaksi terhadap objek persepsi.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERSEPSI
Fakor internal merupakan faktor yang mempengaruhi persepsi dari dalam diri individu. Faktor
internal mencakup beberapa hal, antara lain sebagai berikut:
1. Fisiologis. Informasi masuk melalui alat indera, selanjutnya informasi yang diperoleh ini akan
mempengaruhi dan melengkapi usaha untuk mempersepsi pada tiap orang berbeda-beda
sehingga interpretasi terhadap lingkungan juga dapat berbeda.
2. Perhatian. Individu memerlukan sejumlah energi yang dikeluarkan untuk memperhatikan atau
memfokuskan pada bentuk fisik dan fasilitas mental yang ada pada suatu obyek. Energi tiap
orang berbeda-beda sehingga perhatian seseorang terhadap obyek juga berbeda dan hal ini
akan mempengaruhi persepsi terhadap suatu obyek.
3. Minat. Persepsi terhadap suatu obyek bervariasi tergantung pada seberapa banyak energi
atau perceptual vigilance yang digerakkan untuk mempersepsi. Perceptual vigilance
merupakan kecenderungan seseorang untuk memperhatikan tipe tertentu dari stimulus atau
dapat dikatakan sebagai minat.
4. Kebutuhan yang searah. Faktor ini dapat dilihat dari bagaimana kuatnya seseorang individu
mencari obyek-obyek atau pesan yang dapat memberikan jawaban sesuai dengan dirinya.
5. Pengalaman dan ingatan. Pengalaman dapat dikatakan tergantung pada ingatan dalam arti
sejauh mana seseorang dapat mengingat kejadian-kejadian lampau untuk mengetahui suatu
rangsang dalam pengertian luas.
6. Suasana hati. Keadaan emosi mempengaruhi perilaku seseorang, mood ini menunjukkan
bagaimana perasaan seseorang pada waktu yang dapat mempengaruhi bagaimana
seseorang dalam menerima, bereaksi dan mengingat.
Faktor Eksternal merupakan faktor yang mempengaruhi persepsi, berupa karakteristik dari lingkungan dan obyek-obyek yang terlihat di dalamnya.
Elemen-elemen tersebut dapat mengubah sudut pandang seseorang terhadap dunia sekitarnya dan mempengaruhi bagaimana seseorang merasakannya
atau menerimanya. Faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi adalah sebagai berikut:
1. Ukuran dan penempatan dari obyek atau stimulus. Faktor ini menyatakan bahwa semakin besarnya hubungan suatu obyek, maka semakin mudah
dipahami. Bentuk ini akan mempengaruhi persepsi individu dan dengan melihat bentuk ukuran suatu obyek individu akan mudah untuk perhatian pada
gilirannya membentuk persepsi.
2. Warna dari obyek-obyek. Obyek-obyek yang mempengaruhi cahaya lebih banyak, akan lebih mudah dipahami (to be perceived) dibandingkan dengan
yang sedikit.
3. Keunikan dan kekontrasan stimulus. Stimulus luar yang penampilannya dengan latar belakang dan sekelilingnya yang sama sekali diluar sangkaan
individu yang lain akan banyak menarik perhatian.
4. Intensitas dan kekuatan dari stimulus. Stimulus dari luar akan memberi makna lebih sering diperhatikan dibandingkan dengan yang hanya sekali dilihat.
Kekuatan dari stimulus merupakan daya dari suatu obyek yang bisa mempengaruhi persepsi.
5. Motion atau gerakan. Individu akan banyak memberikan perhatian terhadap obyek yang memberikan gerakan dalam jangkauan pandangan
dibandingkan obyek yang diam.
Seleksi Karyawan
Persepsi orang adalah tempat kita semua mengamati, menafsirkan, dan
mempersiapkan diri kita meresprespon terhadap orang dan peristiwa. Ini
mempengaruhi berbagai kegiatan manajerial, proses organisasi, dan masalah
kualitas hidup. Mempekerjakan Pewawancara membuat keputusan perekrutan
berdasarkan kesan mereka tentang bagaimana seorang pelamar sesuai dengan
persyaratan pekerjaan yang dibutuhkan. Sayangnya, banyak dari keputusan ini
dibuat atas dasar kognisi implisit. Kognisi implisit mewakili setiap pemikiran atau
keyakinan yang secara otomatis diaktifkan dari memori tanpa kita sadari.
Adanya kognisi implisit, atau implisitbias, membuat orang mengambil keputusan
yang bias tanpa disadari mereka melakukannya. Sebuah studi tentang surat
rekomendasi untuk posisi pekerjaan akademik, misalnya, menunjukkan bahwa
orang merekomendasikan kandidat perempuan versus laki-laki dengan cara yang
berbeda, ini mungkin berdasarkan stereotip peran gender. Surat-surat
menggambarkan pelamar perempuan sebagai perhatian, ramah, dan baik,
sedangkan pelamar laki-laki kuat, tegas, dan luar biasa. Para ahli
Implikasi Manajerial merekomendasikan tiga solusi untuk mengurangi bias efek kognisi implisit.
Pertama, manajer dapat dilatih untuk memahami dan mengenali jenis bias
pada Persepsi tersembunyi ini. Kedua, mereka dapat menggunakan wawancara terstruktur
daripada tidak terstruktur. Pewawancara dapat mengajukan urutan pertanyaan
yang sama kepada semua pelamar pada wawancara terstruktur, yang mengarah
pada evaluasi yang lebih andal. Terakhir, manajer dapat mengandalkan evaluasi
dari banyak pewawancara daripada hanya satu atau dua orang. Lebih banyak
perusahaan sekarang menggunakan wawancara virtual sebagai alat untuk
mengurangi masalah yang terkait dengan kognisi implisit.
Penilaian Kinerja
Persepsi yang salah tentang kinerja dapat menyebabkan penilaian kinerja yang
tidak akurat dapat mengikis moral dan menggagalkan beberapa wanita menjadi
pemimpin dalam sebuah organisasi. Kita dapat mempertimbangkan hasil dari
sebuah studi baru-baru ini tentang bagaimana mantan CEO mempengaruhi
kesuksesan penerus perempuan mereka.
Lebih dari 20 tahun terakhir di seluruh perusahaan terbesar di Amerika Serikat,
temuan menunjukkan bahwa CEO wanita berhasil ketika pendahulu mereka yang
sebagian besar pria mempromosikan lingkungan kerja yang netral gender dan
berfungsi sebagai "penjaga gerbang", yang berarti CEO pria terlibat erat dalam
mempekerjakan, memilih, dan mensosialisasikan wanita dalam budaya organisasi
perusahaan, dan memberi mereka umpan balik berkelanjutan tentang kinerja
mereka, baik secara formal maupun informal.
Bias persepsi dalam penilaian kinerja dapat dikurangi dengan penggunaan yang
Implikasi Manajerial lebih objektif dalam penilaian kinerja. Meskipun ini adalah ide yang bagus, sulit
untuk diimplementasikan pada pekerjaan yang membutuhkan kerja yang saling
pada Persepsi tergantung, kerja mental, atau kerja yang tidak menghasilkan hasil yang objektif.
Perusahaan juga dapat mengurangi bias dengan memberikan mekanisme kepada
manajer untuk secara akurat mengingat perilaku karyawan, seperti buku harian
kinerja. Akhirnya, akan bermanfaat untuk melatih manajer tentang bias persepsi
dan tentang bagaimana mereka dapat menghindarinya dalam evaluasi kinerja.
Atribusi adalah usaha untuk mengetahui berbagai hal dan faktor yang menyebabkan
seseorang berperilaku serta mengalami suatu kejadian dengan mengetahui alasan-
alasan atas perilaku dan kejadian yang telah dialaminya tersebut. Saat berinteraksi
dengan orang lain, sering kali kita tidak hanya mengamati perilaku mereka dan dampak
dari perilaku tersebut, namun kita juga mencari tahu mengapa mereka melakukan
perilaku tersebut. Hal inilah yang dinamakan dengan atribusi, yaitu sebuah proses
dimana seorang pengamat menyimpulkan penyebab dari perilaku orang lain.
Dalam bukunya yang berjudul “The Psychology of Interpersonal Relations”, Fritz Heider
(1958) mengemukakan bahwa semua orang sejatinya bertingkah seperti seorang
ilmuwan, karena termotivasi untuk memahami orang lain dengan baik dalam rangka
untuk mengelola kehidupan sosial kita, oleh karena itu, kita semua akan mengamati,
menganalisis, dan menjelaskan perilaku orang lain tersebut. Penjelasan inilah yang
dinamakan dengan atribusi, dan teori yang menjelaskan prosesnya disebut teori atribusi
(attribution theory)
Atribusi Teori atribusi menjelaskan bahwa terdapat perilaku yang berhubungan dengan sikap
dan karakteristik individu, dengan demikian dapat dikatakan bahwa dengan melihat
perilaku individu, kita dapat mengetahui sikap atau karakteristik orang tersebut
sehingga dapat memprediksi perilaku seseorang dalam menghadapi situasi tertentu di
masa depan.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teori atribusi adalah usaha untuk
menginterpretasikan, mengetahui dan menjelaskan penyebab perilaku dan peristiwa
yang dialami serta dilakukan oleh seseorang berdasarkan berbagai faktor yang
menaunginya, baik faktor internal seperti usaha diri, maupun faktor eksternal seperti
kesulitan yang dihadapi.
Jenis Atribusi:
1. Atribusi personal terjadi ketika penyebab perilaku dikarenakan karakteristik
internal individu, seperti karakteristik kepribadian, kemampuan, dan suasana
hati (mood); sedangkan
2. Atribusi situasional menyimpulkan bahwa penyebab perilaku seseorang karena
faktor situasi atau eksternal, seperti situasi yang dihadapi memang menekannya
untuk melakukan hal tersebut seperti kejadian yang traumatis, ucapan orang
lain yang menyakitkan, dsb.
Sebagai catatan, selanjutnya atribusi personal dan situasional ini juga terkadang
disebut sebagai atribusi internal dan eksternal.
Jenis Atribusi:
Apakah orang memiliki waktu, motivasi, atau kapasitas kognitif untuk mengelaborasi dan berproses dengan penuh
perhatian ketika mengatribusi orang lain? Jawabannya, kadang ya, kadang tidak. Sebagai orang yang melakukan
persepsi sosial, kita memiliki keterbatasan kemampuan untuk memproses segala informasi yang relevan, atau kita
mungkin memang kurang terlatih untuk menggunakan prinsip-prinsip teori atribusi.
Lebih penting lagi, sering kali kita tidak berupaya untuk berpikir secara hati-hati tentang atribusi yang kita buat.
Dengan penjelasan yang begitu banyak dan kita tidak memiliki banyak waktu dalam sehari, orang sering kali
melakukan tindakan jalan pintas atau potong kompas (mental shortcut). Mental shortcut atau kesalahan atributsi
lainnya ini akan menghasilkan atribusi yang tidak akurat dan biasa disebut sebagai bias atribusi. Beberapa bias
atribusi yang dapat terjadi di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Heuristik kognitif (cognitive heuristic)
Menurut Daniel Kahneman dan Amos Tversky, orang sering melakukan atribusi dan tipe penilaian sosial lainnya
dengan menggunakan heuristic kognitif tertentu, di mana seseorang memproses informasi secara potong kompas
sehingga penilaian yang dilakukan dapat cepat, namun seringkali mengalami kesalahan.
2. Kesalahan atribusi mendasar (fundamental attribution error)
Pada bias ini, kita cenderung mempersepsikan tindakan orang lain disebabkan karena faktor personal atau internal
(disposisional), dan mengabaikan peranan faktor eksternal atau situasi sebagai penyebab sebuah perilaku.
3. Efek pelaku-pengamat (actor-observer effect)
Tipe kesalahan atau bias atribusi ini menjelaskan bahwa adanya kecenderungan kita mengatribusi perilaku diri sendiri
disebabkan faktor situasional (eksternal), sementara perilaku orang lain disebabkan karena faktor internal atau
personal (disposisional).
4. Bias mengutamakan diri sendiri (self-serving bias)
Bias ini menjelaskan bahwa ada kecenderungan kita mengatribusi perilaku kita yang positif karena faktor internal
atau personal, sementara untuk perilaku yang negatif kita atribusikan karena faktor eksternal atau situasional
Terima Kasih!