0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan177 halaman

Untitled

Laporan ini membahas pengkajian keluarga dengan anggota yang menderita diabetes melitus tipe 2. Keluarga tersebut terdiri atas suami istri tanpa anak. Istri didiagnosis menderita diabetes melitus tipe 2 berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah. Istri kurang taat dalam mengontrol gula darah dan mengkonsumsi obat.

Diunggah oleh

Radiah Rachmad
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan177 halaman

Untitled

Laporan ini membahas pengkajian keluarga dengan anggota yang menderita diabetes melitus tipe 2. Keluarga tersebut terdiri atas suami istri tanpa anak. Istri didiagnosis menderita diabetes melitus tipe 2 berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah. Istri kurang taat dalam mengontrol gula darah dan mengkonsumsi obat.

Diunggah oleh

Radiah Rachmad
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

PADA ANGGOTA KELUARGA DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI TABUK 3

Disusun Oleh:

BELLA MARDYA

NPM. 2114901110015

STASE: KEPERAWATAN KELUARGA

DESA SUNGAI LULUT RT. 15, KECAMATAN SUNGAI TABUK

KABUPATEN BANJAR

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

2022
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Tanggal pengkajian : 21 Maret 2022 Jam Pengkajian : 16.15 WITA

A. PENGKAJIAN
DATA UMUM
Nama Kepala Keluarga (KK) : Tn. A.
Alamat : Jalan Martapura Lama RT. 15 Kelurahan Sungai Lulut
Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar
Pekerjaan KK : Pedagang
Pendidikan KK : Tamat SMA/Sederajat
Tipe Keluarga : The Dyad Family (Keluarga Dyad)
Suku Bangsa : Banjar
Agama : Islam

1. Komposisi Keluarga
No. Nama Anggota Jenis Kelamin Hub. dengan Umur Pekerjaan
Keluarga Klien
1. Tn. A Laki-Laki Kepala Keluarga, 55 tahun Pedagang
Suami klien
2. Ny. S Perempuan Istri 52 tahun Ibu Rumah
Tangga

2. Genogram

Keterangan Simbol:
Keterangan:
Ny. S merupakan anak ke-4 dari 7 bersaudara dan menikah dengan Tn. A. Klien dan
suaminya tidak memiliki anak. Orang tua klien sudah lama meninggal dunia, ayah klien
meninggal karena muntaber dan hepatitis sekitar 20 tahun yang lalu, sedangkan ibu
klien meninggal dunia karena tekanan darah rendah sehingga drop dan meninggal dunia
pada saat dibawa ke RS sekitar 15 tahun yang lalu. Kedua orang tua suami Ny. S juga
telah meninggal dunia.

3. Status Sosial dan Ekonomi Keluarga


Pendapatan keluarga Tn. A dalam sebulan kurang lebih Rp. 6.000.000/bulan dari jual
beli mobil dan istrinya, Ny. S sebagai ibu rumah tangga tidak memiliki penghasilan,
karena Ny. S mengatakan hanya di rumah mengurus rumah tangga. Sehingga
penghasilan Tn. A inilah satu-satunya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari keluarga Tn. A.

4. Aktivitas Rekreasi Keluarga


Tn. A mengatakan jarang melakukan rekreasi keluarga, meskipun pada hari libur.
Begitupun dengan libur hari besar keagamaan seperti hari raya Idul Fitri atau Idul
‘Adha, keluarga biasanya hanya di rumah saja dan biasanya ada keluarga atau sanak
family yang berkunjung untuk silaturrahmi. Tn.A dan Ny. S sudah terbiasa untuk hidup
berdua dan terkadang ada cucu keponakan yang menjadi pelipur hati bagi kesepian
mereka berdua.

B. RIWAYAT DAN PERKEMBANGAN KELUARGA SAAT INI


1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini
Tahap perkembangan keluarga Tn. A adalah tahap keluarga dengan usia pertengahan
karena usia Tn. A yaitu 55 tahun dan Ny. S 52 tahun yang mana menurut WHO rentang
usia 45-59 tahun merupakan rentang usia pertengahan (middle age), dimana usia Tn. A
dan Ny. S termasuk dalam rentang usia tersebut.

2. Tugas Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi


Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi adalah mempertahankan
kesehatan dan menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan.

3. Riwayat Keluarga Inti


Tn. A mengatakan tidak ada keluhan kesehatan pada saat dikaji, namun Tn. A
mengatakan bahwa memiliki riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu. Sedangkan Ny.
S mengatakan bahwa dirinya menderita hipertensi juga sejak 2 tahun yang lalu dan
sekitar 5 bulan yang lalu pada saat kontrol kesehatan ke apotek ketika membeli obat
untuk hipertensinya, Ny. S memeriksa kadar gula darahnya dan didapatkan hasil GDS
250 mg/dL. Namun, setelah menajalani pemeriksaan di apotek tersebut, Ny. S tidak
pernah lagi memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan/posyandu selama 1 bulan. Selama
1 bulan tersebut, Ny. S tidak mengonsumsi OAD dan tidak mengontrol kesehatannya ke
fasilitas kesehatan dan posyandu lansia karena merasa tidak ada keluhan apa-apa. Pada
saat sekitar bulan Desember 2021, dan pelaksanaan posyandu lansia, Ny. S merasa
tengkuknya tegang dan sakit kepala, sehingga memutuskan untuk memeriksakan diri ke
posyandu lansia karena memiliki keluhan. Pada awalnya, Ny. S hanya ingin memeriksa
tekanan darah saja, namun pada saat ditanya mengenai pemeriksaan gula darah terakhir,
Ny. S menjawab 250 mg/dL, maka klien diperiksa oleh petugas kesehatan kadar gula
darahnya, dan diperoleh GDS: 213 mg/dL. Setelah pemeriksaan tersebut, Ny. S
mengatakan sempat diberikan OAD, namun tidak pernah meminumnya karena merasa
kadar gula darahnya sudah turun dari pemeriksaan awal dan Ny. S lupa meletakkan
OAD tersebut. Ny. S mengatakan tidak pernah lagi berkunjung ke posyandu lansia
selama 2 bulan berikutnya. Pada kegiatan posyandu lansia di bulan Maret, Ny. S datang
ke posyandu kembali dengan keluhan tidak enak badan, dan terkadang kakinya kebas
dan pada saat pemeriksaan GDS diperoleh hasil 219 mg/dL. Namun, setelah itu Ny. S
mengatakan tidak mendapat terapi OAD dan Ny. S tidak menunjukkan OAD kepada
ners muda. Ny. S hanya menunjukkan obat Amlodipine dan paracetamol saja.

Sedangkan Tn. A mengatakan sama sekali tidak pernah ikut ke posyandu lansia dan
jarang sekali memeriksakan status kesehatannya ke fasilitas kesehatan. Ny. S
mengatakan bahwa sangat jarang meminum obat-obatan untuk hipertensi (Ny. S hanya
meminum obat darah tinggi jika ada keluhan nyeri tengkuk saja). Ny. S mengatakan
hanya mengonsumsi buah-buahan seperti nanas dan mentimun serta mengurangi porsi
dan jadwal makan menjadi sehari 2x makan saja tanpa mengetahui jenis nutrisi apa yang
boleh dan tidak boleh dikonsumsi. Ny. S dan Tn. A mengatakan tidak memiliki JKN
(BPJS).

Hasil pengukuran tanda-tanda vital pada saat pengkajian Ny. S, didapatkan TD: 170/90
mmHg, N: 97 x/menit, Suhu: 36,7oC, RR: 20x/menit, GDS pukul 16.15 WITA: 308
mg/dL. Sedangkan Tn. A tidak memiliki riwayat diabetes melitus berdasarkan hasil
pemeriksaan 5 bulan yang lalu dengan GDS: 125 mg/dL. Pada saat pengkajian Tn. A
didapatkan TD: 160/90 mmHg, N: 89 x/menit, Suhu: 36,5oC, RR: 20x/menit, GDS pukul
16.15 WITA: 108 mg/dL.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga Sebelumnya


Ny. S memiliki 7 bersaudara, terdiri dari 4 perempuan dan 3 laki-laki. Namun, saudara
Ny. S yang pertama dan kedua telah meninggal dunia sejak masih anak-anak. Saudara
Ny. S yang pertama juga menderita diabetes melitus dan sedang dalam masa
pengobatan. Ny. S mengatakan bahwa orang tuanya dahulu tidak pernah menderita
diabetes melitus, jadi menurut Ny. S tidak ada riwayat keturunan diabetes. Namun, Ny.
S mengatakan bahwa pada masa muda Ny. S sangat suka makanan manis, sering minum-
minuman yang manis, teh manis dan makan kue serta membuat kue yang manis-manis
untuk dikonsumsi sendiri dan untuk keluarga, sehingga Ny. S terbiasa dengan makanan
manis, jika makanan/minuman yang dikonsumsi kurang terasa manisnya, maka Ny. S
akan menambahkan gula lagi ke makanan/minumannya.
C. DATA LINGKUNGAN
1. Karakteristik Rumah
Rumah Tn. A adalah rumah semi permanan, lantai rumah menggunakan kayu ulin
dengan luas 5x9 m atau rumah tipe 45 dengan atap menggunakan seng dan kayu triplek.
Ada 2 buah kamar dalam rumah Tn. A, 1 kamar utama dan 1 lagi kamar tamu. Di dalam
rumah Tn. A terdapat 1 dapur yang cukup luas, 1 ruang keluarga, 1 ruang tamu, 1 WC
dan 1 kamar mandi serta tempat cuci pakaian, dan 1 garasi. Saluran pembuangan
dialirkan ke tempat pembuangan septic tank. Tn. A tidak menggunakan sumur, namun
menggunakan sarana PDAM sebagai sumber air bersih yang digunakan sehari-hari
untuk makan, minum, mandi, cuci, dan kakus.

Rumah Tn. A mendapat pencahayaan yang cukup dari sinar matahari dan banyak
terdapat ventilasi serta jendela yang terdapat di ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan
setiap kamar terdapat dua jendela yang setiap pagi selalu dibuka. Penerangan di rumah
menggunakan listrik. Ny. S biasanya sering menyikat kamar mandi dan WC nya agar
tidak licin dengan sikat yang didorong. Perihal sampah, Keluarga biasanya akan
membuang sampah-sampah ke plastic hitam yang selanjutnya akan dibuang ke tempat
pembuangan sampah akhir (TPA) terbuka (open dumping) secara mandiri jika sampah
di rumah sudah penuh. Terdapat fasilitas kesehatan di lingungan rumah Tn. A yaitu
posyandu, praktik mandiri bidan, apotik dan puskesmas. Semua fasilitas kesehatan
tersebut dapat dijangkau dengan menggunakan motor atau berjalan kaki.

Denah Rumah
Denah Isi/Bagian Dalam Rumah

2. Karakteristik Tetangga dan Komunitas


Ny. S megatakan bahwa kehidupan bermasyarakat dan bertetangga di sekitaran
rumahnya berjalan dengan baik dan harmonis. Para tetangga sering bersilaturrahmi dan
berkunjung antar satu sama lain. Ny. S juga mengatakan bahwa sering mengikuti
kegiatan yasinan dan wirid di lingkungan tempat tinggalnya. Begitu pula dengan Tn. A
sering mengikuti kegiatan gotong royong di sekitar tempat tinggalnya, meskipun
menurut pemaparan Tn. A tidak ada kegiatan khusus untuk pengajian bapak-bapak.
Hubungan antara tetangga terjalin baik, saling menghormati dan kerukunan terjalin.

3. Mobilitas Geografis Keluarga


Ny. S dan Tn. A sama-sama lahir di Desa/Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Sungai
Tabuk. Ny. S dan Tn. A dibesarkan di Desa/Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan
Sungai Tabuk dan hingga sekarang masih bertempat tinggal di Desa/Kelurahan Sungai
Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk. Meskipun hanya berpindah rumah saja, yaitu dari
rumah orang tua menjadi rumah pribadi dengan jarak yang dekat dan masih dalam satu
desa/kelurahan. Ny. S dan Tn. A sudah tinggal di Desa/Kelurahan Sungai Lulut,
Kecamatan Sungai Tabuk lebih dari 50 tahun.

4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat


Perkumpulan anggota keluarga biasanya dilaksanakan setiap saat, karena sebagian
besar aktivitas dilakukan di rumah dan Tn. A hanya akan beraktivitas di luar rumah jika
ada urusan jual beli mobil saja. Selain itu, untuk interaksi dengan masyarakat dapat
terjalin jika ada kegiatan keagamaan atau kegiatan gotong royong di sekitar tempat
tinggal Tn. A.
5. Sistem Pendukung Keluarga
Dalam keluarga Tn. A pendukung utama keluarga adalah Tn. A sebagai kepala keluarga
dan tulang punggung keluarga. Selain itu, Tn. A yang biasanya lebih cakap dalam
berurusan disbanding dengan Ny. S. Keluarga Tn. A kalau ada yang sakit, biasanya
hanya dibelikan obat warung dan sesekali dibawa ke apotik untuk membeli obat. Ny. S
mengatakan jarang sekali memeriksakan penyakitnya ke pelayanan kesehatan begitu
juga dengan Tn. A.

D. STRUKTUR KELUARGA
1. Struktur Peran (Formal dan Informal)
a. Tn. A
Formal: Tn. A berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggung jawab dalam
menafkahi keluarganya.
Informal: Tn. A berepran sebagai pembimbing dkeluarganya yaitu pembimbing
bagi istrinya. Pada posisi ini, Tn. A tidak mengeluhkan ada masalah karena Tn. A
menyadari bahwa semua itu harus dijalaninya dan Tn. A menjalankan perannya
dengan baik.
b. Ny. S
Formal: Ny. S berperan sebagai ibu rumah tangga, menjaga dan merawat suami.
Dalam menjalankan peran ini, Ny. S tidak memiliki masalah dan ia mampu dengan
baik menjalankan perannya.
Informal: Ny. S selaku ibu rumah tangga juga berperan dalam mengatur kebutuhan
rumah tangga.

2. Nilai atau Norma Keluarga


Nilai kebudayaan yang dianut oleh keluarga yaitu budaya Banjar dan keluarga
menganut agama Islam. Keluarga sangat mendukung nilai dan norma budaya mereka
seperti saling menghormati satu sama laindan berpakaian yang sopan. Keluarga
menganut nilai-nilai tersebut secara sadar dan tidak ada konflik yang menonjol dalam
keluarga ini.

3. Pola Komunikasi Keluarga


Pola komunikasi yang diterapkan bersifat terbuka antara suami-istri. Setiap ada
masalah pasti dibicarakan dan dipecahkan secara bersama sebelum mengambil
keputusan. Biasanya keputusan diambil oleh Tn. A.

4. Struktur Kekuatan Keluarga


Pengambilan keputusan dalam keluarga ditentukan oleh Tn. A sebagai kepala keluarga.
Namun, itupun sesuai dengan hasil musyawarah semua anggota keluarganya (suami-
istri) dan mengatur anggaran keluarga diserahkan sepenuhnya kepada Ny. S selaku ibu
rumah tangga disamping mengatur anggaran pengeluaran.
E. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
Tn. A dan Ny. S saling menyayangi dan saling peduli. Hubungan suami istri berjalan
harmonis, saling mendukung satu sama lain dalam segala aspek, termasuk aspek
kesehatan, seperti jika Ny. S memerlukan sakit, maka Tn. A akan segera membelikan
obat ke warung terdekat.
2. Fungsi Sosialisasi
Tn. A dan Ny. S mengatakan tidak pernah ada permasalahan dengan tetangga di sekitar
tempat tinggalnya. Begitupun juga dengan interaksi dengan sanak family lainnya.
Setiap hari Tn. A dan Ny. S juga berkumpul bersama di rumah untuk berdiskusi.
3. Fungsi Reproduksi
Tn. A dan Ny. S tidak mempunyai anak, sehingga Tn. A dan Ny. S hanya tinggal berdua
saja dan Ny. S sudah menopause dan tidak pernah menggunakan kontrasespsi.
4. Fungsi Ekonomi
Kebutuhan sehari-hari keluarga cukup terpenuhi dari penghasilan Tn. A.
5. Fungsi Perawatan Keluarga
a. Mengenal masalah kesehatan
Pada saat pengkajian Tn. A belum mampu mengenal masalah kesehatan pada Ny.
S secara rinci dan keseluruhan, ini terbukti pada saat ditanya pada keluarga penyakit
Ny. S, keluarga mampu menjawab bahwa penyakit DM adalah penyakit gula darah
tinggi dan tidak boleh makan makanan yang manis, namun Ny. S dan Tn. A belum
mengetahui secara rinci terkait dengan sebab, komplikasi dan diet makanan yang
tepat bagi penderita DM. Tn. A dan Ny. S juga tidak mengetahui tentang diabetes
melitus yang diderita Ny. S kalau 5 bulan yang lalu tidak memeriksakan diri, namun
saat ini Ny. S hanya memeriksakan diri ke posyandu lansia, setelah 2 bulan yang
lalu tidak pernah memeriksakan diri lagi ke posyandu lansia.
b. Membuat keputusan tindakan yang tepat
Jika Ny. S sakit, alternatif yang keluarga lakukan adalah menyuruh Ny. S untuk
meminum obat warung. Keluarga Tn. A jarang memeriksakan kesehatannya secara
teratur karena kesibukan dan Tn. A hanya meminta Ny. S untuk beristirahat jika
sedang tidak enak badan. Dan jika sakitnya tidak sembuh, maka keluarga akan
membawa Ny. S ke dokter/rumah sakit.
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
Tn. A mengatakan tidak mengetahui secara detail tentang penyakit Ny. S, dan jika
Ny. S mengeluh tidak enak badan maka Tn. A hanya membelikan obat yang
mengandung paracetamol atau analgesik meskipun tidak mengetahui secara pasti
kondisi/penyakit yang dialami oleh Ny. S. Begitu pun dengan Ny. S yang
mengatakan bahwa jika tidak enak badan sangat jarang mau minum obat dan hanya
melakukan pengobatan alami seperti meminum air perasan mentimun atau
memakan nanas setidaknya 1 biji meskipun Ny. S memiliki riwayat gastritis, Ny. S
tetap mengonsumsi nanas. Tn. A mengatakan tidak mengetahui diet makanan yang
tepat bagi Ny. S.
d. Mempertahankan/memodifikasi lingkungan rumah yang sehat
Kondisi rumah Ny. S cukup bersih, pencahayaan cukup. Ny. S juga mengatakan
bahwa sering melakukan aktivitas fisik seperti menyapu, mencuci, menyikat lantai
kamar mandi dan WC jika tidak ada kesibukan lain, sehingga rumah senantiasa
bersih dan terawatt.
e. Menggunakan fasilitas kesehatan
Keluarga belum memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan maksimal, terbukti
keluarga jarang memeriksakan Ny. S ke fasilitas kesehatan dan ke fasilitas
kesehatan jika ada keluhan saja. Begitu juga dengan Tn. A. Keluarga terbiasa
menggunakan obat-obatan tradisional, alami dan cenderung untuk lebih memilih
membeli di warung. Namun, jika tidak ada perubahan pada kondisi kesehatannya
setelah sudah lama mengonsumsi obat warung, maka keluarga akan memeriksakan
kesehatannya ke fasilitas kesehatan. Namun, mengatakan jarang ke fasilitas
kesehatan untuk sekedar kontrol kesehatan rutin setiap pekannya.

F. STRES DAN KOPING KELUARGA


1. Stresor Jangka Pendek dan Panjang
a. Stresor jangka pendek
Tn. A dan Ny. S tidak terlalu mencemaskan mengenai penyakit yang diderita Ny.
S. Keluarga menghadapi masalah/penyakit dengan lapang dada dan mengatasi
penyakit sesuai dengan kemampuannya saja.
b. Stresor jangka panjang
Tn. A dan Ny. S mengatakan sangat berpasrah pada Allah SWT terkait dengan
kondisi kesehatannya. Ny. S mengatakan tidak ingin terlalu memikirkan
keluhannya dan berusaha untuk melakukan aktivitas seperti biasanya dan berusaha
untuk mengurangi konsumsi makanan yang manis-manis lagi untuk saat ini dan
sampai selanjutnya.
2. Kemampuan Keluarga Berespon terhadap Stresor
Keluarga mampu merespon setiap masalah yang dihadapi dengan baik dan dengan
berdiskusi satu sama lain. Keluarga juga berusaha untuk berikhtiar, berdoa dan pasrah
pada Allah SWT dan meyakini bahwa semua sudah diatur oleh Allah SWT dalam setiap
permasalahan yang dihadapi, termasuk aspek kesehatan.
3. Strategi Koping yang Digunakan
Keluarga Tn. A selalu bermusyawarah dengan Ny. S ataupun sanak family lainnya jika
terdapat permasalahan. Selain itu, keluarga Tn. A dan Ny. S juga senantiasa memelihara
hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Keluarga Ny. S juga selalu berdoa kepada
Allah SWT dalam segala aspek.
4. Strategi Adaptasi Disfungsional
Apabila banyak permasalahan yang dihadapi, keluarga Tn. A akan meminta bantuan
keluarga terdekat.
5. Harapan Keluarga (terhadap petugas kesehatan/perawat)
Tn. A dan Ny. S mengharapkan agar petugas kesehatan dapat memberikan pelayanan
kesehatan terhadap mereka dan membantu bila keluarga mengalami kesulitan dalam
hal kesehatan semaksimal mungkin. Tn. A dan Ny. S juga berharap agar mereka
senantiasa diberikan kesehatan.

G. PEMERIKSAAN FISIK TIAP ANGGOTA KELUARGA


Anggota keluarga yang di kaji
Jenis Anamnesa
Tn. A Ny. S

Tekanan Darah 160/90 mmHg 170/90 mmHgf

Nadi 89 x/menit 97 x/menit

RR 20 x/menit 20 x/menit

Suhu 36,7oC 36,5oC

BB 62 Kg 70 Kg

TB 162 cm 160 cm

Kepala Rambut bersih, warna hitam pendek Rambut bersih, warna hitam sebahu,
dan sebagian beruban sedikit beruban

Mata Simetris, konjungtiva tidak anemia, Simetris, konjungtiva tidak anemia,


sclera tidak ikterik sclera tidak ikterik, penglihatan Ny. S
sedikit kabur kalau membaca

Hidung Bersih, penciuman normal (mampu Bersih, penciuman normal (mampu


membedakan aroma), tidak ada membedakan aroma), tidak ada
sekret, tidak ada polip, tidak ada sekret, tidak ada polip, tidak ada
pernafasan cuping hidung pernafasan cuping hidung

Telinga Bersih, simetris, tidak ada serumen, Bersih, simetris, tidak ada serumen,
fungsi pendengaran baik, tidak ada fungsi pendengaran baik, tidak ada
nyeri tekan/lepas dibagian belakang nyeri tekan/lepas dibagian belakang
telinga telinga

Mulut Bersih, mukosa bibir lembab, tidak Bersih, mukosa bibir lembab, tidak
ada stomatitis pada area mulut, lidah ada stomatitis pada area mulut, lidah
bersih, bibir dan lidah berwarna bersih, bibir dan lidah berwarna
merah muda, jumlah gigi tidak merah muda, jumlah gigi lengkap.
lengkap (gigi graham 1 buah sebelah
kanan sudah dicabut karena
berlubang)

Leher Tidak terdapat pembesaran kelenjar Tidak terdapat pembesaran kelenjar


tiroid, tidak ada nyeri menelan tiroid, tidak ada nyeri menelan

Dada (Paru-Paru Dada simetris, tidak ada penggunaan Dada simetris, tidak ada penggunaan
& Jantung) otot bantu pernafasan, auskultasi otot bantu pernafasan, auskultasi
lapang paru kanan dan kiri terdengar lapang paru kanan dan kiri terdengar
vesikuler, iktus kordis tidak tampak, vesikuler, iktus kordis tidak tampak,
bunyi jantung S1-S2 tunggal (normal) bunyi jantung S1-S2 tunggal (normal)
Abdomen Bentuk datar, simetris, tidak ada Bentuk datar, simetris, tidak ada
asites, tidak ada nyeri tekan/lepas, asites, tidak ada nyeri tekan/lepas,
hepar dan limpa tidak teraba, ginjal hepar dan limpa tidak teraba, ginjal
tidak teraba, perkusi gaster timpani, tidak teraba, perkusi gaster timpani,
perkusi hepar pekak/dullness. perkusi hepar pekak/dullness.

Ekstremitas atas Tidak ada varises dan edema, tidak Tidak ada varises dan edema, tidak
dan bawah ada fraktur, tidak ada paralisis, skala ada fraktur, tidak ada paralisis, skala
kekuatan otot 5/5/5/5 (untuk semua kekuatan otot 5/5/5/5 (untuk semua
ektremitas) ektremitas)

Integumen Warna kulit normal, tidak ada Warna kulit normal, tidak ada
sianosis, tidak ada eritema, tidak ada sianosis, tidak ada eritema, tidak ada
luka dan xerosis pada kulit, CRT < 2 luka dan xerosis pada kulit, CRT < 2
detik. detik.

Pemeriksaan GDS: 125 mg/dL GDS: 308 mg/dL


penunjang
lainnya
No. DATA PROBLEM ETIOLOGI DIAGNOSA
KEPERAWATAN

1. DS: Ketidakmampuan Kurang Ketidakmampuan


- Ny. S mengatakan bahwa dirinya keluarga dalam pengetahuan keluarga dalam
menderita hipertensi juga sejak 2 mengenal masalah tentang mengenal masalah dan
tahun yang lalu dan sekitar 5 dan merawat program merawat anggota
bulan yang lalu pada saat kontrol anggota keluarga terapeutik keluarga yang sakit
kesehatan ke apotik ketika yang sakit (diabetes berhubungan dengan
membeli obat untuk melitus) kurang pengetahuan
hipertensinya, Ny. S memeriksa tentang program
kadar gula darahnya dan terapeutik (diabetes
didapatkan hasil GDS 250 melitus)
mg/dL. (NANDA Diagnosa
- Ny. S mengatakan tidak pernah Keperawatan: 147).
lagi memeriksakan diri ke
fasilitas kesehatan/posyandu
selama 1 bulan. Selama 1 bulan
tersebut, Ny. S tidak
mengonsumsi OAD dan tidak
mengontrol kesehatannya ke
fasilitas kesehatan dan posyandu
lansia karena merasa tidak ada
keluhan apa-apa.
- Ny. S mengatakan sempat
diberikan OAD, namun tidak
pernah meminumnya karena
merasa kadar gula darahnya
sudah turun dari pemeriksaan
awal dan Ny. S lupa meletakkan
OAD tersebut.
- Ny. S mengatakan tidak pernah
lagi berkunjung ke posyandu
lansia selama 2 bulan berikutnya.
Pada kegiatan posyandu lansia di
bulan Maret, Ny. S datang ke
posyandu kembali dengan
keluhan tidak enak badan dan
kakinya kebas. Pada saat
pemeriksaan GDS diperoleh hasil
219 mg/dL. Namun, setelah itu
Ny. S mengatakan tidak
mendapat terapi OAD dan Ny. S
tidak menunjukkan OAD kepada
ners muda.
- Tn. A mengatakan sama sekali
tidak pernah ikut ke posyandu
lansia dan jarang sekali
memeriksakan status
kesehatannya ke fasilitas
kesehatan.
- Keluarga Tn. A mengatakan
bahwa sangat jarang meminum
obat-obatan untuk hipertensi (Ny.
S hanya meminum obat darah
tinggi jika ada keluhan nyeri
tengkuk saja).
- Ny. S mengatakan hanya
mengonsumsi buah-buahan
seperti nanas dan mentimun serta
mengurangi porsi dan jadwal
makan menjadi sehari 2x makan
saja tanpa mengetahui jenis
nutrisi apa yang boleh dan tidak
boleh dikonsumsi.
- Tn. A mengatakan tidak
mengetahui diet makanan yang
tepat bagi Ny. S.

DO:
- Hasil pengukuran tanda-tanda
vital pada saat pengkajian Ny. S,
didapatkan TD: 170/90 mmHg,
N: 97 x/menit, Suhu: 36,7oC, RR:
20x/menit, GDS pukul 16.15
WITA: 308 mg/dL.
- Tn. A tidak memiliki riwayat
diabetes melitus. Pada saat
pengkajian Tn. A didapatkan TD:
160/90 mmHg, N: 89 x/menit,
Suhu: 36,5oC, RR: 20x/menit,
GDS pukul 16.15 WITA: 108
mg/dL.

2. Faktor Risiko: Risiko - Risiko ketidakstabilan


• Pemantauan glukosa darah tidak ketidakstabilan kadar glukosa darah
adekuat kadar glukosa (NANDA Diagnosis
• Manajemen medikasi tidak efektif darah (00179) Keperawatan Hal. 174)
oleh keluarga
• Manajemen diabetes tidak tepat
oleh keluarga
• Keluarga kurang pengetahuan
tentang manajemen penyakit
• Keluarga kurang kepatuhan pada
rencana manajemen diabetes
• Ketidakmampuan keluarga dalam
mengenal masalah
• Ketidakmampuan keluarga dalam
merawat anggota keluarga yang
sakit
H. ANALISIS DATA
I. PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Daftar Diagnosa Keperawatan
1.1 Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah dan merawat anggota
keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang program
terapeutik (diabetes melitus)
1.2 Risiko ketidakstabilan kadar gula darah

2. Skoring Prioritas Masalah


Pembenaran
No. Kriteria Score Bobot Skoring
Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah dan merawat anggota keluarga
yang sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang program terapeutik
(diabetes melitus)
1. Sifat Masalah
Skala: Ny. S mengatakan tidak
pernah mengonsumsi obat
• Tidak/kurang
anti diabetes (OAD) dan
sehat (3)
! jarang mengontrol
• Ancaman 3 1 ×1 = 3
! kesehatannya ke fasilitas
kesehatan (2)
kesehatan dan biasanya
• Keadaan sejahtera hanya mengonsumsi obat
(1) warung
2. Kemungkinan
masalah untuk di Tn. A dan Ny. S
ubah mengatakan mau
Skala: 1 memeriksakan dirinya dan
1 2 ×2 = 1
• Mudah (2) 2 mau menerima informasi
• Sebagian (1) yang disampaikan ners
• Tidak dapat (0) muda

3. Potensial masalah
untuk dicegah Ny. S mengatakan
Skala: 2 didiagnosa diabetes
×1 melitus sejak 5 bulan lalu
• Tinggi (3) 2 1 3 dan sudah mulai rutin
• Cukup (2) = 2/3
kunjungan ke posyandu
• Rendah (1) lansia
4. Menonjolnya
masalah
Skala:
• Masalah berat, Keluarga menyadari
harus segera 1 pentingnya masalah untuk
ditangani (2) ×1
1 1 2 diatasi secara bertahap
• Ada masalah, = 1/2 untuk meningkatkan status
tetapi tidak perlu kesehatan Ny. S
ditangani (1)
• Masalah tidak
dirasakan (0)
TOTAL 5,17
Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah

1. Sifat Masalah Masalah sudah terjadi,


Skala: namun kadar gula darah
• Tidak/kurang Ny. S masih tidak stabil,
sehat (3) 2 terkadang turun dan dalam
×1
• Ancaman 2 1 3 beberapa jam berikutnya
kesehatan (2) = 2/3 bisa saja naik lagi
• Keadaan sejahtera sehingga bisa saja
(1) mengancam kesehatan Ny.
S jika tidak terkontrol
2. Kemungkinan
masalah untuk di
ubah Masalah dapat diubah
Skala: 1 tergantung peran aktif dari
1 2 ×2 = 1
• Mudah (2) 2 Ny. S dalam mematuhi
• Sebagian (1) terapi pengobatan dan diet
• Tidak dapat (0)

3. Potensial masalah
untuk dicegah
Skala: 2 Perlu kepatuhan dan waktu
• Tinggi (3) 2 1 ×1 untuk mengubah
3
• Cukup (2) = 2/3 kebiasaan hidup sehat
• Rendah (1)

4. Menonjolnya
masalah
Skala:
• Masalah berat,
Keluarga menyadari
harus segera 1 pentingnya masalah untuk
ditangani (2) ×1
1 1 2 diatasi secara bertahap
• Ada masalah,
= 1/2 untuk meningkatkan status
tetapi tidak perlu
kesehatan Ny. S
ditangani (1)
• Masalah tidak
dirasakan (0)

TOTAL 2,8

3. Prioritas Diagnosa Keperawatan


No. Diagnosa Keperawatan Skor
1. Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal 5,17
masalah dan merawat anggota keluarga yang
sakit berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang program terapeutik
(diabetes melitus)

2. Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah 2,8


J. INTERVENSI (PERENCANAAN) KEPERAWATAN
No. Diagnosa Tujuan Nursing Outcome (NOC)/Luaran Keperawatan Nursing Intervention (NIC)/Intervensi
Keperawatan (SLKI) Keperawatan (SIKI)

1. Ketidakmampuan Manajemen Kesehatan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi Program Pengobatan (I. 12441)
keluarga dalam (L. 12104) 1. Kriteria Hasil:
mengenal masalah Keluarga menunjukkan pemahaman terkait Observasi
dan merawat Tujuan Umum: dengan pentingnya pengobatan dan - Identifikasi pengetahuan tentang pengobatan
anggota keluarga Setelah dilakukan kunjungan pemeriksaan rutin kesehatan ke fasilitas yang direkomendasikan.
yang sakit rumah asuhan keperawatan kesehatan - Identifikasi pengobatan tradisional dan
berhubungan keluarga selama 2x atau lebih, Standard: kemungkinan efek terhadap pengobatan.
dengan kurang diharapkan manajemen Pengobatan teratur dapat meminimalkan efek
pengetahuan kesehatan klien dan keluarga samping obat yang tidak diinginkan serta Mandiri/Terapeutik
tentang program meningkat, dimana klien dan mengetahui penggunaan obat dengan prinsip 6 - Fasilitasi informasi tertulis atau leaflet untuk
terapeutik (diabetes keluarga mampu mengenal benar obat. Selain itu, pemeriksaan rutin ke meningkatkan pemahaman.
melitus) masalah dan keluarga memahami fasilitas kesehatan mampu meminimalkan - Berikan dukungan untuk menjalani program
perawatan pada penderita diabetes terjadinya komplikasi akibat diabetes melitus. pengobatan dengan baik dan benar
melitus. - Libatkan keluarga untuk memberikan
2. Kriteria Hasil: dukungan pada pasien selama pengobatan.
Tujuan Khusus: Keluarga menunjukkan minat meningkatkan
Setelah dilakukan kunjungan perilaku sehat Edukasi
rumuah 1 x 45 menit, keluarga Standard: - Anjurkan meminum obat sesuai indikasi
mampu memahami pentingnya Ketertarikan pada penjelasan dan materi yang - Anjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu
pengobatan/konsumsi obat disampaikan oleh ners muda. Selain itu materi yang tidak dimengerti sebelum dan sesudah
diabetes melitus secara baik tentang perilaku sehat seperti, sering pengobatan dilakukan
dibawah pengawasan tenaga melakukan aktivitas fisik sesuai usia, - Anjurkan untuk memeriksakan diri secara
kesehatan yang professional. menghindari rokok dan asap rokok, teratur ke fasilitas kesehatan dan
mengurangi konsumsi makanan yang tinggi menghindari membeli obat secara
gula dan garam, rutin memeriksakan diri ke sembarangan dan tanpa resep dokter serta
fasilitas kesehatan. kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Informasikan fasilitas kesehatan yang dapat
digunakan selama pengobatan.
2. Risiko Tingkat Pengetahuan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi Kesehatan (I.12383) dan Edukasi
ketidakstabilan (L. 12111) 1. Kriteria Hasil: Diet (I. 12369)
kadar glukosa Keluarga mampu menyebutkan definisi
darah (NANDA Tujuan Umum: diabetes melitus dengan bahasa sendiri Observasi
Diagnosa Setelah dilakukan kunjungan Standard: - Identifikasi kemampuan pasien dan keluarga
Keperawatan Hal. rumah asuhan keperawatan Diabetes melitus (kencing manis) merupakan menerima informasi.
174) keluarga selama 2x atau lebih, kondisi kadar gula darah sewaktu diatas 180 - Identifikasi pengetahuan saat ini (apersepsi)
diharapkan tingkat pengetahuan mg/dL dan gula darah puasa diatas 125 mg/dL. - Identifikasi pola makan saat ini dan masa lalu
klien meningkat, dimana klien
dan keluarga mampu mengenal 2. Kriteria Hasil: Mandiri/Terapeutik
dan memahami bagaimana Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 - Persiapkan materi, media atau alat peraga
perawatan diabetes melitus. penyebab diabetes melitus (jika perlu)
Standard: - Jadwalkan waktu yang tepat untuk
Tujuan Khusus: Penyebab diabetes melitus antara lain, genetic memberikan pendidikan kesehatan
Setelah dilakukan kunjungan (keturunan), pola makan kurang sehat, dan - Berikan kesempatan pasien dan keluarga
rumuah 1 x 45 menit, keluarga kurangnya aktivitas fisik. untuk bertanya
mampu mengenal diabetes melitus
dan diet yang dianjurkan bagi 3. Kriteria Hasil: Edukasi
penderita diabetes melitus. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 1. Jelaskan definisi, penyebab, tanda dan
tanda dan gejala diabetes melituss. gejala (faktor risiko) diabetes mlitus
Standard: 2. Jelaskan tujuan kepatuhan diet terhadap
Tanda dan gejala DM antara lain, sering kesehatan dan kondisi diabetes melitus
kencing, sering haus dan mudah lapar. 3. Informasikan makanan yang diperbolehkan
dan dilarang
4. Kriteria Hasil: 4. Anjurkan melakukan aktivitas fisik atau
Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 olahraga sesuai toleransi
bentuk diet yang dapat dilakukan penderita
DM. Kolaborasi
Standard: Kolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.
Diet yang dianjurkan yaitu, mengurangi Kolaborasi terapi modalitas (senam kaki
konsumsi makanan manis, mengindari diabetes)
makanan tinggi garam dan cepat saji serta
berlemak, dan makan sehat dan bernutrisi
dengan teratur
KUNJUNGAN KE-1
K. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Selasa, 22 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 22 Maret Ketidakmampuan Observasi
2022 (09.00 keluarga dalam - Mengidentifikasi pengetahuan tentang - Keluarga mengatakan tidak mengetahui
WITA) mengenal masalah pengobatan yang direkomendasikan. terkait dengan pengobatan apa yang
direkomendasikan untuk penderita
dan merawat - Mengidentifikasi pengobatan tradisional
diabetes melitus.
anggota keluarga dan kemungkinan efek terhadap - Keluarga mengatakan bahwa biasanya
yang sakit pengobatan. menggunakan pengobatan tradisional
berhubungan seperti mengonsumsi mentimun dan
dengan kurang memakan nanas.
pengetahuan Mandiri/Terapeutik
tentang program - Memfasilitasi informasi tertulis atau leaflet - Ners muda telah mempersiapkan SAP dan
leaflet mengenai diabetes melitus dan
terapeutik untuk meningkatkan pemhaman.
pengobatan diabetes melitus.
(diabetes melitus) - Memberikan dukungan untuk menjalani - Keluarga mengatakan merasa senang
program pengobatan dengan baik dan benar diperhatikan oleh ners muda saat
- Melibatkan keluarga untuk memberikan kunjungan dan penyampaian materi.
dukungan pada pasien selama pengobatan. - Keluarga dilibatkan dalam proses
penyampaian materi dan keluarga
Edukasi mengatakan memahami apa yang
disampaikan ners muda.
- Menganjurkan meminum obat sesuai
indikasi
- Menganjurkan untuk bertanya jika ada Keluarga mengatakan memahami pentingnya
sesuatu yang tidak dimengerti sebelum dan meminum obat sesuai dengan indikasi dan
sesudah pengobatan dilakukan pentingnya memeriksakan diri secara teratur
- Menganjurkan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dan menghindari
pengginaan obat sembarangan.
secara teratur ke fasilitas kesehatan dan
menghindari membeli obat secara
sembarangan dan tanpa resep dokter serta
kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Menginformasikan fasilitas kesehatan yang
dapat digunakan selama pengobatan.
2. 22 Maret Risiko Observasi
2022 (09.00 ketidakstabilan - Mengidentifikasi kemampuan pasien dan - Keluarga mampu menerima informasi
WITA) kadar glukosa keluarga menerima informasi. yang akan disampaikan dengan baik tanpa
ada kendala. Keluarga juga sudah cukup
darah (NANDA - Mengidentifikasi pengetahuan saat ini
mengetahui tentang diabetes melitus
Diagnosa (apersepsi) (kencing manis).
Keperawatan Hal. - Mengidentifikasi pola makan saat ini dan - Ny. S mengatakan bahwa dimasa lalu
174) masa lalu sangat suka mengonsumsi makanan yang
manis dan cepat saji serta malas untuk
Mandiri/Terapeutik berolahraga.
- Mempersiapkan materi, media atau alat
peraga (jika perlu)
- Ners muda telah mempersiapkan materi
- Membuat jadwal yang tepat untuk dan leaflet untuk penyampaian materi
memberikan pendidikan kesehatan serta telah membuat jadwal dan
- Memberikan kesempatan pasien dan kesepakatan dengan klien dan keluarga
keluarga untuk bertanya menyepakati jadwal tersebut.
- Keluarga menanyakan terkait dengan diet
Edukasi yang baik untuk penderita diabetes
melitus.
1. Menjelaskan definisi, penyebab, tanda dan
gejala (faktor risiko) diabetes mlitus
2. Menjelaskan tujuan kepatuhan diet Ners muda menjelaskan tentang materi sesuai
terhadap kesehatan dan kondisi diabetes dengan SAP dan leaflet dan keluarga
melitus memahami apa yang disampaikan ners muda.
3. Memberikan informasikan makanan yang
diperbolehkan dan dilarang
4. Menganjurkan melakukan aktivitas fisik
atau olahraga sesuai toleransi

Kolaborasi
Berkolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu. Proses kolaborasi belum dilakukan
Berkolborasi terapi modalitas (senam kaki Senam kaki diabetes sudah dilaksanakan
diabetes)

O. EVALUASI KEPERAWATAN (CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP)


Hari /Tanggal: Selasa, 22 Maret 2022
No. Jam Daignosa Respon Subjektif Respon Objektif (O) Analisis Masalah Perencanaan Paraf
Evaluasi NANDA (S) (A) Selanjutnya (P)

1. 09. 45 Ketidakmampuan keluarga Keluarga - Keluarga terlihat mengangguk dan Masalah belum Intervensi
WITA dalam mengenal masalah mengatakan memahami materi yang disampaikan teratasi dilanjutkan
dan merawat anggota mengerti dengan oleh ners muda.
apa yang - GDS Ny. S: 289 mg/dL
keluarga yang sakit
disampaikan oleh - Keluarga dapat mengungkapkan
berhubungan dengan kurang ners muda kembali cara merawat keluarga dengan
pengetahuan tentang diabetes melitus, kebutuhan diet dan
program terapeutik (diabetes terapi bagi penderita diabetes melitus.
melitus) (NANDA Diagnosa
Keperawatan Hal. 147).
2. 09.45 Risiko ketidakstabilan kadar Keluarga - Keluarga terlihat menangguk dan Masalah belum Intervensi
WITA glukosa darah (NANDA mengatakan memahami materi yang disampaikan teratasi dilanjutkan
Diagnosa Keperawatan Hal. mengerti dengan oleh ners muda.
apa yang - GDS Ny. S: 289 mg/dL
174)
disampaikan oleh - Keluarga dapat mengungkapkan
ners muda kembali cara merawat keluarga dengan
diabetes melitus, kebutuhan diet dan
terapi bagi penderita diabetes melitus.
- Klien masih seikit kebingungan untuk
melakukan senam kaku diabetes untuk
pertama kalinya
KUNJUNGAN KE-2
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Kamis, 24 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 24 Maret 2022 Ketidakmampuan Edukasi
(16.00 WITA) keluarga dalam - Menganjurkan meminum obat sesuai indikasi
mengenal masalah dan - Menganjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu yang Keluarga mengatakan memahami
pentingnya meminum obat sesuai dengan
merawat anggota tidak dimengerti sebelum dan sesudah pengobatan
indikasi dan pentingnya memeriksakan
keluarga yang sakit dilakukan diri secara teratur ke fasilitas kesehatan
berhubungan dengan - Menganjurkan untuk memeriksakan diri secara teratur dan menghindari pengginaan obat
kurang pengetahuan ke fasilitas kesehatan dan menghindari membeli obat sembarangan serta keluarga
tentang program secara sembarangan dan tanpa resep dokter serta merencanakan ingin memeriksakan Ny. S
terapeutik (diabetes kerugian akibat penggunaan obat sembarangan. ke fasilitas kesehatan.
melitus) (NANDA - Menginformasikan fasilitas kesehatan yang dapat
Diagnosa Keperawatan digunakan selama pengobatan.
Hal. 147). - Memotivasi untuk memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan.

2. 24 Maret 2022 Risiko ketidakstabilan Edukasi


(16.00 WITA) kadar glukosa darah 1. Menjelaskan kembali tujuan kepatuhan diet terhadap - Keluarga mampu menerima
(NANDA Diagnosa kesehatan dan kondisi diabetes melitus informasi yang akan disampaikan
dengan baik tanpa ada kendala.
Keperawatan Hal. 174) 2. Memberikan informasikan makanan yang
- Klien mengatakan memahami terakit
diperbolehkan dan dilarang dengan diet untuk penderita DM.
3. Menganjurkan melakukan aktivitas fisik atau olahraga
sesuai toleransi
4. Memotivasi untuk mengonsumsi makanan yang sesuai
untuk penderita DM
Kolaborasi
Proses kolaborasi belum dilakukan
Berkolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.
Senam kaki diabetes sudah dilakukan dan
Berkolaborasi untuk terapi modalitas (senam kaki klien mampu mengikuti dengan baik
diabetes
EVALUASI KEPERAWATAN (CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP)
Hari /Tanggal: Kamis, 24 Maret 2022
No. Jam Daignosa Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Perencanaan Paraf
Evaluasi NANDA Masalah (A) Selanjutnya (P)

1. 16. 45 Ketidakmampuan keluarga - Keluarga mengatakan mengerti - Keluarga terlihat Masalah Intervensi dilanjutkan
WITA dalam mengenal masalah dan dengan apa yang disampaikan mengangguk dan belum teratasi
merawat anggota keluarga oleh ners muda memahami materi
- Ny. S dan keluarga mengatakan yang disampaikan
yang sakit berhubungan
belum sempat memeriksakan diri oleh ners muda.
dengan kurang pengetahuan ke puskesmas atau ke praktik - GDS Ny. S: 305
tentang program terapeutik dokter namun keluarga mg/dL
(diabetes melitus) (NANDA merencanakan akan membawa
Diagnosa Keperawatan Hal. Ny. S ke fasilitas kesehatan
147). terdekat.

2. 16.45 Risiko ketidakstabilan kadar Keluarga mengatakan mengerti - Keluarga terlihat Masalah Intervensi dilanjutkan
WITA glukosa darah (NANDA dengan apa yang disampaikan oleh menangguk dan belum teratasi
Diagnosa Keperawatan Hal. ners muda dan mengatakan telah memahami materi
memulai pengaturan porsi makan dan yang disampaikan
174)
jenis nutrisi yang akan dikonsumsi oleh ners muda.
- GDS Ny. S: 305
mg/dL
- Klien terlihat
mampu melakukan
senam kaki diabetes
dengan baik
meskipun masih ada
sedikit keliru
KUNJUNGAN KE-3
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Sabtu, 26 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 26 Maret 2022 Ketidakmampuan keluarga Edukasi
(09.00 WITA) dalam mengenal masalah dan - Menganjurkan meminum obat sesuai indikasi
merawat anggota keluarga - Menganjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu yang Keluarga mengatakan memahami
pentingnya meminum obat sesuai dengan
yang sakit berhubungan tidak dimengerti sebelum dan sesudah pengobatan
indikasi dan pentingnya memeriksakan diri
dengan kurang pengetahuan dilakukan secara teratur ke fasilitas kesehatan dan
tentang program terapeutik - Menganjurkan untuk memeriksakan diri secara menghindari pengginaan obat sembarangan
(diabetes melitus) (NANDA teratur ke fasilitas kesehatan dan menghindari serta keluarga merencanakan ingin
Diagnosa Keperawatan Hal. membeli obat secara sembarangan dan tanpa resep memeriksakan Ny. S ke fasilitas kesehatan.
147). dokter serta kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Menginformasikan fasilitas kesehatan yang dapat
digunakan selama pengobatan.
- Memotivasi untuk memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan.

2. 26 Maret 2022 Risiko ketidakstabilan kadar Edukasi


(09.00 WITA) glukosa darah (NANDA 1. Menjelaskan kembali tujuan kepatuhan diet - Keluarga mampu menerima informasi
Diagnosa Keperawatan Hal. terhadap kesehatan dan kondisi diabetes melitus yang akan disampaikan dengan baik
tanpa ada kendala.
174) 2. Memberikan informasikan makanan yang
- Klien mengatakan memahami terakit
diperbolehkan dan dilarang dengan diet untuk penderita DM.
3. Menganjurkan melakukan aktivitas fisik atau
olahraga sesuai toleransi
4. Memotivasi untuk mengonsumsi makanan yang
sesuai untuk penderita DM
Kolaborasi
Proses kolaborasi belum dilakukan
Berkolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.
Klien mampu melakukan secara mandiri
Senam kaki diabetes
EVALUASI KEPERAWATAN (CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP)
Hari /Tanggal: Sabtu, 26 Maret 2022
No. Jam Daignosa Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Perencanaan Paraf
Evaluasi NANDA Masalah Selanjutnya
(A) (P)
1. 09. 45 Ketidakmampuan keluarga - Keluarga mengatakan mengerti dengan - Keluarga terlihat Masalah Intervensi
WITA dalam mengenal masalah dan apa yang disampaikan oleh ners muda mengangguk dan teratasi dihentikan
merawat anggota keluarga yang - Ny. S dan keluarga mengatakan belum memahami materi yang
sempat memeriksakan diri ke puskesmas disampaikan oleh ners
sakit berhubungan dengan
atau ke praktik dokter namun keluarga muda.
kurang pengetahuan tentang merencanakan akan membawa Ny. S ke - GDS Ny. S: 186 mg/dL
program terapeutik (diabetes RSUD Ulin Banjarmasin untuk
melitus) (NANDA Diagnosa pemeriksaan lanjutan.
Keperawatan Hal. 147).
2. 09.45 Risiko ketidakstabilan kadar Keluarga mengatakan mengerti dengan apa - Keluarga terlihat Masalah Intervensi
WITA glukosa darah (NANDA yang disampaikan oleh ners muda dan menangguk dan teratasi dihentikan
Diagnosa Keperawatan Hal. 174) mengatakan telah memulai pengaturan porsi memahami materi yang
makan dan jenis nutrisi yang akan dikonsumsi. disampaikan oleh ners
muda.
Klien mengatakan kakinya terasa lebih nyaman - GDS Ny. S: 186 mg/dL
digerakkan - Ny. S terlihat mampu
dalam menjalankan senam
kaki diabetes

Banjarmasin, Maret 2022


Menyetujui,

Preseptor akademik Preseptor klinik

(Alit Suwandewi, Ns., [Link].) (Laila Sari, [Link]., Ns.)


Dokumentasi Asuhan Keperawatan Keluarga
LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

DENGAN BALITA STUNTING PADA KELUARGA TN. S


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI TABUK 3

Disusun Oleh:

BELLA MARDYA

NPM. 2114901110015

STASE: KEPERAWATAN KELUARGA

DESA SUNGAI LULUT RT. 15, KECAMATAN SUNGAI TABUK

KABUPATEN BANJAR

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

2022
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Tanggal pengkajian : 28 Maret 2022 Jam Pengkajian : 10.15 WITA

A. PENGKAJIAN
DATA UMUM
Nama Kepala Keluarga (KK) : Tn. S.
Alamat : Jalan Martapura Lama, Komp. MJ Perdana III Depan
Seroja 3 RT. 15 Kelurahan Sungai Lulut
Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar
Pekerjaan KK : Guru Honorer
Pendidikan KK : Tamat Perguruan Tinggi
Tipe Keluarga : The Nuclear Family (Keluarga Inti)
Suku Bangsa : Banjar
Agama : Islam

1. Komposisi Keluarga

Item Pengkajian Anggota keluarga yang dikaji

Tn. S Ny. H An. N

Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan Perempuan

Hubungan dengan anggota Kepala Keluarga, Istri, Ibu Kandung Anak Kandung
keluarga lain Ayah Kandung
Umur 24 tahun 25 tahun 16 bulan

Pekerjaan Guru Honorer Ibu Rumah Tangga -

Status Imunisasi (Diisi jika ada anggota keluarga berusia 0-2 tahun) Diberikan Tidak
BCG ü

Polio ü

DPT ü

Hepatitis ü

Campak Dasar (9 bulan) ü


2. Genogram

Keterangan Simbol:

Keterangan:
An. N merupakan anak pertama dari Tn. S dan Ny. H.
Tn. S dan Ny. H sudah menikah sejak tahun 2019 dan Ny. H tidak pernah mengalami
keguguran (abortus) sebelumnya.

3. Status Sosial dan Ekonomi Keluarga


Tn. S sehari-hari bekerja sebagai seorang guru honorer dengan pendapatan keluarga
dalam sebulan kurang lebih Rp. 1.000.000/bulan sedangkan istrinya, Ny. H sebagai ibu
rumah tangga tidak memiliki penghasilan, karena Ny. H mengatakan hanya di rumah
mengurus rumah tangga. Sehingga penghasilan Tn. S lah sebagai penghasilan satu-
satunya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga Tn. S.

4. Aktivitas Rekreasi Keluarga


Tn. S mengatakan jarang melakukan rekreasi keluarga, karena bekerja sampai hari
Sabtu dan hari Minggu digunakan sebagai kesempatan untuk beristirahat. Keluarga Tn.
S mengatakan bahwa akan pulang kampung hanya saat libur sekolah akhir semester
ataupun libur hari raya Idul Fitri atau Idul ‘Adha yaitu berkunjung ke rumah orang tua
Tn. S di Tamban.
B. RIWAYAT DAN PERKEMBANGAN KELUARGA SAAT INI
1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini
Tahap perkembangan keluarga Tn. S adalah pada tahapan keluarga dengan anak baru
lahir karena usia An. N masih 16 bulan dan belum masuk usia pra sekolah (3-6 tahun).
Sehingga tahapan keluarga Tn. S masih dikategorikan di tahap kedua perkembangan
keluarga.

2. Tugas Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi


Tugas perkembangan keluarga Tn. S saat ini sudah terpenuhi sesuai dengan semestinya
yaitu:
1) Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap mengintegrasikan bayi
yang baru lahir ke dalam keluarga;
2) Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota
keluarga;
3) Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan;
4) Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peranperan
orang tua dan kakek nenek.

3. Riwayat Keluarga Inti


Tn. S mengatakan bahwa dirinya tidak pernah sakit berat dan menular, biasanya hanya
batuk pilek dan biasanya akan sembuh sendiri dan jarang mengonsumsi obat untuk terapi
penyembuhan. Begitupun dengan Ny. H, tidak memiliki keluhan riwayat penyakit berat
dan menular dan jarang mengonsumsi obat dan jarang dibawa ke fasilitas kesehatan jika
mengalami sakit, hanya obat-obatan biasa yang dikonsumsi seperti paracetamol dan
amoxicillin sesuai dengan keperluan tanpa resep dokter. Sedangkan An. N sering
mengalami batuk dan pilek, dan jika batu dan pilek tersebut berlangsung dalam jangka
waktu yang lama maka biasanya akan langsung dibawa ke dokter anak.

Namun, Ny. H mengatakan bahwa anaknya jarang dibawa ke puskesmas atau ke


posyandu balita kalau tidak ada keluhan atau tidak ada pembagian vitamin gratis dan
tidak jatuh tempo untuk imunisasi. Sehingga, jika hanya untuk ditimbang berat badan
dan diukur tinggi badannya saja setiap bulan, Ny. H jarang sekali membawa anaknya ke
posyandu balita. An. N terakhir dibawa ke posyandu balita pada bulan Februari 2022
untuk mendapatkan vitamin A dan dilakukan pengukuran berat badan 7,2 Kg dan
Panjang Badan 71 cm, dan untuk bulan Maret ini tidak ada ke posyandu karena tidak
ada keluhan dan tidak ada pembagian vitamin dan tidak jatuh tempo imunisasi.

Selain itu, Ny. H mengatakan sudah hampir 2 minggu ini An. N tidak mau makan, dan
hanya makan biskuit bayi sedikit demi sedikit. Ny. H mengatakan An. N telah
memberikan ASI ekslusif sampai usianya 6 bulan dan tidak dicampur dengan susu
formula. Setelah usianya 6 bulan mulai diberikan MPASI sampai usianya saat ini (16
bulan). Ny. H mengatakan bahwa biasanya MPASI dibuat sendiri dengan bahan
makanan seadanya di rumah, bahkan hanya dengan menggunakan bubur nasi, wortel
dan ayam/ikan yang saat itu ada di rumah. Ny. H juga mengatakan bahwa anaknya tidak
pernah mendapatkan PMT (pemberian makanan tambahan) karena jarang ke
posyandu/puskesmas. Tn. S dan Ny. H mengatakan memiliki JKN (BPJS).

Hasil pengukuran tanda-tanda vital pada saat pengkajian Ny. H, didapatkan TD: 120/80
mmHg, N: 78 x/menit, Suhu: 36,7oC, RR: 20x/menit. Sedangkan Tn. S didapatkan TD:
130/80 mmHg, N: 89 x/menit, Suhu: 36,5oC, RR: 20x/menit, dan untuk pemeriksaan
An. N didapatkan N: 110x/menit, suhu: 36,8oC, RR: 30x/menit.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga Sebelumnya


Ny. H memiliki 2 saudara bersaudara, sedangkan Tn. S memiliki 1 saudara perempuan.
Kedua orang tua Ny. H dan Tn. S masih hidup dan bertempat tinggal terpisah dari Ny.
H dan Tn. S. Pada pengkajian riwayat kesehatan keluarga, baik dari garis Tn. S ataupun
Ny. H tidak memiliki riwayat penyakit menular seperti HIV/AIDS, hepatitis, batuk rejan
(pertussis), penyakit kulit ataupun TBC. Namun, Ibu Ny. S menderita hipertensi.
Ny. H mengatakan bahwa dahulu anaknya terlahir dengan BBL 2400 gram di klinik
bidan dengan usia kehamilan ± 39 minggu.

C. DATA LINGKUNGAN
1. Karakteristik Rumah
Rumah Tn. S adalah rumah permanen, lantai rumah menggunakan keramik dengan luas
5x9 m atau rumah tipe 45 dengan atap menggunakan seng dan kayu triplek. Ada 1 buah
kamar dalam rumah Tn. S, yaitu 1 kamar utama. Di dalam rumah Tn. S terdapat 1 dapur
yang cukup luas, 1 ruang keluarga, 1 ruang tamu, 1 WC dan 1 kamar mandi serta tempat
cuci pakaian, dan 1 garasi sekaligus tempat menjemur pakaian. Saluran pembuangan
dialirkan ke tempat pembuangan septic tank. Tn. S tidak menggunakan sumur, namun
menggunakan sarana PDAM sebagai sumber air bersih yang digunakan sehari-hari
untuk makan, minum, mandi, cuci, dan kakus.

Rumah Tn. S mendapat pencahayaan yang cukup dari sinar matahari dan banyak
terdapat ventilasi serta jendela yang terdapat di ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan
setiap kamar terdapat dua jendela yang setiap pagi selalu dibuka. Penerangan di rumah
menggunakan listrik. Ny. H biasanya sering menyikat kamar mandi dan WC nya agar
tidak licin dengan sikat. Perihal sampah, Keluarga biasanya akan membuang sampah-
sampah ke plastic hitam yang selanjutnya akan diangkut oleh petugas kebersihan ke
tempat pembuangan sampah akhir (TPA) terbuka (open dumping). Terdapat fasilitas
kesehatan di lingkungan rumah Tn. S yaitu posyandu, praktik mandiri bidan, apotek
dan puskesmas. Semua fasilitas kesehatan tersebut dapat dijangkau dengan
menggunakan motor atau berjalan kaki.
Denah Rumah

Denah Isi/Bagian Dalam Rumah


2. Karakteristik Tetangga dan Komunitas
Ny. H megatakan bahwa kehidupan bermasyarakat dan bertetangga di sekitaran
rumahnya berjalan dengan baik dan harmonis. Namun, Ny. H tidak pernah mengikuti
kegiatan yasinan atau wirid karena tidak ada kegiatan tersebut di komplek dan keluarga
Tn. S merupakan keluarga baru yang pindah sejak akhir 2019 lalu. Namun, jika ada
kegiatan di komplek, Ny. H dan Tn. S berusaha untuk mengikutinya seperti kegiatan
gotong royong di sekitar tempat tinggalnya, meskipun menurut pemaparan Tn. A tidak
ada kegiatan khusus untuk pengajian bapak-bapak. Hubungan antara tetangga terjalin
baik, saling menghormati dan kerukunan terjalin.

3. Mobilitas Geografis Keluarga


Tn. S dan Ny. H merupakan keluarga yang merantau. Tn. S dilahirkan dan besar di
Tamban, sedangkan Ny. H dilahirkan dan besar di Karang Intan. Tn. S dan Ny. H
merantau sejak sekolah SMA sampai bekerja dan menikah saat ini dan hanya sesekali
pulang ke kampung halaman. Saat ini, keluarga Tn. S menetap di komplek MJ Perdana
III di depan blok Seroja 3 sejak akhir tahun 2019 sampai sekarang. Daerah tempat
tinggal ini dipilih karena dekat dengan tempat kerja Tn. S sehingga menurut keluarga
dapat menghemat pengeluaran untuk transportasi setiap harinya.

4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat


Perkumpulan anggota keluarga biasanya dilaksanakan setiap siang sampai malam hari,
karena Tn. S akan pergi bekerja pada pagi hari dan pulang sekitar jam 14.00 WITA.
Sebagian besar aktivitas dilakukan di rumah dan Tn. S hanya akan beraktivitas di luar
rumah jika ada urusan tertentu saja. Selain itu, untuk interaksi dengan masyarakat dapat
terjalin jika ada kegiatan keagamaan atau kegiatan gotong royong di sekitar tempat
tinggal Tn. S.

5. Sistem Pendukung Keluarga


Dalam keluarga Tn. S pendukung utama keluarga adalah Tn. S sebagai kepala keluarga
dan tulang punggung keluarga. Selain itu, Tn. S yang biasanya lebih cakap dalam
berurusan disbanding dengan Ny. H. Keluarga Tn. S kalau ada yang sakit, biasanya
hanya dibelikan obat warung dan sesekali dibawa ke apotik untuk membeli obat.
Sedangkan jika An. N yang sakit, maka Tn. S dan Ny. H akan langsung membawa ke
praktik dokter anak.

D. STRUKTUR KELUARGA
1. Struktur Peran (Formal dan Informal)
a. Tn. S
Formal: Tn. S berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggung jawab dalam
menafkahi keluarganya.
Informal: Tn. S berperan sebagai pembimbing dikeluarganya yaitu pembimbing
bagi istri dan anaknya. Pada posisi ini, Tn. S tidak mengeluhkan ada masalah karena
Tn. S menyadari bahwa semua itu harus dijalaninya dan Tn. S menjalankan
perannya dengan baik.
b. Ny. H
Formal: Ny. H berperan sebagai istri dan ibu, menjaga dan merawat suami dan
anaknya. Dalam menjalankan peran ini, Ny. H tidak memiliki masalah dan ia
mampu dengan baik menjalankan perannya.
Informal: Ny. H selaku ibu rumah tangga juga berperan dalam mengatur kebutuhan
rumah tangga.
c. An. N
Formal: An. N berperan sebagai anak

2. Nilai atau Norma Keluarga


Nilai kebudayaan yang dianut oleh keluarga yaitu budaya Banjar dan keluarga
menganut agama Islam. Keluarga sangat mendukung nilai dan norma budaya mereka
seperti saling menghormati satu sama lain dan berpakaian yang sopan. Keluarga
menganut nilai-nilai tersebut secara sadar dan tidak ada konflik yang menonjol dalam
keluarga ini.

3. Pola Komunikasi Keluarga


Pola komunikasi yang diterapkan bersifat terbuka antara suami-istri. Setiap ada
masalah pasti dibicarakan dan dipecahkan secara bersama sebelum mengambil
keputusan. Biasanya keputusan diambil oleh Tn. S.

4. Struktur Kekuatan Keluarga


Pengambilan keputusan dalam keluarga ditentukan oleh Tn. S sebagai kepala keluarga.
Namun, itupun sesuai dengan hasil musyawarah semua anggota keluarganya (suami-
istri) dan mengatur anggaran keluarga diserahkan sepenuhnya kepada Ny. H selaku ibu
rumah tangga disamping mengatur anggaran pengeluaran.

E. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
Tn. S, Ny. H dan An. N saling menyayangi dan saling peduli. Hubungan keluarga
berjalan harmonis, saling mendukung satu sama lain dalam segala aspek, termasuk
aspek kesehatan, seperti jika Ny. H atau An. N sakit, maka Tn. A akan segera
membelikan obat ke warung atau apotik terdekat serta membawa An. N ke dokter anak.
2. Fungsi Sosialisasi
Tn. S dan Ny. H mengatakan tidak pernah ada permasalahan dengan tetangga di sekitar
tempat tinggalnya. Begitupun juga dengan interaksi dengan sanak family lainnya.
Setiap hari Tn. S dan Ny. H juga berkumpul bersama di rumah untuk berdiskusi.
3. Fungsi Reproduksi
Tn. S dan Ny. H dikaruniai anak pertama, yaitu An. N pada 18 November 2020. Saat
ini, Ny. H belum memutuskan untuk berkontrasepsi karena belum ada waktu dan
kesempatan berkunjung ke bidan/puskesmas serta masih menyusui.
4. Fungsi Ekonomi
Kebutuhan sehari-hari keluarga cukup terpenuhi dari penghasilan Tn. S.
5. Fungsi Perawatan Keluarga
a. Mengenal masalah kesehatan
Pada saat pengkajian Tn. S dan Ny. H belum mampu mengenal masalah kesehatan
pada An. N secara rinci dan keseluruhan, ini terbukti pada saat ditanya pada
keluarga terkait dengan pentingnya pemantaun status nutrisi/gizi pada anak serta
masalah yang mungkin muncul seperti kondisi stunting (balita pendek) penyakit
Ny. H dan Tn. S masih belum mengetahui definisi tentang stunting dan pentingnya
memantau pertumbuhan anak secara rutin.
b. Membuat keputusan tindakan yang tepat
Jika Ny. H atau Tn. S sakit, maka hanya diberikan obat biasa saja tanpa resep dokter
dan bahkan tidak mengonsumsi obat apa-apa. Namun, jika An. N sakit, alternatif
yang keluarga lakukan adalah dengan membawa An. N ke praktik dokter anak.
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
Tn. S dan Ny. H mengatakan jika Tn. S atau Ny. H sakit hanya diberikan obat
seadanya (tanpa resep dokter) dan bahkan jarang mengonsumsi obat, namun jika
An. N sakit dapat langsung dibawa ke dokter anak. Hanya saja dalam hal
pemeriksaan status kesehatan dan tumbuh kembang An. N, keluarga Tn. S jarang
sekali membawa An. N ke posyandu atau puskesmas kalau tidak ada keluhan apa-
apa.
d. Mempertahankan/memodifikasi lingkungan rumah yang sehat
Kondisi rumah Tn. S cukup bersih, pencahayaan cukup. Tn. S dan Ny. H juga
mengatakan bahwa sering melakukan aktivitas fisik seperti menyapu, mencuci,
menyikat lantai kamar mandi dan WC jika tidak ada kesibukan lain, sehingga rumah
senantiasa bersih dan terawat. Lingkungan sekitar tempat tinggal juga kondusif
sehingga tidak mengganggu ketenangan.
e. Menggunakan fasilitas kesehatan
Keluarga belum memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan maksimal, terbukti
keluarga jarang memeriksakan Ny. S ke fasilitas kesehatan dan ke fasilitas
kesehatan jika ada keluhan saja. Begitu juga dengan Tn. A. Keluarga terbiasa
menggunakan obat-obatan tradisional, alami dan cenderung untuk lebih memilih
membeli di warung. Namun, jika tidak ada perubahan pada kondisi kesehatannya
setelah sudah lama mengonsumsi obat warung, maka keluarga akan memeriksakan
kesehatannya ke fasilitas kesehatan. Tn. A mengatakan jarang ke fasilitas kesehatan
untuk sekedar kontrol kesehatan rutin setiap pekannya. Akan tetapi, jika An. N
sakit, maka akan langsung dibawa ke praktik dokter.

F. STRES DAN KOPING KELUARGA


1. Stresor Jangka Pendek dan Panjang
a. Stresor jangka pendek
Tn. S dan Ny. H tidak terlalu mencemaskan mengenai suatu penyakit yang diderita
oleh anggota keluarganya. Keluarga menghadapi masalah/penyakit dengan lapang
dada dan mengatasi penyakit sesuai dengan kemampuannya saja.
b. Stresor jangka panjang
Tn. S dan Ny. H mengatakan sangat berpasrah pada Allah SWT terkait dengan
kondisi kesehatannya. Ny. H mengatakan tidak ingin terlalu memikirkan tentang
keluhan apapun yang dirasakannya untuk melakukan aktivitas seperti biasanya.
2. Kemampuan Keluarga Berespon terhadap Stresor
Keluarga mampu merespon setiap masalah yang dihadapi dengan baik dan dengan
berdiskusi satu sama lain. Keluarga juga berusaha untuk berikhtiar, berdoa dan pasrah
pada Allah SWT dan meyakini bahwa semua sudah diatur oleh Allah SWT dalam setiap
permasalahan yang dihadapi, termasuk aspek kesehatan.
3. Strategi Koping yang Digunakan
Keluarga Tn. S selalu bermusyawarah dengan Ny. H ataupun sanak family lainnya jika
terdapat permasalahan. Selain itu, keluarga Tn. S dan Ny. H juga senantiasa memelihara
hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Keluarga Tn. S juga selalu berdoa kepada
Allah SWT dalam segala aspek.
4. Strategi Adaptasi Disfungsional
Apabila banyak permasalahan yang dihadapi, keluarga Tn. S akan meminta bantuan
keluarga terdekat.
5. Harapan Keluarga (terhadap petugas kesehatan/perawat)
Tn. S dan Ny. H mengharapkan agar petugas kesehatan dapat memberikan pelayanan
kesehatan terhadap mereka dan membantu bila keluarga mengalami kesulitan dalam
hal kesehatan semaksimal mungkin. Tn. S dan Ny. H juga berharap agar mereka
senantiasa diberikan kesehatan.

G. PEMERIKSAAN FISIK TIAP ANGGOTA KELUARGA


Anggota keluarga yang di kaji
Jenis Anamnesa
Tn. S Ny. H An. N
Tekanan Darah 130/80 mmHg 120/80 mmHg -

Nadi 89 x/menit 78 x/menit 110 x/menit

RR 20 x/menit 20 x/menit 30 x/menit

Suhu 36,5oC 36,7oC 36,8oC

BB 56 Kg 50 Kg 7,2 Kg

TB 160 cm 158 cm 71 cm

Kepala Rambut bersih, warna Rambut bersih, warna Rambut bersih, tipis
hitam pendek hitam sebahu. warna hitam sejajar
telinga.

Mata Simetris, konjungtiva tidak Simetris, konjungtiva Simetris, konjungtiva


anemia, sclera tidak ikterik, tidak anemia, sclera tidak tidak anemia, sclera
tidak ikterik
penglihatan jelas tidak ikterik, penglihatan jelas
kabur/buram tidak kabur/buram

Hidung Bersih, penciuman normal Bersih, penciuman normal Bersih, penciuman


(mampu membedakan (mampu membedakan normal (mampu
aroma), tidak ada sekret, aroma), tidak ada sekret, membedakan aroma),
tidak ada polip, tidak ada tidak ada polip, tidak ada tidak ada sekret, tidak
pernafasan cuping hidung pernafasan cuping hidung ada polip, tidak ada
pernafasan cuping
hidung

Telinga Bersih, simetris, tidak ada Bersih, simetris, tidak ada Bersih, simetris, tidak
serumen, fungsi serumen, fungsi ada serumen, fungsi
pendengaran baik, tidak pendengaran baik, tidak pendengaran baik,
ada nyeri tekan/lepas ada nyeri tekan/lepas tidak ada nyeri
dibagian belakang telinga dibagian belakang telinga tekan/lepas dibagian
belakang telinga

Mulut Bersih, mukosa bibir Bersih, mukosa bibir Bersih, mukosa bibir
lembab, tidak ada lembab, tidak ada lembab, tidak ada
stomatitis pada area mulut, stomatitis pada area stomatitis pada area
lidah bersih, bibir dan lidah mulut, lidah bersih, bibir mulut, lidah bersih,
berwarna merah muda, dan lidah berwarna merah bibir dan lidah
jumlah gigi lengkap muda, jumlah gigi berwarna merah muda,
lengkap. jumlah gigi belum
lengkap (2 gigi
geraham bagian bawah
belum muncul).

Leher Tidak terdapat pembesaran Tidak terdapat Tidak terdapat


kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran kelenjar pembesaran kelenjar
nyeri menelan tiroid, tidak ada nyeri tiroid, tidak ada nyeri
menelan menelan

Dada (Paru-Paru Dada simetris, tidak ada Dada simetris, tidak ada Dada simetris, tidak
& Jantung) penggunaan otot bantu penggunaan otot bantu ada penggunaan otot
pernafasan, auskultasi pernafasan, auskultasi bantu pernafasan,
lapang paru kanan dan kiri lapang paru kanan dan kiri auskultasi lapang paru
terdengar vesikuler, iktus terdengar vesikuler, iktus kanan dan kiri
kordis tidak tampak, bunyi kordis tidak tampak, terdengar vesikuler,
jantung S1-S2 tunggal bunyi jantung S1-S2 iktus kordis tidak
(normal) tunggal (normal) tampak, bunyi jantung
S1-S2 tunggal (normal)

Abdomen Bentuk datar, simetris, Bentuk datar, simetris, Bentuk datar, simetris,
tidak ada asites, tidak ada tidak ada asites, tidak ada tidak ada asites, tidak
nyeri tekan/lepas, hepar nyeri tekan/lepas, hepar ada nyeri tekan/lepas,
dan limpa tidak teraba, dan limpa tidak teraba, hepar dan limpa tidak
ginjal tidak teraba, perkusi ginjal tidak teraba, teraba, ginjal tidak
gaster timpani, perkusi perkusi gaster timpani, teraba, perkusi gaster
hepar pekak/dullness. perkusi hepar timpani, perkusi hepar
pekak/dullness. pekak/dullness.
Ekstremitas atas Tidak ada varises dan Tidak ada varises dan Tidak ada varises dan
dan bawah edema, tidak ada fraktur, edema, tidak ada fraktur, edema, tidak ada
tidak ada paralisis, skala tidak ada paralisis, skala fraktur, tidak ada
kekuatan otot 5/5/5/5 kekuatan otot 5/5/5/5 paralisis, skala
(untuk semua ektremitas) (untuk semua ektremitas) kekuatan otot 5/5/5/5
(untuk semua
ektremitas)

Integumen Warna kulit normal, tidak Warna kulit normal, tidak Warna kulit normal,
ada sianosis, tidak ada ada sianosis, tidak ada tidak ada sianosis, tidak
eritema, tidak ada luka dan eritema, tidak ada luka ada eritema, tidak ada
xerosis pada kulit, CRT < 2 dan xerosis pada kulit, luka dan xerosis pada
detik. CRT < 2 detik. kulit, CRT < 2 detik.

Pemeriksaan Z-Score pada PSG


penunjang Balita: -2,46
lainnya - - LK: 45 cm
LilA: 14 cm
No. DATA PROBLEM ETIOLOGI DIAGNOSA
KEPERAWATAN

1. DS: Ketidakmampuan Kurang Ketidakmampuan


- Ny. H mengatakan bahwa keluarga dalam pengetahuan keluarga dalam
anaknya jarang dibawa ke mengenal tentang stunting mengenal masalah
puskesmas atau ke posyandu masalah dan kesehatan dan merawat
balita kalau tidak ada keluhan kesehatan dan pencegahannya anggota keluarga yang
atau tidak ada pembagian vitamin merawat anggota sakit berhubungan
gratis dan tidak jatuh tempo untuk keluarga yang dengan Kurang
imunisasi. sakit pengetahuan tentang
- Keluarga mengatakan bahwa An. stunting, pencegahannya,
N terakhir dibawa ke posyandu dan diet yang tepat bagi
balita pada bulan Februari 2022 anak
untuk mendapatkan vitamin A
dan untuk bulan Maret ini tidak
ada ke posyandu karena tidak ada
keluhan dan tidak ada pembagian
vitamin dan tidak jatuh tempo
imunisasi.
- Ny. H mengatakan sudah hampir
2 minggu ini An. N tidak mau
makan, dan hanya makan biskuit
bayi sedikit demi sedikit.
- Ny. H mengatakan An. N telah
memberikan ASI ekslusif sampai
usianya 6 bulan dan tidak
dicampur dengan susu formula.
Setelah usianya 6 bulan mulai
diberikan MPASI sampai usianya
saat ini (16 bulan). Ny. H
mengatakan bahwa biasanya
MPASI dibuat sendiri dengan
bahan makanan seadanya di
rumah, bahkan hanya dengan
menggunakan bubur nasi, wortel
dan ayam/ikan yang saat itu ada
di rumah.
- Ny. H juga mengatakan bahwa
anaknya tidak pernah
mendapatkan PMT (pemberian
makanan tambahan) karena
jarang ke posyandu/puskesmas.
- Tn. S dan Ny. H belum mampu
mengenal masalah kesehatan
pada An. N secara rinci dan
keseluruhan, ini terbukti pada
saat ditanya pada keluarga terkait
dengan pentingnya pemantaun
status nutrisi/gizi pada anak serta
masalah yang mungkin muncul
seperti kondisi stunting (balita
pendek) penyakit Ny. H dan Tn.
S masih belum mengetahui
definisi tentang stunting dan
pentingnya memantau
pertumbuhan anak secara rutin.

DO:
- Pemeriksaan antropometrik
terakhir:
BB: 7,2 Kg
PB: 71 cm
LK: 45 cm
LiLA: 14 cm
- Z-Score:
- An. N terlihat sudah mampu
berjalan
- An. N terlihat belum mampu
berbicara dengan jelas
- Keluarga terlihat belum
mampu menjawab dengan baik
saat ditanya mengenai
stunting.

2. Faktor Risiko: Risiko gangguan - Risiko gangguan tumbuh


• Ketidakadekuatan nutrisi tumbuh kembang kembang
• Nafsu makan An. N tidak
terkontrol
• Ketidakmampuan keluarga
dalam mengenal masalah
memberikan perawatan pada
anggota keluarga yang sakit
• Tampak adanya keterlambatan
pertumbuhan gigi gigi taring
bawah dan atas

H. ANALISIS DATA

I. PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Daftar Diagnosa Keperawatan
1.1 Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan berhubungan
dengan Kurang pengetahuan tentang stunting dan pencegahannya
1.2 Risiko gangguan tumbuh kembang
2. Skoring Prioritas Masalah

No. Kriteria Score Bobot Skoring Pembenaran

Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan berhubungan


dengan Kurang pengetahuan tentang stunting dan pencegahannya

1. Sifat Masalah
Skala:
• Tidak/kurang Keluarga tidak
sehat (3) ! mengetahui tentang
×1 = 2/
• Ancaman 2 1 " stunting dan hal tersebut
kesehatan (2) 3 dapat mengancam
• Keadaan kesehatan An. N
sejahtera (1)

2. Kemungkinan Anggota keluarga


masalah untuk di meruapakan individu
ubah yang menempuh
Skala: 2 pendidikan tinggi dip
• Mudah (2)
2 2 ×2 = 2 erguruan tinggi, sehingga
2
• Sebagian (1) diharapkan mudah dalam
• Tidak dapat (0) menerima informasi yang
diberikan
3. Potensial
masalah untuk
dicegah
Skala: Sumber daya pendukung
3 keluarga Tn. S untuk
• Tinggi (3) 3 1 ×1 = 1
3 mengurangi suatu
• Cukup (2)
masalah memadai
• Rendah (1)

4. Menonjolnya
masalah
Skala:
• Masalah berat,
harus segera
ditangani (2) Keluarga menyadari
• Ada masalah, 1 pentingnya masalah untuk
1 1 ×1 diatasi secara bertahap
tetapi tidak 2
perlu ditangani = 1/2 untuk meningkatkan
(1) status kesehatan An. N
• Masalah tidak
dirasakan (0)

4,17
TOTAL
Risiko gangguan tumbuh kembang

1. Sifat Masalah Masalah sudah terjadi,


Skala: 3 namun proses
• Tidak/kurang
3 1 ×1 = 1 pertumbuhan anak masih
3
sehat (3) bisa dimaksimalkan
• Ancaman sampai berakhirnya masa
kesehatan (2) golden period
• Keadaan
sejahtera (1)

2. Kemungkinan
masalah untuk di Masalah dapat diubah
ubah tergantung peran aktif
Skala: 1 keluarga dalam
• Mudah (2)
1 2 ×2 = 1 pengaturan diet dan
2
• Sebagian (1) pemantauan status nutrisi
• Tidak dapat (0) An. N

3. Potensial
masalah untuk
dicegah Perlu kepatuhan dan
2 waktu untuk
Skala:
2 1
×1 mendisiplinkan keluarga
• Tinggi (3) 3
= 2/3 dalam melakukan
• Cukup (2)
pemantauan rutin An. N
• Rendah (1)

4. Menonjolnya
masalah
Skala:
• Masalah berat,
harus segera Keluarga menyadari
ditangani (2) 1 pentingnya masalah untuk
• Ada masalah, 1 1 ×1 diatasi secara bertahap
2
tetapi tidak = 1/2 untuk meningkatkan
perlu ditangani status kesehatan Ny. S
(1)
• Masalah tidak
dirasakan (0)

TOTAL 3,17

3. Prioritas Diagnosa Keperawatan


No. Diagnosa Keperawatan Skor
1. Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal 4,17
masalah kesehatan berhubungan dengan
Kurang pengetahuan tentang stunting dan
pencegahannya

2. Risiko gangguan tumbuh kembang 3,17


J. INTERVENSI (PERENCANAAN) KEPERAWATAN
No. Diagnosa Tujuan Nursing Outcome (NOC)/Luaran Keperawatan Nursing Intervention (NIC)/Intervensi
Keperawatan (SLKI) Keperawatan (SIKI)

1. Ketidakmampuan Tingkat Pengetahuan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi Proses Penyakit (I. 12444)
keluarga dalam (L. 12111) 1. Kriteria Hasil:
mengenal masalah Keluarga mampu memahami terkait dengan Observasi
kesehatan dan Tujuan Umum: stunting - Identifikasi kesiapan dan kemampuan
merawat anggota Setelah dilakukan kunjungan Standard: menerima informasi.
keluarga yang sakit rumah asuhan keperawatan Stunting adalah gangguan tumbuh kembang
berhubungan keluarga selama 2x atau lebih dimana tinggi/panjang badan anak jika Mandiri/Terapeutik
dengan Kurang diharapkan tingkat pengetahuan dibandingkan dengan usia berada dibawah -2 - Fasilitasi informasi tertulis atau leaflet untuk
pengetahuan keluarga meningkat, dimana SD. meningkatkan pemahaman.
tentang stunting klien dan keluarga mampu - Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai
dan pencegahannya mengenal dan memahami materi 2. Kriteria Hasil: kesepakatan
mengenai stunting. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 - Berikan kesempatan untuk bertanya.
penyebab stunting
Tujuan Khusus: Standard: Edukasi
Setelah dilakukan kunjungan Penyebab diabetes melitus antara lain, status - Jelaskan definisi dari stunting
rumuah 1 x 45 menit, keluarga gizi, penyakit infeksi, dan redahnya minat pada - Jelaskan penyebab dan faktor risiko
mampu memahami pentingnya pelayanan kesehatan. terjadinya stunting.
pemeriksaan status nutrisi dan - Jelaskan tanda dan gejala stunting
tumbuh kembang untuk mencegah 3. Kriteria Hasil: - Jelaskan dampak stunting
stunting. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 - Jelaskan cara mencegah stunting
tanda dan gejala stunting. - Jelaskan pentingnya perawatan dan diet yang
Standard: tepat pada anak untuk mencegah stunting
Anak berbadan lebih pendek dari seusianya,
berat badan anak lebih rendah dari anak lain Kolaborasi
seusianya, dan pertumbuhan gigi terlambat. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian
PMT, jika perlu.
4. Kriteria Hasil:
Keluarga mampu menyebutkan minimal 3
dampak dari stunting.
Standard:
Dampak stunting antara lain: perlambatan
aspek kognitif, verbal dan motorik anak,
peningkatan risiko obesitas dan penyakit
degenerative lainnya dimasa mendatang, dan
postur tubuh yang lebih pendek dari seusianya.

5. Kriteria Hasil:
Keluarga mampu menyebutkan minimal 3
bentuk pencegahan stunting.
Standard:
Pencegahan stunting antara lain: pemberian
ASI ekslusif, pemantauan status nutrisi secara
rutin, dan pemberian PMT.

2. Risiko gangguan Tingkat Pengetahuan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi tumbuh kembang (I.12383) dan
tumbuh kembang (L. 12111) 1. Kriteria Hasil: Edukasi nutrisi anak (I. 12396)
Keluarga mampu memahami terkait
Tujuan Umum: pentingnya pemantauan status nutrisi dan Observasi
Setelah dilakukan kunjungan tumbuh kembang pada anak - Identifikasi kemampuan pasien dan keluarga
rumah asuhan keperawatan Standard: menerima informasi.
keluarga selama 2x atau lebih Pemanatauan status nutrisi dan tumbuh - Identifikasi pengetahuan saat ini (apersepsi)
diharapkan tingkat pengetahuan kembang pada anak sangat diperlukan untuk - Identifikasi pola makan/kebiasaan makan
keluarga meningkat, dimana pencegahan terjadinya stunting. anak saat ini dan masa lalu
klien dan keluarga mampu
mengenal dan memahami risiko 2. Kriteria Hasil: Mandiri/Terapeutik
terjadinya stunting pada anak. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 - Persiapkan materi, media atau alat peraga
prinsip pemberian makanan pada anak untuk (jika perlu)
Tujuan Khusus: mencegah risiko terjadinya stunting - Jadwalkan waktu yang tepat untuk
Setelah dilakukan kunjungan Standard: memberikan pendidikan kesehatan
rumuah 1 x 45 menit, keluarga
mampu memahami pentingnya Prinsip pemberian makanan pada anak untuk - Berikan kesempatan pasien dan keluarga
pemeriksaan status nutrisi dan mencegah risiko terjadinya stunting pada anak, untuk bertanya
tumbuh kembang untuk mencegah antara lain: memberikan kecukupan setiap
stunting. elemen nutrisi (karbohidrat, protein, lemak, Edukasi
vitamin dan mineral) dalam setiap porsi makan 1. Jelaskan kebutuhan gizi seimbang pada
anak, memberikan ASI ekslusif dan sampai anak
anak berusia 2 tahun, memberikan makanan 2. Jelaskan pentingnya pemantauan status
tanpa pemanis buatan dan memberikan PMT nutrisi pada anak setiap bulan ke
pada anak. posyandu/fasilitas kesehatan
3. Anjurkan untuk memberikan ASI sampai
anak berusia 2 tahun
4. Anjurkan menghindari makanan/jajanan
yang tidak sehat (mis. Mengandung
pemanis buatan, penyedap, atau pengawet
makanan)
5. Ajarkan PHBS (seperti mencuci tangan
sebelum dan sesudah menyiapkan makanan
anak)

Kolaborasi
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk PMT, jika
perlu.
KUNJUNGAN KE-1
K. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Selasa, 29 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 29 Maret 2022 Ketidakmampuan Observasi
(10.00 WITA) keluarga dalam - Mengidentifikasi kesiapan dan kemampuan - Keluarga mengatakan tidak mengetahui
mengenal masalah menerima informasi. terkait dengan stunting, penyebab dan sega
hal terkait dengan stunting.
kesehatan dan
merawat anggota Mandiri/Terapeutik - Ners muda telah mempersiapkan SAP dan
keluarga yang sakit - Memfasilitasi informasi tertulis atau leaflet leaflet mengenai stunting dan
berhubungan dengan untuk meningkatkan pemahaman. pencegahannya.
Kurang pengetahuan - Menjadwalkan pendidikan kesehatan sesuai - Keluarga mengatakan merasa senang
tentang stunting dan kesepakatan diperhatikan oleh ners muda saat kunjungan
pencegahannya - Memberikan kesempatan untuk bertanya. dan penyampaian materi.
- Keluarga dilibatkan dalam proses
penyampaian materi dan keluarga
Edukasi mengatakan memahami apa yang
- Menjelaskan definisi dari stunting disampaikan ners muda.
- Menjelaskan penyebab dan faktor risiko
terjadinya stunting.
- Menjelaskan tanda dan gejala stunting Keluarga mengatakan memahami pentingnya
- Menjelaskan dampak stunting memeriksakan status nutrisi anak secara teratur
ke posyandu/fasilitas kesehatan.
- Menjelaskan cara mencegah stunting
- Menjelaskan pentingnya perawatan dan diet
yang tepat pada anak untuk mencegah stunting

Kolaborasi
- Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk
pemberian PMT, jika perlu.
Pelaksanaan kolaborasi belum dilakukan
bersama ahli gizi
2. 29 Maret 2022 Risiko gangguan Observasi
(10.00 WITA) tumbuh kembang - Mengidentifikasi kemampuan pasien dan - Keluarga mampu menerima informasi yang
keluarga menerima informasi. akan disampaikan dengan baik tanpa ada
kendala. Keluarga juga sudah cukup
- Mengidentifikasi pengetahuan saat ini
mengetahui tentang stunting karena telah
(apersepsi) dijelaskan di awal penjelasan.
- Mengidentifikasi pola makan/kebiasaan makan - Ny. H mengatakan bahwa anaknya
anak saat ini dan masa lalu biasanya hanya diberikan bubur sesuai
dengan lauk dan sayur yang tersedia di
Mandiri/Terapeutik rumah sehingga jarang memberikan nutrisi
- Mempersiapkan materi, media atau alat lainnya yang beragam.
- Saat ini Ny. H mengatakan anaknya tidak
peraga (jika perlu)
mau makan sudah ± 3 pekan dan hanya
- Menjadwalkan waktu yang tepat untuk ngemil biskuit sedikit demi sedikit saja.
memberikan pendidikan kesehatan
- Memberikan kesempatan pasien dan
keluarga untuk bertanya - Ners muda telah mempersiapkan materi dan
leaflet untuk penyampaian materi serta
Edukasi telah membuat jadwal dan kesepakatan
dengan klien dan keluarga menyepakati
1. Menjelaskan kebutuhan gizi seimbang pada jadwal tersebut.
anak - Keluarga menanyakan terkait dengan diet
2. Menjelaskan pentingnya pemantauan status yang baik untuk anaknya.
nutrisi pada anak setiap bulan ke
posyandu/fasilitas kesehatan Ners muda menjelaskan tentang materi sesuai
3. Menganjurkan untuk memberikan ASI sampai dengan SAP dan leaflet dan keluarga memahami
apa yang disampaikan ners muda.
anak berusia 2 tahun
4. Menganjurkan menghindari makanan/jajanan
yang tidak sehat (mis. Mengandung pemanis
buatan, penyedap, atau pengawet makanan)
5. Mengajarkan PHBS (seperti mencuci tangan
sebelum dan sesudah menyiapkan makanan
anak)

Kolaborasi
Bekolaborasi dengan ahli gizi untuk PMT, jika
perlu. Proses kolaborasi belum dilakukan
O. EVALUASI KEPERAWATAN (CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP)
Hari /Tanggal: Selasa, 29 Maret 2022
No. Jam Daignosa Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Masalah Perencanaan Paraf
Evaluasi NANDA (A) Selanjutnya (P)

1. 10. 45 Ketidakmampuan Keluarga mengatakan - Keluarga terlihat mengangguk Masalah teratasi Intervensi
WITA keluarga dalam mengerti dengan apa dan memahami materi yang dihentikan
mengenal masalah yang disampaikan oleh disampaikan oleh ners muda.
ners muda - Keluarga dapat mengungkapkan
kesehatan dan merawat
kembali tentang stunting dan
anggota keluarga yang cara merawat anak dengan
sakit berhubungan stunting termasuk cara
dengan Kurang pencegahannya pada saat
pengetahuan tentang evaluasi materi dilakukan.
stunting dan
pencegahannya

2. 10.45 Risiko gangguan Keluarga mengatakan - Keluarga terlihat menangguk Masalah belum Intervensi
WITA tumbuh kembang mengerti dengan apa dan memahami materi yang teratasi dilanjutkan
yang disampaikan oleh disampaikan oleh ners muda.
ners muda - Keluarga dapat mengungkapkan
kembali cara merawat anggota
keluarganya yang berisiko
stunting dan mengungkapkan
minat untuk rutin memeriksakan
anaknya ke posyandu
balita/fasilitas kesehatan.
KUNJUNGAN KE-2
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Kamis, 31 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 31 Maret 2022 Risiko gangguan tumbuh Edukasi
(10.00 WITA) kembang 1. Menganjurkan untuk memberikan ASI sampai - Keluarga mampu menerima informasi
anak berusia 2 tahun yang akan disampaikan dengan baik
tanpa ada kendala.
2. Menganjurkan menghindari makanan/jajanan yang
- Klien mengatakan memahami terakit
tidak sehat (mis. Mengandung pemanis buatan, dengan diet untuk anaknya dan
penyedap, atau pengawet makanan) pentingnya memeriksakan anaknya ke
3. Mengajarkan PHBS (seperti mencuci tangan posyandu/fasilitas kesehatan lainnya.
sebelum dan sesudah menyiapkan makanan anak)
4. Menganjurkan untuk rutin ke posyandu/fasilitas
kesehatan untuk memeriksakan kondisi anaknya
setiap bulan.

Kolaborasi
Berkolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.

Proses kolaborasi belum dilakukan


EVALUASI KEPERAWATAN (CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP)
Hari /Tanggal: Kamis, 31 Maret 2022
No. Jam Daignosa Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Perencanaan Paraf
Evaluasi NANDA Masalah (A) Selanjutnya (P)

1. 10.45 Risiko gangguan tumbuh Keluarga mengatakan mengerti - Keluarga terlihat Masalah Intervensi dilanjutkan
WITA kembang dengan apa yang disampaikan oleh menangguk dan belum teratasi
ners muda dan mengatakan ingin memahami materi
melakukan perubahan perilaku yang disampaikan
kesehatan untuk memaksimalkan oleh ners muda.
tumbuh kembang anaknya - An. N terliha aktif
dan tidak rewel

Banjarmasin, Maret 2022

Menyetujui,

Preseptor akademik Preseptor klinik

(Alit Suwandewi, Ns., [Link].) (Laila Sari, [Link]., Ns.)


Dokumentasi Asuhan Keperawatan Keluarga pada Keluarga Tn. S dan Ny. H
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


PADA KLIEN DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2

BELLA MARDYA
NPM. 2114901110015

STASE: KEPERAWATAN KELUARGA


DESA/KELURAHAN SUNGAI LULU RT. 15
KEC. SUNGAI TABUK, KABUPATEN BANJAR

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
2022
LEMBAR PERSETUJUAN

Nama : Bella Mardya

NPM : 2114901110015

Homebase : Desa/Kelurahan Sungai Lulut RT. 15, Kec. Sungai Tabuk

Tugas : Laporan Pendahuluan pada Keluarga dengan Klien menderita DM tipe 2

Banjarmasin, Maret 2022

Menyetejui,

Clinical Teacher (CT)

Alit Suwandewi, Ns., [Link].


1. Konsep Dasar Penyakit
1.1 Definisi/Deskripsi Diabetes Melitus
Diabetes berasal dari kata Yunani yang berarti “mengalirkan atau
mengalihkan”. Melitus berasal dari kata latin yang bermakna manis atau
madu. Penyakit Diabetes Melitus dapat diartikan individu yang mengalirkan
volume urine yang banyak dengan kadar glukosa yang tinggi. Diabetes
Melitus adalah penyakit hiperglikemia yang ditandai dengan ketidakadaan
absolute insulin atau penurunan intensitivitas relatif sel terhadap insulin
(Corwin, 2009 dalam Setiawan, 2018).

Diabetes Melitus adalah kelainan metabolisme, dimana kemampuan tubuh


untuk memanfaatkan glukosa, lemak dan protein terganggu karena
defisiensi insulin atau resistensi insulin (Dunning, 2014 dalam (Wulandari,
Hamidah, & Priatna, 2017). Diabetes melitus adalah penyakit kronis yang
terjadi karena pankreas tidak cukup menghasilkan insulin, atau saat tubuh
tidak efektif memanfaatkan insulin yang dihasilkan (WHO, 2017 dalam
Putri, 2019).

1.2 Klasifikasi Diabetes Melitus


Diabetes Melitus dapat diklasifikasikan ke dalam 4 kategori klinis
(Smeltzer dan Bare, 2015 dalam Putri, 2019), yaitu:
1.2.1 Diabetes Melitus Tipe 1
Diabetes Melitus Tipe 1 atau IDDM (Insulin Dependent Diabetes
Mellitus), terjadi karena adanya kerusakan sel-β, biasanya
menyebabkan kekurangan insulin absolute yang disebabkan oleh
proses autoimun atau idiopatik. Umumnya penyakit ini
berkembang ke arah Ketoasidosis Diabetik yang menyebabkan
kematian. Diabetes Melitus Tipe 1 terjadi sebanyak 5-10% dari
semua Diabetes Melitus. Diabetes Melitus Tipe 1 dicirikan dengan
onset yang akut dan biasanya terjadi pada usia 30 tahun (Smeltzer
dan Bare, 2015 dalam Putri, 2019).
1.2.2 Diabetes Melitus tipe 2
Diabetes Melitus Tipe 2 atau NIDDM (Non Insulin Dependent
Diabetes Mellitus), terjadi karena kerusakan progresif sekretorik
insulin akibat resistensi insulin. Diabetes Melitus Tipe 2 juga
merupakan salah satu gangguan metabolik dengan kondisi insulin
yang diproduksi oleh tubuh tidak cukup jumlahnya akan tetapi
reseptor insulin di jaringan tidak berespon terhadap insulin
tersebut. Diabetes Melitus Tipe 2 mengenai 90-95% pasien dengan
Diabetes Melitus. Insidensi terjadi lebih umum pada usia 30 tahun,
obesitas, herediter, dan faktor lingkungan. Diabetes Melitus Tipe
2 ini sering terdiagnosis setelah terjadi komplikasi (Smeltzer dan
Bare, 2015 dalam Putri, 2019).
1.2.3 Diabetes Melitus Tipe Tertentu
Diabetes Melitus tipe ini terjadi karena penyebab lain misalnya,
defek genetik pada fungsi sel-β, defek genetik pada kerja insulin,
penyakit eksokrin pankreas (seperti fibrosis kistik dan
pankreatitis), penyakit metabolik endokrin, infeksi, sindrom
genetik lain dan karena disebabkan oleh obat atau kimia (seperti
dalam pengobatan HIV/AIDS atau setelah transplantasi organ)
(Smeltzer dan Bare, 2015 dalam Putri, 2019).
1.2.4 Diabetes Melitus Gestasional
Diabetes Melitus Gestasional ini merupakan Diabetes Melitus
yang didiagnosis selama masa kehamilan, dimana intoleransi
glukosa didapati pertama kali pada masa kehamilan. Terjadi pada
2-5% semua wanita hamil tetapi hilang saat melahirkan (Smeltzer
dan Bare, 2015 dalam Putri, 2019).

1.3 Etiologi Diabetes Melitus Tipe 2


Umumnya Diabetes Melitus disebabkan oleh rusaknya sebagian kecil atau
sebagian besar dari sel-sel β dari pulau-pulau langerhans pada pankreas
yang berfungsi menghasilkan insulin, akibatnya terjadi kekurangan insulin.
Disamping itu Diabetes Melitus juga dapat terjadi karena gangguan
terhadap fungsi insulin dalam memasukan glukosa kedalam sel. Gangguan
itu dapat terjadi karena kegemukan atau sebab lain yang belum diketahui
(Smeltzer dan Bare, 2015 dalam Putri, 2019). Diabetes Melitus atau lebih
dikenal dengan istilah penyakit kencing manis mempunyai beberapa
penyebab (Nurarif & Kusuma, 2015), antara lain:
1.3.1 Pola Makan
Makan secara berlebihan dan melebihi jumlah kadar kalori yang
dibutuhkan oleh tubuh dapat memacu timbulnya Diabetes Melitus.
Konsumsi makanan yang berlebihan dan tidak diimbangi dengan
sekresi insulin dalam jumlah yang memadai dapat menyebabkan
kadar gula dalam darah meningkat dan pastinya akan
menyebabkan Diabetes Melitus.
1.3.2 Obesitas (kegemukan)
Orang gemuk dengan berat badan lebih dari 90kg cenderung
memiliki peluang lebih besar untuk terkena penyakit Diabetes
Melitus. Sembilan dari sepuluh orang gemuk berpotensi untuk
terserang Diabetes Melitus.
1.3.3 Faktor genetik
Penyebab Diabetes Melitus akan dibawa oleh anak jika orang
tuanya menderita Diabetes Melitus. Pewarisan gen ini dapat
sampai ke cucunya bahkan cicit walaupun resikonya sangat kecil.
1.3.4 Bahan-bahan kimia dan obat-obatan
Bahan-bahan kimia dapat mengiritasi pankreas yang
menyebabkan radang pankreas, radang pada pankreas akan
mengakibatkan fungsi pankreas menurun sehingga tidak ada
sekresi hormon-hormon untu proses metabolisme tubuh termasuk
insulin. Segala jenis residu obat yang terakumulasi dalam waktu
yang lama dapat mengiritasi pankreas.
1.3.5 Penyakit dan infeksi pada pancreas
Infeksi mikroorganisme dan virus pada pankreas juga dapat
menyebabkan radang pankreas yang otomatis akan menyebabkan
fungsi pankreas turun sehingga tidak ada sekresi hormon-hormon
untuk proses metabolisme tubuh termasuk insulin. Penyakit seperti
kolesterol tinggi dan dislipedemia dapat meningkatkan risiko
terkena Diabetes Melitus.
1.3.6 Pola Hidup
Pola hidup juga sangat mempengaruhi faktor penyebab Diabetes
Melitus. Jika orang malas berolahraga memiliki risiko lebih tinggi
untuk terkena penyakit Diabetes Melitus karena olahraga
berfungsi untuk membakar kalori yang tertimbun didalam tubuh,
kalori yang tertimbun di dalam tubuh merupakan faktor utama
penyebab Diabetes Melitus selain disfungsi pankreas.
1.3.7 Kadar Kortikosteroid yang tinggi menyebabkan kehamilan
Diabetes Melitus Gestasional.
1.3.8 Obat-obatan yang dapat merusak pankreas.
1.3.9 Racun yang mempengaruhi pembentukan atau efek dari insulin..

1.4 Manifestasi Klinis Diabetes Melitus


Menurut Nurarif & Kusuma (20150 manifestasi klinis dari Diabetes
Mellitus antara lain:
1.4.1 Poliuria (peningkatan pengeluaran urine)
Poliuria ini sering terjadi pada penderita diabetes karena adanya
gangguan dalam produksi insulin. Karena titik berat gangguan
pada pasien kencing manis adalah gangguan insulin ini. Jika
insulin (insulin adalah hormon yang mengendalikan gula darah)
tidak ada atau sedikit maka ginjal tidak dapat menyaring glukosa
untuk kembali ke dalam darah. Kemudian hal ini akan
menyebabkan ginjal menarik tambahan air dari darah untuk
menghancurkan glukosa. Hal ini membuat kandung kemih cepat
penuh dan hal ini otomatis akan membuat para penderita DM akan
sering kencing buang air kecil.
1.4.2 Polidipsia (peningkatan rasa haus)
Keinginan untuk sering minum karena adanya rasa haus banyak
terjadi pada pasien dengan diabetes melitus ini. Karena memang
adanya juga gangguan hormon serta juga efek dari banyak kencing
diatas, maka penderita akan sering merasakan haus dan ingin
untuk sering minum.
1.4.3 Polifagia (peningkatan rasa lapar)
Para penderita penyakit diabetes mellitus akan juga merasakan
bahwasannya tubuhnya akan sering dan sepat merasa lemah. Hal
ini salah satu penyebabnya adalah produksi glukosa terhambat
sehingga sel-sel makanan dari glukosa yang harusnya
didistribusikan ke semua sel tubuh untuk membuat energi jadi
tidak berjalan dengan semestinya dan juga optimal. Karena sel
energi tidak mendapat asupan sehingga orang dengan kencing
manis akan merasa cepat lelah.
1.4.4 Rasa lelah dan kelemahan otot
Karena adanya gangguan pada produksi glukosa seperti diatas
sehingga seseorang akan merasa lelah dan lemah. Karena
kebutuhan akan energi diseluruh tubuh tidak diserap dengan
optimal.
1.4.5 Kesemutan
Tanda-tanda neropati pada pasien dengan DM yang seringkali
dirasakan adalah kesemutan di kaki dan tangan. Hal tersebut
terjadi secara bertahap dari waktu ke waktu karena glukosa dalam
darah tinggi akan merusak sistem saraf. Pada penderita diabetes
tipe 2 kejadiannya secara bertahap, dan orang-orang sering tidak
menyadari bahwa itu salah satu pertanda. Kondisi gula darah
tinggi kemungkinan telah terjadi beberapa tahun sebelum
seseorang itu mengetahui bahwa dirinya telah terkena DM.
Kerusakan saraf dapat menyebar tanpa pengetahuan para penderita
kencing manis ini.
1.4.6 Mata kabur
Tingginya kadar gula darah menarik cairan dari jaringan, termasuk
lensa mata. Hal ini mempengaruhi kemampuan seseorang untuk
fokus. Jika tidak diobati, diabetes dapat menyebabkan pembuluh
darah baru terbentuk dalam retina (bagian belakang mata) dan
pembuluh lama dapat terjadi kerusakan. Bagi kebanyakan orang,
perubahan awal tidak menyebabkan masalah penglihatan. Namun,
jika perubahan ini berlanjut dan tidak terdeteksi, mereka dapat
menyebabkan kehilangan penglihatan dan kebutaan.

1.5 Patofisiologi Diabetes Melitus Tipe 2


Diabetes Melitus Tipe 2 merupakan suatu kelainan metabolik dengan
karakteristik utama adalah terjadinya hiperglikemik kronik. Meskipun pola
pewarisannya belum jelas, faktor genetik dikatakan memiliki peranan yang
sangat penting dalam munculnya Diabetes Melitus Tipe 2. Faktor genetik
ini akan berinteraksi dengan faktor-faktor lingkungan seperti gaya hidup,
obesitas, rendahnya aktivitas fisik, diet, dan tingginya kadar asam lemak
bebas. Mekanisme terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2 umumnya
disebabkan karena resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.

Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada permukaan


sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor tersebut, terjadi suatu
rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa didalam sel. Resistensi
insulin pada Diabetes Melitus tipe 2 disertai dengan penurunan reaksi
intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak efektif untuk
menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk mengatasi
resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam darah, harus
terjadi peningkatan jumlah insulin yang disekresikan.

Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat


sekresi insulin yang berlebihan dan kadar glukosa akan dipertahankan pada
tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun demikian, jika sel-sel
β tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan akan insulin, maka
kadar glukosa akan meningkat dan terjadi Diabetes Melitus Tipe 2.
Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri khas
Diabetes Melitus Tipe 2, namun masih terdapat insulin dengan jumlah yang
adekuat untuk mencegah pemecahan lemak dan produksi badan keton yang
menyertainya. Karena itu, Ketoasidosis Diabetik tidak terjadi pada
Diabetes Melitus Tipe 2.

Meskipun demikian, Diabetes Melitus Tipe 2 yang tidak terkontrol akan


menimbulkan masalah akut lainnya seperti sindrom Hiperglikemik
Hiperosmolar Non Ketotik (HHNK). Akibat intoleransi glukosa yang
berlangsung lambat (selama bertahun-tahun) dan progresif, maka awitan
Diabetes Melitus Tipe 2 dapat berjalan tanpa terdeteksi. Jika gejalanya
dialami pasien, gejala tersebut sering bersifat ringan, seperti: kelelahan,
iritabilitas, poliuri, polidipsia, luka pada kulit yang lama-lama sembuh,
infeksi vagina atau pandangan kabur (jika kadar glukosa nya sangat tinggi).
Salah satu konsekuensi tidak terdeteksinya penyakit Diabetes Melitus
selama bertahun-tahun adalah terjadinya komplikasi Diabetes Melitus
jangka panjang (misalnya, kelainan mata, Neuropati Perifer, kelainan
Vaskuler Perifer) mungkin sudah terjadi sebelum diagnosis ditegakkan
(Smeltzer dan Bare, 2015 dalam Ariyani, 2019).

1.6 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan untuk mengetahui apendisitis menurut Putri (2019):
1.6.1 Glukosa darah
Kriteria diagnostik menurut WHO untuk Diabetes Melitus pada
sedikitnya 2 kali pemeriksaan:
a. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL (11,1 mmol/L).
b. Glukosa plasma puasa >140 mg/dL (7,8 mmol/L).
c. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian
sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post pradinal
(pp) >200 mg/dL (Hasdianah, 2014 dalam Nurarif & kusuma,
2015).
1.6.2 Aseton plasma (keton) positif secara mencolok.
1.6.3 Elektrolit: Na mungkin normal, meningkat atau menurun, K
normal atau peningkatan semu selanjutnya akan menurun, fosfor
sering menurun.
1.6.4 Trombosit darah: Ht meningkat (dehidrasi), leukositosis dan
hemokonsentrasi merupakan respon terhadap stress atau infeksi.
1.6.5 Ureum/kreatinin: mungkin meningkat atau normal
1.6.6 Urine: gula dan aseton positif.

1.7 Komplikasi
Menurut Black & Hawks (2005) dalam Ariyani (2019)
mengklasifikasikan komplikasi Diabetes Melitus menjadi 2 kelompok
yaitu komplikasi akut dan komplikasi kronis:
1.7.1 Komplikasi Akut
a. Hipoglikemia
Kadar glukosa darah yang abnormal/rendah terjadi jika kadar
glukosa darah turun dibawah 60-50 mg/dL (3,3-2,7 mmol//L).
Keadaan ini dapat terjadi akibat pemberian insulin atau
preparat oral yang berlebihan, konsumsi makanan yang terlalu
sedikit atau karena aktivitas fisik yang berat. Hipoglikemia
dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam hari. Kejadian
ini bisa dijumpai sebelum makan, khususnya jika waktu makan
tertunda atau bila pasien lupa makan cemilan.
b. Ketoasidosis Diabetik
Keadaan ini disebabkan oleh tidak adanya insulin atau tidak
cukupnya jumlah insulin yang nyata. Keadaan ini
mengakibatkan gangguan pada metabolisme karbohidrat,
protein dan lemak. Pada tiga gambaran klinis yang penting
pada Ketoasidosis Diabetik: Dehidrasi, kehilangan elektrolit,
dan asidosis. Apabila jumlah insulin berkurang, jumlah
glukosa yang memasuki sel akan berkurang pula. Di samping
itu produksi glukosa oleh hati menjadi tidak terkendali. Kedua
faktor ini akan menimbulkan hiperglikemia.
c. Sindrom Hiperglikemi Hiperosmolar Nonketoik
Merupakan keadaan yang didominasi oleh hiperosmolaritas
dan hiperglikemia dan disertai perubahan tingkat kesadaran
(sense of awarness). Pada saat yang sama tidak ada atau terjadi
ketosis ringan. Kelainan dasar biokimia pada sindrom ini
berupa kekurangan insulin efektif. Keadaan hiperglikemia
persisten menyebabkan diuresis osmotic sehingga terjadi
kehilangan cairan elektrolit. Untuk mempertahankan
keseimbangan osmotik, cairan akan berpindah dari ruang
intrasel ke dalam ruang ekstrasel. Dengan adanya glukosuria
dan dehidrasi, akan dijumpai keadaan hipernatremia dan
peningkatan osmolaritas. Salah satu perbedaan utama antara
sindrom HHNK dan DKA adalah tidak terdapatnya ketosis dan
asidosis pada sindrom HHNK. Perbedaan jumlah insulin yang
terdapat dalam masing-masing keadaan ini dianggap penyebab
parsial perbedaan diatas. Pada hakikatnya, insulin tidak
terdapat pada DKA.
1.7.2 Komplikasi Kronis
a. Komplikasi Makrovaskuler
Perubahan aterosklerotik dalam pembuluh darah besar sering
terjadi pada Diabetes Melitus. Perubahan aterosklerotik ini
serupa dengan yang terlihat pada pasien-pasien nondiabetik,
kecuali dalam hal bahwa perubahan tersebut cenderung terjadi
pada usia yang lebih muda dengan frekuensi yang lebih besar
pada pasien-pasien Diabetes Melitus.
b. Komplikasi Mikrovaskuler
Perubahan mikrovaskuler merupakan komplikasi unik yang
hanya terjadi pada Diabetes Melitus. Penyakit Mikrovaskuler
Diabetik (mikroangiopati) ditandai oleh penebalan membrane
basalis pembuluh kapiler. Membran basalis mengelilingi sel-
sel endotel kapiler.
c. Retinopati Diabetik
Kelainan patologis mata yang disebut Retinopati Diabetik
disebabkan oleh perubahan dalam pembuluh-pembuluh darah
kecil pada retina mata.
d. Nefropati
Penyakit Diabetes Melitus turut menyebabkan kurang lebih
25% dari pasien-pasien dengan penyakit ginjal stadium
terminal yang memerlukan dialisis atau transplantasi setiap
tahunnya di Amerika Serikat. Penyandang Diabetes Melitus
Tipe 1 sering memperlihatkan tanda-tanda permulaan Penyakit
Renal setelah 15-20 tahun kemudian, sementara pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 dapat terkena penyakit Renal dalam
waktu 10 tahun sejak diagnosis Diabetes ditegakkan. Banyak
pasien Diabetes Melitus Tipe 2 yang sudah menderita Diabetes
Melitus selama bertahun-tahun sebelum penyakit tersebut
didiagnosis dan diobati.
e. Neuropati
Neuropati dalam Diabetes Melitus mengacu kepada
sekelompok penyakit-penyakit yaang menyerang semua tipe
saraf, termasuk saraf perifer (sensorimotor), otonom dan
spinal. Kelainan tersebut tampak beragam secara klinis dan
bergantung pada lokasi sel saraf yang terkena (Hasdianah,
2014 dalam Ariyani, 2019).

1.8 Penatalaksanaan Diabetes Melitus Tipe 2


Menurut Ariyani (2019) penatalaksanaan terapi pada diabetes melitus tipe
2 bertujuan untuk menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah
dalam upaya untuk mengurangi Komplikasi Vaskuler serta Neuropati.
Tujuan terapeutik pada setiap tipe Diabtes Melitus adalah mencapai kadar
glukosa darah normal.
Terdapat beberapa terapi dan tatalaksana yang dapat dilakukan oleh
penderita diabetes melitus tipe 2 antara lain:
1.8.1 Diet yang tepat
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari
penatalaksanaan Diabetes Melitus. Menurut Departemen
Kesehatan RI menetapkan bahwa kebutuhan kalori individu
sebesar 2000 kkalori/hari. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita
Diabetes Melitus diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini:
a. Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya
vitamin, mineral).
b. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai.
c. Memenuhi kebutuhan energi.
d. Mencegah fluktasi kadar glukosa darah mendekati normal
melalui cara-cara yang aman dan praktis.
e. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat.
1.8.2 Latihan fisik yang seusai dengan usia
Latihan sangat penting dalam penatalaksanaan Diabetes Melitus
karena efeknya dapat menurunkan kadar glukosa darah dan
mengurangi faktor resiko kardiovaskuler. Latihan akan
menurunkan kadar glukosa darah dengan meningkatkan
pengambilan glukosa oleh otot dan memperbaiki pemakaian
insulin. Sirkulasi darah dan tonus otot juga diperbaiki dengan
berolahraga. Latihan dengan cara melawan tahanan (resistance
training) dapat meningkatkan lean body mass dan dengan
demikian menambah laju metabolisme istirahat (resting metabolic
rate). Semua efek ini sangat bermanfaat pada Diabetes Melitus
karena dapat menurunkan berat badan, mengurangi rasa stress dan
mempertahankan kesegaran tubuh. Latihan ini juga akan
mengubah kadar lemak darah yaitu, meningkatkan kadar HDL
Kolesterol dan menurunkan kadar kolesterol total serta trigliserida.
Semua manfaat ini sangat penting bagi penyandang Diabetes
Melitus mengingat adanya peningkatan resiko untuk terkena
penyakit kardiovaskuler pada Diabetes Melitus.
1.8.3 Pemantauan Kadar Glukosa Darah Secara Mandiri
Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara
mandiri (SMBG, Self Monitoring of Blood Glucose) penderita
Diabetes Melitus kini dapat mengatur terapinya untuk
mengendalikan kadar glukosa darah secara optimal. Cara ini
memungkinkan deteksi dengan pencegahan hipoglikemia serta
hiperglikemia dan berperan untuk menentukan kadar glukosa
darah normal yang kemungkinan akan mengurangi komplikasi
Diabetes Melitus jangka panjang. Beberapa metode kini tersedia
untuk melakukan pemantauan mandiri kadar glukosa darah.
Kebanyakan metode tersebut mencakup pengambilan setetes
darah dari ujung jari tangan, aplikasikan darah tersebut pada strip
pereaksi khusus. Strip tersebut pertama-tama dimasukkan ke
dalam alat pengukur sebelum darah ditempelkan pada strip.
Setelah darah melekat pada strip, darah tersebut dibiarkan selama
pelaksanaan tes. Alat pengukur akan memperlihatkan kadar
glukosa darah dalam waktu yang singkat (kurang dari 1 menit).
1.8.4 Terapi obat oral atau insulin (jika diperlukan)
Menurut Rendy, M. Clevo dan Margareth TH (2012) dalam
Ariyani (2019) pada individu sehat, sekresi insulin mengimbangi
jumlah asupan makanan yang bermacam-macam dengan latihan
fisik, sebaliknya, individu dengan Diabetes Melitus tidak mampu
menyekresi jumlah yang cukup untuk mempertahankan kadar
glukosa darah. Sebagai akibatnya, kadar glukosa meningkat tinggi
sebagai respon terhadap makanan dan tetap tinggi dalam keadaan
puasa.
1.8.5 Pendidikan kesehatan
Menurut Corwin (2009) dalam Ariyani (2019) pasien Diabetes
Melitus relatif dapat hidup normal asalkan mereka mengetahui
dengan baik keadaan dan cara penatalaksanaan penyakit yang
dideritanya. Menurut Prince dan Wilson (2006) dalam Ariyani
(2019) mereka dapat belajar menyuntikkan insulin sendiri,
memantau kadar glukosa darah mereka dan memanfaatkan
informasi untuk mengatur dosis insulin serta merencanakan diet
serta latihan sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi
hiperglikemia atau hipoglikemia. Upaya pencegahan dapat
dilakukan dengan tiga tahap yaitu pencegahan primer, sekunder
dan tersier. Pencegahan primer merupakan semua aktivitas yang
ditujukan untuk mencegah timbulnya hiperglikemia pada populasi
umum misalnya dengan kampanye makanan sehat dan penyuluhan
bahaya Diabetes Melitus. Pencegahan sekunder yaitu upaya
mencegah atau menghambat timbulnya penyulit pada pasien yang
menderita penyakit Diabetes Melitus dengan pemberian
pengobatan dan tindakan deteksi dini penyakit. Pencegahan tersier
adalah semua upaya untuk mencegah komplikasi atau kecacatan
melalui penyuluhan dan pendidikan kesehatan. Upaya pencegahan
ini memberikan memerlukan keterlibatan semua pihak untuk
mensukseskannya baik dokter, perawat, ahli gizi, keluarga dan
pasien itu sendiri. Perawat sebagai educator sangat berperan untuk
memberikan informasi yang tepat pada pasien Diabetes Melitus
tentang penyakit, pencegahan, komplikasi, pengobatan dan
pengelolaan Diabetes Melitus termasuk di dalamnya memberi
motivasi dan meningkatkan efikasi diri (kepercayaan pada
kemampuan diri sendiri) (Brunner & Suddarth, 2015 dalam
Ariyani, 2019).
1.9 Pathway Diabetes Melitus Tipe 2

2. Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga pada Klien dengan Diabetes


Melitus Tipe 2
2.1 Pengkajian
Pengkajian adalah suatu tahapan ketika seorang perawat mengumpulkan
data/informasi secara terus-menerus tentang keluarga yang dibinanya.
Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanan asuhan keperawatan
keluarga (Gusti, 2013 dalam Setiawan, 2018).
a. Pengkajian Umum Menurut Susanto (2012) dalam (Ariyani, 2019)
pengkajian pada keluarga sebagai berikut:
1) Data umum
a) Identitas: Pada data ini yang perlu dikaji adalah tentang nama,
usia, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan genogram.
b) Komposisi Keluarga: Dikaji tentang daftar anggota keluarga
dan genogram.
c) Tipe Keluarga: Pada tipe keluarga ini yang dikaji yaitu tentang
jenis keluarga beserta kendala atau masalah yang terjadi dengan
tipe tersebut.
d) Suku Bangsa: Identifikasi budaya suku bangsa keluarga
tersebut.
e) Agama: Pada pengkajian ini yang perlu dikaji yaitu panutan
keluarga tersebut dan bagaimana keluarga tersebut
menjalankan ibadahnya.
f) Status Sosial Ekonomi Keluarga: Pada status sosial ekonomi
yang dikaji yaitu tentang pekerjaan, tempat kerja, dan
penghasilan setiap anggota yang sudah bekerja, sumber
penghasilan, berapa jumlah yang dihasilkan oleh setiap anggota
keluarga yang bekerja.
g) Aktivitas Rekreasi Kelurga: Dimana pengkajian ini berisi
tentang kegiatan keluarga dalam mengisi waktu luang dan
kapan keluarga pergi bersama ketempat rekreasi.
b. Riwayat dan Tahap Perkembangan Keluarga
1) Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini. Pada tahap ini yang dikaji
adalah hubungan keluarga saat ini, dan komunikasi antar keluarga
tersebut, apakah ada pertengkaran, perdebatan dan sebagainya antar
keluarga.
2) Tahap Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi
Pada tahap ini yang dikaji adalah tugas perkembangan keluarga saat
ini yang belum belum dilaksanakan secara optimal oleh keluarga.
3) Riwayat Keluarga Inti
Pada tahap ini yang dikaji adalah hubungan keluarga inti, dan apa
latar belakang sebelum menjalani sebuah kelurga.
4) Riwayat Keluarga Sebelumnya
Pada tahap ini yang dikaji adalah bagaimana keadaan keluarga
sebelumnya, sampai keadaan sekarang.
c. Keadaan Lingkungan
1) Karakteristik rumah
Pada tahap ini yang dikaji adalah letak posisi rumah pada denah
perkampungan yg ditinggali keluarga dengan jelas.
2) Karakteristik Tetangga dan Komunitas
Pada tahap ini yang dikaji adalah gambaran tentang rumah keluarga
dan apa yang dilakukan keluarga setiap harinya, misalnya berbaur
dengan tetangga.
3) Mobilitas Geografis Keluarga
Pada tahap ini yang dikaji adalah letak daerah rumah keluarga.
4) Perkumpulan Keluarga dan Interaksi Keluarga
Pada tahap ini yang dikaji adalah tentang interaksi dengan tetangga,
misalnya apakah keluarga mengikuti pengajian atau perkumpulan
ibu-ibu rumah tangga lainnya ataupun kegiatan lainya.
5) Sistem Pendukung Keluarga
Pada tahap ini dikaji adalah tentang kesulitan keungan yang
keluarga dapat diatasi dengan dukungan keluarga.
d. Struktur Keluarga
1) Pola-Pola Komunikasi Keluarga
Menjelaskan cara komunikasi antar anggota keluarga,
menggunakan sistem tertutup atau terbuka, kualitas dan frekuensi
komunikasi yang berlangsung serta isi pesan yang disampaikan.
2) Strukrur Kekuatan Keluarga
Keputusan dalam keluarga, siapa yang membuat yang memutuskan
dalam penggunaan keuangan, pengambilan keputusan dalam
pekerjaan tempat tinggal, serta siapa yang memutuskan kegiatan
dan kedisiplinan anak–anak. Model kekuatan atau kekuasaan yang
digunakan adalah membuat keputusan
3) Struktur dan Peran Keluarga
Menjelaskan peran dari masing–masing anggota keluarga baik
secara formal maupun informal.
4) Struktur Nilai atau Norma Keluarga
Menjelaskan mengenai nilai norma yang dianut keluarga dengan
kelompok atau komunitas.
e. Fungsi keluarga
1) Fungsi Afektif
Mengkaji diri keluarga, perasaan memiliki dan dimiliki keluarga,
dukungan keluarga terhadap anggota keluarga lainnya, kehangatan
kepada keluarga dan keluarga mengembangkan sikap saling
menghargai.
2) Fungsi Sosialisasi
Mengkaji tentang otonomi setiap anggota dalam keluarga, saling
ketergantungan dalam keluarga, yang bertanggung jawab dalam
membesarkan anak. Fungsi mengembangkan dan tempat melatih
anak untuk berkehidupan sosial sebelum meninggalkan rumah
untuk berhubungan dengan orang lain diluar rumah.
3) Fungsi Perawatan Kesehatan
Mengkaji tentang sejauh mana keluarga menyediakan makanan,
pakaian, dan perlindungan terhadap anggota yang sakit.
f. Stres dan koping keluarga
1) Stesor Jangka Pendek & Panjang
Stresor jangka pendek: yaitu stresor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaikan dalam waktu kurang dari 6 bulan.
Stresor jangka panjang: yaitu stresor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.
Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/stressor: Mengkaji
sejauh mana keluarga berespon terhadap situasi stresor yang ada.
2) Strategi Koping yang Digunakan
Strategi koping apa yang digunakan keluarga bila menghadapi
permasalahan.
3) Strategi Adaptasi Disfungsional
Menjelaskan adaptasi disfungsional (perilaku keluarga yang tidak
adaptif) ketika keluarga menghadapi masalah.
g. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan pada semua anggota keluarga metode ini
sama dengan pemerikasaan fisik di klinik atau rumah sakit yang
meliputi pemeriksaan head to toe dan pemeriksaan penunjang.
h. Harapan Keluarga
Pada akhir pengkajian, perawat menanyakan harapan keluarga
terhadap petugas kesehatan yang ada.
i. Pengkajian Fokus Diabetes Melitus (Purwanto, 2016 dalam Aryani,
2019), antara lain:
1) Aktifitas dan istirahat
Gejala: Lemah, letih, sulit bergerak/berjalan, kram otot, tonus otot
menurun, gangguan tidur/istirahat.
Tanda: Takikardia dan takipnea pada keadaan istirahat atau dengan
aktivitas, letargi/disorientasi, koma, penurunan kekuatan otot.
2) Sirkulasi
Gejala: Adanya riwayat Hipertensi, klaudikasi, kebas dan
kesemutan pada ekstermitas, ulkus pada kaki, penyembuhan luka
yang lama.
Tanda: Takikardia, perubahan tekanan darah postural, Hipertensi,
nadi yang menurun atau tidak ada, distrimia, kulit panas, kering dan
kemerahan, mata cekung.
3) Intergritas Ego
Gejala: Stres, tergantung pada orang lain, masalah financial yang
berhubugan dengan kondisi.
Tanda: Ansietas, peka rangsang.
4) Eliminasi
Gejala: Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, rasa nyeri
terbakar, kesulitan berkemih (infeksi), ISK baru atau berulang.
Nyeri tekan abdomen.
Tanda: Urine encer, pucat, kuning: poliuria (dapat berkembang
menjadi oliguria atau anuria jika terjadi hipovolemia berat). Urine
berkabut, bau busuk (infeksi). Abdomen keras, adanya asites,
bising usus lemah dan menurun, hiperaktif (diare).
5) Makanan/Cairan
Gejala: Hilang nafsu makan, mual muntah, tidak mengikuti diet,
peningkatan masukan glukosa atau karbohidrat, penururnan berat
badan lebih dari periode beberapa hari atau minggu, haus,
penggunaan diaretik (tiazid).
Tanda: Kulit kering atau bersisik, turgor kulit jelek, kekakuan atau
distensi abdomen, muntah. Pembesaran tiroid (peningkatan
kebutuhan metabolic dengan peningkatan gula darah). Bau halitosis
atau manis, bau buah (napas aseton).
6) Neurosensori
Gejala: Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas, kelemahan pada
otot, parestesia, gangguan penglihatan. Tanda: Disorientasi,
mengantuk, letargi, stupor atau koma (tahap lanjut). Gangguan
memori (baru dan masa lalu), kacau mental, Refleks Tendon Dalam
(RTD) menurun (koma). Aktivitas kejang (tahap lanjut dari DKA).
7) Nyeri Kenyamanan
Gejala: Abdomen yang tegang atau nyeri (sedang/berat).
Tanda: Wajah meringis dengan palpitasi: tampak sangat berhati
hati.
8) Keamanan
Gejala: Kulit kering, gatal, ulkus kulit.
Tanda: Demam, diaforesis, kulit rusak, lesi/ulserasi.
9) Pernafasan
Gejala: Merasa kekurangan oksigen, batuk dengan atau tidak ada
tanda sputum purulen (tergantung ada tidaknya infeksi).
Tanda: Demam, diaforesis, menurunnya kekuatan umum/rentang
gerak. Parestesia/paralisis otot termasuk otot-otot pernafasan.
10) Seksualitas
Gejala: Rabas vagina (cenderung infeksi).
Tanda: Masalah Impoten pada pria, kesulitan orgasme pada wanita.
11) Penyuluhan atau Pembelajaran
Gejala: Faktor resiko keluarga: Diabetes Melitus, Penyakit Jantung,
Stroke, Hipertensi, Febobarbital penyembuhan yang lambat.
Penggunaan obat seperti steroid, diuretik (tiazid), dilantin dan dapat
meningkatkan kadar glukosa darah.

2.2 Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


2.2.1 Diagnosa 1: Manajemen Kesehatan Tidak Efektif berhubungan
dengan Kurang Terpapar Informasi
1) Definisi:
Pola pengaturan dan pengintegrasian penanganan masalah
kesehatan kedalam kebiasaan hidup sehari-hari tidak
memuaskan untuk mencapai status kesehatan yang diharapkan.
2) Batasan Karakteristik:
 Kesulitan dengan  Kegagalan dalam
regimen yang melakukan tindakan
diprogramkan untuk mengurangi
 Kegagalan memasukkan faktor risiko
regimen pengobatan  Pilihan yang tidak
dalam kehidupan seharo- efektif dalam hidup
hari sehari-hari untuk
memenuhi tujuan
kesehatan
3) Faktor yang berhubungan:
 Konflik pengambilan keputusan
 Kesulitan mengatasi kompleksitas regimen terapeutik
 Kesulitan mengarahkan system pelayanan kesehatan yang
kompleks
 Tuntutan berlebihan
 Konflik keluarga
 Pola pelayanan kesehatan keluarga
 Kurang petunjuk untuk bertindak
 Kurang pengetahuan tentang program teraputik
 Kurang dukungan sosial
 Persepsi hambatan
 Persepsi keuntungan
 Persepsi keseriusan kondisi
 Persepsi kerentanan
 Ketidakberdayaan
4) Kondisi Terkait:
 Kondisi kronis (mis. Kanker, PPOK, sclerosis multiple.
Arthritis, gagal ginjal, ahti atau jantung coroner)
 Diagnosis baru yang mengharuskan perubahan gaya hidup.

2.2.2 Diagnosa 2: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah


1) Definisi:
Risiko terhadap variasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
2) Faktor Risiko:
 Kurang terpapar informasi  Periode
tentang manajemen pertumbuhan cepat
diabetes  Stress berlebihan
 Ketidaktepatan  Penambahan berat
pemantauan glukosa darah badan
 Kurang patuh pada rencana  Kurang dapat
manajemen diabetes menerima diagnosis
 Manajemen medikasi tidak  Kehamilan
terkontrol
3) Kondisi terkait:
 Diabetes melitus
 Ketoasidosis metabolic
 Hipoglikemia
 Diabetes gestasional
 Penggunaan kortikosteroid
 Nutrisi parenteral total (TPN)

2.3 Scoring Diagnosa Keperawatan Keluarga


Menetapkan prioritas masalah/diagnosa keperawatan keluarga adalah
dengan menggunakan skala menyusun prioritas dari Bailon dan Maglaya:
Proses Skoring:
2.3.1 Tentukan skor untuk setiap kriteria yang dibuat.
2.3.2 Skor dibagi dengan angka tertinggi kemudian dikalikan dengan
bobot.

𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ


× 𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖
2.3.3 Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria (skor tertinggi sama
dengan jumlah bobot, yaitu 5).

No. Kriteria Score Bobot Skoring Pembenaran

Manajemen Kesehatan Tidak Efektif berhubungan dengan Kurang Terpapar


Informasi
1. Sifat Masalah
Skala:
(akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Tidak/kurang
kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
sehat (3)
pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Ancaman
kesehatan (2)
 Keadaan
sejahtera (1)

2. Kemungkinan
masalah untuk
di ubah
Skala: (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Mudah (2) kemudian/setelah 2 kemudian/setelah kemudian/setelah
 Sebagian (1) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Tidak dapat
(0)

3. Potensial
masalah untuk
dicegah
Skala: (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Tinggi (3) kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
 Cukup (2) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Rendah (1)

4. Menonjolnya
masalah
Skala:
 Masalah
berat, harus
segera
ditangani (2) (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Ada masalah, kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
tetapi tidak pengkajian) pengkajian) pengkajian)
perlu
ditangani (1)
 Masalah
tidak
dirasakan (0)

(akan ditentukan kemudian/setelah


TOTAL
pengkajian)
Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
1. Sifat Masalah
Skala:
 Tidak/kurang
sehat (3) (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Ancaman kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
kesehatan (2) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Keadaan
sejahtera (1)
2. Kemungkinan
masalah untuk
di ubah
Skala: (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Mudah (2) kemudian/setelah 2 kemudian/setelah kemudian/setelah
 Sebagian (1) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Tidak dapat
(0)

3. Potensial
masalah untuk
dicegah
(akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Skala:
kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
 Tinggi (3)
pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Cukup (2)
 Rendah (1)

4. Menonjolnya
masalah
Skala:
 Masalah
berat, harus
segera
ditangani (2) (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Ada masalah, kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
tetapi tidak pengkajian) pengkajian) pengkajian)
perlu
ditangani (1)
 Masalah
tidak
dirasakan (0)

TOTAL (akan ditentukan kemudian/setelah


pengkajian)

2.4 Perencanaan Keperawatan


2.4.1 Diagnosa 1: Manajemen Kesehatan Tidak Efektif berhubungan
dengan Kurang Terpapar Informasi
1) Tujuan dan Kriteria Hasil (Nursing Outcomes
Classification/NOC)
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan keluarga,
diharapkan tingkat pengetahuan klien dan keluarga meningkat.
Kriteria Hasil:
1. Perilaku sesuai anjuran meningkat
2. Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat
3. Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun
4. Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun
5. Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat menurun
6. Perilaku membaik

2) Intervensi Keperawatan (Nursing Interventions


Classification/NIC)
Edukasi Kesehatan (I. 12383)
Intervensi Keperawatan Rasional

Observasi
- Kesiapan dan kemampuan menerima - Hal ini dapat membantu memilih jenis
informasi. metode pemberian edukasi yang tepat.
- Identifikasi faktor-faktor yang dapat
meningkatkan dan menurunkan
perilaku hidup bersih dan sehat.

Mandiri/Terapeutik
- Sediakan materi dan media - Untuk membantu dalam penyampaian
pendidikan kesehatan mengenai materi pendidikan kesehatan.
diabetes melitus.
- Jadwalkan pendidikan kesehatan
sesuai dengan kesepakatan
- Berikan kesempatan untuk bertanya

Edukasi
- Jelaskan faktor risiko yang dapat Untuk memaksimalkan pencegahan
mempengaruhi kesehatan terjadinya komplikasi lain dari diabetes
- Ajarkan perilaku hidup bersih dan melitus.
sehat
- Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat
2.4.2 Diagnosa 2: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
1) Tujuan dan Kriteria Hasil (Nursing Outcomes
Classification/NOC)
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan keluarga,
diharapkan tingkat pengetahuan klien dan keluarga
meningkat.

Kriteria Hasil:
1. Perilaku sesuai anjuran meningkat
2. Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat
3. Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun
4. Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun
5. Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat menurun
6. Perilaku membaik
2) Intervensi Keperawatan (Nursing Interventions
Classification/NIC)
Edukasi Kesehatan (I. 12383)

Intervensi Keperawatan Rasional

Observasi
- Kesiapan dan kemampuan menerima - Hal ini dapat membantu memilih jenis
informasi. metode pemberian edukasi yang tepat.
- Identifikasi faktor-faktor yang dapat
meningkatkan dan menurunkan
perilaku hidup bersih dan sehat.

Mandiri/Terapeutik
- Sediakan materi dan media - Untuk membantu dalam penyampaian
pendidikan kesehatan mengenai materi pendidikan kesehatan.
diabetes melitus.
- Jadwalkan pendidikan kesehatan
sesuai dengan kesepakatan
- Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi Untuk memaksimalkan pencegahan
- Jelaskan faktor risiko yang dapat terjadinya komplikasi lain dari diabetes
mempengaruhi kesehatan/diabetes melitus.
melitus
- Ajarkan perilaku hidup bersih dan
sehat
- Ajarkan strategi yang dapat
digunakan untuk meningkatkan
perilaku hidup bersih dan sehat

DAFTAR PUSTAKA

Ariyani, N. (2019). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Diabetes Melitus di


Wilayah Kerja Puskesams Sempaja Samarinda. Karya Tulis Ilmiah
Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur.
Bulecheck, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2013).
Nursing Interventions Classification (NIC). America: Elsivier.
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2018). NANDA-I Diagnosis Keperawatan
Definisi dan Kalisifikasi 2018-2020. Jakarta: EGC.
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013). Nursing Outcomes
Classification (NOC) Fifth Edition. America: Elsivier.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan NANDA, NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction
Taylor, C. M., & Ralph, S. S. (2017). Diagnosis Keperawatan dengan Rencana
Asuhan. Jakarta: EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta : DPP PPNI
Putri, S. S. (2019). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Diabetes Melitus Tipe
2. Karya Tulis Ilmiah Universitas Andalas.
Setiawan, H. (2018). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Diabetes Melitus Tipe
2. Karya Tulis Ilmiah Politeknik Kesehatan Semarang.
Wulandari, D., Hamidah, E., & Priatna. (2017). Analisa Asuhan Keperawatan
Keluarga pada Klien dengan Diabetes Melitus. Karya Tulis Ilmiah
Universitas Jendral Ahmad Yani.
LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP KELUARGA DAN KONSEP KEPERAWATAN KELUARGA

BELLA MARDYA
NPM. 2114901110015

STASE: KEPERAWATAN KELUARGA


DESA/KELURAHAN SUNGAI LULUT RT. 15
KECAMATAN SUNGAI TABUK, KABUPATEN BANJAR

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
2022
LEMBAR PERSETUJUAN

Nama : Bella Mardya

NPM : 2114901110015

Homebase : Desa/Kelurahan Sungai Lulut RT. 15

Tugas : Laporan Pendahuluan Konsep Keluarga & Keperawatan Keluarga

Banjarmasin, Maret 2022

Menyetejui,

Clinical Teacher (CT)

Alit Suwandewi, Ns., [Link].


1. Konsep Dasar Keluarga
1.1 Definisi/Deskripsi Keluarga
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan ikatan
perkawinan dan memiliki kedekatan emosi yang masing-masing
mengidentifikasi diri sebagai bagian dari keluarga (Susanto, 2012).
Keluarga adalah kumpulan dari dua atau lebih individu yang diikat oleh
hubungan darah, perkawinan atau adopsi dan setiap anggota keluarga
selalu berinteraksi satu sama lain (Harmoko, 2012). Menurut WHO (1969)
dalam (Kholifah & Widagdo, 2016) menjelaskan bahwa keluarga
merupakan anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui
pertalian darah, adopsi atau perkawinan.

Sedangkan menurut Depkes RI (1988) dalam (Sugiyanto, 2016)


menjelaskan bahwa keluarga adalah inti terkecil dari masyarakat yang
terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan
tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan. Jadi dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah inti terkecil
dalam masyarakat terdiri dari dua orang atau lebih yang hidup bersama di
bawah suatu atap dengan ikatan perkawianan, darah atau adopsi yang
memiliki kedekatan emosi dan saling ketergantungan.

1.2 Struktur Keluarga


Menurut Setiadi (2008) dalam Sugiyanto (2016), Struktur keluarga
menggambarkan bagaimana keluarga melaksanakan fungsinya di
masyarakat. Struktur keluarga terdiri dari:
1.2.1 Patrilineal
Keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis
ayah.
1.2.2 Matrilineal
Keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara dalam beberapa
generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
1.2.3 Matrilokal
Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
1.2.4 Patrilokal
Sepasang suami-istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami
1.2.5 Keluarga kawin
Hubungan sepasang suami istri sebagai dasar bagi pembinaan
keluarga dan beberapa sanak saudara menjadi bagian keluaga
karena adanya hubungan dengan suami atau istri.

1.3 Tipe Keluarga


Tipe keluarga terbagi menjadi dua (Kholifah dan Widagdo, 2016), yaitu
tipe keluarga tradisional (traditional family) dan tipe keluarga
nontradisional (modern family).
1.3.1 Tipe Keluarga Tradisional (traditional family)
[Link] The Nuclear family (keluarga inti), yaitu keluarga yang
terdiri atas suami, istri, dan anak, baik anak kandung
maupun anak angkat.
[Link] The dyad family (keluarga dyad), suatu rumah tangga yang
terdiri atas suami dan istri tanpa anak. Keluarga ini
mungkin belum mempunyai anak atau tidak mempunyai
anak.
[Link] Single parent, yaitu keluarga yang terdiri atas satu orang
tua dengan anak (kandung atau angkat). Kondisi ini dapat
disebabkan oleh perceraian atau kematian.
[Link] Single adult, yaitu suatu rumah tangga yang terdiri atas
satu orang dewasa. Tipe ini dapat terjadi pada seorang
dewasa yang tidak menikah atau tidak mempunyai suami.
[Link] Extended family, keluarga yang terdiri atas keluarga inti
ditambah keluarga lain, seperti paman, bibi, kakek, nenek,
dan sebagainya. Tipe keluarga ini banyak dianut oleh
keluarga Indonesia terutama di daerah pedesaan.
[Link] Middle-aged or elderly couple, orang tua yang tinggal
sendiri di rumah (baik suami/istri atau keduanya), karena
anak-anaknya sudah membangun karir sendiri atau sudah
menikah.
[Link] Kin-network family, beberapa keluarga yang tinggal
bersama atau saling berdekatan dan menggunakan barang-
barang pelayanan, seperti dapur dan kamar mandi yang
sama.
1.3.2 Tipe Keluarga Non-Tradisional (modern family)
[Link] Unmarried parent and child family, yaitu keluarga yang
terdiri atas orang tua dan anak dari hubungan tanpa nikah.
[Link] Cohabitating couple, orang dewasa yang hidup bersama di
luar ikatan perkawinan karena beberapa alasan tertentu.
[Link] Gay and lesbian family, seorang yang mempunyai
persamaan jenis kelamin tinggal dalam satu rumah
sebagaimana pasangan suami istri.
[Link] The nonmarital heterosexual cohabiting family, keluarga
yang hidup bersama berganti-ganti pasangan tanpa melalui
pernikahan.
[Link] Foster family, keluarga menerima anak yang tidak ada
hubungan keluarga/saudara dalam waktu sementara, pada
saat orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan
untuk menyatukan kembali keluarga yang aslinya.

1.4 Fungsi Keluarga


Menurut Friedman dalam Kholifah dan Widagdo (2016), fungsi keluarga
ada lima antara lain berikut ini:
1.4.1 Fungsi afektif
Fungsi ini meliputi persepsi keluarga tentang pemenuhan
kebutuhan psikososial anggota keluarga. Melalui pemenuhan
fungsi ini, maka keluarga akan dapat mencapai tujuan psikososial
yang utama, membentuk sifat kemanusiaan dalam diri anggota
keluarga, stabilisasi kepribadian dan tingkah laku, kemampuan
menjalin secara lebih akrab, dan harga diri.
1.4.2 Fungsi sosialisasi dan penempatan sosial
Sosialisasi dimulai saat lahir dan hanya diakhiri dengan kematian.
Sosialisasi merupakan suatu proses yang berlangsung seumur
hidup, karena individu secara kontinyu mengubah perilaku mereka
sebagai respon terhadap situasi yang terpola secara sosial yang
mereka alami. Sosialisasi merupakan proses perkembangan atau
perubahan yang dialami oleh seorang individu sebagai hasil dari
interaksi sosial dan pembelajaran peran-peran sosial.
1.4.3 Fungsi reproduksi
Keluarga berfungsi untuk meneruskan keturunan dan menambah
sumber daya manusia.
1.4.4 Fungsi ekonomi
Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara
ekonomi dan tempat untuk mengembangkan kemampuan individu
meningkatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
1.4.5 Fungsi perawatan kesehatan
Menyediakan kebutuhan fisik dan perawatan kesehatan. Perawatan
kesehatan dan praktik-praktik sehat (yang memengaruhi status
kesehatan anggota keluarga secara individual) merupakan bagian
yang paling relevan dari fungsi perawatan kesehatan.
[Link] Kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan
keluarga.
[Link] Kemampuan keluarga membuat keputusan yang tepat bagi
keluarga.
[Link] Kemampuan keluarga dalam merawat keluarga yang
mengalami gangguan kesehatan.
[Link] Kemampuan keluarga dalam mempertahankan atau
menciptakan suasana rumah yang sehat.
[Link] Kemampuan keluarga dalam menggunakan fasilitas.
1.5 Tahap Perkembangan Keluarga
Terdapat delapan tahap perkembangan keluarga menurut Sugiyanto
(2016), antara lain:
1.5.1 Keluarga baru menikah atau pemula
Tugas perkembangannya adalah:
1) Membangun perkawinan yang saling memuaskan;
2) Membina hubungan persaudaraan, teman, dan kelompok sosial;
3) Mendiskusikan rencana memiliki anak.
1.5.2 Tahap perkembangan keluarga yang kedua adalah keluarga dengan
anak baru lahir.
Tugas perkembangannya adalah:
1) Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap
mengintegrasikan bayi yang baru lahir ke dalam keluarga;
2) Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan
kebutuhan anggota keluarga;
3) Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan;
4) Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan
menambahkan peran-peran orang tua dan kakek nenek.
1.5.3 Keluarga dengan anak usia pra sekolah
Tugas perkembangannya adalah:
1) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga, seperti rumah, ruang
bermain, privasi, dan keamanan;
2) Mensosialisasikan anak;
3) Mengintegrasikan anak yang baru, sementara tetap memenuhi
kebutuhan anak yang lain;
4) Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga dan di
luar keluarga.
1.5.4 Keluarga dengan anak usia sekolah
Tugas perkembangannya adalah:
1) Mensosialisasikan anak-anak, termasuk meningkatkan prestasi
sekolah dan hubungan dengan teman sebaya yang sehat;
2) Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan;
3) Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.
1.5.5 Keluarga dengan anak remaja
Tugas perkembangannya adalah:
1) Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab ketika
remaja menjadi dewasa dan semakin mandiri;
2) Memfokuskan kembali hubungan perkawinan;
3) Berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak-anak.
1.5.6 Keluarga melepas anak usia dewasa muda
Tugas perkembangannya adalah:
1) Memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota
keluarga baru yang didapatkan melalui perkawinan anak-anak;
2) Melanjutkan untuk memperbaharui dan menyesuaikan kembali
hubungan perkawinan;
3) Membantu orangtua lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami
atau istri.
1.5.7 Keluarga dengan usia pertengahan
Tugas perkembangannya adalah:
1) Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan;
2) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dan penuh arti
dengan para orang tua lansia dan anak-anak;
3) Memperkokoh hubungan perkawinan.
1.5.8 Keluarga dengan usia lanjut
Tugas perkembangannya adalah:
1) Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan;
2) Menyesuaikan terhadap pendapatan yang menurun;
3) Mempertahankan hubungan perkawinan;
4) Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan;
5) Mempertahankan ikatan keluarga antargenerasi;
6) Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka (penelaahan
hidup).
1.6 Tugas Keluarga di Bidang Kesehatan
Menurut Setiadi (2008) dalam Kholifah & Widagdo (2016), Keluarga
mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan,
meliputi:
1.6.1 Mengenal masalah kesehatan keluarga. Orang tua perlu mengenal
keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota
keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga
secara tidak langsung menjadi perhatian orang tua atau keluarga.
1.6.2 Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas
ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan
pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai
kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.
Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat
agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi.
1.6.3 Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Seringkali
keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar, tetapi
keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui keluarga
sendiri. Anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
perlu mendapatkan tindak lanjut atau perawatan agar masalah yang
lebih parah tidak terjadi. Perawatan dapat dilakukan di institusi
pelayanan kesehatan atau di rumah apabila keluarga telah memiliki
kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama.
Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan
keluarga.
1.6.4 Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi
keluarga.
1.6.5 Mempertahankan hubungan timbal-balik antara keluarga dan
lembaga kesehatan (pemanfaatan kesehatan yang ada).
1.7 Peran Masing-Masing Anggota Keluarga
Menurut Friedman (2010) dalam Kholifah & Widagdo (2016), peran
keluarga dapat diklasifikasi menjadi dua kategori, yaitu peran formal dan
peran informal. Peran formal adalah peran eksplisit yang terkadung dalam
struktur peran keluarga. Peran informal bersifat tidak tampak dan
diharapkan memenuhi kebutuhan emosional keluarga dan memelihara
keseimbangan keluarga. Berbagai peranan yang terdapat dalam keluaraga
adalah:
1.7.1 Peran formal
Peran parental dan pernikahan, diidetifikasi menjadi delapan peran
yaitu peran sebagai provider (penyedia), peran sebagai pengatur
rumah tangga, peran perawatan anak, peran sosialisasi anak, peran
rekreasi, peran persaudaraan (kindship), peran terapeutik
(memenuhi kebutuhan afektif), dan peran seksual.
1.7.2 Peran informal
Terdapat berbagai peran informal yaitu peran pendorong,
pengharmonis, insiator-kontributor, pendamai, pioner keluarga,
penghibur, pengasuh keluarga, dan perantara keluarga.
Sedangkan Effendi (2002) dalam Sugiyanto (2016), membagi peran
keluarga sebagai berikut:
1) Peranan ayah
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anaknya, berperan sebagai
pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberian rasa aman, sebagai
kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai
anggota keluarga masyarakat dari lingkungannya.
2) Peranan ibu
Ibu sebagai istri dari suami dan anak-anaknya. Mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-
anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan
dalam keluarganya.
3) Peranan anak
Anak-anaknya melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan
tingkat perkembangan baik fisik, sosial, dan spiritual.

2. Konsep Dasar Keperawatan Keluarga


2.1 Definisi Keperawatan Keluarga
Keperawatan keluarga merupakan pelayanan holistik yang menempatkan
keluarga dan komponennya sebagai fokus pelayanan dan melibatkan
anggota keluarga dalam tahap pengkajian, diagnosis keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Depkes, 2010 dalam Kholifah &
Widagdo, 2016). Pengertian lain dari keperawatan keluarga adalah proses
pemberian pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan keluarga dalam lingkup
praktik keperawatan (Depkes RI, 2010 dalam Kholifah & Widagdo, 2016).

Pelayanan keperawatan keluarga merupakan salah satu area pelayanan


keperawatan di masyarakat yang menempatkan keluarga dan
komponennya sebagai fokus pelayanan dan melibatkan anggota keluarga
dalam pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, dengan
memobilisasi sumber pelayanan kesehatan yang tersedia di keluarga dan
sumber-sumber dari profesi lain, termasuk pemberi pelayanan kesehatan
dan sektor lain di komunitas (Depkes RI, 2010 dalam Kholifah & Widagdo,
2016).

2.2 Tujuan Keperawatan Keluarga


Tujuan keperawatan keluarga ada dua macam, yaitu tujuan umum dan
khusus. Tujuan umum dari keperawatan keluarga adalah kemandirian
keluarga dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Tujuan
khusus dari keperawatan keluarga adalah keluarga mampu melaksanakan
tugas pemeliharaan kesehatan keluarga dan mampu menangani masalah
kesehatannya berikut ini.
2.2.1 Mengenal masalah kesehatan yang dihadapi anggota keluarga
Kemampuan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan seluruh
anggota keluarga. Contohnya, apakah keluarga mengerti tentang
pengertian dan gejala kencing manis yang diderita oleh anggota
keluarganya.
2.2.2 Membuat keputusan secara tepat dalam mengatasi masalah
kesehatan anggota keluarga. Kemampuan keluarga dalam
mengambil keputusan untuk membawa anggota keluarga ke
pelayanan kesehatan. Contoh, segera memutuskan untuk
memeriksakan anggota keluarga yang sakit kencing manis ke
pelayanan kesehatan.
2.2.3 Memberi perawatan pada anggota keluarga yang mempunyai
masalah kesehatan. Kemampuan keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang sakit. Contoh, keluarga mampu merawat anggota
keluarga yang sakit kencing manis, yaitu memberikan diet DM,
memantau minum obat antidiabetik, mengingatkan untuk senam,
dan kontrol ke pelayanan kesehatan.
2.2.4 Memodifikasi lingkungan yang kondusif. Kemampuan keluarga
dalam mengatur lingkungan, sehingga mampu mempertahankan
kesehatan dan memelihara pertumbuhan serta perkembangan setiap
anggota keluarga. Contoh, keluarga menjaga kenyamanan
lingkungan fisik dan psikologis untuk seluruh anggota keluarga
termasuk anggota keluarga yang sakit.
2.2.5 Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan untuk pemeliharaan
dan perawatan anggota keluarga yang mempunyai masalah
kesehatan. Contoh, keluarga memanfaatkan Puskesmas, rumah
sakit, atau fasilitas pelayanan kesehatan lain untuk anggota
keluarganya yang sakit
2.3 Sasaran Keperawatan Keluarga
Menurut Kholifah dan Widagdo (2016) menjelaskan bahwa sasaran
keperawatan keluarga, antara lain:
2.3.1 Keluarga Sehat
Keluarga sehat adalah seluruh anggota keluarga dalam kondisi
tidak mempunyai masalah kesehatan, tetapi masih memerlukan
antisipasi terkait dengan siklus perkembangan manusia dan tahapan
tumbuh kembang keluarga. Fokus intervensi keperawatan terutama
pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit.
2.3.2 Keluarga Risiko Tinggi dan Rawan Kesehatan
Keluarga risiko tinggi dapat didefinisikan, jika satu atau lebih
anggota keluarga memerlukan perhatian khusus dan memiliki
kebutuhan untuk menyesuaikan diri, terkait siklus perkembangan
anggota keluarga dan keluarga dengan faktor risiko penurunan
status kesehatan.
2.3.3 Keluarga yang Memerlukan Tindak Lanjut
Keluarga yang memerlukan tindak lanjut merupakan keluarga yang
mempunyai masalah kesehatan dan memerlukan tindak lanjut
pelayanan keperawatan atau kesehatan, misalnya klien pasca
hospitalisasi penyakit kronik, penyakit degeneratif, tindakan
pembedahan, dan penyakit terminal.

2.4 Peran dan Fungsi Perawat Keluarga


Menurut Sugiyanto (2016) menjelaskan bahwa sasaran keperawatan
keluarga, antara lain:
2.4.1 Pelaksana
Peran dan fungsi perawat sebagai pelaksana adalah memberikan
pelayanan keperawatan dengan pendekatan proses keperawatan
dengan pendekatan proses keperawatan, mulai pengkajian sampai
evaluasi. Pelayanan diberikan karena adanya kelemahan fisik dan
mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurangnya keamanan
menuju kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara
mandiri. Kegiatan yang dilakukan bersifat promotif, preventif,
kuratif, serta rehabilitative.
2.4.2 Pendidik
Peran dan fungsi perawat sebagai pendidik adalah mengidentifikasi
kebutuhan menentukan tujuan, mengembangkan, merencanakan,
dan melaksanakan pendidikan kesehatan agar keluarga dapat
berperilaku sehat secara mandiri.
2.4.3 Konselor
Peran dan fungsi perawat sebagai konselor adalah memberikan
konseling atau bimbingan kepada individu atau keluarga dalam
mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan pengalaman yang
lalu untuk membantu mengatasi masalah kesehatan keluarga.
2.4.4 Kolaborator
Peran dan fungsi perawat sebagai kolaborator adalah melaksanakan
kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait dengan penyelesaian
masalah kesehatan di keluarga
Selain peran perawat keluarga di atas, ada juga peran perawat keluarga
dalam pencegahan primer, sekunder dan tersier, sebagai berikut:
1. Pencegahan Primer
Peran perawat dalam pencegahan primer mempunyai peran yang
penting dalam upaya pencegahan terjadinya penyakit dan memelihara
hidup sehat.
2. Pencegahan Sekunder
Upaya yang dilakukan oleh perawat adalah mendeteksi dini terjadinya
penyakit pada kelompok risiko, diagnosis, dan penanganan segera yang
dapat dilakukan oleh perawat. Penemuan kasus baru merupakan upaya
pencegahan sekunder, sehingga segera dapat dilakukan tindakan.
Tujuan dari pencegahan sekunder adalah mengendalikan perkembangan
penyakit dan mencegah kecacatan lebih lanjut. Peran perawat adalah
merujuk semua anggota keluarga untuk skrining, melakukan
pemeriksaan, dan mengkaji riwayat kesehatan.
3. Pencegahan Tersier
Peran perawat pada upaya pencegahan tersier ini bertujuan mengurangi
luasnya dan keparahan masalah kesehatan, sehingga dapat
meminimalkan ketidakmampuan dan memulihkan atau memelihara
fungsi tubuh. Fokus utama adalah rehabilitasi. Rehabilitasi meliputi
pemulihan terhadap individu yang cacat akibat penyakit dan luka,
sehingga mereka dapat berguna pada tingkat yang paling tinggi secara
fisik, sosial, emosional.

2.5 Pengkajian dalam Keperawatan Keluarga


Pengumpulan data dalam pengkajian dilakukan dengan wawancara,
observasi, dan pemeriksaan fisik dan studi dokumentasi. Pengkajian
asuhan keperawatan keluarga menurut teori/model Family Centre Nursing
Friedman (1988) dalam Sugiyanto (2016), meliputi 7 komponen
pengkajian yaitu:
2.5.1 Data Umum
1) Identitas kepala keluarga
2) Komposisi anggota keluarga
3) Genogram
4) Tipe keluarga
5) Suku bangsa
6) Agama
7) Status sosial ekonomi keluarga
2.5.2 Aktifitas rekreasi keluarga
1) Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
2) Tahap perkembangan keluarga saat ini
3) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
4) Riwayat keluarga inti
5) Riwayat keluarga sebelumnya
2.5.3 Lingkungan
1) Karakteristik rumah
2) Karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal
3) Mobilitas geografis keluarga
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
5) System pendukung keluarga
2.5.4 Struktur keluarga
1) Pola komunikasi keluarga
2) Struktur kekuatan keluarga
3) Struktur peran (formal dan informal)
4) Nilai dan norma keluarga
5) Fungsi keluarga
6) Fungsi afektif
7) Fungsi sosialisasi
8) Fungsi perawatan kesehatan
2.5.5 Stress dan koping keluarga
1) Stressor jangka panjang dan stressor jangka pendek serta
kekuatan keluarga
2) Respon keluarga terhadap stress
3) Strategi koping yang digunakan
4) Strategi adaptasi yang disfungsional
2.5.6 Pemeriksaan fisik
1) Tanggal pemeriksaan fisik dilakukan
2) Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada seluruh anggota
keluarga
3) Aspek pemeriksaan fisik mulai dari vital sign, rambut, kepala,
mata, mulut, THT, leher, thoraks, abdomen, ekstremitas atas
dan bawah, system genetalia
4) Kesimpulan dari hasil pemeriksaan fisik
2.5.7 Harapan keluarga
1) Terhadap masalah kesehatan keluarga
2) Terhadap petugas kesehatan yang ada
Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan saat pengkajian
menurut Supraji (2004) dalam Sugiyanti (2016), yaitu:
a. Membina hubungan baik
Dalam membina hubungan yang baik, hal yang perlu
dilakukan antara lain, perawat memperkenalkan diri dengan
sopan dan ramah tamah, menjelaskan tujuan kunjungan,
meyakinkan keluarga bahwa kehadiran perawat adalah
menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di keluarga,
menjelaskan luas kesanggupan bantuan perawat yang dapat
dilakukan, menjelaskan kepada keluarga siapa tim
kesehatan lain yang ada di keluarga.
b. Pengkajian awal
Pengkajian ini terfokus sesuai data yang diperoleh dari unit
pelayanan kesehatan yang dilakukan.
c. Pengkajian lanjutan (tahap kedua)
Pengkajian lanjutan adalah tahap pengkajian untuk
memperoleh data yang lebih lengkap sesuai masalah
kesehatan keluarga yang berorientasi pada pengkajian awal.
Disini perawat perlu mengungkapkan keadaan keluarga
hingga penyebab dari masalah kesehatan yang penting dan
paling dasar.

2.6 Diagnosa Keperawatan Keluarga


Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menggunakan dan
menggambarkan respons manuasia. Dimana keadaan sehat atau perubahan
pola interaksi potensial/actual dari individu atau kelompok dimana perawat
dapat menyusun intervensi-intervensi definitive untuk mempertahankan
status kesehatan atau untuk mencegah perubahan (Carpenito, 2000 dalam
Kholifah & Widagdo, 2016).
Untuk menegakkan diagnosa dilakukan 2 hal, yaitu:
a. Analisa data
Mengelompokkan data subjektif dan objektif, kemudian dibandingkan
dengan standar normal sehingga didapatkan masalah keperawatan.
b. Perumusan diagnosa keperawatan
Komponen rumusan diagnosa keperawatan meliputi:
1) Masalah (problem) adalah suatu pernyataan tidak terpenuhinya
kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota
keluarga.
2) Penyebab (etiologi) adalah kumpulan data subjektif dan objektif.
3) Tanda (sign) adalah sekumpulan data subjektif dan objektif yang
diperoleh perawat dari keluarga secara langsung atau tidak
langsung atau tidak yang mendukung masalah dan penyebab.
Dalam penyusunan masalah kesehatan dalam perawatan keluarga
mengacu pada tipologi diagnosis keperawatan keluarga yang dibedakan
menjadi 3 kelompok, yaitu:
1. Diagnosa sehat/Wellness/potensial
Yaitu keadaan sejahtera dari keluarga ketika telah mampu memenuhi
kebutuhan kesehatannya dan mempunyai sumber penunjang
kesehatan yang memungkinkan dapat digunakan. Perumusan diagnose
potensial ini hanya terdiri dari komponen Problem (P) saja dan
sign/symptom (S) tanpa etiologi (E).
2. Diagnosa ancaman/risiko
Yaitu masalah keperawatan yang belum terjadi. Diagnosa ini dapat
menjadi masalah actual bila tidak segera ditanggulangi. Perumusan
diagnosa risiko ini terdiri dari komponen problem (P), etiologi (E),
sign/symptom (S).
3. Diagnosa nyata/actual/gangguan
Yaitu masalah keperawatan yang sedang dijalani oleh keluarga dan
memerlukn bantuan dengan cepat. Perumusan diagnosa actual terdiri
dari problem (P), etiologi (E), dan sign/symptom (S). Perumusan
problem (P) merupakan respons terhadap gangguan pemenuhan
kebutuhan dasar. Sedangkan etiologi mengacu pada 5 tugas keluarga.
Dalam Friedman (1988) dalam Kholifah & Widagdo (2016) diagnose
diagnosa keperawatan pilihan NANDA yang cocok untuk praktek
keperawatan keluarga seperti tabel dibawah ini:

2.7 Perencanaan Keperawatan Keluarga


Perencanaan adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat untuk
dilaporkan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang
telah diidentifikasi. Penyusunan rencana perawatan dilakukan dalam 2
tahap yaitu pemenuhan skala prioritas dan rencana perawatan (Supraji,
2004 dalam Sugiyanto, 2016).
2.7.1 Skala prioritas
Prioritas didasarkan pada diagnosis keperawatan yang mempunyai
skor tinggi dan disusun berurutan sampai yang mempunyai skor
terendah. Dalam menyusun prioritas masalah kesehatan dan
keperawatan keluarga harus didasarkan beberapa criteria sebagai
berikut:
1) Sifat masalah (actual, risiko, potensial)
2) Kemungkinan masalah dapat diubah
3) Potensi masalah untuk dicegah
4) Menonjolnya masalah
Skoring dilakukan bila perawat merumuskan diagnosa keperawatan
telah dari satu proses skoring menggunakan skala yang telah
dirumuskan oleh Bailon dan Maglay (1978) dalam Effendy (1998)
dalam Sugiyanto (2016).

Proses scoring dilakukan untuk setiap diagnosa keperawatan:


1) Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang dibuat perawat
2) Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikaitkan dengan bobot
3) Jumlahkan skor untuk semua criteria
4) Skor tertinggi berarti prioritas (skor tertinggi 5)
2.7.2 Rencana
Langkah pertama yang dilakukan adalah merumuskan tujuan
keperawatan. Tujuan dirumuskan untuk mengetahui atau mengatasi
serta meminimalkan stressor dan intervensi dirancang berdasarkan
tiga tingkat pencegahan. Pencegahan primer untuk memperkuat
garis pertahanan fleksibel, pencegahan sekunder untuk
memperkuat garis pertahanan sekunder, dan pencegahan tersier
untuk memperkuat garis pertahanan tersier (Padila, 2012 dalam
Sugiyanto 2016). Tujuan terdiri dari tujuan jangka panjang dan
tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang mengacu pada
bagaimana mengatasi problem/masalah (P) di keluarga. Sedangkan
penetapan tujuan jangka pendek mengacu pada bagaimana
mengatasi etiologi yang berorientasi pada lima tugas keluarga.
Adapun bentuk tindakan yang akan dilakukan dalam intervensi
nantinya adalah sebagai berikut:
1) Menggali tingkat pengetahuan atau pemahaman keluarga
mengenai masalah
2) Mendiskusikan dengan keluarga mengenai hal-hal yang belum
diketahui dan meluruskan mengenai intervensi/interpretasi
yang salah.
3) Memberikan penyuluhan atau menjelaskan dengan keluarga
tentang faktor-faktor penyebab, tanda dan gejala, cara
menangani, cara perawatan, cara mendapatkan pelayanan
kesehatan dan pentingnya pengobatan secara teratur.
4) Memotivasi keluarga untuk melakukan hal-hal positif untuk
kesehatan.
5) Memberikan pujian dan penguatan kepada keluarga atas apa
yang telah diketahui dan apa yang telah dilaksanakan.

2.8 Implementasi Keperawatan Keluarga


Pelaksanaan dilaksanakan berdasarkan pada rencana yang telah disusun.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
terhadap keluarga yaitu:
1) Sumber daya keluarga
2) Tingkat pendidikan keluarga
3) Adat istiadat yang berlaku
4) Respon dan penerimaan keluarga
5) Sarana dan prasarana yang ada pada keluarga
2.9 Evaluasi Keperawatan Keluarga
Evaluasi merupakan kegiatan membandingkan antara hasil implementasi
dengan criteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat
keberhasilannya. Kerangka kerja valuasi sudah terkandung dalam rencana
perawatan jika secara jelas telah digambarkan tujuan perilaku yang spesifik
maka hal ini dapat berfungsi sebagai criteria evaluasi bagi tingkat aktivitas
yang telah dicapai (Friedman, 1998 dalam Kholifah & Widagdo, 2016).
Evaluasi disusun mnggunakan SOAP dimana:
1) S: Ungkapan perasaan atau keluhan yang dikeluhkan secara subyektif
oleh keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.
2) O: Keadaan obyektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat
menggunakan pengamatan yang obyektif.
3) A: Merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subyektif
dan obyektif.
4) P: Perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis
(Suprajitno, 2004 dalam Sugiyanto, 2016).
DAFTAR PUSTAKA

Harmoko. (2012). Asuhan Keperawatan Keluarga. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.


Kholifah, S. N., & Widagdo, W. (2016). Keperawatan Keluarga dan Komunitas.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Sugiyanto. (2016). Buku Ajara Praktik Keperawatan Keluarga dan Komunitas.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Susanto, T. (2012). Buku Ajar Keperawatan Keluarga: Aplikasi Teori Pada Praktik
Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta: Trans Info Media.
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA


DENGAN TODDLER (RISIKO STUNTING)

BELLA MARDYA
NPM. 2114901110015

STASE: KEPERAWATAN KELUARGA


DESA SUNGAI LULUT RT. 15, KECAMATAN SUNAGI TABUK
KABUPATEN BANJAR

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
2022
LEMBAR PERSETUJUAN

Nama : Bella Mardya

NPM : 2114901110015

Homebase : Desa Sungai Lulut RT. 15, Kec. Sungai Tabuk

Tugas : Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Keluarga pada


Toddler (Risiko Stunting)

Banjarmasin, Maret 2022

Menyetejui,

Clinical Instructor (CI)

Laila Sari, [Link]., Ns.


1. Konsep Dasar Keluarga dengan Tahap Perkembangan Toddler
1.1 Konsep Keluarga
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan ikatan
perkawinan dan memiliki kedekatan emosi yang masing-masing
mengidentifikasi diri sebagai bagian dari keluarga (Susanto, 2012).
Keluarga adalah kumpulan dari dua atau lebih individu yang diikat oleh
hubungan darah, perkawinan atau adopsi dan setiap anggota keluarga
selalu berinteraksi satu sama lain (Harmoko, 2012). Menurut WHO (1969)
dalam (Kholifah & Widagdo, 2016) menjelaskan bahwa keluarga
merupakan anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui
pertalian darah, adopsi atau perkawinan.

Sedangkan menurut Depkes RI (1988) dalam (Sugiyanto, 2016)


menjelaskan bahwa keluarga adalah inti terkecil dari masyarakat yang
terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan
tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan. Jadi dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah inti terkecil
dalam masyarakat terdiri dari dua orang atau lebih yang hidup bersama di
bawah suatu atap dengan ikatan perkawianan, darah atau adopsi yang
memiliki kedekatan emosi dan saling ketergantungan.

1.2 Tugas Keluarga Dibidang Kesehatan


Menurut Setiadi (2008) dalam Kholifah & Widagdo (2016), Keluarga
mempunyai tugas di bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan,
meliputi:
1.2.1 Mengenal masalah kesehatan keluarga. Orang tua perlu mengenal
keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota
keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga
secara tidak langsung menjadi perhatian orang tua atau keluarga.
1.2.2 Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga. Tugas
ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan
pertimbangan siapa diantara keluarga yang mempunyai
kemampuan memutuskan untuk menentukan tindakan keluarga.
Tindakan kesehatan yang dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat
agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi.
1.2.3 Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan. Seringkali
keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar, tetapi
keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui keluarga
sendiri. Anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
perlu mendapatkan tindak lanjut atau perawatan agar masalah yang
lebih parah tidak terjadi. Perawatan dapat dilakukan di institusi
pelayanan kesehatan atau di rumah apabila keluarga telah memiliki
kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan pertama.
Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan
keluarga.
1.2.4 Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi
keluarga.
1.2.5 Mempertahankan hubungan timbal-balik antara keluarga dan
lembaga kesehatan (pemanfaatan kesehatan yang ada).

1.3 Peran Masing-Masing Anggota Keluarga


Menurut Friedman (2010) dalam Kholifah & Widagdo (2016), peran
keluarga dapat diklasifikasi menjadi dua kategori, yaitu peran formal dan
peran informal. Peran formal adalah peran eksplisit yang terkadung dalam
struktur peran keluarga. Peran informal bersifat tidak tampak dan
diharapkan memenuhi kebutuhan emosional keluarga dan memelihara
keseimbangan keluarga. Berbagai peranan yang terdapat dalam keluaraga
adalah:
1.3.1 Peran formal
Peran parental dan pernikahan, diidetifikasi menjadi delapan peran
yaitu peran sebagai provider (penyedia), peran sebagai pengatur
rumah tangga, peran perawatan anak, peran sosialisasi anak, peran
rekreasi, peran persaudaraan (kindship), peran terapeutik
(memenuhi kebutuhan afektif), dan peran seksual.
1.3.2 Peran informal
Terdapat berbagai peran informal yaitu peran pendorong,
pengharmonis, insiator-kontributor, pendamai, pioner keluarga,
penghibur, pengasuh keluarga, dan perantara keluarga.
Sedangkan Effendi (2002) dalam Sugiyanto (2016), membagi peran
keluarga sebagai berikut:
1) Peranan ayah
Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anaknya, berperan sebagai
pencari nafkah, pendidik, pelindung, dan pemberian rasa aman, sebagai
kepala keluarga, sebagai anggota dari kelompok sosialnya serta sebagai
anggota keluarga masyarakat dari lingkungannya.
2) Peranan ibu
Ibu sebagai istri dari suami dan anak-anaknya. Mempunyai peranan
untuk mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik anak-
anaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan
sosialnya serta sebagai anggota masyarakat dari lingkungannya,
disamping itu juga ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan
dalam keluarganya.
3) Peranan anak
Anak-anaknya melaksanakan peranan psiko-sosial sesuai dengan tingkat
perkembangan baik fisik, sosial, dan spiritual.

1.4 Definisi Toddler


Toddler merupakan anak anak usia 1-3 tahun yang dapat dilihat
peningkatan ukuran tubuh terjadi secara bertahap bukan secara linier yang
menunjukan karakteristik percepatan atau perlambatan dalam tumbuh
kembang (Muscari, 2005 dalam Sugiyanto, 2016). Pada periode ini anak
akan mulai berjalan dan mengekplorasi rumah dan sekelilingnya,
menyusun 6 balok, mulai cemburu pada ayahnya, belajar makan sendiri,
mulai belajar dalam mengontrol buang air kecil, mulai mengikuti apa yang
dilakukan orang dewasa, dapat menunjuk mata dan hidung,
memperlihatkan minat dengan anak lain dan bermain dengan teman
temannya (Soetjiningsih, 1995 dalam Setiawan, 2018). Tindakan yang
dapat dilakukan pada periode ini dengan menganjurkan anak untuk
melakukan perawatan diri sendiri, memberi stimulasi untuk berbicara,
memberi kesempatan anak untuk bermain dengan teman sebaya, dan
berperan aktif dalam perawatan anak (Hidayat, 2009 dalam Putri, 2019).

1.5 Perkembangan Anak Usia Toddler


Perkembangan yang sudah mampu dicapai oleh anak usia toddler
diantaranya sebagai berikut:
1.5.1 Perkembangan motorik kasar anak usia toddler
a. Usia 12-18 bulan anak mampu berdiri sendiri tanpa
berpegangan, membungkuk untuk memungut permainannya
kemudian berdiri tegak kembali secara mandiri, berjalan
mundur lima langkah.
b. Usia 18-24 bulan anak mampu berdiri sendiri tanpa
berpegangan selama 30 detik, anak mampu berjalan tanpa
terhuyung-huyung.
c. Usia 24-36 bulan anak mampu menaiki tangga secara mandiri,
anak dapat bermain dan menendang bola kecil.
1.5.2 Perkembangan motorik halus anak usia toddler
a. Usia 12-18 bulan anak mampu menumpuk dua buah kubus,
memasukkan kubus ke dalam kotak.
b. Usia 18-24 bulan anak mampu melakukan tepuk tangan,
melambaikan tangan, menumpuk empat buah kubus,
memungut benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk, anak bisa
menggelindingkan bola ke sasaran.
c. Usia 24-36 bulan anak mampu mencoret-coretkan pensil diatas
kertas (Soetjiningsih dan Gde Ranuh, 2013 dalam Setiawan,
2018).
1.5.3 Perkembangan bahasa
Tahapan perkembangan bahasa pada anak yaitu Reflective
vocalization, Bubbling, Lalling, Echolalia, dan True speech. Usia
10-16 bulan anak mampu memproduksi kata-kata sendiri,
menunjuk bagian tubuh atau mampu memahami kata-kata tunggal.
Usia 18-24 bulan anak mampu memahami kalimat sederhana,
perbendaharaan kata meningkat pesat, menucapkan kalimat yang
terdiri dari dua kata atau lebih ; usia 24-36 bulan pengertian anak
sudah bagus terhadap percakapan yang sudah sering dilakukan di
keluarga, anak mampu melakukan percakapan melalui kegiatan
tanya-jawab (Soetjiningsih dan Gde Ranuh, 2013 dalam Setiawan,
2018).
1.5.4 Perkembangan personal-sosial
Teori Erick Erickson menyatakan perkembangan psikososial
seseorang dipengaruhi oleh masyarakat dibagi menjadi lma tahap
yaitu trust >< mistrust (usia 0-1 tahun), otonomi/mandiri ><
malu/ragu-ragu (usia 2-3 tahun), inisiatif >< rasa bersalah (usia 3
6 tahun), keaaktifan >< rendah diri (usia 6-12 tahun), identitas ><
fusi identitas (usia 12-20 tahun) Perkembangan personal-sosial
anak pada usia toddler sebagai berikut:
a. Usia 12-18 bulan anak mampu bermain sendiri di dekat orang
dewasa yang sudah dikenal, mampu menunjuk apa yang
diinginkan tanpa menangis, anak mampu mengeluarkan suara
yang menyenangkan atau menarik tangan ibu, memeluk orang
tua, memperlihatkan rasa cemburu atau bersaing.
b. Usia 18-24 bulan anak mampu minum dari cangkir dengan dua
tangan, belajar makan sendiri, mampu melepas sepatu dan
kaos kaki serta mampu melepas pakaian tanpa kancing, belajar
bernyanyi, meniru aktifitas di rumah, anak mampu mencari
pertolongan apabila ada kesulitan atau masalah, dapat
mengeluh bila basah atau kotor, frekuensi buang air kecil dan
besar sesuai, muncul kontrol buang air kecil biasanya tidak
kencing pada siang hari, mampu mengontrol buang air besar,
mulai berbagi mainan dan bekerja bersama-sama dengan anak
anak lain, anak bisa mencium orang tua.
c. Usia 24-36 bulan anak mampu menunjukkan kemarahan jika
keinginannya terhalang, mampu makan dengan sendook dan
garpu secara tepat, mampu dengan baik minum dari cangkir,
makan nasi sendiri tanpa banyak yang tumpah, mampu
melepas pakaian sendiri, sering menceritakan pengalaman
baru, mendengarkan cerita dengan gambar, mampu bermain
pura-pura, mulai membentuk hubungan sosial dan mampu
bermain dengan anak-anak lain, menggunakan bahasa untuk
berkomunikasi dengan ditambahkan gerakan isyarat.
(Soetjiningsih dan Gde Ranuh, 2013 dalam Putri, 2019)
1.5.5 Perkembangan seksualitas
Teori psikoseksual oleh Sigmund Freud menjelaskan bahwa tahap
perkembangan anak memiliki ciri dan waktu tertentu serta
diharapkan berjalan secara kontinyu. Berikut perkembangan
psikoseksual anak usia 12-36 bulan menurut Freud.
a. Fase oral (umur 0-1 tahun)
Tahap ini anak akan selalu memasukkan segala sesuatu yang
berada di genggamannya ke dalam mulut. Peran dan tugas ibu
disini adalah memberikan pengertian bahwa tidak semua
makanan dapat dimakan.
b. Fase anal (umur 2-3 tahun)
Fungsi tubuh yang memberikan kepuasan terhadap anus.
c. Fase phallic/oedipal (3-6 tahun)
Anak senang memegang genetalia, anak cenderung akan dekat
dengan orang tua yang berlawanan jenis kelamin (anak
perempuan akan lebih dekat dengan bapak) dan mempunyai
rasa persaingan ketat dengan orang tua sesama jenis (merasa
tersaingi oleh bapak dalam mendapatkan kasih sayang ibu).
d. Fase Laten (6-12 tahun)
Anak mulai megeksplor dunia luar, mulai mencari teman
sebaya untuk diajak bermain.
e. Fase Genital
Pemusatan seksual pada genetalia, anak belajar menentukan
identitas dirinya, belajar untuk tidak tergantung dengan orang
tua, bertanggung jawab pada dirinya sendiri, mulai ada
perasaan senang dengan lawan jenis (Ridha, 2014 dalam Putri,
2019).
1.5.6 Perkembangan kognitif anak usia toddler
Perkembangan kognitif anak meliputi semua aspek perkembangan
anak yang berkaitan dengan pengertian mengenai proses
bagaimana anak belajar dan memikirkan lingkungan. Kognisi
meliputi persepsi (penerimaan indra dan makna yang diindra),
imajinasi, menangkap makna, menilai dan menalar. Semua bentuk
mengenal, melihat, mengamati, memperhatikan, membayangkan,
memperkirakan, menduga dan menilai adalah kognisi
(Sulistyawati, 2015 dalam Setiawan, 2018). Menurut Piaget,
perkembangan kognitif anak dibagi dalam empat tahap, yaitu
sebagai berikut:
a. Sensori motor (0-2 tahun)
Tahap ini perkembangan panca indra sangat berpengaruh
dalam diri anak. Keinginan terbesar anak adalah menyentuh
atau memegang karena didorong oleh keinginan untuk
mengetahui reaksi dari perbuatannya.
b. Pra-operasional (usia 2-7 tahun)
Anak menjadi egosentris, sehingga terkesan pelit karena tidak
bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Anak memiliki
kecenderungan meniru orang disekitarnya. Usia 6-7 tahun
anak sudah mulai mengerti motivasi, tetapi mereka tidak
mengerti cara berpikir yang sistematis.
c. Operasional konkret (7-11 tahun)
Anak mulai berpikir logis tentang kejadian-kejadian konkrit,
proses berpikir menjadi lebih rasional.
d. Operasional formal (mulai umur 11 tahun)
Perkembangan kemampuan nalar abstrak dan imajinasi lebih
baik, pengertian terhadap ilmu dan teori lebih mendalam
(Sulistyawati, 2015 dalam Setiawan, 2018).

Sedangkan perkembangan kognitif anak toddler dijabarkan


sebagai berikut:
a. Usia 12-18 bulan anak dapat menemukan objek yang
disembunyikan, membedakan bentuk dan warna, memberikan
respon terhadap perintah sederhana, menggunakan trial dan
error untuk mempelajari tentang objek.
b. Usia 18-24 bulan anak mampu menggelindingkan bola kearah
sasaran, membantu atau meniru pekerjaan rumah tangga, dapat
memulai permainan pura-pura, memegang cangkir sendiri,
belajar makan dan minum sendiri, menikmati gambar
sederhana, mengeksplorasi lingkungan, mengetahui bagian-
bagian dari tubuhnya.
c. Usia 24-36 bulan anak dapat menunjuk satu atau lebih bagian
tubuhnya ketika diminta, melihat gambar dan dapat menyebut
nama benda dua atau lebih, dapat bercerita menggunakan
paragraf sederhana, menggabungkan dua sampai tiga kata
menjadi kalimat, menggunakan nama sendiri untuk
menyebutkan dirinya. (Soetjiningsih dan Gde Ranuh, 2013
dalam Putri, 2019).
1.5.7 Perkembangan moral anak usia toddler
Teori Kohlberg menyatakan perkembangan moral anak sudah
harus dibentuk pada usia toddler. Tahap orientasi hukuman dan
kepatuhan (sekitar usia 2-4 tahun) anak mampu menilai suatu
tindakan apakah baik atau buruk bergantung dari hasilnya berupa
hukuman atau penghargaan. Usia 4-7 tahun anak berada pada
tahap orientasi instrumental naif dimana segala tindakan ditujukan
ke arah pemuasan kebutuhan mereka dan lebih jarang ditujukan
pada kebutuhan orang lain, rasa keadilan konkret. Timbal balik
atau keadilan menjadi landasan mereka (misalkan, jika kamu
memukul tanganku, aku akan memukul tanganmu juga) tanpa
berpikir mengenai loyalitas atau rasa terima kasih (Wong, 2008
dalam Setiawan, 2018).

1.6 Tahap Perkembangan Keluarga


Tahap keluarga dengan kelahiran anak pertama (child bearing family)
berusia 0-30 bulan. Keluarga yang menantikan kelahiran dimulai dari
kehamilan sampai kelahiran anak pertama sampai anak pertama ber usia 30
bulan. Tugas pada perkembangan ini antara lain:
1.6.1 Persiapan menjadi orangtua
1.6.2 Membagi peran dan tanggung jawab
1.6.3 Menata ruang untuk anak atau mengembangkan suasana rumah
yang menyenangkan
1.6.4 Meprsiapkan biaya atau dana child bearing
1.6.5 Memfasilitasi role learning anggota keluarga
1.6.6 Bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bayi sampai balita
1.6.7 Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin

2. Konsep Dasar Stunting


2.1 Definisi/Deskripsi Stunting
Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linear yang sering terjadi pada
anak balita (Dewi, Arsiki, & Kumalasari, 2020). Stunting (kerdil) adalah
kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika
dibandingkan dengan umur (Juliansyah, 2018). Stunting adalah suatu
kondisi yang didefinisikan sebagai kondisi balita pendek yang dapat
diketahui dengan melakukan pengukuran terhadap panjang atau tinggi
badan anak dimana hasil pengukuran akan dibandingkan dengan tabel
standar pengukuran di buku KIA pada umumnya sesuai dengan jenis
kelamin anak (de Onis & Branca, 2016).

Stunting atau gagal tumbuh adalah suatu kondisi yang menggambarkan


status gizi kurang yang memiliki sifat kronis pada masa pertumbuhan dan
perkembangan anak sejak awal masa kehidupan yang dipresentasikan
dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur kurang dari minus dua (<-
2) standar deviasi berdasarkan standar pertumbuhan menurut WHO (Teja,
2019). Sedangkan menurut keputusan menteri kesehatan nomor
1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian
Status Gizi Anak meyatakan bahwa balita pendek dan sangat pendek adalah
apabila panjang badan (PB) dan Tinggi Badan (TB) yang dibandingkan
dengan umur yang kemudian hasilnya dibandingkan dengan standar WHO
dan hasil pengukuran dan perhitungannya berada dibawah garis normal
(Kemenkes RI, 2010).

2.2 Klasifikasi Stunting


Balita pendek (stunting) dapat diketahui bila seorang balita sudah diukur
panjang dan tinggi badannya, lalu dibandingkan dengan standart dan
hasilnya berada di bawah normal. Secara fisik balita akan lebih pendek
dibandigkan balita seumurnya (Kemenkes,RI 2016). Kependekan mengacu
pada anak yang memiliki indeks TB/U rendah. Pendek dapat
mencerminkan baik variasi normal dalam pertumbuhan ataupun defisit
dalam pertumbuhan. Stunting adalah pertumbuhan linear yang gagal
mencapai potensi genetik sebagai hasil dari kesehatan atau kondisi gizi
yang suboptimal (Anisa, 2012 dalam Dewi, Arsiki & Kumalasari, 2020).
Berikut klasifikasi status gizi stunting berdasarkan tinggi badan/panjang
badan menurut umur ditunjukkan dalam tabel.
2.3 Etiologi Stunting
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan stunting pada anak.
Faktor penyebab stunting ini dapat disebabkan oleh faktor langsung
maupun tidak langsung. Penyebab langsung dari kejadian stunting adalah
asupan gizi dan adanya penyakit infeksi sedangkan penyebab tidak
langsung adalah pemberian ASI dan MP-ASI, kurangnya pengetahuan
orang tua, faktor ekonomi, rendahnya pelayanan kesehatan dan masih
banyak faktor lainnya, seperti:
2.3.1 Faktor penyebab langsung
a. Asupan Gizi
Asupan gizi yang adekuat sangat diperlukan untuk
pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Usia anak 1-2,5 tahun
merupakan masa kritis dimana pada tahun ini terjadi
pertumbuhan dan perkembangan secara pesat. Konsumsi
makanan yang tidak cukup merupakan salah satu faktor yang
dapat menyebabkan stunting (Juliansyah, 2018).
b. Penyakit infeksi kronis
Adanya penyakit infeksi dalam waktu lama tidak hanya
berpengaruh terhadap berat badan akan tetapi juga berdampak
pada pertumbuhan linier. Infeksi juga mempunyai kontribusi
terhadap defisiensi energi, protein, dan gizi lain karena
menurunnya nafsu makan sehingga asupan makanan
berkurang. Pemenuhan zat gizi yang sudah sesuai dengan
kebutuhan namun penyakit infeksi yang diderita tidak
tertangani tidak akan dapat memperbaiki status kesehatan dan
status gizi anak balita.
2.3.2 Faktor penyebab tidak langsung
a. Faktor ASI Eksklusif dan MP-ASI
ASI eksklusif merupakan pemberian ASI tanpa makanan dan
minuman tambahan lain pada bayi berusia 0-6 bulan. ASI
sangat penting bagi bayi karena memiliki komposisi yang
dapat berubah sesuai kebutuhan bayi. Pada ASI terdapat
kolostrum yang banyak mengandung gizi dan zat pertahanan
tubuh, foremik (susu awal) yang mengandung protein laktosa
dan kadar air tinggi dan lemak rendah sedangkan hidramik
(susu akhir) memiliki kandungan lemak yang tinggi yang
banyak memberi energi dan memberi rasa kenyang lebih lama.

Pemberian MP-ASI merupakan sebuah proses transisi dari


asupan yang semula hanya ASI menuju ke makanan semi
padat. Tujuan pemberian MP-ASI adalah sebagai pemenuhan
nutrisi yang sudah tidak dapat terpenuhi sepenuhnya oleh ASI
selain itu sebagai latihan keterampilan makan, pengenalan
rasa. MP-ASI sebaiknya diberikan setelah bayi berusia 6 bulan
secara bertahap dengan mempertimbangkan waktu dan jenis
makanan agar dapat memenuhi kebutuhan energinya.
b. Pengetahuan Orang Tua
Orangtua yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik akan
memberikaan asuhan pada keluarga dengan baik pula.
Pengetahuan orangtua tentang gizi akan memberikan dampak
yang baik bagi keluarganya karena, akan berpengaruh terhadap
sikap dan perilaku dalam pemilihan makanan yang pada
akhirnya dapat mempengaruhi kebutuhan gizi.
(Nikmah, 2015 dalam Dewi, Ariski, & Kumalasari, 2020).
c. Faktor Ekonomi
Pendapatan yang rendah, biasanya mengkonsumsi makanan
yang lebih murah dan menu yang kurang bervariasi, sebaliknya
pendapatan yang tinggi umumnya mengkonsumsi makanan
yang lebih tinggi harganya, tetapi penghasilan yang tinggi
tidak menjamin tercapainya gizi yang baik. Pendapatan yang
tinggi tidak selamanya meningkatkan konsumsi zat gizi yang
dibutuhkan oleh tubuh, tetapi kenaikan pendapatan akan
menambah kesempatan untuk memilih bahan makanan dan
meningkatkan konsumsi makanan yang disukai meskipun
makanan tersebut tidak bergizi tinggi. (Ibrahim dan Faramita,
2014 dalam Juliansyah, 2018).
d. Rendahnya Minat pada Pelayanan Kesehatan
Perilaku masyarakat sehubungan dengan pelayanan kesehatan
di mana masyarakat yang menderita sakit tidak akan bertindak
terhadap dirinya karena merasa dirinya tidak sakit dan masih
bisa melakukan aktivitas seharihari dan beranggapan bahwa
gejala penyakitnya akan hilang walaupun tidak di obati.
Berbagai alasan dikemukakan mengapa masyarakat tidak mau
memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan seperti jarak
fasilitas kesehatan yang jauh, sikap petugas yang kurang
simpati dan biaya pengobatan yang mahal.

2.4 Manifestasi Klinis Stunting


Tanda dan gejala utama hipertensi adalah (Aspiani, 2014 dalam Putri
2019) menyebutkan gejala umum yang ditimbulkan dari stunting, antara
lain:
2.4.1 Anak berbadan lebih pendek dari anak seusianya
2.4.2 Wajah anak terlihat lebih muda dari seusianya
2.4.3 Berat badan rendah dari anak lain seusianya
2.4.4 Pertumbuhan gigi dan tulang terlambat
2.4.5 Tanda pubertas/akil baligh terlambat
2.4.6 Usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam dan sulit melakukan
kontak mata ketika diajak berbicara.

2.5 Patofisiologi Stunting


Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan akibat akumulasi
ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan
sampai usia 24 bulan. Keadaan ini diperparah dengan tidak terimbanginya
kejar tumbuh (catch up growth) yang memadai (Mitra, 2015 dalam de Onis
& Branca, 2016). Masalah stunting terjadi karena adanya adaptasi fisiologi
pertumbuhan atau non patologis, karena penyebab secara langsung adalah
masalah pada asupan makanan dan tingginya penyakit infeksi kronis
terutama ISPA dan diare, sehingga memberi dampak terhadap proses
pertumbuhan balita (Sudiman, 2018 dalam Putri, 2019).

Tidak terpenuhinya asupan gizi dan adanya riwayat penyakit infeksi


berulang menjadi faktor utama kejadian kurang gizi. Faktor sosial
ekonomi, pemberian ASI dan MP-ASI yang kurag tepat, pendidikan orang
tua, serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai akan mempengaruhi
pada kecukupan gizi. Kejadian kurang gizi yang terus berlanjut dan karena
kegagalan dalam perbaikan gizi akan menyebabkan pada kejadian stunting
atau kurang gizi kronis. Hal ini terjadi karena rendahnya pendapatan
sehingga tidak mampu memenuhi kecukupan gizi yang sesuai (Maryunani,
2016 dalam Dewi, Arsiki, & Kumalasari, 2020).

Pada balita dengan kekurangan gizi akan menyebabkan berkurangnya


lapisan lemak di bawah kulit hal ini terjadi karena kurangnya asupan gizi
sehingga tubuh memanfaatkan cadangan lemak yang ada, selain itu
imunitas dan produksi albumin juga ikut menurun sehingga balita akan
mudah terserang infeksi dan mengalami perlambatan pertumbuhan dan
perkembangan. Balita dengan gizi kurang akan mengalami peningkatan
kadar asam basa pada saluran cerna yang akan menimbulkan diare
(Maryunani, 2016 dalam Dewi, Arsiki & Kumalasari, 2020).

2.6 Dampak Stunting


Masalah gizi terutama masalah balita stunting dapat menyebabkan proses
tumbuh kembang menjadi terhambat, dan memiliki dampak negatif yang
akan berlangsung untuk kehidupan selanjutnya. Sebuah penelitian
menunjukkan bahwa balita pendek sangat berhubungan dengan prestasi
pendidikan yang kurang dan pendapatan yang rendah sebagai orang dewasa
(Juliansyah, 2018).
Menurut WHO (2018) dalam Putri (2019), dampak yang terjadi akibat
stunting dibagi menjadi dampak jangka pendek dan dampak jangka
panjang.
2.6.1 Dampak jangka pendek, yaitu:
a. Peningkatan kejadian kesakitan dan kematian.
b. Perkembangan kognitif, motorik dan verbal pada anak tidak
optimal.
c. Peningkatan biaya kesehatan
2.6.2 Dampak jangka panjang, yaitu:
a. Postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek bila
dibandingkan pada umumnya)
b. Meningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnya
c. Menurunnya kesehatan reproduksi
d. Kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal saat masa
sekolah
e. Produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal

2.7 Pemeriksaan Penunjang


Pemerikaan penunjang untuk penderita hipertensi menurut (Nurarif dan
kusuma, 2015), antara lain:
2.7.1 Melakukan pemeriksaan fisik.
2.7.2 Melakukan pengukuran antropometri BB, TB/PB, LILA, lingkar
kepala.
2.7.3 Melakukan penghitungan IMT.
2.7.4 Pemeriksaan laboratorium darah: albumin, globulin, protein total,
elektrolit serum.
2.7.5 Melakukan deteksi tumbuh kembang (jika perlu)
2.8 Penatalaksanaan Stunting
Menurut Juliansyah (2018) beberapa cara yang dapat dilakukan untuk
mengatasi stunting yaitu:
2.8.1 Penilaian status gizi yang dapat dilakukan melalui kegiatan
posyandu setiap bulan.
2.8.2 Pemberian makanan tambahan pada balita.
2.8.3 Pemberian vitamin A.
2.8.4 Memberi konseling oleh tenaga gizi tentang kecukupan gizi balita.
2.8.5 Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dan dilanjutkan sampai
usia 2 tahun dengan ditambah asupan MP-ASI.
2.8.6 Pemberian suplemen menggunakan makanan penyediaan
makanan dan minuman menggunakan bahan makanan yang sudah
umum dapat meningkatkan asupan energi dan zat gizi yang besar
bagi banyak pasien.
2.8.7 Pemberian suplemen menggunakan suplemen gizi khusus peroral
siap guna yang dapat digunakan bersama makanan untuk
memenuhi kekurangan gizi.

2.9 Pencegahan Stunting


Stunting merupakan salah satu target Sustainable Development Goals
(SDGs) yang termasuk pada tujuan pembangunan berkelanjutan ke-2 yaitu
menghilangkan kelaparan dan segala bentuk malnutrisi pada tahun 2030
serta mencapai ketahanan pangan. Target yang ditetapkan adalah
menurunkan angka stunting hingga 40% pada tahun 2025. Untuk
mewujudkan hal tersebut, pemerintah menetapkan stunting sebagai salah
satu program prioritas. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
39 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia
Sehat dengan Pendekatan Keluarga, upaya yang dilakukan untuk
menurunkan prevalensi stunting di antaranya sebagai berikut:
2.9.1 Ibu Hamil dan Bersalin
a. Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan;
b. Mengupayakan jaminan mutu ante natal care (ANC) terpadu;
c. Meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan;
d. Menyelenggarakan program pemberian makanan tinggi kalori,
protein, dan mikronutrien (TKPM);
e. Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular);
f. Pemberantasan kecacingan;
g. Meningkatkan transformasi Kartu Menuju Sehat (KMS) ke
dalam Buku KIA;
h. Menyelenggarakan konseling Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
dan ASI eksklusif
i. Penyuluhan dan pelayanan KB.
2.9.2 Balita
a. Pemantauan pertumbuhan balita;
b. Menyelenggarakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan
(PMT) untuk balita;
c. Menyelenggarakan stimulasi dini perkembangan anak; dan
d. Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal.
2.9.3 Anak Usia Sekolah
a. Melakukan revitalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);
b. Menguatkan kelembagaan Tim Pembina UKS;
c. Menyelenggarakan Program Gizi Anak Sekolah (PROGAS);
dan
d. Memberlakukan sekolah sebagai kawasan bebas rokok dan
narkoba.
2.10 Pathway Stunting
3. Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Anggota Keluarga
dengan Stunting/Risiko Stunting
Asuhan keperawatan keluarga merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam
praktek keperawatan yang diberikan pada klien sebagai anggota keluarga pada
tatanan komunitas dengan menggunakan proses keperawatan, berpedoman pada
standar keperawatan dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab
keperawatan (WHO, 2014 dalam Nurarif & Kusuma 2015). Asuhan
keperawatan keluarga adalah suatu rangkaian yang diberikan melalui praktik
keperawatan dengan sasaran keluarga. Asuhan ini bertujuan untuk
menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami keluarga dengan menggunakan
pendekatan proses keperawatan, yaitu sebagai berikut (Heniwati, 2008 dalam
Putri, 2019):
3.1 Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah awal pelaksanaan asuhan keperawatan,
agar diperoleh data pengkajian yang akurat dan sesuai dengan keadaan
keluarga. Sumber informasi dari tahapan pengkajian dapat menggunakan
metode wawancara keluarga, observasi fasilitas rumah, pemeriksaan fisik
pada anggota keluarga dan data sekunder. Hal-hal yang perlu dikaji dalam
keluarga adalah:
a. Data Umum
Pengkajian terhadap data umum keluarga meliputi:
1) Nama kepala keluarga
2) Alamat dan telepon
3) Pekerjaan kepala keluarga
4) Pendidikan kepala keluarga
5) Komposisi keluarga dan genogram
6) Tipe keluarga
7) Suku bangsa
8) Agama
9) Status sosial ekonomi keluarga
10) Aktifitas rekreasi keluarga
b. Riwayat dan tahap perkembangan keluarga meliputi:
1) Tahap perkembangan keluarga saat ini ditentukan dengan anak
tertua dari keluarga inti
2) Tahap keluarga yang belum terpenuhi yaitu menjelaskan mengenai
tugas perkembangan yang belum terpenuhi oleh keluarga serta
kendala mengapa tugas perkembangan tersebut belum terpenuhi.
3) Riwayat keluarga inti yaitu menjelaskan mengenai riwayat
kesehatan pada keluarga inti yang meliputi riwayat penyakit
keturunan, riwayat kesehatan masing-masing anggota keluarga,
perhatian terhadap pencegahan penyakit, sumber pelayanan
kesehatan yang biasa digunakan keluarga serta pengalaman-
pengalaman terhadap pelayanan kesehatan.
4) Riwayat keluarga sebelumnya yaitu dijelaskan mengenai riwayat
kesehatan pada keluarga dari pihak suami dan istri.
c. Pengkajian Lingkungan
1) Karakteristik rumah
2) Karakteristik tetangga dan komunitas RW
3) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
4) Sistem pendukung keluarga
d. Struktur keluarga
1) Pola komunikasi keluarga yaitu menjelaskan mengenai cara
berkomunikasi antar anggota keluarga.
2) Struktur kekuatan keluarga yaitu kemampuan anggota keluarga
mengendalikan dan mempengaruhi orang lain untuk merubah
perilaku.
3) Struktur peran yaitu menjelaskan peran dari masing-masing
anggota keluarga baik secara formal maupun informal.
4) Nilai atau norma keluarga yaitu menjelaskan mengenai nilai dan
norma yang dianut oleh keluarga yang berhubungan dengaan
kesehatan.
e. Fungsi keluarga:
1) Fungsi afektif, yaitu perlu dikaji gambaran diri anggota keluarga,
perasaan memiliki dan dimiliki dalam keluarga, dukungan keluarga
terhadap anggota keluarga lain, bagaimana kehangatan tercipta
pada anggota keluarga dan bagaimana keluarga mengembangkan
sikap saling menghargai.
2) Fungsi sosialisai, yaitu perlu mengkaji bagaimana berinteraksi atau
hubungan dalam keluarga, sejauh mana anggota keluarga belajar
disiplin, norma, budaya dan perilaku.
3) Fungsi perawatan kesehatan, yaitu meenjelaskan sejauh mana
keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlu dukungan serta
merawat anggota keluarga yang sakit. Sejauh mana pengetahuan
keluarga mengenal sehat sakit. Kesanggupan keluarga dalam
melaksanakan perawatan kesehatan dapat dilihat dari kemampuan
keluarga dalam melaksanakan tugas kesehatan keluarga, yaitu
mampu mengenal masalah kesehatan, mengambil keputusan untuk
melakukan tindakan, melakukan perawatan kesehatan pada anggota
keluarga yang sakit, menciptakan lingkungan yang dapat
meningkatan kesehatan dan keluarga mampu memanfaatkan
fasilitas kesehatan yang terdapat di lingkungan setempat.
4) Pemenuhan tugas keluarga. Hal yang perlu dikaji adalah sejauh
mana kemampuan keluarga dalam mengenal, mengambil
keputusan dalam tindakan, merawat anggota keluarga yang sakit,
menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan dan
memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.
f. Stres dan koping keluarga
1) Stressor jaangka pendek dan panjang
2) Stressor jangka pendek yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu kurang dari 5 bulan.
3) Stressorr jangka panjang yaitu stressor yang dialami keluarga yang
memerlukan penyelesaian dalam waktu lebih dari 6 bulan.
4) Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/ stressor
5) Strategi koping yang digunakan keluarga bila menghadapi
permasalahan.
6) Strategi adaptasi fungsional yang divunakan bila menghadapi
permasalah
g. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan terhadap semua anggotaa keluarga.
Metode yang digunakan pada pemeriksaan fisik tidak berbeda dengan
pemeriksaan fisik di klinik. Harapan keluarga yang dilakukan pada
akhir pengkajian, menanyakan harapan keluarga terhadap petugas
kesehatan yang ada.
h. Pengkajian khusus toddler
1) Stimulasi apa yang diberikan oleh keluarga selama di rumah dan
adakah sara stimulasinya.
2) Berapa lama waktu yag dimiliki oleh orang tua bersama dengan
anak
3) Siapakh orang yang setiap hari bersama dengan anak
4) Bagaimana harapan keluarga terhadap anak saat ini
5) Bagaimana pelaksanaan fungsi dan tugas keluarga terhafap tumbuh
kembang anak.

3.2 Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul


3.2.1 Diagnosa 1: Defisit pengetahuan tentang stunting berhubungan
dengan kurang terpapar informasi mengenai hipertensi
(keluarga belum mampu mengenal masalah)
1) Definisi:
Ketiadaan atau defisien informasi kognitif yang berkaitan
dengan topic tertentu atau kemahiran.
2) Batasan Karakteristik:
 Ketidakakuratan mengikuti  Perilaku tidak tepat
perintah  Kurang pengetahun
 Ketidakakuratan melakukan tes
3) Faktor yang berhubungan:
 Kurang informasi
 Kurang minat untuk belajar
 Kurang sumber pengetahuan
 Keterangan yang salah dari orang lain
4) Kondisi Terkait:
 Kondisi klinis yang baru dihadapi oleh klien
 Penyakit akut
 Penyakit kronis
 Gangguan fungsi kognitif
 Gangguan memori
 Gangguan nutrisi

3.2.2 Diagnosa 2: Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif


berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat
dalam mengenal masalah anggota keluarga dengan stunting
1) Definisi:
Pola pengaturan dan pengintegrasian ke dalam proses keluarga,
suatu program untuk pengobatan penyakit dan sekuelanya yang
tidak memuaskan untuk memenuhi tujuan kesehatan tertentu
dari unit keluarga.
2) Batasan Karakteristik:
 Akselerasi gejala penyakit  Kegagalan melakukan
seorang anggota keluarga tindakan mengurangi
 Kurang perhatian pada faktor risiko
penyakit  Ketidaktepatan aktivitas
 Kesulitan dengan regimen keluarga untuk
yang ditetapkan memenuhi tujuan
kesehatan
3) Faktor yang berhubungan:
 Konflik pengambilan keputusan
 Kesulitan mengatasi kerumitan program pengobatan
 Kesulitan mengarahkan system pelayanan kesehatan yang
rumit
 Konflik keluarga
4) Kondisi Terkait
 PPOK
 Sklerosis multiple
 Artritis rheumatoid
 Nyeri kronis
 Penyalahgunaan zat
 Gagal ginjal/hati tahap terminal
 Penyakit degeneratif
 Masalah status nutrisi

3.3 Scoring Diagnosa Keperawatan Keluarga


Menetapkan prioritas masalah/diagnosa keperawatan keluarga adalah
dengan menggunakan skala menyusun prioritas dari Bailon dan Maglaya:
Proses Skoring:
3.3.1 Tentukan skor untuk setiap kriteria yang dibuat.
3.3.2 Skor dibagi dengan angka tertinggi kemudian dikalikan dengan
bobot.

𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ


× 𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑇𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖
3.3.3 Jumlahkanlah skor untuk semua kriteria (skor tertinggi sama
dengan jumlah bobot, yaitu 5).

No. Kriteria Score Bobot Skoring Pembenaran

Defisit pengetahuan tentang stunting berhubungan dengan kurang terpapar informasi


mengenai stunting (keluarga belum mampu mengenal masalah)
1. Sifat Masalah
Skala:
(akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Tidak/kurang
kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
sehat (3)
pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Ancaman
kesehatan (2)
 Keadaan
sejahtera (1)

2. Kemungkinan
masalah untuk
di ubah
Skala: (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Mudah (2) kemudian/setelah 2 kemudian/setelah kemudian/setelah
 Sebagian (1) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Tidak dapat
(0)

3. Potensial
masalah untuk
dicegah
Skala: (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Tinggi (3) kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
 Cukup (2) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Rendah (1)

4. Menonjolnya
masalah
Skala:
 Masalah
berat, harus
segera
ditangani (2) (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Ada masalah, kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
tetapi tidak pengkajian) pengkajian) pengkajian)
perlu
ditangani (1)
 Masalah
tidak
dirasakan (0)

(akan ditentukan kemudian/setelah


TOTAL
pengkajian)
Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif berhubungan dengan ketidakmampuan
keluarga merawat dalam mengenal masalah anggota keluarga dengan stunting
1. Sifat Masalah
Skala:
 Tidak/kurang
sehat (3) (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Ancaman kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
kesehatan (2) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Keadaan
sejahtera (1)
2. Kemungkinan
masalah untuk
di ubah
Skala: (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Mudah (2) kemudian/setelah 2 kemudian/setelah kemudian/setelah
 Sebagian (1) pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Tidak dapat
(0)

3. Potensial
masalah untuk
dicegah
(akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
Skala:
kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
 Tinggi (3)
pengkajian) pengkajian) pengkajian)
 Cukup (2)
 Rendah (1)

4. Menonjolnya
masalah
Skala:
 Masalah
berat, harus
segera
ditangani (2) (akan ditentukan (akan ditentukan (akan ditentukan
 Ada masalah, kemudian/setelah 1 kemudian/setelah kemudian/setelah
tetapi tidak pengkajian) pengkajian) pengkajian)
perlu
ditangani (1)
 Masalah
tidak
dirasakan (0)

TOTAL (akan ditentukan kemudian/setelah


pengkajian)

3.4 Perencanaan Keperawatan


3.4.1 Diagnosa 1: Defisit pengetahuan tentang stunting berhubungan
dengan kurang terpapar informasi mengenai stunting (keluarga
belum mampu mengenal masalah)
1) Tujuan dan Kriteria Hasil (Nursing Outcomes
Classification/NOC)
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan keluarga,
diharapkan tingkat pengetahuan klien dan keluarga meningkat.
Kriteria Hasil:
1. Perilaku sesuai anjuran meningkat
2. Perilaku sesuai dengan pengetahuan meningkat
3. Pertanyaan tentang masalah yang dihadapi menurun
4. Persepsi yang keliru terhadap masalah menurun
5. Menjalani pemeriksaan yang tidak tepat menurun
6. Perilaku membaik
2) Intervensi Keperawatan (Nursing Interventions
Classification/NIC)
Edukasi Perilaku Upaya Kesehatan (I.12435)

Intervensi Keperawatan Rasional

Observasi
- Identifikasi kesiapan dan Untuk memastikan bahwa informasi
kemampuan menerima informasi. dapat diterima dengan baik oleh klien
dan keluarga
Mandiri/Terapeutik
Sediakan materi dan media pendidikan - Untuk memudahkan penyampaian
kesehatan mengenai stunting. materi terkait dengan stunting.

Edukasi
Jelaskan penanganan masalah Untuk membantu dalam membantu
kesehatan (stunting). penanganan stunting.

Kolaborasi
Kolaborasi dengan puskesmas untuk Untuk mempercepat perbaikan
pemberian informasi tambahan dan kondisi klien.
PMT.

3.4.2 Diagnosa 2: Manajemen kesehatan keluarga tidak efektif


berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga merawat
dalam mengenal masalah anggota keluarga dengan hipertensi
1) Tujuan dan Kriteria Hasil (Nursing Outcomes
Classification/NOC)
Tujuan: Setelah dilakukan asuhan keperawatan keluarga,
diharapkan perilaku kesehatan membaik.
Kriteria Hasil:
1. Kemampuan melakukan tindakan pencegahan masalah
kesehatan
2. Kemampuan peningkatan kesehatan
3. Pencapaian pengendalian kesehatan
2) Intervensi Keperawatan (Nursing Interventions
Classification/NIC)
Promosi Perilaku Upaya Kesehatan (I. 12472)

Intervensi Keperawatan Rasional

Observasi
- Identifikasi perilaku upaya kesehatan - Hal ini dapat membantu memilih jenis
yang dapat ditingkatkan. metode peningkatan status kesehatan
yang tepat.
Mandiri/Terapeutik
- Orientasi pelayanan kesehatan yang - Untuk memaksimalkan pemanfaatan
dapat dimanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.

Edukasi
- Anjurkan untuk rutin ke fasiitas Untuk memaksimalkan pencegahan
kesehatan atau posyandu balita untuk terjadinya stunting pada anak dalam
memantau status nutrisi dan tumbuh lingkungan keluarga.
kembang anak
- Anjurkan untuk memberikan PMT
sesuai dengan program pemerintah
DAFTAR PUSTAKA

Bulecheck, G. M., Butcher, H. K., Dochterman, J. M., & Wagner, C. M. (2013).


Nursing Interventions Classification (NIC). America: Elsivier.
de Onis, M., & Branca, F. (2016). Childhood stunting: A global perspective.
Maternal and Child Nutrition, 12, 12–26. [Link]
Dewi, A. P., Arsiki, T. N., & Kumalasari, D. (2020). Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Stunting pada Balita 24-36 Bulan di Wilayah
Kerja UPT Puskesmas Gadingrejo Kabupaten Pringsewu. Parque de Los
Afectos. Jóvenes Que Cuentan, 2(February), 124–137
Herdman, T. H., & Kamitsuru, S. (2018). NANDA-I Diagnosis Keperawatan
Definisi dan Kalisifikasi 2018-2020. Jakarta: EGC.
InfoDatin Kementerian Kesehatan. (2016). Situasi Stunting di Indonesia.
InfoDATIN. [Link] 2442-7659
Juliansyah, N. (2018). Situasi Balita Pendek (Stunting) di Indonesia: Pusat Data
dan Informasi, Kementerian Kesehatan RI. Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia (Vol. 53)
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013). Nursing Outcomes
Classification (NOC) Fifth Edition. America: Elsivier.
Nurarif, A. H., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan
Diagnosa Medis dan NANDA, NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction
Taylor, C. M., & Ralph, S. S. (2017). Diagnosis Keperawatan dengan Rencana
Asuhan. Jakarta: EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia.
Jakarta : DPP PPNI
Putri, S. S. (2019). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Stunting . Karya Tulis
Ilmiah Universitas Andalas.
Setiawan, H. (2018). Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Stunting. Karya Tulis
Ilmiah Politeknik Kesehatan Semarang.
Wulandari, D., Hamidah, E., & Priatna. (2017). Analisa Asuhan Keperawatan
Keluarga pada Klien dengan Stunting. Karya Tulis Ilmiah Universitas
Jendral Ahmad Yani.
LAPORAN PRESENTASI KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

PADA ANGGOTA KELUARGA DENGAN DIABETES MELITUS TIPE 2


DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUNGAI TABUK 3

Disusun Oleh:

KELOMPOK 5

AULIA SANDRA DEWI


BELLA MARDYA
LENIA ASYIFA
MARIYANI
WILDA ZAHRATUL MUMTAZIAH

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

FAKULTAS KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN

2022
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BANJARMASIN
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN KESEHATAN
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN PROFESI NERS

LAPORAN ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA

Tanggal pengkajian : 21 Maret 2022 Jam Pengkajian : 16.15 WITA

A. PENGKAJIAN
DATA UMUM
Nama Kepala Keluarga (KK) : Tn. A.
Alamat : Jalan Martapura Lama RT. 15 Kelurahan Sungai Lulut
Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar
Pekerjaan KK : Pedagang
Pendidikan KK : Tamat SMA/Sederajat
Tipe Keluarga : The Dyad Family (Keluarga Dyad)
Suku Bangsa : Banjar
Agama : Islam

1. Komposisi Keluarga
No. Nama Anggota Jenis Kelamin Hub. dengan Umur Pekerjaan
Keluarga Klien
1. Tn. A Laki-Laki Kepala Keluarga, 55 tahun Pedagang
Suami klien
2. Ny. S Perempuan Istri 52 tahun Ibu Rumah
Tangga

2. Genogram

Keterangan Simbol:
Keterangan:
Ny. S merupakan anak ke-4 dari 7 bersaudara dan menikah dengan Tn. A. Klien dan
suaminya tidak memiliki anak. Orang tua klien sudah lama meninggal dunia, ayah klien
meninggal karena muntaber dan hepatitis sekitar 20 tahun yang lalu, sedangkan ibu
klien meninggal dunia karena tekanan darah rendah sehingga drop dan meninggal dunia
pada saat dibawa ke RS sekitar 15 tahun yang lalu. Kedua orang tua suami Ny. S juga
telah meninggal dunia.

3. Status Sosial dan Ekonomi Keluarga


Pendapatan keluarga Tn. A dalam sebulan kurang lebih Rp. 6.000.000/bulan dari jual
beli mobil dan istrinya, Ny. S sebagai ibu rumah tangga tidak memiliki penghasilan,
karena Ny. S mengatakan hanya di rumah mengurus rumah tangga. Sehingga
penghasilan Tn. A inilah satu-satunya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan
hidup sehari-hari keluarga Tn. A.

4. Aktivitas Rekreasi Keluarga


Tn. A mengatakan jarang melakukan rekreasi keluarga, meskipun pada hari libur.
Begitupun dengan libur hari besar keagamaan seperti hari raya Idul Fitri atau Idul
‘Adha, keluarga biasanya hanya di rumah saja dan biasanya ada keluarga atau sanak
family yang berkunjung untuk silaturrahmi.

B. RIWAYAT DAN PERKEMBANGAN KELUARGA SAAT INI


1. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini
Tahap perkembangan keluarga Tn. A adalah tahap keluarga dengan usia pertengahan
karena usia Tn. A yaitu 55 tahun dan Ny. S 52 tahun yang mana menurut WHO rentang
usia 45-59 tahun merupakan rentang usia pertengahan (middle age), dimana usia Tn. A
dan Ny. S termasuk dalam rentang usia tersebut.

2. Tugas Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi


Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi adalah mempertahankan
kesehatan dan menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan.

3. Riwayat Keluarga Inti


Tn. A mengatakan tidak ada keluhan kesehatan pada saat dikaji, namun Tn. A
mengatakan bahwa memiliki riwayat hipertensi sejak 2 tahun yang lalu. Sedangkan Ny.
S mengatakan bahwa dirinya menderita hipertensi juga sejak 2 tahun yang lalu dan
sekitar 5 bulan yang lalu pada saat kontrol kesehatan ke apotek ketika membeli obat
untuk hipertensinya, Ny. S memeriksa kadar gula darahnya dan didapatkan hasil GDS
250 mg/dL. Namun, setelah menajalani pemeriksaan di apotek tersebut, Ny. S tidak
pernah lagi memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan/posyandu selama 1 bulan. Selama
1 bulan tersebut, Ny. S tidak mengonsumsi OAD dan tidak mengontrol kesehatannya ke
fasilitas kesehatan dan posyandu lansia karena merasa tidak ada keluhan apa-apa. Pada
saat sekitar bulan Desember 2021, dan pelaksanaan posyandu lansia, Ny. S merasa
tengkuknya tegang dan sakit kepala, sehingga memutuskan untuk memeriksakan diri ke
posyandu lansia karena memiliki keluhan. Pada awalnya, Ny. S hanya ingin memeriksa
tekanan darah saja, namun pada saat ditanya mengenai pemeriksaan gula darah terakhir,
Ny. S menjawab 250 mg/dL, maka klien diperiksa oleh petugas kesehatan kadar gula
darahnya, dan diperoleh GDS: 213 mg/dL. Setelah pemeriksaan tersebut, Ny. S
mengatakan sempat diberikan OAD, namun tidak pernah meminumnya karena merasa
kadar gula darahnya sudah turun dari pemeriksaan awal dan Ny. S lupa meletakkan
OAD tersebut. Ny. S mengatakan tidak pernah lagi berkunjung ke posyandu lansia
selama 2 bulan berikutnya. Pada kegiatan posyandu lansia di bulan Maret, Ny. S datang
ke posyandu kembali dengan keluhan tidak enak badan, dan terkadang kakinya kebas
dan pada saat pemeriksaan GDS diperoleh hasil 219 mg/dL. Namun, setelah itu Ny. S
mengatakan tidak mendapat terapi OAD dan Ny. S tidak menunjukkan OAD kepada
ners muda. Ny. S hanya menunjukkan obat Amlodipine dan paracetamol saja.

Sedangkan Tn. A mengatakan sama sekali tidak pernah ikut ke posyandu lansia dan
jarang sekali memeriksakan status kesehatannya ke fasilitas kesehatan. Ny. S
mengatakan bahwa sangat jarang meminum obat-obatan untuk hipertensi (Ny. S hanya
meminum obat darah tinggi jika ada keluhan nyeri tengkuk saja). Ny. S mengatakan
hanya mengonsumsi buah-buahan seperti nanas dan mentimun serta mengurangi porsi
dan jadwal makan menjadi sehari 2x makan saja tanpa mengetahui jenis nutrisi apa yang
boleh dan tidak boleh dikonsumsi.

Hasil pengukuran tanda-tanda vital pada saat pengkajian Ny. S, didapatkan TD: 170/90
mmHg, N: 97 x/menit, Suhu: 36,7oC, RR: 20x/menit, GDS pukul 16.15 WITA: 308
mg/dL. Sedangkan Tn. A tidak memiliki riwayat diabetes melitus berdasarkan hasil
pemeriksaan 5 bulan yang lalu dengan GDS: 125 mg/dL. Pada saat pengkajian Tn. A
didapatkan TD: 160/90 mmHg, N: 89 x/menit, Suhu: 36,5oC, RR: 20x/menit, GDS pukul
16.15 WITA: 108 mg/dL.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga Sebelumnya


Ny. S memiliki 7 bersaudara, terdiri dari 4 perempuan dan 3 laki-laki. Namun, saudara
Ny. S yang pertama dan kedua telah meninggal dunia sejak masih anak-anak. Saudara
Ny. S yang pertama juga menderita diabetes melitus dan sedang dalam masa
pengobatan. Ny. S mengatakan bahwa orang tuanya dahulu tidak pernah menderita
diabetes melitus, jadi menurut Ny. S tidak ada riwayat keturunan diabetes. Namun, Ny.
S mengatakan bahwa pada masa muda Ny. S sangat suka makanan manis, sering minum-
minuman yang manis, teh manis dan makan kue serta membuat kue yang manis-manis
untuk dikonsumsi sendiri dan untuk keluarga, sehingga Ny. S terbiasa dengan makanan
manis, jika makanan/minuman yang dikonsumsi kurang terasa manisnya, maka Ny. S
akan menambahkan gula lagi ke makanan/minumannya.
C. DATA LINGKUNGAN
1. Karakteristik Rumah
Rumah Tn. A adalah rumah semi permanan, lantai rumah menggunakan kayu ulin
dengan luas 5x9 m atau rumah tipe 45 dengan atap menggunakan seng dan kayu triplek.
Ada 2 buah kamar dalam rumah Tn. A, 1 kamar utama dan 1 lagi kamar tamu. Di dalam
rumah Tn. A terdapat 1 dapur yang cukup luas, 1 ruang keluarga, 1 ruang tamu, 1 WC
dan 1 kamar mandi serta tempat cuci pakaian, dan 1 garasi. Saluran pembuangan
dialirkan ke tempat pembuangan septic tank. Tn. A tidak menggunakan sumur, namun
menggunakan sarana PDAM sebagai sumber air bersih yang digunakan sehari-hari
untuk makan, minum, mandi, cuci, dan kakus.

Rumah Tn. A mendapat pencahayaan yang cukup dari sinar matahari dan banyak
terdapat ventilasi serta jendela yang terdapat di ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan
setiap kamar terdapat dua jendela yang setiap pagi selalu dibuka. Penerangan di rumah
menggunakan listrik. Ny. S biasanya sering menyikat kamar mandi dan WC nya agar
tidak licin dengan sikat yang didorong. Perihal sampah, Keluarga biasanya akan
membuang sampah-sampah ke plastic hitam yang selanjutnya akan dibuang ke tempat
pembuangan sampah akhir (TPA) terbuka (open dumping) secara mandiri jika sampah
di rumah sudah penuh. Terdapat fasilitas kesehatan di lingungan rumah Tn. A yaitu
posyandu, praktik mandiri bidan, apotik dan puskesmas. Semua fasilitas kesehatan
tersebut dapat dijangkau dengan menggunakan motor atau berjalan kaki.

Denah Rumah
Denah Isi/Bagian Dalam Rumah

2. Karakteristik Tetangga dan Komunitas


Ny. S megatakan bahwa kehidupan bermasyarakat dan bertetangga di sekitaran
rumahnya berjalan dengan baik dan harmonis. Para tetangga sering bersilaturrahmi dan
berkunjung antar satu sama lain. Ny. S juga mengatakan bahwa sering mengikuti
kegiatan yasinan dan wirid di lingkungan tempat tinggalnya. Begitu pula dengan Tn. A
sering mengikuti kegiatan gotong royong di sekitar tempat tinggalnya, meskipun
menurut pemaparan Tn. A tidak ada kegiatan khusus untuk pengajian bapak-bapak.
Hubungan antara tetangga terjalin baik, saling menghormati dan kerukunan terjalin.

3. Mobilitas Geografis Keluarga


Ny. S dan Tn. A sama-sama lahir di Desa/Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan Sungai
Tabuk. Ny. S dan Tn. A dibesarkan di Desa/Kelurahan Sungai Lulut, Kecamatan
Sungai Tabuk dan hingga sekarang masih bertempat tinggal di Desa/Kelurahan Sungai
Lulut, Kecamatan Sungai Tabuk. Meskipun hanya berpindah rumah saja, yaitu dari
rumah orang tua menjadi rumah pribadi dengan jarak yang dekat dan masih dalam satu
desa/kelurahan. Ny. S dan Tn. A sudah tinggal di Desa/Kelurahan Sungai Lulut,
Kecamatan Sungai Tabuk lebih dari 50 tahun.

4. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat


Perkumpulan anggota keluarga biasanya dilaksanakan setiap saat, karena sebagian
besar aktivitas dilakukan di rumah dan Tn. A hanya akan beraktivitas di luar rumah jika
ada urusan jual beli mobil saja. Selain itu, untuk interaksi dengan masyarakat dapat
terjalin jika ada kegiatan keagamaan atau kegiatan gotong royong di sekitar tempat
tinggal Tn. A.
5. Sistem Pendukung Keluarga
Dalam keluarga Tn. A pendukung utama keluarga adalah Tn. A sebagai kepala keluarga
dan tulang punggung keluarga. Selain itu, Tn. A yang biasanya lebih cakap dalam
berurusan disbanding dengan Ny. S. Keluarga Tn. A kalau ada yang sakit, biasanya
hanya dibelikan obat warung dan sesekali dibawa ke apotik untuk membeli obat. Ny. S
mengatakan jarang sekali memeriksakan penyakitnya ke pelayanan kesehatan begitu
juga dengan Tn. A.

D. STRUKTUR KELUARGA
1. Struktur Peran (Formal dan Informal)
a. Tn. A
Formal: Tn. A berperan sebagai kepala keluarga dan bertanggung jawab dalam
menafkahi keluarganya.
Informal: Tn. A berepran sebagai pembimbing dkeluarganya yaitu pembimbing
bagi istrinya. Pada posisi ini, Tn. A tidak mengeluhkan ada masalah karena Tn. A
menyadari bahwa semua itu harus dijalaninya dan Tn. A menjalankan perannya
dengan baik.
b. Ny. S
Formal: Ny. S berperan sebagai ibu rumah tangga, menjaga dan merawat suami.
Dalam menjalankan peran ini, Ny. S tidak memiliki masalah dan ia mampu dengan
baik menjalankan perannya.
Informal: Ny. S selaku ibu rumah tangga juga berperan dalam mengatur kebutuhan
rumah tangga.

2. Nilai atau Norma Keluarga


Nilai kebudayaan yang dianut oleh keluarga yaitu budaya Banjar dan keluarga
menganut agama Islam. Keluarga sangat mendukung nilai dan norma budaya mereka
seperti saling menghormati satu sama laindan berpakaian yang sopan. Keluarga
menganut nilai-nilai tersebut secara sadar dan tidak ada konflik yang menonjol dalam
keluarga ini.

3. Pola Komunikasi Keluarga


Pola komunikasi yang diterapkan bersifat terbuka antara suami-istri. Setiap ada
masalah pasti dibicarakan dan dipecahkan secara bersama sebelum mengambil
keputusan. Biasanya keputusan diambil oleh Tn. A.

4. Struktur Kekuatan Keluarga


Pengambilan keputusan dalam keluarga ditentukan oleh Tn. A sebagai kepala keluarga.
Namun, itupun sesuai dengan hasil musyawarah semua anggota keluarganya (suami-
istri) dan mengatur anggaran keluarga diserahkan sepenuhnya kepada Ny. S selaku ibu
rumah tangga disamping mengatur anggaran pengeluaran.
E. FUNGSI KELUARGA
1. Fungsi Afektif
Tn. A dan Ny. S saling menyayangi dan saling peduli. Hubungan suami istri berjalan
harmonis, saling mendukung satu sama lain dalam segala aspek, termasuk aspek
kesehatan, seperti jika Ny. S memerlukan sakit, maka Tn. A akan segera membelikan
obat ke warung terdekat.
2. Fungsi Sosialisasi
Tn. A dan Ny. S mengatakan tidak pernah ada permasalahan dengan tetangga di sekitar
tempat tinggalnya. Begitupun juga dengan interaksi dengan sanak family lainnya.
Setiap hari Tn. A dan Ny. S juga berkumpul bersama di rumah untuk berdiskusi.
3. Fungsi Reproduksi
Tn. A dan Ny. S tidak mempunyai anak, sehingga Tn. A dan Ny. S hanya tinggal berdua
saja dan Ny. S sudah menopause dan tidak pernah menggunakan kontrasespsi.
4. Fungsi Ekonomi
Kebutuhan sehari-hari keluarga cukup terpenuhi dari penghasilan Tn. A.
5. Fungsi Perawatan Keluarga
a. Mengenal masalah kesehatan
Pada saat pengkajian Tn. A belum mampu mengenal masalah kesehatan pada Ny.
S secara rinci dan keseluruhan, ini terbukti pada saat ditanya pada keluarga penyakit
Ny. S, keluarga mampu menjawab bahwa penyakit DM adalah penyakit gula darah
tinggi dan tidak boleh makan makanan yang manis, namun Ny. S dan Tn. A belum
mengetahui secara rinci terkait dengan sebab, komplikasi dan diet makanan yang
tepat bagi penderita DM. Tn. A dan Ny. S juga tidak mengetahui tentang diabetes
melitus yang diderita Ny. S kalau 5 bulan yang lalu tidak memeriksakan diri, namun
saat ini Ny. S hanya memeriksakan diri ke posyandu lansia, setelah 2 bulan yang
lalu tidak pernah memeriksakan diri lagi ke posyandu lansia.
b. Membuat keputusan tindakan yang tepat
Jika Ny. S sakit, alternatif yang keluarga lakukan adalah menyuruh Ny. S untuk
meminum obat warung. Keluarga Tn. A jarang memeriksakan kesehatannya secara
teratur karena kesibukan dan Tn. A hanya meminta Ny. S untuk beristirahat jika
sedang tidak enak badan. Dan jika sakitnya tidak sembuh, maka keluarga akan
membawa Ny. S ke dokter/rumah sakit.
c. Memberi perawatan pada anggota keluarga yang sakit
Tn. A mengatakan tidak mengetahui secara detail tentang penyakit Ny. S, dan jika
Ny. S mengeluh tidak enak badan maka Tn. A hanya membelikan obat yang
mengandung paracetamol atau analgesik meskipun tidak mengetahui secara pasti
kondisi/penyakit yang dialami oleh Ny. S. Begitu pun dengan Ny. S yang
mengatakan bahwa jika tidak enak badan sangat jarang mau minum obat dan hanya
melakukan pengobatan alami seperti meminum air perasan mentimun atau
memakan nanas setidaknya 1 biji meskipun Ny. S memiliki riwayat gastritis, Ny. S
tetap mengonsumsi nanas. Tn. A mengatakan tidak mengetahui diet makanan yang
tepat bagi Ny. S.
d. Mempertahankan/memodifikasi lingkungan rumah yang sehat
Kondisi rumah Ny. S cukup bersih, pencahayaan cukup. Ny. S juga mengatakan
bahwa sering melakukan aktivitas fisik seperti menyapu, mencuci, menyikat lantai
kamar mandi dan WC jika tidak ada kesibukan lain, sehingga rumah senantiasa
bersih dan terawatt.
e. Menggunakan fasilitas kesehatan
Keluarga belum memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan maksimal, terbukti
keluarga jarang memeriksakan Ny. S ke fasilitas kesehatan dan ke fasilitas
kesehatan jika ada keluhan saja. Begitu juga dengan Tn. A. Keluarga terbiasa
menggunakan obat-obatan tradisional, alami dan cenderung untuk lebih memilih
membeli di warung. Namun, jika tidak ada perubahan pada kondisi kesehatannya
setelah sudah lama mengonsumsi obat warung, maka keluarga akan memeriksakan
kesehatannya ke fasilitas kesehatan. Namun, mengatakan jarang ke fasilitas
kesehatan untuk sekedar kontrol kesehatan rutin setiap pekannya.

F. STRES DAN KOPING KELUARGA


1. Stresor Jangka Pendek dan Panjang
a. Stresor jangka pendek
Tn. A dan Ny. S tidak terlalu mencemaskan mengenai penyakit yang diderita Ny.
S. Keluarga menghadapi masalah/penyakit dengan lapang dada dan mengatasi
penyakit sesuai dengan kemampuannya saja.
b. Stresor jangka panjang
Tn. A dan Ny. S mengatakan sangat berpasrah pada Allah SWT terkait dengan
kondisi kesehatannya. Ny. S mengatakan tidak ingin terlalu memikirkan
keluhannya dan berusaha untuk melakukan aktivitas seperti biasanya dan berusaha
untuk mengurangi konsumsi makanan yang manis-manis lagi untuk saat ini dan
sampai selanjutnya.
2. Kemampuan Keluarga Berespon terhadap Stresor
Keluarga mampu merespon setiap masalah yang dihadapi dengan baik dan dengan
berdiskusi satu sama lain. Keluarga juga berusaha untuk berikhtiar, berdoa dan pasrah
pada Allah SWT dan meyakini bahwa semua sudah diatur oleh Allah SWT dalam setiap
permasalahan yang dihadapi, termasuk aspek kesehatan.
3. Strategi Koping yang Digunakan
Keluarga Tn. A selalu bermusyawarah dengan Ny. S ataupun sanak family lainnya jika
terdapat permasalahan. Selain itu, keluarga Tn. A dan Ny. S juga senantiasa memelihara
hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Keluarga Ny. S juga selalu berdoa kepada
Allah SWT dalam segala aspek.
4. Strategi Adaptasi Disfungsional
Apabila banyak permasalahan yang dihadapi, keluarga Tn. A akan meminta bantuan
keluarga terdekat.
5. Harapan Keluarga (terhadap petugas kesehatan/perawat)
Tn. A dan Ny. S mengharapkan agar petugas kesehatan dapat memberikan pelayanan
kesehatan terhadap mereka dan membantu bila keluarga mengalami kesulitan dalam
hal kesehatan semaksimal mungkin. Tn. A dan Ny. S juga berharap agar mereka
senantiasa diberikan kesehatan.

G. PEMERIKSAAN FISIK TIAP ANGGOTA KELUARGA


Anggota keluarga yang di kaji
Jenis Anamnesa
Tn. A Ny. S
Tekanan Darah 160/90 mmHg 170/90 mmHgf

Nadi 89 x/menit 97 x/menit

RR 20 x/menit 20 x/menit

Suhu 36,7oC 36,5oC

BB 62 Kg 70 Kg

TB 162 cm 160 cm

Kepala Rambut bersih, warna hitam pendek Rambut bersih, warna hitam sebahu,
dan sebagian beruban sedikit beruban

Mata Simetris, konjungtiva tidak anemia, Simetris, konjungtiva tidak anemia,


sclera tidak ikterik sclera tidak ikterik, penglihatan Ny. S
sedikit kabur kalau membaca

Hidung Bersih, penciuman normal (mampu Bersih, penciuman normal (mampu


membedakan aroma), tidak ada membedakan aroma), tidak ada
sekret, tidak ada polip, tidak ada sekret, tidak ada polip, tidak ada
pernafasan cuping hidung pernafasan cuping hidung

Telinga Bersih, simetris, tidak ada serumen, Bersih, simetris, tidak ada serumen,
fungsi pendengaran baik, tidak ada fungsi pendengaran baik, tidak ada
nyeri tekan/lepas dibagian belakang nyeri tekan/lepas dibagian belakang
telinga telinga

Mulut Bersih, mukosa bibir lembab, tidak Bersih, mukosa bibir lembab, tidak
ada stomatitis pada area mulut, lidah ada stomatitis pada area mulut, lidah
bersih, bibir dan lidah berwarna bersih, bibir dan lidah berwarna
merah muda, jumlah gigi tidak merah muda, jumlah gigi lengkap.
lengkap (gigi graham 1 buah sebelah
kanan sudah dicabut karena
berlubang)

Leher Tidak terdapat pembesaran kelenjar Tidak terdapat pembesaran kelenjar


tiroid, tidak ada nyeri menelan tiroid, tidak ada nyeri menelan

Dada (Paru-Paru Dada simetris, tidak ada penggunaan Dada simetris, tidak ada penggunaan
& Jantung) otot bantu pernafasan, auskultasi otot bantu pernafasan, auskultasi
lapang paru kanan dan kiri terdengar lapang paru kanan dan kiri terdengar
vesikuler, iktus kordis tidak tampak, vesikuler, iktus kordis tidak tampak,
bunyi jantung S1-S2 tunggal (normal) bunyi jantung S1-S2 tunggal (normal)
Abdomen Bentuk datar, simetris, tidak ada Bentuk datar, simetris, tidak ada
asites, tidak ada nyeri tekan/lepas, asites, tidak ada nyeri tekan/lepas,
hepar dan limpa tidak teraba, ginjal hepar dan limpa tidak teraba, ginjal
tidak teraba, perkusi gaster timpani, tidak teraba, perkusi gaster timpani,
perkusi hepar pekak/dullness. perkusi hepar pekak/dullness.

Ekstremitas atas Tidak ada varises dan edema, tidak Tidak ada varises dan edema, tidak
dan bawah ada fraktur, tidak ada paralisis, skala ada fraktur, tidak ada paralisis, skala
kekuatan otot 5/5/5/5 (untuk semua kekuatan otot 5/5/5/5 (untuk semua
ektremitas) ektremitas)

Integumen Warna kulit normal, tidak ada Warna kulit normal, tidak ada
sianosis, tidak ada eritema, tidak ada sianosis, tidak ada eritema, tidak ada
luka dan xerosis pada kulit, CRT < 2 luka dan xerosis pada kulit, CRT < 2
detik. detik.

Pemeriksaan GDS: 125 mg/dL GDS: 308 mg/dL


penunjang
lainnya
H. ANALISIS DATA
No. DATA PROBLEM ETIOLOGI DIAGNOSA
KEPERAWATAN

1. DS: Ketidakmampuan Kurang Ketidakmampuan


- Ny. S mengatakan bahwa dirinya keluarga dalam pengetahuan keluarga dalam
menderita hipertensi juga sejak 2 mengenal masalah tentang mengenal masalah dan
tahun yang lalu dan sekitar 5 dan merawat program merawat anggota
bulan yang lalu pada saat kontrol anggota keluarga terapeutik keluarga yang sakit
kesehatan ke apotik ketika yang sakit (diabetes berhubungan dengan
membeli obat untuk melitus) kurang pengetahuan
hipertensinya, Ny. S memeriksa tentang program
kadar gula darahnya dan terapeutik (diabetes
didapatkan hasil GDS 250 melitus)
mg/dL. (NANDA Diagnosa
- Ny. S mengatakan tidak pernah Keperawatan: 147).
lagi memeriksakan diri ke
fasilitas kesehatan/posyandu
selama 1 bulan. Selama 1 bulan
tersebut, Ny. S tidak
mengonsumsi OAD dan tidak
mengontrol kesehatannya ke
fasilitas kesehatan dan posyandu
lansia karena merasa tidak ada
keluhan apa-apa.
- Ny. S mengatakan sempat
diberikan OAD, namun tidak
pernah meminumnya karena
merasa kadar gula darahnya
sudah turun dari pemeriksaan
awal dan Ny. S lupa meletakkan
OAD tersebut.
- Ny. S mengatakan tidak pernah
lagi berkunjung ke posyandu
lansia selama 2 bulan berikutnya.
Pada kegiatan posyandu lansia di
bulan Maret, Ny. S datang ke
posyandu kembali dengan
keluhan tidak enak badan dan
kakinya kebas. Pada saat
pemeriksaan GDS diperoleh hasil
219 mg/dL. Namun, setelah itu
Ny. S mengatakan tidak
mendapat terapi OAD dan Ny. S
tidak menunjukkan OAD kepada
ners muda.
- Tn. A mengatakan sama sekali
tidak pernah ikut ke posyandu
lansia dan jarang sekali
memeriksakan status
kesehatannya ke fasilitas
kesehatan.
- Keluarga Tn. A mengatakan
bahwa sangat jarang meminum
obat-obatan untuk hipertensi (Ny.
S hanya meminum obat darah
tinggi jika ada keluhan nyeri
tengkuk saja).
- Ny. S mengatakan hanya
mengonsumsi buah-buahan
seperti nanas dan mentimun serta
mengurangi porsi dan jadwal
makan menjadi sehari 2x makan
saja tanpa mengetahui jenis
nutrisi apa yang boleh dan tidak
boleh dikonsumsi.
- Tn. A mengatakan tidak
mengetahui diet makanan yang
tepat bagi Ny. S.

DO:
- Hasil pengukuran tanda-tanda
vital pada saat pengkajian Ny. S,
didapatkan TD: 170/90 mmHg,
N: 97 x/menit, Suhu: 36,7oC, RR:
20x/menit, GDS pukul 16.15
WITA: 308 mg/dL.
- Tn. A tidak memiliki riwayat
diabetes melitus. Pada saat
pengkajian Tn. A didapatkan TD:
160/90 mmHg, N: 89 x/menit,
Suhu: 36,5oC, RR: 20x/menit,
GDS pukul 16.15 WITA: 108
mg/dL.

2. Faktor Risiko: Risiko - Risiko ketidakstabilan


 Pemantauan glukosa darah tidak ketidakstabilan kadar glukosa darah
adekuat kadar glukosa (NANDA Diagnosis
 Manajemen medikasi tidak efektif darah (00179) Keperawatan Hal. 174)
oleh keluarga
 Manajemen diabetes tidak tepat
oleh keluarga
 Keluarga kurang pengetahuan
tentang manajemen penyakit
 Keluarga kurang kepatuhan pada
rencana manajemen diabetes
 Ketidakmampuan keluarga dalam
mengenal masalah
 Ketidakmampuan keluarga dalam
merawat anggota keluarga yang
sakit
I. PERUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Daftar Diagnosa Keperawatan
1.1 Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah dan merawat anggota
keluarga yang sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang program
terapeutik (diabetes melitus)
1.2 Risiko ketidakstabilan kadar gula darah

2. Skoring Prioritas Masalah


Pembenaran
No. Kriteria Score Bobot Skoring
Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal masalah dan merawat anggota keluarga
yang sakit berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang program terapeutik
(diabetes melitus)
1. Sifat Masalah
Skala: Ny. S mengatakan tidak
pernah mengonsumsi obat
 Tidak/kurang
anti diabetes (OAD) dan
sehat (3)
3 jarang mengontrol
 Ancaman 3 1 ×1 =3
3 kesehatannya ke fasilitas
kesehatan (2)
kesehatan dan biasanya
 Keadaan hanya mengonsumsi obat
sejahtera (1) warung
2. Kemungkinan
masalah untuk
di ubah Tn. A dan Ny. S
Skala: mengatakan mau
1 memeriksakan dirinya dan
 Mudah (2) 1 2 ×2 =1
2 mau menerima informasi
 Sebagian (1)
yang disampaikan ners
 Tidak dapat muda
(0)

3. Potensial
masalah untuk Ny. S mengatakan
dicegah didiagnosa diabetes
2
Skala: ×1 melitus sejak 5 bulan lalu
2 1 3
 Tinggi (3) dan sudah mulai rutin
= 2/3
 Cukup (2) kunjungan ke posyandu
 Rendah (1) lansia

4. Menonjolnya
masalah
Skala:
 Masalah Keluarga menyadari
berat, harus 1 pentingnya masalah untuk
segera 1 1 ×1 diatasi secara bertahap
2
ditangani (2) = 1/2 untuk meningkatkan status
 Ada masalah, kesehatan Ny. S
tetapi tidak
perlu
ditangani (1)
 Masalah tidak
dirasakan (0)

5,17
TOTAL
Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah

1. Sifat Masalah Masalah sudah terjadi,


Skala: namun kadar gula darah
 Tidak/kurang Ny. S masih tidak stabil,
sehat (3) 2 terkadang turun dan dalam
×1
 Ancaman 2 1 3 beberapa jam berikutnya
kesehatan (2) = 2/3 bisa saja naik lagi
 Keadaan sehingga bisa saja
sejahtera (1) mengancam kesehatan Ny.
S jika tidak terkontrol
2. Kemungkinan
masalah untuk
di ubah
Skala: Masalah dapat diubah
1 tergantung peran aktif dari
 Mudah (2) 1 2 ×2 =1
2 Ny. S dalam mematuhi
 Sebagian (1)
terapi pengobatan dan diet
 Tidak dapat
(0)

3. Potensial
masalah untuk
dicegah
2 Perlu kepatuhan dan waktu
Skala: ×1
2 1 3 untuk mengubah
 Tinggi (3)
= 2/3 kebiasaan hidup sehat
 Cukup (2)
 Rendah (1)

4. Menonjolnya
masalah
Skala:
 Masalah Keluarga menyadari
berat, harus 1 pentingnya masalah untuk
segera 1 1 ×1 diatasi secara bertahap
2
ditangani (2) = 1/2 untuk meningkatkan status
 Ada masalah, kesehatan Ny. S
tetapi tidak
perlu
ditangani (1)
 Masalah tidak
dirasakan (0)

TOTAL 2,8

3. Prioritas Diagnosa Keperawatan


No. Diagnosa Keperawatan Skor
1. Ketidakmampuan keluarga dalam mengenal 5,17
masalah dan merawat anggota keluarga yang
sakit berhubungan dengan kurang
pengetahuan tentang program terapeutik
(diabetes melitus)

2. Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah 2,8


J. INTERVENSI (PERENCANAAN) KEPERAWATAN
No. Diagnosa Tujuan Nursing Outcome (NOC)/Luaran Keperawatan Nursing Intervention (NIC)/Intervensi
Keperawatan (SLKI) Keperawatan (SIKI)

1. Ketidakmampuan Manajemen Kesehatan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi Program Pengobatan (I. 12441)
keluarga dalam (L. 12104) 1. Kriteria Hasil:
mengenal masalah Keluarga menunjukkan pemahaman terkait Observasi
dan merawat Tujuan Umum: dengan pentingnya pengobatan dan - Identifikasi pengetahuan tentang pengobatan
anggota keluarga Setelah dilakukan kunjungan pemeriksaan rutin kesehatan ke fasilitas yang direkomendasikan.
yang sakit rumah asuhan keperawatan kesehatan - Identifikasi pengobatan tradisional dan
berhubungan keluarga selama 2x atau lebih, Standard: kemungkinan efek terhadap pengobatan.
dengan kurang diharapkan manajemen Pengobatan teratur dapat meminimalkan efek
pengetahuan kesehatan klien dan keluarga samping obat yang tidak diinginkan serta Mandiri/Terapeutik
tentang program meningkat, dimana klien dan mengetahui penggunaan obat dengan prinsip 6 - Fasilitasi informasi tertulis atau leaflet untuk
terapeutik (diabetes keluarga mampu mengenal benar obat. Selain itu, pemeriksaan rutin ke meningkatkan pemahaman.
melitus) masalah dan keluarga memahami fasilitas kesehatan mampu meminimalkan - Berikan dukungan untuk menjalani program
perawatan pada penderita diabetes terjadinya komplikasi akibat diabetes melitus. pengobatan dengan baik dan benar
melitus. - Libatkan keluarga untuk memberikan
2. Kriteria Hasil: dukungan pada pasien selama pengobatan.
Tujuan Khusus: Keluarga menunjukkan minat meningkatkan
Setelah dilakukan kunjungan perilaku sehat Edukasi
rumuah 1 x 45 menit, keluarga Standard: - Anjurkan meminum obat sesuai indikasi
mampu memahami pentingnya Ketertarikan pada penjelasan dan materi yang - Anjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu
pengobatan/konsumsi obat disampaikan oleh ners muda. Selain itu materi yang tidak dimengerti sebelum dan sesudah
diabetes melitus secara baik tentang perilaku sehat seperti, sering pengobatan dilakukan
dibawah pengawasan tenaga melakukan aktivitas fisik sesuai usia, - Anjurkan untuk memeriksakan diri secara
kesehatan yang professional. menghindari rokok dan asap rokok, teratur ke fasilitas kesehatan dan
mengurangi konsumsi makanan yang tinggi menghindari membeli obat secara
gula dan garam, rutin memeriksakan diri ke sembarangan dan tanpa resep dokter serta
fasilitas kesehatan. kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Informasikan fasilitas kesehatan yang dapat
digunakan selama pengobatan.
2. Risiko Tingkat Pengetahuan Kriteria Hasil dan Standard: Edukasi Kesehatan (I.12383) dan Edukasi
ketidakstabilan (L. 12111) 1. Kriteria Hasil: Diet (I. 12369)
kadar glukosa Keluarga mampu menyebutkan definisi
darah (NANDA Tujuan Umum: diabetes melitus dengan bahasa sendiri Observasi
Diagnosa Setelah dilakukan kunjungan Standard: - Identifikasi kemampuan pasien dan keluarga
Keperawatan Hal. rumah asuhan keperawatan Diabetes melitus (kencing manis) merupakan menerima informasi.
174) keluarga selama 2x atau lebih, kondisi kadar gula darah sewaktu diatas 180 - Identifikasi pengetahuan saat ini (apersepsi)
diharapkan tingkat pengetahuan mg/dL dan gula darah puasa diatas 125 mg/dL. - Identifikasi pola makan saat ini dan masa lalu
klien meningkat, dimana klien
dan keluarga mampu mengenal 2. Kriteria Hasil: Mandiri/Terapeutik
dan memahami bagaimana Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 - Persiapkan materi, media atau alat peraga
perawatan diabetes melitus. penyebab diabetes melitus (jika perlu)
Standard: - Jadwalkan waktu yang tepat untuk
Tujuan Khusus: Penyebab diabetes melitus antara lain, genetic memberikan pendidikan kesehatan
Setelah dilakukan kunjungan (keturunan), pola makan kurang sehat, dan - Berikan kesempatan pasien dan keluarga
rumuah 1 x 45 menit, keluarga kurangnya aktivitas fisik. untuk bertanya
mampu mengenal diabetes melitus
dan diet yang dianjurkan bagi 3. Kriteria Hasil: Edukasi
penderita diabetes melitus. Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 1. Jelaskan definisi, penyebab, tanda dan
tanda dan gejala diabetes melituss. gejala (faktor risiko) diabetes mlitus
Standard: 2. Jelaskan tujuan kepatuhan diet terhadap
Tanda dan gejala DM antara lain, sering kesehatan dan kondisi diabetes melitus
kencing, sering haus dan mudah lapar. 3. Informasikan makanan yang diperbolehkan
dan dilarang
4. Kriteria Hasil: 4. Anjurkan melakukan aktivitas fisik atau
Keluarga mampu menyebutkan minimal 3 olahraga sesuai toleransi
bentuk diet yang dapat dilakukan penderita
DM. Kolaborasi
Standard: Kolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.
Diet yang dianjurkan yaitu, mengurangi Kolaborasi terapi modalitas (senam kaki
konsumsi makanan manis, mengindari diabetes)
makanan tinggi garam dan cepat saji serta
berlemak, dan makan sehat dan bernutrisi
dengan teratur
KUNJUNGAN KE-1
K. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Selasa, 22 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 22 Maret Ketidakmampuan Observasi
2022 (09.00 keluarga dalam - Mengidentifikasi pengetahuan tentang - Keluarga mengatakan tidak mengetahui
WITA) mengenal masalah pengobatan yang direkomendasikan. terkait dengan pengobatan apa yang
direkomendasikan untuk penderita
dan merawat - Mengidentifikasi pengobatan tradisional
diabetes melitus.
anggota keluarga dan kemungkinan efek terhadap - Keluarga mengatakan bahwa biasanya
yang sakit pengobatan. menggunakan pengobatan tradisional
berhubungan seperti mengonsumsi mentimun dan
dengan kurang memakan nanas.
pengetahuan Mandiri/Terapeutik
tentang program - Memfasilitasi informasi tertulis atau leaflet - Ners muda telah mempersiapkan SAP dan
leaflet mengenai diabetes melitus dan
terapeutik untuk meningkatkan pemhaman.
pengobatan diabetes melitus.
(diabetes melitus) - Memberikan dukungan untuk menjalani - Keluarga mengatakan merasa senang
program pengobatan dengan baik dan benar diperhatikan oleh ners muda saat
- Melibatkan keluarga untuk memberikan kunjungan dan penyampaian materi.
dukungan pada pasien selama pengobatan. - Keluarga dilibatkan dalam proses
penyampaian materi dan keluarga
Edukasi mengatakan memahami apa yang
disampaikan ners muda.
- Menganjurkan meminum obat sesuai
indikasi
- Menganjurkan untuk bertanya jika ada Keluarga mengatakan memahami pentingnya
sesuatu yang tidak dimengerti sebelum dan meminum obat sesuai dengan indikasi dan
sesudah pengobatan dilakukan pentingnya memeriksakan diri secara teratur
- Menganjurkan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dan menghindari
pengginaan obat sembarangan.
secara teratur ke fasilitas kesehatan dan
menghindari membeli obat secara
sembarangan dan tanpa resep dokter serta
kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Menginformasikan fasilitas kesehatan yang
dapat digunakan selama pengobatan.
2. 22 Maret Risiko Observasi
2022 (09.00 ketidakstabilan - Mengidentifikasi kemampuan pasien dan - Keluarga mampu menerima informasi
WITA) kadar glukosa keluarga menerima informasi. yang akan disampaikan dengan baik tanpa
ada kendala. Keluarga juga sudah cukup
darah (NANDA - Mengidentifikasi pengetahuan saat ini
mengetahui tentang diabetes melitus
Diagnosa (apersepsi) (kencing manis).
Keperawatan Hal. - Mengidentifikasi pola makan saat ini dan - Ny. S mengatakan bahwa dimasa lalu
174) masa lalu sangat suka mengonsumsi makanan yang
manis dan cepat saji serta malas untuk
Mandiri/Terapeutik berolahraga.
- Mempersiapkan materi, media atau alat
peraga (jika perlu)
- Ners muda telah mempersiapkan materi
- Membuat jadwal yang tepat untuk dan leaflet untuk penyampaian materi
memberikan pendidikan kesehatan serta telah membuat jadwal dan
- Memberikan kesempatan pasien dan kesepakatan dengan klien dan keluarga
keluarga untuk bertanya menyepakati jadwal tersebut.
- Keluarga menanyakan terkait dengan diet
Edukasi yang baik untuk penderita diabetes
melitus.
1. Menjelaskan definisi, penyebab, tanda dan
gejala (faktor risiko) diabetes mlitus
2. Menjelaskan tujuan kepatuhan diet Ners muda menjelaskan tentang materi sesuai
terhadap kesehatan dan kondisi diabetes dengan SAP dan leaflet dan keluarga
melitus memahami apa yang disampaikan ners muda.
3. Memberikan informasikan makanan yang
diperbolehkan dan dilarang
4. Menganjurkan melakukan aktivitas fisik
atau olahraga sesuai toleransi

Kolaborasi
Berkolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu. Proses kolaborasi belum dilakukan
Berkolborasi terapi modalitas (senam kaki Senam kaki diabetes sudah dilaksanakan
diabetes)

O. EVALUASI KEPERAWATAN (CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP)


Hari /Tanggal: Selasa, 22 Maret 2022
No. Jam Daignosa Respon Subjektif Respon Objektif (O) Analisis Masalah Perencanaan Paraf
Evaluasi NANDA (S) (A) Selanjutnya (P)

1. 09. 45 Ketidakmampuan keluarga Keluarga - Keluarga terlihat mengangguk dan Masalah belum Intervensi
WITA dalam mengenal masalah mengatakan memahami materi yang disampaikan teratasi dilanjutkan
dan merawat anggota mengerti dengan oleh ners muda.
apa yang - GDS Ny. S: 289 mg/dL
keluarga yang sakit
disampaikan oleh - Keluarga dapat mengungkapkan
berhubungan dengan kurang ners muda kembali cara merawat keluarga dengan
pengetahuan tentang diabetes melitus, kebutuhan diet dan
program terapeutik (diabetes terapi bagi penderita diabetes melitus.
melitus) (NANDA Diagnosa
Keperawatan Hal. 147).
2. 09.45 Risiko ketidakstabilan kadar Keluarga - Keluarga terlihat menangguk dan Masalah belum Intervensi
WITA glukosa darah (NANDA mengatakan memahami materi yang disampaikan teratasi dilanjutkan
Diagnosa Keperawatan Hal. mengerti dengan oleh ners muda.
apa yang - GDS Ny. S: 289 mg/dL
174)
disampaikan oleh - Keluarga dapat mengungkapkan
ners muda kembali cara merawat keluarga dengan
diabetes melitus, kebutuhan diet dan
terapi bagi penderita diabetes melitus.
- Klien masih seikit kebingungan untuk
melakukan senam kaku diabetes untuk
pertama kalinya
KUNJUNGAN KE-2
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Kamis, 24 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 24 Maret 2022 Ketidakmampuan Edukasi
(16.00 WITA) keluarga dalam - Menganjurkan meminum obat sesuai indikasi
mengenal masalah dan - Menganjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu yang Keluarga mengatakan memahami
pentingnya meminum obat sesuai dengan
merawat anggota tidak dimengerti sebelum dan sesudah pengobatan
indikasi dan pentingnya memeriksakan
keluarga yang sakit dilakukan diri secara teratur ke fasilitas kesehatan
berhubungan dengan - Menganjurkan untuk memeriksakan diri secara teratur dan menghindari pengginaan obat
kurang pengetahuan ke fasilitas kesehatan dan menghindari membeli obat sembarangan serta keluarga
tentang program secara sembarangan dan tanpa resep dokter serta merencanakan ingin memeriksakan Ny. S
terapeutik (diabetes kerugian akibat penggunaan obat sembarangan. ke fasilitas kesehatan.
melitus) (NANDA - Menginformasikan fasilitas kesehatan yang dapat
Diagnosa Keperawatan digunakan selama pengobatan.
Hal. 147). - Memotivasi untuk memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan.

2. 24 Maret 2022 Risiko ketidakstabilan Edukasi


(16.00 WITA) kadar glukosa darah 1. Menjelaskan kembali tujuan kepatuhan diet terhadap - Keluarga mampu menerima
(NANDA Diagnosa kesehatan dan kondisi diabetes melitus informasi yang akan disampaikan
dengan baik tanpa ada kendala.
Keperawatan Hal. 174) 2. Memberikan informasikan makanan yang
- Klien mengatakan memahami terakit
diperbolehkan dan dilarang dengan diet untuk penderita DM.
3. Menganjurkan melakukan aktivitas fisik atau olahraga
sesuai toleransi
4. Memotivasi untuk mengonsumsi makanan yang sesuai
untuk penderita DM
Kolaborasi
Proses kolaborasi belum dilakukan
Berkolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.
Senam kaki diabetes sudah dilakukan dan
Berkolaborasi untuk terapi modalitas (senam kaki klien mampu mengikuti dengan baik
diabetes
EVALUASI KEPERAWATAN (CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP)
Hari /Tanggal: Kamis, 24 Maret 2022
No. Jam Daignosa Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Perencanaan Paraf
Evaluasi NANDA Masalah (A) Selanjutnya (P)

1. 16. 45 Ketidakmampuan keluarga - Keluarga mengatakan mengerti - Keluarga terlihat Masalah Intervensi dilanjutkan
WITA dalam mengenal masalah dan dengan apa yang disampaikan mengangguk dan belum teratasi
merawat anggota keluarga oleh ners muda memahami materi
- Ny. S dan keluarga mengatakan yang disampaikan
yang sakit berhubungan
belum sempat memeriksakan diri oleh ners muda.
dengan kurang pengetahuan ke puskesmas atau ke praktik - GDS Ny. S: 305
tentang program terapeutik dokter namun keluarga mg/dL
(diabetes melitus) (NANDA merencanakan akan membawa
Diagnosa Keperawatan Hal. Ny. S ke fasilitas kesehatan
147). terdekat.

2. 16.45 Risiko ketidakstabilan kadar Keluarga mengatakan mengerti - Keluarga terlihat Masalah Intervensi dilanjutkan
WITA glukosa darah (NANDA dengan apa yang disampaikan oleh menangguk dan belum teratasi
Diagnosa Keperawatan Hal. ners muda dan mengatakan telah memahami materi
memulai pengaturan porsi makan dan yang disampaikan
174)
jenis nutrisi yang akan dikonsumsi oleh ners muda.
- GDS Ny. S: 305
mg/dL
- Klien terlihat
mampu melakukan
senam kaki diabetes
dengan baik
meskipun masih ada
sedikit keliru
KUNJUNGAN KE-3
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari /Tanggal: Sabtu, 26 Maret 2022
No. Waktu Daignosa Tindakan (Implementasi) Evaluasi Tindakan Paraf
pelaksanaan NANDA
tindakan
1. 26 Maret 2022 Ketidakmampuan keluarga Edukasi
(09.00 WITA) dalam mengenal masalah dan - Menganjurkan meminum obat sesuai indikasi
merawat anggota keluarga - Menganjurkan untuk bertanya jika ada sesuatu yang Keluarga mengatakan memahami
pentingnya meminum obat sesuai dengan
yang sakit berhubungan tidak dimengerti sebelum dan sesudah pengobatan
indikasi dan pentingnya memeriksakan diri
dengan kurang pengetahuan dilakukan secara teratur ke fasilitas kesehatan dan
tentang program terapeutik - Menganjurkan untuk memeriksakan diri secara menghindari pengginaan obat sembarangan
(diabetes melitus) (NANDA teratur ke fasilitas kesehatan dan menghindari serta keluarga merencanakan ingin
Diagnosa Keperawatan Hal. membeli obat secara sembarangan dan tanpa resep memeriksakan Ny. S ke fasilitas kesehatan.
147). dokter serta kerugian akibat penggunaan obat
sembarangan.
- Menginformasikan fasilitas kesehatan yang dapat
digunakan selama pengobatan.
- Memotivasi untuk memeriksakan diri ke fasilitas
kesehatan.

2. 26 Maret 2022 Risiko ketidakstabilan kadar Edukasi


(09.00 WITA) glukosa darah (NANDA 1. Menjelaskan kembali tujuan kepatuhan diet - Keluarga mampu menerima informasi
Diagnosa Keperawatan Hal. terhadap kesehatan dan kondisi diabetes melitus yang akan disampaikan dengan baik
tanpa ada kendala.
174) 2. Memberikan informasikan makanan yang
- Klien mengatakan memahami terakit
diperbolehkan dan dilarang dengan diet untuk penderita DM.
3. Menganjurkan melakukan aktivitas fisik atau
olahraga sesuai toleransi
4. Memotivasi untuk mengonsumsi makanan yang
sesuai untuk penderita DM
Kolaborasi
Proses kolaborasi belum dilakukan
Berkolaborasi dengan ahli gizi, jika perlu.
Klien mampu melakukan secara mandiri
Senam kaki diabetes
EVALUASI KEPERAWATAN (CATATAN PERKEMBANGAN/SOAP)
Hari /Tanggal: Sabtu, 26 Maret 2022
No. Jam Daignosa Respon Subjektif (S) Respon Objektif (O) Analisis Perencanaan Paraf
Evaluasi NANDA Masalah Selanjutnya
(A) (P)
1. 09. 45 Ketidakmampuan keluarga - Keluarga mengatakan mengerti dengan - Keluarga terlihat Masalah Intervensi
WITA dalam mengenal masalah dan apa yang disampaikan oleh ners muda mengangguk dan teratasi dihentikan
merawat anggota keluarga yang - Ny. S dan keluarga mengatakan belum memahami materi yang
sempat memeriksakan diri ke puskesmas disampaikan oleh ners
sakit berhubungan dengan
atau ke praktik dokter namun keluarga muda.
kurang pengetahuan tentang merencanakan akan membawa Ny. S ke - GDS Ny. S: 186 mg/dL
program terapeutik (diabetes RSUD Ulin Banjarmasin untuk
melitus) (NANDA Diagnosa pemeriksaan lanjutan.
Keperawatan Hal. 147).
2. 09.45 Risiko ketidakstabilan kadar Keluarga mengatakan mengerti dengan apa - Keluarga terlihat Masalah Intervensi
WITA glukosa darah (NANDA yang disampaikan oleh ners muda dan menangguk dan teratasi dihentikan
Diagnosa Keperawatan Hal. 174) mengatakan telah memulai pengaturan porsi memahami materi yang
makan dan jenis nutrisi yang akan dikonsumsi. disampaikan oleh ners
muda.
Klien mengatakan kakinya terasa lebih nyaman - GDS Ny. S: 186 mg/dL
digerakkan - Ny. S terlihat mampu
dalam menjalankan senam
kaki diabetes

Banjarmasin, Maret 2022


Menyetujui,

Preseptor akademik Preseptor klinik

(Alit Suwandewi, Ns., [Link].) (Laila Sari, [Link]., Ns.)


ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20

JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing


Journal Homepage : [Link]

Pengaruh Senam Kaki Diabetes Terhadap Perubahan Kadar Gula


Darah Pada Penderita DM Tipe 2 Di Puskesmas Pauh Kambar

Dini Qurrata Ayuni 1, Rizki Amelta 2


1
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nan Tongga Lubuk Alung, Sumatera Barat, Indonesia
1
STIKes Piala Sakti Pariaman, Sumatera Barat, Indonesia

Info Artikel ABSTRAK


Sejarah Artikel:
Diabetes mellitus merupakan kelompok penyakit
Diterima 5 Agustus 2020
Disetujui 25 September 2020 metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi
Dipublikasi Desember 2020 karena kelainan insulin, kerja insulin atau keduanya. Apabila
hal ini dibiarkan terus menerus tanpa terapi dapat
Kata Kunci : menyebabkan terjadinya komplikasi, untuk mencegah hal
Kadar Gula Darah, Senam tersebut,salah satu pilar penatalaksananan diabetes adalah
Kaki Diabetes latihan jasmani atau olahraga yaitu senam kaki diabetes.
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh senam kaki
Corresponding author : diabetes terhadap perubahan kadar gula darah pasien DM tipe
ayunidini80@[Link] 2 diwilayah kerja puskesmas Pauh Kambar. Desain penelitian
(D.Q. Ayuni)
ini adalah Quasy Experi mental Design dengan pendekatan
one group pre and posttest. Penelitian dilakukan di wilayah
kerja puskesmas Pauh Kambar. Hasil analisis terdapat
pengaruh yang signifikan senam kaki diabetes terhadap
perubahan kadar gula darah pada penderita diabetes mellitus
tipe 2 diwilayah kerja pusksmas pauh kambar, sehingga dapat
disimpulkan senam kaki diabetes berpengaruh terhadap
perubahan kadar gula darah pada penderita DM tipe 2
diwilayah kerja puskesmas pauh [Link]
responden menerapkan senam kaki diabetes yang diajarkan.
Diharapkan bagi puskesmas dapat memberikan latihan dan
informasi dalam program pelayanan yang berkaitan dengan
upaya menurunkan kadar gula darah serta mengurangi
penderita diabetes mellitus.

Keywords : ABSTRACT
Blood Sugar Levels,
Diabetes Foot Exercise Diabetes mellitus is a group of metabolic diseases
with characteristics of hyperglycemia that occur due to
insulin abnormalities, insulin work or both. If this is
allowed to continue without therapy it can cause
complications, to prevent this, one of the pillars of
managing diabetes is physical exercise or exercise, whi-

© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
13
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
ch is diabetes foot exercises. The aim of the study was to
determine the effect of diabetic foot exercises on changes
in blood sugar levels of type 2 DM patients in the working
area of Pauhkambar Health Center. The design of this
study was Quasy Experimental Design with one group
pre and posttest approach. Research was conducted in
the puskesmas working area. The results of the analysis
are the effect of diabetic foot exercises on changes in
blood sugar levels in patients with type 2 diabetes
mellitus in the working area of puskmaskambar, so it can
be concluded that diabetic foot exercises affect the
changes in blood sugar levels in type 2 DM patients in
the work area of PauhKambar health center. Diabetes
foot exercises are taught. It is expected that the health
center can be used as information in making service
program plans related to efforts to reduce blood sugar
levels and reduce people with diabetes mellitus.

PENDAHULUAN terakhir International diabetes


Diabetes Melitus (DM) adalah Federation (IDF, 2013), lebih dari 382
kondisi kronis yang diketahui dengan juta orang terkena Diabetes mellitus, dan
peningkatan konsentrasi glukosa darah pada tahun 2035 di dunia, diperkirakan
disertai munculnya gejala utama yang akan meningkat menjadi 592 juta orang.
khas, yakni urine yang berasa manis Organisasi kesehatan dunia (WHO)
dalam jumlah yang besar. Istilah memprediksi kenaikan jumlah
“diabetes” berasal dari bahasa Yunani penyandang diabetes melitus di
yang berarti “siphon”, ketika tubuh indonesia dari 8,4 juta jiwa pada tahun
menjadi suatu saluran untuk 2000 mnjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada
mengeluarkan cairan yang berlebih, dan tahun 2030.
“melitus” dari bahasa Yunani dan latin Indonesia menempatiperingkat ke-7
yang berarti madu. Kelainan yang di duniasebesar 10,0jutajiwa, dimana
menjadi penyebab mendasar dari peringkat pertama diduduki oleh China
diabetes melitus adalah defisiensi relatif dengan jumlah penderita DM 109,6 juta
atau absolut dari hormon insulin. Insulin jiwa. Menurut Laporan Riset Kesehatan
merupakan satu-satunya hormon yang Dasar (Riskesdas, 2013) prevalensi
dapat menurunkan kadar gula darah penderita DM pada tahun2013 (2,1%)
(Rudi Bilous & Richard Donelly, 2014) mengalami peningkatan dibandingkan
Diabetes menjadi penyakit yang pada tahun 2007 (1,1%). Angka kejadian
sangat tren saat ini. Prevalensi diabetes DM di Jawa Tengah sebesar 1,6 % dan
terkait usia meningkat dari 5,9% sampai menempati urutan kelima dari seluruh
7,1% (246-380 juta jiwa) diseluruh dunia provinsi yang ada di Indonesia dan angka
pada kelompok usia 20-79 tahun yang penderita DM tak kalah seramnya.
kejadiannya meningkat 55% . Proporsi Jumlah prevalensi penderita DM di
relatif dari diabetes 1 sampai tipe 2 Indonesia terus mengalami kenaikan.
bervariasi dari 15:85 pada populasi di Pada tahun 2009 mencapai 5,7% dari
negara maju sampai 5:95 pada populasi tahun 1982 yang hanya 1,5%,
di negara berkembang (Rudi Bilous & merupakan peningkatan sekitar 3 kali
Richard Donelly, 2014) lipat. Berdasarkan data Badan statistik
Diabetes mellitus merupakan salah Indonesia tahun 2003 di perkirakan
satu masalah kesehatan. Estimasi penduduk indonesia yang berusia diatas
© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
14
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
20 tahun adalah sebesar 133 juta jiwa. bahaya terkena infeksi. Bila dilakukan
Dengan frevalensi diperkirakan pada deteksi dini dan pengobatan yang
tahun 2003 terdapat penyandang DM adekuat akan mngurangi kejadian
sejumlah 8,2 juta didaerah Urban dan 5,5 infeksi, ironisnya evaluasi dini dan
juta di daerah Rural, selanjutnya penanganaan yang adekuat puskesmas
berdasarkan bertambahan penduduk, tidak optimal.(Soegondo.S, 2013)
diperkirakan pada tahun 2030 nanti akan Hasil penelitian yang dilakukan
ada 194 juta penduduk yang berusia (Elang Wibisana & Yani Sopiani,
diatas 20 tahun dan asumsi prevalnsi DM 2014)di Banten, yang meneliti tentang
pada Urban (14,7%) dan Rural (7,2%) Pengaruh Senam Kaki Terhadap Kadar
maka diperkirakan terdapat 12 juta Gula Darah Diabetes Melitus Di RSU
penyandang DM di daerah Urban dan 8,1 Serang Provinsi Banten tahun 2014
juta di daerah Rural.(Depkes RI, 2015) terdapat 22 respoden, 14 respoden dari
Empat pilar penatalaksanaan kelompok usia diatas 40. Hal ini sesuai
diabetes melitus yaitu edukasi, terapi dengan (Balck & Haws, 2015)DM tipe 2
gizi medis, pelatihan jasmani, dan terapi merupakan tipe dari penyakit DM yang
farmakologi. Komponen latihan jasmani tidak tergantung insulin, penyakit ini
atau olahraga sangat penting dalam sering terdiaknosa pada orang dewasa
penatalaksanan diabetes karena efeknya berumur lebih dari 40 tahun. Hasil
dapat menurunkan kadar glukosa darah penelitian ini menemukan bahwa
dengan meningkatkan pengambilan kelompok yang banyak terdiagnosis
glukosa oleh otot dan memperbaiki diabetas adalah perempuan dengan
pemakaian insulin. Latihan jasmani akan jumlah respoden 12 orang (54,5%).
menyebabkan terjadinya peningkatan Hasil penelitian yang
aliran darah, maka akan lebih banyak dilakukan(Ruben et al., 2016) di
jala-jala kapiler terbuka sehingga lebih Manado, yang menliti tentang Pengaruh
banyak terseda reseptor insulin dan Senam Kaki Diabetes Terhadap
reseptor menjadi lebih aktif yang akan Perubahan Kadar Gula Darah pada
berpengaruh terhadap penurunan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di
glukosa darah pada pasien DM (Sunaryo Wilayah Kerja Puskesmas Enamawira
T & Sudiro, 2013). terdapat mayoritas respoden paling
Pelaksanaan latihan jasmani atau banyak umur 51-60 tahun dengan jumlah
olahraga yang disarankan salah satunya 34 respoden (60,7%), umur 40-50 tahun
adalah senam kaki diabetes. Senam sebanyak 21 responden (37,5%), dan
direkomendasikan dilakukan dengan umur 61% 70 tahun sebanyak 1
intensitas moderat (60-70 maksimum responden (1,8). Peningkatan resiko
heart rate), durasi 30- 60 menit dengan Diabetes sesuai dengan usia, khusus
frekuensi 3-5 kali perminggu dan tidak pada usia lebih dari 40 tahun karena pada
lebih dari 2 hari berturut-turut tidak tersebut mulai terjadi peningktan
melakukan senam.(Ruben, Rottie, & intorelansi glukosa. Adanya proses
Karundeng, 2016). penua menyebabkan berkurangnya sel β
Senam kaki dapat membantu pasien pankreas dalam menproduksi insulin.
untuk memperbaiki masalah sirkulasi Adapun tujuan dari penelitian ini
aliran darah kaki. Biasanya penderita Mengetahui bagaimana pengaruh senam
diabetes yang sudah lama cendrung kaki diabetes terhadap perubahan kadar
memiliki masalah sirkulasi yang lebih gula darah pada DM tipe 2 di Wilayah
serius karena kerusakan aliran darah kerja puskesmas Pauh Kambar,
yang melalui arteri yang lebih kecil, hal Permasalahan yang sering ditemukan
ini menambah kerentanan terhadap luka- pada pasien DM adalah kondisi DM
luka di kaki yang memerlukan waktu yang belum sembuh total dikarenakan
yang lama untuk disembuhkan dan besarnya biaya perawatan dan
© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
15
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
menurunnya produktivitas yang sederhana dengan kontrol ekperimen
berdampak pada pasien yang diharuskan yang ketat dengan pengambilan sampel
perawatan DM dirumah sehingga pasien 15 responden.
DM bisa melakukan senam kaki dalam
penurunan Gula darahnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
METODE PENELITIAN 1. Gula Darah Responden Sebelum
Desain yang digunakan dalam (Pretest) Diberi Senam Kaki
penelitian ini adalah menggunakan Diabetes di Puskesmas Pauh
metode kuantitatif, penelitian kuantitatif Kambar Tahun 2018.
merupakan penelitian dengan fenomena Berdasarkan analisa uniraviat yang
dilakukan pada pengaruh senam kaki
– fenomena yang berhubungan.
diabetes terhadap perubahan kadar gula
Rancangan penelitian yang akan darah pada pnderita DM tipe 2 sluruh
digunakan dalam penelitian ini adalah responden memiliki kadar gula darah
quasy eksperimental dengan yang dialami responden 15 (100 %)
menggunakan rancangan one group pre- dikategorikan tidak normal.
post test designyaitu penelitian yang Hasil penelitian ini hampir Sama
dengan penelitian yang dilakukan oleh
mencoba untuk membuktikan pengaruh
(Sulistyowati, 2017) tentang pengaruh
tindakan pada suatu kelompok subjek. senam kaki diabetes terhadap perubahan
Kelompok subjek di observasikan kadar gula darah pada penderita DM
sebelum dilakukan intervensi untuk tipe 2 diwilayah kerja Puskesmas Cawas
mengetahui akibat dari perlakuan Yogyakarta, dimana juga ditemukan
(Notoadmodjo, 2015). (98,2%) responden memiliki kadar gula
Perlakuan senam kaki diabetes darah tidak normal sebelum melakukan
senam kaki diabetes.
direkomendasikan dilakukan dengan
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
intensitas moderat (60-70 minimun heart (Janno Sinaga, 2016)pada penelitianya
rate) dengan durasi 3-5 kali perminggu tentang pengaruh senam kaki diabetes
dan tidak melakukan senam dan tidak terhadap perubahan kadar gula darah
lebih dari 2 hari berturut-turut tidak pada penderita diabetes mellitus
melakukan senam. Senam kaki diabetes diwilayah kerja puskesmas darussalam
melitus biasanya bisa dilakukan dengan medan. Dimana ditemukan (83.2%)
responden memiliki kadar gula darah
posisi berdiri, duduk, dan tidur dengan
yang tidak normal.
mengerakan kaki dan sandi misalnya Usia yang paling beresiko lebih
kedua tumit diangkat, mengangkat dan tinggi terjadinya diabetes tipe 2 adalah
menurunkan kaki (Soegondo.S, 2013) usia 30 tahun dan semakin sering terjadi
Sampel adalah bagian dari populasi setelah usia 40 tahun selanjutnya terus
yang di pilih dengan sampling tertentu meningkat pada usia lanjut. Perubahan
dimulai dari tingkat sel berlanjut pada
untuk bisa memiliki populasi. Dalam
tingkat jaringan dan akhirnya pada
penelitian ini pengambilan sampel tingkat organ yang mempengaruhi
dengan menggunakan teknik Purposive homeotasis, komponentubuh yang
Sampling. Sampel diambil berdasarkan mengalami perubahan adalah sel beta
pertimbangan tertentu yang dibuat oleh pankreasyang menghasilkan hormon
peneliti sendiri,berdasarkan ciri dan sifat insulin (Rudi Bilous & Richard
populasi yang sudah diketahui peneliti. Donelly, 2014)
Faktor pendidikan juga
Dimana untuk penelitian eksperimental
mempengaruhi terjadi suatu penyakit
© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
16
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
diabetes mellitus dan tidak normalnya Hal diatas sesuai dengan hasil yang
kadar gula darah karena seorang yang dilakukan oleh (Sulistyowati, 2017)
berpendidikan rendah cendrung tentang pengaruh senam kaki diabetes
mempunyai ilmu pengetahuan yang terhadap perubahan kadar gula darah
sempit dan pemikiran yang kurang pada penderita DM tipe 2 sebelum
meluas (catur Hayati, 2016), hal ini diberikan senam kaki diabetes
dibuktikan kurang dari separuh (46.7%) (98,2%)responden dikategorikan
responden berpendidikan SD. memiliki kadar gula darah tidak normal
Menurut pengamatan pada saat setelah diberikan senam kaki diabetes
penelitian, responden tidak begitu lebih dari separuh (74.2%) responden
mengatahui manfaat akan senam kaki memiliki kadar gula darah normal.
diabetes dan berolahraga, Usaha Hasil penelitian yang dilakukan oleh
responden untuk mengatasi masalah (Janno Sinaga, 2016)tentang pengaruh
diabetes mellitus dan menjaga kadar senam kaki diabetes terhadap perubahan
gula darah tetap nomal cukup dengan kadar gula darah pada penderita
menjaga pantangannya saja serta diabetes mellitus diwilayah kerja
mengkonsumsi obat-obatan puskesmas Darussalam Medan. dimana
farmakologi yang didapatkan dari sebelum diberikan senam kaki diabetes
puskesmas dan rumah sakit, namun cara (83,2%) responden dikategorikan
itu tidak begitu efektif karena sehabis memiliki kadar gula darah tidak normal
obat yang mereka dapatkan mereka setelah diberikan senam kaki diabetes
tidak mengkonsumsinya lagi sampai lebih dari separuh (64.%) responden
timbul gejala yang mengkhawatirkan, memiliki kadar gula darah normal.
sedangkan pola makanan penduduk Hasil penelitian ini juga didukung
disana sering sembarangan tanpa oleh teori yang dikemukan oleh
memperdulikan resiko yang terjadi pada (Smeltzer, 2014)melakukan latihan fisik
dirinya. atau relaksasi bagi penderita diabetes
Berdasarkan hasil observasi peneliti mellitus tipe 2 sangat mempengaruhi
sebelum dilakukan intervensi terapi penurunan kadar gula pada darah
senam kaki diabetes terlihat bahwa ,dibandingkan dengan tidak
seluruh (100.0%) responden memeliki melakukannya. Karena hal-hal tersebut
kadar gula darah tidak normal. dapat menekan pengeluran hormon-
horman yang dapat meningkatkan kadar
2. Gula Darah Responden Sesudah gula [Link] epinefrin, glukagon,
(Posttest) Diberi Senam Kaki ACTH, kortikosteroid dan tiroid.
Diabetes diwilayah Puskesmas Latihan fisik pada penderita
diabetes mellitus memiliki peranan
Pauh Kambar tahun 2018
yang sangat penting dalam
Berdasarkan analisa univariat mngendalikan kadar gula dalam
setelah responden diberikan terapi darah,dimana saat melakukan latihan
sanam kaki diabetes diketahui bahwa fisik terjadi peningkatan pamakaian
kadar gula darah responden glukosa oleh otot yang aktif sehingga
menunjukan perubahan, dimana scara langsung dapat menyebabkan
sebelum dilakukan terapi senam kaki penurunan glukosa dalam darah. Selain
diabetes seluruh (100%) responden itu dengan latihan fisik dapat
dikategorikan memiliki kadar gula menurunkan berat badan, meningkatkan
darah yang tidak normal dan setelah fungsi kardiovascular dan respirasi,
dilakukan senam kaki diabetes lebih menurunkan LDL dan meningkatkan
dari separuh (66.7%) memiliki kadar HDL.
gula darah normal. .

© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
17
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
3. Pengaruh Senam Kaki Diabetes otot inilah yang mampu menyerap
Terhadap Perubahan Kadar Gula glukosa dalam darah dikarenakan 70-
Darah Pada Responden Di 90% glukosa dalam darah diserap oleh
otot. Jadi dalam hal ini intervensi yang
Puskesmas Pauh Kambar tahun
dilakukan sangat tepat dalam membantu
2018. mengurangi kadar gula darah pada
Hasil penelitian yang dilakukan oleh penderita diabetes mellitus.
peneliti didapatkan bahwa ada pengaruh Yang ditemukan peneliti saat
senam kaki diabetes terhadap gula darah melakukan penelitian tentang pengaruh
responden sebelum dilakukan senam senam kaki diabetes terhadap perubahan
kaki diabetes semua responden kadar gula darah pada penderita DM
dikategorikan memilik kadar gula darah tipe 2 diwilayah kerja puskesmas pauh
tidak normal dan setelah dilakukan kambar kabupaten padang pariaman.
senam kaki diabetes hanya 5 responden Pada hari pertama ada sebagian
yang dikategorikan memiliki kadar gula responden kurang antusias dan kurang
darah tidak normal. Setelah dilakukan memperhatikan peneliti saat
uji wilcoxon test dapat kita lihat pada mengajarkan senam kaki diabetes
output “sign (2 tailed) dimana nilai terhadap perubahan kadar gula darah
statistik uji Asymp sig.2-tailed adalah pada penderita DM tipe 2 oleh karna itu
0,001<0,05, yang artinyaHa diterima peneliti mencari jalan keluar agar
dan terdapat perubahan yang bermakna responden mau sepenuhnya mengikuti
terhadap penurunan kadar gula darah dan memperhatikan saat peneliti
responden yang sedah diberikan senam mengajarkan gerakan senam kaki
kaki diabetes dengan sebelum dilakukan diabetes. Peneliti berasumsi memberi
senam kaki diabetes. responden penyuluhan akan apa itu
Hal ini sejalan dengan hasil penyakit diabetes, akibat yang
penelitian yang dilakukan oleh disebabkan diabetes serta cara untuk
(Sulistyowati, 2017) tentang pengaruh menurunkan kadar gula darah dan
senam kaki diabetes terhadap perubahan rencana itu pun berhasil menarik
kadar gula darah pada penderita DM perhatian responden tepatnya di hari
tipe 2 didapatkan p valuesebesar0,000 ketiga.
dimana p<α= 0,05, dimana ada Senam kaki diabetes terhadap
pengaruh senam kaki diabetes terhadap perubahan kadar gula darah pada
perubahan kadar gula darah pada penderita DM tipe 2 dilakukan selama
penderita DM tipe 2. dua belas hari mendapatkan hasil yang
Hasil penelitian yang dilakukan oleh memuaskan yaitu dari 15 responden 10
(Janno Sinaga, 2016)tentang pengaruh di katagorikan memiliki kadar gula
senam kaki diabetes terhadap perubahan darah normal. Sebelum dilakukan terapi
kadar gula darah pada penderita senam kaki diabetes terhadap perubahan
diabetes mellitus didapatkan p kadar gula darah pada penderita DM
valuesebesar0,000 dimanap< α = 0,05, tipe 2, 15 responden dikategorikan
dimanaadapengaruh senam kaki memiliki kadar gula darah tidak normal.
diabetes terhadap perubahan kadar gula Menurut analisis peneliti, gerakan-
darah pada penderita DM tipe 2. gerakan senam yang dilakukan pada
Hasil penelitian juga didukung oleh penderita diabetes mellitus mampu
teori yang dikemukakan (Eko Saputra, memberikan efek yang baik terhadap
2016)adanya gerakan-gerakan yang kadar gula darah responden dimana
dikhususkan untuk penderita diabetes disaat melakukan latihan fisik terjadi
mellitus melalui senam kaki diabetes peningkatan pemakaian glukosa oleh
menyebabkan massa otot mereka otot yang aktif sehingga secara tidak
bertambah. Adanya penambahan massa langsung menyebabkan penurunan
© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
18
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
kadar gula darah. Adanya efek dari
gerakan senam ini hendaknya bisa DAFTAR PUSTKA
diterapkan setiap hari pada responden Ayuni, D. Q., & Ramaita. (2019).
sehingga pengobatan non farmakologi Pengaruh Pemberian Pendidikan
bisa berjalan dengan baik dan tentunya Tentang Kanker Serviks Terhadap
tidak menimbulkan resiko lain terhadap Pengetahuan Deteksi Dini Kanker
kesehatan responden dibandingkan Serviks Pada WUS ( Wanita Usia
dengan pengobatan secara farmakologi. Subur ). Jurnal Kesehatan Perintis,
6(July), 89–94.
KESIMPULAN
Seluruh responden memiliki kadar Budiharto. (2010). Pengantar Ilmu
gula darah yang tidak normal sebelum Perilaku Kesehatan dan
(pretest) dilakukan senam kaki diabetes. Pendidikan Kesehatan Gigi.
53,3% responden memiliki kadar gula Jakarta: EGC.
darah yang normal setelah (posttest) Erwana, A. F. (2013). Seputar
dilakukan senam kaki diabetes Semakin Kesehatan Gigi dan Mulut.
sering orang senam kaki diabetes maka Yogyakarta: Rapha Publishing.
semakin rendah kadar gula darah pada
penderita diabetes mellitus, tergantung Fitriani, S. (2011). Promosi Kesehatan.
gigih atau tidaknya responden dalam Yogyakarta: Graha Ilmu.
melakukan senam kaki yang telah di Hastuti, S., & Andriyani, A. (2015).
ajarkan. Diharapkan responden Perbedaan Pengaruh Pedidikan
menerapkan terapi senam kaki diabetes Kesehatan Gigi Dalam
yang diajarkan dan menambah penge- Meningkatkan Pengetahuan
tahuan serta mempercepat proses Tentang Kesehatan Gigi Pada Anak
penyembuhan dan penurunan kadar gula Di SD Negeri 2 Sambi Kecamatan
darah di puskesmas pauh kambar tentang Sambi Kabupaten Boyolali. Gaster,
pengaruh senam kaki diabetes terhadap 7(2), 624–632.
perubahan kadar gula darah pada
penderita DM tipe 2 Penelitian ini dapat Kusumawati, Y., Wiyasa, R., &
menjadi masukan dan informasi bagi Rahmawati, E. N. (2016).
para tim kesehatan dalam memberika Pengetahuan, Deteksidini Dan
penyuluhan tentang penanggulangan Vaksinasi Hpvsebagai Faktor
kestabilan gula darah secara non- Pencegah Kanker Serviksdi
farmakologik pada pasien diabetes Kabupaten Sukoharjo. Jurnal
mellitus tipe 2. Kesehatan Masyarakat, 11(2), 204–
213.
UCAPAN TERIMA KASIH
Maulana. (2019). Promosi Kesehatan.
Ucapan terima kasih penulis berikan
Jakarta: EGC.
kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyelesaian Notoatmodjo, S. (2012). Promosi
penelitian ini, terutama : Ibu Ketua Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.
STIKes Piala Sakti Pariaman yang telah Jakarta: Rineka Cipta.
memberikan izin dan dana penelitian ini.
Ibu Pimpinan Puskesmas Pauh Kambar Nursalam. (2011). Konsep dan
yang telah memberikan izin dalam studi Penerapan Metodologi Penelitian
awal dan memberikan alamat Ilmu Keperawatan. Jakarta:
Responden. Seluruh civitas akademika Salemba Medika.
STIKes Piala Sakti Pariaman yang WHO. (2017). Sugar and Dental Caries.
memberikan dukungan dan bantuan America. Retrieved from
dalam penyelesaian penelitian. [Link]
© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
19
ARTIKEL PENELITIAN
JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing 14(1) 2020 : 13-20
0665/259413/1/WHO-NMH-NHD-
[Link]

© JURNAL NTHN : Nan Tongga Health and Nursing. All rights reserved
20
JURNAL KEPERAWATAN SOEDIRMAN

journal homepage : [Link]

PROGRESSIVE MUSCLE RELAXATION (PMR) IS EFFECTIVE TO LOWER BLOOD


GLUCOSE LEVELS OF PATIENTS WITH TYPE 2 DIABETES MELLITUS
M. Agung Akbar1, Hema Malini2, Esi Afriyanti3

1. Bachelor of Nursing Student, Faculty of Nursing, Andalas University, Indonesia


2. Associate Professor, Faculty of Nursing, Andalas University, Indonesia
3. Lecturer, Faculty of Nursing, Andalas University, Indonesia

ABSTRACT
Most of the management for hospitalized patient with type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) is still
concentrated on medication and diet. On the other hand, exercise or activity management, however,
gets little attention. Health professionals, especially nurses, need to be aware that some exercises or
activities should be provided even for hospitalized patients. One of the choices is Progressive Muscle
Relaxation (PMR). The purpose of this study was to determine the effect of PMR on reducing blood
glucose levels in patients with T2DM. This research used the quasi-experimental with pre and post
control group design. The sampling technique was simple random sampling with 30 samples, that
divided into intervention and control groups (15 samples in each group). Data collection techniques
were performed by measuring the blood glucose levels at that time. PMR as an intervention was
performed for three days on a regular basis. Afterward, the blood glucose levels were remeasured. Data
analysis was done by using t-test. Data analysis showed that there was a decrease in mean score of
blood glucose levels for 63,80 mg/dl in the control group and 80,46 mg/dl in the intervention group. The
results showed that PMR was effective in reducing the blood glucose levels of hospitalized patients with
T2DM (p-value = 0,015). The results of this study can be applied by nurses as an alternative
intervention in the management of patients with T2DM.

Keyword : Blood glucose, nursing intervention, physical activity

ABSTRAK
Manajemen pasien dengan Diabetes Mellitus tipe 2 (T2DM) yang dirawat di rumah sakit seringkali
masih hanya berfokus pada pengobatan dan diet. Di sisi yang lain, olah raga atau manajemen aktivitas
masih kurang mendapat perhatian. Tenaga kesehatan, terutama perawat, perlu menyadari bahwa olah
raga atau aktivitas tetap dapat diberikan kepada pasien meskipun dirawat di rumah sakit. Salah satunya
adalah dengan Relaksasi Otot Progresif (ROP). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan
pengaruh ROP terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini
menggunakan desain kuasi eksperimental pre dan post. Tehnik sampling yang digunakan adalah
simple random sampling pada 30 orang, yang dibagi atas kelompok intervensi dan kelompok kontrol
(masing-masing 15 orang pada setiap grup). Teknik pengumpulan data dilakukan dengan mengukur
kadar gula darah sewaktu. Intervensi ROP dilakukan selama tiga hari berturut-turut. Setelah itu, kadar
glukosa darah diukur kembali. Analisa data menggunakan t-test. Hasil analisa menunjukan bahwa
terdapat penurunan rerata kadar gula darah sebesar 63,80 mg/dl di kelompok kontrol dan 80,46 mg/dl
di kelompok intervensi. Hasil menunjukan bahwa PMR efektif untuk menurunkan kadar gula darah pada
pasien DM tipe 2 yang dirawat di rumah sakit (p-value=0,015). Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat
digunakan oleh perawat sebagai alternative tindakan untuk pasien dengan DM tipe 2.

Kata kunci: Glukosa darah, intervensi keperawatan, aktivitas fisik

Corresponding Author : Hema Malini ISSN : 1907-6637


Email : hemamalini@[Link] e-ISSN : 2579-9320

77
Akbar, Malini, Afriyanti DOI : 10.20884/[Link].2018.13.2.808
Jurnal Keperawatan Soedirman 13 (2) 2018 : 77 – 83

BACKGROUND result in high level of the blood glucose


Diabetes Mellitus (DM) remains a (Tarwoto, Wartonah, Taufiq & Mulyati,
worldwide health issue. The prevalence 2012). Therefore, physical exercises are
keeps increasing every year. According to required to increase insulin receptors
World Health Organization (WHO), in 2014 activity in plasma membrane so that it can
approximately 422 million people were lower the blood glucose levels
living with diabetes. An estimated 78,3 (Damayanti, 2015).
million people have diabetes in Southeast Most of the DM management in
Asia, and it is the largest number hospitals are still concentrated on
considering for about one-third of cases medication and diet, yet there is little
globally (WHO, 2016). Type 2 diabetes attention to physical activity fulfillment.
mellitus (T2DM) is the predominant form of Physical activity will make body's
diabetes and accounts for 90-95% of all metabolism work more optimal. As a result
cases. According to International Diabetes blood glucose levels will be controlled.
Federation (IDF) (2015), 1 out of 11 adults Therefore, holistic handling is necessary
are diabetic and nearly 80% of diabetics (Wade & Tavns, 2007).
are living in developing countries, one of Physical exercise is an important
which is Indonesia. part of diabetes management. Soegondo
Indonesia is in the top 7 countries (2007) explains that physical exercise
with the largest number of people with leads to an increase in blood flow and
diabetes. IDF estimates that in 2015 there opening of more capillary meshes. As a
are approximately 10 million cases of result, insulin receptors are widely
adults with DM in Indonesia. Basic Health available and more active. However, the
Research Report (Riskesdas) states that opportunity to do physical exercise for
the number of DM patients in 2013 is hospitalized patient is usually decrease
about 6,9% of the total population or due to some circumstances, for example
nearly 12 million people. In West Sumatra limited movement in lower extremities and
Province, there is a sufficiently number of environmental barrier (inpatient room
diabetics, accounting for 1.8% of the total design is not supported) (Mahanani,
population. West Sumatera Province is Natalia & Pangesti, 2015; Dewi &
ranked 21st for DM case in Indonesia Budiharsana, 2014; Niqren, 2014).
(Balitbang of Department of Health RI, Thus, there is a need for exercise
2013). that patient can perform during their stay
Department of Health of Padang in the hospital. Progressive Muscle
city in 2015 reported that DM is the third Relaxation (PMR) is those kinds of
largest illness referred from Community exercises (Mahanani et al., 2015). PMR
Health Centres (Puskesmas) accounting focuses on tightening and relaxing
for 2592 people. While in 2014, DM is in sequential muscle group. PMR is first
the second place of 10 most diseases introduced by Jacobson in 1938 and is still
referred by health insurance participants widely used nowadays. Jacobson
with a total of 2436 patients. Although in explained that PMR could facilitate body's
2015 there is a decrease in the ranking oxygen consumption, increase
from the previous year, an increase occurs metabolism, accelerate respiration, relax
in the number of DM patients who are muscle tension, balance systolic and
referred to the hospital (Department of diastolic blood pressure, and increase
Health, 2016). alpha brain waves (Synder & Linquist,
Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) 2010).
occurs due to reduced insulin sensitivity or Hasaini (2015) has conducted a
insulin resistance. Normally, insulin is study to prove the effectiveness of PMR
bound by a receptor on the cell surface on blood glucose levels of T2DM patients
and begins to unite a series of reactions at Martapura Community Health Center
including glucose metabolism. T2DM may (Puskesmas). PMR was given 1 to 3 times
be caused by insensitivity of receptor to a day for ± 15-20 minutes to 34 patients.
the insulin or by low of insulin level and The study showed that there was a
78
Akbar, Malini, Afriyanti DOI : 10.20884/[Link].2018.13.2.808
Jurnal Keperawatan Soedirman 13 (2) 2018 : 77 – 83

significant difference in blood glucose post-test design. A total of 30 patients who


levels between the intervention group and selected using simple random sampling
the control group (p-value <0,05). participated in this study. They were
The similar results were also divided into intervention and control group
found in Casman, Fauziyah, Fitriyana and (15 respondents in each group) by
Triwibowo (2015) study at the Puskesmas drawing the names out. Sample criteria
Suraneggala. This research used pre- were T2DM patients without diabetes-
experiment with one group pretest-posttest related complication; received
design. PMR was conducted twice per pharmacological and dietary therapy from
day, in the morning and afternoon, for six the hospital; had ≥200 mg/dl blood
consecutive days in 30 respondents. The glucose level; and compos mentis.
study showed that there was a significant In order to control whether the
difference in fasting blood glucose level decrease of the blood glucose level, the
before and after intervention in PMR group pre and posttest measurement of
( 204,4 mg/dl compared to 155,47 mg/dl). peripheral blood glucose level were
Both studies were conducted in conducted for both groups. For the
the community setting where all the intervention group, the PMR was
respondents were not hospitalized. The conducted three times on three
respondents could mobilize without any consecutive days with duration of 25-30
limitation. There is limited literature that minutes. Meanwhile for the control group,
explains the implementation of PMR in the the routine activity suggestion to the
hospital setting. The implementation of respondents by the nurses in ward.
PMR in hospitals setting could become The research process began by
one of the proposed activity therapy. The identifying T2DM patients who were
PMR provide an alternative for patients suitable with inclusion criteria. Then,
who were experienced limited movement. researchers explained the research
In the hospital, nurses can continuously procedures. Informed consent was filed
monitor the accuracy of PMR movements. after the patients agreed to become
Therefore, this research was conducted to respondents. The researchers measured
observe the effectiveness of PMR blood glucose levels by using peripheral
implementation in lowering blood glucose blood glucose measuring device before
levels within T2DM patients in hospitals. intervention. Then, researchers introduced
This research was conducted in and explained PMR that would be done
Central General Hospital (RSUP) Dr. M. three times a day for three consecutive
Djamil Padang, West Sumatra Province, days with duration of 25-30 minutes. The
Indonesia. Based on medical records, researchers observed the PMR
1081 T2DM patients had been implementation by using observation
hospitalized from January to July 2017. sheets. After performing PMR for nine
From the initial assessment, 15 patients times, researchers remeasured blood
stated that they did not know about the glucose levels by using the same device.
Progressive Muscle Relaxation (PMR) The data were collected,
exercise. Of 15 patients, 4 people did processed and then analyzed by using
physical activity during the hospitalization univariate and bivariate analysis. Bivariate
by doing morning or afternoon walk analysis used t-test to determine effect of
around the inpatient room. Meanwhile, 9 PMR in lowering blood glucose levels of
patients said they just rested in bed. diabetics. This research had passed
Nurses who were assigned in the Internal ethical clearance at the Faculty of
Disease Room stated that they have never Medicine, Andalas University of Padang
performed PMR exercise for hospitalized (Approval no: 396 / KEP / FK / 2017) and
DM patients. obtained the written permission from Dr.
M. Djamil Hospital before doing the
METHOD research (Approval no LB.00.02.07.1131).
This was quasi-experiment
research with control group pretest and
79
Akbar, Malini, Afriyanti DOI : 10.20884/[Link].2018.13.2.808
Jurnal Keperawatan Soedirman 13 (2) 2018 : 77 – 83

RESULTS

Table 1. Demographic characteristics of respondents (n=30)


Intervention (n=15) Control (n=15)
f (%) f (%)
Age, years (Mean, SD) 49,60 (4,68) 51,33 (5,49)
Sex
Male 4(26,7) 6(40)
Female 11(73,3) 9(60)
Education
Primary School 0 (0) 0 (0)
Junior High School 5(33,3) 5 (33)
Senior High School 8 (53,5) 9 (60)
Bachelor Degree 2 (13,3) 1 (6,7)
Occupation
Housewife 7 (46,7) 4 (26,7)
Laborers 3 (20) 3 (20)
Self-Employed 4 (26,7) 6 (40)
Civil Servant 1 (6,7) 2 (13,3)

Characteristics of respondents glucose level on pre and post test (p


are described in table 1. Table 1 shows 0,000).
that mean age of respondents in
intervention group was 49,60 years old, Table 3. Mean deviation of blood glucose
while in control group was 51,33 years old. levels (n=30)
Majority of respondents in intervention Deviation p-value
group were female (73,3%), had senior (mean, SD)
high school education level (53,5%), and Intervention 80,46 (20,10)0,015
0,015
Control 63,80 (14,56)
were housewives (46,7%). Similarly in the
control group, majority of respondents
were female (60%) and had senior high Table 3 shows mean deviation of
school education level (60%). However, blood glucose levels in both groups.
many of them were self-employed (40%). Independent t-test showed that there was
a significant differences in mean deviation
Table 2. Mean of blood glucose levels of blood glucose levels between groups
(n=30) (p=0,015). It means that PMR is
Pre test Post test p-value significantly effective to lower blood
Intervention 292,07 211,60 0,000 glucose levels of T2DM patients.
Control 294,13 230,33 0,000
DISCUSSION
Mean of blood glucose level pre- Physical activities are beneficial
test and post-test of both groups are in lowering blood glucose in patients' body
shown in table 2. Table 2 shows that mean because it can increase the cells'
of blood glucose level at pre-test and post- absorption. Exercises can enhance blood
test in intervention group was 292,07 flow, and the opened capillary mesh
mg/dl and 211,60 mg/dl respectively. increases insulin receptors availability that
Meanwhile, in the control group, mean of will reduce blood glucose level in diabetic
blood glucose level at pre-test and post- patients (Soegondo, 2007). For these
test was 294,13 mg/dl and 230,33 mg/dl reasons, physical activities for T2DM
respectively. Paired t-test in intervention patients are very important even when the
group showed p-value 0,000 (p <0,05) patients are being hospitalized.
which means that there was a significant In this study, it was found that
differences in blood glucose level before there is a significant difference in blood
and after PMR intervention. Similar result glucose levels of pre-test and post-test in
was also found in control group. There the intervention group as the effect of
was a significant difference in blood PMR exercise to lower blood glucose
80
Akbar, Malini, Afriyanti DOI : 10.20884/[Link].2018.13.2.808
Jurnal Keperawatan Soedirman 13 (2) 2018 : 77 – 83

levels in patients with T2DM. In another because respondents took


study, PMR effectiveness was tested if it pharmacological therapy and dietary
could reduce blood glucose levels in program in the hospital. Patients took
patients with gestational diabetes. Before drugs and insulin therapy prescribed by
the intervention, there was no significant doctor in charge of service (DPJP).
difference in mean of fasting blood Patients' diet was also monitored by
glucose between two groups. After the nutritionists. When patients regularly follow
intervention, mean of fasting blood programmed treatment and diet, it will
glucose was 94,79 and 103 mg/dl in the affect their glucose levels.
intervention and control group respectively Alfian (2015) in his research in
(p-value <0,001) (Kaviani, et al., 2014). Ansari Saleh Regional Public Hospital
PMR exercises in this study have (RSUD), Banjarmasin revealed that when
met the criteria as described by Dharma patients regularly taking medication then
(2016). The exercise should be their blood glucose levels will drop. In
continuous, which are given for 25-30 contrast, when patients did not take
minutes, 3 times daily for 3 consecutive medication regularly then the patient's
days, rhythmical (it makes the muscles to blood glucose levels remain high. In
contract and relax regularly), intensity (it is research by Tangka, Wiyono and Wati
done alternately between stretching and (2015) in Internal Polyclinic of Bethesda
loosening), progressive/gradually(it is General Hospital, Tomohon explained that
done gradually from a little to a heavy the dietary compliance in DM patients is
training), and endurance(it restores the very important. Usually, patients should
cardiovascular system). not consume too many sugary foods and
Indrayani, Heru, and Agus (2007) should eat on a regular schedule. Dharma
also showed that physical exercises had (2016) also explained the purpose of
an effect on reducing blood glucose levels controlling food for patients with diabetes
in T2DM patients. Insufficient gestures will mellitus is to maintain the blood glucose
decrease skeletal muscle movement. levels to stay close to normal by balancing
Unmoved skeletal muscle will make fat food intake with insulin and physical
cannot be converted into energy. As a activities.
result fat deposits are higher in the walls of When patients are hospitalized, it
blood vessels and skeletal muscles. The is very possible to keep the blood glucose
accumulation of fat can activate secretion at lower levels because patients’ diet and
of chemical mediator, leptin. Leptin medication are closely monitored by health
weakens function decreases amount of care personnel. However, this condition
insulin receptor. Leptin also reduces does not necessarily happen when
binding capacity of insulin receptors with patients are outside of healthcare facility.
the hormone insulin (Masjur, 2005). Patients should be empowered by give
Physical exercises are necessary them adequate knowledge and skills to
for DM patients to control blood glucose perform diabetes self-management.
levels which are foundation of DM This study revealed that PMR that
management. PMR is one type of exercise given along with standard treatment could
that can be performed independently, so significantly decreases blood glucose level
patient's self-management will improve. To compared to standard treatment alone
get maximum results, patients is required (p=0,015). Other literature also shows that
to learn about PMR and also be motivated PMR has an effect in lowering blood
to do the exercises, so they can do it glucose levels of patients with DM at
regularly. Keling 1 Community Health Center
This study found that there was a (Puskesmas), Jepara (Rusnoto & Diana,
significant decrease of blood glucose 2016). However, the study did not
levels of T2DM patients in control group provided detailed explanation about
(63,80 mg/dl). The decrease in blood effects of PMR on T1DM, or T2DM, or
glucose levels within control group Gestational Diabetes.

81
Akbar, Malini, Afriyanti DOI : 10.20884/[Link].2018.13.2.808
Jurnal Keperawatan Soedirman 13 (2) 2018 : 77 – 83

DM patients urgently require REFERENCES


some physical exercises because glucose Alfian, R. (2015). Korelasi antara
and free fatty acids (FFAs) were kepatuhan minum obat dengan
processed into energy during the training. kadar gula darah pada pasien
Physical exercises could lower blood diabetes mellitus di rawat jalan rsud
glucose levels by enhancing carbohydrate dr. h. moch. ansari saleh
metabolism, losing weight and maintaining banjarmasin. Jurnal Pharmascience,
it in normal condition, and increasing 2, 15-23.
insulin sensitivity (Tarwoto, et al., 2012).
Managing patients holistically Balitbang Depkes RI. (2013). Riset
needs to be done by training self-care and kesehatan dasar. Jakarta: Ministry of
arranging behavioral changes. DM Health RI.
management includes education, dietary, Casman., Fauziyah, Y., Fitriyana, I.,
physical exercise, and medicines. Triwibowo, C. (2015). Perbedaan
Basically, the DM management starts with efektivitas antara latihan fisik dan
diet and then supplemented by sufficient progressive muscle relaxation (PMR)
physical exercises (Dharma, 2016). The terhadap penurunan kadar gula
PMR increase the mobility and the use of darah puasa pada penderita
muscle that could improve the uptake diabetes mellitus tipe 2. Jurnal Ilmiah
glucose by the muscle cell. The PMR PANNMED, 10, 246-249.
could be performed even when the
patients were in bed, it become one of Damayanti, S. (2015). Diabetes mellitus &
active range of motion that could penatalaksanaan keperawatan.
performed easily by the hospitalized Yogyakarta: Nuha Medika.
patients.
Dewi, F.V.S., & Budiharsana, M.P. (2014).
During the research, respondents
Gambaran diabetes self
and families were able to understand the
management education (DSME) dan
instructed PMR techniques well. However,
lama hari rawat pasien diabetes
motivation and direction are necessary for
mellitus tipe 2 rawat inap Rumah
the respondents to be able to do the
Sakit Umum Provinsi Nusa
exercises independently and
Tenggara Barat Tahun 2012-2013.
appropriately. PMR is easy to learn and
Jurnal FKM UI, 1-16.
practice in various environments even in
hospitals, inexpensive, can be self-studied Dharma, S. (2016). Pengantar studi kasus
by respondents or family, and almost do tentang penggunaan obat dan
not have any contraindication. Therefore, penatalaksanaan penyakit.
PMR can be used by nurses as an Magelang: GRE Publishing.
intervention to reduce glucose levels of
patients with T2DM along with standard Dinas Kesehatan Kota Padang. (2016).
treatment. Laporan dinas kesehatan Padang
tahun 2015. Padang: Dinas
CONCLUSION Kesehatan Kota Padang.
The hospitalized T2DM patients Hasaini, A. (2015). Effectiveness muscle
were able to practice PMR to lower blood progressive relaxation (PMR) toward
glucose levels. PMR exercises become to blood glucose levels of diabetes
effective when they are done continuously, mellitus type 2 patients group in the
rhythmically, intensity, gradually, and Martapura public health center.
having the endurance. Researchers Caring, 2, 16-27.
recommend that PMR could be taught to
hospitalized T2DM patients. Nurses can Indrayani, P., Heru S., & Agus S. (2007).
apply PMR as an intervention in the Pengaruh latihan fisik senam aerobik
management of patients with T2DM along terhadap penururnan kadar gula
with standard treatment. darah pada penderita dm tipe 2 di

82
Akbar, Malini, Afriyanti DOI : 10.20884/[Link].2018.13.2.808
Jurnal Keperawatan Soedirman 13 (2) 2018 : 77 – 83

wilayah kerja Puskesmas Bukateja Tangka, W.T., Wiyono., & Wati, A.T.
Purbalingga. Jurnal Media Ners, 1, (2015). Hubungan kepatuhan
49-99. pengaturan diet dengan kadar
glukosa darah pada pasien diabetes
International Diabetes Federation. (2015). mellitus. Buletin Sariputra, 5(1), 40-
IDF diabetes atlas-seventh edition. 46.
Brussel: IDF.
Wade, C. & Tavns, C. (2007). Psikologi
Kaviani, M., Bahoosh, N., Azima, S., edisi 9 jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Asadi, N., Sharif, F., & Sayadi, M.
(2014). The effect of relaxation on World Health Organization. (2016). Global
blood sugar and blood presure report on diabetes. France: WHO
changes of women with gestational Press.
diabetes: A randomized control trial.
Iranian Journal of Diabetes And
Obesity, 6, 14-22.
Mahanani, S., Natalia, D., & Pangesti, S.
(2015). Aktivitas fisik berdasarkan
teori handerson pada pasien
diabetes mellitus laki-laki dan
perempuan. Jurnal STIKES RS
Baptis Kediri, 2, 1-10.
Masjur, A. (2005). Kapita selekta
kedokteran, edisi II jilid 3. Jakarta:
Media Aesulapius.
Niqren, Z.L. (2014). Kemudahan gerak
aktivitas bagi pasien stroke di unit
terapi okupasi adl (activities of daily
living). Jurnal Mahasiswa Jurusan
Arsitektur, 2, 1-17.
Rusnoto & Diana, N.I.R. (2016). Effect of
progressive muscle relaxation
against the decrease blood sugar
levels in patients with diabetes
mellitus at health Keling 1 Jepara.
International Nursing Workshop And
Conference, 1, 16-23.
Soegondo, S. (2007). Penatalaksanaan
diabetes mellitus terpadu. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.
Synder, M., & Linquist, R. (2010).
Complementary and alternative
therapies in nursing 6th edition.
United States of America: Hamilton
Printing.
Tarwoto., Wartonah., Taufiq, I., & Mulyati,
L. (2012). Keperawatan medikal
bedah gangguan sistem endokrin.
Jakarta: TIM.

83

Anda mungkin juga menyukai