Penerapan K3 untuk Keselamatan Kerja
Penerapan K3 untuk Keselamatan Kerja
LANDASAN TEORI
II-2
atur sanksi administratif atas pelanggaran ketentuan ini, Undang-undang
ini meliputi:
a. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga
kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.
b. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna
menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan
sendiri maupun untuk masyarakat.
c. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah
atau imbalan dalam bentuk lain.
d. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau
badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan
membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.
3. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970
UU Keselamatan kerja yang di gunakan untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja, menjamin suatu proses produksi berjalan teratur dan
sesuai rencana, dan mengatur agar proses produksi tidak merugikan semua
pihak, setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan keselamatan
dalam melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan dan meningkatkan
produksi serta produktivitas nasional, undang-undang ini meletakan dasar-
dasar pelaksanaan kesehatan kerja, seperti yang tercantum dalam pasal 3
dan pasal 8 dalam pasal 3 di atur tentang:
a. Pemberian pertolongan pada kecelakaan mencegah dan mengendalikan
timbulnya penyakit akibat kerja.
b. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban serta memperoleh
keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses
kerja, sedangkan pasal 8 diatur tentang kewajiban pemberi kerja untuk
memeriksakan kesehatan pekerja yang akan di terima maupun akan di
pindahkan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
UU Keselamatan Kerja yang berlaku di Indonesia sekarang adalah UU
Keselamatan Kerja (UUKK) No.1 tahun 1970. Undang-undang ini merupakan
Undang-undang pokok yang memuat aturan dasar atau ketentuan-ketentuan umum
II-3
tentang keselamatan kerja di segala macam tempat kerja yang berada di wilayah
kekuasan hukum NKRI.
II-4
2.5 Tujuan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Berbagai sistem manajemen K3 tersebut dapat digolongkan sebagai
berikut (Ramli, 2014) :
1. Sebagai Alat Ukur Kinerja K3 Dalam Organisasi
Sistem manajemen K3 digunakan untuk menilai dan mengukur kinerja
penerapan K3 dalam organisasi. Dengan membandingkan pencapaian K3
organisasi dengan persyaratan tersebut, organisasi dapat mengetahui
tingkat pencapaian K3. Pengukuran ini dilakukan melalui audit sistem
manajemen K3.
2. Sebagai Pedoman Implementasi K3 Dalam Organisasi
Sistem manajemen K3 dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan
dalam mengembangkan sistem manajemen K3.
3. Sebagai Dasar Penghargaan (Awards)
Sistem manajemen K3 juga digunakan sebagai dasar untuk pemberian
penghargaan K3 atas pencapaian kinerja K3, penghargaan K3 diberikan
baik oleh instansi pemerintah maupun lembaga independen lainya.
Penghargan K3 diberikan atas pencapaian kinerja K3 sesuai dengan tolok
ukur masing-masing.
4. Sebagai Sertifikasi
Sistem manajemen K3 juga dapat digunakan untuk sertikasi penerapan
manajemen K3 dalam organisasi. Sertifikasi diberikan oleh lembaga
sertikasi yang telah diakreditasi oleh suatu badan akreditasi.
II-5
5. Kematian.
Bagian mesin, pesawat, alat kerja, bahan, proses, tempat dan lingkungan
kerja mungkin rusak akibat kecelakaan. Akibatnya terjadilah kekacauan organisasi
dalam proses produksi. Orang yang ditimpa kecelakaan mengeluh dan menderita,
sedangkan keluarga dan kawan-kawan sekerja akan bersedih hati. Kecelakaan
tidak jarang berakibat luka-luka, terjadinya kelainan tubuh dan cacat, bahkan tidak
jarang kecelakaan merenggut nyawa dan mengakibatkan kematian (Hudori, 2003).
Kerugian-kerugian tersebut dapat diukur dengan besarnya biaya yang
dikeluarkan bagi terjadinya kecelakaan. Biaya tersebut menjadi biaya langsung
dan biaya tersembunyi. Biaya langsung adalah biaya pemberian pertolongan
pertama pada kecelakaan, pengobatan dan perawatan, biaya rumah sakit, biaya
angkutan, upah selama tidak mampu bekerja, kompensasi cacat, dan biaya
perbaikan alat-alat mesin serta biaya atas kerusakan bahan-bahan. Biaya
tersembunyi meliputi segala sesuatu yang tidak terlihat pada waktu atau beberapa
waktu setelah kecelakaan terjadi. Biaya ini mencakup berhentinya proses produksi
oleh karena pekerja-pekerja lainnya menolong atau tertarik oleh peristiwa
kecelakaan itu, biaya yang harus di perhitungkan untuk mengganti orang yang
sedang menderita oleh karena kecelakaan, dengan orang baru yang belum biasa
bekerja di tempat itu, dan lain-lainnya lagi.
Berdasarkan penelitian di negara-negara yang industrinya maju,
perbandingan antara biaya langsung dengan biaya tersembunyi adalah satu
banding dua. Kecelakaan-kecelakaan besar dengan kerugian-kerugian besar
biasanya dilaporkan, sedangkan kecelakaan-kecelakaan kecil tidak dilaporkan.
Padahal biasanya peristiwa kecelakaan-kecelakaan kecil adalah sepuluh kali
peristiwa kecelakaan besar. Oleh karena itu, kecelakaan-kecelakaan kecil
menyebabkan kerugian besar pula, manakala dijumlahkan secara keseluruhan
(Zulyanti, 2013).
II-6
1. Peraturan perundang-undangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang
diwajibkan mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya, perencanaan,
konstruksi, perawatan dan pemeliharaan, pengizinan, dan cara peralatan
industri, tugas-tugas pengusaha dan buruh, latihan, supervisi medis, PPPK,
dan pemeriksaan kesehatan.
2. Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah resmi atau
tidak resmi mengenai misalnya konstruksi yang memenuhi syarat-syarat
keselamatan, jenis-jenis peralatan industri tertentu, praktek-praktek
keselamatan, dan higiene umum, atau alat-alat perlindungan diri.
3. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan tentang
perundang-undangan yang diwajibkan.
4. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek fisiologis
dan patologis, faktor-faktor lingkungan dan teknologis dan keadaan-
keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan.
5. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang
menyebabkan terjadinya kecelakaan.
6. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang
terjadi, jumlahnya, mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa, dan apa
sebab-sebabnya.
7. Pendidikan, yang menyangkut pendidikan keselamatan kerja dalam
kurikulum teknik, sekolah perniagaan, atau kursus-kursus pertukangan.
8. Latihan-latihan, yaitu latihan keselamatan kerja bagi tenaga kerja,
khususnya bagi tenaga kerja yang baru.
9. Penggairahan, yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan
lain untuk menimbulkan sikap lain untuk selamat.
10. Asuransi, yaitu insentif finansial untuk meningkatkan pencegahan
kecelakaan misalnya, dalam bentuk pengurangan premi yang dibaar oleh
perusahaan, jika tindakan keselamatan sangat baik.
11. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan, yang merupakan ukuran
utama efektif tidaknya penerapan keselamatan kerja. Jelaslah bahwa untuk
pencegahan kecelakaan akibat kerja diperlukan kerjasama aneka keahlian
II-7
dan profesi seperti pembuat undang-undang, pegawai pemerintah, ahli-ahli
teknik, dokter, ahli ilmu jiwa, ahli statistik, guru-guru dan sudah tentu
pengusaha dan buruh.
II-8
4. Sepatu Pelindung (Safety Shoes), berfungsi untuk mencegah kecelakaan
fatal yang menimpa kaki karena tertimpa benda tajam atau berat, benda
panas, cairan kimia, dan sebagainya.
5. Sarung Tangan, berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja
di tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan.
6. Tali Pengaman (Safety Harness), berfungsi sebagai pengaman saat bekerja
di ketinggian.
7. Penutup Telinga (Ear Plug/ Ear Muff), berfungsi sebagai pelindung telinga
pada saat bekerja di tempat yang bising. Jenis-jenis alat pelindung telinga
terdiri dari sumbat telinga (ear plug) dan penutup telinga (earmuff).
8. Kacamata Pengaman (Safety Glasses), berfungsi sebagai pelindung mata
ketika bekerja (misal mengelas).
9. Masker (Respirator), berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat
bekerja di tempat dengan kualitas udara yang buruk (misal berdebu,
beracun, berasap, dan sebagainya).
10. Pelindung Wajah (Face Shield), berfungsi sebagai pelindung wajah dari
percikan benda asing saat bekerja (misal pekerjaan menggerinda).
11. Jas Hujan (Rain Coat), berfungsi melindungi diri dari percikan air saat
bekerja (misal bekerja pada saat hujan atau sedang mencuci alat).
II-9
Tujuan upaya K3 adalah untuk mencegah kecelakaan yang ditimbulkan
karena adanya suatu bahaya dilingkungan kerja. Karena itu pengembangan sistem
manajemen K3 harus berbasis pengendalian resiko sesuai dengan sifat dan kondisi
bahaya yang ada. Bahkan secara ekstrem dapat dikatakan bahwa K3 tidak
diperlukan jika tidak ada sumber bahaya yang harus dikelola. Keberadaan bahaya
dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan atau insiden yang membawa dampak
terhadap manusia, peralatan, material dan lingkungan. Resiko menggambarkan
besarnya potensi bahaya tersebut untuk dapat menimbulkan insiden atau cidera
pada manusia yang ditentukan oleh kemungkinan dan keparahan yang
diakibatkanya (Ramli,2014).
Adanya bahaya dan resiko tersebut harus dikelola dan dihindarkan melalui
menajemn K3 yang baik. Karena itu, manajemn K3 memiliki kaitan yang sangat
erat dengan manejemen resiko. Sesuai persyaratan OHSAS 18001, organisasi
menetapka prosedur mengenai Identifikasi Bahaya (Hazards Identification),
Penilaian Resiko (Risk Assessment) dan menentukan pengendalian (Risk Control)
atau disingkat HIRARC. Keseluruhan proses ini disebut juga Menajemen Resiko
(Risk Management) (Ramli, 2014).
II-10
menentukan kegiatan organisasi yang mengandung potensi bahaya dan
menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
Selanjutnya hasil HIRARC menjadi masukan untuk penyusunan objektif dan
target K3 yang akan dicapai, yang dituangkan dalam program kerja. Dari alur di
bawah terlihat bahwa HIRARC merupakan titik pangkal dari pengelolaan K3. Jika
HIRARC tidak dilakukan dengan baik maka penerapan K3 akan salah arah
(misguided), acak atau virtual karena tidak mampu menangani isu pokok yang ada
dalam organisasi (Ramli, 2014).
II-11
g. Pemantauan dan tinjau ulang.
II-12
bahaya juga mempertimbangkan keselamatan pihak luar organisasi seperti
kontraktor, pemasok, atau tamu.
3. Perilaku manusia, kemampuan, dan faktor manusia lainnya. Faktor
manusia harus dipertimbangkan ketika melakukan identifikasi dan penilian
resiko. Manusia dengan perilaku, kemampuan, pengalaman, latar belakang
pendidikan dan sosial memiliki kerentanan terhadap keselamatan. Perilaku
yang kurang baik mendorong terjadinya tindakan berbahaya yang dapat
mengarah terjadinya insiden.
4. Identifikasi semua bahaya yang berasal dari luar tempat kerja yang dapat
menimbulkan efek terhadap kesehatan dan keselamatan manusia yang
berada di tempat kerja. Organisasi tidak munkin hidup atau jalan sendiri
tanpa interaksi dengan pihak lainnya. Banyak sumber bahaya yang masuk
ke dalam organisasi seperti dari bahan, jasa, individu, atau meterial yang
dipasok dari luar. Masing-masing akan membawa potensi bahaya yang
dapat membahayakan organisasi.
5. Bahaya yang timbul di sekitar tempat kerja dari aktivitas yang berkaitan
dengan pekerjaan yang berada di bawah kendali organisasi. Sumber
bahaya tidak hanya berasal dari internal organisasi tetapi juga dapat
bersumber dari sekitar tempat kerja. Sebagai contoh, kemungkinan
penjalaran api, gas, suara, dan debu dari aktivitas yang berada di sekitar
lokasi kerja dapat menimbulkan bahaya terhadap organisasi. Faktor
eksternal ini harus diidentifikasi dan dievaluasi.
6. Mencakup seluruh infrastruktur, peralatan dan meterial di tempat kerja,
baik yang disediakan organisasi atau pihak lain. Infrastruktur juga
mengandung potensi bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan.
7. Perubahan dalam organisasi, kegiatan atau meterial.
8. Setiap perubahan atau modifikasi yang dilakukan dalam organisasi
termasuk perubahan sementara harus memperhitungkan potensi bahaya K3
dan dampaknya terhadap operasi, proses, dan aktivitas.
9. Setiap persyaratan legal yang berlaku berkaitan dengan pengendalian
resiko dan implementasi pengendalian yang diperlukan.
II-13
10. Rancangan lingkungan kerja, proses, instalasi, mesin, peralatan, prosedur
operasi dan organisasi kerja, termasuk adaptasinya terhadap kemampuan
manusia.
Tujuan persyaratan ini adalah untuk memastikan bahwa identifikasi
bahaya dilakukan secara komprensif dan rinci sehingga semua peluang bahaya
dapat diidentifikasi. Hal ini banyak dilupakan dalam pengembangan sistem
manajemen K3. Identifikasi bahaya hanya dilakukan seadanya atau hanya bersifat
visual belaka sehingga tidak mampu menjangkau bahaya hanya yang lebih rinci
misalnya berkaitan dengan proses, peralatan, prosedur dan lainnya. Untuk
membantu upaya identifikasi bahaya, dikembangkan berbagai metoda mulai dari
yang sederhana sampai yang kompleks (Ramli, 2014).
Identifikasi bahaya adalah upaya sistematis untuk mengetahui potensi
bahaya yang ada di lingkungan kerja. Dengan mengetahui sifat dan karakteristik
bahaya, kita dapat lebih berhati-hati, waspada dan melakukan langkah-langkah
pengamanan agar tidak terjadi kecelakaan. Namun demikian, tidak semua behaya
dapat dikenali dengan mudah. Kita dapat mengetahui secara rinci bahaya suatu
pabrik kimia yang rumit dengan berbagai sifat proses dan material yang
digunakan atau dihasilkan. Karena itu perlu suatu teknik atau metoda untuk
mengenal bahaya dengan mudah (Ramli, 2014).
II-14
1. Penilaian risiko dengan analisis kualitatif
Analisis kualitatif menggunakan bentuk kata atau skala deskriptif untuk
menjelaskan seberapa besar potensi risiko yang akan diukur. Hasilnya dapat
termasuk dalam kategori risiko rendah, risiko sedang dan risiko tinggi.
Contoh kategori kemungkinan terjadinya resiko (likelihood) secara
kualitatif sebagai berikut :
Tabel 2.1 Ukuran Kualitatif dari Kemungkinan Likehood (L)
Tingkat Deskripsi Keterangan
Dapat terjadi setiap saat dalam waktu
5 Hampir Pasti Terjadi normal
II-15
Tabel 2.3 Matriks Analisis Risiko Kualitatif (Level Risiko)
Consequence (Keparahan)
Likelihood Tidak
(Kemungkinan) Signifikan Kecil Sedang Berat Bencana
1 2 3 4 5
5
Hampir Pasti T T E E E
Terjadi
4
M T T E E
Sering Terjadi
3
L M T E E
Dapat Terjadi
2
L L M T E
Kadang-kadang
1
L L M T T
Jarang Sekali
(Sumber: Ramli, 2014)
Keterangan:
E - Resiko Ekstrim : Sangat berisiko, dibutuhkan tindakan secepatnya
T - Resiko tinggi : Beresiko besar, dibutuhkan perhatian dari manajemen
puncak
M - Resiko Sedang : Risiko sedang, tanggung jawab manajemen harus spesifik
L – Resiko Rendah : Risiko rendah, ditangani dengan prosedur rutin
II-16
keseluruhan manajemen resiko, berdasarkan hasil analisa dan evaluasi resiko
dapat ditentukan apakah suatu resiko dapat diterima atau tidak. Jika resiko dapat
diterima, tentunnya tidak diperlukan langkah pengendalian lebih lanjut. Misalnya
perusahaan telah memilih menerima resiko penggunaan suatu peralatan mekanis
dalam proses produksinya. Hasil analisa resiko menunjukkan bahwa tingkat
kebisingan sebesar 85 dB (Ramli, 2014).
Dalam peringkat resiko, tingkat kebisingan tersebut dikategorikan sebagai
resiko rendah, sehingga dapat diterima perusahaan. Karena itu tidak diperlukan
tindakan pengendalian lebih lanjut. Perusahaan cukup melakukan pemantauan
berkala baik di tempat kerja maupun terhadap tenaga kerja untuk mengetahui
apakah ada efek yang tidak diingink. Sebalikkna jika tingkat kebisingan
mencapai 100-110 dB, maka resiko ini tidak dapat diterima karena berbahaya
terhadap pendengaran dan kesehatan pekerja. Karena itu harus dilakukan tindakan
pengendalian yang dapat dilakukan dengan beberapa pilihan yaitu (Ramli, 2014) :
1. Mengurangi kemungkinan (reduce likelihood).
2. Mengurangi keparahan (reduce consequence).
3. Pengalihan resiko sebagian atau seluruhnya (risk transfer).
4. Menghindar dari resiko (risk avoid).
Berkaitan dengan resiko K3, pengendalian resiko dilakukan dengan
mengurangi kemungkinan atau keparahan dengan mengikuti hirarki sebagai
berikut (Bahari, 2009).
II-17
1. Eliminasi
Eliminasi adalah teknik pengendalian dengan menghilangkan sumber bahaya,
misalnya lobang di jalan ditutup, ceceran minyak di lantai dibersihkan, mesin
yang bising dimatikan. Cara ini sangat efektif karena sumber bahaya dieliminasi
sehingga potensi resiko dapat dihilangkan. Karena itu, teknik ini menjadi pilihan
utama dalam hirarki pengendalian resiko.
2. Subtitusi
Subtitusi adalah teknik pengendalian bahaya dengan ,mengganti alat, bahan,
sistem atau prosedur yang berbahaya dengan yang lebih aman atau lebih rendah
bahayanya. Teknik ini banyak digunakan, misalnya bahan kimia berbahaya dalam
proses produksi diganti dengan bahan kimia lain yang lebih aman. Bahan kimia
CFC untuk AC yang berbahaya bagi lingkungan diganti dengan bahan yang lebih
ramah terhadap lingkungan.
3. Pengendalian Teknis
Sumber bahaya biasanya berasal dari peralatan atau sarana teknis yang ada di
lingkungan kerja. Karena itu, pengendalian bahaya dapat dilakukan melalui
perbaikan pada desain, penambahan peralatan dan pemasangan peralatan
pengaman. Sebagai contoh, mesin yang bising dapat diperbaiki secara teknis
misalnya dengan memasang peredam suara sehingga tingkat kebisingan dapat
ditekan. Pencemaran di ruang kerja dapat diatasi dengan memasang sistem
ventilasi yang baik. Bahaya pada mesin dapat dikurangi dengan memasang pagar
pengaman atau sistem interlock.
4. Pengendalian Administratif
Pengendalian bahaya juga dapat dilakukan secara administratif misalnya
dengan mengatur jadwal kerja, istrihat, cara kerja atau prosedur kerja yang lebih
aman, rotasi atau pemeriksaan kesehatan.
5. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Pilihan terakhir untuk mengendalikan bahaya adalah dengan memakai alat
pelindung diri misalnya pelindung kepala, sarung tangan, pelindung pernafasan
(respirator atau masker), pelindung jatuh, dan pelindung kaki. Dalam konsep K3,
II-18
penggunaan APD merupakan pilihan terakhir atau last resort dalam pencegahan
kecelakaan.
Hal ini disebabkan karena alat pelindung diri bukan untuk mencegah
kecelakaan (reduce likelihood) namun hanya sekadar mengurangi efek atau
keparahan kecelakaan (reduce consequences). Sebagai contoh, seseorang yang
menggunakan topi keselamatan bukan berarti bebas dari bahaya tertimpa benda
(Bahari, 2009).
II-19
bidang industri digunakan untuk mengetahui atau pencatatan kegiatan yang
dilakukan. Kegagalan dalam industri dapat diketahui akibat adanya hubungan
sebab akibat dari catatan atau pelaporan kegiatan yang dilakukan, sedangkan
bidang konstruksi digunakan untuk kejadian kecelakaan kerja. Metode ini
mempermudah orang yang membaca kegagalan produk yang dibuat suatu pabrik
atau instansi (Mayangsari, 2015).
Kelebihan penggunaan FTA adalah (Mawardi, 2014) :
1. Sebagai metode kualitatif adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi
kombinasi kejadian yang dapat menyebabkan terjadinya suatu kecelakaan
2. FTA sering digunakan untuk menganalisa lebih rinci terhadap hasil – hasil
evaluasi yang dilakukan dengan metode HAZOP dan what if analisis.
II-20
Tabel 2.4 Simbol-simbol Pada Metode Fault Tree Analysis (FTA)
EVENT
KETERANGAN
SYMBOLS
II-21
Gambar 2.3 Diagram Fault Tree Analysis (FTA)
(Sumber : Mawardi, 2014)
Pada gambar diatas menyatakan bahwa kejadian top event T terjadi jika
kejadian A terjadi atau kejadian B terjadi. Kejadian A merupakan basic event
yang tidak diselidiki lagi penyebabnya, sedangkan kejadian B merupakan
intermediate event dan terjadi jika kejadian C dan kejadian D terjadi. Kejadian C
dan D merupakan basic event (Mawardi, 2014).
II-22
1. Pekerjaan yang sering mengalami kecelakaan atau memiliki angka
kecelakaan tinggi.
2. Pekerjaan berisiko tinggi dan dapat berkibat fatal misalnya membersihkan
kaca dengan gondola.
3. Pekerjaan yang jarang dilakukan sehingga belum diketahui secara persis
bahaya yang ada.
4. Pekerjaan yang rumit atau komplek dimana sedikit kelalaian dapat
berakibat kecelakaan atau cedera.
II-23
ketidak efektifan SOP. Sebagai pedoman SOP harus berjalan efektif dan efisien
sesuai dengan kebutuhan organisasi dan dalam kondisi apapun. Dengan demikian
SOP dapat menjadi pedoman penilaian kinerja pegawai maksudnya dengan
diterapkanya SOP departement store yang jelas akan membawa kemudahan bagi
organisasi untuk melakukan review dan penilaian kinerja, dan SOP dapat
membangun kondisi dan situasi kerja yang lebih baik bagi karyawan yang akan
berakibat pada kinerja karyawan yang baik (Nugraheni, 2014).
II-24
Tabel 2.5 Job Safetyy Analysis Worksheet
Jenis Pekerjaan : Reparasi Air Conditioner (AC) Tanggal : 14 Agustus 2014 No :1
Stasiun Kerja : Electric Maintenance Dianalisis : - Baru : √
Alat Pelindung Diri : Sarung tangan dan sepatu boots Disetujui : - Revisi : -
Tindakan
No. Tahapan Pekerjaan Potensi Bahaya Resiko Pengendalian Yang Rekomendasi
Sudah Ada
1. Membuka mesin AC Tidak ada - - -
yang berada di luar potensi bahaya
ruangan yang serius
2. Check bagian yang - Aliran listrik -Tersengat aliran - Dilakukan - Sebelum memulai melakukan
mengalami trobel listrik yang pengecekan sesuai check bagian dalam mesin,
terdapat pada dengan SOP (Standar sebaiknya mematikan sumber
mesin AC Operasional Prosedur) listrik yang mengalir pada mesin
- Harus ada WP AC.
(Working Permit) - Disediakan Alat Pelindung Diri
sebelum melakukan (APD) khusus untuk penanganan
pekerjaan. listrik
3. Pelepasan kipas pada Mata pisau - Tersangkut -Dilakukan sesuai - Teliti saat melepas kipas dan
mesin AC (kabel pada kipas tajam - Tergores dengan SOP menggunakan APD seperti sarung
kipas putus) - erpotong -Harus ada WP tangan untuk melindungi tangan.
(Working
Permit) sebelum
melakukan
pekerjaan.
(Sumber : Kusumasari, 2014)
II-25
Tabel 2.5 Job Safetyy Analysis Worksheet (Lanjutan)
Jenis Pekerjaan : Reparasi Air Conditioner (AC) Tanggal : 14 Agustus 2014 No :1
Stasiun Kerja : Electric Maintenance Dianalisis : - Baru : √
Alat Pelindung Diri : Sarung tangan dan sepatu boots Disetujui : - Revisi : -
Tindakan
No. Tahapan Pekerjaan Potensi Bahaya Resiko Pengendalian Yang Rekomendasi
Sudah Ada
4. Penyambungan kabel - Aliran listrik -Tersengat listrik -Dilakukan sesuai - Mematikan aliran listrik
- Hubungan - Terbakar dengan SOP sebelum menangani kabel, juga
arus pendek - Tergores - Harus ada WP menghindari adanya hubungan
listrik - Terpotong (Working Permit) arus pendek listrik apabila
- Alat pemotong sebelum melakukan terjadi kesalahan pada saat
yang tajam pekerjaan. penyambungan kabel.
(gunting) - Menggunakan sarung tangan
untuk melindungi tangan dari
bahaya penggunaan alatalat
yang tajam seperti gunting
untuk memotong kabel.
5. Mengembalikan/ -Hubungan - Tersengat listrik - Dilakukan sesuai - Harus mengingat dengan teliti
merakit kembali arus pendek - Terbakar dengan SOP pada saat pembongkaran awal,
menjadi utuh listrik - Harus ada WP sehingga pada saat merakit
(Working Permit) kembali tidak terjadi kesalahan
sebelum melakukan yang mengakibatkan hubungan
pekerjaan. arus pendek listrik.
(Sumber : Kusumasari, 2014)
II-26