Pengantar Pemahaman Alkitab
Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana
Selasa, 21 Februari 2023
JALAN CERITA GURU DAN MURID
Markus 9:2-13
Pengantar
Markus 9:2-13 terlalu sering dikotbahkan di mimbar-mimbar gereja. Termasuk Minggu
kemaren, saat gereja-gereja memperingati Minggu Transfigurasi. Tidak hanya bacaan yang sama, tiap
tahun temanya pun hampir serupa. Karena itulah, saya memberanikan diri mengajukan tema yang
agak berbeda, yaitu: Jalan Cerita Guru dan Murid. Sebuah pembacaan Injil Markus 9:2-13 dari
perspektif seorang mahasiswa teologi (bukan bidang minat Biblika) yang sampai saat ini masih
bergairah dan berjerih lelah menyelesaikan studi.
Sesekali Boleh Marah, Tapi Relasi Jangan Berubah
Markus 9:2-13 diletakkan tepat sesudah perikop dimana Yesus memberitahu para murid
tentang jalan derita yang harus dilewati-Nya. Di perikop tersebut, Yesus memarahi Petrus yang
menolak (bahkan di dalam teks disebutkan ia berani menegor Sang Guru) jika Anak Manusia (Sang
Guru) harus menanggung banyak derita. Nampaknya bagi Petrus, Sang Guru tidak boleh sengsara.
Kemarahan Yesus terpancar dalam kalimat: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa
yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Markus 8:33). Tidak berhenti disitu
saja, Yesus juga menegaskan bahwa setiap orang yang mau mengikut-Nya, harus menyangkal dirinya,
memikul salibnya dan mengikut-Nya (Markus 8:34).
Markus tidak melukiskan suasana kebatinan Petrus dan para murid pasca kemarahan Sang
Guru. Padahal jelas, perkataan Sang Guru terdengar keras dan pedas. Bisa saja Petrus sakit hati karena
merasa tertuduh sebagai Iblis. Bayangkan seandainya peristiwa itu terjadi di masa kini, menimpa saya
dan saudara. Tapi bisa pula, Petrus merasa sebutan Iblis tidak ditujukan kepadanya melainkan untuk
Iblis yang ada di dalam hatinya. Tidak pula diceritakan apakah para murid memiliki waktu bersama
untuk berdiskusi (bukan ghibah) dan berefleksi pasca kemarahan Sang Guru. Jika ada waktu,
alangkah baiknya! Mereka pasti akan menjadi murid yang mengakar dan bertumbuh, tiap hari makin
mengerti maksud dan ajaran Sang Guru. Bila tidak, sayang seribu sayang! Pengajaran penting dari
Sang Guru akan berlalu begitu saja. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Namun yang jelas, enam
hari setelah itu Yesus tetap mengajak ketiga murid pilihan (an inner circle), naik ke sebuah gunung
tinggi. Ini membuktikan relasi antara Sang Guru dan murid tetap baik-baik saja. Yesus sesekali bisa
dan harus marah, namun relasi guru dan murid tidak berubah.
Tantangan Belajar dan Mengajar
Peristiwa spektakuler terjadi di atas gunung tinggi. Yesus berubah rupa dan pakaiannya
menjadi sangat putih berkilat-kilat. Bahkan, saking mengkilatnya tidak ada seorang pun di dunia ini
yang bisa menggelantang 1 pakaian seperti itu. Makin fenomenal saat kedua nabi termasyhur di
Perjanjan Lama, Elia (nabi yang terangkat ke sorga) dan Musa (nabi yang bertatap muka dengan
Allah) hadir bahkan berbincang dengan Yesus. Tidak heran jika suasana itu membuat Petrus takjub
dan sontak bertanya serta meminta izin kepada Yesus untuk mendirikan tiga kemah, satu untuk Yesus
1
Arti menggelantang di [Link] yaitu: mengguling-gulingkan tubuh. Alkitab Terjemahan Baru II tetap memakai
kata menggelantang.
dan dua untuk Elia serta Musa. Markus menjelaskan motif yang mendorong Petrus berani yaitu
karena rasa takut sekaligus ketidaktahuan akan apa yang harus dikatakannya. Namun bila kita
bandingkan dengan Lukas 9:33, “Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya”. Lukas nampaknya
lebih terbuka dan jujur, tahu benar tipikal Petrus yang spontan dan mudah terprovokasi. Ia cepat
melakukan sesuatu karena terdorong oleh apa yang dilihat dan dirasakan bukan apa yang dipikirkan
(diketahuinya). Petrus memang terpesona dan amat bahagia berada di tengah suasana spektakuler di
gunung itu. Petrus ingin mengamankan kebahagiaan selama mungkin, bahkan bila mungkin selama-
lamanya. Karena itulah ia siap sedia, menunggu perintah untuk membangun tiga kemah. Sebagai
seorang murid, Petrus nampaknya mudah melupakan pengajaran Sang Guru tentang panggilan meniti
jalan derita. Bukan bersuka gembira di atas gunung, sebaliknya berdarah-darah turun gunung. Meski
pengajaran itu baru saja didengarnya enam hari yang lalu. Bisa benar Petrus lupa, tapi bisa jadi karena
Petrus memang belum memahami sepenuhnya maksud Sang Guru. Petrus masih sulit memahami
mengapa Sang Guru harus menderita dan mengapa mereka dipanggil turut menderita. Jadi
problemnya bukan soal mudah lupa, tapi soal belum mengerti sepenuhnya. Apa sebabnya? Apakah
metode pengajaran yang dipakai Yesus kurang tepat? Apakah materi yang diajarkan Yesus terlalu
berat? Ataukah kualitas murid Yesus yang berada dibawah standar?
Mengenal Dekat Sang Guru: Dalam Lebih dan Kurang-Nya
Menarik bila kita bisa mendengar respon Yesus secara langsung atas permohonan Petrus.
Namun sayang teks Markus tidak menuliskannya. Namun demikian, suara dari balik awan: “Inilah
Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!” (ayat 7) menjadi sebuah pengakuan sekaligus perintah yang
ditujukan kepada Petrus dan para murid lainnya. Pengakuan bahwa Yesus bukan sekadar Guru tetapi
Anak Allah terkasih, dan para murid harus mendengarkan perkataan-Nya. Sebuah suara yang
setepatnya mengingatkan para murid untuk tidak sekadar kagum pada diri Yesus saat dimuliakan di
atas gunung, bersama Elia dan Musa, berbalutkan pakaian berwarna putih penuh kilatan-kilatan.
Tetapi kagumlah kepada Yesus karena Dia adalah Anak Allah terkasih bahkan disaat kelak Ia menjadi
buruk rupa dan penuh luka, berbau amis penuh lumuran darah. Di saat itu tetap dengarkanlah Dia! Di
peristiwa salib, tatkala Yesus diperlakukan bagaikan residivis, para murid (Petrus, Yakobus dan
Yohanes) justru meninggalkan sang Guru dan mengamankan diri sendiri. Muncul pertanyaan bagi
kita (para murid). Bagaimana kita memandang sosok Guru (guru)? Apa yang membuat kita
mengagumi sosok Guru (guru)? Bagaimana sikap kita tatkala apa yang kita kagumi dalam diri
Guru (guru) runtuh? Apakah akan mengubah sikap kita terhadap Sang Guru (guru)?
Penutup
Cerita berakhir, Yesus dan para murid turun gunung. Di perjalanan, Yesus berpesan agar
para murid tidak menceriterakan peristiwa yang mereka lihat, sebelum anak manusia bangkit dari
antara orang mati. Yesus menyimpan rapat-rapat peristiwa fenomenal yang Ia alami di atas gunung.
Bagi-Nya peristiwa itu cukup menjadi konsumsi pribadi, cukuplah untuk meneguhkan diri menjalani
panggilan turun gunung, menapaki jalan derita. Ayat 10-13 menunjukkan bahwa proses belajar
mengajar (tanya jawab dan diskusi) yang dilakukan Yesus kepada para murid terus berlangsung. Ada
banyak hal yang belum diketahui para murid. Ada banyak hal yang harus diajarkan Sang Guru. Yang
terpenting masih ada gairah dan semangat pantang menyerah untuk terus belajar mengajar baik guru
maupun murid. Bagaimana kita (guru dan murid)?
Kukuh Purwidhianto
(Mahasiswa Magister Filsafat Keilahian, Angkatan 2021)