0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
96 tayangan237 halaman

Kenyamanan Pejalan Kaki di Jalan Ahmad Yani

Evaluasi Kenyamanan Spasial dan Visual Ruang Pejalan Kaki pada Koridor Jalan Ahmad Yani oleh Suherlina Napitupulu dari Universitas Brawijaya mengkaji kenyamanan ruang pejalan kaki di koridor Jalan Ahmad Yani, Malang. Penelitian ini menganalisis karakteristik fisik lokasi studi dan persepsi masyarakat melalui survei dan kuisioner untuk mengidentifikasi subvariabel mana yang sesuai antara keduanya. Hasilnya menunjukkan ada

Diunggah oleh

VinNc
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
96 tayangan237 halaman

Kenyamanan Pejalan Kaki di Jalan Ahmad Yani

Evaluasi Kenyamanan Spasial dan Visual Ruang Pejalan Kaki pada Koridor Jalan Ahmad Yani oleh Suherlina Napitupulu dari Universitas Brawijaya mengkaji kenyamanan ruang pejalan kaki di koridor Jalan Ahmad Yani, Malang. Penelitian ini menganalisis karakteristik fisik lokasi studi dan persepsi masyarakat melalui survei dan kuisioner untuk mengidentifikasi subvariabel mana yang sesuai antara keduanya. Hasilnya menunjukkan ada

Diunggah oleh

VinNc
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

EVALUASI KENYAMANAN SPASIAL DAN VISUAL RUANG

PEJALAN KAKI PADA KORIDOR JALAN AHMAD YANI

SKRIPSI
PROGRAM STUDI SARJANA ARSITEKTUR
LABORATORIUM SENI DAN DESAIN ARSITEKTUR

Ditujukan untuk memenuhi persyaratan


memperoleh gelar Sarjana Teknik

SUHERLINA NAPITUPULU
NIM. 135060501111042

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS TEKNIK
MALANG
2018
LEMBAR PENGESAHAN

EVALUASI KENYAMANAN SPASIAL DAN VISUAL RUANG


PEJALAN KAKI PADA KORIDOR JALAN AHMAD YANI

SKRIPSI

PROGRAM STUDI SARJANA ARSITEKTUR


LABORATORIUM SENI DAN DESAIN ARSITEKTUR

Ditujukan untuk memenuhi persyaratan


memperoleh gelar Sarjana Teknik

SUHERLINA NAPITUPULU
NIM. 135060501111042

Skripsi ini telah direvisi dan disetujui oleh dosen pembimbing


pada tanggal 11 Juli 2018

Mengetahui, Dosen Pembimbing


Ketua Program Studi Sarjana Aritektur

Ir. Heru Sufianto, [Link]., Ph.D. Dr. Eng. Herry Santosa, ST., MT
NIP. 19650218 199002 1 001 NIP. 19730525 200003 1 004
Teruntuk Papa dan Mama yang selalu
mendukung dan mendoakan saya
hingga skripsi ini mampu saya selesaikan
LEMBAR ORISINALITAS

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini adalah benar-benar hasil
karya pribadi saya. Tidak ada karya-karya penelitian atau pendapat lainnya yang pernah
ditulis ataupun digunakan pada penelitian ini, kecuali dengan adanya nama atau sumber
yang ada pada sumber kutipan ataupun pada daftar pustaka.
Apabila terdapat kesamaan konten persis atau penjiplakan dan dapat dibuktikan, maka saya
bersedia menerima sangsi yang ada sesuai dengan peraturan yang berlaku di Indonesia.

Malang, 4 Juli 2018

Suherlina Napitupulu
NIM 135060501111042
RINGKASAN

Suherlina Napitupulu, Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya, 2018,


Evaluasi Kenyamanan Spasial dan Visual Ruang Pejalan Kaki pada Koridor Jalan Ahmad
Yani, Dosen Pembimbing: Dr. Eng. Herry Santosa, ST .,MT

Jalan Ahmad Yani merupakan salah satu dari kelima jalan provinsi yang terdapat
dikota Malang. Jalan Ahmad Yani juga masuk kedalam 3 kategori jalan (jaringan arteri
primer, jaringan arteri sekunder, jalan kolektor primer) dan 2 status jalan (jalan provinsi,
jalan nasional), sehingga koridor jalan ini merupakan koridor jalan yang selalu ramai dan
selalu dilewati. Beragam aktifitas yang terdapat ada koridor jalan ini juga dipengaruhi oleh
fungsi bangunan yang terdapat pada koridor jalan dimana fungsi bangunan pada koridor
jalan Ahmad Yani yaitu komersial (perdagangan dan jasa). Koridor yang padat, ramai, dan
terdapat berbagai aktifitas sehingga perlu diperhatikan kenyamanan spasial dan visual
ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani ini. Metode analisis menggunakan
metode analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatatif dengan melakukan survey
mengenai kondisi eksisting yang terdapat pada koridor jalan dan dijabarkan secara
deskriptif. Analisis kuantitatif dengan melakukan penyeberan kuisioner dan hasil dari
jawaban kuisioner direkap dan kemudian diolah menggunakn aplikasi SPSS dengan
mencari nilai mean untuk mengetahui sub variabel mana yang bernilai positif dan sub
variabel mana yang bernilai negatif. Pada tahap akhir, hasil observasi lapangan berupa
karakter fisik lokasi studi akan disandingkan dengan hasil persepsi masyarakat, dan
ditemukan sub variabel mana yang ada kesamaan antara karakter fisik dengan persepsi
masyarakat.
Hasil dari penelitian ini didapatkan bahwa ada kesamaan antara persepsi masyarakat
dengan karakter fisik koridor jalan Ahmad Yani. Pada Variabel kenyamanan spasial
terdapat 12 sub variabel dimana 10 sub variabel (83.33%) tersebut memiliki kesamaan
antara persepsi masyarkat dengan karakter fisik lokasi studi. Sebanyak 2 sub variabel
(16.67%) tidak ada kesamaan antara persepsi masyarakat dengan karakter fisik kawasan
studi. Variabel kenyamanan visual memiliki 9 sub variabev dimana seluruh sub variabev
(100%) memiliki kesamaan antara persepsi masyarakat dengann karakter fisik kawasan
studi.

Kata Kunci: Kenyamanan spasial, kenyamanan visual, pejalan kaki, koridor

xvi
SUMMARY

Suherlina Napitupulu, Department of Architecture, Faculty of Engineering, University of


Brawijaya, 2018, Evaluation Comfort of Spacial and Visual space Pedestrian on Ahmad
Yani Corridor Street, Malang, Supervisor: Dr. Eng. Herry Santosa, ST .,MT

Keywords: Train Station Buildings, Train Station Main Entrance Areas, Spatial
Characteristics
Jalan Ahmad Yani is one of the five provincial roads located in the city of Malang.
Ahmad Yani Road also entered into 3 categories of roads (primary arterial tissue,
secondary, artery tissue, primary collector path) and 2 roads status(provincial roads,
national roads), so the corridor of this road is always crowded and always skipped road.
Various activities that exist on is the corridor of this road is also influenced by the function
of the building contained in the road corridor where the building function on the corridor
of Ahmad Yani street is commercial (trade and services). The corridor that is crowded and
there are various activities so it is necessary to note the spatial and visual comfort of the
pedestrian space on this Ahmad Yani street corridor. The method of analysis using
qualitative and quantitative analysis methods. Qualitative analysis by conducting a survey
on the existing condition contained in the road corridor and described descriptively.
Quantitative analysis by questionnaire queuing and the results of the questionnaire
answers are captured and then processed using SPSS application by finding the mean
value to know which sub variable is positive and which sub variable is negative. In the
final stage, the result of field observation in the form of physical character of the study
location will be juxtaposed with the result of community perception, and found sub
variable where there is similarity between physical character with society perception.
The results of this study found that there is similarity between the perception of society
with the physical character of the road corridor Ahmad Yani. In spatial comfort variables
there are 12 sub variables where 10 sub variables (83.33%) have similarities between
community perceptions with the physical character of the study location. As many as 2 sub
variable (16.67%) there is no similarity between society perception with physical
character of study area. Visual comfort variables have 9 sub variabev where all sub
variabev (100%) have similarity between public perception with physical character of
study area.

xvii
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala limpahan rahmat, dan
berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Evaluasi
Kenyamanan Spasial dan Visual Ruang Pejalan Kaki pada Koridor Jalan Ahmad Yani,
Malang” ini dengan baik. Skripsi ini merupakan pengerjaan Tugas Akhir dari proses
perkuliahan di Jurusan Arsitekur FT-UB.
Proses penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan banyak pihak yang telah
memberikan masukan-masukan kepada penulis dari awal hingga penyusunan. Untuk itu,
penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:
1. Orang tua penulis, [Link] dan Lasma Sijabat serta abang tercinta Nofriadi
Napitupulu, ST dan Brento Napitupulu, ST yang selalu mendukung dan mendoakan,
2. Bapak Dr. Eng. Herry Santosa, ST.,MT selaku Dosen Pembimbing yang telah
mendukung dan memberikan banyak masukan positif dalam proses penyusunan
skripsi ini,
3. Bapak Tito Haripradianto, ST .,MT selaku dosen penguji yang memberikan banyak
masukan untuk penyempurnaan skripsi,
4. Ibu Wulan Astrini, MDs selaku dosen penguji yang memberikan banyak masukan
untuk penyempurnaan skripai,
5. Ibu Wasiska Iyati, ST.,MT yang membantu dalam kelancaran proses penyelesaian
skripsi ini,
6. Segenap staf dan karyawan di Jurusan Arsitektur FT-UB yang membantu dalam
pelaksanan dan penyelesaian skripsi,
7. Segenap tim survey penelitian Dr. Eng. Herry Santosa, ST., MT yang membantu
dalam pencarian data,
8. Teman-teman Randy, Paty, Iren, Ella, Elan, Apri, dan Iren S yang memberikan
semangat dan dukungan,
9. Serta pihak-pihak lain yang telah membantu dalam proses penyelesaian skripsi ini.

Penulis berharap skripsi ini dapat berguna dalam rangka meningkatkan pendidikan
khususnya dalam bidang arsitektur, serta dapat dilanjutkan untuk proses penelitian
selanjutnya sehingga dapat memberikan hasil yang dapat menambah wawasan dan
pengetahuan yang lebih baik bagi penyusun maupun pembaca.

7i
Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna karena masih memiliki banyak
kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, diharapkan kritik dan saran untuk
penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Malang, 4 Juli 2018

Penulis

8ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i


DAFTAR ISI ........................................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL .................................................................................................................. vi
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................................xviii
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................................... xv
RINGKASAN ....................................................................................................................... xvi
SUMMARY ......................................................................................................................... xvii
BAB I PENDAUHULUAN ..................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ......................................................................................................... 1
1.2 Identifikasi Masalah ................................................................................................. 3
1.3 Rumusan Masalah .................................................................................................... 4
1.4 Lingkup dan Batasan .............................................................................................. 4
1.5 Tujuan Penelitian ...................................................................................................... 4
1.6 Manfaat Penelitian .................................................................................................... 4
1.7 Sistematika Pembahasan .......................................................................................... 5
1.8 Kerangka Alur Penelitian ......................................................................................... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................ 9
2.1 Definisi Operasional ................................................................................................. 9
2.1.1 Kenyamanan ................................................................................................... 9
2.1.2 Koriodor ........................................................................................................ 12
2.2 Kenyamanan Spasial Ruang Pejalan Kaki .............................................................. 13
2.2.1 Fungsi Ruang Pejalan Kaki ........................................................................... 14
2.2.2 Jalur Pejalan Kaki ......................................................................................... 15
2.2.3 Setback Ruang Pejalan Kaki ......................................................................... 22
2.2.4 Perabot Jalan (Street Furniture) .................................................................... 22
2.2.5 Vegetasi......................................................................................................... 23
2.3 Kenyamanan Visual Ruang Pejalan Kaki ............................................................... 26
2.3.1 Keanekaragaman Tampilan (Kompleksitas) ................................................. 28
2.3.2 Transparansi .................................................................................................. 29
2.3.3 Kesan Lingkungan (Imageability) ................................................................ 30

9
2.3.4 Pola Dasar Lingkungan (Enclosure) ............................................................. 31
2.3.5 Skala Manusia ............................................................................................... 32
2.3.6 Signage .......................................................................................................... 33
2.4 Standar (Regulasi) .................................................................................................. 38
2.5 Studi Terdahulu ...................................................................................................... 43
2.6 Kerangka Teori ....................................................................................................... 47
BAB III METODE PENELITIAN ...................................................................................... 49
3.1 Metode Umum dan Tahapan Kajian Penelitian ..................................................... 49
3.2 Lokasi Penelitian .................................................................................................... 49
3.3 Variabel Penelitian ................................................................................................. 52
3.3.1 Kenyamanan Spasial Ruang Pejalan Kaki .................................................... 53
3.3.2 Kenyamanan Visual Ruang Pejalan Kaki ..................................................... 53
3.3.3 Integrasi Identifikasi Karakter Fisik dengan Persepsi Masyarakat ............... 54
3.3.4 Instrumen Penelitian ..................................................................................... 54
3.5 Tahapan Operasional Penelitian ............................................................................. 55
3.6 Metode Pengumpulan Data .................................................................................... 55
3.7 Populasi dan Sampel .............................................................................................. 56
3.8 Metode Analisis Data ............................................................................................. 59
3.8.1 Metode Kualitatif dan Kuantitatif ................................................................. 59
3.9 Metode Sintesis Data ............................................................................................... 62
3.10 Kerangka Metode .................................................................................................. 63
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................................. 65
4.1 Tinjau Lokasi Penelitian ......................................................................................... 65
4.1.1 Gambaran Umum Kota Malang .................................................................... 65
4.1.2 Gambaran Umum Koridor Jalan ................................................................... 67
4.2 Analisis Karakter Fisik Ruang Pejalan Kaki .......................................................... 78
4.2.1 Fungsi Ruang Pejalan Kaki ........................................................................... 78
4.2.2 Jalur Pejalan Kaki ......................................................................................... 90
4.2.3 Kemunduran Bangunan ................................................................................ 99
4.2.4 Perabot Ruang Pejalan Kaki ....................................................................... 107
4.2.5 Vegetasi ....................................................................................................... 122
4.2.6 Kompleksitas Kawasan ............................................................................... 128
4.2.7 Transparansi Koridor Jalan ......................................................................... 132
4.2.8 Kesan Lingkungan ....................................................................................... 134
10
4.2.9 Pola Dasar Lingkungan ............................................................................... 139
4.2.10 Skala Manusia ........................................................................................... 149
4.2.11 Tata Tanda (Signage) ................................................................................ 151
4.2.12 Tabulasi Karakter Fisik Spasial dan Visual Pejalan Kaki ........................ 157
4.3 Karakteristik Responden ........................................................................................... 161
4.3.1 Usia Responden ................................................................................................ 161
4.3.2 Jenis Kelamin Responden ................................................................................ 162
4.3.3 Domisili Responden ......................................................................................... 163
4.3.4 Pendidikan Terakhir Responden ...................................................................... 163
4.3.4 Pekerjaan Responden ....................................................................................... 164
4.4 Analisis Aspek Kenyamanan Spasial ........................................................................ 165
4.4.1 Fungsi Ruang Pejalan Kaki ............................................................................. 166
4.4.2 Jalur Pejalan Kaki ............................................................................................ 168
4.4.3 Kemunduran Bangunan ................................................................................... 171
4.4.4 Perabot Jalan .................................................................................................... 173
4.4.5 Vegetasi Ruang Pejalan Kaki ........................................................................... 175
4.5 Analisis Kenyamanan Visual .................................................................................... 178
4.5.1 Kompleksitas Kawasan.................................................................................... 179
4.5.2 Transparansi Koridor ....................................................................................... 181
4.5.3 Kesan Lingkungan ........................................................................................... 183
4.5.4 Pola Dasar Lingkungan ................................................................................... 184
4.5.5 Skala Manusia.................................................................................................. 185
4.5.6 Tanda Pengarah (Signage) ............................................................................... 187
4.6 Evaluasi Kenyamanan Spasial dan Visual ................................................................ 189
4.6.1 Tingkat Kenyamanan Spasial dan Visual Ruang Pejalan Kaki ....................... 189
4.6.2 Tingkat Kenyamanan Ruang Pejalan Kaki secara Umum............................... 193
4.7 Uji Validitas dan Reabilitas Variabel Kenyamann Visual dan Spasial..................... 194
4.8 Hasil Analisis Karakteristik dengan Prefensi Masyarakat ........................................ 204
BAB V PENUTUP ............................................................................................................... 217
5.2 Kesimpulan ........................................................................................................... 217
5.3 Saran ..................................................................................................................... 218
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................... 219
LAMPIRAN ......................................................................................................................... 221

11
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kebutuhan Ruang Gerak Minimum Pejalan Kaki ................................................. 16


Tabel 2.2 Klasifikasi Paving .................................................................................................. 21
Tabel 2.3 Studi Terdahulu ...................................................................................................... 43
Tabel 3.1 Variabel Penelitian ................................................................................................. 52
Tabel 3.2 Jenis Pembobotan Tingkat Nilai Kenyamanan Berdasarkan Skala Multiple Rating
Scale ....................................................................................................................... 56
Tabel 3.3 Metode Sintesis Data.............................................................................................. 62
Tabel 4.1 Persentase Fungsi Bangunan Koridor Studi ........................................................... 78
Tabel 4.2 Persentase Dimensi Jalur pejalan Kaki .................................................................. 91
Tabel 4.3 Persentase Setback Bangunan .............................................................................. 106
Tabel 4.4 Persentase Tipe Vegetasi Berdasarkan Jenis Tajuk ............................................. 123
Tabel 4.5 Persentase Warna Bangunan Cerah dan Gelap .................................................... 130
Tabel 4.6 Persentase Bangunan Transparan dan Tidak Transparan ..................................... 133
Tabel 4.7 Persentase Ketinggian Bangunan Kawasan Studi ................................................ 143
Tabel 4.8 Persentase Tinggi Bangunan Terhadap Setback Bangunan ................................. 148
Tabel 4.9 Persentase Jenis Signage Bangunan ..................................................................... 152
Tabel 4.10 Tabulasi Karakter Fisik Kenyamanan Spasial ................................................... 157
Tabel 4.11 Tabulasi Karakter Fisik Kenyamanan Visual .................................................... 158
Tabel 4.12 Tabulasi Karakter Fisik Kenyamanan Spasial Kondisi Eksisting dengan Regulasi
dan atau Teori ....................................................................................................... 158
Tabel 4.13 Tabulasi Karakter Fisik Kenyamanan Visual Kondisi Eksisting dengan Regulasi
dan atau Teori ....................................................................................................... 159
Tabel 4.14 Frekuensi Usia Responden ................................................................................. 161
Tabel 4.15 Frekuensi Jenis Kelamin .................................................................................... 162
Tabel 4.16 Frekuensi Domisili Responden .......................................................................... 163
Tabel 4.17 Frekuensi Pendidikan Terakhir Responden ....................................................... 164
Tabel 4.18 Frekuensi Pekerjaan Responden ........................................................................ 163
Tabel 4.19 Rekapitulasi Nilai Mean pada Sub Variabel Kenyamanan Spasial Ruang Pejalan
Kaki .................................................................................................................... 189
Tabel 4.20 Rekapitulasi Nilai Mean pada Sub Variabel Kenyamanan Visual Ruang Pejalan
Kaki .................................................................................................................... 191
Tabel 4.21 Rekapitulasi Fasilitas Pendukung Sesuai Persepsi Masyarakat ......................... 193

12
Tabel 4.22 Rekapitulasi Uji Validitas Kenyamanan Spasial Ruang Pejalan Kaki ............... 195
Tabel 4.23 Hasil Pengujian Kenyamanan spasial Melalui Pengolahan SPSS ..................... 195
Tabel 4.24 Rekapitulasi Uji Validitas Kenyamanan Visual Ruang Pejalan Kaki ................ 200
Tabel 4.25 Hasil Pengujian Validitas Kenyamanan Visual Melalui Pengolahan SPSS ...... 200
Tabel 4.26 Hasil Pengujian Reabilitas Variabel X1 dan X2 ................................................ 204
Tabel 4.27 Tabulasi Sintesis Karakter Fisik dan Persepsi Masyarakat (Kenyamanan Spasial)
............................................................................................................................. 205
Tabel 4.28 Tabulasi Sintesis Karkter Fisik dan Persepsi Masyarakat (Kenyamann Visual) 207

13
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Bagan Kerangka Pemikiran ................................................................................. 7

Gambar 2.1 Zonasi Ruang Pejalan Kaki ............................................................................... 15

Gambar 2.2 Kebutuhan Ruang Per orang secara Individu, Membawa Barang, dan Kegiatan
Berjalan Bersama ............................................................................................... 17

Gambar 2.3 Pola Permukaan Trotoar .................................................................................... 21

Gambar 2.4 Pola Solid Void .................................................................................................. 22

Gambar 2.5 Contoh Lampu Penerangan Jalan .................................................................... 22

Gambar 2.6 Contoh Vegetasi Tipe Colummar ..................................................................... 24

Gambar 2.7 Contoh Vegetasi Tipe Vase .............................................................................. 25

Gambar 2.8 Contoh Vegetasi Tipe Round ........................................................................... 25

Gambar 2.9 Contoh Vegetasi Tipe Fountain ........................................................................ 25

Gambar 2.10 Kompleksitas Bangunan Komersial ................................................................ 29

Gambar 2.11 Transparansi Bangunan Komersial.................................................................. 30

Gambar 2.12 Imageability Bangunan Komersial .................................................................. 31

Gambar 2.13 Skala Manusia Bangunan Komersial............................................................... 33


Gambar 2.14 Contoh Signage Jendela Area Komersial ........................................................ 34

Gambar 2.15Contoh Blade Signage Area Komersial ............................................................ 34

Gambar 2.16 Contoh Signage Direktori Area Komersial ..................................................... 35

Gambar 2.17 Contoh Signage Backdrop Wall Signs ............................................................ 35

Gambar 2.18 Contoh Tanda Pengarah Primer....................................................................... 36

Gambar 2.19 Contoh Tanda Pengarah Primer pada Awning ................................................ 36

Gambar 2.20 Contoh Major Projecting Sign ......................................................................... 37

Gambar 2.21 Contoh Tanda Pengarah Berbentuk Monumen ............................................... 37

Gambar 2.22 Contoh Menu Boards ....................................................................................... 37

Gambar 2.23 Standart Ruang Pejalan Kaki ........................................................................... 39

14
Gambar 2.24 Penyediaan Penyeberangan, Jalur Hijau, dan Perabot/Perlengkapan Ruas
Pejalan Kaki .................................................................................................... 40

Gambar 2.24 Kerangka Teori ................................................................................................ 47


Gambar 3.1 Peta Kota Malang ............................................................................................. 50

Gambar 3.2 Peta Area Koridor Studi Penelitian .................................................................. 51

Gambar 3.3 Foto Kondisi Ruang Pejalan Kaki pada Kawasan Studi .................................. 51

Gambar 3.4 Titik Persebaran Kuisioner ................................................................................ 58

Gambar 3.5 Skala Thurstone ................................................................................................. 60

Gambar 3.6 Kerangka Metode .............................................................................................. 63

Gambar 4.1 Peta Kota Malang .............................................................................................. 70

Gambar 4.2 Peta Lokasi Penelitian Wilayah 1 ...................................................................... 71

Gambar 4.3 Peta Lokasi Penelitian Wilayah 2 ...................................................................... 72

Gambar 4.4 Peta Lokasi Penelitian Wilayah 3 ...................................................................... 73

Gambar 4.5 Mapping Fungsi Bangunan Segmen 1 ............................................................... 75

Gambar 4.6 Mapping Fungsi Bangunan Segmen 2 ............................................................... 76

Gambar 4.7 Mapping Fungsi Bangunan Segmen 3 ............................................................... 77

Gambar 4.8 Diagram Persentase Fungsi Bangunan .............................................................. 78

Gambar 4.9 Ruang Pejalan Kaki Digunakan sebagai Area Parkir dan Vegetasi .................. 79

Gambar 4.10 Ruang Pejalan Kaki Digunakan sebagai Area Parkir dan Dagang .................. 80

Gambar 4.11 Ruang Pejalan Kaki Digunakan sebagai Area Parkir dan Dagang .................. 81

Gambar 4.12 Ruang Pejalan Kaki digunakan sebagai Area Dagang .................................... 81

Gambar 4.13 Ruang Pejalan Kaki digunakan sebagai Area Parkir dan Dagang ................... 82
Gambar 4.14 Tipe A Ruang Pejalan Kaki ............................................................................. 83

Gambar 4.15 Tipe B Ruang Pejalan Kaki ............................................................................. 84

Gambar 4.16 Tipe C Ruang Pejalan Kaki ............................................................................. 84


Gambar 4.17 Tipe D Ruang Pejalan Kaki ............................................................................. 85
Gambar 4.18 Tipe E Ruang Pejalan Kaki ............................................................................. 85
Gambar 4.19 Tipe F Ruang Pejalan Kaki.............................................................................. 86

15
Gambar 4.20 Tipe G Ruang Pejalan Kaki ............................................................................ 86
Gambar 4.21 Tipe H Ruang Pejalan Kaki ............................................................................ 87
Gambar 4.22 Tipe I Ruang Pejalan Kaki ............................................................................. 87
Gambar 4.23 Tipe J Ruang Pejalan Kaki ............................................................................. 88
Gambar 4.24 Tipe K Ruang Pejalan Kaki ............................................................................ 88
Gambar 4.25 Tipe L Ruang Pejalan Kaki ............................................................................ 89
Gambar 4.26 Tipe A Jalur Pejalan Kaki................................................................................ 91
Gambar 4.27 Tipe B Jalur Pejalan Kaki ................................................................................ 92
Gambar 4.28 Tipe C Jalur Pejalan Kaki ................................................................................ 93
Gambar 4.29 Tipe D Jalur Pejalan Kaki................................................................................ 94
Gambar 4.30 Mapping lebar Trotor Segmen 1...................................................................... 95
Gambar 4.31 Mapping lebar Trotoar Segmen 2 .................................................................... 96
Gambar 4.32 Mapping lebar Trotoar Segmen 3 .................................................................... 97
Gambar 4.33 Kondisi Jalur Pejalan Kaki pada Lokasi Studi ................................................ 98
Gambar 4.34 Kondisi Setback Bangunan 0-1.5 meter .......................................................... 99
Gambar 4.35 Kondisi Setback Bangunan 3-5 meter ........................................................... 100
Gambar 4.36 Kondisi Setback Bangunan 20 meter ............................................................ 101
Gambar 4.37 Mapping Setback Bangunan Segmen 1 ......................................................... 102
Gambar 4.38 Mapping Setback Bangunan Segmen 2 ......................................................... 103
Gambar 4.39 Mapping Setback Bangunn Segmen 3 ........................................................... 104
Gambar 4.40 Grafik Setback Bangunan .............................................................................. 106
Gambar 4.41 Tipe lampu Penerangan Jalan Dua Arah ...................................................... 107
Gambar 4.42 Tipe lampu Peneranfan Jalan Satu Arah ....................................................... 108
Gambar 4.43 Lampu Penerangan Jalan Dua Lengan .......................................................... 108
Gambar 4.44 Lampu Penerangan Jalan Satu lengan ........................................................... 109
Gambar 4.45 Lampu Penerangan Jalan pada Jembatan layang........................................... 109
Gambar 4.46 Mapping Peletakkan lampu Segmen 1 .......................................................... 110
Gambar 4.47 Mapping Peletakkan lampu Segmen 2 .......................................................... 111
Gambar 4.48 Mapping Peletakkan lampu Segmen 3 .......................................................... 112
Gambar 4.49 Lampu lalu lintas 1 ........................................................................................ 114
Gambar 4.50 Lampu lalu lintas 2 ........................................................................................ 114
Gambar 4.51 Lampu lalu lintas 3 ........................................................................................ 114
Gambar 4.52 Lampu lalu lintas 4 ........................................................................................ 115
Gambar 4.53 Lampu lalu lintas 5 ........................................................................................ 115
16
Gambar 4.54 Mapping lampu lalu lintas Segmen 1 ............................................................ 116
Gambar 4.55 Mapping lampu lalu lintas Segmen 2 ............................................................ 117
Gambar 4.56 Mapping lampu lalu lintas Segmen 3 ............................................................ 118
Gambar 4.57 Kondisi Halte Pada Kawasan Studi ............................................................... 119
Gambar 4.58 Kondisi Papan Reklame pada Kawasan Studi ............................................... 120
Gambar 4.59 Tempat Sampah yang Dibedakan Berdasarkan Jenisnya pada Kawasan Studi ...
121
Gambar 4.60 Tempat Sampah yang Tidak Dibedakan Jenisnya pada Kawasan Studi ....... 121
Gambar 4.61 Jembatan penyeberangan pada kawasan studi ............................................... 122
Gambar 4.62 Posisi Vegetasi pada Kawasan Studi ............................................................. 124
Gambar 4.63 Mapping Vegetasi Segmen 1 ......................................................................... 125
Gambar 4.64 Mapping Vegetasi Segmen 2 ......................................................................... 126
Gambar 4.65 Mapping Vegetasi Segmen 3 ......................................................................... 127
Gambar 4.66 Keragaman Tampilan Bangunan Segmen A ................................................. 128
Gambar 4.67 Keragaman Tampilan Bangunan Segmen B.................................................. 129
Gambar 4.68 Keragaman Tampilan Bangunan Segmen C.................................................. 129
Gambar 4.69 Keragaman Tampilan Bangunan Segmen D ................................................. 129
Gambar 4.70 Contoh Bangunan Warna Cerah pada lokasi studi ........................................ 130
Gambar 4.71 Keragaman Tampilan Bangunan yang Mewakili Gaya Bangunan pada
Kawasan Studi ............................................................................................... 131
Gambar 4.72 Transparansi Bangunan 1 pada Kawasan Studi............................................. 132
Gambar 4.73 Transparansi Bangunan 2 dan 3 pada Kawasan Studi ................................... 133
Gambar 4.74 Montase Koridor Objek Studi Sisi Barat ....................................................... 134
Gambar 4.75 Montase Koridor Objek Studi Sisi Timur ..................................................... 135
Gambar 4.76 Sclupture 1 dan 2 pada Kawasan Studi ......................................................... 137
Gambar 4.77 Foto Taman Kendedes pada Kawan Studi..................................................... 138
Gambar 4.78 Mapping Ketinggian Bangunan Segmen 1 .................................................... 140
Gambar 4.79 Mapping Ketinggian Bangunan Segmen 2 .................................................... 141
Gambar 4.80 Mapping Ketinggian Bangunan Segmen 3 .................................................... 142
Gambar 4.81 Mapping Ketinggian Bangunan terhadap Setback Bangunan Segmen 1 ...... 145
Gambar 4.82 Mapping Ketinggian Bangunan terhadap Setback Bangunan Segmen 2 ...... 146
Gambar 4.83 Mapping Ketinggian Bangunan terhadap Setback Bangunan Segmen 3 ...... 147
Gambar 4.84 Diagram Ketinggian Bangunan terhadap Setback Bangunan ....................... 148
Gambar 4.85 Potongan Perbandingan Skala Manusia dengan Skala Tinggi bangunan ...... 150
17
Gambar 4.86 Kondisi Tata Tanda (Tanda Pengarah Primer dan Signage Jendela) ............ 151
Gambar 4.87 Tata Tanda (Signage Direktori dan Tanda Pengarah Berbentuk Monumental ....
152
Gambar 4.88 Mapping Signage Segmen 1 .......................................................................... 154
Gambar 4.89 Mapping Signage Segmen 2 .......................................................................... 155
Gambar 4.90 Mapping Sigange Segmen 3 .......................................................................... 156
Gambar 4.91 Diagram Usia Responden .............................................................................. 162
Gambar 4.92 Diagram Jenis Kelamin ................................................................................. 162
Gambar 4.93 Diagram Domisili Responden ....................................................................... 163
Gambar 4.94 Diagram Pendidikan Terakhir Responden..................................................... 164
Gambar 4.95 Diagram Pekerjaan Responden...................................................................... 165
Gambar 4.96 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Fungsi Trotoar ............ 167
Gambar 4.97 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat kenyamanan Posisi Trotoar Pejalan Kaki
168
Gambar 4.98 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Dimensi Trotoar Pejalan
Kaki ............................................................................................................... 169
Gambar 4.99 Diagram frekuensi Penelitian Tingkat Kenyamanan Material Trotoar Pejalan
Kaki ............................................................................................................... 170
Gambar 4.100 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Kemenerusan Trotoar ......
171
Gambar 4.101 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Lebar Sempadan
Bangunan .................................................................................................... 172
Gambar 4.102 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Kesegarisan Kemunduran
Bangunan .................................................................................................... 173

Gambar 4.103 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Posisi Perabot Jalan .. 174
Gambar 4.104 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Jenis Perabot Jalan ... 175
Gambar 4.105 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Jenis Vegetasi ........... 176
Gambar 4.106 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Fungsi Vegetasi ........ 177
Gambar 4.107 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Posisi Vegetasi ......... 178
Gambar 4.108 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Jenis Keragaman
Tampilan ..................................................................................................... 180
Gambar 4.109 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Warna Dominan ....... 181
Gambar 4.110 Diagram Frekuensi Penilaian Kenyamanan Transparansi Koridor Jalan .... 182

18
Gambar 4.111 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Keunikan Tampilan
Bangunan .................................................................................................... 183
Gambar 4.112 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Proporsi Dinding Jalan ....
184
Gambar 4.113 Diagram Frekuensi Penilaian Kenyamanan Proporsi Jarak Pandang.......... 185
Gambar 4.114 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Skala dan Bangunan . 186
Gambar 4.115 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Skala Manusia dan
Perabot Jalan ............................................................................................... 187
Gambar 4.116 Diagram Frekuensi Penilaian Tingkat Kenyamanan Keterlihatab Signage 188
Gambar 4.117 Diagram Mean Score Kenyamanan Spasial Pejalan Kaki ........................... 191
Gambar 4.118 Diagram Mean Score Kenyamanan Visual Pejalan Kaki ............................ 192
Gambar 4.119 Diagram Tingkat Kenyamanan Ruang Pejalan Kaki Secara Umum ........... 194
Gambar 4.120 Penyalahgunaan Fungsi Trotoar .................................................................. 209
Gambar 4.121 Jalur Pejalan Kaki Tidak Ada ...................................................................... 210
Gambar 4.122 Dimensi Jalur Pejalan Kaki 121-180 cm ..................................................... 210
Gambar 4.123 Kondisi Eksisting Material Jalur Pejalan Kaki ............................................ 211
Gambar 4.124 Kondisi Eksisting Kemenerusan Jalur Pejalan Kaki ................................... 211
Gambar 4.125 Kondisi Eksisting Setback Bangunan .......................................................... 212
Gambar 4.126 Kondisi Eksisting Posisi Perabot Jalan........................................................ 213
Gambar 4.127 Kondisi Eksisting Vegetasi.......................................................................... 214
Gambar 4.128 Kondisi Eksisting Tampilan Bangunan ....................................................... 214
Gambar 4.129 Kondisi Eksisting Warna Dominan Kawasan ............................................. 215
Gambar 4.130 Kondisi Eksisting Transpransi Koridor ....................................................... 215
Gambar 4.131 Kondisi Eksisting Keunikan Tampilan Bangunan ...................................... 216
Gambar 4.132 Kondisi Eksisting Keterlihatan Signage ...................................................... 216

19
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuisioner Kenyaman Spasial dan Visual Ruang Pejalan Kaki Pada Koridor
Jalan Ahmad Yani
Lampiran 2 Hasil Rekap Kuisioner Kenyamanan Spasial dan Visual Pejalan Kaki Pada
Koridor Ahmad Yani

20
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kota Malang terletak di Jawa Timur, merupakan kota terbesar kedua setelah Surabaya
dengan jumlah penduduk 4,5 juta jiwa dan luas wilayah 110,06 km2. Kota Malang dikenal
sebagai kota pendidikan dikarenakan terdapat banyak universitas negeri maupun swasta
yang diantaranya Universitas Brawijaya, Universitas UIN Maulana Malik Ibrahim Malang,
Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Terbuka, Universitas Islam Malang,
Politeknik Negeri Malang dan masih banyak lagi universitas yang terdapat di Malang.
Selain kota pendidikan kota Malang juga di juluki sebagai kota bunga, Parijs Van Oost-
Java dan Switserland Van Java, dimana kota ini dikelilingi pegunungan sehingga kota
malang memiliki suhu yang sejuk dan memiliki keindahan alam yang sangat memukau.
Potensi yang dimiliki kota Malang membuat kota ini menjadi kota tujuan bagi wisatawan
dan bagi pelajar untuk datang ke kota ini sehingga kota Malang akan menjadi kota yang
sangat ramai karena tingginya minat pengunjung dalam kota bahkan luar kota untuk datang
ke kota ini.
Kota Malang dilewati oleh lima jalan provinsi yaitu Jalan Tlogomas, Jalan MT
Haryono, Jalan Soekarno Hatta, Jalan Borobudur, dan Jalan Ahmad Yani. Jalan-jalan ini
merupakan jalan yang memiliki aktifitas tinggi dimana pergerakan moda yang sangat
tinggi mengingat jalan tersebut menghubungkan kota Malang dengan luar kota. Tingginya
pergerakan moda menjadikan kelima jalan tersebut padat dan sibuk karena jalan ini
strategis dan fungsi bangunan pada masing masing jalan ini merupakan fungsi komersial.
Dari kelima jalan tersebut jalan yang menjadi studi kasus adalah Jalan Ahmad Yani
dimana jalan ini juga masuk kedalam 3 kategori jalan (jaringan arteri primer, jaringan
arteri sekunder, jalan kolektor primer) dan 2 status jalan (jalan provinsi dan jalan nasional).
Jaringan arteri primer adalah jalan penghubung Kota Malang dan Kota Surabaya yang
memiliki intesitas tinggi. Jaringan arteri sekunder yaitu jalan penghubung antara pusat kota
Malang dengan bagian wilayah kota. Jalan jaringan kolektor primer yaitu Jalan Kolektor
memiliki ciri-ciri penggunaan intensitas tinggi tapi tidak setinggi jalan arteri primer, untuk
lalu lintas angkutan menengah dengan jumlah simpangan terbatas.
1
Jalan Ahmad Yani termasuk kedalam Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) Timur Laut.
Jalan Ahmad Yani berpotensi pada perdagangan dan jasa, perhotelan. Pada kawasan ini
terdapat beberapa masalah yang kompleks diantaranya perumahan berkembang dalam
skala cukup besar tetapi kurang terintegrasi antar satu dengan yang lainnya.
Meningkatkannya aksesibilitas yang mengakibatkan perkembangan perdagangan dan jasa.
Hal ini menyebabkan diperlukan pengendalian terhadap intensitas bangunan, lahan parkir,
dan kemacetan. Adanya kemacetan di pertigaan Jalan Borobudur- Jalan Ahmad Yani,
ruang terbuka hijau belum memenuhi kriteria RTH perkotaan sehingga perlu
pengembangan RTH yang lain. Terdapat beberapa kawasan yang menjadi titik genangan
air pada musim hujan. Pada koridor jalan ini banyak terdapat pedagang berupa kaki lima
dan kios kios yang tidak tertata dengan rapi bahkan berdagang pada area pedestrian,
pedestrian yang ada tidak memenuhi standar (terputus), material yang rusak, dimensi yang
kurang sesuai, signage yang ada tidak tertata dan tertutup oleh vegetasi. Peletakan vegetasi
yang berada pada jalur pejalan kaki, garis sempadan bangunan yang tidak teratur, bentuk
dan skyline bangunan yang berbeda bahkan terjadi ketimpangan. Hal ini sangat
berpengaruh pada kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki yang melewati jalan
Ahmad Yani. Oleh sebab itu, judul ini diangkat untuk dilakukannya penelitian untuk
mengetahui pendapat masyarakat (pejalan kaki) tentang kenyaman spasial dan visual pada
koridor Jalan Ahmad Yani.
Menurut Santosa,dkk (2013) menyatakan tanda-tanda visual adalah ciri-ciri utama
yang secara fisik dapat dilihat, yang dapat memberikan atribut pada sumber visual dalam
suatu sistem visual, sehingga sistem visual tersebut mempunyai kualitas tertentu. Kaitan
visual menurut Hedman (1984) dalam Santosa,dkk (2013) adalah hubungan secara visual
antara elemen-elemen dalam bangunan dan/atau hubungan visual antar bangunan-
bangunan yang ada di lingkungan sekitarnya sehingga terjadi efek kontinuitas visual yang
menyeluruh dan menyatu. Menurut Rubenstein (1992) dalam Enggar Septika D (2016)
elemen-elemen yang harus terdapat pada jalur pejalan kaki antara lain paving, lampu, sign
atau tanda, sculpture, pagar pembatas, bangku, tanaman peneduh, telepon umum, shelter,
dan jam.
Nicolaus Nino Ardhiansyah (2012) dalam jurnalnya menjelaskan faktor pendukung
hidupnya fungsi komersial adalah kondisi setting fisik (bangunan, setback, street furniture,
jalur pedestrian, dan vegetasi), dan setting fisik (PKL, parkir, pejalan kaki, dan penggunan
kendaraan). Trotoar atau jalur pejalan kaki seharusnya memenuhi kriteria bisa digunakan
oleh kelompok masyarakat, termasuk warga yang sudah lanjut usia, penyadang cacat,
perempuan (yang sedang mengandung) dan anak-anak, Muctar (2010). Hakim dan Utomo
(2003:186) dalam Aris Widodo (2015) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
kenyamanan yaitu sirkulasi, iklim atau kekuatan alam, kebisingan, aroma atau bau-bauan,
bentuk, keamanan, kebersihan dan keindahan. Menurut Richard Uterman (1984) dalam
Andi Purnomo (2015) fungsi utama dari jalur pedestrian adalah untuk memberikan
pelayanan kepada pejalan kaki sehingg dapat meningkatkan kelancaran, keamanan pejalan
kaki. Unsur yang mempengaruhi kenyamanan pada sebuah pedestrian yaitu sirkulasi,
aksesbilitas, gaya alam dan iklim, keamanan, kebersihan, keindahan dan irama, Utteman
(1984) dalam Santyo, dkk (2011) dalam Feybe G, dkk ( 2014). Setting merupakan suatu
interaksi antara lingkungan sebagai media beraktivitas dengan manusia dengan
penggunanya.
Menurut Fitriani (1997) faktor kenyamanan terbagi menjadi 4 yaitu kenyamanan ruang
atau spasial, kenyamanan visual, kenyamanan audio atau suara, dan kenyamanan panas
atau termal. Kenyamanan yang akan dibahas pada studi ini dibatasi pada kenyamanan
spasial dan visual. Kenyamanan spasial yaitu kenyamanan mengenai ruang pejalan kaki
sedangkan kenyamanan visual yaitu kenyamanan pengguna ruang pejalan kaki untuk
melihat lingkungannya. Kenyamanan spasial dan visual sangat berperan penting dalam
kenyamanan pejalan kaki. Untuk mengetahui kenyamanan visual dan spasial koridor jalan
diperlukan kajian untuk mengetahui hal-hal apa saja yang perlu diperbaikipada koridor
jalan Ahmad Yani. Kenyamanan spasial pejalan kaki adalah perasaan seseorang nyaman
pada suatu ruang. Kenyamanan visual adalah perasaan seseorang nyaman terhadap apa
yang dilihat.

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas didapatkan masalah penelitian sebgai berikut:
1. Koridor Jalan Ahmad Yani merupakan salah satu dari lima jalan provinsi dimana jalan
ini selalu dilewati oleh moda menjadikan koridor ini sangat sibuk. Oleh sebab itu
aktifitas yang terjadi pada koridor ini sangat padat dan sibuk, khususnya pejalan kaki
yang melewati koridor ini. Aktivitas ini melibatkan aspek kenyamanan spasial dan
visual. Namun, kenyamanan pejalan kaki saat sekarang ini mulai tidak diperhatikan
sehingga kenyamanan pejalan kaki saat melintas sangat sulit didapat.
2. Koridor jalan merupakan kawasan perdagangan dan jasa. Terdapat banyak fasilitas
perkantoran, peribadatan, pendidikan, umum dan didominasi pertokoan. Sehingga,
aktifitas yang terjadi sangat banyak dan padat. Dampak dari kepadatan tersebut
menimbulkan permasalahan berupa tampilan bangunan (skyline) yang tidak selaras
atau ketimpangan yang berbeda antara bangunan yang satu dan lain, kios kios
(pedagang kaki lima) yang ada tidak teratur, pedestrian yang tidak sesuai dengan
ketentuan, perabot jalan yang minim sehingga mempengaruhi kenyamanan pejalan
kaki untuk melintas pada koridor jalan Ahmad Yani.
3. Keberadaan jalur pejalan kaki sebagai jalur sirkulasi untuk pejalan kaki tidak (belum)
mempertimbangkan penataan ruang (aspek kenyamanan spasial dan visual) yang
sesuai dengan aktifitas didalamnnya (kenyamanan bagi pejalan kaki), sehingga perlu
dievaluasi.

1.3. Rumusan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah dapat dirumuskan permasalahan yaitu bagaimana
kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani ?

1.4. Lingkup dan Batasan


Pada penelitian ini lingkup dan pembahasan yang di ambil yaitu lokasi penelitian di
koridor Jalan Ahmad Yani, kota Malang Jawa Timur. Lingkup Masalah yang akan
diteliti yaitu kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki pada koridor Jalan
Ahmad Yani (Jalan Provinsi). Batasan masalah dipilih dari teori kenyamanan oleh
Fitriani (1997) yang menyebutkan ada 4 jenis kenyamanan ruang yaitu kenyamanan
visual, spasial, audio dan termal. Penelitian dibatasi hanya pada kenyamanan spasial
dan visual. (Proses penelitian ini hanya dilakukan dengan mengumpulkan kondisi
eksisting yang ada dan menanyakan pendapat pejalan kaki (kuisoner) pada koridor
jalan Ahmad Yani.

1.5. Tujuan penelitian


Jalan Ahmad Yani kota Malang sebagai jalan provinsi sehingga perlu dilakukan
evaluasi kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki.

1.6 . Manfaat Penelitian


Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi beberapa pihak antara
lain:
1. Bagi ilmu arsitektur sumbangan pustaka untuk menganalisis kenyamanan spasial dan
visual ruang pejalan kaki.
2. Bagi pemerintah masukan dalam pengembangan koridor ruang pejalan kaki dalam
konteks spasial dan visual sesuai setting dan konteks ruang pejalan kaki koridor jalan
Ahmad Yani.
3. Bagi praktisi sebagai refrensi dan atau masukan bagi penelitian sejenis.
4. Bagi masyarakat sumbangan ilmu pengetahuan untuk mengevaluasi dan meningkatkan
kenyamanan ruang pejalan kaki.

1.7. Sistematika Penulisan


BAB I PENDAHULUAN
Bab yang berisikan tentang gambaran mengenai latar belakang permasalahan tentang
kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki yang berada di koridor Jalan Ahmad
Yani. Selain itu juga dijelaskan tentang tujuan diadakan penelitian ini dan manfaat apa
saja yang bisa diambil bagi akademik, pengguna jalan (pejalan kaki) , dan bagi
pemerintahan. Pada bab ini juga dijelaskan tentang lingkup dan pembahasan dari
penelitian ini. Lingkup dan pembahasan ini perlu agar penelitian ini bisa fokus dan
tidak kehilangan arah dari tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


Bab ini berisi tentang kajian pustaka yang terdiri dari tinjauan tentang kenyamanan
spasial dan visual ruang pejalan kaki di koridor jalan Ahmad Yani dan teori tentang
penelitian terdahulu.

BAB III METODE PENELITIAN


Pada bab 3 dijelaskan tentang metode penelitian apa yang digunakan dalam upaya
menjawab permasalahan-permasalahan yang timbul dan sesuai dengan maksud dan
tujuan yang akan dicapai. Bab ini menjelaskan langkah-langkah penelitian untuk
menganalisis kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki di koridor jalan
Ahmad Yani.

BAB IV PEMBAHASAN
Bab ini menjelaskan tentang hasil dari analisis serta evaluasi kenyamanan spasial dan
visual ruang pejalan kaki. Bab ini menjelaskan tentang tinjauan umum lokasi studi
secara makro dan mikro, analisis karakteristik fisik deskriptif dan mapping ruang
pejalan kaki berdasarkan sub variabel penelitian yang sudah ditentukan, karakteristik
responden yang menjadi sampel pada penelitian, analisis aspek kenyamanan spasial
ruang pejalan kaki, analisis aspek kenyamanan visual ruang pejalan kaki, serta
evaluasi kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki.
BAB V PENUTUP
Kesimpulan dan saran dari hasil penelitian evaluasi kenyamanan spasial dan visual
ruang pejalan kaki koridor bersejarah Kota Lama Malang. Kesimpulan pada penutup
adalah bagian gagasan akhir hasil penelitian. Bagian saran merupakan bagian dimana
peneliti menyampaikan kekurangan dari hasil penelitianya dan menjadi saran bagi
peneliti selanjutnya, pemerintah atau pihak lain yang terkait dengan penelitian ini.
1.8. Kerangka Alur Pemikiran

Terdapat 5 jalan provinsi


di kota Malang,.

Mampu menciptakan bagi pejalan


Jalan Ahmad Yani kaki dalam aspek kenyamanan spasial
merupakan salah satu dan visual
dari kelima jalan provinsi

Isu Kenyamanan Spasial Isu Isu Kenyamanan Visual


Koridor jalan Ahmad
Fungsi ruang pejalan kaki Yani kurang memiliki Perbedaan warna bangunan
dialihfungsikan untuk berdagang kenyamanan spasial dan yang kontras pada
bagi PKL dan area parkir, jalur visual pejalan kaki beberapa titik koridor
pejalan kaki pada beberapa titik jalan, transpransi koridor
tidak ada, posisi jalur pejalan yang dihalangi oleh vegtasi
kaki yang langsung berhubungan dan atribut jalan,
dengan jalur kendaraan (tidak ada keterlihatan signage yang
pembatas), material yang kurang kurang baik karena
terawatt dan rusak, terdapat ditutupi oleh vegetasi, dan
dimensi trotoar yang memiliki ketinggian yang cukup
lebar 121-180, kemenerusan significant antara
terputus karena vegetasi yang bangunan satu dengan
berada pada jalur pejalan kaki lainnya yang significant
dan perbedaan ketinggian elevasi pada beberapa titik area.
jalur pejalan kaki, setback Membutuhkan control dan
bangunan yang tidak teratur dan pengendalian
terdapat setback bangunn dengan
lebar 0 m, perabot jalan yang
minim, dsb.
Evaluasi kenyamanan
spasial dan visual pejalan
kaki

Observasi karakter fisik Persepsi


Regulasi dan atau teori Masyarakat

Gambar 1.1 Bagan Kerangka Pemikiran


1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi Operasional

2.1.1. Kenyamanan

Kenyamanan merupakan perasaan seseorang nyaman pada suatu keadaan tertentu


yang berbeda setiap individu. Hal-hal yang mempengaruhi dalam kenyamanan pejalan kaki
adalah: iklim, pedestrian, ground cover, peneduh/shelter, tanaman/vegetasi, parkir liar, lalu
lintas yang padat dan kencang, pagar bangunan, dan signage.

Kenyamanan pejalan kaki adalah ketika pejalan kaki memiliki jalur yang mudah
dilalui, seperti halnya kendaraan bermotor berjalan di jalan bebas hambatan. Kenyamanan
adalah segala sesuatu yang memperlihatkan penggunaan ruang secara harmonis, baik dari
segi bentuk, tekstur, warna, aroma, suara, bunyi, cahaya atau lainnya. Hubungan harmonis
yang dimaksudkan adalah keteraturan, dinamis, dan keragaman yang saling mendukung
terhadap penciptaan ruang bagi manusia, sehingga mempunyai nilai keseluruhan yang
mengandung keindahan (Simond, 1997 dalam Hakim, 2003: 185).

Rustam Hakim dan Hardi Utomo (2003: 185) menjelaskan kenyamanan adalah
segala sesuatu yang memperlihatkan pengguna ruang secara sesuai dan harmonis, baik
dengan ruang itu sendiri maupun dengan berbagai bentuk, tekstrur, warna, symbol maupun
tanda, suara dan bunyi kesan, intensitas dan warna cahaya atupun bau, atau lainnya.
Menurut Ian Bentley (1988: 70) hampir semua jalan di rancang untuk pengguna gabungan
dari kendaraan bermotor dan pejalan kaki. Jalan hendaknya dirancang terperinci sehingga
kendaraan bermotor tidak akan mengalahkan pejalan kaki.

Departemen PU (2014) menyatakan pejalan kaki (pedestrian) ialah setiap manusia


yang berjalan kaki di lalu lintas Pejalan kaki memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Karakteristik fisik
Berhubungan dengan jarak tempuh. Jarak tempuh tersebut di pengaruhi oleh beberapa
faktor. Faktor yang pertama yaitu faktor motif berjalan dimana pejalan kaki yang
memiliki motif yang kuat akan mempengaruhi pejalan kaki untuk berjalan jauh atau
lama. Faktor kedua adalah faktor cuaca dan aktivitas. Faktor ketiga adalah
ketersediaan fasiitas angkutan umum.

9
2

b. Karakteristik perilaku
Perilaku pejalan kaki tersebut antara lain sebagai contoh apabila pejalan kaki terbiasa
berjalan dengan membawa barang seperti paying, keranjang belanja dan sebagainya,
atau aktivitas kebiasaan pejalan kaki untuk berbincang-bincang saat berjalan pada
ruang pejalan kaki.
c. Karakteristik psikis

Ruang pejalan kaki merupakan salah satu strategi pengembangan prasarana dan sistem
prasarana wilayah Kota Malang yang mana dalam Peraturan Daerah Kota Malang (2011)
menyebutkan bahwa dengan melakukan penyediaan fasilitas pejalan kaki serta menambah
dan memperbaiki fasilitas pejalan kaki. Penyediaan dan pemanfaatan tersebut diarahkan
keberadaannya pada fungsi-fungsi ruang seluruh, dengan mememperhatikan.

a. Peningkatan dan penyediaan kualitas dan memperhatikan penggunanya bagi


penyandang disabilitas.
b. Penyediaan fasilitas halte yang dapat berfungsi sebagai area peristirahatan pejalan kaki
dan menunggu angkutan umum.
c. Penyediaan papan informasi (signage) pengaruh titik lokasi yang menarik untuk
dikunjungi dan sebagai informasi bagi pejalan kaki.
d. Peningkatan dan penyediaan fasilitas tempat sampah dan telpon yang berkualitas.
e. Peningkatan dan penyediaan fasilitas tempat sampah dan telpon yang berkualitas.
f. Peningkatkan dan penyediaan fasilitas pohon peneduh atau pelindung dan penambah
tanaman hias.

Faktor yang mempengaruhi kenyamanan antara lain:


a. Sirkulasi
Sirkulasi merupakan perputaran atau peredaran. Aspek-aspek yang terkait dengan
sirkulasi pejalan kaki adalah dimensi jalan dan jalur pejalan kaki, tempat asal sirkulasi
dan tempat tujuan sirkulasi pejalan kaki, maksud perjalanan, waktu dan volume
pejalan kaki.
b. Aksessibilitas
Merupakan derajat kemudahan yang dapat dicapai seseorang terhadap suatu objek,
pelayanan atau pun lingkungan. Ketentuan-ketentuan yang harus terpenuhi dalam
suatu rute perjalanan, meliputi:
3

1. Peniadaan hambatan dan halangan.


2. Lebar dan bebas.
3. Kawasan laluan dan istirahat.
4. Kemiringan/grades.
5. Curb ramps pada trotoar.
6. Ramps.
7. Permukaan dan tektur
c. Gaya alam dan iklim
Merupakan keadaan alam sekitar dan iklim yang terjadi pada suatu waktu. Gaya alam
dan iklim ini dapat diidentifikasi dengan pengamatan radiasi matahari, angin, curah
hujan dan temperatur.
d. Kebersihan
Sesuatu yang bersih selain menambah daya tarik lokasi, juga menambah rasa nyaman
bagi pejalan kaki karena bebas dari kotoran sampah dan bau-bauan yang tidak
menyenangkan.
e. Keindahan
Keindahan merupakan unsur kenyamanan yang mencakup kepuasan batin dan panca
indera, sehingga sulit untuk menilai keindahan bagi setiap orang karena memiliki
persepsi yang berbeda-beda.

Elemen-elemen Pendukung Jalur Pejalan Kaki adalah sebagai berikut :


1. Lampu Penerangang
Penempatan lampu penerangan direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat
memberikan penerangan yang merata, memberikan keamanann dan kenyamanan bagi
pengendara.
2. Vegetasi dan Pot Bunga
Kriteria vegetasi adalah dapat berfungsi sebagai peneduh dan ditempatkan pada jalur
tanaman.
3. Halte
Kriteria halte adalah terlindung dari cuaca dan ditempatkan pada pinggir jalan utama.
4. Tanda Penunjuk
Kriteria tanda penunjuk adalah penyatuan tanda penunjuk dengan lampu penerangan,
sehingga lebih efisien dan mudah untuk dibaca. Terletak ditempat terbuka dan tidak
4

tertutup pepohonan. Tanda penunjuk memuat informasi tentang lokasi dan


fasilitasnya.
5. Tempat Sampah
Perletakkan tempat sampah diatur (15-20), sehingga memudahkan dalam sistem
pengangkutan. Tempat sampah disesuaikan dengan jenis sampah.
6. Telepon umum
Kriteria telepon umum adalah sebagai berikut:
a. Memberikan ciri sebagai fasilitas telekomunikasi.
b. Memberikan kenyamanan dan keamanan bagu pengguna.
c. Udah terlihat, terlindung dari cuaca.
d. Penempatan pada tepi atau tengah area pedestrian.
e. Tiap satu fasilitas telepon umum berdimensi lebar 1meter.

2.1.2. Koridor

Koridor jalan merupakan pada sebelah sisi kiri dan sebelah kanannya telah ditumbuhi
bangunan-bangunan yang berderet memanjang di sepanjang ruas jalan menurut Moughtin
(1992; 41). Kemudian menurut Zahnd (2012: 110) menyebutkan bahwa koridor dibentuk
oleh dua deretan massa (bangunan atau pohon) yang membentuk sebuah ruang untuk
menghubungkan dua kawasan atau wilayah kota secara netral. Dengan kata lain, koridor
jalan merupakan suatu lorong yang berdiri bagunan dan vegetasi yang berada di sisi kiri
dan sisi kanan jalan tersebut serta yang menghubungakan satu kawasan dengan kawasan
lain dan mempunyai batasan fisik.

Spesifikasi dan karakteristik fisik dan non fisik pada suatu kooridor jalan sangat besar
pengaruhnya dalam menentukan wajah dan bentuk koridor itu sendiri. Keberadaan suatu
koridor sebagai pembentuk arsitektur kawasan kota tidak akan lepas dari elemen-elemen
pembentuk citra koridor tersebut (Krier, 1979: 61), yaitu:

1. Wujud Bangunan
Merupakan tampak atau bentuk bangunan yang ada di sepanjang koridor. Wajah dan
bentuk bangunan tersebut merupakan tapak keseluruhan dari suatu koridor yang
mampu mewujudkan identitas.
2. Figure Ground
Merupakan hubungan penggunaan lahan untuk massa bangunan dan ruang terbuka.
Struktur tata ruang kota menurut Trancik (1986: 101) terdiri dari dua elemen pokok,
5

yaitu massa bangunan kawasan (urban solid) dan ruang terbuka kawasan ( urban void).
Kedua elemen tersebut membentuk pola padat rongga ruang kota yang
memperlihatkan struktur ruang kawasan kota dengan jelas.
3. Street and Pedestrian Ways
Merupakan jalur jalan pergerakan kendaraan dan bagi pejalan kaki yang dilengkapi
dengan parker, elemen perabot jalan (street furniture), tata tanda (signage), dan
pengaturan vegetasi sehingga mampu menyatu terhadap lingkungan. Koridor jalan dan
jalur pejalan kaki merupakan pergerakan linear sebagai sarana sirkulasi dan aktifitas
manusia dengan skala padat.

2.2. Kenyamanan Spasial Ruang Pejalan Kaki

Menurut Pertiwi (2013) spasial berasal dari kata space dalam arsitektur diartikan
sebagai ruang, maka dapat diartikan bahwa spasial merupakan kenyamanan ruang yang
dapat memberikan kemudahan pergerakan penggunanya. Menurut Trancik (1986) teori
ruang spasial kota dalam penerapannya memberikan arahan penataan kota, dengan lebih
menekan pencapaian integrasi dari elemen kota dengan pengguna (masyarakat). Penerapan
konsep untuk menelaah perkembangan kawasan dengan figure ground theory, linkage
theory dan place theor.

Elemen-elemen pembentuk koridor (ruang/spasial) jalan menurut (Muafani, 2014) dan


Kuncoro Harsono, dkk (2013) adalah sebagai berikut

1. Bangunan
a. Komposisi fasade
Komposisi fasade yang beragam terbentuk dari geometri bukaan pintu
jendela,maupun penanda-penanda seperti papan nama toko.
b. Gaya arsitektur
c. Ketinggian bangunan dan skyline
d. Garis sempadan bangunan
e. Warna dan tekstur material
2. Vegetasi
a. Bentuk dan ukuran
b. Warna
c. Penempatan
d. Jenis
6

3. Roof
a. Kanopi pohon
4. Objek dalam ruang
a. Street furniture
5. Signage
6. Pedestrian
7. Jalur kendaraan

2.2.1. Fungsi Ruang Pejalan Kaki

Fungsi ruang pejalan kaki pada saat sekarang ini banyak yang sudah beralih fungsi
untuk mengutamakan kepentingan pribadi (berjualan dan parkir). Hal ini sangat
berbanding terbalik dengan fungsi ruang pejalan kaki yang seharusnya dimana fungsi
ruang pejalan kaki yaitu sebagai wadah bagi pejalan kaki untuk bergerak dan dapat
berpindah dari suatu tempat ketempat lainnya dengan aman, nyaman dan tanpa rasa takut
terhadap sesama pengguna jalur tersebut maupun tergadap kendaraan. Untuk sebuah kota
dimana koridor jalan Ahmad Yani merupakan kawasan komersial dimana jumlah
kendaraan selalu lewat dengan aktivitas yang padat sehingga keberadaan pedestrian sangat
penting. Menurut Anggriani (2009) jenis jalur pejalan kaki yaitu: (1) Jalur pejalan kaki sisi
jalan, (2) Jalur pejalan kaki sisi air, (3) Jalur pejalan kaki sisi bangunan, (4) Green
pathway, (5) Ruang pejalan kaki bawah tanah dan (6) Ruang pejalan kaki atas tanah.
Peraturan pemerintah pasal 34 tahun 2006 menyatakan (1) ruang manfaat jalan meliputi
badan jalan, saluran tepi jalan, dan ambang pengamannya, (2) ruang manfat jalan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh
lebar, tinggi, dan kedalaman tertentu yang ditetapkan oleh penyelenggara jalan yang
bersangkutan berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh menteri, (3) ruang manfaat jalan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diperuntukkan bagi median, perkerasan jalan,
jalur pemisah, bahu jalan, saluran tepi jalan, trotoar, lereng, ambang pengaman, timbunan
dan galian, gotong-gorong, perlengkapan jalan, dan bangunan pelengkap lainnya, (4)
trotoar sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan
kaki.

Menurut Shrivani (1985) peran atau fungsi pejalan kaki yaitu :


a. Sebagai elemen dasar desain urban
b. Meningkatkan vitalitas suatu ruang urban
7

c. Mengurangi ketergantungan penggunaan kendaraan bermotor di pusat kota


d. Meningkatkan nilai lingkungan dengan sistem skala manusia
e. Menciptakan area-area baru yang dapat di jual
f. Membantu meningkatkan kualitas udara
g. Meningkatkan jalur-jalur baru di pusat kota

2.2.2. Jalur Pejalan Kaki

Jalur pejalan kaki pada suatu kawasan sangat berpengaruh terhadap kesan yang
tercipta dari suatu kawasan. Keberadaan jalur pejalan kaki juga berperan untuk menaikkan
ekonomi masyarakat dimana jika suatu jalur pejalan kaki baik maka akan menarik minat
masyarakat untuk berjalan kaki sehingga pada kawasan tersebut akan ramai dan dapat
meningkatkan ekonomi masyarakat yang berada pada kawasan itu sendiri. Oleh karena itu,
jalur pejalan kaki harus diperhatikan dengan desain yang tepat dan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat. Berikut adalah kriteria yang baik dan penting yang harus
diperhatikan dalam merancang jalur pejalan kaki:
1. Aksesbilitas
Pada suatu koridor aksesbilitas yang baik akan memberikan kesan yang baik pula
terhadap koridor itu sendiri. Jalur pejalan kaki harus mudah diakses oleh semua
pengguna jalur pejalan kaki baik yang normal ataupun berkebutuhan khusus.
2. Posisi Jalur Pejalan kaki
Berikut adalah zonasi yang terdapat pada jalur pejalan kaki yang dapat dijadikan acuan
dalam mengembangkan atau mengevaluasi jalur pejalan kaki pada suatu kawasan.

Gambar 2.1 Zonasi Ruang Pejalan Kaki

Sumber: The Design Understanding of Creating Sidewalk on Streetscape


8

3. Dimensi Jalur Pejalan Kaki


Menurut Departemen PU (2014) spesifikasi dimensi pejalan kaki berpakaian adalah 45
cm untuk tebal tubuh sebagian sisi pendeknya dan 60 cm untuk lebar bahu sebagai sisi
panjanganya.
Tabel 2.1 Kebutuhan Ruang Gerak Minimum Pejalan Kaki
Kegiatan Dimensi Luas
Diam 0,27 m2

Bergerak 1,08 m2

Bergerak membawa 1,35-1,65 m2


barang

Sumber: Departemen PU (2014)


A. Ruang Gerak bagi Orang Dewasa

Berdiri jangkuan ke samping Berdiri jangkauan ke depan

Sumber: Dirjen Bina Marga No. 022/T/BM/1999


9

Duduk Jangkauan ke samping Duduk Jangkauan ke depan

Sumber: Dirjen Bina Marga No. 022/T/BM/1999

B. Ruang Gerak Bagi Penyandang Cacat Pengguna Kruk

Jangkauan ke samping Jangkauan ke depan

Sumber: Dirjen Bina Marga No. 022/T/BM/1999


10

C. Ruang Gerak Bagi Penyandang Cacat Tuna Netra

Jangkauan ke samping Jangkauan ke depan

Sumber: Dirjen Bina Marga No. 022/T/BM/1999

Jangkauan Samping dengan Tongkat Jangkauan Depan dengan Tongkat

Sumber: Dirjen Bina Marga No. 022/T/BM/1999


11

D. Ruang Gerak Penyandang Cacat berkursi Roda

Jangkauan ke Samping Jangkauan ke Depan

Sumber: Dirjen Bina Marga No. 022/T/BM/1999

Gambar 2.2 Kebutuhan ruang per orang secara individu, membawa barang, dan kegiatan berjalan
bersama

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/PRT/M/2014


12

4. Keselamatan pengguna jalur pejalan kaki


Jalur pejalan kaki yang baik adalah jalur pejalan kaki yang nyaman dan
mengutamakan keselamatan pengguna jalur pejalan kaki. Keselamatan jalur pejalan kaki
dapat dicapai dengan dimensi jalur pejalan kaki apakah sudah sesuai atau belum, perabot
jalan yang sudah sesuai atau belum, ramp dan lain sebagainya. Untuk memberikan rasa
nyaman kepada pejalan kaki dapat di buat pembatas antara jalan dan jalur pejalan kaki agar
pejalan kaki tidak merasa terancam dengan kendaraan yang melintas pada jalan.
5. Kemenerusan
Jalur pejalan kaki harus memiliki kemenerusan yang baik/ tidak terputus. Hal ini
sangat penting agar pejalan kaki merasa nyaman.
6. Lanskap
Penempatan lanskap pada jalur pejalan kaki haruslah dapat menaungi pejalan kaki dari
sinar matahari, dapat menjadi barrier untuk mengurangi suara bising, polusi, dan memberi
pembatas antara jalur pejalan kaki dengan jalan. Kemudian keberadaan lanskap dapat
berkontribusi pada kenyamanan psikologis dan visual pengguna trotoar.
7. Quality of place
Jalur pejalan kaki harus mampu menciptakan karakter pada kawasan itu sendiri agar
memperkuat citra kawasan pada daerah tersebut.
8. Material jalur pejalan kaki
Faktor yang mempengaruhi kenyamanan jalur pedestrian adalah ketegasan, kestabilan,
tidak licin dan elevasi permukaan material. Ketegasan adalah sejauh mana permukaan
menahan deformasi dengan lekukan. Stabilitas adalah tingkat dimana permukaan tetap
tidak berubah oleh kontaminan atau kekuatan terapan. Permukaan yang tidak licin yaitu
permukaan yang tahan slip seperti tumit sepatu, ban kursi roda, atau kruk. Elevasi material
yaitu ketinggian dari material jalur pejalan kaki, dimana elevasi permukaan material
haruslah sama. Berikut adalah elemen-elemen yang di butuhkan pada suatu pedestrian.
Paving, adalah trotoar atau hamparan yang rata. Dalam meletakkan paving sangat perlu
untuk memperhatikan pola, warna, tekstur dan daya serap air. Material pving meliputi:
beton, batu bata, aspal, dan sebagainya. Berdasarkan SNI 03-0691-
1996 klasifikasi Paving block dibedakan menurut kelas penggunaannya:
13

Tabel 2.2 Klasifikasi Paving

Sumber: Departemen PU (2014)

 Paving Mutu A : digunakan untuk jalan


 Paving Mutu B : digunakan untuk pelataran parkir
 Paving Mutu C : digunakan untuk pejalan kaki
 Paving Mutu D : digunakan untuk taman dan pengguna lain.

Paving yang diproduksi secara manual biasanya termasuk dalam mutu beton kelas D
atau C yaitu untuk tujuan pemakaian non struktural, seperti untuk taman dan
penggunaan lain yang tidak diperlukan untuk menahan beban berat di atasnya.
Mutu paving yang pengerjaannya dengan menggunakan mesin pres dapat dikategorikan ke
dalam mutu beton kelas C sampai A dengan kuat tekan diatas 125 kg/cm2
bergantung pada perbandingan campuran bahan yang digunakan. Kebutuhan ruang jalur
pejalan kaki untuk berdiri dan berjalan dihitung berdasarkan dimensi tubuh manusia.
Dimensi tubuh yang lengkap berpakaian adalah 45 cm untuk tebal tubuh sebagai sisi
pendeknya dan 60 cm untuk lebar bahu sebagai sisi panjangnya.

Gambar 2.3 Pola permukaan trotoar

Sumber: The Design Understanding of Creating Sidewalk on Streetscape


14

2.2.3. Setback Ruang Pejalan Kaki

Setback ruang pejalan kaki memiliki peran yang penting untuk memberikan
kenyamanan pejalan kaki. Menurut Trancik (1986) figure ground merupakan pendekatan
suatu bentuk cara untuk memanipulasi atau mengolah ulang pola eksisting dengan cara
menambahkan, mengurangi, atau pengubahan pola bentuk hubungan antara massa
bangunan (solid) dengan ruang terbukanya (void). Tipe solid tersebut terbagi menjadi:

Gambar 2.4 Pola solid void

Sumber: Roger Trancik (1986)

2.2.4. Perabot Jalan (Street Furniture)


1. Lampu, adalah suatu benda yang digunakan sebagai penerangan di waktu malam hari.
Lampu penerangan terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki dengan jarak
antarlampu penerangan yaitu 10 meter. Lampu penerangan dibuat dengan tinggi
Kementerian Pekerjaan Umum maksimal 4 meter serta menggunakan material yang
memiliki durabilitas tinggi seperti metal dan beton cetak.

Gambar 2.5 Contoh lampu penerangan jalur pejalan kaki

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/PRT/M/2014


15

2. Tempat Duduk
Tempat duduk terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki dengan jarak antartempat
duduk yaitu 10 meter. Tempat duduk dibuat dengan dimensi lebar 0,4-0,5 meter dan
panjang 1,5 meter, serta metal dan beton cetak.
3. Pagar pengaman
Pagar pengaman terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki pada titik tertentu yang
memerlukan perlindungan. Pagar pengaman dibuat dengan tinggi 0,9 meter, serta
menggunakan material yang tahan terhadap cuaca dan kerusakan, seperti metal dan beton.
4. Tempat sampah
Tempat sampah terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki dengan jarak
antartempat sampah yaitu 20 meter. Tempat sampah dibuat dengan dimensi sesuai
kebutuhan, serta menggunakan material yang memiliki durabilitas tinggi seperti metal dan
beton cetak.
5. Marka, Perambuan, dan Papan Informasi (Signage)
Marka, perambuan, dan papan informasi terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki,
pada titik interaksi sosial, dan pada jalur pejalan kaki dengan arus padat. Marka,
perambuan, dan papan informasi disediakan sesuai dengan kebutuhan, serta menggunakan
material yang memiliki durabilitas tinggi dan tidak menimbulkan efek silau.
6. Halte/ shelter
Halte/shelter bus dan lapak tunggu terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki
dengan jarak antarhalte/shelter bus dan lapak tunggu pada radius 300 meter dan pada titik
potensial kawasan. Halte/shelter bus dan lapak tunggu dibuat dengan dimensi sesuai
kebutuhan, serta menggunakan material yang memiliki durabilitas tinggi seperti metal.
7. Telepon Umum
Telepon umum terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki dengan jarak antar
telepon umum pada radius 300 meter dan pada titik potensial kawasan. Telepon umum
dibuat dengan dimensi sesuai kebutuhan, serta menggunakan material yang memiliki
durabilitas tinggi seperti metal.

2.2.5. Vegetasi
Jalur hijau terletak pada daerah jalur aminities yang memiliki lebar 1.5 meter dengan
peneduh tanaman disekitar jalurnya (Aggreani,2009). Keberadaan vegetasi memiliki peran
penting dalam suatu kawasan dimana vegetasi mampu memberikan suasana yang sejuk,
16

memberikan ketenangan (perasaan dan visual) serta vegetsi mampu memberikan kesan
pada suatu kawasan.

The Pedestrian Transportation Program (1998) menyatakan bahwa pohon pada


koridor jalan merupakan bagian yang sangat diinginkan dari suatu ruang lingkungan
pejalan kaki, terutama pohon-pohon rindang yang besar yang dapat berfungsi sebagai
kanopi. Menurut Geogia Departement of Transportation (2003) menyatakan bahwa pohon
dalam ruang jalan memberikan skala manusia dalam lingkungan tersebut. Area buffer
adalah salah satu cara yang efektif untuk membedakan area jalur pejalan kaki dengan
bidang jalan.

Menurut Georgia Departement of Transportation (2003) menerangkan bahwa pohon


dalam ruang jalan memberikan skala manusia dalam lingkungan tersebut. Area buffer
dengan tata taman dan pohon jalan yang memberikan area shelter serta pempayangan tanpa
adanya jarak penghalang dapat membantu melunakan bangunan yang ada disekitarnya
serta permukaan yang keras. Pemilihan serta penempatan tata anskap dan pepohonan harus
ditentukan dengan hati-hati untuk mengurangi kelebihan pemangkasan tanaman,
banyaknya dedaunnan, buah-buahan serta puing-puing yang jatuh, pemberian air, atau
instalasi sistem irigasi otomatis. Area buffer merupakan salah satu cara efektif untuk
membedakan area jalur pejalan kaki dengan bidang jalan. Penambahan area pemisahan
berupa buffer tanaman akan meningkatkan kenyamanan bagi pejalan kaki ketika berjalan
sepanjang jalan.

Berikut ini adalah beberapa bentuk tajuk pohon antara lain:

a. Bentuk Kerucut( Tipe Colummar)


Bentuk kerucut ysitu bentuk tajuk yang menyerupai kerucut, contohnya: Casuarina
spp. (cemara) dan Pinus spp (Pinus).

Gambar 2.6 Contoh vegetasi tipe colummar

Sumber: [Link]
17

b. Bentuk Silindris (Tipe Vase)


Contohnya: Gnetum ganemon (melinjo, ganemo), Agathis dammara (damar) dan
Gnetum ganemon (kayu putih).

Gambar 2.7 Contoh Vegetasi tipe vase

Sumber: [Link]

c. Bentuk Pagoda (Tipe Round)


Bentuk pagoda yaitu bentuk tajuk yang percabangan bawah paling panjag sedangkan
cabang atas lebih pendek. Arah percabangannya mendatar (plagiatrop). Contohnya:
Alstonia scholaris (pulai), Ceiba pentandra (kapuk, randu) dan Terminalia catappa
(ketapang).

Gambar 2.8 Contoh Vegetasi tipe Round

Sumber: [Link]

d. Bentuk Bintang (Tipe Fountain)


Bentuk bintang yaitu bentuk tajuk yang menyerupai bintang, biasanya didominasi oleh
family palmae dan areca seperti kelapa, pinang dan aren. Terdapat juga Netroxylon
sagu (sagu) dan Borrasu spp. (siwalan)

Gambar 2.9 Contoh Vegetasi tipe fountain

Sumber: [Link]
18

2.3. Kenyamanan Visual Ruang Pejalan Kaki


Menurut Cullen (1961) karakter visual yang menarik adalah karakter formal yang
dinamis, dapat dicapai melalui pandangannya yang menyeluruh berupa suatu amatan
berseri (serial vision) atau menerus yang memiliki unit visual yang dominasinya memiliki
keragaman dalam suatu kesinambungan yang terpadu dan berpola membentuk satu
kesatuan yang unik.

Menurut (Smardon,1986) menyatakan bahwa kualitas visual merupakan suatu


atribut khusus yang ada pada suatu sistem visual yang ditentukann oleh nilai-nilai kultural
dan property fisik yang hakiki. Menurut Bentley dalam Gultom (2006) menyatakan bahwa
tanda-tanda visual merupakan suatu ciri/tanda-tanda dari objek/sumber visual yang
ditawarkan, sehingga pengamat dapat menginterpretasikan suatu lingkungan sebagai suatu
yang memiliki makna. Menurut linch (1960) ciri atau kekhasan yang paling mudah diamati
adalah bentukan fisik karena kesan visual adalah sesuatu yang mudah diserap dan dicerna
oleh ingatan manusia.

Tingkat kenyamanan berjalan kaki sangat dipengaruhi oleh kualitas urban design
itu sendiri khususnya pada aspek visualnya dalam bukunya, Reid Ewing,dkk (2013)
menyatakan 9 kualitas desain urban yaitu: kompleksitas kawasan (complexity), koherensi,
transparasi, kesan lingkungan (imagaebility), pola dasar lingkungan (enclosure), skala
manusia, keterkaitan (linkage), keterbacaan (legibility), kerapian (ridiness). Namun dari
penelitian oleh Reid Ewing (2013) sendiri menjelaskan bahwa aspek yang masih dapat
diukur hanya terdapat 5 aspek yang menjadi variabel fokus penelitian diantaranya :
kompleksitas kawasan (complexity), transparasi, kesan lingkungan (imageability), pola
dasar lingkungan (enclosure) dan skala manusia.

Berdasarkan studi kasus pada koridor, Berry (1980; 30) menyebutkan beberapa elemen
sebagai pembentuk karakter visual dalam koridor tersebut, yaitu:
1. Bangunan (buildings).
Bangunan dalam satu blok atau penggal jalan merupakan satu kesatuan pembentuk
ruang dalam sebuah blok. Rangkaian bangunan pada penggal jalan dapat menjadi
unsur estetika sebuah pandangan dan elemen pembentuk ruang pada sebuah koridor.
19

2. Lansekap (landscaping).
Lansekap merupakan roman terkuat pada sebuah blok, dimana keberadaannya dapat
menjadi pembeda pada sebuah koridor atau kawasan. Elemen yang dapat dijadikan
sebagai objek amatan disini adalah vegetasi; pohon maupun perdu dalam kawasan.
3. Parkir (parking).
Keberadaan parkir menjadi penting ketika dunia telah memasuki zaman automobile.
Terutama pada kawasan historis, dimana pada keadaan mulanya pola terbentuk dari
sebuah kesegarisan antar bangunan dan lansekap. Elemen yang dapat dijadikan
sebagai objek pengamatan disini adalah pola penataan parkir pada kawasan amatan.
Pola penataan sangat berpengaruh langsung bagi pengguna atau seseorang terhadap
ruang yang terbentuk pada koridor jalan, maupun sirkulasi dan kemungkinan penataan
elemen lain dalam kawasan.
4. Tata tanda atau penanda (signage)
Dalam kasus ini bangunan sebagai elemen dominan pembentuk karakter visual yang
akan memberikan identitas sebagai kawasan lama, sehingga penanda pada bangunan
dilihat sebagai elemen yang dapat mempengaruhi karakter visual apabila keseluruhan
fasade bangunan pada kawasan lama tertutup oleh sign yang tidak diatur komposisinya
pada fasade bangunan.
Menurut Smardon (1986:123) menyebutkan berapa elemen visual. Secara spesifik,
elemen fisik dari sebuah pandangan yang akan terekam dalam pengamatan seseorang
termasuk didalamnya adalah:
1. Paths
Bentuk jalan akan menimbulkan kesan keteraturan dan kenyamanan sebuah kawasan.
Bentuk jalan dapat berupa perempatan yang teratur sehingga membentuk potongan
garis garis empat atau blok-blok kawasan (grid), tidak teratur (irregular), atau jalan
melingkar dengan suatu pusat jalan (radial).
2. Degree of enclosure (derajat keterlingkupan)
Keterlingkupan dalam sebuah koridor akan berpengaruh pada kenyamanan pengguna
melalui elemen fisik pembentuk karakter visual seperti bangunan, vegetasi, dan
elemen parker yang berada pada bahu jalan. Keberadaan elemen-elemen tersebut akan
membentuk sebuah space dari perbandingan dan elemen dinding dan lantai koridor.
3. Street tress (pohon di sisi jalan)
Keadaan tanaman seperti pohon pada suatu lingkungan akan sangat berpengaruh pada
sebuah pencitraan pada seseorang yang ada di dalamnya. Hal tersebut berkaitan
20

dengan ketinggian pohon, distribusi keberadaan pohon, serta kanopi pohon yang
terdapat paada suatu penggal koridor.
4. Activity pattern (pola aktifitas)
Pola aktifitas akan memberikan gambaran yang mengarah pada presentase kegiatan
manusia pada suatu lingkungan. Pola aktifitas dapat digambarkan melalui penampakan
kegiatan pada bagian wilayah kawasan yang di kategorikam sebagai kegiatan
dilakukan sementara, sesaat atau pada waktu tertentu, atau sering dilakukan. Baik pada
siang hari, malam hari, hari biasa ataupun hari libur.

2.3.1. Keanekaragaman Tampilan (Kompleksitas)


Ewing, dkk (2013) menyatakan bahwa kompleksitas adalah suatu kekayaan visual
yang muncul dalam suatu tempat. Kompleksitas suatu tempat bergantung pada ragam jenis
lingkungan yang muncul, secara spesifik, dan seberapa jumlah bangunan dan jenis dari
bangunan-bangunan yang ada dalam area tersebut. Kompleksitas berhubungan dengan
jumlah perbedaan nyata yang dilakukan oleh pemerhati atau viewer yang muncul setiap
unit waktu. Pejalan kaki dengan kecepatan berjalan yang lambat membutuhkan tingkat
kompleksitas yang lebih tinggi untuk menjaga ketertarikannya terhadap ruang tersebut.
Pengguna jalan dengan berkendara atau dengan kecepatan yang lebih cepat akan
merasakan keadaan ruang yang lebih semerawut dibandingkan dengan pejalan kaki.
Kompleksitas dihasilkan dari beragam jenis bentuk, ukuran, material, warna, arsitektur dan
ornament yang ada dalam bangunan.
Ewing, dkk (2009) dalam jurnalnya menjelaskan bahwa kompleksitas mengacu
pada kekayaan visual dari suatu tempat. Kompleksitas atau keanekaragaman tampilan
kawasan tergantung pada berbagai elemen fisik dalam lingkungan, khususnya seberapa
banyak jumlah dan jenis bangunan, keragaman arsitektur dan ornamenya, elemen lansekap,
street furniture, signage dan aktivitas manusia. Perabot jalan (street furniture) juga sangat
berpengaruh terhadap keanekaragaman visual ruang pejalan kaki. Amos Rapoport dalam
Ewing, dkk (2009) menjelaskan sifat-sifat dasar dari kompleksitas yang mana terkait
dengan perbedaan jumlah keterlihatan yang disaksikan dalam per satuan waktu. Manusia
akan merasa paling nyaman menerima informasi dari keanekaragaman yang seimbang
antara banyaknya informasi dan ragam visualnya. Terlalu sedikit informasi menghasilkan
pengalaman visual yang kurang sensorik, terlalu banyak informasi akan menciptakan
kelebihan pengalaman visual indrawi.
21

Gambar 2.10 Kompleksitas bangunan komersial

Sumber: [Link]
2.3.2. Transparasi
Ewing, dkk (2013) menyatakan bahwa transparansi merupakan aspek yang paling
sering muncul dalam kualitas desain urban dalam urban design guidelines. Transparansi
adalah suatu level jalan dalam suatu development dengan kebutuhan suasana yang bersih
atau lebih terang dengan keberadaan warna kaca.
Ewing, dkk (2009) menjelaskan bahwa transparansi mengacu pada sejauh mana orang
dapat melihat atau merasakan apa yang ada di luar tepi jalan danatau lebih khusus, sejauh
mana orang dapat melihat atau merasakan aktivitas manusia di luar tepi jalan. Elemen fisik
yang mempengaruhi transparansi termasuk dinding, jendela, pintu, pagar, lansekap dan
bukaan ke dalam. Secara harafiah, transparansi merupakan kondisi bahan yang tembus
cahaya dan atau udara. Sebuah contoh klasik dari transparansi adalah jalan belanja dengan
tampilan jendela yang mengundang orang yang lewat untuk melihat dan kemudian datang
ke toko. Dinding kosong dan bangunan kaca reflektif yang contoh klasik dari elemen
desain yang mengurangi transparansi. Definisi transparansi secara umum adalah definisi
kualitatif, dan lainnya adalah kuantitatif. Konsep ini dioperasionalkan hampir selalu dalam
hal terbatas sebagai jendela yang berhubungan dengan persentase lantai dasar fasad.
22

Gambar 2.11 Transparansi bangunan komersial

Sumber: [Link]

2.3.3. Kesan Lingkungan (Imageability)


Menurut Ewing, dkk (2013) imageability adalah kualitas suatu tempat yang
membuat kesan berbeda, dikenal dan diingat. Suatu tempat akan memiliki tingkat
imageability yang tinggi ketika elemen spesifik fisik dan penataan visual yang diperhatikan
membangkitkan rasa dan memberi kesan yang abadi. Kesan lingkungan mungkin saja tidak
berasal dari satu elemen saja melainkan dari berbagai aspek elemen atau kombinasinya
dalam suatu jalan.

Menurut Ewing, dkk (2009) dalam jurnalnya menyatakan bahwa kesan lingkungan
(Imageability) adalah kualitas suatu tempat yang membuatnya terlihat berbeda untuk
dikenali dan diingat. Tempat akan memiliki nilai kesan lingkungan (imageability) yang
tinggi ketika unsur fisik tertentu dan tata pengaturan yang menangkap perhatian,
membangkitkan perasaan dan menciptakan kesan abadi. Kevin Lynch dalam Ewing, dkk
(2009) mendefinisikan imageability sebagai kualitas lingkungan fisik yang membangkitkan
citra yang kuat terhadap pengamat. Citra yang kuat tersebut adalah bentuk, warna, atau
pengaturan yang memfasilitasi pengamatan yang jelas untuk diidentifikasi, memiliki
struktur yang kuat, citra mental yang sangat berguna dari lingkungan. Kota yang bentuk
nilai kesan lingkungan yang baik, berisi bagian-bagian yang berbeda, dan langsung
dikenali kepada siapa pun yang telah mengunjungi atau tinggal di sana. Kembali kepada
kemampuan bawaan manusia untuk mendeteksi dan mengingat pola. Kesan suatu
lingkungan adalah salah suatu elemen yang mudah diidentifikasi dan dikelompokkan
menjadi pola keseluruhan.
23

Gambar 2.12 Imageability bangunan komersial

Sumber: [Link]

2.3.4. Pola Dasar Lingkungan (Enclosure)


Ewing, dkk (2013) menyatakan bahwa pola dasar lingkungan (enclosure) adalah
suatu derajat keterlingkupan di mana suatu ruang jalan dan ruang publik lainnya
divisualkan sebagai bangunan-bangunan, dinding-dinding, pepohonan, dan unsur-unsur
vertikal lainnya. Pola dasar lingkungan (enclosure) adalah suatu aspek kualitas ruang
sebagai pola dasar dimanana tinggi dari suatu elemen-elemen vertikal sebanding dan
berhubungan dengan proporsional panjang dari ruang itu dan diantara kedua itu terdapat
kualitas ruang.

Menurut Ashihara (1983) yang juga mengutip dari teori Camillo Sitte menyatakan
untuk menyeimbangkan kesan ruang antara bangunan dengan jarak pandang maka lebar
jarak pandang menuju bangunan sama dengan jarak tinggi bangunan dan tidak boleh lebih
tinggi dua kali dari tingginya. Persamaan tersebut ditulis dengan rumus 1 > D/H < 2,
Dimana D adalah jarak lebar pandang menuju bangunan (Distance) dan H adalah
ketinggian bangunan (height). Skala yang berasal dari nilai besaran antara jarak dan
ketinggian bangunan tersebut terbagi menjadi 4 jenis yaitu:
a. Skala Intim
Skala ini merupakan skala dengan besaran nilai D/ H = 1, dimana D adalah jarak
sedangkan H adalah ketinggian dinding ruang. Skala intim adalah jenis skala perbandingan
jarak pandang dan ketinggian dinding ruang yang kecil sehingga memberikan kesan
perlindungan pada pengguna ruang tersebut. Dinding ruang pada skala ini dapat terbentuk
24

dari jenis material hardscape maupun softscape yang memberikan perasaan intim atau
keakraban dalam ruang.
b. Skala Perkotaan
Skala perkotaan merupakan skala yang berkaitan dengan skala kota serta
lingkunganya, sehingga pengguna ruang yang berada didalamnya dapat merasakan kesan
ruang akibat aspek dari dinding pelingkup dan jarak pandang. Nilai D/H berada di antara
nilai 1 dan 2 atau 1 > DH < 2 akan memberikan kesan ruang yang seimbang antara ruang
luar dengan dinding pelingkup ruang, apabila nilai D/H= 1 maka hubungan antara ruang
luar dengan bangunan atau dinding ruang terlalu kuat sehingga ruang luar menjadi tidak
dapat dirasakan sebagai ruang yang luas (plaza). Apabila nilai D/H > 2 maka perasaan
luasan plaza menjadi kecil memberikan kesan terlingkup plaza tidak ditemukan. Apabila
D/H > 2 maka daya meruang dalam ruang luar mulai berkurang pengaruh timbal balik
bangunan menjadi melemah dan kurang bekerja.
c. Skala Monumental
Skala monumental adalah skala ruang memiliki luasan ruang yang besar dengan objek
tertentu yang mana objek tersebut memberikan kesan keagungan. Nilai D/ H = 2 akan
memberikan kesan ruang yang diperkuat dengan keberadaan objek yang memiliki
ketinggian 2 kali dari jark pandang pengguna ruang tersebut.
d. Skala Menakutkan
Skala ini merupakan skala yang memiliki kesan ruang yang sangat sempit dengan nilai
D/H < 1 sehingga memberikan kesan ruang yang menakutkan. Apabila D/H < 1 maka
ruang luar tersebut memiliki pengaruh timbal balik dari bangunan yang lebih dominan.
Ewing, dkk (2009) menyatakan Di perkotaan, kesan lingkungan dibentuk oleh lapisan
jalan atau plaza dengan bangunan sama sisi pada bidang jalan atau plaza. Bangunan
menjadi dinding dari ruang luar, jalan dan trotoar menjadi lantai, dan jika bangunan
dengan ketinggian yang relatif sama maka langit sebagai langit-langit yang tak terlihat.
bangunan yang berbaris sering disebut sebagai dinding jalanan.

2.3.5. Skala Manusia


Menurut Ewing, dkk (2013) skala manusia mengacu kepada ukuran, tekstur, dan
artikulasi elemen fisik yang sesuai dengan ukuran dan proporsi manusia. Ukuran dan
proporsi tersebut sama pentingnya dengan kecepatan di mana manusia berjalan. Rincian
bangunan, tekstur suatu trotoar, pepohonan di koridor jalan, dan perabot jalan merupakan
elemen fisik yang berkontribusi terhadap aspek skala manusia. Hubungan dari bangunan
25

atau porsi dari suatu bangunan kepada porsi keberadaan manusia disebut sebagai hubungan
skala manusia. Dalam jurnalnya Ewing, dkk (2009) Skala manusia mengacu pada ukuran,
tekstur, dan artikulasi elemen fisik yang sesuai dengan ukuran dan proporsi manusia dan,
sama pentingnya sesuai dengan kecepatan di mana manusia berjalan. Bangunan dengan
item disekitarnya yaitu, tekstur trotoar, pohon jalan, dan perabot jalan (street furniture)
atau semua elemen fisik pada ruang jalan memiliki kontribusi untuk skala manusia.

Gambar 2.13 Skala manusia bangunan komersial

Sumber: [Link]

Keberadaan pohon jalan dapat memoderasi skala gedung-gedung tinggi dan jalan-
jalan yang lebar. Menurut Henry Arnold dalam Ewing, dkk (2009) dijelaskan di mana
gedung-gedung tinggi atau jalan-jalan lebar akan mengintimidasi pejalan kaki maka
keberadaan daun dan cabang kanopi akan memungkinkan untuk menstimulan pengalaman
ruang yang lebih kecil dalam volume yang lebih besar. Hedman dalam Ewing, dkk (2009)
merekomendasikan penggunaan elemen dengan skala kecil lain seperti menara jam untuk
memoderasi skala bangunan dan jalan-jalan. Skala manusia juga berhubungan dengan
kerumitan pola paving, jumlah street furniture, kedalaman kemunduran pada gedung-
gedung tinggi, kehadiran mobil yang diparkir, ornamen bangunan dan jarak jendela serta
pintu.

2.3.6 Signage
Signage adalah suatu elemen yang memiliki peran penting dalam suatu kawasan
yang harus di tata dengan baik dan teratur agar informasi yang ingin disampaikan dari
signage itu dapat tersampaikan dan dimengerti oleh siapa saja yang membaca (melihat).
Menurut Central Long Beach Design GuideVine (2006) signage atau tanda pengarah pada
area komersial adalah tanda-tanda yang dapat memiliki efek dramatis baik ataupun buruk
kepada potensi persepsi pelanggan atau klien yang melihatnya. Penataan tanda pengarah
26

yang konsiten merupakan kontiniuitas dalam suatu area distrik perbelanjaan dan
meningkatkan pembacaan individu terhadap tanda-tanda tersebut. Tipe dari signage dibagi
menjadi 2 yaitu signage berbasis atau berorientasi kepada pejalan kaki dan signage yang
berorientsi kepada transportasi kendaraan bermotor.
Signage yang berorientasi kepada oengguna ruang pejalan kaki terbagi menjadi
beberapa jenis antara lain:
1. Signage Jendela
Signage ini merupakan signage yang peletakkannya pada jendela pada unit bangunan
komersial.

Gambar 2.14 Contoh signage jendela area komersial

Sumber: [Link]

2. Blade Signage
Signage ini merupakan signage yang dipasang dengan cara di gantung dengan letak
permukaannya tegak lurus dengan permukaan fasad bangunan yang digantung di atas atau
di bawah awning atau kanopi bangunan.

Gambar 2.15 Contoh blade signage area komersial

Sumber: [Link]
27

3. Sigange Direktori
Signage ini merupakan tanda pengarah yang berisi informasi daftar tenant yang mana
terletak dalam suatu bangunan yang sama, bias jadi dalam satu pintu masuk yang
menjelaskan jenis tenant dilantai 1 dan jenis tenant dilantai 2.

Gambar 2.16 Contoh signage direktori area komersial

Sumber: [Link]

4. Backdrop Wall Signs


Signage ini merupakan signage yang memberikan informasi tambahan tentang
kefungsian bangunan. Signage ini terletak dibelakang atau sisi depan dengan dinding
terbuka dan harus tidak boleh melebihi 5% dari bidang dinding bangunannya.

Gambar 2.17 Contoh signage backdrop wall signs

Sumber: [Link]
Signage yang berorientasi pada kendaraan bermotor terbagi menjadi beberapa jenis
antara lain:
28

1. Tanda Pengarah Primer

Gambar 2.18 Contoh tanda pengarah primer

Sumber: [Link]

2. Tanda Pengarah Primer Pada Awning

Gambar 2.19 Contoh tanda pengarah primer pada awning

Sumber: [Link]

3. Major Projecting Sign


Signage ini merupakan signage yang memiliki bentuk yang mirip dengan bentuk
blade signage namun keberadaan signage ini lebih mendominasi dari luasan fasad
bangunannya.
29

Gambar 2.20 Contoh major projecting sign

Sumber: [Link]

4. Tanda Pengarah Berbentuk Monument

Gambar 2.21 Contoh tanda pengarah berbentuk monument

Sumber: [Link]

5. Menu Boards

Gambar 2.22 Contoh menu boards

Sumber: [Link]
30

2.4. Standar (Regulasi)

Menurut Departemen Pekerjaan Umum No.032/T/BM/1999 yaitu pertama


menentukan besarnya arus pejalan kaki yang melintas yang mewakili ruas jalan dengan
rumus ideal yaitu per menit dibagi 35 ditambah 1,5. Jalan Ahmad Yani di fokuskan pada
pembangunan jasa dan perdagangan, sehingga jalan ini sangat ramai di lalui oleh moda dan
pejalan kaki ditambah lagi jalan ini termasuk kedalam jalan provinsi yang ada di kota
Malang. Untuk memberikan kenyamanan pada pejalan kaki maka pedestrian yang baik
sangat dibutuhkan.

A. Jalur Pejalan Kaki Berkebutuhan Khusus


Persyaratan khusus ruang bagi pejalan kaki yang mempunyai keterbatasan fisik
(difabel) yaitu sebagai berikut:
1. Jalur pejalan kaki memiliki lebar minimum 1.5 meter dan luas minimum 2,25m2.
2. Alinemen jalan dan kelandaian jalan mudah dikenali oleh pejalan kaki antara lain
melalui penggunaan material khusus
3. Menghindari berbagai bahaya yang berpotensi mengancam keselamatan seperti jeruji
dan lubang.
4. Tingkat trotoar harus dapat memudahkan dalam menyeberang jalan.
5. Dilengkap jalur pemandu dan perangkat pemandu untuk menunjukkan berbagai
perubahan dalam tekstur trotoar.
6. Permukaan jalan tidak licin.
7. Jalur pejalan kaki dengan ketentuan kelandiaan yaitu sebagai berikut:
a. Tingkat kelandaian tidak melebihi 8% (1:12)
b. Jalur yang landai harus memiliki pegangan tangan setidaknya untuk satu sisi
(disarankan untuk kedua sisi). Pada akhir landau setidaknya panjang pegangan
tangan mempunyai kelebihan sekitar 0.3 meter.
c. Pegangan tangan harus dibuat dengan ketinggian 0.8 meter diukit dari permukaan
tanah dan panjangnya harus melebihi anak tangga terakhir.
d. Seluruh pegangan tangan tidak diwajibkan memiliki permukaan yang licin.
e. Area landau harus memiliki penerangan yang cukup.
B. Ruang bebas Jalur Pejalan Kaki
Perencanaan dan perancangan jalur pejalan kaki harus mempertimbangkan ruang
bebas, ruang bebas jalur pejalan kaki memiliki kriteria sebagai berikut:
a. Memberikan keluasan pada pejalan kaki.
31

b. Mempunyai aksesbilitas tinggi.


c. Menjamin keamanan dan keselamatan.
d. Memiliki pandangan bebas terhadap kegiatan ekitarnya maupun koridor jalan
keseluruhan
e. Mengakomodasi kebutuhan soasial pejalan.

Spesifikasi ruang bebas jalur pejalan kaki ini yaitu sebagai berikut:
a. Memiliki tinggi paling sedikit 2.5 meter.
b. Memiliki kedalaman paling sedikit 1 meter.
c. Memiliki lebar kesamping paling sedikit 0.3 meter.

Gambar 2.23 Standart Ruang Pejalan Kaki

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/PRT/M/2014

C. Jarak Minimum Jalur Pejalan Kaki dengan Bangunan


Jaringan pejalan kaki di perkotaan dapat berfungsi untuk berbagai tujuan yang
beragam. Secara umum ruas pejalan kaki di depan gedung terdiri dari jalur bagian depan
gedung, jalur pejalan kaki, dan jalur perabot jalan. Jaringan pejalan kaki memiliki
perbedaan ketinggian baik dengan jalur kendaraan bermotor ataupun dengan jalur perabot
jalan. Perbedaan tinggi maksimal antara jalur pejalan kaki dan jalur kendaraan bermotor
adalah 0,2 meter, sementara perbedaan ketinggian dengan jalur hijau 0,15 meter.
1. Jalur Pejalan Kaki
a. Jalur pejalan kaki adalah ruang yang digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi
roda bagi penyandang disabillitas secara mandiri dan dirancang berdasarkan
kebutuhan orang untuk bergerak aman, mudah, nyaman dan tanpa hambatan.
32

b. Jalur pejalan kaki ini merupakan ruang dari koridor sisi jalan yang secara khusus
digunakan untuk area pejalan kaki. Ruas ini harus dibebaskan dari seluruh
rintangan, berbagai objek yang menonjol dan penghalang vertical paling sedikit
2.5 meter dari permukaan jalur pejalan kaki yang berbahaya bagi pejalan kaki dan
bagi yang memiliki keterbatasan indera penglihatan.
c. Lebar jalur pejalan kaki bergantung pada intensitas penggunanya untuk
perhitungan lebar efektifnya. Jalur pejalan kaki setidaknya berukuran lebar 1.8
hingga 3.0 meter atau lebih untuk memenuhi tingkat pelayanan yang diinginkan
daam kawasan yang memiliki intesitas pejalan kaki yang tinggi. Lebar minimum
untuk kawasan pertokoan dan perdagangan yaitu 2 meter. Kondisi ini dibuat untuk
memberikan kesempatan bagi para pejalan kaki yang berjalan berdampingan atau
pagi pejalan kaki yang berjalan berlawanan arah satu sama lain.
d. Jalur yang digunakan untuk pejalan kaki dijalan lokal dan jalan kolektor adalah
1.2 meter, sedangkan jalan arteri adalah 1.8 meter. Ruang tambahan diperlukan
untuk tempat pemberhentian dan halte bus dengan luas 1.5m x 2.4m.
e. Jalur pejalan kaki tidak boleh kurang dari 1.2m yang merupakan lebar minimum
yang dibutuhkan untuk orang yang membawa seekor anjing, pengguna alat bantu
jalan, dan para pejalan kaki.
f. Jalur pejalan kaki memiliki perpedaan ketinggian dengan jalur kendaraan
bermotor. Perbedaan tinggi maksimal antara jalur pejalan kaki dengan jalur
kendaraan bermotor adalah 20cm.
2. Jalur Perabot Jalan
a. Jalur perabot jalan dapat berfungsi sebagai ruang yang membatasi jalur lalu lintas
kendaraan dengan area pejalan kaki.
b. Jalur perabot jalan ini berfungsi sebagai tempat untuk meletakkan berbagai
elemen perabot jalan (hidran air, kios, box telepon umum, bangku taman,
penanda, dan lai-lain).
c. Lebar minimum jalur perabot jalan ini paling sedikit 0.6m.
d. Jika jalur perabot jalan dimanfaatkan sebagai jalur hijau yang berfungsi sebagai
penyangga yang ditanami dengan pohon dan tanaman hias maka lebar minimalnya
1.50m. Jalur ini disebut jalur hijau karena dominasi elemen lansekapnua adalah
tanaman yang pada umumnya berwarna hijau.
33

e. Jalur perabot memiliki jalan memiliki perbedaan ketinggian dengan jalur pejalan
kaki. Perbedaan tinggi maksimal antara jalur peranot jalan dengan jalur pejalan
kaki adalah 15 cm.

Standar umum yang baik, yang digunakan dalam perencanaan penempatan elemen-
elemen pendukung jalur pejalan kaki yang berupa pohon, lampu-lampu, bangku istirahat,
dll yang ditetapkan sedemikian rupa sehingga terciptanya kenyamanan bagi pejalan kaki
tetapi pedestrian juga masih tetap mempunyai street furniture.

D. Kemiringan jalur pejalan kaki terdiri atas:


1. Kemiringan memanjang yang kriterianya ditentukan berdasarkan kemampuan berjalan
kaki dan tujuan desain.
2. Kemiringan melintang yang kriterianya ditentukan berdasarkan kebutuhan untuk
drainase serta material yang digunakan pada jalur pejalan kaki.
Pada kemiringan memanjang, kemiringan maksimal sebesar 8% dan disediakan bagian
yang mendatar dengan panjang minimal 1,2 m pada setiap jarak maksimal 9 m. Sedangkan
padakemiringan melintang kemiringan minimal sebesar 2% dan kemiringan maksimal
sebesar 4%. Dalam kondisi tidak memungkinkan untuk menyediakan kemiringan
memanjang, kemiringan dimaksud dapat digantikan dengan penyediaan anak tangga.

E. Jalur Bagian Depan Gedung


Jalur bagian depan gedung adalah ruang antara dinding gedung dan jalur pejalan kaki.
Pejalan kaki biasanya akan tidak merasa nyaman bila berjalan kaki secara langsung
berdekatan dengan dinding gedung atau pagar. Untuk itu jarak minimum setidaknya
berjarak 0,75 meter dari jarak sisi gedung atau tergantung pada penggunaan area ini. jalur
bagian depan dapat ditingkatkan untuk memberikan kesempatan untuk ruang tambahan
bagi pembukaan pintu atau kedai kopi disisi jalan, serta kegiatan lainnya. Bagi orang yang
memiliki keterbatasan indera penglihatan dan sering berjalan di area ini, dapat
menggunakan suara dari gedung yang berdekatan sebagai orientasi, atau bagi tuna netra
pengguna tongkat dapat berjalan dengan jarak antara 0,3 meter hingga 1,2 meter dari
bangunan. Bagian depan harus bebas dari halangan atau berbagai objek yang menonjol.
Jalur bagian depan gedung juga harus dapat dideteksi oleh tuna netra yang menggunakan
tongkat yang panjang.
34

Tabulasi ringkas penyediaan penyeberangan, jalur hijau, dan perabot/perlengkapan


ruas pejalan kaki:

Gambar 2.24 Penyediaan penyeberangan, jalur hijau, dan perabot/perlengkapan ruas pejalan kaki

Sumber: Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 03/PRT/M/2014

Menurut Peraturan Daerah Kota Malang No. 1 Tahun 2012 sempadan bangunan
antara lain:
a. Bangunan pada tepi jalan arteri memiliki jarak 20 meter
b. Bangunan pada tepi jalan kolektor primer memiliiki jarak 15 meter dan jalan lokal
sekunder sebesar dengan jarak 7 meter
c. Bangunan pada tepi jalan lokal primer dengan jarak 10 meter dan jalan lokal sekunder
sebesar 6 meter
d. Bangunan pada tepi jalan lingkungan dengan jarak 5-6 meter
e. Bangunan pada tepi jalan gang dengan jarak 4 meter
f. Bangunan pada tepi jalan tanpa perkerasan dengan jarak 4 meter
35

2.5. Studi Terdahulu


Tabel 2.3 Studi Terdahulu
Teori Variabel Metode Hasil Kontribusi
Herry Santosa, dkk Citra dan karakter Measure of balance, measure Kuantitatif dan Menurut penilian Masukan terhadap metode
(2013) kesemptan ruang of equilibrium, measure of kualitatif menggunakan IAM pengukuran dan analisis data
INTEGRASI arsitektur, citra kota symemetry, measure of dan persepsi melalui analisis deskriptif, serta
PENDEKATAN dan karakter visual sequence, measure of unity, masyarakat Bank analisis persepsi masyarakat.
KUALITATIF DAN arsitektur bangunan, measure of proportion, Mayanda memiliki
KUANTITATIF kualitas dan pembentuk measure of simplicity, estetika fasad yang
DAlAM PENILAIAN visual kota, measure of densicity, paling baik.
ESTETIKA FASADE Environmental measure of regularity,
BANGUNAN DI Aesthetics, measure of economy,
KORIDOR JALAN Computational measure of homogenetic,
KAYUTANGAN, Aesthetics measure of rhythm.
MALANG
Herry Santosa, dkk Transformasi wajah Profil bangunan dan trotoar, Sistem Virtual Reality Perbandingan Masukan terhadap metode
(2013) kota, Preservation of vegetasi, bentuk fasade, (VR) dikombinasikan terhadap kondisi sampling evaluasi visual, karakter
VISUAL Historical gaya fasade, ornament dengan metode Sematic karakteristik fisik fisik pada koridor jalan, maupun
EVALUATION OF Streetscapes, fasade, tekstur fasade, Differential (SD) dengan penilaian prefensi masyarakat.
URBAN Regarding the finishing fasade, warna pemilik bangunan
COMMERCIAL cityscape of Indonesia. fasade, signage. terhadap visual.
STREETSCAPE
THROUGH BUILDING
OWNERS JUDGMENT
Aris Widodo (2013) Teori kenyamanan, Kondisi fisik berhubungan Kuantitatif Faktor-faktor yang Masukan untuk metode penelitian
STUDI TENTANG pejalan kaki, trotoar, dengan kenyamanan para meliputi, ketera- yang digunakan yaitu kuantitatif
KENYAMANAN jalan protokol pejalan kaki terhadap turan sirkulasi, melalui metode pengumpulan data
PEJALAN KAKI pemanfaatan fasilitas jalur perlindungan yakni berupa angket (kuisioner).
TERHADAP trotoar, terhadap cuaca,
PEMANFATAAN keselamatan/keamanan peredaman
TROTOAR DI JALAN pejalan kaki dan fasilitas kebisingan, polusi
PROTOKOL KOTA penunjang trotoar. udara, bentuk lanskep
SEMARANG yang baik, kebersihan
(STUDI KASUS dan keindahan yang
JALAN terjaga, terjaminnya
PANDANARAN rasa keamanan, serta
SEMARANG) kelengkapan fasilitas
36

Teori Variabel Metode Hasil Kontribusi


jalan, benar-benar
merupakan unsur
pokok (deterministik)
yang menunjang rasa
kenyamanan pejalan
kaki.
Andi Purnomo dkk Sirkulasi, daya alam Sirkulasi, daya alam atau Kuantitatif Pentingnya elemen- Masukan untuk metode penelitian
(2015) atau iklim, kebisingan, iklim, kebisingan, aroma elemen suatu yang digunakan yaitu kuantitatif
TINGKAT aroma atau bau –bauan, atau bau –bauan, bentuk, pedestrian untuk melalui metode pengumpulan data
KENYAMANAN bentuk, keamanan, keamanan, kebersihan, memberikan yakni berupa angket (kuisioner).
JALUR PEDESTRIAN kebersihan, keindahan, keindahan, dan penerangan kenyamanan bagi
DI KAWASAN dan penerangan pejalan kaki.
SIMPANG LIMA
KOTA SEMARANG
BERDASARKAN
PERSEPSI
PENGGUNA

Feybe G kalinongga Jalur pedestrian, Tingkat kenyamanan aspek Kualitatif Pengaruh sirkulasi, Masukan untuk metode penelitian
dkk, (2014) elemen jalur pedestrian sirkulasi, aksesbilitas, gaya aksesbilitas, iklim, yang digunakan yaitu kualitatif
KAJIAN ASPEK dan unsur kenyamanan alam dan iklim, keamanan, keamanan, dan dengan survey dan
KENYAMANAN dan kebersihan kebersihan dalam mengumpulkan data-data primer
JALUR PEDESTRIAN kenyamanan pejalan dengan membaginya dalam
JL. PIERE TENDEAN kaki. beberapa zona dan segmen untuk
DI KOTA MANADO mempermudah dalam
menganalisis.

Enggar Septika D. Elemen-elemen yang Elemen-elemen jalur pejalan Kualitatif Semakin tinggi Masukan terhadap Metode
(2016) harus terdapat pada kaki dapat menjadi salah tingkat kenyamanan pengumpulan data dilakukan
TINGKAT jalur pejalan kaki satu cara untuk memberikan jalur pejalan kaki, dengan wawancara kualitatif
KENYAMANAN kenyamanan pada jalur semakin banyak pula dengan alat survey kuisi-oner
JALUR PEJALAN pejalan kaki. masyarakat yang (Online).
KAKI JALAN ASIA memilih untuk
AFRIKA, BANDUNG berjalan kaki untuk
men-capai akses
aktivitasnya
37

Teori Variabel Metode Hasil Kontribusi


Studyamadyakomunika Faktor-faktor yang Kondisi fisik (Lebar Kualitatif dan kuantatif Persepsi pejalan kaki Masukan terhadap variabel
Linda, dkk (2015) mempengaruhi pedestrian, permukaan jalur terhadap kenyamanan penelitian yaitu variabel
STUDI PERSEPSI DAN kenyamanan, pejalan pedestrian, ramp/tanjakan koridor jalan. kenyamanan spasial pejalan kaki.
PREFERENSI kaki, jalur pedestrian, jalur pedestrian); fasilitas Masukan untuk metode penelitian
PEJALAN KAKI persepsi, dan prefensi jalur pedestrian (lampu yaitu kualitatif dan kuantitatif
TERHADAP JALUR penerangan, sign/rambu- sebagai metode analisa data
PEDESTRIAN DI rambu, tempat sampah, persepsi pejalan kaki terhadap
KAWASAN PASAR hydrant) dan fungsi jalur kenyaman koridor
GEDE KOTA pedestrian.
SURAKARTA
Nicholaus Nino Ruang jalan, setting Setting fisik meliputi kualitatif Pengaruh setting fisik Masukan terhadap variabel
Ardhianshah (2012) fisik, setting aktivitas, bangunan, setback, signage, terhadap setting penelitian yaitu variabel jalur
PENINGKATAN dan liveable street street furniture, vegetasi, aktivitas dan pejalan kaki, kemunduran
KUALITAS RUANG jalur pedestrian, setting rekomendasi desain bangunan, perabot jalan, vegetasi
JALAN PADA FUNGSI aktivitas meliputi PKL, dan tanda pengarah. Kemudian
KOMERSIAL DI budaya, parkir, pejalan kaki, masukan untuk metode yang
KAWASAN CANDI pengguna kendaraan digunakan yaitu kualitatif sebagai
BOROBUDUR metode analisis data karakteristik
fisik koridor.
Chaerul Muchtar (2010) Teori kenyamanan, Aspek fisik meliputi Kualitatif Persepsi kenyamanan Masukan terhadap variabel
IDENTIFIKASI hubungan pejalan kaki, penempatan trotoar, dimensi perjalanan para penelitian yaitu variabel
TINGKAT kriteria jalur pejalan trotoar, lapisan pejalan kaki, Tingkat kenyamanan spasial fungsi
KENYAMANAN kaki, dan berbagai permukaan,kemiringan/ kenyamanan pejalan ruang pejalan kaki.
PEJALAN KAKI rujukan standar ramp, penyebrangan dan kaki. Masukan untuk metode
STUDI KASUS JALAN zebra cross, struktur penelitian yang digunakan
KEDOYA RAYA – drainase, penerangan, tempat yaitu kualitatif sebagai
ARJUNA SELATAN istirahat, halte, rambu- metode analisis data
rambu, jalur taman, karakteristik fisik koridor
kebersihan dan aspek non studi.
fisik meliputi fungsi trotoar,
pejalan kaki, pemeliharaan
perawatan

Ashadi, dkk (2010) Teori Pejalan kaki, Elemen-elemen pelengkap Kualitatif Saran dan Masukan untuk metode
ANALISA PENGARUH teori Sirkulasi pejalan pejalan kaki meliputi elemen rekomendasi penelitian yang digunakan
ELEMEN-ELEMEN kaki, karakteristk jalur pejalan kaki itu sendiri) deskriptif mengenai yaitu kualitatif sebagai
38

Teori Variabel Metode Hasil Kontribusi


PELENGKAP JALUR perjalanan kaki, Jenis dan elemen pendukung penataan area pejalan metode analisis data
PEDESTRIAN elemen (lampu penerang, vegetasi, kaki berdasarkan karakteristik fisik koridor
TERHADAP tempat sampah, karakteristik dan studi.
KENYAMANAN telepon umum, halte, tanda kebutuhan pejalan
PEJALAN KAKI petunjuk). kaki
STUDI KASUS:
PEDESTRIAN
ORCHARD ROAD
SINGAPURA

Kuncoro, dkk (2013) Pedestrian, Fasilitas Bus dan lapak tunggu, Kuantitatif Tingkat kenyamanan Masukan terhadap metode
IDENTIFIKASI Jalur Pedestrian, Telepon umum, Fasilitas pejalan kaki dan yaitu metode kuantitatif yang
KENYAMANAN Persyaratan Teknis bagi difabel, Lampu, rekomendasi diterapkan pada analisis
PEJALAN KAKI DI Jalur Pedestrian, bangku, Pagar, Tempat people preferance sesuai
CITY WALK Elemen Material Jalur sampah, Marka, perambuan, pengalaman pengguna
JALAN SLAMET Pedestrian, Tipologi Material ,Drainase, Jalur ruang pejalan kaki.
RIYADI SURAKARTA Ruang Pejalan Kaki, hijau, tanda informasi, Halte
Aksesibilitas, Fasilitas
Difable

Muafani (2014) Elemen penataan kota Tiang sign/rambu lalu lintas, Kuantitatif dan Pengaruh yang timbul Metode kualitatif
ANALISA PENGARUH lampu penerangan jalan, kualitatif dan faktor yang tidak sebagai analisis
ELEMEN-ELEMEN bollard/pemisah jalur, berpengaruh akibat karakteristik fisik kondisi
PELENGKAP JALUR shelter/kanopi, paving, keberadaan elemen eksisting koridor ruang
PEDESTRIAN telepon umum, untuk street furniture pejalan kaki dan metode
TERHADAP melepas lelah, tanaman kuantitatif yang
KENYAMANAN peneduh, tempat sampah, diterapkan pada analisis
PEJALAN KAKI Keberadaan pedagang kaki people preferance sesuai
STUDI KASUS: lima. pengalaman pejalan kaki.
PEDESTRIAN Penelitian ini juga
ORCHARD ROAD mengguanakan analisis
SINGAPURA regresi sebagai masukan
untuk mengolah
variabel penelitian.
39

2.6. Kerangka Teori


3. Rumusan Masalah
Bagaimana evaluasi kenyamaan visual dan spasial ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani

Kata Kunci
Karakteristik Koridor Wujud bangunan (Krier. 1979)
Komersil
Jalan
Pejalan kaki
(krier.1979)
Kenyamanan Figure ground (Trancik,1966)

Street and pedestrian ways


(Trancik, 1966)

Sirkulasi dan parkir Pemahaman


karakteristik koridor
Street furniture jalan dan lokasi studi
Teori Kenyamanan
Setback bangunan
(Fitriani, 1997)
Tata tanda (signage)

Vegetasi
Kenyamanan Spasial Koridor
Jalan Fungsi ruang pejalan kaki

Jalur Pejalan Kaki


Defenisi, standart,
Setback Bangunan strategi pada ruang
pejalan kaki
Street Furniture

Vegetasi
Kenyamanan Visual Koridor Kompleksitas
Jalan
Transparansi
Fungsi, standart,
Imageability strategi pada ruang
pejalan kaki
Pola dasar lingkungan

Skala manusia Masukan terhadap teori


penelitian, metoda
Tanda petunjuk pengumpulan data,
metode analisisyang
Penelitian Integrasi Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif dalam digunakan yaitu
Terdahulu Penelitian Estetika Fasade Bangunan di Koridor Jalan kualitatif dan kuntitatif,
Kayutangan, Malang (Santosa, dkk, 2013) variabel penelitan yaitu
kenyamanan spasial
Visual Evaluation Of Urban Commercial Streetscape Through dengan sub variabel:
Building Owner Judgment (Santosa, dkk, 2013) fungsi ruang pejalan
kaki, jalur pejalan kaki,
setback bangunan, street
Peningkatan Ruang Kualitas Jalan pada Fungsi Komersial di furniture, dan vegetasi,
Kawasan Candi Borobudur (Nino Ardhiyansyah, 2012) lalu kenyamanan visual
dengan sub variabel:
Identifikasi Tingkat Kenyamanan Pejalan Kaki Studi Kasus kompleksits, trnspransi,
Jalan Kedoya Arjuna Selatan (Muchtar, 2010) imageability, pola dasar
lingkungan, skala
Studi Tentang Kenyamanan Pejalan Kaki Terhadap manusia, dan signage,
Pemanfataan Trotoar di Jalan Protokol Kota Semarang serta pembahasan dan
(Studi Kasus Jalan Pandanaran Semarang) (Aris Widodo, hasil pembahasan
2015)

Gambar 2.25 Kerangka teori


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Metode Umum dan Tahapan Kajian Penelitian


Metode kajian penelitian yang digunakan untuk meneliti kenyamanan spasial dan
visual ruang pejalan kaki pada koridor Jalan Ahmad Yani (Jalan Provinsi) yaitu
menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk meneliti
karakter fisik kondisi eksisting koridor jalan pada area studi berdasarkan sub variabel yang
sudah ditentukan. Tujuan analisis kualitatif ini untuk mendapatkan gambaran eksisting
tentang apa saja yang ada di lapangan dan memberikan informasi penting untuk
mendukung variabel pada penelitian. Kemudian metode kuantitatif dilakukan dengan cara
menyebarkan kuisioner, metode ini digunakan untuk mengevaluasi pendapat masyarakat
tentang tingkat kenyamanan spasial dan visual saat berjalan pada koridor jalan Ahmad
Yani. Agar masyarakat lebih mengerti saat mengisi kuisioner maka pada saat penyebaran
kuisioner di pandu oleh surveyor. Untuk mengolah data kuantitatif digunakan analisis
statistik sederhana (mean). Faktor spasial dan faktor visual saling berhubungan/ berkaitan
dalam menentukan kenyamanan pejalan kaki. Hubungan tersebut akan dianalisis secara
kualitatif dan kuantitatif berdasarkan hasil analisis oleh peneliti. Pada tahap akhir, untuk
mengetahui tingkat kenyamanan spasial dan visual hasil obeservasi kualitas fisik koridor
jalan Ahmad Yani disandingkan dengan hasil persepsi masyarakat sehingga dapat
diketahui sub varibel mana yang memiliki kesamaan dengan pendapat masyarakat
mengenai kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad
Yani.

3.2. Lokasi Penelitian


Lokasi studi berada di koridor Jalan Ahmad Yani, Kota Malang. Mulai masjid
Sabillillah sampai PT Adi Putro. Lokasi studi secara adiministrasi berada pada yaitu
kecamatan karangploso dan kecamatan Borobudur. Menurut pembagian kelas nya Ahmad
Yani merupakan salah satu dari lima jalam Provinsi yang melewati Kota Malang. Area
Studi merupakan area komersil (perdagangan dan jasa). Koridor jalan ini menghubungan
kota malang dengan kota Surabaya. Fasilitas umum yang terdapat pada jalan ini seperti
bank, sourum, kantor pengadilan negeri Malang, sekolah, dan ruko-ruko yang menjual
bahan bangunan.

49
Fungsi bangunan pada koridor Ahmad Yani mempengaruhi dalam ruang pejalan kaki.
Aktifitas yang paling dominan adalah perdagangan (jual beli), aktivitas berkendara yang
padat pada jalan provinsi di bidang jalan koridor studi, aktifitas beribadah, aktivitas
pendidikan, aktifitas transaksi uang, aktifitas jual beli pada pedagang kaki lima yang
berada dibawah flyover. Setting aktivitas pada koridor Batasan lokasi penelitian
Kenyamanan Spasial dan Visual Ruang Pejalan Kaki Pada Koridor Jalan Ahmad Yani
yaitu :
Batas Utara : PT. Adi Putro
Batas Selatan : Masjid Sabilillah
Batas Barat : Perumahan Belimbing
Batas Timur : Arjosari

Gambar 3.1 Peta kota Malang


Gambar 3.2 Peta area koridor studi penelitian

Sumber: Peta garis kota malang


Berikut ini adalah gambaran mengenai kondisi ruang pejalan kaki ruang pejalan kaki
pada koridor jalan Ahmad Yani Malang.

Gambar 3.3 Foto kondisi ruang pejalan kaki pada kawasan studi
3.3. Variabel Penelitian
Menurut Fitriani (1997) faktor kenyamanan terbagi menjadi 4 yaitu: kenyamanan ruang
atau spasial, kenyamanan visual, kenyamanan audio atau suara, dan kenyamanan panas
atau termal. Fokus pembahasan dibatasi pada asepek kenyamanan spasial dan visual untuk
memfokuskan pembahasan penelitian.
Tabel 3.1 Variabel penelitian
Variabel Sub Variabel Indikator
Kenyamanan Kenyamanan 1. Fungsi Ruang Jenis fungsi ruang Chaerul
Ruang Pejalan Spasial Posisi jalur pejalan Muchtar
Kaki kaki (2010)
2. Jalur pejalan kaki Dimensi jalur pejalan Nino
kaki Ardhiansyah
Material jalur pejalan (2012)
kaki
Kemenerusan
3. Kemunduran Ukuran/lembar Nino
bangunan (setback) sempadan bangunan Ardhiansyah
Kesegarisan (2012)
kemunduran bangunan
4. Perabot jalan Jenis perabot jalan Nino
Fungsi vegetasi Ardhiansyah
Posisi vegetas (2012)
5. Vegetasi Jenis vegetasi Nino
Fungsi vegetasi Ardhiansyah
Posisi vegetasi (2012)
Kenyamanan 1. Kompleksitas Jenis keragaman Reid Edwing,
Visual kawasan tampilan dkk (2013)
Warna dominan
kawasan
2. Transparasi koridor Keterlihatan (visibility) Reid Edwing,
jalan dkk (2013)
3. Kesan Lingkungan Keunikan tampilan Reid Edwing,
Kawasan bangunan dkk (2013)
(Imageability)
4. Pola dasar Proporsi dinding jalan Reid Edwing,
lingkungan (H) dkk (2013)
(Enclosure) Proporsi jarak pandang
(D)
5. Skala manusia Ketinggian bangunan Reid Edwing,
sama-sisi dkk (2013)
Faktor perabot dan
items koridor
6. Signage Keterlihatan (visibility) Nino
Ardhiansyah
(2012)

3.3.1. Kenyamanan Spasial Ruang Pejalan Kaki


Kenyamanan spasial adalah aspek kenyamanan yang berkaitan dengan pelingkup
aktifitas/ sebuah wadah yang didalamnya terjadi aktifitas-aktifitas. Pada penelitian ini
aspek kenyamanan spasial berhubungan dengan pergerakan sirkulasi dan aktifitas yang
dialami pengguna ruang pejalan kaki. Kenyamanan spasial dibagi lagi dalam beberapa
variabel yaitu fungsi ruang pejalan kaki, jalur pejalan kaki, setback, street furniture, dan
vegetasi. Aspek kenyamanan spasial pejalan kaki merupakan aspek kenyamanan
penggunaan suatu ruang. Sub variabel dari kenyamanan spasial ruang pejalan kaki antara
lain fungsi ruang, dengan indikator jenis fungsi ruang pejalan kaki dan posisi jalur pejalan
kaki, sub variabel jalur pejalan kaki dengan indikator dimensi jalur pejalan kaki, material
jalur pejalan kaki, dan kemenerusan trotoar, sub variabel kemunduran bangunan dengan
indikator ukuran lebar sempadan bangunan terhadap keberadaan trotoar dan kesegarisan
kemunduran bangunan, sub variabel perabot jalan dengan indikator jenis perabot jalan dan
posisi perabot jalan, sub variabel vegetasi dengan indikator jenis vegetasi, fungsi vegetasi
dan posisi peletakan vegetasi.

3.3.2. Kenyamanan Visual Ruang Pejalan Kaki


Kenyamanan visual merupakan kenyamanan yang dirasakan oleh pejalan kaki
dengan cara melihat (menggunakan mata) tentang kondisi ruang yang di lewati oleh
pejalan kaki tersebut. Aspek kenyamanan visual di bagi kedalam beberapa variabel yaitu
kompleksitas kawasan, transparasi koridor jalan, imageability, pola dasar lingkungan
(enclosure), skala manusia, signage, dan fasilitas penerangan.
Aspek kenyamanan visual merupakan aspek variabel penelitian yang membahas
tentang kenyamanana pengamat untuk melihat suasana suatu ruang. Sub variabel dari
aspek variabel kenyamanan visual ruang pejalan kaki didapat dari teori Ewing (2013) yang
mengemukakan 9 teori tentang pengukuran kualitas urban design yang mempengaruhi
walkability. Namun yang dapat diukur hanya 5 teori ditambah dengan variabel penelitian
oleh Ardiansyah (2012) tentang keterlihatan tanda pengarah atau signage. Sehingga sub
variabel yang digunakan yaitu kompleksitas kawasan dengan indikator jenis keragaman
tampilan kawasan , sub variabel transparansi koridor jalan dengan indikator keterlihatan
pandangan dari luar menuju bangunan, sub variabel kesan kawasan (imagiabelity) dengan
indikator penelitian ketinggian bangunan yang terletak di seberang ruas jalur pejalan kaki
dan jarak pandang bangunan dari trotoar tempat pengamat berjalan menuju bangunan yang
berada diruas seberang jalur pejalan kaki, sub variabel skala manusia dengan indikator
penelitian proporsi perbandingan ketinggian manusia dengan proporsi ketinggian bangunan
pada koridor studi, dan perbandingan proporsi ketinggian item koridor terhadap proporsi
tinggi badan manusia, sub variabel tanda pengarah (signage) dengan indikator penelitian
keterlihatan tanda pengarah pada koridor jalan studi.

3.3.3. Integrasi Identifikasi Karakter Fisik dengan Persepsi Masyarakat


Aspek kenyamanan spasial dan visual memiliki hubungan yang saling mempengaruhi.
Observasi karakter fisik dianalisis oleh penulis dari setiap indikator sub variabel penelitian
sehingga ditemukan bagaimana kondisi eksisting lokasi studi. Lalu hasil dari persepsi
masyarakat yang sudah didapatkan melalui kuisioner di analisis menggunakan SPSS dan
dicari mean dari setiap sub variabel sehingga dapat diketahui sub variabel mana yang
memiliki nilai positif, netral dan negatif. Hasil dari observasi karakter fisik kemudian
disandingkan dengan persepsi masyarakat sehingga dapat dilihat sub variabel mana yang
memiliki kesesuaian dengan persepsi masyarakat.

3.3.4. Instrumen Penelitian


Alat yang digunakan untuk mengumpulkan, mengolah serta menganalisis data antara
lain adalah:
1. Buku tulis, sebagai media untuk mencatat dan mensketsa hal-hal yang menjadi
perhatian selama melakukan penelitian.
2. Alat tulis, sebagai alat untuk mencatat atau menggambar hal-hal penting yang menjadi
perhatian studi. Alat tulis berupa bolpoint, pensil, dan spidol.
3. Meteran, untuk mengukur jarak kondisi fisik.
4. Laptop sebagai alat untuk menyimpan data dan mevisualisasikan ruang.
5. Kamera sebagai alat untuk memperoleh gambar dan video.
6. Peta sebagai alat petunjuk arah/lokasi kawasan serta untuk mendata keberadaan
permasalahan.
7. Kuisioner, media responden untuk menjawab pertanyaan.

1.5. Tahapan Operasional Penelitian


1. Tahapan pra-survei, yaitu penyusunan kerangka konseptual. Pada tahap ini peneliti
melakukan metode glassbox yang merupakan metode melihat secara terbuka setiap
permasalahan ataupun kondisi eksistingpada koridor Jalan Ahmad Yani Kota Malang.
tahapan berikutnya berupa perumusan masalah, tujuan penelitian, pemilihan variabel,
pemilihan instrumenn, dan pembatasan zona penelitian.
2. Tahap survey lapangan, mengumpulkan data-data yang terdapat di lapangan sesuai
dengan variabel-variabel yang sudah ditentukan berupa observasi kualitatif untuk
mendapatkan data informasi deskriptif dan observasi survey kuisioner berupa data –
data kuantitatif.
3. Tahapan pengolahan data, data diolah dengan metode kualitatif dan kuantitatif pada
lokasi studi sehingga menghasilkan suatu informasi deskriptif, gambaran visual, dan
tabulasi untuk menggambarkan lokasi studi
4. Tahap analisis, meliputi analisis data dikaji berdasarkan dari variabel-variabel yang
sudah ditentukan.
5. Tahap evaluasi, sebagai tahap akhir berupa saran dan kriteria desain yang nyaman
secara spasial dan visual sesuai konteks lokasi studi.

1.6. Metode Pengumpulan Data


1. Data Primer
a. Observasi dan Dokumentasi
Observasi langsung dilapangan mengenai kondisi eksisting kawasan.
Menganalisis dan melihat langsung kebutuhan ruang pejalan kaki yang disertai
aktivitas-aktivitas masyarakat, dapat dibantu/didukung oleh dokumentasi sebagai
data lapangan.
b. Kuisioner
Fungsi dari kuisioner untuk mendapatkan data kualitatif berdasarkan
persepsi masyarakat tentang koridor Jalan Ahmad Yani secara visual dan spasial
untuk mendukung kenyaman saat berjalan pada koridor tersebut. Pertanyaan-
pertanyaan dalam kuisioner mengacu pada kualitas visual koridor Jalan Ahmad
Yani. Pertanyaan pada kuisioner dibuat sesuai dengan sub variabel yang sudah di
tentukan. Kuisioner yang digunakan adalah kuisioner tertutup, dimana alternative
jawaban sudah disediakan. Skala yang digunakan adalah multiple rating scale
dimana skala ini berisi tingkat jawaban responden terhadap suatu pertanyaan
dengan pemberian skor. Skala yang digunakan pada kuisioner ini ada 7 skala
dengan tingkat sangat tidak nyaman sampai sangat nyaman. Skala multiple rating
scale ini indikatornya akan bernilai negatif (-) jika jawaban responden dibawah
angka 4, jawaban netral adalah jika responden menjawab no 4, dan berniai (+) jika
jawaban responden diatas angka 4.
Tabel 3.2 Jenis Pembobotan Tingkat Nilai Kenyamanan berdasarkan Skala Multiple
Rating Scale
No Skala Nilai

1 Sangat Tidak Nyaman 1

2 Tidak Nyaman 2

3 Agak Tidak Nyaman 3

4 Netral 4

5 Agak Nyaman 5
6 Nyaman 6

7 Sangat Nyaman 7

2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang
melakukan penelitian dari sumber-sumber yang tevah ada (Hasan,2002: 58). Data ini
digunakan untuk mendukung informasi primer yang telah diperoleh yaitu dari bahan
pustaka, literature, penelitian terdahulu, buku, dan lain sebagainya.

1.7. Populasi dan Sampel


Populasi pada penelitian ini adalah pengguna ruang pejalan kaki yang melewati
koridor Jalan Ahmd Yani. Responden yang menjadi sampel harus melakukan pergerakan
terlebih dahulu pada area ruang pejalan kaki koridor pengamatan. Jenis metode pemilihan
sampel yaitu Non-Probality Sampling dengan teknik Purposive Sampling. Non-Probality
Sampling yaitu tidak memberikan peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur/anggota
populasi untuk dipilih menjadi sampel. Menurut Supardi (1993) non-probality sampling
yaitu pengambilan sampel penelitian secara random. Teknik sampling ini cocok dipilih
untuk populasi yang bersifat infinit, artinya besaran anggota populasi belum atau tidak
dapat ditentukan lebih dahulu. Purposive sampling, merupakan teknik non probability
sampling yang lebih tinggi kualitasnya, di mana peneliti telah membuat kisi-kisi atau
batas-batas berdasarkan ciri-ciri subjek yang akan dijadikan sampel penelitian. Proses dari
teknik ini sama dengan bentuk teknik non probability sampling yang lainnya, hanya
peneliti telah menentukan ciri-ciri konsumen yang akan dijadikan sampel penelitian
misalnya didasarkan pria-wanita, jenis pekerjaan, umur dan pengalaman. Pada penelitian
ini sampel penelitian yang dijadikan sebagai konsumen berdasarkan pengalaman, umur,
dan pekerjaan dimana sampel yang dipilih merupakan sampel yang sering melewati
koridor jalan Ahmad Yani, yang tinggal pada area koridor jalan Ahmad Yani, dan yang
beraktivitas pada koridor jalan Ahmad Yani serta sampel yang dianggap mampu untuk
menjawab secara objektif sehingga peneliti menggunakan sebagai pertimbangan untuk
menentukan anggota populasi yang akan dipilih sebagai sampel. Lokasi studi dibagi
menjadi 3 titik penyebaran kuisioner. Dimana masing masing titik terdapat sebanyak 30
sampel, sehingga total sampel adalah 90 sampel. Rocoe dalam Sugiyono (2006:101) saran
ukuran sampel menyatakan ukuran sampel yang layak dalam penelitian adalah antara 30-
500.
Gambar 3.4 Titik Pesebaran kuisioner
1.8. Metode Analisis Data
1.8.1. Metode Kualitatif dan Kuantitatif
Analisis kualitatif dilakukan dengan cara meneliti langsung lokasi studi dengan
melihat kondisi eksisting, mengumpulkan data-data yang terdapat di lapangan sesuai
dengan variabel-variabel yang sudah ditentukan berupa observasi kuantitatif untuk
mendapatkan data primer, kemudian analisis kuantitatif dilakukan dengan survey kuisioner
yang dibagikan kepada responden yang melalui koridor Jalan Ahmad Yani. Tahap
pengolahan data sebagai berikut:
Observasi Lapangan

1. Melakukan identifikasi dan pemetaan terhadap kondisi eksisting yang ada pada
kawasan studi berdasarkan sub variabel
2. Melakukan rekapitulasi data kondisi eksisting kawasan studi berdasarkan variabel
penelitian
3. Mengevaluasi data menggunakan teori dan atau regulasi kota Malang terkait ruang
pejalan kaki pada jalan Ahmad Yani
4. Menarik Kesimpulan mengenai kondisi eksisting koridor jalan Ahmad Yani tentang
kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki

Persepsi Masyarakat

1. Pemeriksaan kelengkapan jawaban kuisioner


2. Melakukan uji validasi dan reliabilitas data
3. Menghitung jumlah atau frekuensi menggunakan SPSS
4. Menghitung persentase jawaban responden
5. Setelah melakukan analisis mean dari keseluruhan jawaban yang sudah direkap. Data
tersebut dapat diolah menggunakan program SPSS untuk memunculkan data mean dan
standart deviasi. Data mean sebagai hasil rata-rata dari keseluruhan sampel. Data
sampel akan memiliki nilai positif, netral dan negatif. Standard deviasi pada penelitian
adalah nilai jarak antara titik tengah nilai sampel terhadap nilai terluar dari sampel
tersebut.
1. Mean
Data mean sebagai hasil rata-rata dari keseluruhan sampel. Data sampel akan
memiliki skor negatif apabila meannya berada memiliki angka dibawah 3.572 dan
bernilai positif apabila skor mean berada diatas 4.428. Skala Thurstone apabila skala
yang kita kehendaki merupakan jenis data yang lebih tinggi atau data interval maka
kita dapat menggunakan skala ini/interval yang panjangnya sama memilki intensitas
kekuatan yang sama atau juga disebut dengan digunakan untuk menganalisa persepsi
masyarakat terhadap kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki pada koridor
jalan Ahmad Yani. Para responden akan diminta untuk menempatkan setiap item
pernyataan dalam salah satu dari 7 kategori skala. Standart deviasi adalah penelitian
nilai jarak antara titik tengah nilai sampel terhadap nilai terluar dari sampel
[Link] Equal Appearing Interval. Pengukuran skala menurut metode
Thurstone

Rumus range skala Thurstone =

Rumus range skala Thurstone =

1 - 1.857 Sangat Tidak Nyaman


1.857 – 2.714 Tidak Nyaman
2.715 – 3.571 Agak Tidak Nyaman
3.572 – 4.428 Netral
4.429 – 5.285 Agak Nyaman
5.286 – 6.142 Nyaman
6.142 – 7 Sangat Nyaman

Gambar 3.5 Skala Thurstone

Sumber: Arena Statistics

2. Uji Validitas
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan
kecermatan suatu alat ukur dalam melakukam fungsi ukurannya (Azwar 1986). Selain
itu validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan bahwa variabel yang diukur
memang benar-benar variabel yang hendak diteliti oleh peneliti (Cooper dan
Schindler, dalam Zulganef, 2006). Validitas dalam penelitian menyatakan derajat
ketepatan alat ukur penelitian terhadap isi sebenarnya yang diukur. Uji validitas adalah
uji yang digunakan untuk menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan dalam
suatu mengukur apa yang diukur. Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau
validnya sebuah kuisioner. Suatu kuisioner dikatakan valid jika pertanyaan pada
kuisioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuisioner
tersebut. Teknik pengujian untuk validitas adalah menggunakan kolerasi Bivariate
Pearson (Produk Momen Pearson). Analisis ini dengan cara mengkorelasikan masing-
masing skor item dengan skor total. Skor total adalah penjumlahan dari keseluruhan
item. Valid tidaknya suatu item instrument dapat diketahui dengan membandingakan
nilai r hitung hasil analisis (pearson correlation) dengan r tabel (dengan n=90
didapatkan r tabel=0.205). Apabila nilai r hitung lebih besar dari nilai r tabel atau
apabila nilai significant (sig) yang dihasilkan lebih kecil dari 0.05 (5%) maka dapat
dinyatakan pertanyaan tersebut valid dan apabila sebaliknya dinyatakan tidak valid.
Uji validitas dilakukan terhadap tiap sub variabel dari variabel kenyamanan spasial
dan visual ruang pejalan kaki.

3. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas, pengujian ini dilakukan untuk mengetahui instrument yang
digunakan dalam penelitian untuk memperoleh informasi yang digunakan dapat
dipercaya sebagai alat pengumpulan data dan mampu mengungkapkan informasi yang
sebenarnya dilapangan. Reliabilitas menunjukkan sejauh mana hasil pengukuran harus
reliable dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi dan kemantapan. Bila suatu
alat pengukuran dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang sama dan hasil
pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat pengukuran tersebut reliable,
dengan kata lain Reliabilitas menunjukkan konsistensi didalam pengukuran gejala
yang sama. Kriteria utama dalam hasil penelitian yang sudah dilakukan dalam
penelitian kuantitatif yaitu valid, realibel, dan objektif (Sugiyono, 2006). Uji Realilitas
yang digunakan pada penelitian ini adalah uji Reliabilitas Cronbach Alpha.. Uji
reliabilitas dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan serta
kecermatan suatu pengukuran pada penelitian evaluasi kenyamanan spasial dan visual
pada area lokasi studi. Dari data yang telah di analisis didapat bahwa penelitian pada
koridor ini sesuai dengan indikatornya telah menunjukan hasil penelitian yang valid.
Nilai alpha yang dihasilkan dalam suatu analisis memiliki pengertian sebagai berikut:
a. Jika alpha > 0.90 maka realiabilitas sempurna.
b. Jika alpha antara 0.70-0.90 maka reliabilitas tinggi.
c. Jika alpha antara 0.50-0.70 maka reliabilitas moderat.
d. Jika alpha < 0.50 maka reliabilitas rendah.
1.9. Metode Sintesis Data
Membandingkan hasil observasi karakter fisik koridor jalan Ahmad Yani dengan teori
dan atau regulasi dengan persepsi masyarakat berdasarkan variabel kenyamanan spasial
memiliki 5 sub variabel diantaranya: (1) Fungsi Ruang Pejalan Kaki, (2) Jalur Pejalan
Kaki, (3) Setback Ruang Pejalan Kaki, (4) Street Furniture dan (5) Vegetasi; dan
kenyamanan visual memiliki 6 sub variabel diantaranya: (1) Kompleksitas kawasan, (2)
Transparasi koridor jalan, (3) Kesan Lingkungan, (4) Pola Dasar Lingkungan, (5) Skala
Manusia, dan (6) Tanda Pengarah sehingga ditemukan sub variabel mana yang memiliki
ketepatan/ketidaktepatan dengan regulasi dan atau teori dengan persepsi masyarakat.
Tabel 3.3 Metode sintesis data
Observasi Lapangan Regulasi dan atau Teori Persepsi Masyarakat
(Karakter Fisik)
Melakukan observasi lapangan Mengevaluasi setiap sub Menghitung jawaban
sesuai dengan kondisi fisik variabel kenyamanan spasial responden mengenai
lokasi studi berdasarkan setiap dan visual menggunakan teori kenyamanan spasial dan
sub variabel kenyamanan (terkait kenyamanan spasial kenyamana visual ruang
spasial dan kenyamanan visual, dan visual ruang pejalan kaki) pejalan kaki pada koridor jalan
kemudian merekap data untuk dan atau regulasi kota Malang Ahmad Yani, kemudian
mendapatkan kesimpulan (terkait ruang pejalan kaki) melakukan rekapitulasi
berupa data primer. pada jalan Ahmad Yani. frekuensi penelitian untuk
melihat nilai mean yang positif
(>4), netral (±4) dan negatif
(<4). Data diolah
menggunakan SPSS untuk
mendapatkan data mean dan
standart deviasi.
1.10. Kerangka Metode
Rumusan Masalah
Fakta, Permasalahan, isu

Pengumpulan Data

Data Primer Data Sekunder


Karakteristik fisik: foto, Telaah literature
sketsa, video suasana lokasi - Jalan provinsi di Kota Malang
ruang pedestrian pada - Kenyamanan Spasial
koridor Jalan Ahmad Yani - Kenyamanan Visual
untuk mendapatkan data
Kuntitatif. Telaah penelitian sebelumnya

Metoda Observasi Lapangan Metoda People Preferences


- Fungsi Ruang Pejalan Kenyamanan Spasial
Kaki - Fungsi ruang pejalan kaki
- Jalur Pejalan Kaki - Jalur pejalan kaki
- Setback Ruang Pejalan Analisis Data - Setback ruang pejalan kaki
Kaki - Street furniture
- Street Furniture Kenyamanan - Vegetasi
- Vegetasi Ruang Pejalan Kenyamanan Visual
- Kompleksitas Kaki - Kompleksitas
- Transparasi - Transparansi
- Kesan Lingkungan - Kesan lingkungan
- Pola Dasar Lingkungan - Pola dasar lingkungan
- Skala Manusia - Skala manusia
- Tanda Pengarah - Tanda pengarah

Pengolahan data
menggunakan
statistik
Karakteristik Fisik Persepsi Masyarakat - Means
- Uji validitas
- Uji Reliabilitas

Karakter Spasial Karakter Visual Kenyamanan Spasial Kenyamanan Visual


- Fungsi Ruang - Kompleksitas
- Fungsi Ruang - Kompleksitas Pejalan Kaki - Transparasi
Pejalan Kaki - Transparasi - Jalur Pejalan Kaki - Kesan Lingkungan
- Jalur Pejalan Kaki - Kesan Lingkungan - Setback Ruang - Pola Dasar
- Setback Ruang - Pola Dasar Pejalan Kaki Lingkungan
Pejalan Kaki Lingkungan - Street Furniture - Skala Manusia
- Street Furniture - Skala Manusia - Vegetasi - Tanda Pengarah
- Vegetasi - Tanda Pengarah

Kesimpulan Sintesis Kesimpulan

Hasil Penelitian
Feedback
Evaluasi Kenyamanan Spasial dan Visual
Ruang Pejalan Kaki Pada Koridor Jalan
Ahmad Yani (Jalan Provinsi)

Gambar 3.6 Kerangka Metode


65

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Tinjau Lokasi Penelitian


4.1.1. Gambaran Umum Kota Malang
Kota Malang berada di Provinsi Jawa Timur Indonesia, terletak pada 112,060-112,070 BT
dan 7,060-8,030 LS. Kota Malang merupakan dataran tinggi dengan ketinggian 440-667 mdpl
dengan luas wilayah sebesar 110,06 km2. Kota ini terdiri dari 5 kecamatan diantara kecamatan
kedung kendang, kecamatan sukun, kecamatan klojen, kecamatan blimbing dan kecamatan
lowokwaru.

Kota Malang memiliki udara yang sejuk, hal ini dikarenakan kota malang berada pada di
dataran tinggi dan dikelilingi oleh pegunungan. Disebelah Utara berbatasan dengan Gunung
Arjuno, sebelah Timur berbatasan dengan gunung semeru, sebelah selatan berbatasan dengan
Gunung Kelud, dan sebelah barat berbatasan dengan Gunung Kawi dan Gunung Panderman.
Kota Malang memiliki batas-batas territorial:

1. Utara : Kecamatan Singosari dan Kecamatan Karangploso, Kab. Malang.


2. Timur : Kecamatan Pakis dan Kecamatan Tumpang, Kab. Malang.
3. Selatan : Kecamtan Tajiman dan Kecamatan Pakisaji, Kab. Malang.
4. Barat : Kecamatan Wagir dan Kecamatan Dau, Kab. Malang.

A. Rencana Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Garis Sempadan Saluran (GSS) dikota
Malang
GSB ditetapkan berdasarkan peruntukan lokasi, Ruang Milik Jalan, Ruang Manfaat Jalan,
dan fungsi jalan. GSB diukur dari as jalan atau dari batas Ruang Milik Jalan terhadap dinding
terluar bangunan. GSB ditetapkan berdasarkan perhitungan ½ dari lebar Ruang Manfaat Jalan.
Untuk ruas jalan setapak, besaran GSB nya ditetapkan sekurang-kurangnya 1,2 meter. GSS
ditetapkan dari sisi atas tepi saluran ke arah dinding bangunan terluar dan atau dari sisi tepi
atas saluran kearah pagar bangunan. Apabila kapasitas debit Lebih besar dari 4 m3/detik maka
GSS 3 meter, apabila kapasitas debit 1-4 m3/detik maka GSS 2 meter, dan apabila kapasitas
debit lebih kecil dari 1 m3/detik maka GSS 0,5 meter.

65
66

B. Rencana Penetapan Garis Sempadan Bangunan (GSB) dan Garis Sempadan Saluran
(GSS)
Garis sempadan bangunan gedung meliputi garis sempadan bangunan gedung terhadap as
jalan, tepi sungai, jalan kereta api dan/atau jaringan saluran utama tegangan ekstra tinggi yang
ditetapkan berdasarkan pada pertimbangan keselamatan dan kesehatan. Garis sempadan
pondasi bangunan terluar yang sejajar dengan as jalan (rencana jalan), tepi sungai, ditentukan
berdasarkan lebar jalan/rencana jalan/lebar sungai, fungsi jalan dan peruntukan kapling atau
kawasan
1. Rencana Ketentuan Minimal Garis Sempadan Bangunan dan Garis Sempadan Saluran
terhadap as jalan
a. Bangunan di tepi jalan arteri 20 meter.
b. Bangunan di tepi jalan kolektor primer 15 meter dan kolektor sekunder 7 meter.
c. Bangunan di tepi jalan antar lingkungan (lokal) primer 10 meter dan lokal sekunder 6
meter.
2. Rencana Jarak antara bangunan gedung terhadap batas-batas persil
a. Bangunan di tepi jalan arteri primer 11 meter dan arteri sekunder 12 meter.
b. Bangunan di tepi jalan kolektor primer 7 (tujuh) meter dan kolektor sekunder 3
meter.
c. Bangunan di tepi jalan antar lingkungan (lokal) primer 6 meter dan lokal sekunder 3
meter.
d. Bangunan gedung rendah (maksimal 4 lantai) ditetapkan sekurang-kurangnya 7
meter.
e. Bangunan gedung sedang (antara 5-8 lantai) ditetapkan sekurang-kurangnya antara 9
meter-11 meter.
f. Bangunan gedung tinggi (lebih dari 8 lantai) menggunakan rumus : (ketinggian
bangunan/2) – 1 meter.
3. Rencana Jarak antar bangunan gedung
a. Bangunan gedung rendah (maksimal 4 lantai) ditetapkan sekurang-kurangnya 7 meter.
b. Bangunan gedung sedang (antara 5-8 lantai) ditetapkan sekurang-kurangnya antara 9
meter-11 meter.
67

c. Bangunan gedung tinggi (lebih dari 8 lantai) menggunakan rumus : (ketinggian


bangunan/2) – 1 (satu) meter.

4. Jarak antar bangunan dalam suatu kavling


a. Dalam hal kedua-duanya memiliki bidang bukaan yang saling berhadapan, maka jarak
antara dinding atau bidang tersebut minimal kali jarak bebas yang ditetapkan.
b. Dalam hal salah satu dinding yang berhadapan merupakan dinding tembok tertutup
dan yang lain merupakan bidang terbuka dan/atau berlubang, maka jarak antara
dinding tersebut minimal 1 kali jarak bebas yang ditetapkan.
c. Dalam hal kedua-duanya memiliki bidang tertutup yang saling berhadapan, maka
jarak dinding terluar minimal ½ kali jarak bebas yang ditetapkan.
d. Jarak antara as jalan dengan pagar halaman
1. Bangunan di tepi jalan arteri primer 9 meter dan arteri sekunder 8 meter.
2. Bangunan di tepi jalan kolektor primer 8 meter dan kolektor sekunder 6 meter.

4.1.2. Gambaran Umum Koridor Jalan


Jalan Ahmad Yani adalah salah satu jalan yang menghubungkan kota Malang dan Kota
Surabaya. Jalan Ahmad Yani merupakan salah satu dari lima jalan Provinsi yang terdapat
dikota Malang. Jalan Ahmad Yani juga termasuk kedalam jalan Arteri Primer. Jalan ini
memiliki ciri-ciri penggunaan intensitas tinggi, untuk lalu lintas angkutan berat, jumlah
simpangannya minimal. Kemudian Jalan Ahmad Yani juga masuk kedalam Jalan Arteri
Sekunder. Jaringan jalan ini merupakan jalan penghubung antara pusat kota Malang dengan
Bagian Wilayah Kota. Jalan ini memiliki ciri-ciri penggunaan intensitas tinggi digunakan
untuk tumpuan utama lalu lintas dalam kota dengan jumlah simpangan yang minimum.
Selanjutnya jalan Ahmad Yani juga masuk kedalam jalan Kolektor Primer Jalan Kolektor
memiliki ciri-ciri penggunaan intensitas tinggi tapi tidak setinggi jalan arteri primer, untuk lalu
lintas angkutan menengah dengan jumlah simpangan terbatas. Hal ini membuat koridor jalan
ini semakin ramai dikarenakan tingginya dan beragamnya aktifitas yang terjadi di koridor
jalan ini. Secara umum, Koridor jalan ini memiliki lebar kurang lebih 25 m ( terdiri dari 2 ruas
jalan yang ditengahnya terdapat boulevard) dengan penggunaan intesitas tinggi. Lalu, Jalan
Ahmad Yani masuk kedalam jalan Nasional.
68

Karakteristik jalan kolektor primer:


1. Merupakan terusan jalan kolektor primer luar kota.
2. Melalui atau menuju kawasan primer atau jalan arteri primer.
3. Jalan kolektor primer dirancang berdasarkan kecepatan rencana paling rendah 40km/jam.
4. Lebar badan kolektor primer tidak kurang dari 9 meter.
5. Jarak antar jalan masuk/akses langsung tidak boleh lebih pendek dari 400m.
6. Kendaraan angkutan barang berat dan bus dapat diizinkan melalui jalan ini.
7. Jalan kolektor primer mempunyai kapasitas yang sama atau lebih besar dari volume lalu
lintas rata-rata.
8. Lokasi parkir badan jalan sangat dibatasi dan seharusnya tidak diizinkan pada jam sibuk.
9. Harus memiliki perlengkapan jalan yang cukup seperti rmabu lalu lintas, marka jalan,
lampu lalu lintas dan lampu penerangan jalan.
10. Besarnya lalu lintas harian rata-rata pada umumnya lebih rendah dari jalan arteri primer.
11. Dianjurkan tersedianya jalur khusus yang dapat digunakan untuk sepeda dan kendaraan
lambat lainnya.

Kriteria diatas beberapa sudah dimiliki oleh koridor Jalan Ahmad Yani seerti lebar
minimal 9 meter sedangkan pada kondisi lapangan lebar jalan mencapai 12 meter. Kriteria
yang tidak dimiliki oleh koridor ini tidak tersedianya Fungsi kawasan ini merupakan fungsi
komersial (perdagangan dan jasa) sehingga kawasan ini sangat padat karena terdapat
banyaknya aktivitas didalamnya. Panjang lokasi ini yaitu 2,7 km terdiri dari 2 jalur dan serta
terdapat fly over. Lokasi memiliki tingkat keramaian yang tinggi setiap waktunya dimana
terdapat perkantoran, daerah perdagangan, jasa, dan merupakan jalan untuk akses ke terminal
yang ada dikota Malang yaitu terminal Arsjosari.

Sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 Tahun 2011 tentang rencana tata
ruang wilayah kota Malang tahun 2010-2013 paragraf 2 tentang rencana kawasan perdagangan
dan jasa pasal 50 di katakan bahwa fungsi kawasan Ahmad Yani difungsikan sebagai
komersial yang didominsdi oleh bangunan perdagangan dan jasa. Selain fungsdi komersial
terdapat fungsi-fungsi lain pada koridor ini diantaranya peribadatan, pendidikan, perkantoran,
dan kesehatan. Lokasi penelitian terletak pada Jalan Ahmad Yani, adapun batas-batas lokasi
tersebut antara lain:
69

1. Utara : Perumahan Graha Kencana Malang


2. Barat : Pertokoan Jalan Ahmad Yani
3. Timur : Pertokoan Jalan Ahmad Yani
4. Selatan : Masjid Sabbillilah

Koridor jalan Ahmad yani merupakan koridor dengan kepadatan yang tinggi, hal ini
dikarenakan funngsi bangunanpada koridor jalan Ahmad Yani yaitu komersial ditambah lagi
jalan ini merupakan jalan Arteri primer yang menghubungkan kota Malang dengan kota
Surabaya. Selain itu pada koridor ini terdapat kantor kantor besar dan akses menuju terminal
kota Malang. Aktivitas-aktivitas pada koridor jalan ini berbagai macam, salah satunya adalah
aktivitas perdagangan, bangunan bangunan di sepanjang koridor didominasi oleh bangunan
pertokoan seperti toko pakaian, toko bahan makanan, toko bahan bangunan, toko listrik,
sourum, minimarket dan lainnya. Kemudian pada koridor ini terdapat pedagang kaki lima
(PKL) yang tersebar dipinggir jalan, shingga PKL tersebut sering menggunakan ruang pejalan
kaki (pedestrian). Hal tersebut membuat fungsi sesungguhnya dari pedestrian hilang dan
beralih fungsi sebagai lahan untuk berdagang. Selain kondisi tersebut penataan pada koridor
jalan ini tidak terkontrol dengan baik seperti signage, vegetasi, tiang listrik, dan lainnya yang
menghalangi kemenerusan dari ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani ini.
Kondisi dari pedestrian yang kurang terawat dimulai dari paving yang sudah bolong, pembatas
ruang yang tidak jelas antara jalan dan pedestrian sangat mempengaruhi tingkat kenyamanan
bagi penggunanya.
70

Gambar 4.1 Peta kota Malang


71

Gambar 4.2 Peta lokasi penelitian wilayah satu


72

Gambar 4.3 Peta lokasi penelitian wilayah dua


73

Gambar 4.4 Peta lokasi penelitian wilayah tiga


74

Menurut pedoman penataan jalan arteri primer tersebut terdapat aspek yang sesuai dengan
kondisi eksisting dan ada juga yang tidak sesuai dengan pedoman tersebut. Pedoman yang
sesuai salah satunya adalah dimensi jalan dan pedestrian. Menurut RTRW dalam Perda Kota
Malang No.4 Tahun 2011 dikatakan bahwa perencanaan jalur pejalan kaki pada area studi
merupakan jalur pejalan kaki dengan dua ruas. Ruang pejalan kaki merupakan salah satu
prasarana yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan minat pejalan kaki dan dapat
memaksimalkan potensi yang ada di koridor jalan Ahmad Yani.

Pada koridor jalan Ahmad Yani merupakan fungsi komersial ( perdagangan dan jasa).
Berikut adalah jenis fungsi yang terdapat pada koridor jalan Ahmad Yani :
75

Tabel 4.5 Mapping fungsi bangunan segmen 1


76

Tabel 4.6 Mapping fungsi bangunan segmen 2


77

Tabel 4.7 Mapping fungsi bangunan segmen 3


78

Tabel 4.1 Persentase fungsi banguan koridor studi


No Building Function Number Of Percentage
Buildings
1 Commerce and Service 200 69.00%
2 House 46 15.90%
3 Educational Facilities 10 3.40%
4 Office 9 3.10%
5 Public Facilities 0 0
6 Religius Facilities 5 1.72%
7 Empty Building 18 6.20%
8 Empty Space 2 0.68%
Total 290 100.00%

Dari tabel persentase fungsi bangunan didapatkan bahwa bangunan dengan fungsi
perdagangan dan jasa merupakan fungsi yang paling dominan dengan persentase sebesar
69.00%.

Persentase Fungsi Bangunan


Commerce and Service
House
Educational Facilities
Office
Public Facilities
Regilius Facilities
Empty Building

Gambar 4.8 Digram Persentase Fungsi Bangunan

4.2. Analisis Karakter Fisik Ruang Pejalan Kaki


4.2.1. Fungsi Ruang Pejalan Kaki
Fungsi ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani memiliki fungsi yang
beragam. Fungsi ruang pejalan kaki banyak dialihfungsikan oleh masyarakat setempat menjadi
area perdagangan. Kemudian fungsi lainnya di manfaatkan sebagai parkir sepeda motor dan
79

tempat tumbuhnya tanaman. Fungsi bangunan yang ada akan mempengaruhi fungsi ruang
pejalan kaki, ketersediaan area parkir yang kurang membuat para pengendara motor
memarkirkan kendaraan mereka di pedestrian sehingga akan menghambat aktivitas pejalan
kaki. Pada lokasi ini banyak sekali ditemukan pedagang yang menggunakan area pedestrian
sebagai area berjualan dan sering juga dijumpai kendaraan bermotor yang memparkirkan
kendaraan mereka pada pedestrian.

Gambar 4.9 Ruang pejalan kaki digunakan sebagai area parkir dan vegetasi

Peraturan pemerintah pasal 34 tahun 2006 menyatakan (1) ruang manfaat jalan meliputi
badan jalan, saluran tepi jalan, dan ambang pengamannya, (2) ruang manfaat jalan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan ruang sepanjang jalan yang dibatasi oleh
lebar, tinggi, dan kedalaman tertentu yang ditetapkan oleh penyelenggara jalan yang
bersangkutan berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh menteri, (3) ruang manfaat jalan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya diperuntukkan bagi median, perkerasan jalan, jalur
pemisah, bahu jalan, saluran tepi jalan, trotoar, lereng, ambang pengaman, timbunan dan
galian, gotong-gorong, perlengkapan jalan, dan bangunan pelengkap lainnya, (4) trotoar
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) hanya diperuntukkan bagi lalu lintas pejalan kaki. Pada
kawasan koridor jalan Ahmad Yani, pertumbuhan aktivitas ekonomi yang cukup tinggi
mengakibatkan aktivitas masyarakat yang tinggi juga. Pada lokasi penelitian setback bangunan
yang mendominasi 3-5 meter namun ada juga setback dengan lebar 5-10 meter. Bangunan
yang memiliki setback 3-5 meter memiliki area parkir yang sangat minim. Begitu pun
sebaliknya, setback dengan lebar 5-10 meter memiliki area yang cukup yang digunakan
80

sebagai area parkir. berdagang diatas pedestrian juga akan mengganggu aktivitas pengguna
pedestrian. Pada koridor jalan merupakan bangunan yang padat dengan aktifitas yang padat
setiap waktunya. Hal ini membuat koridor jalan menjadi ramai setiap waktunya. Pada koridor
jalan ditemukan masyarakat yang mengalih fungsikan halaman rumah mereka menjadi area
dagang sehingga rumah tersebut tidak memiliki setback yang akan membuat aktivitas pada
bangunan langsung berhubungan ke pedestrian. Hal ini cukup membuat pejalan kaki merasa
sangat tidak nyaman. Kemudian pada area studi tidak ditemukan jembatan penyeberangan.
Hal ini sangat disayangkan mengingat fungsi bangunan yang terdapat pada koridor jalan ini
yaitu komersial. Selain itu terdapat beberapa sekolah pada koridor jalan ini mulai dari TK
sampai SMP yang perlu pengawasan ekstra agar tetap aman.

Gambar 4.10 Ruang pejalan kaki digunakan sebagai area parkir dan dagang

Koridor Jalan Ahmad Yani memiliki fungsi bangunan yang sebagian besar merupakan
perdagangan dan jasa. Namun pada koridor ini terdapat cukup banyak sekolah mulai dari TK
sampai SMP. Pada koridor ini terdapat 6 sekolah. Hal ini cukup mengundang pedagang kaki
lima untuk berdagang di depan sekolah-sekolah tersebut dengan memparkirkan
kendaraan/gerobak mereka dipederstian. Selain berdagang di depan sekolah-sekolah,
pedagang kaki lima ini juga mangkal pada bangunan bangunan dengan fungsi perkantoran dan
indomaret/alfamart.
81

Gambar 4.11 Ruang pejalan kaki digunakan sebagai area parkir dan dagang
Koridor jalan Ahmad Yani memilki keragaman fungsi. Sebagian besar fungsi
bangunan pada koridor ini merupakan kawasan komersil dengan pertumbuhan ekonomi yang
tinggi. Kemudian terdapat perkantoran dan tempat beribadah pada koridor ini. Hal ini
memberikan dampak kepada aktifitas yang padat pada kawasan tersebut. Selain itu pada
koridor ini merupakan akses menuju terminal Malang dan terdapat jembatan layang. Padatnya
aktifitas yang terjadi pada koridor ini, dan dengan beragamnya aktifitas yang ada perlu adanya
perhatian khusus agar tercapainya kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki.

Gambar 4.12 Ruang pejalan kaki digunakan sebagai area dagang

Menurut The Pedestrian Transportation Program (1998) menyatakan sidewalk berisi


empat zona yang berbeda yaitu: (1) zona tepi jalan (curb), (2) zona pejalan kaki, (3) zona
bebas pejalan kaki, (4) area depan muka bangunan (frontage). Dari pernyataan tersebut ruang
pejalan kaki terbagi menjadi beberapa zoning, yaitu zoning antara area kendaraan bermotor,
area transisi dan area buffer. Ruang pejalan kaki memiliki peran yang penting dalan
terbentuknya suatu koridor. Adanya pedestrian dapat menaikkan nilai ekonomi, hal ini
dikarenakan jika adanya suatu pedestrian yang nyaman dan aman maka akan meningkatkan
minat masyarakat untuk berjalan kaki sehingga setiap bangunan yang ada pada koridor akan
dapat dilihat/diamati/dikunjungi. Ruang pejalan kaki merupakan salah satu strategi
82

pengembangan prasarana wilayah kota malang. Peraturan daerah kota malang (2011)
menyebutkan bahwa penyediaan dan pemanfaatan jaringan pejalan kaki diarahkan
keberadaannya pada fungsi ruang seluruh koridor perdagangan dan jasa dengan meperhatikan:
1. Pengingkatan dan penyediaan jalur pejalan kaki dan memperhatikan bagi penyandang
disabilitas.
2. Penyediaan fasilitas halte yang difungsikan sebagai area peristirahatan pejalan kaki dan
menunggu akutan umum.
3. Penyediaan papan informasi (signage) pengarah titik-titik lokasi yang menarik untuk
dikunjungi.
4. Peningkatan dan penyediaan lampu penerangan.
5. Peningkatan dan penyediaan fasilitas tempat sampah dan telepon.
6. Peningkatan dan penyediaan fasilitas pohon untuk peneduh dann penghias kawasan.

Ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani pada beberapa titik cukup baik namun
ada beberapa titik yang memiliki dimensi minim dan paving yang sudah rusak. Pada beberapa
titik minim penerangan. Dalam pengembangan perlu lebih diperhatikan untuk penyandang
disabilitas. Selain itu tata letak vegetasi perlu diperhatikan agar tidak menghambat aktifitas
pengguna pejalan kaki.

Gambar 4.13 Ruang pejalan kaki digunakan sebagai area parkir dan dagang

Tipologi potongan jalan tipe A, kondisi ruang pejalan kaki sudah memiliki jalur pejalan
kaki yang baik pada kedua sisi jalan. Terdapat beberapa peneduh namun jumlahnya sangat
terbatas. Posisi vegetasi sangat beragam pada potongan ini ada yang di tepi jalan, di pedestrian
dan ada di tepi pedestrian. Pada tipe ini juga sudah memiliki beberapa elemen-elemen
83

pendukung ruang pejalan kaki, seperti lampu penerangan jalan, signage (tanda penyebrangan,
lampu merah, di larang parkir). Namun, untuk tempat peristirahatan, tempat sampah dan
fasilitas penyandang disabilitas belum ada (sangat minim). Pada tipe ini masih ditemukan
aktifitas PKL yang berpotensi menghambat pejalan kaki.

Gambar 4.14 Tipe A Ruang pejalan kaki

Tipologi potongan jalan B, pada potongan ini kondisi ruang pejalan kaki sudah memiliki
jalur pejalan kaki pada kedua sisi jalan. Pada tipe ini jarak pedestrian ke bangunan berjarak 3
meter pada sisi kanan jalan. Hal ini menyebabkan pengguna kendaraan bermotor yang
berkunjung ke bangunan akan memparkirkan kendaraan mereka pada pedestrian serta terdapat
beberapa PKL yang berdagang pada pedestrian sehingga aktivitas pengguna pedestrian yaitu
pejalan kaki akan terhambat. Tipe B sudah memiliki beberapa vegetasi dan lampu penerangan
jalan. Namun peletakkan vegetasi pada potongan ini berada pada tengah pedestian sehingga
sangat mengganggu aktivitas pengguna jalan kaki. Jumlah signage yang ada pada tipe ini
sudah ada cukup baik namun peletakan signage yang tidak teratur dan ada yang terdapat pada
pedestrian sehingga akan menghambat aktifitas pejalan kaki.
84

Gambar 4.15 Tipe B Ruang pejalan kaki

Pada tipe C, memperlihatkan sisi disebalah kanan tidak terdapat pedestrian dan pada sisi
kiri terdapat pedestrian. Pada potongan ini pada sebelah kiri dan kanan tidak terdapat setback
building. Hal ini mengakibatkann aktivitas pejalan kaki akan terhambat karena tidak
terdapatnya pembatas aktifitas di bangunan dan di pedestrian. Vegetasi sudah ada pada dengan
jumlah yang baik, namun tata letak vegetasi yang tidak teratur dan berada di pedestrian itu
membuat aktivitas pejalan kaki terhambat. Sudah terdapat signage tanda penyeberangan dan di
larang berhenti pada potongan ini.

Gambar 4.16 Tipe C Ruang pejalan kaki

Pada tipe D terlihat potongan yang menunjukkan adanya sungai. Pada sisi disebelah
kanan dan kiri dari jembatan tersebut tidak terdapat pedestrian. Pada potongan ini terdapat
membatas jalan dengan sungai setinggi 1,2 meter. Pada potongan ini sudah terdapat lampu
penerangan jalan yang terdapat pada median jalan.
85

Gambar 4.17 Tipe D Ruang pejalan kaki

Pada tipe E, terlihat pedestrian terdapat pada sisi sebelah kanan namun pada sisi kiri tidak
terdapat pedestrian. Ruang pejalan kaki sudah memiliki vegetasi namun letak vegetasi
menghambat aktivitas pejalan kaki yang dimana letak vegetasi tersebut di pedestrian itu
sendiri. Pada potongan ini ruang pejalan kaki sudah memiliki lampu penerangan jalan tetapi
untuk signage masih sangat minim. Garis sempadan bangunan pada sisi kiri sangat kecil
sedangkan pada sisi sebelah kanan garis sempadan sudah cukup baik.

Gambar 4.18 Tipe E Ruang pejalan kaki

Tipologi potongan tipe F, pedestrian terdapat pada sisi kiri dan kanan jalan. Sudah
terdapat vegetasi yang baik. Namun, posisi/letak vegetasi yang berada pada pedestrian
menghalangi aktivitas pejalan kaki. Pada sisi kiri terdapat sungai dengan lebar ±2m terdapat
berupa pembatas yang memiliki tinggi 0.5 meter. Hal ini sangat rawan karena tinggi pembatas
hanya 0.5 meter sehingga tidak dapat menahan beban pengguna pedestrian jika terjatuh.
Bangunan yang pada bagian sisi sebelah kiki tidak memiliki sempadan bangunan, sedangkan
86

bangunan pada sisi kanan memiliki sempadan bangunan tetapi sangat kecil. Pada potongan ini
sudah terdapat lampu penerangan jalan dan signage, penyeberangan, dilarang berhenti, hati-
hati dll yang baik.

Gambar 4.19 Tipe F Ruang pejalan kaki

Tipologi tipe G, pada kedua sisi sudah terdapat pedestrian yang baik. Garis sempadan
bangunan pada potongan ini sangat baik, namun pembatas antara pedestrian dengan parkir
bangunan tidak ada. Pada potongan ini terdapat vegetasi yang sangat baik namun perlu ditata
kembali karena letak dari vegetasi ini berada pada pedestrian sehingga menghambat aktivitas
pengguna pedestrian.

Gambar 4.20 Tipe G Ruang pejalan kaki

Tipologi tipe H, pada tipe ini terdapat jembatan layang yang memiliki lebar 8 meter (dua
arah). Pada jembatan layang sudah terdapat lampu penerangan satu lengan pada sisi kiri dan
kanan jalan. Signage pada jembatan layang ini cukup baik. Pada bagian bawah jembatan
layang sudah terdapat pedestrian pada sisi kiri dan kanan. Pada sisi sebelah kanan dan kiri
garis sempadan bangunan kurang sesuai. Tidak terdapat pembatas antara pedestrian dengan
87

parkir bangunan. Pada potongan ini sudah terdapat vegetasi yang cukup baik namun
perletakkan vegetasi berada pada pedestrian itu sendiri sehingga menghambat aktifitas
pengguna pedestrian. Jembatan layang sudah memiliki pembatas yang baik.

Gambar 4.21 Tipe H Ruang pejalan kaki

Tipologi tipe I, memperlihatkan pedestrian yang ada pada kedua sisi jalan. Untuk garis
sempandan bangunan pada sisi sebalah kanan sangat kecil sebesar 2-3 meter. Pada sisi
sebelah kiri garis sempadan bangunan cukup besar 4-5 meter. Sudah terdapat vegetasi pada
potongan jalan ini akan tetapi posisi dari pohon yang berada pada pedestrian itu sendiri dapat
menghambat pengguna jalan kaki.

Gambar 4.22 Tipe I Ruang pejalan kaki

Tipologi tipe J, pada tipe ini terdapat perbedaan ketinggian antara jalan sisi kiri dan
kanan. Pada sisi kiri merupakan jalan yang diteruskan oleh jalan dibawah jembatan layang
(Malang-Surabaya). Pada sisi kanan merupakan jalan untuk menuju jembatan layang atau
jalan yang ada di bawah jembatan layang (Surabaya-Malang). Pada kedua sisi sudah terdapat
88

pedestrian namun ketinggian yang dimiliki dengan jalan tidak terlalu significant sehingga
dapat mempermudah kendaraan bermotor untuk memparkir kendaraan mereka pada
pedestrian. Sudah terdapat vegetasi pada tipe ini, namun tata letak tidak beraturan karena ada
yang berada pada pedestrian yang akan menghambat aktivitas pejalan kaki. Lampu
penerangan jalan terdapat pada median jalan dan sudah terdapat signage yang cukup baik pada
potongan jalan ini.

Gambar 4.23 Tipe J Ruang pejalan kaki

Tipologi potongan tipe K memperlihatkan jembatan yang memiliki pedestrian dengan


ukuran 0.6 meter. Hal ini akan mempersulit pengguna pedestrian karena hanya bisa dilewati
oleh satu pengguna jalan kaki. Pada potongan ini telihat lampu penerangan jalan (satu lengan)
yang terdapat pada sisi kiri dan kanan jalan.

Gambar 4.24 Tipe K Ruang pejalan kaki

Tipologi potongan tipe L memperlihatkan sempandan bangunan terhadap jalan di kedua


sisinya sangat buruk, jarak bangunan dengan pedestrian hanya berjarak 10-20cm. Hal ini akan
mempengaruhi aktivitas pejalan kaki. Vegetasi yang ada cukup baik namun letak nya di
89

pedestrian dimana akan menghambat aktivitas pejaln kaki. Untuk potongan ini sudah memiliki
lampu penerangan yang cukup baik yang terdapat pada median jalan.

Gambar 4.25 Tipe L Ruang pejalan kaki

Lokasi studi terletak pada Jalan Ahmad Yani yang merupakan Jalan Provinsi dan fungsi
bangunan pada jalan ini yaitu komersial (perdagangan dan jasa). Hal ini membuat koridor
jalan Ahmad Yani menjadi padat dan ramai karena banyaknya aktivitas yang terjadi
didalamnya. Ruang pejalan kaki pada koridor jalan ini harus di fungsikan sebagai area pejalan
kaki sebagai mana mestinya yang bebas dari hambatan dan memenuh fasilitas sehingga dapat
memberikan kenyamanan pada pejalan kaki serta dapat meningkatkan minat masyarakat untuk
berjalan kaki. Pedestrian dengan bangunan secara umum masih sangat minim dan perlu di
pertegas agar kendaraan bermotor atau pedagang kaki lima tidak menggunakan pedestrian
sebagai lahan parkir ataupun sebagai lapak untuk berdagang.
Sub Variabel kenyamanan spasial ruang pejalan kaki memiliki hubugan dengan sub
variabel kenyamanan visual lainnya, yaitu : terdapat hubungan antara subvariabel fungsi ruang
pejalan kaki dengan sub variabel kompleksitas koridor jalan. Jenis dari fungsi ruang pejalan
kaki akan mempengaruhi jenis pengisi ruang pejalan kaki tersebut. Terdapat hubungan antara
subvariabel fungsi ruang pejalan kaki dengan subvariabel transparansi koridor jalan. Jenis
transparansi bangunan yang digunakan bergantung pada jenis bangunannua. Terdapat
hubungan antara subvariabel fungsi ruang pejalan kaki dengan subvariabel kesan lingkungan
yang diciptakan.
90

4.2.2. Jalur Pejalan Kaki


Menurut (DPU, 1999), Jalur pejalan kaki adalah jalur pejalan kaki adalah jalur yang
disediakan untuk pejalan kaki guna memberikan pelayanan kepada pejalan kaki sehingga
dapat meningkatkan kelancaran, keamanan dan kenyaman pejalan kaki tersebut. Pejalan kaki
merupakan salah satu pengguna jalan yang memiliki hak dalam penggunaan jalan. Dalam
penelitian ini analisis mengenai jalur pejalan kaki akan difokuskan kedalam 3 aspek yang akan
menjadi indikator yaitu dimensi, material dan kemenerusan jalur pejalan kaki. Departemen
Pekerjaan Umum No. 03/PRT/M/2014 yaitu untuk berdiri dan berjalan dihitung berdasarkan
dimensi tubuh manusia. Dimensi tubuh manusia saat diam 60 x 45 cm, saat berjalan 80 x 180
cm dan saat membawa barang 0,9 x 180cm. Berdasarkan peraturan tersebut kebutuhan ruang
pejalan kaki dapat disesuaikan dengan volume pengguna jalan pada koridor jalan Ahmad
Yani. Secara umum jalur pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani sudah cukup baik,
namun ada beberapa area yang tidak memiki pedestrian (terputus), material dari pedestrian
yang rusak seperti paving yang lepas serta ketinggian dari pedestrian yang tidak significant
dengan jalan. Menurut Departemen Pekerjaan Umum No.03/PRT/M/2014 meyatakan
ketinggian maksimal antara jalur pejalan kaki dengan badan jalan adalah sebesar 20 cm
sedangkan untuk area hijau maksimal 15 cm.
Pada lokasi studi dimensi trotoar dibagi menjadi 3 yaitu; (1) lebar trotoar 25-120 cm, (2)
lebar trotoar 121-180 cm, (3) lebar trotoar 181-240 cm. Dimensi jalur pejalan kaki sangat
berpengaruh pada kenyamanan dan keamanan pengguna jaur pedestrian. Begitupun dengan
material dari pedestrian yang menjadi indikator penting dalam kenyamanan pejalan kaki.
Peran material sangat berpengaruh dalam menciptakan kenyamanan dan keamanan, pemiihan
material yang baik akan memberikan kenyamanan dan keamanan bagi pengguna jalan. Pada
koridor jalan Ahmad Yani dimensi jalur pedestrian cukup beragam. Dimensi pedestrian pada
koridor jalan ini pada umumnya memiliki lebar 150-200cm. Namun, terdapat pula pedestrian
dengan lebar 80-120 cm. Dimensi pedestrian yang sesuai dengan standar yang seharusnya
memberikan kesan bahwa koridor tersebut memiiki perhatian khusus kepada pejalan kaki.
Material, dimensi dan fasiitas yang baik akan menjadi salah satu faktor kenyamanan dan
keamanan bagi pejalan kaki. Kemenerusan pada pedestrian sangat penting untuk memudahkan
pejalan kaki berpindah. Pada koridor Jalan Ahmad Yani kemenerusan pedestrian jalan cukup
baik, namun terdapat (sedikit) area yang tidak memiliki pedestrian sehingga kemenerusan
91

tersebut terputus. Menurut Departemen Pekerjaan Umum No.03/PRT/M/2014 permukaan jaur


pejalan kaki harus rata dan memiiki kemiringan melintang 2-3% guna untuk mencegah
terjadinya genangan air.

Tabel 4.2 Persentase dimensi jalur pejalan kaki


No Tipe Total Distance Percentage
1 No Sidewalk 1079.79 22.57%
2 Sidewalk width 25-120 cm 147.95 3.10%
3 Sidewalk width 121-180 cm 974.28 20.39%
4 Sidewalk width 181-240 cm 2578.65 53.94%
Total 4780,67 100%

Pada ragam dimensi trotoar, potongan A memperlihatkan bahwa pada potongan tidak
memiliki pedestrian. Area yang tidak memiliki pedestrian pada umumnya tidak memiliki
setback, dan jikapun ada hanya berjarak 2-3 meter. Area tersebut dimanfaatkan sebagai
tempat parkir kendaraan bermotor.

Gambar 4.26 Tipe A jalur pejalan kaki


92

Tipologi B memiliki jalur pedestrian dengan dimensi 25-120cm. Pada potongan ini
material yang digunakan pada jalur pedestrian yaitu paving. Pada bagian ini kondisi paving
sudah tidak terawat, banyak paving yang bolong dan rusak. Untuk kemenerusan pada
potongan ini tidak baik, banyak nya vegetasi dan elevasi ketinggian pedestrian yang tidak baik
hanya (0-0.1m) sehingga banyak kendaraan yang memparkirkan kendaraan mereka pada
pedestrian karena elevasi jalan dengan pedestrian tidak memiliki perbedaan ketinggian yang
significant. Dimensi jalur pejalan kaki ini sangat kecil, apabila dua orang yang lewat
berpapasan akan terjadi persinggungan. Kemudian banyaknya aktiftas yang terjadi pada
bangunan mengakibatkan aktifitas yang terjadi pada pedestrian tinggi juga karena setback
yang tidak ada.

Gambar 4.27 Tipe B jalur pejalan kaki

Tipologi tipe C memiliki jalur pedestrian dengan dimensi 121-180cm. Pada segmen ini
jalur pedestrian sudah cukup baik dari segmen sebelumnya namun material pada segmen ini
juga ada beberapa bagian yang rusak seperti paving yang berlubang dan sudut pedestrian yang
hancur.
93

Gambar 4.28 Tipe C jalur pejalan kaki

Tipologi tipe D memperlihatkan jalur pejalan kaki dengan dimensi 181-240 cm. Dimensi
jalur pejalan kaki pada segmen ini sudah cukup baik. lebar dri pedestrian ini pada umumnya
berkisar 2-220cm. Pedestrian menggunakan paving dengan tinggi sekitar 10-20cm dari
permukaan jalan. Pedestrian pada segmen ini baik, namun secara keseluruhan kemenerusan
pada segmen ini dihalangi oleh vegetasi yang tumbuh pada pedestrian ini sendiri.
94

Gambar 4.29 Tipe D jalur pejalan kaki

Berikut gambar peta ragam dimensi ruang pejalan kaki segment 1 pada koridor jalan
Ahmad Yani, Malang :
95

Gambar 4.30 Mapping lebar trotoar segmen 1


96

Gambar 4.31 Mapping lebar trotoar segmen 2


97

Gambar 4.32 Mapping lebar trotoar segmen 3


98

Pada koridor jalan Ahmad Yani perlu diadakan perbaikan dan pengembangan untuk
meningkatkan minat masyarakat untuk berjalan kaki. Hal ini perlu diperhatikan agar koridor
jalan Ahmad Yani diminati dan dapat meningkatkan pemasukan pada kawasan tersebut karena
banyak masyarakat yang ingin datang untuk berjalan/melihat-lihat pada koridor jalan Ahmad
Yani itu sendiri. Koridor jalan tersebut memiliki fungsi perdagangan dan jasa dan terdapat
fasilitas lainnya yang menjadikan koridor jalan ini menjadi ramai dan padat secara terus
menerus sehingga perlu diadakannya perbaikan. Secara garis besar koridor jalan Ahmad Yani
sudah memiliki pedestrian. Kurangnya perhatian dari pemerintah dan kesadaran masyarakat
untuk merawat sehingga pedestrian yang ada semakin buruk dan berakhir rusak. Untuk jalur
pejalan kaki pada kawasan ini sebaiknya ditambahkan taman jalan agar vegetasi di tanam pada
bagian tersebut. Selain itu sebagai peneduh juga dapat menambah nilai estetika pada koridor
jalan ini. Kemudian tinggi pedestrian dengan jalan dibedakan agar pengendara motor tidak
dapat masuk menyerobot jalur pejalan kaki. Lalu perlu perhatian khusus untuk penyandang
disabilitas agar mereka dengan nyaman dapat melewati pedestrian koridor jalan Ahmad Yani,
serta menambahkan fasilitas yang seharusnya seperti telepon, lampu, tempat duduk, tempat
sampah, pembatas jalan, signage dan lain sebagainya.

Gambar 4.33 Kondisi jalur pejalan kaki pada lokasi studi

Sub variabel kenyamanan spasial jalur pejalan kaki memiliki hubungan dengan sub
variabel kenyamanan visual lainnya antara lain: terdapat hubungan antara sub variabel jalur
pejalan kaki dengan sub variabel komleksitas lingkungan. Dimensi jalur pejalan kaki, jenis
material dan kemenerusan jalur opejalan kaki akan mempengaruhi kualitas visual dan
99

kenyamanan jalur pejalan kaki. Kemudian terdapat hubungan antara sub variabel jalur pejalan
kaki dengan sub variabel kesan lingkungan. Jalur pejalan kaki merupakan salah satu aspek
yang menciptakan kesan lingkungan terhadap suatu koridor jalan.

4.2.3. Kemunduran Bangunan


Kemunduran atau setback bangunan pada koridor jalan Ahmad Yani sangat beragam
mulai dari 0 meter dan yang terbesar 20 meter. Kemunduran bangunan adalah perletakan
massa bangunan pada lahan yang dimiliki atau dapat diartikan sebagai jarak suatu bangunan
terhadap trotoar ataupun daerah milik jalan. Pada penelitian ini untuk menganalisis setback
akan memperhatikan dan menyesuaikan dengan kesegarisan maju mundur bangunan dan jarak
trotoar terhadap bangunan.
Fungsi bangunan kios pada umumnya memiliki kemunduran yang kecil sebesar 0-3 meter.
Perbedaan kemunduran bangunan di sebabkan bangunan semi permanen yang dibangun oleh
masyarakat sebagai tempat berjualan. Perbedaan kemunduran bangunan juga dapat disebabkan
ada atau tidaknya lahan parkir. Bangunan ruko-ruko pada umumnya memiliki setback cukup
lebar dikarenakan bangunan tersebut memiiki lahan parkir yang besar. Peneliti membagi
setback bangunan menjadi enam jenis yaitu setback bangunan 0-1.5 meter dengan warna
orange, setback bangunan 1.5-3 meter dengan warna biru, setback bangunan 3-5 meter dengan
warna hijau, setback bangunn 5-10 meter dengan warna ungu, setback bangunan 10-20 meter
dengan warna merah muda, dan setback lebih dari 20 meter dengan warna merah.

Gambar 4.34 Kondisi setback bangunan 0-1.5 meter pada lokasi studi
100

Bangunan yang memiliki fungsi lain seperti perkantoran memiliki setback bangunan 10
sampai 20 meter. Setback bangunan yang lebar digunakan sebagai lahan hijau/area terbuka
serta dijadikan sebgaai lahan parkir. Menteri Pekerjaan Umum (2009) mengungkapkan bahwa
ruang pembatas (buffer) merupakan salah satu RTNH yang mana digunakan sebagai pembatas
yang menegaskan peralihan antara ruang pengendara bermotor dengan ruang pejalan kaki.
Pada koridor jalan Ahmad Yani sangat sedikit ditemukan area buffer. Hal ini perlu adanya
perhatian mengingat pentingnya buffer pada suatu koridor jalan untuk memberikan
kenyamanan bagi pengguna pedestrian dan sebagai pembatas antara area pejalan kaki dengan
area kendaran bermotor.

Gambar 4.35 Kondisi setback bangunan 3-5 meter

Menurut peraturan daerah kota Malang No. 1 Tahun 2012 menjelaskan bahwa garis
sempadan banguan gedung terhadap as jalan minimal 6 meter terhitung dari dinding terluar
bangunan ke as jalan. Secara umum bangunan pada koridor jalan Ahmad Yani sudah
memenuhi standart yang telah ditentukan oleh pemerintah kota malang, namun terdapat
beberapa bangunan semi permanen dan beberapa bangunan permanen yang melanggar
peraturan sehingga menciptakan ketidaknyamanan pengguna pedestrian. Hal ini perlu di
tindaklanjuti oleh pemerintah guna menciptakan kenyamanan dan keteraturan ruang koridor
jalan Ahmad Yani.
101

Gambar 4.36 Kondisi setback bangunan 20m


102

Gambar 4.37 Mapping setback bangunan segmen 1


103

Gambar 4.38 Mapping setback bangunan segmen 2


104

Gambar 4.39 Mapping setback bangunan segmen 3


105

Berdasarkan hasil pemetaan setback pada lokasi penelitian, terdapat banyak variasi
setback. Pada lapangan sedikit bangunan yang memiliki setback 20 meter, diantaranya kantor
pengadilan negeri malang, kantor balai diklat keuangan malang. Setback bangunan 0-3 meter
banyak di temukan pada bangunan semi permanen yang difungsikan sebaagai area untuk
berjualan. Setback 5-10 meter banyak dijumpai pada ruko ruko, sourum dan alfamart/
indomart. Setback bangunan tersebut digunakan sebagai lahan parkir pengunjung bangunan.

Hasil penelitian dibagi menjadi 3 segmen, pada segemen 1 terlihat bahwa sempadan
bangunan dengan lebar 20 meter tidak ditemukan pada segmen ini. Setback dengan lebar 10-
20 meter terlihat pada sisi kanan jalan. Kemudian setback dengan lebar 5-10 meter terdapat
pada sisi kiri dan kanan dari jalan. Terdapat setback dengan lebar 0-1.5 meter yang berada
pada sisi kiri jalan. Bangunan ini merupakan kios-kios semi permanen yang digunakan untuk
berjualan. Secara keseluruhan setback pada segmen 1 didominasi oleh setback dengan ukuran
3-5 meter. Pada segmen 2, setback sangat bervariasi. Setback dengan lebar 0-1.5 meter berada
pada sisi sebelah kanan. Setback dengan lebar 0-1.5 merupakan bangunan semi permanen
yang digunakan sebagai kios-kios untuk berjualan. Setback dengan lebar 3-5 meter terdapat
pada sisi kiri dan kanan dari jalan. Bangunan yang memiliki setback selebar 3-5 meter pada
umumnya memiliki fungsi sebagai hunian dan sourum. Setback dengan ukuran 5-10 meter
terdapat pada bangunan ruko yang memiliki fungsi penting seperti jasa peminjaman uang,
apotek dll. Setback dengan lebar 10-20 meter terdapat pada bangunan kantor pengadilan
negeri malang dan kantor balai diklat keuangan malang. Pada segmen 3 di dominasi oleh
setback dengan lebar 3-5 meter. Fungsi bangunan dengan setback 3-5 meter yaitu fungsi
hunian. Kemudian setback dengan lebar 0-1.5 meter terdapat pada sisi kanan jalan. Fungsi
bangunan dengan setback 0-1.5 meter adalah kios-kios untuk berjualan. Setback dengan lebar
10-20 meter merupakan bangunan PT Adi Putro Wirasejati.

Secara keseluruhan setback bangunan pada koridor Ahmad Yani dinominasi dengan lebar
setback 3-5 meter. Fungsi bangunan pada setback 3-5 meter ini ialah hunian dan sebagian
kecil fungsi bangunannya adalah sourum. Setback dengan lebar 0,1-5 meter terdapat pada
bangunan yang memiliki fungsi sebagai kios dengan bangunan semi permanen. Setback
dengan ukuran 5-10 pada umumnya digunakan sebagai area parkir. Untuk bangunan yang
tidak memiliki setback atau lebar setback yang kecil banyak pengunjung yang memparkirkan
106

kendaraan mereka pada pedestrian. Setback bangunan pada koridor jalan Ahmad Yani masih
perlu diperhatikan karena terdapat bangunan yang memiliki setback 0-1.5 meter, hal ini dapat
mengganggu aktivitas pengguna pedestrian. Menurut Peraturan Daerah Kota Malang No.1
Tahun 2012 menyatakan setback bangunan dari as jalan >6 meter.

Tabel 4.3 Persentase setback bangunan


No Tipe Total Distance Percentage
1 Setback 0-1.5 m 398.5 9,95%
2 Setback 1.5-3 m 589.7 14.73%
3 Setback 3-5 m 1372 34,27%
4 Setback 5-10 m 1011 25,24%
5 Setback 10-20 m 632.9 15,81%
6 Setback >20 m - -
Total 4004.1 100%

SETBACK >20 METER

SETBACK 10-20 METER

SETBACK 5-10 METER


KIRI
SETBACK 3-5 METER
KANAN
SETBACK 1.5-5 METER

SETBACK 0-1.5 METER

0 20 40 60 80

Gambar 4.40 Grafik setback bangunan

Sub variabel kenyamanan spasial kemunduran bangunan berhubungan dengan sub


variabel kenyamanan visual lainnya yaitu berhubungan dengan sub variabel kompeksitas
kawasan. Kemudian terdapat hubungan dengan sub variabel kesan lingkungan. Kesan
lingkungan terbentuk dari setback/kemunduran bangunan. Lalu, sub variabel setback
bangunan memiliki hubungan dengan pola dasar lingkungan, dimana panjang atau pendeknya
setback bangunan akan berpengaruh terhadap jarak pandang pejalan kaki terhadap bangunan.
107

4.2.4. Perabot Ruang Pejalan Kaki


a. Lampu Jalan
Lampu jalan atau yang dikenal juga sebagai Penerangan Jalan Umum (PJU) adalah lampu
yang digunakan untuk penerangan jalan dimalam hari sehingga mempermudah pejalan kaki,
pesepeda dan pengendara kendaraan dapat melihat dengan lebih jelas jalan/medan yang akan
dilalui pada malam hari, sehingga dapat meningkatkan keselamatan lalu lintas dan keamanan
dari para pengguna jalan dari kegiatan/aksi criminal (wikibuku). Lampu jalan sangat memiliki
peran dalam kenyamanan dan keamanan pengguna jalan baik itu kendaraan ataupun pengguna
pedestrian. Umumnya terdapat tiga jenis lampu penerangan yaitu lampu penerangan bagi
trotoar, lampu penerangan bagi jalan dan lampu penerangan untuk persimpangan. Bentuk
bentuk lampu jalan juga bermacam mulai dari yang satu lengan, dua lengan dan lampu bentuk
lurus.
Tipikal lampu penerangan jalan berdasarkan pemilihan letak pada jalan dua arah adalah
sebagai berikut:

Gambar 4.41 Tipe lampu penerangan jalan dua arah


108

Tipikal lampu penerangan jalan berdasarkan pemilihan letak pada jalan satu arah adalah
sebagai berikut:

Gambar 4.42 Tipe lampu penerangan jalan satu arah

Pada koridor jalan Ahmad Yani terdapat lampu penerangan jalan pada median jalan
(lampu dua lengan) dengan ketinggian ±12 meter, keadaan lampu jalan berfungsi dengan baik
namun ada di beberapa area yang lampu penerangannya mati. Jarak antara tiap lampu teratur
(continue) dengan jarak ±10meter. Menurut SNI 7391 : 2008 standar jarak antar tiang lampu
yang sesuai dengan kondisi eksisting adalah 36 meter dengan tinggi lampu 12 meter dan
penyebaran sorotan rinan, dan cahaya langsung menuju jalan.

Gambar 4.43 Lampu penerangan jalan dua lengan


109

Pada jembatan layang koridor jalan Ahmad Yani ini terdapat lampu pada sisi kiri dan
kanan jalan. Lampu-lampu ini dibuat untuk menerangi jembatan layang agar menjaga
keamanan dan kenyaman kendaraan bermotor (baik roda dua dan 4). Tipe lampu pada
jembatan layang ini yaitu lurus dengan ketinggian 5-8 meter.

Gambar 4.44 Lampu penerangan jalan satu lengan

Gambar 4.45 Lampu penerangan jalan pada jembatan layang


110

Gambar 4.46 Mapping peletakan lampu segmen 1


111

Gambar 4.47 Mapping peletakan lampu segmen 2


112

Gambar 4.48 Mapping peletakan lampu segmen 3


113

b. Marka Jalan
Marka jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan jalan atau diatas permukaan
jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis melintang,
garis serong serta lambing lainnya yang berfungsi untuk mengarahkan arus lalu lintas dan
membatasi daerah kepentingan lalu lintas (peraturan menteri perhungan nomor 34 tahun
2014).
Terdapat lima jenis marka jalan yaitu: marka garis melintang, marka garis membujur,
marka serong, marka lambing, marka lainnya.
1. Marka membujur garis utuh
Pengemudi dilarang melintas marka ini. Marka ini sering dipasang di dekat tikungan,
tanjakan-turunan, dan tempat-tempat ramai, untuk memaksa pengemudi agar tidak
mendahului didaerah tersebut, sangat berbahaya.
2. Marka membuju garis terputus-putus
Pengemudi dipersilahkan mendahului atau pindah lajur.
3. Marka kombinasi atau marka garis ganda
4. Marka lambang
Marka lambing adalah tanda yang mengandung arti tertentu untuk menyatakan
peringatan, perintag dan larangan untuk melengkapi atau menegaskan maksud yang telah
disampaikann oleh rambu lalu lintas atau tanda lalu lintas lainnya.
5. Marka lainnya
Seperti yellow box junction yang merupakan marka jalan yang bertujuan untuk mencegah
kemacetan di jalur dan berakibat pada matinya arus kendaraan di jalur laing yang tidak
macet.
Pada koridor jalan Ahmad Yani terdapat beberapa macam marka jalan dimulai garis
melintang membujur dan marka kombinsa ganda.

c. Lampu Lalu Lintas


Lampu lalu lintas sangat memiliki peran dalam dunia perlalu lintasan yang pengatur
kendaraan bermotor agar tidak terjadi kemacetan. Pada kondisi eksisting terdapat 7 titik lampu
lalu lintas. Pada titik lampu pertama lampu lalu lintas terdapat pada pertigaan masjid
Sabilillah.
114

Gambar 4.49 Foto lampu lalu lintas 1

Lampu lalu lintas kedua terdapat pada pertigaan jalan Laksamana Adisucipto. Titik ketiga
berada didepan Sekolah. Lampu ini merupakan peringatan hati-hati kepada pengguna jalan.

Gambar 4.50 Foto lampu lalu lintas 2

Titik ke-empat berada pada pertigaan kantor Pengadilan Negeri Malang. Pada titik ini
sangat rentan terjadi kemacetan. Dikarenakan jalan yang terdapat pada pertigaan kantor
pengadilan Negeri Malang merupakan jalan menuju terminal kota Malang.

Gambar 4.51 Foto lampu lalu lintas 3


115

Titik kelima lampu lalu lintas terletak setelah jembatan layang. Lampu jalan ini
merupakan peringatan untuk berhati-hati. Titik ke-enam lampu jalan terdapat pada jembatan
dekat perumahan River Side. Lampu ini merupakan lampu untuk mengingatkan pengguna
jalan untuk berhati-hati. Kemudian titik terakhir lampu jalan berada pada seberang
persimpangan perumahan River Side, fungsi dari lampu ini juga untuk mengingatkan
pengguna jalan untuk berhati-hati.

Gambar 4.52 Foto lampu lalu lintas 4

Gambar 4.53 Foto lampu lalu lintas 5


116

Gambar 4.54 Mapping lampu lalu lintas segmen 1


117

Gambar 4.55 Mapping lampu lalu lintas segmen 2


118

Gambar 4.56 Mapping lampu lalu lintas segmen 3


119

d. Halte
Halte merupakan tempat menurunkan atau menaikan penumpang angkutan kota.
Peletakkan halte berjarak minimal 300m-500m untuk pusat kota, sedangkan pada pinggir kota
antara 500m-1000m jarak antar tiap halte. Berikut adalah foto-foto halte yang terdapat pada
koridor jalan Ahmad Yani:

Gambar 4.57 Kondisi halte pada kawasan studi

Foto diatas menggambarkan kondisi halte pada koridor jalan Ahmad Yani yang terbilang
kurang layak. Halte tersebut merupakan halte satu-satunya yang terdapat pada koridor jalan
Ahmad Yani.

e. Papan Reklame
Pada koridor jalan Ahmad Yani terdapat berbagai macam papan reklame, dari segi
bentuk, ukuran, warna, dan desain. Papan reklame bertujuan untuk memperkenalkan,
mempromosikan atau menarik perhatian umum terhadap jasa atau barang yang dapat diihat,
dibaca, didengar,dirasakan dan nikmati umum. Namun pada kenyataannya pada koridor jalan
Ahmad Yani tujuan dari pemasangan reklame itu pun tidak tepat sasaran karena papan yang
terlau banyak dan bertumpuk sehingga menciptakan kerancuan bagi pembaca papan reklame
tersebut.
120

Gambar 4.58 Kondisi papan reklame pada kawasan studi

Koridor jalan Ahmad Yani merupakan kawasan komersial, keadaan ini menjadikan
kawasan ini menjadi padat baik dari jumlah bangunan maupun aktivitas yang terjadi.
Keberadaan papan reklame berbanding lurus dengan kondisi kawasan koridor jalan Ahmad
Yani yang dimana jumah dari papan rekame pada koridor ini sangat banyak. Kondisi eksisting
tersebut menciptakan kesan yang tidak teratur dan padat. Umumnya reklame dipasang pada
dinding, pohon, dan pada pagar bangunan. Pemasangan papan reklame yang tidak teratur dan
terjadi penumpukan akan mempengaruhi kenyamanan visual dari pengguna jalan sehingga
perlu diadakan pembenahan ulang agar tercipta kesan kawasan yang teratur dan tujuan dari
pemasangan reklame tersampaikan.

f. Tempat Sampah
Tempat sampah adalah suatu elemen yang terdapat pada koridor jalan yang berfungsi
sebagai tempat untuk membuang sampah untuk memudahkan para pengguna jalan untuk
membuang sampah agar terciptanya kebersihan pada suatu koridor. Pada koridor jalan Ahmad
Yani tempat sampah yang ada berupa TPS (tempat sampah sementara) yang pada akhirnya
diangkut menuju TPA (tempat pembuangan akhir) menggunakan truk sampah.
Pada koridor jalan Ahmad Yani jumlah tempat sampah sanngat minim. Tempat sampah
pada koridor ini sudah dibedakan berdasarkan jenis sampahnya. Bahan dari tempat sampah itu
121

sendiri ada yang dari plastik dan seng . Namun ada juga tempat sampah yang tidak dibedakan
berdasarkan jenisnya( biasanya material dari tempat sampah tersebut berbahan karet).

Gambar 4.59 Tempat sampah yang dibedakan berdasarkan jenisnya pada kawasan studi

Gambar 4.60 Tempat sampah yang tidak dibedakan berdasarkan jenisnya pada kawasan studi

Kenyamanan pejalan kaki juga berpengaruh terhadap kebersihan suatu lokasi. Pada
koridor jalan Ahmad Yani ini jumah tempat sampah pada sisi kanan Jalan berjumah 9 dan
pada sisi kiri berjumah 19 tempat sampah. Dengan total panjang koridor studi 2,7 km jumlah
tempat sampah berbanding terbaik dengan panjang jalan.
Sub variabel kenyamanan spasial perabot jalan memiliki hunungan dengan kenyamanan
visual lainya. Sub variabel kompleksitas kawasan memiliki hubungan dengan sub variabel
perabot jalan. Keberadaan perabot jalan akan berpengaruh terhadap kompleksitas kawasan
baik dari segi jumlah, warna, material, dan desain perabot itu sendiri. Sub variabel skala
manusia memiliki hubungan dengan sub variabel perabot jalan. Sub variabel signage memiliki
hubungan dengan sub variabel perabot jalan. Signage merupakan bagian dari perabot jalan
yang sangat berpengaruh terhadap kenyamanan visual pejalan kaki.
122

g. Jembatan Penyeberangan
Jembatan penyeberangan merupakan perabot jalan yang sangat penting dalam
kenyamanan pejalan kaki. Jembatan penyeberangan orang disingkat JPO adalah fasilitas
pejalan kaki untuk menyeberangan jalan yang ramai dan lebar atau menyeberang jalan tol
dengan menggunakan jembatan, sehingga orang dan lalu lintas kendaraan dipisah secara fisik.
Pembangunan jembatan penyeberangan disrnakan memnuhi ketentuan sebagai berikut:
1. Bila fasilitas penyeberangan dengan menggunakan zebra cross dan pelican cross sudah
mengganggu lalu lintas yang ada.
2. Pada ruas jalan dimana frekuensi terjadi kecelakaan yang melibatkan pejalan kaki cukup
tinggi.
3. Pada ruas jalan yang mempunyai arus lalu lontas dan arus pejalan kaki yang tinggi
Pada koridor Ahmad Yani terdapat satu jembatan penyeberangan yang terletak setelah
Jembatan layang. Pada lokasi ini merupakan lokasi dengan frekuensi kendaraan yang tinggi.
Namun keberaan jembatan layang ini belum memenuhi kebutuhan pejalan kaki dimana pada
lokasi-lokasi yang memiliki fungsi bangunan seperti persekolahan dan perkantoran belum
terdapat jembatan penyeberangan orang.

Gambar 4.61 Jembatan penyeberangan pada kawasan studi

4.2.5. Vegetasi
Suatu kawasan sangat erat hubungannya dengan vegetasi, dimana vegetasi berfungsi
sebagai pelindung dari panas matahari, mengurangi polusi, mengurangi kebisingan, menyerap
air untuk mencegah terjadi nya banjir, dan relaksasi (pengendali pandangan). Selain itu peran
penting suatu vegetasi dalam membentuk koridor jalan memiliki shape, form dan konstribusi
penting dalam membentuk lingkungan perkotaan/membentuk kesan ruang yang baik bias
berupa pembatas, pengarah jalan maupun pembentuk sebuah ruang.
123

Sub variabel yang dikaji oleh peneliti ada 4 yang pertama berdasarkan jenis vegetasi, jenis
vegetasi dikelompokkan menjadi : bentuk kanopi, diantaranya: columnar, round,, vase, dan
fountain. Kemudian yang kedua peneliti menganalisis posisi/letak pohon melalui gambar
pemetaan. Sub variabel ke 3 peneliti menganalisis fungsi dari setiap vegetasi, lalu sub variabel
yang terakhir yaitu peneliti menganalisis jarak dari tiap vegetasi.
Jenis vegetasi yang ditinjau adalah bentuk kanopi dan ukuran dan diameter. Pada koridor
jalan Ahmad Yani secara umum memiliki vegetasi dengan tinggi 5-10 meter dengan diameter
5-7 meter. Vegetasi yang kecil juga terdapat pada koridor ini dengan tinggi 0.5-1 meter. Biasa
nya vegetasi jenis ini posisi nya berada diantara vegetasi dengan ukuran yang besar. Secara
keseluruhan vegetasi yang lebih mendominasi adalah tipe round dengan jumlah 150 (37.6%).

Tabel 4.4 Persentase tipe vegetasi berdasarkan jenis tajuk


Tree Canopy Ahmad Yani
Street
Tipe 1: Colummar 80 (20.2%)

Tipe 2: Round 150 (37.6%)

Tipe 3: Vase 123 (30.9%)

Tipe 4: Fountain 45 (11.3%)

Number Of Trees 398

Berdasarkan Tabel diatas vegetasi yang terdapat pada koridor jalan Ahmad Yani memiliki
ke-empat tipe dari tipe kanopi diatas. Tipe round paling mendominasi sedangkan tipe Fountain
paling sedikit pada koridor jalan Ahmad Yani. Total keseluruhan vegetasi yang terdapat pada
124

lokasi penelitian yaitu 398 buah, tipe colummar sebanyak 80 buah (20.2%), tipe round
sebanyak 150 (37.6%), tipe vase 123 (30.9%) dan tipe fountain 45 buah (11.3%). Posisi dari
vegetasi ini sangat bervariasi ada yang terletak diluar trotoar, dibadan jalan, dan ditrotoar.
Vegetasi yang terletak ditrotoar sering kali merusak trotoar karena akarnya. Selain itu
keberadaan vegetasi pada pesetrian akan menghambat pergerakan pengguna pesetrian.
Vegetasi dengan ukuran besar seringkali menutupi tampilan visual terhadap bentuk bangunan.
Dengan kondisi tersebut, perlu diadakan pembenahan agar vegetasi tidak merusak pedestrian
dan tidak mengganggu pengguna jalur pedestrian. Pada lokasi penelitian vegetasi digunakan
sebagai peneduh, barier kebisingan, mengurangi polusi, penghijauan, dan mengurangi panas
dari sinar matahari sehingga memberikan kenyamanan spasial pada pejalan kaki.

Subvariabel vegetasi memiliki hubungan dengan subvariabel kompleksitas kawasan.


Dalam kenyamanan visual pejalan kaki vegetasi merupakan salah satu item didalam suatu
komleksitas kawasan. Kemudian subvariabel vegetasi memiliki hubungan dengan kesan
lingkungan. Peletakkan dan jenis vegetasi akan membentuk kesan lingkungan pada ruang
pejalan kaki. Lalu, subvariabel vegetasi memiliki hubungan dengan subvariabel dengan skala
manusia., dimana vegetasi salah satu item skala manusia yang membantu memberikan kesan
manusiawi terhadap lingkungan koridor jalan yang dipengaruhi oleh ketinggian bangunan.

Letak dan jarak dari tiap vegetasi ditentukan dengan melakukan survei langsung ke
lapangan dengan melakukan pemetaan pada setiap titik vegetasi berdasarkan kondisi eksisting.
Posisi vegetasi tidak menghalangi aktivitas pejalan kaki dan diletakkan diarea buffer sebesar
0.6 m.

Gambar 4.62 Posisi vegetasi pada kawasan studi


125

Gambar 4.63 Mapping vegetasi segmen 1


126

Gambar 4.64 Mapping vegetasi segmen 2


127

Gambar 4.65 Mapping vegetasi segmen 3


128

4.2.6. Kompleksitas Kawasan


Fungsi bangunan pada kawasan koridor jalan Ahmad Yani yaitu komersial yaitu
perdagangan dan jasa, sehingga pada umumnya pada koridor ini memiliki tipe bangunan
toko,kios dan ruko. Selain fungsi perdagangan dan jasa, pada koridor ini juga terdapat fungsi
lainnya yaitu perkantoran, sekolah, dan rumah ibadah. Keberagamanan jenis fungsi bangunan
pada koridor ini membentuk komplesitas visual yang diamati oleh pengguna jalan pada setiap
waktu. Kompleksitas kawasan pada lokasi dan waktu yang berbeda akan menciptakan kesan
kompleksitas visual yang berbeda.
Menurut Edwing,dkk (2009) kompleksitas mengacu pada kekayaan visual dari suatu
tempat. Keanekaragaman atau kompleksitas suatu kawasan tergantung pada elemen fisik
dalam lingkungan dimana seberapa banyak dan jenis bangunan, keragaman arsitektur dan
ornamennya, elemen lansekap, street furniture, signage dan aktivitas manusia. Suatu kawasan
akan terasa/tercipta kesan harmoni jika aspek pemiihan warna, tektur, gaya bangunan dan
elemen-elemen pembentuk koridor lainnya tertata dengan baik dan saling menyesuaikan.
Kompeksitas kawasan yang baik akan menciptakan kesan kawasan yang baik juga.
Pemilihan warna, tekstur, gaya bangunan juga merupakan aspek kompleksitas visual,
untuk menyelaraskan hubungan dari seluruh aspek koridor maka dibutuhkan item-item
pembentukan koridor yang harmoni dengan konteks lingkungannya. Kompleksitas kawasan
dekat hubungannya terhadap pengaruh kesan lingkungan. Kompleksitas kawasan yang baik
akan menghasilkan kesan kawasan yang baik. Kompleksitas yang baik bukan hanya diukur
melalui seberapa banyak item yang ada dalam suatu lokasi, melainkan harmonisasi dari item-
item tersebut membentuk kesan sesuai dengan konteks lokasi.
Pada potongan A terihat bentuk bangunan didominasi oleh bentuk persegi panjang, dan
didominasi dengan bangunan 1 dan 2 lantai. Pada potongan ini umumnya bangunan
menggunakan atap miring dengan material seng/genteng. Warna bangunan pada potongan ini
cukup beragam tetapi secara keseuruhan tidak terihat warna yang mencolok. Ornamen
arsitektur yang digunakan antar bangunan juga hampir sama. Gaya bangunan pada potongan
ini modern dan modern kontemporer.

Gambar 4.66 Keragaman tampilan bangunan segmen A


129

Potongan B memperihatkan bentuk bangunan yang didominasi oleh bangunan dua


lantai dengan fungsi bangunan komersial berbentuk persegi panjang. Penggunaan warna pada
potongan ini sudah cukup baik dimana warna yang terihat dan mendominasi adalah cream-
putih. Bangunan-bangunan pada koridor ini memiliki gaya yang hampir sama yaitu modern.
Bangunan-bangunan baru seperti ruko-ruko bergaya modern kontemporer.

Gambar 4.67 Keragaman tampilan bangunan segmen B

Pada potongan C terihat bentuk bangunan di dominasi oleh bentuk persegi panjang
dengan tinggi 7 meter( 2 lantai). Warna bangunan pada potongan ini beragam, sehingga tidak
tercipanya keharmonisan pada potongan ini. Penggunaan ornamen arsitektur pada setiap
bangunan hampir sama. Pada potongan ini terihat fungsi bangunan yang berbeda-beda ada
yang berfungsi sebagai hunian, ruko-ruko, sourum, bengkel, dan kios. Setback pada potongan
ini berkisar 3-5 meter sehingga area parkir pada potongan ini terbilang sangat minim dan
bahkan pengunjung akan memparkirkan kendaraan mereka pada bahu jalan. Vegetasi pada
potongan ini sangat minim, hanya berjumah 4.

Gambar 4.68 Keragaman tampilan bangunan segmen C

Pada potongan D memperihatkan bangunan dengan bentuk persegi panjang dengan


tinggi bangunan 4 meter (1 lantai). Fungsi bangunan pada potongan ini didominasi oleh
sourum dan bengkel. Gaya bangunan yang digunakan adalah modern. Warna bangunan pada
potongan ini berbeda antar setiap bangunan. Bangunan memiiki sisi bagian depan yang dapat
dibuka secara keseuruhan. Jumah vegetasi pada potongan ini sangat minim, begitupun dengan
area parkir. Setback bangunan hanya berkisar 3-5 meter, sehingga banyak kendaraan yang
parkir pada pedestrian dan bahu jalan.

Gambar 4.69 Keragaman tampilan bangunan segmen D


130

Pada lokasi studi warna dominan dibedakan menjadi 2 kriteria yaitu warna terang dan
warna gelap. Warna terang pada sisi sebelah kanan berjumlah 27 bangunan, dan bangunan
dengan warna terang pada sisi sebelah kiri sebanyak 39 bangunan sehinngga total bangunan
dengan warna cerah adalah 66 bangunan dari 290 bangunan, dengan persentase 22.76% dan
persentase dengan warna gelap 77,24%. Berikut adalah tabulasi persentase dan bangunan
dengan warna-warna terang pada lokasi studi:

Tabel 4.5 Persentase warna bangunan cerah dan gelap


Warna Bangunan Jumlah Persentase
Warna bangunan cerah 66 22.76%
Warna bangunan gelap 224 77.24%
Total 290 100%

Gambar 4.70 Contoh bangunan warna cerah pada kawasan studi

Kompleksitas kawasan bergantung pada ragam jenis ingkungan yang muncul secara
spesifik, dan seberapa jumah bangunan dan jenis dari bangunan-bangunan yang ada dalam
area tersebut (Reid Ewing, 2013). Pada koridor studi gaya bangunan beragam. Elemen-elemen
fisik kawasan menjadi pembentuk kawasan. Secara garis besar gaya bangunan pada kawasan
ini sudah senada yaitu modern kontemporer Hal ini memberikan kesan yang tidak terartur
begitupun dari warna bangunan. Rekomendasi pada aspek kompleksitas kawasan ini adalah
dalam setiap pembangunan kedepannya masyarakat atau pemerintah harus menyesuaikan
dengan gaya bangunan yang ada agar kawasan koridor jalan Ahmad Yani harmonis. Berikut
adalah foto foto bangunanan yang mewakili gaya bangunan yang terdapat pada koridor jalan
Ahamad Yani.
131

Bangunan neo-klasik Bangunan modern Bangunan arsitektur jawa

Bangunan modern kontemporer


Gambar 4.71 Keragaman tampilan bangunan yang mewakili gaya bangunan pada kawasan studi

Sub variabel kenyamanan visual komplekstas kawasan memiiki hubungan dengan sub
variabel kenyamanan spasial lainnya. Sub variabel fungsi ruang pejalan kaki memiliki
hubungan dengan sub variabel kompesitas kawasan. Kemudian sub variabel jalur pejalan kaki
memiiki hubungan dengan kompleksitas kawasan. Terdapat hubungan antara sub variabel
setback bangunan dengan kompeksitas kawasan. Besar atau kecilnya setback bangunan akan
mempengaruhi ragam visual yang ditampikan pada suatu ruang pejalan kaki. Sub variabel
perabot jalan memiliki hubungan dengan kompekstitas kawasan. Perabot jalan sangat
memiliki peran penting dalam terbentuknya kompeksitas kawasan. Sub variabel vegetasi
memiliki hubungan dengan sub variabel kompleksitas kawasan. Vegetasi merupakan salah
132

satu elemen yang ada dan penting dalam kompleksitas kawasan yang dapat memberikan
kenyamanan visua ruang.

4.2.7. Transparansi Koridor Jalan


Edwing,dkk (2009) menyatakan bahwa transparasi mengacu pada sejauh mana orang
dapat melihat atau merasakan apa yang ada di luar tepi jalan dan lebih khusus sejauh mana
orang dapat melihat atau merasakan aktivitas manusia diluar tepi jalan. Transparasi pada
umumnya digunakan dalam penggunan kaca dan elemen tembus cahaya sebagai bahan utama
pada fasade bangunan yang memungkinkan pengamat atau pengguna jalan melihat kedalam
bangunan. Elemen-elemen pembentuk transparansi berupa kaca, dinding terbuka, maupun
jendela.

Gambar 4.72 Transparansi bangunan 1 pada kawasan studi

Transparansi bangunan merupakan salah satu aspek yang sering muncul dalam kualitas
desain urban. Transparansi pada suatu koridor jalan dapat menarik minat pengguna jalan untuk
mengunjungi suatu bangunan karena pengguna jalan tertarik pada apa yang terdapat didalam
bangunan yang dapat langsung dilihat dari luar tepi jalan. Fungi bangunan komersil pada suatu
koridor jalan akan lebih baik jika bangunan tersebut dapat dilihat dari luar tepi jalan dan
sebaliknya. Pengguna bangunan dapat melihat aktivitas yang terjadi diluar bangunan sehingga
pengguna jalan dapat merasakan ruang dalam bangunan dan pengguna bangunan dapat
merasakan ruang luar bangunan.
133

Tabel 4.6 Persentase bangunan transparan dan tidak transparan


Jenis Jumlah Persentase
Bangunan Transparan 175 60.34%
Bangunan Tidak Transparan 115 39.66%

Pada koridor jalan Ahmad Yani merupakan kawasan komersial. Secara umum fungsi
bangunan perdagangan dan jasa menggunakan material transparansi. Namun ada beberapa
bangunan yang tidak menggunakan material transparansi akan tetapi pada bagian depan dari
bangunan dibuka secara keseluruhan sehingga menciptakan kesan transparansi. Bangunan
dengan fungsi office mengunakan material transparan hanya pada bukaan karena bersifat
privat seperti kantor Pengadilan dan kantor Balai Diklat Keuangan Malang. Fungsi bangunan
hunian menutup bagian depannya dengan dinding masif. Fungsi bangunan komersial pada
suatu koridor jalan sebaiknya menata bangunan dengan transparansi untuk mengajak para
pengguna jalan untuk memasuki bangunan untuk melihat apa yang ada didalam bangunan
(barang/jasa). Transparansi dapat dicapai dengan mengganti elemen dinding bata denga
elemen kaca, hal ini juga dapat memberi dampak positif agar hemat energy (menggunakan
cahaya alami).

Gambar 4.73 Transparansi bangunan 2 dan 3 pada kawasan studi

Sub variabel kenyamanan visual transparansi lingkungan memiliki hubungan dengan sub
variabel kenyamanan spasial lainnya, yaitu terdapat hubungan antara sub variabel transparansi
kawasan dengan sub variabel fungsi jalur pejalan kaki. Transparansi kawasan mengacu pada
sejauh mana orang dapat melihat atau merasakan apa yang ada diluar tepi jalan atau
134

sebaliknya orang yang berada diluar tepi jalan dapat merasakan apa yang ada di dalam
bangunan.

4.2.8. Kesan Lingkungan


Kesan lingkungan (imageability) adalah kualitas suatu tempat yang membuat terihat untuk
dikenali dan diingat (Edwing,dkk; 2009). Kesan lingkungan tidak berasal dari satu elemen saja
namun dari berbagai elemen yang ada pada suatu lingkungan. Kesan bangunan pada suatu
kawasan akan bernilai tinggi jika unsur fisik tertentu dan tata pengaturan yang dapat
menangkap perhatian, membangkitkan perasaan dan menciptakan kesan abadi. Berikut adalah
foto montase yang memperlihat keseluruhan koridor jalan Ahmad Yani.
135
136
137

Koridor jalan Ahmad Yani merupakan kawasan yang memiliki fungsi bangunan
komersial. Namun, juga terdapat fungsi lainnya seperti sekolah, rumah ibadah dan
perkantoran. Keberagaman fungsi bangunan pada koridor jalan Ahmad Yani ini memberikan
kesan bangunan yang berbeda juga. Seperti fungsi jasa, bangunan dengan fungsi jasa pada
umumnya memiiki gaya bangunan modern kontemporer dimana bangunan berbentuk ruko-
ruko. Setback bangunan pada koridor jalan Ahmad Yani pada umumnya memiliki lebar 3-5
meter. Hal ini akan memberi dampak terhadap kesan lingkungan yang diciptakan. Setback
dengan lebar 3-5 meter akan memberikan kesan lingkungan yang padat. Koridor studi
memiliki jalur pejalan kaki yang baik meskipun pada titik tertentu tidak memiliki jalur pejalan
kaki dan material yang rusak. Namun secara keseuruhan jalur pejalan kaki yang ada sudah
baik. Kondisi tersebut akan memberikan kesan ruang yang teratur. Kesan lingkungan pada
koridor jalan Ahmad Yani kurang baik dikarenakan perabot jalan, vegetasi, setback yang tidak
sesuai akan memberikan kesan linkungan yang kurang baik (padat dan tidak teratur). Namun
pada koridor ini terdapat beberapa sculpture dan taman sehingga memberikan kesan kawasan
tersendiri kepada penggunan pedestrian.

Gambar 4.76 Sclupture 1dan 2 pada kawasan studi

Pertumbuhan kawasan yang begitu cepat membuat kawasan ini dipenuhi dengan
bangunan baru yang berdiri dengan gaya masing-masing, sehingga koridor jalan Ahmad Yani
138

terlihat sama dengan koridor jalan lainnya dengan gaya bangunan yang berbeda-beda. Pada
koridor jalan ini memiliki warna bangunan yang beragam, begitupun dengan gaya
bangunannya. Warna bangunan yang digunakan sesuai dengan fungsi bangunan. Fungsi
perdagangan pada umumnya menggunakan warna-warna cerah, hal ini akan memberikan
kesan ceria sehingga menimbulkan ketertarikan kepada pengguna jalan ataupun pengunjung
bangunan. Fungsi bangunan perkantoran atau jasa (bank/sourum) menggunakan warna
bangunan yang monokrom. Hal ini akan memberikan kesan formal sehingga pengguna jalan
atau pengunjung merasakan bahwa bangunan tersebut merupakan bangunan yang memiliki
hubungan dengan pemerintahan atau suatu perusahaan. Berikut adalah foto taman pada
koridor jalan Ahmad Yani.

Gambar 4.77 Foto taman kendedes pada kawasan studi

Sub variabel kenyamanan visual kesan lingkungan memiliki hubungan dengan sub
variabel lainnya. Sub variabel kesan lingkungan memiliki hubungan dengan sub variabel
fungsi ruang pejalan kaki. Sub variabel kesan lingkungan memiliki hubungan dengan jalur
pejalan kaki. Terdapat hubungan antara sub variabel kesan lingkungan dengan sub variabel
setback bangunan. Sub varibel kesan lingkungan memiliki hubungan dengan sub variabel
perabot jalan. Sub variabel kesan lingkungan memiliki hubungan dengan sub variabel skala
manusia. Sub variabel kesan lingkungan memiliki hubungan dengan sub variabel vegetasi.
Sub variabel yang berhubungan dengan sub variabel kesan lingkungan memiliki peran yang
sangat penting dan berpengaruh terhadap kesan lingkungan yang diciptakan.
139

4.2.9. Pola Dasar Lingkungan


Bangunan pada koridor Jalan Ahmad Yani secara umum memiliki ketinggian bangunan 2-
3 lantai. Reid Edwing,dkk (2013) menyatakan pola dasar lingkungan (enclosure) adalah aspek
kualitas ruang sebagai pola dasar dimana tinggi dari suatu element-element vertikal sebanding
dan berhubungan dengan proporsional panjang dari ruang itu dan diantara kedua itu terdapat
kualitas ruang. Skala perkotaan merupakan skala yang berada didalamnya dapat merasakan
kesan ruang akibat aspek dari dinding pelingkup dan jarak pandang. Nilai D/H berada di
antara nilai 1 dan 2 atau 1<DH<2 akan memberikan kesan ruang yang seimbang antara ruang
luar dengan dinding pelingkup ruang, apanila nilai D/H=1 maka hubungan antara ruang luar
dengan bangunan atau dinding ruang terlalu kuat sehingga ruang luarnya menjadi tidak dapat
dirasakan sebagai ruang yang luas (plaza). Apabila D/H>2 maka perasaan luasan plaza
menjadi kecil memberikan kesan teringkup plaza tidak ditemukan. Apabila D/H>2 maka daya
meruang dalam ruang luar mulai berkurang, pengaruh timbal balik bangunan menjadi
melemah dan kurang berkerja.
140

Gambar 4.78 Mapping ketinggian bangunan segmen 1


141

Gambar 4.79 Mapping ketinggian bangunan segmen 2


142

Gambar 4.80 Mapping ketinggian bangunan segmen 3


143

Tabel 4.7 Persentase ketinggian bangunan kawasan studi


No Height Number Of Percentage
Building
1 Tinggi Bangunan <7meter 211 72.76%
2 Tinggi Bangunan 7-10 meter 73 25.18%
3 Tinggi Bangunan >10meter 6 2.06%
Total 290 100%

Koriodor jalan Ahmad Yani merupakan Jalan kolektor Primer dengan lebar jalan 10 meter
(satu arah) dengan panjang 2.7 km, hal ini berpengaruh terhadap jarak pengamatan pengguna
terhadap ketinggian bangunan. Mengukur tingkat kenyamanan visual pengguna jalan terhadap
ketinggian bangunan dibagi menjadi tiga kelompok perbandingan ketinggian terhadap jarak
pandang, yaitu D/H < 1, merupakan skala yang memiliki kesan ruang sangat sempit sehingga
memberikan kesan ruang yang menakutkan dan memiliki pengaruh timbal ballik dari
bangunan yang lebih dominan. Kemudian D/H=1 skala ini adaah skala intim yang
memberikan kesan perlindungan pada pengguna dan hubungan keterkaitan antar bangunan
yang cukup kuat. Lalu 1>D/H<2 merupakan skala yang berkaitan dengan skala kota serta
lingkungannya. Skala ini akan memberikan kesan ruang yang seimbang antara ruang luar
dengan dinding pelingkup ruang. Skala D/H=2 memliki arti luasan ruang yang besar dengan
objek tertentu dimana objek terebut memiliki kesan keagungan, dan hubungan keterkaitan
antar bangunan menjadi sulit dirasakan.

Berdasarkan hasil rekapituasi data keetinggian bangunan pada koridor jalan Ahmad Yani
didapatkan bahwa bangunan dengan ketinggian <7 meter (1 lantai) mendominasi pada koridor
ini dengan jumah 211 bangunan atau sebesar 72.76%. Kemudian tinggi bangunan 7-10 meter
(2 lantai) sebanyak 73 bangunan atau sebesar 25.18%. Bangunan dengan tinggi >10 meter (3
lantai) sebanyak 6 bangunan atau sebesar 2.06%. Pemetaan ketingian bangunan dibagi
menjadi tiga segmen dengan rincian sebagai berikut, ketinggian kurang dari 7 meter pada
segmen pertama berjumlah 78 bangunan, segmen kedua 67 bangunan dan segmen ketiga
sebanyak 66 bangunan. Ketinggian bangunan 7-10 meter pada segmen pertama 32 bangunan,
segmen kedua 30 meter dan segmen ketiga 11 bangunan. Ketinggian bangunan >7 meter
sebanyak 5 pada segmen petama dan 1 bangunan pada segmen kedua, sedangkan pada segmen
144

ketiga tidak ditemukan bangunan dengan ketinggian >10 meter. Data ketinggian bangunan
belum dapat menggambarkan tingkat keseimbangan anatara ruang luar dengan ketingian
bangunannya, untuk itu maka dilakukan perbandingan antara semadan bangunan (D) dengan
ketinggian bangunan (H), berikut iini adaah hasil rekapitulasi perbandingan D/H.
145

Gambar 4.81 Mapping ketinggian bangunan terhadap setback bangunan segmen 1


146

Gambar 4.82 Mapping ketinggian bangunan terhadap setback bangunan segmen 2


147

Gambar 4.83 Mapping ketinggian bangunan terhadap setback bangunan segmen 3


148

Tabel 4.8 Persentase tinggi bangunan terhadap setback bangunan


D/H≥2 1>D/H<2 D/H=1 D/H<1
Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan Kiri Kanan
47 49 59 42 0 5 37 51
96 (33.10%) 101 (34.83%) 5 (1.72%) 88 (30.34%)
Total 290 bangunan

ka
D/H<1

ki

ka
D/H≥2 1>D/H<2 D/H=1

ki

ka

ki

ka

ki

0 10 20 30 40 50 60 70

Gambar 4.84 Diagram ketinggian bangunan terhadap setback bangunan

Berdasarkan data yang telah didapatkan hasil yang paling mendominasi pada koridor jalan
Ahmad Yani yaitu 1>D/H<2 sebesar 101 bangunan dengan persentase 34.83%. Kemudian
urutan kedua yaitu D/H≥2 sebesar 96 bangunan dengan persentase 33.10%. Lalu, D/H<1
sebesar 88 bangunan dengan persentase 30.34% dan D/H=1 sebesar 5 bangunan dengan
persentase 1.72%. Secara Umum kesan seimbang antara pengguna ruang yang berada
didalamnya dapat dirasakan akibat aspek dari dinding pelingkup dan jarak pandang yang
seimbang, 1>D/H<2 sebesar 34.83%. Kemudian skala D/H≥2 sebanyak 96 bangunan
(33.10%) menduduki urutan kedua. Skala ini menyimpulkan bahwa banyak bangunan yang
memberikan kesan jauh dari pengguna, sehingga skala yang dirasakan merupakan skala
monumental membeberikan kesan ruang yang diperkuat. Kemudian sebesar 88 bangunan
(30.32%) memberikan kesan ruang yang sangat sempit sehingga memberikan kesan ruang
yang menakutkan dan memiliki pengaruh timbal balik dari bangunan yang lebih dominan.
Skala yang terkecil adalah D=1 sebanyak 5 bangunan (1.72%), kesan ini dapat dikatakan
149

debagai skala intim memberikan kesan perlindungan pada pengguna dan hubungan keterkaitan
antar bangunan cukup kuat.
Sub variabel kenyamanan visual pola dasar lingkungan memiliki hubungan dengan sub
variabel kenyamanan spasial lainnya. Sub variabel fungsi ruang pejalan kaki memiiki
hubungan dengan pola dasar lingkungan (enclosure). Posisi jalur pejalan kaki akan
mempengaruhi jarak pandang untuk mengamati suatu bangunan. Sub variabel setback
bangunan memiliki hubungan dengan pola dasar lingkungan .

4.2.10. Skala Manusia


Skala manusia memiliki hubungan dengan bangunan atau proporsi dari suatu bangunan
kepada proporsi keberadaan manusia. Skala manusia juga memiliki hubungan dengan jumlah
street furniture, kemunduran bangunan pada gedung-gedung tinggi, dan orenamen suatu
bangunan . spesifikasi bangunan, tekstur suatu pedestrian, vegetasi pada suatu koridor jalan
dan perabot merupakan elemen fisik yang sangat memiliki hubungan terhadap skala manusia.
Koridor jalan Ahmad Yani memiliki ketinggian bangunan rata-rata 1-2 lantai dengan
ketinggian setiap lantai 3.5 meter. Sebanyak 69.00% bangunan pada koridor ini merupakan
bangunan dengan fungsi perdagangan dan jasa. Setback bangunan pada koridor jalan Ahmad
Yani secara umum memiliki lebar 3-5 meter. Edwing, dkk (2013) menjelaskan skala manusia
mengacu kepada ukuran, tekstur, dan artikulasi elemen fisik yang sesuai dengan ukuran dan
proporsi manusia. Pada skala ini penekanan diarahkan pada penggunaan ukuran dimensi
manusia atau gerak ruang manusia terhadap objek.
Pada area studi terdapat bermacam-macam elemen yang dapat mengubah pangalaman
pejalan kaki tehadap ruang atau suatu objek. Vegetasi dapat memberikan perasaan ruang yang
lebih kecil, tempat sampah dan signage dapat memberikan perasaan ruang yang lebih besar.
Pagar bangunan yang rendah dapat memberikan perasaan yang besar bagi penggunan jalan
sedangkan pagar bangunan yang tinggi akan memberikan perasaan yang keci bagi pejalan
kaki.
150

Gambar 4.85 Potongan perbandingan skala manusia dengan skala tinggi bangunan

Pada koridor jalan Ahmad Yani pengoptimaan skala yang manusiawi dapat ditingkatkan
dengan menggunakan elemen-elemen ruang pejalan kaki yang rendah. Elemen-elemen ruang
pejalan kaki yang dimaksud adalah elemen yang dapat dilihat oleh manusia (jangkauan
pandangan dekat) sebagai pengguna ruang koridor jalan. Pada kawasan studi skala manusia
sudah baik karena keberadaan vegetasi dapat menetrasi tinggi bangunan yang memiliki tinggi
7-10 meter dimana tinggi rata-rata vegetasi 5-8 meter. Pada beberapa titik area yang memiliki
bangunan tinggi namun tidak terdapat vegetasi (tajuk lebar) atau pun elemen fisik lainnya
sehingga tidak menetrasikan kesan ruang yang ada. Kemudian juga dapat ditambahkan perabot
jalan seperti tempat sampah atau tempat vegetasi (vegetasi kecil) untuk memberikan kesan
ruang yang kecil dan memberikan kesan tinggi bagi para pengguna jalan sehingga pengguna
jalan tidak merasa terindimidasi oleh bangunan yang tinggi.
Sub variabel kenyamanan visual skala manusia memiliki hubungan dengan sub variabel
lainnya. Sub variabel skala manusia memiliki hubungan dengan sub variabel perabot jalan.
Sub varibel skala manusia memiliki hubungan dengan sub variabel vegetasi. Sub variabel
perabot jalan dan vegetasi memiliki hubungan dengan sub variabel skala manusia, dimana
perabot jalan dan vegetasi sangat berperan penting dalam menetrasi kesan ruang.
151

4.2.11. Tata Tanda (Signage)


Kenyamanan pengguna jalan sangat memiliki pengaruh besar terhadap keberadaan
signage, agar terciptanya kenyamanan dan keamanan pengguna jalan. Menurut Rubenstein
(1992) secara umum signage merupakan segala bentuk komunikasi yang mengandung sebuah
pesan. Menurut Carr (1973) private sign merupakan penanda yang bersifat komersial dan
bisnis, terdapat dua kategori signs, yaitu: public environmental information, semua kebutuhan
penanda yang ada di kota seperti traffic sign, nama jalan, papan informasi, penunjuk arah, rute
bis.
Pada koridor jalan Ahmad Yani pemasangan signage yang sedemikian banyak
menjadikan dan bahkan membentuk ciri lingkungan. Selain itu pemasangan signage juga
memberikan masalah tersendiri jika dipasang terlalu banyak dan tidak teraratur. Hal ini dapat
mengaburkan informasi yang akan disampaikan. Kekaburan informasi terjadi karena signage
yang ada saling tumpang-tindih. Menurut Spreiregen (1986) banyak signage membuat
kekacauan visual yang dapat diatasi dengan membuat signage terpadu dalam suatu pole.
Shirvani (1985) mengemukakan bahwa untuk meningkatkan estetika lingkungan kota maka
dituntut karakteristik signage sebagai berikut: penggunaan signange harus dapat merefleksikan
karakter suatu tempat, jarak sign yang satu dengan yang lainnya harus memadai dan
menghindari kepadatan dan kekacaubalauan, penggunaan sign harus harmonis dengan
bangunan arsitektur dimana sign tersebut berada, pembatas lampu dan sign, kecuali untuk
teater dan entertainment lain.

Gambar 4.86 Kondisi tata tanda (Tanda pengarah primer dan signage jendela)
152

Gambar 4.87 Kondisi tata tanda (signage direktori dan tanda pengarah berbentuk monumental

Menurut Shirvani (1985), lokasi (penempatan) signage menurut peruntukannya dibagi


dalam zona-zona yaitu, (a) zona pedestrian (identifikasi), merupakan informasi untuk
kepentingan umum, agar mudah mengenali bangunan, rancangan etalase dan sebagainya
sebagai petunjuk dan orientasi bagi para pejalan kaki, untuk signage berukuran kecil,(b) Zona
lalu lintas (traffic zone) yaitu penempatan pada badan atau pulau jan. untuk signage yang
relevan sebagai control dan pergerakan lalu lintas dan sirkulasi; (c) Zona advenetasi
(advertising zone), merupakan penempatan pada fasade bangunan, bagi signage berukuran
besar. Penempatan signage di zona ini tidak mengganggu sirkulasi pejalan kaki.
Berikut ini adalah persentase jumlah signage yang digunakan oleh bangunan-bangunan
yang terdapat pada koridor jalan Ahmad Yani.
Tabel 4.9 Persentase jenis signage bangunan
No Jenis signage Jumlah Persentase
1 Sinage Jendela 24 5,30%
2 Blade signage 15 3,31%
3 Signage direktori 7 1,54%
4 Backdrop wall sign 157 34,68%
5 Tanda pengarah primer 178 39,30%
6 Tanda pengarah primer pada awning 6 1,32%
7 Major Projecting Sign 10 2,20%
153

8 Tanda pengarah berbentuk monument 21 4,63%


9 Menu Boards 35 7,72%
Total 453 100%
154

Gambar 4.88 Mapping signage segmen 1


155

Gambar 4.89 Mapping signage segmen 2


156

Gambar 4.90 Mapping signage segmen 3


157

Signage merupakan salah satu jenis perabot jalan yang mana peletakan serta jenisnya akan
mempengaruhi kenyamanan visual pejalan kaki. Jenis signage yang direkomendasikan pada
koridor studi adalah jenis yang dapat meningkatkan kesan lingkungan, untuk itu perlu adanya
regulasi yang jelas dalam penataan signage. Keberadaan guideline atau regulasi tersebut akan
membantu penataan kawasan lebih tertata dengan baik serta mengurangi signage yang
tumpang tindih agar tercipta keharmonisan pada tampilan bangunan.
Sub variabel kenyamanan visual signage memiliki hubungan dengan subvariabel
kenyamanan spasial lainnya. Sub variabel kenyamanan fungsi ruang pejalan kaki memiliki
hubungan dengan sub variabel tanda pengarah (signage). Fungsi ruang yang berbeda akan
membutuhkan jenis signage yang berbeda juga. Sub variabel perbot jalan memiliki hubungan
dengan sub variabel tanda pengarah (signage).

4.2.12. Tabulasi Karakter Fisik Kenyamanan Spasial dan Visual Pejalan kaki
Berikut adalah tabulasi karakter fisik kenyamanan visual dan spasial pejalan kaki pada
koridor jalan Ahmad Yani:
Tabel 4.10 Tabulasi karakter fisik kenyamanan spasial
Variabel Sub Variabel Jenis Jumlah Persentase
KENYAMANAN Fungsi Fungsi Tanah kosong 2 0.68%
SPASIAL Bangunan Bangunan kosong 18 6.20%
Peribadatan 5 1.72%
Office 9 3.10%
Pendidikan 10 3.40%
Hunian 46 15.90%
Perdagangan dan jasa 200 69.00%
Jalur Dimensi Tidak terdapat trotoar 1079.79 22.57%
pedestrian Lebar trotoar 20-120 147.95 3.10%
cm
Lebar trotoar 121-180 974.28 20.39%
cm
Lebar trotoar 181-240 2578.65 53.94%
cm
Setback Lebar/ukuran Setback 0-1.5 m 398.5 9,95%
Setback 1.5-3 m 589.7 14.73%
Setback 3-5 m 1372 34,27%
Setback 5-10 m 1011 25,24%
Setback 10-20 m 632.9 15,81%
Setback >20 m - -
Vegetasi Jenis Vegetasi Tipe 80 20.2%
Columnar
Vegetasi Tipe Round 150 37.6%
158

Vegetesi Tipe Vase 123 30.9%


Vegetasi Tipe 45 11.3%
Fountain

Tabel 4.11 Tabulasi karakter fisik kenyamanan visual


Variabel Sub Variabel Jenis Jumlah Persentase
KENYAMANAN Kompleksitas Warna Terang 66 22.76%
VISUAL kawasan Warna Gelap 224 77.24%
Bentuk persegi 290 100%
Transparansi Transparan 175 60.34%
Tidak Transparan 115 39.66%
Pola dasar Ketinggian Ketinggian Bangunan 211 72.76%
lingkungan Bangunan <7 meter
Ketinggian Bangunan 73 25.18%
7-10 meter
Ketinggian Bangunan 6 2.06%
>10 meter
Jarak D/H ≥2 96 33.10%
Pandang 1>D/H<2 101 34.83%
(D/H) D/H=1 5 1.72%
D/H<1 88 30.34%
Signage Jenis Signage Jendela 24 5,30%
Blade signage 15 3,31%
Signage direktori 7 1,54%
Backdrop wall Sign 157 34,68%
Tanda pengarah 178 39,30%
primer
Tanda pengarah 6 1,32%
primer pada awning
Major projecying 10 2,20%
Sign
Tanda pengarah 21 4,63%
berbentuk monument
Menu boards 35 7,72%

Tabel 4.12 Tabulasi karakter fisik kenyamanan spasial kondisi eksisting dengan regulasi dan atau teori
Kenyamanan Spasial
Sub Variabel Regulasi Kondisi Eksisting
Fungsi Ruang The Transportation Program (1998) Terdapat area area yang tidak
Pejalan Kaki menyatakan sisi koridor jalan untuk pejalan memiliki jalur pejalan kaki.
kaki terletak di pinggir atau tepi jalan yang Pada lokasi Studi area pejalan
merupakan hak publik ; sidewalk berisi kaki dimanfaatkan sebagai area
empat zona yaitu : (1) zona tepi jalan (curb), parkir dan area perdagangan.
(2) zona pejalan kaki, (3) zona bebas pejalan
kaki, (4) area depan muka bangunan
(frontage).

Jalur Pejalan Kaki Departemen pekerjaan umum (1999) Jalur pejalan kaki pada koridor
159

menyatakan bahwa jalur pejalan kaki adalah jalan Ahmad yani didominasi
suatu jalur lintas yang diperuntukkan untuk dengan lebar 121-180cm
pejalan kaki dapat berupa trotoar, Lokasi studi terdapat area yang
penyeberangan sebidang dan penyeberangan tidak memiliki jalur pejalan
tidak sebidang. kaki sebesar 22.57%.
Departemen PU No.007 /T/BNKT/1990 Pada beberapa titik material
penggunaan lahan sekitar untuk area jalur pejalan kaki licin
pertokoan /perbelanjaan lebar trotoar (material keramik).
minimum adalah 2 meter
Material jalur pejalan kaki harus rata dan
memiliki kemurungan 2-3% guna untuk
mencegah terjadinya genangan air.

Setback Bangunan Menurut peraturan Daerah kota Malang Setback bangunan 0-1.5 meter
No.1 Tahun 2012 menjelaskan bahwa garis sebesar 9.95%.
sempadan bangunan gedung terhadap as Setback bangunan 1.5-3 meter
jalan minimal 6 meter terhitung dari dinding sebesar 14.73%
terluar bangunan ke as jalan. Setback bangunan 3-5 meter
sebesar 34.27%.

Perabot Ruang UU No 22 Tahun 2009 mengatakan bahwa Lampu jalan pada lokasi studi
Pejalan Kaki pejalan kaki memiliki hak dalam berlalu cukup baik. Namun, terdapat 1
lintas yaitu pejalan kaki berhak untuk halte pada kawasan Ahmad
mendapatkan ketersediaan fasilitas Yani dan jumlah tempat
pendukung berjalan kaki, pejalan kaki sampah sangat minim.
berhak untuk mendapatkan prioritas saat
melakukan penyeberangan pada are
penyeberangan, dan apabila belum tersedia
fasilitas yang dimaksud, pejalan kaki berhak
memilih lokasi penyeberangan dengan
memperhatikan keselamatan dirinya.

Vegetasi Tipe vegetasi dengan tajuk lebar sehingga Vegetasi dengan tajuk lebar
dapat menaungi pejalan kaki dari terik sinar sebesar 68.5%.
matahari dan menjadi barier untuk Posisi vegetasi menghalangi
mengurangi polusi udara dan suara dengan pejalan kaki karena vegetasi
pelekkan pada area buffer dengan lebar 0.6 terletak pada jalur pedestrian.
meter.

Tabel 4.13 Tabulasi karakter fisik kenyamanan visual kondisi eksisting dengan regulasi dan atau teori
Kenyamanan Visual
Sub Variabel Regulasi Kondisi Eksisting
Kompleksitas Kawasan Menurut Edwing dkk (2009) Kawasan studi memiki jenis
kompleksitas mengacu pada kekayaan keragaman tampilan. Terdapat
visual dari suaru tempat. gaya bangunan modern, modern
kontemporer, neo-klasik, dan
arstektur jawa.
Warna bangunan pada koridor
jalan beragam.
160

Transparansi Koridor Edwing, dkk (2009) menyatakan bahwa Bangunan pada koridor jalan
Jalan transparansi mengacu pada sejauh mana Ahmad Yani didominasi oleh
orang dapat melihat atau merasakan apa bangunan dengan dinding
yang ada diluar tepi jalan dan lebih bagian depan terbuka dan cukup
khusus sejauh mana orang dapat melihat sedikit bangunan dengan
atau merasakan aktivitas manusia menggunakan elemen kaca.
didalam bangunan. Meskipun didominasi oleh
Elemen pembentuk transparansi berupa dinding terbuka namun
kaca, dinding terbuka maupun jendela. tranparansi yang didapat sangat
buruk karena pengaruh elemen-
elemen ruang pejalan kaki
lainnya.

Kesan lingkungan Edwing, dkk (2009) menyatakan kesan Bangunan pada koridor studi
(imageability) lingkungan adalah kualitas suatu tempat memiliki gaya bangunan yang
yang membuat terlihat untuk dikenali terbilang beragam. Kemudia
dan diingat. terdapt unsur lainnya yang
memberikan kesan tersendiri
terhadap koridor jalan Ahmad
Yani, dimana terdapat 2
sclupture dan terdapat taman
kendedes, serta pada kawasn ini
terdapat jembatan layang
sehingga kawasan ini diingat
dan memberikan kesan.

Pola Dasar Lingkungan Reid Edwing, dkk (2013) menyatakan Koridor jalan Ahmad Yani
pola dasar lingkungan (enclosure) didominasi dengan nilai
adalah aspek kualitas ruang sebagai pola 1>D/H<2 sebesar 101 bangunan
dsar dimana tinggi dari suatu elemen- dengan persentase 34.83 %,
elemen vertikal sebanding dan dimana nilai ini memiliki arti
berhubungan dengan proporsional kesan yang seimbang antara
panjang dari ruang itu dan diantara ruang luar dengn dinding
kedua itu terdapat kualitas ruang. peilingkup ruang.

Skala Manusia Reid Edwing,dkk (2009) menyatakan Vegetasi pada koridor jalan
skala manusia mengacu kepada ukuran, Ahmad Yani dapat memberikan
tekstur, dan artikulasi elemen fisik yang perasaan ruang yang lebih kecil,
sesuai dengan ukuran proporsi manusi. tempat sampah dan signage
dapat memberikan perasaan
ruang yang lebih besar. Pagar
bangunan yang rendah pada
koridor Ahmad Yani dapat
memberikan perasaan ruang
yang besar terhadap pengguna
pedestrian.

Tata Tanda (Signage) Rubenstein (1992) signage merupakan Jumlah signage pada koridor
segala bentuk komunikasi yang studi terbilang banyak sehingga
mengandung sebuah pesan. membuat kekacauan visual serta
Carr (1973) privite signage merupakan tujuan dari fungsi signage
161

penanda yang bersifat komersial dan tersebut tidak tersampaikan


bisnis, terdapat dua kategori signs, yaitu karena terjadi pengulangan dan
public environtemtal information dan jarak yang dekat sehingga yang
semua kebutuhan penanda yang ada melihat dan membaca menjadi
dikota seperti traffic sign, nama jalan, rancu.
papan informasi, penunjuk arah, dan
rute bis.
Spreiregen (1986) banyak signage akan
membuat kekacauan visual yang dapat
diatasi dengan membuat signage terpadu
dalam suatu pole.

4.3. Karakteristik Responden


4.3.1. Usia Responden
Jumlah responden pada penelitian ini berjumlah 90 oranng. Respoden dikelompokkan
menjadi 4 kategori yaitu: usia 16-25 tahun, 26-35 tahun,36—35 tahun dan >50 tahun. Usia
16-25 tahun sebanyak 39 responden dengan persentase 43,33%, usia 26-35 tahun sebanyak 32
responden dengan persentase 35,55%, usia 36-35 sebanyak 14 responden dengan persentase
15,56%, dan usia >50 tahun sebanyak 5 responden dengan persentase 5,56%. Berikut adalah
Tabel dan diagaram presentase menurut usia responden pada koridor jalan Ahmad Yani:
Tabel 4.14 Frekuensi usia responden
Usia Responden Jumlah Responden
16-25 39
26-35 32
36-50 14
>50 5
Total 90
162

Usia Responden

16-25 Tahun
26-25 Tahun
36-50 Tahun
>50 Tahun

Gambar 4.91 Diagram usia responden

4.3.2. Jenis Kelamin Responden


Jenis kelamin responden terbagi menjadi dua yaitu laki-laki dan perempuan. Dari hasil
data pengisian kuisioner yang disebarkan kepada 90 responden sebanyak 54 responden
berjenis kelamin pria dengan persentase 60% . Sebanyak 36 responden berjenis kelamin
wanita dengan persentase 40%. Berikut adalah tabel dan diagram persentase menurut jenis
kelamin pada koridor Jalan Ahmad Yani:
Tabel 4.15 Frekuensi jenis kelamin
Jenis Kelamin Jumlah

Pria 54

Wanita 36

Total 90

Jenis Kelamin

Pria
Wanita

Gambar 4.92 Diagram jenis kelamin


163

4.3.3. Domisili Respoden


Domisili dapat juga diartikan dimana ia tinggal. Domisili pada penelitian ini dibagi
menjadi dua kategori, yaitu responden yang berdomisili di Kota Malang dan responden yang
berdomisili di luar Kota Malang. Dari hasil kuisioner didapatkan responden yang berdomisili
di kota Malang sebanyak 81 responden dengan persentase 90%. Kemudian responden yang
berdomisili diluar kota Malang sebanyak 9 responden dengan persentase 10%. Berikut adalah
Tabel dan diagram persentase gambar frekuensi domisili responden pada koridor jalan Ahmad
Yani.
Tabel 4.16 Frekuensi domisili responden
Domisili Jumlah
Kota Malang 81
Luar Kota Malang 9
Total 90

Domisili Responden

Kota Malang
Luar Kota Malang

Gambar 4.93 Diagram domisili responden

4.3.4. Pendidikan Terakhir Responden


Pendidikan terakhir responden terbagi menjadi 7 kelompok diantaranya: (1) Sekolah
Dasar/SD (2) Sekolah Menengah Pertama/SMP (3) Sekolah Menengah Atas/SMA (4)
Diploma (5) Strata Satu/ S1 (6) Strata Dua /S2 (7) Strata Tiga/S3. Dari kuisioner yang sudah
tersebar dan diisi oleh responden, didapatkan responden dengan pendidikan sekolah dasar/SD
sebanyak 3 responden dengan persentase 3,33%. Responden dengan pendidikan sekolah
menengah pertama/SMP sebamyak 7 responden dengan persentase 7,78%. Responden dengan
164

pendidikan Sekoalah Menengah Atas/SMA sebanyak 50 responden dengan persentase


55,56%. Responden dengan pendidikan terakhir Diploma sebanyak 1 responden dengan
persentase 1.11%. Responden dengan pendidikan terkahir Strata Satu/S1 sebanyak 27
responden dengan persentase 30%. Responden dengan pendndikan Strata Dua/S2 sebanyak 2
responden dengan persentase 2,22% dan responden dengan pendidikan terakhir Strata Tiga/S3
tidak ada. Berikut adalah Tabel dan diagram pesentase frekuensi pendidikan terakhir pada
koridor jalan Ahmad Yani.
Tabel 4.17 Frekuensi pendidikan terakhir responden
Pendidikan Terakhir Jumlah
SD 3
SMP 7
SMA/SMK 50
Diploma 1
S1 27
S2 2
S3 0
Total 90

Pendidikan terakhir
SD
SMP
SMA/SMK
Diploma
S1

Gambar 4.94 Diagram pendidikan terakhir responden

4.3.5. Pekerjaan Responden


Hasil frekuensi persebaran karakteristik responden terhadap jenis pekerjaan melalui
kuisioner yang disebarkan kepada 90 responden dengan kelompok 5 jenis pekerjaan antara
lain: (1) PNS, (2) Wiraswasta, (3) Dosen (Arsitektur/Planologi), (4) Arsitek/Perencana Kota,
165

(5) Mahasiswa Arsitektur dan (6) Lain-lain. Responden dengan pekerjaan PNS sebanyak 5
responden dengan persentase 5,56%. Responden dengan pekerjaan Wiraswasta sebanyak 28
responden dengan persentase 31,11%. Responden dengan pekerjaan Dosen
(Arsitejtur/planologi tidak ada begitupun dengan pekerjaan arsitek/perencana Kota.
Responden dengan pekerjaan Mahasiswa Arsitektur sebanyak 15 responden dengan persentase
16,66%. Responden dengan pekerjaan Lain-lain sebanyak 42 responden dengan persentase
46,76%. Berikut adalah Tabel dan digram frekuensi dari pekerjaan responden pada koridor
jalan Ahmad Yani.
Tabel 4.18 Frekuensi pekerjaan responden
Pekerjaan Responden Jumlah
PNS 5
Wiraswasta 28
Arsitek Planologi 0
Arsitek Perencanaan Kota 0
Mahasiswa Arsitektur 15
Lain-lain 42
Total 90

Pekerjaan
PNS

Wiraswasta

Arsitek Planologi

Gambar 4.95 Diagram pekerjaan responden

4.4. Analisis Aspek Kenyamanan Spasial


Pada analisis aspek kenyaman spasial ini data yang digunakan berasal dari oleh data
kuantitatif yang bersumber dari kuisioner, kuisioner disebar kepada 90 responden dan
dibagikan di 3 titik yang berbeda sepanjang koridor penelitian. Setiap sub variabel
166

berdasarkan sub variabelnya dicari mean scorenya untuk mengetahui tingkat rata-rata
kenyamanan yang dirasakan oleh responden. Berikut adalah rumus untuk mengetahui kategori
saat nilai mean telah diperoleh.

Rumus range =

1 - 1.857 Sangat Tidak Nyaman


1.857 – 2.714 Tidak Nyaman
2.715 – 3.571 Agak Tidak Nyaman
3.572 – 4.428 Netral
4.429 – 5.285 Agak Nyaman
5.286 – 6.142 Nyaman
6.142 – 7 Sangat Nyaman

4.4.1. Fungsi Ruang Pejalan Kaki


Fungsi ruang pejalan kaki merupakan salah satu sub variabel dalam menganalisis
kenyamanan spasial ruang pejalan kaki pada area studi. Analisis kuantitatif kenyamanan
spasial ruang pejalan kaki terhadap fungsi ruang pejalan kaki dibagi menjadi tingkat
kenyamanan terhadap kesesuaian posisi ruang pejalan kaki dan lokasi keberadaan trotoar.
167

Statistiks
Fungsi_trotoar_untuk_berjalan_ka
ki

N Valid 90

Missing 0
Mean 4.08
Std. Deviation 1.903

Gambar 4.96 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan fungsi trotoar pejalan kaki

Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap kesesuaian
fungsi ruang pejalan kaki menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 4.07 dengan standart
deviasi pada tingkat kenyamanan ini sebesar 1.903. Nilai rata-rata yang muncul menyatakan
bahwa sebagian besar responden berpendapat netral untuk tingkat kenyamanan spasial ruang
pejalan kaki terhadap kesesuaian fungsi ruang pejalan kaki. Berdasarkan analisis karakter fisik
pada fungsi ruang pejalan kaki yang sudah dilakukan sebelumnya hasil data statistik yang
muncul kurang sesuai. Pada kondisi eksisting ruang pejalan kaki masih banyak digunakan
sebagai tempat parkir dan pedagang kaki lima sehingga fungsi yang seharusnya sebagai ruang
pejalan kaki dialihfungsikan oleh masyarakat untuk kepentingan pribadi.
168

Statistiks
Posisi_trotoar

N Valid 90

Missing 0
Mean 4.04
Std. Deviation 1.722

Gambar 4.97 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan posisi trotoar pejalan kaki

Hasil analisis data tingkat kenyamanan peletakan ruang pejalan kaki menunjukkan bahwa
rata-rata item sebesar 4.04 dengan standart deviasi pada tingkat kenyamanan ini sebesar 1.722.
Nilai rata-rata yang muncul menyatakan bahwa sebagian besar responden berpendapat netral
untuk tingkat kenyamanan peletakan ruang pejalan kaki. Berdasarkan dari analalisis fisik yang
sudah dilakukan hasil data statistik yang muncul tidak sesuai. Pada lokasi studi peletakaan
jalur pejalan kaki tidak sesuai dengan seharusnya dimana sebuah jalur pejalan kaki harus
disertai dengan buffer dimana fungsi buffer ini untuk memberikan keamanan dan kenyamanan
kepada pejalan kaki serta sebagai pembatas anatara jalur pejalan kaki dengan jalan.

4.4.2. Jalur Pejalan Kaki


Jalur pejalan kaki merupakan salah satu sub variabel dalam menganalisis kenyamanan
spasial ruang pejalan kaki pada area studi. Analisis kuantitatif kenyamanan spasial ruang
pejalan kaki terhadap jalur pejalan kaki dibagi menjadi tingkat kenyamanan terhadap dimensi
trotoar, tingkat kenyamanan terhadap material trotoar yang digunakan dan tingkat
kenyamanan terhadap kemenerusan jalur pejalan kaki.
169

Statistiks
Dimensi_trotoar
N Valid 90
Missing 0
Mean 3.5333
Std. Deviation 1.62978

Gambar 4.98 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan dimensi trotoar pejalan kaki

Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap kesesuaian
dimensi jalur pejalan kaki menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 3.53 dengan Standart
deviasi pada tingkat kenyamanan ini sebesar 1.629. Nilai rata-rata yang muncul menunjukkan
bahwa sebagian besar responden berpendapat agak tidak nyaman untuk tingkat kenyamanan
spasial ruang pejalan kaki terhadap kesesuaian dimensi jalur pejalan kaki. Berdasarkan analisis
karakter fisik pada dimensi jalur pejalan kaki sudah sesuai dengan kondisi eksisting pada
lokasi studi. Dimana pada lokasi studi dimensi jalur pejalan kaki ada yang kurang sesuai
(cukup kecil) dengan kebutuhan pejalan kaki dan bahkan pada beberapa titik tidak terdapat
jalur pejalan kaki.
170

Statistiks
Material_trotoar
N Valid 90
Missing 0
Mean 3.4556
Std. Deviation 1.53726

Gambar 4.99 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan material trotoar pejalan kaki

Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap kesesuaian
material jalur pejalan kaki menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 3.45 dengan Standart
deviasi pada tingkat kenyamanan ini sebesar 1.537. Nilai rata-rata yang muncul menunjukkan
bahwa sebagian besar responden berpendapat agak tidak nyaman untuk tingkat kenyamanan
spasial ruang pejalan kaki terhadap kesesuaian material jalur pejalan kaki. Berdasarkan
analisis karakter fisik pada material jalur pejalan kaki sudah sesuai dengan hasil statistik yang
muncul. Pada lokasi studi secara umum terdapat kerusakan pada material jalur pejalan kaki
seperti paving yang bolong. Kemudian juga terdapat ketidakseragaman material jalur pejalan
kaki dimana pada beberapa titik terdapat material jalur pedestrian yang menggunakan material
dengan jenis paving (design berbeda).
171

Statistiks
Kemenerusan

N Valid 90

Missing 0
Mean 3.5111
Std. Deviation 1.86176

Gambar 4.100 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan kemenerusan trotoar

Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap kesesuaian
kemenerusan jalur pejalan kaki menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 3.51 dengan
standart deviasi pada tingkat kenyamanan ini sebesar 1.861. Nilai rata-rata yang muncul
menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendapat agak tidak nyaman untuk tingkat
kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap kesesuaian kemenerusan jalur pejalan kaki.
Berdasarkan kondisi fisik pada lokasi studi sudah sesuai dengan hasil statistik yang muncul.
Pada lokasi studi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kemenerusan jalur pejalan kaki
diantaranya terdpatnya vegetasi, papan reklame dan signage yang berada pada pedestrian, dan
pada beberapa titik tidak terdapat jalur pedestrian itu sendiri.

4.4.3. Setback Bangunan


Setback bangunan adalah item skala dari analisis kenyamanan spasial ruang pejalan kaki.
Analisis kuantitatif kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap kemunduruan bangunan
dibagi menjadi tingkat kenyamanan terhadap jarak antara jalur pejalan kaki terhadap muka
bangunan dan tingkat kenyamanan terhadap kesegarisan maju mundur bangunan.
172

Statistiks
Lebar_sempadan_bangunan

N Valid 90

Missing 0
Mean 3.4444
Std. Deviation 1.64290

Gambar 4.101 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan lebar sempadan bangunan

Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap jarak antara
jalur pejalan kaki terhadap muka bangunan menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 3.44
dengan standart deviasi pada tingkat kenyamanan ini sebesar 1.642. Nilai rata-rata yang
muncul menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendapat agak tidak nyaman untuk
tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap jarak antara jalur pejalan kaki
terhadap muka bangunan. Berdasarkan analisis fisik yang sudah dilakukan sebelumnya hasil
dari data statistik yang muncul sesuai. Pada lokasi studi setback bangunan didominasi dengan
lebar 3-5 meter, dimana menurut Peraturan Daerah Kota Malang No.1 Tahun 2012 jarak
bangunan terhadap trotoar >6 meter yang artinya setback bangunan pada koridor jalan ini
belum sessuai.
173

Statistiks
Kesegarisan_kemunduran_bangu
nan

N Valid 90

Missing 0
Mean 3.5222
Std. Deviation 1.51567

Gambar 4.102 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan kesegarisan kemunduran


bangunan
Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap kesegarisan
maju mundur bangunan menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 3.52 dengan standart
deviasi pada tingkat kenyamanan ini sebesar 1.515. Nilai rata-rata yang muncul menunjukkan
bahwa sebagian besar responden berpendapat agak tidak nyaman untuk tingkat kenyamanan
spasial ruang pejalan kaki terhadap kesegarisan maju mundur bangunan. Berdasarkan analisis
fisik yang sudah dilakukan sebelumnya hasil data statistik yang muncul sesuai. Pada lokasi
studi terdapat bangunan yang memiliki setback yang berbeda-beda sehingga kesegarisan
bangunan pada lokasi studi menjadi kurang baik.

4.4.4. Perabot Jalan


Perabot jalan adalah item skala dari analisis kenyamanan spasial pada ruang pejalan kaki
koridor Jalan Ahmad Yani. Analisis kuantitatif kenyamanan spasial pada ruang pejalan kaki
terhadap perabot ruang pejalan kaki dibagi menjadi tingkat kenyamanan terhadap lokasi
peletakan perabot ruang pejalan kaki dan jenis perabot yang ada diruang pejalan kaki.
174

Statistiks
Posisi_perabot_jalan

N Valid 90

Missing 0
Mean 3.5222
Std. Deviation 1.61613

Gambar 4.103 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan posisi perabot jalan

Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap peletakan
perabot ruang pejalan kaki menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 3.52 dengan standart
deviasi pada tingkat kenyamanan ini sebesar 1.616. Nilai rata-rata yang muncul menunjukkan
bahwa sebagian besar responden menyatakan agak tidak nyaman untuk tingkat kenyamanan
spasial ruang pejalan kaki terhadap peletakan perabot ruang pejalan kaki. Dari hasil data yang
telah didapatkan dapat disimpulkan bahwa kondisi peletakann perabot jalan pada ruang
pejalan kaki masih kurang memenuhi kebutuhan pejalan kaki. Hal tersebut sesuai dengan
analisis kondisi fisik pada lokasi studi. Pada lokasi studi peletakkan perabot jalan tidak teratur
dan terkesan ramai (berulang). Kondisi eksisting ini tentunya sangat mempengaruhi
kenyamanan spasial pejalan kaki.
175

Statistiks
Jenis_perabot_jalan

N Valid 90

Missing 0
Mean 3.5333
Std. Deviation 1.55209

Gambar 4.104 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan jenis perabot jalan
Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap jenis perabot
ruang pejalan kaki menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 3.53 dengan standart deviasi
pada tingkat kenyamanan ini sebesar 1.552. Nilai rata-rata yang muncul menunjukkan bahwa
sebagian besar responden berpendapat agak tidak nyaman untuk tingkat kenyamanan spasial
ruang pejalan kaki terhadap jenis perabot ruang pejalan kaki. Berdasarkan hasil penilaian
tersebut dapat diartikan bahwa terjadi kesesuaian antara data statistik yang muncul dengan
kondisi eksisting lokasi studi. Pada lokasi studi jenis perabot yang ada sangat minim dimana
tidak adanya tempat duduk, telepon umum, halte, minimnya tempat sampah, tidak adanya
fasilitas bagi pengguna jalan disabilitas, jembatan penyeberangan, shelter dan papan
informasi.

4.4.5. Vegetasi Ruang Pejalan Kaki


Vegetasi merupakan variabel terakhir dari aspek kenyamanan spasial ruang pejalan kaki
pada area studi. Vegetasi ruang pejalan kaki merupakan salah satu item skala dari analisis
kenyamanan spasial pada ruang pejalan kaki pada area studi. Analisis kuantitatif kenyamanan
spasial pada ruang pejalan kaki terhadap sub variabel vegetasi dibagi menjadi tingkat
kenyamanan terhadap jenis vegetasi, fungsi vegetasi dan lokasi peletakan vegetasi. Jenis
176

vegetasi dikelompokkan berdasarkan bentuk kanopi antara lain columnar, round, vase dan
fountain.

Statistiks
Jenis_vegetasi
N Valid 90
Missing 0
Mean 4.4444
Std. Deviation 1.94942

Gambar 4.105 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan jenis vegetasi


Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap jenis vegetasi
menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 4.44 dengan standart deviasi pada tingkat
kenyamanan ini sebesar 1.949. Nilai rata-rata yang muncul menunjukkan bahwa sebagian
besar responden berpendapat agak nyaman untuk tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan
kaki terhadap jenis vegetasi. Dari hasil yang didapatkan dengan analisis fisik yang sudah
dilakukan sudah sesuai. Pada lokasi studi terdapat 4 macam jenis vegetasi yang sudah
dikelompokkan berdasarkan bentuk kanopi. Masyarakat menilai kondisi tersebut positif
terhadap kenyamanan spasial ruang pejalan kaki.
177

Statistiks
Fungsi_vegetasi

N Valid 90

Missing 0
Mean 4.7778
Std. Deviation 1.85289

Gambar 4.106 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan fungsi vegetasi

Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap fungsi vegetasi
menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 4.77 dengan standart deviasi pada tingkat
kenyamanan ini sebesar 1.852. Nilai rata-rata menunjukkan bahwa sebagian besar responden
menyatakan agak nyaman untuk tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap
fungsi vegetasi. Berdasarkan data statistik yang sudah muncul dengan kondisi eksisting lokasi
studi sudah sesuai. Pada lokasi studi fungsi vegetasi sudah mampu untuk menaungi aktivitas
pengguna pejalan kaki. Kemudian fungsi vegetasi pada koridor jalan Ahmad Yani juga dapat
sebagai barrier untuk mengurangi polusi udara dan kebisingan.
178

Statistiks
Posisi_vegetasi

N Valid 90

Missing 0
Mean 3.5000
Std. Deviation 1.60931

Gambar 4.107 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan posisi vegetasi

Hasil analisis data tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap posisi vegetasi
menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 3.50 dengan standart deviasi pada tingkat
kenyamanan ini sebesar 1.609. Nilai mean menunjukkan bahwa sebagian besar responden
menyatakan agak tidak nyaman untuk tingkat kenyamanan spasial ruang pejalan kaki terhadap
posisi vegetasi. Berdasarkan hasil data statistik yang didapatkan sudah sesuai dengan kondisi
eksisting pada lokasi studi. Posisi vegetasi pada koridor jalan Ahmad Yani sebagian besar
terdapat pada pedestrian yang menghalangi aktifitas pengguna pejalan kaki.

4.5. Analisis Kenyamanan Visual


Variabel kenyamanan visual ruang pejalan kaki memiliki 6 sub variabel yaitu: (1)
Kompleksitas kawasan dengan 2 sub variabel: jenis keragaman tampilan dan warna dominan
kawasan, (2) Transparansi koridor jalan dengan 1 sub variabel: keterlihatan (visibility), (3)
Pola dasar lingkungan (enclosure) dengan 2 sub variabel yaitu: proporsi dinding jalan (H)
dengan proporsi jarak pandang (D), (4) Kesan lingkungan dengan 1 sub variabel yaitu
keunikan tampilan bangunan, (5) Skala manusia (imageability) dengan 2 sub variabel yaitu
ketinggian bangunan sama sisi dan faktor perabot, (6) Sigange dengan 1 sub variabel yaitu
keterlihatan. Setiap sub variabel dengan sub variabelnya dicari mean score nya untuk
179

mengetahui nilai rata-rata kenyamanan visual yang dirasakan oleh responden. Berikut adalah
rumus untuk mengetahui kategori saat nilai mean telah diperoleh.

Rumus range =

1 - 1.857 Sangat Tidak Nyaman


1.857 – 2.714 Tidak Nyaman
2.715 – 3.571 Agak Tidak Nyaman
3.572 – 4.428 Netral
4.429 – 5.285 Agak Nyaman
5.286 – 6.142 Nyaman
6.142 – 7 Sangat Nyaman

4.5.1. Kompleksitas Kawasan


Kompleksitas kawasan ruang pejalan kaki adalah item skala dari analisis kualitas visual
ruang pejalan kaki koridor Jalan Ahmad Yani. Analisis kuantitatif kenyamanan visual ruang
pejalan kaki terhadap sub variabel kompleksitas kawasan dibagi menjadi tingkat kenyamanan
terhadap jenis keragaman tampilan bangunan dan pemilihan warna bangunan secara
keseluruhan.
180

Statistiks
Jenis_keragaman_tampilan
N Valid 90
Missing 0
Mean 4.4667
Std. Deviation 1.61593

Gambar 4.108 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan jenis keragaman tampilan

Hasil analisis data tingkat visual ruang pejalan kaki terhadap keragaman tampilan
bangunan menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 4.46 dengan standart deviasi pada
tingkat kenyamanan keragaman tampilan bangunan ini sebesar 1.615. Nilai rata-rata
menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan agak nyaman untuk tingkat
kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap keragaman tampilan bangunan. Berdasarkan
data statistik yang muncul dengan kondisi fisik koridor jalan Ahmad Yani sudah sesuai. Pada
lokasi studi bangunan yang ada memiliki gaya bangunan yang bervariasi, dimana gaya
bangunan yang terdapat pada lokasi studi yaitu modern, modern kontemporer, neo-klasik dan
arsitektur jawa.
181

Statistiks
Warna_dominan_kawasan
N Valid 90
Missing 0
Mean 3.5000
Std. Deviation 1.22932

Gambar 4.109 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan warna dominan

Hasil analisis data tingkat kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap pemilihan
warna bangunan menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 3.50 dengan standart deviasi pada
pemilihan warna bangunan ini sebesar 1.229. Nilai rata-rata menunjukkan bahwa sebagian
besar responden menyatakan agak tidak nyaman untuk tingkat kenyamanan visual ruang
pejalan kaki terhadap pemilihan warna bangunan. Dari hasil data statistik yang muncul sudah
sesuai dengan kondisi fisik pada koridor jalan Ahmad Yani. Pada lokasi studi warna bangunan
ada yang gelap dan cerah. Kelompok warna yang gelap ditemui pada bangunan sourum dan
kios-kios. Kemudian warna bangunan yang cerah ditemui pada bangunan ruko-ruko, rumah,
dan sekolah. Perbedaan warna yang mencolok ini membuat pengguna jalan merasa agak tidak
nyaman dengan warna pada koridor jalan Ahmad Yani.

4.5.2. Transparansi Koridor Jalan


Pada sub variabel transparansi kawasan hanya terdapat satu sub variabel yang dinilai
responden yaitu keterlihatan (visibility). Transparansi dalam arsitektur merupakan interpretasi
yang mengacu pada selubung bangunan. Transparansi ruang pejalan kaki adalah item skala
dari analisis kenyamanan visual ruang pejalan kaki koridor Jalan Ahmad Yani.
182

Statistiks
Transparansi_koridor_jalan
N Valid 90
Missing 0
Mean 3.4778
Std. Deviation 1.30020

Gambar 4.110 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan transparansi koridor jalan

Hasil analisis data tingkat kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap transparansi
ruang pejalan kaki menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 3.47 dengan standart deviasi
pada tingkat kenyamanan keragaman tampilan bangunan ini sebesar 1.300. Nilai rata-rata
menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan agak tidak nyaman untuk tingkat
kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap transparansi ruang pejalan kaki. Berdasarkan
hasil data statistik yang muncul dengan analisis yang sudah dilakukan sebelumnnya sudah
sesuai. Transparansi mengacu pada sejauh mana orang dapat melihat atau merasakan apa yang
ada pada luar tepi jalan dan, lebih khusus, sejauh mana orang dapat melihat atau merasakan
aktivitas manusia pada dalam bangunan. Pada koridor jalan ini elemen fisik yang
mempengaruhi transparansi adalah dinding, jendela, pintu, pagar, lansekap, dan bukaan
kedalam. Bangunan yang terdapat pada lokasi studi memang beberapa bangunan sudah
memiliki dinding kaca, dan bagian depan dinding yang dibuka, akan tetapi banyak bangunnan
yang pada bagian depannya terhalang oleh pagar, signage, vegetasi dan perabot jalan.
183

4.5.3. Kesan Lingkungan


Kesan lingkungan ruang pejalan kaki merupakan salah satu item skala dari analisis
kualitas visual ruang pejalan kaki koridor Jalan Ahmad Yani. Analisis kesan lingkungan akan
menggambarkan seberapa masyarakat merasa nyaman akan kesan lingkungan yang
ditimbulkan oleh elemen-elemen yang membentuk kesan lingkungan pada koridor jalan
Ahmad Yani.

Statistiks
Keunikan_tampilan_bangun
an
N Valid 90
Missing 0
Mean 4.4444
Std. Deviation 1.29051

Gambar 4.111 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan keunikan tampilan bangunan

Hasil analisis data kesan lingkungan ruang pejalan kaki menunjukkan bahwa rata-rata
item sebesar 4.44 dengan standart deviasi pada kesan lingkungan ruang pejalan kaki ini
sebesar 1.290. Nilai rata-rata menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan agak
nyaman untuk kesan lingkungan ruang pejalan kaki. Dari data statistik yang sudah didapatkan
dengan kondisi eksisting pada lokasi studi sesuai. Pada koridor jalan Ahmad Yani gaya
bangunan yang ada membuat kesan tersendiri dimana sebagian besar bangunan-bangunan
berupa bangunan lama, terdapat jembatan layang yang memberikan kesan tersendiri terhadap
koridor jalan Ahmad Yani. Kemudian terdapat taman kendedes yang memperkuat kesan
lingkungan yang ada di koridor jalan ini.
184

4.5.4. Pola Dasar Lingkungan


Pola dasar lingkungan ruang pejalan kaki adalah salah satu item skala dalam menganalisis
kenyamanan visual ruang pejalan kaki pada objek studi. Analisis kuantitatif pola dasar
lingkungan dibagi menjadi tingkat kenyamanan visual terhadap proporsi dinding bangunan
dan tingkat kenyamanan pejalan kaki terhadap jarak pandang visual terhadap bangunan yang
terdapat diseberang sisi jalan.

Statistiks
Proporsi_dinding_jalan
N Valid 90
Missing 0
Mean 4.4556
Std. Deviation 1.41549

Gambar 4.112 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan proporsi dinding jalan

Hasil analisis data kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap proporsi dinding
bangunan menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 4.45 dengan standart deviasi pada
tingkat kenyamanan visual terhadap proporsi dinding bangunan ini sebesar 1.415. Nilai mean
menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan agak nyaman untuk tingkat
kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap proporsi dinding bangunan. Berdasarkan hasil
data statistik yang muncul dengan kondisi eksisting lokasi studi sudah sesuai. Pada koridor
jalan Ahmad Yani secara umum bangunan memiliki kesan ruang yang seimbang antara ruang
luar dengan dinding pelingkup ruang.
185

Statistiks
Proporsi_jarak_pandang
N Valid 90
Missing 0
Mean 4.4556
Std. Deviation 1.45464

Gambar 4.113 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan proporsi jarak pandang

Hasil analisis data tingkat kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap jarak pandang
pejalan kaki menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 4.45 dengan standart deviasi jarak
pandang pejalan kaki ini sebesar 1.454. Nilai mean menunjukkan bahwa sebagian besar
responden menyatakan agak nyaman untuk tingkat kenyamanan visual ruang pejalan kaki
terhadap jarak pandang pejalan kaki. Dari hasil data statistik yang didapatkan sudah sesuai
dengan kondisi eksisting yang sudah dianalisis sebelumnnya. Pada koridor jalan Ahmad Yani
perbandingan antara jarak pandang dan proporsi bangunan sudah cukup nyaman untuk dilihat
dari ruang pejalan kaki.

4.5.5. Skala Manusia


Skala manusia pada ruang pejalan kaki adalah salah satu subvariabel dalam menganalisis
kualitas visual ruang pejalan kaki Koridor Jalan Ahmad Yani. Dalam menilai skala manusia
akan dibagi menjadi aspek penilaian yaitu perbandingan skala manusia terhadap bangunan dan
skala manusia terhadap perabot jalan.
186

Statistiks
Skala_manusia_dan_bangun
an_sekitar
N Valid 90
Missing 0
Mean 4.4667
Std. Deviation 1.45494

Gambar 4.114 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan skala bangunan dan bangunan sekitar

Hasil analisis data kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap perbandingan skala
manusia dan skala bangunan menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 4.46 dengan standart
deviasi perbandingan skala manusia dan skala bangunan ini sebesar 1.312. Nilai mean
menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan agak nyaman untuk tingkat
kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap perbandingan skala manusia dan skala
bangunan. Berdasarkan data statistik dan kondisi fisik pada lokasi studi sudah sesuai. Pada
koridor jalan Ahmad Yani ada beberapa bangunan yang terdapat pada lokasi studi yang dapat
berubah pengalaman pejalan kaki terhadap bangunan sekitar.
187

Statistiks
Skala_manusia_dan_perabot
_jalan
N Valid 90
Missing 0
Mean 4.4889
Std. Deviation 1.63009

Gambar 4.115 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan skala manusia dan perabot jalan

Hasil analisis data tingkat kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap perbandingan
skala manusia dan skala perabot menunjukkan bahwa rata-rata item sebesar 4.48 dengan
standart deviasi perbandingan skala manusia dan skala perabot ruang pejalan kaki ini sebesar
1.630. Nilai mean menyatakan sebagian besar responden agak nyaman untuk tingkat
kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap perbandingan skala manusia dan skala
perabot. Data statistik yang muncul dengan kondisi eksisting yang ada pada koridor jalan
Ahmad Yani sudah relevan. Pada koridor jalan Ahmad Yani ada beberapa perabot jalan yang
dapat merubah perasaan/pengalaman manusia terhadap ruang untuk memoderasi skala
bangunan yang tinggi maupun kecil serta jalan yang lebar sehingga responden memberikan
penilaian agak nyaman terhadap skala manusia dan perabot.

4.5.6. Tanda Pengarah (Signage)


Menurut Departemen PU (2014) peletakkan marka, pola paving, dan papan informasi
yaitu pada area bebas pejalan kaki atau diluar area sirkulasi pejalan kaki. Tanda pengarah
(signage) merupakan salah satu sub variabel dalam menganalisis kualitas visual ruang pejalan
188

kaki pada objek studi. Sub variabel tanda pengarah ini akan membahas tentang kenyamanan
visual terhadap keterlihatan tanda pengarah papan informasi dan iklan.

Statistiks
Keterlihatan_signage
N Valid 90
Missing 0
Mean 3.5444
Std. Deviation 1.39148

Gambar 4.116 Diagram frekuensi penilaian tingkat kenyamanan keterlihatan signage

Hasil analisis data tingkat kenyamanan visual ruang pejalan kaki terhadap keterlibatan
tanda pengarah, papan informasi dan iklan pada koridor jalan menunjukkan bahwa rata-rata
item sebesar 3.54 dengan standart deviasi keterlibatan tanda pengarah, papan informasi dan
iklan pada koridor jalan ini sebesar 1.391. Nilai mean menunjukkan bahwa sebagian besar
responden menyatakan agak tidak nyaman untuk tingkat kenyamanan visual ruang pejalan
kaki terhadap keterlibatan tanda pengarah, papan informasi dan iklan pada koridor jalan.
Berdasarkan hasil data statistik yang muncul sudah sesuai dengan kondisi eksisting yang ada
pada koridor jalan Ahmad Yani. Tanda pengarah pada lokasi studi belum dapat terlihat jelas.
Hal ini terkait dengan peletakkan dari signage itu sendiri yang tidak teratur juga tertutup oleh
elemen lainnya seperti vegetasi. Kemudian perulangan yang terjadi membuat tujuan dari
signage menjadi tidak tepat karena pengguna jalan yang melihat/membaca menjadi rancu
sehingga keterlihatan dari signage tidak jelas. Oleh karena kondisi eksisiting dari lokasi studi
demikian responden memberikan penilaian negatif (-) terhdap keterlihatan signage.
189

4.6. Evaluasi Kenyaman Spasial dan Visual


4.6.1 Tingkat Kenyamanan Spasial dan Visual Ruang Pejalan Kaki
Untuk mengevaluasi tingkat kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki peneliti
menggunakan kuisioner untuk mengetahui pendapat masyarakat terhadap tingkat kenyaman
yang dirasakan. Kategori rating kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki dibagi
menjadi 7 kategori, yaitu: (1) sangat tidak nyaman, (2) tidak nyaman, (3) agak tidak nyaman,
(4) netral, (5) agak nyaman, (6) nyaman dan (7) sangat nyaman. Pada Tabel dibawah ini
merupakan daftar dari mean dan standar deviasi hasil kuisioner menggenai kenyamanan
spasial dan visual. Evaluasi mengenai mean score ini merupakan evaluasi yang dilkakukan
untuk mengetahui rating dan tingkat kenyamanan ruang pejalan kaki. Mean score tersebut
memiliki nilai masing-masing. Tingkat kenyamanan dengan nilai mean kurang dari 3.572
bernilai negatif (-) dimana sebagian besar responden merasa tidak nyaman, kemudian tingkat
kenyamanan dengan nilai mean antara 3.572-4.428 bernilai netral dimana sebagian besar
responden merasa biasa saja, dan tingkat kenyamanan dengan nilai mean lebih 4.428 bernilai
positif (+) dimana sebagian besar responden merasa nyaman terhadap sub variabel yang
ditanyakan.
Hasil mean score variabel kenyamanan spasia ruang pejalan kaki terdapat 12 sub variabel
dengan rincian 8 sub variabel memiliki mean score dibawah 3.572 dengan nilai negatif (-), 2
sub variabel memiliki mean score antara 3.572-4.428 dengan nilai netral dan 2 sub variabel
memiliki mean score diatas 4.428 dengan nilai positif (+). Nilai mean dibawah 3.572 adalah
tingkat kenyamanan terhadap dimensi trotoar dengan nilai mean 3.53, tingkat kenyamanan
terhadap material trotoar dengan nilai mean 3.45, kemenerusan trotoar dengan nilai mean 3.51,
jarak setback bangunan terhadap trotoar dengan nilai mean 3.44, kesegarisan setback
bangunan dengan nilai mean 3.52, lokasi peletakan perabot ruang pejalan kaki dengan nilai
mean 3.52, keseragaman jenis perabot dengan nilai mean 3.53, dan yang terkhir posisi
vegetasi dengan nilai mean 3.50. Nilai antara 3.572-4.428 yaitu fungsi trotoar dengan nilai
mean 4.07 dan lokasi peletakkan trotoar dengan nilai mean 4.04. Nilai mean lebih dari 4.428
yaitu jenis vegetasi dengan nilai mean 4.44 dan fungsi vegetasi dengan nilai mean 4.77.
Tabel 4.19 Rekapitulasi nilai mean pada sub variabel kenyamanan spasial ruang pejalan kaki
KENYAMANAN SPASIAL
No Sub Variabel Mean St. Deviasi Kriteria
1 Tingkat kenyamanan terhadap fungsi trotoar 4.07 1.903 Netral
2 Tingkat kenyamanan terhadap lokasi peletakan 4.04 1.721 Netral
190

trotoar
3 Tingkat kenyamanan terhadap dimensi trotoar 3.53 1.629 Negatif
4 Tingkat kenyamanan terhadap material trotoar 3.45 1.537 Negatif
5 Tingkat kenyamanan terhadap kemenerusan 3.51 1.861 Negatif
trotoar
6 Tingkat kenyamanan jarak setback bangunan 3.44 1.642 Negatif
terhadap trotoar
7 Tingkat kenyamanan terhadap kesegarisan 3.52 1.515 Negatif
setback bangunan
8 Tingkat kenyamanan terhadap lokasi peletakan 3.52 1.616 Negatif
perabot ruang pejalan kaki
9 Tingkat kenyaman terhadap keseragaman jenis 3.53 1.552 Negatif
perabot
10 Tingkat kenyamanan terhadap jenis vegetasi 4.44 1.949 Positif
11 Tingkat kenyamanan terhadap fungsi vegtasi 4.77 1.852 Posistif
12 Tingkat kenyamanan terhadap posisi vegetasi 3.50 1.609 Negatif

Berdasarkan Tabel diatas yang menjelaskan mengenai kategori tingkat kenyamanan


spasial ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani. Aspek kenyamanan spasial
memiliki 12 point sub variabel yang diuji dengan sub variabel yang berhubungan. Dari hasil
analisis perolehan aspek mempunyai nilai positif dan negatif terhadap semua aspek. Hal ini
perlu adanya perbaikan untuk meningkatkan kenyamanan ruang pejalan kaki agar lebih baik
dan optimal. Terdapat 8 aspek dengan nilai mean dibawah 3.572 dengan nilai negatif (-), hal
ini perlu diperhatikan agar diperbaiki untuk memberikan kenyamanan kepada pengguna jalan
khusus nya pejalan kaki. Semua aspek yang terdapat pada tabel diatas dapat dijadikan acuan
dalam pengembangan ruang pejalan kaki aspek kenyamanan spasia pada ruang pejalan kaki
pada koridor jalan Ahmad Yani.
191

Mean Score Kenyaman Spasial Ruang Pejalan Kaki


7
6
5
4
3
2
1
Fungsi Trotoar

Jenis Vegetasi

Posisi Vegetasi
lokasi trotoar

Dimensi Trotoar

Material Trotoar

Posisi Perabot Jalan

Jenis Perabot Jalan

Fungsi Vegetasi
Kemenerusan Trotoar

Kesegarisan Bangunan
Jarak Setback Bangunan
Gambar 4.117 Diagram mean score kenyamanan spasial pejalan kaki

Pada variabel kenyamanan visual ruang pejalan kaki variabel terbagi menjadi 9 sub
variabel, yaitu: (1) Jenis keragaman tampilan, (2) warna dominan kawasan, (3) tansparansi
koridor jalan, (4) kesan lingkungan, (5) proporsi tinggi dinding bangunan, (6) jarak pandang
bangunan, (7) skala manusia dengan skala tinggi bangunan, (8) skala manusia dan perabot
jalan dan (9) keterlihatan signage. Data yang dianalisis bersumber dari kuisioner yang telah
diisi oleh responden pada ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani. Hasil kuisioner
tersebut nantinya akan dicari mean score untuk mengetahui kategori dari tiap sub variabel dan
rata-rata keseluruhannya.
Tabel 4.19 Rekapitulasi nilai mean pada sub variabel kenyamanan visual ruang pejalan kaki
KENYAMANAN VISUAL
No Sub variabel Mean St. Deviasi Kriteria
1 Tingkat kenyamanan terhadap kompleksitas visual 4.46 1.615 Positif
kawasan
2 Tingkat kenyamanan terhadap keragaman warna 3.50 1.229 Negatif
bangunan
3 Tingkat kenyamanan pejalan kaki terhadap 3.47 1.300 Negatif
transparansi bangunan
4 Tingkat kenyamanan terhadap kesan lingkungan 4.44 1.290 Positif
ruang pejalan kaki
5 Tingkat kenyamanan terhadap proporsi tinggi 4.45 1.414 Positif
dinding bangunan
6 Tingkat kenyamanan terhadap jarak pandang 4.45 1.454 Positif
bangunan
192

7 Tingkat kenyamanan terhadap perbandingan skala 4.46 1.454 Positif


manusia dengan skala tinggi bangunan
8 Tingkat kenyaman terhadap perbandingan skala 4.48 1.630 Positif
manusia dengan skala item koridor ruang pejalan
kaki
9 Tingkat kenyamanan terhadap keterlihatan tanda 3.54 1.391 Negatif
pengarah, papan informasi, identitas dan
periklanan

Berdasarkan Tabel diatas yang menjelaskan mengenai kategori tingkat kenyamanan visual
ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani. Aspek kenyamanan visual memiliki 9
point sub variabel yang diuji dengan sub variabel yang berhubungan. Dari hasil analisis
perolehan aspek mempunyai nilai positif 6 aspek. Hal ini perlu adanya perbaikan untuk
meningkatkan kenyamanan ruang pejalan kaki agar lebih baik dan optimal. Terdapat 3 aspek
dengan nilai mean dibawah 4.572 dengan nilai negatif (-), hal ini perlu diperhatikan agar
diperbaiki untuk memberikan kenyamanan kepada pengguna jalan khusus nya pejalan kaki.
Semua aspek yang terdapat pada Tabel diatas dapat dijadikan acuan dalam pengembangan
ruang pejalan kaki aspek kenyamanan spasia pada ruang pejalan kaki pada koridor jalan
Ahmad Yani.

Mean Score Kenyaman Visual Ruang Pejalan Kaki


7
6
5
4
3
2
1
Kesan lingkungan

Skala Manusia dan


Kompleksitas Visual

Keragaman Warna

Proporsi Jarak Pandang


Proporsi Dinding

Skala Manusia dan

Keterlihatan Signage
Transparansi Bangunan

Perabot Jalan
Bangunan
Bangunan

Bangunan
Kawasan

Gambar 4.118 Diagram mean score kenyamanan visual pejalan kaki


193

Dari hasil Tabel diatas menjelaskan mengenai tingkat kenyamanan visual ruang pejalan
kaki pada koridor jalan Ahmad Yani perlu di perhatiakan lagi untuk aspek yang bernilai
negatif agar kenyamanan pejalan kaki lebih diperhatikan untuk mendapat hasil yang optimal.
Setelah diberikan beberapa pertanyaan terhadap responden, peneliti melakukan survey
terhadap fasilitas yang dibutuhkan oleh pejalan kaki yaitu shelter, ramp, railing, bollard,
outdoor sitting, zebra cross, difable facility, trash can, siganage, bus stop, vegetasi, jalur
kesehatan, dan papan informasi bagi pengunjung. Pemilihan fasilitas dapat lebih dari satu per
setiap responden. Hasil yang didapatkan terhadap 90 responden sebesar 13.09% memilih
fasiltas vegetasi sebagai fasilitas yang dibutuhkan. Seanjutnya, sebesar 11.67% memilih trash
can (tempat sampah) sebagai fasilitas yang dibutuhkan dan yang menduduki peringkat ketiga
teratas yaitu shelter sebesar 10.23% sebagai fasilitas yang paling dibutuhkan. Hasil dari
jawaban responden akan kebutuhan fasilitas pendukung dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan untuk penyediaan fasilitas agar mengoptimalkan kenyamanan spasial dan visual
pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani.
Tabel 4.21 Rekapitulasi fasilitas pendukung sesuai persepsi masyarakat
No Jenis Fasilitas Tambahan N Jumlah Persentase Dari
Keseluruhan Pemilihan
1 Shelter 90 43 10.23%
2 Ramp 90 18 4.29%
3 Railing 90 21 5%
4 Bollard 90 25 5.95%
5 Outdoor Sitting 90 34 8.09%
6 Zebra Cross 90 42 10%
7 Difable Facility 90 34 8.09%
8 Trash Can 90 49 11.67%
9 Signage 90 27 6.43%
10 Bus Stop 90 31 7.39%
11 Vegetation 90 55 13.09%
12 Heath Track 90 19 4.53%
13 Tourist Signboard 90 22 5.24%

4.6.2. Tingkat Kenyamanan Ruang Pejalan Kaki secara Umum


Hasil analisis data tingkat kenyamanan ruang pejalan kaki secara umum menunjukkan
bahwa rata-rata item sebesar 3.53 dengan standart deviasi pada data tingkat kenyamanan ini
sebesar 1.787. Nilai ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan agak tidak
nyaman untuk tingkat kenyamanan ruang pejalan kaki secara umum.
194

Statistiks
Kenyaman_secara_umum
N Valid 90
Missing 0
Mean 3.5333
Std. Deviation 1.78760

Gambar 4.119 Diagram tingkat kenyamanan ruang pejalan kaki secara umum

Berdasarkan hasil data diatas ruang pejalan kaki secara umum masuk kedalam kategori
agak tidak nyaman atau nilai mean dibawah 3.572 artinya nilai negatif (-) secara visual dan
spasial. Dari hasil analisis ini dapat menjelaskan seberapa besar pengaruh dari aspek-aspek
indikator kenyamanan ruang pejalan kak pada koridor jalan Ahmad Yani. Dapat disimpulkan
bahwa tingkat kenyamanan pejalan kaki secara umum pada koridor jalan Ahmad Yani agak
tidak nyaman sehingga perlu ditingkatkan. Hasil dari evaluassi ditiap variabel maupun sub
variabel dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk pengenmbangan jangka pendek ataupun
panjang. Peningkatan dapat dilkukan pada beberapa sub variabel atau pun seluruh sub variabel
karena setiap sub variabelnya memiliki potensi yang sangat besar untuk mempengaruhii
tungkat kenyamanan pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani.

4.7. Uji Validitas dan Reliabilitas Variabel Kenyamanan Visual dan Spasial
Hasil dari kedua variabel tersebut, yaitu kenyamanan visual dan kenyamanan spasial
belum dapat dikatakan valid, hasil penelitian dapat dinyatakan valid apabila terdapat kesamaan
antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti,
uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau validnya sebuah kuisioner. Suatu kuisioner
dikatakan valid jika pertanyaan pada kuisioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang
195

akan diukur oleh kuisioner tersebut. Teknik pengujian untuk validitas adalah menggunakan
kolerasi Bivariate Pearson (Produk Momen Pearson). Analisis ini dengan cara
mengkorelasikan masing-masing skor item dengan skor total. Skor total adalah penjumlahan
dari keseluruhan item. Valid tidaknya suatu item instrument dapat diketahui dengan
membandingakan nilai r hitung hasil analisis (pearson correlation) dengan r Tabel (dengan
n=90 didapatkan r Tabel=0.205). Apabila nilai r hitung lebih besar dari nilai r Tabel atau
apabila nilai significant (sig) yang dihasilkan lebih kecil dari 0.05 (5%) maka dapat dinyatakan
pertanyaan tersebut valid dan apabila sebaliknya dinyatakan tidak valid. Uji validitas
dilakukan terhadap tiap sub variabel dari variabel kenyamanan spasial dan visual ruang
pejalan kaki. Berikut adalah Tabel hasil pengujian vaaliditas kenyamanan spasial:
Tabel 4.22 Rekapitulasi uji validitas kenyamanan spasial ruang pejalan kaki
No Item Nilai r R tabel Sig Keterangan
1 0.772 0.205 0.000 Valid
2 0.762 0.205 0.000 Valid
3 0.678 0.205 0.000 Valid
4 0.658 0.205 0.000 Valid
5 0.696 0.205 0.000 Valid
6 0.793 0.205 0.000 Valid
7 0.663 0.205 0.000 Valid
8 0.664 0.205 0.000 Valid
9 0.686 0.205 0.000 Valid
10 0.709 0.205 0.000 Valid
11 0.642 0.205 0.000 Valid
12 0.526 0.205 0.000 Valid

Tabel 4.18 Hasil pengujian variabel kenyamanan spasial melalui pengolahan SPSS
Correlations
Fungsi_trotoar Posisi_troto Dime Material_tro Kem Lebar_se
_untuk_berjal ar nsi_tr toar ener mpadan_b
an_kaki otoar usan angunan

Fungsi_trotoa Pearson 1 .890** .646* .399** .518* .603**


* *
r_untuk_berja Correlation
lan_kaki
Sig. (2-tailed) 0 0 0 0 0

N 90 90 90 90 90 90
196

Fungsi_trotoar Posisi_troto Dime Material_tro Kem Lebar_se


_untuk_berjal ar nsi_tr toar ener mpadan_b
an_kaki otoar usan angunan

Posisi_trotoar Pearson .890** 1 .612* .404** .515* .640**


* *
Correlation

Sig. (2-tailed) 0 0 0 0 0

N 90 90 90 90 90 90
** ** ** *
Dimensi_troto Pearson .646 .612 1 .404 .453 .527**
*
ar Correlation

Sig. (2-tailed) 0 0 0 0 0

N 90 90 90 90 90 90
** ** * *
Material_troto Pearson .399 .404 .404 1 .546 .533**
* *
ar Correlation

Sig. (2-tailed) 0 0 0 0 0

N 90 90 90 90 90 90
** ** * **
Kemenerusan Pearson .518 .515 .453 .546 1 .436**
*
Correlation

Sig. (2-tailed) 0 0 0 0 0

N 90 90 90 90 90 90
** ** * ** *
Lebar_sempa Pearson .603 .640 .527 .533 .436 1
* *
dan_bangunan Correlation

Sig. (2-tailed) 0 0 0 0 0

N 90 90 90 90 90 90
** ** * ** *
Kesegarisan_ Pearson .574 .503 .518 .389 .370 .709**
* *
kemunduran_ Correlation
bangunan
Sig. (2-tailed) 0 0 0 0 0 0

N 90 90 90 90 90 90
** ** * ** *
Posisi_perabo Pearson .458 .448 .341 .351 .441 .411**
* *
t_jalan Correlation

Sig. (2-tailed) 0 0 0.001 0.001 0 0

N 90 90 90 90 90 90
** ** * ** *
Jenis_perabot Pearson .378 .365 .330 .297 .418 .501**
* *
_jalan Correlation
197

Fungsi_trotoar Posisi_troto Dime Material_tro Kem Lebar_se


_untuk_berjal ar nsi_tr toar ener mpadan_b
an_kaki otoar usan angunan

Sig. (2-tailed) 0 0 0.001 0.004 0 0

N 90 90 90 90 90 90
** ** * ** *
Jenis_vegetasi Pearson .342 .342 .299 .509 .435 .478**
* *
Correlation

Sig. (2-tailed) 0.001 0.001 0.004 0 0 0

N 90 90 90 90 90 90
** ** ** *
Fungsi_vegeta Pearson .343 .341 0.207 .415 .343 .402**
*
si Correlation

Sig. (2-tailed) 0.001 0.001 0.05 0 0.00 0


1
N 90 90 90 90 90 90
* * * * *
Posisi_vegeta Pearson .222 .235 .330 .238 .274 .395**
* *
si Correlation

Sig. (2-tailed) 0.036 0.026 0.001 0.024 0.00 0


9
N 90 90 90 90 90 90
** ** * ** *
SC Pearson .772 .762 .678 .658 .698 .793**
* *
Correlation

Sig. (2-tailed) 0 0 0 0 0 0

N 90 90 90 90 90 90
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Correlations
Kesegarisan_k Posisi_perab Jenis_perab Jenis_v Fung Posisi_v SC
emunduran_ba ot_jalan ot_jalan egetasi si_ve egetasi
ngunan getasi

Fungsi_tr Pearson .574** .458** .378** .342** .343** .222* .772**


otoar_unt Correlatio
uk_berjal n
an_kaki Sig. (2- 0 0 0 0.001 0.001 0.036 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
Posisi_tr Pearson .503** .448** .365** .342** .341** .235* .762**
otoar Correlatio
n
198

Kesegarisan_k Posisi_perab Jenis_perab Jenis_v Fung Posisi_v SC


emunduran_ba ot_jalan ot_jalan egetasi si_ve egetasi
ngunan getasi

Sig. (2- 0 0 0 0.001 0.001 0.026 0


tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
** ** ** ** **
Dimensi_ Pearson .518 .341 .330 .299 0.207 .330 .678**
trotoar Correlatio
n
Sig. (2- 0 0.001 0.001 0.004 0.05 0.001 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
** ** ** ** ** *
Material_ Pearson .389 .351 .297 .509 .415 .238 .658**
trotoar Correlatio
n
Sig. (2- 0 0.001 0.004 0 0 0.024 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
** ** ** ** ** **
Kemener Pearson .370 .441 .418 .435 .343 .274 .698**
usan Correlatio
n
Sig. (2- 0 0 0 0 0.001 0.009 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
** ** ** ** ** **
Lebar_se Pearson .709 .411 .501 .478 .402 .395 .793**
mpadan_ Correlatio
bangunan n
Sig. (2- 0 0 0 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
** ** * * **
Kesegaris Pearson 1 .286 .348 .263 .266 .366 .663**
an_kemu Correlatio
nduran_b n
angunan Sig. (2- 0.006 0.001 0.012 0.011 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
** ** ** ** **
Posisi_pe Pearson .286 1 .698 .378 .354 .387 .664**
rabot_jal Correlatio
an n
Sig. (2- 0.006 0 0 0.001 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
** ** ** ** **
Jenis_per Pearson .348 .698 1 .519 .425 .463 .686**
abot_jala Correlatio
n n
Sig. (2- 0.001 0 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
199

Kesegarisan_k Posisi_perab Jenis_perab Jenis_v Fung Posisi_v SC


emunduran_ba ot_jalan ot_jalan egetasi si_ve egetasi
ngunan getasi

Jenis_veg Pearson .263* .378** .519** 1 .724** .501** .709**


etasi Correlatio
n
Sig. (2- 0.012 0 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
* ** ** ** **
Fungsi_v Pearson .266 .354 .425 .724 1 .411 .642**
egetasi Correlatio
n
Sig. (2- 0.011 0.001 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
** ** ** ** **
Posisi_ve Pearson .366 .387 .463 .501 .411 1 .576**
getasi Correlatio
n
Sig. (2- 0 0 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
** ** ** ** ** **
SC Pearson .663 .664 .686 .709 .642 .576 1
Correlatio
n
Sig. (2- 0 0 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90 90 90
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Dari hasil uji validitas terhadapt variabel kenyamanan spasial, didapatkan bahwa sub
variabel dinyatakan valid, (1) fungsi trotoar memiliki nilai r hitung 0.772, (2) posisi trotoar
memiliki nilai r hitung 0.762, (3) dimensi trotoar memiliki nilai r hitung 0.678, (4) material
trotor memiliki nilai r hitung sebesr 0.658, (5) kemenerusan memiliki nilai r hitung 0.696, (6)
setback bangunan memiliki nilai r hitung 0.793, (7) kesegarisan kemunduran bangunan
memiliki nilai r hitung 0.663, (8) posisi perabot memiliki nilai r hitung 0.664, (9) jenis perbot
memiliki nilai r hitung 0.686, (10) jenis vegetasi memiliki nilai r hitung 0.709, (11) fungsi
vegetasi memiliki nilai r hitung 0.642, dan (12) posisi vegetasi memiliki nilai r hitung 0.526.
Jika dilihat nilai r hitung dari tiap instrument memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan
nilai r Tabel, dan memiliki nilai sig lebih kecil dari 0.05.
200

Tabel 4.24 Rekapitulasi uji validitas kenyamanan visual ruang pejalan kaki
No Item Nilai r R tabel Sig Keterangan
1 0.645 0.205 0.000 Valid
2 0.568 0.205 0.000 Valid
3 0.550 0.205 0.000 Valid
4 0.683 0.205 0.000 Valid
5 0.829 0.205 0.000 Valid
6 0.787 0.205 0.000 Valid
7 0.838 0.205 0.000 Valid
8 0.769 0.205 0.000 Valid
9 0.657 0.205 0.000 Valid

Tabel 4.25 Hasil pengujian validitas kenyamanan visual melalui pengolahan SPSS
Correlations

Jenis_keragaman Warna_do Transparansi_ Keunikan_ta Proporsi_dind


_tampilan minan_ka koridor_jalan mpilan_bang ing_jalan
wasan unan

Jenis_keragaman Pearso 1 .362** 0.096 .519** .417**


_tampilan n
Correla
tion
Sig. (2- 0 0.369 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
** ** **
Warna_dominan Pearso .362 1 .475 .305 .307**
_kawasan n
Correla
tion
Sig. (2- 0 0 0.004 0.003
tailed)
N 90 90 90 90 90
**
Transparansi_ko Pearso 0.096 .475 1 0.133 .497**
ridor_jalan n
Correla
tion
Sig. (2- 0.369 0 0.211 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
** **
Keunikan_tampi Pearso .519 .305 0.133 1 .521**
lan_bangunan n
Correla
tion
Sig. (2- 0 0.004 0.211 0
tailed)
201

Jenis_keragaman Warna_do Transparansi_ Keunikan_ta Proporsi_dind


_tampilan minan_ka koridor_jalan mpilan_bang ing_jalan
wasan unan

N 90 90 90 90 90
** ** ** **
Proporsi_dindin Pearso .417 .307 .497 .521 1
g_jalan n
Correla
tion
Sig. (2- 0 0.003 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
** ** ** **
Proporsi_jarak_p Pearso .372 .311 .412 .406 .760**
andang n
Correla
tion
Sig. (2- 0 0.003 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
** ** ** **
Skala_manusia_ Pearso .432 .327 .326 .582 .747**
dan_bangunan_s n
ekitar Correla
tion
Sig. (2- 0 0.002 0.002 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
Skala_manusia_ Pearso .527** .252* .212* .585** .506**
dan_perabot_jala n
n Correla
tion
Sig. (2- 0 0.016 0.045 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
* ** ** *
Keterlihatan_sig Pearso .256 .384 .457 .264 .494**
nage n
Correla
tion
Sig. (2- 0.015 0 0 0.012 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
** ** ** **
VC Pearso .645 .568 .550 .683 .829**
n
Correla
tion
Sig. (2- 0 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).


202

Correlations
Proporsi_jar Skala_manus Skala_manus Keterlihatan VC
ak_pandang ia_dan_bang ia_dan_perab _signage
unan_sekitar ot_jalan

Jenis_keragaman_t Pearson .372** .432** .527** .256* .645**


ampilan Correlation

Sig. (2- 0 0 0 0.015 0


tailed)
N 90 90 90 90 90
** ** * **
Warna_dominan_k Pearson .311 .327 .252 .384 .568**
awasan Correlation

Sig. (2- 0.003 0.002 0.016 0 0


tailed)
N 90 90 90 90 90
Transparansi_korid Pearson .412** .326** .212* .457** .550**
or_jalan Correlation

Sig. (2- 0 0.002 0.045 0 0


tailed)
N 90 90 90 90 90
** ** ** *
Keunikan_tampila Pearson .406 .582 .585 .264 .683**
n_bangunan Correlation

Sig. (2- 0 0 0 0.012 0


tailed)
N 90 90 90 90 90
Proporsi_dinding_j Pearson .760** .747** .506** .494** .829**
alan Correlation

Sig. (2- 0 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
** ** **
Proporsi_jarak_pa Pearson 1 .721 .549 .431 .787**
ndang Correlation

Sig. (2- 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
Skala_manusia_da Pearson .721** 1 .680** .456** .838**
n_bangunan_sekita Correlation
r
Sig. (2- 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
203

Proporsi_jar Skala_manus Skala_manus Keterlihatan VC


ak_pandang ia_dan_bang ia_dan_perab _signage
unan_sekitar ot_jalan

Skala_manusia_da Pearson .549** .680** 1 .451** .769**


n_perabot_jalan Correlation

Sig. (2- 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
** ** **
Keterlihatan_signa Pearson .431 .456 .451 1 .657**
ge Correlation

Sig. (2- 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
** ** ** **
VC Pearson .787 .838 .769 .657 1
Correlation

Sig. (2- 0 0 0 0
tailed)
N 90 90 90 90 90
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

*. Correlation is significant at the 0.05 level (2-tailed).

Dari hasil uji validitas terhadap variabel kenyamanan visual didapatkan bahwa
keseluruhan sub variabel dinyatakan valid, (1) jenis keragaman tampilan bangunan memiliki
nilai r hitung 0.645, (2) warna dominan kawasan memiliki nilai r hitung 0.568, (3) transparansi
koridor memiliki nilai r hitung 0.550, (4) keunikan tampilan bangunan memiliki nilai r hitung
0.683, (5) proporsi dinding jalan memiliki nilai r hitung 0.829, (6) proporsi jarak pandang
memiliki nilai r hitung 0.787, (7) skala manusia dengan lingkungan sekitar memiliki nilai r
hitung 0.838, (8) skala manusia dan perabot jalan memiliki nilai r hitung 0.769, dan (9)
keterlihatan signage memiliki nilai r hitung 0.657. Jika dilihat nilai r hitung dari tiap
instrument memiliki nilai yang lebih besar dibandingkan nilai r Tabel, dan memiliki nilai sig
lebih dari 0,05.
Selain uji validitas variabel kenyamanan spasil dan visual dilakukan uji realibilitas,
pengujian ini dilakukan untuk mengetahui instrument yang digunakan dalam penelitian untuk
memperoleh informasi yang digunakan dapat dipercaya sebagai alat pengumpulan data dan
mampu mengungkapkan informasi yang sebenarnya dilapangan. Reliabilitas menunjukan
204

sejauhmana hasil pengukuran harus reliable dalam artian harus memiliki tingkat konsistensi
dan kemantapan. Bila suatu alat pengukuran dipakai dua kali untuk mengukur gejala yang
sama dan hasil pengukuran yang diperoleh relatif konsisten, maka alat pengukuran tersebut
reliable, dengan kata lain reliabilitas menunjukkan konsistensi didalam pengukuran gejala
yang sama. Pada Tabel dibawah ini merupakan hasil dari pengujian reliabilitas pada kedua
variabel:
Tabel 4.26 Hasil pengujian reliabilitas variabel X1 dan X2
No Variabel Apha Cronbach Keterangan
1 X1 0.900 Reliable
2 X2 0.873 Reliable

Dari hasil uji reliabilitas seperti yang tercantum pada Tabel diatas maka nilai alpha
cronbch pada variabel kenyamanan spasial sebesar 0.900 dan variabel kenyamanan visual
sebesar 0.873. Dalam aspek uji reliabilitas nilai alpha >0.90 maka reliabilitas sempurna, jik
nilai alpha 0.70-0.90 maka reliabilitas tinggi, nilai alpha antara 0.50-0.70 maka reliabilitas
moderat, dan jika nilai alpha <0.50 maka reliabilitas rendah. Pada hasil yang diperoleh
variabel kenyamanan spasial memiliki tingkat reliabilitas tinggi dengan nilai alpha antara
0.70-0.90, begitu juga dengan varibel kenyamanan visual memiliki tingkat reliabilitas tinggi
dengan nilai alpha antara 0.70-0.90.

4.8. Hasil Analisis Karakteristik dengan Persepsi Masyarakat


Pada Tabel berikut ini merupakan hasil dari sintesis anatara hasil analisis karakteristik
fisik yang diukur berdasarkan persentase dengan hasil prefensi masyarakat dimana akan
didapatkan hubungan apakah hasil tersebut relevan ataupun tidak. Analisis kualitatif
berdasarkan kondisi lapangan, tinjauan regulasi, maupun teori yang ada.
205

Tabel 4.27 Tabulasi sintesis karakter fisik dan persepsi masyarakat (kenyamanan spasial)
Persepsi Masyarakat Karakteristik Fisik
Variabel Sub Variabel Mean Nilai Sub Variabel Teori Persentase/ Nilai Hasil
Score Keterangan
Fungsi Trotoar 4.07 Netral (±) Fungsi Trotoar Sebagai ruang aktifitas Fungsi trotoar Negatif (-) Tidak Ada
bagi pejalan kaki digungsikan Kesamaan
sebagai area
parkir dan area
PKL
Posisi trotoar 4.04 Netral (±) Posisi trotoar Posisi trotoar berada Terdapat area Negatif (-) Tidak Ada
pada kedua sisi koridor yang tidak ada Kesamaan
trotoar
Kenyamanan Dimensi trotoar 3.53 Negatif (-) Dimensi trotoar Tidak terdapat trotoar 22.57% Negatif (-) Ada
Spasial Kesamaan
Material trotoar 3.45 Negatif (-) Material trotoar Material trotoar tidak Material trotoar Negatif (-) Ada
ada kerusakan dan rusak dan tidak Kesamaan
nyaman bagi pejalan terawat
kaki
Kemenerusan 3.51 Negatif (-) Kemenerusan Kemenerusan tidak Terhalang oleh Negatif (-) Ada
terhalangi oleh apapun area parkir, PKL, Kesamaan
vegetasi dan
perbot jalan
Lebar setback 3.44 Negatif (-) Lebar setback Setback 3-5 meter 34.27% Negatif (-) Ada
bangunan bangunan Kesamaan
Kesegarisan dan 3.52 Negatif (-) Kesegarisan dan Memiliki kesegarisan Setback bangunan Negatif (-) Ada
kemunduran kemunduran yang lurus dan tidak bervarisi sehingga Kesamaan
bangunan bangunan terhalangi menciptakan alur
yang tidak segaris
Posisi perabot 3.52 Negatif (-) Posisi perabot Perabot jalan berada tempat sampah, Negatif (-) Ada
jalan jalan pada area yang signage, lampu Kesamaan
membutuhkan dengan lalu lintas
jarak antar perabot 20- menghalangi jalur
50 meter pejalan kaki
Jenis perabot 3.53 Negatif (-) Jenis perabot Keberadaan fasilitas Jenis perabot Negatif (-) Ada
jalan jalan perabot jalan dalan jalan pada lokasi Kesamaan
sebuah koridor jalan studi
206

Persepsi Masyarakat Karakteristik Fisik


Variabel Sub Variabel Mean Nilai Sub Variabel Teori Persentase/ Nilai Hasil
Score Keterangan
komersil wajib, dan sedikit/minim
dengan ditambahkan serta tidak ada
fasilitas bagi disabilitas fasilitas
disabilitas
Jenis vegetasi 4.44 Positif (+) Jenis vegetasi Vegetasi bertajuk lebar 68.5% Positif (+) Ada
Kesamaan
Fungsi vegetasi 4.77 Positif (+) Fungsi vegetasi Fungsi vegetasi Peneduh, barrier Positif (+) Ada
digunakan sebagai polusi udara dan Kesamaan
peneduh maupun barrier suara
bagi polusi udara dan
suara
Posisi vegetasi 3.50 Negatif (-) Posisi vegetasi Berada pada area buffer Vegetasi berada Negatif (-) Ada
dengann ukuran 0.6m pada pedestrian Kesamaan
207

Tabel 4.28 Tabulasi sintesis karakter fisik dan persepsi masyarakat (kenyamanan visual)
Persepsi Masyarakat Karakteristik Fisik
Variabel Sub Variabel Mean Nilai Sub Variabel Teori Persentase/ Nilai Hasil
Score Keterangan
Jenis keragaman 4.46 Positif (+) Jenis Langgam arsitektur Terdapat gaya Positif Ada
tampilan keragaman yang bervariasi bangunan modern, (+) Kesamaan
tampilan mencipatkan modern
imageability kawasan kontemporer, dan
arsitektur neo-
klasik
Warna dominan 3.50 Negatif (-) Warna Keseimbangan warna Didominasi oleh Negatif Ada
dominan pada sebuah koridor warna gelap (-) Kesamaan
Kenyamanan jalan menciptakan 77.24% (tidak
Visual harmonisasi bagi seimbang)
lingkungan
Transparansi 3.47 Negatif (-) Transparansi Transparansi Transparan Negatif Ada
koridor jalan koridor jalan 60.34%, namun (-) Kesamaan
terhalang oleh
elemen
jalan/elemen
bangunan itu
sendiri
Keunikan 4.44 Positif (+) Keunikan Koridor dapat Gaya bangunan Positif Ada
tampilan tampilan memberikan kesan pada koridor ini (+) Kesamaan
bangunan bangunan sehingga mudah memiliki gaya
diingat. modern dan gaya
arisitektur neo-
klasik serta
terdapat jembatan
layang serta taman
kendedes
membentuk
keunikan
lingkungan
Proporsi dinding 4.45 Positif (+) Proporsi Ada
208

Persepsi Masyarakat Karakteristik Fisik


Variabel Sub Variabel Mean Nilai Sub Variabel Teori Persentase/ Nilai Hasil
Score Keterangan
jalan dinding jalan 1<D/H<2 34.83% Positif Kesamaan
Proporsi jarak 4.45 Positif (+) Proporsi jarak (+)
pandang pandang
Skala manusia dan 4.46 Positif (+) Skala manusia Ketinggian bangunan 72.76%, bangunan Positif Ada
bangunan sekitar dan bangunan tidak mengintimidasi <7 meter (+) Kesamaan
sekitar pejalan kaki
Skala manusia dan 4.48 Positif (+) Skala manusia keberadaan perabot Ukuran signage, Positif Ada
perabot dan perabot menetralkan skala vegetasi, tempat (+) Kesamaan
yang diberikan sampah, yang kecil
bangunan tinggi menetralkan skala
yang diberikan
oleh bangunan
Keterlihatan 3.54 Negatif (-) Keterlihatan Warna, bentuk dan Terhalangi oleh Negatif Ada
signage signage symbol signage perabot jalan (-) Kesamaan
terlihat untuk
mengetahui kondisi
jalan yang ada

Kesimpulan dari Tabel diatas bahwa ada kesamaan antara persepsi masyarakat dengan karakter fisik koridor jalan Ahmad Yani.
Pada variabel kenyamanan spasial terdapat 12 sub variabel dimana 10 dari sub variabel (83.33%) memiliki kesamaan antara persepsi
masyarakat dengan karakter fisik lokasi studi. Sebanyak 2 sub variabel (16.67%) tidak ada kesamaan antara persepsi masyarakat
dengan karakter fisik lokasi studi. Variabel kenyamanan visual memiliki 9 sub variabel dimana seluruh sub variabel (100%) memiliki
kesamaan antara persepsi masyarakat dengan karakter fisik kawasan studi.
209

Berikut adalah penjelasan dan hubungan fisik dengan variabel kenyamanan spasial yang
terbagi menjadi beberapa sub variabel:

a. Sub variabel fungsi trotoar memiliki nilai netral berdasarkan persepsi masyarakat
dengan nilai sebesar 4.07. Hal ini tidak sesuai dengan kondisi eksisting yang ada pada
lokasi studi. Pada kondisi studi fungsi trotoar dialih fungsikan sebagai area berdagang
dan area parkir. Peraturan pemerintah nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan
menegaskan bahwa trotoar sebagaimana dimaksud pada ayat 3 hanya diperuntukaan
bagi lalu lintas pejalan kaki.

Gambar 4.120 Penyalahgunaan fungsi trotoar

b. Sub variabel posisi trotoar memiliki nilai netral dengan nilai mean 4.04. Berdasarkan
persepsi masyarakat, hal ini tidak sesuai dengan konndisi fisik lokasi studi yang ada.
Pada koriodor jalan Ahmad Yani posisi trotoar masih terputus (tidak ada trotoar). Hal
ini sangat berpengaruh terhadat kenyamanan pengguna trotoar terlebih jalan Ahmad
Yani merupakan jalan yang padat aktivitas dan selalu dilewati oleh kendaraan maupun
pejalan kaki. Pemerintah provinsi (pasal 45 ayat (2) Undang-Undang nomor 22 tahun
2009 tentang Lalu Lintas Jalan jalan provinsi penyedian fasilitas sudah seharusny ada
dan diselenggarakan. Posisi trotoar pada lokasi studi juga tidak memenuhi standar
yang ada, dimana posisi trotoar langsung berhubungan dengan jalan, tidak ada nya
buffer sehingga tingkat kenyamanan pejalan kaki kurang nyaman.
210

Gambar 4.121 Jalur pejalan kaki tidak ada

c. Sub variabel dimensi trotoar memiliki nilai mean 3.53 yang memiliki arti negatif (-).
Berdasarkan persepsi masyarakat hal ini sudah sesuai dengan kondisi fisik lokasi studi
yaitu jalan Ahmad Yani. Pada lokasi studi dimensi trotoar dengan lebar 121-180 masih
banyak ditemui (22.57%). Menurut departemen PU mengenai petunjuk perencanaan
trotoar No. 007/T/BNKT/1990 lebar minimum trotoar pada kawasan perdagangan
180-200cm.

Gambar 4.122 Dimensi jalur pejalan kaki 121-180cm

d. Sub variabel material memiliki nilai mean 3.45 yang memiliki arti negatif (-).
Berdasarkan persepsi masyarakat hal ini sudah sesuai dengan kondisi eksisting yang
ada pada lokasi studi. Material trotoar pada lokasi masih banyak ditemukan dalam
keadaan rusak, kemudian jenis material yang digunakan pada koridor ini berbeda-pada
pada beberapa titik. Mennurut Departemen PU (2014) pemilihan material untuk
211

trotoar harus memiliki durability yang tinggi sehingga mampu umtuk penggunaan
jangka panjang, selain itu harus memberikan kenyamanan terhadap penggunannya.

Gambar 4.123 Kondisi eksisting material jalur pejalan kaki

e. Sub variabel kemenerusan trotoar memiliki nilai mean 3.51 yang memiliki arti negatif
(-). Berdasarkan persepsi masyarakat hal ini sudah sesuai dengan kondisi fisik lokasi
studi. Pada lokasi studi banyak ditemukan faktor-faktor yang menghabat kemenerusan.
Pada trotoar banyak didapatkan kendaraan yang parkir dan pedagang kaki lima.
Kemudian vegetasi yang ada pada lokasi studi sebagian besar berada pada pedestrian.
Kemudian area jalan masuk kendaraan (driveaway) dimana kondisi area tersebut
mendominasi dan memutus kemenerusan trotoar. Papan reklame, signage, dan
perbedaan elevasi juga menjadi faktor kemenerusan dalam sebuah pedestrian.
Kemenerusan pejalan kaki merupakan hal penting untuk pejalan kaki dalam
pergerakannya sehingga tidak terganggu oleh elemen-elemen lainnya (The Pedestrian
Program, 1998).

Gambar 4.124 Kondisi eksisting kemenerusan jalur pejalan kaki


212

f. Sub variabel lebar sempadan bangunan memiliki nilai mean 3.44 yang memiliki arti
negatif (-). Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dengan kondisi fisik
lapangan. Pada koridor jalan Ahmad Yani lebar sempadan/setback bangunan
didominasi oleh ebar 3-5 meter. Kemudian dibeberapa titik bahkan setback bangunan
0-1.5 meter. Hal ini sangat mengganggu kenyamanan pejalan kaki. Menurut peraturan
daerah kota Malang No. 1 Tahun 2012 menjelaskan bahwa garis sempadan bangunan
gedung terhadap as jalan minimal 6 meter terhitung dari dinding terluar bangunan ke
as jalan.

Gambar 4.125 Kondisi eksisting setback bangunan

g. Sub variabel kesegarisan kemunduruan bangunan memiliki nilai mean 3,52 yang
memiliki arti negatif (-). Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dengan
kondisi fisik pada lokasi studi. Pada koridor jalan Ahmad Yani kesegarisan bangunan
sebagian besar kurang baik. Pada beberapa titik terdapat perbedaan kemunduran yang
significant antara bangunan yang satu dengan yang lain. Kemudian bangunan semi
permanent/kios-kios yang ada membuat kesegarisan bangunan pada koridor jalan
menjadi semberaut.
h. Sub variabel posisi perabot jalan memiliki nilai mean 3.52 yang dimana nila ini
memiliki arti negatif (-). Berdasarkan persepsi masyarakat sudah relevan dengan
kondisi eksisting pada lokasi studi. Posisi perabot jalan pada koridor jalan Ahmad
Yani sangat buruk. Banyak perabot jalan yang menggunakan ruang pejalan kaki
sebagai peletakkannya, seperti signage, tempat sampah, lampu, dan papan reklame.
Perabot jalan diletakkan pada jalur perabot jalan agar tidak mengganggu pergerakkan
pejalan kaki maupun kendaraan bermotor (Dinas Tata Ruang Nasional). Jalur perabot
213

jalan berfungsi sebagai peletakkan berbagai elemen perabot jalan dengan lebar
minimum 0,6 meter.

Gambar 4.126 Kondisi eksisting posisi perabot jalan

i. Sub variabel jenis perabot jalan memiliki nilai mean 3.53 dengan arti negatif (-).
Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dngan kondisi eksisting pada lokasi
studi. Pada koridor jalan Ahmad Yani perabot jalan sangat minim ditemui. Pada lokasi
studi tidak terdapat fasilitas untuk disabilitas, halte shelter, tempat duduk, dan jumlah
tempat sampah yang sangat sedikit. Menurut pasal 131 ayat (1) Undang-Undang
nomor 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan Angkutan Jalan bahwa bejalan kaki
berhak atas ketersediaan fasiitas pendukung berupa trotoar, tempat penyeberangan dan
fasilitas lainnya.
j. Sub variabel jenis vegetasi memiliki nilai mean 4.44 yang memiliki arti positif (+).
Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dengan kondisi fisik lokasi studi. Jenis
vegetasi yang ada pada lokasi studi memenuhi keempat jenis tajuk dan didominasi
oleh tajuk lebar. Sub variabel fungsi vegetasi memiliki nilai mean 4.78 dengan arti
nilai positif. Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dengankondisi eksisting
yang ada pada lokasi stuudi. Fungsi vegetasi dapat menjadi barrier untuk mengurangi
kebisingan, polusi dan menaungi aktvitas pengguna jalan dari paparan sinar matahari. .
Menurut The Pedestrian Program (1998) menerangkan bahwa pohon pada koridor
jalan merupakan bagian yang sangat diinginkan dari suatu ruang lingkungan pejalan
kaki, terutama pohon-pohon rindang yang besar yang dapat berfungsi sebagai kanopi,
sehingga peletakkan vegetasi perlu ada tiap ruang pejalan kaki untuk dapat menaungi
dari paparan sinar matahari demi kenyamanan pengguna.
k. Sub variabel posisi vegetasi memiliki nilai mean 3.50 dimana nilai ini memiliki arti
negatif (-). Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dengan kondisi eksisting
214

yang ada pada lokasi studi. Posisi vegetasi pada lokasi studi secara umum berada pada
pedestrian. Hal ini sangat menggangu pengguna pedestrian.

Gambar 4.127 Kondisi eksisting vegetasi

Berikut ini adalah hubungan antara karakteristik fisik dengan kenyamanan visual yang
terbagi menjadi beberapa sub variabel:

a. Sub variabel tampilan bangunan memiliki nilai mean 4.46 dimana nilai ini bernilai
positif (+). Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dengan kondisi fisik yang
ada pada lokasi studi. Pada koridor jalan Ahmad Yani jenis tampilan bangunan
beranekaragam namun masih memiliki kesatuan bentuk geometri yang sama. Menurut
Ewing ,dkk (2009) meyatakan bahwa keragaman jenis tampilan erat kaitannya dengan
langgam arsitektur yang ada, kompleksitas dihasilkan dari beragam jenis bentuk,
ukuran, material, warna, arsitektur dan ornament yang ada dalam bangunan.

Gambar 4.128 Kondisi eksisting tampilan bangunan


b. Sub variabel warna dominan kawasan memiiki nilai mean 3.50 yang dimana nilai ini
bernilai negatif (-). Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dengan kondisi
yang ada pada lokasi studi. Warna bangunan yang ada pada lokasi studi cukup
beragam. Terdapat warna terang dan gelap pada lokasi studi ini, sehingga tidak ada
215

satu kesatuan dalam penggunaan warna sehingga tidak terciptanya keharmonisan.


Kemudian perbedaan warna yang mencolok memberikan kesan yang tidak seimbang.

Gambar 4.129 Kondisi eksisting warna dominan kawasan


c. Sub variabel transparansi koridor jalan memiliki nilai mean 3.47 yang memiliki arti
negatif (-). Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dengan kondisi lapangan.
Menurtu Ewing dkk (2009) menjelaskan bahwa transparansi mengacu pada sejauh
manan orang dapat melihat atau merasakn apa yang ada diluar tepi jalan dan lebih
khusus sejauh mana orang dapat melihat atau merasakan aktivitas manusia diluar tepi
jalan. Pada lokasi studi meskipun bangunan yang ada beberapa bagian depannya
terbuka, dinding kaca, dan memiliki bukaan namun membatasai jarak pandang
kedalam bangunan dikarenakan pembatas berupa pagar, papan penanda, serta dinding
masif.

Gambar 4.130 Kondisi eksisting transparansi koridor


d. Subvariabel keunikan tampilan bangunan memiliki nilai mean 4.44 dimana nilai ini
memiliki arti positif (+). Berdasarkan persepsi masyarakat sesuai dengan kondisi
eksisting yang ada pada lokasi studi. Pada koridor jalan memiliki gaya bangunan
dimana terdapat gaya modern, moder kontemporer, neo-klasik dan arsitektur jawa.
Kemudian pada koridor ini terdapat jembatan layang yang memberikan kesan
tersendiri yang dimana membuat masyarakat mengingat kawasan studi ini. Kemudian
terdapat taman kendedes sehingga menguatkan keunikan koridor jalan Ahmad Yani.
Menurut Ewing, dkk (2009) menjelaskan bahwa tempat akan memiliki nilai kesan
lingkungan (imageability) yang tinggi ketika unsur fisik tertentu dan tata pengaturan
yang menangkap perhatian, membangkitkan perasaan dan menciptakan kesan abadi.
216

Gambar 4.131 Kondisi eksisting keunikan tampilan bangunan


e. Sub variabel proporsi dinding jalan dan proporsi jarak pandang memiliki nilai mean
4.46 positif (+). Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dengan kondisi fisik
yang ada pada lokasi studi. Pada koridor jalan Ahmad yani 1>D/H<2 memiliki
persentase tertinggi yaitu sebesar 101 bangunan dengan persentase 34.83%. Dimana
1>D/H<2 memiliki arti kesan ruang yang seimbang antara ruang luar dengan dinding
pelingkup ruang. Menurut Ashihara (1983) yang juga mengutip dari teori Camillo
Sitte menjelaskan bahwa untuk menyeimbangkan kesan ruang antara bangunan
dengan jarak pandang maka lebar jarak pandang menuju bangunan sama dengan jarak
tinggi bangunan dan tidak boleh tinggi dua kali dari tingginya.
f. Subvariabel skala manusia dan perabot memiliki nilai mean 4.48 positif (+). Pada
koridor jalan Ahmad Yani elemen ruang pejalan kaki dapat berubah pengalaman
pejalan kaki terhadap bangunan sekitar.
g. Sub variabel keterlihatan signage memiliki nilai mean 3.54 yang memiliki arti negatif
(-). Berdasarkan persepsi masyarakat sudah sesuai dengan kondisi eksisting yang ada
pada lokasi studi. Pada koridor jalan Ahmad Yani keterlihatan signage sangan buruk
dikarenakan signange yang terhalang oleh vegetasi, papan reklame, bangunan dan
perabot jalan sehingga mengganggu keterlihatan signage. Kemudian peletakkan
signage yang berulang atau menumpuk mengakibatkan keterlihatan dari signage
tersebut menjadi tidak tepat sasaran, dimana pembaca atau yang melihat gagal fokus
akibat signage yang berulang serta peletakkan yang bertumpuk.

Gambar 4.132 Kondisi eksisting keterlihatan signage


217

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Jalan Ahmad Yani merupakan salah satu dari lima jalan provinsi yang terdapat pada
kota Malang. Koridor jalan Ahmad Yani merupakan kawasan komersial (perdagangan dan
jasa) sehingga koridor ini memiliki mobilitas yang tinggi baik kendaraan bermotor maupun
pejalan kaki. Berdasarkan rencana Tata Ruang Kota Malang Tahun 2010-2030, kota
Malang akan mengadakan perbaikan mengenai fasilitas dan prasarana jalur pejalan kaki.
Koridor dengan mobilitas yang tinggi tidak lepas kaitannya dengan kenyamanan koridor
itu sendiri baik kenyamanan pejalan kaki. Kenyamanan pejalan kaki sangat penting pada
suatu koridor baik kenyamanan spasial dan kenyamanan visual. Kenyamanan suatu koridor
dipengaruhi elemen-elemen fisik yang tersedia. Oleh sebab itu diperlukan kajian untuk
mengetahui seberapa nyaman koridor lokasi studi berdasarkan elemen-elemen fisik yang
ada. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif guna untuk menganalisis karakter fisik
elemen ruang pejalan kaki dan metode kuantitatif untuk mengetahui persepsi masyarakat
tentang ruang pejalan kaki pada koridor jalan Ahmad Yani. Hasil dari penelitian berupa
penilaian terhadap elemen-elemen spasial maupun visual yang dikaji berdasarkan teori dan
regulasi yang dipadukan dengan penilaian menggunakan persepsi masyarakat untuk
menentukan elemen-elemen mana yang sudah baik ataupun buruk yang kemudian dapat
diperbaiki.
Hasil observasi karakter fisik kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki terdiri
dari 11 sub variabel, dimana kenyamanan spasial terdiri dari 5 sub variabel yaitu fungsi
bangunan, jalur pedestrian, setback bangunan, dan vegetasi. Kenyamanan visual terdiri dari
6 sub variabel yaitu kompleksitas kawasan, transparansi koridor jalan, kesan lingkungan,
pola dasar lingkungan, skala manusia, dan tata tanda (signage). Kenyamanan spasial ruang
pejalan kaki dengan sub variabel fungsi bangunan didominasi oleh perdagangan dan jasa
dengan persentase 69.00%. Jalur pedestrian dengan dimensi 181-240m dengan persentase
53.94% dan 45.06% dengan dimensi <181-240m. Setback bangunan dengan lebar 3-5
meter mendominasi pada lokasi studi dengan persentase 34.27%m dan jenis vegetasi
dengan tajuk lebar dengan jumlah 273 vegetasi (68.50%). Kenyamanan visual ruang
pejalan kaki dengan sub variabel kompleksitas kawasan dengan indikator warna bangunan
gelap memiliki persentase 77.24% dan warna terang 22.76%. Transparansi bangunan pada

217
218

lokasi studi 175 bangunan dengan persentase 60.34% dan tidak transparan 115 bangunan
dengan persentase 25.18%. Ketinggian bangunan didominasi <7 meter dengan persentase
72.76% atau 211 bangunan. Jarak pandang D/H didominasi oleh (1>D/H<2) dengan
persentase 34.83%. Jenis signage dengan persentase tertinggi pada lokasi studi yaitu tanda
pengarah primer dengan persentase 39.30%.
Persepsi masyarakat terhadap kenyamanan spasial memiliki 12 sub variabel dimana
sebagian besar masyarakat menilai netral terhadap fungsi trotoar dan lokasi peletakkan
trotoar. Sub variabel dimensi trotoar, material trotoar, kemenerusan trotoar, setback
bangunan, kesegarisan setback bangunan, lokasi peletakan perabot ruang pejalan kaki,
keseragaman jenis perabot dan posisi vegetasi sebagian besar masyarakat menilai negatif.
Sub variabel jenis vegetasi dan fungsi vegetasi dinilai masyarakat positif. Persepsi
masyarakat terhadap kenyamanan visual memiliki 9 sub variabel dimana sebagian besar
masyarakat menilai positif untuk kompleksitas visual kawasan, kesan lingkungan ruang
pejalan kaki, proporsi tinggi dinding bangunan, jarak pandang bangunan, perbandingan
skala manusia dengan skala tinggi bangunan, perbandingan skala manusia dengan skala
item koridor ruang pejalan kaki. Sub variabel keragamanan warna bangunan, transparansi
bangunan, dan keterlihatan tanda pengarah, papan informasi, identitas dan periklanan
secara umum masyarakat menilai negatif.
Hasil evaluasi karakter fisik kenyamanan spasial dan visual ruang pejalan kaki pada
koridor jalan Ahmad Yani terhadap regulasi dan atau teori. Pada variabel kenyamanan
spasial terdapat 12 sub variabel dimana 10 sub variabel (83.33%) memiliki kesamaan
antara karakter fisik, persepsi masyarakat, dan regulasi dan atau teori. Sebanyak 2 sub
variabel (16.67%) tidak memiliki kesamaan antara karakter fisik, persepsi masyarakat, dan
regulasi dan atau teori. Variabel kenyamanan visual memiliki 9 sub variabel dimana
seluruh sub variabel (100%) memiliki kesamaan antara karakter fisik, persepsi masyarakat
dan regulasi dan atau teori.

5.2. Saran
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi penelitian selanjutnya yang memiliki
kemiripan topik bahasan serta penelitian selanjutnya diharapkan dapat mencari variabel
lainnya yang dapat mempengaruhi kenyamanan ruang pejalan kaki secara umum. Persepsi
masyarakat terhadap kenyamanan ruang pejalan kaki sangatlah penting, hal ini dapat
memberikan evaluasi yang dapat meningkatkan kenyamanan pejalan kaki pada suatu
koridor jalan.
217

DAFTAR PUSTAKA
Bapeda malang kota. Garis sempadan bangunan. [Link] Diakses
21 februari 2017.
Ashadi, Rifka Houtrina, Nana Setiawan.2012. Analisis Pengaruh Elemen-Elemen
Pevengkap.
Jalur Pedestrian Terhadap Kenyaman Pejalan Kaki studi kasus: Pedestrian Orchard
Road Singapura. Jakarta: Nalars, Volume 11 No 1 Januari 2013 77-90.
Ewing, Reid, otto [Link] Urban Design: Metrics for livable places.
Washingon: Island Press.
Ewing, Reid, Susan Handy. Measuring Urban Design: Urban Design Qualities Relatedto
Walkability. USA : Journal Of Urban Design, Vol. 14 No.1, 65-84.
Menteri Pekerjaan Umum.1999. Pedoman Perencanaan Jalur Pejalan Kaki pada Jalan
Umum. Jakarta: Menteri Pekerjaan Umum No.032/T/BM/1999.
Menteri Pekerjaan Umum.2004. Penentuan Klasifikasi Fungsi Jalan di Kawasan Perkotaan
Menteri Pekerjaan Umum Pd T-18-2004-B.
Santosa, Herry dkk. 2013. Visual Evaluation of Urban Commercial Streetscape Trough
Building Owner Judgment. Yamaguchi: Journal of Architecture and Plannng,
September 2013.
Santosa, Herry dkk. 2014. Development of Landscape Planning Support System Using
Interactive 3D Visualization. Yamaguchi; Journal of Architecture and Planning,
Januari 2014.
Santosa, Herry dkk. 2015. Integrasi Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif dalam Penilaian
Estetika Fasade Bangunan di Koridor Jalan Kayutangan, Malang. Malang: Jurnal
RUAS, Volume 13 No 2, Desember 2015.
Shirvani, Hamid, 1984, The Yrba Design Process, Van Nostrand Reinhold Company, New
Yord-USA.
The Pedestrian Program. 1998. Portland Pedestrian Design Guide. Portland: The
Pedestrian Transportation Program.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan.
Peraturan Daerah Kota Malang Nomor 4 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Malang Tahun 2010-2030.
Nino Nicolaus.2012. Peningkatan Kualitas Ruang Jalan pada Fungsi Komersial di
Kawasan Candi Borobudur. Yogyakarta: Jurnal Arsitektur KOMPOSISI, Volume
10 Nomor 2. Oktober 2012.
218

Muchtar, chaerul. 2010. Identifikasi Tingkat Kenyamanan Pejalan Kaki Studi Kasus Jalan
Kedoya Raya-Arjuna Selatan. Jakarta: Jurnal PLANESATM Volume 153 1, Nomor
2, November 2010.
Menteri Pekerjaan Umum.2014. Pedoman Perencanaan, Penyediaan dan Pemanfaatan
Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan, Jakarta:
Menteri Pekerjaan Umum No:03/PRT/M/2014.
Menteri Pekerjaan Umum.2009. Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka
Non Hijau di Wilayah Kota Kawasan Perkotaan. Menteri Pekerjaan Umum
No.12/PRT/M/2009.
Aris Widodo,dkk.2015. Studi Tentang Kenyamanan Pejalan Kaki terhadap Pemanfaatan
Trotoar di Jalan Protokol Kota Semarang (Studi Kasus Jalan Pandanaran
Semarang). Semarang: Universitas Negeri Semarang. Teknik sipil dan
perencanaan, nomor 1 volume 14-Januari 2013, hal:1-12.
Andi Purnomo,dkk.2015. Tingkat Kenyamanan Jalur Pedestrian di Kawasan Simpang lima
Kota Semarang Berdasarkan Persepsi Pengguna. Semarang: Universitas Semarang.
Teknik sipil dan perencanaan, Nomor 2. Volume 17-Juli 2015, hal:131-138.
[Link] Steet Furniture Jalur Pejalan Kaki Koridor Jalan Utama ada Pusat
Perdagangan Terhadap Kenyamanan Pengguna. Jurnal PPKM III 171-189.
Edgar S.D.2016. Tingkat Kenyamanan Jalur Pejalan Kaki Jalan Asia Afrika, Bandung.
Tesis. Bandung: Intitut Teknologi Bandung.
Kuncoro,[Link] Kenyamanan Pejalan Kaki di City Walk Jalan Slamet
Riyadi Surakarta. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Ashihara, Yoshinobu.1983. The Aesthetic Townscape. Japan.
Supardi.1993. Populasi dan Sampel [Link] 17 tahun XIV Triwulan VI, hal
107.
Soendari,Tjutju. Populasi dan Sampel Penelitian. PLB FIB UPI.

Anda mungkin juga menyukai