Jual Beli Tanah Yang Dilakukan Tanpa Akta Jual Beli Pejabat Pembuat Akta Tanah (Ppat)
Jual Beli Tanah Yang Dilakukan Tanpa Akta Jual Beli Pejabat Pembuat Akta Tanah (Ppat)
Tesis
Disusun
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Derajat S-2
Program Studi Magister Kenotariatan
Oleh
SUMARYONO
B4B 007 200
PEMBIMBING :
H. Mulyadi, [Link].
Bambang Eko Turisno, [Link]
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2009
© SUMARYONO 2009
i
JUAL BELI TANAH YANG DILAKUKAN TANPA
AKTA JUAL BELI PEJABAT PEMBUAT AKTA
TANAH (PPAT)
(Analisis Kasus Perkara Nomor 220/Pdt.G/2006/[Link])
Oleh
SUMARYONO
B4B 007 200
Dipertahankan di hadapan Tim Penguji
Pada tanggal 2 Juni 2009
Pembimbing I Pembimbing II
Mengetahui,
Ketua Program Studi Magister Kenotariatan
Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Nama : SUMARYONO, dengan ini
1. Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri dan di dalam tesis ini tidak
karya orang lain dalam tesis ini dilakukan dengan menyebutkan sumbernya
Yang menerangkan,
SUMARYONO
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, bahwa berkat
rahmat dan hidayah- Nya penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul “JUAL
BELI TANAH YANG DILAKUKAN TANPA AKTA JUAL BELI PEJABAT
PEMBUAT AKTA TANAH (PPAT), (Analisa Kasus Perkara Nomor
220/Pdt.G/2006/[Link]).
Penyusunan tesis ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk
menyelesaikan pendidikan pada Program Pascasarjanan Magister Kenotariatan
pada Universitas Diponegoro, Semarang.
iv
5. Bapak Dr. SUTEKI, SH., [Link]. selaku Sekretaris Bidang Administrasi Dan
Keuangan Program Studi Magister Kenotariatan Program Pascasarjana
Universitas Diponegoro Semarang;
6. Bapak H. MULYADI, SH, MS, dan Bapak BAMBANG EKO TURISNO, SH,
[Link], selaku dosen pembimbing, yang dengan sabar dan tanpa jenuh beliau
senantiasa meluangkan waktu untuk memberikan kesempatan, tenaga dan
pikiran maupun dorongan moril yang begitu besar artinya sehingga penulis
dapat menyelesaikan Tesis ini.
7. Anggota Tim Review Proposal dan Tim Penguji Tesis yang meluangkan waktu
untuk menilai kelayakan proposal dan menguji tesis dalam rangka
menyelesaikan studi di Magister Kenotariatan Universitas Diponegoro;
8. Ibu Dra. SUHARMINI, SH. Selaku Panitera Muda Hukum, Pengadilan Negeri
Kota Bekasi;
9. Ibu Dra. PURWATI, MM, selaku Kepala Subbag Tata Usaha Kantor
Pertanahan Kota Bekasi;
10. Orang tuaku dan kakak-kakakku, serta keluarga besar Haji Solechudin atas
segala bantuan dan doa’nya;
11. Isteriku Idawati dan anakku Panji, Yoga dan Rafly tercinta atas kasih
sayangnya yang tulus dan dukungannya.
v
15. Semua pihak dan rekan –rekan mahasiswa yang tidak dapat penulis sebutkan
satu persatu yang turut memberikan sumbangsihnya baik moril maupun
materiil dalam menyelesaikan tesis ini.
Akhirnya semoga penulisan tesis ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri,
civitas akademika maupun para pembaca yang memerlukan sebagai bahan
literatur.
Semarang, 2 Juni 2009
Penulis
vi
ABSTRAK
Menurut ketentuan yang berlaku jual beli hak atas tanah haruslah dilakukan
dihadapan PPAT akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari ternyata masih banyak
terjadi peralihan hak atas tanah yang dilakukan dibawah tangan dalam arti tidak
dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku, hal yang demikian tentulah akan sangat
merugikan pihak pembeli, karena dia hanya dapat menguasai hak atas tanah
secara fisik saja secara hukum kepemilikan atas tanah tersebut adalah tetap pada
penjual. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis normatif, yaitu
dengan mengkaji peraturan perundang-undangan, teori-teori hukum dan
yurisprudensi yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas. Data yang
dipergunakan adalah data sekunder, yaitu :data yang mendukung keterangan atau
menunjang kelngkapan Data Primer yang diperoleh dari perpustakaan dan koleksi
pustaka pribadi penulis yang dilakukan dengan cara studi pustaka atau literatur.
Analisa data yang digunakan analisis normatif, yaitu data yang terkumpul
dituangkan dalam bentuk uraian logis dan sistematis, selanjutnya dianalisis untuk
memperoleh kejelasan penyelesaian masalah, kemudian ditarik kesimpulan
secara deduktif, yaitu dari hal yang bersifat umum menuju ke hal yang bersifat
khusus. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui status jual beli tanah
yang dilakukan tanpa akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Khususnya
Dalam Perkara Nomor: 220/Pdt.G/2006/ [Link] dan Untuk mengetahui
penyelesaian yang dapat dilakukan oleh pembeli agar jual beli tanah yang
dilakukan tanpa akta PPAT dapat mempunyai kekuatan hukum yang pasti serta
upaya-upaya yang dapat dilakukan agar jual beli yang dilakukan tanpa akta jual
beli PPAT dapat didaftarkan dan mempunyai kekuatan hukum yang pasti,
khususnya jika penjual sudah tidak diketahui lagi tempat tinggalnya. Hasil kajian
ini menunjukan bahwa jual beli tanah yang dilakukan tanpa akta jual beli PPAT
adalah sah menurut hukum sepanjang syarat materiil terpenuhi. Upaya yang
dapat dilakukan agar jual beli tanah yang dilakukan tanpa akta jual beli PPAT
adalah dengan mengajukan gugatan kepada ketua pengadilan Negeri setempat
yang berwenang. Pengadilan memutuskan bahwa jual beli hak atas tanah tersebut
adalah sah dan berdasarkan keputusan tersebut memberikan kuasa kepada
pembeli selaku penggugat untuk bertindak mewakili penjual dan sekaligus
bertindak atas namanya sendiri selaku pembeli, sehingga jual beli hak atas tanah
tersebut dapat dibuktikan dengan akta jual beli PPAT untuk segera didaftarkan
pada kantor Pertanahan setempat.
vii
ABSTRACT
According to the prevailing stipulation the selling and buying on land must
be conducted before PPAT- However, in practice, the transfer of rights
on lands is frequently underhanded and violates the prevailing
stipulations. It is harmful to buyers because they only own the rights oil
lands physically. Legally, the ownership of lands still belongs to sellers.
The research methodology is juridical normative that reviews the regulation,
law theory, and jurisprudence related to the discussed problem. The data
used upon the research are secondary ones supporting the primary ones, which
is taken from literature. The data analysis used upon the research is
nonnative analysis, in which the collected data is written upon the logical
and sistematic writing, which is analyzed to secure the problem completion
certainty, then is concluded deductively that is from general to specific conclusion.
The aim of this research is to recognize the status of selling and buying
conducted without the selling and buying deed from the Officials of Land
Certificate Maker (PPAT), particularly in the case number 220/Pdt.G/2006/
[Link]. In addition, it is also to recognize the settlement can be performed
by buyers in order that the selling and buying conducted without the selling
and buying deed from the Officials of Land Certificate Maker (PPAT) has
the legal assurance and the efforts can be conducted in order that the
selling and ()living without the selling and buying deed from the Officials of
Land Certificate Maker (PPAT) can be registered to have the legal
assurance, particularly if the domicile of sellers is unknown. This study results
show that the selling and buying on lands without the selling and buying
deed from the Officials of Land Certificate Maker (PPAT) is legal as long
as it meets the material requirements. The efforts conducted in order that
the selling and buying on the sort of lands is by proposing claims to the local
court. The court decides that the selling and buying on the land is legal and oil
the basis of the decision, it gives power to buyers as the litigant to act as the
representative of sellers and at once to act oil behalf of their own names as
buyers so that the selling and buying oil the land can be proven by the selling
and buying deed of PPAT to register immediately to the local Land Office.
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN............................................................................... ii
ABSTRACT....................................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................. 1
E. Kerangka Pemikiran......................................................................... 8
2. Spesifikasi Penelitian................................................................... 13
x
2. Fungsi Alat Bukti dalam Perjanjian Jual Beli .............................. 49
1. Bukti Tulisan....................................................................... 49
2. Bukti Persangkaan-Persangkaan....................................... 50
4. Bukti Sumpah..................................................................... 51
3. Fungsi Akta Jual Beli yang Dibuat Oleh Pejabat Pembuat Akta
BAB IV PENUTUP
A. Simpulan........................................................................................ 100
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tanah sangat erat sekali hubunganya dengan kehidupan manusia. Setiap orang tentu
memerlukan tanah bahkan bukan hanya dalam kehidupanya, untuk matipun manusia masih
Jumlah luas tanah yang dapat dikuasai oleh manusia terbatas sekali, sedangkan
jumlah manusian yang berhajat terhadap tanah senantiasa bertambah. Selain bertambahnya
jumlah manusia yang memerlukan tanah untuk tempat tinggal, juga kemajuan dan
perkembangan ekonomi, Sosial, budaya dan teknologi menghendaki pula tersedianya tanah
Oleh karena itu, bertambah lama dirasakan seolah-olah tanah menjadi sempit,
sedangkan permintaan selalu bertambah. Maka tidak heran kalau nilai tanah jadi meningkat
tinggi. Tidak seimbangnya antara persediaan tanah dengan kebutuhan akan tanah itu telah
menimbulkan berbagai persoalan yang banyak seginya. Saat ini, untuk memperoleh tanah
dapat diperoleh dengan beberapa cara, yaitu dengan permohonan hak, pemindahan hak.
Dalam masyarakat kita, perolehan hak atas tanah lebih sering dilakukan dengan
memindahkan hak, antara lain: Jual beli, Hibah, Tukar menukar, Pemisahan dan pembagian
1
John Salindeho, Masalah Tanah Dalam Pembangunan (Jakarta: Sinar Grafika, 1987), hal.
37.
xii
Perkataan jual beli dalam pengertian sehari-hari dapat diartikan, di mana seseorang
Menurut Boedi Harsono, ”Dalam Hukum Adat perbuatan pemindahan hak (jual– beli,
hibah, tukar menukar) merupakan perbuatan hukum yang bersifat tunai”. Jual–beli dalam
hukum tanah dengan pembayaran harganya pada saat yang bersamaan secara tunai.2
Kemudian menurut Hukum (BW) Pasal 1457 disebutkan bahwa jual–beli tanah adalah suatu
perjanjian dengan mana penjual mengikatkan dirinya (artinya berjanji) untuk menyerahkan hak
atas tanah yang bersangkutan kepada pembeli yang mengikatkan dirinya untuk membayar
kepada penjual harga yang telah disepakatinya.3 Adapun ketentuan yang diatur dalam seluruh
muat dalam Lembaran Negara Nomor 104, tahun 1960 yang lebih dikenal dengan Undang–
Undang Pokok Agraria (UUPA). Dengan adanya UUPA ini, maka hilanglah ”dualisme” dan
terciptalah suatu kesatuan hukum (Unifikasi) dibidang Hukum Agraria di Negara kita.
Semenjak diundangkanya UUPA, maka pengertian jual– beli tanah bukan lagi suatu
perjanjian seperti dalam Pasal 1457 jo 1458 KUH Perdata Indonesia, melainkan perbuatan
hukum pemindahan hak untuk selama–lamanya yang bersifat tunai dan kemudian selanjutnya
diatur dalam Peraturan Pelaksanaan dari UUPA yaitu PP No. 10 tahun 1961 yang telah
diperbaruhi dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 1997, tentang Pendaftaran Tanah,
yang menentukan bahwa jual–beli tanah harus dibuktikan dengan suatu akta yang dibuat oleh
dan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), sebagaimana dinyatakan dalam Pasal
2
Harun Al–Rashid, Sekilas Tentang Jual–Beli Tanah (Berikut Peraturan–Peraturanya),
3
Ibid, hal. 52.
xiii
”Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual–beli,
tukar–menukar, hibah, pemasukan data perusahaan dan perbuatan hukum
pemindahan hak karena lelang hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta
yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang–
undangan yang berlaku”4
Hal ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1998, tentang
Peraturan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam Pasal 2 ayat (1) yang berbunyi sebagai
berikut:
Jadi jual beli Hak atas Tanah harus dilakukan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah
(PPAT). Hal demikian sebagai bukti bahwa telah terjadi jual beli sesuatu hak atas tanah dan
selanjutnya Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) membuat Akta Jual Belinya yang kemudian
diikuti dengan pendaftarannya pada Kantor Pertanahan setempat sesuai dengan lokasi tanah.
Namun tidak dapat dipungkiri, dalam kehidupan masyarakat sehari-hari masih banyak
jual beli tanah yang dilakukan antara penjual dan pembeli tanpa campur tangan Pejabat
Pembuat Akta Tanah. Perbuatan ”Jual-Beli di bawah tangan” terkadang hanya dibuktikan
dengan selembar kwitansi sebagai bukti telah terjadi jual beli dan tidak sedikit masyarakat
yang hanya memiliki bukti kepemilikan atas tanah yang masih atas nama pemilik yang lama
(penjual).
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat begitu banyak masalah yang timbul dalam hal
pertanahan. Jual-beli yang dilakukan di bawah tangan, dengan dasar kepercayaan pada saat
hendak dilakukan balik nama, pihak penjual telah meninggal atau tidak diketahui bagi si
pembeli yang akan mendaftarkan haknya pada kantor pertanahan setempat, sebagaimana
4
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Himpunan Peraturan- Peraturan Hukum Tanah,
5
Ibid, hal. 677
xiv
yang terjadi dalam kasus di Bekasi dalam perkara nomor: 220/Pdt.G/2006/[Link]. perkara-
perkara yang diputus di Pengadilan tidak seluruhnya berdasarkan pada KUH Perdata akan
tetapi dapat pula dengan perkara pidana, misalnya seperti perkara over kredit secara
terselubung dengan perjanjian jika nanti setelah dibayar lunas sertifikat mau diambil oleh pihak
penjual, akan tetapi pada kenyataannya saat sertifikat mau diambil di Bank penjual menghilang
Melihat kenyataan yang terjadi, maka penulis mencoba mencari penyelesaian hukum
permasalahan jual beli tanah yang dilakukan di bawah tangan (tanpa akta Pejabat Pembuat
Akta Tanah) yang sejauh ini masih sering dilakukan oleh masyarakat dan juga upaya-upaya
apa yang dapat dilakukan untuk dapat memperoleh surat tanda bukti kepemilikan yang sah,
apabila penjual sudah tidak diketahui lagi keberadaannya atau tempat tinggalnya dan dalam
tulisan ini juga penulis ingin menganalisis yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, Oleh
karenanya, penulis merasa perlu untuk mengangkat permasalahan tersebut menjadi sebuah
penelitian yang berjudul ” Jual Beli Tanah Yang Dilakukan Tanpa Akta Jual Beli Pejabat
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan Latar Belakang yang telah diuraikan dan untuk lebih terfokus dalam
membahas dalam tulisan ini, sehingga mampu menguraikan pembahasan dengan tepat, maka
1. Bagaimanakah status Jual Beli tanah yang dilakukan tanpa akta Pejabat Pembuat Akta
2. Bagaimanakah penyelesaian yang dapat dilakukan oleh pembeli, agar jual beli tanah yang
dilakukan tanpa akta PPAT dapat mempunyai kekuatan hukum yang pasti ?
xv
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui status jual beli tanah yang dilakukan tanpa akta Pejabat Pembuat Akta
2. Untuk mengetahui penyelesaian yang dapat dilakukan oleh pembeli agar jual beli tanah
yang dilakukan tanpa akta PPAT dapat mempunyai kekuatan hukum yang pasti.
D. Manfaat Penelitian
1. Dari segi Praktis, bagi masyarakat hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan
masukan dalam rangka pembuatan Jual Beli tanah tanpa Akta Jual Beli Pejabat Pembuat
Akta Tanah, sehingga dapat menghindari timbulnya masalah atau konflik dalam
pelaksanaan Jual Beli tanah sesuai dengan prosedur yang benar dan adanya kepastian
hukum.
2. Dari segi teoritis, bagi akademisi penelitian ini diharapkan memberi manfaat teoritis berupa
tanah dan ada kaitannya dengan bidang notaris khusus Pejabat Pembuat Akta Tanah.
E. Kerangka Pemikiran
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat begitu banyak masalah yang timbul dalam hal
pertanahan. Namun tidak dapat dipungkiri, dalam kehidupan masyarakat sehari-hari masih
banyak jual beli tanah yang dilakukan antara penjual dan pembeli tanpa campur tangan
Pejabat Pembuat Akta Tanah. Perbuatan ”Jual-Beli di bawah tangan” terkadang hanya
dibuktikan dengan selembar kwitansi sebagai bukti telah terjadi jual beli dan tidak sedikit
masyarakat yang hanya memiliki bukti kepemilikan atas tanah yang masih atas nama pemilik
xvi
Jual-beli yang dilakukan di bawah tangan, dengan dasar kepercayaan pada saat
hendak dilakukan balik nama, pihak penjual telah meninggal atau tidak diketahui bagi si
pembeli yang akan mendaftarkan haknya pada kantor pertanahan setempat, sebagaimana
yang terjadi dalam kasus di Bekasi dalam perkara nomor: 220/Pdt.G/2006/[Link]. perkara-
perkara yang diputus di Pengadilan tidak seluruhnya berdasarkan pada KUH Perdata akan
tetapi dapat pula dengan perkara pidana, misalnya seperti perkara over kredit secara
terselubung dengan perjanjian jika nanti setelah dibayar lunas sertifikat mau diambil oleh pihak
penjual, akan tetapi pada kenyataannya saat sertifikat mau diambil di Bank penjual menghilang
sampai tidak diketahui lagi keberadaannya. Jadi jual beli Hak atas Tanah harus dilakukan
dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT). Hal demikian sebagai bukti bahwa telah
terjadi jual beli sesuatu hak atas tanah dan selanjutnya Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
membuat Akta Jual Belinya yang kemudian diikuti dengan pendaftarannya pada Kantor
Kesepakatan atau konsensus merupakan langkah awal dari para pihak yang membuat
suatu perjanjian. Jika kesepakatan itu merupakan langkah awal dari para pihak yang membuat
perjanjian maka timbul suatu permasalahan mengenai kapan saat terjadinya kesepakatan
tersebut. Ada beberapa teori yang menyatakan kapan terjadinya kesepakatan. Teori-teori itu
adalah:
a) Teori kehendak (Wils Theory), teori ini mengatakan bahwa terjadinya suatu perjanjian atau
konsensus adalah karena adanya persesuaian kehendak di para pihak yang membuat
perjanjian tersebut;
b) Teori pernyataan (Ultings Theory), teori ini rnenyatakan bahwa konsensus terjadi sesuai
dengan pernyataan yang telah diucapkan atau diumumkan oleh para pihak yang membuat
perjanjian tersebut;
xvii
c) Teori kepercayaan (Vertrouwens Theory), teori ini mengandung / menyatakan adanya
konsensus atau perjanjian didasarkan atas kepercayaan dan ucapan para pihak yang
Menurut ketentuan Pasal 1321 KUH-Perdata menyatakan, tidak ada kata yang sah apabila
Mercantile Law (Vol.1) yang dikutip oleh MR. Tirtaamidjaja, M.H., dalam bukunya mengenai
“bahwa disebut jual beli jika obyek yang diperjual belikan sudah dialihkan dari
penjual kepada pembeli. Sedangkan Perjanjian jual beli adalah jika obyek yang
diperjual belikan belum dialihkan atau akan beralih pada waktu yang akan datang
ketika syarat-syarat telah dipenuhi. Perjanjian jual beli ini akan menjadi jual beli jika
syarat-syarat telah terpenuhi dan obyek yang diperjualbelikan telah beralih kepada
pembeli.”6
Melihat kenyataan yang terjadi, maka penulis mencoba mencari penyelesaian hukum
permasalahan jual beli tanah yang dilakukan di bawah tangan (tanpa akta Pejabat Pembuat
Akta Tanah) yang sejauh ini masih sering dilakukan oleh masyarakat dan juga upaya-upaya
apa yang dapat dilakukan untuk dapat memperoleh surat tanda bukti kepemilikan yang sah,
apabila penjual sudah tidak diketahui lagi keberadaannya atau tempat tinggalnya dan dalam
tulisan ini juga penulis ingin menganalisis yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap, Oleh
karenanya, penulis merasa perlu untuk mengangkat permasalahan tersebut menjadi sebuah
penelitian.
F. Metode Penelitian
Metode penelitian adalah suatu cara atau jalan untuk menyelesaikan suatu masalah
yang ada guna menentukan, menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu
6
MR Tirtaamidjaja, Pokok-Pokok Hukum Perniagaan, (Jakarta : Djambatan, 1970), hal. 24.
xviii
pengetahuan dengan cara mengumpulkan, menyusun serta, menginterprestasikan kata-kata
sesuai dengan pedoman dan aturan yang berlaku untuk suatu karya ilmiah.
1. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian untuk penulisan tesis ini
Menurut Soerjono Soekanto, Pada penelitian hukum, maka yang diteliti pada
awalnya adalah data sekunder, untuk kemudian dilanjutkan dengan penelitian terhadap
menganalisa data yang diperoleh, maka penulis menggunakan metode pendekatan secara
normatif, yaitu dengan mengadakan penelitian lapangan (field research), sehingga data-
data dikumpulkan dan dianalisa, adapun sumber hukum primer berupa peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan jual beli pada umumnya dan jual beli tanah
pada khususnya yaitu Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1960, tentang Peraturan Dasar
Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dan Peraturan Pemerintah Nomor 37
tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), sedangkan
bahan hukum sekunder, terdiri dari buku-buku, makalah dan artikel ilmiah yang
7
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarat : Penerbit Universitas Indonesia,
xix
Wawancara dilakukan pada Pengadilan Negeri Bekasi dan pada Kantor Badan
Pertanahan Nasional Kota Bekasi. Adapun jenis wawancara yang digunakan oleh penulis
peraturan yang terkait dengan jual beli tanah dan peraturan jabatan Pejabat Pembuat Akta
Tanah (PPAT), terhadap jual beli tanpa mengunakan akta jual beli di hadapan Pejabat
2. Spesifikasi Penelitian
1)Bahan hukum primer bersumber bahan hukum yang diperoleh langsung akan
digunakan dalam penelitian ini mulai dari Undang-undang Nomor 5 tahun 1960,
tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT);
2)Bahan hukum sekunder berupa literatur, karya ilmiah, hasil penelitian, lokakarya
xx
3)Bahan hukum tersier berupa kamus, artikel pada majalah atau surat kabar,
sekunder.
1)Kepada Ibu Suharmini, SH, Bagian Panitera Muda Hukum Pengadilan Negeri
Bekasi; dan
2)Kepada Ibu Dra. Purwati, MM, Kepala Kantor Pertanahan Kota Bekasi.
Data primer adalah data-data yang diperoleh langsung dari lapangan melalui
yang diperlukan dalam penelitian, yang berupa pengalaman praktek dan pendapat
subyek penelitian tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan Jual Beli Tanah
Yang Dilakukan Tanpa Akta Jual Beli Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) ”(Analisis
system wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas
xxi
pedoman, tetapi dimungkinkan juga adanya variasi pertanyaan yang disesuaikan
2. Data Sekunder
1) Bahan hukum primer adalah bahan hokum yang mempunyai kekuatan mengikat
Agraria;
pendaftaran tanah;
8
Soetrisno Hadi, Metodologi Research Jilid II, (Yogyakarta : Yayasan Penerbit Fakultas
xxii
b) Kepustakaan yang berkaitan dengan Hukum Agraria;
3) Bahan hukum tersier adalah bahan bahan hukum yang memberikan petunjuk
maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder, yaitu kamus
hukum.
Analisis data dilakukan secara kualitatif normatif yakni analisis yang dipakai tanpa
menggunakan angka maupun rumusan statistika dan matematika artinya disajikan dalam
bentuk uraian. Dimana hasil analisis akan dipaparkan secara deskriptif, dengan harapan
dapat menggambarkan secara jelas mengenai tanah yang dilakukan tanpa akta jual beli
Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) ”(analisis kasus nomor: 220/Pdt.G/2006/ [Link]),
dan penyelesaian yang dapat dilakukan oleh pembeli, agar jual beli tanah yang dilakukan
tanpa akta PPAT dapat mempunyai kekuatan hukum yang pasti, sehingga diperoleh
G. SISTEMATIKA PENULISAN
xxiii
Bab I : PENDAHULUAN, merupakan bab pendahuluan yang berisikan antara lain latar
Bab II : TINJAUAN PUSTAKA, merupakan bab yang berisi atas teori umum yang
permasalahan, antara lain tinjauan umum jual beli, pengertian perjanjian dan
pengertian Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) teori-teori umum ini merupakan
kumpulan pendapat para ahli hukum Perjanjian, dan hasil dari Surat Penetapan
Bab III : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN, membahas mengenai hasil penelitian
yang status tanahnya yang tidak menggunakan akta jual beli tanpa melibatkan
dilakukan oleh calon pembeli agar jual beli tanah yang dilakukan tanpa akta
- Daftar Pustaka.
- Lampiran.
xxiv
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut ketentuan dari Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang
”suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk
menyerahkan hak atas suatu barang dan pihak yang lain untuk membayar harga
Sedangkan menurut Pasal 1320 KUH Perdata untuk sahnya suatu perjanjian harus
Dalam hal jual beli tanah, jual beli telah dianggap terjadi walaupun tanah belum
diserahkan atau harganya belum dibayar. Untuk pemindahan hak itu masih diperlukan
suatu perbuatan hukum lain berupa penyerahkan yang caranya ditetapkan dengan suatu
Penyerahan hak itu dalam istiliah hukumnya biasa disebut Juridische levering
(penyerahan menurut hukum) yang harus dilakukan dengan akta dimuka dan oleh Pejabat
Balik Nama berdasarkan ordonansi Balik Nama Stbid No. 27 Tahun 1834.9
9
[Link] Saleh, Hak Anda Atas Tanah, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1977), hal. 31.
xxv
Untuk terjadinya perjanjian jual-beli ini cukup jika kedua belah pihak sudah
mencapai persetujuan tentang barang dan harga Si Penjual mempunyai dua kewajiban
pokok, yaitu pertama menyerahkan barangnya serta menjamin si pembeli dapat memiliki
barang itu dengan aman dan kedua bertanggung jawab terhadap cacat-cacat yang
tersembunyi. Kewajiban si pembeli membayar harga dan di tempat yang telah ditentukan.
Barang harus diserahkan pada waktu perjanjian jual beli ditutup dan ditempat barang itu
berada.
barangnya sudah beralih kepada si pembeli, artinya jika barang itu rusak hingga tidak
dapat diserahkan kepada pembeli, maka orang ini harus tetap membayar harganya.
Sampai pada waktu penyerahannya itu si penjual harus merawatnya dengan baik. Jika si
penjual melalaikan kewajibannya, misalnya pada waktu yang telah ditentukan belum
menyerahkan barangnya, maka mulai saat itu ia memikul risiko terhadap barang itu dan
dapat dituntut untuk memberikan pembayaran kerugian atau pembeli dapat menuntut
pembatalan perjanjian.
Sebaliknya jika si pembeli tidak membayar harga barang pada waktu yang
ditentukan si penjual dapat menuntut pembayaran itu yang jika ada alasan dapat disertai
pemberian kerugian juga barang yang belum dibayar itu dapat diminta kembali.
Jual beli yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (BW) ini bersifat
obligatoir, yanq artinya bahwa perjanjian jual be1i baru meletakkan hak dan kewajiban
timbal balik antara kedua belah pihak penjual dan pembeli, yaitu meletakkan kepada
penjual kewajiban untuk menyerahkan hak milik atas barang yang dijualnya sekaligus
memberikan kepadanya hak untuk mendapat pembayaran harga yang telah disetujui dan
disisi lain meletakkan kewajiban kepada pembeli untuk membayar harga barang sesuai
imbalan haknya untuk menuntut penyerahan hak milik atas barang yang dibelinya. Atau
xxvi
dengan perkataan lain bahwa jual beli yang dianut Hukum Perdata jual beli belum
Pengertian Jual beli tanah pada hakekatnya merupakan salah satu pengalihan hak
atas tanah kepada pihak lain/orang lain yang berupa rumah dari penjual kepada pembeli
tanah.
Pengalihan hak-hak pemilikan atas tanah ini tidak hanya melaiui jual beli saja,
tetapi pengalihan hak pemilikan ini juga terjadi karena hibah, tukar-menukar, pemberian
dengan surat wasiat dan perbuatan-perbuatan lain yang bermaksud memindahkan hak
pemilikan atas tanah. Tetapi peralihan hak pemilikan itu terjadi demi hukum, misalnya
karena pewarisan. Karena Hukum pula segala harta kekayaan seseorang beralih menjadi
harta warisan sejak saat orang tersebut meninggal dunia. Karena itu beralihnya hak milik
atas tanah apabila kita lihat dari segi hukum dapat terjadi karena suatu tindakan hukum
lainnya. Sedangkan beralihnya hak milik karena peristiwa hukum misalnya karena
pewarisan.
10
Sudaryo Soimin, Status Tanah Dan Pembebasan Tanah, (Jakarta: Sinar Grafika, 1994), hal. 94-
95
xxvii
Pengertian jual-beli menurut Hukum Adat dan Boedi Harsono, adalah perbuatan
hukum pemindahan hak yang bersifat tunai.11 Jual beli tanah dalam hukum adat, adalah
perbuatan hukum pemindahan hak atas tanah dengan pembayaran harganya pada saat
yang bersamaan secara tunai dilakukan. Maka dengan penyerahan tanahnya kepada
pembeli dan pembayaran harganya kepada penjual pada saat jual-beli dilakukan,
perbuatan jual beli itu selesai dalam arti pembeli telah menjadi pemegang hak yang baru.
Bahwa kemudian pemilik tanah yang baru itu meminta perubahan girik bukan,
berarti bahwa ia merasa belum menjadi pemilik yang baru. Penggantian girik tersebut
Dengan tunai dimaksudkan, bahwa perbuatan pemindahan hak dan pembayaran harganya
dilakukan secara serentak. Oleh karena itu, maka tunai mungkin berarti bahwa harga
tanah dibayar kontan atau baru dibayar sebagian (dianggap tunai). Dalam hal pembeli
tidak membayar sisanya, maka penjual tidak dapat menuntut atas dasar terjadinya jual beli
Bentuk-bentuk jual bell tanah dalam hukum adat antara lain yaitu:
1. Jual lepas
Jual lepas merupakan proses pemindahan hak atas tanah yang bersifat terang dan
tunai, dimana semua ikatan antara bekas penjual dengan tanahnya menjadi lepas
sama sekali.
2. Jual gadai
merupakan suatu perbuatan pemindahan hak atas tanah kepada pihak lain yang
dilakukan secara terang dan tunai sedemikian rupa sehingga pihak yang melakukan
pemindahan hak mempunyai hak untuk menebus kembali tanah tersebut. Dengan
11
Boedi Harsono, Hukum. Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok
Agraria, Isi dan Pelaksanaanya, Hukum Tanah Nasional Jilid 1, (Jakarta: Djambatan, 2003), hal.
333.
xxviii
demikian maka pemindahan hak atas tanah pada jual gadai bersifat sementara,
walaupun kadang-kadang tidak ada patokan tegas mengenai sifat sementara waktu
tersebut.
Ada kecenderungan untuk membedakan antara gadai biasa dengan gadai jangka
waktu, dimana yang terakhir cenderung memberikan semacam patokan pada sifat
sementara dan perpindahan hak atas tanah tersebut. Pada gadai biasa, maka tanah
dapat ditebus oleh penggadai setiap saat. Pembatasnya adalah satu tahun panen atau
apabila di atas tanah masih terdapat tumbuh-tumbuhan yang belum dipetik hasil-
hasilnya. Dalam hal ini maka penerima gadai tidak berhak untuk menuntut agar
3. Jual tahunan
Jual tahunan merupakan suatu perilaku hukum yang berisikan penyerahan hak atas
sebidang tanah tersebut kepada subyek hukum lain dengan menerima sejumlah uang
tertentu dengan ketentuan bahwa setelah jangka waktu tertentu, maka tanah tersebut
akan kembali dengan sendirinya tanpa melalui hukum tertentu. Dalam hal ini terjadi
4. Jual Gangsur.
Pada jual gangsur ini walaupun telah terjadi pemindahan hak atas tanah kepada
pembeli, akan tetapi tanah tetap berada ditangan penjual, artinya bekas penjual masih
tetap mempunyai hak pakai yang bersumber pada ketentuan yang disepakati oleh
penjual dengan pembeli (jadi hak pakai tersebut bukan bersumber pada hak peserta
Yang dimaksud dengan Jual beli dengan cicilan, dalam praktek sehari-hari sering
timbul walaupun tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, menurut M.
Yahya Harahap:
xxix
“Jual beli cicilan, merupakan salah satu bentuk penjualan kredit, pembeli wajib
membayar barang secara termein atau berkala. Sebaliknya penjual biasanya
masih tetap berhak menarik barang yang dijual dari tangan si pembeli, apabila
pembeli tidak tepat waktu, membayar harga cicilan, menurut termein yang
dijadwalkan”.12
Adanya hak penjual menarik kembali barang yang telah dijual, karena akibat
yang menggugurkan “ atau Vervalclausule “ . salah satu bentuk jual – beli angsuran
atau cicilan adalah sewa beli. Jadi dalam jual beli dengan cicilan barang yang dijual
demikian si pembeli seketika menjadi pemilik mutlak dari barang yang dibelinya dan
tinggallah mempunyai utang kepada di penjual berupa harga atau sebagian dari harga
yang belum dibayarnya. Dengan begitu pembeli menerima barangnya begitu pula ia
terjadinya jual beli, dimana perjanjian jual beli itu sudah dilahirkan, pada detik
tersebut berarti perjanjian jual beli, tersebut menganut asas konsessualisme yang
ditentukan dalam, Pasal 1458 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang berbunyi
: “ Jual-beli itu dianggap telah mencapai sepakat tentang kebendaan tersebut dan
dibayar.“
Di atas telah diuraikan pengertian jual beli tanah menurut Hukum Barat (BW) dan
Hukum Adat. Sekarang ini setelah berlakunya UUPA, pengertian jual beli tanah bukan lagi
suatu perjanjian seperti dalam Pasal 1457 jo Pasal 1458 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata Indonesia. Jual beli tanah sekarang memiliki pengertian, yaitu di mana pihak
12
M. Harahap Yahya, Segi-segi Hukum Perjanjian, (Bandung : Alumni, 1986), hal. 26.
xxx
penjual menyerahkan tanah dan pembeli membayar harga tanah, maka berpindahlah hak
atas tanah itu kepada pembeli. Perbuatan hukum perpindahan hak ini bersifat tunai, terang
dan riil.13
Tunai, berarti dengan dilakukannya perbuatan hukum tersebut, hak atas tanah
yang bersangkutan berpindah kepada pihak lain untuk selama-lamanya, dengan disertai
Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), tidak dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan riil
atau secara nyata adalah menunjukkan kepada akta PPAT yang ditandatatangani oleh
bersamaan/serentak, yaitu:
b. Pembayaran harganya
Dengan dipenuhinya poin a dan b di atas, maka perbuatan hukum jual beli tanah telah
selesai. Dan apabila baru dibayar sebagian, sisa harganya merupakan pinjaman atau
Sebelum kita membeli sebidang tanah, maka kiranya perlu dilakukan secara hati-
dikemudian harinya bagi pembeli, misalnya tanah dalam keadaan sengketa ataupun tanah
Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dari jual beli tanah, yaitu penjual dan
pembeli. Untuk penjual terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan
13
Boedi Harsono, Op. Cit, hal. 333.
xxxi
jual beli tanah. Hal pertama yang harus dalam melakukan jual beli tanah adalah, calon
penjual harus berhak menjual tanah tersebut, atau dengan kata lain si penjual adalah
Apabila pemegang hak hanya satu, maka ia berhak untuk menjual sendiri tanah
itu, tapi jika pemegang hak atas tanah tersebut terdiri dari dua orang atau lebih, maka yang
berhak menjual tanah itu adalah semua pemegang hak itu secara bersama-sama tidak
boleh hanya seorang saja yang bertindak sebagai penjual jual beli tanah yang dilakukan
oleh orang yang tidak berhak adalah batal demi hukum, artinya semula hukum
menganggap tidak pernah terjadi jual beli, Dalam hal demikian maka kepentingan pembeli
sangat dirugikan.
Hal kedua adalah, apakah penjual berwenang untuk menjual, mungkin terjadi
bahwa seseorang berhak atas suatu hak atas tanah akan tetapi orang itu tidak berwenang
menjualnya kalau tidak dipenuhi syarat tertentu, misalnya tanah tersebut milik anak
Jika suatu jual beli tanah dilakukan tetapi ternyata yang menjual tidak berwenang
menjual atau sipembeli tidak berwenang membeli, walaupun di penjual adalah berhak atas
tanah itu atau si pembeli berhak membeli, maka akibatnya jual beli itu dapat dibatalkan
oleb pihak-pihak yang berkepentingan, lagi pula Kantor Pendaftaran Tanah akan menolak
Hal ketiga yang perlu diperhatikan adalah, apakah penjual boleh menjual tanah
yang akan dijadikan obyek jual beli. Seseorang mungkin berhak menjual sebidang tanah
juga orang tersebut berwenang melakukan penjualan tetapi dia tidak atau belum boleh
menjual tanah itu. Misalnya seseorang mempunyai tanah bekas Hak Barat atau tanah
bekas Hak Indonesia yang pernah didaftar atau Hak Milik menurut UUPA, tetapi belum
terdaftar pada kantor pertanahan atau sertipikatnya hilang, maka orang tersebut belum
14
Effendi Perangin, Praktek Jual Beli Tanah, (Jakarta: Rajawali Pers, 1987), hal. 4.
xxxii
boleh menjual tanah itu, ia harus mengurus dan memperoleh sertipikatnya terlebih dahulu
Hal keempat adalah, apakah penjual atau pembeli bertindak sendiri atau sebagai
kuasa Penjual/Pembeli mungkin bertindak sendiri atau selaku kuasa. Baik penjual/ pembeli
bertindak sendiri maupun melalui kuasa, identitasnya harus jelas. Kalau penjual/ pembeli
adalah orang (manusia), maka identitas itu adalah nama, umur (tanggal lahir),
kewarganegaraan, pekerjaan, tempat tinggal. Semua itu dapat dibaca dalam Kartu Tanda
Apabila penjual/ pembeli adalah badan hukum, maka identitasnya adalah nama,
pembentukkannya. Dalam hal penjual/pembeli bertindak melalui kuasa, maka surat kuasa
khusus untuk menjual harus ada. Kuasa umum yang menurut lazimnya hanya untuk
melakukan pengurusan tidak berlaku untuk menjual. Kuasa itu harus tegas untuk menjual
1. Melakukan penelitian terhadap surat-surat yang menyangkut tanah yang akan menjadi
3. Pelaksanaan pemindahan atas hak tanah dengan akta jual beli dllakukan di hadapan
PPAT.
4. Melakukan pendaftaran hak untuk memperoleh sertifikat dan pejabat yang berwenang.
Tata cara dalam pelaksanaannya menurut UUPA dengan peraturan pelaksaannya, secara
a) Calon pembeli dan penjual sepakat untuk melakukan jual beli menentukan sendiri
xxxiii
b) Calon pembeli dan penjual datang sendiri atau mewajibkan kepada orang lain dengan
surat kuasa, menghadap kepada Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) (Kepala
c) Dalam hal tanah yang akan dijual itu belum dibukukan (belum bersertipikat), maka
diharuskan kehadiran Kepala Desa atau seorang anggota Pemerintah Desa yang
disamping akan bertindak sebagai saksi, juga menjamin bahwa tanah yang akan dijual
itu memang betul adalah milik penjual dan ia berwenang untuk menjualnya;
d) Dalam hal tanah yang akan dijual itu sudah dibukukan (sudab ada sertipikat) dihadiri
dua orang saksi, tidak harus Kepala Desa dan anqgota pemerintah desa. Tetapi
apabila Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) menganggap perlu (jika ada keraguan
tentang wewenang orang yang melakukan jual beli itu), maka PPAT dapat meminta
kehadiran Kepala Desa dan seorang anggota Pemerintah Desa dari tempat letak
e) Kalau tanah yang dijual telah dibukukan, penjual harus menyerahkan sertipikat, tetapi
kalau belum di bukukan sebagai gantinya harus dibuat surat keterangan dari Kepala
f) Setelah PPAT merasa cukup persyaratan, tidak ada halangan (umpamanya ada
persengketaan) dan tidak ragu-ragu lagi, maka PPAT membuat Akta Jual Bali Tanah
tersebut;
kepentingan para pihak yang membuatnya. Oleh karena itu hendaknya setiap
“suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau
dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu atau lebih.
beberapa kelemahan, karena hanya mengatur perjanjian sepihak saja dan juga
sangat luas, sebab istilah perbuatan yang dipakai akan mencakup juga
15
[Link], Pokok-pokok Hukum Perikatan, (Bandung : Bina Cipta, 1994), hal. 49.
16
Purwahid patrik, Dasar-Dasar Hukum Perikatan (Perikatan yang lahir dari perjanjian dan dari
xxxv
1. Unsur-Unsur Perjanjian
seperti tersebut diatas, jika disimpulkan, maka perjanjian itu terdiri dari:17
1. Adanya pihak-pihak.
Asas ini dapat disimpulkan dari Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang
berbunyi :
Tujuan dari Pasal diatas adalah bahwa pada umumnya suatu perjanjian
itu dapat dibuat secara bebas untuk membuat atau tidak membuat
17
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, (Bandung : Citra Aditya Bakti, 1992), hal. 79.
xxxvi
bebas untuk menentukan bentuknya maupun syarat-syaratnya, bebas
seterusnya.
apa saja (tentang apa saja) dan perjanjian itu mengikuti mereka yang
2. Asas konsensualisme.
Adalah suatu perjanjian yang di anggap telah cukup jika terdapat kata
sepakat dari mereka yang membuat perjanjian itu tanpa diikuti dengan
18
[Link] Syamsudin Meliala, Pokok-pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya,
xxxvii
pengertian obyektif adalah bahwa pelaksanaan suatu perjanjian hukum
tersebut di maksudkan untuk pihak ketiga. Maksud dari asas ini dalam
xxxviii
3. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian.
sebagai berikut :
mengandung arti, bahwa apa yang dikehendaki pihak yang satu juga
harus cakap menurut hukum. Seorang yang telah dewasa atau akil
xxxix
3. Suatu hal tertentu.
Suatu perjanjian harus secara jelas mengenai suatu hal atau obyek
disebutkan secara jelas, sehingga hak dan kewajiban para pihak bisa
ditetapkan.
C. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Sebagai Pejabat Umum Yang Berwenang Dalam
Menurut ketentuan Pasal 1 angka 24, Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1997,
disebutkan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), adalah sebagai pejabat umum yang diberi
kewenanqan untuk membuat akta-akta tanah tertentu sebagai yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang bersangkutan, yaitu akta pemindahan dan pembebanan hak atas
tanah dan Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun, dan akta pemberian kuasa untuk
Pejabat umum, adalah orang yang diangkat oleh instansi yang berwenang, dengan
artinya bertalian dengan pemerintahan, urusan yang terbuka untuk umum, kepentingan umum,
19
Purwahid Patrik, Asas-asas Itikad Baik dan Kepatutan Dalam Perjanjian, (Semarang : Badan
20
Budi Harsono, Op. Cit, hal.469
xl
Openbaar Ambtenar berarti pejabat yang bertugas membuat akta umum (openbare akten),
Dalam jabatannya itu tersimpul suatu sifat atau ciri khas, yang membedakannya dari
jabatan lainya dalam masyarakat, sekalipun untuk menjalankan jabatan-jabatan lainnya itu
pengangkatan advokat, dokter, akuntan dan lain-lainnya, maka sifat dan pengangkatan itu
sesungguhnya pemberian izin, pemberian wewenang itu merupakan lisensi untuk menjalankan
suatu jabatan.
Untuk mempermudah rakyat di daerah terpencil yang tidak ada PPAT dalam
me1akukan perbuatan hukum mengenai tanah, dapat ditunjuk PPAT sementara. Yang ditunjuk
sebagai PPAT sementara itu, adalah pejabat pemerintah yang menguasai keadaan daerah
Menurut Penjelasan Umum dikemukakan bahwa akta PPAT merupakan salah satu
sumber utama dalam rangka pemeliharaan data pendaftaran tanah, maka pokok-pokok tugas
PPAT serta cara melaksanakannya diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1997.
Adapun ketentuan umum mengenai jabatan PPAT diatur dalam PP No.37 tahun 1998 tentang
Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) (LNRI 1998-52; TLN 3746).
bidang pendaftaran tanah, khususnya dalam kegiatan peme1iharaan data pendaftaran, diatur
dalam Pasal 3740 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang, pemindahan hak, Pasal 44
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata tentang pembebanan hak, Pasal 51 Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata tentang pembagian hak bersama, Pasal 62 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata tentang {sanksi administratif jika dalam melaksanakan tugasnya mengabaikan
21
John Salehindo, Masalah Tanah Dalam Pembangunan, (Jakarta, Sinar Grafika: 1987) hal.53
22
Budi Harsono, Op-cit, hal. 469
xli
Sebagai Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), yang juga Notaris maupun camat
selaku PPAT dan Pejabat PPAT lainnya, sekalipun adalah pejabat umum untuk melayani
pembuatan akta jual beli tanah hak milik (misalnya), mereka itu tidak dibenarkan membuat
akta dalam bentuk lain, selain yang telah ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.
Notaris PPAT dan Camat PPAT dibatasi kewenangan dan atau fungsinya untuk berada di
Dalam pada itu, para Notaris PPAT dan Camat PPAT dilarang untuk melayani adanya
kuasa-kuasa mutlak yang pada hakekatnya merupakan pemindahan hak atas tanah.
Sebenarnya Instruksi MDN No.14 Tahun 1982 yang berisikan larangan itu ditujukan kepada
para Camat dan Kepala Desa atau pejabat yang setingkat dengan itu (Lurah) untuk tidak
pemindahan hak atas tanah yang terselubung, tetapi pada akhirnya pihak-pihak tertentu
pembuatan sesuai bentuk, syarat dan cara yang ditetapkan ditempat kedudukannya dimana ia
berwenang membuat akta otentik itu. Oleh karena itu ditetapkan pula bahwa di depan kantor
tempat di mana ia menjalankan tugas itu, ditempatkan/ dipasang “Papan Pengenal PPAT”,
agar umum mengetahui dan di situlah ia menyelenggarakan tugasnya secara resmi dan sah.
Di sini diartikan pula bahwa PPAT tidak berwenang membuat akta PPAT untuk transaksi tanah
yang berada diluar wilayah hukum/ kerjanya di dalam mana ia ditetapkan sebagai PPAT.
Sebelum menguraikan lebih lanjut tentang fungsi akta jual beli tanah, maka
kiranya terlebih dahulu diketahui tentang pemahaman/ pengertian akta terlebih dahulu,
Menurut Pasal 1874 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Akta, ialah suatu
salinan yanq memang dengan sengaja dibuat untuk dijadikan bukti tentang suatu peristiwa
xlii
dan ditandatangani. Dengan demikian, unsur-unsur penting untuk suatu akta, ialah
Akta dalam arti luas, adalah perbuatan hukum (rechtshandeling). Akta dapat
dibedakan antara akta otentik dan akta di bawah tangan. Akta otentik adalah akta yang
dibuat oleh dan di hadapan pejabat umum yang berwenang. Sedangkan akta di bawah
tangan adalah akta yang dibuat antara pihak satu dengan pihak yang lain yang dilegalisasi
oleh pejabat yang berwenang untuk itu, atau akta dibawah tangan adalah sah menurut
bahwa suatu perjanjian yang dibuat secara dibawah tangan, sah, dan berlaku sebagai
1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Sedangkan menurut ketentuan Pasal 1870
KUH Perdata, yaitu tentang kekuatan dan akta otentik sebagai alat pembuktian adalah
suatu akta otentik memberikan di antara pihak beserta ahli warisnya atau orang-orang
yang mendapat hak dan pada mereka, suatu bukti yang sempurna tentang apa yang
Apabila timbul sengketa antara pihak, maka yang termuat dalam akta otentik
merupakan bukti yang sempurna sehingga tidak perlu lagi dibuktikan dengan alat-alat
memberikan kepastian hukum yang lebih kuat. Berbeda dengan akta dibawah tangan yang
masih dapat disangkal dan baru mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna apabila
diakui oleh kedua belah pihak, atau dikuatkan lagi dengan akta-akta pembuktian lainnya.
Oleh karenanya, dikatakan bahwa akta di bawah tangan, merupakan permulaan bukti
tertulis.
Fungsi Akta PPAT yang dibuat adalah sebagai bukti; bahwa benar telah dilakukan
perbuatan hukum yang bersangkutan dan karena perbuatan itu sifatnya tunai sekaligus
23
R. Subekti, Hukum Pembuktian, (Jakarta, Pradnya Paramita 1979), hal. 23
xliii
membuktikan berpindahnya hak atas tanah yang bersangkutan kepada penerima hak.
Pemindahan haknya hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan Akta PPAT. Demikian
ditentukan dalam Pasal 37 ayat (1) PP No.24 tahun 1997, jelaslah kiranya bahwa adanya
Akta PPAT tersebut merupakan syarat bagi pendaftaran pemindahan haknya. Dalam arti
bahwa tanpa adanya Akta PPAT Kepala Kantor Pertanahan dilarang untuk mendaftarnya.
Pasal tersebut tidak menentukan, bahwa dilakukannya perbuatan hukum pemindahan hak
di hadapan PPAT, yang membuat akta pemindahan haknya sebagai alat buktinya,
merupakan syarat bagi terjadinya dan sahnya perbuatan hukum pemindahan hak yang
dilakukan.
Akta jual beli tanah akta otentik yang dibuat oleb Pejabat Pembuat Akta Tanah
1. Akta PPAT membuktikan secara otentik telah terjadinya jual beli sebidang tanah
tertentu, pada hari tertentu, oleh pihak—pihak tertentu yang disebut di dalamnya.
2. Adanya bukti berupa suatu akta PPAT merupakan syarat bagi pendaftaran Jual
3. Dilakukannya jual beli di hadapan PPAT, dengan akta PPAT sebagai buktinya bukan
4. Sahnya jual beli ditentukan oleh terpenuhinya syarat-syarat materiil bagi jual beli:
a)Syarat-syarat umum bagi sahnya suatu perbuatan hukum (Pasal 1320 KUH
Perdata);
24
Boedi Harsono, [Link]., hal. 500—501
xliv
5. Jual beli dilakukan di hadapan Kepala Desa adalah sah menurut hukum, bilamana
dipenuhi syarat-syarat materiiinya yang disebutkan di atas. Jual beli yang dilakukan
di hadapan Kepala Desa memenuhi syarat terang, artinya tidak dilakukan secara
mendaftarnya.25
tangan”, Surat dibawah tangan yang bukan akta hanya disebut dalam Pasal 1874
Kitab Undang-Undang Perdata. Dalam Pasal 1881 dan Pasal 1883 Kitab Undang-
Undang Hukum Perdata, diatur secara khusus beberapa surat-surat dibawah tangan
yang bukan akta, yaitu buku daftar (register), surat-surat urusan rumah tangga dan
catatan-catatan yang dibutuhkan oleh seorang kreditur pada suatu alas hak yang
mempunyai kekuatan bukti yang mutlak bahwa nama yang tercantum di dalamnya
adalah pemilik.
diperkenankan dalam segala hak dimana itu tidak dikecualikan oleh Undang-
25
Peraturan Pemerintah Tentang Pendaftaran Tanah, PP No. 24 Tahun 1997, No. 59, (a).
xlv
pembuktian dengan tulisan, maka diperlukan saksi-saksi dalam tulisan tersebut,
yang oleh Undang-Undang atau oleh hakim ditariknya dari suatu Peristiwa yang
Menurut ketentuan Pasal 1929 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, adapun yang
1. Sumpah yang oleh pihak yang satu diperintahkan kepada pihak yang lainnya
sumpah pemutus.
xlvi
2.5. Bukti Dengan Akta
Yang dimaksud dengan bukti dengan akta adalah dikategorikan dua macam yaitu
sebagai berikut :
akta otentik ini dibuat dalam bentuk sesuai dengan ditentukan oleh Undang-
Undang. Harus dibuat oleh atau dihadapan Pejabat Umum yang berwenang,
dasara hukumnya;
Perdata, menurut ketentuan dalam Pasal ini, adalah tidak terikat dalam bentuk
formal, melainkan bebas, dan dapat dibuat bebas oleh setiap subyek hukum
yang berkepentingan.
kekuatan pembuktian yang sempurna sama halnya seperti akta otentik, tetapi
mengenai itikad baik dalam kontrak. Ketika mengadili suatu perkara, hakim pertama-
peristiwanya.
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, akan tetapi dapat pula dari perkara pidana,
misalnya seperti perkara over kredit secara terselubung dengan perjanjian jika nanti,
setelah dibayarkan lunas sertifikat mau diambil oleh pihak penjual akan tetapi pada
kenyataannya saat sertifikat mau diambil di Bank penjual menghilang tidak tentu
xlvii
rimbannya. Peristiwa seperti ini juga bisa diperkarakan dalam kasus tindak pidana yaitu
penipuan, tetapi putusannya adalah perdata, jadi perkara perdata yang mengandung
unsaur pidana. Dan ini semua ada ditangan kpeutusna hakim, maka hakim dalam hal ini
atau perkara-perkara yang lain harus dapat menemukan hukum untuk tiap-tiap masalah
miliknya padahal bukti fisik sudah dikuasai sekian tahun bahkan sampai berpuluh-puluh
tahun, sehingga untuk mendapatkan suatu kepastian hukum tentang status tanah yang
dimilik oleh masyarakat tidak terdapat adanya suatu kepastian hukum, oleh karena
pertanahan.
3. Fungsi Akta Jual beli Yang Dibuat Oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
Pasal 1 angka 24, disebutkan, bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), sebagai
pejabat umum yang diberi kewenanqan untuk membuat akta-akta tanah tertentu.
“Pejabat Umum”, apabila diangkat dan diberhentikan oleh pemerintah dan diberikan
wewenang dan kewajiban untuk melayani publik dalam hal-hal tertentu Karena itu ia ikut
serta melaksanakan kewajiban (gezag) dari pemerintah. Dalam jabatannya itu tersimpul
suatu sifat atau ciri khas, yang membedakannya dari jabatan lainya dalam masyarakat,
akuntan dan lain-lainnya. Maka sifat dan pengangkatan itu sesungguhnya pemberian
izin, pemberian wewenang itu merupakan lisensi untuk menjalankan suatu jabatan.26
26
[Link] Notodisoerjo, Tata Cara Pengangkatan Pejabat Umum, (Jakarta : Intan Pariwara,
xlviii
Untuk mempermudah rakyat di daerah terpencil, yang tidak ada Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT), dalam melakukan perbuatan hukum mengenai tanah,
dapat ditunjuk Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sementara. Yang ditunjuk sebagai
Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) sementara itu, adalah pejabat pemerintah yang
Fungsi akta jual beli yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
adalah sebagai bukti; bahwa benar telah dilakukan perbuatan hukum, yang
berpindahnya hak atas tanah yang bersangkutan kepada penerima hak. Pemindahan
haknya hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan Akta Pejabat Pembuat Akta
Tanah (PPAT). Demikian ditentukan dalam Pasal 37 ayat (1) PP No.24 tahun 1997,
jelaslah kiranya bahwa adanya Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), tersebut
Dalam arti bahwa tanpa adanya Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT),
Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), yang membuat akta pemindahan haknya sebagai
alat buktinya, merupakan syarat bagi terjadinya dan sahnya perbuatan hukum
pemindahan hak yang dilakukan. Sahnya perbuatan hukum yang dilakukan ditentukan
oleh terpenuhinya syarat-syarat materiil yang bersangkutan, yaitu Pasal 1320 Kitab
Disamping itu, akta jual beli tanah yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta
27
Budi Harsono, Op-cit, hal. 469
xlix
1. untuk membuktikan, secara otentik telah terjadinya, jual beli sebidang tanah tertentu,
Dilakukannya jual beli, dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), sebagai bukti,
l
BAB III
A. Kasus Posisi
hukum tetap tentang Gugatan Pengesahan jual beli tanah dan bangunan dimana duduk
perkaranya adalah bahwa Tuan A (tergugat) adalah pemilik dan yang berhak atas sebidang
tanah dan bangunan setifikat Hak Guna Bangunan Nomor 3819/Bekasi Jaya, seluas 80 M2
(delapanpuluh meter persegi), yang terletak di Kelurahan Bekasi Jaya, Kecamatan Bekasi
Pada tahun 1995 A hendak menjual tanah dan bangunan tersebut kepada B
(penggugat). Oleh karena menurut ketentuan jual beli tersebut harus dilaksankan dihadapan
PPAT, dan dengan akta jual beli PPAT, maka mereka datang menghadap X PPAT, di Kota
Bekasi (turut tergugat) menyerahkan sertifikat tersebut untuk diperksa kebenaran data yang
terdapat dalam sertifikat tersebut pada Kantor Pertanahan setempat. Akan tetapi ternyata
sebelum akta Jual Beli tersebut ditandatangani oleh para pihak, A selaku calon penjual telah
pergi karena telah menerima pembayaran dari B seharga Rp.25.000.000,- (duapuluh lima juta
rupiah), hal mana ternyata dari kwitansi yang ditunjukan oleh B dan alamatnya pun tidak
diketahui lagi, karena walaupun secara fisik tanah dan bangunan tersbeut telah dikuasai, akan
tetapi bukti kepemilikan atas tanah tersebut tidak berada pada B dan belum atas nama B akan
B telah mencoba mengambil sertifikat tersebut dari PPAT yang bersangkutan, akan
tetapi karena nama yang tercantum dalam sertifikat tersebut asli sertifikatnya walaupun asli
tanda terima dari Kantor PPAT pada saat penyerahan itu ada pada B. Oleh karena hal-hal
tersebut maka, sebagai pembeli telah sangat dirugikan, karena walaupun secara fisik telah
memiliki dan menguasai tanah dan bangunan tersebut akan tetapi secara yuridis dia belum
li
memiliki surat-surat bukti kepemilikan yang sah, sehingga timbul kekawatiran B, bahwa kelak
dikemudian hari nanti A atau ahli warisnya atau orang lain tiba-tiba muncul untuk menguasai
tanah dan bangunan tersebut, padahal tanah dan bangunan rumah tersebut telah dibeli B.
Oleh sebab itulah B mengajukan gugatan kepada Pengadilan Negeri Bekasi dengan maksud
agar B, selaku penggugat dan pembeli tanah berikut bangunan rumah tersebut yang beritikad
baik mendapatkan perlindungan dan kepastian hukum tentang kepemilikan tanah dan
Duduk perkara tersebut B, Pengadilan Negeri Bekasi yang memeriksa dan mengadili
2. Menyatakan sah jual beli antara Penggugat dan Tergugat atas sebidang tanah sertipikat
Hak Guna Bangunan nomor : 3819 / Bekasi Jaya atas nama A seharga Rp. 25.000.000,-.
3. Menyatakan Penggugat pemilik sah atas sebidang tanah dan bangunan sertipikat HGB
4. Menghukum Turut Tergugat (PPAT X) untuk segera menyerahkan asli sertipikat HGB no.
3819 / Bekasi Jaya atas nama Tergugat kepada Penggugat setelah kepadanya diserahkan
5. menyatakan memberikan ijin / kuasa kepada penggugat yang bertindak untuk dan atas
nama tergugat selaku penjual sekaligus penggugat bertindak atas namanya sendiri selaku
Pembeli untuk menghadap PPAT di Bekasi guna menandatangani akta Jual Beli atas
7. Menghukum turut Tergugat untuk segera menyarahkan Sertipikat Hak guna Bangunan
nomor 3819 / Bekasi Jaya atas nama Tergugat kepada Penggugat setelah kepdanya
lii
8. Menyatakan memberi ijin / kuasa kepada Penggugat yang bertindak untuk dan atas nama
Tergugat selaku penjual sekaligus Pengguagt bertindak atas namanya sendiri selaku
Pembeli untuk menghadap Notaris / PPAT di Bekasi guna menandatangani Akta Jual-Beli
Demikian diputuskan dalam rapat permusyawaratan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bekasi
pada hari : KAMIS, tanggal 09 Nopember 2006 oleh Hakim Ketua Majelis, dan i Hakim
anggota, putusan nama pada hari : SELASA tanggal14 Nopember 2006 diucapakan dalam
sidang yang terbuka untuk umum oleh Hakim Ketua Majelis tersebut dengan didampingi oleh
Hakim-Hakim Anggota tersebut dan dibantu oleh Panitera Pengganti dan dihadiri oleh
perkara ini;
Menimbang, bahwa dalil Penggugat yang pertama terletak pada posita kesatu yang
pada pokoknya adalah bahwa Penggugat telah membeli sebidang tanah Sertipikat
Hak Guna Bangunan nomor 3819/[Link] atas nama BENUAR GUSTI MUKMIMIN
BACHSIN dari Tergugat seharga Rp. 25.000.000,00 (duapuluh lima juta rupiah)
b e r d a s a r k a n k w i ta n s i j u a l – b e li dibawah tangan;
Penggugat telah mengajukn bukti P-5 merupakan Surat Kuasa. dari BENUAR GUSTI
MUKMIMIN BACHSIN kepada APR IZ AL u n tuk n en gam b il Sur a t Ser tip ika t HG B
liii
Menimbang, bahwa bukti tersebut telah disesuaikan dengan aslinya dan
y a n g p e r t ama;
posita kedua yang pada pokoknya adalah bahwa sebelum ditanda tangani akta Jual-beli
telah mengajukan bukti P-1 yang pada pokoknya adalah Tanda Terima penitipan
sertipikat Hak Guna Bangunan nomor 3819/Bekasi Jaya atas, nama BENUAR GUSTI
3819/Bekasi Jaya atas, nama BENUAR GUSTI MUKMIMIN BACHSIN adalah atas
kesepakatan antara Penggugat dan Tergugat dengan demikian Penggugat telah dapat
posita yang ketiga yang pada pokoknya adalah bahwa setelah sertipikat atas
sebidang tanah Hak Guna, Bangunan tersebut dicek keabsahannya oleh Turut
Tergugat pada Badan Pertanahan Kotamadya Bekasi, maka Turut Tergugat memanggil
secara lisan kep ada Pe ngg uga t da n Ter guga t u n tuk menandatangani akta jual-
beli ;
liv
Indonesia hingga sekarang dan oleh karena itu belum ditanda-tangani akta jual beli
dihadapan Notaris;
N o t a r i s ( T u r u t T e r g u g a t ) , m a k a T u r u t T e r g u g a t t i d a k b e r s e d i a m e n ye r a h k a n
kesatu, kedua dan ketiga serta ke delapan yang pada pokoknya adalah meskipun
Penggugat teIah menguasai rumah terperkara akan tetapi Penggugat belum memiliki secara
gugatannya;
d a l i l - d a l i l g u g a t a n n y a , m a k a g u g a t a n P e n g g u g a t p a t u t dikabulkan
Penggugat pihak yang dimemangkan dan pihak Tergurat dan Turut Turut
2. M e n g a b u l k a n g u g a t a n P e n g g u g a t s e l u r u h n y a d e n g a n V e r s t e k ;
3. M e n y a t a k a n P e n g g u g a t a d a l a h P e m b e l i y a n g b e r i t i k a d b a i k ;
lv
4. M e n y a t a k a n S a h J u a l B e l i a n t a r a P e n g g u g a t d e n g a n T e r g u g a t a t a s
nama BENUAR GUSTI MUKMIMIN BACHSIN, seharga Rp. 25.000.000,- (duapuluh lima
Hak Guna Bangunan nomor 3819/Bekasi Jaya atas nama Tergugat tersebut;
Bangunan nomor 3819/Bekasi Jaya atas nama Tergugat tersebut kepada Penggugat
setelah kepadanya diserahkan putusan ini yang telah berkekuatan hukum pasti;
7. Menyatakan memberi ijin / kuasa kepada Penggugat yang bertindak untuk dan
atas nama Tergugat selaku Penjual sekaligus Penggugat bertindak atas namanya
B. Status Jual Beli Tanah Yang Dilakukan Tanpa Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah Perkara
Nomor: 220/Pdt.G/2006/[Link].
Kehidupan manusia tidak terlepas dari hubungan dengan manusia lain, dengan tujuan
yaitu melangsungkan kehidupan sehari-hari, untuk diri sendiri maupun keluarganya. Keperluan
dalam kehidupannya antara lain keperluan akan tanah dan tempat tinggal. Setiap orang
memerlukan tanah sebagai suatu kebutuhan yang sangat pokok. Sehingga setiap orang selalu
berusaha untuk mendapatkan tanah ini, yang salah satu caranya melalui jual beli.
lvi
Dalam jual beli tentu tidak selamanya dapat berjalan dengan lancar, adakalanya timbul
hal-hal yang sebenarnya diluar dugaan, dan biasanya persoalan ini timbul dikemudian hari,
salah satu contohnya adalah dalam perjanjian jual beli tanah dan bangunan dimana salah satu
Wanprestasi dalam perjanjian jual beli berarti tidak dipenuhinya kewajiban yang telah
ditetapkan dalam perjanjian pengikatan jual beli yang telah dibuat sebelumnya, misalkan tidak
Semampu apapun dalam membuat perjanjian tidak dapat dipungkiri adanya celah-
celah kelemahan yang suatu hari jika terjadi sengketa menjadi celah-celah untuk dijadikan
alasan-alasan dan pembelaan diri dari pihak yang ingin membatalkan, bahkan mencari
Dalam perjanjian (teori baru) menurut Van Dune sebagaimana telah dikemukakan
dalam Bab II yang tidak melihat perjanjian semata-mata tetapi dilihat pula perbuatan
sebelumnya atau yang mendahuluinya, yaitu olehnya dibagi dalam tiga tahap yaitu:28
Perjanjian jual beli adalah suatu perjanjian dimana pihak yang satu menyanggupi akan
menyerahkan hak milik atas suatu barang, sedangkan pihak lainnya menyanggupi akan
Untuk terjadinya perjanjian ini cukup apabila kedua belah pihak sudah mencapai
persetujuan tentang barang dan harganya. Pihak penjual mempunyai dua (2) kewajiban pokok
yaitu pertama menyerahkan barangnya serta menjamin pihak pembeli memiliki barang itu
tanpa ada gangguan dari pihak lain dan kedua bertanggung jawab terhadap cacat-cacat yang
28
Salim H.S, Op. Cit. Hal. 126
29
R. Subekti, Op. Cit. Hal.161-162
lvii
tersembunyi. Sedangkan pihak pembeli wajib membayar harga pada waktu dan tempat yang
30
telah ditentukan. Berdasarkan ketentuan Pasal 1513 KUH Perdata menyatakan bahwa
"kewajiban utama p e m b e l i i a l a h m e m b a y a r h a r g a p e m b e l i a n , p a d a w a k t u d a n d i
kewajiban yang paling utama bagi pihak pembeli. Pembeli harus menyelesaikan
pelunasan harga bersama dengan penyerahan barang. Jadi dapat disimpulkan bahwa jual beli
tak akan ada artinya tan pa pemba yar an ha rga . O le h kare na n ya sa nga t bera las an
h uku m. Kewa jiba n p embe li u ntuk me mba ya r ha rga ba ran g terse bu t s ebag ai
d ib el in y a .
Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa perjanjian itu tuntas setelah
dilaksanakan hak dan kewajiban oleh para pihak, maka segala akibat hukum dan resikonya
Untuk terjadinya perjanjian jual-beli tanah, pada pelaksanaannya, dimana kedua belah
pihak yaitu antara penjual dan pembeli, telah terjadinya kesepakatan dan setuju mengenai
benda dan harga, Si Penjual menjamin kepada pembeli, bahwa, tanah yang akan dijual
tersebut, tidak akan mengalami, sengketa, kepada pembeli, sedangkan pembeli menyanggupi
Hidayat,31 beliau mengatakan, bahwa sahnya jual beli tanah tanpa melibatkan Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT), adalah sah, tapi perbuatan hukum tersebut tidak dapat
30
Loc. It.
31
Wawancara dengan Bapak Taufik Hidayat, Kasubsi PPAT, pada Kantor Pertanahan Bekasi,
lviii
didaftarkan, pada kantor Pertanahan untuk melakukan perubahan data kepemilikan atau balik
nama.
Menurut ketentuan Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Jual Beli
adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya untuk
menyerahkan hak atas suatu barang dab pihak yang lain untuk membayar harga yang telah
dijanjikan , sedangkan menurut Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, sahnya
Terlebih dahulu kita lihat lengkapnya Pasal 1457 KUH Perdata yang menyatakan
bahwa :
“Jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu
mengikatkan dirinya untuk meyerahkan suatu kebendaan, dari pihak
yang lain untuk membayar harga yang telah dijanjikan.”
Dari apa yang diuraikan pada Pasal 1457 tersebut, maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan
yaitu bahwa jual beli adalah suatu perjanjian konsensuil, artinya ia sudah dilahirkan sebagai
suatu perjanjian yang sah (mengikat atau mempunyai kekuataan hukum) pada detik
tercapainya sepakat penjual dan pembeli mengenai unsur-unsur yang pokok (essentiali) yaitu
barang dan harga, biarpun jual beli itu mengenai barang yang tak bergerak.
Sifat konsensuil jual beli ini ditegaskan dalam Pasal 1458 KUH-Perdata yang berbunyi
“Jual beli dianggap telah terjadi kedua belah pihak sewaktu mereka
telah mencapai sepakat tentang barang dan harga meskipun barang itu
belum diserahkan maupun harganya belum dibayàr.”
lix
Salah satu sifat yang penting lagi dari jual beli menurut sistem Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata, adalah bahwa perjanjian jual beli itu hanya “Obligatoir” saja, artinya, jual beli
itu belum memindahkan hak milik, ia baru memberikan hak dan kewajiban pada kedua belah
pihak, yaitu memberikan kepada si pembeli hak untuk menuntut diserahkannya hak milik atas
barang yang dijual. Sifat ini nampak jelas dari Pasal 1459 KUH-Perdata, yang menerangkan
bahwa hak milik atas barang yang dijual tidaklah berpindah kepada sipembeli selama
Berbeda dengan jual beli menurut hukum tanah nasional yang bersumber pada hukum
adat, dimana apa yang dimaksud dengan jual beli bukan merupakan perbuatan hukum yang
merupakan perjanjian obligatoir. Jual beli (tanah) dalam hukum adat merupakan perbuatan
hukum pemindahan hak yang harus memenuhi tiga (3) sifat yaitu :33
1. Harus bersifat tunai, artinya harga yang disetujui bersama dibayar penuh pada saat
2. Harus bersifat terang, artinya pemindahan hak tersebut dilakukan dihadapan Pejabat
3. Bersifat riil atau nyata, artinya dengan ditanda tangani akta pemindahan hak tersebut,
maka akta tersebut menunjukkan secara nyata dan sebagai bukti dilakukan perbuatan
hukum tersebut.
Dalam hal jual beli tanah, jual beli telah dianggap terjadi walapun tanah belum diserahkan atau
harganya belum dibayar. Untuk pemindahan hak itu masih diperlukan suatu perbuatan hukum
lain berupa penyerahan yang caranya ditetapkan dengan suatu peraturan lain lagi.
Selanjutnya menurut ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata bahwa perikatan yang dibuat
berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya, tidak dapat ditarik kembali
32
R. Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta, PT. Intermasa 1998), hal. 80.
33
Boedi Harsono, Op. Cit, hal. 317
lx
tanpa persetujuan kedua belah pihak atau karena alasan apapun yang cukup menurut undang-
mengikat dan memaksa serta memberi kepastian hukum kepada pihak-pihak yang
membuatnya. Apabila pihak-pihak dalam perjanjian tersebut melanggar, maka pihak tersebut
Pengertian tidak dapat ditarik kembali berarti bahwa perjanjian itu dengan tanpa
alasan yang cukup menurut undang-undang tidak dapat ditarik dibatalkan secara sepihak
tanpa persetujuan para pihak. Sedangkan untuk pelaksanaan dengan itikad baik mengandung
arti bahwa perjanjian itu dalam pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan norma-
adanya penawaran dan penerimaan, yang disusul dengan kesepakatan, analisa yang dapat
digunakan dalam menelaah suatu perjanjian adalah apakah tahap pracontractual telah sesuai
dengan ketentuan hukum, karena dari analisa ini pertamakali suatu perjanjian ditelaah secara
hukum.
Prestasi dalam perjanjian pengikatan jual beli biasanya berbentuk segala sesuatu
yang menjadi kewajiban untuk dipenuhi oleh masing-masing pihak. Apabila perjanjian
pengikatan jual beli yang dilanjutkan dengan jual beli akan dilaksanakan setelah sertipikat
telah selesai dan didaftar atas nama penjual, maka prestasi penjual adalah segera melakukan
pengurusan sertipikat tanah tersebut agar jual beli dapat segera dilakukan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Taufik Hidayat, proses balik nama tidak
dapat dilaksanakan, pada kantor pertanahan, jika pengalihan hanya dilakukan secara dibawah
tangan, karena menurut beliau, belum mempunyai kekuatan hukum yang pasti.34
34
Wawancara dengan Bapak Taufik Hidayat, Kasubsi PPAT, pada Kantor Pertanahan Bekasi,
lxi
Kekuatan pembuktian suatu akta harus memenuhi tiga unsur yakni, kekuatan
pembuktian lahir, kekuatan pembuktian formil, dan kekuatan pembuktian materiel.35 Yang
dimaksud dengan ketentuan pembuktian lahir yaitu kekuatan pembuktian yang didasarkan
atas keadaan lahir, yaitu surat (akta) yang tampak dianggap mempunyai kekuatan, sepanjang
Disini dapat diketahui bahwa kekuatannya dilihat dari bentuk akta luarnya saja, dan
tidak dilihat keseluruhan akta itu, apabila hal ini kita kaitkan dengan alat bukti yang
dikemukakan dalam persidangan yakni berupa perjanjian pengikatan jual beli maka jelas di
dalam perjanjian tersebut, para pihak telah saling membubuhkan tanda tangan pada akhir
perjanjian dan paraf pada setiap lembar perjanjian, artinya syarat pembuktian “lahir” suatu akta
cukup terpenuhi.
pernyataan?” kekuatan pembuktian formil ini didasarkan atas benar tidaknya akta itu adalah
pernyataan dari mereka yang menandatangani akta tersebut. Kekuatan pembuktian formil ini
memberikan kepastian tentang peristiwa bahwa para pihak menyatakan dan melakukan apa
yang dimuat dalam akta pembuktian lahir dari akta perjajnjian pengikatan jual beli cukup
terbukti.
Dalam hal benarkah bahwa ada pernyataan, jelas terbukti dalam persidangan bahwa
perjanjian pengikatan jual beli tersebut memuat batasan, ruang lingkup hak dan kewajiban
masing-masing pihak (penjual dan pembeli), seperti adanya kewajiban pembayaran uang
muka oleh pembeli, dan adanya denda apabila penjual membatalkan perjanjian tanpa adanya
di dalam akta itu”, kekuatan pembuktian materiel disini ditekankan atas kebenaran daripada
35
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, 1977, hal.
107.
lxii
pernyataan yang terkandung dalam akta. Sehingga kekuatan pembuktian ini memberikan
kepastian tentang materi, memberikan kepastian tentang peristiwa bahwa para pihak
menyatakan dan melakukan seperti yang tercantum dalam akta, tentang benarkah isi
pernyataan di dalam akta, menyangkut obyek dari perjanjian yaitu, tanah dan bangunan.
Dalam suatu proses perdata, salah satu tugas hakim adalah untuk menyelidiki apakah
suatu hubungan hukum yang menjadi dasar gugatan benar-benar ada atau tidak. Adanya
hubungan hukum inilah yang harus terbukti apabila penggugat mengiginkan kemenangan
dalam suatu perkara. Apabila penggugat tidak berhasil membuktikan dalil-dalilnya yang
menjadi dasar gugatannya, maka gugatannya akan ditolak, sedangkan apabila berhasil, maka
gugatannya akan dikabulkan. Tidak semua dalil yang menjadi dasar gugatan harus dibuktikan
kebenarannya, untuk dalil-dalil yang tidak disangkal, apabila diakui sepenuhnya oleh pihak
lawan, maka tidak perlu dibuktikan lagi. Beberapa hal/keadaan yang tidak harus dibuktikan
antara lain :
notoir). Atau hal-hal yang secara kebetulan telah diketahui sendiri oleh hakim.
Dalam soal pembuktian tidak selalu pihak penggugat saja yang harus membuktikan
dalilnya. Hakim yang memeriksa perkara itu yang akan menentukan siapa diantara pihak-pihak
yang berperkara yang akan diwajibkan memberikan bukti, apakah pihak penggugat atau
sebaliknya pihak tergugat. Secara ringkas disimpulkan bahwa hakim sendiri yang menentukan
pihak yang mana yang akan memikul beban pembuktian. Didalam soal menjatuhkan beban
pembuktian, hakim harus bertindak arif dan bijaksana, serta tidak boleh berat sebelah. Semua
peristiwa dan keadaan yang konkrit harus diperhatikan dengan seksama olehnya. Sebagai
lxiii
” Barang siapa mengajukan peristiwa-peristiwa atas mana dia mendasarkan suatu
hak, diwajibkan membuktikan peristiwa-pristiwa itu; sebaliknya barang siapa
mengajukan peristiwa-peristiwa guna pembantahan hak orang lain, diwajibkan juga
membuktikan peristiwa-peristiwa itu”
Sekalipun untuk peristiwa yang disengketakan itu telah diajukan pembuktian, namun
pembuktian itu masih harus dinilai. Berhubung dengan menilai pembuktian, hakim dapat
bertindak bebas [contoh: hakim tidak wajib mempercayai satu orang saksi saja, yang berarti
hakim bebas menilai kesaksiannya (ps. 1782 HIR, 309 Rbg, 1908 BW)] atau diikat oleh
undang-undang [contoh: terhadap akta yang merupakan alat bukti tertulis, hakim terikat dalam
Terdapat 3 (tiga) teori yang menjelaskan tentang sampai berapa jauhkah hukum positif
dapat mengikat hakim atau para pihak dalam pembuktian peristiwa didalam sidang, yaitu :36
Teori ini tidak menghendaki adanya ketentuan-ketentuan yang mengikat hakim, sehingga
penilaian pembuktian seberapa dapat diserahkan kepada hakim. Teori ini dikehendaki
jumhur/pendapat umum karena akan memberikan kelonggaran wewenang kepada hakim
dalam mencari kebenaran.
Disamping adanya larangan, teori ini menghendaki adanya perintah kepada hakim. Disini
hakim diwajibkan, tetapi dengan syarat (ps. 165 HIR, 285 Rbg, 1870 BW).
Dari uraian tersebut di atas dapatlah diketahui bahwa akta dibawah tangan yang
dipergunakan sebagai alat bukti (yaitu perjanjian pengikatan jual beli tanah dan bangunan) dan
berlaku pula untuk akta otentik maupun, setidak-tidaknya mempunyai kekuatan pembuktian
36
R. Subekti , Op. Cit¸Hal. 100
lxiv
terhadap siapa yang membubuhkan tandatangan di dalam akta itu. Suatu akta (surat) dapat
dikatakan mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna apabila telah memenuhi ketiga
pembuktian di atas.
Dalam kasus ini, pembuktian terhadap akta jual beli yang tidak dibuat dihadapan
Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dapat dibuktikan dalam persidangan, sehingga perlu
1. Adanya kewajiban denda yang harus dibayar atas kerugian materiel yang diderita pembeli,
kerugian ini dapat berupa kerugian yang benar-benar dialami seperti uang muka yang
telah dibayar, bunga yang telah diperjanjikan, atau keuntungan yang seharusnya
diperoleh.
2. Objek yang diperjanjikan dapat menjadi jaminan, bahwa penjual harus memenuhi terlebih
dahulu kewajibannya, kemudian sita jaminan dapat dihapuskan, sita jaminan ini atau para
pihak sebelum dilakukannya perjanjian pokok yang merupakan tujuan akhir dari para
pihak.
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa untuk terjadinya jual beli tanah hak
dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) harus bersifat final, baik syarat formal
kelengkapan surat-surat (sertifikat, dan lainnya) yang menjadi bukti hak atas tanah.
Syarat materiel seperti harus lunasnya harga jual beli, sedangkan untuk tidak atau
belum terpenuhinya kedua syarat tersebut, maka perjanjian pengikatan jual belilah yang
biasanya dijadikan tujuan (landasan) terjadinya permulaan jual beli yang digunakan sebagai
yaitu jual beli di hadapan PPAT. Namun demikian, Majelis Hakim memutuskan dalam Perkara
Nomor : 220/Pdt.G/2006/[Link] bahwa jual beli yang tidak dibuat dihadapan Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT) tetap sah. Meskipun hal tersebut bertentangan dengan
lxv
peraturan perundangan-undangan yang berlaku yaitu UUPA dan PP 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah.
Hakim d a l a m p u t u s a n n y a :
(duapuluh lima juta rupiah) berdasarkan kwitansi Jual Beli tertanggal 11 Desember
1995;
Menurut penulis jual beli yang tidak dibuat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
tetap sah meskipun hanya berdasarkan kwitansi. Hal itu didasarkan pada Yurisprudensi
Mahkamah Agung Nomor 126.K/Sip/ 1976 tanggal 4 April 1978 yang memutuskan bahwa :
“Untuk sahnya jual beli tanah, tidak mutlak harus dengan akta yang dibuat oleh dan
dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Akta Pejabat ini hanyalah suatu alat bukti”.
Selain itu, menurut pendapat Boedi Harsono, jual beli yang tidak dibuat dihadapan
Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) tetap sah, jadi hak miliknya berpindah dari si penjual
kepada si pembeli, asal saja jual beli itu memenuhi syarat-syarat materiil (baik yang mengenai
Sangat dimungkinkan terjadi sengketa antara suatu yurisprudensi dengan hukum yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan. Sebelum berlaku UUPA dan PP No. 10 tahun
37
Saleh Adiwinata,Bunga Rampai Hukum Perdata dan Tanah 1, Cetakan Pertama (Jakarta :
lxvi
harga dan tanah yang menjadi objek jual-beli meskipun jual-beli dilakukan dibawah tangan,
terutama hal ini dulu berlaku atas tanah yang berstatus hukum adat. Sekarang timbul masalah.
Berdasarkan ketentuan pasal 19 UUPA jo. Pasal 19 PP No. 10 tahun 1961 pemindahan hak
baik dalam bentuk jual-beli dilakukan didepan PPAT, dan oleh karena itu dibuat akta PPAT.
Dengan demikian telah terjadi saling bertentangan antara yurispredensi dengan ketentuan
hukum perundang-undangan.
Tidak selamanya asas Statue Law Prevail atau undang-undang lebih didahulukan
dengan Yurisprudensi. Dalam hal-hal tertentu secara kasustik, yurisprudensi yang dipilih dan
dimenangkan dalam pertarungan pertentangan nilai hukum yang terjadi. Mekanisme yang
ditempuh oleh hakim memenangkan yurisprudensi terhadap suatu peraturan pasal perundang-
Untuk membenarkan suatu sikap dan tindakan bahwa yurisprudensi lebih tepat dan lebih
unggul nilai hukum dan keadilannya dari peraturan pasal undang-undang, mesti
mengguji dan mengganalisis secara cermat, bahwa nilai-nilai hukum yang terkandung
dalam yuriprudensi yang bersangkutan jauh lebih pontensial bobot kepatutannya dan
dalam rumusan undang-undang. Dalam hal ini agar dapat dilakukan komparasi analisis
yang terang dan jernih, sangat dibutuhkan antisipasi dan wawasan profesionalisme. Tanpa
modal tersebut sangat sulit seorang hakim berhasil menyingkirkan suatu pasal undang-
undang.
Jika hakim benar-benar dapat mengkonstruksi secara komparatif analisis bahwa, bobot
lxvii
umum, dibandingkan suatu ketentuan pasal undang-undang, dia dibenarkan
Disebabkan nilai bobot yurisprudensi lebih pontensial dan lebih efektif mempertahankan
mundur dengan cara contra legem, sehingga yurusprudensi yang sudah mantap
Memang ada kemiripan cara ini dengan tindakan contra legem, tetapi ada
perbedaan. Penerapan contra legem pasal yang bersangkutan disingkirkan secara penuh.
Keberadaan pasal itu didalam perundang-undangan sama sekali tidak ada. Lain halnya
memperlunak pasal perundang-undangan. Dalam hal ini yurisprudensi tidak secara penuh
melemparkan nilai yang tekandung dalam pasal, tetapi hanya diperlunak dari sifat imperatif
C. Penyelesaian Yang Dapat Dilakukan Oleh Pembeli, Agar Jual Beli Tanah Yang Dilakukan
38
Paulus, Yurisprudensi dalam Perspektif Pembangunan Hukum Administrasi Negara, 1995)
lxviii
Perjanjian yang dibuat secara sah maka berlaku sebagai undang-undang bagi para
pihak yang membuatnya (Pasal 1338 KUHPerdata), yang mengandung pengertian bahwa
perjanjian yang mereka buat itu mempunyai kekuatan yang sama dengan suatu undang-
undang.
Dengan asas ini, pihak-pihak yang mengadakan perjanjian diberi kebebasan untuk
membuat isi perjanjian sesuai dengan kebutuhan dan keinginannva. Hal ini maksudnya
atau syarat-syarat yang akan menjadi kesepakatan para pihak. Seberapa luas dan lama
Dengan demikian berarti isi perjanjian yang dibuat itu harus dilaksanakan seperti
halnya mereka melaksanakan undang-undang, yang mana jika salah satu pihak
Apabila suatu sengketa perdata telah diputus oleh hakim, maka disini bukanlah berarti
keputusan tersebut secara langsung dapat dilaksanakan. Keputusan hakim itu baru dapat
dilaksanakan bila telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Yang dimaksud dengan keputusan
hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum ini ialah, suatu keputusan yang menurut
ketentuan undang-undang tidak ada kesempatan lagi untuk mengajukan upaya hukum.
Sebaliknya yang dimaksud dengan keputusan hakim yang belum mempunyai kekuatan tetap
ialah, suatu keputusan yang masih terbuka kesempatan untuk menggunakan upaya hukum
menjadi dua yaitu itikad baik yang bersifat subjektif dan itikad yang bersifat objektif. Yang
bersifat subjektif ukurannya sangat relatif, atau dapat dikatakan tidak dapat diukur sampai
sejauh mana batasan ini berlaku, hanya undang-undang memberikan rambu yaitu dengan
lxix
Bersifat objektif yaitu dengan melihat senyatanya (yang tampak terlihat) pada
perjanjian itu sendiri, seperti bentuknya, cara membuuatnya dan isinya. Jika ukuran subjektif
menilai akibat dari adanya perjanjian itu, seperti bagaimanakah maksud dari perjanjian,
bagaimanakah pelaksanaan perjanjian, sedangkan ukuran objektif menilai dari adakah suatu
peraturan yang terlanggar dengan adanya perjanjian tersebut, atau bagaimanakah cara para
Ukuran itikad baik dalam pelaksanaan perjanjian menjadi kajian oleh Hakim sendiri
mengkaji apakah suatu perjanjian dilaksanakan dengan itikad baik atau tidak, yang kemudian
sebagai berikut :
harus di ajukan dengan surat gugat yang ditadnatangani oelh Penggugat atau
kuasanya yang sah. Surat gugatan/tuntutan yang diajukan tersebut harus memuat
sekurang-kurangnya:
1. nama lengkap dan tempat tinggal atau tempat kedudukan para pihak;
d. Panggilan para pihak untuk menghadiri sidang dilakukan oleh juru sita.
lxx
Surat Panggilan kepada tergugat untuk sidang pertama harus menyebutkan adanya
penyerahan sehelai salinan surat gugatan dan pemberitahuan kepada pihak tergugat
b. Sidang Pengadilan
Jika pada hari yang telah ditentukan oleh Majelis Hakim berdasarkan pada surat
perintah menghadap yang telah dikeluarkan ternyata Penggugat tanpa suatu alasan
yang sah tidak hadir sedangkan telah dipanggil secara patut, surat gugatannya
dinnyatakan gugur. Sedangkan jika teergugat pada hari yang telah ditentukan tanpa
suatu alasan sah tidak hadir sedangkan tergugat telah dipanggil secara patut, maka
majelis Hakim harus segera melakukan panggilan sekali lagi. Dan jika panggilan
kedua diterima tergugat dan tergugat tanpa alasan yang sah tidak menghadap
Para pihak diberi kesempatan untuk mengajukan bukti-bukti tertulis dan saksi-saksi
d. Pembacaan Putusan.
Dalam hal sengketa jual beli tanah tidak dihadapan PPAT (tanpa akta jual beli
PPAT) dimana tergugat tidak diketahui tempat tinggalnya sehingga tidak hadir
hingga pada pemanggilan sedang kedua, maka berdasarkan Pasal 125, 126, dan
Pasal 127 HIR, maka putusan dijatuhkan dengan Verstek, yang mana tuntutan
penggugat dikabulkan.
sebagai pemilik yang sah atas tanah dan bangunan diatasnya. Dengan putusan
Pengadilan Negeri tersebut, maka pihak PPAT selaku pemegang asli sertifikat
diwajibkan untuk menyerahkan sertifikat atas tanah yang dimaksud yang masih
lxxi
tercatat atas nama tergugat kepada penggugat dan kuasanya. Dikarenakan Pihak
tergugat tidak diketahui lagi tempat tinggalnnya sehingga tidak dapat hadir
menghadap PPAT, maka putusan Pengadilan Negeri juga membeerikan izin dan
kuasa kepada Pengugat untuk bertindak atas nama Tergugat (Penjual) dalam
melaksanakan penandatangan akta Jual Beli atas tanah sekaligus bertindak untuk
dan atas namanya sendiri selaku pembeli dengan harga yang telah disepakati pada
ternyata pada kasus tersebut , bahwa PPAT tidak mau menyerahkan asli sertifikat
tersebut, walaupun kepadanya telah diserahkan putusan Pengadilan Negeri yang telah
menyerahkan asli sertifikat tersebut, kepada Pengadilan Negeri, hal ini disebabkan
PPAT yang bersangkutan terlalu berhati-hati, karena memang dalam tugasnya seorang
PPAT haruslah bertindak dengan hati-hati, hal ini sesuai dengan sumpah Jabatan PPAT.
tersebut menganjurkan kepada Penggugat agar mengajukan upaya hukum lain, yaitu
penggugat mohon agar ketua pengadilan memerintahkan kepada turut tergugat untuk
tersebut tidak dilaksankan oleh PPAT, selaku turut tergugat, setelah diketahui alasan
dari PPAT tersebut ternyata, PPAT hanya bertindak hati-hati untuk menyerahkan
sertifipkat tersebut, tanpa ada kehendak untuk tidak mematuhi putusan pengadilan
39
Wawancara dengan Ibu Suharmini, selaku Panitera Muda Hukum, Pengadilan Negeri
lxxii
Lebih lanjut beliau mengatakan setelah dilakukannya penyerahan sertifikat oelh
PPAT kepada penggugat , maka dilakukan pendantangan akta Jual Beli dihadapan
PPAT, maka penggugat telah menjadi pemilik yang sah hak atas tanah beserta
bangunan diatasnya yang juga dibuktikan dengan putusan Pengadilan Negeri, sehingga
dikemudian hari tidak dikawatirkan adanya pihak lain yang secara tiba-tiba menggugat,
di atas bahwa untuk terjadinya jual beli tanah hak dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah
(PPAT) harus bersifat final, baik syarat formal maupun materielnya, untuk syarat formal
Syarat materiel seperti harus lunasnya harga jual beli, merupakan syarat untuk
perjanjian pokoknya yaitu jual beli di hadapan PPAT. Dengan demikian, tidak bertentangan
dengan Pasal 37 PP. No. 24 Tahun 1997 yang menentukan bahwa pengalihan hak atas
tanah harus dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang. Sedangkan
ketentuan Pasal 38 PP. No. 24 Tahun 1997 mengenai para pihak yang harus hadir dalarn
1) Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melaui jual beli,
pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang hanya dapat
didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang
2) Dalam keadaan tertentu sebagaimana yang ditentukan oleh Menteri Kepala Kantor
Pertanahan dapat mendaftar pemindahan hak atas bidang tanah hak milik, yang
dilakukan diantara perorangan Warga Negara Indonesia yang dibuktikan dengan akta
lxxiii
yang tidak dibuat oleh PPAT, tetapi yang menurut kepala Kartor Pertanahan tersebut
bersangkutan.
1) Pembuatan akta sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1) dihadiri oleh
para pihak yang melakukan perbuatan hukum yang bersangkutan dan disaksikan oleh
2) Bentuk, isi dan cara pembuatan akta-akta PPAT diatur oleh Menteri.
a. Mengenai bidang tanah yang sudah terdaftar atau hak milik atas satuan rumah
susun kepadanya tidak bisa disampaikan sertifikat asli hak yang bersangkutan
atau sertifikat yang diserahkan tidak sesuai dengan daftar-daftar yang ada di
Kantor Pertanahan;
1. Surat bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1) atau surat
belum bersertifikat dari kantor pertanahan, atau untuk tanah yang terletak di
daerah yang jauh dari kedudukan kantor pertanahan, dari pemegang hak yang
lxxiv
c. Salah satu atau para pihak yang akan melakukan perbuatan hukum yang
bersangkutan atau salah satu saksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 tidak
d. Salah satu pihak atau para pihak bertindak atas dasar suatu surat kuasa mutlak
e. Untuk perbuatan hukum yang akan dilakukan belum diperoleh ijin pejabat atau
g. Tidak dipenuhi syarat lain atau dilanggar larangan yang ditentukan dalam
namun diakui di dalam lalu lintas bisnis dimasyarakat, hal ini merupakan suatu perikatan
yang muncul dari perjanjian, yang diatur dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum
perjanjian itu tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundangan dan harus didasari
sangat besar, terutama dalam proses pembuatan akta-akta, agar akta yang dibuatnya
tersebut tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku dan tidak
umum yang berwenang membuat akta otentik, maka akta yang dibuatnya tersebut harus
merupakan juga alat pembuktian formal yang mengandung kebenaran absolut, sehingga
seharusnya notaris juga berperan untuk mengantisipasi secara hukum atas timbulnya hal-
lxxv
hal yang dapat merugikan para pihak yang membuatnya serta akibat hukum dan perjanjian
tensebut.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak yang terkait yaitu pihak Kantor
Pertanahan Bekasi, yang dalam hal ini diwakili oleh Ibu Purwati,40 beliau mengatakan,
setelah adanya Surat Penetapan dari Pengadilan Negeri, maka Pihak Kantor Pertanahan,
dapat melakukan proses pengalihan hak, dengan melalui prosedur sama dengan proses
dimaksud memindahkan hak atas tanah harus dibuktikan dengan Akta Pejabat Pembuat
Akta Tanah (PPAT), jadi jual beli hak atas tanah harus dilakukan dihadapan PPAT,
sebagai bukti telah terjadi jual beli suatu hak atas tanah.
PPAT, jika diperoleh dari hasil surat penetapan pengadilan negeri, yaitu meliputi :
a. Surat bukti kepemilikan obyek jual beli sertifikat hak atas tanah
2. Surat Nikah;
c. Surat tanda bukti pelunasan BPHTB (Bea Peroleh Hak Atas Tanah dan Bangunan)
sesuai ketentuan
membuat akta jual belinya, yaitu sebesar 5 % , setelah harga tanah dan bangunan
dikurangi dengan nilai tidak kena pajak sebesar Rp. 30.000.000,- (tigapuluh juta rupiah),
40
Wawancara dengan Ibu Purwati,Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Pertanahan Bekasi,
lxxvi
Dokumen-dokumen tersebut diatas, wajib diserahkan kepada PPATsebelum akta
Jual belinya dibuat oleh yang berwenang. Jual beli tanah tidak boleh tidak harus dilakukan
dihadapan dan dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah sesuai dengan akta yang telah
Menurut Ibu Purwati,41 menganjurkan agar terhindari dari sengketa sebaiknya jual
beli tanah dilakukan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah yang berwenang, dan jangan
melakukan jual beli tanah tanpa melibatkan PPAT , apalagi hanya bukti berupa kwitansi
dan surat pernyataan perjanjian jual beli dilakukan secara dibawah tangan saja.
menyatakan, bahwa Kantor Pertanahan hanya akan mengakui pemilik tanah yang
namanya tercantum dalam sertifikat hak atas tanah dan data yang ada pada Kantor
Pertanahan.
Bekasi , banyak juga yang disebabkan oleh tidak dilakukannya pengalihan hak atas tanah
dihadapan atau dengan akta PPAT, terutama banyak terjadi dalam kasus tanah yang
Berdasarkan hasil penelitian dan analisa oleh penulis, bahwa dari tinjauan hukum,
dapatlah dilihat bahwa jual beli tanah yang dilakukan tanpa akta Jual Beli PPAT akan
dapat menimbulkan kerugian bagi pihak pembeli, hal ini karena ia hanya dapat menguasai
secara fisik akan tetapi tidak dapat membuktikan kepemilikannya tersebut secara yuridis,
hal ini sesuai dengan peraturan yang tercantum dalam PP Nomor 24/1997. akan tetapi jual
beli yang telah dilakukan antara para pihak adalah sah, karena jual beli tersebut terjadi
karena adanya kesepakatan antara kedua belah pihak, dan para pihak telah cakap
menurut hukum, dan kesepakatan itu untuk hal jual beli (hal tertentu) dan hak atas tanah
41
Wawancara dengan Ibu Purwati, Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Pertanahan
lxxvii
dan bangunan tersebut adalah benar milik pihak penjual, hal ini telah sesuai dengan
ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, untuk sahnya suatu
hak atas tanah, berdasarkan pertirnbangan, bahwa selain sebagai pejabat pembuat akta
tanah juga sebagai penasehat hukum.42 Oleh karena itu dalarn praktek, pada saat
diperhitungkan sebagal harga jual tanah tersebut. Setelah sertifikat diperoleh, maka
beli.
2. Agar menunggu sertifikat terbit atas nama pihak penjual, kemudian keduanya datang
3. Dengan menunggu sertifikat diperoleh atas nama pihak penjual (sertifikat dalam
proses permohonan hak dan sudah sarnpai kanwil Pertanahan), maka dilakukan
perbuatan hukum dengan membuat akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli, dengan
Disinilah terlihat peran PPAT-Notaris terhadap kasus-kasus yang dihadapi, tentunya tetap
memperhatikan dan segi positif maupun negatif, karena tindakan yang diarnbilnya
42
Kartini Soedjendro, Perjanjian Peralihan Hak atas Tanah yang berpotensi Konflik,
(Yogjakarta : Kanisius, 2001), hal. 116.
lxxviii
sekarang, tidaklah selesai sampai disitu saja, tatapi dapat pula berakibat dimasa
mendatang.
lxxix
BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik simpulan yang
1. Bahwa status Jual Beli tanah yang dilakukan tanpa akta Pejabat Pembuat Akta Tanah
dalam Perkara Nomor: 220/Pdt.G/2006/[Link] tetap sah berdasarkan kwitansi Jual Beli
Agung Nomor 126.K/Sip/ 1976 tanggal 4 April 1978 yang memutuskan bahwa : “Untuk
sahnya jual beli tanah, tidak mutlak harus dengan akta yang dibuat oleh dan dihadapan
Pejabat Pembuat Akta Tanah. Akta Pejabat ini hanyalah suatu alat bukti”. Selain itu, jual
beli yang tidak dibuat dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) tetap sah, jadi hak
miliknya berpindah dari si penjual kepada si pembeli, asal saja jual beli itu memenuhi
2. Penyelesaian yang dapat dilakukan oleh pembeli, agar jual beli tanah yang dilakukan
tanpa akta PPAT dapat mempunyai kekuatan hukum yang pasti dengan meminta Putusan
Pengadilan Negeri yang memberikan kepastian hukum kepada penggugat sebagai pemilik
yang sah atas tanah dan bangunan diatasnya. Dengan putusan Pengadilan Negeri
tersebut, maka pihak PPAT selaku pemegang asli sertifikat diwajibkan untuk menyerahkan
sertifikat atas tanah yang dimaksud yang masih tercatat atas nama tergugat kepada
penggugat dan kuasanya. Dikarenakan Pihak tergugat tidak diketahui lagi tempat
tinggalnnya sehingga tidak dapat hadir menghadap PPAT, maka putusan Pengadilan
Negeri juga membeerikan izin dan kuasa kepada Pengugat untuk bertindak atas nama
Tergugat (Penjual) dalam melaksanakan penandatangan akta Jual Beli atas tanah
lxxx
sekaligus bertindak untuk dan atas namanya sendiri selaku pembeli dengan harga yang
B. Saran
Dari hasil penelitian yang penulis peroleh , maka penulis memberikan suatu saran
1. Oleh karena pelaksanaan Jual-beli tanah pada hakekatnya merupakan salah satu
pengalihan hak atas tanah kepada pihak lain,yaitu dari penjual kepada pembeli tanah.
Dimana dalam proses pelaksanaannya tidak mungkin dilaksanakan balik nama, tanpa
melibatkan Pejabat Pembuat Akta Tanah, maka Berdasarkan ketentuan perbuatan hukum
jual-beli tanah yang dilakukan dihadapan PPAT dibuktikan dengan Akta jual beli tanah
2. Akan tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa dalam kehidupan masih banyak masyarakat yang
melakukan jual beli tanah tanpa akta jual beli PPAT yang pada akhirnya akan
menimbulkan masalah atau sengketa. Oleh karena hal tersebut ada beberapa hal yang
menurut penulis kiranta perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut dari semua pihak,
sebagai berikut :
a. Camat /Kepala Desa selaku Pejabat yang paling dekat dengan masyarakan,
bagi kepentingan masyarakat banyak, khusus dalam kaitan dengan tulisan ini adalah
masyarakat.
b. Masyarakat sebagai pihak yang akan melakukan pengalihan atau pihak yang akan
menerima hak hendaknya mencari informasi terlebih dahulu pada Kantror pertanahan
lxxxi
setempat atau kepada PPAT sebagai Pejabat umum yang berwenang membuat akta-
akta yang berkaitan dengan tanah agar tidak timbul masalah di kemudian hari.
Daftar Pustaka
1. Buku-buku
Perkembangannya,
Effendi Perangin, Praktek Jual Beli Tanah, (Jakarta: Rajawali Pers, 1987)
[Link] Saleh, Hak Anda Atas Tanah, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1977)
lxxxii
Kartini Soedjendro, Perjanjian Peralihan Hak atas Tanah yang berpotensi Konflik, (Yogjakarta :
Kanisius, 2001)
1987)
Purwahid patrik, Dasar-Dasar Hukum Perikatan (Perikatan yang lahir dari perjanjian dan dari
Undang-Undang), (Bandung : Mandar Maju, 1994)
----------, Asas-asas Itikad Baik dan Kepatutan Dalam Perjanjian, (Semarang :
lxxxiii
R. Subekti, Hukum Pembuktian, (Jakarta, Pradnya Paramita 1979)
Grafika, 1994)
2. Peraturan Perundang-undangan
- Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat
Akta Tanah;
lxxxiv
- Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun
1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
tentang Pendaftaran Tanah;
lxxxv