MODEL RESEARCH AND DEVELOPMENT
DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
ABSTRAK
Selama ini, Pendidikan Agama Islam (PAI) sering menggunakan model, metode atau
strategi yang bersifat konvensional, terutama pada materi yang bersifat metafisik dan
transendental. Penelitian ini berupaya mengkaji model-model penelitian dan
pengembangan (research and development) pembelajaran PAI dalam beberapa aspeknya.
Penelitian pustaka ini menyimpulkan bahwa Research and Development (R&D ) dalam
pembelajaran PAI dapat dilakukan melalui penelitian untuk menghasilkan produk baru
atau menyempurnakan produk yang telah ada. Objek R&D dalam pembelajaran PAI
berupa: materi, metode, media, dan teknik evaluasi. R&D dapat membantu guru untuk
melakukan kreasi dan inovasi yang melahirkan produk yang terus menerus disempurnakan.
Tujuannya adalah menjamin kemudahan dan kenyamanan dalam mata pelajaran PAI.
Penulis perlu menegaskan bahwa R&D dalam pembelajaran PAI harus dipandang sebagai
peningkatan pendidikan (minimal di kelas atau lembaga pendidikan). Oleh sebab itu,
penulis merekomendasikan beberapa hal berikut: Pertama, mematangkan perencanaan
R&D; Kedua, lebih memperhatikan ketelitian, khususnya dalam analisis dan evaluasi;
Ketiga, peningkatan perhatian pada upaya pengembangan materi, metode, media, dan
teknik evaluasi yang lebih baik dalam proses pembelajaran.
Kata Kunci: Research and Development, Pendidikan Agama Islam, Inovasi Pembelajaran
ABSTRACT
So far, Islamic Religious Education (PAI) often uses conventional models, methods or
strategies, especially on metaphysical and transcendental materials. This study seeks to
examine research and development models of Islamic Education learning in several
aspects. This literature research concludes that Research and Development (R&D) in
Islamic Education learning can be carried out through research to produce new products
or improve existing products. R & D objects in PAI learning are: materials, methods,
media, and evaluation techniques. R&D can help teachers to create and innovate
products that are continuously refined. The goal is to ensure convenience and comfort in
Islamic Studies subjects. The author needs to emphasize that R&D in Islamic Education
learning must be seen as an improvement in education (at least in class or educational
institutions). Therefore, the authors recommend the following: First, finalizing R&D
planning; Second, pay more attention to accuracy, especially in analysis and evaluation;
Third, increasing attention to efforts to develop better materials, methods, media and
evaluation techniques in the learning process.
Keywords: Research and Development, Islamic Religious Education, Learning Innovation
A. Pendahuluan
Penelitian dan pengembangan atau Research and Development (R&D) menjadi
suatu metode penelitian yang cukup popular dan banyak dipilih sebagai metode
penelitian dalam berbagai kajian, termasuk dalam dunia pendidikan. Akan tetapi,
dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) penelitian pengembangan masih
relatif baru. Pengembangan dapat berarti penerapan pengetahuan yang terorganisasi
untuk membantu menyelesaikan masalah yang ada termasuk dalam pembelajaran PAI.
Dalam aktifitas penelitian Pendidikan Islam, posisi al-Quran sebagai wahyu Allah SWT.
Hadis Nabi Muhammad sebagai penjelas serta petunjuk operasionalnya sangat penting
sekali.1 Dalam konteks penelitian dan pengembangan dalam materi PAI dapat dibidik
dari sistem pembelajaran yang diberikan di kelas.
Penelitian merupakan kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis dan
penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan
masalah atau ingin menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip
umum, sedangkan pengembangan adalah proses atau cara yang dilakukan untuk
mengembangkan sesuatu menjadi baik atau sempurna. Jadi, penelitian dan
pengembangan (riset and development) yang biasa disingkat R&D merupakan jenis
penelitian yang spesifik untuk menghasilkan produk tertentu dan menguji
efektifitasnya di masyarakat.2
Penelitian dan pengembangan dikatakan sebagai salah satu puncak
pendayagunaan metodologi keilmuan bagi kepentingan dan rekayasa untuk mencapai
kemajuan hidup manusia, seperti; melakukan inovasi aneka produk teknologi
pembelajaran yang selalu berkembang dan dinamis. Begitu juga dalam mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam yang merupakan masuk dalam rumpun mata pelajaran
Pendidikan Agama Islam. Dipandang perlu melakukan pengembangan, terutama dalam
pengembangan bahan ajar, metode maupun media pembelajarannya. Jika penelitian
dan pengembangan bertujuan menghasilkan produk, maka jelas bahwa objek yang
diteliti mulai dari awal sampai akhir adalah produknya tersebut, akan tetapi jika
dilakukan uji coba dalam kelas yang terdapat beberapa siswa, maka subjek
penelitiannya adalah siswa. Sehingga dalam mengambil kesimpulan nantinya lebih
fokus kepada objek yang dikembangkan (objek penelitian).3
Akan tetapi selama ini, penelitian dan pengembangan yang dilakukan dalam
mata pelajaran PAI lebih kepada pengembangan produk media pembelajaran, itupun
masih jarang sekali. Persoalannya adalah kebanyakan guru mata pelajaran PAI masih
bertahan dengan metode konservatif dan sulit untuk mengintegrasikan mata pelajaran
PAI dengan realitas sosial atau ekonomi, bahkan sains dan teknologi. Sehingga sangat
sulit untuk melakukan pengembangan, diperlukan peneliti yang memang concern
1
Imam Bawani, Metodologi Penelitian Pendidikan Islam (Sidoarjo: Khazanah Ilmu, 2016), 175.
2
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2010), 297.
3
Louis Legrand, “Educational Research and Development”, Western European Education, Vol. 1, No. 4
(1969): 42-54.
dalam melakukan penelitian dan pengembangan untuk bidang studi PAI. Kebanyakan
masih lebih kepada pengembangan mata pelajaran PAI sebagaimana yang dilakukan
oleh Lukman Hakim yang mengembangkan media pembelajaran 3D untuk mata
pelajaran PAI4 dan model pembelajaran PAI berbasis multikultural yang dilakukan oleh
Harto.5 Masih belum banyak ditemui penelitian yang fokus mengembangkan
kemampuan atau kompetensi guru khususnya dalam mata pelaran PAI dengan
menjabarkan 4 aspek: Akidah Akhlak, Qur’an Hadis, Fiqih dan Sejarah Kebudayaan
Islam.
Oleh sebab itu, penulis menyusun artikel yang mengkaji tentang penelitian dan
pengembangan dalam mata pelajaran PAI. Dalam artikel ini penulis menjelaskan dan
mendeskripsikan secara detail penelitian dan pengembangan dalam mata pelajaran PAI
dan signifikansinya dalam pembelajaran PAI di kelas.
B. Urgensi Research and Development dalam Pembelajaran PAI
Penelitian dan pengembangan merupakan metode penelitian yang digunakan
untuk menghasilkan produk tertentu, dan menguji efektifitas produk tersebut. Untuk
menghasilkan produk tertentu perlu digunakan penelitian yang bersifat analisis
kebutuhan yang bisa dilakukan dengan metode survey (kuantitatif) atau observasi dan
wawancara (penelitian kualitatif), sedangkan untuk menguji efektifitas produk bisa
menggunakan metode eksperimen.6 Lebih lanjut Borg and Gall, 7 menyatakan bahwa
untuk penelitian analisis kebutuhan agar mampu menghasilkan produk yang bersifat
hipotetik dapt mengunakan metode penelitian dasar (basic research).
Selanjutnya untuk menguji produk yang masih bersifat hipotetik tersebut,
digunakan eksperimen atau action research. Setelah produk teruji, maka dapat
diaplikasikan. Proses pengujian produk dengan eksperimen tersebut dinamakan
penelitian terapan (applied research). Penelitian dan pengembangan bertujuan untuk
menemukan, mengembangkan dan memvalidasi suatu produk. Penelitian dan
pengembangan (R&D) digunakan untuk menghasilkan sebuah produk dan menguji
efektivas produk tersebut. Dalam proses pengembangan suatu media pembelajaran,
diperlukan suatu persiapan dan konsep.8
4
Lukman Hakim, ‘Pengembangan Media Pembelajaran PAI Berbasis Augmented Reality’, Lentera
Pendidikan: Jurnal Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan 21, no. 1 (2018): 59–72.
5
Kasinyo Harto, ‘Model Pengembangan Pendidikan Agama Islam Berbasis Multikultural’, Al-Tahrir: Jurnal
Pemikiran Islam 14, no. 2 (2014): 407–426.
6
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D .
7
Lihat, Borg.W.R and Gall, M.D, Educational Research: An Introduction (New York: Longman, 1983).
8
Ibid.
Jadi penelitian dan pengembangan bersifat longitudinal (bertahap bisa multy
years). Penelitian Hibah Bersaing (didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi),
adalah penelitian yang menghasilkan produk, sehingga metode yang digunakan adalah
metode penelitian dan pengembangan. Produk yang ditemukan bisa berupa model,
pola, prosedur, sistem. Dalam bidang pendidikan, produk-produk yang dihasilkan
melalui R&D diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pendidikan, yaitu lulusan
yang jumlahnya banyak, berkualitas, dan relevan dengan kebutuhan. R&D berfungsi
mendapatkan gambaran aktual tentang kenyataan, mengukur apa yang sedang
dilakukan di sekolah, mengukur hasil dari berbagai metode dan teknik pendidikan yang
ada. Tahap selanjutnya, gambaran tersebut kemudian dikembangkan dengan
mendesain, validasi, revisi, uji coba sebuah produk.9
Produk-produk pendidikan yang dihasilkan dapat berupa kurikulum yang spesifik
untuk keperluan pendidikan tertentu, metode mengajar, media pendidikan, buku ajar,
modul, kompetensi tenaga kependidikan, sistem evaluasi, model uji kompetensi,
penataan ruang kelas untuk model pembelajar tertentu, model unit produksi, model
manajemen, sistem pembinaan pegawai, sistem penggajian dan lain-lain. 10
Sukmadinata11, mengemukakan penelitian dan pengembangan merupakan pendekatan
penelitian untuk menghasilkan produk baru atau menyempurnakan produk yang telah
ada. Produk yang dihasilkan bisa berbentuk software, ataupun hardware seperti buku,
modul, paket, program pembelajaran ataupun alat bantu belajar. Penelitian dan
pengembangan berbeda dengan penelitian biasa yang hanya menghasilkan saran-saran
bagi perbaikan, penelitian dan pengembangan menghasilkan produk yang langsung bisa
digunakan.
Dalam pandangan Imam Bawani, Research and Development (R&D) inilah yang
akan membantu kita untuk melakukan kreasi dan inovasi yang melahirkan produk yang
terus menerus disempurnakan. Tujuannya adalah menjamin kemudahan dan
kenyamanan dalam bidang pendidikan Islam aspek akidah akhlak.12 Lebih lanjut, Bright
& Gideonse, mendeskripsikan bahwa R&D dapat memfasilitasi penelitian yang
sistematis, pengembangan tujuan instruksional, strategi, materi ajar dan proses
pembelajaran. Selanjutnya, R&D memudahkan implementasi strategi dan penggunaan
9
Legrand, “Educational Research and Development”.
10
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D ., 412.
11
Sukmadinata and Nana Syaodih, Metode Penelitian Pendidikan. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008).
12
Bawani, Metodologi Penelitian Pendidikan Islam, 144-145.
bahan-bahan itu dalam pengaturan instruksional. 13 Hal ini akan bermanfaat bagi
pembelajaran PAI, terutama dalam hal pemahaman siswa terkait PAI akan lebih
kontekstual.
C. Model-model Research and Development dalam Pembelajaran PAI
1. Research and Development Aspek Akidah Akhlak
R&Ddalam pembelajaran akidah akhlak memberikan informasi kepada guru
pendidikan agama Islam (PAI) untuk menghadapi dinamika pendidikan.
Pembelajaran akidah akhlak tidak hanya membahas doktrin agama secara klasikal.
Pembelajaran akidah akhlak harus lebih inklusif, dinamis dan berkembang. Untuk
itu, Research and Development (R&D) adalah instrumen penting.
a. Langkah-langkah R&D dalam Pendidikan Islam
Agar pembahasan Research and Development (R&D) dalam Pendidikan
Islam lebih lengkap, maka penulis uraikan langkah-langkahnya. Merujuk Imam
Bawani, langkah-langkah R&D dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1)
Pencermatan potensi; 2) Pengumpulan data; 3) Mendesain produk; 4) Validasi; 5)
Revisi I; 6) Uji Coba; 7) Revisi II; 8) Uji coba pemakaian; 9) Penggandaan
produk.14 Langkah-langkah tersebut dapat digambarkan melalui bagan berikut:
Gambar 1. Langkah-langkah R&D Pembelajaran Akidah Akhlak 1
Pencermatan Potensi
Masalah Pengumpulan Data Analisis
Desain Produk
Validasi
Revisi
Uji Coba
Revisi Uji Pemakaian
Penggandaan Produk
Produk akhir pengembangan pembelajaran akidah akhlak
13
R. Louis Bright & Hendrik D. Gideonse, “Research and Development Strategies; The Current Scene”, The
Journal of Experimental Education, Vol. 37, No.1 (2015).
14
Bawani, Metodologi Penelitian Pendidikan Islam, 146-149.
Rangkaian langkah-langkah tersebut merupakan gabungan antara
penelitian ilmiah dan pengembangan produk. Dengan kata lain, penelitian ilmiah
merupakan landasan pengembangan sebuah produk. Dan, produk yang dihasilkan
diharapkan dapat bermanfaat dan sangat dibutuhkan oleh guru, siswa, dan
lembaga pendidikan Islam, serta masyarakat secara umum.
Sementara Borg dan Gall, menguraikan langkah-langkah R&D berikut ini:15
1) Penelitian dan pengumpulan data, yang meliputi: pengukuran kebutuhan,
studi literatur, penelitian dalam skala kecil, dan pertimbangan-pertimbangan
dari segi nilai; 2) Perencanaan, yang meliputi penyusunan rencana penelitian,
meliputi kemampuan-kemampuan yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian,
rumusan tujuan yang hendak dicapai dengan penelitian tersebut, desain atau
langkah-langkah penelitian, kemungkinan pengujian dalam lingkup terbatas; 3)
Pengembangan draf produk, yang meliputi: pengembangan bahan pembelajaran,
proses pembelajaran dan instrumen evaluasi; 4) Uji coba lapangan awal, yang
meliputi: uji coba di lapangan pada 1 sampai 3 sekolah dengan 6 sampai dengan
12 subjek uji coba (guru). Selama uji coba, diadakan pengamatan, wawancara
dan pengedaran angket; 5) Merevisi hasil uji coba, yang meliputi: memperbaiki
atau menyempurnakan hasil uji coba; 6) Uji coba lapangan, dengan cara
melakukan uji coba yang lebih luas pada 5 sampai 15 sekolah dengan 30 sampai
dengan 100 orang subjek uji coba. Data kuantitatif penampilan guru, sebelum
dan sesudah menggunakan model yang dicobakan, dikumpulkan. Hasil-hasil
pengumpulan data dievaluasi dan kalau mungkin dibandingkan dengan kelompok
pembanding; 7) Penyempurnaan produk hasil uji lapangan, dengan cara
menyempurnakan produk hasil uji lapangan; 8) Uji pelaksanaan lapangan, yang
dilaksanakan pada 10 sampai dengan 30 sekolah melibatkan 40 sampai dengan
200 subjek. Pengujian dilakukan melalui angket, wawancara, observasi dan
analisa hasilnya; 9) Penyempurnaan produk akhir. Penyempurnaan berdasarkan
masukan dari uji pelaksanaan lapangan; 10) Diseminasi dan implementasi.16
15
Borg & Gall, Educational Research: An Introduction, 775.
16
Diseminasi dan implementasi dilakukan dengan menyampaikan hasil pengembangan kepada para
pengguna dan profesional melalui forum pertemuan, publikasi dalam sebuah jurnal, atau
Melaporkan hasilnya dalam pertemuan profesional dan dalam jurnal.
Bekerjasama dengan penerbit untuk penerbitan. Memonitor penyebaran untuk
pengontrolan kualitas.
Beberapa langkah di atas dapat dilihat melalui bagan di bawah ini:
Gambar 2. Langkah-langkah R&D Pendidikan Islam 2
Studi Pendahuluan
Analisis Kebutuhan Studi Literatur Riset skala kecil
Desain Produk
Pengumpulan Bahan
Pengembangan Produk
Validasi
Uji Ahli Materi dan Media Uji Lapangan
Revisi Produk
Produk akhir pengembangan pembelajaran akidah akhlak
Langkah-langkah tersebut harus diimplementasikan secara sistematis,
agar proses pembelajaran Pendidikan Islam berjalan sesuai tujuan yang
diinginkan. Harus ditegaskan, langkah-langkah tersebut perlu dilakukan secara
berkelanjutan melalui inovasi dan perubahan yang didasarkan pada kebutuhan.
Beberapa langkah di atas juga membutuhkan perhatian yang cermat dari guru
Pendidikan Islam, agar penerapannya kontekstual.
b. Aspek Research and Development (R&D) Pendidikan Islam
Diskusi tentang aspek penelitian dan pengembangan dalam pembelajaran
Pendidikan Islam adalah upaya penulis untuk memperjelas lingkup yang akan
diteliti dan dikembangkan di lembaga-lembaga pendidikan. Dengan alasan ini,
penulis
mendokumentasikan dalam bentuk buku. Baca, Zainal Arifin, Metode Penelitian dan Pengembangan
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011).
percaya akan sangat membantu untuk menetapkan bagaimana mendesain dan
mengimplementasi proses penelitian dan pengembangan. Di sisi lain, hal ini
untuk mengklarifikasi konsep dan interpretasi penulis.
Aspek yang akan diuraikan adalah bahan ajar Pendidikan Islam. Aspek-
tersebut merupakan kerangka kerja untuk menentukan arah penelitian dan
pengembangan (R & D) dalam pembelajaran Pendidikan Islam. Meskipun aspek
yang akan diuraikan ternyata bermanfaat, ini bukan satu-satunya cara
mengkonseptualisasikan penelitian dan pengembangan dalam pembelajaran
akidah akhlak di sekolah. Untuk itu, Terry Hore berargumen bahwa peran unit
pengembangan akademik dalam melakukan penelitian dan pengembangan akan
lebih memperkuat proses dan hasil R&D.17
Penelitian dan pengembangan tidak dapat dilakukan kecuali dengan
langkah/prosedur yang benar. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah
menentukan tujuan pengembangan itu sendiri. 18 Jika untuk pembelajaran, maka
ada kaidah-kaidah yang harus diikuti, misalnya, kurikulum dan tujuan
pembelajaran dari masing-masing mata pelajaran. 19 Pengembangan bahan ajar
Pendidikan Islam perlu dilakukan berdasarkan suatu proses yang sistematik,
untuk menjamin tingkat kesahihan dan keterpercayaannya. Merujuk pendapat
Imam Bawani dan Borg & Gall, penulis menguraikan 5 tahap prosedural dalam
pengembangan bahan ajar yang baik, yaitu: analisis, perencanaan,
pengembangan, evaluasi, dan revisi. Beberapa tahapan tersebut dapat
digambarkan sebagai berikut:
17
Lihat, Terry Hore, “Future Strategies for Research and Development”, Higher Education Research and
Development, Vol 3, No 2, (1984).
18
Institute of Education Sciences (ED); U.S. Department of Education and National Science Foundation, “
Common Guidelines for Education Research and Development”, (August 2013).
19
Sebelum melakukan R&D dalam pembelajaran akidah akhlak, setiap pengembang dituntut terlebih
dahulu memahami dan memperhatikan beberapa hal, antara lain pengertian empat kata kunci berikut:
Pertama, pembelajaran, adalah proses penyusunan informasi dan penataan lingkungan untuk menunjang
proses penemuan ilmu pengetahuan. Lingkungan di sini bukan hanya tempat belajar, tetapi juga
metode, media, dan peralatan lain yang dibutuhkan untuk menyampaikan informasi dan membimbing
siswa belajar. Kedua, Proses pembelajaran mencakup di dalamnya proses pemilihan, penataan, dan
penyampaian informasi dalam lingkungan yang sesuai serta cara siswa berinteraksi dengan sumber
informasi. Dalam suatu kegiatan pembelajaran, selalu ada pesan yang dikomunikasikan. Pesan ini dapat
berupa uraian topik-topik tertentu, arahan guru, daftar pertanyaan, umpan balik, atau informasi-
informasi lain yang diperlukan. Ketiga, Metode pembelajaran adalah seperangkat cara yang digunakan
dalam proses pembelajaran, dan dimaksudkan sebagai upaya pencapaian tujuan pembejaran secara
efektif dan efisien. Keempat, Media pembelajaran adalah seperangkat alat bantu yang mendukung
terciptanya lingkungan pembelajaran yang menyenangkan, efektif, dan efisien.
Gambar 3. Langkah Prosedural dalam Pengembangan Materi Pendidikan Islam
ANALISIS
PERANCANGAN
PENGEMBANGAN
EVALUASI
REVISI
Substansi kelima langkah tersebut, secara ringkas dapat dijelaskan
sebagai berikut: 1) Tahap analisis, merupakan tahap mencari informasi mengenai
perilaku dan karakteristik awal yang dimiliki siswa; 2) Tahap perancangan, yaitu
tahap perumusan tujuan pembelajaran berdasarkan hasil analisis, pemilihan
topik mata pelajaran, pemilihan media dan sumber, serta pemilihan strategi
pembelajaran; 3) Tahap pengembangan, adalah tahap penulisan bahan ajar
secara utuh sesuai kebutuhan; 4) Tahap evaluasi, adalah tahap pengumpulan
informasi mengenai kinerja bahan ajar yang telah dikembangkan, sebagai
masukan penyempurnaannya. Tahap ini dilakukan melalui empat cara, yaitu:
Telaah ahli materi, uji coba satu-satu, uji coba kelompok kecil, dan uji coba
lapangan; 5) Tahap revisi, adalah tahap perbaikan dan penyempurnaan bahan
ajar berdasarkan masukan yang diperoleh pada tahap evaluasi.
Penting ditekankan, dari kelima tahap di atas, tahap yang paling krusial
adalah tahap kedua dan ketiga; tahap perancangan dan pengembangan. Pada
tahap perancangan, bahan ajar didesain sedemikian rupa agar menghasilkan
bahan ajar yang berkualitas. Selanjutnya, berdasarkan rancangan yang telah
didesain, dikembangkan lebih lanjut pada tahap ketiga (tahap pengembangan):
1) Tahap Analisis
Pada tahap ini, karakteristik dan kebutuhan siswa merupakan fokus
utama yang perlu mendapat perhatian. Karakteristik dan kebutuhan siswa
perlu diidentifikasi untuk menentukan jenis dan substansi bahan ajar akidah
akhlak yang dikembangkan.
2) Tahap Perancangan
Pada tahap ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan dan
diperhatikan, yaitu: perumusan tujuan pembelajaran, pemilihan topik mata
pelajaran, pemilihan media dan sumber, serta pemilihan strategi
pembelajaran.20 Langkah penting perancangan adalah pemilihan strategi
pembelajaran. Pemilihan strategi pembelajaran menyangkut dua hal
penting, yaitu: Pertama, urutan penyajian. Penentuan urutan penyajian,
berarti pengaturan urutan tema, konsep, teori, prinsip atau prosedur utama
(chierf teaching points) yang harus disajikan.21 Penentuan urutan urutan
tentunya tidak sulit dilakukan, jika sebelumnya telah dibuat peta konsep
ketika menentapkan topik pelajaran.
Kedua, aktivitas pembelajaran. Aktivitas pembelajaran akidah akhlak
yang bermakna adalah aktivitas pembelajaran yang berfokus pada siswa
(student-learning centered). Dalam aktivitas pembelajaran bermakna, siswa
dituntut belajar lebih aktif.22 Mereka harus melakukan banyak hal, seperti
mengerjakan latihan, tugas, dan beragam aktivitas yang dapat membentuk
pengalaman belajarnya. Selain itu, agar pembelajaran menjadi menarik dan
tidak membosankan, selain didukung oleh keragaman bentuk aktivitas
pembelajaran, juga perlu ada umpan balik yang diberikan oleh guru atau
siswa. Bentuk aktivitas yang beragam dapat mempermudah siswa belajar,
karena suasana pembelajaran menjadi kondusif, menarik, dan tidak
membosankan. Sementara itu, umpan balik sangat diperlukan karena
memungkinkan siswa melakukan konfirmasi atau mengukur pengetahuan dan
keterampilan yang sudah dipelajarinya.
3) Tahap Pengembangan
Setelah tahap perancangan tersebut di atas, tahap paling penting
lainnya adalah melakukan pengembangan bahan ajar akidah akhlak. Tahap
pengembangan ini merupakan inti (core) dari tahap-tahap lainnya. Tahap
sebelumnya merupakan prasyarat, sementara tahap berikutnya adalah tahap
20
Dian Belawaty, Pengembangan Bahan Ajar (Jakarta: TP, 2003), 18-23.
21
Penyajian tidak harus selalu didahulukan, sebab dalam proses pembelajaran, latihan/tugas dapat pula
dilakukan terlebih dahulu oleh siswa sebelum penyajian dan contoh diberikan; atau contoh diberikan
terlebih dahulu sebelum penyajian dan latihan atau tugas. Dengan demikian, urutan pembelajaran dapat
menjadi PLC (penyajian, latihan, contoh), LPC (latihan, penyajian, cotoh), atau CPL (contoh, penyajian,
latihan).
22
Bentuk aktivitas pembelajaran terkait erat dengan tujuan pembelajaran dan topik/materi pelajaran
akidah akhlak yang disampaikan. Apabila materi yang disajikan adalah materi baru, adalah wajar jika
aktivitas belajar dimulai dengan penyajian informasi. Penyajian informasi dapat dilakukan melalui
beragam cara, selain berbentuk teks deskriptif yang harus dibaca siswa, juga dapat berbentuk
permainan, peragaan model, pemutaran video, dan bentuk lain yang variatif. Sementara itu, jika materi
merupakan lanjutan dari yang sudah pernah dibahas sebelumnya, maka aktivitas pendalaman dalam
bentuk diskusi kelompok atau penggunaan modul dan LKS (lembar kerja siswa) merupakan alternatif.
Tujuan utama dari aktivitas lanjutan ini adalah memantapkan kemampuan siswa dalam penguasaan
materi.
finalisasi. Jadi semua tahap itu memiliki signifikansi dan urgensinya masing-
masing. Karena merupakan kegiatan inti, pada tahap pengembangan
diperlukan kerja keras dan perhatian lebih. Kerja keras dan perhatian lebih
itu diharapkan dapat menghasilkan produk pengembangan yang optimal,
menarik, efisien dan efektif.23
Selain kerja keras dan perhatian lebih, ada beberapa saran yang
dapat membantu dalam melakukan pengembangan bahan ajar, di antaranya:
Pertama, penulisan bahan ajar dapat dilakukan dalam bentuk modul, lembar
kerja siswa (LKS), bagian dari buku pelajaran, atau panduan praktek. Kedua,
memulai penulisannya tidak harus secara berurutan, dari bab 1 atau topik 1,
tetapi dapat dimulai dari bagian mana saja yang dapat dilakukan. Ketiga,
ketika menulis dan mengembangkan bahan ajar, bayangkan seolah-olah
sedang mengajar siswa tertentu yang paling dikenal, dan berikan karya
terbaik kepadanya dia memperoleh pengalaman belajar yang menarik,
bermanfaat, dan efektif. Keempat, hendaknya disadari bahwa bahan ajar
yang sedang dikembangkan harus dapat memberikan pengalaman belajar
kepada siswa, bukan bahan ajar yang justru membebaninya tanpa makna,
apalagi kemudian membuatnya berhenti belajar karena frustasi. Kelima,
sebagaimana keragaman media, sumber belajar, aktivitas, dan umpan balik,
keragaman contoh, alat bantu belajar, ilustrasi, serta pengemasan bahan
ajar merupakan komponen penting untuk memperoleh bahan ajar yang
manarik, bermanfaat, dan efektif. Keenam, gaya penulisan pada bagian
teks, narasi, eksplanasi, deskripsi, argumentasi, atau ketika memberi
perintah, memiliki pengaruh penting dalam membantu siswa memahami
bahan ajar dengan baik.
Dengan mengikuti beberapa tahap di atas, belum tentu merupakan
jaminan untuk menghasilkan sebuah produk bahan ajar akidah akhlak yang
baik. Namun demikian, bagaimana pun kualitas bahan ajar yang dapat
dihasilkan, hal tersebut merupakan sebuah prestasi. Bahan ajar yang
berkualitas, tidak dapat dihasilkan seorang diri, melainkan dengan
23
Matt Walker, Insights into the Role of Research and Development in Teaching Schools (Slough: NFER,
2017).
melakukan kolaborasi baik dengan sesama guru PAI, waka kurikulum ataupun
lembaga secara umum.24
4) Tahap Evaluasi
Pada tahap ini, produk pengembangan dievaluasi dalam konteks
perbaikan kualitas produk. Evaluasi dilakukan melalui proses uji coba.
Masukan-masukan yang diperoleh pada tahap ini, selanjutnya akan digunakan
untuk perbaikan produk. Evaluasi dimaksudkan untuk memperoleh beragam
reaksi dari berbagai pihak. Reaksi yang diberikan pihak lain merupakan
masukan berharga untuk memperbaiki bahan ajar akidah akhlak yang
didesain. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, ada empat tahapan
yang harus dilalui dalam mengevaluasi bahan ajar, yaitu: 1) telaah ahli
materi, 1) uji coba satu-satu, 3) uji kelompok kecil, dan 4) uji lapangan.
5) Revisi
Masukan pada tahap evaluasi diakomodasi sedemikian rupa, untuk
kemudian diintegrasikan dalam proses perbaikan bahan ajar. Dalam hal ini,
revisi materi akidah akhlak boleh jadi berbentuk : 1) menghilangkan bagian
tertentu, 2) memperluas penjelasan atas suatu topik, 3) memilih yang lebih
mudah, 4) merubah gaya bahasa, 5) memperbaiki kalimat, 6) menambah
latihan, contoh, analogi, ilustrasi, contoh kasus, atau 7) menambah
penggunaan media lain yang dianggap dapat memperjelas dan membantu
siswa dalam proses belajarnya.
Dilihat pada skala yang lebih besar, akan muncul banyak pertanyaan
terkait dengan langkah dan aspek penelitian pengembangan (R&D) dalam
pembelajaran akidah akhlak. Validitas dan kebermanfaatan dari R&D dalam
pembelajaran akidah akhlak tergantung pada faktor-faktor yang lebih erat
terkait dengan dinamika yang terjadi dibandingkan dengan penelitian dan
pengembangan itu sendiri. Dinamika – baik dalam hal kebijakan, kurikulum,
teknologi, informasi atau administrasi – adalah kondisi yang memperngaruhi
desain dan implementasi produk R&D di sebuah lembaga pendidikan. Oleh sebab
itu, ini merupakan faktor yang sangat esensial dalam kegiatan penelitian dan
pengembangan, utamanya akidah akhlak.
24
Rebekah A. West Keur, “ Teacher Expertise: Informing Research and Development in Gifted Education”,
Gifted Child Today, Vol. 42, No. 2 (April 2019).