0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
77 tayangan9 halaman

Uji Antidiabetes Sambiloto dan Sirih

Ringkasan dari artikel tersebut adalah: 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kombinasi ekstrak tanaman sambiloto dan daun sirih hijau sebagai antidiabetes pada tikus yang diabetes. 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak sambiloto dan daun sirih hijau dapat menurunkan kadar gula darah pada tikus diabetes. 3. Persentase penurunan kadar gula darah terting
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
77 tayangan9 halaman

Uji Antidiabetes Sambiloto dan Sirih

Ringkasan dari artikel tersebut adalah: 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kombinasi ekstrak tanaman sambiloto dan daun sirih hijau sebagai antidiabetes pada tikus yang diabetes. 2. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak sambiloto dan daun sirih hijau dapat menurunkan kadar gula darah pada tikus diabetes. 3. Persentase penurunan kadar gula darah terting
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ARTIKEL PEMAKALAH PARALEL p-ISSN: 2527-533X

UJI AKTIVITAS ANTIDIABETES KOMBINASI EKSTRAK HERBA


SAMBILOTO DAN DAUN SIRIH HIJAU PADA MENCIT

1Peggy Aprillia, 1Cikra Ikhda Nur Hamidah Safitri


1Departemen Farmakologi Farmasi, Akademi Farmasi Mitra Sehat Mandiri Sidoarjo 61262, Indonesia
Email: [Link]@[Link]

Abstrak
Tumbuhan sambiloto (Andrographis paniculata) dan daun sirih (Piper betle L.) memiliki aktivitas farmakologi yang dapat
digunakan untuk pengobatan tradisional. Senyawa utama yang terdapat dalam tumbuhan sambiloto ini yaitu andrografolid,
flavonoid, dan saponin. Senyawa utama yang terdapat dalam daun sirih hijau yaitu flavonoid, saponin, polifenol dan tanin.
Aktivitas antidiabetes dari kombinasi ekstrak herba sambiloto dan daun sirih hijau telah diuji toleransi glukosa pada mencit
putih diabetes yang diinduksi dengan D40. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari kombinasi ekstrak herba
sambiloto dan ekstrak daun sirih hijau sebagai antidiabetes. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental yang terdiri
dari maserasi, skrining fitokimia dan uji aktivitas antidiabetes pada mencit. Uji aktivitas antidiabetes pada mencit dibagi
menjadi 5 kelompok yaitu kelompok positif, kelompok negatif, kelompok sirih, kelompok sambiloto dan kelompok kombinasi.
hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi dari ekstrak herba sambiloto dan ekstrak daun sirih hijau dapat menurunkan
gula darah dalam darah pada mencit dengan dosis ekstrak sambiloto 280 mg/kg BB mencit dan daun sirih hijau dengan dosis
10,5 mg/kg BB mencit. Presentase penurunan kadar gula darah mencit yang diabetes setelah diinduksi dengan ekstrak daun
sirih hijau (10,5 mg), ekstrak tanaman sambiloto (280 mg), dan kombinasi ekstrak daun sirih hijau + tanaman sambiloto (1:1)
berturut-turut adalah 72,7% ± 1,49 ; 74,6%
± 3,25 ; 76,6 % ± 0,75. Presentase penurunan dari Glibenklamid yaitu 78,1% ± 1,39. Kesimpulan pada penelitian ini adalah
kombinasi ekstrak herba sambiloto dengan ekstrak daun sirih hijau memiliki efek antidiabetik, tetapi tidak berbeda jauh
dibanding dengan dosis tunggal ekstrak daun sirih hijau dan glibenklamid.

Kata Kunci :Antidiabetes, Andrographis paniculata, Piper betle. L, Gula darah, Mencit.

1. PENDAHULUAN
Ramuan obat tradisional yang berasal dari tumbuhan sudah dikenal sejak lama dan hingga
kini masih terus digunakan oleh banyak masyarakat. Masyarakat banyak yang mengkonsumsi
obat tradisional sebagai alternatif pengobatan karena obat tradisional juga tidak kalah manjur
dengan obat modern. Industri obat tradisional di Indonesia telah memanfaatkan sekitar 180
spesies sebagai temuan obat tradisional (Lisdawati, 2002). Ramuan obat tradisional memiliki
berbagai macam manfaat, dapat mencegah bahkan mengobati berbagai macam penyakit, mulai
dari penyakit yang ringan, sedang hingga yang berat seperti seperti batuk, pilek, demam,
ambeien, diuretik, hipertensi, asam urat, kolesterol, diabetes dan masih banyak lagi.
Salah satu penyakit terbesar dan banyak diderita oleh masyarakat didunia adalah diabetes
melitus. Indonesia sendiri berada pada urutan ke empat setelah China, India dan Amerika
Serikat dengan jumlah penderita penyakit diabetes melitus sebesar 8,4 juta orang dan
diperkirakan akan terus menerus meningkat hingga 21,3 juta orang pada tahun 2030 (Depkes
RI, 2010). Penderita penyakit diabetes melitus semakin bertambah banyak diakibatkan
meningkatnya populasi penduduk lansia dan adanya banyak perubahan gaya hidup masyarakat,
mulai dari pola makan atau jenis makanan yang sering dikonsumsi sampai berkurangnya
kegiatan jasmani (Tandi, 2016).
Diabetes melitus tipe 2 ini terjadi akibat insulin yang ada tidak dapat bekerja dengan baik,
kadar insulin dapat normal, rendah atau bahkan meningkat tetapi fungsi insulin untuk
metabolisme glukosa tidak ada atau kurang yang mengakibatkan glukosa dalam darah tetap
tinggi yang merupakan kerusakan genetik fungsi sel beta (McPhee dkk, 2012). Diagnosis DM
ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa dalam darah. Diagnosis tidak dapat
ditegakkan atas dasar adanya glukosuria (Perkeni, 2015).

Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek (SNPBS) ke-V 2020 | 553
ARTIKEL PEMAKALAH PARALEL p-ISSN: 2527-533X
Terapi oral antidiabetes pada penderita DM ditujukan untuk memperbaiki metabolisme
tubuh pada penderira DM. Pemberian kombinasi ekstrak daun sirih hijau dan tanaman
sambiloto memberikan lebih sedikit penurunan KGD pada mencit dibanding dengan pemberian
ekstrak tunggal pada mencit. Target minimal yang dicapai dalam penelitian terapi oral
antidiabetes ini adalah perbaikan metabolisme
Indonesia terdapat banyak tanaman yang berkhasiat sebagai obat salah satunya adalah
Andrographis paniculata (Burm.f) Ness atau yang sering disebut oleh masyarakat dengan
sebutan sambiloto. Tanaman sambiloto banyak tumbuh di daerah yang panas. Tanaman
sambiloto merupakan salah satu tanaman obat yang paling sering digunakan dalam formulasi
obat (Radha et al., 2011). Semua bagian tanaman sambiloto dapat dijadikan sebagai obat tetapi,
tetapi terasa sangat pahit jika dimakan atau direbus untuk diminum biasa. Rasa pahit yang
timbul dari tanaman ini diduga berasal dari senyawa Andrographolide yang dikandung
tanaman sambiloto tersebut. Tanaman sambiloto telah diteliti mengandung senyawa aktif
andrografolid sebagai senyawa utama yang dipercaya masyarakat dapat digunakan sebagai
antidiabetes (Niranjan et al., 2010). Ekstrak sambiloto diduga memiliki beberapa mekanisme
kerja yaitu merangsang pelepasan insulin dan juga menghambat absorbsi glukosa melalui
penghambatan enzim alfa-amilase dan alfa-glukosidase (Subramanian et al., 2008).Tanaman
sambiloto juga memiliki kandungan senyawa diterpene, flavonoid dan laktone (Ratnani et al.,
2012) tanin, alkaloid dan triterpenoid (Yulinah et al., 2011).
Tanaman lain selain sambiloto yang telah terbukti secara ilmiah berkhasiat sebagai
antidiabetes adalah daun sirih hijau Piper betle L. atau yang sering disebut dengan daun sirih
hijau (Arambwela, 2005). Daun sirih hijau memiliki berbagai macam khasiat dikarenakan
kandungan kimia yang terkandung pada daun sirih sangat banyak. Daun sirih dalam
farmakologi dapat digunakan sebagai analgesik, antibisul, antibakteri, antilava, antidiabetik
(Pratiwi et al., 2016). Daun sirih sebagai antidiabetes memiliki mekanisme kerja menghambat
enzim alfa glukosidase dan menstimulasi insulin. Daun sirih memiliki kandungan senyawa
kimia seperti flavonoid, saponin, polifenol dan minyak atsiri (Aiello, 2012).
Senyawa yang mengandung antidiabetes memiliki aktivias kerja yang berbeda. Senyawa
saponin bersifat sebagai penghambat enzim alfa glukosidase. Enzim alfa glukosidase ini
berperan sebagai pengubah karbohidrat menjadi glukosa, maka jika enzim alfa glukosidase ini
dihambat kerjanya, kadar gula dalam darah akan menurun dan akan menimbulkan efek
hipoglikemik (Prisma, 2002). Senyawa flavonoid berperan secara signifikan dapat
meningkatkan aktivitas enzim antioksidan dan dapat meregenerasi sel beta pankreas yang telah
rusak sehingga defisiensi insulin dapat diatasi. Flavonoid diduga juga dapat memperbaikki
sensitifitas reseptor insulin (Abdelmoaty et al., 2009). Tanin dapat memodulasi pemecahan
enzimatik amilase dan alfa glukosidase, sehingga penyerapan glukosa di usus menjadi
berkurang sehingga kadar glukosa darah menjadi terkontrol (Narkhede, 2012).
Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa dengan dosis 2,0 gram/ kg BB tikus ekstrak
etanol herba sambiloto adalah kadar optimal yang bisa menurunkan kadar glukosa pada tikus
(Yulinah et al., 2011). Penelitian tersebut membuktikan bahwa pemberian ekstrak herba
sambiloto dapat menurunkan glukosa darah pada uji toleransi glukosa.
Daun sirih hijau sebelumnya telah diteliti dengan pemberian oral suspensi ekstrak daun
sirih hijau (75 mg/kg BB tikus dan 150 mg/kg BB tikus) selama 30 hari menunjukkan
penurunan gula darah yang signifikan. Daun dirih hijau dengan dosis 75 mg/kg BB tikus
menunjukkan penurunan yang lebih baik (dari 205 mg/dl menjadi 151,30 mg/dl) (Santhakumari
et al., 2006).
Tanaman sambiloto dan daun sirih hijau sama-sama memiliki kandungan senyawa
flavonoid yang berperan secara signifikan dapat meningkatkan aktivitas enzim antioksidan dan
dapat meregenerasi sel beta pankreas yang telah rusak (Abdelmoaty et al., 2009) dan senyawa
saponin yang bersifat sebagai penghambat enzim alfa glukosidase yang berperan mengubah

554 | Isu-Isu Strategis Sains, Lingkungan, dan Inovasi Pembelajarannya


ARTIKEL PEMAKALAH PARALEL p-ISSN: 2527-533X
karbohidrat menjadi glukosa, maka jika enzim ini dihambat kerjanya kadar gula darah akan
menurun (Prisma, 2002).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas kombinasi ekstrak herba sambiloto dan
daun sirih hijau sebagai antidiabetes terhadap mencit dan mengetahui persentase penurunan
kadar gula dalam darah pada mencit. Penelitian ini bermanfaat untuk mendapat pengetahuan
tambahan dan informasi ilmiah dalam penelitian aktivitas kombinasi ekstrak herba sambiloto
(Andrographis paniculata (Burm.f) Ness) dan daun sirih hijau (Piper betle L.) sebagai
antidiabetes pada mencit.

2. METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan pada bulan November 2019 sampai dengan bulan februari 2020 di
Akademi Farmasi Mitra Sehat Mandiri Sidoarjo. Alat-alat yang dibutuhkan dalam penelitian
ini adalah timbangan analitik, spuit 1 cc, 3cc, 5cc (masing-masing 3 buah), sonde (setiap sampel
1 sonde), handscoon, spidol, gunting, beker glass, gelas ukur, blender, oven, waterbath, cawan
poreslin, sendok tanduk, glukometer, stik glukometer, mortir, stamfer, pipet tetes, tabung
reaksi, rak tabung reaksi, timbangan hewan uji, penjepit tabung reaksi, kertas saring, batang
pengaduk, dan kandang hewan. Bahan-bahan yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah
maserat herba sambiloto, maserat daun sirih hijau, D40, glibenklamid, CMC-Na, Aquadest,
etanol 96% dan mencit jantan sebanyak 50 ekor.
Proses determinasi (pengambilan) tanaman daun sirih hijau (Piper betle Linn) dan
Tumbuhan sambiloto (Andrographis paniculata) bertujuan untuk menetapkan kebenaran
identitas tanaman, dengan tujuan agar kesalahan dalam pengumpulan bahan yang diteliti dapat
dihindari. Dasar pembuatan silmplisia meliputi beberapa tahap antara lain; a) pengumpulan
bahan baku, b) tanaman yang digunakan dibeli dari penjual tanaman di daerah Krian Kabupaten
Sidoarjo, c) sortasi basah, sortasi basah di lakukan untuk memisahkan simplisia dari barang-
barang asing seperti tanah, ulat,dan daun-daun yang rusak, d) pencucian simplisisa, dilakukan
dengan air yang mengalir hingga bersih kemudian di angin- anginkan, e) perajangan, dilakukan
agar memudahkan saat proses pengeringan dan saat penyerbukan simplisia. Daun sirih dan
tanaman sambiloto dipotong kecil-kecil dengan menggunakan pisau, f) pengeringan, di lakukan
di bawah sinar matahari dengan di tutup menggunakan kain hitam atau dengan menggunakan
oven, g) sortasi kering, benda-benda asing yang masih tertinggal saat melakukan sortasi basah
dipisahkan lagi ketika simplisia telah kering, h) penyerbukan, simplisia kering di lakukan
menggunakan blender hingga menjadi serbuk.
Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi maserasi yaitu metode yang paling
sederhana, menggunakan pelarut etanol 96% dengan pengadukan pada temperatur ruangan,
berikut tahapan-tahapan ekstraksi; a) saun Sirih Hijau (Piper betle L.) dan Tanaman Sambiloto
(Andrographis paniculata) masing-masing di cuci bersih dan di jemur hingga kering, lalu
diblender hingga menjadi serbuk, kemudian di ayak dan di timbang, b) masing-masing serbuk
dilakukan maserasi dengan pelarut etanol 96% dengan perbandingan 1:3 dalam wadah tertutup
rapat selama 3 hari (dilakukan pengadukan setiap hari), c) setelah dilakukan proses maserasi
didapatkan filtrat dengan cara penyaringan menggunakan kertas saring yang ditampung dalam
wadah kaca kemudian hasil filtrat dipekatkan dengan menggunakan waterbath pada suhu 50°C
sampai memperoleh ekstrak yang kental dari serbuk Daun Sirih Hijau (Piper betle Linn) dan
Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata).
Skrining fitokimia dilakukan agar mengetahui kandungan senyawa aktif yang terdapat
dalam ekstrak daun sirih hijau (Piper betle Linn) dan Tanaman Sambiloto (Andrographis
paniculata). Berikut adalah cara kerja uji skrining untuk masing-masing zat;
a. Flavonoid. Masukkan masing – masing ekstrak sebanyak ± 1ml dengan 3 ml etanol 96%
lalu kocok, panaskan, dan kocok lagi, kemudian saring. Kemudian tambahkan hasil filtras
dengan Mg 0.1 g dan 2 tetes HCl pekat. Terbentuknya warna merah pada lapisan etanol
menunjukkan adanya flavonoid (Harborne, 1987)

Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek (SNPBS) ke-V 2020 | 555
ARTIKEL PEMAKALAH PARALEL p-ISSN: 2527-533X
b. Alkaloid. Masukkan masing – masing ekstrak sebanyak ± 1ml dengan 1 ml amoniak
kedalam tabung reaksi, kemudian panaskan diatas penangas air, kocok dan di saring. Hasil
filtrat di bagi menjadi tiga bagian ke dalam tabung reaksi dan tambahkan masing- masing
tiga tetes asam sulfat 2N, kocok dan diamkan beberapa menit hingga terpisah. Uji hasil
teratas dari masing-masing filtrat dengan pereaksi wagner dan dragendrof. Terbentuknya
endapan jingga dan coklat pada masing-masing hasil uji menunjukkan adanya alkaloid.
(Harborne, 1987)
c. Saponin. Didihkan masing – masing ekstrak Ekstrak ± 1ml dengan 10 ml air dalam
penangas air. Filtrat, kocok, dan di diamkan selama 15 menit. Terbentuknya busa yang
stabil (bertahan lama) maka positif mengandung saponin (Harborne, 1987).
d. Tannin. Ekstrak sebanyak ± 1 mL dididihkan dengan 20 ml air diatas penangas air, lalu
disaring. Filtrat yang diperoleh, ditambahkan beberapa tetes (2-3 tetes) FeClз
1%.Terbentuknya warna coklat kehijauan atau biru kehitaman menunjukkan adanya tanin
(Harborne, 1987).
Untuk uji farmakologi, mencit yang akan digunakan sebagai hewan uji penelitian akan
diadaptasikan terlebih dahulu selama 7 hari dengan diberi makan dan minum secara terkontrol
setiap hari. Mencit yang sudah di adaptasi selama 7 hari akan dipuasakan dulu sebelum di uji.
Mencit dipuasakan selama 18 jam, namun tetap diberikan minum. Pengambilan darah pada
mencit dilakukan setelah mencit dipuasakan untuk mengetahui kadar gula dalam darah mencit
puasa.
Mencit dikelompokkan menjadi 5 dengan 5 kali replikasi. Mencit dibagi menjadi
kelompok positif, kelompok negatif, kelompok dosis sambiloto, kelompok dosis daun sirih dan
kelompok kombinasi. Berikan pendiabetes aloksan pada semua kelompok mencit. Setelah 15
menit kelompok positif diberi glibenklamid, kelompok sambiloto diberi ekstrak sambiloto,
kelompok daun sirih diberi ekstrak daun sirih, kelompok kombinasi diberi kombinasi ekstrak
daun sirih dan ekstrak sambiloto.
Dilakukan pengambilan darah setelah 30 menit dengan cara memotong ekor mencit lalu
diukur dengan glukometer. Pengambilan darah pada mencit dilanjutkan pada menit ke 60, 90
dan 120. Kadar glukosa darah dihitung dengan rumus kadar glukosa darah relatif.
Pengamatan hasil uji dilakukan setelah pemberian aloksan dan diinduksi dengan bahan uji
lalu dihitung presentase penurunan kadar gula darah pada mencit. Hasil uji disajikan dalam
bentuk tabal sehingga terlihat jelas pada menit keberapa kadar gula darah mencit turun.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1. Ekstraksi Tanaman Sambiloto dan Daun Sirih Hijau
Ekstrak didapatkan melalui metode ekstraksi dingin yaitu maserasi. Proses maserasi
dilakukan dengan cara merendam simplisia dengan etanol 96% dengan perbandinga 1:3 selama
3 hari lalu remaserasi selama 1 jam untuk memaksimalkan hasilnya. Ekstrak yang telah
dimaserasi kemudian diuapkan dengan waterbath sampai mengental dengan suhu tidak lebih
dari 50°C (Lukitasari dkk, 2014). Ekstrak kental yang telah didapatkan kemudian di uji skrining
fitokimia.
Ekstrak yang dihasilkan dari pemekatan daun sirih hijau menggunakan waterbath
menghasilkan rendemen sebesar 29,56 % dan ekstrak tanaman sambiloto menghasilkan
rendemen sebesar 28,03 %. Semakin tinggi nilai rendemen yang dihasilkan menandakan nilai
ekstrak yang dihasilkan semakin banyak, namun semakin tinggi nilai rendemen yang dihasilkan
maka semakin rendah mutu yang diperoleh.
Penelitian sebelumnya ekstraksi dari tanaman sambiloto dengan etanol 96% menghasilkan
rendemen sebesar 6,83% (Aryani, 2013). Penelitian sebelumnya pada ekstrak etanol 96% daun
sirih hijau menghasilkan rendemen sebanyak 14,16% (Vifta, 2017).

556 | Isu-Isu Strategis Sains, Lingkungan, dan Inovasi Pembelajarannya


ARTIKEL PEMAKALAH PARALEL p-ISSN: 2527-533X
3.2. Hasil Skrining Fitokimia Tanaman Sambiloto dan Daun Sirih Hijau
Skrinning fitokimia ekstrak daun sirih hijaudantanaman sambiloto yang dilakukan dapat
diketahui bahwa ekstrak daun sirih hijau dan tanaman sambiloto sama – sama mengandung
senyawa aktif Alkaloid,Flavonoid, Saponin dan Tanin.
Terbentuknya endapan pada uji Mayer, Wagner dan Dragendorff berarti dalam ekstrak
daun sirih hijau dan tanaman sambilota terdapat alkaloid. Hasil positif alkaloid pada uji
Wagnerditandai dengan terbentuknya endapan coklat muda sampai kuning. Pada pembuatan
pereaksi Wagner terbentuk endapan yang berwarna coklat (Marliana dkk., 2005) .
Hasil positif alkaloid pada uji Dragendorffjuga ditandai dengan terbentuknya endapan
coklat muda sampai kuning (Marliana dkk., 2005).
Hasil uji flavonoid diidentifikasi menggunakan Mg dan HCl pekat yang menghasilkan
warna merah . Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih hijau dan tanaman
sambiloto positif mengandung flavonoid yang ditunjukkan dengan perubahan warna oranye
(Marlinda, 2012).
Hasil uji saponin menunjukkan bahwa ekstrak daun sirih hijau dan tanaman sambiloto
berbentuk seperti busa saat dilakukan pengocokan hal ini dikarenakan saponin mengandung
senyawa yang memiliki gugus polar dan non polar yang akan bersifat aktif permukaan sehingga
saat dikocok dengan air dapat membentuk busa (Anas dkk., 2013).
Hasil uji tanin menunjukkan bahwa positif mengandung tanin. Hal ini diketahui dari
perubahan warna yang terjadi pada saat penambahan larutan FeCl3 1% yaitu warna hijau
kehitaman. Penambahan FeCl3 menghasilkan warna hijau kehitaman yang menunjukkan
adanya tanin terkondensasi (Sangi dkk., 2008). Terbentuknya warna hijau kehitaman atau biru
tinta pada ekstrak setelah ditambahkan dengan FeCI3 karena tannin akan membentuk senyawa
kompleks dengan FeCI3 (Halimah, 2010)
Maka dari hasil identifikasi yang dilakukan, kandungan kimia ekstrak daun sirih hijau dan
tanaman sambiloto mengandung flavonoid, alkaloid, saponin dan tanin.

3.3. Hasil Uji Aktivitas Kadar Gula Darah


Penelitian ini bertujuan untuk menurunkan kadar gula dalam darah pada mencit. Tanaman
sambiloto yang telah diteliti mengandung senyawa aktif andrografolid sebagai senyawa utama
yang dipercaya masyarakat dapat digunakan sebagai antidiabetes (Niranjan et al., 2010).
Begitu juga dengan daun sirih hijau, penelitian terdahulu telah membuktikan secara ilmiah
bahwa daun sirih hijau berkhasiat sebagai antidiabetes (Arambwela, 2005). Uji antidiabetik
kombinasi ekstrak daun sirih hijau dan tanaman sambiloto dilakukan pengujian pada hewan uji
yaitu mencit. Mencit yang dipilih sebagai hewan uji adalah mencit jantan. Dipilih mencit jantan
karena sistem imun pada mencit jantan cenderung lebih tidak dipengaruhi oleh hormon
reproduksi sehingga sampel menjadi homogen, mudah dikendalikan dan hasilnya diharapkan
lebih akurat. Mencit akan dibuat hiperglikemia dengan menggunakan D40 secara oral.
Mencit diadaptasi dengan lingkungasn selama 1 minggu dengan diberi makan jagung
manis dan susu kental manis untuk minumnya. Setelah diadaptasi mencit disonde menggunakan
D40 sebanyak 0,5 ml sampai kadar gula dalam darah naik dan dihitung sebagai H0. Kelompok
perlakuan pada uji antidiabetes ini ada 5 kelompok yaitu, kelompok positif (glibenklamid),
kelompok negatif (CMC-Na 1%), kelompok dosis tunggal daun sirih, kelompok dosis tunggal
tanaman sambiloto dan dosis kombinasi daun sirih hijau dan tanaman sambiloto (1:1).
Kelompok positif diberi dosis 0,013 mg/kgBB mencit, kelompok dosis tunggal sirih diberi
dosis 10,5 mg/kgBB mencit, kelompok dosis tunggal tanaman sambiloto diberi dosis 280
mg/kgBB mencit dan kelompok kombinasi diberikan 1:1. Pemberian bahan uji dilakukan setiap
30 menit sekali untuk t1, t2 dan berlaku kelipatannya hingga t4.
Berikut hasil dari pengukuran gula darah rata-rata pada mencit sebelum pemberian
pendiabet dan ektrak bahan uji:

Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek (SNPBS) ke-V 2020 | 557
ARTIKEL PEMAKALAH PARALEL p-ISSN: 2527-533X
Tabel 1. Rata-rata KGD ± SD

H0 setelah T1 T2 T3 T4
diinduksi (30 menit) (60 menit) (90 menit) (120 menit)

Kontrol positif 187.2± 4.7 133.2± 5.2 94.6± 10.6 69.2± 6.1 40.8± 3.1

Kontrol negatif 189± 5.7 188.8± 5.5 190± 6.3 189.8± 5.8 190± 6.2

Ekstrak tanaman sambiloto 193± 8.9 135.8± 6.3 102.4± 8.2 72± 2.8 45.6± 4.1

Ekstrak daun sirih hijau 188.8± 11.6 149.4± 9.0 110.2± 5.0 95.2± 5.2 47.6± 10.8

Kombinasi 191.2± 7.8 139.4± 8.9 97± 8.5 45.6± 5.5 45.6± 3.3

Berdasarkan hasil tabel 1 diketahui bahwa ada penurunan pada kontrol positif, ekstrak
kombinasi, ekstrak tunggal tanaman sambiloto dan ekstrak tunggal daun sirih hijau . Kontrol
negatif pada hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa tidak adanya penurunan yang
diperlihatkan pada grafik 1.

Pengaruh Pemberian Bahan Uji Terhadap kadar KGD


250
KGD (mg/dl)

200

150

100

50

0
0 30 60 90 120
Menit Ke

Kontrol + Kontrol - Ekstrak sambiloto Ekstrak daun sirih Kombinasi

Grafik 1. Penurunan KGD pada Mencit

Rata-rata persentase penurunan KGD mencit pemberian perlakuan kontrol positif, kontrol
negatif, ekstrak tunggal daun sirih hijau, ekstrak tunggal tanaman sambiloto dan kombinasi
ekstrak terlihat pada grafik 2.

558 | Isu-Isu Strategis Sains, Lingkungan, dan Inovasi Pembelajarannya


ARTIKEL PEMAKALAH PARALEL p-ISSN: 2527-533X

90
78.14 76.6
80 72.7 74.6
70
60
50
40
30
20
10
0
-0.005
-10

Kontrol - Kontrol + Ekstrak Daun Sirih Ekstrak Sambiloto Kombinasi

Grafik 2. Persentase Penurunan KGD

Berdasarkan grafik 2 terlihat kombinasi ekstrak daun sirih hijau dan ekstrak tanaman
sambiloto memiliki penurunan sebesar 76% yang lebih tinggi dari ekstrak tunggal daun sirih
hijau (72,7%) dan ekstrak tunggal tanaman sambiloto (76%). Kontrol positif pada mencit
menunjukan penurunan pada KGD mencit karena glibenklamid telah diuji secara klinis bekerja
langsung pada sel beta pankreas (Dirjen Binfar dan Alkes, 2005). Kelompok kontrol kombinasi
menunjukkan presentasi penurunan yang tidak signifikan dari dosis tunggal dan kontrol positif.
Kombinasi ini menunjukkan adanya interaksi yang potensial.

Tabel 2. Uji Anova One Way


ANOVA
Kadar gula darah

Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 112,150 3 37,383 ,456 ,716

Within Groups 1310,400 16 81,900

Total 1422,550 19

Persentase penurunan kombinasi ekstrak daun sirih hijau dan ekstrak tanaman sambiloto
tidak berbeda jauh dengan kontrol positif. Analisa data dengan uji anova (α = 0,05)
menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan secara nyata pada penurunan kadar gula dalam darah
pada mencit dan dapat dikatakan bahwa data homogen dan telah terdistribusi dengan normal,
dimana sebagai syarat dari uji analisa data anova.

4. KESIMPULAN
Hasil dari uji aktivitas antidiabetes pada mencit menunjukkan bahwa kombinasi ekstrak
daun sirih hijau dan ekstrak daun sambiloto memiliki pengaruh pada penurunan kadar gula
dalam darah pada mencit yang menunjukkan kombinasi ini memiliki interaksi sinergis.

Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek (SNPBS) ke-V 2020 | 559
ARTIKEL PEMAKALAH PARALEL p-ISSN: 2527-533X
5. DAFTAR PUSTAKA
Abdelmoaty, M.A., Ibrahim, M.A., Ahmed, N.S., Abdelaziz, M.A. 2010. Confirmatory Studies
on the Antioxidant and Antidiabetic Effect of Quercetin in Rats. Indian Journal of Clinical
Biochemistry 25 (2) : 188-192. DOI : 10.1007/s12291-010-0034-x.
Aiello, Susan E. The Merck EtinaryManual. Merck Sharp & Dohme Corp ; 2012.
Anas, Y., Puspitasari, N., & Nuria, M. C. 2013. Aktivitas Stimulansisa Ekstrak Etanol Bunga
dan Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum(L) Merr. & Perry.) Pada Mencit Jantan Galur
Swiss Beserta Identifikasi GolonganSenyawa Aktifnya. E-Publikasi Ilmiah Fakultas
Farmasi Unwahas Semarang, 10 (1), 13-22.
Arambewela Lsr. 2005. Antidiabetic Activitiesof Aqueous And Ethanolic Extracts Of Piper
Betle Leaves In Rats. Journal Of Ethnopharmacology. 102:239-245.
Ariyani, Sukma Budi dan Nana Supriyatna “Perbandingan Karbopol Dan Karboksimetil
Selulosa Sebagai Pengental Pada Pembuatan Bioetanol Gel” Biopropal Industri 4, no. 2
(2013) : h- 1-7.
Depkes RI 2010. Metode Analisis Bpom. Jakarta : Departemen Kesehatan Ri.
Dirjen Bina Farmasi dan Alkes. 2005. Pharmaceutical Care untuk penyakit Diabetes Melitus.
Jakarta : Departemen Kesehatan RI.
Halimah, 2010. Uji Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Tanaman Anting-Anting (acalypha
indica Linn) Terhadap Larva Udang (Artemia salinaLeach). Skripsi . Jurusan Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Islam Negri Maulana Malik Ibrahim, Malang.
Harborne Jb. 1987. Metode Fitokimia. Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Terjemahan K. Padmawinata & I. Soediro, Penerbit Itb : Bandung
Lisdawati, V. 2002. Makalah : Buah Mahkota Dewa-Toksisitas, Efek Antioksidan dan Efek
Antikanker Berdasarkan Uji Penapisan Farmakologi.
Lukitasari, N., Ratnawati, R., & Lyrawati, D. 2014. Polyphenols of Ficus carica Linn Inhibit
Elevation of MCP-1 Level of Mice with High Fat Diet. Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol.
28.
Marliana, S.D., Venty, S., Suyono. 2005. Skrining Fitokimia dan Analisis Kromatografi Lapis
Tipis Kompenen Kimia Buah Labu Siam (Sechium edule jacq. Swartz) dalam Ekstrak
Etanol. Jurnal Biofarmasi. 2005 : 3 (1) : Hal. 26 – 31.
Marlinda, dkk (2012)”Analisis Senyawa Metabolit Sekunder Dan Uji Toksisitas Ekstrak
Etanol Biji Buah Alpukat (Persea americana Mill.)” Jurnal MIipa UNSRAT Online 1 (1)
24-28.
Mcphee, & Ganong. 2012. Patofisiologi Penyakit : Pengantar Menuju Kedokteran Klinis edisi
5. Jakarta : EGC.
Narkhede, D.D., Attarde, S.B., & Ingle, S.T. 2011. Study On Effect Of Chemical Fertilizer and
Vermicompost on Growth of Chili Pepper Plant (Capsicum annum). Journal of Applied
Sciences in Environmental Sanitation, 6 (3), 327-332.
Niranjan, A., Tewari, S.K., Lehry, A., 2010, Biological Activities Of Kalmegh (A. Paniculata
Ness) And Its Active Principles, Ind. J. Nat. Prod. Res., 1(2): 125-135
Perkeni. (2015). Konsensus pengelolahan dan pencegahan diabetesmeltus tipe 2 di Indonesia.
Jakarta :PB PERKENI.
Pratiwi & Afiyanti, Y., 2016. Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi Perempuan. Jakarta : PT
Raja Grafindo Persada.
Prisma E. Efek Hipoglikemik Influsia Simplisia Daging Mahkota Dewa (Phaleria Macrocarpa
(Scheff). Boerl) pada Tikus Jantan Putih (Skripsi). Yogyakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Gajah Mada ; 2002.
Radha, R., Sermakkani, M., Thangapandian, V. 2011. Evaluation Of Phytochemical And
Antimicrobial Activity Of Andrographis Paniculata Nees (Acanthaceaee) Aerial Parts.
International Journal Of Pharmacy & Life Sciences 2 (2) : 0976-7126.
Ratnani, R.D. 2012. Kemampuan Kombinasi Eceng Gondok dan Lumpur Aktif Untuk
Menurunkan Pencemaran pada Limbah Cair Industri Tahu. Mommentum. Universitas
Wahid Hasyim Semarang, 8 (1) : 1-5.
Sangi, M., Runtuwene, M. R. J., Simbala, H. E. I. dan Makang, V. M. A. Analisis Fitokimia
Tumbuhan Obat di Kabupaten Minahasa Utara. Chemistry Progress. 2008. 1, 47-53.
Santhakumari, P., Prakasam., Pugalendi, K.V. 2006. Antihypergycemic activity of Piper betle
lraf on streptozotocin induced diabetic rats. Journal of Medicinal Food.
Subramanian, R., Asmawi, M.Z., Sadikun,A., 2008. In vitro alpha-glucosidase and alpha-
amylase enzym inhibitory effect of Andrographis paniculata extract and andrographolide.
Acta, [Link]. Pol., 55 (2) : 391 – 398.
Tandi J, R. Yasinta. 2016 Obat Tradisional Stifa Pelita Mas Palu. Isbn. 978-602-7460-3-1-3.
Hal 215 Vijayalakshmi, R. dan Ravindhran, R., 2012, Preliminary Comparative
Phytochemical Screening of Root Extract of Diospyrus ferra (Wild.) Bakh and Aerva

560 | Isu-Isu Strategis Sains, Lingkungan, dan Inovasi Pembelajarannya


ARTIKEL PEMAKALAH PARALEL p-ISSN: 2527-533X
lanata (L.) Juss. Ex Schultes, Asian Journal of Plant Science and Research, 2 (5) : 1231 –
1246.
Vifta, R. L. dkk. 2017. Perbandingan Total Rendemen dan Skrining Antibakteri Ekstrak Etanol
Daun Sirih Hijau (Piper betle. L) Secara Mikrodilusi. Journal of Science and Applicative
Thecnology, no. 2.2017.
Yulinah, E., Sukrasno, Fitri, M.A., 2011 “Aktivitas Antidiabetika Ekstak Etanol Herba
Sambiloto (Andrographis Paniculata Ness(Acanthaceae))”.

Seminar Nasional Pendidikan Biologi dan Saintek (SNPBS) ke-V 2020 | 561

Anda mungkin juga menyukai