BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengetahuan
2.1.1 Definisi Pengetahuan
Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang
mengadakan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terhadap
objek terjadi melalui panca indra manusia yakni pengelihatan, pendengaran,
penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu penginderaan sampai
menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian
persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telinga. (Wawan dan Dewi, 2018).
Manusia pada dasarnya ingin tahu yang benar. Untuk memenuhi rasa ingin
tahu ini, manusia sejak zaman dahulu telah berusaha mengumpulkan pengetahuan.
Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang
memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.
Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun melalui
pengalaman orang lain (Burhan, 2017).
Pengetahuan ibu nifas tentang perawatan payudara adalah....
2.1.2 Tingkat Pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2014), pengetahuan seseorang terhadap suatu objek
mempunyai intensitas atau tingkatan yang berbeda. Secara garis besar tingkatan
pengetahuan dibagi menjadi 6 tingkat pengetahuan, yaitu :
a. Tahu (Know).
Tahu diartikan sebagai recall atau memanggil memori yang telah ada
sebelumnya setelah mengamati sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang
telah dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu disisni merupakan
tingkatan yang paling rendah.
b. Memahami (Comprehention)
Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu terhadap objek tersebut,
dan juga tidak sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut dapat
menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahuinya.
c. Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang
dimaksud dapat menggunakan ataupun mengaplikasikan prinsip yang diketahui
tersebut pada situasi atau kondisi yang lain. Aplikasi juga diartikan aplikasi
atau penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip, rencana program dalam
situasi yang lain.
d. Analisis (Analysis)
Analisis adalah kemampuan seseorang dalam menjabarkan atau
memisahkan, lalu kemudian mencari hubungan antara komponenkomponen
dalam suatu objek atau masalah yang diketahui.
e. Sintesis (Synthesis)
Sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam merangkum atau
meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan
yang sudah dimilikinya.
f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian
terhadap suatu objek tertentu. Penilaian berdasarkan suatu kriteria yang
ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat.
2.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan
a. Faktor Internal
1. Pendidikan
2. Pekerjaan
3. Umur
4. Media masa/Sumber informasi
b. Faktor Ekstrnal
1. Faktor Lingkungan
Menurut Ann. Mariner yang dikutip dari Nursalam lingkungan
merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya
yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau
kelompok.
2. Sosial Budaya
System social budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi
darisikap dalam menerima informasi (Wawan dan Dewi, 2018).
2.1.4 Pengetahuan Kesehatan
Menurut teori Notoatmodjo (2014), pengetahuan kesehatan antara lain:
a. Pengetahuan tentang penyakit menular dan tidak menular (jenis penyakit dan
tanda-tandanya atau gejalanya, penyebabnya, cara penularannya, cara
pencegahannya, cara mengatasi atau menangani sementara).
b. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang berkait dan atau mempengaruhi
kesehatan, antara lain : gizi makanan, sarana air bersih, pembuangan air
limbah, pembuangan kotoran manusia, pembuangan sampah, perumahan
sehat, polusi udara dan sebagainya.
c. Pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan yang professional maupun
yang tradisional.
d. Pengetahuan untuk menghindari kecelakaan rumah tangga, maupun
kecelakaan lalu lintas dan tempat-tempat umum
2.1.5 Pegukuran Pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan cara wawancara atau
angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subyek
penelitian atau responden. Pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat
kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan. Menurut Wawan dan Dewi (2018)
pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang
bersifatkualitatif, yaitu :
a. Baik : Hasil Presentase 76% - 100%
b. Cukup : Hasil Presentase 56% - 75%
c. Kurang : Hasil Presentase < 56%
2.2 Masa Nifas
2.2.1 Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta
serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti
sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu. Masa nifas (puerperiem),
berasal dari bahasa latin, yaitu puer yang artinya bayi dan partus yang artinya
melahirkan atau berarti masa sesudah melahirkan (Saleha, 2015).
Periode masa nifas (puerperium) adalah periode waktu selama 6-8 minggu
setelah persalinan. Proses ini dimulai setelah selesainya persalinan dan berakhir
setelah alat-alat reproduksi kembali seperti keadaan sebelum hamil/tidak hamil
sebagai akibat adanya perubahan fisiologi dan psikologi karena proses persalinan
(Sulistyawati, 2015).
Dengan demikian, angka morbiditas dan mortalitas bayi pun akan semakin
meningkat. Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan
masa kritis bayi ibu dan bayinya. Diperkirakan bahwa 69% kematian ibu akibat
kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam
24 jam pertama (Saleha, 2015).
2.2.2 Tahapan Masa Nifas
Menurut Mochtar (2018) masa nifas dibagi pada tiga periode yaitu :
a. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan
berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja
setelah 40 hari.
b. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang
lamanya 6-8 minggu.
c. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat
sempurna bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.
Waktu sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.
2.2.3 Tujuan Asuhan Masa Nifas
Asuhan yang diberikan kepada ibu nifas bertujuan untuk meningkatkan
kesejahteraan fisik dan psikologis bagi ibu dan bayi, pencegahan diagnosa dini
dan pengobatan komplikasi pada ibu, merujuk ibu keasuhan tenaga ahli bilamana
perlu, mendukung dan memperkuat keyakinan ibu serta meyakinkan ibu mampu
melaksanakan perannya dalam situasi keluarga dan budaya yang khusus,
imunisasi ibu terhadap tetanus dan mendorong pelaksanaan metode yang sehat
tentang pemberian makan anak, serta peningkatan pengembangan hubungan yang
baik antara ibu dan anak (Ambarwati, 2018).
Tujuan perawatan pada masa post partum menurut Walyani &
Purwoastuti (2015), yaitu
a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.
b. Mendeteksi masalah, mengobati, dan merujuk bila terjadi komplikasi
pada ibu maupun bayinya.
c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perwatan kesehatan diri,
nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, imunisasi, serta perawatan bayi
sehari-hari.
d. Memberikan pelayanan KB
2.2.4 Tahapan Masa Post Partum:
Menurut Walyani & Purwoastuti (2015) tahapan masa post partum antara
lain :
a. Immediate post partum (24 jam setelah plasenta lahir)
Masa Immediate post partum adalah masa setelah plasenta lahir sampai 24 jam,
adapun masalah yang sering terjadi pendarahan karena atonia uteri.
b. Early post partum (24 jam - 1 minggu)
Masa early post partum harus di pastikan involusi uteri normal, tidak ada
perdarahan, lokea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan
makanan dan cairan serta ibu dapat menyusui dengan baik.
c. Late post partum (1 minggu – 6 minggu)
Tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari hari serta
konseling/pendidikan kesehatan Keluarga Berencana (KB).
2.2.5 Kebutuhan Masa Post Partum
Menurut Widyastuti (2018), Kebutuhan pada masa post partum antara
lain :
1. Kebutuhan Nutrisi
Kebutuhan nutrisi pada masa menyusui meningkat 25% yaitu untuk
produksi ASI dan memenuhi kebutuhan cairan yang meningkat tiga kali dari
biasanya. Penambahan kalori pada ibu menyusui sebanyak 500 kkal tiap hari.
Makanan yang dikonsumsi ibu berguna untuk melakukan aktivitas,
metabozlism, cadangan dalam tubuh, proses produksi ASI serta sebagai ASI
itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan
[Link] makanan yang seimbang mengandung unsur- unsur,
seperti sumber tenaga, pembangun, pengatur dan pelindung. Sumber tenaga
atau energi yaitu karbohidrat berasala dari padi-padian, kentang, ubi, jagung
dan sebagainya. Sumber pembangun yaitu protein diperoleh dari hewani dan
nabati seperti telur, daging, ikan, susu,keju, tahu, tempe dan kacang-kacangan.
Sumber pengatur dan pelindung merupakan mineral air dan vitamin yang
berguna melindungi tubuh dari serangan penyakit 18 dan mengatur kelancaran
metabolism dalam tubuh. Semua ini dapat diperoleh dari buah-buahan dan
sayur-sayuran.
2. Kebutuhan Cairan
Fungsi cairan sebagai pelarut zat gizi dalam proses metabolism tubuh.
Minumlah cairan cukup untuk membuat tubuh ibu tidak dehidrasi. Asupan
tablet tambah darah dan zat besi diberikan selama 40 hari postpartum. Minum
kapsul Vit A (200.000 unit). Kegunaan cairan bagi tubuh menyangkut
beberapa fungsi seperti keseimbangan cairan dan elektrolit, mengatur tekanan
darah dan berpengaruh pada sistem urinarius (Widyastuti, 2018).
3. Ambulasi
Pada masa nifas, perempuan sebaiknya melakukan ambulasi dini.
Ambulasi dini berarti beberapa jam setelah melahirkan, segera bangun dari
tempat tidur dan bergerak, agar lebih kuat dan lebih baik. Karena Lelah
sehabis bersalin, ibu harus istirahat, terlentang selama 8 jam pasca persalinan.
Kemudian boleh miring kanan dan kiri untuk mencegah terjadinya thrombosis
dan tromboemboli. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari ke-3 jalan-jalan,
dan hari ke-4 atau ke-5 sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi tersebut
mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan
sembuhnya luka.
4. Eliminasi
Buang air kecil (BAK) akan meningkat pada 2-4 hari setelah persalinan.
Ini terjadi karena volume darah ekstra yang dibutuhkan selama hamil tidak
diperlukan lagi. Sebaiknya ibu tidak menahan BAK ketika ada rasa sakit pada
jahitan. Sulit buang air besar (BAB) dapat terjadi karena ketakutan yang
berlebihan akan jahitan terbuka, atau wasir. Untuk itu, konsumsi makanan
tinggi serat, dan cukup minum.
5. Kebersihan Diri
Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan
meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Anjurkan ibu untuk menjaga
kebersihan diri dengan cara mandi yang teratur minimal 2 kali sehari,
mengganti pakaian dan alas tempat tidur serta lingkungan dimana ibu tinggal.
Merawat perineum dengan baik dengan menggunakan antiseptic dan selalu
diingat bahwa membersihkan perineum dari arah depan ke belakang. Jaga
kebersihan diri secara keseluruhan untuk menghindari infeksi, baik pada luka
jahitan maupun kulit. Sebaiknya pakaian terbuat dari bahan yang mudah
menyerap keringat karena produksi keringat meningkat. Pakaian longgar di
bagian dada agar payudara tidak tertekan dan kering, pakaian dalam juga
longgar agar tidak lecet dan iritasi. Mengganti pembalut atau kain pembalut
setidaknya dua kali sehari. Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kelamin. Hindari menyentuh luka episiotomi
atau laserasi.
6. Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Ibu nifas membutuhkan istirahat yang cukup, istirahat tidur dibutuhkan
iibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari. Anjurkan
ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.
Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan- kegiatan rumah tangga secara
perlahan. Kurang istirahat akan memengaruhi ibu dalam berbagai hal,
diantaranya mengurangi jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses
involusi uterus dan memperbanyak perdarahan, serta menyebabkan depresi
dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya.
7. Kebutuhan Seksual
Ibu yang baru melahirkan boleh melakukan hubungan seksual kembali
setelah 6 minggu persalinan. Batasan waktu 6 minggu didasarkan atas
pemikiran pada masa itu semua luka akibat persalinan, termasuk luka
episiotomi dan luka bekas section cesarean (SC) biasanya telah sembuh
dengan baik. Bila suatu persalinan dipastikan tidak ada luka atau perobekan
jaringan, hubungan seks bahkan telah boleh dilakukan 3-4 minggu setelah
proses melahirkan.
8. Kebutuhan Perawatan Payudara
Sebaiknya perawatan payudara telah dilakukan sejak wanita hamil
supaya putting lemas, tidak keras, dan kering sebagai persiapan untuk
menyusui bayinya. Ibu menyusui harus menjaga payudaranya untuk tetap
bersih dan kering, menggunakan bra yang menyokong payudara, dan apabila
putting lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu
setiap kali selesai menyusui. Perubahan yang terjadi pada payudara setelah
melahirkan, yaitu penurunan kadar progesteron secara tepat dengan
peningkatan hormon prolaktin setelah persalinan, kolostrum sudah ada saat
persalinan produksi ASI terjadi pada hari ke2 atau hari ke-3 setelah persalinan,
dan payudara menjadi keras serta besar sebagai tanda mulainya proses laktasi.
9. Senam Nifas
Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami perubahan fisik
seperti dinding perut menjadi kendor, longgarnya liang senggama dan otot
dasar panggul. Untuk mengembalikan kepada keadaan normal dan menjaga
kesehatan agar tetap prima, senam nifas sangat baik dilakukan pada ibu setelah
melahirkan. 21 Ibu tidak perlu takut untuk banyak bergerak karena dengan
ambulasi dini dapat membantu Rahim untuk kembali ke bentuk semula.
10. Rencana KB
Rencana KB setelah melahirkan itu sangatlah penting, karena secara
tidak langsung KB dapat membantu ibu untuk dapat merawat anaknya dengan
baik serta mengistirahatkan alat kandungannya. Ibu dan suami dapat memilih
alat kontrasepsi KB apa saja yang ingin digunakan. Dengan menggunakan KB
ibu tidak cepat hamil (minimal jarak kehamilan 2 tahun), ibu dapat memiliki
waktu merawat kesehatan diri sendiri, anak, dan keluarga.
2.2.6 Perubahan Pada Masa Nifas
Menurut Manuaba (2018), perubahan fisiologi masa nifas adalah sebagai
berikut :
a. Perubahan sistem reproduksi
Selama masa nifas alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan
berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.
Perubahanperubahan alat genitalia ini dalam keseluruhan disebut involusi.
Disamping involusi ini, terjadi juga perubahan-perubahan yang lain, yakni
hemokonsentrasi dan timbulnya laktasi. Yang terakhir ini karena pengaruh
lactogenichormon dan kelenjar hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mammae.
Setelah janin dilahirkan fundusuteri kira-kira setinggi pusat, segera setelah
plasenta lahir, tinggi fundus uteri kurang lebih 2 jari dibawah [Link]
menyerupai suatu buah alpukat gepeng berukuran panjang ± 15 cm, lebar ± 12
cm dan tebal ± 10 cm, dinding uterus sendiri ± 5 cm sedangkan pada bekas
implantasi plasenta lebih tipis daripada bagian lain. Pada hari ke-5 postpartum
uterus ± 7 cm di atas simfisis atau setengah simfisis pusat, stelah 12 hari
uterus tidak dapat diraba lagi diatas simfsis.
Bagian bekas impantasi plasenta merupakan suatu luka yang kasar dan
menonjol ke dalam kavumuteri, segera setelah persalinan. Penonjolan tersebut
dengan diameter kurang lebih 7,5 cm, sering disangka sebagai suatu bagian
plasenta yang tertinggal. Setelah 2 minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan
pada 6 minggu telah mencapai 2,4 cm.
b. Uterus
Uterus gravidusaterm beratnya kira-kira 1000 gram. Satu minggu
postpartum berat uterus akan menjadi ± 500 gram, 2 minggu postpartum
menjadi 300 gram, dan setelah 6 minggu postpartum berat uterus menjadi 40
sampai 60 gram (berat uterus normal ± 30 gram). Otot-otot uterus berkontraksi
segera postpartum. Pembuluh-pembuluh darah yang berada diantara anyaman
otot-otot uterusakan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah
plasenta dilahirkan.
c. Lochea
Menurut Elisabeth (2015), lokea adalah cairan secret yang berasal dari
cavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Lokea mempunyai bau yang amis
meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda- beda pada setiap
wanita. Lokea mengalami perubahan karena proses involusi. Pengeluaran
lokea dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya, seperti pada tabel
berikut.
Tabel 2.2. Perubahan lokea berdasarkan waktu dan warna
(Sumber : Yetti Anggraini, 2018)
d. Endometrium
Perubahan pada endometrium adalah trombosit, degenerasi dan nekrosis
ditempat implantasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 mm,
mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin.
Setelah tiga hari mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut
pada bekas implantasi plasenta.
e. Serviks
Perubahan yang terjadi pada serviks ialah bentuk serviks agar
menggangah seperti corong, segera setelah bayi [Link] ini disebabkan
oleh corpusuteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak
berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks
berbentuk semacam cincin.
2.2.7 Kunjungan Masa Nifas
Menurut Yulifah (2019) Pelaksanaan pemberian asuhan kebidanan ibu nifas
di komunitas dilakukan melalui kunjungan-kunjungan. Kunjungan dilakukan
paling sedikit empat kali selama ibu dalam masa [Link] yang dilakukan
selama kunjungan meliputi pencegahan, pendeteksian, dan penanganan masalah
yang terjadi pada saat nifas. Adapun jadwal kunjungan tersebut sebagai berikut :
1. Kunjungan pertama dilakukan pada 6-8 jam setelah persalinan.
Kunjungan ini dilakukan dengan tujuan mencegah perdarahan masa nifas
karena atoniauteri, mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, dan
merujuk bila perdarahan berlanjut, memberikan konselingkepada ibu dan salah
satu anggota keluarga bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena
atoniauteri, pemberian ASI dini, melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru
lahir, juga menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia dan jika
petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi
baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi
dalam keadaan stabil.
2. Kunjungan kedua dilakukan pada 6 hari setelah persalinan.
Kunjungan ini dilakukan dengan tujuan untuk memastikan involusiuteri
berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada
perdarahan abnormal, tidak ada bau, menilai adanya tanda-tanda demam,
infeksi atau cairan, istirahat, memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak
memperlihatkan tanda-tanda penyulit, memberikan konseling pada ibu,
mengenali asuhan pada bayi,tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat
bayi seharihari.
3. Kunjungan ketiga
Kunjungan ketiga dilakukan pada 2 minggu setelah persalinan,
kunjungan ini tujuannya sama dengan kunjungan yang kedua. Setelah
kunjungan ketiga dilakukan maka dilakukanlah kunjungan keempat dilakukan
6 minggu setelah persalinan yang merupakan kunjungan terakhir selama masa
nifas kunjungan ini bertujuan untuk menanyakan pada ibu tentang penyulit-
penyulit yang ia dan bayi alami, juga memberikan konseling untuk
mendapatkan pelayanan KB secara dini.
2.2.8 Perubahan Psikologis Ibu Post Partum Pada Masa Nifas
Perubahan psikologis pada masa post partum menurut Walyani &
Purwoastuti (2015), yaitu :
a. Fase taking in
Fase taking in yaitu periode ketergantungan, berlangsung dar hari pertama
sampai hari kedua setelah melahirkan, pada fase ini ibu sedang berfokus
terutama pada dirinya sendiri, ibu akan berulang kali menceritakan proses
persalinan yang dialaminya dari awal sampai akhir.
b. Fase taking hold
Fase taking hold adalah periode yang berlangsung atara 3-10 hari setelah
melahirkan, pada fase ini timbul rasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa
tanggung jawabnya dalam merawat bayi.
c. Fase letting go
Fase letting go adalah periode menerima tanggung jawab akan peran
barunya sebagai orang tua, fase ini berlangsung 10 hari setelah melahirkan.
2.2.9 Tanda Bahaya Masa Nifas
Menurut Widyastuti (2018), Tanda bahaya pada masa nifas antara lain:
1. Perdarahan Postpartum
Perdarahan postpartum merupakan perdarahan yang terjadi sesudah
sesaat proses persalinan berlangsung dengan volume perdarahan melebihi 500
ml. Berdasarkan waktu kejadiannya perdarahan pascapersalinan dapat dibagi
menjadi dua bagian yaitu perdarahan pascapersalinan dini dimana perdarahan
ini terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan ini adalah atonia
uteri, retensio plasenta, dan robekan jalan lahir. Selanjutnya, perdarahan masa
nifas merupakan perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama. Perdarahan
ini sering diakibatkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa
plasenta yang tertinggal.
2. Infeksi Masa Nifas
Infeksi nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman
yang masuk ke dalam organ genital pada saat persalinan dan masa nifas.
Infeksi nifas ditandai dengan kenaikan suhu sampai 38˚C atau lebih selam 2
hari dalam sepuluh hari pertama pascapersalinan, dengan mengecualikan 24
jam pertama. Infeksi nifas disebabkan oleh bakteri Streptococcus
Haemolyticus Aerob, Staphylococcus Aerus, Escheria Coli, dan Clostridium
Welchi. Penyebaran infeksi nifas sering terjadi pada perineum, vulva, vagina,
serviks, dan endometrium.
3. Metritis
Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah
satu penyebab terbesar kematian ibu. Tanda gejalanya adalah demam
menggigil, nyeri perut bawah, lokea berbau nanah, uterus nyeri tekan,
perdarahan pervagina dan syok.
4. Bendungan Payudara
Bendungan payudara terjadi akibat bendungan berlebihan pada limfatik
dan vena sebelum laktasi. Payudara bengkak disebabkan karena menyusui
yang tidak kontinu, sehingga sisa ASI terkumpul pada daerah ductus. Hal ini
dapat terjadi pada hari ke-3 setelah persalinan. Perlu dibedakan antara
payudara bengkak dengan payudara penuh. Payudara bengkak memiliki tanda
gejala payudara odem, sakit, putting susu kencang, kulit mengkilat walau tidak
merah dan ASI tidak keluar kemudian badan demam setelah 24 jam.
Sedangkan payudara penuh tanda gejalanya yaitu payudara terasa berat, panas
dan keras. Bendungan payudara bila tidak ditangani dengan baik dapat
mengalami masalah serius seperti mastitis dan abses payudara.
2.3 Konsep Perawatan Payudara (Breast Care)
2.3.1 Definisi Payudara (Breast)
Menurut Walyani & Proastuti (2015), Breast / payudara merupakan
pelengkap organ reproduksi wanita dan pada masa laktasi akan menghasilkan
air susu. Payudara terletak di dalam fasia superfisialis di daerah pektoral antara
sternum dan axila dan melebar dari iga kedua atau ketiga sampai ke iga ke enam
atau ke tujuh.
Bentuk payudara cembung ke depan dengan puting di tengahnya,
yang terdiri atas kulit, jaringan erektil dan berwarna. Payudara berdiameter
10-12 cm, dan berat ± 200 gram (saat tidak hamil/ menyusui). Selama hamil,
payudara membesar mencapai 600 gram dan semasa menyusui beratnya dapat
mencapai 800 gram (Walyani & Purwoastuti, 2015).
2.3.2 Definisi Perawatan Payudara (Breast Care)
Perawatan payudara merupakan suatu tindakan perawatan payudara yang
dilaksanakan, baik oleh pasien maupun dibantu orang lain yang dilaksanakn
mulai hari pertama atau kedua setelah melahirkan. Perawatan payudara
bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya aliran
susu sehingga mempelancar pengeluaran Air Susu Ibu (ASI), serta menghindari
terjadinya pembekakan dan kesulitan menyusui, selain itu juga menjaga
kebersihan payudara agar tidak mudah terkena infeksi. Adapun langkah-langkah
dalam perawatan payudara (Azizah & Rosyidah, 2021).
Perawatan payudara adalah suatu tindakan untuk merawat payudara
terutama pada masa nifas (masa menyusui) untuk memperlancarkan
pengeluaran ASI. Perawatan payudara adalah perawatan payudara setelah ibu
melahirkan dan menyusui yang merupakan suatu cara yang dilakukan untuk
merawat payudara agar air susu keluar dengan lancar (Elisabeth, 2018).
2.3.3 Anatomi dan Fisiologi Payudara
Menurut Walyani dan Purwoastuti (2015), anatomi payudara dijelaskan
sebagai berikut : Secara vertical payudara terletak diantara kosta II dan IV,
secara horizontal mulai dari pinggir sternum linea aksilaris medialis. Kelenjar
susu berada di jaringan sub kutan, tepatnya di antara jaringan sub kutan
superficial dan profundus, yang menutupi muskulus pectoralis mayor.
Payudara merupakan sumber air susu ibu yang akan menjadi makanan
utama bagi bayi, karena itu jauh sebelumnya sudah harus dirawat. Payudara
adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit dan di atas otot dada.
Payudara terdiri atas tiga bagian utama, yaitu:
a. Korpus (badan): Bagian yang membesar.
b. Areola: Bagian yang kehitaman di tengah.
c. Papila/puting: Bagian yang menonjol di puncak payudara.
(Kumalasari, 2015)
Gambar 1 Payudara Tampak Depan
Di dalam korpus terdapat alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi
air susu ibu (ASI), terdiri dari beberapa sel aciner, jaringan lemak, sel plasma,
sel otot polos, dan pembuluh darah. Beberapa alveolus mengelompok
membentuk saluran yang lebih besar, yang dinamakan duktus laktiferus.
Terdapat saluran yang besar melebar di bawah areola yang disebut sinus
laktiferus. Di samping dinding alveolus maupun saluran, terdapat otot polos
yang bila berkontraksi maka akan memompa ASI keluar
(Sumber : Nugroho, 2011)
Gambar 2 Payudara Tampak Samping Dengan Susunan Kelenjar
Terdapat empat macam bentuk puting yaitu bentuk yang normal/ umum,
pendek/ datar, panjang dan terbenam (inverted).
Bentuk-bentuk puting ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi,
yang terpenting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga
membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi.
(Sumber : Kumalasari, 2015)
Gambar 3 Bentuk Puting Susu
2.3.4 Tujuan Perawatan Payudara
Menurut Saryono (2019), tujuan perawatan payudara antara lain:
a. Memperlancar sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu
sehingga memperlancar pengeluaran ASI.
b. Menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari infeksi.
c. Menghindari putting susu yang sakit dan infeksi payudara.
d. Menjaga keindahan bentuk payudara.
e. Memperbanyak produksi ASI.
f. Mengetahui adanya kelainan.
2.3.5 Manfaat Perawatan Payudara (Breast Care)
Menurut (Kumalasari, 2015) manfaat perawatan payudara (breast
care) diantaranya:
a. Memelihara kebersihan payudara ibu sehingga bayi mudah menyusui.
b. Melenturkan dan menguatkan puting susu sehingga bayi mudah
menyusu.
c. Mengurangi resiko luka saat bayi menyusu.
d. Dapat merangsang kelenjar air susu sehingga produksi ASI menjadi
lancar.
e. Persiapan pisikis ibu menyusui dan menjaga bentuk payudara.
f. Mencegah penyumbatan pada payudara.
2.3.6 Dampak Tidak Melakukan Perawatan Payudara (Breast Care)
Menurut (Kumalasari, 2015) akibat yang timbul jika tidak melakukan
perawatan payudara (breast care) diantaranya:
a. Anak kesulitan menyusu karena payudara yang kotor.
b. Puting susu tenggelam sehingga bayi susah menyusu.
c. ASI akan lama keluar sehingga berdampak bayi.
d. Produksi ASI terbatas karena kurang dirangsang melalui pemijatan dan
pengurutan.
e. Terjadinya pembengkakan, peradangan pada payudara dan kulit
payudara terutama pada bagian puting mudah lecet
2.3.7 Persyaratan Perawatan Payudara
Menurut Elisabeth (2018), persyaratan peawatan payudara antara lain:
a. Pengurutan harus dikerjakan secara sistematis dan teratur minimal dua kali
dalam sehari.
b. Memerhatikan makanan dengan menu seimbang.
c. Memerhatikan keberihan sehari-hari.
d. Memakai BH yang bersih dan bentuknya yang menyokong payudara.
e. Menghindari rokok dan minuman beralkohol.
f. Istirahat yang cukup dan pikiran yang tenang.
2.3.8 Pelaksanaan Perawatan Payudara
Indikasi perawatan payudara dilakukan pada payudara normal dan dapat
juga dilakukan pada payudara yang mengalami kelainan seperti bengkak, lecet,
dan puting inverted/masuk kedalam. Menurut (Kumalasari, 2015), langkah
perawatan payudara (breast care) diantaranya:
1. Peralatan
a. Handuk untuk mengeringkan payudara yang basah.
b. Kapas digunakan untuk mengompres puting susu.
c. Minyak kelapa/baby oil sebagai pelicin.
d. Waslap atau handuk kecil untuk kompres
e. Waskom dua yang masing-masing berisi air hangat dan air dingin.
2. Langkah-langkah
a. Buka pakaian ibu lalu letakkan handuk di atas panggkuan ibu tutuplah
payudara dengan handuk.
b. Buka handuk pada daerah payudara dan taruh di pundak ibu.
c. Kompres puting susu dengan menggunakan kapas minyak selama 3-5
menit agar epitel yang lepas tidak menumpuk,lalu bersihkan kerak-
kerak pada puting susu.
d. Bersihkan dan tariklah puting susu keluar terutama untuk puting susu
ibu yang datar.
e. Ketuk-ketuk sekeliling puting susu dengan ujung-ujung jari.
1) Pengurutan I
Telapak tangan berada diantara kedua payudara dengan
gerakan ke atas, ke samping, ke bawah dan ke depan sambil
menghentakkan payudara. Pengurutan dilakukan 20-30 kali.
2) Pengurutan II
Membuat gerakan memutar sambil menekan dari pangkal
payudara dan berakhir pada puting susu (dilakukan 20-30 kali) pada
kedua payudara.
3) Pengurutan III
Meletakkan kedua tangan di antara payudara, mengurut dari
tengah ke atas sambil mengangkat kedua payudara dan lepaskan
keduanya secara perlahan.
(Sumber : Kumalasari, 2015)
Gambar 4 Langkah Pengurutan Payudara I, II dan III
4) Pengurutan IV
Mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah pangkal
ke arah puting. Payudara di kompres dengan air hangat lalu dingin
secara bergantian kira-kira lima menit kemudian keringkan dengan
handuk.
(Kumalasari, 2015)
Gambar 5 Langkah Pengurutan Payudara IV
2.3.9 Masalah-Masalah Yang Dialami Selama Menyusui
Menurut Elisabeth (2018), masalah yang biasanya terjadi dalam
pemberian ASI yaitu :
a. Putting Susu Nyeri
Umumya ibu akan merasa nyeri pada waktu awal
[Link] sakit ini akan berkurang setelah ASI [Link] posisi
mulut bayi dan putting susu ibu benar, perasaan nyeri akan hilang. Cara
menangani :
1) Pastika posisi ibu menyusui sudah benar.
2) Mulailah menyusui pada puting susu yang tidak sakit guna membantu
mengurangi sakit pada putting susu yang sakit.
3) Segera setelah minum, keluarkan sedikit ASI oleskan diputing susu dan
biarkan payudara terbuka untuk beberapa waktu sampai putting susu
kering.
b. Putting Susu Lecet
Puting susu teras nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan
menjadi lecet. Umumnya menyusui akan menyakitkan kadang- kadang
mengeluarkan darah. Puting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi
menyusui yang salah, tapi dapat pula disebabkan oleh trush (candidates)
atau dermatitis. Cara menangani :
1) Cari penyebab putting lecet (posisi menyusui salah, canidates atau
dermatitis)
2) Obati penyebab putting susu lecet terutama perhatikan posisi
menyusui.
3) Kerjakan semua cara-cara menangani susu nyeri di atas tadi.
4) Ibu dapat terus memberikan ASI-nya pada keadaan luka tidak begitu
sakit.
5) Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), jangan sekali-kali
memberikan obat lain, seperti krim, salep, dan lain-lain.
6) Putting susu yang sakit dapat diistirahtkan untuk sementara waktu
kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu
2x24 jam.
7) Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan
dengan tangan, dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri.
8) Cuci payudara sehari sekali saja dan tidak dibenarkan untuk
menggunakan dengan sabun.
9) Bila sangat menyakitan, berhenti menyusui pada payudara yang sakit
untuk sementara untuk memberi kesempatan lukanya menyembuh.
10) Keluarkan Air Susu Ibu (ASI) dri payudara yang sakit dengan tangan
(jangan dengan pompa ASI) untuk tetap mempertahankan kelancaran
pembentukan ASI.
11) Berikan ASI perah dengan sendok atau gelas jangan menggunakan dot.
12) Setelah terasa membaik, mulai menyusui kembali mula- mula dengan
waktu yang lebih singkat.
13) Bila lecet tidak sembuh dalam 1 minggu rujuk ke Puskesmas.
c. Payudara Bengkak
Pada hari - hari pertama (sekitar 2-4 jam), payudara sering terasa penuh
dan nyeri disebabkan bertambahnya aliran darah ke payudara bersamaan
dengan ASI mulai diproduksi dalam jumlah banyak. Penyebab bengkak :
1) Posisi bayi dan putting susu ibu salah
2) Produksi ASI berlebihan
3) Terlambat menyusui
4) Pengeluaran ASI yang jarang
5) Waktu menyusui yang terbatas
d. Cara mengatasi payudara bengkak :
1) Susui bayi semaunya sesering mungkin tanpa jadwal dan tanpa batas
waktu.
2) Bila bayi sukar menghisap, keluarkan ASI dengan bantuan tangan atau
pompa ASI yang efektif.
3) Sebelum menyusui untuk merangsang refleks oksitosin dapat dilakukan :
kompres hangat untuk mengurangi rasa sakit, massage payudara, massage
leher dan punggung.
4) Setelah menyusui, kompres air dingin untuk mengurangi oedema.
e. Mastitit atau Abses Payudara
Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah,
bengkak kadangkala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Di
dalam ada terasa masa padat (lump) dan diluarnya kulit menjadi merah.
Kejadain ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan
oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurngnya
ASI diisap/dikeluarkan atau pengisapan yang tidak efektif. Dapat juga karena
kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju/BH.
Tindakan yang dapat dilakukan sebagai berikut:
1) Kompres hangat/panas dan pemijatan.
2) Rangsangan oksitosin, dimulai pada payudara yang tidak sakit yaitu
stimulasi puting susu, pijat leher, punggung, dan lain- lain.
3) Pemberian antibiotik : flucloxacillin atau erythromycin selama 7-10 hari.
4) Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang rasa
nyeri.
5) Kalau terjadi abses sebaiknya tidak didudukan karena mungkin perlu
tindakan bedah.
f. Pencegahan Pembengkakan Payudara
Menurut Yanti (2017) untuk mencegah pembengkakan payudara
maka diperlukan menyusui dini, perlekatan yang baik, menyusui “on demand”
bayi lebih sering disusui, apabila payudara terasa tegang atau bayi tidak dapat
menyusui maka sebaiknya ASI dikeluarkan terlebih dahulu sebelum menyusui,
agar ketegangan menurun. Sedangkan pencegahan yang dapat dilakukan agar
tidak terjadi pembengkakan payudara adalah:
1) Bila memungkinkan, susui bayi segera setelah lahir.
2) Susui bayi tanpa dijadwal.
3) Keluarkan ASI secara manual atau dengan pompa, bila produksi ASI
melebihi kebutuhan bayi.
4) Lakukan perawatan payudara masa nifas secara teratur.
Menurut Zuhana (2017) untuk mencegah pembengkakan payudara, ibu
harus dianjurkan untuk menyusui bayinya menurut isyarat bayi, dengan posisi
yang nyaman.
2.4 Kerangka Teori
Faktor-faktor yang
mempengaruhi
pengetahuan
Ibu Post Partum
1. Pendidikan
2. Pekerjaan
3. Umur
4. Lingkungan
5. Sosial Budaya Perawatan Payudara
6. Pengalaman (breast care)
7. Riwayat
Persalinan
Daftar pustaka
Dewi, W. d. (2018). Teori dan Pengukuran: Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Manusia.
Yogyakarta: Nuha Medika
..
Notoatmodjo, S. (2014). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta
Saleha, S. (2015). Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika
Sulistyawati. (2015). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Yogyakarta:
ANDI
Mochtar, Rustam. (2018). Sinopsis Obsetri, Obstetri Fisiologi, Obsetri Patologi.
Jakarta: Info Media
Ambarwati dan Wulandari. (2018). Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Cendekia
Press
Prawita Ade Ayu dan Marda Salima. (2018). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu
Nifas Tentang Perawata Payudara Dengan Pelaksanaan Perawtan Payudara Di Klinik
Pratama Niar Medan. Jurnal Bidan Komunitas
Widyastuti. (2018). Perawatan Ibu Nifas. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Manuaba, I G B. (2018). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakrta : EGC
Yulifah. (2019). Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika
Elisabeth Siwi, E. P. (2018). Asuhan Kebidanan Masa Nifas dan Menyusui.
Yogyakarta: PUSTAKABARUPRESS
Azizah Nurul dan Rafhani Rosyidah. (2021). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Masa
Nifas Dan Menyusui. Umsida Press, 1-209
Eka Puspita, K. D. (2014). Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Jakarta Timur: Trans Info
Media
Saryono. (2019). Perawatan Payudara. Yogyakarta: Nuha Medika
Zuhana, N. (2017). Perbedaan Efektifitas Daun Kubis Dingin (Brassica Oleracea Var.
Capita) Dengan Perawatan Payudara Dalam Mengurangi Pembengkakan Payudara
(Breast Engorgement) Di Kabupaten Pekalongan. Jurnal Ilmiah Bidan, 2(2), 51-56