Untitled
Untitled
Disusun Oleh:
BELLA MARDYA
NPM. 2114901110015
KABUPATEN BANJAR
2022
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS
A. PENGKAJIAN
DATA UMUM
Nama Kepala Keluarga (KK) : Tn. A.
Alamat : Jalan Martapura Lama RT. 15 Kelurahan Sungai Lulut
Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar
Pekerjaan KK : Pedagang
Pendidikan KK : Tamat SMA/Sederajat
Tipe Keluarga : The Dyad Family (Keluarga Dyad)
Suku Bangsa : Banjar
Agama : Islam
1. Komposisi Keluarga
No. Nama Anggota Jenis Kelamin Hub. dengan Umur Pekerjaan
Keluarga Klien
1. Tn. A Laki-Laki Kepala Keluarga, 55 tahun Pedagang
Suami klien
2. Ny. S Perempuan Istri 52 tahun Ibu Rumah
Tangga
2. Genogram
Keterangan Simbol:
Keterangan:
Ny. S merupakan anak ke-4 dari 7 bersaudara dan menikah dengan Tn. A. Klien dan
suaminya tidak memiliki anak. Orang tua klien sudah lama meninggal dunia, ayah klien
meninggal karena muntaber dan hepatitis sekitar 20 tahun yang lalu, sedangkan ibu
klien meninggal dunia karena tekanan darah rendah sehingga drop dan meninggal dunia
pada saat dibawa ke RS sekitar 15 tahun yang lalu. Kedua orang tua suami Ny. S juga
telah meninggal dunia.
Sedangkan Tn. A mengatakan sama sekali tidak pernah ikut ke posyandu lansia dan
jarang sekali memeriksakan status kesehatannya ke fasilitas kesehatan. Ny. S
mengatakan bahwa sangat jarang meminum obat-obatan untuk hipertensi (Ny. S hanya
meminum obat darah tinggi jika ada keluhan nyeri tengkuk saja). Ny. S mengatakan
hanya mengonsumsi buah-buahan seperti nanas dan mentimun serta mengurangi porsi
dan jadwal makan menjadi sehari 2x makan saja tanpa mengetahui jenis nutrisi apa yang
boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Ny. S dan Tn. A mengatakan tidak memiliki JKN
(BPJS).
Hasil pengukuran tanda-tanda vital pada saat pengkajian Ny. S, didapatkan TD: 170/90
mmHg, N: 97 x/menit, Suhu: 36,7oC, RR: 20x/menit, GDS pukul 16.15 WITA: 308
mg/dL. Sedangkan Tn. A tidak memiliki riwayat diabetes melitus berdasarkan hasil
pemeriksaan 5 bulan yang lalu dengan GDS: 125 mg/dL. Pada saat pengkajian Tn. A
didapatkan TD: 160/90 mmHg, N: 89 x/menit, Suhu: 36,5oC, RR: 20x/menit, GDS pukul
16.15 WITA: 108 mg/dL.
Rumah Tn. A mendapat pencahayaan yang cukup dari sinar matahari dan banyak
terdapat ventilasi serta jendela yang terdapat di ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan
setiap kamar terdapat dua jendela yang setiap pagi selalu dibuka. Penerangan di rumah
menggunakan listrik. Ny. S biasanya sering menyikat kamar mandi dan WC nya agar
tidak licin dengan sikat yang didorong. Perihal sampah, Keluarga biasanya akan
membuang sampah-sampah ke plastic hitam yang selanjutnya akan dibuang ke tempat
pembuangan sampah akhir (TPA) terbuka (open dumping) secara mandiri jika sampah
di rumah sudah penuh. Terdapat fasilitas kesehatan di lingungan rumah Tn. A yaitu
posyandu, praktik mandiri bidan, apotik dan puskesmas. Semua fasilitas kesehatan
tersebut dapat dijangkau dengan menggunakan motor atau berjalan kaki.
Denah Rumah
Denah Isi/Bagian Dalam Rumah
D. STRUKTUR KELUARGA
1. Struktur Peran (Formal dan Informal)
a. Tn. A
Formal: Tn. A berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggung jawab dalam
menafkahi keluarganya.
Informal: Tn. A berepran sebagai pembimbing dkeluarganya yaitu pembimbing
bagi istrinya. Pada posisi ini, Tn. A tidak mengeluhkan ada masalah karena Tn. A
menyadari bahwa semua itu harus dijalaninya dan Tn. A menjalankan perannya
dengan baik.
b. Ny. S
Formal: Ny. S berperan sebagai ibu rumah tangga, menjaga dan merawat suami.
Dalam menjalankan peran ini, Ny. S tidak memiliki masalah dan ia mampu dengan
baik menjalankan perannya.
Informal: Ny. S selaku ibu rumah tangga juga berperan dalam mengatur kebutuhan
rumah tangga.
RR 20 x/menit 20 x/menit
BB 62 Kg 70 Kg
TB 162 cm 160 cm
Kepala Rambut bersih, warna hitam pendek Rambut bersih, warna hitam sebahu,
dan sebagian beruban sedikit beruban
Telinga Bersih, simetris, tidak ada serumen, Bersih, simetris, tidak ada serumen,
fungsi pendengaran baik, tidak ada fungsi pendengaran baik, tidak ada
nyeri tekan/lepas dibagian belakang nyeri tekan/lepas dibagian belakang
telinga telinga
Mulut Bersih, mukosa bibir lembab, tidak Bersih, mukosa bibir lembab, tidak
ada stomatitis pada area mulut, lidah ada stomatitis pada area mulut, lidah
bersih, bibir dan lidah berwarna bersih, bibir dan lidah berwarna
merah muda, jumlah gigi tidak merah muda, jumlah gigi lengkap.
lengkap (gigi graham 1 buah sebelah
kanan sudah dicabut karena
berlubang)
Dada (Paru-Paru Dada simetris, tidak ada penggunaan Dada simetris, tidak ada penggunaan
& Jantung) otot bantu pernafasan, auskultasi otot bantu pernafasan, auskultasi
lapang paru kanan dan kiri terdengar lapang paru kanan dan kiri terdengar
vesikuler, iktus kordis tidak tampak, vesikuler, iktus kordis tidak tampak,
bunyi jantung S1-S2 tunggal (normal) bunyi jantung S1-S2 tunggal (normal)
Abdomen Bentuk datar, simetris, tidak ada Bentuk datar, simetris, tidak ada
asites, tidak ada nyeri tekan/lepas, asites, tidak ada nyeri tekan/lepas,
hepar dan limpa tidak teraba, ginjal hepar dan limpa tidak teraba, ginjal
tidak teraba, perkusi gaster timpani, tidak teraba, perkusi gaster timpani,
perkusi hepar pekak/dullness. perkusi hepar pekak/dullness.
Ekstremitas atas Tidak ada varises dan edema, tidak Tidak ada varises dan edema, tidak
dan bawah ada fraktur, tidak ada paralisis, skala ada fraktur, tidak ada paralisis, skala
kekuatan otot 5/5/5/5 (untuk semua kekuatan otot 5/5/5/5 (untuk semua
ektremitas) ektremitas)
Integumen Warna kulit normal, tidak ada Warna kulit normal, tidak ada
sianosis, tidak ada eritema, tidak ada sianosis, tidak ada eritema, tidak ada
luka dan xerosis pada kulit, CRT < 2 luka dan xerosis pada kulit, CRT < 2
detik. detik.
DO:
- Hasil pengukuran tanda-tanda
vital pada saat pengkajian Ny. S,
didapatkan TD: 170/90 mmHg,
N: 97 x/menit, Suhu: 36,7oC, RR:
20x/menit, GDS pukul 16.15
WITA: 308 mg/dL.
- Tn. A tidak memiliki riwayat
diabetes melitus. Pada saat
pengkajian Tn. A didapatkan TD:
160/90 mmHg, N: 89 x/menit,
Suhu: 36,5oC, RR: 20x/menit,
GDS pukul 16.15 WITA: 108
mg/dL.
3. Potensial masalah
untuk dicegah Ny. S mengatakan
Skala: 2 didiagnosa diabetes
×1 melitus sejak 5 bulan lalu
• Tinggi (3) 2 1 3 dan sudah mulai rutin
• Cukup (2) = 2/3
kunjungan ke posyandu
• Rendah (1) lansia
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
• Masalah berat, Keluarga menyadari
harus segera 1 pentingnya masalah untuk
ditangani (2) ×1
1 1 2 diatasi secara bertahap
• Ada masalah, = 1/2 untuk meningkatkan status
tetapi tidak perlu kesehatan Ny. S
ditangani (1)
• Masalah tidak
dirasakan (0)
TOTAL 5,17
Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
3. Potensial masalah
untuk dicegah
Skala: 2 Perlu kepatuhan dan waktu
• Tinggi (3) 2 1 ×1 untuk mengubah
3
• Cukup (2) = 2/3 kebiasaan hidup sehat
• Rendah (1)
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
• Masalah berat,
Keluarga menyadari
harus segera 1 pentingnya masalah untuk
ditangani (2) ×1
1 1 2 diatasi secara bertahap
• Ada masalah,
= 1/2 untuk meningkatkan status
tetapi tidak perlu
kesehatan Ny. S
ditangani (1)
• Masalah tidak
dirasakan (0)
TOTAL 2,8
1. Ketidakmampuan Manajemen Kesehatan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi Program Pengobatan (I. 12441)
keluarga dalam (L. 12104) 1. Kriteria Hasil:
mengenal masalah Keluarga menunjukkan pemahaman terkait Observasi
dan merawat Tujuan Umum: dengan pentingnya pengobatan dan - Identifikasi pengetahuan tentang pengobatan
anggota keluarga Setelah dilakukan kunjungan pemeriksaan rutin kesehatan ke fasilitas yang direkomendasikan.
yang sakit rumah asuhan keperawatan kesehatan - Identifikasi pengobatan tradisional dan
berhubungan keluarga selama 2x atau lebih, Standard: kemungkinan efek terhadap pengobatan.
dengan kurang diharapkan manajemen Pengobatan teratur dapat meminimalkan efek
pengetahuan kesehatan klien dan keluarga samping obat yang tidak diinginkan serta Mandiri/Terapeutik
tentang program meningkat, dimana klien dan mengetahui penggunaan obat dengan prinsip 6 - Fasilitasi informasi tertulis atau leaflet untuk
terapeutik (diabetes keluarga mampu mengenal benar obat. Selain itu, pemeriksaan rutin ke meningkatkan pemahaman.
melitus) masalah dan keluarga memahami fasilitas kesehatan mampu meminimalkan - Berikan dukungan untuk menjalani program
perawatan pada penderita diabetes terjadinya komplikasi akibat diabetes melitus. pengobatan dengan baik dan benar
melitus. - Libatkan keluarga untuk memberikan
2. Kriteria Hasil: dukungan pada pasien selama pengobatan.
Tujuan Khusus: Keluarga menunjukkan minat meningkatkan
Setelah dilakukan kunjungan perilaku sehat Edukasi
rumuah 1 x 45 menit, keluarga Standard: - Anjurkan meminum obat sesuai indikasi
mampu memahami pentingnya Ketertarikan pada penjelasan dan materi yang - Anjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu
pengobatan/konsumsi obat disampaikan oleh ners muda. Selain itu materi yang tidak dimengerti sebelum dan sesudah
diabetes melitus secara baik tentang perilaku sehat seperti, sering pengobatan dilakukan
dibawah pengawasan tenaga melakukan aktivitas fisik sesuai usia, - Anjurkan untuk memeriksakan diri secara
kesehatan yang professional. menghindari rokok dan asap rokok, teratur ke fasilitas kesehatan dan
mengurangi konsumsi makanan yang tinggi menghindari membeli obat secara
gula dan garam, rutin memeriksakan diri ke sembarangan dan tanpa resep dokter serta
fasilitas kesehatan. kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Informasikan fasilitas kesehatan yang dapat
digunakan selama pengobatan.
2. Risiko Tingkat Pengetahuan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi Kesehatan (I.12383) dan Edukasi
ketidakstabilan (L. 12111) 1. Kriteria Hasil: Diet (I. 12369)
kadar glukosa Keluarga mampu menyebutkan definisi
darah (NANDA Tujuan Umum: diabetes melitus dengan bahasa sendiri Observasi
Diagnosa Setelah dilakukan kunjungan Standard: - Identifikasi kemampuan pasien dan keluarga
Keperawatan Hal. rumah asuhan keperawatan Diabetes melitus (kencing manis) merupakan menerima informasi.
174) keluarga selama 2x atau lebih, kondisi kadar gula darah sewaktu diatas 180 - Identifikasi pengetahuan saat ini (apersepsi)
diharapkan tingkat pengetahuan mg/dL dan gula darah puasa diatas 125 mg/dL. - Identifikasi pola makan saat ini dan masa lalu
klien meningkat, dimana klien
dan keluarga mampu mengenal 2. Kriteria Hasil: Mandiri/Terapeutik
dan memahami bagaimana Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 - Persiapkan materi, media atau alat peraga
perawatan diabetes melitus. penyebab diabetes melitus (jika perlu)
Standard: - Jadwalkan waktu yang tepat untuk
Tujuan Khusus: Penyebab diabetes melitus antara lain, genetic memberikan pendidikan kesehatan
Setelah dilakukan kunjungan (keturunan), pola makan kurang sehat, dan - Berikan kesempatan pasien dan keluarga
rumuah 1 x 45 menit, keluarga kurangnya aktivitas fisik. untuk bertanya
mampu mengenal diabetes melitus
dan diet yang dianjurkan bagi 3. Kriteria Hasil: Edukasi
penderita diabetes melitus. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 1. Jelaskan definisi, penyebab, tanda dan
tanda dan gejala diabetes melituss. gejala (faktor risiko) diabetes mlitus
Standard: 2. Jelaskan tujuan kepatuhan diet terhadap
Tanda dan gejala DM antara lain, sering kesehatan dan kondisi diabetes melitus
kencing, sering haus dan mudah lapar. 3. Informasikan makanan yang diperbolehkan
dan dilarang
4. Kriteria Hasil: 4. Anjurkan melakukan aktivitas fisik atau
Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 olahraga sesuai toleransi
bentuk diet yang dapat dilakukan penderita
DM. Kolaborasi
Standard: Kolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.
Diet yang dianjurkan yaitu, mengurangi Kolaborasi terapi modalitas (senam kaki
konsumsi makanan manis, mengindari diabetes)
makanan tinggi garam dan cepat saji serta
berlemak, dan makan sehat dan bernutrisi
dengan teratur
KUNJUNGAN KE-1
K. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Selasa, 22 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 22 Maret Ketidakmampuan Observasi
2022 (09.00 keluarga dalam - Mengidentifikasi pengetahuan tentang - Keluarga mengatakan tidak mengetahui
WITA) mengenal masalah pengobatan yang direkomendasikan. terkait dengan pengobatan apa yang
direkomendasikan untuk penderita
dan merawat - Mengidentifikasi pengobatan tradisional
diabetes melitus.
anggota keluarga dan kemungkinan efek terhadap - Keluarga mengatakan bahwa biasanya
yang sakit pengobatan. menggunakan pengobatan tradisional
berhubungan seperti mengonsumsi mentimun dan
dengan kurang memakan nanas.
pengetahuan Mandiri/Terapeutik
tentang program - Memfasilitasi informasi tertulis atau leaflet - Ners muda telah mempersiapkan SAP dan
leaflet mengenai diabetes melitus dan
terapeutik untuk meningkatkan pemhaman.
pengobatan diabetes melitus.
(diabetes melitus) - Memberikan dukungan untuk menjalani - Keluarga mengatakan merasa senang
program pengobatan dengan baik dan benar diperhatikan oleh ners muda saat
- Melibatkan keluarga untuk memberikan kunjungan dan penyampaian materi.
dukungan pada pasien selama pengobatan. - Keluarga dilibatkan dalam proses
penyampaian materi dan keluarga
Edukasi mengatakan memahami apa yang
disampaikan ners muda.
- Menganjurkan meminum obat sesuai
indikasi
- Menganjurkan untuk bertanya jika ada Keluarga mengatakan memahami pentingnya
sesuatu yang tidak dimengerti sebelum dan meminum obat sesuai dengan indikasi dan
sesudah pengobatan dilakukan pentingnya memeriksakan diri secara teratur
- Menganjurkan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dan menghindari
pengginaan obat sembarangan.
secara teratur ke fasilitas kesehatan dan
menghindari membeli obat secara
sembarangan dan tanpa resep dokter serta
kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Menginformasikan fasilitas kesehatan yang
dapat digunakan selama pengobatan.
2. 22 Maret Risiko Observasi
2022 (09.00 ketidakstabilan - Mengidentifikasi kemampuan pasien dan - Keluarga mampu menerima informasi
WITA) kadar glukosa keluarga menerima informasi. yang akan disampaikan dengan baik tanpa
ada kendala. Keluarga juga sudah cukup
darah (NANDA - Mengidentifikasi pengetahuan saat ini
mengetahui tentang diabetes melitus
Diagnosa (apersepsi) (kencing manis).
Keperawatan Hal. - Mengidentifikasi pola makan saat ini dan - Ny. S mengatakan bahwa dimasa lalu
174) masa lalu sangat suka mengonsumsi makanan yang
manis dan cepat saji serta malas untuk
Mandiri/Terapeutik berolahraga.
- Mempersiapkan materi, media atau alat
peraga (jika perlu)
- Ners muda telah mempersiapkan materi
- Membuat jadwal yang tepat untuk dan leaflet untuk penyampaian materi
memberikan pendidikan kesehatan serta telah membuat jadwal dan
- Memberikan kesempatan pasien dan kesepakatan dengan klien dan keluarga
keluarga untuk bertanya menyepakati jadwal tersebut.
- Keluarga menanyakan terkait dengan diet
Edukasi yang baik untuk penderita diabetes
melitus.
1. Menjelaskan definisi, penyebab, tanda dan
gejala (faktor risiko) diabetes mlitus
2. Menjelaskan tujuan kepatuhan diet Ners muda menjelaskan tentang materi sesuai
terhadap kesehatan dan kondisi diabetes dengan SAP dan leaflet dan keluarga
melitus memahami apa yang disampaikan ners muda.
3. Memberikan informasikan makanan yang
diperbolehkan dan dilarang
4. Menganjurkan melakukan aktivitas fisik
atau olahraga sesuai toleransi
Kolaborasi
Berkolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu. Proses kolaborasi belum dilakukan
Berkolborasi terapi modalitas (senam kaki Senam kaki diabetes sudah dilaksanakan
diabetes)
1. 09. 45 Ketidakmampuan keluarga Keluarga - Keluarga terlihat mengangguk dan Masalah belum Intervensi
WITA dalam mengenal masalah mengatakan memahami materi yang disampaikan teratasi dilanjutkan
dan merawat anggota mengerti dengan oleh ners muda.
apa yang - GDS Ny. S: 289 mg/dL
keluarga yang sakit
disampaikan oleh - Keluarga dapat mengungkapkan
berhubungan dengan kurang ners muda kembali cara merawat keluarga dengan
pengetahuan tentang diabetes melitus, kebutuhan diet dan
program terapeutik (diabetes terapi bagi penderita diabetes melitus.
melitus) (NANDA Diagnosa
Keperawatan Hal. 147).
2. 09.45 Risiko ketidakstabilan kadar Keluarga - Keluarga terlihat menangguk dan Masalah belum Intervensi
WITA glukosa darah (NANDA mengatakan memahami materi yang disampaikan teratasi dilanjutkan
Diagnosa Keperawatan Hal. mengerti dengan oleh ners muda.
apa yang - GDS Ny. S: 289 mg/dL
174)
disampaikan oleh - Keluarga dapat mengungkapkan
ners muda kembali cara merawat keluarga dengan
diabetes melitus, kebutuhan diet dan
terapi bagi penderita diabetes melitus.
- Klien masih seikit kebingungan untuk
melakukan senam kaku diabetes untuk
pertama kalinya
KUNJUNGAN KE-2
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Kamis, 24 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 24 Maret 2022 Ketidakmampuan Edukasi
(16.00 WITA) keluarga dalam - Menganjurkan meminum obat sesuai indikasi
mengenal masalah dan - Menganjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu yang Keluarga mengatakan memahami
pentingnya meminum obat sesuai dengan
merawat anggota tidak dimengerti sebelum dan sesudah pengobatan
indikasi dan pentingnya memeriksakan
keluarga yang sakit dilakukan diri secara teratur ke fasilitas kesehatan
berhubungan dengan - Menganjurkan untuk memeriksakan diri secara teratur dan menghindari pengginaan obat
kurang pengetahuan ke fasilitas kesehatan dan menghindari membeli obat sembarangan serta keluarga
tentang program secara sembarangan dan tanpa resep dokter serta merencanakan ingin memeriksakan Ny. S
terapeutik (diabetes kerugian akibat penggunaan obat sembarangan. ke fasilitas kesehatan.
melitus) (NANDA - Menginformasikan fasilitas kesehatan yang dapat
Diagnosa Keperawatan digunakan selama pengobatan.
Hal. 147). - Memotivasi untuk memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan.
1. 16. 45 Ketidakmampuan keluarga - Keluarga mengatakan mengerti - Keluarga terlihat Masalah Intervensi dilanjutkan
WITA dalam mengenal masalah dan dengan apa yang disampaikan mengangguk dan belum teratasi
merawat anggota keluarga oleh ners muda memahami materi
- Ny. S dan keluarga mengatakan yang disampaikan
yang sakit berhubungan
belum sempat memeriksakan diri oleh ners muda.
dengan kurang pengetahuan ke puskesmas atau ke praktik - GDS Ny. S: 305
tentang program terapeutik dokter namun keluarga mg/dL
(diabetes melitus) (NANDA merencanakan akan membawa
Diagnosa Keperawatan Hal. Ny. S ke fasilitas kesehatan
147). terdekat.
2. 16.45 Risiko ketidakstabilan kadar Keluarga mengatakan mengerti - Keluarga terlihat Masalah Intervensi dilanjutkan
WITA glukosa darah (NANDA dengan apa yang disampaikan oleh menangguk dan belum teratasi
Diagnosa Keperawatan Hal. ners muda dan mengatakan telah memahami materi
memulai pengaturan porsi makan dan yang disampaikan
174)
jenis nutrisi yang akan dikonsumsi oleh ners muda.
- GDS Ny. S: 305
mg/dL
- Klien terlihat
mampu melakukan
senam kaki diabetes
dengan baik
meskipun masih ada
sedikit keliru
KUNJUNGAN KE-3
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Sabtu, 26 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 26 Maret 2022 Ketidakmampuan keluarga Edukasi
(09.00 WITA) dalam mengenal masalah dan - Menganjurkan meminum obat sesuai indikasi
merawat anggota keluarga - Menganjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu yang Keluarga mengatakan memahami
pentingnya meminum obat sesuai dengan
yang sakit berhubungan tidak dimengerti sebelum dan sesudah pengobatan
indikasi dan pentingnya memeriksakan diri
dengan kurang pengetahuan dilakukan secara teratur ke fasilitas kesehatan dan
tentang program terapeutik - Menganjurkan untuk memeriksakan diri secara menghindari pengginaan obat sembarangan
(diabetes melitus) (NANDA teratur ke fasilitas kesehatan dan menghindari serta keluarga merencanakan ingin
Diagnosa Keperawatan Hal. membeli obat secara sembarangan dan tanpa resep memeriksakan Ny. S ke fasilitas kesehatan.
147). dokter serta kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Menginformasikan fasilitas kesehatan yang dapat
digunakan selama pengobatan.
- Memotivasi untuk memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan.
Disusun Oleh:
BELLA MARDYA
NPM. 2114901110015
KABUPATEN BANJAR
2022
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS
A. PENGKAJIAN
DATA UMUM
Nama Kepala Keluarga (KK) : Tn. S.
Alamat : Jalan Martapura Lama, Komp. MJ Perdana III Depan
Seroja 3 RT. 15 Kelurahan Sungai Lulut
Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar
Pekerjaan KK : Guru Honorer
Pendidikan KK : Tamat Perguruan Tinggi
Tipe Keluarga : The Nuclear Family (Keluarga Inti)
Suku Bangsa : Banjar
Agama : Islam
1. Komposisi Keluarga
Hubungan dengan anggota Kepala Keluarga, Istri, Ibu Kandung Anak Kandung
keluarga lain Ayah Kandung
Umur 24 tahun 25 tahun 16 bulan
Status Imunisasi (Diisi jika ada anggota keluarga berusia 0-2 tahun) Diberikan Tidak
BCG ü
Polio ü
DPT ü
Hepatitis ü
Keterangan Simbol:
Keterangan:
An. N merupakan anak pertama dari Tn. S dan Ny. H.
Tn. S dan Ny. H sudah menikah sejak tahun 2019 dan Ny. H tidak pernah mengalami
keguguran (abortus) sebelumnya.
Selain itu, Ny. H mengatakan sudah hampir 2 minggu ini An. N tidak mau makan, dan
hanya makan biskuit bayi sedikit demi sedikit. Ny. H mengatakan An. N telah
memberikan ASI ekslusif sampai usianya 6 bulan dan tidak dicampur dengan susu
formula. Setelah usianya 6 bulan mulai diberikan MPASI sampai usianya saat ini (16
bulan). Ny. H mengatakan bahwa biasanya MPASI dibuat sendiri dengan bahan
makanan seadanya di rumah, bahkan hanya dengan menggunakan bubur nasi, wortel
dan ayam/ikan yang saat itu ada di rumah. Ny. H juga mengatakan bahwa anaknya tidak
pernah mendapatkan PMT (pemberian makanan tambahan) karena jarang ke
posyandu/puskesmas. Tn. S dan Ny. H mengatakan memiliki JKN (BPJS).
Hasil pengukuran tanda-tanda vital pada saat pengkajian Ny. H, didapatkan TD: 120/80
mmHg, N: 78 x/menit, Suhu: 36,7oC, RR: 20x/menit. Sedangkan Tn. S didapatkan TD:
130/80 mmHg, N: 89 x/menit, Suhu: 36,5oC, RR: 20x/menit, dan untuk pemeriksaan
An. N didapatkan N: 110x/menit, suhu: 36,8oC, RR: 30x/menit.
C. DATA LINGKUNGAN
1. Karakteristik Rumah
Rumah Tn. S adalah rumah permanen, lantai rumah menggunakan keramik dengan luas
5x9 m atau rumah tipe 45 dengan atap menggunakan seng dan kayu triplek. Ada 1 buah
kamar dalam rumah Tn. S, yaitu 1 kamar utama. Di dalam rumah Tn. S terdapat 1 dapur
yang cukup luas, 1 ruang keluarga, 1 ruang tamu, 1 WC dan 1 kamar mandi serta tempat
cuci pakaian, dan 1 garasi sekaligus tempat menjemur pakaian. Saluran pembuangan
dialirkan ke tempat pembuangan septic tank. Tn. S tidak menggunakan sumur, namun
menggunakan sarana PDAM sebagai sumber air bersih yang digunakan sehari-hari
untuk makan, minum, mandi, cuci, dan kakus.
Rumah Tn. S mendapat pencahayaan yang cukup dari sinar matahari dan banyak
terdapat ventilasi serta jendela yang terdapat di ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan
setiap kamar terdapat dua jendela yang setiap pagi selalu dibuka. Penerangan di rumah
menggunakan listrik. Ny. H biasanya sering menyikat kamar mandi dan WC nya agar
tidak licin dengan sikat. Perihal sampah, Keluarga biasanya akan membuang sampah-
sampah ke plastic hitam yang selanjutnya akan diangkut oleh petugas kebersihan ke
tempat pembuangan sampah akhir (TPA) terbuka (open dumping). Terdapat fasilitas
kesehatan di lingkungan rumah Tn. S yaitu posyandu, praktik mandiri bidan, apotek
dan puskesmas. Semua fasilitas kesehatan tersebut dapat dijangkau dengan
menggunakan motor atau berjalan kaki.
Denah Rumah
D. STRUKTUR KELUARGA
1. Struktur Peran (Formal dan Informal)
a. Tn. S
Formal: Tn. S berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggung jawab dalam
menafkahi keluarganya.
Informal: Tn. S berperan sebagai pembimbing dikeluarganya yaitu pembimbing
bagi istri dan anaknya. Pada posisi ini, Tn. S tidak mengeluhkan ada masalah karena
Tn. S menyadari bahwa semua itu harus dijalaninya dan Tn. S menjalankan
perannya dengan baik.
b. Ny. H
Formal: Ny. H berperan sebagai istri dan ibu, menjaga dan merawat suami dan
anaknya. Dalam menjalankan peran ini, Ny. H tidak memiliki masalah dan ia
mampu dengan baik menjalankan perannya.
Informal: Ny. H selaku ibu rumah tangga juga berperan dalam mengatur kebutuhan
rumah tangga.
c. An. N
Formal: An. N berperan sebagai anak
E. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
Tn. S, Ny. H dan An. N saling menyayangi dan saling peduli. Hubungan keluarga
berjalan harmonis, saling mendukung satu sama lain dalam segala aspek, termasuk
aspek kesehatan, seperti jika Ny. H atau An. N sakit, maka Tn. A akan segera
membelikan obat ke warung atau apotik terdekat serta membawa An. N ke dokter anak.
2. Fungsi Sosialisasi
Tn. S dan Ny. H mengatakan tidak pernah ada permasalahan dengan tetangga di sekitar
tempat tinggalnya. Begitupun juga dengan interaksi dengan sanak family lainnya.
Setiap hari Tn. S dan Ny. H juga berkumpul bersama di rumah untuk berdiskusi.
3. Fungsi Reproduksi
Tn. S dan Ny. H dikaruniai anak pertama, yaitu An. N pada 18 November 2020. Saat
ini, Ny. H belum memutuskan untuk berkontrasepsi karena belum ada waktu dan
kesempatan berkunjung ke bidan/puskesmas serta masih menyusui.
4. Fungsi Ekonomi
Kebutuhan sehari-hari keluarga cukup terpenuhi dari penghasilan Tn. S.
5. Fungsi Perawatan Keluarga
a. Mengenal masalah kesehatan
Pada saat pengkajian Tn. S dan Ny. H belum mampu mengenal masalah kesehatan
pada An. N secara rinci dan keseluruhan, ini terbukti pada saat ditanya pada
keluarga terkait dengan pentingnya pemantaun status nutrisi/gizi pada anak serta
masalah yang mungkin muncul seperti kondisi stunting (balita pendek) penyakit
Ny. H dan Tn. S masih belum mengetahui definisi tentang stunting dan pentingnya
memantau pertumbuhan anak secara rutin.
b. Membuat keputusan tindakan yang tepat
Jika Ny. H atau Tn. S sakit, maka hanya diberikan obat biasa saja tanpa resep dokter
dan bahkan tidak mengonsumsi obat apa-apa. Namun, jika An. N sakit, alternatif
yang keluarga lakukan adalah dengan membawa An. N ke praktik dokter anak.
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
Tn. S dan Ny. H mengatakan jika Tn. S atau Ny. H sakit hanya diberikan obat
seadanya (tanpa resep dokter) dan bahkan jarang mengonsumsi obat, namun jika
An. N sakit dapat langsung dibawa ke dokter anak. Hanya saja dalam hal
pemeriksaan status kesehatan dan tumbuh kembang An. N, keluarga Tn. S jarang
sekali membawa An. N ke posyandu atau puskesmas kalau tidak ada keluhan apa-
apa.
d. Mempertahankan/memodifikasi lingkungan rumah yang sehat
Kondisi rumah Tn. S cukup bersih, pencahayaan cukup. Tn. S dan Ny. H juga
mengatakan bahwa sering melakukan aktivitas fisik seperti menyapu, mencuci,
menyikat lantai kamar mandi dan WC jika tidak ada kesibukan lain, sehingga rumah
senantiasa bersih dan terawat. Lingkungan sekitar tempat tinggal juga kondusif
sehingga tidak mengganggu ketenangan.
e. Menggunakan fasilitas kesehatan
Keluarga belum memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan maksimal, terbukti
keluarga jarang memeriksakan Ny. S ke fasilitas kesehatan dan ke fasilitas
kesehatan jika ada keluhan saja. Begitu juga dengan Tn. A. Keluarga terbiasa
menggunakan obat-obatan tradisional, alami dan cenderung untuk lebih memilih
membeli di warung. Namun, jika tidak ada perubahan pada kondisi kesehatannya
setelah sudah lama mengonsumsi obat warung, maka keluarga akan memeriksakan
kesehatannya ke fasilitas kesehatan. Tn. A mengatakan jarang ke fasilitas kesehatan
untuk sekedar kontrol kesehatan rutin setiap pekannya. Akan tetapi, jika An. N
sakit, maka akan langsung dibawa ke praktik dokter.
BB 56 Kg 50 Kg 7,2 Kg
TB 160 cm 158 cm 71 cm
Kepala Rambut bersih, warna Rambut bersih, warna Rambut bersih, tipis
hitam pendek hitam sebahu. warna hitam sejajar
telinga.
Telinga Bersih, simetris, tidak ada Bersih, simetris, tidak ada Bersih, simetris, tidak
serumen, fungsi serumen, fungsi ada serumen, fungsi
pendengaran baik, tidak pendengaran baik, tidak pendengaran baik,
ada nyeri tekan/lepas ada nyeri tekan/lepas tidak ada nyeri
dibagian belakang telinga dibagian belakang telinga tekan/lepas dibagian
belakang telinga
Mulut Bersih, mukosa bibir Bersih, mukosa bibir Bersih, mukosa bibir
lembab, tidak ada lembab, tidak ada lembab, tidak ada
stomatitis pada area mulut, stomatitis pada area stomatitis pada area
lidah bersih, bibir dan lidah mulut, lidah bersih, bibir mulut, lidah bersih,
berwarna merah muda, dan lidah berwarna merah bibir dan lidah
jumlah gigi lengkap muda, jumlah gigi berwarna merah muda,
lengkap. jumlah gigi belum
lengkap (2 gigi
geraham bagian bawah
belum muncul).
Dada (Paru-Paru Dada simetris, tidak ada Dada simetris, tidak ada Dada simetris, tidak
& Jantung) penggunaan otot bantu penggunaan otot bantu ada penggunaan otot
pernafasan, auskultasi pernafasan, auskultasi bantu pernafasan,
lapang paru kanan dan kiri lapang paru kanan dan kiri auskultasi lapang paru
terdengar vesikuler, iktus terdengar vesikuler, iktus kanan dan kiri
kordis tidak tampak, bunyi kordis tidak tampak, terdengar vesikuler,
jantung S1-S2 tunggal bunyi jantung S1-S2 iktus kordis tidak
(normal) tunggal (normal) tampak, bunyi jantung
S1-S2 tunggal (normal)
Abdomen Bentuk datar, simetris, Bentuk datar, simetris, Bentuk datar, simetris,
tidak ada asites, tidak ada tidak ada asites, tidak ada tidak ada asites, tidak
nyeri tekan/lepas, hepar nyeri tekan/lepas, hepar ada nyeri tekan/lepas,
dan limpa tidak teraba, dan limpa tidak teraba, hepar dan limpa tidak
ginjal tidak teraba, perkusi ginjal tidak teraba, teraba, ginjal tidak
gaster timpani, perkusi perkusi gaster timpani, teraba, perkusi gaster
hepar pekak/dullness. perkusi hepar timpani, perkusi hepar
pekak/dullness. pekak/dullness.
Ekstremitas atas Tidak ada varises dan Tidak ada varises dan Tidak ada varises dan
dan bawah edema, tidak ada fraktur, edema, tidak ada fraktur, edema, tidak ada
tidak ada paralisis, skala tidak ada paralisis, skala fraktur, tidak ada
kekuatan otot 5/5/5/5 kekuatan otot 5/5/5/5 paralisis, skala
(untuk semua ektremitas) (untuk semua ektremitas) kekuatan otot 5/5/5/5
(untuk semua
ektremitas)
Integumen Warna kulit normal, tidak Warna kulit normal, tidak Warna kulit normal,
ada sianosis, tidak ada ada sianosis, tidak ada tidak ada sianosis, tidak
eritema, tidak ada luka dan eritema, tidak ada luka ada eritema, tidak ada
xerosis pada kulit, CRT < 2 dan xerosis pada kulit, luka dan xerosis pada
detik. CRT < 2 detik. kulit, CRT < 2 detik.
DO:
- Pemeriksaan antropometrik
terakhir:
BB: 7,2 Kg
PB: 71 cm
LK: 45 cm
LiLA: 14 cm
- Z-Score:
- An. N terlihat sudah mampu
berjalan
- An. N terlihat belum mampu
berbicara dengan jelas
- Keluarga terlihat belum
mampu menjawab dengan baik
saat ditanya mengenai
stunting.
H. ANALISIS DATA
1. Sifat Masalah
Skala:
• Tidak/kurang Keluarga tidak
sehat (3) ! mengetahui tentang
×1 = 2/
• Ancaman 2 1 " stunting dan hal tersebut
kesehatan (2) 3 dapat mengancam
• Keadaan kesehatan An. N
sejahtera (1)
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
• Masalah berat,
harus segera
ditangani (2) Keluarga menyadari
• Ada masalah, 1 pentingnya masalah untuk
1 1 ×1 diatasi secara bertahap
tetapi tidak 2
perlu ditangani = 1/2 untuk meningkatkan
(1) status kesehatan An. N
• Masalah tidak
dirasakan (0)
4,17
TOTAL
Risiko gangguan tumbuh kembang
2. Kemungkinan
masalah untuk di Masalah dapat diubah
ubah tergantung peran aktif
Skala: 1 keluarga dalam
• Mudah (2)
1 2 ×2 = 1 pengaturan diet dan
2
• Sebagian (1) pemantauan status nutrisi
• Tidak dapat (0) An. N
3. Potensial
masalah untuk
dicegah Perlu kepatuhan dan
2 waktu untuk
Skala:
2 1
×1 mendisiplinkan keluarga
• Tinggi (3) 3
= 2/3 dalam melakukan
• Cukup (2)
pemantauan rutin An. N
• Rendah (1)
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
• Masalah berat,
harus segera Keluarga menyadari
ditangani (2) 1 pentingnya masalah untuk
• Ada masalah, 1 1 ×1 diatasi secara bertahap
2
tetapi tidak = 1/2 untuk meningkatkan
perlu ditangani status kesehatan Ny. S
(1)
• Masalah tidak
dirasakan (0)
TOTAL 3,17
1. Ketidakmampuan Tingkat Pengetahuan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi Proses Penyakit (I. 12444)
keluarga dalam (L. 12111) 1. Kriteria Hasil:
mengenal masalah Keluarga mampu memahami terkait dengan Observasi
kesehatan dan Tujuan Umum: stunting - Identifikasi kesiapan dan kemampuan
merawat anggota Setelah dilakukan kunjungan Standard: menerima informasi.
keluarga yang sakit rumah asuhan keperawatan Stunting adalah gangguan tumbuh kembang
berhubungan keluarga selama 2x atau lebih dimana tinggi/panjang badan anak jika Mandiri/Terapeutik
dengan Kurang diharapkan tingkat pengetahuan dibandingkan dengan usia berada dibawah -2 - Fasilitasi informasi tertulis atau leaflet untuk
pengetahuan keluarga meningkat, dimana SD. meningkatkan pemahaman.
tentang stunting klien dan keluarga mampu - Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai
dan pencegahannya mengenal dan memahami materi 2. Kriteria Hasil: kesepakatan
mengenai stunting. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 - Berikan kesempatan untuk bertanya.
penyebab stunting
Tujuan Khusus: Standard: Edukasi
Setelah dilakukan kunjungan Penyebab diabetes melitus antara lain, status - Jelaskan definisi dari stunting
rumuah 1 x 45 menit, keluarga gizi, penyakit infeksi, dan redahnya minat pada - Jelaskan penyebab dan faktor risiko
mampu memahami pentingnya pelayanan kesehatan. terjadinya stunting.
pemeriksaan status nutrisi dan - Jelaskan tanda dan gejala stunting
tumbuh kembang untuk mencegah 3. Kriteria Hasil: - Jelaskan dampak stunting
stunting. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 - Jelaskan cara mencegah stunting
tanda dan gejala stunting. - Jelaskan pentingnya perawatan dan diet yang
Standard: tepat pada anak untuk mencegah stunting
Anak berbadan lebih pendek dari seusianya,
berat badan anak lebih rendah dari anak lain Kolaborasi
seusianya, dan pertumbuhan gigi terlambat. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian
PMT, jika perlu.
4. Kriteria Hasil:
Keluarga mampu menyebutkan minimal 3
dampak dari stunting.
Standard:
Dampak stunting antara lain: perlambatan
aspek kognitif, verbal dan motorik anak,
peningkatan risiko obesitas dan penyakit
degenerative lainnya dimasa mendatang, dan
postur tubuh yang lebih pendek dari seusianya.
5. Kriteria Hasil:
Keluarga mampu menyebutkan minimal 3
bentuk pencegahan stunting.
Standard:
Pencegahan stunting antara lain: pemberian
ASI ekslusif, pemantauan status nutrisi secara
rutin, dan pemberian PMT.
2. Risiko gangguan Tingkat Pengetahuan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi tumbuh kembang (I.12383) dan
tumbuh kembang (L. 12111) 1. Kriteria Hasil: Edukasi nutrisi anak (I. 12396)
Keluarga mampu memahami terkait
Tujuan Umum: pentingnya pemantauan status nutrisi dan Observasi
Setelah dilakukan kunjungan tumbuh kembang pada anak - Identifikasi kemampuan pasien dan keluarga
rumah asuhan keperawatan Standard: menerima informasi.
keluarga selama 2x atau lebih Pemanatauan status nutrisi dan tumbuh - Identifikasi pengetahuan saat ini (apersepsi)
diharapkan tingkat pengetahuan kembang pada anak sangat diperlukan untuk - Identifikasi pola makan/kebiasaan makan
keluarga meningkat, dimana pencegahan terjadinya stunting. anak saat ini dan masa lalu
klien dan keluarga mampu
mengenal dan memahami risiko 2. Kriteria Hasil: Mandiri/Terapeutik
terjadinya stunting pada anak. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 - Persiapkan materi, media atau alat peraga
prinsip pemberian makanan pada anak untuk (jika perlu)
Tujuan Khusus: mencegah risiko terjadinya stunting - Jadwalkan waktu yang tepat untuk
Setelah dilakukan kunjungan Standard: memberikan pendidikan kesehatan
rumuah 1 x 45 menit, keluarga
mampu memahami pentingnya Prinsip pemberian makanan pada anak untuk - Berikan kesempatan pasien dan keluarga
pemeriksaan status nutrisi dan mencegah risiko terjadinya stunting pada anak, untuk bertanya
tumbuh kembang untuk mencegah antara lain: memberikan kecukupan setiap
stunting. elemen nutrisi (karbohidrat, protein, lemak, Edukasi
vitamin dan mineral) dalam setiap porsi makan 1. Jelaskan kebutuhan gizi seimbang pada
anak, memberikan ASI ekslusif dan sampai anak
anak berusia 2 tahun, memberikan makanan 2. Jelaskan pentingnya pemantauan status
tanpa pemanis buatan dan memberikan PMT nutrisi pada anak setiap bulan ke
pada anak. posyandu/fasilitas kesehatan
3. Anjurkan untuk memberikan ASI sampai
anak berusia 2 tahun
4. Anjurkan menghindari makanan/jajanan
yang tidak sehat (mis. Mengandung
pemanis buatan, penyedap, atau pengawet
makanan)
5. Ajarkan PHBS (seperti mencuci tangan
sebelum dan sesudah menyiapkan makanan
anak)
Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk PMT, jika
perlu.
KUNJUNGAN KE-1
K. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Selasa, 29 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 29 Maret 2022 Ketidakmampuan Observasi
(10.00 WITA) keluarga dalam - Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan - Keluarga mengatakan tidak mengetahui
mengenal masalah menerima informasi. terkait dengan stunting, penyebab dan sega
hal terkait dengan stunting.
kesehatan dan
merawat anggota Mandiri/Terapeutik - Ners muda telah mempersiapkan SAP dan
keluarga yang sakit - Memfasilitasi informasi tertulis atau leaflet leaflet mengenai stunting dan
berhubungan dengan untuk meningkatkan pemahaman. pencegahannya.
Kurang pengetahuan - Menjadwalkan pendidikan kesehatan sesuai - Keluarga mengatakan merasa senang
tentang stunting dan kesepakatan diperhatikan oleh ners muda saat kunjungan
pencegahannya - Memberikan kesempatan untuk bertanya. dan penyampaian materi.
- Keluarga dilibatkan dalam proses
penyampaian materi dan keluarga
Edukasi mengatakan memahami apa yang
- Menjelaskan definisi dari stunting disampaikan ners muda.
- Menjelaskan penyebab dan faktor risiko
terjadinya stunting.
- Menjelaskan tanda dan gejala stunting Keluarga mengatakan memahami pentingnya
- Menjelaskan dampak stunting memeriksakan status nutrisi anak secara teratur
ke posyandu/fasilitas kesehatan.
- Menjelaskan cara mencegah stunting
- Menjelaskan pentingnya perawatan dan diet
yang tepat pada anak untuk mencegah stunting
Kolaborasi
- Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk
pemberian PMT, jika perlu.
Pelaksanaan kolaborasi belum dilakukan
bersama ahli gizi
2. 29 Maret 2022 Risiko gangguan Observasi
(10.00 WITA) tumbuh kembang - Mengidentifikasi kemampuan pasien dan - Keluarga mampu menerima informasi yang
keluarga menerima informasi. akan disampaikan dengan baik tanpa ada
kendala. Keluarga juga sudah cukup
- Mengidentifikasi pengetahuan saat ini
mengetahui tentang stunting karena telah
(apersepsi) dijelaskan di awal penjelasan.
- Mengidentifikasi pola makan/kebiasaan makan - Ny. H mengatakan bahwa anaknya
anak saat ini dan masa lalu biasanya hanya diberikan bubur sesuai
dengan lauk dan sayur yang tersedia di
Mandiri/Terapeutik rumah sehingga jarang memberikan nutrisi
- Mempersiapkan materi, media atau alat lainnya yang beragam.
- Saat ini Ny. H mengatakan anaknya tidak
peraga (jika perlu)
mau makan sudah ± 3 pekan dan hanya
- Menjadwalkan waktu yang tepat untuk ngemil biskuit sedikit demi sedikit saja.
memberikan pendidikan kesehatan
- Memberikan kesempatan pasien dan
keluarga untuk bertanya - Ners muda telah mempersiapkan materi dan
leaflet untuk penyampaian materi serta
Edukasi telah membuat jadwal dan kesepakatan
dengan klien dan keluarga menyepakati
1. Menjelaskan kebutuhan gizi seimbang pada jadwal tersebut.
anak - Keluarga menanyakan terkait dengan diet
2. Menjelaskan pentingnya pemantauan status yang baik untuk anaknya.
nutrisi pada anak setiap bulan ke
posyandu/fasilitas kesehatan Ners muda menjelaskan tentang materi sesuai
3. Menganjurkan untuk memberikan ASI sampai dengan SAP dan leaflet dan keluarga memahami
apa yang disampaikan ners muda.
anak berusia 2 tahun
4. Menganjurkan menghindari makanan/jajanan
yang tidak sehat (mis. Mengandung pemanis
buatan, penyedap, atau pengawet makanan)
5. Mengajarkan PHBS (seperti mencuci tangan
sebelum dan sesudah menyiapkan makanan
anak)
Kolaborasi
Bekolaborasi dengan ahli gizi untuk PMT, jika
perlu. Proses kolaborasi belum dilakukan
O. EVALUASI KEPERAWATAN (CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP)
Hari /Tanggal: Selasa, 29 Maret 2022
No. Jam Daignosa Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Masalah Perencanaan Paraf
Evaluasi NANDA (A) Selanjutnya (P)
1. 10. 45 Ketidakmampuan Keluarga mengatakan - Keluarga terlihat mengangguk Masalah teratasi Intervensi
WITA keluarga dalam mengerti dengan apa dan memahami materi yang dihentikan
mengenal masalah yang disampaikan oleh disampaikan oleh ners muda.
ners muda - Keluarga dapat mengungkapkan
kesehatan dan merawat
kembali tentang stunting dan
anggota keluarga yang cara merawat anak dengan
sakit berhubungan stunting termasuk cara
dengan Kurang pencegahannya pada saat
pengetahuan tentang evaluasi materi dilakukan.
stunting dan
pencegahannya
2. 10.45 Risiko gangguan Keluarga mengatakan - Keluarga terlihat menangguk Masalah belum Intervensi
WITA tumbuh kembang mengerti dengan apa dan memahami materi yang teratasi dilanjutkan
yang disampaikan oleh disampaikan oleh ners muda.
ners muda - Keluarga dapat mengungkapkan
kembali cara merawat anggota
keluarganya yang berisiko
stunting dan mengungkapkan
minat untuk rutin memeriksakan
anaknya ke posyandu
balita/fasilitas kesehatan.
KUNJUNGAN KE-2
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Kamis, 31 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 31 Maret 2022 Risiko gangguan tumbuh Edukasi
(10.00 WITA) kembang 1. Menganjurkan untuk memberikan ASI sampai - Keluarga mampu menerima informasi
anak berusia 2 tahun yang akan disampaikan dengan baik
tanpa ada kendala.
2. Menganjurkan menghindari makanan/jajanan yang
- Klien mengatakan memahami terakit
tidak sehat (mis. Mengandung pemanis buatan, dengan diet untuk anaknya dan
penyedap, atau pengawet makanan) pentingnya memeriksakan anaknya ke
3. Mengajarkan PHBS (seperti mencuci tangan posyandu/fasilitas kesehatan lainnya.
sebelum dan sesudah menyiapkan makanan anak)
4. Menganjurkan untuk rutin ke posyandu/fasilitas
kesehatan untuk memeriksakan kondisi anaknya
setiap bulan.
Kolaborasi
Berkolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.
1. 10.45 Risiko gangguan tumbuh Keluarga mengatakan mengerti - Keluarga terlihat Masalah Intervensi dilanjutkan
WITA kembang dengan apa yang disampaikan oleh menangguk dan belum teratasi
ners muda dan mengatakan ingin memahami materi
melakukan perubahan perilaku yang disampaikan
kesehatan untuk memaksimalkan oleh ners muda.
tumbuh kembang anaknya - An. N terliha aktif
dan tidak rewel
Menyetujui,
BELLA MARDYA
NPM. 2114901110015
NPM : 2114901110015
Menyetejui,
1.7 Komplikasi
Menurut Black & Hawks (2005) dalam Ariyani (2019)
mengklasifikasikan komplikasi Diabetes Melitus menjadi 2 kelompok
yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronis:
1.7.1 Komplikasi Akut
a. Hipoglikemia
Kadar glukosa darah yang abnormal/rendah terjadi jika kadar
glukosa darah turun dibawah 60-50 mg/dL (3,3-2,7 mmol//L).
Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau
preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu
sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Hipoglikemia
dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam hari. Kejadian
ini bisa dijumpai sebelum makan, khususnya jika waktu makan
tertunda atau bila pasien lupa makan cemilan.
b. Ketoasidosis Diabetik
Keadaan ini disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak
cukupnya jumlah insulin yang nyata. Keadaan ini
mengakibatkan gangguan pada metabolisme karbohidrat,
protein dan lemak. Pada tiga gambaran klinis yang penting
pada Ketoasidosis Diabetik: Dehidrasi, kehilangan elektrolit,
dan asidosis. Apabila jumlah insulin berkurang, jumlah
glukosa yang memasuki sel akan berkurang pula. Di samping
itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali. Kedua
faktor ini akan menimbulkan hiperglikemia.
c. Sindrom Hiperglikemi Hiperosmolar Nonketoik
Merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas
dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran
(sense of awarness). Pada saat yang sama tidak ada atau terjadi
ketosis ringan. Kelainan dasar biokimia pada sindrom ini
berupa kekurangan insulin efektif. Keadaan hiperglikemia
persisten menyebabkan diuresis osmotic sehingga terjadi
kehilangan cairan elektrolit. Untuk mempertahankan
keseimbangan osmotik, cairan akan berpindah dari ruang
intrasel ke dalam ruang ekstrasel. Dengan adanya glukosuria
dan dehidrasi, akan dijumpai keadaan hipernatremia dan
peningkatan osmolaritas. Salah satu perbedaan utama antara
sindrom HHNK dan DKA adalah tidak terdapatnya ketosis dan
asidosis pada sindrom HHNK. Perbedaan jumlah insulin yang
terdapat dalam masing-masing keadaan ini dianggap penyebab
parsial perbedaan diatas. Pada hakikatnya, insulin tidak
terdapat pada DKA.
1.7.2 Komplikasi Kronis
a. Komplikasi Makrovaskuler
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar sering
terjadi pada Diabetes Melitus. Perubahan aterosklerotik ini
serupa dengan yang terlihat pada pasien-pasien nondiabetik,
kecuali dalam hal bahwa perubahan tersebut cenderung terjadi
pada usia yang lebih muda dengan frekuensi yang lebih besar
pada pasien-pasien Diabetes Melitus.
b. Komplikasi Mikrovaskuler
Perubahan mikrovaskuler merupakan komplikasi unik yang
hanya terjadi pada Diabetes Melitus. Penyakit Mikrovaskuler
Diabetik (mikroangiopati) ditandai oleh penebalan membrane
basalis pembuluh kapiler. Membran basalis mengelilingi sel-
sel endotel kapiler.
c. Retinopati Diabetik
Kelainan patologis mata yang disebut Retinopati Diabetik
disebabkan oleh perubahan dalam pembuluh-pembuluh darah
kecil pada retina mata.
d. Nefropati
Penyakit Diabetes Melitus turut menyebabkan kurang lebih
25% dari pasien-pasien dengan penyakit ginjal stadium
terminal yang memerlukan dialisis atau transplantasi setiap
tahunnya di Amerika Serikat. Penyandang Diabetes Melitus
Tipe 1 sering memperlihatkan tanda-tanda permulaan Penyakit
Renal setelah 15-20 tahun kemudian, sementara pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 dapat terkena penyakit Renal dalam
waktu 10 tahun sejak diagnosis Diabetes ditegakkan. Banyak
pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang sudah menderita Diabetes
Melitus selama bertahun-tahun sebelum penyakit tersebut
didiagnosis dan diobati.
e. Neuropati
Neuropati dalam Diabetes Melitus mengacu kepada
sekelompok penyakit-penyakit yaang menyerang semua tipe
saraf, termasuk saraf perifer (sensorimotor), otonom dan
spinal. Kelainan tersebut tampak beragam secara klinis dan
bergantung pada lokasi sel saraf yang terkena (Hasdianah,
2014 dalam Ariyani, 2019).
2. Kemungkinan
masalah untuk
di ubah
Skala: (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Mudah (2) kemudian/setelah 2 kemudian/setelah kemudian/setelah
Sebagian (1) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
Tidak dapat
(0)
3. Potensial
masalah untuk
dicegah
Skala: (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Tinggi (3) kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
Cukup (2) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
Rendah (1)
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
Masalah
berat, harus
segera
ditangani (2) (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Ada masalah, kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
tetapi tidak pengkajian) pengkajian) pengkajian)
perlu
ditangani (1)
Masalah
tidak
dirasakan (0)
3. Potensial
masalah untuk
dicegah
(akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Skala:
kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
Tinggi (3)
pengkajian) pengkajian) pengkajian)
Cukup (2)
Rendah (1)
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
Masalah
berat, harus
segera
ditangani (2) (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Ada masalah, kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
tetapi tidak pengkajian) pengkajian) pengkajian)
perlu
ditangani (1)
Masalah
tidak
dirasakan (0)
Observasi
- Kesiapan dan kemampuan menerima - Hal ini dapat membantu memilih jenis
informasi. metode pemberian edukasi yang tepat.
- Identifikasi faktor-faktor yang dapat
meningkatkan dan menurunkan
perilaku hidup bersih dan sehat.
Mandiri/Terapeutik
- Sediakan materi dan media - Untuk membantu dalam penyampaian
pendidikan kesehatan mengenai materi pendidikan kesehatan.
diabetes melitus.
- Jadwalkan pendidikan kesehatan
sesuai dengan kesepakatan
- Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi
- Jelaskan faktor risiko yang dapat Untuk memaksimalkan pencegahan
mempengaruhi kesehatan terjadinya komplikasi lain dari diabetes
- Ajarkan perilaku hidup bersih dan melitus.
sehat
- Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat
2.4.2 Diagnosa 2: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
1) Tujuan dan Kriteria Hasil (Nursing Outcomes
Classification/NOC)
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan keluarga,
diharapkan tingkat pengetahuan klien dan keluarga
meningkat.
Kriteria Hasil:
1. Perilaku sesuai anjuran meningkat
2. Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat
3. Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun
4. Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun
5. Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat menurun
6. Perilaku membaik
2) Intervensi Keperawatan (Nursing Interventions
Classification/NIC)
Edukasi Kesehatan (I. 12383)
Observasi
- Kesiapan dan kemampuan menerima - Hal ini dapat membantu memilih jenis
informasi. metode pemberian edukasi yang tepat.
- Identifikasi faktor-faktor yang dapat
meningkatkan dan menurunkan
perilaku hidup bersih dan sehat.
Mandiri/Terapeutik
- Sediakan materi dan media - Untuk membantu dalam penyampaian
pendidikan kesehatan mengenai materi pendidikan kesehatan.
diabetes melitus.
- Jadwalkan pendidikan kesehatan
sesuai dengan kesepakatan
- Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi Untuk memaksimalkan pencegahan
- Jelaskan faktor risiko yang dapat terjadinya komplikasi lain dari diabetes
mempengaruhi kesehatan/diabetes melitus.
melitus
- Ajarkan perilaku hidup bersih dan
sehat
- Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat
DAFTAR PUSTAKA
BELLA MARDYA
NPM. 2114901110015
NPM : 2114901110015
Menyetejui,
BELLA MARDYA
NPM. 2114901110015
NPM : 2114901110015
Menyetejui,
2. Kemungkinan
masalah untuk
di ubah
Skala: (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Mudah (2) kemudian/setelah 2 kemudian/setelah kemudian/setelah
Sebagian (1) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
Tidak dapat
(0)
3. Potensial
masalah untuk
dicegah
Skala: (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Tinggi (3) kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
Cukup (2) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
Rendah (1)
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
Masalah
berat, harus
segera
ditangani (2) (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Ada masalah, kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
tetapi tidak pengkajian) pengkajian) pengkajian)
perlu
ditangani (1)
Masalah
tidak
dirasakan (0)
3. Potensial
masalah untuk
dicegah
(akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Skala:
kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
Tinggi (3)
pengkajian) pengkajian) pengkajian)
Cukup (2)
Rendah (1)
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
Masalah
berat, harus
segera
ditangani (2) (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Ada masalah, kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
tetapi tidak pengkajian) pengkajian) pengkajian)
perlu
ditangani (1)
Masalah
tidak
dirasakan (0)
Observasi
- Identifikasi kesiapan dan Untuk memastikan bahwa informasi
kemampuan menerima informasi. dapat diterima dengan baik oleh klien
dan keluarga
Mandiri/Terapeutik
Sediakan materi dan media pendidikan - Untuk memudahkan penyampaian
kesehatan mengenai stunting. materi terkait dengan stunting.
Edukasi
Jelaskan penanganan masalah Untuk membantu dalam membantu
kesehatan (stunting). penanganan stunting.
Kolaborasi
Kolaborasi dengan puskesmas untuk Untuk mempercepat perbaikan
pemberian informasi tambahan dan kondisi klien.
PMT.
Observasi
- Identifikasi perilaku upaya kesehatan - Hal ini dapat membantu memilih jenis
yang dapat ditingkatkan. metode peningkatan status kesehatan
yang tepat.
Mandiri/Terapeutik
- Orientasi pelayanan kesehatan yang - Untuk memaksimalkan pemanfaatan
dapat dimanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
Edukasi
- Anjurkan untuk rutin ke fasiitas Untuk memaksimalkan pencegahan
kesehatan atau posyandu balita untuk terjadinya stunting pada anak dalam
memantau status nutrisi dan tumbuh lingkungan keluarga.
kembang anak
- Anjurkan untuk memberikan PMT
sesuai dengan program pemerintah
DAFTAR PUSTAKA
Disusun Oleh:
KELOMPOK 5
2022
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS
A. PENGKAJIAN
DATA UMUM
Nama Kepala Keluarga (KK) : Tn. A.
Alamat : Jalan Martapura Lama RT. 15 Kelurahan Sungai Lulut
Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar
Pekerjaan KK : Pedagang
Pendidikan KK : Tamat SMA/Sederajat
Tipe Keluarga : The Dyad Family (Keluarga Dyad)
Suku Bangsa : Banjar
Agama : Islam
1. Komposisi Keluarga
No. Nama Anggota Jenis Kelamin Hub. dengan Umur Pekerjaan
Keluarga Klien
1. Tn. A Laki-Laki Kepala Keluarga, 55 tahun Pedagang
Suami klien
2. Ny. S Perempuan Istri 52 tahun Ibu Rumah
Tangga
2. Genogram
Keterangan Simbol:
Keterangan:
Ny. S merupakan anak ke-4 dari 7 bersaudara dan menikah dengan Tn. A. Klien dan
suaminya tidak memiliki anak. Orang tua klien sudah lama meninggal dunia, ayah klien
meninggal karena muntaber dan hepatitis sekitar 20 tahun yang lalu, sedangkan ibu
klien meninggal dunia karena tekanan darah rendah sehingga drop dan meninggal dunia
pada saat dibawa ke RS sekitar 15 tahun yang lalu. Kedua orang tua suami Ny. S juga
telah meninggal dunia.
Sedangkan Tn. A mengatakan sama sekali tidak pernah ikut ke posyandu lansia dan
jarang sekali memeriksakan status kesehatannya ke fasilitas kesehatan. Ny. S
mengatakan bahwa sangat jarang meminum obat-obatan untuk hipertensi (Ny. S hanya
meminum obat darah tinggi jika ada keluhan nyeri tengkuk saja). Ny. S mengatakan
hanya mengonsumsi buah-buahan seperti nanas dan mentimun serta mengurangi porsi
dan jadwal makan menjadi sehari 2x makan saja tanpa mengetahui jenis nutrisi apa yang
boleh dan tidak boleh dikonsumsi.
Hasil pengukuran tanda-tanda vital pada saat pengkajian Ny. S, didapatkan TD: 170/90
mmHg, N: 97 x/menit, Suhu: 36,7oC, RR: 20x/menit, GDS pukul 16.15 WITA: 308
mg/dL. Sedangkan Tn. A tidak memiliki riwayat diabetes melitus berdasarkan hasil
pemeriksaan 5 bulan yang lalu dengan GDS: 125 mg/dL. Pada saat pengkajian Tn. A
didapatkan TD: 160/90 mmHg, N: 89 x/menit, Suhu: 36,5oC, RR: 20x/menit, GDS pukul
16.15 WITA: 108 mg/dL.
Rumah Tn. A mendapat pencahayaan yang cukup dari sinar matahari dan banyak
terdapat ventilasi serta jendela yang terdapat di ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan
setiap kamar terdapat dua jendela yang setiap pagi selalu dibuka. Penerangan di rumah
menggunakan listrik. Ny. S biasanya sering menyikat kamar mandi dan WC nya agar
tidak licin dengan sikat yang didorong. Perihal sampah, Keluarga biasanya akan
membuang sampah-sampah ke plastic hitam yang selanjutnya akan dibuang ke tempat
pembuangan sampah akhir (TPA) terbuka (open dumping) secara mandiri jika sampah
di rumah sudah penuh. Terdapat fasilitas kesehatan di lingungan rumah Tn. A yaitu
posyandu, praktik mandiri bidan, apotik dan puskesmas. Semua fasilitas kesehatan
tersebut dapat dijangkau dengan menggunakan motor atau berjalan kaki.
Denah Rumah
Denah Isi/Bagian Dalam Rumah
D. STRUKTUR KELUARGA
1. Struktur Peran (Formal dan Informal)
a. Tn. A
Formal: Tn. A berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggung jawab dalam
menafkahi keluarganya.
Informal: Tn. A berepran sebagai pembimbing dkeluarganya yaitu pembimbing
bagi istrinya. Pada posisi ini, Tn. A tidak mengeluhkan ada masalah karena Tn. A
menyadari bahwa semua itu harus dijalaninya dan Tn. A menjalankan perannya
dengan baik.
b. Ny. S
Formal: Ny. S berperan sebagai ibu rumah tangga, menjaga dan merawat suami.
Dalam menjalankan peran ini, Ny. S tidak memiliki masalah dan ia mampu dengan
baik menjalankan perannya.
Informal: Ny. S selaku ibu rumah tangga juga berperan dalam mengatur kebutuhan
rumah tangga.
RR 20 x/menit 20 x/menit
BB 62 Kg 70 Kg
TB 162 cm 160 cm
Kepala Rambut bersih, warna hitam pendek Rambut bersih, warna hitam sebahu,
dan sebagian beruban sedikit beruban
Telinga Bersih, simetris, tidak ada serumen, Bersih, simetris, tidak ada serumen,
fungsi pendengaran baik, tidak ada fungsi pendengaran baik, tidak ada
nyeri tekan/lepas dibagian belakang nyeri tekan/lepas dibagian belakang
telinga telinga
Mulut Bersih, mukosa bibir lembab, tidak Bersih, mukosa bibir lembab, tidak
ada stomatitis pada area mulut, lidah ada stomatitis pada area mulut, lidah
bersih, bibir dan lidah berwarna bersih, bibir dan lidah berwarna
merah muda, jumlah gigi tidak merah muda, jumlah gigi lengkap.
lengkap (gigi graham 1 buah sebelah
kanan sudah dicabut karena
berlubang)
Dada (Paru-Paru Dada simetris, tidak ada penggunaan Dada simetris, tidak ada penggunaan
& Jantung) otot bantu pernafasan, auskultasi otot bantu pernafasan, auskultasi
lapang paru kanan dan kiri terdengar lapang paru kanan dan kiri terdengar
vesikuler, iktus kordis tidak tampak, vesikuler, iktus kordis tidak tampak,
bunyi jantung S1-S2 tunggal (normal) bunyi jantung S1-S2 tunggal (normal)
Abdomen Bentuk datar, simetris, tidak ada Bentuk datar, simetris, tidak ada
asites, tidak ada nyeri tekan/lepas, asites, tidak ada nyeri tekan/lepas,
hepar dan limpa tidak teraba, ginjal hepar dan limpa tidak teraba, ginjal
tidak teraba, perkusi gaster timpani, tidak teraba, perkusi gaster timpani,
perkusi hepar pekak/dullness. perkusi hepar pekak/dullness.
Ekstremitas atas Tidak ada varises dan edema, tidak Tidak ada varises dan edema, tidak
dan bawah ada fraktur, tidak ada paralisis, skala ada fraktur, tidak ada paralisis, skala
kekuatan otot 5/5/5/5 (untuk semua kekuatan otot 5/5/5/5 (untuk semua
ektremitas) ektremitas)
Integumen Warna kulit normal, tidak ada Warna kulit normal, tidak ada
sianosis, tidak ada eritema, tidak ada sianosis, tidak ada eritema, tidak ada
luka dan xerosis pada kulit, CRT < 2 luka dan xerosis pada kulit, CRT < 2
detik. detik.
DO:
- Hasil pengukuran tanda-tanda
vital pada saat pengkajian Ny. S,
didapatkan TD: 170/90 mmHg,
N: 97 x/menit, Suhu: 36,7oC, RR:
20x/menit, GDS pukul 16.15
WITA: 308 mg/dL.
- Tn. A tidak memiliki riwayat
diabetes melitus. Pada saat
pengkajian Tn. A didapatkan TD:
160/90 mmHg, N: 89 x/menit,
Suhu: 36,5oC, RR: 20x/menit,
GDS pukul 16.15 WITA: 108
mg/dL.
3. Potensial
masalah untuk Ny. S mengatakan
dicegah didiagnosa diabetes
2
Skala: ×1 melitus sejak 5 bulan lalu
2 1 3
Tinggi (3) dan sudah mulai rutin
= 2/3
Cukup (2) kunjungan ke posyandu
Rendah (1) lansia
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
Masalah Keluarga menyadari
berat, harus 1 pentingnya masalah untuk
segera 1 1 ×1 diatasi secara bertahap
2
ditangani (2) = 1/2 untuk meningkatkan status
Ada masalah, kesehatan Ny. S
tetapi tidak
perlu
ditangani (1)
Masalah tidak
dirasakan (0)
5,17
TOTAL
Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
3. Potensial
masalah untuk
dicegah
2 Perlu kepatuhan dan waktu
Skala: ×1
2 1 3 untuk mengubah
Tinggi (3)
= 2/3 kebiasaan hidup sehat
Cukup (2)
Rendah (1)
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
Masalah Keluarga menyadari
berat, harus 1 pentingnya masalah untuk
segera 1 1 ×1 diatasi secara bertahap
2
ditangani (2) = 1/2 untuk meningkatkan status
Ada masalah, kesehatan Ny. S
tetapi tidak
perlu
ditangani (1)
Masalah tidak
dirasakan (0)
TOTAL 2,8
1. Ketidakmampuan Manajemen Kesehatan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi Program Pengobatan (I. 12441)
keluarga dalam (L. 12104) 1. Kriteria Hasil:
mengenal masalah Keluarga menunjukkan pemahaman terkait Observasi
dan merawat Tujuan Umum: dengan pentingnya pengobatan dan - Identifikasi pengetahuan tentang pengobatan
anggota keluarga Setelah dilakukan kunjungan pemeriksaan rutin kesehatan ke fasilitas yang direkomendasikan.
yang sakit rumah asuhan keperawatan kesehatan - Identifikasi pengobatan tradisional dan
berhubungan keluarga selama 2x atau lebih, Standard: kemungkinan efek terhadap pengobatan.
dengan kurang diharapkan manajemen Pengobatan teratur dapat meminimalkan efek
pengetahuan kesehatan klien dan keluarga samping obat yang tidak diinginkan serta Mandiri/Terapeutik
tentang program meningkat, dimana klien dan mengetahui penggunaan obat dengan prinsip 6 - Fasilitasi informasi tertulis atau leaflet untuk
terapeutik (diabetes keluarga mampu mengenal benar obat. Selain itu, pemeriksaan rutin ke meningkatkan pemahaman.
melitus) masalah dan keluarga memahami fasilitas kesehatan mampu meminimalkan - Berikan dukungan untuk menjalani program
perawatan pada penderita diabetes terjadinya komplikasi akibat diabetes melitus. pengobatan dengan baik dan benar
melitus. - Libatkan keluarga untuk memberikan
2. Kriteria Hasil: dukungan pada pasien selama pengobatan.
Tujuan Khusus: Keluarga menunjukkan minat meningkatkan
Setelah dilakukan kunjungan perilaku sehat Edukasi
rumuah 1 x 45 menit, keluarga Standard: - Anjurkan meminum obat sesuai indikasi
mampu memahami pentingnya Ketertarikan pada penjelasan dan materi yang - Anjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu
pengobatan/konsumsi obat disampaikan oleh ners muda. Selain itu materi yang tidak dimengerti sebelum dan sesudah
diabetes melitus secara baik tentang perilaku sehat seperti, sering pengobatan dilakukan
dibawah pengawasan tenaga melakukan aktivitas fisik sesuai usia, - Anjurkan untuk memeriksakan diri secara
kesehatan yang professional. menghindari rokok dan asap rokok, teratur ke fasilitas kesehatan dan
mengurangi konsumsi makanan yang tinggi menghindari membeli obat secara
gula dan garam, rutin memeriksakan diri ke sembarangan dan tanpa resep dokter serta
fasilitas kesehatan. kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Informasikan fasilitas kesehatan yang dapat
digunakan selama pengobatan.
2. Risiko Tingkat Pengetahuan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi Kesehatan (I.12383) dan Edukasi
ketidakstabilan (L. 12111) 1. Kriteria Hasil: Diet (I. 12369)
kadar glukosa Keluarga mampu menyebutkan definisi
darah (NANDA Tujuan Umum: diabetes melitus dengan bahasa sendiri Observasi
Diagnosa Setelah dilakukan kunjungan Standard: - Identifikasi kemampuan pasien dan keluarga
Keperawatan Hal. rumah asuhan keperawatan Diabetes melitus (kencing manis) merupakan menerima informasi.
174) keluarga selama 2x atau lebih, kondisi kadar gula darah sewaktu diatas 180 - Identifikasi pengetahuan saat ini (apersepsi)
diharapkan tingkat pengetahuan mg/dL dan gula darah puasa diatas 125 mg/dL. - Identifikasi pola makan saat ini dan masa lalu
klien meningkat, dimana klien
dan keluarga mampu mengenal 2. Kriteria Hasil: Mandiri/Terapeutik
dan memahami bagaimana Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 - Persiapkan materi, media atau alat peraga
perawatan diabetes melitus. penyebab diabetes melitus (jika perlu)
Standard: - Jadwalkan waktu yang tepat untuk
Tujuan Khusus: Penyebab diabetes melitus antara lain, genetic memberikan pendidikan kesehatan
Setelah dilakukan kunjungan (keturunan), pola makan kurang sehat, dan - Berikan kesempatan pasien dan keluarga
rumuah 1 x 45 menit, keluarga kurangnya aktivitas fisik. untuk bertanya
mampu mengenal diabetes melitus
dan diet yang dianjurkan bagi 3. Kriteria Hasil: Edukasi
penderita diabetes melitus. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 1. Jelaskan definisi, penyebab, tanda dan
tanda dan gejala diabetes melituss. gejala (faktor risiko) diabetes mlitus
Standard: 2. Jelaskan tujuan kepatuhan diet terhadap
Tanda dan gejala DM antara lain, sering kesehatan dan kondisi diabetes melitus
kencing, sering haus dan mudah lapar. 3. Informasikan makanan yang diperbolehkan
dan dilarang
4. Kriteria Hasil: 4. Anjurkan melakukan aktivitas fisik atau
Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 olahraga sesuai toleransi
bentuk diet yang dapat dilakukan penderita
DM. Kolaborasi
Standard: Kolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.
Diet yang dianjurkan yaitu, mengurangi Kolaborasi terapi modalitas (senam kaki
konsumsi makanan manis, mengindari diabetes)
makanan tinggi garam dan cepat saji serta
berlemak, dan makan sehat dan bernutrisi
dengan teratur
KUNJUNGAN KE-1
K. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Selasa, 22 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 22 Maret Ketidakmampuan Observasi
2022 (09.00 keluarga dalam - Mengidentifikasi pengetahuan tentang - Keluarga mengatakan tidak mengetahui
WITA) mengenal masalah pengobatan yang direkomendasikan. terkait dengan pengobatan apa yang
direkomendasikan untuk penderita
dan merawat - Mengidentifikasi pengobatan tradisional
diabetes melitus.
anggota keluarga dan kemungkinan efek terhadap - Keluarga mengatakan bahwa biasanya
yang sakit pengobatan. menggunakan pengobatan tradisional
berhubungan seperti mengonsumsi mentimun dan
dengan kurang memakan nanas.
pengetahuan Mandiri/Terapeutik
tentang program - Memfasilitasi informasi tertulis atau leaflet - Ners muda telah mempersiapkan SAP dan
leaflet mengenai diabetes melitus dan
terapeutik untuk meningkatkan pemhaman.
pengobatan diabetes melitus.
(diabetes melitus) - Memberikan dukungan untuk menjalani - Keluarga mengatakan merasa senang
program pengobatan dengan baik dan benar diperhatikan oleh ners muda saat
- Melibatkan keluarga untuk memberikan kunjungan dan penyampaian materi.
dukungan pada pasien selama pengobatan. - Keluarga dilibatkan dalam proses
penyampaian materi dan keluarga
Edukasi mengatakan memahami apa yang
disampaikan ners muda.
- Menganjurkan meminum obat sesuai
indikasi
- Menganjurkan untuk bertanya jika ada Keluarga mengatakan memahami pentingnya
sesuatu yang tidak dimengerti sebelum dan meminum obat sesuai dengan indikasi dan
sesudah pengobatan dilakukan pentingnya memeriksakan diri secara teratur
- Menganjurkan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dan menghindari
pengginaan obat sembarangan.
secara teratur ke fasilitas kesehatan dan
menghindari membeli obat secara
sembarangan dan tanpa resep dokter serta
kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Menginformasikan fasilitas kesehatan yang
dapat digunakan selama pengobatan.
2. 22 Maret Risiko Observasi
2022 (09.00 ketidakstabilan - Mengidentifikasi kemampuan pasien dan - Keluarga mampu menerima informasi
WITA) kadar glukosa keluarga menerima informasi. yang akan disampaikan dengan baik tanpa
ada kendala. Keluarga juga sudah cukup
darah (NANDA - Mengidentifikasi pengetahuan saat ini
mengetahui tentang diabetes melitus
Diagnosa (apersepsi) (kencing manis).
Keperawatan Hal. - Mengidentifikasi pola makan saat ini dan - Ny. S mengatakan bahwa dimasa lalu
174) masa lalu sangat suka mengonsumsi makanan yang
manis dan cepat saji serta malas untuk
Mandiri/Terapeutik berolahraga.
- Mempersiapkan materi, media atau alat
peraga (jika perlu)
- Ners muda telah mempersiapkan materi
- Membuat jadwal yang tepat untuk dan leaflet untuk penyampaian materi
memberikan pendidikan kesehatan serta telah membuat jadwal dan
- Memberikan kesempatan pasien dan kesepakatan dengan klien dan keluarga
keluarga untuk bertanya menyepakati jadwal tersebut.
- Keluarga menanyakan terkait dengan diet
Edukasi yang baik untuk penderita diabetes
melitus.
1. Menjelaskan definisi, penyebab, tanda dan
gejala (faktor risiko) diabetes mlitus
2. Menjelaskan tujuan kepatuhan diet Ners muda menjelaskan tentang materi sesuai
terhadap kesehatan dan kondisi diabetes dengan SAP dan leaflet dan keluarga
melitus memahami apa yang disampaikan ners muda.
3. Memberikan informasikan makanan yang
diperbolehkan dan dilarang
4. Menganjurkan melakukan aktivitas fisik
atau olahraga sesuai toleransi
Kolaborasi
Berkolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu. Proses kolaborasi belum dilakukan
Berkolborasi terapi modalitas (senam kaki Senam kaki diabetes sudah dilaksanakan
diabetes)
1. 09. 45 Ketidakmampuan keluarga Keluarga - Keluarga terlihat mengangguk dan Masalah belum Intervensi
WITA dalam mengenal masalah mengatakan memahami materi yang disampaikan teratasi dilanjutkan
dan merawat anggota mengerti dengan oleh ners muda.
apa yang - GDS Ny. S: 289 mg/dL
keluarga yang sakit
disampaikan oleh - Keluarga dapat mengungkapkan
berhubungan dengan kurang ners muda kembali cara merawat keluarga dengan
pengetahuan tentang diabetes melitus, kebutuhan diet dan
program terapeutik (diabetes terapi bagi penderita diabetes melitus.
melitus) (NANDA Diagnosa
Keperawatan Hal. 147).
2. 09.45 Risiko ketidakstabilan kadar Keluarga - Keluarga terlihat menangguk dan Masalah belum Intervensi
WITA glukosa darah (NANDA mengatakan memahami materi yang disampaikan teratasi dilanjutkan
Diagnosa Keperawatan Hal. mengerti dengan oleh ners muda.
apa yang - GDS Ny. S: 289 mg/dL
174)
disampaikan oleh - Keluarga dapat mengungkapkan
ners muda kembali cara merawat keluarga dengan
diabetes melitus, kebutuhan diet dan
terapi bagi penderita diabetes melitus.
- Klien masih seikit kebingungan untuk
melakukan senam kaku diabetes untuk
pertama kalinya
KUNJUNGAN KE-2
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Kamis, 24 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 24 Maret 2022 Ketidakmampuan Edukasi
(16.00 WITA) keluarga dalam - Menganjurkan meminum obat sesuai indikasi
mengenal masalah dan - Menganjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu yang Keluarga mengatakan memahami
pentingnya meminum obat sesuai dengan
merawat anggota tidak dimengerti sebelum dan sesudah pengobatan
indikasi dan pentingnya memeriksakan
keluarga yang sakit dilakukan diri secara teratur ke fasilitas kesehatan
berhubungan dengan - Menganjurkan untuk memeriksakan diri secara teratur dan menghindari pengginaan obat
kurang pengetahuan ke fasilitas kesehatan dan menghindari membeli obat sembarangan serta keluarga
tentang program secara sembarangan dan tanpa resep dokter serta merencanakan ingin memeriksakan Ny. S
terapeutik (diabetes kerugian akibat penggunaan obat sembarangan. ke fasilitas kesehatan.
melitus) (NANDA - Menginformasikan fasilitas kesehatan yang dapat
Diagnosa Keperawatan digunakan selama pengobatan.
Hal. 147). - Memotivasi untuk memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan.
1. 16. 45 Ketidakmampuan keluarga - Keluarga mengatakan mengerti - Keluarga terlihat Masalah Intervensi dilanjutkan
WITA dalam mengenal masalah dan dengan apa yang disampaikan mengangguk dan belum teratasi
merawat anggota keluarga oleh ners muda memahami materi
- Ny. S dan keluarga mengatakan yang disampaikan
yang sakit berhubungan
belum sempat memeriksakan diri oleh ners muda.
dengan kurang pengetahuan ke puskesmas atau ke praktik - GDS Ny. S: 305
tentang program terapeutik dokter namun keluarga mg/dL
(diabetes melitus) (NANDA merencanakan akan membawa
Diagnosa Keperawatan Hal. Ny. S ke fasilitas kesehatan
147). terdekat.
2. 16.45 Risiko ketidakstabilan kadar Keluarga mengatakan mengerti - Keluarga terlihat Masalah Intervensi dilanjutkan
WITA glukosa darah (NANDA dengan apa yang disampaikan oleh menangguk dan belum teratasi
Diagnosa Keperawatan Hal. ners muda dan mengatakan telah memahami materi
memulai pengaturan porsi makan dan yang disampaikan
174)
jenis nutrisi yang akan dikonsumsi oleh ners muda.
- GDS Ny. S: 305
mg/dL
- Klien terlihat
mampu melakukan
senam kaki diabetes
dengan baik
meskipun masih ada
sedikit keliru
KUNJUNGAN KE-3
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Sabtu, 26 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 26 Maret 2022 Ketidakmampuan keluarga Edukasi
(09.00 WITA) dalam mengenal masalah dan - Menganjurkan meminum obat sesuai indikasi
merawat anggota keluarga - Menganjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu yang Keluarga mengatakan memahami
pentingnya meminum obat sesuai dengan
yang sakit berhubungan tidak dimengerti sebelum dan sesudah pengobatan
indikasi dan pentingnya memeriksakan diri
dengan kurang pengetahuan dilakukan secara teratur ke fasilitas kesehatan dan
tentang program terapeutik - Menganjurkan untuk memeriksakan diri secara menghindari pengginaan obat sembarangan
(diabetes melitus) (NANDA teratur ke fasilitas kesehatan dan menghindari serta keluarga merencanakan ingin
Diagnosa Keperawatan Hal. membeli obat secara sembarangan dan tanpa resep memeriksakan Ny. S ke fasilitas kesehatan.
147). dokter serta kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Menginformasikan fasilitas kesehatan yang dapat
digunakan selama pengobatan.
- Memotivasi untuk memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan.
Keywords : ABSTRACT
Blood Sugar Levels,
Diabetes Foot Exercise Diabetes mellitus is a group of metabolic diseases
with characteristics of hyperglycemia that occur due to
insulin abnormalities, insulin work or both. If this is
allowed to continue without therapy it can cause
complications, to prevent this, one of the pillars of
managing diabetes is physical exercise or exercise, whi-
© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
13
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
ch is diabetes foot exercises. The aim of the study was to
determine the effect of diabetic foot exercises on changes
in blood sugar levels of type 2 DM patients in the working
area of Pauhkambar Health Center. The design of this
study was Quasy Experimental Design with one group
pre and posttest approach. Research was conducted in
the puskesmas working area. The results of the analysis
are the effect of diabetic foot exercises on changes in
blood sugar levels in patients with type 2 diabetes
mellitus in the working area of puskmaskambar, so it can
be concluded that diabetic foot exercises affect the
changes in blood sugar levels in type 2 DM patients in
the work area of PauhKambar health center. Diabetes
foot exercises are taught. It is expected that the health
center can be used as information in making service
program plans related to efforts to reduce blood sugar
levels and reduce people with diabetes mellitus.
© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
17
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
3. Pengaruh Senam Kaki Diabetes otot inilah yang mampu menyerap
Terhadap Perubahan Kadar Gula glukosa dalam darah dikarenakan 70-
Darah Pada Responden Di 90% glukosa dalam darah diserap oleh
otot. Jadi dalam hal ini intervensi yang
Puskesmas Pauh Kambar tahun
dilakukan sangat tepat dalam membantu
2018. mengurangi kadar gula darah pada
Hasil penelitian yang dilakukan oleh penderita diabetes mellitus.
peneliti didapatkan bahwa ada pengaruh Yang ditemukan peneliti saat
senam kaki diabetes terhadap gula darah melakukan penelitian tentang pengaruh
responden sebelum dilakukan senam senam kaki diabetes terhadap perubahan
kaki diabetes semua responden kadar gula darah pada penderita DM
dikategorikan memilik kadar gula darah tipe 2 diwilayah kerja puskesmas pauh
tidak normal dan setelah dilakukan kambar kabupaten padang pariaman.
senam kaki diabetes hanya 5 responden Pada hari pertama ada sebagian
yang dikategorikan memiliki kadar gula responden kurang antusias dan kurang
darah tidak normal. Setelah dilakukan memperhatikan peneliti saat
uji wilcoxon test dapat kita lihat pada mengajarkan senam kaki diabetes
output “sign (2 tailed) dimana nilai terhadap perubahan kadar gula darah
statistik uji Asymp sig.2-tailed adalah pada penderita DM tipe 2 oleh karna itu
0,001<0,05, yang artinyaHa diterima peneliti mencari jalan keluar agar
dan terdapat perubahan yang bermakna responden mau sepenuhnya mengikuti
terhadap penurunan kadar gula darah dan memperhatikan saat peneliti
responden yang sedah diberikan senam mengajarkan gerakan senam kaki
kaki diabetes dengan sebelum dilakukan diabetes. Peneliti berasumsi memberi
senam kaki diabetes. responden penyuluhan akan apa itu
Hal ini sejalan dengan hasil penyakit diabetes, akibat yang
penelitian yang dilakukan oleh disebabkan diabetes serta cara untuk
(Sulistyowati, 2017) tentang pengaruh menurunkan kadar gula darah dan
senam kaki diabetes terhadap perubahan rencana itu pun berhasil menarik
kadar gula darah pada penderita DM perhatian responden tepatnya di hari
tipe 2 didapatkan p valuesebesar0,000 ketiga.
dimana p<α= 0,05, dimana ada Senam kaki diabetes terhadap
pengaruh senam kaki diabetes terhadap perubahan kadar gula darah pada
perubahan kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 dilakukan selama
penderita DM tipe 2. dua belas hari mendapatkan hasil yang
Hasil penelitian yang dilakukan oleh memuaskan yaitu dari 15 responden 10
(Janno Sinaga, 2016)tentang pengaruh di katagorikan memiliki kadar gula
senam kaki diabetes terhadap perubahan darah normal. Sebelum dilakukan terapi
kadar gula darah pada penderita senam kaki diabetes terhadap perubahan
diabetes mellitus didapatkan p kadar gula darah pada penderita DM
valuesebesar0,000 dimanap< α = 0,05, tipe 2, 15 responden dikategorikan
dimanaadapengaruh senam kaki memiliki kadar gula darah tidak normal.
diabetes terhadap perubahan kadar gula Menurut analisis peneliti, gerakan-
darah pada penderita DM tipe 2. gerakan senam yang dilakukan pada
Hasil penelitian juga didukung oleh penderita diabetes mellitus mampu
teori yang dikemukakan (Eko Saputra, memberikan efek yang baik terhadap
2016)adanya gerakan-gerakan yang kadar gula darah responden dimana
dikhususkan untuk penderita diabetes disaat melakukan latihan fisik terjadi
mellitus melalui senam kaki diabetes peningkatan pemakaian glukosa oleh
menyebabkan massa otot mereka otot yang aktif sehingga secara tidak
bertambah. Adanya penambahan massa langsung menyebabkan penurunan
© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
18
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
kadar gula darah. Adanya efek dari
gerakan senam ini hendaknya bisa DAFTAR PUSTKA
diterapkan setiap hari pada responden Ayuni, D. Q., & Ramaita. (2019).
sehingga pengobatan non farmakologi Pengaruh Pemberian Pendidikan
bisa berjalan dengan baik dan tentunya Tentang Kanker Serviks Terhadap
tidak menimbulkan resiko lain terhadap Pengetahuan Deteksi Dini Kanker
kesehatan responden dibandingkan Serviks Pada WUS ( Wanita Usia
dengan pengobatan secara farmakologi. Subur ). Jurnal Kesehatan Perintis,
6(July), 89–94.
KESIMPULAN
Seluruh responden memiliki kadar Budiharto. (2010). Pengantar Ilmu
gula darah yang tidak normal sebelum Perilaku Kesehatan dan
(pretest) dilakukan senam kaki diabetes. Pendidikan Kesehatan Gigi.
53,3% responden memiliki kadar gula Jakarta: EGC.
darah yang normal setelah (posttest) Erwana, A. F. (2013). Seputar
dilakukan senam kaki diabetes Semakin Kesehatan Gigi dan Mulut.
sering orang senam kaki diabetes maka Yogyakarta: Rapha Publishing.
semakin rendah kadar gula darah pada
penderita diabetes mellitus, tergantung Fitriani, S. (2011). Promosi Kesehatan.
gigih atau tidaknya responden dalam Yogyakarta: Graha Ilmu.
melakukan senam kaki yang telah di Hastuti, S., & Andriyani, A. (2015).
ajarkan. Diharapkan responden Perbedaan Pengaruh Pedidikan
menerapkan terapi senam kaki diabetes Kesehatan Gigi Dalam
yang diajarkan dan menambah penge- Meningkatkan Pengetahuan
tahuan serta mempercepat proses Tentang Kesehatan Gigi Pada Anak
penyembuhan dan penurunan kadar gula Di SD Negeri 2 Sambi Kecamatan
darah di puskesmas pauh kambar tentang Sambi Kabupaten Boyolali. Gaster,
pengaruh senam kaki diabetes terhadap 7(2), 624–632.
perubahan kadar gula darah pada
penderita DM tipe 2 Penelitian ini dapat Kusumawati, Y., Wiyasa, R., &
menjadi masukan dan informasi bagi Rahmawati, E. N. (2016).
para tim kesehatan dalam memberika Pengetahuan, Deteksidini Dan
penyuluhan tentang penanggulangan Vaksinasi Hpvsebagai Faktor
kestabilan gula darah secara non- Pencegah Kanker Serviksdi
farmakologik pada pasien diabetes Kabupaten Sukoharjo. Jurnal
mellitus tipe 2. Kesehatan Masyarakat, 11(2), 204–
213.
UCAPAN TERIMA KASIH
Maulana. (2019). Promosi Kesehatan.
Ucapan terima kasih penulis berikan
Jakarta: EGC.
kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian Notoatmodjo, S. (2012). Promosi
penelitian ini, terutama : Ibu Ketua Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.
STIKes Piala Sakti Pariaman yang telah Jakarta: Rineka Cipta.
memberikan izin dan dana penelitian ini.
Ibu Pimpinan Puskesmas Pauh Kambar Nursalam. (2011). Konsep dan
yang telah memberikan izin dalam studi Penerapan Metodologi Penelitian
awal dan memberikan alamat Ilmu Keperawatan. Jakarta:
Responden. Seluruh civitas akademika Salemba Medika.
STIKes Piala Sakti Pariaman yang WHO. (2017). Sugar and Dental Caries.
memberikan dukungan dan bantuan America. Retrieved from
dalam penyelesaian penelitian. [Link]
© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
19
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
0665/259413/1/WHO-NMH-NHD-
[Link]
© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
20
JURNAL KEPERAWATAN SOEDIRMAN
ABSTRACT
Most of the management for hospitalized patient with type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is still
concentrated on medication and diet. On the other hand, exercise or activity management, however,
gets little attention. Health professionals, especially nurses, need to be aware that some exercises or
activities should be provided even for hospitalized patients. One of the choices is Progressive Muscle
Relaxation (PMR). The purpose of this study was to determine the effect of PMR on reducing blood
glucose levels in patients with T2DM. This research used the quasi-experimental with pre and post
control group design. The sampling technique was simple random sampling with 30 samples, that
divided into intervention and control groups (15 samples in each group). Data collection techniques
were performed by measuring the blood glucose levels at that time. PMR as an intervention was
performed for three days on a regular basis. Afterward, the blood glucose levels were remeasured. Data
analysis was done by using t-test. Data analysis showed that there was a decrease in mean score of
blood glucose levels for 63,80 mg/dl in the control group and 80,46 mg/dl in the intervention group. The
results showed that PMR was effective in reducing the blood glucose levels of hospitalized patients with
T2DM (p-value = 0,015). The results of this study can be applied by nurses as an alternative
intervention in the management of patients with T2DM.
ABSTRAK
Manajemen pasien dengan Diabetes Mellitus tipe 2 (T2DM) yang dirawat di rumah sakit seringkali
masih hanya berfokus pada pengobatan dan diet. Di sisi yang lain, olah raga atau manajemen aktivitas
masih kurang mendapat perhatian. Tenaga kesehatan, terutama perawat, perlu menyadari bahwa olah
raga atau aktivitas tetap dapat diberikan kepada pasien meskipun dirawat di rumah sakit. Salah satunya
adalah dengan Relaksasi Otot Progresif (ROP). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan
pengaruh ROP terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini
menggunakan desain kuasi eksperimental pre dan post. Tehnik sampling yang digunakan adalah
simple random sampling pada 30 orang, yang dibagi atas kelompok intervensi dan kelompok kontrol
(masing-masing 15 orang pada setiap grup). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengukur
kadar gula darah sewaktu. Intervensi ROP dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Setelah itu, kadar
glukosa darah diukur kembali. Analisa data menggunakan t-test. Hasil analisa menunjukan bahwa
terdapat penurunan rerata kadar gula darah sebesar 63,80 mg/dl di kelompok kontrol dan 80,46 mg/dl
di kelompok intervensi. Hasil menunjukan bahwa PMR efektif untuk menurunkan kadar gula darah pada
pasien DM tipe 2 yang dirawat di rumah sakit (p-value=0,015). Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat
digunakan oleh perawat sebagai alternative tindakan untuk pasien dengan DM tipe 2.
77
Akbar, Malini, Afriyanti DOI : 10.20884/[Link].2018.13.2.808
Jurnal Keperawatan Soedirman 13 (2) 2018 : 77 – 83
RESULTS
81
Akbar, Malini, Afriyanti DOI : 10.20884/[Link].2018.13.2.808
Jurnal Keperawatan Soedirman 13 (2) 2018 : 77 – 83
82
Akbar, Malini, Afriyanti DOI : 10.20884/[Link].2018.13.2.808
Jurnal Keperawatan Soedirman 13 (2) 2018 : 77 – 83
wilayah kerja Puskesmas Bukateja Tangka, W.T., Wiyono., & Wati, A.T.
Purbalingga. Jurnal Media Ners, 1, (2015). Hubungan kepatuhan
49-99. pengaturan diet dengan kadar
glukosa darah pada pasien diabetes
International Diabetes Federation. (2015). mellitus. Buletin Sariputra, 5(1), 40-
IDF diabetes atlas-seventh edition. 46.
Brussel: IDF.
Wade, C. & Tavns, C. (2007). Psikologi
Kaviani, M., Bahoosh, N., Azima, S., edisi 9 jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Asadi, N., Sharif, F., & Sayadi, M.
(2014). The effect of relaxation on World Health Organization. (2016). Global
blood sugar and blood presure report on diabetes. France: WHO
changes of women with gestational Press.
diabetes: A randomized control trial.
Iranian Journal of Diabetes And
Obesity, 6, 14-22.
Mahanani, S., Natalia, D., & Pangesti, S.
(2015). Aktivitas fisik berdasarkan
teori handerson pada pasien
diabetes mellitus laki-laki dan
perempuan. Jurnal STIKES RS
Baptis Kediri, 2, 1-10.
Masjur, A. (2005). Kapita selekta
kedokteran, edisi II jilid 3. Jakarta:
Media Aesulapius.
Niqren, Z.L. (2014). Kemudahan gerak
aktivitas bagi pasien stroke di unit
terapi okupasi adl (activities of daily
living). Jurnal Mahasiswa Jurusan
Arsitektur, 2, 1-17.
Rusnoto & Diana, N.I.R. (2016). Effect of
progressive muscle relaxation
against the decrease blood sugar
levels in patients with diabetes
mellitus at health Keling 1 Jepara.
International Nursing Workshop And
Conference, 1, 16-23.
Soegondo, S. (2007). Penatalaksanaan
diabetes mellitus terpadu. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.
Synder, M., & Linquist, R. (2010).
Complementary and alternative
therapies in nursing 6th edition.
United States of America: Hamilton
Printing.
Tarwoto., Wartonah., Taufiq, I., & Mulyati,
L. (2012). Keperawatan medikal
bedah gangguan sistem endokrin.
Jakarta: TIM.
83