0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan17 halaman

Persiapan Menikah: Aspek dan Langkahnya

Makalah ini membahas tentang persiapan menuju pernikahan, meliputi pengertian persiapan pernikahan, aspek-aspek yang perlu dipersiapkan, langkah-langkah memilih pasangan, dan permasalahan yang sering terjadi."

Diunggah oleh

Maulida Rahmah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan17 halaman

Persiapan Menikah: Aspek dan Langkahnya

Makalah ini membahas tentang persiapan menuju pernikahan, meliputi pengertian persiapan pernikahan, aspek-aspek yang perlu dipersiapkan, langkah-langkah memilih pasangan, dan permasalahan yang sering terjadi."

Diunggah oleh

Maulida Rahmah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERSIAPAN MENUJU PERNIKAHAN

(Makalah ini dibuat untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah BK Keluarga)


Dosen Pengampu Mata Kuliah: Dr. Farida Aryani, [Link]

Oleh ;
KELOMPOK 1
Akbar Gibran Yusri (210404500007)
Ilham Hasan (210404501038)
As’ad Fathan (210404501022)
Annisa Nurul (210404500024)
Nurul Awaliah (210404501034)
Raodatul Adawiyah (210404501032)
Nurul Asikin (210404500012)
Titin KS (210404502037)
Whal Fadilah S (210404502056)
Shintya Aisyah Maharani Borahima (210404500015)
Luthfiah Muthmainnah (210404502028)
Novita Anggraeni (210404502042)
Nur Amelia Torifuji (210404501042)

JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN


PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2023
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan
kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu
menyelesaikan tugas makalah ini dengan tepat waktu.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
“Persiapan Menuju Pernikahan” yang kami sajikan berdasarkan pengamatan
dari berbagai sumber informasi, referensi, dan berita. Makalah ini di susun oleh
penyusun dengan berbagai rintangan, baik itu yang datang dari diri penyusun
maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama
pertolongan dari Allah akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para Mahasiswa
Universitas Negeri Makassar. Saya sadar bahwa makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu, kepada dosen pembimbing saya
meminta masukannya demi perbaikan pembuatan makalah saya di masa yang akan
datang dan mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Makassar, 6 Maret 2023

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

A. Latar Belekang ........................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah...................................................................................... 2

C. Tujuan ......................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 3

A. Pengertian Persiapan Pernikahan ............................................................ 3

B. Aspek-Aspek Persiapan Pernikahan ........................................................ 4

C. Bentuk-Bentuk Kesulitan Belajar Akademik .......................................... 6

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persiapan Pernikahan ................ 6

E. Langkah-Langkah Yang Harus Ditempuh Dalam Memilih Calon


Pasangan............................................................................................................. 8

F. Permasalahan Yang Biasanya Terjadi Seputar Persiapan


Pernikahan ....................................................................................................... 10

BAB III PENUTUP ............................................................................................. 12

A. Kesimpulan ............................................................................................... 12

B. Saran ......................................................................................................... 12

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 12

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pernikahan adalah suatu hal yang membahagiakan. Karena dua insan yang
saling mencintai dapat berdampingan untuk membangun keluarga yang Sakinah,
melalui Mawaddah dan Warahmah. Bahkan tidak sedikit yang berjuang keras
agar bisa menikah dengan orang yang dicintainya. Selain itu, pernikahan juga
dapat menyambung tali silaturrahim antara kedua pasangan tersebut.
Pernikahan adalah salah satu asas pokok hidup yang paling utama dalam
pergaulan atau masyarakat yang sempurna. Pernikahan bertujuan untuk
mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.
Pernikahan itu bukan saja merupakan satu jalan yang amat mulia untuk mengatur
kehidupan rumah tangga dan keturunan, tetapi juga dapat dipandang sebagai satu
jalan menuju pintu perkenalan antara jenis kelamin yang berbeda, dan jalan
untuk menyampaikan pertolongan antara satu sama lain. Pernikahan juga
sebagai ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri
dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal
berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.
Pernikahan juga merupakan sebuah perjanjian perikatan antara seorang pria
dengan seorang wanita. Berbeda dengan perjanjian perdata lainnya seperti jual
beli, sewa menyewa dan lain-lain. Perkawinan adalah perjanjian suci untuk
membentuk keluarga yang bahagia dan kekal selama-lamanya, isi perjanjian
dalam perkawinan sudah ditentukan oleh syariat agama Islam sehingga para
pihak yang terlibat tidak bisa membuat ketentuan sendiri secara bebas.
Agar kehidupan pernikahan yang harmonis dapat tercipta maka perlu bagi
setiap pasangan memahami lebih dulu apa saja yang harus dipersiapkan sebelum
melangkah kenjenjang pernikahan, baik itu persipan dari segi fisik, psikologis,
ekonomi sampai yang kiranya nantinya diharapkan permasalahan-permasalahan
yang akan terjadi baik itu sebelum pernikahann maupun setelah pernikahan
individu yang bersangkutan dapat memakanai dan mengatasinya dengan baik.
Oleh karena itu penulis akan menyajikan pembahasan terkait hal- hal yang perlu

1
diperhatikan pada tahap persiapan pernikahan yang akan dibahas pada bab
berikutnya.
B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan persiapan pernikahan?


2. Apa saja aspek-aspek dalam persiapan pernikahan?
3. Apa saja bentuk-bentuk persiapan pernikahan?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi persiapan pernikahan?
5. Apa saja langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memilih calon
pasangan?
6. Apa saja permasalahan yang biasanya terjadi seputar persiapan pernikahan?

C. Tujuan

1. Untuk memahami maksud dari persiapan pernikahan


2. Untuk mengetahui aspek-aspek dalam persiapan pernikahan
3. Untuk memahami bentuk-bentuk persiapan pernikahan
4. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persiapan pernikahan
5. Untuk mengetahui langkah-langkah yang harus ditempuh dalam memilih
calon pasangan
6. Untuk mengetahui permasalahan yang biasanya terjadi seputar persiapan
pernikahan

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Persiapan Pernikahan


Kesiapan menikah adalah kesediaan individu untuk mempersiapkan diri
membentuk suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami
istri dengan tujuan membentuk keluarga dan rumah tangga yang kekal yang
diakui secara agama, hukum dan masyarakat. Kesiapan untuk menikah
merupakan suatu keadaan dimana seseorang telah siap secara fisik dan mental
untuk menikah, agar pernikahan dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan,
yaitu rumah tangga yang senantiasa bahagia.
Menurut Chaplin (2006), kesiapan atau persiapa adalah tingkat
perkembangan kematangan atau kedewasaan individu, sehingga akan
menguntungkan yang bersangkutan untuk mempraktikkan sesuatu. Menurut
Duvall dan Miller (1985), menikah adalah hubungan antara pria dan wanita yang
diakui dalam masyarakat, yang melibatkan hubungan seksual, adanya
penguasaan dan hak mengasuh anak dan saling mengetahui tugas masing-
masing sebagai suami dan sebagai istri. Selanjutnya menurut Papalia, Olds dan
Feldman (2001), pernikahan adalah ikatan yang terbentuk antara pria dan wanita
yang di dalamnya terdapat unsur keintiman, pertemanan, persahabatan, kasih
sayang, pemenuhan hasrat seksual, dan menjadi lebih matang. Pernikahan juga
merupakan awal dari terbentuknya keluarga dengan penyatuan dua individu
yang berlainan jenis serta lahirnya anak-anak.
Menurut Roesgiyanto (1999), kesiapan menikah adalah keadaan seseorang
yang sudah bersedia untuk menikah. Faktor yang mendukung kesiapan
seseorang untuk menikah adalah faktor mental dan psikologisnya. Sedangkan
menurut Sofia (2000), kesiapan menikah adalah rasa siap dan mantap untuk
menghadapi dan menjalani perkawinan yang ditunjang adanya kematangan
individu dalam berpikir dan berperilaku untuk menghadapi segala konsekuensi
yang paling nyata yaitu perubahan status individu dari lajang berganti menjadi
seorang suami atau seorang istri dan penyesuaian diri yang terus menerus.
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa kesiapan/persiapan
menikah adalah kesediaan individu untuk mempersiapkan diri membentuk suatu

3
ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai suami istri dengan
tujuan membentuk keluarga dan rumah tangga yang kekal yang diakui secara
agama, hukum dan masyarakat. Kesiapan untuk menikah merupakan suatu
keadaan dimana seseorang telah siap secara fisik dan mental untuk menikah,
agar pernikahan dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan, yaitu rumah
tangga yang senantiasa bahagia.
B. Aspek-Aspek Persiapan Pernikahan
Menurut Blood (1978), aspek-aspek dalam persiapan pernikahan terbagi
atas dua, yaitu kesiapan pribadi (personal) dan kesiapan situasi (ciscumstantial).
1. Kesiapan Pribadi
a. Kematangan Emosi
Kematangan emosi merupakan tanda bahwa seorang individu sudah
dewasa. Tanda bahwa seorang individu dewasa telah memiliki
kematangan emosi yang baik adalah mampu membangun dan
mempertahankan hubungan pribadi, empati, mampu mencintai dan
dicintai, mampu untuk memberi dan menerima, serta membangun
komitmen dalam jangka panjang.
b. Kesiapan Usia
Pada dasarnya usia dikaitkan dengan kedewasaan atau kematangan,
karena proses untuk menjadi individu yang matang atau dewasa
membutuhkan waktu sampai individu tersebut menjadi dewasa secara
emosi atau pribadi. Individu yang telah dewasa dari segi usia tentunya
akan memutuskan untuk menikah. Semakin tua usia seseorang maka
semakin dewasa pemikiran seseorang. Sebaliknya, semakin muda usia
seseorang maka semakin sulit untuk mengatasi emosi-emosinya.
c. Kematangan Sosial
Dapat dilihat dari dua hal, yaitu pengalaman berkencan dan pengalaman
hidup sendiri. Pengalaman berkencan yang dilihat dengan adanya
keinginan untuk mengabaikan lawan jenis yang tidak di kenal secara
dekat, namun membuat komitmen dalam membangun hubungan hanya
dengan seseorang yang khusus yang telah dikenal. Selain seseorang
telah cukup melakukan kencan, seseorang juga memerlukan waktu

4
untuk hidup mandiri sementara waktu tanpa harus bergantung kepada
orang tua.
d. Sehat secara Emosional
Permasalahan emosional yang dimiliki manusia di antaranya adalah
kecemasan, merasa tidak nyaman, dan curiga yang berlebihan. Jika hal
tersebut berada tetap pada diri seseorang, maka Ia akan kesulitan
menjalin hubungan dengan orang lain. Hal ini menjadi tanda dari
ketidak-matangan, dapat pula dilihat dari kesehariannya seperti bersikap
posesif, ketidakmampuan bertanggung jawab dan tidak dapat diprediksi
(kondisi mood yang berubah-ubah)
e. Kesiapan Model Peran
Banyak orang belajar bagaimana menjadi suami dan istri yang baik
dengan melihat figur ayah dan ibu mereka. Kehidupan pernikahan harus
dijalani dengan mengetahui apa saja peran individu yang telah menikah
sebagai suami istri. Orang tua yang memiliki figur suami dan istri yang
baik dapat mempengaruhi kesiapan menikah anak-anak mereka.
2. Kesiapan Situasi
a. Kesiapan Finansial
Tentu dalam mempersiapkan pernikahan diperlukan kesiapan finansial
yang cukup, bukan hanya pada saat acara pernikahan, namun untuk
kehidupan setelah menikah juga lebih penting. Untuk itu, hal ini perlu
dikomunikasikan sebelum memutuskan untuk menikah.
b. Kesiapan Waktu
Persiapan sebuah pernikahan akan berlangsung baik jika masing-masing
pasangan diberikan waktu untuk mempersiapkan segala hal, meliputi
persiapan sebelum maupun setelah pernikahan. Persiapan rencana yang
tergesa-tergesa akan mengarah pada persiapan pernikahan yang buruk
dan memberi dampak yang buruk pada awal-awal pernikahan. Untuk
itu, perlu kerja sama yang baik antara kedua belah pihak.

5
C. Bentuk-Bentuk Persiapan Pernikahan
Sebelum memutuskan untuk menikah, individu harus memiliki kesiapan
terlebih dahulu. Berikut ini terdapat beberapa bentuk kesiapan yang perlu
diperhatikan sebelum menikah, yaitu :
a. Kesiapan Fisik
Individu dianggap telah memiliki kematangan seksual sehingga mampu
untuk mendapatkan keturunan serta siap bertanggung jawab sebagai orang
tua.
b. Kesiapan sosial
Individu diharap siap untuk mengemban status baru sebagai suami atau istri
didalam masyarakat serta berusaha untuk bersosialisasi dan menerima adat
istiadat yang berlaku didalam masyarakat.
c. Kesiapan psikis
Individu harus paham tugasnya selaku suami ataupun istri pada
kehidupannya dalam rumah tangga serta tidak berlebihan menganggap
pernikahan menjadi sesuatu yang menakutkan untuk dijalani.
d. Kesiapan ekonomi
Individu mampu untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangganya tanpa
dukungan orang tua mereka. Individu juga diharapkan memiliki
perencanaan dan pengelolaan kenangan yang baik.
Dari penjelasan diatas, kesiapan fisik, kesiapan sosial, kesiapan fisik, dan
kesiapan ekonomi mendukung individu menjalankan peran baru pada kehidupan
rumah tangganya supaya bisa mewujudkan pernikahan yang selaras serta
bahagia.( Indraswari, A., 2022).
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Persiapan Pernikahan
Terdapat perbedaan antara kesiapan menikah bagi laki-laki dan kesiapan
menikah perempuan. Faktor kesiapan menikah laki-laki adalah kesiapan
finansial, kesiapan emosi, kesiapan peran, kesiapan fisik, kesiapan spiritual, dan
kesiapan sosial. Sedangkan Faktor kesiapan menikah untuk perempuan adalah
kesiapan emosi, kesiapan peran, kesiapan finansial dan kesiapan fisik, kesiapan
seksual, dan kesiapan spiritual (Sari F & Sunarti E, 2013)

6
Adapun menurut Walgito (2000), saat akan memasuki dunia pernikahan,
terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kesiapan untuk menikah, yaitu
sebagai berikut:
a. Faktor biologis
1. Kesehatan, bahwa keadaan kesehatan seseorang dalam hubungannya
dengan perkawinan merupakan satu faktor penting dan merupakan faktor
esensial dalam perkawinan.
2. Keturunan, masalah keturunan ini juga merupakan persoalan dalam
perkawinan, karena dalam perkawinan pasangan suami istri
menginginkan keturunan yang baik oleh karena itu masalah keturunan
ini menjadi hal yang perlu mendapat perhatian.
3. Sexual Fitness (orientasi sexsual), terkait dengan apakah individu dapat
melakukan hubungan seksual secara wajar atau tidak.
b. Faktor sosial ekonomi
Faktor ini merupakan faktor yang perlu mendapat pertimbangan
dalam perkawinan, sekalipun ada sementara pihak yang memandang hal ini
bukanlah merupakan suatu faktor yang mutlak, namun perlu
dipertimbangkan sebelum menikah.
c. Faktor agama dan kepercayaan
Dalam pernikahan faktor agama atau kepercayaan hendaknya menjadi
perhatian pasangan. Sebaiknya pasangan memiliki agama yang sama.
Dengan kesamaan agama maka akan meminimalkan munculnya perbedaan
yang terkait dengan agama tersebut.
d. Faktor psikologis
Kedewasaan dalam sisi psikologis merupakan faktor yang dituntut
dalam perkawinan. Hal-hal yang perlu mendapat perhatian adalah
kematangan emosi, toleransi atau kesiapan untuk berkorban, sikap saling
pengertian, saling mengerti akan kebutuhan masing-masing pihak, dapat
saling memberi dan menerima kasih sayang, sikap saling mempercayai,
adanya keterbukaan dalam komunikasi, kesiapan diri untuk lepas dari orang
tua untuk hidup mandiri.

7
Selanjutnya Wardhani & Mashoedi (2012:92) mengemukakan faktor-
faktor yang mempengaruhi kesiapan menikah, yaitu usia dan tingkat
kedewasaan, waktu pernikahan, motif untuk menikah, dan kesiapan untuk
memiliki hubungan seksual yang ekslusif, emansipasi emosional dari
orangtua, pendidikan dan kesiapan pekerjaan.
E. Langkah-Langkah Yang Harus Ditempuh Dalam Memilih Calon Pasangan
Peneliti memilih filter theory yang di kemukakan oleh Kerkchoff dan Davis
karena sesuai dengan penelitian ini, dalam filter theory terdapat proses pemilihan
pasangan hidup, yaitu:
1. Kedekatan Letak Geografis
Dalam memilih pasangan hidup kedekatan tempat tinggal, tempat kerja,
tempat kuliah, maupun tempat bermain dan berkumpul sangat menentukan.
Seberapa sering seseorang bertemu dengan pasangannya akan mempengaruhi
kedekatan dalam hubungannya. Awal bertemunya pasangan dan mulai
menjalin hubungan kedekatan sangat diperngaruhi oleh letak geografis dari
masing-masing orang. Menurut Olson dan DeFrain (Nurmala Febriani,
2010:19) dimasa sekarang ini terjadi penambahan jumlah calon pasangan
potensial bagi individu. Hal ini terjadi karena munculnya internet yang
memungkinkan individu untuk berinteraksi dengan orang-orang di luar dari
lingkungannya. Fakta tersebut menjadikan indvidu untuk tidak selalu
memilih pasangan berdasarkan kedekatan letak geografis. Dari hasil
penelitian diketahu subjek LS, YR, MM, dan GS memiliki kedekan tempat
kuliah. Namun karena perbedaan jenjang pendidikan YR dengan MP dan GS
dengan MT membuat mereka menjalani hubungan jarak jauh.
2. Daya Tarik
Daya Tarik disini dapat berupa daya tarik fisik maupun daya tarik
kepribadian. Seorang wanita akan lebih tertarik pada pria yang mapan
sehingga masa depan pernikahannya akan lebih terjamin. Sedangkan seorang
pria akan lebih tertarik pada wanita yang memiliki daya tarik fisik yang
menarik. Bagi seorang pria fisik wanita yang menarik menunjukan bahwa
wanita tersebut sehat sehingga mampu memberikan keturunan bagi
keluarganya. (Dian Wisnuwardhani, 2012: 82).

8
Daya tarik juga dapat lihat dari sisi kepribadiannya. Menurut Allport
(Fitri Yuniartiningtyas, 2013: 1) kepribadian adalah organisasi –organisasi
dinamis sistem-sistem psikofsik dalam individu yang turut menentukan cara-
cara yang khas dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Sedangkan
menurut Immanuel Kant kepribadian manusia adalah watak manusia yang
mempunyai arti kualitas- kualitas yang membedakan orang yang satu dengan
orang yang lainnya secara khas.
3. Memiliki Kesamaan
Pasangan yang akan menikah cenderung memilih pasangan yang
memiliki banyak kesamaan sehingga hubungan pernikahannya akan lebih
stabil. Kesamaan tersebut dapat dilihat dari latar belakang sosisal ekonomi,
pendidikan, budaya, dan agama. Latar belakang bagi keempat subjek
merupakan kriteria utama dalam menentukan pasangan hidup. Latar belakang
sosisl ekonomi, pendidikan dan budaya bagi keempat subjek memerlukan
pertimbangan lebih lanjut dan keempat subjek juga mempertimbangkan
pendapat orantua.
4. Memiliki Komitmen
Pada hubungan ini pasangan sudah memiliki komitmen untuk menjalin
hubungan yang lebih serius, kemudian mereka mulai menyesuaikan diri untuk
menunjukan kemampuan untuk dapat menjalani hubungan pernikahan
dengan pasangannya. Subjek saling menyesuaikan diri baik dengan calon
pasangan hidup, dengan keluarga, atau dengan keleuarga calon pasangan
hidup. Dari hasil penelitian terlihat bahwa subjek LS dan MM telah mengenal
keluarga calon pasangannya dengan baik dan telah terbuka dengan kedua
orangtua mengenai hubungannya. Sedangkan subjek YR dan GS masih
kurang terbuka dengan kedua orangtua mengenai hubungannya.
5. Usia dan Kedewasaan
Usia dan tingkat kedewasaan merupakan indikator yang penting dalam
mengevaluasi kesipaan untuk menikah. Keempat subjek memiliki kriteria
usia menikah sendiri. Subjek LS menginginkan menikah pada usia sekitar 24
tahun. Subjek YR memiliki kriteriai usia menikah sekitar 26 tahun. Subjek
MM mengininkan menikah di usia 25 tahun. Sedangkan subjek GS

9
mengingkan menikah di usia 27 tahun. Waktu pernikahan, Tidak berbeda
dengan usia pernikahan waktu menikah juga merupan faktor lain dalam
kesiapan untuk menikah. Kemudian motif untuk menikah juga menentukan
kesuksesan atau kegagalan dalam sebuah pernikahan. Sebagaian besar orang
menikah untuk alasan positif. Tetapi ada juga yang menikah karena terpaksa
oleh keadaan atau paksaan dari beberapa pihak. Keempat subjek pastinya
menginginkan menikah karena alasan positif dan karena alasan cinta
(Arifianti 2016).
F. Permasalahan Yang Biasanya Terjadi Seputar Persiapan Pernikahan
1. Kekhawatiran atas kelancaran hari H
Karena pernikahan merupakan momen yang sangat penting dalam hidup,
wajar kalau kita ingin agar momen tersebut sempurna untuk dikenang. Dan
keinginan tersebut seringkali menimbulkan kekhawatiran berlebihan dalam
diri kita. Semakin kita menginginkan hari pernikahan berjalan lancar tanpa
kendala, semakin sering pula kita memikirkan segala kemungkinan buruk
yang bisa terjadi saat akad nikah.
2. Perubahan status
Pergantian status dari lajang menjadi istri/suami seseorang begitu
hubungan diresmikan juga sering membuat calon mempelai merasa gamang.
Sebab pergantian status ini juga diikuti dengan perubahan besar dalam
hubungan dengan pasangan maupun dengan orang-orang di sekitar Anda.
Biasanya yang paling dikhawatirkan adalah berkurangnya kebebasan yang
dimiliki setelah menikah
3. Keraguan terhadap pasangan
Perubahan status setelah menikah yang diikuti dengan perubahan sifat
hubungan dengan pasangan biasanya juga mengantarkan kita pada pemikiran,
"Apakah aku siap menjalaninya dengan orang ini?" Kadang saat hari
pernikahan sudah di depan mata, setitik keraguan mengenai apakah dia benar-
benar orang yang tepat untuk dijadikan partner hidup mampir di benak kita.
4. Kekhawatiran terhadap malam pertama
Kekhawatiran dalam menghadapi malam pertama juga menjadi salah
satu sebab yang menjadikan calon mempelai stres, terutama kalau calon

10
mempelai sama-sama tidak memiliki pengalaman dalam seks. Kekhawatiran
terbesar masing-masing adalah tidak bisa menyenangkan pasangan,
meskipun sebenarnya itu adalah hal yang biasa.
5. Persiapan yang ribet
Persiapan pernikahan sudah pasti menimbulkan keruwetan tersendiri
bagi calon mempelai. Mulai dari mempersiapkan detail prosesi bersama
pasangan dan keluarga masing-masing biasanya menimbulkan konflik-
konflik kecil di antara pasangan dan keluarga.
6. Kurang komunikasi
Persiapan pernikahan yang menyita waktu dan energi seringkali
membuat calon mempelai jadi kehilangan waktu untuk berdua. Ini
menjadikan jalur komunikasi terhambat. Akibatnya pertengkaran pun jadi
menu rutin menjelang hari H.

11
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Individu hendaknya memiliki kesediaan diri dalam rangka membentuk ikatan


lahir batin dengan tujuan membentuk rumah tangga yang diakui secara agama,
hukum, dan masyarakat. Meskipun terdapat banyak faktor yang dapat
mempengaruhi persiapan pernikahan, Individu perlu memperhatikan beberapa
aspek sebelum melangsungkan pernikahan agar nantinya ketidakharmonisan dalam
rumah tangga dapat terhindarkan.
Permasalahan dalam persiapan pernikahan juga tidak jarang terjadi pada
individu, maka hendaknya individu menempuh beberapa langkah-langkah dalam
memilih calon pasangan (seperti yang telah dijelaskan pada bagian e), yakni
kedekatan letak geografis, daya tarik, memiliki kesamaan, memiliki komitmen dan
terkait dengan usia serta kedewasaan.
B. Saran

Semoga dengan tersusunnya tulisan makalah ini dapat berguna dan


bermanfaat bagi para pembaca dan penulis. Kritik dan saran akan selalu diterima
diterima oleh penulis guna sebagai perbaikan proses pembelajaran yang akan
mendatang.

DAFTAR PUSTAKA

12
Blood, M. 1978. Marriage. New York: The Free Milan Publishing.
Indraswari, A. (2022). Hubungan Antara Kematangan Emosi Dengan Kesiapan
Menikah Pada Dewasa Awal (Doctoral dissertation, Universitas Islam
Riau).
Sari, F. & Sunarti, E. (2013). Kesiapan Menikah pada Dewasa Muda dan
Pengaruhnya terhadap Usia Menikah. Jurnal Ilmiah Keluarga & Konseling.
(Vol. 6, No. 3), 143-153, ISSN: 1907 6037
Walgito, B. (2000). Psikologi Sosial: Suatu Pengantar. Yogyakarta: Andi Offset
Wardhani, W. D. & Mashoedi, S. F. (2012). Hubungan Interpersonal. Jakarta:
Salemba Humanika
Riadi, Muchlisin. (2022). Kesiapan Menikah (Pengertian, Aspek dan Bentuk).
Diakses pada 7/3/2023, dari
[Link]
Enoh & Jannah, Raudhatul Rossa. (2021). Kriteria memilih pasangan hidup
menurut hadits Riwayat imam Al-Bukhari dan implikasinya terhadap
Pendidikan pranikah, Vol 1, No 1, 51-26.
Halid, Wildan. (2020). Konseling Keluarga Islam berwawasan Gender. AL-
INSAN Vol 1 No. 1, Hal 105-109.
Arifianti, Dewi asri. ( 2016). PENENTU PEMILIHAN PASANGAN HIDUP PADA
MAHASISWA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI
YOGYAKARTA. E-Journal Bimbingan dan Konseling Edisi 11 Tahun ke 5.
Asitasari, W. (2021, September). BELAJAR BERDASAR REGULASI DIRI
DALAM PERSIAPAN PERNIKAHAN UNTUK MEMBANGUN
KELUARGA MASLAHAH. In Proceeding of Conference on
Strengthening Islamic Studies in The Digital Era (Vol. 1, No. 1, pp. 518-
534).
Chaplin, J.P. 2006. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: Raja Grafindo.
Duvall, E.M., dan Miller, B.C. 1985. Marriage and Family Development. New
York: Harper & Row.
Papalia, D.E., Old, S.W., dan Feldman, R.D. 2001. Perkembangan Manusia.
Jakarta: Salemba Humanika.

13
Roesgiyanto, H. 1999. Hubungan antara Religiusitas dengan Kesiapan Menikah
pada Mahawiswa Muslim di UGM. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Sofia, E. 2000. Hubungan antara Ketrampilan Sosial dan Toleransi Stres
denganKesiapan menuju Kehidupan Perkawinan. Yogyakarta: Fakultas
Psikologi UGM.
Arifianti, Dewi asri. ( 2016). PENENTU PEMILIHAN PASANGAN HIDUP PADA
MAHASISWA FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI
YOGYAKARTA. E-Journal Bimbingan dan Konseling Edisi 11 Tahun ke 5.

14

Anda mungkin juga menyukai