TUGAS AKHIR
PENANGGULANGAN ABRASI PANTAI DI DESA GALESONG
DENGAN MENGGUNAKAN METODE SEAWALL
Disusun oleh :
Muhammad Kinantang Putra
45 15 041 040
PROGRAM STUDI SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS BOSOWA MAKASSAR
2022
iv
v
vi
ABSTRAK
“ PENANGGULANGAN ABRASI PANTAI DI DESA GALESONG
MENGGUNAKAN METODE SEAWALL”
Muhammad Kinantang Putra1), Hijriah2), Andi Rumpang Yusuf3)
Abstrak. Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki garis pantai
terpanjang kedua di dunia. Wilayah pantai sangat bermanfaat bagi
kegiatan manusia, misalnya untuk pariwisata, perikanan, pertambakan
dan kegiatan lainnya. Kegiatan manusia dalam memanfaatkan sumber
daya kawasan menjadi salah satu kawasan yang menyebabkan terjadinya
kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan yang umumnya terjadi
adalah abrasi pantai. Masalah ini harus segera diatasi karena dapat
mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi makhluk hidup dan
ekosistem. Abrasi merupakan pengikisan atau pengurangan daratan
(pantai) akibat aktivitas gelombang, arus dan pasang surut. Dalam kaitan
ini pemadatan daratan mengakibatkan permukaan tanah turun dan
tergenang air laut sehingga garis pantai berubah (Hermanto, 1986).
Dalam penelitian ini digunakan metode seawall sebagai cara
penanggulangan abrasi pantai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui seberapa besar deformasi gelombang pantai yang terjadi di
Desa Galesong dan mengetahui cara penanggulangan yang dapat
dilakukan untuk mencegah abrasi di Desa Galesong.
Kata kunci : Abrasi, Deformasi Gelombang, Seawall, Pantai
vii
ABSTRAK
“ PENANGGULANGAN ABRASI PANTAI DI DESA GALESONG
MENGGUNAKAN METODE SEAWALL”
Muhammad Kinantang Putra1), Hijriah2), Andi Rumpang Yusuf3)
[Link] is an archipelagic country that has the second longest
coastline in the world. Coastal areas are very useful for human activities,
for example for tourism, fisheries, aquaculture and other activities. Human
activities in utilizing regional resources are one of the areas that cause
environmental damage. Environmental damage that generally occurs is
coastal abrasion. This problem must be addressed immediately because it
can result in enormous losses for living things and ecosystems. Abrasion
is the erosion or reduction of land (beach) due to wave activity, currents
and tides. In this regard, land compaction causes the land surface to fall
and be inundated with sea water so that the coastline changes (Hermanto,
1986). In this study, the seawall method was used as a way to overcome
coastal abrasion. The purpose of this study was to find out how much
coastal wave deformation occurred in Galesong Village and to find out
how to overcome it to prevent abrasion in Galesong Village.
Keywords : Abrasion, Wave Deformation, Seawall, Beach
PRAKATA
Assalamualikum, Wr. Wb. Syukur Alhamdulillah saya panjatkan
kehadirat Allah SWT atas rahmat dan izin-Nyalah sehinggan saya dapat
menyelesaikan Makalah Ujian Hasil ini dengan baik. Makalah ujian Hasil
ini disususun sebagai salah satu persyaratan yang harus dipenuhi dalam
rangka menyelesaikan Program Studi pada jurusan Sipil, Fakultas teknik
Universitas Bosowa Makassar. Adapun Judul tugas akhir ini kami
“Penanggulangan Abrasi pantai di Desa Galesong Dengan
Menggunakan Metode SEAWALL”.
Penulis menyadari bahwa penulisan makalah Ujian Hasil ini dapat
terselesaikan dengan baik berkat bantuan dan petunjuk serta bimbingan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu dengan segalah kerendahan hati
penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang turut
membantu dalam penyelesaian makalah ujian Komprehensif ini.
Wassalamu’alaikum, [Link].
iii
DAFTAR ISI
JUDUL ........................................................................................... i
LEMBAR PENGAJUAN ................................................................. ii
PRAKATA ...................................................................................... iii
DAFTAR ISI ................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ............................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR ........................................................................ viii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................. I – 1
1.1 Latar Belakang ............................................................... I – 1
1.2 Rumusan Masalah ......................................................... I – 2
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ....................................... I – 2
1.4 Pokok Masalah .............................................................. I – 2
1.5 Batasan Masalah ........................................................... I – 3
1.6 Manfaat Penelitian ......................................................... I – 3
1.7 Ruang Lingkup Pembahasan ......................................... I – 3
1.8 Sistematika Penulisan .................................................... I – 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ..................................................... II – 1
2.1 Tinjauan Umum .............................................................. II – 1
2.1.1 .Pantai dan Pesisir .......................................................... II – 1
2.1.2 .Jenis Pantai ................................................................... II – 2
2.2 Tolak Ukur Kerusakan Daerah Pantai ............................ II – 5
2.2.1 .Abrasi............................................................................. II – 6
2.2.2 .Tingkat Kerusakan Abrasi .............................................. II – 10
iv
2.2.3 .Faktor Penyebab Abrasi ................................................. II – 10
2.2.4 .Dampak Abrasi .............................................................. II – 12
2.2.5 .Upaya Pencegahan Abrasi............................................. II – 16
2.2.6 .Deformasi Gelombang ................................................... II – 17
2.3 Perlindungan Pantai ....................................................... II – 17
2.3.1 .Tembok Laut (Seawall) .................................................. II – 18
2.3.2 .Gelombang .................................................................... II – 20
2.3.3 .Fetch .............................................................................. II – 24
2.3.4 .Studi Literatur................................................................. II – 24
BAB III METODE PENELITIAN.................................................... III – 1
3.1 Jenis Penelitian .............................................................. III – 1
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian .......................................... III – 1
3.3 Sumber Data.................................................................. III – 1
3.4 Teknik Pengumpulan Data ............................................. III – 2
3.5 Alur Bagan ..................................................................... III – 3
BAB IV PEMBAHASAN ............................................................... IV – 1
4.1 Peramalan Gelombang .................................................. IV – 1
4.1.1 .Pengelolaan Data Angin` ............................................... IV – 1
4.1.2 .Perhitungan Fetch .......................................................... IV – 3
4.1.3 .Perhitungan Tinggi ......................................................... IV – 9
4.1.4 .Perkiraan Gelombang dengan Periode Ulang ................ IV – 15
4.2 Gelombang Lokasi Bangunan ........................................ IV – 23
4.3 Elevasi Struktur .............................................................. IV – 25
v
4.3.1 .Tinggi Muka Air Rencana ............................................... IV – 25
4.3.2 .Run Up Pada Tembok Laut ............................................ IV – 26
4.4 Pasangan Batu .............................................................. IV – 27
4.5 Tumpukan Batu Pelindung Kaki Bangunan .................... IV – 37
BAB V PENUTUP ........................................................................ V – 1
5.1 Kesimpulan .................................................................... V – 1
5.2 Saran ............................................................................. V – 2
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
vi
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia adalah negara kepulauan yang memiliki garis pantai
terpanjang kedua di dunia. Wilayah pantai sangat bermanfaat bagi
kegiatan manusia, misalnya untuk pariwisata, perikanan, pertambakan
dan kegiatan lainnya. Kegiatan manusia dalam memanfaatkan sumber
daya kawasan menjadi salah satu kawasan yang menyebabkan terjadinya
kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan yang umumnya terjadi
adalah abrasi pantai. Masalah ini harus segera diatasi karena dapat
mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi makhluk hidup dan
ekosistem.
Abrasi merupakan pengikisan atau pengurangan daratan (pantai)
akibat aktivitas gelombang, arus dan pasang surut. Dalam kaitan ini
pemadatan daratan mengakibatkan permukaan tanah turun dan
tergenang air laut sehingga garis pantai berubah (Damaywanti, 2013).
Pantai dikatakan mengalami abrasi bila angkutan sedimen yang
terjadi ke suatu titik lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah sedimen
yang terangkut keluar titik tersebut (Widya Setiyanti & Sadono, 2015).
Karakteristik Pantai Desa Galesong termasuk dalam kategori
Pantai berpasir. Pantai Desa Galesong beberapa tahun terakhir
mengalami abrasi pantai dikarenakan pengerukan pasir yang berlebihan.
Tanggul penahan ombak yang dibangun kini sudah hancur. Apabila
I-1
permasalahan seperti ini tidak segera ditangani dengan baik maka akan
terjadi perubahan garis pantai yang mundur dan kerusakan pantai yang
berkelanjutan, sehingga kenyamanan dan ketenangan masyarakat sekitar
pesisir akan terganggu.
Melihat pentingnya penanganan abrasi pantai, maka dari itu peneliti
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul : “Penanggulangan
Abrasi pantai di Desa Galesong Dengan Menggunakan Metode
SEAWALL”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan
masalah yaitu :
1. Berapa besar deformasi gelombang pantai yang terjadi di Desa
Galesong?
2. Bagaimana penanggulangan yang dapat dilakukan untuk mencegah
abrasi di Desa Galesong ?
1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian
Maksud dan Tujuan penelitian ini adalah untuk :
1. Untuk mengetahui seberapa besar deformasi gelombang pantai yang
terjadi di Desa Galesong.
2. Untuk mengetahui cara penanggulangan yang dapat dilakukan untuk
mencegah abrasi di Desa Galesong.
I-2
1.4 Pokok Masalah
Pokok masalah dalam penelitian ini adalah deformasi gelombang
dan abrasi yang awal tahun ini terjadi di Desa Galesong. Dengan
demikian penelitian ini akan menguraikan faktor-faktor yang memicu
terjadinya deformasi gelombang,abrasi dan penanggulangannya di
Kawasan Desa Galesong.
1.5 Batasan Masalah
1. Penelitian ini menggunakan jenis bangunan seawall.
2. Penelitian merencanakan penangan abrasi dengan jarak 50 m dari
titik a ke titik b.
3. Penelitian ini tidak sampai pada perhitungan biaya.
1.6 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
Dapat memberikan informasi hasil kajian ilmiah tentang
kemungkinan terjadinya abrasi di wilayah Desa Galesong.
1.7 Ruang Lingkup Pembahasan
Dalam penulisan Tugas Akhir ini, penulisan membahas tentang :
1. Mengidentifikasi deformasi yang terjadi di lokasi penelitian.
2. Mencari penanggulangan abrasi yang tepat dilokasi penelitian.
1.8 Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan proposal tugas akhir ini, penulis membuat suatu
garis besar terdiri dari 5 bab, yaitu :
BAB I : PENDAHULUAN
I-3
Membahas tentang latar belakang, maksud dan tujuan
penelitian, ruang lingkup pembahasan dan sistematika
penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Membahas tentang teori-teori yang berhubungan dengan
judul Tugas Akhir ini yaitu Penanggulangan Abrasi di Desa
Galesong dengan Menggunakan Metode Seawall
BAB III : METODE PENELITIAN
Membahas tentang lokasi penelitian, jenis penelitian, jenis
data, pengumpulan data dan kerangka penelitian.
BAB IV : PEMBAHASAN
Membahas tentang hasil penelitian tugas akhir.
BAB V : PENUTUP
Membahas tentang kesimpulan dan saran mengenai abrasi
pantai yang terjadi di Desa Galesong.
I-4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum
2.1.1 Pantai dan Pesisir
Menurut Yunowo (1992), Pantai adalah jalur yang merupakan batas
antara darat dan laut, diukur pada saat pasang tertinggi dan surut
terendah, dipengaruhi oleh fisik laut dan kawasan ekonomi bahari,
sedangkan kearah darat dibatasi oleh proses alami dan kegiatan manusia
di lingkungan darat.
Wilayah pertemuan antara daratan dan laut, kearah darat meliputi
bagian daratan yang masih dipengaruhi oleh sifat-sifat laut seperti pasang
surut, angin laut, dan intrusi garam, sedangkan kawasan laut mencakup
bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses alami yang ada di darat
seperti sedimentasi dan aliran air tawar serta daerah yang dipengaruhi
oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan (Nontji, 2002). Wilayah pesisir
adalah daerah pertemuan antara darat dan laut, kearah darat wilayah
pesisir meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang
masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut dan
perembesan air asin, sedangkan kearah laut wilayah pesisir mencakup
bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi
di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun disebabkan oleh
kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran
(Ridlo & Yuliani, 2018).
II - 1
Secara alami pantai berfungsi sebagai :
1. Pembatas antara darat dan laut
2. Tempat hidup biota pantai
3. Tempat sungai bermuara
Dalam perkembangannya, Fungsi pantai dapat berubah/bertambah
sesuai dengan kebutuhan manusia, antara lain :
1. Tempat saluran bermuara (misal : saluran untuk tambak)
2. Tempat peralihan kegiatan hidup di darat dan laut (Pelabuhan,
pelayaran)
3. Tempat hunian nelayan
4. Tempat wisata
5. Tempat usaha
6. Tempat budidaya pantai (antara lain : tambak dan pertanian)
7. Sumber bahan bangunan (pasir dan batu karang)
2.1.2 Jenis pantai
a. Pantai berpasir
Pantai berpasir merupakan pantai yang didominasi oleh hamparan
atau daratan pasir, baik berupa pasir hitam, abu-abu atau putih. Selain itu
terdapat lembah-lembah di antara beting pasir. Tumbuh-tumbuhan yang
dominan dihutan pantai berpasir antara lain adalah kelapa dan cemara
laut. Pantai berpasir umumnya dijadikan kawasan pariwisata pantai,
karena alamnya yang indah dan menarik. Kawasan pantai berpasir yang
II - 2
sudah berkembang, misalnya, Pantai Pangandaran, Carita, dan
Pelabuhan Ratu (Jawa Barat), Parang Tritis (Yogyakarta), pantai Sanur
dan Kuta (Bali), Pantai Ancol dan Kepulauan Seribu (Jakarta).
Gambar 2.1 Pantai Berpasir
b. Pantai Berlumpur
Pantai berlumpur merupakan hamparan lumpur sepanjang pantai
yang yang dihasilkan dari proses sedimentasi atau pengendapan,
umumnya terletak dimuara sungai. Tanah pantai ini berasal dari endapan
lumpur yang dibawa oleh aliran sungai. Struktur dan komposisi tumbuhan
di Kawasan pantai berlumpur Indonesia merupakan formasi hutan
mangrove yang di dominasi oleh bakau hitam, bakau putih, dll. Selain
menghasilkan kayu, hutan mangrove juga menghasilkan bahan penyamak
atau bahan pewarna. Tunas-tunas baru selalu tumbuh dalam hutan
mangrove, sehingga Kawasan hutan menjadi luas. Akibatnya, lambat laun
daratan pun makin meluas kawasan laut. Hutan Mangrove memberikan
perlindungan terhadap daratan dan ancaman erosi. Hutan mangrove juga
II - 3
berfungsi sebagai tempat pelestarian populasi ikan, kepiting, udang dan
kerrang-kerangan. Di dalam perairan hutan mangrove banyak terdapat
jenis alga dan plankton yang menjadi sumber makanan bagi biota-biota
tsb. Daun, dahan dan pohon-pohon mangrove yang telah tua akan
tumbang dan didekomposisi oleh fungsi dan bakteri menjadi bahan
kawasan. Selanjutnya bahan kawasan ini akan menjadi penyubur tanah,
dan menjadi bahan makanan bagi biota lainnya.
Gambar 2.2 Pantai Berlumpur
c. Pantai Berbatu
Pantai berbatu umumnya terdiri dari bongkahan-bongkahan batuan
granit. Pantai seperti ini terdapat di kepulauan Natuna, Pantai Buton dan
Pantai Selatan Jawa (Pelabuhan Ratu dan Ujung Kolon).
II - 4
Gambar 2.3 Pantai Berbatu
2.2 Tolak Ukur Kerusakan Daerah Pantai
(Utomo, 2019) menjelaskan bahwa dalam menentukan tingkat
perubahan pantai yang dapat dikategorikan kerusakan daerah pantai
adalah tidak mudah. Untuk melakukan Penilaian terhadap perubahan
pantai diperlukan suatu tolak ukur agar supaya penilaian perubahan harus
dilihat tidak dalamkeadaan sesaat, namun harus diamati dalam suatu
kurun waktu tertentu. Perubahan garis pantai yang terjadi sesaat tidak
berarti pantai tersebut tidak stabil, hal ini mengingat pada analisis
perubahan garis pantai.
Menurut Arief dalam Darmiati, perubahan garis pantai adalah suatu
proses tanpa henti (terus-menerus) melalui berbagai proses alami di
pantai yang meliputi pergerakan sedimen, arus menyusur pantai
(longshare current), aksi gelombang permukaan laut dan penggunaan
lahan. Perubahan garis pantai dapat terjadi dari waktu ke waktu dalam
skala musiman maupun tahunan, tergantung pada daya tahan kondisi
II - 5
pantai dalam bentuk topografi, batuan dan sfat-sifatnya dengan
gelombang laut, pasang surut (pasut) dan angin (Opa 2011, dalam
Darmiati, 2020).
Kawasan pantai disebut rusak apabila perubahan morfologi pantai
yang terjadi telah menurunkan bahkan melenyapkan sama sekali
fungsinya. Berdasarkan hal tersebut, maka Puslitbang sumber Daya Air
telah mengadakan invertarisasi tentang kerusakan pantai di Indonesia
sejak ± 30 tahun yang lalu (Syamsuddin, 2000). Matthew (2010)
mengungkapkan bahwa perubahan iklim global (global climate change)
dapat menyebabkan kerusakan ekosistem pesisir, termasuk ekosistem
mangrove. Perubahan iklim global terutama disebabkan oleh
meningkatnya produksi CO2 dan gas rumah kaca.
Menurut Ghufron (2012) ada beberapa scenario yang diperkirakan
dapat terjadi dengan naiknya permukaan air laut, yaitu :
1. Meningkatnya erosi pantai
2. Banjir di wilayah pesisir yang lebih buruk
3. Terbenamnya wilayah lahan basah pesisir
4. Perubahan rentang pasang surut (tidal range) di sungai dan teluk
5. Perubahan lokasi sedimentasi dari sungai
2.2.1 Abrasi
(Budiarti, 2020) mengemukakan bahwa 70% pantai terutama pantai
berpasir di dunia mengalami abrasi dan penyebab utama adalah aneka
ragam pengaruh manusia secara langsung maupun tak langsung yang
II - 6
menyebabkan berkurangnya jumlah ketersediaan cadangan sedimen
yang ada di pantai dibandingkan dengan sedimen keluar dari pantai akibat
pengaruh alam. Abrasi dapat merubah kenampakan alam dan fungsi di
sepanjang pantai.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007, abrasi adalah
proses pengikisan pantai oleh tenaga gelombang laut dan arus laut yang
bersifat merusak yang dipicu oleh terganggunya keseimbangan alam
daerah pantai tersebut.
Abrasi adalah suatu proses suatu proses alam berupa pengikisan
tanah pada daerah pesisir pantai yang diakibatkan oleh ombak dan arus
laut yang sifatnya merusak terkadang juga disebut dengan erosi pantai.
Salah satu kerusakan garis pantai ini dapat dipicu karena terganggunya
keseimbangan alam di daerah pantai tersebut. Akan tetapi meskipun pada
umumnya abrasi diakibatkan oleh gejala alam, namun cukup banyak
perilaku manusia yang juga ikut menjadi penyebab abrasi pantai.
Sederhananya abrasi adalah pengikisan di daerah pantai akibat
gelombang dan arus laut yang sifatnya destruktif atau merusak. Karena
adanya pengikisan tersebut sehingga menyebabkan berkurangnya daerah
pantai di mana wilayah yang paling dekat dengan air laut menjadi sasaran
pengikisan. Oleh karenanya apabila dibiarkan abrasi akan terus mengikis
bagian pantai dan air laut bisa membanjiri daerah di sekitar pantai
tersebut.
II - 7
Abrasi juga disebut erosi pantai. Erosi pantai merupakan hilangnya
daratan di wilayah pesisir. Penyebabnya adalah arus laut,
gelombang,kondisi morfologi,keberadaan vegetasi pantai dan adanya
aktivitas manusia yang merusak pantai (Muh Haris et al. 2015).
Gelombang pecah dengan membentuk sudut terhadap garis pantai dapat
menimbulkan arus di sepanjang pantai. Arus sepanjang pantai (longshare
current) atau arus litoral, merupakan salah satu penyebab dalam
pembentukan morfologi pantai (Duhari, 2008). Menurut Bambang
Triatmodjo (1999), Erosi pantai yang merusak Kawasan permukiman dan
prasarana kota yang berupa mundurnya garis pantai. Erosi pantai bisa
terjadi secara alami oleh serangan gelombang atau karena adanya
kegiatan manusia seperti penebangan hutan mangrove, pengambilan
karang pantai, pembangunan Pelabuhan atau bangunan pantai lainnya.
Wilayah pesisir Kecamatan Galesong merupakan salah satu wilayah
di Kabupaten Takalar yang rawan abrasi. Berdasarkan isu strategis
RTRW Kabupaten Takalar 2010-2030 Bahwa kecamatan Galesong Utara
Kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan selat Makassar
merupakan daerah yang sering mengalami bencana abrasi tiap tahunnya
(Prasetyo et al 2020). Kemiringan pantai berpedoman pada Mardianto
(2004), yaitu:
K= x 100%
Keterangan :
K = Kemiringan Pantai
II - 8
C = Kedalaman (m)
L = Jarak dari pantai kearah laut (sejauh 30-50m) dari pasang
tertinggi (m)
Nilai K = 0-2% = Datar
> 2-8% = Landai
> 8-30% = Miring
> 30-50% = Terjal
> 50% = Sangat Terjal
Pengukuran kecepatan dan arah arus, serta karateristik gelombang
dihitung pada saat pasang dan surut. Berdasarkan data pengamatan ini
selanjutnya dihitung energi gelombang dengan persamaan:
E=
Dimana :
E = Total Energi (Nm/)
ρ = Densitas air laut (kg/)
yang merupakan fungsi dari salinitas dan kawasan (massa jenis air laut
1,025kg/)
g = Percepatan gravitasi bumi (9,8m/)
h = Tinggi Gelombang (m)
Pengukuran kecepatan arus dengan menggunakan rumus:
V=
II - 9
Menurut Junaidi dalam Suwarsono et al., (2011), Kecepatan Abrasi
dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
V=
Keterangan :
V = kecepatan abrasi pantai (m/tahun)
m = massa subtrat terabrasi (kg) (m=(pxlxt))= densitas substrat
terabrasi (1,6 x kg/)
A = luas permukaan yang terabrasi ( )
t = waktu (tahun)
2.2.2 Tingkat Kerusakan Abrasi
Terjadinya perubahan terhadap garis pantai dapat disebabkan oleh
gangguan terhadap angkutan sedimen menyusur pantai, pasokan
sedimen berkurang, adanya gangguan bangunan dan kondisi tebing yang
lemah sehingga tidak tahan terhadap hempasan gelombang. Perubahan
terhadap garis pantai ini berdampak pada mundurnya garis pantai dan
terancamnya fasilitas yang ada di Kawasan pantai. Tolak ukurannya
adalah laju mundurnya pantai.
2.2.3 Faktor Penyebab Abrasi
Terjadinya abrasi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Menurut
Ongkosongo dalam Gentur Handoyomo faktor-faktor penyebab manusia.
Faktor alami antara lain gelombang arus,angin,sedimentasi,pasang surut,
dll.
II - 10
Proses terjadinya abrasi karena faktor alam disebabkan Ketika angin
yang bergerak di laut menimbulkan gelombang dan arus menuju pantai,
arus dan angin tersebut memiliki kekuatan yang lama kelamaan
menggerus pinggir pantai. Gelombang di sepanjang pantai menggetarkan
atau batuan yang lama kelamaan akan terlepas dari daratan. Kekuatan
gelombang terbesar terjadi pada waktu badai,sehingga dapat
mempercepat proses abrasi itu sendiri. Angin yang berhembus diatas
permukaan air yang semula tenang akan menyebabkan gangguan pada
permukaan tersebut, dengan timbulnya gelombang kecil. Apabila
kecepatan angin bertambah, maka akan terbentuk gelombang. Semakin
lama dan semakin kuat angin berhembus semakin besar gelombang yang
terbentuk. Tinggi dan periode gelombang dipengaruhi oleh kecepatan
angin. Angin yang bertiup di atas permukaan laut merupakan pembangkit
utama gelombang.
Selain faktor alam, aktivitas manusia di wilayah pesisir juga
mengakibatkan cepatnya proses abrasi. Pertumbuhan penduduk yang
tinggi di wilayah pesisir dapat menimbulkan rusaknya keseimbangan
ekosistem pesisir. Pertumbuhan penduduk yang pesat di suatu wilayah
dipastikan akan menimbulkan berbagai masalah lingkungan hidup.
Berdasarkan hasil survey di masyarakat sekitar pantai didapatkan
salah satu penyebab tingginya abrasi beberapa tahun belakangan ini
adalah adanya aktivitas penambangan pasir di laut galesong oleh
Makassar New Port (Prasetyo et al 2020).
II - 11
Menurut Muslim D. Imba (2018) abrasi dapat disebabkan oleh
banyak 12awasa, diantaranya abrasi dapat terjadi karena :
a. Faktor Manusia
1. Peningkatan permukaan air laut yang diakibatkan oleh mencairnya
es di daerah kutub sebagai akibat pemanasan global.
2. Hilangnya vegetasi mangrove (hutan bakau) di pesisir pantai.
Sebagaimana diketahui, mangrove ditanam dipinggiran pantai, akar-
akarnya mampu menahan ombak sehingga menghambat terjadinya
pengikisan pantai.
3. Ketidakseimbangan ekosistem laut misalnya terjadi akibat eksploitasi
besar-besaran manusia terhadap kekayaan laut mulai dari ikan,
terumbu karang dan lain sebagainya.
4. Penambangan pasir di daerah pesisir yang berlebihan dan tidak
terkontrol.
b. Faktor Alam
1. Angin yang bertiup di atas lautan yang menimbulkan gelombang dan
arus laut sehingga mempunyai kekuatan untuk mengikis daerah
pantai.
2. Gelombang yang tiba di pantai dapat menggetarkan tanah atau
batuan yang lama kelamaan akan terlepas dari daratan.
3. Bencana alam seperti tsunami.
2.2.4 Dampak Abrasi
II - 12
Menurut Wahyuningsih (2016) Abrasi menjadi permasalahan bagi
ekosistem dan permukiman yang berada di pesisir. Dampak dari abrasi
yang secara langsung ke masyarakat adalah aspek sosial dan aspek
ekonomi. Aspek ekonomi dan aspek sosial merupakan berbagai aspek
yang menyangkut kehidupan masyarakat, antara lain keadaan demografi,
Kesehatan, Pendidikan, perumahan, kriminalitas dan kesejahteraan
rumah tangga (Basrowi et al 2010).
a. Dampak Sosial Ekonomi
Manumono (2017) menjelaskan bahwa penurunan pendapatan dan
perubahan mata pencaharian akibat lahan yang terkena abrasi secara
perlahan mengubah kondisi masyarakat dan selanjutnya mengubah
kondisi perilaku masyarakatnya. Secara umum, para petani tambak dan
nelayan mengalami penurunan pendapatan akibat abrasi tambak dan rob
mengalami perubahan perilaku yang bersifat negative.
b. Dampak Lingkungan
Faktor-faktor abrasi pantai akan memberikan dampak abrasi bagi
pesisir pantai. Dampak abrasi pantai bagi lingkungan antara lain,
Penyusutan lebar pantai sehingga meyempitan lahan bagi penduduk yang
tinggal di pinggir pantai secara terus menerus, kerusakan hutan bakau
disepanjang pantai, karena terpaan ombak yang didorong angin kencang,
rusaknya infrastruktur di sepanjang pantai, misalnya tiang listrik, jalan,
II - 13
dermaga, dll, serta kehilangan tempat berkumpulnya ikan-ikan perairan
pantai kartena terkikisnya hutan bakau (Fauziah 2018).
Menurut Muslim D. Imba (2018), sebenarnya dampak dari abrasi
sangat kompleksitas bagi kehidupan manusia. Adapun penjelasan lebih
jauh tentang dampak abrasi pantai adalah sebagai berikut:
1. Penyusutan area pantai. Penyusutan area pantai merupakan
dampak yang paling jelas dari abrasi. Gelombang dan arus laut yang
biasanya membantu jalur berangkat dan pulang nelayan ataupun
memberi pemandangan dan suasana indah di pinggir pantai
kemudian menjadi mengerikan. Hantaman-hantaman kerasnya pada
daerah pantai dapat menggetarkan bebatuan dan tanah sehingga
keduanya perlahan akan berpisah dari wilayah daratan dan menjadi
bagian yang digenangi air. Ini tidak hanya merugikan aspek
pariwisata, akan tetapi juga secara langsung mengancam
keberlangsungan hidup penduduk di sekitar pantai yang memilik
rumah atau ruang usaha.
2. Rusaknya hutan bakau. Penanaman hutan bakau yang sejatinya
ditujukan untuk menangkal dan mengurangi resiko abrasi pantai juga
berpotensi gagal total jika abrasi pantai sudah tidak bisa
dikendalikan. Ini umumnya terjadi ketika musim badai, Ketika
keseimbangan ekosistem sudah benar-benar rusak ataupun saat laut
sudah kehilangan sebagian besar dari persediaan pasirnya. Jika
dampak yang satu ini terjadi, maka penanganan yang lebih intensif
II - 14
harus dilakukan sebab dalam sebagian besar kasus, keberadaan
hutan bakau masih cukup efektif untuk mengurangi kemungkinan
abrasi pantai. Ketiga, hilangnya tempat berkumpul ikan perairan
pantai. Ini merupakan konsekuensi logis yang terjadi dengan
terkikisnya daerah pantai yang diawali gelombang dan arus laut yang
destruktif. Ketika kehilangan habitatnya, ikan-ikan pantai akan
kebingungan mencari tempat berkumpul sebab mereka tidak bisa
mendiami habitat ikan-ikan laut karena ancaman predator ataupun
suhu yang tidak sesuai dan gelombang air laut yang terlalu besar.
Akibat terburuknya adalah kematian ikan-ikan pantai tersebut.
Dampak abrasi di atas cukup menunjukkan bahwa abrasi sangatlah
mengancam dan jika dibiarkan, daya destruktifnya dapat semakin
merusak dan merugikan banyak pihak. Selain pada pemukim dan pebisnis
di wilayah pantai, abrasi yang dibiarkan juga dapat berpengaruh besar
terhadap hasil laut serta jenis jenis sumber daya alam yang menjadi
bahan konsumsi pokok masyarakat sekaligus mata pencaharian sebagian
masyarakat yang jumlahnya tidak sedikit. Karena itulah, berbagai hal telah
dilakukan dan atau dicanangkan untuk mencegah dan mengurangi abrasi
pantai.
Adnan Sofyan dalam Rahmawati (2020) merincikan dampak
keurusakan fisik yang ditimbulkan akibat abrasi, diantaranya sebagai
berikut :
II - 15
1. Rusaknya fasilitas rekreasi yang berupa tempat duduk dan rumah
tempat istirahat
2. Berubahnya daratan menjadi laut atau pergeseran garis pantai
sehingga menyempitkan lahan bagi penduduk yang tinggal di
wilayah pesisir.
3. Penumpukan material berupa batu karang yang sejajar dengan garis
pantai. Penumpukan batu karang disebabkan oleh gelombang yang
membawa material dari daerah lepas pantai.
Dari gambaran abrasi, Adapun dampak yang ditimbulkan oleh abrasi
menurut Ramadhan (2013) antara lain :
1. Penyusutan lebar pantai sehingga menyempitnya lahan bagi
penduduk yang tinggal di pinggir pantai secara terus menerus.
2. Kerusakan hutan bakau di sepanjang pantai, karena terpaan ombak
yang didorong angin kencang begitu besar.
3. Rusaknya infrastruktur di sepanjang pantai, misal : tiang listrik, jalan,
dermaga, dan lain-lain.
4. Kehilangan tempat berkumpulnya ikan-ikan perairan pantai karena
terkikisnya hutan bakau.
2.2.5 Upaya Pencegahan Abrasi
Wilayah pesisir merupakan daerah yang rentan terkena abrasi.
Untuk itu perlu segera dilakukan upaya-upaya tertentu dalam mencegah
terjadinya kerusakan lingkungan akibat abrasi.
II - 16
Ulah manusia, abrasi juga dapat terjadi karena faktor alam, seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya, akan tetapi ini bukan berarti bahwa
abrasi pantai tidak dapat dicegah atau ditanggulangi, ada beberapa cara
untuk menanggulangi abrasi pantai sebagai berikut: (Warisno 2013: 24)
a. Melestarikan hutan mangrove dan menanam pohon bakau di daerah
pesisir, selain untuk mencegah terjadinya abrasi juga dapat:
1. Menjaga, melestarikan dan memelihara ekosistem di sekitar pantai
2. Mengurangi dampak tsunami
3. Menjaga kualitas air laut
4. Sumber oksigen terhadap makhluk hidup.
b. Membangun alat pemecah gelombang ombak, tembok laut,
revenment secara bertahap untuk meminimalisir erosi pantai (abrasi).
2.2.6 Deformasi Gelombang
Apabila suatu deretan gelombang bergerak menuju pantai,
gelombang tersebut akan mengalami perubahan bentuk yang disebabkan
oleh proses refraksi dan pendangkalan gelombang, difraksi, refleksi dan
gelombang pecah.
2.3 Perlindungan Pantai
Tipe pengaman pantai menurut pedoman Perencanaan Pengaman
Pantai dari Kementrian Pekerjaan Umum dibedakan atas pengamanan
pantai dengan struktur keras dan struktur lunak, sebagai berikut :
a. Pengaman pantai dengan struktur keras, berupa :
II - 17
1. Pengaman garis pantai yang menyusur (sejajar) pantai, tanggul laut,
revetment, tembok laut, turap, pemecah gelombang, ambang,
ambang tenggelam.
2. Pengaman tegak lurus pantai, groin, jeti (groin di mulut muara).
b. Pengaman pantai dengan struktur lunak, berupa :
1. Pengisian ulang pasir
2. pendaurulangan pantai atau Sand bypassing
3. Drainase pantai
4. Penanaman pohon bakau
Tindakan pencegahan yang mungkin untuk dilakukan baik secara
perseorangan atau berkelompok untuk menanggulangi atau mencegah
terjadinya abrasi pantai yaitu :
1. Pelestarian terumbu karang juga dapat berfungsi mengurangi
kekuatan gelombang yang sampai ke pantai oleh karena itu perlu
diperjelas pelestarian terumbu karang dengan membuat peraturan
untuk melindungi habitatnya, ekosistem terumbu karang, padang
lamun, mangrove, dan vegetasi pantai lainnya merupakan
pertahanan alami yang efektif mereduksi kecepatan dan energi
gelombang laut sehingga dapat mencegah terjadinya abrasi
[Link] abrasi pantai terjadi pada pulau-pulau kecil yang berada
di laut terbuka, maka proses penenggelaman pulau akan
berlangsung lebih cepat.
II - 18
2. Melestarikan tanaman bakau atau mangrove, fungsi dari tanaman
bakau atau mangrove yaitu untuk mencegah gelombang yang
menerjang pantai, juga sebagai tempat berkembangbiak ikan dan
kepiting.
3. Melarang penggalian pasir, pantai pasir yang terus menerus diambil
akan mengurangi kekuatan pantai.
2.3.1 Tembok Laut (Seawall)
Tembok Laut seawall mempunyai fungsi sebagai pelindung pantai
yang mempunyai fungsi untuk melindungi daratan atau fasilitas umum
yang berdekatan dengan pantai dari hantaman gelombang air laut
ataupun erosi.
Jenis – jenis seawall :
1. Curved seawall
Curved Seawall biasanya mempunyai bentuk struktur yang besar
dan dibuat dengan campuran beton. Curved Seawall mempunyai
bentuk kurva cekung yang dirancang untuk membelokkan energi
gelombang mengirim Kembali kelaut dan mencegah permukaan air
meluap melebihi dinding dengan dinding yang lebih tebal di bagian,
hal ini dimaksudkan untuk mengurangi gerusan di dasar dinding.
2. Gravity seawall
Gravity Seawall merupakan jenis konstruksi yang bergantung pada
berat bahan material yang menyusunnya untuk memberikan
stabilitas terhadap gaya gelombang yang datang. Konstruksi ini
II - 19
membutuhkan tanah fondasi yang kuat untuk mendukung gaya berat
konstruksi secara memadai. Gravity Seawall dalam menahan
gelombang bergantung pada kekuatan geser sepanjang dasar
struktur untuk mendukung beban yang diterapkan.
3. Steel Sheet Pile Sea Wall
Steel sheet pile seawall merupakan jenis seawall yang
menggunakan baja lembaran yang ditancapkan ke dalam tanah.
Seawall jenis ini biasanya digunakan di daerah yang intensitas
gelombangnya relatif kecil.
4. Concrete Block and Rock Walls
Concrete Block and Rock Walls dibuat dari blok-blok beton dan batu-
batu yang dipasang di lereng buatan manusia. Konstruksi ini
biasanya memiliki biaya yang lebih rendah dari seawall jenis lainnya
dan memiliki usia yang tidak lama. Bentuk lereng yang landai akan
menghilangkan kekuatan gelombang sedangkan batu-batu yang
telah disusun akan menyerap energi gelombang dan membagi
gelombang utama yang datang menjadi gelombang yang lebih kecil.
2.3.2 Gelombang
a. Gelombang Datang (𝑯𝒊)
Gelombang datang adalah gelombang yang bergerak dari laut
menuju daratan. Gelombang ini terbentuk akibat adanya gaya gesekan
terhadap air berupa gaya akibat angin, gaya akibat matahari atau bulan
II - 20
dan gaya akibat gempa bumi. Gelombang ini akan terus menjalar menuju
daratan hingga energi gelombang tersebut berkurang dan hilang.
b. Gelombang Refleksi (𝑯𝒓)
Gelombang refleksi adalah gelombang yang mengenai atau
membentur suatu bangunan kemudian gelombang tersebut dipantulkan
sebagian atau seluruhnya dibawa kearah laut (Triatmodjo, 1999). Refleksi
gelombang yang besar dapat menyebabkan ketidak-tenangan perairan di
depan struktur. Bangunan pelindung pantai yang memiliki kemiringan
dinding tertentu dapat menyerap energi gelombang lebih besar daripada
bangunan pelindung yang berdinding tegak. Bentuk serta kemiringan
bangunan pelindung pantai mempengaruhi refleksi gelombang yang
terjadi. Besar kemampuan suatu bangunan dalam memantulkan
gelombang diamati dari nilai koefisien refleksi yaitu perbandingan antara
tinggi gelombang refleksi ( 𝑟) dan tinggi gelombang datang ( 𝑖).
Rumus koefisien refleksi diperlihatkan oleh Persamaan 1
𝑟
𝑟
𝑖
Keterangan:
𝑟 = koefisien refleksi,
Hr = gelombang refleksi,
Hi = gelombang datang.
Koefisien refleksi untuk beberapa tipe bangunan diperoleh
berdasarkan tes model di laboratorium. Koefisien refleksi dengan berbagai
jenis material dijelaskan pada Tabel 1.
II - 21
Tabel 1. Koefisien Refleksi
Tipe Bangunan 𝑿
Dinding vertikal dengan puncak di atas air 0,7 – 1,0
Dinding vertikal dengan puncak terendam 0,5 – 0,7
Tumpukan batu sisi miring 0,3 – 0,6
Tumpukan blok beton 0,3 – 0,5
Bangunan vertikal dengan peredam energi0,05 – 0,2
(diberi lobang)
(Sumber: Triatmodjo B., 2012)
c. Run-up Gelombang
Run-up gelombang terjadi saat gelombang datang bergerak menuju
kearah pantai dan membentur bangunan pelindung pantai. Sebagian
energi gelombang akan diubah menjadi gerakan air yang meluncur kearah
lereng, bangunan pelindung pantai. Setelah mencapai elevasi maksimum,
akan terjadi aliran balik yang disebut run-down akibat gaya gravitasi. Run-
down akan terus terjadi hingga gelombang run-up diukur secara vertikal
dari muka air rata-rata laut. Karena banyaknya variable yang
berpengaruh, maka besarnya run-up sangat sulit ditentukan secara
[Link] tentang run-up gelombang telah dilakukan di
laboratorium oleh Irrabaren untuk menentukan besar run-up gelombang
pada bangunan dengan permukan miring untuk berbagai tipe material.
Besaran nilai run-up dan run-down disajikan pada Gambar 1 dimana nilai
𝑅𝑢 dan 𝑅𝑑adalah run-up dan run-down yang dihitung dari muka air laut
rera
II - 22
Gambar 2.1 Run-up dan Run-down terhadap Bilangan Irrabaren
(Sumber: Triatmodjo B.,1999)
Sebagai fungsi bilangan Irrabaren untuk berbagai jenis lapis lindung yang
mempunyai bentuk disajikan oleh Persamaan 2.
Ir
( )
Keterangan :
Ir = bilangan irrabaren
= sudut kemiringan sisi revetment
H = tinggi gelombang di lokasi bangunan
L0 = panjang gelombang di laut dalam
d. Kesebangunan Geometrik
Pada kesebangunan geometrik sempurna skala panjang arah
horizontal (disingkat menjadi skala tinggi) dan skala panjang arah vertikal
(disingkat menjadi skala tinggi) adalah sama, sedangkan pada distorted
model, skala panjang tidak sama dengan skala tinggi. Apabila
dimungkinkan model dibuat dengan tanpa distorsi, sedangkan pada
permasalahan khusus model dapat dilakukan dengan distorsi namun
II - 23
harus memenuhi persyaratan tertentu (Lasarika, 2017). Fungsi dari skala
24awasan dan skala tinggi disajikan pada Persamaan 3 dan Persamaan
4.
Keterangan:
= skala panjang,
= skala tinggi,
𝑝 = ukuran panjang prototype,
= ukuran panjang model,
𝑝 = ukuran tinggi pada prototype,
= ukuran tinggi pada model.
2.3.3 Fetch
Fetch adalah daerah pembentukan gelombang yang diperkirakan
memiliki kecepatan dan arah angin relatif konstan. Dalam meninjau
pembangkitan gelombang di laut, fetch dibatasi bentuk daratan yang
mengelilingi laut. Di daerah pembentukan gelombang, gelombang tidak
hanya dibangkitan dalam arah yang sama dengan arah angin tetapi juga
dalam berbagai sudut terhadap arah angin, maka panjang fetch diukur
dari titik pengamatan dengan interval 6o.
Untuk mendapatkan fetch efektif dapat diberikan oleh persamaan berikut
(Triatmodjo, 1999) :
II - 24
dimana :
Feff = fetch rerata efektif.
Xi = panjang segmen fetch yang diukur dari titik observasi
gelombang ke ujung akhir fetch.
Α = deviasi pada kedua sisi dari arah angin, dengan
menggunakan pertambahan 6o sampai sudut sebesar 42o
kedua sisi dari arah angin.
2.4 Studi Literatur
Pada sub bab ini membahas mengenai literatur yang digunakan
dalam tugas akhir ini adalah penelitian terdahulu. Literature ini sangat
bermanfaat guna menambah informasi dan sebagai rujukan ilmiah dalam
penyelesaian tugas akhir ini. Adapun penelitian terdahulu sebagai berikut :
1 Penelitian 1 : Simamora, Musrifin Galib, Eliza (2018)
Penelitian ini berjudul “ Analisis Laju Abrasi Di Desa Teluk Pambang
Kecamatan Bantan Bengkalis Provinsi Riau” Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui perubahan garis pantai yang terjadi di Desa Teluk Pambang
Kecamatan Bantan Bengkalis Provinsi Riau, disebabkan oleh arus dan
energi gelombang. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
sebagai salah satu informasi dalam melakukan upaya mengurangi resiko
bencana yang mungkin terjadi bagi pihak-pihak yang berkepentingan serta
pemerintah dan sebagai acuan untuk melakukan rehabilitas terhadap
lingkungan untuk kelangsungan wilayah pesisir Desa Teluk Pambang.
II - 25
2 Penelitian 2 : Moh. Syafi’I, Cholilu Chayati, Sutrisno (2016)
Penelitian ini berjudul “Penanggulangan Abrasi Pantai Di Desa Gersik
Kecamatan Gapura” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besar
sedimentasi pantai yang terjadi di Desa Gersik Putih dan untuk mendesain
konstruksi penanggulangan abrasi pantai di Desa Gersik Putih. Dengan
hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran
untuk memecahkan abrasi pantai yang terjadi dilokasi penelitian,sehingga
dapat membantu pemerintah dalam pengambilan keputusan dan dapat
ditindak lanjuti dalam menanggulangi abrasi pantai yang terjadi Di Desa
Gersik Kecamatan Gapura Putih
3 Penelitian 3 : Muslim D. Imba (2018)
Penelitian ini berjudul “Upaya Pemerintah Daerah Dan Masyarakat Dalam
Menanggulangi Abrasi Pantai di Desa Bontomarannu Kecamatan
Galesong Selatan Kabupaten Takalar.” Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui upaya Pemerintah Daerah dan masyarakat dalam
menanggulangi abrasi pantai di Desa Bontomarannu Kecamatan
Galesong Selatan Kabupaten Takalar dan mengetahui 26awasa yang
paling berpengaruh dalam menanggulangi abrasi Pantai di Desa
Bontomarannu Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka upaya pemerintah
Kabupaten Takalar dalam penanggulangan abrasi di pesisir pantai di
Desa Bontomarannu dapat diambil kesimpulan bahwa Upaya yang
berhasil dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Takalar adalah melakukan
II - 26
kegiatan pembangunan penahan atau turap dan pemecah gelombang di
beberapa titik yang terlalu parah terkena abrasi seperti di Desa
Bontomarannu yang memiliki 27awasan pesisir. Selain itu upaya
rehabilitasi secara alami juga berhasil dilakukan dengan meningkatkan
pemahaman dan peran serta masyarakat peduli lingkungan pesisir untuk
ikut serta melakukan kegiatan mulai dari persemaian, pembibitan, dan
penanaman di beberapa titik lokasi rehabilitasi 27awasan mangrove dan
Faktor Yang paling Berpengaruh Dalam Menanggulangi Abrasi Pantai Di
Desa Bontomarannu Kecamatan Galesong Selatan Kabupaten Takalar
yaitu diadakannya penopang di pesisir pantai seperti pohon mangrove,
dan pembuatan dinding pemeceh ombak. Serta peran serta masyarakat
dalam melestarikan pohon mangrove.
4 Penelitian 4 : Ahmad Yani (2014)
Penelitian ini berjudul “Studi Perencanaan Pemecah Gelombang Sebagai
Alternatif Bangunan Pengaman Pantai Maratu Kampung Payung-Payung
Kecamatan Maratua,Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur”
Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan pemecah gelombang
(breakwater) sebagai alternatif bangunan pengaman pantai di Kampung
Payung-Payung, Kecamatan Maratua dan untuk menanggulangi abrasi
yang terjadi di Pantai Maratua di Kampung Payung-Payung, sehingga
daerah pemukiman penduduk di sekitar pesisir Pantai Maratua di
Kampung Payung-Payung dapat terlindungi dari kerusakan akibat abrasi.
II - 27
Dari perhitungan dan pembahasan pada bab sebelumnya dapat diambil
beberapa kesimpulan sebagai berikut :
a. Dari distribusi arah gelombang pada mawar gelombang tahunan,
diketahui bahwa gelombang dominan berasal dari arah barat daya
dengan prosentasenya sebesar 30.96%.
b. Untuk 28awasan distribusi frekuensi gelombang dengan metode log
pearson tipe III dipilih arah gelombang dari barat karena gelombang
tertinggi berada pada arah tersebut dan dari hasil perhitungan
diperoleh tinggi gelombang rencana (Hs) sebesar 3.706 m dengan
kala ulang yang dipakai adalah 25 tahun.
c. Bangunan pemecah gelombang ditempatkan sejajar garis pantai pada
kedalaman 5.00 m atau ±400 m dari garis pantai. Bangunan
pemecah gelombang terdiri dari dua segmen dengan 28awasan tiap
segmennya sebesar 600 m yang dipisahkan oleh sebuah celah
dengan 28awasan 150 m.
d. Desain konstruksi pemecah gelombang adalah sebagai berikut:
> Tipe : pemecah gelombang tipe tenggelam (submerged breakwater)
lepas pantai
> Elevasi puncak : +2.000 m
> Lebar puncak : 2.00 m
> Kemiringan bangunan : 1 : 2
> Dimensi dari dua alternatif material konstruksi yang dipakai :
II - 28
- Batu alam bersudut kasar
> Jumlah lapis lindung : 2 lapis
> Berat butir lapis lindung : 440 kg
> Tebal lapis lindung : 1.26 m
> Berat butir lapis inti : 29 – 44 kg
- Kubus Beton
> Jumlah lapis lindung : 2 lapis
> Berat butir lapis lindung : 240 kg
> Tebal lapis lindung : 1.02 m
> Berat butir lapis inti : 16 – 24 kg
Dengan hasil penelitian ini dapat diusulkan beberapa hal yaitu penataan
29awasan dan lingkungan pantai, dengan menetapkan batas-batas
sempadan pantai yang boleh atau tidak boleh dan Menetapkan 29awasan
pantai sebagai 29awasan Pantai Lestari, yang dimungkinkan untuk
dikembangkan menjadi 29awasan wisata sehingga membuka peluang
bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar, sekaligus membuka
kesadaran masyarakat terhadap manfaat positif kebersihan dan
kelestarian lingkungan pantai
II - 29
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penilitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif dengan
pendekatan studi kasus. Kuantitatif deskriptif adalah jenis penelitian yang
digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau
menggambarkan data yang telah terkumpul.
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pantai Desa Galesong, Kecamatan
Galesong, Kabupaten Takalar . Penelitian dilakukan selama 2 bulan yaitu
bulan September dan Oktober 2021.
Gambar 3.1. Peta Lokasi Penelitian
3.3. Sumber Data
Peneliti mengelompokkan sumber data ke dalam 2 bagian yaitu:
III - 1
1. Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data
kepada pengumpul data. Menggunakan data primer karena peneliti
mengumpulkan sendiri data – data yang dibutuhkan yang bersumber
langsung dari objek pertama yang akan diteliti. Pengambilan data
dilakukan pada tinjauan kondisi kondisi Pesisir Pantai Desa Galesong,
Kabupaten Takalar.
2. Data Sekunder adalah data yang didapatkan dengan menghubungi
instansi – instansi yang terkait dengan perencanaan konstruksi. Pada
Upaya Penanggulangan Abrasi Pantai Desa Galesong, Kabupaten
Takalar ini memerlukan data sekunder sebagai berikut :
a. Data Tinggi Muka Air laut Kecamatan Galesong Kabupaten
Takalar.
b. Data Angin Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar.
3.4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. Teknik Survey dengan mengumpulkan data yang di butuhkan terkait
penelitian.
2. Observasi atau pengamatan ke lokasi penelitian guna mendapatkan
gambaran dari kondisi penelitian yang ingin di teliti.
III - 2
3.5. Alur Bagan
Penelitian dilakukan melalui serangkaian tahapan sebagai berikut:
Mulai
Observasi / Survey Lapangan
Studi Literatur
Dampak Abrasi
Referensi Pengendalian Abrasi
Pengumpulan Data :
Data Sekunder
Data Primer
Data Angin
Kondisi Pesisir Pantai
Data Gelombang
Analisis Data
Desain Seawall
Kesimpulan dan Saran
Selesai
Bagan Alur Penelitian
III - 3
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Peramalan Gelombang
4.1.1 Pengolahan Data Angin
Dikarenakan tidak tersedianya data gelombang pada lokasi
perencanaan, maka 1awasan data dilakukan berdasarkan data angin dari,
Stasiun Maritim Paotere Kota Makassar dari tahun 2007-2016. Data yang
digunakan diperoleh dari data bulanan untuk kecepatan angin maksimum.
Data angin tercatat seperti pada Tabel 4.1
Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nov Des
2007 4 4 3 3 4 4 4 3 2 3 3 3
2008 5 4 3 3 3 3 3 4 3 3 3 4
2009 3 2 3 2 2 2 3 2 3 3 3 3
2010 4 3 3 3 3 2 2 4 4 4 4 6
2011 5 6 5 4 4 4 4 4 4 4 4 7
2012 5 6 5 4 4 4 3 4 5 4 5 5
2013 5 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5
2014 5 6 4 4 4 4 4 4 4 4 4 5
2015 5 5 5 4 4 4 4 4 5 5 5 6
2016 5 9 5 4 4 4 4 5 4 5 4 5
Sumber Stamar Paotere
Tabel 4.1 Rekapan data angin rata-rata selama 10 tahun (Knot)
Dari data angin hasil pengukuran, selanjutnya dilakukan analisis
untuk mendapatkan beberapa parameter penting, yakni arah angin yang
dominan, kecepatan angin pada berbagai arah dan kecepatan angin rata-
rata sebagai fungsi dari arah hembusan angin. Dari hasil analisis data
angin, diperoleh persentasi kejadian angin berdasarkan arah seperti pada
table 4.2
IV - 1
Arah Persentase
Jumlah data
Notasi (derajat) kejadian (%)
U 0 0 0
TL 45 0 0
T 90 3 4
TG 135 50 37
S 180 0 0
BD 225 7 15
B 270 34 26
BL 315 24 18
Jumlah 118 100
Sumber : Analisa Perhitungan
Tabel 4.2: Persentasi kejadian angin berdasarkan arah datangnya di
lokasi studi
Tabel 4.2 memperlihatkan bahwa persentasi kejadian angin yang
paling besar atau sering terjadi adalah angin yang berhembus dari arah
tenggara (37%), disusul masing-masing dari barat (26%), barat laut (18%),
arah barat daya (15%), dan arah timur (4%). Sekalipun persentase angin
dari arah tenggara cukup besar, tetapi tidak berpotensi menimbulkan
gelombang karna suda masuk daratan. Berdasarkan arah fetch
gelombang arah mata angin yang berpotensi membangkitkan gelombang
ada empat yaitu barat laut, barat, barat daya dan selatan. Selain penyajian
data angin dalam bentuk tabulasi, juga disajikan dalam bentuk mawar
angin seperti pada gambar 4.1
IV - 2
Gambar 4.1 Mawar Angin di perairan maritim paotere tahun 2004 – 2016
4.1.2 Perhitungan Fetch
Fetch adalah sebuah wilayah dimana kecepatan angin dan arahnya
diperkirakan 3awasan3 konstan, serta variasi arah dari angin tidak lebih
dari 15 derajat, dan kecepatan rata-ratanya tidak lebih dari 5 knot. Fetch
dibatasi oleh daratan yang mengelilingi laut. Untuk laut lepas dimana tidak
terdapat dataran, batas fetch dilakukan dengan mengacu pada garis
isobar yang sama atau 3awasan fetch pembentukan gelombang
sempurna yaitu 300 km, mengingat pada fetch diperkirakan kecepatan
angin yang berhembus adalah konstan. Untuk memperkirakan fetch pada
lokasi studi, digunakan peta rupa bumi yang sudah memiliki skala. Untuk
mendapatkan prediksi tinggi gelombang ditentukan dulu nilai fetch.
dengan rumus :
Dengan :
Feff = Panjang fetch efektif
IV - 3
X1 = Panjang pembangkitan gelombang
α = Sudut pembangkitan gelombang (tiap 6o), deviasi pada kedua sisi
dari
arah angin, dengan menggunakan pertambahan 6o sampai
sudut
sebesar 42o pada kedua sisi dari arah angin.
Pada perhitungan disini menggunakan peta dengan skala 1 : 25.000
Berdasarkan kondisi geografis lokasi studi, arah angin yang berpotensi
membangkitkan gelombang dilokasi studi adalah angin yang bertiup dari
arah timur, tenggara dan selatan. Oleh sebab itu, dalam penentuan fetch
efektif, hanya ketiga arah tersebut yang diperhitungkan. Adapun
penentuan fetch pada lokasi studi, disajikan pada gambar 4.4
Gambar 4.2 : Penentuan fetch pada lokasi study
IV - 4
Tabel 4.3 perhitungan fetch untuk masing-masing arah peramalan
gelombang laut dalam adalah sebagai berikut :
Gambar 4.3: Panjang fetch arah barat laut
Pada Tabel 4.4 arah barat laut di jelaskan bahwa untuk deviasi (α)
pada salah satu sisi dari arah utara hanya dibatasi hingga sudut 0°
IV - 5
(istimewa/barat laut) karena pada sudut 0° sampai dengan sudut 42°
sudah merupakan daratan sehingga tidak berpengaruh terhadap
pembangkitan gelombang.
Tabel 4.4: Perhitungan Fetch efektif arah barat
Gambar 4.4 : kawasan fetch arah barat
IV - 6
Tabel 4.5: Perhitungan Fetch efektif arah selatan
Gambar 4.5 : kawasan fetch arah selatan
Pada Tabel 4.5. arah selatan di jelaskan bahwa untuk deviasi (α) pada
salah satu sisi dari arah tenggara hanya dibatasi hingga sudut
0°(istimewa/selatan) karena pada sudut 0° sampai dengan sudut 42°
sudah merupakan daratan sehingga tidak berpengaruh terhadap
pembangkitan gelombang.
IV - 7
Tabel 4.6 : Perhitungan Fetch efektif arah barat daya
Gambar 4.6 : Panjang fetch arah arah barat daya
4.1.3 Perhitungan tinggi
Perhitungan tinggi dan periode gelombang berdasarkan fetch dan
UA Pada umumnya bentuk gelombang di alam adalah sangat kompleks
dan sulit untuk digambarkan secara matematis karena ketidak-linieran,tiga
dimensi dan mempunyai bentuk yang random. Beberapa teori yang ada
IV - 8
hanya menggambarkan bentuk gelombang yang sederhana dan
merupakan pendekatan gelombang alam. Di sini, dalam perhitungan
gelombangnya digunakan teori gelombang yang paling sederhana yaitu
teori gelombang linier atau 9awasan9t kecil, yang pertama kali
dikemukakan oleh Airy pada tahun 1845, dan selanjutnya disebut dengan
teori gelombang Airy. Bangkitan gelombang yang ditimbulkan angin
sebagai berikut:
Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Ags Sep Okt Nov Des
2007 24 33 20 27 17 17 17 18 18 20 17 24
2008 36 28 19 18 14 14 15 17 13 18 16 32
2009 22 25 19 15 14 13 11 12 13 14 16 22
2010 26 22 23 22 15 18 12 20 20 17 18 36
2011 36 31 37 26 20 28 15 20 17 16 16 43
2012 33 35 46 19 17 12 13 15 22 17 16 36
2013 20 22 20 16 16 20 21 16 16 34 27 35
2014 30 50 22 26 16 11 16 16 16 25 24 46
2015 32 30 42 26 25 20 19 21 30 32 30 33
2016 31 42 38 22 15 18 12 15 16 15 16 37
Sumber Stamar Paotere
Dalam perhitungan tinggi dan periode gelombang kita ketahui beberapa
langka perhitungan untuk mendapatkan tinggi dan periode gelombang
yang efektif yaitu :
Rumus :
U1 = Uz ( )1/7
1/7
U1 = (k =
Untuk nilai kecepatan knot dari arah angin maximum terbesar, nilai
0,514 nilai konstanta yang di perole dari hasil knot di kompersi ke m/dtk (1
IV - 9
knot = 0,514 m/dtk), nilai 15 meter dari hasil konversi elevasi pencatatan
angin pada 15 meter di atas permukaan laut
t1 =
u1 =
us =u 𝑅
uA = 𝑢 (10awasa tegangan angin)
t =𝑢
t =
Tabel 4.7 Perhitungan tinggi gelombang tahun 2007– 2016
Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des
2007 3,01 0 0 0 0 0 0 2,48 2,48 2,66 0 0
2008 0 0 2,57 0 0 0 2,13 2,33 1,93 0 0 0
2009 0 0 0 0 0 0 0 1,81 1,91 2,04 0 0
2010 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2,24 0 0
2011 4,14 0 4,27 0 0 0 0 0 0 2,24 0 4,53
2012 0 0 4,88 0 0 0 1,93 2,05 2,72 2,33 2,24 0
2013 2,66 2,84 2,66 2,24 0 0 0 2,24 0 0 0 0
2014 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2015 3,80 0 4,73 3,23 3,15 0 2,57 0 3,58 3,80 0 0
2016 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sumber : Hasil perhitungan
IV - 10
Tabel 4.8 Perhitungan periode gelombang dari tahun 2007-2016 (detik)
Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agst Sep Okt Nop Des
2007 7,84 0 0 0 0 0 0 7,35 7,35 7,52 0 0
2008 0 0 7,44 0 0 0 6,99 7,19 6,76 0 0 0
2009 0 0 0 0 0 0 0 6,62 6,76 6,88 0 0
2010 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7,00 0 0
2011 8,71 0 8,80 0 0 0 0 0 0 7,10 0 8,98
2012 0 0 9,21 0 0 0 6,76 6,80 7,48 7,19 7,10 0
2013 7,52 7,68 7,52 7,10 0 0 0 7,10 0 0 0 0
2014 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2015 8,47 0 9,11 8,02 7,96 0 7,44 0 8,30 8,47 0 0
2016 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sumber hasil perhitungan
Dari hasil perhitungan tinggi dan periode gelombang pada 11awas 9
dan 11awas 10 yang mendapatkan angka nilai nol yaitu terdapat pada
arah angin dari utara ( N ) karna dari hasil penggambaran Fetch untuk
nilai untuk arah utara tersebut sudah termasuk daratan sehingga tidak
menimbulkan gelombang pada laut.
Tabel 4.9 Penggabungan hasil perhitungan dalam 10 tahun
Kecepatan U10 t U3600 US Uw UA Fetch td tc H T
1
Arah (m/d RL RT
(knot) (dtk) (m/dtk) (m/dtk) (m/dtk) (m/dtk) (m) (dtk) (dtk) (m) (dt)
tk)
11,7
24 NW 137,09 1,17 10,06 1,10 11,07 12,17 17,52 113218,00 145538,65 28960,93 3,01 7,84
4
18 NW 8,80 182,79 1,14 7,72 1,10 8,49 10,40 14,44 113218,00 119996,97 30885,07 2,48 7,35
18 NW 8,80 182,79 1,14 7,72 1,10 8,49 10,40 14,44 113218,00 119996,97 30885,07 2,48 7,35
20 NW 9,78 164,51 1,15 8,51 1,10 9,36 11,00 15,47 113218,00 128510,77 30187,38 2,66 7,52
19 NW 9,29 173,17 1,15 8,11 1,10 8,93 10,71 14,97 113218,00 124353,17 30520,13 2,57 7,44
15 NW 7,34 219,35 1,13 6,52 1,10 7,17 9,20 12,41 113218,00 103092,47 32488,50 2,13 6,99
17 NW 8,31 193,54 1,14 7,32 1,10 8,05 9,87 13,53 113218,00 112445,72 31561,50 2,33 7,19
13 NW 6,36 253,10 1,11 5,71 1,10 6,28 8,48 11,22 113218,00 93243,14 33594,36 1,93 6,76
12 NW 5,87 274,19 1,11 5,30 1,10 5,83 8,05 10,54 113218,00 87575,55 34303,97 1,81 6,62
13 NW 6,36 253,10 1,11 5,71 1,10 6,28 8,48 11,22 113218,00 93243,14 33594,36 1,93 6,76
14 NW 6,85 235,02 1,12 6,12 1,10 6,73 8,87 11,86 113218,00 98545,66 32980,67 2,04 6,88
IV - 11
Kecepatan U10 t U3600 US Uw UA Fetch td tc H T
1
Arah (m/d RL RT
(knot) (dtk) (m/dtk) (m/dtk) (m/dtk) (m/dtk) (m) (dtk) (dtk) (m) (dt)
tk)
17 W 8,31 193,54 1,14 7,32 1,10 8,05 9,87 13,53 104503,00 112445,72 29920,34 2,24 7,00
36 NW 17,60 91,40 1,21 14,57 1,10 16,03 15,76 24,07 113218,00 199995,15 26049,46 4,14 8,71
37 NW 18,09 88,93 1,21 14,94 1,10 16,44 16,16 24,82 113218,00 206230,99 25784,22 4,27 8,80
17 W 8,31 193,54 1,14 7,32 1,10 8,05 9,87 13,53 104503,00 112445,72 29920,34 2,24 7,00
16 NW 7,82 205,64 1,13 6,92 1,10 7,61 9,56 13,01 113218,00 108084,31 31980,44 2,24 7,10
43 NW 21,03 76,52 1,23 17,13 1,10 18,84 16,96 26,34 113218,00 218861,48 25278,36 4,53 8,98
46 NW 22,49 71,53 1,23 18,22 1,10 20,04 18,03 28,41 113218,00 236012,36 24650,57 4,88 9,21
13 NW 6,36 253,10 1,11 5,71 1,10 6,28 8,48 11,22 113218,00 93243,14 33594,36 1,93 6,76
15 W 7,34 219,35 1,13 6,52 1,10 7,17 9,20 12,41 104503,00 103092,47 30799,13 2,05 6,80
22 W 10,76 149,56 1,16 9,29 1,10 10,22 11,59 16,50 104503,00 137061,78 28009,71 2,72 7,48
17 NW 8,31 193,54 1,14 7,32 1,10 8,05 9,87 13,53 113218,00 112445,72 31561,50 2,33 7,19
16 NW 7,82 205,64 1,13 6,92 1,10 7,61 9,56 13,01 113218,00 108084,31 31980,44 2,24 7,10
20 NW 9,78 164,51 1,15 8,51 1,10 9,36 11,00 15,47 113218,00 128510,77 30187,38 2,66 7,52
22 NW 10,76 149,56 1,16 9,29 1,10 10,22 11,59 16,50 113218,00 137061,78 29546,08 2,84 7,68
20 NW 9,78 164,51 1,15 8,51 1,10 9,36 11,00 15,47 113218,00 128510,77 30187,38 2,66 7,52
16 NW 7,82 205,64 1,13 6,92 1,10 7,61 9,56 13,01 113218,00 108084,31 31980,44 2,24 7,10
16 NW 7,82 205,64 1,13 6,92 1,10 7,61 9,56 13,01 113218,00 108084,31 31980,44 2,24 7,10
15,6
32 NW 102,82 1,20 13,09 1,10 14,40 14,71 22,12 113218,00 183728,76 26796,59 3,80 8,47
5
20,5
42 NW 78,34 1,22 16,77 1,10 18,45 17,58 27,54 113218,00 228794,56 24907,11 4,73 9,11
4
12,7
26 NW 126,55 1,17 10,83 1,10 11,91 12,88 18,79 13218,00 156085,17 28293,37 3,23 8,02
1
12,2
25 NW 131,61 1,17 10,44 1,10 11,49 12,64 18,34 113218,00 152397,16 28519,79 3,15 7,96
3
19 NW 9,29 173,17 1,15 8,11 1,10 8,93 10,71 14,97 113218,00 124353,17 30520,13 2,57 7,44
14,6
30 NW 109,68 1,19 12,34 1,10 13,57 14,02 20,85 113218,00 173224,12 27327,66 3,58 8,30
7
15,6
32 NW 102,82 1,20 13,09 1,10 14,40 14,71 22,12 113218,00 183728,76 26796,59 3,80 8,47
5
Gambar 4.7 : Grafik penggambaran untuk mendapatkan tinggi dan
periode gelombang
IV - 12
Dari grafik diatas, dengan panjang fetch = 113,21 km dan UA =
17,52m/dtk, didapatkan H = 3,01 m dan T = 7,84 jam.
Berdasarkan kecepatan maksimum yang terjadi tiap bulan (tabel)
dicari nilai RL dengan menggunakan grafik hubungan antara kecepatan
angin di laut dan di darat.
Gambar 4.8 : Grafik hubungan antara kecepatan angin di laut dan di darat
Tabel 4.10 Jumlah data arah gelombang berdasarkan tinggi gelombang
Ketinggian Arah penjalaran gelombang Jumlah
(m) kejadian
U TL T TG S BD B BL
0–1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
1–2 0 0 0 0 0 0 0 4 4
2–3 0 0 0 0 0 0 3 20 23
3–4 0 0 0 0 0 0 0 9 9
4–5 0 0 0 0 0 0 0 4 4
jumlah 0 0 0 0 0 0 3 37 40
Dari tabel 14 jumlah data di atas dapat kita cari prosentase arah
gelombang dominan dengan cara sebagai berikut :
Pada data gelombang dengan tinggi 1 – 2 meter dan mempunyai arah
angin barat laut terdapat 3 buah data, sehingga jika dihitung berdasarkan
IV - 13
jumlah data persentasenya sebesar :
x 100% = 7,50%
Perhitungan tersebut merupakan salah satu contoh perhitungan dari
arah barat. Dari penggolongan tinggi gelombang tersebut dapat dibuat
tabel prosentase arah dan tinggi gelombang sebagai berikut :
Tabel 4.11. Persentase data arah gelombang berdasarkan tinggi
gelombang
Arah penjalaran gelombang
Ketinggian (m) Jumlah (%)
U TL T TG S BD B BL
0–1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
1–2 0 0 0 0 0 0 0 10 4
2–3 0 0 0 0 0 0 7,5 50 23
3–4 0 0 0 0 0 0 0 22,5 9
4–5 0 0 0 0 0 0 0 10 4
jumlah 0 0 0 0 0 0 7,5 92,5 100
Sumber : Hasil perhitungan
4.1.4 Perkiraan Gelombang dengan Periode Ulang
Data tinggi gelombang signifikan tiap bulan yang didapatkan dari
peramalan diurutkan dari nilai terbesar sampai yang terkecil. Selanjutnya
probabilitas ditetapkan untuk setiap tinggi gelombang dengan
menggunakan rumus pada Persamaan (2.6)
P( ) = 1- dimana m 1, = 120 sehingga mendapatkan
P = 0,99
Kemudian dihitung nilai dengan menggunakan rumus persamaan (2.8)
= -In { }
IV - 14
= 4.566
Perhitungan lengkapnya pada 15awas 4.12 (Hsm – Hr)2
Tabel 4.12 Hasil perhitungan Gelombang dengan Periode Ulang.
No. Hsm (m) P ym [Link] ym 2 (Hsm – Hr)2 Hsm Hsm – Hsm
1 1.90 0.995 5.366 10.195 28.794 0.786 2.01 -0.11
2 1.90 0.987 4.337 8.241 18.812 0.786 1.80 0.10
3 1.80 0.979 3.838 6.908 14.728 0.618 1.69 0.11
4 1.75 0.970 3.504 6.132 12.276 0.542 1.62 0.13
5 1.60 0.962 3.252 5.203 10.575 0.344 1.57 0.03
6 1.60 0.954 3.049 4.879 9.298 0.344 1.53 0.07
7 1.60 0.945 2.880 4.607 8.292 0.344 1.49 0.11
8 1.45 0.937 2.733 3.963 7.471 0.190 1.46 -0.01
9 1.45 0.929 2.605 3.777 6.784 0.190 1.44 0.01
10 1.45 0.920 2.490 3.610 6.199 0.190 1.41 0.04
11 1.34 0.912 2.386 3.197 5.692 0.107 1.39 -0.05
12 1.34 0.904 2.291 3.070 5.248 0.107 1.37 -0.03
13 1.34 0.895 2.203 2.952 4.854 0.107 1.35 -0.01
14 1.34 0.887 2.122 2.844 4.503 0.107 1.34 0.00
15 1.34 0.879 2.046 2.742 4.187 0.107 1.32 0.02
16 1.34 0.870 1.975 2.647 3.902 0.107 1.31 0.03
17 1.28 0.862 1.908 2.443 3.641 0.071 1.29 -0.01
18 1.28 0.854 1.845 2.361 3.404 0.071 1.28 0.00
19 1.28 0.845 1.785 2.284 3.185 0.071 1.27 0.01
20 1.28 0.837 1.727 2.211 2.984 0.071 1.25 0.03
21 1.28 0.829 1.673 2.141 2.798 0.071 1.24 0.04
22 1.28 0.821 1.620 2.074 2.626 0.071 1.23 0.05
23 1.28 0.812 1.570 2.010 2.465 0.071 1.22 0.06
24 1.28 0.804 1.522 1.948 2.316 0.071 1.21 0.07
25 1.20 0.796 1.475 1.770 2.176 0.035 1.20 0.00
26 1.20 0.787 1.430 1.716 2.046 0.035 1.19 0.01
27 1.20 0.779 1.387 1.664 1.923 0.035 1.18 0.02
28 1.10 0.771 1.345 1.479 1.808 0.007 1.17 -0.07
29 1.10 0.762 1.304 1.434 1.700 0.007 1.17 -0.07
30 1.10 0.754 1.264 1.391 1.598 0.007 1.16 -0.06
31 1.10 0.746 1.226 1.348 1.502 0.007 1.15 -0.05
32 1.10 0.737 1.188 1.307 1.411 0.007 1.14 -0.04
33 1.10 0.729 1.151 1.267 1.326 0.007 1.13 -0.03
34 1.10 0.721 1.116 1.227 1.245 0.007 1.13 -0.03
35 1.10 0.712 1.081 1.189 1.168 0.007 1.12 -0.02
36 1.10 0.704 1.047 1.152 1.096 0.007 1.11 -0.01
37 1.10 0.696 1.014 1.115 1.027 0.007 1.11 -0.01
38 1.10 0.687 0.981 1.079 0.962 0.007 1.10 0.00
39 1.10 0.679 0.949 1.044 0.900 0.007 1.09 0.01
IV - 15
No. Hsm (m) P ym [Link] ym 2 (Hsm – Hr)2 Hsm Hsm – Hsm
40 1.10 0.671 0.918 1.009 0.842 0.007 1.09 0.01
41 1.00 0.662 0.887 0.887 0.786 0.000 1.08 -0.08
42 1.00 0.654 0.857 0.857 0.734 0.000 1.07 -0.07
43 1.00 0.646 0.827 0.827 0.684 0.000 1.07 -0.07
44 1.00 0.637 0.798 0.798 0.636 0.000 1.06 -0.06
45 1.00 0.629 0.769 0.769 0.591 0.000 1.05 -0.05
46 1.00 0.621 0.740 0.740 0.548 0.000 1.05 -0.05
47 1.00 0.612 0.713 0.713 0.508 0.000 1.04 -0.04
48 1.00 0.604 0.685 0.685 0.469 0.000 1.04 -0.04
49 1.00 0.596 0.658 0.658 0.433 0.000 1.03 -0.03
50 1.00 0.587 0.631 0.631 0.398 0.000 1.03 -0.03
51 1.00 0.579 0.605 0.605 0.366 0.000 1.02 -0.02
52 1.00 0.571 0.578 0.578 0.335 0.000 1.01 -0.01
53 1.00 0.562 0.553 0.553 0.305 0.000 1.01 -0.01
54 1.00 0.554 0.527 0.527 0.278 0.000 1.00 0.00
55 1.00 0.546 0.502 0.502 0.252 0.000 1.00 0.00
56 1.00 0.537 0.477 0.477 0.227 0.000 0.99 0.01
57 1.00 0.529 0.452 0.452 0.204 0.000 0.99 0.01
58 1.00 0.521 0.427 0.427 0.182 0.000 0.98 0.02
59 1.00 0.512 0.403 0.403 0.162 0.000 0.98 0.02
60 1.00 0.504 0.379 0.379 0.143 0.000 0.97 0.03
61 1.00 0.496 0.355 0.355 0.126 0.000 0.97 0.03
62 1.00 0.488 0.331 0.331 0.109 0.000 0.96 0.04
63 1.00 0.479 0.307 0.307 0.094 0.000 0.96 0.04
64 0.90 0.471 0.283 0.255 0.080 0.013 0.95 -0.05
65 0.90 0.463 0.260 0.234 0.068 0.013 0.95 -0.05
66 0.90 0.454 0.237 0.213 0.056 0.013 0.94 -0.04
67 0.90 0.446 0.214 0.192 0.046 0.013 0.94 -0.04
68 0.90 0.438 0.191 0.171 0.036 0.013 0.93 -0.03
69 0.90 0.429 0.168 0.151 0.028 0.013 0.93 -0.03
70 0.90 0.421 0.145 0.130 0.021 0.013 0.92 -0.02
71 0.90 0.413 0.122 0.110 0.015 0.013 0.92 -0.02
72 0.90 0.404 0.099 0.089 0.010 0.013 0.91 -0.01
73 0.90 0.396 0.076 0.069 0.006 0.013 0.91 -0.01
74 0.90 0.388 0.054 0.048 0.003 0.013 0.91 -0.01
75 0.90 0.379 0.031 0.028 0.001 0.013 0.90 0.00
76 0.90 0.371 0.008 0.008 0.000 0.013 0.90 0.00
77 0.90 0.363 -0.014 -0.013 0.000 0.013 0.89 0.01
78 0.90 0.354 -0.037 -0.033 0.001 0.013 0.89 0.01
79 0.90 0.346 -0.060 -0.054 0.004 0.013 0.88 0.02
80 0.90 0.338 -0.082 -0.074 0.007 0.013 0.88 0.02
81 0.90 0.329 -0.105 -0.094 0.011 0.013 0.87 0.03
82 0.90 0.321 -0.128 -0.115 0.016 0.013 0.87 0.03
83 0.79 0.313 -0.151 -0.119 0.023 0.050 0.86 -0.07
84 0.79 0.304 -0.174 -0.137 0.030 0.050 0.86 -0.07
85 0.79 0.296 -0.197 -0.155 0.039 0.050 0.85 -0.06
IV - 16
No. Hsm (m) P ym [Link] ym 2 (Hsm – Hr)2 Hsm Hsm – Hsm
86 0.79 0.288 -0.220 -0.174 0.048 0.050 0.85 -0.06
87 0.79 0.279 -0.243 -0.192 0.059 0.050 0.84 -0.05
88 0.79 0.271 -0.267 -0.211 0.071 0.050 0.84 -0.05
89 0.79 0.263 -0.290 -0.229 0.084 0.050 0.83 -0.04
90 0.79 0.254 -0.314 -0.248 0.099 0.050 0.83 -0.04
91 0.79 0.246 -0.338 -0.267 0.114 0.050 0.82 -0.03
92 0.79 0.238 -0.362 -0.286 0.131 0.050 0.82 -0.03
93 0.79 0.229 -0.387 -0.305 0.150 0.050 0.81 -0.02
94 0.79 0.221 -0.412 -0.325 0.169 0.050 0.81 -0.02
95 0.79 0.213 -0.437 -0.345 0.191 0.050 0.80 -0.01
96 0.79 0.204 -0.462 -0.365 0.214 0.050 0.80 -0.01
97 0.79 0.196 -0.488 -0.385 0.238 0.050 0.79 0.00
98 0.79 0.188 -0.514 -0.406 0.264 0.050 0.79 0.00
99 0.79 0.179 -0.541 -0.427 0.293 0.050 0.78 0.01
100 0.79 0.171 -0.568 -0.449 0.323 0.050 0.78 0.01
101 0.79 0.163 -0.596 -0.471 0.355 0.050 0.77 0.02
102 0.79 0.155 -0.625 -0.493 0.390 0.050 0.76 0.03
103 0.79 0.146 -0.654 -0.517 0.427 0.050 0.76 0.03
104 0.79 0.138 -0.684 -0.540 0.468 0.050 0.75 0.04
105 0.79 0.130 -0.715 -0.565 0.511 0.050 0.75 0.04
106 0.79 0.121 -0.747 -0.590 0.558 0.050 0.74 0.05
107 0.79 0.113 -0.780 -0.616 0.608 0.050 0.73 0.06
108 0.70 0.105 -0.814 -0.570 0.663 0.098 0.72 -0.02
109 0.70 0.096 -0.851 -0.595 0.723 0.098 0.72 -0.02
110 0.70 0.088 -0.888 -0.622 0.789 0.098 0.71 -0.01
111 0.70 0.080 -0.929 -0.650 0.862 0.098 0.70 0.00
112 0.70 0.071 -0.971 -0.680 0.943 0.098 0.69 0.01
113 0.70 0.063 -1.017 -0.712 1.035 0.098 0.68 0.02
114 0.70 0.055 -1.067 -0.747 1.139 0.098 0.67 0.03
115 0.70 0.046 -1.123 -0.786 1.260 0.098 0.66 0.04
116 0.70 0.038 -1.185 -0.830 1.405 0.098 0.65 0.05
117 0.70 0.030 -1.258 -0.881 1.583 0.098 0.63 0.07
118 0.70 0.021 -1.348 -0.943 1.816 0.098 0.61 0.09
119 0.70 0.013 -1.469 -1.028 2.157 0.098 0.59 0.11
120 0.70 0.005 -1.681 -1.176 2.824 0.098 0.54 0.16
Jumlah 121.630 60.0 68.756 109.363 229.802 8.521
Rata-rata 1.014 0.500 0.573 0.911 1.915 0.071
Dengan menggunakan data Hsm dan ysm, selanjutnya dihitung parameter
A dan B dengan menggunakan persamaan berikut.
∑
A =
∑ ∑
IV - 17
= 0.208
B = 1.014 - 0.21 0.5
= 0.89
Kemudian nilai dihitung menggunakan persamaan (3.10).
= - , ( )- dimana L = 1, Tr = periode ulang = 2
Tahun
= 3.157
Dari nilai-nilai parameter A dan B dan juga nilai yr, kemudian didapatkan
tinggi gelombang signifikan untuk berbagai periode ulang dengan
menggunakan Persamaan (3.9)
H= ̂ ̂ = 1.55m
Lalu menghitung deviasi standard tinggi gelombang signifikan
⁄
* ∑ ̅ +
untuk menetapkan interval keyakinan, terlebih dahulu kita menghitung nilai
a yang diberikan oleh persamaan (3.13).
dimana 9 k = 0.93 , c = 0 , = 1.33 ,
IV - 18
Setelah itu menghitung standar deviasi yang dinormalkan dari tinggi
gelombang signifikan dengan periode ulang ( nr) dengan menggunakan
persamaan (3.13)
[ ] ⁄
√
Besaran dari deviasi standard dari tinggi gelombang signifikan r)
dihitung dengan menggunakan rumus pada Persamaan (3.14).
r = nrHs = 0.067
Untuk perhitungan lengkapnya terlihat pada 19awas 4.13
Tabel 4.13 Tinggi Gelombang laut dalam dengan Periode Ulang Tertentu
Periode
yr Hsr Hs – 1,28r Hs + 1,28r
ulang nr r
(tahun) (m) (m) (m)
(tahun)
2 3.157 1.55 0.250 0.067 1.466 1.638
5 4.086 1.75 0.315 0.084 1.638 1.853
10 4.783 1.89 0.364 0.097 1.766 2.016
25 5.702 2.08 0.430 0.115 1.935 2.230
1) Pasang Surut
Pengamatan data pasang surut yang dilakukan selama 15 hari
dengan interval pengambilan data setiap 1 jam. Data pasang surut diolah
untuk memperoleh konstanta harmonis pasang surut pada daerah
penelitian. Perhitungan konstanta harmonis pasang surut dilakukan
dengan menggunakan metode Admiralty.
IV - 19
Tabel 4.14 Pehitungan analisis harmonic pasang surut
S0 M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4 K2 P1
A (cm)
22.3 70 22 12 53 52 8 8 6 17
go 0 82 105 281 151 137 373 5 105 151
a. Datum Referensi:
MSL
MSL= ASO= 81 cm
ZO
Berdasarkan definisi Australia yaitu Indian Spiring Low Water, maka :
Zo = So – [ AM2 + AS2 + AK1 ] + AO1
= 22.3 – [ 70 + 22 + 52 ] + 52
= 26 cm dari MSL terpakai
b. Ketinggian muka surutan dari Nol Palem = MSL – Zo
= 223 – 26
= 97 cm
ATT = So + [ AM2 + AS2 + AK1 + Ao ]
= 22.3 + [ 70 + 22 + 52 + 52 ]
= 4.20cm dari MSL terpakai
2.) Tipe Pasang Surut dan Tunggang Air Pasut
Tipe pasang surut dan tunggang air pasut yang ada pada pantai
Tope Jawa adalah sebagai berikut :
IV - 20
= 1.141
Berdasarkan nilai Formzhal,( 0,25<F≤1.5 ) maka keriteria pasang surut
adalah pasut tipe campuran condong harian ganda ( Mixed Tide Prevaling
Semidiurnal )
3.) Tunggang air pasut
Pasut tipe campuran condong harian ganda (Mixed Tide Prevailing
Semidiurnal)
HAT = LAT + 2 [Ak1 + AO1 + As2 + AM2]
= 26 + 2 (53 + 52 + 22 + 70)
= 420 cm
MHHWS = LAT + 2 [AS2 + AM2] + Ak1 + AO1
= 26 + 2 [ 6.35 + 33.3 ] + 10.4 + 3.79
= 315 cm
MHHWN = LAT + 2 [AM2) + AK1 + AO1
= 26 + 2 [70 ] + 53 + 52
= 271 cm
MSL = 223 cm
MLLWN = LAT + 2 [AS2 ] + AK1 + AO1
MLLWS = LAT + AK1 + AO1
= 26 + 53 + 52
LAT = MSL – AK1 – AO1 – AS2 – AM2
= 223 – 53 – 52 – 22 – 70
IV - 21
=26 cm
Gambar 4.9 Hasil perhitungan tunggang pasang surut
Gambar 4.10 Grafik pasang surut pantai Galesong Selatan
4.2 Gelombang di Lokasi Bangunan
Dari data peramalan gelombang berdasarkan data angin, dibuat
analisis frekuensi untuk mendapatkan gelombang rencana dengan
periode ulang tertentu, yang hasilnya diberikan dalam tabel 4.7. Dalam
perencanaan ini digunakan tinggi gelombang rencana dengan periode
IV - 22
ulang 10 tahunan, yaitu H0 = 1.89 m, periode gelombang rencana
ditetapkan sebesar 10 detik.
Selama penjalarannya menuju pantai, tinggi gelombang berubah
karena proses refraksi dan pendangkalan serta gelombang pecah yang
tergantung pada bathimetri dan karakteristik gelombang laut dalam.
Dengan kondisi kemiringan pantai yang landai, maka diperkirakan
gelombang yang akan mencapai pantai akan pecah pada kedalaman 1.28
tinggi gelombang. Maka tinggi gelombang pecah dapat di tentukan
dengan persamaan (2.4):
Hb = 0.78 . db
Dari hasil analisis gelombang rencana diatas diperoleh grafik hubungan
antara tinggi gelombang, tinggi gelombang pecah dan kedalaman sebagai
berikut :
Gambar 4.11 Grafik hubungan Ho, Hb dan db
Dari grafik di atas diperoleh parameter gelombang pecah sebagai berikut :
Hb = 2.10
db = 2.60
IV - 23
Pada analisis ini bangunan akan diletakkan pada elevasi +1,4 m. Jadi
kedalaman air pada saat pasang adalah 0,45 m, dimana pada kedalaman
tersebut gelombang telah pecah, maka gelombang rencana ditetapkan
sebagai berikut :
Hb = 0,78 db
Hd = Hrencana = 0.35 m
4.3 Elevasi Struktur
4.3.1 Tinggi muka air rencana
Tinggi muka air rencana tergantung pada pasang surut, wave setup,
wind setup, tsunami, dan pemanasan global. Dalam perencanaan
bangunan, tidak semua parameter tersebut digunakan. Hal ini mengingat
bahwa kemungkinan terjadinya semua parameter secara bersamaan
adalah sangat kecil. Oleh karena itu elevasi muka air rencana hanya
didasarkan pada pasang surut, wave setup, dan pemanasan global.
A). Pasang surut
Dari data pengukuran pasang surut di dapat beberapa elevasi muka air
yaitu:
MHWL = 1.84 m; MSL = 0.92 m; dan MLWL = 0.00 m.
b). Wave set-up
Wave set-up dapat dihitung dengan persamaan (2.18), sehingga didapat:
Sw = 0.375 m
c). Pemanasan global (Sea level rise)
Dari gambar dibawah maka diperoleh sea level rise (SLR) untuk 10 tahun
IV - 24
= 0.2 m
Gambar 4.12 Perkiraan kenaikan muka air laut karena pemanasan
global
DWL = MHWL + SW + SLR
DWL = 1.85 + 0.375 + 0.2 = 2.4254 m
4.3.2 Run Up Pada Tembok Laut
Bangunan direncanakan pada elevasi +1,4 m dari MLWL, sehingga
pada kondisi pasang kedalaman air di depan bangunan adalah :
ds = DwL –elevasi tanah dasar
= 2.4 – 1.4
= 1.0 m. (pada kondisi MHWL).
Untuk menentukan run up yang terjadi pada tembok laut dapat
menggunakan Persamaan (2.19), Persamaan (2.20) dan grafik Run up
pada gambar grafik tersebut adalah fungsi dari Irribaren Number
(Persamaan 2.20). berdasarkan hasil analisis gelombang rencana
diperoleh HD = 0.35 m.
Lo = 1.56 = 1,56 = 156m
IV - 25
𝑟
√
Ir = 6.45 dari grafik diperoleh, Ru/H = 1.30
Dengan demikian, diperoleh nilai Ru = 1,17 m.
Elevasi struktur ditetapkan berdasarkan kedua faktor tersebut sehingga :
Elevasi struktur = MHWL + Ru
= 1.85 + 1.77
= 3.02 m
4.4 Pasangan Batu
Sea wall yang direncanakan berupa konstruksi pasangan batu.
Adapun data yang didapat dari hasil perhitungan diatas adalah sebagai
berikut:
- = 1.80 m
- Dengan sudut gesek internal = 28 (Pasir longgar)
- Berat volume = 16 kN/
- Kohesi © diabaikan
- Kuat dukung ijin = 200 kN/
Bila pasangan batu mempunyai :
- Berat volume ( = 20 kN/
- Kuat desak ijin ( = 1500 kN/
- Kuat 26awas ijin ( = 300 kN/
- Kuat Geser ijin ( = 150 kN/
IV - 26
Gambar 4.13 Struktur pasangan batu seawall
Tekanan tanah pasif tidak diperhitungkan, karena bangunan ditempatkan
di pantai sehingga tekanan tanah pasif tidak dapat bekerja secara efektif
Muka tanah dibelakang dinding adalah datar, diperoleh
Ka = = Ka = 0.361
mencari besarnya gaya dan momen dalam struktur
Gaya aktif =
= 5.2639 kN
Momen aktif =
= 2.36874 mkN
IV - 27
Gambar 4.14 Titik berat struktur seawall
Tabel 4.15 Gaya momen dan aktif
No Besar Lengan terhadap titik A (m) Momen terhadap titik A
1 1.25 1.667 2.083
2 5.5 1.75 9.6
3 2 1.75 4
4 1 1.83 1.833
5 8 1.25 10
6 9.2 1.2 11.04
7 32 1 32
8 3.67 0.75 2.75
9 2 0.25 0.5
V = 64.62 73.332
∑
∑
berarti seluruh alas pondasi menerima beban.
IV - 28
( ) ⁄ ̅
( ) ⁄
Tinjauan stabilitas terhadap bahaya guling
a. Stabilitas terhadap bahaya guling
= - 5.61479 mkN
= 73.332 mkN
SF = = 13.06 > 2
b. Stabilitas terhadap bahaya geser
Gaya dorong : = 9.358 kN
Gaya lawan : F = V . F dan f = tg dianggap alas pondasi kasar
F = 34.357 kN
c. Stabilitas terhadap daya dukung tanah
Dicari letak resultante gaya-gaya yang bekerja terhadap pusat
berat atas fondasi tinjauan terhadap titik A:
IV - 29
Gambar 4.15 Letak resultante gaya-gaya yang bekerja terhadap pusat
berat alas pondasi
Tinjau terhadap stabilitas internal
Gambar 4.16 Tinjauan terhadap beberapa potongan
Ditinjau potongan A –
Cari besarnya gaya aktif dan momen aktif :
Gaya aktif = = 0 kN karena tidak ada muka tanah
dibelakang 30awasan30t
Momen aktif = = 0 mkN karena tidak ada muka
tanah dibelakang 30awasan30t
Dicari gaya dan besarnya momen aktif
IV - 30
No Berat Lengan terhadap titik A (m) Momen terhadap titik A (mkN)
1 9.20 0.3 2.76
V = 9.20 2.76
∑
∑
= 0 < = 0.10 berarti seluruh alas fondasi menerima beban
Terhadap desak :
∑
( )
* + w = tahanan momen tampang A-
= 720.60 ⁄ > desak pasangan
Terhadap 31awas :
∑
. /
= -690 ⁄ > 31awas pasangan
Terhadap geser :
D=
[ ]
=0
Ditinjau potongan B –
Cari besarnya gaya aktif dan momen aktif :
Gaya aktif =
IV - 31
= 0.8737 kN
Momen aktif =
= 0.1602 mkN
Dicari gaya dan besarnya momen aktif
No Berat Lengan terhadap titik B (m) Momen terhadap titik A (mkN)
1 3.667 0.75 3
2 5.5 1.25 7
3 1.25 1.67 2
= 9.167 9.625
∑
∑
= 0.28 > = 0.3333 sebagian tampang mendukung 32awas
terhadap desak :
∑
( )
* + w = tahan momen tampang B-
= 0.667
desak = 69.654 ⁄ < desak pasangan
terhadap 32awas :
∑
. /
= -60.49 ⁄ < 32awas pasangan
terhadap geser :
D= A– = 087.37
IV - 32
[ ]
Ditinjau potongan C –
Gaya aktif =
= 5.2639 kN
Momen aktif =
= 2.3687 mkN
Dicari gaya dan besarnya momen aktif
No Berat Lengan terhadap titik C (m) Momen terhadap titik A (mkN)
1 32 1 32
= 32.0 32
∑
∑
= -0.074 > = 0.3333 sebagian tampang mendukung 33awas
Terhadap desak :
∑
. /
* + w = tahanan momen tampang C-
= 0.33333
=14.383 ⁄ < desak pasangan
Terhadap 33awas:
∑
. /
IV - 33
= -1406 ⁄ < 34awas pasangan
Terhadap geser :
D= A– = 5.2639
[ ]
= 15.792 ⁄
IV - 34
Gambar 4.17 Tinjau terhadap patahnya tumit
= 36.959 – [ ] = 29.983 – 21 – 12.8
= 10.359 kN/ = -3.82 kN/
= 32.773 – [ ] = 27.658 – 21.00 – 24.80
= 6.17 kN/ = -18.14 kN/
superposisi :
IV - 35
Gaya lintang yang terjadi pada tampang -
D = 7.439 kN
Momen yang terjadi pada tampang -
Momen = 3.784 mkN
W = 1/6 . (Luas penampang - . b)
= 0.3011
Tegangan yang terjadi
4.5 Tumpukan Batu Pelindung Kaki Bangunan
Untuk menghindari kerusakan/keruntuhan bangunan akibat gerusan
oleh aliran banjir maupun gelombang, bangunan perlu dilengkapi
konstruksi pelindung kaki (toe protection). Berat butir batu untuk pelindung
kaki bangunan oleh persamaan (3.44):
IV - 36
= 2.65
H = 0,35 m
= 2 (Tabel 3.4. batu bersudut kasar dengan gelombang pecah = 2)
𝑟
𝑟
𝑟
Maka diperoleh :
W = 0,030 ton.
= 30 Kg
Tebal lapis lindung dapat dihitung dengan persamaan (3.45):
* +
N = jumlah lapis batu dalam lapis pelindung
KΔ = Koefisien lapis (Tabel 3.5)
t = 0,5 m
Lebar puncak lapis pelindung dapat dihitung dengan persamaan(3.46):
B=2
B = 2 . 0,35
= 0,7 m
IV - 37
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari analisis dan perhitungan dengan mengacu pada
teori, dan rumus-rumus empiris serta parameter-parameter yang ada,
maka dalam perencanaan Seawall di Pantai Galesong Selatan Kabupaten
Takalar telah diperoleh deformasi gelombang pantai Galesong : Tinggi
gelombang rencana = 1,89 m, Tinggi gelombang pecah = 1.10 m,
Kedalaman gelombang pecah = 1.60 m, Periode gelombang = 10 detik.
Penanggulangan yang dapat dilakukan di desa galesong yaitu dengan
menggunakan metode dinding laut (seawall).
5.2 Saran
Saran yang diberikan oleh penulis ialah membuat bangunan dinding
laut (seawall) sepanjang 100 meter. Dinding laut (seawall) adalah salah
satu bentuk perlindungan pada kawasan pesisir pantai yang terdampak
langsung dengan laut. Tembok laut (seawall) berfungsi untuk
mencegah/mengurangi limpasan dan genangan air yang berada
dibelakang dinding laut agar rumah warga dan tempat pemakan umum
(TPU) yang berada dipesisir pantai Galesong tidak lagi terkena dampak
dari abrasi pantai.
V-1
DAFTAR PUSTAKA
Damaywanti, K. (2013). Dampak Abrasi Pantai terhadap Lingkungan
Sosial (Studi Kasus di Desa Bedono , Sayung Demak). Prosiding
Seminar Nasional Pengelolaan Sumberdaya Alam Dan Lingkungan,
363–367.
Departemen Pekerjaan Umum, 1998, Pedoman Teknik Penanggulangan
Pantai Volume I, Badan Penelitian dan Pengembangan PU,
Jakarta.
Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, 2003, Pedoman Umum
Pengamanan dan Penanganan Kerusakan Pantai, Direktorat
Bina Teknik, Jakarta.
Departemen Pemukiman dan Prasarana Wilayah, 2004, Pedoman Teknis
Perencanaan Tembok Laut, Revetment dan Krib Tegak Lurus
Pantai, Direktorat Bina, Jakarta.
Ridlo, M. A., & Yuliani, E. (2018). Mengembangkan Kawasan Pesisir
Pantai Kota Semarang Sebagai Ruang Publik. Jurnal Geografi: Media
Informasi Pengembangan Dan Profesi Kegeografian, 15(1), 86–98.
Triatmodjo, Bambang , 1996, Pelabuhan, Beta Offset, Yogyakarta.
Triatmodjo, Bambang, 1999, Teknik Pantai, Beta Offset, Yogyakarta.
Utomo, A. C. (2019). Strategi Humas BNPB Meningkatkan Pengetahuan
Diorama Bencana. Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana, 10(1),
86–92. [Link]
bencana-vol10-no1-tahun-2019
Widya Setiyanti, D., & Sadono, D. (2015). Dampak Pariwisata Terhadap
Peluang Usaha Dan Kerja Luar Pertanian Di Daerah Pesisir. Sodality:
Jurnal Sosiologi Pedesaan, 5(3), 152–159.
[Link]
Yuwono, Nur. [Link]., 1982, Teknik Pantai Volume 1, Biro Penerbit
KMTS Fak. Teknik UGM, Yogyakarta.
Yuwono, Nur. [Link]., 1992, Teknik Pantai Dasar-dasar
Perencanaan Bangunan Pantai Volume II, Biro Penerbit
KMTS Fak. Teknik UGM, Yogyakarta.
LAMPIRAN
Lokasi Penelitian Tugas Akhir
Dokumentasi dampak abrasi terhadap pemukiman warga di Galesong
Kabupaten Takalar.