Modul Laring Faring: Faringitis THTBKL
Modul Laring Faring: Faringitis THTBKL
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA LEHER
2022
Tim Penyusun
1. Prof. dr. Bambang Hermani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
2. Dr. dr. Fauziah Fardizza, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
3. dr. Arie Cahyono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
4. dr. Dian Paramita Wulandari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), [Link]
5. dr. Diar Mia Ardani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
6. dr. Farokah, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), [Link]
7. dr. I Dewa Gede Arta Eka Putra, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
8. dr. Kanti Yunika, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
9. dr. Lily Setiyani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
10. dr. Lisa Apri Yanti, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
11. dr. Mohammad Dwijo Murdiyo, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
12. dr. Novialdi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
13. dr. Ongka Muhammad Saifuddin, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
14. dr. Syahrial M. Hutauruk, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
15. dr. Vicky Eko Nurcahyo H., Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), [Link]
KATA PENGANTAR
Assalammu’alaikum [Link].
Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang
senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan
penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK
THTBKL) edisi ketiga ini.
Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang
merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses
pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia
Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan
Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar
pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga
program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk
melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan,
pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan
agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan
kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman.
Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan
akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara
global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku
Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan
pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas.
Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas
komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana
pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang
pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita
dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini.
Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua
yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT.
Wassalammu’alaikum [Link].
MODUL IV.1
FARINGITIS
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU .......................................................................................................... 1
C. REFERENSI .................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ................................................................................................ 1
I. EVALUASI ..................................................................................................... 3
L. MATERI BAKU.............................................................................................. 5
Modul IV.1– Faringitis
MODUL IV.1
LARING-FARING : FARINGITIS
A. WAKTU
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi: Faringitis
• Slide 1 : Anatomi dan Fisiologi faring
• Slide 2 : Klasifikasi Faringitis
• Slide 3 : Faringitis Virus
• Slide 4 : Faringitis Bakteri
• Slide 5 : Faringitis Jamur
• Slide 6 : Faringitis Granulomatous
• Slide 7 : Faringitis Penyebab Lain
2. Kasus :
Seorang laki-laki, 16 tahun dikonsulkan dari klinik ODHA datang ke poliklinik
THT-KL dengan keluhan rasa terbakar dan nyeri tenggorokan, kadang disertai
demam. Pemeriksaan fisik: tampak pseudomembran putih pada dinding posterior
orofaring. Lab: Apus tenggorok KOH tampak hifa, CD4 < 200 sel/µL
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar
operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT.
C. REFERENSI
1. Alper C., Myers E N., Eibling., Decicion Making In Ear, Nose, and Throat
Disorders, Saunders Company, 152-153., 2001
2. Bailey BJ., Johnson JT. Pharyngitis, 601-613., 2006
3. Becker W., Nauman H H., Pfaltz R C., Ear, Nose, and Throat Diseases, Thieme,
299-387., 1194
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosa dan melakukan tatalaksana faringitis
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
a. Mengenali gejala dan tanda faringitis
b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang faringitis
1
Modul IV.1– Faringitis
E. GAMBARAN UMUM
Faring merupakan bagian dari saluran nafas dan pencernaan. Diagnosis berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan klinis dan umumnya mengalami perbaikan setelah
pemberian antibiotika atau pengobatan simptomatis. Fungsi faring terutama untuk
pernapasan, penelanan, resonansi suara dan artikulasi. Disebabkan oleh banyak
faktor seperti infeksi bakteri, virus dan jamur, granulomatous, penyebab lain seperti
LPR.
F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 16 tahun dikonsulkan dari klinik ODHA datang ke poliklinik
THT-KL dengan keluhan rasa terbakar dan nyeri tenggorokan, kadang disertai
demam. Pemeriksaan fisik: tampak pseudomembran putih pada dinding posterior
orofaring. Lab: Apus tenggorok KOH tampak hifa, CD4 < 200 sel/µL.
Diskusi :
• Jenis-jenis penyebab faringitis (infeksi oportunistik)
• Penatalaksanaan faringitis jamur candida
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
faringitis seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu :
1. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dari faring.
2. Menjelaskan anamnesis dan pemeriksaan faring.
3. Menjelaskan etiologi, patofisiologi, dan gambaran klinik faringitis.
4. Melakukan work-up penderita faringitis yang meliputi anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti kultur & test
resistensi apus tenggorok, lab darah dan ASTO
6. Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat
7. Menentukan prognostik
H. METODE PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion.
• Peer assisted learning (PAL).
• Bedside teaching.
• Task based medical education.
• Journal reading and review.
• Case study
• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
• Demonstration and Coaching
2
Modul IV.1– Faringitis
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal
yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi faring.
• Penegakan diagnosis.
• Komplikasi dan penanganannya.
• Follow up.
2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk
membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang
berkenan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat
bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assisted learning) atau kepada
SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh
teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assited evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar pada nodel anatomik
dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator
melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir
penilaian sebagai berikut :
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
6. Pendidik/ fasilitas
• Pengamatn langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai.
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical educcation).
8. Pencapaian pembelajaran :
• Ujian OSCE
3
Modul IV.1– Faringitis
Seorang laki laki 25 tahun bekerja sebagai pelaut, datang ke dokter tht dengan
keluhan odinofagi yang dialami sejak lama hilang timbul, dari pemeriksaan fisis
ditemukan pembesaran tonsil dan adenopati cervical.
4
Modul IV.1– Faringitis
K. MATERI PRESENTASI
1. Ruang Lingkup
2. Anatomi dan Fisiologi faring
3. Klasifikasi Faringitis
4. Faringitis Virus
5. Faringitis Bakteri
6. Faringitis Jamur
7. Faringitis Granulomatous
8. Faringitis Penyebab Lain
L. MATERI BAKU
Faringitis
Faringitis adalah proses infeksi pada mukosa dan submukosa dari faring. Jaringan
yang berpengaruh antara lain orofaring, nasofaring, hypofaring, tonsil. Penyebab
faringitis antara lain infeksi, kongenital dan neoplasma.
Diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis dan umumnya mengalami
perbaikan setelah pemberian antibiotika atau pengobatan simtomatis, kecuali terjadi
pada infeksi yang disebabkan oleh kuman oportunis atau neoplasma. Komplikasi
yang penting pada faringitis yaitu sepsis, perdarahan dan obstruksi saluran nafas.
1. Anatomi
Faring merupakan bagian dari saluran nafas dan pencernaan. Terbentuk dari
endodermal foregut primitif dan mempunyai panjang 12 – 14 cm. Faring
berbentuk seperti tabung musculomembraneus mulai dari dasar tengkorak dan
belakang dari mulut dan hidung setingkat vertebra cervical 6 sampai esophagus.
Mukosa bagian atas berupa epitel pseudostratified bersilia dan bagian bawah
berupa epitel squameus.
Di belakang mukosa dinding belakang faring terdapat dasar tulang sphenoid dan
dasar tulang oksiput sebelah atas, kemudian bagian depan tulang atas dan sumbu
badan, dan vertebra servikalis. Nasofaring membuka kearah depan ke hidung
melalui koana posterior. Superior, adenoid terletak di atap nasofaring. Muskulus
tensor vili palatini merupakan otot yang menegangkan palatum dan membuka
tuba eustachii, masuk ke faring melalui ruangan ini. Otot ini membentuk tendon
yang melekat sekitar humulus tulang untuk memasuki palatum mole. Otot tensor
vili palatini dipersyarafi oleh syaraf mandibularis melalui ganglion optic.
5
Modul IV.1– Faringitis
2. Fisiologi Faring
6
Modul IV.1– Faringitis
a.1. Streptococcus
• Merupakan bakteri yang paling sering terutama pada anak-anak yaitu
Streptokokkus B hemoliticus ( Streptokokkus pyogenes ).
• Kuman penyebab lain antara lain :
o Streptokokkus Pneumoniae
o Streprokokkus kelompok C
• Masa inkubasi untuk Streptokokkus B hemolitikus adalah 12 jam sampai 4
hari. Faringotonsilitis oleh karena bakteri ini jarang ditemukan pada bayi.
Insiden puncak umur 5 – 15 tahun.
• Gejala Klinik :
o Sakit tenggorok
o Sulit menelan
o Demam
• Rhinorea dan batuk umumnya tidak terdapat pada infeksi ini. Tampak
Limphadenophati Cervical.
• Komplikasi yang serius adalah demam rematik Komplikasi nonsupuratif
glomerulonephritis, rhamatoid fever, grisel sindrom, subluxatio
atlantoaxial joint sampai proses inflamasi pada kepala dan leher.
Komplikasi supurasi adalah otitis media dan sinusitis akut.
• Diagnosis untuk penyakit ini yang paling sederhana dengan swab kultur
dari faring. Secara konvensional kultur memakai darah reguler pada media
agar. Pemeriksaan lain dengan :
o Immunoessay mempunyai kepekaan dan spesifitas yang baik
o Kultur
o Test rapid
• Penatalaksanaan :
Pemberian Penisillin atau amoxillin baik oral atau i.v . Bila alergi
penicillin bisa diberikan eritromicin dan cephalosporin.
a.2 Staphylokokkus
Terutama Staphilokokkus Aureus atau Staphilokokkus Salivarius. Gejala
klinik yang sering timbul adalah eritem dan edem. Terapi dengan Antibiotika
seperti penicillin, eritromisin atau cephalosporin sesuai hasil kultur dan
sensitivitas.
7
Modul IV.1– Faringitis
a.3 Diphteri
Penyebab utama Corynebacterium Diphteriae merupakan kuman gram positif.
Masa inkubasi 2 – hari, exotoxins yang diproduksi menyebabkan jaringan
nekrosis dan inflamasi. Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak
dibawah usia 10 tahun.
Diphteroid masuk melalui mulut dan hidung kemudian dilokalisir di mukosal
permukaan respiratorius bagian atas. Tampak pseudomembran warna abu-abu
yang menempel kuat pada dasar jaringan. Perluasan selaput sampai
nasofaring atau laryng menyebabkan ketidakmampuan untuk membersihkan
sekret dan obstruksi saluran nafas. Toksin bisa masuk pembuluh darah dan
saluran limfe, terutama jika tonsil terkena infeksi, sehingga akan
menyebabkan sistem respirasi dan vaskularisasi kolap (Infark Miokardial ).
Terapi spesifik adalah pemberian antitoksin. Antibiotika diberikan sebagai
terapi adjuvan dengan pemberian terapi asimptomatik.
a.4 Pertusis
• Etiologi Bordetella Pertussis, merupakan penyakit akut pada anak-anak.
• Gejala klinik : batuk dengan inspiratory yang nyaring atau batuk rejan.
Masuk ke host melalui inhalasi .
Masa inkubasi kira-kira 1 minggu. Ada 3 stadium :
1. Stadium Cattarhal: Selama 1 -2 minggu
Tanda: demam ringan dan gejala yang berhubungan dengan saluran
nafas.
2. Stadium Paroximal: Batuk khas, tidak ada demam
Organisma menghasilkan endotoksin dan agglutinogen pada epitel
kolumner bersilia sehingga akan terjadi proliferasi.
Organisma berada pada superfisial epitel sehingga terjadi
nekrosisepitel yang ditandai dengan eksudat yang mukopurulent.
Berlangsung: 2 – 4 minggu
3. Masa konvalesen : antara 1 – 2 minggu
• Terapi: self-limiting dan kematian jarang terjadi
a.5 Gonorrhea
Etiologi Neisseria Gonorrhoeae, suatu bekteri gram negatif Pyogenic
Diplococcus. Organisme menginfeksi mukosa dan kelenjar sehingga
menyebabkan ulcerasi epitel dan infiltrat lekosit polimorphonuclear .
Biasanya asimptomatik, tetapi kadang-kadang faring tampak sakit.
Tampak: Tonsil hipertrofi dan adenopathy cervical.
Penatalaksanaan dengan penisillin, tetrasiklin, cephalosporin atau kuinolon
berdasarkan sensitivitas dan kultur test.
a.6 Siphilis
Suatu penyakit kelamin sistemik yang bermanifestasi klinik di kepala dan
leher. Etiologi oleh Treponema Pallidum. Masa inkubasi bervariasi dari 3 –
90 hari (rata-rata 3 minggu)
8
Modul IV.1– Faringitis
Stadium Siphilis :
1 . Primer
• Papula yang kemudian menjadi ulkus dengan tepi mengalami indurasi.
• Mikroskopis: infiltrasi dan inflamasi terdiri sel plasma histiocyt,
limphosit dan polimorphonuklear leukosit.
• Umumnya sembuh spontan dalam 3 – 6 minggu.
2. Sekunder
• Tampak faringotonsilitis.
• Mukosa mengalami erosi yang tidak sakit, dangkal dengan warna
keabu-abuan dengan tepi warna merah.
• Sangat menular apabila tidak diobati sepertiga akan sembuh
sempurna, sepertiga menjadi carrier dan sepertiga lagi ke stadium
tertier.
3. Tersier
• Berkembang beberapa tahun sejak infeksi awal
• Terjadi secara pelan-pelan dan progresif
• Umumnya sistem syaraf dan aorta terkena
• Tampak adanya gumma yang menggambarkan proses granulomatosus
pada tepinya dikelilingi polisading machrophage dan fibroblast.
Test serologik pada siphilis ada 2 yaitu:
1. Nonspesifik Nontreponemal Antibody test
• Murah, cepat dan bisa mengetahui adanya aktivitas penyakit
• Dengan test Veneral Desease Reseach Laboratory (VDRL)
• Modifikasi dari VDRL adalah Test Rapid Plasma Reagin
• VDRL dan Rapid Plasma test bisa untuk skrening
• Sangat sensitit pada stadium sekunder kira-kira 99 % positif
2. Spesifik Treponemal Antibody test
• Adalah FTA-ABS Test
• Bisa dipakai untuk diagnosis dan prognosis karena sangat sensitif
False positif pada test serologi oleh karena suatu infeksi yang sangat cepat
dan noninfeksius, umumnya terjadi pada Nontreponemal Antibody test.
Terapi: dosis tunggal penisilin. Bila alergi dengan penisillin maka tetrasiklin
atau erytromysin dapat digunakan.
9
Modul IV.1– Faringitis
b.2 Campak
§ Rubela atau campak suatu morbillivirus yang sangat menular
§ Gejala klinik: panas tinggi, coryza dan conjunctivitis, buccal mukosa
tampak lesi exanthematous ( koplik nods ), hiperplasia limphoretikuler,
ruam erithematous pada kulit.
§ Penatalaksanaan : simptomatis dan umumnya self-limited
b.4 Cytomegalovirus
§ Bisa kongenital atau akuisita
§ Infeksi biasanya asimptomatis kecuali pasien dengan immunokompresi
§ Infeksi bisa melalui air susu ibu, kontak dengan air liur, semen
§ Virus dapat dideteksi melalui isolasi kuman virus, serologi atau PCR
§ Beda dengan EBV mononukleosis pada cytomegalovirus tidak terlihat
gejala faringitis dan heterophile antibodi negatif
10
Modul IV.1– Faringitis
c. Infeksi Jamur
Infeksi oleh karena jamur atau parasit umumnya tidak menimbulkan gejala
kecuali pasien dengan immunosupresi atau pasien dengan kondisi lemah yang
kronis. Kalau terjadi infeksi maka menimbulkan penyakit sistemis dan akan
menyebabkan kematian. Terutama terjadi pada pasien kanker, pasien yang
mengalami pencakokan organ, mengalami perawatan dengan agen
immunosupresi dan penderita AIDS.
c.1 Infeksi Candida
§ Merupakan penyebab faringitis jamur yang tersering
§ Candida merupakan flora normal di mulut tetapi jika sistem immun
terganggu dapat menginvasi mukosa sehingga menimbulkan sakit atau
disphagia
§ Terutama terjadi pada pasien HIV-positif dan setelah radioterapi kanker
leher dan kepala
§ Mukosa tampak mengalami perlukaan dengan warna keabuan
§ Identifikasi jamur dengan: pengecatan gram Noda atau acid-Schiff noda
berkala, kultur dengan agar Sabauraud
§ Histologi: tampak pseudohifa yang saling berhubungan, infiltrasi sel-sel
radang
§ Penatalaksanaan: pemberian nystatin pada rongga mulut atau faring,
ketoconazol oral atau fluconazol
§ Pencegahan pada pasien dengan HIV-positif dengan fluconazol oral sangat
efektif
§ Bila terjadi peradangan diberi antibiotik Amphetericin B
11
Modul IV.1– Faringitis
d.2 Lepra
§ Oleh karena Mycobacterium Leprae
§ Faring mengalami infeksi setelah rongga hidung terinfeksi
§ Digolongkan: tipe Lepramatous dan Tuberculoid
§ Untuk mengetahui pasien Lepra tipe Tuberculoid dengan Mitsuda test
positif diameter > 5 mm (Reaksi Lepromin sebagai area indurasi dimana
respon yang paling cepat timbul pada 48 jam dan respon lambat pada 3 –
4 minggu)
§ Tipe Lepramatous: Mitsuda test lemah atau negatif ( 0 – 2 mm ),
boderline ( 3 – 5 mm )
§ Gambaran histopatologik Tuberculoid : noncaseasing granulomatous
dengan atau tanpa sel raksasa
§ Gambaran histopatologik Lepromatous: ada perkembangbiakan
machrophages yang berisi bacilli, tetapi tidak ada bentuk granulomatpus
§ Penatalaksanaan: pemberian Dapsone, clofazimin dan rifampisin
12
Modul IV.1– Faringitis
e.3 Pemphigus
§ Merupakan infeksi autoimmun tetapi jarang terjadi terutama mengenai
kulit dan membran mukosa
§ Tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan umumnya terjadi pada
pasien diatas 30 tahun
§ Pada daerah yang terkena tampak adanya vesikel dan bula
§ Yang terjadi di faring antara lain: phemphigus vulgaris, phemphigus
foliaceus, phemphigus erythematous, drug-induse phemphigus
§ P Vulgaris: tampak vesikel dan bula yang sering mengalami erosi
sehingga sering menimbulkan sakit waktu makan atau menelan, produksi
saliva akan meningkat.
§ Infeksi sekunder akan timbul pada oral higiene yang buruk
§ Nikolsky sign pada umumnya negatif
§ Histopathologi : jaringan yang terkena berisi vesikel intraephitelial atau
bullae yang menimbulkan robekan pada suprabasiler, Prevesiculer odem
dan intercelluler bride menghasilkan acantholysis. Perubahan ini
mengakibatkan perubahan sel epitel (Tzanck sel) mengambang di dalam
vesiculer. Pada sel nukleus membesar dan hiperchromasia, banyak
pengandung lekosit polimhorphonuklear dan limfosit.
§ Penatalaksanaan : Steroid, pemberian immunosupresi dan antibiotika bila
terjadi infeksi sekunder.
13
Modul IV.1– Faringitis
14
MODUL UTAMA
LARING FARING
MODUL IV.2
LARINGITIS
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ......................................................................................................... 1
C. REFERENSI .................................................................................................. 1
D. KOMPETENSI .............................................................................................. 2
E. GAMBARAN UMUM................................................................................... 2
G. TUJUAN PEMBELAJARAN........................................................................ 2
I. EVALUASI .................................................................................................... 3
M. MATERI PRESENTASI................................................................................ 7
MODUL IV.2
LARING-FARING : LARINGITIS
A. WAKTU
B. PERSIAPAN SESI
C. REFERENSI
1. Sasaki CT, Kim YH. Anatomy and physiology of the larynx. Dalam: Ballenger
JJ, Snow JB. Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Edisi ke-16. London.
Hamilton, 2003; h.1090-107
2. Silica L. Voice: Anatomy, Physiology and Clinical Evaluation. Dalam: Bailey JB,
Johnson JT. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Edisi ke-5. Edisi ke-5.
Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins; 2014.h.945-954
3. Derkay CS, Gallagher TQ. Infectious and Inflammatory Disorders of the Larynx
and Trachea. Dalam: Wackym PA, Snow JB. Ballenger’s Otorhinolaryngology
Head and Neck Surgery. Edisi ke-18. USA: People’s Medical Publishing House,
2016; h.1025-1033.
4. Villari CR, Statham MM. Infection, Infiltration and Benign Neoplasms of the
Larynx. Dalam: Johnson JT, Rosen CA. Bailey’s Head and Neck Surgery
Otolaryngology. Edisi ke-5. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins; 2014.
h. 978-983.
5. Dhingra PL, Dhingra S. Disease of Ear Nose and Throat & Head Neck Surgery.
Edisi ke 6. India: Elsevier; 2014. h. 289-294.
6. Probst R, Grevers G, Iro H. Basic Otorhinolaryngology A Step-By-Step Learning
Guide. Edisi ke 2. New York: Thieme. 2006. h. 357-361.
1
Modul IV.2 – Laringitis
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum:
Mampu mendiagnosis dan melakukan tatalaksana laringitis
2. Kompetensi Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil:
1. Mengenali gejala dan tanda laringitis
2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan laring
3. Mengenali faktor risiko kejadian laringitis
4. Membuat keputusan klinik serta melakukan tatalaksana
5. Deteksi dini dan melakukan tatalaksana terhadap masalah atau penyulit yang
mungkin terjadi pada laringitis.
E. GAMBARAN UMUM
Modul ini disusun untuk proses pembelajaran bagi pengenalan dan penatalaksanaan
laringitis melalui sesi pembelajaran di dalam kelas, bimbingan oleh instruktur dan
praktik klinik yang terkait dengan laringitis sehingga tujuan pembelajaran dapat
dicapai dalam waktu yang telah dialokasikan dan kompetensi yang diperoleh adalah
sesuai yang diinginkan.
Laring adalah organ yang komplek yang secara fisiologis berperan dalam proteksi
jalan napas, respirasi maupun fonasi. Laringitis adalah peradangan pada laring yang
dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau jamur. Laringitis merupakan salah satu
kelainan patologi yang paling sering terjadi pada laring dan dapat mengenai semua
kelompok usia. Gambaran klinis dapat bervariasi dari suara parau, gangguan menelan
hingga obstruksi pada jalan nafas atas.
F. CONTOH KASUS
Pasien perempuan usia 2 tahun diantar orang tuanya ke poliklinik THT dengan
keluhan suara parau dan kadang sesak napas sejak 2 hari yang lalu. Sebelumya pasien
juga dikeluhkan demam, batuk dan pilek sejak 3 hari sebelum ke rumah sakit. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan adanya: retraksi supraklavikula, hiperemi pada mukosa
hidung, faring dan tonsil. Pemeriksaan Laringoskopi indirekta didapatkan korda
vokalis yang udem dan hiperemi.
Diskusi:
Tentukan apa yang harus diketahui terkait dengan butir-butir dibawah ini
1. Sebutkan gejala dan tanda klinis penderita
2. Perlunya pemeriksaan penunjang lain
3. Rencana terapi penderita
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi
kasus laringitis, yaitu:
1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi laring
2
Modul IV.2 – Laringitis
H. METODA PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion.
• Peer assisted learning (PAL).
• Bedside teaching.
• Task based medical education.
• Journal reading and review.
• Case simulation and investigation exercise.
• Equipment characteristics and operating instructions.
• Case study
• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
• Demonstration and Coaching
• Practice with Real Clients.
• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
• Operative Procedure Demonstration and Coaching
• Continuing Professional Development
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilakukan prates dalam bentuk essay, multiple choice atau
oral sesuai dengan masa tingkat pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja
awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi prates terdiri dari anatomi, fisiologi, patofisiologi, penegakan diagnosis,
pemeriksaan, terapi konservatif dan operatif, prognosis dan tindak lanjut
2. Self assessment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar
3. Selanjutnya dilakukan diskusi kelompok kecil bersama dengan fasilitator guna
membahas kekurangan yang teridentifikasi; membahas isi dan hal-hal yang
berkenaan dengan penuntun belajar dan kesempatan yang akan diperoleh pada saat
visite kecil maupun besar dan proses penilaian
4. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temanya (peer assisted learning) atau pada
standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan
membawa penuntun belajar. Penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya
untuk melakukan evaluasi (per asisited evaluation). Setelah dianggap memadai
3
Modul IV.2 – Laringitis
maka perlu diasah lagi melalui metode bed site teaching dibawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi
dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanan,evaluator
melaksaanakan pengawasan langsung dan mengisi form penilaian sebagai berikut:
1) perlu perbaikan berarti pelaksanaan belum benar atau ada langkah yang
tidak dlakukan; 2) cukup berarti pelaksanan sudah benar tetapi tidak efisien;
baik berarti langkah benar dan efisien
5. Setelah selesai bed side teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak mungkin dibicarakan di depan pasien dan
memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
6. Pendidikan/fasilitas: 1) pengamatan langsung dengan memakai evaluation
checklist form (terlampir), 2) penjelasan lisan dari peserta berupa cakap,
kurang cakap atau lalai.
7. Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
guna memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran dilakukan dengan:
a. ujian OSCE dilakukan pada tahap bedah dasar oleh Kolegium IK THT-KL
b. ujian akhir stase pada setiap devisi/unit kerja oleh masing-masing senter
pendidikan;
c. ujian akhir kognitif dilakukan pada akhir tahapan bedah lanjut (jaga II) oleh
Kolegium IK THT-KL
d. ujian akhir profesi dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium IK THT-KL.
Pasien laki-laki usia 30 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan suara parau
sejak 5 hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan demam naik turun dengan batuk dan
pilek sejak 7 hari yang lalu. Saat ini nyeri saat berbicara atau menelan mulai
dirasakan. Dari pemeriksaan laringoskopi didapatkan hiperemi dan edema hingga
plika vokalis.
1. Apakah kemungkinan diagnose pasien ini?
a. Laringitis kronik
b. Laringitis luetika
c. Laringitis tuberculosis
d. Laringitis akut
e. Laringitis jamur
Jawaban : D
4
Modul IV.2 – Laringitis
Penuntun Belajar
Prosedur Pemeriksaan Laring
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)
2. Mampu
langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk
3. Mahir kondisi diluar normal.
5
Modul IV.2 – Laringitis
6
Modul IV.2 – Laringitis
Memasukkan laringoskop
Mengait epiglotis
Memasukkan teleskop
Mengevaluasi laring
Mengevaluasi korda vokalis
M. MATERI PRESENTASI
N. MATERI BAKU
LARING
Anatomi
Laring adalah organ yang komplek yang secara fisiologis berperan dalam proteksi
jalan napas, respirasi maupun fonasi. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung
dengan bagian atas lebih besar dari bagian bawah. Kerangka laring terdiri dari sebuah
tulang yaitu tulang hioid dan beberapa buah kartilago yaitu kartilago krikoid, kartilago
tiroid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata atau Santorini, kartilago kuneiformis
atau Wrisberg, dan epiglotis.
7
Modul IV.2 – Laringitis
Kartilago Tiroid
Merupakan tulang hialin terbesar di laring. Terdiri dari dua ala yang bertemu di
anterior dan membentuk sudut lancip yang bervariasi menurut jenis kelamin. Pada pria
dewasa membentuk penonjolan subkutan (Adam’s apple) dengan sudut 90° dan 120°
pada wanita. Kornu superior adalah tempat perlekatan ligamentum tirohioid lateral.
Kornu inferior berhubungan dengan permukaan posterolateral krikoid membentuk
sendi krikotiroid.
Kartilago Krikoid
Kartilago krikoid merupakan kartilago hialin, tidak berpasangan dan berbentuk cincin.
Kartilago krikoid merupakan satu-satunya penyokong laring yang utuh mengelilingi jalan
napas dan memiliki peranan yang besar dalam fungsi laring yaitu menjaga patensi jalan
napas. Dibentuk oleh arkus anterior yang sempit dan lamina kuadratus yang luas di
posterior. Permukaan anterosuperior lamina kuadratus mempunyai dua sisi, dengan
sumbu panjang sejajar garis lamina. Ini merupakan bidang sendi dengan kartilago
aritenoid.
Kartilago aritenoid
Merupakan kartilago hialin yang berpasangan, berbentuk piramid, bersendian dengan
kartilago krikoid. Permukaan sendi berbetuk pelana dengan sudut siku-siku terhadap
permukaan sendi krikoid di artikulasio krikoaritenoid sehingga dapat terjadi gerakan
meluncur dan juga gerakan rotasi
8
Modul IV.2 – Laringitis
Epiglotis
Merupakan kartilago yang tipis, fleksibel, berbentuk daun dan fibroelastik. Petiola
merupakan bagian inferior yang sempit melekat pada kartilago tiroid tepat di atas
komisura anterior. Tidak seperti perikondrium kartilago hialin, perikondrium
epiglotis sangat melekat. Oleh karena itu, infeksi akan cenderung terlokalisasi jika
mengenai epiglotis. 5,6
Otot-Otot Laring
Ekstrinsik
Berperan pada gerakan dan fiksasi laring secara keseluruhan. Terdiri dari kelompok
otot elevator dan depresor. Kelompok otot depresor terdiri dari m. tirohioid,
sternohioid, dan omohioid. Kelompok elevator terdiri dari m. digastrikus anterior dan
posterior, stilohioid, geniohioid, dan milohioid. Kelompok otot ini penting pada fungsi
menelan dan fonasi dengan mengangkat laring sampai di bawah dasar lidah.
Otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas tulang hioid atau suprahioid dan di
bawah tulang hioid atau infrahioid. Otot suprahioid adalah muskulus digastrikus,
muskulus geniohioid, muskulus stilohioid, dan muskulus milohioid. Otot-otot ini
menggerakkan laring ke atas dan ke depan saat proses menelan. Otot infrahioid adalah
muskulus sternohioid, muskulus omohioid dan muskulus tirohioid. Otot-otot ini
menggerakkan laring ke bawah saat inspirasi.
9
Modul IV.2 – Laringitis
Intrinsik
Otot intrinsik semua berpasangan kecuali m. interaritenoid. Terdiri dari golongan aduktor
(m. krikoaritenoid lateral, m. tiroaritenoid, m. krikotiroid, m. interaritenoid obligus, m.
interaritenoid tranversus) dan golongan abduktor (m. krikoaritenoid posterior). Otot
intrinsik laring menggerakkan struktur yang berhubungan dengan pita suara. Fungsinya
mempertahankan dan mengontrol jalan udara pernafasan melalui laring, mengontrol
tahanan terhadap udara ekspirasi selama fonasi dan membantu fungsi sfingter dalam
mencegah aspirasi benda asing selama proses menelan.5,6
Persendian Laring
Terdiri dari persendian krikotiroid dan krikoaritenoid. Persendian krikotiroid merupakan
sendi antara kornu inferior kartilago tiroid dan bagian posteromedial kartilago krikoid.
Sendi ini merupakan titik tumpu fungsi m. krikotiroid, sehingga jika terjadi destruksi atau
fiksasi sendi akan mengurangi efek m. krikotiroid pada peregangan pita suara. Persendian
krikoaritenoid merupakan sendi pada masing-masing kartilago aritenoid dengan batas
posterosuperior cincin krikoid.
10
Modul IV.2 – Laringitis
Pembagian ini dibuat karena adanya perbedaan aliran limfe kedua daerah tersebut. Pita
suara asli dan palsu dipisahkan oleh sulkus yang mengarah ke lateral yang disebut
ventrikel.
Pada dinding anterior fosa piriformis terdapat suatu penonjolan yang menyilang yang
merupakan patokan n. laringeus internus untuk kepentingan anestesi lokal.
11
Modul IV.2 – Laringitis
bawah dan ke depan menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat bersamaan otot
krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. Pada
saat ini plika vokalis dalam keadaan paling efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya
kontraksi otot krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan sehingga plika
vokalis relaksasi. Kontraksi dan relaksasinya plika vokalis akan menentukan tinggi
rendahnya nada.
LARINGITIS AKUT
Laringitis adalah peradangan pada laring yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau
jamur. Laringitis merupakan salah satu kelainan patologi yang paling sering terjadi pada
laring dan dapat mengenai semua kelompok usia. Gambaran klinis dapat bervariasi dari
suara serak, gangguan menelan hingga obstruksi pada jalan nafas atas.
Etiologi
Laringitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, atau jamur). Penyebab
lain yang tidak terkait dengan infeksi antara lain penyalahgunaan vokal, refluks, polusi,
rokok atau paparan bahan thermal dan kimia pada laring.
Virus : rhinovirus, influenza, parainfluenza, adenovirus, coronavirus
Bakteri : Haemopfilus influenza, Streptococcus sp. dan Staphylococcus sp.
Jamur : Candida Sp, blastomycosis, coccidiodomycosis dan histoplasmosis. Laringitis
spesifik juga dapat disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium leprae,
mycobacterium lepromatosis, Corynebacterium diphtheria dan treponema pallidum.
Faktor resiko
Penderita infeksi saluran napas atas, infeksi pada paru, terapi radiasi/brachytherapy,
pasien imunosupresi atau pemberian terapi imunosupresi, kemoterapi, penggunaan suara
berlebih terutama pada pasien dengan profesi guru, penyanyi, pramuniaga.
Gejala Klinis
• Suara parau hingga afoni
• Odinofagia
• Batuk
• Disfagia
• Keluhan umum: demam, batuk, lemas
• Sesak
Patofisiologi
Laringitis dapat terjadi akibat invasi virus/bakteri langsung ke struktur laring yang
diawali infeksi pada saluran nafas atas, hematogen, atau iritasi akibat kontak trauma.
Inflamasi dapat terjadi pada area supraglotis (epiglotis, aritenoid, pita suara palsu), glotis,
dan subglotis.
12
Modul IV.2 – Laringitis
Diagnosis
Dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan hasil dari pemeriksaan
laringoskopi/endoskopi.
Penatalaksanaan
• Istirahat suara
• Antibiotik
• Antifungal tablet pada infeksi jamur
• Terapi kortikosteroid terutama pada bayi dan anak dengan potensi terjadi sumbatan
jalan napas atas.
• Terapi simtomatis: analgesik, antipiretik, mukolitik.
• Humidifikasi
• Tindakan operasi trakeostomi dilakukan bila didapatkan obstruksi jalan napas atas
yang gagal penanganan konservatif.
Tindak Lanjut
Umumnya penyembuhan dalam waktu 3-7 hari
LARINGITIS KRONIK
Definisi
Peradangan kronis pada laring
Faktor Resiko
• resolusi inkomplit dari laringitis akut atau infeksi yang terus berulang
• Adanya infeksi kronis pada sinus paranasal, gigi, tonsil atau paru.
• Paparan bahan kimia, merokok dan alcohol
• Voice abuse
• Refluks laringofaringeal
• Kelainan autoimun
Etiologi
Bakterial: M tuberculosis, M leprae, T pallidum, K rhinoscleromatis, A israelii. Fungal:
histoplasmosis, blastomicosis, Coccidiosis, Candidiasis, Aspergillosis, Rhinosporidiosis.
Laringitis non-spesifik, refluks gastrointestinal, trauma inhalasi, trauma radiasi, trauma
intubasi, gangguan endokrin, dan autoimun.
Gejala Klinis
• Suara parau hingga afoni yang menetap
• Sering mendehem
• Tidak nyaman di tenggorok
• Batuk
Pemeriksaan Penunjang
13
Modul IV.2 – Laringitis
Pemeriksaan laringoskopi indirekta, direkta dan fiber optic laryngoscope akan didapatkan
penebalan pada mukosa laring yang difus.
Permeriksaan radiologi dan pemeriksaan laboratorium.
Terapi
• Mengatasi faktor resiko
• Istirahat suara dan speech therapy
• Terapi Konservatif: antiinflamasi, ekspetorant/mukolitik, anti refluks
Laringitis Fungal
Terjadi pada pasien dengan status imukompromis seperti HIV, diabetes, atau pasien
dengan kemoterapi, atau pengguna antibiotik serta inhaler steroid jangka panjang.
Keluhan yang muncul seperti suara parau dan disfagia. Pada pemeriksaan akan dilihat
plak putih pada mukosa laring yang dapat bersifat lokal atau difus. Penatalaksaan berupa
pemberian terapi antifungal oral dan topikal.
Laringitis Tuberkulosis
Infeksi pada laring disebabkan karena Mycobacterium tuberculosis yang berhubungan
dengan infeksi aktif pada paru, tetapi dapat juga merupakan infeksi terbatas hanya pada
laring saja. Sering kali, bila tuberkulosis sudah teratasi tetapi laringitis masih menetap
karena struktur mukosa laring dengan vaskularisasi yang tidak sebaik paru, sehingga
proses infeksi terjadi lebih lama. Bakteri dapat masuk melalui udara pernafasan, sputum
atau penyebaran langsung melalui aliran darah dan limfa.
Gejala yang muncul berhubungan dengan infeksi pada paru seperti batuk,
penurunan berat badan, keringat malam. Gejala pada laring antara lain suara parau,
disfagia dan odinofagia. Pada pemeriksaan akan terlihat gambaran granuloma kaseosa
yang merupakan gambaran khas dari infeksi akibat M. tuberculosis. Edema dapat timbul
dari fosa interaritenoid, aritenoid, plika vokalis, plika ventrikularis epiglotis hingga
subglotis. Diagnosis dapat ditengakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Penunjang yang dapat dilakukan antara lain rontgen thorax,
pemeriksaan sputum dan biopsi laring. Penatalaksanaan dilakukan sesuai dengan terapi
tuberkulosis paru.
Laringitis Luetika
Infeksi pada laring lainnya yang jarang terjadi adalah akibat Treponema pallidum. Pada
stadium awal dapat di lihat luka yang tidak menimbulkan nyeri pada orofaring.
Manifestasi laring pada stadium berikutnya berupa leukoplakia, massa eksofitik, dan
penurunan mobilitas plika vokalis. Gejala klinis yang muncul yaitu suara parau, batuk
dan disfagia Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laringoskopi dan serologi.
Tatalaksana dilakukan dengan pemberian penisilin dosis tinggi dan dapat dilakukan
trakeostomi bila terjadi sumbatan jalan nafas atas.
14
Modul IV.2 – Laringitis
1. Butir-butir Penting
a. Pada pemeriksaan Laringoskopi Direk diperlukan persiapan puasa dan dilakukan
premedikasi. Posisi kepala penderita harus tepat supaya pelaksanaan tindakan
dapat dilakukan dengan baik.
b. Pada pemeriksaan Fiber Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama dengan
penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.
2. Teknik Pemeriksaan:
Laringoskopi Direk :
No Langkah-Langkah Bagaimana Mengapa
1. Premedikasi Luminal/atropin Tidak valium, karena
depresi pernapasan
Biar air liur sedikit
Mudah melihatnya,
Kalau teleskop harus
5. Melihat korda vokalis Dengan bantuan mengait epiglotis,bisa
teleskop (0o,30o) basah-buram
15
Modul IV.2 – Laringitis
16
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ........................................................................................................... 1
C. REFERENSI ..................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ................................................................................................. 1
I. EVALUASI ...................................................................................................... 3
MODUL IV.3.1
LARING-FARING – PERADANGAN RONGGA MULUT : INFEKSI
ODONTOGENIK
A. WAKTU
Mengembangkan Kompetensi Hari :
Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 6 X 60 menit (facilitation and assessment)
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi INFEKSI ODONTOGENIK meliputi:
a. Anatomi Rongga mulut
b. Definisi Infeksi Odontogenik
c. Etiologi Infeksi Odontogenik
d. Klasifikasi Infeksi Odontogenik
e. Tahapan Infeksi Odontogenik
f. Patogenesis Infeksi Odontogenik
g. Gejala klinis Infeksi Odontogenik
h. Diagnosis Infeksi Odontogenik
i. Penatalaksanaan Infeksi Odontogenik
2. Kasus : Seorang laki-laki 16 tahun mengeluh nyeri pada gusi pada saat
mengunyah dan disertai demam
3. Sarana dan Alat bantu latih
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT.
C. REFERENSI
1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery – Otolaryngology, Fourth
Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2006, p : 1356-1365
2. Alper C., Myers E N., Eibling., Decicion Making In Ear, Nose, and Throat
Disorders, Saunders Company, 152-153., 2001
3. Becker W., Nauman H H., Pfaltz R C., Ear, Nose, and Throat Diseases, Thieme,
299-387., 1194
4. Topazian Richard G, Morton H Goldberg, James R hupp. Oral and Maxillofacial
Infection, 4th ed;Philadelphia.
5. Fragiskos D. Frangiskos. Oral Surgery. Greece:Spinger. 2007. h 205-40
6. Gordon W. Pederson. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC.1996
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis Infeksi Odontogenik berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan.
1
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
a. Mengenali gejala, tanda Infeksi Odontogenik
b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang Infeksi Odontogenik
c. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto panoramik,
CT-Scan dan pemeriksaan laboratorium.
d. Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat
E. GAMBARAN UMUM
Rongga mulut memiliki fungsi yang meliputi makanan dan asupan cairan, rasa dan
respon sensorik untuk makanan, mastikasi ( mengunyah), pencernaan kimia,
menelan, berbicara dan respirasi. Mulut memiliki peranan penting dalam makan,
minum dan bernapas. Mulut juga membantu dalam mengunyah dan menggigit
makanan kita.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan :
a. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dari Rongga mulut
b. Menjelaskan anamnesis dan pemeriksaan Infeksi odontogenik.
c. Menjelaskan etiologi, patofisiologi, dan gambaran klinikInfeksi
odontogenik .
d. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto panoramik,
CT-Scan, dan pemeriksaan laboratorium
e. Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat
2
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik
H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan
4. Jurnal Reading
5. Praktik Lapangan (Poliklinik)
6. Bedside Teaching
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal
yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, definisi dan patologi infeksi odontogenik.
• Penegakan diagnosis.
• Komplikasi dan penanganannya.
• Follow up.
2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk
membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang
berkenan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat
bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assisted learning) atau kepada
SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh
teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assited evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar pada nodel
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation)
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang
ditemukan.
3
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik
K. DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)
4
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik
KEGIATAN NILAI
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung
1. Persiapan tindakan
[Link]
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL)
1. Persiapan tindakan
2. Tindakan
L. MATERI PRESENTASI
1. Anatomi Rongga mulut
2. Definisi Infeksi Odontogenik
3. Etiologi Infeksi Odontogenik
4. Klasifikasi Infeksi Odontogenik
5. Tahapan Infeksi Odontogenik
6. Patogenesis Infeksi Odontogenik
7. Gejala klinis Infeksi Odontogenik
8. Diagnosis Infeksi Odontogenik
9. Penatalaksanaan Infeksi Odontogenik
M. MATERI BAKU
1. Definisi Infeksi Odontogenik :
Infeksi odontogenik merupakan salah satu diantara beberapa infeksi yang
paling sering kita jumpai pada manusia. Pada kebanyakan pasien infeksi ini
bersifat minor atau kurang diperhitungkan dan seringkali ditandai dengan
drainase spontan di sepanjang jaringan gingiva pada gigi yang mengalami
gangguan.
Fistula Bakteremie-Septikemie
2. Anatomi
Rongga mulut merupakan sebuah bagian tubuh yang terdiri dari : lidah
bagian oral (dua pertiga bagian anterior dari lidah), palatum durum (palatum
keras), dasar dari mulut, trigonum retromolar, bibir, mukosa bukal, ‘alveolar
ridge’, dan gingiva. Tulang mandibula dan maksila adalah bagian tulang yang
membatasi rongga [Link] mulut yang disebut juga rongga bukal,
dibentuk secara anatomis oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan [Link]
membentuk dinding bagian lateral masing-masing sisi dari rongga [Link]
bagian eksternal dari pipi, pipi dilapisi oleh [Link] pada bagian
internalnya, pipi dilapisi oleh membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih
berlapis yang tidak [Link]-otot businator (otot yang menyusun
dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun di antara kulit dan membran mukosa dari
[Link] anterior dari pipi berakhir pada bagian bibir.
3. Etiologi
Paling sedikit ada 400 kelompok bakteri yang berbeda secara morfologi dan
biochemical yang berada dalam rongga mulut dan [Link] flora
rongga mulut dan gigi dapat menjelaskan etiologi spesifik dari beberapa tipe
terjadinya infeksi gigi dan infeksi dalam rongga mulut, tetapi lebih banyak
disebabkan oleh adanya gabungan antara bakteri gram positif yang aerob dan
[Link] cairan gingival, kira-kira ada 1.8 x 1011 anaerobs/[Link]
umumnya infeksi odontogen secara inisial dihasilkan dari pembentukan plak
[Link] bakteri patologik ditentukan, mereka dapat menyebabkan terjadinya
komplikasi lokal dan menyebar/meluas seperti terjadinya bacterial endokarditis,
infeksi ortopedik, infeksi pulmoner, infeksi sinus kavernosus, septicaemia,
sinusitis, infeksi mediastinal dan abses otak.
Infeksi odontogen biasanya disebabkan oleh bakteri [Link] dari
setengah kasus infeksi odontogen yang ditemukan (sekitar 60 %) disebabkan
oleh bakteri anaerob. Organisme penyebab infeksi odontogen yang sering
ditemukan pada pemeriksaan kultur adalah alpha-hemolytic Streptococcus,
Peptostreptococcus, Peptococcus, Eubacterium, Bacteroides (Prevotella)
melaninogenicus, and Fusobacterium. Bakteri aerob sendiri jarang
menyebabkan infeksi odontogen (hanya sekitar 5 %).Bila infeksi odontogen
6
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik
4. Klasifikasi
Berdasarkan tipe infeksinya, infeksi odontogen bisa dibagi menjadi :
a. Infeksi odontogen lokal / terlokalisir, misalnya: Abses periodontal akut; peri
implantitis.
b. Infeksi odontogen luas/ menyebar, misalnya: early cellulitis,deep-space
infection.
c. Life-Threatening, misalnya: Facilitis dan Ludwig's angina.
5. Tahapan infeksi
Infeksi odontogenik umumnya melewati tiga tahap sebelum mereka menjalani
resolusi:
a. Selama 1 sampai 3 hari - pembengkakan lunak, ringan, lembut, dan
adonannya konsisten.
b. Antara 5 sampai 7 hari – tengahnya mulai melunak dan abses merusak kulit
atau mukosa sehingga membuatnya dapat di tekan. Pus mungkin dapat
dilihat lewat lapisan epitel, membuatnya berfluktuasi.
c. Akhirnya abses pecah, mungkin secara spontan atau setelah pembedahan
secara drainase. Selama fase pemecahan, regio yang terlibat kokoh/tegas
saat dipalpasi disebabkan oleh proses pemisahan jaringan dan jaringan
bakteri.
6. Patogenesis
Penyebaran infeksi odontogenik akan melalui tiga tahap yaitu tahap abses
dentoalveolar, tahap yang menyangkut spasium dan tahap lebih lanjut yang
merupakan tahap [Link] biasanya dimulai dari permukaan gigi yaitu
adanya karies gigi yang sudah mendekati ruang pulpa, kemudian akan berlanjut
menjadi pulpitis dan akhirnya akan terjadi kematian pulpa gigi (nekrosis
pulpa). Infeksi gigi dapat terjadi secara lokal atau meluas secara [Link]
gigi yang nekrosis menyebabkan bakteri bisa menembus masuk ruang pulpa
sampai apeks [Link] apikalis dentis pada pulpa tidak bisa mendrainase
pulpa yang terinfeksi. Selanjutnya proses infeksi tersebut menyebar progresif ke
ruangan atau jaringan lain yang dekat dengan struktur gigi yang nekrosis
tersebut. Rangsangan yang ringan dan kronis menyebabkan membran
periodontal di apikal mengadakan reaksi membentuk dinding untuk mengisolasi
penyebaran [Link] jaringan periapikal terhadap iritasi tersebut dapat
berupa periodontitis apikalis yang supuratif atau abses dentoalveolar.
Pada infeksi sekitar foramen apikalis terjadi nekrosis disertai akumulasi
leukosit yang banyak dan sel-sel inflamasi lainnya. Sedangkan pada jaringan
sekitar abses akan tampak hiperemis dan edema. Bila masa infeksi bertambah,
maka tulang sekitarnya akan tersangkut, dimulai dengan hiperemia pembuluh
darah kemudian infiltrasi leukosit dan akhirnya proses supurasi. Penyebaran
selanjutnya akan melalui kanal tulang menuju permukaan tulang dan periosteum.
Tahap berikutnya periosteum pecah dan pus akan terkumpul di suatu tempat di
7
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik
7. Gejala klinis
Respon tubuh terhadap agen penyebab infeksi adalah inflamasi. Pada keadaan
ini substansi yang beracun dilapisi dan dinetralkan. Juga dilakukan perbaikan
jaringan, proses inflamasi ini cukup kompleks dan dapat disimpulkan dalam
beberapa tanda :
a. Hiperemi yang disebabkan vasodilatasi arteri dan kapiler dan peningkatan
permeabilitas dari venula dengan berkurangnya aliran darah pada vena.
b. Keluarnya eksudat yang kaya akan protein plasma, antiobodi dan nutrisi dan
berkumpulnya leukosit pada sekitar jaringan.
c. Berkurangnya faktor permeabilitas, leukotaksis yang mengikuti migrasi
leukosit polimorfonuklear dan kemudian monosit pada daerah luka
(Fragiskos, 2005)
d. Terbentuknya jalinan fibrin dari eksudat, yang menempel pada dinding lesi.
e. Fagositosis dari bakteri dan organisme lainnya
f. Pengawasan oleh makrofag dari debris yang nekrotik
8. Diagnosis
Berdasarkananamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang,
ditegakkan diagnosis infeksi odontogen apakah termasuk infeksi odontogen
lokal / terlokalisir atau infeksi odontogen umum / menyebar Penderita biasanya
datang dengan keluhan sulit untuk membuka mulut (trismus), tidak bisa makan
8
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik
karena sulit menelan (disfagia), nafas yang pendek karena kesulitan bernafas.
Penting untuk ditanyakan riwayat sakit gigi sebelumnya, onset dari sakit gigi
tersebut apakah mendadak atau timbul lambat, durasi dari sakit gigi tersebut
apakah hilang timbul atau terus-menerus, disertai dengan demam atau tidak,
apakah sudah mendapat pengobatan antibiotik sebelumnya.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda infeksi yaitu ;
a. Rubor : permukaan kulit yang terlibat infeksi terlihat kemerahan
akibat vasodilatasi, efek dari inflamasi
b. Tumor : pembengkakan, terjadi karena akumulasi nanah atau cairan
eksudat
c. Calor : teraba hangat pada palpasi karena peningkatan aliran darah ke area
infeksi
d. Dolor : terasa sakit karena adanya penekanan ujung saraf sensorik oleh
jaringan yang bengkak akibat edema atau infeksi
e. Fungsiolaesa : terdapat masalah denagn proses mastikasi, trismus, disfagia,
dan gangguan pernafasan.
Infeksi yang fatal bisa menyebabkan gangguan pernafasan, disfagia, edema
palpebra, gangguan penglihatan, oftalmoplegia, suara serak, lemah lesu dan
gangguan susunan saraf pusat (penurunan kesadaran, iritasi meningeal, sakit
kepala hebat, muntah).
Pemeriksaan fisik dimulai dari ekstra oral, lalu berlanjut ke intra
[Link] pemeriksaan integral (inspeksi, palpasi dan perkusi) kulit wajah,
kepala, leher, apakah ada pembengkakan, fluktuasi, eritema, pembentukan
fistula, dan krepitasi [Link] adakah limfadenopati leher,
keterlibatan ruang fascia, trismus dan derajat dari [Link] diperiksa
gigi, adakah gigi yang karies, kedalaman karies, vitalitas gigi, lokalisasi
pembengkakan, fistula dan mobilitas [Link] juga adakah obstruksi duktus
Wharton dan Stenson, serta menilai kualitas cairan duktus Wharton dan Stenson
(pus atau saliva).Pemeriksaan oftalmologi dilakukan bila dicurigai mata terkena
infeksi. Pemeriksaan mata meliputi : fungsi otot-otot ekstraokuler, adakah
proptosis, adakah edema preseptal atau postseptal.
Pemeriksaan penunjang yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah
pemeriksaan kultur, foto rontgen dan CT scan (atas indikasi). Bila infeksi
odontogen hanya terlokalisir di dalam rongga mulut, tidak memerlukan
pemeriksaan CT scan, foto rontgen panoramik sudah cukup untuk menegakkan
[Link] scan harus dilakukan bila infeksi telah menyebar ke dalam ruang
fascia di daerah mata atau leher.
9. Penatalaksanaan
Tujuan manajemen infeksi odontogen adalah :
a. Menjaga saluran nafas tetap bebas
• dasar mulut dan lidah yang terangkat ke arah tonsil akan menyebabkan
gagal nafas
• mengetahui adanya gangguan pernafasan adalah langkah awal diagnosis
yang paling penting dalam manajemen infeksi odontogen
• tanda-tanda terjadi gangguan pernafasan adalah pasien terlihat gelisah,
tidak dapat tidur dalam posisi terlentang dengan tenang, mengeluarkan
air liur, disfonia, terdengar stridor
9
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik
11
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU .......................................................................................................... 1
C. REFERENSI .................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ................................................................................................ 2
I. EVALUASI ..................................................................................................... 3
M. MATERI BAKU.............................................................................................. 6
MODUL IV.3.2
LARING-FARING - PERADANGAN RONGGA MULUT : MUKOSITIS
A. WAKTU
B. PERSIAPAN SESI
2. Contoh Kasus
Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke UGD dengan keluhan
nyeri pada rongga mulut, nyeri menelan sejak 7 hari, dan hanya
bisa makan makanan cair. Rongga mulut tampak kemerahan
disertai bercak putih. Penderita mempunyai riwayat perokok
berat dan telah menjalani pengobatan kemoterapi dan radioterapi
setelah didiagnosis kanker nasofaring 2 tahun yang lalu.
C. REFERENSI
1
Modul IV.3.2 - Mukositis
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis mukositis oral berdasarkan
anamnesis,pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan
yang diperlukan
b. Mampu melakukan tatalaksana mukositis oral.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil:
a. Menjelaskan anatomi, etiopatogenesis mukositis oral
b. Mengenali gejala, tanda mukositis oral
c. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang mukositis oral
d. Membuat keputusan klinik untuk pemberian pengobatan
yang tepatserta pencegahan mukositis oral.
E. GAMBARAN UMUM
2
Modul IV.3.2 - Mukositis
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk
:
1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi rongga mulut
2. Mengenali etiopatogenesis, gejala, dan tanda mukositis oral
3. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik tentang mukositis oral
4. Membuat keputusan klinik untuk pemberian pengobatan yang
tepat sertapencegahan mukositis oral.
H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan
4. Journal Reading
5. Praktik Lapangan (Poliklinik)
6. Bedside Teaching
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral
sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai
kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi
kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi rongga mulut
• Etiopatogenesis mukositis oral
• Penegakan diagnosis
• Penatalaksanaan
• Follow up
3
Modul IV.3.2 - Mukositis
6. Pendidik/fasilitas:
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai.
4
Modul IV.3.2 - Mukositis
1. Beberapa hal yang tidak dapat digunakan mengatasi mulut kering pada
penderita yang menjalani radioterapi dan kemoterapi:
a. Minum air sesuai kebutuhan
b. Menggunakan air ludah sintesis
c. Menggunakan salep vaselin
d. Mencuci mulut dengan campuran ½ sendok teh baking soda dan atau
¼ - ½ sendok teh garam dalam 1 cangkir air hangat
e. Menghindari faktor iritan mukosa rongga mulut
Jawaban : C
K. DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)Prosedur Pemeriksaan Orofaring
KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Inform consent
2 Jelaskan tujuan pemeriksaan dan hasil
yang diharapkan
3 Pastikan kelengkapan peralatan telah
tersedia :
- Lampu kepala
- Spatula lidah
- Sarung tangan
5
Modul IV.3.2 - Mukositis
L. MATERI PRESENTASI
M. MATERI BAKU
2. Ruang Lingkup
A. Anatomi
Rongga mulut dimulai dari bibir sampai dengan pilar tonsil. Rongga
mulut terdiri dari bibir, mukosa bibir, prosessus alveolar superior dan
Inferior, trigonum retromolar, 2/3 anterior lidah, dasar mulut dan palatum
durum. Bagian atap dibatasi oleh palatum durum dan palatum mole. Dasar
rongga mulut dibagi menjadi dua bagian oleh barisan tulang alveolar dan
gigi yaitu bagian luar berupa vestibulum dan bagian dalam merupakan
6
Modul IV.3.2 - Mukositis
B. Faktor Risiko
Penderita dengan tumor primer di rongga mulut, orofaring atau
nasofaring yang mendapatkan kemoterapi ataupun radioterapi. Adapun
faktor resiko lainnya :
• Keluhan nyeri dalam rongga mulut sebelum radioterapi
• Kurang diperhatikannya perawatan kebersihan mulut
sebelum,selama dan setelah radioterapi
• Perubahan pengecapan
• Cacat fungsi seperti pada saat makan, minum, menelan dan bicara
• Kekurangan gizi.
7
Modul IV.3.2 - Mukositis
Ada pula yang membagi fase mukositis dalam 4 fase, antara lain :
1. Fase inflamasi
2. Fase epitelial
3. Fase ulserasi/bakterial
4. Fase penyembuhan.
D. Diagnosis
1) Anamnesis :
Penderita mengeluh nyeri pada rongga mulut disertai nyeri menelan,
hanya bisa makan makanan cair, rasa nyeri odynodysphagia,
dysgeusia, yang berakibat timbulnya dehidrasi dan malnutrisi karena
menurunnya asupan gizi dan derajat kesehatan mulut serta
meningkatkan risiko infeksi lokal dan sistemik.
2) Pemeriksaan fisik :
Didapatkan karakteristik berupa eritema pada mukosa kemudian
edema pada mukosa, berlanjut pada pengelupasan mukosa, Mukositis
oral dapat meluas sampai palatum mole, mukosa hipofaring, dasar
mulut, mukosa pipi, dasar lidah, bibir dan bagian belakang lidah.
Mukositis oral derajat berat disebut juga ulcerative atau
pseudomembrane mucositis (ulserasi yang ditutupi pseudomembran
dan eksudat).
8
Modul IV.3.2 - Mukositis
9
Modul IV.3.2 - Mukositis
WHO, World Health Organization, RTOG, Radiation Therapy Oncology Group, CTCAE
(NCI), Common Terminology Criteria for Adverse Events (National Cancer Institute)
E. Terapi
1) Medikamentosa
Pemberian obat topikal anestesi dan analgetik, suspensi pelindung mukosa
rongga mulut (suspensi sukralfat)
2) Oral hygiene
Direkomendasikan protokol perawatan oral, meliputi gosok gigi dengan sikat
gigi halus, berkumur dengan larutan air garam dan sodium bikarbonat.
Beberapa hal yang dapat dipakai untuk mengatasi mulut kering adalah minum
air sesuai kebutuhan, menggunakan produk artifisial seperti air ludah sintesis.
Mencuci mulut dengan campuran ½ sendok teh baking soda dan atau ¼ - ½
sendok teh garam dalam 1 cangkir air hangat beberapa kali sehari untuk
membersihkan, melumasi jaringan rongga mulut dan menetralkan suasana
lingkungan rongga mulut.
10
Modul IV.3.2 - Mukositis
F. Pencegahan
Dengan menjaga kebersihan rongga mulut serta
perlindungan awal terhadap mukosa rongga mulut,
perlindungan terhadap obat kemoterapi dan radiasi,
menghindari faktor iritan mukosa rongga mulut seperti
konsumsi tembakau, alkohol, makanan pedas serta asam
diharapkan dapat memperlambat terjadinya mukositis.
Pemenuhan gizi juga menjadi faktor penting, penderita
dianjurkan makan makanan lunak.
11
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG
TENGGOROKBEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU .......................................................................................................... 1
B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1
C. REFERENSI ................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ............................................................................................... 1
E. GAMBARAN UMUM.................................................................................... 2
F. CONTOH KASUS & DISKUSI ..................................................................... 2
G. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 2
H. METODE PEMBELAJARAN........................................................................ 3
I. EVALUASI ..................................................................................................... 3
J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR ........................ 4
K. DAFTAR TILIK ............................................................................................. 5
L. MATERI PRESENTASI ................................................................................. 6
M. MATERI BAKU ............................................................................................. 6
N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU............................................................. 14
Modul IV.3.3 – Stomatitis
MODUL IV.3.3
LARING-FARING - PERADANGAN RONGGA MULUT : STOMATITIS
A. WAKTU
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi Stomatitis, meliputi:
a. Etiologi stomatitis
b. Stomatitis terkait terapi
c. Stomatitis terkait infeksi
d. Stomatitis terkait imunologi
e. Stomatitis terkait kondisi sistemik
f. Stomatitis terkait nutrisi
g. Stomatitis idiopatik
h. Stomatitis pada anak-anak
2. Kasus : Stomatitis (epidemiologi dan masalahnya/magnitude of
the problem)
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting): Poliklinik THT-KL
C. REFERENSI
a. Wein RO, O’Leary M. Stomatitis. In: Johnson JT, Rosen CA,
editors. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol 1.
5th ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins; 2014.
p.736-56.
b. Adams GL, Boies Jr, LR, Hilger PA. Boies Fundamentals of
Otolaryngology. 8th Ed. Philadelphia. WB Saunders Company;
1997. p. 290-8.
c. Lee KJ. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th
ed. Chan Y,Goddard JC, editors. New York. McGraw Hill; 2016.
p.570-1.
D. KOMPETENSI
Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis stomatitis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaanfisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan
b. Mampu melakukan tatalaksana stomatitis.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :
1
Modul IV.3.3 – Stomatitis
E. GAMBARAN UMUM
Stomatitis merupakan suatu proses peradangan dan kerusakan permukaan
mukosa rongga mulut dan biasanya menimbulkan keluhan. Lokasinya bisa
meluas sampai ke daerah orofaring atau daerah perioral eksternal. Etiologinya
bermacam-macam diantaranya infeksi, proses imunologi, kondisi sistemik,
gangguan nutrisi, akibat terapi, maupun idiopatik. Gambaran klinisnya
bervariasi, mulai dari yang terlokalisir sampai manifestasi yang berat
(fulminan) dan dapat memberikan gambaran seperti eritema mukosa,
hiperkeratosis, ulserasi, pseudomembran, dan atau pembentukan vesikel.
Penatalaksanaan meliputi pemberian medikamentosa, oral hygiene,
menghilangkan faktor pencetus atau penyakit dasarnya serta pemberian
pengobatan simptomatisnya.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk
alih pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan
tindakan yang tepat terhadap penderita stomatitis, seperti yang telah
disebutkan diatas, yaitu
a. Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan stomatitis
b. Mengenali gejala dan tanda stomatitis
c. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang stomatitis
d. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang
e. Membuat keputusan klinik untuk tatalaksana stomatitis dengan tepat.
2
Modul IV.3.3 – Stomatitis
H. METODE PEMBELAJARAN
A. Literatur Reading
B. ReferatBimbingan
C. Journal Reading
D. Praktik Lapangan (Poliklinik)
E. Bedside Teaching
I. EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan
oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk
menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk
mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi rongga mulut
• Penegakan diagnosis
• Komplikasi dan penanganannya
• Follow up
3
Modul IV.3.3 – Stomatitis
Pendidik/fasilitas :
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
form (terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/tidak cakap/lalai.
Pencapaian pembelajaran :
• Ujian OSCE (K, P, A) dilakukan pada tahapan THT-KL
dasar olehkolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
• Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing
sentra pendidikan THT-KL lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan
THT-KL.
• Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL
lanjut olehkolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
• Ujian akhir profesi.
4
Modul IV.3.3 – Stomatitis
K. DAFTAR TILIK
DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan
(Ujian Akhir)Prosedur Pemeriksaan
Orofaring
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang
diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur,
dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar
KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Inform consent
2 Jelaskan tujuan pemeriksaan dan hasil
yang diharapkan
3 Pastikan kelengkapan peralatan telah
tersedia :
- Lampu kepala
- Spatula lidah
- Sarung tangan
II. PROSEDUR PEMERIKSAAN
1 Pasien duduk berhadapan dengan dokter.
2 Pasien diinstruksikan membuka mulut.
KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
3 Perhatikan struktur di dalam cavum oris
mulai dari gigi geligi, palatum, lidah,
bukkal. Lihat ada tidaknya kelainan
berupa, pembengkakan, hiperemis,
massa, atau kelainan kongenital.
5
Modul IV.3.3 – Stomatitis
L. MATERI PRESENTASI
• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Etiologi dan macam kelainan yang berhubungan dengan
stomatitis
• Slide 3. Gejala dan tanda stomatitis
• Slide 4. Penatalaksanaan stomatitis
M. MATERI BAKU
Definisi Stomatitis
Stomatitis merupakan suatu proses peradangan dan kerusakan
permukaanmukosa rongga mulut dan biasanya menimbulkan
keluhan.
Ruang Lingkup
i. Faktor Risiko
Oral hygiene dan penyakit sistemik
j. Etiology
Treatment-related (akibat terapi infeksi, proses imunologi,
kondisi sistemik, gangguan nutrisi,maupun idiopatik.
k. Diagnosis
1) Anamnesis :
2) Pemeriksaan fisik :
Gambaran klinisnya bervariasi, mulai dari yang terlokalisir
sampai manifestasi yang berat (fulminan) dan dapat
memberikan gambaran seperti eritema mukosa,
hiperkeratosis, ulserasi, pseudomembran, dan atau
pembentukan vesikel.
6
Modul IV.3.3 – Stomatitis
3) Pemeriksaan penunjang :
KOH swab, pengecatan Gram, Darah lengkap, LED,
dan pemeriksaan imunologi lain.
a) Treatment-related stomatitis
Kondisi ini dapat terjadi akibat berbagai macam terapi, namun paling
sering adalah akibat terapi kanker (kemoterapi dan radioterapi). Yang
termasuk dalam treatment-related stomatitis ini antara lain Graft
Versus Host Disease (GVHD) dan reaksi likenoid.
• Reaksi Likenoid
Reaksi likenoid merupakan suatu respon imunologis terhadap
rangsangan lokal maupun sistemik. Reaksi likenoid dapat muncul
sebagai stomatitis kontak, yang terlihat pada mukosa bukal yang
berhadapan dengan amalgam gigi. Selain itu, stomatitis kontak
likenoid dilaporkan juga pada bumbu kayu manis, mints dan
mouthwashes. Reaksi likenoid juga dapat timbul sebagai reaksi obat
pada permulaan pengobatan. Obat oral yang paling sering
menyebabkan reaksi likenoid adalah NSAID, anti hipertensi dan
anti retroviral pengobatan HIV.
7
Modul IV.3.3 – Stomatitis
b) Stomatitis infeksi
Agen penyebab stomatitis karena infeksi antara lain jamur (kandida dan
non kandida), virus (HSV, HIV-associated), dan tuberkulosis. Insiden
yang paling sering adalah stomatitis karena jamur kandida.
• Kandidiasis
Pertumbuhan berlebih jamur kandida pada rongga mulut
disebabkan karena faktor lokal maupun sistemik.
Manifestasi klinis kandidiasis dibagi menjadi 5 kategori.
8
Modul IV.3.3 – Stomatitis
9
Modul IV.3.3 – Stomatitis
10
Modul IV.3.3 – Stomatitis
11
Modul IV.3.3 – Stomatitis
c. Stomatitis idiopatik
Beberapa contohnya antara lain recurrent apthous stomatitis
(RAS), oral liken planus, dan eritema migran.. RAS
didefinisikan sebagai ulkus berulang yang terbatas pada mulut
dan terlihat tanpa adanya penyakit sistemik. RAS biasanya
pertama kali muncul di masa kanak-kanak dan mereda pada
dekade ketiga kehidupan. Prevalensi berkisar 5% sampai 21%
dan insiden yang lebih rendah terjadi pada perokok. Lebih
sering terjadi pada wanita. pada orang Kaukasia, dan pada orang
dari status sosial ekonomi tinggi. Manifestasi klinis RAS
diklasifikasikan menjadi ulkus aftosa minor, ulkus aftosa mayor
dan uklus herpetiformis. Penatalaksanaan dengan steroid topikal
dalam bentuk krim atau mouthwash.
Gambar 12. RAS ulkus aftosa minor, ukuran diameter ulkus <1cm
12
Modul IV.3.3 – Stomatitis
13
Modul IV.3.3 – Stomatitis
14
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ....................................................................................................... 2
B. PERSIAPAN SESI ....................................................................................... 2
C. REFERENSI ................................................................................................. 2
D. KOMPETENSI ............................................................................................. 3
E. GAMBARAN UMUM ................................................................................. 3
F. CONTOH KASUS & DISKUSI................................................................... 3
G. TUJUAN PEMBELAJARAN ...................................................................... 3
H. METODE PEMBELAJARAN ..................................................................... 4
I. EVALUASI .................................................................................................. 4
J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR...................... 5
K. DAFTAR TILIK ........................................................................................... 8
L. MATERI PRESENTASI .............................................................................. 9
M. MATERI BAKU......................................................................................... 10
N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU .......................................................... 20
Modul IV.4 - Tonsilitis
MODUL IV.4
LARING-FARING – TONSILITIS
A. WAKTU
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi TONSILITIS, meliputi:
Slide 1: Anatomi, histopatologi dan fisiologi tonsil dan cincin Waldeyer
Slide 2: Etio-patogenesis terjadi tonsilitis
Slide 3: Penatalaksanaan tonsilitis
Slide 4: Indikasi dan kontraindikasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi
Slide 5: Teknik operasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi
Slide 6: Perawatan pasca tonsilektomi dan atau adenoidektomi
Slide 7: Komplikasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi
2. Contoh Kasus :
Tonsilitis kronik
Seorang laki-laki, 10 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan nyeri
tenggorok sejak 4 hari lalu. Keluhan disertai demam dan batuk. Keluhan seperti
ini dikeluhkan sejak 5 tahun lalu hilang timbul, dalam 1 tahun > 6 kali. Riwayat
tidur mengorok +. Masih bisa makan dan minum. Pemeriksaan fisik: Tonsil
hiperemis dan hipertrofi bilateral (ukuran T3-T3), detritus+/+, kripta melebar
+/+.
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Alat pemeriksaan THT rutin dan set tonsilektomi
• Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.
C. REFERENSI
1. Bailey B. J. Adenotonsilar Disease in Children In : Head and Neck Surgery
Otolaryngology. Fourth Edition. Texas. Lippincott Williams & Wilkins. 2014 :
1430-1441.
2. Bailey B. J. Tonsillectomy, Adenoidectomy, and UPPP. In : Pediatric and
General Otolaryngology. 2001 : 858-63.
3. Adams G. L. Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring. Dalam : Highler B.
A. Boeis Buku Ajar Penyakit THT-KL. Edisi 6. Jakarta. EGC. 1997 : 327-40.
4. Rusmarjono, Soepardi E. Penyakit Serta Kelainan Faring dan Tonsil. Dalam :
Soepardi E, Iskandar N. Buku ajar ilmu kesehatan THT-KL-KL. Ed 7. Jakarta.
Balai Penerbit FKUI, 2007: 183-4.
5. Safar P, Escarraga LA, Chang F. Upper airway obstruction in the unconscious
patient. J Appl Physiol 1959;14:760-4.
2
Modul IV.4 - Tonsilitis
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis tonsilitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan
b. Mampu melakukan tatalaksana tonsilitis
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
a. Menjelaskan anatomi, histologi dan fisiologi tonsil
b. Menjelaskan etiologi dan patofisiologi tonsilitis
c. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang tonsilitis
d. Melakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti: kultur & test
resistensi apus tenggorok, laboratorium darah dan ASTO
e. Mampu tatalaksana medikamentosa tonsilitis
f. Mampu melakukan tonsilektomi dan atau adenoidektomi
E. GAMBARAN UMUM
Tonsil merupakan salah satu jaringan limfoid (cincin Waldeyer) yang sering
mengalami infeksi. Infeksi pada tonsil sering berulang yang mengakibatkan
hipertrofi tonil dan mengakibatkan komplikasi lokal (seperti otitis media dan abses
leher dalam) maupun komplikasi sistemik (endokarditis, glomerulonefritis dan
artritis). Tatalaksana tonsilitis berupa konservatif dan operatif.
3
Modul IV.4 - Tonsilitis
H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan Referat
4. Jurnal Reading
5. Praktik Lapangan (Poliklinik)
6. Skills Lab
7. Praktik Lapangan (OK)
8. Bedside Teaching
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay, oral, Mini CEX,
CbD, sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai
kinerja awal. Yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi
kekurangan yang ada. Materi pre test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi tonsil
• Penegakan Diagnosis
• Terapi (teknik operasi)
• Komplikasi dan penanganannya
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasiliator untuk
membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang
berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat
bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, peserta didik diwajibkan untuk,
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assited learning) atau kepada SP
(standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan : membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh
teman-temannya untuk : melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching dibawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut.
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien misal pemeriksaan
terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
• Baik : pelaksanaan benar dan baik ( efisien )
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
4
Modul IV.4 - Tonsilitis
Jawaban: C
2. Pada pasien tersebut di atas dilakukan pemeriksaan fisik dan didapati tonsil
T3-T3 dengan muara kripte melebar dan detritus jika ditekan, plika anterior
tampak hiperemis, dan dari palpasi didapati pembesaran limfono di
cervialis, maka manajemen pada pasien ini adalah :
a. Dilakukan pengobatan dengan analgetik sistemik
b. Disarankan untuk tonsilektomi
c. Disarankan untuk adenoidektomi
d. Diterapi antibiotic golongan kuinolon
Jawaban: B
3. Of the following is not part of the summary statement from the 2010
ClinicalPractice Guideline on Tonsillectomy?
a. In children with abnormal polysomnography and hypertrophic tonsils,
tonsillectomy can provide a means to improve health.
b. Children undergoing tonsillectomy do not need perioperative
antibiotics .
c. Children undergoing tonsillectomy will benefit from perioperative
antibiotics .
d. Clinicians should evaluate their rates of primary and secondary
postoperative hemorrhage annually.
e. A single dose of intraoperative intravenous dexamethasone during
tonsillectomy
5
Modul IV.4 - Tonsilitis
Jawaban: C
Jawaban: A
Jawaban: C
Jawaban: C
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR TONSILEKTOMI DISEKSI-JERAT
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya
atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika
harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi di luar normal
3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang
sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
6
Modul IV.4 - Tonsilitis
KEGIATAN KASUS
I. PERSIAPAN OPERASI
1. Informed consent
2. Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan
3. Jelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien/
keluarganya
4. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
II. PROSEDUR OPERASI
1. Pasien dalam posisi terlentang, kepala ekstensi.
2. Dipasang mouth gag Davis sesuai dengan ukuran rongga
mulut pasien.
3. Pole atas tonsil dipegang dengan klem kemudian ditarik
kearah medial
4. Lakukan insisi secara tajam antara massa tonsil dan pillar
dengan menggunakan sickle knife mulai dari pole atas tonsil.
5. Selanjutnya insisi dilanjutkan secara gentle.
6. Kemudian dilakukan diseksi tonsil menggunakan disektor
sampai tinggal pedikel tonsil di pole inferior. Diseksi juga
dapat dilakukan dengan menggunakan electrosurgery/
diathermy, radiofrequency ablation, coblation, harmonic
scalpel, thermal welding, carbon dioxide laser, micro
debrider.
7. Pedikel di klem dengan Negus Artery Forceps, tonsil
digunting.
8. Perdarahan dirawat dengan cara ligasi menggunakan benang
Silk 2-0.
9. Hal yang sama dilakukan pada tonsil sisi kontralateral.
10. Dilakukan evaluasi pada fossa tonsil, bila ada perdarahan
dilakukan hemostasis.
11. Mouth gag Davis dilepas
IV. PASCA OPERASI
1. Observasi jalan nafas, perdarahan, tekanan darah, suhu dan
nadi secara teratur
2. Disarankan pasien tidur miring tanpa bantal
3. Kompres es di sekitar leher
4. Mengawasi terjadinya dehidrasi
5. Pemberian antibiotik segera setelah operasi
6. Pemberian minuman dingin dan makanan lembut untuk
beberapa hari pertama, untuk menghindari terjadinya
perdarahan
7. Medikamentosa
a. Antibiotika oral
b. Analgetika oral
c. Terapi simtomatis sesuai indikasi
7
Modul IV.4 - Tonsilitis
K. DAFTAR TILIK
KEGIATAN KASUS
I. PERSIAPAN OPERASI
1. Informed consent
2. Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan
3. Jelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien/
keluarganya
4. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
8
Modul IV.4 - Tonsilitis
KEGIATAN KASUS
II. PROSEDUR OPERASI
1. Pasien dalam posisi terlentang, kepala ekstensi.
2. Dipasang mouth gag Davis sesuai dengan ukuran
rongga mulut pasien.
3. Pole atas tonsil dipegang dengan klem kemudian
ditarik kearah medial
4. Lakukan insisi secara tajam antara massa tonsil dan
pillar dengan menggunakan sickle knife mulai dari
pole atas tonsil.
5. Selanjutnya insisi dilanjutkan secara gentle.
6. Kemudian dilakukan diseksi tonsil menggunakan
disektor sampai tinggal pedikel tonsil di pole
inferior. Diseksi juga dapat dilakukan dengan
menggunakan electrosurgery/ diathermy,
radiofrequency ablation, coblation, harmonic
scalpel, thermal welding, carbon dioxide laser, micro
debrider.
7. Pedikel di klem dengan Negus Artery Forceps, tonsil
digunting.
8. Perdarahan dirawat dengan cara ligasi menggunakan
benang Silk 2-0.
9. Hal yang sama dilakukan pada tonsil sisi
kontralateral.
10. Dilakukan evaluasi pada fossa tonsil, bila ada
perdarahan dilakukan hemostasis.
11. Mouth gag Davis dilepas
IV. PASCA OPERASI
1. Observasi jalan nafas, perdarahan, tekanan darah,
suhu dan nadi secara teratur
2. Disarankan pasien tidur miring tanpa bantal
3. Kompres es di sekitar leher
4. Mengawasi terjadinya dehidrasi
5. Pemberian antibiotik segera setelah operasi
6. Pemberian minuman dingin dan makanan lembut
untuk beberapa hari pertama, untuk menghindari
terjadinya perdarahan
7. Medikamentosa
a. Antibiotika oral
b. Analgetika oral
c. Terapi simtomatis sesuai indikasi
L. MATERI PRESENTASI
• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Ananatomi dan Fisiologi cincin Waldeyer
9
Modul IV.4 - Tonsilitis
M. MATERI BAKU
1. Anatomi, Histologi dan Fisiologi Cincin Waldeyer
Tonsil (faucial atau palatina) berjumlah sepasang, merupakan organ yang
berbentuk oval yang berlokasi di dinding lateral orofaring, di fossa tonsilaris
diantara plika palatoglossus dan plika palatofaringeus.3,4 Organ ini beserta
adenoid merupakan bagian dari lingkaran jaringan limfoid yang disebut cincin
Waldeyer,). Tonsila palatina diliputi oleh selapis tipis epitel yang menjorok
masuk ke dalam parenkimnya membentuk kripte-kripte.5 Diantara kapsula tonsil
dengan otot faring terdapat jaringan ikat yang longgar .Permukaan dalam tonsil
bersinggungan dengan fasia muskulus konstriktor superior. Batas anterior adalah
muskulus palatoglosus (pilar anterior), dan batas posterior adalah muskulus
palatopharyngeus (pilar posterior). Tonsil bisa meluas ke inferior dan
menyambung dengan jaringan tonsil lingual pada dasar lidah.3
Suplai darah tonsil sangat bervariasi, tetapi secara umum disuplai dari arteri
faringeal ascendens, palatina ascendens, dan cabang dari arteri lingual dan fasial,
semua cabang arteri carotis externa. Jarang diperdarahi langsung oleh arteri
carotis externa itu sendiri. Arteri carotis interna berjalan kira-kira 2 cm di
posterolateral dasar tonsil; sehingga pada waktu pembedahan, harus diperhatikan
tempat yang tepat untuk diseksi untuk menghindari cedera pada pembuluh darah.
Saluran limfatik dari tonsil yang utama adalah ke limfonodi cervical superior
dalam dan jugular; dengan demikian penyakit inflamasi dari tonsil merupakan
faktor yang signifikan pada perkembangan abses atau adenitis cervical pada
anak-anak. Inervasi sensoris berasal dari nervus glossopharyngeal dan beberapa
cabang dari nervus palatina lewat ganglion sphenopalatina.3,5
Hiperplasia tonsil bisa menyebabkan posisi lidah abnormal, lidah terasa ditusuk-
tusuk, pola bicara yang abnormal, dan perubahan pertumbuhan orofasial dan
kraniofasial. Serupa dengan adenoid, hubungan antara volume orofaring, ukuran
tonsil, dan etiologi obstruksi jalan napas atas merupakan multifaktor dan
berhubungan dengan hiperplasia tonsil, variasi anatomi, dan faktor genetik.3
10
Modul IV.4 - Tonsilitis
antigen-processing khusus. Epitel ini bekerja sebagai sistem imun untuk antigen
inhalasi dan ingesti. Epitel kripte mempunya sistem kompleks sel antigen-
processing khusus dan micropores yang mengirim antigen pada cel limfoid aktif
imunologis. Empat zona (atau bagian) yang penting pada proses antigen yaitu:
epitel squamous khusus, area extrafolikuler (area kaya sel T), lapisan folikel
limfoid, dan pusat germinal folikel limfoid (sel B). 3
2. Patofisiologi Tonsilitis
Patogenesis infeksi dan inflamasi pada tonsil dan adenoid dipengaruhi oleh
lokasi tonsil yang letaknya di orofaring, nasofaring dan dasar lidah membentuk
suatu cincin pertahanan imunitas (Waldeyer’s ring). Organ ini akan memproses
antigen virus, bakteri dan mikroorganisme lain, sehingga mudah terkena infeksi
dan pada akhirnya dapat menjadi fokus infeksi. Infeksi virus yang diikuti infeksi
bakteri sekunder mungkin merupakan salah satu mekanisme dari infeksi akut
menjadi infeksi kronis, tetapi hal ini juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan,
pejamu, alergi dan penggunaan antibiotik yang luas dan gizi.1
3. Tonsilitis
Tonsilits dibagi menjadi tonsilitis akut dan tonsilitis kronis.
a. Tonsilitis Akut :
• Acute Catarrhal/ superficial tonsillitis
• Acute follicular tonsillitis
• Acute parenchymatous tonsillitis
• Acute membranous tonsillitis
b. Tonsilitis Kronis :
• Chronic follicular tonsillitis
• Chronic parenchymatous tonsillitis
• Chronic fibroid tonsillitis
• Tonsilitis alergi (lihat di Modul Alergi Imunologi)
Diagnosis banding tonsilitis kronik yaitu hipertrofi tonsil dan tumor tonsil.
4. Tatalaksana Tonsilitis
Tatalaksana tonsilitis berupa medikamentosa dan operatif berupa tonsilektomi
dan atau adenoidektomi. Antibiotika yang diberikan adalah golongan penisilin
masih merupakan terapi pilihan.
11
Modul IV.4 - Tonsilitis
4.1 Tonsilektomi :
Tonsilektomi didefinisikan sebagai suatu tindakan bedah yang mengangkat
keseluruhan jaringan tonsil palatina, termasuk kapsulnya dengan melakukan
diseksi ruang peritonsiler diantar kapsula tonsil dan dinding muskuler tonsil.
Tindakan ini dapat dilakukan dengan atau tanpa adenoidektomi. 1,2
Indikasi Operasi
a. Obstruksi 3,6,7
Hiperplasia/hipertrofi tonsil yang menyebabkan gangguan berupa:
1) Gangguan bernapas saat tidur.
• Obstructive sleep apnea syndrome
• Upper airway resistance syndrome
• Obstructive hypoventilation syndrome
2) Gagal tumbuh
3) Cor pulmonale
4) Gangguan menelan
5) Gangguan berbicara
6) Abnormalitas orofacial/dental
7) Gangguan limfoproliferatif3
b. Infeksi
1) Tonsilitis rekuren/kronik6,7
2) Tonsilitis dengan :
• Abses nodus cervical
• Obstruksi jalan napas akut
• Penyakit jantung katup
3) Tonsilitis persisten dengan :
• Sore throat persisten
• Nodus cervical yang nyeri
• Halitosis
4) Tonsilolithiasis
5) Status karier streptococcal yang tidak responsif terhadap terapi medis
pada anak-anak atau keluarga yang beresiko6,7
6) Abses peritonsial yang tidak responsif terhadap terapi medis atau pada
pasien dengan tonsilitis rekuren atau abses rekuren3
7) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam6
8) Terjadi 3 atau lebih infeksi tonsil dalam satu tahun dengan pengobatan
adekuat6
c. Neoplasma
12
Modul IV.4 - Tonsilitis
Tonsilitis dengan gejala nyeri tenggorok disertai paling tidak 1 dari gejala
berikut:
1) Demam ≥ 38,3 °
2) Cervical limfadenopati
3) Tonsilar eksudat
4) Positif kultur Streptokokus beta hemolitikus
4.2 Adenoidektomi
Adenoidektomi adalah tindakan pengangkatan adenoid, dapat dilaksanakan
dengan atau tanpa tonsilektomi.
a. Indikasi Adenoidektomi:
1) Hipertrofi Adenoid
2) Adenoiditis yang menyebabkan
• Otitis Media Rekuren
• Sinusitis Akut Rekuren
• Sinusitis Kronik Pada Anak
3) Obstructive Sleep Apnea Syndrome
c. Pemeriksaan penunjang
1) Laboratorium darah: Darah rutin, BT, CT dan atau PT, APPT
2) Bila perlu: kultur resistensi (swab tenggorok),
rhinopharyngolaryngoscope (RFL) (lihat Modul Refluks Laringo-
Faring), Foto Kepala AP dan Lateral sentrasi adenoid, polysomnography
(lihat Modul OSAS)
3) Foto rontgen dada, EKG untuk usia lebih dari 35 tahun
d. Teknik Operasi
Terdapat banyak variasi teknik tonsilektomi dan adenoidektomi.
Sejarah pengangkatan tonsil pertama sebagai tindakan medis telah dilakukan
pada abad 1 Masehi oleh Cornelius Celsus di Roma dengan menggunakan
jari tangan6. Selama bertahun-tahun, berbagai teknik dan instrumen untuk
tonsilektomi telah dikembangkan. Sampai saat ini teknik tonsilektomi yang
optimal dengan morbiditas yang rendah masih menjadi kontroversi, masing-
masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan. Di Indonesia teknik
13
Modul IV.4 - Tonsilitis
tonsilektomi yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan
diseksi.6
Tonsilektomi dapat dilakukan dengan pisau, protected electrocautery
blade, scalpel harmonic, koblasi, mikrodebrider, atau laser. Hemostatis
dapat dilakukan dengan elektrokauter, ligasi, jahitan, maupun thrombin.
Jaringan adenoid dapat dieksisi dengan kuret, adenotom, atau powered
instrument. Seiring waktu berbagai instrumen dan teknik tonsilektomi telah
berkembang, yang pertama kali dikembangkan adalah teknik guillotine di
abad ke-18.10
Tonsilektomi cara guillotine dikerjakan secara luas sejak akhir abad ke
19, dan dikenal sebagai teknik yang cepat dan praktis untuk mengangkat
tonsil. Greenfield Sluder pada sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20
merupakan seorang ahli yang sangat merekomendasikan teknik Guillotine
dalam tonsilektomi. Beliau mempopulerkan alat Sluder yang merupakan
modifikasi alat Guillotin.5 Hingga kini, di UK tonsilektomi cara guillotine
masih banyak digunakan. Hingga dikatakan bahwa teknik Guillotine
merupakan teknik tonsilketomi tertua yang masih aman untuk digunakan
hingga sekarang. Kepustakaan menyebutkan beberapa keuntungan teknik
ini yaitu cepat, komplikasi anestesi kecil, biaya kecil.6
Frampton et al dalam penelitiannya menyatakan bahwa guillotine
merupakan metode tonsilektomi yang efektif dan efisien waktu dengan
perdarahan intraoperative yang lebih sedikit dan nyeri post operatif yang
lebih ringan dibandingkan teknik cold diseksi. 10
Sejak para pakar bedah mengenal anestesi umum dengan endotrakeal
pada posisi Rose yang mempergunakan alat pembuka mulut Davis, mereka
lebih banyak mengerjakan tonsilektomi dengan cara diseksi.6 . Saat ini
teknik inilah yang paling sering digunakan. Teknik cold dissection (diseksi
dingin) meliputi eksisi tonsil menggunakan gunting dan disektor tonsil
tumpul. dengan menggunakan anestesi umum dengan intubasi endotrakeal.10
Teknik operasi meliputi: memegang tonsil, membawanya ke garis tengah,
insisi membran mukosa, mencari kapsul tonsil, mengangkat dasar tonsil dan
mengangkatnya dari fossa dengan manipulasi hati-hati. Lalu dilakukan
hemostasis dengan elektokauter atau ikatan.
Berbagai teknik diseksi baru telah ditemukan dan dikembangkan
disamping teknik diseksi standar, yaitu: 6,7,10
1) Elektrokauteri
2) Radiofrekuensi
3) Skalpel harmonic
4) Coblation
5) Intrakapsular parsial tonsilektomi
6) Laser6,7, 10
e. Diseksi
• Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi.
• Pembiusan dengan endotracheal , posisi kepala penderita hiperektensi
dengan bantal dibawah bahu penderita.
• Desinfeksi dengan larutan antiseptik , kemudian ditutup dengan kain
steril berlubang.
14
Modul IV.4 - Tonsilitis
15
Modul IV.4 - Tonsilitis
16
Modul IV.4 - Tonsilitis
17
Modul IV.4 - Tonsilitis
f. Komplikasi Anestesi 6:
1) Laringospasme
2) Gelisah pasca operasi
18
Modul IV.4 - Tonsilitis
3) Mual muntah
4) Kematian saat induksi dengan hipovolemi
5) Hipotensi
6) Henti jantung
7) Hipersensitif obat anestesi
g. Komplikasi Operasi1,6,7,10
1) Perdarahan
2) Nyeri
3) Airway obstruction
4) Postoperatif pulmonary edema
5) Dehidrasi
6) Insufisiensi velofaringeal
7) Stenosis nasofaring
8) Lesi di bibir, lidah, gigi
9) Pneumonia
5. Durante Operasi
a. Trauma pada gigi, bibir, lidah, dinding faring dan tuba eustachius (pada
adenoidektomi).
b. Dislokasi sendi rahang11 (temporomandibular joint), jika membuka mulut
terlalu lebar atau kesalahan pemasangan mouth gag
c. Trauma pada vertebra servikal karena hiperekstensi kepala
d. Perdarahan1,6,7,11,15, mungkin terjadi karena :
• Jaringan tonsil yang tertinggal (rest tonsil)
• Baru saja infeksi, atau ada kelainan darah (gangguan faktor pembekuan)
• Riwayat abses peritonsil sebelumnya (scar/fibrotik)
• Terdapat pembuluh darah yang terbuka
e. Sumbatan jalan nafas karena darah terkumpul di daerah faring sehingga
menyebabkan sumbatan mekanik jalan nafas1,4,6,14
19
Modul IV.4 - Tonsilitis
20
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ........................................................................................................... 1
C. REFERENSI ..................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ................................................................................................. 2
I. EVALUASI ...................................................................................................... 3
MODUL IV.5.1
LARING-FARING – PENYAKIT KELENJAR LUDAH : SIALOLITIASIS
A. WAKTU
B. PERSIAPAN SESI
2. Contoh Kasus :
Seorang laki-laki usia 38 tahun datang dengan keluhan benjolan pada bawah
lidah, hilang timbul, nyeri dirasakan setelah makan, merah tidak ada, rasa panas
pada benjolan tidak ada, demam tidak ada.
C. REFERENSI
1
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis sialolitiasis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan.
b. Mampu melakukan tatalaksana sialolitiasis serta merujuk ke fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
a. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi kelenjar liur
b. Menjelaskan etiologi sialolitiasis
c. Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari sialolitiasis
d. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan
laboratorium, sialografi, sialoendoskopi
e. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan
f. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan sialolitiasis
g. Melakukan work-up pada penderita sialolitiasis (follow-up selanjutnya)
E. GAMBARAN UMUM
Sialolitiasis adalah kejadian adanya batu yang letaknya bias di duktus, hilum atau
jaringan parenchyma galadula (gld). Frekuensi terjadinya 80% di gld.
Submandibularis;20% di parotis sedang 1% di sublingualis.
F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 38 tahun datang dengan keluhan benjolan pada bawah lidah,
hilang timbul, nyeri dirasakan setelah makan, merah tidak ada, rasa panas pada
benjolan tidak ada, demam tidak ada.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
1. Menguasai anatomi, histologi, fisiologi kelenjar saliva
2. Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinis sialolitiasis
3. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang (pemeriksaan laboratorium,
foto rontgen, sialografi, sialoendoskopi)
4. Membuat diagnosis sialolitiasis
5. Melaksanakan penatalaksanaan sialolitiasis
6. Melakukan work-up pada penderita sialolitiasis (follow-up selanjutnya)
H. METODE PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion
• Peer assisted learning (PAL)
• Task based medical education
• Journal reading and review
2
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test pada akhir pertemuan
dalam bentuk essay dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang
bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk
mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test dan post test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi kelenjar liur
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh
pada saat proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP
(Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang
oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation).
Peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan
setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator
melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir
penilaian sebagai berikut:
- Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan
- Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
- Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang
tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk
memperbaiki kekurangan yang ditemukan
5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar
6. Pendidik / fasilitator :
- Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
- Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi
- Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai
3
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
- Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahap akhir THT-KL oleh
Kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL
- Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra
pendidikan THTKL-KL lanjut oleh Kolegium Ilmu THT-KL
- Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL oleh Kolegium
Ilmu Kesehatan THT-KL
3. Perlu diberikan obat-obatan untuk terapi hipertensi pada pasien ini KARENA
hipertensi merupakan salah satu faktor resiko penyakit ini
a. Benar, benar, saling berhubungan
b. Benar, benar, tidak berhubungan
c. Benar, salah
d. Salah, benar
e. Salah, salah
Jawaban: C
4. Komplikasi yang mungkin terjadi pada penyakit ini
a. Cutaneus hematoma
b. Pembentukan abses
c. Kerusakan n. Lingualis
d. Kerusakan n. Hipoglosus
e. Parese n. Fasialis
4
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
Jawaban: B
5. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis?
1. CT-scan
2. USG
3. MRI
4. Foto polos
Jawaban: E
Penuntun Belajar
Prosedur Operasi Sialolitiasis
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)
2. Mampu langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi diluar normal.
3. Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan
waktu kerja yang sangat efisien
4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah
tertentu tidak perlu diperagakan).
5
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
6
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
L. DAFTAR TILIK
7
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
NILAI
KEGIATAN KLINIS
1 2 3
PERSIAPAN PRAOPERASI
Informed Consent
Laboratorium
Pemeriksaan Penunjang
Pemberian Antibiotik Profilaksi
Cairan Dan Darah
Memeriksa Dan Melengkapi Alat
Penderita Puasa
BIUS
Ga Atau Neurolep Atau Lokal
PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI
Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala
Desinfeksi Dengan Bahan Apa? Dan Cara?
Cara Menutupi Daerah Operasi
TINDAKAN OPERASI
Dilakukan dilatasi muara dengan punctum dilator pada ductus
Wharton; hal ini biasanya dilakukan dengan anestesi local
mengunakan tetracaine 2%, buffacain 2-4% , pentacaine 2-3%
atau xylocaine 5-10%; terkadang bias dilakukan dengan
neurolep yang dikerjakan pada sialolithiasis dengan
sialoadenitis rekuren khronik. Cara kerja dengan punctum
dilator adalah sebagai berikut: mulai dengan dilator no. 1 dan
di coba sampai dengan no.6. Bila dengan dilator tetap gagal
guna mengeluarkan batu, maka perlu dilakukan insisi di tas
batu dan lubang jangan di jahit atau kita lakukan
marsupialisasi.
Pada gld submandibularis dengan hasil sondase adanya
striktura distal dari letak batu maka dikerjakan marsupialisasi
Pada gld. Parotis, apabila batu dekat dengan muara ductus
Stensen ma ka dilakukan insisi tepi dari muaras melalui
puntum dilator yang dipasang kemudian batu di ambil lubang,
kemudian insisi dijahit.. Biasa dlakukan dengan tehnik lannya
yaitu mengunakan narrow ponted scissor guna memotong tepi
muara ductus. Setelah batu dikeluarkan insisi dijahit dengan
tetapmeninggalkan lobang aslinya
Cara marsupialisasi
1. setelah persiapan oprasi yaitu melihat dan menambah alat
yang dioerlukan untuk operasi
2. mengatur letak pasien di meja operasi
3. desinfektan dan meutupi dan minimalisasi medan operasi
4. setelah dipasang mouth gag dengan penekan lidah maka
dilakkan insisi sjajsr dengan tepi mandibula bagian dalam
dan diambil batunya
8
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
M. MATERI PRESENTASI
• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
• Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
• Slide 4. Sialolitiasis
• Slide 5. Etiologi
• Slide 6. Diagnosis
• Slide 7. Penatalaksanaan
N. MATERI BAKU
SIALOLITHASIS
a. Pendahuluan
Sialolitiasis adalah kejadian adanya batu yang letaknya bias di duktus, hilum atau
jaringan parenchyma galadula (gld). Frekuensi terjadinya 80% di gld.
Submandibularis;20% di parotis sedang 1% di [Link] gld salivarius
minor sangat jarang; kalaupun ada hanya di bibir atas dan pipi.75% di gld salivarius
major singgel;3% [Link]-2 lebih dari wanita dan sebagian besar middle age.
Frekuensi untuk seluruh gld. Multipel 25% sedang single 75%. Biokimiawi batu
kelenjar liur mengandung substansi organik dan inorganik. Substansi umumnya
kalsium karbonat dan kalsium fosfat. pada sialolitiasis berupa kalsium posfat
dengan sedikit komponen magnesium, ammoniumdan karbonat (hydroxyapatite)
ditambah dengan karbohidrat dan asam amino sebagai imatrik organic. Pada gout
batu terutama terdiri atas asam urat.
9
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
10
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
Gambar anatomi
c. Fisiologi
Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah memproduksi saliva yang berguna pada
proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh. Saliva secara aktif di produksi
dalam jumah yang besar sesuai dengan ukuran kelenjar saliva, secara ekstrinsik
dikontrol oleh syaraf simpatik dan para simpatik.
Kelenjar saliva di lidah memproduksi lipase yang berfungsi menghancurkan
trigliserida. Enzim ini berfungsi di dalam lambung dan juga proksimal dari
duodenum karena enzim ini aktif secara optimal pada Ph rendah. Saliva terdiri dari
inorganik dan organik. Kandungan organik terdiri dari: amilase, lingualifase,
lisozim, glikoprotein, laktoferin dan imunoglobulin A, saliva juga mengandung
antibakterial yang dapat berfungsi protektif ( glikoprotein dan imunoglobulin A )
yang secara aktif dapat melawan virus dan bakteri. Enzim lisosim menyebabkan
bakteri mengalami aglutinasi dan menyebabkan autolisis pada dinding sel bakteri.
enzim laktoferin menghambat pertumbuhan dari bakeri.
e. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Dari anamnesis didapatkan pasien umumnya mengeluh ada benjolan
yang kumatan pada bawah rahang bawah (kelenjar submandibularis) sedang parotis
pada pipi, benjolan yang difus, kenyal dan agak sakit tekan. Benjolan ini akan
tambah besar dan lebih sakit pada saat makan Bila abses akan keluar pus pada
muara duktus dan disertai rasa sakit baik spontan maupun tekanpada gld. Dan
terkadang panas badan.
11
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain sialografi, USG, CT-
scan/CT-sialografi. Perlu diketahui bahwa 65-90% batu di gld submandibularis
adalah radiopaque sedangkan 65-90% batu di [Link] radiolucent dengan
standar foto polos.
f. Penatalaksanaan
1. Antimikkroba per-oral: Untuk stafilokokus; ingat beta laktam bakteri; bakteri
anaerob dengan chloramfenikol bila ada infeksi akut
2. Sebaiknya antibiotika parenteral di poli kemudian dilanjutkan per oral, Buku
panduan→ memakai amoksilin dengan asam klavulanat atau ampisilin
dengan surbactam
3. Terapi simtomatis: anti inflamasi dan analgesi/analgesic antipiretik, mokolitik
4. Terapi operasi major dan minor.
Bila batu ada di duktus Wharton dapat di ambil secara operasi major dengan
neurolep atau GA dan hal ini tergantung ada tidaknya striktura distal dari
letak batu atau letak batu, apakah di duktus, di hilum atau di parenchyme gld
atau dapat secara operasi minor denga cara sialolithectomy mengunakan CO2
laser atau secara sialolithotrpsy mengunakan pulse dye laseratau dengan
extracorporeal electromagnitic shock-wave lipthotripsy.
Bila batu di Hilum atau parenchyme paroitis sebaiknya secara minor dengan
alat canggih atau operasi major pengambilan batu dibawah mikroskop.
• Teknik Operasi :
1. Dilakukan dilatasi muara dengan punctum dilator pada ductus Wharton; hal
ini biasanya dilakukan dengan anestesi local mengunakan tetracaine 2%,
buffacain 2-4% , pentacaine 2-3% atau xylocaine 5-10%; terkadang bias
dilakukan dengan neurolep yang dikerjakan pada sialolithiasis dengan
12
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
• Cara marsupialisasi
1. Setelah persiapan oprasi yaitu melihat dan menambah alat yang dioerlukan
untuk operasi
2. Mengatur letak pasien di meja operasi
3. Desinfektan dan meutupi dan minimalisasi medan operasi
4. Setelah dipasang mouth gag dengan penekan lidah maka dilakkan insisi sjajsr
dengan tepi mandibula bagian dalam dan diambil batunya
5. Tepi lubang insisi ditekuk kedalam lobang dan dijahit melingkar lobang
nonkontinyu kemudian di pasang slang infuse yang dipotong pendek(jangan
terlalu pendek), kemudian buat jahitan tabakzak melingkari lobang insisi dan
diikat dengan sebelumnya jarum di tusukan ke slang dan disimpulkan. Ujung
slang di jahitkan pada dasar mulut di tengah tengah dekat sisi dalam
mandibula
6. Slang infuse dibiarkan +/- 2 minggu
7. Benang jahit memakai prolena atau sutera
• Bila tidak ada striktura di distal letak batu maka dilakukan sialodochoplasty.
Cara sialodochoplsty :
1. Setelah insisi dan batu diambil
2. Slang silicon/polyethylene dengan diameter seperti slang pada operasi
pengaliran cairan otak untuk baji terkadang dipotong separuh
3. Irisan dijahit entropion dengan jahitan vicryl / chromic (3/4/5-0)
• Bila batu berulang kembali maka sebaiknya di lakukan eksterpasi glandula (cara
seperti di modul sialoadenitis berulang khronik) sedang parotis seperti modul
tumor parotis
g. Komplikasi
Obstruksi persisten dari sialolitiasis menyebabkan stasis kelenjar saliva. Merupakan
predisposisi infeksi rekuren akut kelenjar dan pembentukan abses. Rekurensi batu
kelenjar liur hampir 20%. Jika factor resiko dikoreksi, dapat menurunkan rekurensi.
h. Follow Up
1. Oleh karena factor resiko kejadian banyak yang masih mesteri maka perlu
diberitahukan pada pasien paska operasi selalu secara rutin di masase pada
daerah kelanjar dan periksa bila gejala berulang seperti sebelum operasi secara
dini
13
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis
2. Bila penyebab penyakit GOUT maka perlu mengontrol asam urat dengan obat-
obatan
3. USG & CT dan foto polos dapat menginformasikan tentang ada atau tidaknya
batu
i. Kepustakaan
1. Rohan R, Matthew W, Bowen A. Non Neoplastic Diseases of Salivary Gland. In
: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR,
editors. Head and neck surgery – otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins; 2014. p.708-710
2. Yuan F, Butt S. Non Infectious Inflammatory Diseases Sialolithiasis. In :
Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head And Neck Surgery.
Chapter V. 3rd ed. McGrownHill; 2012. P.320-322
3. Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529
4. Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s
Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519
5. Yuan Fidelia dan Butt [Link] Diagnosis & Treatment in
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300
14
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ......................................................................................................... 1
C. REFERENSI .................................................................................................. 2
D. KOMPETENSI .............................................................................................. 2
E. GAMBARAN UMUM................................................................................... 2
G. TUJUAN PEMBELAJARAN........................................................................ 3
H. METODE PEMBELAJARAN....................................................................... 3
I. EVALUASI .................................................................................................... 3
M. MATERI PRESENTASI.............................................................................. 12
MODUL IV.5.2
LARING-FARING – PENYAKIT KELENJAR LUDAH : SIALODENITIS
A. WAKTU
B. PERSIAPAN SESI
2. Contoh Kasus :
Seorang laki-2 umur 49 tahun datang ke klinik THTKL dengan keluhan: rasa
sakit dibawah lidah bagian kanan bila makan terutama yang kecut dan pedas;
selang satu hari ada benjolan pada bawah rahang bawah bagian kanan yang sakit
tekan; hari kedua badan terasa mriang (subfibril); kemudian hari ketiga dia
merasa ada cairan kental kuning keluar dari mulut bila mengucah makanan.
Untuk keluhan ini dia mengobati sendiri dengan antalgin. Pada hari keempat
setelah rasa sakit tersebut tak reda dan benjolan semakin besar, dia
memeriksakan ke poli THTKL. Secara anamnesis dia mengatakan bahwa dia
menderita pepmphigus vulgaris dan sering mendapat prednisone dalam jangka
lama (+/-1 bulan berulang). Pemeriksaan fisik terlihat adanya: cairan kental
kuning berasal dari bawah lidah bagian kanan dan mukosa disitu tampak
eritema; benjolan dibawah rahang bawah kanan lunak, fluktuasi dan sakit tekan.
Temperatur tubuh 38,50 sedang pemeriksaan penunjang berupa jumlah AL
adalah 14.000 dengan hitung jenis geser kiri.
1
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
C. REFERENSI
1. Rohan R, Matthew W, Bowen A. Non Neoplastic Diseases of Salivary Gland. In
: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR,
editors. Head and neck surgery – otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins; 2014. p.708-710
2. Yuan F, Butt S. Non Infectious Inflammatory Diseases Sialolithiasis. In :
Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head And Neck Surgery.
Chapter V. 3rd ed. McGrownHill; 2012. P.320-322
3. Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529
4. Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s
Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519
5. Yuan Fidelia dan Butt [Link] Diagnosis & Treatment in
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis sialodenitis (akut/kronik) berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan tambahan yang
diperlukan.
b. Mampu melaksanakan tatalaksana sialodenitis (akut/kronik)serta merujuk ke
fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
a. Mengenali gejala dan tanda sialodenitis (akut/kronik)
b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik sialodenitis (akut/kronik)
c. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
sialografi, radiosialografi.
d. Mengenali faktor resiko kejadian sialodenitis (akut/kronik)
e. Membuat keputusan klinik untuk pemberian anti biotika, anti radang,
analgesik antipiretik, hidrasi, sialogogues, minor operasi dan major operasi
f. Mengenali secara dini berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi
pada sialodenitis (akut/kronik)
E. GAMBARAN UMUM
Sialodenitis akut adalah Peradangan akut pada kelenjar ludah. Kemungkinan
penyakit ini disebabkan oleh adanya stasis saliva, akibat adanya obstruksi atau
berkurangnya produksi saliva.
F. CONTOH KASUS
Seorang laki-2 umur 49 tahun datang ke klinik THTKL dengan keluhan: rasa sakit
dibawah lidah bagian kanan bila makan terutama yang kecut dan pedas; selang satu
hari ada benjolan pada bawah rahang bawah bagian kanan yang sakit tekan; hari
kedua badan terasa mriang (subfibril); kemudian hari ketiga dia merasa ada cairan
kental kuning keluar dari mulut bila mengucah makanan. Untuk keluhan ini dia
mengobati sendiri dengan antalgin. Pada hari keempat setelah rasa sakit tersebut tak
reda dan benjolan semakin besar, dia memeriksakan ke poli THTKL. Secara
anamnesis dia mengatakan bahwa dia menderita pepmphigus vulgaris dan sering
mendapat prednisone dalam jangka lama (+/-1 bulan berulang). Pemeriksaan fisik
2
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
terlihat adanya: cairan kental kuning berasal dari bawah lidah bagian kanan dan
mukosa disitu tampak eritema; benjolan dibawah rahang bawah kanan lunak,
fluktuasi dan sakit tekan. Temperatur tubuh 38,50 sedang pemeriksaan penunjang
berupa jumlah AL adalah 14.000 dengan hitung jenis geser kiri.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
1. Menjelaskan anatomi, fisiologi kelenjar liur
2. Menjelaskan etiopatogenesis sialodenitis (akut/kronik) dan gambaran
klinik(anamnesis, pemeriksaan fisik)
3. Menjelaskan dan melakukan pemeriksan penunjang diagnosis
4. Menjelaskan dan melakukan tatalaksana medikamentosa maupun tindakan
operatif serta komplikasinya dan menentukan langkah terapi
5. Menjelaskan dan melakukan pencegahan komplikasi yang bisa terjadi
6. Melakukan work-up, menentukan terapi dan merujuk ke RS dengan fasilitas
yang lebih tinggi bila terjadi komplikasi
H. METODE PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion
• Peer assisted learning (PAL)
• Task based medical education
• Journal reading and review
• Case simulation and investigation exercise
• Case study
• Simulation and real examination exercises (physical and device)
• Demonstration and coaching
• Practice with real clients
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilakukan pre-test dan pada akhir pertemuan dilakukan
post-test dalam bentuk essay, multiple choice atau oral sesuai dengan masa
tingkat pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki
peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi prates
terdiri atas: anatomi, embriologi, histologi, topografi, fisiologi/biokimia,
patofisiologi, penegakan diagnosis, terapi konservatif dan operatif, komplikasi
dan penanganan, tindak lanjut
2. Self assessment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan
penuntun belajar
3. Selanjutnya dilakukan diskusi kelompok kecil bersama dengan fasilitator guna
membahas kekurangan yang teridentifikasi; membahas isi dan hal-hal yang
berkenaan dengan penuntun belajar dan kesempatan yang akan diperoleh pada
saat visite kecil maupun besar dan proses penilaian
4. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temanya (peer assisted learning) atau pada
standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan
membawa penuntun belajar. Penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya
3
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
2. Kelenjar saliva mayor terbesar kedua, terletak di dalam segitiga yang dibentuk
oleh
a. [Link] lateral, posterior belly dan inferior ramus mandibula
b. [Link] posterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula
c. [Link] anterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula
d. [Link] superior, posterior belly dan inferior ramus mandibula
e. [Link] medial, posterior belly dan inferior ramus mandibula
Jawaban: C
3. Pasien laki laki 40 tahun datang dengan keluhan nyeri pada rahang bawah sejak
3 hari yang lalu. Keluhan disertai dengan timbul benjolan di rahang bawah,
kemerahan dan nyeri tekan. Pasien mengatakan jarang menyikat gigi. Pada
pemeriksaan didaptkan tekanan darah130/80mmHg, Nadi 92 x/menit nafas 20
x/menit, suhu 37,4C, tampak benjolan di daerah submandibula ukuran 3x3x4
difus, kemerahan, kenyal, nyeri bila ditekan.
Kemungkinan diagnosis pada kasus diatas
4
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
a. Sialolhitiasis
b. Abses peritonsil
c. Uvuleitis
d. Abses ginggingva
e. Sialodenitis akut
Jawaban: E
5
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
6
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
Jawaban: D
5. Seorang wanita berusia 24 tahun datang dengan keluhan bengkak di pipi kanan
sejak 4 hari, terasa nyeri, keluar nanah (+) dari bawah lidah. Penderita juga
mengeluhkan demam. Pada pemeriksaan fisik teraba benjolan pada daerah pipi
kanan, benjolan kenyal dan berwarna kemerahan. Penatalaksanaan awal apa
yang dapat dilakukan pada pasien ini ?
A. Aspirasi dan antibiotik
B. Antivirus dan kompres air hangat
C. Masase lembut, kompres air hangat dan oral irigasi
D. Analgetik dan konsul bagian gigi
E. Insisi dan drainase segera
Jawaban: C
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)
2. Mampu langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi diluar normal.
3. Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan
waktu kerja yang sangat efisien
7
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
KASUS
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK
1 2 3 4 5
KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR
OPERATIF
• Nama
• Diagnosis
• Informed Choice & Informed Consent
• Rencana tindakan
• Persiapan sebelum tindakan
PERSIAPAN PRAOPERASI
1 Informed Consent
2 Laboratorium
3 Pemeriksaan Penunjang
4 Pemberian Antibiotik Profilaksi
5 Cairan Dan Darah
6 Memeriksa Dan Melengkapi Alat
7 Penderita Puasa
BIUS
Ga Atau Neurolep Atau Lokal
PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI
1 Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala
2 Desinfeksi Dengan Bahan Apa? Dan Cara?
3 Cara Menutupi Daerah Operasi
TINDAKAN OPERASI
1 Butir-butir penting:
a. Insisi kulit agak jauh di bawah mandibula
b. Hindari perlukaan pada [Link] [Link]
dan r. cervicalis nVII
c. Hindari trauma pada n. hypoglossus dan n.
lingualis
d. V fasialis anterior lebih superficial dari
glandula
e. Lapisan-2 dari luar ke dalam adalah kulit ,
subkutan, platysma, fasia superficialis
cervicalis, r mandibularis dan cervicalis n.
VII, vasa vena dan arteri dan kapsula
glandula
f. Hafal anatomi dan topografi regio supra
hyaoid
8
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
bawah.
9
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
10
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
L. DAFTAR TILIK
KEGIATAN
KEGIATAN KLINIS NILAI
1 2 3
PERSIAPAN PRAOPERASI
Informed Consent
Laboratorium
Pemeriksaan Penunjang
Pemberian Antibiotik Profilaksi
Cairan Dan Darah
Memeriksa Dan Melengkapi Alat
Penderita Puasa
11
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
BIUS
Ga Atau Neurolep Atau Lokal
PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI
Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala
Desinfeksi Dengan Bahan Apa? Dan Cara?
Cara Menutupi Daerah Operasi
TINDAKAN OPERASI
Butir-2 Penting
Insisi Dan Pambuatan Flap Kulit
Deseksi Flap
Batas Flep Superor Dan Inferior Dan Bangunan Yang Perlu Diamati
Dan Dilindungi
Bangunan Yang Perlu Diamati Dan Perlu Dilindungi Dan Diligasi
Mulai Mengangkat Glandula
Bangunan Yang Diamati, Dilindungi Dan Ditindak
Pengangkatan Lobus Profunda; Bangunan Jang Diamati,Dirawat Dan
Ditindak
Pemotongan Duktus; Adakah Bangunan Disini Yang Perlu Dipotong
Dan Diligasi?
Pengangkatan Glandula Selannutnya
Penutupan Kulit Dan Pemasangan Pematus
M. MATERI PRESENTASI
• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
• Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
• Slide 4. Sialodenitis
• Slide 5. Etiologi
• Slide 6. Diagnosis
• Slide 7. Penatalaksanaan
• Slide 8. Komplikasi
N. MATERI BAKU
• SIALODENITIS AKUT
a. Pendahuluan
Sialodenitis akut adalah peradangan akut pada kelenjar ludah. Kemungkinan
penyakit ini disebabkan oleh adanya stasis saliva, akibat adanya obstruksi atau
berkurangnya produksi saliva.
b. Anatomi kelenjar saliva mayor
Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur yang terbesar berukuran 5,8 x 3,4cm dan
berat rata-rata 15-30 g. Berlokasi di regio pre aurikula dan bagian posterior
12
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
13
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
c. Fisiologi
Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah memproduksi saliva yang berguna pada
proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh. Saliva secara aktif di produksi
dalam jumah yang besar sesuai dengan ukuran kelenjar saliva, secara ekstrinsik
dikontrol oleh syaraf simpatik dan para simpatik.
Kelenjar saliva di lidah memproduksi lipase yang berfungsi menghancurkan
trigliserida. Enzim ini berfungsi di dalam lambung dan juga proksimal dari
duodenum karena enzim ini aktif secara optimal pada Ph rendah. Saliva terdiri
dari inorganik dan organik. Kandungan organik terdiri dari: amilase, lingualifase,
lisozim, glikoprotein, laktoferin dan imunoglobulin A, saliva juga mengandung
antibakterial yang dapat berfungsi protektif ( glikoprotein dan imunoglobulin A )
yang secara aktif dapat melawan virus dan bakteri. Enzim lisosim menyebabkan
bakteri mengalami aglutinasi dan menyebabkan autolisis pada dinding sel bakteri.
enzim laktoferin menghambat pertumbuhan dari bakeri.
e. Ruang Lingkup
pasien mengeluh sakit pada bawah rahang bawah (kelenjar sumandibularis)
sedang parotis pada pipi, benjolan yang difus, kenyal dan sakit tekan/spontan,
kemerahan di kulit/eritem. Bila abses akan keluar pus pada muara duktus. Bila
duktus erosi maka saliva akan mengisi jaringan sekitarnya (ingat sifat saliva
adalah fragmentasi dan proteolitik)
f. Faktor Resiko
pasien debil, pasien dehidrasi (operasi major/op. mulut, pharynx + larynx,
gastrointestinal), terapi radiasi/brachytherapy, pemberian imunosupresi,
kemoterapi, atau, hygiene mulut jelek, perawatan rumah sakit yang tak
higienis(infeksi nosokomial), pasien banyak kali puasa/tak suka makan
14
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
g. Etiologi
Sstafilokokus koagulasi positif dan bisa diikuti oleh streptokokus pneumoni, E.
coli, hemofilius influenza sedang bakteria anaerob yang sering adalah
bakterosides m dan streptokokus micros
h. Pemeriksaan Penunjang
Sialografi merupakan kontra indikasi; foto konvensional pandangan lateral,USG,
sialoendoskopi diagnostik, CT potongan aksial, koronal maupun sagital & MRI
dapat dikerjakan.
i. Terapi:
1. Masase lemah-lembut berulang, rehidrasi, kompres hangat, oral irigasi
dengan anti septik
2. Antimikroba per-oral: tu. Untuk stafilokokus; ingat beta laktam bakteri;
bakteri anaerob dengan khoramfenikol
3. Sebaiknya antibiotika parenteral di poli kemudian dilanjutkan per oral, Buku
panduan → memakai amoksilin dengan asam klavulanat atau ampisilin
dengan sulbaktam
4. Terapi simtomatis: anti inflamasi dan analgesik/analgesik antipiretik,
mokolitik.
5. Terapi operasi minor dan major: major tak dikerjakan sedang insisi(minor)
dilakukan.
j. Tindak Lanjut
Umunya penyembuhan dalam waktu 24-48 jam
1. Bila tidak, perlu insisi dan drainase.
2. USG & CT dapat menginformasikan tentang masih ada atau tidaknya abses
15
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
2. Teknik Insisi:
a. Dikerjakan bila tak ada fluktuasi. Penjelasan kepada penderita dan
keluarganya mengenai tindakan operasi yang akan dijalani seta resiko
komplikasi disertai dengan tandatangan persetujuan dan permohonan dari
penderita untuk dilakukan operasi (informed consent). Pemeriksaan
kelengkapan alat operasi, obat anastesi. Panderita puasa minimal 6 jam
bila akan GA atau neurolep.
b. Bila dengan Ga atau neurolep, penderita ditidurkan terlentang kepala
hiperekstensi dan miring kearah yang [Link] disinfeksi dengan
larutan desinfeksi sesuai prosedur kemudian daerah operasi ditutup dan
dipersempit dengan linen steril.
c. Untuk Parotis, insisi dengan standar parotidectomy flap dan dengan
hemostad dibuat lubang banyak yaitu tempat-2 yang fluktuasi
d. Kemudian alat pematus ditempatkan pada lubang-2 itu dan kulit ditutup
e. Operasi selesai
a. Definisi
Peradangan pada glandula salivarius yang khronik; dasar waktu 12-14 minggu,
berulang kambuh, terkadang diluar serangan masih teraba benjolan bawah
rahang bawah walaupun tidak sakit. Bila stadium akut terjadi pembesaran dan
sedikit sakit tekan. Bisa kejadian saliva berkurang produksinya sehingga 80%
maka penderita menderita xerostomia( rasa kering mulut, perih di mukosa mulut
dan mudah kejadian erosi mukosa.
b. Ruang Lingkup
Serangan berulang dengan kejadian benjolan yang difus, sedikit sakit tekan dan
kenyal (indurasi) terutama saat makan. Di darah submandibula atau pipi.
c. Faktor Resiko
aliran saliva berkurang ok. Penyempitan→ striktura,
kalkulus/kalkuli; perubahan stuktur dari saliva ok→radang akut tidak sembuh,
radiasi ,sitostatika
d. Pemeriksaan Penunjang
Seperti yang akut akan tetapi disini sialografi dapat dilakukan. Guna melihat
aktivitas dinamik dari glandula maka dapat dilakukan dengan radiosialografi
atau radionucleide imeging menggunakan sodium pertechnetrate (Tc 99m) dan
Gallium 67 citrate untuk membedakan sel tumor atau inflamasi yang sekarang
diganti thalium 201
e. Terapi
1. Faktor resiko: faktor resiko harus hilang
2. Terapi konservatif tahap 1: a) sialogogues, masase berulang, b) antibiotika
peroral dengan obat seperti di atas, c) antiinflamasi, analgetik, antipiretika
bila eksaserbasi akut.
16
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
f. Tindak Lanjut:
1. disesuaikan dengan tahap terapi seperti di atas
2. kemungkinan dapat atrofi mandiri ok. Duktus tersumbat akibat duktus
meyempit karena hiperplasi selular atau kejadian tumpukan saliva kental
dan karena endapan protein.
3. Perlu observasi untuk terbentuknya lesi benign lymphoepithelial yang perlu
ditidak lanjuti ok mungkin makin membesar dan kambuhan sialoadenitis
atau pertumbuhan karsinoma undeferentiated dan pseudolymphoma
1. Butir-butir penting:
• Insisi kulit agak jauh di bawah mandibula
• Hindari perlukaan pada [Link] [Link] dan r. cervicalis nVII
• Hindari trauma pada n. hypoglossus dan n. lingualis
• V fasialis anterior lebih superficial dari glandula
• Lapisan-2 dari luar ke dalam adalah kulit , subkutan, platysma, fasia
superficialis cervicalis, r mandibularis dan cervicalis n. VII, vasa vena
dan arteri dan kapsula glandula
• Hafal anatomi dan topografi regio supra hyaoid
2. Teknik Operasi
1. Insisi kulit dibuat 4 cm dibawah tepi bawah mandibula secara horizontal
agak melengkung ke bawah.
2. Insisi dilanjutkan mendalam melalui lapis platysma sampai dengan fascia
cervicalis superficial (FCF). Semua irisan ini dibuat sebagai flap kulit.
Ujung lateral sampai tepi anterior m strenocleidomastoideus dan tepi ini
perlu diperlihatkan. Pada dataran ini perlu dicari v Retromandibularis /
fasialis communis dan anak cabangnya yaitu v fasialis posterior/fasialis
dan anterior/submentalis, dilakukan jahitan pancang melalui platysma
dan fascia di atas. Pada saat memotong platysma dan dideseksi keatas
bersama dgn FCF maka kita menjumpai [Link] [Link] yang
mensarafi platysma. Sebaiknya anda mempertahankan saraf ini. Dan
perlu dicamkan guna mengembalikan fungsinya perlu dijahit kembal tepi
insisi antara atas dan bawah platysma yang di iris.. insisi pilihan lain
adalah irisan kulit sampai platysma, kemudian deseksi lembut ke atas
sampai tepi bawah mandibula. Platysma dibelah secara vertical dan
diretraksi dengan retractor ke medial dan lateral. Akan tetapi pandangan
kearah glandula terbatas bila glandula tidak terlalu besar maka
pandangan tetap luas sedang apabila terlalu besar pandangan operator
terbatas.
3. Terjadilah flap superior dan inferior. Yang inferior dideseksi secara
lembut sampai tendo intermediate dari [Link]. Flap yang superior
17
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
di desksi ke atas antara FCF dengan kapsula glandula sampai tepi bawah
mandibula. Ekstra hati-2 ok. Sedikit di bawah tepi mandibula secara
horizontal lewat [Link] n. VII/r. mandibularis marginalis
sehingga sebaiknya saat deseksi didaerah ini nerve stimulator sangat
perlu. Atau terlebih dulu vena di potong dan bagian atas vena dibelokan
ke atas melindungi saraf dari trauma. (menurut Lampe).Perhatian:
sebaiknya selama deseksi flap kulit superior selalu diidentifikasi adanya
r. mandibularis yang jalannya horizontal. Bila r mandibularis melekat
pada glandula dan jaringan lemak peri glandular tebal ok. Infeksi peri
glandulair maka insisi untuk membentuk flap kulit dimulai seperti diatas
tetap horizontal agak melangkung ke bawah yang terdiri atas kulit,
subkutis dan platysma saja setelah sampai setinggi tepi bawah glandula
baru dibuat irisan pada fascia dan selanjutnya desksi priglandular lemak
dengan sangat hati-2 sebaiknya mengunakan nerves stimulator.
4. [Link] externa ([Link]) dan vena facialis anterior/communis
(VFA/C) di klem dan diligasi. Puntung superior keduanya di belokan k
etas guna melindungi saraf. Bila diperlukan untuk meretraksi flap kulit
kearah atas sebaiknya memakai Cushing vein retractor (CVR).
5. Pengangkatan glandula dimulai dari bagian tepi inferior glandula.
Diantara tendo intermediate dengan glandula. Dan tepat didaerah itu
harus diiidentifikasi n hypoglossus. Vena lingualis dekat nervus tersebut
kearah [Link] terlihat lebih kearah lateroocranial melalui
sebelah dalam dari [Link] venter posterior dan m. stylohyoideus.
6. Klem dan ligasi AME dan diutamakan puntung proksimal diikat 2 kali
dengan sutera sedang puntung distal diikat satu kali.
7. Lobus dalam diangkat dengan cara meretraksi [Link] dengan
CVR kearah medial dan meretraksi tepi atas perlukaan keatas dengan
slender finger retractor dengan dibantu menarik glandula dengan klem
(dressing and sponge forcep). N lingualis beserta dengan serabut eferen
dari chorda tympani (serabut exitogladular) dan ganglion
submaxillaris/submandibularis.
8. Duktus glandula submandibularis(Wharton’s duct) dipotong dan diligasi.
Serabut eferen [Link] dipotong proksimal dari pertemuan
nervus; disini perlu ekstra hati-2 ok. Ada vasa kecil mengikuti n.
chordatympani.
9. Glandula mudah diangkat secara tumpul
10. Dasar trigonum submandibulare tampak serta vasa dan nervus seperti
tersebut di atas dan perlu ditunjukan pada asisten.
11. Pematus kecil (selang infuse) yang diberi lubang banyak dipasang atau
dengan alat pematus khusus yaitu JACKSON- PRATT DRAIN dan
jahitan lapis demi lapis; fascia dengan jarum fascia dan benang plain-
catgut, platysma dengan jarum fascia dan benang chromic gut nomer 4-0,
kulit dengan jarum kulit dan benang nylon/prolene/sutera/ nomer 5-0.
18
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
19
Modul IV.5.2 – Sialodenitis
• Kepustakaan :
20
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ................................................................................................................... 1
C. REFERENSI ............................................................................................................. 1
D. KOMPETENSI ......................................................................................................... 2
I. EVALUASI .............................................................................................................. 3
L. MATERI BAKU....................................................................................................... 8
M. Daftar Pustaka...................................................................................................... 11
Modul IV.5.3 – Parotitis
MODUL IV.5.3
LARING-FARING – PENYAKIT KELENJAR LUDAH : PAROTITIS
A. WAKTU
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi : Parotitis
• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
• Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
• Slide 4. Parotitis
• Slide 5. Etiologi
• Slide 6. Diagnosis
• Slide 7. Penatalaksanaan
2. Contoh Kasus :
Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun dengan keluhan bengkak pada daerah
pipi kiri sejak 3 hari yang lalu, disertai dengan demam, nafsu makan berkurang,
lemas. Bengkak pada daerah pipi kiri disertai warna kemerahan. Penderita juga
mengeluhkan bengkak dan nyeri pada kantung zakar kanan.
C. REFERENSI
1. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Fifth Edition, Lippincott
Williams & Wilkins, Philadelphia, 2014, 703 – 704.
2. McCaffrey TV dan Arrieta AJ. Inflammatory Disorders of The Salivary Glands.
In Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery 5th ed. Philadelpia:
Mosby Elseviere, 2010.
3. Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529.
4. Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s
Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519.
1
Modul IV.5.3 – Parotitis
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis parotitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan beberapa pemeriksaan tambahan yang diperlukan.
b. Mampu melaksanakan tatalaksana parotitis serta merujuk ke fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
1. Menjelaskan anatomi, fisiologi struktur kelenjar liur
2. Menjelaskan etiologi, macam-macam virus
3. Menjelaskan gambaran klinik dari parotitis
4. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang.
5. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
tambahan.
6. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan parotitis
7. Melakukan work-up pada penderita parotitis (follow-up selanjutnya)
8. Merujuk ke rs dengan fasilitas yang lebih tinggi
E. GAMBARAN UMUM
Parotitis adalah penyakit infeksi pada kelenjar parotis akibat virus. Penyakit ini
merupakan penyebab edema kelenjar parotis yang paling sering. Kejadian parotitis
saat ini berkurang karena adanya vaksinasi. Sebelum diperkenalkan vaksinasi
mumps pada tahun 1967, insiden mumps di Amerika Serikat meningkat hingga
300.000 kasus tiap tahunnya. Insiden ini menurun secara dramatis hingga 266 kasus
yang dilaporkan pada tahun 2001. Secara demografis, terjadi peralihan penyakit
dari masa kanak-kanak hingga paling sering dijumpai pada remaja muda. Insidensi
parotitis tertinggi pada anak-anak berusia antara 4-6 tahun
F. CONTOH KASUS
Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun dengan keluhan bengkak pada daerah pipi
kiri sejak 3 hari yang lalu, disertai dengan demam, nafsu makan berkurang, lemas.
Bengkak pada daerah pipi kiri disertai warna kemerahan. Penderita juga
mengeluhkan bengkak dan nyeri pada kantung zakar kanan.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
1. Menjelaskan anatomi, fisiologi struktur kelenjar liur
2. Menjelaskan etiologi, macam-macam virus, dan gambaran klinik dari parotitis
3. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang.
4. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
tambahan.
5. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan parotitis
2
Modul IV.5.3 – Parotitis
H. METODE PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion
• Peer assisted learning (PAL)
• Task based medical education
• Journal reading and review
• Case simulation and investigation exercise
• Equipment characteristics and operating instructions
• Simulation and real examination exercises (physical and device)
• Demonstration and coaching
• Practice with real clients
• Continuing professional development
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan pada akhir pertemuan dilakukan
post-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan,
yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan
untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi kelenjar liur
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh
pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan l angkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP
(Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang
oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation).
Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah
pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada
model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
- Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
3
Modul IV.5.3 – Parotitis
3. Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dibawa ibunya berobat ke Klinik THT
dengan keluhan bengkak pada pipi kanan dan kiri sejak 2 hari yang lalu.
4
Modul IV.5.3 – Parotitis
Keluhan disertai demam, dan tidak nafsu makan. Gejala klinis apalagi yang
dapat ditemukan pada penderita ini?
A. Mialgia
B. Lesu
C. Sakit kepala
D. Nyeri
E. Semua benar
Jawaban: E
5. Komplikasi yang mungkin dapat dijumpai pada penderita ini antara lain
A. Uveitis
B. Glomerulonephritis
C. Miokarditis
D. Arthritis
E. Semua benar
Jawaban: C
1. Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa ibunya berobat ke Klinik THT
dengan keluhan bengkak pada pipi kanan sejak 3 hari yang lalu. Keluhan disertai
demam, lesu, dan tidak nafsu makan. Anak juga mengeluhkan bengkak pada
kantung zakar. Apa kemungkinan etiologi keluhan di atas?
A. Paramixovirus, Coxsackie A dan B, Influenza A
B. Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa
C. Measles, Herpes Simpleks, Rubella
D. Eschericia coli, Enterobacter sp., Helicobacter pylori
E. Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoe
Jawaban: A
2. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain
A. Antibodi mump S dan antigen V
B. Biopsi
C. Rontgen thorax
D. MRI
5
Modul IV.5.3 – Parotitis
3. Jika terdapat gejala meningitis aseptic pada penderita ini, pemeriksaan yang
dapat dilakukan untuk menegakan diagnosa adalah
A. Antibodi mump S dan antigen V
B. Biopsi
C. Rontgen thorax
D. MRI
E. Isolasi virus dari cairan cerebrospinal
Jawaban: E
4. Apakah terapi yang paling tepat untuk penderita di atas saat ini?
A. Meningkatkan oral higiene
B. Analgetik-antipiretik
C. Antibiotik
D. Antiviral
E. Istirahat
Jawaban: C
1. Seorang anak perempuan berusia 5 tahun dibawa ibunya berobat ke Klinik THT
dengan keluhan bengkak dan nyeri pada pipi kiri sejak 2 hari yang lalu. Keluhan
disertai demam, sakit kepala dan lesu. Apa etiologi yang mungkin menyebabkan
keluhan penderita ini?
6
Modul IV.5.3 – Parotitis
A. paramiksovirus,
B. sitomegalovirus,
C. Coxsackie A dan B,
D. virus koriomeningitis limfositik.
E. Semua Benar
Jawaban: E
K. MATERI PRESENTASI
• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
7
Modul IV.5.3 – Parotitis
L. MATERI BAKU
PAROTITIS
a. Pendahuluan
Parotitis adalah penyakit infeksi pada kelenjar parotis akibat virus. Penyakit ini
merupakan penyebab edema kelenjar parotis yang paling sering. Kejadian
parotitis saat ini berkurang karena adanya vaksinasi. Sebelum diperkenalkan
vaksinasi mumps pada tahun 1967, insiden mumps di Amerika Serikat
meningkat hingga 300.000 kasus tiap tahunnya. Insiden ini menurun secara
dramatis hingga 266 kasus yang dilaporkan pada tahun 2001. Secara demografis,
terjadi peralihan penyakit dari masa kanak-kanak hingga paling sering dijumpai
pada remaja muda. Insidensi parotitis tertinggi pada anak-anak berusia antara 4-
6 tahun.
8
Modul IV.5.3 – Parotitis
Wharton’s)keluar dari permukaan medial dari kelenjar ini dan berjalan diantara
[Link] dan hioglosuske m. Genioglosus. Arteri yang memperdarahi
kelenjar submandibula adalah cabang submental dari arteri fasialis. Drainase
melalui vena fasialis yang melewati permukaan lateral kelenjar submndibula.
Kelenjar sublingual merupakan kelenjar saliva mayor yang paling kecil dengan
berat sekitar 2 – 4 g, terletak di bawah mukosa dasar mulut antara mandibula dan
m. Genioglosus. Duktus Wharton dan nervus lingualis melewati diantara
sublingual dan [Link]. Kelenjar ini tidak memiliki kapsul, tidak
memiliki duktus yang dominan, drainase melalui kurang lebih 10 duktus kecil-
kecil (duktus rivinus) dan bermuara ke lipatan sublingual pada dasar mulut.
Kelenjar saliva minor , kelenjar yang tidak memiliki duktus ,jumlahnya sangat
banyak berkisar 600 sampai 1000 kelenjar, tersebar di regio bukal, labial,
palatal, dan lingual. Dapat ditemukan juga pada bagian atas tonsil dan dasar
lidah. Suplai darah berasal dari arteri di sekitar rongga mulut. Kelenjar saliva
minor menerima inervasi dari nervus lingualis, kecuali kelenjar di palatum yang
menerima inervasi dari nervus palatinum.
c. Fisiologi
Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah memproduksi saliva yang berguna pada
proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh. Saliva secara aktif di produksi
dalam jumah yang besar sesuai dengan ukuran kelenjar saliva, secara ekstrinsik
dikontrol oleh syaraf simpatik dan para simpatik.
Kelenjar saliva di lidah memproduksi lipase yang berfungsi menghancurkan
trigliserida. Enzim ini berfungsi di dalam lambung dan juga proksimal dari
duodenum karena enzim ini aktif secara optimal pada Ph rendah. Saliva terdiri
dari inorganik dan organik. Kandungan organik terdiri dari: amilase,
lingualifase, lisozim, glikoprotein, laktoferin dan imunoglobulin A, saliva juga
mengandung antibakterial yang dapat berfungsi protektif (glikoprotein dan
imunoglobulin A) yang secara aktif dapat melawan virus dan bakteri. Enzim
lisosim menyebabkan bakteri mengalami aglutinasi dan menyebabkan autolisis
pada dinding sel bakteri. enzim laktoferin menghambat pertumbuhan dari bakeri.
9
Modul IV.5.3 – Parotitis
d. Etiologi
Virus yang terlibat dalam terjadinya parotitis viral akut antara lain
paramiksovirus, sitomegalovirus, Coxsackie A dan B, ecovirus, influenza A, dan
virus koriomeningitis limfositik.
e. Diagnosis
Onset penyakit ini diawali dengan adanya rasa nyeri dan bengkak pada daerah
sekitar kelenjar parotis (gambar 1). Onset parotitis biasanya terjadi dalam 24 jam
dan berlangsung hingga satu minggu kemudian. Masa inkubasi berkisar antara 2
hingga 3 minggu. Gejala prodromal meliputi demam, malaise, mialgia, sakit
kepala, dan anoreksia. Pada umumnya parotitis terjadi bilateral, tetapi dapat juga
unilateral. Kelenjar salivarius lainnya seperti kelenjar submandibula dan
sublingual lebih jarang terlibat dan hampir tidak pernah sendirian terlibat.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan konfirmasi antibodi mumps S dan antigen V.
Diagnosis juga dapat dibuat dengan cara mengisolasi virus dari cairan
serebrospinal pada saat 3 hari pertama muncul gejala meningitis aseptik. Virus
juga ditemukan pada saliva sekitar 1 minggu mulai dari 2-3 hari sebelum onset
parotitis. Kultur virus dari urin juga mungkin dilakukan dalam 2 minggu
pertama. PCR atau kultur virus dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan
virus.
f. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain orkitis, meningitis aseptik,
pankreatitis, dan miokarditis. Komplikasi yang jarang terjadi adalah tuli
sensorineural. Sialodenitis obstruktif kronis dapat berkembang beberapa tahun
setelah episode parotitis akut.
g. Tata Laksana
Terapinya istirahat, hidrasi yang adekuat, meningkatkan oral hygiene, pemberian
antipiretik dan analgetik, pemberian antiviral atau imunomodulator. Pemberian
antibiotik diindikasikan jika ditemukan superinfeksi atau komplikasi.
10
Modul IV.5.3 – Parotitis
M. Daftar Pustaka
1. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Fifth Edition,
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2014, 703 – 704.
2. McCaffrey TV dan Arrieta AJ. Inflammatory Disorders of The Salivary
Glands. In Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery 5th ed.
Philadelpia: Mosby Elseviere, 2010.
3. Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and
Neck Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008:
512-529.
4. Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In
Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008:
507-519.
5. Yuan Fidelia dan Butt [Link] Diagnosis & Treatment in
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300
11
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU.............................................................................................................. 1
C. REFERENSI ...................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI .................................................................................................. 1
E. GAMBARAN UMUM....................................................................................... 2
I. EVALUASI ........................................................................................................ 3
MODUL IV.6
LARING-FARING : DISFONI
A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 8 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 24 X 60 menit (facilitation and assessment)
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi : Disfoni
• Slide I : Gejala dan Tanda Disfoni
• Slide 2 : Anamnesis & Pemeriksaan Disfoni
• Slide 3 : Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
• Slide 4 :Faktor Resiko Disfoni
• Slide 5 :Clinical Decision Making dan Medikamentosa
2. Kasus : Disfoni
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Model anatomi laring, video
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.
C. REFERENSI
1. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia,
Lea & Fabiger, 1993, chapter 34&35, pp.569-619.
2. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014.
3. Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology.
Philadelphia. WBSaunders Co.,1991, chapter 29,31,33&34, pp. 2257-384.
3. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw
Hill, 8th Ed, Chapter 31, pp. 724-92
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis disfoni berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan (Laringoskopi Indirek/
Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/ foto polos leher AP
dan lateral/ CT scan leher/ Waktu Fonasi Maksimal/ Perceptual Analisis/
Voice Handicap Index (VHI))
b. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang
lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
a. Mengenali gejala dan tanda klinis penyakit yang menyebabkan disfoni
b. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
Laringoskopi Indirek/ Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy
1
Modul IV.6 - Disfoni
(FOL)/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher/ Waktu Fonasi
Maksimal/ Perceptual Analisis/ Voice Handicap Index (VHI))
c. Mengenali faktor resiko terjadinya disfoni
d. Mampu melakukan tatalaksana konservatif dan operatif
e. Deteksi dini penyulit yang mungkin terjadi pada disfoni, dan merujuk bila
perlu
E. GAMBARAN UMUM
Disfoni adalah gangguan suara yang disebabkan kelainan pada laring, bukan
merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala penyakit. Disfoni dapat berupa
suara parau (hoarseness), suara mendesah (breathy voice), suara kaku (strain voice)
sampai tidak bersuara (afoni). Penyebab disfoni adalah kelainan pada laring dapat
berupa infeksi/ peradangan, kelainan neurologis, trauma laring, tumor jinak dan
tumor ganas.
F. CONTOH KASUS
Seorang wanita, 49 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan: suara
parau sudah 3 bulan. Empat bulan sebelumnya dia menjalani operasi tiroid. Dari
pemeriksaan laringoskopi indirek dan laringoskopi direk didapatkan kelumpuhan
pita suara sebelah kiri.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
disfoni seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
1. Mengenali gejala dan tanda Disfoni
2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik Disfoni
3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
foto leher jaringan lunak, pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan
langsung, laringoskopi serat optik.
4. Mengenali faktor resiko kejadian Disfoni
5. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika,
anti radang, analgesik antipiretik, dan operasi.
6. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin
terjadi pada Disfoni.
H. METODA PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion.
• Peer assisted learning (PAL).
• Bedside teaching.
• Task based medical education.
• Journal reading and review.
• Case simulation and investigation exercise.
• Equipment characteristics and operating instructions.
• Case study
• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
2
Modul IV.6 - Disfoni
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dan post-test dalam bentuk essay dan
oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja
awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang
ada. Materi pre test dan post test terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi laring
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada
saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
4. mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada
SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh
teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah
dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan
fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
5. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
6. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
7. Pendidik/ fasilitas :
• pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
• penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
8. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan
diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
9. Pencapaian pembelajaran :
3
Modul IV.6 - Disfoni
4
Modul IV.6 - Disfoni
5. Pernyataan yang paling benar pada kasus papiloma laring pada anak :
A. Tidak mempunyai potensi berubah jadi ganas
B. Morbiditasnya rendah
C. Tidak ada hubungan dengan hormonal
D. Penyebab pasti adalah human papiloma virus
E. Pada saat operasi harus dilakukan dengan hati-hati jangan melukai mukosa
normal sekitarnya
Jawaban : E
5
Modul IV.6 - Disfoni
2 Pemeriksaan Penunjang
3 Memeriksa Dan Melengkapi Alat
4 Persiapan Tindakan
5 Cara Duduk Penderita Dan Posisi Kepala
TINDAKAN
1 Memasukkan Fiber Optic
2 Evaluasi Rongga Hidung
3 Evaluasi Nasofaring
4 Evaluasi Laring
L. DAFTAR TILIK
KEGIATAN NILAI
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung
1. Persiapan tindakan
[Link]
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL)
1. Persiapan tindakan
2. Tindakan
M. MATERI PRESENTASI
Slide 1: Gejala dan Tanda Disfoni
Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Disfoni
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Resiko Disfoni
Slide 5: Clinical decision making and Medikamentosa
6
Modul IV.6 - Disfoni
N. MATERI BAKU
1. DISFONI
a. Definisi
Disfoni adalah gangguan suara yang disebabkan kelainan pada laring, bukan
merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala penyakit. Disfoni dapat
berupa suara parau (hoarseness), suara mendesah (breathy voice), suara kaku
(strain voice) sampai tidak bersuara (afoni). Penyebab disfoni adalah kelainan
pada laring yang meliputi infeksi/ peradangan, kelainan neurologis, trauma
laring, tumor jinak dan tumor ganas.
b. Faktor Resiko
Trauma leher, operasi daerah leher, kelainan paru, kelaianan jantung dan
penyakit sistemik lain.
c. Etiologi
Etiologi yang sering dijumpai adalah : Infeksi/peradangan, kelainan neurologis,
trauma laring, tumor jinak dan tumor ganas. Etiologi yang jarang dijumpai
adalah gangguan psikologis seperti stress, obat-obatan, hormonal, usia, variasi
anatomi dan penyakit neuromuskuler.
d. Diagnosis
• Anamnesis :
Anamnesis komprehensif :
o Keluhan utama :
- Durasi, hilang timbul, pernah normal lagi ?
o Faktor predisposisi :
- Dimulai dengan infeksi saluran napas akut? Teriak?
o Riwayat medis yang lalu :
- Trauma, pasca operasi/intubasi, hipotiroid?
o Simptom yang berhubungan dengan :
- Disfagi, batuk kronis, alergi, sesak napas
o Riwayat sosial :
- Pekerjaan, rokok, alkohol, vocal misuse/abuse
o Riwayat obat-obatan, terkait efek samping :
- Kekeringan mukosa
- Obat jantung bisa berefek samping batuk
- Hormon
• Pemeriksaan fisik
o Pemeriksaan kepala dan leher :
- Inspeksi dan palpasi untuk melihat tumor koli, tiroid dan
pergerakan kartilago laring
o Pemeriksaan laring :
- Pemeriksaan dengan cermin
- Laringoskopi kaku/teleskop/fleksibel
o Pemeriksaan penunjang lainnya sesuai dengan indikasi :
- Foto polos leher AP dan lateral
- CT scan leher
7
Modul IV.6 - Disfoni
a. Laringitis Akut
c. Laringitis Difteri
8
Modul IV.6 - Disfoni
• Etiologi : C. Diphtheria
• Patologi :
- Biasanya perluasan dari tonsilofaringitis difteri, jarang primer
- Pseudomembran dan udem pada mukosa korda vokalis dapat menutup
rima glotis,
menimbulkan parau dan sesak napas
• Insidens : sering pada anak
• Gejala klinik :
- Parau
- Panas subfibril
- Sesak napas inspiratoir
- Stridor inspiratoir
- Bull neck
• Komplikasi :
- Seperti tonsilofaringitis difteri
- Dapat fatal karena obstruksi laring
• Terapi :
- ADS
- Penicilin
- Isolasi
- Trakeotomi bila perlu
• Etiologi :
- Iritasi
- Infeksi di jalan napas, meliputi hidung, sinus paranasalis dan paru
- Eksogen : bahan kimia dan rokok
• Gejala klinik :
- Parau yang lama
- Korda vokalis : udem, penebalan lokal/difus, eritema, bercak2 putih,
keratosis, jarang menimbulkan obstruksi
• Terapi : sesuai dengan penyebab
9
Modul IV.6 - Disfoni
f. Nodul Vokal
g. Granuloma Laring
10
Modul IV.6 - Disfoni
• Gejala klinik :
- Suara parau
- Tenggorok terasa ngganjel
• Terapi :
- Obat anti refluk
- BLM
h. Kista Laring
• Gambaran umum:
- Lebih sering pada supra glotis
- Lebih sering kista retensi
- Bila besar bisa menimbulkan obstruksi
- Pada korda vokalis menimbulkan parau
• Terapi : BLM
i. Papiloma Laring
• Gambaran umum:
- Tumor jinak pada laring, dapat meluas ke faring, trakea dan bronkus
- Sering pada anak-anak, dapat mengenai dewasa
• Etiologi :
- Diduga ada hubungan kuat dengan human papiloma virus tipe 6 dan 11
- Diduga ada hubungan dengan hormonal
• Gejala klinik :
- Suara parau progresif
- Dapat menyebabkan sesak sehingga perlu trakeotomi
- Sering residif, tumbuh kembali dengan cepat
• Terapi :
- BLM, ekstraksi sebersih mungkin
- Bila residif dioperasi lagi
- Perlu trakeotomi bila sesak
- Bisa dicoba antiviral
11
Modul IV.6 - Disfoni
o Pada paralisis abduktor : korda vokalis merapat di garis tengah dan tidak
dapat bergerak ke lateral saat fonasi
- Unilateral : suara nyaring, sesak ringan
- Bilateral : suara nyaring dan sesak napas
• Terapi :
o Pada paralisis aduktor :
- Augmentasi korda vokalis dengan teflon/fat
- Tiroplasti medialisasi
o Pada paralisis abduktor :
- Aritenoidektomi
b. Teknik Pemeriksaan:
Laringoskopi Direkta :
No LANGKAH-LANGKAH BAGAIMANA MENGAPA
1 Premedikasi Luminal/atropin Tidak valium, karena depresi
pernapasan
Biar air liur sedikit
2 Anestesi lokal Spray xylocain, pd Epiglottis dikait, perlu
epiglottis anestesi
12
Modul IV.6 - Disfoni
faring/epiglotis
2 Atur duduk penderita Duduk tegak Memudahkan alat masuk
DAFTAR PUSTAKA
1. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia,
Lea & Fabiger, 1993, chapter 34&35, pp.569-619.
2. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014.
3. Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology.
Philadelphia. WBSaunders Co.,1991, chapter 29,31,33&34, pp. 2257-384.
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw
Hill, 8th Ed, Chapter 31, pp. 724-92
13
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG
TENGGOROKBEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ........................................................................................................... 1
C. REFERENSI ..................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ................................................................................................. 2
I. EVALUASI ...................................................................................................... 3
MODUL IV.7
LARING-FARING – REFLUKS LARINGO-FARING (LPR)
A. WAKTU
Mengembangkan Kompetensi Frekuensi:
Sesi di dalam kelas 7 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 18 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian 2 X 60 menit (facilitation and
kompetensi assessment)
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi Presentasi
• Slide I : Ruang Lingkup
• Slide II : Anatomi dan Etiopatogenesis Gejala LPR
• Slide III :Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik LPR
• Slide IV :Pemeriksaan Penunjang LPR
• Slide V :Faktor Risiko LPR
• Slide VI :Penatalaksanaan LPR
2. Kasus
Seorang ibu, 29 tahun, ke poliklinik THT-KL dengan keluhan suara parau dan
tenggorokan mengganjal 2 bulan. Penderita merasa sebulan ini sering batuk
terutama pagi hari, dan sering berdehem. Penderita adalah seorang ibu rumah
tangga, tidak ada riwayat penggunaan suara berlebih, ada riwayat sakit maag,
telah mencoba obat warung tidak ada perubahan. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan adanya: post nasal drip, faring granuler.
3. Sarana dan Alat bantu latih
• Laringoskopi indirek
• Rigid laringoscopy / Fiber optic laringoscopy
• Tempat belajar: klinik THT-KL
C. REFERENSI
1. Bailey BJ. Laryngopharyngeal Reflux. In: Head and Neck Surgery
Otolaryngology. 5th edition. Bailey BJ et all editors. Lippincott Raven Publisher.
2014 ; p 958-75
2. Belafsky PC, Rees CJ. Identifying and Managing Laryngopharyngeal Reflux.
Hosp Physic. 2007: 15-20.
3. Rees CJ, Belafsky PC. Laryngopharyngeal Reflux: Current Concepts in
Patophysiology, Diagnosis, and Treatment. Int J Speech-Language Pathol.
2008;10(4): 245-53.
4. Naseri I. Laryngopharyngeal Reflux: Overview and Clinical Implications. North
Flo Med. 2011; 62(1):35-8
5. Khan AM, Hashmi SR, Elahi F, Tariq M, Ingrams DR. Laryngopharyngeal
Reflux: A Literature review. Surgeon. 2006; 4(4):221-5
1
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum:
Mampu membuat diagnosis LPR berdasarkan anamnesis (Reflux Symptom
Index) , pemeriksaan (Reflux Finding Score) dengan Fiber optic laringoscopy
dan pemeriksaan penunjang lain seperti double probe 24 hour monitoring,
barium esophagogram,dll.
2. Kompetensi Khusus:
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu dan trampil:
a. Mengetahui Anatomi dan Etiopatogenesis Gejala LPR
b. Melakukan Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Faktor Risiko LPR
c. Melakukan penilaian RSI dan RFS serta pemeriksaan penunjang LPR
d. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana medikamentosa
e. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang
mungkin terjadi pada LPR.
E. GAMBARAN UMUM
Refluks Laringofaring (LPR)
Refluks laringofaring sering salah diagnosis dengan faringitis kronis sehingga
tatalaksana sering kurang tepat.
Refluks laringofaring adalah aliran balik cairan lambung ke laring, faring, trakea
dan bronkus. Keluhan yang tersering yaitu mendehem (throat clearing) (98%),
batuk yang terus mengganggu (97%), perasaan mengganjal di tenggorok (95%) dan
suara parau (95%). Tanda klinis yang sering ditemukan pada penyakit refluks
laringofaring adalah laringitis posterior dengan eritema, edema dan penebalan
dinding posterior dari glottis. Kelainan lain yang mungkin ditemukan adalah
granuloma pita suara, contact ulcer, stenosis subglottis.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan Fiber optic
laryngoscopy, monitoring PH 24 jam dll sesuai sarana prasarana yang tersedia. Bila
sarana penunjang belum ada, maka dapat langsung dilakukan PPI test sesuai
algoritma tatalaksana LPR (RSI>13 atau RFS>7).
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
LPR seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
1. Mengetahui Anatomi dan Etiopatogenesis LPR
2. Melakukan Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Faktor Risiko LPR
3. Melakukan penilaian RSI dan RFS serta pemeriksaan penunjang LPR
4. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana medikamentosa
2
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)
5. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin
terjadi pada LPR.
H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan Referat
4. Jurnal Reading
5. Praktik Lapangan (Poliklinik)
6. Skills Lab
7. Bedside Teaching
8. Tindakan Diagnostik
I. EVALUASI
1. Dilakukan prates dan postes dalam bentuk essay, multiple choice atau oral sesuai
dengan masa tingkat pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang
dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi
pra/postes terdiri atas:
• Anatomi
• Fisiologi
• Patofisiologi
• Penegakan diagnosis
• Pemeriksaan
• Terapi konservatif dan operatif bila perlu
• Prognosis
• Tindak lanjut.
2. Self assessment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
3. Selanjutnya dilakukan diskusi kelompok kecil bersama dengan fasilitator guna
membahas kekurangan yang teridentifikasi; membahas isi dan hal-hal yang
berkenaan dengan penuntun belajar dan kesempatan yang akan diperoleh pada
saat visite kecil maupun besar dan proses penilaian.
4. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temanya (peer assisted learning) atau pada
standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan
membawa penuntun belajar. Penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya
untuk melakukan evaluasi (per asisited evaluation). Setelah dianggap memadai
maka perlu diasah lagi melalui metode bed site teaching dibawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model
anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanan,evaluator melaksaanakan pengawasan langsung dan mengisi blangko
penilaian sebagai berikut:
• Perlu perbaikan berarti pelaksanaan belum benar atau ada langkah yang
tidak dlakukan
• Cukup berarti pelaksanan sudah benar tetapi tidak efisien
3
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)
4
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)
Jawaban: B
5
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)
6
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)
L. DAFTAR TILIK
Lampiran 2
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
Berikan Tanda”V” Dalam Kotak Yang Tersedia Bila Ketrampilan/Tugas Telah
Dikerjakan Dengan Memuaskan Dan Berikan Tanda “X” Bila Tidak Dikerjakan
Dengan Memuaskan Serta Tanda T/D Bila Tidak Dilakukan
Memuaskan Ketrampilan Memuaskan
Tidak Memuaskan Ketrampilan Tidak Memuaskan
Tidak Diamati/Melakukan (T/D) Tak Bisa Melakukan
M. MATERI PRESENTASI
1. 1: Gejala LPR
7
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)
N. MATERI BAKU
1. Definisi
LPR adalah aliran balik cairan lambung ke laring, faring, trakea dan bronkus
2. Ruang Lingkup
LPR dapat disebabkan GERD atau dapat pula disertai penyakit lain seperti
Rhinosinusitis, faringitis, stenosis laring, dll.
3. FAKTOR RISIKO
Gaya hidup, GERD
4. Etiologi
Komponen refluks yang berperan menyebabkan kelainan patologi di daerah
laring adalah asam, pepsin, asam empedu dan tripsin. Pepsin dengan asam telah
diketahui menjadi komponen yang paling berbahaya yang berhubungan erat
dengan kejadian lesi di daerah laring. Pada percobaan pada hewan secara in vitro
8
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)
menunjukkan pepsin menjadi aktif dan menyebabkan trauma pada sel-sel laring
sampai pH 6.
5. Anamnesis
Untuk penilaian atas gejala pasien dengan penyakit refluks laringofaring,
Belafsky membuat sembilan komponen indeks gejala yang dikenal dengan
indeks gejala refluks ( Reflux Symptom Index = RSI). RSI mudah dilaksanakan ,
mempunyai reabilitas dan validitas yang baik, serta dapat diselesaikan dalam
waktu kurang dari satu menit. Skala untuk setiap komponen bervariasi dari nilai
0 (tidak mempunyai keluhan) sampai dengan nilai 5 (keluhan berat) dengan skor
total maksimum 45 dan RSI dengan nilai > 13 dicurigai penyakit refluks
laringofaring.
6. Pemeriksaan Fisik
• Pemeriksaan laringoskopi indirek
Tanda klinis yang sering ditemukan pada penyakit refluks laringofaring
adalah laringitis posterior dengan eritema, edema dan penebalan dinding
posterior dari glottis. Tanda-tanda lain adalah granuloma pita suara, contact
ulcer, stenosis subglottis.
Untuk memeriksa keadaan patologis laring setelah terjadinya refluks
laringofaring. Belafsky juga memperkenalkan skor refluks, yaitu Reflux
Finding Score (RFS) yang merupakan delapan skala penilaian dalam
menentukan beratnya gambaran kelainan laring yang dilihat dari pemeriksaan
Rigid laryngoscopy dengan menggunakan teleskop 700/ 900, Fiber optic
laryngoscopy sebagai baku emas . Skala ini bervariasi dari nilai 0 (tidak ada
kelainan) sampai dengan nilai maksimum 26 ( nilai yang terburuk) dan RFS >
7 yang dianggap tidak normal. RFS merupakan penilaian kelainan yang
mudah dilakukan dan mempunyai inter and intraobserver reproducibility
yang baik. Walaupun setiap komponen bersifat subyektif tetapi skor secara
keseluruhan merupakan penilaian yang dapat dipercaya dalam melihat
perbaikan dengan terapi anti refluks (Belafsky et al. 2001; Tamin 2008).
7. Pemeriksaan Penunjang
Fiber optic laryngoscopy, PH monitoring 24 jam, barium esophagogram
8. Terapi
a. Faktor Risiko : Faktor risiko harus terkontrol
b. Terapi Konservatif : PPI
c. Terapi bedah dilakukan bila LPR berat dan resisten PPI: funduplikasi.
9. Prosedur Pemeriksaan Laring
a. Butir-2 Penting
Pada pemeriksaan Fiber Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama dengan
penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.
b. Teknik Pemeriksaan:
Fiber optic laryngoscopy (FOL):
9
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)
Duduk tegak
2 Atur duduk
penderita Melalui dasar kavum nasi Memudahkan alat
3 Memasukkan alat masuk
FOL
Lurus ke belakang Tempat terlebar
4 Melihat nasofaring
FOL diarahkan ke Dengan membengkokkan ke bawah
5 laring Tampak
FOL diarahkan mula-mula tampak nasofaring dulu
dari jauh, lalu makin mendekat
Memeriksa laring dilihat tanda-tanda patologis dan
6 pergerakan korda vokalis
10
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ........................................................................................................... 1
C. REFERENSI ..................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ................................................................................................. 1
I. EVALUASI ...................................................................................................... 3
MODUL IV.8
LARING-FARING - OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA SYNDROME (OSAS)
A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 7 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 18 X 60 menit (facilitation and
assessment)
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi OSAS meliputi:
• Slide 1 : Anatomi dan fisiologi saluran pernapasan atas
• Slide 2 : Fisiologi “normal sleep”
• Slide 3 :Klasifikasi, faktor predisposisi, gejala klinis, diagnosis
patofisiologi OSAS.
• Slide 4 : Komplikasi OSAS
• Slide 5 : Penatalaksanaan OSAS (Konservatif dan Operatif)
2. Kasus : OSAS
Seorang laki-laki usia 30 tahun dengan riwayat tidur mendengkur sampai
tersedak. Keluhan dirasakan sejak 3 tahun terakhir. Saat bangun pagi hari badan
tidak terasa segar. Pasien mudah mengantuk dan sulit konsentrasi saat bekerja.
Pada pemeriksaan fisik BB 80 kg, tinggi badan 168 cm. Pemeriksaan THT:
Tonsil T3-T3, Lidah Mallampati 3.
C. REFERENSI
1. Walker RP. Snoring and obstructive sleep apnea. In: Bailey JB, Johnson JT, Eds.
Head Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Philadelphia: Lippincot 2006. P
645-64
2. Welch KC,Goldberg AN. Sleep [Link]: Lalwani AK ed. Current diagnosis
and treatment Otolaryngology Head Neck Surgery. 2nd ed. New York:McGraw
Hill Comp LANGE;2008.p535-47
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
b. Mampu mendiagnosis OSAS berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan yang diperlukan
c. Mampu melakukan tatalaksana OSAS
1
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil dalam:
1. Mengetahui anatomi dan fisiologi saluran napas atas.
2. Mengetahui fisiologi “normal sleep”
3. Mengetahui patofisiologi OSAS, klasifikasi OSAS, gejala klinis dan
komplikasi OSAS
4. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan mendiagnosis pasien OSAS
5. Melakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan
6. Mampu melakukan tatalaksana konservatif dan operatif terhadap pasien
OSAS
E. GAMBARAN UMUM
OSAS (Obstructive Sleep Apneu Syndrome) didefinisikan sebagai berhentinya
aliran udara pernapasan selama 10 detik atau lebih yang disebabkan oleh sumbatan
jalan napas. OSA ditandai gejala mendengkur saat tidur, tersedak atau napas
tersengal saat tidur, sering mengantuk yang berlebihan di siang hari (Excessive
Daytime Sleepiness, EDS). OSAS lebih sering ditemukan pada laki-laki daripada
perempuan. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan polisomnografi. Untuk mengatasi OSAS dilakukan tata laksana
penurunan berat badan, terapi konservatif maupun operatif.
F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 30 tahun dengan riwayat tidur mendengkur sampai tersedak.
Keluhan dirasakan sejak 3 tahun terakhir. Saat bangun pagi hari badan tidak terasa
segar. Pasien mudah mengantuk dan sulit konsentrasi saat bekerja. Pada
pemeriksaan fisik BB 80 kg, tinggi badan 168 cm. Pemeriksaan THT: Tonsil T3-
T3, Lidah Mallampati 3.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi saluran napas atas
2. Menjelaskan fisiologi “normal sleep”
3. Menjelaskan klasifikasi, predisposisi, gejala klinis, komplikasi, patofisiologi
OSAS
4. Menjelaskan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk mendiagnosis
OSAS.
5. Mampu mendiagnosis OSAS
6. Mampu tatalaksana konservatif dan operatif pada penderita OSAS
H. METODE PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion.
• Peer assisted learning (PAL).
• Bedside teaching.
• Task based medical education.
• Journal reading and review.
• Case study
2
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal.
Yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre test dan post-test terdiri atas :
a. Anatomi dan fisiologi saluran napas atas
b. Fisiologi “normal sleep”
c. Klasifikasi, predisposisi, patofisiologi, diagnosis OSAS
d. Penatalaksanaan OSAS
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasiliator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh
pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk,
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assited learning) atau kepada
SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan : membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh
teman-temannya untuk : melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching dibawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada nodel
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut.
a. Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
b. Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien misal pemeriksaan
terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
c. Baik : pelaksanaan benar dan baik ( efisien )
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
6. Pendidik/fasilitas:
a. Pengamatan langsung dengan memakai evaluation check list form
(terlampir)
b. Penjelasan lisan dari eserta didik/diskusi
c. Kriteria penelian keseluruhan : cakap/tidak cakap/lalai
3
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas yang
dapat memperbaiki kinerja (taks-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
a. Ujian OSCA ( K,P,A) dilakukan pada tahapan bedah dasar oleh Kolegium
I. THT-KL
b. Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing senter
pendidikan .
c. Ujian akhir kognitif. Dilakukan pada akhir tahapan bedah lanjut ( jaga II)
oleh Kolegium I THT-KL.
d. Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh
Kolegium I THT-KL.
Jawaban : D
Jawaban : E
Jawaban : B
4
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
Penuntun Belajar
Mendiagnosis Obstructive Sleep Apneu Syndrome (Osas)
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)
KEGIATAN KASUS
1. Anamnesis
2. Keluhan utama : Mendengkur saat tidur, tersedak atau
napas tersengal saat tidur, sering mengantuk yang
berlebihan di siang hari (Excessive Daytime Sleepiness,
EDS),
3. Menilai Epworth Sleepiness Score (ESS)
4. Melakukan pemeriksaan fisik:
• Indeks Massa Tubuh
• Lingkar leher posisi lidah dan palatum dengan Kriteria
Friedman Tongue Position atau Modifikasi Malampatti
• Ukuran Tonsil
• Ukuran dan bentuk rahang bawah
5. Menilai Derajat OSAS menurut Fujita
6. Interpretasi hasil Polisomnografi (Sleep test)
7. Dapar melakukan pemeriksaan Müller Maneuver dengan
endoskopi
5
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
L. DAFTAR TILIK
KEGIATAN KASUS
1. Anamnesis
2. Keluhan utama : Mendengkur saat tidur, tersedak atau napas
tersengal saat tidur, sering mengantuk yang berlebihan di siang
hari (Excessive Daytime Sleepiness, EDS),
3. Menilai Epworth Sleepiness Score (ESS)
4. Melakukan pemeriksaan fisik:
5. Indeks Massa Tubuh
6. Lingkar leher posisi lidah dan palatum dengan Kriteria
Friedman Tongue Position atau Modifikasi Malampatti
7. Ukuran Tonsil
8. Ukuran dan bentuk rahang bawah
9. Menilai Derajat OSAS menurut Fujita
10. Interpretasi hasil Polisomnografi (Sleep test)
11. Dapar melakukan pemeriksaan Müller Maneuver dengan
endoskopi
M. MATERI PRESENTASI
• Slide 1 : Anatomi dan fisiologi saluran pernapasan atas
• Slide 2 : Fisiologi “normal sleep”
• Slide 3 :Klasifikasi, faktor predisposisi, gejala klinis, diagnosis
patofisiologi OSAS.
• Slide 4 : Komplikasi OSAS
• Slide 5 : Penatalaksanaan OSAS (Konservatif dan Operatif)
6
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
N. MATERI BAKU
a. Definisi
Mendengkur adalah suara getaran pada saat tidur yang dihasilkan terutama pada
waktu inspirasi dan disebabkan oleh vibrasi palatum mole dan pilar yang
membatasi rongga orofaring. Mendengkur menunjukkan adanya obstruksi sebagian
saluran napas atas.
Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) adalah berhentinya aliran udara
pernapasan selama 10 detik atau lebih, mendengkur pada saat tidur walaupun
terjadi usaha bernapas (respirasi effort) yang disebabkan oleh obstruksi jalan napas
atas.
OSAS adalah keadaan apnea (penghentian aliran udara selama 10 detik sehingga
menyebabkan 2-4% penurunan saturasi oksigen) dan hipopnea (penurunan aliran
udara paling sedikit 30-50% sehingga menyebabkan penurunan saturasi oksigen)
ada sumbatan total atau sebagian jalan napas atas yang terjadi secara berulang pada
saat tidur selama non-REM atau REM sehingga menyebabkan aliran udara ke paru
menjadi terhambat.
b. Etiologi Multifaktorial
1. Kolaps jaringan lunak saluran napas atas
• Kolaps otot konstriktor faring, lidah, otot-otot palatofaringeus,
salfingofaringeus, stilofaringeus, glosofaringeus, levator veli palatini dan
uvula.
• Deposit lemak di bawah membran mukosa, di sekitar otot leher dan fossa
tonsilaris.
2. Kelainan anatomi kerangka wajah yaitu mandibula dan maksila, obstruksi
hidung yang disebabkan deviasi kartilago dan tulang septum dan hidung.
3. Umur yang lebih tua berhubungan dengan:
• Penebalan jaringan lunak tenggorok, elongasi palatum dan penurunan
tonus otot pada saat istirahat.
• Relaksasi dan kolaps plika ariepiglotika yang menyebabkan stridor pada
saat tidur dan bangun.
• Resorbsi gigi geligi, maksila dan mandibula akan menyebabkan perubahan
anatomi rongga mulut.
• Kifosis yang disebabkan resorbsi tulang vertebra servikal dan torakal atas.
4. Laki-laki lebih banyak yang mendengkur dan menderita OSA dibanding
perempuan. Progesterone akan mengurangi mendengkur dan OSA pada laki-
laki, sedangkan testosteron akan meningkatkan resistensi saluran napas atas
pada perempuan.
7
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
8
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
2. Pemeriksaan Fisik
2.1. Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index) kg/m2
• Underweight : < 18,5 kg/m2
• Normoweight : 18,5 – 24,9 kg/m2
• Overweight : 25 – 29,9 kg/m2
• Obese 1 : 30 – 35 kg/m2
• Obese 2 : > 35 kg/m2
2.2. Lingkar leher berhubungan dengan faktor etiologi OSA yaitu deposit
lemak pada mukosa leher dan meningkatkan risiko terjadinya OSA.
Ukuran lingkar leher sebagai berikut:
• Risiko rendah : kurang dari 43 cm.
• Risiko sedang : 43 - 48 cm,
• Risiko tinggi : lebih dari 48 cm.
2.3. Posisi Lidah dan Palatum dengan menggunakan Kriteria Friedman
Tongue Position atau Modifikasi Malampatti. Posisi 3 dan 4
berhubungan dengan risiko tinggi OSA karena makroglosia. Tanda lain
makroglosia adalah jejas gigitan gigi (dental mark) pada bagian tepi
lidah. Perhatikan pula palatum mole apakah terdapat webbing. Pada
Kriteria Friedman pasien diminta membuka mulut dan lidah tidak
dijulurkan, sedangkan pada Malampatti lidah dijulurkan.
• Posisi 1: seluruh bagian uvula dan tonsil terlihat
• Posisi 2: sebagian tonsil terlihat
• Posisi 3: sebagian uvula terlihat, dan tonsil tidak terlihat.
• Posisi 4: uvula dan tonsil tidak terlihat.
2.4. Ukuran Tonsil berhubungan dengan penyempitan laterolateral pada
orofaring.
• T1 : Tonsil tidak melebihi arkus palatofaringeus
• T2 : Tonsil melebihi arkus palatofaringeus, tetapi tidak melebihi
garis tengah antara arkus palatofaringeus dan uvula.
• T3 : Tonsil melebihi garis tengah antara arkus palatofaringeus dan
uvula.
• T4 : Tonsil kanan dan kiri bersentuhan (kissing tonsil)
2.5. Uvula yang besar dan panjang merupakan akibat dan sebab dari getaran
selama mendengkur. Perhatikan panjang dan basisnya dibandingkan
ukuran normal.
2.6. Ukuran dan bentuk rahang bawah. Mikrognatia dan Retrognatia
merupakan faktor risiko yang akan menyempitkan rongga orofaring dan
hipofaring pada mendengkur & OSA.
Berdasarkan pemeriksaan fisik dapat ditentukan derajat OSA menurut
Fujita.
9
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
3. Pemeriksaan Penunjang
3.1. Nasolaringoskopi Statik dan Dinamik dengan Manuver Muller
Pemeriksaan endoskopi serat optik pada nasolaring dengan posisi duduk
pada saat statik (istirahat) dan dinamik (manuver Muller) merupakan
pemeriksaan untuk menentukan level obstruksi saluran napas atas. Level
obstruksi harus diketahui untuk menentukan stadium OSA dan tindakan
pembedahan yang dapat dilakukan. Manuver Muller dilakukan pada level
retropalatal, retroglosal dan supraglotik dengan meminta pasien menarik
napas dengan kuat sambil menutup hidung dan mulutnya (reversed
Valsava). Kekuatan inspirasi negatif akan menyebabkan kolaps saluran
napas atas. Kolaps dapat terjadi pada bagian antero-posterior, latero-lateral
maupun konsentrik (seluruh bagian). Klasifikasi berdasarkan skoring atau
persentase ukuran kolaps level tertentu dapat dibagi menjadi: < 25%, 25-
50%, 50-75%, >75%.
3.2. Sleep Endoscopy
Nasolaringoskopi yang dilakukan pada kondisi sedasi (simulasi tidur)
memungkinkan identifikasi obstruksi dan kolaps saluran napas atas dengan
tonus otot yang mengalami relaksasi. Sedasi yang digunakan adalah titrasi
propofol yang dilakukan oleh dokter spesialis Anestesi dengan monitor ketat
kardiorespirasi. Keadaan obstruksi saluran napas atas yang dapat terlihat
adalah palatal flutter, palatal floppy, obstruksi palatal dengan obstruksi
orofaring intermiten, obstruksi multilevel memanjang, dan obstruksi dasar
lidah.
3.3. Polisomnografi
Polisomnografi harus dipertimbangkan pada semua pasien yang dicurigai
menderita OSA untuk: (1) memastikan diagnosis adanya penyakit dan
menentukan derajatnya, (2) menentukan frekuensi dan derajat episode
gangguan respirasi, (3) mengevaluasi akibat fisiologik pada saat tidur akibat
gangguan pernapasan. Tes tidur (sleep study) juga dikerjakan pada semua
pasien mendengkur dengan tanda fisik yang merupakan faktor risiko OSA,
excessive daytime sleepiness (skor ESS >10), dan penyakit penyerta seperti
hipertensi, hipotiroid, penyakit kardiovaskuler dan riwayat stroke.
American Sleep Disorders Association menggolongkan pemeriksaan tidur
menjadi 4 tingkatan berdasarkan jumlah kanal (channel) pemeriksaan yang
dilakukan di laboratorium tidur dengan pengawasan oleh teknisi tidur atau
tanpa pengawasan teknisi tidur yang dapat dilakukan di rumah atau rawat
inap rumah sakit.
10
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
e. Penatalaksanaan
1. Konservatif
o Program Penurunan BB
Perbaiki diet untuk mengurangi deposit lemak tubuh dan menurunkan BB
harus disertai dengan olahraga teratur untuk meningkatkan tonus otot.
o Terapi medikamentosa
- Stimulan. Modafinil yang berguna untuk meningkatkan kesiagaan
(wakefullness) tidak mengakibatkan gejala kardiovaskuler, efektif
untuk pengobatan excessive daytime sleepiness (EDS) yang
menyertai OSA. Obat ini juga berguna pada penderita OSA yang
sudah menggunakan CPAP tetapi EDS menetap dengan skoring ESS
yang tetap dan manifestasi EDS yang lain.
- Antidepresan. Protriptyline adalah trisiklik antidepresan non-sedasi
yang dapat menekan waktu tidur REM (rapid eye movement)
berhubungan dengan episode mendengkur keras dan episode apnea
obstruktif yang lebih sering dan lebih panjang.
- Terapi pengganti tiroid untuk kasus hipotiroid dapat diberikan
dengan pengawasan dokter spesialis endokrin atau penyakit dalam.
- Obat penurun BB yang disetujui oleh FDA adalah sibutramine dan
orlistat. Sibutramine memberikan efek anoreksia yang tidak
berhubungan dengan amfetamin dan tidak adiktif tetapi dapat
meningkatkan tekanan darah, denyut nadi dan kontraindikasi pada
hipertensi yang tidak terkontrol. Orlistat adalah inhibitor lipase yang
11
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
12
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)
e. Komplikasi
• Komplikasi OSA
o Hipertensi
o Penyakit kardiovaskuler: penyakit arteri koroner, miokard infark akut,
episode thrombosis akut, aterosklerosis kronik
o Penyakit jantung kongestif
o Aritmia jantung
o Lesi aterosklerotik serebral (stroke)
f. Konsultasi
1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam
2. Dokter Spesialis Jantung
3. Dokter Spesialis Paru
4. Dokter Spesialis Saraf
5. Dokter Spesialis Anestesi
g. Referensi
1. Walker RP. Snoring and obstructive sleep apnea. In: Bailey JB, Johnson JT,
Eds. Head Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Philadelphia: Lippincot
2006. P.645-64
2. Welch KC,Goldberg AN. Sleep [Link]: Lalwani AK ed. Current
diagnosis and treatment Otolaryngology Head Neck Surgery. 2nd ed. New
York:McGraw Hill Comp LANGE;2008. p.535-47
13
MODUL UTAMA
LARING FARING
MODUL IV.9
LESI NON NEOPLASTIK LARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ...................................................................................................... 1
C. REFERENSI ................................................................................................ 1
D. KOMPETENSI ............................................................................................ 1
I. EVALUASI ................................................................................................. 3
MODUL IV.9
LARING-FARING – LESI NON NEOPLASTIK LARING
A. WAKTU
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi: Lesi Non Neoplastik Laring
• Slide 1: Gejala dan Tanda Lesi Non Neoplastik Laring
• Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Lesi Non Neoplastik Laring
• Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
• Slide 4: Faktor Resiko Lesi Non Neoplastik Laring
• Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa
C. REFERENSI
1. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery –
[Link], JB Lippincott Co, 2014, chapter 68,
pp.980-1003
2. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck,
Philadelphia,Lea & Fabiger, 2016, chapter 29,31-33,37, pp.570-588,605-
41,682-746
3. Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great
Britain,Edward Arnold, 8thed, 2018 Chapter 88, pp.1135- 49
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis lesi non neoplastik laring berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
diperlukan (Laringoskopi Indirekta menggunakan cermin laring atau
Tele Rigid, Laringoskopi direkta/Fiber Optic Laringoscopy (FOL) /
foto polos leher AP dan lateral / CT scan leher / biopsi).
1
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
a. Mengenali gejala dan tanda lesi non neoplastik laring
b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik lesi non neoplastik laring
c. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang
seperti diperlukan (Laringoskopi Indirekta menggunakan cermin
laring atau Tele Rigid, Laringoskopi direkta/Fiber Optic
Laringoscopy (FOL)
/ foto polos leher AP dan lateral / CT scan leher / biopsi).
d. Mengenali faktor resiko kejadian lesi non neoplastik laring
e. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian
antibiotika, anti radang, analgesik-antipiretik, dan operasi.
f. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang
mungkin terjadi pada lesi non neoplastik laring
E. GAMBARAN UMUM
Yang disebut lesi non neoplastik laring bukanlah neoplasma sejati
melainkan adalah massa yang menyerupai tumor yang terbentuk sebagai
hasil dari infeksi, trauma atau degenerasi. Terbagi atas; lesi solid lesi jinak
pita suara (nodul pita suara, polip pita suara, edema Reinke’s, Ulkus kontak,
Granuloma intubasi, Leukoplakia ) lesi infiltrasi laring (Wagener
granulomatosis, Rheumatoid Artritis, Amiolidosis, Relapsing policondritis,
Sistemic Lupus Eritromatosus, Pemhigus dan pemphigoid, sarcoidosis,
Radiasi sinar eksternal) dan lesi kistik (Kista duktus, kista sakular,
laringokel). Non neoplastik laring merupakan suatu penyakit yang cukup
sering dijumpai di praktik sehari-hari, baik yang datang dalam keadaan
serak, tidak progresif, dapat menyebabkan sesak ringan sampai berat. Gejala
sesak yang hebat dapat mengancam nyawa bila tidak ditangani secara cepat
dan tepat. Kejadian lesi non neoplastik laring dapat terjadi pada semua usia
maupun jenis kelamin. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan VHI, pemeriksaan laringoskopi indirek
dengan cermin laring atau tele rigid dan laringoskopi direkta serta
pemeriksaan histopatologi
F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 39 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara parau
sudah 3 bulan. Os bekerja sebagai guru SD. Dari pemeriksaan laringoskopi
tak langsung dan langsung didapatkan massa sebesar kacang hijau pada pita
suarakanan dan kiri pada sepertiga anterior.
Diskusi: (tentukan apa yang harus diketahui terkait dengan butir-butir
dibawahini)
1. Sebutkan gejala dan tanda klinis penderita
2. Perlunya pemeriksaan penunjang lain
3. Rencana terapi penderita
2
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan
untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan
pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali
dan menatalaksana lesi non neoplastik laring seperti yang telah disebutkan
diatas, yaitu:
1. Mengenali gejala dan tanda Lesi non neoplastik Laring
2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik Lesi non neoplastik Laring
dan pemeriksaan VHI
3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang
seperti foto leher jaringan lunak, pemeriksaan laringoskopi indirekta
dengan cermin laring atau tele rigid dan direkta dengan laringoskopi
serat optik.
4. Mengenali faktor resiko kejadian Lesi non neoplastik Laring
5. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian
antibiotika, anti radang, analgesik antipiretik, dan operasi.
6. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang
mungkin terjadi pada Lesi non neoplastik Laring
H. METODE PEMBELAJARAN
o Interactive lecture
o Small group discussion.
o Peer assisted learning (PAL).
o Bedside teaching.
o Task based medical education.
o Journal reading and review.
o Case simulation and investigation exercise.
o Equipment characteristics and operating instructions.
o Case study
o Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
o Demonstration and Coaching
o Practice with Real Clients.
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral
sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai
kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi
kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi laring
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan
fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi
dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang
akan diperolehpada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar
3
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
4
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
Jawaban : D
Jawaban : B
Jawaban : B
5
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
Jawaban : C
5. Seorang anak usia 5 tahun dibawa ke dokter THT karena suaranya parau sejak
beberapa bulan terakhir. Parau menetap dan tidak pernah hilang dan anak selalu
ngotot bila mau mengeluarkan suara sehingga tampak otot lehernya. Demam,
batuk dan sesak napas tidak ada.. Tidak ada masalah dalam hal makan dan tidur.
Pada pemeriksaan fisik tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan endoskopi tampak
gambaran seperti tertera di bawah. Apakah diagnosis yang paling tepat pada
anak ini?
a. Nodul pita suara
b. Papiloma laring
c. Polip pita suara
d. Kista pita suara
e. Laringitis kronis
Jawaban : A
6. Di klinik THT-KL ada seorang pasien wanita usia 27 tahun mengeluh suaranya
serak sejak 1 bulan dan capek bila sering berbicara. Sesak napas tidak ada. Demam
dan batuk tidak ada. Wanita ini berprofesi sebagai sales elektroknik di mall. Hasil
endoskopi laring didapatkan tampak lesi di 1/3 anterior pita suara bilateral. Hasil
VHI 10 : 15. Apa terapi pilihan pada pasien ini?
a. Terapi suara
b. Ekstirpasi
c. Steroid dosis tinggi
d. Mukolitik
e. Antibiotik
Jawaban : A
7. Wanita 35 tahun datang ke Rumah Sakit dengan suara parau sejak 3 bulan,
tidak ada sesak, batuk maupun demam. Penderita adalah seorang guru. Sudah
pernah berobat namun tidak ada perbaikan. Diagnosis apakah yang paling
mungkin padapasien ini?
a. Laringitis akut
b. Laringitis difteri
c. Ca laring
d. Nodul plika vokalis
e. Paresis kronik
Jawaban : D
6
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
Jawaban : C
KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Informed consent
Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yang
2
diharapkan
Jelaskan prosedur pada pasien/
3
keluarganya
Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi
4
tindakan
Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi
indirekta telah tersedia dan berfungsi dengan baik
dan lengkap :
- Lampu kepala
5 - Cermin Laring
- Pemanas Cermin laring
- Kassa steril
II. PROSEDUR TINDAKAN
7
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
Penuntun Belajar
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTA MENGGUNAKAN TELE RIGID
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2. Mampu Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing
untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar
normal.
3. Mahir Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu
kerja yang sangat efisien
4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu
tidak perlu diperagakan).
8
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Informed consent
Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yang
2
diharapkan
Jelaskan prosedur pada pasien/
3
keluarganya
Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi
4
tindakan
Pastikan kelengkapan peralatan
laringoskopi indirekta telah tersedia dan
berfungsi dengan baik dan lengkap :
5 - Telepack, light source
- Telescope 90º
- Kassa steril
II. PROSEDUR TINDAKAN
Pasien duduk berhadapan dengan dokter,
posisi pasien sedikit lebih tinggi dibandingkan
dokter, dengan kepala sedikit mendongak
keatas.
6 Tubuh pasien sedikit condong ke depan,
dengan mulut terbuka lebar dan lidah
dijulurkan keluar.
Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril,
tarik ujung lidah kedepan dan kebawah supaya
tetap berada di luar [Link] pasien untuk
7
tenang dan mengambil nafas secara lambat
dan dalam melalui
mulut.
Arahkan telescope 90º ke dalam orofaring
tanpa menyentuh mukosa kavum oris,
palatum molle atau dinding posterior
8
orofaring kemudian arahkan telescope 90º
sedikit kebawah sampai dapat melihat
permukaan mukosa hipofaring dan laring
Amati struktur tonsil lingual, valekula,
9 epiglotis, aritenoid, sinus piriformis, plika
ventrikularis, plika vokalis dan rima glotis
Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati
pergerakan plika vokalis (Amati gerakan
10
pita suara (adakah asimetris gerakan,
granulasi, nodul atau tumor pada pita suara)
11 Amati pula daerah subglotis.
9
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
Penuntun Belajar
PROSEDUR LARINGOSKOPI DIREKTA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2. Mampu Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing
untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar
normal.
3. Mahir Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu
kerja yang sangat efisien
4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu
tidak perlu diperagakan).
KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN OPERASI
1 Informed consent
Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang
2 diharapkan
Jelaskan prosedur dan standar operasipada
3 pasien/ keluarganya
Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi
4 operasi
Pastikan kelengkapan peralatan
laringoskopi direkta telah tersedia dan
berfungsi dengan baik dan lengkap :
- Telepack, light source
5
- Laringoskop Kleinseiser, chest holder
- Siapkan suction dan instrumen lain sesuai
indikasi
II. PROSEDUR OPERASI
Posisi operator diatas kepala pasien danposisi
6 operator duduk
Pasien dalam posisi terlentang, dengan posisi
Sniffing (bahu diganjal, leher fleksi,
7
kepala ekstensi) dalam general anestesi
Aseptik dan antiseptik daerah operasi (dariluar
sekitar mulut sampai dagu sentripetal,
8
terakhir mukosa orofaring) sesuai prosedur
Lapangan operasi di persempit dengan doek
9 steril
10
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
11
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
L. DAFTAR TILIK
Penilaian kinerja keterampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTAMENGGUNAKAN
CERMIN LARING
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh
peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang
diuraikan dibawah ini :
Ö Memuaskan Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur
atau panduan standar
Tidak Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan
X Memuaskan prosedur atau panduan standar
T/D Tidak Diamati Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh
peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
PESERTA : TANGGAL :
KESEMPATAN
NO KEGIATAN KE
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Informed consent
2 Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yang diharapkan
3 Jelaskan prosedur pada pasien/ keluarganya
4 Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi tindakan
5 Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi indirekta telah tersedia dan
berfungsi dengan baik dan lengkap :
o Lampu kepala
o Cermin Laring
o Pemanas Cermin laring
o Kassa steril
II. PROSEDUR TINDAKAN
6 Pasien duduk berhadapan dengan dokter, posisi pasien sedikit lebih tinggi
dibandingkan dokter, dengan kepala sedikit mendongak keatas.
Tubuh pasien sedikit condong ke depan, dengan mulut terbuka lebar dan lidah
dijulurkan keluar.
7 Hangatkan cermin laring
8 Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril, tarik ujung lidah kedepan dan
kebawah supaya tetap berada di luar mulut. Minta pasien untuk tenang dan
mengambil nafas secara lambat dan dalam melalui mulut.
9 Fokuskan sinar dari lampu kepala ke orofaring pasien.
10 Arahkan cermin laring ke dalam orofaring tanpa menyentuh mukosa kavum
oris, palatum molle atau dinding posterior orofaring kemudian miringkan
cermin laring ke arah kanan dan kiri sampai dapat melihat permukaan mukosa
hipofaring dan
laring
11 Amati struktur tonsil lingual, valekula, epiglotis, aritenoid, sinus piriformis,
plika
ventrikularis, plika vokalis dan rima glotis
12 Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati pergerakan plika vokalis (Amati
gerakan pita suara (asimetris gerakan, granulasi,
nodul atau tumor pada pita suara)
13 Amati pula daerah subglotis.
12
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
DAFTAR TILIK
Penilaian kinerja keterampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTAMENGGUNAKAN
TELE RIGID
KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Informed consent
2 Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yangdiharapkan
3 Jelaskan prosedur pada pasien/
keluarganya
4 Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasitindakan
5 Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi
indirekta telah tersedia dan berfungsi dengan baik
dan lengkap :
o Telepack, light source
o Telescope 90º
o Kassa steril
II. PROSEDUR TINDAKAN
6 Pasien duduk berhadapan dengan dokter, posisi
pasien sedikit lebih tinggi dibandingkan dokter,
dengan kepala sedikit mendongak keatas. Tubuh
pasien sedikit condong ke depan, dengan mulut
terbuka lebar dan lidah dijulurkan keluar.
7 Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril,
tarik ujung lidah kedepan dan kebawah supaya
tetap berada di luar mulut.
Minta pasien untuk tenang dan mengambil nafas
secara lambat dan dalam melalui mulut.
8 Arahkan telescope 90º ke dalam orofaring tanpa
menyentuh mukosa kavum oris, palatum molle
atau dinding posterior orofaring kemudian
arahkan telescope 90º sedikit kebawah sampai
dapat melihat permukaan mukosa hipofaring dan
laring
9 Amati struktur tonsil lingual, valekula, epiglotis,
aritenoid, sinus piriformis, plika ventrikularis, plika
vokalis dan rima glotis
10 Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati
pergerakan plika vokalis (Amati gerakan pita
suara adakah asimetris gerakan, granulasi,
nodul atau tumor pada pita suara)
11 Amati pula daerah subglotis.
13
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
DAFTAR TILIK
Penilaian kinerja keterampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN PROSEDUR LARINGOSKOPI DIREKTA
14
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
M. MATERI PRESENTASI
a. Slide 1: Gejala dan Tanda Lesi Non Neoplastik Laring
b. Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Lesi Non Neoplastik Laring
c. Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
d. Slide 4: Faktor Resiko Lesi Non Neoplastik Laring
e. Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa
N. MATERI BAKU
LESI NON NEOPLASTIK LARING
a. Definisi
Lesi non neoplastik laring bukanlah neoplasma sejati melainkan adalah
massa yang menyerupai tumor yang terbentuk sebagai hasil dari infeksi,
trauma ataudegenerasi.
Terbagi atas; lesi solid lesi jinak pita suara (nodul pita suara, polip pita
suara, edema Reinke’s, Ulkus kontak, Granuloma intubasi, Leukoplakia)
dan lesi infiltrasi laring (Wagener granulomatosis, Rheumatoid Artritis,
Amiolidosis, Relapsing policondritis, Sistemik Lupus Eritromatosus,
Pemhigus dan pemphigoid, sarcoidosis, Radiasi sinar eksternal) dan lesi
kistik (Kista duktus, kista sakular, laringokel)
15
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
yang tepat.
o Tindakan bedah diperlukan pada nodul yang berukuran besar
ataunodul yang sudah lama diderita oleh penderita dewasa.
o Nodul di eksisi secara tepat dengan menggunakan mikroskop
untukmenghindari trauma pada ligament vokal yang
mendasarinya.
o Terapi bicara dan edukasi dalam bersuara adalah hal yang
pentinguntuk mencegah kekambuhan.
16
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
3. Edema Reinke’s
o Terjadi Akibat akumulasi cairan edema pada ruang subepitel
Reinke, bisa unilateral atau bilateral
o Paling sering ditemukan pada wanita dan disebabkan oleh
penyalahgunaan pita suara (vocal abuse), merokok, dan
laryngopharyngeal reflux.
o Kedua pita suara menunjukkan pembengkakan difus yang
simetris, bentuk bulat, dan berwarna kuning pada pita suara
o Pada pemeriksaan histologis, degenerasi polipoid pita suara
tampaksebagai pembentukan lamina propia yang berlebih.
o Intervensi bedah dilakukan pada pasien dengan obstruksi jalan
napas atau yang gagal dengan terapi konservatif. Teknik operasi
yang dapat digunakan cold excision, eksisi laser CO2,
mikrodebridement, terapi laser hemoglobin-specific (pulsed dye,
pulsed KTP lasers).
o Terapi awal dengan mengeliminasi faktor penyebab reinke edema
memiliki dampak yang signifikan pada prognosis jangka panjang
setelah operasi.
o Terapi dilakukan dengan melepaskan lapisan pita suara dengan
mempertahankan mukosa yang cukup untuk reepitelisasi dengan
bedah mikrolaring/endolaring(FELT).
o Edukasi dilakukan untuk kemungkinan risiko kambuh kembali
padapasien yang terus merokok, timbulnya jaringan parut pada pita
suara,dan kegagalan perbaikan suara.
4.
17
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
5. Ulkus kontak
18
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
6. Granuloma intubasi
19
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
padamukosa laring.
o Etiologinya : merokok, vocal abuse, laringitis kronis, GERD,
dandefisiensi vitamin.
o Gejalanya serak.
o Pemeriksaan fisik yaitu penebalan, bercak kemerahan atau putih.
o Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil biopsi.
o Penatalaksanaan konservatif yaitu berhenti merokok, terapi
antirefluk, terapi suara, direckta mikrolaringoskopi dengan biopsi
eksisi.
o Follow up berkala diperlukan untuk mendeteksi rekurensi, atau
kemungkinan adanya lesi baru.
o Komplikasi dapat terbentuknya parut dan serak yang kronis.
1. Wagener granulomatosis
o Wegener granulomatosis berhubungan dengan radang
granulomatosa nekrotikans dan vaskulitis pada pembuluh darah
kecil.
o Penyakit ini cenderung menyerang saluran napas bagian atas, paru-
paru, dan ginjal. Pasien datang karena adanya ulkus kronis di
rongga hidung atau lebih jarang ditemukan adanya stenosis
subglotis.
o Diagnosa ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik secara
menyeluruh, pemeriksaan hidung dan laring menggunakan
endoskopi, serta pengujian antineutrofil klasik antibodi
sitoplasma (c-ANCA). 10% sampai 20% dari mereka yang
memiliki gejala jalan napas telah dilaporkan mengalami tes c-
ANCA negatif.
20
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
2. Rhematoid Arthritis
o Rhematoid Arthritis (RA) terjadi pada jutaan orang di seluruh
dunia dengan kecenderungan terjadi pada perempuan. Pada ¼
kasus ditemukan pada laring.
o Pasien dengan rheumatoid arthritis lebih sering datang dengan
keluhan disfonia pada frekuensi tinggi (high pitch), penurunan
mobilitas pita suara, dan edema laring. Kelainan pada laring
mengikuti status rheumatoid arthritis pasien. Rhematoid arthritis
yang kronis cenderung muncul dengan gambaran laringitis
substansial dengan mukosa aritenoid eritematosa. Rheumatoid
arthritis kronis juga secara selektif mempengaruhi kartilago
aritenoid, tetapi secara spesifik lebih mempengaruhi sendi
krikoaritenoid yang menyebabkan terjadinya ankilosis dan
kemungkinan fiksasi pada sendi.
o Pada pita suara da pat ditemukan gambaran nodul rheumatoid, yang
dikenal dengan bamboo nodes, yang merupakan lesi fokal subepiteal
yang terdapat pada permukaan superior membran plika vokalis.
o Tatalaksana rheumatoid artritis dengan pemberian immunomodulator
dan anti-inflamasi. Ekstirpasi nodul rheumatoid artritis atau injeksi
steroid dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas fonasi.
21
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
3. Amiloidosis
o Amiloidosis adalah suatu kondisi autoimun yang ditandai dengan
deposisi protein fibrilar di ekstrasel. Amiloidosis laring jarang terjadi,
bisa berhubungan dengan amiloidosis sistemik (seperti multiple nieloma)
atau dapat berdiri sendiri.
o Sering dijumpai pada laki-laki di usia 50-70 tahun.
o Gambaran klinis meliputi batuk, disfonia, disfagia, dan kemungkinan
stridor. Ukuran tumor dapat bervariasi dan muncul dengan bentuk plak
licin atau massa pedunculated, yang merupakan deposisi protein amiloid
yang dapat menginfiltrasi pita suara, ruang paraglotis, dan supraglotis.
o Biopsi sebagai gold standard untuk mendiagnosis amiloidosis, yang
memberikan gambaran patogomonik yaitu apple green birefringence
setelah pewarnaan Congo Red.
o Intervensi bedah biasanya dilakukan untuk mengatasi gejala dan untuk
memperbaiki defisit vokal.
o Rekurensi cukup sering ditemukan
22
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
4. Relapsing policondritis
o Relapsing policondritis ditandai dengan episode rekuren intermiten
inflamasi struktur tulang rawan. Selain laring, lokasi yang sering terkena
adalah telinga dan hidung. Pada 14% kasus, mengalami keterlibatan
laring dengan hampir setengahnya mengalami gejala saluran nafas.
o Pasien datang dengan keluhan telinga dan hidung, yang dapat disertai
dengan keluhan sumbatan jalan nafas atas.
o Chondritis purulen pada laring merupakan gejala sequele dari infeksi
sekunder sebelumnya.
o Pemeriksaan radiologi seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan
Computed Tomography (CT) dapat mengidentifikasi perubahan pada
tulangrawan.
o Terapi maintanance utama meliputi pemberian kortikosteroid dosis
rendah dengan atau tanpa metotreksat. Dapson juga sudah terbukti
bermanfaat. Trakeostomi dapat dilakukan jika terjadi sumbatan jalan
nafas atas untuk mengamankan saluran nafas.
o Keluhan biasanya tidak terbatas pada laring dan dua pertiga pasien tidak
mengalami keluhan pada laring. Namun keluhan laringofaring yang
bervariasi seperti disfonia dan dispnea juga dapat dikeluhkan.
o Pada pemeriksaan dapat ditemukan edema atau ulserasi hingga paralisis
23
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
24
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
7. Sarkoidosis
o Sarkoidosis adalah kondisi autoimun yang didefinisikan secara patologis
ditemukannya noncaseating granulomas. Penyakit ini paling sering
dijumpai pada wanita Afro-Amerika usia dewasa muda. Keterlibatan
laring ditemukan pada 3% - 5% kasus dan biasanya mengenai daerah
supraglotis.
o Keluhan laring meliputi batuk non-produktif dan dispnea sehingga sulit
dibedakan dengan penyakit paru.
o Sarkoidosis masih merupakan penyakit yang sukar di diagnosis dan
memerlukan berbagai modalitas karena melibatkan berbagai organ.
Diagnosis sarkoidosis laring tergantung dari pemeriksaan laringoskopi,
yang ditemukan infiltrasi submukosa pada infraglotis, ruang paraglotis,
dan supraglotis. Keterlibatan epiglotis menyebabkan distorsi dan
penebalan yang disebut dengan epiglotis turban. Pada biopsi lesi secara
klasik menunjukkan adanya noncaseating granulomas.
25
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
o Biopsi eksisi digunakan untuk diagnosis awal. Pada pasien yang tetap
merokok setelah pengobatan, akan terjadi peningkatan resiko kualitas
suarayang memburuk setelah dilakukan pengobatan.
26
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
1. Kista duktus
o Merupakan retensi kista karena kelenjar seromucinous mukosa
laringeal yang tersumbat.
o Tampak pada valekula, lipatan ariepiglotik, pita suara palsu, fossa
ventrikel dan piriformis.
o Dapat asimptomatik bila berukuran kecil, atau menyebabkan
suara serak/parau, batuk, nyeri tenggorokan dan dipsnue bila
berukuran besar,
o Terkadang kista antar pita suara dapat muncul pada pita suara
[Link] ini mirip dengan kista inklusi epidermoid.
2. Laringokel
o Merupakan pembengkakan kista berisi udara akibat dilatasi dari
sakulus.
o Sakulus laringeal adalah kelenjar mukus yang terletak antara pita
suara palsu dan kartilago tiroid. Sakulus ini juga merupakan
kantong yang keluar dari ventrikel laring dan meluas sebagai
kantong posterolateral yang buntu dan meluas ke pinggir
epiglotis pada bagian permukaan laring.
o Fungsi dari sakulus masih belum diketahui.
o Klasifikasi laringokel tergantung lokasinya.
Dapat dibagi menjadi internal, eksternal dan kombinasi.
27
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
28
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
3. Kista sakular
o Obstruksi dari orifisium sakulus menyebabkan retensi sekresi dan
distensi sakulus yang terlihat dalam bentuk kista pada ventrikel laring
o Kista sakulus anterior muncul pada bagian anterior ventrikel dan
mengaburkan bagian dari pita suara.
o Kista sakulus lateral, yang lebih besar, meluas ke pita suara palsu,
lipatan ariepiglotik dan bisa saja muncul pada leher melalui membrane
tirohioid sama seperti laringocele.
o Kista sakular kongenital dapat muncul pada bayi dan ditandai dengan
menangis lemah, stridor dan atau sianosis.
o Gejala : disfonia, stridor, batuk kronik, massa pada leher dan kadang-
kadang disertai disfagia.
o Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik termasuk foto
laring transnasal atau transoral dan pemeriksaan leher.
o Pada kista sakular anterior, massa dapat dilihat dari vestibulum sampai
ke lumen laring sedangkan kista sakular lateral muncul sebagai massa di
submukosa pita suara palsu.
o Kista sakular dapat menjadi infeksi akut yang ditandai dengan gejalayang
memburuk, demam dan obstruksi jalan nafas.
o Lokasi dan perluasan lesi dapat dilihat pada CT scan.
o Eksisi dengan endoskopi pada lesi ini merupakan penatalaksaan utama
b. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan fisik: telinga, hidung dan tenggorok, daerah leher dan dada
2. Laringoskopi indirekta dengan cermin laring dan tele rigid
3. Laringoskopi direkta
4. Fiber – Optic Laringoscopy (FOL)
5. Pemeriksaan VHI 10 dan VHI 30.
6. Foto polos leher AP dan lateral
7. CT scan leher
c. Pemeriksaan Penunjang
29
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
d. Penatalaksanaan
Bedah Mikrolaring dengan Pendekatan Laringoskopi Direkta
Alat dan Bahan :
a. Telepack, light source
b. Laringoskop Kleinseiser, chest holder
c. Siapkan suction dan instrumen lain sesuai indikasi
Prosedur operasi
1. Pasien tidur diatas meja operasi posisi supine
2. Dokter anestesi mengintubasi laring (jika ada penggunaan laser
diantisipasi) diarahkan ke sisi kiri mulut
3. Bantalan ditempatkan dibawah bahu supaya dapat ekstensi kepala
danleher fleksi secara sempurna.
4. Meja ditempatkan di posisi tredelenburg terbalik agar didapatkan
posisiyang nyaman untuk melihat laring.
5. Laringoskop dimasukkan seperti yang sebelumnya disebutkan.
6. Saat laring sudah tervisualisasi dengan adekuat, ujung dari
laringoskopoperator didekatkan ke midline sehingga jaringan yang
patologi terlihat.
7. Laringoskop dimasukkan, epiglotis diungkit, lalu
laringoskop
dimasukkan untuk mengevaluasi seluruh struktur anterior laring
8. Alat suspension apparatus disambungkan ke laringoskop lalu
disambungkan ke Mayo stand atau direkatkan ke meja operasi
atau
dilakukan fiksasi dengan chest holder yang bertumpu di atas dada
pasien. Laringoskop yang tergantung dari meja yang menempel dari
tempat tidur membuat pergerakan dari meja tanpa mengganggu
posisi laringoskop.
9. Instrumen laring dapat digunakan dengan alat mikro sesuai
indikasi
(forsep yang sesuai dengan peruntukannya).
10. Bila menggunakan laser CO2 maka wajah harus ditutup dengan
handuk yang lembab dan mata ditutup dengan penutup mata yang
lembab. Tidak satupun bagian dari wajah yang boleh terekspos.
Petugas kamaroperasi harus menggunakan pelindung mata.
11. Bila diperlukan pemeriksaan pada komisura posterior dan area ini
tertutup oleh ETT, maka ETT dipindahkan dan ventilasi dilanjutkan
dengan menggunakan alat Venturi Jet. Venturi diletakkan pada
saluran cahaya laringoskop dan diposisikan diatas inlet laryngeal.
Saat posisi sudah adekuat, pergerakan dinding dada dapat dilihat
dengan baik tanpaobstruksi pada laring.
12. Instrumen kanul penghisap diletakkan di saluran cahaya dapat
membantu menghisap asap yang dihasilkan dari prosedur laser.
13. Di akhir dari prosedur, pasien dapat di intubasi ulang untuk
30
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
pemulihan
anestesi, hal ini dapat dilakukan dengan dua metode:
a. Laringoskop diangkat dan pasien diintubasi seperti biasa
b. Pasien di intubasi ulang dengan laringoskop masih pada posisi
31
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
14. Komplikasi:
1. Laringospasme
2. Edema glotik laring
3. Trauma gigi
4. Laserasi atau perdarahan
5. Aspirasi
6. Ruptur pita suara
3. Teknik Pemeriksaan :
• Pasien dalam posisi duduk tegak, dengan kepala ekstensi dan leher
fleksi (sniffer’s posisition)
• Pemeriksa duduk berhadapan dengan dengan memakai lampu kepala
32
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
Teknik Pemeriksaan :
• Lidah pasien dipegang dengan kain kassa steril
• Dimasukkan teleskop 90° yang telah diberikan anti embun ke
rongga mulut melewati atas lidah dengan berhati-hati tidak menyentuh
posterior lidah serta dinding faring.
• Visualisasi struktur laring dan hipofaring diperoleh dengan cara
yangsama seperti pemeriksaan dengan kaca laring
• Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas
pelan sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat
33
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
dilanjutkan.
• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi lokal dengan
menggunakan xylocain spray 10%.
34
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
35
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
36
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring
Keterangan:
0-30 : Ringan (skor rendah, mengidentifikasikan bahwa sangat
mungkin terdapat kecacatan minimal yang berkaitan dengan
kelainan suara)
31-60 : Sedang (menandakan adanya kecacatan derajat sedang
terkaitmasalah suara)
61-120 : Berat (menandakan adanya kecacatan berat, signifikan, dan
seriusterkait masalah suara)
37
MODUL UTAMA
LARING FARING
MODUL IV.10
NEOPLASMA JINAK LARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU .................................................................................................... 1
C. REFERENSI .............................................................................................. 1
D. KOMPETENSI .......................................................................................... 2
I. EVALUASI ............................................................................................... 3
L. DAFTAR TILIK........................................................................................ 6
MODUL IV.10
LARING-FARING – NEOPLASMA JINAK LARING
A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 1 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 18 X 60 menit (facilitation and assessment)
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi Neoplasma Jinak Laring, meliputi:
• Slide 1: Gejala Dan Tanda Neoplasma Jinak Laring
• Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Neoplasma Jinak Laring
• Slide 3:Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
• Slide 4: Faktor Resiko Neoplasma Jinak Laring
• Slide 5: Clinical Decision Making Dan Medikamentosa
C. REFERENSI
1. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia,
Lea & Fabiger, 2009, chapter 29,31-33,37, pp.570-588,605-41,682-746
2. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014, chapter 68, pp.989-1003
3. Dhingra PL. Disease of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery.
New Delhi, Elsevier, 6th Ed, 2014, Chapter 61, pp.303-07
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York.
McGraw Hill, 8th Ed, 2002, Chapter 31, pp. 724-92
5. Nauman HH. Head and Neck Surgery, Vol 3, New York, Thieme Medical
Publishers Inc, 1997, Chapter 13, pp 358-59
6. Potsic WP. Surgical Pediatric Otolaryngology, New York, Thieme Medical
Publishers Inc, 1997, Chapter 42, pp 532-37
7. Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great Britain,
Edward Arnold, 7thed, 2007 Chapter 88, pp.1135- 49
1
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis neoplasma jinak laring berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan
(Laringoskopi Direk/ Fiber Optic Laringoscopy (FOL) / foto polos leher AP
dan lateral / CT scan leher).
b. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang
lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
a. Mengenali gejala dan tanda neoplasma jinak laring
b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik neoplasma jinak laring
c. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang seperti
d. Mengenali faktor resiko kejadian neoplasma jinak laring
e. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika,
anti radang, analgesik-antipiretik, dan operasi.
f. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang
mungkin terjadi pada neoplasma jinak laring.
E. GAMBARAN UMUM
Yang termasuk neoplasma jinak laring antara lain adalah; papilomatosis laring
(anak dan dewasa), kondroma, hemangioma, tumor sel granular, tumor glandular,
rhabdomyoma, lipoma dan fibroma. Neoplasma jinak laring merupakan suatu
penyakit yang cukup sering dijumpai di praktik sehari-hari, baik yang dating dalam
keadaan serak, tidak progresif, dapat menyebabkan sesak ringan sampai berat.
Gejala sesak yang hebat dapat mengancam nyawa bila tidak ditangani secara cepat
dan tepat. Kejadian neoplasma jinak laring dapat terjadi pada semua usia maupun
jenis kelamin. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laringoskopi indirek dan laringoskopi direk serta pemeriksaan
histopatologi.
F. CONTOH KASUS
Seorang anak laki-laki, 1 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara parau
sejak lahir, os anak pertama dengan riwayat kelahiranan normal pervaginam. Dari
pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan langsung didapatkan massa multipel
pada kedua pita suara.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
tumor jinak laring neoplastik seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
1. Mengenali gejala dan tanda neoplasma jinak laring
2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik neoplasma jinak laring
3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
laringoskopi direk/ fiber optic laringoscopy (FOL)/ foto polos leher AP dan
lateral/ CT scan leher.
4. Mengenali faktor resiko kejadian neoplasma jinak laring
5. Mampu tatalaksana konservatif dan operasi
2
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
6. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin
terjadi pada neoplasma jinak laring
H. METODA PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion.
• Peer assisted learning (PAL).
• Bedside teaching.
• Task based medical education.
• Journal reading and review.
• Case simulation and investigation exercise.
• Equipment characteristics and operating instructions.
• Case study
• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
• Demonstration and Coaching
• Practice with Real Clients.
• Continuing Professional Development
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal
yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi laring
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh
pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau
kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang
oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation)
setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah
pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar
kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan
diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada
saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct
observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
3
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
2. Antoni A and Antoni B areas are classically seen in which of the following
laryngeal pathologies?
A. Chondroma
B. Schwannoma
C. Recurrent respiratory papillomatosis
D. Systemic lupus erythematous
E. Amyloid deposits
Jawaban : B
3. Seorang bayi laki-laki umur 4 bulan dibawa ibunya ke unit gawat darurat
dengan keluhan sering mengalami sesak napas terutama bila menangis, suara
tangisan nyaring, muka tidak membiru. Tidak demam dan tidak batuk. Pada
pemeriksaan terdengar stridor, ada retraksi supraklavikular dan interkostal.
Serangan ini sudah berulang terjadi sejak seminggu. Dugaan utama anak
menderita:
a. Papilloma laring
b. Laryngeal web
4
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
c. Laryngomalacia
d. Epiglotitis akut
e. Laringotrakeobronkitis
Jawaban : A
5
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
L. DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)
Prosedur Pemeriksaan Laring
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan
oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar
X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan
Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
6
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
KEGIATAN NILAI
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung
1. Persiapan tindakan
[Link]
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL)
1. Persiapan tindakan
2. Tindakan
M. MATERI PRESENTASI
• Slide 1: Gejala Dan Tanda Neoplasma Jinak Laring
• Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Neoplasma Jinak Laring
• Slide 3:Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
• Slide 4: Faktor Resiko Neoplasma Jinak Laring
• Slide 5: Clinical Decision Making Dan Medikamentosa
N. MATERI BAKU
NEOPLASMA JINAK LARING
a. Jenis Neoplasma Jinak Laring
Yang termasuk tumor jinak laring neoplastik antara lain adalah; papilomatosis
laring (tipe juvenile dan onset dewasa), kondroma, hemangioma, tumor sel
granular, tumor glandular, rhabdomyoma, lipoma dan fibroma.
1. Papilomatosis laring (recurrent papilomatosis)
• Tumor jinak yang disebabkan infeksi virus, dengan tingkat kekambuhan
yang tinggi.
• Tempat utama terbentuknya papilomatosis di pita suara, namun bisa
terdapat dihidung sampai ke bronchiolus.
• Walaupun jinak namun dapat menyebabkan kematian dan berpotensi
menjadi ganas..
• Penyebabnya diketahui human papilloma virus subtype 6 dan 11.
• Gejala awal serak, gejala lanjut dapat berupa stridor dan dyspnea.
• Diagnosa dengan endoskopi. Diagnosa definitif dengan laryngoskopi dan
biopsi.
• Penatalaksanaan dapat pengangkatan lesi secara konservatif merupakan
terapi utama, mikrolaringoskopi suspensi dan eksisi, pada lesi yang kecil
dan kurang agresif dengan menggunakan endoskopi dengan anestesi local,
cryotherapi, photodynamic therapy, antiviral (Cidofovir).
• Riwayat terapi radiasi, merokok dan immunosupresi sistemik diketahui
berperan dalam perubahan kearah malignansi.
• Sebanyak 80% kasus neoplasma di laring merupakan papiloma laring, dapat
dibedakan menjadi tipe juvenile dan onset dewasa.
• Papiloma juvenile
Disebabkan oleh virus dan multipel, sering melibatkan bayi baru lahir dan
anak-anak.
• Keluhan suara serak/parau dan stridor.
• Umumnya terlihat pada pita suara palsu dan sejati dan pada epiglottis,
namun dapat melibatkan lokasi lain di laring dan trakea.
7
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
2. Kondroma
• Umumnya muncul dari kartilago krikoid dan bisa muncul pada area
subglotik
• Menyebabkan dyspnoe atau dapat muncul benjolan dari lempeng posterior
dari krikoid dan menyebabkan sensasi ganjalan di tenggorokan dan disfagia.
• Umumnya mengenai laki-laki usia 40-60 tahun.
• Tumor yang terdiri dari sebagian besar kartilago hialin dengan tampilan
licin dan merupakan lesi submukosa.
• Lebih sering pada laki-laki daripada perempuan.
• Pertumbuhan tumor lambat dan tidak bermetastase.
• Gejala yang timbul serak, dyspnea, dysphagia dan globus sensation.
• Relatif asimtomatik, namun lesi dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas
ataupun massa leher eksternal.
• Diagnosis dilakukan dengan endoskopi dan CT scan.
• Penatalaksanaan dilakukan bedah eksisi, thyrotomy.
3. Hemangioma,
• Hemangioma infantile melibatkan area subglotik dan muncul keluhan
stridor pada 6 bulan pertama kehidupan.
• Sekitar 50% anak memiliki hemangioma di bagian tubuh yang lain
khususnya area kepala dan leher.
• Hemangioma cenderung involusi secara spontan namun trakeostomi
mungkin dibutuhkan untuk mengurangi obstruksi jalan nafas bila terjadi.
• Sebagian besar merupakan tipe kapiler dan dapat dibersihkan dengan laser
CO2.
• Hemangioma pada dewasa meliputi pita suara atau supraglotik laring. Ada
tipe kavernosus dan tidak dapat diterapi dengan laser. Dapat dibiarkan bila
asimptomatik. Untuk yang berukuran lebih besar yang menimbulkan gejala,
terapi steroid dan radiasi mungkin dapat dilakukan.
• Hemangioma laring paling sering dijumpai pada populasi anak-anak.
8
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
• Selalu muncul pada daerah subglotis, sedangkan pada dewasa muda pada
derah supraglotis. Hemangiona biasanya asimptomatis tapi dapat
menimbulkan gejala sumbatan jalan.
• Kortikosteroid, terapi radiasi merupakan pendekatan konservatif yang
mendukung.
• Meskipun pada anak-anak berhasil dengan baik, ablasi laser dihindari pada
pasien dewasa karena struktur pembuluh darah dapat melampaui kapasitas
koagulasi CO2.
• Propanolol juga berhasil dalam terapi pada anak-anak, tapi tidak ada laporan
untuk pasien dewasa.
5. Tumor glandular
• Dapat muncul di seluruh area tubuh tapi paling banyak pada kepala dan
leher.
• Pada laring ini sangat jarang.
• Asal usul berasal dari neuron dan dalam laring, meluas secara perlahan dan
mengisolasi pita suara.
• Gejala klinis suara serak, , stridor, disfagi dan batuk.
• Biopsi dibutuhkan untuk melihat sifat tumor.
• Pewarnaan serologi pada specimen biopsy menunjukkan positif dari S-100,
enolase neuron spesifik, vimentin, CD 68.
• Reseksi komplit dengan instrument microlaryngeal phonosurgical.
• Prinsipnya adalah menghasilkan suara kembali yang normal.
6. Rhabdomyoma
• Merupakan tumor jinak yang terdiri dari striated muscle.
• Lokasi tersering pada laring, namun pernah ditemukan pada otot laring
intrinsik dan ekstrinsik.
• Diagnosis dilakukan dengan biopsy atau MRI.
• Penatalaksanaan terapi dilakukan reseksi secara menyeluruh.
7. Hamartoma
• Hamartoma jarang dijumpai, lesi jinak dapat berupa malformasi kongenital
ataupun lesi lain.
• Terdeteksi secara insidental atau karena adanya gejala saluran nafas yang
signifikan, terutama pada anak anak.
• Presentasi dan gejala berhubungan dengan lokasi neoplasma,
• Hamartoma paling sering terdapat pada supraglottis dan subglottis.
• Penatalaksanaan dilakukan biopsi eksisi dan reseksi.
8. Fibroma
• Fibroma laring merupakan kasus yang sangat jarang
9
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
9. Schwannoma
• Berasal dari lapisan fiber nervus, ditemukan 1% dari seluruh tumor laring.
• Gambaran endoskopi : massa submukosa yang licin pada sinus piriformis
atau area eryoepiglotis.
• Gejala klinis sensasi rasa seperti ada benda bulat ditenggorokan, disfagi,
disfoni, dan apabila membesar dapat menimbulkan sumbatan jalan nafas.
• Histopatologi terlihat area Antoni A dan Antoni B dengan schwannoma
yang lain.
• Komplikasi postoperatif yang mungkin terjadi disfoni, parese pita suara dan
keterlibatan laring.
b. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan fisik: telinga, hidung dan tenggorok, daerah leher dan dada
2. Laringoskopia indirekta
3. Laringoskopia direkta
4. Fiber – Optic Laringoscopy (FOL)
5. Foto polos leher AP dan lateral
6. CT scan leher
c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Stroboscope, Ro Thorak, pemeriksaan laboratorium.
d. Penatalaksanaan
Bedah Mikrolaring
Teknik operasi
1. Pasien tidur diatas meja operasi posisi supine
2. Dokter anestesi mengintubasi laring (jika ada penggunaan laser diantisipasi)
diarahkan ke sisi kiri mulut
3. Bantalan ditempatkan dibawah bahu supaya bisa ekstensi kepala dan leher
secara sempurna.
4. Meja ditempatkan di posisi tredelenburg terbalik agar didapatkan posisi yang
nyaman untuk melihat laring melalui mikroskop.
5. Laringoskop dimasukkan seperti yang sebelumnya disebutkan.
6. Saat laring sudah tervisualisasi dengan adekuat, ujung dari laringoskop operator
didekatkan ke midline sehingga jaringan yang patologi terlihat.
7. Laringoskop dimasukkan, epiglotis diungkit, lalu laringoskop dimasukkan untuk
mengevaluasi seluruh struktur anterior laring
8. Alat suspension apparatus disambungkan ke laringoskop lalu disambungkan ke
Mayo stand atau direkatkan ke meja operasi. Laringoskop yang tergantung dari
meja yang menempel dari tempat tidur membuat pergerakan dari meja tanpa
mengganggu posisi laringoskop.
9. Mikroskop didekatkan ke lapangan operasi dan laring divisualisasi dengan lensa
pembesaran 400 mm. Instrumen laring dapat digunakan dengan alat mikro sesuai
indikasi (forsep yang sesuai dengan peruntukannya).
10
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
10. Bila menggunakan laser CO2 maka wajah harus ditutup dengan handuk yang
lembab dan mata ditutup dengan penutup mata yang lembab. Tidak satupun
bagian dari wajah yang boleh terekspos. Petugas kamar operasi harus
menggunakan pelindung mata.
11. Bila diperlukan pemeriksaan pada komisura posterior dan area ini tertutup oleh
ETT, maka ETT dipindahkan dan ventilasi dilanjutkan dengan menggunakan
alat Venturi Jet. Venturi diletakkan pada saluran cahaya laringoskop dan
diposisikan diatas inlet laryngeal. Saat posisi sudah adekuat, pergerakan dinding
dada dapat dilihat dengan baik tanpa obstruksi pada laring.
12. Instrumen kanul penghisap diletakkan di saluran cahaya dapat membantu
menghisap asap yang dihasilkan dari prosedur laser. Hal ini memungkinkan
karena pencahayaan untuk prosedur ini dihasilkan dari mikroskop.
13. Di akhir dari prosedur, pasien dapat di intubasi ulang untuk pemulihan anestesi,
hal ini dapat dilakukan dengan dua metode:
a. Laringoskop diangkat dan pasien diintubasi seperti biasa
b. Pasien di intubasi ulang dengan laringoskop masih pada posisi
11
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
e. Komplikasi
1. Laringospasme
2. Edema glotik
3. Trauma gigi
12
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
2. Teknik Pemeriksaan:
Laringoskopi Indirect
• Pasien dalam posisi duduk tegak, dengan kepala ekstensi dan leher fleksi
(sniffer’s posisition)
• Pemeriksa duduk berhadapan dengan pasien dengan memakai lampu kepala
• Pasien diminta untuk membuka mulut dan menjulurkan lidah, bagian
anterior lidah dipegang oleh pemeriksa dengan menggunakan kain kassa.
• Dimasukkan kaca laring hangat yang telah dipanaskan sebelumnya ke dalam
rongga mulut melewati uvula dan bagian distal palatum mole. Suhu kaca
laring haruslah diperiksa terlebih dahulu pada tangan pemeriksa sebelum
dimasukkan ke dalam mulut pasien untuk mencegah terbakarnya mukosa
mulut.
• Alat pemeriksa diputar sampai pemeriksa mendapatkan visualisasi yang
baik dari struktur laring dan hipofaring.
• Pasien diminta mengucapkan “iii” untuk mengobservasi adduksi pita suara.
• Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas pelan
sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat dilanjutkan.
• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan menggunakan
xylocain spray 10%.
13
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
Laringoskopi Direct :
No Langkah-Langkah Bagaimana Mengapa
1 Premedikasi Luminal/atropin Tidak valium, karena depresi
pernapasan
Biar air liur sedikit
14
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
15
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring
Prosedur Tindakan Trakeotomi Dapat Dilihat Pada Modul Sumbatan Jalan Nafas Atas
1. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia,
Lea & Fabiger, 2009, chapter 29,31-33,37, pp.570-588,605-41,682-746
2. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014, chapter 68, pp.989-1003
3. Dhingra PL. Disease of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery. New
Delhi, Elsevier, 6th Ed, 2014, Chapter 61, pp.303-07
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw
Hill, 8th Ed, 2002, Chapter 31, pp. 724-92
5. Nauman HH. Head and Neck Surgery, Vol 3, New York, Thieme Medical
Publishers Inc, 1997, Chapter 13, pp 358-59
6. Potsic WP. Surgical Pediatric Otolaryngology, New York, Thieme Medical
Publishers Inc, 1997, Chapter 42, pp 532-37
7. Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great Britain,
Edward Arnold, 7thed, 2007 Chapter 88, pp.1135- 49
16
MODUL UTAMA
LARING FARING
MODUL IV.11
NEOPLASMA GANAS LARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU .......................................................................................................... 1
C. REFERENSI .................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ................................................................................................ 2
H. METODA PEMBELAJARAN........................................................................ 4
I. EVALUASI ..................................................................................................... 4
N. MATERI BAKU............................................................................................ 13
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
MODUL IV.11
LARING-FARING – NEOPLASMA GANAS LARING
A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 9 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 27 X 60 menit (facilitation and assessment)
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi Neoplasma ganas laring meliputi:
• Slide 1 : Anatomi, histologi dan fisiologi Laring
• Slide 2 : Etiologi, patofisiologi dan gejala klinis Neoplasma Ganas
Laring
• Slide 3 : Anamnesis,pemeriksaan fisik danpemeriksaan penunjang
Neoplasma Ganas Laring
• Slide 4 : Penegakkan Diagnosis dan Stadium Neoplasma Ganas
Laring
• Slide 5 : Penatalaksaan Neoplasma Ganas Laring
• Slide 6 : Pencegahan Neoplasma Ganas Laring
2. Kasus : Neoplasma ganas laring
3. Sarana dan Alat bantu latih :
• Model anatomi kadaver / manekin/ hewan
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL, Unit Gawat
Darurat, Intensive Care Unit
C. REFERENSI
1. Hermani B, Hutauruk SM. Disfoni. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, editor.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.
Hal:231-41.
2. Hermani B, Abdurrachman H. Tumor Laring. Dalam: Soepardi EA, Iskandar
N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2010. Hal:194-8.
3. Hadiwikarta A, Rusmarjono, Soepardi EA. Penanggulangan Sumbatan Laring.
In: Soepardi EA, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. 6th ed. Jakarta: Balai Pustaka FKUI; 2008. p243-
53.
4. Lore JM, Medina JE. The Larynx. In: An Atlas of Head& Neck Surgery. 4th
Ed. Philladelphia: Elsevier Saunders; 2005: p.1069-164.
5. Bailey BJ and Johnson JT. Advanced Cancer of the larynx. Head and Neck
Surgery–otolaryngology. Lippincott Williams and Wilkins. Fourth
Edition.2006. p.1758-77.
1
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis Neoplasma ganas laring berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan (Laringoskopi
Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan
leher /Pemeriksaan Biosi Tumor/ Pemeriksaan Patologi Anatomi)
b. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang
lebih tinggi bila diperlukan.
c. Mampu melakukan deteksi dini dan pencegahan terjadinya Neoplasma ganas
laring
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu dan terampil dalam :
a. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi laring
b. Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan
Neoplasma ganas laring
c. Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis Neoplasma ganas laring
d. Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik Neoplasma
ganas laring
2
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
E. GAMBARAN UMUM
Karsinoma sel skuamosa laring adalah tumor epitel maligna dengan diferensiasi
skuamosa seperti jembatan interseluler dan terbentuknya keratin. Keganasan kepala
leher menempati 5 % dari seluruh keganasan yang ada dan 3 % dari keganasan
tersebut berakibat kematian. Neoplasma ganas laring merupakan bagian dari
keganasan kepala leher yang menempati urutan ke-3 terbanyak, setelah karsinoma
nasofaring, karsinoma hidung dan sinus paranasal. Insiden dan angka kematian
kanker laring merupakan yang tertinggi dengan penyebab tersering adalah perokok
dan pengguna alcohol.
Pasien datang dengan keluhan sesak disertai suara serak yang memberat, juga
disertai gangguan menelan. Pasien mempunyai riwayat merokok dan
mengkonsumsi alkohol. Penatalaksanaan pasien dengan keganasan pada laring
memerlukan pertimbangan yang tepat mengingat fungsi laring yang sangat penting.
F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 59 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak 2
minggu, makin lama makin sesak. Keluhan didahului suara serak sejak 6 bulan lalu,
pasien juga mengeluhkan susah menelan makanan padat sejak 1 bulan lalu. Pasien
mempunyai riwayat merokok lebih dari 20 batang sehari selama lebih dari 40
tahun. Pasien juga sering mengkonsumsi alkohol.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan
tindakan yang tepat terhadap penderita Neoplasma ganas laring, seperti yang telah
disebutkan di atas, yaitu:
H. METODA PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion
• Peer assisted learning (PAL)
• Bedside teaching
• Task based medical education
• Interactive lecture
• Journal reading and review
• Case simulation and investigation exercise
• Equipment characteristics and operating instructions
• Case study
• Demonstration and coaching
• Simulation and real examination exercises (physical and device)
• Operative procedure demonstration and coaching
• Practice with real clients
• Continuing professional development
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test dalam bentuk essay dan
oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja
awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang
ada. Materi pretest dan post-test terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi laring
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada
saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP
4
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
6
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
KEGIATAN KASUS
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF
1. Nama
2. Diagnosis
3. Informed Choice & Informed Consent
4. Rencana Tindakan
5. Persiapan Sebelum Tindakan
6. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
II. PROSEDUR OPERASI
1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan
lengkap
2. Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun
umum.
3. Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi
(punggung diganjal bantal).
4. Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya, lapangan
operasi dipersempit dengan doek steril.
5. Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk anestesi
dan vasokonstriksi.
6. Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid
sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar
dengan retraktor.
7. Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi
lapis, hati-hati terhadap vena jugularis anterior, arteri
tiroidea ima, kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat diklem
dipotong selanjutnya diligasi/kauter atau disisihkan ke atas
atau ke bawah).
8. Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan
(bila mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam
spuit).
9. Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya
dilakukan insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah
inferior ke superior.
10. Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes
benang (bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka
benang akan bergerak dihembus oleh udara pernapasan
lewat kanul).
11. Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan
pada kulit leher, dan pita leher.
12. Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar,
terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang.
7
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
KEGIATAN KASUS
14. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan
lengkap
III. PASCA OPERASI
1. Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu dan
nadi secara teratur
2. Mencegah terjadinya dehidrasi
3. Pemberian antibiotik segera setelah operasi
4. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi
IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI
1. Perawatan kanul
2. Perawatan komplikasi
3. Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan
dalam 24 jam.
4. Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita
dipulangkan atau pada hari ke-5.
5. Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul
serta tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah
posisi
6. Prosedur Dekanulasi
L. DAFTAR TILIK
Prosedur Trakeostomi
KEGIATAN KASUS
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF
1. Nama
8
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
KEGIATAN KASUS
2. Diagnosis
3. Informed Choice & Informed Consent
4. Rencana Tindakan
5. Persiapan Sebelum Tindakan
6. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
II. PROSEDUR OPERASI
1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan
lengkap
2. Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal
maupun umum.
3. Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi
(punggung diganjal bantal).
4. Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya,
lapangan operasi dipersempit dengan doek steril.
5. Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk
anestesi dan vasokonstriksi.
6. Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago
tiroid sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi
diperlebar dengan retraktor.
7. Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis
demi lapis, hati-hati terhadap vena jugularis anterior,
arteri tiroidea ima, kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat
diklem dipotong selanjutnya diligasi/kauter atau
disisihkan ke atas atau ke bawah).
8. Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan
(bila mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam
spuit).
9. Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya
dilakukan insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari
arah inferior ke superior.
10. Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan
tes benang (bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea,
maka benang akan bergerak dihembus oleh udara
pernapasan lewat kanul).
11. Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul,
jahitan pada kulit leher, dan pita leher.
12. Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara
longgar, terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul
dipasang.
13. Operasi selesai.
III. PASCA OPERASI
1. Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu
dan nadi secara teratur
9
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
KEGIATAN KASUS
2. Mencegah terjadinya dehidrasi
3. Pemberian antibiotik segera setelah operasi
4. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi
IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI
1. Perawatan kanul
2. Perawatan komplikasi
3. Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon
dikempiskan dalam 24 jam.
4. Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum
penderita dipulangkan atau pada hari ke-5.
5. Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak
kanul serta tindakan pertama bila kanul buntu total atau
salah posisi
6. Prosedur Dekanulasi
M. MATERI PRESENTASI
10
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
11
Subglotis.39
12
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
N. MATERI BAKU
Karsinoma sel skuamosa (KSS) laring lebih banyak 7 kali lipat pada laki-laki
dibandingkan perempuan. Insiden dan angka kematian kanker laring merupakan
yang tertinggi dengan penyebab tersering adalah perokok dan pengguna alkohol.
Usia tersering adalah 55 hingga 75 tahun dimana sekitar 58% terdiagnosis pada
rentang usia ini. Kanker laring subtipe tertentu terdiagnosa lebih awal contohnya
kanker laring yang disebabkan virus human papilloma, dapat terdiagnosa 4
tahun lebih cepat dibandingkan kanker laring yang disebabkan merokok dan
alkohol.
Karsinoma sel skuamosa merupakan histologis tersering dari kanker laring yaitu
sekitar 90%. Karsinoma sel skuamosa laring adalah tumor epitel maligna dengan
diferensiasi skuamosa seperti jembatan interseluler dan terbentuknya keratin.
Berasal dari permukaan epitel sel skuamosa atau dari epitel saluran napas
bersilia yang telah terjadi metaplasi
3. Faktor resiko
Perokok kronis meningkatkan resiko kanker laring apalagi bila disertai dengan
konsumsi alkohol. Resiko meningkat selaras dengan lama dan banyaknya rokok
yang dikonsumsi. Merokok adalah faktor resiko dominan yang indipenden.
Tahun 1956, Wynder et al dikutip dari Haris et al3 melakukan penelitian pada
209 kasus kanker laring didapatkan 99,5% kasus dengan riwayat merokok kronis
dan peminum alkohol. Penemuan histologis paling signifikan berhubungan
dengan merokok adalah adanya sel atipikal yang selalu ditemukan pada perokok
dan jarang ditemukan pada bukan perokok. Penemuan ini memberikan bukti
kuat bahwa merokok adalah penyebab penting terjadinya kanker laring. Ansary
et al dikutip dari Haris et al melakukan penelitian meta analisis kemungkinan
kanker laring yang fatal lebih besar 10 kali lipat pada perokok kronis
dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Hashibe et al melakukan
penelitian didapatkan pasien perokok dan peminum alkohol meningkatkan
resiko kanker laring hingga 14 kali lipat dibandingkan dengan bukan perokok
dan bukan peminum alkohol.
14
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
Infeksi kronik pada jaringan laring oleh Human papilloma virus (HPV)
meningkatkan resiko terjadinya kanker. Infeksi HPV virulensi rendah (HPV-6
dan HPV-11) mengakibatkan papilloma (tumor benigna), infeksi HPV virulensi
tinggi (HPV-16 dan HPV-18) menyebabkan karsinoma sel skuamosa. Li et al
menyimpulkan bahwa infeksi HPV terutama HPV-16 meningkatkan resiko
terjadinya kanker laring yang berkaitan dengan kejadian seks bebas, maka dari
itu kasus kanker laring akibat infeksi HPV muncul pada usia yang lebih muda
dibandingkan kanker laring akibat merokok dan alkohol.
Beberapa faktor resiko lain yang berhubungan dengan kanker laring adalah
terpapar radiasi di leher saat usia muda atau radioterapi pada keganasan kepala
leher. Martin et al dikutip dari Haris et al melakukan penelitian pada 109 pasien
dengan kanker laring yang dilakukan radioterapi didapatkan 8 pasien terjadi
kanker laring berulang 7-15 tahun setelah radiasi.
Riwayat keluarga dengan kanker laring setidaknya satu tingkat diatas memiliki
resiko kanker laring dua kali lipat dibandingkan dengan tanpa riwayat keluarga
terkena kanker laring. Faktor resiko lain yaitu penyakit refluks gastroesofagus,
imonosupresi akibat HIV atau transplantasi organ dan riwayat sebelumnya
terkena kanker di kepala leher. Paparan terhadap bahan dari lingkungan seperti
paparan lama terhadap debu batubara, debu kayu dan asbestos dapat
meningkatkan resiko kanker laring. Diet terlalu banyak makan daging olahan
dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker laring.
4. Anatomi laring
Struktur pembentuk laring terdiri dari beberapa tulang rawan dan satu buah
tulang. Tulang hioid merupakan satu-satunya tulang dan enam tulang rawan
yaitu kartilago tiroid, krikoid, epiglotis, aritenoid, kornikulata dan kuneiformis.
Tulang dan kartilago ini disatukan oleh ligamen dan otot intrinsik laring. Otot
intrinsik laring berfungsi mengubah panjang, ketegangan, bentuk, dan posisi
spasial dari pita suara dengan mengubah orientasi otot dan pita suara pada
aritenoid dengan komisura anterior.
15
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
Batas laring di bagian kranial adalah tepi bebas dari epiglotis, aritenoid,
interaritenoid. Batas kaudal laring adalah batas inferior kartilago krikoid yang
berbatasan dengan cincin trakea. laring dibagi atas tiga bagian berdasarkan
anatomi yaitu supraglotis, glotis dan subglotis. Supraglotis dimulai dari aditus
laring sampai sinus morgagni, glotis dimulai dari plika vokalis sampai 1 cm di
bawah plika vokalis dan subglotis dimulai dari batas bawah glotis sampai batas
bawah kartilago krikoid.
5. Histopatologi
Penampakan makroskopik dari karsinoma sel skuamosa bervariasi termasuk lesi
datar dengan pinggiran yang meninggi, eksofitik polipoid dan lesi papiler seperti
lesi infiltrative tipe endofitik. Permukaan tumor biasanya terdapat ulkus.
Penampakan mikroskopik karsinoma sel skuamosa ditandai oleh pertumbuhan
infasif dan adanya diferensiasi sel skuamosa. Pertumbuhan infasif ditandai
dengan gangguan dari membran basalis dan pertumbuhan sel tumor pada
subepitel, tumor yang besar dapat menginvasi struktur yang lebih dalam seperti
otot, kartilago dan tulang. Invasi ke perineural dan kelenjar limfe serta pembuluh
darah dapat terjadi dan merupakan tanda kanker invasif. Differensiasi sel
skuamosa terlihat dari jembatan interselular dan keratinisasi pada sel skuamosa.
Tumor Supraglotis
T1 Tumor terbatas pada 1 sisi pita suara palsu (gerakan baik)
T2 Tumor sudah meluas ke 1 atau 2 sisi supraglotis atau glotis tanpa fiksasi
pita suara
T3 Tumor teratas pada pita suara asli dengan fiksasi atau meluas ke posterior
krikoid, dinding medial sinus piriformis, jaringan preepiglotis, ruang
paraglotis, dan atau erosi minimal pada kartilago tiroid
T4a Tumor sudah meluas ke kartilago tiroid dan atau ke jaringan di sekitar
laring seperti trakea, otot dasar lidah, strap muscle, tiroid atau esofagus)
T4b Tumor meluas ke ruang prevetrebal, arteri karotis atau struktur
mediastinum
17
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
Tumor Glotis
T1 Tumor terbatas pada pita suara (dapat dengan keterlibatan komisura
anterior atau posterior) dengan gerakan baik
T1a Tumor pada 1 pita suara
T1b Tumor pada 2 pita suara
T2 Tumor meluas ke supraglotis atau subglotis dengan atau tanpa gangguan
gerakan pita suara
T3 Tumor masih terbatas di laring dengan fiksasi pita suara dan atau invasi
ruang paraglotis, dan atau erosi minimal kartilago tiroid
T4a Tumor invasi ke kartilago tiroid atau jaringan sekitar laring
T4b Tumor menginvasi ruang prevertebral, arteri karotis, struktur
mediastinum
Tumor Subglotis
T1 Tumor terbatas pada subglotis
T2 Tumor meluas ke pita suara dengan gerakan normal
T3 Tumor terbatas di laring dengan fiksasi pita suara
T4a Tumor menginvasi kartilago krikoid atau tiroid dan atau invasi jaringan
sekitar laring
T4b Tumor menginvasi ruang prevertebral, arteri karotism dan struktur
mediastinum
Metastasis Jauh
Mx Metastasis tidak dapat dinilai
M0 Tidak terdapat metastasis jauh
M1 Terdapat metastasis jauh
Stadium T N M
I T1 N0 M0
II T2 N0 M0
III T3 N0 M0
T1-3 N1 M0
IVA T4a N0 , N1 M0
T1 – T4a N2 M0
IVB T4b Semua N M0
Semua T N3 M0
Semua T Semua N M1
18
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
7. Terapi
Penatalaksanaan Neoplasma ganas laring berbagai negara berbeda. Satu-satunya
keadaan klinis yang mendapat persetujuan secara menyeluruh di dunia adalah
penanganan karsinoma laring T4 dengan keterlibatan kartilago laring yaitu
laringektomi total dengan radioterapi pascaoperasi.
Memilih modalitas penatalaksanaan karsinoma laring harus mempertimbangkan
stadium, kondisi psikologis pasien, faktor biaya, gejala sisa, dan efektivitas
terapi. Penatalaksanan harus melibatkan multidisiplin ilmu seperti dokter THT-
KL, radiologi onkologi, ahli kemoterapi, rehabilitasi medis dan lain-lain.
Secara umum penatalaksanaan karsinoma laring stadium awal adalah bedah dan
radiasi. Pembedahan dapat dilakukan secara transoral mikrolaring reseksi atau
parsial laringektomi. Secara statistik saat ini radiasi maupun bedah dianggap
memiliki efektivitas yang sama untuk terapi karsinoma laring stadium awal
walaupun masih didapatkan rekurensi pada beberapa penelitian. Penatalaksanaan
karsinoma laring stadium awal hampir selalu menggunakan satu modalitas
sehingga sekuele pasca terapi harus benar-benar diperhatikan.
19
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
8. ALGORITMA
20
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring
9. Referensi
1. Hermani B, Hutauruk SM. Disfoni. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, editor.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.
Hal:231-41.
2. Hermani B, Abdurrachman H. Tumor Laring. Dalam: Soepardi EA, Iskandar
N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI; 2010. Hal:194-8.
3. Hadiwikarta A, Rusmarjono, Soepardi EA. Penanggulangan Sumbatan
Laring. In: Soepardi EA, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. 6th ed. Jakarta: Balai Pustaka FKUI; 2008.
p243-53.
4. Lore JM, Medina JE. The Larynx. In: An Atlas of Head& Neck Surgery. 4th
Ed. Philladelphia: Elsevier Saunders; 2005: p.1069-164.
5. Bailey BJ and Johnson JT. Advanced Cancer of the larynx. Head and Neck
Surgery–otolaryngology. Lippincott Williams and Wilkins. Fourth
Edition.2006. p.1758-77.
6. Beenken SW. Laryngeal Cancer (Cancer of the larynx). Armenian Health
Network, [Link]. Retrieved 2007-03-22.
7. Ridge JA, Glisson BS, Lango MN, et al. Headand Neck Tumor in Pazdur R,
Wagman LD, Camphausen KA, Hoskins WJ (Eds) Cancer Management: A
Multidisciplinary Approach. 11 ed. 2008.
8. Raitiola H, Pukander J, Laippala P. Glottic and Supraglottic Laryngeal
Carcinoma: Differences in Epidemiology, Clinical Characteristics and
Prognosis. Acta Otolaryngol (Stockh) 1999; 119: 847–851.
9. Harris, E Randall. Global Epidemiology of Cancer. Epidemiology of
laryngeal cancer. Jones & Bartlett Publishers, 7 Mei 2015. p59-68.
10. Rahmi H. Data penelitian Hastuti Rahmi. 2015
11. Xiangwei Li et al. Human Papillomavirus Infection and Laryngeal. Cancer
Risk: A Systematic Review and Meta-Analysis. The Journal of Infectious
Diseases 2013; 207: 479–88.
12. Hashibe et al. Contribution of Tobacco and Alcohol to the High Rates of
Squamous Cell Carcinoma of the Supraglottis and Glottis in Central Europe.
American Journal of Epidemiology. 2007;165:814–820.
13. Qadeer MA, Colabianchi N, Vaezi MF. Is GERD a risk factor for laryngeal
cancer? Laryngoscope. 2005. Mar; 115(3): 486-91.
14. Hoff CM, Grau C, Overgaard J. Effect of smoking on oxygen delivery and
outcome in patients treated with radiotherapy for head and neck squamous
cell carcinoma – A prospective study. Radiotherapy and Oncology 103
(2012) 38–44.
15. Farshadpour F. Non-smoking and Non-drinking patients with Head and Neck
Squamous Cell Carcinoma, A Distinct Population. 2011 F. Farshadpour, The
Netherlands.
16. National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice in
Oncology. Head and Neck Cancers. Version I. 2015.
21
MODUL UTAMA
LARING FARING
MODUL IV.12
TRAUMA LEHER
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ...................................................................................................... 1
C. REFERENSI ................................................................................................ 1
D. KOMPETENSI ............................................................................................ 1
I. EVALUASI ................................................................................................. 3
MODUL IV.12
LARING-FARING – TRAUMA LEHER
A. WAKTU
Mengembangkan Kompetensi Frekuensi
Sesi di dalam kelas 9 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 19 X 60 menit (facilitation and assessment)
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi
• Slide 1: Anatomi, Fisiologi leher
• Slide 2: Mekanisme Trauma leher
• Slide 3: Pemeriksaan fisik dan Penunjang
• Slide 4: Algoritma dan Prosedur
2. Kasus : Trauma tumpul leher
Seorang wanita usia 22 tahun di rujuk ke emergensi THT dengan riwayat trauma
tumpul didaerah leher. Dari anamnesis didapatkan bahwa penderita mengalami
benturan di daerah lehernya akibat terkena besi saat bekerja di pabrik 3 jam yang
lalu. Dari pemeriksaan fisik penderita terlihat sesak, dan suara menjadi parau.
Stridor inspiratoir (+) dengan gambaran jejas didaerah lener setinggi laring.
Dari perabaan diapatkan adanya krepitasi dan emphisema yang meluas ke daraeh
supraclavicula. Penderita masih dapat makan dan minum.
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Model Anatomi
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting) : Instalasi gawat darurat, bangsal THT,
Poliklinik THT, Ruang Operasi
C. REFERENSI
1. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition,
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2014, 717 – 821.
2. Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition,
Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 856.
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis trauma leher berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
b. Mampu melakukan tatalaksana trauma leher serta merujuk ke fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
a. Menjelaskan anatomi, fisiologi struktur leher
b. Menjelaskan etiologi, macam-macam trauma leher
c. Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari trauma leher
1
Modul IV.12- Trauma Leher
E. GAMBARAN UMUM
Semua trauma pada leher secara potensial membahayakan kehidupan karena
banyak struktur vital melalui daerah ini. Trauma leher diklasifikasikan menjadi
tumpul atau menembus. Trauma tumpul pada leher dapat mengakibatkan cedera
saraf spinal leher, cedera faring dan trakea, dan cedera arteri karotis. Trauma leher
menembus diklasifikasikan menurut lokasinya (zona I, II, III).
Pemeriksaan klinis dari trauma leher meliputi penilaian jalan nafas, termasuk
evaluasi suara parau, stridor, dispneu dan hemoptisis. Emfisema subkutan,
krepitasi, dan perubahan landmark laring merupakan indikasi cedera laringotrakea.
Disfagi dan nyeri dada adalah kas untuk cedera esofagus. Pemeriksaan Endoskopi
(Laringoskopi fiberoptik) dilakukan untuk memeriksa jalan nafas bagian atas. Jika
terdapat ancaman gangguan jalan nafas atas, dilakukan trakeotomi. Krikotirotomi
tidak digunakan pada keadaan seperti ini, karena resiko cedera lebih lanjut pada
laring dan trakea bagian atas.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
trauma leher seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu :
1. Menguasai anatomi, histologi, fisiologi struktur leher
2. Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinis trauma leher
2
Modul IV.12- Trauma Leher
H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan Referat
4. Jurnal Reading
5. Praktik Lapangan (Poliklinik)
6. Skills Lab
7. Bedside Teaching
8. Tindakan (OK)
9. Case Report
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal
yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi struktur leher
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada
saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP
(Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh
teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
3
Modul IV.12- Trauma Leher
4
Modul IV.12- Trauma Leher
Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala
penilaian di bawah ini :
1. Perlu Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam
Perbaikan urutan yang salah.
2. Cukup Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang
benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.
PENUNTUN BELAJAR
Kesempatan ke
NO Kegiatan / langkah klinik
1 2 3 4 5
Anamnesis
1. Menilai kondisi kesiapan pasien (vital sign)
2. Tanyakan mengenai onset kejadian
Tanyakan mengenai jenis dan mekanisme dan jenis trauma,
3.
Apakah terkena trauma tumpul atau trauma tajam
Deskripsikan tentang arah trauma , apakah dari anterior atau
4.
lateral
Tanyakan mengenai komplikasi, apakah ada sesak,
5.
gangguan menelan,suara serak, rasa nyeri dada
Tanyakan mengenai penyakit yang bisa memperberat
6. kondisi pasien seperti;riwayat trauma leher sebelumnya,
riwayat operasi didaerah leher
Pemeriksaan Fisik
Vital sign ; Kesadaran,Tekanan darah , Heart rate,
1.
Respiratori rate, temperatur, saturasi O2
Periksa apakah ada tanda-tanda obstruksi saluran nafas;
2. Stridor, Retraksi supraclavicula, suprasternal,epigastrium,
intercostal
Inspeksi : Jejas didareah leher, luas luka,Kedalaman luka (
3.
Trauma tajam)
Palpasi ; Krepitasi,emphisema subcutis,Landmark laring
4
dan trachea,apakah ada deformitas
Pemeriksaan penunjang
1 Rontgen Soft tissue Leher ( AP dan Lateral)
Dinilai mengenai kolum udara, struktur tulang dan soft
tissue
2. Endoskopi ( Laringoskopi fiber optic)
Lihat modul ........
3 CT-Scan / MRI
5
Modul IV.12- Trauma Leher
K. DAFTAR TILIK
L. MATERI PRESENTASI
1. Slide 1 : Definisi
Trauma leher adalah trauma pada leher baik yang berakibat luka tumpul
atau menembus.
6
Modul IV.12- Trauma Leher
M. MATERI BAKU
1. Definisi Trauma Leher
Trauma leher adalah trauma pada leher, tumpul dan menembus.
2. Ruang Lingkup
Trauma leher diklasifikasikan menjadi tumpul atau menembus, yang secara
potensial membahayakan kehidupan. Trauma tumpul pada leher dapat
mengakibatkan cedera saraf spinal leher, cedera faring dan trakea, dan cedera
arteri karotis.
3. Pemeriksaan penunjang
Endoskopi peroral, imaging (foto rontgen soft tissue daerah visera, CT scan,
MRI, foto rontgen dada), angiografi
4. Penatalaksanaan
a. Upaya suportif dasar
• Pemasangan infus
• Pencegahan tetanus
• Antibiotik
b. Gangguan jalan nafas
• rongga mulut dan orofaring
• hipofaring,
• laring,
• trakea
• Intubasi endotrakeal
• Krikotirotomi
• Trakeotomi
7
Modul IV.12- Trauma Leher
c. Perdarahan
1) eksternal,
2) dalam rongga (terutama hipofaring, rongga mulut, orofaring),
3) internal didalam jaringan lunak (misalnya hematom yang membesar)
a) pembengkakan eksternal
b) pembengkaan hipofaring, rongga mulut, orofaring
i. Penekanan dari luar secara langsung
ii. Eksplorasi bedah
• Ligasi
• Rekonstruksi pembuluh darah besar
d. Perforasi visera
1) hipofaring,
2) laring,
3) trakea
4) esofagus
• Eksplorasi bedah
• Penutupan dengan bedah, khususnya esofagus
• Drainase bedah, terutama jika tidak mungkin dilakukan penutupan
e. Gangguan saraf
Perbaikan cedera saraf, misalnya saraf otak
N. DAFTAR PUSTAKA
a. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition,
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2001, 717 – 821.
b. Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition,
Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 856.
O. ALGORITMA DAN PROSEDUR
1. Protokol penatalaksanaan trauma akut pada laring
8
Modul IV.12- Trauma Leher
9
MODUL UTAMA
LARING FARING
MODUL IV.13
SUMBATAN JALAN NAFAS ATAS (SJNA)
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU.............................................................................................................. 1
C. REFERENSI ....................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ................................................................................................... 2
I. EVALUASI ........................................................................................................ 3
MODUL IV.13
LARING-FARING – SUMBATAN JALAN NAFAS ATAS (SJNA)
A. WAKTU
Mengembangkan Kompetensi Frekuensi
Sesi di dalam kelas 9 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 33 X 60 menit (facilitation and assessment)
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi SUMBATAN JALAN NAPAS ATAS (SJNA), meliputi:
a. Gejala dan tanda SJNA
b. Anamnesis dan pemeriksaan SJNA
c. Pemeriksaan penunjang diagnostik
d. Faktor risiko SJNA
e. Clinical decision making dan medikamentosa
2. Kasus : Sumbatan jalan napas atas (SJNA)
Seorang laki-laki usia 59 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak
2 minggu, makin lama makin sesak disertai napas bunyi ketika menarik napas.
Sejak enam bulan yang lalu suara parau, kadang-kadang batuk disertai darah.
Makan dan minum tidak ada masalah.
Penderita mempunyai riwayat sebagai perokok berat.
3. Sarana dan Alat bantu latih :
a. Model anatomi kadaver / manekin/ hewan
b. Penuntun belajar (learning guide) terlampir
c. Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL, Unit Gawat
Darurat, Intensive Care Unit
C. REFERENSI
1. Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed. Operative Otolaryngology Head
and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders. Philadelphia. 2014, pp. 293-305
2. Goldsmith AJ, Wynn R. Upper airway obstruction. In: Lucente FE, [Link].
Essential of otolaryngology 5th ed. Lippincott Williams & Wilkins.
Philadelphia, 2004; 257-61.
3. Burkey BB. Airway Control and Laryngotracheal Stenosis in Adults. In : JJ
Ballenger, ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck. 17th Ed. Lea
& Febiger. Philadelphia. 2009, pp. 903-12
4. Kost KM. Tracheotomy & Intubation. In : BJ Bailey, et al., eds. Head and
Neck Surgery – [Link] 2. 5th Ed. Philadelphia. Lippincott
Williams & Wilkins. 2014, pp. 908-944
5. Yu KCY. Airway Management & Tracheotomy. In : AK Lalwani, ed. Current
Diagnosis & Treatment in Otolaryngology – Head and Neck Surgery.
International Edition. McGraw-Hill, Boston, 2012. pp. 536-42
6. Woodson G. The Larynx. In : KJ Lee, ed. Essential Otolaryngology Head and
Neck Surgery, 10th Ed. McGraw-Hill, New York. 2012, pp. 529-56
1
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis sumbatan jalan napas atas berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan
(Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan
lateral/ CT scan leher).
b. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang
lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu dan terampil dalam :
a. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi jalan napas atas
b. Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan sumbatan
jalan napas atas
c. Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis sumbatan jalan napas atas
d. Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik sumbatan
jalan napas atas
e. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan
lateral/ CT scan leher
f. Membuat diagnosis klinik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan sumbatan jalan napas atas
g. Mampu melakukan tindakan intubasi endotrakeal, krikotirotomi dan
trakeostomi pada sumbatan jalan napas atas
h. Menjelaskan pemeliharaan dan komplikasi pasca tindakan trakeostomi
E. GAMBARAN UMUM
Sumbatan jalan napas atas (SJNA) merupakan suatu gejala penyakit yang sering
dijumpai di praktik sehari-hari, baik yang datang dalam keadaan sesak ringan
maupun hebat. Gejala sesak yang hebat dapat mengancam nyawa bila tidak
ditangani secara cepat dan tepat. Kejadian SJNA dapat terjadi pada semua usia
maupun jenis kelamin. SJNA dapat disebabkan oleh adanya infeksi, benda asing,
tumor, dll. Diagnosis ditegakkan terutama melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik
(kriteria Jackson). Untuk mengatasi SJNA tersebut salah satu cara yang dikerjakan
adalah trakeostomi.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan
2
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
tindakan yang tepat terhadap penderita sumbatan jalan napas atas, seperti yang telah
disebutkan di atas, yaitu :
1. Menguasai anatomi, histologi, fisiologi jalan napas atas
2. Mampu menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan
sumbatan jalan napas atas
3. Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis sumbatan jalan napas atas
4. Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (laringoskop serat optik
(LSO)/FOL (fiber-optic laryngoscopy), foto polos leher, CT Scan laring)
5. Membuat diagnosis sumbatan jalan napas atas berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik maupun penunjang
6. Melakukan tatalaksana sumbatan jalan napas atas
7. Melakukan work-up dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke
spesialis yang relevan (bila kegawatdaruratan sudah tidak ada).
H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan Referat
4. Jurnal Reading
5. Case Report
6. Prakti Lapangan (Emergensi)
7. Bedside Teaching
8. Operasi
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test dalam bentuk essay dan
oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai
kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan
yang ada. Materi pretest dan post-test terdiri atas :
a. Anatomi dan fisiologi jalan napas atas
b. Penegakan diagnosa
c. Penatalaksanaan
d. Follow up
3
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
6. Pendidik/ fasilitas :
a. Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
b. Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
c. Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
a. Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT-KL-KL dasar oleh
kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL-KL
b. Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra
pendidikan THT-KL-KL lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL-KL.
c. Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL-KL lanjut oleh
kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL-KL.
4
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR TRAKEOSTOMI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya
atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika
harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi di luar normal
3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang
sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)
5
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
6
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
KEGIATAN KASUS
d. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi
• IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI
1. Perawatan kanul
2. Perawatan komplikasi
3. Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan
dalam 24 jam.
4. Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita
dipulangkan atau pada hari ke-5.
5. Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul serta
tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah posisi
6. Prosedur Dekanulasi
K. DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR TRAKEOSTOMI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan
oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini:
ü : Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
Ï : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh
peserta selama proses evaluasi oleh pelatih
7
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
KEGIATAN KASUS
6. Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid
sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar dengan
retraktor.
7. Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi lapis,
hati-hati terhadap vena jugularis anterior, arteri tiroidea ima,
kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat diklem dipotong selanjutnya
diligasi/kauter atau disisihkan ke atas atau ke bawah).
8. Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan (bila
mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam spuit).
9. Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya dilakukan
insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah inferior ke
superior.
10. Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes benang
(bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka benang akan
bergerak dihembus oleh udara pernapasan lewat kanul).
11. Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan pada
kulit leher, dan pita leher.
12. Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar,
terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang.
13. Operasi selesai.
III. PASCA OPERASI
1. Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu dan nadi
secara teratur
2. Mencegah terjadinya dehidrasi
3. Pemberian antibiotik segera setelah operasi
4. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi
IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI
1. Perawatan kanul
2. Perawatan komplikasi
3. Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan dalam
24 jam.
4. Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita
dipulangkan atau pada hari ke-5.
5. Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul serta
tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah posisi
6. Prosedur Dekanulasi
8
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
L. MATERI PRESENTASI
1. Slide 1: Sumbatan Jalan Nafas Atas
4. Slide 4: Trakeostomi
M. MATERI BAKU
1. Sumbatan Jalan Napas Atas
a. Definisi
Kondisi terbuntunya jalan napas atas baik sebagian/parsial maupun
keseluruhan yang menyebabkan terjadinya gangguan ventilasi.
b. Ruang lingkup
1) Faktor Risiko
Penderita tumor/infeksi di orofaring maupun laring.
2) Etiologi
Tertutupnya jalan napas atas karena tumor, benda asing atau infeksi
terutama di daerah orafaring dan laring.
3) Diagnosis
a) Anamnesis :
9
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
5) Tindak Lanjut
Konservatif bila dengan medikamentosa menunjukkan perbaikan (kasus
infeksi) dan operatif bila sesak napas memberat/permanen (kasus tumor).
2. Prosedur Trakeostomi
a. Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan trakeostomi
(teori, indikasi, prosedur dan komplikasi). Selama pendidikan pernah
melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di
bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan
menerapkan keterampilan trakeostomi dalam praktik mandiri.
b. Definisi
Trakeostomi adalah tindakan mengiris/membuat lubang pada trakea.
c. Indikasi
1) Mengatasi sumbatan jalan napas atas, yang dapat disebabkan oleh :
a) Infeksi saluran napas (epiglotitis akut, laringotrakeobronkitis akut)
b) Trauma daerah kepala leher
c) Tumor jinak maupun ganas daerah faring, laring, esofagus
d) Kelainan kongenital saluran napas atas
e) Abduktor paralisis bilateral
f) Benda asing jalan napas
2) Mengeluarkan sekret dari trakeobronkial (bronkopnemoni, bronkiektasis,
koma, …)
3) Menunjang pemberian napas bantuan (emfisema paru, paralisis otot napas,
…)
4) Mencegah aspirasi (operasi bedar daerah kepala leher, kelumpuhan laring)
d. Teknik Operasi
1) Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum.
2) Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi (punggung diganjal
bantal).
10
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
e. Komplikasi operasi
1) Perdarahan
2) Infeksi
3) Emfisema subkutis
4) Pnemotoraks
5) Pnemomediastinum
6) Fistula trakeoesofagal
7) Obstruksi kanul
8) Kanul salah posisi
9) Problem menelan
10) Henti jantung/napas
11) Fistula trakeokutan
12) Terbentuk granuloma
13) Stenosis trakea
14) Kesulitan dekanulasi
11
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)
9. Referensi:
a. Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed. Operative Otolaryngology
Head and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders. Philadelphia. 2014, pp. 293-
305
b. Goldsmith AJ, Wynn R. Upper airway obstruction. In: Lucente FE, Har-
[Link]. Essential of otolaryngology 5th ed. Lippincott Williams & Wilkins.
Philadelphia, 2004; 257-61.
c. Burkey BB. Airway Control and Laryngotracheal Stenosis in Adults. In : JJ
Ballenger, ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck. 17th Ed.
Lea & Febiger. Philadelphia. 2009, pp. 903-12
d. Kost KM. Tracheotomy & Intubation. In : BJ Bailey, et al., eds. Head and
Neck Surgery – [Link] 2. 5th Ed. Philadelphia. Lippincott
Williams & Wilkins. 2014, pp. 908-944
e. Yu KCY. Airway Management & Tracheotomy. In : AK Lalwani, ed.
Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology – Head and Neck
Surgery. International Edition. McGraw-Hill, Boston, 2012. pp. 536-42
f. Woodson G. The Larynx. In : KJ Lee, ed. Essential Otolaryngology Head
and Neck Surgery, 10th Ed. McGraw-Hill, New York. 2012, pp. 529-56
g. Bhatti, NI. Surgical Management of the Difficult Adult Airway. In :
Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. 5th ed.
[Link] 122-29
12
MODUL UTAMA
LARING FARING
MODUL IV.14
ABSES RUANG LEHER DALAM
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ....................................................................................................... 1
C. REFERENSI ................................................................................................. 1
D. KOMPETENSI ............................................................................................. 1
H. METODA PEMBELAJARAN..................................................................... 3
I. EVALUASI .................................................................................................. 3
N. MATERI BAKU......................................................................................... 14
MODUL IV.14
LARING-FARING – ABSES RUANG LEHER DALAM
A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 7 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 28 X 60 menit (facilitation and assessment)
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi : Abses Ruang Leher Dalam
• Slide 1 : Definisi dan Ruang Lingkup
• Slide 2 : Drainase abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
• Slide 3 : Drainase abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang
viscera vaskuler
• Slide 4 : Drainase abses ruang submandibula
• Slide 5 : Drainase abses ruang masticator
• Slide 6 : Drainase abses ruang peritonsil
• Slide 7 : Drainase abses ruang temporal
• Slide 8 : Drainase abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
• Slide 9 : Algoritma dan Prosedur
2. Kasus : Abses ruang leher dalam
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Model Anatomi, Video, hewan
• Penuntun belajar (learning guide)
• Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL, Unit Gawat Darurat,
Intensive Care Unit
C. REFERENSI
1. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition, Lippincott
Williams & Wilkins, Philadelphia, 2001, 702 – 715.
2. Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition,
Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 854 - 855.
D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis abses ruang leher dalam berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan (foto polos
leher AP dan lateral/ CT scan leher, pungsi aspirasi).
b. Mampu mendiagnosis abses ruang leher dalam yang meliputi abses di
daerah di ruang potensial leher yang meliputi:
• Ruang sepanjang leher
o Ruang retrofaring
o Ruang bahaya (danger space)
o Ruang prevertebral
1
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
a. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi fasial leher dan ruang leher dalam
b. Menjelaskan etiologi, macam-macam abses ruang leher dalam
c. Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari abses ruang leher dalam
d. Membuat diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan.
e. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan foto
leher AP/lateral, CT scan leher/ pungsi aspirasi.
f. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan abses ruang leher dalam
g. Memberikan terapi antibiotik empirik sambil menunggu hasil kultur dan tes
sensitivitas
h. Melakukan work-up pada penderita abses leher dalam (follow-up
selanjutnya)
E. GAMBARAN UMUM
Perkembangan antibiotika menurunkan insiden dan angka kematian dari abses
ruang leher dalam. Antibiotik juga merubah penyebab dan penanganan penyakit ini.
Meski masih dianggap penyakit dibidang bedah, beberapa infeksi dini memberi
respon pada pemberian antibiotik saja. Meskipun demikian, abses dari ruang leher
dalam tetap membahayakan jiwa. Keterlambatan diagnosis atau pengobatan yang
tidak memadai atau tidak tepat dapat menjurus pada komplikasi yang mengerikan,
seperti mediastinitis, yang mempunyai angka kematian sampai 40 %. Ahli bedah
kepala dan leher harus mempunyai pengetahuan yang tepat mengenai fasia leher
dan ruang potensial yang dibatasinya untuk memahami penatalaksanaan dan
komplikasi penyakit ini.
F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 35 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri telan sejak 4
hari yang lalu, makin lama keluhan makin berat disertai demam. Penderita
mengeluh tidak bisa makan dan minum. Sejak 1 hari yang lalu, suara penderita
berubah seperti menggumam dan tidak bisa buka mulut. Tidak ada sesak napas.
2
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
abses ruang leher dalam seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu :
1. Menguasai anatomi, fisiologi fasial leher dan ruang leher dalam
2. Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinis abses ruang
leher dalam
3. Membuat diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan.
4. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan foto
leher AP/lateral, CT scan leher/ pungsi aspirasi.
5. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan abses ruang leher dalam
6. Memberikan terapi antibiotik empirik sambil menunggu hasil kultur dan tes
sensitivitas
7. Melakukan work-up pada penderita abses leher dalam (follow-up selanjutnya)
H. METODA PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion
• Peer assisted learning (PAL)
• Bedside teaching
• Task based medical education
• Interactive lecture
• Journal reading and review
• Case simulation and investigation exercise
• Equipment characteristics and operating instructions
• Case study
• Demonstration and coaching
• Simulation and real examination exercises (physical and device)
• Operative procedure demonstration and coaching
• Practice with real clients
• Continuing professional development
I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal
yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi fasial leher dan ruang leher dalam
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
3
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
e. Congenital deformities
Jawaban : A
2. The clinical presentation of deep neck space infections does not include which of
the following?
a. Fever and pain
b. Localized maculopapular rash
c. Localized swelling
d. Ptosis and contraction of the ipsilateral pupil
e. Dysphagia and odynophagia
Jawaban : B
c. Abses retrofaring
d. Abses peritonsil
e. Abses tonsil
Jawaban : D
2. Penanganan apa yang sebaiknya dilakukan pertama kali?
a. Antibiotik
b. Antibiotik, Anti-inflamasi
c. Antibiotik, Analgesik, Anti-inflamasi
d. Insisi
e. Insisi, Drainase
Jawaban : E
4. Hasil terbanyak biakan kuman dari pus pemeriksaan pada pasien tersebut diatas
adalah…..
a. Pseudomonas aeruginosa
b. Kombinasi banyak kuman
c. Kuman gram positif
d. Kuman gram negatif
e. Kuman aerob
Jawaban : B
6
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
Penuntun Belajar
Prosedur Drainase Abses Ruang Leher Dalam
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan
yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika
harus berurutan)
KEGIATAN KASUS
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF
1. Nama
2. Diagnosis
3. Informed Choice & Informed Consent
4. Rencana Tindakan
5. Persiapan Sebelum Tindakan
II. PERSIAPAN PROSEDUR
1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk prosedur drainase abses ruang leher dalam
telah tersedia dan lengkap, yaitu :
2. Alat : sesuai dengan tindakan operasi
3. Bahan : sesuai dengan tindakan operasi
4. Obat : cairan, antibiotik, obat premedikasi, obat
anestesi, lainnya
III. PROSEDUR
1. Abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
1) Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose
untuk mencegah aspirasi pus.
2) Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk
menghindari terlihatnya jaringan parut dan
kontaminasi jaringan lain di leher.
2. Abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang
viscera vaskuler
Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris
7
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
dalam mandibula.
5. Abses ruang peritonsil
o Pilihan : aspirasi jarum, insisi dan drainase atau
tonsilektomi segera
- Aspirasi atau insisi dan drainase dapat dilakukan
setelah anestesi topikal dan infiltrasi, tetapi kadang
memerlukan anestesi umum.
- Aspirasi dengan jarum spinal 18 G atau insisi
dilakukan pada daerah yang paling fluktuatif.
- Setelah insisi, rongga abses dibuka lebar dengan
menggunakan hemostat panjang.
- Jika gagal dengan drainase dan antibiotik (jarang),
dianjurkan tonsilektomi.
6. Abses ruang temporal
§ Drainase eksternal
§ Insisi kira-kira 3 cm dibelakang kantus lateral atau
insisi kening horisontal.
§ Harus dilakukan drainase kompartemen superfisial
dan dalam.
7. Abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
§ Drainase eksternal
§ Insisi : - Jika abses terlokalisir dengan jelas, insisi
di area yang menonjol.
- Jika abses tidak terlokalisir, diperlukan
insisi yang lebih lebar.
L. DAFTAR TILIK
KEGIATAN NILAI
1. Persiapan Prosedur
1. Alat : sesuai dengan tindakan operasi
2. Bahan : sesuai dengan tindakan operasi
3. Obat : cairan, antibiotik, obat premedikasi, obat anestesi,
9
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
lainnya
2. Prosedur
1. Abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
• Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose untuk
mencegah aspirasi pus.
• Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk menghindari
terlihatnya jaringan parut dan kontaminasi jaringan lain
di leher.
2. Abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang
viscera vaskuler
Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris
o Insisi bentuk T atau hanya insisi horisontal yang lebih
kosmetis
- insisi horisontal sejajar dan dibawah mandibula
- insisi vertikal sepanjang tepi depan otot
sternokleidomastoid
§ Selubung karotis ditelusuri untuk menemukan rongga
abses. Jari operator dimasukkan dibawah kelenjar
submandibula, dan digunakan untuk diseksi secara
tumpul sepanjang venter posterior otot digastrikus ke
dalam ke apeks mastoid, ke arah prosesus stiloid yang
terletak didalam ruang parafaring.
§ Dipasang drain terpisah dibagian superior dan inferior
ruang yang telah dibuka. Ujung kornu majus tulang
hyoid merupakan pedoman inferior penting yang tetap.
3. Abses ruang submandibula
o Abses lidah dan dasar mulut yang berada di submental
space (Ludwig’s angina).
- Insisi horisontal dibuat sepanjang tepi bawah massa
(A).
- Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dibuat untuk
mengidentifikasi raphe mylohyoid. Insisi vertikal
dibuat sepanjang raphe (B).
- Rongga abses dimasuki dengan menggunakan klem
bengkok. Otot geniohyoid dapat diidentifikasi dan
dipisahkan (C).
- Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan
penutupan otot platysma pada tepi insisi (D).
o Abses leher lateral
- Insisi kulit pendek dan horizontal dilakukan jika
mungkin pada lipatan kulit alamiah, pada titik yang
paling menonjol (E).
- Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dilakukan
untuk mengidentifikasi tepi depan otot
sternocleidomastoid. Insisi dilakukan sepanjang tepi
depan ini (F).
- Klem bengkok dimasukkan ke dalam rongga abses.
10
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
M. MATERI PRESENTASI
• Slide 1 : Definisi
Abses ruang leher dalam adalah abses yang terbentuk di dalam ruang
(potensial) leher dalam.
11
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
• Slide 4 : Drainase abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang
viscera Vaskuler
12
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
§ Drainase eksternal
§ Insisi kira-kira 3 cm dibelakang kantus lateral atau insisi kening horisontal.
§ Harus dilakukan drainase kompartemen superfisial dan dalam.
§ Drainase eksternal
§ Insisi : - Jika abses terlokalisir dengan jelas, insisi di area yang menonjol.
- Jika abses tidak terlokalisir, diperlukan insisi yang lebih lebar.
13
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
History
Physical examination
Secure airway
Culture, IV antibiotics
CT Scan
Clinical Yes
improvement?
Yes Surgical incision
No and drainage
Continue antibiotics,
± needle aspirations
15
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
c. Ruang lingkup
Diharapkan seorang dokter PPDS I THT memiliki pengetahuan teoritis
mengenai keterampilan drainase abses ruang leher dalam, pernah melihat atau
pernah didemonstrasikan, pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di
bawah supervisi, serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan
menerapkan dalam konteks praktek secara mandiri.
d. Indikasi operasi
Infeksi leher dalam yang tidak sembuh dengan terapi konservatif dan
berkembang menjadi abses
e. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium, aspirasi untuk membedakannya dengan selulitis,
imaging (foto rontgen, CT scan, MRI, USG).
f. Teknik operasi
• Menjelang pembedahan
1. Psikologi yaitu mengurangi kecemasan, menerangkan secara jelas
keuntungan dan resiko selama dan setelah operasi. Menerangkan secara
jelas apa saja tindakan yang akan dilakukan selama operasi.
2. Farmakologi, pasien diberi obat penenang 1 jam sebelum tindakan bedah,
bila diperlukan.
3. Anestesi sesuai indikasi
• Tahapan pembedahan
1. Abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
o Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose untuk mencegah
aspirasi pus.
o Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk menghindari terlihatnya
jaringan parut dan kontaminasi jaringan lain di leher.
2. Abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang viscera
vaskuler
Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris
o Insisi bentuk T atau hanya insisi horisontal yang lebih kosmetis
- insisi horisontal sejajar dan dibawah mandibula
- insisi vertikal sepanjang tepi depan otot sternokleidomastoid
o Selubung karotis ditelusuri untuk menemukan rongga abses. Jari
operator dimasukkan dibawah kelenjar submandibula, dan digunakan
untuk diseksi secara tumpul sepanjang venter posterior otot digastrikus
ke dalam ke apeks mastoid, ke arah prosesus stiloid yang terletak
didalam ruang parafaring.
o Dipasang drain terpisah dibagian superior dan inferior ruang yang telah
dibuka. Ujung kornu majus tulang hyoid merupakan pedoman inferior
penting yang tetap.
3. Abses ruang submandibula
o Abses lidah dan dasar mulut yang berada di submental space (Ludwig’s
angina).
- Insisi horisontal dibuat sepanjang tepi bawah massa (A).
- Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dibuat untuk mengidentifikasi
raphe mylohyoid. Insisi vertikal dibuat sepanjang raphe (B).
16
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
g. Komplikasi
• Obstruksi jalan nafas khususnya pada Ludwig’s angina.
• Pada diagnosa salah : aneurisma arteriosklerotik arteri karotis interna,
khususnya pada abses submandibula.
• Cedera pada saraf otak (VII, X, XII) dan pembuluh darah besar, pada
drainase abses submandibula
• Cedera pada saraf otak (IX sampai XII) atau pleksus simpatikus, pada
drainase abses parafaring.
17
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
History
Physical examination
Secure airway
Culture, IV antibiotics
CT Scan
Clinical Yes
improvement?
Yes Surgical incision
No and drainage
Continue antibiotics, Dikutip dari Bailey BJ 1
± needle aspirations
18
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam
List of skill
1. Tahapan THT dasar
• Persiapam pra operasi
• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik
• Pemeriksaan penunjang
• Informend consent
2. Tahapan THT lanjut
• Persiapan pra operasi
• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik
• Pemeriksaan penunjang
• Informed consent
• Melakukan operasi (bimbingan, mandiri)
• Penanganan komplikasi
• Follow-up dan rehabilitasi
19
MODUL UTAMA
LARING FARING
EDISI III
KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI
A. WAKTU ........................................................................................................... 1
C. REFERENSI ..................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ................................................................................................. 2
I. EVALUASI ...................................................................................................... 3
MODUL IV.15
LARING-FARING – KELAINAN KONGENITAL LARING
A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 25 X 60 menit (facilitation and
assessment)
B. PERSIAPAN SESI
1. Materi Kelainan Kongenital Laring meliputi :
a. Slide 1: Gejala dan Tanda Kelainan Kongenital Laring
b. Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Kelainan Kongenital Laring
c. Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
d. Slide 4: Faktor Resiko Kelainan Kongenital Laring
e. Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa
C. REFERENSI
1. Lusk Rodney. Congenital Anomalies of the Larynx In : Ballenger’s Head
and Neck Surgery-Otorhinolaryngology. Philadelphia, Lea & Febiger,
2009. 17th Ed pp.815-816
2. Dohar Joseph, Anne Samantha. Stridor Aspiration and Cough. In Bailey
Head & Neck Surgery – Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co.
2014. 5th Ed. pp.1338-1339
3. Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL.
Otolaryngology. Philadelphia. WB Saunders Co., 1991, chapter 13, pp.
333-42
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York.
McGraw Hill. 2012. 10th Ed, Chapter 22, pp. 551-552
1
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
D. KOMPETENSI
Kompetensi Umum
i. Mampu membuat diagnosis kelainan kongenital laring berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
diperlukan ( Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/
foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher)
ii. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan
yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
1. Mengenali gejala dan tanda kelainan laring kongenital
2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik kelainan laring
kongenital
3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang
seperti Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/ foto
polos leher AP dan lateral/ CT scan leher
4. Mengenali faktor resiko kejadian kelainan laring kongenital
5. Mampu tatalaksana konservatif dan merujuk ke fasilitas kesehatan
yang lebih tinggi bila memerlukan tatalaksana operasi.
6. Deteksi dini dan tatalaksana penyulit yang mungkin terjadi pada
kelainan laring kongenital.
E. GAMBARAN UMUM
Kelainan kongenital pada laring dapat berupa laringomalasia, stenosis
subglotik, laryngeal web, hemangioma dan laryngeal cleft. Kelainan
kongenital laring yang paling sering ditemukan adalah laringomalasia. Dua
pertiga dari kasus stridor laring kongenital disebabkan oleh kelainan ini.
Kelainan kongenital laring pada bayi dapat menyebabkan gejala sumbatan
jalan nafas, suara tangis melemah sampai tidak ada sama sekali. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.
F. CONTOH KASUS
Seorang bayi laki2, 4 bulan datang ke poli THT-KL dengan keluhan: suara
nafas berbunyi sejak lahir yang hilang timbul. Suara nafas 1 bulan ini
menetap. Suara dan tangis relatif normal.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan
untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan
pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali
dan menatalaksana kelainan kongenital laring seperti yang telah disebutkan
diatas,yaitu:
1) Mengenali gejala dan tanda kelainan kongenital laring.
2) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik kelainan kongenital laring.
3) Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
2
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
H. METODA PEMBELAJARAN
o Interactive lecture
o Small group discussion
o Peer assisted learning (PAL)
o Bedside teaching
o Task based medical education
o Interactive lecture
o Journal reading and review
o Case simulation and investigation exercise
o Equipment characteristics and operating instructions
o Case study
o Demonstration and coaching
o Simulation and real examination exercises (physical and device)
o Operative procedure demonstration and coaching
o Practice with real clients
o Continuing professional development
I. EVALUASI
a) Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test dalam bentuk
essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan
untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk
mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest dan post-test
terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi laring
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
b) Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan
fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas
isi dan hal- hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan
yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
c) Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar
dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted
Learning) atau SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang
bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun
3
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
Jawaban: E
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan
yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika
harus berurutan)
6
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
L. DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)
7
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
KEGIATAN NILAI
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung
1. Persiapan tindakan
[Link]
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL)
1. Persiapan tindakan
2. Tindakan
M. MATERI PRESENTASI
8
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
9
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
10
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
11
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
12
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
13
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
14
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
15
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
16
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
17
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
18
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
19
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
20
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
21
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
22
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
23
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
24
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
25
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
26
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
27
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
28
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
29
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
N. MATERI BAKU
1) KELAINAN KONGENITAL LARING
a. Definisi
Kelainan kongenital pada laring dapat berupa laringomalasia,
stenosis subglotik kongenital, laryngeal web, hemangioma dan
laryngeal cleft.
30
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
b. Frekuensi
Kelainan kongenital laring yang paling sering ditemukan adalah
laringomalasia. Dua pertiga dari kasus stridor laring kongenital
disebabkan oleh kelainan ini. Pada beberapa anak merupakan
autosomaldominan lesion.
c. Ruang Lingkup
Kelainan kongenital laring yang menyebabkan sumbatan jalan nafas
dan gangguan menelan.
2) LARINGOMALASIA
a. Definisi
Laringomalasia merupakan kelainan kongenital pada laring. Kondisi
dimana laryngeal inlet kolaps pada saat inspirasi menyebabkan
terjadinya stridor.
b. Etiologi
c. Pemeriksaan
i. Anamnesis:
Stridor selalu timbul saat anak menangis, menyusui atau dalam posisi
terlentang dalam minggu pertama kehidupan. Stridor tidak menetap
,dapat hilang sesaat dan tidak lama kemudian sangat [Link] jika
bayi terlentang dan membaik pada posisi tengkurap dan sering hilang
jikabayi tidur. Suara dan tangis relatif normal.
GERD menunjukkan lebih sering terjadi sehubungan dengan
laryngomalasia
Tanda GERD harus timbul termasuk meludah sering spit-ups, recurrent
emesis and back arching setelah makan.
ii. Pemeriksaan:
o Pemeriksaan fisik: telinga, hidung dan tenggorok, daerah leher dan
dada
- Stridor inspirasi (high-pitched) dan cekungan suprasternal dan atau
substernal timbul waktu lahir atau beberapa minggu kemudian
menunjukkan obstruksi berat.
- Laryngomalasia yang berat dapat menyebabkan hilangnya berat
badan dan gagal tumbuh dapat dengan episode sianosis atau tidak.
- Pneumonitis aspirasi, obstruktif sleep apneu dan sentral apneu.
o Laringoskopia direkta
o Flexible laryngoscope
31
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
iv. Terapi
1. Biasanya diobservasi akan hilang dalam 12 hingga 16 minggu
2. Epiglottoplasty endoscopic bila terjadi stridor memberat,
corpulmonale dan gagal dalam perkembangan
3. Tindakan operasi secara endoskopi diindikasikan bila dicurigai
adanya anomali lainnya atau stridor menjadi sangat berat dengan
sianosis
4. Trakeostomi mungkin diperlukan bila bayi mengalami kesukaran
bernafas sehubungan dengan infeksi saluran nafas atas
v. Tindak Lanjut
Laryngomalasia akan sembuh dengan spontan lebih dari 1-2 tahun awal
kehidupan
32
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
c. Diagnosis:
Ditegakkan melalui pemeriksaan endoskopik (dengan bronkoskopi
ataupun dengan bantuan ET). Dapat ditemukan scar, jaringan granulasi,
penebalan submukosa, abnormalitas bentuk krikoid. Pemeriksaan
radiografi meliputi foto cervical lateral yang diambil saat inspirasi dan
ekspirasi, fluoroskopi untuk menilai laring dan trakea, serta foto thoraks.
Pada stenosis subglottis terdapat gambaran steeple sign.
Gold standar adalah dengan dilakukannya laringoskopi dan
tracheobronchoscopy dengan bius umum. Hal-hal penting yang perlu
diperhatikan saat pemeriksaan endoskopi adalah:
1. Outer diameter dari bronkoskopi atau ET terbesar yang dapat
melewati stenosis
2. Lokasi stenosis (glottis, supraglottis, trakea) dan panjang stenosis
3. Kelainan anomali lain yang menyertai (clefts, web, neoplasma).
d. Diagnosis banding:
Diagnosis banding dari stenosis laring dibuat berdasarkan semua kondisi
yang menyebabkan stridor, dyspneu, dan distress napas. Stenosis laring
kongenital dapat disebabkan oleh:
a. Laringomalasia
b. Vascular compression (e.g., arteri innominata, [Link], vascular
ring)
c. Paralisis pita suara
- Bilateral (e.g., Chiari deformity)
- Unilateral (e.g., traumatic post ductus ligation)
d. Hemangioma subglottic
e. Complete tracheal rings
f. Laryngeal cleft
g. Cri du chat syndrom
h. Laryngeal saccules, laryngoceles
33
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
4) LARYNGEAL WEB
5) HEMANGIOMA
Merupakan lesi yang jarang, primernya berasal dari submukosa. Sebanyak
50% berhubungan dengan hemangioma kulit. Hemangioma subglotik
berkembang semakin besar ukurannya dan biasanya keluhan akan muncul
dalam usia 8 minggu dan bermanifestasi sebelum berusia 6 bulan. Lesi
34
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
6) LARYNGEAL CLEFT
Kelainan ini bisa terjadi sendiri atau bagian dari kelainan lain seperti
Pallister-Hall syndrome, Opitz-G syndrome dan berhubungan dengan
VACTERL. Laryngeal cleft menyebabkan aspirasi akibat sekunder dari
adanya hubungan antara bagian posterior esophagus dengan bagian
depan saluran nafas selama proses menelan. Suara terganggu akibat
turbulensi aliran udara dan penumpukkan secret di daerah glottis. Fiber-
optic laryngoscopy dapat menunjukkan adanya medialisasi arytenoid.
Rigid mycrolaryngoscopy dan bronkoskopi diperlukan untuk
mendiagnosa laryngeal cleft. Laryngeal cleft diklasifikasikan
berdasarkan Benjamin-Inglis Classification :
• Type I : cleft membuat cekungan interarythenoid yang dalam
tanpamelibatkan krikoid posterior
• Type II : cleft meluas sampai ke dalam krikoid tetapi tidak
melewati krikoid
• Type III : cleft meluas sampai melewati krikoid dan masuk
trakeaservikal
• Type IV : cleft meluas sampai trakea thorak atau bahkan masuk
kebronkus
Tatalaksana :
• Type I dan II : terapi GERD dan modifikasi diet
• Type III dan IV : memerlukan tindakan operatif
7) PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
a. Butir-butir Penting
a. Pada pemeriksaan Laringoskopi Direkta diperlukan
persiapan puasa dan dilakukan premedikasi. Posisi kepala
penderita harus tepat supaya pelaksanaan tindakan dapat
dilakukan dengan baik.
b. Pada pemeriksaan Fibre Optic Laryngoscope diperlukan
kerjasama dengan penderita meskipun tindakan ini relatif
tidak menyakitkan penderita.
35
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
b. Teknik Pemeriksaan
Laringoskopi Indirect
• Pasien dalam posisi duduk tegak, dengan kepala ekstensi dan leher
fleksi (sniffer’s posisition)
• Pemeriksa duduk berhadapan dengan pasien dengan memakai
lampu kepala
• Pasien diminta untuk membuka mulut dan menjulurkan lidah,
bagian anterior lidah dipegang oleh pemeriksa dengan
menggunakan kain kassa.
• Dimasukkan kaca laring hangat yang telah dipanaskan sebelumnya
ke dalam rongga mulut melewati uvula dan bagian distal palatum
mole. Suhu kaca laring haruslah diperiksa terlebih dahulu pada
tangan pemeriksa sebelum dimasukkan ke dalam mulut pasien
untuk mencegah terbakarnya mukosa mulut.
• Alat pemeriksa diputar sampai pemeriksa mendapatkan visualisasi
yang baik dari struktur laring dan hipofaring.
• Pasien diminta mengucapkan “iii” untuk mengobservasi adduksi
pita suara.
• Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas
pelan sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat
dilanjutkan.
• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan
menggunakan xylocain spray 10%.
Laringoskopi Direct :
37
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
38
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
Prosedur Tindakan Trakeotomi Dapat Dilihat Pada Modul Sumbatan Jalan Nafas Atas
DAFTAR PUSTAKA
6. Laryngeal Lymphoma
i. Definisi
Laryngeal lymphoma merupakan limphoma dengan lokasi primer pada laring.
NHL kepala dan leher biasanya muncul pada sistem limfatik ekstranodal cincin
Waldeyer. Keterlibatan area ekstralimfatik nodal dan ekstranodal lebih jarang
terjadi. Regio sinonasal, kelenjar saliva, tiroid, dan orbit lebih sering daripada
laring.
ii. Epidemiologi
Limfoma ekstranodal yang terbatas pada laring sangat jarang terjadi, terhitung
<1% dari semua neoplasma laring, dengan hanya sekitar 100 kasus yang telah
dijelaskan dalam literatur sampai saat ini. Sebuah studi yang dilakukan selama
sepuluh tahun yang melibatkan 2631 biopsi laring di sebuah rumah sakit besar
Spanyol, mengungkapkan hanya satu kasus limfoma sel B besar yang
menyebar. Kasus ini sangat jarang pada laring dikarenakan kandungan limfoid
yang relatif rendah di laring jika dibandingkan dengan area lain di saluran
pernapasan. Usia rata-rata saat diagnosis adalah 70 tahun, dengan rentang dari 4
hingga 81 tahun. Rasio pria: wanita telah dilaporkan menjadi variabel dalam
seri yang berbeda. Area anatomi tersering yang terkena adalah regio supraglotis
47%, dengan keterlibatan glotis mencapai 25% kasus. Daerah transglottic dan
subglottic jauh lebih jarang terkena.
iii. Manifestasi Klinis
Limfoma laring seringkali memiliki gejala yang mirip dengan karsinoma sel
skuamosa, seperti suara serak, dispnea, sensasi benda asing di tenggorokan,
atau stridor. Keluhan pasien dapat muncul secara katastropik dengan obstruksi
jalan nafas akut yang membutuhkan intervensi bedah segera. Gejala sistemik
jarang terjadi, karena limfoma laring cenderung tetap terlokalisasi untuk waktu
yang lama, meskipun bentuk yang lebih agresif cenderung menyebar lebih awal.
Namun demikian, tumor ini biasanya menyebar ke area mukosa lain seperti usus
dan paru-paru.
40
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
iv. Diagnosis
DAFTAR PUSTAKA
1. Kato,S., Sakura, M., Takooda, S., et al., 1997, “Primary non-Hodgkin’s
lymphoma of the larynx”. J Laryngol Otol, 111:571–574
2. Horny and Kaiserling, 1995, “Involvement of the larynx by hemopoietic
neoplasms—an investigation of autopsy cases and review of the
literature,” Pathology Research and Practice, vol. 191, no. 2, pp. 130–
138
3. Fernández-Aceñero, M.J., Larach, F., Ortega-Fernández,, C., 2009, “Non-
epithelial lesions of the larynx: review of the 10-year experience in a
tertiary Spanish hospital,” Acta Oto-Laryngologica, vol. 129, no. 1, pp.
108–112
4. Kuo, J.R., Hou, Y.Y., Chu, S.T., Chien, C.C., 2011, “Subglottic stenosis
induced by extranodal mucosa-associated lymphoid tissue lymphoma,”
Journal of the Chinese Medical Association, vol. 74, no. 3, pp. 144–147
5. King, A.D., Yuen, E.H.Y., Lei, K.I.K., Ahuja, A.T., and Van Hasselt, A.,
41
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
42
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
DAFTAR PUSTAKA
1. De Jong AL, Kuppersmith RB, Sulek M, et al. Vocal cord paralysis in infants
and children. Otolaryngol Clin North Am 2000;33:131Y149
2. Daya H, Hosni A, Bejar-Solar I, et al. Pediatric vocal fold paralysis: a long-
term retrospective study. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 2000;126:21Y25
3. Benjamin BN, Gray SD, Bailey CM. Neonatal vocal cord paralysis. Head
Neck 1993;15:169Y172
4. Ravilochan K, Seetharam W, Dinakar I. Vocal cord paralysis in neuraxial
malformation. Indian J Pediatr 1983;50:557Y559
5. de Gaudemar I, Roudaire M, Francois M, et al. Outcome of laryngeal paralysis
in neonates: a long term retrospective study of 113 cases. Int J Pediatr
Otorhinolaryngol 1996;34:101Y110
6. Gentile RD, Miller RH, Woodson GE. Vocal cord paralysis in children 1 year
of age and younger. Ann Otol Rhinol Laryngol 1986;95:622Y625
7. Linder A, Lindholm CE. Laryngologic management of infants with the Chiari
II syndrome. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 1997;39:187Y197
8. Kista Laring
Kista laring dapat menyebabkan obstruksi jalan napas, suara serak, dan disfagia.
Kista Laring Kongenital di klasifikasikan menurut asal jaringan embriologinya :
1. Tipe I : Kista terbatas pada laring dan hanya terdiri dari unsur endodermal.
2. Tipe II : Kista dengan ekstensi ekstralaring :
a. Tipe IIa : Kista berasal dari elemen endodermal
b. Tipe Iib : Kista berasal dari elemen endodermal dan mesodermal
Klasifikasi lain membagi kista laring sebagai kista sakulus, kista valekula, kista
duktus, kista saluran tiroglosus, dan kista higroma.
Ø Kista Sakulus
Sakulus adalah kantong membran yang terletak di antara lipatan ventrikel , dan
juga di permukaan bagian dalam kartilago tiroid. Selaput lendir normal
permukaan sakulus memiliki kelenjar lendir untuk melumasi permukaan pita
suara. Obstruksi saluran sakulus menyebabkan kista di ventrikel dengan retensi
lendir.
i. Pemeriksaan
Endoskopi. Gold Standart adalah Endoskopi. Terlihat lesi kistik tebal berisi
cairan berlendir yang berasal dari plika ariepiglotik, atau dari ventrikel dan
menonjol ke lumen laring.
Aspirasi Jarum. Mungkin berguna untuk mendiagnosis lesi kistik, juga drainase
kista meskipun hanya berguna sebagai pengobatan sementara.
Pemeriksaan radiologi . dengan menggunakan CT-scan dapat memperlihatkan
adanya kista di laring.
43
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
ii. Penatalaksanaan
Marsupialisasi mungkin berguna untuk pengobatan kista sakular kecil. Namun,
dalam kasus berulang atau kista besar , diperlukan ekstirpasi kista secara
endoskopik, atau operasi terbuka.
Ø Kista Valekula
Kebanyakan pada neonatus dengan kista valekula didapati stridor dalam
beberapa minggu peratama setelah lahir. Gejala lain termasuk batuk, kesulitan
makan , episode sianosis dan gagal tumbuh.
Teori penyebab terjadinya kista valekula adalah akibat obstruksi kelenjar
mukosa yang terletak di dasar lidah. Sekresi mukosa dari kelenjar sekitar kista
menyebabkan kista bertambah besar.
i. Pemeriksaan
Endoskopi. Endoskopi merupakan pilihan untuk mendiagnosis kista valekula.
Pada evaluasi endoskopi didapatakan massa halus terlokalisasi dalam ruang
valekula.
CT-scan. Mungkin berguna dalam menunjukkan lokasi dan luasnya
kista. Radionuclide-scan tiroid. Membantu melokalisasi adanya
jaringan tiroid.
ii. Penatalaksanaan
Terapi sementara berupa aspirasi kista , tetapi kista dapat timbul kembali.
Terapidefinitis kista valekula adalah eksisi endoskopik atau marsupialisasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Close,L.G., Larson, D.L., & Shah, J.P. (Ed).(1998). Essentials of head
andneck oncology. Stuttgart:Thieme.
2. Dhingra, P.L., & Dhingra S. (2007). Disease of ear, nose, and throat
andhead and neck surgery ( 7th ed ) . Phialdephia: Elseview.
3. Flint, P.W.(2015). Cummings otolaryngology: head and neck surgery.
Phialdephia: elsevier.
4. Lee,K.J.(2015). Essensial otolaryngology head dan neck surgery (
11thed). Boston:Mc Graw Hill.
9. Atresia Laring
i. Definisi
Atresia laring adalah obsruksi saluran nafas atas komplet yang terjadi ketika
laring gagal membuka selama perkembangan fetus intra uterus dan
meninggalkan sumbatan kartilago atau jaringan lain ketika lahir. Kondisi ini
disebut juga Congenital high airway obstruction syndrome (CHAOS).
Ada 3 tipe atresia laring; tipe I adalah atresia infra dan supraglotik, tipe II
adalah infraglotik, tipe II adalah glotik. Tipe I terjadi ketika kartilago aritenoid
44
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring
dan otot instriksi laring berfusi menutupi lumen trakea. Kartilago krikoid
berbentuk konus dan tidak adanya vestibulum. Tipe II terjadi ketika kartilago
krikoid berbentuk dome-shaped yang menutupi lumen. Aritenoid, vestibulum
dan plika vokalis normal. Tipe III terjadi ketika glottis tertutupi oleh membrane
anterior dari jaringan fibrosa dan otot, dan fusi aritenoid di posterior.
Vestibulum dan krikoid normal.
Kondisi ini sangat jarang dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 1:1.
Dia sumsikan terjadi karena kelainan autosomal dominan. Sekitar setengah
kasus yang dilaporkan berkaitan dengan hydrocephalus, atresia esophagus,
fistula bronkoesofageal, fistula trakeoesofageal, hypoplasia ginjal, hidroureter,
atresia uretra, sindaktil dan beberapa kelainan kongenital lainnya.
ii. Diagnosis
Diagnosis menggunakan USG baik Doppler maupun tidak. Doppler digunakan
untuk memedakan aorta fetus dengan trakea. USG digunakan untuk
mendiagnosis berdasarkan tanda tidak langsung yang merupakan akibat dari
obstruksi jalan nafas total seperti paru membesar, fetal hidrop dan ascites,
polihidramnion. Kegagalan diagnosis dari atresia inkomplet bisa jadi karena
kurangnya distensi paru yang terjadi.
Kebanyakan bayi lahir dengan atresia laring komplet mengalami kematian
karena kondisi yang tidak disadari oleh petugas medis dan keterlambatan
pertolongan yang diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
a) Buyse ML: Birth Defects Encyclopedia. Center for Birth Defects Information
Service, Inc. Dover MA. Blackwell Scientific Publications, Cambridge, MA,
1990
b) Fox H, and Coker J: Laryngeal atresia. Arch Dis Child 39:641- 645, 1964.
c) Gatti WM, MacDonald E, Orfei E et al.: Congenital laryngeal
[Link] 97: 966-9, 1987
d) McElhinney DB, Jacobs IN, McDonald-McGinn DM, Zackai EH,
Goldmuntz E. Chromosomal and cardiovascular anomalies associated with
congenitallaryngeal web. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2002 Oct 21;66(1):23-27
e) Watson WJ, Thorp JM, Miller RC et al: Prenatal diagnosis of laryngeal atresia.
AmJ Obstet Gynecol 163: 1456-7, 1990
45