0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
378 tayangan16 halaman

Pendidikan Islam Khulafa' Rasyidin 632-661

Makalah ini membahas pendidikan Islam pada masa Khulafa' Al-Rasyidin dari tahun 11-40 H (632-661 M). Periode Abu Bakar Al-Siddiq (632-634 M) masih mengikuti pola pendidikan zaman Nabi Muhammad SAW, sedangkan periode Umar Bin Khattab (634-644 M) menyaksikan perkembangan pendidikan Islam ke luar Jazirah Arab."

Diunggah oleh

Sahrul Ramadan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
378 tayangan16 halaman

Pendidikan Islam Khulafa' Rasyidin 632-661

Makalah ini membahas pendidikan Islam pada masa Khulafa' Al-Rasyidin dari tahun 11-40 H (632-661 M). Periode Abu Bakar Al-Siddiq (632-634 M) masih mengikuti pola pendidikan zaman Nabi Muhammad SAW, sedangkan periode Umar Bin Khattab (634-644 M) menyaksikan perkembangan pendidikan Islam ke luar Jazirah Arab."

Diunggah oleh

Sahrul Ramadan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENDIDIKAN ISLAM MASA KHULAFA’ AL-RASYIDIN (632-661 M)

MAKALAH

Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti

Perkuliahan Sejarah Pendidikan Islam

Dosen Pengampu: Dr. H. Edi Iskandar, [Link], [Link]

Oleh:
Anugerah Adisti 12110322212

Cantika Anjelita 12110321853

Eti Komariyah 12110322454

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF


KASIM JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN
ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
2022
KATA PENGANTAR

Kami ucapkan puji syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas berkat rahmat

dan karunia-Nyalah maka kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu.

Solawat dan Salam penulis ucapkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu’alaihi

Wasallam. Semoga mendapat syafaatnya di hari akhirat kelak. Adapun pembuatan

makalah ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam. Makalah ini

berjudul “Pendidikan Islam Masa Khulafa’ Al-Rasyidin (632-661 M). Terima kasih

penulis ucapkan kepada dosen pengampu mata kuliah Sejarah Pendidikan Islam, Bapak

Dr. H. Edi Iskandar, [Link], [Link].

Penulisan makalah ini masih ada kekurangan. Kami mengharapkan kritik dan

saran dari pembaca, sehingga dapat menjadi perbaikan makalah yang selanjutnya.

Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

Pekanbaru, 25 September 2022

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................................................ii
BAB I....................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN................................................................................................................................1
A. Latar Belakang...........................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.....................................................................................................................2
C. Tujuan Masalah.........................................................................................................................2
BAB II..................................................................................................................................................3
PEMBAHASAN...................................................................................................................................3
A. Periode Abu Bakar As-Siddiq (632-634 M)...............................................................................5
B. Periode Umar Bin Khattab (634-644 M)...................................................................................9
BAB III...............................................................................................................................................13
PENUTUP..........................................................................................................................................13
A. Kesimpulan..............................................................................................................................13
B. Saran.......................................................................................................................................14
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................15

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan Islam berdasarkan konsep qur’ani terjadi sejak masa Nabi

Muhammad diangkat menjadi Rasul. Nabi Muhammad adalah guru dan teladan utama

dalam penerapan sistem pendidikan Islam. Pendidikan pada masa ini merupakan

prototype yang terus menerus dikembangkan oleh umat Islam untuk kepentingan

pendidikan pada masa selanjutnya. Pendidikan Islam mempunyai sejarah panjang,

yang dikembangkan seiring dengan kemunculan Islam itu sendiri. Dalam periode

awal, pendidikan Islam dilaksanakan oleh Nabi Muhammad saw sebagai upaya

pembebasan manusia dari belenggu aqidah yang sesat dan segala bentuk penindasan

suatu kelompok terhadap kelompok lain yang dipandang rendah status sosialnya.

Ajaran tauhid menjadi landasan kokoh dalam pembinaan dan pendidikan awal saat

itu.

Prioritas pendidikan dalam bentuk penanaman dan penumbuhan tauhid

dilaksanakan selama 13 tahun pada periode Makkah. Pembinaan dan pendidikan umat

Islam dalam kehidupan sosial dan praktik ibadah difokuskan pada periode Madinah

selama 10 tahun lebih.

Setelah Rasulullah wafat, khulafa al-rasyidin menggantikan kedudukan beliau

sebagai kepala pemerintahan dan tugas-tugas beliau yang lain kecuali tugas kenabian.

Saat itu, wilayah Islam telah meliputi sebagian besar jazirah Arab. Dinamika

pendidikan Islam masa sahabat menjadi semakin komplek seiring dengan

berkembangnya Islam ke luar jazirah Arab. Tulisan ini difokuskan untuk

1
mendeskripsikan pendidikan Islam pada masa sahabat khususnya pada masa khulafa

al-rasyidin dari tahun 11-40 H (631-661 M).

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Periode Abu Bakar As-Siddiq (632-634 M) ?

2. Bagaimana Periode Umar Bin Khattab (634-644 M) ?

C. Tujuan Masalah

1. Untuk Mengetahui Periode Abu Bakar As-Siddiq (632-634 M)

2. Untuk Mengetahui Periode Umar Bin Khattab ( 634-644 M)

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Periode Abu Bakar As-Siddiq (632-634 M)

Pola pendidikan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, masih seperti

pada masa rasulullah SAW., baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.

Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan,

akhlak, ibadah, kesehatan. Pendidikan keimanan yaitu, menanamkan bahwa satu-

satunya yang wajib disembah adalah Allah SWT. Pendidikan akhlak, contohnya: adab

masuk rumah orang, sopan santun bertetangga, bergaul dalam masyarakat. Pendidikan

ibadah seperti pelaksanaan sholat, puasa dan haji. Sedangkan pendidikan kesehatan

tentang kebersihan, bersuci, wudhu, tatacara mandi dan istinja, serta gerakan-gerakan

dalam sholat merupakan didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani. 1

Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq terpilih secara aklamasi pada peristiwa Saqifah

Bani Sa’idah pada saat jenazah Rasulullah Saw., belum lagi dimakamkan. Abu Bakar

adalah khalifah Islam pertama yang dilantik oleh seluruh komunitas muslim

sepeninggal Nabi Muhammad. Ia berasal dari kalangan bangsawan Makkah yang kaya

raya dan sebagai orang kedua yang memeluk Islam setelah Khadijah. Ia merupakan

sahabat terdekat Nabi Muhammad yang kesetiaannya tidak pernah berkurang

sedikitpun dan Seluruh hidupnya dicurahkan untuk perjuangan suci membela dakwah

Islam. ia dikenal dengan gelar al-shiddiq (penuh kepercayaan). ia menggantikan Nabi

Muhammad sebagai Imam shalat ketika Nabi sedang sakit. Selama masa-masa awal

perjuangan Islam, Abu bakar menggunakan harta kekayaannya untuk mengatasi

kesulitan ekonomi masyarakat muslim dan membebaskan sejumlah budak yang


1
Ali Mubin, Penyelenggaraan Pendidikan Islam Jaman Klasik Di Masa Rasulullah SAW Dan Era Kekhalifahan,
(Tangerang: Jurnal Pemikiran dan Pencerahan, 2020), h. 22–35.

3
disiksa tuannya lantaran keimanan mereka terhadap Islam. Di antara budak yang

dibelinya untuk dimerdekakan adalah Bilal.

Lebih lanjut Glasse (2002) menjelaskan, jauh sebelum memeluk Islam, Abu

Bakar dihormati di kalangan suku Quraisy Makkah karenanya sifatnya yang pemurah

dan peramah. Nama Aslinya Abdullah ibn Abi Quhafah. Abu Bakar (“Ayah dari

seorang gadis”) merupakan nama samaran, nama kebapakan, yang secara tidak

langsung menunjukkan penghormatan kepadanya. Ia disebut dalam al-Qur’an sebagai

satu di antara orang yang bersembunyi di dalam gua Tsur, ketika menemani Nabi

bersembunyi dari kejaran kafir Makkah dalam perjalanan hijrah ke Madinah. Setelah

Nabi Muhammad wafat, berdasarkan hasil musyawarah kaum muslimin. Abu Bakar

di bai’at menjadi khalifah. Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi

Muhammad wafat untuk menggantikan beliau melanjutkan tugas-tugas sebagai

pemimpin agama dan kepala pemerintahan.

Sejarah penting setelah Nabi Muhammad wafat adalah peristiwa

pemberontakan dari orang-orang murtad yang enggan membayar zakat, serta

timbulnya nabi-nabi palsu pada awal kekhalifahan Abu Bakar. Para pemberontak

tersebut adalah dari kalangan orang yang baru memeluk Islam, dengan sendirinya

mereka belum mantap keislamannya. Mereka masih perlu bimbingan lebih lanjut

dalam melaksanakan ajaran-ajaran Islam. Untuk mengatasi pemberontakan tersebut

Abu Bakar mengirim pasukan yang terdiri dari para sahabat. Tetapi karena mereka

tetap membangkang terjadilah pertempuran yang cukup hebat, sehingga banyak di

antara para sahabat yang mati syahid, yang menyebabkan berkurangnya penghafal-

penghafal al-Qur’an, guru dan pendidik Islam. Problema ini mula-mula disadari oleh

Umar bin Khatab sebelum ia menjadi khalifah. Maka para sahabat pun

4
bermusyawarah dibawah pimpinan khalifah Abu Bakar untuk mengatasi masalah

tersebut.

Untuk mengatasi agar al-Qur’an jangan sampai hilang, maka penulisan al-

Qur’an yang pada zaman Nabi Muhammad masih belum tersusun sesuai hafalan para

sahabat, dituliskan kembali dan dijadikan satu mushaf. Para sahabat dikirim

keberbagai daerah yang dikuasai kaum muslimin untuk mengajarkan al-Qur’an dan

memasukkan ajaran-ajaran Islam ke dalam budaya penduduk daerah-daerah baru

tersebut. Timbullah pusat-pusat pendidikan Islam yang tersebut diseluruh daerah yang

dikuasai kaum muslimin (Zuhairini, 1997: 71). Masa Abu Bakar merupakan masa

awal pengumpulan al-qur’an. Pada masa ini kumpulan al-qur’an ditulis pada tulang-

tulang dan pelepah kurma, di kumpulkan pada salah seorang istri Rasulullah Hafsah

binti Umar bin Khatab. Mahmud Yunus dalam bukunya Sejarah Pendidikan Islam,

lebih lanjut menjelaskan, materi pendidikan Islam pada masa ini terdiri dari

pendidikan tauhid atau keimanan, akhlak, ibadah, kesehatan.

1. Pendidikan keimanan, yaitu menanamkan bahwa satu-satunya yang wajib

disembah adalah Allah.

2. Pendidikan akhlak, seperti adab masuk rumah orang, sopan santun

bertetangga, bergaul dalam masyarakat, dan lain sebagainya. Pendidikan

ibadah seperti pelaksanaan shalat, puasa dan haji.

3. Kesehatan seperti tentang kebersihan, gerak gerik dalam shalat merupakan

didikan untuk memperkuat jasmani dan rohani.

Pada masa Abu bakar dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada masa itu

hanya melanjutkan pendidikan yang sudah ada pada zaman Rasulullah, pendidikan

pada masa ini belum mengalami perkembangan yang begitu berarti karena Abu Bakar

5
banyak disibukkan oleh keadaan pemerintahan yang kurang kondusif yang perlu

perhatian penuh. 2

Begitu banyak kemuliaan yang dimiliki oleh Abu Bakr sampai beliau

diabadikan kisahnya oleh Allah S.W.T. di dalam Al-Qur‟an: “Dia adalah salah

seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, ketika Dia berkata pada

temannya “janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah bersama kita”. (Q.S.

At-Taubah [9]: 40) 3

Berdasarkan urain di atas, penulis berkesimpulan bahwa pelaksanaan

pendidikan Islam pada masa Abu Bakar adalah sama dengan pendidikan Islam yang

dilaksanakan pada masa Nabi baik materi maupun lembaga pendidikanya, karena Abu

Bakar termasuk sahabat terdekat yang hidup sezaman dengan Nabi. Masa

pemerintahan Abu Bakar tidak lama, tapi beliau telah berhasil memberikan dasar-

dasar kekuatan bagi perjuangan perluasan dakwah dan pendidikan Islam. Maka

penulis berpendapat bahwa materi pendidikan yang paling utama adalah keimanan

apalagi menghadapi orang-orang yang riddah, dalam hal ini Alquran menjelaskan

bahwa yang memberikan Hidayah adalah Allah QS. 28: 56, Rasul uswatun hasanah

QS. 33 : 21, adalah merupakan pendidikan akhlak, selanjutnya QS. 31 : 13-17 berisi

tentang nasehat Luqman kepada anaknya untuk : bertauhid, berbuat baik kepada orang

tua, melaksanakan shalat, amar ma’ruf nahi munkar, bersabar terhadap apa yang

menimpa. 4

2
Nurul Fajriah, [Link]., h. 124.
3
Hasna Rizky Ramadhan, et al, Metode Discovery Learning Dalam Pembelajaran Sejarah Khulafaurrasyidin,
(UAD: Jurnal Pendidikan Islam, 2019), h. 143.
4
Abdul Adib, Pola Pendidikan Islam Periode Khulafaur Rasyidin, (Lampung: Jurnal Mubtadiin, 2021), h. 6.

6
B. Periode Umar Bin Khattab (634-644 M)

Masa pemerintahan Umar Ibn Khattab yang lebih panjang dan selama 10

tahun (13-23 H / 634-644 M), tetapi dalam waktu yang relatif singkat Umar

menunjukkan kesanggupan yang luar biasa yang tidak ada pada pemimpin Islam

lainnya. Seluruh lapangan pemerintahan diisinya dengan sunah- sunah yang baik

untuk menjadi panutan atau ikutan orang-orang dibelakangnya (Michael H. Hart,

2005: 239). Pada masa Rasulullah pekerjaan yang terutama adalah menyampaikan

agama Islam, dan mengajarkan kepada kaum Muslimin jalan-jalan untuk mencapai

kebahagiaan dunia dan akhirat. Fungsi menyampaikan agama Islam telah dipenuhi

oleh Rasulullah saw, dan telah dikerjakannya dengan baik. Juga fungsi menunjuki

manusia kepada jalan untuk kebahagian bagi kaum Muslimin. Dalam masa

kepemimpinan Umar yang sepuluh tahun itu, penaklukan- penaklukan penting

dilakukan oleh umat Islam. Tidak lama sesudah Umar menduduki kekuasaan sebagai

khalifah, pasukan Arab menduduki Suriah dan Palestina, yang saat itu menjadi bagian

kekaisaran Byzantium. 5

Umar bin Khatab lahir pada tahun 513 M pada sebuah keluarga suku Quraisy.

Ia semula dipanggil dengan gelar Abu Hafs. Setelah memeluk Islam menerima gelar

al- faruq. Pada masa mudanya umar adalah seorang pegulat dan orator ulung. Ia

merupakan satu-satunya sahabat yang telah mengenal baca tulis. Berdagang adalah

usahanya yang paling utama.

Umar merupakan satu diantara tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam. Ia terkenal

dengan tekad dan kehendaknya yang sangat kuat, cekatan, dan karakternya yang

berterus terang, bebelum menjadi khalifah dikenal sebagai pribadi yang keras dan

tidak mengenal kompromi dan bahkan kejam. Di bawah pemerintahannya imperium

5
Mami Nofrianti, Perkembangan Hukum Islam Pada Masa Umar Ibn Khattab (634-644 M), (Padang: Jurnal
Ilmiah Syariah, 2018), h. 269.

7
Islam meluas dengan kecepatan yang luar biasa. Dapat dikatakan bahwa orang yang

terbesar pengaruhnya setelah Nabi dalam membentuk pemerintahan Islam dan

menegaskan coraknya adalah Umar bin Khattab.

Pada masa pemerintahan Umar kondisi negara sudah agak stabil, jadi Umar

dapat memusatkan perhatiannya dalam masalah-masalah kenegaraan yang lain

termasuk pendidikan. Berkaitan dengan masalah pendidikan, khalifah Umar ibnu

Khatab merupakan seorang pendidik yang melakukan penyuluhan pendidikan di kota

Madinah, beliau juga menerapkan pendidikan di masjid-masjid dan pasar pasar, serta

mengangkat guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan. Mereka bertugas

mengajarkan isi Alquran, fiqih, dan ajaran Islam lainnya kepada penduduk yang baru

masuk Islam. 6

Untuk menghadapi masalah baru yang belum ada pada masa rasulullah dan

Abu Bakar, maka Umar berijtihad untuk menetapkan hukum terhadap masalah-

masalah yang baru dan mem- perbarui organisasi negara, salah satunya adalah:

Mengembangkan Ilmu Pengetahuan. Kelanjutan dari meluasnya kekuasaan Islam ada

dua gerakan perpindahan manusia, dari Arab ke luar daerah Arab dan orang ‘Ajam

datang ke daerah Arab. Proses Asimilisai ini membawa dampak positif dan negatif.

Orang Ajam yang pernah mewarisi kebudayaan lebih tinggi yang kemudian masuk

Islam dan berbahasa dengan bahasa Arab serta berkeyakinan dengan keimanan Islam,

mendorong Umar untuk memerintahkan membuat tata bahasa Arab dan penafsiran

Alquran agar mereka terhindar dari kesalahan dalam membaca dan menafsirkan

Alquran dan hadis. Untuk kepentingan mengajar di luar Jazirah Arab, dikirim guru-

guru yang terdiri dari para sahabat yang ahli ilmu. Usaha tersebut tidak terlalu lama,

karena Umar terbunuh oleh orang yang sakit hati kepadanya. 7


6
Nurul Fajriah, [Link]., h. 124-125.
7
Junaidi Lubis, Kontribusi Peradaban Islam Masa Khulafaur Rasyidin Pembentukan Masyarakat Politik Muslim,
(Pekan Baru: Madania, 2013), h. 48–57.

8
Pada masanya Umar sangat memperhatikan masalah pendidikan dan menambah

materi pelajaran. Pada masa Umar kaum muslimin sudah mulai mempelajari bahasa-

bahasa Asing seperti bahasa Persia, Romawi, dan bahasa lain yang dianggap perlu

waktu itu, karena pengajaran bahasa asing pada waktu itu menjadi hal yang sangat

dipentingkan mengingat daerah kekuasaan Islam sudah berada di luar jazirah Arab.

Jadi dapat disimpulkan bahwa suhu politik negara pada waktu itu cukup stabil,

kondisi ini memberikan dampak positif bagi perkembangan pendidikan Islam pada

masa ini.

Kebijakan penting berkaitan dengan pendidikan yang dikeluarkan Umar bin

Khattab yaitu membuat surat tugas yang ditujukan kepada para panglima perangnya

adalah, apabila mereka berhasil menguasai satu kota, hendaknya mereka mendirikan

masjid sebagai tempat ibadah dan pendidikan.27 Selain itu, beliau juga mengangkat

dan menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah yang ditaklukkan itu, mereka bertugas

mengajarkan isi Al- Qur‟an dan ajaran Islam lainnya seperti Fiqih, Tauhid, Akhlak,

dan Ibadah, kepada penduduk yang baru masuk Islam.

Sedangkan kurikulum pendidikan pada masa Umar bin Khattab, berisi tentang:

pelajaran membaca dan menulis, menghafal al-Quran, hadis serta belajar pokok-

pokok agama Islam. Pendidikan pada masa ini lebih maju dibandingkan sebelumnya.

Pada masa ini tuntutan untuk belajar bahasa Arab, juga sudah mulai tampak, orang

yang baru masuk Islam dari daerah yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab jika

ingin belajar dan memahami pengetahuan Islam. Oleh karena itu, pada masa ini sudah

ada pengajaran bahasa Arab. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan lebih mapan

karena selama pemerintahan Umar, negara berada dalam keadaan stabil dan aman, hal

ini disebabkan telah ditetapkannya masjid sebagai pusat pendidikan, juga telah

9
terbentuknya pusat-pusat pendidikan Islam di berbagai kota dengan berbagai materi

pendidikan yang dikembangkan. 8

8
Ali Mubin, [Link]., h. 28.

10
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Berikut ini beberapa pusat pendidikan yang ditemukan dan sahabat nabi yang

memiliki peranan di masing-masing wilayah.

1. Mekkah, dengan Muadz bin Jabal radhīyallāhu ‘anhu sebagai guru pertama

yang mengajarkan Al-Qur'an dan fikih.

2. Madinah, yang pengajarnya adalah para sahabat Nabi yang paling popular,

yakni Abu Bakar, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat yang

lainnya.

3. Basrah, pengajarnya adalah Abu Musa al-Asy‘ary radhīyallāhu ‘anhu yang

merupakan seorang ahli fikih dan al- Qur'an.

4. Kuffah, pengajar yang termasyhur yaitu Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin

Mas‘ud radhīyallāhu ‘anhum. Abdullah bin Mas'ud merupakan ahli tafsir,

hadits, dan fikih dan mengajarkan Al-Qur'an.

5. Damsyik (Syam). Setelah Syam (Syiria) menjadi bagian negara Islam dan

penduduknya banyak beragama Islam, Khalifah Umar kemudian mengirim

tiga orang guru ke negara tersebut, yaitu Mu'adz bin Jabal, Ubaidah, dan Abu

Darda' radhīyallāhu ‘anhum. Mereka mengajar di tempat yang berbeda di kota

Syam, yaitu Abu Darda' di Kota Damsyik, Mu'adz bin Jabal di Kota Palestina,

serta Ubaidah di Kota Hims.

6. Mesir. Abdullah bin Amru bin Ash radhīyallāhu ‘anhu merupakan sahabat

yang pertama kali mendirikan madrasah dan menjadi guru di Kota Mesir.

Beliau adalah seorang ahli hadits.

11
Pola pendidikan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, masih seperti

pada masa rasulullah SAW., baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya.

Dari segi materi pendidikan Islam terdiri dari pendidikan tauhid atau keimanan,

akhlak, ibadah, kesehatan.

Kurikulum pendidikan pada masa Umar bin Khattab, berisi tentang: pelajaran

membaca dan menulis, menghafal al-Quran, hadis serta belajar pokok-pokok agama

Islam. Pendidikan pada masa ini lebih maju dibandingkan sebelumnya. Pada masa ini

tuntutan untuk belajar bahasa Arab, juga sudah mulai tampak, orang yang baru masuk

Islam dari daerah yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab jika ingin belajar dan

memahami pengetahuan Islam.

B. Saran

Dengan adanya makalah mengenai makna dan pandangan filosofis dan

pandangan ahli tentang pendidikan islam masa khulafa’ ar-rayidin (632-661 M),

penulis beerharap pembaca dapat memahami dan menambah wawasan pembaca.

Penulis juga menyadari bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu

untuk memperkuat pemahaman dan wawasan pembaca bisa mencari sumber-sumber

lain.

12
DAFTAR PUSTAKA

Lubis, J. “Kontribusi Peradaban Islam Masa Khulafaur Rasyidin: Pembentukan Masyarakat


Politik Muslim Junaidi.” Pekan Baru 17, no. 1 (2013): 48–57. [Link]
[Link]/[Link]/alidarah/article/view/4839/pdf.

Mubin, Ali. “Penyelenggaraan Pendidikan Islam Jaman Klasik (Di Masa Rasulullah SAW
Dan Era Kekhalifahan).” Rausyan Fikr : Jurnal Pemikiran dan Pencerahan 16, no. 1
(2020): 22–35.

Nirwani Jumala, Nurul Fajriah. “Gambaran Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Sahabat.”
Jurnal Serambi Ilmu 20, no. 1 (2019): 120.

Nofrianti, Mami. “Perkembangan Hukum Islam Pada Masa Umar Ibn Khattab (634-644
M).” JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) 17, no. 2 (2018): 269.

Ramadhan, Hasna Rizky, Mulyawan Mulyawan, Ibnu Hidayani, and Imam Mahdi. “Metode
Discovery Learning Dalam Pembelajaran Sejarah Khulafaurrasyidin.” Edukasi Islami:
Jurnal Pendidikan Islam 8, no. 01 (2019): 143.

rnández, S. R., Castro Morales, L. G., & MaldonaArciniegas Paspuel, O. G., Álvarez Hedo
Gudiño, C. W. (2021). Inte- ligencia emocional en estudiantes de la Universidad
Autónoma de Los Andes. Revista Conrado, 17(78), 127-133. “Pola Pendidikan Islam
Periode Khulafaur Rasyidin” (2021): 6.

Rony Sandra Yofa Zebua, Miftahul Ihsan, and Neneng Nurjanah. “Perkembangan
Pendidikan Islam Pada Periode Khulafāur Rāsyidīn Dan Implikasinya Terhadap
Pengembangan Pendidikan Islam Di Indonesia.” Jurnal Pendidikan Islam Indonesia 5,
no. 1 (2020): 115–126.

Zainudin, Ely. “Peradaban Islam Pada Masa Khulafah Rasyidin.” Jurnal Intelegensia 03, no.
01 (2015): 50–58.

13

Common questions

Didukung oleh AI

Umar bin Khattab dianggap sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah Islam karena beliau berhasil melebarkan kekuasaan Islam secara signifikan, serta memperkokoh fondasi pemerintahan dan hukum Islam. Dalam konteks pendidikan, Umar menunjukkan perhatian besar dengan mendirikan masjid sebagai pusat pendidikan, mengangkat guru di daerah yang ditaklukkan, dan memajukan kurikulum yang lebih terstruktur. Kebijakan Umar berhasil menjadikan pendidikan Islam lebih sistematis bahkan di luar Jazirah Arab .

Perbedaan signifikan antara masa Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah bahwa pendidikan pada masa Abu Bakar lebih berfokus pada melanjutkan pola yang ada pada masa Rasulullah tanpa perubahan besar karena tantangan politik dan keamanan. Sedangkan pada masa Umar, terdapat perkembangan kurikulum yang lebih maju dengan penambahan materi seperti pelajaran membaca dan menulis, menghafal Al-Qur’an, hadis, serta pelajaran bahasa Arab, seiring stabilnya kondisi politik yang memungkinkan perhatian pada pendidikan .

Tantangan utama dalam pendidikan pada masa Khalifah Abu Bakar adalah menghadapi pemberontakan dari orang-orang murtad yang enggan membayar zakat dan munculnya nabi-nabi palsu. Tantangan ini menyebabkan berkurangnya sumber daya manusia seperti penghafal Al-Qur’an, guru, dan pendidik, yang berpengaruh terhadap kurikulum pendidikan dengan masih berfokus pada pendidikan tauhid, akhlak, ibadah, dan kesehatan. Karena itu, pembaruan kurikulum belum terjadi secara signifikan .

Umar bin Khattab memainkan peran penting dalam pendidikan Islam dengan melakukan penyuluhan pendidikan di Madinah dan menerapkan pendidikan di masjid-masjid serta pasar. Untuk mengatasi kebutuhan pendidikan bagi pendatang baru dalam Islam, Umar mengangkat guru-guru untuk setiap daerah yang ditaklukkan, mengajarkan Al-Qur’an, fiqih, dan ajaran Islam lainnya. Dia mendorong para sahabat yang ahli ilmu untuk berdakwah di luar Jazirah Arab guna menghindari kesalahan dalam membaca dan menafsirkan Al-Qur’an .

Pola pendidikan Islam pada masa Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq masih seperti pada masa Rasulullah SAW, baik dari segi materi maupun lembaga pendidikannya. Materi pendidikan Islam pada masa ini terdiri dari pendidikan tauhid, akhlak, ibadah, dan kesehatan. Faktor yang mempengaruhi pola ini adalah kedekatan Abu Bakar dengan Rasulullah serta kondisi pemerintahan yang menuntut penanganan pemberontakan dari orang-orang murtad yang belum mantap keislamannya .

Khalifah Umar bin Khattab mengeluarkan kebijakan untuk mendirikan masjid sebagai pusat ibadah dan pendidikan di setiap kota yang berhasil ditaklukkan. Selain itu, Umar juga menunjuk guru-guru untuk tiap-tiap daerah tersebut guna mengajarkan isi Al-Qur’an dan ajaran Islam lainnya kepada penduduk yang baru masuk Islam. Alasan di balik kebijakan ini adalah untuk memastikan bahwa masyarakat baru tetap bisa mempelajari Islam dengan benar dan mengintegrasikan ajaran Islam ke dalam kehidupan sehari-hari .

Penulisan Al-Qur’an menjadi kebutuhan pada masa Khalifah Abu Bakar karena banyaknya sahabat yang mati syahid dalam pertempuran melawan pemberontakan, sehingga berkurangnya penghafal Al-Qur’an. Tantangan ini diatasi dengan menuliskan ulang Al-Qur’an dan menyusunnya menjadi satu mushaf. Upaya ini diawali oleh Umar bin Khattab dan dilakukan di bawah pimpinan Abu Bakar, dengan para sahabat dikirim ke berbagai daerah untuk mengajarkan Al-Qur’an dan memasukkan ajaran Islam ke dalam budaya daerah baru .

Stabilitas negara pada masa pemerintahan Umar bin Khattab dimanfaatkan untuk menumbuhkan pusat-pusat pendidikan Islam dengan menjadikan masjid sebagai pusat pendidikan dan pengembangan kurikulum yang menyeluruh. Pada masa ini, masjid-masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, melainkan juga sebagai institusi pendidikan. Umar bin Khattab memanfaatkan kondisi stabil ini untuk mendirikan masjid di setiap daerah taklukan dan mengirim guru-guru terlatih untuk mengajarkan Al-Qur’an, fiqih, dan bahasa Arab, memastikan pendidikan Islam menjangkau seluruh lapisan masyarakat baru .

Stabilitas politik pada masa Umar bin Khattab berimplikasi positif terhadap perkembangan pendidikan Islam. Karena kondisi negara yang sudah stabil, Umar dapat memusatkan perhatian pada masalah pendidikan. Ini terlihat dari pendirian masjid-masjid sebagai pusat pendidikan dan pengembangan materi pelajaran yang mencakup pelajaran membaca, menulis, menghafal Al-Qur’an dan Hadis, serta pemahaman pokok-pokok agama Islam. Stabilitas ini juga memungkinkan orang yang baru masuk Islam untuk belajar bahasa Arab, memperkuat kurikulum dan struktur pendidikan .

Proses asimilasi budaya yang terjadi ketika orang 'Ajam yang memiliki kebudayaan lebih tinggi masuk Islam, mendorong Umar bin Khattab untuk membuat tata bahasa Arab dan penafsiran Al-Qur'an. Hal ini untuk menghindari kesalahan dalam membaca dan menafsirkan Al-Quran dan hadis. Umar memerintahkan pengajaran bahasa Arab dan pengiriman guru-guru untuk mengajar di luar Jazirah Arab, sebagai respon untuk memastikan integrasi budaya baru tanpa kehilangan makna ajaran Islam .

Anda mungkin juga menyukai