UNIVERSITAS SILIWANGI
FAKULTAS TEKNIK
TEKNIK SIPIL
Batang Tarik
STRUKTUR BAJA I
PERATURAN PERKULIAHAN DAN MUTU NILAI
Berpakain rapi dan sopan
Keterlambatan maksimal 20 menit
Presensi minimal 75%
Mutu Nilai Keterangan
Penilian
Presensi 10% A X ≥ 81
Tugas 15%
B 68 ≤ X ≤ 80
UTS 35%
UAS 40% C 58 ≤ X < 68
D 40 ≤ X < 58
E X ≤ 40
PENDAHULUAN
POKOK BAHASAN
Batang Tarik
Batang Tekan
Batang Lentur
Pengikat Struktural
Profil Baja
Profil Siku (Angle)
Profil Baja
Profil Baja
Profil Baja
Profil Baja
Profil Baja
Batang Tarik (Tension Member)
Materi Bahasan
1. Elemen batang tarik
Kekuatan tarik nominal metode LRFD
Kondisi leleh
2. Kondisi fraktur/putus
3. Kekuatan tarik nominal metode ASD
4. Luas penampang netto
Ukuran lobang paku, baut atau keling Contoh soal penampang netto pada pelat
Lobang sejajar dan lbang berselang-seling Contoh penampang netto pada baja siku
Pada plat
Pada baja siku
Profil WF
Batang Tarik (Tension Member)
5. Luas Penampang netto efektif
Sambungan dengan baut/paku
Sambungan dengan las
Contoh soal penampang efektif
Elemen Batang Tarik
Batang tarik banyak dijumpai dalam banyak struktur baja, seperti struktur-struktur jembatan,
rangka atap, menara transmisi, ikatan angin, dan lain sebagainya. Batang tarik ini sangat efektif
dalam memikul beban. Batang ini dapat terdiri dari profil tunggal ataupun profil-profil tersusun
Contoh-contoh penampang batang tarik adalah profil bulat, pelat, siku, siku ganda, siku bintang,
kanal, WF, dan lain-lain. Dengan demikian, batang tarik adalah elemen batang pada struktur yang
menerima gaya tarik aksial murni. Gaya tarik tersebut dikatakan sentris jika garis gaya berimpit
dengan garis berat penampang. Batang tarik ini umumnya terdapat pada struktur rangka batang
Elemen Batang Tarik
Batang tarik pada
rangka jembatan
Elemen Batang Tarik
Batang Tarik pada rangka jembatan
Elemen Batang Tarik
Batang Tarik
pada rangka
jembatan
Elemen Batang Tarik
Batang tarik pada struktur
Elemen Batang Tarik
Batang tarik pada
struktur
Elemen Batang Tarik
Profil batang tarik
Kekuatan Tarik Nominal Metode LRFD (SNI 03-1729-2002)
Dalam menentukan kekuatan nominal penampang suatu batang tarik, harus ditinjau terhadap tiga
macam kondisi keruntuhan yang menentukan, yaitu :
1. Kondisi leleh dari luas penampang kotor/bruto, didaerah yang jauh dari sambungan.
2. Kondisi fraktur/putus dari luas penampang efektif pada daerah sambungan.
3. Kondisi geser blok pada sambungan.
Kekuatan Tarik Nominal Metode LRFD (SNI 03-1729-2002)
Komponen struktur yang memikul gaya tarik aksial terfaktor Nu harus memenuhi :
Dimana,
Nn = kekuatan nominal penampang.
= faktor tahanan/reduksi (SNI 03-1729-2002, tabel 6.4-2, hal.18). (SNI 03-1729-2002,
fs.10.1)
Kekuatan Tarik Nominal Metode LRFD (SNI 03-1729-2002)
Pada kondisi leleh dari luas penampang bruto.
Bila kondisi leleh yang menentukan, maka kekuatan nominal Nn dari batang tarik harus
memenuhi persamaan berikut,
Dimana,
Ag = luas penampang bruto (mm2).
fy = tegangan leleh sesuai mutu baja (MPa).
Pada kondisi ini faktor tahanan adalah = 0.90.
Kekuatan Tarik Nominal Metode LRFD (SNI 03-1729-2002)
Pada kondisi fraktur/putus dari luas penampang efektif/netto pada sambungan.
Pada batang tarik yang mempunyai lobang, pada daerah penampang yang berlobang tersebut
bentuk tegangan tarik tidak linear, terjadi konsentrasi tegangan pada tepi lobang, seperti gambar
berikut,
Kekuatan Tarik Nominal Metode LRFD (SNI 03-1729-2002)
Apabila kondisi fraktur/putus yang menentukan maka kekuatan nominal tarik (Nn ) tersebut harus
memenuhi persamaan sebagai berikut,
Dimana,
Ae = luas penampang efektif/netto (mm2)
fu = tegangan putus sesuai mutu baja (MPa)
Pada kondisi ini faktor tahanan adalah = 0.75
Kekuatan Tarik Nominal Metode ASD (PPBBI 1984)
Komponen struktur yang memikul gaya tarik aksial N harus memenuhi :
Untuk pembebanan tetap
Dimana
= tegangan tarik beban kerja.
= Nn / Ag (ditempat sambungan Anet)
0,75 = faktor tahanan yang diberikan apabila
Akibat pembebanan sementara penampang berlobang memikul gaya tarik,
(ditempat sambungan, ditempat lain = 1.0)
Fy = tegangan leleh sesuai mutu baja (MPa).
Kekuatan Tarik Nominal Metode ASD (PPBBI 1984)
Luas Penampang Netto.
SNI 03-1729-2002 fs.10.2.2. menyebutkan dalam suatu potongan jumlah luas lubang tidak boleh
melebihi 15% luas penampang utuh, atau dengan kata lain luas penampang netto seperti yang
diberikan oleh persamaan berikut
Dimana,
Ag = luas penampang bruto (mm2).
Kekuatan Tarik Nominal Metode ASD (PPBBI 1984)
Ukuran lobang paku atau baut
mm lebih besar dari diameter nominal baut (dn) untuk suatu baut diameternya tidak melebihi 24
mm, dan maksimum 3 mm lebih besar untuk baut dengan diameter lebih besar, kecuali untuk
lubang pada pelat landas.
Diameter nominal baut dan lobang, d = diameter lobang,
dn = diamater nominal, d = dn + 2 mm untuk dn ≤ 24 mm,
d = dn + 3 mm untuk dn > 24 mm (SNI).
Kekuatan Tarik Nominal Metode ASD (PPBBI 1984)
Specification for Structural
Joints Using ASTM A325 or
A490 Bolts, Prepared by
RCSC Committee, 2009
Luas Penampang Netto
Luas Penampang Netto
luas penampang netto (pot. a-a) diberikan oleh
persamaan
Dimana
N = jumlah lobang 3 lobang).
d = diameter lobang (mm), mengikuti ketentuan SNI
diatas yaitu d = dn + 2mm, atau d = dn + 3mm.
Ag = luas penampang bruto = h . t
T = tebal pelat terkecil antara t1 dan t2
Luas Penampang Netto
Dari ketiga peninjauan ini luas penampang netto diambil
yang terkecil, dan harus,
Luas Penampang Netto
Lobang Berselang-seling Pada Baja Siku.
Luas Penampang Netto
Lobang Berselang-seling Pada Baja Siku.
Dari ketiga peninjauan ini luas penampang netto diambil
yang terkecil, dan harus,
Luas Penampang Netto
Lobang Berselang-seling Pada
Profil Baja Kanal dan WF.
Contoh #1
Hitung luas netto, A dari batang tarik berikut ini. Baut vang digunakan berdiameter 19 mm. Lubang
dibuat dengan metode punching.
Contoh #1
Sambungan seperti gambar berikut yaitu dua buah pelat tebal 4 mm disambung dengan tiga buah
pelat dengan tebal 2 mm, diameter alat penyambung dn = 12 mm, jumlah alat penyambung 8
(delapan) buah. Hitunglah luas penampang netto.
Contoh #1
Jawab
Tebal pelat terkecil, t = 2 + 2 + 2 = 6 mm.
Diameter lobang d = 12 mm + 2 mm – 14 mm.
Potongan 1 – 2 - 3
Anet Ag n d t
250 6 3 14 6
1248 mm2
Potongan 1 – 4 – 2 – 5 – 3
S2 t S2 t S2 t S2 t
Anet Ag n d t
4 U 4 U 4 U 4 U
502 6 502 6 502 6 502 6
250 6 5 14 6
4 50 4 50 4 50 4 50
1380 mm2
Contoh #1
Jawab
Tebal pelat terkecil, t = 2 + 2 + 2 = 6 mm.
Diameter lobang d = 12 mm + 2 mm – 14 mm.
Potongan 1 – 4 – 5 – 3
S2 t S2 t S2 t
Anet Ag n d t
4 U 4 U 4 U
502 6 502 6 502 6
250 6 4 14 6
4 50 4 50 4 50
1314 mm2
SNI 03-1729-2002 fs.10.2.2. (dan PPBBI 1984 hal.8),
Anet 85% . Ag = 85% h . t = 0.85 x 250 x 6 = 1275 mm2 > Anet = 1248 mm2.
(Anet potongan 1-2-3 < Anet SNI jadi tidak memenuhi syarat).
Contoh #2
Sambungan seperti gambar berikut yaitu dari profil baja siku 150.100.10, diameter nominal alat
penyambung dn = 25 mm. Hitunglah luas penampang netto.
Contoh #2
Jawab
Diameter lobang d = 25 + 3 mm = 28 mm (lihat SNI);
U1 = 60 mm; S = 75 mm
U2 = ga + gb – t = 55 + 60 – 10 = 105 mm
Luas profil baja siku, Ag = 2420 mm2
Potongan a – b
Anet Ag n d t
2420 2 28 10
1860 mm2
Contoh #2
Jawab
Diameter lobang d = 25 + 3 mm = 28 mm (lihat SNI);
U1 = 60 mm ; S = 75 mm
U2 = ga + gb – t = 55 + 60 – 10 = 105 mm
Luas profil baja siku, Ag = 2420 mm2
Potongan a – c – b
S2 t S2 t
Anet Ag n d t
4 U1 4 U2
752 10 752 10
2420 3 28 10
4 60 4 105
1948.3 mm2
Contoh #2
Jawab
Diameter lobang d = 25 + 3 mm = 28 mm (lihat SNI);
U1 = 60 mm ; S = 75 mm
U2 = ga + gb – t = 55 + 60 – 10 = 105 mm
Luas profil baja siku, Ag = 2420 mm2
Potongan a – c – d
S2 t S2 t
Anet Ag n d t
4 U1 4 U2
752 10 752 10
2420 3 28 10
4 60 4 105
1948.3 mm2
Contoh #2
• SNI 03-1729-2002 fs.10.2.2. (dan atau PPBBI 1984 hal.8),
Anet = 85% . Ag = 0,85 x 2420 = 2057 mm2 > Anet =
1860 cm2. (Anet potongan a-c dan a-b-c < Anet SNI jadi
tidak memenuhi syarat).
• Jumlah luas lobang = 2420 mm2 – 1860 mm2 =560 mm2.
• Persentase lobang = 560/2420 x 100 % = 23 % > 15 %
(maksimum 15 %, syarat SNI).
Solusi,
1. Diameter paku dikecilkan.
2. Susunan paku pada sayap dirobah dari 2 (dua) buah menjadi
1 (satu) buah saja.
Luas Penampang Netto Efektif
Luas neto (Anet) yang diperoleh sebelumnya harus dikalikan dengan faktor efektifitas penampang, U,
akibat adanya eksentrisitas pada sambungan, yang disebut shear leg, SNI 03- 1729-2002 fs.10.2.
Koefisien reduksi U untuk hubungan yang menggunakan baut
atau paku keling diperoleh dari persamaan berikut:
Dimana,
Ae = luas neto efektif.
Dimana,
U = koefisien reduksi. U = faktor reduksi.
Anet = luas neto penampang. x = eksentrisitas sambungan, jarak tegak lurus arah gaya
tarik, antara titik berat penampang komponen yang
disambung dengan bidang sambungan, mm.
L = panjang sambungan pada arah gaya.
Luas Penampang Netto Efektif
Bentuk-bentuk eksentrisitas sambungan
Luas Penampang Netto Efektif
Sambungan las
Contoh #3...
Letak garis netral penampang setengah profil
150 15
300 15 15 150 15 10 15
2 2
X
300 15 150 15 10
24.80 mm
X
U 1
L
24.80
1
100
0.75 0.90 memenuhi
TERIMAKASIH