ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY.
DI PMB BD. ERMIYATI. [Link]. Keb KOTA DEPOK
TAHUN 2023
LAPORAN STUDI KASUS
Diajukan Untuk Menyelesaikan Pendidikan Program Studi
Diploma III Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pelita Ilmu
Disusun Oleh
Nama : Eva Syarifah
NIM : 1571152005
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PELITA ILMU DEPOK
2023
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. U
DI PMB BD. ERMIYATI. [Link]. Keb KOTA DEPOK
TAHUN 2023
LAPORAN STUDI KASUS
Diajukan Untuk Menyelesaikan Pendidikan Program Studi
Diploma III Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pelita Ilmu
Disusun Oleh
Nama : Eva Syarifah
NIM : 1571152005
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PELITA ILMU DEPOK
2023
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PELITA ILMU DEPOK
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
KEGIATAN BIMBINGAN STUDI KASUSU
TAHUN 2023
Nama :
NIM :
Pembimbing :
Judul :
No Hari/Tanggal Catatan Bimbingan Paraf
LEMBAR PERSETUJUAN
JUDUL : ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. U
DI PMB BD. ERMIYATI. [Link]. Keb KOTA DEPOK
TAHUN 2023
PENYUSUN : EVA SYARIFAH
NIM : 1571152005
Depok, Januari 2023
Mengetahui
Pembimbing I
Siva Faujiah., SST., [Link]
Ketua STIKes Pelita Ilmu Depok Ketua Program Studi Kebidanan
Rona Riasma., SST., [Link]
LEMBAR PERSETUJUAN
JUDUL : ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. U
DI PMB BD. ERMIYATI. [Link]. Keb KOTA DEPOK
TAHUN 2023
PENYUSUN : EVA SYARIFAH
NIM : 1571152005
Depok, Januari 2023
Mengesahkan,
Penguji I Penguji II
Mengetahui,
Ketua STIKes Pelita Ilmu Depok Ketua Program Studi Kebidanan
Rona Riasma., SST., [Link]
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga ilmu yang telah diberikan oleh
Allah SWT kepada penulis, maka penulis dapat menyelesaikan laporan studi
kasus yang berjudul “ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF PADA NY. U
DI PMB BD. ERMIYATI. [Link]. Keb KOTA DEPOK TAHUN 2023”
Adapun laporan studi kasus komprehensif ini diajukan dan dibuat sebagai
salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan akhir Diploma III Program
Studi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Pelita Ilmu Depok.
Selama pembuatan laporan studi kasus ini, penulis menyadari banyak
menemukan kesulitan dan hambatan. Namun atas segala bantuan, dorongan,
bimbingan dan arahan yang diberikan kepada penulis dari berbagai pihak, untuk
itu penulis mampu menyelesaikannya dengan baik. Oleh karena itu penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :
1. Ibu Dr. Hj. Emi Nurjasmi, [Link] selaku Ketua Yayasan Bina Keluarga
Bahagia.
2. Ibu Dr. Hj. Ade Jubaedah, [Link], MM, MKM selaku Ketua Sekolah Tinggi
Ilmu Kesehatan Pelita Ilmu Depok.
3. Ibu Vita Pratiwi, Siva Faujiah., SST., [Link] selaku pembimbing Asuhan
Kebidanan Komprehensif ini, dan dosen penguji II yang banyak meluangkan
waktu untuk memberikan bimbingan, arahan, saran, dan kritik dalam
penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
4. Ibu …… selaku dosen penguji I yang banyak meluangkan waktu untuk
memberikan bimbingan, arahan, saran, dan kritik dalam penyusunan Karya
Tulis Ilmiah ini.
5. Kepada wali kelas angkatan XV ibu Irma Dewi, [Link]., MKM. dan ibu
Denik yang telah memberikan arahan dan motivasi semangat dalam proses
Karya Tullis Ilmiah ini.
6. Para Dosen dan staf Akademi Kebidanan Pelita Ilmu yang telah memberikan
bantuan selama proses penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.
7. Ibu Bd. Ermiyati, [Link] Keb, selaku pembimbing lahan praktik yang telah
memberikan bimbingan, arahan dan bantuan selama penulis melaksanakan
praktik di PMB.
8. Kepada NY. U dan keluarga yang telah bersedia dan mau bekerja sama dalam
membantu untuk kelengkapan penulisan studi kasus ini.
9. Terima kasih kepada Orangtua tercinta yang saya sayangi terimakasih atas
kasih sayang dan support yang terus mengalir sampai sekarang ,doa yang
selalu terucap, bantuan moril maupun materil serta nasehat yang selalu
disampaikan dan kesabaran yang selama ini yang selalu diberikan dalam
mendidik dan membimbing saya.
10. Kepada teman-teman angkatan XV Akademi Kebidanan Pelita Ilmu terutama
bacas yang selalu memberikan motivasi sehingga penulis dapat
menyelesaikan studi dalam komperensif ini. Saya bangga mempunyai teman
seperjuangan dari berbagai daerah, suku, seperti kalian.
11. Terimakasih kepada keluarga besar saya yang telah mendoakan dan memberi
support kepada saya.
Pada laporan studi kasus ini, penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun demi penulisan studi kasus selanjutnya. Akhir kata semoga laporan
studi kasus ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Asuhan kebidanan pada kehamilan, persalinan, nifas, dan neonatus
merupakan faktor penting yang mempengaruhi AKI dan AKB. Angka
Kematian ibu dan bayi dapat terjadi karena komplikasi kebidanan selama
masa kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir. Kehamilan yang
fisiologis jika tidak dipantau dengan baik dapat mengarah pada keadaan
patologis yang dapat mengancam nyawa ibu dan bayi. Asuhan Kebidanan
sesuai dengan standar perlu dilakukan untuk menilai derajat kesehatan
masyarakat pada suatu negara dan mengurangi terjadinya peningkatan
AKI dan AKB (Kemenkes RI, 2018).
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB)
merupakan indikator derajat kesehatan disuatu wilayah dan menjadi salah
satu komponen indeks pembangunan maupun indeks kualitas hidup.
Menurut WHO. (2019) hasil pencapaian AKI sebesar 23,88 per 1000
kelahiran hidup sedangkan AKB sebesar 12,41 per 1000 kelahiran hidup.
Mengurangi AKI dan AKB merupakan salah satu indikator dalam Goals
ketiga dari program SDGs yang merupakan kelanjutan MDGs. Salah satu
sasaran SDGs adalah AKI diturunkan sampai 70 per 100.000 kelahiran
hidup pada tahun 2030 dan menurunkan AKB menjadi 16 per 1000
kelahiran hidup pada tahun 2024. Keberhasilan dari upaya kesehatan ibu
dan anak dapat dilihat dari AKI dan AKB yang merupakan hal mendasar
dalam menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan kualitas
pelayanan kesehatan ibu dan anak. (WHO, 2019).
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2021, jumlah
kematian ibu di Indonesia yang dihimpun Dari Pencatatan Program
Kesehatan Keluarga di Kementrian Kesehatan tahun 2021 sebesar 7.389
kasus. Sementara, jumlah kematian bayi sebesar 27.566 kasus.
Berdasarkan penyebab, sebagian besar kematian ibu pada tahun 2021
disebabkan oleh pendarahan sebanyak 1.320 kasus, COVID-19 sebanyak
2.982 kasus, hipertensi dalam kehamilan sebanyak 1.077 kasus, dan
gangguan sistem peredaran darah sebanyak 65 kasus dan penyebab
kematian bayi terbanyak adalah kondisi berat badan lahir rendah (BBLR).
Penyebab lainnya di antaranya asfiksia, infeksi, kelainan kongenital,
COVID-19, tetanus neonatorium dan lainnya. (Kemenkes RI, 2021).
Di Provinsi Jawa Barat Angka Kematian Ibu pada tahun 2021
sebanyak 1.181, jumlah ini menalami peningkatan peningkatan sebanyak
443 kasus dibandingkan tahun 2020 terdapat 745 kasus. Penyebab
kematian ibu masih didominasi oleh perdarahan dan hipertensi, meskipun
penyebab lain-lain juga masih tinggi. Sedangkan jumlah kematian bayi
sebanyak 2.627 kasus mengalami penurunan dibandingkan tahun 2020
yaitu sebanyak 2.760 kasus. (Dinkes Jabar, 2021).
Saat ini tingkat pencapaian untuk indikator jumlah kematian ibu
pada tahun 2021 Kota Depok yaitu sebanyak 155.58/100.000KH dengan
jumlah angka kematian ibu sebanyak 65 orang mengalami peningkatan di
banding tahun 2020 yaitu sebanyak 58 ,45/100.000 KH denan jumlah
angka kematian 26 orang. Penyebab kematian ibu di Kota
Depokdisebabkan oleh perdarahan, hipertensi dalam kehamilan, infeksi,
gangguansistemperedaran darah dan penyakit penyerta.
Sementara itu, Empat tahun kebelakang kejadian kematian bayi di
Kota depok yaitu tahun 2018 sebesar 1,55/1000KH, tahun 2019 sebesar
1,94/1000KH, tahun 2020 sebesar 1,19/1000KH dan tahun 2021 sebesar
1,39/1000KH. Dari beberapa rangkaian peristiwa kematian bayi faktor-
faktor penyebab kematian bayi diantaranya BBLR, asfiksia, sepsis,
kelainan bawaan, faktor fasilitasatau aksesibilitas dan pelayanan kesehatan
dari tenaga medis yang terampil serta kesediaan masyarakat untuk
merubah pola perilaku hidup. (Profil Kesehatan Kota Depok Tahun 2021)
Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang berperan
penting dalam menurunkan AKI dan AKB sekaligus memberikan asuhan
kebidanan pada siklus kehidupan wanita. Bidan melakukan asuhan sesuai
tugas dan wewenang bidan yang tercantum dalam UU No. 4 Tahun 2019
tentang Kebidanan dalam menyelenggarakan Praktik Kebidanan sesuai
standar Asuhan Kebidanan. Bidan bertugas memberikan pelayanan,
meliputi : pelayanan kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, pelayanan
kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana, melaksanakan
tugas berdasarkan pelimpahan wewenang dan pelaksanaan tugas dalam
keadaan keterbatasan tertentu.
Berdasarkan uraian tersebut, asuhan kebidanan yang komprehensif
merupakan hal yang penting yang dapat menurunkan angka mortalitas dan
morbiditas baik pada ibu maupun bayinya. Bidan harus mampu melakukan
asuhan sedini mungkin sebagai wujud deteksi dini terhadap komplikasi-
komplikasi yang mungkin terjadi. Oleh sebab itu penulis melakukan studi
kasus kebidanan dengan judul “Asuhan kebidanan komprehensif pada
masa kehamilan, persalinan, nifas, dan bayi baru lahir pada Ny. U di
PMB BD. ERMIYATI [Link]. Keb Kota Depok tahun 2023”.
1.2 Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Melakukan asuhan kebidanan secara komprehensif dari sejak
kehamilan, persalinan, nifas, serta bayi baru lahir pada Ny.U di PMB
Bd. Ermiyati [Link]. Keb Kota Depok tahun 2023 sesuai dengan standar
pelayanan kebidanan dan mendokumentasikan dalam bentuk SOAP.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian subjektif asuhan kebidanan pada
masa kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir pada Ny.U di
PMB Bd. Ermiyati [Link]. Keb Kota Depok tahun 2023
b. Dapat melakukan pengkajian objektif asuhan kebidanan pada masa
kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir pada Ny.U di PMB
Bd. Ermiyati [Link]. Keb Kota Depok tahun 2023
c. Dapat melakukan assesment atau diagnosa asuhan kebidanan pada
masa kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir pada Ny.U di
PMB Bd. Ermiyati [Link]. Keb Kota Depok tahun 2023
d. Dapat melaksanakan perencanaan asuhan kebidanan pada masa
kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir pada Ny.U di PMB
Bd. Ermiyati [Link]. Keb Kota Depok tahun 2023
e. Dapat mengevaluasi asuhan kebidanan pada masa kehamilan,
persalinan, nifas dan bayi baru lahir pada Ny.U di PMB Bd.
Ermiyati [Link]. Keb Kota Depok tahun 2023
1.3 Gambaran Khusus
Ny. U (40 tahun) G4P3A0 merupakan istri dari Tn. R (47 tahun) yang
beralamat Gg. Delman RT 003/008. Ny. U mengatakan ini merupakan
kehamilan keempat dan tidak pernah keguguran (G4P3A0). Hari Pertama
Haid Terakhir tanggal 23 Mei 2022
Pada tanggal 06 Februari 2023 pukul 08:30 WIB, Ny. U datang ke klinik
Bd. E dengan kunjungan pertama dengan mahasiswa, dengan diagnosa ibu
: G4P3A0. hamil 37 minggu , ibu mengatakan tidak ada keluhan untuk
saat ini, dengan TD 100/80 mmHg, S 36°C, N 81x/m, RR 21x/m, LILA 24
cm, BB 62 kg, TFU 29 cm, dan diagnosa janin: tunggal, hidup, letak
kepala dan belum masuk PAP (Divergent 3/5), dengan DJJ 137x/m, PM 1
tempat (kuadran kanan bawah pusat)
Pada tanggal 06 Februari 2023 pukul 19.30 WIB, Ny.N datang ke klinik
Bd. E dengan kunjungan ulang yang kedua pada mahasiswa , diagnosa
ibu : G4P3A0, hamil 37 minggu, ibu mengatakan adanya keluhan mulas
sejak sore, dengan TD 100/80 mmHg, S 36°C, N 82x/m, RR 20x/m, LILA
25 cm, BB 63 kg, TFU 29 cm, dan diagnosa janin: tunggal, hidup, letak
kepala dan belum masuk PAP (Divergent 3/5), dengan DJJ 135x/m, PM 1
tempat (kuadran kanan bawah pusat)
Pada tanggal 06 Februari 2023 Pukul 21.00 WIB, Ny. U G4P3A0, hamil
37 minggu , dengan keluhan mulas – mulas sejak sore. TD 120/80 mmHg,
nadi 82x/menit, suhu 36,5oC, RR 21x/menit, DJJ 140x/menit, TFU 29 cm,
HIS 4x10’40’’. Pemeriksaan dalam dinding vagina tidak ada kelainan,
porsio teraba lunak tipis, pembukaan 6 cm, ketuban utuh, posisi UUK
kanan depan, presentasi kepala, penurunan Hodge III, tidak ada molase.
Pada pukul 00.35 WIB Ny. U mengatakan adanya dorongan ingin
meneran, tampak adanya tekanan pada anus, perineum menonjol, dan vula
membuka. Dilakukan pemeriksaan dalam dengan hasil Dinding vagina
tidak ada massa, porsio tidak teraba, pembukaan lengkap (10 cm), ketuban
sudah pecah spontan pukul 00.40 WIB warna jernih, presentasi kepala,
posisi UUK kanan depan, sutura tidak ada molase, penurunan Hodge IV.
Pukul 01.15 WIB bayi lahir spontan, JK perempuan, menangis kuat, kulit
kemerahan, tonus otot baik. Pukul 01.35 WIB plasenta lahir spontan
lengkap. Dilakukan pemantaua kala IV untu memantau keadaan umu ibu
dengan pemantauan 15 menit di jam pertama, dan 30 menit di satu jam
terakhir
Pada tanggal 10 januari 2022 Pukul 10:10 WIB Ny.N usia 40 tahun P4A0
6 jam post partum. TD 120/80 mmHg, nadi 82x/menit, RR 21x/menit,suhu
36oC, TFU 2 jari di bawah pusat, kontraksi uterus baik, perdarahan 0 cc,
kandung kemih kosong, pengeluaran lochea rubra, warna kemerahan,
baunya khas. Ibu dan bayi dalam keadaan baik. Bayi neonatus usia 6 jam
DJB 143x/menit, RR 52x/menit, suhu 36,8oC,BB 2.900 gram, PB 48 cm,
kulit kemerahan, bayi cukup aktif dan dalam keadaan baik, sudah
dilakukan penyuntikkan HB 0 di paha kanan bagian luar.
1.4 Waktu dan Tempat Pengambilan Kasus
Pengambilan kasus Ny. U dilakukan di Praktik Mandiri Di Pmb
[Link] [Link] Kota Depok dengan menerapkan asuhan kebidanan
yang dimulai tanggal :
1. 6 Februari 2023 Jam 09.00 : Pemeriksaan Kehamilan pertama (uk 37
mgg)
2. 6 Februari 2023 Jam 19.00 : Pemeriksaan kehamilan ke dua (Uk 37
mgg)
3. 7 Februari 2023 : Pertolongan Persalinan
4. 7 Februari 2023 : Kunjungan bayi baru lahir 1 jam
5. 7 Februari 2023 : Kunjungan pertama neonatus usia 6 Jam
6. 7 Februari 2023 : Kunjungan pertama nifas 6 jam
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1Asuhan Kebidanan Kehamilan
1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan ialah suatu proses alami dalam kehidupan terjadinya
pembuahan sel telur oleh sel spema di masa ovulasi yang berproses menjadi
janin dan selama kehamilan ibu harus diberikan perawatan yang penting
serta intervensi yang tepat (Homer, 2019; I. K. Sari, 2015; World Health
Organization, 2017).
Kehamilan dimulai dengan proses bertemunya sel telur dan sel
sperma sehingga terjadi fertilasi, dilanjutkan implantasi sampai lahirnya
janin (Syaiful et al, 2019)
Kehamilan adalah sebuah proses yang dimulai dari tahap konsepsi
sampai lahirnya janin. Lamanya kehamilan normal adalah 280 hari (40
minggu) dihitung dari hari pertama haid terakhir (Widatiningsih & Dewi,
2017).
Dari pengertian – pengertian di atas, disimpulkan bahwa kehamilan
merupakan sebuah proses alami bertemunya sel telur dan sel sperma yang
dimulai dari tahap konsepsi sampai lahirnya janin dengan lama kehamilan
normal adalah 40 minggu serta selama kehamilan ibu harus diberikan
perawatan yang tepat.
2. Klasifikasi Kehamilan
Kehamilan dapat di diklasifikasikan dalam 3 trimester, yaitu :
a. Trimester ke satu, dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan (0-12
minggu)
b. Trimester kedua dari bulan keempat sampai 6 bulan (13-27 minggu)
c. Trimester ketiga dari bulan tujuh sampai 9 bulan (28-40 minggu).
3. Perubahan Fisiologi Masa Kehamilan
Dengan terjadinya kehamilan maka seluruh sistem genetalia wanita
mengalami perubahan yang mendasaar sehingga dapat menunjang
perkembangan dan pertumbuhan janin dalam rahim. Plasenta dalam
perkembangannya mengeluarkan hormib somatomamotropin, estrogen, dan
progesteron yang menyebabkai perubahan pada bagian – bagian tubuh
dibawah ini :
a. Perubahan sistem reproduksi
1) Uterus
Adapun perubahan uterus pada tiap trimester yang dialami
oleh ibu hamil yaitu sebagai berikut :
a) Trimester I
Pada minggu pertama kehamilan uterus masih seperti
bentuk aslinya. Seiring dengan perkembangan kehamilan, daerah
fundus dan konpus akan membulat dan akan menjadi bentuk afris
pada usia kehamilan 12 minggu. Panjang uterus akan bertambah
lebih cepat dbandingkan lebarnya sehingga berbentuk oval. Ismus
uteri pada minggu pertama mengadakan hipertropi seperti korpus
uteri yang mengakibatkan ismus menjadi lebih panjang dan lunak
yang dikenal dengan tanda hegar.
b) Trimester II
Pada kehamilan cukup bulan, ukuran urerus adalah
30x25x20 cm dengan kapasitas lebih dari 4000 cc, hal ini
memungkinkan bagi adekuatnya akomodasi pertumbuhan janin.
Pada saat itu, rahim membesar akibat hipertropi dan hiperplasi
otot rahim, serabut serabut kolagennya menjadi higroskopik dan
endometrium menjadi desidua.
c) Trimester III
Pada akhir kemahilan, uterus akan membesar dalam rongga
pelvis dan seiring perkembangannya uterus akan menyentuh
dinding abdomen, mendorong usus kesamping dan ke atas.
Uterus tumbuh hingga menyentuh hati. Pada saat pertumbuhan
uterus akan berotasi ke arah kanan, dekrotasi ini disebabkan
adanya rektosogmold di daerah kiri pelvis.
Tabel 2.1 Penambahan Ukuran TFU per tiga jari
Usia Kehamilan Tinggi Fundus Uteri
(Minggu) (TFU)
12 3 jari di atas simfisis
16 Pertengahan pusat – simfisis
20 3 jari di bawah pusat
24 Setinggi pusat
28 3 jari di atas pusat
32 Pertenghan pusat
36 3 jari di bawah prosesus xipoideus
(px)
40 Pertengahan pusat – psoesus
xipoideus (px)
(Sumber : Sulistyawati, 2013)
Gambar 2.1
Tinggi Fundus Uteri Sesuai Kehamilan
(Lili, Dwiyan 2016, [Link] diunduh tanggal 12
Oktober 2022)
2) Serviks Uteri
Serviks uteri merupakan bagian dari rahim yang menonjol
kedalam vagina pada kondisi normal berwarna pink dan permukannya
licin. Adapun perubahan serviks uteri pada tiap trimester yang dialami
oleh ibu hamil yaitu sebagai berikut :
a) Trimester I
Berkas kolagen menjadi kurang kuat terbungkus. Hal ini
terjadi akibat penurunan konsenttrasi kolagen secara keseluruhan.
Dengan sel – sel otot polos dan jaringan elastis, serabut kolagen
bersatu dengan arah paralel terhadap sesamanya sehingga serviks
menjadi lunak pada dinding kondisi tidak hamil, tetapi mampu
mempertahankan kehamilan
b) Trimester II
Konsistensi serbiks menjadi lunak dan kelenjar – kelanjar
di servisk akan berfungsi lebih dan akan mengeluarkan sekresi
lebih banyak.
c) Trimester III
Terjadi penurunan lebih lanjut dari konsentrasi kolagen.
Konsentrasinya menurun secara nyata dari keadaan yang relatif
dilusi dalam keadaan menyebar (disferse). Proses perbaikan serviks
terjadi setelah persalinan, sehingga siklus kehamilan yang
berikutnya berulang.
3) Vulva/Vagina
Jenni (2016, dalam Wardani, 2018) mengatakan bahwa
gambaran fisiologis vagina pada ibu hamil diantarnya adalah terjadi
perubahan hormon estrogen yang menyebabkan peningkatan air dalam
mukus serviks, sehingga sekret vagina bertambah banyak. Hormon
estrogen juga mempengaruhi peningkatan vaskularisasi dan hiperemia
pada vagina dan vulva. Peningkatan vaskularisasi menyebabkan warna
kebiruan pada vagina yang disebut dengan tanda chadwick. Perubahan
pada dinding vagina meliputi peningkatan ketebalan mukosa,
pelunakan jaringan penyambung, dan hipertrofi otot polos. Akibat
peregangan otot polos menyebabkan vagina menjadi lebih lunak.
Adapun perubahan vulva/vagina pada tiap trimester yang
dialami oleh ibu hamil yaitu sebagai berikut :
a) Trimester I
Pengaruh hormon estrogen menyebabkan vagina dan vulva
mengalami peningkatan pembuluh darah sehinggu nampak
semakin merah dan kebiru – biruan. Hormon kehamilan
mempersiapkan vagina supaya distensi selama pesalinan dengan
memproduksi mukosa vagina yang tebal, jaringan ikat yang
longgar, hipertropi otot polos dan pemanjangan vagina. Sel – sel
vagina yang kaya glikogen terjadi akibat stimulasi estrogen
Sel – sel yang tinggal membentuk rabas vagina yang kental
dan berwarna keputihan yang disebut leukore, selama masa hamil
pH sekresi vagina menjadi asam. Keasaman berubah dari 4
menjadi 6,5. Peningkatan pH membuat wanita hamil lebih rentan
terhadap infeksi vagina, khususnya jamur. Leukore adalah rebas
mukoit berwarna keabuan dan berbau tidak enak.
b) Trimester II
Karena hormon estrogen dan progesteron terus meningkat
dan terjadi hipervaskularisasi mengakibatkan pembuluh darah alat
genetalia membesar. Peningkatan vaskularisasi vagina dan visera
panggul lain menyebabkan sensitivitas mencolok. Peningkatan
sensitivitas dapat meningkatkan keinginan seksual, khususnya pda
trimester kedua.
c) Trimester III
Dinding vagina mengalami banyak perubahan yang
merupakan pesiapan untuk mengalami peregangan pada waktu
persalinan dengan meingkatnya ketebalan mukosa, mengendornya
jaringan ikat, dan hipertropi sel otot polos. Perubahan ini
mengakibatkan bertambah panjangnya dinding vagina.
4) Ovarium
Adapun perubahan ovarium pada tiap trimester yang dialami
oleh ibu hamil yaitu sebagai berikut :
a) Trimester I
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum
gravidarum, korpus luteum graviditatis berdiameter kira – kira 3
cm, kemudian korpus luteum mengecil setelah plasenta berbentuk.
Korpus luteum ini mengeluarkan hormon estrogen dan progesteron.
Proses ovulasi selama kehamilan akan terhenti dan kematangan
folikel baru ditunda, hanya satu korpus luteum yang dapat
ditemukan di ovarium.
b) Trimester II
Pada usia kehamilan 16 minggu, plasenta mulai terbentuk
dan menggantikan fungsi korpus luteum gravidarum.
c) Trimester III
Korpus luteum sudah tidak berfungsi lagi karena sudah
digantikan oleh plasenta yang telah terbentuk.
b. Perubahan pada payudara
Adapun perubahan payudara pada tiap trimester yang dialami oleh
ibu hamil yaitu sebagai berikut :
1) Trimester I
Payudara akan membesar dan tegang akibat hormon
somatomatropipn, estrogen, dan progesteron akan tetapi belum
mengeluarkan ASI. Estrogen menimbulkan hipertropik sistem
saluran, sedangkan progesteron menambah sel – sel asinus pada
payudara.
Rasa penuh peningkatan sentifitas, rasa geli, dan rasa berat di
payudara mulai timbul sejak minggu ke 6 gestasi. Perubahan
payudara ini adalah tanda mungkin hamil. Sensitifitas payudara
bervariasi dari rasa geri ringan sampai tajam.
2) Trimester II
Pada kehamilan setelah 12 minggu, dari putting susu dapat
mengeluarkan cairan berwarna putih agak jernih disebut colostrum.
Colostrum ini berasal dari asinus yang mulai besekresi. Selama
trimester kedua dan ketiga pertumbuhan kelenjar mamae membuat
ukuran payudara meningkat secara progresif
3) Trimester III
Perubahan kelenjar mamae membuat ukuran payudara semakin
meningkat. Pada kehamilan 32 minggu warna cairan agak putih
seperti air susu yang sangat encer. Dari kehamilan 32 minggu sampai
anak lahir, cairan yang keluar lebih kental, berwarna kuning, dan
banyak mengandung lemak (colostrum).
c. Perubahan sistem endokrin
1) Trimester I
Perubahan besar pada sistem endokrin yang penting terjadi
untuk mempertahankan kehamilan, pertumbuhan normal janin, dan
nifast. Tes HCG positif dan kadar HCG meningkat cepat menjadi dua
kali lipat setiap 48 jam sampai kehamilan 6 minggu. Perubahan –
perubahan hormon selama kehamilan terutama akibat reproduksi
estrogen dan progesterone plasenta dan juga hormon – hormon yang
dikeluarkan oleh janin.
2) Trimester II
Adanya peningkatan hormone estrogen dan progesterone
serta terhambatnya pembentukan FSH dan LH.
3) Trimester III
Kelenjar tiroid akan mengalami pembesaran saat persalinan
akibat hyperplasia kelenjar dan peningkatan [Link]
konsentrasi kalsium sangat berhubungan erat dengan magnesium,
fosfat, hormon pada tiroid, vitammin D, dan kalsium.
d. Perubahan sistem pernafasan
Adapun perubahan sistem pernafasan pada tiap trimester yang
dialami oleh ibu hamil yaitu sebagai berikut :
1) Trimester I
Pada trimester I, peningkatanan kadar estrogen menyebabkan
ligamentum pada rangka iga berileksasi sehingga ekspansi rongga
dada meningkat. Wanita hamil bernafas lebih dalam tetapi frekuensi
nafasnya hanya sedikit meningkat
2) Trimester II
Pada trimester II, karena adanya penurunan karbondioksida
ibu hamil sering mengeluarkan sesak nafas sehingga meningkatkan
usaha bernafas
3) Trimester III
Wanita hamil sering mengeluh sesak napas yang biasanya
terjadi pada umur kehamilan 32 minggu lebih, hal ini disebabkan
oleh karena uterus yang semakin membesar sehingga menekan usus
dan mendorong keatas menyebabkan tinggi diafragma bergeser 4 cm
sehingga kurang leluasa bergerak. Kebutuhan oksigen wanita hamil
meningkat sampai 20%, sehingga untuk memenuhi kebutuhan
oksigen wanita hamil bernapas. Dalam peningkatan hormon estrogen
pada kehamilan dapat mengakibatkan peningkatan vaskularisasi
pada saluran pernapasan atas.
e. Sistem perkemihan
1) Trimester I
Pada bulan pertama kehamilan kandung kemih tertekan
sehingga sering timbul kencing. Keadaan ini akan hilang dengan
tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul
dan ginjal wanita harus mengakomodasi tuntutan metabolisme dan
sirkulasi tubuh ibu yang meningkat dan juga mengsekresi produk
sampai janin.
2) Trimester II
Kandung kemih yang tertekan oleh uterus mulai berkurang,
kandung kemih tertarik ke atas dan keluar dari panggul sejati ke arah
abdomen. Uretra memanjang sampai 7,5 cm karena kandung kemih
bergeser kearah atas. Kongesti panggul pada masa hamil ditunjukkan
oleh hyperemia kandung kemih dan uretra. Peningkatan vaskularisasi
ini membuat mukosa kandung kemih menjadi mudah luka dan
berdarah
3) Trimester III
Kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul. Keluhan
sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing akan mulai
tertekan kembali. Pada kehamilan tahap lanjut, pelvis ginjal kanan
dan ureter lebih berdilatasi dari pada pelvisi kiri akibat pergeseran
uterus yang berat dari kanan. Perubahan – perubahan ini membuat
pelvis dan ureter mampu menampung urin dalam volume yang lebih
besar dan juga memperlampat laju aliran urin.
[Link] Pencernaan
1) Trimester I
Perubahan yang nyata akan terjadi pada penurunan motilitas
otot polos pada traktus digestivus dan penurunan sekresi asam
hidroklorid dan peptin di lambung sehingga akan menimbulkan gejara
berupa pyrosis yang disebabkan oleh reflex asam lambung ke esofagus
bawah sebagai akibat perubahan posisi lambung dan menurunnya tonus
sfinger esophagus bagian bawah
Mual terjadi akibat penurunan asam hidrolik dan penurunan
motilitas, serta konstipasi sebagai akibat penurunan motilitas usus
besar. Hipersalivasi sering terjadi sebagai kompensasi dari mula dan
muntah yang terjadi. Epulis selama kehamilan akan muncul, tetapi
setelah persalinan akan berkurang secara spontan.
2) Trimester II
Biasanya terjadi konstipasi karena pengaruh hormno
progesteron yang meningkat. Wasir cukup sering ada sebagian besar
akibat konstipasi dan naiknya tekanan vena – vena dibawah uterus,
termasuk haemoroid. Panas perut terjadi karena aliran balik asam gas ke
dalam esophagus bagian bawah.
3) Trimester III
Biasanya terjadi konstipasi karena pengaruh hormon progesterin
yang meningkat. Selai itu, perut kembung juga terjadi karena tekanan
uterus yang membesar dalam rongga perut, khususnya saluran
pencernaan, usus besar, kearah atas, dan lateral
g. Sistem kasdiovaskulers
1) Trimester I
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya
sirkulasi plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh darah yang
membesar pula, mamae dan alat lain yang memang berfungsi
berlebihan dalam kehamilan. Volume plasma maternal mulai
meningkat pada usia kehamilan 10 minggu. Perubahan rata – rata
volume plasma maternal berkisar antara 20 - 100%.
Selain itu pada minggu kelima cardiac output akan meningkat
dan perubahan ini terjadi untuk mengurangi retensi vaskuler sistemik.
Antara minggu ke 10 terjadi peningkatan preload. Pada akhir trimester
I terjadi palpitasi karena pembesaran ukuran serta bertambahnya
cardiac output.
2) Trimester II
Pada usia kehamilan 16 minggu, mulai jelas kelihatan terjadi
proses hemodelusi. Setelah 24 minggu tekanan darah sedikit demi
sedikit naik kembali pada tekanan darah sebelum aterm. Perubahan
auskultasi mengiringi perubahan ukuran dan posisi jantung
Peningkatan volume darah dan curah jantung juga menimbulkan
perubahan hasil auskultasi yang umum terjadi pada masa hamil
3) Trimester III
Selama kehamilan jumlah leukosit akan mengalami
peningkatan yakni berkisar antara 5000 – 12000 dan mencapai
pucaknya pada saat persalinan dan masa nifas berkisar antara 14000 –
16000. Penyebab peningkatan ini belum diketahui. Respon yang
sama diketahui terjadi selama dan setelah melakukan latihan yang
berat. Distribusi tipe sel juga akan mengiami perubahan. Pada
kehamilan, terutama trimester III, terjadi peningkatan jumlah
granulosit dan limfosit dan secara bersamaan limfosit dan monosit.
h. Sistem Integumen
1) Trimester I
Perubahan keseimbangan hormone dan peregangan mekanis
menyebabkan timbulnya beberapa perubahan dalam sistem
integument selama masa [Link] yang umumnya terjadi
adalah peningkatan ketebalan kulit dan lemak subdermal,
hiperpegmentasi, pertumbuhan rambut dan kuku, percepatan aktivitas
kelenjar keringat dan kelenjar sebasea, peningkatan sirkulasi dan
aktivitas Jaringan elastis kulit mudah pecah menyebabkan striae
gravidarum.
2) Trimester II
Akibat peningkatan kadar hormone estrogen dan
progesterone, kadar HSHH pun meningkat. Terjadi perubahan
deposit pigmen dan hiperpigmentasi karena pengaruh MSH dan
pengaruh kelenjar suprarenalis. Hiperpegmentasi ini terjadi pada
striae gravidarum lividae atau alba, areola mamae, papilla mamae,
linea nigra, pipih (cloasma gravidarum). Setelah persalinan
hiperpigmentasi ini akan menghilang.
3) Trimester III
Pada kulit dinding perut akan terjadi perubahan warna
menjadi kemerahan, kusam dan kadang-kadang juga akan mengenai
daerah payudara dan pada perubahan ini dikenal dengan striae
gravidarum. Pada multipara selain striae kemerahan itu sering kali
ditemukan garis berwarna perak berkilau yang merupakan sikratik
dari striae sebelumnya. Pada kebanyakan perempuan kulit digaris
pertengahan perut akan berubah menjadi hitam kecoklatan yang
disebut dengan linea nigra.
[Link] Metabolisme (Trimester I – III)
Pada wanita hamil Basal Metabolic Rate (BMR) meninggi. BMR
meningkat hingga 15 – 20% yang umumnya terjadi pada triwulan terakhir
Akan tetapi bila dibutuhkan dipakailah lemak ibu untuk mendapatkan
kalori dalam pekerjaan sehari-hari. BMR kembali hari ke 5 atau ke-6 pasca
partum. Peningkatan BMR mencerminkan kebutuhan oksigen pada janin,
plasenta, uterus serta peningkatan konsumsi oksigen akibat peningkatan
kerja jantung ibu. Dengan terjadinya kehamilan, metabolisme tubuh
mengalami perubahan yang mendasar karena kebutuhan nutrisi makin
tinggi.
[Link] Muskuloskeletal
Adapun perubahan uterus pada tiap trimester yang dialami oleh ibu
hamil yaitu sebagai berikut :
1) Trimester I
Pada trimester pertama tidak banyak perubahan pada
musculoskeletal. Akibat peningkatan kadar hormone estrogen dan
progesterone, terjadi relaksasi dari jaringan ikat, kartilago, dan ligament
juga meningkatkan jumlah cairan synovial.
Keseimbangan kadar kalsium selama kehamilan biasa normal
apabila asupan nutrisi khususnya prosuk susu terpenuhi. Karena
pengaruh hormone estrogen dan progesterone. Terjadi relaksasi dari
ligament ligamen dalam tubuh menyebabkan peningkatan mobilitas dari
sambungan atau otot pada pelvik. Perubahan tersebut dapat
meningkatkan ketidaknyamanan dan rasa sakit pada bagian belakang
yang muncul karena penambahan umur kehamilan
2) Trimester II
Pada trimester kedua, mobilitas persendian akan berkurang
terutama pada persendian siku dan pergelangan tangan dengan
meningkatkan retensi cairan pada jaringan konektif atau jaringan yang
berhubungan disekitarnya.
3) Trimester III
Sendi pelvik pada saat kehamilan sedikit bergerak. Perubahan
tubuh secara bertahap dan peningkatan berat badan wanita hamil
menyebabkan postur dan cara berjalan wanita berubah secara
menyolok. Peningkatan distensi abdomen yang membuat panggul
miring kedepan, penurunan tonus otot dan peningkatan beban berat
badan pada akhir kehamilan membutuhkan penyesuaian ulang. Pusat
gravitasi wanita bergeser ke depan.
k. Sistem Saraf (Trimester I – III)
Perubahan persarafan pada ibu hamil belum banyak diketahui.
Gejala neurologis dan neuromuskular yang timbul pada ibu hamil adalah:
Terjadi perubahan sensori tungkai bawah disebabkan oleh kompresi saraf
panggul dan stasis vaskular akibat pembesaran uterus.
Adapun perubahan sistem saraf pada yang dialami oleh ibu hamil
yaitu sebagai berikut :
1) Posisi ibu hamil menjadi lordosis akibat pembesaran uterus, terjadi
tarikan saraf atau kompresi akar saraf dapat menyebabkan perasaan
nyeri.
2) Edema dapat melibatkan saraf perifer, dapat juga menekan saraf
median di bawah karpalis pergelangan tangan, sehingga
menimbulkan rasa terbakar atau rasa gatal dan nyeri pada tangan
menjalar kesiku, paling sering terasa pada tangan yang dominan.
3) Posisi ibu hamil yang membungkuk menyebabkan terjadinya tarikan
pada segmen pleksus brakhialis sehingga timbul akroestesia (rasa
baal atau gatal di tangan).
4) Ibu hamil sering mengeluh mengalami kram otot hal ini dapat
disebabkan oleh suatu keadaan hipokalsemia.
5) Nyeri kepala pada ibu hamil dapat disebabkan oleh vasomotor yang
tidak stabil, hipotensi postural atau hipoglikemia.
4. Perubahan Psikologis Masa kehamilan
Kehamilan merupakan suatu fase maturase yang penuh tekanan
sekaligus menjadi kesempatan seorang wanita untuk mempersiapkan
tingkatan baru dalam memberikan asuhan dan tanggung jawab. Pada semua
tingkatan usia, wanita menggunakan masa kehamilan sebagai momen
adaptasi pada peran keibuan, serta 14 menjadi sebuah proses pembelajaran
sosial dan kognitif yang kompleks
Mochtar (2011, dalam Lestari 2021) mengatakan bahwa perubahan
psikologis yang terjadi pada sebagian ibu hamil trimester pertama dan
trimester ketiga cenderung mengalami kecemasan, sedangkan pada trimester
kedua ibu hamil cenderung menunjukkan penerimaannya terhadap
kehamilan. kecemasan yang ditunjukkan pada trimester pertama dan ketiga
biasanya memiliki perbedaan. Pada trimester pertama kecemasan yang
ditunjukkan ibu hamil merupakan kecemasan terhadap kondisi
kehamilannya, lain halnya dengan kecemasan pada trimester ketiga. Pada
trimester ketiga kebanyakan ibu hamil merasakan gejolak kecemasan yang
baru, biasanya kecemasan yang timbul adalah kecemasan dalam
menghadapi persalinan dan perasaan tanggung jawab dalam mengasuh bayi
yang akan dilahirkannya
5. Ketidaknyamanan Pada Kehamilan
Tabel 2.2
Ketidaknyamanan Pada Kehamilan dan Cara Mengatasinya
No Ketidak Nyamanan Cara Mengatasi
1. Sering buang air kecil pada a. Penjelasan mengenai sebab dan
trimester I dan II terjadinya
b. Kosongkan saat ada dorongan untuk
kencing
2. Striae gravidarum Tampak a. Gunakan emolien topical atsu anti
jelas pada bulan ke 6-7 pruritik jika ada indikasinya
b. Gunakan baju longgar yang dapat
menopang payudara dan abdomen
3. Haemoroid timbul di a. Hindari konstipasi
trimester II dan III b. Makan makanan yang berserat dan
banyak minum
c. Gunakan kompres es dan air hangat
secara perlahan dan masukkan
kedalam anus setelah selesai BAB
4. Kelelahan pada trimester I a. Yakinkan bahwa ini normal
b. Dorong ibu untuk sering beristirahat
c. Hindari istirahat yang berlebihan
5. Keputihan terjadi di trimester a. Tingkatkan kebersihan dengan mandi
II dan III setiap hari
b. Memakai pakaian dalam dari bahan
katun yang mudah menyerap
c. Konsumsi sayur dan buah
6. Keringat bertambah secara a. Pakailah pakaian yang tipis dan
perlahan longgar
b. Tingkatkan asupan cairan
c. Mandi secara teratur
No Ketidak Nyamanan Cara Mengatasi
7. Sembelit trimester II dan III a. Tingkatkan diet asupan cairan
b. Banyak minum air
8. Keram pada kaki setelah a. Kurangi konsumsi susu (kandungan
kehamilan 24 minggu fosfornya tinggi)
b. Latihan dorsofleksi pada kaki dan
meregangkan otot
c. Gunakan penghangat untuk otot
9. Mengidam a. Tidak perlu takut untuk diet selama
memenuhi kebutuhan
b. Jelaskan tentang bahaya makanan
yang tidak bisa diterima, mencakup
gizi yang diperlukan
c. Serta memuaskan rasa menurut kultur
10. Nafas sesak pada trimester II a. Jelaskan Penyebab fisiologisnya
dan III b. Dorong agar segaja mengatur laju dan
dalamnya pernafasan normal
c. Merentangkan tangan di atas kepala
serta menarik nafas panjang
11 Nyeri ligamentum rotundum a. Beri penjelasan akbibat dari nyeri
pada trimester II dan III b. Tekuk lutut ke arah abdomen
c. Gunakan bantalan pemanas pada area
yang terasa sakit
d. Gunakan sebuah bantal untuk
menopang uterus dan bantal lainnya
letakkan diantara lutut sewaktu dalam
posisi berbaring miring
12 Berdebar-debar (palpitasi Jelaskan bahwa ini merupakan hal
jantung) mulai akhir trimester yang normal dalam kehamilan
I
13 Panas perut (heart burn) a. Makan dengan porsi sedikit saja,
mulai bertambah sejak namun sering
trimester II dan bertambah b. Hindari makanan yang mengandung
dengan lemak
No Ketidak Nyamanan Cara Mengatasi
No Ketidak Nyamanan Cara Mengatasi
semakin lamanya kehamilan, a. Hindari rokok maupun asapnya,
akan hilang pada waktu alkohol serta coklat dan kunyah
persalinan permen karet jika bersedia
b. Hindari berbaring setelah selesai
makan
14 Perut kembung pada trimester a. Hindari makanan yang mengandung
II dan III gas
b. Mengunyah makanan dengan
sempurna
c. Pertahankan buang air besar secara
teratur
15. Pusing atau sincope pada a. Bangun secara perlahan dari posisi
trimester II dan III istirahat
b. Hindari berdiri terlalu lama dalam
lingkungan yang hangat dan sesak
c. Hindari berbaring secara perlahan
16. Mual dan muntah terjadi pada a. Hindari bau atau faktor penyebabnya
trimester I Konsumsi biskuit atau roti sesaat
sebelum bangun dari tempat tidur
pada pagi hari
b. Makan sedikit tapi sering
c. Duduk tegak setiap kali selesai
makan
d. Hindari makan makanan yang
berminyak atau berbumbu tajam
e. Makan makanan kering atau ringan
17. Sakit punggung atas dan a. Gunakan posisi tubuh yang enak
bawah pada trimester II dan b. Gunakan bra yang menopang dengan
III ukuran yang tepat
c. Jangan menggunakan kasur yang
keras
18. Varices pada kaki di trimester a. Tinggikan kaki sewaktu berbaring
II dan III b. Jaga agar kaki tidak bersilang
c. Hindari berdiri atau duduk terlalu
lama
(Sumber : Sulistyawati, 2013)
6. Pemeriksaan Ibu Hamil (Antenatal Care) 10T
a. Pengertian Antenatal Care (ANC)
Susilowati (2016, dalam Prabawani, 2021) mengatakan bahwa
Antenatal Care (ANC) merupakan proses pemeliharaan janin dalam
kandungan yang disebabkan pembuahan sel telur oleh sel sperma. Dalam
proses kehamilan terdapat mata rantai yang saling berkesinambungan,
terdiri dari mulai ovulasi, pelepasan ovum, terjadi migrasi spermatozoa
dan ovum, terjadi konsepsi dan pertumbuhan zigot, terjadi nidasi
(implantasi) pada rahim, pembentukan plasenta, tumbuh kembang hasil
konsepsi sampai kehamilan matur atau aterm (Susilowati dan
Kuspriyanto, 2016).
b. Tujuan Antenatal Care (ANC)
Menurut Kementrian Kesehatan RI (2018), tujuan dari
dilaksanakannya Antenatal Care atau pemeriksaan kehamilan yaitu,
sebagai berikut :
1) Memantau kemajuan proses kehamilan demi memastikan kesehatan
pada ibu serta tumbuh kembang janin yang ada di dalamnya.
2) Mengetahui adanya komplikasi kehamilan yang mungkin saja terjadi
saat kehamilan sejak dini, termasuk adanya riwayat penyakitdan
tindak pembedahan.
3) Meningkatkan serta mempertahankan kesehatan ibu dan bayi.
4) Mempersiapkan proses persalinan sehingga dapat melahirkan bayi
dengan selamat serta meminimalkan trauma yang dimungkinkan
terjadi pada masa persalinan.
5) Menurunkan jumlah kematian dan angka kesakitan pada ibu.
6) Mempersiapkan peran sang ibu dan keluarga untuk menerima
kelahiran anak agar mengalami tumbuh kembang dengan normal.
7) Mempersiapkan ibu untuk melewati masa nifas dengan baik
serta dapat memberikan ASI eksklusif pada bayinya
Sedangkan menurut Kurniasari (2016) tujuan dari dilakukannya
Antenatal Care (ANC) diantaranya adalah :
1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang bayi.
2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan
sosial ibu dan bayi.
3) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara
umum, kebidanan dan pembedahan.
4) Mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat,
ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian
air susu ibu (ASI) eksklusif.
6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran
bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari
pelaksaan Antenatal Care (ANC) yaitu untuk memantau kemajuan proses
kehamilan demi memastikan kesehatan pada ibu serta tumbuh kembang
janin yang ada di dalamnya dan juga memantau proses persalinan
sehingga dapat melahirkan bayi dengan selamat serta meminimalkan
trauma yang dimungkinkan terjadi pada masa persalinan.
c. Standar Pelayanan Antenatal Care (ANC) 10T
Penerapan standar pelayanan Antenatal Care (ANC) 10, meliputi :
1) Ukur Berat Badan dan Tinggi Badan (T1)
Dalam keadaan normal kenaikan berat badan ibu dari sebelum
hamil dihitung dari TM I sampai TM III yang berkisar antara 9-13,9
kg dan kenaikan berat badan setiap minggu yaitu tergolong normal
adalah 0,4- 0,5 kg tiap minggu mulai dari TM II. Berat badan ideal
untuk ibu hamil sendiri tergantung dari IMT (Indeks Masa Tubuh) ibu
sebelum hamil.
Indeks masa tubuh (IMT) adalah hubungan antara tinggi badan
dan berat badan. Ada rumus untuk menghitung IMT, yaitu :
Tinggi Badan (m2)
IMT =
BB sebelum hamil
Tabel 2.3
Klasifikasi IMT Pada Ibu Hamil
Kategori IMT Rekomendasi
Rendah < 19,8 12,5 – 18
Normal 19,8 – 26 11,5 – 16
Tinggi 26 – 29 7 – 11,5
Obesitas 29 ≥7
Gemeli 16 – 20,5
(Sumber : Kurniasari, 2017)
2) Mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA) (T2)
Pengukuran lingkar lengan atas dilakukan secara rutin setiap
ANC. Diharapkan status gizi hamil tidak kekuranga energi kronik
(KEK) yang mana ukuran LILA normalnya yaitu 23,5 cm. Jika
seorang wanita atau ibu hamil memiliki LILA yang kurang dari 23,5
cm maka dianggap status gizinya kurang dan mengalami kekurangan
energi kronik (KEK).
3) Ukur Tekanan Darah (T3)
Tekanan darah yang normal yaitu 100/70 – 140/90 mmHg.
Pada ibu hamil tekanan darahnya harus diukur setiap kali datang
atau berkunjung. Deteksi tekanan darah yang cenderung naik
wwaspada adanya gejala hipertensi dan preeklamsi. Bila tekanan
darah pada ibu hamil melebihi 140/90 mmHg perlu diwaspadai
adanya preeklampsi. Apabalia turun di bawah normal maka
diperkirakan mengalami hipotensi atau bisa saja mengalami anemia.
4) Ukur Tinggi Fundus Uteri (T4)
Tujuan pemeriksaan tinggi fundus uteri (TFU) menggunakan
Teknik Mc. Donald adalah menentukan umur kehamilan
berdasarkan minggu dan hasilnya bisa dibandingkan dengan
anamnesis hari pertama haid terakhir (HPHT) dan kapan gerakan
janin mulai dirasakan. TFU yang normal harus sama dengan usia
usia kehamilan (UK) dalam minggu yang dicantumkan dalam
HPHT. Pengukuran usia kehamilan menggunakan metode tinggi
fundus uteri dengan Teknik Mc. Donald biasanya dilakukan pada
saat usia kehamilan mencapai 22 minggu.
Namun, sebelum pengukuran harus dilakukan pemeriksaan
palpasi pada abdomen terlebih dahulu. Cara mengukur tinggi fundus
uteri menggunakan Teknik palpasi abdominal menurut Leopold
terdiri dari 4 tahap, yaitu Leopold I tujuannya untuk menentukan
usia kehamilan dan bagian tubuh janin yang berada pada fundus
uteri, Leopold II untuk menentukan batas samping rahim dan letak
punggung janin, Leopold III untuk menentukan apakah bagian tubuh
janin yang berada dibagian bawah rahim serta sudah masuk panggul
atau belum, dan Leopold IV tujuannya untuk menentukan bagian
tubuh janin yang terletak di bawah dan berapa bagian kepala janin
yang sudah masuk panggul.
Gambar 2.2
Pemeriksaan Leopold
(winata, sastra. 2019, [Link] , diunduh pada tanggal
12 Oktober 2022.
5) Pemberian Tablet Fe (T5)
Pemberian tablet tambah darah dimulai dengan memberikan
satu tablet sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang minimal
90 tablet selama kehamilan untuk memenuhi kebutuhan volume
darah pada ibu hamil, karena masa kehamilan kebutuhan meningkat
seiring dengan pertumbuhan janin. Tablet fe sebaiknya tidak
diminum bersama teh atau kopi, karena akan mengganggu
penyerapan.
6) Pemberian Imunisasi TT (T6)
Imunisasi Tetanus Toxoid harus segera diberikan pada saat
seorang wanita hamil melakukan kunjungan yang pertama dan
dilakukan pada minggu ke-4, dengan dosis 0,5 cc dan disuntikkan
secara IM. Vaksin Tetanus Toxoid (TT) aman diberikan kepada ibu
hamil dan telah diteliti dapat mencegah infeksi tetanus neonatal pada
bayi baru lahir, serta mencegah resiko retanus pada ibu serta janin
dalam kandungan.
Tabel 2.4 Tetanus Interval dan Lama Perlindungan
Tetanus Toxoid
Imunisasi Waktu Minimal Lama
Pemberian Perlindungan
TT1 Kunjungan Pertama Langkah awal
pembentukan kekebalan
tubuh
TT2 1 bulan setelah TT1 3 tahun
TT3 6 bulan setelah TT2 5 tahun
TT4 12 bulan setelah TT3 10 tahun
TT5 12 bulan setelah TT4 25 tahun/seumur hidup
(Sumber: Dewi dan Sunarsih, 2012)
7) Pemeriksaan Laboratorium (T7)
Beberapa pemeriksaan laboratorium yang penting dan harus
dilakukan Ketika hamil diantaranya :
a) Uji Urin
Tujuan dari pemeriksaan urin yaitu untuk mendeteksi bila
terjadi infeksi saluran kemih dan kelainan lainnya yang terdapat
pada saluran kemih. Adanya infeksi di saluran kemih haruslah
diwaspadai, karena dapat menyebabkan kontraksi dan kelahiran
premature atau ketuban pecah terlalu dini. Selain itu juga
pemeriksaan urin bertujuan untuk memeriksa adanya protein
dalam urin pada ibu hamil. Protein urin ini untuk mendeteksi ibu
hamil ke arah preeklamsi.
b) Pemeriksaan Darah
Kelainan yang dapat terdeteksi melalui pemeriksaan darah
yaitu antara lain anemia (kadar hemoglobin rendah) yang biasanya
terjadi pada ibu hamil, kekurangan zat besi, kekurangan asam folat
yang 40 merupakan kelainan produksi hemoglobin yang bersifat
genetik. Selain itu juga bisa untuk mengetahui golongan darah ibu
hamil (bagi yang belum mengetahui) dan mempersiapkan donor
bagi ibu hamil bila diperlukan.
c) Pemeriksaan Kadar Glukosa dalam Darah
Pemeriksaan ini tujuannya yaitu untuk mengetahui apakah
ibu hamil mengalami DMG (diabetes mellitus gestasional)
kencing manis dalam kehamilan.
d) Pemeriksaan Triple Eliminasi
Pemeriksaan triple eliminasi merupakan sebuah
pemeriksaan untuk mendeteksi apakah ibu terinfeksi HIV, Sifilis
dan Hepatitis B yang dapat menular ke bayi.
Pemeriksaan Triple eliminasi merupakan upaya pemerintah
untuk memutus rantai penularan Hepatitis B, Sifilis, dam HIV dari
ibu ke anak
8)Tentukan Presentasi Janin dan (DJJ) (T8)
Pemeriksaan DJJ dilakukan untuk mengetahui kesehatan ibu
dan perkembangan janin khususnya denyut jantung janin dalam rahim
ibu. Denyut jantung janin normal yaitu 120-160x/menit. Pemeriksaan
denyut jantung janin harus dilakukan pada ibu hamil. Denyut jantung
janin dapat didengar pada usia kehamilan 16 minggu (4 bulan).
Gambaran denyut jantung janin (DJJ) :
a) Takikardi berat : denyut jantung di atas 180x/menit
b) Takikardi ringan : denyut jantung antara 160-180x/menit
c) Normal : denyut jantung janin antara
120-160x/menit
d) Bradikardia ringan : denyut jantung janin antara
100-119x/menit
e) Bradikardia sedang : denyut jantung janin antara 80-100x/menit
f) Bradikardia berat : denyut jantung janin kurang dari 80x/menit
9) Tatalaksana/Penanganan Khusus (T9)
Berdasarkan hasil pemeriksaan antenatal dan hasil
pemeriksaan laboratorium, setiap kelainan yang ditemukan pada ibu
hamil harus ditangani sesuai dengan standar dan kewenangan tenaga
kesehatan. Kasus-kasus yang tidak dapat ditangani di rujuk sesuai
dengan sIstem rujukan.
10) Temu wicara/ Konseling (T10)
Konseling merupakan suatu bentuk wawancar (tatap muka)
yang tujuannya untuk menolong orang lain memperoleh pengertian
yang lebih jelas dan lebih baik mengenai dirinya dalam usahanya
untuk memahami dan mengatasi permasalahan yang sedang
dihadapinya.
d. Pemeriksaan Fisik Ibu Hamil
Pemeriksaan fisik bertujuan untuk mendeteksi apakah ada
komplikasi atau tidak pada kehamilan. Adapun beberapa pemeriksaan
yang harus dilakukan pada ibu hamil, yaitu sebagai berikut :
1) Pemeriksaan fisik umum : berat badan, tinggi badan, tanda-tanda vital
(tekanan darah, nadi, suhu, dan respirasi).
2) Kepala dan leher : oedema di wajah, ikterus pada mata, bibir pucat,
leher meliputi pembesaran saluran limfe, pembengkakan kelenjar
getah bening dan peningkatan vena jugularis (JVP).
3) Payudara : ukuran, simetris, putting payudara, menonjol/masuk,
keluarnya kolostrum atau cairan lain, retraksi, massa, dan nodul
axilla.
4) Abdomen : adanya luka bekas operasi atau tidak, tinggi fundus uteri
(jika >12 minggu), letak, presentasi, posisi dan penurunan kepala
(jika >36 minggu), mendengar denyut jantung janin (bila kehamilan
lebih dari 16 minggu).
5) Tangan dan kaki : oedema di jari-jari tangan, kuku jari pucat, varices
vena, dan reflek.
6) Genetalia luar (eksterna) : varices, pendarahan, luka, cairan yang
keluar, kelenjar bartholini : bengkak (massa), cairan yang keluar.
7) Genetalia dalam (interna) : serviks meliputi cairan yang keluar, luka
(lessi), kelunakan, posisi, mobilisasi, tertutup atau membuka : vagina
meliputi cairan yang keluar, luka, darah, ukuran adneksa, bentuk,
posisi, mobilitas, kelunakan, massa (pada trimester pertama)
2.2 Asuhan Kebidanan Persalinan
1. Pengertian Persalinan
Persalinan merupakan proses membuka dan menipisnya serviks
sehingga janin dapat turun ke jalan lahir. Persalinan dan kelahiran
normal merupakan proses pengeluaran janin yang terjadi pada
kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) dengan adanya kontraksi rahim
pada ibu. Prosedur secara ilmiah lahirnya bayi dan plasenta dari rahim
melalui proses yang dimulai dengan terdapat kontraksi uterus yang
menimbulkan terjadinya dilatasi serviks atau pelebaran mulut rahim
(Irawati, Muliani, & Arsyad, 2019)
Kurniarum (2016, dalam Kriscanti 2021) mengatakan dalam
pengertian sehari-hari persalinan sering diartikan serangkaian kejadian
pengeluaran bayi yang sudah cukup bulan, disusul dengan pengeluaran
plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu melalui jalan lahir atau melalui
jalan lain, berlangsung dengan bantuan atau tanpa bantuan (kekuatan
ibu sendiri).
Dari pengertian – pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
persalinan merupakan proses membuka dan menipisnya serviks
sehingga janin dapat turun ke jalan lahir serta merupakan prosedur
secara ilmiah lahirnya plasenta dari rahim melalui proses yang dimulai
dengan terdapat kontraksi uterus yang menimbulkan terjadinya dilatasi
serviks atau pelebaran mulut rahim
2. Jenis – jenis persalinan
Menurut Kusumawardani (2019), jenis – jenis persalinan dibagi
menjadi tiga, diantaranya:
a. Persalinan yang spontan adalah suatu proses persalinan secara
langsung menggunakan kekuatan ibu sendiri.
b. Persalinan buatan adalah suatu proses persalinan yang berlangsung
dengan bantuan atau pertolongan dari luar, seperti: ekstraksi forceps
(vakum) atau dilakukan operasi section caesaerea (SC).
c. Persalinan anjuran adalah persalinan yang terjadi ketika bayi sudah
cukup mampu bertahan hidup diluar rahim atau siap dilahirkan.
Tetapi, dapat muncul kesulitan dalam proses persalinan, sehingga
membutuhkan bantuan rangsangan dengan pemberian pitocin atau
prostaglandin
3. Tanda – tanda persalinan
Menjelang minggu ke 36 pada primigravida terjadi penurunan
fundus uterus karena kepala bayi sudah masuk ke dalam pintu atas
paggul (PAP). Gambaran lightening pada primigravida menunjukkan
hubungan normal antara power (his), passage (jalan lahir), passanger
(penumpang). Pada multipara gambarannya menjadi tidak jelas seperti
primigravida, karena masuknya kepala janin ke dalam panggul terjadi
bersamaan dengan proses persalinan (Sulistyawati, 2013).
Berikut adalah tanda-tanda dimulainya persalinan menurut
Jenny J.S Sondakh (2013) :
a. Terjadinya his persalinan. Saat terjadi his ini pinggang terasa sakit
dan menjalar ke depan, sifatnya teratur, interval lebih pedek, dan
kekuatan makin besar, serta semakin beraktivitas (jalan) kekuatan
akan makin bertambah.
b. Pengeluaran lendir dengan darah. Terjadinya his persalinan
mengakibatkan terjadinya perubahan pada serviks yang akan
menimbulkan pendataran dan pembukaan. Hal tersebut
menyebabkan lendir yang terdapat pada kanalis servikalis lepas dan
pembuluh darah pecah sehingga terjadi perdarahan.
c. Pada beberapa kasus persalinan akan terjadi pecah ketuban. Sebagian
besar, keadaan ini terjadi menjelang pembukaan lengkap. Setelah
adanya pecah ketuban, diharapkan proses persalinan akan
berlangsung kurang dari 24 jam.
d. Hasil-hasil yang didapatkan dari pemeriksaan dalam yakni
pelunakan
serviks, pendataran seviks, dan pembukaan serviks.
Tabel 2.5
Karakteristik Persalinan Sesungguhnya dan Persalinan Semu
Persalinan Sesungguhnya Persalinan Semu
Serviks menipis dan membuka Tidak ada perubahan pada serviks
Rasa nyeri dan interval teratur Rasa nyeri tidak teratur
Interval antara rasa nyeri yang secara Tidak ada perubahan interval antara rasa nyeri
perlahan semakin pendek yang satu dengan yang lain
Waktu dan kekuatan kontraksi semakin Tidak ada perubahan pada waktu dan kekuatan
bertambah kontraksi
Rasa nyeri terasa dibagian belakang dan Kebanyakan rasa nyeri di bagian depan
menyebar ke depan
Lendir darah sering tampak Tidak ada lendir darah
Kepala janin sudah terfiksasi di PAP Kepala belum masuk PAP walau ada kontraksi
diantara kontraksi
Pemberian obat penenang tidak Pemberian obat penenang yang efisien
menghentikan proses persalinan menghentikan rasa nyeri pada persalinan semu
sesungguhnya
(Sumber : Sumarah, 2012)
4. Fase persalinan
a. Fase persalinan kala I
Menurut Girsang (2017)), beberapa jam terakhir dalam
kehamilan ditandai adanya kontraksi uterus yang menyebabkan
penipisan, dilatasi serviks, dan mendorong janin keluar melalui jalan
lahir normal. Persalinan kala satu disebut juga sebagai proses
pembukaan yang dimulai dari pembukaan nol sampai pembukaan
lengkap (10cm) (Girsang, 2017).
Kala satu persalinan terdiri dari 2 fase, yaitu sebagai berikut.
1) Fase Laten
Fase laten dimulai dari permulaan kontraksi uterus yang
regular sampai terjadi dilatasi serviks yang mencapai ukuran
diameter 3 cm. Fase ini berlangsung selama kurang lebih 6 jam.
Pada fase ini dapat terjadi perpanjangan apabila ada ibu yang
mendapatkan analgesic atau sedasi berat selama persalinan. Pada
fase ini terjadi akan terjadi ketidaknyamanan akibat nyeri yang
berlangsung secara terus- menerus.
2) Fase Aktif
Selama fase aktif persalinan, dilatasi serviks terjadi lebih
cepat, dimulai dari akhir fase laten dan berakhir dengan dilatasi
serviks dengan diameter kurang lebih 4 cm sampai dengan 10
cm. Pada kondisi ini merupakan kondisi dimana ibu merasakan
ketidaknyamanan yang berlebih disertai kecemasan dan
kegelisahan menuju proses melahirkan.
b. Fase persalinan kala II
Kala dua disebut juga kala pengeluaran. Kala ini dimulai dari
pembukaan lengkap (10 cm) hingga bayi lahir. Proses ini
berlangsung selama kurang 12 lebih 2 jam pada ibu primigravida dan
kurang lebih 1 jam pada ibu multigravida.
Adapun tanda dan gejala yang muncul pada kala dua adalah
sebagai berikut :
1) Kontraksi (his) semakin kuat, dengan interval 2-3 menit dengan
durasi 50-100 detik
2) Menjelang akhir kala satu, ketuban akan pecah yang ditandai
dengan pengeluaran cairan secara mendadak dan tidak bisa
dikontrol
3) Ketuban pecah pada pembukaan yang dideteksi lengkap dengan
diikuti rasa ingin mengeja
4) Kontraksi dan mengejan akan membuat kepala bayi lebih
terdorong menuju jalan lahir, sehingga kepala mulai muncul
kepermukaan jalan lahir, sub occiput akan bertindak sebagai
hipomoklion, kemudian bayi lahir secara berurutan dari ubun-
ubun besar, dahi, hidung, muka, dan seluruhnya.
c. Fase persalinan kala III
Kala tiga disebut juga kala persalinan plasenta. Lahirnya
plasenta dapat diperkirakan dengan memperhatikan tanda-tanda
sebagai berikut :
1) Uterus menjadi bundar
2) Uterus terdorong keatas karena plasenta dilepas ke segmen bawah
Rahim;
3) Tali pusat bertambah panjang;
4) Terjadi perdarahan (adanya semburan darah secara tiba-tiba
5) Biasanya plasenta akan lepas dalam waktu kurang lebih 6-15
menit setelah bayi lahir.
d. Fase persalinan kala IV
Kala empat adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah
bayi dan plasenta lahir yang bertujuan untuk mengobservasi
persalinan terutama mengamati keadaan ibu terhadap bahaya
perdarahan postpartum. Pada kondisi normal tidak terjadi perdarahan
pada daerah vagina atau organ setelah melahirkan plasenta.
5. Asuhan Persalinan Normal
a. Pengertian Asuhan Persalinan Normal
Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran
janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir
spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam
18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin Saifudin
(2007: 100, dalam Ayunda 2019).
Dasar asuhan persalinan normal adalah asuhan yang bersih
dan aman selama persalinan dan dan setelah bayi lahir, serta upaya
pencegahan komplikasi terutama pendarahan pasca persalinan,
hipotermia, dan asfiksia bayi baru lahir. Sementara itu, fokus
utamanya adalah mencegah terjadinya komplikasi. Hal ini
merupakan suatu pergeseran paradigma dari sikap menunggu dan
menangani komplikasi menjadi mencegah komplikasi yang mungkin
terjadi. (Prawirohardjo, 2016)
b. Tujuan Asuhan Persalinan
Tujuan dari asuhan persalinan yaitu untuk mengupayakan
kelangsungan hidup dan mencapai derajat kesehatan yang tinggi bagi
ibu dan bayinya melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan
lengkap serta intervensi minimal dengan asuhan kebidanan
persalinan yang adekuat sesuai dengan tahapan persalinan sehingga
prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat
yang optimal.
c. Faktor – faktor yang mempengaruhi persalinan
Suatu proses fisiologis yang memungkinkan terjadinya
serangkaian perubahan yang besar pada ibu untuk dapat melahirkan
janinnya melalui jalan lahir. Persalinan dapat berjalan dengan normal
(eutocia) apabila ketika faktor fisik 3 P yaitu power, passage, dan
passanger dapat bekerja sama dengan baik. Selain itu terdapat 2 P
yang merupakan faktor lain secara tidak langsung dapat
mempengaruhi jalannyapersalinan, terdiri atas psikologi dan
penolong. Dengan mempengaruhi faktor-faktor persalinan maka jika
terjadi penyimpangan atau persalinan maka jika terjadi
penyimpangan atau persalianan yang dapat memperngaruhi jalannya
persalinan.
1) Power (tenaga/kekuatan)
Kekurangan yang mendorong janin dalam persalinan adalah
his, kontraksi otot otot perut, kontraksi diafragma dan aksi dari
ligament. Kekuatan primer yang di perlukan dalam persalinan adalah
his, sedangkan sebagai kekutan sekundernya dalah tenaga meneran
ibu,. His adalah kontraksi otot otot rahim pada persalinan pada bulan
terakhir dari kehamilan dan sebelum persalinan dimulai, sudah ada
kontraksi rahim yang di sebut his.
2) Passage (jalan lahir)
Jalan lahir terdiri atas panggul ibu, yaitu bagian tulang yang
padat, dasar panggul, vagina, dan introitus. Janin harus berhasil
menyesuaikan dirinya terhadap jalan lahir yang relative kaku, oleh
karena itu ukuran dan bentuk panggul harus ditentukan sebelum
persalinan di mulai. Jalan lahir di bagi atas:
1) Jalan lahir keras (tulang panggul)
Tulang panggul tersusun atas 4 tulang yakni 2 tulang koksa,
sacrum, dan koksigis yang dihubungkan oleh 3 sendi. Bagian
bagian os. Illium yang penting adalah krista iliaka, spina ischiadika
anterior superior. Pada ketinggian yang berbeda, bentuk dan
saluran ukuran panggul juga berbeda. Diameter bidang pintu atas,
panggul tengah, pintu bawah, dan sumbu jalan lahir menetukan
mungkin tidaknya persalinan pervagina berlangsung dan
bagaimana janin dapat menuruni jalan lahir.
a. Bidang panggul Bidang hodge adalah bidang semu sebagai
pedoman untuk menentukan kemajuan persalinan, yaitu
seberapa jauh penurunan kepala melalui pemeriksaan dalam /
vagina toucher (VT). Bidang hodge terbagi menjadi 4 yaitu :
(1) Bidang hodge 1: bidang setinggi pintu atas panggul (PAP)
yang di bentuk oleh promontorium, artikulasio, sakro iliaka,
sayap sacrum, linea imominsta, ramus superior, os. Pubis,
tepi atas sympisis pubis.
(2) Bidang hodge II: bidang setinggi pinggir bawah simfisis
pubis, berhimnpit dengan PAP (hodge I).
(3) Bidang hodge III : bidang setinggi spina ischiadica
berhimpit dengan PAP (Hodge I).
(4) Bidang hodge IV : Bidang setinggi ujung koksigis
berhimpit dengan PAP (Hodge I).
b. Stations (hodge)
Adalah hubungan anatara bnagian terendah dari bagian
bawah janin dengan garis bayangan yang di tarik antara dua
spina ischiadika pada panggul perempuan.
c. Pintu atas panggul
(1) Pintu atas panggul Inlet di batasi dua linea terminalis (linea
innominata).
(2) Ruang tengah panggul Pada spina ischiadika, disebut mitle.
(3) Pintu bawah panggul Dibatasi simfisis dan arkus fubis
disebut autlet.
3) Passanger (Janin dan Plasenta)
Passenger ( janin dan plasentCara penumpang passenger atau
janin bergerak di sepanjang jalan lahir merupakan akibat interaksi
beberapa faktor, yaitu ukuran kepala janin, presentasi, letak, sikap
dan posisi janin. Plasenta juga harus melalui jalan lahir sehingga
dapat juga di angggap sebagai penumpang yang menyertai janin.
4) Psikologis
Psikologis adalah kondisi psikis klien dimana tersedianya
dorongan positif, persiapan persalinan, pengalaman lalu, dan strategi
adaptasi/coping (Sukarni & Wahyu, 2013).
5) Penolong
Kompetensi yang dimiliki penolong sangat bermanfaat untuk
memperlancar proses persalinan dan mencegah kematian maternal
neonatal. Dengan pengetahuan dan kompetensi yang baik diharapkan
kesalahan atau malpraktik dalam memberikan asuhan tidak terjadi.
Peran dari penolong persalinan adalah mengantisipasi dan
menangani komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu dan janin,
dalam hal ini tergantung dari kemampuan dan kesiapan penolong
dalam menghadapi proses persalinan
d. Mekanisme Persalinan
Selama persalinan, kontraksi uterus dimulai terutama di puncak
fundus uteri kemudian menyebar ke seluruh korpus uteri. Setiap
kontraksi uterus cenderung mendorong bayi ke arah serviks karena
kontraksi intensitasnya kuat pada puncak dan korpus uteri, namun lemah
di segmen bawah uterus kearah serviks. Saat awal persalinan, kontraksi
hanya terjadi sekali tiap 30 menit.
Seiring majunya persalinan kontraksi timbul sekali setiap 1
sampai 3 menit dan intensitasnya terus meningkat dengan periode
relaksasi yang singkat diantara kontraksi. Gabungan kontraksi antara
uterus dan otot-otot abdomen selama persalinan menyebabkan tekanan
kebawah sekitar 25 pon pada setiap kontraksi. Lebih dari 95 persen
persalinan, bagian pertama yang dikeluarkan dari bayi adalah kepala.
Kemudian bagian besar sisanya yang dikeluarkan pertama kali adalah
bokong.
Jika yang keluar pertama bagian bokong maka dinamakan
sungsang. Dimana kepala bertindak sebagai baji untuk membuka jalan
lahir ketika janin didorong ke bawah. Serviks uteri menjadi hambatan
utama ketika pengeluaran janin, namun menjelang akhir kehamilan
serviks menjadi lunak sehingga memungkinkan terjadi peregangan saat
uterus mengalami kontraksi (Guyton, A. C., Hall, J. E., 2014).
Menurut Walyani (2015), berikut ini mekanisme asuhan
persalinan, yaitu sebagai berikut :
1) Fiksasi (engagement) merupakan tahap penurunan pada waktu
diameter biparietal dari kepala janin telah masuk panggul ibu.
2) Fleksi, sangat penting bagi penurunan kepala selama kala 2 agar
bagian terkecil masuk panggul dan terus turun. Dengan majunya
kepala, fleksi bertambah hingga ubun-ubun besar. Keuntungan
dari bertambahnya fleksi ialah ukuran kepala yang lebih kecil
melalui jalan lahir yaitu diameter suboccipito bregmatika (9,5
cm) menggantikan diameter suboccipito frontalis (11,5 cm).
3) Putaran paksi dalam/rotasi internal, pemutaran dari bagian depan
sedemikian rupa sehingga bagian terrendah dari bagian depan
memutar ke depan ke bawah sympisis. Pada presentasi belakang
kepala bagian inilah daerah ubun-ubun kecil dan bagian inilah
yang akan memutar kedepan kebawah simpisis. Putaran paksi
dalam mutlak perlu untuk kelahiran kepala karena putaran paksi
merupakan suatu suatu usaha untuk menyesuaikan posisi kepala
dengan bentuk jalan lahir khususnya bentuk bidang tengah dan
pintu bawah panggul.
4) Rotasi internal dari kepala janin akan membuat diameter
enteroposterior (yang lebih panjang) dari kepala akan
menyesuaikan diri dengan diameter anteroposterior dari panggul.
5) Ekstensi setelah putaran paksi selesai dan kepala sampai didasar
panggul, terjadilah ekstensi atau defleksi dari kepala. Hal ini
terjadi pada saat lahir kepala, terjadi karena gaya tahanan dari
dasar panggul dimana gaya tersebut membentuk lengkungan
Carrus, yang mengarahkan kepala keatas menuju lubang vulva
sehingga kepala harus mengadakan ekstensi untuk melaluinya.
6) Rotasi eksternal/putaran paksi luar, terjadi bersamaan dengan
perputaran interior bahu. Setelah kepala lahir, maka kepala anak
memutar kembali ke arah punggung anak untuk menghilangkan
torsi pada leher yang terjadi karena putaran paksi dalam.
Gerakan ini disebut putaran restitusi. Restitusi adalah perputaran
45° baik kearah kiri atau kanan bergantung pada arah dimana ia
mengikuti perputaran menuju posisi oksiput anterior. Selanjutnya
putaran dilanjutkan hingga belakang kepala berhadapan dengan
tuber ischidium.
7) Ekspulsi, setelah putaran paksi luar bahu depan sampai di bawah
sympisis dan menjadi hypomoclion untuk kelahiran bahu
belakang. Kemudian bahu depan menyusul dan selanjutnya
seluruh badan anak lahir searah dengan paksi jalan mengikuti
lengkung carrus (kurva jalan lahir (Walyani, 2015)
Gambar 2.3
Mekanisme Persalinan
(lestari,puji. 2020. [Link] , diunduh pada tanggal 12
Oktober 2022.)
e. Tatalaksana Asuhan Persalinan Normal
i. Melihat Tanda dan Gejala Kala II
1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua.
Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada rectum
dan/atau vaginanya
Perineum menonjol.
Vulva-vagina dan sfingter anal membuka.
ii. Menyiapkan Pertolongan Persalinan
2. Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan esensial
siap digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10 unit dan
menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di dalam partus
set.
3. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang bersih.
4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai di bawah siku,
mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang
mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali
pakai/pribadi yang bersih.
5. Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua
pemeriksaan dalam.
6. Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan
memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril)
dan meletakkan kembali di partus set/wadah disinfeksi tingkat
tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi tabung suntik).
iii. Memastikan Pembukaan Lengkap dan Janin Baik
7. Membersihkan vulva dan perineum, menyekanya dengan hati-
hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas atau
kasa yang sudah dibasahi air disinfeksi tingkat tinggi. Jika
mulut vagina, perineum atau anus terkontaminasi oleh kotoran
ibu, membersihkannya dengan seksama dengan cara menyeka
dari depan ke belakang. Membuang kapas atau kasa yang
terkontaminasi dalam wadah yang benar. Mengganti sarung
tangan jika terkontaminasi (meletakkan kedua sarung tangan
tersebut dengan benar di dalam larutan dekontaminasi, langkah
# 9).
8. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan
dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah
lengkap.• Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan
pembukaan sudah lengkap, lakukan amniotomi.
9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan
tangan yang masih memakai sarung tangan kotor ke dalam
larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam
keadaan terbalik serta merendamnya di dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit. Mencuci kedua tangan (seperti di atas)
10. Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi
berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal
( 100 – 180 kali / menit ).
Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ dan
semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada
partograf.
iv. Menyiapkan Ibu dan Keluarga Membantu Proses Pimpinan
Meneran
11. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin
baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman sesuai
keinginannya.
Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk
meneran. Melanjutkan pemantauan kesehatan dan
kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan pedoman
persalinan aktif dan mendokumentasikan temuan-
temuan.
Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana
mereka dapat mendukung dan memberi semangat kepada
ibu saat ibu mulai meneran.
12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu utuk
meneran. (Pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi setengah
duduk dan pastikan ia merasa nyaman).
13. Melakukan pimpinan meneran saat Ibu mempunyai dorongan
yang kuat untuk meneran :
Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai
keinganan untuk meneran
Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk
meneran.
Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai
pilihannya (tidak meminta ibu berbaring terlentang).
Menganjurkan ibu untuk beristirahat di antara kontraksi.
Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi
semangat pada ibu.
Menganjurkan asupan cairan per oral.
Menilai DJJ setiap lima menit.
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi
segera dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu
primipara atau 60/menit (1 jam) untuk ibu multipara, merujuk
segera.
v. Persiapan Pertolongan Kelahiran Bayi
14. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6
cm, meletakkan handuk bersih di atas perut ibu untuk
mengeringkan bayi.
15. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, di bawah
bokong ibu.
16. Membuka partus set.
17. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
vi. Menolong Kelahiran Bayi
18. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,
lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi,
letakkan tangan yang lain di kelapa bayi dan lakukan tekanan
yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi,
membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. Menganjurkan ibu
untuk meneran perlahan-lahan atau bernapas cepat saat kepala
lahir.
• Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera hisap mulut
dan hidung setelah kepala lahir menggunakan penghisap
lendir DeLee disinfeksi tingkat tinggi atau steril atau bola
karet penghisap yang baru dan bersih.
19. Dengan lembut menyeka muka, mulut dan hidung bayi dengan
kain atau kasa yang bersih.
20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang
sesuai jika hal itu terjadi, dan kemudian meneruskan segera
proses kelahiran bayi :
Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar, lepaskan
lewat bagian atas kepala bayi.
Jika tali pusat melilit leher bayi dengan erat, mengklemnya
di dua tempat dan memotongnya.
21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putaran paksi luar
secara spontan.
22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan kedua
tangan di masing-masing sisi muka bayi. Menganjurkan ibu
untuk meneran saat kontraksi berikutnya. Dengan lembut
menariknya ke arah bawah dan kearah keluar hingga bahu
anterior muncul di bawah arkus pubis dan kemudian dengan
lembut menarik ke arah atas dan ke arah luar untuk melahirkan
bahu posterior.
23. Setelah kedua bahu dilahirkan, menelusurkan tangan mulai
kepala bayi yang berada di bagian bawah ke arah perineum
tangan, membiarkan bahu dan lengan posterior lahir ke tangan
tersebut. Mengendalikan kelahiran siku dan tangan bayi saat
melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah untuk
menyangga tubuh bayi saat dilahirkan. Menggunakan tangan
anterior (bagian atas) untuk mengendalikan siku dan tangan
anterior bayi saat keduanya lahir.
24. Setelah tubuh dari lengan lahir, menelusurkan tangan yang ada
di atas (anterior) dari punggung ke arah kaki bayi untuk
menyangganya saat panggung dari kaki lahir. Memegang
kedua mata kaki bayi dengan hati-hati membantu kelahiran
kaki.
vii. Penangganan Bayi Baru Lahir
25. Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi di atas
perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari
tubuhnya (bila tali pusat terlalu pendek, meletakkan bayi di
tempat yang memungkinkan).
26. Segera mengeringkan bayi, membungkus kepala dan badan bayi
kecuali bagian pusat.
27. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari pusat
bayi. Melakukan urutan pada tali pusat mulai dari klem ke arah
ibu dan memasang klem kedua 2 cm dari klem pertama (ke arah
ibu).
28. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi dari
gunting dan memotong tali pusat di antara dua klem tersebut.
29. Mengganti handuk yang basah dan menyelimuti bayi dengan
kain atau selimut yang bersih dan kering, menutupi bagian
kepala, membiarkan tali pusat terbuka. Jika bayi mengalami
kesulitan bernapas, mengambil tindakan yang sesuai.
30. Memberikan bayi kepada ibunya dan menganjurkan ibu untuk
memeluk bayinya dan memulai pemberian ASI jika ibu
menghendakinya.
31. Meletakkan kain yang bersih dan kering. Melakukan palpasi
abdomen untuk menghilangkan kemungkinan adanya bayi
kedua.
32. Memberi tahu kepada ibu bahwa ia akan disuntik.
33. Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, memberikan
suntikan oksitosin 10 unit IM di 1/3 paha kanan atas ibu bagian
luar, setelah mengaspirasinya terlebih dahulu. Penegangan tali
pusat terkendali
34. Memindahkan klem pada tali pusat
35. Meletakkan satu tangan diatas kain yang ada di perut ibu, tepat
di atas tulang pubis, dan menggunakan tangan ini untuk
melakukan palpasi kontraksi dan menstabilkan uterus.
Memegang tali pusat dan klem dengan tangan yang lain.
36. Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan
penegangan ke arah bawah pada tali pusat dengan lembut.
Lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah
uterus dengan cara menekan uterus ke arah atas dan belakang
(dorso kranial) dengan hati-hati untuk membantu mencegah
terjadinya inversio uteri. Jika plasenta tidak lahir setelah 30 – 40
detik, menghentikan penegangan tali pusat dan menunggu
hingga kontraksi berikut mulai.
viii. Mengeluarkan Plasenta
37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk meneran sambil
menarik tali pusat ke arah bawah dan kemudian ke arah atas,
mengikuti kurve jalan lahir sambil meneruskan tekanan
berlawanan arah pada uterus. Jika tali pusat bertambah panjang,
pindahkan klem hingga berjarak sekitar 5 – 10 cm dari vulva.
38. Jika plasenta terlihat di introitus vagina, melanjutkan kelahiran
plasenta dengan menggunakan kedua tangan. Memegang
plasenta dengan dua tangan dan dengan hatihati memutar
plasenta hingga selaput ketuban terpilin. Dengan lembut
perlahan melahirkan selaput ketuban tersebut.
39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan
masase uterus, meletakkan telapak tangan di fundus dan
melakukan masase dengan gerakan melingkar dengan lembut
hingga uterus berkontraksi (fundus menjadi keras)
ix. Menilai Perdarahan
40. Memeriksa kedua sisi plasenta baik yang menempel ke ibu
maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa
selaput ketuban lengkap dan utuh. Meletakkan plasenta di dalam
kantung plastik atau tempat khusus.
41. Mengevaluasi adanya laserasi pada vagina dan perineum dan
segera menjahit laserasi yang mengalami perdarahan aktif.
x. Melakukan Prosedur Pasca Persalinan
42. Menilai ulang uterus dan memastikannya berkontraksi dengan
baik. Mengevaluasi perdarahan persalinan vagina.
43. Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan ke
dalam larutan klorin 0,5 %, membilas kedua tangan yang masih
bersarung tangan tersebut dengan air disinfeksi tingkat tinggi
dan mengeringkannya dengan kain yang bersih dan kering.
44. Menempatkan klem tali pusat disinfeksi tingkat tinggi atau steril
atau mengikatkan tali disinfeksi tingkat tinggi dengan simpul
mati sekeliling tali pusat sekitar 1 cm dari pusat.
45. Mengikat satu lagi simpul mati dibagian pusat yang
berseberangan dengan simpul mati yang pertama.
46. Melepaskan klem bedah dan meletakkannya ke dalam larutan
klorin 0,5 %.
47. Menyelimuti kembali bayi dan menutupi bagian kepalanya.
Memastikan handuk atau kainnya bersih atau kering.
48. Menganjurkan ibu untuk memulai pemberian ASI
49. Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan perdarahan
pervaginam
50. Mengajarkan pada ibu dan keluarga bagaimana melakukan
masase uterus dan memeriksa kontraksi uterus
51. Mengevaluasi kehilangan darah
52. Memeriksa tekanan darah, nadi dan keadaan kandung kemih
setiap 15 menit selama satu jam pertama pasca persalinan dan
setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan
53. Menempatkan semua peralatan di dalam larutan klorin 0,5%
untuk dekontaminasi (10 menit). Mencuci dan membilas
peralatan setelah dekontaminasi
54. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam tempat
sampah yang sesuai.
55. Membersihkan ibu dengan menggunakan air disinfeksi tingkat
tinggi. Membersihkan cairan ketuban, lendir dan darah.
Membantu ibu memakai pakaian yang bersih dan kering.
56. Memastikan bahwa ibu nyaman. Membantu ibu memberikan
ASI. Menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu minuman
dan makanan yang diinginkan.
57. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan
dengan larutan klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih.
58. Mencelupkan sarung tangan kotor ke dalam larutan klorin 0,5%,
membalikkan bagian dalam ke luar dan merendamnya dalam
larutan klorin 0,5% selama 10 menit.
59. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.
60. Melengkapi partografi (halaman depan dan belakang)
f. Asuhan Sayang Ibu
Asuhan sayang ibu merupakan asuhan yang aman berdasarkan
evidence based dan ikut meningkatkan kelangsungan hidup ibu.
Pemberian asuhan harus saling menghargai budaya, kepercayaan,
menjaga privasi, memenuhi kebutuhan dan keinginan ibu.
Asuhan sayang ibu memberikan rasa nyaman dan aman selama
proses persalinan, menghargai kebiasaan budaya, praktik keagamaan
dan kepercayaan dengan melibatkan ibu dan keluarga dalam
pengambilan keputusan. Berikut beberapa asuhan sayang ibu yang
bisa diterapkan dalam proses persalinan, yaitu :
1) Kala I
Kala I adalah suatu kala dimana dimulai dari timbulnya his
sampai pembukaan lengkap. Asuhan yang dapat dilakukan pada
ibu adalah:
a) Memberikan dukungan emosional.
b) Pendampingan anggota keluarga selama proses persalinan
sampai kelahiran bayinya.
c) Menghargai keinginan ibu untuk memilih pendamping selama
persalinan.
d) Melibatkan peran aktif anggota keluarga selama persalinan
e) Mengatur posisi ibu sehingga terasa nyaman.
f) Memberikan cairan nutrisi dan hidrasi – memberikan
kecukupan energi dan mencegah dehidrasi. Oleh karena
dehidrasi menyebabkan kontraksi tidak teratur dan kurang
efektif.
g) Memberikan keleluasaan untuk menggunakan kamar mandi
secara teratur dan spontan – Kandung kemih penuh
menyebabkan gangguan kemajuan persalinan dan menghambat
turunnya kepala; menyebabkan ibu tidak nyaman;
meningkatkan resiko perdarahan pasca persalinan;
mengganggu penatalaksanaan distosia bahu; meningkatkan
resiko infeksi saluran kemih pasca persalinan.
h) Pencegahan infeksi – Tujuan dari pencegahan infeksi adalah
untuk mewujudkan persalinan yang bersih dan aman bagi ibu
dan bayi; menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan
bayi baru lahir.
2) Kala II
Kala II adalah kala dimana dimulai dari pembukaan lengkap
serviks sampai keluarnya bayi. Asuhan yang dapat dilakukan pada
ibu adalah :
a) Pendampingan ibu selama proses persalinan sampai kelahiran
bayinya oleh suami dan anggota keluarga yang lain.
b) Keterlibatan anggota keluarga dalam memberikan asuhan
antara lain membantu ibu untuk berganti posisi, melakukan
rangsangan taktil, memberikan makanandan minuman, menjadi
teman bicara/pendengar yang baik, serta memberikan
dukungan dan semangat selama persalinan sampai kelahiran
bayinya.
c) Keterlibatan penolong persalinan selama proses persalinan &
kelahiran – dengan: memberikan dukungan dan semangat
kepada ibu dan keluarga., menjelaskan tahapan dan kemajuan
persalinan, melakukan pendampingan selama proses persalinan
dan kelahiran.
d) Membuat hati ibu merasa tenteram selama kala II persalinan –
dengan cara memberikan bimbingan dan menawarkan bantuan
kepada ibu.
e) Menganjurkan ibu meneran bila ada dorongan kuat dan spontan
umtuk meneran – dengan cara memberikan kesempatan
istirahat sewaktu tidak ada his.
f) Mencukupi asupan makan dan minum selama kala II.
g) Memberika rasa aman dan nyaman dengan cara mengurangi
perasaan tegang. (b) Membantu kelancaran proses persalinan
dan kelahiran bayi. (c) Memberikan penjelasan tentang cara
dan tujuan setiap tindakan penolong. (d) Menjawab pertanyaan
ibu. (e) Menjelaskan apa yang dialami ibu dan bayinya. (f)
Memberitahu hasil pemeriksaan.
h) Pencegahan infeksi pada kala II dengan membersihkan vulva
dan perineum ibu.
i) Membantu ibu mengosongkan kandung kemih secara spontan.
3) Kala III
Kala III adalah kala dimana dimulai dari keluarnya bayi
sampai plasenta lahir. Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu
adalah :
a) Memberikan kesempatan kepada ibu untuk memeluk bayinya
dan menyusui segera.
b) Memberitahu setiap tindakan yang akan dilakukan.
c) Pencegahan infeksi pada kala III.
d) Memantau keadaan ibu (tanda vital, kontraksi, perdarahan).
e) Melakukan kolaborasi/rujukan bila terjadi kegawatdaruratan.
f) Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.
g) Memberikan motivasi dan pendampingan selama kala III
4) Kala IV
Kala IV adalah kala dimana 1-2 jam setelah lahirnya
plasenta. Asuhan yang dapat dilakukan pada ibu adalah :
a) Memantau tanda – tanda vital, kontraksi uterus, perdarahan
dalam keadaan normal.
b) Membantu ibu untuk berkemih.
c) Mengajarkan ibu dan keluarganya tentang cara menilai
kontraksi dan melakukan massase uterus.
d) Menyelesaikan asuhan awal bagi bayi baru lahir.
e) Mengajarkan ibu dan keluarganya ttg tanda-tanda bahaya post
partum seperti perdarahan, demam, bau busuk dari vagina,
pusing, lemas, penyulit dalam menyusuibayinya dan terjadi
kontraksi hebat.
f) Pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi.
g) Pendampingan pada ibu selama kala IV.
h) Nutrisi dan dukungan emosional
2.3 Asuhan Kebidanan Nifas
1. Pengertian Masa Nifas
Masa nifas atau post partum atau disebut juga masa puerperium
merupakan waktu yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ
reproduksinya seperti saat sebelum hamil atau disebut involusi terhitung
dari selesai persalinan hingga dalam jangka waktu kurang lebih 6
Minggu atau 42 hari (Maritalia, 2017)
Masa nifas (Post Partum) adalah masa di mulai setelah kelahiran
plasenta dan berakhir ketika alat kandungan kembali semula seperti
sebelum hamil, yang berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari. Selama
masa pemulihan tersebut berlangsung, ibu akan mengalami banyak
perubahan fisik yang bersifat fisiologis dan banyak memberikan ketidak
nyamanan pada awal postpartum, yang tidak menutup kemungkinan
untuk menjadi patologis bila tidak diikuti dengan perawatan yang baik
(Yuliana & Hakim, 2020).
Dari pengertian – pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
masa nifas merupakan waktu yang diperlukan untuk memulihkan
kembali organ reproduksi setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika
alat kandungan kembali seperti sebelum hamil, yang berlangsung selama
6 minggu atau 42 hari.
Asuhan kebidanan pada masa nifas merupakan kelanjutan dari
asuhan kebidanan pada ibu hamil dan bersalin. Asuhan ini juga berkaitan
erat dengan asuhan pada bayi baru lahir, sehingga pada saat memberikan
asuhan, hendaknya seorang bidan mampu melihat kondisi yang dialami
ibu sekaligus bayi yang dimilikinya. Asuhan kebidanan pada masa nifas
sebaiknya tidak saja difokuskan pada pemeriksaan fisik untuk
mendeteksi kelainan fisik pada ibu, akan tetapi seyogyanya juga berfokus
pada psikologis yang ibu rasakan. Diharapkan asuhan yang diberikan
dapat menjangkau dari segala aspek bio,psiko,sosio dan kultural ibu
2. Kebijakan Program Nasional Masa Nifas
Kunjungan masa nifas dilakukan paling sedikit empat kali
kunjungan ini bertujuan untuk menilai status ibu dan bayi baru lahir juga
mencegah, mendeteksi, serta menangani masalah masalah yang terjadi.
Tabel 2.6
Program dan Kebijakan
Kunjungan Waktu Tujuan
1. 6-8 jam setelah a. Mencegah terjadinya perdarahan pada masa nifas
persalinan b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan
dan memberi rujukan bila pendarahan berlanjut
c. Memberikan konseling kepada ibu atau salah satu
anggota keluarga mengenai bagaimana mencegah
perdarahan
2. Enam hari setelah a. Memastikan involusi uteri berjalan normal, utrus
persalinan berkontraksi, fundus dibawah umbilicus tidak ada
pendarahan abnormal, dan tidak ada bau.
b. Menilai adanya tanda tanda demam infeksi, atau
kelainan pasca melahirkan.
c. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan
cairan, dan istirahat.
d. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak ada
tanda tanda penyulit Memberikan konseling pada ibu
mengenai asuhan pada bayi, cara merawat tali pusat,
dan bagaimana menjaga bayi agar tetap hangat
3. Dua minggu Sama eperti diatas (yaitu enam hari setelah persalinan)
setelah persalinan
4. Enam minggu a. Menanyakan pada ibu tentang penyulit yang dialami
setelah persalinan atau bayinya.
b. Memberikan konseling untuk KB secara dini
(Sumber : Wilujeng Hartati, 2018)
3. Perubahan Fisiologis Masa Nifas
a. Tanda – tanda vital
Satu hari (24 jam) pada postpartum suhu badan akan naik
sedikit akibat kerja keras saat melahirkan, kehilangan cairan, dan
kelelahan. Biasanya pada hari ketiga suhu badan naik lagi karena
adanya pembentukan ASI dan payudara menjadi bengkak berwarna
merah karena banyaknya ASI.
Bila suhu tidak turun berarti menandakan kemungkinan
mengarah pada infeksi atau keadaan abnormal lainnya. Denyut nadi
normal pada orang dewasa 60-80x/menit. Setelah melahirkan biasanya
denyut nadi akan lebih cepat. Tekanan darah biasanya tidak
[Link] darah yang rendah kemungkinan karena ada
pendarahan, sedangkan tekanan darah tinggi 14 pada post partum
dapat menandakan terjadinya preeklamsia [Link]
pernapasan selalu berhubungan dengan keadaan suhu tubuh dan
denyut nadi (Dewi dan Sunarsih, 2013).
b. Sistem Reproduksi
Selama masa nifas, alat alat intrna maupun eksterna berangsur-
angsur kembali seperti keadaan sebelu [Link] keseluruhan
alat genetalia di sebut involusi. Pada masa ini terjadi juga perubahan
penting lainnya, perubahan perubahan yan terjadi antara lain sebagai
berikut :
1) Uterus
Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang
berkontraksi posisi pundus uteri berada kurang lebih pertengahan
antara umbilicus dan simfisis, atau sedikt lebih tinggii
Tabel 2.7
Tinggi Fundus Uteri dan
Berat Uterus Menurut Masa Involusi
Involusi TFU Berat Uterus
Bayi lahir Setinggi pusat, 2 jari 1.000 gr
bawah pusat
1 minggu Pertengahan pusat 750 gr
simfisis
2 minggu Tidak teraba di atas 500 gr
simfisis
6 minggu Normal 50 gr
8 minggu Normal tapi sebelum 30 gr
hamil
(Sumber : Kemenker RI,2017)
2) Lochea
Lochea adalah cairan secret yang berasaldari cavum uteri
dan vagina selama masa nifas. Locha terbagi menjadi empat jenis,
yaitu lochea rubra sanguinolenta, serosa dan lochea alba.
a) Lochea rubra (cruenta) berwarna merah karena berisi darah
segar dan sisa sisa selaput ketuban keluarnya selama 2 hari
paca persalinan.
b) Lochea sanguinolenta berwarna merah kuning berisi darah dan
lendir yang keluar pada hari ketiga–tujuh pasca persalinan.
c) Lochea serosa adalah lochea berikutnya yang keluar dari hari
ke 7 sampai ke hari 14 pasca persalinan.
d) Lochea alba adalah lochea yang terakhir di mulai dari hari ke
14 kemudian semakin lama semakin sedikit hingga sama sekali
berhenti sampai satu atau dua minggu berikutnya.
3) Endometrium
Perubahan pada endometrium adalah timbulnya thrombosis,
degenerasi, dan nekrosis di tempat implantasi plasenta
c. Sistem Pencernaan
Pada saat postpartum nafsu makan ibu bertambah Ibu dapat
mengalami obstipasi karena waktu melahirkan alat pencernaan
mendapat tekanan, pengeluaran cairan berlebih, kurang makan,
haemoroid, dan laserasi jalan lahir.
d. Sistem perkemihan
Kandung kencing dalam masa nifas kurang sensitive dan
kapasitasnya akan bertambah, mencapai 3000 ml perhari pada 2 5 hari
postpartum. Hal ini akan mengakibatkan kandung kencing penuh
Sekitar 40% wanita postpartum akan mempunyai proteinuria non
patologis sejak pasca salin hingga hari kedua postpartum mendapatkan
urin yang valid harus diperoleh dari urin kateterisasi yang tidak
terkontaminasi oleh lochea
e. Muskoloskeletal
Pada wanita beridiri di hari pertama melahirkan, abdomennya
akan menonjol dan membuat wanita tersebut tampak seperti masih
hamil. Dalam 2 minggu setelah melahirkan, dinding abdomen wanita
itu akan rilek, diperlukan sekitar 6 minggu untuk dinding abdomen
kembali ke keadaan sebelum hamil. Kulit memperoleh kembali
elastisitasnya, tetapi sejumlah keci, striae menetap
f. Payudara
Selama sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh
dan menyiapkan fungsi untuk menyediakan makanan bagi bayi baru
lahir. Setelah melahirkan, hormon yang dihasilkan plasenta tidak ada
lagi ada untuk menghambatnya kelenjar pituitari akan mengeluarkan
prolaktin (hormon laktogenerik). Sampai hari ketiga setelah
melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bisa di rasakan.
g. Sistem Endokrin
Selama proses kehamilan dan persalinan terdapat perubahan
pada sistem endokrin, terutama pada hormonhormon yang berperan
dalam proses tersebut.
h. Oksitosin
Oksitosin di sekresikan dari kelenjar otak bagian belakang.
Selama tahap pertama persalinan, hormone oksitosin, berperan dalam
pelepasan, plasenta, dan mempertahankan kontraksi, sehingga
mencegah pendarahan, isapan bayi, dapat merangsang produksi asi
dan sekresi oksitosin
i. Prolaktin
Menurunnya kadar estrogen menimbulkan terangsangn ya
kelenjar pituitary bagian belakang untuk mengeluarkan prolaktin,
hormon ini berperan dalam pembesaran payudara untuk merangsang
produksi susu.
4. Perubahan Psikologis Masa Nifas
Berikut ini 3 tahap penyesuaian psikologi ibu dalam masa post
partum Menurut Sutanto (2019) :
a. Fase Talking In (Setelah melahirkan sampai hari ke dua)
Fase taking in adalah periode ketergantungan dimana pada
saat tersebut, fokus perhatian ibu akan tertuju pada bayinya sendiri.
Rubin menetapkan periode selama beberapa hari ini sebagai fase
menerima dimana seorang ibu juga membutuhkan perlindungan serta
perawatan yang bisa menyebabkan gangguan mood dalam
psikologi.,Adapun fase talking in yang dialami ibu selama masa
nifas, yaitu :
1) Perasaan ibu berfokus pada dirinya
2) Ibu masih pasif dan tergantung dengan orang lain.
3) Perhatian ibu tertuju pada kekhawatiran perubahan tubuhnya.
4) Ibu akan mengulangi pengalaman pengalaman waktu melahirkan.
5) Memerlukan ketenangan dalam tidur untuk mengembalikan
keadaan tubuh ke kondisi normal.
6) Nafsu makan ibu biasanya bertambah sehingga membutuhkan
peningkatan nutrisi.
7) Kurangnya nafsu makan menandakan proses pengembalian
kondisi tubuh tidak berlangsung normal.
b. Fase Taking Hold (Hari ke-3 sampai 10)
Selama fase taking hold, ibu mulai tertarik merawat bayinya.
Pada fase ini ibu juga dapat diberikan pendidikan kesehatan tentang
perawatan bayi dan mempraktekkan dengan pengawasan, seperti
mendukung kepala bayi, menyusui dengan benar, atau
menyendawakan bayi. Adapun fase talking hold yang dialami ibu
selama masa nifas, yaitu sebagai berikut :
1) Ibu merasa merasa khawatir akan ketidakmampuan merawat bayi,
muncul perasaan sedih (baby blues).
2) Ibu memperhatikan kemampuan men jadi orang tua dan
meningkatkan teng gung jawab akan bayinya.
3) Ibu memfokuskan perhatian pada pengontrolan fungsi tubuh,
BAK, BAB dan daya tahan tubuh.
4) Ibu berusaha untuk menguasai keterampilan merawat bayi seperti
menggenndong, menyusui, memandikan, dan mengganti popok.
5) Ibu cenderung terbuka menerima nasehat bidan dan kritikan
pribadi.
6) Kemungkinan ibu mengalami depresi postpartum karena merasa
tidak mampu membesarkan bayinya.
7) Wanita pada masa ini sangat sensitif akan ketidakmampuannya,
cepat tersinggung, dan cenderung menganggap pemberi tahuan
bidan sebagai teguran. Dianjur kan untuk berhati-hati dalam berko
munikasi dengan wanita ini dan perlu memberi support.
c. Fase Letting Go (Hari ke-10sampai akhir masa nifas)
Pada fase ini ibu menerima anak tanpa membandingkan dengan
harapan terhadap anak pada saat menanti kelahiran. Ibu yang berhasil
melewati fase ini akan mudah melakukan peran barunya. Adapun fase
letting go yang ibu alami selama masa nifas, yaitu sebagai berikut :
1) Ibu merasa percaya diri untuk merawat diri dan bayinya. Setelah
ibu pulang ke rumah dan dipengaruhi oleh dukungan serta
perhatian keluarga.
2) Ibu sudah mengambil tanggung jawab dalam merawat bayi dan
memahami kebutuhan bayi.
5. Tanda dan Bahaya Masa Nifas
Masa nifas adalah masa yang normal bagi perempuan yang baru
saja melahirkan, namun adakalanya masa pemulihan tersebut tidak
berjalan semestinya. Pemulihan masa nifas yang tidak normal ini dapat
menimbulkan kesakitan bahkan kematian ibu nifas.
Pengetahuan ibu mengenai tanda bahaya pada ibu nifas menjadi
penting, agar ibu dan keluarga bisa segera bertindak apabila mendapati
salah satu tanda bahaya pada ibu nifas.
Tanda bahaya nifas merupakan suatu keadaan gawat darurat
setelah proses persalinan yang membutuhkan penanganan secara khusus
oleh tenaga kesehatan. Karena jika tidak dilakukan tindakan segera, akan
mengakibatkan kerusakan jaringan sistem tubuh bahkan dapat
menimbulkan kematian. Adapun beberapa tanda dan bahaya nifas, yaitu
sebagai berikut :
a. Perdarahan pasca persalinan
1) Perdarah pasca persalinan (Early Postpartum Haemorrage)
Perdarahan lebih dari 500-600 ml dalam masa 24 jam
setelah anak lahir, atau perdarahan dengan volume seberapapun
tetapi terjadi perubahan keadaan umum ibu dan tanda-tanda vital
sudah menunjukan analisa adanya perdarahan. Penyebab utama
perdarahan pasca persalinan primer adalah atonia uteri, retensio
plasenta, sisa plasenta, dan robekan jalan lahir Terbanyak dalam 2
jam pertama.
2) Perdarahan pasca persalinan sekunder (Late Postpartum
Haemorrage)
Perdarahan dengan kosep pengertian yang sama seperti
perdarahan postpartum primer namun terjadi setelah 24 jam
postpartum hingga masa nifas selesai. Biasanya terjadi pada hari
ke 5-15 postpartum, penyebab utama perdarahan pasca persalinan
sekunder adalah robekan jalan lahir dan sisa plasenta atau
membrane.
b. Infeksi masa nifas
Infeksi peradangan pada semua alat genitalia pada masa nifas
oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan
melebihi 38°C tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut
selama 2 hari. Gejala infeksi masa nifas yaitu tampak sakit atau
lemah, suhu meningkat lebih dari 38°C, tekanan darah meningkat atau
menunun lochea bernanah.
c. Keadaan abnormal payudara
Keadaan abnormal yang mungkin dapat terjadi adalah
bendungan ASI, mastitis, dan abses mamae.
d. Demam
Pada masa nifas mungkin terjadi peningkatan suhu badan atau
keluhan nyeri. Demam pada masa nifas menujukan adanya infeksi,
yang tersering infeksi kandungan dan saluran kemih ASI yang tidak
keluar terutama pada hari ke-4, terkadang menyebabkan demam
disertai payudara membengkak dan nyeri. Demam ASI ini umumnya
berakhir setelah 24 jam.
e. Kehilangan Nafsu Makan Dalam Waktu Yang Lama
Kelelahan yang amat berat setelah persalinan dapat
mempengaru nafsu makan, sehingga ibu terkadang tidak ingin makan
sampai kelelahan itu hilang. Hendaknya setelah bersalin berikan ibu
minum air hangat, nusu, kopi atau the yang bergula untuk
menggantikan tenaga yang hilang. Berikanlah makanan yang sifatnya
ringan, karena alat pencernaan perlu proses guna memulihkan
keadannya kembali pada masa postpartum.
f. Rasa Sakit Merah, Lunak Dan Pembengkakan Di Wajah Maupun
Ekstremitas
Selama masa nifas dapat terbentuk thrombus sementara pada
vena-vena di pelvis maupun tungkai yang mengalami dilatasi.
Keadaan ini secara klinis dapat menyebabkan peradangan pada vena-
vena pelvis maupun tungkai yang disebut trombofeblitia pelvika (peda
panggul) dan trombofeblitis femoralis (pada tungkai) pembengkakan
ini juga dapat terjadi karena keadaan oedema yang merupakan tanda
klinis adanya preeklamsi atau eklamsi
g. Demam, Muntah, Dan Rasa Sakit Waktu Berkemih
Pada masa nifas awal sensitivitas kandung kemnih terhadap
tegangan air kemih di dalam vesica sering menurun akibat trauma
persalinan seerta analgesia epidural atau spinal. Sensasi peregangan
kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman,
yang ditimbulkan oleh episiotomy yang lebar laserasi, hematom
dinding vagina. (Febi Sukma, dkk. 2017)
6. Pemeriksaan Fisik Nifas
Pemeriksaan fisik dilakukan secara menyeluruh dan terutama
berfokus pada masa nifas, yaitu :
a. Keadaan umum (kesadaran)
b. Tanda-tanda vital (tekanan darah, respirasi, nadi, suhu)
c. Payudara (pembesaran, putting susu, apakah ASI sudah
keluar,adakah pembengkakan, radang atau benjolan tidak normal)
d. Abdomen (TFU, kontraksi uterus)
e. Kandung kemih kosong atau penuh
f. Genetalia perineum (pengeluaran lochea, oedema, peradangan,
keadaan jahitan, nanah, tanda-tanda infeksi pada luka jahitan,
kebersihan perineum dan haemoroid pada anus).
g. Ekstremitas (pergerakan, gumpalan darah pada otot kaki yang
menyebabkan nyeri, oedema, dan varices)
h. Pengkajian psikologis dan pengetahuan ibu
7. Kebutuhan Dasar Ibu Nifas
Seorang ibu yang baru melahirkan memiliki kebutuhan khusus
yang berbeda dengan ibu hamil. Kebutuhan yang perlu diperhatikan oleh
seorang bidan dalam memberikan asuhan pada ibu nifas meliputi :
a. Kebutuhan nutrisi dan cairan
Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari, dan minum
sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap
kali menyusui).
b. Kebutuhan ambulasi
Mobilisasi hendaknya dilakukan secara bertahap. Dimulai
dengan gerakan miring ke kanan dan ke kiri. Penelitian
menyebutkan early ambulation (gerakan sesegera mungkin) bisa
mencegah aliran darah terhambat. Hambatan aliran darah bisa
menyebabkan terjadinya trombosis vena dalam atau DVT (Deep
Vein Thrombosis) dan bisa menyebabkan [Link]
melakukan moblisasi secara berlebihan karena bisa membebani
jantung.
c. Kebutuhan eliminasi
Diuresis pascapartum, yang disebabkan oleh penurunan
kadar estrogen, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat
bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat
kehamilan, merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi
kelebihan cairan. Kehilangan cairan melalui keringat dan
peningkatan jumlah urine menyebabkan penurunan berat badan
sekitar 2,5 kg selama masa pasca partum.
d. Kebutuhan kebersihan diri
Perawatan luka perineum bertujuan untuk mencegah
infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan mempercepat
penyembuhan. Perawatan luka perineum dapat dilakukan dengan
cara mencuci daerah genital dengan air dan sabun setiap kali
habis BAK/BAB
e. Kebutuhan istirahat
Ibu nifas memerlukan istirahat yang cukup, istirahat tidur
yang dibutuhkan ibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1
jam pada siang [Link] istirahat Akan mempengaruhi ibu
dalam beberapa hal: Mengurangi jumlah ASI yang di produksi,
Memperlambat proses involusio uterus dan meningkatkan
perdarahan, dan Menyebabkan depresi dan ketidakmampuan
untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
2.4 Asuhan Kebidanan Bayi Baru Lahir
1. Pengertian Bayi Baru Lahir
Dewi (2010, dalam herman, 2020) mengatakan bahwa bayi baru
lahir disebut juga dengan neonatus merupakan individu yang sedang
bertumbuh dan baru saja mengalami trauma kelahiran serta harus dapat
melakukan penyesuaian diri dari kehidupan intrauterine ke kehidupan
ekstrauterin
Bayi baru lahir atau neonatus adalah masa kehidupan (0–28
hari), dimana terjadi perubahan yang sangat besar dari kehidupan di
dalam rahim menuju luar rahim dan terjadi pematangan organ hampir
pada semua sistem. Bayi hingga umur kurang satu bulan merupakan
golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi
dan berbagai masalah kesehatan bisa muncul, sehingga tanpa
penanganan yang tepat bisa berakibat fatal (Kemenkes RI, 2020).
Dari pengertian – pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa
bayi baru lahir merupakan individu yang sedang bertumbuh pada masa
kehidupan (0–28 hari), serta harus bisa melakukan penyesuaian diri dari
kehidupan di dalam rahim menuju luar rahim.
2. Ciri – ciri Bayi Normal
Menurut Saleha (2012), berikut adalah ciri- ciri bayi lahir
normal adalah
a. Berat badan 2500 -4000 gram.
b. Panjang badan lahir 48-52 cm.
c. Lingkar dada 30-38.
d. Lingkar kepala 33-35.
e. Frekuensi jantung 180 denyut/menit,kemudian menurun sampai
120-140 denyut/menit.
f. Pernafasan pada beberapa menit pertama cepat, kira - kira 80
kali/menit, kemudian menurun setelah tenang kira - kira 40
kali/menit.
g. Kulit kemerah - merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup
terbentuk dan diliputi verniks kaseosa.
h. Rambut lanugo tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah
sempurna.
i. Kuku agak panjang dan lemas.
j. Genetalia : labia mayora sudah menutupi labia minora (pada
perempuan), testis sudah turun (pada laki-laki).
k. Refleks isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik.
l. Refleks moro sudah baik, jika terkejut bayi akan memperlihatkan
m. Gerakan tangan seperti memeluk.
n. Eliminasi baik urine dan mekonium akan keluar dalam 24 jam
pertama
3. Klasifikasi Bayi Baru Lahir
Neonatus adalah organisme pada periode adaptasi kehidupan
intrauterine kekehidupan [Link] dan perkembangan
normal masa neonatal adalah 28 hari (Sari, 2012). Neonatus dapat
diklasifikasikan menurut berat lahir dan masa gestasi. Klasifikasi
menurut berat lahir :
a. Bayi berat lahir rendah, bila berat lahir kurang dari 2500 gram.
b. Berat lahir cukup, bila berat lahir 2500 sampai 4000 gram.
c. Berat lahir lebih, bila berat lahir 4000 gram atau lebih.
Pembagian ini sesuai dengan angka kematian menurut golongan
berat lahir. Angka kematian rendah terdapat pada berat lahir
[Link] menurut masa gestasi, yaitu periode sejak konsepsi
sampai bayi [Link] ini menunjukkan maturitas neonatus
pada saat dilahirkan (Wahyuni, 2012).
4. Perubahan Segera Setelah Bayi Lahir
a. Sistem kasdiovaskuler
Sistem kardiovaskuler mengalami perubahan yang mencolok
setelah bayi lahir, foramen ovale, duktus arteiosus dan duktus
venoses menutup sedangkan arteri umbilikalis vena umbilikalis dan
arteri hepatica menjadi ligament.
Frekuensi denyut jantung bayi rata-rata adalah 140x/menit
saat lahir dengan variasi berkisar antara120-160x/menit Tekanan
darah sistolik bayi baru lahir ialah 78 mmHg dan diastolic ialah 42
mmHg Tekanan darah berbeda dari hari ke hari selama bulan
pertama kehidupannya Tekanan darah sistolik bayi sering menurun
(15 mmHg) selama 1 jam pertama setelah lahir, menangus dan
bergerak biasanya menyebabkan peningkatan tekanan darah sistolik.
Volume darah bayi baru lahir bervariasi dari 80 sampai 110ml/kg
selama beberapa hari pertama dan meningkat dua kali lipat ada
akhir tahun pertama (Dewi 2012)
b. Tali pusat
Pemotongan tali pusat merupakan pemisahan antara ibu dan
bayi. Dengan diklemnya tali pusat, maka mengubah dinamika
sirkulasi darah bayi baru lahir, tindakam pengkleman yang
terlambat akan meningkatkan bolume darah dari tranfusi plasenta,
keadaan ini akan menyebabkan ukuran jantung, tekanan darah
sistolik dan kecepatan pernafasan akan bertambah. Talimpusat
biasanya lepas dalam 3 hari sampai 14 hati setelah bayi lahir (Dewi
2012).
c. Suhu tubuh
Ketika bayi baru lahir, bayi berasa pada suhu lingkungan
yang lebih rendah dari suhu di dalam rahim. Apabila bayi dibiarkan
dalam suhu kamar maka akan kehilangan panas. Evaporasi
sebanyak 200 kal/kg/BB/menit. Sedangkan produksi yang
dihasilkan tubuh bayi hanya 1/100 nya, keadaan ini menyebabkan
penurunan suhu bayi sebanyak 20C dalam waktu 15 menit. Akibat
suhu yang rendah metabolisme jaringan meningkat dan kebutuhan
O2 pun meningkat.
d. Sistem pernafasan
Tarikan nafas pertama terjadi bahwa dua factor yang
berperan pada rangsangan dan nafas pertama bayi, yaitu hipoksia
pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim
yang merangsang pusat pernafasan di otak dan tekanan terhadap
rongga dada yang terjadi karena kompresi paru-paru selama
persalinan yang merangsang masuknya udara kedalam paru-
parusecara mekaniis.
e. Sistem neurologik
Bayi yang di lahirkan mempunyai sejumlah reflex. Hal ini
merupakan dasar bagi bayi untuk mengadakan reaksi dan tindakan
aktif, yaitu
1) Reflex Moro, yaitu reflek peluk atau reflek terkejut, anak
mengambangkan tangan kesamping lebar-lebar melebarkan jari
jari lalu mengembalikan dengan tarikan cepat seakan-akan
memeluk orang.
2) Reflex Tonick Neck, yaitu reflek otot leher anak akan
mengangkat leher dan menoleh ke kanan atau kiri jika
ditekankan posisi tengkurap.
3) Reflex Rooting, yaitu timbul karena stimulasi taktil pada pipi
dan daetah mulut anak mereaksi mmeutar kepala seakan-akan
mencari putting susu.
4) Reflex Sucking, yaitu menghisap dan menelan timbul bersama
sama dengan rangsangan pipi untuk menghisap putting susu dan
menelan ASI
5) Reflex Grasping, yaitu menggenggam bila jari diletakan pada
telapak tangan bayi, maka bayi akan menutup telapak tangan
tadi atau menggenggam
6) Reflex Babinsky, yaitu bila ada rangsangan pada telapak tangan
ibu, jari kaki bayi bergerak ke atas jari-jari lain membuka
7) Reflex Stapping, yaitu melangkah jika bayi dibuat posisi berdiri
maka aka nada gerakan spontan kaki melangkah ke depan
walaupun belum bisa berjalan.
5. Tanda – tanda Bahaya Bayi Baru Lahir
Adapun beberapa tanda bahaya yang bisa dialami oleh bayi baru
lahir, diantarannya yaitu :
a. Tidak bernafas/sulit bernafas
Penanganan umum yang bisa diberikan adalah
1) Keringkan bayi atau ganti kain yang basah dan bungkus dengan
pakaian hangat dan kering
2) Segera klem dan potong tali pusat
3) Letakkan bayi pada tempat yang keras dan hangat
4) Lakukan pedoman pencegahan infeksi dalam setiap melakukan
tindakan
5) Lakukan resusitasi bila terdeteksi adanya kegagalan nafas
setelah bayi lahir
6) Jika resusitasi tidak berhasil, maka berikan ventilasi
b. Sianosis/kebiruan dan sukar bernafas
Jika bayi mengalami sianosis (kebiruan), sukar bernafas
(frekuensi < 30 atau > 60x/menit), ada tarikan dinding dada ke
dalam atau merintih, maka lakukan hal berikut :
1) Isap mulut dan hidung bayi untuk memastikan jalan nafas tidak
tersumbat
2) Berikan oksigen 0,5 liter/menit
3) Rujuk ke kamar bayi atau tempat pelayanan yang men-support
kondisi bayi
4) Tetap menjaga kehangatan bayi
c. Letargi Tonus otot rendah dan tidak ada gerakan sehingga sangat
mungkin bayi sedang sakit berat. Jika ditemukan kondisi demikian,
maka segera rujuk.
d. Hipotermi (suhu < 36°C)
Bayi mengalami hipotermi berat jika suhu aksila < 35°C.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, lakukan hal berikut :
1) Gunakan alat yang ada inkubator, radian heater, kamar hangat,
atau tempat tidur hangat
2) Rujuk ke pelayanan kesehatan yang memiliki NICU
3) Jika bayi sianosis, sukar bernafas atau ada tarikan dinding dada
dan merintih segera berikan oksigen.
e. Diare
Bayi dikatakan diare jika terjadi pengeluaran feses yang
tidak normal, baik dalam jumlah maupun bentuk (frekuensi lebih
dari normal dan bentuknya cair). Bayi dikatakan diare bila sudah
lebih dari 3 kali buar aing besar. Sedangkan neonatus dikatakan
diare bila sudah lebih dari 4 kali buang air besar.
f. Obstipasi
Obstipasi adalah penimbunan feses yang keras akibat adanya
penyakit atau adanya obstruksi pada saluran cerna atau bisa
didefinisikan sebagi tidak adanya pengeluaran feses selama 3 hari
atau lebih.
g. Infeksi
Infeksi perinatal adalah infeksi pada neonatus yang
terjadipada masa antenatal, intranatal dan postnatal. (Rusmita,
2016)
6. Asuhan Bayi Baru Lahir
Asuhan bayi baru lahir adalah asuhan yang diberikan pada bayi
tersebut selama jam pertama setelah kelahiran, sebagian besar BBL
akan menunjukkan usaha pernapasan spontan dengan sedikit bantuan.
Setelah lahir BBL harus dipindahkan dari keadaan sangat bergantung
menjadi fisiologis. Saat ini bayi harus mendapatkan pernapasannya
sendiri lewat sirkulasi baru mendapatkan nutrisi oral untuk
mempertahankan kadar gula yang cukup. Menurut (Indrayani, 2016),
asuhan bayi baru lahir sebagai berikut :
a. Penilaian segera setelah lahir
Penilaian meliputi apakah bayi cukup bulan, apakah air
ketuban jernih dan tidak bercampur mekonium, apakah bayi
menangis atau bernafas/tidak megap-megap, apakah tonus otot bayi
baik / bayi bergerak aktif.
b. Pencegahan kehilangan panas
BBL dapat mengalami kehilangan panas tubuhnya melalui
proses konduksi, konveksi, dan radiasi dan evaporasi. Segera
setelah bayi lahir upayakan untuk mencegah hilangnya panas dari
tubuh bayi, hal ini dapat dilakukan dengan cara mengeringkan
tubuh bayi, letakkan bayi di dada ibu,selimuti bayi terutama bagian
kepala dengan kain yang kering, tunggu minimal hingga 6 jam
setelah bayi lahir untuk memandikan bayi, jangan mandikan bayi
sebelum suhu tubuhnya stabil (suhu aksila 36,5 36) tempatkan bayi
dilingkungan yang hangat
Gambar 2.4
Meksanisme Kehilangan Panas pada Bayi
(Yulianti, Dian. 2017, [Link]
pada-neonatus/, diunduh pada tanggal 12 Oktober 2022).
c. Perawatan Tali Pusat
Mengikat tali pusat dengan terlebih dahulu mencelupkan
tangan yang masih menggunakan sarung tangan kedalam larutan
klorin 0,5%, untuk membersihkan darah dan sekresi tubuh lainya.
Bilas tangan dengan air 8 matang/ desinfeksi tingkat tinggi
dan keringkan tangan tersebut dengan handuk / kain bersih dan
kering. Ikat puntung tali pusat sektiar 1 cm dari pusat bayi dengan
menggunakan benang desinfeksi tingkat tinggi / klem plastik tali
pusat.
Jika menggunakan benang tali pusat, lingkarkan benang di
sekeliling puntung tali pusat dan lakukan pengikatan ke 2 dengan
simpul kunci dibagian tali pusat pada hasil yang berlawanan.
Lepaskan klem penjepit tali pusat dan letakkan didalam larutan
klorin 0,5%. Setelah selesai selimuti ulang bayi dengan kain bersih
dan kering. Pastikan bahwa bagian kepala bayi tertutup dengan
baik. Perawatan tali pusat dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Tali pusat dicuci setiap hari dan apabila terlihat kotor
2) Tidak memberi ramuan apapun pada tali pusat
3) Tidak mengompres tali pusat dengan alcohol dan betadine
4) Tali pusat hanya ditutup dengan kasa yang bersih dan kering
d. Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
Bayi harus mendapatkan kontak kulit dengan kulit ibunya
segera setelah lahir selama kurang lebih 1 jam. Bayi harus
menggunakan naluri alamiahnya untuk melakukan IMD. f.
Pemberian ASI Pastikan bahwa pemberian ASI dimulai dalam
waktu 1 jam setelah bayi lahir. Jika mungkin, anjurkan ibu untuk
memeluk dan mencoba untuk menyusukan bayinya segera setelah
tali pusat diklem dan dipotong berdukungan dan bantu ibu untuk
menyusukan bayinya. Keuntungan pemberian ASI :
1) Merangsang produksi air susu ibu
2) Memperkuat reflek menghisap bayi
3) Memberikan kekebalan pasif segera kepada bayi melalui
colostrum
4) Merangsang kontraksi uterus
e. Pencegahan infeksi mata
Salep atau tetes mata untuk pencegahan infeksi mata
diberikan setelah proses IMD dan bayi selesai menyusu. Salep mata
atau tetes mata tersebut mengandung tetrasiklin 1% atau antibiotika
lain. Upaya pencegahan infeksi mata kurang efekyif jika diberikan
> 1 jam setelah kelahiran.
f. Pemberian vitamin K1
Untuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi
vitamin K pada bayi baru lahir lakukan hal-hal seperti semua bayi
baru lahir normal dan cukup bulan perlu diberi vitamin K peroral
1mg/hari, bayi resiko tinggi diberi vitamin K parenteral dengan
dosis 0,5-1 mg IM dipaha kiri.
g. Pemberian imunisasi
Imunisasi hepatitis B bermafaat untuk mencegah infeksi
hepatitis B terhadap bayi, terutama jalur penularan melalui ibu
kepada bayi. Imunisasi ini diberikan 1 jam setelah pemberian
vitamin K1, pada saat bayi baru berumur 2 jam.
h. Pemeriksaan BBL
Pemeriksaan BBL dapat dilakukan 1 jam setelah kontak kulit ke
kulit.
7. Jenis Imunisasi Pada Bayi
Imunisasi merupakan cara atau transfer antibody secara pasif.
Imunisasi berfungsi untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak bayi terpajan pada antigen
yang serupa tidak terjadi sakit. Tujuan imunisasi adalah mencegah
terjadinya penyakit tertentu pada seseorang, dan menghilangkan penyakit
tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi). Beberapa jenis imunisasi
dasar yang diberikan untuk bayi 0-9 bulan, yaitu:
a. Hepatitis B yaitu untuk mencegah Hepatitis B (kerusakan hati).
b. BCG yaitu untuk mencegah penyakit TB/Tuberkulosis (sakit paru -
paru) sebaiknya di berikan sebelum usia 2 bulan.
c. Polio/IPV yaitu untuk mencegah penyakit polio (lumpuh layuh pada
tungkai kaki dan lengan tangan).
d. DPT-Hb-Hib yaitu untuk mencagah penyakit Difteri/Pertusis
(penyumbatan jalan nafas), batuk rejan (batuk 100 hari), dan Tetanus.
e. Campak yaitu mencegah campak (radang paru,radang otak, dan
kebutaan)
Tabel 2.8 Jadwal Imunisasi Pada Bayi
Jenis Usia Jumlah Dosis Interval
Imunisasi Pemberian Pemberian Minimal
Hepatitis B 0 – 7 hari 1 0,5 ml -
BCG 1 bulan 1 0,05 ml -
Polio/IPV 1,2,3,4 bulan 4 2 tetes 4 minggu
DPT-Hb-Hib 2,3,4 bulan 3 0,5 ml 4 minggu
Campak 9 bulan 1 0,5 ml -
(Sumber: Dian, dkk, 2014)
2.5 Pendokumentasian Asuhan Kebidanan
1. Pengertian Pendokumentasian
Menurut Sugiyono (2018:476) dokumentasi adalah suatu cara
yang digunakan untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk
buku, arsip, dokumen, tulisan angka dan gambar yang berupa laporan
serta keterangan yang dapat mendukung penelitian.
Dokumentasi kebidanan adalah kegiatan pencatatan,
pemeliharaan, dan proses komunikasi terhadap informasi yang
berkaitan dengan pengelolaan pasien guna mempertahankan sejumlah
fakta dari suatu kejadian dalam suatu waktu. (Aning, Subiyatin 2017)
Dokumentasi kebidanan harus dikerjakan oleh bidan sebagai
bentuk tanggung jawab dan gugat dalam memberikan asuhan
kebidanan. Kerena bidan menggunakan proses penatalaksanaan
kebidanan dalam membuat keputusan klinik, maka ia harus mencatat
temuan dan keputusannya. Hal ini sangat penting untuk diingat bahwa
jika temuan tidak dilaporkan, maka seolah-olah ia tidak melakukan
tindakan. Dokumentasi memberikan catatan permanen mengenai
manajemen pasien dan dapat dijadikan sebagai pertukaran informasi
dengan petugas lain.
Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
pendokumentasi kebidanan merupakan suatu cara yang digunakan
untuk memperoleh data dan informasi dalam bentuk buku, arsip,
dokumen, serta sebagai kegiatan pencatatan, pemeliharaan, dan proses
komunikasi terhadap informasi yang berkaitan dengan pengelolaan
pasien guna mempertahankan sejumlah fakta dari suatu kejadian dalam
suatu waktu.
2. Metode Pendokumentasin
a. Metode Varney
Proses penatalaksanaan kebidanan yang telah
dirumuskan oleh Varney adalah sebagai berikut:
1) Pengumpulan data
Pengkajian data meliputi data subjektif dan data
objektif. Data subjektif berisi identitas, keluhan yang dirasakan
dari hasil anamnesa langsung. Data objektif merupakan
pencatatan dari hasil pemeriksaan fisik, pemeriksaan khusus
kebidanan, data penunjang, hasil laboratorium seperti
pemeriksaan protein urin, glukosa darah, VDRL ataupun hasil
USG.
2) Rumusan diagnosa dan masalah
Keduanya digunakan karena masalah tidak dapat
didefinisikan seperti diagnosa tetapi tetap membutuhkan
penanganan. Masalah sering berkaitan dengan hal-hal yang
sedang dialami wanita yang diidentifikasi oleh bidan sesuai hasil
pengkajian. Masalah sering juga menyertai diagnosa.
3) Mengidentifikasi diagnose atau Masalah Potensial
Pada langkah ketiga ini bidan melakukan identifikasi
dan masalah potensial berdasarkan diagnosa/ masalah yang
sudah diidentifikasi. Langkah ketiga ini merupakan antisipasi
bidan, guna mendapatkan asuhan yang aman. Pada tahap ini
bidan diharapkan waspada dan bersiap-siap untuk mencegah
diagnosa/potensial terjadi.
4) Menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera untuk
melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain
berdasarkan kondisi pasien.
Pada langkah ini bidan melakukan identifikasi dan
menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera berdasarkan
diagnosa/ masalah yang sudah ditegakkan. Kegiatan bidan pada
langkah ini adalah konsultasi, kolaborasi, dan melakukan
rujukan.
5) Menyusun rencana asuhan yang menyuluruh.
Setelah diagnose dan masalah ditetapkan maka
langkah selanjutnya adalah membuat perencanaan secara
menyeluruh. Rencana menyeluruh ini meliputi apa-apa yang
sudah teridentifikasi dari kondisi klien atau dari setiap masala
yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi
terhadap klien apa yang akan terjadi apakah dibutuhkan
penyuluhan, konseling, dan rujukan. Bidan dalam melakukan
perumusan perencanaan harus bersama klien dan membuat
kesepakatan bersama sebelum melakukan tindakan. Asuhan
yang diberikan bidan harus sesuai teori yang up date.
6) Pelaksanaan langsung asuhan dengan efisien dan aman.
Pada langkah ini semua perencanaan asuhan
dilaksanakan oleh bidan baik secara mandiri ataupun
berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya.
7) Mengevaluasi.
Merupakan langkah terakhir dalam manajemen
kebidanan. Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari
asuhan yang sudah diberikan. Rencana tersebut dapat dianggap
efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya. Jika
dalam pelaksanaanya tidak efektif maka perlu dilakukan
pengkajian mengapa proses asuhan tersebut tidak efektif, dan
melakukan penyesuaian pada rencana asuhan tersebut
(Subiyatin, 2020)..
c. Metode SOAPIE
1) S : Subjektif
Data subjektif adalah data yang diperoleh dari sudut
pandang pasien atau segala bentuk pernyataan atau keluhan dari
pasien. Pada pasien bisu maka dibagian data belakang “S” diberi
kode “0” atau “X”.
2) O : Objektif
Data objektif merupakan data yang diperoleh dari hasil
pemeriksaan/observasi bidan atau tenaga kesehatan lain. Yang
termasuk dalam data objektif meliputi pemeriksaan fisik pasien,
pemeriksaan laboratorium, ataupun pemeriksaan diagnostik
lainnya.
3) A : Assesment
Assesment adalah pendokumentasian dari hasil analisa
data subjektif dan data obejktif. Analisa yang cepat dan akurat
sangat diperlukan guna pengambilan keputusan/tindakan yang
tepat.
4) P : Planning
Planning (perencanaan) adalah rencana yang dibuat
berdasarkan hasil analisa. Rencana asuhan ini meliputi rencana
saat ini dan akan datang.
5) I : Implementation
Implentation (pelaksanaan) merupakan tindakan yang harus
dilakukan sesuai perencanaan. Dalam melakukan tindakan harus
disetujui oleh pasien kecuali tidak dilaksanakan.
6) E : Evaluation
Evaluation merupakan hal penting untuk menilai
ketepatan tindakan dan keefektifan asuhan yang telah diberikan
bidan. Jika tujuan tindakan tidak tercapai maka proses evaluasi
digunakan sebagai dasar tindakan alternatif lain guna mencapai
tujuan
d. Metode SOAP
a. S : Subjektif
Data subjektif adalah data yang diperoleh dari sudut
pandang pasien atau segala bentuk pernyataan atau keluhan dari
pasien. Pada pasien bisu maka dibagian data belakang “S” diberi
kode “0” atau “X”.
b. O : Objektif
Data objektif merupakan data yang diperoleh dari hasil
pemeriksaan/observasi bidan atau tenaga kesehatan lain. Yang
termasuk dalam data objektif meliputi pemeriksaan fisik pasien,
pemeriksaan laboratorium, ataupun pemeriksaan diagnostik
lainnya.
c. A : Assesment
Assesment adalah pendokumentasian dari hasil analisa
data subjektif dan data obejktif. Analisa yang cepat dan akurat
sangat diperlukan guna pengambilan keputusan/tindakan yang
tepat.
d. P : Planning
Planning (perencanaan) adalah rencana yang dibuat
berdasarkan hasil analisa. Rencana asuhan ini meliputi rencana
saat ini dan akan datang.
BAB III
PERKEMBANGAN KASUS
Study kasus ini dilakukan di PMB Bdn. Ermiyati [Link]
Data Profil Bidan
a. Biodata
Nama : Bidan Ermiyati, [Link]
Agama : Islam
Suku/Bangsa : Sunda/Indonesia
Alamat : Jalan Jinjing No.71 RT 005 RW 002 Pasir Putih
SIPB : 448.2/ 14231/ SDK/ SIPBm : XI /2017
b. Pelayanan
1. Persalinan 24 jam
2. Pemeriksaan kehamilan
3. Keluarga berencana ( suntik, pil, iud, kondom, implan, )
4. Prenatal yoga
5. Pijat bayi dan Cukur rambut bayi
6. Imunisasi dll
c. Alamat
Jalan Jinjing, RT.5/RW.2, Kelurahan Pasirputih, Sawangan (Bidan
Ermiyati), KOTA DEPOK, SAWANGAN, JAWA BARAT, ID, 16519
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL
KUNJUNGAN PERTAMA
I. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS
Nama : Ny. Uum Nama Suami : Tn. Rasno
Umur : 40 tahun Umur : 47 tahun
Suku : Jawa Suku : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SD Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat Kantor :- Alamat Kantor :-
Alamat Rumah : Gg. Delman RT 003/008
Telepon : 081514743011
B. ANAMESA
Pada tanggal : 06 Februari 2023 Pukul : 08.30 WIB
1. Alasan Kunjungan : Kunjungan ulang
Kunjungan pertama : Rutin
Kunjungan ulang : Ibu mengatakan adanya sedikit rasa mulas
2. Riwayat Kehamilan Ini
Riwayat Menstruasi
HPHT : 23 – 05 – 2022
Lamanya : 7 – 8 hari
Banyaknya : 2 – 3 x ganti pembalut
Siklus : 28 hari, teratur
Konsistensi : Hari pertama gumpalan, hari selanjutnya lancar
TP : 01 – 03 – 2023
Tanda – tanda kehamilan : Mual, muntah
Hasil Test Kehamilan :+
Tanggal dilakukan test : 01 – 06 – 2022
Pergerakan feruts dirasakan pertama kali : Ya
Pergerakan fetus dalam 24 jam terakhir : 3 kali
Ibu merasa sakit pada saat janin bergerak : Tidak
Keluhan yang dirasakan (bila diperlukan)
Rasa lelah : Ya
Mual muntah yang lama : Tidak
Nyeri perut : Tidak
Panas menggigil : Tidak
Sakit kepala berat/ terus-menerus : Tidak
Penglihatan kabur : Tidak
Rasa nyeri/ panas waktu BAK : Tidak
Rasa gatal pada vulva/ vagina dan sekitarnya : Tidak
Pengeluaran cairan pervaginam : Tidak
Nyeri kemerahan, tegang pada tungkai : Tidak
Oedema : Tidak
Diet/makan : 3 kali sehari
Makanan sehari – hari : Nasi, lauk pauk, sayur mayur, buah, susu
Perubahan pola makan : Ya
Pola Eliminasi : BAB 1 kali sehari
: BAK 5 kali sehari
Akrifitas sehari – hari : Mengerjakan pekerjaan rumah tangga
Pola Istirahat dan Tidur : Tidur siang 1 – 2 jam
: Tidur malam 7 – 8 jam
Seksualitas : 1 kali dalam seminggu
Imunisasi TT : TT1 : 31 – 11 – 2022
: TT2 : 08 – 12 – 2022
Kontasepsi yang pernah digunakan : Suntik KB 3 bulan (1 tahun)
3. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
No Tgl/Thn Tempat Usia Jenis Penolong Penyulit JK PB &
Partus Partus Kehamilan partus BB
1. 2002 Paraji Aterm Normal Paraji Pr 1600&45
2. 2011 PMB Aterm Normal Bidan Lk 3000&48
3. 2012 PMB Aterm Normal Bidan Pr 3000&48
4. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat penyakit yang pernah diderita
Jantung : Tidak ada
Tekanan darah tinggi : Tidak ada
Hepar : Tidak ada
Diabetes melitus : Tidak ada
Anemia berat : Tidak ada
Penyakit hubungan seksual : Tidak ada
Campak, rubella : Tidak ada
Malaria : Tidak ada
Tuberculosis : Tidak ada
Gangguan mental : Tidak ada
Operasi, seksio caesaria : Tidak ada
b. Lain – lain/ Riwayat keturunan : Tidak ada
c. Perilaku kesehatan
Pengguna alcohol : Tidak ada
Obat/jamu yang sering digunakan : Tidak ada
Meroko, makan sirih : Tidak ada
Iritasi vagina/ganti pakaian dalam : Tidak ada
5. Riwayat Psikososial
a. Apakah kehamilan ini direncanakan : Ya
b. Jenis kelamin yang diharapkan : Laki – laki
c. Status perkawinannya : 1 ( satu )
d. Ibu pantang makanan tertentu : Tidak
e. Suami sebagai pengambil keputusan : Ya
f. Ibu memiliki kepercayaan tertentu : Tidak
g. Ibu dan keluarga sangat menginginkan anak ini : Ya
i. Tempat bersalin yang di inginkan : Bidan
C. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan Umum
1. Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Keadaan Emosional : Stabil
2. Tanda – Tanda Vital
TD : 100/80 mmHg Rr : 21 kali/menit
Nadi : 81 kali/menit S : 360C
3. Tinggi Badan : 162 cm Berat Badan : 62 kg
Sebelum Hamil : 51 kg
Kenaikan BB : 11 kg
LILA : 24 cm
4. Kepala : Rambut : Bersih
Muka : Simetris
Kelopak mata : Tidak oedema
Konjungtiva : Tidak anemis
Sklera : Tidak ikterik
Mulut dan Gigi : Bersih, normal
5. Leher : Kelenjar Thyroid : Tidak ada pembengkakan
Kelenjar Getah Bening : Tidak ada pembengkakan
6. Dada dan Axila
Mamae : Membesar : Ya
Simetris : Ya
Benjolan/tumor : Tidak ada
Areola : Hitam kecoklatan
Pengeluaran : Kolostrum
Axila/Pembesaran : Ya
Jantung dan Paru : Tidak ada
7. Punggung dan Pinggang
Posisi tulang belakang : Normal
Nyeri pinggang : Tidak ada
8. Eksremitas atas dan bawah
Atas : Normal tidak oedema
Bawah : Simetris : Ya
Oedema : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Tanda human : Tidak ada
Refleks Patella : Ada
D. PEMERIKSAAN OBSTETRIK
1. Abdomen
a. Inspeksi
Pembesaran : ya
Memanjang/melintang : memanjang
Linea alba/nigra : Alba
Striae albicans/livide : Striae albicans
Bekas luka operasi/section caesaria : Tidak ada
b. Palpasi
Gerakan janin : Baik
Kontraksi : Baik
TFU : 29 cm
Leopold I : Bulat, lunak, tidak melenting (bokong)
Leopold II : Kanan : Panjang datar seperti
tekanan
: Kiri : Bagian kecil janin
Leopold III : Bagian bawah teraba bulatm keras melenting
Leopold IV : Divergent 3/5
TBBJ : (30 – 11 ) x 155 = 2.945 gram
c. Aukultasi
DJJ : Puntum maksimum (PM) : satu tempat
Tempat : Kuadran kanan bawah pusat
Frekuensi : 137x/menit
Teratur/tidak : teratur
Instensitas : sedang
2. Anogenital
a. Inspeksi
Perineum luka parut : Tidak dilakukan
Vulva/vagina : Warna : Normal, tidak ada kelainan
Luka : Tidak terdapat luka
Fistula : Normal
Oedema : Tidak terdapat oedema
Varices : Tidak terdapat varices
Pengeluaran pervaginam : Tidak ada
Warna : Tidak ada
Kelenjar bartholini : Pembengkakan : Tidak ada
Anus : Tidak ada haemoroid
b. Pemeriksaan dalam
Serviks dan Vagina
Dinding vagina : Normal, tidak ada pembengkakan
Ukuran serviks : Normal
Posisi serviks : tebal, lunak
Pembukaan : 1 cm
Konsistensi : Lunak
c. Promontorium Klinis : K/P
Promontorium : Tidak dilakukan
Conjugata Diagonalis :Tidak dilakukan
Conjugata vera : Tidak dilakukan
Linea Innominata : Tidak dilakukan
Dinding samping/ side wall :Tidak dilakukan
Spina Ischiadica : Tidak dilakukan
Distantia Interspinarum : Tidak dilakukan
Sacrum : Tidak dilakukan
Os Coccygis : Tidak dilakukan
Arcus pubis : Tidak dilakukan
Imbang feto pelviks : Tidak dilakukan
Kesan tunggal :Tidak dilakukan
E. PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Darah : Hb : 11,2% gr
Golongan Darah : A+
Urin : Protein : NR
Reduksi : NR
Pemeriksaan penunjang lain : Tidak ada
II. INTERPETASI DATA
Diagnosa Ibu : Ny. U usia 40 tahun G4P3A0 hamil 37 minggu
Dasar : Ibu mengatakan ini kehamilan keempat dan tidak
pernah keguguran
Diagnosa Janin : Tunggal hidup intrauterint letak kepala
Dasar : Adanya gerakan janin dan pemeriksaan leopold
III. DIAGNOSA MASALAH POTENSIA
TIDAK ADA
IV. TINDAKAN SEGERA/KOLABORASI
TIDAK ADA
V. PERENCANAAN ASUHAN
1. Beritahu hasil pemeriksaan
2. Beritahu ibu bahwa sudah ada pembukaan
3. Beritahu ibu tanda – tanda persalinan
4. Beritahu ibu persiapan persalinan
5. Beritahu ibu pola makanan
6. Beritahu ibu untuk melakukan kunjungan ulang
7. Lakukan pendokumentasian
VI. PELAKSANAAN ASUHAN
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa ibu dan janin
dalam keadaan baik yaitu TD : 100/80 mmHg, N : 81x/menit, Rr :
21x/menit, S : 36°C, serta DJJ : 137x/menit.
2. Memberitahu ibu bahwa sudah ada pembukaan yaitu pembukaan 1 cm (1
jari sempit) dan menganjurkan ibu untuk melakukan beberapa gerakan
yang bisa mempercepat pembukaan jalan lahir seperti berdiri tegak
dengan mengangkat satu kaki ke atas satu kursi
3. Memberitahu ibu tentang tanda – tanda persalinan, yaitu :
a. Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering dan teratur.
b. Keluar lendir bercampur darah (blood slime) yang lebih banyak
karena robekan-robekan kecil pada serviks.
c. Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya
Beritahu apabila sudah merasakan tanda – tanda persalinan untuk segara
mendatangi fasilitas kesehatan terdekat
4. Menjelaskan tentang persiapan persalinan, seperti pakaian ibu dan bayi,
asuransi kesehatan, kendaraan pribadi, biaya persalinan, pendamping
persalinan, persiapan pendonor darah, penolong, serta tempat bersalin.
5. Menganjurkan kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bernutrisi,
dengan cara perbanyak mengkonsumsi makanan yang bergizi dan
mengandung zat besi
6. Memberitahu ibu untuk melakukan kunjungan jika mulas nya sudah mulai
terasa sering
7. Melakukan pendokumentasian
VII. EVALUASI
1. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan dan merasa senang
2. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan dan akan melakukan beberapa
gerakan untuk mempercepat pembukaan jalan lahir
3. Ibu mengetahui dan mengerti, serta akan mendatangi fasilitas
kesehatan terdekat apabila sudah merasakan adanya tanda – tanda
pesalinan.
4. Ibu mengetahui dan sudah mulai mempersiapkan persalinannya
5. Ibu mengetahui anjuran mengenai pola makanan yang bergizi
6. Ibu mengerti dengan penjelasan dan akan datang jika mulas nya sering
7. Pendokumentasian sudah dilakukan
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN
KALA I FASE AKTIF
Tanggal : 06 Februari 2023
Pukul : 21.00 WIB
I. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS
Nama : Ny. Uum Nama Suami : Tn. Rasno
Umur : 40 tahun Umur : 47 tahun
Suku : Jawa Suku : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SD Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat Kantor :- Alamat Kantor :-
Alamat Rumah : Gg. Delman RT 003/008
Telepon : 081514743011
B. ANAMESA
Pada tanggal : 06 Februari 2023 Pukul : 21.00 WIB
6. Riwayat Kehamilan Ini
Riwayat Menstruasi
HPHT : 23 – 05 – 2022
Lamanya : 7 – 8 hari
Banyaknya : 2 – 3 x ganti pembalut
Siklus : 28 hari, teratur
Konsistensi : Hari pertama gumpalan, hari selanjutnya lancar
TP : 01 – 03 – 2023
Pola Eliminasi : BAB 1 kali sehari
: BAK 5 kali sehari
Akrifitas sehari – hari : Mengerjakan pekerjaan rumah tangga
Pola Istirahat dan Tidur : Tidur siang 1 – 2 jam
: Tidur malam 7 – 8 jam
Seksualitas : 1 kali dalam seminggu
Imunisasi TT : TT1 : 31 – 11 – 2022
: TT2 : 08 – 12 – 2022
Kontasepsi yang pernah digunakan : Suntik KB 3 bulan (1 tahun)
7. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
No Tgl/Thn Tempat Usia Jenis Penolong Penyulit JK PB &
Partus Partus Kehamilan partus BB
1. 2002 Paraji Aterm Normal Paraji Pr 1600&45
2. 2011 PMB Aterm Normal Bidan Lk 3000&48
3. 2012 PMB Aterm Normal Bidan Pr 3000&48
Hamil ini
8. Riwayat Kesehatan
d. Riwayat penyakit yang pernah diderita
Jantung : Tidak ada
Tekanan darah tinggi : Tidak ada
Hepar : Tidak ada
Diabetes melitus : Tidak ada
Anemia berat : Tidak ada
Penyakit hubungan seksual : Tidak ada
Campak, rubella : Tidak ada
Malaria : Tidak ada
Tuberculosis : Tidak ada
Gangguan mental : Tidak ada
Operasi, seksio caesaria : Tidak ada
e. Lain – lain/ Riwayat keturunan : Tidak ada
f. Perilaku kesehatan
Pengguna alcohol : Tidak ada
Obat/jamu yang sering digunakan : Tidak ada
Meroko, makan sirih : Tidak ada
Iritasi vagina/ganti pakaian dalam : Tidak ada
9. Riwayat Psikososial
a. Apakah kehamilan ini direncanakan : Ya
b. Jenis kelamin yang diharapkan : Laki – laki
c. Status perkawinannya : 1 ( satu )
d. Ibu pantang makanan tertentu : Tidak
e. Suami sebagai pengambil keputusan : Ya
f. Ibu memiliki kepercayaan tertentu : Tidak
g. Ibu dan keluarga sangat menginginkan anak ini : Ya
i. Tempat bersalin yang di inginkan : Bidan
C. OBJEKTIF
1. Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Keadaan Emosional : Stabil
2. Tanda – Tanda Vital
TD : 120/80 mmHg Rr : 21 kali/menit
Nadi : 82 kali/menit S : 36,50C
3. Muka
Kelopak mata : Tidak bengkak
Konjungtiva : Tidak anemis
Sklera : Tidak kuning
4. Mulut dan Gigi
Lidah/geraham : Tidak ada caries, lidah bersih, bibir tidak pucat
Gigi : Tidak ada caries
5. Leher
Kelenjar getah bening : Tidak ada pembengkakan
Kelenjar tiroid : Tidak ada pembengkakan
Vena jugularis : Tidak ada pembengkakan
6. Payudara
Bentuk : Simetris
Benjolan : Tidak ada benjolan
Pembesaran : Ya
Puting Susu : Menonjol
Pengeluaran : Kolostrum
7. Abdomen
a. Inspeksi
Pembesaran : ya
Memanjang/melintang : memanjang
Linea alba/nigra : Alba
Striae albicans/livide : Striaealbicans
Bekas luka operasi/section caesaria : Tidak ada
b. Palpasi
Gerakan janin : Baik
Kontraksi : Baik
TFU : 29 cm
Leopold I : Bulat, lunak, tidak melenting (bokong)
Leopold II : Kanan : Panjang datar seperti tekanan
: Kiri : Bagian kecil janin
Leopold III : Bagian bawah teraba bulatm keras melenting
Leopold IV : Divergent 3/5
TBBJ : (30 – 11) x 155 = 2.945 gram
HIS : 4x10’40’’
c. Aukultasi
DJJ : Puntum maksimum (PM) : satu tempat
Tempat : Kuadran kanan bawah pusat
Frekuensi : 140x/menit
Teratur/tidak : teratur
Instensitas : sedang
8. Eksremitas
Oedema : Tidak ada
Kemerahan : Tidak ada
Varices : Tidak ada
Reflek patella : Positif
9. Genetalia
Oedema : Tidak ada
Lesi : Tidak ada
Kemerahan : Tidak ada
Varises : Tidak ada
Keputihan : Tidak ada
Luka : Tidak ada
Pengeluaran : Lendir darah
10. Pemeriksaan Dalam
Dinding vagina : Tidak ada kelainan
Portio : Tipis lunak
Pembukaan : 6 cm
Ketuban : Utuh
Presentasi : Kepala
Posisi : UUK depan
Penurunan : hodge III
Penyusupan : Tidak ada
D. DATA PENUNJANG
Tidak dilakukan pemeriksaan laboratorium
II. INTERPRETASI DATA
Diagnosa Ibu : Ny. U usia 40 tahun G4P3A0 hamil 37 minggu
inpartu kala I fase aktif
Dasar :
1. Ibu mengatakan ini kehamilan keempat dan tidak pernah
keguguran
2. Ibu mengatakan sudah mulas sejak sore
3. Posisi janin normal
4. Pembukaan 6 cm
Diagnosa Janin : Tunggal hidup intrauterint letak kepala
Dasar : Adanya gerakan janin dan pemeriksaan leopold
III. DIAGNOSA MASALAH POTENSIA
TIDAK ADA
IV. TINDAKAN SEGERA/KOLABORASI
TIDAK ADA
V. PERENCANAAN ASUHAN
1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2. Beritahu ibu bahwa pembukaan 6 cm
3. Beritahu ibu teknik rileksasi
4. Beritahu ibu untuk miring kiri
5. Berikan ibu asuhan saying ibu
6. Pemantauan kemajuan persalinan
7. Persiapkan alat
8. Lakukan dokumentasi
VI. PELAKSANAAN ASUHAN
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa ibu dan
janin dalam keadaan baik yaitu TD : 120/80 mmHg, N : 82x/menit,
R : 21x/menit, S : 36,5°C, serta DJJ : 140x/menit
2. Menjelaskan pada ibu dan keluarga bahwa ibu sudah ada memasuki
pembukaan 6 cm
3. Mengajarkan ibu teknik relaksasi dan pengaturan nafas pada saat
kontrasksi dengan cara ibu menarik nafas panjang melalu hidung dan
dikeluarkan melalui mulut
4. Menganjurkan ibu untuk miring ke kiri agar suplai oksigen ke janin
menjadi lancar
5. Memberikan asuhan sayang ibu
a. Membiarkan ibu untuk ditemani oleh suami atau keluarganya
b. Membantu ibu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi agar ibu
mempunyai tenaga untuk mengedan
c. Menyarankan ibu untuk tidak menahan BAK karena dapat
menghambat penurunan kepala
d. Memberikan dukungan dan sugesti kepada ibu bahwa persalinan
merupakan proses alamiah dan ibu jangan merasa cemas
e. Sesekali melakukan pemijatan dibagian punggung ibu (pijat
oksitosin) agar merangsang hormone oksitosin secara alamiah
6. Melakukan observasi untuk mengecek DJJ, nadi, serta HIS setiap 30
menit sekali. Lalu, melakukan pemeriksaan dalam setiap 4 jam sekali
7. Menyiapkan alat partus set, mempersiapkan peralatan dan
perlengkapan untuk menolong persalinan, hecting set, pakaian ibu dan
bayi. Lalu memakai sarung tangan sebelah untuk memasukkan 10 IU
oksitosin, lidokain, beserta Vit K yang telah dibuka ke dalam spuit
dan dimasukkan kembali ke dalam partus set.
8. Melakukan pendokumentasian
VII. EVALUASI
1. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan dan merasa senang dengan
kondisinya
2. Ibu dan keluarga mengetahui bahwa ibu sudah memasuki pembukaan
6 cm
3. Ibu mengerti dengan apa yang dijelaskan dan bersedia melakukan
teknik relaksasi
4. Ibu mengerti dengan apa yang dijelaskan dan bersedia miring kiri
5. Ibu sudah diberikan asuhan sayang ibu
6. Sudah dilakukan observasi pemantauan kemajuan persalinan
7. Partus set sudah disiapkan
8. Pendokumentasian sudah dilakukan
KALA II
Pukul : 00.35
Subjektif :
Ibu mengatakan adanya rasa mulas dan tekanan pada rektum seperti hendak buang
air besar
Objektif
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan Emosi : Stabil
Tanda-tanda vital
TD : 110/80 mmHg Rr : 20 kali/menit
N : 80 kali/menit S : 36 °C
HIS : 5 x 10’45”
DJJ : 148 x/menit
Tanda Kala II : Adanya dorongan ingin meneran, tampak adanya tekanan pada
anus, perineum menonjol, dan vulva membuka.
Pemeriksaan Dalam
Dinding vagina : Tidak ada massa
Portio : Tidak teraba
Pembukaan : 10 cm ( sudah lengkap)
Ketuban : sudah pecah pukul 00.40 WIB, warna jernih
Presentasi : Kepala
Posisi : UUK depan
Penurunan : hodge IV
Penyusupan : Tidak ada
Analisa
Diagnosa Ibu : inpartu kala II
Dasar : Ibu mengatakan mulasnya semakin kencang seperti adanya dorongan
Diagnosa Janin : Tunggal hidup intrauterint letak kepala
Dasar : Adanya gerakan janin dan pemeriksaan leopold
Penatalaksanaan
1. Memberitahu ibu mengenai hasil pemeriksaan kepada ibu dan keluarga bahwa
pembukaan sudah lengkap, memberikan dukungan dan ketenangan kepada ibu
bawha ibu bisa melewati proses persalinan yang aman dan lancar, mengatur
posisi ibu saat mengedan yaitu setengan duduk dengan kaki ditarik ke arah dada
Evaluasi : Ibu siap untuk dipimpin mengedan dan sudah dalam keadaan
setengah duduk
2. Memastikan kelengkapan peralatan, bahan, dan obat – obatan , esensial untuk
menolong persalinan dan penatalaksanaan komplikasi ibu dan bayi baru lahir
Evaluasi :
a. Untuk asfiksia sudah disiapkan tempat datar dan keras, dua kain dan satu
handuk bersih dan kering, lampu sorot 60 watt dengan jarak 60 cm dari
tubuh bayi
b. Kain sudah digelar diatas perut ibu dan tempat resusitasi serta ganjal bahu
bayi
c. Oksitosin 10 unit dan alat suntik steril sekali pakai dalam partus set
d. Mendekatkan partus set dan meminta salah satu keluarga untuk
mendampingi ibu dalam menghadapi proses persalinan
Evaluasi : Alat sudah didekatkan dan ibu didampingi oleh suami
3. Mengajarkan ibu teknik mengedan dengan cara mengangkat kepala, mata dibuka
dan melihat ke perut, kedua tangan menarik paha dan ibu dianjurkan untuk
mengedan seperti buang air besar jika terasa mules, saat mengedan jangan
ditahan dileher
Evaluasi : Ibu mengedan sesuai yang dianjurkan yaitu mengangkat kepala, mata
dibuka dan melihat ke perut, kedua tangan menarik paha
4. Memasang handuk diatas perut ibu, untuk mengeringkan bayi
Evaluasi : handuk sudah terpasang di atas perut ibu
5. Membuka alat partus set, memakai sarung tangan kanan
Evalusi : Partus set sudah dibuka dan memakai sarung tangan bagian kanan
6. Memasukkan oksitosin 10 unit, kemudian disimpan kembali dalam keadaan
steril
Evaluasi : Oksitosin sudah disiapkan
7. Memimpin ibu untuk mengedan, menganjurkan ibu untuk mengedan disaat
puncak kontraksi dan beristirahat jika tidak ada kontraksi. Memantau DJJ disaat
tidak ada kontraksi.
Evaluasi : Ibu mengedan saat ada kontraksi dan tetap memantau DJJ disaat tidak
ada kontraksi
8. Setelah tampak kepala bayi dengan diameter 5 – 6 cm, membuka vula,
meletakkan satu handuk bersih di perut ibu dan satu kain bersih yang dilipat 1/3
dibawah bokong ibu
Evaluasi : Handuk dan kain sudah diletakkan
9. Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan
Evaluasi : Sarung tangan DTT sudah digunakan
10. Melindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain, tangan yang lain
menahan kepala bayi untuk meneran perlahan, setelah kepala bayi lahir
memeriksa apakah ada lilitan tali pusat.
Evaluasi : Kepala bayi sudah berhasil lahir tanpa adanya lilitan tali pusat
11. Menunggu kepala bayi melakukan putaran paksi luar secara spontan, setelah
kepala melakukan putaran paksi luar, memegang perlahan dengan lembut
gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul kemudian
arah atas untuk melahirkan bahu belakang. Setelah kedua bahu lahir menyangga
dan menyusuri badan bayi.
Evalusi : Bayi lahir spontan pervaginam pukul 01.15 WIB langsung menangis,
warna kulit bayi kemerahan gerak aktif, jenis kelamin perempuan. Bayi
dikeringkan kemudian kain diganti kembali dengan yang baru supaya bayi tidak
kedinginan.
12. Mengecek apakah adanya bayi kedua
Evaluasi : Sudah dilakukan dan tidak ada bayi kedua
KALA III
Pukul : 01.30
Subjektif
Ibu mengatakan senang atas kelahiran bayinya dan merasa perutnya
mulasObjektif
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
TFU : Sepusat
Kontraksi Uterus : Baik
Perdarahan : Kurang lebih 50 cc
Kandung kemih : Kosong
Tanda Kala III :
1. Tampak tali pusat memanjang didepan vulva
2. Adanya semburan darah secara tiba tiba
3. Uterus teraba globuler
Assasment
Diagnosa ibu : P4A0 partus kala III
Planning
1. Memberitahu ibu bahwa akan disuntik oksiosin 10 IU dalam waktu 1 menit
setelah Bayi lahir di paha kanan bagia luar secara intramuskuler agar rahimnya
berkontraksi dengan baik
Evaluasi : Ibu sudah disuntik oksitosin 10 IU secara IM
2. Menjepit tali pusat dengan klem lalu melakukan pemotongan dan pengikatan
tali pusat dengan jarak 2-3 cm dari perut bayi
Evaluasi : Tali pusat sudah diikat dan dibungkus kassa kering
3. Memberikan bayi kepada ibu untuk memproses inisiasi menyusui dini (IMD)
Evaluasi : IMD dilakukan dan berhasil di 30 menit pertama
4. Memasang pernel pada bayi dengan menggunakan kain bersih dan hanga
Evaluasi : ibu dan bayi sudah terasa nyaman dan hangat
5. Menjelaskan kepada ibu bahwa mules yang dirasakan merupakan hal yang
biasa yang berguna untuk pelepasan dan kelahiran plasenta
Evaluasi : Ibu mengerti apa yang dijelaskan oleh bidan
6. Melaksanakan manajemen aktif kala III meliputi :
a. Melakukan peregangan tali pusat terkendali setelah adanya tanda-tanda
pelepasan plasenta, memindahkan klem ketika tali pusat memanjang 5-10
cm, melakukan peregangan tali pusat terkenadli kembali dan
mengeluarkan plasenta dengan hati-hati secara dorso cranial
Evaluasi : Jam 01.35 Plasenta lahir secara lengkap dan spontan
b. Segera melakukan massae uterus segera setelah plasenta lahir selama 15
detik
Evaluasi : Masase fundus uteri dilakukan selama 15 detik kontraksi uterus
baik, TFU sepusat
c. Mengecek kelengkapan plasenta
Evaluasi : Plasenta dan selaputnya lahir lengkap yaitu kotiledon utuh tidak
ada yang tertinggal. Pendarahan kurang lebih 150 cc
d. Melihat adanya laserasi perineum atau tidak
Evaluasi : Tidak terdapat laserasi
7. Menganjurkan kepada keluarga untuk memberikan ibu cukup makan dan
minum yang ibu inginkan
Evaluasi : Keluarga mengerti serta ibu minum teh manis 1 gelas habis
8. Melakukan pendokumentasian
Evaluasi : Pendokumentasian sudah dilakukan
KALA IV
Pukul : 01.45 WIB
Subjektif
Ibu mengatakan senang atas kelahiran bayinya dan masih merasa sedikit mules
Objektif
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tanda-tanda vital :
TD : 100/70 mmHg Rr : 21 x/menit
N : 80 x/menit S : 36 °C
TFU : Sepusat
Kontraksi Uterus : Baik
Perdarahan : Kurang lebih 50 cc
Kandung Kemih : kosong
Assasment
Diagnosa ibu : P4A0 partus kala IV
Planning
1. Memberitahukan kepada ibu hasil pemeriksaan genetalia ibu bahwa tidak
terjadi robekan jalan lahir
Evaluasi : ibu tampak senang dan mengetahui hasil pemeriksaan
2. Membersihkan perineum dan tubuh ibu, kemudia membersihkan tempat
tidur, dan mengenakan pakaian ibu yang bersih dan kering serta memasang
pembalut. Membiarkan ibu istirahat dan membantu ibu pada posisi yang
nyaman
Evaluasi : Ibu sudah dibersihkan serta merasa nyaman dan lega
3. Mengajari ibu dan keluarga cara melakukan masase uterus sampai teraba
keras dengan mengusap – usap perut ibu searah dengan jarum jam, agar
berkontraksi dengan baik dan mencegah terjadinya perdarahan
Evaluasi : Ibu dan keluarga mengerti serta bersedia melakukan masase
uterus
4. Menganjurkan ibu untuk makan dan miinum agar ibu tidak merasa lelah dan
tenaga ibu bisa pulih kembali, ibu dianjurkan meneruskan memberikan ASI
kepada bayinya
Evaluasi : Ibu makan nasi dan lauk serta memenuhi kebutuhan energi, ibu
juga segera menyusui bayinya.
5. Menganjurkan ibu untuk tidak menahan buang air kecil agar tidak terjadi
infkesi saluran air kemih dan menganjurkan ibu untuk membersihkan bagian
genetalianya agar terjaga kebersihannya
Evaluasi : Ibu mengerti dengan apa yang dijelaskan dan bersedia tidak
menahan BAK serta menjaga kebersihan genetalia
6. Setelah satu jam bayi lahir melakukan penimbangan berat badan dan
mengukur panjang badan bayi serta memberikan imunisasi vit K 0,5 mg
setelah bayi lahir, lalu memberikan salep mata
Evaluasi : Sudah dilakukan
7. Memfasilitasi rooming in dengan segera memberikan bayi ke ibu untuk
segera disusui
Evaluasi : Ibu terlihat senang dan kembali menyusui bayinya
8. Melakukan pemantauan kala IV selama setiap 15 menit pada jam pertama
dan setiap 30 menit sekali pada jam kedua
Evaluasi : Observasi dilakukan dan ditulis dalam partgoraf
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS
Tanggal : 07 Februari 2023
Pukul : 08.00 WIB
Tempat : Pmb [Link] [Link]
I. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS
Nama : Ny. Uum Nama Suami : Tn. Rasno
Umur : 40 tahun Umur : 47 tahun
Suku : Jawa Suku : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SD Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat Kantor :- Alamat Kantor :-
Alamat Rumah : Gg. Delman RT 003/008
Telepon : 081514743011
B. ANAMESA
a. Data kesehatan
Keluhan utama : Tidak ada keluhan
Keluhan tambahan : Tidak ada
Penyakit yang pernah diderita : Tidak ada
Penyakit yang sedang diderita : Tidak ada
Penyakit keturunan : Tidak ada
Penyakit menular : Tidak ada
b. Riwayat kehamilan dan persalinan
No Tgl/Thn Tempat Usia Jenis Penolong Penyulit JK PB &
Partus Partus Kehamilan Partus BB
1. 2002 Paraji Aterm Normal Paraji Pr 1600&45
2. 2011 PMB Aterm Normal Bidan Lk 3000&48
3. 2012 PMB Aterm Normal Bidan Pr 3000&48
4. 2023 PMB Aterm Normal Bidan Pr 2900&48
Masa gestasi
Keluhan selama kehamilan : Pusing, kadang mual dan muntah
Tanggal persalinan : 07 Februari 2023
Jenis persalinan : Normal
Proses persalinan
Kala I : 4 jam
Kala II : 35 menit
Kala III` : 15 menit
Kala IV : 45 menit
Kelainan saat persalinan : Tidak ada
Anak hidup/mati : hodup
JK : Perempuan
BB : 2.900 gram PB : 48 cm
Kelainan bawaan : tidak ada
Rawat gabung : tidak dilakukan
Alasan : tidak ada indikasi
c. Status perkawinan
Umur perkawinan : 17 tahun
Berapa kali kawin : satu kali kawin
Lama perkawinan : 23 tahun
d. Pola Nutrisi : Nafsu makan baik, sehari 3x
Pola Eliminasi : BAB 1 kali sehari
: BAK 5 kali sehari
Akrifitas sehari – hari : Mengerjakan pekerjaan rumah tangga
Pola Istirahat dan Tidur : Tidur siang 1 – 2 jam
: Tidur malam 7 – 8 jam
Seksualitas : 1 kali dalam seminggu
e. Data psikososial
Tanggapan ibu atas kelahiran bayinya : senang dan lega
Rencana Ibu menyusui bayinya : Asi eksklusif 0-6 bulan
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan emosional : Stabil
2. Tanda-tanda vital
TD : 120/80 mmHg Rr : 21 kali/menit
N : 82 kali/menit S : 36 ° C
3. Pemeriksaan Sistematis
Muka : Simetris
Kelopak mata : Tidak bengkak
Konjungtiva : Tidak anemis
Sklera : Tidak kuning
4. Mulut dan gigi : Bersih
Kelenjer tyroid : Tidak ada pembengkakan
Kelenjar getah bening : Tidak ada pembengkakan
5. Payudara
Pembesaran : Normal
Puting susu : Menonjol
Simetris : Simetris
Benjolan : Tidak ada
Pengeluaran : Colostrum
Rasa nyeri : Tidak ada
Lain-lain : Tidak ada
6. Abdomen
TFU : 2 jari dibawah pusat
Kontraksi uterus : Baik
7. Ekstermitas atas dan bawah
Oedema : Tidak ada
Kekakuan sendi : Tidak ada
Kemerahan : Tidak ada
Varises : Tidak ada
Reflek patella : Positif
8. Pengeluaran pervaginam
Lochea : Rubra
Warna : Merah
Baunya : Khas
Banyaknya : Kurang lebih 15 cc
9. Perinium dan anus
10. Luka : Tidak ada
Keadaan luka : Tidak ada
Tanda-tanda infeksi : Tidak ada
Keadaan vulva : Baik
11. Anus : Normal
II. INTREPRETASI DATA
Diagnosa ibu : P4A0 Postpartum 6 jam
Ds : Ibu mengatakan tidak ada keluhan yang ia rasakan
DO : TFU : 2 jari dibawah pusat
: Lochea : Rubra
: Perdarahan : 15 cc
[Link] POTENSIAL
Tidak ada
IV. TINDAKAN SEGERA
Tidak ada
V. RENCANA ASUHAN
1. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2. Beritahu tanda bahaya postpartum
3. Beritahu teknik menyusui
4. Beritahu pola kebersihan
5. Beritahu pola nutrisi
6. Beritahu ibu ASI eksklusif
7. Beritahu ibu jadawal kunjungan ulang
VI. PELAKSANAAN ASUHAN
1. Memberitahu ibu dan keluarga hasil pemeriksaan Memberitahu ibu
dan keluarga hasil pemeriksaan yang di dapatkan keadaan umum ibu
secara keseluruhan baik.
2. Memberitahukan dan menjelaskan tanda-tanda bahaya post partum
seperti demam tinggi, perdarahan yang banyak, sakit kepala yang
hebat, bendungan pada ASU/bengkak pada payudara, bila ibu
menemukan salah sayu tanda da gejala yang sudah disebutkan, ibu
dan suami harus segera memberitahu dan menguhubungi petugas
kesehatan
3. Mengajarkan teknik menyusui yang baik dan benar kepada ibu,
yaitu:
a) Keluarkan ASI sedikit, oleskan pada putting susu untuk
melembabkan putting agar tidak lecet
b) Kemudian tempelkan putting susu pada pipi bayi, biarkan bayi
mencari putting dan masukan seluruh putting sampai di daerah
hitam/areola di sekitar putting.
c) Apabila sudah merasa kenyang bayl akan melepaskannya sendiri
4. Menganjurkan ibu untuk merawat dan menjaga kebersihan perineum
dan vulva yaitu dengan cara membasuh daerah kemaluan dari arah
depan ke belakang dibilas dengan air dingin dan keringkan setelah
selesai BAB/BAK
5. Memberitahu ibu tentang makanan yang harus dikonsumsi, hal ini
penting untuk pemulihan ibu. Seperti sayuran, ikan, buah-buahan.
6. Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI ekslusif yaitu ASI yang
diberikan pada bayi berusia 0-6 bulan dan tidak diberikan makanan
apapun selain ASI
7. Menjadwalkan pemeriksaan ulang ibu dan bayi. Pada tanggal 14
Februari 2023
VII. EVALUASI
1. Ibu dan keluarga menerima informasi dan penjelasan dari bidan
mengenal hasil pemeriksaan yang sudah dilakukan
2. Ibu dan suami mengerti dan bersedia jika salah satu tanda tersebut
terjadi pada ibu akan segera memberitahu dan menghubungi
petugas kesehatan
3. Ibu mengerti dan mampu melaksanakan menyusul yang telah
dijelaskan.
4. Ibu mengerti dan akan kebersihan perineum dan vulva.
5. Ibu mengerti dan mengatakan tidak ada pantangan makanan bagi
dirinya
6. Ibu mengetahui dan mengerti serta akan berusaha memberikan ASI
ekskulsif selama 6 bulan bagi bayinya
7. Ibu bersedia melakukan kunjungan ulang pada tanggal 14 Februari
2023
KUNJUNGAN NIFAS 7 HARI
Tanggal : 14 Februari 2023
Pukul :
Tempat : Pmb [Link] [Link]
SUBJEKTIF
1. Ibu mengatakan kedaannya baik dan sehat setelah 7 hari dari melahirkan dan
ibu merasa tidak ada keluhan.
2. Ibu mengatakan bahwa ASI nya sudah banyak
3. Ibu mengatakan saat ini sudah dapat melakukan perawatan sendiri pada
bayinya seperti memandikan bayi, merawat tali pusat bayi, serta mengganti
pakaian bayi yang basah dan kotor ibu dapat melakukannya
4. Ibu mengatakan bahwa kegiatan saat ini hanya merawat bayinya dan
mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan saja
OBJEKTIF
1. Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Keadaan emosional : Stabil
2. Tanda-tanda vital
TD : 138/88 mmHg Rr : 21 kali/menit
N : 80 kali/menit S : 36 ° C
3. Pemeriksaan Sistematis
Muka : Simetris
Kelopak mata : Tidak bengkak
Konjungtiva : Tidak anemis
Sklera : Tidak kuning
4. Mulut dan gigi : Bersih
Kelenjer tyroid : Tidak ada pembengkakan
Kelenjar getah bening : Tidak ada pembengkakan
5. Payudara
Pembesaran : Normal
Puting susu : Menonjol
Simetris : Simetris
Benjolan : Tidak ada
Pengeluaran : ASI
Rasa nyeri : Tidak ada
Lain-lain : Tidak ada
6. Abdomen
TFU : Pertengahan sympisis
Kontraksi uterus : Baik
7. Ekstermitas atas dan bawah
Oedema : Tidak ada
Kekakuan sendi : Tidak ada
Kemerahan : Tidak ada
Varises : Tidak ada
Reflek patella : Positif
8. Pengeluaran pervaginam
Lochea : Sanguinolenta
Warna : Merah kekuningan
Baunya : Khas
Banyaknya : Normal
9. Perinium dan anus
10. Luka : Tidak ada
Keadaan luka : Tidak ada
Tanda-tanda infeksi : Tidak ada
Keadaan vulva : Baik
11. Anus : Normal
ANALISA
Diagnosa ibu : P4A0 Postpartum 7 hari
Ds : Ibu mengatakan tidak ada keluhan yang ia rasakan
DO : TFU : Pertengahan sympisis
: Lochea : Rubra
: Perdarahan : 15 cc
Masalah : Tidak ada
Kebutuhan : Konseling Ibu Nifas
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahu hasil pemeriksaan pada ibu bahwa secara keseluruhan keadaan
ibu baik
Evaluasi : ibu mengetahui hasil pemeriksaan dan ibu merasa senang
2. Memberikan konseling tentang istirahat yang cukup karena kurang istirahat
bisa mempengaruhi produksi ASI da kondisi kesehatan ibu. Tidur ketika
bayi sedang tidur. Istirahat yang cukup bisa mempercepat pemulihan
kondisi kesehatan ibu dan memperlancar produksi ASI
Evaluasi : Ibu mengerti tentang apa yang sudah dijelaskan
3. Menganjurkan ibu untuk memperbanyak mengkonsumsi sayur-sayuran
seperti sayur katuk dan sayur bayam untuk memperlancar dan
memperbanyak pengeluaran ASI
Evaluasi : Ibu mengerti serta ibu akan selalu mengkonsumsi sayur-sayuran
tersebut.
4. Mengingatkan kembali kepada ibu untuk tidak berhenti mengkonsumsi
tablet penambah darah setiap hari, serta memberitahukan kembali cara
meminumnya yaitu dimnum 1x//hari menjelang tidur dengan menggunakan
air putih dan tidak boleh menggunakan teh atau kopi karena akan
mengganggu penyerapan obat tersebut.
Evaluasi : Ibu mengerti dengan apa yang sudah dijelaskan oleh bidam dan
ibu berjanji akan selallu mengkonsumsi obat tersebut.
5. Mengingatkan kembali tentang tanda bahaya nifas
Evaluasi : ibu mengerti dengan penjelasan yang diberikan
6. Memberitahukan kepada ibu bahwa akan dilakukan kunjungan ulang
kerumah pada tanggal 22 Februari 2023
Evaluasi : ibu mengerti serta bersedia akan dilakukan kunjungan ulang ke
rumah pada tanggal 22 Februari
ASUHAN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR
Tanggal : 07 Februari 2023
Pukul : 08.10 WIB
Tempat : Pmb [Link] [Link]
I. PENGKAJIAN
A. IDENTITAS
1. Bayi
Nama Bayi : Bayi Ny. U
Tanggal dan Jam lahir : 07 Februari 2023 dan 01.15 WIB
Jenis kelamin : Perempuan
No Status Reg :
2. Orang tua
Nama : Ny. Uum Nama Suami : Tn. Rasno
Umur : 40 tahun Umur : 47 tahun
Suku : Jawa Suku : Jawa
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SD Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat Kantor :- Alamat Kantor :-
Alamat Rumah : Gg. Delman RT 003/008
Telepon : 081514743011
B. Riwayat Kehamilan, Persalinan, dan Nifas yang sekarang
a. Pemeriksaan kehamilan
1. Trimester I : 3 kali periksa
2. Tempat periksa : PMB
3. Keluhan : Mual, pusing
4. Trimester II : 1 kali periksa
Tempat periksa : PMB
Keluhan :Tidak ada keluhan
5. Trimester III : 3 kali periksa
Tempat periksa : PMB
Keluhan : Semakin sering buang air kecil
b. Imunisasi TT : TT1 : 31 – 11 – 2022
: TT2 : 08 – 12 – 2022
c. Penyakit yang diderita selama kehamilan
1. Perdarahan : Tidak ada
2. Pre eklamsia : Tidak ada
3. Eklamsia : Tidak ada
4. Penyakit kelamin : Tidak ada
5. Lain – lain : Tidak ada
d. Kebiasaan waktu hamil
Makan pantang : Tidak
Minum jamu-jamuan : Tidak
Merokok : Tidak
Lain-lain : Tidak
e. Riwayat persalinan sekarang
1. Ditolong oleh : Bidan
2. Jenis persalinan : Normal
3. Lama Persalinan
Kala I : 4 jam
Kala II : 35 menit
Kala III` : 15 menit
Kala IV : 45 menit
f. Masalah selama persalinan : Tidak ada
g. Keadaan air ketuban : Jernih
h. Riwayat nifas
Masalah setelah persalinan : tidak ada
C. PEMERIKSAAN FISIK
1. Nilai APGAR
No Aspek yg di Nilai 0 1 2 Waktu
1’ 2’
1 Frekuensi denyut Tidak ada <100 >100 2 2
jantung
2 Usaha bernafas Tidak ada Lambat teratur Menangis kuat 2 2
3 Tonus otot Tidak ada Ekstremtas fleksi Gerakan aktif 2 2
sedikit
4 Reaksi terhadap Tidak ada Gerakan sedikit Menangis 2 2
rangsangan
5 Warna kulit Biru/pucat Tubuh Seluruh tubuh 1 2
kemerahan. kemerahan
Ekstremitas biru
2. Antropomerti
a. Berat badan : 2.900 gram
Panjang Badan : 48 cm
Suhu : 36,50C
DJB : 143x/menit
RR : 52x/menit
b. Lingkar Kepala :
Fronto occipitalis : 32 cm
Sub occipito bregmatika : 31 cm
Sub mento bregmatika : 30 cm
c. Lingkar dada : 29 cm
3. Reflek
a. Moro : Positif
b. Tonic neck : Positif
c. Palmar graps : Positif
d. Walking : Positif
e. Rooting : Positif
f. Sucking : Positif
g. Plantar : Positif
h. Babinski : Positif
4. Menangis : Ya menangis kuat
5. Kepala
a. Simetris : Ya
b. UUB : Berdenyut, belum menutup
c. UUK : Normal
d. Caput Cuccedanum : Tidak ada
e. Chepal Hematom : Tidak ada
f. Sutura : Tidak ada
g. Luka di kepala : Tidak ada
h. Kelainan yang dijumpai : Tidak ada
6. Mata
a. Posisi : Simetris
b. Kotoran : Tidak ada
c. Perdahan : Tidak ada
d. Sclera : Tidak ikterik
e. Bulu Mata : Ada, Normal
7. Hidung
a. Lubang hidung : Ada. Normal
b. Cuping Hidung : Ada, Normal
c. Pengeluaran : Tidak ada
8. Mulut
a. Simetris : Ya
b. Palatum molle : Normal
c. Palatum dunum : Normal
d. Saliva : Normal
e. Bibir : Normal
f. Gusi : Normal
g. Lidah bintik putih : Tidak ada
9. Telinga
a. Simetris : Ya
b. Daun Telinga : Ada, Normal
c. Lubang Telinga : Ada, Normal
d. Pengeluaran : Tidak ada
10. Leher
a. Kelainan : Tidak ada
b. Pergerakan : Aktif
11. Dada
a. Bentuk : Simetris
b. Bising usu s : Ada
c. Kelainan : Tidak ada
12. Tali pusat
a. Pembuluh darah : terdapat 1 vena 2 arteri
b. Perdarahan : Tidak ada
c. Kelainan tali pusat : Tidak ada
13. Kulit
a. Warna : Kemerahan
b. Turgor : Elastis
c. Elastisitas : Baik
d. Lanugo : Ada
e. Verniks caseosa : Ada
f. Kelainan : Tidak ada
14. Punggung
a. Bentuk : Simetris
b. Kelainan : Tidak ada
15. Eksremitas
a. Tangan : Simetris
b. Kaki : Simetris
c. Gerakan : Aktif
d. Kuku : Lunak
e. Bentuk kaki : Simetris
f. Bentuk tangan : Simetris
g. Kelainan : Tidak ada
16. Genetalia
a. Labia : Ya
b. Peneluaran : Tidak ada
c. Kelainan : Tidak ada
II. INTERPETASI DATA
Diagnosa : Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan usia 6 jam
DS : Ibu mengatakan melahirkan bayinya tanggal 07 februari
2023 jam 01.15 WIB
DO : BB : 2.900 gram
: PB ; 48 cm
: LK : 30 cm
[Link] POTENSIAL
Tidak ada
IV. TINDAKAN SEGERA
Tidak ada
V. RENCANA ASUHAN
1. Beritahu ibu keadaan bayi
2. Beritahu ibu tentang imunisasi
3. Beritahu tentang kehangatan bayi
4. Beritahu ibu perawatan tali pusat
5. Beritahu ibu mengenai ASI eksklusif
6. Beritahu ibu pola kebersihan pada bayi
7. Beritahu ibu tanda bahaya pada bayi
8. Beritahu ibu menyusui bayi
9. Beritahu ibu cara menjemur bayi
10. Beritahu ibu untuk kunjungan ulang
11. Lakukan pendokumentasian
VI. PELAKSANAAN ASUHAN
1. Memberitahu ibu dan keluarga mengenai hasil pemeriksaan bahwa bayinya
dalam keadaan sehat
2. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa bayinya akan di imunisasi HBO,
imunisasi ini bermanfaat untuk agar tidak terjadinya penyakit hepatitis. atau
kerusakan hati dan memberikan suntikan imunisasi dipaha sebelah kanan.
3. Memberitahu ibu untuk selalu menjaga kehangatan bayinya dengan
menyelimuti bayinya dengan kain hangat dan juga selimut.
4. Memberitahu ibu cara perawatan tali pusat, yaitu denga cara :
a. Tali pusat dicuci setiap hari dan apabila terlihat kotor
b. Tidak memberi ramuan apapun pada tali pusat
c. Tidak mengompres tali pusat dengan alcohol dan betadine
d. Tali pusat hanya ditutup dengan kasa yang bersih dan kering
5. Memberitahu ibu supaya hanya memberian ASI untuk bayinya sampai
dengan usia 6 bulan, setelah usia 6 bulan baru ibu boleh memberikan
MPASI atau makanan pendamping ASI untuk buah hatinya hingga usia 2
tahun. Evaluasi Ibu mengerti dan akan memberikan hanya ASI saja kepada
bayinya
6. Memberitahu ibu jika bayinya BAK/BAB segera ganti popok bayi dengan
popok yang kering dan bersih, agar tidak terjadi iritasi pada kulit bayinya
yang masih sensitive dan tetap jaga kehangatan pada bayinya dengan segera
mengganti popoknya.
7. Membetahu ibu dan keluarga mengenai tanda bahaya pada bayi. Apabila
bayi demam, kejang, tidak mau menetek dan warna kilit bayi menjadi
kuning maka ibu atau keluarga harus segera membawa bayi ke fasilitas
kesehatan.
8. Memberitahu ibu untuk menyusui bayinya 2 jam sekali dan bangunkan
setiap 2 jam sekali.
9. Menganjurkan ibu untuk menjemur bayinya pada pagi hari kurang lebih 15
menit bagian depan dan 15 menit bagian belakang. Memberitahu
manfaatnya yaitu untuk mencegah bayi kuning
10. Memberitahu ibu jadwal kunjungan ulang pada tanggal 14 Februari 2023
11. Melalukan pendokumentasian
VII. EVALUASI
1. Ibu dan keluarga mengetahuinya dan merasa senang
2. Ibu mengerti dan HBO sudah disuntikan dipaha kanan.
3. Ibu mengerti dan bayi dipakaikan oleh kain hangat diselimuti
4. Ibu mengetahui bagaimana cara perawatan tali pusat yang prinsipna bersih
dan kering
5. Ibu mengerti dan hanya akan memberikan ASI saja kepada bayi nya
6. ibu mengerti dan akan segera mengganti popok bayinya jika bayinya
BAK/BAB
7. ibu mengetahui tanda bahaya pada bayinya dan akan segera mungkin
membawa bayinya ke fasilitas kesehatan jika salah satu tanda bahaya itu
terjadi
8. ibu mengerti bahwa bayinya harus sering menyusu, minimal jam sekali
untuk mencegah bayi tidak kuning
9. Ibu mengetahui dan akan melakukannya agar bayinya terhindar dari
kuning
10. Ibu mengetahui dan akan melakukan kunjungan ulang
11. Pendokumentasian sudah dilakukan
KUNJUNGAN BBL 7 HARI
Tanggal : 14 Februari 2023
Pukul :
Tempat : Pmb [Link] [Link]
SUBJEKTIF
1. Ibu mengatakan bayinya sangat aktif, bayinya disusui setiap 2 jam sekali.
BAK kurang lebih 4 kali sehari, dan BAB 2 kali sehari.
2. Ibu mengatakan memandikan bayinya 1 kali setiap hari, kemudian
menjemurnya setiap pagi selama 10-15 menit
3. Ibu mengatakan bayinya telah puput kemarin
OBJEKTIF
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Tanda – Tanda Vital
Pernafasan : 52x/menit
Nadi : Normal
Suhu : 36,50C
BB : 3.000 gram
PB : 48 cm
Menangis : Kuat
Reflek Menghisap : Baik
Pergerakan : Aktif
Warna Kulit : Kemerahan
Tali pusat : Tidak ada perdarahan
ANALISA
Diagnosa : Neonatus cukup bulan sesuai masa kehamilan usia 7 hari
Ds : Ibu mengatakan tali pusat sudah puput di hari keenam
DO : Bayi menangis kuat
Masalah : Tidak ada
Kebutuhan : Kebutuhan dasar bayi baru lahir
PENATALAKSANAAN
1. Memberitahukan hasil pemerisakaan kepada ibu bahwa bayinya dalam
keadaan sehat dan menjelaskan kepada ibu bahwa penurunan berat BB pada
hari ke 6 itu hal yang wajar karena bayi dalam masa penyesuaian pada
lingkungannya.
Evaluasi : Ibu mengerti dan merasas senang karenabayinya dalam keadaan
sehat
2. Menganjurkan kepada ibu untuk mengimunisasi bayinya yaitu Imunisasi
BCG, hepatitis B dan Polio 1. Imunisasi BCG bermanfaat untuk mencegah
penyakit TBC, diberikan pada umur 0-2 bulan, diberikan dengan cara disuntik
di lengan atas. Imunisasi hepatitis B untuk mencegah penularan penyakit
hepatitis B, diberikan segera setelah bayi lahir, serta umur 2-4 bulan, dan
imunisasi polio untuk mencegah penyakit polio, diberikan pada umur bayi 1-
4 bulan
Evaluasi : Ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan oleh bidan dan ibu
akan mengimunisasi bayinya dengan lengkap
3. Menganjurkan kepada ibu untuk menjemur bayinya pada pagi hari sekitar
pukul 08.00 - 09.00 WIB selama 10-15 menit agar bayinya tidak kuning,
tetapi bagian mata dan alat kelaminnya ditutup.
Evaluasi : Ibu mengerti serta akan selalu menjemur bayinya setiap pagi.
4. Menganjurkan pada ibu untuk segera membawa bayinya bila sakit ke tenaga
kesehatan dan menjelaskan kembali tanda-tanda bahaya pada bayi seperti
bayi kuning, demam, dan diare.
Evaluasi : Ibu mampu mengulang tanda-tanda bahaya pada bayi dan akan
membawanya ke petugas kesehatan
5. Memberitahu jadwal kunjungan ulang dirumah ibu pada tanggal 22 Februari
2023
Evaluasi : Ibu mengerti serta bersedia akan dilakukan kunjungan ulang
kerumah pada tanggal 22 Februari 2023