0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
116 tayangan12 halaman

Tujuan Utama Aktivitas Dakwah Islam

Makalah ini membahas empat ayat Al-Quran tentang tujuan dakwah, yaitu: 1. Ayat 138-139 surat Ali Imran yang menjelaskan Al-Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa. 2. Ayat 29 surat Al-Fath yang menyeru umat Islam untuk berdakwah kepada manusia. 3. Ayat 41 surat Al-Hajj yang menyebut dakwah sebagai jalan untuk mendapat ridha Allah. 4. Ay

Diunggah oleh

Rizki Ytpremium
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
116 tayangan12 halaman

Tujuan Utama Aktivitas Dakwah Islam

Makalah ini membahas empat ayat Al-Quran tentang tujuan dakwah, yaitu: 1. Ayat 138-139 surat Ali Imran yang menjelaskan Al-Quran sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa. 2. Ayat 29 surat Al-Fath yang menyeru umat Islam untuk berdakwah kepada manusia. 3. Ayat 41 surat Al-Hajj yang menyebut dakwah sebagai jalan untuk mendapat ridha Allah. 4. Ay

Diunggah oleh

Rizki Ytpremium
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

AYAT-AYAT TENTANG TUJUAN DAKWAH

Dosen Pengampu :
[Link]
Disusun Oleh:
ALDY(2222004)
AJI PRAKASA(2222026)

PRODI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM


FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI ISLAM

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI


SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIQ
BANGKA BELITUNG
2023
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur yang tak terhingga penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karna atas berkat rahmat dan karruniaNya sehingga makalah yang berjudul”Islam Periode Nabi
Muhammad” dapat diselesaikan sesuai harapan. Makala ini penulis dengan mengerahkan
segala daya dan upaya yang ada, termasuk bantuan dan bimbingan serta sumbangan saran dari
berbagai pihak baik langsung maupun tidak langsung. Penulis menyadari tugas akahir ini jauh
dari kesempurnanan yang disebabkan oleh keterbatasan penulis dalam
penghetahuan ,kemamapuan, mencari sumber dan pengalaman, sehingga tulisan ini banyak
kekuranagan. Semoga makalah ini dapat menambah penghetahuan dan bermanfaat bagi para
pembaca .Akhirnya penulis berharap semoga makalah yang sederhana ini bisa bermanfaat bagi
kita semua. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.

Petaling, 28 maret 2023

Penulis
BAB I.......................................................................................................................................................4
PENDAHULUAN...................................................................................................................................4
[Link] belakang..................................................................................................................................4
[Link] masalah.............................................................................................................................4
[Link] pembahasan..........................................................................................................................4
BAB II.....................................................................................................................................................5
PEMBAHASAN......................................................................................................................................5
1. PENAFSIRAN Q.S. ALI IMRAN: 138-139....................................................................................5
2. Tafsir Surat Al Fath ayat 29.............................................................................................................7
3. KANDUNGAN AL-QUR’AN SURAT AL-HAJJ (22) AYAT 41..................................................9
4. Isi kandungan quran surat az-zariyat ayat 56..................................................................................10
BAB III..................................................................................................................................................11
PENUTUP.............................................................................................................................................11
Kesimpulan........................................................................................................................................11
Saran..................................................................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................................12
BAB I
PENDAHULUAN
[Link] belakang
Islam merupakan satu-satunya ajaran agama yang hakekatnya adalah untuk
keselamatan umat manusia. Hal ini dibuktikan dalam konteks ajarannya yang
mengandung nilai-nilai rahmatan lil alamin, artinya ajarannya bersifat universal,tidak
hanya dikhususkan kepada umat Islam, sebaliknya dapat meletakkan dasar-dasar dan pola
hidup yang tepat untuk dilaksanakan oleh segenap umat [Link] tentang
dakwah, kita sebagai ummat muslim diharuskan Memahami esensi dari makna
dakwah itu sendiri, kegiatan dakwah sering dipahamisebagai upaya untuk memberikan
solusi islam terhadap berbagai masalah dalam kehidupan, Inilah yang membuat kegiatan
atau aktivitas dakwah boleh dan harusdilakukan oleh siapa saja yang mempunyai rasa
keterpanggilan untuk menyebarkan nilai-nilai [Link] karena itu aktivitas dakwah
memang harus berangkat dari kesadaran pribadi yang dilakukan oleh orang per
orang dengan kemampuan minimal dari siapa saja yang dapat melakukan [Link]
sempurnanya agama islam, karna semua telah diatur dan tersuratdalam Al quran dan
hadits. Perihal dakwah sudah tentu didasarkan pada al qurandan hadits dan rujukan-
rujukan yang lain, karna itu perlunya kami untuk menjelaskan dasar dan tujuan
dari dakwah itu sendiri, guna terpahami hakikat dakwah bagi semua kalangan.

[Link] masalah
1. Apa PENAFSIRAN Q.S. ALI IMRAN: 138-139
2. Apa Tafsir Surat Al Fath ayat 29
3. Apa Kandungan AL-QUR’AN SURAT AL-HAJJ (22) AYAT 41
4. Apa Isi kandungan quran surat az-zariyat ayat 56

[Link] pembahasan
1. Mengetahui PENAFSIRAN Q.S. ALI IMRAN: 138-139
2. Mengetahui Tafsir Surat Al Fath ayat 29
3. Mengetahui Kandungan AL-QUR’AN SURAT AL-HAJJ (22) AYAT 41
4. Mengetahui Isi kandungan quran surat az-zariyat ayat 56
BAB II
PEMBAHASAN

1. PENAFSIRAN Q.S. ALI IMRAN: 138-139

“(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang
yang bertakwa (138). Dan Janganlah kamu merasa lemah dan janganlah pula kamu bersedih
hati. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar)
beriman (139).
Tafsir Surat Ali Imran Ayat 138-139
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang
yang bertakwa (138).

Al-Qur’an ini adalah penerang bagi manusia secara keseluruhan. Ini adalah kutipan peristiwa
kemanusiaan telah jauh berlalu, yang manusia sekarang tidak dapat mengetahuinya jika tidak
akan penerangan (penjelasan) yang menunjukannya. Akan tetapi, hanya segolongan manusia
tertentu saja yang mendapatkan petunjuk di dalamnya, mendapatkan pelajarn dari padanya,
mendapatkan manfaat dan menggapai petunjuknya. Mereka itu adalah golongan “muttaqin”
yaitu orang-orang yang bertaqwa.

Hal ini sesuai pandangan firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 2

َ‫ْب فِي ِه هُدًى لِ ْل ُمتَّقِين‬


َ ‫ك ْال ِكتَابُ اَل َري‬
َ ِ‫َذل‬
“Kitab (AL-Qur’an) ini tidak ada kerguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa”

Selain itu Rasulullah SAW bersabda:

‫َاب هَّللا ِ َو ُسنَّةَ نَبِيِّه‬ ِ َ‫ت فِي ُك ْم َأ ْم َر ْي ِن لَ ْن ت‬


َ ‫ضلُّوا َما تَ َم َّس ْكتُ ْم بِ ِه َما ِكت‬ َ ِ ‫ع َْن َمالِك َأنَّهُ بَلَ َغهُ َأ َّن َرسُو َل هَّللا‬
ُ ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا َل ت ََر ْك‬
“Dari Imam Malik, beliau menyampaikan sesungguhnya Rasullah SAW Bersabda: “Aku
telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, kamu takkan pernah tersesat selama kalian
berpegang teguh pada keduanya yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi.”

Surat Ali Imran ayat 138 juga memerintahkan untuk mempelajari sunnatullah atau yang biasa
disebut oleh seorang ilmuwan yang bernama Alexis Carrel sebagai hukum-kukum
kemasyarakatan/alam/materi. Hukum-hukum Alam yaitu hukum-hukum yang bersifat umum
dan pasti, tidak ada satu pun, di negeri manapun yang dapat terbebaskan dari sanksi bila
melanggarnya. Manusia yang tidak bisa membedakan antara yang halal dan haram, yang baik
dan buruk, mereka akan terbentur oleh malapetaka, bencana dan kematian. Ini semata-mata
adalah sanksi otomatis, karena kepunahan adalah akhir dari mereka yang melanggar hukum-
hukum alam. Tiadk heran hal ini diungkap Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengatur kehidupan
masyarakat dan berfungsi mengubah masyarakat dan anggota-anggotanya dari kegelapan
menuju cahaya, dari kehidupan negatif menjadi positif.

Pernyataan Allah: (Al-Qur’an) Ini adalah penjelasan bagi manusia juga mengandung makna
bahwa Allah tidak akan langsung menjatuhkan sanksi sebelum manusia mengetahui sanksi itu.
Karena terlebih dahulu Allah akan memberikan petunjuk jalan dan peringatan (Hidayah-Nya).
Dan Janganlah kamu merasa lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati. Padahal kamu
adalah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman (139.

Uraian yang diantar oleh ayat sebelumnya yang menguraikan tentang adanya Sunnatullah atau
hukum alam yang berlaku kepada manusia. Kalau pada perang uhud Kaum Muslimin tidak
meraih kemenangan, bahkan menderita luka dan banyak yang mati syahid, walaupun dalam
perang Badar mereka meraih kemenangan dan berhasil menawan dan membunuh sekian
banyak lawan mereka, karena itu adalah bagian dari Sunnatullah. Namun demikian, mereka
tidak perlu berputus asa. Karena itu, Janganlah kamu merasa lemah, menghadapi musuhmu
dan musuh Allah, kuatkan jasmaninya dan janganlah kamu bersedih hati akibat apa yang kamu
alami perang Uhud, atau peristiwa lain yang serupa, tapi kuatkan mentalmu untuk berusaha
yang lebih baik. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya) di sisi Allah baik
di dunia maupun akhirat, di dunia karena kamu memperjuangakan kebenaran dan di akhirat
karena kamu akan mendapatkan surga. Jadi mengapa kamu bersedih hati sedangkan yang
gugur diantara kamu akan menuju surga dan yang luka akan mendapat luka akan mendapat
ampunan dari Allah SWT. Ini jika kamu (benar-benar) beriman, yakni jika keimanannya
benar-benar mantap dalam hatinya. Maka dari itu, kamu tidaklah perlu bersikap lemah dan
bersedih hati atas apa yang menimpamu dan luput darimu karena kamu adalah orang-orang
yang paling tinggi derajatnya. Aqidahmu lebih tinggi karena kamu hanya menyembah kepada
Allah saja. Sedangkan mereka menyembah kepada selain Allah. Maka jika kamu benar-benar
beriman maka kamu akan ditinggikan derajatnya dan tidak akan mersa sedih karena semua itu
adalah sunnatullah yang bisa ditimpakan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Akan tetapi,
hanya kamulah yang akan mendapat akibat (balasan kebaikan) setalah berijtihad dan berusaha
keras dalam menempuh ujian.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

َ ‫اس•تَ ِع ْن بِاهَّلل ِ َواَل تَع‬


‫ْج• ْز َوِإ ْن‬ َ •‫يف َوفِي ُك• ٍّل خَ ْي• ٌر احْ• ِرصْ َعلَى َم•ا يَ ْنفَ ُع‬
ْ ‫ك َو‬ َّ ‫ْال ُمْؤ ِمنُ ْالقَ ِويُّ َخ ْي ٌر َوَأ َحبُّ ِإلَى هَّللا ِ ِم ْن ْال ُم• ْؤ ِم ِن‬
ِ ‫الض• ِع‬
‫هَّللا‬
ِ ‫ت َكانَ َك َذا َو َك َذا َولَ ِك ْن قُلْ قَ َد ُر‬ ْ ‫َأ‬
ُ ‫ك َش ْي ٌء فَاَل تَقُلْ لَوْ نِّي فَ َعل‬
َ َ‫صاب‬َ ‫َأ‬
“Orang mu’min yang kuat (hatinya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang
mu’min yang lemah dan didalam keduanya terdapat kebaikan (karena sama-sama beriman),
dan bersemangatlah atas apa-apa yang akan bermanfaat bagimu dan mintalah pertolongan
kepada Allah dan janganlah kamu berputus asa dan jika kamu sedang mendapat cobaan maka
janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat seperti ini dan seperti itu” akan tetapi
katakanlah “ini semua adalah kuasa Allah dan merupakan kehendak-Nya” karena
sesungguhnya mengandai-andai akan membuka (pintu) godaan dari perbuatan syetan”.

Kandungan Hukum dan Aspek Tarbawi:

(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi orang-orang
yang bertakwa (138).

Mempelajari sejarah umat-umat terdahulu dan melihat berkasnya dengan melawat


mengembara dengan sendirinya akan memperoleh penjelasan, petunjuk dan pengajaran. Ilmu
kita akan bertambah-tambah tentang perjuangan hidup manusia didalam alam ini. Dalam ayat
ini kita berjumpa dengan anjuran mengetahui mengetahui beberapa ilmu penting. Pertama,
sejarah; kedua, ilmu bekas peninggalan sejarah; ketiga ilmu siasat perang; keempat, ilmu siasat
mengendalikan Negara. Di dalam sejarah misalnya banyak kita temui hal-hal penting.
Meskipun tidak seluruhnya ditulis di Al-Qur’an hanya berkenaan dengan perjuangan Rasul-
rasul., misalnya perjuangan Nabi Musa AS menentang kezhaliman raja Fir’aun, atau Nabi
Ibrahim AS menghadapi kamunya dan Raja Namrud, namun yang tidak tertuils dalm Al-
Qur’an dapat kita cari dari bahan lain. Misalnya penyerbuan tentara Iskandar Macedonia dari
Barat ke Timur. Mengapa Iskandar yang tentaranya tidak mencukupi 100.000 orang bisa
mengalahkan tentara Darius, Raja Persia, yang jumlahnya hampir setengah juta? sebab tentara
Iskandar ringan, sigap, lincah. Sedangkan tentara Darius telah berat oleh pakaian dan
perhiasan. Darius hanya menggantungkan kekuatan hanya kepada banyaknya jumlah tentara,
padahal Iskandar mempunyai disiplin yang teguh dan tentara yang cekatan. Al-Qur’an telah
memberikan petunjuk kepada kita tentang masalah-masalah strategi pertempuran menghadapi
musuh, sampai bagaimana kita mempersiapkan diri. Dalam hal ini, kita dianjurkan mengetahui
hakikat persiapan supaya kita melangkah dengan kewaspadaan dalam membela kebenaran.
Dan Janganlah kamu merasa lemah dan bersedih hati. Padahal kamu adalah orang yang paling
tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman (139).

Sesungguhnya Allah melarang merasa susah terhadap apa yang telah lewat, karena hal tersebut
akan mengakibatkan seseorang kehilangan semangatnya. Sebaliknya Allah tidak melarang
hubungan seseorang dengan apa yang dicintainya, yaitu harta, kekayaan, atau teman yang
dapat memulihkan kekuatannya, serta dapat mengisi hatinya dengan kegembiraan. Untuk itu
kalian adalah orang-orang yang lebih utama memiliki keteguhan tekad lantaran pengetahuan
kalian tentang balasan yang baik dan berpegang pada kebenaran.

2. Tafsir Surat Al Fath ayat 29

Menurut al-Hâkim dan lain-lain dari al-Miswar bin Makhramah dan Marwân bin al-Hakam,
surat al-Fath ini mulai dari awal hingga akhir diturunkan antara Makkah dan Madinah dalam
konteks perjanjian damai Hudaibiyyah. Perjanjian ini kelak mengantarkan penaklukan kota
Makkah dan tampilnya negara Islam sebagai adidaya baru di Jazirah Arab.

Agar dapat dipahami konteksnya, ayat ini harus dihubungkan dengan ayat sebelumnya, yang
dalam istilah ‘Ulûm al-Qur’ân disebut Munâsabât bayn al-âyah, yaitu ayat:

ْ ‫ق ِلي‬
( ‫ُظ ِه َرهُ َعلَى ال ِّدي ِْن ُكلِّ ِه َو َكفَى بِاهللِ َش ِه ْيدًا‬ ِّ ‫) هُ َو الَّ ِذيْ َأرْ َس َل َرسُوْ لَهُ بِ ْالهُدَى َو ِد ْي ِن ْال َح‬ Dialah Yang telah
mengutus Rasul-Nya dengan membawa kebenaran dan agama yang haq untuk
memenangkannya atas agama-agama yang ada seluruhnya. Cukuplah Allah sebagai saksinya.
(QS al-Fath : 28).
Dari sinilah frasa Muhammad[un] Rasûlullâh (Muhammad Rasulullah) dapat dipahami
kedudukannya sebagai kalimat penjelas (jumlah mubayyinah) terhadap Rasul yang diutus oleh
Allah dengan membawa hidayah dan agama yang haqq. Mengenai kata Muhammad[un] dalam
ayat di atas, sebagian ulama tafsir mempunyai dua pandangan. Ada yang menyatakannya
sebagai subyek (mubtada’), dengan kata Rasûlullâh merupakan predikat (khabar), ada juga
yang menyatakan, bahwa kata Muhammad[un] adalah subyek (mubtada’), Rasûlullâh adalah
sifat subyek, sedangkan predikatnya adalah asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr. Jika kita memilih pendapat
yang pertama, konotasinya: Muhammad adalah utusan Allah. Sebaliknya, jika pendapat kedua
yang dipilih, konotasinya: Muhammad, Rasulullah.

Sementara itu, frasa walladzîna ma‘ah[u] (dan orang-orang yang bersamanya), dengan diawali
huruf waw di depannya, ada yang menyatakan sebagai subyek kedua setelah subyek pertama,
yaitu: Muhammad[un]; kemudian frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr—menurut pendapat ini—
kedudukannya sebagai predikat kedua setelah predikat pertama, yakni kata Rasûlullâh. Namun,
ada juga yang menyatakan, bahwa frasa walladzîna ma’ah[u] adalah ma‘thûf ‘alayh (frasa
yang dihubungkan) dengan Muhammad[un] sehingga subyek dan predikatnya hanya satu,
masing-masing adalah Muhammad[un] dan asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr. Jika dipilih alternatif
pertama, konotasinya: Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamanya
(sahabat) adalah orang-orang yang sangat keras terhadap orang kafir dan sangat mencintai
sesama mereka. Jika pilihan kedua yang diambil, konotasinya: Muhammad, utusan Allah, dan
orang-orang yang bersamanya (sahabat) adalah orang-orang yang sangat keras terhadap orang
kafir dan sangat mencintai sesama mereka.

Inilah hasil pembacaan terhadap struktur lafal yang berbeda dan implikasinya terhadap makna
yang terdapat dalam ayat tersebut. Hanya saja, perbedaan tersebut tidak membawa implikasi
yang serius terhadap makna ayat di atas secara keseluruhan. Di sisi lain, as-Suyûthi,
menjelaskan bahwa dinyatakannya: asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (keras terhadap orang-orang Kafir)
dan ruhamâ’ baynahum (mencintai sesama mereka), menunjukkan keunikan sifat Rasulullah
dan para sahabat, yang memadukan ketegasan dan kekerasan (terhadap orang kafir) dengan
kasih-sayang (terhadap sesama Muslim). Seandainya hanya dinyatakan asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr
(keras terhadap orang-orang kafir), tentu akan menimbulkan persepsi, seakan-akan mereka
adalah orang-orang yang kasar. Karena itu, dengan dinyatakan, ruhamâ’ baynahum (mencintai
sesama mereka), kesan tersebut hilang. Struktur seperti ini, persis seperti yang digunakan oleh
Allah dalam ayat lain:

( َ‫) َأ ِذلَّةٌ َعلَى ْال ُمْؤ ِمنِ ْينَ َأ ِع َّزةٌ َعلَى ْال َكافِ ِر ْين‬
Yang bersikap lemah-lembut kepada orang Mukmin dan yang bersikap keras terhadap orang-
orang kafir. (QS al-Maidah: 54).

Lalu apa maksud dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr (sangat keras terhadap orang-orang Kafir)
dan ruhamâ’ baynahum (sangat mencintai sesama mereka) dalam ayat tersebut? Apakah ini
hanya sifat Rasul dan para sahabatnya yang ikut dalam Perjanjian Hudaibiyah saja atau bersifat
umum meliputi karakter seluruh para sahabat?

Kata asyiddâ’ adalah bentuk plural non-jender (jamak taktsîr) dari kata syadîd (orang yang
keras). Kata ruhamâ’ juga merupakan jamak taktsîr dari kata rahîm (orang yang mengasihi).
Kebanyakan ahli tafsir, seperti al-Qurthubi dan as-Syaukani, menjelaskan konotasi dari frasa
asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr tersebut dengan menggunakan penafsiran Ibn ‘Abbâs, pakar tafsir,
murid Rasulullah saw., yang menyatakan: ghilâdh[un] ‘alayhim ka al-asad[i] ‘alâ farîsatih[i]
(keras terhadap mereka, bak singa terhadap mangsa buruannya). Secara umum, as-Suyuthi,
menjelaskan maksud frasa tersebut dan frasa berikutnya, bahwa mereka keras dan tegas
terhadap siapa saja yang menyimpang dari agamanya, dan saling kasih-mengasihi di antara
sesama mereka (Muslim). Inilah maksud dari frasa asyiddâ’ ‘alâ al-kuffâr ruhamâ’ baynahum.
Sebagian ahli tafsir, menyebutkan bahwa sifat tersebut merupakan sifat sahabat yang terlibat
dalam kasus Hudaibiyah.

Namun, pandangan ini dibantah oleh as-Syaukani, berdasarkan kaidah:

‫ْص‬ ِ ‫اَ ْل ُع ُموْ ُم يَ ْبقَى بِ ُع ُموْ ِم ِه َمالَ ْم يَ ِر ْد َدلِ ْي ُل التَّ ْخ‬


ِ ‫صي‬

Keumuman itu tetap berlaku sesuai dengan keumumannya selama tidak ada dalil pengkhusus
yang dinyatakan (untuk mengkhususkannya).

Dari sini, beliau berpendapat, bahwa yang lebih tepat adalah menginterpretasikan makna
umum sesuai dengan keumumannya. Dengan demikian, sifat tersebut merupakan sifat seluruh
sahabat Rasulullah Saw.

Mereka juga ruku’ dan sujud dengan tulus ikhlas karena Allah, senantiasa mencari karunia
Allah dan keridhaan-Nya yang agung.. demikian itulah sifat-sifat yang agung dan luhur serta
tinggi. Demikian itulah keadaan orang mukmin pengikut Nabi Muhammad SAW. Allah
menjanjikan untuk orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang shaleh di
antara mereka yang bersama Nabi serta siapapun yang mengikuti cara hidup mereka dapat
mencapai kesempurnaan atau luput dari kesalahan atau dosa. Kalimat asyidda’u ‘ala al-kuffar
sering kali dijadikan oleh sementara orang sebagai bukti keharusan bersikap keras terhadap
non muslim. Kalaupun dipahami sebagai sikap keras, maka itu dalam konteks peperangan dan
penegakan sanksi hukum yang dibenarkan agama. Ini serupa dengan firman-Nya.

“… dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan)
agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akherat …” (QS. 24:2). Dari hal diatas
dapat kita ketahui makna yang terkandung dari ayat diatas sebagai berikut:

Mewujudkan rasa hormat dan rasa kasih sayang sesama manusia.


Mewujudkan seorang hamba yang ahli sujud dan taubat.
Mewujudkan manusia yang selalu menyenangkan orang lain.

3. KANDUNGAN AL-QUR’AN SURAT AL-HAJJ (22) AYAT 41

‫ُأْل‬
ِ ‫ُوف َونَهَوْ ا ع َِن ْال ُم ْن َك ِر ۗ َوهَّلِل ِ عَاقِبَةُ ا ُم‬
‫ور‬ ِ ‫صاَل ةَ َوآتَ ُوا ال َّز َكاةَ َوَأ َمرُوا بِ ْال َم ْعر‬
َّ ‫ض َأقَا ُموا ال‬
ِ ْ‫الَّ ِذينَ ِإ ْن َم َّكنَّاهُ ْم فِي اَأْلر‬

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya
mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari
perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”
di dalam pendidikan, manusia bisa menjadi orang-orang yang bermoral, mempunyai kualitas,
dan bermanfaat, tidak hanya buat diri sendiri tetapi juga buat keluarga, masyarakat, Negara,
bahkan buat ummat manusia sedunia dengan landasan mendapatkan ridho Allah S.W.T.

Abdul Fatah Jalal menyatakan bahwa tujuan pendidikan yang dapat dilihat dari surat Al hajj
ayat 41:

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya
mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah
dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”.

Ayat ini mengemukakan tentang tujuan pendidikan yang membentuk masyarakat yang diidam-
idamkan, yaitu mempunyai pemimpin dan anggota-anggota yang bertakwa, melaksanakan
shalat, menunaikan zakat, menegakkan nilai-nilai ma’ruf (perkembangan positif) dalam
masyarakat dan mencegah perbuatan yang munkar.

Untuk itu hendaklah kita benahi pendidikan kita yang telah terpedaya dengan system yang
dibuat oleh dunia barat. Dari sekarang hendaklah kita pada umumnya dan pendidik pada
khususnya merubah tujuan pendidikan kita, yaitu untuk “mendapatkan ridho Allah S.W.T. dan
menjadi hamba Allah yang patuh terhadap perintah-Nya”. apabila tujuan kita berlandaskan
dengan ini, maka dunia akan terjamin keselamatannya, dan manusia akan mempunyai moral
yang berakhlak mulia. Sehingga dapat kita capai tujuan akhir dari pendidikan seperti yang
dikatakan oleh Muhammad Athiyah al- Abrasyi, yaitu: Terbinanya akhlak manusia. Manusia
benar-benar siap untuk hidup didunia dan diakhirat. Ilmu dapat benar-benar dikuasai dengan
moral manusia yang mantap dan manusia benar-benar terampil bekerja di dalam masyarakat.
4. Isi kandungan quran surat az-zariyat ayat 56

– Al Quran surat Az Zariyat ayat 56


َ ‫ت ْٱل ِج َّن َوٱِإْل‬
‫نس ِإاَّل لِيَ ْعبُدُو ِن‬ ُ ‫َو َما خَ لَ ْق‬
wamaa khalaqtu ljinna wal-insa illaa liya’buduun

Artinya : “Dan saya tidak membuat jin dan insan melainkan supaya mereka mengabdi kepada-
Ku.” (QS. Az-Zariyat : 56)
tidak mau tunduk, tidak mau taat dan mengingkari Allah Swt dengan tidak mau beribadah
kepada-Nya.

Rasulullah saw sebagai teladan kita telah mengajarkan bahwa ibadah bukan saja kewajiban
tetapi kebutuhan kita untuk berteima kasih ataupun bersyukur kepada Allah Swt. Dalam
sebuah hadis beliau bersabda :

‫صلِّ َي َحتَّى ت َِر ُم قَ َد َماهُ َأوْ َس•اقَاهُ فَيُقَ••ا ُل لَ•هُ فَيَقُ••و ُل‬
َ ُ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم لَيَقُو ُم لِي‬ ِ ‫ْت ْال ُم ِغي َرةَ َر‬
َ ‫ض َي هَّللا ُ َع ْنهُ يَقُو ُل ِإ ْن َكانَ النَّبِ ُّي‬ ُ ‫َس ِمع‬
‫َأفَاَل َأ ُكونُ َع ْبدًا َش ُكورًا‬
Aku mendengar Al Mughirah ra. berkata; “Ketika Nabi Saw. berdiri untuk mendirikan shalat
(malam) sampai tampak infeksi pada kaki atau betis, Beliau dimintai keterangan tentangnya.
Maka Beliau menjawab: “Apakah memang tidak sepatutnya saya menjadi hamba yang
bersyukur?” (HR. Bukhari)

Sikap dan sikap yang sanggup diterapkan sebagai pengahayatan dan pengamalan kandungan
quran suat az-zariyat ayat 56 sebagai berikut;

1. Selalu beribadah hanya kepada Allah Swt baik dalam artian sempit maupun luas.

2. Senantiasa mensyukuri segala nikmat yang Allah Swt berikan kepada kita yang
dimanifestasikan dengan beribadah kepada-Nya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Bahwa akhir Dari makalah ini atau kesimpulan yang bisa kami ambil adalahsetiap manusia harus bisa
menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhisegala larangan Allah, yang dulunya zaman
kegelapan kini teranglah karena Allahmengutus Nabi dan Rasul untuk membawa wahyu di
muka bumi. Pada tujuandakwah pada awal surah Ibrahim di atas adalah menjauhkan obyek
dakwah darikegelapan. Maka dari itu, kita harus bisa mengambil hikmah dari ayat ini. Kitabyang
Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelapgulita kepada cahaya
terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menujujalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi
Maha Terpuji. Allah-lah yang memiliki segalaapa yang di langit dan di bumi. Dan kecelakaanlah bagi
orang-orang kafir karenasiksaan yang sangat pedih, (yaitu) orang-orang yang lebih menyukai
kehidupandunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalanAllah
dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.
Saran
Demikian makalah ini kami susun, kami sadar dalam makalah ini masihbanyak kesalahan dan
kekurangan dari segi materi maupun penyampaian. Untuk itu saran yang membangun dari
pembaca sangatlah kami harapkan guna perbaikan makalah kami selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama. Al-Qur’an dan Terjemahannya. 1989. Semarang: Toha Putera.

Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maraghi. 1993. Semarang: PT. Karya Toha Putra.

Al-Syeikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq. Lubaabut Tafsir Min Ibni
Katsiir. 2003. Bogor: Pustaka Imam Asy-Syafi’i.

[Link]

Anda mungkin juga menyukai