Sanitasi dan K3 dalam Industri Sehat
Sanitasi dan K3 dalam Industri Sehat
Dosen Pembimbing :
Di susun oleh :
A. Latar Belakang
Menurut UU RI Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, bawha Pembangunan
kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup
sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-
tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif
secara sosial dan ekonomis. Derajat kesehatan masyarakat salah satu faktornya melalui
upaya kesehatan lingkungan.
Menurut pasal 162 UU Kesehatan tersebut disebutkan bahwa tujuan upaya
kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik
fisik, kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat
kesehatan yang setinggi- tingginya.
Pemerintah, Pemerintah Daerah dan Masyarakat menjamin ketersediaan
lingkungan yang sehat dan tidak menjadi risiko buruk bagi kesehatan (pasal 163, ayat 1)
dan Lingkungan sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup lingkungan
permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum.
Kesehatan lingkungan maupun Sanitasi di tempat kerja salah satu faktor yang
dapat berpengaruh terhadap kesehatan pekerja yang pada akhirnya menjadi indikator
kesehatan dan produktivitas tenaga kerja. Oleh karenanya upaya kesehatan lingkungan
maupun sanitasi di Industri dan Keseamatan dan kesehatan kerja (K3) harus mendapat
pengawasan oleh Tenaga Kerja yang memiliki kampuan dan kewenangan dalam
menjalankan tugasnya agar lingkungan menjadi aman bagi Tenaga Kerja dan semua
orang yang berada di Industri.
Menurut permenaker Nomor 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Lingkungan Kerja pasal 1 ayat (3), bahwa Sanitasi adalah usaha kesehatan
preventif yang menitik beratkan kegiatan kepada usaha
kesehatan lingkungan hidup manusia. Kesehatan lingkungan memenuhi persyaratan dan
pelaksanaan syarat-syarat keselamatan dan kesehatan kerja (K3) Lingkungan kerja akan
akan menghindarkan gangguan kesehatan akibat lingkungan dan melindungi keselamatan
maupun penyakit akibat kerja. Mengingat bahwa pelaksanaan syarat-syarat K3Lingkungan
kerja bertujuan untuk mewujudkan Lingkungan Kerja yang arnan, sehat, dan nyarnan
dalam rangka mencegah kecelakaan kerja danpenyakit akibat kerja.
Latar belakang pentingnya Sanitasi Industri dan K3 dalam menciptakan tenaga
kerja yang sehat dan produktif digambarkan sebagai berukut.
KOMPETENSI
TENAGA
KESLING
(SANITARIAN)
PENGAWASAN KUALITAS
SANITASI KESEHATAN TENAGA
INDUSTRI LINGKUNGAN KERJA SEHAT
& DAN K3 DI & PRODUKTIF
K3 INDUSTRI
REGULASI
UU K3 & KES.
PP KES. LING.
PERMENAKER
Page 2
2009 tentang Kesehatan, PP Nomor 66 tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan dan
Permenaker Nomor 5 tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan
Kerja.
B. Beberapa Pengertian
1. Pengertian Sanitasi
Menurut W.H.O. (1965) bahwa Sanititasi (Sanitation) adalah “The Control all Those
Factors in Man’s Physical Environment Which Exercise or May Exercise a Deletrious Effect
on His Physical Development, Health, Survival” atau Pengendalian atau pengawasan semua
faktor-faktor Lingkungan Fisik Manusia yang dalam praktik atau pada praktiknya berdampak
mengerikan terhadap Perkembangan Fisik, Kesehatan, dan Kelangsungan Hidup).
Sanitasi menurut Victor M. Ehlers dan Steel (1958) bahwa“Sanitation is the preventive
of desease by eliminating or controlling the environmental factors which link in the chain of
transmission” atau “Sanitasi adalah pencegahan penyakit dengan menghilangkan atau
mengendalikan faktor lingkungan yang menjadi rantai penularan”, sedangkan menurut Ditjen
PPM & PL Dep. Kes. RI, 2001 bahwa Sanitasi didefinisikan “Sebagai upaya pencegahan
penyakit melalui pengendalian faktor lingkungan yang menjadi mata rantai penularan
penyakit”.
Berdasarkan pengertian dapat disimpulkan bahwa Sanitasi adalah “Upaya pencegahan
pencegahan penyakit melalui pengendalian faktor lingkungan yang menjadi mata rantai
penularan penyakit”.
Page 3
gangguan penyakit, pencemaran dan kecelakaan, sesuai dengan harkat dan martabat manusia.
Selanjutnya HAKLI merumuskan arti Kesehatan Lingkungan, yaitu “Suatu kondisi lingkungan
yang mampu menopang keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan
lingkungannya untuk mendukung tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat danbahagia.”
Pengertian Kesehatan Lingkungan Menurut World Health Organisation (WHO) adalah
“Those aspects of human health and disease that are determined by factors in the environment.
It also refers to the theory and practice of assessing and controlling factors in the environment
that can potentially affect health”. Atau bila disimpulkan “Suatu keseimbangan ekologi yang
harus ada antara manusia dan lingkungan agar dapat menjamin keadaan sehat dari manusia.”
Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa 1)
Kesehatan lingkungan sebagai keadaan merupakan “kondisi yang dapat memberi
keseimbangan ekologi yang dinamis antara manusia dan lingkungannya untuk mendukung
tercapainya kualitas hidup manusia yang sehat dan tentram” dan 2) Kesehatan Lingkungan
sebagau upaya merupakan “Upaya perlindungan, pengelolaan, dan modifikasi lingkungan
yang diarahkan menuju keseimbangan ekologi pada tingkat kesejahteraan manusia yang
semakin meningkat.”
Page 4
a. Secara filosofis :
bahwa K3 diartikan “Upaya/pemikiran dalam menjamin keutuhan dan kesempurnaan
jasmani rohani manusia pada umumnya dan tenaga kerja pada khususnya serta hasil karya
dan budaya yang dalam rangka menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan
Pancasila”.
b. Secara keilmuan :
bahwa K3 merupakan “Semua Ilmu dan Penerapannya untuk mencegah terjadinya kecelakaan
kerja, penyakit akibat kerja (PAK), kebakaran, peledakan dan pencemaran lingkungan.
c. Secara praktis :
Bahwa K3 merupakan “Upaya perlindungan agar tenaga kerja selalu dalam keadaan selamat
dan sehat selama melakukan pekerjaan di tempat kerja serta bagi orang lain yang memasuki
tempat kerja maupun sumber dan proses produksi secara aman dan efisien dalam
pemakaiannya”
Selain pengertian di atas, bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah semua
kondisi dan faktor yang dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja
maupun orang lain (kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di tempat kerja (OHSAS
18001:2007)
Menurut pasal 1, ayat (1) Permenaker RI Nomor 5 Tahun 2018 Tentang
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan Kerja bahwa Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) adalah “segala kegiatan untuk rnenjamin dan melindungi keselarnatan dan
kesehatan Tenaga Kerja melalui upaya pencegahan kecelakaan kerja dan penyakit akibat
kerja”.
Page 5
melalui pengendalian faktor lingkungan yang menjadi mata rantai penularan penyakit yang
dapat berdampak pada keselamatan dan kesehatan kerja tenaga kerja maupun orang lain
(kontraktor, pemasok, pengunjung dan tamu) di Industri atau tempat kerja.
Page 6
Menurut Pasal 18 PMK 32 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pekerjaan Tenaga
Sanitarian/Kesehatan Lingkungan disebutkan bahwa Kewenangan/ kompetensi yang dimiliki
oleh Teknisi Sanitarian Madya (Junior Technical Sanitarian) Level 5, meliputi:
1. Melakukan pekerjaan kesehatan Lingkungan
2. Memilih metode pemecahan masalah kesehatan lingkungan dari beragampilihan yang sudah
baku maupun belum baku
3. Melakukan analisis data terkait dengan kesehatan lingkungan
4. Melakukan pekerjaan kesehatan lingkungan sendiri ataupun kelompok dilingkup
tanggungjawab pengawasannya
5. Memformulasi penyelesaian masalah kesehatan lingkungan proseduraldan inovatif secara
komprehensif; dan
6. Melakukan Kerja Sama dan membuat laporan tertulis secara
komprehensif.
Kompetensi tersebut dijabarkan lebih lanjut sebagai kompetensi dasar Tenaga
Kesehatan Lingkungan (Lulusan Diploma III Kesehatan Lingkungan) atau sebutan profesinya
sebagai “Teknisi Sanitarian Madya (Junior Technical Sanitarian) sebanyak 36 kompetensi,
yaitu :
1. Melakukan pemeriksaan kualitas fisik air dan limbah cair.
2. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia air dan limbah cair.
3. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi air dan limbah cair.
4. Melakukan pemeriksaan kualitas fisik udara/kebisingan, getaran,kelembaban, kecepatan
angin, dan radiasi.
5. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia udara.
6. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi udara.
7. Melakukan pemeriksaan kualitas fisik tanah dan limbah padat.
8. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia tanah dan limbah padat.
9. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dan parasitilogi tanah danlimbah padat.
10. Melakukan pemeriksaan kualitas fisik makanan dan minuman.
11. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia makanan dan minuman.
12. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dan parasitologi makanandan minuman.
Page 7
13. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dan parasitologi sampelusap alat makanan
dan minuman serta usap rektum.
14. Melakukan survei vektor dan binatang pengganggu.
15. Melakukan pengukuran kuantitas air dan limbah cair.
16. Mengidentifikasi makro dan mikro bentos di badan air.
17. Melakukan analisis dampak kesehatan lingkungan.
18. Melakukan pemeriksaan sampel toksikan dan biomonitoring.
19. Mengoperasikan alat pengeboran.
20. Melakukan pendugaan air tanah.
21. Melakukan pengeboran air tanah untuk pembangunan sarana air tanah.
22. Mengoperasikan alat-alat aplikasi pengendalian vektor.
23. Mengoperasikan alat-alat pengambilan sampel udara.
24. Melakukan kegiatan penyuluhan dan pelatihan.
25. Melakukan pengelolaan sanitasi linen.
26. Melakukan pengelolaan limbah padat sesuai dengan jenisnya.
27. Melakukan pengendalian vektor dan binatang pengganggu.
28. Melakukan pengelolaan pembuangan tinja.
29. Monitoring pengelolaan limbah berbahaya dan beracun.
30. Melakukan surveillans kesehatan lingkungan.
31. Berwirausaha di bidang pelayanan kesehatan lingkungan.
32. Melakukan pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan
lingkungan.
33. Menilai kondisi kesehatan perumahan.
34. Menerapkan prinsip-prinsip sanitasi pengelolaan makanan.
35. Mengawasi sanitasi tempat pembuatan, penjualan, penyimpanan,
pengangkutan, dan penggunaan pestisida.
36. Mengawasi sanitasi tempat-tempat umum.
37. Melaksanakan penelitian yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan.
38. Melakukan intervensi administratif sesuai hasil analisis sampel air, tanah,udara, limbah
makanan, minuman, vektor, dan binatang pengganggu.
39. Melakukan intervensi sosial sesuai hasil analisis sampel air, tanah, udara,limbah makanan
dan minuman, vektor, dan binatang pengganggu.
Page 8
F. Kompetensi Kritis Tenaga Kesehatan Lingkungan (Sanitarian)
Kompeten kritis Tenaga Kesehatan Lingkungan (Lulusan Diploma III Kesehatan
Lingkungan) atau sebutan profesinya sebagai “Teknisi Sanitarian Madya (Junior Technical
Sanitarian) sebagai dasar kemampuan yang wajib dimiliki sebanyak 22 kompetensi
sebagaimana tersebut pada tabel berikut ini.
No. Kompetensi
1. Melakukan pemeriksaan kualitas fisik air dan limbah cair.
2. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia air dan limbah cair.
3. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi air dan limbah cair.
4. Melakukan pemeriksaan kualitas fisik udara/kebisingan, getaran,
kelembaban, kecepatan angin, dan radiasi.
5. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia udara.
6. Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi udara.
7. Melakukan pemeriksaan kualitas fisik tanah dan limbah padat.
8. Melakukan pemeriksaan kualitas kimia tanah dan limbah padat.
9 Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dan parasitilogi tanah
dan limbah padat.
10 Melakukan pemeriksaan kualitas fisik makanan dan minuman.
11 Melakukan pemeriksaan kualitas kimia makanan dan minuman.
12 Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dan parasitologi
makanan dan minuman.
13 Melakukan pemeriksaan kualitas mikrobiologi dan parasitologi
sampel usap alat makanan dan minuman serta usap rektum.
14 Melakukan survei vektor dan binatang pengganggu.
15 Melakukan pengukuran kuantitas air dan limbah cair.
16 Mengidentifikasi makro dan mikro bentos di badan air.
17 Melakukan pemeriksaan sampel toksikan dan biomonitoring.
18 Melakukan pendugaan air tanah.
19 Mengoperasikan alat-alat aplikasi pengendalian vektor.
20 Mengoperasikan alat-alat pengambilan sampel udara.
21 Melakukan surveillans kesehatan lingkungan.
22 Melakukan intervensi administratif sesuai hasil analisis sampel air,
tanah, udara, limbah, vektor, dan binatang pengganggu.
Sumber : Permenkes RI No. 373 Tahun 2007 Tentang Standar Profesi Tenaga Sanitaria/Kes. Lingkungan
Page 9
1. Ruang Lingkup
Pengelolaan unsur-unsur yang mempengaruhi timbulnya gangguankesehatan sebagi ;ingkup
pekerjaannya, antara lain :
a. Limbah cair
b. Limbah padat
c. Limbah udara atau gas
d. Sampah yang tidak diproses sesuai dengan persyaratan yang ditetapkanpemerintah
2. Kewengangan
Pelayanan kesehatan program Pemerintah lainnya hanya dapat dilakukan oleh
Tenaga Sanitarian yang dilatih khusus untuk program Pemerintah
Page 10
II
PENGAWASAN AIR DI INDUSTRI
Page 11
2. Pengawasan Internal
2.1. Pengawasan internal merupakan pengawasan yang dilakukan oleh Penyelenggara
melalui penilaian mandiri, pengambilan, dan pengujiansampel air.
2.2. Pengawasan internal dilaksanakan paling sedikit 1 kali dalam 1 tahun kecuali
parameter tertentu yang telah ditetapkan dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
(Lampiran 1).
2.3. Pengawasan internal menggunakan formulir 1 (Lampiran 2).
2.4. Hasil pengawasan internal wajib didokumentasikan dan dilaporkan kepada dinas
kesehatan kabupaten/kota untuk ditindaklanjuti dengan menggunakan formulir 2 (Lampiran 3).
3. Pengawasan Eksternal
3.1. Pengawasan eksternal dilakukan oleh tenaga kesehatan lingkungan yang terlatih
pada dinas kesehatan kabupaten/kota, atau kantor kesehatan pelabuhan untuk lingkungan
wilayah kerjanya.
3.2. Pengawasan eksternal dilaksanakan paling sedikit 1 kali dalam 1 tahun.
3.3. Pengawasan eksternal menggunakan formulir 3 (lampiran 4).
3.4. Kepala dinas kesehatan kabupaten/kota melaporkan hasil pengawasan eksternal
secara berjenjang melalui kepala dinas kesehatan provinsi dan diteruskan kepada Menteri
menggunakan formulir 4 (Lampiran 5)
3.5. Kepala kantor kesehatan pelabuhan melaporkan hasil pengawasan eksternal
kepada Menteri dan kepala otoritas pelabuhan/bandar
udara menggunakan formulir 5 (Lampiran 6).
Page 12
2. Tersedia air bersih untuk kebutuhan karyawan sesuai dengan persyaratan kesehatan.
3. Distribusi air bersih untuk perkantoran harus menggunakan sistim perpipaan.
4. Sumber air bersih dan sarana distribusinya harus bebas dari pencemaran fisik, kimia dan
bakteriologis.
5. Dilakukan pengambilan sampel air bersih pada sumber, bak penampungan dan pada kran
terjauh untuk diperiksakan di laboratorium minimal 2 kali setahun, yaitu musim kemarau dan
musim hujan
D. Kegiatan Pengawasan
Berikut ini sebagai acuan yang dapat digunakan untuk menyimpulkan hasilpengawasan
berdasarkan total Skor :
1. Memenuhi syarat jika total skor ≥ 75 %
2. Tidak Memenuhi Syarat total skor ˂ 75 %
Page 13
2. Penyusunan laporan
Penyusunan laporan merupakan bagia akhir dari pengawasan kualitas air bersih dan air minum
yang berisi hasil pengawasan dan rekomendasi hasil, kemudian didokumenkan sebagai
rekaman dokumen kegiatan..
E. Standar
1. Standar Air Bersih dan Air minum secara fisik, kimia dan mikrobiologi didasarkan pada
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 32 tahun 2017
tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Air untuk
Keperkuan Hygiene Sanutasi, Kolam Renang, Solus Per Aqua dan Pemandian Umum.
2. Standar Air Bersih dan Air minum secara fisik, kimia dan mikrobiologi didasarkan pada
Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 70 Tahun 2016 Tentang Standar dan Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja Industri
Page 14
III
A. Beberapa Pengertian
1. Tempat Kerja
Adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga kerja
bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana
terdapat sumber atau sumber-sumber bahaya.
2. Tenaga Kerja
Adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa
baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat
3. Faktor lingkungan kerja adalah potensi-potensi bahaya yang kemungkinan terjadi di
lingkungan kerja akibat adanya suatu proses kerja.
4. Lingkungan Kerja adalah aspek Higiene di Tempat Kerja yang di dalarnnya mencakup faktor
fisika, kirnia, biologi, ergonomi dan psikologi yang keberadaannya di Tempat Kerja dapat
mempengaruhi keselamalan dan kesehatan Tenaga Kerja.
5. Kualitas Udara Dalam Ruangan yang selanjutnya disingkat KUDR adalah kualitas udara
di ruangan Tempat Kerja, yang dalam kondisi yang buruk yang disebabkan oleh
pencernaran atau kontaminasi udara Tempat Kerja, yang dapat menimbulkan gangguan
kenyamanan kerja sampai pada gangguan kesehatan Tenaga Kerja
6. Pencemar atau kontaminan udara tempat kerja adalah kadar zat, energi, dan/atau komponen
lain yang ada di udara tempat kerja yang dapat menimbulkan gangguan kenyamanan kerja
sampai pada gangguan kesehatan Tenaga Kerja.
7. Status kualitas udara di tempat kerja adalah keadaan mutu udara di suatu tempat kerja pada
saat dilakukan inventarisasi.
8. Inventarisasi adalah kegiatan untuk mendapatkan data dan informasi yang berkaitan dengan
Nilai Ambang Batas udara.
Page 15
9. Nilai Ambang Batas yang selanjutnya disingkat NAB adalah standar faktor bahaya di tempat
kerja sebagai kadar/intensitas rata-rata tertimbang waktu (time weighted average) yang dapat
diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan, dalam
pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
10. Kadar Tertinggi Diperkenankan yang selanjutnya disingkat KTD adalah kadar bahan kimia di
udara tempat kerja yang tidak boleh dilampaui meskipun dalam waktu sekejap selama tenaga
kerja melakukan pekerjaan.
11. Faktor fisika adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat fisika yang dalam keputusan
ini terdiri dari iklim kerja, kebisingan, getaran, gelombang mikro, sinar ultra ungu, dan medan
magnet.
12. Faktor kimia adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat kimia yang dalam keputusan ini
meliputi bentuk padatan (partikel), cair, gas, kabut, aerosol dan uap yang berasal dari bahan-
bahan kimia. Faktor kimia mencakup wujud yang bersifat partikel adalah debu, awan, kabut,
uap logam, dan asap; serta wujud yang tidak bersifat partikel adalah gas dan uap.
13. Faktor Biologi adalah faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas Tenaga Kerja yang bersifat
biologi, disebabkan oleb makhluk hidup meliputi hewan, tumbuhan dan produknya serta
mikroorganisme yang dapatmcnycbabkan penyakit akibat kerja.
14. Iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan gerakan udara dan
panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat
pekerjaannya, yang dimaksudkan dalam peraturan ini adalah iklim kerja panas.
15. Suhu kering (Dry Bulb Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh termometer suhu
kering.
16. Suhu basah alami (Natural Wet Bulb Thermometer) adalah suhu yang ditunjukkan oleh oleh
termometer bola basah alami (Natural Wet Bulb Thermometer).
17. Suhu bola (Globe Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh termometer bola (Globe
Thermometer).
Page 16
18. Indeks Suhu Basah dan Bola (Wet Bulb Globe Temperature Index) yang selanjutnya disingkat
ISBB adalah parameter untuk menilai tingkat iklim kerja yang merupakan hasil perhitungan
antara suhu udara kering, suhu basah alami dan suhu bola.
19. Berat molekul adalah ukuran jumlah dari berat atom dari atom-atom dalam molekul atau
seluruh unsur penyusunnya.
20. Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses
produksi dan/atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan
pendengaran.
21. Getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau media dengan arah bolak-balik dari
kedudukan keseimbangannya.
22. Radiasi frekuensi radio dan gelombang mikro (Microwave) adalah radiasi elektromagnetik
dengan frekuensi 30 Kilo Hertz sampai 300 Giga Herzt.
23. Radiasi ultra ungu (ultraviolet) adalah radiasi elektromagnetik dengan panjang gelombang
180 nano meter sampai 400 nano meter (nm).
24. Medan magnet statis adalah suatu medan atau area yang ditimbulkan oleh pergerakan arus
listrik.
25. Intensitas Cahaya adalah jumlah rata-rata cahaya yang diterima pekerja setiap waktu
pengamatan pada setiap titik dan dinyatakan dalam satuan Lux.
26. Lux adalah satuan metrik ukuran cahaya pada suatu permukaan
27. Terpapar adalah peristiwa seseorang terkena atau kontak dengan faktor bahaya di tempat
kerja.
28. Paparan Singkat Diperkenankan yang selanjutnya disingkat PSD adalah kadar zat kimia di
udara di tempat kerja yang tidak boleh dilampaui agar tenaga kerja yang terpapar pada periode
singkat yaitu tidak lebih dari 15 menit masih dapat menerimanya tanpa mengakibatkan iritasi,
kerusakan jaringan tubuh maupun terbius yang tidak boleh dilakukan lebih dari 4 kali dalam
satu hari kerja.
Page 17
bahaya Lingkungan Kerja wajib dilakukan Pemeriksaan dan/atau Pengujian (Peraturan
Menteri Ketenagakerjaan RI No. 5 tahun 2018 tentang K3 Lingkungan Kerja).
b. Pasal 58 nayat 2 : Pemeriksaan merupakan kegiatan mengamati, menganalisis,
membandingkan, dan mengevaluasi kondisi Lingk. Kerja untuk memastikan terpenuhinya
persyaratan.
c. Pasal 58, ayat 3 : Pengujian merupakan kegiatan pengetesan dan pengukuran kondisi
Lingkungan Kerja yang bersumber dari alat, bahan, dan proses kerja untuk mengetahui
tingk. konsentrasi dan pajanan terhadap Naker untuk memastikan terpenuhinya
persyaratan.
d. Pasal 59, ayat 1 : Pemeriksaan dan/atau Pengujian dilakukan secara internal maupun
melibalkan lembaga eksternal dari luar Tcmpat Kerja.
e. Pasal 59, ayat 2 : Perneriksaan dan/atau Pengujian internal dilakukan untuk mengukur
besaran pajanan sesuai dengan risiko Lingkungan Kerja dan tidak menggugurkan
kewajiban Tempat Kerja untuk melakukan pengukuran dengan pihak eksternal.
f. Pasal 59, ayat 3 : Pemeriksaan dan/atau Pengujian secara internal harus dilakukan oleh
personil K3 bidang Lingkungan Kerja.
2. Tujuan Pengawasan Kualitas Udara di Tempat Kerja
a. Diketahuinya kualitas udara ruangan tempat kerja dari faktor Fisika,
Kimia Biologi
b. Diketahuinya metode pengendalian faktor Fisika, Kimia Biologi agarberada di bawah
NAB;
c. Melindungi tenaga kerja yang berada dalan ruang kerja selamajam kerja.
Page 18
3. Pemeriksaan dan/atau Pengujian Ulang
4. Pemeriksaan dan/atau Pengujian Khusus
(Lihat Permenaker RI Nomor 5 tahun 2018)
2. Faktor Kimia
Faktor kimia udara ruangan yang dimaksud adalah dalam bentuk debu, aerosol, mist, fume
dan gas.
Pengukuran dan pengendalian faktor Kimia harus dilakukan pada Tempat Kerja yang
merniliki potensi bahaya bahan kimia. Pengukuran Faklor Kimia dilakukan terhadap
pajanannya dan terhadap pekerja yang terpajan. Pengukuran terhadap pajanan yang
hasilnya untuk dibandingkan dengan NAB harus dilakukan paling singkat selama 6
(enarn) jam dan hasilnya dibandingkan dengan pajanan singkat diperkenankan (PSD),
harus dilakukan paling singkat selama 15 (lima belas) menit sebanyak 4 (empat) kali
dalam durasi 8 (delapan) jam kerja.
Pengukuran yang hasilnya untuk dibandingkan dengan kadar tertinggi diperkenankan (KTD)
harus dilakukan menggunakan alat pembacaan langsung untuk memastikan tidak
terlampaui.
Pengukuran Faktor Kimia terhadap pekerja yang mengalami pajanan
Page 19
dilakukan melalui Pemeriksaan kesehatan khusus pada spesimen tubuh Tenaga Kerja dan
dibandingkan dengan indeks Pajanan Biologi (IPB). NAB dan IPB tercanturn dalam
Lampiran Peraturan Menteri Ketenagakerjaan No. 5 tahun 2018.
Jika hasil pengukuran terhadap pajanan melebihi NAB dan hasilpengukuran Faktor
Kirnia terhadap Tenaga Kerja yang mengalami pajanan melebihi IPB harus dilakukan
pengendalian dengan:
1) Menghilangkan sumber potensi bahaya kimia dari Tempat Kerja;
2) Mengganti baban kimia dengan bahan kimia lain yang tidak mempunyai potensi bahaya
atau potensi bahaya yang lebih rendah;
3) Memcdifikasi proses kerja yang rnenirnbulkan sumber potensi bahayakimia;
4) Mengisolasi atau membatasi pajanan sumber potensi babaya
kirnia;
5) Menyediakan sistem ventilasi;
6) Membatasi pajanan sumber potensi bahaya kimia rnelaluipengaturan waktu
kerja;
7) Merotasi Tenaga Kerja :
a) Ke dalam proses pekerjaan yang tidak terdapat potensibahaya bahan
kimia;
b) Penyediaan lembar data keselamatan bahan dan label
bahan kimia;
c) Penggunaan alat pelindung diri yang sesuai; dan/atau
Pengendalian lainnya sesuai dengan tingkat risiko.
3. Faktor Biologi
a. Mikro organisma dan/atau toksinnya;
Faktor mikro organisma dan/atau toksinnya) dilakukan pengukuran danbila hasil pengukuran
melebihi standar harus dilakukan pengendalian.
b. Arthopoda dan/atau toksinnya;
c. Hewan invertebrata danj'atau toksinnya;
d. Alergen dan toksin dari tumbuhan;
Page 20
e. Binatang berbisa;
f. Binatang buas;
g. Produk binatang dan tumbuhan yang berbahaya lainnya.
Faktor Biologi (Arthopoda dan/atau toksinnya; Hewan invertebrata dan/atau toksinnya; Alergen
dan toksin dari tumbuhan; Binatang berbisa; Binatang buas; Produk binatang dan tumbuhan
yang berbahaya lainnya) dilakukan pemantauan. Hasil pemantauan terdapat potensi bahaya
harus dilakukan pengendalian, kecuali mikro organisma dan/atau toksinnya, binatang berbisa
dan Binatang buas dilakukan pengendalian dengan :
Page 21
3) Menggunakan alat pelindung diri yang sesuai;
4) Memasang rambu-rambu yang sesuai; dan/atau pengendalianlainnya sesuai denga
tingkat risiko.
Nama Industri :
Alamat :
Jenis Produksi :
Nomor Tilpo/Fax/web : Status
kepemilikan :Akta Pendirian :
Tanggal Pendirin :
Nama Pimpinan : Jumlah
Devisi/Bagian : Jumlah
Karyawan : Tanggal
Pengawasan :
No Variabel Kiteria Skor
1 Suhu a. 18 – 30 °C 4
(Bobot 7)
b. ˂ 18 °C perlu dipasang alat pemanas ruangan 3
(Heater)
c. ˃ 30 °C perlu dipasang ventilasi buatan (AC, Fan, 3
Exhauster)
2 Kelembabban a. 65 % - 95 % 4
(Bobot 7)
b. ˂ 65 % perlu dipasang alat humadifier (Spt alat 3
pembentukan aerosol)
c. ˃ 95 % perlu dipasang alat dehumadifier 3
2 Debu a. Pada sumber kegiatan yg menghasilkan debu, perlu 5
Bobot 10 dipasang sistem ventilasi lokasl (local ventilation) yg
dihunungkan dengan cerobong dn
dilengkapi enyaring debu
b. Dilakukan upaya penerapan sistim ventilasi dilusi 5
untuk menjamin suplai udara segar dalam
ruangan
3 Pertukaran a. Membersihkan saringan / filter AC secaa periodik 5
Page 22
Udara sesuai dengan ketentuan pabrik
B(bobot 8)
b. Dilakukan upaya penerapan sistim ventilasi dilusi
untuk menjamin suplai udara segar dalam
ruangan kerja
4 Kandungan a. Pada sumber kegiatan yang menghasilkan gas 5
Gas pencemar, maka perlu dipasang hood (penangkap gas)
Pencemar yang dihubungkan dengan local
(Bobot 8) exhauster dan dilengkapi dengan filter
penangkap gas
b. Dilakukan upaya peneraoan sistim vemtilasi dilusi 5
untuk menjamin suplai udara segar dalam
ruangan kerja
5 Kandungan a. Pada sumber kegiatan yang menghasilkan gas 3
gas yang pencemar yang mengandung mikroba, maka perlu
mengandung dilengkapi dengan ventilasi / AC dengan sistim
mikroba saringan udara bertingkap untuk
(bobot 8) menangkap mikroba
b. Melakukan upaya desinfeksi dengan 3
menggunakan sinar UV atau bahan kimia
c. Memelihara sistim ventilasi dengan baik 2
d. Memeliharan AC sentral 2
6 Intensitas a. Jenis Kegiatan/pekerjaan yang dilakukan dengan 4
Cahaya intensitas cahaya yang telah ditentukan
(Bobot 10)
b. Baik cahaya alami maupun buatan tidak 3
menimbulkan kesilauan dan bayangan dan
berfungsi dengan baik
c. Sesuai dengan warna cat dinding yang 3
digunakan sehingga kontras dengan cahayayang
dipantulkan
7 Intensitas a. Jenis Kegiatan/pekerjaan yang dilakukan sesuai 4
Kebisingan dengan intensitas kebisingan yang telah ditentukan
(Bobot 10)
b. Dilakukan pengaturan pada tata ruang kerjasehingga 3
meminimalisir tingkat kebisingan
c. Pada sumber bising dilengkapi dengan peredam 3
kebisingan (seperti bahan yang kedap suara,
menanam pohon, peninggian tembok dll)
Daftar Pustaka
Page 23
IV
A. Beberapa Pengertian
1. Pengertian Pengawas Tanah
a. Pengertian Tanah
Kata Tanah ( Soil ) berasal dari bahasa Perancis kuno yg merupakan turunan dari
bahasa latin Solum yang berarti lantai atau dasar. Tanah berarti bagian permukaan terpisah dari
bumi dan bulan sebagaimana dibedakan dari batuan yang padat ( Henry D. Foth, “Dasar2 Ilmu
Tanah” ). Tanah adalah : Kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam
horison2 , terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara dan merupakan
media untuk tumbuhnya tanaman.( Prof. Dr. Ir. H. Sarwono Hardjowigeno, [Link] “ Ilmu Tanah
“ ).
Page 24
Dengan dimulainya pertanian tanah merupakan medium untuk pertumbuhan tanaman. Tanah
merupakan daerah peralihan antara yang hidup dan yang mati- tempat tumbuhan
menggabungkan energi surya dan karbon dioksida dari atmosfer dengan hara dan air dari
tanah manjadi jaringan hidup. 99 % makanan kita, diproduksi dari lahan. Peran tanah sbg
medium pertumbuhan tanaman begitu penting, sehingga akan dibahas lebih banyak.
Pada dasarnya, tumbuhan yang tumbuh diatas lahan tergantung pada tanah karena tanah
merupakan tempat tersedianya air dan unsur-unsur hara. Disamping itu, tanah harus
menyediakan lingkungan supaya akar dapat berfungsi. Lingkungan ini memerlukan ruangan
pori untuk perluasan akar. Oksigen harus tersedia untuk pernafasan akar dan karbondioksida
yang dihasilkan harus didifusikan ke luar dari tanah agar tidak berakumulasi. Akar yang
mencekram tanah menahan tanaman agar tegak.
Page 25
(2000) adalah tindakan-tindakan yang dilakukan terhadap sampah padat, dimulai dari tahap
pengumpulan di tempat sumber, pengangkutan, penyimpanan, pengolahan pendahuluan serta
tahap pengolahan akhir yang berarti pembuangan atau pemusnahan sampah (Kusnoputranto,
2000).
c. Pengawasan Sampah Industri
Pengawasan sampah di Industri merupakan semua tahapan kegiatan mulai penimbulan,
penyimpanan sementara dan pengumpulan yang dilakukan seblum pengangkutan ke Tempat
pembuangan akhir (TPA).
Page 26
2. Kegiatan Pengelolaan Sampah
a. Pemetaan lokasi
1) Tempat penghasil atau timbulan sampah
2) Tempat pengumpulan sampah
b. Melakukan Inspeksi
c. Menganalisis dan menyimpulkan hasil inspeksi
d. Penyusunan laporan
b. Kimia
1) Kandungan Mineral dan hara
Beberapa jenis mineral primer yang ssering terdapat di dalam tanahdan kandungan
unsur haranya adalah sebagai berikut:
Kwarsa (SiO2) -
Kalsit Ca
Ca, Mg
Dolomit
Page 27
Feldspar : - Ortoklas K
Page 43
V
PENGAWASAN MAKANAN DAN MINUMAN DI INDUSTRI (MATERI
SANITASI INDUSTRI DAN K3)
A. Pengertian- Pengertian
1. Pengawasan makanan dan minuman di Industri secara internal adalah kegiatan yang dilakukan
oleh tenaga kerja bagian Safety Health and Environment (SHE) atau tenaga kerja lain yang
ditugas piha penyelenggara (Manajemen) untuk melakukan pengawasan makanan dan
minuman yang disajikan kepada tenaga kerja maupun tamu melalui penilaian mandiri,
pengambilan, dan pengujian sampel makanan minuman dan peralatan makanan minuman.
2. Makanan dan minuman di Tempat Kerja (Industri) adalah makanan dan minuman yang diolah
oleh Perusahaan atau Tempat Pengolah makanan minuman dari luar Industri yang disajikan
untuk Tenaga Kerja di Tempat Kerja (Industri) maupun tamu yang berada di Industri.
3. Peralatan makan dan minum yang dimaksud disini adalah peralatan makan dan minum yang
disediakan oleh Industri (tempat Kerja) yang digunakan untuk menyaikan makanan dan
minuman bagi Tenaga Kerja dan Tamu.
4. Hygiene sanitasi makanan dan minuman yang dimaksud adalah upaya untuk mengendalikan
faktor makanan, orang, tempat dan perlengkapannya yang dapat atau mungkin dapat
menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan Tenaga Kerja maupun Tamu yang
menggunakan peralatan makan dan ata minum yang disediakan oleh Industri/Perusahaan
(tempat kerja).
5. Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan adalah spesifikasi teknis atau nilai yang
dibakukan pada media lingkungan yang berhubungan atau berdampak langsung terhadap
kesehatan masyarakat.
6. Persyaratan Kesehatan adalah kriteria dan ketentuan teknis kesehatan pada media
lingkungan.
Page 44
C. Tata cara pelaksanaan Pengawasan Makanan Minuman
1. Pemetaan poin kritis pada alur pengelolaan makan minuman yangmeliputi :
a. Makanan dan minuman untuk keperluan tenaga kerja dan tamu di
Industri/Perusahaan/perkantoran dapat diperoleh dari tempat penjual baik di
Perusahaan/Toko/Rumah Makan/Katering atau tempat lain yang siap saji harus memenuhi
persyaratan kesehatan.
b. Tersedia air bersih untuk kebutuhan pencucian peralatan makan dan minum yang disediakan
untuk tenaga kerja/karyawan dan tamu harus memenuhi persyaratan kesehatan.
c. Tersedia peralatan makan dan minum yang disediakan oleh Industri/Perusahaan/Pderkantoran
(tempat Kerja) yang digunakan untuk menyaikan makanan dan minuman bagi Tenaga Kerja
(karyawan) dan Tamu harus memenuhi persyaratan kesehatan.
d. Tersedia tempat penyucian alat makan dan minum dan tempat penirisan sebelum disimpan di
tempat penyimpanan yang tidak memungkinan terjadinya kontaminasi.
e. Tersedia tempat penyimpanan alat makan dan minum yang bebas dari pencemaran fisik, kimia
dan bakteriologis.
f. Dilakukan pengambilan sampel makanan dan minuman yang disediakan pihak ketiga untuk
diperiksakan di laboratorium minimal 2 kali setahun, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
g. Dilakukan pengambilan sampel peralatan makan dan minum melalui usap alat untuk
diperiksakan di laboratorium minimal 2 kali setahun, yaitu musim kemarau dan musim hujan.
2. Melakukan Ispeksi dan sampling makanan minuman
3. Menganalisis dan menyimplkan hasil isnpeksi hasil sampling
4. Menyusun laporan
Page 45
Tenaga pramu saji di Industri/Perusahaan/Perkantoran (karyawan) dalam melakukan kegiatan
pelayanan penyajian makanan atau minuman bagi tenaga kerja maupun tamu harus memenuhi
persyaratan antara lain :
a. Tidak menderita penyakit mudah menular misal : batuk, pilek, influenza, diare, penyakit perut
sejenisnya.
b. Menutup luka (pada luka terbuka/ bisul atau luka lainnya).
c. Menjaga kebersihan tangan, rambut, kuku, dan pakaian.
d. Mencuci tangan setiap kali hendak menangani makanan.
e. Tidak sambil merokok, menggaruk anggota badan (telinga, hidung, mulutatau bagian lainnya.
f. Tidak batuk atau bersin di hadapan makanan jajanan yang disajikan danatau tanpa menutup
mulut atau hidung.
2. Peralatan Makan dan Minum
Peralatan yang digunakan untuk menyajikan makanan dan minuman harus sesuai dengan
peruntukannya dan memenuhi persyaratan hygiene sanitasi peralatan makan dan minum.
Untuk menjaga peralatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) :
a. Peralatan yang sudah dipakai dicuci dengan air bersih dan dengan sabun
b. Pengeringan dengan alat pengering/lap yang bersih
c. Penyimpanan di tempat yang bebas pencemaran.
d. Dilarang menggunakan kembali peralatan yang dirancang sekali pakai.
3. Standar Kualitas Makanan Minumam
Menurut Peraturan Menteri Kesehatah Republik Indonesia Nomor :
1096/MENKES/PER/VI/2011 tentang Hygiene Sanitasi Jasaboga, bahwa :
a) Makanan yang dikonsumsi harus higienis, sehat dan aman yaitu bebas dari cemaran fisik,
kimia dan bakteri.
b) Cemaran fisik seperti pecahan kaca, kerikil, potongan lidi, rambut, isi staples, dan sebagainya
Dengan penglihatan secara seksama atau secarakasat mata
c) Cemaran kimia seperti Timah Hitam, Arsenicum, Cadmium, Seng, Tembaga, Pestisidadan
sebagainyaMelalui pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan negatif
Page 46
d) Cemaran bakteri seperti Eschericia coli ([Link]) dan sebagainya melaluipemeriksaan
laboratorium dan hasil pemeriksaan menunjukkan :
1) Angka kuman [Link] 0 (nol)/gram contoh makanan
2) Angka kuman pada peralatan makan 0 (nol)
3) Tidak diperoleh adanya carrier (pembawa kuman patogen) pada
penjamah makanan yang diperiksa (usap dubur/rectal swab)
DAFTAR PUSTAKA :
1. PMK RI 32 tahun 2017 tentang Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan dan
Persyaratan Kesehatan Air untuk Keperkuan Hygiene Sanutasi, Kolam Renang, Solus
Per Aqua dan Pemandian Umum.
2. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 70 Tahun 2016 2016 Tentang Standar dan
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja Industri.
Page 47