PENDIDIKAN ISLAM MASA KHULAFA’ AL-RASYIDIN (632-661 M)
MAKALAH
Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti
Perkuliahan Sejarah Pendidikan Islam
Dosen Pengampu: Dr. H. Edi Iskandar, [Link], [Link]
Oleh:
Anugerah Adisti 12110322212
Cantika Anjelita 12110321853
Eti Komariyah 12110322454
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF
KASIM JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
2022
KATA PENGANTAR
Kami ucapkan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas berkat rahmat
dan karunia-Nyalah maka kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.
Solawat dan Salam penulis ucapkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi
Wasallam. Semoga mendapat syafaatnya di hari akhirat kelak. Adapun pembuatan
makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam. Makalah ini
berjudul “Pendidikan Islam Masa Khulafa’ Al-Rasyidin (632-661 M). Terima kasih
penulis ucapkan kepada dosen pengampu mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam, Bapak
Dr. H. Edi Iskandar, [Link], [Link].
Penulisan makalah ini masih ada kekurangan. Kami mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca, sehingga dapat menjadi perbaikan makalah yang selanjutnya.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.
Pekanbaru, 25 September 2022
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................................................ii
BAB I....................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN................................................................................................................................1
A. Latar Belakang...........................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.....................................................................................................................2
C. Tujuan Masalah.........................................................................................................................2
BAB II..................................................................................................................................................3
PEMBAHASAN...................................................................................................................................3
A. Periode Abu Bakar As-Siddiq (632-634 M)...............................................................................5
B. Periode Umar Bin Khattab (634-644 M)...................................................................................9
BAB III...............................................................................................................................................13
PENUTUP..........................................................................................................................................13
A. Kesimpulan..............................................................................................................................13
B. Saran.......................................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................15
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan Islam berdasarkan konsep qur’ani terjadi sejak masa Nabi
Muhammad diangkat menjadi Rasul. Nabi Muhammad adalah guru dan teladan utama
dalam penerapan sistem pendidikan Islam. Pendidikan pada masa ini merupakan
prototype yang terus menerus dikembangkan oleh umat Islam untuk kepentingan
pendidikan pada masa selanjutnya. Pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang,
yang dikembangkan seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam periode
awal, pendidikan Islam dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw sebagai upaya
pembebasan manusia dari belenggu aqidah yang sesat dan segala bentuk penindasan
suatu kelompok terhadap kelompok lain yang dipandang rendah status sosialnya.
Ajaran tauhid menjadi landasan kokoh dalam pembinaan dan pendidikan awal saat
itu.
Prioritas pendidikan dalam bentuk penanaman dan penumbuhan tauhid
dilaksanakan selama 13 tahun pada periode Makkah. Pembinaan dan pendidikan umat
Islam dalam kehidupan sosial dan praktik ibadah difokuskan pada periode Madinah
selama 10 tahun lebih.
Setelah Rasulullah wafat, khulafa al-rasyidin menggantikan kedudukan beliau
sebagai kepala pemerintahan dan tugas-tugas beliau yang lain kecuali tugas kenabian.
Saat itu, wilayah Islam telah meliputi sebagian besar jazirah Arab. Dinamika
pendidikan Islam masa sahabat menjadi semakin komplek seiring dengan
berkembangnya Islam ke luar jazirah Arab. Tulisan ini difokuskan untuk
1
mendeskripsikan pendidikan Islam pada masa sahabat khususnya pada masa khulafa
al-rasyidin dari tahun 11-40 H (631-661 M).
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Periode Abu Bakar As-Siddiq (632-634 M) ?
2. Bagaimana Periode Umar Bin Khattab (634-644 M) ?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk Mengetahui Periode Abu Bakar As-Siddiq (632-634 M)
2. Untuk Mengetahui Periode Umar Bin Khattab ( 634-644 M)
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Periode Abu Bakar As-Siddiq (632-634 M)
Pola pendidikan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, masih seperti
pada masa rasulullah SAW., baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.
Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan,
akhlak, ibadah, kesehatan. Pendidikan keimanan yaitu, menanamkan bahwa satu-
satunya yang wajib disembah adalah Allah SWT. Pendidikan akhlak, contohnya: adab
masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat. Pendidikan
ibadah seperti pelaksanaan sholat, puasa dan haji. Sedangkan pendidikan kesehatan
tentang kebersihan, bersuci, wudhu, tatacara mandi dan istinja, serta gerakan-gerakan
dalam sholat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani. 1
Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq terpilih secara aklamasi pada peristiwa Saqifah
Bani Sa’idah pada saat jenazah Rasulullah Saw., belum lagi dimakamkan. Abu Bakar
adalah khalifah Islam pertama yang dilantik oleh seluruh komunitas muslim
sepeninggal Nabi Muhammad. Ia berasal dari kalangan bangsawan Makkah yang kaya
raya dan sebagai orang kedua yang memeluk Islam setelah Khadijah. Ia merupakan
sahabat terdekat Nabi Muhammad yang kesetiaannya tidak pernah berkurang
sedikitpun dan Seluruh hidupnya dicurahkan untuk perjuangan suci membela dakwah
Islam. ia dikenal dengan gelar al-shiddiq (penuh kepercayaan). ia menggantikan Nabi
Muhammad sebagai Imam shalat ketika Nabi sedang sakit. Selama masa-masa awal
perjuangan Islam, Abu bakar menggunakan harta kekayaannya untuk mengatasi
kesulitan ekonomi masyarakat muslim dan membebaskan sejumlah budak yang
1
Ali Mubin, Penyelenggaraan Pendidikan Islam Jaman Klasik Di Masa Rasulullah SAW Dan Era Kekhalifahan,
(Tangerang: Jurnal Pemikiran dan Pencerahan, 2020), h. 22–35.
3
disiksa tuannya lantaran keimanan mereka terhadap Islam. Di antara budak yang
dibelinya untuk dimerdekakan adalah Bilal.
Lebih lanjut Glasse (2002) menjelaskan, jauh sebelum memeluk Islam, Abu
Bakar dihormati di kalangan suku Quraisy Makkah karenanya sifatnya yang pemurah
dan peramah. Nama Aslinya Abdullah ibn Abi Quhafah. Abu Bakar (“Ayah dari
seorang gadis”) merupakan nama samaran, nama kebapakan, yang secara tidak
langsung menunjukkan penghormatan kepadanya. Ia disebut dalam al-Qur’an sebagai
satu di antara orang yang bersembunyi di dalam gua Tsur, ketika menemani Nabi
bersembunyi dari kejaran kafir Makkah dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Setelah
Nabi Muhammad wafat, berdasarkan hasil musyawarah kaum muslimin. Abu Bakar
di bai’at menjadi khalifah. Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi
Muhammad wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai
pemimpin agama dan kepala pemerintahan.
Sejarah penting setelah Nabi Muhammad wafat adalah peristiwa
pemberontakan dari orang-orang murtad yang enggan membayar zakat, serta
timbulnya nabi-nabi palsu pada awal kekhalifahan Abu Bakar. Para pemberontak
tersebut adalah dari kalangan orang yang baru memeluk Islam, dengan sendirinya
mereka belum mantap keislamannya. Mereka masih perlu bimbingan lebih lanjut
dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Untuk mengatasi pemberontakan tersebut
Abu Bakar mengirim pasukan yang terdiri dari para sahabat. Tetapi karena mereka
tetap membangkang terjadilah pertempuran yang cukup hebat, sehingga banyak di
antara para sahabat yang mati syahid, yang menyebabkan berkurangnya penghafal-
penghafal al-Qur’an, guru dan pendidik Islam. Problema ini mula-mula disadari oleh
Umar bin Khatab sebelum ia menjadi khalifah. Maka para sahabat pun
4
bermusyawarah dibawah pimpinan khalifah Abu Bakar untuk mengatasi masalah
tersebut.
Untuk mengatasi agar al-Qur’an jangan sampai hilang, maka penulisan al-
Qur’an yang pada zaman Nabi Muhammad masih belum tersusun sesuai hafalan para
sahabat, dituliskan kembali dan dijadikan satu mushaf. Para sahabat dikirim
keberbagai daerah yang dikuasai kaum muslimin untuk mengajarkan al-Qur’an dan
memasukkan ajaran-ajaran Islam ke dalam budaya penduduk daerah-daerah baru
tersebut. Timbullah pusat-pusat pendidikan Islam yang tersebut diseluruh daerah yang
dikuasai kaum muslimin (Zuhairini, 1997: 71). Masa Abu Bakar merupakan masa
awal pengumpulan al-qur’an. Pada masa ini kumpulan al-qur’an ditulis pada tulang-
tulang dan pelepah kurma, di kumpulkan pada salah seorang istri Rasulullah Hafsah
binti Umar bin Khatab. Mahmud Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam,
lebih lanjut menjelaskan, materi pendidikan Islam pada masa ini terdiri dari
pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan.
1. Pendidikan keimanan, yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib
disembah adalah Allah.
2. Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun
bertetangga, bergaul dalam masyarakat, dan lain sebagainya. Pendidikan
ibadah seperti pelaksanaan shalat, puasa dan haji.
3. Kesehatan seperti tentang kebersihan, gerak gerik dalam shalat merupakan
didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.
Pada masa Abu bakar dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada masa itu
hanya melanjutkan pendidikan yang sudah ada pada zaman Rasulullah, pendidikan
pada masa ini belum mengalami perkembangan yang begitu berarti karena Abu Bakar
5
banyak disibukkan oleh keadaan pemerintahan yang kurang kondusif yang perlu
perhatian penuh. 2
Begitu banyak kemuliaan yang dimiliki oleh Abu Bakr sampai beliau
diabadikan kisahnya oleh Allah S.W.T. di dalam Al-Qur‟an: “Dia adalah salah
seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, ketika Dia berkata pada
temannya “janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita”. (Q.S.
At-Taubah [9]: 40) 3
Berdasarkan urain di atas, penulis berkesimpulan bahwa pelaksanaan
pendidikan Islam pada masa Abu Bakar adalah sama dengan pendidikan Islam yang
dilaksanakan pada masa Nabi baik materi maupun lembaga pendidikanya, karena Abu
Bakar termasuk sahabat terdekat yang hidup sezaman dengan Nabi. Masa
pemerintahan Abu Bakar tidak lama, tapi beliau telah berhasil memberikan dasar-
dasar kekuatan bagi perjuangan perluasan dakwah dan pendidikan Islam. Maka
penulis berpendapat bahwa materi pendidikan yang paling utama adalah keimanan
apalagi menghadapi orang-orang yang riddah, dalam hal ini Alquran menjelaskan
bahwa yang memberikan Hidayah adalah Allah QS. 28: 56, Rasul uswatun hasanah
QS. 33 : 21, adalah merupakan pendidikan akhlak, selanjutnya QS. 31 : 13-17 berisi
tentang nasehat Luqman kepada anaknya untuk : bertauhid, berbuat baik kepada orang
tua, melaksanakan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, bersabar terhadap apa yang
menimpa. 4
2
Nurul Fajriah, [Link]., h. 124.
3
Hasna Rizky Ramadhan, et al, Metode Discovery Learning Dalam Pembelajaran Sejarah Khulafaurrasyidin,
(UAD: Jurnal Pendidikan Islam, 2019), h. 143.
4
Abdul Adib, Pola Pendidikan Islam Periode Khulafaur Rasyidin, (Lampung: Jurnal Mubtadiin, 2021), h. 6.
6
B. Periode Umar Bin Khattab (634-644 M)
Masa pemerintahan Umar Ibn Khattab yang lebih panjang dan selama 10
tahun (13-23 H / 634-644 M), tetapi dalam waktu yang relatif singkat Umar
menunjukkan kesanggupan yang luar biasa yang tidak ada pada pemimpin Islam
lainnya. Seluruh lapangan pemerintahan diisinya dengan sunah- sunah yang baik
untuk menjadi panutan atau ikutan orang-orang dibelakangnya (Michael H. Hart,
2005: 239). Pada masa Rasulullah pekerjaan yang terutama adalah menyampaikan
agama Islam, dan mengajarkan kepada kaum Muslimin jalan-jalan untuk mencapai
kebahagiaan dunia dan akhirat. Fungsi menyampaikan agama Islam telah dipenuhi
oleh Rasulullah saw, dan telah dikerjakannya dengan baik. Juga fungsi menunjuki
manusia kepada jalan untuk kebahagian bagi kaum Muslimin. Dalam masa
kepemimpinan Umar yang sepuluh tahun itu, penaklukan- penaklukan penting
dilakukan oleh umat Islam. Tidak lama sesudah Umar menduduki kekuasaan sebagai
khalifah, pasukan Arab menduduki Suriah dan Palestina, yang saat itu menjadi bagian
kekaisaran Byzantium. 5
Umar bin Khatab lahir pada tahun 513 M pada sebuah keluarga suku Quraisy.
Ia semula dipanggil dengan gelar Abu Hafs. Setelah memeluk Islam menerima gelar
al- faruq. Pada masa mudanya umar adalah seorang pegulat dan orator ulung. Ia
merupakan satu-satunya sahabat yang telah mengenal baca tulis. Berdagang adalah
usahanya yang paling utama.
Umar merupakan satu diantara tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam. Ia terkenal
dengan tekad dan kehendaknya yang sangat kuat, cekatan, dan karakternya yang
berterus terang, bebelum menjadi khalifah dikenal sebagai pribadi yang keras dan
tidak mengenal kompromi dan bahkan kejam. Di bawah pemerintahannya imperium
5
Mami Nofrianti, Perkembangan Hukum Islam Pada Masa Umar Ibn Khattab (634-644 M), (Padang: Jurnal
Ilmiah Syariah, 2018), h. 269.
7
Islam meluas dengan kecepatan yang luar biasa. Dapat dikatakan bahwa orang yang
terbesar pengaruhnya setelah Nabi dalam membentuk pemerintahan Islam dan
menegaskan coraknya adalah Umar bin Khattab.
Pada masa pemerintahan Umar kondisi negara sudah agak stabil, jadi Umar
dapat memusatkan perhatiannya dalam masalah-masalah kenegaraan yang lain
termasuk pendidikan. Berkaitan dengan masalah pendidikan, khalifah Umar ibnu
Khatab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota
Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar pasar, serta
mengangkat guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan. Mereka bertugas
mengajarkan isi Alquran, fiqih, dan ajaran Islam lainnya kepada penduduk yang baru
masuk Islam. 6
Untuk menghadapi masalah baru yang belum ada pada masa rasulullah dan
Abu Bakar, maka Umar berijtihad untuk menetapkan hukum terhadap masalah-
masalah yang baru dan mem- perbarui organisasi negara, salah satunya adalah:
Mengembangkan Ilmu Pengetahuan. Kelanjutan dari meluasnya kekuasaan Islam ada
dua gerakan perpindahan manusia, dari Arab ke luar daerah Arab dan orang ‘Ajam
datang ke daerah Arab. Proses Asimilisai ini membawa dampak positif dan negatif.
Orang Ajam yang pernah mewarisi kebudayaan lebih tinggi yang kemudian masuk
Islam dan berbahasa dengan bahasa Arab serta berkeyakinan dengan keimanan Islam,
mendorong Umar untuk memerintahkan membuat tata bahasa Arab dan penafsiran
Alquran agar mereka terhindar dari kesalahan dalam membaca dan menafsirkan
Alquran dan hadis. Untuk kepentingan mengajar di luar Jazirah Arab, dikirim guru-
guru yang terdiri dari para sahabat yang ahli ilmu. Usaha tersebut tidak terlalu lama,
karena Umar terbunuh oleh orang yang sakit hati kepadanya. 7
6
Nurul Fajriah, [Link]., h. 124-125.
7
Junaidi Lubis, Kontribusi Peradaban Islam Masa Khulafaur Rasyidin Pembentukan Masyarakat Politik Muslim,
(Pekan Baru: Madania, 2013), h. 48–57.
8
Pada masanya Umar sangat memperhatikan masalah pendidikan dan menambah
materi pelajaran. Pada masa Umar kaum muslimin sudah mulai mempelajari bahasa-
bahasa Asing seperti bahasa Persia, Romawi, dan bahasa lain yang dianggap perlu
waktu itu, karena pengajaran bahasa asing pada waktu itu menjadi hal yang sangat
dipentingkan mengingat daerah kekuasaan Islam sudah berada di luar jazirah Arab.
Jadi dapat disimpulkan bahwa suhu politik negara pada waktu itu cukup stabil,
kondisi ini memberikan dampak positif bagi perkembangan pendidikan Islam pada
masa ini.
Kebijakan penting berkaitan dengan pendidikan yang dikeluarkan Umar bin
Khattab yaitu membuat surat tugas yang ditujukan kepada para panglima perangnya
adalah, apabila mereka berhasil menguasai satu kota, hendaknya mereka mendirikan
masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan.27 Selain itu, beliau juga mengangkat
dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan itu, mereka bertugas
mengajarkan isi Al- Qur‟an dan ajaran Islam lainnya seperti Fiqih, Tauhid, Akhlak,
dan Ibadah, kepada penduduk yang baru masuk Islam.
Sedangkan kurikulum pendidikan pada masa Umar bin Khattab, berisi tentang:
pelajaran membaca dan menulis, menghafal al-Quran, hadis serta belajar pokok-
pokok agama Islam. Pendidikan pada masa ini lebih maju dibandingkan sebelumnya.
Pada masa ini tuntutan untuk belajar bahasa Arab, juga sudah mulai tampak, orang
yang baru masuk Islam dari daerah yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab jika
ingin belajar dan memahami pengetahuan Islam. Oleh karena itu, pada masa ini sudah
ada pengajaran bahasa Arab. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan lebih mapan
karena selama pemerintahan Umar, negara berada dalam keadaan stabil dan aman, hal
ini disebabkan telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, juga telah
9
terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan berbagai materi
pendidikan yang dikembangkan. 8
8
Ali Mubin, [Link]., h. 28.
10
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berikut ini beberapa pusat pendidikan yang ditemukan dan sahabat nabi yang
memiliki peranan di masing-masing wilayah.
1. Mekkah, dengan Muadz bin Jabal radhīyallāhu ‘anhu sebagai guru pertama
yang mengajarkan Al-Qur'an dan fikih.
2. Madinah, yang pengajarnya adalah para sahabat Nabi yang paling popular,
yakni Abu Bakar, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat yang
lainnya.
3. Basrah, pengajarnya adalah Abu Musa al-Asy‘ary radhīyallāhu ‘anhu yang
merupakan seorang ahli fikih dan al- Qur'an.
4. Kuffah, pengajar yang termasyhur yaitu Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin
Mas‘ud radhīyallāhu ‘anhum. Abdullah bin Mas'ud merupakan ahli tafsir,
hadits, dan fikih dan mengajarkan Al-Qur'an.
5. Damsyik (Syam). Setelah Syam (Syiria) menjadi bagian negara Islam dan
penduduknya banyak beragama Islam, Khalifah Umar kemudian mengirim
tiga orang guru ke negara tersebut, yaitu Mu'adz bin Jabal, Ubaidah, dan Abu
Darda' radhīyallāhu ‘anhum. Mereka mengajar di tempat yang berbeda di kota
Syam, yaitu Abu Darda' di Kota Damsyik, Mu'adz bin Jabal di Kota Palestina,
serta Ubaidah di Kota Hims.
6. Mesir. Abdullah bin Amru bin Ash radhīyallāhu ‘anhu merupakan sahabat
yang pertama kali mendirikan madrasah dan menjadi guru di Kota Mesir.
Beliau adalah seorang ahli hadits.
11
Pola pendidikan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, masih seperti
pada masa rasulullah SAW., baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.
Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan,
akhlak, ibadah, kesehatan.
Kurikulum pendidikan pada masa Umar bin Khattab, berisi tentang: pelajaran
membaca dan menulis, menghafal al-Quran, hadis serta belajar pokok-pokok agama
Islam. Pendidikan pada masa ini lebih maju dibandingkan sebelumnya. Pada masa ini
tuntutan untuk belajar bahasa Arab, juga sudah mulai tampak, orang yang baru masuk
Islam dari daerah yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab jika ingin belajar dan
memahami pengetahuan Islam.
B. Saran
Dengan adanya makalah mengenai makna dan pandangan filosofis dan
pandangan ahli tentang pendidikan islam masa khulafa’ ar-rayidin (632-661 M),
penulis beerharap pembaca dapat memahami dan menambah wawasan pembaca.
Penulis juga menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu
untuk memperkuat pemahaman dan wawasan pembaca bisa mencari sumber-sumber
lain.
12
DAFTAR PUSTAKA
Lubis, J. “Kontribusi Peradaban Islam Masa Khulafaur Rasyidin: Pembentukan Masyarakat
Politik Muslim Junaidi.” Pekan Baru 17, no. 1 (2013): 48–57. [Link]
[Link]/[Link]/alidarah/article/view/4839/pdf.
Mubin, Ali. “Penyelenggaraan Pendidikan Islam Jaman Klasik (Di Masa Rasulullah SAW
Dan Era Kekhalifahan).” Rausyan Fikr : Jurnal Pemikiran dan Pencerahan 16, no. 1
(2020): 22–35.
Nirwani Jumala, Nurul Fajriah. “Gambaran Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Sahabat.”
Jurnal Serambi Ilmu 20, no. 1 (2019): 120.
Nofrianti, Mami. “Perkembangan Hukum Islam Pada Masa Umar Ibn Khattab (634-644
M).” JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) 17, no. 2 (2018): 269.
Ramadhan, Hasna Rizky, Mulyawan Mulyawan, Ibnu Hidayani, and Imam Mahdi. “Metode
Discovery Learning Dalam Pembelajaran Sejarah Khulafaurrasyidin.” Edukasi Islami:
Jurnal Pendidikan Islam 8, no. 01 (2019): 143.
rnández, S. R., Castro Morales, L. G., & MaldonaArciniegas Paspuel, O. G., Álvarez Hedo
Gudiño, C. W. (2021). Inte- ligencia emocional en estudiantes de la Universidad
Autónoma de Los Andes. Revista Conrado, 17(78), 127-133. “Pola Pendidikan Islam
Periode Khulafaur Rasyidin” (2021): 6.
Rony Sandra Yofa Zebua, Miftahul Ihsan, and Neneng Nurjanah. “Perkembangan
Pendidikan Islam Pada Periode Khulafāur Rāsyidīn Dan Implikasinya Terhadap
Pengembangan Pendidikan Islam Di Indonesia.” Jurnal Pendidikan Islam Indonesia 5,
no. 1 (2020): 115–126.
Zainudin, Ely. “Peradaban Islam Pada Masa Khulafah Rasyidin.” Jurnal Intelegensia 03, no.
01 (2015): 50–58.
13