0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan28 halaman

Pengetahuan Kesehatan Ibu Nifas

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai pengetahuan dan masa nifas. Secara ringkas, dibahas definisi pengetahuan, tingkat pengetahuan, faktor yang mempengaruhi pengetahuan, pengukuran pengetahuan, pengertian masa nifas, tahapan masa nifas, tujuan asuhan masa nifas, dan kebutuhan masa nifas.

Diunggah oleh

Eva Syarifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan28 halaman

Pengetahuan Kesehatan Ibu Nifas

Dokumen tersebut membahas tentang tinjauan pustaka mengenai pengetahuan dan masa nifas. Secara ringkas, dibahas definisi pengetahuan, tingkat pengetahuan, faktor yang mempengaruhi pengetahuan, pengukuran pengetahuan, pengertian masa nifas, tahapan masa nifas, tujuan asuhan masa nifas, dan kebutuhan masa nifas.

Diunggah oleh

Eva Syarifah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengetahuan

2.1.1 Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi setelah orang

mengadakan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan terhadap

objek terjadi melalui panca indra manusia yakni pengelihatan, pendengaran,

penciuman, rasa dan raba dengan sendiri. Pada waktu penginderaan sampai

menghasilkan pengetahuan tersebut sangat dipengaruhi oleh intensitas perhatian

persepsi terhadap objek. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui

mata dan telinga. (Wawan dan Dewi, 2018).

Manusia pada dasarnya ingin tahu yang benar. Untuk memenuhi rasa ingin

tahu ini, manusia sejak zaman dahulu telah berusaha mengumpulkan pengetahuan.

Pengetahuan pada dasarnya terdiri dari sejumlah fakta dan teori yang

memungkinkan seseorang untuk dapat memecahkan masalah yang dihadapinya.

Pengetahuan tersebut diperoleh baik dari pengalaman langsung maupun melalui

pengalaman orang lain (Burhan, 2017).

Pengetahuan ibu nifas tentang perawatan payudara adalah....

2.1.2 Tingkat Pengetahuan

Menurut Notoatmodjo (2014), pengetahuan seseorang terhadap suatu objek

mempunyai intensitas atau tingkatan yang berbeda. Secara garis besar tingkatan

pengetahuan dibagi menjadi 6 tingkat pengetahuan, yaitu :

a. Tahu (Know).
Tahu diartikan sebagai recall atau memanggil memori yang telah ada

sebelumnya setelah mengamati sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang

telah dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Tahu disisni merupakan

tingkatan yang paling rendah.

b. Memahami (Comprehention)

Memahami suatu objek bukan hanya sekedar tahu terhadap objek tersebut,

dan juga tidak sekedar menyebutkan, tetapi orang tersebut dapat

menginterpretasikan secara benar tentang objek yang diketahuinya.

c. Aplikasi (Aplication)

Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang

dimaksud dapat menggunakan ataupun mengaplikasikan prinsip yang diketahui

tersebut pada situasi atau kondisi yang lain. Aplikasi juga diartikan aplikasi

atau penggunaan hukum, rumus, metode, prinsip, rencana program dalam

situasi yang lain.

d. Analisis (Analysis)

Analisis adalah kemampuan seseorang dalam menjabarkan atau

memisahkan, lalu kemudian mencari hubungan antara komponenkomponen

dalam suatu objek atau masalah yang diketahui.

e. Sintesis (Synthesis)

Sintesis merupakan kemampuan seseorang dalam merangkum atau

meletakkan dalam suatu hubungan yang logis dari komponen pengetahuan

yang sudah dimilikinya.

f. Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian

terhadap suatu objek tertentu. Penilaian berdasarkan suatu kriteria yang

ditentukan sendiri atau norma-norma yang berlaku dimasyarakat.

2.1.3 Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

a. Faktor Internal

1. Pendidikan

2. Pekerjaan

3. Umur

4. Media masa/Sumber informasi

b. Faktor Ekstrnal

1. Faktor Lingkungan

Menurut Ann. Mariner yang dikutip dari Nursalam lingkungan

merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia dan pengaruhnya

yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku orang atau

kelompok.

2. Sosial Budaya

System social budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi

darisikap dalam menerima informasi (Wawan dan Dewi, 2018).

2.1.4 Pengetahuan Kesehatan

Menurut teori Notoatmodjo (2014), pengetahuan kesehatan antara lain:

a. Pengetahuan tentang penyakit menular dan tidak menular (jenis penyakit dan

tanda-tandanya atau gejalanya, penyebabnya, cara penularannya, cara

pencegahannya, cara mengatasi atau menangani sementara).

b. Pengetahuan tentang faktor-faktor yang berkait dan atau mempengaruhi

kesehatan, antara lain : gizi makanan, sarana air bersih, pembuangan air
limbah, pembuangan kotoran manusia, pembuangan sampah, perumahan

sehat, polusi udara dan sebagainya.

c. Pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan yang professional maupun

yang tradisional.

d. Pengetahuan untuk menghindari kecelakaan rumah tangga, maupun

kecelakaan lalu lintas dan tempat-tempat umum

2.1.5 Pegukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan cara wawancara atau

angket yang menanyakan tentang isi materi yang akan diukur dari subyek

penelitian atau responden. Pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat

kita sesuaikan dengan tingkatan-tingkatan. Menurut Wawan dan Dewi (2018)

pengetahuan seseorang dapat diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang

bersifatkualitatif, yaitu :

a. Baik : Hasil Presentase 76% - 100%

b. Cukup : Hasil Presentase 56% - 75%

c. Kurang : Hasil Presentase < 56%

2.2 Masa Nifas

2.2.1 Pengertian Masa Nifas

Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi, plasenta

serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan kembali organ kandungan seperti

sebelum hamil dengan waktu kurang lebih 6 minggu. Masa nifas (puerperiem),

berasal dari bahasa latin, yaitu puer yang artinya bayi dan partus yang artinya

melahirkan atau berarti masa sesudah melahirkan (Saleha, 2015).

Periode masa nifas (puerperium) adalah periode waktu selama 6-8 minggu

setelah persalinan. Proses ini dimulai setelah selesainya persalinan dan berakhir
setelah alat-alat reproduksi kembali seperti keadaan sebelum hamil/tidak hamil

sebagai akibat adanya perubahan fisiologi dan psikologi karena proses persalinan

(Sulistyawati, 2015).

Dengan demikian, angka morbiditas dan mortalitas bayi pun akan semakin

meningkat. Asuhan masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan

masa kritis bayi ibu dan bayinya. Diperkirakan bahwa 69% kematian ibu akibat

kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam

24 jam pertama (Saleha, 2015).

2.2.2 Tahapan Masa Nifas

Menurut Mochtar (2018) masa nifas dibagi pada tiga periode yaitu :

a. Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan

berjalan-jalan. Dalam agama Islam dianggap telah bersih dan boleh bekerja

setelah 40 hari.

b. Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang

lamanya 6-8 minggu.

c. Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat

sempurna bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi.

Waktu sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.

2.2.3 Tujuan Asuhan Masa Nifas

Asuhan yang diberikan kepada ibu nifas bertujuan untuk meningkatkan

kesejahteraan fisik dan psikologis bagi ibu dan bayi, pencegahan diagnosa dini

dan pengobatan komplikasi pada ibu, merujuk ibu keasuhan tenaga ahli bilamana

perlu, mendukung dan memperkuat keyakinan ibu serta meyakinkan ibu mampu

melaksanakan perannya dalam situasi keluarga dan budaya yang khusus,

imunisasi ibu terhadap tetanus dan mendorong pelaksanaan metode yang sehat
tentang pemberian makan anak, serta peningkatan pengembangan hubungan yang

baik antara ibu dan anak (Ambarwati, 2018).

Tujuan perawatan pada masa post partum menurut Walyani &

Purwoastuti (2015), yaitu

a. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.

b. Mendeteksi masalah, mengobati, dan merujuk bila terjadi komplikasi

pada ibu maupun bayinya.

c. Memberikan pendidikan kesehatan tentang perwatan kesehatan diri,

nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, imunisasi, serta perawatan bayi

sehari-hari.

d. Memberikan pelayanan KB

2.2.4 Tahapan Masa Post Partum:

Menurut Walyani & Purwoastuti (2015) tahapan masa post partum antara

lain :

a. Immediate post partum (24 jam setelah plasenta lahir)

Masa Immediate post partum adalah masa setelah plasenta lahir sampai 24 jam,

adapun masalah yang sering terjadi pendarahan karena atonia uteri.

b. Early post partum (24 jam - 1 minggu)

Masa early post partum harus di pastikan involusi uteri normal, tidak ada

perdarahan, lokea tidak berbau busuk, tidak demam, ibu cukup mendapatkan

makanan dan cairan serta ibu dapat menyusui dengan baik.

c. Late post partum (1 minggu – 6 minggu)

Tetap melakukan perawatan dan pemeriksaan sehari hari serta

konseling/pendidikan kesehatan Keluarga Berencana (KB).


2.2.5 Kebutuhan Masa Post Partum

Menurut Widyastuti (2018), Kebutuhan pada masa post partum antara

lain :

1. Kebutuhan Nutrisi

Kebutuhan nutrisi pada masa menyusui meningkat 25% yaitu untuk

produksi ASI dan memenuhi kebutuhan cairan yang meningkat tiga kali dari

biasanya. Penambahan kalori pada ibu menyusui sebanyak 500 kkal tiap hari.

Makanan yang dikonsumsi ibu berguna untuk melakukan aktivitas,

metabozlism, cadangan dalam tubuh, proses produksi ASI serta sebagai ASI

itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan

[Link] makanan yang seimbang mengandung unsur- unsur,

seperti sumber tenaga, pembangun, pengatur dan pelindung. Sumber tenaga

atau energi yaitu karbohidrat berasala dari padi-padian, kentang, ubi, jagung

dan sebagainya. Sumber pembangun yaitu protein diperoleh dari hewani dan

nabati seperti telur, daging, ikan, susu,keju, tahu, tempe dan kacang-kacangan.

Sumber pengatur dan pelindung merupakan mineral air dan vitamin yang

berguna melindungi tubuh dari serangan penyakit 18 dan mengatur kelancaran

metabolism dalam tubuh. Semua ini dapat diperoleh dari buah-buahan dan

sayur-sayuran.

2. Kebutuhan Cairan

Fungsi cairan sebagai pelarut zat gizi dalam proses metabolism tubuh.

Minumlah cairan cukup untuk membuat tubuh ibu tidak dehidrasi. Asupan

tablet tambah darah dan zat besi diberikan selama 40 hari postpartum. Minum

kapsul Vit A (200.000 unit). Kegunaan cairan bagi tubuh menyangkut


beberapa fungsi seperti keseimbangan cairan dan elektrolit, mengatur tekanan

darah dan berpengaruh pada sistem urinarius (Widyastuti, 2018).

3. Ambulasi

Pada masa nifas, perempuan sebaiknya melakukan ambulasi dini.

Ambulasi dini berarti beberapa jam setelah melahirkan, segera bangun dari

tempat tidur dan bergerak, agar lebih kuat dan lebih baik. Karena Lelah

sehabis bersalin, ibu harus istirahat, terlentang selama 8 jam pasca persalinan.

Kemudian boleh miring kanan dan kiri untuk mencegah terjadinya thrombosis

dan tromboemboli. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari ke-3 jalan-jalan,

dan hari ke-4 atau ke-5 sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi tersebut

mempunyai variasi, bergantung pada komplikasi persalinan, nifas dan

sembuhnya luka.

4. Eliminasi

Buang air kecil (BAK) akan meningkat pada 2-4 hari setelah persalinan.

Ini terjadi karena volume darah ekstra yang dibutuhkan selama hamil tidak

diperlukan lagi. Sebaiknya ibu tidak menahan BAK ketika ada rasa sakit pada

jahitan. Sulit buang air besar (BAB) dapat terjadi karena ketakutan yang

berlebihan akan jahitan terbuka, atau wasir. Untuk itu, konsumsi makanan

tinggi serat, dan cukup minum.

5. Kebersihan Diri

Kebersihan diri ibu membantu mengurangi sumber infeksi dan

meningkatkan perasaan nyaman pada ibu. Anjurkan ibu untuk menjaga

kebersihan diri dengan cara mandi yang teratur minimal 2 kali sehari,

mengganti pakaian dan alas tempat tidur serta lingkungan dimana ibu tinggal.

Merawat perineum dengan baik dengan menggunakan antiseptic dan selalu


diingat bahwa membersihkan perineum dari arah depan ke belakang. Jaga

kebersihan diri secara keseluruhan untuk menghindari infeksi, baik pada luka

jahitan maupun kulit. Sebaiknya pakaian terbuat dari bahan yang mudah

menyerap keringat karena produksi keringat meningkat. Pakaian longgar di

bagian dada agar payudara tidak tertekan dan kering, pakaian dalam juga

longgar agar tidak lecet dan iritasi. Mengganti pembalut atau kain pembalut

setidaknya dua kali sehari. Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan

sesudah membersihkan daerah kelamin. Hindari menyentuh luka episiotomi

atau laserasi.

6. Kebutuhan Istirahat dan Tidur

Ibu nifas membutuhkan istirahat yang cukup, istirahat tidur dibutuhkan

iibu nifas sekitar 8 jam pada malam hari dan 1 jam pada siang hari. Anjurkan

ibu untuk istirahat cukup untuk mencegah kelelahan yang berlebihan.

Sarankan ibu untuk kembali ke kegiatan- kegiatan rumah tangga secara

perlahan. Kurang istirahat akan memengaruhi ibu dalam berbagai hal,

diantaranya mengurangi jumlah ASI yang diproduksi, memperlambat proses

involusi uterus dan memperbanyak perdarahan, serta menyebabkan depresi

dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya.

7. Kebutuhan Seksual

Ibu yang baru melahirkan boleh melakukan hubungan seksual kembali

setelah 6 minggu persalinan. Batasan waktu 6 minggu didasarkan atas

pemikiran pada masa itu semua luka akibat persalinan, termasuk luka

episiotomi dan luka bekas section cesarean (SC) biasanya telah sembuh

dengan baik. Bila suatu persalinan dipastikan tidak ada luka atau perobekan
jaringan, hubungan seks bahkan telah boleh dilakukan 3-4 minggu setelah

proses melahirkan.

8. Kebutuhan Perawatan Payudara

Sebaiknya perawatan payudara telah dilakukan sejak wanita hamil

supaya putting lemas, tidak keras, dan kering sebagai persiapan untuk

menyusui bayinya. Ibu menyusui harus menjaga payudaranya untuk tetap

bersih dan kering, menggunakan bra yang menyokong payudara, dan apabila

putting lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar putting susu

setiap kali selesai menyusui. Perubahan yang terjadi pada payudara setelah

melahirkan, yaitu penurunan kadar progesteron secara tepat dengan

peningkatan hormon prolaktin setelah persalinan, kolostrum sudah ada saat

persalinan produksi ASI terjadi pada hari ke2 atau hari ke-3 setelah persalinan,

dan payudara menjadi keras serta besar sebagai tanda mulainya proses laktasi.

9. Senam Nifas

Selama kehamilan dan persalinan ibu banyak mengalami perubahan fisik

seperti dinding perut menjadi kendor, longgarnya liang senggama dan otot

dasar panggul. Untuk mengembalikan kepada keadaan normal dan menjaga

kesehatan agar tetap prima, senam nifas sangat baik dilakukan pada ibu setelah

melahirkan. 21 Ibu tidak perlu takut untuk banyak bergerak karena dengan

ambulasi dini dapat membantu Rahim untuk kembali ke bentuk semula.

10. Rencana KB

Rencana KB setelah melahirkan itu sangatlah penting, karena secara

tidak langsung KB dapat membantu ibu untuk dapat merawat anaknya dengan

baik serta mengistirahatkan alat kandungannya. Ibu dan suami dapat memilih

alat kontrasepsi KB apa saja yang ingin digunakan. Dengan menggunakan KB


ibu tidak cepat hamil (minimal jarak kehamilan 2 tahun), ibu dapat memiliki

waktu merawat kesehatan diri sendiri, anak, dan keluarga.

2.2.6 Perubahan Pada Masa Nifas

Menurut Manuaba (2018), perubahan fisiologi masa nifas adalah sebagai

berikut :

a. Perubahan sistem reproduksi

Selama masa nifas alat-alat genetalia interna maupun eksterna akan

berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil.

Perubahanperubahan alat genitalia ini dalam keseluruhan disebut involusi.

Disamping involusi ini, terjadi juga perubahan-perubahan yang lain, yakni

hemokonsentrasi dan timbulnya laktasi. Yang terakhir ini karena pengaruh

lactogenichormon dan kelenjar hipofisis terhadap kelenjar-kelenjar mammae.

Setelah janin dilahirkan fundusuteri kira-kira setinggi pusat, segera setelah

plasenta lahir, tinggi fundus uteri kurang lebih 2 jari dibawah [Link]

menyerupai suatu buah alpukat gepeng berukuran panjang ± 15 cm, lebar ± 12

cm dan tebal ± 10 cm, dinding uterus sendiri ± 5 cm sedangkan pada bekas

implantasi plasenta lebih tipis daripada bagian lain. Pada hari ke-5 postpartum

uterus ± 7 cm di atas simfisis atau setengah simfisis pusat, stelah 12 hari

uterus tidak dapat diraba lagi diatas simfsis.

Bagian bekas impantasi plasenta merupakan suatu luka yang kasar dan

menonjol ke dalam kavumuteri, segera setelah persalinan. Penonjolan tersebut

dengan diameter kurang lebih 7,5 cm, sering disangka sebagai suatu bagian

plasenta yang tertinggal. Setelah 2 minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan

pada 6 minggu telah mencapai 2,4 cm.


b. Uterus

Uterus gravidusaterm beratnya kira-kira 1000 gram. Satu minggu

postpartum berat uterus akan menjadi ± 500 gram, 2 minggu postpartum

menjadi 300 gram, dan setelah 6 minggu postpartum berat uterus menjadi 40

sampai 60 gram (berat uterus normal ± 30 gram). Otot-otot uterus berkontraksi

segera postpartum. Pembuluh-pembuluh darah yang berada diantara anyaman

otot-otot uterusakan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah

plasenta dilahirkan.

c. Lochea

Menurut Elisabeth (2015), lokea adalah cairan secret yang berasal dari

cavum uteri dan vagina dalam masa nifas. Lokea mempunyai bau yang amis

meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda- beda pada setiap

wanita. Lokea mengalami perubahan karena proses involusi. Pengeluaran

lokea dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya, seperti pada tabel

berikut.

Tabel 2.2. Perubahan lokea berdasarkan waktu dan warna


(Sumber : Yetti Anggraini, 2018)

d. Endometrium

Perubahan pada endometrium adalah trombosit, degenerasi dan nekrosis

ditempat implantasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 mm,

mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin.

Setelah tiga hari mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut

pada bekas implantasi plasenta.

e. Serviks

Perubahan yang terjadi pada serviks ialah bentuk serviks agar

menggangah seperti corong, segera setelah bayi [Link] ini disebabkan

oleh corpusuteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak

berkontraksi sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks

berbentuk semacam cincin.

2.2.7 Kunjungan Masa Nifas

Menurut Yulifah (2019) Pelaksanaan pemberian asuhan kebidanan ibu nifas

di komunitas dilakukan melalui kunjungan-kunjungan. Kunjungan dilakukan

paling sedikit empat kali selama ibu dalam masa [Link] yang dilakukan

selama kunjungan meliputi pencegahan, pendeteksian, dan penanganan masalah

yang terjadi pada saat nifas. Adapun jadwal kunjungan tersebut sebagai berikut :

1. Kunjungan pertama dilakukan pada 6-8 jam setelah persalinan.

Kunjungan ini dilakukan dengan tujuan mencegah perdarahan masa nifas

karena atoniauteri, mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, dan

merujuk bila perdarahan berlanjut, memberikan konselingkepada ibu dan salah

satu anggota keluarga bagaimana cara mencegah perdarahan masa nifas karena

atoniauteri, pemberian ASI dini, melakukan hubungan antara ibu dan bayi baru
lahir, juga menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermia dan jika

petugas kesehatan menolong persalinan, ia harus tinggal dengan ibu dan bayi

baru lahir untuk 2 jam pertama setelah kelahiran, atau sampai ibu dan bayi

dalam keadaan stabil.

2. Kunjungan kedua dilakukan pada 6 hari setelah persalinan.

Kunjungan ini dilakukan dengan tujuan untuk memastikan involusiuteri

berjalan normal, uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilikus, tidak ada

perdarahan abnormal, tidak ada bau, menilai adanya tanda-tanda demam,

infeksi atau cairan, istirahat, memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak

memperlihatkan tanda-tanda penyulit, memberikan konseling pada ibu,

mengenali asuhan pada bayi,tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat

bayi seharihari.

3. Kunjungan ketiga

Kunjungan ketiga dilakukan pada 2 minggu setelah persalinan,

kunjungan ini tujuannya sama dengan kunjungan yang kedua. Setelah

kunjungan ketiga dilakukan maka dilakukanlah kunjungan keempat dilakukan

6 minggu setelah persalinan yang merupakan kunjungan terakhir selama masa

nifas kunjungan ini bertujuan untuk menanyakan pada ibu tentang penyulit-

penyulit yang ia dan bayi alami, juga memberikan konseling untuk

mendapatkan pelayanan KB secara dini.

2.2.8 Perubahan Psikologis Ibu Post Partum Pada Masa Nifas

Perubahan psikologis pada masa post partum menurut Walyani &

Purwoastuti (2015), yaitu :

a. Fase taking in
Fase taking in yaitu periode ketergantungan, berlangsung dar hari pertama

sampai hari kedua setelah melahirkan, pada fase ini ibu sedang berfokus

terutama pada dirinya sendiri, ibu akan berulang kali menceritakan proses

persalinan yang dialaminya dari awal sampai akhir.

b. Fase taking hold

Fase taking hold adalah periode yang berlangsung atara 3-10 hari setelah

melahirkan, pada fase ini timbul rasa khawatir akan ketidakmampuan dan rasa

tanggung jawabnya dalam merawat bayi.

c. Fase letting go

Fase letting go adalah periode menerima tanggung jawab akan peran

barunya sebagai orang tua, fase ini berlangsung 10 hari setelah melahirkan.

2.2.9 Tanda Bahaya Masa Nifas

Menurut Widyastuti (2018), Tanda bahaya pada masa nifas antara lain:

1. Perdarahan Postpartum

Perdarahan postpartum merupakan perdarahan yang terjadi sesudah

sesaat proses persalinan berlangsung dengan volume perdarahan melebihi 500

ml. Berdasarkan waktu kejadiannya perdarahan pascapersalinan dapat dibagi

menjadi dua bagian yaitu perdarahan pascapersalinan dini dimana perdarahan

ini terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utama perdarahan ini adalah atonia

uteri, retensio plasenta, dan robekan jalan lahir. Selanjutnya, perdarahan masa

nifas merupakan perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama. Perdarahan

ini sering diakibatkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisa

plasenta yang tertinggal.

2. Infeksi Masa Nifas


Infeksi nifas adalah semua peradangan yang disebabkan oleh kuman

yang masuk ke dalam organ genital pada saat persalinan dan masa nifas.

Infeksi nifas ditandai dengan kenaikan suhu sampai 38˚C atau lebih selam 2

hari dalam sepuluh hari pertama pascapersalinan, dengan mengecualikan 24

jam pertama. Infeksi nifas disebabkan oleh bakteri Streptococcus

Haemolyticus Aerob, Staphylococcus Aerus, Escheria Coli, dan Clostridium

Welchi. Penyebaran infeksi nifas sering terjadi pada perineum, vulva, vagina,

serviks, dan endometrium.

3. Metritis

Metritis adalah infeksi uterus setelah persalinan yang merupakan salah

satu penyebab terbesar kematian ibu. Tanda gejalanya adalah demam

menggigil, nyeri perut bawah, lokea berbau nanah, uterus nyeri tekan,

perdarahan pervagina dan syok.

4. Bendungan Payudara

Bendungan payudara terjadi akibat bendungan berlebihan pada limfatik

dan vena sebelum laktasi. Payudara bengkak disebabkan karena menyusui

yang tidak kontinu, sehingga sisa ASI terkumpul pada daerah ductus. Hal ini

dapat terjadi pada hari ke-3 setelah persalinan. Perlu dibedakan antara

payudara bengkak dengan payudara penuh. Payudara bengkak memiliki tanda

gejala payudara odem, sakit, putting susu kencang, kulit mengkilat walau tidak

merah dan ASI tidak keluar kemudian badan demam setelah 24 jam.

Sedangkan payudara penuh tanda gejalanya yaitu payudara terasa berat, panas

dan keras. Bendungan payudara bila tidak ditangani dengan baik dapat

mengalami masalah serius seperti mastitis dan abses payudara.

2.3 Konsep Perawatan Payudara (Breast Care)


2.3.1 Definisi Payudara (Breast)

Menurut Walyani & Proastuti (2015), Breast / payudara merupakan

pelengkap organ reproduksi wanita dan pada masa laktasi akan menghasilkan

air susu. Payudara terletak di dalam fasia superfisialis di daerah pektoral antara

sternum dan axila dan melebar dari iga kedua atau ketiga sampai ke iga ke enam

atau ke tujuh.

Bentuk payudara cembung ke depan dengan puting di tengahnya,

yang terdiri atas kulit, jaringan erektil dan berwarna. Payudara berdiameter

10-12 cm, dan berat ± 200 gram (saat tidak hamil/ menyusui). Selama hamil,

payudara membesar mencapai 600 gram dan semasa menyusui beratnya dapat

mencapai 800 gram (Walyani & Purwoastuti, 2015).

2.3.2 Definisi Perawatan Payudara (Breast Care)

Perawatan payudara merupakan suatu tindakan perawatan payudara yang

dilaksanakan, baik oleh pasien maupun dibantu orang lain yang dilaksanakn

mulai hari pertama atau kedua setelah melahirkan. Perawatan payudara

bertujuan untuk melancarkan sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya aliran

susu sehingga mempelancar pengeluaran Air Susu Ibu (ASI), serta menghindari

terjadinya pembekakan dan kesulitan menyusui, selain itu juga menjaga

kebersihan payudara agar tidak mudah terkena infeksi. Adapun langkah-langkah

dalam perawatan payudara (Azizah & Rosyidah, 2021).

Perawatan payudara adalah suatu tindakan untuk merawat payudara

terutama pada masa nifas (masa menyusui) untuk memperlancarkan

pengeluaran ASI. Perawatan payudara adalah perawatan payudara setelah ibu

melahirkan dan menyusui yang merupakan suatu cara yang dilakukan untuk

merawat payudara agar air susu keluar dengan lancar (Elisabeth, 2018).
2.3.3 Anatomi dan Fisiologi Payudara

Menurut Walyani dan Purwoastuti (2015), anatomi payudara dijelaskan

sebagai berikut : Secara vertical payudara terletak diantara kosta II dan IV,

secara horizontal mulai dari pinggir sternum linea aksilaris medialis. Kelenjar

susu berada di jaringan sub kutan, tepatnya di antara jaringan sub kutan

superficial dan profundus, yang menutupi muskulus pectoralis mayor.

Payudara merupakan sumber air susu ibu yang akan menjadi makanan

utama bagi bayi, karena itu jauh sebelumnya sudah harus dirawat. Payudara

adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit dan di atas otot dada.

Payudara terdiri atas tiga bagian utama, yaitu:

a. Korpus (badan): Bagian yang membesar.

b. Areola: Bagian yang kehitaman di tengah.

c. Papila/puting: Bagian yang menonjol di puncak payudara.

(Kumalasari, 2015)
Gambar 1 Payudara Tampak Depan

Di dalam korpus terdapat alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi

air susu ibu (ASI), terdiri dari beberapa sel aciner, jaringan lemak, sel plasma,

sel otot polos, dan pembuluh darah. Beberapa alveolus mengelompok

membentuk saluran yang lebih besar, yang dinamakan duktus laktiferus.

Terdapat saluran yang besar melebar di bawah areola yang disebut sinus
laktiferus. Di samping dinding alveolus maupun saluran, terdapat otot polos

yang bila berkontraksi maka akan memompa ASI keluar

(Sumber : Nugroho, 2011)


Gambar 2 Payudara Tampak Samping Dengan Susunan Kelenjar

Terdapat empat macam bentuk puting yaitu bentuk yang normal/ umum,

pendek/ datar, panjang dan terbenam (inverted).

Bentuk-bentuk puting ini tidak terlalu berpengaruh pada proses laktasi,

yang terpenting adalah bahwa puting susu dan areola dapat ditarik sehingga

membentuk tonjolan atau “dot” ke dalam mulut bayi.

(Sumber : Kumalasari, 2015)


Gambar 3 Bentuk Puting Susu

2.3.4 Tujuan Perawatan Payudara

Menurut Saryono (2019), tujuan perawatan payudara antara lain:

a. Memperlancar sirkulasi darah dan mencegah tersumbatnya saluran susu

sehingga memperlancar pengeluaran ASI.

b. Menjaga kebersihan payudara sehingga terhindar dari infeksi.

c. Menghindari putting susu yang sakit dan infeksi payudara.

d. Menjaga keindahan bentuk payudara.

e. Memperbanyak produksi ASI.

f. Mengetahui adanya kelainan.

2.3.5 Manfaat Perawatan Payudara (Breast Care)


Menurut (Kumalasari, 2015) manfaat perawatan payudara (breast

care) diantaranya:

a. Memelihara kebersihan payudara ibu sehingga bayi mudah menyusui.

b. Melenturkan dan menguatkan puting susu sehingga bayi mudah

menyusu.

c. Mengurangi resiko luka saat bayi menyusu.

d. Dapat merangsang kelenjar air susu sehingga produksi ASI menjadi

lancar.

e. Persiapan pisikis ibu menyusui dan menjaga bentuk payudara.

f. Mencegah penyumbatan pada payudara.

2.3.6 Dampak Tidak Melakukan Perawatan Payudara (Breast Care)

Menurut (Kumalasari, 2015) akibat yang timbul jika tidak melakukan

perawatan payudara (breast care) diantaranya:

a. Anak kesulitan menyusu karena payudara yang kotor.

b. Puting susu tenggelam sehingga bayi susah menyusu.

c. ASI akan lama keluar sehingga berdampak bayi.

d. Produksi ASI terbatas karena kurang dirangsang melalui pemijatan dan

pengurutan.

e. Terjadinya pembengkakan, peradangan pada payudara dan kulit

payudara terutama pada bagian puting mudah lecet

2.3.7 Persyaratan Perawatan Payudara

Menurut Elisabeth (2018), persyaratan peawatan payudara antara lain:

a. Pengurutan harus dikerjakan secara sistematis dan teratur minimal dua kali

dalam sehari.

b. Memerhatikan makanan dengan menu seimbang.


c. Memerhatikan keberihan sehari-hari.

d. Memakai BH yang bersih dan bentuknya yang menyokong payudara.

e. Menghindari rokok dan minuman beralkohol.

f. Istirahat yang cukup dan pikiran yang tenang.

2.3.8 Pelaksanaan Perawatan Payudara

Indikasi perawatan payudara dilakukan pada payudara normal dan dapat

juga dilakukan pada payudara yang mengalami kelainan seperti bengkak, lecet,

dan puting inverted/masuk kedalam. Menurut (Kumalasari, 2015), langkah

perawatan payudara (breast care) diantaranya:

1. Peralatan

a. Handuk untuk mengeringkan payudara yang basah.

b. Kapas digunakan untuk mengompres puting susu.

c. Minyak kelapa/baby oil sebagai pelicin.

d. Waslap atau handuk kecil untuk kompres

e. Waskom dua yang masing-masing berisi air hangat dan air dingin.

2. Langkah-langkah

a. Buka pakaian ibu lalu letakkan handuk di atas panggkuan ibu tutuplah

payudara dengan handuk.

b. Buka handuk pada daerah payudara dan taruh di pundak ibu.

c. Kompres puting susu dengan menggunakan kapas minyak selama 3-5

menit agar epitel yang lepas tidak menumpuk,lalu bersihkan kerak-

kerak pada puting susu.

d. Bersihkan dan tariklah puting susu keluar terutama untuk puting susu

ibu yang datar.

e. Ketuk-ketuk sekeliling puting susu dengan ujung-ujung jari.


1) Pengurutan I

Telapak tangan berada diantara kedua payudara dengan

gerakan ke atas, ke samping, ke bawah dan ke depan sambil

menghentakkan payudara. Pengurutan dilakukan 20-30 kali.

2) Pengurutan II

Membuat gerakan memutar sambil menekan dari pangkal

payudara dan berakhir pada puting susu (dilakukan 20-30 kali) pada

kedua payudara.

3) Pengurutan III

Meletakkan kedua tangan di antara payudara, mengurut dari

tengah ke atas sambil mengangkat kedua payudara dan lepaskan

keduanya secara perlahan.

(Sumber : Kumalasari, 2015)

Gambar 4 Langkah Pengurutan Payudara I, II dan III

4) Pengurutan IV

Mengurut payudara dengan sisi kelingking dari arah pangkal

ke arah puting. Payudara di kompres dengan air hangat lalu dingin

secara bergantian kira-kira lima menit kemudian keringkan dengan

handuk.
(Kumalasari, 2015)

Gambar 5 Langkah Pengurutan Payudara IV

2.3.9 Masalah-Masalah Yang Dialami Selama Menyusui

Menurut Elisabeth (2018), masalah yang biasanya terjadi dalam

pemberian ASI yaitu :

a. Putting Susu Nyeri

Umumya ibu akan merasa nyeri pada waktu awal

[Link] sakit ini akan berkurang setelah ASI [Link] posisi

mulut bayi dan putting susu ibu benar, perasaan nyeri akan hilang. Cara

menangani :

1) Pastika posisi ibu menyusui sudah benar.

2) Mulailah menyusui pada puting susu yang tidak sakit guna membantu

mengurangi sakit pada putting susu yang sakit.

3) Segera setelah minum, keluarkan sedikit ASI oleskan diputing susu dan

biarkan payudara terbuka untuk beberapa waktu sampai putting susu

kering.

b. Putting Susu Lecet

Puting susu teras nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan

menjadi lecet. Umumnya menyusui akan menyakitkan kadang- kadang

mengeluarkan darah. Puting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi

menyusui yang salah, tapi dapat pula disebabkan oleh trush (candidates)

atau dermatitis. Cara menangani :

1) Cari penyebab putting lecet (posisi menyusui salah, canidates atau

dermatitis)
2) Obati penyebab putting susu lecet terutama perhatikan posisi

menyusui.

3) Kerjakan semua cara-cara menangani susu nyeri di atas tadi.

4) Ibu dapat terus memberikan ASI-nya pada keadaan luka tidak begitu

sakit.

5) Olesi putting susu dengan ASI akhir (hind milk), jangan sekali-kali

memberikan obat lain, seperti krim, salep, dan lain-lain.

6) Putting susu yang sakit dapat diistirahtkan untuk sementara waktu

kurang lebih 1x24 jam, dan biasanya akan sembuh sendiri dalam waktu

2x24 jam.

7) Selama putting susu diistirahatkan, sebaiknya ASI tetap dikeluarkan

dengan tangan, dan tidak dianjurkan dengan alat pompa karena nyeri.

8) Cuci payudara sehari sekali saja dan tidak dibenarkan untuk

menggunakan dengan sabun.

9) Bila sangat menyakitan, berhenti menyusui pada payudara yang sakit

untuk sementara untuk memberi kesempatan lukanya menyembuh.

10) Keluarkan Air Susu Ibu (ASI) dri payudara yang sakit dengan tangan

(jangan dengan pompa ASI) untuk tetap mempertahankan kelancaran

pembentukan ASI.

11) Berikan ASI perah dengan sendok atau gelas jangan menggunakan dot.

12) Setelah terasa membaik, mulai menyusui kembali mula- mula dengan

waktu yang lebih singkat.

13) Bila lecet tidak sembuh dalam 1 minggu rujuk ke Puskesmas.

c. Payudara Bengkak
Pada hari - hari pertama (sekitar 2-4 jam), payudara sering terasa penuh

dan nyeri disebabkan bertambahnya aliran darah ke payudara bersamaan

dengan ASI mulai diproduksi dalam jumlah banyak. Penyebab bengkak :

1) Posisi bayi dan putting susu ibu salah

2) Produksi ASI berlebihan

3) Terlambat menyusui

4) Pengeluaran ASI yang jarang

5) Waktu menyusui yang terbatas

d. Cara mengatasi payudara bengkak :

1) Susui bayi semaunya sesering mungkin tanpa jadwal dan tanpa batas

waktu.

2) Bila bayi sukar menghisap, keluarkan ASI dengan bantuan tangan atau

pompa ASI yang efektif.

3) Sebelum menyusui untuk merangsang refleks oksitosin dapat dilakukan :

kompres hangat untuk mengurangi rasa sakit, massage payudara, massage

leher dan punggung.

4) Setelah menyusui, kompres air dingin untuk mengurangi oedema.

e. Mastitit atau Abses Payudara

Mastitis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah,

bengkak kadangkala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Di

dalam ada terasa masa padat (lump) dan diluarnya kulit menjadi merah.

Kejadain ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan

oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurngnya

ASI diisap/dikeluarkan atau pengisapan yang tidak efektif. Dapat juga karena
kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju/BH.

Tindakan yang dapat dilakukan sebagai berikut:

1) Kompres hangat/panas dan pemijatan.

2) Rangsangan oksitosin, dimulai pada payudara yang tidak sakit yaitu

stimulasi puting susu, pijat leher, punggung, dan lain- lain.

3) Pemberian antibiotik : flucloxacillin atau erythromycin selama 7-10 hari.

4) Bila perlu bisa diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang rasa

nyeri.

5) Kalau terjadi abses sebaiknya tidak didudukan karena mungkin perlu

tindakan bedah.

f. Pencegahan Pembengkakan Payudara

Menurut Yanti (2017) untuk mencegah pembengkakan payudara

maka diperlukan menyusui dini, perlekatan yang baik, menyusui “on demand”

bayi lebih sering disusui, apabila payudara terasa tegang atau bayi tidak dapat

menyusui maka sebaiknya ASI dikeluarkan terlebih dahulu sebelum menyusui,

agar ketegangan menurun. Sedangkan pencegahan yang dapat dilakukan agar

tidak terjadi pembengkakan payudara adalah:

1) Bila memungkinkan, susui bayi segera setelah lahir.

2) Susui bayi tanpa dijadwal.

3) Keluarkan ASI secara manual atau dengan pompa, bila produksi ASI

melebihi kebutuhan bayi.

4) Lakukan perawatan payudara masa nifas secara teratur.

Menurut Zuhana (2017) untuk mencegah pembengkakan payudara, ibu

harus dianjurkan untuk menyusui bayinya menurut isyarat bayi, dengan posisi

yang nyaman.
2.4 Kerangka Teori

Faktor-faktor yang
mempengaruhi
pengetahuan
Ibu Post Partum
1. Pendidikan
2. Pekerjaan
3. Umur
4. Lingkungan
5. Sosial Budaya Perawatan Payudara
6. Pengalaman (breast care)
7. Riwayat
Persalinan

Daftar pustaka

Dewi, W. d. (2018). Teori dan Pengukuran: Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Manusia.

Yogyakarta: Nuha Medika

..

Notoatmodjo, S. (2014). Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Saleha, S. (2015). Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Jakarta: Salemba Medika

Sulistyawati. (2015). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Yogyakarta:

ANDI

Mochtar, Rustam. (2018). Sinopsis Obsetri, Obstetri Fisiologi, Obsetri Patologi.

Jakarta: Info Media


Ambarwati dan Wulandari. (2018). Asuhan Kebidanan Nifas. Yogyakarta: Cendekia

Press

Prawita Ade Ayu dan Marda Salima. (2018). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Ibu

Nifas Tentang Perawata Payudara Dengan Pelaksanaan Perawtan Payudara Di Klinik

Pratama Niar Medan. Jurnal Bidan Komunitas

Widyastuti. (2018). Perawatan Ibu Nifas. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka

Manuaba, I G B. (2018). Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga

Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakrta : EGC

Yulifah. (2019). Asuhan Kebidanan Komunitas. Jakarta: Salemba Medika

Elisabeth Siwi, E. P. (2018). Asuhan Kebidanan Masa Nifas dan Menyusui.

Yogyakarta: PUSTAKABARUPRESS

Azizah Nurul dan Rafhani Rosyidah. (2021). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Masa

Nifas Dan Menyusui. Umsida Press, 1-209

Eka Puspita, K. D. (2014). Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Jakarta Timur: Trans Info

Media

Saryono. (2019). Perawatan Payudara. Yogyakarta: Nuha Medika

Zuhana, N. (2017). Perbedaan Efektifitas Daun Kubis Dingin (Brassica Oleracea Var.

Capita) Dengan Perawatan Payudara Dalam Mengurangi Pembengkakan Payudara

(Breast Engorgement) Di Kabupaten Pekalongan. Jurnal Ilmiah Bidan, 2(2), 51-56

Anda mungkin juga menyukai