Pedoman Pemantauan Lingkungan Jalan
Pedoman Pemantauan Lingkungan Jalan
013 / PW / 2004
Buku 4
Hendrianto Notosoegondo
1
Qdoman Ling@ngan
Pendahuluan
Pedoman Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bidang Jalan ini adalah
Pedoman ini disusun dengan maksud agar semua pihak yang bertanggungjawab
atau terkait dalam pembangunan jalan dan jembatan semakin mudah
melaksanakan penanganan dampak lingkungan yang mungkn terjadi akibat
kegiatan pembangunan tersebut, sehingga terwujud proses pembangunan jalan
dan jembatan yang berwawasan lingkungan.
a) Mengetahui apakah pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan proyek
telah dilaksanakan atau belum;
Secara garis besar, isi pedoman ini memberikan petunjuk tentang cara pelaksanaan:
a) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap perencanaan;
b) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pra-konstruksi;
c) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi;
d) pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap pasca konstruksi; dan
e) evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek.
Halaman
Ketentuan-ketentuan yang lebih rinci khususnya mengenai formulir laporan hasil
pemantaun untuk tiap tahap kegiatan proyek tercantum pada lampiran.
ii
Qeđoman Lingkyngan Wup
cPenge6Gan Oiđanggaran
Daftar Isi
Prakata .
Pendahuluan . ii
Daftar Isi . ii i
Daftar Lampiran .
1 Ruang lingkup 1
2 Acuan Normatif 1
3 Istilah dan definisi 2
4 Aspek-aspek pemantauan pengelolaan lingkungan hidup 5
5.1 Dokumentasi 23
5.2 Pelaporan ..... .... ..... .............. .. 23
6 Pelaksanaan pemantauan 24
6,1 Instansi pelaksana pemantauan .... .... . 24
6.3 Instansi penerima laporan hasil pemantauan ..... ..... .... ... 24
7 Pembiayaan . 25
7.1 Biaya pemantauan pada tahap perencanaan ..... ..... .... .... ..... ..... 25
i
i
i
'alan
... 26
i
v
QengeG(aan garan
Daftar Lampiran
Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Bidang Jalan pada Tahap Perencanaan
Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Bidang Jalan pada Tahap Pra-konstruksi
Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Bidang Jalan pada Tahap Konstruksi
Formulir Laporan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Bidang Jalan pada Tahap Pasca Konstruksi
Formulir Laporan Evaluasi Kualitas Lingkungan Hidup Bidang
Jalan Pada Tahap Evaluasi Pasca Proyek
Baku Mutu Udara Ambien Nasional
Baku Tingkat Kebisingan
Baku Tingkat Getaran
Halaman
Qeđoman Lingkyngan Wup
Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas
Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan
Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas di
Dataran
1 Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor
Matrik Pelaksanaan Pemantauan RKL dan RPL
3 Format Laporan Hasil Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL
Halaman
Cing@ngan Wup (Büang
Qedoman
(
hmantauan Qengetoâan 'aran
1 Ruang lingkup
tersebut mencakup seluruh tahapan siklus proyek pembangunan jalan dan jembatan
mulai dari tahap perencanaan umum sampai ke tahap evaluasi pasca proyek, sesuai
Petunjuk dan ketentuan-ketentuan dalam pedoman ini secara garis besar meliputi:
Halaman 1
Qedoman %mantauan Ling€ungan -Wup (Bidang
2 Acuan normatif
'dan
d) Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2003 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air;
Halaman 2
k) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-49/MENLH/11/1996
tentang Baku Tingkat Getaran;
Dalam pedoman ini, digunakan definisi istilah-istilah yang telah baku digunakan
dalam peraturan dan perundang-undangan bidang jalan dan lingkungan hidup,
antara Iain:
3.1 jalan suatu prasarana transportasi jalan dalam bentuk apapun, meliputi segala
bagian jalan termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukan bagi lalu lintas;
3.2 jembatan prasarana transportasi darat yang menghubungkan antar badan jalan
karena terbelah oleh sungai atau talu lintas lainnya;
Halaman 3
Qedoman %mantauan Ling€ungan -Wup (Bidang
3.4 marka jalan batas
pemisah lajur lalu lintas;
3.5 jaringan jalan satu kesatuan sistem transportasi lalu lintas jalan raya, terdiri dari
sistem jaringan primer dan sistem jaringan sekunder yang terjalin dalam hubungan
hirarki;
3.7 moda angkutan semua alat angkutan barang dan atau penumpang dari
berbagai jenis dan tipe;
3.8 analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) kajian mengenai dampak
besar dan penting suatu usaha dan / atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang
penye!enggaraan usaha dan / atau kegiatan;
3,9 dampak besar dan penting perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar
yang diakibatkan oleh suatu usaha dan / atau kegiatan;
3.10 analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) telaahan secara cermat dan
mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan / atau
kegiatan;
Halaman 4
Qe'oman Qemantauan Ling&ngan
3.11 rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) upaya penanganan dampak besar
dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha
dan / atau kegiatan;
lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha
3.13 upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup
berbagai tindakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang wajib
dilaksanakan oleh pemrakarsa dalam rangka pengendalian dampak lingkungan sesuai
dengan standar-standar pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup;
3.14 pemrakarsa orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu
rencana usaha dan / atau kegiatan yang akan dilaksanakan;
3.15 masyarakat terkena dampak masyarakat yang akan merasakan dampak dari
adanya rencana usaha dan/atau kegiatan, terdiri dari masyarakat yang akan
mendapatlen manfaat dan masyarakat yang akan mengafami kerugian.
3.17 LARAP
Land acquisition and reset/ement action plan (rencana pelaksanaan pengadaan
tanah dan pemukjman kembali).
Halaman 5
#mantauan Qengetoraan Ling@ngan
Bagi proyek-proyek jalan yang termasuk kategori wajib dilenglapi ANDAL atau UKL
dan UPL, dampak kegiatan proyek tersebut seharusnya telah teridentifikasi pada
tahap perencanaan, melalui proses studi AMDAL atau UKL dan UPL. Dan bagaimana
cara penanganan dampak tersebut seharusnya telah ditetapkan dalam dokumen RKL
dan RPL atau UKL dan UPL proyek jalan yang bersangkutan.
Dokumen RKL dan RPL masing-masing berisi arahan tentang lingkup pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup seperti tercantum pada Kotak 4.1 dan Kotak 4.2.
Demikian juga dokumen UKL dan UPL pada dasarnya sama dengan dokumen RKL dan
RPL, walaupun dampak-dampak yang perlu ditangani tidak termasuk kategori besar
dan penting.
Lingkup pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih terinci dan / atau
spesifik pada tahap pra-konstruksi tercantum dalam dokumen LARAP (bila ada).
Halaman 6
%mantauan Ling@ngan
Lingkup pemantauan pengelolaan lingkungan hidup yang lebih terinci dan / atau
spesifik pada tahap konstruksi seharusnya tercantum dalam dokumen kontrak
pekerjaan konstruksi, yang berupa gambar-gambar desain dan spesjfikasi teknis
serta persyaratan pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang harus
dilaksanakan oleh kontraktor.
Apabila suatu proyek jalan yang akan dipantau ternyata tidak dilengkapi dengan
dokumen RKL dan RPL atau IJKL dan UPL, penentuan lingkup kegiatan pemantauan
pengelolaan lingkungan hidup pada tiap tahap kegiatan (siklus) proyek dapat
mengacu pada Tabel 4.1 di bawah ini, dengan tambahan penjelasan seperti
tercantum pada Butir
4.1.1 s/d 4.1.5.
Meskipun pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang mengakjbatkan perubahan
kondisi lapangan, namun kegiatan survey / pengukuran untuk penentuan koridor /
rute jalan mungkin menimbu!kan dampak sosial berupa keresahan masyarakat, bila
mereka tidak mendapat informasi yang jelas tentang rencana proyek jalan yang
bersangkutan.
Halaman 7
#mantauan Qengetoraan Ling@ngan
Kotak 4.1
Ketentuan-ketentuan pokok tercantum dalam dokumen RKL:
Halaman 8
%mantauan Ling@ngan
yahn
Dampak negatif terhadap aspek sosial juga dapat terjadi sehubungan dengan
mobilisasi tenaga keöa dari luar lokasi proyek.
Halaman 9
emantauan Qengetohan Lingongan (Bidang
Di samping itu, mungkin juga terjadi dampak lingkungan terhadap jalan seperti
longsor dan banjir yang mengakjbatkan kerusakan jalan sehingga laiu lintas
kendaraan terganggu.
Halaman 10
Qemantauan ffidup (Bidang
Kegiatan pemeliharaan jalan dapat menimbulkan dampak berupa gangguan lalu
lintas, namun dampak tersebut hanya bersifat sementara.
Tabel 4.1
Matrik Arahan Pemantauan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Bidang Jalan
Halaman 11
'Pedoman (Pemantauan engeCoraan Ling@ngan ffidup (Bidang
ftdoman engeroCaan Lingf_gngan 'dan
C. Tahap Konstruksi a. Kecemburuan sosial a.l Tenaga kerja a. Tenaga kerja lokal
Persiapan Pekeäaan lokal terserap
Konstruksi a.2 diprioritaskan
1. Mobilisasi tenaga Sosialisasi pada
penduduk lokal
b. Peningkatan b.l b. Jumlah
kesempatan Pemberian seluruh
kerja (dampak informasi ttg tenaga kerja
positif) b.2 tenaga kerja yang terserap.
diperlukan
Pelatihan tenaga
kerja lokal
a. a.l a.
Kerusakan Kondisi jalan
prasarana ja! an a.2
Perbaikan jalan yang
2. Mobilisasi perafatan
rusak
berat
Membatasi
tonase peralatan
a. a. atau membatasi a.
Pencemaran udara tekanan gandar
Kualitas udara
Pelaksanaan Pekerjaan a. a. a.
Konstruksi Gangguan pd flora Liputan vegetasi
b. dan fauna; b. b.
a. Di lokasi proyek
Pencemaran udara Penghijauan
1. Pembersihan dan c.
c. c. Kualitas udara
penyiapan lahan (kandungan debu)
Pencemaran air Penyiraman secara
Kualitas air
permukaan.
Pembuatan
tanggul atau
d. saluran drainase d.
Gangguan pada sementara utk
Kondisi utilitas
utilitas umum pengendalian air
larian
a. a. a.
Pemindahan atau
perbaikan utilitas
b. Pencemaran udara b. b. Kualitas udara
(debu);
2. Pekerjaan tanah Pencemaran air Kualitas air
(galian I timbunan) Penyiraman secara
berkala
c.
c. Pembuatan c.
tanggul atau
Gangguan pd Kondisi aliran air
d.l saluran drainase
d. aliran air tanah d. permukaan dan
d.2 sementara utk
dan air pengendalian air air tanah
Halaman 12
Qemantauan ffidup (Bidang
larian
Pembuatan sistem
drainase
Perkuatan tebing
permukaan Pengendalian aliran
Gangguan stabilitas air tanah Erosi / longsor
yaran
Halaman 13
'Pedoman (Pemantauan engeCoraan Ling@ngan ffidup (Bidang
Halaman 14
Qemantauan ffidup (Bidang
kemiringan lereng
sesuai dengan
kondisi tanah c.2
Pengendalian air
Halaman 15
%mantauan Ling@ngan ffidup (Bidang
eloman engeto&an .7aLn
a.
b. Kecemburuan sosial a. Keluhan
a.
Pencemaran udara; masyarakat
Penyuluhan
c.
b. masyarakat b. Kualitas udara
Di !okasi Base camp d. Kebisingan; c. Tingkat kebisingan
Pencemaran air c. Perawatan peralatan
dan AMP
d. Sda d. Kualitas air
Pengoperasian base e. permukaan. Pengendalian limbah
camp (barak Kecelakaan lalu e. Kondisi lalu lintas
e. cair
pekerja, kantor, lintas
Pengaturan lalu lintas
stone crusher dan
AMP)
Halaman 16
(Pemantauan Ling@ngan ffidup
D. Tahap Pasca a. a.
Konstruksi Pencemaran udara Penghijauan di Kualitas udara
1. Pengoperasian jalan b. (debu, gas polutan) median dan pinggir
a.
b.
c.
Kebisingan Sda; pembuatan c. Tingkat kebisingan
b. noise barrier Kondisi lalu
d. Kemacetan Pengaturan lalu lintas dan
dan C.I lintas; kecelakaan Ialu
kecelakaan pemasangan lintas
lalu lintas c.2 rambu lalu lintas
ØZang 'dan
c.3 Penertiban
pedagang kaki lima
c.4 Penyuluhan tertib
pemanfaatan jalan
c.5 Pembuatan rest
area, khususnya
pada jalan tol
d. Pembuatan
jembatan
penyeberangan
Gangguan
mobilitas e. Pembuatan under
d. Keluhan
e. masyarakat pass untuk jatan masyarakat
setempat satwa dilindungi
Gangguan terhadap
f. satwa dilindungi a.l Pengaturan lalu e. Lintasan satwa
lintas dilindungi
a.2 Pemasangan rambu
Gangguan lalu lalu lintas
2. Pemeliharaan jalan a. lintas sementara a. Kondisi lalu lintas
Halaman 17
(Pedoman Qemantauan Qengeforaan Ling@ngan ffidup
Tujuan pemantauan pada tahap ini adaiah untuk mengetahui apakah proses
perencanaan telah menerapkan pertimbangnan lingkungan hidup atau belum.
Karena pada tahap ini belum ada kegiatan fisik yang menimbulkan dampak
(perubahan kualitas) lingkungan, kegiatan pemantauan tidak dilakukan terhadap
komponenkomponen lingkungan di lapangan, melainkan terhadap proses
penerapan pertimbangan lingkungan dalam palaksanaan perencanaan mulai dari
tahap perencanaan umum sampai ke tahap perencanaan teknis. Beberapa hal yang
perlu dipantau antara Iain:
Apakah rencana rute jalan sesuai dengan tata ruang yang telah ditetapkan ?
Apakah rencana umum pembangunan jalan yang bersangkutan telah
dikonsultasikan dengan masyarakat ?
Apakah rute jalan melalui atau berbatasan dengan areal sensitif ? (lihat Kotak 4.3
dan 4.4)
Apakah telah dilakukan Kajian Lingkungan Strategis ?
Apakah rencana kegiatan proyek termasuk kategori wajib dilengl€pi AMDAL atau
UKL dan UPL ?
Apakah telah dilakukan konsultasai masyarakat untuk penyusunan KA - ANDAL ?
Apakah studi kelayakan dilengkapi dokumen AMDAL atau UKL dan UPL ?
Halaman 18
(Pemantauan Ling@ngan ffidup
Apakah ketentuan-ketentuan dalam RKL atau UKL telah dijabarkan dalam desain
dan spesifikasi / persyaratan teknis pekerjaan konstruksi ?
Apakah rencana pengadaan tanah dilengkapi dengan dokumen LARAP ?
Apakah persyaratan pengelolaan dan pemantaun lingkungan telah dicantumkan
dalam dokumen tender dan dokumen kontrak pekerjaan konstruksi ?
Halaman 19
Qedoman (Pemantauan Ling@ngan
Halaman 20
Temantauan LingOngan
Kotak 4.4
Daftar Kawasan Lindung
A. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya:
1. Kawasan Hutan Lindung;
2. Kawasan Bergambut dengan ketebalan 3 m atau lebih;
3. Kawasan Resapan Air;
B. Kawasan perlindungan setempat:
1. Sempadan Pantai;
2. Sempadan Sungai;
3. Kawasan Sekitar Danau / Waduk;
4. Kawasan Sekitar Mata Air
C. Kawasan suaka slam dan cagar budaya
1. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam, Suaka Marga Satwa, Hutan Wisata,
Daerah Perlindungan Plasma Nutfah, dan Daerah Pengungsian Satwa);
2. Kawasan Suaka Alam Laut dan perairan lainnya (termasuk perairan laut, perairan darat,
wilayah muara sungai, gugusan karang atau terumbu karang, dan atol yang
mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan / atau keunikan ekosistem);
3. Kawasan Pantai berhutan Bakau (mangrove);
4. Taman Nasional;
5. Taman Hutan Raya;
6. Taman Wisata Alam
7. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair, daerah
dengan budaya masyarakat istimewa, daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan
sejarah yang bernilai tinggi);
D. Kawasan Rawan Bencana Alam. 1. Kawasan rawan letusan gunung berapi;
2. Kawasan rawan gempa bumi;
3. Kawasan rawan longsor.
Sumber: Keppres No.32/1990 tentang Pengelotaan Kawasan Lindung.
Catatan: Definisi dan kriteria mengenai jenis-jenis kawasan /indung dapat di/ihat da/am
Keppres tersebut di atas.
Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap ini terutama untuk
mencek kinerja penanganan dampak sosial akibat kegiatan pengadaan tanah dan
pemindahan penduduk.
Halaman 21
Qedoman (Pemantauan Ling@ngan
Halaman 22
Temantauan LingOngan
Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap ini adalah untuk
mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang mungkin
terjadi akjbat kegiatan konstruksi.
Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap konstruksi pada dasarnya adalah
berupa pengaturan pengoperasian alat-alat berat di lokasi pekerjaan, yang meliputi:
Kegiatan pengelolaan lingkungan hidup di lokasi base camp meliputi antara Iain:
Perawatan alat-alat berat seperti stone crusher, AMP. Ioader, dan sebagainya;
Halaman 23
Qedoman (Pemantauan Ling@ngan
Qengdoraan %idup Cilang gahn
b) Di lokasi quarry
Halaman 24
Temantauan LingOngan
Pencegahan erosi dan longsor;
Penghijauan,
enge"an
Komponen lingkungan hidup yang perlu dipantau sebagian besar berupa komponen
fisikkimia seperti kualitas udara, tingkat kebisingan, kualitas air, bentang alam /
Ians&p, stabilitas tanah (erosi / longsor) serta kerusakan jalan, dan gangguan
terhadap kenyamanan / kesehatan masyarakat setempat.
Tujuan pemantauan pengelolaan lingkungan hidup pada tahap ini adalah untuk
mengetahui kinerja penanganan dampak terhadap lingkungan hidup yang terjadi
akibat kegiatan pengoperasian atau pemanfaatan dan pemeliharaan jalan yang telah
selesai dibangun / ditingkatkan, baik berupa penggunaan ja!an oleh para pemakai
kendaraan maupun pejalan kaki. Di samping itu, perlu diperhatikan juga penanganan
dampak lingkungan terhadap kondisi jalan seperti banjir, longsor dan sebagainya.
Halaman 25
Qedoman (Pemantauan Ling@ngan
e) Penataan Iansekap;
f) Penggunaan lahan di sekitar jalan serta tertib pemanfaatan jalan.
4.7 Evaluasi kualitas lingkungan hidup pada tahap evaluasi pasca proyek.
Pada tahap ini diperlukan evaluasi kualitas lingkungan sehubungan dengan kinerja
jalan yang bersangkutan setelah umur desainnya terlampaui.
Halaman 26
Temantauan LingOngan
Dampak ikutan (dampak kegiatan sektor Iain) terhadap kinerja jalan; dan
Dampak lingkungan alam.
c) Penilaian kualitas lingkungan dengan mengacu pada baku mutu lingkungan yang
telah ditetapkan oleh pemerintah;
Halaman 27
Qedoman (Pemantauan Ling@ngan
Membuka keterisolasian wilayah;
Meningkatkan aktivitas dan mendukung kelancaran roda ekonomi wilayah;
Mempermudah akses penggunaan teknologi dan pemanfaatan fasilitas sosial seperti
pendidikan, kesehatan, pemerintahan, dan lain lain;
Peningkatan mobilitas dan kontak sosial antar penduduk.
Halaman 28
e) peningkatan pendapatan uang tunai dalam jangka panjang, terutama erena
perbaikan akses ke pasar dan para pemasok (supp/ier)
g) pengaspalan jalan agregat / tanah dapat meningkatkan kesehatan dan pola hidup
masyarakat sebagai akibat penurunan sebaran debu dari jalan.
Pada saat ini kegiatan monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi proyek-proyek jalan
pada umumnya belum dilaksanakan, kecuali untuk beberapa proyek yang dibiayai
dengan dana bantuan luar negeri, seperti program Road Rehabilitation (Sector)
Project (RR(S)P) bantuan ADB, yang mensyaratkan implementasi program monitoring
dan evaluasi sosialekonomi (SEMEP = Socio-economic Monitoring and Evaluation
Program). Program tersebut harus dilaksanakan di beberapa sampel desa yang
berdekatan dengan jalan yang dibangun, sebelum kegiatan konstruksj dilaksanakan,
kemudian pada tahun pertama dan tahun keempat setelah konstruksi selesai.
Idealnya, monitoring dan evaluasi sosial-ekonomi ini dilaksanakan untuk semua
proyek jalan, untuk menguji (mengevaluasi) sejauh mana rencana manfaat proyek
dapat tercapai.
Halaman 29
(Woman Tengeroaan
Temantauan Wup Oidang garan
LingOngan
Halaman 30
Qedoman %mantauan Ling@ngan
Beberapa contoh ketentuan baku mutu lingkungan disajikan dalam lampiran, yaitu:
Lampiran 6 : Baku Mutu Udara Ambien Nasional;
Lampiran 7 : Baku Tingkat Kebisingan;
Lampiran 8 : Baku Tingkat Getaran;
Lampiran 9 : Kriteria Mutu Air Berdasarkan Kelas;
Lampiran 10: Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan
Penambangan.
Bahan Galian Golongan C Denis Lepas di Dataran;
Lampiran 11 : Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor.
5. Dokumentasi dan Pelaporan
5.1 Dokumenbsi
Hasil pemantauan pengelolaan lingkungan hidup untuk tiap tahap kegiatan proyek
didokumentasikan dengan menggunakan format laporan seperti tercantum pada
Lampiran 1 s/d 4. Sedangkan hasil evaluasi kualitas lingkungan pada tahap pasca
proyek didokumentasikan dengan menggunakan format seperti tercantum pada
Lampiran 5.
Halaman 31
Temantauan LingOngan
5.2 Pelaporan
Laporan eksternal dibuat khusus untuk proyek-proyek jalan yang termasuk kategori
wajib dilengkapi dokumen AMDAL. Penyusunan laporan ini agar mengacu pada
Keputusan Kepala Bapedal No. KEP-105 Tahun 1997 tentang Panduan Pemantauan
Pelaksanaan RKL dan RPL . Format laporan tercantum pada Lampiran 12, 13 dan 14.
Materi laporan disusun berdasarkan data tercantum dalam laporan internal tersebut
pada Butir 5.2.1.
Halaman 32
Qedoman %mantauan Ling@ngan
engetotaan ffidup (Bi/ang 'dan
6. Pelaksanaan Pemantauan
6.1 Instansi pelaksana pemantauan
Pemantauan pengelolaan Ijngkungan hidup pada tiap tahap kegiatan / siklus
proyekjalan dilaksanakan oleh pemrakarsa atau pengelola kegiatan. Dalam hal ini
penanggungjawab pelaksanaan pemantauan tersebut adalah Pemimpin Proyek /
Bagian Proyek atau unit kerja / pengelola kegiatan yang bersangkutan.
Khusus untuk proyek jalan yang wajib dilengkapi AMDAL, laporan pemantauan
pelaksanaan RKL dan RPL tahap-tahap pra-konstruksi, konstruksi dan pasca
konstruksi disampaikan oleh pemrakarsa / pengelola kegiatan kepada instansi
pengawas pelaksanaan pemantauan dan instansi pembina teknis bidang jalan serta
instansi Iain yang terkait, yaitu:
Halaman 33
Wup
b) Bupati / Walikota c.q. Bapedalda Kabupaten / Kota yang bersangkutan;
c) Instansi pembina teknis (Dinas PU / Bina Marga / Praswil);
d) Instansi Iain yang terkait
7. Pembiayaan
Halaman 34
ftdoman Qemantauan Wup
7.5 Biaya evaluasi pada tahap evaluasi pasca proyek
Anggaran biaya evaluasi kualitas lingkungan pada tahap evaluasi pasca proyek perlu
dialokasikan secara khusus oleh instansi atau unit kerja yang membidangi kegiatan
perencanaan teknis atau pembinaan lingkungan.
transportasi; personel
(lumpsum); peralatan dan
material;
analisis laboratorium (bila
perlu); penyusunan laporan.
8. Penutup
Yang dimaksud dengan pemimpin proyek di sini adalah semua pemimpin proyek,
selaku pemrakarsa kegiatan, yang masing-masing secara berkesinambungan
bertanggung jawab dalam tiap tahap siklus proyek pembangunan jalan, meliputi:
Halaman 35
Wup
Agar proses pengelolaan lingkungan hidup dapat terlaksana secara
berkesinambungan, semua dokumen mengenai lingkungan hidup (AMDAL, UKL dan
UPI-, LARAP, Laporan Hasil Pemantauan Pengelolaan Lingkungan) yang dibuat oleh
pemimpin proyek pada tahap tertentu, harus diserahterimakan kepada pemimpin
proyek tahap berikutnya, sebagai satu kesatuan dengan dokumen teknis, untuk
digunakan sebagai arahan pengelolaan lingkungan hidup tahap berikutnya (lihat
Gambar 8.1).
Ketentuan-ketentuan tentang koordinasi antara pemrakarsa kegiatan proyek jalan
dengan instansi-instansi terkait, dapat dilihat pada Pedoman Pe/aksanaan
Penge/o/aan Lingkungan Hidup Bidang Ja/an Bagi Stakeho/der di Daerah.
Halaman 36
Wup
Bidang
Halaman 37
Gambar 8.1
Halaman 38
Bagan Pengelolaan Lingkungan Proyek Jalan yang
Berkesinambungan
Halaman 40
Lampiran
I
1. Nama Pro ek
8. Pro rs eker•aan
B. Hasi' Pemantauan
a)
b)
c)
d)
4.a. Kelompok masyarakat yang menghadiri
konsultasi awal
Halaman -
Lampiran
f)
g)
a)
f)
g)
Halaman -
Lampiran
dilaksanakan
*) : Coret yang ödakper/u Catatan: Data yang /ebih rina' dapat dj/ampirkan
... ... ... ................ 2003
Pelaksana Pemantauan
12
2
1. Nama Pro ek
4. Lokasi:
a. Kabupaten / Kota * )
b. Pro insi
Halaman -
Lampiran
B. Hasil Pemantauan
. Ha ( .........%)
Ha )
. Ha ( 100 %)
2I
Halaman -
Lampiran
19. Kelancaran roses embebasan tanah Lancar / kuran lancar tidak lancar *
Pelaksana
Pemantauan
Halaman -
Lampiran
2 2
1. Nama Pro ek
4. Lokasi :
a. Kabupaten / Kota * )
b. Propinsi
7. Kontraktor a. Nama
Perusahaan
b. Alamat
8. Nomor Kontrak
3 I
Halaman -
1
Lampiran
4
4. Lokasi:
a. Kabupaten / Kota *)
b. Pro insi
7. Lebar DAMIJA
8. Lebar erkerasan
B. Hasil Pemantauan
Halaman -
Lampiran
1.5 Gan uan mobilitas enduduk setem at Tidak ter•adi / ter•adi di .... ... 10kasi *
1.6. Gangguan pada mobilitas satwa liar Tidak terjadi / terjadi di ...........................*)
Halaman -
Lampiran
*) : Coret yang tidak per/u Catatan: Data yang /ebih rinci dapat di/ampirkan
. 2003
Pelaksana Pemantauan
42
5
4. Lokasi:
a. Kabupaten / Kota * )
Halaman -
Lampiran
b. Pro insi
7. Lebar DAMDA
8. Lebar erkerasan m
B. Hasil Evaluasi
5I
Halaman -
Lampiran 5
10. Gan uan mobilitas enduduk setem at Tidak te •adi ter•adi di ..... .. 10kasi *
11. Gangguan pada mobilitas satwa liar Tidak terjadi / terjadi di ...........................*)
13. Dampak pada kondisi sosial-ekonomi dan Tidak terjadi / terjadi di .........................
sosial buda a mas arakat terasin
| 14. Kegiatan sektor lain yang a) pedagang kaki lima
mengakibatkan penurunan kinerja b) pasar tradisional c
jalan usat erda an an
15. Dampak lingkungan terhadap jalan a) banjir
b) longsor
c) gempa bumi
d) letusan gunung berapi
C. Saran Tindak Lanjut
.
2003
Pelaksana Pemantauan
Halaman -
Lampiran 6
52
B
a
k
ü
M
u
t
u
U
d
a
r
a
A
m
b
i
e
n
N
a
s
i
o
n
a
l
N Waktu Metode
Parameter Pengukuran Bakü Mutu Analisis Peralatan
o
1 Jam 900 ug/Nm Pararosanilin Spektrofotometer
(Sulfur Dioksida) 24 Jam 365 ug/Nm 3
1. 60 u /Nm3
ı Tahun
co 1 Jam 30.000 ug/Nm NDIR NDIR Analizer
(Karbon 24 Jam 10.000 ug/Nm3
z Monoksida
ı Tahun
N02 1 Jam 400 ug/Nm Saltzman Spektrofotometer
(Nitrogen Dioksida) 24 Jam 150 ug/Nm3
3. 100 u /Nm3
1 Tahun
4. 03 1 Jam 235 ug/Nm Chemilumines Spektrofotometer
(Oksidan) 1 Tahun 50 ug/Nm3
No. Tingkat
Peruntukan Kawasan / Kebisingan
Lingkungan Kegiatan (dBA)
Lampiran 8
1. Peruntukan Kawasan
2, Perumahan dan Pemukiman
3. 55
Perdagangan dan Jasa
4. 70
Perkantoran dan Perdagangan
5. 65
Ruang Terbuka Hijau
6. 50
Industri
7. 70
Pemerintahan dan Fasilitas Umum
8. 60
Rekreasi
70
Khusus:
Bandar Udara
Stasiun Kereta Api
Pelabuhan Laut 70
Cagar Budaya 60
Sumber: Keputusan
Menteri Negara
Lingkungan Hidup
No.
KEP48/MENLH/11/1
996
Tentang
Baku
Tingkat
Kebisingan
Tabel 8.1
Baku
Tingkat
Getaran
Untuk
Kenyama
nan dan
Kesehata
n
Frekuensi Nilai Tin kat Getaran dalam mikron 10-6 meter
Tidak
Men an u Mengganggu Tidak Nyaman Menyakitkan
Lampiran 9
> 500 —
4 < IOO 100 - 500 1000 > 1000
5 < 80 80 - 350 > 350 - 1000 > 1000
6,3 < 70 70 - 275 >275 - 1000 > 1000
8 < 50 50 - 160 > 160 — 500 > 500
10 37 37 - 120 >120 - 300 > 300
12,5 < 32 32 -90 > 90- 220 > 220
16 < 25 25 -60 > 60- 120 > 120
20 < 20 > 40 — 85 > 85
25 17 > 30 — 50 > 50
50 8- 12 > 15
63 > 12
Sumber : Lampiran I
Kepmen LH No.•
KEP49/MENLH/11/19%
Konversi :
p
e
r
c
e
p
a
t
a
n
=
(
2
f
f
s
i
m
p
a
n
g
a
Lampiran 10
k
e
c
e
p
a
t
a
n
f
x
s
i
m
p
a
n
g
a
n
= 3,14
Tabel 8.2
Baku Tingkat Getaran
Mekanik Berdasarkan
Dampak Kerusakan
Getaran Frekuensi Batas Getaran, Peak mm/detik
Parameter Satuan Kategori A Kategori B Kategori C Kategori
- Kecepatan mm/detik 4 < 7,5 2,27 > 2,27 > 140
Getaran 5 140 > 130
6,3 < 5,2 > 25 - 130 > 110
- Frekuensi
8 4.8 > 21 - 110 > 100
10 > 19 - 100 > 90
12,5 < 3,8 > 80
16
> 16-90 > 70
< 3,2
20 < 3,2 — 10 > 14 -70
> 67
25 > 60
> 53
31,5
< 2-8 > 10-60 > 50
50 < 1 —7 > 42
Sumb
er :
Lampi
Lampiran 11
ran 11
Kepm
en LH
No:
KEP4
9/ME
NLH/
11/19
%
Ketera
ngan:
A : Tidak
menimbulkan
kemsakan
B : Kemungkjnan keretakan
plesteran (retak4eHepas
plesteran pada dinding pemikul
beban pada kasus khusus) C :
Kemungwnan rusak
komponen strukttr djnding
pemikul beban Kategm• D:
Rusak dinding pemikul beban.
Halaman 8 - I
Lampiran
8
Tabel 8.3
Baku Tingkat Getaran Mekanik Berdasarkan Jenis Bangunan
Kece atan etaran mm/detik
Pada bidang
datar di
Pada Fondasi
lantai alin
atas
Frekuensi
Campuran
< IO Hz 50 Hz 50 - 100
Kelas Tipe Bangunan Frekuensi
1. Bangunan untuk < 10 20 - 40 40 - 50 40
keperluan niaga,
bangunan industri
dan ban unan
se•enis
Tabel 8.4
Baku Tingkat Getaran Kejut
Kecepatan Getaran
Kelas Jenis Bangunan
Maksimum mm/detik
Halaman 8 - 2
Lampiran 11
LAPORAN HASIL
PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL
BIDANG USAHAATAU KEGIATAN
BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BEI-AKANG
B. TU J U AN
Uraikan tujuan pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL,
BAB 11
RINGKASAN RKL DAN RPL
A. RINGKASAN RKL
Tuliskan ringkasan RKL, antara Iain meliptuti:
Jenis dampak penting
Sumber dampak penting
Tolok ukur dampak penting
Pengelolaan dampak penting
Halaman 13 - 1
Lampiran 13
B. RINGKASAN RPL
BAB 111
HASIL PELAKSANAAN
A. RKL
B. RPL
Uraikan secara singkat pelaksanaan pemantauan lingkungan dan hasil yang dicapai.
Lampirkan berbagai hasil pengukuran (hasil pelaksanaan fisik dan hasil analisis
laboratorium).
BAB IV
EVALUASI
Uraikan secara singkat kesesuaian hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan dengan
tolok ukur.
Uraikan kendala dan masalah yang dihadapi.
Uraikan langkah-langkah perbaikan pelaksanaan RKL dan RPL.
Halaman 13 - 2