HIMRAN GHANI
Nakomu, 2023
Delusi
Penulis:
Himran Ghani
Editor:
Shofwani
Tata Sampul: Khoshshol Fairuz
Tata Isi: Nurul Aini
Maret, 2023
vi+62 hlm.; 14,8cm x 21cm
ISBN: 978-623-5433-92-9
Diterbitkan oleh:
CV. Nakomu (Penerbit Kertasentuh)
Anggota IKAPI (346/JTI/2022)
Cangkring Malang, Sidomulyo, Megaluh, Jombang
Website: [Link]
E-mail: kertasentuh@[Link]
Facebook: Penerbit Kertasentuh
Instagram: @penerbitkertasentuh
WA: 085-850-5857-00 atau 0857-3333-7747
Sanksi Pelanggaran Pasal 72
Undang-undang Nomor 19 Tahun 2002
Tentang Hak Cipta:
(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak
ciptaan pencipta atau memberi izin untuk itu, dapat dipidana dengan pidana penjara
masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit
Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp.[Link],00 (lima miliar rupiah)
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau
menjual kepada umum suatu ciptaan atau barang hasil pelanggaran hak cipta atau
hak terkait, dapat dipidana dengan penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp.500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)
ii
antologi puisi
HIMRAN GHANI
iii
iv
Puisi adalah ekspresi perasaan seseorang. Puisi
merupakan ungkapan hati seseorang. Puisi dapat menjadi
salah satu curahan hati seseorang. Puisi dapat digunakan
untuk mengungkapkan perasaan seseorang dalam keadaan
apapun. Puisi dapat digunakan untuk mengungkapkan rasa
cinta, sedih, bahagia, sayang, maupun perasaan lain. Puisi
dapat pula digunakan sebagai obat pelipur lara sehingga
bisa membuat pembaca atau pendengarnya tersenyum.
Puji syukur kehadirat Allah yang telah memberi
penulis kekuatan untuk menyelesaikan buku puisi ‘Delusi’.
Buku ini merupakan kumpulan puisi perjalanan cinta dua
insan yang jatuh cinta tak secara tak sengaja. Puisi-puisi
dalam buku ini mengungkapkan perasaan masing-masing
tokoh. Masing-masing puisi mewakili rasa yang mungkin
tidak akan pernah dilupakan oleh penulisnya. Perasaan itu
begitu kuat sehingga dapat menyentuh hati pembaca atau
pendengarnya.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada
Kartiniliterasi, yang telawa mewadahi penulis dalam
berpartisipasi di Weekend Writing Challenge (WWC).
Penulis menyadari bahwa penulisan puisi di buku ini masih
memiliki kekurangan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi
perbaikan penerbitan buku selanjutnya. Semoga buku ini
bermanfaat bagi pembaca. Salam cinta dan bahagia!
v
Kata Pengantar ..................................................................... iii
Daftar Isi ............................................................................... vi
POHON KENANGAN ..............................................................1
BEKAS ....................................................................................2
KELIP MATA PURNAMA.........................................................4
MENAPAK JEJAK ....................................................................6
PUTUS ATAU HARUS .............................................................7
AKU BUKAN OJEK ..................................................................9
NADI ASMARA .....................................................................11
ROMEOMU ..........................................................................13
TERPIKAT RASA....................................................................15
KAYANGAN ..........................................................................17
SALAHKU .............................................................................19
MERAJUT ASA......................................................................21
AKU SIAPA ...........................................................................23
SEBATAS TEMAN .................................................................25
PACARAN ITU ILUSI .............................................................27
YAKINLAH ............................................................................29
ARTI CINTA ..........................................................................30
KUATKAN HATI ....................................................................32
vi
TOGA .................................................................................. 34
SENDU ................................................................................ 36
MATA BERBINAR ................................................................ 38
TAMPARAN ......................................................................... 40
PULANGLAH ........................................................................ 41
BUKAN MELUPAKAN .......................................................... 43
CELENGAN RINDU .............................................................. 44
HUJAN ................................................................................. 46
AKU AKAN PULANG ............................................................ 48
DATANG .............................................................................. 50
KAU BUKAN SENJA ............................................................. 52
TITIK JEMU .......................................................................... 54
HANCUR.............................................................................. 56
MULUTMU BERBISA ........................................................... 57
HANYA SINGGAH ................................................................ 59
HANYA TERLUKA................................................................. 60
SEPI ..................................................................................... 61
DELUSI ................................................................................ 63
MATI ................................................................................... 65
MELUPA .............................................................................. 66
BERTEMAN MENTARI ......................................................... 67
Tentang Penulis .................................................................. 69
vii
viii
Langit masih murung
Murung bukti terkurung
Memang tak bisa membendung
Terlihat kamu tak ingin lagi bertarung
Pohon rindang jadi saksi
Beruntung bidadari menenggerkan diri
Menghindar setelah berlari
Menjauh untuk selamatkan diri
Pipimu nampak merona
Bulir hujan mendarat sempurna
Walau Basah
Tetap saja indah
Tangan terlipat bersembunyi dari angin
Tubuh menggigil melawan dingin
Duduk bersimpuh merapatkan kaki
Berharap hujan lekas berhenti
Aku tak mengenal kamu siapa
Kau mampu membuatku iba
Rasa kasih datang tiba-tiba
Nurani menyeret tubuhku kesana
Kau malu?
Atau takut denganku?
Sudahlah, hari tak memihak padaku
Kupastikan suatu saat kau akan mau
1
Pertemuan semu buatku layu
Sekejap saja kamu berlalu
Meninggalkan hati yang berbunga
Menggugurkan mawar yang mekar
Langkahmu penuh keberanian
Membelah hantaman hujan
Menepis angin dengan kegigihan
Menyisakan sepi dan angan
Sikap dinginmu buatku tertarik
Wajah cemasmu tetap saja cantik
Suaramu menggema di telinga
Aromamu masih membekas di udara
Tetes keringatmu melambai di bawah sana
Menemaniku yang jatuh cinta
Memaksaku tersenyum gila
Benarkah seperti ini dimabuk asmara?
Lekas jauh engkau tenggelam dalam hujan
Membuatku tersadar dari angan
Menyudahi nafsu dalam pikiran
Membungkusnya dengan harapan
Andai kau tak lari dariku
Aku mau berikan kehangatan untukmu
Menyeka air di dahimu
Menguatkan pipi merahmu
2
Pasti ku dapatkan senyum darimu
Bersandar indah di pundakku
Mendengar tawa merdumu
Walau bising hujan memenuhi telingaku
Tapi nasib enggan berpihak padaku
Jarak pun bersekongkol dengan waktu
Walaupun tak bisa berharap lebih
Tetap saja hatimu yang ku pilih
Akan ku mulai petualangan cinta
Walau belum tahu kamu siapa
Di kayangan mana kamu berada
Dewi siapa yang sedang menjelma
Izinkan hati ini untuk mampir
Walaupun raga tak mampu hadir
Tekad dan sabarku tak ada akhir
Kau yang pertama dan terakhir
3
Purnama malam menangis
Berteman langit kala gerimis
Solah tersakiti dengan tragis
Mungkin sabarnya sudah habis
Mata ini mudah untuk dipejamkan
Namun sulit untuk ditidurkan
Nyawaku tak henti untuk berjalan
Sebab dirimu meracuni isi pikiran
Entah sampai kapan aku begini
Padahal sudah siap tuk melayani
Kedatanganmu sudah kunanti
Bertamu dalam mimpi
Wangimu kembali ku rasa
Elok matamu mempesona
Senyummu menghapus lara
Perangaimu amat sempurna
Panah darimu menancap di kalbu
Kau racuni aku dengan senyuman rayu
Menyebut lembut namaku
Menawarkan kehangatan syahdu
Tatapanmu menghujam dasar hati
Lesung pipimu melukiskan senyum di hati
Parasmu indah berseri
Sampai kapan aku akan begini?
4
Cintaku sebab pandang pertama
Menyuburkan benih asmara
Menginkan raga untuk bersama
Menua bersama sampai ke surga
5
Mentari siap sambut langkahku
Berikan semangat baru
Menuntun langkahku kepadamu
Tak sabar tuk dapatkan bias senyummu
Ku terdiam bersama daun berguguran
Terlintas bayangmu datang dalam pikiran
Larut dalam khayalku yang tak bertepian
Menunggumu yang tak kunjung datang
Mengapa aku bisa takluk olehmu
Padahal aku tak mengenalmu
Senyummu saja tak kudapatkan saat itu
Apalagi rasa perhatianmu
Apalah dayaku Dinda
Rasa cinta ini telah tercipta
Walau aku tak pernah meminta
Tapi rasa ini terus membara
Jangan buatku seperti bastala yang jauh dari bentala
Tapi buat aku sedekat netra dengan pelupuknya
Jagan paksa aku untuk mencari bintang di pagi hari
Tapi izinkan aku mencari purnama di malam hari
Duhai dewi cinta
Hadirlah
Kemarilah
Aku masih berada di tempat yang sama
6
Tibalah kesunyian
Datang dari manisnya keinginan
Iming Iming Indahnya kehidupan
Berakhir terseret ombak keputus asaan
Nampaknya sang surya mulai lelah
Sudah enggan berbagi cahayanya
Kini, awan hitam menyelimuti dunia
Hati yang tertatih pun mencari cahaya
Salahkah aku telah mencintai
Jarak ini selalu mengoyak mimpi
Merumitkan langkah kaki
Merenggut asa dalam hati
Bolehkah aku menyalahkan semesta
Telah sengaja mempertemukan kita
Menumbuhkan rasa dalam dada
Namun mengakhiri dengan lara
Haruskah aku membenci hujan
Telah menciptakan kerinduan
Mencairkan semua kenang
Dan menghadirkan bayang
Seandainya diriku tahu
Langit tak selamanya biru
Aku lebih memilih tak mengenalmu
Dari pada harus menimang pilu
7
Oh Tuhan
Beri aku kekuatan
Kuatkan aku untuk melupakannya
Atau teguhkan semangatku untuk menemuinya
Aku tahu, melepaskan bukan akhir perjuangan
Melainkan harapan baru untuk mendapatkan
Melupakan bukan penghancur ingatan
Melainkan menciptakan kembali keberuntungan
Yakinkan aku, Tuhan
Kebahagiaan akan datang dari banyaknya tangisan
8
Kekuatan doa membuatku percaya
Tuhan selalu bersama hambanya
Hati yang diambang kehancuran, kembali temukan harapan
Beri senyum baru dengan sebuah pertemuan
Pertemuan tak sengaja buatku candu
Membuat memoriku berputar ke masa lalu
Pagi kala itu langit berkilau biru
Menyapa hati ketika sendu
Betapa terkejutnya diriku
Tiba tiba kau naiki motor ku
Pinta kau buat aku antar buru-buru
Padahal aku bukan ojek yang kamu mau
Tanpa protes aku rela jadi ojek mu
Mungkin kau lupa dengan diriku
Tapi senyummu masih membekas di benakku
Sehingga aku tahu kamu bidadri kala itu
Perjalanan terasa indah walau interaksi satu arah
Udara pagi terasa sejuk meski diusik terik mentari
Wangimu buat nyaman walau diserang asap kendaraan
Namun waktu tak ingin kau lama bersamaku
Tak terasa sudah finis di tujuan
Dengan polosnya kau menyodorkan uang
Sudah ku jelaskan semuanya kepadamu
Aku bukan ojek melainkan penyelamatmu
9
Kau tawarkan padaku apa yang ku mau
Pintaku hanya satu, mengenalmu
Kalimatku tak sengaja buatmu tersenyum malu
Hingga kau rela sodorkan kartu namamu
Dengan cepat kau pergi
Meninggalkan hati yang sedang berseri
Menanamkan sejuta harapan
Tentu aku akan perjuangkan
Terima kasih Tuhan telah Menanamkan cinta
Menyakinkan diriku saat putus asa
Menghapuskan segala gelisahku
Mempertemukan disaat rindu menghampiriku
10
Malam yang indah
Bulan sedang asyik bermain dengan bintang
Angin bergoyang bersama dedaunan
Ocehan serangga buat alam termanjakan
Terima kasih hari Ahad
Berkatmu aku berani membulatkan tekad
Memulai percakapan walau hanya lewat
Apalah daya kala itu dirimu sedang telat
Nadia Aisya
Nama yang buatku terpapar asmara
Nama yang kuharap hadir dalam mimpi
Nama yang lama ingin aku ajukan kepada Ilahi
Hangatnya malam ini ku rasakan
Hati yang gelap tersambar sinar rembulan
Harumnya dirimu kurasa dalam angan
Nadi asmara di dada berdebaran/
Ku mulai aksiku dengan pertanyaan
Walau singkat jawabmu
Aku tetap mempertahankan
Akan ku buat dirimu menjadi candu
Cuekmu tidak buatku menyerah
Justru membuatku bergairah
Akan ku pertahankan
Karena aku tak mau kehilangan
11
Berkat menjadi ojek mu aku menjadi tahu
Ternyata tempat kuliahmu sama seperti ku
Umur kita hanya terpaut satu
Ini bukan kebetulan, tapi tuhan mempertemukan
Akan kukerahkan semua pasukanku
Akan kudapatkan data dari temanmu
Untuk memahami sifat dan favoritmu
Agar ku mudah tuk taklukan mu
12
Wahai mentari
Adakah secercah harapan untuk hari ini
Adakah secuil kebahagiaan
Untuk hati yang larut dalam sendiri
Aku ingin lari dari sepi
Aku ingin sembunyi dari hening ini
Karena belahan jiwa sudah mendapati
Perempuan indah layaknya di surgawi
Jika nanti mendung menyelimuti semesta
Aku tak ingin mendung menyelimuti wajahmu
Aku ingin dapatkan seri cerah di wajahmu
Ingin rasanya menikmati bias senyummu
Namun mentari cerah ini tak selaras denganmu
Sudah ku tunjukkan yang ku miliki
Sudah ku berikan semua yang ku ketahui
Sudah ku ajarkan semua yang ku pahami
Namun kau tak melukis senyum di bibirmu
Kau masih sama
Masih dingin
Ragamu tetap kaku
Belum memberi senyum tulus untukku
Aku tak menyerah
Seribu cara akan kukerahkan
Mendapatkanmu adalah pertarungan
Memilikimu menjadi tujuan
13
Izinkan romeomu memperjuangkan julietku
Perlukah aku berguru pada Bandung Bondowoso
Membangun mahligai cerita cinta
Memberi pengorbanan demi asmara
Aral melintang tak menjadi penghalang
Menapaki terjal jalan yang bergelombang
Mengitari hiruk-priok dunia asmara
Menciptakan semara, bercahaya temara
Bantu aku Dinda
Bantu hatiku tuk dapatkan hatimu
14
Masih teringat di benakku
Tak sengaja tatap beradu
Walau akhirnya kau palingkan mukamu
Beruntung sekilas kulihat pesonamu
Perlahan kau kian dekat
Selagi bertemu melontar kalimat
Walaupun sekadar sapa sesaat
Kalimatmu buatku terpikat
Nampaknya kau sudah mulai menerima
Kau berikan senyuman secara percuma
Mengenalkan diri dengan ria
Terpikat oleh rasa yang sama
Benakku melambungkan angan
Dalam khayal kita bermesraan
Sentuhan hangat bibir bertautan
Merona pipimu oleh ciuman
Kita menyatu di bilik asmara
Menghuni megahnya istana
Berdua memadu cinta
Ah, kapankah ilusi ini jadi nyata
Akan ku gapai itu semua
Tangan akan berbuat lebih banyak dari biasanya
Kaki akan berjalan lebih jauh dari biasanya
Mata akan melihat lebih banyak dari biasanya
15
Tubuh akan menjadi lebih kuat dari baja
Lapisan tekad kian menebal tak terhingga
Semangat akan menjadi api yang membara
Serta mulut yang tak henti berdo'a
16
Mentari dibatas senja
Menemani kesendirianku
Ingin ku gapai mimpiku
Ingin ku dawai asmaraku
Berteman motor kesayangan
Aku datang dengan penuh harapan
Menunggu bidadariku berlalu lalang
Tuk mengantarkannya menuju kayangan
Tak lelah mata ini mengamati
Mencarimu di antara pejalan kaki
Walau lama pasti ku akan sabar menanti
Ku yakin kau akan hadir kembali
Tiba tiba kau muncul dari gerbang itu
Terlihat kau tertawa bersama dua temanmu
Menenteng tas dan buku buku
Tak mau lepas, ku kejar dirimu
Ku tawarkan tumpangan untukmu
Namun kau tolak dengan alasan bersama temanmu
Untungya temanmu mendukungku
Memaksamu jatuh dalam rengkuhanku
Akhirnya kau mau bersamaku menikmati senja
Walau sikapmu masih sama saja
Aku tak tinggal diam, aku pertanyakan semua
Tak jarang kau pun terkekeh karenanya
17
Sampailah pada kayanganmu
Masih sama, kau tawarkan uang untukku
Penolakanku pun masih sama seperti dulu
Begitu indah senyum terima kasihmu
18
Nampaknya aku telah mampu menaklukan hatimu
Nampaknya aku telah dapatkan cintamu
Buktinya kau siap ada untukku
Buktinya kau mau jaga rasa untukku
Apakah kau ingat saat temanmu datang kala itu
Bermuka merah menghampiri diriku
Mengangkat kerah bajuku
Mengepalkan tangan layaknya mengajak tinju
Tentu aku bertanya tanya
Ada maksud apa gerangan kepadaku
Tanpa mendung
Tanpa petir
Dia datang ingin memukulku
Sungguh lucu
Dia mengaku sebagai lelakimu
Tak terima jika ku bersamamu
Padahal kau sendiri tak pernah bilang kepadaku
Saling pukul pun tak terhindarkan
Entah dia atau aku yang akan menang
Namun kau datang layaknya pahlawan
Kau mampu hentikan badai keributan
Akhirnya kau mampu menjelaskan
Aku, kamu, dan dia semuanya tanpa ada ikatan rasa
Namun kau mau sebut namaku
Sebagai sahabat yang membuatmu merasa bahagia
19
Apakah ini salahku
Tak memberimu ikatan kepastian
Tak memberimu status hubungan
Ah, tolong maafkan
Nadia Aisya
20
Hujan kala itu merangkul perasaan
Dirimu datang layaknya pahlawan
Membawa senyum bersama harapan
Kau memberi senyum layaknya kawan
Namun ku sengaja tak berikan senyuman
Aku tak mau berkenalan
Karena malam itu aku sendirian
Dan aku dalam ketakutan
Lain hari kita bertemu kembali
Tak disengaja dan tak ku sangka
Kala itu ku kira kau tukang ojek
Kau tatap wajahku dengan keanehan
Sadarkah kamu dengan diriku
Mungkin saja begitu
Sampai kau tak berani menolakku
Namun bagiku tak ada pilihan lain selain dirimu
Sampailah pada tujuan
Kau tolak upah demi ingin kenalan
Curigaku pun meracuni pikiran
Adakah maksudmu untuk kejahatan
Malam itu kau perkenalkan dirimu
Lewat chat, kau tanyakan semua tentangku
Balasku sederhana
Namun kau berusaha buat cairkan suasana
Tak jauh dari hari itu, kau muncul kembali
21
Di saat aku pulang bersama sahabatku, kau tawarkan ojek
untukku
Tentu aku lebih memilih kedua sahabatku
Namun mereka memilihmu
Kau berhasil membuatku
Menikmati senja yang hampir berlalu
Lagi lagi kau tolak uangku
Aku belum tahu kamu manusia seperti apa
izinkan aku mengenalmu
Izinkan rasa merajut asa
Izinkan hati mendapatkanmu
22
Hati ini telah berhasil kau taklukkan
Raga ini kau buat nyaman
Jiwa ini selalu dalam ketenangan
Bibir ini larut dalam senyuman
Dalam malamku memikirkanmu
Dalam doa kusebut dirimu
Dalam angan kau bersamaku
Harapku kau selalu ada untukku
Terima kasih telah hadir dalam hidupku
Kau ada tuk warnai hariku
Memanjakanku
Memahamiku
Bolehkah aku bertanya
Dalam hidupmu, aku ini siapa
Dalam harimu, untuk apa ada
Dalam hatimu, apakah ada rasa
Kau belum menjawabnya
Atau kau tak mau menjelaskannya
Entah lah, aku belum percaya
Berkelahi dengan temanmu menyadarkanku
Aku tak ada makna dalam hidupmu
Tak ada ikatan dalam hubungan
Bahkan mungkin tak ada hubungan
Aku ini siapa
Aku masih bertanya
23
Tolong
Bisakah kau menjawabnya
Hasan Gibran
24
Hujan dan panas sering kita rasakan
Hati bilang sudah saling nyaman
Saling ada ketika diganggu kesepian
Beri kehangatan dalam kedinginan
Anehnya, aku sulit tuk bertutur kata
Lemah mulutku tuk ungkapkan cinta
Berat rasanya diriku pinta merajut asmara
Bukannya aku mempermainkan rasa
Memang aku belum pernah lakukan ini sebelumnya
Benar, kau yang pertama
Bertumpuk buku telah habis kubaca
Berganti film sampai tamat cerita
Berulang kisah ku temui akhirnya
Sekian kali teman curhat tentangnya
Mereka semua bernasib sama
Terlilit hubungan tanpa ikatan
Kehilangan asa karena kesenangan
Menukar waktu dengan hal yang tak perlu
Mereka semua bilang
Hubungan tanpa ciuman itu kekurangan
Hubungan tanpa pelukan tak menyenangkan
Hubungan tanpa status tak bisa dibanggakan
Namun mereka juga bilang
Hubungan diluar pernikahan hanya kenangan
Hubungan tanpa ikatan akan terlupakan
25
Hubungan dengan nafsu akan cepat layu
Banyak yang berhasil membuktikan
Sejatinya ikatan hanyalah pernikahan
Pacaran hanya akan berakhir perpisahan
Malah hanya menambah daftar mantan
Ku putuskan tak mau seperti itu
Mengambil jalan berbeda untuk berdaya
Aku mau kamu untuk hidupku
Bukan orang yang cepat datang dan berlalu
Aku butuh pasangan hidup
Bukan kenangan yang pernah hidup
26
Jalanku memilih untuk tidak pacaran
Bukan karena kau sebagai permainan
Tapi memang aku tak ingin kehilangan
Aku tak ingin kita dalam kesedihan
Pacaran hanya ilusi belaka
Menyusuri jalan gelap gulita
Suara hati berbisik akan setia
Namun kenyataannya pupus pada akhirnya
Mereka saling mengikat tanpa ikatan
Saling mengekang dengan larangan
Saling melarang dengan aturan
Saling cemburu sampai berlebihan
Larut dalam kesenangan semu
Terjerumus kenikmatan yang candu
Kehilangan harta dan waktu
Bahkan kehilangan masa depan yang dituju
Mereka Terkekang
Bertengkar yang berujung sakit hati
Berpisah untuk terabaikan
Berakhir terlepas nan terbuang
Pacaran tak lebih dari sebuah ikatan untuk melepaskan
Bersenang senang untuk kesengsaraan
Merancang untuk menghancurkan masa depan
Menjaga untuk memberikan noda
27
Izinkan aku mencintai hatimu
Bukan hanya ragamu
Lepaskan aku untuk menggapai asa
Izinkan aku bebas membangun syurga kita
28
Yakinkanlah hatimu
Tangguhkanlah tubuhmu
Kuatkanlah langkahmu
Bangunlah asa mu
Lisan ini tak akan berdusta
Cinta ini tak sebatas kata-kata
Raga ini tak akan mendua
Hati ini kau yang menguasainya
Meski kita tak saling mengikat
Tentu hati kita akan kuat
Walau banyak cobaan yang berat
Yakinlah, kita insan hebat
Kita bisa berjalan bersama
Kita bisa lewati ini semua
Sampai tiba nanti masanya
Kita akan menua bersama
Aku tak akan mempermainkan rasa
Karena aku
Jika aku berdusta
Hatimu akan sangat terluka
Berikan aku kepercayaan
Beri aku kesempatan
Tak akan ku buat dirimu dalam kekecewaan
Akan ku jaga dengan sepenuh kekuatan
29
Sebelum senja menutup diri ini
Aku ingin yakinkan kamu kembali
Kita selalu bersama tuk gapai mimpi
Banyak kenangan yang tak akan terganti
Arti cinta itu apa
Apakah dengan peluk mesra
Dengan ciuman manja
Atau pasang foto berdua
Serendah itukah cinta
Sudah kuyakinkan dirimu
Cintaku berbeda dengan film favoritmu
Ini kisah kita berdua
Tentu kita buat cerita yang berbeda
Untuk apa memajang foto berdua
Jika pada akhirnya merobekkan jiwa
Asaku tak serendah sampai situ saja
Akan ada foto di buku nikah kita
Untuk apa berpeluk mesra
Jika nafsu yang membungkusnya
Adanya diriku untuk menjaga
Bukan malah memberi noda bahkan luka
Untuk apa ciuman manja
Jika pada akhirnya berujung luka
Memang nikmatnya tiada tara
30
Tapi aku tak mau mengawalinya
Sebelum akad menghalalkannya
Buat apa aku ceritakan dirimu pada temanku
Jika namamu sudah ku adukan pada Tuhanku
Apa belum cukup namamu kusebut dalam doaku
Selalu kupintakan yang terbaik untukmu
Kebahagiaan tidak perlu dipamerkan kepada dunia
Kebahagiaan kita ciptakan untuk kita rasakan bersama
Mereka tidak akan peduli dengan apa yang kita punya
Mereka hanya bisa mencibir perjuangan
kita
Cinta yang nyata menjaga dengan doa
Cinta sejati yang mampu menjaga hati
Cinta setia yang mau terus bersama
Cinta yang sesungguhnya bukan karena nafsu semata
31
Indahnya senja menyapa
Aku terpesona oleh sinar hangatnya
Binar cahaya nan indah tiada tara
Ku tak ragu menatapnya di ujung sana
Telah lama kita berbagi cerita
Suka duka kita hadapi bersama
Manis pahit kita rasakan juga
Jangan ragukan lagi cinta kita
Kita pasti bisa menjaganya
Telah banyak jalan kita lewati
Panas mentari telah kita hadapi
Dinginnya pagi sudah kebal di diri
Derasnya hujan biasa kita lewati
Tinggal kita kuatkan lagi hati ini
Rintangan pasti akan datang
Ujian akan selalu berlalu lalang
Jalan berduri akan jadi penghalang
Namun kita harus tahu bagaimana kita bisa bertahan
Bagaimana kita tangguh dalam cobaan
Jika romeo dan juliet saja berani setia
Cleopatra dan Mark Antony rela mati bersama
Apakah kita tak mampu seperti mereka
Tetap setia dan menjaga rasa
Kuatkan komitmen kita
Yakinkan hati kita
32
Tangguhkan raga kita
Yakinlah kita bisa
33
Mentari terbit kembali membawa sinarnya
Hari puncak yang ku nanti telah tiba
Setelah lama berjuang sepenuh tenaga
Burung burung pun ikut bahagia dengan kicaunya
Aku berdiri gagah dengan sebuah toga di kepala
Memegang ijazah yang telah ku terima
Pandanganku tertuju pada orang-orang disana
Dengan senyuman yang sangat bahagia
Senyum itu dari keluargaku tercinta
Dengan senyuman aku berjalan menghampiri mereka
Rasa terimakasih tak henti ku berikan
Tangis orang tuaku pun pecah karena kebahagiaan
Setelah merasakan hangatnya pelukan keluargaku
Kamu muncul di depan pintu
Buket cantik melekat di tanganmu
Penampilan serba putih cocok untukmu
Pesonamu sungguh memikatku
Nampak jelas matamu mencari sesuatu
Aku yakin kau ingin menemuiku
Tanpa membuatmu menunggu lama
Aku datang menghampirimu yang terpatung disana
Kutuntun langkahmu menuju keluargaku
Ku kenalkan mereka denganmu
34
Ingatkah engkau ketika mereka bertanya
Kau ini siapa di dalam hidupku
Aku pun bingung mau jawab apa
Entah bagaimana aku menjawabnya
Ku bilang kau sahabat menulis skripsiku
Teman belajar dan berdiskusi ilmu
Orang yang mau mendengarkan ceritaku
Sekaligus penyemangat di saat pasrahku
Ekspresi mereka pun berubah menjadi biasa
Ibuku pun berkata, saya kira ini calon menantuku
Kontan kita semua tertawa terbaha-baha
Aku yakin dalam hatimu pasti kamu menyukainya
Semoga saja
35
Hatiku yang berbunga kini berubah menjadi duka
Kelulusanku merenggut dirimu dari diriku
Orang tuaku memintaku kembali bersamanya
Tak bisa kutolak, aku putra terakhirnya
Mana mungkin aku menolak
Banyak kiprah orang tuaku yang harus ku ganti
Memang berat, tapi aku tak tau harus gimana lagi
Apalagi harus jauh denganmu
Maafkan aku
Keputusan ini melumpuhkanmu
Aku tak bisa membayangkan perasaanmu kala itu
Mungkin sehancur debu
Namun kau begitu pandai
Menyembunyikan tangisan dibalik senyuman
Tetap tersenyum walau hatimu layu
Ketika kita dapat waktu beradu mata
Kau pecahkan tangismu seketika
Kau luapkan segala ketakutanmu
Kau pinta diriku tuk selalu ada
Tanpa kau minta pun aku akan ada
Walau bukan dengan raga
Hatiku pasti ada untuk kau bawa
Doaku pun tak henti terucap pada-Nya
Yakinlah Nadia
36
Kita akan selalu bersama
Walau bukan raga, setidaknya hati dan jiwa kita
Yakinlah, kita pasti bisa melewati ini semua
Nadia Aisya
37
Pagi beri keindahannya untuk dunia
Memanjakan semua penikmatnya
Termasuk diriku
Merasakan indahnya hari yang kau tunggu
Kini, kau telah sampai pada puncak perjuangan
Kau telah berhasil tuntaskan tugas yang kau emban
Menjadi insan yang berpendidikan
Namun, jangan berhenti untuk menggapai angan
Sepertinya aku sudah terlambat
Di tempat itu, semua orang berhamburan dimana mana
Dimana kau berada
Aku tak melihat kau di antara mereka
Dari kejauhan tiba tiba kau menyapa
Kau menghampiri aku dengan raut bahagia
Ku serahkan buah tangan yang ku bawa
Walaupun tak berharga, setidaknya aku tulus
memberikannya
Kunikmati mata berbinar indah itu
Kurasakan manis senyum bibirmu
Kutemui semangat baru dalam ragamu
Hari indah ini kudapatkan semua itu
Aku masih ingat saat kau membawaku ke keluargamu
Rasa canggung datang ketika ibumu bertanya aku ini siapa
Dan kau hanya menjawab sebatas teman saja
Celetus ibumu aku dikira calon menantunya
38
Seketika kita tertawa bersama
Dengan serunya kita bercerita dan bercanda
Kurasakan kehangatan layaknya keluarga
Andai aku bisa dapat menjadi bagiannya
Pasti bahagia rasanya
39
Bersyukur dapat berjumpa dengan keluargamu
Dapat bercerita dan bercanda
Namun berita kepergianmu menggema di telinga
Memberi tamparan pada hati yang tengah berbunga
Aku tak bisa memaksamu untuk bertahan bersamaku
Aku sadar posisimu
Kau sudah lama menjadi harapan keluargamu
Untuk meneruskan kiprah orang tuamu
Tapi mengapa tiba tiba seakan kau tak kan kembali
Melepas rangkulanmu dan berhenti melindungiku
Mungkin alam semesta tak menerimanya
Dan waktu tak memberi kesempatannya
Aku ragu
Kuatkah aku mengemban rindu
Bisakah jarak berdamai dengan diriku
Sanggupkah waktu menemani hariku
Mungkinkah aku mampu hidup jauh darimu
Walaupun kau meyakinkan hatiku
Menguatkan ragaku
Berjanji setia padaku
Tetap saja takut kehilanganmu menghantuiku
Aku belum siap jika harus berteman dengan jarak
Aku tak tau caranya bersahabat dengan waktu
Mungkin saja kita bisa tersesat di jalan yang berbeda
Aku takut perpisahan mengakhiri ini semua
40
Sudah sekian sepi ku lewati sendiri
Entah berapa sepi lagi harus ku lewati
Sepi ini membuat waktu semakin lama
Membuat hati semakin tak ada isinya
Apakah aku akan kuat bertahan
Atau aku bisa ikhlas kehilangan
Aku sangat benci jarak ini
Membentangkan kita pada sepi
Aku muak pada waktu ini
Terbayang selalu perhatian pada diri ini
Entah berapa lama lagi kau akan pergi
Melepaskan hati yang berjuang menghadapi sepi
Perih ini tak bisa ku tahan lagi
Hati ini meratapi gundah
Susunan ilusi nampak datang merambah
Tak terbendung rindu pun membuncah
Hati ini tak kuat untuk bercakap
Sungguh meronta dalam ratap
Tatkala gundah mendekap harap
Hati ini tak henti bergetar
Selaksa pijar menyambar nyambar
Tak henti namamu menghantar pijar
41
Aku tersesat dalam kenyataan
Padahal aku terjaga dari impian
Karena kau tak hadir sebagai teman
Ku mencarimu duhai sosok pujaan
Kapan kau akan pulang
Hati ini semakin kehilangan
Hasan Gibran
42
Hari ini aku harus melepaskanmu
Meninggalkan kenangan di masa lalu
Bersiap menghadapi tamparan rindu
Melawan gejolaknya rasa ingin bertemu
Yakinlah kita bukan berpisah
Hanya saja waktu dan jarak tak bisa senada
Kita harus bersahabat dengan mereka
Mengurai rindu yang tak ada ujungnya
Aku akan belajar berteman dengannya
Akan kutitipkan rinduku kepadanya
Karena raga tak mampu lagi bersama
Hati ini memaksa raga untuk berjumpa
Layaknya gelap dan terang yang bertemu dikala senja
Pertemuan kita mungkin juga sama
Yakinlah, kau tak akan pernah ku lupa
Segala kenangan telah tersimpan dalam relung jiwa
Satu hal yang perlu kau tahu
Perihal melupakanmu, aku tak mampu
Karena ingatan tentangmu serupa sang mentari
Walau ia terbenam hari ini
Di hari esok ia akan datang lagi
43
Di malam sunyi nan gelap ku sebut namamu
Di siang cerah nan terang ku kuatkan hatiku
Aku terlalu larut dalam keheningan
Dalam rindu yang sulit kulukiskan
Wajahmu muncul di remang cahaya malam
Langkahku terguncang oleh rindu dan kenangan
Namun waktu sengaja memisahkan kita
Dan jarak membentangkan penghangnya
Sedang apa engkau hari ini
Ku harap senyummu tak pudar lagi
Ku ingin tubuhmu kuat melewati hari hari
Ku yakin kau bisa menghadapi sepi
Jangan tanya aku sedang apa
Sudah pasti aku berjuang untuk dirimu
Meski rindu mencoba melemahkanku
Aku akan bertahan untuk terus mengejarmu
Biarkan rindu ini menjadi bara
Yang mengobarkan harapan dengan apinya
Biarlah rindu ini terpuruk dalam hatiku
Akan kusimpan dalam celengan rindu
Biarlah hati raga ini terpisah sementara
Agar indahnya pertemuan dapat kita rasa
Biarlah sujudku terus menjadi pelita
44
Yang menuntunku di kegelapan jiwa
45
Di bawah langit hitam oleh awan mendung
Aku sematkan kata rindu yang tak berujung
Semakin lama ku rasa
Semakin menyesakkan dada
Hujan mengguyur sesaat
Menyisakan genangan dalam keheningan
Rinduku masih mengikat dan menyayat
Raga ini belum mampu hadir untukmu
Aku masih berjuang dalam kesepian
Aku terus mengadu dalam doaku
Akan kugapai mimpi yang kunanti
Agar hatiku mampu bertahan dalam rindu
Tapi biarlah sunyi menemani malam ini
Aku ingin sendiri seperti ini
Berteman rindu yang menghujani hati
Meski air hujan telah terhenti
Ku sandarkan jiwa yang terbelenggu
Menaruh harap di dalam kalbu
Berharap ada tegur sapamu
Untuk melepaskan belenggu rindu
Ku coba memejamkan mata ini
Berharap kamu datang dalam mimpi
Memberi kehangatan cinta untukku
Mengobati rindu yang selalu menggebu
46
Hujan adalah takdir
Bila tangisnya sudah menetes ke bumi
Tak mungkin bisa kembali ke langit lagi
Berbeda dengan hatiku
Walaupun kini tengah pergi
Pada waktu nya akan hadir kembali
Tunggu aku, Nadia
Hati ini masih sama
Aku akan kembali
Aku akan temanimu lagi
47
Jarak bukan penghalang tuk melihat senyummu
Jarak bukan pemisah antara aku dan kamu
Jarak bukan pengukur seberapa jauh kita tak bertemu
Jarak adalah penguat rasa kasmaran dalam rindu
Dalam ratusan mil membentang
Selalu ada angan yang selalu terbayang
Dalam lamanya waktu yang berjalan
Selalu ku bincangkan rindu dalam hembusan
Sudah jauh kita dipisahkan oleh jarak
Sudah lama kita dihempaskan oleh waktu
Terbukti kita masih bisa berdiri tegak
Kita bisa bertahan dalam gempuran kerinduan
Mungkin ini waktunya memecahkan celengan rindu
Berdamai dengan jarak dan waktu
Menuangkan segala rasaku padamu
Bernostalgia dengan kisah masa lalu
Jarak ini membuatku ingin melipatnya
Agar kedua ujungnya menyatu
Aku ingin segera meringkasnya
Agar simpulnya segera berpadu
Mungkin wisudamu bisa kujadikan alasan pertemuan
Walau aku punya tanggungan perusahaan
48
Namun banyak orang bisa menggantikan
Dari jauh pun pasti bisa aku arahkan
Ini demi dirimu
Demi hadir di hari kebahagiaanmu
Semoga diriku seberuntung kamu
Bisa bercengkrama dengan keluargamu
Ini saatnya
Aku akan pulang
Aku akan datang
Menemani dirimu dari kesepian
Mengobati hati dari kerinduan
49
Aku telah datang
Memenuhi janji yang telah lama kau nanti
Membawa sejuta rindu yang terbelenggu
Mengobati hati dari terpaan sepi
Dinding ini memulihkan ingatanku dulu
Disaat kau membaur dengan keluargaku
Tertawa bersama sampai lupa dunia
Namun disini juga awal perpisahan kita
Di antara ratusan insan aku tak temukan dirimu
Entah dimana kamu berada
Mungkin kau paling depan di deretan bangku
Aku sabar walau menunggu
Saat namamu disebut sebagai juara
Tak heran jika dirimu mendapatkannya
Dirimu yang ku kenal memang pintar
Haha, mungkin itu sebabnya kau ku pertahankan
Ku lambaikan kedua tanganku
Nampaknya matamu menemukanku
Aku terhanyut pada senyummu
Tipis bibirmu merekah selalu
Aduhai dikau oh tumbuhan perdu
Mari, kulantunkan lagu untukmu
Sungguh indah hari ini
Kita dapat beradu tawa seperti dulu
Bersama pecahkan celengan rindu
50
Bernostagia kisah kita di masa lalu
Sekarang imbas
Kau memperkenalkanku kepada keluargamu
Keluarga tampaknya senang dengan kehadiranku
Saling bercerita dan bercanda
Sesekali menggoda dirimu yang sedang wisuda
Tanpa bercerita, tampaknya mereka tau
Kita saling memiliki keterkaitan rasa
Semoga menjadi awal yang baik untuk kita
Untuk selalu berjuang bersama
51
Senja adalah cara Tuhan tuk membahagiakanku
Senja adalah pemisah antara dua waktu
Antara malam dan siang yang tak akan menyatu
Antara gelap dan terang yang selalu merindu
Berbeda dengan catatan indah yang ku ukir bersama
mentari
Kini menyisakan bait bait luapan dari hati
Membekas selamanya di dalam hati
Tak akan lupa indahnya anganku bersama mentari
Aku pernah memohon kepada Tuhan agar waktu menjadi
siang saja
Agar tiada perpisahan yang diawali dengan senja
Agar tiada keindahan yang berujung pada luka
Dan agar aku tetap bisa mengukir cerita bersamanya
Namun Tuhan lebih tau yang terbaik untukku
Dibalik singgahnya senja ada mata yang selalu dimanja
Walaupun waktu memisahkan aku dengannya
Waktu juga berjanji akan kembali bersamanya
Memang mentari datang tak mau lama
Namun bumi tetap setia mengitarinya
Walau mentari tak pernah berkorban demi bumi
Namun bumi tetap setia menemani
Diri ini pun sama
Aku pergi dan berjanji akan kembali
Aku pamit kemudian datang lagi
52
Aku bukan hilang melainkan mempersiapkan diri
Sekarang aku tau
Di awal pertemuan akan ada perpisahan
Jika mentari terbit pasti akan tenggelam
Jika bulan mulai bersinar perlahan akan padam
Namun aku akan berjuang sepenuh tenaga
Akan ku korbankan jiwa dan raga
Tak ada yang boleh memisahkan kita
Selain nyawa sudah tak lagi ada pada raga
Terima kasih Tuhan
Telah menciptakan bidadari untukku
Dan terima kasih Tuhan
Telah membangunkanku dari keterpurukan rindu
53
Hal paling ku benci adalah menunggu
Menunggu seseorang untuk datang menemuiku
Walaupun alasan yang diberikan diterima akalku
Tetap saja itu buang waktu
Siang semakin panas ini kau belum juga tiba
Janji akan hadir untuk berbagi cerita
Melepas rindu sebab lama tak jumpa
Namun tak ada kabar kamu ada dimana
Titik temu menghampiriku
Beruntung sepupuku hadir menemaniku
Mengusir rasa bosan yang menghampiriku
Hadirnya ingin berkenalan denganmu
Berapa menit lagi aku menanti
Berapa jam lagi yang harus aku selami
Jangan terlalu lama
Jangan buat waktuku terbuang sia-sia
Pesan yang kukirim hanya berwarna abu abu bercentang
dua
Ku coba telpon kau tak menjawabnya
Kamu ini sedang apa
Kamu lagi ada dimana
Jiwaku makin tak nyaman
Bayangan buruk melintas di pikiran
Rasa khawatir menghantui perasaan
Aku tak bisa jika harus tinggal diam
54
Ku putuskan akan mencarimu
Aku harus tau alasan apa yang membuatku menunggu
Nadia Aisa
55
Gerimis melanda hati
Kencangnya angin menyelimuti tubuh ini
Bagaimana ku bisa hentikan air mata ini
Sedang hatiku saja tengah tersakiti
Dimana belas sayangmu itu
Kau bilang akan setia padaku
Kau ingin berjuang untukku
Apa kabar janji menua bersamaku
Sekian lama kau rintis istana cinta
Kini dengan mudahnya kau hancurkan seketika
Setelah kau beri manisnya angan
Kini kau beri pahitnya penghianatan
Tak kusangka
Orang yang ku anggap paling setia
Kiini mendua
Kemanakah cinta tulusmu bak mulutmu
Di mana hati nuranimu
Di depan mataku kau duduk berdua
Dengannya kau terlihat mesra
Seketika kau buat hatiku perih nan lara
Menghancurkan segala kenangan indah yang telah tercipta
Terima kasih telah telah berikan segalanya
Terima kasih untuk terakhir kalinya
Terima kasih telah menorehkan luka
Terima kasih telah memberi lara
56
Ruas ingatan selingkuh menampi buliran yang hilang
Berakit rasa perih berkayuh ke dasar hati
Ritma aroma bersimpang siur
Jarak menghantarkan pada sepi
Dada yang tersekat pun bergumam
Runtuh segunung ego membusung di dada
Bergulir menghujam resah
Membias suara cinta
Kapan robek dindingnya
Mualnya bila cinta dibalas curang
Bila tangan bertepuk sebelah tangan
Setelah tahu kandungan isi hatiku
Lantas kau cantas dengan selingkuh
Kau beri secawan susu harapan
Tapi kau tanam juga keresahan jiwa
Kau ucap hanya sayang cinta aku
Namun nyatanya mulutmu palsu
Bibirmu bak racun ular paling berbisa
Melumpuhkan bila terkena semburannya
Apakah gigitanmu bisa melumpuhkan
Seluruh rasa perih ini telah mematikan
Dariku untukmu yang kau anggap kekasih pujaan dambaan
jiwa
57
Itu hanya dusta semata
Buas, nafsumu serakah
58
Sambutanmu terlalu ramah
Hingga aku terburu-buru menjadikanmu rumah
Kamu terlalu hangat menjamuku
Sampai sampai aku lupa bahwa aku hanya tamu
Mungkin aku terlalu lama bertamu
Hingga kau lelah menjamuku
Mungkin kau telah bosan menyambutku
Hingga kau paksa aku keluar dari rumahmu
Lebih baik aku pergi
Tak sudi lagi jika hati ini terus tersakiti
Kau bermain asmara tanpa ada ikatan pasti
Hanya harapan dan janji yang dapat kau beri
Mulutmu bertutur tak mau pacaran sebelum pernikahan
Dengan alasan menjaga kesucian
Nyatanya bola mataku lihat kau lakukan penghianatan
Kau lupa denganku yang menahan kesakitan
Walau berat aku akan tetap pergi
Aku tak akan sudi datang kembali
Tutup rapat saja pintu rumahmu
Kau sambut aku hanya sebagai tamu
59
Aku terbangun dari mimpiku
Inikah saatnya ku mulai hidup baru
Meninggalkan segala kenangan kelam di masa lalu
Namun apakah aku mampu melupakanmu
Mungkin melupakanmu butuh banyak waktu
Mungkin tak secepat ketika mencintaimu
Tapi aku yakin aku akan bisa
Walau berawal dengan pura-pura
Perhatianmu sudah tak ku butuhkan lagi
Kau tak perlu khawatir
Disini aku hanya terluka
Aku sudah terbiasa jika berpura-pura bahagia
Pergilah sejauh mata memandang
Menghilanglah dari angan
Mungkin ini saatnya kita rehat dari cinta
Sejenak ataupun selamanya
Hasan Gibran
60
Malam ini kembali sunyi
Tubuh sudah berusaha lari dari sepi
Namun disini berteman sepi kembali
Rima hati ini sulit dimengerti
Betapa beratnya tsunami cinta kali ini
Sepi merambah di ulu hati
Sepi hadir tuk meracuni
Sepi membawaku kedalam mimpi
Sepi memaksaku bergelut dengan ilusi
Purnama bantu aku tuk yakin dia
Mana mungkin cinta ini mendua
Sedang hati saja sepenuhnya sudah miliknya
Harus dengan bukti apa lagi agar kamu percaya
Agar kamu tak lagi ada rasa curiga
Bintang bantu aku tuk kuatkan dia
Pertahankan cinta bersemayam di hatinya
Jangan biarkan megahnya istana hancur seketika
Jangan biarkan api cemburu membakar segalanya
Yang pada akhirnya menyisakan luka
Sebenarnya aku tak seburuk itu
Berbusa mulutku menjelaskan padamu
Gadis itu bukan pemilik hatiku
Sudah ku yakinkan dirimu dia sepupuku
Tetap saja kau bersikap kepala batu
Namun aku akan tetap disini
61
Menunggu dirimu kembali
Sampai angin membawa jawabanmu
Karena jantung dan nadi ku selalu merindukanmu
62
Sayap malam patah dihempas kemilau senja
Menyisakan jejak-jejak luka di sudut langitnya
Doa tak lagi mampu menerjang cakrawala kelam
Titik-titik cahaya bintang terpaku diam
Tetes demi tetes kian berjatuhan
Mengalirkan air penuh ratapan
Seraya kalbu termenung penuh harapan
Duduk diam berteman keheningan
Kulepas penat dalam pembaring
Langi langit ruang seakan memandangi
Kala nalar berpacu dengan delusi
Sekilas ragamu hadir berseri
Delusi mengoceh sendiri di lubuk hati
Seolah kau berbisik dalam sepi
Meraba tubuh yang terbujur kaku
Memeluk hati yang terbungkus rindu
Bersama rima imajinasiku menari
Kau berjalan jalan dengan intuisi
Kau berselancar di samudra hati
Namun tetap saja kau telah pergi
Aku tersadarkan oleh sepi
Rindu dan benci bertarung dalam hati
Hadirmu sekarang pun sama saja nestapa
Rindu dekat tanpa sekat ini berujung gila
63
Cukup kau menyiksa batin ini
Sudahi derita yang kau sayatkan di hati
Akan ku usir delusi ini untuk pergi
Menghabisi semua gilanya ilusi
64
Waktu terus berjalan mengerami luka
Mengarak awan hitam di kepala
Angin tak menyapa, dedaunan berhenti berdansa
Merenung patung ikut berduka
Istana kita kini dihuni hantu
Kerusakan tercecer dimana mana
Pekarangan telah dikuasai perdu
Sarang laba laba melengkapi derita
Hatimu sudah mati
Kau tutup pintu itu seakan aku yang menghianati
Padahal kau yang melepas rangkulanmu
Dan memutuskan menjauh dariku
Aku juga bisa jika harus mematikan hati
Melupakan cinta yang membayangi
Melepaskan rangkulan yang menyelimuti
Menghancurkan kerinduan yang memenuhi
Mungkin alam semesta tak menerima kita
Dan waktu tak memberi ruang untuk bahagia
Hingga sampai pada ujung luka
Perpisahan yang akan merenggut kita
65
Ada setitik rasa tersimpan dalam ingatan
Untuk dirimu yang kini menjadi kenangan
Meski dirimu tertulis dalam kisah masa lalu
Tak bisa ku pungkiri masih ada rasa membekas di hatiku
Kuakui ada rindu di ulu hatiku
Terkadang rindu itu membuatku lupa
Bahwa masa lalu telah merubah kisah kita
Pada akhirnya kau dan aku tinggal cerita
Sungguh aku ingin melepas yang ku ingat
Melepas segala kenangan yang mengikat
Dan ingin ku belajar melupakan walau sulit bagiku
Setelah kurasakan sakitnya tuduhanmu
Melupa
Mungkin aku bisa
Namun bekasnya akan selalu ada
Masih menganga di dalam dada
Aku tak mau lagi menetap di rumah duka
Terlalu banyak air mata terbuang percuma
Aku akan pergi hingga bayangku tak kau temukan
Karena kau telah memilih untuk dilupakan
66
Hembusan awan fajar menghanyutkan
Sepertiga malam bantu melupakan
Denyut di hatiku kini telah tenang
Selepas nafasmu tak lagi kurasakan
Mungkin mencintaimu suatu kekeliruan
Waktu ku terkuras habis
Cita terlantar entah kemana
Buyar oleh angan palsu yang menjanjikan
Mungkin kemarin hatiku sangat hancur
Mungkin diriku sempat diambang kemusnahan
Tapi sudah kutemukan cinta dari sang pemilik cinta
Yang cinta-Nya tiada yang mampu menandinginya
Kau memang pernah jadi matahariku
Tapi kini duniaku tetap bersinar meski tanpamu
Tanpa cinta yang mengobral janji palsu
Tanpa hati yang dilanda rasa cemburu dan rindu
Selagi langit masih memayungi
Selagi mentari masih menemani
Selagi iman masih bersemayam dalam hati
Aku akan tetap kokoh untuk berdiri
Jalan di depan masih panjang
Sudah terlalu lama aku menunda angan
Bertumpuk mimpi penuh harapan
Ada dan tiadamu tak menghalangi waktu tuk berjalan
67
Meski begitu kau akan tetap berjasa
Karenamu aku belajar mengenal cinta
Aku belajar memahami perbedaan rasa
Bangkit dari patah hati yang menyiksa
Jika Tuhan mempertemukan kita kembali
Akan ku sambut dengan senang hati
Bukan tuk jadikan kekasih yang kedua kali
Melainkan menyuntingmu tuk jadi istri
68
Himran Ghani, nama pena yang diciptakan oleh
Mochamad Imron untuk memberi identitas penulis di
setiap tulisannya. Pria kelahiran Rembang pada 20 Februari
2004 ini, menambah daftar hobinya dengan menulis. Imron
mengawali hobi menulisnya saat duduk di bangku kuliah
semester satu. Dengan menulis, ia merasa mendapatkan
ruang untuk meluapkan semua gagasan yang ada dalam
pikirannya dalam bentuk tulisan. Selain itu, menulis juga
bisa menjadi sarana mencurahkan isi hatinya pada saat itu.
Buku antologi puisi ini adalah karya pertama yang
berhasil Imron ciptakan. Puisi yang ditulis di buku ini adalah
pengalaman ia ketika mengalami jatuh cinta, walaupun
latar tempat dan waktunya berbeda dengan puisi yang ada
di dalam buku. Meskipun Imron tidak memiliki latar
belakang pendidikan di bidang sastra, namun ia mampu
menuangkan kata-kata penuh romansa, dari curhatan diri
sendiri sampai imajinasi yang diciptakan. Selain menulis
genre fiksi, seperti puisi, novel, dan cerpen, Imron juga
gemar menulis genre non-fiksi, seperti artikel populer dan
opini. Dia merasakan sendiri betapa bahagianya jika
tulisannya berhasil dimuat dan dibaca banyak orang. Hal
itu yang menjadikannya semangat untuk menulis lebih
banyak lagi. Ketertarikan Imron dalam bidang kepenulisan,
membuatnya semakin percaya diri untuk mengeksplorasi
berbagai genre kepenulisan.
Usai menyelesaikan pendidikan jenjang SLTA di MA
Darul Huda Mlagen, Imron melanjutkan pendidikannya di
jenjang perguruan tinggi. Ia adalah mahasiswa Bisnis Digital
69
di universitas Insan Cita Indonesia (UICI). Karena ia kuliah di
UICI, ia lebih banyak memiliki waktu luang untuk
melakukan hal-hal lain, diantaranya menulis. Sehingga ia
erhasil menerbitkan buku, dan menjadi kebahagiaan
tersendiri baginya, karena mampu menerbitkan buku di
semester satu ini.
Imron berkenalan dengan dunia tulis menulis, sejak
tinggal di Monash Institute. Sebuah rumah perkaderan
yang didirikan oleh Dr. Mohammad Nasih, M. Si., al-Hafidz,
seorang cendikiawan dan ilmuan politik yang peduli
terhadap nasib masa depan bangsa Indonesia. Di bawah
asuhan langsung oleh Mohammad Nasih dan bimbingan
mentor-mentor di Monash Institute, ia mengembangkan
hobi tulis menulisnya menjadi bakat dan habit.
Di lembaga nirlaba Monash Institute tersebut, ia
dikader secara super intensif untuk dipersiapkan sebagai
pemimpin masa depan. Dari mulai ilmu agama,
kemandirian, sampai ilmu kekuasaan (politik), diajarkan
semuanya di rumah perkaderan itu. Sehingga di masa
depan nanti, para disciples (mahasantri) diharapkan bisa
mencapai trilogi Monash Institute, yaitu berilmu, berharta,
dan berkuasa. Cita-cita yang besar, dengan diiringi
membangun mindset yang besar, maka akan
membutuhkan effort yang lebih besar dan akan
menghasilkan capaian yang besar pula.
Anda bisa berkomunikasi langsung dengan Imron
melalui email: [Link]@[Link] atau DM
Instagram di @[Link].
70