0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
161 tayangan26 halaman

Penerapan K3 untuk Keselamatan Kerja

Bab ini membahas tentang landasan teori keselamatan dan kesehatan kerja (K3), termasuk definisi K3, peraturan terkait, tujuan dan manfaat K3, sistem manajemen K3 (SMK3), tujuan SMK3, dan kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja.

Diunggah oleh

fren nz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
161 tayangan26 halaman

Penerapan K3 untuk Keselamatan Kerja

Bab ini membahas tentang landasan teori keselamatan dan kesehatan kerja (K3), termasuk definisi K3, peraturan terkait, tujuan dan manfaat K3, sistem manajemen K3 (SMK3), tujuan SMK3, dan kerugian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja.

Diunggah oleh

fren nz
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah suatu pemikiran dan
penerapan untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk kecelakaan, sedangkan
kecelakaan kerja adalah suatu kejadian yang tidak diduga yang dapat
mengakibatkan terganggunya proses pekerjaan yang telah direncanakan, dalam
pengertian tersebut bahwa yang dimaksud kecelakaan kerja tidak harus selalu
diikuti adanya korban yang cidera atau meninggal dunia.
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan suatu upaya untuk
menciptakan suasana bekerja yang aman, nyaman, dan tujuan akhirnya adalah
mencapai produktivitas setinggi-tingginya. Maka dari itu K3 mutlak untuk
dilaksanakan pada setiap jenis bidang pekerjaan tanpa kecuali. Upaya K3
diharapkan dapat mencegah dan mengurangi risiko terjadinya kecelakaan maupun
penyakit akibat melakukan pekerjaan.
Dalam pelaksanaan K3 sangat dipengaruhi oleh 3 faktor utama yaitu
manusia, bahan, dan metode yang digunakan, yang artinya ketiga unsur tersebut
tidak dapat dipisahkan dalam mencapai penerapan K3 yang efektif dan efisien.
Sebagai bagian dari ilmu Kesehatan Kerja, penerapan K3 dipengaruhi oleh 4
faktor yaitu adanya organisasi kerja, administrasi K3, pendidikan dan pelatihan,
penerapan prosedur dan peraturan di tempat kerja, dan pengendalian lingkungan
kerja. Dalam Ilmu Kesehatan Kerja, faktor lingkungan kerja merupakan salah satu
faktor terbesar dalam mempengaruhi kesehatan pekerja, namun demikian tidak
bisa meninggalkan faktor lainnya yaitu perilaku. Perilaku seseorang dalam
melaksanakan dan menerapkan K3 sangat berpengaruh terhadap efisiensi dan
efektivitas keberhasilan K3 (Setwayanti, 1996 dikutip oleh Abidin, 2008).
Keselamatan kerja dan kesehatan kerja termasuk salah satu program
pemeliharaan yang ada di perusahaan. Pelaksanaan program keselamatan kerja
dan kesehatan kerja bagi karyawan sangatlah penting karena bertujuan untuk
menciptakan sistem keselamatan dan kesatuan kerja dengan melibatkan unsur
manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam
rangka mengurangi kecelakaan. Masalah keselamatan kerja kesehatan dan kerja
bukan hanya semata–mata tanggung jawab pemerintah saja melainkan tanggung
jawab semua pihak yaitu pengusaha, tenaga kerja dan masyarakat. Keselamatan
kerja dan kesehatan kerja merupakan hal yang paling penting bagi perusahaan,
karena dampak kecelakaan dan penyakit kerja tidak hanya merugikan karyawan,
tetapi juga merugikan perusahaan (Wibowo, 2016).

2.2 Peraturan Keselamatan dan Kesahatan Kerja


Keselamatan dan kesehatan kerja harus di perhatikan oleh perusahaan. Hal
tersebut merupakan langkah yang baik agar setiap karyawan mendapatkan
jaminan keamanan. Adapun peraturan perundang-undangan di Indonesia yang
menyangkut keselamatan dan kesehatan kerja antara lain sebagai berikut
(Maulana, 2015) :
1. Undang-Undang No. 36 tahun 2009
Undang-undang ini mengantikan Undang-undang No.23 tahun 1992
Tentang kesehatan. Undang-Undang ini menetapkan bahwa setiap orang
mempunyai hak yang sama dalam memperoleh akses atas sumber daya di
bidang kesehatan, dan setiap orang mempunyai hak dalam memperoleh
pelayanan kesehatan yang aman, bermutu, dan terjangkau.
2. Undang-Undang No. 13 Tahun 2003
undang-undang ini menjelaskan mengenai Ketenagakerjaan menetapkan
pada hakikatnya hukum ketenagakerjaan tidak hanya mengatur
kepentingan saja tetapi termasuk kepentingan masyarakat pemberi
[Link] pasal 86 sampai dengan 87 undang-undang ini di tetapkan
bahwa setiap pekerja berhak mendapatkan perlindungan atas Keselamatan
dan Kesehatan Kerja, moral dan kesusilaan, serta perlakuan yang sesuai
dengan harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai agama,untuk
mewujudkan produktivitas kerja yang optimal dan setiap perusahaan wajib
menerapkan sistem manajemen Keselamatan dan Kesehatan kerja yang
terintegrasi dengan sistem manajemen perusahaan dan pelaksanaanya di

II-2
atur sanksi administratif atas pelanggaran ketentuan ini, Undang-undang
ini meliputi:
a. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga
kerja pada waktu sebelum, selama, dan sesudah masa kerja.
b. Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna
menghasilkan barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan
sendiri maupun untuk masyarakat.
c. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah
atau imbalan dalam bentuk lain.
d. Pemberi kerja adalah orang perseorangan, pengusaha, badan hukum, atau
badan-badan lainnya yang mempekerjakan tenaga kerja dengan
membayar upah atau imbalan dalam bentuk lain.
3. Undang-Undang No. 1 Tahun 1970
UU Keselamatan kerja yang di gunakan untuk mencegah terjadinya
kecelakaan kerja, menjamin suatu proses produksi berjalan teratur dan
sesuai rencana, dan mengatur agar proses produksi tidak merugikan semua
pihak, setiap tenaga kerja berhak mendapatkan perlindungan keselamatan
dalam melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan dan meningkatkan
produksi serta produktivitas nasional, undang-undang ini meletakan dasar-
dasar pelaksanaan kesehatan kerja, seperti yang tercantum dalam pasal 3
dan pasal 8 dalam pasal 3 di atur tentang:
a. Pemberian pertolongan pada kecelakaan mencegah dan mengendalikan
timbulnya penyakit akibat kerja.
b. Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban serta memperoleh
keserasian antara tenaga kerja, alat kerja, lingkungan, cara dan proses
kerja, sedangkan pasal 8 diatur tentang kewajiban pemberi kerja untuk
memeriksakan kesehatan pekerja yang akan di terima maupun akan di
pindahkan, serta pemeriksaan kesehatan secara berkala.
UU Keselamatan Kerja yang berlaku di Indonesia sekarang adalah UU
Keselamatan Kerja (UUKK) No.1 tahun 1970. Undang-undang ini merupakan
Undang-undang pokok yang memuat aturan dasar atau ketentuan-ketentuan umum

II-3
tentang keselamatan kerja di segala macam tempat kerja yang berada di wilayah
kekuasan hukum NKRI.

2.3 Tujuan dan Manfaat Keselamatan dan Kesehatan Kerja


Tujuan dan manfaat dari keselamatan dan kesehatan kerja adalah sebagai
berikut (Mangkunegara, 2002 dikutip oleh Munir, 2014) :
1. Agar setiap pegawai mendapat jaminan keselamatan dan kesehatan kerja
yang baik secara fisik, sosial, dan psikologis.
2. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-baiknya
seselektif mungkin.
3. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya.
4. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan gizi
pegawai.
5. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja, dan partisipasi kerja.
6. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh lingkungan
atau kondisi kerja.
7. Agar setiap pegawai merasa aman dan terlindungi dalam bekerja.
Tujuan dan manfaat dari keselamatan dan kesehatan kerja ini tidak dapat
terwujud dan dirasakan manfaatnya, jika hanya bertopang pada peran tenaga kerja
saja tetapi juga perlu peran dari pimpinan.

2.4 Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)


Menurut kepnaker 05 tahun 1996, sistem manajemen K3 adalah bagian
dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi,
perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya
yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengakajian, dan
pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam pengendalian
resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang
aman dan efisien dan produktif. Sistem manajemen K3 merupakan konsep
pengelolaan K3 secara sistematis dan komprehensif dalam suatu sistem
manajemen yang utuh melalui proses perencanaan, penerapan, pengukuran dan
pengawasan (Ramli, 2014).

II-4
2.5 Tujuan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Berbagai sistem manajemen K3 tersebut dapat digolongkan sebagai
berikut (Ramli, 2014) :
1. Sebagai Alat Ukur Kinerja K3 Dalam Organisasi
Sistem manajemen K3 digunakan untuk menilai dan mengukur kinerja
penerapan K3 dalam organisasi. Dengan membandingkan pencapaian K3
organisasi dengan persyaratan tersebut, organisasi dapat mengetahui
tingkat pencapaian K3. Pengukuran ini dilakukan melalui audit sistem
manajemen K3.
2. Sebagai Pedoman Implementasi K3 Dalam Organisasi
Sistem manajemen K3 dapat digunakan sebagai pedoman atau acuan
dalam mengembangkan sistem manajemen K3.
3. Sebagai Dasar Penghargaan (Awards)
Sistem manajemen K3 juga digunakan sebagai dasar untuk pemberian
penghargaan K3 atas pencapaian kinerja K3, penghargaan K3 diberikan
baik oleh instansi pemerintah maupun lembaga independen lainya.
Penghargan K3 diberikan atas pencapaian kinerja K3 sesuai dengan tolok
ukur masing-masing.
4. Sebagai Sertifikasi
Sistem manajemen K3 juga dapat digunakan untuk sertikasi penerapan
manajemen K3 dalam organisasi. Sertifikasi diberikan oleh lembaga
sertikasi yang telah diakreditasi oleh suatu badan akreditasi.

2.6 Kerugian yang Disebabkan Akibat Kecelakaan Kerja


Kerugian yang disebabkan kecelakaan akibat kerja menyebabkan lima
jenis kerugian (Hudori, 2003) :
1. Kerusakan.
2. Kekacauan organisasi.
3. Keluhan dan kesedihan.
4. Kelainan dan cacat.

II-5
5. Kematian.
Bagian mesin, pesawat, alat kerja, bahan, proses, tempat dan lingkungan
kerja mungkin rusak akibat kecelakaan. Akibatnya terjadilah kekacauan organisasi
dalam proses produksi. Orang yang ditimpa kecelakaan mengeluh dan menderita,
sedangkan keluarga dan kawan-kawan sekerja akan bersedih hati. Kecelakaan
tidak jarang berakibat luka-luka, terjadinya kelainan tubuh dan cacat, bahkan tidak
jarang kecelakaan merenggut nyawa dan mengakibatkan kematian (Hudori, 2003).
Kerugian-kerugian tersebut dapat diukur dengan besarnya biaya yang
dikeluarkan bagi terjadinya kecelakaan. Biaya tersebut menjadi biaya langsung
dan biaya tersembunyi. Biaya langsung adalah biaya pemberian pertolongan
pertama pada kecelakaan, pengobatan dan perawatan, biaya rumah sakit, biaya
angkutan, upah selama tidak mampu bekerja, kompensasi cacat, dan biaya
perbaikan alat-alat mesin serta biaya atas kerusakan bahan-bahan. Biaya
tersembunyi meliputi segala sesuatu yang tidak terlihat pada waktu atau beberapa
waktu setelah kecelakaan terjadi. Biaya ini mencakup berhentinya proses produksi
oleh karena pekerja-pekerja lainnya menolong atau tertarik oleh peristiwa
kecelakaan itu, biaya yang harus di perhitungkan untuk mengganti orang yang
sedang menderita oleh karena kecelakaan, dengan orang baru yang belum biasa
bekerja di tempat itu, dan lain-lainnya lagi.
Berdasarkan penelitian di negara-negara yang industrinya maju,
perbandingan antara biaya langsung dengan biaya tersembunyi adalah satu
banding dua. Kecelakaan-kecelakaan besar dengan kerugian-kerugian besar
biasanya dilaporkan, sedangkan kecelakaan-kecelakaan kecil tidak dilaporkan.
Padahal biasanya peristiwa kecelakaan-kecelakaan kecil adalah sepuluh kali
peristiwa kecelakaan besar. Oleh karena itu, kecelakaan-kecelakaan kecil
menyebabkan kerugian besar pula, manakala dijumlahkan secara keseluruhan
(Zulyanti, 2013).

2.7 Pencegahan Kecelakaan Kerja


Kecelakaan-kecelakaan akibat kerja dapat dicegah dengan (Waruwu,
2016) :

II-6
1. Peraturan perundang-undangan, yaitu ketentuan-ketentuan yang
diwajibkan mengenai kondisi-kondisi kerja pada umumnya, perencanaan,
konstruksi, perawatan dan pemeliharaan, pengizinan, dan cara peralatan
industri, tugas-tugas pengusaha dan buruh, latihan, supervisi medis, PPPK,
dan pemeriksaan kesehatan.
2. Standarisasi, yaitu penetapan standar-standar resmi, setengah resmi atau
tidak resmi mengenai misalnya konstruksi yang memenuhi syarat-syarat
keselamatan, jenis-jenis peralatan industri tertentu, praktek-praktek
keselamatan, dan higiene umum, atau alat-alat perlindungan diri.
3. Pengawasan, yaitu pengawasan tentang dipatuhinya ketentuan tentang
perundang-undangan yang diwajibkan.
4. Riset medis, yang meliputi terutama penelitian tentang efek-efek fisiologis
dan patologis, faktor-faktor lingkungan dan teknologis dan keadaan-
keadaan fisik yang mengakibatkan kecelakaan.
5. Penelitian psikologis, yaitu penyelidikan tentang pola-pola kejiwaan yang
menyebabkan terjadinya kecelakaan.
6. Penelitian secara statistik, untuk menetapkan jenis-jenis kecelakaan yang
terjadi, jumlahnya, mengenai siapa saja, dalam pekerjaan apa, dan apa
sebab-sebabnya.
7. Pendidikan, yang menyangkut pendidikan keselamatan kerja dalam
kurikulum teknik, sekolah perniagaan, atau kursus-kursus pertukangan.
8. Latihan-latihan, yaitu latihan keselamatan kerja bagi tenaga kerja,
khususnya bagi tenaga kerja yang baru.
9. Penggairahan, yaitu penggunaan aneka cara penyuluhan atau pendekatan
lain untuk menimbulkan sikap lain untuk selamat.
10. Asuransi, yaitu insentif finansial untuk meningkatkan pencegahan
kecelakaan misalnya, dalam bentuk pengurangan premi yang dibaar oleh
perusahaan, jika tindakan keselamatan sangat baik.
11. Usaha keselamatan pada tingkat perusahaan, yang merupakan ukuran
utama efektif tidaknya penerapan keselamatan kerja. Jelaslah bahwa untuk
pencegahan kecelakaan akibat kerja diperlukan kerjasama aneka keahlian

II-7
dan profesi seperti pembuat undang-undang, pegawai pemerintah, ahli-ahli
teknik, dokter, ahli ilmu jiwa, ahli statistik, guru-guru dan sudah tentu
pengusaha dan buruh.

2.8 Alat Pelindung Diri


Definisi alat pelindung diri (APD) berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia nomor Per.08/Men/VII/2010 tentang
alat pelindung diri, APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk
melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh
dari potensi bahaya di tempat kerja (Ramli, 2014).
Alat pelindung diri adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja
sesuai kebutuhan untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri dan orang di
sekelilingnya (Suhartini, 2013).
Alat Pelindung Diri (APD) merupakan cara terakhir yang harus dilakukan
untuk mencegah kecelakaan apabila program pengendalian lain tidak mungkin
dilaksanakan, artinya untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja hendaknya
dianalisis sedemikian rupa sehingga sistem kerja tidak mendatangkan akibat
negatif terhadap para pekerja. Namun jika pencegahan lainnya tidak dapat
diefektifkan maka alat pelindung dirilah yang akan dilakukan. Pada umumnya
alat-alat tersebut terdiri dari (Suma’mur, 1992 dikutip oleh Waruwu, 2016) :
1. Safety Helmet, Alat pelindung kepala berfungsi untuk melindungi kepala
dari benturan, terantuk, kejatuhan atau terpukul benda tajam atau benda
keras yang melayang atau meluncur di udara, terpapar oleh radiasi panas,
api, percikan bahan-bahan kimia, jasad renik (mikro organisme) dan suhu
yang ekstrim.
2. Tali Keselamatan (Safety Belt), berfungsi sebagai alat pengaman ketika
menggunakan alat transportasi ataupun peralatan lain yang serupa (mobil,
pesawat, alat berat, dan lainlain)
3. Sepatu Karet (Sepatu Boot), berfungsi sebagai alat pengaman saat bekerja
di tempat yang becek ataupun berlumpur.

II-8
4. Sepatu Pelindung (Safety Shoes), berfungsi untuk mencegah kecelakaan
fatal yang menimpa kaki karena tertimpa benda tajam atau berat, benda
panas, cairan kimia, dan sebagainya.
5. Sarung Tangan, berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat bekerja
di tempat atau situasi yang dapat mengakibatkan cedera tangan.
6. Tali Pengaman (Safety Harness), berfungsi sebagai pengaman saat bekerja
di ketinggian.
7. Penutup Telinga (Ear Plug/ Ear Muff), berfungsi sebagai pelindung telinga
pada saat bekerja di tempat yang bising. Jenis-jenis alat pelindung telinga
terdiri dari sumbat telinga (ear plug) dan penutup telinga (earmuff).
8. Kacamata Pengaman (Safety Glasses), berfungsi sebagai pelindung mata
ketika bekerja (misal mengelas).
9. Masker (Respirator), berfungsi sebagai penyaring udara yang dihirup saat
bekerja di tempat dengan kualitas udara yang buruk (misal berdebu,
beracun, berasap, dan sebagainya).
10. Pelindung Wajah (Face Shield), berfungsi sebagai pelindung wajah dari
percikan benda asing saat bekerja (misal pekerjaan menggerinda).
11. Jas Hujan (Rain Coat), berfungsi melindungi diri dari percikan air saat
bekerja (misal bekerja pada saat hujan atau sedang mencuci alat).

2.9. Manajemen Resiko


Setiap aktivitas mengandung resiko untuk berhasil atau gagal. Resiko
adalah kombinasi dari kemungkinan dan keparahan dari suatu kejadian. Semakin
besar potensi terjadinya suatu kejadian dan semakin besar dampak yang
ditimbulkannya, maka kejadian tersebut dinili mengandung resiko tinggi. Resiko
dapat bersifat positif atau menguntungkan dan bersifat negatif atau merugikan.
Dalam kegiatan bisnis ada resiko memperoleh keuntungan atau bersifat positif dan
ada kemungkinan menderita rugi atau bersifat negatif. Dalam aspek K3, resiko
biasanya bersifat negatif seperti cidera, kerusakan atau gangguan operasi, resiko
yang bersifat negatif harus dihindarkan atau ditekan seminimal munkin (Ramli,
2014).

II-9
Tujuan upaya K3 adalah untuk mencegah kecelakaan yang ditimbulkan
karena adanya suatu bahaya dilingkungan kerja. Karena itu pengembangan sistem
manajemen K3 harus berbasis pengendalian resiko sesuai dengan sifat dan kondisi
bahaya yang ada. Bahkan secara ekstrem dapat dikatakan bahwa K3 tidak
diperlukan jika tidak ada sumber bahaya yang harus dikelola. Keberadaan bahaya
dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan atau insiden yang membawa dampak
terhadap manusia, peralatan, material dan lingkungan. Resiko menggambarkan
besarnya potensi bahaya tersebut untuk dapat menimbulkan insiden atau cidera
pada manusia yang ditentukan oleh kemungkinan dan keparahan yang
diakibatkanya (Ramli,2014).
Adanya bahaya dan resiko tersebut harus dikelola dan dihindarkan melalui
menajemn K3 yang baik. Karena itu, manajemn K3 memiliki kaitan yang sangat
erat dengan manejemen resiko. Sesuai persyaratan OHSAS 18001, organisasi
menetapka prosedur mengenai Identifikasi Bahaya (Hazards Identification),
Penilaian Resiko (Risk Assessment) dan menentukan pengendalian (Risk Control)
atau disingkat HIRARC. Keseluruhan proses ini disebut juga Menajemen Resiko
(Risk Management) (Ramli, 2014).

2.10 Pengertian Metode HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment


and Risk Control )
HIRARC (Hazard Identification, Risk Assessment and Risk Control)
digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisa potensi bahaya serta
memberikan penilaian risiko pada saat melakukan proses pekerjaan. Organisasi
harus menetapkan prosedur mengenai Identifikasi Bahaya (Hazard Identification),
Penilaian Risiko (Risk Assessment) dan menentukan Pengendaliannya (Risk
Control) atau disingkat HIRARC. Keseluruhan proses ini disebut juga manajemen
risiko (risk management). HIRARC merupakan elemen pokok dalam sistem
manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang berkaitan langsung dengan
upaya pencegahan dan pengendalian bahaya. Di samping itu, HIRARC juga
merupakan bagian dari sistem manajemen risiko (risk management). Menurut
OHSAS 18001, HIRARC harus dilakukan di seluruh aktifitas organisasi untuk

II-10
menentukan kegiatan organisasi yang mengandung potensi bahaya dan
menimbulkan dampak serius terhadap keselamatan dan kesehatan kerja.
Selanjutnya hasil HIRARC menjadi masukan untuk penyusunan objektif dan
target K3 yang akan dicapai, yang dituangkan dalam program kerja. Dari alur di
bawah terlihat bahwa HIRARC merupakan titik pangkal dari pengelolaan K3. Jika
HIRARC tidak dilakukan dengan baik maka penerapan K3 akan salah arah
(misguided), acak atau virtual karena tidak mampu menangani isu pokok yang ada
dalam organisasi (Ramli, 2014).

Gambar 2.1 Proses Sistem Manajemen K3


(Sumber : Ramli, 2014)

2.10.1 Proses Manajemen Resiko


Menurut standar AS/NZS 4360 tentang standar menajemen resiko, proses
manajemen resiko mencakup langkah sebagai berikut (Ramli, 2014) :
a. Menentukan konteks
b. Identifikasi resiko
c. Analisa resiko
d. Evaluasi resiko
e. Pengendalian resiko
f. Komunikasi dan konsultasi

II-11
g. Pemantauan dan tinjau ulang.

Langkah awal mengembangkan manajemen resiko adalah menentukan


konteks yang diperlukan karena menejemen resiko sangat luas dan bermacam
aplikasi salah satu diantranya adalah manajemen resiko K3. Untuk manajemen
resiko K3 sendiri, juga diperlukan penentuan konteks yang akan dikembangkan
misalnya menyangkut resiko kesehatan kerja, kebakaran, higiene, industri dan
lainya. Penentuan konteks ini diselaraskan dengan visi dan misi organisasi serta
sasarn yang ingin dicapai (Ramli, 2014).

2.10.2. Identikasi Bahaya (Hazard Identification)


Elemen pertama yang dilakukan dari proses manajemen risiko K3
(HIRARC) dimulai dengan melakukan identifikasi bahaya. Keberhasilan suatu
proses manajemen risiko K3 sangat ditentukan oleh kemampuan dalam
menentukan atau mengidentifikasi semua bahaya yang ada dalam kegiatan. Jika
semua bahaya berhasil diidentifikasi dengan lengkap berarti perusahaan akan
dapat melakukan pengelolaan secara komprehensif. Namun jika upaya identifikasi
bahaya hanya mampu menjangkau sebagian saja dari potensi bahaya yang ada,
berarti masih terdapat peluang untuk terjadinya hal yang tidak dinginkan (Ramli,
2010).
Sejalan dengan proses manajemen resiko, OHSAS 18001 menyaratkan
proses identifikasi bahaya dan penilaian resiko sebagai berikut (Ramli, 2014) :
1. Mencakup seluruh kegiatan organisasi baik kegiatan rutin maupun non
rutin. Tujuannya agar semua bahaya yang ada dapat diidentifikasi dengan
baik termasuk potensi bahaya yang dapat timbul dalam kegiatan yang
bersifat non rutin seperti pemeliharaan, proyek pengembangan dan
lainnya.
2. Mencakup seluruh aktivitas individu yang memiliki akses ketempat kerja.
Sesuai ketentuan dalam undang-undang no 1 tahun 1970, perlindungan
keselamatan berlaku bagi setiap orang yang berada di tempat kerja
termasuk pihak lain yang masuk ketempat kerja. Karena itu, identifikasi

II-12
bahaya juga mempertimbangkan keselamatan pihak luar organisasi seperti
kontraktor, pemasok, atau tamu.
3. Perilaku manusia, kemampuan, dan faktor manusia lainnya. Faktor
manusia harus dipertimbangkan ketika melakukan identifikasi dan penilian
resiko. Manusia dengan perilaku, kemampuan, pengalaman, latar belakang
pendidikan dan sosial memiliki kerentanan terhadap keselamatan. Perilaku
yang kurang baik mendorong terjadinya tindakan berbahaya yang dapat
mengarah terjadinya insiden.
4. Identifikasi semua bahaya yang berasal dari luar tempat kerja yang dapat
menimbulkan efek terhadap kesehatan dan keselamatan manusia yang
berada di tempat kerja. Organisasi tidak munkin hidup atau jalan sendiri
tanpa interaksi dengan pihak lainnya. Banyak sumber bahaya yang masuk
ke dalam organisasi seperti dari bahan, jasa, individu, atau meterial yang
dipasok dari luar. Masing-masing akan membawa potensi bahaya yang
dapat membahayakan organisasi.
5. Bahaya yang timbul di sekitar tempat kerja dari aktivitas yang berkaitan
dengan pekerjaan yang berada di bawah kendali organisasi. Sumber
bahaya tidak hanya berasal dari internal organisasi tetapi juga dapat
bersumber dari sekitar tempat kerja. Sebagai contoh, kemungkinan
penjalaran api, gas, suara, dan debu dari aktivitas yang berada di sekitar
lokasi kerja dapat menimbulkan bahaya terhadap organisasi. Faktor
eksternal ini harus diidentifikasi dan dievaluasi.
6. Mencakup seluruh infrastruktur, peralatan dan meterial di tempat kerja,
baik yang disediakan organisasi atau pihak lain. Infrastruktur juga
mengandung potensi bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan.
7. Perubahan dalam organisasi, kegiatan atau meterial.
8. Setiap perubahan atau modifikasi yang dilakukan dalam organisasi
termasuk perubahan sementara harus memperhitungkan potensi bahaya K3
dan dampaknya terhadap operasi, proses, dan aktivitas.
9. Setiap persyaratan legal yang berlaku berkaitan dengan pengendalian
resiko dan implementasi pengendalian yang diperlukan.

II-13
10. Rancangan lingkungan kerja, proses, instalasi, mesin, peralatan, prosedur
operasi dan organisasi kerja, termasuk adaptasinya terhadap kemampuan
manusia.
Tujuan persyaratan ini adalah untuk memastikan bahwa identifikasi
bahaya dilakukan secara komprensif dan rinci sehingga semua peluang bahaya
dapat diidentifikasi. Hal ini banyak dilupakan dalam pengembangan sistem
manajemen K3. Identifikasi bahaya hanya dilakukan seadanya atau hanya bersifat
visual belaka sehingga tidak mampu menjangkau bahaya hanya yang lebih rinci
misalnya berkaitan dengan proses, peralatan, prosedur dan lainnya. Untuk
membantu upaya identifikasi bahaya, dikembangkan berbagai metoda mulai dari
yang sederhana sampai yang kompleks (Ramli, 2014).
Identifikasi bahaya adalah upaya sistematis untuk mengetahui potensi
bahaya yang ada di lingkungan kerja. Dengan mengetahui sifat dan karakteristik
bahaya, kita dapat lebih berhati-hati, waspada dan melakukan langkah-langkah
pengamanan agar tidak terjadi kecelakaan. Namun demikian, tidak semua behaya
dapat dikenali dengan mudah. Kita dapat mengetahui secara rinci bahaya suatu
pabrik kimia yang rumit dengan berbagai sifat proses dan material yang
digunakan atau dihasilkan. Karena itu perlu suatu teknik atau metoda untuk
mengenal bahaya dengan mudah (Ramli, 2014).

2.10.3 Penilaian Resiko (Risk Assessment)


Setelah melakukan identifikasi bahaya dilanjutkan dengan penilaian resiko
dilanjutkan dengan penilain resiko yang bertujuan untuk mengevaluasi besarnya
resiko serta skenario dampak yang akan ditimbulkannya. Penilaiaan resiko
digunakan sebagai langkah saringan untuk menentukan tingkat resiko ditinjau dari
kemungkinan kejadian (likehood) dan keparahan yang dapat ditimbulkan
(severity). Ada berbagai pendekatan dalam menggambarkan kemungkinan dan
keparahan suatu resiko baik secara kuantitatif (Ramli, 2014).

II-14
1. Penilaian risiko dengan analisis kualitatif
Analisis kualitatif menggunakan bentuk kata atau skala deskriptif untuk
menjelaskan seberapa besar potensi risiko yang akan diukur. Hasilnya dapat
termasuk dalam kategori risiko rendah, risiko sedang dan risiko tinggi.
Contoh kategori kemungkinan terjadinya resiko (likelihood) secara
kualitatif sebagai berikut :
Tabel 2.1 Ukuran Kualitatif dari Kemungkinan Likehood (L)
Tingkat Deskripsi Keterangan
Dapat terjadi setiap saat dalam waktu
5 Hampir Pasti Terjadi normal

4 Sering Terjadi Bahaya beberapa kali terjadi dalam waktu


tertentu
3 Dapat Terjadi Dapat terjadi sekali-sekali namun tidak
sering
2 Kadang-kadang Jarang terjadi
1 Jarang Sekali Hampir tidak pernah, sangat jarang terjadi
(Sumber: Ramli, 2014)

Contoh keparahan atau konsekuensi suatu kejadian secara kulitatif dari


“consequency” menurut standart AS/NZS 4360.
Tabel 2.2 Nilai Tingkat Keparahan (Consequence)
Tingkat Deskripsi Keterangan
1 Tidak Signifikan Tidak terjadi cidera, kerugian finansial kecil
2 Kecil Cidera sedang, kerugian finansial sedang

3 Cidera sedang, perlu penanganan medis, kerugian


Sedang
finansial besar
4 Cidera berat lebih satu orang, kerugian besar,
Berat
gangguan produksi
Fatal lebih satu orang, kerugian sangat besar dan
5 Bencana dampak luas yang berdampak panjang, terhentinya
seluruh kegiatan
(Sumber: Ramli, 2014)

II-15
Tabel 2.3 Matriks Analisis Risiko Kualitatif (Level Risiko)
Consequence (Keparahan)
Likelihood Tidak
(Kemungkinan) Signifikan Kecil Sedang Berat Bencana
1 2 3 4 5
5
Hampir Pasti T T E E E
Terjadi
4
M T T E E
Sering Terjadi
3
L M T E E
Dapat Terjadi
2
L L M T E
Kadang-kadang
1
L L M T T
Jarang Sekali
(Sumber: Ramli, 2014)

Keterangan:
E - Resiko Ekstrim : Sangat berisiko, dibutuhkan tindakan secepatnya
T - Resiko tinggi : Beresiko besar, dibutuhkan perhatian dari manajemen
puncak
M - Resiko Sedang : Risiko sedang, tanggung jawab manajemen harus spesifik
L – Resiko Rendah : Risiko rendah, ditangani dengan prosedur rutin

2.10.4 Pengendalian Risiko (Risk Control)


Sejalan dengan konsep menajemen resiko, OHSAS 18001 mensyaratkan
organisasi melakukan pengendalian resiko sesuai hasil identifikasi bahaya dan
penilaian resiko yang telah dilakukan. Pengendalian resiko dilakukan terhadap
seluruh bahaya yang ditemukan dalam proses identifikasi bahaya dan
mempertimbangkan peringkat resiko untuk menentukan prioritas dan cara
pengendaliaanya.
Selanjutnya dalam menentukan pengendalian harus mempertimbangkan
hirarki pengendalian mulai dan eliminasi, subtitusi, pengendalian teknis,
administratif dan terakhir penyediaan alat keselematan yang disesuaikan dengan
kondisi organisasi, ketersediaan biaya, biaya operasional, faktor manusia dan
lingkungan. Pengendalian resiko merupakan langkah menentukan dalam

II-16
keseluruhan manajemen resiko, berdasarkan hasil analisa dan evaluasi resiko
dapat ditentukan apakah suatu resiko dapat diterima atau tidak. Jika resiko dapat
diterima, tentunnya tidak diperlukan langkah pengendalian lebih lanjut. Misalnya
perusahaan telah memilih menerima resiko penggunaan suatu peralatan mekanis
dalam proses produksinya. Hasil analisa resiko menunjukkan bahwa tingkat
kebisingan sebesar 85 dB (Ramli, 2014).
Dalam peringkat resiko, tingkat kebisingan tersebut dikategorikan sebagai
resiko rendah, sehingga dapat diterima perusahaan. Karena itu tidak diperlukan
tindakan pengendalian lebih lanjut. Perusahaan cukup melakukan pemantauan
berkala baik di tempat kerja maupun terhadap tenaga kerja untuk mengetahui
apakah ada efek yang tidak diingink. Sebalikkna jika tingkat kebisingan
mencapai 100-110 dB, maka resiko ini tidak dapat diterima karena berbahaya
terhadap pendengaran dan kesehatan pekerja. Karena itu harus dilakukan tindakan
pengendalian yang dapat dilakukan dengan beberapa pilihan yaitu (Ramli, 2014) :
1. Mengurangi kemungkinan (reduce likelihood).
2. Mengurangi keparahan (reduce consequence).
3. Pengalihan resiko sebagian atau seluruhnya (risk transfer).
4. Menghindar dari resiko (risk avoid).
Berkaitan dengan resiko K3, pengendalian resiko dilakukan dengan
mengurangi kemungkinan atau keparahan dengan mengikuti hirarki sebagai
berikut (Bahari, 2009).

Gambar 2.2 Hirarki Pengendalian Bahaya


(Sumber : Bahari, 2009)

II-17
1. Eliminasi
Eliminasi adalah teknik pengendalian dengan menghilangkan sumber bahaya,
misalnya lobang di jalan ditutup, ceceran minyak di lantai dibersihkan, mesin
yang bising dimatikan. Cara ini sangat efektif karena sumber bahaya dieliminasi
sehingga potensi resiko dapat dihilangkan. Karena itu, teknik ini menjadi pilihan
utama dalam hirarki pengendalian resiko.
2. Subtitusi
Subtitusi adalah teknik pengendalian bahaya dengan ,mengganti alat, bahan,
sistem atau prosedur yang berbahaya dengan yang lebih aman atau lebih rendah
bahayanya. Teknik ini banyak digunakan, misalnya bahan kimia berbahaya dalam
proses produksi diganti dengan bahan kimia lain yang lebih aman. Bahan kimia
CFC untuk AC yang berbahaya bagi lingkungan diganti dengan bahan yang lebih
ramah terhadap lingkungan.
3. Pengendalian Teknis
Sumber bahaya biasanya berasal dari peralatan atau sarana teknis yang ada di
lingkungan kerja. Karena itu, pengendalian bahaya dapat dilakukan melalui
perbaikan pada desain, penambahan peralatan dan pemasangan peralatan
pengaman. Sebagai contoh, mesin yang bising dapat diperbaiki secara teknis
misalnya dengan memasang peredam suara sehingga tingkat kebisingan dapat
ditekan. Pencemaran di ruang kerja dapat diatasi dengan memasang sistem
ventilasi yang baik. Bahaya pada mesin dapat dikurangi dengan memasang pagar
pengaman atau sistem interlock.
4. Pengendalian Administratif
Pengendalian bahaya juga dapat dilakukan secara administratif misalnya
dengan mengatur jadwal kerja, istrihat, cara kerja atau prosedur kerja yang lebih
aman, rotasi atau pemeriksaan kesehatan.
5. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Pilihan terakhir untuk mengendalikan bahaya adalah dengan memakai alat
pelindung diri misalnya pelindung kepala, sarung tangan, pelindung pernafasan
(respirator atau masker), pelindung jatuh, dan pelindung kaki. Dalam konsep K3,

II-18
penggunaan APD merupakan pilihan terakhir atau last resort dalam pencegahan
kecelakaan.
Hal ini disebabkan karena alat pelindung diri bukan untuk mencegah
kecelakaan (reduce likelihood) namun hanya sekadar mengurangi efek atau
keparahan kecelakaan (reduce consequences). Sebagai contoh, seseorang yang
menggunakan topi keselamatan bukan berarti bebas dari bahaya tertimpa benda
(Bahari, 2009).

2.11 Fault Tree Analysis (FTA)


Daftar peristiwa kegagalan jika terjadi kemudian dilingkungan kerja pada
peristiwa puncak. FTA (Fault Tree Analysis) adalah suatu metode analisa resiko
kuantitatif dengan model grafik dan logika yang menampilkan kombinasi kejadian
yang memungkinkan yaitu rusak atau baik, yang terjadi dalam sistem, aplikasinya
dapat mencakup suatu sistem, equipment dan sebagai analisa Dengan
menggunakan analisa ini maka dapat diketahui faktor - faktor dan juga kombinasi
penyebab yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan.
Metode Fault Tree Analisys (FTA) sering digunakan untuk melakukan
analisa kegagalan sistem. Fault Tree Analisys (FTA) adalah metode analisa,
dimana terdapat suatu kejadian yang tidak diinginkan yang disebut undesired
event terjadi pada sistem, dan sistem tersebut kemudian dianalisa dengan kondisi
lingkungan dan operasional yang ada untuk menemukan semua cara yang
mungkin terjadi yang mengarah pada terjadinya undesired event tersebut.
Fault Tree Analysis (FTA) diperkenalkan pertama kali oleh Bell
Telephone Laboratories pada tahun 1962. FTA (Fault Tree Analysis) adalah suatu
metode analisa resiko dengan model grafik dan logika yang menampilkan
kombinasi kejadian yang memungkinkan yaitu rusak atau baik, yang terjadi dalam
sistem, aplikasinya dapat mencakup suatu sistem, equipment dan sebagai analisa.
(Mayangsari, 2015).
Metode ini berkembang sekitar tahun 1995, oleh US air force disebabkan
banyaknya kejadian kecelakaan udara. Dilakukan oleh Bell Laboratories. Saat ini
FTA telah banyak digunakan di berbagai industri, termasuk dibidang konstruksi.

II-19
bidang industri digunakan untuk mengetahui atau pencatatan kegiatan yang
dilakukan. Kegagalan dalam industri dapat diketahui akibat adanya hubungan
sebab akibat dari catatan atau pelaporan kegiatan yang dilakukan, sedangkan
bidang konstruksi digunakan untuk kejadian kecelakaan kerja. Metode ini
mempermudah orang yang membaca kegagalan produk yang dibuat suatu pabrik
atau instansi (Mayangsari, 2015).
Kelebihan penggunaan FTA adalah (Mawardi, 2014) :
1. Sebagai metode kualitatif adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi
kombinasi kejadian yang dapat menyebabkan terjadinya suatu kecelakaan
2. FTA sering digunakan untuk menganalisa lebih rinci terhadap hasil – hasil
evaluasi yang dilakukan dengan metode HAZOP dan what if analisis.

2.12 Tujuan dan Manfaat Penggunaan Fault Tree Analysis (FTA)


Tujuan metode ini adalah (Mawardi, 2014) :
1. Dilakukan untuk mengidentifikasi kombinasi dari equipment failure dan
human error yang dapat menyebabkan terjadinya suatu kejadian yang
tidak dikehendaki.
2. Dilakukan untuk prediksi kombinasi kejadian yang tidak dikehendaki,
sehingga dapat dilakukan koreksi untuk meningkatkan produk safety.
Manfaat dari metode Fault Tree Analisys ini adalah :
a. Dapat menentukan faktor penyebab yang kemungkinan besar
menimbulkan kegagalan;
b. Menemukan tahapan kejadian yang kemungkinan besar sebagai
penyebab kegagalan;
c. Menganalisa kemungkinan sumber – sumber resiko sebelum sebelum
kegagalan timbul;
d. Menginvestigasi suatu kegagalan.

II-20
Tabel 2.4 Simbol-simbol Pada Metode Fault Tree Analysis (FTA)
EVENT
KETERANGAN
SYMBOLS

Menggambarkan suatu basic initiating fault yang tidak


memerlukan pengembangan atau uraian lebih lanjut.
BASIC EVENT

Kondisi spesifik yang atau batasan.


CONDITIONING
EVENT

Suatu fault event yang tidak diperiksa lebih lanjut karena


UNDEVELOPED keterbatasan informasi yang dianggap kurang penting.
EVENT

Suatu event yang sudah ada atau exist terlebih dahulu


EXTERNAL/ yang mendukung terjadinya kegagalan.
HOUSE EVENT

Suatu fault event yang dihasilkan dari interaksi kejadian


INTERMEDIATE kegagalan lainnya yang disusun menggunakan logic gate.
EVENT

Menunjukkan bahwa output event akan terjadi jika


seluruh input events ada atau terjadi (exist).
AND GATE

Menunjukkan bahwa output event akan terjadi jika salah


satu iput events ada atau terjadi (exist).
OR GATE

Menunjukkan bahwa output event akan terjadi jika input


event ada dan inhibit condition terpenuhi.
INHIBET GATE
Fault output terjadi jika semua fault input terjadi dengan
Urutan urutan sekuens tertentu.
PRIORITY AND

Menunjukkan bahwa fault tree berhubungan lebih lanjut


dengan fault tree di lembaran atau halaman lain.
TRANSFER
SIMBOL
(Sumber : Mawardi, 2014)

II-21
Gambar 2.3 Diagram Fault Tree Analysis (FTA)
(Sumber : Mawardi, 2014)

Pada gambar diatas menyatakan bahwa kejadian top event T terjadi jika
kejadian A terjadi atau kejadian B terjadi. Kejadian A merupakan basic event
yang tidak diselidiki lagi penyebabnya, sedangkan kejadian B merupakan
intermediate event dan terjadi jika kejadian C dan kejadian D terjadi. Kejadian C
dan D merupakan basic event (Mawardi, 2014).

2.13 Job Safety Analysis (JSA)


Salah satu teknik analisa bahaya yang sangat populer dan banyak
digunakan di lingkungan kerja adalah Job Safety Analysis (JSA). Teknik ini
bermanfaat untuk mengidentifikasi dan menganalisa bahaya dalam suatu
pekerjaan (job) seperti mengganti bola lampu, memasang AC, melepas saringan,
mengganti ban serep dan lainnya.
Hal ini sejalan dengan pendekatan sebab kecelakaan yang bermula dari
adanya kondisi atau tindakan tidak aman saat melakukan suatu aktivitas. Karena
itu dengan malakukan identifikasi bahaya pada setiap jenis pekerjaan dapat
dilakukan langkah pencegahan yang tepat dan efektif (Ramli, 2010).

2.14 Pekerjaan Yang Memerlukan Kajian JSA


JSA perlu dilakukan untuk jenis-jenis pekerjaan sebagai berikut (Ramli,
2010) :

II-22
1. Pekerjaan yang sering mengalami kecelakaan atau memiliki angka
kecelakaan tinggi.
2. Pekerjaan berisiko tinggi dan dapat berkibat fatal misalnya membersihkan
kaca dengan gondola.
3. Pekerjaan yang jarang dilakukan sehingga belum diketahui secara persis
bahaya yang ada.
4. Pekerjaan yang rumit atau komplek dimana sedikit kelalaian dapat
berakibat kecelakaan atau cedera.

2.15 Langkah Melakukan JSA


Kajian JSA terdiri atas lima langkah sebagai berikut (Ramli, 2010).:
1. Pilih pekerjaan yang akan dianalisa
2. Pecah pekerjaan menjadi langkah-langkah aktivitas
3. Identifikasi potensi bahaya pada setiap langkah
4. Tentukan lankah pengamanan untuk mengendalikan bahaya
5. Komunikasikan kepada semua pihak berkepentingan.

2.16 Standar Operasional Prosedur (SOP)


Merupakan standart kegiatan yang harus dilakukan secara berurutan untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan dan apabila ditaati akan membawa akibat seperti,
lancarnya koordinasi, tidak terjadi tumpang tindih atau duplikasi, terbinanya
hubungan kerja yang serasi, kejelasan wewenang dan tanggung jawab setiap
pegawai dan SOP mempunyai kriteria efektif dan efisien, sistematis, konsisten,
sebagai standar kerja, mudah dipahami, lengkap, tertulis dan terbuka untuk
berubah atau fleksibel (Wibowo, 2010 dikutip oleh Nugraheni, 2014).
SOP berperan dalam memberikan acuan terkait dengan kegiatan-kegiatan
yang dijalankan dalam organisasi agar berjalan efekif, sehingga membantu
organisasi untuk mencapai tujuannya, baik yang bersifat jangka pendek atau
jangka panjang. Manfaat SOP sebagai pedoman kegiatan adalah menjadi pedoman
kegiatan-kegiatan organisasi, baik secara operasional maupun administratif.
Sebagai pedoman kegiatan, SOP harus berperan mengurangi pengulangan kerja
(reworks) yang tidak perlu, karena pengulangan kerja adalah bentuk lain dari

II-23
ketidak efektifan SOP. Sebagai pedoman SOP harus berjalan efektif dan efisien
sesuai dengan kebutuhan organisasi dan dalam kondisi apapun. Dengan demikian
SOP dapat menjadi pedoman penilaian kinerja pegawai maksudnya dengan
diterapkanya SOP departement store yang jelas akan membawa kemudahan bagi
organisasi untuk melakukan review dan penilaian kinerja, dan SOP dapat
membangun kondisi dan situasi kerja yang lebih baik bagi karyawan yang akan
berakibat pada kinerja karyawan yang baik (Nugraheni, 2014).

II-24
Tabel 2.5 Job Safetyy Analysis Worksheet
Jenis Pekerjaan : Reparasi Air Conditioner (AC) Tanggal : 14 Agustus 2014 No :1
Stasiun Kerja : Electric Maintenance Dianalisis : - Baru : √
Alat Pelindung Diri : Sarung tangan dan sepatu boots Disetujui : - Revisi : -
Tindakan
No. Tahapan Pekerjaan Potensi Bahaya Resiko Pengendalian Yang Rekomendasi
Sudah Ada
1. Membuka mesin AC Tidak ada - - -
yang berada di luar potensi bahaya
ruangan yang serius
2. Check bagian yang - Aliran listrik -Tersengat aliran - Dilakukan - Sebelum memulai melakukan
mengalami trobel listrik yang pengecekan sesuai check bagian dalam mesin,
terdapat pada dengan SOP (Standar sebaiknya mematikan sumber
mesin AC Operasional Prosedur) listrik yang mengalir pada mesin
- Harus ada WP AC.
(Working Permit) - Disediakan Alat Pelindung Diri
sebelum melakukan (APD) khusus untuk penanganan
pekerjaan. listrik

3. Pelepasan kipas pada Mata pisau - Tersangkut -Dilakukan sesuai - Teliti saat melepas kipas dan
mesin AC (kabel pada kipas tajam - Tergores dengan SOP menggunakan APD seperti sarung
kipas putus) - erpotong -Harus ada WP tangan untuk melindungi tangan.
(Working
Permit) sebelum
melakukan
pekerjaan.
(Sumber : Kusumasari, 2014)

II-25
Tabel 2.5 Job Safetyy Analysis Worksheet (Lanjutan)
Jenis Pekerjaan : Reparasi Air Conditioner (AC) Tanggal : 14 Agustus 2014 No :1
Stasiun Kerja : Electric Maintenance Dianalisis : - Baru : √
Alat Pelindung Diri : Sarung tangan dan sepatu boots Disetujui : - Revisi : -
Tindakan
No. Tahapan Pekerjaan Potensi Bahaya Resiko Pengendalian Yang Rekomendasi
Sudah Ada
4. Penyambungan kabel - Aliran listrik -Tersengat listrik -Dilakukan sesuai - Mematikan aliran listrik
- Hubungan - Terbakar dengan SOP sebelum menangani kabel, juga
arus pendek - Tergores - Harus ada WP menghindari adanya hubungan
listrik - Terpotong (Working Permit) arus pendek listrik apabila
- Alat pemotong sebelum melakukan terjadi kesalahan pada saat
yang tajam pekerjaan. penyambungan kabel.
(gunting) - Menggunakan sarung tangan
untuk melindungi tangan dari
bahaya penggunaan alatalat
yang tajam seperti gunting
untuk memotong kabel.
5. Mengembalikan/ -Hubungan - Tersengat listrik - Dilakukan sesuai - Harus mengingat dengan teliti
merakit kembali arus pendek - Terbakar dengan SOP pada saat pembongkaran awal,
menjadi utuh listrik - Harus ada WP sehingga pada saat merakit
(Working Permit) kembali tidak terjadi kesalahan
sebelum melakukan yang mengakibatkan hubungan
pekerjaan. arus pendek listrik.
(Sumber : Kusumasari, 2014)

II-26

Anda mungkin juga menyukai