0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan79 halaman

Pedoman Pemantauan Lingkungan Jalan

Pedoman ini memberikan petunjuk tentang pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup untuk seluruh tahapan pembangunan jalan dan jembatan, mulai dari perencanaan, pra-konstruksi, konstruksi, pasca konstruksi hingga evaluasi pasca proyek. Pedoman ini mencakup dampak lingkungan, prosedur pemantauan, dan ketentuan pelaporan hasil pemantauan.

Diunggah oleh

ardiansyah bima
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan79 halaman

Pedoman Pemantauan Lingkungan Jalan

Pedoman ini memberikan petunjuk tentang pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup untuk seluruh tahapan pembangunan jalan dan jembatan, mulai dari perencanaan, pra-konstruksi, konstruksi, pasca konstruksi hingga evaluasi pasca proyek. Pedoman ini mencakup dampak lingkungan, prosedur pemantauan, dan ketentuan pelaporan hasil pemantauan.

Diunggah oleh

ardiansyah bima
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEDOMAN

013 / PW / 2004

Pemantauan pengelolaan lingkungan


hidup bidang jalan

Buku 4

DEPARTEMEN PERMUKIMAN DAN PRASARANA WILAYAH


DIREKTORAT JENDE RAL P RASA RANA WIL A YAH

Dalam rangka mendukung terwujudnya peningkatan kualitas pelaksanaan


pembangunan dibidang prasarana jalan, diperlukan aturan — aturan, pedoman dan
petunjuk yang sudah baku, sehingga hasil akhir yang didapat sudah tepat mutu, tepat
waktu dan tepat biaya.

Untuk ketertiban, keseragaman dan keakuratan dalam pelaksanaannya, maka


disusunlah buku - buku NSPM (Norma, Standar, Pedoman, dan Manual) di bidang
prasarana wilayah, sebagai acuan yang dapat melengkapi buku NSPM yang telah ada.

Dengan diterbitkannya buku Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan


Hidup Bidang Jalan ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan dan wawasan para
perencana, pengawas maupun para pelaksana mengenai pemantauan pengelolaan
lingkungan hidup bidang jalan

Apabila dalam pelaksanaannya dijumpai k ekurangan / k ekeliruan dari pedoman


ini, akan dilakukan penyempumaan di kemudian hari.

Jakarta, Oktober 2004

Direktur Jenderal Prasarana Wilayah

Hendrianto Notosoegondo

1
Qdoman Ling@ngan

Pendahuluan
Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah

hasil pemutakhiran dan pemantapan pedoman-pedoman yang telah ada sesuai

dengan peraturan dan perundang-undangan bidang lingkungan hidup serta

peraturanperaturan Iain terkait yang berlaku.

Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab
atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah
melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkn terjadi akibat
kegiatan pembangunan tersebut, sehingga terwujud proses pembangunan jalan
dan jembatan yang berwawasan lingkungan.

Adapun maksud pemantauan pengelolaan lingkungan hidup adalah untuk:

a) Mengetahui apakah pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan proyek
telah dilaksanakan atau belum;

b) Penilaian efektivitas atau kinerja pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan,


dalam rangka menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan;

c) Bahan masukan bagi perbaikan upaya pengelolaan lingkungan setanjutnya.

Pedoman ini dijabarkan dari peraturan perundangan yang bersifat nasional,


namun dapat dijumpai di beberapa daerah (baik di tingkat propinsi maupun
kabupaten/kota) ketentuan-ketentuan yang lebih ketat, khususnya bila sudah
diperdakan.

Secara garis besar, isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang cara pelaksanaan:
a) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan;
b) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi;
c) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi;
d) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi; dan
e) evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek.

Halaman
Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci khususnya mengenai formulir laporan hasil
pemantaun untuk tiap tahap kegiatan proyek tercantum pada lampiran.

ii
Qeđoman Lingkyngan Wup
cPenge6Gan Oiđanggaran

Daftar Isi
Prakata .

Pendahuluan . ii
Daftar Isi . ii i
Daftar Lampiran .
1 Ruang lingkup 1
2 Acuan Normatif 1
3 Istilah dan definisi 2
4 Aspek-aspek pemantauan pengelolaan lingkungan hidup 5

4.1 Dampak lingkungan hidup akjbat kegiatan proyekjalan dan alternatip


penanganannya . 5

4.2 Prosedur pelaksanaan pemantauan pelngelolaan lingkungan . 12


4.3 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan . 12
4.4 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap
pra-konstruksi .. 15
4.5 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi 16
4.6 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca
konstruksi ..... ..... ..... ..... ...... 18

4.7 Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca


proyek . 19

4.8 Metode pemantauan kualitas lingkungan . 21

4.9 Baku mutu lingkungan . 22

5 Dokumentasi dan pelaporan 23

5.1 Dokumentasi 23
5.2 Pelaporan ..... .... ..... .............. .. 23

6 Pelaksanaan pemantauan 24
6,1 Instansi pelaksana pemantauan .... .... . 24

6.2 Instansi pengawas pelaksanaan pemantauan 24


Halaman
Qedoman %mantauan Ling€ungan -Wup
(Bidang

6.3 Instansi penerima laporan hasil pemantauan ..... ..... .... ... 24

7 Pembiayaan . 25

7.1 Biaya pemantauan pada tahap perencanaan ..... ..... .... .... ..... ..... 25

i
i
i
'alan

emantauan pada tahap pra-konstriksi . 25


emantauan pada tahap konstruksi 25
emantauan pada tahap pasca konstruksi 25
valuasi lingkungan pada tahap evaluasi pasca royek..... 25
nen-komponen biaya pemantauan ..... ..... .... ................ 25

... 26

i
v
QengeG(aan garan

Daftar Lampiran
Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Bidang Jalan pada Tahap Perencanaan
Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Bidang Jalan pada Tahap Pra-konstruksi
Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Bidang Jalan pada Tahap Konstruksi
Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Bidang Jalan pada Tahap Pasca Konstruksi
Formulir Laporan Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Bidang
Jalan Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek
Baku Mutu Udara Ambien Nasional
Baku Tingkat Kebisingan
Baku Tingkat Getaran

Halaman
Qeđoman Lingkyngan Wup
Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas
Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan
Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di
Dataran
1 Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor
Matrik Pelaksanaan Pemantauan RKL dan RPL
3 Format Laporan Hasil Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL

Halaman
Cing@ngan Wup (Büang
Qedoman

(
hmantauan Qengetoâan 'aran

Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Lidup


Bidang Jalan

1 Ruang lingkup

Pedoman ini memberikan petunjuk dan penjelasan berupa ketentuan-ketentuan tentang

pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang diperlukan dalam

penyelenggaraan kegiatan pembangunan jalan dan jembatan. Lingkup pemantauan

tersebut mencakup seluruh tahapan siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan

mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap evaluasi pasca proyek, sesuai

dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.

Petunjuk dan ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi:

a) Dampak lingkungan hidup akjbat kegiatan proyekjalan dan alternatif


penanganannya;
b) Prosedur pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup
c) Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan;
d) Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi;
Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi;
f) Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi;
g) Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca proyek.

Pedoman pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini tidak


mencakup kegiatan pemantauan dan evaluasi manfaat (tujuan) proyek jalan bagi
masyarakat di sekitarnya, baik manfaat yang bersifat langsung maupun tidak
langsung.

Halaman 1
Qedoman %mantauan Ling€ungan -Wup (Bidang

2 Acuan normatif

Pedoman ini menggunakan acuan peraturan dan perundang-undangan tentang


lingkungan hidup, khususnya yang berkaitan erat dengan pemantauan lingkungan
hidup, dan peraturan-peraturan lain yang terkait, antara lain:

a) Undang — Undang No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;


b) Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup;
QengeCoLan

'dan

c) Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran


Udara

d) Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air;

e) Keputusan Kepala Bapedal No. KEP-205/BAPEDAL/07/1996 tentang Pedoman


Teknis Pengendalian Pencemaran Udara;

f) Keputusan Kepala Bapedal No. Kep-105 Tahun 1997 tentang Panduan


Pemantauan

Pelaksanaan RKL dan RPL;


g) Keputusan Kepala Bapedal No.09 Tahun 2000 Tentang Pedoman Penyusunan
AMDAL, khususnya Lampiran IV tentang Pedoman Penyusunan Rencana
Pemantauan Lingkungan;

h) Kepmen LH No. [Link]/10/1993 tentang Ambang Batas Emisi Gas


Buang
Kendaraan Bermotor;
i) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-13/MENLH/3/1995

tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak;

j) Keputusan Menteri Negara Ljngkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/11/1996


tentang Baku Tingkat Kebisingan;

Halaman 2
k) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-49/MENLH/11/1996
tentang Baku Tingkat Getaran;

l) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 43/MENKH/10/1996 tentang


Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan
Galian Golongan C Jenis Lepas di Daratan
m) Keputusan Menteri Negara Lingkungan No. 17 Tahun 2001 tentang Jenis
Rencana Usaha dan / atau Kegiatan yang wajib dilenglapi dengan AMDAL;

n) Keputusan Menteri Negara Lingkungan No.86 Tahun 2003 tetntang Pedoman


Pelaksanaan UKL dan UPL;

o) Keputusan Menteri Kimpraswil No.17/KPTS/M/2003 tentang Penetapan Jenis


Usaha dan / atau Kegiatan Bidang Kinpraswil yang wajib dilengkapi dengan UKL
dan UPL.

3 Istilah dan definisi

Dalam pedoman ini, digunakan definisi istilah-istilah yang telah baku digunakan
dalam peraturan dan perundang-undangan bidang jalan dan lingkungan hidup,
antara Iain:

3.1 jalan suatu prasarana transportasi jalan dalam bentuk apapun, meliputi segala
bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukan bagi lalu lintas;

3.2 jembatan prasarana transportasi darat yang menghubungkan antar badan jalan
karena terbelah oleh sungai atau talu lintas lainnya;

3.3 rambu-rambu lalu lintas tanda / simbul pemberitahuan, peringatan, anjuran


dan larangan bagi pemakai jalan;

Halaman 3
Qedoman %mantauan Ling€ungan -Wup (Bidang
3.4 marka jalan batas
pemisah lajur lalu lintas;

3.5 jaringan jalan satu kesatuan sistem transportasi lalu lintas jalan raya, terdiri dari
sistem jaringan primer dan sistem jaringan sekunder yang terjalin dalam hubungan
hirarki;

3,6 Ialu linbs pengguna


lajur jalan;

3.7 moda angkutan semua alat angkutan barang dan atau penumpang dari
berbagai jenis dan tipe;

3.8 analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) kajian mengenai dampak
besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penye!enggaraan usaha dan / atau kegiatan;

3,9 dampak besar dan penting perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar
yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan;

3.10 analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) telaahan secara cermat dan
mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau
kegiatan;

Halaman 4
Qe'oman Qemantauan Ling&ngan

3.11 rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) upaya penanganan dampak besar
dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha
dan / atau kegiatan;

3.12 rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) upaya pemantauan komponen

lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha

dan / atau kegiatan;

3.13 upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup
berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib
dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai
dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup;

3.14 pemrakarsa orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu
rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan;

3.15 masyarakat terkena dampak masyarakat yang akan merasakan dampak dari
adanya rencana usaha dan/atau kegiatan, terdiri dari masyarakat yang akan
mendapatlen manfaat dan masyarakat yang akan mengafami kerugian.

3.16 masyarakat terasing kelompok orang yang hidup dalam kesatuan-kesatuan


sosial budaya yang bersifat lokal dan terpencar serta kurang / belum terlibat dalam
jaringan dan pelayanan baik sosial, ekonomi, maupun politik nasional.

3.17 LARAP
Land acquisition and reset/ement action plan (rencana pelaksanaan pengadaan
tanah dan pemukjman kembali).

Halaman 5
#mantauan Qengetoraan Ling@ngan

4. Aspek-aspek pemantauan pengelolaan lingkungan hidup


bidang jalan

4.1 Dampak lingkungan hidup akibat kegiatan proyekjalan dan


alternatif penanganannya

Dampak kegiatan pembangunan jalan terhadap lingkungan hidup tergantung dari


banyaknya jenis dan besarnya kegiatan proyek serta kondisi (sensitifitas) lingkungan
di lokasi proyek dan sekitarnya yang mungkjn terkena dampak.

Bagi proyek-proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilenglapi ANDAL atau UKL
dan UPL, dampak kegiatan proyek tersebut seharusnya telah teridentifikasi pada
tahap perencanaan, melalui proses studi AMDAL atau UKL dan UPL. Dan bagaimana
cara penanganan dampak tersebut seharusnya telah ditetapkan dalam dokumen RKL
dan RPL atau UKL dan UPL proyek jalan yang bersangkutan.

Dokumen RKL dan RPL masing-masing berisi arahan tentang lingkup pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup seperti tercantum pada Kotak 4.1 dan Kotak 4.2.
Demikian juga dokumen UKL dan UPL pada dasarnya sama dengan dokumen RKL dan
RPL, walaupun dampak-dampak yang perlu ditangani tidak termasuk kategori besar
dan penting.

Pe!aksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup suatu proyek jalan yang


wajib dilengkapi AMDAL atau UKL dan UPL, harus mengacu pada dokumen-dokumen
RKL dan RPL atau UKL dan UPL proyek yang bersangkutan.

Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup proyek-proyek jalan yang tidak termasuk


kategori wajaib dilengkapi AMDAL maupun UKL dan UPL, bila diperlukan, dapat
mengacu pada SOP Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan.

Lingkup pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih terinci dan / atau
spesifik pada tahap pra-konstruksi tercantum dalam dokumen LARAP (bila ada).

Halaman 6
%mantauan Ling@ngan

Lingkup pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih terinci dan / atau
spesifik pada tahap konstruksi seharusnya tercantum dalam dokumen kontrak
pekerjaan konstruksi, yang berupa gambar-gambar desain dan spesjfikasi teknis
serta persyaratan pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang harus
dilaksanakan oleh kontraktor.
Apabila suatu proyek jalan yang akan dipantau ternyata tidak dilengkapi dengan
dokumen RKL dan RPL atau IJKL dan UPL, penentuan lingkup kegiatan pemantauan
pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan (siklus) proyek dapat
mengacu pada Tabel 4.1 di bawah ini, dengan tambahan penjelasan seperti
tercantum pada Butir
4.1.1 s/d 4.1.5.

4.1.1 Tahap perencanaan

Meskipun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang mengakjbatkan perubahan
kondisi lapangan, namun kegiatan survey / pengukuran untuk penentuan koridor /
rute jalan mungkin menimbu!kan dampak sosial berupa keresahan masyarakat, bila
mereka tidak mendapat informasi yang jelas tentang rencana proyek jalan yang
bersangkutan.

Demikjan juga penetapan rute jalan yang tidak mempertimbangkan aspek-aspek


lingkungan hidup, pada saat pelaksanaannya di lapangan mungkin akan
mengakibatl<an berbagai dampak yang sulit diatasi. Karena itu, untuk menghindari
dampak negatif terhadap lingkungan hidup sedini mungkin, diperlukan perencanaan
pengelolaan lingkungan melalui penerapan pertimbangan lingkungan dalam proses
perencanaan, sehingga terwujud rencana jaringan jalan yang layak lingkungan.

Halaman 7
#mantauan Qengetoraan Ling@ngan

Kotak 4.1
Ketentuan-ketentuan pokok tercantum dalam dokumen RKL:

1) Dampak besar dan penting yang harus ditangani;


2) Sumber dampak besar dan penting;
3) Tolok ukur dampak;
4) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan;
5) Upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup yang harus
dilakukan;
6) Lokasi pengelolaan lingkungan hidup;
7) Periode pengelolaan lingkungan hidup;
8) Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup;
9) Institusi pengelolaan lingkungan hidup, mencakup:
• Instansi pelaksana;
• Instansi pengawas; dan
• Instansi penerima laporan.
Kotak 4.2
Ketentuan-ketentuan pokok tercantum dalam dokumen
RPL:

1) Dampak beşar dan penting yang harus dipantau;


2) Sumber dampak beşar dan penting;
3) Parameter lingkungan hidup yang dipantau;
4) Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup;
5) Metode pemantauan lingkungan hidup, mencakup:
• metode pengumpulan dan analisis data;
• lokasi pemantauan lingkungan hidup;
• jangka waktu dan frekuensj pemantauan;
6) Institusi pemantauan lingkungan hidup, mencakup:
• Instansi pelaksana;
• Instansi pengawas; dan
Instansi penerima laporan.
4.1.2 Tahap pra-konstruksi (pengadaan tanah)

Sumber dampak pada tahap pra-konstruksi adalah pengadaan tanah, khususnya


untuk pembangunan jalan baru atau pelebaran jalan yang ada di fuar DAMDA.
Kegiatan ini dapat menimbulkan dampak sosial yang sangat sensitif, terutama kalau
tanah yang terkena proyek berupa pemukiman padat atau lahan usaha prodüktif,

Halaman 8
%mantauan Ling@ngan
yahn

4.1.3 Tahap konstruksi

Sumber dampak lingkungan pada tahap konstruksi terutama adalah pengoperasian


alatalat berat seperti buldozer, excavator, truk, stone crusher, AMPİ road roller, dsb.,
dalam pelaksanaan pekeöaan konstruksi jalan dan bangunan pelengkapnya.
Pengoperasian alat-alat berat menimbulkan dampak kebisingan dan polusi udara
akibat sebaran debu dan gas buang Sisa pembakaran bahan bakar.

Kegiatan konstruksi juga menimbulkan dampak berupa perubahan bentang alamı


pencemaran air, dan gangguan terhadap ketenteraman dan kesehatan masyarakat
sebagai dampak lanjutan dari dampak fisik-kimia.

Dampak negatif terhadap aspek sosial juga dapat terjadi sehubungan dengan
mobilisasi tenaga keöa dari luar lokasi proyek.

Halaman 9
emantauan Qengetohan Lingongan (Bidang

4.1.4 Tahap pasca konstruksi

Sumber dampak pada tahap pasca konstruksi adalah pengoperasian dan


pemeliharaan jalan. Dampak kegiatan pengoperasian jalan antara lain berupa
kecelakaan latu lintas yang mungkin terjadi akibat kegiatan masyarakat pengguna
jalan khususnya pengguna kendaraan bermotor. Keberadaan jalan juga dapat
merangsang kegiatan sektor lain berupa penggunaan lahan sepanjang koridor jalan
yang tidak terkendali, yang pada akhirnya menimbulkan dampak terhadap kinerja
jalan seperti kemacetan latu lintas.

Kegiatan yang Prakiraan dampak Alternatif Komponen


menimbulkan yang timbul pengelolaan (parameter/indikator)
dampak lingkungan lingkungan yang
erlu di antau

A. Tahap Perencanaan 1. Keresahan 1. Konsultasi 1.


1. Survey I pengukuran masyarakat masyarakat Persepsi
2. Penetapan rute jalan masyarakat
2. 2. 2.
Potensi dampak Penerapan
pada aspek- pertimbangan Kelayakan
aspek lingkungan dalam lingkungan
biogeofisik dan proses rencana kegiatan
sosial perencanaan proyek

B. Tahap Pra-konstruksi a. Keresahan a. a.


1. Pengadaan Tanah masyarakat Sosialisasi Persepsi
b. Ketidakpuasan b. b. masyarakat
Penetapan harga Keluhan
atas nilai
c. berdasarkan hasil masyarakat
kompensasi
c. musyawarah c.
Gangguan
Pembinaan Kondisi
terhadap
sosialekonomi sosialekonomi
pendapatan
penduduk yang penduduk
terkena proyek terkena proyek

Di samping itu, mungkin juga terjadi dampak lingkungan terhadap jalan seperti

longsor dan banjir yang mengakjbatkan kerusakan jalan sehingga laiu lintas

kendaraan terganggu.

Halaman 10
Qemantauan ffidup (Bidang
Kegiatan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan dampak berupa gangguan lalu
lintas, namun dampak tersebut hanya bersifat sementara.

Tabel 4.1
Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bidang Jalan

Halaman 11
'Pedoman (Pemantauan engeCoraan Ling@ngan ffidup (Bidang
ftdoman engeroCaan Lingf_gngan 'dan

C. Tahap Konstruksi a. Kecemburuan sosial a.l Tenaga kerja a. Tenaga kerja lokal
Persiapan Pekeäaan lokal terserap
Konstruksi a.2 diprioritaskan
1. Mobilisasi tenaga Sosialisasi pada
penduduk lokal
b. Peningkatan b.l b. Jumlah
kesempatan Pemberian seluruh
kerja (dampak informasi ttg tenaga kerja
positif) b.2 tenaga kerja yang terserap.
diperlukan
Pelatihan tenaga
kerja lokal
a. a.l a.
Kerusakan Kondisi jalan
prasarana ja! an a.2
Perbaikan jalan yang
2. Mobilisasi perafatan
rusak
berat
Membatasi
tonase peralatan
a. a. atau membatasi a.
Pencemaran udara tekanan gandar
Kualitas udara

Pembuatan jalan Penyiraman jalan


masuk secara berkala

Pelaksanaan Pekerjaan a. a. a.
Konstruksi Gangguan pd flora Liputan vegetasi
b. dan fauna; b. b.
a. Di lokasi proyek
Pencemaran udara Penghijauan
1. Pembersihan dan c.
c. c. Kualitas udara
penyiapan lahan (kandungan debu)
Pencemaran air Penyiraman secara
Kualitas air
permukaan.
Pembuatan
tanggul atau
d. saluran drainase d.
Gangguan pada sementara utk
Kondisi utilitas
utilitas umum pengendalian air
larian
a. a. a.
Pemindahan atau
perbaikan utilitas
b. Pencemaran udara b. b. Kualitas udara
(debu);
2. Pekerjaan tanah Pencemaran air Kualitas air
(galian I timbunan) Penyiraman secara
berkala
c.
c. Pembuatan c.

tanggul atau
Gangguan pd Kondisi aliran air
d.l saluran drainase
d. aliran air tanah d. permukaan dan
d.2 sementara utk
dan air pengendalian air air tanah

Halaman 12
Qemantauan ffidup (Bidang

larian
Pembuatan sistem
drainase
Perkuatan tebing
permukaan Pengendalian aliran
Gangguan stabilitas air tanah Erosi / longsor
yaran

Halaman 13
'Pedoman (Pemantauan engeCoraan Ling@ngan ffidup (Bidang

3. Pekerjaan badan e. Perubahan bentang d. Penataan lansekap e. Kondisi lansekap


jalan / lapis alam llansekap;
perkerasan

a. Pencemaran udara a. Penyiraman secara a. Kualitas udara


(debu) berkala

Pengaturan lalu b. Kondisi lalu lintas


Gangguan lalu
4. Pembuatan sistem b. lintas tintas
drainase b.2 Pemasangan rambu
Ialu lintas
a. Kondisi lalu lintas
a. Gangguan [alu a.1 Pengaturan lalu
5. Pemancangan tiang
lintas lintas
pancang
a.2 Pemasangan rambu
'alu \intas a. Kebisingan
a.
Kebisingan a.
Pemberitahuan
kpd masyarakat b. Getaran
6. Pekerjaan bangunan sekitar; dan
b.
bawah dan atas pengaturan jadwal
Getaran (kerusakan kerja
jembatan atau jalan
bangunan sekitar) b. Penggunaan bor a. Kondisi lalu lintas
layang
a.
7. Pembangunan
Gangguan lalu lintas
bangunan pelengkap
a.l Pengaturan lalu
lintas a. Kondisi talu lintas
8. Penghijauan dan a. a.2 Pemasangan rambu
pertamanan 'alu lintas
Gangguan lalu
tintas b. Liputan vegetasi
a. a.1 Pengaturan lalu
b. Di lokasi Quarry lintas
dan jalur a.2 Pemasangan rambu
Peningkatan
transportasi talu lintas
material estetika lingkungan
1. Pengambilan tanah (dampak positif)
a. Penanaman
dan material tanaman
bangunan di a. Kualitas udara
pelindung dan
quarry dan a.
tanaman hias b.
borrow area di Aliran air
b. permukaan
Pencemaran udara
darat c. c.
Erosi I longsor
Gangguan pd
aliran air a. Penyiraman secara
permukaan berkal a
Gangguan b. Pembuatan sistem
stabilitas lereng drainase
(erosi / longsor);
Pengaturan

Halaman 14
Qemantauan ffidup (Bidang

kemiringan lereng
sesuai dengan
kondisi tanah c.2
Pengendalian air

c.3 Tebing dibuat


berteras

Halaman 15
%mantauan Ling@ngan ffidup (Bidang
eloman engeto&an .7aLn

2. c. Perubahan fungsi d. Reklamasi dan d. Penggunaan lahan


lahan pemanfaatan
kembali lahan
d. Gangguan pada e.
Penghijauan e. Liputan vegetasi
flora

a. Degradasi dasar a. Pemilihan lokasi a. Stabilitas


sungai sehingga quarry yang tepat bangunan sungai
mengganggu
stabilitas
b. Pengendalian bahan b. Kualitas air
bangunan sungai
b.
Pencemaran air buangan
Pengambilan material
3. c. sungai; c.
di quarry sungai c. Sda
Gangguan terhadap Sda
biota air;
d. d. Stabilitas tebing
Longsor tebing Perkuatan tebing d,
1 sungai
sungai Penggalian secara
d.2
bertahap
a. Kualitas udara
Pencemaran udara Penyiraman a.
a. (sebaran debu)
berkala; Bak truk
b. ditutup terpal
Kebisingan; Tingkat kebisingan
b. Perawatan b.
d. c.
kendaraan Kondisi jalan
Pengangkutan tanah Kerusakan badan c. c.
1. Pemeliharaan
dan bahan bangunan d. /Perbaikan jalan
Gangguan talu Kondisi lalu {intas
d. Pengaturan lalu d.
lintas;
Pemasangan
rambu lalu lintas

a.
b. Kecemburuan sosial a. Keluhan
a.
Pencemaran udara; masyarakat
Penyuluhan
c.
b. masyarakat b. Kualitas udara
Di !okasi Base camp d. Kebisingan; c. Tingkat kebisingan
Pencemaran air c. Perawatan peralatan
dan AMP
d. Sda d. Kualitas air
Pengoperasian base e. permukaan. Pengendalian limbah
camp (barak Kecelakaan lalu e. Kondisi lalu lintas
e. cair
pekerja, kantor, lintas
Pengaturan lalu lintas
stone crusher dan
AMP)

Halaman 16
(Pemantauan Ling@ngan ffidup
D. Tahap Pasca a. a.
Konstruksi Pencemaran udara Penghijauan di Kualitas udara
1. Pengoperasian jalan b. (debu, gas polutan) median dan pinggir
a.
b.
c.
Kebisingan Sda; pembuatan c. Tingkat kebisingan
b. noise barrier Kondisi lalu
d. Kemacetan Pengaturan lalu lintas dan
dan C.I lintas; kecelakaan Ialu
kecelakaan pemasangan lintas
lalu lintas c.2 rambu lalu lintas

ØZang 'dan

c.3 Penertiban
pedagang kaki lima
c.4 Penyuluhan tertib
pemanfaatan jalan
c.5 Pembuatan rest
area, khususnya
pada jalan tol

d. Pembuatan
jembatan
penyeberangan
Gangguan
mobilitas e. Pembuatan under
d. Keluhan
e. masyarakat pass untuk jatan masyarakat
setempat satwa dilindungi
Gangguan terhadap
f. satwa dilindungi a.l Pengaturan lalu e. Lintasan satwa
lintas dilindungi
a.2 Pemasangan rambu
Gangguan lalu lalu lintas
2. Pemeliharaan jalan a. lintas sementara a. Kondisi lalu lintas

4.2 Prosedur pelaksanaan pemantauan pengelolaan


lingkungan hidup

Pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan


proyek secara umum dilakukan melalui urutan kegiatan seperti tercantum pada
Tabel 4.2.

Halaman 17
(Pedoman Qemantauan Qengeforaan Ling@ngan ffidup

4.3 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap


perencanaan

4.3.1 Tujuan pemantauan

Tujuan pemantauan pada tahap ini adaiah untuk mengetahui apakah proses
perencanaan telah menerapkan pertimbangnan lingkungan hidup atau belum.

4.3.2 Lingkup kegiatan pemantauan

Karena pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang menimbulkan dampak
(perubahan kualitas) lingkungan, kegiatan pemantauan tidak dilakukan terhadap
komponenkomponen lingkungan di lapangan, melainkan terhadap proses
penerapan pertimbangan lingkungan dalam palaksanaan perencanaan mulai dari
tahap perencanaan umum sampai ke tahap perencanaan teknis. Beberapa hal yang
perlu dipantau antara Iain:

Apakah rencana rute jalan sesuai dengan tata ruang yang telah ditetapkan ?
Apakah rencana umum pembangunan jalan yang bersangkutan telah
dikonsultasikan dengan masyarakat ?

i (Pedoman QengdoLan (Bi/ang lahn

Apakah rute jalan melalui atau berbatasan dengan areal sensitif ? (lihat Kotak 4.3
dan 4.4)
Apakah telah dilakukan Kajian Lingkungan Strategis ?
Apakah rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengl€pi AMDAL atau
UKL dan UPL ?
Apakah telah dilakukan konsultasai masyarakat untuk penyusunan KA - ANDAL ?
Apakah studi kelayakan dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL ?
Halaman 18
(Pemantauan Ling@ngan ffidup
Apakah ketentuan-ketentuan dalam RKL atau UKL telah dijabarkan dalam desain
dan spesifikasi / persyaratan teknis pekerjaan konstruksi ?
Apakah rencana pengadaan tanah dilengkapi dengan dokumen LARAP ?
Apakah persyaratan pengelolaan dan pemantaun lingkungan telah dicantumkan
dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi ?

Hasil pemantauan dilaporkan dengan menggunakan formulir seperti tercantum pada


Lampiran 1.
Tabel 4.2
Prosedur pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan
hidup
Acuan Keterangan
Urutan Langkah-Langkah
Kegiatan
1. Pemeriksaan rencana a. Pedoman Perencanaan a. Untuk tahap perencanaan
atau persyaratan Pengelolaan Lingkungan
pengelolaan dan Hidup Bädang Jalan b. Untuk tahap
pemantauan lingkungan b. RKL dan RPL atau UKL prakonstruksi,
hidup yang harus dan konstruksi dan asca
dilaksanakan UPL konstruksi
2. Pengecekan progres Laporan progres kegiatan
kegiatan proyek yang proyek
telah / sedang
dilaksanakan
3. Pengecekan apakah a. Pedoman Perencanaan a. Untuk tahap perencanaan
pengelolaan Pengelolaan Lingkungan
lingkungan hidup telah Hidup Bidang Jalan
b. Untuk tahap
dilaksanakan sesuai b. RKL & RPL / UKL & UPL prakonstruksi,
dengan rencana / konstruksi dan pasca
persyaratan c. Desain dan persayaratan c. konstruksi
pengelolaan pengelolaan lingkungan Untuk tahap konstruksi
lingkungan yang telah tercantum dlm kontrak
ditetapkan dalam pekerjaan konstruksi
dokumen yang
bersangkutan
4. Pengecekan kondisi Metode pemantauan
(kualitas) komponen lingkungan hidup
lingkungan hidup yang tercantum dlm RPL atau
mungkin terkena UPL.
dampak

Halaman 19
Qedoman (Pemantauan Ling@ngan

5. Pengecekan efektifitas Baku mutu lingkungan


atau kinerja
pengelolaan
lingkungan hidup yang
telah dilaksanakan
6. Identifikasi Laporan Unit Pelaksana
kendalakendala yang kegiatan proyek
menghambat
pelaksanaan
pengelolaan lingkungan
hidu bila ada
7. Perumusan saran untuk Pedoman Pelaksanaan
perbaikan / Pengelolaan Lingkungan
penyempurnaan Hidup
pelaksanaan pengelolaan
Bidang Jalan
lingkungan selanjutnya
bifa erlu
8. Contoh format laporan Laporan dibuat oleh
Pendokumentasian dan (Lampiran 1 s/d 4) pelaksana pemantauan, dan
pelaporan internal hasil disampaikan kepada
pemantauan Pemimpin Proyek atau Unit
en elola ke iatan.
9. Penyusunan dan Keputusan Kepala Bapedal Khusus untuk proyek yang
pengiriman laporan No: wajib dilengkapi AMDAL.
pemantauan KEP-105 tahun 1997 tentang
pelaksanaan RKL dan Panduan Pemantauan
RPL Pelaksanaan RKL dan RPL
Kotak 4.3
Areal Sensitif

Kawasan lindung (lihat Kotak 4.4);


Areal permukiman padat penduduk;
Areal dengan kemiringan lereng terjal (È 40 %);
Areal yang kondisi tanahnya tidak stabil;
Lahan pertanian produktif;
Daerah komersiat;
Kompleks militer;
Areal berpanorama indah;
Pemukiman masyarakat terasing (masyarakat adat).
Moman c*ngeEan "{Tup OTang 3aŒn

Halaman 20
Temantauan LingOngan

Kotak 4.4
Daftar Kawasan Lindung
A. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya:
1. Kawasan Hutan Lindung;
2. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih;
3. Kawasan Resapan Air;
B. Kawasan perlindungan setempat:
1. Sempadan Pantai;
2. Sempadan Sungai;
3. Kawasan Sekitar Danau / Waduk;
4. Kawasan Sekitar Mata Air
C. Kawasan suaka slam dan cagar budaya
1. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam, Suaka Marga Satwa, Hutan Wisata,
Daerah Perlindungan Plasma Nutfah, dan Daerah Pengungsian Satwa);
2. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut, perairan darat,
wilayah muara sungai, gugusan karang atau terumbu karang, dan atol yang
mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem);
3. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove);
4. Taman Nasional;
5. Taman Hutan Raya;
6. Taman Wisata Alam
7. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair, daerah
dengan budaya masyarakat istimewa, daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan
sejarah yang bernilai tinggi);
D. Kawasan Rawan Bencana Alam. 1. Kawasan rawan letusan gunung berapi;
2. Kawasan rawan gempa bumi;
3. Kawasan rawan longsor.
Sumber: Keppres No.32/1990 tentang Pengelotaan Kawasan Lindung.
Catatan: Definisi dan kriteria mengenai jenis-jenis kawasan /indung dapat di/ihat da/am
Keppres tersebut di atas.

4.4 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap


pra-konstruksi

4.4.1 Tujuan pemantauan

Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap ini terutama untuk
mencek kinerja penanganan dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah dan
pemindahan penduduk.

Halaman 21
Qedoman (Pemantauan Ling@ngan

4.4.2 Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu


dipantau

Kegiatan-kegiatan pengelolaan lingkungan yang perlu dipantau antara lain:

a) sosialisasi / penyuluhan masyarakat tentang rencana pengadaan tanah;


b) pelaksananaan musyawarah untuk penetapan jenis besarnya ganti rugi;
Tengeroraan

Yi'up 'Bi/ang 'dan

c) pelaksanaan pemberian ganti rugi (kompensasi)


d) pembinaan sosial-ekonomi masyarakat yang terkena pembebasan tanah
terutama
Yang terpindahkan;

4.4.3 Komponen lingkungan hidup yang perlu dipantau

Dampak sosial yang perlu dipantau khususnya kondisi sosial-ekonomi penduduk


pemilik/ pengguna tanah yang terkena pembebasan tanah dan terutama penduduk
yang terpindahkan. Hal ini meliputi:

a) keresahan masyarakat yang mungkin terjadi karena informasi tentang kegiatan

proyek yang kurang jelas;

b) munculnya provokator dan / atau spekulan tanah;


c) ketidakpuasan masyarakat atas besarnya nilai ganti rugi (kompensasi);

d) kehilangan / gangguan terhadap mata pencaharian masyarakat;


e) kondisi sosial-ekonomi masyarakat setelah terkena pembebasan tanah /
dipindahkan.

Hasil pemantauan dilaporkan dengan menggunakan formulir seperti tercantum pada


Lampiran 2.

Halaman 22
Temantauan LingOngan

4.5 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap


konstruksi

4.5.1 Tujuan pemantauan

Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap ini adalah untuk
mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang mungkin
terjadi akjbat kegiatan konstruksi.

4.5.2 Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu


dipantau

Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi pada dasarnya adalah
berupa pengaturan pengoperasian alat-alat berat di lokasi pekerjaan, yang meliputi:

a) Di lokasi base camp

Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup di lokasi base camp meliputi antara Iain:
Perawatan alat-alat berat seperti stone crusher, AMP. Ioader, dan sebagainya;

Halaman 23
Qedoman (Pemantauan Ling@ngan
Qengdoraan %idup Cilang gahn

Pengelolaan sampah padat dan limbah cair;


Pencegahan tumpahan bahan bakar dan pelumas.

b) Di lokasi quarry

Lokasi quarry mungkin berada di daratan atau di perairan sungai (untuk


pengambilan pasir atau sirtu). Quarry daratan juga mungkin di areal dataran atau
areal berbukit. Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup di lokasi quarry pada
umumnya mencakup antara lain:
Pencegahan erosi dan longsor;
Pencegahan pencemaran air;
Reklamasi (penghijauan).

c) Di jalur transportasi bahan bangunan dari quarry ke lokasi proyek

Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup di jalur transportasi berkaitan dengan


masalah penanganan dampak pengoperasian truk pengangkut bahan bangunan,
yang meliputi:
Pencegahan polusi udara dan kebisingan;
Pencegahan / penanganan kerusakan jalan;
Pencegahan gangguan lalu lintas;
Pencegahan kecelakaan lalu lintas.

d) Di lokasi kontstruksi jalan dan jembatan

Kegiatan pengelolaan lingkungan di lokasi konstruksi jalan berkaitan dengan upaya


penanganan dampak kegiatan pembersihan lahan, pekerjaan tanah (galian /
timbunan), perkerasan jalan, dan konstruksi bangunan pelengkap jalan. Hal ini
meliputi:
Pencegahan pencemaran udara dan kebisingan
Pencegahan pencemaran air;
Pencegahan gangguan lalu lintas

Halaman 24
Temantauan LingOngan
Pencegahan erosi dan longsor;
Penghijauan,
enge"an

4.5.3 Komponen lingkungan hidup yang perlu dipantau

Komponen lingkungan hidup yang perlu dipantau sebagian besar berupa komponen
fisikkimia seperti kualitas udara, tingkat kebisingan, kualitas air, bentang alam /
Ians&p, stabilitas tanah (erosi / longsor) serta kerusakan jalan, dan gangguan
terhadap kenyamanan / kesehatan masyarakat setempat.

Hasil pemantauan dilaporkan dengan menggunakan formulir seperti tercantum pada


Lampiran 3.

4.6 Pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap


pasca konstruksi

4.6.1 Tujuan pemantauan

Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap ini adalah untuk
mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang terjadi
akibat kegiatan pengoperasian atau pemanfaatan dan pemeliharaan jalan yang telah
selesai dibangun / ditingkatkan, baik berupa penggunaan ja!an oleh para pemakai
kendaraan maupun pejalan kaki. Di samping itu, perlu diperhatikan juga penanganan
dampak lingkungan terhadap kondisi jalan seperti banjir, longsor dan sebagainya.

4.6.2 Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang perlu


dipantau

Pemantauan pengelolaan lingkungan pada tahap pasca konstruksi harus


dilaksanakan di sepanjang ruas jalan yang dipantau, yang pada umumnya meliputi:
a) Penghijauan untuk penanggulangan pencemaran udara dan kebisingan;
b) Pengaturan lalu lintas;
c) Penyediaan jembatan penyeberangan;
d) Pencegahan kecelakaan lalu lintas;

Halaman 25
Qedoman (Pemantauan Ling@ngan

e) Penataan Iansekap;
f) Penggunaan lahan di sekitar jalan serta tertib pemanfaatan jalan.

Dalam kasus-kasus tertentu, mungkin juga diperlukan pengelolaan lingkungan untuk


penanganan dampak terhadap satwa liar (dilindungi) dan penanganan dampak
terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat terasing yang terlewati jalan baru.

4.6.3 Komponen lingkungan yang dipantau

Komponen lingkungan yang perlu dipantau meliputi:

a) Kualitas udara dan kebisingan;


b) Liputan vegetasi;
c) Kondisi (kemacetan) lalu lintas;
d) Keluhan masyarakat akibat terganggunya mobilitas mereka sehari-hari;
e) Kecelakaan lalu lintas;
f) Kondisi Iansekap jalan;
g) Penggunaan lahan di sekitar jalan;
h) Pedagang kaki lima (PKL) yang menggunakan damija.

Hasil pemantauan dilaporkan dengan menggunakan formulir seperti tercantum pada


Lampiran 4.

4.7 Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca proyek.

4.7.1 Lingkup evaluasi

Pada tahap ini diperlukan evaluasi kualitas lingkungan sehubungan dengan kinerja
jalan yang bersangkutan setelah umur desainnya terlampaui.

Evaluasi kualitas lingkungan mencakup masalah-masalah yang terjadi karena adanya:


Dampak pengoperasian jalan;

Halaman 26
Temantauan LingOngan
Dampak ikutan (dampak kegiatan sektor Iain) terhadap kinerja jalan; dan
Dampak lingkungan alam.

4.7.2 Langkah-langkah kegiatan

a) Pengecekan lapangan untuk mengetahui dampak lingkungan akibat kegiatan


pengoperasian jalan, seperti:
polusi udara;
kebisingan;
kemacetan lalu lintas;
kecelakaan lalu lintas.
Qengetoraan ffidup Øidang Jahn

b) Pengecekan lapangan untuk mengetahui kegiatan-kegiatan sektor lain yang


menimbulkan dampak terhadap kinerja jalan, seperti pasar, pertokoan, pedagang
kaki lima, dan sebagainya.

c) Penilaian kualitas lingkungan dengan mengacu pada baku mutu lingkungan yang
telah ditetapkan oleh pemerintah;

d) Perumusan saran untuk peningkatan kualitas lingkungan dj sepanjang ruas jalan


yang bersangkutan.

Hasil evaluasi kualitas lingkungan dilaporkan dengan menggunakan formulir seperti


tercantum pada Lampiran 5. Hasil evaluasi ini merupakan landasan untuk
perumusan rencana kegiatan proyek baru baik berupa pengembangan jalan yang
bersangkutan maupun pembangunan jaringan jalan baru, serta masukan untuk
perbaikan pengelolaan lingkungan sektor lainnya..

4.7.3 Monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi

Pembangunan jalan dimaksudkan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat


untuk:

Halaman 27
Qedoman (Pemantauan Ling@ngan
Membuka keterisolasian wilayah;
Meningkatkan aktivitas dan mendukung kelancaran roda ekonomi wilayah;
Mempermudah akses penggunaan teknologi dan pemanfaatan fasilitas sosial seperti
pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan lain lain;
Peningkatan mobilitas dan kontak sosial antar penduduk.

Dalam kaitannya dengan kebijakan pembangunan masyarakat pedesaan,


pembangunan jalan secara umum dapat menimbulkan manfaat bagi masyarakat
pedesaan, termasuk masyarakat miskin, antara lain:

a) peningkatan mobilitas penduduk;


b) penurunan biaya transportasi baik untuk barang maupun orang;
c) peningkatan akses para pedagang kecil produk pertanian ke pasar di desa-desa
yang lebih besar atau kota;
d) peningkatan pelayanan fasilitas kesehatan, pendidikan dan penyuluhan pertanian
yang ada di kota bagi penduduk pedesaan;

Halaman 28
e) peningkatan pendapatan uang tunai dalam jangka panjang, terutama erena
perbaikan akses ke pasar dan para pemasok (supp/ier)

f) peningkatan pendapatan uang dalam jangka pendek (sementara) sehubungan


dengan kesempatan kerja dalam pelaksanaan proyek jalan yang bersangkutan;

g) pengaspalan jalan agregat / tanah dapat meningkatkan kesehatan dan pola hidup
masyarakat sebagai akibat penurunan sebaran debu dari jalan.

Untuk mengetahui sejauh mana masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan, telah


memperoleh manfaat dari pembangunan jalan tersebut, diperlukan monitoring dan
evaluasi sosial-ekonomi.

Pada saat ini kegiatan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi proyek-proyek jalan
pada umumnya belum dilaksanakan, kecuali untuk beberapa proyek yang dibiayai
dengan dana bantuan luar negeri, seperti program Road Rehabilitation (Sector)
Project (RR(S)P) bantuan ADB, yang mensyaratkan implementasi program monitoring
dan evaluasi sosialekonomi (SEMEP = Socio-economic Monitoring and Evaluation
Program). Program tersebut harus dilaksanakan di beberapa sampel desa yang
berdekatan dengan jalan yang dibangun, sebelum kegiatan konstruksj dilaksanakan,
kemudian pada tahun pertama dan tahun keempat setelah konstruksi selesai.
Idealnya, monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi ini dilaksanakan untuk semua
proyek jalan, untuk menguji (mengevaluasi) sejauh mana rencana manfaat proyek
dapat tercapai.

Pedoman pemantauan pengelolaan lingkungan bidang jaian ini tidak mencakup


petunjuk untuk pelaksanaan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi. Untuk
keperluan tersebut seyogianya diperlukan pedomari Iain yang lebih spesifik.

Halaman 29
(Woman Tengeroaan
Temantauan Wup Oidang garan
LingOngan

4.8 Metode pemantauan kualitas lingkungan

4.8.1 Pemantauan langsung

Pemantauan langsung kualitas lingkungan dilakukan dengan cara pengukuran langsung


'parameter kunci" kualitas komponen lingkungan tertentu. Sebagai contoh, untuk
pemantauan tingkat kebisingan yang terjadi akibat pengoperasian alat-alat berat,
tingkat kebisingan diukur langsung di lapangan dengan menggunakan sound leve/
meter.
Metode pemantauan lingkungan hidup yang harus digunalan untuk tiap komponen
(parameter atau indikator) lingkungan yang mungkin terkena dampak semestinya
tercantum dalam dokumen RPL atau UPL, yang telah ditetapkan berdasarkan hasil
studi pada tahap perencanaan. Ketentuan tentang metode pemantauan tersebut
mencakup:

• metode pengumpulan dan analisis data;


fokasi pemantauan lingkungan hidup;
jangka waktu dan frekuensi pemantauan.

Meskipun demikian, dalam pelaksanaannya di lapangan, sebaiknya dipertimbangkan


juga alternatif lain yang lebih praktis dan ekonomis, khususnya penggunaan
indikatorindikator yang mudah djukur.

4.8.2 Pemantauan tidak langsung

Untuk kasus-kasus tertentu, dengan pertimbangan kepraktisan kerja dan


penghematan biaya, pemantauan dapat dilakukan secara tidak langsung, yaitu
dengan mengukur indikator-indikator tertentu. Sebagai contoh, untuk pemantauan
tingkat kebisingan yang terjadi akibat pengoperasian alat-alat berat, tingkat
kebisingan tidak diukur langsung di lapangan dengan menggunakan sound leve/
meter, tapi dilakukan pemantauan adanya keluhan masyarakat yang terkena
dampak sebagai indikator adanya gangguan kebisingan tersebut.

Halaman 30
Qedoman %mantauan Ling@ngan

4.9 Baku mutu lingkungan

Untuk mengevaluasi atau menilai kualitas lingkungan di lokasi proyek dan


sekitarnya, hasil pemantauan komponen / parameter iingkungan tertentu
dibandingkan dengan baku mutu lingkungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.
Dengan cara membandingkan nilai hasil pemantauan terhadap baku mutu
lingkungan tersebut dapat disimpulkan apakah kualitas lingkungan memenuhi baku
mutu atau tidak.

Beberapa contoh ketentuan baku mutu lingkungan disajikan dalam lampiran, yaitu:
Lampiran 6 : Baku Mutu Udara Ambien Nasional;
Lampiran 7 : Baku Tingkat Kebisingan;
Lampiran 8 : Baku Tingkat Getaran;
Lampiran 9 : Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas;
Lampiran 10: Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan
Penambangan.
Bahan Galian Golongan C Denis Lepas di Dataran;
Lampiran 11 : Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor.
5. Dokumentasi dan Pelaporan

5.1 Dokumenbsi

Hasil pemantauan pengelolaan lingkungan hidup untuk tiap tahap kegiatan proyek
didokumentasikan dengan menggunakan format laporan seperti tercantum pada
Lampiran 1 s/d 4. Sedangkan hasil evaluasi kualitas lingkungan pada tahap pasca
proyek didokumentasikan dengan menggunakan format seperti tercantum pada
Lampiran 5.

Laporan tersebut secara garis besar berisi informasi tentang:

a) Data umum kegiatan proyekjalan yang bersangkutan;


b) Jenis-jenis kegiatan proyek yang sedang atau telah dilaksanakan;
c) Dampak lingkungan yang telah atau potensial terjadi;
d) Upaya pengelolaan lingkungan yang telah / sedang dilaksanakan;

Halaman 31
Temantauan LingOngan

e) Efektivitas (kjnerja) pengelolaan lingkungan hidup;


f) Kendala-kendala yang dihadapi (bila ada);
g) Saran perbaikan upaya pengelolaan lingkungan selanjutnya (bila perlu)

5.2 Pelaporan

5.2.1 Laporan internal

Laporan internal dibuat oleh petugas pelaksana pemantauan pengelolaan


lingkungan hidup dengan menggunakan format laporan seperti tercantum pada
Lampiran 1 s/d 4. Laporan tersebut disampaikan kepada Pemimpin Proyek /
penanggungjawab pelaksanaan kegiatan proyek.

5.2.2 Laporan eksternal

Laporan eksternal dibuat khusus untuk proyek-proyek jalan yang termasuk kategori
wajib dilengkapi dokumen AMDAL. Penyusunan laporan ini agar mengacu pada
Keputusan Kepala Bapedal No. KEP-105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan
Pelaksanaan RKL dan RPL . Format laporan tercantum pada Lampiran 12, 13 dan 14.
Materi laporan disusun berdasarkan data tercantum dalam laporan internal tersebut
pada Butir 5.2.1.

Halaman 32
Qedoman %mantauan Ling@ngan
engetotaan ffidup (Bi/ang 'dan

6. Pelaksanaan Pemantauan
6.1 Instansi pelaksana pemantauan
Pemantauan pengelolaan Ijngkungan hidup pada tiap tahap kegiatan / siklus
proyekjalan dilaksanakan oleh pemrakarsa atau pengelola kegiatan. Dalam hal ini
penanggungjawab pelaksanaan pemantauan tersebut adalah Pemimpin Proyek /
Bagian Proyek atau unit kerja / pengelola kegiatan yang bersangkutan.

Pada tahap perencanaan, pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan dapat


dibantu oleh konsultan perencana.

Pada tahap pra-konstruksi dan konstruksi, pelaksanaan pemantauan pengelolaan


lingkungan dapat dibantu oleh kontraktor dan konsultan supervisi;

Pada tahap pasca konstruksi, pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan


dilaksanakan oleh unit kerja / pengelola kegiatan pemeliharaan dan rehabilitasi
jalan yang bersangkutan.

6.2 Instansi pengawas pelaksanaan pemantauan

Pengawasan pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup dilaksanakan


oleh instansi atasan langsung pemimpin proyek / bagian proyek, dan Bapedalda
Kabupatan /
Kota setempat.

6.3 Instansi penerima laporan hasil pemantauan

Khusus untuk proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL, laporan pemantauan
pelaksanaan RKL dan RPL tahap-tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca
konstruksi disampaikan oleh pemrakarsa / pengelola kegiatan kepada instansi
pengawas pelaksanaan pemantauan dan instansi pembina teknis bidang jalan serta
instansi Iain yang terkait, yaitu:

a) Gubernur KDH Propinsi c.q. Bapedalda Propinsi yang bersangkutan;

Halaman 33
Wup
b) Bupati / Walikota c.q. Bapedalda Kabupaten / Kota yang bersangkutan;
c) Instansi pembina teknis (Dinas PU / Bina Marga / Praswil);
d) Instansi Iain yang terkait

7. Pembiayaan

7.1 Biaya pemantauan pada tahap perencanaan

Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan


seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan perencanaan, atau
dialokasilan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pekerjaan
perencanaan.

7.2 Biaya pemantauan pada tahap pra-konstruksi

Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-


konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pengadaan tanah, atau
dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana pengadaan
tanah.

7.3 Biaya pemantauan pada tahap konstruksi

Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi


seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pekerjaan konstruksi atau biaya
pekerjaan konsultan supervisi pekerjaan konstruksi.

7.4 Biaya pemantauan pada tahap pasca konstruksi

Anggaran biaya pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca


konstruksi seharusnya termasuk dalam anggaran biaya pemeliharaan dan rehabilitasi
jalan, atau dialokasikan secara khusus dalam anggaran rutin instansi pelaksana
pemeliharaan dan rehabilitasi jalan.

Halaman 34
ftdoman Qemantauan Wup
7.5 Biaya evaluasi pada tahap evaluasi pasca proyek

Anggaran biaya evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek perlu
dialokasikan secara khusus oleh instansi atau unit kerja yang membidangi kegiatan
perencanaan teknis atau pembinaan lingkungan.

7.6 Komponen-komponen biaya pemantauan

Biaya pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup secara garis besar


terdiri dari komponen-komponen biaya:
'PeKoman IRngefoÛan Ling@ngan "Kangyahn

transportasi; personel
(lumpsum); peralatan dan
material;
analisis laboratorium (bila
perlu); penyusunan laporan.

8. Penutup

Pelaksanaan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup bidang jalan ini, harus


terintegrasi dalam pengelolaan (manajemen) proyek secara keseluruhan. Untuk
keperluan itu, koordinasi antar instansi atau unit keöa terkait mutlak diperlukan, dan
peranan pemimpin proyek / bagian proyek selaku pemrakarsa / pengelola pekerjaan
sangat penting.

Yang dimaksud dengan pemimpin proyek di sini adalah semua pemimpin proyek,
selaku pemrakarsa kegiatan, yang masing-masing secara berkesinambungan
bertanggung jawab dalam tiap tahap siklus proyek pembangunan jalan, meliputi:

Pemimpin Proyek Perencanaan;


Pemimpin Proyek Pengadaan Tanah;
Pemimpin Proyek Pembangunan (konstruksi); dan
Pemimpin Proyek Pemeliharaan / Rehabilitasi.

Halaman 35
Wup
Agar proses pengelolaan lingkungan hidup dapat terlaksana secara
berkesinambungan, semua dokumen mengenai lingkungan hidup (AMDAL, UKL dan
UPI-, LARAP, Laporan Hasil Pemantauan Pengelolaan Lingkungan) yang dibuat oleh
pemimpin proyek pada tahap tertentu, harus diserahterimakan kepada pemimpin
proyek tahap berikutnya, sebagai satu kesatuan dengan dokumen teknis, untuk
digunakan sebagai arahan pengelolaan lingkungan hidup tahap berikutnya (lihat
Gambar 8.1).
Ketentuan-ketentuan tentang koordinasi antara pemrakarsa kegiatan proyek jalan
dengan instansi-instansi terkait, dapat dilihat pada Pedoman Pe/aksanaan
Penge/o/aan Lingkungan Hidup Bidang Ja/an Bagi Stakeho/der di Daerah.

Keberhasilan pemantauan pengelolaan lingkungan juga tergantung dari


ketersediaan sumberdaya manusia yang qua/ified serta dana dan sarana penunjang
yang memadai sesuai dengan kebutuhan pada tiap tahap kegiatan proyek. Di
samping tu, keberadaan unit kerja dalam struktur organisasi proyek, yang
mempunyai tugas dan tanggungjawab untuk melaksanakan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup akan sangat berperan.

Halaman 36
Wup
Bidang

Sehubungan dengan keterbatasan dana yang tersedia, pelaksanaan pemantauan


pengelolaan lingkungan seyogianya difokuslen pada dampak kegiatan-kegiatan
tertentu dengan dasar pertimbangan:

a) Kegiatan diperkirakan akan menimbulkan dampak besar dan penting;


b) Kegiatan berada di lokasi yang sensitif, misalnya berbatasan atau berdekatan
dengan kawasan lindung;

c) Berpotensi menjadi sumber isu atau kasus lingkungan yang sensitif;


d) Permintaan atau laporan instansi tertentu, masyarakat sekitar lokasi proyek,
atau
Lembaga Swadaya Masyarakat.

Halaman 37
Gambar 8.1

Halaman 38
Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang
Berkesinambungan

'Mornan (Pentantauan '%ngeffaan Ling@ngan -Hidup (Bidang galan


Lampiran

Halaman 40
Lampiran
I

Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan


Hidup Bidang Jalan pada Tahap Perencanaan
A. Data Umum Pro ek Jalan / Jembatan

1. Nama Pro ek

2. Nama Paket / No. Paket

3. Nama Ruas / No. Ruas

4. Lokasi (/ampirkan peta /okasi):


a. Kabupaten / Kota *)
b. Pro insi

5. Pan 'an 'alan / 'embatan * . Km / m

6. Status •alan Nasional / Pro insi / Kabu aten Kota *

Perencanaan Umum / Studi Kelayakan /


7. Tahap Perencanaan
Perencanaan Teknis *

8. Pro rs eker•aan

B. Hasi' Pemantauan

Kesesuaian dengan tat.a ruan Sesuai / tidak sesuai *

2. Keberadaan areal sensitif, termasuk Ada / tidak ada / tidak diketahui *)


masyarakat terasing / adat (Kalau a)
ada, sebutkan jenisnya)
b)
c)

3. Kajian Lingkungan Strategis Telah / sedang / belum / tidak dilaksanakan

4. Konsultasi awal dengan masyarakat Telah / sedang / belum / tidak dilaksanakan

a)
b)
c)
d)
4.a. Kelompok masyarakat yang menghadiri
konsultasi awal
Halaman -
Lampiran

f)
g)

4.b. Jumlah peserta konsultasi awal ........ ..... Orang

4.c. Kesim ulan hasil konsultasi Terlam ir / belum / tidak ada *

5. Wa•ib dilen ka i AMDAL ? Ya / tidak *

6. Konsultasi masyarakat untuk


penyusunan Telah / sedang / belum/ tidak perlu / tidak
KA - ANDAL dilaksanakan *
11

a)

6.a. Kelompok masyarakat yang c)


menghadiri konsultasi

f)
g)

İ 6.b. Jumlah peserta konsultasi Orang

6.c. Kesim ulan hasil konsultasi Terlampir / belum / tidak ada *)

7. Penyusunan KA - ANDAL Telah / sedang / belum / tjdak perlu /


tidak dilaksanakan * )

Telah / sedang / belum / tidak perlu /


8. Penyusunan dokumen AMDAL
tidak dilaksanakan *

9. Wa'ib dilen ka i UKL dan UPL ? Ya tidak *

Telah / sedang / belum / tidak perlu /


10. Penyusunan dokumen UKL dan UPL
tidak dilaksanakan *

11. Isu pokok lingkungan hidup a)


b)
c)
d)

12. Penyusunan LARAP Telah / sedang / belum / tidak

Halaman -
Lampiran

dilaksanakan

13. Penjabaran RKL / UKL dalam desain


Telah / sedang / belum / tidak
dan s esifikasi teknis eker•aan
dilaksanakan
konstruksi

14. Pencantuman persyaratan pengelolaan Telah / sedang / belum / tidak


lingkungan dalam dokumen tender dan dilaksanakan
kontrak eke •aan konstruksi

C. Kendala yang Dihadapi

D. Saran Tindak Lanjut

*) : Coret yang ödakper/u Catatan: Data yang /ebih rina' dapat dj/ampirkan
... ... ... ................ 2003

Pelaksana Pemantauan

12
2

Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup


Bidang Jalan pada Tahap Pra-konstruksi

A. Data Umum Pro ek Jalan Jembatan

1. Nama Pro ek

2. Nama Paket / No. Paket

3. Nama Ruas / No. Ruas

4. Lokasi:
a. Kabupaten / Kota * )
b. Pro insi

5. Status Jalan Nasional / Pro insi Kabu aten / Kota *

6. Pan•an •alan / •embatan . km / ... ..... m

Halaman -
Lampiran

7. Luas tanah an dj erlukan ..... ..... .... ha

B. Hasil Pemantauan

1. Sosialisai ke ada mas arakat Telah / sedan / belum dilaksanakan *

Jumlah penduduk yang menghadirj


12 .. orang
sosialisasi

3. Pendataan tanah / ban unan / tanaman Tetah / sedan / belum dilaksanakan *

Jenis penggunaan tanah a) Pemukiman ...Ha ( .........%)


b) Pertanian
Ha (.........%)
c) Perdagangan: . Ha (.........%)
d) Industri

. Ha ( .........%)
Ha )
. Ha ( 100 %)

5. Jenis dan jumlah bangunan yang a) Rumah . buah


terkena proyek b) Toko / warung . buah
c) Tempat usaha lainnya : . . buah
d) Sekolah . buah
e) Mesjid . buah
f) Gereja . buah

g) Makam /kuburan h Jenis


lainn a sebutkan :

6. Jumlah enduduk an terkena ro ek . KK


Jumlah pemilik tanah yang terkena seluruhn
7.
a
. KK

8. Jumlah pemilik tanah yang terkena


. KK
seba ian

9. Jumlah enduduk an harus indah KK

Uang / tanah / kapling siap bangun / lain-


10. Jenis kompensasi yang telah disepakati lain

2I

Halaman -
Lampiran

11. Musyawarah penetapan kompensasi Telah / sedang / belum dilaksanakan *)

Kesepakatan jenis dan Semua sepakat / sebagian sepakat / belum


12.
kom ensasi ada kese akatan *

Seuai kesepakatan / ditetapkan


13. Penetapan nilai kompensasi
pemerintah secara se ihak *

14. Luas tanah an telah dibebaskan

15. Jumlah penduduk yang telah dibebaskan

16. Jumlah enduduk an telah indah

Sertifikasi sisa tanah penduduk yang


17. . Bidang (t..... 0
terkena embebasan

18. Sertifikasi tanah an telah dibebaskan . Bidan

19. Kelancaran roses embebasan tanah Lancar / kuran lancar tidak lancar *

Jumlah penduduk yang tanahnya tidak


20.
mau dibebaskan

Jumlah penduduk yang tidak puas atas


21.
besarn a kom ensasi

22. a) Lebih baik


Kondisi sosial-ekonomi penduduk yang
.
terkena pembebasan tanah, satu tahun
setelah dibebaskan
b) Sama
c) Lebih buruk: .

23. Keresahan masyarakat Terjadi / tidak terjadi *)

C. Kenda:a yang Dihadapi

D. Saran Tindak Lanjut

*): Coret yang tidak perlu


Catatan: Data yang lebih rinci dapat di/ampirkan
. 2003

Pelaksana
Pemantauan

Halaman -
Lampiran

2 2

Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan


Hidup Bidang Jalan pada Tahap Konstruksi
Formu/ir 1: Data UmumPm kJa/an /Jembatan

1. Nama Pro ek

2. Nama Paket / No. Paket

Nama Ruas / No. Ruas

4. Lokasi :
a. Kabupaten / Kota * )
b. Propinsi

Status Jalan Nasional / Propinsi / Kabu aten / Kota *

6. Panjang jalan / jembatan . km /

7. Kontraktor a. Nama
Perusahaan
b. Alamat

8. Nomor Kontrak
3 I

Halaman -
1
Lampiran
4

Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan


Hidup Bidang Jalan pada Tahap Pasca Konstruksi
A. Data Umum Ruas Jalan I Jembatan an Di antau

1. Nama Pro ek kalau ada

Nama Paket / No. Paket

3. Nama Ruas / No. Ruas

4. Lokasi:
a. Kabupaten / Kota *)
b. Pro insi

5. Status Jalan Nasional / Pro insi / Kabu aten / Kota *

6. Pan•an •alan / •embatan . km / ..... ..... ... m

7. Lebar DAMIJA

8. Lebar erkerasan

Ka asitas •alan ...............sm / •am

8. Denis ke iatan an di antau Pen o erasian / Pemeliharaan *

B. Hasil Pemantauan

1. Dam ak Pen o erasian Jalan

1.1 Volume lalu lintas harian .. sm

1.2 Tin kat kebisin an dBA

1.3 Kualitas udara Lihat hasil analisis laboratorium

1.4 Kecelakaan lalu lintas . kali/tahun

1.5 Kemacetan lalu lintas Tidak ter•adi / ter•adi di ........................

Halaman -
Lampiran

1.5 Gan uan mobilitas enduduk setem at Tidak ter•adi / ter•adi di .... ... 10kasi *

1.6. Gangguan pada mobilitas satwa liar Tidak terjadi / terjadi di ...........................*)

1.7 Dampak pada kawasan lindung


Tidak terjadi / terjadi di ...........................*
misalnya erambahan hutan

1.8. Dampak pada kondisi sosial-ekonomi dan


Tidak terjadi / terjadi di .......................... *)
sosial buda a mas arakat terasin

2. Dam ak k iatan emeliharaan •alan

2.1 Gan uan lalu lintas Ter•adi / tidak ter•adi *

a) Pedagang kaki lima


3. Kegiatan sektor lain yang menimbulkan
b) pasar tradisional c
dampak terhadap kinerja jalan
usat erda an an
4I

4. Dampak lingkungan terhadap jalan a)


banjir *) longsor
b)
gempa bumi letusan
c) gunung beraoi
d)

Upaya pengelolaan lingkungan yang telah penanaman pohon di kanan- kiri


dilaksanakan a)
jalan penyediaan sempadan jalan
b) pemasangan rambu lalu lintas
c) pembuatan jembatan
d) penyeberangan pengaturan lalu
e) lintas pembuatan saluran drainase
f) pembuatan terowongan untuk
g) penyeberangan satwa dilindungi
Pembinaan sosial masyarakat
h)
terasing

C. Kendala yang Dihadapi

Halaman -
Lampiran

D. Saran Tindak Lanjut

*) : Coret yang tidak per/u Catatan: Data yang /ebih rinci dapat di/ampirkan
. 2003

Pelaksana Pemantauan

42
5

Laporan Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup


Bidang Jalan pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek

A. Data Umum Ruas Jalan / Jembatan an Dievaluasi

Nama Pro ek kalau ada

2. Nama Paket / No. Paket

3. Nama Ruas / No. Ruas

4. Lokasi:
a. Kabupaten / Kota * )

Halaman -
Lampiran

b. Pro insi

5. Status Jalan Nasional / Pro insi Kabu aten / Kota *

6. Pan•an •alan / •embatan . km / .

7. Lebar DAMDA

8. Lebar erkerasan m

7. Ka asitas •alan ....sm ,/'am

B. Hasil Evaluasi

Volume lalu lintas harian ..... ..... ..... .. sm

2. Kepadatan talu lintas a) pagi


. smp/jam
hari
. smp/jam
b) siang hari
. smp/jam
c) sore hari
. smp/jam
d) malam hari .

3. Jam sibuk Pukul ..... .....

4. Rasio volume lalu lintas terhadap


ka asitas •alan VCR

5. Kecepatan lalu lintas rata-rata a) pagi


hari . km/jam
. km/jam
b) siang hari
. km/jam
c) sore hari
. km/jam
d) malam hari .

6. Tin kat kebisin an rat.a-rata dBA

7. Kualitas udara a) S02ug/Nm3


b) COug/Nm3 c) N02 ug/Nm3
. ug/Nm 3
. ug/Nm 3
f) TSP : ............ ug/Nm3 .
ug/Nm 3

5I

Halaman -
Lampiran 5

8. Kecelakaan lalu lintas kali/tahun

9. Kemacetan lalu lintas Tidak te •adi / ter adi di

10. Gan uan mobilitas enduduk setem at Tidak te •adi ter•adi di ..... .. 10kasi *

11. Gangguan pada mobilitas satwa liar Tidak terjadi / terjadi di ...........................*)

12. Dampak pada kawasan lindung misalnya


erambahan hutan Tidak terjadi / terjadi di ...........................*)

13. Dampak pada kondisi sosial-ekonomi dan Tidak terjadi / terjadi di .........................
sosial buda a mas arakat terasin
| 14. Kegiatan sektor lain yang a) pedagang kaki lima
mengakibatkan penurunan kinerja b) pasar tradisional c
jalan usat erda an an
15. Dampak lingkungan terhadap jalan a) banjir
b) longsor
c) gempa bumi
d) letusan gunung berapi
C. Saran Tindak Lanjut

*) : Coret yang tidak per/u


Catatan: Data yang /ebih rinci
dapat di/ampirkan

.
2003

Pelaksana Pemantauan

Halaman -
Lampiran 6

52
B
a
k
ü
M
u
t
u
U
d
a
r
a
A
m
b
i
e
n
N
a
s
i
o
n
a
l
N Waktu Metode
Parameter Pengukuran Bakü Mutu Analisis Peralatan
o
1 Jam 900 ug/Nm Pararosanilin Spektrofotometer
(Sulfur Dioksida) 24 Jam 365 ug/Nm 3

1. 60 u /Nm3
ı Tahun
co 1 Jam 30.000 ug/Nm NDIR NDIR Analizer
(Karbon 24 Jam 10.000 ug/Nm3
z Monoksida
ı Tahun
N02 1 Jam 400 ug/Nm Saltzman Spektrofotometer
(Nitrogen Dioksida) 24 Jam 150 ug/Nm3
3. 100 u /Nm3
1 Tahun
4. 03 1 Jam 235 ug/Nm Chemilumines Spektrofotometer
(Oksidan) 1 Tahun 50 ug/Nm3

5. HC 3 Jam 160 ug/Nm Flame Gas


Lampiran 7

Hidro Karbon Ionization Chromat rafi


6.. 24 Jam 150 ug/Nm Gravimetric Hi - vol
Partikel 10 um
24 Jam 65 ug/Nm Gravimetric Hi — Vol
(Partikel 2,5 um) 1 Tahun 15 ug/Nm 3 Gravimetric

24 Jam 230 ug/Nm Gravimetric


(Debu) ı Tahun 90 ug/Nm3

8. Pb 24 Jam ı 2 ug/Nm Gravimetric - vol


(Timah Hitam) -rahun 1 ug/Nm3 Ektraktif AAS
Pen abuan
9. Dusffall 30 hari 10 Ton/Km [bulan Gravimetric Cannister
(Debu Jatuh) (Pemukiman)
20 Ton/km2/bulan
Industri
10 Total Flüorides 24 Jam 3 ug/Nm Spesific Ion Impinger atau
10 Hari ug/Nm3 Electrode Countinous
Analizer
11 Fluor IndelG 30 Hari 40 ug/Nm dari Colourimetric Lime Filter Paper
kertas lime

12 Klorine & 24 Jam 150 ug/Nm Spesific Ion Impinger atau


Khlorine Diolsida Electrode Countinous
Analizer
13 Sulphat indeks 30 Hari 1 mg S03/100 cm' Colourimetric Lead Peroksida
dari Lead
Candle
Peroksida
Sumber : Peraturan
Pemerjntah No: 41
Tabun 1999 tentang
Pengenda/ian
Pencemaran Udara
Catatan : - *) PM25 mu/ai
diber/akukan tabun 2002
- Nomor 10 s/d 13
hanya diber/akukan
untuk daerah / kawasan
Industri Kimia Dasar
Contoh : Industrj
Petro Kimja
Industri
Pembuat
an Asam
Su/fat
Baku Tingkat
Kebisingan

No. Tingkat
Peruntukan Kawasan / Kebisingan
Lingkungan Kegiatan (dBA)
Lampiran 8

1. Peruntukan Kawasan
2, Perumahan dan Pemukiman
3. 55
Perdagangan dan Jasa
4. 70
Perkantoran dan Perdagangan
5. 65
Ruang Terbuka Hijau
6. 50
Industri
7. 70
Pemerintahan dan Fasilitas Umum
8. 60
Rekreasi
70
Khusus:
Bandar Udara
Stasiun Kereta Api
Pelabuhan Laut 70
Cagar Budaya 60

Sumber: Keputusan
Menteri Negara
Lingkungan Hidup
No.
KEP48/MENLH/11/1
996
Tentang
Baku
Tingkat
Kebisingan
Tabel 8.1
Baku
Tingkat
Getaran
Untuk
Kenyama
nan dan
Kesehata
n
Frekuensi Nilai Tin kat Getaran dalam mikron 10-6 meter
Tidak
Men an u Mengganggu Tidak Nyaman Menyakitkan
Lampiran 9

> 500 —
4 < IOO 100 - 500 1000 > 1000
5 < 80 80 - 350 > 350 - 1000 > 1000
6,3 < 70 70 - 275 >275 - 1000 > 1000
8 < 50 50 - 160 > 160 — 500 > 500
10 37 37 - 120 >120 - 300 > 300
12,5 < 32 32 -90 > 90- 220 > 220
16 < 25 25 -60 > 60- 120 > 120
20 < 20 > 40 — 85 > 85

25 17 > 30 — 50 > 50

31,5 < 12 12 -20 -30 > 30


40 9 - 15 > 15 —20 > 20

50 8- 12 > 15

63 > 12

Sumber : Lampiran I
Kepmen LH No.•
KEP49/MENLH/11/19%
Konversi :
p
e
r
c
e
p
a
t
a
n

=
(
2

f
f

s
i
m
p
a
n
g
a
Lampiran 10

k
e
c
e
p
a
t
a
n

f
x

s
i
m
p
a
n
g
a
n
= 3,14

Tabel 8.2
Baku Tingkat Getaran
Mekanik Berdasarkan
Dampak Kerusakan
Getaran Frekuensi Batas Getaran, Peak mm/detik
Parameter Satuan Kategori A Kategori B Kategori C Kategori
- Kecepatan mm/detik 4 < 7,5 2,27 > 2,27 > 140
Getaran 5 140 > 130
6,3 < 5,2 > 25 - 130 > 110
- Frekuensi
8 4.8 > 21 - 110 > 100
10 > 19 - 100 > 90
12,5 < 3,8 > 80
16
> 16-90 > 70
< 3,2
20 < 3,2 — 10 > 14 -70
> 67
25 > 60
> 53
31,5
< 2-8 > 10-60 > 50
50 < 1 —7 > 42
Sumb
er :
Lampi
Lampiran 11

ran 11
Kepm
en LH
No:
KEP4
9/ME
NLH/
11/19
%
Ketera
ngan:
A : Tidak
menimbulkan
kemsakan
B : Kemungkjnan keretakan
plesteran (retak4eHepas
plesteran pada dinding pemikul
beban pada kasus khusus) C :
Kemungwnan rusak
komponen strukttr djnding
pemikul beban Kategm• D:
Rusak dinding pemikul beban.

Halaman 8 - I
Lampiran
8

Tabel 8.3
Baku Tingkat Getaran Mekanik Berdasarkan Jenis Bangunan
Kece atan etaran mm/detik
Pada bidang
datar di
Pada Fondasi
lantai alin
atas
Frekuensi
Campuran
< IO Hz 50 Hz 50 - 100
Kelas Tipe Bangunan Frekuensi
1. Bangunan untuk < 10 20 - 40 40 - 50 40
keperluan niaga,
bangunan industri
dan ban unan
se•enis

Struktur yang karena 3-8 8 - 10


sifatnya peka terhadap
getaran, tidak seperti
tersebut pada No.l dan
2, dan mempunyai nilai
budaya tinggi, seperti
bangunan yang
dilestarikan
3
Sumber : Lampiran III Kepmen LH No: KEP-49/MENLH/11/1996
*) Catatan: Untuk frekuensi > 100 Hz, sekurang-kurangnya nilaj yang tersebut dalam kolom haws dipenuhi.

Tabel 8.4
Baku Tingkat Getaran Kejut

Kecepatan Getaran
Kelas Jenis Bangunan
Maksimum mm/detik

Peruntukan dan bangunan kuno


1. 2
yang mem un ai nilai se•arah tin i

2. Bangunan dengan kerusakan yang sudah 5


ada, tampak keretakan-keretakan ada
tembok

3. Bangunan untuk dalam kondisi 10


teknis yang baik, ada kerusakan-
kerusakan kecil se erti lesteran an
retak

Bangunan "kuat" (misalnya


4, bangunan industri terbuat dari beton 10 — 40
atau ba•a .
Sumber : Lampiran IV Kepmen LH No: KEP-49/MENLH11/1996

Halaman 8 - 2
Lampiran 11

Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor

Sumber.• Kepmen LH. No: KEP-35/MENLH/10/1993


Catatan: Kandungan CO dan HC diukurpada kondisi percepatan bebas (id/ing).
Keteba/an asap gas buang diukur pada kondisi percepatan bebas
Lampiran 13

LAPORAN HASIL
PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL
BIDANG USAHAATAU KEGIATAN

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BEI-AKANG

Uraikan pentingnya pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL.

B. TU J U AN
Uraikan tujuan pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL,

c. BASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN)


Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan
Pelaksanaan RKL dan RPL.
Dapat ditambahkan sasaran Iain bila memang diperlukan.

D. RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN


Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan, antara Iain meliputi:
lokasi kapan mulai beroperasi jenism dan atau tahapan
kegiatan proses kegiatan / produksi.

BAB 11
RINGKASAN RKL DAN RPL
A. RINGKASAN RKL
Tuliskan ringkasan RKL, antara Iain meliptuti:
Jenis dampak penting
Sumber dampak penting
Tolok ukur dampak penting
Pengelolaan dampak penting
Halaman 13 - 1

Lampiran 13

B. RINGKASAN RPL

Tuliskan ringkasan RPL, antara lain meliptuti:


Jenis dampak penting
Sumber dampak penting
Metode Pemantauan
Lokasi Pemantauan
Waktu pemantauan

BAB 111
HASIL PELAKSANAAN
A. RKL

Uraikan secara singkat pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan hasil-hasil yang


dicapai
Lampirkan visualisasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan (jika ada).

B. RPL

Uraikan secara singkat pelaksanaan pemantauan lingkungan dan hasil yang dicapai.
Lampirkan berbagai hasil pengukuran (hasil pelaksanaan fisik dan hasil analisis
laboratorium).

BAB IV
EVALUASI
Uraikan secara singkat kesesuaian hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan dengan
tolok ukur.
Uraikan kendala dan masalah yang dihadapi.
Uraikan langkah-langkah perbaikan pelaksanaan RKL dan RPL.
Halaman 13 - 2

Anda mungkin juga menyukai