1.
Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
Agar implementasi manajemen berbasis sekolah (MBS) dapat berjalan secara efektif
dan efesien maka diperlukan kerjasama seluruh komponen pendidikan, mulai dari kepala
sekolah, pendidik, tenaga pendidik, orang tua dan masyarakat. Selain komponen tersebut
ketersedian sarana dan prasarana yang memadai juga mempengaruhi keberlangsungan
pelaksanaan manajemen berbasis sekolah.
Menurut Nurkolis, pada dasarnya tidak ada satu strategi khusus yang jitu dan bisa
menjamin keberhasilan Implementasi MBS di semua tempat dan kondisi. Namun secara
umum dapat disimpulkan bahwa implementasi MBS akan berhasil melalui strategi-strategi
sebagai berikut1:
a) Sekolah harus memiliki otonomi terhadap empat hal, yaitu: otonomi dalam kekuasaan
dan kewenangan, pengembangan pengetahuan dan keterampilan secara
berkeseimbangan, akses informasi ke segala bagian, dan pemberian penghargaan
kepada setiap pihak yang berprestasi atau berhasil.
b) Adanya peran serta masyarakat secara aktif dalam hal pembiayaan, proses pengambilan
keputusan terhadap kurikulum dan interuksional serta non-instruksional
c) Adanya kepemimpinan sekolah yang kuat sehingga mampu menggerakkan dan
mendayagunakan setiap sumber daya sekolah secara efektif terutama kepala sekolah
harus menjadi sumber inspirasi atas pembangunan dan pengembangan sekolah secara
umum.
d) Adanya proses pengambilan keputusan yang demokratis dalam kehidupan dewan
sekolah yang aktif.
e) Semua pihak harus menyadari peran serta tanggung jawabnya secara sunggu-sungguh.
f) Adanya quidelines dari Departemen pendidikan terkait sehingga mampu mendorong
proses pendidikan di sekolah secara efektif dan efisien.
g) Sekolah harus memiliki transparansi dalam laporan pertanggung jawaban setiap
tahunnya.
Implementasi diawali dengan sosialisasi dari konsep MBS, identifikasi peran masing-
masing, pembangunan kelembagaan, mengadakan pelatihan-pelatihan terhadap peran
1
Mulyasa E, Implementasi kurikulum 2004 : Panduan Pembelajaran KBK, (Rosdakarya : Bandung, 2004), hlm. 81.
barunya, implementasi pada proses pembelajaran evaluasi atas pelaksanaan di lapangan, dan
dilakukan perbaikan-perbaikan.2
Sehubungan dengan implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam rangka
desentralisasi pendidikan di Indonesia, maka keberhasilan implementasi Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) sedikitnya dapat dilihat dari tiga dimensi yaitu efektivitas, efisiensi
dan produktivitas.3
Efektivitas Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sebagaimana efektivitas pendidikan
pada umumnya, berarti bagaimana Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berhasil
melaksanakan semua tugas pokok sekolah, manjalin partisipasi masyarakat, mendapat dan
memanfaatkan sumber dana, sumber daya, dan sumber belajar (sarana dan prasarana) untuk
mewujudkan tujuan sekolah.
Efisiensi yakni perbandingan antara input atau sumber daya dengan output. Artinya
suatu kegiatan dikatakan efisien jika tujuan dapat dicapai secara optimal dengan penggunaan
sumber daya yang minimal. Selain itu, disamping dilihat dari segi efektifitas, implementasi
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) juga perlu dianalisa dari segi efisiensi untuk melihat
produktivitas.
Implementasi manajamen berbasis sekolah dapat dilihat dari bagaimana sekolah dalam
mengoptimalkan kinerjanya, mengelola sumber daya manusai dan sumber daya lainnya,
serta mengelola proses belajar mengajar dengan baik.4
2. Strategi Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
Strategi pada dasarnya merupakan cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Tujuan
manajemen berbasis sekolah dapat dicapai melalui tahapan sebagai berikut.5
a) Penyiapan konsep MBS, yaitu penyiapan buku panduan sebagai rujukan utama dalam
memahami manajemen berbasis sekolah (MBS) didalamnya berisi latar belakang,
tujuan, manfaat, karakteristik, prinsip-prinsip, serta strategi implementasi manajemen
berbasis sekolah serta kriteria keberhasilannya.
2
Nurkolis, Manajemen berbasis sekolah: teori, model dan aplikasi, (Jakarta : Grasindo, 2005), hlm. 132–134.
3
Mulyasa E, Implementasi kurikulum 2004 : Panduan Pembelajaran KBK, hlm. 81.
4
Nadya Afiola Atikasari, Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan, Jurnal
Bahana Manajemen Pendidikan, 2020, hlm. 5.
5
Wahyudi, Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah (School- Based Management) Dalam Rangka Desentralisasi
Pendidikan, Jurnal Guru Membangun, Vol. 23, No. 1, 2010, hlm. 5.
b) Tahap Pelaksanaan, yaitu kegiatan seminar dan lokakarya, pelatihan manajemen
berbasis sekolah bagi para Kepala sekolah, pembentukan komite sekolah,
pengembangan sekolah model manajemen berbasis sekolah, monitoring dan evaluasi,
desiminasi MBS ke sekolah di kabupaten/kota.
1) Kegiatan seminar dan lokakarya dilakukan diskusi, curah pendapat antara
kelompok kerja MBS dengan berbagai unsur terkait di Dinas Pendidikan
Kabupaten/Kota, para praktisi pendidikan (guru, kepala sekolah, pengawas),serta
para akademisi dari FKIP, para cendikiawan, pemerhati pendidikan, tokoh
masyarakat, dunia usaha, anggota legislatif, dan pihak lain yang peduli terhadap
kemajuan dunia pendidikan.
2) Pelatihan MBS bagi para kepala sekolah untuk menyiapkan leader yang mampu
memahami konsep MBS sekaligus kompeten dalam melaksanakan tahapan MBS
sesuai standar yang ditetapkan.
3) Pembentukan komite sekolah dilaksanakan di setiap satuan pendidikan, dengan
mempertimbangkan keterwakilan unsur-unsur masyarakat, sekolah, dan pemangku
kepentingan lainnnya.
4) Pengembangan sekolah model MBS adalah sekolah yang telah berhasil menerapkan
manajemen berbasis sekolah dan selanjutnya sebagai sekolah percontohan atau
rujukan bagi sekolah lainnya dalam melaksanakan MBS.
5) Monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui hambatan dan kendala dalam
melaksanakan tahapan manajemen berbasis sekolah guna dilakukan perbaikan dan
penyempurnaan dalam aspek prosedur, organisasi, personalia dan lainnya.
6) Desiminasi manajemen berbasis sekolah ke satuan pendidikan (sekolah) di wilayah
kabupaten/kota.
c) Evaluasi dan Perbaikan berkelanjutan, walaupun telah dikembangkan sekolah model
MBS dan dibuat panduan untuk pelaksanaan manajemen berbasis sekolah, perlu kiranya
dilakukan evaluasi terhadap pencapaian tujuan pada setiap sekolah. Beragamnya tingkat
pendidikan dan kemampuan ekonomi masyarakat akan berpengaruh terhadap
keberhasilan manajemen berbasis sekolah (MBS).
3. Tahapan Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
Menurut (Fattah, 2008) terdapat 3 (tiga) tahapan implementasi, yaitu :6
a) Tahap Sosialisasi, merupakan tahap yang sangat diperlukan untuk memberikan
informasi secara luas kepada masyarakat dan lembaga pendidikan agar dapt memahami
dan ikut serta dalam pelaksanaannya.
b) Tahap Piloting, merupakan tahap dilakukannya uji coba terhadap penerapan konsep
manajemen berbasis sekolah.
c) Tahap Desiminasi, merupakan tahapan mengimplementasikan model MBS kepada
masyarakat dan lembaga pendidikan setelah dilakukannya uji coba sebelumnya.
4. Indikator Keberhasilan Implementasi MBS Keberhasilan
Implementasi manajemen berbasis sekolah dapat dilihat dari indikasi-indikasi sebagai
berikut.
a) Orientasi Kearah Efektivitas Proses Pembelajaran tercermin dalam apresiasi guru
terhadap pengembangan kurikulum dan implikasinya, kreativitas guru dalam aplikasi
model pembelajaran dan teknologi pembelajaran.
b) Kepemimpinan Sekolah yang Efektif, kepala sekolah memiliki peran penting dalam
merealisasikan MBS, terutama dalam mengkoordinasikan, menggerakkan sumber daya
pendidikan yang tersedia, dan memadukan dukungan pihak-pihak pemangku
kepentingan. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat
mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah
melalui programprogram yang dilaksanakan secara sistematis dan terencana.
c) Pengelolaan tenaga pendidik dan kependidikan secara berdaya guna, mengingat guru
merupakan salah satu faktor dominan dalam pencapaian keberhasilan pendidikan di
sekolah. Kepala sekolah mampu menciptakan suasana kerja yang kondusif yang
memungkinkan para guru dapat tumbuh kemampuan profesionalnya.
d) Sekolah memiliki budaya mutu, yaitu kebutuhan untuk melakukan perbaikan secara
berkelanjutan, kolaborasi menjadi dasar pengambilan keputusan dan perbaikan proses
pembelajaran, personil sekolah merasa meiliki sekolah.
e) Sekolah memiliki kemandirian, artinya sekolah mampu mengambil keputusan untuk
melakukan perbaikan tanpa dipengaruhi oleh pihak luar yang tidak mengetahui masalah
dan kebutuhan sekolah.
6
Nadya Afiola Atikasari, Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah Untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan, hlm.
5-6.
f) Partisipasi warga sekolah dan masyarakat tinggi, dengan suatu asumsi bahwa makin
tinggi tingkat partisipasi, makin besar pula tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap
sekolah.
g) Sekolah semakin transparan, keterbukaan ditunjukkan kepada masyarakat dalam
pengambilan putusan, penggunaan uang, ketercapaian program sekolah.
h) Sekolah responsif terhadap kebutuhan, maknanya sekolah tanggap terhadap aspirasi
yang muncul bagi peningkatan mutu. Bahkan sekolah mampu menyesuaikan terhadap
perubahan dan dinamika yang terjadi pada masa kini dan masa mendatang.
i) Sekolah memunyai akuntabilitas, yaitu pertanggung-jawaban pihak sekolah terhadap
pencapaian program yang telah dilaksanakan kepada pemerintah dan utamanya kepada
masyarakat selaku pemangku kepentingan.
j) Kepuasan warga sekolah, kepuasan dapat dicapai apabila warga sekolah diberi
kewenangan, tanggungjawab, dan kepercayaan untuk melaksanakan tugas-tugas
sekolah. Perasaan senang, bahagia tercermin dalam perilaku kerja yang giat, tekun dan
motivasi yang tinggi.