0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan47 halaman

Struktur dan Etika Komite Hukum RS

Komite Etik dan Hukum Rumah Sakit dibentuk untuk membantu penerapan etika dan hukum di rumah sakit, mencegah masalah etis dan hukum, serta menyelesaikan sengketa dengan cara yang terstruktur.

Diunggah oleh

Jay Nizar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
48 tayangan47 halaman

Struktur dan Etika Komite Hukum RS

Komite Etik dan Hukum Rumah Sakit dibentuk untuk membantu penerapan etika dan hukum di rumah sakit, mencegah masalah etis dan hukum, serta menyelesaikan sengketa dengan cara yang terstruktur.

Diunggah oleh

Jay Nizar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGORGANISASIAN DAN TATA

HUBUNGAN KERJA KOMITE ETIK


DAN HUKUM DENGAN SUB
KOMITE ETIK PROFESI DI RS

[Link] Sutoto,[Link]
Nama :Dr. dr. Sutoto, MKes,FISQua
Tempat/Tgl lahir :Purwokerto, 21 Juli – 1952
JABATAN SEKARANG:
1. Ketua eksekutif KARS
PENGALAMAN ORGANISASI
1. Ketua :IRSPI (Ikatan RS Pendidikan Ind) Th 2005-2008/Ketua :ARSPI
(Asosiasi RS Pendidikan Ind) Th 2008-2010
2. Ketua IRSJAM (Ikatan RS Jakarta Metropolitan) 2008-2010
3. Ketua umum PERSI Th 2009-2012/2012-2015

PENDIDIKAN:
1. SI, Dokter, Fakultas Kedokteran Univ Diponegoro
2. SII Magister Manajemen RS Univ. Gajahmada
3. S III Manajemen Pendidikan Universitas Negeri Jakarta (Cumlaude)

PENGALAMAN KERJA
1. Staf Pengajar Pascasarjana MMR UGM, UHAMKA, UMY
2. Surveyor Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS):
3. Kepala Puskesmas Purwojati, Banyumas, Jawa Tengah,1978-1979
4. Kepala Puskesmas Jatilawang, Banyumas,jawa Tengah., 1979-1992
5. Direktur RSUD Banyumas Jawa Tengah 1992-2001
6. Direktur Utama RSUP Fatmawati Jakarta 2001 S/D 2005
7. Direktur Utama RS Kanker Dharmais Jakarta 2005-2010
8. Plt dirjen Binyanmed KEMENKES R.I( 2010)
• Video ini diunggah oleh akun
@Moditabok pada media sosial Tiktok.
• Video ini mengundang amarah banyak
orang. Banyak orang merasa miris
dengan perilaku nakes yang sedikit-
sedikit membuat konten dari pasien
yang ditanganinya.
• Tahun lalu juga beredar kasus serupa
dimana seorang dokter kandungan
membuat konten mengenai vaginal
touche pada ibu hamil dengan mimik
wajah yang mesum.
POKOK 1. PENDAHULUAN
BAHASAN 2. KOMITE ETIK DAN HUKUM
3. ORGANISASI KOMITE ETIK DAN HUKUM
4. SUB KOMITE ETIK PROFESI
5. TATA HUBUNGAN KERJA KEH DAN SUB
KOMITE ETIK PROFESI
6. PENUTUP
Pelayanan kesehatan dewasa ini jauh lebih kompleks

[Link] dibandingkan dengan beberapa dasawarsa sebelumnya.


Beberapa faktor yang mendorong kompleksitas pelayanan
kesehatan pada masa kini antara lain:
 1. Semakin kuat tuntutan pasien/masyarakat akan pelayanan
kesehatan bermutu, efektif, dan efisien,
 2. Standar pelayanan kesehatan harus sesuai dengan
kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran,
 3. Latar belakang pasien amat beragam (tingkat pendidikan,
ekonomi, sosial, dan budaya),
 4. Pelayanan kesehatan melibatkan berbagai disiplin dan
institusi, dan
 5. Diberlakukannya sistem jaminan kesehatan nasional
2. KOMITE ETIK DAN
HUKUM

 adalahunsur organisasi
non struktural yang
membantu kepala atau
direktur RSuntuk
penerapan etika RSdan
hukum perumahsakitan.
PERLUKAH KEH

 bahwa pelayanan kesehatan rumah sakit yang


kompleks cenderung menimbulkan
permasalahan baik antara pasien, rumah sakit,
dan/atau tenaga kesehatan selaku pemberi
pelayanan kesehatan  DIPERLUKAN
LEMBAGA YANG
 penyelesaian sengketa yang tidak melembaga TERSTRUKTUR -> KEH
dan tidak terstruktur.
 SERINGKALI penyelesaiannya dilakukan oleh
orang Rumah Sakit yang kurang memahami
hukum kesehatan akibatnya persoalannya
menjadi semakin pelik dan rumit .
UU NO 44/2009 TTG
RS PASAL 2, “RSdiselenggarakan berasaskan
Pancasila dan Didasarkan kepada nilai
kemanusiaan, ETIKA, dan Profesionalitas, manfaat,
keadilan, persamaan hak, dan anti diskriminasi,
pemerataan, perlindungan dan keselamatan pasien,
DASAR serta mempunyai fungsi sosial”

HUKUM Pasal 60 UU No 36/2014 tentang tenaga


kesehatan penyelenggaraan keprofesian Tenaga
Kesehatan bertanggung jawab untuk, bersikap dan
berperilaku sesuai dengan etika
profesi; (d). mendahulukan kepentingan masyarakat
daripada kepentingan pribadi atau kelompok.
DASAR HUKUM
KEH

PERATURAN MENTERI
KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 42 TAHUN 2018 TENTANG
KOMITE ETIK DAN HUKUM RUMAH
SAKIT
 Pasal 3
 (1) Pelaksanaan penerapan etika Rumah Sakit sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 dapat dilakukan melalui pembentukan Komite Etik dan
Hukum sesuai dengan kebutuhan dan beban kerja rumah sakit.
 (2) Pembentukan Komite Etik dan Hukum sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditujukan untuk meningkatkan keselamatan pasien dan mutu
pelayanan Rumah Sakit.
 (3) Dalam hal rumah sakit belum mampu membentuk Komite Etik dan
Hukum, peningkatan keselamatan pasien dan mutu pelayanan Rumah Sakit
sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Rumah Sakit dapat memperkuat
fungsi unsur organisasi Rumah Sakit.
 (4) Fungsi unsur organisasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) merupakan fungsi organisasi Rumah Sakit yang membidangi hukum
dan/atau etika.

PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 42


TAHUN 2018 TENTANG KOMITE ETIK DAN HUKUM
RUMAH SAKIT
SNARS EDISI 1 AKREDITASI RS(2018)

 SNARS Edisi 1 Akreditasi RS(2018) Menetapkan tata kelola


untuk Manajemen Etis Dan Etika Pegawai Agar Menjamin
Bahwa Asuhan Pasien Diberikan Dalam Norma Norma Bisnis,
Finansial, Etis, Dan Hukum Yang Melindungi Pasien Dan Hak
Mereka. Hal:414-415
PENGERTIAN ETIK

 Etik atau ethics berasal dari bahasa Yunani, yaitu etos yang artinya adat, kebiasaan,
perilaku atau karakter.

 kamus Webster etika adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang apa yang baik dan buruk
secara moral. Jadi, etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan
bagi perilaku seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang dilakukan
oleh seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggung jawab moral.

 etika adalah ilmu tentang kesusilaan yang menentukan bagaimana sepatutnya manusia
hidup di dalam masyarakat yang menyangkut aturan-aturan atau prinsip-prinsip yang
menentukan tingkah laku yang benar, yaitu : baik dan buruk serta kewajiban dan tanggung
jawab (Ismani, 2001).

 Etik dititik beratkan pada pertanyaan atas apa yang baik dan yang buruk, karakter, motif,
atau tindakan yang benar dan salah (Potter dan Perry, 2005).
TATA KELOLA ETIKA
DAN HUKUM
 serangkaian proses yang
terkait dengan tindakan
yang bersifat mengatur,
membina, mengendalikan,
dan mengawasi perilaku
pemberi pelayanan dan
pengelola Rs agar sesuai
dengan nilai-nilai etika dan
hukum Rumah Sakit.
PANDUAN ETIK DAN PERILAKU
(CODE OF CONDUCT)
 adalah serangkaian petunjuk yang
berisikan etika perilaku umum, etika
pelayanan, dan etika
penyelenggaraan rs sebagai suatu
standar perilaku sumber daya
manusia dan pengelola dalam
menjalankan pelayanan kesehatan
dan penyelenggaraan RS untuk
mewujudkan perilaku dan budaya
kerja yang sesuai Dengan visi dan
misi Rs
ETIKA PELAYANAN
 adalah sistem nilai atau kaidah perilaku
dalam pelayanan klinis di Rs

PEDOMAN ETIKA PELAYANAN

• ADALAH SERANGKAIAN PETUNJUK


YANG BERISIKAN ETIKA
PELAYANAN.
ETIKA PENYELENGGARAAN
RUMAH SAKIT

adalah sistem nilai


atau kaidah perilaku
institusi dalam
penyelenggaraan
Rumah Sakit.
PASAL 2
 (1) Setiap RSwajib melaksanakan etika
Rumah Sakit.
 (2) Etika RS dituangkan dalam bentuk
Panduan Etik dan Perilaku (Code of
Conduct)

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2018 Tentang Komite
Etik Dan Hukum Rumah Sakit
Setiap RSwajib PASAL 3
melaksanakan etika AYAT 1
Rumah Sakit PASAL 2 AYAT 2

Pelaksanaan penerapan
etika dapat dilakukan
melalui pembentukan
Etika RS dituangkan Komite Etik dan Hukum
dalam bentuk
sesuai dg kebutuhan dan
Panduan Etik dan
beban kerja RS
PASAL 2 AYAT 1 Perilaku (Code of
Conduct)
Untuk meningkatkan
keselamatan pasien dan
mutu pelayanan Rumah
Sakit.

TUJUAN KEH
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2018 Tentang Komite
Etik Dan Hukum Rumah Sakit
BEBERAPA ASPEK
MASALAH ETIKA RS
• MASALAH ETIKA YANG BERHUBUNGAN DENGAN:
1. RM
2. PERAWATAN PASIEN
3. PELAYANAN LABORATORIUM KLINIK
4. PELAYANAN KESEHATAN PASIEN DEWASA
5. PELAYANAN KESEHATAN PASIEN ANAK
6. PELAYANAN KESEHATAN BIDANG REPRODUKSI MANUSIA
7. PELAYANAN ANESTESI
8. PERAWATAN INTENSIF
9. UTHANASIA
10. PEMERIKSAAN RADIOLOGI
[Link] FISIOTERAPI
12. PELAYANAN PASIEN GAWAT DAN KEDARURATAN
13. PELAYANAN TRANSFER PASIEN
PEMBENTUKAN KOMITE ETIK DAN HUKUM

• PSL 4
• KOMITE ETIK DAN HUKUM DIBENTUK OLEH KEPALA
ATAU DIREKTUR RS MELALUI SURAT KEPUTUSAN.
• KOMITE ETIK DAN HUKUM BERADA DI BAWAH DAN
BERTANGGUNG JAWAB KEPADA KEPALA ATAU
DIREKTUR RUMAH SAKIT.
• PEMBENTUKAN KOMITE ETIK DAN HUKUM
DISESUAIKAN DENGAN KEBUTUHAN DAN
KETERSEDIAAN SUMBER DAYA YANG DIMILIKI OLEH
RS
MANFAAT DIBENTUKNYA KOMITE ETIK DAN HUKUM RUMAH
SAKIT
1. Mencegah dan meminimalisir terjadinya kasus etikomedikolegal di RSdengan
melakukan pendidikan etika, disiplin profesi dan hukum dalam pelayanan
kesehatan;
2. Mengkaji kasus etikomedikolegal yang terjadi atau issu yang berkembang di mass
media;
3. Segera merespon keluhan pasien, tenaga kesehatan lain terkait dengan pelaksanaan
pelayanan kesehatan yang dilakukan agar tidak menimbulkan sengketa medis
4. Mengupayakan penyelesaian kasus sengketa medik melalui jalur non litigasi
5. Menyusun kebijakan terkait dengan etika, disiplin profesi dan hukum dalam
pelayanan kesehatan

Indarwati, H. (2011). Urgensi Pembentukan Komite Etik dan Hukum di RSdalam Penyelesaian
Sengketa Medis Secara Non Litigasi (Doctoral dissertation, Unika Soegijapranata Semarang).
 Pasal 5
 (1) Susunan organisasi Komite Etik dan Hukum paling sedikit terdiri atas:
 a. ketua;
 b. sekretaris; dan
 c. anggota.
 (2) Ketua dan sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merangkap
sebagai anggota.
 (3) Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a tidak merangkap
jabatan lain di Rumah Sakit.
 (4) Selain susunan organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dapat
dibentuk subkomite etik penelitian sesuai dengan kebutuhan Rumah
Sakit.

SUSUNAN ORGANISASI DAN


KEANGGOTAAN KEH
 Pasal 6
 (1) Keanggotaan Komite Etik dan Hukum paling sedikit terdiri atas:

 a. tenaga medis;
 b. tenaga keperawatan;
 c. tenaga kesehatan lain;
 d. unsur yang membidangi mutu dan keselamatan pasien;
 e. unsur administrasi umum dan keuangan, pengelola pelayanan hukum;
dan
 f. unsur administrasi umum dan keuangan, pengelola sumber daya
manusia.(

KEANGGOTAAN KOMITE ETIK DAN


HUKUM
MANFAAT DIBENTUKNYA KOMITE ETIK DAN HUKUM RUMAH
SAKIT
1. Mencegah dan meminimalisir terjadinya kasus etikomedikolegal di
RSdengan melakukan pendidikan etika, disiplin profesi dan hukum dalam
pelayanan kesehatan;
2. Mengkaji kasus etikomedikolegal yang terjadi atau issu yang berkembang
di mass media;
3. Segera merespon keluhan pasien, tenaga kesehatan lain terkait dengan
pelaksanaan pelayanan kesehatan yang dilakukan agar tidak menimbulkan
sengketa medis
4. Mengupayakan penyelesaian kasus sengketa medik melalui jalur non
litigasi
5. Menyusun kebijakan terkait dengan etika, disiplin profesi dan hukum
dalam pelayanan kesehatan

Indarwati, H. (2011). Urgensi Pembentukan Komite Etik dan Hukum di RSdalam Penyelesaian
Sengketa Medis Secara Non Litigasi (Doctoral dissertation, Unika Soegijapranata Semarang).
PASAL 7

• KEANGGOTAAN KOMITE ETIK


DAN HUKUM DIANGKAT DAN
DIBERHENTIKAN OLEH KEPALA
ATAU DIREKTUR RUMAH SAKIT

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2018 Tentang Komite
Etik Dan Hukum Rumah Sakit
PERSYARATAN ANGGOTA KOMITE ETIK DAN
HUKUM :

Pasal 8
1. TIDAK PERNAH MELAKUKAN PERBUATAN
TERCELA;
2. SEHAT JASMANI DAN JIWA;
3. MEMILIKI PENGETAHUAN DAN/ATAU
PENGALAMAN BEKERJA DI BIDANG ETIK
DAN/ATAU HUKUM;
4. MENGIKUTI PELATIHAN ETIK DAN HUKUM
RS(SATU THN SETELAH DIANGKAT)
5. BERSEDIA BEKERJA SEBAGAI ANGGOTA KOMITE
ETIK DAN HUKUM;
6. MEMILIKI KEPEDULIAN DAN KEPEKAAN
TERHADAP MASALAH ETIK, HUKUM, SOSIAL
LINGKUNGAN DAN KEMANUSIAAN
ALASAN PEMBERHENTIAN
ANGGOTA

Pasal 9 (2)
1. TIDAK MELAKSANAKAN TUGAS DAN FUNGSI KOMITE ETIK
DAN HUKUM;
2. MELANGGAR PANDUAN ETIKA DAN PERILAKU (CODE
OF CONDUCT);
3. TERLIBAT DALAM TINDAKAN YANG MERUGIKAN RUMAH
SAKIT; DAN/ATAU
4. DIPIDANA KARENA MELAKUKAN TINDAK PIDANA
KEJAHATAN BERDASARKAN PUTUSAN PENGADILAN
YANG TELAH MEMPEROLEH KEKUATAN HUKUM TETAP.

• PEMBERHENTIAN ANGGOTA KOMITE ETIK DAN HUKUM


DIBERITAHUKAN SECARA TERTULIS OLEH KEPALA ATAU
DIREKTUR RSKEPADA KETUA DAN/ATAU ANGGOTA YANG
TUGAS KOMITE ETIK DAN HUKUM
Meningkatkan dan menjaga kepatuhan penerapan etika
dan hukum di Rumah Sakit, dengan cara:

[Link] PANDUAN ETIK DAN PERILAKU (CODE OF CONDUCT);


[Link] PEDOMAN ETIKA PELAYANAN;
[Link] PENERAPAN ETIKA PELAYANAN, ETIKA PENYELENGGARAAN,
DAN HUKUM PERUMAHSAKITAN;
[Link] PELAKSANAAN PENERAPAN ETIKA PELAYANAN DAN ETIKA
PENYELENGGARAAN;
[Link] ANALISIS DAN PERTIMBANGAN ETIK DAN HUKUM PADA
PEMBAHASAN INTERNAL KASUS PENGADUAN HUKUM;
[Link] BAGIAN HUKUM DALAM MELAKUKAN PILIHAN
PENYELESAIAN SENGKETA (ALTERNATIVE DISPUTE RESOLUTION) DAN/ATAU
ADVOKASI HUKUM KASUS PENGADUAN HUKUM; DAN
[Link] KASUS PELANGGARAN ETIKA PELAYANAN YANG TIDAK
DAPAT DISELESAIKAN OLEH KOMITE ETIKA PROFESI TERKAIT ATAU KASUS
ETIKA ANTAR PROFESI DI RS
TUGAS KOMITE ETIK DAN HUKUM
Ayat 2:

1. Memberikan pertimbangan kepada


Kepala atau Direktur RS mengenai
kebijakan, peraturan, pedoman,
dan standar yang memiliki dampak
etik dan/atau hukum; dan
2. Memberikan pertimbangan
dan/atau rekomendasi terkait
pemberian bantuan hukum dan
rehabilitasi bagi sumber daya
manusia rumah sakit.
FUNGSI KOMITE ETIK DAN HUKUM
a) Pengelolaan Data Dan Informasi Terkait Etika RS
b) Pengkajian Etika Dan Hukum Perumahsakitan, Termasuk Masalah
Profesionalisme, Interkolaborasi, Pendidikan, Dan Penelitian Serta Nilai-nilai
Bioetika Dan Humaniora;
c) Sosialisasi Dan Promosi Panduan Etik Dan Perilaku (Code Of Conduct) Dan
Pedoman Etika Pelayanan;
d) Pencegahan Penyimpangan Panduan Etik Dan Perilaku (Code Of Conduct) Dan
Pedoman Etika Pelayanan;
e) Monitoring Dan Evaluasi Terhadap Penerapan Panduan Etik Dan Perilaku (Code Of
Conduct) Dan Pedoman Etika Pelayanan;
f) Pembimbingan Dan Konsultasi Dalam Penerapan Panduan Etik Dan Perilaku (Code
Of Conduct) Dan Pedoman Etika Pelayanan;
g) Penelusuran Dan Penindaklanjutan Kasus Terkait Etika Pelayanan Dan Etika
Penyelenggaraan Sesuai Dengan Peraturan Internal Rumah Sakit; Dan
h) Penindaklanjutan Terhadap Keputusan Etik Profesi Yang Tidak Dapat
Diselesaikan Oleh Komite Profesi Yang Bersangkutan Atau Kasus Etika Antar
Profesi Psl 12
1. Menghadirkan pihak terkait untuk menyelesaikan
masalah etik RS
2. Melakukan klarifikasi dengan pihak terkait
sebagai penyusunan bahan rekomendasi; dan
3. Memberikan rekomendasi kepada Kepala atau
Direktur RS mengenai sanksi terhadap pelaku
pelanggaran Panduan Etik dan Perilaku (Code of
Conduct) dan pedoman Etika Pelayanan.

KEWENANGAN KOMITE ETIK DAN


Psl 13
HUKUM Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2018 Tentang Komite
Etik Dan Hukum Rumah Sakit, psl 13
1. Dalam melaksanakan tugas dan fungsi
Komite Etik dan Hukum dapat
membentuk panitia adhoc.
2. Panitia adhoc ditetapkan oleh Kepala
atau Direktur Rumah Sakit
berdasarkan usulan ketua Komite Etik
dan Hukum.
3. Panitia adhoc dapat berasal dari
Komite Etik dan Hukum Rumah Sakit
lain.

Psl
14
Pimpinan RS menetapkan kerangka kerja pengelolaan
etik RS untuk menangani masalah etik RS meliputi:
• finansial,
Menyusun Kode etik RS yang mengacu
• Pemasaran,
pada KODERSI
• penerimaan pasien, Komite Etik
• transfer pasien,
dan Hukum Menyusun kerangka kerja pelaporan
• pemulangan pasien
• dan yang lainnya termasuk konflik etik antar profesi dan pengelolaan etik RS serta pedoman
serta konflik kepentingan staf yang mungkin pengelolaan kode etik RS meliputi poin 1)
bertentangan dengan hak dan kepentingan pasien. sampai dengan 12) dalam maksud dan
tujuan sesuai dengan visi, misi, dan nilai-
• menyediakan sumber daya serta pelatihan nilai yang dianut RS.
kerangka pengelolaan etik RS bagi praktisi
kesehatan dan staf lainnya dan
• memberikan solusi yang efektif dan tepat
19-20 Mei 2022
waktu untuk masalah etik. STARKES TKRS 12
EP 1,2,3,4
PASAL 15: LAPORAN KEGIATAN

Komite Etik dan Hukum harus


melaporkan kegiatannya
secara berkala kepada Kepala
atau Direktur Rumah Sakit
paling sedikit setiap 6 (enam)
bulan atau sewaktu-waktu bila
diperlukan.
TATA HUBUNGAN KERJA

Pasal 16:
(1)Kepala/direktur rumah sakit menetapkan
kebijakan, prosedur dan sumber daya yang
diperlukan untuk menjalankan tugas dan
fungsi Komite Etik dan Hukum.
(2)(2) Komite Etik dan Hukum sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) bertanggung jawab
kepada Kepala atau Direktur Rumah Sakit.
(1)Komite Etik dan Hukum merupakan unit yang
bersifat memberikan kajian, pertimbangan, dan
rekomendasi.
(2)Kajian, pertimbangan, dan rekomendasi
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat
dipergunakan Kepala atau Direktur Rumah Sakit
dalam menyusun perencanaan dan pengambilan
keputusan.

PASAL 17:
(1) Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Komite Etik dan Hukum
dapat berkoordinasi dengan unsur komite medik, komite
keperawatan, atau komite/unit lain di rumah sakit.
(2) Koordinasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui
tata hubungan kerja penyelenggaraan etika dan hukum di rumah
sakit yang ditetapkan oleh Kepala atau Direktur Rumah Sakit.
(3) Tata hubungan kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
meliputi:
a. tata hubungan kerja dalam penerapan etika pelayanan dan etika
penyelenggaraan; dan
b. b. tata hubungan kerja dalam penerapan hukum perumahsakitan.

PASAL 18
(1) Susunan organisasi Komite Etik dan Hukum paling sedikit terdiri
atas:
a. ketua;
b. sekretaris; dan
c. anggota.
(2) Ketua dan sekretaris merangkap sebagai anggota.
(3) Ketua tidak merangkap jabatan lain di Rumah Sakit.
(4) Selain susunan organisasi tsb, dapat dibentuk subkomite etik
penelitian sesuai dengan kebutuhan Rumah Sakit.

KOMITE MEDIK
KOMITE ETIK DAN
HUKUM

Sub Komite etika dan Sub komite Etika


disiplin Profesi Penelitian
4. SUB KOMITE ETIK PROFESI
DASAR HUKUM
 Peraturan Menteri Kesehatan
 SUB KOMITE ETIK PROFESI DAN DISIPLIN Republik Indonesia Nomor
KOMITE MEDIK 755/MENKES/PER/PER/IV/2011
Tentang Penyelenggaraan Komite
 SUB KOMITE ETIK PROFESI DAN DISIPLIN
Medik di Rumah Sakit
KOMITE KEPERAWATAN
 PERATURAN MENTERI KESEHATAN
 SUB KOMITE ETIK PROFESI DAN DISIPLIN
REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49
KOMITE TENAGA KESEHATAN LAINNYA
TAHUN 2013 TENTANG KOMITE
KEPERAWATAN RUMAH SAKIT
DALAM MELAKSANAKAN TUGAS MENJAGA DISIPLIN,
ETIKA, DAN PERILAKU PROFESI STAF MEDIS KOMITE
MEDIK MEMILIKI FUNGSI SBB:

1. Pembinaan etika dan disiplin profesi kedokteran


2. Pemeriksaan staf medis yang diduga melakukan
pelanggaran disiplin
3. Rekomendasi pendisiplinan pelaku profesional di rumah
sakit
4. Pemberian nasehat/pertimbangan dalam pengambilan
keputusan etis pada asuhan medis pasien

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 755/MENKES/PER/PER/IV/2011


Tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit
1. memberikan rekomendasi rincian kewenangan klinis
(delineation ofclinical privilege)
2. memberikan rekomendasi surat penugasan klinis (clinical
appointment)
3. memberikan rekomendasi penolakan kewenangan klinis
(clinical privilege) tertentu
4. memberikan rekomendasi perubahan/modifikasi rincian
kewenangan klinis (delineation of clinical privilege)

KEWENANGAN KOMITE MEDIK


LANJUTAN KEWENANGAN KOMITE
MEDIK…

1. memberikan rekomendasi tindak lanjut audit medis


2. memberikan rekomendasi pendidikan kedokteran
berkelanjutan
3. memberikan rekomendasi pendampingan (proctoring)
4. memberikan rekomendasi pemberian tindakan disiplin

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 755/MENKES/PER/PER/IV/2011


Tentang Penyelenggaraan Komite Medik di Rumah Sakit
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR
49 TAHUN 2013 TENTANG KOMITE KEPERAWATAN RUMAH SAKIT
FUNGSI SUB KOMITE ETIK DISIPLIN
 Psl 11
 (4) Dalam melaksanakan fungsi menjaga disiplin dan etika
profesi tenaga keperawatan, Komite Keperawatan
memiliki tugas sebagai berikut:
 a. melakukan sosialisasi kode etik profesi tenaga
keperawatan;
 b. melakukan pembinaan etik dan disiplin profesi tenaga
keperawatan;
 c. merekomendasikan penyelesaian masalah
pelanggaran disiplin dan masalah etik dalam kehidupan
profesi dan pelayanan asuhan keperawatan dan
kebidanan;
 d. merekomendasikan pencabutan Kewenangan Klinis;
 e. memberikan pertimbangan dalam mengambil
keputusan etis dalam asuhan keperawatan dan
kebidanan.
BEBERAPA LANGKAH YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN AGAR KOMITE
ETIK DAN HUKUM RS MENJADI ORGANISASI YANG EFEKTIF

 KEH harus memiliki pengalaman dan pengetahuan tentang etika dan hukum kesehatan.
 Mengembangkan kebijakan etika dan hukum yang jelas yg mencakup prinsip-prinsip dasar etika
dan hukum,.
 Mengadakan pelatihan dan edukasi etika dan hukum untuk staf dan tenaga Kesehatan di RS,
sehingga mereka memahami kebijakan dan prosedur etika dan hukum yang berlaku dan dapat
menerapkan prinsip-prinsip etika dan hukum dalam praktek sehari-hari.
 Meninjau dan mengevaluasi kebijakan secara berkala: Evaluasi ini akan membantu RS untuk
mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki dan memastikan bahwa kebijakan dan prosedur yang
ada selalu relevan dan up-to-date.
 Melibatkan pasien dan keluarga pasien dalam pengambilan keputusan:
 Menjalin kemitraan dengan sub komite etik profesi untuk berbagi pengetahuan dan sumber daya,
serta untuk mengembangkan kebijakan dan prosedur etika yang lebih baik.
PENUTUP

1. TUNTUTAN PASIEN/MASYARAKAT AKAN


PELAYANAN KESEHATAN BERMUTU,
EFEKTIF, DAN EFISIEN DIRASAKAN
sEMAKIN KUAT
2. PELAYANAN RUMAH SAKIT YANG
KOMPLEKS CENDERUNG MENIMBULKAN
PERMASALAHAN/SENGKETA BAIK ANTARA
PASIEN, RUMAH SAKIT, DAN/ATAU
TENAGA KESEHATAN SELAKU PEMBERI
PELAYANAN KESEHATAN
3. DIPERLUKAN KEH UNTUK MENGATASI HAL
TERSEBUT
SEKIAN DAN
TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai