TUGAS MANAJEMEN REPRODUKSI
MANAJEMEN CALVING INTERVAL PADA
SAPI PERAH
Dosen Pengampu :
Siti Rakhmawati Z, [Link], M.P
Disusun Oleh :
Kiki Fatmah Ikhsaniyah 20200104001
Ayu Isroah 20200104003
PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA
PURWOKERTO
2023
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI...................................................................................................2
BAB I. PENDAHULUAN..............................................................................3
1.1 Latar Belakang .........................................................................................3
1.2 Tujuan .......................................................................................................3
1.3 Manfaat......................................................................................................3
BAB II. ISI.......................................................................................................4
2.1 Calving Interval .......................................................................................4
2.2 Faktor-faktof Calving Interval ..............................................................5
2.3 Upaya Memperpendek Calving Interval ...............................................8
BAB III. PENUTUP........................................................................................12
3.1 Kesimpulan................................................................................................12
3.2 Saran..........................................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 13
2
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Selang beranak merupakan kunci sukses dalam peternakan sapi (pembibitan),
semakin banyak selang beranak, semakin turun pendapatan petani peternak, karena
jumlah anak yang dihasilkan akan berkurang selama masa produkif. Meningkatakan
produksi dan reprduktifitas ternak dengan memperpendek selang beranak (calving
interval) dengan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh dan seleksi bibit ternak
(sapi pengafkiran memiliki selang beranak yang panjang). Panjang pendeknya selang
beranak merupakan pencerminana dari fertilitas ternak, selang beranak dapat diukur
dengan masalaktasi ditambah masa kering / waktu kosong ditambah masa
kebuntingan. Selang beranak yang lebih pendek menyebabkan produksi susu perhari
menjadi lebih tinggi dan jumlah anak yang dilahirkan pada periode produktif
menjadi lebih banyak.
CI merupakan jangka waktu dari saat induk beranak hingga saat beranak
berikutnya. Menurut Sudono (1999) calving interval yang optimal untuk sapi perah
adalah 12-13 bulan, sedangkan yang panjangnya lebih dari 13 bulan tidak ekonomis.
Terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi calving interval pada sapi perah.
Menurut Wardhani (2015), faktor-faktor yang mempengaruhi nilai CI adalah days
open (DO), dan service per conception (S/C).
B. Tujuan
1. Mengetahui Calving Interval pada sapi perah
2. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Calving Interval sapi perah
3. Mengetahui upaya-upaya memperpendek Calving Interval sapi perah
C. Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengetahui Calving Interval pada sapi perah
2. Mahasiswa dapat mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Calving Interval
pada sapi perah
3. Mahasiswa dapat mengetahui upaya-upaya yang dapat memperpendek Calving
Interval pada sapi perah
3
BAB II. ISI
2.1 Calving Interval
Selang beranak (Calving Interval) adalah selang waktu antara dua
periode kelahiran secara berurutan (Samsuandi, 2016). CI juga dapat
menggambarkan suatu penilaian terhadap performa reproduksi ternak, dan
dapat menjadi tolak ukur baik buruknya kinerja reproduksi. Semakin
pendek jarak beranak akan semakin produktif seekor induk, karena
semakin banyak pula anak yang dapat dilahirkan epanjang hidupnya. Jarak
beranak ini dapat diukur dengan menghitung jarak antara kelahiran satu
anak dengan anak berikutnya yang berurutan. Pada sapi jarak beranak
diharapkan 12 bulan, untuk membuat jarak beranak maksimal 12 bulan,
jika lama bunting 9 bulan 10 hari (280 hari), maka maksimal 85 hari
sejak beranak induk harus sudah bunting lagi(Ismaya, 2014). Calving
interval yang panjang menyebabkan keberhasilan dalam memiliki seekor pedet
dari seekor betina semakin rendah. Apabila tidak dilakukan langkah yang tepat
untuk memperpendek panjang jarak beranak maka akan mengakibatkan
produksi ternak menurun. Wahyudi, et al. (2013) menyatakan calving
interval melebihi 13 bulan penyebabnya adalah karena terjadinya kegagalan
reproduksi.
Panjangnya periode waktu dari kelahiran sampai estrus pertama
merupakan sebagian besar faktor yang ikut menyebabkan rendahnya efisiensi
reproduksi panjangnya periode waktu dari kelahiran sampai estrus pertama
merupakan sebagian besar faktor yang ikut menyebabkan rendahnya efisiensi
reproduksi. Jarak beranak yang lama atau panjang menyebabkan turunnya
produksi susu secara keseluruhan pada sapi perah. Penurunan jumlah pedet yang
dihasilkan, meningkatkan biaya produksi dan perkandangan untuk pemeliharaan,
Oleh sebab itu kerugian besar jika potensi untuk menghasilkan pedet terganggu
karena kegagalan sapi menjadi bunting. periode anestrus yang panjang pada sapi
pasca beranak dan menyusui akan menurunkan jumlah pedet yang dihasilkan dan
dapat menyebabkan kerugian pada perusahaan sapi perah.
4
2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi Calving Interval
2.2.1 Umur Pertama Kali Dikawinkan
Umur kawin pertama adalah jarak hari dari ternak induk
tersebut lahir sampai dengan dikawinkan untuk pertama kali dan
diperoleh dengan menghitung jarak hari tanggal lahir induk sampai
dengan jarak induk tersebut dikawinkan pertama kali. Pubertas
atau dewasa kelamin adalah umur atau waktu pada saat organ-organ
reproduksi mulai berfungsi dan perkembangbiakan mulai terjadi.
Wahyudi, dkk. (2013) menyatakan bahwa tingkat kesuburan ternak juga
dipengaruhi oleh umur ternak tersebut. Semakin tua umur induk maka
reproduksi semakin baik dibandingkan dengan induk muda.
2.2.2 Umur pertama kali melahirkan
Umur beranak pertama merupakan saat dimana sapi mengalami
priode pertama beranak. Umur beranak pertama merupakan faktor
yang mempengaruhi produsksi susu. Sapi betina yang umur beranaknya
pada usia tiga tahun akan menghasilkan susu lebih banyak jika
dibandingkan dengan sapi yang beranak pada umur dua tahun
2.2.3 Birahi pertama setelah beranak
Semakin panjang estrus pertama setelah beranak akan
memperpanjang calving interval. Calving interval dipengaruhi oleh jarak
dari beranak sampai dengan perkawinan pertama
2.2.4 Perkawinan setelah beranak
Kawin pertama setelah beranak yaitu dihitung dari saat sapi
tersebut beranak sampai saat dikawinkan untuk pertama kalinya,
diperoleh dari catatan peternak dan inseminator.
2.2.5 Skor kondisi tubuh
5
Penilaian BCS merupakan suatu metode penilaian kondisi tubuh
ternak baik secara visual (inspeksi) maupun dengan perabaan (palpasi)
terhadap lemak tubuh pada bagian tertentu. Nilai BCS dapat
menggambarkan bobot badan dan cadangan lemak yang digunakan
sebagai sumber energi untuk mengoptimalkan produktivitas selama
periode pertumbuhan, kebuntingan dan laktasi. Penaksiran bobot badan
juga dilakukan sebagai alternatif untuk mengetahui bobot badan ternak
secara praktis. Ukuran-ukuran linear tubuh dapat digunakan untuk
menaksir bobot badan. (Dewi, 2015). Prasita et al. (2015) menyatakan
bahwa nilai BCS yang tinggi menjadi indikasi adanya perlemakan yang
baik pada tubuh ternak. Ketersediaan lemak yang baik akan menunjang
proses produksi hormon, karena salah satu penyusun hormon reproduksi
adalah steroid yang berasal dari lemak. Penilaian terhadap tubuh ternak
juga memiliki beberapa penilaian dan salah satu diantaranya adalah
bagian pinggul. Menurut Kellog (2014) bahwa penilaian BCS ternak
yang ideal tergantung pada tujuan pemeliharaan. Ternak yang
dipelihara dengan tujuan pembibitan tidak memerlukan kondisi tubuh
yang terlalu gemuk. Skor kondisi tubuh ternak merupakan metode
hitungan semi kuantitatif serta menggunakan hitungan tertentu agar dapat
mengetahui nilai kegemukan pada ternak yang didasarkan dari
penampakan fenotif di 8 titik yaitu : tulang belakang, tulang punggung,
legok lapar serta antara tuber coxae dan pangkal ekor ke tuber ischiadicus
(Bagus, 2013).
2.2.6 Service per conception
Service per Conception (S/C) adalah angka yang
menunjukkan jumlah inseminasi untuk menghasilkan kebuntingan dari
sejumlah pelayanan inseminasi (service) yang dibutuhkan oleh
ternak betina sampai terjadi kebuntingan (Toelihere, 1993).
Tingginya angka S/C menunjukkan semakin rendahnya fertilitas
atau efisiensi reproduksi sapi (Zainudin et al. 2014). Semakin tinggi
nilai S/C, akan semakin panjang masa kosong dan CI. Besarnya
angka S/C disebabkan oleh beberapa faktor yaitu, ketidaknormalan
siklus estrus dan ovulasi sehingga pendeteksian estrus sulit
6
dilakukan, serta umur induk berkorelasi dengan status fisiologi sapi
perah (Zainudin et al. 2014).
2.2.7 Lama waktu kosong
Lama masa kosong dihitung dari saat sapi tersebut beranak
sampai saat kawin terakhir yang menghasilkan kebuntingan, diperoleh
dari catatan peternak atau inseminator, dalam satuan hari. Diperlukan
data tanggal beranak dan tanggal kawin terakhir yang menghasilkan
kebuntingan.
2.2.8 Lama laktasi
Lamalaktasi dihitung dari mulai sapi berproduksi susu sampai
dengan sapi dikeringkan, dalam satuan hari. Laktasi yang lebih lama
menghasilkan lebih banyak susu selama masa produksi, tetapi periode
kering lebih pendek. Idealnya susu sapi diperah selama 305 hari, tetapi
pemerahan sapi perah selama masa laktasi bisa memakan waktu
kurang dari 305 hari atau lebih lama, sehingga harus distandardisasi.
Lama laktasi yang lebih singkat dan kondisi ambing yang buruk
mengakibatkan produksi susu pada periode berikutnya menurun
(Atashi et al. 2013).
2.2.9 Periode laktasi
Masa laktasi adalah masa sapi sedang berproduksi (antara waktu
beranak sampai masa kering). Sapi mulai berproduksi setelah melahirkan
anak. Setelah sapi melahirkan, kira-kira setengah jam setelah itu produksi
susu sudah keluar dan saat itulah masa laktasi dimulai. Masa laktasi sapi
dimulai sejak sapi tersebut berproduksi hingga masa kering tiba. Masa
kering adalah masa dimana sapi yang sedang berproduksi dihentikan
pemerahannya untuk mengakhiri masa [Link] demikian, masa
laktasi sapi perah berlangsung selama 10 bulan atau kurang lebih 305
hari setelah dikurangi hari-hari untuk colostrum (susu untuk pedet),
sedangkan masa kering biasanya berlangsung selama 2 bulan atau 60 hari
dan masa kering tersebut akan berakhir pada saat sapi yang bersangkutan
7
melahirkan, karena beberapa saat kemudian sapi yang melahirkan
tersebut akan kembali mengeluarkan air susu (Amanda.,2016).
2.3 Upaya Memperpendek Calving Interval
Usaha yang dilakukan untuk memperpendek Days Open/Calving Interval/selang
beranak :
1) Menyediakan pejantan karena telah terjadi kelangkaan pejantan unggul di
lapangan karena memelihara pejantan dianggap tidak menguntungkan,
2) Mempertepat deteksi berahi pada usaha ternak intensif (dikandangkan)
sehingga dapat memperpendek jarak beranak, dan
3) Melakukan penyuluhan sistem perkawinan sehingga peternak mampu
mengawinkan ternak tepat waktu, baik dengan perkawinan alami maupun
melalui IB.
4) Peningkatan SDM inseminator
Ketepatan waktu inseminasi merupakan hal yang berpengaruh terhadap
terjadinya konsepsi, dan jarak beranak. Inseminasi pada waktu yang tepat yaitu
pada waktu sapi sedang estrus, karena pada waktu itu kemungkinan akan terjadi
fertilisasi pada sapi yang sehat jika dilakukan inseminasi dengan semen yang
sehat. Sebagian besar sapi bunting pada kawin pertama atau bila pelaksanaan ide
tidak tepat dan pengetahuan peternak tentang reproduksi ternak rendah akan
mempengaruhi keberhasilan kebuntingan, kegagalan deteksi estrus akan
menambah waktu kosong umur reproduksi ternak dan akan merugikan peternak.
Untuk mengetahui saat yang tepat untuk mengawinkan sapi agar mendapatkan
kepentingan adalah perlu diketahui siklus estrus nya lama periode estrus nya dan
saat ovulasinya sehingga dapat ditentukan waktu optimum untuk melakukan
perkawinan alami atau inseminasi buatan (IB). Waktu yang optimum untuk
melakukan inseminasi adalah pada saat liang rahim terbuka yaitu pada saat birahi
lengkap atau baru saja selesai birahi atau kurang dari 18 jam hal itu dapat
diketahui dengan adanya pelebaran transparan yang keluar dari vagina menaiki
sapi lain atau sapinya bersuara. jika lebih dari 24 atau 28 jam setelah estrus.
Waktu inseminasi sudah tidak baik bahkan kemungkinan akan gagal karena istri
sudah selesai dan ovum tidak aktif lagi.
Perkawinan dapat berhasil bila dilakukan setelah masa involusi uterus
telah berakhir secara komplit dan normal sehingga implantasi embrio dapat
8
terjadi secara sempurna, kalau tidak maka akan terjadi abortus dan akan
memperpanjang dalam celana. Keberhasilan inseminasi dipengaruhi oleh
keterampilan inseminator, dan kegagalan inseminasi karena keterlambatan
perkawinan, semen yang rusak, kesalahan inseminator dan mendeposisikan
semen (Subagyo, 1996). Oleh karena itu inseminator dituntut untuk memahami
tentang ciri-ciri waktu sapi estrus, lamanya estrus dan waktu lamanya ovulasi
sehingga waktu enzim inseminasi dapat dilakukan dengan benar baik waktu
maupun deposisi semen nya dengan harapan dapat terjadi konsep titik-titik
dianjurkan agar estrus yang berlangsung kira-kira 18 jam dibagi menjadi tiga
( tiap kolom 6 jam ), dan inseminasi yang dilakukan pada 6 jam kedua setelah
tanda-tanda estrus akan menghasilkan angka konsepsi yang tinggi ( Toilihere,
1981).
5) Manajemen pakan
Pakan merupakan faktor penting pada penampilan produksi dan
reproduksi sapi terutama sapi perah pasca beranak, pakan yang kurang baik
dalam jumlah maupun kualitasnya menyebabkan tergantungnya fungsi fisiologis
reproduksi ternak. Pemberian pakan dasar, pakan konsentrat pakan aditif dengan
kandungan nutrisi yang tidak seimbang dan tidak kontinyu akan menimbulkan
stress dan akan menyebabkan sapi rentan terhadap penyakit dan terjadi gangguan
pertumbuhan dan gangguan fungsi fisiologi reproduksi ternak. Banyak sedikitnya
jumlah energi dalam pakan (kandungan bahan kering) berpengaruh pada organ
reproduksi dan aktivitas ovarium bila terjadi ketidakseimbangan energi dalam
pakan (intake) dengan energi untuk pertumbuhan akan menurunkan birahi pada
ternak muda yang sedang tumbuh dan pada sapi perah dewasa pada beranak dan
ketidak aktifkan ovarium yang menyebabkan menstruasi terlambat pubertas pada
semua jenis ternak dan akan memperpanjang estrus pada sapi yang sedang
laktasi.
Rumput kering yang jelek biasanya akan menyebabkan defisiensi vitamin
yang kompleks defisiensi cobalt (Co) kurang tutup yang dapat menyebabkan
rendahnya nafsu makan sehingga intake energi dan nilai gizi dan vitamin akan
berkurang akibatnya bekerja pada sapi darah akan terlambat dan kegagalan estrus
pada induk. adalah tersebut di atas dapat diatasi dengan pemberian suplemen
probiotik ke dalam pakan konsentrat. probiotik adalah mikrobia hidup dalam
media pembawa yang menguntungkan ternak karena dapat menciptakan
9
keseimbangan mikroflora dalam saluran pencernaan sehingga menciptakan
kondisi yang optimum untuk pencernaan pakan dan meningkatkan efisiensi
konversi pakan sehingga memudahkan dalam proses penyerapan zat nutrisi
ternak, meningkatkan kesehatan ternak, mempercepat pertumbuhan comment
memperpendek jarak beranak, menurunkan kematian pedet dan pemberian
kombinasi dengan bioplus Probiotik Saccharomyces Cerevilae (PSC) yang
berguna untuk mengatasi penurunan kesehatan reproduksi ternak.
6) Manajemen pedet
Perawatan pedet yang baru lahir diperlukan untuk mendapat kondisi
kesehatan yang baik dan pertumbuhan yang normal. jika berat sehat dan normal
dan kuat, biasanya beberapa jam Setelah dibersihkan dan dikeringkan pedet dapat
berdiri sendiri dan menyusui pada induknya. setelah lahir, pada transfer
dipisahkan dari induknya agar induk tidak mengenal anaknya dan tidak dibiarkan
menyusui pada induknya, jika dibiarkan maka akan menghabiskan banyak susu
juga akan mempersulit pemerahan dan yang lebih penting lagi adalah induk sapi
akan sulit untuk birahi lagi, karena produksi susu yang tinggi akan menghambat
sekresi hormon FSH untuk pembentukan dan perkembangan folikel baru
( Sindurejo, 1960). pedet disapih umur 60 hari, selama itu kurang lebih 135- 225
kg susu yang dihabiskan jika tidak disapih.
Oleh karena itu diberi susu pengganti 2,5 sampai 3,5 kg per hari S
penyapihan Dini pada umur 28 hari sampai 60 hari tergantung kecepatan padet
memakan hijauan serta konsentrat padat, tetapi untuk pedet minum kolostrum
kurang lebih 5 hari sejak dilahirkan adalah penting dan tidak bisa digantikan
dengan minuman lain, karena kolostrum banyak mengandung zat antibodi, dan
cepat kolostrum masuk ke dalam abomasum dan intestinum,makin cepat pula
antibodi diserap ke dalam darah dan secepatnya pula pedet dapat melawan
penyakit. Selain itu kolostrum sebagai laksansia untuk membantu pencernaan
untuk mengeluarkan tahi gagak dalam saluran pencernaan yang dapat
mempercepat pertumbuhan kuman. Oleh karena itu petir jika disapih harus di
diadaptasikan dengan cara memberi susu dengan ember, pada diajar untuk
menjilat nila dan menghisap jari telunjuk Kemudian perlahan-lahan dari
diturunkan ke ember yang berisi susu dengan kepala pedet sedikit ditekanke
bawah Agar dapat mencapai susu, setelah moncong peda mencapai susu dan
menelannya, jari telunjuk kita dapat dilepas ( Sindurejo, 1960).
10
7) Mencegah kawin berulang dan penanganan penyakit
Kawin berulang disebabkan oleh kegagalan pembuahan, dan kematian
embrio dini. kematian embrio disebabkan oleh adanya infeksi, hormonal, nutrisi,
toksis, dan lingkungan. Kematian embrio bisa diikuti oleh penyerapan embrio
oleh uterus dan memakan waktu lebih banyak sehingga siklus estrus
diperpanjang, panjang siklus estrus mungkin hanya 2 sampai 3 bulan, pada bulan
ke-4 sapi kembali birahi kalau embrio nya besar dan bertulang, siklus estrus
diperpanjang bisa 1 periode kebuntingan ( Pentodihardjo. 1985). Untuk
mengatasi hal tersebut, sebelum dikawinkan dengan pejantan fertil atau dengan
semen yang sehat, perlu dilakukan pemeriksaan perektal untuk mengetahui ada
tidaknya abnormalitas ovarium, saluran reproduksi atau adanya infeksi uterus.
Untuk mencegah kematian embrio dini, infertilitas pejantan perlu diperiksa,
melakukan inseminasi pada waktu yang tepat memberi asupan nutrisi dan energi
yang cukup selama masa kebuntingan ( Siregar, 1992 ).
Usaha untuk memperpendek jarak beranak atau Calvin interval atau Days
Open pada ternak sapi adalah deteksi estrus yang tepat agar dapat dilakukan
inseminasi dengan tepat pula pengetahuan dan sumber daya manusia inseminator
perlu ditingkatkan manajemen pakan yang baik selama masa kebuntingan dengan
asupan nutrisi dan energi yang seimbang, penyapihan dini terhadap padat yang
baru dilahirkan sama mencegah terjadinya kematian embrio dini yang akan
menyebabkan terjadinya kawin ulang.
11
BAB III. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Selang beranak (Calving Interval) adalah selang waktu antara dua
periode kelahiran secara berurutan. Semakin pendek jarak beranak akan
semakin produktif seekor induk, karena semakin banyak pula anak yang dapat
dilahirkan epanjang hidupnya. Jarak beranak ini dapat diukur dengan
menghitung jarak antara kelahiran satu anak dengan anak berikutnya yang
berurutan. Pada sapi jarak beranak diharapkan 12 bulan, untuk membuat
jarak beranak maksimal 12 bulan, jika lama bunting 9 bulan 10 hari
(280 hari), maka maksimal 85 hari sejak beranak induk harus sudah
bunting lagi. Calving interval yang panjang menyebabkan keberhasilan dalam
memiliki seekor pedet dari seekor betina semakin rendah. Apabila tidak
dilakukan langkah yang tepat untuk memperpendek panjang jarak beranak
maka akan mengakibatkan produksi ternak menurun.
Panjangnya periode waktu dari kelahiran sampai estrus pertama
merupakan sebagian besar faktor yang ikut menyebabkan rendahnya efisiensi
reproduksi panjangnya periode waktu dari kelahiran sampai estrus pertama
merupakan sebagian besar faktor yang ikut menyebabkan rendahnya efisiensi
reproduksi. Jarak beranak yang lama atau panjang menyebabkan turunnya
produksi susu secara keseluruhan pada sapi perah. Penurunan jumlah pedet yang
dihasilkan, meningkatkan biaya produksi dan perkandangan untuk pemeliharaan,
Oleh sebab itu kerugian besar jika potensi untuk menghasilkan pedet terganggu
karena kegagalan sapi menjadi bunting. periode anestrus yang panjang pada sapi
pasca beranak dan menyusui akan menurunkan jumlah pedet yang dihasilkan dan
dapat menyebabkan kerugian pada perusahaan sapi perah.
3.2 Saran
Tentunya terhadap penulis sudah menyadari jika dalam penyusunan
makalah di atas masih banyak kesalahan serta jauh dari kata sempurna. Adapun
nantinya penulis akan segera melakukan perbaikan susunan makalah ini dengan
menggunakan pedoman dari beberapa sumber dan kritik yang bisa membangun dari
para pembaca.
12
DAFTAR PUSTAKA
Amanda,R 2016. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Risiko Produksi Susu Sapi
Segar (Studi Kasus Pada Unit Usaha Peternakan Sapi Perah Di Koperasi Biotek-
Lipi, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor) Departemen Agribisnis Fakultas
Ekonomi Dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Bogor.
Atashi, H., M. J. Zamiri, & M. Dadpasand. 2013. Association between dry period
length and lactation performance, lactation curve, calf birth weight, and
dystocia in holstein dairy cows in iran. J. Dairy Sci. 96(6):3632–3638.
doi:10.3168/jds.2012-5943.
Cakra, I.G. L. O. 2012. Teknis Penentuan Bcs Pada Ternak Sapi. Unit Sistem Informasi.
Fakultas Peternakan Udayana Denpasar.
[Link]
[Link]
Kellogg, W. 2014. Body Condition Scoring with Dairy Cattles. Agriculture and Natural
Resources. Division of Agriculture. The University of Arkansas.
[Link]
Lestari, D. 2022. Efisiensi Performans Reproduksi Sapi Perah Rakyat di Kecamatan
Kotabumi, Kabupaten Lampung Utara. Fakultas Pertanian dan Peternakan,
Universitas Muhammadiyah Kotabumi. Journal of Agriculture and Animal
Science (Agrimals), Volume 2, Nomor 2.
Pentodihardjo. S. 1985. Ilmu Reproduksi Hewan, Cetakan ke 2 . Mutiara Jakarta.
Priyanto, D. 2016. Strategi pengembangan usaha ternak sapi potong dalam mendukung
program swasembada daging sapi dan kerbau tahun 2014.
Siregar. S.B., 1992. Dampak Jarak Beranak Sapi Perah Induk Terhadap Pendapatan
Peternak Sapi Perah. BLPP Cinagara. Deptan
Sindurejo, S. 1960 Pedoman Perusahaan Pemerahan Susu. Prospek Pengembangan
Produksi Ternak Pusat Direktorat Pengembangan Produksi Ternak Dirjen
Peternakan.
Subagyo S. 1996. Bahan Kuliah Fisiologi dan Teknologi Reproduksi. Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Sudono.,1983. Produksi Sapi Perah, Departemen ilmu produksi ternak,. Fakultas
peternakan IPB
Toelihere, M. R. 1993. Inseminasi Buatan pada [Link] : Penerbit Angkasa
13
Toilihere. R.M., 1981 Inseminasi Pada Ternak, Angkasa Bandung.
Wahyudi, L., Susilawati, T. dan Wahyuningsih, S. 2013. Tampilan produksi sapi perah
pada berbagai paritas di Desa Kemiri Kecamatan Jabung Kabupaten Malang.
Jurnal Ternak Tropika. 14 (2): 13-22.
Umam, A.A.K., dkk. 2012. Makalah Calving Interval Pada Ternak Perah,. Fakultas
Peternakan Universitas Brawijaya Malang.
Zainudin, M., M. N. Ihsan, & Suyadi. 2013. Efisiensi reproduksi sapi perah PFH
pada berbagai umur di CV. Milkindo Berka Abadi Desa Tegalsari Kecamatan
Kepanjen Kabupaten Malang. J. Ilmu-Ilmu Peternak. 24(3):32–37.
14