Metode Pelaksanaan
Pekerjaan Aspal
Ashadi Putrawirawan
LAPIS RESAP PENGIKAT (Prime Coat)
• Lapis resap pengikat (prime coat) merupakan lapisan
ikat aspal cair yang diletakkan di atas lapis pondasi
agregat Klas A.
• Lapis resap pengikat biasanya dibuat dari aspal
dengan penetrasi 80/100 atau penetrasi 60/70 yang
dicairkan dengan minyak tanah.
• Volume yang digunakan berkisar antara 0,4 sampai
dengan 1,3 liter/ m2 untuk lapis pondasi agregat
kelas A dan 0,2 sampai 1 liter/m2 untuk pondasi
tanah semen.
Fungsi dari lapis resap pengikat :
• Memberikan daya ikat antara lapis pondasi
agregat dengan campuran aspal
• Mencegah lepasnya butiran lapis pondasi
agregat (segregasi) jika dilewati kendaraan
sebelum dilapis dengan campuran aspal.
• Menjaga lapis pondasi agregat dari pengaruh
cuaca, khususnya hujan. Sehingga air tidak
masuk ke dalam lapisan pondasi agregat yang
dapat mengakibatkan kerusakan struktur jalan
Metode Pelaksanaan :
• Pekerjaan Lapis Resap Pengikat ini harus
mencakup penyediaan dan penghamparan
bahan aspal pada permukaan yang telah
disiapkan sebelumnya untuk pemasangan
lapisan beraspal berikutnya
• Lapis Resap Pengikat harus dihampar di atas
permukaan pondasi tanpa bahan pengikat
aspal atau semen (misalnya Lapis Pondasi
Agregat)
Penghamparan Prime Coat
• Lapisan Resap Pengikat hanya dikerjakan
pada suatu permukaan jalan yang kering atau
sedikit lembab
• Sebelum lapis resap harus dibersihkan dari
segala kotoran yang tidak berguna.
Penyemprotan dilakukan dengan
mempertimbangkan kelancaran arus lalu
lintas
• Peralatan yang digunakan untuk pekerjaan ini
adalah air compressor dan alat bantu lainnya
Pembersihan permukaan jalan menggunakan air compressor
• Segera setelah pekerjaan penyemprotan dikerjakan,
pengaturan arus lalu lintas dibuat dengan
menggunakan tanda-tanda lalu lintas agar
permukaan yang baru disemprotkan tidak dilalui
kendaraan
Prome Coat
Lapis Perekat (Tack Coat)
• Lapis perekat (tack coat) merupakan lapisan aspal
cair yang diletakkan di atas lapisan beraspal atau
lapis beton semen sebelum lapis berikutnya
dihampar. Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru
• Bahan lapis perekat terdiri dari aspal emulsi yang
cepat menyerap atau asapal keras pen 80/100 atau
pen 60/70 yang dicairkan dengan 25 sampai 30
bagian minyak tanah per 100 bagian aspal.
Pemakaiannya berkisar antar 0,15 liter/m2 sampai
0,50 liter /m2. Lebih tipis dibandingkan dengan
pemakaian lapis resap pengikat
Metode Pelaksanaan (Tack Coat)
Pelaksanaan pembersihan permukaan jalan
• Pemasangan lapis resap pengikat atau lapis perekat
dilaksanakan setelah permukaan lama dibersihkan dengan
air compressor, sehingga tekstur perkerasan lama
menjadi bersih dan terlihat jelas
• Segera sebelum dilakukan penyemprotan material
bitumen sebagai lapis resap pengikat, permukaan yang
dipersiapkan harus dibersihkan dari kotoran dan material
lepas atau yang tidak dikehendaki dengan power broom
atau power blower
• Bila Konsultan Pengawas memerintahkan, permukaan
harus dikupas tipis dan digilas sebelum material bitumen
disemprotkan, dalam hal penyapuan (brooming) atau
penghembusan (blowing) tidak diperlukan
Penyemprotan lapis perekat (Tack coat) menggunakan
hand sprayer
• Penyedia jasa sebelum melakukan penyemprotan, batas
permukan yang akan disemprot harus diukur dan ditandai.
• Pelaksanaan penyemprotan lapis resap pengikat dan lapis
perekat menggunakan alat asphalt distributor.
• Asphalt distributor adalah truk atau kendaraan lain yang
dilengkapi dengan aspal, pompa, dan batang penyemprot.
• Umumnya truk juga dilengkapi dengan pemanas untuk
menjaga temperatur aspal.
• Apabila diizinkan oleh direksi pekerjaan, pelaksanaannya
dapat menggunakan alat penyemprot tangan (hand sprayer).
• Hand sprayer sering digunakan untuk daerah – daerah yang
sulit dijangkau dengan Asphalt Distributor dan agar
memperoleh hasil yang merata, sebaiknya pelaksanaanya
dikerjakan oleh operator terampil dan telah teruji coba
dengan baik
• Bila diperlukan, Konsultan Pengawas dapat memerintahkan
penyemprotan permukaan dengan sedikit air sesaat sebelum
material bitumen disemprotkan. Sebelum pekerjaan
dilaksanakan, daerah yang akan dikerjakan harus mendapat
persetujuan terlebih dulu oleh Konsultan Pengawas
• Material bitumen harus disemprotkan secara merata dengan alat
distributor bertekanan dalam waktu 1 jam sebelum
penghamparan lapisan aspal berikutnya. Banyaknya material
bitumen yang disemprotkan, umumnya berkisar antara 0,15 s/d
0,5 kg/m2
• Penyemprotan material bitumen pada bagian sambungan harus
dilakukan secara cermat sehingga tidak melebihi jumlah yang
telah ditentukan. Kelebihan material harus dibuang dari
permukaan perkerasan, sedangkan yang tidak tersiram atau
kurang harus diperbaiki. Permukaan yang telah disemprot
material bitumen harus dibiarkan mengering sampai permukaan
tersebut cukup pengikatannya untuk menerima lapisan aspal
berikutnya
• Lapis pengikat baru
dapat diijinkan
dilaksanakan, bila
lapisan aspal di atasnya
akan segera
dilaksanakan, agar lapis
pengikat ini memberikan
ikatan yang cukup.
• Selama lapisan aspal di
atasnya belum
dihamparkan,
Kontraktor harus
menjaga agar area yang
telah diberi lapis
pengikat tidak rusak
Kondisi Cuaca yang diizinkan untuk bekerja
Lapis resap pengikat dan lapis
perekat hanya disemprot saat
kondisi permukaan jalan
dalam keadaan kering, dan
tidak boleh dikerjakan saat
angin kencang, hujan atau
akan terjadinya hujan
Tack
coat 1
Tack
coat 2
Tack
coat 3
Satuan Pembayaran
NomorMata Uraian Satuan
Pembayaran Pengukuran
6.1.(la) Lapis Resap Pengikat - Aspal Cair Liter
6.1.(1b) Lapis Resap Pengikat - Aspal Emulsi Liter
6. 1.(2a) Lapis Perekat - Aspal Cair Liter
Metode Kerja Pekerjaan Aspal
• Aspal adalah campuran yang terdiri dari bitumen dan mineral.
Bitumen adalah bahan yang berwarna coklat hingga hitam, keras
hingga cair mempunyai sifat baik larut dalam Cs2 atau CCL4
dengan sempurna dan mempunyai sifat lunak dan tidak larut
dalam air, ter adalah bahan cair berwarna hitam tidak larut dalam
air, larut sempurna dalam Cs2 atau CCL4, mengandung zat-zat
organik yang terdiri dari gugusan aromat dan mempunyai sifat
kekal.
• Bitumen secara kimia terdiri dari aromat, Naphten dan alkalin
sebagai komponen terpenting dan secara kimia fisika merupakan
campuran colloid dimana butir-butir yang merupakan komponen
yang padat (disebut Asphaltene) berada dalam fase cairan yang
disebut Malten. Asphlatene terdiri campuran gugusan aromat
Naphten dan Alkan dengan berat molekul yang lebih tinggi,
sedangkan Malten terdiri campuran gugusan aromat. Napthen dan
alkali dengan berat molekul yang lebih rendah.
• Aspal sebagian besar digunakan sebagai bahan
pengerasan jalan. Jenis pengerasan yang menggunakan
aspal disebut pengerasan lentur (flexible pavement). Hal
ini karena karakteristik dari aspal yang plastis. Fungsi
dari pengerasan aspal adalah untuk mendapatkan
permukaan jalan yang baik dan melindungi lapisan di
bawahnya dari pengaruh air.
• Fungsi dari aspal pada campuran aspal adalah sebagai
pengikat (binder) antar agregat. Aspal mengisi rongga
antar agregat dan rongga dalam agregat. Aspal yang
masih padat disebut dengan asphalt cement.
• Dalam penggunaannya Asphalt cement tersebut harus
dipanaskan agar meleleh. Campuran antara asphalt
cement dengan bahan minyak bumi disebut dengan
asphalt cutback. Asphalt cutback ini berbentuk cairan
dalam suhu ruangan
Kriteria dari asphalt mix design yang harus
dipenuhi adalah:
• Stabil (Stability) : stabilitas dari aspal ditentukan oleh friksi
internal dan kohesi. Bentuk agregat akan mempengaruhi friksi
internal, sedangkan binder akan mempengaruhi kohesitas
campuran aspal.
• Tahan lama (Durability) : yang dimaksud dengan tahan lama
adalah ketahanan campuran terhadap oksidasi, agregat yang
saling berpisah dan memisahnya binder dari agregat. Hal ini
dipengaruhi oleh jumlah aspal dalam campuran dan gradasi
agregat.
• Kedap air (Permebiality): pengerasan aspal harus kedap
terhadap air dan udara. Kekedapan terhadap air dan udara
dapat dicapai dengan melakukan pemadatan dan membuat mix
design yang baik.
• Fleksibel (Flexibility) : fleksibilitas yang baik dicapai
jika pengerasan dapat berubah jika terjadi gerakan minor
selama umur pengerasan.
• Tidak menyebabkan selip (Skid resistance) :
permukaan pengerasan aspal diharapkan dapat
menghindari terjadinya selip pada roda kendaraan yang
lewat di atasnya.
• Tidak mengalami kelelahan bahan (Fatiq
Resistance): dengan lewatnya kendaraan di atas
pengerasan secara terus menerus maka dapat
mengakibatkan kelelahan bahan. Kelelahan bahan
dipengaruhi oleh rongga antar partikel dan viskositas
binder.
• Mudah dikerjakan (Workability): campuran aspal yang
dihasilkan sebaiknya dapat dengan mudah dituangkan
dan dipadatkan dengan mudah
Tahap dalam metode pekerjaan aspal
• Kontraktor melaksanakan pembersihan sebelum di
mulainya proyek, selama pelaksanaan berlangsung dan
sebelum selesainya proyek.
• Sebelum pekerjaan mulai dilaksanakan, kontraktor
membersihkan seluruh lokasi pekerjaan dari kotoran –
kotoran dan sampah – sampah, sehingga terlihat
permukaan lokasi pekerjaan bersih.
• Pekerja menjaga kebersihan lapangan dan mengatur
lokasi penempatan bahan bangunan serta daerah kerja
agar kelancaran pelaksanaan pekerjaan tidak terhambat.
PERALATAN UNIT AMP
AMP adalah suatu unit mesin atau peralatan yang digunakan
untuk memproduksi material campuran antara aspal dengan
material agregat batu
Sebelum di operasikan masing-masing komponen peralatan
harus di periksa pada bagian:
1. Cold Bin (Bin Dingin)
• Pastikan dan periksa kondisi bak setiap cold bin harus
dalam keadaan baik tidak ada lubang/ rusak.
• Pastikan dan periksa antara hoper cold bin harus diberi
penyekat atau pemisah.
• Pastikan dan periksa hoper cold bin harus di beri penutup
terpal atau atap.
• Pastikan dan periksa pintu cold bin untuk pemasok agregat
dapat di stell dengan baik.
Komponen AMP
2. Feeder (Pemasok Agregat)
• Setiap feeder harus dilengkapi alat mekanik (vibrator,
continus belt, flat feeder maju mundur dan apron) untuk
menjamin pemasokan agregat ke dryer yang merata dan
continue.
• Pastikan peralatan tersebut berfungsi dangan baik.
• Sebelum produksi setiap pintu cold bin harus di
kalibrasikan sesuai job mix formula yang telah disetujui
oleh konsultan pengawas.
• Kalibrasi dapat di laksanakan dengan bukaan pintu dalam
(cm) atau kecepatan belt convenyor dalam (rpm).
• Kalibrasi di lakukan terhadap kondisi agregat normal dan
agregat dalam kondisi basah tempatkan petugas untuk
mengawasi pasokan agregat.
4. Belt Convenyor (Ban Berjalan)
• Pastikan dan periksa belt convenyor harus mulus tidak sobek atau
berlubang.
• Pastikan dan periksa rol pemutar belt convenyor terawat dengan baik
dan selalu di beri pelumas agar tidak tersendat
5. Drum Dryer (Pengering)
• Harus mampu mengaduk terus menerus agregat yang di pasok selama
proses pemanasan dan pengeringan.
• Pastikan dan periksa kondisi drum dan suhu-suhu dalam drum dalam
keadaan baik.
• Pastikan dan periksa ring gear, roll penggerak, rantai roller, roda
spoket gigi pinion dan roller bearing dalam kondisi baik.
• Pastikan dan periksa baju tahan api tidak rusak dan dapat berfungsi
dengan baik
• Pastikan dan periksa kondisi burner, nozzle, turbo blower, burner box.
Burner cone katup pengontrol tekanan, pompa minyak, dalam keadaan
baik. Dapat berfungsi dengan baik, dapat menyetel pengatur minyak
dan angin sehingga anginnya merata.
• Pastikan dan periksa thermometer pada Dryer.
6. Pengumpul Debu ( Dust Collector)
• Periksa kondisi fan (kipas) dalam keadaan baik dan dapat
berfungsi.
• Periksa dumper gate atau weight dumper pastikan dapat
berfungsi dengan baik.
• Periksa kondisi dan fungsi kerja dari bantalan pastikan
dalam keadaan baik dan dapat berfungsi
• Periksa kondisi fan belt pastikan dalam keadaan baik dan
dapat berfungsi.
• Periksa kondisi dan fungsi kerja corong pada pengumpul
debu plastic pastikan dalam keadaan baik tidak tersumbat.
• Perhatikan kolam penampung debu bila sudah penuh di
kuras secara rutin.
7. Hot Elevator (Pemasok Agregat Panas)
• Periksa dan pastikan kondisi bucket / mangkok harus dalam keadaan baik, tidak
penyok atau sobek.
• Periksa dan pastikan kondisi rantai roller, motor roda gigi dan pin-pin
penghubung dalam keadaan baik dan slalu terawat.
• Periksa dan pastikan pintu penutup elevator bagian bawah selalu di control agar
abu batu yang jatuh dari bucket tidak menumpuk.
8. Hot Screening Unit (unit ayakan panas)
• Periksa bahwa ayakan panas harus mampu menyaring agregat panas dengan
ukuran dan proporsi yang telah ditentukan.
• Periksa dan pastikan kondisi dan kebersihan ayakan panas, lubang ayakan dan
kawat dalam keadaan baik dan kebersihannya terawat.
• Ukuran saringan harus di sesuaikan dengan spesifikasi gradasi yang telah di
tentukan.
• Periksa dan pastikan kondisi dan fungsi kerja dari penggetar harus baik bila
terdapat bunyi tidak normal periksa bantalannya.
• Periksa dan pastikan kondisi dan fungsi kerja motor penggerak, fan belt, tutup
belt, tutup seals dan pegas elips dalam keadaan baik.
• Periksa dan pastikan corong untuk agregat over size dalam keadaan baik dan
tidak tersumbat saringan agar di control secara rutin, jika rusak atau robek harus
segera diganti.
9. Hot Bin (Bin Panas)
• Periksa dan pastikan dinding pemisah antara hot bin tidak
berlubang/rusak.
• Periksa dan pastikan pintu hot bin bisa menutup dengan
sempurna/rapat tidak bocor.
• Periksa dan pastikan kondisi pipa pengeluaran agregat
berlebih (over flow) berfungsi dengan baik tidak tersumbat.
10. Kotak Timbangan
• Periksa dan pastikan kotak timbangan aspal dan agregat tidak
rusak, bocor dan dapat berfungsi dengan baik
• Periksa sensitifitas timbangan agregat, timbangan aspalt dan
timbangan filler ketelitiannya sesuai dengan ketentuan.
• Periksa dan pastikan kondisi dan fungsi kerja hook-bolt,
pisau, karet perendam, Metal penggantung, petunjuk skala,
bak penampung dan pintu bukaan timbangan berfungsi baik.
12. Pencampur (pug mil/mixer)
• Periksa dan pastikan jarak antara dinding pug mil dengan mixer
• ± 1 cm.
• Kondisi alat mechanical batch counter untuk mencatat
pencampuran material dalam keadaan baik.
• Pastikan bahwa setelah selesai produksi pug mil harus segera di
bersihkan dengan cara memasukkan agregat panas.
• Periksa dan pastikan kondisi pedal pencampur dalam keadaan baik
tidak aus, lepas jarak antara pedal maximum 2 cm.
• Periksa dan pastikan kondisi pintu pencampuran dapat di tutup rapat
dan bocor.
13. Penyimpanan dan pemasok bahan pengisi ( Filler )
• Periksa dan pastikan elevator bahan pengisi dapat berfungsi dengan
baik.
• Periksa fungsi kerja bin penampung bahan pengisi (filler storage
bin) pastikan dapat berfungsi dengan baik.
• Periksa fungsi kerja pemasok filler dan ulir (screw) pastikan dapat
berfungsi dengan baik.
14. Ruang Operasional
• Periksa dan pastikan ruang system control, distribution board dan
panel pengontrol berfungsi dengan baik.
• Periksa timer untuk pengendalian lamanya waktu pencampuran pada
pugmil dapat berfungsi dengan baik.
• Periksa kondisi dan fungsi system control kompresor, silinder udara,
filter udara, pelumas system control pneumatic maupun elektrik.
15. Peralatan Penunjang
a) Generator
• Periksa dan pastikan kondisi dan fungsi kerja generator baik.
• Periksa kapasitas, bahan baku dan system kabel apakah sudah
sesuai dengan kebutuhan.
b) Wheel Loader
• Periksa dan pastikan kondisi dan fungsi kerja wheel loader baik.
• Pastikan lebar bucket lebih kecil dari lebar hoper cold bin.
• Periksa hal-hal lain yang di perlukan sesuai dengan petunjuk dari
pabrik.
PELAKSANAAN DI AMP
1. Sebelum Produksi
• Periksa kualitas agregat (batuan), filler dan asphalt
panas pastikan sesuai dengan spesifikasi.
• Pastikan campuran (mix desaign) aspal beton sesuai
dengan spesifikasi dalam kontrak.
• Laksanakan percobaan campuran aspalt beton (job
mix), periksa gradasi campuran (dry mix) tanpa
aspalt dan homogenitas campuran beraspal (Wet
Mix).
• Pastikan komponen peralatan AMP sudah di
periksa dan layak untuk produksi.
Prosedur Kalibrasi Cold Bin
Sebelu dilakukan proses pencampuran aspal , maka hendaknya
terlebih dahulu dilakukan kalibrasi cold bin untuk menentukan
voume agregat sebagai bahan penyusun aspal.
Prosedur Kalibrasi Cold Bin di AMP adalah sebagai berikut:
• Belt Convenyor di jalankan dari cold bin sampai ke dryer.
• Hidupkan dan buka pintu pemasok agregat yang ada pada cold
bin sampai agregat keluar.
• Bilamana agregat sudah konstan, tandai pada saat yang sama
hidupkan stopwatch.
• Tentukan panjang agregat yang ada di ban dan pada saat yang
sama matikan stop waktu, ukur panjang ban dan waktu.
• Agregat yang ada di belt kompenyor di timbang
• Ambil sampel agregat yang ada di cold bin dan periksa kadar
airnya
• Laksanakan proses seperti di atas minimal 3 kali. Untuk
masing –masing bahan minimum 4 bukaan pintu.
• Untuk cold bin system ban atau apron. Bukaan pintu bin di
pertahankan tetap. Yang variable kecepatan ban atau apron
gambarkan hasil pengukuran dalam bentuk grafik.
Contoh perhitungan kalibrasi
material AMP
• Ambil sampel agregat yang ada di cold bin dan periksa kadar
airnya
• Laksanakan proses seperti di atas minimal 3 kali. Untuk
masing –masing bahan minimum 4 bukaan pintu.
• Untuk cold bin system ban atau apron. Bukaan pintu bin di
pertahankan tetap. Yang variable kecepatan ban atau apron
gambarkan hasil pengukuran dalam bentuk grafik.
KALIBRASI COLD BIN AMP
Lokasi : AM P Agregate : Course Aggregate
Bin : I Tanggal Test : 30 - 05 - 2003
Bukaan Berat Material Basah ( Gram ) Waktu Out put
No. Pintu I II III Rata-rata Kondisi Kering
( cm ) ( detik ) ( ton/jam )
1 16 7,416 7,419 7,418 3 8.901
2 18 9,049 9,054 9,052 3 10.862
3 20 10,762 10,754 10,758 3 12.910
4 22 12,420 12,410 12,415 3 14.898
KALIBRASI COLD BIN AMP
Lokasi : AM P Agregate : Pasir
Bin : II Tanggal Test : 30 - 05 - 2003
Bukaan Berat Material Basah ( Gram ) Waktu Out put
No. Pintu I II III Rata-rata Kondisi Kering
( cm ) ( detik ) ( ton/jam )
1 16 2,832 2,848 2,840 3 3.408
2 18 3,602 3,574 3,588 3 4.306
3 20 4,366 4,300 4,333 3 5.200
4 22 5,004 5,080 5,042 3 6.050
2. Selama Produksi
• Periksa dan pastikan Wheel Loader berfungsi dengan baik.
Lebar bucket harus lebih kecil dari lebar hoper cold bin.
• Perhatikan waktu pengisian agregat ke hoper harus hati-hati
agar agregat tidak tercampur, bila tercampur akan terjadi
segregasi.
• Perhatikan tinggi bukaan pintu cold bin atau kecepatan belt
convenyor (rpm) sesuai dengan hasil kalibrasi berdasarkan
job mix sesuai dengan spesifikasi yang akan di produksi.
• Perhatikan dan awasi agregat yang masuk dryer tidak
menggumpal dan bebas dari segala kotoran.
• Agregat harus dipanaskan dalam dryer dengan dengan suhu
60ºC – 70ºC.
• Kendalikan Burner agar apinya dengan memproses
pembakaran agregat dengan baik dan sempurna.
• Pastikan agregat panas dan dryer dapat diangkut hot elevator ke saringan
panas (hot screens) secara continue dengan temperature yang konstan.
• Hati-hati waktu menimbang agregat panas dengan proporsi harus sesuai
dengan proporsi yang slalu di tentukan dan lakukan penimbangan mulai
dari yang kasar.
• Masukkanlah agregat panas kedalam pug mil. Lakukan pencampuran kering
selama 5 detik. Dan masukkan aspalt panas sesuai dengan berat yang telah
di tentukan dengan suhu antara 1ºC – 65ºC (max) suhu aspal modifikasi
harus sesuai dengan petunjuk pabrik. Aspalt yang sudah di timbang ke
dalam pug mil kemudian aduk selama 30 – 40 detik.
• Perhatikan alat petunjuk mixing time dan pastikan dapat berfungsi dengan
baik perhatikan waktu pengadukan di tentukan berdasarkan Trial Mix. yang
lamanya berkisar 35-45 detik dan minimal 95% dari agregat harus
terdelimut aspal.
• Selesai pengadukan campuran di keluarkan melalui pintu pug mil dan
perhatikan waktu menuangkan campuran ke dump truck, penumpukan tidak
boleh dalam satu tempat dan dump truck harus mundur maju untuk
menghindari segregasi.
• Periksa temperature campuran, temperature harus berkisar antara 145ºC –
155ºC.
• Lakukan pengambilan contoh campuran untuk bahan pemeriksaan di
laboraturium, contoh di tamping pada bucket wheel loader
pengambilan contoh dengan cara menyisir dari bawah ke atas lalu di
kuarting dan contoh untuk pembersihan di ambil dengan jumlah
secukupnya. Perhatikan, waktu untuk pengambilan contoh harus di
lakukan pada awal pertengahan dan satu rit sebelum produksi
berakhir.
• Pemeriksaan contoh meliputi uji Marshall dan Extraksi.
• Tutuplah aspal di atas dump truck dengan terpal sampai menutup
campuran yang ada, ingat bila menutupnya sempurna suhu campuran
turun hanya kira-kuira 5 derajad/jam.
• Timbang dump truk berikut yaitu campuran aspal, lakukan pengisian
surat jalan yang mencantumkan: Nomor dan berat kendaraan
kosong, Jenis campuran, Berat campuran, Tempat peraturan
campuran, Tanggal pengiriman, Jam berangakat, Lokasi pekerjaan
3. Masukkan ke dalam Rumus
• Perhitungan yang di lakukan berdasarkan rumus yang sesuai dengan
pekerjaan aspalt
4. Pengangkutan Aspalt Beton dengan Dump Truck
• Bak dump truck harus terbuat dari logam, rata, bersih dan
terawat.
• Dilengkapi dengan tutup terpal yang dapat menutup
seliuruh bak sehingga aspal beton tertutup dengan
sempurna.
• Untuk memudahkan pemeriksaan suhu campuran aspal,
bagian samping bak dump truck di beri lubang.
• Secara periodic berat kosong dump truck harus di timbang.
• Untuk membersihkan aspalt beton yang menempel pada
bak tidak di perkenankan menggunakan solar disarankan
menggunakan air sabun, minyak paraffin, atau larutan
kapur.
• Kebutuhan dump truck harus di hitung agar jumlahnya
sesuai kebutuhan dan pelaksan pekerjaan lancar sehingga
aspalt finisher tida menunggu
5. Jembatan Timbang
• Secara periodik jembatan timbang harus di kalibrasi dan
selalu terawat dengan baik
6. Cara Menumpuk Campuran di atas Bak Truck
• Penumpkan campuran ke dalam bak truck harus hati-hati
agar campuran agregat tidak tercecer
7. Laboraturium Lapangan
• Setiap AMP harus memiliki ruang laboraturium kalau
memungkinkan di lengkapi AC dengan luas yang memadai
serta peralatan laboraturium yang di perlukan.
• Peralatan laboraturium antara lain untuk pemeriksaan
material (batuan filler dan aspal) pemeriksaan campuran
aspal beton. Dan alat core drill untuk quality control hasil
pelaksanaan di lapangan.
Kegiatan
produksi
aspal di
AMP
pelaksanaa
n produksi
aspal di
AMP
Pekerjaan Hot mix dan percobaan
pemadatan
• Trial mix dilakukan dengan tujuan memberikan
kepastian/menjamin campuran pelaksanaan, bahwa
pekerjaan mixing nantinya dapat berjalan dengan lancar
dan memenuhi persyaratan teknis
• Dilaksanakan persiapan-persiapan untuk melakukan trial
mix seperti penyediaan lahan, material (batu, pasir, filler
dan aspal) yang cukup, kalibrasi semua peralatan, mix
design dan kesiapan alat.
• Ketentuan volume material hot mix untuk trial kurang
lebih 50 ton
• Disarankan untuk tidak melakukan trial mix di lokasi
rencana kegiatan proyek
Ada 3 tahap pemadatan yang akan dilakukan :
1. Pemadatan pertama (break down rolling) dilakukan
pada suhu minimum perkerasan aspal (hot mix) 115
derajad celcius. Pengukuran temperatur dilapangan
menggunakan termometer lapangan yang ditusukkan
pada hot mix yang diukur, alat pemadat menggunakan
steel tandem roller sebanyak 2 atau 3 lintasan
2. Pemadatan tahap kedua (Intermediate
rolling) dilakukan pada suhu minimum hot
mix mencapai 90 -115 derajad celcius. Alat
pemadat yang digunakan adalah pneumatic
tire roller (PTR) sebanyak 6-10 lintasan
3. Pemadatan tahap akhir (Finishing rolling)
dilakukan pada temepratur hot mix paling
rendah 85 derajad celcius, alat pemadat
menggunakan steel tandem roller sebanyak
2 lintasan
Trial mix di lapangan
TERIMA KASIH
RENUNGAN………………….!
Teruslah mendengar dan belajar...
Mintalah nasehat...
Terimalah kritik yang membangun...
Rendahkan hati...
Jangan pernah merasa pintar...
Karena sehebat apapun ilmu kita...
Ternyata tetap saja masih bodoh...
Teruslah berpikir positif...
Sebab apa yang sudah ditakdirkan tuhan buatmu
tidak akan pernah bisa menjadi milik orang lain...