0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan378 halaman

Modul Laring Faring: Faringitis THTBKL

Modul ini membahas tentang faringitis yang merupakan peradangan pada faring. Terdapat berbagai jenis penyebab faringitis seperti infeksi virus, bakteri, jamur, dan penyebab lainnya. Modul ini memberikan gambaran umum tentang anatomi, diagnosis, dan penatalaksanaan faringitis.

Diunggah oleh

Rica Feriesca
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
105 tayangan378 halaman

Modul Laring Faring: Faringitis THTBKL

Modul ini membahas tentang faringitis yang merupakan peradangan pada faring. Terdapat berbagai jenis penyebab faringitis seperti infeksi virus, bakteri, jamur, dan penyebab lainnya. Modul ini memberikan gambaran umum tentang anatomi, diagnosis, dan penatalaksanaan faringitis.

Diunggah oleh

Rica Feriesca
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL

LARING FARING

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA LEHER
2022
Tim Penyusun
1. Prof. dr. Bambang Hermani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
2. Dr. dr. Fauziah Fardizza, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
3. dr. Arie Cahyono, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
4. dr. Dian Paramita Wulandari, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), [Link]
5. dr. Diar Mia Ardani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
6. dr. Farokah, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), [Link]
7. dr. I Dewa Gede Arta Eka Putra, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
8. dr. Kanti Yunika, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
9. dr. Lily Setiyani, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
10. dr. Lisa Apri Yanti, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
11. dr. Mohammad Dwijo Murdiyo, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
12. dr. Novialdi, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
13. dr. Ongka Muhammad Saifuddin, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), FICS
14. dr. Syahrial M. Hutauruk, Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K)
15. dr. Vicky Eko Nurcahyo H., Sp.T.H.T.B.K.L., Subsp.L.F.(K), [Link]
KATA PENGANTAR

Assalammu’alaikum [Link].

Alhamdulillahirobbil ‘alamin, saya panjatkan puja dan puji syukur kehadirat Allah swt yang
senantiasa melimpahkan segala rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga dapat menyelesaikan
penyusun Buku Modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher (IK
THTBKL) edisi ketiga ini.

Modul ini disusun untuk memenuhi kebutuhan peserta pendidikan dokter spesialis THTBKL yang
merupakan penyempurnaan edisi kedua, pemenambahan beberapa materi sesuaikan dengan
perkembangan ilmu pengetahuan serta ketrampilan baru guna meningkatlan mutu proses
pendidikan dokter spesialis THTBKL di Indonesia

Selaras dengan dimulainya program fellowship serta persiapan pembukaan program pendidikan
Subspesialisasi THTBKL, modul Pendidikan dokter spesialis THTBKL ini disusun agar
pendidikan spesialis THTBKL terjaga menjadi satu kesatuan yang mendalam antara ketiga
program pendidikan tersebut. Selain itu Buku Modul ini dapat menjadi pedoman untuk
melaksanakan pendidikan secara terstruktur dan berkualitas, dimulai dari perencanaan,
pelaksanaan, monitoring hingga proses evaluasi secara berkesinambungan. Hal tersebut bertujuan
agar lulusan peserta program studi IK THTBKL mempunyai kompetensi akademik dan
kompetensi profesional unggul seiring berkembangnya jaman.

Pada era baru ini para lulusan Dokter Spesialis THTBKL diharapkan memiliki kemampuan
akademik professional bertaraf internasional, inovatif dan tangguh yang mampu berkiprah secara
global sesuai Visi dan Misi Pendidikan Spesialis THTBKL. Semoga dengan terbitnya Buku
Modul ketiga ini program pendidikan dokter spesialis THTBKL semakin maju dan menghasilkan
pencapaian lulusan yang unggul, kompeten dan berkualitas.

Apresiasi kami yang setinggi-tingginya kepada seluruh teman sejawat, Profesor Dokter, atas
komitmen, dedikasi, serta pemikiran dan waktu yang telah diberikan terutama dalam suasana
pandemi Covid-19. Keterbatasan jarak dan keadaan Pandemi telah membuka peluang
pengembangan komunikasi, diskusi dan ujicoba modul ketiga, secara digital (TIK), sehingga kita
dapat berkoordinasi, produktif menyelesaikan buku modul Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Bedah Kepala dan Leher edisi ketiga ini.

Semoga modul ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya para peserta didik dan semua
yang kita lakukan selalu mendapat ridha Allah SWT.

Wassalammu’alaikum [Link].

Ketua Umum Kolegium IK THTBKL Indonesia

Dr. dr. Trimartani, Sp T.H.T.B.K.L., F.P.R(K)., MARS


IV. LARING-FARING
IV.1 FARINGITIS
IV.2 LARINGITIS
IV.3 PERADANGAN RONGGA MULUT
IV.3.1 INFEKSI OTONDENTIK
IV.3.2 MUKOSITIS
IV.3.3 STOMATITIS
IV.4 TONSILITIS
IV.5 PENYAKIT KELENJAR LUDAH
IV.5.1 SIALOLITIASIS
IV.5.2 SIALODENITIS
IV.5.3 PAROTITIS
IV.6 DISFONI/VOICE DISORDER
IV.7 REFLUKS LARINGO-FAARING
IV.8 OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA SYNDROME
IV.9 LESI NON NEOPLASTIK LARING
IV.10 NEOPLASMA JINAK LARING
IV.11 NEOPLASMA GANAS LARING
IV.12 TRAUMA LEHER
IV.13 SUMBATAN JALAN NAFAS ATAS
IV.14 ABSES RUANG LEHER DALAM
IV.15 KELAINAN KONGENITAL LARING
MODUL UTAMA
LARING FARING

MODUL IV.1
FARINGITIS

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU .......................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1

C. REFERENSI .................................................................................................... 1

D. KOMPETENSI ................................................................................................ 1

E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS ......................................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 2

H. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................ 2

I. EVALUASI ..................................................................................................... 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ............................. 4

K. MATERI PRESENTASI ................................................................................. 5

L. MATERI BAKU.............................................................................................. 5
Modul IV.1– Faringitis

MODUL IV.1
LARING-FARING : FARINGITIS

A. WAKTU

Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :


Sesi di dalam kelas 5 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 1 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 27 X 60 menit (facilitation and
assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi: Faringitis
• Slide 1 : Anatomi dan Fisiologi faring
• Slide 2 : Klasifikasi Faringitis
• Slide 3 : Faringitis Virus
• Slide 4 : Faringitis Bakteri
• Slide 5 : Faringitis Jamur
• Slide 6 : Faringitis Granulomatous
• Slide 7 : Faringitis Penyebab Lain
2. Kasus :
Seorang laki-laki, 16 tahun dikonsulkan dari klinik ODHA datang ke poliklinik
THT-KL dengan keluhan rasa terbakar dan nyeri tenggorokan, kadang disertai
demam. Pemeriksaan fisik: tampak pseudomembran putih pada dinding posterior
orofaring. Lab: Apus tenggorok KOH tampak hifa, CD4 < 200 sel/µL
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT, kamar
operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT.

C. REFERENSI

1. Alper C., Myers E N., Eibling., Decicion Making In Ear, Nose, and Throat
Disorders, Saunders Company, 152-153., 2001
2. Bailey BJ., Johnson JT. Pharyngitis, 601-613., 2006
3. Becker W., Nauman H H., Pfaltz R C., Ear, Nose, and Throat Diseases, Thieme,
299-387., 1194

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
Mampu membuat diagnosa dan melakukan tatalaksana faringitis

2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
a. Mengenali gejala dan tanda faringitis
b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang faringitis

1
Modul IV.1– Faringitis

c. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti kultur & test


resistensi apus tenggorok, lab daerah dan ASTO
d. Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat serta
keputusan tonsilektomi.

E. GAMBARAN UMUM
Faring merupakan bagian dari saluran nafas dan pencernaan. Diagnosis berdasarkan
anamnesis dan pemeriksaan klinis dan umumnya mengalami perbaikan setelah
pemberian antibiotika atau pengobatan simptomatis. Fungsi faring terutama untuk
pernapasan, penelanan, resonansi suara dan artikulasi. Disebabkan oleh banyak
faktor seperti infeksi bakteri, virus dan jamur, granulomatous, penyebab lain seperti
LPR.

F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 16 tahun dikonsulkan dari klinik ODHA datang ke poliklinik
THT-KL dengan keluhan rasa terbakar dan nyeri tenggorokan, kadang disertai
demam. Pemeriksaan fisik: tampak pseudomembran putih pada dinding posterior
orofaring. Lab: Apus tenggorok KOH tampak hifa, CD4 < 200 sel/µL.

Diskusi :
• Jenis-jenis penyebab faringitis (infeksi oportunistik)
• Penatalaksanaan faringitis jamur candida

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
faringitis seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu :
1. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dari faring.
2. Menjelaskan anamnesis dan pemeriksaan faring.
3. Menjelaskan etiologi, patofisiologi, dan gambaran klinik faringitis.
4. Melakukan work-up penderita faringitis yang meliputi anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
5. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti kultur & test
resistensi apus tenggorok, lab darah dan ASTO
6. Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat
7. Menentukan prognostik

H. METODE PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion.
• Peer assisted learning (PAL).
• Bedside teaching.
• Task based medical education.
• Journal reading and review.
• Case study
• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
• Demonstration and Coaching

2
Modul IV.1– Faringitis

• Practice with Real Clients.


• Continuing Professional Development

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal
yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi faring.
• Penegakan diagnosis.
• Komplikasi dan penanganannya.
• Follow up.
2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk
membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang
berkenan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat
bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assisted learning) atau kepada
SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh
teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assited evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar pada nodel anatomik
dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator
melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir
penilaian sebagai berikut :
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
6. Pendidik/ fasilitas
• Pengamatn langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai.
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical educcation).
8. Pencapaian pembelajaran :
• Ujian OSCE

3
Modul IV.1– Faringitis

• Ujian akhir divisi


• Ujian akhir kognitif
• Ujian akhir profesi

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

Kuesioner Sebelum Pembelajaran

Seorang laki laki 25 tahun bekerja sebagai pelaut, datang ke dokter tht dengan
keluhan odinofagi yang dialami sejak lama hilang timbul, dari pemeriksaan fisis
ditemukan pembesaran tonsil dan adenopati cervical.

1. Pemeriksaan penunjang yang tepat dapat dilakukan pada kasus tersebut


diatas?
A. Kultur faring
B. Faringoskop
C. Laringoskop indirek
D. Fleksible endoskopik
E. Semua diatas benar
Jawaban : A

2. Diagnosa dari kasus tersebut diatas ?


A. Faringitis streptococcus
B. Faringitis gonococcus
C. Faringitis bacterioides
D. Haemofilus faringitis
E. Faringitis staphylococcus
Jawaban : B

3. Terapi yang tepat untuk diagnosa tersebut diatas ?


A. Antibiotik
B. Antivirus
C. Antiinflamasi
D. Terapi local (kaustik)
E. Semua diatas benar
Jawaban : A

4. Pemeriksaan penunjang untuk mengetahui faringitis yang disebabkan oleh


GERD?
A. Kultur faring
B. Faringoskop
C. Fleksible endoskop
D. pH 24-hour esophageal
E. Esofagoskop
Jawaban : D

4
Modul IV.1– Faringitis

5. Terapi yang tepat pada penderita faringitis akibat jamur yaitu?


A. Kortikosteroid
B. Antibiotik
C. Anti jamur sistemik (oral)
D. Antijamur lokal ( nistatin drops)
E. Semua diatas benar
Jawaban : D

K. MATERI PRESENTASI

1. Ruang Lingkup
2. Anatomi dan Fisiologi faring
3. Klasifikasi Faringitis
4. Faringitis Virus
5. Faringitis Bakteri
6. Faringitis Jamur
7. Faringitis Granulomatous
8. Faringitis Penyebab Lain

L. MATERI BAKU

Faringitis
Faringitis adalah proses infeksi pada mukosa dan submukosa dari faring. Jaringan
yang berpengaruh antara lain orofaring, nasofaring, hypofaring, tonsil. Penyebab
faringitis antara lain infeksi, kongenital dan neoplasma.
Diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis dan umumnya mengalami
perbaikan setelah pemberian antibiotika atau pengobatan simtomatis, kecuali terjadi
pada infeksi yang disebabkan oleh kuman oportunis atau neoplasma. Komplikasi
yang penting pada faringitis yaitu sepsis, perdarahan dan obstruksi saluran nafas.

1. Anatomi

Faring merupakan bagian dari saluran nafas dan pencernaan. Terbentuk dari
endodermal foregut primitif dan mempunyai panjang 12 – 14 cm. Faring
berbentuk seperti tabung musculomembraneus mulai dari dasar tengkorak dan
belakang dari mulut dan hidung setingkat vertebra cervical 6 sampai esophagus.
Mukosa bagian atas berupa epitel pseudostratified bersilia dan bagian bawah
berupa epitel squameus.
Di belakang mukosa dinding belakang faring terdapat dasar tulang sphenoid dan
dasar tulang oksiput sebelah atas, kemudian bagian depan tulang atas dan sumbu
badan, dan vertebra servikalis. Nasofaring membuka kearah depan ke hidung
melalui koana posterior. Superior, adenoid terletak di atap nasofaring. Muskulus
tensor vili palatini merupakan otot yang menegangkan palatum dan membuka
tuba eustachii, masuk ke faring melalui ruangan ini. Otot ini membentuk tendon
yang melekat sekitar humulus tulang untuk memasuki palatum mole. Otot tensor
vili palatini dipersyarafi oleh syaraf mandibularis melalui ganglion optic.

5
Modul IV.1– Faringitis

Faring dibagi 3 bagian yaitu: nasofaring, orofaring, hypofaring atau


laryngofaring. Bagian atas berhubungan dengan hidung melalui choana, muara
tuba eustachii terletak di dinding posterolateral dan dibawah choana. Palatum
molle memisahkan nasofaring dan orofaring. Hyphofaring melalui dasar lidah
dan meluas sampai bagian bawah cartilago cricoid. Faring terletak didepan,
ephiglotis pada dasar lidah, terletak ditengah dan lateral glossoepiglotik fold.
Otot pada faring saling overlaping diatas, ditengah dan bawah. Muskulus
konstriktor quadrilateral superior faringeal mulai dari prossesus pterigoid bagian
caudal, ramus pterigomandibula, bagian posterior dari garis tengah mandibular
myelohyoid, dan dasar lidah. Serabut ini melekat pada muskulus
pterigofaringeal, buccofaringeal, myelofaringeal dan glossofaringeal. Fossa
Rossenmuller terletak datas bersebelahan dengan muara tuba eustachii di
nasofaring. Muskulus konstriktor inferior dari permukaan lateral kartilago tyroid
dan cricoid. Serabut dari kartilago tiroid ke dinding poterior faring membentuk
muskulus thyrofaringeus, dan dari kartilago cricoid ke dinding faring menjadi
muskulus cricofaringeus. Bagian atas muskulus konstriktor inferior bagian
posterior overlaping dengan serabut muskulus konstriktor bagian [Link]
muskulus tambahan membujur secara miring ke dalam dinding faring yaitu
muskulus palatofaringeus, salphingofaringeus dan stylofaringeus. Certain planes
ada dibelakang dan lateral dari muskulus faringeal.
Fascia Buccofaringeal bagian dalam menutupi muskulus faringeal. Muskulus
faringeal teroisah dari fascia prevertebra oleh jaringan ikat membentuk
retrofaringeal space, yang tertutup oleh parotid sheats. Dilateral faring
membentuk parafaringeal space yang meluas keatas sampai dasar tengkorak dan
batas bawah setingkat os hyoid dengan glandula submandibuler dan stylohyoid
dan muskulus digastrikusposterior.
Arteri faring dari cabang mayor arteri carotis eksterna. Termasuk arteri faringeal
ascending cabang dari arteri lingua, tonsiler cabang dari arteri fascialis, dan
palatum cabang dari arteri maksillary. Vena faring bagian atas berhubungan
dengan pleksus pterigoideus dan pleksus vertebra, bagian inferior berhubungan
dengan vena jugularis interna.
Muskulus styloglosus mendapat inervasi dari nervus glossofaringeal, muskulus
faringeal mendapat inervasi dari nervus phagus cabang pleksus faringeal.
Kelenjar limfatik dari nasofaring ke l.n retropharyng kemudian l.n faring
lateralis menuju l.n yugularis. Orofaring ke l.n retrofaring dan l.n cervicalis
superior menuju l.n yugularis. Hipofaring ke retrofaring dan l.n faringeal
lateralis, l.n cervicalis dan nodus yugularis

2. Fisiologi Faring

Fungsi faring terutama untuk pernapasan, penelanan, resonansi suara dan


artikulasi.
Proses penelanan dibagi menjadi 3 tahap. Pertama gerakan makanan dari mulut
ke faring secara volunter. Tahap kedua transport makanan melalui faring dan
tahap ketiga jalannya bolus melalui esophagus keduanya secara involunter.
Langkah yang sebenarnya adalah pengunyahan makanan dilakukan pada
sepertiga tengah lidah. Elevasi lidah dan palatum mole mendorong bolus ke
orofaring. Otot suprahioid berkonstraksi, elevasi tulang hioid dan laring dengan

6
Modul IV.1– Faringitis

demikian membuka hipofaring dan sinus piriphormis. Secara bersamaan otot


laringitis instrinstik berkontraksi dalam gerakan seperti sfingter untuk mencegah
aspirasi. Gerakan yang kuat dari lidah bagian belakang akan mendorong
makanan kebawah melalui orofaring, gerakan dibantu oleh konstraksi otot
konstriktor faring media dan superior. Bolus dibawa melalui introitus esophagus
ketika otot konstriktor faring inferior berkontraksi dan otot krikofaringeus
berelaksasi. Peristaltik dibantu oleh gaya berat, menggerakkan makanan melalui
esophagus dan masuk ke lambung.

3. Infeksi Penyebab Faringitis

a. Infeksi Oleh Karena Bakteri

a.1. Streptococcus
• Merupakan bakteri yang paling sering terutama pada anak-anak yaitu
Streptokokkus B hemoliticus ( Streptokokkus pyogenes ).
• Kuman penyebab lain antara lain :
o Streptokokkus Pneumoniae
o Streprokokkus kelompok C
• Masa inkubasi untuk Streptokokkus B hemolitikus adalah 12 jam sampai 4
hari. Faringotonsilitis oleh karena bakteri ini jarang ditemukan pada bayi.
Insiden puncak umur 5 – 15 tahun.
• Gejala Klinik :
o Sakit tenggorok
o Sulit menelan
o Demam
• Rhinorea dan batuk umumnya tidak terdapat pada infeksi ini. Tampak
Limphadenophati Cervical.
• Komplikasi yang serius adalah demam rematik Komplikasi nonsupuratif
glomerulonephritis, rhamatoid fever, grisel sindrom, subluxatio
atlantoaxial joint sampai proses inflamasi pada kepala dan leher.
Komplikasi supurasi adalah otitis media dan sinusitis akut.
• Diagnosis untuk penyakit ini yang paling sederhana dengan swab kultur
dari faring. Secara konvensional kultur memakai darah reguler pada media
agar. Pemeriksaan lain dengan :
o Immunoessay mempunyai kepekaan dan spesifitas yang baik
o Kultur
o Test rapid
• Penatalaksanaan :
Pemberian Penisillin atau amoxillin baik oral atau i.v . Bila alergi
penicillin bisa diberikan eritromicin dan cephalosporin.

a.2 Staphylokokkus
Terutama Staphilokokkus Aureus atau Staphilokokkus Salivarius. Gejala
klinik yang sering timbul adalah eritem dan edem. Terapi dengan Antibiotika
seperti penicillin, eritromisin atau cephalosporin sesuai hasil kultur dan
sensitivitas.

7
Modul IV.1– Faringitis

a.3 Diphteri
Penyebab utama Corynebacterium Diphteriae merupakan kuman gram positif.
Masa inkubasi 2 – hari, exotoxins yang diproduksi menyebabkan jaringan
nekrosis dan inflamasi. Penyakit ini sering ditemukan pada anak-anak
dibawah usia 10 tahun.
Diphteroid masuk melalui mulut dan hidung kemudian dilokalisir di mukosal
permukaan respiratorius bagian atas. Tampak pseudomembran warna abu-abu
yang menempel kuat pada dasar jaringan. Perluasan selaput sampai
nasofaring atau laryng menyebabkan ketidakmampuan untuk membersihkan
sekret dan obstruksi saluran nafas. Toksin bisa masuk pembuluh darah dan
saluran limfe, terutama jika tonsil terkena infeksi, sehingga akan
menyebabkan sistem respirasi dan vaskularisasi kolap (Infark Miokardial ).
Terapi spesifik adalah pemberian antitoksin. Antibiotika diberikan sebagai
terapi adjuvan dengan pemberian terapi asimptomatik.

a.4 Pertusis
• Etiologi Bordetella Pertussis, merupakan penyakit akut pada anak-anak.
• Gejala klinik : batuk dengan inspiratory yang nyaring atau batuk rejan.
Masuk ke host melalui inhalasi .
Masa inkubasi kira-kira 1 minggu. Ada 3 stadium :
1. Stadium Cattarhal: Selama 1 -2 minggu
Tanda: demam ringan dan gejala yang berhubungan dengan saluran
nafas.
2. Stadium Paroximal: Batuk khas, tidak ada demam
Organisma menghasilkan endotoksin dan agglutinogen pada epitel
kolumner bersilia sehingga akan terjadi proliferasi.
Organisma berada pada superfisial epitel sehingga terjadi
nekrosisepitel yang ditandai dengan eksudat yang mukopurulent.
Berlangsung: 2 – 4 minggu
3. Masa konvalesen : antara 1 – 2 minggu
• Terapi: self-limiting dan kematian jarang terjadi

a.5 Gonorrhea
Etiologi Neisseria Gonorrhoeae, suatu bekteri gram negatif Pyogenic
Diplococcus. Organisme menginfeksi mukosa dan kelenjar sehingga
menyebabkan ulcerasi epitel dan infiltrat lekosit polimorphonuclear .
Biasanya asimptomatik, tetapi kadang-kadang faring tampak sakit.
Tampak: Tonsil hipertrofi dan adenopathy cervical.
Penatalaksanaan dengan penisillin, tetrasiklin, cephalosporin atau kuinolon
berdasarkan sensitivitas dan kultur test.

a.6 Siphilis
Suatu penyakit kelamin sistemik yang bermanifestasi klinik di kepala dan
leher. Etiologi oleh Treponema Pallidum. Masa inkubasi bervariasi dari 3 –
90 hari (rata-rata 3 minggu)

8
Modul IV.1– Faringitis

Stadium Siphilis :
1 . Primer
• Papula yang kemudian menjadi ulkus dengan tepi mengalami indurasi.
• Mikroskopis: infiltrasi dan inflamasi terdiri sel plasma histiocyt,
limphosit dan polimorphonuklear leukosit.
• Umumnya sembuh spontan dalam 3 – 6 minggu.
2. Sekunder
• Tampak faringotonsilitis.
• Mukosa mengalami erosi yang tidak sakit, dangkal dengan warna
keabu-abuan dengan tepi warna merah.
• Sangat menular apabila tidak diobati sepertiga akan sembuh
sempurna, sepertiga menjadi carrier dan sepertiga lagi ke stadium
tertier.
3. Tersier
• Berkembang beberapa tahun sejak infeksi awal
• Terjadi secara pelan-pelan dan progresif
• Umumnya sistem syaraf dan aorta terkena
• Tampak adanya gumma yang menggambarkan proses granulomatosus
pada tepinya dikelilingi polisading machrophage dan fibroblast.
Test serologik pada siphilis ada 2 yaitu:
1. Nonspesifik Nontreponemal Antibody test
• Murah, cepat dan bisa mengetahui adanya aktivitas penyakit
• Dengan test Veneral Desease Reseach Laboratory (VDRL)
• Modifikasi dari VDRL adalah Test Rapid Plasma Reagin
• VDRL dan Rapid Plasma test bisa untuk skrening
• Sangat sensitit pada stadium sekunder kira-kira 99 % positif
2. Spesifik Treponemal Antibody test
• Adalah FTA-ABS Test
• Bisa dipakai untuk diagnosis dan prognosis karena sangat sensitif
False positif pada test serologi oleh karena suatu infeksi yang sangat cepat
dan noninfeksius, umumnya terjadi pada Nontreponemal Antibody test.
Terapi: dosis tunggal penisilin. Bila alergi dengan penisillin maka tetrasiklin
atau erytromysin dapat digunakan.

b. Infeksi Oleh Karena Virus


Virus merupakan penyebab yang paling umum pada faringitis. Pada beberapa
kasus tampak oedem dan eritema. Penatalaksanaan umumnya simptomatis

b.1 Herpes Simplex Virus


§ Herpes Simplek Virus mempunyai 2 subtype:
1. Tipe 1 ( pada umumnya oral )
2. Tipe 2 ( pada umumnya genital )
§ Infeksi pada traktus aerodigestive atas bisa terjadi baik primer ataupun
rekuren
§ Infeksi primer paling sering sebagai ginggivostomatitis atau faringitis akut
§ Mempunyai kecenderungan menginfeksi sel di ektoderm asal, pada
umumnya didalam selaput lendir atau kulit

9
Modul IV.1– Faringitis

§ Paling sering terladi pada anak umur 10 bulan sampai 3 tahun


§ Gambaran klinik pada remaja dapat berupa faringitis eksudatif akut sedang
pada orang dewasa terlihat sebagai faringitis streptococcal atau influenza.
§ Penularan: melalui air liur atau ingus, infeksi kuku atau mengisap ibu jari
§ Masa inkubasi pendek antara 2 – 12 hari
§ Gejala klinik:
- Rasa tidak enak pada badan, demam
- Sakit tenggorok
- Tampak lesi vasikuler yang mudah berdarah pada faring atau tampak
ulkus pada tonsil yang tertutup suatu eksudat berwarna kelabu
- Pembesaran dan rasa sakit pada limphonodi cervikalis
§ Kondisi-kondisi yang mempengaruhi terjadinya Herpes simplek virus
antara lain : Infeksi neonatal, immunodefisiensi, kurang gizi, terapi
immunosupresi, kehamilan, luka bakar, trauma, kelainan kulit (seperti
dermatitis atopik, impetigo bullosa dan phemphigus), sarcoidosis.
§ Histopatologi : permukaan mukosa mengalami ulserasi dengan sel raksasa
multinukleated dan intranuklear.
§ Diagnosis: Test Enzymelinked immunosorbent assay (ELISA), test
radiometrik
§ Biasanya self limited deseas
§ Terapi untuk menghilangkan gejala yang timbul dan Acyclovir dipakai
untuk menghambat replikasi virus nucleic acid

b.2 Campak
§ Rubela atau campak suatu morbillivirus yang sangat menular
§ Gejala klinik: panas tinggi, coryza dan conjunctivitis, buccal mukosa
tampak lesi exanthematous ( koplik nods ), hiperplasia limphoretikuler,
ruam erithematous pada kulit.
§ Penatalaksanaan : simptomatis dan umumnya self-limited

b.3 Epstein Barr Virus


§ Sering berhubungan dengan carcinoma nasofaring dan limphoma burkit
§ Diperkirakan 80 – 90 % berhubungan dengan mononukleosis
§ EBV yang berhubungan dengan mononukleosis menyerupai
faringotonsilitis akut
§ Gejala: sakit tenggorok, demam dan rasa tidak enak badan
§ Tampak eksudat pada faring maupun tonsil, limphadenopati cervical
§ Diagnosis: dari gejala klinik dan pemeriksaan laboratorium
§ Gejala klinik akan mengalami resolusi setelah beberapa bulan
§ Terapi: suportif antara lain istirahat dan minum yang banyak

b.4 Cytomegalovirus
§ Bisa kongenital atau akuisita
§ Infeksi biasanya asimptomatis kecuali pasien dengan immunokompresi
§ Infeksi bisa melalui air susu ibu, kontak dengan air liur, semen
§ Virus dapat dideteksi melalui isolasi kuman virus, serologi atau PCR
§ Beda dengan EBV mononukleosis pada cytomegalovirus tidak terlihat
gejala faringitis dan heterophile antibodi negatif

10
Modul IV.1– Faringitis

b.5 Human Immunodeficiency Virus Tipe I


§ Akhir-akhir ini terjadi peningkatan pasien yang terinfeksi oleh HIV tipe 1,
terutama bersama dengan Immunodeficiency sindrom (AIDS)
§ Gejala klinis: sakit tenggorok, demam, malaise, myalgia, arthralgia,
photophobia, lymphadenophati dan ruam makulopapular
§ Diagnosis: Analisa PCR dan Immunohistochemical

c. Infeksi Jamur

Infeksi oleh karena jamur atau parasit umumnya tidak menimbulkan gejala
kecuali pasien dengan immunosupresi atau pasien dengan kondisi lemah yang
kronis. Kalau terjadi infeksi maka menimbulkan penyakit sistemis dan akan
menyebabkan kematian. Terutama terjadi pada pasien kanker, pasien yang
mengalami pencakokan organ, mengalami perawatan dengan agen
immunosupresi dan penderita AIDS.
c.1 Infeksi Candida
§ Merupakan penyebab faringitis jamur yang tersering
§ Candida merupakan flora normal di mulut tetapi jika sistem immun
terganggu dapat menginvasi mukosa sehingga menimbulkan sakit atau
disphagia
§ Terutama terjadi pada pasien HIV-positif dan setelah radioterapi kanker
leher dan kepala
§ Mukosa tampak mengalami perlukaan dengan warna keabuan
§ Identifikasi jamur dengan: pengecatan gram Noda atau acid-Schiff noda
berkala, kultur dengan agar Sabauraud
§ Histologi: tampak pseudohifa yang saling berhubungan, infiltrasi sel-sel
radang
§ Penatalaksanaan: pemberian nystatin pada rongga mulut atau faring,
ketoconazol oral atau fluconazol
§ Pencegahan pada pasien dengan HIV-positif dengan fluconazol oral sangat
efektif
§ Bila terjadi peradangan diberi antibiotik Amphetericin B

c.2 Deep-seated Mycosis


Jamur lain yang menyebabkan faringitis antara lain: Cryptococcus
neoformans, Rhinosporidiosis seeberi, Histoplasma capsulatum, Blastomyces
dermatitidis dan Paracoccidioides brasiliensis

d. Granulomatous Penyebab Faringitis


Granuloma adalah suatu infeksi kronis yang digambarkan dengan perubahan
machrophage (epithelioid histiocytes), dengan adanya sel raksasa dan fibroblast.
Peradangan granulomatous biasanya berhubungan dengan infeksi bakteri,
mycobacteria, jamur, siphilis, benalu, sarcoidosis, Wegener Granulomatosis dan
keganasan.

11
Modul IV.1– Faringitis

d.1 Mycobacterium Tuberculosa


Di Amerika Serikat, granulomatous berhubungan dengan Mycobacterium
Tuberkulisa. Micobacterial faringotonsilitis dapat terjadi oleh karena dahak
dari paru-paru yang mengalami infeksi. Penyakit ini terutama terjadi pasien
dengan sosial ekonomi rendah.
Gejala Klinik: Sakit tenggorok, hidung tersumbat, lymphadenophati cervical,
dan gejela yang berhubungan dengan paru-paru

d.2 Lepra
§ Oleh karena Mycobacterium Leprae
§ Faring mengalami infeksi setelah rongga hidung terinfeksi
§ Digolongkan: tipe Lepramatous dan Tuberculoid
§ Untuk mengetahui pasien Lepra tipe Tuberculoid dengan Mitsuda test
positif diameter > 5 mm (Reaksi Lepromin sebagai area indurasi dimana
respon yang paling cepat timbul pada 48 jam dan respon lambat pada 3 –
4 minggu)
§ Tipe Lepramatous: Mitsuda test lemah atau negatif ( 0 – 2 mm ),
boderline ( 3 – 5 mm )
§ Gambaran histopatologik Tuberculoid : noncaseasing granulomatous
dengan atau tanpa sel raksasa
§ Gambaran histopatologik Lepromatous: ada perkembangbiakan
machrophages yang berisi bacilli, tetapi tidak ada bentuk granulomatpus
§ Penatalaksanaan: pemberian Dapsone, clofazimin dan rifampisin

e. Penyebab Lain Faringitis

e.1 Faringitis Radiasi


§ Radiasi dapat menyebabkan atropi pada mukosa mulut dan faring.
§ Dosis radiasi yang sering menimbulkan atropi adalah 16 – 22cGy
§ Radiasi dapat menimbulkan produksi air liur menurun sehingga mudah
terjadi superinfeksi oleh karena bakteri atau jamur.
§ Faringitis radiasi tidak mungkin dicegah oleh karena merupakan efek
samping yang timbul pada radiasi
§ Penatalaksanaan: secara simptomatik dengan pemberian Sucralfat,
diphenhidramin, antibacterial agent dan corticosteroid topical
§ Meningkatkan aliran ludah: pemberian Pilocarpine baik selama atau
sesudah radiasi
§ Perawatan spesifik superinfeksi dengan Antifungal topikal (nystatin) atau
antifungal sistemik atau antibiotik

e.2 Steven-Johnson Sindrom


§ Terutama terjadi pada anak-anak dan dewasa muda, pria lebih banyak
dari perempuan
§ Etiologi tidak diketahui, biasanya mengikuti suatu infeksi infeksi
pernapasan bagian atas atau penggunaan obat tertentu seperti
Sulfonamides, Anticonvulsan dan obat tidur
§ Tampak gambaran erythematous vasculer dan bullaa terutama di daerah
mukosa mulut, faring dengan laring

12
Modul IV.1– Faringitis

§ Bulla bisa mengalami ulserasi sehingga menimbulkan perdarahan dan


terbentuknya krusta
§ Biasanya self limited dengan lesi kulit yang membaik kira-kira 4 minggu
§ Penatalaksanaan biasanya simptomatis dengan memperhatikan
keseimbangan cairan dan keseimbangan elektrolit baik fase akut atau
dengan infeksi sekunder

e.3 Pemphigus
§ Merupakan infeksi autoimmun tetapi jarang terjadi terutama mengenai
kulit dan membran mukosa
§ Tidak ada perbedaan laki-laki dan perempuan umumnya terjadi pada
pasien diatas 30 tahun
§ Pada daerah yang terkena tampak adanya vesikel dan bula
§ Yang terjadi di faring antara lain: phemphigus vulgaris, phemphigus
foliaceus, phemphigus erythematous, drug-induse phemphigus
§ P Vulgaris: tampak vesikel dan bula yang sering mengalami erosi
sehingga sering menimbulkan sakit waktu makan atau menelan, produksi
saliva akan meningkat.
§ Infeksi sekunder akan timbul pada oral higiene yang buruk
§ Nikolsky sign pada umumnya negatif
§ Histopathologi : jaringan yang terkena berisi vesikel intraephitelial atau
bullae yang menimbulkan robekan pada suprabasiler, Prevesiculer odem
dan intercelluler bride menghasilkan acantholysis. Perubahan ini
mengakibatkan perubahan sel epitel (Tzanck sel) mengambang di dalam
vesiculer. Pada sel nukleus membesar dan hiperchromasia, banyak
pengandung lekosit polimhorphonuklear dan limfosit.
§ Penatalaksanaan : Steroid, pemberian immunosupresi dan antibiotika bila
terjadi infeksi sekunder.

e.4 Reflux Faringitis


§ Gastroeshophageal reflux disease (GERD) merupakan salah satu
penyebab faringitis dan laringitis
§ Gejala klinik: serak, sakit tenggorok, batuk kronis, globus faringeus,
disphagia, nafas bau, dingin tetapi perut tidak terasa nyeri atau panas.
§ Pada faring sering tampak erytema ringan dan cobblestoning, arythenoid
eritema
§ Diagnosis test: pH 24-hour esophageal tetapi test ini invasif dan mehal
§ Penatalaksanaan : memperbaiki gaya hidup dan aturan makan, pemberian
histamin-2
e.5 Pfapa
§ Suatu sindrom dengan gejala klinik: Panas berkala (sampai 40,5oC),
aphtous stomatitis, faringitis dan cervical adenitis
§ Terutama terjadi pada anak-anak sekitar umur 3 tahun
§ Etiologi tidak diketahui
§ Penatalaksanaan : corticosteroid, cimetidine serta tonsilektomi

13
Modul IV.1– Faringitis

e.6 Faringitis Idiopathic


§ Faktor predisposisi: post nasal drip dan refluk asam lambung, minum
alkohol, merokok, makanan panas dan pedas
§ Penyebab lain pemberian spray tenggorok yang berisi obat desinfektan dan
astrigent, cairan yang bersifat saline, trauma,penggunaan obat bius, faktor
psikis dan emosional
§ Penatalaksanaan sukar, pendekatan psikologis dan pemberian obat
simptomatis perlu dipikirkan

14
MODUL UTAMA
LARING FARING

MODUL IV.2
LARINGITIS

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ......................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ......................................................................................... 1

C. REFERENSI .................................................................................................. 1

D. KOMPETENSI .............................................................................................. 2

E. GAMBARAN UMUM................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS ......................................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN........................................................................ 2

H. METODA PEMBELAJARAN ...................................................................... 3

I. EVALUASI .................................................................................................... 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ............................ 4

K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR ............................................... 5

L. DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA .................................................... 6

M. MATERI PRESENTASI................................................................................ 7

N. MATERI BAKU ............................................................................................ 7


Modul IV.2 – Laringitis

MODUL IV.2
LARING-FARING : LARINGITIS

A. WAKTU

Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :


Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 31 Jam (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI

1. Materi presentasi: Laringitis


• Slide 1: Gejala Laringitis
• Slide 2: Anamnesis Dan Pemeriksaan Laringitis
• Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
• Slide 4: Faktor Risiko Laringitis
• Slide 5: Clinical Decision Making Dan Medikamentosa
2. Kasus
Sarana dan Alat Bantu Latih
a. Model anatomi laring, set pemeriksaan laring
b. Penuntun belajar (learning guide) terlampir
c. Tempat belajar: poliklinik THT, bangsal THT, ruang kuliah

C. REFERENSI
1. Sasaki CT, Kim YH. Anatomy and physiology of the larynx. Dalam: Ballenger
JJ, Snow JB. Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. Edisi ke-16. London.
Hamilton, 2003; h.1090-107
2. Silica L. Voice: Anatomy, Physiology and Clinical Evaluation. Dalam: Bailey JB,
Johnson JT. Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Edisi ke-5. Edisi ke-5.
Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins; 2014.h.945-954
3. Derkay CS, Gallagher TQ. Infectious and Inflammatory Disorders of the Larynx
and Trachea. Dalam: Wackym PA, Snow JB. Ballenger’s Otorhinolaryngology
Head and Neck Surgery. Edisi ke-18. USA: People’s Medical Publishing House,
2016; h.1025-1033.
4. Villari CR, Statham MM. Infection, Infiltration and Benign Neoplasms of the
Larynx. Dalam: Johnson JT, Rosen CA. Bailey’s Head and Neck Surgery
Otolaryngology. Edisi ke-5. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins; 2014.
h. 978-983.
5. Dhingra PL, Dhingra S. Disease of Ear Nose and Throat & Head Neck Surgery.
Edisi ke 6. India: Elsevier; 2014. h. 289-294.
6. Probst R, Grevers G, Iro H. Basic Otorhinolaryngology A Step-By-Step Learning
Guide. Edisi ke 2. New York: Thieme. 2006. h. 357-361.

1
Modul IV.2 – Laringitis

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum:
Mampu mendiagnosis dan melakukan tatalaksana laringitis
2. Kompetensi Khusus :
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil:
1. Mengenali gejala dan tanda laringitis
2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan laring
3. Mengenali faktor risiko kejadian laringitis
4. Membuat keputusan klinik serta melakukan tatalaksana
5. Deteksi dini dan melakukan tatalaksana terhadap masalah atau penyulit yang
mungkin terjadi pada laringitis.

E. GAMBARAN UMUM

Modul ini disusun untuk proses pembelajaran bagi pengenalan dan penatalaksanaan
laringitis melalui sesi pembelajaran di dalam kelas, bimbingan oleh instruktur dan
praktik klinik yang terkait dengan laringitis sehingga tujuan pembelajaran dapat
dicapai dalam waktu yang telah dialokasikan dan kompetensi yang diperoleh adalah
sesuai yang diinginkan.
Laring adalah organ yang komplek yang secara fisiologis berperan dalam proteksi
jalan napas, respirasi maupun fonasi. Laringitis adalah peradangan pada laring yang
dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau jamur. Laringitis merupakan salah satu
kelainan patologi yang paling sering terjadi pada laring dan dapat mengenai semua
kelompok usia. Gambaran klinis dapat bervariasi dari suara parau, gangguan menelan
hingga obstruksi pada jalan nafas atas.

F. CONTOH KASUS

Pasien perempuan usia 2 tahun diantar orang tuanya ke poliklinik THT dengan
keluhan suara parau dan kadang sesak napas sejak 2 hari yang lalu. Sebelumya pasien
juga dikeluhkan demam, batuk dan pilek sejak 3 hari sebelum ke rumah sakit. Pada
pemeriksaan fisik ditemukan adanya: retraksi supraklavikula, hiperemi pada mukosa
hidung, faring dan tonsil. Pemeriksaan Laringoskopi indirekta didapatkan korda
vokalis yang udem dan hiperemi.
Diskusi:
Tentukan apa yang harus diketahui terkait dengan butir-butir dibawah ini
1. Sebutkan gejala dan tanda klinis penderita
2. Perlunya pemeriksaan penunjang lain
3. Rencana terapi penderita

G. TUJUAN PEMBELAJARAN

Proses, materi dan metode pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian kompetensi
kasus laringitis, yaitu:
1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi laring

2
Modul IV.2 – Laringitis

2. Menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinik laringitis


3. Mampu mendiagnosis laringitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
4. Mampu menentukan faktor risiko setiap kasus
5. Membuat keputusan klinik serta tatalaksana
6. Deteksi dini dan melakukan tatalaksana terhadap masalah atau penyulit yang
mungkin terjadi pada laringitis.

H. METODA PEMBELAJARAN

• Interactive lecture
• Small group discussion.
• Peer assisted learning (PAL).
• Bedside teaching.
• Task based medical education.
• Journal reading and review.
• Case simulation and investigation exercise.
• Equipment characteristics and operating instructions.
• Case study
• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
• Demonstration and Coaching
• Practice with Real Clients.
• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
• Operative Procedure Demonstration and Coaching
• Continuing Professional Development

I. EVALUASI

1. Pada awal pertemuan dilakukan prates dalam bentuk essay, multiple choice atau
oral sesuai dengan masa tingkat pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja
awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi prates terdiri dari anatomi, fisiologi, patofisiologi, penegakan diagnosis,
pemeriksaan, terapi konservatif dan operatif, prognosis dan tindak lanjut
2. Self assessment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar
3. Selanjutnya dilakukan diskusi kelompok kecil bersama dengan fasilitator guna
membahas kekurangan yang teridentifikasi; membahas isi dan hal-hal yang
berkenaan dengan penuntun belajar dan kesempatan yang akan diperoleh pada saat
visite kecil maupun besar dan proses penilaian
4. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temanya (peer assisted learning) atau pada
standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan
membawa penuntun belajar. Penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya
untuk melakukan evaluasi (per asisited evaluation). Setelah dianggap memadai

3
Modul IV.2 – Laringitis

maka perlu diasah lagi melalui metode bed site teaching dibawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi
dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanan,evaluator
melaksaanakan pengawasan langsung dan mengisi form penilaian sebagai berikut:
1) perlu perbaikan berarti pelaksanaan belum benar atau ada langkah yang
tidak dlakukan; 2) cukup berarti pelaksanan sudah benar tetapi tidak efisien;
baik berarti langkah benar dan efisien
5. Setelah selesai bed side teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak mungkin dibicarakan di depan pasien dan
memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
6. Pendidikan/fasilitas: 1) pengamatan langsung dengan memakai evaluation
checklist form (terlampir), 2) penjelasan lisan dari peserta berupa cakap,
kurang cakap atau lalai.
7. Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
guna memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran dilakukan dengan:
a. ujian OSCE dilakukan pada tahap bedah dasar oleh Kolegium IK THT-KL
b. ujian akhir stase pada setiap devisi/unit kerja oleh masing-masing senter
pendidikan;
c. ujian akhir kognitif dilakukan pada akhir tahapan bedah lanjut (jaga II) oleh
Kolegium IK THT-KL
d. ujian akhir profesi dilakukan pada akhir pendidikan oleh Kolegium IK THT-KL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

Kuesioner Sebelum Pembelajaran (contoh Soal)

Pasien laki-laki usia 30 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan suara parau
sejak 5 hari yang lalu. Pasien juga mengeluhkan demam naik turun dengan batuk dan
pilek sejak 7 hari yang lalu. Saat ini nyeri saat berbicara atau menelan mulai
dirasakan. Dari pemeriksaan laringoskopi didapatkan hiperemi dan edema hingga
plika vokalis.
1. Apakah kemungkinan diagnose pasien ini?
a. Laringitis kronik
b. Laringitis luetika
c. Laringitis tuberculosis
d. Laringitis akut
e. Laringitis jamur
Jawaban : D

2. Apakah kemungkinan penyebab paling sering kasus diatas?


a. Rhinovirus
b. Mycobacterium tuberculosis
c. Candida sp.
d. Staphylococcus sp
e. Mycobacterium leprae
Jawaban : A

4
Modul IV.2 – Laringitis

K. INSTRUMEN PENILAIAN PSIKOMOTOR

Penuntun Belajar
Prosedur Pemeriksaan Laring

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)
2. Mampu
langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk
3. Mahir kondisi diluar normal.

langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan


4. T/D waktu kerja yang sangat efisien

Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu


tidak perlu diperagakan).

PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI LANGSUNG


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK 1 2 3 4 5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1 Informed consent
2 Pemeriksaan penunjang
3 Penderita puasa
4 Memeriksa dan melengkapi alat
5 Persiapan tindakan
6 Cara tidur penderita dan posisi kepala
TINDAKAN
1 Memasukkan laringoskop
2 Memasukkan teleskop
3 Evaluasi laring

5
Modul IV.2 – Laringitis

PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI SERAT OPTIK (FOL)


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK 1 2 3 4 5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1 Informed consent
2 Pemeriksaan penunjang
3 Memeriksa dan melengkapi alat
4 Persiapan tindakan
5 Cara duduk penderita dan posisi kepala
TINDAKAN
1 Memasukkan fiber optic
2 Evaluasi rongga hidung
3 Evaluasi nasofaring
4 Evaluasi laring

L. DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA

Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)


Prosedur Pemeriksaan Laring

Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan


oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan
ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar

X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai


Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar

T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan


Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA PROSEDUR LARINGOSKOPI


LANGSUNG
KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN KLINIS 1 2 3 4 5
Posisi pemeriksa
Cara memegang laringoskop

6
Modul IV.2 – Laringitis

Memasukkan laringoskop
Mengait epiglotis
Memasukkan teleskop
Mengevaluasi laring
Mengevaluasi korda vokalis

DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA LARINGOSKOPI SERAT OPTIK


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK 1 2 3 4 5
1 Posisi pemeriksa
2 Cara memegang fiber optic
3 Memasukkan fiber optic
4 Evaluasi rongga hidung
5 Evaluasi nasofaring
6 Evaluasi laring
7 Evaluasi korda vokalis
8 Cara mengeluarkan fiber optic

M. MATERI PRESENTASI

• Slide 1: Gejala Laringitis


• Slide 2: Anamnesis Dan Pemeriksaan Laringitis
• Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
• Slide 4: Faktor Risiko Laringitis
• Slide 5: Clinical Decision Making Dan Medikamentosa

N. MATERI BAKU

LARING

Anatomi
Laring adalah organ yang komplek yang secara fisiologis berperan dalam proteksi
jalan napas, respirasi maupun fonasi. Bentuknya menyerupai limas segitiga terpancung
dengan bagian atas lebih besar dari bagian bawah. Kerangka laring terdiri dari sebuah
tulang yaitu tulang hioid dan beberapa buah kartilago yaitu kartilago krikoid, kartilago
tiroid, kartilago aritenoid, kartilago kornikulata atau Santorini, kartilago kuneiformis
atau Wrisberg, dan epiglotis.

7
Modul IV.2 – Laringitis

Struktur Rangka Laring


Tulang Hioid
Tulang ini terdiri dari korpus, dua kornu mayor dan dua kornu minor. Permukaan
posterosuperior hioid merupakan perlekatan dengan membran hioepiglotis dan
tirohioid. Tulang hioid berbentuk seperti huruf U terdapat pada bagian superior laring.
Pada permukaan superior tulang hioid melekat tendon, otot-otot lidah, mandibula dan
kranium. Pada bagian bawah tulang hioid terdapat kartilago tiroid yang berbentuk perisai
dan berfungsi sebagai pelindung bagian dalam laring.

Kartilago Tiroid
Merupakan tulang hialin terbesar di laring. Terdiri dari dua ala yang bertemu di
anterior dan membentuk sudut lancip yang bervariasi menurut jenis kelamin. Pada pria
dewasa membentuk penonjolan subkutan (Adam’s apple) dengan sudut 90° dan 120°
pada wanita. Kornu superior adalah tempat perlekatan ligamentum tirohioid lateral.
Kornu inferior berhubungan dengan permukaan posterolateral krikoid membentuk
sendi krikotiroid.

Kartilago Krikoid
Kartilago krikoid merupakan kartilago hialin, tidak berpasangan dan berbentuk cincin.
Kartilago krikoid merupakan satu-satunya penyokong laring yang utuh mengelilingi jalan
napas dan memiliki peranan yang besar dalam fungsi laring yaitu menjaga patensi jalan
napas. Dibentuk oleh arkus anterior yang sempit dan lamina kuadratus yang luas di
posterior. Permukaan anterosuperior lamina kuadratus mempunyai dua sisi, dengan
sumbu panjang sejajar garis lamina. Ini merupakan bidang sendi dengan kartilago
aritenoid.

Gambar 1. Struktur laring dari arah anterior dan posterior

Kartilago aritenoid
Merupakan kartilago hialin yang berpasangan, berbentuk piramid, bersendian dengan
kartilago krikoid. Permukaan sendi berbetuk pelana dengan sudut siku-siku terhadap
permukaan sendi krikoid di artikulasio krikoaritenoid sehingga dapat terjadi gerakan
meluncur dan juga gerakan rotasi

8
Modul IV.2 – Laringitis

Kartilago Kornikulata dan Kartilago Kuneiformis


Kartilago kornikulata dan kartilago kuneiformis merupakan pasangan kartilago yang
kecil dan fibroelastis. Kartilago kornikulata terletak pada bagian apeks dari kartilago
aritenoid. Kartilago kuneiformis terdapat pada lateral kartilago kornikulata dan
menempel dengan ariepiglotis.

Epiglotis
Merupakan kartilago yang tipis, fleksibel, berbentuk daun dan fibroelastik. Petiola
merupakan bagian inferior yang sempit melekat pada kartilago tiroid tepat di atas
komisura anterior. Tidak seperti perikondrium kartilago hialin, perikondrium
epiglotis sangat melekat. Oleh karena itu, infeksi akan cenderung terlokalisasi jika
mengenai epiglotis. 5,6

Gambar 2. Potongan Koronal laring

Ligamentum Dan Membran


Membran tirohioid berhubungan dengan batas superior kartilago tiroid dan batas
posterosuperior os. hioid. Ligamentum hioepiglotis berhubungan dengan permukaan
anterior epiglotis dan permukaan posterior os. hioid membentuk atap ruang
praepiglotis dan dasar valekula. Konus elastikus di anterior melekat pada tepi inferior
kartilago tiroid membentuk membran krikotiroid. Batas atas yang bebas menebal
membentuk ligamentum vokalis.
Ligamentum vokalis meluas dari prosesus vokalis melalui tendon komisura
anterior. Dibagian posteriornya, ligamentum krikoaritenoid posterior meluas dari batas
superior lamina krikoid menuju permukaan medial kartilago aritenoid.

Otot-Otot Laring
Ekstrinsik
Berperan pada gerakan dan fiksasi laring secara keseluruhan. Terdiri dari kelompok
otot elevator dan depresor. Kelompok otot depresor terdiri dari m. tirohioid,
sternohioid, dan omohioid. Kelompok elevator terdiri dari m. digastrikus anterior dan
posterior, stilohioid, geniohioid, dan milohioid. Kelompok otot ini penting pada fungsi
menelan dan fonasi dengan mengangkat laring sampai di bawah dasar lidah.
Otot ekstrinsik laring ada yang terletak di atas tulang hioid atau suprahioid dan di
bawah tulang hioid atau infrahioid. Otot suprahioid adalah muskulus digastrikus,
muskulus geniohioid, muskulus stilohioid, dan muskulus milohioid. Otot-otot ini
menggerakkan laring ke atas dan ke depan saat proses menelan. Otot infrahioid adalah
muskulus sternohioid, muskulus omohioid dan muskulus tirohioid. Otot-otot ini
menggerakkan laring ke bawah saat inspirasi.

9
Modul IV.2 – Laringitis

Intrinsik
Otot intrinsik semua berpasangan kecuali m. interaritenoid. Terdiri dari golongan aduktor
(m. krikoaritenoid lateral, m. tiroaritenoid, m. krikotiroid, m. interaritenoid obligus, m.
interaritenoid tranversus) dan golongan abduktor (m. krikoaritenoid posterior). Otot
intrinsik laring menggerakkan struktur yang berhubungan dengan pita suara. Fungsinya
mempertahankan dan mengontrol jalan udara pernafasan melalui laring, mengontrol
tahanan terhadap udara ekspirasi selama fonasi dan membantu fungsi sfingter dalam
mencegah aspirasi benda asing selama proses menelan.5,6

Gambar 3A. Pandangan lateral penunjang Gambar 3B. Pita suara


laring

Persendian Laring
Terdiri dari persendian krikotiroid dan krikoaritenoid. Persendian krikotiroid merupakan
sendi antara kornu inferior kartilago tiroid dan bagian posteromedial kartilago krikoid.
Sendi ini merupakan titik tumpu fungsi m. krikotiroid, sehingga jika terjadi destruksi atau
fiksasi sendi akan mengurangi efek m. krikotiroid pada peregangan pita suara. Persendian
krikoaritenoid merupakan sendi pada masing-masing kartilago aritenoid dengan batas
posterosuperior cincin krikoid.

Bagian Dalam Laring


Rongga laring terbagi 3 bagian yaitu plika vokalis atau pita suara asli dan plika
ventrikularis atau pita suara palsu menjadi daerah vestibulum laring atau supraglotis,
daerah ventrikulus laring Morgagni atau glotis dan daerah infraglotis atau subglotis. Batas
superior laring ditandai oleh pinggir bebas epiglotis, plika ariepiglotika, kartilago
kornikulatum dan batas superior daerah interaritenoid. Batas inferior adalah pinggir
inferior kartilago krikoid.
Vestibulum laring adalah bagian di atas pita suara, terdapat penonjolan dalam
vestibulum yaitu plika ventrikularis atau pita suara palsu. Daerah di atas batas inferior
pita suara palsu disebut supraglotis. Ventrikulus laring Morgagni adalah daerah antara
plika ventrikularis dan plika vokalis.
Daerah subgotis adalah rongga laring yang terletak di bawah plika vokalis. Plika
vokalis dan plika ventrikularis terbentuk dari lipatan mukosa pada ligamentum vokale
dan ligamentum ventrikulare. Bidang yang terbentuk antara plika vokalis kanan dan kiri
disebut rima glotis sedangkan bidang yang terbentuk antara kedua plika ventrikularis
disebut rima vestibuli. Rima glotis merupakan ruang antara pinggir bebas pita suara.
Istilah glotis menunjukkan suatu daerah laring di antara permukaan superior pita suara
dengan garis khayal kira-kira 3 mm di bawahnya. Daerah di bawah ini adalah subglotis.

10
Modul IV.2 – Laringitis

Pembagian ini dibuat karena adanya perbedaan aliran limfe kedua daerah tersebut. Pita
suara asli dan palsu dipisahkan oleh sulkus yang mengarah ke lateral yang disebut
ventrikel.
Pada dinding anterior fosa piriformis terdapat suatu penonjolan yang menyilang yang
merupakan patokan n. laringeus internus untuk kepentingan anestesi lokal.

Inervasi, Vaskularisasi dan Pembuluh Limfe


Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus yaitu nervus laringeus superior
dan inferior. Kedua saraf tersebut merupakan campuran dari serabut motorik dan
sensorik. Nervus laringeus superior terdiri atas cabang sensori interna yang
mempersarafi bagian anterior laring, turun sampai ke glotis dan cabang eksterna yang
merupakan motorik mempersarafi muskulus krikotiroidea eksterna. Nervus laringeus
inferior merupakan lanjutan dari nervus laringeus rekuren. Nervus laringeus rekuren
kanan melewati arteri subklavia dan berjalan ke atas antara trakea dengan esofagus
sedangkan nervus rekuren kiri berputar mengelilingi arkus aorta sebelum mencapai
laring pada lekukan antara trakea dan esofagus.
Pembuluh darah laring terdiri dari dua pasang pembuluh darah diantaranya arteri
laringeus superior dan arteri laringeus inferior. Arteri laringeus superior merupakan
cabang arteri tiroid superior, kemudian bersama cabang nervus laringeus
superior menembus membran tirohioid untuk berjalan di bawah mukosa dinding
lateral dan lantai sinus piriformis dan memperdarahi otot-otot laring. Arteri
laringeus inferior cabang arteri tiroid inferior dan bersama-sama nervus laringeus
inferior berjalan ke belakang sendi krikotiroid dan memasuki laring melalui pinggir
bawah otot konstriktor inferior.
Vena laringeus superior dan inferior letaknya sejajar dengan
pembuluh nadinya untuk selanjutnya bergabung dengan vena tiroid superior dan
inferior.
Pembuluh limfe laring cukup banyak. Di plika vokalis, pembuluh limfe dibagi
dalam golongan superior dan inferior. Pembuluh eferen dari golongan superior
berjalan lewat lantai sinus piriformis dan arteri laringis superior, kemudian ke
atas, dan bergabung dengan kelenjar dari bagian superior rantai servikal dalam.
Sedangkan pembuluh eferen golongan inferior berjalan ke bawah dengan
arteri laringis inferior dan bergabung dengan kelenjar servikal dalam. Beberapa
diantaranya menjalar sampai sejauh kelenjar supraklavikular.

Fisiologi
Fungsi laring adalah untuk proteksi jalan nafas, respirasi dan fonasi. Fungsi laring untuk
proteksi adalah mencegah makanan dan benda asing masuk ke dalam trakea dengan jalan
menutup aditus laring dan rima glottis secara bersamaan. Cara menutup aditus laring yaitu
dengan pengangkatan laring ke atas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik laring.
Penutupan rima glotis terjadi karena penutupan plika vokalis akibat gerak aduksi dari
otot-otot intrinsik. Fungsi respirasi laring adalah dengan mengatur besar kecilnya rima
glotis. Bila otot krikoaritenoid posterior berkontraksi akan menyebabkan prosesus vokalis
kartilago aritenoid bergerak ke lateral, sehingga rima glotis terbuka dan terjadilah
inspirasi. Pada saat ekspirasi tekanan udara dari paru menyebabkan plika vokalis bergerak
ke lateral sehingga udara dapat keluar. Fungsi untuk fonasi dengan membuat suara serta
menentukan tinggi rendahnya nada dengan mengatur peregangan plika vokalis. Bila plika
vokalis dalam keadaan aduksi maka otot krikotiroid akan merotasikan kartilago tiroid ke

11
Modul IV.2 – Laringitis

bawah dan ke depan menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat bersamaan otot
krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. Pada
saat ini plika vokalis dalam keadaan paling efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya
kontraksi otot krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan sehingga plika
vokalis relaksasi. Kontraksi dan relaksasinya plika vokalis akan menentukan tinggi
rendahnya nada.

LARINGITIS AKUT
Laringitis adalah peradangan pada laring yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri atau
jamur. Laringitis merupakan salah satu kelainan patologi yang paling sering terjadi pada
laring dan dapat mengenai semua kelompok usia. Gambaran klinis dapat bervariasi dari
suara serak, gangguan menelan hingga obstruksi pada jalan nafas atas.

Etiologi
Laringitis akut umumnya disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, atau jamur). Penyebab
lain yang tidak terkait dengan infeksi antara lain penyalahgunaan vokal, refluks, polusi,
rokok atau paparan bahan thermal dan kimia pada laring.
Virus : rhinovirus, influenza, parainfluenza, adenovirus, coronavirus
Bakteri : Haemopfilus influenza, Streptococcus sp. dan Staphylococcus sp.
Jamur : Candida Sp, blastomycosis, coccidiodomycosis dan histoplasmosis. Laringitis
spesifik juga dapat disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, Mycobacterium leprae,
mycobacterium lepromatosis, Corynebacterium diphtheria dan treponema pallidum.

Faktor resiko
Penderita infeksi saluran napas atas, infeksi pada paru, terapi radiasi/brachytherapy,
pasien imunosupresi atau pemberian terapi imunosupresi, kemoterapi, penggunaan suara
berlebih terutama pada pasien dengan profesi guru, penyanyi, pramuniaga.

Gejala Klinis
• Suara parau hingga afoni
• Odinofagia
• Batuk
• Disfagia
• Keluhan umum: demam, batuk, lemas
• Sesak

Pemeriksaan fisik dan penunjang


Laringoskopi indirek/direk, rigid/flexible optic laryngoscope :
Gambaran laring dapat bervariasi sesuai dengan tingkat severitas infeksi. Hiperemi dan
edema dimulai pada epiglottis, ariepiglotika, aritenoid, ventricular bands hingga pita
suara. Dapat terlihat juga sekret diantara pita suara dan regio interaritenoid.

Patofisiologi
Laringitis dapat terjadi akibat invasi virus/bakteri langsung ke struktur laring yang
diawali infeksi pada saluran nafas atas, hematogen, atau iritasi akibat kontak trauma.
Inflamasi dapat terjadi pada area supraglotis (epiglotis, aritenoid, pita suara palsu), glotis,
dan subglotis.

12
Modul IV.2 – Laringitis

Diagnosis
Dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan hasil dari pemeriksaan
laringoskopi/endoskopi.

Penatalaksanaan
• Istirahat suara
• Antibiotik
• Antifungal tablet pada infeksi jamur
• Terapi kortikosteroid terutama pada bayi dan anak dengan potensi terjadi sumbatan
jalan napas atas.
• Terapi simtomatis: analgesik, antipiretik, mukolitik.
• Humidifikasi
• Tindakan operasi trakeostomi dilakukan bila didapatkan obstruksi jalan napas atas
yang gagal penanganan konservatif.

Tindak Lanjut
Umumnya penyembuhan dalam waktu 3-7 hari

LARINGITIS KRONIK

Definisi
Peradangan kronis pada laring

Faktor Resiko
• resolusi inkomplit dari laringitis akut atau infeksi yang terus berulang
• Adanya infeksi kronis pada sinus paranasal, gigi, tonsil atau paru.
• Paparan bahan kimia, merokok dan alcohol
• Voice abuse
• Refluks laringofaringeal
• Kelainan autoimun

Etiologi
Bakterial: M tuberculosis, M leprae, T pallidum, K rhinoscleromatis, A israelii. Fungal:
histoplasmosis, blastomicosis, Coccidiosis, Candidiasis, Aspergillosis, Rhinosporidiosis.
Laringitis non-spesifik, refluks gastrointestinal, trauma inhalasi, trauma radiasi, trauma
intubasi, gangguan endokrin, dan autoimun.

Gejala Klinis
• Suara parau hingga afoni yang menetap
• Sering mendehem
• Tidak nyaman di tenggorok
• Batuk

Pemeriksaan Penunjang

13
Modul IV.2 – Laringitis

Pemeriksaan laringoskopi indirekta, direkta dan fiber optic laryngoscope akan didapatkan
penebalan pada mukosa laring yang difus.
Permeriksaan radiologi dan pemeriksaan laboratorium.

Terapi
• Mengatasi faktor resiko
• Istirahat suara dan speech therapy
• Terapi Konservatif: antiinflamasi, ekspetorant/mukolitik, anti refluks

Laringitis Fungal
Terjadi pada pasien dengan status imukompromis seperti HIV, diabetes, atau pasien
dengan kemoterapi, atau pengguna antibiotik serta inhaler steroid jangka panjang.
Keluhan yang muncul seperti suara parau dan disfagia. Pada pemeriksaan akan dilihat
plak putih pada mukosa laring yang dapat bersifat lokal atau difus. Penatalaksaan berupa
pemberian terapi antifungal oral dan topikal.

Laringitis Tuberkulosis
Infeksi pada laring disebabkan karena Mycobacterium tuberculosis yang berhubungan
dengan infeksi aktif pada paru, tetapi dapat juga merupakan infeksi terbatas hanya pada
laring saja. Sering kali, bila tuberkulosis sudah teratasi tetapi laringitis masih menetap
karena struktur mukosa laring dengan vaskularisasi yang tidak sebaik paru, sehingga
proses infeksi terjadi lebih lama. Bakteri dapat masuk melalui udara pernafasan, sputum
atau penyebaran langsung melalui aliran darah dan limfa.
Gejala yang muncul berhubungan dengan infeksi pada paru seperti batuk,
penurunan berat badan, keringat malam. Gejala pada laring antara lain suara parau,
disfagia dan odinofagia. Pada pemeriksaan akan terlihat gambaran granuloma kaseosa
yang merupakan gambaran khas dari infeksi akibat M. tuberculosis. Edema dapat timbul
dari fosa interaritenoid, aritenoid, plika vokalis, plika ventrikularis epiglotis hingga
subglotis. Diagnosis dapat ditengakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang. Penunjang yang dapat dilakukan antara lain rontgen thorax,
pemeriksaan sputum dan biopsi laring. Penatalaksanaan dilakukan sesuai dengan terapi
tuberkulosis paru.

Laringitis Luetika
Infeksi pada laring lainnya yang jarang terjadi adalah akibat Treponema pallidum. Pada
stadium awal dapat di lihat luka yang tidak menimbulkan nyeri pada orofaring.
Manifestasi laring pada stadium berikutnya berupa leukoplakia, massa eksofitik, dan
penurunan mobilitas plika vokalis. Gejala klinis yang muncul yaitu suara parau, batuk
dan disfagia Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laringoskopi dan serologi.
Tatalaksana dilakukan dengan pemberian penisilin dosis tinggi dan dapat dilakukan
trakeostomi bila terjadi sumbatan jalan nafas atas.

Laringitis pada Lepra


Mycobacterial leprae dan Mycobacterium lepromatosis juga dapat menyebabkan
perubahan pada mukosa laring. Pada pemeriksaan akan didapatkan nodul, edema dan lesi
ulseratif pada supraglotis yang tidak disertai rasa nyeri. Pasien biasanya asimptomatik
hingga suara parau. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan biopsi atau nasal
smears. Terapi yang diberikan antara lain antituberkular. Prognosis umumnya baik.

14
Modul IV.2 – Laringitis

PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING

1. Butir-butir Penting
a. Pada pemeriksaan Laringoskopi Direk diperlukan persiapan puasa dan dilakukan
premedikasi. Posisi kepala penderita harus tepat supaya pelaksanaan tindakan
dapat dilakukan dengan baik.
b. Pada pemeriksaan Fiber Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama dengan
penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.

2. Teknik Pemeriksaan:
Laringoskopi Direk :
No Langkah-Langkah Bagaimana Mengapa
1. Premedikasi Luminal/atropin Tidak valium, karena
depresi pernapasan
Biar air liur sedikit

2. Anestesi lokal Spray xylocain, pd Epiglotis dikait, perlu


epiglotis anestesi

3. Atur posisi kepala Posisi high: fleksi Mudah mengait epiglotis


leher/dada, ekstensi keatas
occipito atlanto
Selalu digaris
tengah Akan terlihat uvula-
epiglotis sebagai pedoman

4. Mengait epiglotis Epiglotis dikait Kalau terlalu banyak,


sedikit saja aritenoid terkait
Kalau terlalu sedikit:
lepas

Mudah melihatnya,
Kalau teleskop harus
5. Melihat korda vokalis Dengan bantuan mengait epiglotis,bisa
teleskop (0o,30o) basah-buram

Laringoskopi Serat Optik (FOL):


No Langkah-langkah Bagaimana Mengapa
1 Anaestesi local Kapas xylocain Tidak nyeri,tidak trauma
ephedrin1 % di kavum
nasi d/s
Spray xylocain pd
faring/epiglotis
2 Atur duduk penderita Duduk tegak Memudahkan alat masuk

15
Modul IV.2 – Laringitis

3 Memasukkan alat FOL Melalui dasar kavum Tempat terlebar


nasi

4 Melihat nasofaring Lurus ke belakang Tampak nasofaring dulu

5 FOL diarahkan ke laring Dengan


membengkokkan ke
bawah
Memeriksa laring
6 FOL diarahkan mula-
mula tampak dari
jauh, lalu makin
mendekat

Kalau tak ada tumor


dilihat pergerakan
korda vokalis

3. Instrumen yang diperlukan:


a. Laringoskop dewasa
b. Laringoskop anak-anak
c. Laringoskop bayi
d. Teleskop 00 , 300 , 900
e. Fiber Optic Laryngoscope dan forsep biopsi
f. Forsep lurus dan upturn
g. Pompa Penyedot (Suction pump)

16
MODUL UTAMA
LARING FARING

PERADANGAN RONGGA MULUT


MODUL IV.3.1
INFEKSI ODONTOGENIK

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ........................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1

C. REFERENSI ..................................................................................................... 1

D. KOMPETENSI ................................................................................................. 1

E. GAMBARAN UMUM ..................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS & DISKUSI ...................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................... 2

H. METODE PEMBELAJARAN ......................................................................... 3

I. EVALUASI ...................................................................................................... 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR ......................... 4

K. DAFTAR TILIK ............................................................................................... 4

L. MATERI PRESENTASI .................................................................................. 5

M. MATERI BAKU .............................................................................................. 5


Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

MODUL IV.3.1
LARING-FARING – PERADANGAN RONGGA MULUT : INFEKSI
ODONTOGENIK

A. WAKTU
Mengembangkan Kompetensi Hari :
Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 6 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi INFEKSI ODONTOGENIK meliputi:
a. Anatomi Rongga mulut
b. Definisi Infeksi Odontogenik
c. Etiologi Infeksi Odontogenik
d. Klasifikasi Infeksi Odontogenik
e. Tahapan Infeksi Odontogenik
f. Patogenesis Infeksi Odontogenik
g. Gejala klinis Infeksi Odontogenik
h. Diagnosis Infeksi Odontogenik
i. Penatalaksanaan Infeksi Odontogenik

2. Kasus : Seorang laki-laki 16 tahun mengeluh nyeri pada gusi pada saat
mengunyah dan disertai demam
3. Sarana dan Alat bantu latih
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting): bangsal THT, Poliklinik THT.

C. REFERENSI
1. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery – Otolaryngology, Fourth
Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2006, p : 1356-1365
2. Alper C., Myers E N., Eibling., Decicion Making In Ear, Nose, and Throat
Disorders, Saunders Company, 152-153., 2001
3. Becker W., Nauman H H., Pfaltz R C., Ear, Nose, and Throat Diseases, Thieme,
299-387., 1194
4. Topazian Richard G, Morton H Goldberg, James R hupp. Oral and Maxillofacial
Infection, 4th ed;Philadelphia.
5. Fragiskos D. Frangiskos. Oral Surgery. Greece:Spinger. 2007. h 205-40
6. Gordon W. Pederson. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC.1996

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis Infeksi Odontogenik berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan.

1
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

b. Mampu melakuan tatalaksana Infeksi Odontogenik

2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
a. Mengenali gejala, tanda Infeksi Odontogenik
b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang Infeksi Odontogenik
c. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto panoramik,
CT-Scan dan pemeriksaan laboratorium.
d. Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat

E. GAMBARAN UMUM
Rongga mulut memiliki fungsi yang meliputi makanan dan asupan cairan, rasa dan
respon sensorik untuk makanan, mastikasi ( mengunyah), pencernaan kimia,
menelan, berbicara dan respirasi. Mulut memiliki peranan penting dalam makan,
minum dan bernapas. Mulut juga membantu dalam mengunyah dan menggigit
makanan kita.

F. CONTOH KASUS & DISKUSI


1. Contoh Kasus
Seorang laki-laki, 16 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan rasa
nyeri pada gusi saat mengunyah makanan dan disertai demam. Pemeriksaan
fisik: bengkak pada gusi, fluktuasi (+), hiperemi (+),nyeri tekan (+)
2. Diskusi :
• Jenis-jenis penyebab
• Penatalaksanaan
Jawaban :

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Tujuan Pembelajaran umum
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan :
a. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dari Rongga mulut
b. Menjelaskan anamnesis dan pemeriksaan Infeksi odontogenik.
c. Menjelaskan etiologi, patofisiologi, dan gambaran klinikInfeksi
odontogenik .
d. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang seperti foto panoramik,
CT-Scan, dan pemeriksaan laboratorium
e. Membuat keputusan klinik untuk pemberian antibiotik yang tepat

2. Tujuan Pembelajaran khusus


Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
a. Menjelaskan anatomi, topografi, histologi, fisiologi dari rongga mulut
b. Menjelaskan etiologi dan macam Infeksi odontogenik
c. Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis, terapi Infeksi odontogenik

2
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

d. Melakukan work-up penderita Infeksi odontogenik yang meliputi


anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
e. Menentukan prognostik dan pilihan terapi Infeksi odontogenik

H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan
4. Jurnal Reading
5. Praktik Lapangan (Poliklinik)
6. Bedside Teaching

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal
yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, definisi dan patologi infeksi odontogenik.
• Penegakan diagnosis.
• Komplikasi dan penanganannya.
• Follow up.
2. Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan fasilitator untuk
membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang
berkenan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat
bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assisted learning) atau kepada
SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh
teman-temannya untuk melakukan evaluasi (peer assited evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar pada nodel
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation)
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang
ditemukan.

3
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun


belajar.
6. Pendidik/ fasilitas
• Pengamatn langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai.
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical educcation).
8. Pencapaian pembelajaran :
• Ujian OSCA
• Ujian akhir stase
• Ujian akhir kognitif
• Ujian akhir profesi

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR


Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
1. Bakteri yang paling sering menyebabkan infeksi odontogenik adalah:
a. Staphylococcus
b. Streptococcus
c. Fusobacterium
d. Bacteroides
e. Eubacterium
Jawaban : B
2. Penderita laki-laki 17 tahun datang dengan keluhan nyeri menelan berulang,
timbul ulcus ± 1 cm didaerah palatum mole dan kambuhnya ditempat yang
sama. Apa kemungkinan diagnosis penyakit ini :
a. Stomatitis aftosa rekuren
b. Sutton Disease
c. Kandidiasis
d. Herpes zoster
e. Herpes simpleks
Jawaban : B
3. Lesi yang terjadi khas pada pertemuan Mukokutaneus terjadi pada penyakit :
a. Stomatitis Aftosa rekuren
b. Kandidiasis
c. Herpes zoster
d. Herpes simpleks primer
e. Herpes simplek sekunder
Jawaban : E

K. DAFTAR TILIK

DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)
4
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

Prosedur Pemeriksaan Laring

Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan


oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar

X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai


Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar

T/D Tidak Diamati langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan


oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

KEGIATAN NILAI
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung
1. Persiapan tindakan
[Link]
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL)
1. Persiapan tindakan
2. Tindakan

L. MATERI PRESENTASI
1. Anatomi Rongga mulut
2. Definisi Infeksi Odontogenik
3. Etiologi Infeksi Odontogenik
4. Klasifikasi Infeksi Odontogenik
5. Tahapan Infeksi Odontogenik
6. Patogenesis Infeksi Odontogenik
7. Gejala klinis Infeksi Odontogenik
8. Diagnosis Infeksi Odontogenik
9. Penatalaksanaan Infeksi Odontogenik

M. MATERI BAKU
1. Definisi Infeksi Odontogenik :
Infeksi odontogenik merupakan salah satu diantara beberapa infeksi yang
paling sering kita jumpai pada manusia. Pada kebanyakan pasien infeksi ini
bersifat minor atau kurang diperhitungkan dan seringkali ditandai dengan
drainase spontan di sepanjang jaringan gingiva pada gigi yang mengalami
gangguan.

Fistula Bakteremie-Septikemie

Selulitis Acute-Chronic Infeksi Spasium


Periapikal Infection yang dalam
5
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

Abses intra oral/ Osteomielitis spasium yang lebih


jaringan lunak-kutis tinggi / infeksi serebral

Gambar 1. Arah Penyebaran Infeksi odontogenik


Infeksi odontogenik merupakan infeksi rongga mulut yang paling sering
terjadi. Infeksi odontogenik dapat merupakan awal atau kelanjutan penyakit
periodontal, perikoronal, trauma, atau infeksi pasca [Link]
odontogenik juga lebih sering disebabkan oleh beberapa jenis bakteri seperti
streptococcus. Infeksi dapat terlokalisir atau dapat menyebar secara cepat ke sisi
wajah lain.

2. Anatomi
Rongga mulut merupakan sebuah bagian tubuh yang terdiri dari : lidah
bagian oral (dua pertiga bagian anterior dari lidah), palatum durum (palatum
keras), dasar dari mulut, trigonum retromolar, bibir, mukosa bukal, ‘alveolar
ridge’, dan gingiva. Tulang mandibula dan maksila adalah bagian tulang yang
membatasi rongga [Link] mulut yang disebut juga rongga bukal,
dibentuk secara anatomis oleh pipi, palatum keras, palatum lunak, dan [Link]
membentuk dinding bagian lateral masing-masing sisi dari rongga [Link]
bagian eksternal dari pipi, pipi dilapisi oleh [Link] pada bagian
internalnya, pipi dilapisi oleh membran mukosa, yang terdiri dari epitel pipih
berlapis yang tidak [Link]-otot businator (otot yang menyusun
dinding pipi) dan jaringan ikat tersusun di antara kulit dan membran mukosa dari
[Link] anterior dari pipi berakhir pada bagian bibir.

3. Etiologi
Paling sedikit ada 400 kelompok bakteri yang berbeda secara morfologi dan
biochemical yang berada dalam rongga mulut dan [Link] flora
rongga mulut dan gigi dapat menjelaskan etiologi spesifik dari beberapa tipe
terjadinya infeksi gigi dan infeksi dalam rongga mulut, tetapi lebih banyak
disebabkan oleh adanya gabungan antara bakteri gram positif yang aerob dan
[Link] cairan gingival, kira-kira ada 1.8 x 1011 anaerobs/[Link]
umumnya infeksi odontogen secara inisial dihasilkan dari pembentukan plak
[Link] bakteri patologik ditentukan, mereka dapat menyebabkan terjadinya
komplikasi lokal dan menyebar/meluas seperti terjadinya bacterial endokarditis,
infeksi ortopedik, infeksi pulmoner, infeksi sinus kavernosus, septicaemia,
sinusitis, infeksi mediastinal dan abses otak.
Infeksi odontogen biasanya disebabkan oleh bakteri [Link] dari
setengah kasus infeksi odontogen yang ditemukan (sekitar 60 %) disebabkan
oleh bakteri anaerob. Organisme penyebab infeksi odontogen yang sering
ditemukan pada pemeriksaan kultur adalah alpha-hemolytic Streptococcus,
Peptostreptococcus, Peptococcus, Eubacterium, Bacteroides (Prevotella)
melaninogenicus, and Fusobacterium. Bakteri aerob sendiri jarang
menyebabkan infeksi odontogen (hanya sekitar 5 %).Bila infeksi odontogen
6
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

disebabkan bakteri aerob, biasanya organisme penyebabnya adalah species


Streptococcus. Infeksi odontogen banyak juga yang disebabkan oleh infeksi
campuran bakteri aerob dan anaerob yaitu sekitar 35 %. Pada infeksi campuran
ini biasanya ditemukan 5-10 organisme pada pemeriksaan kultur.

4. Klasifikasi
Berdasarkan tipe infeksinya, infeksi odontogen bisa dibagi menjadi :
a. Infeksi odontogen lokal / terlokalisir, misalnya: Abses periodontal akut; peri
implantitis.
b. Infeksi odontogen luas/ menyebar, misalnya: early cellulitis,deep-space
infection.
c. Life-Threatening, misalnya: Facilitis dan Ludwig's angina.

5. Tahapan infeksi
Infeksi odontogenik umumnya melewati tiga tahap sebelum mereka menjalani
resolusi:
a. Selama 1 sampai 3 hari - pembengkakan lunak, ringan, lembut, dan
adonannya konsisten.
b. Antara 5 sampai 7 hari – tengahnya mulai melunak dan abses merusak kulit
atau mukosa sehingga membuatnya dapat di tekan. Pus mungkin dapat
dilihat lewat lapisan epitel, membuatnya berfluktuasi.
c. Akhirnya abses pecah, mungkin secara spontan atau setelah pembedahan
secara drainase. Selama fase pemecahan, regio yang terlibat kokoh/tegas
saat dipalpasi disebabkan oleh proses pemisahan jaringan dan jaringan
bakteri.

6. Patogenesis
Penyebaran infeksi odontogenik akan melalui tiga tahap yaitu tahap abses
dentoalveolar, tahap yang menyangkut spasium dan tahap lebih lanjut yang
merupakan tahap [Link] biasanya dimulai dari permukaan gigi yaitu
adanya karies gigi yang sudah mendekati ruang pulpa, kemudian akan berlanjut
menjadi pulpitis dan akhirnya akan terjadi kematian pulpa gigi (nekrosis
pulpa). Infeksi gigi dapat terjadi secara lokal atau meluas secara [Link]
gigi yang nekrosis menyebabkan bakteri bisa menembus masuk ruang pulpa
sampai apeks [Link] apikalis dentis pada pulpa tidak bisa mendrainase
pulpa yang terinfeksi. Selanjutnya proses infeksi tersebut menyebar progresif ke
ruangan atau jaringan lain yang dekat dengan struktur gigi yang nekrosis
tersebut. Rangsangan yang ringan dan kronis menyebabkan membran
periodontal di apikal mengadakan reaksi membentuk dinding untuk mengisolasi
penyebaran [Link] jaringan periapikal terhadap iritasi tersebut dapat
berupa periodontitis apikalis yang supuratif atau abses dentoalveolar.
Pada infeksi sekitar foramen apikalis terjadi nekrosis disertai akumulasi
leukosit yang banyak dan sel-sel inflamasi lainnya. Sedangkan pada jaringan
sekitar abses akan tampak hiperemis dan edema. Bila masa infeksi bertambah,
maka tulang sekitarnya akan tersangkut, dimulai dengan hiperemia pembuluh
darah kemudian infiltrasi leukosit dan akhirnya proses supurasi. Penyebaran
selanjutnya akan melalui kanal tulang menuju permukaan tulang dan periosteum.
Tahap berikutnya periosteum pecah dan pus akan terkumpul di suatu tempat di
7
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

antara spatia sehingga membentuk suatu rongga patologis. Pembentukan abses


pada umumnya didahului oleh periodontitis apikalis akut, namun dapat juga
langsung tanpa didahului oleh periodontitis apikalis.

7. Gejala klinis
Respon tubuh terhadap agen penyebab infeksi adalah inflamasi. Pada keadaan
ini substansi yang beracun dilapisi dan dinetralkan. Juga dilakukan perbaikan
jaringan, proses inflamasi ini cukup kompleks dan dapat disimpulkan dalam
beberapa tanda :
a. Hiperemi yang disebabkan vasodilatasi arteri dan kapiler dan peningkatan
permeabilitas dari venula dengan berkurangnya aliran darah pada vena.
b. Keluarnya eksudat yang kaya akan protein plasma, antiobodi dan nutrisi dan
berkumpulnya leukosit pada sekitar jaringan.
c. Berkurangnya faktor permeabilitas, leukotaksis yang mengikuti migrasi
leukosit polimorfonuklear dan kemudian monosit pada daerah luka
(Fragiskos, 2005)
d. Terbentuknya jalinan fibrin dari eksudat, yang menempel pada dinding lesi.
e. Fagositosis dari bakteri dan organisme lainnya
f. Pengawasan oleh makrofag dari debris yang nekrotik

Adanya gejala infeksi


Gejala-gejala tersebut dapat berupa : rubor atau kemerahan terlihat pada daerah
permukaan infeksi yang merupakan akibat vasodilatasi. Tumor atau edema
merupakan pembengkakan daerah infeksi. Kalor atau panas merupakan akibat
aliran darah yang relatif hangat dari jaringan yang lebih dalam, meningkatnya
jumlah aliran darah dan meningkatnya metabolisme. Dolor atau rasa sakit,
merupakan akibat rangsangan pada saraf sensorik yang di sebabkan oleh
pembengkakan atau perluasan infeksi. Akibat aksi faktor bebas atau faktor aktif
seperti kinin, histamin, metabolit atau bradikinin pada akhiran saraf juga dapat
menyebabkan rasa sakit. Fungsio laesa atau kehilangan fungsi, seperti misalnya
ketidakmampuan mengunyah dan kemampuan bernafas yang terhambat.
Kehilangan fungsi pada daerah inflamasi disebabkan oleh faktor mekanis dan
reflek inhibisi dari pergerakan otot yang disebabkan oleh adanya rasa sakit.
Limphadenopati
Pada infeksi akut, kelenjar limfe membesar, lunak dan sakit. Kulit di sekitarnya
memerah dan jaringan yang berhubungan membengkak. Pada infeksi kronis
perbesaran kelenjar limfe lebih atau kurang keras tergantung derajat inflamasi,
seringkali tidak lunak dan pembengkakan jaringan di sekitarnya biasanya tidak
terlihat. Lokasi perbesaran kelenjar limfe merupakan daerah indikasi terjadinya
infeksi. Supurasi kelenjar terjadi jika organisme penginfeksi menembus sistem
pertahanan tubuh pada kelenjar menyebabkan reaksi seluler dan memproduksi
pus. Proses ini dapat terjadi secara spontan dan memerlukan insisi dan drainase.

8. Diagnosis
Berdasarkananamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang,
ditegakkan diagnosis infeksi odontogen apakah termasuk infeksi odontogen
lokal / terlokalisir atau infeksi odontogen umum / menyebar Penderita biasanya
datang dengan keluhan sulit untuk membuka mulut (trismus), tidak bisa makan
8
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

karena sulit menelan (disfagia), nafas yang pendek karena kesulitan bernafas.
Penting untuk ditanyakan riwayat sakit gigi sebelumnya, onset dari sakit gigi
tersebut apakah mendadak atau timbul lambat, durasi dari sakit gigi tersebut
apakah hilang timbul atau terus-menerus, disertai dengan demam atau tidak,
apakah sudah mendapat pengobatan antibiotik sebelumnya.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan tanda-tanda infeksi yaitu ;
a. Rubor : permukaan kulit yang terlibat infeksi terlihat kemerahan
akibat vasodilatasi, efek dari inflamasi
b. Tumor : pembengkakan, terjadi karena akumulasi nanah atau cairan
eksudat
c. Calor : teraba hangat pada palpasi karena peningkatan aliran darah ke area
infeksi
d. Dolor : terasa sakit karena adanya penekanan ujung saraf sensorik oleh
jaringan yang bengkak akibat edema atau infeksi
e. Fungsiolaesa : terdapat masalah denagn proses mastikasi, trismus, disfagia,
dan gangguan pernafasan.
Infeksi yang fatal bisa menyebabkan gangguan pernafasan, disfagia, edema
palpebra, gangguan penglihatan, oftalmoplegia, suara serak, lemah lesu dan
gangguan susunan saraf pusat (penurunan kesadaran, iritasi meningeal, sakit
kepala hebat, muntah).
Pemeriksaan fisik dimulai dari ekstra oral, lalu berlanjut ke intra
[Link] pemeriksaan integral (inspeksi, palpasi dan perkusi) kulit wajah,
kepala, leher, apakah ada pembengkakan, fluktuasi, eritema, pembentukan
fistula, dan krepitasi [Link] adakah limfadenopati leher,
keterlibatan ruang fascia, trismus dan derajat dari [Link] diperiksa
gigi, adakah gigi yang karies, kedalaman karies, vitalitas gigi, lokalisasi
pembengkakan, fistula dan mobilitas [Link] juga adakah obstruksi duktus
Wharton dan Stenson, serta menilai kualitas cairan duktus Wharton dan Stenson
(pus atau saliva).Pemeriksaan oftalmologi dilakukan bila dicurigai mata terkena
infeksi. Pemeriksaan mata meliputi : fungsi otot-otot ekstraokuler, adakah
proptosis, adakah edema preseptal atau postseptal.
Pemeriksaan penunjang yang bisa membantu menegakkan diagnosis adalah
pemeriksaan kultur, foto rontgen dan CT scan (atas indikasi). Bila infeksi
odontogen hanya terlokalisir di dalam rongga mulut, tidak memerlukan
pemeriksaan CT scan, foto rontgen panoramik sudah cukup untuk menegakkan
[Link] scan harus dilakukan bila infeksi telah menyebar ke dalam ruang
fascia di daerah mata atau leher.

9. Penatalaksanaan
Tujuan manajemen infeksi odontogen adalah :
a. Menjaga saluran nafas tetap bebas
• dasar mulut dan lidah yang terangkat ke arah tonsil akan menyebabkan
gagal nafas
• mengetahui adanya gangguan pernafasan adalah langkah awal diagnosis
yang paling penting dalam manajemen infeksi odontogen
• tanda-tanda terjadi gangguan pernafasan adalah pasien terlihat gelisah,
tidak dapat tidur dalam posisi terlentang dengan tenang, mengeluarkan
air liur, disfonia, terdengar stridor
9
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

• saluran nafas yang tertutup merupakan penyebab kematian pasien infeksi


odontogen
• jalan nafas yang bebas secara kontinu dievaluasi selama terapi
b. Tindakan drainase
• pemberian antibiotika tanpa drainase pus tidak akan menyelesaikan
masalah penyakit abses
• memulai terapi antibiotika tanpa pewarnaan gram dan kultur akan
menyebabkan kesalahan dalam mengidentifikasi organisme penyebab
penyakit infeksi odontogen
• penting untuk mengalirkan semua ruang primer apalagi bila pada
pemeriksaan, ruang sekunder potensial terinfeksi juga
• CT scan dapat membantu mengidentifikasi ruang-ruang yang terkena
infeksi
• Foto Rontgen panoramik dapat membantu identifikasi bila diduga gigi
terlibat infeksi
• Abses canine, sublingual dan vestibular didrainase intraoral
• Abses ruang masseterik, pterygomandibular, dan pharyngea lateral bisa
didrainase dengan kombinasi intraoral dan ekstraoral
• Abses ruang temporal, submandibular, submental, retropharyngeal, dan
bukal disarankan diinsisi ekstraoral dan didrainase.
c. Medikamentosa
• rehidrasi (karena kemungkinan pasien menderita dehidrasi adalah sangat
besar)
• merawat pasien yang memiliki faktor predisposisi terkena infeksi
(contohnya Diabetes Mellitus)
• mengoreksi gangguan atau kelainan elektrolit
• memberikan analgetika dan merawat infeksi dasar bila pasien menderita
trismus, pembengkakan atau rasa sakit di mulut.
d. Identifikasi bakteri penyebab
• Diharapkan bakteri penyebabnya adalah alpha-hemolytic
Streptococcus dan bakteri anaerob lainnya
• kultur harus dilakukan pada semua pasien melalui incisi dan drainase dan
uji sensitivitas dilakukan bila pasien tidak kunjung membaik
(kemungkinan resisten terhadap antibiotika)
• Hasil aspirasi dari abses bisa dikirim untuk kultur dan uji sensitivitas jika
incisi dan drainase terlambat dilakukan
e. Menyeleksi terapi antibotika yang tepat
• penicillin parenteral
• metronidazole dikombinasikan dengan penicillin bisa dipakai pada
infeksi yang berat
• Clindamycin untuk pasien yang alergi penicillin
• Cephalosporins (cephalosporins generasi pertama)
• antibiotika jangan diganti selama incisi dan drainase pada kasus infeksi
odontogen yang signifikan
• jika mediastinal dicurigai terkena infeksi harus dilakukan CT scan
thoraks segera dan konsultasi kepada dokter bedah thoraks
kardiovaskular
• ekstraksi gigi penyebab akan menyembuhkan infeksi odontogen
10
Modul IV.3.1– Infeksi Odontogenik

10. Kepustakaan Materi Baku


a. Bailey BJ, Johnson JT, Head & Neck Surgery – Otolaryngology, Fourth
Edition, Volume two, Lippincott Williams & Wilkins, 2006, p : 1356-1365
b. Alper C., Myers E N., Eibling., Decicion Making In Ear, Nose, and Throat
Disorders, Saunders Company, 152-153., 2001
c. Becker W., Nauman H H., Pfaltz R C., Ear, Nose, and Throat Diseases,
Thieme, 299-387., 1194
d. Topazian Richard G, Morton H Goldberg, James R hupp. Oral and
Maxillofacial Infection, 4th ed;Philadelphia.
e. Fragiskos D. Frangiskos. Oral Surgery. Greece:Spinger. 2007. h 205-40
f. Gordon W. Pederson. Buku Ajar Praktis Bedah Mulut. Jakarta: EGC.1996

11
MODUL UTAMA
LARING FARING

PERADANGAN RONGGA MULUT


MODUL IV.3.2
MUKOSITIS

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU .......................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1

C. REFERENSI .................................................................................................... 1

D. KOMPETENSI ................................................................................................ 2

E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS & DISKUSI...................................................................... 3

G. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 3

H. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................ 3

I. EVALUASI ..................................................................................................... 3

K. DAFTAR TILIK .............................................................................................. 5

L. MATERI PRESENTASI ................................................................................. 6

M. MATERI BAKU.............................................................................................. 6

N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU ............................................................. 11


Modul IV.3.2 - Mukositis

MODUL IV.3.2
LARING-FARING - PERADANGAN RONGGA MULUT : MUKOSITIS

A. WAKTU

Mengembangkan Kompetensi Frekuensi


Sesi di dalam kelasSesi 6 X 60 menit (classroom session)
Pratikum
Sesi Praktik dan pencapaiankompetensi 6 X 60 menit (facilitation and
assessment)

B. PERSIAPAN SESI

1. Materi Mukositis Oral, meliputi:


Slide 1 : Ruang Lingkup
Slide 2 : Anatomi dan Etiopatogenesis
Mukositis OralSlide 3 : Gejala Klinis
Mukositis Oral
Slide 4 : Penegakkan Diagnosis
Mukositis OralSlide 5 : Pengobatan
Mukositis Oral
Slide 6 : Pencegahan Mukositis Oral

2. Contoh Kasus
Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke UGD dengan keluhan
nyeri pada rongga mulut, nyeri menelan sejak 7 hari, dan hanya
bisa makan makanan cair. Rongga mulut tampak kemerahan
disertai bercak putih. Penderita mempunyai riwayat perokok
berat dan telah menjalani pengobatan kemoterapi dan radioterapi
setelah didiagnosis kanker nasofaring 2 tahun yang lalu.

3. Sarana dan Alat Bantu Latih :


• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting) : Poliklinik THT-KL
• Video

C. REFERENSI

1. Myers EN. Cancer of the Head and Neck, Saunders Company;


2001. p.120-4.
2. Wein RO, O’Leary M. Stomatitis. In: Johnson JT, Rosen CA,
editors. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 5th ed.
Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins; 2014. 51: 736-56.
3. Lee KJ. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th
ed. Chan Y, Goddard JC, editors. New York. McGraw Hill;
2016. p.570-1.

1
Modul IV.3.2 - Mukositis

4. Jameson MJ, Levine PA. Neoplasms of the Oral Cavity. In:


Bailey BJ., Johnson JT., Newlands SD., editors. Head and
Neck Surgery- Otolaryngology. 4th Edition. Philadelphia.
Lippincott Williams & Wilkins;2006. 111: 1552-3.
5. Naidu M [Link]. Chemotherapy-Induced and/or Radiation Therapy
Induced Oral Mucositis Complicating the Treatment of Cancer.
Nizam’s Institute of Medical Sciences. Vol. 6, No. 5,
September/October 2004: p. 423-31.

D. KOMPETENSI

1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis mukositis oral berdasarkan
anamnesis,pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan tambahan
yang diperlukan
b. Mampu melakukan tatalaksana mukositis oral.

2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil:
a. Menjelaskan anatomi, etiopatogenesis mukositis oral
b. Mengenali gejala, tanda mukositis oral
c. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang mukositis oral
d. Membuat keputusan klinik untuk pemberian pengobatan
yang tepatserta pencegahan mukositis oral.

E. GAMBARAN UMUM

Mukositis oral merupakan suatu proses peradangan pada mukosa rongga


mulut yang berkaitan dengan radioterapi atau kemoterapi pada penderita
kanker kepala dan leher. Pada kasus mukositis oral yang parah dapat berupa
ulserasi dan menyebabkan gangguan pada fungsi dan integritas rongga mulut.
Insidensi dan keparahan mukositis oral bervariasi tergantung pada pengobatan
terapi kankernya. Insidensi mukositis oral diperkirakan 40% pada pasien
yang menerima kemoterapi standar, 70-90% pada pasien yang menerima
kemoterapi dosis tinggi, pasien yang menjalani transplantasi darah dan sel
stem sumsum tulang dan 80-100% pada pasien yang menjalani terapi radiasi
yang melibatkan daerah orofaring. Studi terbaru menunjukkan, mukositis oral
yang parah terjadi pada 30-60% dari seluruh pasien yang menerima
radioterapi, khususnya untuk kanker kepala dan leher. Diagnosis ditegakkan
berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, sehingga pengobatan yang
tepat dapat diberikan kepada penderita mukositis oral. Pencegahan utama
dengan menjaga kebersihan rongga mulut dan menghindari faktor iritan
mukosa rongga mulut.

2
Modul IV.3.2 - Mukositis

F. CONTOH KASUS & DISKUSI


Contoh Kasus
Seorang laki-laki usia 50 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri
pada rongga mulut, nyeri menelan sejak 7 hari, dan hanya bisa makan
makanan cair. Rongga mulut tampak kemerahan disertai bercak putih.
Penderita mempunyai riwayat perokok berat dan telah menjalani
pengobatan kemoterapi dan radioterapi setelah didiagnosis kanker
nasofaring 2 tahun yang lalu.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN

Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk
:
1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi rongga mulut
2. Mengenali etiopatogenesis, gejala, dan tanda mukositis oral
3. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik tentang mukositis oral
4. Membuat keputusan klinik untuk pemberian pengobatan yang
tepat sertapencegahan mukositis oral.

H. METODE PEMBELAJARAN

1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan
4. Journal Reading
5. Praktik Lapangan (Poliklinik)
6. Bedside Teaching

I. EVALUASI

1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral
sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai
kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi
kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi rongga mulut
• Etiopatogenesis mukositis oral
• Penegakan diagnosis
• Penatalaksanaan
• Follow up

2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan


fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi
dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang
akan diperolehpada saat bedside teaching dan proses penilaian.

3
Modul IV.3.2 - Mukositis

3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk


mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar
dalam bentuk “role-play” dengan teman-temannya (Peer Assisted
Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut,
yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar,
penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan
evaluasi (Peer Assited Evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui
metode bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik
mengaplikasikan penuntun belajar pada model anatomik dan setelah
kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan,
evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation) dan
mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian
Langkah tidak dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien missal
pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada
pasien.
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien).

4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk


mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan
dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki
kekurangan yang ditemukan.

5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan


penuntun belajar.

6. Pendidik/fasilitas:
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai.

7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan


diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical
education).
8. Pencapaian pembelajaran :
• Ujian OSCE (K, P, A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar
olehKolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
• Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing
sentra pendidikan THT-KL lanjut oleh Kolegium Ilmu Kesehatan
THT-KL.
• Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut
oleh Kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.

4
Modul IV.3.2 - Mukositis

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR

Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif

1. Beberapa hal yang tidak dapat digunakan mengatasi mulut kering pada
penderita yang menjalani radioterapi dan kemoterapi:
a. Minum air sesuai kebutuhan
b. Menggunakan air ludah sintesis
c. Menggunakan salep vaselin
d. Mencuci mulut dengan campuran ½ sendok teh baking soda dan atau
¼ - ½ sendok teh garam dalam 1 cangkir air hangat
e. Menghindari faktor iritan mukosa rongga mulut

Jawaban : C

K. DAFTAR TILIK

DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)Prosedur Pemeriksaan Orofaring

Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang


diperaga kan oleh peserta, pada saat melaksanakan status kegiatan atau
prosedu dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar.

X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai


Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar.

T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan


Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih.

Peserta : ……………………. Tanggal : ………………

KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Inform consent
2 Jelaskan tujuan pemeriksaan dan hasil
yang diharapkan
3 Pastikan kelengkapan peralatan telah
tersedia :
- Lampu kepala
- Spatula lidah
- Sarung tangan

5
Modul IV.3.2 - Mukositis

II. PROSEDUR PEMERIKSAAN


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
1 Pasien duduk berhadapan dengan dokter.
2 Pasien diinstruksikan membuka mulut.
3 Perhatikan struktur di dalam cavum oris mulai
dari gigi geligi, palatum, lidah, bukkal. Lihat
ada tidaknya kelainan berupa, pembengkakan,
hiperemis, massa,
atau kelainan kongenital.
4 Lakukan penekanan lidah secara lembut
dengan spatula lidah.
5 Perhatikan struktur arkus anterior dan
posterior, tonsil, dinding dorsal faring.
Deskripsikan kelainan-kelainan yang
tampak.
5 Dengan menggunakan sarung tangan
lakukan palpasi pada daerah mukosa
bukkal, dasar lidah dan daerah palatum
untuk menilai adanya kelainan-kelainan
dalam rongga mulut.

L. MATERI PRESENTASI

• Slide 1 : Ruang Lingkup


• Slide 2 : Anatomi dan Etiopatogenesis Mukositis oral
• Slide 3 : Gejala Klinis Mukositis oral
• Slide 4 : Penegakkan Diagnosis Mukositis oral
• Slide 5 : Pengobatan Mukositis oral
• Slide 6 : Pencegahan Mukositis oral

M. MATERI BAKU

1. Definisi Mukositis oral


Suatu proses peradangan pada mukosa rongga mulut yang berkaitan
dengan radioterapi atau kemoterapi pada penderita kanker kepala dan
leher.

2. Ruang Lingkup
A. Anatomi
Rongga mulut dimulai dari bibir sampai dengan pilar tonsil. Rongga
mulut terdiri dari bibir, mukosa bibir, prosessus alveolar superior dan
Inferior, trigonum retromolar, 2/3 anterior lidah, dasar mulut dan palatum
durum. Bagian atap dibatasi oleh palatum durum dan palatum mole. Dasar
rongga mulut dibagi menjadi dua bagian oleh barisan tulang alveolar dan
gigi yaitu bagian luar berupa vestibulum dan bagian dalam merupakan

6
Modul IV.3.2 - Mukositis

rongga mulut yang sebenarnya. Vaskularisasi dasar rongga mulut berasal


dari arteri lingualis. Persarafan dilayani oleh nervus V2, V3 dan VII.
Drainase kelenjar limfe dialirkan menuju limfonodi sekitar parotis dan
jugularis superior.

Gambar 1. Anatomi Rongga Mulut

B. Faktor Risiko
Penderita dengan tumor primer di rongga mulut, orofaring atau
nasofaring yang mendapatkan kemoterapi ataupun radioterapi. Adapun
faktor resiko lainnya :
• Keluhan nyeri dalam rongga mulut sebelum radioterapi
• Kurang diperhatikannya perawatan kebersihan mulut
sebelum,selama dan setelah radioterapi
• Perubahan pengecapan
• Cacat fungsi seperti pada saat makan, minum, menelan dan bicara
• Kekurangan gizi.

Faktor risiko tambahan adalah :


• Jenis kanker
• Letak kanker
• Zat antineoplastik yang digunakan
• Dosis
• Jadwal pemberian zat
• Daerah radiasi
• Umur pasien
C. Etiopatogenesis
Reaksi jaringan terhadap trauma akibat radiasi atau kemoterapi.

7
Modul IV.3.2 - Mukositis

Beberapa literatur membagi patogenesis mukositis oral akibat


radioterapi dan kemoterapi menjadi 5 fase, yaitu :
1. Fase inisiasi
2. Fase peningkatan regulasi inflamasi
3. Fase massaging, signaling dan amplifikasi
4. Fase ulserasi
5. Fase penyembuhan.

Ada pula yang membagi fase mukositis dalam 4 fase, antara lain :
1. Fase inflamasi
2. Fase epitelial
3. Fase ulserasi/bakterial
4. Fase penyembuhan.

D. Diagnosis
1) Anamnesis :
Penderita mengeluh nyeri pada rongga mulut disertai nyeri menelan,
hanya bisa makan makanan cair, rasa nyeri odynodysphagia,
dysgeusia, yang berakibat timbulnya dehidrasi dan malnutrisi karena
menurunnya asupan gizi dan derajat kesehatan mulut serta
meningkatkan risiko infeksi lokal dan sistemik.

2) Pemeriksaan fisik :
Didapatkan karakteristik berupa eritema pada mukosa kemudian
edema pada mukosa, berlanjut pada pengelupasan mukosa, Mukositis
oral dapat meluas sampai palatum mole, mukosa hipofaring, dasar
mulut, mukosa pipi, dasar lidah, bibir dan bagian belakang lidah.
Mukositis oral derajat berat disebut juga ulcerative atau
pseudomembrane mucositis (ulserasi yang ditutupi pseudomembran
dan eksudat).

8
Modul IV.3.2 - Mukositis

Adapun guidelines untuk assessmen mukositis oral:

Derajat keparahan mukositis oral memakai beberapa skaladiantaranya :

9
Modul IV.3.2 - Mukositis

WHO, World Health Organization, RTOG, Radiation Therapy Oncology Group, CTCAE
(NCI), Common Terminology Criteria for Adverse Events (National Cancer Institute)

E. Terapi
1) Medikamentosa
Pemberian obat topikal anestesi dan analgetik, suspensi pelindung mukosa
rongga mulut (suspensi sukralfat)

2) Oral hygiene
Direkomendasikan protokol perawatan oral, meliputi gosok gigi dengan sikat
gigi halus, berkumur dengan larutan air garam dan sodium bikarbonat.
Beberapa hal yang dapat dipakai untuk mengatasi mulut kering adalah minum
air sesuai kebutuhan, menggunakan produk artifisial seperti air ludah sintesis.
Mencuci mulut dengan campuran ½ sendok teh baking soda dan atau ¼ - ½
sendok teh garam dalam 1 cangkir air hangat beberapa kali sehari untuk
membersihkan, melumasi jaringan rongga mulut dan menetralkan suasana
lingkungan rongga mulut.

Berdasarkan tinjauan literatur yang komprehensif oleh Mucositis Study Group


of the Multinational Association for Supportive Care in Cancer and the
International Society of Oral Oncology (MASCC/ISOO), maka dapat digunakan
panduan klinis sebagai berikut :
1. Dukungan nutrisi
2. Pengendalian nyeri
3. Dekontaminasi mulut
4. Paliasi mulut kering
5. Penatalaksanaan perdarahan oral
6. Terapi intervensi untuk mukositis oral.

10
Modul IV.3.2 - Mukositis

F. Pencegahan
Dengan menjaga kebersihan rongga mulut serta
perlindungan awal terhadap mukosa rongga mulut,
perlindungan terhadap obat kemoterapi dan radiasi,
menghindari faktor iritan mukosa rongga mulut seperti
konsumsi tembakau, alkohol, makanan pedas serta asam
diharapkan dapat memperlambat terjadinya mukositis.
Pemenuhan gizi juga menjadi faktor penting, penderita
dianjurkan makan makanan lunak.

N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU

1. Myers EN. Cancer of the Head and Neck, Saunders Company;


2001. 120-124.
2. Wein RO, O’Leary M. Stomatitis. In: Johnson JT, Rosen CA,
editors. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. 5th ed.
[Link] Williams & Wilkins; 2014. p.736-56.
3. Lee KJ. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th
ed. Chan Y, Goddard JC, editors. New York. McGraw Hill;
2016. p.570-1.
4. Jameson MJ, Levine PA. Neoplasms of the Oral Cavity. In:
Bailey BJ., Johnson JT., Newlands SD., editors. Head and Neck
Surgery- Otolaryngology. 4th Edition. Lippincott Williams &
Wilkins; 2006. 111: 1552-3.
5. Naidu M [Link]. Chemotherapy-Induced and/or Radiation Therapy
Induced Oral Mucositis Complicating the Treatment of Cancer.
Nizam’s Institute of Medical Sciences. Vol. 6, No. 5,
September/October 2004: p. 423-431.

11
MODUL UTAMA
LARING FARING

PERADANGAN RONGGA MULUT


MODUL IV.3.3
STOMATITIS

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG
TENGGOROKBEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU .......................................................................................................... 1
B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1
C. REFERENSI ................................................................................................... 1
D. KOMPETENSI ............................................................................................... 1
E. GAMBARAN UMUM.................................................................................... 2
F. CONTOH KASUS & DISKUSI ..................................................................... 2
G. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 2
H. METODE PEMBELAJARAN........................................................................ 3
I. EVALUASI ..................................................................................................... 3
J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR ........................ 4
K. DAFTAR TILIK ............................................................................................. 5
L. MATERI PRESENTASI ................................................................................. 6
M. MATERI BAKU ............................................................................................. 6
N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU............................................................. 14
Modul IV.3.3 – Stomatitis

MODUL IV.3.3
LARING-FARING - PERADANGAN RONGGA MULUT : STOMATITIS

A. WAKTU

Mengembangkan Kompetensi Frekuensi:


Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Praktikum
Sesi Praktik dan pencapaian 6 X 60 menit (facilitation and
kompetensi assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi Stomatitis, meliputi:
a. Etiologi stomatitis
b. Stomatitis terkait terapi
c. Stomatitis terkait infeksi
d. Stomatitis terkait imunologi
e. Stomatitis terkait kondisi sistemik
f. Stomatitis terkait nutrisi
g. Stomatitis idiopatik
h. Stomatitis pada anak-anak
2. Kasus : Stomatitis (epidemiologi dan masalahnya/magnitude of
the problem)
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting): Poliklinik THT-KL

C. REFERENSI
a. Wein RO, O’Leary M. Stomatitis. In: Johnson JT, Rosen CA,
editors. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol 1.
5th ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins; 2014.
p.736-56.
b. Adams GL, Boies Jr, LR, Hilger PA. Boies Fundamentals of
Otolaryngology. 8th Ed. Philadelphia. WB Saunders Company;
1997. p. 290-8.
c. Lee KJ. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th
ed. Chan Y,Goddard JC, editors. New York. McGraw Hill; 2016.
p.570-1.

D. KOMPETENSI
Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis stomatitis berdasarkan anamnesis,
pemeriksaanfisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan
b. Mampu melakukan tatalaksana stomatitis.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta didik diharapkan terampil :

1
Modul IV.3.3 – Stomatitis

a. Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan


dengan stomatitis
b. Mengenali gejala dan tanda stomatitis
c. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang stomatitis
d. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang
e. Membuat keputusan klinik untuk tatalaksana stomatitis dengan
tepat.

E. GAMBARAN UMUM
Stomatitis merupakan suatu proses peradangan dan kerusakan permukaan
mukosa rongga mulut dan biasanya menimbulkan keluhan. Lokasinya bisa
meluas sampai ke daerah orofaring atau daerah perioral eksternal. Etiologinya
bermacam-macam diantaranya infeksi, proses imunologi, kondisi sistemik,
gangguan nutrisi, akibat terapi, maupun idiopatik. Gambaran klinisnya
bervariasi, mulai dari yang terlokalisir sampai manifestasi yang berat
(fulminan) dan dapat memberikan gambaran seperti eritema mukosa,
hiperkeratosis, ulserasi, pseudomembran, dan atau pembentukan vesikel.
Penatalaksanaan meliputi pemberian medikamentosa, oral hygiene,
menghilangkan faktor pencetus atau penyakit dasarnya serta pemberian
pengobatan simptomatisnya.

F. CONTOH KASUS & DISKUSI


Seorang wanita, 45 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan luka
disudut mulut yang berulang. Luka dirasakan sangat nyeri, sehingga penderita
kesulitan untuk makan. Pasien juga datang dengan keluhan badan lemas, mata
berkunang-kunang, dan sering berdebar.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk
alih pengetahuan, ketrampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan
tindakan yang tepat terhadap penderita stomatitis, seperti yang telah
disebutkan diatas, yaitu
a. Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan stomatitis
b. Mengenali gejala dan tanda stomatitis
c. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang stomatitis
d. Melakukan keputusan untuk pemeriksaan penunjang
e. Membuat keputusan klinik untuk tatalaksana stomatitis dengan tepat.

2
Modul IV.3.3 – Stomatitis

H. METODE PEMBELAJARAN
A. Literatur Reading
B. ReferatBimbingan
C. Journal Reading
D. Praktik Lapangan (Poliklinik)
E. Bedside Teaching

I. EVALUASI
Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan
oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk
menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk
mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi rongga mulut
• Penegakan diagnosis
• Komplikasi dan penanganannya
• Follow up

Selanjutnya dilakukan small group discussion bersama dengan


fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi,
membahas isi dan hal-hal yang berkenan dengan penuntun belajar,
kesempatan yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan
proses penilaian.

Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan


untuk mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam
penuntun belajar dalam bentuk role-play dengan teman-temannya
(peer assisted learning) atau kepada SP (standardized patient). Pada
saat tersebut, yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa
penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya
untuk melakukan evaluasi (peer assited evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metode bedside teaching di bawah
pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun
belajar pada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai
peserta didik akan diberikan kesempatan untuk melakukannya pada
pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator melakukan
pengawasan langsung (direct observation) dan mengisi formulir
penilaian sebagaiberikut :
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian
langkah tidak dilaksanakan
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal
pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi
kenyamanan kepada pasien
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien).
Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk
mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak

3
Modul IV.3.3 – Stomatitis

memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan


untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan


mempergunakanpenuntun belajar.

Pendidik/fasilitas :
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
form (terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik/diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/tidak cakap/lalai.

Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan


diberitugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical
educcation).

Pencapaian pembelajaran :
• Ujian OSCE (K, P, A) dilakukan pada tahapan THT-KL
dasar olehkolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
• Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing
sentra pendidikan THT-KL lanjut oleh kolegium Ilmu Kesehatan
THT-KL.
• Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL
lanjut olehkolegium Ilmu Kesehatan THT-KL.
• Ujian akhir profesi.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR


Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
1. Yang termasuk treatment-related stomatitis adalah:
a. Stomatitis angularis
b. Stomatitis herpetiformis
c. Stomatitis ulseratif
d. Graft Versus Host Disease
e. Stomatitis candida
Jawaban : D

2. Stomatitis akibat infeksi yang paling sering ditemukan adalah


stomatitisyang disebabkan oleh:
a. HIV
b. Jamur kandida
c. HSV
d. Tuberkulosis
e. Jamur non kandida
Jawaban : B

4
Modul IV.3.3 – Stomatitis

2. Instrumen Penilaian Kompetensi Psikomotor

K. DAFTAR TILIK

DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan
(Ujian Akhir)Prosedur Pemeriksaan
Orofaring
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang
diperagakan oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur,
dengan ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar

X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai


Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar

T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan


Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

Peserta : ……………………. Tanggal : ………………

KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Inform consent
2 Jelaskan tujuan pemeriksaan dan hasil
yang diharapkan
3 Pastikan kelengkapan peralatan telah
tersedia :
- Lampu kepala
- Spatula lidah
- Sarung tangan
II. PROSEDUR PEMERIKSAAN
1 Pasien duduk berhadapan dengan dokter.
2 Pasien diinstruksikan membuka mulut.

KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
3 Perhatikan struktur di dalam cavum oris
mulai dari gigi geligi, palatum, lidah,
bukkal. Lihat ada tidaknya kelainan
berupa, pembengkakan, hiperemis,
massa, atau kelainan kongenital.

5
Modul IV.3.3 – Stomatitis

4 Lakukan penekanan lidah secara lembut


dengan spatula lidah.
5 Perhatikan struktur arkus anterior dan
posterior, tonsil, dinding dorsal faring.
Deskripsikan kelainan-kelainan yang
tampak.
5 Dengan menggunakan sarung tangan
lakukan palpasi pada daerah mukosa
bukkal, dasar lidah dan daerah palatum
untuk menilai adanya kelainan-kelainan
dalam rongga mulut.

L. MATERI PRESENTASI

• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Etiologi dan macam kelainan yang berhubungan dengan
stomatitis
• Slide 3. Gejala dan tanda stomatitis
• Slide 4. Penatalaksanaan stomatitis

M. MATERI BAKU
Definisi Stomatitis
Stomatitis merupakan suatu proses peradangan dan kerusakan
permukaanmukosa rongga mulut dan biasanya menimbulkan
keluhan.

Ruang Lingkup
i. Faktor Risiko
Oral hygiene dan penyakit sistemik
j. Etiology
Treatment-related (akibat terapi infeksi, proses imunologi,
kondisi sistemik, gangguan nutrisi,maupun idiopatik.
k. Diagnosis
1) Anamnesis :

Penderita mengeluh timbul luka, nyeri di rongga mulut,


maupun nyeri menelan. Beberapa dapat disertai gejala
sistemik seperti demam, diare, dan gejala penyerta lainnya.

2) Pemeriksaan fisik :
Gambaran klinisnya bervariasi, mulai dari yang terlokalisir
sampai manifestasi yang berat (fulminan) dan dapat
memberikan gambaran seperti eritema mukosa,
hiperkeratosis, ulserasi, pseudomembran, dan atau
pembentukan vesikel.

6
Modul IV.3.3 – Stomatitis

3) Pemeriksaan penunjang :
KOH swab, pengecatan Gram, Darah lengkap, LED,
dan pemeriksaan imunologi lain.

4) Penatalaksanaan meliputi pemberian medikamentosa,


oral hygiene, menghilangkan faktor pencetus atau
penyakit dasarnya serta pemberian pengobatan
simptomatisnya.

a) Treatment-related stomatitis
Kondisi ini dapat terjadi akibat berbagai macam terapi, namun paling
sering adalah akibat terapi kanker (kemoterapi dan radioterapi). Yang
termasuk dalam treatment-related stomatitis ini antara lain Graft
Versus Host Disease (GVHD) dan reaksi likenoid.

• Graft Versus Host Disease (GVHD)


Graft Versus Host Disease (GVHD) dapat terjadi akut (diperantarai
CD8) atau kronis (diperantarai CD4). Dengan manifestasi
xerostomia, ulserasi, gangguan pengecapan dan infeksi jamur
berulang. Terapi untuk GVHD ini adalah imunosupresan non
spesifik.

Gambar 1. GVHD dengan riwayat transplantasi bone marrow.

• Reaksi Likenoid
Reaksi likenoid merupakan suatu respon imunologis terhadap
rangsangan lokal maupun sistemik. Reaksi likenoid dapat muncul
sebagai stomatitis kontak, yang terlihat pada mukosa bukal yang
berhadapan dengan amalgam gigi. Selain itu, stomatitis kontak
likenoid dilaporkan juga pada bumbu kayu manis, mints dan
mouthwashes. Reaksi likenoid juga dapat timbul sebagai reaksi obat
pada permulaan pengobatan. Obat oral yang paling sering
menyebabkan reaksi likenoid adalah NSAID, anti hipertensi dan
anti retroviral pengobatan HIV.

Terjadinya reaksi likenoid sangat bervariasi, biasanya terjadi dalam


2 sampai 3 bulan setelah memulai pengobatan. Terapi berupa oral
hygiene dan menghilangkan agen penyebab.

7
Modul IV.3.3 – Stomatitis

Gambar 2. Reaksi likenoid kontak dengan amalgam.

b) Stomatitis infeksi
Agen penyebab stomatitis karena infeksi antara lain jamur (kandida dan
non kandida), virus (HSV, HIV-associated), dan tuberkulosis. Insiden
yang paling sering adalah stomatitis karena jamur kandida.

• Kandidiasis
Pertumbuhan berlebih jamur kandida pada rongga mulut
disebabkan karena faktor lokal maupun sistemik.
Manifestasi klinis kandidiasis dibagi menjadi 5 kategori.

Kandidiasis eritematosus merupakan presentasi klinis yang


paling sering ditemukan disamping bentuk lain seperti
pseudomembran candidiasis (thrush), acute atrophic
candidiasis (antibiotic sore mouth), chronic hyperplastic
candidiasis (candidal leukoplakia), kandida yang
berhubungan dengan diagnosis yaitu actinic cheilitis, median
thromboid glossitis dan linear ginggival erythema.

Gambar 3. Erythemathous candidiasis, termasuk gambaran


angular cheilitis.

8
Modul IV.3.3 – Stomatitis

Gambar 4. Pseudomembran candidiasis (thrush), tampak lesi


berwarna putih menyerupai gumpalan keju atau susu pada
mukosa bukal.

Gambar 5. Chronic hyperplastic candidiasis (candidal


leukoplakia),
tampak bercak putih yang melekat erat dan tidak dapat dikerok.

Diagnosis dapat ditegakkan hanya dengan pemeriksaan klinis


atau memerlukan penunjang dengan ditemukan pseudo hifa
dengan blastosis. Pengobatan diberikan dengan pengobatan anti
jamur secara topikal dan sistemik. Obat topikal anti jamur yang
dapat diberikan mikonazol, nistatin, amfoterisin B, dan
ketoconazole. Obat oral anti jamur diantaranya flukonazol,
ketokonazol, dan itrakonazol dengan durasi pengobatan
bervariasi sekitar 2 sampai 3 minggu.

• Jamur Non Kandida


Manifestasinya serupa dengan oral kandidiasis. Agen penyebab
yang paling sering paracoccidium micosis, histoplasmosis dan
mucormicosis. Terapi yang digunakan pemberian anti jamur.

• Stomatitis karena virus herpes simpleks


Paling sering disebabkan oleh virus HSV1 dengan presentasi
klinis berupa vesikel jernih kekuningan yang timbul setelah
gejala prodromal. Vesikel mengandung virus aktif dengan lokasi
paling sering pada ginggiva, palatum durum, dan di bibir daerah
batas vermilion. Terapinya dengan anti viral topikal maupun
sistemik.

9
Modul IV.3.3 – Stomatitis

Gambar 6. Herpes ulserasi pada palatum durum.

• Stomatitis terkait infeksi HIV


Gambaran klinis yang paling sering pada penderita HIV
positif adalah pseudo membran. Citomegalo virus dan
Epstein-Barr virus merupakan agen penyebab infeksi
oportunistik karena virus pada infeksi HIV. Terapinya
dengan perbaikan sistem imun dengan pemberian anti retro
viral.

Gambar 7. Stomatitis pada infeksi HIV.

• Stomatitis terkait infeksi Tuberkulosis


Meskipun jarang, infeksi primer tuberkulosis paru dapat
menyebar ke daerah kepala leher. Presentasi klinisnya
bervariasi, dapat berupa ulserasi kronis yang sulit sembuh
atau massa sub mukosa yg diskrit. Diagnosa ditegakkan
dengan biopsi dengan gambaran reaksi granulomatus dan
ditemukannya micobakterium. Terapi dengan obat anti
tuberkulosis.

c) Stomatitis terkait imunologi


Lesi dapat dikelompokkan menjadi 2 yaitu vesiko bulosa
dan ulseratif kronik.
1. Lesi vesikulo bulosa
Kelainan yang termasuk dalam lesi ini, pemfigoid
mukus membran, pemfigoid bulosa, dan epidermolisis
bulosa (ketiganya tersebut terletak di sub mukosa), serta
pemfigus vulgaris yang terletak di intra mukosa. Terapi
secara umum diberikan imunosupresi sistemik dengan
kortikosteroid sebagai pilihan utama.

10
Modul IV.3.3 – Stomatitis

Gambar 8. Deskuamasi gingivitis pada pemfigoid mukus


membran

Gambar 9. Manifestasi kutaneus pemfigoid bulosa

Gambar 10. Pemfigus vulgaris

Gambar 11. Deskuamasi gingivitis dan cheilitis pada


pemphigus vulgaris

11
Modul IV.3.3 – Stomatitis

2. Lesi ulseratif kronis


Kelainan ini jarang ditemukan. Dengan presentasi khas yang
berupa ulkus yang nyeri di daerah lidah dan paling sering
terjadi pada wanita post menopause. Kelainan ini
memberikan respon yang baik terhadap hidroksi klorokuin.

a. Stomatitis karena kondisi sistemik


Beberapa kondisi sistemik yang dapat menyebabkan kelainan
pada rongga mulut antara lain penyakit lupus, inflamatory
bowel disease (IBD), kehamilan, penyakit Behcet, sarcoidosis
dan kelainan hematologi (leukemia atau limfoma).

b. Stomatitis karena gangguan nutrisi


Paling sering disebabkan oleh defisiensi besi dan vitamin yang
larut dalam air. Manifestasi klinisnya serupa yaitu cheilitis
angularis dan atropi glositis. Pada defisiensi vitamin C kelainan
berupa ginggivitis hemoragik dengan hipertrofi serta
perdarahan submukosa (petekie).

c. Stomatitis idiopatik
Beberapa contohnya antara lain recurrent apthous stomatitis
(RAS), oral liken planus, dan eritema migran.. RAS
didefinisikan sebagai ulkus berulang yang terbatas pada mulut
dan terlihat tanpa adanya penyakit sistemik. RAS biasanya
pertama kali muncul di masa kanak-kanak dan mereda pada
dekade ketiga kehidupan. Prevalensi berkisar 5% sampai 21%
dan insiden yang lebih rendah terjadi pada perokok. Lebih
sering terjadi pada wanita. pada orang Kaukasia, dan pada orang
dari status sosial ekonomi tinggi. Manifestasi klinis RAS
diklasifikasikan menjadi ulkus aftosa minor, ulkus aftosa mayor
dan uklus herpetiformis. Penatalaksanaan dengan steroid topikal
dalam bentuk krim atau mouthwash.

Gambar 12. RAS ulkus aftosa minor, ukuran diameter ulkus <1cm

12
Modul IV.3.3 – Stomatitis

Gambar 13. RAS ulkus aftosa mayor, ukuran dimater >1cm

Gambar 14. RAS ulkus herpetiformis,lesi multipel (> 20)

E. Stomatitis pada anak-anak


Kelainan stomatitis yang khas pada anak-anak adalah sindroma
marshal dan granuloma eusinofilik traumatik atau penyakit Riga-
Fede.

Sindroma marshal paling sering terjadi pada anak usia dibawah


5 tahun dengan penyebab tidak diketahui dan gejalanya berupa
demam, aphthous stomatitis, faringitis dan adenitis. Sindroma ini
dapat terjadi selama 4 tahun yang hilang timbul atau periodik.
Terapi dengan pemberian steroid dan cimetidin. Tonsilektomi
bisa disarankan pada yang tidak berespon dengan
medikamentosa.

Penyakit Riga-Fede terjadi pada bayi baru lahir (newborn)


akibat pertumbuhan gigi neonatal dengan lesi berupa ulserasi
pada daerah permukaan ventral lidah dan atau frenulum lidah.
Penatalaksanaannya berupa pencabutan gigi dan pemberian
steroid topikal.

13
Modul IV.3.3 – Stomatitis

N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


a. Wein RO, O’Leary M. Stomatitis. In: Johnson JT, Rosen CA,
editors. Bailey’s Head and Neck Surgery-Otolaryngology. Vol
1. 5th ed. Philadelphia. Lippincott Williams & Wilkins; 2014.
p.736-56.
b. Adams GL, Boies Jr, LR, Hilger PA. Boies Fundamentals of
Otolaryngology. 8th Ed. Philadelphia. WB Saunders Company;
1997. p. 290-8.
c. Lee KJ. Essential Otolaryngology Head and Neck Surgery. 11th
ed. Chan Y, Goddard JC, editors. New York. McGraw Hill;
2016. p.570-1.

14
MODUL UTAMA
LARING FARING

PERADANGAN RONGGA MULUT


MODUL IV.4
TONSILITIS

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ....................................................................................................... 2
B. PERSIAPAN SESI ....................................................................................... 2
C. REFERENSI ................................................................................................. 2
D. KOMPETENSI ............................................................................................. 3
E. GAMBARAN UMUM ................................................................................. 3
F. CONTOH KASUS & DISKUSI................................................................... 3
G. TUJUAN PEMBELAJARAN ...................................................................... 3
H. METODE PEMBELAJARAN ..................................................................... 4
I. EVALUASI .................................................................................................. 4
J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR...................... 5
K. DAFTAR TILIK ........................................................................................... 8
L. MATERI PRESENTASI .............................................................................. 9
M. MATERI BAKU......................................................................................... 10
N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU .......................................................... 20
Modul IV.4 - Tonsilitis

MODUL IV.4
LARING-FARING – TONSILITIS

A. WAKTU

Mengembangkan Kompetensi Frekuensi


Sesi di dalam kelas 8 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian 35 X 60 menit (facilitation and
kompetensi assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi TONSILITIS, meliputi:
Slide 1: Anatomi, histopatologi dan fisiologi tonsil dan cincin Waldeyer
Slide 2: Etio-patogenesis terjadi tonsilitis
Slide 3: Penatalaksanaan tonsilitis
Slide 4: Indikasi dan kontraindikasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi
Slide 5: Teknik operasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi
Slide 6: Perawatan pasca tonsilektomi dan atau adenoidektomi
Slide 7: Komplikasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi
2. Contoh Kasus :
Tonsilitis kronik
Seorang laki-laki, 10 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan nyeri
tenggorok sejak 4 hari lalu. Keluhan disertai demam dan batuk. Keluhan seperti
ini dikeluhkan sejak 5 tahun lalu hilang timbul, dalam 1 tahun > 6 kali. Riwayat
tidur mengorok +. Masih bisa makan dan minum. Pemeriksaan fisik: Tonsil
hiperemis dan hipertrofi bilateral (ukuran T3-T3), detritus+/+, kripta melebar
+/+.
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Alat pemeriksaan THT rutin dan set tonsilektomi
• Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.

C. REFERENSI
1. Bailey B. J. Adenotonsilar Disease in Children In : Head and Neck Surgery
Otolaryngology. Fourth Edition. Texas. Lippincott Williams & Wilkins. 2014 :
1430-1441.
2. Bailey B. J. Tonsillectomy, Adenoidectomy, and UPPP. In : Pediatric and
General Otolaryngology. 2001 : 858-63.
3. Adams G. L. Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring. Dalam : Highler B.
A. Boeis Buku Ajar Penyakit THT-KL. Edisi 6. Jakarta. EGC. 1997 : 327-40.
4. Rusmarjono, Soepardi E. Penyakit Serta Kelainan Faring dan Tonsil. Dalam :
Soepardi E, Iskandar N. Buku ajar ilmu kesehatan THT-KL-KL. Ed 7. Jakarta.
Balai Penerbit FKUI, 2007: 183-4.
5. Safar P, Escarraga LA, Chang F. Upper airway obstruction in the unconscious
patient. J Appl Physiol 1959;14:760-4.

2
Modul IV.4 - Tonsilitis

6. Ballenger J. J. Tonsil. Dalam : Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala


dan Leher. Edisi 13. Jakarta. Binarupa Aksara. 1994 : 352-7.
7. Lore M. J, Medina J. E. Tonsillectomy and Adenoidectomy. In : An Atlas of
Head and Neck Surgery. Fourth Edition. New York. Elsevier Saunders. 2005 :
770-2
8. Dhingra PL. Tonsillitis. Dalam: Disease of Ear, Nose and Throat. 6th Ed. New
Delhi. Elsevier. 2015: 239-43

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis tonsilitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan
b. Mampu melakukan tatalaksana tonsilitis

2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
a. Menjelaskan anatomi, histologi dan fisiologi tonsil
b. Menjelaskan etiologi dan patofisiologi tonsilitis
c. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan tentang tonsilitis
d. Melakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan seperti: kultur & test
resistensi apus tenggorok, laboratorium darah dan ASTO
e. Mampu tatalaksana medikamentosa tonsilitis
f. Mampu melakukan tonsilektomi dan atau adenoidektomi

E. GAMBARAN UMUM
Tonsil merupakan salah satu jaringan limfoid (cincin Waldeyer) yang sering
mengalami infeksi. Infeksi pada tonsil sering berulang yang mengakibatkan
hipertrofi tonil dan mengakibatkan komplikasi lokal (seperti otitis media dan abses
leher dalam) maupun komplikasi sistemik (endokarditis, glomerulonefritis dan
artritis). Tatalaksana tonsilitis berupa konservatif dan operatif.

F. CONTOH KASUS & DISKUSI


Seorang laki-laki, 10 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan nyeri
tenggorok sejak 4 hari lalu. Keluhan disertai demam dan batuk. Keluhan seperti ini
dikeluhkan sejak 5 tahun lalu hilang timbul, dalam 1 tahun > 6 kali. Riwayat tidur
mengorok +. Masih bisa makan dan minum. Pemeriksaan fisik: Tonsil hiperemis
dan hipertrofi bilateral (ukuran T3-T3), detritus+/+, kripta melebar +/+.
G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi cincin Waldeyer
2. Menjelaskan etiologi, patofisiologi dan histopatologi tonsilitis
3. Menjelaskan gambaran klinis dan terapi tonsilitis
4. Mampu mendiagnosis tonsilitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang
5. Mampu tatalaksana konservatif
6. Mampu melakukan tonsilektomi dan atau adenoidektomi
7. Mampu melakukan tatalaksana komplikasi tonsilektomi dan atau adenoidektomi
8. Mampu melakukan perawatan pasca tonsilektomi dan atau adenoidektomi

3
Modul IV.4 - Tonsilitis

H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan Referat
4. Jurnal Reading
5. Praktik Lapangan (Poliklinik)
6. Skills Lab
7. Praktik Lapangan (OK)
8. Bedside Teaching

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay, oral, Mini CEX,
CbD, sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai
kinerja awal. Yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi
kekurangan yang ada. Materi pre test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi tonsil
• Penegakan Diagnosis
• Terapi (teknik operasi)
• Komplikasi dan penanganannya
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasiliator untuk
membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal yang
berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada saat
bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, peserta didik diwajibkan untuk,
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assited learning) atau kepada SP
(standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan : membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh
teman-temannya untuk : melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching dibawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut.
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien misal pemeriksaan
terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
• Baik : pelaksanaan benar dan baik ( efisien )
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

4
Modul IV.4 - Tonsilitis

5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun


belajar.
6. Pendidik/fasilitas:
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation check list form
(terlampir)
• Penjelasan lisan dari eserta didik/diskusi
• Kriteria penelian keseluruhan : cakap/tidak cakap/lalai
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas yang
dapat memperbaiki kinerja (taks-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
• Ujian post test, DOPS
• Ujian OSCE

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR


1. Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
1. Apakah diagnosis yang paling mungkin pada kasus ini?
a. Tonsilitis Akut
b. Rinofaringitis akut
c. Tonsilitis kronis
d. Hipertrofi tonsil
e. Adenoiditis

Jawaban: C

2. Pada pasien tersebut di atas dilakukan pemeriksaan fisik dan didapati tonsil
T3-T3 dengan muara kripte melebar dan detritus jika ditekan, plika anterior
tampak hiperemis, dan dari palpasi didapati pembesaran limfono di
cervialis, maka manajemen pada pasien ini adalah :
a. Dilakukan pengobatan dengan analgetik sistemik
b. Disarankan untuk tonsilektomi
c. Disarankan untuk adenoidektomi
d. Diterapi antibiotic golongan kuinolon

Jawaban: B

3. Of the following is not part of the summary statement from the 2010
ClinicalPractice Guideline on Tonsillectomy?
a. In children with abnormal polysomnography and hypertrophic tonsils,
tonsillectomy can provide a means to improve health.
b. Children undergoing tonsillectomy do not need perioperative
antibiotics .
c. Children undergoing tonsillectomy will benefit from perioperative
antibiotics .
d. Clinicians should evaluate their rates of primary and secondary
postoperative hemorrhage annually.
e. A single dose of intraoperative intravenous dexamethasone during
tonsillectomy

5
Modul IV.4 - Tonsilitis

Jawaban: C

4. What is the best treatment option?


a. Observation with symptomatic treatment of fever and sore throat
b. One-week course of amoxicillin
c. Admit to the hospital for IV antibiotics until afebrile for at least 4 8
hours, and then
d. switch to an oral antibiotic such as amoxicillin and claculanic acid
e. Excisional lymph node biopsy with systemic chemotherapy

Jawaban: A

5. Which of the following is the next appropriate step in management?


a. Confirmation with GABHS culture on blood agar
b. Symptomatic therapy
c. Treatment with amoxicillin
d. Treatment with azithromycin
e. Treatment with acetaminophen

Jawaban: C

6. What is the best diagnostic procedure?


a. Fine-needle aspirate biopsy
b. Small incisional biopsy of single node with frozen sections and
cultures
c. Biopsy with permanent hematoxylin/ eosin sections, and
immunohistochemistry andcytogenetics studies
d. Needle aspirate of enlarged node with fungal and atypical
mycobacterial cultures

Jawaban: C

2. Instrumen Penilaian Kompetensi Psikomotor

PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR TONSILEKTOMI DISEKSI-JERAT

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya
atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika
harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi di luar normal
3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang
sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

6
Modul IV.4 - Tonsilitis

NAMA PESERTA: ...................................... TANGGAL: .................................

KEGIATAN KASUS
I. PERSIAPAN OPERASI
1. Informed consent
2. Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan
3. Jelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien/
keluarganya
4. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
II. PROSEDUR OPERASI
1. Pasien dalam posisi terlentang, kepala ekstensi.
2. Dipasang mouth gag Davis sesuai dengan ukuran rongga
mulut pasien.
3. Pole atas tonsil dipegang dengan klem kemudian ditarik
kearah medial
4. Lakukan insisi secara tajam antara massa tonsil dan pillar
dengan menggunakan sickle knife mulai dari pole atas tonsil.
5. Selanjutnya insisi dilanjutkan secara gentle.
6. Kemudian dilakukan diseksi tonsil menggunakan disektor
sampai tinggal pedikel tonsil di pole inferior. Diseksi juga
dapat dilakukan dengan menggunakan electrosurgery/
diathermy, radiofrequency ablation, coblation, harmonic
scalpel, thermal welding, carbon dioxide laser, micro
debrider.
7. Pedikel di klem dengan Negus Artery Forceps, tonsil
digunting.
8. Perdarahan dirawat dengan cara ligasi menggunakan benang
Silk 2-0.
9. Hal yang sama dilakukan pada tonsil sisi kontralateral.
10. Dilakukan evaluasi pada fossa tonsil, bila ada perdarahan
dilakukan hemostasis.
11. Mouth gag Davis dilepas
IV. PASCA OPERASI
1. Observasi jalan nafas, perdarahan, tekanan darah, suhu dan
nadi secara teratur
2. Disarankan pasien tidur miring tanpa bantal
3. Kompres es di sekitar leher
4. Mengawasi terjadinya dehidrasi
5. Pemberian antibiotik segera setelah operasi
6. Pemberian minuman dingin dan makanan lembut untuk
beberapa hari pertama, untuk menghindari terjadinya
perdarahan
7. Medikamentosa
a. Antibiotika oral
b. Analgetika oral
c. Terapi simtomatis sesuai indikasi

7
Modul IV.4 - Tonsilitis

K. DAFTAR TILIK

Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)


DAFTAR TILIK PENILAIAN
PROSEDUR TONSILEKTOMI DISEKSI JERAT
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan
oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini:
ü: Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
Ï: Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar
T/T: Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh
peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

PESERTA: __________________________ TANGGAL :______________

KEGIATAN KASUS
I. PERSIAPAN OPERASI
1. Informed consent
2. Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan
3. Jelaskan prosedur dan standar operasi pada pasien/
keluarganya
4. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi

8
Modul IV.4 - Tonsilitis

KEGIATAN KASUS
II. PROSEDUR OPERASI
1. Pasien dalam posisi terlentang, kepala ekstensi.
2. Dipasang mouth gag Davis sesuai dengan ukuran
rongga mulut pasien.
3. Pole atas tonsil dipegang dengan klem kemudian
ditarik kearah medial
4. Lakukan insisi secara tajam antara massa tonsil dan
pillar dengan menggunakan sickle knife mulai dari
pole atas tonsil.
5. Selanjutnya insisi dilanjutkan secara gentle.
6. Kemudian dilakukan diseksi tonsil menggunakan
disektor sampai tinggal pedikel tonsil di pole
inferior. Diseksi juga dapat dilakukan dengan
menggunakan electrosurgery/ diathermy,
radiofrequency ablation, coblation, harmonic
scalpel, thermal welding, carbon dioxide laser, micro
debrider.
7. Pedikel di klem dengan Negus Artery Forceps, tonsil
digunting.
8. Perdarahan dirawat dengan cara ligasi menggunakan
benang Silk 2-0.
9. Hal yang sama dilakukan pada tonsil sisi
kontralateral.
10. Dilakukan evaluasi pada fossa tonsil, bila ada
perdarahan dilakukan hemostasis.
11. Mouth gag Davis dilepas
IV. PASCA OPERASI
1. Observasi jalan nafas, perdarahan, tekanan darah,
suhu dan nadi secara teratur
2. Disarankan pasien tidur miring tanpa bantal
3. Kompres es di sekitar leher
4. Mengawasi terjadinya dehidrasi
5. Pemberian antibiotik segera setelah operasi
6. Pemberian minuman dingin dan makanan lembut
untuk beberapa hari pertama, untuk menghindari
terjadinya perdarahan
7. Medikamentosa
a. Antibiotika oral
b. Analgetika oral
c. Terapi simtomatis sesuai indikasi

L. MATERI PRESENTASI
• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Ananatomi dan Fisiologi cincin Waldeyer

9
Modul IV.4 - Tonsilitis

• Slide 3. Patogenesa terjadi hipertrofi tonsil


• Slide 4. Indikasi dan KontraindikasiTonsilektomi
• Slide 5. Tehnik Operasi Tonsilektomi
• Slide 6. Perawatan Pasca Tonsilektomi
• Slide 7. Komplikasi Tonsilektomi

M. MATERI BAKU
1. Anatomi, Histologi dan Fisiologi Cincin Waldeyer
Tonsil (faucial atau palatina) berjumlah sepasang, merupakan organ yang
berbentuk oval yang berlokasi di dinding lateral orofaring, di fossa tonsilaris
diantara plika palatoglossus dan plika palatofaringeus.3,4 Organ ini beserta
adenoid merupakan bagian dari lingkaran jaringan limfoid yang disebut cincin
Waldeyer,). Tonsila palatina diliputi oleh selapis tipis epitel yang menjorok
masuk ke dalam parenkimnya membentuk kripte-kripte.5 Diantara kapsula tonsil
dengan otot faring terdapat jaringan ikat yang longgar .Permukaan dalam tonsil
bersinggungan dengan fasia muskulus konstriktor superior. Batas anterior adalah
muskulus palatoglosus (pilar anterior), dan batas posterior adalah muskulus
palatopharyngeus (pilar posterior). Tonsil bisa meluas ke inferior dan
menyambung dengan jaringan tonsil lingual pada dasar lidah.3

Suplai darah tonsil sangat bervariasi, tetapi secara umum disuplai dari arteri
faringeal ascendens, palatina ascendens, dan cabang dari arteri lingual dan fasial,
semua cabang arteri carotis externa. Jarang diperdarahi langsung oleh arteri
carotis externa itu sendiri. Arteri carotis interna berjalan kira-kira 2 cm di
posterolateral dasar tonsil; sehingga pada waktu pembedahan, harus diperhatikan
tempat yang tepat untuk diseksi untuk menghindari cedera pada pembuluh darah.
Saluran limfatik dari tonsil yang utama adalah ke limfonodi cervical superior
dalam dan jugular; dengan demikian penyakit inflamasi dari tonsil merupakan
faktor yang signifikan pada perkembangan abses atau adenitis cervical pada
anak-anak. Inervasi sensoris berasal dari nervus glossopharyngeal dan beberapa
cabang dari nervus palatina lewat ganglion sphenopalatina.3,5

Lokasi anatomi tonsil tersebut mengakibatkan adanya hubungan dengan


penyakit pada tuba eustachius / telinga tengah dan sinus; tetapi tonsil dan
adenoid secara bersama lebih sering mengakibatkan proses penyakit : infeksi
kronik / rekuren dan atau hiperplasia obstruktif.3

Hiperplasia tonsil bisa menyebabkan posisi lidah abnormal, lidah terasa ditusuk-
tusuk, pola bicara yang abnormal, dan perubahan pertumbuhan orofasial dan
kraniofasial. Serupa dengan adenoid, hubungan antara volume orofaring, ukuran
tonsil, dan etiologi obstruksi jalan napas atas merupakan multifaktor dan
berhubungan dengan hiperplasia tonsil, variasi anatomi, dan faktor genetik.3

Struktur histologi tonsil sangat erat hubungannya dengan fungsinya sebagai


organ imunologis. Seperti adenoid, tonsil palatina tidak mempunyai limfatik
aferen tetapi mempunyai 10 sampai 30 invaginasi seperti kripte yang cabangnya
terletak di dalam parenkim tonsil dan dihubungkan dengan epitel squamous

10
Modul IV.4 - Tonsilitis

antigen-processing khusus. Epitel ini bekerja sebagai sistem imun untuk antigen
inhalasi dan ingesti. Epitel kripte mempunya sistem kompleks sel antigen-
processing khusus dan micropores yang mengirim antigen pada cel limfoid aktif
imunologis. Empat zona (atau bagian) yang penting pada proses antigen yaitu:
epitel squamous khusus, area extrafolikuler (area kaya sel T), lapisan folikel
limfoid, dan pusat germinal folikel limfoid (sel B). 3

Tonsil dan adenoid merupakan jaringan limfoid utama pada traktus


aerodigestivus. Keduanya terlibat dalam imunitas lokal maupun sistemik.
Adenoid juga menjadi target organ pada stimulasi alergi, yang dapat berakibat
terjadinya hipertrofi. Efek adenotonsilektomi terhadap keseluruhan integritas
sistem imun hanyalah minimal. Meskipun tidak ditemukan adanya efek samping
setelah ekstirpasi kedua organ ini, namun keduanya memang berperan dalam
fungsi imunitas yang tidak boleh dikesampingkan begitu saja, terutama pada
masa awal kanak-kanak. Sehingga tindakan mengambil adenoid dan
tonsilapalatina harus disertai adanya definisi penyakit klinis yang jelas.3

2. Patofisiologi Tonsilitis
Patogenesis infeksi dan inflamasi pada tonsil dan adenoid dipengaruhi oleh
lokasi tonsil yang letaknya di orofaring, nasofaring dan dasar lidah membentuk
suatu cincin pertahanan imunitas (Waldeyer’s ring). Organ ini akan memproses
antigen virus, bakteri dan mikroorganisme lain, sehingga mudah terkena infeksi
dan pada akhirnya dapat menjadi fokus infeksi. Infeksi virus yang diikuti infeksi
bakteri sekunder mungkin merupakan salah satu mekanisme dari infeksi akut
menjadi infeksi kronis, tetapi hal ini juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan,
pejamu, alergi dan penggunaan antibiotik yang luas dan gizi.1

3. Tonsilitis
Tonsilits dibagi menjadi tonsilitis akut dan tonsilitis kronis.
a. Tonsilitis Akut :
• Acute Catarrhal/ superficial tonsillitis
• Acute follicular tonsillitis
• Acute parenchymatous tonsillitis
• Acute membranous tonsillitis
b. Tonsilitis Kronis :
• Chronic follicular tonsillitis
• Chronic parenchymatous tonsillitis
• Chronic fibroid tonsillitis
• Tonsilitis alergi (lihat di Modul Alergi Imunologi)
Diagnosis banding tonsilitis kronik yaitu hipertrofi tonsil dan tumor tonsil.

4. Tatalaksana Tonsilitis
Tatalaksana tonsilitis berupa medikamentosa dan operatif berupa tonsilektomi
dan atau adenoidektomi. Antibiotika yang diberikan adalah golongan penisilin
masih merupakan terapi pilihan.

11
Modul IV.4 - Tonsilitis

Prosedur pengangkatan tonsila palatina dapat berupa pengangkatan tonsil secara


total (tonsilektomi) atau secara parsial (tonsilotomi). Pada adenoid hipertrofi
dilakukan adenoidektomi.

4.1 Tonsilektomi :
Tonsilektomi didefinisikan sebagai suatu tindakan bedah yang mengangkat
keseluruhan jaringan tonsil palatina, termasuk kapsulnya dengan melakukan
diseksi ruang peritonsiler diantar kapsula tonsil dan dinding muskuler tonsil.
Tindakan ini dapat dilakukan dengan atau tanpa adenoidektomi. 1,2

Indikasi Operasi
a. Obstruksi 3,6,7
Hiperplasia/hipertrofi tonsil yang menyebabkan gangguan berupa:
1) Gangguan bernapas saat tidur.
• Obstructive sleep apnea syndrome
• Upper airway resistance syndrome
• Obstructive hypoventilation syndrome
2) Gagal tumbuh
3) Cor pulmonale
4) Gangguan menelan
5) Gangguan berbicara
6) Abnormalitas orofacial/dental
7) Gangguan limfoproliferatif3

b. Infeksi
1) Tonsilitis rekuren/kronik6,7
2) Tonsilitis dengan :
• Abses nodus cervical
• Obstruksi jalan napas akut
• Penyakit jantung katup
3) Tonsilitis persisten dengan :
• Sore throat persisten
• Nodus cervical yang nyeri
• Halitosis
4) Tonsilolithiasis
5) Status karier streptococcal yang tidak responsif terhadap terapi medis
pada anak-anak atau keluarga yang beresiko6,7
6) Abses peritonsial yang tidak responsif terhadap terapi medis atau pada
pasien dengan tonsilitis rekuren atau abses rekuren3
7) Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam6
8) Terjadi 3 atau lebih infeksi tonsil dalam satu tahun dengan pengobatan
adekuat6

c. Neoplasma

Tersangka neoplasma, baik benigna maupun maligna.5,6


(Cummings, 2005; HTA, 2004; HTA Ireland 2013)

12
Modul IV.4 - Tonsilitis

Ada pula indikasi dengan menggunakan kriteria Paradise 8, yaitu :

1) ≥ 7 episode tonsilitis per tahun dengan pengobatan adekuat


2) ≥ 5 episode tonsilitis per tahun dalam 2 tahun terakhir
3) ≥ 3 episode tonsilitis per tahun dalam 3 tahun berturut-turut

Tonsilitis dengan gejala nyeri tenggorok disertai paling tidak 1 dari gejala
berikut:

1) Demam ≥ 38,3 °
2) Cervical limfadenopati
3) Tonsilar eksudat
4) Positif kultur Streptokokus beta hemolitikus

4.2 Adenoidektomi
Adenoidektomi adalah tindakan pengangkatan adenoid, dapat dilaksanakan
dengan atau tanpa tonsilektomi.

a. Indikasi Adenoidektomi:
1) Hipertrofi Adenoid
2) Adenoiditis yang menyebabkan
• Otitis Media Rekuren
• Sinusitis Akut Rekuren
• Sinusitis Kronik Pada Anak
3) Obstructive Sleep Apnea Syndrome

b. Kontra Indikasi Operasi


1) Kelainan darah, seperti hemofilia, diskrasia darah, anemia
2) Risiko tinggi pembiusan umum (general anesthessia)
3) Palatoskizis

c. Pemeriksaan penunjang
1) Laboratorium darah: Darah rutin, BT, CT dan atau PT, APPT
2) Bila perlu: kultur resistensi (swab tenggorok),
rhinopharyngolaryngoscope (RFL) (lihat Modul Refluks Laringo-
Faring), Foto Kepala AP dan Lateral sentrasi adenoid, polysomnography
(lihat Modul OSAS)
3) Foto rontgen dada, EKG untuk usia lebih dari 35 tahun

d. Teknik Operasi
Terdapat banyak variasi teknik tonsilektomi dan adenoidektomi.
Sejarah pengangkatan tonsil pertama sebagai tindakan medis telah dilakukan
pada abad 1 Masehi oleh Cornelius Celsus di Roma dengan menggunakan
jari tangan6. Selama bertahun-tahun, berbagai teknik dan instrumen untuk
tonsilektomi telah dikembangkan. Sampai saat ini teknik tonsilektomi yang
optimal dengan morbiditas yang rendah masih menjadi kontroversi, masing-
masing teknik memiliki kelebihan dan kekurangan. Di Indonesia teknik

13
Modul IV.4 - Tonsilitis

tonsilektomi yang terbanyak digunakan saat ini adalah teknik Guillotine dan
diseksi.6
Tonsilektomi dapat dilakukan dengan pisau, protected electrocautery
blade, scalpel harmonic, koblasi, mikrodebrider, atau laser. Hemostatis
dapat dilakukan dengan elektrokauter, ligasi, jahitan, maupun thrombin.
Jaringan adenoid dapat dieksisi dengan kuret, adenotom, atau powered
instrument. Seiring waktu berbagai instrumen dan teknik tonsilektomi telah
berkembang, yang pertama kali dikembangkan adalah teknik guillotine di
abad ke-18.10
Tonsilektomi cara guillotine dikerjakan secara luas sejak akhir abad ke
19, dan dikenal sebagai teknik yang cepat dan praktis untuk mengangkat
tonsil. Greenfield Sluder pada sekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20
merupakan seorang ahli yang sangat merekomendasikan teknik Guillotine
dalam tonsilektomi. Beliau mempopulerkan alat Sluder yang merupakan
modifikasi alat Guillotin.5 Hingga kini, di UK tonsilektomi cara guillotine
masih banyak digunakan. Hingga dikatakan bahwa teknik Guillotine
merupakan teknik tonsilketomi tertua yang masih aman untuk digunakan
hingga sekarang. Kepustakaan menyebutkan beberapa keuntungan teknik
ini yaitu cepat, komplikasi anestesi kecil, biaya kecil.6
Frampton et al dalam penelitiannya menyatakan bahwa guillotine
merupakan metode tonsilektomi yang efektif dan efisien waktu dengan
perdarahan intraoperative yang lebih sedikit dan nyeri post operatif yang
lebih ringan dibandingkan teknik cold diseksi. 10
Sejak para pakar bedah mengenal anestesi umum dengan endotrakeal
pada posisi Rose yang mempergunakan alat pembuka mulut Davis, mereka
lebih banyak mengerjakan tonsilektomi dengan cara diseksi.6 . Saat ini
teknik inilah yang paling sering digunakan. Teknik cold dissection (diseksi
dingin) meliputi eksisi tonsil menggunakan gunting dan disektor tonsil
tumpul. dengan menggunakan anestesi umum dengan intubasi endotrakeal.10
Teknik operasi meliputi: memegang tonsil, membawanya ke garis tengah,
insisi membran mukosa, mencari kapsul tonsil, mengangkat dasar tonsil dan
mengangkatnya dari fossa dengan manipulasi hati-hati. Lalu dilakukan
hemostasis dengan elektokauter atau ikatan.
Berbagai teknik diseksi baru telah ditemukan dan dikembangkan
disamping teknik diseksi standar, yaitu: 6,7,10
1) Elektrokauteri
2) Radiofrekuensi
3) Skalpel harmonic
4) Coblation
5) Intrakapsular parsial tonsilektomi
6) Laser6,7, 10

e. Diseksi
• Memeriksa dan melengkapi persiapan alat dan kelengkapan operasi.
• Pembiusan dengan endotracheal , posisi kepala penderita hiperektensi
dengan bantal dibawah bahu penderita.
• Desinfeksi dengan larutan antiseptik , kemudian ditutup dengan kain
steril berlubang.

14
Modul IV.4 - Tonsilitis

• Dipasang retraktor mulut.

1) Diseksi Menurut Lore and Medina


a) Dengan mouth gag Jennings dan penekan lidah, tonsil dicengkram
dengan klem Allis atau klem tonsil lain yang serupa. Suction Yankauer
digunakan untuk menarik palatum molle. Dengan menarik palatum, dan
traksi tonsil keluar, mukosa pilar posterior tonsil terlihat. Mukosa pilar
posterior diinsisi dimulai dari kutub superior.
b) Sisa mukosa pada kutub superior dan mukoas pilar anterior diinsisi dan
klem mencengkram kapsul di kutub superior. Bagian belakang pisau
(Neivert) digunakan untuk memisahkan kapsul tonsil dari fossanya.
c) Klem digunakan dalam posisi horizontal, dan diseksi secara tumpul
dilakukan di kutub superior untuk melihat pembuluh darah kutub
superior.
d) Pembuluh darah ini diklem di bagian proximal dan dipotong di bagian
distal dengan gunting.
e) Benang catgut 2.0 atau 3.0 diletakkan di sekeliling klem pembuluh
darah dan diikat dengan menggunakan klem lain.
f) Pilar anterior di retraksi dengan retraktor Herd, kapsul dipisahkan
secara diseksi tumpul. Gunting Metzenbaum juga bisa digunakan untuk
diseksi.
g) Saat diseksi mencapai kutub inferior, senar digunakan untuk
mengangkat tonsil secara utuh.
h) Bila terdapat sisa jaringan limfoid di kutub inferior, diangkat dengan
menggunakan senar
i) Fossa diinspeksi, dan perdarahan di klem dan diikat. Jahitan di bagian
di dalam dihindari, karena arteri carotis intera bisa terkena. Setelah
mengatasi perdarahan, letakkan kassa pada fossa untuk beberapa menit.
j) Pengikatan perdarahan bisa dengan pengikat dari ruder. Setelah
pendarahan diklem, benang cat gut 2,0 atau 3,0 setelah diikat simpul
yang bisa digerakkan dimasukkan ke pengikat ruder, diluwib back
disekeliling pembuluh darah yang diklem kemudian dieratkan.

15
Modul IV.4 - Tonsilitis

2) Teknik Diseksi Menurut Byron J. Bailey1


Alat :
a) Lampu kepala
b) Retraktor McIvor
c) Pisau Dean dan Fischer
d) Bantalan
Kutub superior dari salah satu tonsil di pegang dengan klem Allis dan di tarik
ke depan ke arah garis tengah. Mukosa di sekitar kutub superior tonsil di insisi
dengan menggunakan pisau lengkung pada pertemuan antara tonsil dan
musculus pilar. Insisi ke arah anterior dan inferior menuju kutub inferior tonsil.
Ujung pisau masuk ke dalam mukosa dan kemudian menelusuri tepi pilar
posterior tonsil.
Kapsul diangkat dari landasan otot fossa tonsilar dengan menggunakan
tekanan dengan tepi pisau Fischer/disektor tonsil. Pembuluh darah yang tampak,

16
Modul IV.4 - Tonsilitis

bisa di electrocoagulated sebelum dipisahkan atau di cauter setelah di klem


dengan hemostat. Diseksi dilanjutkan sampai tonsil melekat dengan hanya satu
pembuluh darah dan mukosa di kutub inferior. Lingkaran logam (kawat) masuk
mengelilingi tonsil, melingkari perlekatan kutub inferior dengan pergerakan
yang lambat dan mantap, lingakaran dieratkan sampai tonsil lepas. Saat
perlekatan kutub inferior tonsil dilepas, biasanya terjadi perdarahan, yang diatasi
dengan meletakkan dua buah kapas pada fossa tonsilar.
Pedarahan dicegah dengan meletakkan kapas pada sisi tonsilektomi dan atau
adenoidektomi sementara prosedur yang sama dilakukan pada sisi kontralateral.
Setelah menyelesaikan tonsilektomi dan atau adenoidektomi, kassa dilepas dari
nasofaring, dan daerah tersebut diirigasi dengan larutan saline untuk
membersihkan clotting. Inspeksi nasofaring dengan cermin dilakukan dengan
menarik kedua kateter karet untuk membuka daerah tersebut. Perdarahan diatasi
dengan kassa atau elektrokoagulasi. Kassa diangkat dari sisi tonsilektomi dan
atau adenoidektomi yang pertama, dan kemudian dasar tonsil diamati dengan
cermat. Dapat dilihat kumpulan pembuluh darah dekat kutub superior dan
inferior di setiap tonsil. Perdarahan kecil diatasi dengan elektrokoagulasi, dan
perdarahan besar dengan klem dan ligasi menggunakan benang catgut 2,0 atau
3,0 atau Vicryl pada jarum semisirkuler.

17
Modul IV.4 - Tonsilitis

f. Komplikasi Anestesi 6:
1) Laringospasme
2) Gelisah pasca operasi

18
Modul IV.4 - Tonsilitis

3) Mual muntah
4) Kematian saat induksi dengan hipovolemi
5) Hipotensi
6) Henti jantung
7) Hipersensitif obat anestesi

g. Komplikasi Operasi1,6,7,10
1) Perdarahan
2) Nyeri
3) Airway obstruction
4) Postoperatif pulmonary edema
5) Dehidrasi
6) Insufisiensi velofaringeal
7) Stenosis nasofaring
8) Lesi di bibir, lidah, gigi
9) Pneumonia

5. Durante Operasi
a. Trauma pada gigi, bibir, lidah, dinding faring dan tuba eustachius (pada
adenoidektomi).
b. Dislokasi sendi rahang11 (temporomandibular joint), jika membuka mulut
terlalu lebar atau kesalahan pemasangan mouth gag
c. Trauma pada vertebra servikal karena hiperekstensi kepala
d. Perdarahan1,6,7,11,15, mungkin terjadi karena :
• Jaringan tonsil yang tertinggal (rest tonsil)
• Baru saja infeksi, atau ada kelainan darah (gangguan faktor pembekuan)
• Riwayat abses peritonsil sebelumnya (scar/fibrotik)
• Terdapat pembuluh darah yang terbuka
e. Sumbatan jalan nafas karena darah terkumpul di daerah faring sehingga
menyebabkan sumbatan mekanik jalan nafas1,4,6,14

5.1 Post Operasi (Recovery)


a. Perdarahan (8 jam pertama), kemungkinan penyebabnya adalah :
• Ikatan pembuluh darah terlepas
• Tekanan darah meningkat
• Hilangnya vasokonstriktor adrenalin (lokal)
• Bekuan darah terlepas
• Peningkatan tekanan vena karena terbatuk (mulai sadar)
b. Sumbatan jalan nafas karena terkumpulnya darah di saluran nafas atas
(faring)
c. Spasme laring karena ekstubasi terlalu cepat atau terkumpulnya darah pada
jalan nafas
d. Shock hipovolemik

5.2 Post Operasi (Kemudian)


a. Perdarahan sekunder, biasanya terjadi hari ke 5-10 karena peradangan,
selaput fibrin yang menutup fosa tonsilaris terlalu cepat lepas, ikatan

19
Modul IV.4 - Tonsilitis

pembuluh darah terlepas, iritasi karena batuk-batuk dan trauma akibat


makanan yang terlalu keras.
b. Nyeri alih ke telinga / otalgia6,7,11,15, karena terganggunya tuba eustachius
c. Otitis media akut (infeksi sekunder melalui tuba eustachius)
d. Odema palatum molle dan uvula, akibat trauma
e. Sepsis lokal
f. Komplikasi paru, misal atelektasis, pneumonia dan abses paru, terjadi karena
aspirasi darah / debris/ fragmen tonsil, atau perluasan infeksi dari saluran
nafas atas.
g. Komplikasi jantung
h. Dehidrasi dan malnutrisi7,15

5.3 Perawatan Post Operasi6,10, 15


a. Sangat penting mengamati perdarahan, sehingga disarankan pasien tidur
miring tanpa bantal.
b. Kompres es di sekitar leher
c. Awasi tekanan darah dan nadi secara teratur
d. Mengawasi terjadinya dehidrasi, karena biasanya setelah operasi, pasien tidak
tertarik untuk makan dan minum
e. Pemberian antibiotik segera setelah operasi untuk mencegah infeksi
f. Pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri
g. Pemberian minuman dingin dan makanan lembut untuk beberapa hari
pertama, untuk menghindari terjadinya perdarahan.

N. KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


a. Bailey B. J. Adenotonsilar Disease in Children In : Head and Neck Surgery
Otolaryngology. Fourth Edition. Texas. Lippincott Williams & Wilkins. 2014
: 1430-1441.
b. Bailey B. J. Tonsillectomy, Adenoidectomy, and UPPP. In : Pediatric and
General Otolaryngology. 2001 : 858-63.
c. Adams G. L. Penyakit-penyakit Nasofaring dan Orofaring. Dalam : Highler
B. A. Boeis Buku Ajar Penyakit THT-KL. Edisi 6. Jakarta. EGC. 1997 : 327-
40.
d. Rusmarjono, Soepardi E. Penyakit Serta Kelainan Faring dan Tonsil. Dalam :
Soepardi E, Iskandar N. Buku ajar ilmu kesehatan THT-KL-KL. Ed 7.
Jakarta. Balai Penerbit FKUI, 2007: 183-4.
e. Safar P, Escarraga LA, Chang F. Upper airway obstruction in the unconscious
patient. J Appl Physiol 1959;14:760-4.
f. Ballenger J. J. Tonsil. Dalam : Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala
dan Leher. Edisi 13. Jakarta. Binarupa Aksara. 1994 : 352-7.
g. Lore M. J, Medina J. E. Tonsillectomy and Adenoidectomy. In : An Atlas of
Head and Neck Surgery. Fourth Edition. New York. Elsevier Saunders. 2005
: 770-2
h. Dhingra PL. Tonsillitis. Dalam: Disease of Ear, Nose and Throat. 6th Ed. New
Delhi. Elsevier. 2015: 239-43

20
MODUL UTAMA
LARING FARING

PENYAKIT KELENJAR LUDAH


MODUL IV.5.1
SIALOLITIASIS

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ........................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1

C. REFERENSI ..................................................................................................... 1

D. KOMPETENSI ................................................................................................. 2

E. GAMBARAN UMUM ..................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS .......................................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................... 2

H. METODE PEMBELAJARAN ......................................................................... 2

I. EVALUASI ...................................................................................................... 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 4

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ....................... 5

L. DAFTAR TILIK ............................................................................................... 7

M. MATERI PRESENTASI .................................................................................. 9

N. MATERI BAKU .............................................................................................. 9


Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

MODUL IV.5.1
LARING-FARING – PENYAKIT KELENJAR LUDAH : SIALOLITIASIS

A. WAKTU

Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :


Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 1 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 9 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI

1. Materi presentasi : Sialolitiasis


• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
• Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
• Slide 4. Sialolitiasis
• Slide 5. Etiologi
• Slide 6. Diagnosis
• Slide 7. Penatalaksanaan

2. Contoh Kasus :
Seorang laki-laki usia 38 tahun datang dengan keluhan benjolan pada bawah
lidah, hilang timbul, nyeri dirasakan setelah makan, merah tidak ada, rasa panas
pada benjolan tidak ada, demam tidak ada.

3. Sarana dan Alat Bantu Latih :


• Model Anatomi, Video
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, klinik THT-KL, kamar
operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL

C. REFERENSI

1. Rohan R, Matthew W, Bowen A. Non Neoplastic Diseases of Salivary Gland. In


: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR,
editors. Head and neck surgery – otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins; 2014. p.708-710
2. Yuan F, Butt S. Non Infectious Inflammatory Diseases Sialolithiasis. In :
Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head And Neck Surgery.
Chapter V. 3rd ed. McGrownHill; 2012. P.320-322
3. Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529
4. Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s
Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519

1
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

5. Yuan Fidelia dan Butt [Link] Diagnosis & Treatment in


Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis sialolitiasis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan.
b. Mampu melakukan tatalaksana sialolitiasis serta merujuk ke fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.

2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
a. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi kelenjar liur
b. Menjelaskan etiologi sialolitiasis
c. Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari sialolitiasis
d. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan
laboratorium, sialografi, sialoendoskopi
e. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan
f. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan sialolitiasis
g. Melakukan work-up pada penderita sialolitiasis (follow-up selanjutnya)

E. GAMBARAN UMUM
Sialolitiasis adalah kejadian adanya batu yang letaknya bias di duktus, hilum atau
jaringan parenchyma galadula (gld). Frekuensi terjadinya 80% di gld.
Submandibularis;20% di parotis sedang 1% di sublingualis.

F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 38 tahun datang dengan keluhan benjolan pada bawah lidah,
hilang timbul, nyeri dirasakan setelah makan, merah tidak ada, rasa panas pada
benjolan tidak ada, demam tidak ada.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
1. Menguasai anatomi, histologi, fisiologi kelenjar saliva
2. Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinis sialolitiasis
3. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang (pemeriksaan laboratorium,
foto rontgen, sialografi, sialoendoskopi)
4. Membuat diagnosis sialolitiasis
5. Melaksanakan penatalaksanaan sialolitiasis
6. Melakukan work-up pada penderita sialolitiasis (follow-up selanjutnya)

H. METODE PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion
• Peer assisted learning (PAL)
• Task based medical education
• Journal reading and review

2
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

• Case simulation and investigation exercise


• Equipment characteristics and operating instructions
• Simulation and real examination exercises (physical and device)
• Demonstration and coaching
• Practice with real clients
• Continuing professional development

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test pada akhir pertemuan
dalam bentuk essay dan lisan sesuai dengan tingkat masa pendidikan, yang
bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk
mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test dan post test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi kelenjar liur
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh
pada saat proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP
(Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang
oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation).
Peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan
setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan, evaluator
melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan mengisi formulir
penilaian sebagai berikut:
- Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan
- Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
- Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang
tidak memungkinkan dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk
memperbaiki kekurangan yang ditemukan
5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar
6. Pendidik / fasilitator :
- Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
- Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi
- Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai

3
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
- Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahap akhir THT-KL oleh
Kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL
- Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra
pendidikan THTKL-KL lanjut oleh Kolegium Ilmu THT-KL
- Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL oleh Kolegium
Ilmu Kesehatan THT-KL

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

Sebelum pembelajaran ( pretest)


Seorang laki-laki usia 52 tahun datang dengan keluhan terasa ada pasir di mulut
sejak 3 hari yang lalu. Tensi 150/90 mmHg. Riwayat penyakit gout (+) sejak 7 tahun
yang lalu.
1. Apa diagnosis pada pasien ini?
a. Sialodenitis akut
b. Sialodenitis rekuren kronis
c. Sialodenitis kronis eksaserbasi akut
d. Sialolitiasis
e. Sindroma Frey
Jawaban: D

2. Apa tatalaksana pada pasien ini?


1. Antiinflamasi
2. Antibiotik parenteral
3. Antibiotik oral
4. Pembedahan
Jawaban: E

3. Perlu diberikan obat-obatan untuk terapi hipertensi pada pasien ini KARENA
hipertensi merupakan salah satu faktor resiko penyakit ini
a. Benar, benar, saling berhubungan
b. Benar, benar, tidak berhubungan
c. Benar, salah
d. Salah, benar
e. Salah, salah
Jawaban: C
4. Komplikasi yang mungkin terjadi pada penyakit ini
a. Cutaneus hematoma
b. Pembentukan abses
c. Kerusakan n. Lingualis
d. Kerusakan n. Hipoglosus
e. Parese n. Fasialis

4
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

Jawaban: B
5. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan untuk menegakkan diagnosis?
1. CT-scan
2. USG
3. MRI
4. Foto polos
Jawaban: E

Tengah pembelajaran (5 soal)


Seorang laki-laki usia 30 tahun datang dengan keluhan benjolan pada rahang kanan
bawah, nyeri tekan tidak ada, merah pada kulit tidak ada, rasa panas pada benjolan
tidak ada.
1. Pemeriksaan penunjang apa saja yang perlu dilakukan?
2. Apa diagnosis pada pasien ini dan diagnosis bandingnya?
3. Apa tatalaksananya?
4. Sebutkan etiologi dan faktor resikonya?
5. Komplikasi apa saja yang mungkin terjadi?
Akhir pembelajaran (post test)(5 soal)
Seorang perempuan usia 42 tahun datang dengan keluhan benjolan pada rahang
kanan bawah, nyeri tekan tidak ada, merah pada kulit tidak ada, rasa panas pada
benjolan tidak ada. Dilakukan USG didapatkan gambaran radioopaque pada
glandula submandibularis. Jika operasi merupakan terapi pilhan,
1. Kapan digunakan general anesthesi?
2. Jelaskan teknik operasinya?
3. Komplikasi apa saja yang mungkin terjadi akibat tindakan operasi?
4. Bagaimana follow up nya?
5. Jika terjadi rekurensi, bagaimana tatalaksananya?

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

Penuntun Belajar
Prosedur Operasi Sialolitiasis

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)
2. Mampu langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi diluar normal.
3. Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan
waktu kerja yang sangat efisien
4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah
tertentu tidak perlu diperagakan).

5
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

PENUNTUN BELAJAR TINDAKAN OPERASI SIALOLITIASIS


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK
1 2 3 4 5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1 Informed Consent
2 Pemeriksaan Penunjang
3 Penderita Puasa
4 Memeriksa Dan Melengkapi Alat
5 Persiapan Tindakan
6 Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala
Bila batu ada di duktus Wharton dapat di ambil secara
operasi major dengan neurolep atau GA dan hal ini
tergantung ada tidaknya striktura distal dari letak batu
atau letak batu, apakah di duktus, di hilum atau di
7
parenchyme gld atau dapat secara operasi minor denga
cara sialolithectomy mengunakan CO2 laser atau secara
sialolithotrpsy mengunakan pulse dye laseratau dengan
extracorporeal electromagnitic shock-wave lipthotripsy.
Bila batu di Hilum atau parenchyme paroitis sebaiknya
8 secara minor dengan alat canggih atau operasi major
pengambilan batu dibawah mikroskop.
TINDAKAN
Dilakukan dilatasi muara dengan punctum dilator pada
ductus Wharton; hal ini biasanya dilakukan dengan
anestesi local mengunakan tetracaine 2%, buffacain 2-4%
, pentacaine 2-3% atau xylocaine 5-10%; terkadang bias
dilakukan dengan neurolep yang dikerjakan pada
1 sialolithiasis dengan sialoadenitis rekuren khronik. Cara
kerja dengan punctum dilator adalah sebagai berikut:
mulai dengan dilator no. 1 dan di coba sampai dengan
no.6. Bila dengan dilator tetap gagal guna mengeluarkan
batu, maka perlu dilakukan insisi di tas batu dan lubang
jangan di jahit atau kita lakukan marsupialisasi.
Pada gld submandibularis dengan hasil sondase adanya
2 striktura distal dari letak batu maka dikerjakan
marsupialisasi
Pada gld. Parotis, apabila batu dekat dengan muara
ductus Stensen ma ka dilakukan insisi tepi dari muaras
melalui puntum dilator yang dipasang kemudian batu di
ambil lubang, kemudian insisi dijahit.. Biasa dlakukan
3
dengan tehnik lannya yaitu mengunakan narrow ponted
scissor guna memotong tepi muara ductus. Setelah batu
dikeluarkan insisi dijahit dengan tetapmeninggalkan
lobang aslinya
Cara marsupialisasi
1. setelah persiapan oprasi yaitu melihat dan
4 menambah alat yang dioerlukan untuk operasi
2. mengatur letak pasien di meja operasi
3. desinfektan dan meutupi dan minimalisasi medan
operasi

6
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

4. setelah dipasang mouth gag dengan penekan


lidah maka dilakkan insisi sjajsr dengan tepi
mandibula bagian dalam dan diambil batunya
5. tepi lubang insisi ditekuk kedalam lobang dan
dijahit melingkar lobang nonkontinyu kemudian
di pasang slang infuse yang dipotong
pendek(jangan terlalu pendek), kemudian buat
jahitan tabakzak melingkari lobang insisi dan
diikat dengan sebelumnya jarum di tusukan ke
slang dan disimpulkan. Ujung slang di jahitkan
pada dasar mulut di tengah tengah dekat sisi
dalam mandibula
6. Slang infuse dibiarkan +/- 2 minggu
7. Benang jahit memakai prolena atau sutera
Bila tidak ada striktura di distal letak batu maka
dilakukan sialodochoplasty. Cara sialodochoplsty :
1. Setelah insisi dan batu diambil
2. dipasang slang silicon/polyethylene dengan
5 diameter seperti slang pada operasi pengaliran
cairan otak untuk baji terkadang dipotong
separuh
3. irisan dijahit entropion dengan jahitan vicryl /
chromic (3/4/5-0)
Bila batu berulang kembali maka sebaiknya di lakukan
eksterpasi glandula (cara seperti di modul sialoadenitis
6
berulang khronik) sedang parotis seperti modul tumor
parotis

L. DAFTAR TILIK

Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)


Prosedur Tindakan Operasi Sialolitiasis

Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan


oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan
ketentuan seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur
atau panduan standar
X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan
Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

7
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

NILAI
KEGIATAN KLINIS
1 2 3
PERSIAPAN PRAOPERASI
Informed Consent
Laboratorium
Pemeriksaan Penunjang
Pemberian Antibiotik Profilaksi
Cairan Dan Darah
Memeriksa Dan Melengkapi Alat
Penderita Puasa
BIUS
Ga Atau Neurolep Atau Lokal
PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI
Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala
Desinfeksi Dengan Bahan Apa? Dan Cara?
Cara Menutupi Daerah Operasi
TINDAKAN OPERASI
Dilakukan dilatasi muara dengan punctum dilator pada ductus
Wharton; hal ini biasanya dilakukan dengan anestesi local
mengunakan tetracaine 2%, buffacain 2-4% , pentacaine 2-3%
atau xylocaine 5-10%; terkadang bias dilakukan dengan
neurolep yang dikerjakan pada sialolithiasis dengan
sialoadenitis rekuren khronik. Cara kerja dengan punctum
dilator adalah sebagai berikut: mulai dengan dilator no. 1 dan
di coba sampai dengan no.6. Bila dengan dilator tetap gagal
guna mengeluarkan batu, maka perlu dilakukan insisi di tas
batu dan lubang jangan di jahit atau kita lakukan
marsupialisasi.
Pada gld submandibularis dengan hasil sondase adanya
striktura distal dari letak batu maka dikerjakan marsupialisasi
Pada gld. Parotis, apabila batu dekat dengan muara ductus
Stensen ma ka dilakukan insisi tepi dari muaras melalui
puntum dilator yang dipasang kemudian batu di ambil lubang,
kemudian insisi dijahit.. Biasa dlakukan dengan tehnik lannya
yaitu mengunakan narrow ponted scissor guna memotong tepi
muara ductus. Setelah batu dikeluarkan insisi dijahit dengan
tetapmeninggalkan lobang aslinya
Cara marsupialisasi
1. setelah persiapan oprasi yaitu melihat dan menambah alat
yang dioerlukan untuk operasi
2. mengatur letak pasien di meja operasi
3. desinfektan dan meutupi dan minimalisasi medan operasi
4. setelah dipasang mouth gag dengan penekan lidah maka
dilakkan insisi sjajsr dengan tepi mandibula bagian dalam
dan diambil batunya

8
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

5. tepi lubang insisi ditekuk kedalam lobang dan dijahit


melingkar lobang nonkontinyu kemudian di pasang slang
infuse yang dipotong pendek(jangan terlalu pendek),
kemudian buat jahitan tabakzak melingkari lobang insisi
dan diikat dengan sebelumnya jarum di tusukan ke slang
dan disimpulkan. Ujung slang di jahitkan pada dasar mulut
di tengah tengah dekat sisi dalam mandibula
6. slang infuse dibiarkan +/- 2 minggu
7. benang jahit memakai prolena atau sutera
Bila tidak ada striktura di distal letak batu maka dilakukan
sialodochoplasty. Cara sialodochoplsty :
1) setelah insisi dan batu diambil
2) dipasang slang silicon/polyethylene dengan diameter
seperti slang pada operasi pengaliran cairan otak untuk
baji terkadang dipotong separuh
3) irisan dijahit entropion dengan jahitan vicryl / chromic
(3/4/5-0)
Bila batu berulang kembali maka sebaiknya di lakukan
eksterpasi glandula (cara seperti di modul sialoadenitis
berulang khronik) sedang parotis seperti modul tumor parotis

M. MATERI PRESENTASI
• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
• Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
• Slide 4. Sialolitiasis
• Slide 5. Etiologi
• Slide 6. Diagnosis
• Slide 7. Penatalaksanaan

N. MATERI BAKU
SIALOLITHASIS
a. Pendahuluan
Sialolitiasis adalah kejadian adanya batu yang letaknya bias di duktus, hilum atau
jaringan parenchyma galadula (gld). Frekuensi terjadinya 80% di gld.
Submandibularis;20% di parotis sedang 1% di [Link] gld salivarius
minor sangat jarang; kalaupun ada hanya di bibir atas dan pipi.75% di gld salivarius
major singgel;3% [Link]-2 lebih dari wanita dan sebagian besar middle age.
Frekuensi untuk seluruh gld. Multipel 25% sedang single 75%. Biokimiawi batu
kelenjar liur mengandung substansi organik dan inorganik. Substansi umumnya
kalsium karbonat dan kalsium fosfat. pada sialolitiasis berupa kalsium posfat
dengan sedikit komponen magnesium, ammoniumdan karbonat (hydroxyapatite)
ditambah dengan karbohidrat dan asam amino sebagai imatrik organic. Pada gout
batu terutama terdiri atas asam urat.

9
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

b. Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Liur


Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur yang terbesar berukuran 5,8 x 3,4cm dan
berat rata-rata 15-30 g. Berlokasi di regio pre aurikula dan bagian posterior
mandibula. Kelenjar parotis berhubungan dengan rongga mulut melalui duktus
Stensen dan bermuara ke mukosa bukal setinggi molar 2 atas. Nervus fasialis yang
berfungsi motorik untuk otot wajah masuk ke kelenjar parotis dan membaginya
menjadi dua zona surgikal (lobus superfisial dan lobus profunda. Lobus
superfisialis terletak pada bagian lateral dari maseter, lobus profunda terletak
diantara prosessus mastoid tulang temporal dan ramus mandibula. Kelenjar parotis
bagian superior dibatasin oleh [Link] bawah dari kelenjar parotis
meluas kebawah berbatasan dengan anteromedial otot sternokleidomastoid.
Arteri yang berdekatan dengan kelenjar ini adalah [Link] externa, [Link]
binterna dan temporalis superfisialis. Drainage melaluui vena retromandibular yang
terletak disebelah dalam nerbus fasilalis, sedangkan drainage limfatik melalui
kelenjar getah bening yang terletak di dalam kelenjar parotis dan paraparotis.
Kelenjar submandibula beratnya setengah dari kelenjar parotis, yang merupakan
kelenjar saliva mayor terbesar kedua, terletak di dalam segitiga yang dibentuk oleh
[Link] anterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula. Nervus
fasialis cabang marginal mandivula berjalan superfisial dari kelenjar ini dan sebelah
dalam dari [Link]. duktus submandibularis (duktus Wharton’s)keluar dari
permukaan medial dari kelenjar ini dan berjalan diantara [Link] dan
hioglosuske m. Genioglosus. Arteri yang memperdarahi kelenjar submandibula
adalah cabang submental dari arteri fasialis. Drainase melalui vena fasialis yang
melewati permukaan lateral kelenjar submndibula.
Kelenjar sublingual merupakan kelenjar saliva mayor yang paling kecil dengan
berat sekitar 2 – 4 g, terletak di bawah mukosa dasar mulut antara mandibula dan
m. Genioglosus. Duktus Wharton dan nervus lingualis melewati diantara sublingual
dan [Link]. Kelenjar ini tidak memiliki kapsul, tidak memiliki duktus yang
dominan, drainase melalui kurang lebih 10 duktus kecil-kecil (duktus rivinus) dan
bermuara ke lipatan sublingual pada dasar mulut.
Kelenjar saliva minor , kelenjar yang tidak memiliki duktus ,jumlahnya sangat
banyak berkisar 600 sampai 1000 kelenjar, tersebar di regio bukal, labial, palatal,
dan lingual. Dapat ditemukan juga pada bagian atas tonsil dan dasar lidah. Suplai
darah berasal dari arteri di sekitar rongga mulut. Kelenjar saliva minor menerima
inervasi dari nervus lingualis, kecuali kelenjar di palatum yang menerima inervasi
dari nervus palatinum.

10
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

Gambar anatomi

c. Fisiologi
Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah memproduksi saliva yang berguna pada
proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh. Saliva secara aktif di produksi
dalam jumah yang besar sesuai dengan ukuran kelenjar saliva, secara ekstrinsik
dikontrol oleh syaraf simpatik dan para simpatik.
Kelenjar saliva di lidah memproduksi lipase yang berfungsi menghancurkan
trigliserida. Enzim ini berfungsi di dalam lambung dan juga proksimal dari
duodenum karena enzim ini aktif secara optimal pada Ph rendah. Saliva terdiri dari
inorganik dan organik. Kandungan organik terdiri dari: amilase, lingualifase,
lisozim, glikoprotein, laktoferin dan imunoglobulin A, saliva juga mengandung
antibakterial yang dapat berfungsi protektif ( glikoprotein dan imunoglobulin A )
yang secara aktif dapat melawan virus dan bakteri. Enzim lisosim menyebabkan
bakteri mengalami aglutinasi dan menyebabkan autolisis pada dinding sel bakteri.
enzim laktoferin menghambat pertumbuhan dari bakeri.

d. Etiologi dan Faktor Resiko


Adanya factor resiko pada material yang memudahakan pengendapan garam;
kejadian pada gld submandibularis ok. Salivanya lebih alkali dan konsentrasi tinggi
kalsium dan posfatdan komponen mucus lebih banyak. Duktus disitu cukup
panjang dan gerakan saliva melawan gravitasi.
Faktor resiko berupa sialoadenitis kumatan khronik/sialoadenitis rekuren khronik,
penyakit gout

e. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Dari anamnesis didapatkan pasien umumnya mengeluh ada benjolan
yang kumatan pada bawah rahang bawah (kelenjar submandibularis) sedang parotis
pada pipi, benjolan yang difus, kenyal dan agak sakit tekan. Benjolan ini akan
tambah besar dan lebih sakit pada saat makan Bila abses akan keluar pus pada
muara duktus dan disertai rasa sakit baik spontan maupun tekanpada gld. Dan
terkadang panas badan.

11
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain sialografi, USG, CT-
scan/CT-sialografi. Perlu diketahui bahwa 65-90% batu di gld submandibularis
adalah radiopaque sedangkan 65-90% batu di [Link] radiolucent dengan
standar foto polos.

Gambar pemeriksaan fisik pada sialolitiasis

Gambar sialografi pada sialolitiasis

f. Penatalaksanaan
1. Antimikkroba per-oral: Untuk stafilokokus; ingat beta laktam bakteri; bakteri
anaerob dengan chloramfenikol bila ada infeksi akut
2. Sebaiknya antibiotika parenteral di poli kemudian dilanjutkan per oral, Buku
panduan→ memakai amoksilin dengan asam klavulanat atau ampisilin
dengan surbactam
3. Terapi simtomatis: anti inflamasi dan analgesi/analgesic antipiretik, mokolitik
4. Terapi operasi major dan minor.
Bila batu ada di duktus Wharton dapat di ambil secara operasi major dengan
neurolep atau GA dan hal ini tergantung ada tidaknya striktura distal dari
letak batu atau letak batu, apakah di duktus, di hilum atau di parenchyme gld
atau dapat secara operasi minor denga cara sialolithectomy mengunakan CO2
laser atau secara sialolithotrpsy mengunakan pulse dye laseratau dengan
extracorporeal electromagnitic shock-wave lipthotripsy.
Bila batu di Hilum atau parenchyme paroitis sebaiknya secara minor dengan
alat canggih atau operasi major pengambilan batu dibawah mikroskop.
• Teknik Operasi :
1. Dilakukan dilatasi muara dengan punctum dilator pada ductus Wharton; hal
ini biasanya dilakukan dengan anestesi local mengunakan tetracaine 2%,
buffacain 2-4% , pentacaine 2-3% atau xylocaine 5-10%; terkadang bias
dilakukan dengan neurolep yang dikerjakan pada sialolithiasis dengan

12
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

sialoadenitis rekuren khronik. Cara kerja dengan punctum dilator adalah


sebagai berikut: mulai dengan dilator no. 1 dan di coba sampai dengan no.6.
Bila dengan dilator tetap gagal guna mengeluarkan batu, maka perlu
dilakukan insisi di tas batu dan lubang jangan di jahit atau kita lakukan
marsupialisasi.
2. Pada gld submandibularis dengan hasil sondase adanya striktura distal dari
letak batu maka dikerjakan marsupialisasi
3. Pada gld. Parotis, apabila batu dekat dengan muara ductus Stensen ma ka
dilakukan insisi tepi dari muaras melalui puntum dilator yang dipasang
kemudian batu di ambil lubang, kemudian insisi dijahit.. Biasa dlakukan
dengan tehnik lannya yaitu mengunakan narrow ponted scissor guna
memotong tepi muara ductus. Setelah batu dikeluarkan insisi dijahit dengan
tetapmeninggalkan lobang aslinya

• Cara marsupialisasi
1. Setelah persiapan oprasi yaitu melihat dan menambah alat yang dioerlukan
untuk operasi
2. Mengatur letak pasien di meja operasi
3. Desinfektan dan meutupi dan minimalisasi medan operasi
4. Setelah dipasang mouth gag dengan penekan lidah maka dilakkan insisi sjajsr
dengan tepi mandibula bagian dalam dan diambil batunya
5. Tepi lubang insisi ditekuk kedalam lobang dan dijahit melingkar lobang
nonkontinyu kemudian di pasang slang infuse yang dipotong pendek(jangan
terlalu pendek), kemudian buat jahitan tabakzak melingkari lobang insisi dan
diikat dengan sebelumnya jarum di tusukan ke slang dan disimpulkan. Ujung
slang di jahitkan pada dasar mulut di tengah tengah dekat sisi dalam
mandibula
6. Slang infuse dibiarkan +/- 2 minggu
7. Benang jahit memakai prolena atau sutera
• Bila tidak ada striktura di distal letak batu maka dilakukan sialodochoplasty.
Cara sialodochoplsty :
1. Setelah insisi dan batu diambil
2. Slang silicon/polyethylene dengan diameter seperti slang pada operasi
pengaliran cairan otak untuk baji terkadang dipotong separuh
3. Irisan dijahit entropion dengan jahitan vicryl / chromic (3/4/5-0)
• Bila batu berulang kembali maka sebaiknya di lakukan eksterpasi glandula (cara
seperti di modul sialoadenitis berulang khronik) sedang parotis seperti modul
tumor parotis
g. Komplikasi
Obstruksi persisten dari sialolitiasis menyebabkan stasis kelenjar saliva. Merupakan
predisposisi infeksi rekuren akut kelenjar dan pembentukan abses. Rekurensi batu
kelenjar liur hampir 20%. Jika factor resiko dikoreksi, dapat menurunkan rekurensi.
h. Follow Up
1. Oleh karena factor resiko kejadian banyak yang masih mesteri maka perlu
diberitahukan pada pasien paska operasi selalu secara rutin di masase pada
daerah kelanjar dan periksa bila gejala berulang seperti sebelum operasi secara
dini

13
Modul IV.5.1 - Sialolitiasis

2. Bila penyebab penyakit GOUT maka perlu mengontrol asam urat dengan obat-
obatan
3. USG & CT dan foto polos dapat menginformasikan tentang ada atau tidaknya
batu
i. Kepustakaan
1. Rohan R, Matthew W, Bowen A. Non Neoplastic Diseases of Salivary Gland. In
: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR,
editors. Head and neck surgery – otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins; 2014. p.708-710
2. Yuan F, Butt S. Non Infectious Inflammatory Diseases Sialolithiasis. In :
Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head And Neck Surgery.
Chapter V. 3rd ed. McGrownHill; 2012. P.320-322
3. Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529
4. Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s
Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519
5. Yuan Fidelia dan Butt [Link] Diagnosis & Treatment in
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300

14
MODUL UTAMA
LARING FARING

PENYAKIT KELENJAR LUDAH


MODUL IV.5.2
SIALODENITIS

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ......................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ......................................................................................... 1

C. REFERENSI .................................................................................................. 2

D. KOMPETENSI .............................................................................................. 2

E. GAMBARAN UMUM................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS ........................................................................................ 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN........................................................................ 3

H. METODE PEMBELAJARAN....................................................................... 3

I. EVALUASI .................................................................................................... 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ............................ 4

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ..................... 7

L. DAFTAR TILIK .......................................................................................... 11

M. MATERI PRESENTASI.............................................................................. 12

N. MATERI BAKU .......................................................................................... 12


Modul IV.5.2 – Sialodenitis

MODUL IV.5.2
LARING-FARING – PENYAKIT KELENJAR LUDAH : SIALODENITIS

A. WAKTU

Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :


Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 1 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 9 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI

1. Materi presentasi : Sialodenitis


• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
• Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
• Slide 4. Sialodenitis
• Slide 5. Etiologi
• Slide 6. Diagnosis
• Slide 7. Penatalaksanaan
• Slide 8. Komplikasi

2. Contoh Kasus :
Seorang laki-2 umur 49 tahun datang ke klinik THTKL dengan keluhan: rasa
sakit dibawah lidah bagian kanan bila makan terutama yang kecut dan pedas;
selang satu hari ada benjolan pada bawah rahang bawah bagian kanan yang sakit
tekan; hari kedua badan terasa mriang (subfibril); kemudian hari ketiga dia
merasa ada cairan kental kuning keluar dari mulut bila mengucah makanan.
Untuk keluhan ini dia mengobati sendiri dengan antalgin. Pada hari keempat
setelah rasa sakit tersebut tak reda dan benjolan semakin besar, dia
memeriksakan ke poli THTKL. Secara anamnesis dia mengatakan bahwa dia
menderita pepmphigus vulgaris dan sering mendapat prednisone dalam jangka
lama (+/-1 bulan berulang). Pemeriksaan fisik terlihat adanya: cairan kental
kuning berasal dari bawah lidah bagian kanan dan mukosa disitu tampak
eritema; benjolan dibawah rahang bawah kanan lunak, fluktuasi dan sakit tekan.
Temperatur tubuh 38,50 sedang pemeriksaan penunjang berupa jumlah AL
adalah 14.000 dengan hitung jenis geser kiri.

3. Sarana dan Alat Bantu Latih :


• Model Anatomi, Video
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting) : bangsal THTKL, klinik THTKL, kamar
operasi, bangsal perawatan pasca bedah THTKL

1
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

C. REFERENSI
1. Rohan R, Matthew W, Bowen A. Non Neoplastic Diseases of Salivary Gland. In
: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR,
editors. Head and neck surgery – otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins; 2014. p.708-710
2. Yuan F, Butt S. Non Infectious Inflammatory Diseases Sialolithiasis. In :
Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head And Neck Surgery.
Chapter V. 3rd ed. McGrownHill; 2012. P.320-322
3. Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529
4. Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s
Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519
5. Yuan Fidelia dan Butt [Link] Diagnosis & Treatment in
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis sialodenitis (akut/kronik) berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan tambahan yang
diperlukan.
b. Mampu melaksanakan tatalaksana sialodenitis (akut/kronik)serta merujuk ke
fasilitas kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil :
a. Mengenali gejala dan tanda sialodenitis (akut/kronik)
b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik sialodenitis (akut/kronik)
c. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
sialografi, radiosialografi.
d. Mengenali faktor resiko kejadian sialodenitis (akut/kronik)
e. Membuat keputusan klinik untuk pemberian anti biotika, anti radang,
analgesik antipiretik, hidrasi, sialogogues, minor operasi dan major operasi
f. Mengenali secara dini berbagai masalah dan penyulit yang mungkin terjadi
pada sialodenitis (akut/kronik)

E. GAMBARAN UMUM
Sialodenitis akut adalah Peradangan akut pada kelenjar ludah. Kemungkinan
penyakit ini disebabkan oleh adanya stasis saliva, akibat adanya obstruksi atau
berkurangnya produksi saliva.

F. CONTOH KASUS
Seorang laki-2 umur 49 tahun datang ke klinik THTKL dengan keluhan: rasa sakit
dibawah lidah bagian kanan bila makan terutama yang kecut dan pedas; selang satu
hari ada benjolan pada bawah rahang bawah bagian kanan yang sakit tekan; hari
kedua badan terasa mriang (subfibril); kemudian hari ketiga dia merasa ada cairan
kental kuning keluar dari mulut bila mengucah makanan. Untuk keluhan ini dia
mengobati sendiri dengan antalgin. Pada hari keempat setelah rasa sakit tersebut tak
reda dan benjolan semakin besar, dia memeriksakan ke poli THTKL. Secara
anamnesis dia mengatakan bahwa dia menderita pepmphigus vulgaris dan sering
mendapat prednisone dalam jangka lama (+/-1 bulan berulang). Pemeriksaan fisik

2
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

terlihat adanya: cairan kental kuning berasal dari bawah lidah bagian kanan dan
mukosa disitu tampak eritema; benjolan dibawah rahang bawah kanan lunak,
fluktuasi dan sakit tekan. Temperatur tubuh 38,50 sedang pemeriksaan penunjang
berupa jumlah AL adalah 14.000 dengan hitung jenis geser kiri.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
1. Menjelaskan anatomi, fisiologi kelenjar liur
2. Menjelaskan etiopatogenesis sialodenitis (akut/kronik) dan gambaran
klinik(anamnesis, pemeriksaan fisik)
3. Menjelaskan dan melakukan pemeriksan penunjang diagnosis
4. Menjelaskan dan melakukan tatalaksana medikamentosa maupun tindakan
operatif serta komplikasinya dan menentukan langkah terapi
5. Menjelaskan dan melakukan pencegahan komplikasi yang bisa terjadi
6. Melakukan work-up, menentukan terapi dan merujuk ke RS dengan fasilitas
yang lebih tinggi bila terjadi komplikasi

H. METODE PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion
• Peer assisted learning (PAL)
• Task based medical education
• Journal reading and review
• Case simulation and investigation exercise
• Case study
• Simulation and real examination exercises (physical and device)
• Demonstration and coaching
• Practice with real clients

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilakukan pre-test dan pada akhir pertemuan dilakukan
post-test dalam bentuk essay, multiple choice atau oral sesuai dengan masa
tingkat pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki
peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi prates
terdiri atas: anatomi, embriologi, histologi, topografi, fisiologi/biokimia,
patofisiologi, penegakan diagnosis, terapi konservatif dan operatif, komplikasi
dan penanganan, tindak lanjut
2. Self assessment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan
penuntun belajar
3. Selanjutnya dilakukan diskusi kelompok kecil bersama dengan fasilitator guna
membahas kekurangan yang teridentifikasi; membahas isi dan hal-hal yang
berkenaan dengan penuntun belajar dan kesempatan yang akan diperoleh pada
saat visite kecil maupun besar dan proses penilaian
4. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temanya (peer assisted learning) atau pada
standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan
membawa penuntun belajar. Penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya

3
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

untuk melakukan evaluasi (per asisited evaluation). Peserta didik


mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomi dan setelah
kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanan,evaluator
melaksaanakan pengawasan langsung dan mengisi blangko penilaian sebagai
berikut: 1) perlu perbaikan berarti pelaksanaan belum benar atau ada langkah
yang tidak dlakukan; 2) cukup berarti pelaksanan sudah benar tetapi tidak
efisien; baik berarti langkah benar dan efisien
5. Selanjutnya dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan penjelasan dari
berbagai hal yang tidak mungkin dibicarakan di depan pasien dan memberi
masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan
6. Pendidikan/fasilitas: 1) pengamatan langsung dengan memakai evaluation
checklist form (terlampir),2) penjelasan lisan dari peserta
7. cakap, kurang cakap atau lalai
8. Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
guna memperbaiki kinerja (task-based medical education)
9. Pencapaian pembelajaran dilakukan dengan:1) ujian OSCE dilakukan pada tahap
akhir oleh KOLEGIUM THTKL; 2) ujian akhir stase pada setiap devisi/unit
kerja oleh masing-masing sentra pendidikan;3) ujian akhir kognitif dilakukan
pada akhir tahapan THTKL oleh KOLEGIUM THTKL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


Sebelum pembelajaran ( pretest)

1. Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah


a. Proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh
b. Proses digestif dan lubrikasi
c. Proses respirasi dan digestif
d. Proses pertahan tubuh dan digestif
e. Proses digestif, lubrikasi dan respirasi
Jawaban: A

2. Kelenjar saliva mayor terbesar kedua, terletak di dalam segitiga yang dibentuk
oleh
a. [Link] lateral, posterior belly dan inferior ramus mandibula
b. [Link] posterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula
c. [Link] anterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula
d. [Link] superior, posterior belly dan inferior ramus mandibula
e. [Link] medial, posterior belly dan inferior ramus mandibula
Jawaban: C

3. Pasien laki laki 40 tahun datang dengan keluhan nyeri pada rahang bawah sejak
3 hari yang lalu. Keluhan disertai dengan timbul benjolan di rahang bawah,
kemerahan dan nyeri tekan. Pasien mengatakan jarang menyikat gigi. Pada
pemeriksaan didaptkan tekanan darah130/80mmHg, Nadi 92 x/menit nafas 20
x/menit, suhu 37,4C, tampak benjolan di daerah submandibula ukuran 3x3x4
difus, kemerahan, kenyal, nyeri bila ditekan.
Kemungkinan diagnosis pada kasus diatas

4
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

a. Sialolhitiasis
b. Abses peritonsil
c. Uvuleitis
d. Abses ginggingva
e. Sialodenitis akut
Jawaban: E

4. Pemeriksaan yang tidak disarankan pada kasus diatas


a. Foto konvensional pandangan lateral
b. USG
c. Sialodenoskopi diagnostik
d. MRI
e. Sialografi
Jawaban: E

5. Tatalaksana pada kasus diatas


a. Masase lemah lembut berulang, rehidrasi, kompres air hangat, oral irigasi
dengan antiseptik serta pemberian antimikroba intravena
b. Rehidrasi, kompres air hangat, oral irigasi dengan antiseptik, kompres
dengan air dingi serta pemberian antimikroba peroral
c. Masase lemah lembut berulang, rehidrasi, kompres air dingin, pemberian
antimikroba peroral
d. Masase lemah lembut berulang, rehidrasi, kompres air dingin, oral irigasi
dengan antiseptik serta pemberian antimikroba peroral
e. Pemberian antimikroba intravena saja
Jawaban: A

Tengah pembelajaran (5 soal)


Seorang pria usia 28 th datang dengan keluhan bengkak pada pipi kanan sejak lebih
kurang 4 hari yang lalu, keluhan disertai nyeri dan demam serta sulit membuka
mulut. Os masi dapat makan dan minum seperti biasa, namun karena kondisi
tersebut os menjadi jarang minum. Penderita juga merasa mulut menjadi kering dan
wajah bengkak kemerahan pada sisi wajah samping.

1. Apakah diagnosa yang mungkin pada pasien ini :


a. Sialoadenitis akut
b. Sialoadenitis kronis
c. Abses peritonsil
d. Sialolitiasis
Jawaban: A

2. Anamnesa tambahan yang perlu ditanyakan :


a. Riwayat sebelumnya yang pernah dialami
b. Disertai kejang
c. Disertai penurunan rasa
d. Disertai menggigil
e. Riwayat operasi
Jawaban: C

5
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

3. Sebutkan yang bukan merupakan factor resiko pada penyakit ini :


a. Post kemoterapi atau radio terapi
b. Hygiene mulut jelek
c. Syndroma Sjorgen
d. Usia
e. Dehidrasi
Jawaban: D

4. Apakah penatalaksanaan yang tepat pada pasien ini :


a. Rehidrasi
[Link] hangat + antipiretik + analgetik
c. Pemberian antibiotic
d. Massage
e. Semua jawaban benar
Jawaban: E

5. Kuman penyebab terbanyak sialoadenitis :


a. Staphylococcus aureus
b. Proteus mirabilis
c. Pseudomonas Aeruginosa
d. [Link]
e. Staphylococcus epidermidis
Jawaban: A

Akhir pembelajaran (post test)(5 soal)


1. Kelenjar parotis bagian superior dibatasi oleh
a. Zigomatikus
b. Maksilaris
c. Frontalis
d. Parietalis
e. Etmooidalis
Jawaban: A

2. kelenjar parotis meluas kebawah berbatasan dengan


a. anteromedial otot maseter
b. anteromedial otot sternokleidomastoid
c. anteromedial otot orbikularis oris
d. anteromedial otot trapezius
e. anteromedial otot frontalis
Jawaban: B

3. Kelenjar saliva minor menerima inervasi dari


a. nervus laringeus rekurent
b. nervus palatinum
c. nervus vagus
d. nervus lingualis
e. nervus trigeminal

6
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

Jawaban: D

4. Kelenjar di palatum yang menerima inervasi dari


a. nervus laringeus rekurent
b. nervus palatinum
c. nervus vagus
d. nervus lingualis
e. nervus trigeminal
Jawaban: B

5. Seorang wanita berusia 24 tahun datang dengan keluhan bengkak di pipi kanan
sejak 4 hari, terasa nyeri, keluar nanah (+) dari bawah lidah. Penderita juga
mengeluhkan demam. Pada pemeriksaan fisik teraba benjolan pada daerah pipi
kanan, benjolan kenyal dan berwarna kemerahan. Penatalaksanaan awal apa
yang dapat dilakukan pada pasien ini ?
A. Aspirasi dan antibiotik
B. Antivirus dan kompres air hangat
C. Masase lembut, kompres air hangat dan oral irigasi
D. Analgetik dan konsul bagian gigi
E. Insisi dan drainase segera
Jawaban: C

6. Kapan sebaiknya dilakukan insisi dan drainase pada pasien ini?


A. Sesegera mungkin setelah diagnosis telah ditegakkan
B. Jika tidak respon terhadap medikamentosa dalam 24-48 jam
C. Bila bengkak telah melebihi 5 cm
D. Bila pada pemeriksaan USG ditemukan adanya sumbatan
E. Jika disertai dengan trismus.
Jawaban: B

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


Penuntun Belajar
Prosedur Ekstirpasi Glandula Submandibularis

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)
2. Mampu langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi diluar normal.
3. Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan
waktu kerja yang sangat efisien

4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah


tertentu tidak perlu diperagakan)

7
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

NAMA PESERTA :…………………….. TANGGAL :………………..........

KASUS
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK
1 2 3 4 5
KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR
OPERATIF
• Nama
• Diagnosis
• Informed Choice & Informed Consent
• Rencana tindakan
• Persiapan sebelum tindakan
PERSIAPAN PRAOPERASI
1 Informed Consent
2 Laboratorium
3 Pemeriksaan Penunjang
4 Pemberian Antibiotik Profilaksi
5 Cairan Dan Darah
6 Memeriksa Dan Melengkapi Alat
7 Penderita Puasa
BIUS
Ga Atau Neurolep Atau Lokal
PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI
1 Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala
2 Desinfeksi Dengan Bahan Apa? Dan Cara?
3 Cara Menutupi Daerah Operasi
TINDAKAN OPERASI
1 Butir-butir penting:
a. Insisi kulit agak jauh di bawah mandibula
b. Hindari perlukaan pada [Link] [Link]
dan r. cervicalis nVII
c. Hindari trauma pada n. hypoglossus dan n.
lingualis
d. V fasialis anterior lebih superficial dari
glandula
e. Lapisan-2 dari luar ke dalam adalah kulit ,
subkutan, platysma, fasia superficialis
cervicalis, r mandibularis dan cervicalis n.
VII, vasa vena dan arteri dan kapsula
glandula
f. Hafal anatomi dan topografi regio supra
hyaoid

2 Insisi kulit dibuat 4 cm dibawah tepi bawah


mandibula secara horizontal agak melengkung ke

8
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

bawah.

3 Insisi dilanjutkan mendalam melalui lapis platysma


sampai dengan fascia cervicalis superficial (FCF).
Semua irisan ini dibuat sebagai flap kulit. Ujung
lateral sampai tepi anterior m
strenocleidomastoideus dan tepi ini perlu
diperlihatkan. Pada dataran ini perlu dicari v
Retromandibularis / fasialis communis dan anak
cabangnya yaitu v fasialis posterior/fasialis dan
anterior/submentalis, dilakukan jahitan pancang
melalui platysma dan fascia di atas. Pada saat
memotong platysma dan dideseksi keatas bersama
dgn FCF maka kita menjumpai [Link] [Link]
yang mensarafi platysma. Sebaiknya
anda mempertahankan saraf ini. Dan perlu
dicamkan guna mengembalikan fungsinya perlu
dijahit kembal tepi insisi antara atas dan bawah
platysma yang di iris.. insisi pilihan lain adalah
irisan kulit sampai platysma, kemudian deseksi
lembut ke atas sampai tepi bawah mandibula.
Platysma dibelah secara vertical dan diretraksi
dengan retractor ke medial dan lateral. Akan tetapi
pandangan kearah glandula terbatas bila glandula
tidak terlalu besar maka pandangan tetap luas
sedang apabila terlalu besar pandangan operator
terbatas.

4 Terjadilah flap superior dan inferior. Yang inferior


dideseksi secara lembut sampai tendo intermediate
dari [Link]. Flap yang superior di desksi ke
atas antara FCF dengan kapsula glandula sampai
tepi bawah mandibula. Ekstra hati-2 ok. Sedikit di
bawah tepi mandibula secara horizontal lewat
[Link] n. VII/r. mandibularis marginalis
sehingga sebaiknya saat deseksi didaerah ini nerve
stimulator sangat perlu. Atau terlebih dulu vena di
potong dan bagian atas vena dibelokan ke atas
melindungi saraf dari trauma. (menurut
Lampe).Perhatian: sebaiknya selama deseksi flap
kulit superior selalu diidentifikasi adanya r.
mandibularis yang jalannya horizontal. Bila r
mandibularis melekat pada glandula dan jaringan
lemak peri glandular tebal ok. Infeksi peri
glandulair maka insisi untuk membentuk flap kulit
dimulai seperti diatas tetap horizontal agak
melangkung ke bawah yang terdiri atas kulit,
subkutis dan platysma saja setelah sampai setinggi

9
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

tepi bawah glandula baru dibuat irisan pada fascia


dan selanjutnya desksi priglandular lemak dengan
sangat hati-2 sebaiknya mengunakan nerves
stimulator
5 [Link] externa ([Link]) dan vena facialis
anterior/communis (VFA/C) di klem dan
diligasi. Puntung superior keduanya di belokan k
etas guna melindungi saraf. Bila diperlukan untuk
meretraksi flap kulit kearah atas sebaiknya
memakai Cushing vein retractor (CVR).

6 Pengangkatan glandula dimulai dari bagian tepi


inferior glandula. Diantara tendo intermediate
dengan glandula. Dan tepat didaerah itu harus
diiidentifikasi n hypoglossus. Vena lingualis dekat
nervus tersebut kearah [Link] terlihat
lebih kearah lateroocranial melalui sebelah dalam
dari [Link] venter posterior dan m.
stylohyoideus.

7 Klem dan ligasi AME dan diutamakan puntung


proksimal diikat 2 kali dengan sutera sedang
puntung distal diikat satu kali.

8 Lobus dalam diangkat dengan cara meretraksi


[Link] dengan CVR kearah medial dan
meretraksi tepi atas perlukaan keatas dengan
slender finger retractor dengan dibantu menarik
glandula dengan klem (dressing and sponge forcep).
N lingualis beserta dengan serabut eferen dari
chorda tympani (serabut exitogladular) dan
ganglion submaxillaris/submandibularis.

9 Duktus glandula submandibularis(Wharton’s duct)


dipotong dan diligasi. Serabut eferen
[Link] dipotong proksimal dari
pertemuan nervus; disini perlu ekstra hati-2 ok. Ada
vasa kecil mengikuti n. chordatympani.

10 Glandula mudah diangkat secara tumpul

11 Dasar trigonum submandibulare tampak serta vasa


dan nervus seperti tersebut di atas dan perlu
ditunjukan pada asisten
12 Pematus kecil (selang infuse) yang diberi lubang
banyak dipasang atau dengan alat pematus khusus
yaitu JACKSON- PRATT DRAIN dan jahitan lapis
demi lapis; fascia dengan jarum fascia dan benang

10
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

plain-catgut, platysma dengan jarum fascia dan


benang chromic gut nomer 4-0, kulit dengan jarum
kulit dan benang nylon/prolene/sutera/ nomer 5-0.

Instruksi pasca operasi


1. Penderita dirawat 2 hari
2. Selama perawatan diobservasi ada tidaknya
komplikasi
3. Pematus diangkat setelah 24 jam bila masih
aktif adanya cairan jaringan maka ditunda
sampai +/- 5 hari.
4. Jahitan diangkat hari ke tujuh

L. DAFTAR TILIK

Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)

Prosedur Ekstirpasi Glandula Submandibularis

Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan


oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar

X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai


Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar

T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan


Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

KEGIATAN
KEGIATAN KLINIS NILAI
1 2 3
PERSIAPAN PRAOPERASI
Informed Consent
Laboratorium
Pemeriksaan Penunjang
Pemberian Antibiotik Profilaksi
Cairan Dan Darah
Memeriksa Dan Melengkapi Alat
Penderita Puasa

11
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

BIUS
Ga Atau Neurolep Atau Lokal
PERSIAPAN LOKAL DAERAH OPERASI
Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala
Desinfeksi Dengan Bahan Apa? Dan Cara?
Cara Menutupi Daerah Operasi

TINDAKAN OPERASI
Butir-2 Penting
Insisi Dan Pambuatan Flap Kulit
Deseksi Flap
Batas Flep Superor Dan Inferior Dan Bangunan Yang Perlu Diamati
Dan Dilindungi
Bangunan Yang Perlu Diamati Dan Perlu Dilindungi Dan Diligasi
Mulai Mengangkat Glandula
Bangunan Yang Diamati, Dilindungi Dan Ditindak
Pengangkatan Lobus Profunda; Bangunan Jang Diamati,Dirawat Dan
Ditindak
Pemotongan Duktus; Adakah Bangunan Disini Yang Perlu Dipotong
Dan Diligasi?
Pengangkatan Glandula Selannutnya
Penutupan Kulit Dan Pemasangan Pematus

M. MATERI PRESENTASI

• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
• Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
• Slide 4. Sialodenitis
• Slide 5. Etiologi
• Slide 6. Diagnosis
• Slide 7. Penatalaksanaan
• Slide 8. Komplikasi

N. MATERI BAKU

• SIALODENITIS AKUT

a. Pendahuluan
Sialodenitis akut adalah peradangan akut pada kelenjar ludah. Kemungkinan
penyakit ini disebabkan oleh adanya stasis saliva, akibat adanya obstruksi atau
berkurangnya produksi saliva.
b. Anatomi kelenjar saliva mayor
Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur yang terbesar berukuran 5,8 x 3,4cm dan
berat rata-rata 15-30 g. Berlokasi di regio pre aurikula dan bagian posterior

12
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

mandibula. Kelenjar parotis berhubungan dengan rongga mulut melalui duktus


Stensen dan bermuara ke mukosa bukal setinggi molar 2 atas. Nervus fasialis yang
berfungsi motorik untuk otot wajah masuk ke kelenjar parotis dan membaginya
menjadi dua zona surgikal (lobus superfisial dan lobus profunda. Lobus
superfisialis terletak pada bagian lateral dari maseter, lobus profunda terletak
diantara prosessus mastoid tulang temporal dan ramus mandibula. Kelenjar parotis
bagian superior dibatasin oleh [Link] bawah dari kelenjar parotis
meluas kebawah berbatasan dengan anteromedial otot sternokleidomastoid.
Arteri yang berdekatan dengan kelenjar ini adalah [Link] externa, [Link]
binterna dan temporalis superfisialis. Drainage melaluui vena retromandibular
yang terletak disebelah dalam nerbus fasilalis, sedangkan drainage limfatik
melalui kelenjar getah bening yang terletak di dalam kelenjar parotis dan
paraparotis.
Kelenjar submandibula beratnya setengah dari kelenjar parotis, yang merupakan
kelenjar saliva mayor terbesar kedua, terletak di dalam segitiga yang dibentuk
oleh [Link] anterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula. Nervus
fasialis cabang marginal mandivula berjalan superfisial dari kelenjar ini dan
sebelah dalam dari [Link]. duktus submandibularis (duktus Wharton’s)keluar
dari permukaan medial dari kelenjar ini dan berjalan diantara [Link] dan
hioglosuske m. Genioglosus. Arteri yang memperdarahi kelenjar submandibula
adalah cabang submental dari arteri fasialis. Drainase melalui vena fasialis yang
melewati permukaan lateral kelenjar submndibula.
Kelenjar sublingual merupakan kelenjar saliva mayor yang paling kecil dengan
berat sekitar 2 – 4 g, terletak di bawah mukosa dasar mulut antara mandibula dan
m. Genioglosus. Duktus Wharton dan nervus lingualis melewati diantara
sublingual dan [Link]. Kelenjar ini tidak memiliki kapsul, tidak memiliki
duktus yang dominan, drainase melalui kurang lebih 10 duktus kecil-kecil (duktus
rivinus) dan bermuara ke lipatan sublingual pada dasar mulut.
Kelenjar saliva minor , kelenjar yang tidak memiliki duktus ,jumlahnya sangat
banyak berkisar 600 sampai 1000 kelenjar, tersebar di regio bukal, labial, palatal,
dan lingual. Dapat ditemukan juga pada bagian atas tonsil dan dasar lidah. Suplai
darah berasal dari arteri di sekitar rongga mulut. Kelenjar saliva minor menerima
inervasi dari nervus lingualis, kecuali kelenjar di palatum yang menerima inervasi
dari nervus palatinum.

13
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

c. Fisiologi
Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah memproduksi saliva yang berguna pada
proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh. Saliva secara aktif di produksi
dalam jumah yang besar sesuai dengan ukuran kelenjar saliva, secara ekstrinsik
dikontrol oleh syaraf simpatik dan para simpatik.
Kelenjar saliva di lidah memproduksi lipase yang berfungsi menghancurkan
trigliserida. Enzim ini berfungsi di dalam lambung dan juga proksimal dari
duodenum karena enzim ini aktif secara optimal pada Ph rendah. Saliva terdiri
dari inorganik dan organik. Kandungan organik terdiri dari: amilase, lingualifase,
lisozim, glikoprotein, laktoferin dan imunoglobulin A, saliva juga mengandung
antibakterial yang dapat berfungsi protektif ( glikoprotein dan imunoglobulin A )
yang secara aktif dapat melawan virus dan bakteri. Enzim lisosim menyebabkan
bakteri mengalami aglutinasi dan menyebabkan autolisis pada dinding sel bakteri.
enzim laktoferin menghambat pertumbuhan dari bakeri.

d. Frekuensi: sering pada gld. Parotis bisa mengenai yang lain

e. Ruang Lingkup
pasien mengeluh sakit pada bawah rahang bawah (kelenjar sumandibularis)
sedang parotis pada pipi, benjolan yang difus, kenyal dan sakit tekan/spontan,
kemerahan di kulit/eritem. Bila abses akan keluar pus pada muara duktus. Bila
duktus erosi maka saliva akan mengisi jaringan sekitarnya (ingat sifat saliva
adalah fragmentasi dan proteolitik)

f. Faktor Resiko
pasien debil, pasien dehidrasi (operasi major/op. mulut, pharynx + larynx,
gastrointestinal), terapi radiasi/brachytherapy, pemberian imunosupresi,
kemoterapi, atau, hygiene mulut jelek, perawatan rumah sakit yang tak
higienis(infeksi nosokomial), pasien banyak kali puasa/tak suka makan

14
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

g. Etiologi
Sstafilokokus koagulasi positif dan bisa diikuti oleh streptokokus pneumoni, E.
coli, hemofilius influenza sedang bakteria anaerob yang sering adalah
bakterosides m dan streptokokus micros

h. Pemeriksaan Penunjang
Sialografi merupakan kontra indikasi; foto konvensional pandangan lateral,USG,
sialoendoskopi diagnostik, CT potongan aksial, koronal maupun sagital & MRI
dapat dikerjakan.

i. Terapi:
1. Masase lemah-lembut berulang, rehidrasi, kompres hangat, oral irigasi
dengan anti septik
2. Antimikroba per-oral: tu. Untuk stafilokokus; ingat beta laktam bakteri;
bakteri anaerob dengan khoramfenikol
3. Sebaiknya antibiotika parenteral di poli kemudian dilanjutkan per oral, Buku
panduan → memakai amoksilin dengan asam klavulanat atau ampisilin
dengan sulbaktam
4. Terapi simtomatis: anti inflamasi dan analgesik/analgesik antipiretik,
mokolitik.
5. Terapi operasi minor dan major: major tak dikerjakan sedang insisi(minor)
dilakukan.

j. Tindak Lanjut
Umunya penyembuhan dalam waktu 24-48 jam
1. Bila tidak, perlu insisi dan drainase.
2. USG & CT dapat menginformasikan tentang masih ada atau tidaknya abses

Prosedur operasi minor:

1. Butir –butir Penting:


a. Bila jelas ada abses dengan fluktuasi di permukaan maka perlu insisi.
Untuk parotis sesuai dengan garis Lange di wajah dan kemudian pasang
pematus berupa selang infuse yang dibuat lubang banyak dan anastesi
lokal saja sedang glandula submandibularis perlu insisi kulit bawah
mandibula sekitar 4 cm dibawah mandibula guna menghidari perlukaan
terhadap [Link] n. VII dengan anastesi local atau sebaiknya dengan
neurolep lalu dipasang pematus.
b. Pada parotis abses sulit dilacak ok. Atasnya terdiri atas fasia yang tebal
sehingga bila terbukti ada abses dan terapi konvensional tak membawa
hasil maka perLu insisi dengan GA/neorolep atau aspirasi jarum dengan
panduan CT atau USG dengan bius lokal.

15
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

2. Teknik Insisi:
a. Dikerjakan bila tak ada fluktuasi. Penjelasan kepada penderita dan
keluarganya mengenai tindakan operasi yang akan dijalani seta resiko
komplikasi disertai dengan tandatangan persetujuan dan permohonan dari
penderita untuk dilakukan operasi (informed consent). Pemeriksaan
kelengkapan alat operasi, obat anastesi. Panderita puasa minimal 6 jam
bila akan GA atau neurolep.
b. Bila dengan Ga atau neurolep, penderita ditidurkan terlentang kepala
hiperekstensi dan miring kearah yang [Link] disinfeksi dengan
larutan desinfeksi sesuai prosedur kemudian daerah operasi ditutup dan
dipersempit dengan linen steril.
c. Untuk Parotis, insisi dengan standar parotidectomy flap dan dengan
hemostad dibuat lubang banyak yaitu tempat-2 yang fluktuasi
d. Kemudian alat pematus ditempatkan pada lubang-2 itu dan kulit ditutup
e. Operasi selesai

• SIALOADENITIS REKUREN KRONIK

a. Definisi
Peradangan pada glandula salivarius yang khronik; dasar waktu 12-14 minggu,
berulang kambuh, terkadang diluar serangan masih teraba benjolan bawah
rahang bawah walaupun tidak sakit. Bila stadium akut terjadi pembesaran dan
sedikit sakit tekan. Bisa kejadian saliva berkurang produksinya sehingga 80%
maka penderita menderita xerostomia( rasa kering mulut, perih di mukosa mulut
dan mudah kejadian erosi mukosa.

b. Ruang Lingkup
Serangan berulang dengan kejadian benjolan yang difus, sedikit sakit tekan dan
kenyal (indurasi) terutama saat makan. Di darah submandibula atau pipi.

c. Faktor Resiko
aliran saliva berkurang ok. Penyempitan→ striktura,
kalkulus/kalkuli; perubahan stuktur dari saliva ok→radang akut tidak sembuh,
radiasi ,sitostatika

d. Pemeriksaan Penunjang
Seperti yang akut akan tetapi disini sialografi dapat dilakukan. Guna melihat
aktivitas dinamik dari glandula maka dapat dilakukan dengan radiosialografi
atau radionucleide imeging menggunakan sodium pertechnetrate (Tc 99m) dan
Gallium 67 citrate untuk membedakan sel tumor atau inflamasi yang sekarang
diganti thalium 201

e. Terapi
1. Faktor resiko: faktor resiko harus hilang
2. Terapi konservatif tahap 1: a) sialogogues, masase berulang, b) antibiotika
peroral dengan obat seperti di atas, c) antiinflamasi, analgetik, antipiretika
bila eksaserbasi akut.

16
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

3. Terapi konservatif tahap 2: a)dilatasi duktus periodik, 2) kastrasi glandula


dengan cara diikat duktusnya atau radiasi glandula total
4. Terapi Operasi Nonglandula: Tympanic Necrotomy.
5. Terapi Pamungkas: Sialoadenektomi atau eksisi glandula

f. Tindak Lanjut:
1. disesuaikan dengan tahap terapi seperti di atas
2. kemungkinan dapat atrofi mandiri ok. Duktus tersumbat akibat duktus
meyempit karena hiperplasi selular atau kejadian tumpukan saliva kental
dan karena endapan protein.
3. Perlu observasi untuk terbentuknya lesi benign lymphoepithelial yang perlu
ditidak lanjuti ok mungkin makin membesar dan kambuhan sialoadenitis
atau pertumbuhan karsinoma undeferentiated dan pseudolymphoma

Prosedur Operasi Major (hanya untuk GLD submandibularis)

1. Butir-butir penting:
• Insisi kulit agak jauh di bawah mandibula
• Hindari perlukaan pada [Link] [Link] dan r. cervicalis nVII
• Hindari trauma pada n. hypoglossus dan n. lingualis
• V fasialis anterior lebih superficial dari glandula
• Lapisan-2 dari luar ke dalam adalah kulit , subkutan, platysma, fasia
superficialis cervicalis, r mandibularis dan cervicalis n. VII, vasa vena
dan arteri dan kapsula glandula
• Hafal anatomi dan topografi regio supra hyaoid

2. Teknik Operasi
1. Insisi kulit dibuat 4 cm dibawah tepi bawah mandibula secara horizontal
agak melengkung ke bawah.
2. Insisi dilanjutkan mendalam melalui lapis platysma sampai dengan fascia
cervicalis superficial (FCF). Semua irisan ini dibuat sebagai flap kulit.
Ujung lateral sampai tepi anterior m strenocleidomastoideus dan tepi ini
perlu diperlihatkan. Pada dataran ini perlu dicari v Retromandibularis /
fasialis communis dan anak cabangnya yaitu v fasialis posterior/fasialis
dan anterior/submentalis, dilakukan jahitan pancang melalui platysma
dan fascia di atas. Pada saat memotong platysma dan dideseksi keatas
bersama dgn FCF maka kita menjumpai [Link] [Link] yang
mensarafi platysma. Sebaiknya anda mempertahankan saraf ini. Dan
perlu dicamkan guna mengembalikan fungsinya perlu dijahit kembal tepi
insisi antara atas dan bawah platysma yang di iris.. insisi pilihan lain
adalah irisan kulit sampai platysma, kemudian deseksi lembut ke atas
sampai tepi bawah mandibula. Platysma dibelah secara vertical dan
diretraksi dengan retractor ke medial dan lateral. Akan tetapi pandangan
kearah glandula terbatas bila glandula tidak terlalu besar maka
pandangan tetap luas sedang apabila terlalu besar pandangan operator
terbatas.
3. Terjadilah flap superior dan inferior. Yang inferior dideseksi secara
lembut sampai tendo intermediate dari [Link]. Flap yang superior

17
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

di desksi ke atas antara FCF dengan kapsula glandula sampai tepi bawah
mandibula. Ekstra hati-2 ok. Sedikit di bawah tepi mandibula secara
horizontal lewat [Link] n. VII/r. mandibularis marginalis
sehingga sebaiknya saat deseksi didaerah ini nerve stimulator sangat
perlu. Atau terlebih dulu vena di potong dan bagian atas vena dibelokan
ke atas melindungi saraf dari trauma. (menurut Lampe).Perhatian:
sebaiknya selama deseksi flap kulit superior selalu diidentifikasi adanya
r. mandibularis yang jalannya horizontal. Bila r mandibularis melekat
pada glandula dan jaringan lemak peri glandular tebal ok. Infeksi peri
glandulair maka insisi untuk membentuk flap kulit dimulai seperti diatas
tetap horizontal agak melangkung ke bawah yang terdiri atas kulit,
subkutis dan platysma saja setelah sampai setinggi tepi bawah glandula
baru dibuat irisan pada fascia dan selanjutnya desksi priglandular lemak
dengan sangat hati-2 sebaiknya mengunakan nerves stimulator.
4. [Link] externa ([Link]) dan vena facialis anterior/communis
(VFA/C) di klem dan diligasi. Puntung superior keduanya di belokan k
etas guna melindungi saraf. Bila diperlukan untuk meretraksi flap kulit
kearah atas sebaiknya memakai Cushing vein retractor (CVR).
5. Pengangkatan glandula dimulai dari bagian tepi inferior glandula.
Diantara tendo intermediate dengan glandula. Dan tepat didaerah itu
harus diiidentifikasi n hypoglossus. Vena lingualis dekat nervus tersebut
kearah [Link] terlihat lebih kearah lateroocranial melalui
sebelah dalam dari [Link] venter posterior dan m. stylohyoideus.
6. Klem dan ligasi AME dan diutamakan puntung proksimal diikat 2 kali
dengan sutera sedang puntung distal diikat satu kali.
7. Lobus dalam diangkat dengan cara meretraksi [Link] dengan
CVR kearah medial dan meretraksi tepi atas perlukaan keatas dengan
slender finger retractor dengan dibantu menarik glandula dengan klem
(dressing and sponge forcep). N lingualis beserta dengan serabut eferen
dari chorda tympani (serabut exitogladular) dan ganglion
submaxillaris/submandibularis.
8. Duktus glandula submandibularis(Wharton’s duct) dipotong dan diligasi.
Serabut eferen [Link] dipotong proksimal dari pertemuan
nervus; disini perlu ekstra hati-2 ok. Ada vasa kecil mengikuti n.
chordatympani.
9. Glandula mudah diangkat secara tumpul
10. Dasar trigonum submandibulare tampak serta vasa dan nervus seperti
tersebut di atas dan perlu ditunjukan pada asisten.
11. Pematus kecil (selang infuse) yang diberi lubang banyak dipasang atau
dengan alat pematus khusus yaitu JACKSON- PRATT DRAIN dan
jahitan lapis demi lapis; fascia dengan jarum fascia dan benang plain-
catgut, platysma dengan jarum fascia dan benang chromic gut nomer 4-0,
kulit dengan jarum kulit dan benang nylon/prolene/sutera/ nomer 5-0.

3. Komplikasi Baik Operasi Minor Maupun Major


• Kelajuan ringan sampai berat dari bibir bawah. Bila 9-12 bulan tak
kunjung sembuh maka revisi bibir bawah
• Perdarahan

18
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

• Trauma pada n hypoglossi n. lingualis

4. Tindak Lanjut Paska Operasi:


1. Penderita dirawat 2 hari
2. Selama perawatan diobservasi ada tidaknya komplikasi
3. Pematus diangkat setelah 24 jam bila masih aktif adanya cairan jaringan
maka ditunda sampai +/- 5 hari.
4. Jahitan diangkat hari ke tujuh

5. Instrumen Yang Diperlukan


1. Sterile scalpel blades no:19-22
2. Scalpel handle
3. Surgical scissors blunt/blunt, curved (Cooper)
4. Dissecting scissor, curved (Metzenbaum)/dissecting scissor for plastic
surgery Gorney/scissor, delicate (Chadwick)
5. Vessel and tendon scissors, curved and straight (stevens)
6. Standard tissue forcep
7. Dissecting forcep, delicate (Adson); dissecting, nontraumatic forcep
8. Hemostatic, delicate forcep/klem straight and curved (Halsteid-
mosquito)
9. Hemostatic forcep standard (Adson, Leriche)
10. Dissecting and ligature forceps (Baby-Overholt and Baby-Mixter)
11. Bulldog clamps (DeBekey)
12. Dressing and sponge forcep(Rample)
13. Towel clamps (Backhaus)
14. Sonde/probe 1,0mm,1,5 mm diam. Of tips
15. Retractor Lagenbeck-Green dan Wound and vein retractors
(Kocher/Cushing)
16. Needle holder DeBekay, Sarot
17. Deschams ligature needle, blunt
18. Sponge forceps, curved (Duplay)
19. Mouth gag (Whitehead-Jennings, Featherstone)
20. Tongue depressor (Tobold/Weder)
21. Jarum dan benang yang didunakan: 1)kulit luar dgn. Jarum
conventional/reverse cutting;badan jarum 3/8 atau ¼ sedang [Link]
memakai half curved dan tipe benang sutera /vicryl/nylon/prolene,
subkutan dg. Jarum spatula; badan jarum ½ dan tipe benang cat gut,
platysma dg. Jarum taper point; badan jarum ½ dan tipe benang
chromic/cat gut, untul fascia dgn. Jarum taper pont, badan jarum 1/2
atau 5/8 dan benang chromic/cat gut, vasa dengan benang sutera/
vasakecil bisa dgn. chromic dan badan jarum 1/2 atau 5/8 begitu pula
ductus.

19
Modul IV.5.2 – Sialodenitis

• Kepustakaan :

1. Rohan R, Matthew W, Bowen A. Non Neoplastic Diseases of Salivary Gland. In


: Bailey BJ, Pillsbury HC, Newlands SD, Healy GB, Derkay CS, Friedman NR,
editors. Head and neck surgery – otolaryngology. 5th ed. Philadelphia: Lippincott
Williams & Wilkins; 2014. p.708-710
2. Yuan F, Butt S. Non Infectious Inflammatory Diseases Sialolithiasis. In :
Current Diagnosis & Treatment Otolaryngology Head And Neck Surgery.
Chapter V. 3rd ed. McGrownHill; 2012. P.320-322
3. Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529
4. Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s
Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519
5. Yuan Fidelia dan Butt [Link] Diagnosis & Treatment in
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300

20
MODUL UTAMA
LARING FARING

PENYAKIT KELENJAR LUDAH


MODUL IV.5.3
PAROTITIS

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ................................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ................................................................................................... 1

C. REFERENSI ............................................................................................................. 1

D. KOMPETENSI ......................................................................................................... 2

E. GAMBARAN UMUM ............................................................................................. 2

F. CONTOH KASUS .................................................................................................. 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN .................................................................................. 2

H. METODE PEMBELAJARAN ................................................................................. 3

I. EVALUASI .............................................................................................................. 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ...................................... 4

K. MATERI PRESENTASI .......................................................................................... 7

L. MATERI BAKU....................................................................................................... 8

M. Daftar Pustaka...................................................................................................... 11
Modul IV.5.3 – Parotitis

MODUL IV.5.3
LARING-FARING – PENYAKIT KELENJAR LUDAH : PAROTITIS

A. WAKTU

Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :


Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 1 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 9 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi : Parotitis
• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
• Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur
• Slide 4. Parotitis
• Slide 5. Etiologi
• Slide 6. Diagnosis
• Slide 7. Penatalaksanaan

2. Contoh Kasus :
Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun dengan keluhan bengkak pada daerah
pipi kiri sejak 3 hari yang lalu, disertai dengan demam, nafsu makan berkurang,
lemas. Bengkak pada daerah pipi kiri disertai warna kemerahan. Penderita juga
mengeluhkan bengkak dan nyeri pada kantung zakar kanan.

3. Sarana dan Alat Bantu Latih :


• Alat pemeriksaan THT rutin Model Anatomi, Video
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting) : bangsal THTKL, Klinik THTKL.

C. REFERENSI

1. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Fifth Edition, Lippincott
Williams & Wilkins, Philadelphia, 2014, 703 – 704.
2. McCaffrey TV dan Arrieta AJ. Inflammatory Disorders of The Salivary Glands.
In Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery 5th ed. Philadelpia:
Mosby Elseviere, 2010.
3. Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and Neck
Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008: 512-529.
4. Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In Ballenger’s
Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008: 507-519.

1
Modul IV.5.3 – Parotitis

5. Yuan Fidelia dan Butt [Link] Diagnosis & Treatment in


Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis parotitis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan beberapa pemeriksaan tambahan yang diperlukan.
b. Mampu melaksanakan tatalaksana parotitis serta merujuk ke fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.

2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
1. Menjelaskan anatomi, fisiologi struktur kelenjar liur
2. Menjelaskan etiologi, macam-macam virus
3. Menjelaskan gambaran klinik dari parotitis
4. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang.
5. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
tambahan.
6. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan parotitis
7. Melakukan work-up pada penderita parotitis (follow-up selanjutnya)
8. Merujuk ke rs dengan fasilitas yang lebih tinggi

E. GAMBARAN UMUM
Parotitis adalah penyakit infeksi pada kelenjar parotis akibat virus. Penyakit ini
merupakan penyebab edema kelenjar parotis yang paling sering. Kejadian parotitis
saat ini berkurang karena adanya vaksinasi. Sebelum diperkenalkan vaksinasi
mumps pada tahun 1967, insiden mumps di Amerika Serikat meningkat hingga
300.000 kasus tiap tahunnya. Insiden ini menurun secara dramatis hingga 266 kasus
yang dilaporkan pada tahun 2001. Secara demografis, terjadi peralihan penyakit
dari masa kanak-kanak hingga paling sering dijumpai pada remaja muda. Insidensi
parotitis tertinggi pada anak-anak berusia antara 4-6 tahun

F. CONTOH KASUS
Seorang anak laki-laki berusia 13 tahun dengan keluhan bengkak pada daerah pipi
kiri sejak 3 hari yang lalu, disertai dengan demam, nafsu makan berkurang, lemas.
Bengkak pada daerah pipi kiri disertai warna kemerahan. Penderita juga
mengeluhkan bengkak dan nyeri pada kantung zakar kanan.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
1. Menjelaskan anatomi, fisiologi struktur kelenjar liur
2. Menjelaskan etiologi, macam-macam virus, dan gambaran klinik dari parotitis
3. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang.
4. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
tambahan.
5. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan parotitis
2
Modul IV.5.3 – Parotitis

6. Melakukan work-up pada penderita parotitis (follow-up selanjutnya) dan


merujuk ke RS dengan fasilitas yang lebih tinggi bila terjadi komplikasi

H. METODE PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion
• Peer assisted learning (PAL)
• Task based medical education
• Journal reading and review
• Case simulation and investigation exercise
• Equipment characteristics and operating instructions
• Simulation and real examination exercises (physical and device)
• Demonstration and coaching
• Practice with real clients
• Continuing professional development

I. EVALUASI

1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan pada akhir pertemuan dilakukan
post-test dalam bentuk essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan,
yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan
untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi kelenjar liur
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh
pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan l angkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP
(Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang
oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation).
Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah
pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada
model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
- Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.

3
Modul IV.5.3 – Parotitis

- Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan


terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
- Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang
ditemukan.
5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
6. Pendidik / fasilitator :
- Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
- Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi.
- Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai.
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
- Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahap akhir THTKL oleh
Kolegium Ilmu THTKL.
- Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra
pendidikan THTKL lanjut oleh Kolegium Ilmu THTKL
- Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THTKL oleh Kolegium
Ilmu THTKL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


Sebelum pembelajaran ( pretest)(5 soal)

1. Insidensi tertinggi parotitis pada anak-anak berusia antara


A. 1-3 tahun
B. 4-6 tahun
C. 9-11 tahun
D. 11-13 tahun
E. 13-15 tahun
Jawaban: B

2. Kelenjar liur terbesar adalah


A. Kelenjar Submandibula
B. Kelenjar Sublingual
C. Kelenjar Parotis
D. Kelenjar Von Ebner
E. Kelenjar Tiroid
Jawaban: C

3. Seorang anak laki-laki berusia 4 tahun dibawa ibunya berobat ke Klinik THT
dengan keluhan bengkak pada pipi kanan dan kiri sejak 2 hari yang lalu.
4
Modul IV.5.3 – Parotitis

Keluhan disertai demam, dan tidak nafsu makan. Gejala klinis apalagi yang
dapat ditemukan pada penderita ini?
A. Mialgia
B. Lesu
C. Sakit kepala
D. Nyeri
E. Semua benar
Jawaban: E

4. Pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan pada penderita ini adalah


A. Wheezing
B. Oral hygiene buruk
C. Stridor
D. Trismus
E. nyeri menelan
Jawaban: B

5. Komplikasi yang mungkin dapat dijumpai pada penderita ini antara lain
A. Uveitis
B. Glomerulonephritis
C. Miokarditis
D. Arthritis
E. Semua benar
Jawaban: C

Tengah pembelajaran (5 soal)

1. Seorang anak laki-laki berusia 5 tahun dibawa ibunya berobat ke Klinik THT
dengan keluhan bengkak pada pipi kanan sejak 3 hari yang lalu. Keluhan disertai
demam, lesu, dan tidak nafsu makan. Anak juga mengeluhkan bengkak pada
kantung zakar. Apa kemungkinan etiologi keluhan di atas?
A. Paramixovirus, Coxsackie A dan B, Influenza A
B. Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa
C. Measles, Herpes Simpleks, Rubella
D. Eschericia coli, Enterobacter sp., Helicobacter pylori
E. Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorrhoe
Jawaban: A
2. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain
A. Antibodi mump S dan antigen V
B. Biopsi
C. Rontgen thorax
D. MRI

5
Modul IV.5.3 – Parotitis

E. Isolasi virus dari cairan cerebrospinal


Jawaban: A

3. Jika terdapat gejala meningitis aseptic pada penderita ini, pemeriksaan yang
dapat dilakukan untuk menegakan diagnosa adalah
A. Antibodi mump S dan antigen V
B. Biopsi
C. Rontgen thorax
D. MRI
E. Isolasi virus dari cairan cerebrospinal
Jawaban: E

4. Apakah terapi yang paling tepat untuk penderita di atas saat ini?
A. Meningkatkan oral higiene
B. Analgetik-antipiretik
C. Antibiotik
D. Antiviral
E. Istirahat
Jawaban: C

5. Pemeriksaan penunjang apa saja yang dapat dilakukan untuk menegakan


diagnosa parotitis
A. Rontgen thorax
B. USG abdomen
C. USG parotis
D. MRI
E. CT scan
Jawaban: C

6. Komplikasi yang jarang terjadi pada penderita parotitis adalah:


A. Pankreatitis
B. Meningitis aseptik
C. Tuli sensorineural
D. Miokarditis
E. BPPV
Jawaban: C

Akhir pembelajaran (post test)(5 soal)

1. Seorang anak perempuan berusia 5 tahun dibawa ibunya berobat ke Klinik THT
dengan keluhan bengkak dan nyeri pada pipi kiri sejak 2 hari yang lalu. Keluhan
disertai demam, sakit kepala dan lesu. Apa etiologi yang mungkin menyebabkan
keluhan penderita ini?
6
Modul IV.5.3 – Parotitis

A. paramiksovirus,
B. sitomegalovirus,
C. Coxsackie A dan B,
D. virus koriomeningitis limfositik.
E. Semua Benar
Jawaban: E

2. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain


A. Isolasi/ kultur cairan dari saliva
B. Isolasi/ kultur cairan dari urin
C. PCR
D. Antibodi Mumps S dan antigen V
E. Semua benar
Jawaban: E

3. Komplikasi yang mungkin dapat terjadi pada penderita ini kecuali


A. Orkitis
B. Pankreatitis
C. Miokarditis
D. Meningitis aseptic
E. Sialodenitis
Jawaban: A

4. Tatalaksana pasti pada pasien parotitis , kecuali


A. Istirahat
B. Hidrasi yang adekuat
C. Pemberian antipiretik
D. Pemberian analgetik
E. Pemberian antibiotic
Jawaban: E

5. Edukasi pasien parotitis yang dapat dianjurkan adalah


A. Menjaga oral hygiene
B. Bebat tekan
C. Menggunakan antibiotic
D. Masase pada daerah bengkak
E. Kurangi minum
Jawaban: A

K. MATERI PRESENTASI
• Slide 1. Pendahuluan
• Slide 2. Anatomi Kelenjar Liur
7
Modul IV.5.3 – Parotitis

• Slide 3. Fisiologi Kelenjar Liur


• Slide 4. Parotitis
• Slide 5. Etiologi
• Slide 6. Diagnosis
• Slide 7. Penatalaksanaan

L. MATERI BAKU
PAROTITIS
a. Pendahuluan
Parotitis adalah penyakit infeksi pada kelenjar parotis akibat virus. Penyakit ini
merupakan penyebab edema kelenjar parotis yang paling sering. Kejadian
parotitis saat ini berkurang karena adanya vaksinasi. Sebelum diperkenalkan
vaksinasi mumps pada tahun 1967, insiden mumps di Amerika Serikat
meningkat hingga 300.000 kasus tiap tahunnya. Insiden ini menurun secara
dramatis hingga 266 kasus yang dilaporkan pada tahun 2001. Secara demografis,
terjadi peralihan penyakit dari masa kanak-kanak hingga paling sering dijumpai
pada remaja muda. Insidensi parotitis tertinggi pada anak-anak berusia antara 4-
6 tahun.

b. Anatomi kelenjar saliva mayor


Kelenjar parotis merupakan kelenjar liur yang terbesar berukuran 5,8 x 3,4cm
dan berat rata-rata 15-30 g. Berlokasi di regio pre aurikula dan bagian posterior
mandibula. Kelenjar parotis berhubungan dengan rongga mulut melalui duktus
Stensen dan bermuara ke mukosa bukal setinggi molar 2 atas. Nervus fasialis
yang berfungsi motorik untuk otot wajah masuk ke kelenjar parotis dan
membaginya menjadi dua zona surgikal (lobus superfisial dan lobus profunda.
Lobus superfisialis terletak pada bagian lateral dari maseter, lobus profunda
terletak diantara prosessus mastoid tulang temporal dan ramus mandibula.
Kelenjar parotis bagian superior dibatasin oleh [Link] bawah dari
kelenjar parotis meluas kebawah berbatasan dengan anteromedial otot
sternokleidomastoid.
Arteri yang berdekatan dengan kelenjar ini adalah [Link] externa, [Link]
binterna dan temporalis superfisialis. Drainage melalui vena retromandibular
yang terletak disebelah dalam nervus fasilalis, sedangkan drainage limfatik
melalui kelenjar getah bening yang terletak di dalam kelenjar parotis dan
paraparotis.
Kelenjar submandibula beratnya setengah dari kelenjar parotis, yang merupakan
kelenjar saliva mayor terbesar kedua, terletak di dalam segitiga yang dibentuk
oleh [Link] anterior, posterior belly dan inferior ramus mandibula.
Nervus fasialis cabang marginal mandivula berjalan superfisial dari kelenjar ini
dan sebelah dalam dari [Link]. duktus submandibularis (duktus

8
Modul IV.5.3 – Parotitis

Wharton’s)keluar dari permukaan medial dari kelenjar ini dan berjalan diantara
[Link] dan hioglosuske m. Genioglosus. Arteri yang memperdarahi
kelenjar submandibula adalah cabang submental dari arteri fasialis. Drainase
melalui vena fasialis yang melewati permukaan lateral kelenjar submndibula.
Kelenjar sublingual merupakan kelenjar saliva mayor yang paling kecil dengan
berat sekitar 2 – 4 g, terletak di bawah mukosa dasar mulut antara mandibula dan
m. Genioglosus. Duktus Wharton dan nervus lingualis melewati diantara
sublingual dan [Link]. Kelenjar ini tidak memiliki kapsul, tidak
memiliki duktus yang dominan, drainase melalui kurang lebih 10 duktus kecil-
kecil (duktus rivinus) dan bermuara ke lipatan sublingual pada dasar mulut.
Kelenjar saliva minor , kelenjar yang tidak memiliki duktus ,jumlahnya sangat
banyak berkisar 600 sampai 1000 kelenjar, tersebar di regio bukal, labial,
palatal, dan lingual. Dapat ditemukan juga pada bagian atas tonsil dan dasar
lidah. Suplai darah berasal dari arteri di sekitar rongga mulut. Kelenjar saliva
minor menerima inervasi dari nervus lingualis, kecuali kelenjar di palatum yang
menerima inervasi dari nervus palatinum.

c. Fisiologi
Fungsi utama dari kelenjar saliva adalah memproduksi saliva yang berguna pada
proses digestif, lubrikasi dan pertahanan tunbuh. Saliva secara aktif di produksi
dalam jumah yang besar sesuai dengan ukuran kelenjar saliva, secara ekstrinsik
dikontrol oleh syaraf simpatik dan para simpatik.
Kelenjar saliva di lidah memproduksi lipase yang berfungsi menghancurkan
trigliserida. Enzim ini berfungsi di dalam lambung dan juga proksimal dari
duodenum karena enzim ini aktif secara optimal pada Ph rendah. Saliva terdiri
dari inorganik dan organik. Kandungan organik terdiri dari: amilase,
lingualifase, lisozim, glikoprotein, laktoferin dan imunoglobulin A, saliva juga
mengandung antibakterial yang dapat berfungsi protektif (glikoprotein dan
imunoglobulin A) yang secara aktif dapat melawan virus dan bakteri. Enzim
lisosim menyebabkan bakteri mengalami aglutinasi dan menyebabkan autolisis
pada dinding sel bakteri. enzim laktoferin menghambat pertumbuhan dari bakeri.

9
Modul IV.5.3 – Parotitis

d. Etiologi
Virus yang terlibat dalam terjadinya parotitis viral akut antara lain
paramiksovirus, sitomegalovirus, Coxsackie A dan B, ecovirus, influenza A, dan
virus koriomeningitis limfositik.

e. Diagnosis
Onset penyakit ini diawali dengan adanya rasa nyeri dan bengkak pada daerah
sekitar kelenjar parotis (gambar 1). Onset parotitis biasanya terjadi dalam 24 jam
dan berlangsung hingga satu minggu kemudian. Masa inkubasi berkisar antara 2
hingga 3 minggu. Gejala prodromal meliputi demam, malaise, mialgia, sakit
kepala, dan anoreksia. Pada umumnya parotitis terjadi bilateral, tetapi dapat juga
unilateral. Kelenjar salivarius lainnya seperti kelenjar submandibula dan
sublingual lebih jarang terlibat dan hampir tidak pernah sendirian terlibat.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan konfirmasi antibodi mumps S dan antigen V.
Diagnosis juga dapat dibuat dengan cara mengisolasi virus dari cairan
serebrospinal pada saat 3 hari pertama muncul gejala meningitis aseptik. Virus
juga ditemukan pada saliva sekitar 1 minggu mulai dari 2-3 hari sebelum onset
parotitis. Kultur virus dari urin juga mungkin dilakukan dalam 2 minggu
pertama. PCR atau kultur virus dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan
virus.

Gambar 2. Bengkak di daerah kelenjar parotis

f. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain orkitis, meningitis aseptik,
pankreatitis, dan miokarditis. Komplikasi yang jarang terjadi adalah tuli
sensorineural. Sialodenitis obstruktif kronis dapat berkembang beberapa tahun
setelah episode parotitis akut.

g. Tata Laksana
Terapinya istirahat, hidrasi yang adekuat, meningkatkan oral hygiene, pemberian
antipiretik dan analgetik, pemberian antiviral atau imunomodulator. Pemberian
antibiotik diindikasikan jika ditemukan superinfeksi atau komplikasi.

10
Modul IV.5.3 – Parotitis

M. Daftar Pustaka
1. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Fifth Edition,
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2014, 703 – 704.
2. McCaffrey TV dan Arrieta AJ. Inflammatory Disorders of The Salivary
Glands. In Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery 5th ed.
Philadelpia: Mosby Elseviere, 2010.
3. Witt RL. Salivary Gland Diseases. In Essential Otolaryngology Head and
Neck Surgery 9th ed. Amerika Serikat: The McGraw-Hill Companies, 2008:
512-529.
4. Carroll WR dan Morgan CE. Diseases of the Salivary Glands. In
Ballenger’s Manual of Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery. 2008:
507-519.
5. Yuan Fidelia dan Butt [Link] Diagnosis & Treatment in
Otolaryngology Head and Neck Surgery 2nd ed. 2008: 294-300

11
MODUL UTAMA
LARING FARING

PENYAKIT KELENJAR LUDAH


MODUL IV.6
DISFONI

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU.............................................................................................................. 1

B. PERSIAPAN SESI ............................................................................................. 1

C. REFERENSI ...................................................................................................... 1

D. KOMPETENSI .................................................................................................. 1

E. GAMBARAN UMUM....................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS ............................................................................................. 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN ........................................................................... 2

H. METODA PEMBELAJARAN .......................................................................... 2

I. EVALUASI ........................................................................................................ 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ................................. 4

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ......................... 5

L. DAFTAR TILIK ................................................................................................. 6

M. MATERI PRESENTASI .................................................................................... 6

N. MATERI BAKU ................................................................................................. 7


Modul IV.6 - Disfoni

MODUL IV.6
LARING-FARING : DISFONI

A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 8 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 24 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi : Disfoni
• Slide I : Gejala dan Tanda Disfoni
• Slide 2 : Anamnesis & Pemeriksaan Disfoni
• Slide 3 : Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
• Slide 4 :Faktor Resiko Disfoni
• Slide 5 :Clinical Decision Making dan Medikamentosa
2. Kasus : Disfoni
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Model anatomi laring, video
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.

C. REFERENSI
1. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia,
Lea & Fabiger, 1993, chapter 34&35, pp.569-619.
2. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014.
3. Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology.
Philadelphia. WBSaunders Co.,1991, chapter 29,31,33&34, pp. 2257-384.
3. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw
Hill, 8th Ed, Chapter 31, pp. 724-92

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis disfoni berdasarkan anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang bila diperlukan (Laringoskopi Indirek/
Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/ foto polos leher AP
dan lateral/ CT scan leher/ Waktu Fonasi Maksimal/ Perceptual Analisis/
Voice Handicap Index (VHI))
b. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang
lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
a. Mengenali gejala dan tanda klinis penyakit yang menyebabkan disfoni
b. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
Laringoskopi Indirek/ Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy

1
Modul IV.6 - Disfoni

(FOL)/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher/ Waktu Fonasi
Maksimal/ Perceptual Analisis/ Voice Handicap Index (VHI))
c. Mengenali faktor resiko terjadinya disfoni
d. Mampu melakukan tatalaksana konservatif dan operatif
e. Deteksi dini penyulit yang mungkin terjadi pada disfoni, dan merujuk bila
perlu

E. GAMBARAN UMUM
Disfoni adalah gangguan suara yang disebabkan kelainan pada laring, bukan
merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala penyakit. Disfoni dapat berupa
suara parau (hoarseness), suara mendesah (breathy voice), suara kaku (strain voice)
sampai tidak bersuara (afoni). Penyebab disfoni adalah kelainan pada laring dapat
berupa infeksi/ peradangan, kelainan neurologis, trauma laring, tumor jinak dan
tumor ganas.

F. CONTOH KASUS
Seorang wanita, 49 tahun datang ke poliklinik THT-KL dengan keluhan: suara
parau sudah 3 bulan. Empat bulan sebelumnya dia menjalani operasi tiroid. Dari
pemeriksaan laringoskopi indirek dan laringoskopi direk didapatkan kelumpuhan
pita suara sebelah kiri.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
disfoni seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
1. Mengenali gejala dan tanda Disfoni
2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik Disfoni
3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
foto leher jaringan lunak, pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan
langsung, laringoskopi serat optik.
4. Mengenali faktor resiko kejadian Disfoni
5. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika,
anti radang, analgesik antipiretik, dan operasi.
6. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin
terjadi pada Disfoni.

H. METODA PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion.
• Peer assisted learning (PAL).
• Bedside teaching.
• Task based medical education.
• Journal reading and review.
• Case simulation and investigation exercise.
• Equipment characteristics and operating instructions.
• Case study
• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).

2
Modul IV.6 - Disfoni

• Demonstration and Coaching


• Practice with Real Clients.
• Continuing Professional Development

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dan post-test dalam bentuk essay dan
oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja
awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang
ada. Materi pre test dan post test terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi laring
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada
saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
4. mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada
SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh
teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah
dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah pengawasan
fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
5. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
6. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
7. Pendidik/ fasilitas :
• pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
• penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
8. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan
diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
9. Pencapaian pembelajaran :

3
Modul IV.6 - Disfoni

• Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar oleh


kolegium Ilmu kesehatan THT-KL
• Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra
pendidikan
• Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut oleh
kolegium ilmu THT-KL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


Kuesioner Sebelum Pembelajaran
1. Sorang pria usia 19 tahun dirujuk ke unit gawat darurat 2 jam setelah kecelakaan
lalu lintas, dengan riwayat leher terbentur setir mobil. Penderita mengeluh suara
parau tapi tidak sesak. Pada pemeriksaan didapatkan leher sebelah kiri udem dan
ada sidikit luka lecet. Pemeriksaan tambahan apa yang paling diperlukan pada
kasus tersebut?
A. Ct-scan leher
B. Foto soft tissue leher AP/Lateral
C. FOL
D. LD
E. Foto Thorak
Jawaban : C

2. Penyebab tersering paralisis korda vokalis unilateral adalah :


A. Trauma kecelakaan
B . Neoplasma.
C. Infeksi
D. Vaskuler
C. Tiroidektomi
Jawaban : A

3. Penyebab tersering paralisis korda vokalis bilateral adalah :


A. Tiroidektomi
B. Neoplasma
C. Trauma kecelakaan
D. Infeksi
E. Idiopatik
Jawaban : A

4. Pernyataan yang paling benar pada paralisis korda vokalis adalah :


A. Anomali kongenital lebih sering menyebabkan paralisis korda vokalis
kanan
B. Pada trauma akut paralisis korda vokalis bilateral sebaiknya segera
dilakukan rekontruksi saraf untuk mengembalikan fungsi laring
C. Salah satu indikasi injeksi teflon adalah paralisis korda vokalis unilateral
D. Indikasi aritenoidektomi adalah paralisis korda vokalis aduktor bilateral
E. Pada kasus paralisis korda vokalis dengan metode tertentu mudah
diidentifikasi serat saraf yang menginervasi otot aduktor maupun abduktor
Jawaban : C

4
Modul IV.6 - Disfoni

5. Pernyataan yang paling benar pada kasus papiloma laring pada anak :
A. Tidak mempunyai potensi berubah jadi ganas
B. Morbiditasnya rendah
C. Tidak ada hubungan dengan hormonal
D. Penyebab pasti adalah human papiloma virus
E. Pada saat operasi harus dilakukan dengan hati-hati jangan melukai mukosa
normal sekitarnya
Jawaban : E

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


Penuntun Belajar
Prosedur Pemeriksaan Laring
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)
2. Mampu langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk
kondisi diluar normal.
3. Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan
waktu kerja yang sangat efisien
4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah
tertentu tidak perlu diperagakan).

PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI LANGSUNG


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK
1 2 3 4 5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1 Informed Consent
2 Pemeriksaan Penunjang
3 Memeriksa Dan Melengkapi Alat
4 Persiapan Tindakan
5 Cara Duduk Penderita Dan Posisi Kepala
TINDAKAN
1 Memasukkan Laringoskop
2 Memasukkan teleskop
3 Evaluasi Laring

PENUNTUN BELAJAR FIBER OPTIC LARYNGOSCOPY (FOL)


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK
1 2 3 4 5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1 Informed Consent

5
Modul IV.6 - Disfoni

2 Pemeriksaan Penunjang
3 Memeriksa Dan Melengkapi Alat
4 Persiapan Tindakan
5 Cara Duduk Penderita Dan Posisi Kepala
TINDAKAN
1 Memasukkan Fiber Optic
2 Evaluasi Rongga Hidung
3 Evaluasi Nasofaring
4 Evaluasi Laring

L. DAFTAR TILIK

Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)


Prosedur Pemeriksaan Laring
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan
oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar

X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai


Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar

T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan


Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

KEGIATAN NILAI
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung
1. Persiapan tindakan
[Link]
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL)
1. Persiapan tindakan
2. Tindakan

M. MATERI PRESENTASI
Slide 1: Gejala dan Tanda Disfoni
Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Disfoni
Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
Slide 4: Faktor Resiko Disfoni
Slide 5: Clinical decision making and Medikamentosa

6
Modul IV.6 - Disfoni

N. MATERI BAKU
1. DISFONI
a. Definisi
Disfoni adalah gangguan suara yang disebabkan kelainan pada laring, bukan
merupakan suatu penyakit tetapi merupakan gejala penyakit. Disfoni dapat
berupa suara parau (hoarseness), suara mendesah (breathy voice), suara kaku
(strain voice) sampai tidak bersuara (afoni). Penyebab disfoni adalah kelainan
pada laring yang meliputi infeksi/ peradangan, kelainan neurologis, trauma
laring, tumor jinak dan tumor ganas.

b. Faktor Resiko
Trauma leher, operasi daerah leher, kelainan paru, kelaianan jantung dan
penyakit sistemik lain.

c. Etiologi
Etiologi yang sering dijumpai adalah : Infeksi/peradangan, kelainan neurologis,
trauma laring, tumor jinak dan tumor ganas. Etiologi yang jarang dijumpai
adalah gangguan psikologis seperti stress, obat-obatan, hormonal, usia, variasi
anatomi dan penyakit neuromuskuler.
d. Diagnosis
• Anamnesis :
Anamnesis komprehensif :
o Keluhan utama :
- Durasi, hilang timbul, pernah normal lagi ?
o Faktor predisposisi :
- Dimulai dengan infeksi saluran napas akut? Teriak?
o Riwayat medis yang lalu :
- Trauma, pasca operasi/intubasi, hipotiroid?
o Simptom yang berhubungan dengan :
- Disfagi, batuk kronis, alergi, sesak napas
o Riwayat sosial :
- Pekerjaan, rokok, alkohol, vocal misuse/abuse
o Riwayat obat-obatan, terkait efek samping :
- Kekeringan mukosa
- Obat jantung bisa berefek samping batuk
- Hormon

• Pemeriksaan fisik
o Pemeriksaan kepala dan leher :
- Inspeksi dan palpasi untuk melihat tumor koli, tiroid dan
pergerakan kartilago laring

o Pemeriksaan laring :
- Pemeriksaan dengan cermin
- Laringoskopi kaku/teleskop/fleksibel
o Pemeriksaan penunjang lainnya sesuai dengan indikasi :
- Foto polos leher AP dan lateral
- CT scan leher

7
Modul IV.6 - Disfoni

- Waktu Fonasi Maksimal


- Perceptual Analisis
- Voice Handicap Index (VHI)

2. BEBERAPA PENYAKIT PENYEBAB DISFONI

a. Laringitis Akut

• Definisi : adalah infeksi akut pada mukosa laring


• Etiologi :
- Virus : adeno virus, influenza virus
- Bakteri : Streptokokus pneumoniae, Hemofilus influenzae, Streptokokus
hemolitikus
• Gejala klinik :
- Suara parau samapi suara hilang
- Rasa tak enak dan nyeri di laring
- Batuk
- Sekret laring, awalnya sedikit menjadi banyak kental dan kadang ada
darah
- Mukosa laring merah dan udem
- Korda vokalis merah dan udem
• Terapi :
- Istirahat
- Vocal rest
- Simptomatis : antipiretik dan ekspektorans
- Bila ada infeksi skunder oleh bakteri perlu antibiotika

b. Laringitis Akut Pada Bayi Dan Anak

• Dapat fatal karena :


- Rima glotis kecil, bila udem dapat tersumbat
- Bayi udem 1 mm, lumen berkurang 50%
- Dewasa udem 1mm, lumen berkurang 20%
- Banyak jaringan ikat kendor pada daerah subglotik, sehingga mudah udem
dan sesak
• Gejala klinik :
- Parau, panas badan, sesak napas inspiratoir
• Terapi :
- Oksigenasi
- Injeksi deksamotason 0,3 – 0,5 mg/kgBB, bila belum membaik dapat
diulang 2x, bila gagal trakeotomi.
- Stoom (nebulizer/uap air panas)
- Antibioktika

c. Laringitis Difteri

8
Modul IV.6 - Disfoni

• Etiologi : C. Diphtheria
• Patologi :
- Biasanya perluasan dari tonsilofaringitis difteri, jarang primer
- Pseudomembran dan udem pada mukosa korda vokalis dapat menutup
rima glotis,
menimbulkan parau dan sesak napas
• Insidens : sering pada anak
• Gejala klinik :
- Parau
- Panas subfibril
- Sesak napas inspiratoir
- Stridor inspiratoir
- Bull neck
• Komplikasi :
- Seperti tonsilofaringitis difteri
- Dapat fatal karena obstruksi laring
• Terapi :
- ADS
- Penicilin
- Isolasi
- Trakeotomi bila perlu

d. Laringitis Kronis Non Spesifik

• Etiologi :
- Iritasi
- Infeksi di jalan napas, meliputi hidung, sinus paranasalis dan paru
- Eksogen : bahan kimia dan rokok
• Gejala klinik :
- Parau yang lama
- Korda vokalis : udem, penebalan lokal/difus, eritema, bercak2 putih,
keratosis, jarang menimbulkan obstruksi
• Terapi : sesuai dengan penyebab

e. Laringitis Kronis Spesifik Tuberkulosa

• Etiologi : Mycobacterium tuberculosis, biasanya sekunder oleh karena


penyebaran TB paru, jarang primer
• Gejala klinik :
- Suara parau lama
- Batuk kadang ada darah
- Nyeri telan
- Demam
- Perasaan kedinginan
- Keringat malam
- Berat badan turun
- Sesak napas

9
Modul IV.6 - Disfoni

• Gambaran klasik pada korda vokalis :


- Lesi di komisura posterior
- Mukosa kemerahan
- Eksudat kekuningan
- Nodul kecil-kecil
- Ulserasi
- Bagian posterior tak rata (Mouse eaten appearance)
- Granulasi/tuberkuloma
• Gambaran klinik dapat berupa :
- Lesi lebih menyebar
- Tersering pada korda vokalis, meluas ke sulkus interaritenoid, epiglotis,
ariteniod dan plika ventrikularis
- Sering lesi multipel
- Sering lesi menyerupai lesi non spesifik dan bentukan tumor sehingga
perlu dibedakan dengan keganasan laring
• Terapi :
- Lesi sekunder karena TBC paru
- Laringitis TBC = laringitis ektra pulmonal
o Isoniazid + Rimfampicine + Pirazinamide selama 2 bulan
o Dilanjutkan dengan Isoniazid + Rimfampicine selama 4 bulan

f. Nodul Vokal

• Sinonim : singer’s nodule, teacher’s nodule


• Nodul adalah benjolan kecil pada 1/3 anterior dan 1/3 tengah korda vokalis,
biasanya simetris kanan dan kiri. Terbentuk pada daerah yang mendapat tekanan
terbanyak ketika korda vokalis bertemu waktu vibrasi. Tekanan berulang-ulang
pada daerah yang sama sehingga menimbulkan kerusakan dan pada proses
penyembuhan timbul nodul
• Etiologi :
- Vocal abuse/vocal misuse
- Sering pada anak-anak, guru, penyanyi
o Vocal abuse :
Perilaku atau kejadian yang menyebabkan trauma pada korda vokalis,
misalnya : banyak bicara, bersihkan tenggorok, batuk, menghirup iritan,
merokok, berteriak.
o Vocal misuse :
Penggunaan suara yang salah, misalnya : bicara terlalu keras, bicara
dengan nada tinggi dan rendah yang abnormal
• Terapi :
- Voice therapy
- Kurangi berbicara, jangan berbisik
- Bila cukup besar, ekstirpasi dengan bedah laring mikroskopik (BLM)

g. Granuloma Laring

• Granuloma laring adalah benjolan yang biasanya di prosesus vokalis atau


ariteniod. Ada riwayat refluk, trauma laring atau intubasi

10
Modul IV.6 - Disfoni

• Gejala klinik :
- Suara parau
- Tenggorok terasa ngganjel
• Terapi :
- Obat anti refluk
- BLM

h. Kista Laring
• Gambaran umum:
- Lebih sering pada supra glotis
- Lebih sering kista retensi
- Bila besar bisa menimbulkan obstruksi
- Pada korda vokalis menimbulkan parau
• Terapi : BLM

i. Papiloma Laring
• Gambaran umum:
- Tumor jinak pada laring, dapat meluas ke faring, trakea dan bronkus
- Sering pada anak-anak, dapat mengenai dewasa
• Etiologi :
- Diduga ada hubungan kuat dengan human papiloma virus tipe 6 dan 11
- Diduga ada hubungan dengan hormonal
• Gejala klinik :
- Suara parau progresif
- Dapat menyebabkan sesak sehingga perlu trakeotomi
- Sering residif, tumbuh kembali dengan cepat
• Terapi :
- BLM, ekstraksi sebersih mungkin
- Bila residif dioperasi lagi
- Perlu trakeotomi bila sesak
- Bisa dicoba antiviral

j. Paralisis Korda Vokalis


• Etiologi :
- Trauma (motor accident)
- Neoplasma
- Tiroidektomi
- Infeksi/neurologis
- Idiopatik
- Vaskuler
- Miscellaneous
• Gejala klinik :
o Pada paralisis aduktor : korda vokalis tidak dapat merapat di garis median
saat fonasi
- Unilateral : parau, tidak ada sesak
- Bilateral : afoni
- Batuk tidak efektif, kadang gangguan menelan

11
Modul IV.6 - Disfoni

o Pada paralisis abduktor : korda vokalis merapat di garis tengah dan tidak
dapat bergerak ke lateral saat fonasi
- Unilateral : suara nyaring, sesak ringan
- Bilateral : suara nyaring dan sesak napas
• Terapi :
o Pada paralisis aduktor :
- Augmentasi korda vokalis dengan teflon/fat
- Tiroplasti medialisasi
o Pada paralisis abduktor :
- Aritenoidektomi

3. PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING


a. Butir-2 Penting
1. Pada pemeriksaan Laringoskopi langsung diperlukan persiapan puasa dan
dilakukan premedikasi. Posisi kepala penderita harus tepat supaya
pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik.
2. Pada pemeriksaan Laringoskopi serat optik diperlukan kerjasama dengan
penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.

b. Teknik Pemeriksaan:
Laringoskopi Direkta :
No LANGKAH-LANGKAH BAGAIMANA MENGAPA
1 Premedikasi Luminal/atropin Tidak valium, karena depresi
pernapasan
Biar air liur sedikit
2 Anestesi lokal Spray xylocain, pd Epiglottis dikait, perlu
epiglottis anestesi

3 Atur posisi kepala Posisi high: fleksi Mudah mengait epiglottis


leher/dada, ekstensi keatas
occipito atlanto

4. Mengait epiglottis Selalu digaris tengah Akan terlihat uvula-epiglotis


sebagai pedoman
Kalau terlalu banyak,
Epiglotis dikait aritenoid terkait
sedikit saja Kalau terlalu sedikit: lepas
Mudah melihatnya,
Kalau telescope harus
5 Melihat pita suara Dengan bantuan mengait epiglottis,bisa
teleskop (0o,30o) basah-buram

Laringoskopi Serat Optik (FOL):


No Langkah-langkah Bagaimana Mengapa
1 Anaestesi local Kapas xylocain Tidak nyeri,tidak trauma
ephedrin1 % di cavum
nasi d/s
Spray xylocain pd

12
Modul IV.6 - Disfoni

faring/epiglotis
2 Atur duduk penderita Duduk tegak Memudahkan alat masuk

3 Memasukkan alat FOL Melalui dasar cavum Tempat terlebar


nasi

4 Melihat nasofaring Lurus kebelakang Tampak naso faring dulu

5 FOL diarahkan ke laring Dgn membengkokkan


kebawah
Memeriksa laring
6 FOL diarahkan mula-
mula tampak dari jauh,
lalu makin mendekat

Kalau tak ada tumor


dilihat pergerakan pita
suara

c. Instrumen yang diperlukan:


• Laringoscope dewasa
• Laringoscope anak-anak
• Laringoscope bayi
• Telescope 00 , 300 , 900
• Fibre Optic Laryngoscope dan forcep biopsi
• Forcep lurus dan upturn
• Pompa Penyedot (Sucktion pump)

DAFTAR PUSTAKA
1. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia,
Lea & Fabiger, 1993, chapter 34&35, pp.569-619.
2. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014.
3. Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology.
Philadelphia. WBSaunders Co.,1991, chapter 29,31,33&34, pp. 2257-384.
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw
Hill, 8th Ed, Chapter 31, pp. 724-92

13
MODUL UTAMA
LARING FARING

PENYAKIT KELENJAR LUDAH


MODUL IV.7
REFLUKS LARINGO-FARING (LPR)

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG
TENGGOROKBEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ........................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1

C. REFERENSI ..................................................................................................... 1

D. KOMPETENSI ................................................................................................. 2

E. GAMBARAN UMUM ..................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS & DISKUSI ...................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................... 2

H. METODE PEMBELAJARAN ......................................................................... 3

I. EVALUASI ...................................................................................................... 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR ......................... 4

K. IINSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ...................... 6

L. DAFTAR TILIK ............................................................................................... 7

M. MATERI PRESENTASI .................................................................................. 7

N. MATERI BAKU .............................................................................................. 8


Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)

MODUL IV.7
LARING-FARING – REFLUKS LARINGO-FARING (LPR)

A. WAKTU
Mengembangkan Kompetensi Frekuensi:
Sesi di dalam kelas 7 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 18 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian 2 X 60 menit (facilitation and
kompetensi assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi Presentasi
• Slide I : Ruang Lingkup
• Slide II : Anatomi dan Etiopatogenesis Gejala LPR
• Slide III :Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik LPR
• Slide IV :Pemeriksaan Penunjang LPR
• Slide V :Faktor Risiko LPR
• Slide VI :Penatalaksanaan LPR
2. Kasus
Seorang ibu, 29 tahun, ke poliklinik THT-KL dengan keluhan suara parau dan
tenggorokan mengganjal 2 bulan. Penderita merasa sebulan ini sering batuk
terutama pagi hari, dan sering berdehem. Penderita adalah seorang ibu rumah
tangga, tidak ada riwayat penggunaan suara berlebih, ada riwayat sakit maag,
telah mencoba obat warung tidak ada perubahan. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan adanya: post nasal drip, faring granuler.
3. Sarana dan Alat bantu latih
• Laringoskopi indirek
• Rigid laringoscopy / Fiber optic laringoscopy
• Tempat belajar: klinik THT-KL

C. REFERENSI
1. Bailey BJ. Laryngopharyngeal Reflux. In: Head and Neck Surgery
Otolaryngology. 5th edition. Bailey BJ et all editors. Lippincott Raven Publisher.
2014 ; p 958-75
2. Belafsky PC, Rees CJ. Identifying and Managing Laryngopharyngeal Reflux.
Hosp Physic. 2007: 15-20.
3. Rees CJ, Belafsky PC. Laryngopharyngeal Reflux: Current Concepts in
Patophysiology, Diagnosis, and Treatment. Int J Speech-Language Pathol.
2008;10(4): 245-53.
4. Naseri I. Laryngopharyngeal Reflux: Overview and Clinical Implications. North
Flo Med. 2011; 62(1):35-8
5. Khan AM, Hashmi SR, Elahi F, Tariq M, Ingrams DR. Laryngopharyngeal
Reflux: A Literature review. Surgeon. 2006; 4(4):221-5

1
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum:
Mampu membuat diagnosis LPR berdasarkan anamnesis (Reflux Symptom
Index) , pemeriksaan (Reflux Finding Score) dengan Fiber optic laringoscopy
dan pemeriksaan penunjang lain seperti double probe 24 hour monitoring,
barium esophagogram,dll.
2. Kompetensi Khusus:
Setelah Mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu dan trampil:
a. Mengetahui Anatomi dan Etiopatogenesis Gejala LPR
b. Melakukan Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Faktor Risiko LPR
c. Melakukan penilaian RSI dan RFS serta pemeriksaan penunjang LPR
d. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana medikamentosa
e. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang
mungkin terjadi pada LPR.

E. GAMBARAN UMUM
Refluks Laringofaring (LPR)
Refluks laringofaring sering salah diagnosis dengan faringitis kronis sehingga
tatalaksana sering kurang tepat.
Refluks laringofaring adalah aliran balik cairan lambung ke laring, faring, trakea
dan bronkus. Keluhan yang tersering yaitu mendehem (throat clearing) (98%),
batuk yang terus mengganggu (97%), perasaan mengganjal di tenggorok (95%) dan
suara parau (95%). Tanda klinis yang sering ditemukan pada penyakit refluks
laringofaring adalah laringitis posterior dengan eritema, edema dan penebalan
dinding posterior dari glottis. Kelainan lain yang mungkin ditemukan adalah
granuloma pita suara, contact ulcer, stenosis subglottis.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan Fiber optic
laryngoscopy, monitoring PH 24 jam dll sesuai sarana prasarana yang tersedia. Bila
sarana penunjang belum ada, maka dapat langsung dilakukan PPI test sesuai
algoritma tatalaksana LPR (RSI>13 atau RFS>7).

F. CONTOH KASUS & DISKUSI


Seorang ibu, 29 tahun, ke poliklinik THT-KL dengan keluhan suara parau dan
tenggorokan mengganjal 2 bulan. Penderita merasa sebulan ini sering batuk
terutama pagi hari, dan sering berdehem. Penderita adalah seorang ibu rumah
tangga, tidak ada riwayat penggunaan suara berlebih, ada riwayat sakit maag, telah
mencoba obat warung tidak ada perubahan. Pada pemeriksaan fisik ditemukan
adanya: post nasal drip, faring granuler.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
LPR seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
1. Mengetahui Anatomi dan Etiopatogenesis LPR
2. Melakukan Anamnesis, Pemeriksaan Fisik dan Faktor Risiko LPR
3. Melakukan penilaian RSI dan RFS serta pemeriksaan penunjang LPR
4. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana medikamentosa

2
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)

5. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin
terjadi pada LPR.

H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan Referat
4. Jurnal Reading
5. Praktik Lapangan (Poliklinik)
6. Skills Lab
7. Bedside Teaching
8. Tindakan Diagnostik

I. EVALUASI
1. Dilakukan prates dan postes dalam bentuk essay, multiple choice atau oral sesuai
dengan masa tingkat pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja awal yang
dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi
pra/postes terdiri atas:
• Anatomi
• Fisiologi
• Patofisiologi
• Penegakan diagnosis
• Pemeriksaan
• Terapi konservatif dan operatif bila perlu
• Prognosis
• Tindak lanjut.
2. Self assessment dan peer assisted evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
3. Selanjutnya dilakukan diskusi kelompok kecil bersama dengan fasilitator guna
membahas kekurangan yang teridentifikasi; membahas isi dan hal-hal yang
berkenaan dengan penuntun belajar dan kesempatan yang akan diperoleh pada
saat visite kecil maupun besar dan proses penilaian.
4. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temanya (peer assisted learning) atau pada
standardized patient. Pada saat tersebut yang bersangkutan tidak diperkenankan
membawa penuntun belajar. Penuntun belajar dipegang oleh teman-temannya
untuk melakukan evaluasi (per asisited evaluation). Setelah dianggap memadai
maka perlu diasah lagi melalui metode bed site teaching dibawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model
anatomi dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanan,evaluator melaksaanakan pengawasan langsung dan mengisi blangko
penilaian sebagai berikut:
• Perlu perbaikan berarti pelaksanaan belum benar atau ada langkah yang
tidak dlakukan
• Cukup berarti pelaksanan sudah benar tetapi tidak efisien

3
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)

• Baik berarti langkah benar dan efisien.


5. Setelah selesai bed side teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak mungkin dibicarakan di depan pasien
dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan
6. Pendidikan/fasilitas:
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
• Penjelasan lisan dari peserta cakap, kurang cakap atau lalai
7. Diakhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
guna memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran dilakukan dengan:
• Ujian OSCE
• Ujian akhir stase pada setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing senter
pendidikan
• Ujian akhir kognitif
• Ujian akhir profesi dilakukan pada akhir pendidikan oleh KOLEGIUM IK
THT-KL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR


1. Instrumen penilaian kompetensi kognitif
1) Regimen terapi eradikasi [Link] LPR pada lini-1 adalah :
a. PPI + Amoxilin 1.000 mg / 12 jam dan Klaritromisin 500 mg / 12 jam,
selama 7 – 14 hari
b. PPI + Amoxilin 1.000 mg / 12 jam dan Levofloksasin 500 mg / 12
jam selama 7 – 14 hari
c. PPI +Amoxilin 1.000 mg / 12 jam dan Metromedazole 500 mg / 8 jam
d. PPI +Tetrasiklin Metromedazole 500 mg / 8 jam
e. PPI +Bismut subsalisilat 2 tablet / 12 jam dan Levofloksasin 500 mg /
12 jam selama 7 – 14 hari
Jawaban: A

2) Setelah pemberian terapi eradikasi [Link] LPR, maka harus dilakukan


pemeriksaan konfirmasi sebagai gold standard dengan menggunakan :
a. Urea Breath Test
b. [Link] Stool Antigen monoclonal Test
c. Rapid Urine Test
d. Rapid Urea Test
e. Kultur dengan media sparrow
Jawaban: A

3) Pemeriksaan HpSA ([Link] Stool Atigen monoclonal) untuk konfirmasi


setelah pemberian terapi eradikasi [Link] dapat dilakukan dalam waktu :
a. 2 minggu setelah akhir dari terapi
b. 4 minggu setelah akhir dari terapi
c. 8 minggu setelah akhir dari terapi
d. 12 minggu setelah akhir dari terapi
e. 24 minggu setelah akhir dari terapi

4
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)

Jawaban: B

SOAL VIGNETT MODUL LPR


1) Seorang wanita 35 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan batuk sejak 2
bulan yang lalu disertai tenggorok terasa mengganjal. Riwayat sering minum
obat mag. Pada pemeriksaan laring tampak aritenoid hiperemis dan edema
pada plika vokalis. Diagnosis pada pasien tersebut adalah...
a. Faringitis Kronik
b. Reinkhe edema
c. Laringitis kronik
d. LPR
e. GERD
Jawaban: D

2) Seorang wanita 27 tahun datang ke klinik THT dengan keluhan serak 1


bulan. Sejak 2 bulan yang lalu batuk terus menerus. Pasien sudah berobat
namun tidak sembuh, tenggorok terasa mengganjal dan sering mendehem.
Pada pemeriksaan, berat badan 80kg, pada faring tonsil T1-T1 tidak
hiperemis, laring sulit dinilai. Untuk menegakkan diagnosis, pemeriksaan
lanjutan yang harus dilakukan adalah...
a. Indirect Laryngoscopy
b. Direct Laryngoscopy
c. Fiber Optic Laryngoscopy
d. Fiber Optic Bronchoscopy
e. Fiber Optic Esophagoscopy
Jawaban: C

3) Seorang wanita umur 30 tahun datang ke klinik THT untuk konsultasi


dengsn membawa hasil endoskopi. Pada hasil tersebut tercatat RFS = 20,
RSI = 15.
Apakah penatalaksanaan pada pasien tersebut ?
a. Terapi PPI selama 1-3 bulan dengan evaluasi klinis RSI tiap 1 minggu
dan RFS tiap 1 bulan
b. Terapi PPI selama 1-3 bulan dengan evaluasi klinis RSI tiap 1 bulan
dan RFS tiap 3 bulan
c. Terapi PPI selama 3-6 bulan dengan evaluasi klinis RSI tiap 1 bulan
dan RFS tiap 3 bulan
d. Terapi PPI selama 3-6 bulan dengan evaluasi klinis RSI tiap 2 bulan
dan RFS tiap 2 bulan
e. Terapi PPI selama 3-6 bulan dengan evaluasi klinis RSI tiap 3 bulan
dan RFS tiap 3 bulan
4) Regimen terapi eradikasi [Link] pada LPR pada lini-1 adalah :
a. PPI + Amoxilin 1.000 mg / 12 jam dan Klaritromisin 500 mg / 12 jam,
selama 7 – 14 hari
b. PPI + Amoxilin 1.000 mg / 12 jam dan Levofloksasin 500 mg / 12
jam selama 7 – 14 hari
c. PPI + Amoxilin 1.000 mg / 12 jam danMetromedazole 500 mg / 8 jam

5
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)

d. PPI +Tetrasiklin Metromedazole 500 mg / 8 jam


e. PPI +Bismut subsalisilat 2 tablet / 12 jam danLevofloksasin 500 mg /
12 jam selama 7 – 14 hari
Jawaban: A

5) Setelah pemberian terapi eradikasi [Link] pada LPR, maka harus


dilakukan pemeriksaan konfirmasi sebagai gold standard dengan
menggunakan :
a. Urea Breath Test
b. [Link] Stool Antigen monoclonal Test
c. Rapid Urine Test
d. Rapid Urea Test
e. Kultur dengan media sparrow
Jawaban: A

K. IINSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


Lampiran 1.
PENUNTUN BELAJAR PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
Lakukan Penilaian Kinerja Pada Setiap Langkah/Tugas Dengan Mengunakan
Skala Penilaian Dibawah Ini
Perlu Perbaikan Tidak Benar
Cukup Benar Dan Tidak Lancar
Baik Benar Dan Lancar

NAMA PESERTA DIDIK TANGGAL


NAMA PASIEN NO. REKAM MEDIK

PENUNTUN BELAJAR FIBER OPTIC LARYNGOSCOPY (FOL)


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK
1 2 3 4 5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1 Informed Consent
2 Pemeriksaan Penunjang
3 Memeriksa Dan Melengkapi Alat
4 Persiapan Tindakan
5 Cara Duduk Penderita Dan Posisi Kepala
TINDAKAN
1 Memasukkan Fiber Optic
2 Evaluasi Rongga Hidung
3 Evaluasi Nasofaring
4 Evaluasi Laring

6
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)

L. DAFTAR TILIK
Lampiran 2
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
Berikan Tanda”V” Dalam Kotak Yang Tersedia Bila Ketrampilan/Tugas Telah
Dikerjakan Dengan Memuaskan Dan Berikan Tanda “X” Bila Tidak Dikerjakan
Dengan Memuaskan Serta Tanda T/D Bila Tidak Dilakukan
Memuaskan Ketrampilan Memuaskan
Tidak Memuaskan Ketrampilan Tidak Memuaskan
Tidak Diamati/Melakukan (T/D) Tak Bisa Melakukan

NAMA PESERTA DIDIK TANGGAL


NAMA PASIEN NO. REKAM MEDIK

DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA FIBER OPTIC LARYNGOSCOPY


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK
1 2 3 4 5
1 Posisi Pemeriksa
2 Cara Memegang Fiber Optic
3 Memasukkan Fiber Optic
4 Evaluasi Rongga Hidung
5 Evaluasi Nasofaring
6 Evaluasi Laring
7 Evaluasi Korda Vokalis
8 Cara Mengeluarkan Fiber Optic

M. MATERI PRESENTASI
1. 1: Gejala LPR

2. 2: Anamnesis dan Pemeriksaan LPR

7
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)

3. 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik

4. 4: Faktor Risiko LPR

5. 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa

N. MATERI BAKU
1. Definisi
LPR adalah aliran balik cairan lambung ke laring, faring, trakea dan bronkus

2. Ruang Lingkup
LPR dapat disebabkan GERD atau dapat pula disertai penyakit lain seperti
Rhinosinusitis, faringitis, stenosis laring, dll.

3. FAKTOR RISIKO
Gaya hidup, GERD

4. Etiologi
Komponen refluks yang berperan menyebabkan kelainan patologi di daerah
laring adalah asam, pepsin, asam empedu dan tripsin. Pepsin dengan asam telah
diketahui menjadi komponen yang paling berbahaya yang berhubungan erat
dengan kejadian lesi di daerah laring. Pada percobaan pada hewan secara in vitro

8
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)

menunjukkan pepsin menjadi aktif dan menyebabkan trauma pada sel-sel laring
sampai pH 6.

5. Anamnesis
Untuk penilaian atas gejala pasien dengan penyakit refluks laringofaring,
Belafsky membuat sembilan komponen indeks gejala yang dikenal dengan
indeks gejala refluks ( Reflux Symptom Index = RSI). RSI mudah dilaksanakan ,
mempunyai reabilitas dan validitas yang baik, serta dapat diselesaikan dalam
waktu kurang dari satu menit. Skala untuk setiap komponen bervariasi dari nilai
0 (tidak mempunyai keluhan) sampai dengan nilai 5 (keluhan berat) dengan skor
total maksimum 45 dan RSI dengan nilai > 13 dicurigai penyakit refluks
laringofaring.

6. Pemeriksaan Fisik
• Pemeriksaan laringoskopi indirek
Tanda klinis yang sering ditemukan pada penyakit refluks laringofaring
adalah laringitis posterior dengan eritema, edema dan penebalan dinding
posterior dari glottis. Tanda-tanda lain adalah granuloma pita suara, contact
ulcer, stenosis subglottis.
Untuk memeriksa keadaan patologis laring setelah terjadinya refluks
laringofaring. Belafsky juga memperkenalkan skor refluks, yaitu Reflux
Finding Score (RFS) yang merupakan delapan skala penilaian dalam
menentukan beratnya gambaran kelainan laring yang dilihat dari pemeriksaan
Rigid laryngoscopy dengan menggunakan teleskop 700/ 900, Fiber optic
laryngoscopy sebagai baku emas . Skala ini bervariasi dari nilai 0 (tidak ada
kelainan) sampai dengan nilai maksimum 26 ( nilai yang terburuk) dan RFS >
7 yang dianggap tidak normal. RFS merupakan penilaian kelainan yang
mudah dilakukan dan mempunyai inter and intraobserver reproducibility
yang baik. Walaupun setiap komponen bersifat subyektif tetapi skor secara
keseluruhan merupakan penilaian yang dapat dipercaya dalam melihat
perbaikan dengan terapi anti refluks (Belafsky et al. 2001; Tamin 2008).

7. Pemeriksaan Penunjang
Fiber optic laryngoscopy, PH monitoring 24 jam, barium esophagogram

8. Terapi
a. Faktor Risiko : Faktor risiko harus terkontrol
b. Terapi Konservatif : PPI
c. Terapi bedah dilakukan bila LPR berat dan resisten PPI: funduplikasi.
9. Prosedur Pemeriksaan Laring

a. Butir-2 Penting
Pada pemeriksaan Fiber Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama dengan
penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan penderita.

b. Teknik Pemeriksaan:
Fiber optic laryngoscopy (FOL):

9
Modul IV.7 – Refluks Laringo-faring (LPR)

No Langkah-langkah Bagaimana Mengapa


1 Anaestesi lokal Kapas xylocain ephedrin1 % di Tidak nyeri,tidak
kavum nasi d/s trauma
Spray xylocain pd faring/epiglotis

Duduk tegak
2 Atur duduk
penderita Melalui dasar kavum nasi Memudahkan alat
3 Memasukkan alat masuk
FOL
Lurus ke belakang Tempat terlebar
4 Melihat nasofaring
FOL diarahkan ke Dengan membengkokkan ke bawah
5 laring Tampak
FOL diarahkan mula-mula tampak nasofaring dulu
dari jauh, lalu makin mendekat
Memeriksa laring dilihat tanda-tanda patologis dan
6 pergerakan korda vokalis

c. Instrumen yang diperlukan:


1) Laringoskop dewasa
2) Laringoskop anak-anak
3) Laringoskop bayi
4) Teleskop 00 , 300 , 900
5) Fiber Optic Laryngoscope dan forsep biopsi
6) Forsep lurus dan upturn
7) Pompa Penyedot (Suction pump)

10
MODUL UTAMA
LARING FARING

PENYAKIT KELENJAR LUDAH


MODUL IV.8
OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA SYNDROME (OSAS)

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ........................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1

C. REFERENSI ..................................................................................................... 1

D. KOMPETENSI ................................................................................................. 1

E. GAMBARAN UMUM ..................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS .......................................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................... 2

H. METODE PEMBELAJARAN ......................................................................... 2

I. EVALUASI ...................................................................................................... 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 4

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ....................... 5

L. DAFTAR TILIK ............................................................................................... 6

M. MATERI PRESENTASI .................................................................................. 6

N. MATERI BAKU .............................................................................................. 7


Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

MODUL IV.8
LARING-FARING - OBSTRUCTIVE SLEEP APNEA SYNDROME (OSAS)

A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 7 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 18 X 60 menit (facilitation and
assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi OSAS meliputi:
• Slide 1 : Anatomi dan fisiologi saluran pernapasan atas
• Slide 2 : Fisiologi “normal sleep”
• Slide 3 :Klasifikasi, faktor predisposisi, gejala klinis, diagnosis
patofisiologi OSAS.
• Slide 4 : Komplikasi OSAS
• Slide 5 : Penatalaksanaan OSAS (Konservatif dan Operatif)

2. Kasus : OSAS
Seorang laki-laki usia 30 tahun dengan riwayat tidur mendengkur sampai
tersedak. Keluhan dirasakan sejak 3 tahun terakhir. Saat bangun pagi hari badan
tidak terasa segar. Pasien mudah mengantuk dan sulit konsentrasi saat bekerja.
Pada pemeriksaan fisik BB 80 kg, tinggi badan 168 cm. Pemeriksaan THT:
Tonsil T3-T3, Lidah Mallampati 3.

3. Sarana dan Alat Bantu Latih :


• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.
• Video

C. REFERENSI
1. Walker RP. Snoring and obstructive sleep apnea. In: Bailey JB, Johnson JT, Eds.
Head Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Philadelphia: Lippincot 2006. P
645-64
2. Welch KC,Goldberg AN. Sleep [Link]: Lalwani AK ed. Current diagnosis
and treatment Otolaryngology Head Neck Surgery. 2nd ed. New York:McGraw
Hill Comp LANGE;2008.p535-47

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
b. Mampu mendiagnosis OSAS berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan yang diperlukan
c. Mampu melakukan tatalaksana OSAS

1
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini, peserta diharapkan terampil dalam:
1. Mengetahui anatomi dan fisiologi saluran napas atas.
2. Mengetahui fisiologi “normal sleep”
3. Mengetahui patofisiologi OSAS, klasifikasi OSAS, gejala klinis dan
komplikasi OSAS
4. Melakukan anamnesis, pemeriksaan dan mendiagnosis pasien OSAS
5. Melakukan pemeriksaan penunjang yang diperlukan
6. Mampu melakukan tatalaksana konservatif dan operatif terhadap pasien
OSAS

E. GAMBARAN UMUM
OSAS (Obstructive Sleep Apneu Syndrome) didefinisikan sebagai berhentinya
aliran udara pernapasan selama 10 detik atau lebih yang disebabkan oleh sumbatan
jalan napas. OSA ditandai gejala mendengkur saat tidur, tersedak atau napas
tersengal saat tidur, sering mengantuk yang berlebihan di siang hari (Excessive
Daytime Sleepiness, EDS). OSAS lebih sering ditemukan pada laki-laki daripada
perempuan. Diagnosis ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan polisomnografi. Untuk mengatasi OSAS dilakukan tata laksana
penurunan berat badan, terapi konservatif maupun operatif.

F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 30 tahun dengan riwayat tidur mendengkur sampai tersedak.
Keluhan dirasakan sejak 3 tahun terakhir. Saat bangun pagi hari badan tidak terasa
segar. Pasien mudah mengantuk dan sulit konsentrasi saat bekerja. Pada
pemeriksaan fisik BB 80 kg, tinggi badan 168 cm. Pemeriksaan THT: Tonsil T3-
T3, Lidah Mallampati 3.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik akan memiliki kemampuan untuk :
1. Menjelaskan anatomi dan fisiologi saluran napas atas
2. Menjelaskan fisiologi “normal sleep”
3. Menjelaskan klasifikasi, predisposisi, gejala klinis, komplikasi, patofisiologi
OSAS
4. Menjelaskan pemeriksaan penunjang yang diperlukan untuk mendiagnosis
OSAS.
5. Mampu mendiagnosis OSAS
6. Mampu tatalaksana konservatif dan operatif pada penderita OSAS

H. METODE PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion.
• Peer assisted learning (PAL).
• Bedside teaching.
• Task based medical education.
• Journal reading and review.
• Case study

2
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).


• Demonstration and Coaching
• Equipment characteristics and operating instructions.
• Practice with Real Clients.
• Continuing Professional Development

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal.
Yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre test dan post-test terdiri atas :
a. Anatomi dan fisiologi saluran napas atas
b. Fisiologi “normal sleep”
c. Klasifikasi, predisposisi, patofisiologi, diagnosis OSAS
d. Penatalaksanaan OSAS
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasiliator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh
pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk,
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (peer assited learning) atau kepada
SP (standardized patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan : membawa penuntun belajar, penuntun belajar dipegang oleh
teman-temannya untuk : melakukan evaluasi (peer assisted evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching dibawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada nodel
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut.
a. Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
b. Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien misal pemeriksaan
terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien
c. Baik : pelaksanaan benar dan baik ( efisien )
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
6. Pendidik/fasilitas:
a. Pengamatan langsung dengan memakai evaluation check list form
(terlampir)
b. Penjelasan lisan dari eserta didik/diskusi
c. Kriteria penelian keseluruhan : cakap/tidak cakap/lalai

3
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila perlu diberi tugas yang
dapat memperbaiki kinerja (taks-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
a. Ujian OSCA ( K,P,A) dilakukan pada tahapan bedah dasar oleh Kolegium
I. THT-KL
b. Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing senter
pendidikan .
c. Ujian akhir kognitif. Dilakukan pada akhir tahapan bedah lanjut ( jaga II)
oleh Kolegium I THT-KL.
d. Ujian akhir profesi (kasus bedah), dilakukan pada akhir pendidikan oleh
Kolegium I THT-KL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF

1. Polisomnografi harus dipertimbangkan pada semua pasien yang dicurigai


menderita OSA untuk:
A. Menentukan penyebab terjadinya OSA.
B. Menentukan jenis operasi yang akan dilakukan untuk mengatasi OSA
C. Dapat memperkirakan lokasi terjadinya sumbatan jalan napas saat tidur
D. Mengevaluasi akibat fisiologik pada saat tidur akibat gangguan pernapasan
E. Memastikan diagnosis adanya penyakit tetapi tidak dapat menentukan
derajatnya

Jawaban : D

2. Pada pemeriksaan fisik pasien yang dicurigai OSA:


A. Pemeriksaan index massa tubuh diperlukan tetapi tidak bermakna dengan
terjadinya OSA
B. Pemeriksaan lingkar leher perlu tetapi tidak berhubungan dengan faktor etiologi
OSA
C. Ukuran tonsil yang besar merupakan salah satu faktor etiologi OSA karena
menyebabkan penyempitan anterosuperior
D. Berdasarkan kriteria Fujita maka pasien dengan “grade” yang tinggi akan
memberikan hasil yang lebih baik apabila dilakukan tindakan koreksi OSA
dengan operasi dibandingkan dengan pasien yang “grade” nya lebih rendah.
E. Dengan pemeriksaan “Muller Manuver” kita dapat menentukan tindakan operasi
yang akan kita lakukan untuk mengkoreksi penyebab OSA

Jawaban : E

3. Yang tidak termasuk komplikasi OSA adalah


A. Hipertensi
B. Alzheimer disease
C. Penyakit arteri koroner
D. Gangguan irama jantung
E. Lesi atero sklerotik serebral

Jawaban : B

4
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

Penuntun Belajar
Mendiagnosis Obstructive Sleep Apneu Syndrome (Osas)

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)

langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan


2. Mampu urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi diluar normal.

3. Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan


waktu kerja yang sangat efisien

4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah


tertentu tidak perlu diperagakan).

KEGIATAN KASUS

1. Anamnesis
2. Keluhan utama : Mendengkur saat tidur, tersedak atau
napas tersengal saat tidur, sering mengantuk yang
berlebihan di siang hari (Excessive Daytime Sleepiness,
EDS),
3. Menilai Epworth Sleepiness Score (ESS)
4. Melakukan pemeriksaan fisik:
• Indeks Massa Tubuh
• Lingkar leher posisi lidah dan palatum dengan Kriteria
Friedman Tongue Position atau Modifikasi Malampatti
• Ukuran Tonsil
• Ukuran dan bentuk rahang bawah
5. Menilai Derajat OSAS menurut Fujita
6. Interpretasi hasil Polisomnografi (Sleep test)
7. Dapar melakukan pemeriksaan Müller Maneuver dengan
endoskopi

5
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

L. DAFTAR TILIK

Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)


Mendiagnosis Obstructive Sleep Apneu Syndrome (Osas)

Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan


oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar

X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai


Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar

T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan


Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

KEGIATAN KASUS

1. Anamnesis
2. Keluhan utama : Mendengkur saat tidur, tersedak atau napas
tersengal saat tidur, sering mengantuk yang berlebihan di siang
hari (Excessive Daytime Sleepiness, EDS),
3. Menilai Epworth Sleepiness Score (ESS)
4. Melakukan pemeriksaan fisik:
5. Indeks Massa Tubuh
6. Lingkar leher posisi lidah dan palatum dengan Kriteria
Friedman Tongue Position atau Modifikasi Malampatti
7. Ukuran Tonsil
8. Ukuran dan bentuk rahang bawah
9. Menilai Derajat OSAS menurut Fujita
10. Interpretasi hasil Polisomnografi (Sleep test)
11. Dapar melakukan pemeriksaan Müller Maneuver dengan
endoskopi

M. MATERI PRESENTASI
• Slide 1 : Anatomi dan fisiologi saluran pernapasan atas
• Slide 2 : Fisiologi “normal sleep”
• Slide 3 :Klasifikasi, faktor predisposisi, gejala klinis, diagnosis
patofisiologi OSAS.
• Slide 4 : Komplikasi OSAS
• Slide 5 : Penatalaksanaan OSAS (Konservatif dan Operatif)

6
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

N. MATERI BAKU

Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

a. Definisi
Mendengkur adalah suara getaran pada saat tidur yang dihasilkan terutama pada
waktu inspirasi dan disebabkan oleh vibrasi palatum mole dan pilar yang
membatasi rongga orofaring. Mendengkur menunjukkan adanya obstruksi sebagian
saluran napas atas.
Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS) adalah berhentinya aliran udara
pernapasan selama 10 detik atau lebih, mendengkur pada saat tidur walaupun
terjadi usaha bernapas (respirasi effort) yang disebabkan oleh obstruksi jalan napas
atas.
OSAS adalah keadaan apnea (penghentian aliran udara selama 10 detik sehingga
menyebabkan 2-4% penurunan saturasi oksigen) dan hipopnea (penurunan aliran
udara paling sedikit 30-50% sehingga menyebabkan penurunan saturasi oksigen)
ada sumbatan total atau sebagian jalan napas atas yang terjadi secara berulang pada
saat tidur selama non-REM atau REM sehingga menyebabkan aliran udara ke paru
menjadi terhambat.

b. Etiologi Multifaktorial
1. Kolaps jaringan lunak saluran napas atas
• Kolaps otot konstriktor faring, lidah, otot-otot palatofaringeus,
salfingofaringeus, stilofaringeus, glosofaringeus, levator veli palatini dan
uvula.
• Deposit lemak di bawah membran mukosa, di sekitar otot leher dan fossa
tonsilaris.
2. Kelainan anatomi kerangka wajah yaitu mandibula dan maksila, obstruksi
hidung yang disebabkan deviasi kartilago dan tulang septum dan hidung.
3. Umur yang lebih tua berhubungan dengan:
• Penebalan jaringan lunak tenggorok, elongasi palatum dan penurunan
tonus otot pada saat istirahat.
• Relaksasi dan kolaps plika ariepiglotika yang menyebabkan stridor pada
saat tidur dan bangun.
• Resorbsi gigi geligi, maksila dan mandibula akan menyebabkan perubahan
anatomi rongga mulut.
• Kifosis yang disebabkan resorbsi tulang vertebra servikal dan torakal atas.
4. Laki-laki lebih banyak yang mendengkur dan menderita OSA dibanding
perempuan. Progesterone akan mengurangi mendengkur dan OSA pada laki-
laki, sedangkan testosteron akan meningkatkan resistensi saluran napas atas
pada perempuan.

7
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

5. Faktor genetik yang berperan contohnya hipoplasisa maksila dan / atau


mandibula, disproporsi berbagai kerangka tulan yang menyebabkan
obstruksi, overweight dan diabetes.
6. Disfungsi saraf kranial yang mengakibatkan gangguan enervasi motorik
seperti Arnold-Chiari malformasi, stroke, sklerosis multipel, trauma bedah
pada saraf dan penyakit Parkinson.
c. Faktor Predisposisi / Kontribusi
1. Inflamasi hidung seperti polip dan rinitis alergi
2. Massa di sekitar leher dan saluran napas atas, misalnya kista kongenital,
karsinoma sel skuamosa dan limfoma tonsil lingualis, tonsil palatina, adenoid,
hipertrofi tonsil, tumor kelenjar liur minor.
3. Refluks laring-faring atau refluks gastro-esofagus bekerja secara sinergis
dengan OSA. Jika terjadi sumbatan jalan napas, akan terjadi usaha napas yang
keras sehingga tekanan intratorakal meningkat. Tekanan negatif pada rongga
dada akan menyebabkan isi lambung tersedot ke dalam esofagus torakal.
Cairan asam ini akan meluap ke dalam glotis dan teraspirasi kare plika
vokalis mengalami abduksi untuk usaha inspirasi.
4. Gangguan endokrin seperti hipotiroid, diabetes dan akromegali.
d. Kriteria Diagnosis
1. Anamnesis
Untuk menegakkan diagnosis diperlukan anamnesis terstruktur yang baik dan
benar. Kuesioner tervalidasi yang digunakan adalah Epworth Sleepiness Scale
untuk Excessive Daytime Sleepiness dan modifikasi Kenny Pang untuk
kecurigaan OSA

Kuesioner OSA Modifikasi Kenny Pang


Curiga OSA jika terdapat salah satu gejala di bawah ini dengan frekuensi
>3x/seminggu
1. Terbangun dari tidur karena tersedak (terbatuk-batuk)
2. Apnea pada saat tidur (sesuai dengan keterangan teman tidur)
3. Bangun tidur dengan perasaan tidak segar

Epworth Sleepiness Scale


Nilai Epworth Sleepiness Scale > 10 ditegakkan kecurigaan OSA, dengan
kriteria 0 = tidak pernah mengantuk, 1 = sedikit mengantuk, 2 = cukup
mengantuk, 3 = sangat mengantuk dan tertidur, pada situasi-situasi tertentu di
bawah ini:
1. Duduk & membaca
2. Menonton televisi
3. Duduk diam di tempat umum (di bioskop atau rapat)
4. Sebagai penumpang mobil selama 1 jam tanpa istirahat
5. Rebahan untuk beristirahat sore ketika lingkungan memungkinkan
6. Duduk dan berbicara dengan seseorang

8
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

7. Duduk tenang setelah makan siang tanpa minum alkohol


8. Saat mengemudi dan mobil berhenti beberapa menit dalam kemacetan.

2. Pemeriksaan Fisik
2.1. Indeks Masa Tubuh (Body Mass Index) kg/m2
• Underweight : < 18,5 kg/m2
• Normoweight : 18,5 – 24,9 kg/m2
• Overweight : 25 – 29,9 kg/m2
• Obese 1 : 30 – 35 kg/m2
• Obese 2 : > 35 kg/m2
2.2. Lingkar leher berhubungan dengan faktor etiologi OSA yaitu deposit
lemak pada mukosa leher dan meningkatkan risiko terjadinya OSA.
Ukuran lingkar leher sebagai berikut:
• Risiko rendah : kurang dari 43 cm.
• Risiko sedang : 43 - 48 cm,
• Risiko tinggi : lebih dari 48 cm.
2.3. Posisi Lidah dan Palatum dengan menggunakan Kriteria Friedman
Tongue Position atau Modifikasi Malampatti. Posisi 3 dan 4
berhubungan dengan risiko tinggi OSA karena makroglosia. Tanda lain
makroglosia adalah jejas gigitan gigi (dental mark) pada bagian tepi
lidah. Perhatikan pula palatum mole apakah terdapat webbing. Pada
Kriteria Friedman pasien diminta membuka mulut dan lidah tidak
dijulurkan, sedangkan pada Malampatti lidah dijulurkan.
• Posisi 1: seluruh bagian uvula dan tonsil terlihat
• Posisi 2: sebagian tonsil terlihat
• Posisi 3: sebagian uvula terlihat, dan tonsil tidak terlihat.
• Posisi 4: uvula dan tonsil tidak terlihat.
2.4. Ukuran Tonsil berhubungan dengan penyempitan laterolateral pada
orofaring.
• T1 : Tonsil tidak melebihi arkus palatofaringeus
• T2 : Tonsil melebihi arkus palatofaringeus, tetapi tidak melebihi
garis tengah antara arkus palatofaringeus dan uvula.
• T3 : Tonsil melebihi garis tengah antara arkus palatofaringeus dan
uvula.
• T4 : Tonsil kanan dan kiri bersentuhan (kissing tonsil)
2.5. Uvula yang besar dan panjang merupakan akibat dan sebab dari getaran
selama mendengkur. Perhatikan panjang dan basisnya dibandingkan
ukuran normal.
2.6. Ukuran dan bentuk rahang bawah. Mikrognatia dan Retrognatia
merupakan faktor risiko yang akan menyempitkan rongga orofaring dan
hipofaring pada mendengkur & OSA.
Berdasarkan pemeriksaan fisik dapat ditentukan derajat OSA menurut
Fujita.

9
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

Stadium Friedman Tongue Position Tonsil BMI


Stadium 1 1 3,4 < 30
2 3,4 < 30
Stadium 2 1,2 0,1,2 < 30
3,4 3,4 < 30
Stadium 3 3 0,1,2 Any
4 0,1,2 Any
Any Any > 30

3. Pemeriksaan Penunjang
3.1. Nasolaringoskopi Statik dan Dinamik dengan Manuver Muller
Pemeriksaan endoskopi serat optik pada nasolaring dengan posisi duduk
pada saat statik (istirahat) dan dinamik (manuver Muller) merupakan
pemeriksaan untuk menentukan level obstruksi saluran napas atas. Level
obstruksi harus diketahui untuk menentukan stadium OSA dan tindakan
pembedahan yang dapat dilakukan. Manuver Muller dilakukan pada level
retropalatal, retroglosal dan supraglotik dengan meminta pasien menarik
napas dengan kuat sambil menutup hidung dan mulutnya (reversed
Valsava). Kekuatan inspirasi negatif akan menyebabkan kolaps saluran
napas atas. Kolaps dapat terjadi pada bagian antero-posterior, latero-lateral
maupun konsentrik (seluruh bagian). Klasifikasi berdasarkan skoring atau
persentase ukuran kolaps level tertentu dapat dibagi menjadi: < 25%, 25-
50%, 50-75%, >75%.
3.2. Sleep Endoscopy
Nasolaringoskopi yang dilakukan pada kondisi sedasi (simulasi tidur)
memungkinkan identifikasi obstruksi dan kolaps saluran napas atas dengan
tonus otot yang mengalami relaksasi. Sedasi yang digunakan adalah titrasi
propofol yang dilakukan oleh dokter spesialis Anestesi dengan monitor ketat
kardiorespirasi. Keadaan obstruksi saluran napas atas yang dapat terlihat
adalah palatal flutter, palatal floppy, obstruksi palatal dengan obstruksi
orofaring intermiten, obstruksi multilevel memanjang, dan obstruksi dasar
lidah.
3.3. Polisomnografi
Polisomnografi harus dipertimbangkan pada semua pasien yang dicurigai
menderita OSA untuk: (1) memastikan diagnosis adanya penyakit dan
menentukan derajatnya, (2) menentukan frekuensi dan derajat episode
gangguan respirasi, (3) mengevaluasi akibat fisiologik pada saat tidur akibat
gangguan pernapasan. Tes tidur (sleep study) juga dikerjakan pada semua
pasien mendengkur dengan tanda fisik yang merupakan faktor risiko OSA,
excessive daytime sleepiness (skor ESS >10), dan penyakit penyerta seperti
hipertensi, hipotiroid, penyakit kardiovaskuler dan riwayat stroke.
American Sleep Disorders Association menggolongkan pemeriksaan tidur
menjadi 4 tingkatan berdasarkan jumlah kanal (channel) pemeriksaan yang
dilakukan di laboratorium tidur dengan pengawasan oleh teknisi tidur atau
tanpa pengawasan teknisi tidur yang dapat dilakukan di rumah atau rawat
inap rumah sakit.

10
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

Di Klinik Mendengkur & OSA Departemen THT FKUI – RSCM


polisomnografi yang digunakan adalah polisomnografi level 2, dengan
pilihan 10-28 kanal dan tanpa pengawasan teknisi tidur yang dapat
dilakukan di rumah maupun di rumah sakit.
Parameter penting Polisomnografi untuk bidang THT adalah:
Apnea : fase berhenti napas pada saat tidur yang berlangsung minimal
10 detik yang terukur dengan tidak adanya aliran udara pada
sensor aliran udara.
Hipopnea : periode respirasi dengan reduksi 50% aliran udara atau
reduksi udara kurang dari 50% disertai dengan desaturasi 3%
atau pasien terbangun.
Saturasi O2 : Saturasi O2 rata-rata pada saat tidur yang terukur dengan
kanal pulse oxymetry
LSAT (Lowest Sat O2) : Saturasi O2 terendah pada saat tidur.

Kategori OSA Berdasarkan Polisomnografi:


OSA AHI LSAT
Ringan 5-15 86 - 90%
Sedang 15-30 70 – 85%
Berat >30 < 70%

e. Penatalaksanaan
1. Konservatif
o Program Penurunan BB
Perbaiki diet untuk mengurangi deposit lemak tubuh dan menurunkan BB
harus disertai dengan olahraga teratur untuk meningkatkan tonus otot.
o Terapi medikamentosa
- Stimulan. Modafinil yang berguna untuk meningkatkan kesiagaan
(wakefullness) tidak mengakibatkan gejala kardiovaskuler, efektif
untuk pengobatan excessive daytime sleepiness (EDS) yang
menyertai OSA. Obat ini juga berguna pada penderita OSA yang
sudah menggunakan CPAP tetapi EDS menetap dengan skoring ESS
yang tetap dan manifestasi EDS yang lain.
- Antidepresan. Protriptyline adalah trisiklik antidepresan non-sedasi
yang dapat menekan waktu tidur REM (rapid eye movement)
berhubungan dengan episode mendengkur keras dan episode apnea
obstruktif yang lebih sering dan lebih panjang.
- Terapi pengganti tiroid untuk kasus hipotiroid dapat diberikan
dengan pengawasan dokter spesialis endokrin atau penyakit dalam.
- Obat penurun BB yang disetujui oleh FDA adalah sibutramine dan
orlistat. Sibutramine memberikan efek anoreksia yang tidak
berhubungan dengan amfetamin dan tidak adiktif tetapi dapat
meningkatkan tekanan darah, denyut nadi dan kontraindikasi pada
hipertensi yang tidak terkontrol. Orlistat adalah inhibitor lipase yang

11
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

mencegah digesti dan absorpsi lemak dalam diet. Orlistat tidak


diabsorpsi oleh tubuh dan tidak adak efek sistemik, tetapi
meningkatkan faeses yang berlemak dan berminyak serta frekuensi
defekasi.
- Terapi oksigen biasanya bersama-sama penggunaan CPAP untuk
pengobatan hipoksemia persisten yang tidak respons dengan CPAP
saja.
o Peralatan untuk terapi konservatif
Banyak peralatan yang telah dipasarkan secara bebas seperti alat pengatur
tidur supaya tidur tetap miring seperti snore ball atau snore sock, alat
ekstensi leher seperti korset leher dan bantal anti ngorok.
o Dental / Oral Appliance
Alat ini digunakan untuk memposisikan lidah sehingga posisi lidah lebih
terjulur ke anterior dan mencegah lidah jatuh ke belakang dan menutup
saluran udara faring. Alat bekerja dengan menarik mandibula dan dasar
lidah ke anterior, menstabilkan mandibula dan mencegah terbuka pada saat
tidur, sehingga mengubah posisi mandibula melalui rotasi ke arah bawah
dan meningkatakan aktivitas otot dasar genioglosus untuk menjaga patensi
aliran udara.
o Dilator nasal.
Untuk membuka anterior nasal valve pada tempat pertautan upper lateral
cartilage dan lower lateral cartilage dengan septum di medial
o CPAP (Continous Positive Airway Pressure)
Tekanan udara positif kontinyu melalui masker nasal merupakan terapi
tunggal yang paling efektif dan tidak invasif untuk OSA. CPAP akan
menghilangkan efek samping penyakit termasuk EDS, gangguan fungsi
intelektual dan kematian kardiovaskuler usia muda.
2. Operatif
Terapi operatif dapat dilakukan sesuai dengan level obstruksi masing-masing
atau terapi kombinasi sesuai dengan derajat penyakit sesuai modifikasi
kriteria Fujita & kriteria AHI. (Lihat guidelines).
Level Hidung : reduksi konka, septoplasti, adenoidektomi, ekstirpasi polip atau
massa hidung.
Level Velo- : • Penyempitan AP : Implantasi Pillar, RDF Palatum, UPPP
Orofaring • Penyempitan Latero-lateral : UPPP Extension + Tonsilektomi
• Penyempitan Konsentrik : Kombinasi 1 & 2
• Palatal Flutter ok penipisan : Implan Pillar
• Palatal Flutter ok elongasi palatum molle : UPPP
• Hipertrofi tonsil: Tonsilektomi
• Penyempitan retroglossal ok lidah besar : reduksi lidah dg.
RDF, Repose, Suspensi Hioid
Level Hipofaring : • RDF Tonsil lingual
& Laring • Pengobatan Refluks

12
Modul IV.8 - Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS)

e. Komplikasi
• Komplikasi OSA
o Hipertensi
o Penyakit kardiovaskuler: penyakit arteri koroner, miokard infark akut,
episode thrombosis akut, aterosklerosis kronik
o Penyakit jantung kongestif
o Aritmia jantung
o Lesi aterosklerotik serebral (stroke)

• Komplikasi Terapi Operatif


o Krisis pernapasan: intubasi dengan penyulit, obstruksi akibat
penggunaan sedatif, narkotik, relaksan dan antiemetik.
o Krisis kardiovaskuler: krisis hipertensis, aritmia, infark miokard, stroke
akut, edem paru.
o Perdarahan
o Inkompetensi velofaring
o Stenosis palatal-nasofaring
o Dehisensi luka operasi
o Lain-lain: disfagia, paresis lidah, hilang indra pencecap.

f. Konsultasi
1. Dokter Spesialis Penyakit Dalam
2. Dokter Spesialis Jantung
3. Dokter Spesialis Paru
4. Dokter Spesialis Saraf
5. Dokter Spesialis Anestesi

g. Referensi
1. Walker RP. Snoring and obstructive sleep apnea. In: Bailey JB, Johnson JT,
Eds. Head Neck Surgery Otolaryngology. 4th ed. Philadelphia: Lippincot
2006. P.645-64
2. Welch KC,Goldberg AN. Sleep [Link]: Lalwani AK ed. Current
diagnosis and treatment Otolaryngology Head Neck Surgery. 2nd ed. New
York:McGraw Hill Comp LANGE;2008. p.535-47

13
MODUL UTAMA
LARING FARING

MODUL IV.9
LESI NON NEOPLASTIK LARING

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ...................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ...................................................................................... 1

C. REFERENSI ................................................................................................ 1

D. KOMPETENSI ............................................................................................ 1

E. GAMBARAN UMUM ................................................................................ 2

F. CONTOH KASUS ....................................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN ..................................................................... 3

H. METODE PEMBELAJARAN .................................................................... 3

I. EVALUASI ................................................................................................. 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .......................... 4

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ................... 7

L. DAFTAR TILIK ........................................................................................ 12

M. MATERI PRESENTASI ........................................................................... 15

N. MATERI BAKU ........................................................................................ 15


Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

MODUL IV.9
LARING-FARING – LESI NON NEOPLASTIK LARING

A. WAKTU

Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :


Sesi di dalam kelas 7 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 22 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi: Lesi Non Neoplastik Laring
• Slide 1: Gejala dan Tanda Lesi Non Neoplastik Laring
• Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Lesi Non Neoplastik Laring
• Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
• Slide 4: Faktor Resiko Lesi Non Neoplastik Laring
• Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa

2. Kasus : Lesi Non Neoplastik


Seorang laki-laki, 39 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara
parau sudah 3 bulan. Os bekerja sebagai guru SD. Dari pemeriksaan
laringoskopi tak langsung dan langsung didapatkan massa sebesar kacang
hijau pada pitasuara kanan dan kiri pada sepertiga anterior.

3. Sarana dan Alat Bantu Latih :


§ Model anatomi laring video
§ Penuntun belajar (learning guide) terlampir
§ Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, PoliklinikTHT-
KL , kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.

C. REFERENSI
1. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery –
[Link], JB Lippincott Co, 2014, chapter 68,
pp.980-1003
2. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck,
Philadelphia,Lea & Fabiger, 2016, chapter 29,31-33,37, pp.570-588,605-
41,682-746
3. Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great
Britain,Edward Arnold, 8thed, 2018 Chapter 88, pp.1135- 49

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis lesi non neoplastik laring berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
diperlukan (Laringoskopi Indirekta menggunakan cermin laring atau
Tele Rigid, Laringoskopi direkta/Fiber Optic Laringoscopy (FOL) /
foto polos leher AP dan lateral / CT scan leher / biopsi).

1
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

b. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan


yang lebih tinggi bila diperlukan.

2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
a. Mengenali gejala dan tanda lesi non neoplastik laring
b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik lesi non neoplastik laring
c. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang
seperti diperlukan (Laringoskopi Indirekta menggunakan cermin
laring atau Tele Rigid, Laringoskopi direkta/Fiber Optic
Laringoscopy (FOL)
/ foto polos leher AP dan lateral / CT scan leher / biopsi).
d. Mengenali faktor resiko kejadian lesi non neoplastik laring
e. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian
antibiotika, anti radang, analgesik-antipiretik, dan operasi.
f. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang
mungkin terjadi pada lesi non neoplastik laring

E. GAMBARAN UMUM
Yang disebut lesi non neoplastik laring bukanlah neoplasma sejati
melainkan adalah massa yang menyerupai tumor yang terbentuk sebagai
hasil dari infeksi, trauma atau degenerasi. Terbagi atas; lesi solid lesi jinak
pita suara (nodul pita suara, polip pita suara, edema Reinke’s, Ulkus kontak,
Granuloma intubasi, Leukoplakia ) lesi infiltrasi laring (Wagener
granulomatosis, Rheumatoid Artritis, Amiolidosis, Relapsing policondritis,
Sistemic Lupus Eritromatosus, Pemhigus dan pemphigoid, sarcoidosis,
Radiasi sinar eksternal) dan lesi kistik (Kista duktus, kista sakular,
laringokel). Non neoplastik laring merupakan suatu penyakit yang cukup
sering dijumpai di praktik sehari-hari, baik yang datang dalam keadaan
serak, tidak progresif, dapat menyebabkan sesak ringan sampai berat. Gejala
sesak yang hebat dapat mengancam nyawa bila tidak ditangani secara cepat
dan tepat. Kejadian lesi non neoplastik laring dapat terjadi pada semua usia
maupun jenis kelamin. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan VHI, pemeriksaan laringoskopi indirek
dengan cermin laring atau tele rigid dan laringoskopi direkta serta
pemeriksaan histopatologi

F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki, 39 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara parau
sudah 3 bulan. Os bekerja sebagai guru SD. Dari pemeriksaan laringoskopi
tak langsung dan langsung didapatkan massa sebesar kacang hijau pada pita
suarakanan dan kiri pada sepertiga anterior.
Diskusi: (tentukan apa yang harus diketahui terkait dengan butir-butir
dibawahini)
1. Sebutkan gejala dan tanda klinis penderita
2. Perlunya pemeriksaan penunjang lain
3. Rencana terapi penderita

2
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan
untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan
pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali
dan menatalaksana lesi non neoplastik laring seperti yang telah disebutkan
diatas, yaitu:
1. Mengenali gejala dan tanda Lesi non neoplastik Laring
2. Melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik Lesi non neoplastik Laring
dan pemeriksaan VHI
3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang
seperti foto leher jaringan lunak, pemeriksaan laringoskopi indirekta
dengan cermin laring atau tele rigid dan direkta dengan laringoskopi
serat optik.
4. Mengenali faktor resiko kejadian Lesi non neoplastik Laring
5. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian
antibiotika, anti radang, analgesik antipiretik, dan operasi.
6. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang
mungkin terjadi pada Lesi non neoplastik Laring

H. METODE PEMBELAJARAN
o Interactive lecture
o Small group discussion.
o Peer assisted learning (PAL).
o Bedside teaching.
o Task based medical education.
o Journal reading and review.
o Case simulation and investigation exercise.
o Equipment characteristics and operating instructions.
o Case study
o Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
o Demonstration and Coaching
o Practice with Real Clients.

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre test dalam bentuk essay dan oral
sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai
kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi
kekurangan yang ada. Materi pretest terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi laring
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan
fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi
dan hal-hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang
akan diperolehpada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar

3
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

dalam bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted


Evaluation) atau kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut,
yang bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar,
penuntun belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan
evaluasi (Peer Assisted Evaluation) setelah dianggap memadai, melalui
metode bedside teaching dibawah pengawasan fasilitator, peserta dididik
mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah
kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan
evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan
mengisi formulirpenilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah
tidakdilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk
mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan
dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk
memperbaikikekurangan yang ditemukan.
5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan
penuntun belajar.
6. Pendidik/ fasilitas :
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist
form(terlampir)
• Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan
diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical
education)
8. Pencapaian pembelajaran :
• Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar
olehkolegium I. THT-KL
• Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing
[Link] lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL.
• Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut
olehkolegium ilmu THT-KL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


1. Seorang laki-laki 53 tahun datang ke poliklinik THTKL dengan keluhan
suaraserak sejak 6 bulan yang lalu dan semakin parah. Apabila banyak bicara
pasien mengeluh napas terasa berat. Pasien bekerja sebagai montir di
bengkel mobil. Riwayat merokok 10-15 batang sehari selama lebih dari 20
tahun. Pasien juga mengkonsumsi kopi setiap [Link] laringoskopi
kaku didapatkan bengkak sepanjang pita suara bilateral.

4
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Kemungkinan diagnosis pada pasien ini adalah


a. Polip pita suara bilateral
b. Granuloma pita suara bilaretal
c. Amiloidosis pita suara
d. Reinke’s edema
e. Kista pita suara bilateral

Jawaban : D

2. Apa penyebab utama pada kasus diatas ?


a. Alkohol
b. Asap Rokok
c. Laryngopharyngeal reflux
d. Voice abuse
e. Infeksi

Jawaban : B

3. Pada kasus diatas, kelainan suara yang sering terjadi adalah:


a. Increased pitch
b. Decreased pitch
c. Increased fundamental frequency
d. Decreased loudness
e. Increased loudness

Jawaban : B

4. Pembedahan pada kasus diatas, meliputi:


a. Reseksi ligamen vokalis
b. Reseksi semua mucosa pita suara
c. Reseksi sebagian lapisan superficial dari lamina propria
d. Reseksi seluruh lapisan superfisial lamina propria
e. Reseksi epitel pita suara

5
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Jawaban : C

5. Seorang anak usia 5 tahun dibawa ke dokter THT karena suaranya parau sejak
beberapa bulan terakhir. Parau menetap dan tidak pernah hilang dan anak selalu
ngotot bila mau mengeluarkan suara sehingga tampak otot lehernya. Demam,
batuk dan sesak napas tidak ada.. Tidak ada masalah dalam hal makan dan tidur.
Pada pemeriksaan fisik tidak ada kelainan. Pada pemeriksaan endoskopi tampak
gambaran seperti tertera di bawah. Apakah diagnosis yang paling tepat pada
anak ini?
a. Nodul pita suara
b. Papiloma laring
c. Polip pita suara
d. Kista pita suara
e. Laringitis kronis

Jawaban : A

6. Di klinik THT-KL ada seorang pasien wanita usia 27 tahun mengeluh suaranya
serak sejak 1 bulan dan capek bila sering berbicara. Sesak napas tidak ada. Demam
dan batuk tidak ada. Wanita ini berprofesi sebagai sales elektroknik di mall. Hasil
endoskopi laring didapatkan tampak lesi di 1/3 anterior pita suara bilateral. Hasil
VHI 10 : 15. Apa terapi pilihan pada pasien ini?
a. Terapi suara
b. Ekstirpasi
c. Steroid dosis tinggi
d. Mukolitik
e. Antibiotik

Jawaban : A

7. Wanita 35 tahun datang ke Rumah Sakit dengan suara parau sejak 3 bulan,
tidak ada sesak, batuk maupun demam. Penderita adalah seorang guru. Sudah
pernah berobat namun tidak ada perbaikan. Diagnosis apakah yang paling
mungkin padapasien ini?
a. Laringitis akut
b. Laringitis difteri
c. Ca laring
d. Nodul plika vokalis
e. Paresis kronik

Jawaban : D

6
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

8. A 40-year-old male smoker presents with hoarseness for 4 months. Fiberoptic


laryngoscopy reveals a superficial hyperkeratotic lesion on the right anterior
vocal cord. Cord mobility is normal. What would be the next logical step in
management?
A. MRI
B. Administration of antireflux agents and speech therapy
C. Direct laryngoscopy with transoral laser microsurgery (TLM)
excisionalbiopsy
D. Fiberoptic laryngoscopy after 1 month

Jawaban : C

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


Penuntun Belajar
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTAMENGGUNAKAN
CERMIN LARING
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2. Mampu Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing
untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar
normal.
3. Mahir Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu
kerja yang sangat efisien
4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu
tidak perlu diperagakan).

KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Informed consent
Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yang
2
diharapkan
Jelaskan prosedur pada pasien/
3
keluarganya
Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi
4
tindakan
Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi
indirekta telah tersedia dan berfungsi dengan baik
dan lengkap :
- Lampu kepala
5 - Cermin Laring
- Pemanas Cermin laring
- Kassa steril
II. PROSEDUR TINDAKAN

7
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Pasien duduk berhadapan dengan dokter, posisi


pasien sedikit lebih tinggi dibandingkan dokter,
6 dengan kepala sedikitmendongak keatas.
Tubuh pasien sedikit condong ke depan, dengan
mulut terbuka lebar dan lidah dijulurkan keluar.
Hangatkan cermin laring sampai sedikit diatas
7
suhu tubuh.
Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril,
tarik ujung lidah kedepan dan kebawah supaya
8 tetap berada di luar [Link] pasien untuk
tenang dan mengambil nafas secara lambat dan
dalam melalui mulut.
Fokuskan sinar dari lampu kepala keorofaring
9
pasien.
Arahkan cermin laring ke dalam orofaring
tanpa menyentuh mukosa kavum oris, palatum
molle atau dinding posterior orofaring
10
kemudian miringkan cermin laring ke arah
kanan dan kiri sampai dapatmelihat permukaan
mukosa hipofaring dan laring
Amati struktur tonsil lingual, valekula,
11 epiglotis, aritenoid, sinus piriformis, plika
ventrikularis, plika vokalis dan rima glotis
Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati
pergerakan plika vokalis (Amati gerakan pita
12 suara (adakah asimetris gerakan,
granulasi, nodul atau tumor pada pita suara)
13 Amati pula daerah subglotis.

Penuntun Belajar
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTA MENGGUNAKAN TELE RIGID
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2. Mampu Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing
untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar
normal.
3. Mahir Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu
kerja yang sangat efisien
4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu
tidak perlu diperagakan).

8
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

PESERTA : TANGGAL :____________________

KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Informed consent
Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yang
2
diharapkan
Jelaskan prosedur pada pasien/
3
keluarganya
Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi
4
tindakan
Pastikan kelengkapan peralatan
laringoskopi indirekta telah tersedia dan
berfungsi dengan baik dan lengkap :
5 - Telepack, light source
- Telescope 90º
- Kassa steril
II. PROSEDUR TINDAKAN
Pasien duduk berhadapan dengan dokter,
posisi pasien sedikit lebih tinggi dibandingkan
dokter, dengan kepala sedikit mendongak
keatas.
6 Tubuh pasien sedikit condong ke depan,
dengan mulut terbuka lebar dan lidah
dijulurkan keluar.
Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril,
tarik ujung lidah kedepan dan kebawah supaya
tetap berada di luar [Link] pasien untuk
7
tenang dan mengambil nafas secara lambat
dan dalam melalui
mulut.
Arahkan telescope 90º ke dalam orofaring
tanpa menyentuh mukosa kavum oris,
palatum molle atau dinding posterior
8
orofaring kemudian arahkan telescope 90º
sedikit kebawah sampai dapat melihat
permukaan mukosa hipofaring dan laring
Amati struktur tonsil lingual, valekula,
9 epiglotis, aritenoid, sinus piriformis, plika
ventrikularis, plika vokalis dan rima glotis
Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati
pergerakan plika vokalis (Amati gerakan
10
pita suara (adakah asimetris gerakan,
granulasi, nodul atau tumor pada pita suara)
11 Amati pula daerah subglotis.

9
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Penuntun Belajar
PROSEDUR LARINGOSKOPI DIREKTA
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2. Mampu Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya membimbing
untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk kondisi diluar
normal.
3. Mahir Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu
kerja yang sangat efisien
4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu
tidak perlu diperagakan).

PESERTA :____________________________ TANGGAL : ___________________

KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN OPERASI
1 Informed consent
Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang
2 diharapkan
Jelaskan prosedur dan standar operasipada
3 pasien/ keluarganya
Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi
4 operasi
Pastikan kelengkapan peralatan
laringoskopi direkta telah tersedia dan
berfungsi dengan baik dan lengkap :
- Telepack, light source
5
- Laringoskop Kleinseiser, chest holder
- Siapkan suction dan instrumen lain sesuai
indikasi
II. PROSEDUR OPERASI
Posisi operator diatas kepala pasien danposisi
6 operator duduk
Pasien dalam posisi terlentang, dengan posisi
Sniffing (bahu diganjal, leher fleksi,
7
kepala ekstensi) dalam general anestesi
Aseptik dan antiseptik daerah operasi (dariluar
sekitar mulut sampai dagu sentripetal,
8
terakhir mukosa orofaring) sesuai prosedur
Lapangan operasi di persempit dengan doek
9 steril

10
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Laringoskop kleinsasser dipegang dengan


tangan kiri dengan gigi bagian atas dilindungi
dengan menggunakan teeth protector dan
10 tangan kanan cross finger untuk membuka
mulut
Laringoskop kleinsasser dimasukkan kedalam
mulut sejajar dengan garis tengahpalatum
durum hingga tampak uvula, kemudian
11 menyusuri dinding faring posterior hingga
tampak epiglottis
Laringoskop kleinsasser diarahkan ke atas
hingga menyingkap epiglotis dan tampak
12 aritenoid kemudian diungkit dan didorong
hingga terlihat seluruh struktur laring
Dilakukan fiksasi dengan menggunakan chest
13 holder yang bertumpu di atas dada pasien
Dilakukan identifikasi struktur daerah laring
(aritenoid, plika arieepiglotika, plika
14 ventrikularis, plika vokalis, rima glottis,daerah
subglotis dll)
15 Dilakukan tindakan sesuai dengan indikasi
Chest holder di lepaskan, laringoskop
klainsasser dikeluarkan secara perlahansambil
dilakukan evaluasi apakah ada
16 laserasi atau perdarahan, aspirasi, edema
laring, laringospasme, trauma gigi danruptur
pita suara
III. PASCA OPERASI
Observasi jalan nafas, perdarahan, tekanan
17 darah, suhu dan nadi secara teratur
Medikamentosa
a. Antibiotika sistemik
b. Analgetika
18 c. Steroid jika diperlukan
d. Terapi simtomatis sesuai indikasi

11
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

L. DAFTAR TILIK
Penilaian kinerja keterampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTAMENGGUNAKAN
CERMIN LARING
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan oleh
peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan seperti yang
diuraikan dibawah ini :
Ö Memuaskan Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur
atau panduan standar
Tidak Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan
X Memuaskan prosedur atau panduan standar
T/D Tidak Diamati Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh
peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

PESERTA : TANGGAL :

KESEMPATAN
NO KEGIATAN KE
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Informed consent
2 Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yang diharapkan
3 Jelaskan prosedur pada pasien/ keluarganya
4 Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi tindakan
5 Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi indirekta telah tersedia dan
berfungsi dengan baik dan lengkap :
o Lampu kepala
o Cermin Laring
o Pemanas Cermin laring
o Kassa steril
II. PROSEDUR TINDAKAN
6 Pasien duduk berhadapan dengan dokter, posisi pasien sedikit lebih tinggi
dibandingkan dokter, dengan kepala sedikit mendongak keatas.
Tubuh pasien sedikit condong ke depan, dengan mulut terbuka lebar dan lidah
dijulurkan keluar.
7 Hangatkan cermin laring
8 Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril, tarik ujung lidah kedepan dan
kebawah supaya tetap berada di luar mulut. Minta pasien untuk tenang dan
mengambil nafas secara lambat dan dalam melalui mulut.
9 Fokuskan sinar dari lampu kepala ke orofaring pasien.
10 Arahkan cermin laring ke dalam orofaring tanpa menyentuh mukosa kavum
oris, palatum molle atau dinding posterior orofaring kemudian miringkan
cermin laring ke arah kanan dan kiri sampai dapat melihat permukaan mukosa
hipofaring dan
laring
11 Amati struktur tonsil lingual, valekula, epiglotis, aritenoid, sinus piriformis,
plika
ventrikularis, plika vokalis dan rima glotis
12 Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati pergerakan plika vokalis (Amati
gerakan pita suara (asimetris gerakan, granulasi,
nodul atau tumor pada pita suara)
13 Amati pula daerah subglotis.

12
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

DAFTAR TILIK
Penilaian kinerja keterampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN
PROSEDUR LARINGOSKOPI INDIREKTAMENGGUNAKAN
TELE RIGID

PESERTA : TANGGAL : _____________

KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN PASIEN DAN ALAT
1 Informed consent
2 Jelaskan tujuan tindakan dan hasil yangdiharapkan
3 Jelaskan prosedur pada pasien/
keluarganya
4 Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasitindakan
5 Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi
indirekta telah tersedia dan berfungsi dengan baik
dan lengkap :
o Telepack, light source
o Telescope 90º
o Kassa steril
II. PROSEDUR TINDAKAN
6 Pasien duduk berhadapan dengan dokter, posisi
pasien sedikit lebih tinggi dibandingkan dokter,
dengan kepala sedikit mendongak keatas. Tubuh
pasien sedikit condong ke depan, dengan mulut
terbuka lebar dan lidah dijulurkan keluar.
7 Pegang ujung lidah pasien dengan kassa steril,
tarik ujung lidah kedepan dan kebawah supaya
tetap berada di luar mulut.
Minta pasien untuk tenang dan mengambil nafas
secara lambat dan dalam melalui mulut.
8 Arahkan telescope 90º ke dalam orofaring tanpa
menyentuh mukosa kavum oris, palatum molle
atau dinding posterior orofaring kemudian
arahkan telescope 90º sedikit kebawah sampai
dapat melihat permukaan mukosa hipofaring dan
laring
9 Amati struktur tonsil lingual, valekula, epiglotis,
aritenoid, sinus piriformis, plika ventrikularis, plika
vokalis dan rima glotis
10 Pasien diminta untuk berkata “iii”, amati
pergerakan plika vokalis (Amati gerakan pita
suara adakah asimetris gerakan, granulasi,
nodul atau tumor pada pita suara)
11 Amati pula daerah subglotis.

13
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

DAFTAR TILIK
Penilaian kinerja keterampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN PROSEDUR LARINGOSKOPI DIREKTA

PESERTA : TANGGAL : _____________


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN
1 2 3 4 5
I. PERSIAPAN OPERASI
1 Informed consent
2 Jelaskan tujuan operasi dan hasil yang diharapkan
3 Jelaskan prosedur dan standar operasi
pada pasien/ keluarganya
4 Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
5 Pastikan kelengkapan peralatan laringoskopi
direkta telah tersedia dan berfungsi dengan baik
dan lengkap :
o Telepack, light source
o Laringoskop Kleinseiser, chest holder
o Siapkan suction dan instrumen lain sesuaiindikasi
II. PROSEDUR TINDAKAN
6 Posisi operator diatas kepala pasien dan posisi
operator duduk
7 Pasien dalam posisi terlentang, dengan posisi
Sniffing (bahu diganjal, leher fleksi,
kepala ekstensi) dalam general anestesi
8 Aseptik dan antiseptik daerah operasi (dari luar
sekitar mulut sampai dagu sentripetal, terakhir
mukosa orofaring) sesuai prosedur
9 Lapangan operasi di persempit dengan doeksteril
10 Laringoskop kleinsasser dipegang dengantangan
kiri dengan gigi bagian atas dilindungi dengan
menggunakan teeth protector dan tangan kanan
cross finger untuk membuka mulut
11 Laringoskop kleinsasser dimasukkan kedalam mulut
sejajar dengan garis tengah palatum durum hingga
tampak uvula, kemudian menyusuri dinding faring
posterior hingga tampak epiglotis
12 Laringoskop kleinsasser diarahkan ke atashingga
menyingkap epiglotis dan tampak
arytenoid kemudian diungkit dan didorong hingga
terlihat seluruh struktur laring
13 Dilakukan fiksasi dengan menggunakan
chest holder yang bertumpu di atas dadapasien
14 Dilakukan identifikasi struktur daerah laring
(aritenoid, plika arieepiglotika, plika ventrikularis,
plika vokalis, rima glottis,
daerah subglotis dll)
15 Dilakukan tindakan sesuai dengan indikasi
16 Chest holder di lepaskan, laringoskop klainsasser
dikeluarkan secara perlahan sambil dilakukan

14
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

M. MATERI PRESENTASI
a. Slide 1: Gejala dan Tanda Lesi Non Neoplastik Laring
b. Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Lesi Non Neoplastik Laring
c. Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
d. Slide 4: Faktor Resiko Lesi Non Neoplastik Laring
e. Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa

N. MATERI BAKU
LESI NON NEOPLASTIK LARING
a. Definisi
Lesi non neoplastik laring bukanlah neoplasma sejati melainkan adalah
massa yang menyerupai tumor yang terbentuk sebagai hasil dari infeksi,
trauma ataudegenerasi.

Terbagi atas; lesi solid lesi jinak pita suara (nodul pita suara, polip pita
suara, edema Reinke’s, Ulkus kontak, Granuloma intubasi, Leukoplakia)
dan lesi infiltrasi laring (Wagener granulomatosis, Rheumatoid Artritis,
Amiolidosis, Relapsing policondritis, Sistemik Lupus Eritromatosus,
Pemhigus dan pemphigoid, sarcoidosis, Radiasi sinar eksternal) dan lesi
kistik (Kista duktus, kista sakular, laringokel)

I. Lesi Jinak Pita Suara

1. Nodul Pita Suara (singer’s or screamer’s nodes)

o Letak lesi pada persambungan sepertiga anterior atau dua pertiga


posterior biasanya bilateral dimana area ini merupakan tempat
vibrasi maksimal dari pita suara dan sering mengalami trauma
maksimal.
o Ukuran bervariasi dari ukuran kepala peniti sampai separuh
kacangpolong.
o Biasanya terjadi pada guru, aktor, penjaga atau penyanyi dan
pemandu sorak, anak-anak yang sering berteriak atau senang
berbicara.
o Patologis: Nodul pita suara terjadi akibat trauma suara pada saat
seseorang berbicara dengan nada rendah yang tidak alami dalam
periode waktu yang lama atau pada intensitas yang tinggi dan
batuk yang berat. trauma pada pita suara dalam bentuk
penyalahgunaan atau penyimpangan suara menimbulkan edema
dan perdarahan pada ruang submukosa. Hal ini menyebabkan
hyalinisasi dan fibrosis. Epitel yang mendasarinya juga
mengalami hyperplasia dan membentuk nodul.
o Pada tingkat awal, nodul terlihat lembut, kemerahan dan bengkak
edema namun kemudian menjadi keabu-abuan atau berwarna
putih.
o Pasien dengan nodul pita suara mengeluhkan suara serak/parau.
o Kasus dini dari nodul pita suara dapat diobati secara
konservatifdengan mengedukasi pasien cara penggunaan suara

15
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

yang tepat.
o Tindakan bedah diperlukan pada nodul yang berukuran besar
ataunodul yang sudah lama diderita oleh penderita dewasa.
o Nodul di eksisi secara tepat dengan menggunakan mikroskop
untukmenghindari trauma pada ligament vokal yang
mendasarinya.
o Terapi bicara dan edukasi dalam bersuara adalah hal yang
pentinguntuk mencegah kekambuhan.

Gambar 1. Nodul pita suara

2. Polip Pita Suara

o Polip pita suara timbul akibat penyalahgunaan dan penyimpangan


suara.
o Paling banyak terjadi pada laki-laki, usia 30-50 tahun.
o Umumnya polip pita suara muncul unilateral di posisi yang sama
seperti nodul pita suara pada batuk kronis dan infeksi laring yang
berulang.
o Massanya lembut, licin dan seringkali dasarnya seperti bertangkai
(pedunculated).
o Suara serak/parau adalah gejala yang umum. Polip yang besar
dapat menyebabkan dipsnue, stridor dan sensasi tercekik sewaktu-
waktu. Beberapa pasien mengeluhkan diplofonia (double voice)
akibat dariperbedaan frekuensi getar dari kedua pita suara.
o Histologi dapat dijumpai mukosa out- pouching, adanya edema
dan stroma yang longgar nodul pita suara ini dapat turun kearah
glottis pada saat respirasi dan fonasi.
o Terapi pada polip pita suara adalah bedah eksisi dengan
menggunakan mikroskop (bedah mikrolaring/endolaring(FELT))
diikuti dengan terapi bicara.

16
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Gambar 2. Polip Pita Suara

Gambar 3. Polip pita suara dengan hemorrhage

3. Edema Reinke’s
o Terjadi Akibat akumulasi cairan edema pada ruang subepitel
Reinke, bisa unilateral atau bilateral
o Paling sering ditemukan pada wanita dan disebabkan oleh
penyalahgunaan pita suara (vocal abuse), merokok, dan
laryngopharyngeal reflux.
o Kedua pita suara menunjukkan pembengkakan difus yang
simetris, bentuk bulat, dan berwarna kuning pada pita suara
o Pada pemeriksaan histologis, degenerasi polipoid pita suara
tampaksebagai pembentukan lamina propia yang berlebih.
o Intervensi bedah dilakukan pada pasien dengan obstruksi jalan
napas atau yang gagal dengan terapi konservatif. Teknik operasi
yang dapat digunakan cold excision, eksisi laser CO2,
mikrodebridement, terapi laser hemoglobin-specific (pulsed dye,
pulsed KTP lasers).
o Terapi awal dengan mengeliminasi faktor penyebab reinke edema
memiliki dampak yang signifikan pada prognosis jangka panjang
setelah operasi.
o Terapi dilakukan dengan melepaskan lapisan pita suara dengan
mempertahankan mukosa yang cukup untuk reepitelisasi dengan
bedah mikrolaring/endolaring(FELT).
o Edukasi dilakukan untuk kemungkinan risiko kambuh kembali
padapasien yang terus merokok, timbulnya jaringan parut pada pita
suara,dan kegagalan perbaikan suara.
4.

17
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Gambar 4. Edema Reinke’s

5. Ulkus kontak

o Adalah inflamasi massa yang berasal dari peradangan kronis dan


iritasi pada perikondrium kartilago aritenoid.
o Dibagi menjadi 2 grup yaitu yang berhubungan dengan intubasi
dantidak berhubungan dengan intubasi
o Ulkus kontak ini berhubungan dengan kesalahan produksi suara
yang dimana prosesus vokalis aritenoid menekan satu sama lain
danmenimbulkan ulkus dan granuloma.
o Keluhan utama : suara serak/parau, dorongan untuk
membersihkan tenggorokan (mendehem) dan nyeri tenggorokan
terutama memburuk saat fonasi.
o Pemeriksaan menunjukkan ulkus bilateral atau unilateral dengan
kongesti pada kartilago aritenoid.
o Pasien granuloma yang berhubungan dengan intubasi dapat
diterapi dengan konservatif dan beberapa bulan kemudian lesi
dapat sembuh spontan. Sedangkan, yang tidak berhubungan
dengan intubasi lebihsulit diobati.
o Penatalaksanaan diantaranya mengontrol refluk asam, mengubah
gaya hidup, diet dan penggunaan proton pump inhibitor dan
terapi suara.

18
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Gambar 5. Ulkus kontak pita suara

6. Granuloma intubasi

o Trauma pada prosesus vokalis aritenoid karena proses intubasi


yang tidak lancar, penggunaan tube yang berukuran besar dan
posisi tube yang lama diantara kedua pita suara. Ulserasi mukosa
diikuti dengan pembentukan granuloma diatas kartilago yang
terekspos.
o Biasanya terbentuk secara bilateral melibatkan sepertiga posterior
dari plika vokalis.
o Keluhan yang timbul adalah suara serak/parau dan bila ukurannya
besar bisa timbul dipsnea.
o Terapi adalah istirahat suara dan operasi granuloma dengan
endoskopi

Gambar 6. Granuloma intubasi pita suara

7. Leukoplakia atau Keratosis

o Merupakan bentuk dari hiperplasia epitel yang


melibatkanpermukaan atas pada satu atau kedua pita suara.
o Bentuknya seperti plak berwarna putih atau seperti kutil pada pita
suara tanpa mempengaruhi gerakannya.
o Keratosis dan leukoplakia merupakan lesi epitel premalignant

19
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

padamukosa laring.
o Etiologinya : merokok, vocal abuse, laringitis kronis, GERD,
dandefisiensi vitamin.
o Gejalanya serak.
o Pemeriksaan fisik yaitu penebalan, bercak kemerahan atau putih.
o Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil biopsi.
o Penatalaksanaan konservatif yaitu berhenti merokok, terapi
antirefluk, terapi suara, direckta mikrolaringoskopi dengan biopsi
eksisi.
o Follow up berkala diperlukan untuk mendeteksi rekurensi, atau
kemungkinan adanya lesi baru.
o Komplikasi dapat terbentuknya parut dan serak yang kronis.

Gambar 7. Leukoplakia Pita Suara

II. Lesi Infiltrasi Laring

1. Wagener granulomatosis
o Wegener granulomatosis berhubungan dengan radang
granulomatosa nekrotikans dan vaskulitis pada pembuluh darah
kecil.
o Penyakit ini cenderung menyerang saluran napas bagian atas, paru-
paru, dan ginjal. Pasien datang karena adanya ulkus kronis di
rongga hidung atau lebih jarang ditemukan adanya stenosis
subglotis.
o Diagnosa ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik secara
menyeluruh, pemeriksaan hidung dan laring menggunakan
endoskopi, serta pengujian antineutrofil klasik antibodi
sitoplasma (c-ANCA). 10% sampai 20% dari mereka yang
memiliki gejala jalan napas telah dilaporkan mengalami tes c-
ANCA negatif.

20
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

o Penatalaksanaan terbaik adalah melalui pendekatan multidisiplin.


Tatalaksana terapi untuk mencapai remisi dengan diberikan
kotrikosteroid sistemik dan atau siklofosfamid, sedangkan untuk
maintenance diberikan obat-obatan seperti metotreksat,
trimetoprimmetoksazol, atau azathioprine.

o Tatalaksana pembedahan meliputi dilatasi pada daerah subglotis


diikuti dengan injeksi kortikosteroid. Dilatasi subglotis sebaiknya
dihindari pada pasien yang tertrakeostomi. Pada kasus wagener
granulomatosis remisi yang disertai stenosis subglotis, maka
reseksi krikotrakeal merupakan pilihan terapi.

Gambar 8. Wagener Granulomatosis

2. Rhematoid Arthritis
o Rhematoid Arthritis (RA) terjadi pada jutaan orang di seluruh
dunia dengan kecenderungan terjadi pada perempuan. Pada ¼
kasus ditemukan pada laring.
o Pasien dengan rheumatoid arthritis lebih sering datang dengan
keluhan disfonia pada frekuensi tinggi (high pitch), penurunan
mobilitas pita suara, dan edema laring. Kelainan pada laring
mengikuti status rheumatoid arthritis pasien. Rhematoid arthritis
yang kronis cenderung muncul dengan gambaran laringitis
substansial dengan mukosa aritenoid eritematosa. Rheumatoid
arthritis kronis juga secara selektif mempengaruhi kartilago
aritenoid, tetapi secara spesifik lebih mempengaruhi sendi
krikoaritenoid yang menyebabkan terjadinya ankilosis dan
kemungkinan fiksasi pada sendi.
o Pada pita suara da pat ditemukan gambaran nodul rheumatoid, yang
dikenal dengan bamboo nodes, yang merupakan lesi fokal subepiteal
yang terdapat pada permukaan superior membran plika vokalis.
o Tatalaksana rheumatoid artritis dengan pemberian immunomodulator
dan anti-inflamasi. Ekstirpasi nodul rheumatoid artritis atau injeksi
steroid dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas fonasi.

21
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Gambar 9. Lesi Rheumatologi pada pita suara

3. Amiloidosis
o Amiloidosis adalah suatu kondisi autoimun yang ditandai dengan
deposisi protein fibrilar di ekstrasel. Amiloidosis laring jarang terjadi,
bisa berhubungan dengan amiloidosis sistemik (seperti multiple nieloma)
atau dapat berdiri sendiri.
o Sering dijumpai pada laki-laki di usia 50-70 tahun.
o Gambaran klinis meliputi batuk, disfonia, disfagia, dan kemungkinan
stridor. Ukuran tumor dapat bervariasi dan muncul dengan bentuk plak
licin atau massa pedunculated, yang merupakan deposisi protein amiloid
yang dapat menginfiltrasi pita suara, ruang paraglotis, dan supraglotis.
o Biopsi sebagai gold standard untuk mendiagnosis amiloidosis, yang
memberikan gambaran patogomonik yaitu apple green birefringence
setelah pewarnaan Congo Red.
o Intervensi bedah biasanya dilakukan untuk mengatasi gejala dan untuk
memperbaiki defisit vokal.
o Rekurensi cukup sering ditemukan

Gambar 10. Amiloidosis pita suara

22
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

4. Relapsing policondritis
o Relapsing policondritis ditandai dengan episode rekuren intermiten
inflamasi struktur tulang rawan. Selain laring, lokasi yang sering terkena
adalah telinga dan hidung. Pada 14% kasus, mengalami keterlibatan
laring dengan hampir setengahnya mengalami gejala saluran nafas.
o Pasien datang dengan keluhan telinga dan hidung, yang dapat disertai
dengan keluhan sumbatan jalan nafas atas.
o Chondritis purulen pada laring merupakan gejala sequele dari infeksi
sekunder sebelumnya.
o Pemeriksaan radiologi seperti Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan
Computed Tomography (CT) dapat mengidentifikasi perubahan pada
tulangrawan.
o Terapi maintanance utama meliputi pemberian kortikosteroid dosis
rendah dengan atau tanpa metotreksat. Dapson juga sudah terbukti
bermanfaat. Trakeostomi dapat dilakukan jika terjadi sumbatan jalan
nafas atas untuk mengamankan saluran nafas.

Gambar 11. Relapsing policondritis pita suara


5. Sistemik lupus eritromatosus
o Sistemik lupus eritromatosus (SLE) lebih sering dijumpai pada wanita.

o Pada 12 pasien yang menderita SLE, 11 pasien diantaranya memiliki


kelainan laring. Hubungan langsung antara SLE dan kelainan laring
masih belum dapat dijelaskan.

o Keluhan biasanya tidak terbatas pada laring dan dua pertiga pasien tidak
mengalami keluhan pada laring. Namun keluhan laringofaring yang
bervariasi seperti disfonia dan dispnea juga dapat dikeluhkan.
o Pada pemeriksaan dapat ditemukan edema atau ulserasi hingga paralisis

23
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

pada pita suara.

Gambar 12. Nodul Pita Suara pada SLE

6. Pemfigus and Pemfigoid


o Pemfigus dan pemfigoid adalah kondisi autoimun yang berhubungan,
namun terdapat perbedaan pada target autoantibodinya. Kedua kondisi ini
menyebabkan reaksi inflamasi hebat yang dapat menimbulkan cedera
padaepitel. Pada pemfigus, autoantibodi menyerang intraepitel sedangkan
pada pemfigoid autoantibodi menyerang antigen subepitel.
o Prevalensi keterlibatan laring berbeda pada kedua penyakit karena alasan
yang tidak diketahui. Satu studi menunjukkan bahwa keterlibatan laring
pada 21 pasien (40%) dari 53 pasien dengan pemfigus yang memiliki
manifestasi kepala dan leher, sedangkan studi lain menunjukkan bahwa
keterlibatan laring pada 10 pasien (26%) dari 38 pasien dengan
pemfigoid yang memiliki manifestasi kepala dan leher.
o Pasien datang dengan keluhan pada hidung dan laring dengan tempat
predileksi pada laring adalah mukosa supraglotis.
o Pemeriksaan imunofluoresen dari biopsi jaringan digunakan untuk
diagnosis pasti yang dapat mengidentifikasi karakteristik autoantibodi.

o Kortikosteroid dosis tinggi digunakan untuk mengontrol pada fase aktif


dan pengurangan dosis untuk terapi maintenance. Imunomodulator lain
seperti azathioprine, siklofosfamid, dan siklosporin juga dapat
dipertimbangkan untuk diberikan.
o Intervensi bedah digunakan untuk biopsi diagnostik dengan atau tanpa
intervensi pada saluran napas.

24
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Gambar 13. Pemfigoid Pada Laring

7. Sarkoidosis
o Sarkoidosis adalah kondisi autoimun yang didefinisikan secara patologis
ditemukannya noncaseating granulomas. Penyakit ini paling sering
dijumpai pada wanita Afro-Amerika usia dewasa muda. Keterlibatan
laring ditemukan pada 3% - 5% kasus dan biasanya mengenai daerah
supraglotis.
o Keluhan laring meliputi batuk non-produktif dan dispnea sehingga sulit
dibedakan dengan penyakit paru.
o Sarkoidosis masih merupakan penyakit yang sukar di diagnosis dan
memerlukan berbagai modalitas karena melibatkan berbagai organ.
Diagnosis sarkoidosis laring tergantung dari pemeriksaan laringoskopi,
yang ditemukan infiltrasi submukosa pada infraglotis, ruang paraglotis,
dan supraglotis. Keterlibatan epiglotis menyebabkan distorsi dan
penebalan yang disebut dengan epiglotis turban. Pada biopsi lesi secara
klasik menunjukkan adanya noncaseating granulomas.

o Terapi utama adalah kortikosteroid, tetapi imunomodulator lain seperti


azathioprine juga dapat diberikan.
o Intervensi bedah digunakan untuk biopsi diagnostik, eksisi pada lesi, atau
intervensi obstruktif pada saluran napas.

25
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Gambar 14. Sarcoidosis Pada Laring

8. Radiasi sinar eksternal


o Penggunaan radiasi sinar external banyak digunakan untuk
penatalaksanaan keganasan di daerah kepala dan leher. Setelah terapi
radiasi, banyak dari pasien mengalami keluhan laringofaring seperti
disfonia, disfagia. dan sensasi mengganjal di tenggorokan.
o Radiasi electron beam menginduksi perubahan fibrotik bertahap yang
menimbulkan atrofi otot dan fibrosis laring serta pengeringan pada
mukosa, namun perubahan ini tergantung dari dosis radiasi yang
diberikan. Fibrosis di dalam lamina propria dapat diketahui saat terjadi
penurunan kelenturan mukosa pada pemeriksaan stroboskopi. Pada
pemeriksaan ditemukan gambaran atrofi yang tidak sesuai terhadap
perkiraan hilangnya volume plika vokalis yang berkaitan dengan usia.
Hipervaskuler pada plika vokalis adalah temuan umum karena vaskulitis
yang terjadi selama terapi radiasi.
o Perbaikan pada suara dilaporkan setelah menjalani radiasi laring untuk
kanker laringeal dini, tetapi suara yang dihasilkan terkait dengan fibrosis
setelah radiasi pada pita suara masih belum jelas.

o Biopsi eksisi digunakan untuk diagnosis awal. Pada pasien yang tetap
merokok setelah pengobatan, akan terjadi peningkatan resiko kualitas
suarayang memburuk setelah dilakukan pengobatan.

26
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Gambar 15. Radiasi sinar ekternal laring

III. Lesi kistik

1. Kista duktus
o Merupakan retensi kista karena kelenjar seromucinous mukosa
laringeal yang tersumbat.
o Tampak pada valekula, lipatan ariepiglotik, pita suara palsu, fossa
ventrikel dan piriformis.
o Dapat asimptomatik bila berukuran kecil, atau menyebabkan
suara serak/parau, batuk, nyeri tenggorokan dan dipsnue bila
berukuran besar,
o Terkadang kista antar pita suara dapat muncul pada pita suara
[Link] ini mirip dengan kista inklusi epidermoid.

Gambar 16. Kista ductus

2. Laringokel
o Merupakan pembengkakan kista berisi udara akibat dilatasi dari
sakulus.
o Sakulus laringeal adalah kelenjar mukus yang terletak antara pita
suara palsu dan kartilago tiroid. Sakulus ini juga merupakan
kantong yang keluar dari ventrikel laring dan meluas sebagai
kantong posterolateral yang buntu dan meluas ke pinggir
epiglotis pada bagian permukaan laring.
o Fungsi dari sakulus masih belum diketahui.
o Klasifikasi laringokel tergantung lokasinya.
Dapat dibagi menjadi internal, eksternal dan kombinasi.

27
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

a. Internal; terbatas diantara laring dan muncul sebagai pita


suarapalsu dan lipatan aryepiglotik yang distensi.
b. Eksternal; yaitu herniasi sakulus yang distensi melalui
membranthyroid dan muncul di leher; atau
c. Kombinasi atau campuran; dimana terdapat internal dan
eksternal komponen yang terlihat.
o Laringokel muncul dari tekanan udara transglotik pada peniup
terompet, peniup kaca atau pada orang yang sering mengangkat
beban berat.
o Keluhan utama : suara serak/parau, batuk dan bila besar dapat
mengobstruksi jalan nafas.
o Laringokel eksternal muncul sebagai bengkak yang hilang timbul
yang bertambah ukurannya bila batuk atau melakukan perasat
valsava.
o Diagnosa dapat dilakukan dengan laringoskopi indirekta, dan foto
rontgen jaringan lunak leher AP dan lateral dengan valsava. CT
scandapat membantu memperlihatkan perluasan lesi.
o Terapi adalah eksisi bedah melalui insisi leher eksternal.
Marsupialisasi dari laringokel internal dapat dilakukan dengan
laringoskopi namun ada kemungkinan rekurensi. Laringokel pada
dewasa mungkin berhubungan dengan karsinoma.

28
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Gambar 16. Laringokel

3. Kista sakular
o Obstruksi dari orifisium sakulus menyebabkan retensi sekresi dan
distensi sakulus yang terlihat dalam bentuk kista pada ventrikel laring
o Kista sakulus anterior muncul pada bagian anterior ventrikel dan
mengaburkan bagian dari pita suara.
o Kista sakulus lateral, yang lebih besar, meluas ke pita suara palsu,
lipatan ariepiglotik dan bisa saja muncul pada leher melalui membrane
tirohioid sama seperti laringocele.

o Kista sakular kongenital dapat muncul pada bayi dan ditandai dengan
menangis lemah, stridor dan atau sianosis.
o Gejala : disfonia, stridor, batuk kronik, massa pada leher dan kadang-
kadang disertai disfagia.
o Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik termasuk foto
laring transnasal atau transoral dan pemeriksaan leher.
o Pada kista sakular anterior, massa dapat dilihat dari vestibulum sampai
ke lumen laring sedangkan kista sakular lateral muncul sebagai massa di
submukosa pita suara palsu.
o Kista sakular dapat menjadi infeksi akut yang ditandai dengan gejalayang
memburuk, demam dan obstruksi jalan nafas.
o Lokasi dan perluasan lesi dapat dilihat pada CT scan.
o Eksisi dengan endoskopi pada lesi ini merupakan penatalaksaan utama

Gambar 16. Kista saccular

b. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan fisik: telinga, hidung dan tenggorok, daerah leher dan dada
2. Laringoskopi indirekta dengan cermin laring dan tele rigid
3. Laringoskopi direkta
4. Fiber – Optic Laringoscopy (FOL)
5. Pemeriksaan VHI 10 dan VHI 30.
6. Foto polos leher AP dan lateral
7. CT scan leher

c. Pemeriksaan Penunjang

29
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Pemeriksaan Stroboskopi, Ro Thorak, pemeriksaan laboratorium

d. Penatalaksanaan
Bedah Mikrolaring dengan Pendekatan Laringoskopi Direkta
Alat dan Bahan :
a. Telepack, light source
b. Laringoskop Kleinseiser, chest holder
c. Siapkan suction dan instrumen lain sesuai indikasi

Prosedur operasi
1. Pasien tidur diatas meja operasi posisi supine
2. Dokter anestesi mengintubasi laring (jika ada penggunaan laser
diantisipasi) diarahkan ke sisi kiri mulut
3. Bantalan ditempatkan dibawah bahu supaya dapat ekstensi kepala
danleher fleksi secara sempurna.
4. Meja ditempatkan di posisi tredelenburg terbalik agar didapatkan
posisiyang nyaman untuk melihat laring.
5. Laringoskop dimasukkan seperti yang sebelumnya disebutkan.
6. Saat laring sudah tervisualisasi dengan adekuat, ujung dari
laringoskopoperator didekatkan ke midline sehingga jaringan yang
patologi terlihat.
7. Laringoskop dimasukkan, epiglotis diungkit, lalu
laringoskop
dimasukkan untuk mengevaluasi seluruh struktur anterior laring
8. Alat suspension apparatus disambungkan ke laringoskop lalu
disambungkan ke Mayo stand atau direkatkan ke meja operasi
atau
dilakukan fiksasi dengan chest holder yang bertumpu di atas dada
pasien. Laringoskop yang tergantung dari meja yang menempel dari
tempat tidur membuat pergerakan dari meja tanpa mengganggu
posisi laringoskop.
9. Instrumen laring dapat digunakan dengan alat mikro sesuai
indikasi
(forsep yang sesuai dengan peruntukannya).
10. Bila menggunakan laser CO2 maka wajah harus ditutup dengan
handuk yang lembab dan mata ditutup dengan penutup mata yang
lembab. Tidak satupun bagian dari wajah yang boleh terekspos.
Petugas kamaroperasi harus menggunakan pelindung mata.
11. Bila diperlukan pemeriksaan pada komisura posterior dan area ini
tertutup oleh ETT, maka ETT dipindahkan dan ventilasi dilanjutkan
dengan menggunakan alat Venturi Jet. Venturi diletakkan pada
saluran cahaya laringoskop dan diposisikan diatas inlet laryngeal.
Saat posisi sudah adekuat, pergerakan dinding dada dapat dilihat
dengan baik tanpaobstruksi pada laring.
12. Instrumen kanul penghisap diletakkan di saluran cahaya dapat
membantu menghisap asap yang dihasilkan dari prosedur laser.
13. Di akhir dari prosedur, pasien dapat di intubasi ulang untuk

30
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

pemulihan
anestesi, hal ini dapat dilakukan dengan dua metode:
a. Laringoskop diangkat dan pasien diintubasi seperti biasa
b. Pasien di intubasi ulang dengan laringoskop masih pada posisi

Gambar 15. Pengaturan ruangan operasi pada prosedur bedah laringoskopi


direkta

31
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Gambar 16. Laringoskopi Direkta

Gambar 17. Instrumen mikrolaring

14. Komplikasi:
1. Laringospasme
2. Edema glotik laring
3. Trauma gigi
4. Laserasi atau perdarahan
5. Aspirasi
6. Ruptur pita suara

PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING


1. Butir-butir Penting
a. Pada pemeriksaan Laringoskopi Direkta diperlukan persiapan
puasa dan dilakukan premedikasi. Posisi kepala penderita harus
tepat supaya pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik.
b. Pada pemeriksaan Fiber Optic Laryngoscope diperlukan
kerjasama dengan penderita meskipun tindakan ini relatif tidak
menyakitkan penderita.
2. Alat dan Bahan:
a. Lampu kepala
b. Cermin Laring
c. Pemanas Cermin laring
d. Kassa steril

3. Teknik Pemeriksaan :

a. Laringoskopi Indirekta dengan cermin laring

• Pasien dalam posisi duduk tegak, dengan kepala ekstensi dan leher
fleksi (sniffer’s posisition)
• Pemeriksa duduk berhadapan dengan dengan memakai lampu kepala

32
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

• Pasien diminta untuk membuka mulut dan menjulurkan lidah,


bagian anterior lidah dipegang oleh pemeriksa dengan
menggunakan kain kassa.
• Dimasukkan cermin laring hangat yang telah dipanaskan
sebelumnya ke dalam rongga mulut melewati uvula dan bagian
distal palatum mole. Suhu cermin laring haruslah diperiksa terlebih
dahulu pada tangan pemeriksa sebelum dimasukkan ke dalam
mulut pasien untuk mencegah terbakarnya mukosa mulut.
• Alat pemeriksa diputar sampai pemeriksa mendapatkan visualisasi
yang baik dari struktur laring dan hipofaring.
• Pasien diminta mengucapkan “iii” untuk mengobservasi adduksi
pitasuara.
• Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas
pelan sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat
dilanjutkan.
• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi lokal dengan
menggunakan xylocain spray 10%.

Gambar 18. Laringoskopi Indirekta dengan cermin laring

b. Laringoskopi Indirekta dengan teleskop kaku


1. Alat dan bahan :
a. Telepack, light source
b. Telescope 90º
c. Kassa steril

Teknik Pemeriksaan :
• Lidah pasien dipegang dengan kain kassa steril
• Dimasukkan teleskop 90° yang telah diberikan anti embun ke
rongga mulut melewati atas lidah dengan berhati-hati tidak menyentuh
posterior lidah serta dinding faring.
• Visualisasi struktur laring dan hipofaring diperoleh dengan cara
yangsama seperti pemeriksaan dengan kaca laring
• Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas
pelan sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat

33
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

dilanjutkan.
• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi lokal dengan
menggunakan xylocain spray 10%.

Gambar 19. Laringoskopi Direkta dengan teleskop rigid

Laringoskopi Serat Optik (FOL)

No Langkah- Bagaimana Mengapa


langkah
1 Anaestesi lokal Kapas xylocain Tidak nyeri,tidak trauma
ephedrin1 % di cavum
nasi d/s
2 Atur duduk Spray xylocain pd Memudahkan alat masuk
penderita faring/epiglotis
Duduk tegak

3 Memasukkan alat Melalui dasar cavum Tempat terlebar


FOL nasi
Lurus kebelakang
4 Melihat Tampak naso faring dulu
nasofaring Dgn membengkokkan
kebawah
5 FOL diarahkan ke FOL diarahkan mula-
laring mula tampak dari jauh,
lalu makin mendekat,
laring dievaluasi

6 Memeriksa laring Observasi pergerakan


pita suara, dengan
pasien menyebutkan
”iii”, evaluasi apabila
terdapat tumor; bentuk,
ukuran, permukaan,
mobilitas dan warnatumor

34
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

Gambar 21. Laringoskopi Serat Optik (FOL)

KEPUSTAKAAN MATERI BAKU


1. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery –
Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014, chapter
68, pp.980-1003
2. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck,
Philadelphia, Lea & Fabiger, 2016, chapter 29,31-33,37, pp.570-
588,605-41,682-746
3. Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery,
Great Britain, Edward Arnold, 8thed, 2018 Chapter 88, pp.1135-
49
LAMPIRAN
Voice Handicap Index – 10

Kode Pengalaman Tidak Hampir Kadang- Hampir Selalu


Pernah Pernah kadang Selalu (setiap
saat)
1 Suara saya sulit di dengar 0 1 2 3 4
orang lain
2 Orang-orang sulit memahami 0 1 2 3 4
saya di ruangan yang bising
3 Permasalahan suara ini 0 1 2 3 4
membatasi kehidupan pribadidan
social
4 Saya merasa ditinggalkan dalam 0 1 2 3 4
percakapan karenasuara saya

5 Masalah suara saya 0 1 2 3 4


menyebabkan saya
kehilangan pendapatan
6 Saya merasa harus berupaya 0 1 2 3 4
keras untuk mengeluarkan
suara
7 Kejernihan suara saya tidak 0 1 2 3 4
bisa diduga

35
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

8 Permasalahan suara saya 0 1 2 3 4


menggangu saya
9 Suara saya membuat saya 0 1 2 3 4
merasa cacat
10 Orang-orang bertanya “adaapa 0 1 2 3 4
dengan suaramu?”
TOTAL
Keterangan:
Skor >11 : abnormal

Voice Handicap Index – 30


Kode Pengalaman Tidak Hampir Kadang- Hampir Selalu
Pernah Pernah kadang Selalu (setiap
saat)
F1 Suara saya membuat orang- 0 1 2 3 4
orang sulit mendengar saya
P2 Saya seperti kehabisan udara 0 1 2 3 4
atau bernafas saat berbicara
F3 Orang-orang sulit mengerti saya 0 1 2 3 4
saat berbicara di ruang yang
ribut dikarenakan suara
say
P4 Suara saya bervariasi dalam 0 1 2 3 4
selang satu hari
F5 Keluarga saya kesulitan 0 1 2 3 4
mendengar saya ketika saya
memanggil mereka saat di
rumah

F6 Saya jarang menggunakan 0 1 2 3 4


telepon dikarenakan suara saya

F7 Saya gugup jika berbicaradengan 0 1 2 3 4


orang lain karena
suara saya
F8 Saya cenderung menghindari 0 1 2 3 4
sekumpulan orang karena
suara saya
E9 Orang-orang tampaknya 0 1 2 3 4
terganggu dengan suara saya
P10 Orang-orang bertanya “adaapa 0 1 2 3 4
dengan suaramu?”
F11 Saya jarang berbicara dengan 0 1 2 3 4
teman-teman, tetangga, atau
saudara karena suara saya
F12 Orang-orang meminta sayauntuk 0 1 2 3 4
mengulangi apa yang
saya katakan ketika berbicara
berhadap-hadapan
P13 Suara saya terdengar serakdan 0 1 2 3 4
kering
P14 Saya merasa seakan-akan 0 1 2 3 4
saya harus berusaha kerasuntuk
menghasilkan suara
E15 Saya mengetahui orang lain 0 1 2 3 4
tidak mengerti permasalahan
suara saya

36
Modul IV.9 – Lesi Non Neoplastik Laring

F16 Permasalahan suara saya 0 1 2 3 4


membatasi kehidupan pribadidan
sosial saya
P17 Kejelasan suara saya tidakdapat 0 1 2 3 4
diprediksi
P18 Saya mencoba untuk mengubah 0 1 2 3 4
suara saya menjadi suara yang
berbeda
F19 Saya merasa ditinggalkandari 0 1 2 3 4
pembicaraan karena
suara saya
P20 Saya menggunakan usahayang 0 1 2 3 4
keras untuk berbicara
P21 Suara saya lebih parah pada 0 1 2 3 4
malam hari
F22 Permasalahan suara saya 0 1 2 3 4
membuat saya kehilangan
pendapatan
E23 Masalah suara saya membuat 0 1 2 3 4
saya marah
E24 Saya kurang bisa bergaul 0 1 2 3 4
karena permasalahan suarasaya

E25 Suara saya membuat sayamerasa 0 1 2 3 4


cacat
P26 Suara saya “hilang” pada saat 0 1 2 3 4
berbicara
E27 Saya merasa terganggu ketika 0 1 2 3 4
orang-orang meminta saya
untuk mengulang kata-katasaya

E29 Suara saya membuat saya 0 1 2 3 4


merasa rendah diri
E30 Saya malu dengan masalah 0 1 2 3 4
suara saya
TOTAL

Keterangan:
0-30 : Ringan (skor rendah, mengidentifikasikan bahwa sangat
mungkin terdapat kecacatan minimal yang berkaitan dengan
kelainan suara)
31-60 : Sedang (menandakan adanya kecacatan derajat sedang
terkaitmasalah suara)
61-120 : Berat (menandakan adanya kecacatan berat, signifikan, dan
seriusterkait masalah suara)

37
MODUL UTAMA
LARING FARING

MODUL IV.10
NEOPLASMA JINAK LARING

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU .................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI .................................................................................... 1

C. REFERENSI .............................................................................................. 1

D. KOMPETENSI .......................................................................................... 2

E. GAMBARAN UMUM .............................................................................. 2

F. CONTOH KASUS .................................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN ................................................................... 2

H. METODA PEMBELAJARAN ................................................................. 3

I. EVALUASI ............................................................................................... 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ....................... 4

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ................ 5

L. DAFTAR TILIK........................................................................................ 6

M. MATERI PRESENTASI ........................................................................... 7

N. MATERI BAKU ....................................................................................... 7


Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

MODUL IV.10
LARING-FARING – NEOPLASMA JINAK LARING

A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 1 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 18 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi Neoplasma Jinak Laring, meliputi:
• Slide 1: Gejala Dan Tanda Neoplasma Jinak Laring
• Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Neoplasma Jinak Laring
• Slide 3:Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
• Slide 4: Faktor Resiko Neoplasma Jinak Laring
• Slide 5: Clinical Decision Making Dan Medikamentosa

2. Kasus : Neoplasma Jinak Laring


Seorang anak laki-laki, 1 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara parau
sejak lahir, os anak pertama dengan riwayat kelahiranan normal pervaginam.
Dari pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan langsung didapatkan massa
multipel pada kedua pita suara

3. Sarana dan Alat Bantu Latih :


• Model anatomi laring video
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL.

C. REFERENSI
1. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia,
Lea & Fabiger, 2009, chapter 29,31-33,37, pp.570-588,605-41,682-746
2. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014, chapter 68, pp.989-1003
3. Dhingra PL. Disease of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery.
New Delhi, Elsevier, 6th Ed, 2014, Chapter 61, pp.303-07
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York.
McGraw Hill, 8th Ed, 2002, Chapter 31, pp. 724-92
5. Nauman HH. Head and Neck Surgery, Vol 3, New York, Thieme Medical
Publishers Inc, 1997, Chapter 13, pp 358-59
6. Potsic WP. Surgical Pediatric Otolaryngology, New York, Thieme Medical
Publishers Inc, 1997, Chapter 42, pp 532-37
7. Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great Britain,
Edward Arnold, 7thed, 2007 Chapter 88, pp.1135- 49

1
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis neoplasma jinak laring berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang diperlukan
(Laringoskopi Direk/ Fiber Optic Laringoscopy (FOL) / foto polos leher AP
dan lateral / CT scan leher).
b. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang
lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
a. Mengenali gejala dan tanda neoplasma jinak laring
b. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik neoplasma jinak laring
c. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang seperti
d. Mengenali faktor resiko kejadian neoplasma jinak laring
e. Membuat keputusan klinik dan menatalaksana untuk pemberian antibiotika,
anti radang, analgesik-antipiretik, dan operasi.
f. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang
mungkin terjadi pada neoplasma jinak laring.

E. GAMBARAN UMUM
Yang termasuk neoplasma jinak laring antara lain adalah; papilomatosis laring
(anak dan dewasa), kondroma, hemangioma, tumor sel granular, tumor glandular,
rhabdomyoma, lipoma dan fibroma. Neoplasma jinak laring merupakan suatu
penyakit yang cukup sering dijumpai di praktik sehari-hari, baik yang dating dalam
keadaan serak, tidak progresif, dapat menyebabkan sesak ringan sampai berat.
Gejala sesak yang hebat dapat mengancam nyawa bila tidak ditangani secara cepat
dan tepat. Kejadian neoplasma jinak laring dapat terjadi pada semua usia maupun
jenis kelamin. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan laringoskopi indirek dan laringoskopi direk serta pemeriksaan
histopatologi.

F. CONTOH KASUS
Seorang anak laki-laki, 1 tahun datang ke poli THT dengan keluhan: suara parau
sejak lahir, os anak pertama dengan riwayat kelahiranan normal pervaginam. Dari
pemeriksaan laringoskopi tak langsung dan langsung didapatkan massa multipel
pada kedua pita suara.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
tumor jinak laring neoplastik seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu:
1. Mengenali gejala dan tanda neoplasma jinak laring
2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik neoplasma jinak laring
3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
laringoskopi direk/ fiber optic laringoscopy (FOL)/ foto polos leher AP dan
lateral/ CT scan leher.
4. Mengenali faktor resiko kejadian neoplasma jinak laring
5. Mampu tatalaksana konservatif dan operasi

2
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

6. Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang mungkin
terjadi pada neoplasma jinak laring

H. METODA PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion.
• Peer assisted learning (PAL).
• Bedside teaching.
• Task based medical education.
• Journal reading and review.
• Case simulation and investigation exercise.
• Equipment characteristics and operating instructions.
• Case study
• Simulation and Real Examination Exercises (Physical and Device).
• Demonstration and Coaching
• Practice with Real Clients.
• Continuing Professional Development

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal
yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi laring
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh
pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau
kepada SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang
oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation)
setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah
pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar
kepada model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan
diberikan kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada
saat pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct
observation), dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)

3
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk


mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan
dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki
kekurangan yang ditemukan.
5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
6. Pendidik/ fasilitas :
• pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
• penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi
tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
• Ujian OSCA (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar oleh
kolegium I. THT-KL
• Ujian akhir stase, setiap divisi/ unit kerja oleh masing-masing sentra
[Link]-KL lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL.
• Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT lanjut oleh
kolegium ilmu THT-KL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


1. What is the first-line treatment for recurrent respiratory papillomatosis?
A. Surgical removal
B. Inhaled cidofovir
C. High-dose oral steroid burst
D. Azathioprine
E. Radiation therapy
Jawaban : A

2. Antoni A and Antoni B areas are classically seen in which of the following
laryngeal pathologies?
A. Chondroma
B. Schwannoma
C. Recurrent respiratory papillomatosis
D. Systemic lupus erythematous
E. Amyloid deposits
Jawaban : B

3. Seorang bayi laki-laki umur 4 bulan dibawa ibunya ke unit gawat darurat
dengan keluhan sering mengalami sesak napas terutama bila menangis, suara
tangisan nyaring, muka tidak membiru. Tidak demam dan tidak batuk. Pada
pemeriksaan terdengar stridor, ada retraksi supraklavikular dan interkostal.
Serangan ini sudah berulang terjadi sejak seminggu. Dugaan utama anak
menderita:
a. Papilloma laring
b. Laryngeal web

4
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

c. Laryngomalacia
d. Epiglotitis akut
e. Laringotrakeobronkitis
Jawaban : A

4. Manakah pernyataan dibawah ini yang paling banyak digunakan untuk


pengobatan paliloma laring?
A. Interferon
B. Cidofovir
C. Photodinamic therapy
D. Viral vaccine
E. Topical steroid
Jawaban : B

5. An 81-year-old man with submucosal laryngeal mass. What is the most


likely diagnosis?
A. Osteosarcoma
B .Chondrosarcoma
C. Squamous cell carcinoma SCC)
D. Hemangioma
E. Polyp
Jawaban : B
6. Yang manakah pernyataan di bawah ini yang bukan merupakan neoplasma
jinak laring?
A. Schwannoma
B. Hamartoma
C. Polip
D. Chondroma
E. Hemangioma
Jawaban : C

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


Penuntun Belajar
Prosedur Pemeriksaan Laring
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan Langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)
2. Mampu Langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu untuk
kondisi diluar normal.
3. Mahir Langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan
waktu kerja yang sangat efisien
4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu
tidak perlu diperagakan).

5
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

NAMA PASIEN NO. REKAM MEDIK


PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI LANGSUNG
KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK
1 2 3 4 5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1 Informed Consent
2 Pemeriksaan Penunjang
3 Penderita Puasa
4 Memeriksa Dan Melengkapi Alat
5 Persiapan Tindakan
6 Cara Tidur Penderita Dan Posisi Kepala
TINDAKAN
1 Memasukkan Laringoskop
2 Memasukkan Teleskop
3 Evaluasi Laring

PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI SERAT OPTIK (FOL)


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK
1 2 3 4 5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1 Informed Consent
2 Pemeriksaan Penunjang
3 Memeriksa Dan Melengkapi Alat
4 Persiapan Tindakan
5 Cara Duduk Penderita Dan Posisi Kepala
TINDAKAN
1 Memasukkan Fibre Optic
2 Evaluasi Rongga Hidung
3 Evaluasi Nasofaring
4 Evaluasi Laring

L. DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (Ujian Akhir)
Prosedur Pemeriksaan Laring
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan
oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar
X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan
Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

6
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

KEGIATAN NILAI
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung
1. Persiapan tindakan
[Link]
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL)
1. Persiapan tindakan
2. Tindakan

M. MATERI PRESENTASI
• Slide 1: Gejala Dan Tanda Neoplasma Jinak Laring
• Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Neoplasma Jinak Laring
• Slide 3:Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
• Slide 4: Faktor Resiko Neoplasma Jinak Laring
• Slide 5: Clinical Decision Making Dan Medikamentosa

N. MATERI BAKU
NEOPLASMA JINAK LARING
a. Jenis Neoplasma Jinak Laring
Yang termasuk tumor jinak laring neoplastik antara lain adalah; papilomatosis
laring (tipe juvenile dan onset dewasa), kondroma, hemangioma, tumor sel
granular, tumor glandular, rhabdomyoma, lipoma dan fibroma.
1. Papilomatosis laring (recurrent papilomatosis)
• Tumor jinak yang disebabkan infeksi virus, dengan tingkat kekambuhan
yang tinggi.
• Tempat utama terbentuknya papilomatosis di pita suara, namun bisa
terdapat dihidung sampai ke bronchiolus.
• Walaupun jinak namun dapat menyebabkan kematian dan berpotensi
menjadi ganas..
• Penyebabnya diketahui human papilloma virus subtype 6 dan 11.
• Gejala awal serak, gejala lanjut dapat berupa stridor dan dyspnea.
• Diagnosa dengan endoskopi. Diagnosa definitif dengan laryngoskopi dan
biopsi.
• Penatalaksanaan dapat pengangkatan lesi secara konservatif merupakan
terapi utama, mikrolaringoskopi suspensi dan eksisi, pada lesi yang kecil
dan kurang agresif dengan menggunakan endoskopi dengan anestesi local,
cryotherapi, photodynamic therapy, antiviral (Cidofovir).
• Riwayat terapi radiasi, merokok dan immunosupresi sistemik diketahui
berperan dalam perubahan kearah malignansi.
• Sebanyak 80% kasus neoplasma di laring merupakan papiloma laring, dapat
dibedakan menjadi tipe juvenile dan onset dewasa.
• Papiloma juvenile
Disebabkan oleh virus dan multipel, sering melibatkan bayi baru lahir dan
anak-anak.
• Keluhan suara serak/parau dan stridor.
• Umumnya terlihat pada pita suara palsu dan sejati dan pada epiglottis,
namun dapat melibatkan lokasi lain di laring dan trakea.

7
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

• Secara klinis, muncul dengan warna keputihan berkilau yang irregular,


pedunculated atau sessile, rapuh dan mudah berdarah.
• Dikenal sering terjadi rekurensi setelah pengangkatan sehingga mungkin
diperlukan laringoskopi multipel.
• Papiloma ini dapat menghilang secara spontan setelah pubertas.
• Terapi dapat dilaksanakan secara endoskopik dengan forsep cup, krioterapi
dan mikroelektrokauter.
• Akhir-akhir ini laser CO2 lebih dipilih karena pengangkatan yang presisi
dan sedikit berdarah. Terapi interferon telah dicoba dan dinyatakan sukses
mencegah kekambuhan.
• Papiloma onset dewasa
Biasanya single, ukuran lebih kecil, tidak terlalu agresif, dan tidak muncul
kembali setelah pengangkatan.
• Banyak terjadi pada laki-laki (2:1) pada umur 30-50 tahun dan biasanya
muncul di bagian setengah anterior dari pita suara atau komisura anterior.
• Dapat berubah menjadi prekanker

2. Kondroma
• Umumnya muncul dari kartilago krikoid dan bisa muncul pada area
subglotik
• Menyebabkan dyspnoe atau dapat muncul benjolan dari lempeng posterior
dari krikoid dan menyebabkan sensasi ganjalan di tenggorokan dan disfagia.
• Umumnya mengenai laki-laki usia 40-60 tahun.
• Tumor yang terdiri dari sebagian besar kartilago hialin dengan tampilan
licin dan merupakan lesi submukosa.
• Lebih sering pada laki-laki daripada perempuan.
• Pertumbuhan tumor lambat dan tidak bermetastase.
• Gejala yang timbul serak, dyspnea, dysphagia dan globus sensation.
• Relatif asimtomatik, namun lesi dapat menyebabkan sumbatan jalan nafas
ataupun massa leher eksternal.
• Diagnosis dilakukan dengan endoskopi dan CT scan.
• Penatalaksanaan dilakukan bedah eksisi, thyrotomy.

3. Hemangioma,
• Hemangioma infantile melibatkan area subglotik dan muncul keluhan
stridor pada 6 bulan pertama kehidupan.
• Sekitar 50% anak memiliki hemangioma di bagian tubuh yang lain
khususnya area kepala dan leher.
• Hemangioma cenderung involusi secara spontan namun trakeostomi
mungkin dibutuhkan untuk mengurangi obstruksi jalan nafas bila terjadi.
• Sebagian besar merupakan tipe kapiler dan dapat dibersihkan dengan laser
CO2.
• Hemangioma pada dewasa meliputi pita suara atau supraglotik laring. Ada
tipe kavernosus dan tidak dapat diterapi dengan laser. Dapat dibiarkan bila
asimptomatik. Untuk yang berukuran lebih besar yang menimbulkan gejala,
terapi steroid dan radiasi mungkin dapat dilakukan.
• Hemangioma laring paling sering dijumpai pada populasi anak-anak.

8
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

• Selalu muncul pada daerah subglotis, sedangkan pada dewasa muda pada
derah supraglotis. Hemangiona biasanya asimptomatis tapi dapat
menimbulkan gejala sumbatan jalan.
• Kortikosteroid, terapi radiasi merupakan pendekatan konservatif yang
mendukung.
• Meskipun pada anak-anak berhasil dengan baik, ablasi laser dihindari pada
pasien dewasa karena struktur pembuluh darah dapat melampaui kapasitas
koagulasi CO2.
• Propanolol juga berhasil dalam terapi pada anak-anak, tapi tidak ada laporan
untuk pasien dewasa.

4. Tumor sel granular


• Muncul dari sel Schwann dan seringkali submukosa.
• Epitel yang mendasarinya menunjukkan hyperplasia pseudoepitelioma, yang
secara histology mirip dengan karsinoma well differentiated.

5. Tumor glandular
• Dapat muncul di seluruh area tubuh tapi paling banyak pada kepala dan
leher.
• Pada laring ini sangat jarang.
• Asal usul berasal dari neuron dan dalam laring, meluas secara perlahan dan
mengisolasi pita suara.
• Gejala klinis suara serak, , stridor, disfagi dan batuk.
• Biopsi dibutuhkan untuk melihat sifat tumor.
• Pewarnaan serologi pada specimen biopsy menunjukkan positif dari S-100,
enolase neuron spesifik, vimentin, CD 68.
• Reseksi komplit dengan instrument microlaryngeal phonosurgical.
• Prinsipnya adalah menghasilkan suara kembali yang normal.

6. Rhabdomyoma
• Merupakan tumor jinak yang terdiri dari striated muscle.
• Lokasi tersering pada laring, namun pernah ditemukan pada otot laring
intrinsik dan ekstrinsik.
• Diagnosis dilakukan dengan biopsy atau MRI.
• Penatalaksanaan terapi dilakukan reseksi secara menyeluruh.

7. Hamartoma
• Hamartoma jarang dijumpai, lesi jinak dapat berupa malformasi kongenital
ataupun lesi lain.
• Terdeteksi secara insidental atau karena adanya gejala saluran nafas yang
signifikan, terutama pada anak anak.
• Presentasi dan gejala berhubungan dengan lokasi neoplasma,
• Hamartoma paling sering terdapat pada supraglottis dan subglottis.
• Penatalaksanaan dilakukan biopsi eksisi dan reseksi.

8. Fibroma
• Fibroma laring merupakan kasus yang sangat jarang

9
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

• Pemeriksaan histology memperlihatkan matriks ektraseluler yang banyak


dengan area pausiseluler yang berselang seling, dan matrik ekstraseluler
cenderung bersusun dengan sebutan •cytologically bland spindle cells."
• Gejala klinis : batuk dan disfoni. Ct scan dan MRI dapat menggambarkan
perluasan lesi untuk perencanaan reseksi.
• Eksisi sampai batas tepi lesi meminimalkan kekambuhan.

9. Schwannoma
• Berasal dari lapisan fiber nervus, ditemukan 1% dari seluruh tumor laring.
• Gambaran endoskopi : massa submukosa yang licin pada sinus piriformis
atau area eryoepiglotis.
• Gejala klinis sensasi rasa seperti ada benda bulat ditenggorokan, disfagi,
disfoni, dan apabila membesar dapat menimbulkan sumbatan jalan nafas.
• Histopatologi terlihat area Antoni A dan Antoni B dengan schwannoma
yang lain.
• Komplikasi postoperatif yang mungkin terjadi disfoni, parese pita suara dan
keterlibatan laring.
b. Pemeriksaan
1. Pemeriksaan fisik: telinga, hidung dan tenggorok, daerah leher dan dada
2. Laringoskopia indirekta
3. Laringoskopia direkta
4. Fiber – Optic Laringoscopy (FOL)
5. Foto polos leher AP dan lateral
6. CT scan leher
c. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Stroboscope, Ro Thorak, pemeriksaan laboratorium.
d. Penatalaksanaan
Bedah Mikrolaring
Teknik operasi
1. Pasien tidur diatas meja operasi posisi supine
2. Dokter anestesi mengintubasi laring (jika ada penggunaan laser diantisipasi)
diarahkan ke sisi kiri mulut
3. Bantalan ditempatkan dibawah bahu supaya bisa ekstensi kepala dan leher
secara sempurna.
4. Meja ditempatkan di posisi tredelenburg terbalik agar didapatkan posisi yang
nyaman untuk melihat laring melalui mikroskop.
5. Laringoskop dimasukkan seperti yang sebelumnya disebutkan.
6. Saat laring sudah tervisualisasi dengan adekuat, ujung dari laringoskop operator
didekatkan ke midline sehingga jaringan yang patologi terlihat.
7. Laringoskop dimasukkan, epiglotis diungkit, lalu laringoskop dimasukkan untuk
mengevaluasi seluruh struktur anterior laring
8. Alat suspension apparatus disambungkan ke laringoskop lalu disambungkan ke
Mayo stand atau direkatkan ke meja operasi. Laringoskop yang tergantung dari
meja yang menempel dari tempat tidur membuat pergerakan dari meja tanpa
mengganggu posisi laringoskop.
9. Mikroskop didekatkan ke lapangan operasi dan laring divisualisasi dengan lensa
pembesaran 400 mm. Instrumen laring dapat digunakan dengan alat mikro sesuai
indikasi (forsep yang sesuai dengan peruntukannya).

10
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

10. Bila menggunakan laser CO2 maka wajah harus ditutup dengan handuk yang
lembab dan mata ditutup dengan penutup mata yang lembab. Tidak satupun
bagian dari wajah yang boleh terekspos. Petugas kamar operasi harus
menggunakan pelindung mata.
11. Bila diperlukan pemeriksaan pada komisura posterior dan area ini tertutup oleh
ETT, maka ETT dipindahkan dan ventilasi dilanjutkan dengan menggunakan
alat Venturi Jet. Venturi diletakkan pada saluran cahaya laringoskop dan
diposisikan diatas inlet laryngeal. Saat posisi sudah adekuat, pergerakan dinding
dada dapat dilihat dengan baik tanpa obstruksi pada laring.
12. Instrumen kanul penghisap diletakkan di saluran cahaya dapat membantu
menghisap asap yang dihasilkan dari prosedur laser. Hal ini memungkinkan
karena pencahayaan untuk prosedur ini dihasilkan dari mikroskop.
13. Di akhir dari prosedur, pasien dapat di intubasi ulang untuk pemulihan anestesi,
hal ini dapat dilakukan dengan dua metode:
a. Laringoskop diangkat dan pasien diintubasi seperti biasa
b. Pasien di intubasi ulang dengan laringoskop masih pada posisi

Gambar 1. Pengaturan ruangan operasi pada prosedur bedah laser

11
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

Gambar 2. Posisi operator dan pasien

Gambar 3. Instrumen mikrolaring

e. Komplikasi
1. Laringospasme
2. Edema glotik
3. Trauma gigi

f. Prosedur Pemeriksaan Laring


1. Butir-butir Penting
a. Pada pemeriksaan Laringoskopi Direkta diperlukan persiapan puasa dan
dilakukan premedikasi. Posisi kepala penderita harus tepat supaya
pelaksanaan tindakan dapat dilakukan dengan baik.
b. Pada pemeriksaan Fibre Optic Laryngoscope diperlukan kerjasama
dengan penderita meskipun tindakan ini relatif tidak menyakitkan
penderita.

12
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

2. Teknik Pemeriksaan:

Laringoskopi Indirect
• Pasien dalam posisi duduk tegak, dengan kepala ekstensi dan leher fleksi
(sniffer’s posisition)
• Pemeriksa duduk berhadapan dengan pasien dengan memakai lampu kepala
• Pasien diminta untuk membuka mulut dan menjulurkan lidah, bagian
anterior lidah dipegang oleh pemeriksa dengan menggunakan kain kassa.
• Dimasukkan kaca laring hangat yang telah dipanaskan sebelumnya ke dalam
rongga mulut melewati uvula dan bagian distal palatum mole. Suhu kaca
laring haruslah diperiksa terlebih dahulu pada tangan pemeriksa sebelum
dimasukkan ke dalam mulut pasien untuk mencegah terbakarnya mukosa
mulut.
• Alat pemeriksa diputar sampai pemeriksa mendapatkan visualisasi yang
baik dari struktur laring dan hipofaring.
• Pasien diminta mengucapkan “iii” untuk mengobservasi adduksi pita suara.
• Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas pelan
sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat dilanjutkan.
• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan menggunakan
xylocain spray 10%.

Gambar 4. Laringoskopi Indirect dengan kaca laring

Laringoskopi Direct dengan teleskop kaku


• Lidah pasien dipegang dengan kain kassa
• Dimasukkan teleskop 90° yang telah diberikan anti embun ke rongga mulut
melewati atas lidah dengan berhati-hati tidak menyentuh posterior lidah serta
dinding faring.
• Visualisasi struktur laring dan hipofaring diperoleh dengan cara yang sama
seperti pemeriksaan dengan kaca laring
• Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas pelan sehingga
palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat dilanjutkan.
• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan menggunakan
xylocain spray 10%.
• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan menggunakan
xylocain spray 10%.

13
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

Gambar 5. Laringoskopi Direct dengan teleskop kaku

Laringoskopi Direct :
No Langkah-Langkah Bagaimana Mengapa
1 Premedikasi Luminal/atropin Tidak valium, karena depresi
pernapasan
Biar air liur sedikit

2 Anestesi lokal Spray xylocain, pd Epiglottis dikait, perlu


epiglottis anestesi

3 Atur posisi kepala Posisi high: fleksi Mudah mengait epiglottis


leher/dada, ekstensi keatas
occipito atlanto

4. Mengait epiglottis Selalu digaris tengah Akan terlihat uvula-epiglotis


sebagai pedoman

Epiglotis dikait sedikit Kalau terlalu banyak,


saja aritenoid terkait
Kalau terlalu sedikit: lepas

5 Melihat pita suara Dengan bantuan teleskop Mudah melihatnya,


(0o,30o) Kalau telescope harus
mengait epiglottis,bisa basah-
buram

14
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

Gambar 6. Laringoskopi Direct

Laringoskopi Serat Optik (FOL):

No Langkah-langkah Bagaimana Mengapa


1 Anaestesi local Kapas xylocain ephedrin1 % di Tidak nyeri,tidak trauma
cavum nasi d/s
Spray xylocain pd
faring/epiglotis

2 Atur duduk penderita Duduk tegak Memudahkan alat masuk

3 Memasukkan alat FOL Melalui dasar cavum nasi Tempat terlebar

4 Melihat nasofaring Lurus kebelakang Tampak naso faring dulu

5 FOL diarahkan ke Dgn membengkokkan kebawah


laring
FOL diarahkan mula-mula
tampak dari jauh, lalu makin
mendekat, laring dievaluasi

6 Memeriksa laring Observasi pergerakan pita


suara, dengan pasien
menyebutkan ”iii”, evaluasi
apabila terdapat tumor; bentuk,
ukuran, permukaan, mobilitas
dan warna tumor.

15
Modul IV.10 – Neoplasma Jinak Laring

Gambar 7. Laringoskopi Serat Optik (FOL)

3. Instrumen yang diperlukan:


1. Laringoscope dewasa
2. Laringoscope anak-anak
3. Laringoscope bayi
4. Telescope 00 , 300 , 900
5. Fibre Optic Laryngoscope dan forcep biopsi
6. Forcep lurus dan upturn
7. Pompa Penyedot (Suction pump)

Prosedur Tindakan Trakeotomi Dapat Dilihat Pada Modul Sumbatan Jalan Nafas Atas

Kepustakaan Materi Baku

1. Ballenger JJ. Disease of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck, Philadelphia,
Lea & Fabiger, 2009, chapter 29,31-33,37, pp.570-588,605-41,682-746
2. Bailey BJ and Pillsburry III HC. Head and Neck Surgery – Otolaryngology.
Philadelphia, JB Lippincott Co, 2014, chapter 68, pp.989-1003
3. Dhingra PL. Disease of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery. New
Delhi, Elsevier, 6th Ed, 2014, Chapter 61, pp.303-07
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw
Hill, 8th Ed, 2002, Chapter 31, pp. 724-92
5. Nauman HH. Head and Neck Surgery, Vol 3, New York, Thieme Medical
Publishers Inc, 1997, Chapter 13, pp 358-59
6. Potsic WP. Surgical Pediatric Otolaryngology, New York, Thieme Medical
Publishers Inc, 1997, Chapter 42, pp 532-37
7. Scott Brown. Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery, Great Britain,
Edward Arnold, 7thed, 2007 Chapter 88, pp.1135- 49

16
MODUL UTAMA
LARING FARING

MODUL IV.11
NEOPLASMA GANAS LARING

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU .......................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI .......................................................................................... 1

C. REFERENSI .................................................................................................... 1

D. KOMPETENSI ................................................................................................ 2

E. GAMBARAN UMUM .................................................................................... 3

F. CONTOH KASUS .......................................................................................... 3

G. TUJUAN PEMBELAJARAN ......................................................................... 3

H. METODA PEMBELAJARAN........................................................................ 4

I. EVALUASI ..................................................................................................... 4

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF ............................. 5

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ...................... 6

L. DAFTAR TILIK .............................................................................................. 8

M. MATERI PRESENTASI ............................................................................... 10

N. MATERI BAKU............................................................................................ 13
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

MODUL IV.11
LARING-FARING – NEOPLASMA GANAS LARING

A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 9 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 27 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi Neoplasma ganas laring meliputi:
• Slide 1 : Anatomi, histologi dan fisiologi Laring
• Slide 2 : Etiologi, patofisiologi dan gejala klinis Neoplasma Ganas
Laring
• Slide 3 : Anamnesis,pemeriksaan fisik danpemeriksaan penunjang
Neoplasma Ganas Laring
• Slide 4 : Penegakkan Diagnosis dan Stadium Neoplasma Ganas
Laring
• Slide 5 : Penatalaksaan Neoplasma Ganas Laring
• Slide 6 : Pencegahan Neoplasma Ganas Laring
2. Kasus : Neoplasma ganas laring
3. Sarana dan Alat bantu latih :
• Model anatomi kadaver / manekin/ hewan
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL, Unit Gawat
Darurat, Intensive Care Unit

C. REFERENSI
1. Hermani B, Hutauruk SM. Disfoni. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, editor.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.
Hal:231-41.
2. Hermani B, Abdurrachman H. Tumor Laring. Dalam: Soepardi EA, Iskandar
N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI;
2010. Hal:194-8.
3. Hadiwikarta A, Rusmarjono, Soepardi EA. Penanggulangan Sumbatan Laring.
In: Soepardi EA, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. 6th ed. Jakarta: Balai Pustaka FKUI; 2008. p243-
53.
4. Lore JM, Medina JE. The Larynx. In: An Atlas of Head& Neck Surgery. 4th
Ed. Philladelphia: Elsevier Saunders; 2005: p.1069-164.
5. Bailey BJ and Johnson JT. Advanced Cancer of the larynx. Head and Neck
Surgery–otolaryngology. Lippincott Williams and Wilkins. Fourth
Edition.2006. p.1758-77.

1
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

6. Beenken SW. Laryngeal Cancer (Cancer of the larynx). Armenian Health


Network, [Link]. Retrieved 2007-03-22.
7. Ridge JA, Glisson BS, Lango MN, et al. Headand Neck Tumor in Pazdur R,
Wagman LD, Camphausen KA, Hoskins WJ (Eds) Cancer Management: A
Multidisciplinary Approach. 11 ed. 2008.
8. Raitiola H, Pukander J, Laippala P. Glottic and Supraglottic Laryngeal
Carcinoma: Differences in Epidemiology, Clinical Characteristics and
Prognosis. Acta Otolaryngol (Stockh) 1999; 119: 847–851.
9. Harris, E Randall. Global Epidemiology of Cancer. Epidemiology of laryngeal
cancer. Jones & Bartlett Publishers, 7 Mei 2015. p59-68.
10. Rahmi H. Data penelitian Hastuti Rahmi. 2015
11. Xiangwei Li et al. Human Papillomavirus Infection and Laryngeal. Cancer
Risk: A Systematic Review and Meta-Analysis. The Journal of Infectious
Diseases 2013; 207: 479–88.
12. Hashibe et al. Contribution of Tobacco and Alcohol to the High Rates of
Squamous Cell Carcinoma of the Supraglottis and Glottis in Central Europe.
American Journal of Epidemiology. 2007;165:814–820.
13. Qadeer MA, Colabianchi N, Vaezi MF. Is GERD a risk factor for laryngeal
cancer? Laryngoscope. 2005. Mar; 115(3): 486-91.
14. Hoff CM, Grau C, Overgaard J. Effect of smoking on oxygen delivery and
outcome in patients treated with radiotherapy for head and neck squamous cell
carcinoma – A prospective study. Radiotherapy and Oncology 103 (2012) 38–
44.
15. Farshadpour F. Non-smoking and Non-drinking patients with Head and Neck
Squamous Cell Carcinoma, A Distinct Population. 2011 F. Farshadpour, The
Netherlands.
16. National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice in
Oncology. Head and Neck Cancers. Version I. 2015.

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis Neoplasma ganas laring berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan (Laringoskopi
Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan lateral/ CT scan
leher /Pemeriksaan Biosi Tumor/ Pemeriksaan Patologi Anatomi)
b. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang
lebih tinggi bila diperlukan.
c. Mampu melakukan deteksi dini dan pencegahan terjadinya Neoplasma ganas
laring
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu dan terampil dalam :
a. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi laring
b. Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan
Neoplasma ganas laring
c. Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis Neoplasma ganas laring
d. Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik Neoplasma
ganas laring

2
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

e. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti


Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan
lateral/ CT scan leher /Pemeriksaan Biopsi Tumor/ Pemeriksaan Patologi
Anatomi
f. Membuat diagnosis klinik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan Neoplasma ganas laring
g. Mampu melakukan tindakan intubasi endotrakeal, krikotirotomi dan
trakeostomi pada Neoplasma ganas laring
h. Menjelaskan pemeliharaan dan komplikasi pasca tindakan trakeostomi
i. Menjelaskan faktor-faktor risiko yang berpengaruh terhadap terjadinya
Neoplasma ganas laring
j. Menjelaskan gejala dan tanda Neoplasma ganas laring Stadium dini

E. GAMBARAN UMUM
Karsinoma sel skuamosa laring adalah tumor epitel maligna dengan diferensiasi
skuamosa seperti jembatan interseluler dan terbentuknya keratin. Keganasan kepala
leher menempati 5 % dari seluruh keganasan yang ada dan 3 % dari keganasan
tersebut berakibat kematian. Neoplasma ganas laring merupakan bagian dari
keganasan kepala leher yang menempati urutan ke-3 terbanyak, setelah karsinoma
nasofaring, karsinoma hidung dan sinus paranasal. Insiden dan angka kematian
kanker laring merupakan yang tertinggi dengan penyebab tersering adalah perokok
dan pengguna alcohol.
Pasien datang dengan keluhan sesak disertai suara serak yang memberat, juga
disertai gangguan menelan. Pasien mempunyai riwayat merokok dan
mengkonsumsi alkohol. Penatalaksanaan pasien dengan keganasan pada laring
memerlukan pertimbangan yang tepat mengingat fungsi laring yang sangat penting.

F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 59 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak 2
minggu, makin lama makin sesak. Keluhan didahului suara serak sejak 6 bulan lalu,
pasien juga mengeluhkan susah menelan makanan padat sejak 1 bulan lalu. Pasien
mempunyai riwayat merokok lebih dari 20 batang sehari selama lebih dari 40
tahun. Pasien juga sering mengkonsumsi alkohol.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan
tindakan yang tepat terhadap penderita Neoplasma ganas laring, seperti yang telah
disebutkan di atas, yaitu:

1. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi laring


2. Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan Neoplasma
ganas laring
3. Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis Neoplasma ganas laring
4. Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik Neoplasma
ganas laring
3
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

5. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti


Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan lateral/
CT scan leher / Pemeriksaan Biopsi Tumor/ Pemeriksaan Patologi Anatomi
6. Membuat diagnosis klinik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan Neoplasma ganas laring
7. Mampu melakukan tindakan intubasi endotrakeal, krikotirotomi dan
trakeostomi pada Neoplasma ganas laring
8. Menjelaskan pemeliharaan dan komplikasi pasca tindakan trakeostomi
9. Melakukan work-up dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke
spesialis yang relevan (bila kegawatdaruratan sudah tidak ada).
10. Mampu melakukan deteksi dini dan pencegahan terjadinya Neoplasma ganas
laring

H. METODA PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion
• Peer assisted learning (PAL)
• Bedside teaching
• Task based medical education
• Interactive lecture
• Journal reading and review
• Case simulation and investigation exercise
• Equipment characteristics and operating instructions
• Case study
• Demonstration and coaching
• Simulation and real examination exercises (physical and device)
• Operative procedure demonstration and coaching
• Practice with real clients
• Continuing professional development

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test dalam bentuk essay dan
oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai kinerja
awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang
ada. Materi pretest dan post-test terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi laring
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada
saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP
4
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

(Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak


diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang
oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation).
Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah
pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada
model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan
penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
6. Pendidik / fasilitator :
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai.
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
• Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar oleh
Kolegium Ilmu THT-KL.
• Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra
pendidikan.
• Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut oleh
Kolegium Ilmu THT-KL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


Seorang laki-laki 56 tahun datang ke RS dengan keluhan sesak nafas sejak 2
minggu yang makin lama makin berat, nafas berbunyi dan tidak bisa menelan
makanan padat sehingga hanya minum air dan susu. Sebelumnya sejak 4 bulan
suara pasien serak yang tidak pernah sembuh. Sejak itu pasien mulai berhenti
[Link] benjolan sebesar telur ayam di leher kiri.
1. Kemungkinan diagnosis pada pasien ini
A. Karsinoma glottis
B. Karsinoma supraglotis
C. Karsinoma subglotis
D. Karsinoma transglotis
E. Karsinoma esofagus
Jawaban : D
5
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

2. Perkiraan Clinical staging


A.T4N1Mx
B.T3N2Mx
C.T3N1Mx
D.T4N2Mx
E.T4N3Mx
Jawaban : D
3. Menurut evidenced base Kelenjar getah bening yang sering
terkena pada level
A. I
B. II
C. III
D. IV
E. IIB
Jawaban : B
4. Histopatologi terbanyak untuk karsinoma laring adalah
A. KSS berdiferensiasi baik
B. KSS berdiferensiasi buruk
C. Adenokarsinoma
D. KSS berkeratin berdiferensiasi buruk
E. KSS berkeratin berdiferensiasi baik
Jawaban : E
5. Tindakan terbaik pada karsinoma laring stadium IV adalah
A. Laringektomi total + Radioterapi
B. Laringektomi total + Kemoradiasi
C. Laringektomi total + Deseksi leher radikal
D. Laringektomi total + Deseksi leher + Radioterapi
E. Laringektomi total + Deseksi leher + Kemoradiasi
Jawaban : E

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


Penuntun Belajar
Prosedur Trakeostomi
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang
seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika harus
berurutan)
2. Mampu langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan
urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi diluar normal.
3. Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan
waktu kerja yang sangat efisien
4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah
tertentu tidak perlu diperagakan).

6
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

KEGIATAN KASUS
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF
1. Nama
2. Diagnosis
3. Informed Choice & Informed Consent
4. Rencana Tindakan
5. Persiapan Sebelum Tindakan
6. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
II. PROSEDUR OPERASI
1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan
lengkap
2. Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun
umum.
3. Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi
(punggung diganjal bantal).
4. Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya, lapangan
operasi dipersempit dengan doek steril.
5. Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk anestesi
dan vasokonstriksi.
6. Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid
sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar
dengan retraktor.
7. Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi
lapis, hati-hati terhadap vena jugularis anterior, arteri
tiroidea ima, kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat diklem
dipotong selanjutnya diligasi/kauter atau disisihkan ke atas
atau ke bawah).
8. Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan
(bila mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam
spuit).
9. Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya
dilakukan insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah
inferior ke superior.
10. Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes
benang (bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka
benang akan bergerak dihembus oleh udara pernapasan
lewat kanul).
11. Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan
pada kulit leher, dan pita leher.
12. Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar,
terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang.

13. Operasi selesai.

7
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

KEGIATAN KASUS
14. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan
lengkap
III. PASCA OPERASI
1. Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu dan
nadi secara teratur
2. Mencegah terjadinya dehidrasi
3. Pemberian antibiotik segera setelah operasi
4. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi
IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI
1. Perawatan kanul
2. Perawatan komplikasi
3. Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan
dalam 24 jam.
4. Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita
dipulangkan atau pada hari ke-5.
5. Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul
serta tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah
posisi
6. Prosedur Dekanulasi

L. DAFTAR TILIK

Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)

Prosedur Trakeostomi

Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan


oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar

X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai


Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar

T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan


Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

KEGIATAN KASUS
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF
1. Nama
8
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

KEGIATAN KASUS
2. Diagnosis
3. Informed Choice & Informed Consent
4. Rencana Tindakan
5. Persiapan Sebelum Tindakan
6. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
II. PROSEDUR OPERASI
1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan
lengkap
2. Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal
maupun umum.
3. Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi
(punggung diganjal bantal).
4. Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya,
lapangan operasi dipersempit dengan doek steril.
5. Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk
anestesi dan vasokonstriksi.
6. Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago
tiroid sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi
diperlebar dengan retraktor.
7. Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis
demi lapis, hati-hati terhadap vena jugularis anterior,
arteri tiroidea ima, kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat
diklem dipotong selanjutnya diligasi/kauter atau
disisihkan ke atas atau ke bawah).
8. Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan
(bila mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam
spuit).
9. Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya
dilakukan insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari
arah inferior ke superior.
10. Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan
tes benang (bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea,
maka benang akan bergerak dihembus oleh udara
pernapasan lewat kanul).
11. Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul,
jahitan pada kulit leher, dan pita leher.
12. Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara
longgar, terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul
dipasang.
13. Operasi selesai.
III. PASCA OPERASI
1. Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu
dan nadi secara teratur
9
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

KEGIATAN KASUS
2. Mencegah terjadinya dehidrasi
3. Pemberian antibiotik segera setelah operasi
4. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi
IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI
1. Perawatan kanul
2. Perawatan komplikasi
3. Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon
dikempiskan dalam 24 jam.
4. Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum
penderita dipulangkan atau pada hari ke-5.
5. Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak
kanul serta tindakan pertama bila kanul buntu total atau
salah posisi
6. Prosedur Dekanulasi

M. MATERI PRESENTASI

• Slide 1 : Anatomi, histologi dan fisiologi Laring

10
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

• Slide 2 : Etiologi, patofisiologi dan gejala klinis Neoplasma Ganas Laring

• Slide 3 : Anamnesis,pemeriksaan fisik danpemeriksaan penunjang


Neoplasma Ganas Laring

11
Subglotis.39

Modul IV.11 Primer


Tumor – Neoplasma Ganas Laring
Tx Tumor tidak dapat dinilai
T0 Tidak terdapat tumor
Tis • Slide 4Tumor
: Penegakkan
in situ Diagnosis dan Stadium Neoplasma Ganas Laring
39
Subglotis.
Tumor Supraglotis
T1
Tumor Primer Tumor terbatas pada 1 sisi pita suara palsu (gerakan baik)
Tx Tumor
Tumortidak dapat
sudah dinilai
meluas ke 1 atau 2 sisi supraglotis atau glotis tanpa fiksasi
T 2
T0 Tidak terdapat tumor
pita suara
T3
Tis Tumorinteratas
Tumor situ pada pita suara asli dengan fiksasi atau meluas ke posterior
krikoid, dinding medial sinus piriformis, jaringan preepiglotis, ruang
Tumor Supraglotis
T1 paraglotis,
Tumor terbatas dan atau
pada erosi
1 sisi minimal
pita pada(gerakan
suara palsu kartilago tiroid
baik)
T2 Tumor sudah meluas ke 1 atau 2 sisi supraglotis atau glotis tanpa fiksasi
T4a Tumor
pita suara
sudah meluas ke kartilago tiroid dan atau ke jaringan di sekitar
T3 Tumor teratas pada pita suara asli dengan fiksasi atau meluas ke atau
laring seperti trakea, otot dasar lidah, strap muscle, tiroid esofagus)
posterior
T4b Tumor
krikoid, meluas
dinding ke ruang
medial sinusprevetrebal, arteri karotis
piriformis, jaringan atau struktur
preepiglotis, ruang mediastinum
paraglotis, dan atau erosi minimal pada kartilago tiroid
TTumor
4a
Glotis
Tumor sudah meluas ke kartilago tiroid dan atau ke jaringan di sekitar
T1 laringTumor
sepertiterbatas padadasar
trakea, otot pitalidah,
suarastrap
(dapat dengan
muscle, keterlibatan
tiroid komisura
atau esofagus)
T4b Tumor meluas
anterior ke ruang
atau prevetrebal,
posterior) denganarteri karotis
gerakan baikatau struktur mediastinum
Tumor Glotis
TT
1
1a Tumor
Tumor pada pada
terbatas 1 pitapita
suara
suara (dapat dengan keterlibatan komisura
T1b Tumor
anterior pada
atau 2 pita suara
posterior) dengan gerakan baik
TT
1a
2
Tumor
Tumor pada 1 pita ke
meluas suarasupraglotis atau subglotis dengan atau tanpa gangguan
T1b Tumor pada 2 pita suara
T2 gerakan pita suara
Tumor meluas ke supraglotis atau subglotis dengan atau tanpa gangguan
T3 Tumorpita
gerakan masih
suaraterbatas di laring dengan fiksasi pita suara dan atau invasi
T3 Tumor
ruangmasih terbatasdan
paraglotis, di laring dengan
atau erosi fiksasi kartilago
minimal pita suara tiroid
dan atau invasi
ruang paraglotis, dan atau erosi minimal kartilago tiroid
TT
4a4a
Tumor
Tumor invasi
invasi ke kartilago
ke kartilago tiroid tiroid atau jaringan
atau jaringan sekitarsekitar
laring laring
TT
4b4b Tumor
Tumor menginvasi
menginvasi ruang ruang prevertebral,
prevertebral, arteri arteri
karotis,karotis,
strukturstruktur mediastinum
mediastinum
Tumor Subglotis
Tumor
T1
Subglotis
Tumor terbatas pada subglotis
TT
2 1 Tumor
Tumor terbatas
meluas pada
ke pita subglotis
suara dengan gerakan normal
TT
3 2 Tumor
Tumor meluas
terbatas ke pitadengan
di laring suara fiksasi
denganpitagerakan
suara normal
T4a Tumor menginvasi kartilago krikoid atau tiroid dan atau invasi jaringan
T3 Tumor
sekitar laring
terbatas di laring dengan fiksasi pita suara
TT
4b4a Tumor
Tumor menginvasi
menginvasi ruang kartilago krikoid
prevertebral, atau
arteri tiroid dan
karotism dan atau invasi jaringan
struktur
sekitar laring
mediastinum
Penyebaran kelenjar limfa Regional
T
N0 4b
Tumor menginvasi ruang prevertebral, arteri karotism dan struktur
Tidak ada penyebaran tumor ke kelenjar limfa regional
N1 mediastinum
Teraba 1 kelenjar limfa ipsilateral ukuran terbesar ≤ 3 cm
NPenyebaran
2a Teraba
kelenjar 1 kelenjar limfa ipsilateral ukuran terbesar 3 – 6 cm
limfa Regional
N2b Teraba kelenjar limfa multipel ipsilateral ukuran terbesar < 6 cm
NN
2c
0 Tidak ada
Teraba penyebaran
kelenjar tumor ke
limfa bilateral kelenjar
atau limfa ukuran
kontralateral regionalterbesar < 6 cm
NN
3 1 Terabakelenjar
Teraba 1 kelenjar limfalimfaukuranipsilateral
terbesarukuran
≥ 6 cm terbesar ≤ 3 cm
Metastasis
N2a JauhTeraba 1 kelenjar limfa ipsilateral ukuran terbesar 3 – 6 cm
Nx2b
M Teraba kelenjar
Metastasis limfa
tidak dapat multipel ipsilateral ukuran terbesar < 6 cm
dinilai
M0 Tidak terdapat metastasis jauh
N2c
M1
Teraba kelenjar limfa
Terdapat metastasis jauh
bilateral atau kontralateral ukuran terbesar < 6 cm
N3 Teraba kelenjar limfa ukuran terbesar ≥ 6 cm
Metastasis Jauh
Mx Metastasis tidak dapat dinilai
M0 Tidak terdapat metastasis jauh
M1 Terdapat metastasis jauh

12
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

• Slide 5 : Penatalaksaan Neoplasma Ganas Laring

• Slide 6 : Pencegahan Neoplasma Ganas Laring

N. MATERI BAKU

Karsinoma Sel Skuamosa Laring


1. Definisi
Karsinoma sel skuamosa laring adalah tumor epitel maligna dengan diferensiasi
skuamosa seperti jembatan interseluler dan terbentuknya keratin.
Penatalaksanaan pasien dengan keganasan pada laring memerlukan
pertimbangan yang tepat mengingat fungsi laring yang sangat penting.

2. Epidemiologi KSS laring


Keganasan kepala leher menempati 5 % dari seluruh keganasan yang ada dan 3
% dari keganasan tersebut berakibat kematian. Neoplasma ganas laring
merupakan bagian dari keganasan kepala leher yang menempati urutan ke-3
terbanyak, setelah karsinoma nasofaring, karsinoma hidung dan sinus paranasal.
Laporan dari World Health Organization (WHO) yang dikutip oleh Bambang
menyatakan 1,5 orang dari 100.000 penduduk meninggal karena tumor ganas.
Di Indonesia angka kekerapan Neoplasma ganas laring diperkirakan mencapai 1
% dari semua keganasan di bidang Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher
(THT-KL). The American Cancer Society melaporkan pada tahun 2006 di
Amerika tercatat 12.000 kasus baru dengan 4740 kasus meninggal akibat
Neoplasma ganas laring.
13
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

Karsinoma sel skuamosa (KSS) laring lebih banyak 7 kali lipat pada laki-laki
dibandingkan perempuan. Insiden dan angka kematian kanker laring merupakan
yang tertinggi dengan penyebab tersering adalah perokok dan pengguna alkohol.
Usia tersering adalah 55 hingga 75 tahun dimana sekitar 58% terdiagnosis pada
rentang usia ini. Kanker laring subtipe tertentu terdiagnosa lebih awal contohnya
kanker laring yang disebabkan virus human papilloma, dapat terdiagnosa 4
tahun lebih cepat dibandingkan kanker laring yang disebabkan merokok dan
alkohol.

Penderita karsinoma sel skuamosa laring di RSCM dari tahun 2009-2011


sebanyak 77 pasien dimana 59 pasien dengan riwayat merokok dan 18 pasien
tidak ada riwayat merokok. Tahun 2014 di RSCM tercatat 30 pasien karsinoma
sel skuamosa laring dengan 21 orang diantaranya dengn riwayat merokok.
Tahun 2015 di RSCM tercatat sebanyak 17 pasien karsinoma sek skuamosa
laring dengan 16 orang diantaranya dengan riwayat merokok.

Karsinoma sel skuamosa merupakan histologis tersering dari kanker laring yaitu
sekitar 90%. Karsinoma sel skuamosa laring adalah tumor epitel maligna dengan
diferensiasi skuamosa seperti jembatan interseluler dan terbentuknya keratin.
Berasal dari permukaan epitel sel skuamosa atau dari epitel saluran napas
bersilia yang telah terjadi metaplasi

3. Faktor resiko
Perokok kronis meningkatkan resiko kanker laring apalagi bila disertai dengan
konsumsi alkohol. Resiko meningkat selaras dengan lama dan banyaknya rokok
yang dikonsumsi. Merokok adalah faktor resiko dominan yang indipenden.
Tahun 1956, Wynder et al dikutip dari Haris et al3 melakukan penelitian pada
209 kasus kanker laring didapatkan 99,5% kasus dengan riwayat merokok kronis
dan peminum alkohol. Penemuan histologis paling signifikan berhubungan
dengan merokok adalah adanya sel atipikal yang selalu ditemukan pada perokok
dan jarang ditemukan pada bukan perokok. Penemuan ini memberikan bukti
kuat bahwa merokok adalah penyebab penting terjadinya kanker laring. Ansary
et al dikutip dari Haris et al melakukan penelitian meta analisis kemungkinan
kanker laring yang fatal lebih besar 10 kali lipat pada perokok kronis
dibandingkan dengan orang yang tidak merokok. Hashibe et al melakukan
penelitian didapatkan pasien perokok dan peminum alkohol meningkatkan
resiko kanker laring hingga 14 kali lipat dibandingkan dengan bukan perokok
dan bukan peminum alkohol.

Konsumsi alkohol juga merupakan faktor resiko indipenden kanker laring,


namun memiliki dampak yang lebih lemah dibandingkan dengan rokok. Corao
et al dikutip dari Haris et al melakukan penelitian meta analisis pada 20 kasus,
didapatkan kejadian kanker laring meningkat 4 kali lipat pada peminum alkohol
dibandingkan dengan bukan peminum alkohol, resiko meningkat selaras dengan
meningkatnya konsumsi alkohol.

14
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

Infeksi kronik pada jaringan laring oleh Human papilloma virus (HPV)
meningkatkan resiko terjadinya kanker. Infeksi HPV virulensi rendah (HPV-6
dan HPV-11) mengakibatkan papilloma (tumor benigna), infeksi HPV virulensi
tinggi (HPV-16 dan HPV-18) menyebabkan karsinoma sel skuamosa. Li et al
menyimpulkan bahwa infeksi HPV terutama HPV-16 meningkatkan resiko
terjadinya kanker laring yang berkaitan dengan kejadian seks bebas, maka dari
itu kasus kanker laring akibat infeksi HPV muncul pada usia yang lebih muda
dibandingkan kanker laring akibat merokok dan alkohol.

Beberapa faktor resiko lain yang berhubungan dengan kanker laring adalah
terpapar radiasi di leher saat usia muda atau radioterapi pada keganasan kepala
leher. Martin et al dikutip dari Haris et al melakukan penelitian pada 109 pasien
dengan kanker laring yang dilakukan radioterapi didapatkan 8 pasien terjadi
kanker laring berulang 7-15 tahun setelah radiasi.

Riwayat keluarga dengan kanker laring setidaknya satu tingkat diatas memiliki
resiko kanker laring dua kali lipat dibandingkan dengan tanpa riwayat keluarga
terkena kanker laring. Faktor resiko lain yaitu penyakit refluks gastroesofagus,
imonosupresi akibat HIV atau transplantasi organ dan riwayat sebelumnya
terkena kanker di kepala leher. Paparan terhadap bahan dari lingkungan seperti
paparan lama terhadap debu batubara, debu kayu dan asbestos dapat
meningkatkan resiko kanker laring. Diet terlalu banyak makan daging olahan
dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker laring.

4. Anatomi laring
Struktur pembentuk laring terdiri dari beberapa tulang rawan dan satu buah
tulang. Tulang hioid merupakan satu-satunya tulang dan enam tulang rawan
yaitu kartilago tiroid, krikoid, epiglotis, aritenoid, kornikulata dan kuneiformis.
Tulang dan kartilago ini disatukan oleh ligamen dan otot intrinsik laring. Otot
intrinsik laring berfungsi mengubah panjang, ketegangan, bentuk, dan posisi
spasial dari pita suara dengan mengubah orientasi otot dan pita suara pada
aritenoid dengan komisura anterior.

Otot intrinsik laring dibagi menjadi 3 otot adduksi (krikoaritenoid lateral,


thyroaritenoid dan interaretinoid), 1 otot abduksi (muskulus krikoaretinoid
posterior) dan 1 otot tensor (muskulus krikotiroid). Otot ekstrinsik laring yaitu
infrahyoid strap muscle ( muskulus sternotiroid, sternohioid dan tirohioid),
muskulus milohyoid, digastrikus, geniohyoid dan stylofaring, semua otot-otot
ekstrinsik laring berfungsi sebagai stabilisasi laring dan secara tidak langsung
mempengaruhi posisi pita suara. Nervus laringeus reccuren memberikan
persarafan motorik pada muskulus krikoaritenoid posterior, interaretinoid,
krikoaritenoid lateral dan thyroaritenoid serta memberikan persarafan sensorik
pada subglotis. Nervus laringeus superior memberikan persarafan sensorik pada
glottis dan supraglotis serta memberikan persarafan motorik pada muskulus
krikothyroid.

15
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

Gambar 1. Anatomi Laring

Batas laring di bagian kranial adalah tepi bebas dari epiglotis, aritenoid,
interaritenoid. Batas kaudal laring adalah batas inferior kartilago krikoid yang
berbatasan dengan cincin trakea. laring dibagi atas tiga bagian berdasarkan
anatomi yaitu supraglotis, glotis dan subglotis. Supraglotis dimulai dari aditus
laring sampai sinus morgagni, glotis dimulai dari plika vokalis sampai 1 cm di
bawah plika vokalis dan subglotis dimulai dari batas bawah glotis sampai batas
bawah kartilago krikoid.

Mikroanatomi yang kompleks dari pita suara memungkinkan lapisan mukosa


superfisial bergerak secara bebas diatas jaringan yang kaku dibawahnya. Pita
suara dapat dibagi menjadi 3 bagian: mukosa, ligamentum vokalis dan otot.
Mukosa pita suara dapat dibagi menjadi epitel squamosa dan 3 lapis lamina propia
(lamina propia superfisial (LSP), lamina propia intermedia dan lamina propia
profunda). LSP sebagian besar terdiri dari aseluler dan matriks protein
ekstraseluler, air serta kolagen dan elastin. LSP bersifat gelatin. Ruang potensial
antara LSP dan lamina propia intermedia adalah ruang Reinke. Lamina propia
intermediet dan profunda sebagian besar terdiri dari elastin dan kolagen. Lamina
propia profunda sangat dense dan terdiri dari serat kolagen. Lamina propia
intermediet dan profunda membentuk ligamentum vokalis.

Gambar 3. Mikroanatomi Laring.


16
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

5. Histopatologi
Penampakan makroskopik dari karsinoma sel skuamosa bervariasi termasuk lesi
datar dengan pinggiran yang meninggi, eksofitik polipoid dan lesi papiler seperti
lesi infiltrative tipe endofitik. Permukaan tumor biasanya terdapat ulkus.
Penampakan mikroskopik karsinoma sel skuamosa ditandai oleh pertumbuhan
infasif dan adanya diferensiasi sel skuamosa. Pertumbuhan infasif ditandai
dengan gangguan dari membran basalis dan pertumbuhan sel tumor pada
subepitel, tumor yang besar dapat menginvasi struktur yang lebih dalam seperti
otot, kartilago dan tulang. Invasi ke perineural dan kelenjar limfe serta pembuluh
darah dapat terjadi dan merupakan tanda kanker invasif. Differensiasi sel
skuamosa terlihat dari jembatan interselular dan keratinisasi pada sel skuamosa.

Karsinoma sel skuamosa (KSS) laring dibedakan menjadi 3 jenis yaitu


diferensiasi baik, diferensiasi sedang dan diferensiasi buruk. Kriteria pembagian
ini adalah derajat diferensiasi, pleomorfiem sel dan aktifitas mitosis. Karsinoma
sel skuamosa laring berdiferensiasi baik mirp dengan sel skuamosa normal dan
terdiri dari berbagai ukuran sel skumosa keratinocyte-like dan sel basal tipe kecil
yang biasanya terdapat pada pinggiran tumor. Terdapat jembatan interseluler dan
keratinisasi namun jarang terjadi mitosis. Karsinoma sel skuamosa laring
berdiferensiasi sedang menunjukkan lebih banya pleimorfisme sel dan lebih
banya mitosis termasuk mitosis abnormal dan terdapat lebih sedikit keratinisasi.
Karsinoma sel skuamosa laring berdiferensiasi buruk didominasi dengan sel
basal dengan daerah mitosis yang tinggi dengan mitosis yang abnormal, jarang
terdapat jembatan jaringan dan keratinisasi minimal. Jaringan keratinisasi lebih
sering ditemukan pada KSS laring diferensiasi baik dan sedang namun jangan
dijadikan patokan untuk pembagian KSS laring.
6. Stadium kanker laring

Tabel 1. Stadium kanker laring.


Tumor Primer
Tx Tumor tidak dapat dinilai
T0 Tidak terdapat tumor
Tis Tumor in situ

Tumor Supraglotis
T1 Tumor terbatas pada 1 sisi pita suara palsu (gerakan baik)
T2 Tumor sudah meluas ke 1 atau 2 sisi supraglotis atau glotis tanpa fiksasi
pita suara
T3 Tumor teratas pada pita suara asli dengan fiksasi atau meluas ke posterior
krikoid, dinding medial sinus piriformis, jaringan preepiglotis, ruang
paraglotis, dan atau erosi minimal pada kartilago tiroid
T4a Tumor sudah meluas ke kartilago tiroid dan atau ke jaringan di sekitar
laring seperti trakea, otot dasar lidah, strap muscle, tiroid atau esofagus)
T4b Tumor meluas ke ruang prevetrebal, arteri karotis atau struktur
mediastinum

17
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

Tumor Glotis
T1 Tumor terbatas pada pita suara (dapat dengan keterlibatan komisura
anterior atau posterior) dengan gerakan baik
T1a Tumor pada 1 pita suara
T1b Tumor pada 2 pita suara
T2 Tumor meluas ke supraglotis atau subglotis dengan atau tanpa gangguan
gerakan pita suara
T3 Tumor masih terbatas di laring dengan fiksasi pita suara dan atau invasi
ruang paraglotis, dan atau erosi minimal kartilago tiroid
T4a Tumor invasi ke kartilago tiroid atau jaringan sekitar laring
T4b Tumor menginvasi ruang prevertebral, arteri karotis, struktur
mediastinum

Tumor Subglotis
T1 Tumor terbatas pada subglotis
T2 Tumor meluas ke pita suara dengan gerakan normal
T3 Tumor terbatas di laring dengan fiksasi pita suara
T4a Tumor menginvasi kartilago krikoid atau tiroid dan atau invasi jaringan
sekitar laring
T4b Tumor menginvasi ruang prevertebral, arteri karotism dan struktur
mediastinum

Penyebaran kelenjar limfa Regional


N0 Tidak ada penyebaran tumor ke kelenjar limfa regional
N1 Teraba 1 kelenjar limfa ipsilateral ukuran terbesar ≤ 3 cm
N2a Teraba 1 kelenjar limfa ipsilateral ukuran terbesar 3 – 6 cm
N2b Teraba kelenjar limfa multipel ipsilateral ukuran terbesar < 6 cm
N2c Teraba kelenjar limfa bilateral atau kontralateral ukuran terbesar < 6 cm
N3 Teraba kelenjar limfa ukuran terbesar ≥ 6 cm

Metastasis Jauh
Mx Metastasis tidak dapat dinilai
M0 Tidak terdapat metastasis jauh
M1 Terdapat metastasis jauh

Stadium T N M
I T1 N0 M0
II T2 N0 M0
III T3 N0 M0
T1-3 N1 M0
IVA T4a N0 , N1 M0
T1 – T4a N2 M0
IVB T4b Semua N M0
Semua T N3 M0
Semua T Semua N M1

18
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

7. Terapi
Penatalaksanaan Neoplasma ganas laring berbagai negara berbeda. Satu-satunya
keadaan klinis yang mendapat persetujuan secara menyeluruh di dunia adalah
penanganan karsinoma laring T4 dengan keterlibatan kartilago laring yaitu
laringektomi total dengan radioterapi pascaoperasi.
Memilih modalitas penatalaksanaan karsinoma laring harus mempertimbangkan
stadium, kondisi psikologis pasien, faktor biaya, gejala sisa, dan efektivitas
terapi. Penatalaksanan harus melibatkan multidisiplin ilmu seperti dokter THT-
KL, radiologi onkologi, ahli kemoterapi, rehabilitasi medis dan lain-lain.

Secara umum penatalaksanaan karsinoma laring stadium awal adalah bedah dan
radiasi. Pembedahan dapat dilakukan secara transoral mikrolaring reseksi atau
parsial laringektomi. Secara statistik saat ini radiasi maupun bedah dianggap
memiliki efektivitas yang sama untuk terapi karsinoma laring stadium awal
walaupun masih didapatkan rekurensi pada beberapa penelitian. Penatalaksanaan
karsinoma laring stadium awal hampir selalu menggunakan satu modalitas
sehingga sekuele pasca terapi harus benar-benar diperhatikan.

Berhenti merokok dapat menurunkan angka kejadian karsinoma sel skuamosa


laring. Altieri et al melakukan penelitian dari tahun 1992-2000 pada 527 kasus
kanker laring didapatkan dampak positif berhenti merokok menurunkan resiko
kanker laring lebih dari 70% pada 10 tahun atau lebih setelah berhenti merokok.

19
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

8. ALGORITMA

Algoritma dan Prosedur

20
Modul IV.11 – Neoplasma Ganas Laring

9. Referensi
1. Hermani B, Hutauruk SM. Disfoni. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, editor.
Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2010.
Hal:231-41.
2. Hermani B, Abdurrachman H. Tumor Laring. Dalam: Soepardi EA, Iskandar
N, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. Ed.6. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI; 2010. Hal:194-8.
3. Hadiwikarta A, Rusmarjono, Soepardi EA. Penanggulangan Sumbatan
Laring. In: Soepardi EA, editors. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala & Leher. 6th ed. Jakarta: Balai Pustaka FKUI; 2008.
p243-53.
4. Lore JM, Medina JE. The Larynx. In: An Atlas of Head& Neck Surgery. 4th
Ed. Philladelphia: Elsevier Saunders; 2005: p.1069-164.
5. Bailey BJ and Johnson JT. Advanced Cancer of the larynx. Head and Neck
Surgery–otolaryngology. Lippincott Williams and Wilkins. Fourth
Edition.2006. p.1758-77.
6. Beenken SW. Laryngeal Cancer (Cancer of the larynx). Armenian Health
Network, [Link]. Retrieved 2007-03-22.
7. Ridge JA, Glisson BS, Lango MN, et al. Headand Neck Tumor in Pazdur R,
Wagman LD, Camphausen KA, Hoskins WJ (Eds) Cancer Management: A
Multidisciplinary Approach. 11 ed. 2008.
8. Raitiola H, Pukander J, Laippala P. Glottic and Supraglottic Laryngeal
Carcinoma: Differences in Epidemiology, Clinical Characteristics and
Prognosis. Acta Otolaryngol (Stockh) 1999; 119: 847–851.
9. Harris, E Randall. Global Epidemiology of Cancer. Epidemiology of
laryngeal cancer. Jones & Bartlett Publishers, 7 Mei 2015. p59-68.
10. Rahmi H. Data penelitian Hastuti Rahmi. 2015
11. Xiangwei Li et al. Human Papillomavirus Infection and Laryngeal. Cancer
Risk: A Systematic Review and Meta-Analysis. The Journal of Infectious
Diseases 2013; 207: 479–88.
12. Hashibe et al. Contribution of Tobacco and Alcohol to the High Rates of
Squamous Cell Carcinoma of the Supraglottis and Glottis in Central Europe.
American Journal of Epidemiology. 2007;165:814–820.
13. Qadeer MA, Colabianchi N, Vaezi MF. Is GERD a risk factor for laryngeal
cancer? Laryngoscope. 2005. Mar; 115(3): 486-91.
14. Hoff CM, Grau C, Overgaard J. Effect of smoking on oxygen delivery and
outcome in patients treated with radiotherapy for head and neck squamous
cell carcinoma – A prospective study. Radiotherapy and Oncology 103
(2012) 38–44.
15. Farshadpour F. Non-smoking and Non-drinking patients with Head and Neck
Squamous Cell Carcinoma, A Distinct Population. 2011 F. Farshadpour, The
Netherlands.
16. National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice in
Oncology. Head and Neck Cancers. Version I. 2015.

21
MODUL UTAMA
LARING FARING

MODUL IV.12
TRAUMA LEHER

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ...................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ...................................................................................... 1

C. REFERENSI ................................................................................................ 1

D. KOMPETENSI ............................................................................................ 1

E. GAMBARAN UMUM ................................................................................ 2

F. CONTOH KASUS & DISKUSI .................................................................. 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN ..................................................................... 2

H. METODE PEMBELAJARAN .................................................................... 3

I. EVALUASI ................................................................................................. 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR ..................... 4

K. DAFTAR TILIK .......................................................................................... 6

L. MATERI PRESENTASI ............................................................................. 6

M. MATERI BAKU .......................................................................................... 7

N. DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 8

O. ALGORITMA DAN PROSEDUR .............................................................. 8


Modul IV.12- Trauma Leher

MODUL IV.12
LARING-FARING – TRAUMA LEHER

A. WAKTU
Mengembangkan Kompetensi Frekuensi
Sesi di dalam kelas 9 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 19 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi
• Slide 1: Anatomi, Fisiologi leher
• Slide 2: Mekanisme Trauma leher
• Slide 3: Pemeriksaan fisik dan Penunjang
• Slide 4: Algoritma dan Prosedur
2. Kasus : Trauma tumpul leher
Seorang wanita usia 22 tahun di rujuk ke emergensi THT dengan riwayat trauma
tumpul didaerah leher. Dari anamnesis didapatkan bahwa penderita mengalami
benturan di daerah lehernya akibat terkena besi saat bekerja di pabrik 3 jam yang
lalu. Dari pemeriksaan fisik penderita terlihat sesak, dan suara menjadi parau.
Stridor inspiratoir (+) dengan gambaran jejas didaerah lener setinggi laring.
Dari perabaan diapatkan adanya krepitasi dan emphisema yang meluas ke daraeh
supraclavicula. Penderita masih dapat makan dan minum.
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Model Anatomi
• Penuntun belajar (learning guide) terlampir
• Tempat belajar (training setting) : Instalasi gawat darurat, bangsal THT,
Poliklinik THT, Ruang Operasi

C. REFERENSI
1. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition,
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2014, 717 – 821.
2. Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition,
Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 856.

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu membuat diagnosis trauma leher berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.
b. Mampu melakukan tatalaksana trauma leher serta merujuk ke fasilitas
kesehatan yang lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
a. Menjelaskan anatomi, fisiologi struktur leher
b. Menjelaskan etiologi, macam-macam trauma leher
c. Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari trauma leher

1
Modul IV.12- Trauma Leher

d. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu Endoskopi serat


lentur, imaging (foto rontgen soft tissue leher, CT scan, MRI)
e. Membuat diagnosis klinis berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
tambahan.
f. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan trauma leher
g. Melakukan work-up pada penderita trauma leher (follow-up selanjutnya)
h. Memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke spesialis yang relevan
(bukan kasus gawat darurat)

E. GAMBARAN UMUM
Semua trauma pada leher secara potensial membahayakan kehidupan karena
banyak struktur vital melalui daerah ini. Trauma leher diklasifikasikan menjadi
tumpul atau menembus. Trauma tumpul pada leher dapat mengakibatkan cedera
saraf spinal leher, cedera faring dan trakea, dan cedera arteri karotis. Trauma leher
menembus diklasifikasikan menurut lokasinya (zona I, II, III).
Pemeriksaan klinis dari trauma leher meliputi penilaian jalan nafas, termasuk
evaluasi suara parau, stridor, dispneu dan hemoptisis. Emfisema subkutan,
krepitasi, dan perubahan landmark laring merupakan indikasi cedera laringotrakea.
Disfagi dan nyeri dada adalah kas untuk cedera esofagus. Pemeriksaan Endoskopi
(Laringoskopi fiberoptik) dilakukan untuk memeriksa jalan nafas bagian atas. Jika
terdapat ancaman gangguan jalan nafas atas, dilakukan trakeotomi. Krikotirotomi
tidak digunakan pada keadaan seperti ini, karena resiko cedera lebih lanjut pada
laring dan trakea bagian atas.

F. CONTOH KASUS & DISKUSI


1. Contoh Kasus
Seorang wanita usia 22 tahun di rujuk ke emergensi THT dengan riwayat trauma
tumpul didaerah leher. Dari anamnesis didapatkan bahwa penderita mengalami
benturan di daerah lehernya akibat terkena besi saat bekerja di pabrik 3 jam yang
lalu. Dari pemeriksaan fisik penderita terlihat sesak, dan suara menjadi parau.
Stridor inspiratoir (+) dengan gambaran jejas didaerah lener setinggi laring.
Dari perabaan diapatkan adanya krepitasi dan emphisema yang meluas ke daraeh
supraclavicula. Penderita masih dapat makan dan minum.
2. Diskusi :
• Tatalaksana kegawatdaruratan pada kasus tersebut
• Struktur yang mengalami cidera
• Pemeriksaan penunjang
• Tatalaksana komplikasi
Jawaban :

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
trauma leher seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu :
1. Menguasai anatomi, histologi, fisiologi struktur leher
2. Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinis trauma leher

2
Modul IV.12- Trauma Leher

3. Menentukan dan melakukan pemeriksaan penunjang (endoskopi, imaging ;foto


rontgen soft tissue leher, CT scan, MRI, foto rontgen dada, angiografi)
4. Membuat diagnosis trauma leher
5. Melaksanakan penatalaksanaan trauma leher : keputusan penanganan tindakan.
6. Melakukan work-up, menentukan terapi dan memutuskan untuk melakukan
rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih tinggi.

H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan Referat
4. Jurnal Reading
5. Praktik Lapangan (Poliklinik)
6. Skills Lab
7. Bedside Teaching
8. Tindakan (OK)
9. Case Report

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal
yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi struktur leher
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada
saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP
(Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang oleh
teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation). Setelah
dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah pengawasan
fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada model
anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)

3
Modul IV.12- Trauma Leher

4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan


penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.
5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun
belajar.
6. Pendidik / fasilitator :
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai.
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
• Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan THT dasar oleh
Kolegium Ilmu THT.
• Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra
pendidikan. THT lanjut oleh Kolegium Ilmu THT
• Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT lanjut oleh
Kolegium Ilmu THT.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR


1. Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
1. Airway management in penetrating neck trauma should be undertaken
a. By tracheostomy laone
b. By tracheostomy if only unable to intubate
c. By assessment of airway status by physical examination and/or flexible
laryngoscopy and airway support as needed
d. By direct rigid laryngoscopy
e. Only after C-spine is cleared by x-ray
Jawaban : C
4. Which of these signs would likely not be found in laryngeal injury in
penetrating neck trauma?
a. Voice changes
b. Hemoptysis
c. Crepitance
d. Subcutaneous emphysema
e. Facial nerve paralysis
Jawaban : E

4
Modul IV.12- Trauma Leher

2. Instrumen Penilaian Kompetensi Psikomotor


PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR DIAGNOSTIK TRAUMA

Lakukan penilaian kinerja pada setiap langkah atau tugas dengan menggunakan skala
penilaian di bawah ini :
1. Perlu Langkah atau tugas tidak dikerjakan secara benar atau dalam
Perbaikan urutan yang salah.

2. Cukup Langkah atau tugas dikerjakan secara benar dalam urutan yang
benar tetapi belum dikerjakan secara lancar.

3. Baik Langkah atau tugas dikerjakan secara efisien dan dikerjakan


dalam urutan yang benar.

PENUNTUN BELAJAR
Kesempatan ke
NO Kegiatan / langkah klinik
1 2 3 4 5
Anamnesis
1. Menilai kondisi kesiapan pasien (vital sign)
2. Tanyakan mengenai onset kejadian
Tanyakan mengenai jenis dan mekanisme dan jenis trauma,
3.
Apakah terkena trauma tumpul atau trauma tajam
Deskripsikan tentang arah trauma , apakah dari anterior atau
4.
lateral
Tanyakan mengenai komplikasi, apakah ada sesak,
5.
gangguan menelan,suara serak, rasa nyeri dada
Tanyakan mengenai penyakit yang bisa memperberat
6. kondisi pasien seperti;riwayat trauma leher sebelumnya,
riwayat operasi didaerah leher
Pemeriksaan Fisik
Vital sign ; Kesadaran,Tekanan darah , Heart rate,
1.
Respiratori rate, temperatur, saturasi O2
Periksa apakah ada tanda-tanda obstruksi saluran nafas;
2. Stridor, Retraksi supraclavicula, suprasternal,epigastrium,
intercostal
Inspeksi : Jejas didareah leher, luas luka,Kedalaman luka (
3.
Trauma tajam)
Palpasi ; Krepitasi,emphisema subcutis,Landmark laring
4
dan trachea,apakah ada deformitas
Pemeriksaan penunjang
1 Rontgen Soft tissue Leher ( AP dan Lateral)
Dinilai mengenai kolum udara, struktur tulang dan soft
tissue
2. Endoskopi ( Laringoskopi fiber optic)
Lihat modul ........
3 CT-Scan / MRI

5
Modul IV.12- Trauma Leher

Dinilai struktur penting dileher, Laring, trachea, Pembuluh


darah,Tulang Leher,esofagus,
4 Bronchoscopi
LIHAT MODUL ......
5 Esofagoskopi
LIHAT MODUL .......

K. DAFTAR TILIK

L. MATERI PRESENTASI
1. Slide 1 : Definisi
Trauma leher adalah trauma pada leher baik yang berakibat luka tumpul
atau menembus.

2. Slide 2 : Ruang Lingkup


Trauma leher diklasifikasikan menjadi tumpul atau menembus, yang secara
potensial membahayakan kehidupan. Trauma tumpul pada leher dapat
mengakibatkan cedera saraf spinal leher, cedera faring dan trakea, dan
cedera arteri karotis.
3. Slide 3 : Algoritma dan Prosedur
a. Protokol penatalaksanaan trauma akut pada laring

Dikutip dari Bailey BJ 1

6
Modul IV.12- Trauma Leher

b. Algoritma penatalaksanaan awal penderita dengan cedera trauma leher


menembus

Dikutip dari Bailey BJ 1

M. MATERI BAKU
1. Definisi Trauma Leher
Trauma leher adalah trauma pada leher, tumpul dan menembus.
2. Ruang Lingkup
Trauma leher diklasifikasikan menjadi tumpul atau menembus, yang secara
potensial membahayakan kehidupan. Trauma tumpul pada leher dapat
mengakibatkan cedera saraf spinal leher, cedera faring dan trakea, dan cedera
arteri karotis.
3. Pemeriksaan penunjang
Endoskopi peroral, imaging (foto rontgen soft tissue daerah visera, CT scan,
MRI, foto rontgen dada), angiografi
4. Penatalaksanaan
a. Upaya suportif dasar
• Pemasangan infus
• Pencegahan tetanus
• Antibiotik
b. Gangguan jalan nafas
• rongga mulut dan orofaring
• hipofaring,
• laring,
• trakea
• Intubasi endotrakeal
• Krikotirotomi
• Trakeotomi

7
Modul IV.12- Trauma Leher

c. Perdarahan
1) eksternal,
2) dalam rongga (terutama hipofaring, rongga mulut, orofaring),
3) internal didalam jaringan lunak (misalnya hematom yang membesar)
a) pembengkakan eksternal
b) pembengkaan hipofaring, rongga mulut, orofaring
i. Penekanan dari luar secara langsung
ii. Eksplorasi bedah
• Ligasi
• Rekonstruksi pembuluh darah besar
d. Perforasi visera
1) hipofaring,
2) laring,
3) trakea
4) esofagus
• Eksplorasi bedah
• Penutupan dengan bedah, khususnya esofagus
• Drainase bedah, terutama jika tidak mungkin dilakukan penutupan
e. Gangguan saraf
Perbaikan cedera saraf, misalnya saraf otak

N. DAFTAR PUSTAKA
a. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition,
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2001, 717 – 821.
b. Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition,
Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 856.
O. ALGORITMA DAN PROSEDUR
1. Protokol penatalaksanaan trauma akut pada laring

Dikutip dari Bailey BJ 1

8
Modul IV.12- Trauma Leher

2. Algoritma penatalaksanaan awal penderita dengan cedera trauma leher


menembus

Dikutip dari Bailey BJ 1


List of skill
a. Tahapan THT dasar
• Persiapam pra operasi
• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik
• Pemeriksaan penunjang
• Informend consent
b. Tahapan THT lanjut
• Persiapan pra operasi
• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik
• Pemeriksaan penunjang
• Informed consent
• Melakukan operasi (bimbingan, mandiri)
• Penanganan komplikasi
• Follow-up dan rehabilitasi

9
MODUL UTAMA
LARING FARING

MODUL IV.13
SUMBATAN JALAN NAFAS ATAS (SJNA)

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU.............................................................................................................. 1

B. PERSIAPAN SESI ............................................................................................. 1

C. REFERENSI ....................................................................................................... 1

D. KOMPETENSI ................................................................................................... 2

E. GAMBARAN UMUM ....................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS & DISKUSI ......................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN ............................................................................ 2

H. METODE PEMBELAJARAN ........................................................................... 3

I. EVALUASI ........................................................................................................ 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR ............................ 4

K. DAFTAR TILIK ................................................................................................. 7

L. MATERI PRESENTASI .................................................................................... 9

M. MATERI BAKU ................................................................................................. 9


Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

MODUL IV.13
LARING-FARING – SUMBATAN JALAN NAFAS ATAS (SJNA)

A. WAKTU
Mengembangkan Kompetensi Frekuensi
Sesi di dalam kelas 9 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 33 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi SUMBATAN JALAN NAPAS ATAS (SJNA), meliputi:
a. Gejala dan tanda SJNA
b. Anamnesis dan pemeriksaan SJNA
c. Pemeriksaan penunjang diagnostik
d. Faktor risiko SJNA
e. Clinical decision making dan medikamentosa
2. Kasus : Sumbatan jalan napas atas (SJNA)
Seorang laki-laki usia 59 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak
2 minggu, makin lama makin sesak disertai napas bunyi ketika menarik napas.
Sejak enam bulan yang lalu suara parau, kadang-kadang batuk disertai darah.
Makan dan minum tidak ada masalah.
Penderita mempunyai riwayat sebagai perokok berat.
3. Sarana dan Alat bantu latih :
a. Model anatomi kadaver / manekin/ hewan
b. Penuntun belajar (learning guide) terlampir
c. Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL, Unit Gawat
Darurat, Intensive Care Unit

C. REFERENSI
1. Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed. Operative Otolaryngology Head
and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders. Philadelphia. 2014, pp. 293-305
2. Goldsmith AJ, Wynn R. Upper airway obstruction. In: Lucente FE, [Link].
Essential of otolaryngology 5th ed. Lippincott Williams & Wilkins.
Philadelphia, 2004; 257-61.
3. Burkey BB. Airway Control and Laryngotracheal Stenosis in Adults. In : JJ
Ballenger, ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck. 17th Ed. Lea
& Febiger. Philadelphia. 2009, pp. 903-12
4. Kost KM. Tracheotomy & Intubation. In : BJ Bailey, et al., eds. Head and
Neck Surgery – [Link] 2. 5th Ed. Philadelphia. Lippincott
Williams & Wilkins. 2014, pp. 908-944
5. Yu KCY. Airway Management & Tracheotomy. In : AK Lalwani, ed. Current
Diagnosis & Treatment in Otolaryngology – Head and Neck Surgery.
International Edition. McGraw-Hill, Boston, 2012. pp. 536-42
6. Woodson G. The Larynx. In : KJ Lee, ed. Essential Otolaryngology Head and
Neck Surgery, 10th Ed. McGraw-Hill, New York. 2012, pp. 529-56

1
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

7. Bhatti, NI. Surgical Management of the Difficult Adult [Link] : Cummings


Otolaryngology Head and Neck Surgery. 5th ed. [Link] 122-29

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis sumbatan jalan napas atas berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan
(Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan
lateral/ CT scan leher).
b. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang
lebih tinggi bila diperlukan.
2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan mampu dan terampil dalam :
a. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi jalan napas atas
b. Menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan sumbatan
jalan napas atas
c. Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis sumbatan jalan napas atas
d. Menjelaskan dan melakukan anamnesis serta pemeriksaan fisik sumbatan
jalan napas atas
e. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti
Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy/ foto polos leher AP dan
lateral/ CT scan leher
f. Membuat diagnosis klinik berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan yang berhubungan dengan sumbatan jalan napas atas
g. Mampu melakukan tindakan intubasi endotrakeal, krikotirotomi dan
trakeostomi pada sumbatan jalan napas atas
h. Menjelaskan pemeliharaan dan komplikasi pasca tindakan trakeostomi

E. GAMBARAN UMUM
Sumbatan jalan napas atas (SJNA) merupakan suatu gejala penyakit yang sering
dijumpai di praktik sehari-hari, baik yang datang dalam keadaan sesak ringan
maupun hebat. Gejala sesak yang hebat dapat mengancam nyawa bila tidak
ditangani secara cepat dan tepat. Kejadian SJNA dapat terjadi pada semua usia
maupun jenis kelamin. SJNA dapat disebabkan oleh adanya infeksi, benda asing,
tumor, dll. Diagnosis ditegakkan terutama melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik
(kriteria Jackson). Untuk mengatasi SJNA tersebut salah satu cara yang dikerjakan
adalah trakeostomi.

F. CONTOH KASUS & DISKUSI


Seorang laki-laki usia 59 tahun datang ke IGD dengan keluhan sesak napas sejak 2
minggu, makin lama makin sesak disertai napas bunyi ketika menarik napas. Sejak
enam bulan yang lalu suara parau, kadang-kadang batuk disertai darah. Makan dan
minum tidak ada masalah. Penderita mempunyai riwayat sebagai perokok berat.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan ketrampilan yang diperlukan dalam mengenali dan melakukan

2
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

tindakan yang tepat terhadap penderita sumbatan jalan napas atas, seperti yang telah
disebutkan di atas, yaitu :
1. Menguasai anatomi, histologi, fisiologi jalan napas atas
2. Mampu menjelaskan etiologi, macam kelainan yang berhubungan dengan
sumbatan jalan napas atas
3. Menjelaskan patofisiologi dan gambaran klinis sumbatan jalan napas atas
4. Menentukan dan melakukan pemeriksan penunjang (laringoskop serat optik
(LSO)/FOL (fiber-optic laryngoscopy), foto polos leher, CT Scan laring)
5. Membuat diagnosis sumbatan jalan napas atas berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik maupun penunjang
6. Melakukan tatalaksana sumbatan jalan napas atas
7. Melakukan work-up dan memutuskan terapi pendahuluan serta merujuk ke
spesialis yang relevan (bila kegawatdaruratan sudah tidak ada).

H. METODE PEMBELAJARAN
1. Literatur Reading
2. Referat
3. Bimbingan Referat
4. Jurnal Reading
5. Case Report
6. Prakti Lapangan (Emergensi)
7. Bedside Teaching
8. Operasi

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test dalam bentuk essay dan
oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan untuk menilai
kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan
yang ada. Materi pretest dan post-test terdiri atas :
a. Anatomi dan fisiologi jalan napas atas
b. Penegakan diagnosa
c. Penatalaksanaan
d. Follow up

2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator


untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal
yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh pada
saat bedside teaching dan proses penilaian.

3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk


mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk “role play” dan teman-temannya (Peer Assisted Evaluation) atau kepada
SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang
oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation)
setelah dianggap memadai, melalui metode bedside teaching dibawah
pengawasan fasilitator, peserta dididik mengaplikasikan penuntun belajar kepada
model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan

3
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat


pelaksanaan evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut :
a. Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
b. Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terdahulu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
c. Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)

4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk mendapatkan


penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan dibicarakan di depan
pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan.

5. Self assesment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan penuntun


belajar.

6. Pendidik/ fasilitas :
a. Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir)
b. Penjelasan lisan dari peserta didik/ diskusi
c. Kriteria penilaian keseluruhan : cakap/ tidak cakap/ lalai

7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi tugas
yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)

8. Pencapaian pembelajaran :
a. Ujian OSCE (K,P,A), dilakukan pada tahapan THT-KL-KL dasar oleh
kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL-KL
b. Ujian akhir stase, setiap divisi / unit kerja oleh masing-masing sentra
pendidikan THT-KL-KL lanjut oleh kolegium ilmu THT-KL-KL.
c. Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL-KL lanjut oleh
kolegium Ilmu Kesehatan THT-KL-KL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOGNITIF & PSIKOMOTOR


1. Instrumen Penilaian Kompetensi Kognitif
1. Seorang anak laki-laki umur 2 tahun datang ke IGD sebuah rumah sakit dengan
keluhan sesak nafas sejak 2 hari yang lalu dan makin berat dalam 2 jam terakir.
Pada pemeriksaan fisik terlihat bull neck dan terdapat retraksi supra sternal dan
epigastrium. Suhu 38,5 C. Pemeriksaan orofaring sukar dinilai.
Apakah kemungkinan diagnosis pada pasien ini?
a. CROUP
b. Tonsillitis difteri
c. Laryngitis akut
d. Laringomalacia
e. Tonsillitis akut dengan abses retrofaring
Jawaban: B
2. Bagaimana penatalaksanaan lebih lanjut pada pasien ini?
a. ATS + Trakeostomi

4
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

b. Anti biotic intravena + insisi abses


c. Anti biotic intravena + kortikosteroid
d. Observasi
e. Intubasi
Jawaban: A
3. Seorang laki-laki usia 61 tahun datang ke IRD dengan keluhan sesak napas sejak
5 hari, bersifat memberat, bila tidur disertai mendengkur. Enam bulan yang lalu
suara mulai parau, kadang-kadang batuk disertai darah. Makan dan minum tidak
ada masalah.
Penderita mempunyai riwayat sebagai perokok berat. Terdapat stridor inspirasi
dan retraksi intercostal dan epigastrium.
Apakah kemungkinan diagnosis pada pasien tersebut?
a. TB laring
b. Tumor laring Supraglotis
c. Tumor laring Glotis
d. Tumor laring subglotis
e. Papiloma laring
Jawaban: D
4. Pemeriksaan apa yang harus dilakukan untuk membuktikan diagnosis diatas?
a. Biopsi laring
b. Laringoscopy dan CT Scan
c. Ro foto Cervical AP dan Lateral
d. MRI
e. Pemeriksaan sputum
Jawaban: B
5. Bagaimana penatalaksanaan awal pada pasien ini?
a. Tentukan derajat obstruksi jalan nafas
b. Kortikosteroid
c. Antibiotik intravena
d. Mukolitik
e. Biopsi laring
Jawaban: A
2. Instrumen Penilaian Kompetensi Psikomotor

PENUNTUN BELAJAR
PROSEDUR TRAKEOSTOMI
Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut.:
1 Perlu perbaikan: langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan yang seharusnya
atau urutannya tidak sesuai (jika harus berurutan)
2 Mampu: langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya dan urutannya (jika
harus berurutan). Pelatih hanya membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi di luar normal
3 Mahir: langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya dan waktu kerja yang
sangat efisien
T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah tertentu tidak perlu diperagakan)

5
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

NAMA PESERTA: ............................ TANGGAL:.................................


KEGIATAN KASUS
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF
1. Nama
2. Diagnosis
3. Informed Choice & Informed Consent
4. Rencana Tindakan
5. Persiapan Sebelum Tindakan
6. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
II. PROSEDUR OPERASI
1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan
lengkap
2. Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun
umum.
3. Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi
(punggung diganjal bantal).
4. Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya, lapangan
operasi dipersempit dengan doek steril.
5. Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk anestesi
dan vasokonstriksi.
6. Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid
sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar
dengan retraktor.
7. Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi lapis,
hati-hati terhadap vena jugularis anterior, arteri tiroidea ima,
kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat diklem dipotong selanjutnya
diligasi/kauter atau disisihkan ke atas atau ke bawah).
8. Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan (bila
mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam spuit).
9. Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya
dilakukan insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah
inferior ke superior.
10. Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes
benang (bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka
benang akan bergerak dihembus oleh udara pernapasan lewat
kanul).
11. Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan
pada kulit leher, dan pita leher.
12. Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar,
terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang.
13. Operasi selesai.
• III. PASCA OPERASI
a. Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu dan
nadi secara teratur
b. Mencegah terjadinya dehidrasi
c. Pemberian antibiotik segera setelah operasi

6
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

KEGIATAN KASUS
d. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi
• IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI
1. Perawatan kanul
2. Perawatan komplikasi
3. Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan
dalam 24 jam.
4. Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita
dipulangkan atau pada hari ke-5.
5. Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul serta
tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah posisi
6. Prosedur Dekanulasi

K. DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)
DAFTAR TILIK PENILAIAN KINERJA
PROSEDUR TRAKEOSTOMI
Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan
oleh peserta pada saat melaksanakan statu kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini:
ü : Memuaskan: Langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan prosedur atau
panduan standar
Ï : Tidak memuaskan: Langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar
T/T : Tidak Ditampilkan: Langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan oleh
peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

NAMA PESERTA: .............................. TANGGAL:.................................


KEGIATAN KASUS
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF
1. Nama
2. Diagnosis
3. Informed Choice & Informed Consent
4. Rencana Tindakan
5. Persiapan Sebelum Tindakan
6. Evaluasi ulang indikasi dan kontra indikasi operasi
II. PROSEDUR OPERASI
1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan esensial
untuk prosedur Trakeostomi telah tersedia dan lengkap
2. Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum.
3. Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi (punggung
diganjal bantal).
4. Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya, lapangan operasi
dipersempit dengan doek steril.
5. Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk anestesi dan
vasokonstriksi.

7
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

KEGIATAN KASUS
6. Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid
sampai batas atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar dengan
retraktor.
7. Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi lapis,
hati-hati terhadap vena jugularis anterior, arteri tiroidea ima,
kelenjar tiroid (ismus tiroid dapat diklem dipotong selanjutnya
diligasi/kauter atau disisihkan ke atas atau ke bawah).
8. Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan (bila
mengenai lumen trakea ditandai udara masuk dalam spuit).
9. Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya dilakukan
insisi trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah inferior ke
superior.
10. Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes benang
(bila kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka benang akan
bergerak dihembus oleh udara pernapasan lewat kanul).
11. Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan pada
kulit leher, dan pita leher.
12. Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar,
terakhir ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang.
13. Operasi selesai.
III. PASCA OPERASI
1. Observasi pasase kanul, perdarahan, tekanan darah, suhu dan nadi
secara teratur
2. Mencegah terjadinya dehidrasi
3. Pemberian antibiotik segera setelah operasi
4. Mencegah terjadinya komplikasi pasca operasi
IV. PERAWATAN PASCA TRAKEOSTOMI
1. Perawatan kanul
2. Perawatan komplikasi
3. Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan dalam
24 jam.
4. Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita
dipulangkan atau pada hari ke-5.
5. Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul serta
tindakan pertama bila kanul buntu total atau salah posisi
6. Prosedur Dekanulasi

8
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

L. MATERI PRESENTASI
1. Slide 1: Sumbatan Jalan Nafas Atas

2. Slide 2: Definisi & Ruang Lingkup

3. Slide 3: Etio-patofisiologi Sumbatan Jalan Nafas Atas

4. Slide 4: Trakeostomi

5. Slide 5: Algoritma dan Prosedur

M. MATERI BAKU
1. Sumbatan Jalan Napas Atas
a. Definisi
Kondisi terbuntunya jalan napas atas baik sebagian/parsial maupun
keseluruhan yang menyebabkan terjadinya gangguan ventilasi.
b. Ruang lingkup
1) Faktor Risiko
Penderita tumor/infeksi di orofaring maupun laring.
2) Etiologi
Tertutupnya jalan napas atas karena tumor, benda asing atau infeksi
terutama di daerah orafaring dan laring.
3) Diagnosis
a) Anamnesis :

9
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

Penderita mengeluh sesak napas memberat disertai dengan bunyi


napas seperti orang ngorok, tidak dapat berkomunikasi dengan baik
serta gangguan kesadaran.
b) Pemeriksaan fisik :
Didapatkan adanya cuping hidung yang bergerak saat inspirasi,
disertai cekungan pada supraklavikula, interkosta, dan epigastrial.
c) Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan radiologi :
• X-foto leher AP dan lateral (jaringan lunak)
• CT-Scan kepala & leher (dengan dan tanpa kontras)
4) Terapi
a) Oksigenasi
b) Medikamentosa (bila kausanya infeksi)
c) Trakeotomi (pada kasus tumor)

5) Tindak Lanjut
Konservatif bila dengan medikamentosa menunjukkan perbaikan (kasus
infeksi) dan operatif bila sesak napas memberat/permanen (kasus tumor).

2. Prosedur Trakeostomi
a. Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan trakeostomi
(teori, indikasi, prosedur dan komplikasi). Selama pendidikan pernah
melihat atau menjadi asisten, dan pernah menerapkan keterampilan ini di
bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan
menerapkan keterampilan trakeostomi dalam praktik mandiri.

b. Definisi
Trakeostomi adalah tindakan mengiris/membuat lubang pada trakea.

c. Indikasi
1) Mengatasi sumbatan jalan napas atas, yang dapat disebabkan oleh :
a) Infeksi saluran napas (epiglotitis akut, laringotrakeobronkitis akut)
b) Trauma daerah kepala leher
c) Tumor jinak maupun ganas daerah faring, laring, esofagus
d) Kelainan kongenital saluran napas atas
e) Abduktor paralisis bilateral
f) Benda asing jalan napas
2) Mengeluarkan sekret dari trakeobronkial (bronkopnemoni, bronkiektasis,
koma, …)
3) Menunjang pemberian napas bantuan (emfisema paru, paralisis otot napas,
…)
4) Mencegah aspirasi (operasi bedar daerah kepala leher, kelumpuhan laring)

d. Teknik Operasi
1) Trakeotomi dapat dilakukan dengan anestesi lokal maupun umum.
2) Posisi penderita tidur telentang, kepala hiperektensi (punggung diganjal
bantal).

10
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

3) Desinfeksi betadin daerah operasi dan sekitarnya, lapangan operasi


dipersempit dengan doek steril.
4) Infiltrasi lidokain epinefrin di daerah operasi untuk anestesi dan
vasokonstriksi.
5) Insisi secara vertikal (atau horisontal) antara kartilago tiroid sampai batas
atas suprasternal, lapangan operasi diperlebar dengan retraktor.
6) Insisi di garis tengah dipisahkan (diperdalam) lapis demi lapis, hati-hati
terhadap vena jugularis anterior, arteri tiroidea ima, kelenjar tiroid
(ismus tiroid dapat diklem dipotong selanjutnya diligasi/kauter atau
disisihkan ke atas atau ke bawah).
7) Identifikasi krikoid dan trakea dengan punksi percobaan (bila mengenai
lumen trakea ditandai udara masuk dalam spuit).
8) Trakea dikait di tempat punksi percobaan, selanjutnya dilakukan insisi
trakea pada ring kedua dan ketiga dari arah inferior ke superior.
9) Kanul trakea diinsersikan secara gentle dan dilakukan tes benang (bila
kanul trakea masuk dalam lumen trakea, maka benang akan bergerak
dihembus oleh udara pernapasan lewat kanul).
10) Kanul trakea difiksasi dengan meniup balon kanul, jahitan pada kulit
leher, dan pita leher.
11) Luka operasi yang terlalu lebar dapat dijahit secara longgar, terakhir
ditutup dengan kasa, anak kanul dipasang.
12) Operasi selesai.

e. Komplikasi operasi
1) Perdarahan
2) Infeksi
3) Emfisema subkutis
4) Pnemotoraks
5) Pnemomediastinum
6) Fistula trakeoesofagal
7) Obstruksi kanul
8) Kanul salah posisi
9) Problem menelan
10) Henti jantung/napas
11) Fistula trakeokutan
12) Terbentuk granuloma
13) Stenosis trakea
14) Kesulitan dekanulasi

f. Tindak lanjut pasca operasi


1) Penderita dirawat selama 5 hari.
2) Selama dirawat dilakukan perawatan kanul dan anak kanul serta observasi
ada tidaknya komplikasi.
3) Bila fiksasi menggunakan balon, maka balon dikempiskan dalam 24 jam.
4) Jahitan fiksasi kulit leher diangkat sebelum penderita dipulangkan atau
pada hari ke-5.
5) Penderita diedukasi cara perawatan kanul dan anak kanul serta tindakan
pertama bila kanul buntu total atau salah posisi.

11
Modul IV.13 – Sumbatan Jalan Nafas Atas (SJNA)

g. Instrumen yang diperlukan


1) Pisau bedah no.11 dan 15
2) Pemegang pisau
3) Gunting bedah tumpul/tumpul, panjang dan agak lengkung (Metzenbum)
4) Pinset chirurgi
5) Klem arteri (Mosquito)
6) Klem kocher
7) Pemegang jarum
8) Jarum dan benang (untuk jaringan subkutan: benang catgut/chromic
catgut/Vicryl 3.0 dengan jarum round type ½; untuk kulit: benang
sutra/nilon 3.0 dengan jarum cutting type)
9) Kait tajam
10) Tripot (retractor trakea)
11) Kanul trakea

9. Referensi:
a. Myers EN. Tracheostomy. In : EN Myers, ed. Operative Otolaryngology
Head and Neck Surgery vol. 1. WB Saunders. Philadelphia. 2014, pp. 293-
305
b. Goldsmith AJ, Wynn R. Upper airway obstruction. In: Lucente FE, Har-
[Link]. Essential of otolaryngology 5th ed. Lippincott Williams & Wilkins.
Philadelphia, 2004; 257-61.
c. Burkey BB. Airway Control and Laryngotracheal Stenosis in Adults. In : JJ
Ballenger, ed. Diseases of the Nose, Throat, Ear, Head and Neck. 17th Ed.
Lea & Febiger. Philadelphia. 2009, pp. 903-12
d. Kost KM. Tracheotomy & Intubation. In : BJ Bailey, et al., eds. Head and
Neck Surgery – [Link] 2. 5th Ed. Philadelphia. Lippincott
Williams & Wilkins. 2014, pp. 908-944
e. Yu KCY. Airway Management & Tracheotomy. In : AK Lalwani, ed.
Current Diagnosis & Treatment in Otolaryngology – Head and Neck
Surgery. International Edition. McGraw-Hill, Boston, 2012. pp. 536-42
f. Woodson G. The Larynx. In : KJ Lee, ed. Essential Otolaryngology Head
and Neck Surgery, 10th Ed. McGraw-Hill, New York. 2012, pp. 529-56
g. Bhatti, NI. Surgical Management of the Difficult Adult Airway. In :
Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery. 5th ed.
[Link] 122-29

12
MODUL UTAMA
LARING FARING

MODUL IV.14
ABSES RUANG LEHER DALAM

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ....................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ....................................................................................... 1

C. REFERENSI ................................................................................................. 1

D. KOMPETENSI ............................................................................................. 1

E. GAMBARAN UMUM ................................................................................. 2

F. CONTOH KASUS ....................................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN ...................................................................... 3

H. METODA PEMBELAJARAN..................................................................... 3

I. EVALUASI .................................................................................................. 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .......................... 4

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ................... 7

L. DAFTAR TILIK ........................................................................................... 9

M. MATERI PRESENTASI ............................................................................ 11

N. MATERI BAKU......................................................................................... 14

O. ALGORITMA DAN PROSEDUR ............................................................. 18


Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

MODUL IV.14
LARING-FARING – ABSES RUANG LEHER DALAM

A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 7 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 18 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 28 X 60 menit (facilitation and assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi presentasi : Abses Ruang Leher Dalam
• Slide 1 : Definisi dan Ruang Lingkup
• Slide 2 : Drainase abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
• Slide 3 : Drainase abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang
viscera vaskuler
• Slide 4 : Drainase abses ruang submandibula
• Slide 5 : Drainase abses ruang masticator
• Slide 6 : Drainase abses ruang peritonsil
• Slide 7 : Drainase abses ruang temporal
• Slide 8 : Drainase abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
• Slide 9 : Algoritma dan Prosedur
2. Kasus : Abses ruang leher dalam
3. Sarana dan Alat Bantu Latih :
• Model Anatomi, Video, hewan
• Penuntun belajar (learning guide)
• Tempat belajar (training setting) : bangsal THT-KL, Poliklinik THT-KL,
kamar operasi, bangsal perawatan pasca bedah THT-KL, Unit Gawat Darurat,
Intensive Care Unit

C. REFERENSI
1. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition, Lippincott
Williams & Wilkins, Philadelphia, 2001, 702 – 715.
2. Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition,
Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 854 - 855.

D. KOMPETENSI
1. Kompetensi Umum
a. Mampu mendiagnosis abses ruang leher dalam berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan yang diperlukan (foto polos
leher AP dan lateral/ CT scan leher, pungsi aspirasi).
b. Mampu mendiagnosis abses ruang leher dalam yang meliputi abses di
daerah di ruang potensial leher yang meliputi:
• Ruang sepanjang leher
o Ruang retrofaring
o Ruang bahaya (danger space)
o Ruang prevertebral
1
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

o Ruang viscera vaskuler


• Ruang terbatas diatas tulang hyoid
o Ruang faringomaksila / ruang parafaring
o Ruang submandibula
o Ruang parotis
o Ruang mastikator
o Ruang peritonsil
o Ruang temporal
• Ruang terbatas dibawah tulang hyoid
o Ruang viscera anterior / ruang pre trakea
c. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan yang
lebih tinggi bila diperlukan.

2. Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
a. Menjelaskan anatomi, histologi, fisiologi fasial leher dan ruang leher dalam
b. Menjelaskan etiologi, macam-macam abses ruang leher dalam
c. Menjelaskan patofisiologi, gambaran klinis dari abses ruang leher dalam
d. Membuat diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan.
e. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan foto
leher AP/lateral, CT scan leher/ pungsi aspirasi.
f. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan abses ruang leher dalam
g. Memberikan terapi antibiotik empirik sambil menunggu hasil kultur dan tes
sensitivitas
h. Melakukan work-up pada penderita abses leher dalam (follow-up
selanjutnya)

E. GAMBARAN UMUM
Perkembangan antibiotika menurunkan insiden dan angka kematian dari abses
ruang leher dalam. Antibiotik juga merubah penyebab dan penanganan penyakit ini.
Meski masih dianggap penyakit dibidang bedah, beberapa infeksi dini memberi
respon pada pemberian antibiotik saja. Meskipun demikian, abses dari ruang leher
dalam tetap membahayakan jiwa. Keterlambatan diagnosis atau pengobatan yang
tidak memadai atau tidak tepat dapat menjurus pada komplikasi yang mengerikan,
seperti mediastinitis, yang mempunyai angka kematian sampai 40 %. Ahli bedah
kepala dan leher harus mempunyai pengetahuan yang tepat mengenai fasia leher
dan ruang potensial yang dibatasinya untuk memahami penatalaksanaan dan
komplikasi penyakit ini.

F. CONTOH KASUS
Seorang laki-laki usia 35 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri telan sejak 4
hari yang lalu, makin lama keluhan makin berat disertai demam. Penderita
mengeluh tidak bisa makan dan minum. Sejak 1 hari yang lalu, suara penderita
berubah seperti menggumam dan tidak bisa buka mulut. Tidak ada sesak napas.

2
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan untuk alih
pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan pencapaian
kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali dan menatalaksana
abses ruang leher dalam seperti yang telah disebutkan diatas, yaitu :
1. Menguasai anatomi, fisiologi fasial leher dan ruang leher dalam
2. Mampu menjelaskan etiologi, patofisiologi dan gambaran klinis abses ruang
leher dalam
3. Membuat diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan tambahan.
4. Menjelaskan dan melakukan pemeriksaan penunjang yaitu pemeriksaan foto
leher AP/lateral, CT scan leher/ pungsi aspirasi.
5. Menjelaskan dan melaksanakan penatalaksanaan abses ruang leher dalam
6. Memberikan terapi antibiotik empirik sambil menunggu hasil kultur dan tes
sensitivitas
7. Melakukan work-up pada penderita abses leher dalam (follow-up selanjutnya)

H. METODA PEMBELAJARAN
• Interactive lecture
• Small group discussion
• Peer assisted learning (PAL)
• Bedside teaching
• Task based medical education
• Interactive lecture
• Journal reading and review
• Case simulation and investigation exercise
• Equipment characteristics and operating instructions
• Case study
• Demonstration and coaching
• Simulation and real examination exercises (physical and device)
• Operative procedure demonstration and coaching
• Practice with real clients
• Continuing professional development

I. EVALUASI
1. Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dalam bentuk essay dan oral sesuai
dengan tingkat masa pendidikan, yang bertujuan untuk menilai kinerja awal
yang dimiliki peserta didik dan untuk mengidentifikasi kekurangan yang ada.
Materi pre-test terdiri atas :
• Anatomi, fisiologi dan patologi fasial leher dan ruang leher dalam
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
2. Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan fasilitator
untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas isi dan hal-hal

3
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan yang akan diperoleh


pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
3. Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar dalam
bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted Learning) atau SP
(Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang bersangkutan tidak
diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun belajar yang dipegang
oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi (Peer Assisted Evaluation).
Setelah dianggap memadai, melalui metoda bedside teaching di bawah
pengawasan fasilitator, peserta didik mengaplikasikan penuntun belajar kepada
model anatomik dan setelah kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan
kesempatan untuk melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat
pelaksanaan, evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation),
dan mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah tidak
dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien, misal pemeriksaan
terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan kepada pasien.
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
4. Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk
mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan
dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki
kekurangan yang ditemukan.
5. Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan
penuntun belajar.
6. Pendidik / fasilitator :
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai.
7. Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan diberi
tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical education)
8. Pencapaian pembelajaran :
• Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan THT-KL dasar oleh
Kolegium Ilmu THT-KL.
• Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing sentra
pendidikan.
• Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL lanjut oleh
Kolegium Ilmu THT-KL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


Kuesioner Sebelum Pembelajaran
1. In adult, what is the most common cause of deep neck space infection?
a. Odontogenic source
b. Foreign bodies
c. Spread of superficial infections
d. Surgical wound infections
4
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

e. Congenital deformities
Jawaban : A

2. The clinical presentation of deep neck space infections does not include which of
the following?
a. Fever and pain
b. Localized maculopapular rash
c. Localized swelling
d. Ptosis and contraction of the ipsilateral pupil
e. Dysphagia and odynophagia
Jawaban : B

3. What is the proper management of descending necrotizing mediastinitis?


a. Antibiotics and observation
b. Cervical drainage and observation
c. Cervical drainage and antibiotics
d. Thoractomy alone
e. Thoractomy and antibiotics
Jawaban : E

4. Radiographic findings characteristic of retropharyngeal abscesses include all but


which of the following?
a. Reversal of the normal cervical contour
b. Air in the prevertebral soft tissue
c. Tuberculous erosion of the cervical vertebra
d. Posterior pharyngeal soft tissue thicker than 7 mm at the sixth cervical
vertebra
e. Fluid collectin in the retropharyngeal
Jawaban : D

5. Which of the following is true of Ludwig’s angina?


a. It involves only the sublingual space
b. It result in anterior protrustion of the tongue
c. It is characterized by boardlike firmness of the floor of the mouth
d. It rarely cause airway compromise
e. It necessitates identification and drainage of the abscess cavity
Jawaban : C

Kuesioner Akhir Pembelajaran


Datang seorang laki – laki usia 28 tahun, dengan keluhan nyeri menelan. Nyeri
dirasakan sejak ± 3 hari yang lalu, makin lama makin berat, diderati demam.
Pasien juga mengeluh suaranya sengau. Pada pemeriksaan fisik ditemukan nyeri
tekan (+) di leher kiri, pembesaran KGB, fluktuasi (+). Pemeriksaan orofaring
ditemukan tonsil terdorong kontralateral hiperemis, tonsil T3 / T3, detritus (+).
1. Diagnosis apa kemungkinan pada pasien tersebut diatas?
a. Abses submandibula
b. Abses parafaring
5
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

c. Abses retrofaring
d. Abses peritonsil
e. Abses tonsil
Jawaban : D
2. Penanganan apa yang sebaiknya dilakukan pertama kali?
a. Antibiotik
b. Antibiotik, Anti-inflamasi
c. Antibiotik, Analgesik, Anti-inflamasi
d. Insisi
e. Insisi, Drainase
Jawaban : E

3. Diagnosis tersebut diatas dapat menyebabkan mediastinitis melalui………..


a. Abses meluas ke bawah
b. Penjalaran secara hematogen
c. Aspirasi dari abses peritonsil yang pecah
d. Emboli paru
e. Carotis Seath
Jawaba : E

4. Hasil terbanyak biakan kuman dari pus pemeriksaan pada pasien tersebut diatas
adalah…..
a. Pseudomonas aeruginosa
b. Kombinasi banyak kuman
c. Kuman gram positif
d. Kuman gram negatif
e. Kuman aerob
Jawaban : B

5. Infeksi pada kasus tersebut diatas kemungkinan terbesar disebabkan


a. Virus EBV
b. H. Influenza
c. S. Pyogenes
d. S. Pneumonia
e. Catarrhalis
Jawaban : C

6
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR

Penuntun Belajar
Prosedur Drainase Abses Ruang Leher Dalam

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan
yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika
harus berurutan)

langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya


2. Mampu dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi diluar normal.

3. Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya


dan waktu kerja yang sangat efisien

4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap langkah


tertentu tidak perlu diperagakan).

KEGIATAN KASUS
I. KAJI ULANG DIAGNOSIS & PROSEDUR OPERATIF
1. Nama
2. Diagnosis
3. Informed Choice & Informed Consent
4. Rencana Tindakan
5. Persiapan Sebelum Tindakan
II. PERSIAPAN PROSEDUR
1. Pastikan kelengkapan peralatan, bahan dan obat-obatan
esensial untuk prosedur drainase abses ruang leher dalam
telah tersedia dan lengkap, yaitu :
2. Alat : sesuai dengan tindakan operasi
3. Bahan : sesuai dengan tindakan operasi
4. Obat : cairan, antibiotik, obat premedikasi, obat
anestesi, lainnya
III. PROSEDUR
1. Abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
1) Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose
untuk mencegah aspirasi pus.
2) Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk
menghindari terlihatnya jaringan parut dan
kontaminasi jaringan lain di leher.
2. Abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang
viscera vaskuler
Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris
7
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

o Insisi bentuk T atau hanya insisi horisontal yang lebih


kosmetis
- insisi horisontal sejajar dan dibawah mandibula
- insisi vertikal sepanjang tepi depan otot
sternokleidomastoid
§ Selubung karotis ditelusuri untuk menemukan rongga
abses. Jari operator dimasukkan dibawah kelenjar
submandibula, dan digunakan untuk diseksi secara
tumpul sepanjang venter posterior otot digastrikus ke
dalam ke apeks mastoid, ke arah prosesus stiloid yang
terletak didalam ruang parafaring.
§ Dipasang drain terpisah dibagian superior dan inferior
ruang yang telah dibuka. Ujung kornu majus tulang
hyoid merupakan pedoman inferior penting yang
tetap.

3. Abses ruang submandibula


o Abses lidah dan dasar mulut yang berada di submental
space (Ludwig’s angina).
- Insisi horisontal dibuat sepanjang tepi bawah
massa (A).
- Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dibuat
untuk mengidentifikasi raphe mylohyoid. Insisi
vertikal dibuat sepanjang raphe (B).
- Rongga abses dimasuki dengan menggunakan
klem bengkok. Otot geniohyoid dapat
diidentifikasi dan dipisahkan (C).
- Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan
penutupan otot platysma pada tepi insisi (D).
o Abses leher lateral
- Insisi kulit pendek dan horizontal dilakukan jika
mungkin pada lipatan kulit alamiah, pada titik
yang paling menonjol (E).
- Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dilakukan
untuk mengidentifikasi tepi depan otot
sternocleidomastoid. Insisi dilakukan sepanjang
tepi depan ini (F).
- Klem bengkok dimasukkan ke dalam rongga
abses. Ini dapat meluas sampai dibawah
mandibula. Harus dihindarkan arah yang salah
(G).
- Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan
penutupan otot platysma pada tepi insisi (H).
4. Abses ruang mastikator
§ Insisi dibawah mandibula sampai mencapai
periosteum.
§ Diseksi secara tumpul dilakukan disisi superfisial dan
8
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

dalam mandibula.
5. Abses ruang peritonsil
o Pilihan : aspirasi jarum, insisi dan drainase atau
tonsilektomi segera
- Aspirasi atau insisi dan drainase dapat dilakukan
setelah anestesi topikal dan infiltrasi, tetapi kadang
memerlukan anestesi umum.
- Aspirasi dengan jarum spinal 18 G atau insisi
dilakukan pada daerah yang paling fluktuatif.
- Setelah insisi, rongga abses dibuka lebar dengan
menggunakan hemostat panjang.
- Jika gagal dengan drainase dan antibiotik (jarang),
dianjurkan tonsilektomi.
6. Abses ruang temporal
§ Drainase eksternal
§ Insisi kira-kira 3 cm dibelakang kantus lateral atau
insisi kening horisontal.
§ Harus dilakukan drainase kompartemen superfisial
dan dalam.
7. Abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
§ Drainase eksternal
§ Insisi : - Jika abses terlokalisir dengan jelas, insisi
di area yang menonjol.
- Jika abses tidak terlokalisir, diperlukan
insisi yang lebih lebar.

L. DAFTAR TILIK

Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)


Prosedur Drainase Abses Ruang Leher Dalam

Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan


oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur, dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar
X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuai
Memuaskan dengan prosedur atau panduan standar
T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakan
Diamati oleh peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

KEGIATAN NILAI
1. Persiapan Prosedur
1. Alat : sesuai dengan tindakan operasi
2. Bahan : sesuai dengan tindakan operasi
3. Obat : cairan, antibiotik, obat premedikasi, obat anestesi,
9
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

lainnya
2. Prosedur
1. Abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
• Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose untuk
mencegah aspirasi pus.
• Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk menghindari
terlihatnya jaringan parut dan kontaminasi jaringan lain
di leher.
2. Abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang
viscera vaskuler
Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris
o Insisi bentuk T atau hanya insisi horisontal yang lebih
kosmetis
- insisi horisontal sejajar dan dibawah mandibula
- insisi vertikal sepanjang tepi depan otot
sternokleidomastoid
§ Selubung karotis ditelusuri untuk menemukan rongga
abses. Jari operator dimasukkan dibawah kelenjar
submandibula, dan digunakan untuk diseksi secara
tumpul sepanjang venter posterior otot digastrikus ke
dalam ke apeks mastoid, ke arah prosesus stiloid yang
terletak didalam ruang parafaring.
§ Dipasang drain terpisah dibagian superior dan inferior
ruang yang telah dibuka. Ujung kornu majus tulang
hyoid merupakan pedoman inferior penting yang tetap.
3. Abses ruang submandibula
o Abses lidah dan dasar mulut yang berada di submental
space (Ludwig’s angina).
- Insisi horisontal dibuat sepanjang tepi bawah massa
(A).
- Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dibuat untuk
mengidentifikasi raphe mylohyoid. Insisi vertikal
dibuat sepanjang raphe (B).
- Rongga abses dimasuki dengan menggunakan klem
bengkok. Otot geniohyoid dapat diidentifikasi dan
dipisahkan (C).
- Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan
penutupan otot platysma pada tepi insisi (D).
o Abses leher lateral
- Insisi kulit pendek dan horizontal dilakukan jika
mungkin pada lipatan kulit alamiah, pada titik yang
paling menonjol (E).
- Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dilakukan
untuk mengidentifikasi tepi depan otot
sternocleidomastoid. Insisi dilakukan sepanjang tepi
depan ini (F).
- Klem bengkok dimasukkan ke dalam rongga abses.
10
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

Ini dapat meluas sampai dibawah mandibula. Harus


dihindarkan arah yang salah (G).
- Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan
penutupan otot platysma pada tepi insisi (H).
4. Abses ruang mastikator
§ Insisi dibawah mandibula sampai mencapai periosteum.
§ Diseksi secara tumpul dilakukan disisi superfisial dan
dalam mandibula.
5. Abses ruang peritonsil
o Pilihan : aspirasi jarum, insisi dan drainase atau
tonsilektomi segera
- Aspirasi atau insisi dan drainase dapat dilakukan
setelah anestesi topikal dan infiltrasi, tetapi kadang
memerlukan anestesi umum.
- Aspirasi dengan jarum spinal 18 G atau insisi
dilakukan pada daerah yang paling fluktuatif.
- Setelah insisi, rongga abses dibuka lebar dengan
menggunakan hemostat panjang.
- Jika gagal dengan drainase dan antibiotik (jarang),
dianjurkan tonsilektomi.
6. Abses ruang temporal
§ Drainase eksternal
§ Insisi kira-kira 3 cm dibelakang kantus lateral atau insisi
kening horisontal.
§ Harus dilakukan drainase kompartemen superfisial dan
dalam.
7. Abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
§ Drainase eksternal
§ Insisi : - Jika abses terlokalisir dengan jelas, insisi di
area yang menonjol.
- Jika abses tidak terlokalisir, diperlukan insisi
yang lebih lebar.

M. MATERI PRESENTASI

• Slide 1 : Definisi
Abses ruang leher dalam adalah abses yang terbentuk di dalam ruang
(potensial) leher dalam.

11
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

• Slide 2 : Ruang Lingkup

Abses di dalam ruang (potensial) leher dalam meliputi abses yang


terbentuk di :
1. Ruang sepanjang leher
• Ruang retrofaring
• Ruang bahaya (danger space)
• Ruang prevertebral
• Ruang viscera vaskuler
2. Ruang terbatas diatas tulang hyoid
• Ruang faringomaksila / ruang parafaring
• Ruang submandibula
• Ruang parotis
• Ruang mastikator
• Ruang peritonsil
• Ruang temporal
3. Ruang terbatas dibawah tulang hyoid
• Ruang viscera anterior / ruang pre trakea

• Slide 3 : Drainase abses ruang retrofaring dan ruang bahaya


1. Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose untuk mencegah
aspirasi pus.
2. Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk menghindari terlihatnya
jaringan parut dan kontaminasi jaringan lain di leher.

• Slide 4 : Drainase abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang
viscera Vaskuler

Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris


o Insisi bentuk T atau hanya insisi horisontal yang lebih kosmetis
- insisi horisontal sejajar dan dibawah mandibula
- insisi vertikal sepanjang tepi depan otot sternokleidomastoid
§ Selubung karotis ditelusuri untuk menemukan rongga abses. Jari
operator dimasukkan dibawah kelenjar submandibula, dan digunakan
untuk diseksi secara tumpul sepanjang venter posterior otot digastrikus
ke dalam ke apeks mastoid, ke arah prosesus stiloid yang terletak
didalam ruang parafaring.
§ Dipasang drain terpisah dibagian superior dan inferior ruang yang telah
dibuka. Ujung kornu majus tulang hyoid merupakan pedoman inferior
penting yang tetap.

12
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

• Slide 5 : Drainase abses ruang submandibula

Dikutip dari Lore J.M, Medina J.E2

• Slide 6 : Drainase abses ruang mastikator

§ Insisi dibawah mandibula sampai mencapai periosteum.


§ Diseksi secara tumpul dilakukan disisi superfisial dan dalam mandibula.

• Slide 7 : Drainase abses ruang peritonsil

o Pilihan : aspirasi jarum, insisi dan drainase atau tonsilektomi segera


- Aspirasi atau insisi dan drainase dapat dilakukan setelah anestesi
topikal dan infiltrasi, tetapi kadang memerlukan anestesi umum.
- Aspirasi dengan jarum spinal 18 G atau insisi dilakukan pada daerah
yang paling fluktuatif.
- Setelah insisi, rongga abses dibuka lebar dengan
menggunakan hemostat panjang.
- Jika gagal dengan drainase dan antibiotik (jarang), dianjurkan
tonsilektomi.

• Slide 8 : Drainase abses ruang temporal

§ Drainase eksternal
§ Insisi kira-kira 3 cm dibelakang kantus lateral atau insisi kening horisontal.
§ Harus dilakukan drainase kompartemen superfisial dan dalam.

• Slide 9 : Drainase abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)

§ Drainase eksternal
§ Insisi : - Jika abses terlokalisir dengan jelas, insisi di area yang menonjol.
- Jika abses tidak terlokalisir, diperlukan insisi yang lebih lebar.

13
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

• Slide 10 : Algoritma dan Prosedur

History

Physical examination

Secure airway

Culture, IV antibiotics

CT Scan

No abscess Small abscess Large abscess

Needle aspiration for


culture and drainage

Watch and wait


24 – 48 hours Impending
No complications?

Clinical Yes
improvement?
Yes Surgical incision
No and drainage
Continue antibiotics,
± needle aspirations

N. MATERI BAKU Dikutip dari Bailey BJ 1

1. ABSES RUANG LEHER DALAM


a. Definisi
Abses ruang leher dalam adalah abses yang terbentuk di dalam ruang (potensial)
leher dalam.
b. Ruang Lingkup
Abses di dalam ruang (potensial) leher dalam meliputi abses yang terbentuk di:
• Ruang sepanjang leher
o Ruang retrofaring
o Ruang bahaya (danger space)
o Ruang prevertebral
14
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

o Ruang viscera vaskuler


• Ruang terbatas diatas tulang hyoid
o Ruang faringomaksila / ruang parafaring
o Ruang submandibula
o Ruang parotis
o Ruang mastikator
o Ruang peritonsil
o Ruang temporal
• Ruang terbatas dibawah tulang hyoid
o Ruang viscera anterior / ruang pre trakea
c. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium, aspirasi untuk membedakannya dengan selulitis,
imaging (foto rontgen, CT scan, MRI, USG).
d. Penatalaksanaan
Tujuan pertama haruslah menjamin dan memelihara jalan nafas yang memadai.
Kebanyakan penderita hanya memerlukan oksigen dan observasi ketat. Jika
diperlukan jalan nafas buatan, intubasi endotrakea dapat sulit dilakukan karena
abses merubah atau membuntu jalan nafas atas. Jika intubasi tidak mungkin
dilakukan, dilakukan trakeotomi atau krikotirotomi. Terapi selanjutnya
dimaksudkan untuk mengatasi infeksi dan mencegah komplikasi. Hapir selalu
perlu perawatan inap.
Diambil spesimen untuk kultur darah, aspirasi abses dengan jarum untuk kultur,
dan pemberian antibiotika. Resusitasi cairan sering diperlukan. Pada kebanyakan
penderita, terapi medis saja tidak mencukupi, dan diperlukan drainase bedah.
Drainase bedah diindikasikan untuk penderita dengan abses atau ancaman
terjadinya komplikasi, dan mereka yang keadaannya tidak membaik setelah
pembelian antibiotik parenteral 48 jam. Ruang primer yang terkena dan
perluasan ke ruang lainnya harus dibuka dan di drainase. Keberhasilan terapi
bedah tergantung pada visualisasi yang bagus, kontrol pembuluh darah yang
memadai, insisi luas, dan drainase terbuka.
Aspirasi pada abses yang kecil atau pemasangan kateter untuk aspirasi berulang
dari abses yang lebih besar merupakan alternatif untuk insisi bedah dan drainase.

2. DRAINASE ABSES RUANG LEHER DALAM


a. Kompetensi
Dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan drainase abses
ruang leher dalam (konsep, teori, indikasi, cara melakukan dan komplikasi).
Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan tindakan
keterampilan drainase abses ruang leher dalam, dan pernah menerapkan
keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi serta memiliki pengalaman
untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan drainase abses ruang leher
dalam dalam konteks praktek secara mandiri (tingkat kemampuan keterampilan
klinis 4).
b. Definisi
Suatu tindakan pembedahan mengeluarkan pus pada ruang potensial leher.

15
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

c. Ruang lingkup
Diharapkan seorang dokter PPDS I THT memiliki pengetahuan teoritis
mengenai keterampilan drainase abses ruang leher dalam, pernah melihat atau
pernah didemonstrasikan, pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di
bawah supervisi, serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan
menerapkan dalam konteks praktek secara mandiri.
d. Indikasi operasi
Infeksi leher dalam yang tidak sembuh dengan terapi konservatif dan
berkembang menjadi abses
e. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium, aspirasi untuk membedakannya dengan selulitis,
imaging (foto rontgen, CT scan, MRI, USG).
f. Teknik operasi
• Menjelang pembedahan
1. Psikologi yaitu mengurangi kecemasan, menerangkan secara jelas
keuntungan dan resiko selama dan setelah operasi. Menerangkan secara
jelas apa saja tindakan yang akan dilakukan selama operasi.
2. Farmakologi, pasien diberi obat penenang 1 jam sebelum tindakan bedah,
bila diperlukan.
3. Anestesi sesuai indikasi
• Tahapan pembedahan
1. Abses ruang retrofaring dan ruang bahaya
o Posisi penderita : berbaring terlentang, posisi Rose untuk mencegah
aspirasi pus.
o Insisi melalui pendekatan trans oral, untuk menghindari terlihatnya
jaringan parut dan kontaminasi jaringan lain di leher.
2. Abses ruang parafaring (ruang faringo maksila) dan ruang viscera
vaskuler
Drainase eksternal yaitu melalui fosa sub maksilaris
o Insisi bentuk T atau hanya insisi horisontal yang lebih kosmetis
- insisi horisontal sejajar dan dibawah mandibula
- insisi vertikal sepanjang tepi depan otot sternokleidomastoid
o Selubung karotis ditelusuri untuk menemukan rongga abses. Jari
operator dimasukkan dibawah kelenjar submandibula, dan digunakan
untuk diseksi secara tumpul sepanjang venter posterior otot digastrikus
ke dalam ke apeks mastoid, ke arah prosesus stiloid yang terletak
didalam ruang parafaring.
o Dipasang drain terpisah dibagian superior dan inferior ruang yang telah
dibuka. Ujung kornu majus tulang hyoid merupakan pedoman inferior
penting yang tetap.
3. Abses ruang submandibula
o Abses lidah dan dasar mulut yang berada di submental space (Ludwig’s
angina).
- Insisi horisontal dibuat sepanjang tepi bawah massa (A).
- Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dibuat untuk mengidentifikasi
raphe mylohyoid. Insisi vertikal dibuat sepanjang raphe (B).

16
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

- Rongga abses dimasuki dengan menggunakan klem bengkok. Otot


geniohyoid dapat diidentifikasi dan dipisahkan (C).
- Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan penutupan otot platysma
pada tepi insisi (D).
o Abses leher lateral
- Insisi kulit pendek dan horizontal dilakukan jika mungkin pada
lipatan kulit alamiah, pada titik yang paling menonjol (E).
- Lipatan kulit atas yang sangat terbatas dilakukan untuk
mengidentifikasi tepi depan otot sternocleidomastoid. Insisi
dilakukan sepanjang tepi depan ini (F).
- Klem bengkok dimasukkan ke dalam rongga abses. Ini dapat meluas
sampai dibawah mandibula. Harus dihindarkan arah yang salah (G).
- Drain Penrose kecil dimasukkan. Dilakukan penutupan otot platysma
pada tepi insisi (H).
4. Abses ruang mastikator
o Insisi dibawah mandibula sampai mencapai periosteum.
o Diseksi secara tumpul dilakukan disisi superfisial dan dalam mandibula.
5. Abses ruang peritonsil
o Pilihan : aspirasi jarum, insisi dan drainase atau tonsilektomi segera
- Aspirasi atau insisi dan drainase dapat dilakukan setelah anestesi
topikal dan infiltrasi, tetapi kadang memerlukan anestesi umum.
- Aspirasi dengan jarum spinal 18 G atau insisi dilakukan pada daerah
yang paling fluktuatif.
- Setelah insisi, rongga abses dibuka lebar dengan menggunakan
hemostat panjang.
- Jika gagal dengan drainase dan antibiotik (jarang), dianjurkan
tonsilektomi.
6. Abses ruang temporal
o Drainase eksternal
o Insisi kira-kira 3 cm dibelakang kantus lateral atau insisi kening
horisontal.
o Harus dilakukan drainase kompartemen superfisial dan dalam
7. Abses ruang viscera anterior (ruang pre trakea)
o Drainase eksternal
o Insisi :
- Jika abses terlokalisir dengan jelas, insisi di area yang menonjol.
- Jika abses tidak terlokalisir, diperlukan insisi yang lebih lebar.

g. Komplikasi
• Obstruksi jalan nafas khususnya pada Ludwig’s angina.
• Pada diagnosa salah : aneurisma arteriosklerotik arteri karotis interna,
khususnya pada abses submandibula.
• Cedera pada saraf otak (VII, X, XII) dan pembuluh darah besar, pada
drainase abses submandibula
• Cedera pada saraf otak (IX sampai XII) atau pleksus simpatikus, pada
drainase abses parafaring.

17
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

h. Perawatan pasca bedah


• Penderita pada umumnya perlu di rawat inap.
• Antibiotik
• Penatalaksanaan komplikasi.
i. Follow-up
Penilaian keberhasilan pengobatan
j. Kepustakaan materi baku
1. Bailey BJ. Head and Neck Surgery – Otolaryngology, Third Edition,
Lippincott Williams & Wilkins, Philadelphia, 2001, 702 – 715.
2. Lore JM, Medina JE. An Atlas of Head and Neck Surgery, Fourth Edition,
Elsevier Inc, W.B Saunders, Philadelphia, 2005, 854 – 855

O. ALGORITMA DAN PROSEDUR

History

Physical examination

Secure airway

Culture, IV antibiotics

CT Scan

No abscess Small abscess Large abscess

Needle aspiration for


culture and drainage

Watch and wait


24 – 48 hours Impending
No complications?

Clinical Yes
improvement?
Yes Surgical incision
No and drainage
Continue antibiotics, Dikutip dari Bailey BJ 1
± needle aspirations

18
Modul IV.14 – Abses Ruang Leher Dalam

List of skill
1. Tahapan THT dasar
• Persiapam pra operasi
• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik
• Pemeriksaan penunjang
• Informend consent
2. Tahapan THT lanjut
• Persiapan pra operasi
• Anamnesis
• Pemeriksaan fisik
• Pemeriksaan penunjang
• Informed consent
• Melakukan operasi (bimbingan, mandiri)
• Penanganan komplikasi
• Follow-up dan rehabilitasi

19
MODUL UTAMA
LARING FARING

PENYAKIT KELENJAR LUDAH


MODUL IV.15
KELAINAN KONGENITAL LARING

EDISI III

KOLEGIUM
ILMU KESEHATAN TELINGA HIDUNG TENGGOROK
BEDAH KEPALA DAN LEHER
2022
DAFTAR ISI

A. WAKTU ........................................................................................................... 1

B. PERSIAPAN SESI ........................................................................................... 1

C. REFERENSI ..................................................................................................... 1

D. KOMPETENSI ................................................................................................. 2

E. GAMBARAN UMUM ..................................................................................... 2

F. CONTOH KASUS ........................................................................................... 2

G. TUJUAN PEMBELAJARAN .......................................................................... 2

H. METODA PEMBELAJARAN ........................................................................ 3

I. EVALUASI ...................................................................................................... 3

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF .............................. 4

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR ....................... 6

L. DAFTAR TILIK ............................................................................................... 7

M. MATERI PRESENTASI .................................................................................. 8

N. MATERI BAKU ............................................................................................ 30


Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

MODUL IV.15
LARING-FARING – KELAINAN KONGENITAL LARING

A. WAKTU
Proses Pengembangkan Kompetensi Alokasi Waktu :
Sesi di dalam kelas 6 X 60 menit (classroom session)
Sesi Pratikum 2 X 60 menit (coaching session)
Sesi Praktik dan pencapaian kompetensi 25 X 60 menit (facilitation and
assessment)

B. PERSIAPAN SESI
1. Materi Kelainan Kongenital Laring meliputi :
a. Slide 1: Gejala dan Tanda Kelainan Kongenital Laring
b. Slide 2: Anamnesis & Pemeriksaan Kelainan Kongenital Laring
c. Slide 3: Pemeriksaan Penunjang Diagnostik
d. Slide 4: Faktor Resiko Kelainan Kongenital Laring
e. Slide 5: Clinical Decision Making dan Medikamentosa

2. Kasus : Kelainan kongenital laring


Seorang bayi laki2, 4 bulan datang ke poli THT-KL dengan keluhan:
suara nafas berbunyi sejak lahir yang hilang timbul. Suara nafas 1 bulan
ini menetap. Suara dan tangis relatif normal.

3. Sarana dan Alat Bantu Latih :


a. Model anatomi laring, video
b. Penuntun belajar (learning guide) terlampir
c. Tempat belajar (training setting): bangsal THT-KL,
Poliklinik THT-KL, bangsal IKA, kamar operasi, bangsal
perawatan pascabedah THT-KL.

C. REFERENSI
1. Lusk Rodney. Congenital Anomalies of the Larynx In : Ballenger’s Head
and Neck Surgery-Otorhinolaryngology. Philadelphia, Lea & Febiger,
2009. 17th Ed pp.815-816
2. Dohar Joseph, Anne Samantha. Stridor Aspiration and Cough. In Bailey
Head & Neck Surgery – Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co.
2014. 5th Ed. pp.1338-1339
3. Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL.
Otolaryngology. Philadelphia. WB Saunders Co., 1991, chapter 13, pp.
333-42
4. Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York.
McGraw Hill. 2012. 10th Ed, Chapter 22, pp. 551-552

1
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

D. KOMPETENSI
Kompetensi Umum
i. Mampu membuat diagnosis kelainan kongenital laring berdasarkan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang yang
diperlukan ( Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/
foto polos leher AP dan lateral/ CT scan leher)
ii. Mampu melakukan tatalaksana serta merujuk ke fasilitas kesehatan
yang lebih tinggi bila diperlukan.
Kompetensi Khusus
Setelah mengikuti sesi ini peserta didik diharapkan terampil dalam :
1. Mengenali gejala dan tanda kelainan laring kongenital
2. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik kelainan laring
kongenital
3. Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksaan penunjang
seperti Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/ foto
polos leher AP dan lateral/ CT scan leher
4. Mengenali faktor resiko kejadian kelainan laring kongenital
5. Mampu tatalaksana konservatif dan merujuk ke fasilitas kesehatan
yang lebih tinggi bila memerlukan tatalaksana operasi.
6. Deteksi dini dan tatalaksana penyulit yang mungkin terjadi pada
kelainan laring kongenital.

E. GAMBARAN UMUM
Kelainan kongenital pada laring dapat berupa laringomalasia, stenosis
subglotik, laryngeal web, hemangioma dan laryngeal cleft. Kelainan
kongenital laring yang paling sering ditemukan adalah laringomalasia. Dua
pertiga dari kasus stridor laring kongenital disebabkan oleh kelainan ini.
Kelainan kongenital laring pada bayi dapat menyebabkan gejala sumbatan
jalan nafas, suara tangis melemah sampai tidak ada sama sekali. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang.

F. CONTOH KASUS
Seorang bayi laki2, 4 bulan datang ke poli THT-KL dengan keluhan: suara
nafas berbunyi sejak lahir yang hilang timbul. Suara nafas 1 bulan ini
menetap. Suara dan tangis relatif normal.

G. TUJUAN PEMBELAJARAN
Proses, materi dan metoda pembelajaran yang telah disiapkan bertujuan
untuk alih pengetahuan, keterampilan dan perilaku yang terkait dengan
pencapaian kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam mengenali
dan menatalaksana kelainan kongenital laring seperti yang telah disebutkan
diatas,yaitu:
1) Mengenali gejala dan tanda kelainan kongenital laring.
2) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik kelainan kongenital laring.
3) Melakukan keputusan untuk perlu tidaknya pemeriksan penunjang seperti

2
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

Laringoskopi Direk/ Fiber-Optic Laringoscopy (FOL)/ foto polos leher


AP dan lateral/ CT scan leher.
4) Mengenali faktor resiko kejadian kelainan kongenital laring.
5) Mampu tatalaksana konservatif dan operasi.
6) Deteksi dini dan menatalaksana berbagai masalah dan penyulit yang
mungkin terjadi pada kelainan kongenital laring.

H. METODA PEMBELAJARAN
o Interactive lecture
o Small group discussion
o Peer assisted learning (PAL)
o Bedside teaching
o Task based medical education
o Interactive lecture
o Journal reading and review
o Case simulation and investigation exercise
o Equipment characteristics and operating instructions
o Case study
o Demonstration and coaching
o Simulation and real examination exercises (physical and device)
o Operative procedure demonstration and coaching
o Practice with real clients
o Continuing professional development

I. EVALUASI
a) Pada awal pertemuan dilaksanakan pre-test dan post-test dalam bentuk
essay dan oral sesuai dengan tingkat masa pendidikan yang bertujuan
untuk menilai kinerja awal yang dimiliki peserta didik dan untuk
mengidentifikasi kekurangan yang ada. Materi pretest dan post-test
terdiri atas :
• Anatomi dan fisiologi laring
• Penegakan diagnosa
• Penatalaksanaan
• Follow up
b) Selanjutnya dilakukan “small group discussion” bersama dengan
fasilitator untuk membahas kekurangan yang teridentifikasi, membahas
isi dan hal- hal yang berkenaan dengan penuntun belajar, kesempatan
yang akan diperoleh pada saat bedside teaching dan proses penilaian.
c) Setelah mempelajari penuntun belajar ini, mahasiswa diwajibkan untuk
mengaplikasikan langkah-langkah yang tertera dalam penuntun belajar
dalam bentuk role-play dengan teman-temannya (Peer Assisted
Learning) atau SP (Standardized Patient). Pada saat tersebut, yang
bersangkutan tidak diperkenankan membawa penuntun belajar, penuntun
3
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

belajar yang dipegang oleh teman-temannya untuk melakukan evaluasi


(Peer Assisted Evaluation). Setelah dianggap memadai, melalui metoda
bedside teaching di bawah pengawasan fasilitator, peserta didik
mengaplikasikan penuntun belajar kepada model anatomik dan setelah
kompetensi tercapai peserta didik akan diberikan kesempatan untuk
melakukannya pada pasien sesungguhnya. Pada saat pelaksanaan,
evaluator melakukan pengawasan langsung (direct observation), dan
mengisi formulir penilaian sebagai berikut:
• Perlu perbaikan : pelaksanaan belum benar atau sebagian langkah
tidak dilaksanakan.
• Cukup : pelaksanaan sudah benar tetapi tidak efisien,
misal pemeriksaan terlalu lama atau kurang memberi kenyamanan
kepada pasien.
• Baik : pelaksanaan benar dan baik (efisien)
d) Setelah selesai bedside teaching, dilakukan kembali diskusi untuk
mendapatkan penjelasan dari berbagai hal yang tidak memungkinkan
dibicarakan di depan pasien, dan memberi masukan untuk memperbaiki
kekurangan yang ditemukan.
e) Self assessment dan Peer Assisted Evaluation dengan mempergunakan
penuntun belajar.
f) Pendidik / fasilitator :
• Pengamatan langsung dengan memakai evaluation checklist form
(terlampir).
• Penjelasan lisan dari peserta didik / diskusi.
• Kriteria penilaian keseluruhan : cakap / tidak cakap / lalai.
g) Di akhir penilaian peserta didik diberi masukan dan bila diperlukan
diberi tugas yang dapat memperbaiki kinerja (task-based medical
education)
h) Pencapaian pembelajaran :
- Ujian akhir OSCA (K, P, A), dilakukan pada tahapan THT-
- Ujian akhir stase, setiap divisi/unit kerja oleh masing-masing
sentrapendidikan.
- Ujian akhir kognitif, dilakukan pada akhir tahapan THT-KL
lanjutoleh Kolegium Ilmu THT-KL.

J. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI KOGNITIF


Kuesioner awal pembelajaran
1. Seorang bayi baru lahir dengan stridor inspiratory “high
pitched”menunjukkan adanya kelainan pada :
a. Daerah subglotik
b. Trakea
c. Nasofaring
d. Orofaring
e. Supraglotik
4
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

Jawaban: E

2. Kelainan di bawah ini yang merupakan kelainan kongenital laring adalah :


a. Papillomatosis laring
b. Hemangioma subglotik
c. Vocal nodule
d. Kista pita suara
e. Polip pita suara
Jawaban: B

Kuesioner Akhir Pembelajaran


1. Seorang bayi perempuan berusia 8 bulan di bawa ke IGD dengan
keluhan sesak napas sejak 3 hari yang lalu, disertai adanya stridor
inspirasi dan retraksi ringan di suprasternal. Sesak berkurang bila
penderita tidur miring atau memakai bantal. Tidak ada demam, tidak
disertai gangguan bicara. Keluhan ini dirasakan sejak lahir dan sering
kambuh. Kemungkinan diagnosanya adalah :
a. Stenosis subglotik
b. Hemangioma laring
c. Laryngeal web
d. Laringomalasia
e. Laryngeal cleft
Jawaban: D

2. Pada kasus di atas, hasil pemeriksaan foto leher soft tissue


menunjukkan adanya penyempitan di daerah laring, pemeriksaan
penunjang lain yang terbaik untuk direncanakan adalah :
a. Naso-endoskopi
b. Foto thorak
c. Fiber-optic Laringoscopy
d. Esofagoskopi rigid
e. Bronkoskopi rigid
Jawaban: C

3. Seorang bayi laki-laki, usia 3 minggu dating ke Poli THT-KL dengan


keluhan adanya stridor biphasic yang semakin memberat, keluhan
sesak memburuk bila bayi menangis. Hasil pemeriksaan radiologis
menunjukkan kemungkinan suatu hemangioma subglotik. Tatalaksana
yang paling baik untuk kasus ini adalah :
a. Steroid inhalasi
b. Pemberian epinephrine
c. Laser carbondioksida
d. Laser Nd:YAG
e. Injeksi steroid lokal
Jawaban: C
5
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

K. INSTRUMEN PENILAIAN KOMPETENSI PSIKOMOTOR


Penuntun Belajar Prosedur Pemeriksaan Laring

Nilailah kinerja setiap langkah yang diamati menggunakan skala sebagai berikut :
1. Perlu perbaikan langkah tidak dikerjakan atau tidak sesuai dengan
yang seharusnya atau urutannya tidak sesuai (jika
harus berurutan)

langkah dikerjakan sesuai dengan yang seharusnya


2. Mampu dan urutannya (jika harus berurutan). Pelatih hanya
membimbing untuk sedikit perbaikan atau membantu
untuk kondisi diluar normal.

3. Mahir langkah dikerjakan dengan benar, sesuai urutannya


dan waktu kerja yang sangat efisien

4. T/D Langkah tidak diamati (penilai menganggap


langkah tertentu tidak perlu diperagakan).

NAMA PASIEN NO. REKAM MEDIK

PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI LANGSUNG


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK 1 2 3 4 5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1 INFORMED CONSENT
2 PEMERIKSAAN PENUNJANG
3 PENDERITA PUASA
4 MEMERIKSA DAN MELENGKAPI ALAT
5 PERSIAPAN TINDAKAN
6 CARA TIDUR PENDERITA DAN POSISI
KEPALA
TINDAKAN
1 MEMASUKKAN LARINGOSKOP
2 MEMASUKKAN TELESKOP
3 EVALUASI LARING

6
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

PENUNTUN BELAJAR LARINGOSKOPI SERAT OPTIK (FOL)


KESEMPATAN KE
NO KEGIATAN/LANGKAH KLINIK 1 2 3 4 5
PERSIAPAN PRA-TINDAKAN
1 INFORMED CONSENT
2 PEMERIKSAAN PENUNJANG
3 MEMERIKSA DAN MELENGKAPI ALAT
4 PERSIAPAN TINDAKAN
CARA DUDUK PENDERITA DAN POSISI
5
KEPALA
TINDAKAN
1 MEMASUKKAN FIBRE OPTIC
2 EVALUASI RONGGA HIDUNG
3 EVALUASI NASOFARING
4 EVALUASI LARING

L. DAFTAR TILIK
Penilaian Kinerja Keterampilan (ujian akhir)

Prosedur Pemeriksaan Laring


Berikan penilaian tentang kinerja psikomotorik atau keterampilan yang diperagakan
oleh peserta pada saat melaksanakan status kegiatan atau prosedur,dengan ketentuan
seperti yang diuraikan dibawah ini :
ü Memuaskan langkah atau kegiatan diperagakan sesuai dengan
prosedur atau panduan standar

X Tidak langkah atau kegiatan tidak dapat ditampilkan sesuaidengan


Memuaskan prosedur atau panduan standar

T/D Tidak langkah, kegiatan atau keterampilan tidak diperagakanoleh


Diamati peserta selama proses evaluasi oleh pelatih

7
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

KEGIATAN NILAI
Pemeriksaan Laringoskopi Langsung
1. Persiapan tindakan
[Link]
Pemeriksaan Laringoskopi Serat Optik (FOL)
1. Persiapan tindakan
2. Tindakan

M. MATERI PRESENTASI

8
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

9
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

10
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

11
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

12
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

13
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

14
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

15
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

16
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

17
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

18
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

19
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

20
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

21
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

22
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

23
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

24
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

25
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

26
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

27
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

28
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

29
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

N. MATERI BAKU
1) KELAINAN KONGENITAL LARING

a. Definisi
Kelainan kongenital pada laring dapat berupa laringomalasia,
stenosis subglotik kongenital, laryngeal web, hemangioma dan
laryngeal cleft.
30
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

b. Frekuensi
Kelainan kongenital laring yang paling sering ditemukan adalah
laringomalasia. Dua pertiga dari kasus stridor laring kongenital
disebabkan oleh kelainan ini. Pada beberapa anak merupakan
autosomaldominan lesion.

c. Ruang Lingkup
Kelainan kongenital laring yang menyebabkan sumbatan jalan nafas
dan gangguan menelan.

2) LARINGOMALASIA

a. Definisi
Laringomalasia merupakan kelainan kongenital pada laring. Kondisi
dimana laryngeal inlet kolaps pada saat inspirasi menyebabkan
terjadinya stridor.

b. Etiologi

Etiologi pasti belum diketahui. Kemungkinan imaturitas dari


neurologisatau struktural dari laring.

c. Pemeriksaan

i. Anamnesis:
Stridor selalu timbul saat anak menangis, menyusui atau dalam posisi
terlentang dalam minggu pertama kehidupan. Stridor tidak menetap
,dapat hilang sesaat dan tidak lama kemudian sangat [Link] jika
bayi terlentang dan membaik pada posisi tengkurap dan sering hilang
jikabayi tidur. Suara dan tangis relatif normal.
GERD menunjukkan lebih sering terjadi sehubungan dengan
laryngomalasia
Tanda GERD harus timbul termasuk meludah sering spit-ups, recurrent
emesis and back arching setelah makan.

ii. Pemeriksaan:
o Pemeriksaan fisik: telinga, hidung dan tenggorok, daerah leher dan
dada
- Stridor inspirasi (high-pitched) dan cekungan suprasternal dan atau
substernal timbul waktu lahir atau beberapa minggu kemudian
menunjukkan obstruksi berat.
- Laryngomalasia yang berat dapat menyebabkan hilangnya berat
badan dan gagal tumbuh dapat dengan episode sianosis atau tidak.
- Pneumonitis aspirasi, obstruktif sleep apneu dan sentral apneu.
o Laringoskopia direkta
o Flexible laryngoscope
31
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

Fiber Optic laryngoscope ditemukan gambaran klasik dari prolaps


epiglottis “omega shape” dan “Falls backward saat inspirasi.
Mobilitas pita suara normal, edema supraglotis. Bisa terjadi
refluks

iii. Pemeriksaan Penunjang:


Ro Thorak dan leher lateral

iv. Terapi
1. Biasanya diobservasi akan hilang dalam 12 hingga 16 minggu
2. Epiglottoplasty endoscopic bila terjadi stridor memberat,
corpulmonale dan gagal dalam perkembangan
3. Tindakan operasi secara endoskopi diindikasikan bila dicurigai
adanya anomali lainnya atau stridor menjadi sangat berat dengan
sianosis
4. Trakeostomi mungkin diperlukan bila bayi mengalami kesukaran
bernafas sehubungan dengan infeksi saluran nafas atas

v. Tindak Lanjut
Laryngomalasia akan sembuh dengan spontan lebih dari 1-2 tahun awal
kehidupan

3) STENOSIS SUBGLOTIK KONGENITAL


Stenosis subglottis merupakan penyebab terbanyak ke 3 timbulnya stridor
pada neonatus setelah laringomalasia dan paralisis pita suara. Dikatakan
stenosis apabila diameter lumen subglottis <4,0 mm pada level krikoid.
Stenosis subglottis kongenital biasanya disebabkan karena abnormalitas
kartilago atau jaringan subglottis dimana terjadi kegagalan rekanalasi lumen
laring. Kelainan ini biasanya terjadi pada fase embrional yang dapat pula
disertai dengan atresia laring, stenosis laring, dan webs.
Stenosis subglottis sering mengakibatkan infeksi saluran nafas atas rekuren
atau yang lebih dikenal dengan istilah croup. Pada anak-anak obstruksi paling
berat terjadi bila terdapat sumbatan 2-3 cm di bawah pita suara.
Stenosis subglottis kongenital biasanya disertai oleh kelainan kongenital
kepala dan leher yang lain (laring yang kecil pada syndrom Down).

• Klasifikasi stenosis subglottis kongenital:


o Berdasarkan histopatologi:
§ Membranous type:
1. Granulasi tissue
2. Submucosal gland hyperplasia
3. Submucosal fibrosis
§ Cartilaginous type
1. Cricoid cartilage deformity
§ Normal shape that is small for infant’s size
§ Abnormal shape

32
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

- Large anterior lamina


- Large posterior lamina
- Generalized thickening
- Elliptical shape
- Submucosal cleft
- Other congenital cricoid stenosis
o Trapped first tracheal ring
o Combined stenosis

• Derajat stenosis laring (Myer-Cotton grading scale)

Grade Laryngeal Lumen Obstruction


I < 50%
II 51% - 70%
III 71% - 99%
IV Complete obstruction
Grade I dan II tidak memerlukan intervensi bedah.

c. Diagnosis:
Ditegakkan melalui pemeriksaan endoskopik (dengan bronkoskopi
ataupun dengan bantuan ET). Dapat ditemukan scar, jaringan granulasi,
penebalan submukosa, abnormalitas bentuk krikoid. Pemeriksaan
radiografi meliputi foto cervical lateral yang diambil saat inspirasi dan
ekspirasi, fluoroskopi untuk menilai laring dan trakea, serta foto thoraks.
Pada stenosis subglottis terdapat gambaran steeple sign.
Gold standar adalah dengan dilakukannya laringoskopi dan
tracheobronchoscopy dengan bius umum. Hal-hal penting yang perlu
diperhatikan saat pemeriksaan endoskopi adalah:
1. Outer diameter dari bronkoskopi atau ET terbesar yang dapat
melewati stenosis
2. Lokasi stenosis (glottis, supraglottis, trakea) dan panjang stenosis
3. Kelainan anomali lain yang menyertai (clefts, web, neoplasma).

d. Diagnosis banding:
Diagnosis banding dari stenosis laring dibuat berdasarkan semua kondisi
yang menyebabkan stridor, dyspneu, dan distress napas. Stenosis laring
kongenital dapat disebabkan oleh:
a. Laringomalasia
b. Vascular compression (e.g., arteri innominata, [Link], vascular
ring)
c. Paralisis pita suara
- Bilateral (e.g., Chiari deformity)
- Unilateral (e.g., traumatic post ductus ligation)
d. Hemangioma subglottic
e. Complete tracheal rings
f. Laryngeal cleft
g. Cri du chat syndrom
h. Laryngeal saccules, laryngoceles
33
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

• Terapi Stenosis Laring:


Stenosis grade I dan II tidak memerlukan intervensi bedah, hanya
diobservasi. Bila stenosis grade II menjadi simtomatik (menimbulkan
distres nafas) maka dipertimbangkan intervensi bedah. KTP (potassium
titanyl phospate) laser dan CO2 laser digunakan untuk lesi yang tipis.
Komplikasi dari tindakan laser adalah kondritis, perikondritis, restenosis.
Grade III-IV membutuhkan tindakan bedah.
Terapi bedah pada stenosis laring bertujuan untuk mendapatkan aliran
oksigen yang dapat menjamin sirkulasi optimal:
1. Trakeostomi
2. Open procedure
a. Expansion procedure (one stage or with stent placement)
i. Anterior cricoid split with or without cartilage graft
ii. Posterior cricoid split with or without cartilage graft
iii. Anterior and posterior cricoid split with cartilage graft
iv. Four quadrant LTR
b. Segmental resection (cricotracheal resection / CTR)
i. Primary CTR
ii. Salvage CTR
iii. Extended CTR – CTR with and expansion procedure,
arytenoid lateralization or arytenoidectomy
Komplikasi tindakan bedah pada stenosis laring: perdarahan,
pneumthorax, pneumomediastinum, trauma pada [Link] laring, infesi,
keloid, restenosis, graft displacement, stent dislodgement, fistula
tracheocutaneous, jaringan granulasi, kematian.

4) LARYNGEAL WEB

Paling banyak ditemukan pada bagian depan glottis, dengan berbagai


macam ketebalan dan dapat meluas sampai daerah subglottis. Gejalanya
bisa berupa stridor inspirasi atau biphasic, retraksi, a high-pitched or
breathy voice, kesulitan makan karena keterbatasan pernafasan. Bayi
paling sering mengeluhkan tidak ada suaranya. Diagnosis pasti dengan
rigid mycrolaryngoscopy dan bronkoskopi.
Bila selaput menutup lebih dari 50% glottis maka memerlukan terapi
pembedahan dengan bedah mikro laring. Bila selaput tebal atau bahkan
sudah meluas maka perlu dilakukan trakeotomi terlebih dahulu. Koreksi
formal dilakukan bila bayi berumur 6 bulan, baik dengan tirotomi
eksternal, lisis internal dengan laser CO2.

5) HEMANGIOMA
Merupakan lesi yang jarang, primernya berasal dari submukosa. Sebanyak
50% berhubungan dengan hemangioma kulit. Hemangioma subglotik
berkembang semakin besar ukurannya dan biasanya keluhan akan muncul
dalam usia 8 minggu dan bermanifestasi sebelum berusia 6 bulan. Lesi
34
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

bisa meluas ke perikondrium dan cincin trakea. Keluhan gangguan


pernafasan biasanya progresif dan menetap. Stridor terdengar palig jelas
saat inspirasi, tetapi juga bisa muncul saat ekspirasi. Suara dapat
terpengaruh tergantung keterlibatan daerah laring yang terkena. Bisa
terjadi perubahan suara tangis, suara menjadi parau, barking cough.
Diagnosis dapat ditegakkan dengan foto leher lateral, endoskopi dapat
menunjukkan kelainan ini meskipun tanpa dilakukan biopsi. Bila memang
akan dilakukan biopsy maka saluran napas harus diamankan dahulu
dengan trakeostomi.

Tatalaksana dapat dilakukan observasi dahulu dan ditunggu terjadi


resolusi spontan, injeksi steroid, injeksi sklerosing agent, injeksi steroid
sistemik, cryosurgery, radiasi eksternal, eksisi dengan laser, kalau perlu
dilakukan trakeostomi.

6) LARYNGEAL CLEFT
Kelainan ini bisa terjadi sendiri atau bagian dari kelainan lain seperti
Pallister-Hall syndrome, Opitz-G syndrome dan berhubungan dengan
VACTERL. Laryngeal cleft menyebabkan aspirasi akibat sekunder dari
adanya hubungan antara bagian posterior esophagus dengan bagian
depan saluran nafas selama proses menelan. Suara terganggu akibat
turbulensi aliran udara dan penumpukkan secret di daerah glottis. Fiber-
optic laryngoscopy dapat menunjukkan adanya medialisasi arytenoid.
Rigid mycrolaryngoscopy dan bronkoskopi diperlukan untuk
mendiagnosa laryngeal cleft. Laryngeal cleft diklasifikasikan
berdasarkan Benjamin-Inglis Classification :
• Type I : cleft membuat cekungan interarythenoid yang dalam
tanpamelibatkan krikoid posterior
• Type II : cleft meluas sampai ke dalam krikoid tetapi tidak
melewati krikoid
• Type III : cleft meluas sampai melewati krikoid dan masuk
trakeaservikal
• Type IV : cleft meluas sampai trakea thorak atau bahkan masuk
kebronkus
Tatalaksana :
• Type I dan II : terapi GERD dan modifikasi diet
• Type III dan IV : memerlukan tindakan operatif
7) PROSEDUR PEMERIKSAAN LARING
a. Butir-butir Penting
a. Pada pemeriksaan Laringoskopi Direkta diperlukan
persiapan puasa dan dilakukan premedikasi. Posisi kepala
penderita harus tepat supaya pelaksanaan tindakan dapat
dilakukan dengan baik.
b. Pada pemeriksaan Fibre Optic Laryngoscope diperlukan
kerjasama dengan penderita meskipun tindakan ini relatif
tidak menyakitkan penderita.

35
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

b. Teknik Pemeriksaan

Laringoskopi Indirect
• Pasien dalam posisi duduk tegak, dengan kepala ekstensi dan leher
fleksi (sniffer’s posisition)
• Pemeriksa duduk berhadapan dengan pasien dengan memakai
lampu kepala
• Pasien diminta untuk membuka mulut dan menjulurkan lidah,
bagian anterior lidah dipegang oleh pemeriksa dengan
menggunakan kain kassa.
• Dimasukkan kaca laring hangat yang telah dipanaskan sebelumnya
ke dalam rongga mulut melewati uvula dan bagian distal palatum
mole. Suhu kaca laring haruslah diperiksa terlebih dahulu pada
tangan pemeriksa sebelum dimasukkan ke dalam mulut pasien
untuk mencegah terbakarnya mukosa mulut.
• Alat pemeriksa diputar sampai pemeriksa mendapatkan visualisasi
yang baik dari struktur laring dan hipofaring.
• Pasien diminta mengucapkan “iii” untuk mengobservasi adduksi
pita suara.
• Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas
pelan sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat
dilanjutkan.
• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan
menggunakan xylocain spray 10%.

Gambar 4. Laringoskopi Indirect dengan kaca laring

Laringoskopi Direct dengan teleskop kaku


• Lidah pasien dipegang dengan kain kassa
• Dimasukkan teleskop 90° yang telah diberikan anti embun ke rongga
mulut melewati atas lidah dengan berhati-hati tidak menyentuh
posterior lidah serta dinding faring.
• Visualisasi struktur laring dan hipofaring diperoleh dengan cara yang
samaseperti pemeriksaan dengan kaca laring
• Bila pasien terlihat tersedak, maka pasien diminta untuk bernafas pelan
36
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

sehingga palatum dapat rileks dan pemeriksaan dapat dilanjutkan.


• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan
menggunakanxylocain spray 10%.
• Pasien yang sensitive dapat diberikan anestesi local dengan
menggunakanxylocain spray 10%.

Gambar 5. Laringoskopi Direct dengan teleskop kaku

Laringoskopi Direct :

No Langkah- Bagaimana Mengapa


Langkah
1 Premedikasi Luminal/atropin Tidak valium, karena
depresi pernapasan
Biar air liur sedikit

2 Anestesi lokal Atur Spray xylocain, pd Epiglottis dikait, perlu


epiglottis anestesi

3 posisi kepala Posisi high: fleksi Mudah mengait epiglottis


leher/dada, ekstensi keatas
occipito atlanto

4. Mengait epiglottis Selalu digaris tengah Akan terlihat uvula-


epiglotis sebagai pedoman

Epiglotis dikait sedikit Kalau terlalu banyak,


saja aritenoid terkait
Kalau terlalu sedikit: lepas

5 Melihat pita suara Dengan bantuan Mudah melihatnya,


teleskop (0o,30o) Kalau telescope harus
mengait epiglottis,bisa
basah-buram

37
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

Gambar 6. Laringoskopi Direct


No Langkah-langkah Bagaimana Mengapa
1 Anaestesi local Kapas xylocain Tidak nyeri,tidak
ephedrin1 % di cavum trauma
nasi d/s
Spray xylocain pd
faring/epiglotis
2 Atur duduk Duduk tegak
penderita Memudahkan alat
masuk
3 Memasukkan alat Melalui dasar cavum
FOL nasi Tempat terlebar

4 Melihat nasofaring Lurus kebelakang Tampak naso


faring dulu
5 FOL diarahkan ke Dgn membengkokkan
laring kebawah

FOL diarahkan mula-


6 Memeriksa laring mula tampak dari jauh,
lalu makin mendekat,
laring dievaluasi
Observasi pergerakan
pita suara, dengan
pasien menyebutkan
”iii”, evaluasi apabila
terdapat tumor; bentuk,
ukuran, permukaan,
mobilitas dan warna
tumor.

38
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

Laringoskopi Serat Optik (FOL):

Gambar 7. Laringoskopi Serat Optik (FOL)

c. Instrumen yang diperlukan:


1. Laringoscope dewasa
2. Laringoscope anak-anak
3. Laringoscope bayi
4. Telescope 00 , 300 , 900
5. Fibre Optic Laryngoscope dan forcep biopsi
6. Forcep lurus dan upturn
7. Pompa Penyedot (Suction pump)

Prosedur Tindakan Trakeotomi Dapat Dilihat Pada Modul Sumbatan Jalan Nafas Atas

DAFTAR PUSTAKA

1) Lusk Rodney. Congenital Anomalies of the Larynx In : Ballenger’s Head and


Neck Surgery-Otorhinolaryngology. Philadelphia, Lea & Febiger, 2009. 17th Ed
pp.815-816
2) Dohar Joseph, Anne Samantha. Stridor Aspiration and Cough. In Bailey Head &
Neck Surgery – Otolaryngology. Philadelphia, JB Lippincott Co. 2014. 5th Ed.
pp.1338-1339
3) Paparella MM, Shumrick DA, Gluckman JL, Meyerhoff WL. Otolaryngology.
Philadelphia. WB Saunders Co., 1991, chapter 13, pp.333-42
4) Lee KJ. Essential Otolaryngology. Head & Neck Surgery. New York. McGraw
Hill. 2012. 10th Ed, Chapter 22, pp. 551-552
5) Charles Bluestone, Jeffrey Simons, Gerald Healy. 2018. Bluestone and Stool’s
Pediatric Otolaryngology, 5e. PMPH USA, Ltd.
6) Christopher J. Hartnick. 2015. Sataloff’s Comprehensive Textbook of
Otolaryngology Head & Neck Surgery, Pediatric Otolaryngology. Jaypee
Brothers Medical Pub
7) Jeffrey Cheng, John P. Bent (eds.). 2016. Endoscopic Atlas of Pediatric
Otolaryngology. Springer International Publishing
8) Jens Waschke, Friedrich Paulsen. 2018. Sobotta Atlas of Anatomy Head, Neck
and Neuroanatomy III, 16th edition. Elsevier Health Sciences
39
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

9) RW Clarke. 2017. Pediatric Otolaryngology Practical Clinical Management.


Thieme Publisher
10) Ted L Tewfik. 2019. Congenital Malformations of the Larynx. Medscape

6. Laryngeal Lymphoma
i. Definisi
Laryngeal lymphoma merupakan limphoma dengan lokasi primer pada laring.
NHL kepala dan leher biasanya muncul pada sistem limfatik ekstranodal cincin
Waldeyer. Keterlibatan area ekstralimfatik nodal dan ekstranodal lebih jarang
terjadi. Regio sinonasal, kelenjar saliva, tiroid, dan orbit lebih sering daripada
laring.
ii. Epidemiologi
Limfoma ekstranodal yang terbatas pada laring sangat jarang terjadi, terhitung
<1% dari semua neoplasma laring, dengan hanya sekitar 100 kasus yang telah
dijelaskan dalam literatur sampai saat ini. Sebuah studi yang dilakukan selama
sepuluh tahun yang melibatkan 2631 biopsi laring di sebuah rumah sakit besar
Spanyol, mengungkapkan hanya satu kasus limfoma sel B besar yang
menyebar. Kasus ini sangat jarang pada laring dikarenakan kandungan limfoid
yang relatif rendah di laring jika dibandingkan dengan area lain di saluran
pernapasan. Usia rata-rata saat diagnosis adalah 70 tahun, dengan rentang dari 4
hingga 81 tahun. Rasio pria: wanita telah dilaporkan menjadi variabel dalam
seri yang berbeda. Area anatomi tersering yang terkena adalah regio supraglotis
47%, dengan keterlibatan glotis mencapai 25% kasus. Daerah transglottic dan
subglottic jauh lebih jarang terkena.
iii. Manifestasi Klinis

Limfoma laring seringkali memiliki gejala yang mirip dengan karsinoma sel
skuamosa, seperti suara serak, dispnea, sensasi benda asing di tenggorokan,
atau stridor. Keluhan pasien dapat muncul secara katastropik dengan obstruksi
jalan nafas akut yang membutuhkan intervensi bedah segera. Gejala sistemik
jarang terjadi, karena limfoma laring cenderung tetap terlokalisasi untuk waktu
yang lama, meskipun bentuk yang lebih agresif cenderung menyebar lebih awal.
Namun demikian, tumor ini biasanya menyebar ke area mukosa lain seperti usus
dan paru-paru.

40
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

iv. Diagnosis

Diagnosis pasti didasarkan pada histologi. Secara histologis, limfoma


laring primer lebih sering berasal dari sel B, meskipun beberapa limfoma
sel T dan sel NK dapat terjadi. Yang terakhir lebih sulit untuk didiagnosis
dan biasanya membutuhkan biopsi yang dalam dan terkadang berulang.
Subkelompok terakhir limfoma laring ini lebih sering terjadi pada pasien
HIV. Rasio limfoma sel B ke sel T / NK adalah 6: 1.
v. Tatalaksana
Tidak ada penelitian yang dilakukan secara khusus untuk menangani
jenis limfoma langka ini. Terapi bervariasi karena berbagai jenis limfoma
serta jumlahnya yang sedikit. Namun, modalitas utama pengobatan
adalah IFRT (30- 50 G) saja atau dikombinasikan dengan kemoterapi.
Intervensi bedah biasanya hanya diperlukan pada kasus dengan obstruksi
jalan napas akut. Perbedaan dalam modalitas pengobatan ini, terlepas dari
histologi limfoma. Namun, kombinasi kemoterapi-radioterapi tampaknya
menjadi modalitas pengobatanyang lebih disukai.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kato,S., Sakura, M., Takooda, S., et al., 1997, “Primary non-Hodgkin’s
lymphoma of the larynx”. J Laryngol Otol, 111:571–574
2. Horny and Kaiserling, 1995, “Involvement of the larynx by hemopoietic
neoplasms—an investigation of autopsy cases and review of the
literature,” Pathology Research and Practice, vol. 191, no. 2, pp. 130–
138
3. Fernández-Aceñero, M.J., Larach, F., Ortega-Fernández,, C., 2009, “Non-
epithelial lesions of the larynx: review of the 10-year experience in a
tertiary Spanish hospital,” Acta Oto-Laryngologica, vol. 129, no. 1, pp.
108–112
4. Kuo, J.R., Hou, Y.Y., Chu, S.T., Chien, C.C., 2011, “Subglottic stenosis
induced by extranodal mucosa-associated lymphoid tissue lymphoma,”
Journal of the Chinese Medical Association, vol. 74, no. 3, pp. 144–147
5. King, A.D., Yuen, E.H.Y., Lei, K.I.K., Ahuja, A.T., and Van Hasselt, A.,

41
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

2004, “Non-Hodgkin lymphoma of the larynx: CT and MR imaging


findings,” American Journal of Neuroradiology, vol. 25, no. 1, pp. 12–15

7. Paralisis Plika Vokalis Kongenital


i. Definisi
Paralisis plika vokalis adalah tidak adanya pergerakan dari plika vokalis yang
terjadi karena disfungsi saraf motorik yang mempersarafi otot-otot laring.
Sedangkan paralisis plika vokalis kongenital merupakan penyebab tersering
keduadari stridor kongenital.
ii. Etiologi
Salah satu penyebabnya adalah trauma lahir yang sebagian besar
mengakibatkan paralisis plika vokalis unilateral dan umumnya menunjukkan
pemulihan spontan. Selain itu paralisis plika vokalis kongenital juga dapat
ditemukan pada anomali susunan saraf pusat, seperti malformasi Chiari,
ensefalokel, mengiomyelocel, dan hidrosefalus. Kejadian paralisis plika
vokalis kongenital juga dikaitkan dengan sindrom Down, delesi 22q, sindrom
Robinow, serta sindrom Serebro- okuloskeletal.
iii. Manifestasi klinis
Stridor merupakan gejala klinis yang paling sering tampak dan kasus ini
sering didapatkan pada neonatus yang mengalami gagal weaning pada
pemasangan CPAP. Gejala klinis lain dapar berupa tangisan yang lemah, sulit
makan, dan aspirasi.
iv. Diagnosis
Penegakan diagnosis dapat dilakukan dengan direk laringoskopi dengan
general anestesi ringan untuk melihat dinamika jalan napas atau dengan
fleksibel fiberoptik laringoskopi. Karena kasus ini memiliki keterkaitan
dengan anomali susunan saraf pusat dan sindrom tertentu, pemeriksaan MRI
atau CT scan dapat dilakukan.
v. Tatalaksana

Tatalaksana pada kasus paralisis plika vokalis kongenital tergantung dari


keparahan manifestasi klinis yang tampak. Sebagian besar pasien mengalami
perbaikan dalam 6 sampai 12 bulan dan tidak memerlukan tindakan operatif.
Pada kasus bilateral paralisis plika vokalis kongenital biasanya diperlukan
Tindakan trakeostomi. Pada kasus dengan etiologi trauma lahir, perbaikan
klinis didapatkan dalam 2 minggu dan 3 hingga 6 bulan.

42
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

DAFTAR PUSTAKA
1. De Jong AL, Kuppersmith RB, Sulek M, et al. Vocal cord paralysis in infants
and children. Otolaryngol Clin North Am 2000;33:131Y149
2. Daya H, Hosni A, Bejar-Solar I, et al. Pediatric vocal fold paralysis: a long-
term retrospective study. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 2000;126:21Y25
3. Benjamin BN, Gray SD, Bailey CM. Neonatal vocal cord paralysis. Head
Neck 1993;15:169Y172
4. Ravilochan K, Seetharam W, Dinakar I. Vocal cord paralysis in neuraxial
malformation. Indian J Pediatr 1983;50:557Y559
5. de Gaudemar I, Roudaire M, Francois M, et al. Outcome of laryngeal paralysis
in neonates: a long term retrospective study of 113 cases. Int J Pediatr
Otorhinolaryngol 1996;34:101Y110
6. Gentile RD, Miller RH, Woodson GE. Vocal cord paralysis in children 1 year
of age and younger. Ann Otol Rhinol Laryngol 1986;95:622Y625
7. Linder A, Lindholm CE. Laryngologic management of infants with the Chiari
II syndrome. Int J Pediatr Otorhinolaryngol 1997;39:187Y197

8. Kista Laring
Kista laring dapat menyebabkan obstruksi jalan napas, suara serak, dan disfagia.
Kista Laring Kongenital di klasifikasikan menurut asal jaringan embriologinya :
1. Tipe I : Kista terbatas pada laring dan hanya terdiri dari unsur endodermal.
2. Tipe II : Kista dengan ekstensi ekstralaring :
a. Tipe IIa : Kista berasal dari elemen endodermal
b. Tipe Iib : Kista berasal dari elemen endodermal dan mesodermal
Klasifikasi lain membagi kista laring sebagai kista sakulus, kista valekula, kista
duktus, kista saluran tiroglosus, dan kista higroma.

Ø Kista Sakulus
Sakulus adalah kantong membran yang terletak di antara lipatan ventrikel , dan
juga di permukaan bagian dalam kartilago tiroid. Selaput lendir normal
permukaan sakulus memiliki kelenjar lendir untuk melumasi permukaan pita
suara. Obstruksi saluran sakulus menyebabkan kista di ventrikel dengan retensi
lendir.

i. Pemeriksaan
Endoskopi. Gold Standart adalah Endoskopi. Terlihat lesi kistik tebal berisi
cairan berlendir yang berasal dari plika ariepiglotik, atau dari ventrikel dan
menonjol ke lumen laring.
Aspirasi Jarum. Mungkin berguna untuk mendiagnosis lesi kistik, juga drainase
kista meskipun hanya berguna sebagai pengobatan sementara.
Pemeriksaan radiologi . dengan menggunakan CT-scan dapat memperlihatkan
adanya kista di laring.

43
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

ii. Penatalaksanaan
Marsupialisasi mungkin berguna untuk pengobatan kista sakular kecil. Namun,
dalam kasus berulang atau kista besar , diperlukan ekstirpasi kista secara
endoskopik, atau operasi terbuka.

Ø Kista Valekula
Kebanyakan pada neonatus dengan kista valekula didapati stridor dalam
beberapa minggu peratama setelah lahir. Gejala lain termasuk batuk, kesulitan
makan , episode sianosis dan gagal tumbuh.
Teori penyebab terjadinya kista valekula adalah akibat obstruksi kelenjar
mukosa yang terletak di dasar lidah. Sekresi mukosa dari kelenjar sekitar kista
menyebabkan kista bertambah besar.

i. Pemeriksaan
Endoskopi. Endoskopi merupakan pilihan untuk mendiagnosis kista valekula.
Pada evaluasi endoskopi didapatakan massa halus terlokalisasi dalam ruang
valekula.
CT-scan. Mungkin berguna dalam menunjukkan lokasi dan luasnya
kista. Radionuclide-scan tiroid. Membantu melokalisasi adanya
jaringan tiroid.
ii. Penatalaksanaan
Terapi sementara berupa aspirasi kista , tetapi kista dapat timbul kembali.
Terapidefinitis kista valekula adalah eksisi endoskopik atau marsupialisasi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Close,L.G., Larson, D.L., & Shah, J.P. (Ed).(1998). Essentials of head
andneck oncology. Stuttgart:Thieme.
2. Dhingra, P.L., & Dhingra S. (2007). Disease of ear, nose, and throat
andhead and neck surgery ( 7th ed ) . Phialdephia: Elseview.
3. Flint, P.W.(2015). Cummings otolaryngology: head and neck surgery.
Phialdephia: elsevier.
4. Lee,K.J.(2015). Essensial otolaryngology head dan neck surgery (
11thed). Boston:Mc Graw Hill.

9. Atresia Laring
i. Definisi
Atresia laring adalah obsruksi saluran nafas atas komplet yang terjadi ketika
laring gagal membuka selama perkembangan fetus intra uterus dan
meninggalkan sumbatan kartilago atau jaringan lain ketika lahir. Kondisi ini
disebut juga Congenital high airway obstruction syndrome (CHAOS).
Ada 3 tipe atresia laring; tipe I adalah atresia infra dan supraglotik, tipe II
adalah infraglotik, tipe II adalah glotik. Tipe I terjadi ketika kartilago aritenoid
44
Modul IV.15 – Kelainan Kongenital Laring

dan otot instriksi laring berfusi menutupi lumen trakea. Kartilago krikoid
berbentuk konus dan tidak adanya vestibulum. Tipe II terjadi ketika kartilago
krikoid berbentuk dome-shaped yang menutupi lumen. Aritenoid, vestibulum
dan plika vokalis normal. Tipe III terjadi ketika glottis tertutupi oleh membrane
anterior dari jaringan fibrosa dan otot, dan fusi aritenoid di posterior.
Vestibulum dan krikoid normal.
Kondisi ini sangat jarang dengan perbandingan laki-laki dan perempuan 1:1.
Dia sumsikan terjadi karena kelainan autosomal dominan. Sekitar setengah
kasus yang dilaporkan berkaitan dengan hydrocephalus, atresia esophagus,
fistula bronkoesofageal, fistula trakeoesofageal, hypoplasia ginjal, hidroureter,
atresia uretra, sindaktil dan beberapa kelainan kongenital lainnya.

ii. Diagnosis
Diagnosis menggunakan USG baik Doppler maupun tidak. Doppler digunakan
untuk memedakan aorta fetus dengan trakea. USG digunakan untuk
mendiagnosis berdasarkan tanda tidak langsung yang merupakan akibat dari
obstruksi jalan nafas total seperti paru membesar, fetal hidrop dan ascites,
polihidramnion. Kegagalan diagnosis dari atresia inkomplet bisa jadi karena
kurangnya distensi paru yang terjadi.
Kebanyakan bayi lahir dengan atresia laring komplet mengalami kematian
karena kondisi yang tidak disadari oleh petugas medis dan keterlambatan
pertolongan yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
a) Buyse ML: Birth Defects Encyclopedia. Center for Birth Defects Information
Service, Inc. Dover MA. Blackwell Scientific Publications, Cambridge, MA,
1990
b) Fox H, and Coker J: Laryngeal atresia. Arch Dis Child 39:641- 645, 1964.
c) Gatti WM, MacDonald E, Orfei E et al.: Congenital laryngeal
[Link] 97: 966-9, 1987
d) McElhinney DB, Jacobs IN, McDonald-McGinn DM, Zackai EH,
Goldmuntz E. Chromosomal and cardiovascular anomalies associated with
congenitallaryngeal web. Int J Pediatr Otorhinolaryngol. 2002 Oct 21;66(1):23-27
e) Watson WJ, Thorp JM, Miller RC et al: Prenatal diagnosis of laryngeal atresia.
AmJ Obstet Gynecol 163: 1456-7, 1990

45

Anda mungkin juga menyukai