0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan35 halaman

Hukum Adat dalam Perkembangan Sosial

Dokumen tersebut membahas pentingnya hukum adat dalam yurisprudensi. Hukum adat merupakan hukum tidak tertulis yang hidup dalam masyarakat dan perlu dipertimbangkan oleh hakim dalam membuat putusan. Dokumen tersebut menjelaskan berbagai aspek hukum adat seperti bidang-bidangnya, peran hakim dalam meneliti nilai-nilai hukum adat yang hidup di masyarakat, serta pertimbangan

Diunggah oleh

Aharisman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan35 halaman

Hukum Adat dalam Perkembangan Sosial

Dokumen tersebut membahas pentingnya hukum adat dalam yurisprudensi. Hukum adat merupakan hukum tidak tertulis yang hidup dalam masyarakat dan perlu dipertimbangkan oleh hakim dalam membuat putusan. Dokumen tersebut menjelaskan berbagai aspek hukum adat seperti bidang-bidangnya, peran hakim dalam meneliti nilai-nilai hukum adat yang hidup di masyarakat, serta pertimbangan

Diunggah oleh

Aharisman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUKUMADATDALAMYURISPRUDENSf>

Oleh : Prof. Rehngena Purba, S.H., M.S.**>

L PENDAHULUAN
Kekuasaan Kehakiman adalah kekuasaan negara yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan
berdasarkan Pancasila, demi terselenggaranya Negara Hukum Republik
Indonesia (Pasall Undang-Undang No.4 Tahun 2004).
Pengadilan men~:adili menurut hukum den~:an tidak membeda-bedakan
oran~: (Pasal5). Pengadilan tidak boleh menolak untuk. memeriksa, mengadili
dan memutus suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak
ada atau kurangjelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya
(Pasall6 (1)).
Segala putusan Pengadilan selain harus memuat alasan dan dasar putusan
tersebut, memuat pulapasal tertentu dari peraturan perundang-undangan yang
bersangkutan atau sumber hukum tak tertulis yang dijadikan dasar untuk
mengadili (Pasal25 (1) Undang-Undang No.4 Tahun 2005).
Hakim mengadili berdasarundang-undang. Tetapi Hakim bukan corong
dari undang-undang. Hakim harus mengikuti, memahami hukum dan keadilan
yang hidup di masyarakat, apakah itu hukumkebiasaanlhukumadat/atau hukum
tidak tertulis.
Secara sosiologis, hukum tidak tertulis senantiasa akan hidup terus dalam
masyarakat. Sehubungan dengan hal itu, perlu dicatat asumsi-asumsi sebagai
berikut
Hukum tidak tertulis pasti ada karena hukum tertulis tidak akan mungkin
mengatursemuakebutuhan masyarakatyangperlu diaturdengan hukum:
Pada masyarakat yang sedang mengalami perubahan sosial yang cepat,
peranan hukum tidak tertulis lebih menonjol dari hukum tertulis;
Yang menjadi masalah adalah mana yang merupakan hukum tidak tertulis
yang dianggap adil;

*) Disampaikan pada "Seminar Tentang Revitalisasi Dan Reinterpretasi Nilai Nilai Hukum Tidak
Tertulis Dalam Pembentukan dan Penemuan Hokum" yang diselenggarakan pada tanggal 28-30
September di Makassar - Sulawesi Selatan.
* *) Hakim Agung pada Mahkamah Agung RI

41
Untuk menjamin adanya kepastian hukum memang perlu sebanyak
mungkin menyusun hukum tertulis. Ini bukan berarti bahwa keadaannya
pasti demikian sebab dalam bidang kehidupan yang bersifat publik, maka
hukum tertulis terutama dibuat untuk mencegah kesewenang-wenangan
penguasa.
Hakim atau pengadilan adalah aparatur negara yang mengeterapkan
hukum. Hukum yang berlaku di suatu negara dikenal melalui keputusan-
keputusan hakim. Karena mengeterapkan hukum yang berlaku itu bukan
silogisme dan seringkali hukum yang tepat dan adil itu harus dicari, maka
hukum yang berlaku, sekalipun itu tidak terdapat dalam Undang-Undang
maupun kebiasaan yang berlaku di masyarakat (Sri Sudewi Masychun Sofwan,
1973: 3).
Hakim sebagai penegakhukum dan keadilan wajib menggali mengikuti
dan memahami nilai hukum dan rasakeadilan yang hidup dalam masyarakat
(Pasal28 Undang-Undang No.4 Tahun 2004).
Dalam masyarakat yang mengenal hukum tidak tertulis serta berada dalam
masa pergolakan dan peralihail, Hakim merupakan perumus dan penggali
dari nilai-nilai hukum yang hidup dikalangan rakyat. Untuk itu ia harus terjun
ke tengah-tengah masyarakat untuk mengenal, merasakan dan mampu
menyelami perasaan hukum dan rasakeadilan yang hidup dalam masyarakat.
Dengan demikianHakimdapatmemberi keputusan yang sesuai dengan hukum
dan rasa keadilan masyarakat.
Demikian arti pentingnya putusan hakim dalam pembinaan hukum, betapa
pentingnya peranan Hakim dalam fungsinya sebagai yang mengeterapkan
hukum, menemukanhukum.
Menurutilmuhukumdan filsafathukummaka usaha pembaharuanhukum
dapat dikatakan bahwa Negara Republik Indonesia dalam kebijaksanaan
pembinaan hukumnya menganut teori gabungan dari apa yang dikenal sebagai
aliran sociological jurisprudence dan pragmatic jurisprudence.
Aliran sociologicaljurisprudence ialah a1iran yang menghendaki bahwa
dalam proses pembentukan pembaharuan hukum harus memperhatikan
kesadaran hukum rakyat. Memperhatikan nilai-nilai hukum yang hidup dalam
masyarakat.
Sedangkan a1iran pragmatic jurisprudence, menghendaki bahwa dalam
pembaharuan hukumitu disamping memperllatikan keadaai) hukum yangny<;rta,
berpegangan juga pada suatu ide tentang hukum yang ideal.

42
Jikadihubungkandengan fungsihukum, makadalam pembaharuanhukum
fungsi hukum dapat dibedakan atas 2 macam ialah sebagai sosial kontrol
yaitu sebagai alat untuk mengontrol memperhatikan stabilitas masyarakat
dan sebagai alat social engineering yaitu alat untuk melakukan perubahanl
perombakan masyarakat. Paham pertama ada1ah paham dari Carl Freidricb
Von savigny yang terkenal dengan konsepsinyabahwa: Das Rechtwird nicht
gemacht, es istund wirdn nit volke, yaitu babwa hukum itu tidak dibuat-buat
melainkan ia ada dan tumbub bersama rakyat. Pabam yang kedua dikem-
bangkan oleb Roscoe Pound dari aliran AmeriCan legal Realism yang tedcenal
· dengan konsepsinya "law as a tool ofsocial engineering" (Roscoe Pound,
1950:47).
Oleh karena itu Hakim di dalam memutus perkara, harus mengadakan
konstatasi apakab suatu perubahanlperkemban sudab selesai terjadi dengan
membawa akibat yangresmi. Sebaiknya Hakimitu mengetahui/mengalami
sendiri perkembangan yang telah terjadi itu karenaiabidup di tengah-tengah
masyarakat. Sebaiknya lagi haldm yang mengkonstatir adanya perubaban
tadi adalah seorang ''putra dari daerah" yang bersangkutan. Mengadakan .
konstatasi tersebut adalah cukup sulcar, karena sering orang yang satu
mengatakan bahwa perubahan tersebut sudah terjadi, tetapi lain orang
menyatakan bahwa belum ada perubahan. Hakim di sini menjalankan
moment-opname yang menentukan (Subekti, 1978: 1-4).
Tentunya tidak semua hakim di daerah adalah putra daerah. Namun
•• . nilai-nilai hukum
sebagai seorang Hakim, makaHaldmhatus meoeliti, meDJ1W8l
dan keadilan yang hidup di masyarakat. Untuk meneliti dan mendalami nilai-
nilai hukum dan keadilan yang hidup di masyarakat tidak perlu ditanyakan
pendapat mereka ~tapi melibat apa yang dilalmkan, dikerjakan sehari-
hari di lingkungan keluarganya, maupun di lingkungan pergaulannya dalam
· masyarakat. Apa yang mereka kerjakan, lakukan sehari-hari itulah bukum
yang hidup, kebiasaan dan rasa keadilan mereka.
Apakah hukum Adat itu masih hidup? Apakah kekuatan materiil dari
aturan hukum adat tersebut masih diakui, dihonnati sertadipatuhi.

Kekuatan materiil dari aturan-aturan Hukum Adat tersebut dapat diukur


dari hal-hal sebagai berikut:
* Apakah struktur dari aturan-aturan Hukum Adat belsangkutan masih kuat
atau sudah banyak mengalami perubahan.

43
,-·--------·----...----- - ______________ ..,.. ________
. -----~---------·-·- ··-------- -------~----------~--------·-···-··· ......·· -·- --

* Apakah KepalaAdatatau pengetuaadat/masyarakatHukum Adat masih


betfungsi dan berperan sebagai petugas Hukum Adat.
* -
Apakah ketetapanlkeputusan-keputusan dari KepalaPersekutuan Hukum
AdatLembagaAdatdalam penyelesaian masalahhukumadatyang serupa
masih sering teJjadi.
* Apakahkeputusan-keputusanhukwnadatitu (kaedahhukum adat) masih
tetap sama dan sesuai dengan sistem hukum adat

* Apakah ketentuan hukum adat itu tidak bertentangan dengan politik


hukum nasional atau UU.
Kriteria/ukuran ini menjadi bahan pertimbangan para Hakim dalam
memberikan suatu putusan apakah hukwn adatitu sudah berubah berlcembang
atau masih tetap seperti hukum adat asli seperti apa yang digambarkan di
dalam literature (doktrin) lama. Hal ini sangat berperan dalam menciut dan
berkembangnya hukum adat, oleh karena itu, penelitian terhadap perkem-
banganhukwnadatsebagaihukumyanghidupperlu dijadikan pedoman dalam
meoyelesaikan kasus sengketadi pengadilan.

n. PERMASALAHAN
Mengenai pembidangan hukum adat, terdapat pelbagai variasi, yang
berusaha untuk mengidentifikasikan kekhususan hukum adat, apabila
dibandingkandenganHukumBarat. Pembidangan itu dapatdiketemukan pada
buku-buku standar, di mana sistematika buku-buku tersebut, merupakan
petunjuk untukmengetahui pembidangan mana yang dianutpenulisnya
Dalamkaitan denganjudul HukwnAdatDalam Yurisprudensi maka, penulis
bmlpayauntukmenyesuaikanpembidanganhukumadatsepertikonsep hukum
adat Jnd9nesia versi BPHN yaitu:
Hukum Adat tentang organisasi kemasyarakatanlpersekutuan hukuni.
Hukum tentang pribadilorang.
Hukumkekerabatanlkeluarga
HukumPerlcawinan.
Hukum Waris.
Hukmn Tanah.
HukumPednttangan.
Hukum TentangDelik.

44
Berdasarkan pedoman pembidangan ini, mab ingin diketabw, sejauh
manaMahkamah Agung mewujudkan Yurisprudensi Jndonc&ia yqbalw dan
berwawasan unified legal frame work serta uni}VJ 16pl [Link] datam
kaitannya dengan hukum adat atau hukum yang hidl!pdi masyarakat dari
kasus-kasus yang penanganannya sampai ke tingkat kasasi.

m. HUKUMADATDALAMPUTUSANMAHKAMAHAGONGRI
Mahkamab Agung bam mempunyai kekuasaan dalam pemutusan suatu
perkara apabila ada permobonan pemeriksaan kasasi dalam suatu perkBra
tersebut. Sistem kasasi adalab baik untuk negara kita yang merupakan negara
kesatuan, namun harus kita perhatikan juga bahwa sistem tersebut
menggariskan jalan yang panjang untuk mencapai putusan pengadilan yang
pasti (berkedudukan hukum yang mutlak). Ditambab dengan luasnya wilayab
negarakita dan sukamya komunikasi, maka perlu sekali secara terus-menerus
diusahakan secepatnya penyelesaian perkara, baik pemeriksaan dan
pemutusannya, minutering dan pengiriman berkas. (Subekti, 1977).
Dari basil pengkajian teori, yurisprudensi bertujuan to settled law stan-
dard yakni untuk menetapkan standar hukum yang sama mengenai kasus
perkara yang sama Perwujudan law standard melalui yurisprudensi
diharapkan dapat menciptakan suasana "Unified legal opinion (persepsi
hukum yang sama) di antara seluruh Pengadilan dan para Hakim dalam
penyelesaian kasus perkara yang sama".
Terciptanya suasana Unified legal frame work dan Unified legal
opinion dalam kehidupan praktek peradilan, menjadi landasan terbinanya
kepastian penegakkan hukum. Hal ini disebabkan dengan adanya standar
hukum yang diciptakan yurisprudensi, putusan yang bersangkutan akan
menjadi Stare decesis atau let the decision stand. Dalam arti the previous
decisions is fallowed by their predecessor. Peraturan terdabulu akan diikuti
oleh para hakim berikutnya.
Yabya Harabap mengatakan babwa: apabila suatu putusan telab menjadi
yurisprudensi, dan putusan itu telab menjadi Stare decesis dan diikuti sebagai
standar hukum oleh putusan selanjutnya, penegakkan hukum yang diterangkan
dalam putusan-putusan pengadilan mengenai kasus yang sama, akan tetbindar
dari putusan-putusan yang berdisparitas antara yang satu dengan yang lain.
Dengan demikian yurisprudensi yang berbakat standar hukum sangat berperan

45
untuk rnenegakkan kepastian hukum dalam kehidupan masyaralcat. (Yahya
Harahap, 1993: 120-121).
Dari basil penelitian sementara dari penulis, yang cakupannya belum begitu
luas, diperoleh gambaran putusan Mahkamah Agung yang berhubungan
dengan Hukum Adat atau hukum yang hidup di masyarakat adalah sebagai
berikut

A. DEWASA
1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 477 K/Sip/1976
TanggalPutusan : 13 Oktober 1976
Dengan berlakunya Undang-UndangNo.l Tahun 1974 (Undang-
Undang tentang Perkawinan) makaberdasarkan pasal50 Undang-
Undang tersebut batas umur seseorang yang berada di bawah
kekuasaan perwalian adalah 18 tahun, bukan 21 tahun.
2. [Link]. : 601 K/Sip/1976
TanggalPutusan : 2 Nopember 1976
· Menurut Hak Adat seorang laki-laki dianggap telah dewasa kalau ia
sudah cakap bekerja (kuat gawe). Terbantah yang sudah berumur
20 tahun pantas dianggap telah cakap bekerja sehingga harus
dianggap telah dewasa maka ia harus bertanggungjawab atas
perbuatannya.
3. PutusanMahkamahAgungNo. Reg. : 1578 K/Sip/1982
TanggalPutusan : 30Juli 1983
Bahwajual bell gadai tanah yang dilakukan oleh anak di bawah umur
tidak sah, maka jual beli gadai tersebut batal demi hukum.
Bahwa penguasaan tanah tanpa didasarkan pada atas hak yang sah
tidak akan menimbulkan hak atas tanah dan tanah tersebut harus
diserahkan kepada pemiliknya.

B. PERCERAIAN
1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 2249 K/Pdt/1992
Tanggal Putusan : 22 Juni 1994
Pertengkaran antara Penggugat (suami) dan Tergugat (isteri) yang
disebabkan karena temyata Penggugat berhubungan dengan wanita

46
lain (Betty) sebagai wanita simpanannya yang telah hidup bersama,
tidak dapat dijadikan alasan untuk perceraian, karena pertengkaran
tersebut bukan merupakan perselisihan yang tidak dapat diharapkan
untuk rukun kembali sebagai disebut pada pasal 19f Peraturan
PemerintahNo. 9Tahun 1975. ·

C. PERWALIAN
1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 432 K/Sip/1980
Tanggal Putusan : 25 September 1980
Karena tidak terbukti bahwa Penggugat adalah ibu yang tidak baik,
Penggugat hams ditetapkan sebagai wali dari anaknya yang berumur
4tahunitu.

D. HAKWARISANAK
1. Putusari Mahkamah Agung [Link]. : 179 K/Sip/1961
TanggalPutusan : 23 Oktober 1961
MahkamahAgungmenganggap sebagaihukum yanghidupdi seluruh
Indonesia, juga di tanah Karo, bahwa anak perempuan dan anak
Iaki.:..laki dari seorang peninggal warisan bersama-sama berhak atas
harta warisan dalam arti bahwa bagian anak laki-laki adalah sama
dengan bagian anak perempuan.
2. · [Link]. : 415 K/Sip/1970= 182 Kl
Sip/1970
Tanggal Putusan : 30 Juni 1970
Pembaenan (Penyerahan tanpa melepaskan hak milik) hams dianggap
sebagai usaha untuk memperlunakkan HukumAdatdi masasebelum
perang Dunia ke- II, di mana seorang anak perempuan tiada
mempunyai hak waris.
Hukum Adat di daerah Tapanuli juga telah berkembang ke arah
pemberian hak yang sama kepada anak perempuan seperti anak
lelaki, perkembangan mana sudah diperkuat pula dengan suatu
yurisprudensi tetap mengenai hukum waris di daerah tersebut
3. Putusan Mahkamah Agung [Link]. : 182 K/Sip/1970 = 415 Kl
Sip/1970
TanggalPutusan : 10 Maret 1971

47
Tentang pelaksanaan pembagian harta warisan yang belum terbagi
hukum adat yang harus diperlakukan adalah Hukum Adat
(Jurisprudensi) yang berlaku pada saat pembagian tersebut
dilaksanakan, jadi hukum adat yang berlaku dewasa ini.
4. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 1164 K/Sip/1971
Tanggal Putusan : 29 Januari 1973
Harta bawaan adalah dianggap paling adil apabila dibagi sama rata
di antara para ahli waris.
5. [Link]. : 10~7K/Sip/1971
· Tanggal Putusan : 19 Pebruari 1973
Tanah yang bukan merupakan tanah pusaka sebagaimana tersebut
dalam bahasa daerah di Tapanuli "Golad" tetapi merupakan tanah
garapan dari suami-isteri dalam perkawinan pertama dan yang
dibawa si isteri ke dalam perkawinannya kedua setelah suami yang
pertama meninggal dunia dan dari perkawinan yang kedua itu tidak
ada anak, seluruhnya harus kembali kepada anak, satu-satunya dari
perkawinan yang pertamasekalipun anaknyaitu seorang perempuan.
6. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 707 K/Sip/1973
Tanggal Putusan : 18 Maret 197 6
Karena tidak dapat dibuktikan bahwa sengketa diperoleh dalam
perkawinan kesatu atau kedua, makaharus dianggap sebagai warisan
dari ahrunhumibu Penggugat asal danTergugatasal yang belum dibagi
(Penggugat asal dan Tergugat asal adalah dari satu ibu lain bapak.
Pembagian warisan dalam perlcara ini sekarang harus menurut hukum
yang mengakui hak wanita samadengan hak laki-laki dalam hukum
warisan (peninggalan warisan ialah ibu Penggugat asallibu Tergugat
asal meninggal padaZaman Jepang).
7. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 1589 K/Sip/1974
Tanggal Putusan : 9 Pebruari 1978
Sesuai dengan Yurisprudensi MA terhadap anak perempuan di
Tapanuli juga di Lombok adilnya anakperempuan dijadikan ahli waris,
sehingga dalam perkara ini Penggugat untuk kasasi sebagai satu-
satunya anak, mewarisi seluruh harta peninggalan dari Bapaknya.
8. [Link]. 14K/Sip/1975
Tanggal Putusan : 13 Juli 1976

48
Seorang cucu tidak merupakan ahli waris dari kakeknya apabila pada
waktunya kakek meninggal orang tuanya masih hidup, maka ia tidak
berhak untuk menuntut pembagian kembali warisan kakeknya, yang
telah dibagi waris oleh kakeknya itu kepada anak-anaknya.
9. [Link]. : 284K/Sip/1975
TanggalPutusan : 2Nopember 1976
Dalam hal tidak ada anak harta warisan setengah bagian untukjanda
dan yang setengah bagian untukkeluarga suami atau seluruhnyadapat
dinikmati janda selama ia tidak kawin lagi. · ·
10. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 853 K/Sip/1978
TanggalPutusan : 29 Apri11981
Menurut Hukum Adat dalam hal keahlian warisan dimungkinkan
penggantian tempat.
11. [Link]. : 2563 K/Pdt/1988
Tanggal Putusan : 15 Maret 1990
·Hak waris anak dari isteri pertama atas harta bagian bapaknya yang
diperoleh dalam perkawinannya yang ketiga.
Anak dari isteri pertama berhak mewarisi harta bagian bapaknya
yang diperoleh dalam perkawinannya yang ketiga bersama-sama
dengan anak dari isteri ketiga, yaitu masing-masing mendapat separo
dari separo, karena anak almarhumhanyadua orang, yaitu Penggugat
dan Tergugat.
12. [Link]. : 410K/Pdt/1995
Tanggal Putusan : 26 Agustus 1996
Warisan yang berasal dari harta gono gini haruslah chbagi secara adil
kepada semua ahli warisnya.
13. [Link]. : 459K/Sip/1982
TanggalPutusan : 15 Agustus 1983
Anak perempuan adalah ahli waris almarbum ayahnya.

E. KEDUDUKAN HARTA PENCAHARIAN BERSAMA


1. Berdasarkan putusanMahkamah Agung No. 130 K/Sip/1957 dengan
jelas disebutkan bahwa, hal seorang meninggal dunia dengan

49
meninggalkan 3 (tiga) orang anak, maka jandadan anak-anak berhak
mewaris harta peninggalan suami secara bersama-sama
Demikian juga dalam keputusan Mahkamah Agung No. 248 K/Sip/
1958menyatakan,apabilaadalebihdari 1 (satu)ke-1 (satu)gono
gini berhubung seorang suami mempunyai lebih seorang isteri, maka
sebaiknya untuk memperlakukan gono gini satu persatu hendaknya
dan seharusnyalah isteri yang satu beserta anak-anaknya berhak atas
harta gono gini dengan suaminya, begitu pula isteri yang lain beserta
anaknya Keputusan ini ditekankan kepada bentuk perkawinan
yang bersifat poligami, sehinggajandasebagai ahli waris dipisah satu
persatu bagian dan selayaknya hak dan kedudukannya ditentukan
diantara anaknya (tergantung berapa banyak anaknya masing-
masing).
2. Bahwa menurut hukum adat pada jaman sekarang, janda berhak
mewaris atas harta pencaharian suami, seperti yang terdapat dalam
putusan Mahkamah Agung No. 298 K/Sip/1958 dan putusan
Mahkamah Agung No. 320 K/Sip/1958.
3. KeputusanNo. 187 K/Sip/1959yangmenyatakan: Hartagono gini
antar janda dengan almarhum suaminya tidak dapat dibagi-bagi
salama janda masih ·hidup dan belum kawin untuk menjamin
kehidupannya
4. Keputusan Mahkamah Agung No. 307 K/Sip/1960 memutuskan
janda hanya berhak memperoleh ~ dari harta asal suaminya kecuali
jikahartaitu dikuasai bersamaantaraisteri dengan ahruuhum suaminya
hinggajanda diperkenankan menguasai barang-barang tersebut
selamahidupnya
5. Keputusan No. 359 K/Sip/1960 yaitu memberikan hak mewaris
kepada seorang janda baik terhadap barang asal suaminya, atau
sekurang-kurangnya sebagian dari barang asal itu berada di tangan
janda untuk biaya hidupnya sampai dia meninggal atau kawin lagi.
Jika warisan bemilai banyak si janda berhak atas sebagian dari
barang-barang warisan seperti seorang anak kandung dari si pewaris.
6. Putusan Mahkamah Agung No. 100 K/Sip/1967 di Kabanjahe
dengan pertimbangan yaitu mengingat kepada pertumbuhan
masyarakat desa yang menuju kearah persamaan kedudukan antara

50
pria dan wanita ditambah dengan janda sebagai ahli waris yang telah
merupakan yurisprudensi, maka janda berhak mendapat Y2 dari harta
peninggalan suaminya dan Y2 dari harta pencaharian yang merupakan
bagian suaminya dibagi sama antarajanda dan anak-anak.
7. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 561 K/Sip/1968
Tanggal Putusan : 29 April 1970
Harta Warisan yang bersifat gono gini. Barang sengketa sebagai
.peninggalan almarhum diputuskan harus dibagi antaraPenggugat dan
Tergugat masing-masing bagian.
8. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 392 K/Sip/1969
Tanggal Putusan : 30 Agustus 1969
I. Pembagian harta guna kaya antara bekas suami-isteri masing-
masing50%.
2. Pemeliharaan anak-anaknya yang belum dewasa diserahkan
kepadaibu.
3. Biaya penghidupan, pendidikan dan pemeliharaan anak-anak
tersebut juga dibebankan kepada ayah dan ibu masing-masing
50%.
9. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 140 K/Sip/1971
Tanggal Putusan : 12 Agustus 1972
Janda cerai mempunyai hak yang sama denganjanda mati terhadap
barang-barangpeninggalan suaminya yangtelahtreninggal dunia, yang
· belurn dibagi.
10. [Link]. : 1448 K/Sip/1974
TanggalPutusan : 9 Nopember 1976
Sejak berlakunya Undang-Undang RI No. 1Tahun 1974 tentang
Perkawinan, harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi
harta bersama, sehingga pada saat terjadinya perceraian harta
bersama tersebut harus dibagi sama rata antara bekas suami-isteri.
11. [Link]. : 681 K/Sip/1975
Tanggal Putusan : 18 Agustus 1979
Karena harta sengketa dalam harta Serekat gono-gini Penggugat
dengan mendiang suaminya (ayah Tergugat maka ia sebagai isteri

51
rnendapat Y2 bagian ditarnbah 1 pagiah anak menjadi % +% =%
bagian, sedangkan Tergugat sebagai anak rnendapat% bagian.
12. [Link]. : 861 K/Sip/1975
Tanggal Putusan : 9 Agustus 1979
Perbuatan hukurn yang dilakukan janda atas harta peninggalan
suarninya tanpa persetujuan ahli waris keputusan dapat dibenarkan
karena perbuatan terrnaksud adalah untuk kepentingan yang patut
dan tidak rnerugikan budel warisan.
13. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 1002 K/Sip/1976
TanggalPutusan : 13 April1978
Harta gono-gini yang telah dibagi antaraPak dan Mbok Kartodirjo
setelah rnereka kawin kernbali tetap rnerupakan harta gono-gini dan
bukan harta gawan yang biasanya kernbali kepada keluarganya
rnasing-rnasing pihak oleh karena itu setelah Pak Karto rneninggal,
Mbok Karto sebagaijanda dan Sugeng sebagai anak angkat berhak
rnewarisi harta gono-gini.
14. Putusan Mahkarnah Agung No. Reg. : 263 K/Sip/1979
TanggalPutusan : 13 Nopernber 1978
Karena tanah sengketa merupakan harta bersarna suarni-isteri
Tergugat I-ll, untuk rnenjual tanah tersebut Tergugat I hams rnendapat
persetujuan dari isterinya.
15. [Link]. : 1476K/Sip/1982
Tanggal Putusan : 19 Juli 1983
Menurut Hukurn Adat, rneskipun seorang isteri nusyus (ingkar atau
lari dari suarni) tidaklah hilang haknya untuk mendapat bagiannya
dari barang gono-gini (harta seharekat) yang diperolehnya sernasa
perkawinan.
16. Putusan Mahkarnah Agung No. Reg. : 429 K/Pdt/1984
TanggalPutusan : 29 Juni 1985
Jual beli tanah yang merupakan harta bersarnaharus disetujui
pihak isteri atau suarni.
Harta bersarna berupa tanah yang dijual suami tanpa persetujuan
isteri adalah tidak sah dan batal derni hukum

52
Sertiftkat tanah yang dibuat atas dasar jual beli yang tidak sah
tidak mempunyai kekuatan hukum.
17. [Link]. : 443 K/Pdt/1984
Tanggal Putusan : 26 September 1985
Karena rumah yang digugat merupakan harta bersama (gono-gini),
isteri Tergugat harus juga digugat.
18. [Link]. : 440K/Pdt/1988
Tanggal Putusan : 12 September 1990
Dalam hal terbentuknya harta gono-gini yang terpisah dalam
perkawinan pertama dan kedua, anak-anak dari masing-masing
perkawinan bernak atas gono gini orang tuanya masing-masing (pasal
35, 36 dan 37 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perka-
winan).
19. Putusan Mahkamah Agung No. 1112 K/Pdt/1990 dalam perkara
kawin poligami mengatakan bahwa janda berhak atas harta perolehan
bersama secara terpisah berdiri sendiri antara suami dengan isteri-
isteri tersebut masing-masing memperoleh hak bersama-samadengan
anak-anaknya atas harta perolehan bersama antara suami. Harta
perolehan bersama antara suami dengan masing-masing isteri dibagi
2 (dua) bagian, Y2 jatuh kepada isteri sedangkan ~ lagi yang
merupakan bagian suami jatuh sebagai warisan yang diberikan kepada
janda-janda dan seluruh anak-anaknya.
20. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 1029 K/Pdt/1992
Tanggal Putusan : 29 Juli 1993
Pengadilan Tmggi telah salah menerapkan hukum bahwaoleh karena
telah terbukti harta sengketa adalah barang asa1 dari almarhum Daniel
Melianus Lokollo (ayah dari para suami Penggugat. Tergugat I dan
Tergugat myang belum dibagi waris, maka sesuai hukum adat dan
Undang-Undang Perkawinan, harta asal jatuh kepada garis keturunan
Lokollo, sedang Penggugatsebagaijandaalmaihum Wilhelm Abraham
Lokollo, yang tidak mempunyai anak tidak berhak atas harta asal
almarhum suaminya, tetapi berhak atas harta bersama dengan
almarhum suaminya, sehingga petitum kedua dari gugatan dapat
dikabulkan dan gugatan selebihnya harus ditolak dan Mahkamah
Agung mengadili sendiri.

53
~

21. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 1686 K/Pdt/1995


Tanggal Putusan : 29 Juli 1996
Menurut hukum adat Minangkabau yang bersifatMatrelineal, suami
tidak: berhak: atas harta bawaan isterinya, karena harta sengketa
terbukti sebagai harta bawaan almarhumah Musalmah Ahmad isteri
Penggugat, sehingga Penggugat tidak: berhak: atas harta bawaan
isterinya sehingga gugatan Penggugat harus ditolak:.

F. ANAKANGKAT
1. Putusan Mahkamah Agung No. 210 K/Sip/1973 memperlihatkan
bahwa keabsahan seorang anak: angkat tergantung kepada upacara
adat tanpa menilai secara objektif realita keberadaan anak: dalam
kehidupan keluarga orang tua angkat. Syarat keabsahan anak: angkat
yang demikian semak:in jelas terlihat dari Putusan Mahkamah Agung
No. 912 K/Sip/1975 yang menyatak:an tanpa upacara adat tidak:
sah pengangkatan anak: meskipun sejak: kecil dipelihara serta
dikawinkan orang yang bersangkutan.
2. [Link]. : 1131 K/Sip/1973
Tanggal Putusan : 9 Desember 1976
Seorang Sentana nyeburin yang menyalahi dan hanya sebagai
Sentana, dapat diberhentikan sebagai Sentana nyeburin.
3. [Link]. : 1461 K/Sip/1974
Tanggal Putusan : 1 Desember 1976
Menurut adat Bali pengangkatan anak: harus disertai upacara
"Pemerasan" tersendiri dan penyiaran di Banjar merupak:an sarat
mutlak.
4. [Link]. : 912K/Sipl1975
Tanggal Putusan : 31 Maret 1981
Kenyataan bahwa Ni Sandang sejak: kecil bertempat tinggal di rumah
Nang Pudak: serta dikawinkan oleh Nang Pudak: belumlah
membuktikan bahwa ia adalah anak: angkat; untuk pengangkatan
anak: perlu ada upacara pemerasan dan siaran di Banjar setempat.
5. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 849 K/Sip/1977
Tanggal Putusan : 3 Juli 1980

54
Dalam perkara ini terbukti ibu kandung Moestirah aim. bersamaan
melahirkan dengan Moestirah, tetapi kemudian bayi Moestirah
meninggal dan bayi ibu Moestirah (Tergugat 1) kemudian diserahkan
kepada Moestirah sebagai anak sehingga layak dan adil apabila
Tergugat dapat dianggap sebagai an8k angkat.
6. PutusanMahkamahAgungNo. Reg. : 1413 K/Pdt/1988
Tanggal Putusan : 18 Mei 1990
Apakah seseorang adalah anak angkat atau bukan, tidak semata-
mata tergantung padaformalitas-formalitas pengangkatan anak tetapi
dilihat dari kenyataan yang ada, yaitu bahwa ia sejak bayi dipelihara,
.dikhitankan dan dikawinkan oleh orang tua angkatnya
7. [Link]. : 53 K/Pdt/1995
Tanggal Putusan : 18 Maret 1996
Bahwa menurut hukum Adat di daerah Jawa Barat, seseorang
dianggap sebagai anak angkat bila telah memenuhi syarat-syarat
sebagai berikut:
diurus, dikhitankan, disekolahkan dan dikawinkan, di mana anak
angkat tersebut berasal dari keluarga ibu angkatnya, maka anak
angkat tersebut berhak mewarisi harta gono-gini orang tua angkatnya
8. PutusanMahkamahAgungNo. Reg. : 3113 K/Pdt/1999
Tanggal Putusan : 30 Agustus 2001

* Menurut adat Jawa di Cirebon, "Seorang anak asuh", yang


dipiara/diasuh sejak kecil sampai remaja dan ikut membantu
beketja dalam usaha restaurant "Warung Ayam Bahagia'' milik
orang yang memelihara anak tersebut, dan mereka tidak ada
niatan untuk mengambil anak asuh tersebut sebagai anak
angkatnya, maka menurut Hukum Waris Adat, anak asuh ini
bukan ahli waris dari orang yang memeliharanya, sehinggaia,
anak asuh tersebut, tidak berhak mewarisi baik "Harta Asal"
maupun Harta Gono-Gini (Harta Bersama) dari orang yang
memeliharanya

* Karena orang yang memelihara "anak asuh" tersebut tidak


mempunyai anakkandung atau anak angkat, makaAhli Warisnya
adalah saudara-saudaranya sedarah kesamping dari orang yang

55
memiliki Harta Asal dan Harta Gono-Gini tersebut setelah ia
meninggal dunia.

G HAKWARffiANAKANGKAT
I. Putusan [Link] Agung No. Reg. : 416 K/Sip/1968
Tanggal Putusan : 4 Januari 1969
Menurut Hukum Adat yang berlaku di Sumatra Tunur, anak angkat
tidak mempunyai hak untuk mewarisi harta peninggalan orang tua
angkat, ia hanya dapat memperoleh pemberian atau hadiah (hibah)
dari orang tua angkat selagi hidup.
2. Putusan [Link] Agung No. Reg. : 679 K/Sip/1968
Tanggal Putusan : 24 Desember 1969
Anak angkat pewaris berhak atas barang gawan yang diperoleh dari
usahanya pewaris sendiri dan tidak perlu dibagi dengan ahli waris ke
samping.
3. [Link]. : 102K/Sip/1972
Tanggal Putusan : 23 Juli 1973
Menurut Hukum Adat yang berlaku seseorang anak angkat berhak
mewarisi harta gono-gini orang tua angkatnya sedemikian rupa,
sehingga ia menutup hak waris para saudara orang tua angkatnya.
4. Putusan Mahkamah Agung No. 997 K/Sip/1972 yang menegaskan
bahwa anak angkat berhak atas harta gono gini dan juga berhak
atas harta bawaan dari orang tua angkatnya. Sikap ini dikuatkan
oleh Putusan No. 1002 K/Sip/1976 yang mengatakan janda dan
anak angkat berhak mewarisi harta gono gini sedangkan harta gawan
kembali ke asal.
5. Putusan [Link] Agung No. Reg. : 2866 K/Pdt/1987
TanggalPutusan : 27 Aprill989
Thjuan pengangkatan anak bukanlah untuk menerima kembali balas
jasa dari si anak angkat kepada orang tua angkatnya, akan tetapi
justru merupakan pelimpahan kasih sayang orang tua kepada anak.
Sehinggahubungan hukum pengangkatan anak yang telah disahkan
pengadilan tidak dapat dinyatakan tidak berkekuatan hukum hanya
dengan alasan bahwaanak angkat telah menelantarkan atau tidak
merawat dengan baik orang tua angkatnya.

56
Demikian pula dengan harta gono gini orang tua angkat yang sudah
direlakan dengan susunan dengan proseduryang sah menurut hukum
kepada anak angkatnya, tidak dapat begitu saja ditarik kembali oleh
.yang merelakannya (orang angkat).

H. PEMILIKAN ATAS TANAH


1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 988 K/Sip/1980
TanggaiPutusan : 13 Januari 1982
Penggugat, yang telah membuka tanah terperkara dari hutan Iebat
dan menanaminya dengan pohon-pohon kopi dan pohon-pohon
Iainnya, masih berhak atas tanah tersebut sekalipun tanahnya itu
kemudian selama dua tiga tahun terlantar.
2. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 1704 K/Sip/1981
Tanggal Putusan : 11 Maret 1982
Bahwadalam hukum adatdengan dibukanya tanah oleh masyarakat
hukum adat, kemudian mengusahakannya(yang oleh UUPAdisebut
hak pakai) dan dengan melalui proses pertumbuhan yang memakan ·
waktu, tenaga dan modal maka tanah tersebut dapat menjadi hak
milik orang yang bersangkutan.
3. PutusanMahkamahAgungNo. Reg. : 2917 K/Pdt/1981
.Tanggal Putusan : 27 Pebruari 1982
Bahwaseseorang yang menumpang tinggal pada tanah milik orang
lain, maka antara pemilik tanah dengan orang yang menumpang tidak
mempunyaihubunganhukwn.
4. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 3162 K/Sip/1981
Tanggal Putusan : 30 Agustus 1982
Bahwamenuruthukumadat suku Amanusan eli daerah TimorTengah
Selatan raja merupakan pemilik tunggal atas tanah sedangkan rakyat
hanya mempunyai hak menggarap tanah atas izin dari rajalkuasanya
oleh karenaitu barang siapa yang memintaizin dari rajanyalkuasanya
untuk membuka hutan yang be1urn pemah digarap, maka tanah
garapan tersebut dapat dinikmati secara turun-temurun.
5. [Link]. : 3412K/Pdt/1985
TanggaiPutusan : 30Januari 1988

57

Bahwa di dalam kepemilikan tanah, malca surat bukti kepemilikan
yang diberikan oleh Kepala Desa tidak merupakan atas bukti
kepemilikan tanah yang sah:
6. [Link]. : 3648 K/Pdt/1985
Tanggal Putusan : 19 Agustus 1987
Bahwa berdasarlcan hukum adat untuk menentukan kepemilikan tanah
diperlukan bukti tambahan yaitu makam orang pemulalorang yang
membuka tanah di atas tanah sengketa sebagai penentu dahulu
orang yang menguasai tanah tersebut
7. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 3663 K/Pdt/1985
Tanggal Putusan · : 15 Juli 1989
Bahwa berdasarkan adat yang hidup di daerah Manggarai (Rutengl
Kupang) pesta radang adalah merupakan legitimasi dari hak
seseorang atas sebidang tanah lingko yang masih melembaga.
8. [Link]. : 1564K/Pdt/1986
TanggalPutusan : 15 Oktober 1987
Menurut hukum Adat Blang Naleng Mameh, Lhokseumawe salah
satu cara untuk memperoleh hak milik atas tanah adalah harus ada
hubungan hukum antara orang yang bersangkutan dengan tanahnya
dalam arti setelah diperolehnya (baik dengan cara penebangan hutan
maupun pembagian tanah oleh keuchik/Kepala Desa) tanah tersebut
hams dikerjakannya, ditanami setidak-tidaknya diberi batas/pagar.
Apabila tanah tersebut tidak dikerjakan, ditanami atau setidak-
tidaknya dipagar/diberi batas, maka hubungan hukum antara orang
yang bersangkutan dengan tanahnya belum ada dengan demikian
menurut hukum adat tanah tersebut belum dimiliki oleh orang yang
bersangkutan.
9. [Link]. : K/Pdt/19
TanggalPutusan : 31 September 1988
Bahwamenuruthukum adat yang berlaku di BandaAceh penguasaan
atas sebidang tanah di mana dahulu telah dikuasai oleh leluhumyal
neneknya dan di atas tanah tersebut telah dikebumikan keluargal
saudaranya yang telah meninggal duniadan tidak ada orang lain yang
meninggal dikebumikan disitu maka terbukti bahwa tanah tersebut
adalah miliknya asal dan peninggalan leluhur/neneknya.

58
10. [Link]. : 234K/Pdt/1992
Tanggal Putusan : 20 Desember 1993
Bahwa buku letter C desa bukan merupakan bukti hak milik, tetapi
hanya merupakan kewajiban seseorang untuk membayar pajak
terhadap tanah yang dikuasainya.
11. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 1409 K/Pdt/1996
TanggalPutusan : 21 Oktober 1997
Bila seseorang secara terus-menerus menguasailmenggarap tanah
dan tidak pernah memindahtangankan hak usaha tanah tersebut
kepada pihaklain dengan menerima pembayaran uang mukaiaadalah
penggarap yang beritikad baik dan patutdiberikan haksebagai pemilik
atastanah.

I. HAK KOMUNAIJHAK ULAYAT


1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 968 K/Sip/1975
TanggalPutusan : 14September 1976
Yang berhak atas dusun dati adalah keturunan Patrilinial.
2. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 1675 K/Sip/1982
Tanggal Putusan : 30 Januari 1984
Bahwa penguasaan tanah hak ulayat di daerah Ende, apabila telah
diperkuat oleh saksi-saksi, surat-surat penegasan hak milik dari
Gubernur, surat-surat pernyataan memperkuat pendirian atas
penguasaan tanah ulayat Rimba Gega dimana ia telah menyeleng-
garakan upacara sendiri tanpa menunggu perintah dari Mesalaki
Sekeria adalah sah menuruthukum.
3. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 641 K/Pdt/1985
Tanggal Putusan : 11 Agustus 1986
Bahwa tanah persekutuan hukum (ulayat) tidak dapat diwarisi dan
dikuasai oleh orang perseorangan tetapi hanyadapat dikuasai/diwarisi
oleh masyarakat kampung tersebut.

J. HAK NUMPANG KARANG/HAK PENGABDIAN


1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 2166 K/Pdt/1987
Tanggal Putusan : 30 Maret 1989

59
Bahwahak pengabdian tanah merupakaD suatu beban yang menindih
pada pekarangan yang satu untuk kepentingan pekarangan yang lain
sedemikian rupa sehingga pemilik pekarangan tertindih harus
membiarkan pemilik pekarangan penindih untuk melintasinya,
mengalirkan air di atasnya pengabdian ini tidak berakhir dengan
berpindah tangan pemilik pekarangan yang bersangkutan.

K. ASAS PEMISAHANHORIZONTAL
1. Putusan Mahkarnah Agung No. Reg. : 2339 K/Sip/1982
Tanggal Putusan : 25 Mei 1983
Menurut UUPA pasal5 bagi tanah berlaku hukum adat, hal mana
berarti rumah dapat diperjual belikan terpisah dari tanah (pemisahan
horizontal).
2. Putusan Mahkarnah Agung No. Reg. : 2 K/Sip/1983
Tanggal Putusan : 8 Mei 1984
Menurut Hukum Adat pemilik tanah tidak selalu menjadi Pemilik
tanaman yang ada di atasnya.
3. [Link]. : 4388 K/Pdt/1986
Tanggal Putusan : 23 Juni 1988
Bahwa dalam suatu jual beli tanah dimana dalam surat jual beli
tersebut hanya tertera pohon beserta hasilnya, maka disimpulkan
bahwa yang dijual hanyalah pohon beserta hasilnya tanpa disertai
dengan tanahnya.

L PERALIHAN HAK
1. Putusan Mahkarnah Agung No. Reg. : 475 K/Sip/1970
TanggalPutusan : 3 Juni 1970
Jual beli menurut Hukum Adat sudah terjadi sejak perjanjian tersebut
diikuti dengan pencicilannya.
2. Putusan Mahkarnah Agung No. Reg. : 86 K/Sip/1972
TanggalPutusan : 30 Oktober1976
Dengan adanya uang panjar saja, belumlah ada jual beli mengenai
rumah sengketa.

60
3. PutusanMahkamahAgungNo. Reg. : 380 K/Sip/1975
Tanggal Putusan : 15 April197 6
1. Untuk sahnya perjanjianjual bell tanah eliperlukan syarat terang
dan penguatan dari para pejabat yang berwenang.
2. Menurut Yurisprudensi tetap MA jtimlah uang tersebut harus
dinilai dengan menggunakan harga emas pada akhir tahun 1965
(saat terjadinya jual bell) dan harga emas pada waktu sekarang
dengan membebankan resiko karena penilaian itu kepadakedua
belah pihak yang berperkara secara separuh-separuh (penilaian
Y2xRp.37.852.000/Rp.l2.000,-(hargaemaspadaakhirtahun
1965) x Rp. 1.800,- u.b. (harga emas sekarang) =
Rp.2.838.900,-.
4. [Link]. : 126K/Sip/1976
Tanggal Putusan : 4 April 1978
Untuk sahnya jual beli tanah, tidak mutlak harus dengan akte yang
elibuat oleh dan eli hadapan pejabat pembuat akte tanah, akte pejabat
ini hanyalah suatu alat bukti.
5. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 665 K/Sip/1979
Tanggal Putusan : 22 Juli 1980
Dengan telah terjadinya jual beli antara penjual dan pembeli yang
diketahui oleh kepala kampung yang bersangkutan dan dihadiri oleh
2 orang saksi, serta eliterimanya harga pemberian oleh penjual, maka
jual bell itu sudah sah menurut Hukum, sekalipun belurn dilaksanakan
eli hadapan PPAT.
6. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 68 K/Pdt/1983
Tanggal Putusan : 30 April 1984
Bahwa seorangjanda berhak penuh untuk bertindak terhadap harta
pribadi (bukan harta bersama) termasuk menjualnya tanpa
persetujuan ahli waris.
Bahwa untuk sahnya jual bell tanah tidak mutlak harus dengan akte
yang dibuat oleh dan di depan PPAT dengan perkataan lain sah
tidaknyajual bell atas tanah tidakhanya terikatpada pasa119 Peraturan
Pemerintah Nomor 10 Tahun 196 L

61
Bahwa dalam hukum adat tidak $Iantitgan jual beli antara mertua
dengan menantunya
7. [Link]. : 2992 K/Pdt/1984
TanggalPutusan : 8 Nopember 1985
Bahwa menurut hukum adat di daerah Aceh Utara penguasaan tanah
berdasarkan penyerahan oleh pemiliknya dalam suasana damai
disaksikan oleh Keuchik (Kepala Kampung), Kepala Mukmin,
Asisten Wedana adalah sah menurut hukum.
8. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 269 K/Pdt/1985
TanggalPutusan : 24Maret1986
Bahwa jual beli tanah yang dilakukan di hadapan pejabat yang
berwenang dan pada saksi-saksi maka menimbulkan anggapan
perbuatan tesebut bersifat terang dan jual beli tersebut beritikad baik.
9. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 492 K/Pdt/1985
TanggalPutusan : 31 Januari 1989
Bahwa secara adat kebiasaan yang berlaku untuk adanya suatu
perbuatan jual beli yang sah diharuskan adanya dua hal yakni terang
dantunai.
10. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 3526 K/Pdt/1985
Tanggal Putusan : 30 Pebruari 1987
Bahwa jual beli tanah yang dilaksanakan di depan Kepala Desa dan
Pemuka-pemukaAdatadalahsahmenuruthukumdandapatdijadikan
bukti kepemilikan tanah.
11. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 3904 K/Pdt/1985
TanggalPutusan : 30Januari 1988
Hak langeh (prioritas) untuk membeli tanah oleh orang-orang
yang menguasai tanah tersebut adalah tidak mutlak.
Bahwa dengan tidak dikemukakannya kembali keberatan
terhadap penjualan tanah oleh orang yang menguasai tanah
tersebut, maka secara diam-diam telah menyetujui penjualan
tanah tersebut dan sebagai konsekuensinya gugurlah hak langeh
tersebut.
12. [Link]. : 2691 K/Pdt/1996
Tanggal Putusan : 18 September 1998

62
"Perjanjian lisan, baru merupakan perjanjian pennulaan yang akan
ditindaklanjuti dan belum dibuat di depan Notaris, belurn mempunyai
kekuatan mengikat bagi para pihak yang membuatnya, sehingga tidak
mempunyai akibat hukum".
''Tindakan terhadap harta bersama oleh suami atau isteri hams
mendapat persetujuan suami isteri".
"Perjanjian lisan menjual tanah harta bersama ysng dilakukan suami
dan belum disetujui isteri maka perjanjian tersebut tidak sah menurut
hukum''.

M. IDBAH
1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 391 K/Sip/1969
TanggalPutusan : 25 Oktober 1969
Penghibahan yang dilakukan oleh almarhum kepada ahliwaris-
ahliwarisnya dengan merugikan ahliwaris lainnya (karena dengan
penghibahan itu ahliwaris lainnya tidak mendapat bagian) dinyatakan
tidak sah dan hams dibatalkan, karena bertentangan dengan
perikeadilan dan hukum adat yang berlaku di daerah-daerah
Priangan.
2. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 123 K/Sip/1970
Tanggal Putusan : 19 September 1970
1. Hukum Adat di Bali : ffibah antara suami isteri.
Hukum Adat di Bali tidak melarang adanya Penghibahan antara
suami isteri sepanjang hal ini tidak mengenal harta pusaka
(Keputusan PN, PT dan MA).
2. Undang-Undang Pokok Agraria.
1) Alasan Penggugat untuk kasasi bahwa karena be1um ada
penyerahan maka penghibahan itu belurn terjadi tidak dapat
dibenarkan oleh karenadalam Hukum Adat tindakan yang
menyebabkan pemindahan hak bersifat contant, sedangkan
pendaftaran No.5 tahun 1960 dan peraturan pelaksana-
annya bersifat administratip belaka.
2) Alasan Peng~gat untuk kasasi bahwa penyerahan tanah
-.sebut tidak dibuat di muka pejabat agraria juga tidak

63
J
dapat dibenarkan, karena pasal 19 Peraturan Pemerintah
No. 10 tahun 1961 berlaku khusus bagi pendaftaran
pemindahan hak pada kadaster sedangkan Hakim dalam
menilai sah atau tidak sahnya suatu perbuatan materiil yang
merupakan jual beli tidak hanya terikat pada pasal 19
tersebut
3. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 528 K/Sip/1972
TanggaiPutusan : 17 Januari 1972
Di Tapanuli Selatan terdapat "Lembaga Holong Ate" yaitu pemberian
sebagian dari harta warisan menurut rasa keadilan keadaan anak
perempuan apabila seorang meninggal dunia tanpa keturunan anak
lelaki.
4. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 400 K/Sip/1975
TanggalPutusan : 27 Oktober 1976
Barang gono-gini harus jatuh kepada anak kandung bukan kepada
anak gawan o.k.i, hibah tanpa sepengetahuan yang berkepentingan
patut dibatalkan.
5. PutusanMahkamahAgungNo. Reg. : 1380 K/Sip/1975
Tanggal Putusan : 9 Agustus 1979
Barang yang dihibahkan oleh suami kep3da isteri, selama tetap ada
dalam lingkungan keluarga tetap merupakan ~arta keluarga yang
dapat dimanfaatkan untuk kepentingan bersama
6. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 562 K/Sip/1979
Tanggal Putusan : 19 Mei 1981
Hibah dari suami kepada isteri mengenai barang asal tidak dapat
disahkan karena ahli waris suami tersebut menjadi kehilangan hak
warisnya
7. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 4 K/Sip/1983
Tanggal Putusan : 5 Juli 1983
Berdasarkan Hukum Adat Jawa Tengah, pemberian kepada anak
(ahli waris) tidak boleh merugikan ahli waris lainnya dan karenanya
segala pemberian harus diperhitungkan pada waktu pembagian
warisan.

64
8. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 3704 K/Pdt/1991
Tanggal Putusan : 25 Juni 1996
Bahwa hibah wasiat berlaku setelah orang yang menghibahkan
meninggal dunia, dan Hibah wasiatdapatdicabut kembali semasih
hidup orang yang menghibah wasiatkan.
Barang yang dihibahkan masih menjadi milik penghibah selama
ia masih hidup.

N. GADAITANAH
1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 420 K/Sip/1968
TanggalPutusan : 15 Januari 1969
Gadai tidak tunduk pada kadaluarsa.
2. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 810K/Sip/1970
Tanggal Putusan : 6 Maret 1971
Ketentuan pasal 7 ayat 1 Perpu 56/1960 yang menentukan ''bahwa
gadai tanah pertanian yang telah berlangsung 7 tahun atau lebih harus
dikembalikan kepada pemiliknya tanpa pembayaran uang tebusan"
adalah bersifat memaksa dan tidak dapat dilunakkan hanya karena
telah dipetjanjikan antara kedua pihak yang bersangkutan.
3. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 903 K/Sip/1972
TanggalPutusan : 10 Oktober 1974
1. Bahwa istilah hak gadai yang dimuat dalam PP No.56 Tahun
1960 pasa17 adalah sama halnya denganjual bell SENDE tanah,
oleh karenanya tanah tersebut dikembalikan tanpa uang tebusan.
2. Alasan Pfyang hanyamempertimbangkan. bahwa Tergugatasal
tidak dapat membuktikan gugatannya, untuk dipakai sebagai
dasar pembatalan putusan PN yang telah mempertimbangkan
alat-alat bukti dan kedua belah pihak adalah tidak cukup.
4. [Link]. : 95K/Sip/1974
Tanggal Putusan : 21Desember1976
Karena tuntutan Penggugat adalah pengembalian sawah perkara
*
dengan tebusan sebanyak ekor kerbau, putusan Yudex Factie
menghukum Tergugat untuk menyerahkan sawah perkara kepada
Penggugat adalah tidak sesuai dengan tuntutan meskipun pasal 7

65

ayat 1 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.56
Tahun 1960 tidak mengharuskan penebusan dalam hal penggadaian
tanah lebih dari 7 tahun, maka perlu diperbaiki sesuai dengan
kesanggupan Penggugat untuk memberikan tebusan ¥J ekor kerbau
itu.
5. [Link]. : 101 K/Sip/1974
Tanggal Putusan : 23 Maret 1976
Pertimbangan PT yang dibenarkan MA persetujuan pegang gadai
antara Penggugat dengan Tergugat, di mana diperjanjikan bahwa
Tergugat akan menguasai tanah sengketa selama 75 tahun dan
kepadanyadiizinkan untuk mendirikan rumah dengan secukupnya di
atas tanah itu tidaklah termasuk dalam cakupan pasal 7 Undang-
Undang No. 56 Tahun 1960. Gugatan Penggugat hams dinyatakan
tidak bisa diterima karen a belum sampai inasanya
6. .Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 569 K/Sip/1983
TanggalPutusan : 13 Juni 1984
Ketentuan bahwa apabila dalamjangka waktu 5 bulan uang gadai
tidak dikembalikan maka rumah itu menjadi milik mutlak Tergugat L
adalah bertentangan dengan hukum dan harus dianggap tidak
mengikat.

0. LEMmAGAKADALUARSA
1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 916 K/Sip/1973
Tanggal Putusan : 19 Desember 1973 .
DalamHukum Adatdengan lewatnya waktu sajahakmilik oleh tanah
tidak dihapus.
2. [Link]. : 51 K/Sip/1975
Tanggal Putusan : 6 September 1976
Lamanya menguasai tanah tidak mengakibatkan hilangnya hak milik
ataupun hak menggarap dari pada orang lain.
3. PutusanMahkamahAgungNo. Reg. : 157 K/Sip/1975
·TanggalPutusan : 18 September 1976
Hak Penggugatuntuk menggugattanahnya yang sudah lamadikuasai
oleh Tergugat tidak terkena daluwarsa

66
4 .. [Link]. : 1194K/Sip/1975
Tanggal Putusan : 14 Pebruari 1980
Hak atas warisan tidak hilang akibat lampau waktu saja.
5. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 3114 K/Pdt/1991
Tanggal Putusan : 28 Nopember 1992
Kesimpulan Pengadilan Tmggi yangmenyatakangugat baru diajukan
setelah 33 tahun dan dijadikan dasar alasan bahwa Penggugat tidak
berhak atas tanah terperkara, pendapat dan kesimpulan tersebut tidak
tepat.
Pertama: menggugat sesuatu menurut hukum adalah hak, dan hak
itu bisa dipergunakan kapan dikehendaki.
Kedua: apa yang mereka gugat adalah hak warisan, dan mengenai
hak menggugat harta warisan menurut hukum adat, tidak mengenal
batas jangka waktu serta tidak mengenal daluarsa.

P. PENYELFSAIAN SENGKETA
1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 436 K/Sip/1970
· Tanggal Putusan : 30 Juni 1971
1. Keputusan Adat Perdamaian Desa tidak mengikat Hakim
Pengadilan Negeri dan hanya merupakan suatu pedoman,
sehingga kalau ada alasan hukum yang kuat, Hakim PN dapat
menyimpang dari Keputusan tersebut.
2. Dalamhalinialasanhukumyangk:uatialahfaktabahwakemudian
temyata Penggugat bukan ahli waris dari Lai Buatua.
2. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 1038 K/Sip/1972
Tanggal Putusan : 1 Agustus 1972
1. Terhadap keputusan perdamaian tidak mungkin diadakan
permohonan banding.
2. Bila putusan PN telah mempunyai kekuatan pasti, maka terhadap
perkara itu tidak mungkin diadakan keputusan perdamaian lagi,
oleh karena nama keputusan itu harus dinyatakan tidak
mempunyai kekuatan eksekutorial.
3. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 745 K/Sip/1973
Tanggal Putusan : 13 September 1972

67
Terhadap putusan "Pengadilan RendMt" Muara Batu tanggal18
Desember 1947 (Pengadilan Adat yang belum dihapus menurut
ketentuandalam Undang-Undang DaruratNo.l Tahun 1951) menurut
pendapat MA, dapat dimintakan banding pada PN dengan
menyimpang dari ketentuan tenggang waktu untuk meminta banding
terhadap putusan perkara-perkara perdata biasa yang diputuskan
olehPN.
4. [Link]. : 1381 K/Sip/1974
TanggalPutusan : 30 Maret 1978
Keputusan Pengadilan Negeri tidak terikat oleh keputusan Hakim
perdamaian.
5. [Link]. : 1377K/Sip/1978
Tanggal Putusan : 30 April1981
PN tidak terikat pada putusan Adat Desa dan Parenge (Kepala
Distrik).

Q. HUKUMADATSEBAGAIKAIDAHHUKUM
1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 172 K/Sip/1974
TanggalPutusan : 13 Pebruari 1975
Berdasarkan keterangan saksi-saksi yang didengar tentang hukurn/
kebiasaan yang berlaku, maka apabila seorang pewaris meninggal
dunia di kampung Hinako, Kabupaten Nias, untuk menentukan
cara pembagian harta warisannya, hukum warisan yang dipakai adalah
bertitik tolakkepadaagama yang dianut si pewaris yang meninggalkan
harta warisan tersebut, yakni apabila si pewaris yang meninggal
beragama Islam, maka pembagian hartanya dilakukan menurut
Hukum Islam dan apabila si pewaris yang meninggal beragama
Kristen, maka pembagian hartanyadilakukan menurut HukumAdat.
2. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 313 K/Sip/1976
Tanggal Putusan : 2 Nopember 1976
Dalam hal warisan hukum yang hidup di Ambon adalah hukum Adat
dan bukan hukum Islam.
3. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 1685 K/Sip/1978
Tanggal Putusan : 28 Pebruari 1981

68
Petjanjian sewa-menyewa tersebut ada dalam suasana [Link] adat,
di mana pihak-pihak adalah orang Indonesia asli dan tanah sengketa
ada di Ujung Berung, dasar pemikiran KUHPerdata (BW) harus
dihilangkan menurut Hukum Adat dalam hal ini lebih dititik beratkan
pada kepatutanlkepantasan.

R. HUKUMADATLOKAL
1. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 358 K/Sip/1971
TanggalPutusan : 14Juli 1971

HUKUM ADAT DI BALI


. Hukum Waris.
Seorang janda yang melakukan mediang raga hanya berhak
membawa harta guna kaya atau harta pencahariannya sendiri.
2. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 792 K/Sip/1973
Tanggal Putusan : 22 April1976
Pf/PN telah dengan tepat mempertimbangkan bahwa karena
perkawinan antara Tergugati dengan mendiang Ompu Situmindang
Sitorus pada bulan Pebruari 1958 adalah sah; sedangkan perkawinan
antara Tergugat I dengan Tergugat IT tidak dapat dibenarkan karena
tidak disetujui oleh pihak parbaru tubu dan juga Tergugat-Tergugat
tidak ada menyelesaikan pemutusan pertalian dengan mendiang
Ompu Situmindang Sitorus, maka dengan demikian anak laki-laki
yang dilahirkan oleh Tergugat I termaksud adalah sah keturunan
Ompu Situmindang Sitorus.
3. [Link]. : 588K/Sip/1974
Tanggal Putusan : 18 Nopember 1976
Seorangjanda yang melakukan perhubungan di luar kawin dengan
laki-laki lain hingga melahirkan anak dan keluarga "Kepurusa'' dekat
·mengajukan keberatari atas perbuatan itu, makajanda tersebut telah
menyalahi dannanya sebagai janda dan tidak berhak menguasai harta
peninggalan mendiang suaminya
4. [Link]. : 869K/Sip/1974
Tanggal Putusan : 17 Nopember 1977

69
Ahli waris bertali darah tidak mewariskan Soko (gelar), sedang yang
berhak menerima harta pusaka tinggi adalah ahli waris yang berhak
memakai gelar Soko tersebut.
5. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 2034 K/Sip/1980
Tanggal Putusan : 1 April 1982
Pertimbangan PT tidak bertentangan dengan hukum: kemenakan
bertali adat tidak bisa menerima gelar selagi masih ada kemenakan
bertali darah.
6. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 284 K/Sip/1982
Tanggal Putusan : 14 April1983
Hukum Adat Bali membenarkan penyerahan diri dengan harta
miliknya; penyerahan diri Terlawan I kepada Terlawan ll telah
diumumkan di Banjar dan telah dilakukan menurut adat setempat,
maka adalah sah.
7. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 2421 K/Sip/1982
Tanggal Putusan : 29 Pebruari 1984
Bahwa menurut hukum adat di daerah Sikka seorang perempuan
yang menikah dengan laki-laki yang berasal dari luar lingkungan
(kaumnya}, maka tidak berhak lagi mewaris. Oleh karena itu anak
dan perempuan tadi hanya memiliki hak waris yang berasal dari
suaminya
8. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 2620 K/Pdt/1984
Tanggal Putusan : 31 Maret 1986
Bahwa menurut hukum adat di daerah Aceh seseorang yang telah
melakukan perbuatan zinadiwajibkan membayardenda berupa uang
yang besamyaditetapkan oleh penguasa adat, namum denda tersebut
dapat diganti dengan barang atau benda senilai uang yang ditetapkan
oleh penguasa tersebut.
Bahwa penguasaan tanah untuk pengganti dendadalam melakukan
perbuatan zina apabila tanah tersebut telah menghasilkan senilai uang
denda yang ditetapkan penguasa, maka penguasaan tanah tersebut
telah berakhir dan tanah diserahkan kembali kepada pemiliknya.
9. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 645 K/Pdt/1986
Tanggal Putusan : 29 Agustus 1987

70
Bahwa dalam hukum adat yang berlaku di Kab. Aceh Selatan atas
sebidang tanah kebun yang diperjanjikan dengan mawah maka
kepada kedua belah pihak tanah tersebut dibagi dua satu bagian
. untuk pihak I satu bagian untuk pihak ke IT termasuk tanaman di
atasnya
10. [Link]. : 778 K/Pdt/1996
TanggalPutusan : 31 Juli 1996
Bahwa dalam suatu kepemilikan tanah secara adat di daerah Batang,
orang tua dapat mengatas namakan tanah pada anak lelaki tertuanya,
di manakepemilikan tersebut harus dibuktikan dengan adanya surat-
surat bukti dan keterangan saksi.

S. PERBUATANMELAWANHUKUMADAT
1. [Link]. : 772 K/Pdt/1992
Tanggal Putusan : 17 Juni 1992
Di daerah Kafamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa
Tenggara Tunur, ada seorang pemuda berpacaran dengan seorang
gadis. Dengan rayuan danjanji akan dikawini dan dijadikan isterinya,
maka pemuda tersebut dengan tipu dayanya tersebut menggauli dan
menyetubuhi si gadis berulang kali seperti suami isteri, sehingga si
gadis menjadi hamil dan melahirkan seorang bayi. Namun pada saat
si gadis mintasi pemuda tersebutuntukmengawininyamaka pemuda
telah menolaknya dengan bermacam alasan.
Perbuatan pemuda ini merupakan perbuatan melawan hukum ad at
Pihak pelaku dan orang tua pelaku bersama-sama wajib membayar
sanksi adat kepada gadis dan keluarganya
• Kasus ini dapat diajukan secara Hukum Pidana dengan
mendasarkan padaketentuan Pasal5 ayat 3 (b) Undang-Undang
No.l/Darurat/1951.
• Hakim dalam mempertimbangkan dan memberikan putusan
dalam perkara gugatan perdata, ia wajib berpegang pada dalil
gugatan (Fundamentum petendi) yang diajukan oleh Penggugat.
2. PutusanMahkamahAgungNo. Reg. : 389 K/Pdt/1989
Tanggal Putusan : 19 Nopember 1992

71
Sanksi adat atas perbuatan pria yang telah merenggut perawan si
gadis sebe!um pemikahan tiba, dan kemudian meninggalkan si gadis
tanpa alasan, maka akan dikenakan "sanksi adat" yang bersif~
pemulihan keseimbangan, yang merupakan rehabilitasi nama baik si
wanita (Pualen-Manlen).
Sedangkan ''Tatam fani benas", pihak pelaku kejahatan (pria) wajib
menyerahkan ganti rugi kepada orang tua si gadis, hal itu tidak dapat
dipertukarkan dengan tuntutan adat pualen-manlen.
Catt.: Penyelesaian kasus pelanggaranhukumadat, di sampingmelalui
gugatan perdata seperti tersebut di atas, dapat pula ditempuh
melalui tuntutan pidana ex. Pasal5 ayat 3 (b) dan Undang-
Undang No.l/Darurat/1951.
3. Putusan Mahkamah Agung No. Reg. : 3323 K/Pdt/2000
Tanggal Putusan : 20 Nopember 2002
• Harta Peninggalan yang merupakan "Harta Pusaka Tinggi" pada
masyarakat Minangkabau, yang oleh anak kemenakan, kemudian
diubah menjadi hak milik pribadi (dengan mensertiflkatkan tanah
tersebut padaBPN) atas nama pribadi, kemudian membangun rumah
di atas tanah tersebut dan selanjutnya menjuallepas kepada pihak
lain. Semua tindakan tersebut dilakukan Tergugat tanpa seizin dari
Penggugat selaku "Mamak Kepala Waris" dari kaum yang berhak
atas Harta Pus aka Tinggi tersebut.
Perbuatan Tergugat tersebut, merupakan "Perbuatan Melawan
Hukum" danjual beli tanah "Harta Pusaka Tinggi" tersebut tidak
mempunyai kekuatan hukum dan batal.
• "Harta Pusaka Tinggi" adalah hak dan milik kaum "Pusako Indak
bulieh pindah".

IV. KESIMPULAN
Dari putusan Mahkamah Agung yang telah diklasiflkasikan seba-
gaimanadiuraikan dalam sub bab III (Hukum AdatDalam Yurisprudensi),
diperoleh gambaran bahwaMahkamah Agun!ifYurisprudensi mempunyai
sikap dan pendapat yang berhubungan dengan penyelesaian kasus hukum
~dat/hukum yang hidup adalah sebagai berikut:

72
1. Hukum Adat mendapat pergeseran dari hukum ad<:..t yang huna
kepada hukum adat/hukum yang hidup, di mana ketentuan hukum
adat yang lama menciut dalam putusan:
1) Tentang Hak Waris Anak Laki-Laki sama dengan Hak Waris
Anak Perempuan.
2) Kedudukan Janda adalah sebagai ahli waris (3 klasifikasi
putusan).
3) Ketentuan Pasa17 ayat 1 Perpu No.56 Tahun 1960, merupakan
hukum memaksa menyampingkan ketentuan gadai tanah
pertanian menurut hukum adat.
4) ........... .
Sikap Mahkamah Agung dalam menciutnya hukum adat
didasarkan pada pertimbangan:
Berkembangnya HAM (asaslhakekat persamaan hak antara
laki-laki dan perempuan). ·
Hukum dan rasa Keadilan yang hidup di masyarakat.
AdanyaHukum Tertulis (UU), yang sifatnyahukum memaksa
Pengaruh modernisasi, pendidikan, urbanisasi dan transmigrasi
(asumsi).
2. HukumAdatMengembang,
Hukum adat dipakai sebagai kaidah hukum dalam putusan:
1. Kadaluarsa.
2. Asas Pemisahan Horizontal.
3. Anak Angkat dan Hak Waris Anak Angkat.
4. Peralihan Hak atas Tanah yang didasarlcan pada perbuatan terang
dantunai.
5. Hak Numpang Karang.
Mengembangnyahukum adat:
Asas-asas Hukum Adat dipakai dan diadopsi sebagai ketentuan
dalam UU (misalnya UUPA tentang asas pemisahan horizon-
tal) dan diperkuat oleh yurisprudensL
Belum adanya UU Nasional tentang Substansi, namun asas-asas
hukum adat dipakai sebagai dasar pertimbangan hukum (yuris-
prudensi).
Hukum Adat, merupakan landasan tatahukum nasional.

73
3. HukumAdatLokal,
Dalam kasus-kasus tertentu, masih dipakai hukum adat lokal, dalam
putusan:
perbuatan melawan hukum.
penyelesaian sengketa.
hakulayat.

V. SARAN
Mahkamah Agung sebagai Pengadilan Kasasi yang bertugas membina
keseragaman dalam penerapan hukum dan menjaga agar semuahukum
dan undang-undang di seluruh wilayah Negara diterapkan secara adil
dan menyeluruh maka perlu penelitian yang lebih luas dan mendalam
tentang, Inventarisasi, [Link] serta Generalisasi Kaidah Hukum Adat
dalam Yurisprudensi Mahkamah Agung RI, agar gambaran putusan
putusan Mahkamah Agung yang berkaitan dengan Hukum Adat lebih
komprehensip. Putusan-putusan mana dapat dijadikan rujukan oleh para
hakim eli semua tingkatan peradilan dalam menyelesaikan kasus-kasus
sengketahukum adatlhukum yang hidup di masyarakat.

74
DAFTAR PUSTAKA
Roscoe Pound, 1950, An Introduction to the Philosophy of Law in New
Haven Yale University Press 1950 hal 57.
Sri Soedewi Masychun Sofwan, 1978, Hubungan Hukum Adat dan Hukum
Perdata, Laporan Penataran (Upgrading) Pengajar Hukum Adat
Fakultas Hukum se Indonesia, diselenggarakan oleh Fakultas Hukum
UGM, bagian Pertama dan Kedua Proyek Pelita PPPT UGM
Yogyakarta 1977-1978.
Soebekti, 1978, Bahan Penataran padaPenataran Dosen-Dosen Hukum Adat
Universitas Negeri se-Indonesia- UGM Yogyakarta 1977-1978.
Yahya Harahap, 1993, Kedudukan Janda, Duda dan Anak Angkat dalam
Hukum Adat PT Citra AdityaBakti Bandung.
Himpunan [Link] Putusan Perkara Dalam Buku Yurisprudensi
Mahkamah Agung RI Tahun 1969-2001.
Laporan Hasil Penelitian Hukum AdatTentang Kedudukan-Kedudukan Janda,
Duda dan Anak Angkat sebagai Ahli Waris kerja sama antara Uni-
versitas DarmaAgung Medan dengan Mahkamah Agung RITahun
1996.
Laporan Hasil Penelitian Hukum AdatBidang Pertanahan Kerja sama Uni-
versitas Danna Agung Medan denganMahkamah Agung RITahun
1997.
Varia Peradilan.

75

Anda mungkin juga menyukai