0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
249 tayangan53 halaman

Nanopartikel Kulit Buah Naga untuk Lip Balm

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi lip balm dalam bentuk nanopartikel menggunakan ekstrak kulit buah naga sebagai antioksidan dan pewarna alami 2. Lip balm diperlukan untuk mencegah bibir kering dan pecah-pecah, namun produk komersial sering kurang memperhatikan manfaat kesehatan 3. Nanopartikel dapat meningkat

Diunggah oleh

Ridho AF
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
249 tayangan53 halaman

Nanopartikel Kulit Buah Naga untuk Lip Balm

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formulasi lip balm dalam bentuk nanopartikel menggunakan ekstrak kulit buah naga sebagai antioksidan dan pewarna alami 2. Lip balm diperlukan untuk mencegah bibir kering dan pecah-pecah, namun produk komersial sering kurang memperhatikan manfaat kesehatan 3. Nanopartikel dapat meningkat

Diunggah oleh

Ridho AF
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STUDI PENGEMBANGAN FORMULASI SEDIAAN

NANOPARTIKEL DARI EKSTRAK KULIT BUAH NAGA


(HYLOCEREUS POLYRHIZUS) SEBAGAI ANTIOKSIDAN DAN
PEWARNA PADA LIP BALM

COVER
PROPOSAL

IMELDA CHRISTIANI NAIBAHO


1948201037

PROGRAM STUDI FARMASI FAKULTAS KESEHATAN


UNIVERSITAS FORT DE KOCK
BUKITTINGGI
2022
DAFTAR ISI

COVER.........................................................................................................................1
DAFTAR ISI.................................................................................................................i
DAFTAR TABEL.......................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR..................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1
A. Latar Belakang...................................................................................................1
B. Rumusan Masalah..............................................................................................4
C. Tujuan.................................................................................................................5
D. Manfaat Penulisan.............................................................................................6
E. Ruang lingkup Penelitian..................................................................................6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.................................................................................7
A. Tanaman Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus)...................................7
B. Nanopartikel.....................................................................................................10
C. Antioksidan.......................................................................................................17
D. Definisi Kosmetik.............................................................................................18
E. Bibir...................................................................................................................19
F. Lip Balm............................................................................................................21
G. Metode maserasi untuk ekstrak......................................................................25
H. Uji ekstrak kulit buah naga.............................................................................25
I. Kerangka Teori................................................................................................30
BAB III KERANGKA KONSEP.............................................................................31
A. Konsep Penelitian.............................................................................................31
B. Kerangka Konsep.............................................................................................31
C. Definisi Operasional.........................................................................................32
D. Hipotesis............................................................................................................35
BAB IV METODE PENELITIAN...........................................................................36
A. Jenis dan Rancangan Penelitian.....................................................................36
B. Lokasi dan Waktu Penelitian..........................................................................36

i
C. Alat dan Bahan.................................................................................................36
D. Prosedur Kerja.................................................................................................37
E. Evaluasi Fisik Sediaan Lip balm.....................................................................40
F. Analisi Data.......................................................................................................42
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................................44

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 2. 1 Pembuatan Nano Partikel...........................................................................14

Tabel 3. 1 Definisi Operasional Variabel....................................................................32

Tabel 4. 1 Formulasi lip balm......................................................................................38

iii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Tumbuhan Buah Naga (Daniel, 2014)......................................................7

Gambar 2. 2 Skema Histologi Kulit Bibir (Daniel, 2014)...........................................20

iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Defenisi kosmetik adalah setiap bahan atau sediaan yang bertujuan untuk

digunakan pada bagian luar tubuh manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan

organ bagian luar lainnya) atau gigi dan mukosa mulut terutama untuk

membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan, mengurangi bau badan, dan

memelihara tubuh agar dalam kondisi baik(Pangaribuan dan Lina, 2017).

Berdasarkan manfaatnya kosmetik dibagi menjadi dua, yang pertama

kosmetik riasan (make-up) adalah kosmetik yang diperlukan untuk merias atau

memperindah penampilan kulit. Kedua adalah kosmetik perawatan kulit atau skin

care adalah kosmetik yang diutamakan untuk memelihara kebersihan dan

kesehatan kulit, bahkan kadang-kadang untuk menghilangkan kelainan-kelainan

pada kulit (Briliani et al., 2016).

Bibir merupakan salah satu bagian wajah yang penampilannya dapat

mempengaruhi keindahan wajah. Bibir mempunyai lapisan korneum yang sangat

tipis, yaitu 3 sampai 4 lapisan dibanding kulit wajah biasa. Kulit bibir tidak

mempunyai folikel rambut dan tidak mempunyai kelenjar keringat yang berfungsi

untuk melindungi bibir dari lingkungan luar. Hingga dapat menyebabkan

kerusakan kulit pada bibir yaitu bibir menjadi kering, pecah-pecah dan warna bibir

yang menjadi kusam (Utami et al., 2021).

1
2

Paparan sinar UV matahari dapat merusak keratin bibir yang berfungsi untuk

melindungi bibir. Sel keratin yang rusak akan terlepas dan jatuh. Kondisi inilah

yang membuat bibir menjadi pecah-pecah. Proses ini akan terus berlanjut hingga

digantikan dengan sel yang baru maka dari itu dibutuhkan pelembab bibir untuk

menjaga bibir agar tidak kering dan pecah-pecah. Kosmetik yang biasa digunakan

untuk pelembab bibir adalah lip balm (Amalia et al., 2021).

Lipbalm merupakan sediaan kosmetik dengan komponen utama seperti lilin,

lemak dan minyak dari ekstrak alami atau yang disintesis. Adapun tujuan dari

lipbalm untuk mencegah terjadinya kekeringan pada bibir dengan meningkatkan

kelembaban bibir dan melindungi pengaruh buruk lingkungan pada bibir. Lipbalm

dari bahan alami akan banyak diminati daripada yang tidak alami (Lutfia dan

fauziatul,2019). Karna bahan yang digunakan dari alam dan efek samping lebih

sedikit. Bahan alami serta zat warna yang dapat digunakan contohnya adalah buah

naga.

Buah naga merah merupakan tanaman dari golongan kaktus berbentuk bulat

lonjong dengan permukaan kulit dikelilingi oleh helaian seperti sisik yang

berwarna merah. Bagian dari buah naga yang sering dimanfaatkan untuk

dikonsumsi adalah daging buah, sedangkan kulit buah naga yang terdiri dari

30-35% bagian buah seringkali dibuang dan tidak dimanfaatkan dengan baik.

Kulit buah naga merupakan limbah hasil pertanian yang mengandung banyak

sekali manfaaat (Kusuma et al., 2022).


3

Buah naga ini memiliki kandungan antioksidan seperti vitamin C, senyawa

flavonoid, serta polifenol. Buah naga (hylocereus polyrhizus) ini memiliki pigmen

warna berupa antosianin yang berfungsi sebagai antioksidan. Kulit buah naga

selama ini jarang dimanfaatkan dan lebih sering menjadi limbah. Padahal kulit

buah naga juga memiliki kapasitas antioksidan, efek antiproliferatif, serta

pelembap dalam produk-produk kosmetik (Yanty dan Siska, 2018).

Beberapa perusahaan kosmetik banyak memproduksi lipbalm hanya

mempertimbangkan aspek kecantikan, mengabaikan manfaat kesehatan dan

karakter lembut kulit. Produk semacam itu secara bertahap akan merusak warna

alami, kelembutan dan kilauan bibir. Warna dan rasa secara alami sulit diperoleh

dan juga memiliki masalah terkait stabilitas produk ( kadu et al., 2014). Maka dari

kelemahan lip balm biasa perlu di inovasi dalam bentuk nanopartikel. Formulasi

sediaan lip balm dalam bentuk nanopartikel bertujuan untuk pengembangan

formulasi tersebut agar dapat diperoleh sediaan lip balm yang lebih optimal untuk

bibir (Agustina et al., 2020).

Nanopartikel merupakan pengembangan dari nanoteknologi. Nanopartikel

dapat dijadikan sebagai alternatif dalam pembuatan kosmetik dengan senyawa

aktif bahan alam yang sulit terserap. Hal ini dikarenakan ukuran partikel yang

lebih kecil dengan luas permukaan yang lebih besar sehingga memudahkan dalam

proses penembusan membran sel. Dalam pembuatan kosmetik harus

memperhatikan proses sintesis tersebut, hal ini dikarenakan proses ini menentukan

ukuran dan bentuk dari kosmetik yang akan dihasilkan (Tiara Putri et al., 2021).
4

Pada tahun 2017 (Maharini et al., 2017) melakukan penelitian tentang

“Formulasi nanopartikel ekstrak buah naga (hylocereus polyrhizus) sebagai zat

warna sediaan lipstick” dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa formulasi

nanopartikel ekstrak kulit buah naga tersebut intensitas warna yang ditimbulkan

rendah dengan menggunakan konsentrasi 4% nanopartikel ekstrak kulit buah naga.

Pada tahun 2022 (Tuanku dan Fatayan, 2022) juga melakukan penelitian “

Uji aktivitas antioksidan dari sediaan lip ba lm kulit buah naga merah (hylocereus

polyrhizus) dari hasil penelitian tersebut ditemukan bahwa sediaan lip balm kulit

buah naga merah memiliki aktivitas antioksidan yang kuat dengan perbandingan 4

formula. Hasil yang didapat adalah formula 3 dan 4 memiliki aktivitas antioksidan

yang sangat kuat, dikarenakan semakin tinggi konsentrasi ekstrak kulit buah naga

maka semakin tinggi juga aktivitas antioksidan.

Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

dengan judul “Studi pengembangan formulasi sediaan nanopartikel dari ekstrak

kulit buah naga (hylocereus polyrhizus) sebagai antioksidan dan pewarna pada lip

balm”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan dalam penelitian dapat

dirumuskan sebagai berikut :

1. Apakah pada sediaan nanopartikel lipbalm dari kulit buah naga merah

(hylocereus polyrhizus) dapat dibentuk sebagai sediaan lipbalm?


5

2. Apakah sediaan nanopartikel dari ekstrak kulit buah naga (hylocereus

polyrhizus) pada lipbalm dapat berfungsi sebagai antioksidan?

3. Apakah sediaan nanopartikel dari ekstrak kulit buah naga (hylocereus

polyrhizus) pada lipbalm dapat berfungsi sebagai pewarna?

4. Bagaimana hasil uji evaluasi dan karakterisasi dari sediaan lipbalm

nanopartikel antioksidan pada sediaan kulit buah naga?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahui Studi pengembangan formulasi sediaan nanopartikel

dari ekstrak kulit buah naga (hylocereus polyrhizus) sebagai antioksidan dan

pewarna pada sediaan lipbalm.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk menjadikan sediaan nanopartikel antioksidan dari ekstrak kulit

buah naga (hylocereus polyrhizus) sebagai lipbalm.

b. Untuk menjadikan sediaan nanopartikel antioksidan dari ekstrak kulit

buah naga (hylocereus polyrhizus) sebagai antioksidan.

c. Untuk menjadikan sediaan nanopartikel antioksidan dari ekstrak kulit

buah naga (hylocereus polyrhizus) sebagai pewarna pada bibir.

d. Untuk Mengetahui hasil uji evaluasi dan karaketrisasi dari sediaan

lipbalm nanopartikel antioksidan dari ekstrak kulit buah naga

(hylocereus polyrhizus).
6

D. Manfaat Penulisan

Manfaat penelitian ini adalah untuk meningkatkan daya guna dari kulit buah

naga merah sebagai bahan alami dalam pembuatan ekstrak nanopartikel kulit buah

naga sebagai antioksidan dan pewarna pada lip balm (pelembab bibir) yang aman

digunakan oleh masyarakat.

E. Ruang lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah studi pengembangan formulasi sediaan

nanopartikel antioksidan dari ekstrak kulit buah naga (hylocereus polyrhizus).

Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan nanopartikel antioksidan

dari ekstrak kulit buah naga sebagai lipbalm. Penelitian ini dilaksanakan di

laboratoriun Farmasi Universitas Ford De Kock Bukitinggi dan Laboratorium

Universitas Andalas Padang pada bulan januari 2022. Populasi dan sampel yang

digunakan yaitu kulit buah naga yang terdapat di Bukittinggi. Analisa data yang

digunakan pada penelitian ini one way anova.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus)

Buah naga (hylocereus Polyrhizus) atau biasa disebut dengan Dragon Fruit

merupakan buah dari tanaman tropis yang berasal dari Amerika tengah dan Amerika

Utara. Buah naga banyak dibudidayakan di Asia seperti Vietnam dan Thailand.

Kemudian pada tahun 2000 buah naga merah mulai di kenal di Indonesia dan mulai di

budidayakan bibitnya dari Thailand (Daniel dan Kristanto,2014).

Buah naga merah merupakan tanaman dari golongan kaktus berbentuk bulat

lonjong dengan permukaan kulit dikelilingi oleh helaian seperti sisik yang berwarna

merah .Bagian dari buah naga yang sering dimanfaatkan untuk dikonsumsi adalah

daging buahnya, sedangkan kulit buah naga yang terdiri dari 30-35% bagian buah

seringkali dibuang sebagai sampah dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kulit

buah naga merupakan limbah hasil pertanian yang mengandung zat warna alami

antosianin cukup tinggi dengan rata-rata kadar total antosianin ekstrak kulit buah naga

merah berkisar 26,4587 ppm (Nia dan Prayoga, 2020).

Gambar 2. 1 Tumbuhan Buah Naga (Daniel, 2014)

7
8

1. Klasifikasi Buah naga Merah (Dani, 2019)

Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Subdivisi : Agiospermae (berbiji tertutup)

Kelas : Dicotyledonae (berkeping dua)

Ordo : Cactales

Famili : Cactaceae

Subfamili : Hylocereanea

Genus : Hylocereus

Spesies :

- Hylocereus undatus (daging putih )

- Hylocereus polyrhizus (daging merah )

- Hylocereus costaricensis (daging super merah atau

superred)

- Selenicereus megalanthus (kulit kuning , daging

putih, dan tanpa sisik)

2. Morfologi Tanaman

Terdapat dua jenis akar yang dimiliki oleh tanaman buah naga. Pertama

akar tanah dan akar udara. Karakteristik perakaran tanaman buah naga adalah

tidak terlalu panjang serta memiliki akar cabang yang mempunyai akar rambut.

Akar tanah mempunyai warna coklat dengan kedalaman 20-30 cm dan semakin

dalam sekitar 50-60 cm ketika akan berbuah. Akar tanah dan akar udara

berfungsi mencari air dan unsur hara. Akar udara berfungsi sebagai
9

pernapasan. Batang tanaman buah naga tidak berkambium dan berduri,

berwarna hijau tua, bersudut tiga (triangular). Apabila sudah dewasa batang

tanaman tidak memiliki lapisan lilin dan lendir. Bentuk bunga menyerupai bel

yang panjang. Mahkota bunga bagian dalam berwarna putih bersih. Buah naga

memiliki bentuk lonjong agak mengerucut. Buah naga daging merah

(hylocereus polyrhizus) berkulit merah dan berdaging merah keunguan. Berat

rata-rata kurang lebih 400 gram (Rahma dan Setianto,2021).

3. Kulit Buah Naga

Kulit buah naga bermanfaat bagi kesehatan namun kenyataannya hanya

dianggap sebagai limbah hasil pertanian yang belum dimanfaatkan secara baik,

kulit buah mengandung zat warna alami betasianin cukup tinggi. Betasianin

merupakan zat warna yang berperan memberikan warna merah dan merupakan

golongan betalain yang berpotensi menjadi pewarna alami pangan dan dapat

dijadikan alternatif pengganti pewarna sintentik yang lebih aman bagi

kesehatan. Kulit buah naga (hylocereus polyrhyzus) dapat diaplikasikan

sebagai pewarna alami pangan dan sebagai bahan tambahan untuk

meningkatkan nilai gizi produk. Kulit buah naga sangat bermanfaat untuk kulit

wajah sehingga dapat awet muda (Daniel dan Kristanto, 2014).

Kulit buah naga mudah didapat dan mudah untuk mengolahnya karena

kulitnya lunak sehingga mudah dipotong dan tidak memerlukan proses

pengolahan yang memakan waktu lama. Kulit buah naga memiliki kekurangan

diantaranya mudah busuk dan mudah kering apabila disimpan salah dalam
10

proses penyimpanan. Antosianin merupakan zat warna yang berperan

memberikan warna merah, dapat dijadikan alternatif pengganti pewarna

sintesis, yang baik digunakan untuk pewarna (Dani Hendarto,2019). Kulit buah

naga merah mengandung beberapa senyawa seperti vitamin B1, vitamin B2,

vitamin B3 dan vitamin C, protein, lemak, karbohidrat, serat kasar, flavonoid,

tiamin, niasin, pyridoxine, kobalamin, glukosa, fenol, betasianin, polifenol,

karoten, fosfor, besi dan fitoalbumin yang beberapa diantaranya merupakan

senyawa antioksidan.

Beberapa senyawa dalam ekstrak kulit buah naga merah yang memiliki

aktivitas sebagai antioksidan, yaitu betasianin, flavonoid, dan fenolik (Utami

dan Mardawati E, 2020).

B. Nanopartikel

Nanopartikel adalah partikel berukuran 1-100 nanometer dan kebanyakan

metode menyarankan sebaiknya ukuran diameter partikel antara 200 dan 400

nm. Dalam bidang farmasi, terdapat dua pengertian nanopartikel yaitu senyawa

obat melalui suatu cara dibuat berukuran nanometer (nanokristal) dan suatu

obat dienkapsulasi dalam suatu sistem pembawa berukuran nanometer, yaitu

nanocarier (Abdassah Marline,2017).

a. Nanokristal

Nanokristal merupakan penggabungan dari ratusan bahkan ribuan molekul

yang membentuk menjadi kristal, terdiri dari senyawa obat muri dengan
11

penyaluran tipis menggunakan surfaktan. Pembuatan nanokristal ini disebut

nanosiasi. Tidak seperti nanocarier, nanokristal hanya memerlukan sedikit

sirfaktan untuk stabilitas permukaan, karna gaya elektrostatik sehingga

mengurangi kemungkinan keracunan karena bahan tambahan untuk

pembawa (Coulter, 2008).

b. Nanocarrier

1) Nanotube

Nanotube merupakan lembaran atom yang diatur dalam bentuk tube

atau struktur menyerupai benang dalam skala nanometer. Struktur ini

mempunyai rongga di tengah, dan memiliki struktur menyerupai sangkar

yang berbahan dasar karbon. Nanotube terdiri dari dua macam yaitu yang

berdinding tunggal dan yang berdiniding ganda (Tiara Putri et al., 2021).

2) Nanoliposom

Mempunyai ukuran 50-100. Karakteristik dari Nanoliposom adalah

vesikel fosolipid, bersifat biokompatibel, penyerapan nya efisian dan mudah

diproduksi. Aplikasi nya yaitu dengan meningkatkan waktu sirkulasi,

penghantar gen (Tiara Putri et al., 2021).

1. Karakterisasi Nanopartikel

a) Sifart organoleptik

Mengetahui morfologi dari nanopartikel yang mempengaruhi sifat

pelepasan zat aktif dari nanopartikel tersebut. Pengamatan ini dapat

dilakukan menggunakan mikroskop optik dengan perbesaran yang


12

disesuaikan. Pengamatan kejernihan dilakukan untuk mengetahui

morfologi dan ukuran dari nanocarrier secara visual. Partikel yang

berukuran nanometer tidak bisa terlihat dengan kasat mata, suspense akan

terlihat jernih serta transparan (Abdassah Marline, 2017).

b) Ukuran dan distribusi ukuran nanopartikel

Menggunakan alat Particle Size Analyzer (PSA) dengan prinsip

Photon Correlation Spectroscopy/Electrophetic Light Scattering. Alat ini

memiliki rentang ukuran 0,6 µm hingga 7 µm. Gambarannya yaitu

partikel kecil dalam suspense bergerak dengan pola secara acak, lalu sinar

laser akan menyinari. Semakin lambat gerak brown maka semakin besar

ukuran partikelnya. Ukuran dan distribusi partikel dalah karakteristik

terpenting karena untuk memprediksi toksisitas, distribusi secara in vivo

serta kemampuan mencapai target suatu sistem dari suatu sistem

nanopartikel (Tiara Putri et al., 2021).

c. Zeta Potensial

Zeta potensial menunjukan sifat muatan dari permukaan partikel

berukuran nanometer melalui interaksi elektrostatistik nanopartikel yang

memperlihatkan kecendrungan tolak menolak serta agregasi. Zeta

potensial < -30 mV dan >+30 mV menunjukan nanopartikel mempunyai

stabilitas yang besar/tinggi. Sistem dispersi dengan nilai potensial

lumayan rendah akan memiliki kecendrungan beragregat (Wibrianto,

2021).
13

2. Kelebihan Nanopartikel

Keunggulan dalam penggunaan nanopartikel adalah bahan pembawa

bahan aktif yang kemampuan pengikatnya tinggi dan bersifat lepas

(Abdassah Marline, 2017).

a) Ukuran partikel dan karakteristik permukaan partikel yang dapat

dimodifikasi dengan mudah untuk penargetan obat secara pasif atau

aktif.

b) Dapat mengendalikan pelepasan obat selama transportasi dan

penghantaran, mengubah distribusi obat dan klirens, dan meningkatkan

efektivitas dan mengurangi efek samping obat.

c) Controlled realease dan karakteristik degradasi partikel dapat

dirancang dengan mudah berdasarkan pemilihan sistem nanopartikel.

d) Penargetan obat dapat dicapai dengan menempelkan ligan pengikat ke

permukaan partikel.

e) Sistem ini dapat digunakan untuk berbagai rute administrasi termasuk

oral, nasal, parenteral, dan lain-lain (Butarbutar, 2019).


14

Tabel 2. 1
Pembuatan Nano Partikel (Ahdyani et al., 220).
NO METODE KETERANGAN B
15
1 Emulsion Pembuatan nanopartikel dilakukan Bersifat
- dengan emulsifikasi larutan polimer liposoluble
Solvent dan diikuti penguapan pelarut polimer.
Evaporation

2 Double Pembentukan nanopartikel dengan Bersifat


Emulsion menambahkan fase cair bahan aktif ke hidrofilik
and dalam larutan polimer organik hingga
Evaporation membentuk emulsi tipe a/m. Emulsi ini
ditambahkan lagi dengan fase cairan
hingga terbentuk emulsi a/m/a,
kemudian diuapkan dan partikel nano
diisolasi dengan sentrifugasi kecepatan
tinggi.

3 Salting out Pembentukan nanopartikel Bersifat


berdasarkan pemisahan pelarut yang hidrofilik,
bercampur dengan air dari suatu liposluble,
fase cairan dengan mekanisme dan
salting-out. Polimer dan obat tidak tahan
dilarutkan ke dalam pelarut pemanasan
kemdiann diemulsikan ke dalam gel yang
mengandung bahan salting-out (MgCl2,
CaCl2, atau sukrosa) dan penstabil
kolidal (PVP atau HEC). Emulsi m/a
kemudan diencerkan dengan sejumlah
air untuk mengingkatkan difusi pelarut
ke dalam fase cair untuk membentuk
partikel nano.

4 Emulsion Polimer enkapsulasi dilarutkan Bersifat


Difusion secara terpisah dengan pelarut yang hidrofilik
dapat larut dengan air, kemudian dan lipofilik
dijenuhkan dengan air sampai terbentuk
kesetimbangan termodinamik antara
kedua cairan. Fase ini diemulsikan ke
dalam larutan stabilizer yang
menyebabkan terjadinya difusi
pelarut ke dalam fase eksternal,
kemudian pelarut diuapkan atau
disaring hingga didapatkan partikel
nano.

5 Solvent Pembentukan nanopartikel yang Bersifat


Displaceme meliputi presipitasi pengendapan lipofilik,
nt/ polimer yang dibentuk sebelumnya hidrofilik,
Precipitatio dari larutan organik dan difusi pelarut dan
n organik dalam suatu media cairan dengan surfaktan
ada atau tidaknya surfaktan. yang
lipofilik.
16

Pembuatan Nanopartikel (Ahdyani et al., 2020).

*PVP :
Polyvinylpyrrolidone
HEC : Hydroxyethylcellulose
a/m : air dalam minyak
a/m/a. : air dalam minyak dalam air
17

3. Analisis Spektroskopi UV-VIS

Analisis spektrofotometri UV-Vis sebagai analisi kuantitatif untuk

mengonfirmasi pembentukan nanopartikel dan digunakan juga untuk

memantau stabilitas. Spektroskopi UV-Vis sangatlah sederhana, sensitif dan

cepat, serta yang paling penting selektif untuk nanopartikel yang berbeda. Di

antara teknik dalam karakterisasi nanopartikel analisis spektroskopi UV-

Visible adalah teknik yang paling umum digunakan untuk karakteristik

nanopartikel. Teori dan dasar matematika hamburan cahaya dinamis dan UV-

Vis sangat terkenal (Ganjar Ibnu, 2018).

Dalam kasus spektroskopi UV-Vis, intensitas cahaya diukur setelsah

melewati larutan koloid. Sebagaimana diketahui bahwa nanopartikel memiliki

sifat optic yang unik dari nanopartikel logam adalah konsekuensi dari osilasi

kolektif electron konduksi yang diekstasi oleh radiasi elektromagnetik, yang

disebut resonansi plasmon permukaan. Untuk nanopartikel yang lebih kecil

<20 nm, resonansi plasmon permukaan ditemukan terjadi pergeseran biru(blue

shift) sedangkan untuk partikel yang lebih besar atau asimetris >20nm , SPR

ditemukan pergeseran merah (red shift) dengan pelebaran pita plasmon (Ganjar

Ibnu, 2018).

Beberapa penelitian juga mengemukakan melalui spectrum SPR

memprediksi ukuran partikel dari spectrum UV-Vis menggunakan teori mie

dan menyelidiki mekanisme pembentukan nanopartikel selama proses sintesis

nanopartikel perak (Wardani dan Andria, 2012).


18

Karakteristik nanopartikel emas didasarkan pada fenomena SPR(Surface

Plasmon Rensonance) yang merupakan rensonansi antara gelombang cahaya

dengan elektron-elektron pada permukaan logam yang menghasilkan osilasi

elektron di permukaan logam yang terkuantisasi. SPR pada nanopartikel

disebut dengan LSR (Local Surface Plasmon Resonance) (Wardani dan

Andria, 2012).

C. Antioksidan

Secara kimia senyawa antioksidan adalah senyawa pemberi elektron,

Secara biologis, pengertian antioksidan adalah senyawa yang dapat menangkal

dampak dari stress oksidatif. Antioksidan adalah senyawa yang mampu

menghilangkan, membersihkan, menahan, dan menangkal pembentukan reaksi

oksidasi yang disebabkan oleh radikal bebas dalam tubuh. Radikal bebas

adalah atom yang tidak stabil karna tidak memiliki elektron dengan mengikat

sel-sel tubuh. Apabila hal tersebut terjadi terus-menerus dapat menyebabkan

kerusakan dan kematian sel (Lutfia dan Tri, 2019).

Antioksidan sangat penting dalam bidang kesehatan, kecantikan dan

bahan pangan. Manfaat antioksidan dalam bidang kesehatan berfungsi untuk

mencegah penyakit degeneratif dan penyakit kanker. Antioksidan dalam

bidang kecantikan berfungsi untuk mencegah diri dari penuaan dini (anti

aging), menjaga kesehatan kulit. Dalam bidang pangan dapat digunakan untuk

mencegah proses oksidasi yang dapat menyebabkan kerusakan seperti


19

ketengikan, perubahan aroma dan warna dan dapat mencegah peroksidasi lipid

pada bahan pangan (Ambari et al., 2020).

Senyawa antioksidan yang dapat menghambat oksidasi dengan cara

bereaksi dengan radikal bebas reaktif membentuk radikal bebas tak reaktif

yang relatif stabil. Senyawa fenolik dan flavonoid merupakan sumber

antioksidan alami yang biasanya terdapat dalam tumbuhan. Selain itu,

antioksidan memiliki kemampuan dalam memberikan elektron, mengikat dan

mengakhiri reaksi berantai radikal bebas yang mematikan. Antioksidan yang

dipakai kemudian didaur ulang oleh antioksidan lain untuk mencegahnya

menjadi radikal bebas atau tetap dalam bentuk tersebut tetapi dengan struktur

(Ambari et al., 2020).

D. Definisi Kosmetik

BPOM atau Badan Pengawasan Obat dan Makanan mendefinisikannya

sebagai bahan atau sediaan yang biasa digunakan pada bagian luar tubuh

manusia (epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian luar

termasuk bagian gigi dan mukosa mulut). Tujuannya untuk membersihkan,

mewangikan, mengubah penampilan atau memperbaiki bau badan atau

melindungi dan memelihara tubuh pada keadaan baik (BPOM, 2018).

Kosmetik sudah dikenal manusia sejak berabad-abad yang lalu, baru

abad ke 19 mendapat perhatian khusus, dimana selain untuk kecantikan juga

mempunyai fungsi untuk kesehatan. Perkembangan ilmu kosmetik serta


20

industrinya baru di mulai pada abad ke-20 dan kosmetik menjadi salah satu

bagian dari dunia usaha. Pada saat ini, teknologi kosmetik begitu maju dan

merupakan paduan antara kosmetik dan obat (pharmaceutical) atau dikenal

dengan istilah kosmetik medis (cosmecueticals) Kosmetik berasal dari kata

Yunani ‘kosmetikos’ yang mempunyai arti keterampilan menghias atau

(Maryani dan Fachrurrazi, 2017).

Berikut pengertian kosmetik menurut para ahli (Rismana et al., 2014) :

1) menurut Jellinex, kosmetologi adalah ilmu pengetahuan yang

mempelajari hukum-hukum kimia, fisika, biologi dan mikrobiologi

tentang pembuatan, penyimpanan dan penggunaan bahan kosmetika

2) Lubowe mengemukakan istilah cosmedics disusul oleh Faust dengan

istilah medicated cosmetics untuk bentuk gabungan dari kosmetika dan

obat. Cosmedics adalah kosmetika yang dalamnya ditambahkan bahan-

bahan aktif tertentu seperti zat anti bakteri atau jasad renik lainnya, anti

jerawat, anti gatal, anti produk keringat, anti ketombe dan lain-lain

dengan tujuan profilaksis, desinfektan, terapi dan lain-lain

E. Bibir

1. Definisi Bibir

Pada bagian luar ,ulut terdapat dua buah bibir, bagian atas, dan bawah.

Permukaan luar dari bibir ini dilapisi kulit luar yang mengandung folikel

rambut serta beberapa kelenjar. Permukaan tengah (area transisional) bibir

merupakan lapisan epidermis yang transparan. Permukaan bibir merupakan


21

membran mukosa. Kemudian terdapat tempat bertemunya bibir atas dan

bawah disamping mulut disebut komisura bibir. Berfungsi untuk memegang

makanan dan meneruskannya ke saluran pencernaan (Satiti Kuntari, 2021).

2. Anatomi dan fisiologi kulit bibir

Bibir mengandung otot buccinators dan kelenjar bukal. Titik awal yang

baik adalah mengidentifikasi lapisan utama (epidermis, dermis, dan

hypodermis) kulit. Tiga lapisan pembentuk kulit dapat dikenali di semua

bagian kulit. Epitel yang membentuk lapisan paling gelap dan terlihat di

epidermis, biasanya merupakan lapisan yang paling gelap yang terlihat.

Sedangkan dermis jauh lebih tebal daripada epidermis. Pada kulit yang tebal,

papilla dermis membuat batas yang sangat tidak teratur antara epidermis dan

dermis. Hipodermis adalah lapisan yang terlihat dari sebagian besar terdiri dari

jaringan adipose. Untaian jaringan ikat yang padat dapat meluas dari dermis

jauh ke dalam hipodermis (Hakim Rachmi Fanani, 2021).

Gambar 2. 2 Skema Histologi Kulit Bibir (Daniel, 2014).


22

3. Bibir kering

Penyebab utama yang terjadi pada bibir kering atau pecah-pecah adalah

dehidrasi, dehidrasi terjadi karena kurang asupan cairan. Jika lapisan keratin

rusak dan mengelupas maka seseorang sedang mangalami. Bibir yang pecah-

pecah. “chaps” merupakan lapisan keratin yang mengelupas pada bagian

permukaan bibir. Pada bibir apabila bagian permukaan luar kulit mati akan

membentuk lapisan yang mengeras sebagai lapisan pelindung yang tangguh.

Permukaan luar yang lebih tebal dan tertutup keratin (disebut sebagai lapisan

keratin) melindungi pertumbuhan sel-sel yang halus dari efek berbahaya yang

berasal dari lingkungan umumnya dari matahari (ultraviolet) dan dari

kekeringan (Mersil et al., 2022).

F. Lip Balm

1. Definisi Lip Balm

Lip balm digunakan sebagai langkah awal untuk pencegahan terjadinya

masalah pada bibir. Lip balm merupakan sediaan kosmetik dengan komponen

utama seperti lilin, lemak dan minyak dari ekstrak alami atau yang di sintesis

dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kekeringan pada bibir dengan

meningkatkan kelembaban bibir dan melindungi pengaruh buruk lingkungan

pada bibir. Dengan adanya Lip balm kelembaban akan lebih terjaga pada

lapisan korneum yang berfungsi sebagai lapisan pelindung pada bibir.

(Penambahan et al., 2019).


23

2. Persyaratan lip Balm yang benar

Pada formulasi sediaan lip balm harus memenuhi syarat-syarat yang telah

ditentukan. Persyaratan lip balm yang benar yaitu: dapat melapisi bibir secara

menyeluruh, cukup melekat pada bibir tapi tidak sampai lengket, tidak

menyebabkan iritasi, dapat melembabkan, memperbaiki penampilan, tidak

meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak bopeng atau berbintik-bintik,

atau memperlihatkan hal-hal lain yang tidak menarik ( Depkes, 2004).

[Link] Lip Balm

a) Cera alba

Cera alba mempunyai titik leleh 62 − 64⁰C. Bahan ini digunakan untuk

mengikat minyak dan waxes yang memiliki titik leleh yang tinggi (Kadu, et

al.2014). Pemeriannya padatan putih kekuningan, sedikit tembus cahaya

dalam keadaan lapisan tipis, memiliki bau yang khas dan bebas dari bau

tengik. Cera alba tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol dingin,

larut sempurna dalan kloroform, eter, minyak lemak dan minyak atsiri dan

pada suhu lebih kurang 30⁰C larut sempurna dalam benzen dan dalam karbon

disulfida. Khasiatnya sebagai zat tambahan (Depkes, 1979).

b) Nipagin

Nipagin atau Metil paraben dikenal dengan nama nipagin . Nipagin

merupakan senyawa fenolik, stabil di udara, sensitif terhadap pemaparan

cahaya, tahan terhadap panas dan dingin termasuk uap sterilisasi, stabilitas

menurun dengan meningkatnya pH yang dapat menyebabkan hidrolisis.

Pemerian dari metil paraben adalah serbuk hablur halus, berwarna putih,
24

tidak berbau, tidak berasa. Metil paraben mempunyai kelarutan yang baik

pada air, aseton, eter, dan gliserol. Titik lebur dari metil paraben adalah 125-

128oC. Metil paraben berkhasiat sebagai pengawet (Depkes, 2014).

c) Propilen glikol

Propilen glikol adalah propana-1,2-diol dengan rumus C3H8O12dan berat

molekul 76,09). Propilen glikol berupa cairan kental, jernih, tidak berwarna,

tidak berbau, rasa agak manis, dan higroskopik, Propilen glikol dapat

dicampur dengan air, dengan etanol (95% dan dengan kloroform, larut dalam

6 bagian eter, tidak dapat campur dengan eter minyak tanah dan dengan

minyak lemak.

Penggunaan propilen glikol adalah sebagai zat tambahan dan pelarut

Sebagai pelarut atau kosolven propilen glikol digunakan dalam konsentrasi

10-30% larutan aerosol, 10-25% larutan oral, 10-60% larutan parentral dan

5-80% larutan topikal (Depkes, 1979).

Sifat propilen glikol hampir sama dengan gliserin hanya saja propilen

glikol lebih mudah melarutkan berbagai jenis zat. Sama seperti gliserin

fungsi propilen glikol adalah sebagai humektan, namun fungsi dalam formula

krim adalah sebagai pembawa emulsi sehingga emulsi menjadi lebih stabil.

Propilen glikol dapat berfungsi sebagai humektan pada sediaan salep

digunakan pada konsentrasi 15% (Depkes, 1979)

d) Lanolin

Lanolin adalah adeps lanae yang mengandung air 25% dan digunakan
25

sebagai pelumas dan penutup kulit dan mudah dipakai. Pemakaian pada kulit

dapat merupakan lapisan penutup, melunakkan kulit sehingga mudah dipakai.

Keberatannya bau dan banyak yang alergi terhadap adeps lanae (Anif, 1993).

Lanolin adalah pengemulsi yang sangat baik dan digunakan dalam kosmetik.

Lanolin merupakan lemak yang ditemukan dalam wol domba. Wol tersebut

diolah dengan larutan sabun encer dan dicuci, kemudian diolah dengan asam

sulfat encer yang membantu menguraikannya lalu diperoleh lanolin murni

yang digunakan dalam produksi kosmetik sebagai emolien (Depkes, 2014).

e) Gliserin

Gliserin digunakan sebagai humektan dan emolien pada sediaan topikal

dan kosmetik. Gliserin memiliki cairan jernih seperti sirup, tidak berwarna,

rasa, manis, berbau khas lemah (tajam atau tidak enak), higroskopisnya netral

terhadap lakmus. Kelarutannya yaitu dapat bercampur dengan air dan etanol,

tidak larut dalam kloroform, eter, minyak lemak dan minyak menguap

(Depkes, 2014).

f) Minyak

Lemak coklat (cocoa butter) adalah lemak alami yang berasal dari biji

coklat dan memberikan kelembutan pada lip balm. Bahan ini dapat menutrisi

dan memberikan kelembaban pada kulit serta membantu menyembuhkan

kulit yang kering. Serta berfungsi untuk membentuk lapisan film pada bibir,

memberi tekstur yang lembut, mengurangi efek berkeringat dan pecah pada

lipbalm (Lutfia, 2019).


26

G. Metode maserasi untuk ekstrak

Ekstrak adalah Sediaan kental yang diperoleh dengan menyari senyawa

aktif dari simplisia nabati atau hewani menggunakan pelarut yang sesuai,

kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan masa atau serbuk

yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah

ditetapkan (Depkes, 1979).

Metode maserasi merupakan metode ekstraksi dengan merendam

sampel menggunakan pelarut organik pada suhu ruangan. Metode ini

biasanya digunakan pada bahan yang mengandung zat aktif mudah larut

ketika diekstrak dan tidak mengandung benzoin. Waktu yang digunakan

dalam metode ini sangat signifikan dengan kualitas ekstrak. . Jumlah pelarut

yang diuapkan dapat mempengaruhi bentuk dari ekstrak yang dihasilkan

seperti berupa ekstrak kental atau ekstrak kering bahan yang akan diekstrak

berasal dari bahan kering yang telah dihancurkan dan dapat berbentuk seperti

serbuk maupun cacahan (Lutfia dan Tri, 2019).

H. Uji ekstrak kulit buah naga

a) Ukuran dan Distribusi Nanopartikel ( Uji PSA)

Analisis ukuran partikel merupakan sifat dasar dari endapan suatu

partikel yang dapat memberikan informasi tentang asal dan sejarah partikel

tersebut. Distribusi ukuran merupakan hal penting seperti untuk menilai

perilaku granular yang digunakan oleh suatu senyawa atau gaya gravitasi
27

(Wibrianto et al, 2021).

Ukuran dan distribusi nanopartikel diukur menggunakan Particle Size

Analyzer (PSA) menggunakan prinsip Photon Correlation Spectroscopy

dan Electrophoretic Light Scattering. Article Size Analyzer (PSA)

digunakan untuk mengukur   distribusi ukuran partikel dengan

metode Dynamic Light Scattering (DLS) menggunakan teknik Non-

Invasive Back Scatter (NIBS), dengan sumber laser HeNe 4 mW dengan

panjang gelombang 633 nm. Rentang ukur (hydrodynamic size) 0.6 nm –

9000 nm (tergantung jenis sampel). Sampel berupa cairan, atau serbuk

berukuran nanometer yang didispersikan dalam media cair. Hasil yang

diperoleh berupa kurva distribusi ukuran partikel (Ahdyani et al., 2020).

Rentang pengukuran dengan alat ini yaitu 0,6 μm – 7 nm . Konsepnya

bahwa partikel kecil dalam suspense bergerak dengan pola secara acak,

kemudian sinar laser menyinarinya. Semakin besar ukuran partikel,

semakin lambat gerak brown. Ukuran dan distribusi partikel merupakan

karakteristik yang paling penting dalam sistem nanopartikel. Hal ini

digunakan untuk memperkirakan distribusi secara in vivo, biologis,

toksisitas, dan kemampuan membidik dari sistem nanopartikel (Syvitski,

1991).

b) Uji Antioksidan pada kandungan kulit buah naga

a) Pembuatan larutan DPPH


28

Pembuatan larutan DPPH (1,1-difenil-2-pikrihidrazil) (0,4Mm).

Ditimbang seksama DPPH (1,1-difenil-2-pikrihidrazil) dengan berat

kurang lebih 15,8 mg (BM 394,32 g/mol), kemudian dilarutkan dengan

metanol proanalisis hingga mencapai volume 100 ml labu ukur.

Perhitungan pembuatan larutan DPPH (1,1-difenil-2- pikrihidrazil)

kemudian ditempatkan didalam botol gelap untuk menghindari kerusakan

sampel karna pengaruh cahaya. Proses pembuatan larutan DPPH (1,1-

difenil-2-pikrihidrazil) (Utami W , 2020).

b) Pembuatan larutan blanko dan penentuan panjang gelombang.

Pembuatan larutan blanko dengan cara 1ml larutan DPPH (1,1-

difenil-2- pikrihidrazil) (0,4mM), ditambahkan methanol proanaisis

sebanyak 4ml, ad volume larutan sebanyak 5 ml di dalam vial. Larutan

kemudian dikocok ad homogen. Tutup rapat dan tutup botol dengan

alomunium foil agar vial tidak tembus cahaya karna DPPH (1,1-difenil-2-

pikrihidrazil) (Wardani dan Andria, 2012).

c) Uji sediaan lip balm

1) Uji Organoleptis

Organoleptis adalah suatu pengujian dengan menggunakan indera

manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap

suatu sediaan. Uji organoleptik dilakukan untuk melihat tampilan fisik

sediaan dengan cara melakukan pengamatan terhadap bentuk, warna dan


29

bau dari sediaan yang telah dibuat (Mappa et al., 2013).

2) Uji pH

Uji pH dilakukan untuk melihat tingkat keasaman sediaan lip Balm

untuk menjamin sediaan tidak menyebabkan iritasi pada kulit. pH sediaan

lipbalm diukur dengan menggunakan stik pH universal (Amalia et al.,

2021).

3) Uji Homogenitas

Uji Homogenitas dilakukan dengan menggunakan plat kaca

dengan mengoles sebagian sediaan pada plat kaca, kemudian amati.

Dilihat apakah sudah tidak ada butiran kasar. Sediaan haruslah

menunjukan susunan yang homogen dan tidak terdapat butiran kasar

(Utami et al., 2021).

4) Uji Iritasi

Hewan uji yang digunakan adalah tikus. Tujuan uji ini adalah

melihat respon lokal pada kulit karena adanya suatu reaksi kulit setelah

terpapar zat kimia, sehingga menyebabkan inflamasi atau luka (Amalia et

al, 2021).

5) Uji Kelembapan

Pengujian ini dilakukan dengan membandingkan keadaan sebelum

dan sesudah menggunakan sediaan lipbalm. Kemudian dilakukan

pengecekan menggunakan skin moinsture analyzer (Lutfia dan Tri, 2019).

6) Uji Daya Sebar

Uji daya sebar dilakukan untuk mengetahui sejauh mana lip balm


30

dapat menyebar dan merata ketika diaplikasikan. Daya sebar merupakan

karakteristik penting dalam formulasi dan bertanggung jawab terhadap

kemudahan saat diaplikasikan (Ambari et al., 2020).

7) Uji Daya Lekat

Uji daya lekat bertujuan untuk mengetahui lama waktu kontak lip

balm dengan kulit, semakin lama maka semakin maksimal absorbsi ke

dalam kulit (Ambari et al., 2020).

8) Uji Stabilitas

Uji freeze-thaw dilakukan dengan memaparkan lipbalm pada suhu beku

(sekitar -24°c) selama 10 jam dan kemudian dibiarkan mencair selama 24

jam pada suhu kamar. Sampel kemudian ditempatkan pada suhu yang

lebih tinggi (sekitar24°c) selama 24 jam. Pengujian dilakukan sebanyak 6


seti
ap pada awal dan
siklus dan diamati terjadinya perubahan fisik dari sediaan
bah
an et al., 2018).
akhir pengujian yang sudah melalui berbagai uji (Mardhiani
atau
sedi
aan
yan
g
bert
uju
an
unt
uk
dig
una
kan
pad
a
bag
ian
luar
tub
uh
ma
nusi
a
(epi
mis
K
,
ram
O
but, 31
kuk
S
u,
bibi
I. Kerangka Teori M
M r,
dan
E
O org
an K
T
D bag
ian O
IL
E luar
lain S
KI
R nya
) M
P
N atau
gigi E F
dan
L mu T
B o
L kos
I a AI r
I Kmul
P o ut K
L m
P mteru
S p tam M u
oa
T n unt P l
G e uk
I n me A
N a
L mb
K s ersi D
A s
O e hka
d n, A
N i
S i me
a wan O
S a gik
n an, B
P s
me
l ngu I
A e
i bah
p pen B
R d
b am
a pila TI i
l n,
mme RI a
: ngu
Cera alba ran K a
gi
Gliserin bau E n
bad
Nipagin an, L
dan
Lanolin me :
F(0) = sediaan denganmel
Oleum
kulit buah naga 0%ihar
cacaum a
Ekstrak kulit buah naga 8%uh
nanopartikel aga
F(2) = sediaan denganr
kulit buah naga 10%
dala
m
F(3) = Sediaan kon
BAB III Pembanding disi
bai
KERANGKA KONSEP
F(4) = Sediaan k
Pembanding N
a
A. Konsep Penelitian n
o
Kerangka konsep dibuat untuk menyempitkan bidang pandang p dan
a
menyederhanakan permasalahan penelitian. Kerangka konsep merupakan kerangka r
t E
hubungan antara konsep-konsep atau variabel-variabel yang akan diamati(diukur i v
a
k l
melalui penelitian). Kerangka konsep lazimnya berbentuk skema E atau bagan eyang u
v l a
a
menunjukan jenis serta hubungan antar variabel yang diteliti (Soedijarto, 2007). s
l E i
u k
B. Kerangka Konsep a e
s k
s t s
i r t
a r
s k a
e k
d K k
i u u
a l l
a i i
n t
t
b
l B u
i u a
p a h
b h n
a a
l N g
m a a
: g :
Uji Homogenitas a
Uji PSA (Particle Size
Uji stabilitas formulasi Analyzer)

Uji Organoleptis
Uji Daya Sebar
Uji kelembapan
Uji Daya Lekat
32
Uji Iritasi
Uji pH
33

J. Definisi Operasional

Tabel 3. 1
Definisi Operasional Variabel

Variabel Defenisi Alat Hasil Skala


No Cara Ukur
Penelitian Operasional Ukur ukur Ukur
1. Nanopapa Nanopartikel adalah Menggu Particle Nanopar Ordinal
rti kel adalah partikel yang nakan alat Size ti kel
ekstrak berukuran 1 dan 100 Analyze ( nm )
kulit buah nanometer. partikel r ( PSA)
naga halus berukuran
antara 100 dan
2.500 nanometer,
dan partikel kasar
berukuran antara
2.500 dan 10.000
nanometer.
2. Aktivitas Antioksidan Perbandinga Spektrof Dengan Ordinal
Antioksid merupakan suatu n dengan otometri metode
an senyawa Vit.C DPPH
ataukomponen kimia
yang dalam kadar
atau jumlah tertentu
yang mampu
menghambat atau
memperlambat
keruasakan akibat
dari proses.
3. Lip balm Lip balm adalah Melakukan Secara formula Ordinal
sediaan yang uji visual dan si lip
diaplikasikan pada alat balm
bibir untuk mencegah hasil
bibir kering dan modifik
melindungi dari efek as i
lingkungan yang
buruk.
34

4. Uji PSA Particle Size Menggu Particle Ukuran Ordinal


Analyzer ( PSA) alat nakan alat Size partikel
yang dapat PSA Analyze ( nm)
digunakan untuk dipanask r ( PSA)
mengetahui distr an terlebih
ibusi ukuran dahulu
partikel ekstrak kulit ±20
buah naga. menit

5. Uji Organoleptis : Menggu Visual Sediaan Ordinal


Organale menunjukan fisik nakan tidak
ptis dari sediaan lip panca indra berubah
balm meliputi warna,
warna, bau, tekstur bau, dan
dan bentuk sediaan. bertekst
ur
lembut.
6. Uji Homogenitas : Oleskan Gelas Homoge Ordinal
Homogen Menunjukkan pada objek ni tas
itas sediaan lipbalm sekeping atau
yang sudah kaca, Tidak
tercampur merata sediaan Homoge
pada setiap bagian menunjuka ni tas
n homogen
atau
tidaknya
7. Uji PH PH : Menunjukkan Celupka n Kertas Nilai PH Ordinal
tingkat kesamaan kertas ph PH meter
dari lip balm kedalam universa (dalam
sampel lip l angka )
balm

8. Uji Stabilitas: Lipbalm Visual Nilai Ordinal


Stabilitas Ketahanan sediaan dibiarkan suhu
lipbalm dalam suhu (dalam
kamar angka )
35

9. Uji Iritasi Iritasi : Oleskan 4 ekor Ada Ordinal


Menunjukkan aman sediaan hewan atau
tidaknya sediaaan yang dibuat coba tidaknya
lipbalm digunakan amati ( tikus ) iritasi
apa yang
terjadi

10. Uji Kelembapan : Diukur Menggu Lembab Ordinal


Kelembap pengujian kadar kulit nakan atau
an kemampuan sediaan sebelum alat tidaknya
untuk melembabkan mengg digital sediaan
bibir unakan skin
lipbalm moisture
diukur lagi analyzer
setelah 4 ekor
menggu hewan
nakan coba
lip balm ( tikus )
11 Uji Daya Daya Lekat : Sampel Gelas Lama Ordin al
Lekat mengetahui lama sediaan lip objek waktu
waktu kontak lip balm lekat
balm dengan kulit, ditimbang,
semakin lama maka ditaruh
semakin maksimal diatas gelas
absorbsi ke dalam objek,
kulit tempelkan
gelas kaca
hingga
menyatu.
12 Uji daya Daya Sebar : diletakkan Gelas Nilai PH Ordin al
Sebar dilakukan di atas Objek meter
untuk mengetahui lempengan (dalam
sejauh mana lip kaca angka )
balm dapat beralaskan
menyebar dan kertas skala
merata ketika tutup
diaplikasikan dengan
kaca
pasanganny
a
36

K. Hipotesis

1. (H1)Nanopartikel ekstrak kulit buah naga dapat dibentuk sebagai sediaan lip balm

(H0)Nanopartikel ekstrak kulit buah naga tidak dapat dibentuk sebagai sediaan lip

balm (H0)

2. (H1) Nanopartikel ekstrak kulit buah naga pada sediaan lip balm dapat berfungsi

sebagai antioksidan

(H0) Nanopartikel ekstrak kulit buah naga pada sediaan lip balm tidak dapat

berfungsi sebagai antioksidan

3. (H1) Nanopartikel ekstrak kulit buah naga pada sediaan lip balm dapat berfungsi

sebagai pewarna

(H0)Nanopartikel ekstrak kulit buah naga pada sediaan lip balm tidak dapat

berfungsi sebagai pewarna

4. (H1)Nanopartikel ekstrak kulit buah naga pada sediaan lip balm dapat dievaluasi

dan dikarakterisasi

(H0) Nanopartikel ekstrak kulit buah naga pada sediaan lip balm tidak dapat

dievaluasi dan dikarakterisasi


BAB IV
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental. Penelitian ini

ditujukan studi pengembangan formulasi sediaan Nanopartikel antioksidan dari

ekstrak kulit buah naga (hylocereus polyrhizus) sebagai lip balm. Kemudian

dilakukan pengujian uji aktivitas antioksidan, uji organoleptis, uji PH, uji

stabilitas formulasi, uji homongenitas, uji iritasi, uji kelembaban, Uji PSA, Uji

daya sebar, Uji daya lekat.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Bahan uji simplisia kulit buah naga (hylocereus polyrhizus) diperoleh dari

Bukittinggi, Sumatera Barat. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium

Farmasi Universitas Fort De Kock Bukittinggi dan Laboratorium Universitas

Andalas Padang, Sumatera Barat. Waktu penelitian bulan Februari tahun 2023.

C. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari blender (Philips),

Pisau,timbangan digital, beaker glass (Iwak), Particle Size Analyzer (PSA),

Spektrofotometri, Sonikator, Skin Moister Analyzer, botol gelap, batang

pengaduk, gelas ukur (Iwak), cawan penguap (Iwak), Penangas Air, Rotary

Evaporator, Freeze drying, magnetik stirer, tissu, spatula, kaca objek, pH

37
38

kertas perkamen, kertas saring, dan pot wadah lip balm

2. Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah : Kitosan (sigma

Aldrich), [Link] (Wako, jepang), asam asetat glasial (merck), NaOH (Merck),

aquadest, kulit buah naga merah, gliserin (PHARMA GRADE), cera alba

(beeswax), nipagin (UENO), lanolin (oleum cacao, etanol 96%(Merck), larutan

DPPH, Vitamin C.

D. Prosedur Kerja

1. Penyiapan Sampel

a) Pengambilan sampel

Sampel kulit buah naga diambil di wilayah bukittinggi, Sumatera barat.

Kulit buah naga yang diambil adalah kulit buah naga yang segar dan tidak

busuk.

b) Pengolahan sampel

Langkah pertama adalah kulit dipisahkan, lalu dicuci di air mengalir

hingga bersih untuk menghilangkan kotoran yang menempel. Kulit buah

naga yang sudah dicuci ditiriskan menggunakan tampah. Kemudian

dikeringkan dengan suhu 60°C. Kulit buah naga yang telah dikeringkan lalu

dihaluskan. Kemudian di ayak dengan ayakan mesh nomor 60. Hingga

didapat sampel ekstraksi yang diinginkan (Yanty dan Siska, 2018).

2. Proses Ekstraksi Kulit Buah Naga Merah (hylocereus polyrhizus)

Proses ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi. Serbuk kulit buah


39

naga merah diekstraksi dengan etanol 96% dengan 1:3 selama 2x24 jam.

Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk kulit buah naga merah

dengan pelarut etanol 96% sambil sesekali diaduk. Hasil ekstraksi dipekatkan

menggunakan rotary evaporator dengan suhu 55°C untuk mendapatkan ekstrak

kental (Yanty dan Siska, 2018). Ekstrak kental yang sudah didapatkan

kemudian dikeringkan menggunakan freeze dryer. Produk yang dihasilkan

akan menjadi lebih stabil kualitasnya (tidak terjadi perubahan aroma, warna,

dan unsur organoleptik lainnya) (Yanty dan Siska, 2018).

3. Pemeriksaan bahan baku

Ekstrak kulit buah naga merah dilakukan pemeriksaan organoleptis,

lanolin, cera alba, gliserin, nipagin, dan oleum cacao dilakukan pemeriksaan

menurut persyaratan yang tercantum dalam Farmakope Indonesia edisi IV dan

V.

4. Pembuatan larutan nanopartikel

a. Pembuatan larutan dapar asetat pH 4, larutan kitosan dan Na. TPP Dapar

asetat pH 4 dibuat dengan menggunakan asam asetat glasial dan NaOH.

Kitosan dilarutkan dalam larutan dapar asetat pH 4 dengan konsentrasi 1

mg/ml. Sedangkan larutan [Link] dalam air dibuat dengan konsentrasi

0,4 mg/ml (Abdassah Marline, 2017)

b. Nanopartikel dibuat dengan perbandingan konsentrasi ekstrak buah naga

dan kitosan yaitu 4:1. [Link] yang digunakan sebanyak 0,05 bagian

untuk seluruh formula. Larutan buah naga ditambahkan dengan larutan

kitosan disertai pengadukan menggunakan magnetic stirrer dengan


40

kecepatan 400rpm selama 30 menit. Na. TPP ditambahkan menggunakan

pipet tetes selama 10 menit. Selanjutnya lakukan sonikasi selama 10

menit. Dispersi nanopartikel ditujukan dengan terbentuknya dispersi

koloid (opalesensi) (Abdassah Marline, 2017)

5. Pembuatan lip balm

Ditimbang semua bahan, kemudian basis lemak coklat (Oleum cacao)

dilelehkan pada suhu lelehnya yaitu sekitar 31-34°C. Lemak coklat

dimasukkan kedalam cawan penguap, diaduk sampai seluruh lemak coklat

meleleh sempurna. Cera alba kemudiaan dilelehkan pada suhu lelehnya 62-

64°C. diatas penangas air, kemudian dimasukkan kedalam lelehan basis

tersebut (Lutfia dan Tri, 2019). Lalu basahi lumpang dengan gliserin

tambahkan basis gerus ditambahkan nipagin, lanolin gerus dan kemudiaan

tambahkan sedikit demi sedikit nanopartikel ekstrak kulit buah naga merah

dimasukkan kemudian diagerus lagi sampai semuanya merata, pada

keadaan cair. dituangkan kedalam wadah lipbalm lalu dibiarkan pada suhu

ruangan sampai membeku.

4.1 Tabel
Formulasi lipbalm
Formula (konsentrasi gr)
Formul Formula Formula Formula
Ba asi Nanoparti nanopartike nanopartikel Kegunaan
han tanpa kel l ekstrak ekstrak kulit
Nanop ekstrak kulit buah buah naga
artikel kulit buah naga (F2) (F3)
(F0) naga (F1)
Nano - 6% 8% 10% Berfungsi
partik sebagai
el antioksdan dan
41

ekstr pewarna alami


ak
kulit
buah
naga
Gli 3% 3% 3% 3% Emolien
seri
n
Cera 6% 6% 6% 6% Pengeras
alba
Nipa 0,1% 0,1% 0,1% 0,1% Pengawet
gin
Lanoli 9% 9% 9% 9% Pelumas
n
Oleum ad 50 ad 50 ad 50 ad 50 Basis
cacao

F(0) = Formula lipbalm tanpa nanopartikel ekstrak kulit buah naga


F(1) = Formula lipbalm dengan nanopartikel ekstrak kulit buah naga 6%
F(2) = Formula lipbalm dengan nanopartikel ekstrak kulit buah naga 8%
F(3) = Formula lipbalm dengan nanopartikel ekstrak kulit buah naga 10%
F(4) = Pembanding (Vaseline)

E. Evaluasi Fisik Sediaan Lip balm

1. Uji organoleptis

Pengujian organoleptis dilakukan dengan mengamati penampakan

sediaan secara kasat mata seperti warna, aroma, tekstur, rasa serta perubahan-

perubahan lainnya yang mungkin terjadi setelah pembuatan (Mappa et al.,

2013).

2. Uji pH

Caranya yaitu kertas pH universal dicelupkan kedalam sampel lipbalm 1

gram yang telah diencerkan dengan air panas 100 ml, diamkan beberapa saat
42

dan hasilnya disesuaikan dengan standar pH universal. pH yang memenuhi

kriteria pH kulit bibir antara 4,5-6,5 (Amalia et al., 2021).

3. Uji Homogenitas

Lip balm dioleskan pada objek glass atau kaca transparan lain yang

cocok, sediaan tersebut harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak

terlihat adanya butiran kasar (Utami W, 2020).

4. Uji Iritasi

Hewan uji yang digunakan adalah tikus. Pencukuran dilakukan 24 jam

sebelum pengujian dari area tulang belikat (bahu) sampai tulang pangkal paha

(tulang pinggang) dan setengah kebawah badan pada tiap sisi (BPOM, 2014).

Jumlah sediaan uji sebanyak 0,5 g. Sediaan uji dipaparkan di area kulit seluas 2

x 3 cm2 . (BPOM, 2014). Periode pemaparan dilakukan selama 4 jam. Residu

sediaan segera dihilangkan menggunakan air atau pelarut lain setelah

pemaparan 4 jam. Nilai iritasi diberikan dengan mengamati tingkat eritema

dan edema, kemudian untuk melihat level iritasi diperoleh dari rerata dari

eritema dan edema. Semua hewan uji harus diamati ada atau tidaknya eritema

dan edema, penilaian respon dilakukan pada jam ke 1, 24, 48, dan 72 jam

setelah pembukaan tempelan. Skor iritasi (Indeks Iritasi Primer) sediaan uji

adalah kombinasi dari seluruh observasi dari pengujian (Amalia et al., 2021).

5. Uji Kelembapan

Hewan uji yang digunakan tikus. Penyiapan mulai dari tikus dicukur di

bagian punggung menggunakan alat pencukur. Tikus yang telah dicukur,

diukur diameternya 2,8 cm. Kulit yang sudah dicukur dilakukan orientasi
43

terlebih dahulu. Siapkan tikus yang sudah dicukur kemudian diolesi basis lip

balm. Pengukuran kelembaban menggunakan alat pengukur kelembaban skin

moinsture analyzer, sebelum diberi lip balm dan sesudah di beri di catat hasil

(Lutfia, 2019).

6. Uji daya Lekat

Sampel sediaan lip balm ditimbang sebanyak 0,25 gram, lalu diletakkan

diatas gelas objek. Kedua gelas objek ditempelkan sampai menyatu. Kemudian

diletakkan dengan beban seberat 1 kg selama 5 menit setelah itu dilepaskan,

lalu diberi beban 80 gram dan dicatat waktunya hingga kedua gelas obyek

tersebut terlepas. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali (Ambari et al., 2020).

7. Uji Daya Sebar

Sampel sediaan lip balm ditimbang sebanyak 0,5 gram diletakkan di atas

alat uji daya sebar yang berupa lempengan kaca beralaskan kertas skala,tutup

dengan kaca pasangannya (yang sebelumnya sudah ditimbang), dan dibiarkan

selama 1 menit, diukur diameter penyebaran lip balm dengan cara mengukur

dari berbagai sisi dan dihitung rata-ratanya, diulang sebanyak 3 kali replikasi

dengan cara yang sama dengan penambahan beban secara berkala (50 g, 100 g,

150 g, 200 g) (Ambari et al., 2020).

F. Analisi Data

Analisis data yang dilakukan adalah dengan pengujian statistika, yakni

dengan menggunakan uji ANOVA (Analysis of Varian) satu arah tingkat

kepercayaan 95%. Syarat uji homogenitas dan normalitas memenuhi


44

persyaratan yaitu harga p > 0,05. Jika sudah memenuhi persyaratan uji

normalitas dan homogenitas, maka dapat dilakukan uji ANOVA. Syarat uji

ANOVA adalah p < 0,05. (Mardhiani et al., 2018)


DAFTAR PUSTAKA

Abdassah, M. (2017). Nanopartikel dengan gelasi ionik. Jurnal Farmaka, 15(1), 45–
52.
Ahdyani, R., Rahayu, S., Zamzani, I., & Andika. (2020). Review : Pengembangan
Sistem Penghantaran Berbasis Nanopartikel Dalam Sediaan Kosmetika Herbal.
Journal of Current Pharmaceutical Science, 4(1), 289–299.
Amalia, I., Prabandari, S., & Susiyarti. (2021). FORMULASI DAN UJI SIFAT FISIK
LIP BALM EKSTRAK ETANOL BUAH STRAWBERRY (Fragraria Sp). 09, 3.
Ambari, Y., Hapsari, F. N. D., Ningsih, A. W., Nurrosyidah, I. H., & Sinaga, B.
(2020). Studi Formulasi Sediaan Lip Balm Ekstrak Kayu Secang (Caesalpinia
sappan L.) dengan Variasi Beeswax. Journal of Islamic Pharmacy, 5(2), 36–45.
[Link]
Butarbutar, M. E. T. (2019). Sistem Penghantaran Obat Baru Nanopartikel Hibrid
Lipid-Polimer. [Link] (Online), 4(1), 11.
[Link]
Coulter, B. (2008). Delsa TM Nano – The Solution to Your Nanoparticle Size and Zeta
Potential Analysis Needs. 4.
[Link]
column-content/attachment/catalogo_DelsaNano.pdf
Dani, H. (2019). Khasiat Ampuh Buah Naga dan Buah Delima (K. Aldi (ed.)).
laksana.
[Link]
ma/K9jEDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=1
Daniel, K. (2014). Berkebuh Buah Naga (F. Ainurrohmah (ed.)). Penebar Swadaya.
[Link]
J?hl=id&gbpv=1
Departemen kesehatan. (1979). Farmakope Indonesia edisi III.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Farmakope Indonesia (5Th Ed).
In Jakarta.
Ganjar Ibnu Gholib, A. R. (2018). Spektroskopi Molekuler Untuk Analisis Farmasi.
UGM PRESS.
[Link]
is_Fa/veBdDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=0

45
46

Hakim R. F. (2021). Anatomi, Histologi, Fisiologi Sistem Rongga Mulut. Syiah Kuala
University Press.
[Link]
ongg/VT1vEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=0
Lutfia, F. (2019). Mutu Fisik Sediaan Lipbalm Dengan Pewarna Ekstrak Kayu
Secang (Caesalpinia sappan L.). Akademi Farmasi Putra Indonesia Malang, 48.
Maharini, I., Wigati, S., & Utami, D. T. (2017). Formulasi Nanopartikel Ekstrak
Buah Naga ( Hylocereus Polyrhizus ) Sebagai Zat Warna Sediaan Lipstik.
Chempublish Journal, 2(1), 38–43.
Mappa, T., Edy, H. J., & Kojong, N. (2013). Formulasi Gel Ekstrak Daun
Sasaladahan (Peperomia Pellucida (L.) H.B.K) Dan Uji Efektivitasnya Terhadap
Luka Bakar Pada Kelinci (Oryctolagus Cuniculus). Pharmacon, 2(2), 49–56.
Mardhiani, Y. D., Yulianti, H., Azhary, D., & Rusdiana, T. (2018). Formulasi dan
Stabiltas Sediaan Serum dari Ekstrak Kopi Hijau (Coffe Canephora). Indones
Nat Res Pharm J, 2(2), 19–33.
Maryani, M., & Fachrurrazi, S. (2017). Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan
Kosmetik Produk Latulipe Yang Sesuai Dengan Jenis Kulit Wajah Perempuan
Indonesia Menggunakan Metode Promethee. Sisfo: Jurnal Ilmiah Sistem
Informasi, 1(2), 97–126. [Link]
Mersil, S., Limanda, N., Ilmu, D., Mulut, P., Kedokteran, F., Universitas, G., &
Moestopo, P. (2022). Management of Exfoliative Cheilitis. 10(30), 214–220.
Nia, L., & Prayoga, dan T. (2020). EKSTRAK BUAH BELIMBING WULUH
(Averrhoa bilimbi L). Jakad Medi Publishing.
[Link]
LUH_Averrhoa_bi/JBDuDwAAQBAJ?hl=id&gbpv=0
Pangaribuan & Lina. (2017). Efek Samping Kosmetik Dan Penangananya Bagi Kaum
Perempuan. Jurnal Keluarga Sehat Sejahtera, 15(2), 20–28.
[Link]
Penambahan, D. A. N., Ceri, B., & Pewarna, S. (2019). FORMULASI SEDIAAN LIP
BALM DARI MINYAK ZAITUN ( Olive oil ) SEBAGAI EMOLIEN DAN
PENAMBAHAN BUAH CERI ( Prunus avium ) SEBAGAI PEWARNA ALAMI.
1(1), 24–31.
BPOM, (2018).
Rahma, S. A. E. (2021). Buah-Buahan Indonesia (M. P. Team (ed.)). Media Nusa
Creative (MNC Publishing).
[Link]
AJ?hl=id&gbpv=1
47

RI, Ditjen POM dan Depkes, (2004).


Rismana, E., Kusumaningrum, S., Bunga, O., Nizar, N., & Marhamah, M. (2014).
PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIACNE NANOPARTIKEL KITOSAN –
EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana). Media
Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan, 24(1).
[Link]
Satiti, K. (2021). Modul Pelatihan Kader Kesehatan Gigi dan Mulut pada 1000 Hari
Pertama Kehidupan Anak. Airlangga University Press.
[Link]
gi_dan/vOEiEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=0
Soedijarto. (2007). Ilmu & Aplikasi pendidikan. Grasindo.
Syvitski, J. P. M. (1991). Principles, methods, and application of particle size
analysis. Principles, Methods, and Application of Particle Size Analysis, April.
[Link]
Tiara Putri, L., Syukri, Y., & Werdyani, S. (2021). Aplikasi Gold Nanopartikel
dengan Bahan Alam sebagai Kosmetik Pemutih Wajah: Tinjauan Sistematis.
Jurnal Sains Farmasi & Klinis, 8(2), 116. [Link]
127.2021
Tuanku Perwitasari, D., & Fatayan, A. (2022). Jurnal Pendidikan dan Konseling di
Sekolah Dasar Islam. 4, 2556–2560.
Utami, S. M., Fadhilah, H., & Malasari, M. N. (2021). UJI STABILITAS FISIK
FORMULASI SEDIAAN LIP BALM YANG MENGANDUNG EKSTRAK
ETANOL BUAH LABU KUNING (Curcubita moschata D.).
HERBAPHARMA : Journal of Herb Farmacological, 3(2), 78–88.
[Link]
Utami W, Mardawati E, P. H. (2020). Pengujian Aktivitas Antioksidan Kulit Buah
Naga Merah (Hylocereus polyrhizus) Sebagai Masker Gel Peel Off. Jurnal
Industri Pertanian, 2(1), 95–102.
Wardani, & Andria, L. (2012). Validasi Penentuan Kadar Vitamin C Pada Minuman
Buah Kemasan Dengan Spektrofotometri Uv-Visible. Universitas Indonesia, 37.
Wibrianto, F. Z. M. dan A. (2021). KIMIA NANO: Konsep, Sejarah, dan Aplikasinya
bagi Indonesia. Airlangga University Press.
[Link]
Aplikasiny/QARDEAAAQBAJ?hl=id&gbpv=1
Yanty, Y. N., & Siska, V. A. (2018). EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH
(Hylocereus Polyrhizus) SEBAGAI ANTIOKSIDAN DALAM FORMULASI
SEDIAAN LOTIO. Jurnal Ilmiah Manuntung, 3(2), 166.
48

[Link]

Anda mungkin juga menyukai