0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
206 tayangan64 halaman

Uji Toksisitas Bunga Telang dengan BSLT

Skripsi ini membahas uji toksisitas ekstrak bunga telang dengan metode Brine Shrimp Lethality Test untuk skrining awal aktivitas antikanker. Ekstrak bunga telang akan diekstraksi dan diuji toksisitasnya menggunakan udang air asin untuk mengetahui potensi sebagai obat antikanker.

Diunggah oleh

Irsan Rizqi 18
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
206 tayangan64 halaman

Uji Toksisitas Bunga Telang dengan BSLT

Skripsi ini membahas uji toksisitas ekstrak bunga telang dengan metode Brine Shrimp Lethality Test untuk skrining awal aktivitas antikanker. Ekstrak bunga telang akan diekstraksi dan diuji toksisitasnya menggunakan udang air asin untuk mengetahui potensi sebagai obat antikanker.

Diunggah oleh

Irsan Rizqi 18
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

UJI TOKSISITAS EKSTRAK BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L)


SEBAGAI SKRINING AWAL ANTIKANKER DENGAN METODE Brine
Shrimp Lethality Test (BSLT)

Oleh
AJI DARTA SANDIADI
E1021018

PROGRAM STUDI FARMASI PROGRAM SARJANA (S1)


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI
2023
SKRIPSI

UJI TOKSISITAS EKSTRAK BUNGA TELANG (Clitoria Ternatea L)


SEBAGAI SKRINING AWAL ANTIKANKER DENGAN METODE Brine
Shrimp Lethality Test (BSLT)

Disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi ([Link].)
Program Studi Farmasi Program Sarjana (S1)
Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Bhamada Slawi

Oleh
AJI DARTA SANDIADI
E1021018

PROGRAM STUDI FARMASI PROGRAM SARJANA (S1)


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI
2023
PERNYATAAN KEASLIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Nama : AJI DARTA SANDIADI
NIM : E1021018
Dengan ini menyatakan bahwa dalam penulisan skripsi ini saya:
1. Tidak menggunakan ide orang lain tanpa mampu mengembangkan dan
mempertanggungjawabkan.
2. Tidak melakukan plagiasi terhadap naskah karya orang lain.
3. Tidak menggunakan karya orang lain tanpa menyebutkan sumber aslinya
atau tanpa seizin pemilik karya.
4. Tidak melakukan pemanipulasian dan pemalsuan data.
5. Mengerjakan sendiri karya ini dan mampu bertanggung jawab atas karya
ini.
Jika dikemudian hari ada tuntutan dari pihak lain atas karya saya dan telah melalui
pembuktian yang dapat dipertanggungjawabkan, ternyata memang ditemukan bukti
bahwa saya telah melanggar pernyataan ini, maka saya siap dikenai sanksi
berdasarkan aturan yang berlaku di Universitas Bhamada Slawi.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya.

Slawi, Januari 2023


Yang Menyatakan

AJI DARTA SANDIADI

ii
PERSETUJUAN SKRIPSI

UJI TOKSISITAS EKSTRAK BUNGA TELANG (Clitoria Ternatea L)


SEBAGAI SKRINING AWAL ANTIKANKER DENGAN METODE Brine
Shrimp Lethality Test (BSLT)

Dipersiapkan dan disusun oleh:


Aji Darta Sandiadi
E1021018

Telah diperiksa dan disetujui oleh dosen pembimbing skripsi


Untuk dipertahankan dihadapan tim penguji pada tanggal …………

Dosen Pembimbing 1 Dosen Pembimbing 2

apt. Lailiana Garna Nurhidayati, [Link] apt. Arifina Fahamsya, [Link].


NIPY. 1993.[Link] NIPY. 1991.[Link]

iii
PENGESAHAN SKRIPSI

UJI TOKSISITAS EKSTRAK BUNGA TELANG (Clitoria Ternatea L)


SEBAGAI SKRINING AWAL ANTIKANKER DENGAN METODE Brine
Shrimp Lethality Test (BSLT)

Dipersiapkan dan disusun oleh:


Aji Darta Sandiadi
E1021018

Telah dipertahankan di depan Tim Penguji pada tanggal …………………..

Tim Penguji:
Ketua:

Ery Nourika Alfiraza, M. Sc ……………………


NIPY. 1992.[Link]
Anggota:
1. apt. Lailiana Garna Nurhudayati, M. Pharm. Sci 1. ………………
NIPY. 1993.[Link]
2. apt. Arifina Fahamsya, M. Sc 2. ………………..
NIPY. 1991.[Link]

iv
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan
hidayat-Nya penulis dapat meneyelesaikan penulisan skripsi ini. Naskah skripsi ini
disusun sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Farmasi di
Universitas Bhamada Slawi. Penulis menyadari tanpa bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak selama ini sangatlah sulit bagi penulis untuk menyelesaikan
proposal skripsi ini. Oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. Maufur, [Link]. selaku Rektor Universitas Bhamada Slawi.
2. Ibu Natiqotul Fatkhiyah, [Link]. selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Bhamada Slawi.
3. Ibu apt. Endang Istriningsih, [Link], Pharm. Selaku Ketua Prodi Farmasi
(S1) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Bhamada Slawi.
4. Ibu apt. Lailiana Garna Nurhidayati, [Link]. selaku Pembimbing 1
yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memberikan
bimbingan dan arahan dalam penyususnan skripsi ini.
5. Ibu apt. Arifina Fahamsya, [Link]. selaku pembimbing 2 yang juga telah
menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan serta
arahan dalam penyusunan skripsi ini.
6. Ibu Fiqih Kartikamurti, [Link]. selaku dosen pembimbing akademik yang
telah memberikan semangat serta motivasi kepada penulis sehingga penulis
mampu menyelesaikan skripsi ini.
7. Bapak dan Ibu dosen Prodi Farmasi (S1) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Bhamada Slawi yang telah memberikan bekal semangat dan motivasi kepada
penulis.
8. Staf Tenaga Kependidikan Prodi Farmasi (S1) Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Bhamada Slawi yang telah membantu dalam proses penyusunan
skripsi ini.
9. Keluarga tercinta Bapak Marwanto dan Ibu Tatik Sudarwati do’a, dukungan,
nasehat istri tercinta Intan Permanasari dan anak anakku yang saya
cintai,serta motivasi yang telah diberikan dalam penyusunan skripsi ini
10. Teman-teman Prodi Farmasi (S1) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Bhamada Slawi yang senantiasa bersama-sama menempuh kuliah,
memberikan motivasi, semangat, nasehat, saran serta berbagi ilmu sehingga
dapat menyelesaikan penyusunan proposal skripsi ini.
11. Serta semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan naskah skripsi ini masih jauh dari
kata sempurna sehingga kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan.
Akhir kata penulis berharap semoga Allah SWT membalas kebaikan kepada semua
pihak yang telah berkontribusi dalam penyusunan skripsi ini. Semoga skripsi ini
memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Slawi,

Penulis

v
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ........................................................................................ i
PERNYATAAN KEASLIAN .......................................................................... ii
PERSETUJUAN SKRIPSI .............................................................................. iii
PENGESAHAN SKRIPSI .............................................................................. iv
KATA PENGANTAR ..................................................................................... v
DAFTAR ISI .................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... viii
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... ix
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................. x
ABSTRAK ...................................................................................................... xi
ABSTRACT ...................................................................................................... xii
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................ 3
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................................. 3
1.4 Manfaat Penelitian ........................................................................... 4
BAB 2 TINJUAN PUSTAKA ......................................................................... 5
2.1 Bunga telang .................................................................................... 5
2.2 Ekstraksi .......................................................................................... 7
2.3 Skrining fitokimia ............................................................................ 10
2.4 Kanker ............................................................................................. 12
2.5 Uji aktivitas antikanker .................................................................... 13
2.6 Landasan Teori ................................................................................ 15
2.7 Hipotesis .......................................................................................... 16
BAB 3 METODE PENELITIAN..................................................................... 17
3.1 Waktu Penelitian.............................................................................. 17
3.2 Alat dan Bahan ................................................................................ 17
3.3 Rancangan Penelitian ...................................................................... 17
3.4 Prosedur Penelitian .......................................................................... 18
3.5 Analisis Data.................................................................................... 21
3.6 Skema jalannya penelitian ............................................................... 22
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................ 25
4.1 Determinasi tanaman ....................................................................... 25
4.2 Pembuatan ekstrak ........................................................................... 25
4.3 Standarisasi ekstrak ......................................................................... 28
4.4 Skrining fitokimia ............................................................................ 30
4.5 Uji toksisitas ................................................................................... 32
BAB 5 PENUTUP............................................................................................ 37
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 38

vi
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Kategori toksisitas berdasarkan LC50 .............................................. 14
Tabel 4.1 Hasil pembuatan simplisia bunga telang .......................................... 26
Tabel 4.2 Hasil pembuatan ekstrak Bungan telang .......................................... 28
Tabel 4.3 Hasil uji organoleptis ekstrak bunga telang ..................................... 28
Tabel 4.4 Hasil uji parameter non spesifik ekstrak bunga telang .................... 29
Tabel 4.5 Hasil uji skrining fitokimia ekstrak bunga telang ............................ 30
Tabel 4.6 Hasil mortalitas larva udang dengan ekstrak bunga telang .............. 34
Tabel 4.7 Perbandingan log konsentrasi dengan nilai probit ........................... 34
Tabel 4.8 Perhitungan LC50 ekstrak bunga telang ........................................... 35

vii
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Bunga telang (Clitoria ternatea L)............................................... 6
Gambar 4.1 Grafik perbandingan log konsentrasi dengan nilai probit ............ 35
Gambar 4.2 Proses BSLT ................................................................................. 36

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 surat pernyataan menggunakan Mendeley ................................... 40


Lampiran 2 surat pernyataan menggunakan Turnitin ..................................... 41
Lampiran 3 surat hasil determinasi tanaman ................................................... 42
Lampiran 4 perhitungan larutan uji ................................................................. 43
Lampiran 5 pembuatan ekstrak ....................................................................... 45
Lampiran 6 hasil skrining fitokimia ................................................................ 46
Lampiran 7 proses BSLT ................................................................................. 48
Lampiran 8 perhitungan LC50 ........................................................................ 49

ix
DAFTAR SINGKATAN

BSLT = Brine Shrimp Lethality Test


LC50 = Lethality Concentration
mg = miligram
mL = mililiter
pH = Power Of Hidrogen
ppm = Part per Millions

x
ABSTRAK

Kanker atau neoplasma merupakan perkembangan dari sel normal melalui


mekanisme pengatur pertumbuhan dan proliferasi pada sel normal. Upaya
pengobatan penyakit kanker meliputi kemoterapi, radiasi dan pembedahan.
Kemoterapi merupakan pilihan utama untuk menangani kanker, namun memiliki
kekurangan yang dapat menimbulkan beberapa efek samping berbahaya. Salah satu
tanaman yang dikembangkan untuk agen antikanker adalah bunga telang (Clitoria
ternetea L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas ekstrak bunga
telang (Clitoria Ternatea L) sebagai skrining awal antikanker dengan metode Brine
Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bunga
telang memiliki kandungan metabolit sekunder berupa alkaloid, flavanoid,
terpenoid, tannin dan saponin. Digunakan 10 larva Artemia salina Leach yang
berumur 48 jam sebagai larutan uji toksisitas. Hasil yang diperoleh yaitu LC50 dari
ekstrak bunga telang sebesar 73,96 ppm. Dari hasil tersebut dapat dikategorikan
bahwa ekstrak bunga telang memiliki potensi toksisitas yang bersifat toksik.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak bunga telang ini dapat dikembangkan
menjadi obat antikanker.

Kata kunci: Bunga telang, antikanker, BSLT

xi
ABSTRACT

Cancer or neoplasm is the development of normal cells through mechanisms that


regulate the growth and proliferation of normal cells. Efforts to treat cancer include
chemotherapy, radiation and surgery. Chemotherapy is the main option for treating
cancer, but it has drawbacks that can cause some dangerous side effects. One of
the plants developed as an anticancer agent is butterfly pea flower (Clitoria
ternetea L.). This study aims to determine the toxicity of butterfly pea flower extract
(Clitoria Ternatea L) as an initial anticancer screening using the Brine Shrimp
Lethality Test (BSLT) method. The results showed that the butterfly pea flower
extract contained secondary metabolites in the form of alkaloids, flavanoids,
terpenoids, tannins and saponins. 10 Artemia salina Leach larvae aged 48 hours
were used as a toxicity test solution. The results obtained were the LC50 of the
butterfly pea flower extract at 73.96 ppm. From these results it can be categorized
that the butterfly pea flower extract has the potential for toxicity which is toxic. So
it can be concluded that this butterfly pea flower extract can be developed into an
anticancer drug.

Keywords: Butterfly pea flower, anticancer, BSLT

xii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kanker atau neoplasma merupakan perkembangan dari sel normal melalui

mekanisme pengatur pertumbuhan dan proliferasi pada sel normal.

Berdasarkan bukti pendukung, konsep karsinogenesis merupakan proses yang

diregulasi secara genetik, proses awal disebut sebagai proses inisiasi yang

memerlukan paparan zat karsinogenik. Upaya pengobatan penyakit kanker

meliputi kemoterapi, radiasi dan pembedahan. Kemoterapi merupakan pilihan

utama untuk menangani kanker, namun memiliki kekurangan yang dapat

menimbulkan beberapa efek samping berbahaya. Di samping itu, sel MCF-7

merupakan salah satu sel kanker payudara yang memiliki karakteristik resisten

terhadap agen kemoterapi. Oleh karena itu, upaya pengobatan kanker yang

lebih aman sangat perlu untuk dikembangkan. Salah satu upaya pengobatan

yang masih terus dikembangkan adalah penggunaan agen antikanker yang

berasal dari bahan alam (Muis et al., 2018).

Indonesia merupakan negara dengan keanekaragaman hayati yang sangat

melimpah. Keanekaragaman ini bermanfaat salah satunya sebagai tanaman

obat. Tanaman herbal telah menjadi sumber dari berbagai macam komponen

aktif yang telah diteliti dan digunakan secara luas selama bertahun-tahun.

Tanaman obat telah banyak digunakan sebagai usaha preventif dan kuratif

untuk mengobati berbagai penyakit. Berbagai tanaman herbal telah banyak

dikembangkan secara luas dan diketahui memiliki efek terapetik untuk

1
2

inflamasi. Penelitian dan pengembangan tanaman herbal telah menunjukkan

potensinya sebagai sumber obat baru (Waluyo et al., 2021).

Bunga telang tidak hanya dimanfaatkan sebagai tanaman hias tetapi juga

sebagai obat tradisional. Bunga telang (Clitoria ternatea L.) diketahui

mengandung flavonoid, antosianin, flavonol glikosida, kaempferol glikosida,

quersetin glikosida, mirisetin glikosida, quersetin dan mirisetin diisolasi dari

kelopak bunga. Selain itu bunga telang juga mengandung terpenoid, tannin dan

steroid(Andriani & Murtisiwi, 2020). Bunga telang (Clitoria ternatea)

memiliki potensi farmakologis yang luas. Potensi farmakologis tersebut antara

lain adalah komponen bioaktif antosianin yang menunjukkan sifat anti

hipertensi, antioksidan, antibakteri dan antimikroba, antiinflamasi dan

analgestik, antiparasit dan antisida, anti alergi, antidiabetes, antikanker,

antihistamin, anti aterosklerosis, immunodulator dan melindungi sistem

kardiovaskuler dari kerusakan dan banyak manfaat lainnya (Lathifah, 2018).

Salah satu metode awal untuk uji sitotoksik adalah Brine Shrimp Lethality

Test (BSLT). BSLT merupakan salah satu metode yang banyak digunakan

untuk pencarian senyawa antikanker baru yang berasal dari tanaman. Metode

BSLT merupakan salah satu metode untuk skrining tanaman obat yang

berpotensi, telah terbukti memiliki korelasi dengan aktivitas antikanker. Selain

itu, metode ini juga mudah dikerjakan, murah, singkat, mudah dikembangkan

serta tidak ada aturan etika dalam penggunaan bahan uji, cepat, dan cukup

akurat. Nilai mortalitas ditentukan dengan menggunakan analisa probit untuk

menentukan nilai toksisitas menggunakan Lethal Consentration


3

(LC50)(Noviyanty et al., 2021). Berdasarkan uraian diatas maka peneliti

tertarik untuk melakukan penelitian mengenai uji toksisitas ekstrak bunga

telang (Clitoria Ternatea L) sebagai skrining awal antikanker dengan metode

Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

1.2.1 Bagaimanakah toksisitas ekstrak bunga telang (Clitoria Ternatea L)

sebagai skrining awal antikanker dengan metode Brine Shrimp

Lethality Test (BSLT)?

1.2.2 Berapakah nilai LC50 dari ekstrak bunga telang (Clitoria Ternatea L)

sebagai skrining awal antikanker dengan metode Brine Shrimp

Lethality Test (BSLT)?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan penelitian ini yaitu

1.3.1 Mengetahui bagaimana toksisitas ekstrak bunga telang (Clitoria

Ternatea L) sebagai skrining awal antikanker dengan metode Brine

Shrimp Lethality Test (BSLT).

1.3.2 Mengetahui Berapa nilai LC50 dari ekstrak bunga telang (Clitoria

Ternatea L) sebagai skrining awal antikanker dengan metode Brine

Shrimp Lethality Test (BSLT).


4

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat bagi penulis

[Link] Mampu mengetahui bagaimana toksisitas ekstrak bunga telang

(Clitoria Ternatea L) sebagai skrining awal antikanker dengan

metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)?

[Link] Mampu mengetahui berapa nilai LC50 dari ekstrak bunga

telang (Clitoria Ternatea L) sebagai skrining awal antikanker

dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).

1.4.2 Manfaat bagi masyarakat

[Link] Sebagai sumber pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan

ekstrak bunga telang (Clitoria Ternatea L).

[Link] Sebagai alternatif pengobatan antikanker berbasis bahan alam


BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Bunga Telang (Clitoria Ternatea L)
[Link] Sejarah Bunga Telang

Tanaman Clitoria ternatea L yang mempunyai nama umum

kembang telang merupakan tanaman berbentuk perdu tahunan.

Tanaman Clitoria ternatea L termasuk tumbuhan monokotil dan

mempunyai bunga berwarna biru, putih, dan coklat. Bunga telang atau

clitoria ternatea adalah leguminosa yang berkualitas tinggi dan

merupakan jenis kacang – kacangan yang kaya akan protein, dijuluki

alfafa tropis, sering disebut pula sebagai bank protein yang dapat

tumbuh dengan biaya produksi yang rendah. Tanaman Clitoria ternatea

L berasal dari Amerika Sealatan bagian tengah yang menyebar ke

daerah tropik sejak abad 19, terutama ke Asia Tenggara termasuk ke

Indonesia. Tanaman ini tumbuh subur di bawah sinar matahari penuh,

tetapi dapat tumbuh di bawah naungan seperti di perkebunan karet dan

kelapa (Lathifah, 2018).

[Link] Klasifikasi Bunga Telang

Tanaman Clitoria ternatea L yang mempunyai nama umum

kembang telang merupakan tanaman berbentuk perdu tahunan yang

memiliki perakaran yang dalam dan berkayu, batang agak menanjak

atau tegak dan memanjat dengan tinggi antara 20-90 cm, berbulu halus,

berdaun tigasampai lima, anak daun berbentuk lonjong, permukaan atas

5
6

tidak berbulu dan permukaan bawah dengan bulu yang tersebar,

pembungaan tandan di ketiak dengan 1-2 bunga, panjang tangkai daun

hingga 4 cm, kelopak daun berwarna ungu hingga hamper putih, buah

polong berbentuk memintal lonjong, tidak berbulu, berbiji 3-7, katup

cembung, biji bundar hingga bulat telur, berwarna kecoklatan

(Lathifah, 2018).

Gambar 2.1 Bunga telang (Clitoria ternatea L)

Berikut ini nama umum dan klasifikasi dari Clitoria ternatea L

(Lathifah, 2018):

Nama umum

Indonesia : Kembang telang

Inggris : Butterfly pea

Klasifikasi

Kingdom : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas : Rosidae


7

Ordo : Fabales

Famili : Fabaceae (suku polong – polongan)

Genus : Clitoria

Spesies : Clitoria ternatea L

Bunga telang Clitoria ternatea L memiliki potensi farmakologis

yang luas. Potensi farmakologis tersebut antara lain adalah komponen

bioaktif antosianin yang menunjukkan sifat antihipertensi, antioksidan,

antibakteri dan antimikroba, antiinflamasi, dan analgestik, antiparasit

dan antisida, anti alergi, antidiabetes, antikanker,antihistamin, anti

arteri aterosklerosis, immunodulator dan melindungi sistem

kardiovaskuler dari kerusakan dan banyak manfaat lainnya (Marpaung,

2020).

2.1.2 Ekstraksi
Ekstraksi adalah proses pemisahan satu atau lebih komponen dari suatu

campuran homogen menggunakan pelarut cair (solven) sebagai separating

agent. Pemilihan teknik ekstraksi bergantung pada bagian tanaman yang akan

disektraksi dan bahan aktif yang diinginkan. Oleh karena itu, sebelum ekstraksi

dilakukan perlu diperhatikan keseluruhan tujuan melakukan ekstraksi

(Endarini, 2016).

Tujuan dari suatu proses ekstraksi adalah untuk memperoleh suatu bahan

aktif yang tidak diketahui, memperoleh suatu bahan aktif yang sudah diketahui,

memperoleh sekelompok senyawa yang struktur sejenis, memperoleh semua

metabolit sekunder dari suatu bagian tanaman dengan spesies tertentu,

mengidentifikasi semua metabolit sekunder yang terdapat dalam suatu


8

mahluk hidup sebagai penanda kimia atau kajian metabolisme. Sebaiknya

untuk analisis fitokimia, harus digunakan jaringan tanaman yang segar. Teknik

ekstraksi yang ideal adalah teknik ekstraksi yang mampu mengekstraksi bahan

aktif yang diinginkan sebanyak mungkin, cepat, mudah dilakukan, murah,

ramah lingkungan dan hasil yang diperoleh selalu konsisten jika dilakukan

berulang-ulang (Endarini, 2016).

Salah satu metode yang digunakan untuk penemuan obat tradisional

adalah metode ekstraksi. Pemilihan metode ekstraksi tergantung pada sifat

bahan dan senyawa yang akan diisolasi. Sebelum memilih suatu metode,

target ekstraksi perlu ditentukan terlebih dahulu. Ada beberapa target

ekstraksi, diantaranya:

1. Senyawa bioaktif yang tidak diketahui

2. Senyawa yang diketahui ada pada suatu organisme

3. Sekelompok senyawa dalam suatu organisme yang berhubungan secara

struktural.

Semua senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh suatu sumber

tetapi tidak dihasilkan oleh sumber lain dengan kontrol yang berbeda, misalnya

dua jenis dalam marga yang sama atau jenis yang sama tetapi berada dalam

kondisi yang ber- beda. Identifikasi seluruh metabolit sekunder yang ada pada

suatu organisme untuk studi sidik jari kimiawi dan studi metabolomic (Julianto,

2019).

Proses ekstraksi khususnya untuk bahan yang berasal dari tumbuhan

adalah sebagai berikut:


9

1. Pengelompokan bagian tumbuhan (daun, bunga, dll), pengeringan dan

penggilingan bagian tumbuhan.

2. Pemilihan pelarut

3. Pelarut polar: air, etanol, metanol, dan sebagainya.

4. Pelarut semipolar: etil asetat, diklorometan, dan sebagainya.

5. Pelarut nonpolar: n-heksan, petroleum eter, kloroform, dan sebagainya.

Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan.

Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri. Dalam maserasi,

bubuk kasar sampel tumbuhan disimpan dan dibiarkan mengalami kontak

dengan pelarut dalam wadah tertutup untuk jangka waktu tertentu yang disertai

dengan pengadukan hingga komponen sampel tumbuhan ada yang larut.

Pelarut yang digunakan adalah alkohol atau kadang-kadang juga air (Julianto,

2019).

Campuran ini kemudian disaring dan ampas yang diperoleh ditekan

untuk memperoleh bagian cairnya saja. Cairan yang diperoleh kemudian

dijernihkan dengan penyaringan atau dekantasi setelah dibiarkan selama waktu

tertentu. Keuntungan proses maserasi diantaranya adalah bahwa bagian

tanaman yang akan diekstraksi tidak harus dalam wujud serbuk yang halus,

tidak diperlukan keahlian khusus dan lebih sedikit kehilangan alkohol sebagai

pelarut seperti pada proses perkolasi atau sokhletasi. Sedangkan kerugian

proses maserasi adalah perlunya dilakukan penggojogan/pengadukan,

pengepresan dan penyaringan, terjadinya residu pelarut di dalam ampas, serta

mutu produk akhir yang tidak konsisten. Setelah proses ekstraksi, pelarut
10

dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Kerugian utama dari metode

maserasi ini adalah memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup

banyak, dan besar kemungkinan beberapa senyawa hilang. Selain itu, beberapa

senyawa mungkin saja sulit diekstraksi pada suhu kamar (Endarini, 2016).

2.1.3 Skrining Fitokimia

Fitokimia berasal dari kata phyto yang berarti tumbuhan dan chemicals

yang mempunyai arti bahan-bahan kimia. Fitokimia merupakan bahan atau

senyawa kimia non nutrisi yang dihasilkan oleh suatu tumbuhan. Skrining

fitokimia yaitu tahap pendahuluan dalam suatu penelitian fitokimia dengan

tujuan untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa metabolit

sekunder yang terkandung dalam tanaman yang akan diteliti. Skrining

fitokimia dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi bioaktif yang belum

tampak melalui pemeriksaan atau tes yang dapat dengan cepat memisahkan

antara bahan alam yang tidak mengandung fitokimia tertentu dengan bahan

alam yang mengandung fitokimia tertentu (Minarno, 2015).

Metode yang dilakukan yakni dengan melihat reaksi pengujian warna

terhadap dengan suatu pereaksi kimia. Hal yang terpenting dalam melakukan

skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metode ekstraksi yang

digunakan. Skrining fitokimia yang dilakukan meliputi pemeriksaan

kandungan kimia ekstrak termasuk diantaranya alkaloid, flavonoid, saponin,

tanin, fenol, steroid/terpenoid (Hanani, 2016).


11

[Link] Alkaloid

Alkaloid adalah senyawa metabolit sekunder yang mengandung

unsur nitrogen yang mempunyai cincin heterosiklik dan bersifat basa.

Pada tumbuhan alkaloid umumnya berbentuk garam yang dapat larut

dalam pelarut polar, sedangkan dalam bentuk basa lebih larut dalam

pelarut non polar (Hanani, 2016).

[Link] Flavonoid
Flavonoid adalah suatu golongan polifenol terbesar yang

memiliki struktur C6-C3-C6 yang mengandung dua atau lebih gugus

hidroksil dan sering ditemukan diberbagai macam tumbuhan dalam

bentuk glikosidanya atau gugus gula bersenyawa (Hanani, 2016).

[Link] Saponin

Saponin adalah suatu senyawa yang memiliki bobot molekul

tinggi, tersebar dalam beberapa tumbuhan, merupakan bentuk glikosida

dengan molekul gula yang terikat dengan aglikon triterpen atau steroid.

Terpenoid umumnya berbentuk kristal tidak berwarna yang memiliki

gugus alkohol, aldehid dan asam karboksilat. Steroid adalah senyawa

triterpen yang terdapat dalam bentuk glikosida (Hanani, 2016).

[Link] Tanin
Tanin merupakan senyawa polifenol yang umunya terdapat dalam

tumbuhan, terutama pada jaringan kayu seperti kulit batang dan jaringan

lain seperti daun dan buah (Hanani, 2016).


12

[Link] Fenol
Fenol yaitu golongan metabolit sekunder yang memiliki ciri

adanya cincin aromatik dan satu atau dua gugus hidroksil (Hanani, 2016).

[Link] Terpenoid
Terpenoid yaitu kelompok senyawa kimia tersebar luas

keberadaannya dalam tumbuhan terpenoid memiliki persamaan secara

biosintesis yaitu berasal dari senyawa isopren (C 5H8). Terpenoid adalah

komponen utama dari minyak atsiri (Hanani, 2016).

[Link] Steroid
Steroid adalah terpenoid yang kerangka dasarnya terbentuk dari system

cincin siklopentana prehidrofenantrena. Steroid banyak dimanfaatkan

sebagai suatu obat (Minarno, 2015).

2.1.4 Kanker
Kanker adalah kondisi dimana terjadinya pertumbuhan sel yang

abnormal dan tak terkendali serta menekan sel – sel yang normal. Pertumbuhan

sel yang abnormal ini dapat membentuk benjolan yang umum dikenal dengan

istilah tumor. Kanker dapat muncul dan tumbuh di bagian tubuh manapun bisa

bermula dari paru, payudara, usus, bahkan darah. Penyebab utama dari kanker

yakni mutasi atau perubahan genetik pada sel. Mutasi genetik ini akan

membuat sel bertumbuh dan berkembang dengan abnormal. Sebenarnya, tubuh

memiliki mekanisme sendiri yang menghancurkan sel abnormal ini, namun

adakalanya mekanisme tersebut gagal dan sel abnormal akan tumbuh secara

tak terkendali (Siswandono, 2016).


13

Tumor adalah istilah umum untuk menunjukkan daya pertumbuhan tidak

normal dari masa atau jaringan yang tidak membahayakan kehidupan. Tumor

terbentuk karena adanya biosintesis sel, yaitu kekliruan urutan DNA karena

terpotong, tersubstitusi atau ada pengaturan kembali, adanya adisi integrasi

bahan genetic virus kedalam gen dan adanya perubaha ekspresi genetik. Tumor

yang membahayakan (malignant tumor) disebut kanker, sedang penyebab

kanker disebut karsinogen. Contoh senyawa karsinogenik antara lain adalah

virus-virus tertentu; senyawa kimia hidrokarbon polisiklik aromatik, seperti:

benzo (α) piren, amin aromatic (2-naftilamin, zat warna azo, aflatoksin,

dialkilnitrosamin); beberapa produk kima alami, seperti safrol, sikasin,

alkaloida pirolisidin dan β-asaron ; serta radiasi senyawa radioaktif, warna

sinar ultra-violet atau sinar x (Siswandono, 2016).

2.1.5 Uji aktivitas antikanker


[Link] BSLT
Bhrine Shrimp Letality Test adalah metode awal yang sering dipakai

untuk mengamati toksisitas senyawa. Metode BSLT mudah dikerjakan, murah,

cepat, dan cukup akurat. Penggunaan BSLT sebagai bioassay pertama kali

dilaporkan oleh Tarpley untuk menentukan beberapa residu insektisida,

menentukan senyawa anestetik, serta menentukan tingkat toksisitas air laut.

Selanjutnya, Meyer dkk, pada tahun 1982 menggunakan BSLT dalam

penapisan senyawa-senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak tanaman yang

ditunjukkan sebagai toksisitas terhadap larva Artemia Salina Leach

(Windyaswari et al., 2015)


14

Salah satu metode awal untuk uji sitotoksik adalah Brine Shrimp

Lethality Test (BSLT). BSLT merupakan salah satu metode yang banyak

digunakan untuk pencarian senyawa antikanker baru yang berasal dari

tanaman. Metode BSLT merupakan salah satu metode untuk skrining tanaman

obat yang berpotensi, telah terbukti memiliki korelasi dengan aktivitas

antikanker.

Suatu ektrak dikatakan toksik berdasarkan metode BSLT jika harga LC

<1000 ppm. Uji toksisitas dengan larva udang dapat menunjukkan korelasi

yang signifikan terhadap aksinya sebagai antitumor. Suatu ekstrak tanaman

bersifat toksik menurut harga LC50 dengan metode BSLT, maka tanaman

tersebut dapat dikembangkan untuk obat antikanker.

Tabel 2.1 Kategori toksisitas berdasarkan LC50


Nilai LC50 (ppm) Kategori
< 30 Sangat toksik
30-1.000 Toksik
>1.000 Tidak toksik
Selain itu, metode ini juga mudah dikerjakan, murah, singkat, mudah

dikembangkan serta tidak ada aturan etika dalam penggunaan bahan uji, cepat,

dan cukup akurat. Nilai mortalitas ditentukan dengan menggunakan analisa

probit untuk menentukan nilai toksisitas menggunakan Lethal Consentration

(LC50) (Noviyanty et al., 2021)

[Link] MTT (Microculture Tetrazolium)

MTT adalah molekul larut berwarna kuning, yang dapat digunakan

untuk menilai aktivitas enzimatik selular, berdasarkan pada kemampuan sel

hidup untuk mereduksi garam MTT. Adapun prinsip metode MTT adalah

reaksi redoks yang terjadi di dalam sel. Garam tetrazolium berwarna kuning
15

akan di reduksi di dalam sel yang mempunyai aktivitas metabolik. Mitokondria

dari sel hidup dan berperan penting dalam hal ini,adalah yang menghasilkan

enzim suksinat dehidroginase. Bila enzim suksinat dehidroginase tidak aktif

karena efek sitotoksik, maka formazan tidak akan terbentuk. Jumlah formazan

yang terbentuk dalam (berwarna ungu), proporsional dengan aktivitas

enzimatik. Jika intensitas warna ungu semakin besar, maka berarti jumlah sel

hidup semakin banyak (Tiabilitas sel tinggi) (Ramdani, 2020).

2.2 Landasan Teori


Bunga telang (Clitoria ternatea L) memiliki potensi farmakologis yang

luas. Potensi farmakologis tersebut antara lain adalah komponen bioaktif

antosianin yang menunjukkan sifat anti hipertensi, antioksidan, antibakteri dan

antimikroba, antiinflamasi dan analgestik, antiparasit dan antisida, anti alergi,

antidiabetes, antikanker,antihistamin, anti arteri aterosklerosis, immunodulator

dan melindungi sistem kardiovaskuler dari kerusakan dan banyak manfaat

lainnya (Andriani & Murtisiwi, 2020).

Salah satu metode awal untuk uji sitotoksik adalah Brine Shrimp

Lethality Test (BSLT). BSLT merupakan salah satu metode yang banyak

digunakan untuk pencarian senyawa antikanker baru yang berasal dari

tanaman. Metode BSLT merupakan salah satu metode untuk skrining tanaman

obat yang berpotensi, telah terbukti memiliki korelasi dengan aktivitas

antikanker. Selain itu, metode ini juga mudah dikerjakan, murah, singkat,

mudah dikembangkan serta tidak ada aturan etika dalam penggunaan bahan uji,

cepat, dan cukup akurat. Nilai mortalitas ditentukan dengan menggunakan


16

analisa probit untuk menentukan nilai toksisitas menggunakan Lethal

Consentration (LC50) (Noviyanty et al., 2021).

Penelitian yang dilakukan oleh Rahayu et al (2021), menyatakan bahwa

bunga telang (Clitoria ternatea L) mengandung senyawa metabolit sekunder

flavonoid. Senyawa flavonoid pada bunga telang memiliki aktivitas

antioksidan. Kandungan flavonoid salah satunya dipengaruhi oleh kondisi

geografis dan ketinggian tempat. Rendemen ekstrak etanol bunga telang dari

kabupaten Lombok Utara sebesar 19,44% dan Wonosobo sebesar 27,7%.

Kadar flavonoid total dari kabupaten Lombok Utara sebesar 59,37mgQE/g dan

Wonosobo sebesar 63,09 mgEQ/g. Ekstrak etanol bunga telang dari kabupaten

Lombok Utara dan Wonosobo memiliki aktivitas antioksidan sangat kuat

dengan nilai IC50 masing-masing sebesar 4,19 ppm dari Lombok Utara dan

3,08 ppm dari Wonosobo. (Rahayu et al., 2021). Berdasarkan penjelasan diatas

maka dilakukan penelitian tentang skrining awal antikanker ekstrak bunga

telang (Clitoria ternatea L).

2.3 Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah ekstrak bunga telang (Clitoria

ternatea L) memiliki efek toksisitas sebagai skrining awal antikanker dengan

metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT).


BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium bahan alam dan

Laboratorium Instrumen Prodi Farmasi S-1 Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Bhamada Slawi. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Juli –

Oktober 2022.

3.2 Alat dan Bahan


3.2.1 Alat yang digunakan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah rotary evaporator

(biobase), oven (gatra), grinder simplisia (local), ayakan no. 40 (local),

tabung reaksi (pyrex), beaker glas 100 mL (pyrex), beaker glass 1.000

mL (pyrex), dan labu ukur 10 mL (pyrex).

3.2.2 Bahan yang digunakan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bunga telang

(Clitoria ternatea L), etanol 96% (teknis), larva udang, NaCl (teknis),

ragi dan akuades.

3.3 Rancangan Penelitian


Jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental yang

menggunakan analisis kuantitatif dan kualitatif dengan variabel:

3.3.1 Variabel bebas

Variabel bebas atau disebut juga independent variables merupakan

suatu variabel yang memiliki risiko atau sebab dari suatu

penelitian.(Notoatmodjo, 2012) Variabel bebas dalam penelitian ini

adalah kadar ekstrak bunga telang (Clitoria Ternatea L).


17
18

3.3.2 Variabel terikat

Variabel terikat atau disebut dependent variables merupakan suatu

variabel yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Dengan kata lain,

variabel ini merupakan suatu akibat atau efek dari variabel

bebas.(Notoatmodjo, 2012). Variabel terikat dalam penelitian ini adalah

jumlah kematian larva udang dan nilai LC50.

3.3.3 Variabel terkendali

Variabel terikat merupakan variabel yang dapat mengganggu

variabel bebas dan variabel terikat. Adanya variabel ini dapat

mempengaruhi hasil penelitian. Variabel terkendali dalam penelitian ini

adalah sampel bunga telang (Clitoria ternatea L), metode ekstraksi,

BSLT.

3.4 Prosedur Penelitian


3.4.1 Pengumpulan bunga telang (Clitoria ternatea L)
Sampel bunga telang (Clitoria ternatea L) didapatkan dari daerah

Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan.

3.4.2 Determinasi Tanaman

Determinasi tanaman dilakukan dilakukan di Laboratorium bahan

alam Prodi Farmasi S1 Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Bhamada

Slawi.

3.4.3 Pembuatan ekstrak

Sampel bunga telang (Clitoria ternatea L) sebanyak 5.000 gram

yang diperoleh kemudian disortasi basah dengan cara dicuci dibawah

air mengalir dan dibersihkan dari kotoran yang menempel. Selanjutnya


19

simplisia basah ini ditiriskan dan dipotong kecil-kecil. Simplisia yang

telah dipotong kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan

ditempat yang kering dan terlindung dari cahaya matahari langsung.

Untuk mempercepat proses pengeringan simplisia yang telah diangin-

anginkan dioven pada suhu 50°C selama kurang lebih 2 hari (Waluyo

et al., 2021).

Simplisia yang telah kering kemudian dihaluskan menggunakan

grinder lalu diayak menggunakan ayakan no. 40 mesh agar

mendapatkan serbuk simplisia yang halus. Simplisia halus yang didapat

kemudian ditimbang agar memperoleh bobot 1.000 gram. Simplisia

serbuk yang diperoleh kemudian dimaserasi menggunakan pelarut

etanol 96% untuk mendapatkan ekstrak (Waluyo et al., 2021).

Proses maserasi simplisia ini dilakukan dengan cara merendam

simplisia kering menggunakan pelarut etanol 96% dengan

perbandingan 1:5. Maserasi dilakukan selama 5 hari dengan

pengadukan konstan per harinya selama 1 jam. Ekstrak kemudian

disaring menggunakan kain flannel dengan bantuan vakum. Filtrat yang

diperoleh disimpan dan residu yang didapat dimaserasi kembali (re-

maserasi) dengan perbandingan pelarut 1:3 selama 3 hari dan dilakukan

sebanyak 2 kali remaserasi. Saring kembali hasil remaserasi dan

kumpulkan filtratnya (Waluyo et al., 2021).

Filtrat yang diperoleh dari proses maserasi dan remaserasi

kemudian dipekatkan menggunakan rotary evaporator. Proses


20

pemekatan ekstrak ini dilakukan pada suhu 40°C. Filtrat yang tersisa

dari evaporator kemudian dikentalkan kembali dengan bantuan oven

pada suhu 40°C (Waluyo et al., 2021).

3.4.4 Standarisasi ekstrak

[Link] Parameter spesifik

Organoleptis merupakan parameter spesifik yang meliputi

penggunaan panca indera untuk mendeskripsikan bentuk

(padat,serbuk,kental,cair), warna, bau, rasa.

[Link] Parameter non spesifik

a. Kadar air

Ekstrak sebanyak 2 gram dimasukkan dan diratakan dalam

mengkok alumunium foil, kemudian dimasukkan kedalam

alat mouisture analyzer balance yang telah di set pada suhu

105ºC, dan otomatis langsung beroperasi Ketika ditutup.

Pemanas halogen akan menyala dan memulai memanaskan

ekstrak hingga bobot konstan, selama lampu masih

menyala maka berat ekstrak belum konstan, setelah lampu

mati berat ekstrak sudah konstan dan dilayar akan

ditampilkan kadar air dari ekstrak. Kadar air esktrak kental

yang baik antara 5-30% (Voight, 1994).

b. Kadar Abu total

Penetapan kadar abu sejumlah 2 gram ekstrak ditimbang

seksama dimasukkan ke dalam krus silikat yang telah


21

dipijarkan dan ditara, ratakan. Pijarkan kembali perlahan-

lahan hingga menjadi arang, tambahkan air panas

kemudian saring menggunkan kertas saring hingga bebas

abu. Masukan filtrat ke dalam krus, pijarkan hingga bobot

tetap dan timbang. Hitung kadar abu total terhadap bahan

yang telah dikeringkan.

(𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 )1 − (𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 )2


%𝐾𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑏𝑢 = 𝑥 100%
(𝐵𝑜𝑏𝑜𝑡 𝑒𝑘𝑠𝑡𝑟𝑎𝑘 )1

Keterangan :
(Bobot ekstrak)1 = Bobot ekstrak sebelum penetapan
(Bobot ekstrak)2 = Bobot ekstrak setelah penetapan
3.4.5 Analisis skrining fitokimia

[Link] Identifikasi alkaloid

Identifikasi Alkaloid dilakukan dengan metode Mayer,Wagner

dan Dragendorff. 0,5 gram ekstrak etanol bunga telang

ditambah dengan 1 mL HCl 2M dan 9mL akuades dipanaskan

selama 2 menit, didinginkan dan kemudian disaring. Filtrat

dibagi menjadi 3 bagian, masing-masing ditambah dengan

pereaksi Mayer, Wagner, dan Dragendorff (Setyowati et al.,

2014).

[Link] Identifikasi flavonoid

Identifikasi Flavonoid dilakukan dengan melarutkan ekstrak

etanol bunga telang dalam methanol panas dan menambahkan

0,1 gram serbuk Mg dan 5 tetes HCl pekat (Setyowati et al.,

2014).
22

[Link] Identifikasi terpenoid dan steroid

Identifikasi Terpenoid dan Steroid dilakukan dengan

melarutkan ekstrak etanol bunga telang dalam 0,5 mL

kloroform, kemudian menambahkan 0,5 mL anhidrida asetat

dan menetesi campuran dengan 2 mL H2SO4 pekat melalu

dinding tabung (Setyowati et al., 2014).

[Link] Identifikasi tanin

Identifikasi tanin dilakukan dengan melarutkan ekstrak etanol

bunga telang dalam 10 mL akuades kemudian disaring dan

filtrat ditambah dengan 3 tetes FeCl3 1% (Setyowati et al.,

2014).

[Link] Identifikasi saponin

Identifikasi saponin dilakukan dengan melarutkan ekstrak

etanol bunga telang dalam 10 mL air panas kemudian dikocok

kuat-kuat selama 10 detik (Setyowati et al., 2014).

3.4.6 Pembuatan Larutan

a. Air laut buatan

Satu liter aquadest dengan garam ikan sebanyak 35 gram agar

didapatkan tingkat salinitas 35% sebagai media penetasan telur

Artemia salina (Slamet et al., 2020).

b. Larutan induk

Dibuat larutan induk dengan konsentrasi 1000 ppm dengan cara

menimbang 100 mg ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L)


23

dan dilarutkan dalam labu ukur 100 mL menggunakan akuades.

Kemudian ditetapkan konsentrasi untuk perlakuan dan

replikasinya untuk masing-masing sampel (Slamet et al., 2020).

c. Larutan uji

Larutan uji kemudian diencerkan dalam labu ukur 10 mL

sehingga mendapatkan konsentrasi 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80

ppm, dan 100 ppm. (Slamet et al., 2020).

3.4.7 Penyiapan larva udang

a. Pemilihan telur Artemia salina Leach

Dilakukan dengan merendam telur dalam aquadest selama 1

jam, telur yang memiliki kualitas baik akan mengendap,

sedangkan telur yang kurang baik akan mengapung (Slamet et

al., 2020).

b. Penetasan Telur dan Penyiapan Larva Artemia salina Leach

Sebanyak 1 gram telur Artemia salina Leach. dimasukkan ke

dalam wadah yang berisi 1 L akuades. Nyalakan aerator,

letakkan di bawah pencahayaan lampu dan biarkan sampai

hingga larva berumur 48 jam. Ditambahkan larutan ragi 0,006%

atau setara dengan 6 mg ragi dalam 100 mL akuades setelah

larva Artemia salina Leach. berumur 24 jam (Slamet et al.,

2020).
24

3.4.8 Uji toksisitas

Masukkan larva Artemia salina Leach. yang telah berumur 48 jam

kedalam sub-kelompok perlakuan yang berisi masing-masing larutan

dengan tiga kali replikasi. Tabung uji kemudian diletakkan di bawah

penerangan selama 24 jam, dan dihitung jumlah larva Artemia salina

Leach yang mati (Slamet et al., 2020).

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑣𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑡𝑖


𝑀𝑜𝑟𝑡𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 = 𝑥 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑣𝑎 𝑢𝑗𝑖

3.5 Skema jalannya penelitian


Bunga telang (Clitoria ternatea L)

Determinasi, sortasi, pengeringan dan pembuatan serbuk


simplisia

Ekstraksi

Skrining fitokimia

Pembuatan larutan

Penyiapan larva udang

Uji toksisitas
Skema 3.1 Skema jalannya penelitian
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Determinasi Tanaman

Determinasi dilakukan pada seluruh bagian tanaman telang. Determinasi

dilakukan di laboratorium bahan alam Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu

Kesehatan, Universitas Bhamada Slawi. Tujuan dari dilakukannya determinasi

untuk mendapatkan akurasi dari tumbuhan yang digunakan untuk penelitian.

Hasil determinasi menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan adalah telang

(Clitoria ternatea L.) seperti pada lampiran 4.

4.2 Pembuatan Ekstrak


Proses pembuatan ekstrak diawali dengan pengumpulan sampel bunga

telang di wilayah kota Pekalongan, Jawa Tengah. Bunga yang diambil sebagai

sampel yaitu bunga dengan karakteristik memiliki kelopak bunga yang utuh,

berwarna ungu dan tidak rusak karena hama (Abriyani et al., 2022).

Bunga telang yang terkumpul kemudian dilakukan sortasi basah untuk

memisahkan daun dari partikel ataupun kotoran yang mungkin terbawa saat

proses pemanenan, selanjutnya dicuci memakai air mengalir yang bersih agar

membersihkan kotoran atau tanah yang masih menempel. Bunga telang yang

sudah bersih selanjutnya dikeringkan. Proses pengeringan bertujuan untuk

mengurangi kadar air bahan simplisia sehingga stabil untuk penyimpanan

jangka waktu lama dan tidak ditumbuhi jamur. Proses pengeringan dilakukan

dengan bantuan mesin dehydrator dengan suhu yang terjaga pada 50° C.

Tujuan dari pemilihan suhu ini agar kandungan metabolit sekunder dalam

bunga telang tidak rusak (Slamet et al., 2020).

25
26

Bunga telang yang telah dikeringkan kemudian dilakukan sortasi kering

agar simplisia terbebas dari bahan lain yang mungkin masih menempel. Setelah

dilakukan sortasi kering, proses selanjutnya yaitu penghalusan simplisia yang

dibantu oleh mesin penghalus. Tujuannya untuk menambah luas permukaan

tanaman dan menghancurkan dinding sel sehingga zat aktif yang terkandung

dalam daun dapat terekstraksi secara maksimal dengan pelarut yang dipakai.

Proses selanjutnya pengayakan serbuk menggunakan ayakan 40 mesh agar

mendapatkan serbuk dengan ukuran yang optimal sehingga lebih mudah

berkontak dengan banyak pelarut (Slamet et al., 2020).

Berat awal bunga telang yang diperoleh sebesar 5 kg. Berat setelah

pengeringan sebesar 1,2 kg. Selanjutnya setelah proses penghalusan didapat

berat serbuk simplisia didapatkan hasil bobot simplisia sebesar 918 gram.

Rendemen simplisia yang diperoleh sebesar 18,36 %.

Tabel 4.1 Hasil pembuatan simplisia bunga telang


Sampel Hasil

Berat awal simplisia 5.000 gram


Simplisia kering 1.200 gram
Serbuk simplisia 918 gram
% Rendemen 18,36 %

Tahap selanjutnya adalah ekstraksi dengan metode maserasi. Metode

maserasi dipilih karena kelebihan dari metode ekstraksi sel simplisia direndam

dalam pelarut, dan tekanan diluar dan dalam sel membelah membran dan

dinding sel, melarutkan senyawa metabolit skunder dalam pelarut. Selain itu

metode maserasi dilakukan di suhu kamar sehingga kerusakan atau degradasi

metabolit dapat diminimalisasikan. Etanol digunakan sebagai pelarut


27

dikarenakan etanol adalah pelarut universal dan dapat menarik senyawa

bersifat nonpolar, semi polar maupun polar. Maserasi dilakukan selama 5 hari

dimana keseimbangan tercapai antara zat yang diekstraksi didalam sel dan zat

yang masuk ke dalam cairan (Andriani & Murtisiwi, 2020).

Selama perendaman maserasi diaduk tiap 24 jam agar mempercepat

kontak antara pelarut dan sampel. Penyaringan dilakukan menggunakan vakum

agar memisahkan filtrat dan residu, filtrat yang didapatkan berwarna hijau

kehitaman. Residu kemudian dilakukan remaserasi atau pengulangan maserasi

dengan tujuan untuk menyari senyawa yang tersisa, remaserasi dilakukan

dalam 3 hari. Hasil filtrat remaserasi yang didapat dicampurkan dengan hasil

filtrat maserasi (Abriyani et al., 2022).

Filtrat yang sudah didapat selanjutnya diuapkan menggunakan rotary

evaporator bertujuan untuk memisahkan pelarut dengan senyawa kimia yang

tertarik oleh pelarut. Prinsip kerja dari evaporator yaitu pada labu alas bulat

tempat tampungan ekstrak akan mengalami pemanasan labu pada suhu 60°C

dan etanol akan menguap karena panas tersebut, selanjutnya menguap masuk

menuju kondensor dalam kondensor akan terjadi proses kondensasi dimana uap

akan mengembun jadi cairan karena adanya pendinginan didalam kondensor,

kemudian cairan akan masuk kedalam labu penampung sehingga ekstrak akan

terpisah dengan pelarutnya yaitu etanol. Hasil yang didapat larutan bening dan

larutan berwarna ungu kehitaman sedikit kental. Larutan yang berwarna ungu

kehitaman dipekatkan dengan diuapkan di atas waterbath agar mendapatkan


28

ekstrak kental yang memenuhi syarat kadar air ekstrak. Berat ekstrak yang

diperoleh sebesar 199,01 gram dengan kadar air sebesar 10,70 %.

Tabel 4.2 Hasil pembuatan ekstrak bunga telang


Sampel Hasil

Berat simplisia 918 gram


Berat ekstrak 199,01 gram
% Rendemen ekstrak 21,68 %
Kadar air ekstrak 10,70 %

4.3 Standarisasi Ekstrak

Standarisasi dilakukan agar bahan baku yamg digunakan memenuhi

persyaratan dalam Materia Medika Indonesia (Slamet et al., 2020). Pada

penelitian ini standarisasi meliputi aspek non spesifik dan spesik. Tujuan dari

standarisasi sebagai acuan bahwa ekstrak bunga telang (Clitoria ternetea L.)

telah memenuli persyaratan yang ditetapkan. Standarisasi yang dilakukan

meliputi aspek parameter non spesifik dan spesifik.

4.3.1. Parameter spesifik

Parameter spesifik yang diukur pada penelitian ini adalah

organoleptis dari ekstrak bunga telang dengan pelarut etanol. Dari

pengukuran didapatkan hasil seperti pada tabel 4.3

Tabel 4.3 Uji organoleptis ekstrak bunga telang


Parameter Uji Hasil
Bentuk Kental
Warna Ungu Kehitaman
Aroma Khas bunga telang
29

4.3.2. Parameter non spesifik

Parameter non spesifik yang diukur dalam penelitian ini adalah

kadar air esktrak dan kadar abu total ekstrak bunga telang. Tujuan dari

pengujian ini adalah untuk menentukan seberapa besar kandungan air dan

kadar ekstrak setelah proses pengabuan. Hasil pengukuran dapat dilihat

pada tabel 4.4.

Tabel 4.4 Hasil uji parameter non spesifik ekstrak bunga telang
Parameter Uji Hasil
Kadar air 10,70 %
Kadar Abu 6,93 %
Tabel 4.4 menunjukkan hasil kadar air ekstrak bunga telang dan

kadar abu ekstrak bunga telang. Ekstrak bunga telang perlu dilakukan uji

kadar air agar tidak mudah ditumbuhi mikroorganisme seperti jamur dan

kapang selama penympanan yang lama. Kadar air ekstrak memiliki

tingkatan meliputi ekstrak kering < 10%, ekstrak kental 5-30%, ekstrak

cair > 30%. Kadar air pada ekstrak bunga telang sebesar 10,70 %. Hasil

ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa kadar air ekstrak

kental berkisar antara 5-30% (Voight, 1994).

Ekstrak bunga telang yang diperoleh dilakukan uji kadar abu.

Pengabuan dilakukan dalam tanur pada temperatur 600oC dimana senyawa

organik dan turunanya terdestruksi dan menguap sehingga tersisa unsur

mineral non organik. Hasil dari uji kadar abu total diperoleh sebesar

6,93%. Kadar abu ekstrak tidak boleh lebih dari 10,2%. Semakin tinggi

kadar abu maka mutu ekstrak semakin rendah (Slamet et al., 2020).
30

4.4 Skrining fitokimia

Skrining fitokimia merupakan langkah awal yang dilakukan untuk

mengetahui secara kualitatif kandungan metabolit sekunder yang terdapat

dalam ekstrak bunga telang. Hasil skrining fitokimia dapat dilihat dalam tabel

4.5

Tabel 4.5 Hasil Uji Skrining fitokimia ekstrak bunga telang


Uji senyawa Hasil Hasil uji Hasil penelitian lain

Alkaloid
- Pereaksi Mayer Endapan putih Endapan putih
- Pereaksi Wagner +
Warna coklat Warna coklat
- Pereaksi Dragendorf + Merah jingga Warna merah jingga
(Cahyaningsih et al., 2019)
+
Flavonoid + Merah kehitaman Merah (Abriyani et al.,
2022)
Terpenoid + Warna merah Merah (Abriyani et al.,
2022)
Tanin + Warna hijau Hijau (Cahyaningsih et al.,
2019)
Saponin + Berbusa Berbusa (Abriyani et al.,
2022)

Skrining fitokimia yang dilakukan terhadap bunga telang bertujuan untuk

mengetahui kandungan alkaloid, flavonoid, terpenoid, steroid, tannin dan

saponin. Hasil uji alkaloid pada ekstrak etanol bunga telang menggunakan 3

pereaksi menunjukkan hasil bahwa ekstrak bunga telang mengandung alkaloid.

Hal ini ditandai dengan adanya endapan putih kekuningan saat menggunakan

pereaksi mayer, endapan coklat saat ditambahkan pereaksi wagner dan

endapan merah saat ditambahkan pereaksi dragendorf. Terjadinya endapan ini

diperkirakan nitrogen pada alkaloid akan bereaksi dengan ion logam K+ dari
31

kalium tetraiodomerkuat (II) membentuk kompleks kalium-alkaloid yang

mengendap (Susanto et al., 2019).

Uji senyawa flavonoid pada ekstrak bunga telang (Clitoria ternetea L.)

menunjukkan hasil positif mengandung flavonoid. Hal ini ditunjukkan dengan

perubahan warna ekstrak dari hijau menjadi merah kehitam setelah

ditambahkan serbuk Mg dan HCl pekat. Perubahan warna ini terjadi karena

polihidroksi dari flavonon akan direduksi oleh logam magnesium dalam asam

klorida dalam larutan etanol sehingga membentuk garam benzopirilium yang

berwarna merah, kuning, atau disebut dengan garam flavylium (Abriyani et al.,

2022).

Uji senyawa terpenoid dan steroid dilakukan dengan penambahan larutan

klorofom, asam asetat dan asam sulfat jika positif mengandung terpenoid akan

terbentuk warna merah sedangkan steroid akan terbentuk warna hijau. Pada

hasil uji terpenoid dan steroid dari ekstrak, partis n-heksan, partisi etil asetat

dan partisi metanol terbentuk warna hijau yang artinya positif mengandung

steroid (Cahyaningsih et al., 2019). Senyawa steroid merupakan senyawa yang

mengandung cincin atau lingkar siklo pentano perhidro, sedangkan terpenoid

merupakan berbentuk komponen dari minyak atsiri (Abriyani et al., 2022).

Uji senyawa tannin dalam ekstrak bunga telang menghasilkan perubahan

warna menjadi hijau kehitaman saat ditambahkan dengan larutan FeCl 3 1%.

Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak bunga telang mengandung senyawa

tannin. Perubahan warna ini terjadi karena adanya interaksi antara larutan
32

FeCl3 1% yang bereaksi dengan salah satu gugus hidroksil yang ada pada

senyawa tannin (Cahyaningsih et al., 2019).

Hasil uji senyawa saponin menghasilkan buih dengan tinggi 0,7 cm dan

bertahan ± 10 menit kemudian saat ditambahkan dengan HCl buih masih

terbentuk. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol bunga telang

mengandung senyawa saponin. Uji saponin terjadi karena adanya reaksi

hidrolisis senyawa saponin didalam air saat dikocok dengan kuat (Abriyani et

al., 2022).

Hasil skrining fitokimia terhadap ekstrak bunga telang (Clitoria ternetea

L) diperoleh data kandungan metabolit sekundernya berupa alkaloid,

flavonoid, terpenoid, tanin dan saponin. Hasil ini sesuai dengan peneltian yang

dilakukan oleh Cahyaningsih et al., (2019) serta Abriyani et al., (2022) yang

menyatakan bahwa kandungan metabolit sekunder pada ekstrak bunga telang

(Clitorian ternetea L.) berupa alkaloid, flavonoid, terpenoid, tannin dan

saponin.

4.5 Uji Toksisitas

Uji toksisitas merupakan suatu uji untuk mendeteksi efek toksisk suatu

zat pada sistem biologi. Uji toksisitas dengan metode Brine Shrimp Lethality

Test menggunkana hewan uji larva Artemia salina Leach termasuk dalam uji

toksisitas akut. Uji toksisitas akut suatu pengujian untuk mendeteksi efek

toksik dalam jangka waktu yang singkat yaitu selama 24 jam setelah pemberian

zat uji. Efek toksik dapat diukur dengan cara menghitung nilai LC50 (Lethal

concentration 50%) atau kematian larva pada 50% populasi yang terpapar lebih
33

kecil atau sama dengan 1.000 ppm. Katagori toksisitas berdasarkan nilai LC50

yaitu sangat toksik kurang dari 30 ppm, toksik antara 30 - 1.000 ppm dan tidak

toksik kurang atau sama dengan 1.000 ppm (Noviyanty et al., 2021). Senyawa

yang berpotensi sebagai toksisitas merupakan senyawa fenolat, salah satu

faktor penting dalam aktivitas sitotoksik suatu senyawa dengan adanya gugus

OH yang terikat pada cincin aromatik, yang termasuk dalam senyawa fenolat

yaitu flavonoid dan tanin (Abriyani et al., 2022).

Larva Artemia salina Leach sebagai skrining awal anti kanker karena

lebih cepat, mudah, murah, dapat dipercaya dan digunakan sebagai bioassay

dalam mendeteksi senyawa toksik dari ekstrak tumbuhan (Slamet et al., 2020).

Larva artemia memiliki kesamaan respon dengan mamalia, memiliki DNA-

dependent RNA polymerase yang terdapat pada mamalia dan organisme yang

memiliki ouabaine senstive Na+ dan K+ dependent ATPase. RNA polimerase

dihambat makan DNA tidak dapat mensitesisi RNA maka RNA tidak dapat

terbentuk sehingga sintesis protein juga terhambat. Protein merupakan

kompeonen utaman penyusun sel yang berfungsi sebagai unsur strutural,

hormon, imonoglobulin dan berperan dalam transport oksigen (Abriyani et al.,

2022).

Pada penelitian yang dilakukan penetasan telur Artemia salina Leach

selama 48 jam karena pada umur larva 48 jam lebih lebih sensitif dan struktur

organ tubuh larva sudah terbentuk dengan lengkap. Pengujian dilakukan pada

ekstrak bunga telang diperoleh hasil seperti pada tabel 4.6


34

Tabel 4.6 Hasil uji mortalitas larva udang dengan ekstrak bunga telang
Konsentrasi Jumlah Jumlah Mortalitas Rata-rata
(ppm) Larva larva (%) mortalitas
yang mati uji (%)
0 10 0
20 1 10 10 10
2 10 20
1 10 10
40 3 10 30 20
2 10 20
2 10 20
60 3 10 30 30
4 10 40
3 10 30
80 8 10 80 50
4 10 40
6 10 60
100 8 10 80 70
7 10 70

Tabel 4.6 menampilkan hasil dari mortalitas dari seri konsentrasi

ekstrak bunga telang. Dari tabel 4.6 diperoleh hasil rata-rata mortalitas larva

pada konsentrasi 20, 40, 60, 80 dan 100 ppm masing-masing sebesar 10, 20,

30, 50 dan 70 %. Hasil ini kemudian dicocokkan dengan tabel probit sehingga

diperoleh hasil seperti pada tabel 4.7

Tabel 4.7 Perbandingan log konsentrasi dengan nilai probit


Konsentrasi Log Mortalitas (%) Nilai Probit
Konsentrasi
20 1,3 10 3,72
40 1,6 20 4,16
60 1,7 30 4,48
80 1,9 50 5,00
100 2,0 70 5,52
35

6
y = 2,5067x + 0,3147
5 R² = 0,9492
4
Nilai Probit

0
0 0,5 1 1,5 2 2,5
Log Konsentrasi

Gambar 4.1 Grafik perbandingan log konsentrasi dengan nilai probit

Tabel 4.7 menunjukkan nilai perbandingan antara log konsentrasi

dengan nilai probit. Dari tabel 4.7 data yang diperoleh dibuat grafik seperti

pada gambar 4.1 dan diperoleh hasil regresi linier y = 2,5067x + 0,3147 dengan

nilai korelasi sebesar 0,9492. Nilai LC50 ditentutakn dengan cara memasukkan

nilai y=5 ke dalam persamaan regresi linear kemudian dihitung antilognya.

Dari perhitungan tersebut diperoleh hasil pada tabel 4.8

Tabel 4.8 Hasil perhitungan LC50 ekstrak bunga telang


Regresi linier Nilai regresi LC50
Y = 2,5067x + 0,3147 1,869 73,96 ppm
Tabel 4.8 menunjukkan hasil perhitungan LC50 dari ekstrak bunga

telang. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai LC50 dari ekstrak bunga

telang sebesar 73,96 ppm. Dari hasil tersebut dapat dikategorikan bahwa

ekstrak bunga telang memiliki potensi toksisitas yang bersifat toksik. Sehingga

dapat disimpulkan bahwa ekstrak bunga telang ini dapat dikembangkan

menjadi obat antikanker.


36

Gambar 4.2 Proses BSLT

Penelitian yang saya lakukan dimaksudkan untuk menguji tingkat

toksisitas ekstrak bunga telang (Clitoria ternetea L) terhadap kematian larva

Artemia Selina Leach. Namun, dalam pelaksanaanya terdapat beberapa

kendala yaitu proses pengambilan sampel yang membutuhkan perlakuan

khusus, karena bunga telang memiliki ukuran yang relatif kecil dan kelopaknya

yang tipis sehingga mudah rusak saat pemanenan. Kendala lain yang ditemui

adalah proses penetasan telur Artemia Selina Leach. Penetasan membutuhkan

perlakuan khusus dan memerlukan waktu yang cukup lama. Perlu ada

penelitian lebih lanjut untuk mengetahui potensi antikanker dari bunga telang

(Clitoria ternetea L) dengan berbagai pelarut.


BAB 5
PENUTUP

5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan:

1. Ekstrak bunga telang (Clitoria Ternatea L) sebagai skrining awal

antikanker memiliki potensi toksisitas yang kuat dengan metode Brine

Shrimp Lethality Test (BSLT).

2. Nilai LC50 dari ekstrak bunga telang (Clitoria Ternatea L) sebagai skrining

awal antikanker dengan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)

sebesar 73,96 ppm.

5.2. Saran

Saran bagi penulis selanjutnya

1. Perlu adanya penelitian lebih lanjut terkait potensi antikanker dari ekstrak

bunga telang (Clitoria ternetea L) dengan berbagai macam pelarut.

2. Perlu dilakukan uji antikanker pada ekstrak bunga telang (Clitoria ternetea

L) dengan metode yang lain.

37
DAFTAR PUSTAKA

Abriyani, E., Yuniarsih, N., Fikayuniar, L., & Sulastri, D. (2022). Skrining
Fitokimia Ekstrak Daun Clitoria Ternatea L dan Uji Toksisitas Terhadap
Larva Udang Artemia salina. 5(2), 220–222.

Andriani, D., & Murtisiwi, L. (2020). Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol 70
% Bunga Telang ( Clitoria ternatea L ) dari Daerah Sleman dengan Metode
DPPH Antioxidant Activity Test of 70 % Ethanol Extract of Telang Flower (
Clitoria ternatea L ) from Sleman Area with DPPH Method. Jurnal Farmasi
Indonesia, 17(1), 70–76.

Cahyaningsih, E., Yuda, P. E. S. K., & Santoso, P. (2019). SKRINING


FITOKIMIA DAN UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL
BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.) DENGAN METODE
SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS. Jurnal Ilmiah Medicamento, 5(1), 51–57.
[Link]

Endarini, L. H. (2016). Farmakognosi dan Fitokimia. Pusdik SDM Kesehatan


Kementrian Kesehatan RI.

Hanani, E. (2016). Analisis Fitokimia. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Julianto, T. S. (2019). Fitokimia Tinjauan Metabolit Sekunder dan Skrining


Fitokimia. In Journal of Chemical Information and Modeling (Vol. 53, Issue
9).

Lathifah, A. (2018). Pengaruh Pemberian Teh Sari Bunga Telang (Clitoria ternatea)
Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Karyawan Poltekkes Kemenkes
Yogyakarta. Jurnal Kesehatan, 13–29.

Marpaung, A. M. (2020). Tinjauan manfaat bunga telang (clitoria ternatea l.) bagi
kesehatan manusia. Journal of Functional Food and Nutraceutical, 1(2), 63–
85. [Link]

Minarno, E. B. (2015). Skrining Fitokimia dan Kandungan Total Flavonoid pada


Buah Carica pubescens Lenne & K. Koch di Kawasan Bromo, Cangar, dan
Dataran Tinggi Dieng. El-Hayah, 5(2), 73–82.

Muis, F., Darma, G. C. E., & Hidayat, A. F. (2018). Formulasi Larutan


Nanopartikel Mineral Tanah Lempung Gunung Palasari serta Uji Aktivitas
Anti Kanker Metode Brine Shrimp Lethality Test ( Bslt ). 7–13.

Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. PT RINEKA CIPTA.

38
39

Noviyanty, Y., Bengkulu, F. A., Kesehatan, A., & Bangsa, H. (2021). Uji Potensi
Anti Kanker Ektrak Etanol Biji Kebiul (Caesalpinia Bonduc (L) Roxb)
Dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (Bslt). Oceana Biomedica
Journal, 4(2), 95–108.

Rahayu, S., Vifta, R. L., & Susilo, J. (2021). Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak
Etanol Bunga Telang (Clitoria Ternatea L.) Dari Kabupaten Lombok Utara
Dan Wonosobo Menggunakan Metode Frap. Generics : Journal of Research
in Pharmacy, 1(2), 2774–9967.

Ramdani, A. (2020). Uji Sitotoksik Ekstrak Dan Fraksi Dari Daun Gaharu (
Aquilaria) Menggunakan Metode MTT Assay.

Setyowati, W. A. E. S., Ariani, S. R. D., Ashadi, Mulyani, B., & Dan Rahmawati,
C. putri F. (2014). Skrining Fitokimia Dan Identifikasi Komponen Utama
Ekstrak Metanol Kulit Durian (Durio Zibethinus Murr.) Varietas Petruk.
Skrinning Fitokimia Dan Identifikasi Komponen Utama Ekstrak Metanol.

Siswandono. (2016). Kimia Medisinal (2nd ed.). Airlangga University Press.

Slamet, S., Laula, L., & Khanifah, M. (2020). Uji Toksisitas Fraksi N-Heksan dan
Etanol, Ekstrak Daun Dendrophthoe glabrescen (Benalu Jeruk) sebagai
Skrining Awal Anti-Kanker dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test
(BSLT). Proceeding of The URECOL, 52–57.

Susanto, A., Hardani, & Rahmawati, S. (2019). Uji Skrining Fitokimia Ekstrak
Etanol Bunga telang (Ipomoea Batatas L). ARTERI : Jurnal Ilmu Kesehatan,
1(1), 1–7. [Link]

Voight, R. (1994). Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gadjah Mada University


Press.

Waluyo, E., Bagus Pambudi, D., & Slamet. (2021). Uji Aktivitas Antiinflamasi
Ekstrak Etanol, Fraksi Metanol Dan Fraksi N-Heksan Bunga telang (Ipomoea
Batatas (L.) Lam.) Dengan Metode Stabilisasi Membran Sel Darah Merah
Secara In Vitro. 1–11.

Windyaswari, A. S., Faramayuda, F., & Ratnasari, D. (2015). Kajian Pendahuluan


Potensi Anti Kanker Dengan Uji Toksisitas Metode Brine Shrimp Test (Bslt)
Terhadap Ekstrak Etanol Dan Fraksi-Fraksi Dari Kulit Batang Kemiri
Aleurites Moluccana (L.) Willd. Kartika Jurnal Ilmiah Farmasi, 3(1), 36–42.
[Link]
40

Lampiran 1.

SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini:


Nama : AJI DARTA SANDIADI
NIM : E1021018
Judul Skripsi : UJI TOKSISITAS EKSTRAK BUNGA TELANG (Clitoria
ternatea L) SEBAGAI SKRINING AWAL ANTIKANKER
DENGAN METODE Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi saya telah menggunakan sistem manajemen
pustaka elektronik Mandeley.
Demikian surat peryataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya.

Slawi,
Mengetahui,
Mahasiswa Dosen Pembimbing 1

Aji Darta Sandiadi apt. Lailiana Garna Nurhidayati, [Link]


NIM. E1021018 NIPY. -
41

Lampiran 2.
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertandatangan di bawah ini:


Nama : AJI DARTA SANDIADI
NIM : E1021018
Judul Skripsi : UJI TOKSISITAS EKSTRAK BUNGA TELANG (Clitoria
ternatea L) SEBAGAI SKRINING AWAL ANTIKANKER
DENGAN METODE Brine Shrimp Lethality Test (BSLT)
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi saya telah menggunakan sistem deteksi
plagiarisme Turnitin.
Demikian surat peryataan ini kami buat dengan sebenar-benarnya.

Slawi,
Mengetahui,
Mahasiswa Dosen Pembimbing 1

Aji Darta Sandiadi apt. Lailiana Garna Nurhidayati, [Link]


NIM. E1021018 NIPY. -
42

Lampiran 3
Surat hasil determinasi tanaman
43

Lampiran 4. Perhitungan pengenceran ekstrak

Larutan induk = 1.000 ppm

Volume pembuatan = 10 mL

a. Larutan uji 20 ppm


𝑉1 𝑥 𝑀1 = 𝑉2 𝑥 𝑀2
𝑉1 𝑥 1.000 𝑝𝑝𝑚 = 10 𝑚𝐿 𝑥 20 𝑝𝑝𝑚
10 𝑚𝐿 𝑥 20 𝑝𝑝𝑚
𝑉1 =
1.000 𝑝𝑝𝑚
𝑉1 = 0,2 𝑚𝐿
𝑉1 = 200 µ𝐿
b. Larutan uji 40 ppm
𝑉1 𝑥 𝑀1 = 𝑉2 𝑥 𝑀2
𝑉1 𝑥 1.000 𝑝𝑝𝑚 = 10 𝑚𝐿 𝑥 40 𝑝𝑝𝑚
10 𝑚𝐿 𝑥 0 𝑝𝑝𝑚
𝑉1 =
1.000 𝑝𝑝𝑚
𝑉1 = 0,4 𝑚𝐿
𝑉1 = 200 µ𝐿
c. Larutan uji 60 ppm
𝑉1 𝑥 𝑀1 = 𝑉2 𝑥 𝑀2
𝑉1 𝑥 1.000 𝑝𝑝𝑚 = 10 𝑚𝐿 𝑥 60 𝑝𝑝𝑚
10 𝑚𝐿 𝑥 60 𝑝𝑝𝑚
𝑉1 =
1.000 𝑝𝑝𝑚
𝑉1 = 0,6 𝑚𝐿
𝑉1 = 600 µ𝐿
d. Larutan uji 80 ppm
𝑉1 𝑥 𝑀1 = 𝑉2 𝑥 𝑀2
𝑉1 𝑥 1.000 𝑝𝑝𝑚 = 10 𝑚𝐿 𝑥 80 𝑝𝑝𝑚
10 𝑚𝐿 𝑥 80 𝑝𝑝𝑚
𝑉1 =
1.000 𝑝𝑝𝑚
𝑉1 = 0,8 𝑚𝐿
𝑉1 = 800 µ𝐿
44

e. Larutan uji 100 ppm


𝑉1 𝑥 𝑀1 = 𝑉2 𝑥 𝑀2
𝑉1 𝑥 1.000 𝑝𝑝𝑚 = 10 𝑚𝐿 𝑥 20 𝑝𝑝𝑚
10 𝑚𝐿 𝑥 20 𝑝𝑝𝑚
𝑉1 =
1.000 𝑝𝑝𝑚
𝑉1 = 0,2 𝑚𝐿
𝑉1 = 200 µ𝐿
Keterangan
V1 = Volume yang akan dicari
M1 = Konsentrasi yang diketahui
V2 = Volume yang akan dibuat
M2 = Konsentrasi yang akan dibuat
45

Lampiran 5 Pembuatan ekstrak

Penyerbukan simplisia Penimbangan serbuk Proses maserasi


simplisia

Penyaringan hasil Pengentalan Ekstrak Esktrak kental Bungan


maserasi telang (Clitoria ternetea
L)
46

Lampiran 6 Hasil uji skrining fitokimia


Skrining Fitokimia Hasil Keterangan
Uji Alkaloid Positif

Uji Flavonoid Positif

Uji tanin Positif

Uji Terpenoid Positif


47

Uji Saponin Positif


48

Lampiran 7 Proses BSLT

Telur larva udang Alat penetasan telur Ragi


larva udang

Penetasan larva udang Larva udang yang telah Pembuatan larutan uji
menetas

Pengujian BSLT
49

Lampiran 8 Perhitungan LC50


Konsentrasi Jumlah Jumlah Mortalitas Rata-rata
(ppm) Larva larva (%) mortalitas
yang mati uji (%)
0 10 0
20 1 10 10 10
2 10 20
1 10 10
40 3 10 30 20
2 10 20
2 10 20
60 3 10 30 30
4 10 40
3 10 30
80 8 10 80 50
4 10 40
6 10 60
100 8 10 80 70
7 10 70
Perhitungan:
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑣𝑎 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑡𝑖
%𝑀𝑜𝑟𝑡𝑎𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 = 𝑥 100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑎𝑟𝑣𝑎 𝑢𝑗𝑖
➢ Konsentrasi 20 ppm

0
Replikasi 1: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 0%
1
Replikasi 2: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 10%
2
Replikasi 3: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 20%
➢ Konsentrasi 40 ppm

3
Replikasi 1: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 30%
2
Replikasi 2: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 20%
2
Replikasi 3: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 20%
50

➢ Konsentrasi 60 ppm

3
Replikasi 1: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 30%
4
Replikasi 2: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 40%
3
Replikasi 3: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 30%

➢ Konsentrasi 80 ppm

8
Replikasi 1: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 80%
4
Replikasi 2: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 40%
6
Replikasi 3: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 60%

➢ Konsentrasi 100 ppm

6
Replikasi 1: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 60%
8
Replikasi 2: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 80%
7
Replikasi 3: %mortalitas = 10 𝑥 100%
= 70%
Konsentrasi Log Mortalitas (%) Nilai Probit
Konsentrasi
20 1,3 10 3,72
40 1,6 20 4,16
60 1,7 30 4,48
80 1,9 50 5,00
100 2,0 70 5,52
51

Tabel probit

6
y = 2,5067x + 0,3147
5 R² = 0,9492

4
Nilai Probit

0
0 0,5 1 1,5 2 2,5
Log Konsentrasi

Perhitungan konsentrasi x
y = 2,5067x + 0,3147
5 = 2,5067x + 0,3147
5−0,3147
x= 2,5067
x = 1,869

LC50 = antilog x
= antilog(1,869)
LC50 = 73,96 ppm

Anda mungkin juga menyukai