BAB II
RENCANA USAHA DAN ATAU KEGIATAN
PT. Aplus Facific merupakan perusahan berstatus Penanaman Modal
Dalam Negeri (PMDN) yang bergerak di bidang Industri Barang - barang
Logam Siap Pasang untuk Bangunan, berusaha mengaplikasikan semua
kebijakan pemerintah khususnya di bidang pengelolaan lingkungan hidup.
2.1. Nama Rencana Usaha dan atau Kegiatan
Nama Rencana Usaha dan atau Kegiatan adalah Industri Barang -
barang Logam Siap Pasang untuk Bangunan, PT. Aplus Facific berlokasi di
Jl. Kapuk Poglar (Kmp. Teko) RT. 010 / 001 Kel. Kapuk Kec. Cengkareng
Jakarta Barat.
2.2. Lokasi Rencana Usaha dan atau Kegiatan
Pembangunan dan penambahan fasilitas penunjang PT. Aplus Facific
terletak di:
Jalan ........ : Jl. Kapuk Poglar (Kmp. Teko) RT. 010 / 001
Kelurahan ..... : Kapuk
Kecamatan .... : Cengkareng
Kota .......... : Jakarta Barat
Propinsi ..... : DKI Jakarta
Wilayah atau tempat yang berbatasan dengan kegiatan ini adalah
sebagai berikut:
Sebelah Utara ..... : Pabrik
Sebelah Selatan .. : Pabrik
Sebelah Timur ..... : Pabrik
Sebelah Barat .... : Pabrik
Dokumen UKL & UPL II-1
Gambar 2.1; Lokasi Kegiatan
Dokumen UKL & UPL II-2
Dokumen UKL & UPL II-3
2.3. Skala Usaha dan atau Kegiatan
Luas lahan yang tersedia untuk kegiatan PT. Aplus Pacific seluas
2
17201 m , Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel Penggunaan Lahan
dan Gambar Site Plan.
Dokumen UKL & UPL II-4
Gambar 2.2; Site Plan
Dokumen UKL & UPL II-5
2.3.1. Peruntukkan Lahan
Berdasarkan Peraturan Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor 1
Tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Jakarta 2012 – 2030,
bahwa kegiatan PT. Aplus Facific di Jl. Kapuk Poglar (Kmp. Teko) RT. 010
/ 001 Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng Kota Jakarta Barat
peruntukannya adalah daerah Pengembangan Industri.
Dokumen UKL & UPL II-6
Gambar 2.3; Peta RTRW Jakarta
Dokumen UKL & UPL II-7
Dokumen UKL & UPL II-8
Dokumen UKL & UPL II-9
2.3.2. Penggunaan Lahan
Luas lahan yang tersedia untuk kegiatan usaha PT. Aplus Facific,
adalah seluas 17201 m2 lahan ini dimanfaatkan untuk sarana kegiatan PT.
Aplus Facific, bangunan produksi dan sarana pendukung lainnya. Secara
rinci luas dan presentasenya dapat dilihat dalam tabel 2.1 berikut:
Tabel 2.1; Penggunaan Lahan
LUAS AREAL (IMB)
NO BANGUNAN Lt I Lt II KETERANGAN
M2 % M2 %
I. Lahan Tertutup bangunan/material kedap air
IMB Nomor; 01696/PIMB-
1 Gudang 1272 7,39 PB/D/2006 Tgl; 28-06-2006
a.n; Hauwanto Chandranata
2 Gudang 1160 6,74 IMB Nomor; 7583/IMB/2009 Tgl;
03-08-2009 a.n Ong Chai Huat
IMB Nomor; 9428/IMB/2009
3 Gudang 756 4,40 Tanggal; 28-09-2009 a.n Husni
Halim dan Sofian
IMB Nomor; 00964/IMB/2005
4 Gudang 1333 7,75 Tgl; 23-01-2005 a.n PT.
Active Decorindah
IMB Nomor; 603/KM/B/2004 Tgl;
5 Gudang 420 2,44 210 1,22 22-10-2004 a.n Phillip Buyung
Santoso
Jumlah 4941 28,73 210 1,22
II. Lahan Terbuka
1 Open Space 12260 71,27
Jumlah 12260 71,27
Luas Lahan Yang
17201 100,00
Dikuasai (M²)
Total Luas Lahan yang tersedia untuk operasional
17201 m2
kegiatan
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa luas areal terbuka
(71,27%) masih memenuhi ketentuan Building Coverage Ratio yang ditentukan
pemerintah yakni 60 : 40 (40% lahan untuk ruang terbuka).
2.3.3. Status Lahan
Lahan yang digunakan untuk kegiatan PT. Aplus Facific ini
2
berstatus Hak Guna Bangunan seluas 17201 m. Luas Lahan Dikuasai
berdasarkan Sertifikat Hak Guna Bangunan dan Sertifikat Hak Milik adalah
seperti terlihat di bawah ini:
Tabel 2.2; Bukti Kepemilikan Lahan
No Nomor / Tgl HGB Luas No Nomor / Tgl HGB Luas
1 Nomor; 3692 Tgl; 16 April 1996 2336 m2 6 SHM Nomor; 136 Tgl; 27 Mei 2009 2995 m2
2 Nomor; 3006 Tgl: 21 Juli 1998 2506 m2 7 SHM Nomor; 1959; 2 Juni 2009 2410 m2
3 Nomor; 3854 Tgl: 27 Mei 2009 2995 m2
4 Nomor; 3855 Tgl; 2 Juni 2009 2410 m2
5 Nomor; 2961 Tgl: 8 Januari 2018 1549 m2
Jumlah 17201 m2
Sumber: PT. Aplus Facific, 2017.
Dokumen UKL & UPL II-10
2.4. Garis Besar Komponen Rencana Usaha dan atau Kegiatan
Garis Besar Komponen Rencana Usaha dan atau Kegiatan yang
diperkirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup antara
lain:
2.4.1. Tahap Pra Konstruksi
Mengingat kegiatan usaha PT. Aplus Facific telah berjalan dan
dokumen UKL - UPL ini merupakan dokumen pembaruan dari Dokumen UKL UPL
yang telah mendapat rekomendasi dari Kepala Kantor Lingkungan Hidup Kota
Jakarta Barat dengan Nomor; 907.A/-1.774.151 tanggal; 04 Desember 2012,
dengan demikian maka kajian atas kegiatan pada tahap pra konstruksi tidak
dilaksanakan.
2.4.2. Tahap Konstruksi
Mengingat kegiatan usaha PT. Aplus Facific telah berjalan dan
dokumen UKL - UPL ini merupakan dokumen pembaruan yang telah habis masa
berlakunya dan telah mendapat rekomendasi dari Kepala BPLH Kota Jakarta
Barat dengan Nomor; 907.A/-1.774.151 tanggal; 04 Desember 2012, dengan
demikian maka kajian atas kegiatan pada tahap konstruksi tidak
dilaksanakan.
2.4.3. Tahap Operasional
Proses produksi PT. Aplus Facific terdiri dari beberapa tahapan
proses yang secara sistematis adalah sebagai berikut:
1. Penerimaan Bahan Baku; Proses Produksi dimulai dengan penerimaan
Bahan baku, yang kemudian dipilah dan disimpan di gudang sesuai
dengan janis dan kategorinya. Semua bahan baku diperlakukan
sesuai dengan Standar Keselamatan yang tertuang dalam Material
Safety Data Sheet (MSDS) yang merupakan lampiran dari pengiriman
bahan baku (MSDS Terlampir). Dampak dan Cemaran yang ditimbulkan
dari proses penerimaan bahan baku ini adalah:
a. Cemaran: Pallet bekas, Plastik pembungkus, Coil Roll,
Straping Baja, ……………………………………, ……………………………………,
……………………………………. Pengelolaan Cemaran yang dihasilkan dari
proses penerimaan bahan baku adalah dengan mengkerjasamakan
dengan Pihak ke 3.
b. Dampak:
- Kebisingan dari mobilisasi kendaraan pengangkut,
pengelolaan dampak adalah dengan mewajibkan kendaraan
pengangkut melakukan perawatan secara berkala.
Dokumen UKL & UPL II-11
- Emisi gas Buang Kendaraan dari mobilisasi kendaraan
pengangkut, pengelolaan dampak adalah dengan mewajibkan
kendaraan pengangkut melakukan perawatan secara berkala.
2. Uncoiler; adalah proses pelepasan bahan baku dari gulungannya,
dampak dan cemaran yang ditimbulkannya adalah:
a. Cemaran; Cone coil, pengelolaan dilakukan dengan bekerjasama
dengan Pihak ke – 3.
b. Dampak: …………………………………………………………………
3. Loper Akumulator; adalah proses ………………………………………………………………………………,
dampak dan cemaran yang ditimbulkannya adalah:
a. Cemaran; ………………………………………………………………………………………………………………………………………,
pengelolaan dilakukan dengan bekerjasama dengan Pihak ke – 3.
b. Dampak: …………………………………………………………………
4. Forming; adalah proses …………………………………………………………………………………………………………
dampak dan cemaran yang ditimbulkannya adalah:
a. Cemaran; Cone coil, pengelolaan dilakukan dengan bekerjasama
dengan Pihak ke – 3.
b. Dampak: …………………………………………………………………
5. Welding; adalah proses pengelasan untuk menyatukan bagian –
bagian yang sudah dibentuk dalam proses Forming, dampak dan
cemaran yang ditimbulkannya adalah:
a. Cemaran; Cone coil, pengelolaan dilakukan dengan bekerjasama
dengan Pihak ke – 3.
b. Dampak: …………………………………………………………………
6. Seizing; adalah proses ……………………………………………………………………………………………………………
dampak dan cemaran yang ditimbulkannya adalah:
a. Cemaran; Cone coil, pengelolaan dilakukan dengan bekerjasama
dengan Pihak ke – 3.
b. Dampak: …………………………………………………………………
7. Cutting; adalah proses ……………………………………………………………………………………………………………
dampak dan cemaran yang ditimbulkannya adalah:
a. Cemaran; Cone coil, pengelolaan dilakukan dengan bekerjasama
dengan Pihak ke – 3.
b. Dampak: …………………………………………………………………
8. Finishing; adalah proses ……………………………………………………………………………………………………
dampak dan cemaran yang ditimbulkannya adalah:
a. Cemaran; Cone coil, pengelolaan dilakukan dengan bekerjasama
dengan Pihak ke – 3.
b. Dampak: …………………………………………………………………
Dokumen UKL & UPL II-12
Gambar 2.3; Flow Proses Produksi
Dokumen UKL & UPL II-13
Gambar 2.4; Prosedur Proses Produksi
Dokumen UKL & UPL II-14
Kebijakan mutu dalam Proses Produksi:
1. Adanya Planning Sales; Planning Adalah proses yang mendefinisikan
tujuan dari organisasi, membuat strategi digunakan untuk mencapai
tujuan dari organisasi, serta mengembangkan rencana aktivitas kerja
organisasi. Perencanaan merupakan proses-peroses yang penting dari
semua fungsi manajemen sebab tanpa perencanaan (planning) fungsi
pengorganisasian, pengontrolan maupun pengarahan tidak akan dapat
berjalan, dengan adanya perencaan dari sales team yang matang, maka
akan tercipta definisi yang jelas dalam menentukan planning di
departemen produksi untuk menentukan Surat perintah kerja yang akan di
buat dalam pencapaian target kebijakan suatu perusahaan.
2. Planning produksi; Perencanaan produksi adalah aktivitas untuk
menetapkan produk yang diproduksi, jumlah yang dibutuhkan, kapan
produk tersebut harus selesai dan sumber - sumber yang dibutuhkan
dengan sebelumnya di tentukan oleh SALES ORDER sebagai acuan di
tetapkannya suatu planning penentuan target pemacu kinerja suatu
department dengan adanya sales order yang menjadi suatu target di
produksi maka akan di buatkannya suatu Surat Perintah Kerja (SPK) yang
menjadi penegasan terhadap karyawan tentang suatu pekerjaan yang akan
menjadi tanggung jawabnya dan sekaligus sebagai landasan penentuan
permintaan Bahan baku dari gudang bahan baku dengan sebelumnya mengisi
suatu form sebagai dasar adanya transaksi kerja sama antar departement
(DEPT PRODUKSI dengan DEPT GUDANG).
3. BAHAN BAKU; BAHAN BAKU adalah Proses berjalannya suatu bisnis terutama
industri yang bergerak dalam kegiatan produksi membutuhkan bahan baku
agar kegitan produksi dapat berjalan sehingga mampu menciptakan suatu
produk yang siap dijual. Bahan baku merupakan faktor yang sangat
penting dalam menunjang berjalannya suatu proses produksi, oleh sebab
itu perlu penanganan khusus dalam sistem manajement, agar
ketersediaannya tetap terkontrol dengan baik dan proses produksi tetap
dapat berjalan dengan lancar serta efisien. Didalam penanganan Bahan
baku perlu ketelitian dan konsentrasi dalam administrasinya, terutama
pada saat menerima form Permintaan Bahan Baku dari Produksi, sangat
penting memperhatikan isi permintaan form tersebut dari Jenis bahan
yang diminta hingga jumlah banyaknya permintaan, ketelitian di maksud
untuk menjaga data ketersediaan stock yang akurat dengan actual fisik,
dan sangat penting juga memperhatikan pada saat supply bahan ke line
produksi.
4. AREA PIT STOCK PRODUKSI; AREA PITSTOCK PRODUKSI adalah Suatu tempat
yang sangat penting bagi departement produksi untuk menyimpan Bahan
Dokumen UKL & UPL II-15
baku dan mempersiapkannya untuk berjalannya suatu proses produksi.
Departemen produksi akan menempatkan anggotanya yang handal dalam
mengontrol dan mengecheck ketersediaan bahan baku yang berada di area
stocknya, umumnya bahan yang berada di area pit stock adalah bahan
baku yang sudah mempunyai schedule proses produksi berdasarkan Surat
Perintah Keria dari kepala produksi, yang bertanggung jawab terhadap
pencapaian target yang sudah ditentukan oleh perusahaan adapun yang
sangat perlu diperhatikan adalah Surat Perintah Kerja yang dibuat
dengan Suplly Bahan Baku dari departemen gudang, karena apabila
terjadi suatu kesalah pahaman dalam pengiriman bahan baku, maka akan
menghambat keefisienan waktu proses produksi, checker perlu
memperhatikan itu, dan bertanggung jawab dalam ruang lingkup kerjanya.
5. AREA PROSES PRODUKSI; produksi merupakan suatu kegiatan yang
dikerjakan untuk menambah nilai guna suatu benda atau menciptakan
benda baru sehingga lebih bermanfaat dalam memenuhi kebutuhan. Area
proses produksi merupakan area harapan, dimana di dalam area proses
tersebut memiliki nilai penentu dalam strategi bisnis (nilai jual),
ini di karenakan dalam area proses produksi adalah tempat pembentukan
dari modal dasar (bahan baku) sampai pengembangan market (barang
jadi), oleh sebab itu di dalam area proses produksi akan ada penekanan
kebijakan sebagai penentu product yang di hasilkan agar memenuhi
standarisasi kebutuhan pasar dan mampu bersaing dengan product
lainnya, adapun yang harus di perhatikan antara lain:
Bahan baku yang diproses sudah melalui check terlebih dahulu
kualitasnya.
Bahan yang diproses benar - benar sesuai Instruksi dari atasan yang
bertanggung jawab di area tersebut dan dalam bentuk document (Surat
Perintah Kerja).
Memastikan dengan jelas SPK yang dikerjakan sesuai dengan bahan
baku proses kerja berdasarkan aturan baku mutu perusahaan (SOP =
Standard Oprating Procedure, dan IK = Instruksi kerja).
Sebelum dan sesudah proses harus melewati Quality Control sebagai
penjamin kualitas product yang dihasilkan.
Kebijakan Quality Control adalah valid "sah" untuk membedakan
product yang "ok" lulus uji dengan product "No Good" tidak lulus
uji.
Membuat laporan tertulis dalam bentuk document (LHP), dimaksudkan
sebagai data acuan dan perbandingan manajemen dalam menentukan
planning pemasaran.
Dokumen UKL & UPL II-16
6. Area Packing ; Area Packing; adalah suatu area khusus yang di
peruntukan barang - barang hasil proses produksi yang sudah melalui
tahapan proses mesin dan check Quality Control (PRODUCT JADI) Di area
packing product - product tersebut memerlukan tahapan proses akhir
yaitu pengemasan, ataupun pemilahan berdasarkan sasaran tujuan target
jual di dalam area packing product - product hasil proses produksi
memerlukan kembali tenaga Quality Control untuk mengecheck kualitas
akhir sebelum product tersebut masuk ke dalam gudang, selain itu
mereka harus benar - benar memperhatikan pemilahan product sudah
berdasarkan jenis, ukuran dan golongan masing - masing product, serta
quantity product yang mereka packing sudah benar - benar sesuai dengan
peraturan yang sudah di tetapkan oleh perusahaan. Team packing
diharuskan mencatat dan melaporkan: Form Laporan Gudang finish good)
semua product yang di hasilkan produksi, hal ini sangat penting untuk
bahan perbandingan antara jumlah proses produksi dengan jumlah product
yang lulus uji check quality control,dan sekaligus untuk menghitung
berapa banyak product- product 'NG' yang di hasilkan sebagai bahan
evaluasi perbaikkan sasaran sistem manajemen.
7. AREA GUDANG BARANG JADI; Area gudang barang jadi adalah tempat
penyimpanan proses akhir product dari semua tahapan proses yang sudah
dilalui di dalam manufacturing, sekaligus sebagai wadah penghitung
seberapa besar quantity yang sudah dicapai dalam semua tahapan proses,
dan sebagai data acuan perusahan untuk satu team yang sudah dibentuk
dan bertanggung jawab untuk mengembangkantujuan bisnis perusahaan
(SALES & MARKETING).
Dari tujuh proses flow produksi yang sudah di jabarkan tadi,
semua tahapan tidak dapat tercontrol dengan baik dan benar tanpa adanya
satu Sistem yang terintegrasi dengan semua bagian ini di perusahaan,
karena semua alur tersebut butuh kerja sama team yang solid dan handal
dalam menangani flow Sistem manajemen mutu yang sudah ditetapkan untuk
mencapai visi dan misi perusahaan yang sukses, maju dan membangun. Oleh
karena itu perusahaan menetapkan satu sistem yang dapat membuat kita
bersatu, bersama bergerak terus kedepan mencapai tujuan dengan satu
program yaitu "AX".
Dalam setiap tahapan proses produksi menimbulkan dampak dan
cemaran, Dampak dan cemaran ini bila tidak dikelola dengan baik akan
menimbulkan masalah yang cukup serius, berikut adalah dampak dan cemaran
yang ditimbulkan dalam tiap tahapan proses produksi.
Dokumen UKL & UPL II-17
Tabel 2.2; Timbulan Dampak / Cemaran
Proses Perkiraan Dampak /
No Volume Pengelolaan
Produksi Cemaran
Incoming
1 Kardus dan Plastik …………… Kg/Bln
material
Material NG ……… Kg/Bln Penggunaan APD berupa
Sarung tangan ……… Kg/Bln Masker dan Sarung
bekas, Tangan,
Bising, Panas - Untuk Limbah B3 di
Masker bekas ……… Kg/Bln tampung pada TPS LIMBAH
2 Uncoiler B3, dan Limbah Non B3
di tampung di TPS
Limbah Non B3, untuk
kemudian dikerjasama
kan dengan pihak ke-3
berizin KLHK
Bising, Panas - Penggunaan APD berupa
Sarung Tangan 1 Kg/Bln Masker dan Sarung
Bekas, Tangan,
Masker Bekas 100 grm/bln Untuk Limbah B3 di
Loper tampung pada TPS LIMBAH
3 B3, dan Limbah Non B3
Akumulator
di tampung di TPS
Limbah Non B3, untuk
kemudian dikerjasamakan
dengan pihak ke-3
berijin KLHK
Bising, Panas - Penggunaan APD berupa
Sarung tangan ……… Kg/Bln Masker dan Sarung
bekas, Tangan,
Masker bekas ……… Kg/Bln Untuk Limbah B3 di
tampung pada TPS LIMBAH
4 Forming B3, dan Limbah Non B3
di tampung di TPS
Limbah Non B3, untuk
kemudian dikerjasamakan
dengan pihak ke-3
berijin KLHK
Sarung tangan ……… Kg/Bln Untuk Limbah B3 di
bekas, ……… Kg/Bln tampung pada TPS LIMBAH
Masker bekas B3, dan Limbah Non B3
di tampung di TPS
5 Welding
Limbah Non B3, untuk
kemudian dikerjasamakan
dengan pihak ke-3
berijin KLHK
Bising, Panas - Penggunaan APD berupa
Sarung tangan ……… Kg/Bln Masker dan Sarung
bekas, Tangan,
Masker bekas ……… Kg/Bln Untuk Limbah B3 di
tampung pada TPS LIMBAH
6 Seizing B3, dan Limbah Non B3
di tampung di TPS
Limbah Non B3, untuk
kemudian dikerjasamakan
dengan pihak ke-3
berijin KLHK
Bising, Panas - Penggunaan APD berupa
Sarung tangan ……… Kg/Bln Masker dan Sarung
bekas, Tangan,
Masker bekas ……… Kg/Bln Untuk Limbah B3 di
7 Cutting
tampung pada TPS LIMBAH
B3, dan Limbah Non B3
di tampung di TPS
Limbah Non B3, untuk
Dokumen UKL & UPL II-18
Proses Perkiraan Dampak /
No Volume Pengelolaan
Produksi Cemaran
kemudian dikerjasamakan
dengan pihak ke-3
berijin KLHK
Bising, Panas - Penggunaan APD berupa
Product NG, ……… Kg/Bln Masker dan Sarung
Sarung tangan ……… Kg/Bln Tangan,
bekas, Untuk Limbah B3 di
Masker bekas ……… Kg/Bln tampung pada TPS LIMBAH
8 Finishing B3, dan Limbah Non B3
di tampung di TPS
Limbah Non B3, untuk
kemudian dikerjasamakan
dengan pihak ke-3
berizin KLHK
Sisa Kemasan ……… Kg/Bln Kembali ke Supplier
Plastik, Kardus Penggunaan APD berupa
Sarung tangan ……… Kg/Bln Masker dan Sarung
bekas, Tangan,
Masker bekas ……… Kg/Bln Untuk Limbah B3 di
9 Packing tampung pada TPS LIMBAH
B3, dan Limbah Non B3
di tampung di TPS
Limbah Non B3, untuk
kemudian dikerjasamakan
dengan pihak ke-3
berijin KLHK
Gambar 2.5: Indikasi Pencemaran
Dokumen UKL & UPL II-19
[Link]. Jenis dan Kapasitas Produksi
Jenis dan kapasitas produksi berdasarkan Izin Usaha Industri
Nomor; 912/1/IU/PMA/2015 tanggal; 26 Oktober 2015, kapasitas produksi
menurut izin dan produksi riil dilapangan terlihat dalam table 2.3;
Tabel 2.3; Jenis dan Kapasitas Produksi
Kapasitas produksi (Vol/Thn) Sifat produk
Bahan
Jenis Produksi % Jenis alat angkut
KBLI Izin Riil baku ½ Jadi
Eksport
Jadi
- Bondex 25111 3.000 ??? - - √ Truck / Container
- CNP 25111 6.000 ??? - - √ Truck / Container
- Genteng Seng 25111 6.000 ??? - - √ Truck / Container
- Hollow 25111 20.000 ??? - - √ Truck / Container
- Pipa 25111 20.000 ??? - - √ Truck / Container
- Rangka Atap 25111 5.000 ??? - - √ Truck / Container
Baja Ringan
- Seng Gelombang 25111 4.000 ??? - - √ Truck / Container
Sumber: PT. Aplus Facific, 2017.
[Link]. Bahan Baku dan Bahan Penolong
Dalam proses produksinya PT. Aplus Facific menggunakan bahan
baku berupa Coil (Plat Baja Gulungan) dan komponen komponen Pendukung
lainnya, adapun neraca penggunaan bahan baku dan bahan penolong tersaji
dalam table berikut;
Tabel 2.4: Bahan Baku dan Bahan Penolong
Cara Cara Neraca Bahan
Kapasitas Sifat Bentuk Asal
No Nama Barang Pengangku Penyim % %
unit/ Thn Bahan Bahan Bahan
tan panan Produksi Sisa
30 Coil atau
Coil (Plat Tdk Truck /
1 setara 60 Ton Solid Lokal Gudang 90 10
Baja Gulungan) Bahaya Container
/ Bln
Tdk
2 Cat 100 Kg/Bln Cair Truck Lokal Gudang 90 10
Bahaya
Sumber; PT. Aplus Facific, 2017.
[Link]. Jenis Peralatan Produksi
Proses produksi yang dilaksanakan di PT. Aplus Facific
menggunakan peralatan yang sudah disediakan, daftar mesin yang digunakan
dalam proses produksi terlihat dalam table dibawah ini;
Tabel 2.5: Jenis Peralatan Produksi
Jml Kondisi Negara Energi
No Jenis Alat Jenis dampak/ Cemaran
Unit (%) Pembuat Penggerak
1 Hoist Crane 5 80% China Listrik Getar
2 Forklift 16 80% China Gas Emisi gas buang
Sumber: PT. Aplus Facific, 2017.
[Link]. Penggunaan Energi
Energi utama untuk kegiatan produksi PT. Aplus Facific berasal
dari PT. PLN. Adapun penggunaan energi rata-rata per bulan disesuaikan
dengan penggunaan energy kegiatan yang telah berjalan tertera pada tabel
Dokumen UKL & UPL II-20
2.6 di bawah ini:
Tabel 2.6; Penggunaan Energi (Neraca Pemakaian Listrik)
Kapasitas
No Bulan Pemakaian Satuan Sumber
Terpasang
1 Mar-17 690000 VA 11300 VA PT. PLN (Persero)
2 Apr-17 690000 VA ???? VA PT. PLN (Persero)
3 Mei-17 690000 VA 10700 VA PT. PLN (Persero)
4 Jun-17 690000 VA 13200 VA PT. PLN (Persero)
5 Jul-17 690000 VA 6600 VA PT. PLN (Persero)
Jumlah Pemakaian 41800 VA
Rata - Rata Pemakaian
8360 VA
perbulan
Sumber: PT. Aplus Facific, 2017.
[Link]. Penggunaan Air
Kebutuhan air untuk operasional PT. Aplus Facific dipenuhi dari
sumber air Sumur Dangkal (Surat Izin Pengambilan Air sedang dalam proses
pengurusan). Rincian kebutuhan air bersih dapat dilihat pada tabel 2.7
berikut ini.
Tabel 2.7; Prakiraan Kebutuhan Air Bersih
Kebutuhan Air
No Penggunaan
M3/Bln
1 Karyawan, WC dan Mushala 25,2
2 Kantin / Dapur 25,2
3 Produksi 63
Pencucian Lantai / Penyiraman 12,6
4
Tanaman
Total Kebutuhan 126
Sumber: PT. Aplus Facific, 2017.
GAMBAR 2.4; NERACA PENGGUNAAN AIR
[Link]. Limbah Cair
Limbah cair yang dihasilkan dari kegiatan operasional PT. Aplus
Facific adalah berupa Limbah cair domestic karyawan, sistem penanganan
limbah cair dari WC (Black water) dialirkan ke Septic Tank, sedangkan
Dokumen UKL & UPL II-21
untuk limbah cair dari musholla, floor drain dan dapur (Grey Water)
dialirkan ke STP Pabrik untuk kemudian dialirkan ke Saluran Riol Kota.
Berikut ini gambar detail Instalasi Pengelolaan Air Limbah
(IPAL) untuk pengelolaan limbah cair Domestik sebelum dialirkan ke
saluran riol kota.
Gambar 2.5; Skematik IPAL
[Link]. Tenaga Kerja
Penyerapan tenaga kerja pada tahap operasional PT. Aplus
Facific, melibatkan tenaga kerja dari berbagai tingkat pendidikan dan
keahlian, pengutamaan tenaga kerja local sangat menjadi prioritas, hal
ini sesuai dengan Peraturan Daerah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Nomor 6 Tahun 2004 Tentang Ketenagakerjaan. Berikut adalah table
penggunaan Tenaga Kerja selama tahap operasional di PT. Aplus Facific.
a. Dalam Waktu Operasi Pabrik
Jam Kerja............. : 8 Jam / Hari
Dalam Satu Minggu..... : 5 hari kerja
b. Jumlah sift Tenaga Kerja . : 1 Shift
No Hari Kerja Jam Kerja Istirahat
1 Senin - Kamis 08.00 – 17.00 12.00 – 13.00
2 Jum’at 08.00 – 17.00 12.00 – 13.00
3 Sabtu Libur Libur
Sumber: PT. Aplus Pacific, 2017.
Dokumen UKL & UPL II-22
Tabel 2.8; Kebutuhan Tenaga Kerja
Jenis Kelamin Daerah Asal Pendidikan
No. Klasifikasi Pekerja WNI Jml Jml
Aka/
L P Jlm Kom Luar WNA SD SLTP SLTA
Lokal PT
Harian Kota
Karyawan Tetap
1 Manager 2 5 7 7 - - - 7 - - - 7 7
2 Staf administrasi 11 14 25 25 - - - 25 - - 5 20 25
3 Karyawan 198 51 249 249 - - - 249 - - 25 224 249
Jumlah 211 70 281 281 - - - - - - 251 281
Outsourching
4 Security 8 - 8 8 - - - 8 - - 8 - 8
5 Office Girl - 4 4 4 - - - 4 - - 4 - 4
6 Cleaning Service / Prod 218 6 224 224 - - - 224 - - 224 - 224
7 Driver 113 - 113 113 - - - 113 - - 113 - 113
Jumlah 339 10 349 349 - - - 349 - - 349 - 349
Total Tenaga Kerja 550 80 630 630 - - - 630 - - 379 251 630
Sumber: PT. Aplus Facific, 2017.
Dokumen UKL & UPL II-23
[Link]. Penggunaan Bahan Bakar dan Pelumas
Mesin-mesin yang digunakan dalam proses produksi menggunakan
pelumas berupa oli hydraulic saat ini penanganan sisa pelumas ini
dikelola oleh pihak ke 3, sebagai langkah antisipatif terhadap kerusakan
lingkungan yang ditimbulkan oleh limbah B3, maka PT. Aplus Facific telah
membuat MoU dengan penampung limbah B3 berijin Men LH dan mengurus Ijin
Tempat Penyimpanan Sementara Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (IPSLB3).
Tabel 2.9; Pemakaian Pelumas
No Jenis Penggunaan Penanganan sisa Keterangan
1 Olie 50 ltr/thn Dikerjasamakan dengan Pengangkutan menggunakan mobil
2 Solar pihak ke 3 berijin Men colt diesel yang ditutup terpal
3 Batubara LH dengan ritasi minimal 1 kali per
tahun
Sumber: PT. Aplus Facific, 2017.
[Link]. Jenis Alat Angkut dan Kendaraan
Jenis alat angkut dan kendaraan yang digunakan untuk mengirim
barang jadi berupa truck. Sedangkan karyawan kebanyakan menggunakan
sepeda motor.
Tabel 2.10; Jenis alat angkut dan kendaraan
No. Penggunaan Jenis Kendaraan Volume
1. Bahan baku Truk & Container 3 rit /minggu
2. Hasil produksi Truk & Container 12 rit /Hr
- Mobil 15 unit
3. Karyawan 50 Unit
- Sepeda Motor
4. Limbah (Padat / cair - Truck tertutup 1 rit / minggu
Sumber: PT. Aplus Facific, 2017.
[Link]. Limbah Padat
Sampah dari kegiatan Operasional PT. Aplus Facific terbagi dua
jenis yaitu:
a. Sampah Domestik dan Limbah Padat Non B3 berupa;
Sarung tangan
Kain Majun
Bekas kemasan plastic
Zack plastic
Zack Kertas
Kardus
Straping Baja
Straping plastik
Penanganan jenis sampah ini dengan cara di kumpulkan dalam tong-
tong sampah yang disediakan dengan kapasitas 1 m3 yang kemudian diangkut
ke TPS di area PT. Aplus Facific, untuk kemudian dikerjasamakan dengan
pihak ke 3.
Dokumen UKL & UPL II-24
b. Sampah sisa produksi berupa sampah B3 dan sampah terkontaminasi
B3; berupa:
Kemasan plastic
Pelumas
Drum terkontaminasi
Jerigen terkontaminasi
Sarung tangan terkontaminasi
Kain majun terkontaminasi
Electronic Waste
Penanganan sampah jenis ini dengan cara dikerjasamakan dengan
pihak ke-3, setelah terlebih dahulu dikumpulkan dalam tong –
tong tertutup disimpan dalam ruangan khusus yang memenuhi
standar tekhnik penyimpanan limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun.
Gambar 2.5; Tempat Penampungan Sampah Sementara
Dokumen UKL & UPL II-25
[Link]. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Pengelolaan Kesehatan dan Keselamatan Kerja Karyawan PT. Aplus
Facific berdasarakan pada
- Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No. Per.
02/MEN/1980 Tentang: Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam
Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.
- Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No.: Per.
01/MEN/1981 Tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja,
- Peraturan Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi No.: Per.
03/MEN/1982 Tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja.
- Keputusan Menteri Tenaga Kerja R.I. No.: KEPTS.333/MEN/1989
tentang Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja.
- Permenakertrans RI No. Per 13/MEN /X/2011 Tanggal 28 Oktober
2011 Tentang Nilai Ambang Batas Faktor Kimia di Udara Tempat
Kerja
Pelaksanaan K3 diterapkan secara bertahap di lingkungan pabrik
dengan mengacu pada OHSAS 18001 dan ISO 14000. Kesehatan dan Keselamatan
Kerja merupakan instrument penting untuk melindungi karyawan, perusahaan,
lingkungan hidup perusahaan, dan masyarakat sekitar dari bahaya akibat
kecelakan kerja, penerapan K3 yang baik akan mencegah, mengurangi bahkan
menihilkan resiko kecelakaan kerja (zero accident) akan selalu di
evaluasi oleh pimpinan. Sebagai tindakan preventif seluruh karyawan
diikutsertakan dalam program BPJS, selain itu untuk mengevaluasi
kesehatan karyawan, secara rutin PT. Aplus Facific melaksanakan Medical
Check Up bagi seluruh karyawan.
Dokumen UKL & UPL II-26
[Link]. Alat Pencegah Kebakaran/Penanggulangan Kebakaran
Berdasarkan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah yang
berkaitan dengan penanganan bahaya kebakaran, sebagai rujukan atas
penanganan tanggap darurat kebakaran, terutama berdasarkan pada:
- Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi R.I. No. Per.
04/MEN/1980 tentang Syarat-syarat Pemasangan dan Pemeliharaan
Alat Pemadam Api Ringan,
- Peraturan Menteri Tenaga Kerja R.I. No. Per. 02/MEN/1983tentang
Instalasi Alarm Kebakaran Automatik.
- Keputusan Menteri Tenaga Kerja RI No. Kep. 186/MEN/1999 tentang
Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja.
- Instruksi Menteri Tenaga Kerja No. Ins. 11/M/BW/1997tentang
Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran.
Dalam melindungi aset perusahaan, seperti bangunan pabrik dan
karyawan dari resiko bahaya kebakaran, di area pabrik dilengkapi dengan
fasilitas pemadam kebakaran berupa APAR (fire extinguisher) sebanyak 77
(Tujuh puluh tujuh) buah yang ditempatkan di beberapa titik di area
pabrik. Pengecekan terhadap fasilitas pemadam kebakaran dilakukan secara
rutin sebulan sekali untuk memastikan seluruh peralatan pemadam kebakaran
dapat berfungsi dengan baik apabila diperlukan.
Standard Operating Procedure (Prosedur Tetap / Protap)
penanganan kebakaran yang dilakukan oleh PT. Aplus Facific adalah sebagai
berikut:
Setiap karyawan yang melihat kebakaran di area pabrik tidak
boleh panik dan harus berteriak minta tolong/ memberitahu kepada
karyawan yang lain.
Segera menghubungi/ memberi laporan kepada pimpinan.
Jika kebakaran berpotensi untuk bisa dipadamkan, segera
melakukan pemadaman dengan cepat dan aman menggunakan alat
pemadam kebakaran yang telah disediakan.
Memperingatkan orang – orang/ karyawan lainnya yang berada di
sekitar lokasi kebakaran untuk segera meninggalkan lokasi
kebakaran.
Jika potensi bahaya kebakaran diluar kendali atau sulit untuk
ditanggulangi, segera melaporkan kepada pimpinan dan petugas
kemanan yang sedang bertugas untuk menghubungi Dinas Pemadam
Kebakaran terdekat.
Petugas keamanan segera mengambil langkah - langkah pengamanan
lokasi tempat kerja, mengarahkan evakuasi dan barang - barang.
Dokumen UKL & UPL II-27
Standard Operating Procedure (Kebakaran)
1. Tujuan: mengidentifikasi dan membuat perencanaan keadaan darurat
di tempat kerja serta bagaimana menangani keadaan tersebut
dengan koordinasi yang baik, cepat, dan aman sehingga dapat
mencegah atau meminimalkan dampak pada pekerja, peralatan, dan
lingkungan.
2. Ruang Lingkup: yang termasuk keadaaan darurat adalah: kebakaran,
peledakan, bahan kimia yang tumpah, kebocoran gas, bencana alam
(mis: gempa bumi).
3. Penanggung Jawab:
Direktur – memastikan prosedur tanggap keadaan darurat
berjalan dengan baik.
Personil Manajer – membantu mengidentifikasi dan menilai
bahaya-bahaya yang potensial.
Team Kebakaran dan Tanggap Darurat – mempersiapkan prosedur
-prosedur tanggap keadaan darurat dan mengatur semua
pelatihan yang berhubungan dengan tanggap darurat serta
memastikan kesiapan dari peralatan.
4. Prosedur:
a. Membentuk Tim Perencanaan: tim ini bertugas untuk membuat dan
mengembangkan perencanaan keadaaan darurat. Yang terlibat
dalam tim adalah orang-orang yang menguasai dan mengerti
tentang proses dan potensi bahaya-bahaya yang dapat terjadi.
b. Identifikasi Bahaya dan Kemampuan Tanggap Darurat: Langkah
ini mengumpulkan informasi tentang kemampuan penanggulangan
bahaya dan tentang bahaya-bahaya dan kondisi darurat
(termasuk kecelakaan) yang mungkin terjadi. Informasi yang
diperoleh kemudian diidentifikasi dan dianalisa untuk
menentukan bahaya-bahaya yang potensial dan juga kemampuan
menangani keadaan darurat tersebut. Membuat daftar keadaan
darurat yang potensial dan menilainya dengan memperhatikan:
Jenis keadaan darurat dan kemungkinannya – dengan
mempertimbangkan keadaan darurat yang sudah terjadi, hasil
dari kegagalan proses, kesalahan manusia, dll.
Dampak tehadap manusia (kemungkinan menyebabkan luka atau
kematian), properti (biaya untuk penggantian, perbaikan)
dan bisnis (gangguan bisnis, kontrak penjualan).
Sumber daya internal – melihat kemampuan tim-tim yang
terlibat dan kelengkapan peralatan (alat-alat pemadam api,
Dokumen UKL & UPL II-28
komunikasi, P3K, sistem peringatan) serta fasilitas yang
ada (crisis centre, ruang P3K, jalur evakuasi).
Sumber daya eksternal – melihat kecepatan tanggap keadaan
darurat dari Pemadam Kebakaran, klinik / rumah sakit
terdekat, petugas keamanan , polisi.
c. Membuat Rencana: Rencana tanggap darurat (emergency response
plan) dibuat untuk menghadapi semua jenis keadaan darurat
yang sudah diidentifikasi dan dinilai. Rencana tersebut
termasuk unsur-unsur berikut:
▪ Penetapan prosedur jalan keluar dalam keadaan darurat dan
rutenya.
▪ Prosedur tetap menjalankan (atau menghentikan) pabrik
dalam kondisi kritis sebelum pabrik dievakuasi.
▪ Prosedur pemadaman api, penanganan tumpahan bahan kimia
dan keadaan darurat lainnya.
▪ Prosedur pertolongan dan tindakan medis.
▪ Prosedur penghitungan pekerja (termasuk tamu dan
kontraktor) setelah dievakuasi.
▪ Prosedur pelaporan.
Rencana tanggap keadaan darurat yang dibuat perlu didiskusikan
dan didistribusikan ke bagian yang terkait.
d. Mengadakan Pelatihan: Menentukan siapa yang akan diberi
pelatihan dan membuat jadwal aktivitas pelatihan dalam
periode 1 tahun. Anggota Tim Tanggap Darurat harus diberi
pelatihan-pelatihan:
▪ Penggunaan berbagai jenis pemadam api dan cara memadamkan
api.
▪ Pertolongan Pertama Pada kecelakaan (P3K), termasuk
cardiopulmonary resuscitation.
▪ Prosedur rencana tanggap keadaan darurat dan evakuasi
▪ Prosedur pengendalian tumpahan bahan kimia dan keadaan
darurat lainnya.
▪ Prosedur pencarian dan pertolongan (rescue) keadaan
darurat.
▪ Mengenal bahan-bahan beracun, bahan mudah terbakar, dan
bahaya-bahaya lainnya.
Karyawan yang lain juga diberi pelatihan:
▪ Rencana evakusi (evacuation plan) dan prosedur tanggap
keadaan darurat.
Dokumen UKL & UPL II-29
▪ Sistem alarm (prosedur peringatan keadaan darurat).
▪ Lokasi dan penggunaan peralatan keadaan darurat yang umum.
▪ Jenis-jenis keadaan darurat dan tindakan perlidungan.
Untuk latihan praktek lapangan bagi anggota Tanggap Darurat:
▪ Latihan kering – dimana anggota regu penanggulangan
keadaan darurat melakukan latihan tanpa mengaktifkan
peralatan (misal untuk pemadaman api: menggelar fire hose
dan pemasangan Turbex Foam).
▪ Latihan pertolongan pertama pada kecelakaan – bagaimana
anggota rescue & first aid team menolong korban dari
keadaan darurat.
▪ Latihan basah – seperti latihan diatas tapi dengan
mengaktifkan peralatan seperti water canon dan Turbex
Foam. Ini dilakukan juga untuk menguji peralatan.
▪ Latihan keadaan darurat dan evakuasi (emergency drill &
evacuation) – latihan ini seperti latihan basah tapi
ditambah dengan evakuasi karyawan.
Pengujian Tanggap Keadaan Darurat (Latihan skala penuh):
Melakukan pengujian kesiagaan dan tanggap keadaan darurat
dengan mensimulasikan skenario keadaan darurat sedekat
mungkin dengan kejadian yang sebenarnya. Melibatkan pihak
luar seperti ARBE, Pemadam Kebakaran, dan paramedis (beserta
ambulan) dari klinik/rumah sakit, serta berkomunikasi dengan
Perusahaan.
e. Evaluasi: Rencana tanggap darurat (emergency response plan)
akan ditinjau secara berkala dan dapat diperbarui. Evaluasi
dan perubahan prosedur dapat dilakukan pada saat:
Setelah setiap kejadian kecelakaan dan keadaan darurat.
Setelah setiap latihan.
Bila ada perubahan personel dan tanggung-jawab, perubahan
tata letak atau rancangan fasilitas, dan perubahan
prosedur.
Dokumen UKL & UPL II-30
Tabel 2.10; Tabel Alat Pemadam Api Ringan (APAR)
Jenis Kondisi Isi Tanggal
NO LOKASI AREA PENEMPATAN Tanggal Exp Ket
tabung OK! NO! (Kg) pengisian
1 Serbuk √ poglar 28 A MC Furring 6 15/08/2017 15/08/2018 AVA
2 Serbuk √ poglar 28 A MC Furring 6 15/08/2017 15/08/2018 AVA
3 Serbuk √ poglar 28 B Pos Security 28B 6 16/03/2017 16/03/2018 AVA
4 Serbuk √ poglar 28 A Mc Hollow 1 (Bawah) 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
5 Serbuk √ poglar 28 B pos security 28 B 6 16/03/2017 16/03/2018 AVA
6 Serbuk √ poglar 28 A Mc Hollow 2 (bawah) 6 15/08/2017 26/04/2018 AVA
7 Serbuk √ poglar 28 A POS SECURITY 28 A 3 28/11/2016 01/08/2018 AVA
8 Serbuk √ poglar 28 A Mc Hollow 3 (bawah) 6 26/04/2017 28/11/2017 AVA
9 Serbuk √ poglar 28 A Las coil Mc Hollow 6 28/11/2016 26/04/2018 AVA
10 Serbuk √ poglar 28 A Las coil Mc Hollow 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
11 Serbuk √ poglar 28 B POS security 28 B 6 16/03/2017 16/03/2018 AVA
12 Serbuk √ poglar 28 A Las coil Mc Hollow 25 28/11/2016 28/11/2017 AVA
13 Serbuk √ poglar 28 A Curling Tower 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
14 Serbuk √ poglar 28 A Kompresor 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
15 Serbuk √ poglar 28 A MC. HOLLOW 6 13/06/2017 28/11/2017 AVA
16 Serbuk √ poglar 28 A RUANG PAK ASTO 3 26/04/2017 13/06/2018 AVA
17 Serbuk √ poplar 28 A Pos security 28 A 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
18 Serbuk √ poglar 28 A POS SECURITY 28 A 6 16/09/2016 16/09/2017 EXP
19 Serbuk √ poglar 28 B Lt. 3 ACCOUNTING 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
20 Serbuk √ poglar 28 A MEKANIK 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
21 Serbuk √ poglar 28 A Mc Pond 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
22 Serbuk √ poglar 28 A Mc Cruss Tee 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
23 Serbuk √ poglar 28 A Workshop 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
24 Serbuk √ poglar 28 A Mc Engle 6 15/08/2017 15/08/2018 AVA
25 Serbuk √ poglar 28 A Pos Security 28 A 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
26 Serbuk √ poglar 28 A MEKANIK 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
27 Serbuk √ poglar 28 B Mc Rod 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
28 Serbuk √ poglar 28 A RUANG KO AKENG 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
29 Serbuk √ poglar 28 B Gudang ATK 3 8/06/2017 8/06/2018 AVA
30 Serbuk √ poglar 28 A HOLLOW ATAS 3 13/06/2017 13/06/2018 AVA
31 Serbuk √ poglar 28 8 Dekat stok kawat Rod 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
32 oksigen √ Poglar 28 A HOLLOW ATAS 3 13/06/2017 13/06/2018 AVA
33 oksigen √ poglar 28 A HOLLOW ATAS 3 13/06/2017 13/06/2018 AVA
Dokumen UKL & UPL II-31
Jenis Kondisi Isi Tanggal
NO LOKASI AREA PENEMPATAN Tanggal Exp Ket
tabung OK! NO! (Kg) pengisian
34 serbuk √ Poglar 28 B POS Security 28 B 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
35 serbuk √ Poglar 28 B Genset 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
36 serbuk √ Poglar 28 C Pintu Gudang 6 13/06/2017 13/06/1918 AVA
37 serbuk √ Poglar 28 C Ruang Kubikel 6 13/06/2017 13/06/2018 AVA
38 serbuk √ Poglar 28 C Ruang Kapasitor Bank 6 13/06/2017 13/06/2018 AVA
39 serbuk √ Poglar 28 B Bengkel Mobil 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
40 serbuk √ Poglar 28 B Bengkel Mobil 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
41 serbuk √ Poglar 28 B Tangga Bengkel Mobil 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
42 serbuk √ Poglar 28 B Ruangan Yongsan 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
43 serbuk √ Poglar 28 C Kompresor Slitting 6 13/06/2017 13/06/2018 AVA
44 serbuk √ Poglar 28 C Mc Slitting 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
45 serbuk √ Poglar 28 C Mc Balikan coil 6 13/06/2017 13/06/2018 AVA
46 serbuk √ Poglar 28 B POS Security 28 8 6 16/03/2017 16/08/2018 AVA
47 serbuk √ Poglar 28 C Mc Truss 6 13/06/2017 13/06/2018 AVA
48 serbuk √ Poglar 28 C Mc Truss 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
49 serbuk √ Poglar 28 C Mc Truss 6 13/06/2017 13/06/2018 AVA
50 serbuk √ Poglar 28 C Mc Truss 6 13/06/2017 13/06/2018 AVA
51 oksigen √ Poglar 28 B MC. TEKUK 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
52 serbuk √ Poglar 28 B Kantor Lt.3 ACCOUNTING 3 26/04/2017 26/04/2018 AVA
53 oksigen √ Poglar 28 B KIMIA 6 13/06/2017 13/06/2018 AVA
54 oksigen √ Poglar 28 B Kantor Lt. 2 3 26/04/2017 26/04/2018 AVA
55 oksigen √ Poglar 28 B Kantor Lt. 2,5 3 20/04/2017 26/04/2018 AVA
56 oksigen √ Poglar 28 B RUANG OPERATOR 3 26/04/2017 26/04/2018 AVA
57 oksigen √ Poglar 28 B RUANG HRD 3 26/04/2017 26/04/2018 AVA
58 oksigen √ poglar 28 B Dapur Baru Lt. 1 6 21/12/2016 21/12/2017 AVA
59 oksigen √ poglar 28 B Purchasing Lt. 1 6 21/12/2016 21/12/2017 AVA
60 oksigen √ poglar 28 B Adm. Marketing Lt. 1 6 21/12/2016 21/12/2017 AVA
61 oksigen √ poglar 28 B Ruang Finance Lt. 2 6 21/12/2016 21/12/2017 AVA
62 oksigen √ poglar 28 B Ruang Piutang LT. 2 6 21/12/2016 21/12/2017 AVA
63 Serbuk √ poglar 28 B Ruang Truss 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
64 Serbuk √ poglar 28 C Pintu Gudang Selatan 6 26/04/2017 26/04/2018 AVA
65 Serbuk √ poglar 28 B gudang bm 6 16/09/2016 16/09/2017 EXP
66 Co2 √ poglar 28 A Furring Depan 25 21/12/2016 21/12/2017 AVA
67 Serbuk √ poglar 28 B GUDANG Ban 6 28/11/2016 28/11/2017 AVA
68 Foam √ poglar 28 C DEKAT KAPASITOR BANK 25 16/03/2017 16/03/2018 AVA
Dokumen UKL & UPL II-32
Jenis Kondisi Isi Tanggal
NO LOKASI AREA PENEMPATAN Tanggal Exp Ket
tabung OK! NO! (Kg) pengisian
69 Powder √ poglar 28 C DEKAT KAPASITOR BANK 25 16/03/2017 16/03/2018 AVA
70 Powder √ poglar 28 C DEKAT KAPASITOR BANK 25 26/04/2017 26/04/2018 AVA
71 oksigen √ poglar 28 B Adm. Marketing Lt. 1 3 15/08/2017 15/08/2018 AVA
72 oksigen √ poglar 28 B Ruang Finance Lt. 2 3 15/08/2017 15/08/2018 AVA
73 oksigen √ poglar 28 B Ruang Finance Lt. 2 3 15/08/2017 15/08/2018 AVA
74 oksigen √ poglar 28 A gudang sparepart 28A 3 15/08/2017 15/08/2018 EXP
75 oksigen √ poglar 28 B gudang direktur operasional 3 01/08/2017 01/08/2018 AVA
76 Serbuk √ poglar 28 B gudang kimia 6 15/06/2017 15/06/2018 AVA
77 Serbuk √ paglar 28 B gudang kimia 6 15/08/2017 15/08/2018 AVA
Sumber; PT. Aplus Pacific, 2017.
Dokumen UKL & UPL II-33
Gambar 2.6: Peta Jalur Evakuasi dan Posisi APAR
Dokumen UKL & UPL II-34
Dokumen UKL & UPL II-35
Dokumen UKL & UPL II-36
Dokumen UKL & UPL II-37
Dokumen UKL & UPL II-38
Dokumen UKL & UPL II-39
Dokumen UKL & UPL II-40
Dokumen UKL & UPL II-41
Dokumen UKL & UPL II-42
Dokumen UKL & UPL II-43
Dokumen UKL & UPL II-44
2.5. Komponen Lingkungan di lokasi kegiatan dan sekitarnya
Komponen lingkungan merupakan gambaran kondisi lingkungan di
lokasi kegiatan yang di rencanakan dan sekitarnya. Komponen lingkungan
tersebut terdiri dari beberapa aspek meliputi komponen fisika dan kimia,
biologi, sosial, ekomomi dan budaya. Data mengenai komponen lingkungan
tersebut dapat di peroleh dari bermacam - macam cara seperti pengukuran
langsung, survey lapangan, maupun data sekunder. Data yang di peroleh
langsung dari PT. Aplus Facific misalnya kualitas udara dan kebisingan
(Komponen Fisika-kimia), sedangkan data yang di peroleh dari survei
lapangan adalah Flora dan Fauna (Komponen Biologi) serta data sekunder
misalnya keadaan penduduk, demografi, (Komponen sosial ekonomi budaya ).
2.5.1. Komponen Lingkungan Fisika Kimia
[Link]. Kualitas Udara dan Intensitas Kebisingan
Komponen yang perlu diketahui antara lain kualitas udara dan
intensitas kebisingan. Pengukuran kualitas udara dan intensitas
kebisingan dalam ruang dilakukan, berdasarkan acuan Permenakertrans No.
13 tahun 2011, sedangkan pengukuran kualitas udara dan intensitas
kebisingan luar ruang dilakukan berdasarkan acuan PP No 41 tahun 1999,
Kep 50/MENLH/11/1996, dan Kep-48/MENLH/11/1996/. Data tersebut di dapat
dari hasil pengukuran di lapangan dan analisa laboratorium. Kondisi
Kualitas udara dan Intensitas Kebisingan yang diukur sebagai rona awal
adalah sebagaimana tercantum dalam tabel berikut:
Tabel 2.11 : Hasil Analisa Kualitas Udara
Luar Ruang
Depan Pabrik
WAKTU HASIL SPESIFIKASI
No PARAMETER BAKU MUTU
PENGUKURAN PENGUKURAN METODE
1. Nitrogen Dioksida (NO2) 1 Jam 400 µg/Nm3 *)
2. Sulfur Dioksida (SO2) 1 Jam 900 µg/Nm3 *)
3. Hidrogen Sulfida (H2S) 0.21 ppm *)
4. Amoniak (NH3) 2.0 ppm *)
5. Karbon Monoksida (CO) 1 Jam 30000 µg/Nm3 *)
6. Debu (TSP) 24 Jam 230 µg/Nm3 *)
7. Timah Hitam (Pb)* 24 Jam 2 µg/Nm3 *)
8. Oksidan (O3) 1 Jam 235 µg/Nm3 *)
9. Hidro Karbon (HC)* 3 Jam 160 µg/Nm3 *)
Temperatur
Kelembaban Relatif
Kecepatan Angin
Arah Angin Dominan
Dokumen UKL & UPL II-45
Belakang Pabrik
WAKTU HASIL SPESIFIKASI
No PARAMETER BAKU MUTU
PENGUKURAN PENGUKURAN METODE
1. Nitrogen Dioksida (NO2) 1 Jam 400 µg/Nm3 *)
2. Sulfur Dioksida (SO2) 1 Jam 900 µg/Nm3 *)
3. Hidrogen Sulfida (H2S) 0.21 ppm *)
4. Amoniak (NH3) 2.0 ppm *)
5. Karbon Monoksida (CO) 1 Jam 30000 µg/Nm3 *)
6. Debu (TSP) 24 Jam 230 µg/Nm3 *)
7. Timah Hitam (Pb)* 24 Jam 2 µg/Nm3 *)
8. Oksidan (O3) 1 Jam 235 µg/Nm3 *)
9. Hidro Karbon (HC)* 3 Jam 160 µg/Nm3 *)
*) Parameter yang belum diakreditasi
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran
Udara
"<" Menunjukkan nilai terkecil dari Pengukuran yang didapatkan berdasarkan metode yang
digunakan
Udara Ruang Kerja
Ruang Produksi I
HASIL NILAI AMBANG SPESIFIKASI
No PARAMETER
PENGUKURAN BATAS METODE
1. Nitrogen Dioksida (NO2) 3 ppm)
2. Sulfur Dioksida (SO2) 0.25 mg/m3*)
3. Hidrogen Sulfida (H2S) 1 ppm *)
4. Amoniak (NH3) 17 mg/m3 *)
5. Karbon Monoksida (CO) 29 mg/m3 *)
6. Debu (TSP) 10 mg/m3 *)
7. Timbal (Pb)* 0.05 mg/m3 *)
Temperatur 18-30°C *)
Kelembaban Relatif 65%-95% 5)
Ruang Produksi II
HASIL NILAI AMBANG
No PARAMETER SPESIFIKASI METODE
PENGUKURAN BATAS
1. Nitrogen Dioksida (NO2) 3 ppm)
2. Sulfur Dioksida (SO2) 0.25 mg/m3*)
3. Hidrogen Sulfida (H2S) 1 ppm *)
4. Amoniak (NH3) 17 mg/m3 *)
5. Karbon Monoksida (CO) 29 mg/m3 *)
6. Debu (TSP) 10 mg/m3 *)
7. Timbal (Pb)* 0.05 mg/m3 *)
Temperatur 18-30°C *)
Kelembaban Relatif 65%-95% 5)
Ruang Workshop
HASIL NILAI AMBANG
No PARAMETER SPESIFIKASI METODE
PENGUKURAN BATAS
1. Nitrogen Dioksida (NO2) 3 ppm)
2. Sulfur Dioksida (SO2) 0.25 mg/m3*)
3. Hidrogen Sulfida (H2S) 1 ppm *)
4. Amoniak (NH3) 17 mg/m3 *)
5. Karbon Monoksida (CO) 29 mg/m3 *)
6. Debu (TSP) 10 mg/m3 *)
7. Timbal (Pb)* 0.05 mg/m3 *)
Temperatur 18-30°C *)
Kelembaban Relatif 65%-95% 5)
*) Parameter yang belum diakreditas
Peraturan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi No. PER. 13/MEN/X/2011
Keputusan Menteri Kesehatan No.1405/Menkes/SK/XI/2002
"<" Menunjukkan nilai terkecil dari pengukuran yang didapatkan berdasarkan metode yang
digunakan
Dokumen UKL & UPL II-46
Kuat Pencahayaan (Lux)
SPESIFIKASI
No LOKASI KISARAN (Lux) RATA-RATA (Lux)
METODE
1. Metering Workshop 130.0 - 220.0
2. Modem Carrier Workshop 200.0 - 260.0
3. Office 190.0 - 280.0
Keterangan : Baku Mutu Kuat Pencahayaan Sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No
1405/Menkes/SK/XI/2002 Lampiran 2 Tentang Tata Cara Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan
Kerja Industri,
• Batas Minimum 100 Jenis Kegiatan Pekerjaan Kasar dan Tidak Terus menerus
• Batas Minimum 200 Jenis Kegiatan Pekerjaan Kasar dan Terus menerus
• Batas Minimum 300 Jenis Kegiatan Pekerjaan Rutin
• Batas Minimum 500 Jenis Kegiatan Pekerjaan Agak Halus
• Batas Minimum 1000 Jenis Kegiatan Pekerjaan Halus
Iklim Kerja
HASIL PENGUKURAN
Index of Env. SPESIFIKASI
NO LOKASI Wet Dry
Globe %RH Heat WBGT METODE
Bulb Bulb
(ISBB)
1 Metering Workshop
2 Modem Carrier Workshop
Keterangan:
Nilai ambang Batas Iklim Kerja Menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi
[Link].13/MEN/X/2011
Pengaturan Waktu ISBB (OC)
NO Kerja Setiap Jam Beban Kerja
Waktu Kerja Ringan Sedang Berat
1. 75%-100% 31.0 28.0 -
2. 50%-75% 31.0 29.0 27.5
3. 25% - 50% 32.0 30.0 29.0
4. 0%-25% 32.2 31.1 30.5
Catatan:
Beban Kerja Ringan Membutuhkan kalori Sampai dengan 200 Kilo Kalori/Jam
Beban Kerja Sedang membutuhkan Kalori dari 200 sampai dengan kurang dari 350 Kilo
Kalori/Jam
Beban Kerja Berat membutuhkan kalori lebih dari 350 sampai dengan kurang dari 500 Kilo
Kalori/Jam
Tabel 2.13: Hasil Uji Intensitas Kebisingan
Kebisingan Luar Ruang
HASIL
No LOKASI WAKTU SAMPLING BAKU MUTU *)
PENGUKURAN
Pabrik Pagi 01.00 – 06.00 (WIB) Untuk Masyarakat Lingkungan
lndustri
1. Daerah Sekitar Rumah Sakit,
Depan Pabrik Siang 07.00 - 12.00 (WIB)
Tempat Perawatan
1 - Malam Hari: 35 dBA
Depan Pabrik Sore 13.00 – 18.00(WIB) - Pagi & Sore Hari: 43 dBA
- Siang Hari: 45 dBA
Depan Pabrik Malam 19.00 - 24.00 (WIB) 2. Daerah Pemukiman Tempat
Tinggal
- Malam Hari: 40 dBA
Belakang Pabrik Pagi 01.00 – 06.00 (WIB) - Pagi & Sore Hari: 45 dBA
- Siang Hari: 50 dBA
Belakang Pabrik Siang 07.00 – 12.00 (WIB) 3. Daerah Sekitar Komplek
2 Pertokoan, Jalan dan Pabrik*
Belakang Pabrik Sore 13.00 - 18.00 (WIB) - Malam Hari: 50 dBA
- Pagi & Sore Hari: 55 dBA
- Siang Hari: 60 dBA
Belakang Pabrik Malam 19.00 - 24.00 (WIB)
Dokumen UKL & UPL II-47
Kebisingan Dalam Ruang
Hasil
No Lokasi Waktu Sampling Nilai Ambang Batas*)
Pengukuran
8 Jam : 85 dBA
4 Jam : 88 dBA
1. Workshop I 09.45 – 09.55 (WIB) 2 Jam : 91 dBA
1 Jam : 94 dBA
30 Menit : 97 dBA
15 Menit : 100 dBA
7.5 Menit : 103 dBA
2. Workshop II 58 09. - 1.08 (WIB) 3.75 Menit : 106 dBA
1.88 Menit : 109 dBA
0.94 Menit : 112 dBA
*) Peraturan Menteri Tenaga Kerja & Transmigrasi No. PER.13/MEN/X/2011, Tentang Nilai
Ambang Batas Kebisingan Berdasarkan Waktu Pemajanan Per Hari
Gambar 2.10; Dokumentasi Pengujian Kualitas Lingkungan
[Link]. Kualitas Badan Air Penerima
Limbah cair domestik yang dihasilkan dari kegiatan PT. Aplus
Facific berasal kamar mandi, kegiatan domestik, produksi dan utilitas,
limbah cair domestik yang dihasilkan tersebut tidak mencemari lingkungan
sekitar, hanya berdampak menambah beban badan air penerima. Hasil
pengujian kualitas lingkungan komponen limbah cair bisa dilihat seperti
di bawah ini;
Dokumen UKL & UPL II-48
Tabel 2.14 : Hasil Uji Kualitas Limbah Cair
Limbah Cair dari Monitoring Pit
PARAMETER SATUAN HASIL UJI BAKU MUTU**
No METODE
PARAMETERS UNIT RESULT REGULATION
A. PHYSICAL
1. Temperature °C 38
2. Total Dissolved Solids (TDS)* mg/L 2000
3 Total Suspended Solids (TSS)* mg/L 200
4. Color* mg/L Pt-Co 300
B. CHEMICAL
1 pH* 6-9
2. COD* mg/L 500
3. BOD mg/L 300
4 Iron (Fe) mg/L 5
5. Manganese (Mn) mg/L 2
6 Barium (Ba) mg/L 2
7 Copper (Cu)* mg/L 2
8. Zinc (Zn)* mg/L 5
9. Chromium Hexavalent (Cr 6+) mg/L 0.1
10. Chromium Total (Total Cr) mg/L 0.5
11. Cadmium (Cd)* mg/L 0.05
12. Mercury (Hg) mg/L 0.002
13. Lead (Pb) mg/L 0.1
14. Tin (Sn) mg/L 2
15. Arsenic (As) mg/L 0.1
16 Selenium (Se) mg/L 0.05
17 Nickel (Ni) mg/L 0.2
18. Cobalt (Co)* mg/L 0.4
19. Cyanide (CN) mg/L 0.05
20. Sulphide (H2S) mg/L 0.05
21. Fluoride (F) mg/L 2
22. Free Chlorine (Cl2) mg/I 1
23. Total Ammoniac (NH3-N)* mg/L 20
24. Nitrate (NO3-N) mg/L 20
25. Nitrite (NO2-N) mg/L 1
26. MBAS* mg/L 5
27. Phenol Compound mg/L 0.5
28. Vegetable Oil mg/L 5
29. Mineral Oil* mg/L 10
[Link]. Iklim
Wilayah Kota Jakarta Barat termasuk dalam daerah beriklim tropis
dengan perbedaan curah hujan yang cukup kecil dan dipengaruhi oleh iklim
musim. Secara umum musim kemarau antara bulan April - September dan musim
hujan antara Oktober - Maret. Temperatur: 24,3-33OC, kelembaban rata-
rata: 82%, Penguapan rata-rata: 3,9 mm/tahun, Kecepatan angin rata-rata:
3,3 knot, Penyinaran matahari rata-rata: 49,8%. Jumlah curah hujan: 2684
mm/tahun, Jumlah hari hujan 222 hari/tahun. (Sumber: Perum Jasa Tirta II
tahun 2015).
[Link]. Curah Hujan
Kondisi curah hujan di seluruh wilayah di daerah Kota Jakarta
Barat relatif sama, dengan rata-rata curah hujan sebesar 327 mm/tahun.
Kondisi curah hujan seperti diatas, selain penting sebagai sumber
Dokumen UKL & UPL II-49
irigasi, curah hujan juga penting untuk pemberian gambaran penentuan
lahan, terutama lokasi, pola cocok tanam, dan jenis tanaman yang sesuai
(Sumber: Perum Jasa Tirta II tahun 2015).
[Link]. Air Larian (Run Off)
Peningkatan kuantitas air permukaan dapat disebabkan oleh adanya
air larian dari kegiatan Operasional PT. Aplus Facific. Air larian
umumnya disebabkan oleh penutupan areal kegiatan dengan bahan kedap air
seperti beton atau hotmix sehingga air tidak bisa meresap ke dalam tanah,
lahan di lokasi berupa lahan tertutup dan lahan terbuka. Perhitungan
besarnya debit air larian (run off) dengan menggunakan rumus:
Q = C . I . A
dimana :
Q = Debit air larian (m3/det)
C = Koefisien run off
I = Intensitas curah hujan (m/hari)
A = Luasan kawasan tangkapan hujan (m2)
Peningkatan Air Larian (run off)
Curah hujan harian maks yang diambil R ... = 348 mm
Lamanya hari hujan ........................ = 26 hari
Intensitas curah hujan .................... = 161,77 mm/jam
.......................................... = 3,59 m/hari
Waktu konsentrasi hujan harian rata-rata .. = 2 jam
Tabel 2.15 : Koefisien Berdasarkan Topografi dan Penggunaan Lahan
Kondisi daerah Nilai C
Pegunungan yang curam 0.75 – 0.90
Pegunungan tersier 0.70 – 0.80
Tanah bergelombang dan hutan 0.50 – 0.75
Tanah dataran yang ditanami 0.45 – 0.60
Persawahan yang diairi 0.70 – 0.80
Sungai di daerah pegunungan 0.75 – 0.85
Sungai kecil di dataran 0.45 – 0.75
Sungai besar di dataran 0.50 – 0.75
Sumber: Dr. Mononobe dalam Suyono S. (1999).
No Koefisien Run Off (%) Kriteria
1 ≤ 25 Rendah
2 25-50 Normal
3 >50-75 Tinggi
4 75-100 Ekstrem
Berdasarkan Data Curah Hujan dari Perum Jasa Tirta II tahun
2014, curah hujan rata-rata tahunan di wilayah studi yaitu 1.421 mm atau
rata-rata curah hujan rata-rata bulanan melebihi 100 mm. Suhu minimum
o
terendah tercatat 22,3 C pada bulan Agustus. Suhu maksimum tertinggi
tercatat 34,5oC terjadi pada bulan Oktober.
Dokumen UKL & UPL II-50
Tabel 2.16: Air Larian
Jml Air Debit Air
Jenis Penutup Luas Lahan Koefisien Intensitas
No Larian Larian
Lahan (M2) Run Off Hujan m/hr
(m3/hari) (m3/det)
1 Lahan tertutup 201,37 0,9 3,48 630,69084 0,00729966
2 Lahan terbuka 1798,3 0,3 3,48 1877,4252 0,02172946
Jumlah Air Larian (Run Off) 0,0144298
Sumber : Hasil perhitungan, 2017.
Dari hasil perhitungan debit air larian sesudah adanya kegiatan
PT. Aplus Facific, maka terjadi debit air larian sebesar 0,0144298
m3/det.
2.5.2. Komponen Lingkungan Biologi
[Link]. Flora Darat
a. Tipe Vegetasi: Tipe vegetasi (komunitas tumbuhan) di lokasi
tapak proyek dan di daerah sekitarnya merupakan pemukiman
penduduk, sekolah, toko dan lainnya adalah vegetasi budidaya
darat (teresterial). Vegetasi di lokasi tapak proyek berupa
lahan kegiatan yang tumbuh rumput, tanaman hias dan lainnya,
sedangkan di sekitar lokasi kegiatan berupa vegetasi pekarangan,
baik yang alami maupun yang ditanam pihak pengelola, guna
meredam cemaran di sekitar lokasi kegiatan. Akan tetapi di
lokasi tapak kegiatan tidak terdapat tipe flora yang dilindungi.
b. Keanekaan Jenis dan Komposisi: Keanekaan jenis tumbuhan
(tanaman) dilokasi tapak dan sekitarnya yang dinyatakan dalam
jumlah jenis termasuk cukup banyak. Dari hasil pengamatan
menunjukan bahwa jenis - jenis tanaman yang terdapat di daerah
tersebut termasuk golongan tanaman hias, tanaman pelindung, dan
tanaman buah. Dari hasil inventarisasi jenis tersebut
menunjukkan, bahwa budidaya masyarakat mempengaruhi nilai
estetis dengan mengutamakan tanaman hias dari pada tanaman yang
mempunyai nilai ekonomi.
Tabel 2.17 : Jenis Tumbuhan di Lokasi Kegiatan dan Sekitar
No Nama Jenis Nama Indonesia/ Daerah
1. Leucanea leucocephala Lamtoro
2. Oreodoxa regia Palem Raja
3. Thevetia peruviana Ki Hujan
4. Mimosa pigra Putri Malu
5. Mangifera indica Mangga
6. Coleus artropurpureus Jawer Kotok
7. Datura fasmosa Kecubung
8. Cyperus cyllinga Rumput teki
9. Penisetum purpurium Rumput Gajah
10. Iresine herbistii Bayem-bayeman
Sumber: Data Primer, 2017.
Dokumen UKL & UPL II-51
Diantara 10 jenis tanaman yang tercatat di lokasi PT. Aplus
Facific dan daerah sekitarnya tidak terdapat tanaman yang dilindungi
maupun langka.
[Link]. Fauna Darat
Vegetasi budi daya darat yang terdapat di lokasi PT. Aplus
Facific dan sekitarnya merupakan habitat (tempat hidup) fauna, yaitu
sebagai tempat mencari makan, berlindung dan berkembang biak. Oleh karena
itu di daerah tersebut masih terdapat beberapa jenis fauna, dari hasil
pengamatan langsung menunjukan bahwa tidak adanya jenis binatang
peliharaan yang umum, hal ini disebabkan disekitar lokasi kegiatan
merupakan daerah pengembangan industri dan pemukiman padat penduduk,
jenis fauna yang dominan pada wilayah studi lokasi kegiatan dan sekitar
adalah jenis fauna kelas Aves (burung), akan tetapi keaneka ragaman
jenisnya rendah. Hal tersebut disebabkan oleh kondisi lingkungan yang
bising karena lalu lintas kendaraan dan waktu pengamatan pada waktu siang
hari. Pada umumnya hewan lebih aktif pada pagi hari untuk mencari makan,
sedangkan tengah hari digunakan untuk berlindung.
Tabel 2.18 : Jenis Fauna yang terdapat di lokasi Kegiatan dan
Sekitarnya
No Nama Jenis Nama Indonesia/ Daerah
1. Paser montanus Burung gereja
2. Artamus leucorhynchus Burung buah
3. Fellis sp. Kucing
4. Gallus gallus Ayam
5. Rattus rattus Tikus
6. Lepidoptera Kupu-kupu
7. Crocothermis Capung
Sumber: Data Primer, 2017.
Berdasarkan makanan burung-burung tersebut termasuk golongan
pemakan buah dan pemakan serangga serta pemakan biji-bijian, burung
pemakan buah misalnya burung ketilang, burung-burung pemakan serangga
yaitu burung layang-layang dan pemakan biji-bijian yaitu burung gereja.
Seperti halnya tanaman dari ke 7 jenis fauna yang ditemukan tidak
tercatat sebagai binatang yang dilindungi maupun langka.
2.5.3. Sosial Ekomomi, Budaya dan Kesehatan Masyarat
[Link]. P R O F I L E K E C A M A T A N C E N G K A R E N G
[Link].1. TOPOGRAFIS
Berdasarkan surat keputusan Gubernur KDKI Jakarta nomor : D.I-
a/1/1/1974 tanggal 8 Januari 1974 tentang Pemecahan Wilayah Administratif
Kelurahan Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, dipecah menjadi 2
wilayah Kelurahan, yaitu Kelurahan Kapuk Muara dan Kelurahan Kamal Muara
Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara.
Dokumen UKL & UPL II-52
Kemudian berdasarkan surat keputusan Gubernur KDKI Jakarta nomor : 1251
tahun 1986 tanggal 29 Juli 1986 tentang Pemecahan, Penyatuan, Penetapan
batas, Perubahan nama dan penetapan luas wilayah Kelurahan, sebagian
wilayah Kelurahan Kapuk Muara dari Kali Cengkareng Drains ke arah Barat
menjadi wilayah Kelurahan Kamal Muara, Kecamatan Penjaringan Kota
Administrasi Jakarta Utara.
Wilayah Kelurahan Kapuk Muara terdiri dari areal industri, hutan
lindung, cagar alam dan permukiman penduduk. Luas dan batas wilayah; Luas
wilayah Kelurahan Kapuk Muara 1.005,5 Ha dengan batas-batas sebagai
berikut:
Sebelah Utara ...... : Pantai Laut Jawa antara Kali Cengkareng Drain
mengarah ke Timur sampai Kali Angke
Sebelah Timur ...... : Kali Angke mengarah ke Selatan sampai saluran
air Jl. Kapuk Poglar
Sebelah Selatan .... : Jalan Kapuk Kamal antara Kali Cengkareng
Drain dengan Kali Angke
Sebelah Barat ...... : Kali Cengkareng Drain dari Jembatan Jl. Kapuk
Kamal kearah Utara sampai Pantai Laut Jawa
Wilayah permukiman yang terdapat di Kelurahan Kapuk, merupakan
salah satu permukiman di Jakarta Barat dimana terdapat kawasan kumuh
didalamnya. Kawasan kumuh yang ditemui pada wilayah tersebut memiliki
tingkat kekumuhan mulai dari tingkat kumuh ringan, sedang bahkan hingga
berat. Artikel ini merupakan bagian dari penelitian mengenai arahan
peningkatan kualitas lingkungan permukiman kumuh di Kelurahan Kapuk,
Jakarta Barat.
Menurut data Dinas Perumahan DKI Jakarta, jumlah penduduk
Jakarta pada tahun 2011 berjumlah 9.607.787 jiwa dengan kepadatan
penduduk 1.315.763 jiwa/ha. Jumlah penduduk miskin di Jakarta tahun 2012
mencapai 363.200 jiwa. Dari luas total wilayah DKI Jakarta yang mencapai
66.200 Ha, sebesar 49,47% diperuntukan sebagai kawasan perumahan dan
permukiman dimana terdapat 5,4% permukiman kumuh didalamnya dengan 392 RW
kumuh. Permukiman kumuh merupakan keadaan lingkungan hunian dengan
kualitas yang sangat tidak layak huni, dengan ciri-ciri antara lain
kepadatan bangunan sangat tinggi dalam luasan yang terbatas, rawan
penyakit sosial dan penyakit lingkungan, serta kualitas bangunan yang
sangat rendah, tidak terlayaninya prasarana lingkungan yang memadai dan
membahayakan keberlangsungan kehidupan dan penghidupan penghuninya.
Berdasarkan Evaluasi RW Kumuh Provinsi Daerah Khusus Ibukota (DKI)
Jakarta, 2011, menetapkan kelurahan-kelurahan di DKI Jakarta yang
memiliki RW kumuh didalamnya, dimana salah satunya adalah Kelurahan
Dokumen UKL & UPL II-53
Kapuk, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat dengan tipologi kekumuhan
kumuh ringan, sedang hingga berat.
Secara umum, apabila dilihat secara fisik, masing masing tingkat
RW kumuh tersebut memiliki karakteristik dasar yang beragam.
Karakteristik dasar yang dapat ditemui di permukiman kumuh ringan, (RW
07) adalah adanya kedekatan dengan pusat kegiatan sosial-ekonomi berupa
industri dan juga Rumah Pemotongan Hewan (RPH) (Survey Primer, 2013).
Kedua, permukiman kumuh dengan kategori sedang (RW 01, 03, 04 dan 13),
berdasarkan lokasinya, permukiman ini memiliki karakteristik lokasi
permukiman kumuh di daerah bantaran kali (Survei Primer, 2013). Terakhir,
karakeristik kumuh yang ditemui di permukiman dengan kategori permukiman
kumuh berat (RW 12 dan 16), adalah RW dengan tingkat kepadatan penduduk
yang cukup tinggi dimana RW 12 memiliki kepadatan penduduk sebesar 449,58
jiwa/Ha dan RW 16 sebesar 1.431,79 jiwa/Ha. Sebenarnya Pemerintah DKI
Jakarta sudah berusaha untuk dapat memperbaiki lingkungan permukiman
kumuh di Kelurahan Kapuk tersebut. Hal ini dapat dilihat dari adanya
program-program yang diberikan terkait dengan peningkatan kualitas
lingkungan kumuh. Program-program yang ada diantaranya adalah Program
Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan (PNPMMP), Program
Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (PPMK), Mohammad Husni Thamrin (MHT)
plus, Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Kampung Deret. Namun
program-program tersebut belum memberikan hasil yang signifikan terhadap
lingkungan permukiman tersebut.
[Link]. Sosial Budaya
a. Adat Istiadat
Penduduk di Kecamatan Cengkareng umumnya berasal dari suku
Betawi dan suku lainnya seperti: Jawa, Palembang, Batak, Padang, Sunda,
China, Tionghoa, Ambon, Kalimantan, Papua, Sulawesi, Aceh dan lainnya
sebagai pendatang. Namun demikian penduduknya masih mempunyai sistem
kekerabatan dengan sifat gotong-royong. Selain itu seperti pada umumnya
masyarakat yang lain di dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat di
Kecamatan Cengkareng selain mengikuti aturan-aturan yang ditentukan
Pemerintah seperti di bidang pendidikan, kesehatan maupun kepemerintahan
juga melaksanakan aturan-aturan religius sebagaimana aturan-aturan yang
ditentukan oleh keyakinan dan agamanya masing-masing.
b. Kegiatan Kemasyarakatan
Kegiatan kemasyarakatan yang aktif dilaksanakan penduduk di
Kecamatan Cengkareng adalah majlis ta’lim / pengajian, PKK, penyuluhan,
arisan, karang taruna. Sedangkan jenis-jenis kegiatan fisik yang
Dokumen UKL & UPL II-54
melibatkan partisipasi masyarakat adalah Pembangunan jalan lingkungan,
rehabilitasi jalan lingkungan, Pembangunan/ rehabilitasi tempat ibadah
serta fasilitas umum dan sosial lainnya.
c. Keamanan, Ketentraman dan Ketertiban
Kondisi keamanan, ketentraman dan ketertiban di Kecamatan
Cengkareng pada umumnya cukup baik. Kondisi ini dapat tercipta bila
didukung oleh adanya partisipasi masyarakat dalam menjaga keamanan,
ketentraman dan ketertiban di daerahnya masing-masing. Dukungan
masyarakat ini berupa kegiatan siskamling yang rutin diadakan dan
dilakukan secara berkesinambungan.
d. Persepsi Masyarakat
Persepsi masyarakat yang timbul terhadap kegiatan Pembangunan
PT. Aplus Facific ini dapat positif ataupun negatif. Persepsi positif
muncul karena kegiatan Pembangunan PT. Aplus Facific ini dapat membuka
lapangan kerja penduduk sekitar lokasi kegiatan baik untuk tahap
konstruksi maupun operasional. Terbukanya kesempatan kerja ini tentunya
dapat mengurangi jumlah pengangguran bagi penduduk sekitar lokasi. Selain
itu adanya Pembangunan PT. Aplus Facific dapat menjadikan lingkungan
sekitar lokasi kegiatan tertata lebih baik. Sehingga dapat memberikan
dampak yang baik bagi penduduk sekitar lokasi kegiatan.
Sedangkan persepsi negatif yang muncul adalah dengan adanya
Operasional PT. Aplus Facific dapat mengganggu kenyamanan dan ketenangan
penduduk di sekitar lokasi kegiatan, meningkatkan kemacetan lalu lintas.
Keterbukaan informasi dan pendekatan terhadap penduduk sekitar lokasi
kegiatan menjadi hal yang harus diperhatikan bagi pihak pemrakarsa agar
Pembangunan PT. Aplus Facific di Kecamatan Cengkareng ini dapat berjalan
sesuai dengan yang diharapkan bagi semua pihak.
[Link]. Kesehatan Masyarakat
a. Kondisi Kesehatan: Kondisi kesehatan masyarakat berdasarkan
data Monografi Kecamatan Cengkareng tahun 2015 secara
keseluruhan kondisinya cukup baik. Untuk menunjang kondisi
kesehatan masyarakat di Kecamatan Cengkareng terdapat
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh Pemerintah atau
Swasta. Sedangkan penyakit yang umum diderita oleh penduduk
yaitu penyakit ISPA.
b. Penyediaan Air Bersih: Penyediaan air bersih untuk memenuhi
kebutuhan rumah tangga di Kecamatan Cengkareng adalah
menggunakan air sumur bor, sebagian yang lain menggunakan air
dari PALYJA.
Dokumen UKL & UPL II-55
c. Penanganan Sampah: Penanganan sampah yang ada di sekitar
lokasi kegiatan pada umumnya ditimbun dikebun atau dibakar,
namun ada juga yang diangkut oleh petugas yang dikelola oleh
RT/RW setempat. Petugas kebersihan setempat mengumpulkan
sampah dari rumah warga kemudian sampah tersebut dikumpulkan
di TPS yang selanjutnya diangkut oleh petugas dari Dinas
Kebersihan untuk dibuang ke TPA Bantar Gebang.
d. Saluran Drainase: Berdasarkan hasil pengamatan langsung,
saluran drainase yang ada di Kecamatan Cengkareng menuju
kearah Utara yang menuju ke saluran sungai alam yang bermuara
ke sungai ciliwung.
Dokumen UKL & UPL II-56