Pengujian Kualitas Agregat Halus
Pengujian Kualitas Agregat Halus
id
64
LAMPIRAN I
HASIL PENGUJIAN BAHAN
A. PENGUJIAN AGREGAT HALUS (PASIR)
9) Kadar air total rata-rata dihitung dan dilaporkan dalam persen hingga
dua angka dibelakang tanda koma.
b) Kadar Zat Organik
Prosedur pengujian kadar zat organik dilaksanakan menurut SNI 2816:2014
yang dijelaskan sebagai berikut :
1) Agregat halus (pasir) dioven seberat kurang lebih 700 gram dengan suhu
110 ºC selama 24 jam.
[Link] [Link]
65
2) Pasir kering dari oven dimasukkan ke dalam tabung gelas ukur sebanyak
130 ml.
3) Tuangkan larutan NaOH 3% ke dalam tabung gelas ukur yang berisi
pasir kering oven hingga mencapai 200 cc.
4) Kocok pasir bersama larutan NaOH 3% selama ± 10 menit.
5) Campuran pasir dan larutan NaOH 3% ditempatkan pada tempat
terlindungi selama 24 jam dengan memasang tutup plastik dengan karet.
6) Amati perubahan warna yang berada di atas pasir dalam tabung gelas
ukur, lalu bandingkan warna hasil pengujian dengan tabel warna
pengujian kadar zat organik.
c) Kadar Lumpur
Prosedur pengujian kadar lumpur dilaksanakan menurut SNI ASTM
C117:2012) yang dijelaskan sebagai berikut :
1) Massa minimum benda uji ditentukan berdasarkan SNI ASTM
C117:2012 dengan ukuran nominal maksimum agregat 4,75 mm
(Saringan No. 4) minimal seberat 300 gram, maka diambil massa
minimum seberat 500 gram atau 0,5 kg tiap masing-masing benda uji.
2) Benda uji dimasukkan kedalam oven selama 24 jam dengan temperature
110 ºC ± 5ºC.
3) Keluarkan benda uji dari oven setelah 24 jam dan tunggu hingga suhu
benda uji turun.
4) Siapkan seberat 500 gram dari benda uji kering oven.
5) Benda uji diletakkan ke dalam wadah dan direndam air serta diaduk
untuk mencucinya.
6) Tuangkan benda uji ke atas sususan saringan sembari dicuci dengan air
yang mengalir hingga air cucian menjadi jernih.
7) Benda uji yang telah dicuci hingga jernih di saringan dimasukkan
kembali ke dalam wadah, kemudian di oven selama 24 jam.
8) Keluarkan benda uji dari oven setelah 24 jam dan diamkan hingga suhu
benda uji turun.
[Link] [Link]
66
9) Benda uji ditimbang beratnya bersama wadah, lalu timbang wadah tanpa
benda uji untuk mengetahui berat benda uji kering oven.
10) Kadar lumpur dihitung dan dilaporkan dalam persen hingga dua angka
dibelakang koma
d) Berat Jenis
Prosedur pengujian berat jenis dilaksanakan menurut SNI 1970:2008 yang
dijelaskan sebagai berikut :
1) Siapkan pasir seberat 1 kg dengan cara diayak menggunakan saringan
ukuran 4,75 mm (Saringan No. 4)
2) Keringkan pasir dalam wadah sampai beratnya tetap pada temperatur
110ºC ± 5ºC. Kemudaian, biarkan mendingin hingga temperatur yang
bisa dikerjakan, basahi dengan air, baik dengan cara dilembabkan
sampai 6% atau direndam. Selanjutnya biarkan selama (±24) jam.
3) Hilangkan air rendaman dengan hati-hati sehingga butiran yang halus
tidak menghilang, sampel uji ditebar di atas permukaan terbuka yang
tidak menyerap air dan rata, diberi aliran udara secara perlahan dan
hangat, diaduk hingga mencapai pengeringan yang merata dan mencapai
kondisi jenuh kering permukaan. Seiring dengan material yang makin
mongering ke dalam kondisi yang kita inginkan, butiran digosok dengan
tangan untuk memisahkan butiran yang saling menempel. Ulangi
langkah sebelumnya untuk memastikan bahwa tidak ada lagi kelebihan
kadar air.
4) Dilakukan pengujian kerucut untuk memerikasa kelembaban
permukaan. Cetakan dipegan dan diletakkan diatas permukaan yang rata
dan halus serta tidak menyerao air dengan lubang kerucut besar berada
pada bagian bawah. Sebagian agregat halus yang sedang diperiksa
dimasukkan ke dalam kerucut sampai penuh dan tumpah, ratakan bagian
yang meluber dengan menjaga posisi keruut. Agregat halus yang berada
dalam kerucut dipadatkan secara perlahan dan merata sebanyak 25 kali
dengan penumbuk. Setiap tumbukan dilakukan dengan caara
menjatuhkan dengan bebas batang pnumbuk dari ketingan permukaan
[Link] [Link]
67
Perhitungan
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑟 𝑎𝑤𝑎𝑙 (𝑊1) – 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑜𝑣𝑒𝑛 (𝑊2)
Rumus Kadar Air = 𝑥100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑜𝑣𝑒𝑛 (𝑊2)
= 9,67% = 9,57%
9,67%+9,57%
Kadar Air Rata-Rata = 2
= 9,62 %
Kesimpulan
Pengujian kadar air mendapatkan nilai sebesar 9,62% disebabkan karena
kondisi fisik agregat halus (pasir) lembab sebelum dilakukan proses
pengeringan menggunakan oven dan kemungkinan disebabkan oleh air hujan.
Sehingga, dalam perencanaan mix design akan menjadi faktor koreksi air
mengingat kadar air agregat halus > 1-3%.
3. Hasil Pengujian Kadar Zat Organik
Jenis Sampel = Agregat halus
Jumlah Sampel = 130 ml
Tempat Uji = Workshop Beton PTB FKIP UNS
Standar Referensi = SNI 2816:2014
Kesimpulan
Pengujian kadar lumpur agregat halus mendapatkan nilai sebesar 2,18%. Hasil
ini memenuhi standar kadar lumpur dalam pasir yaitu <5% (SNI ASTM
C117:2012) sehingga agregat halus layak digunakan dalam bahan campuran
beton.
Perhitungan
𝐴
a) Bulk Specific Gravity = (𝐵+𝑆−𝐶)
481,7
= (685,4+500⎯991,6)
= 2,48
𝑆
b) Bulk Specific Gravity SSD = (𝐵+𝑆−𝐶)
500
= (685,4+500⎯991,6)
= 2,57
𝐴
c) Apparent Specific Gravity = (𝐵+𝐴−𝐶)
481,7
= (685,4+481,7⎯991,6)
= 2,74
𝑆−𝐴
d) Absorbtions = [ ] 𝑥 100%
𝐴
500−481,7
=[ ] 𝑥 100%
481,7
18,3
= [481,7] 𝑥 100%
= 3,7%
Kesimpulan
Hasil yang diperoleh dalam melaksanakan pengujian berat jenis agregat halus
dalam kondisi SSD (Jenuh Kering Permukaan) didapatkan nilai sebesar 2,57%
yang memenuhi standar yaitu 2,5-2,7 (Kardiyono, 2004:6) dan hasil
penyerapan agregat halus mendapatkan nilai sebesar 3,7% yang berarti
penyerapan agregat halus pada air cukup banyak.
Presentase Spesifikasi
Massa Jumlah Presentase
(100%) Persen
Saringan Tertahan Tertahan Kumulatif
Lolos
(mm) Gram Gram Tertahan Lolos tertahan
ASTM C33
(a) (b) (c) (d) (100%)
03
9,5 0 0 0 100 0 100
4,75 4,7 4,7 0,94 99,06 0,94 95-100
2,36 27,8 32,5 5,56 93,5 6,5 80-100
1,18 83,9 116,4 156,8 76,7 23,3 50-85
0,6 166,0 282,4 33,24 43,46 56,54 25-60
0,35 73,7 356,1 14,76 28,7 71,3 5-30
0,15 63,5 419,6 12,71 15,99 84,01 0-10
0,075 37,9 457,5 7,59 8,37 91,63 -
Pan 41,8 499,3 8,37 0 - -
Jumlah 499,3 99,97 334,22
Perhitungan
Berat awal pasir = 500 gram
Berat pasir setelah diayak = 499,3 gram
Berat pasir hilang = berat awal – berat setelah diayak
= 500 – 499,3
= 0,7 gram
(𝑏𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑎𝑤𝑎𝑙−berat setelah diayak)
Presentase kehilangan berat = 𝑥 100%
berat pasir awal
(500−499,3)
= 𝑥100%
500
= 0,14%
𝐶
Modulus kehalusan =𝐵
0+0,94+6,5+23,3+56,54+71,3+84,01+91,6
= 99,97
334,22
=
99,97
= 3,34
[Link] [Link]
74
Kesimpulan
Berdasarkan pengujian gradasi agregat halus, dapat disimpulkan bahwa
modulus kehalusan agregat halus adalah 3,34 (memenuhi syarat) yang pada
umumnya pasir mempunyai modulus halus butir antara 1,5 sampai 3,8.
B. PENGUJIAN AGREGAT KASAR (KERIKIL) SEGMEN
1. Prosedur Pengujian Bahan
a) Kadar Air
Prosedur pengujian kadar air kerikil dilaksanakan menurut SNI 1971:2011
yang dijelaskan sebagai berikut:
1) Massa minimum benda uji seberat 1500 gram atau 1,5 kg (kerikil
segmen) dengan ukuran nominal maksimum agregat 9,5 mm
berdasarkan pada tabel 1 SNI 1971-2011.
2) Benda uji dipersiapkan kurang lebih 3000 gram untuk 2 sampel kerikil
segmen.
3) Timbang loyang dan catat hasilnya.
4) Kerikil dimasukkan ke dalam loyang yang telah ditimbang dan catal
hasil timbangan massa benda uji (W1). Massa benda uji merupakan
massa wadah + benda uji dikurangi massa wadah.
5) Benda uji yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam oven selama 24
jam untuk dikeringkan dengan temperatur 110ºC ± 5ºC.
6) Benda uji dikeluarkan dari oven dan diinginkan benda uji sebelum
ditimbang.
7) Timbang benda uji dan catat hasilnya (W2).
8) Kadar air agregat total agregat kasar dihitung dengan rumus
(𝑊1−𝑊2)
(P)= 𝑥100%.
𝑊2
9) Kadar air total rata-rata dihitung pada perhitungan dan dilaporkan dalam
persen hingga dua angka dibelakang koma.
b) Gradasi
Prosedur pengujian gradasi kerikil dilaksanakan menurut SNI ASTM
C135-06:2012 yang dijelaskan sebagai berikut:
[Link] [Link]
75
d) Berat Jenis
Prosedur pengujian berat jenis kerikil dilaksanakan menurut SNI
1969:2008 yang dijelaskan sebagai berikut:
1) Kerikil diayak menggunakan saringan ukuran 25 mm (Saringan No.1)
untuk lolos ayakan dan 4,75 mm (Saringan No.4) untuk tertahan ayakan
dan disiapkan seberat 2000 gram.
2) Cuci kerikil secara menyeluruh untuk membersihkan debu atau material
lain yang ada di permukaan agregat. Jika agregat kasar mengandung
sejumlah bahan yang lebih halus dari saringan 4,75 mm (Saringan No.
4) dalam jumlah yang subtansional, material yang lebih halus dari
saringan ukuran 4,75 mm (Saringan No.4) di pisahkan dan tidak
digunakan.
3) Kerikil seberat 2000 gram dikeringkan dalam wadah yang sesuai
sampai beratnya tetap, pada temperatur 110ºC ± 5ºC. Kemudian biarkan
mendingin kurang lebih selama 3 jam hingga temperatur yang dapat
dikerjakan
4) Sesudah itu, agregat terbesar tersebut direndam di dalam air pada
temperatur kamar selama (24+4) jam.
5) Sampel uji dipindahkan dari dalam air dan diguling-gulingkan pada
suatu lembaran penyerap air sampai semua lapisan air yang terlihat
hilang. Air pada butiran yang besar secara tersendiri dikeringkan dari
air. Aliran udara yang bergerak dapat digunakan untuk pekerjaan
pengeringan. Kerjakan secara hati-hati untuk menghindari penguapan
air dan pori-pori agregat dalam mencapai kondisi jenuh kering
permukaan. Tentukan berat benda uji pada kondisi jenuh kering
permukaan. Catat beratnya dan semua berat yang sampai nilai 1,0 gram
terdekat atau 0,1 persen yang terdekat dari berat contoh, pilihlah nilai
yang lebih besar.
6) Setelah ditentukan beratnya, segera tempatkan sampel uji yang berada
dalam kondisi jenuh kering permukaan tersebut di dalam wadah lalu
tentukan beratnya di dalam air, yang mempunya kerapatan (997±2)
[Link] [Link]
77
Perhitungan
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑘𝑖𝑙 𝑎𝑤𝑎𝑙 – 𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑘𝑒𝑟𝑖𝑘𝑖𝑙 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑜𝑣𝑒𝑛
Rumus Kadar Air = 𝑥100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑖𝑟 𝑠𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ 𝑜𝑣𝑒𝑛
Benda Uji 1
1500 −1428,8
Kadar air total = 𝑥 100%
1428,8
71,2
= 1428,8 𝑥 100%
= 4,98%
Benda Uji 2
1500 −1429,4
Kadar air total = 1429,4
𝑥 100%
70,6
= 1429,4 𝑥 100%
= 4,93%
4,98%+4,93%
Kadar Air Rata-Rata = 2
= 4,95 %
Kesimpulan
Pengujian kadar air mendapatkan nilai sebesar 4,95% disebabkan karena
kondisi fisik kasar lembab sebelum dilakukan proses pengeringan
menggunakan oven dan kemungkinan disebabkan oleh air hujan. Sehingga,
dalam perencanaan mix design akan menjadi faktor koreksi air.
b) Gradasi
Jenis Sampel = Agregat kasar
Jumlah Sampel = 1000 gram
Tempat Uji = Workshop Beton PTB FKIP UNS
Standar Referensi = SNI ASTM C136:2012
[Link] [Link]
79
= 0,04%
𝐶
Modulus kehalusan =𝐵
0+0+0+2,02+55,92+92,95+95,42+96,34+98,44
= 99,98
441,09
=
99,98
= 4,41
[Link] [Link]
80
c) Abrasi
Jenis Sampel = Agregat kasar
Jumlah Sampel = 5000 gram
Tempat Uji = Workshop Beton PTB FKIP UNS
Standar Referensi = SNI 2417:2008
Tabel L.I. 8 Hasil Pengujian Abrasi Kerikil Segmen
= 8,424 %
[Link] [Link]
81
Kesimpulan
Prosedur pengujian keausan agregat kasar mendapatkan nilai presentase berat
agregat kasar yang hilang adalah 8,424%. Sehingga dapat diambil kesimpulan
bahwa agregat kasar yang digunakan memenuhi standar yaitu nilai keausan
tidak lebih dari 40% (SNI 2417:1991)
Kesimpulan
Hasil pengujian berat jenis agregat kasar dalam kondisi SSD (Jenuh Kering di
Permukaan) mendapatkan nilai sebesar 2,767 dan penyerapan air sebesar
2,020%.
[Link] [Link]
82
LAMPIRAN II
PERHITUNGAN MIX DESIGN
A. Mix Design Segmen Kolom Struktur Modular Beton
= 900 – 324 – 32
= 544 cm2
[Link] [Link]
84
Hasil perhitungan total kebutuhan bahan untuk membuat 3 benda uji beton
kubus membutuhkan semen sebanyak 3,978 kg, pasir sebanyak 10,632 kg,
kerikil sebanyak 11,508 kg dan air sebanyak 2,187 kg.
[Link] [Link]
89
LAMPIRAN III
HASIL PENGUJIAN
Kesimpulan
Hasil pengujian slump pada segmen mendapatkan nilai slump sebesar 0 cm, hal
ini disebabkan karena campuran segmen kolom struktur modular beton
termasuk dalam kategori beton kering
Rata-Rata
Kode Benda Berat Isi
Volume (m3) Berat (Kg) Berat Isi
Uji (Kg/m3)
(Kg/m3)
BI 1 0,003375 7,522 2228,741
BI 2 0,003375 7,484 2217,481 2239,802
BI 3 0,003375 7,672 2273,185
Kesimpulan
Berdasarkan data diatas rata-rata berat isi beton kubus sebesar 2239,802 kg/m 3.
[Link] [Link]
90
Abu
Kode Sekam Berat Volume Berat Rata-Rata
Berat Isi
Benda Padi dan (W) (V) Isi Berat Isi
(Kg/cm3)
Uji Fly Ash (Kg) (cm3) (Kg/m3) (Kg/m3)
(%)
17,490 2,283 2283,59
AF.00 0 17,750 7659 2,317 2317,53 2308,83
17,810 2,325 2325,37
17,475 2,281 2281,63
AF.10.10 10 dan 10 18,140 7659 2,368 2368,46 2325,15
17,810 2,325 2325,37
18,175 2,373 2373,03
AF.10.15 10 dan15 17,750 7659 2,317 2317,53 2349,96
18,070 2,359 2359,32
17,670 2,307 2307,09
AF.10.20 10 dan 20 17,380 7659 2,269 2269,23 2305,13
17,915 2,339 2339,08
Contoh Perhitungan Berat Uji Segmen AF.10.10 ( 10 % Abu Sekam Padi dan
10 % Fly Ash)
Diketahui :
Volume Segmen Kolom Struktur (V) = 7659 cm3
Berat Segmen AF.10.10.1 (W) = 17,475 Kg
𝑊
Berat Isi = 𝑉
17,475
= 7659
Kesimpulan
Berdasarkan data berat isi diatas dapat diambil kesimpulan :
[Link] [Link]
91
a) Berat isi segmen kolom struktur modular beton tanpa variasi pengganti
parsial semen memiliki berat isi lebih rendah daripada segmen kolom
struktur modular beton dengan variasi pengganti parsial semen.
b) Berat isi segmen kolom struktur modular beton tertinggi pada variasi
pengganti parsial semen sebesar 10 % abu sekam padi dan 15 % fly ash,
sedangkan berat isi segmen kolom struktur modular beton terendah pada
variasi pengganti parsial semen sebesar 10 % abu sekam padi dan 20 % fly
ash.
[Link] [Link]
92
LAMPIRAN IV
ANALISIS DATA
A. Analisis Berat Isi Segmen Kolom Struktur Modular Beton
Data pengujian berat isi segmen kolom struktur modular beton dapat dilihat
pada tabel [Link].5 pada lampiran III. Berikut adalah hasil analisis
perbandingan berat isi segmen kolom struktur modular beton tiap variasi :
1. Perbandingan Berat Isi AF.00 dengan AF.10.10
Berat Isi AF.00−Berat Isi AF.10.10.
= 𝑥 100%
Berat Isi AF.00
2308,83− 2325,15
= 𝑥 100% = -0,7%
2308,83
Kesimpulan
Segmen kolom struktur modular beton tanpa variasi lebih ringan 0,7%
dibandingkan dengan segmen kolom struktur modular beton dengan variasi
10% abu sekam padi dan 10% fly ash.
2. Perbandingan Berat Isi AF.10.10 dengan AF.10.15
Berat Isi AF.00−Berat Isi AF.10.10.
= 𝑥 100%
Berat Isi AF.00
2325,15 −2349,96.
= 𝑥 100% = 1,06%
2325,15
Kesimpulan
Segmen kolom struktur modular beton dengan variasi 10% abu sekam padi
dan 10% fly ash lebih ringan 1,06% dibandingkan dengan segmen kolom
struktur modular beton dengan variasi 10% abu sekam padi dan 15% fly ash.
3. Perbandingan Berat Isi AF.10.15 dengan AF.10.20
Berat Isi AF.00−Berat Isi AF.10.10.
= 𝑥 100%
Berat Isi AF.00
2349,96−2305,13.
= 𝑥 100% = 1,97%
2349,96
Kesimpulan
Segmen kolom struktur modular beton dengan variasi 10% abu sekam padi
dan 15% fly ash lebih berat 1,97% dibandingkan dengan segmen kolom
struktur modular beton dengan variasi 10% abu sekam padi dan 20% fly ash.
[Link] [Link]
93
= 67,915 kg
Kesimpulan
Proses pembuatan 1 m3 segmen kolom struktur modular beton dengan variasi
abu sekam padi 10% dan fly ash 15% mampu mengurangi penggunaan semen
sebanyak 81,825 kg yang mengakibatkan berkurangnya emisi gas CO 2
sebanyak 67,915 kg.
2. Pengurangan Sampah Konstruksi Kayu Bekisting
Diketahui
Sisi penampang = 30 cm x 30 cm
Tinggi kolom = 300 cm
Pemakaian bekisting = 2-3 kali pemakaian
Perhitungan
Kayu bekisting = (sisi penampang 1 x tinggi kolom x jumlah sisi) + (sisi
penampang 2 x tinggi kolom x jumlah sisi)
= (30 x 300 x 2) + ((30+5) x 300 x 2)
= 18000 + 21000
= 39000 cm2 = 3,9 m2
[Link] [Link]
94
Kesimpulan
Hasil pembuatan segmen kolom struktur modular beton diharapkan akan
mengurangi penggunaan kayu bekisting. Pengurangan sampah konstruksi
kayu bekisting mencapai 3,9 m2 untuk 2-3 kali pemakaian kolom struktur.
Tabel [Link]. 3 Analisis Biaya Pembuatan Segmen Kolom Struktur Modular Beton
10% Abu Sekam padi dan 15% Fly Ash
= 22,22 buah
Tabel [Link]. 4 Pemasangan Dinding Coneblock HB15 1 m2
Harga
Jumlah
Notasi Uraian Kode Satuan Koefisien Satuan
Harga (Rp)
(Rp)
A Tenaga Kerja
Pekerja L.01 OH 1,650 70.000 115.500
Tukang Batu L.02 OH 0,275 90.000 24.750
Kepala L.03 OH 0,025 95.000 2.375
Tukang
Mandor L.04 OH 0,165 95.000 15.675
Total Biaya Tenaga Kerja 158.300
B Bahan
Segmen buah 22,22 9.033,725 200.730
Total Biaya Bahan 200.730
C Peralatan Jumlah Harga Peralatan ⎯
D Jumlah (A+B+C) 359.030
E Overhead + profit 10 % 10% x D 35.903
3
F Harga Satuan Pekerjaan per m (D+E) 394.933
[Link] [Link]
96
Tabel [Link]. 5 Pembuatan 1 m3 Beton Mutu f’c (20 MPa, Slump 5-10 cm)
Harga
Jumlah Harga
Notasi Uraian Kode Satuan Koefisien Satuan
(Rp)
(Rp)
A Tenaga Kerja
Pekerja L.01 OH 1,650 70.000 115.000
Tukang Batu L.02 OH 0,275 90.000 24.750
Kepala L.03 OH 0,025 95.000 2.375
Tukang
Mandor L.04 OH 0,165 95.000 15.675
Total Biaya Tenaga Kerja 158.300
B Bahan
Semen M.15 Kg 262,319 1.155 302.978,445
Kerikil M.14.a Kg 994,342 250 248.585,5
Pasir M.12 Kg 1057,776 265 280.310,64
Air M.02 Liter 115,818 25 2.895,45
Total Biaya Bahan 834.770,035
C Peralatan Jumlah Biaya Peralatan ⎯
D Jumlah (A+B+C) 993.070,035
E Overhead + profit 10 % 10% x D 99.307
3
F Harga Satuan Pekerjaan per m (D+E) 1.092.377,035
Berat
Ukuran
No. Uraian Jenis Unit Panjang Berat Jumlah
Besi
(Kg/m)
Tulangan Utama
1 D10 0,62 4 3 7,44
Kolom Segmen
10,504
Begel Kolom
2 D6 0,37 15 0,552 3,064
Segmen
Tulangan Utama
3 Kolom D10 0,62 4 3 7,44
Konvensional 12,99
Begel Kolom
4 D6 0,37 15 1 5,55
Konvensional
[Link] [Link]
98
Harga Jumlah
Not
Uraian Kode Satuan Koefisien Satuan Harga
asi
(Rp) (Rp)
A Tenaga Kerja
Pekerja L.01 OH 0,660 70.000 46.200
Tukang Kayu L.02 OH 0,330 90.000 29.700
Kepala Tukang L.03 OH 0,033 95.000 3.135
Mandor L.04 OH 0,033 95.000 3.135
Total Biaya Tenaga Kerja 82.170
B Bahan
Kayu Dolken m3 0,040 2.050.000 82.000
Paku 5-12 cm Kg 0,400 20.000 8.000
Minyak Bekisting Liter 0,200 9.000 1.800
Balok Kayu Kelas II m3 0,015 5.700.000 85.500
Plywood Tebal 9 mm Lbr 0,350 145.000 50.750
Dolken Kayu diameter 8-
Batang 2,000 20.000 40.000
10 cm
Total Biaya Bahan 3 kali pemakaian 268.050
Total Biaya Bahan 1 kali pemakaian 89.350
C Peralatan Jumlah Biaya Peralatan ⎯
D Jumlah (A+B+C) 171.520
E Overhead + profit 10 % 10% x D 17.152
F Harga Satuan Pekerjaan per m3 (D+E) 188.645
[Link] [Link]
99
= 10,8 %
Tabel [Link]. 10 Biaya Pembuatan Segmen Kolom Struktur per 3 m
Total Biaya
No. Kode Benda Uji Abu Sekam Padi (%) Fly Ash (%)
(Rp)
1 AF.00 0 0 1.020.684
2 AF.10.10 10 10 1.014.237,716
3 AF.10.15 10 15 1.011.935,875
4 AF.10.20 10 20 1.009.633,973
Biaya kolom struktur modular beton dengan variasi 10% abu sekam padi dan
10% fly ash lebih hemat 0,8 % dibandingkan dengan biaya kolom struktur
beton tanpa variasi tambahan.
2. AF.00 dengan AF.10.15
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝐴𝐹.00−𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝐴𝐹.10.15
= 𝑥 100%
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝐴𝐹.00
1.022.684−1.011.935,875
= x 100% = 1,05 %
1.022.684
[Link] [Link]
101
Biaya kolom struktur modular beton dengan variasi 10% abu sekam padi dan
15% fly ash lebih hemat 1,05 % dibandingkan dengan biaya kolom struktur
beton tanpa variasi tambahan.
3. AF.00 dengan AF.10.20
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝐴𝐹.00−𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝐴𝐹.10.20
= 𝑥 100%
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝐴𝐹.00
1.022.684−1.009.633,973
= x 100% = 1,27 %
1.022.684
Biaya kolom struktur modular beton dengan variasi 10% abu sekam padi dan
20% fly ash lebih hemat 1,27 % dibandingkan dengan biaya kolom struktur
beton tanpa variasi tambahan.
b. Pekerjaan Bekisting
Jumlah pekerja = 2 orang
Volume harian = ± 15 m3
15
Produktivitas pekerja = = 7,5 m3
2
c. Pekerjaan Pengecoran
Jumlah pekerja = 2 orang
Volume harian = ± 10 m3
[Link] [Link]
102
10
Produktivitas pekerja = = 5 m3
2
b. Pekerjaan Bekisting
Volume Total 158,4
Durasi = Volume Harian = 15
= 10,56 ~ 11 hari
c. Pekerjaan Pengecoran
Volume Total 11,88
Durasi = = = 1,18 ~ 2 hari
Volume Harian 10
g. Pekerjaan Pengecoran
Jumlah pekerja = 2 orang
Volume harian = ± 10 m3
10
Produktivitas pekerja = = 5 m3
2
b. Pekerjaan Pengecoran
Volume Total 4,276
Durasi = Volume Harian = = 0,427 ~ 1 hari
10
= 21,6 %
Lama waktu pekerjaan kolom struktur modular beton lebih cepat
selama 21,6% atau 39 menit dibandingkan dengan pekerjaan kolom
struktur konvensional.
: 9.450.000
Tabel [Link]. 11 Tabel Perhitungan Aktiva Tetap Metode Garis Lurus
LAMPIRAN V
DOKUMENTASI PENELITIAN
A. BAHAN PENELITIAN
B. ALAT PENELITIAN
C. PENGUJIAN BAHAN