0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Sistem Pemerintahan Islam di Madinah

Bentuk sistem pemerintahan dalam Islam menekankan kekuasaan tertinggi hanya milik Allah SWT. Nabi Muhammad SAW mendirikan sistem pemerintahan di Madinah berdasarkan Piagam Madinah dan kerjasama antar kelompok (mu'akhah) untuk membangun masyarakat (ummah) yang adil dan sejahtera. Madinah menjadi contoh negara Islam pertama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan13 halaman

Sistem Pemerintahan Islam di Madinah

Bentuk sistem pemerintahan dalam Islam menekankan kekuasaan tertinggi hanya milik Allah SWT. Nabi Muhammad SAW mendirikan sistem pemerintahan di Madinah berdasarkan Piagam Madinah dan kerjasama antar kelompok (mu'akhah) untuk membangun masyarakat (ummah) yang adil dan sejahtera. Madinah menjadi contoh negara Islam pertama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BENTUK SISTEM PEMERINTAHAN DALAM ISLAM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Politik Islam

Dosen Pengampu: [Link] Malik, Lc.,LL.M

Disusun Oleh Kelompok: 2

Anggita Nurjannah Daulay 12010125878

Harry Juanda 12010114152

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGRI SULTAN SYARIF KASIM RIAU

PEKANBARU

1444 H/ 2023 M
Daftar Isi
Bentuk Sistem Pemerintahan Dalam Islam................................................................................ 1
A. Madinah sebagai Oase Politik......................................................................................... 2
1. Sistem Mu‟akhah, Masjid, dan Piagam Madinah ........................................................... 2
2. Manajemen Pemerintahan .............................................................................................. 4
Khalifah...................................................................................................................................... 7
Kerajaan ..................................................................................................................................... 8
Demokrasi .................................................................................................................................. 8
Sosialisasi................................................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 11

ii
Bentuk Sistem Pemerintahan Dalam Islam

Dalam konteks politik dan kekuasaan, Islam selalu menekankan pentingnya kesadaran
kolektif bahwa kekuasaan tertinggi atau puncak segala kekuasaan dan politik adalah “siyāsah
ilāhiyyah wa inābah nabawiyyah” yang menunggalkan otoritas kekuasaan hanya pada Allah
Swt.1 Dalam bahasa Maududi, pandangan ini selaras dengan politik keadilan yang
memberikan napas kepada pemerintahan Islam dari zaman Nabi sampai sekarang.2

Pemerintahan Islam yang mengakomodasi semua sistem dan model pemerintahan


mulai dari kekhalifahan, dinasti, monarki, dan kesultanan, menjadi tonggak kekuatan yang
menggaungkan peranan agama dan nilai-nilai moral secara global.3 Sistem pemerintahan
yang dibangun oleh Nabi Saw berakar pada konsep “al-mujtama’ al-madani” yang bermuara
pada sistem nilai yang dikaitkan kepada tradisi “al-hanifiyyah al-samhah” sebagai tujuan
siyasah syar‟iyyah yang meletakkan dasar-dasar politik Islam sebagai risalah universal.

Pemerintahan Nabi Saw melahirkan perspektif global untuk memupuk kesepahaman


di kalangan elite dan rakyat dalam bentuk tindakan bersama atas dasar muafakat yang
memperhitungkan aspek moral dan prinsip-prinsip hidup yang mulia dan bermartabat. Hal
mendasar yang menjadi poros perbincangan dalam politik pemerintahan Islam adalah konsep
syura, prinsip amar ma’ruf nahi-munkar, pembentukan ahl al-hall wa al-‘aqd, maṣlahah, dan
dasar imāmah. Para ulama dan pemikir Islam telah mengemukakan pandangan yang ideal
dan gagasan besar dalam pemikiran siyāsah atau politik pemerintahan Islam seperti al-
Mawardi dalam “al-ahkām al-sulṭāniyyah wa al-wilāyah al-diniyyah”. Imam al-Ghazali
dalam “nasihat al-muluk”, Ibn Taimiyyah dalam “al-siyāsah al-syar`iyyah fi iṣlah al-ra`i wa
al-ra`iyyah”, Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam “al-ṭuruq al-hukmiyyah fi al-siyāsah al-
syar`iyyah”, Ibn Khaldun dalam “al-muqaddimah”.

Dalam konteks eksistensi pemerintahan Madinah jika dikaitkan dengan kekuatan


sosiopolitik, perspektif global dalam memanusiakan manusia dan membangun sumber
dayanya dengan landasan iman, ilmu, dan hikmah adalah tradisi tarbiyyah yang menjamin
kesejukan bagi semua lapisan masyarakat. Tentu saja semuanya dibingkai dalam frame
solidaritas untuk pembangunan bangsa dan negara, dalam atmosfer
keragaman, pluralitas, dan kebebasan beragama.

1
Lukman Thaib (1998), Politik menurut Persepektif Islam, Kajang: Synergymate Sdn. Bhd., hlm. Xii.
2
Mawdudi, Abul A‟la (1979), Islamic State and Constitution, London: Islamic Council of Europe, hlm. 14.
3
Sakhawi, Syams al-Din Muhammad ibn „Abd al-Rahman (1993), al-Tuhfah al-Latifah fi Tarikh al-Madinah
al-Syarifah, Beirut: Dar Kutub „Ilmiyyah, hlm. 23.

1
A. Madinah sebagai Oase Politik

Sejatinya, Islam yang pertamakali mengenalkan kepada dunia cita-cita keadilan sosial
dan pembentukan masyarakat madani yang demokratis. Hal ini dibuktikan dengan redupnya
emperium Romawi dan kekaisaran Persia, yang berbasis pada materialisme dan
hedonisme, ditengah nyala obor idealisme Islam. Pemikiran Islam diarahkan pada
pembentukan sistem politik yang merangkul dimensi dunia-akhirat yang dari rahimnya lahir
sumber daya manusia yang sanggup memimpin dunia. Sebagai contoh, pribadi-pribadi agung
di sekeliling Nabi Saw semisal Abu Bakar, Umar, dan Usman, belum pernah tercatat dalam
sejarah sebagai panglima perang. Walaupun mereka mampu, tapi mereka tidak disiapkan oleh
Nabi untuk jabatan itu, tapi mereka disiapkan untuk memimpin dunia.4 Mereka lahir dari
sistem yang menyiapkan mereka menjadi khalifah dunia, yang menginspirasi generasi
mendatang dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam dunia manajemen dan
pendidikan.

Madinah menjadi benteng utama pertahanan Islam dalam menghadapi ancaman


kekuasaan besar dunia, Romawi dan Persia.5 Walaupun dalam perjalanannya, Madinah terus
diganggu, terutama oleh elite kaum Quraisy Makkah dan kaum munafik, namun berkat
keistikamahan Nabi Saw dan para sahabatnya dalam mendidik bangsa, Madinah terus melaju
menjadi negara modern yang melampaui zamannya. Impian politik baru sebagai kekuatan
negara, dicapai dengan prinsip keadilan, kesetiakawanan, dan kegigihan yang berpihak pada
rakyat. Madinah muncul menjadi negara sederhana yang memilih aspek terbaik (jalan tengah)
antara Arab jahiliyah dan ideologi penyembah api dan bintang.

Kodifikasi Kekuatan Umat

Dalam waktu dua puluh tiga tahun, Madinah telah kokoh dengan tiang-tiang
penyangga konstruksi kenegaraan yang mantap. Pemerintah yang diamanahkan menjayakan
sistem generasi itu terikat dengan prinsip perjuangan yang murni untuk mengangkat harkat
dan martabat agama dan memelihara semangat keumatan dalam batas-batas moral sehingga
terwujud sifat menghormati kebebasan individu dan hak beragama dengan tuntunan
Islam. Konstruksi tata kelola pemerintahan itu adalah sebagai berikut:
1. Sistem Mu‟akhah, Masjid, dan Piagam Madinah
Nabi Saw mengajarkan dan mengaplikasikan persaudaraan (mu‟akhah) internal antara
kaum Muhajirin dan kaum Anshar untuk kejayaan dan kemakmuran bersama dengan pijakan
agama. Islam menuntut adanya ketetapan baru dalam perjanjian persaudaraan yang
mengharuskan pewarisan dalam tradisi persaudaraan yang baik untuk mengukuhkan dasar-
dasar ekonomi, terutama golongan masyarakat yang tertindas. Sistem ini kemudian menjadi
gelombang budaya yang menonjolkan tanggung jawab sosial bagi semua kalangan sebagai
pembela kebenaran dan keadilan, dan penyelamat umat sebagai “angkatan baru” Islam.

4
Matta, Muhammad Anis (2002), Model Manusia Muslim, Pesona Abad 21, Syamil Cipta Media, Bandung,
hlm. 5.
5
Mustafa, Ramadhan (1991), Intisari Serah Muhammad bin Abdullah Saw, Kuala Lumpur: A.S. Noordeen, hlm.
65.

2
Areal persaudaraan lalu diperluas dengan penyertaan masyarakat umum untuk
menjayakan cita-cita kehidupan yang lebih tinggi dan bekerjasama untuk mendapatkan
keamanan, stabilitas, kebebasan, dan pertumbuhan ekonomi. Kekuatan ini mencetuskan
kesan yang bermakna dalam pembangunan peradaban umat, utamanya jalinan persaudaraan
yang bertaut serasi antara kaum Muhajirin dan Anshar sebagai penduduk Madinah. Dalam
praktiknya, Nabi Saw mempersaudarakan Jakfar bin Abi Thalib dengan Mu‟azd bin Jabal,
Hamzah bin Abdil Mutthalib dengan Zaid bin Haritsah, Abdurrahman bin Auf dengan Sa‟ad
bin Rabi‟, dan Nabi sendiri menyaudarakan dirinya dengan Ali bin Abi Thalib, dan
seterusnya, dan seterusnya.6
Sebagai kelanjutan dari “pembibitan” peradaban Islam dengan benteng keimanan
sebagai kubu pertahanan yang kuat dari serangan materialisme dan hedonisme, yang oleh
Nabi Saw dianggap sebagai bentuk pelecehan politik dan ekonomi, kemudian Nabi Saw
mengarahkan pendekatan konstuktif penerapan risalah dan dakwah secara integral dengan
menginfakkan dana untuk pembangunan masjid.
Ketika berada di Quba‟, dalam perjalanan hijrahnya ke Madinah, Nabi telah merintis
usaha pertama mendirikan masjid “Nabawi” sebagai lambang destinasi politik yang
berkarakter dan beradab, dengan model negara pertama yang menghomati harkat manusia,
kebebasan, sistem hukum, dan keadilan.
Sementara negara ”baru” Islam ini memperkokoh agenda pembangunan sosialnya,
institusi masjid terus menciptakan kemakmuran dengan mengurus dan mengendalikan
bantuan-bantuan untuk fakir-miskin, perlindungan anak yatim, janda, remaja, dan golongan
kurang [Link] yang bertunjangkan konsep “ilahiah” diperluas fungsinya dalam
bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya, dan menjadi saksi sejarah perbagai peristiwa
penting. Bahkan digunakan sebagai “hall” untuk menerima delegasi luar negeri dan tamu
negara.7 Berbagai langkah ditempuh untuk mendorong institusi masjid meningkatkan daya
saingnya, termasuk menjadikannya pusat informasi, pusat strategi pembinaan pemuda dan
wanita dalam segala bidang, pentaksiran hasil pertanian dan “baitul mal”, aktivitas keilmuan,
markas tentara, pusat kesehatan, serta dakwah.8
Realitas tersebut kemudian menjadikan Madinah sebagai perbincangan dunia,
terutama bagaimana negara ini diurus dengan sistem dan tata kelola baru yang sama sekali
belum dikenal sebelumnya. Negara ini memikirkan cita-cita yang lebih besar dari sekadar
hubungan luar negeri, tapi pertumbuhan ekonomi dan keadilan sosial. Madinah telah
melahirkan peradaban yang menyumbang kebangkitan dalam menciptakan kemakmuran,
membumikan spirit jihad, dan memberdayakan rakyat dengan moralitas dan kemurnian nilai-
nilai Islam.
Piagam Madinah mencakup urusan ibadah, kebijakan, dan toleransi, dan melahirkan
lambang kedaulatan Negara Madinah dan kekuasaan serta kematangan [Link]
piagam ini terlihat dalam pelembagaan keadilan sebagai media politik pemerintahan Islam
yang menampilkan gabungan tersendiri dengan kaum Yahudi dan Nasrani untuk
menggerakkan usaha-usaha peningkatan kualitas hidup, memelihara warisan agama dan
memajukan kebudayaan bangsa. Semua itu bertujuan untuk memerdekakan martabat rakyat
dan memberi jaminan kebebasan bersuara dan beragama, serta penetapan sistem kehakiman

6
Khushani, Mas‟ud Muhammad, (1969), Riwayat ibn Hisham, Jilid 1, Diemer, Kairo, hlm. 504.
7
Umari, Akram Diya‟ (1991), Madinah Society at the Time of the Prophet, Herndon, Virginia: International
institute of Islamic Thought, hlm. 268.
8
Ali, Rajab Muhammad, (2000) al-Masjid al-Nabawi bi al-Madinah al-Munawwarah wa Rusumaha fi al-Fann
al-Islami, Dar Misry, Kairo, hlm. 140.

3
yang adil dan bebas dari kezaliman. Piagam itu dibuat untuk menetapkan sendi utama negara
dan untuk mengumumkan kedaulatan muruah Islam di mata dunia.9
2. Manajemen Pemerintahan
Dasar politik pemerintahan Madinah yang berpijak pada agama dan tradisi telah
mewujudkan keseimbangan dalam manajemen dan transformasi sosial secara
berkesinambungan dalam memperjuangkan cara hidup dan pandangan Islam. Pelan tapi pasti,
bentuk pemerintahannya yang berbasis wahyu (agama) menjadi model percontohan. Melalui
wadah negara model inilah, umat Islam memperoleh ruang untuk berinteraksi dengan dunia
luar. Jalinan baik dengan negara tetangga berdasarkan prinsip keadilan dan saling
menghormati membantu proses pengukuhan legitimasi negara ini.10
Rancangan pemerintahan Madinah dalam menghadapi dunia luar memerlukan
peralihan strategi tertentu bagi kemajuan manajemen pemerintahan. Piagam Madinah
kemudian menjadi acuan legislasi dalam keragaman budaya dan agama. Melalui wadah
inilah, terbina daya dan kekuatan untuk membangun negara Islam yang mendukung cita-cita
perpaduan dan memelihara keadilan secara kolektif. Hal ini menunjukkan keseimbangan
tujuan pendirian negara dan strategi yang digunakan.
a) Tata kelola pemerintahan pusat
Pemerintahan negara Madinah telah membentuk satu susunan karta politik yang
sempurna dengan perpaduan nilai kearifan lokal dan ajaran Islam. Sistem ini mengekalkan
hubungan instrumen negara yang satu dengan yang lain, dalam satu pemerintahan dengan
pengakuan hak-hak negara bagian (provinsi) dan wilayah pendudukan (futuhat). Kebijakan
yang melibatkan kepentingan wilayah akan dirujuk melalui kesepakatan bersama. Isu-isu
yang menyentuh kepentingan pusat dan daerah diawasi untuk menjaga kesenjangan dan
stabilitas nasional. Nabi Saw sebagai kepala negara bertanggung jawab penuh melantik dan
mengangkat dewan penasihat (mustasyar),sekretaris (kātib) staf khusus, ajudan, (rusul), juru
bicara, staf ahli (syu‟arā dan kutabā‟), gubernur, kepala daerah, dan pejabat umum (wali),
manajer lokal atau pejabat sipil (ru‟asā‟), pengawas (nākib),hakim dan jaksa (quḍāt), dan
pejabat serta petugas pasar dan keuangan (ṣāhib al-sūq). Setiap lembaga negara yang bertugas
mengurusi rakyat bertanggung jawab penuh kepada kepala negara dan diawasi oleh badan
pengawas khusus yang tergabung dalam majlis nuqabā‟. Struktur kekuasaan juga dibagi
dalam perwakilan, dalam situasi mendesak dan darurat, Nabi akan melantik pejabat khusus,
tentunya setelah melalui musyawarah dengan dewan penasihat.11
Negara Madinah Juga membentuk “departemen” yang membidangi administrasi
pemerintah (diwānal-Insya‟), yang bertugas dalam penulisan dokumen politik, wahyu,
undang-undang keselamatan, dokumen negara, perjanjian, pengutusan wakil keamanan,
pelaksanaan institusi diplomatik (sifarah), sistem risalah, terjemahan bahasa asing untuk
tujuan dakwah dan hubungan bilateral, perlindungan keamanan dalam masa perang dan
perdamaian.12
b) Pemerintahan wilayah

9
Qairuwani, Abdullah ibn Abd al-Rahman (1999), A Madinah view on the Sunnah, Courtesy, Wisdom Battles
and History, London: Taha Publishers, hlm. 12.
10
Mastu, Muhyiddin (2000), Manahij al-Ta‟lif fi al-Sirah al-Nabawiyya khilal al-Qurun al-Arba‟ah al-Ula min
al-Hijrah al-Nabawiyyah, Damaskus: Dar al-Kalim al-Tayyib, hlm. 194.
11
Tabari, Abu Jakfar Muhammad ibn Jarir (1992), Tarikh al-Rasul wa al-Muluk, Jilid 2, Beirut: Dar al-Fikr,
hlm. 571.
12
Abu Maya al-Hafiz, (2002) Sirah dan Riwayat Hidup Nabi Muhammad Saw, Haraf, Kuala Lumpur, hlm. 34.

4
Kebijakan futuhāt sebagai imbas kewajiban dakwah, membuka implikasi baru
instrumen sistem kewilayahan imārah atau provinsi yang setiap waktu semakin luas
jangkauan kekuasannya. Manajemen pemerintahan daerah yang sepenuhnya tunduk pada
pemerintahan pusat menuntut adanya kewibawaan dan kebijaksanaan dalam struktur SDM
pejabat pemerintahan nabawi yang baru berjalan. Implementasi nilai-nilai Islam yang
disebutkan di atas dapat terlaksana dengan baik karena negara ini terus berekspansi dan
melaksanakan kewajiban dakwahnya dengan konsisten dan terarah. Kepentingn wilayah
dalam struktur sosial politik Madinah telah diproyeksikan dalam bidang kerja sama untuk
meningkatkan ekonomi dalam iklim politik yang menggalakkan implementasi syariah yang
lebih luas. Nabi Saw membuat beberapa perjanjian damai dengan perbagai suku di luar
Madinah di wilayah utara dan selatan dalam rangka meningkatkan kerja sama dan hubungan
di atas prinsip kebenaran dan keadilan.13
Beberapa regulasi dalam pembagian kekuasaan ini adalah mandat bagi pemerintah
daerah untuk bekerja penuh waktu atas nama pemerintah pusat dalam kebijakan dan tindakan.
Oleh karena itu, diangkat tokoh-tokh lokal, ulama, dan pemuka kabilah sebagai pejabat yang
akan menyampaikan aspirasi rakyat. Mereka bertanggung jawab mewujudkan hisbah sebagai
sebuah wadah bebas yang memungut zakat dan melindungi hak kewarganegaraan rakyat
Madinah mengikuti prinsip-prinsip atau asas sistem pemerintahan wilayah. Mereka turut
memikul amanah menjaga perbatasan negara Madinah yang merentang dari pantai Laut
Merah di barat sampai Teluk Persia di timur.
c) Manajemen Keagamaan
Pemerintahan negara Madinah memberikan ruang seluas mungkin bagi rancangan dan
program yang bertujuan untuk menyiarkan syiar agama. Insentif dan reward yang tinggi
diberikan kepada pendidik dan ulama untuk meneruskan usaha-usaha pendidikan agama
menjamin kelangsungan pendidikan di peringkat anak-anak dan dewasa dengan mengakui
dan mengangkat mereka sebagai pembentuk generasi. Mutu pendidikan terus diperbaiki
dengan mengangkat guru-guru dan juru dakwah dalam setiap kabilah untuk melancarkan
reformasi ilmu dan membuat inovasi dalam bidang masing-masing.14
Institusi masjid digerakkan untuk merangsang intelektualisme dan menjamin peluang kepada
penduduk akses pendidikan. Nabi Saw membangun “pesantren” pertama dalam Islam yang
kemudian dikenal dengan sebutan aṣhāb al-ṣuffah atau ahluṣ ṣuffah untuk mendalami agama
di masjid dan mengutus guru-guru agama untuk mengajar kaum bangsawan di Bahrain dan
Oman sebagai muqri‟ dan mu‟allim yang mengarahkan penghayatan Islam dan tafaqquh fi al-
din. Para muazzin dan imam diletakkan dalam urutan pegawai teras yang memperteguh
kejayaan implementasi syariat Islam. Dengan strategi pengukuhan dan pelantikan mufti,
pengurus jemaah haji (amir al-hajj), penjaga kakbah, pemegang tugas siyāqah (kelola air dan
air zamzam ), penjaga tanah haram, petugas hadyi (binatang sembelihan), dan para deklarator
pengumuman penting dari negara.15
d) Manajemen Keuangan (finansial)
Tata kelola ekonomi dan keuangan yang berlandasan etika Islam memastikan
pertumbuhan ekonomi yang cepat dan berdaya saing. Untuk merangsang pertumbuhan
ekonomi dan memperluas jaringan investasi, Madinah merencanakan langkah keuangan yang
jitu untuk mendorong usaha rakyat (sektor riil) dalam bidang pertanian dan perdagangan serta
13
Ella, Tasseron (1998), Biographies of the Prophet‟s Companions and their Successors, Albany: State
Univesity of New York Press, hlm. 259.
14
Hammadah, Faruk (1998), Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah, Jakarta: Gema Insani, hlm. 120.
15
Ibn al-Athir, „Izz al-Din (1970), Usud al-Ghabah fi Ma‟rifat al-Sahabah, Jilid 2, Syu‟ub, Kairo, hlm. 56.

5
menggerakkan kemampuan mereka menjadi masyarakat maju yang menguasi ekonomi dan
penghayatan Islam sebagai sistem hidup yang menyeluruh.16 Terbukti kemudian, lahir
konglomerat-konglomerat tangguh semisal Usman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf
dengan tujuan untuk menjadikan Madinah sebagai pusat perdagangan Islam internasional di
Semenanjung Arab, dan dibangun pasar-pasar untuk merangsang kewirausahaan sebagai
salah satu pemicu pertumbuhan ekonomi.17
Masyarakat Madinah yang kemudian menjadi “citizen” yang lahir dari sistem politik
baru, masyarakat kosmo yang melebur dari spirit Muhajirin yang mayoritas pedagang, dan
Anshar yang mayoritas petani, sudah cukup untuk mengenal konsep ekonomi dan paham
bahwa sumber pendapatan negara perlu senantiasa ditingkatkan untuk memperkuat daya
tahan dan daya saing ekonomi dalam menghadang tantangan global dan regional. Sistem
keuangan negara Islam menampilkan corak perdagangan dan investasi semua ini merangsang
pertumbuhan dan mendorong peningkatan belanja dalam negeri dan pencapaian tahap
kematangan ekonomi yang lebih meyakinkan.18 Kerja sama regional dan internasional yang
menguatkan daya tahan dan kekuatan ekonomi negara yang menyumbang sumber pendapatan
baitul mal berupa infak, sadaqah, rampasan perang, tanah, pungutan jizyah, beacukai, dan
pendapatan dari hasil pengawasan wilayah.
e) Strategi Militer
Untuk melanggengkan kekuasaan yang memberikan kemakmuran dan menjanjikan
masa depan yang cemerlang bagi eksistensi sebuah negara agama secara berkesinambungan,
memerlukan corak hubungan dan pertalian politik yang kental. Hubungan dengan berbagai
kabilah, komunitas, dan entitas lain telah menyumbang konsesi dan apresiasi ke arah
hubungan yang lebih erat dan kokoh utamanya untuk daya tahan negara dalam memupuk
hubungan global yang lebih menjanjikan stabilitas. Reformasi model pemerintahan pada
akhirnya juga mesti diarahkan pada kebijakan militer untuk menciptakan angkatan perang
yang terlatih, maju, dan disegani lawan.19
Formasi angkatan perang atau tentara Islam meniscayakan pembentukan pasukan
pejuang yang konstruktif dengan penerapan sistem pertahanan perbagai ini dari panglima
angkatan perang (umarā’ al-saraya), pasukan khusus dan kesatuan garda terlatih („arz),
pengurusan senjata (alat perang) dan angkutan perang atau kuda (aṣhāb al-silah wa al-fars),
angkatan sayap (umarā’al-khamis), pengawal dan penjaga malam (haras), pembawa bendera
dan panji-panji (aṣhāb al-awiyah wa al-rayat), pasukan peninjau yang mampu menginviltrasi
(tali’ah), pasukan pengintip („uyun), pemandu arah (dalil), pegawai urusan rampasan dan
tawanan perang, dan pengawal pribadi.20
Angkatan laut juga turut mendapat perhatian, dan turut menyumbang tegaknya negara
hukum di rantau Afrika di bawah pimpinan „Alqamah bin Mujazzi yang mewakafkan dirinya
untuk perjuangan Islam bersama tiga ratus orang pejuang lain yang menyeberang ke selatan
di Ṣu’abah dan memberantas habis kezaliman tentara Habasyah (Etiopia) yang membuat
kekacauan di sana. Mereka menaiki marākib (perahu) dari pantai Jeddah, dan menyeberang

16
Syauqi, „Abdul Mun‟im (1981), Mujtama‟ al-Madinah: al-Ijtima‟ al-Hadari, Beirut: Dar al-Nahdah al-
Arabiyyah, hlm. 329.
17
Abu Faris, 1995, hlm. 213.
18
Haykal, Muhammad Husayn (1998), Sejarah Hidup Nabi Muhammad Saw, Singapura: Pustaka Nasional,
hlm. 345.
19
Taimiyyah, ibn Ahmad „Abd al-Halim, (1992), Fiqh al-Jihad, Beirut: Dar al-Fikr al-„Arabi, hlm. 126.
20
Waqidi, Muhammad b. Umar (1856), al-Maghazi, Calcutta: Matba‟ah bibi Mashi, hlm. 241.

6
ke Pulau Tengah di Laut Merah dan mengikrarkan perjuangan membawa perubahan secara
aman dan menerapkan risalah dengan jalan dakwah dan damai.21
Sementara hak keistimewaan para pejuang Islam dipertahankan, namun
pelaksanaannya dirombak dan dievaluasi kembali untuk menjamin peluang dan kesempatan
kepada banyak orang untuk menggalakkan keikutsertaan rakyat di segenap lapisan demi
menjaga kualitas atau mutu pertahanan rakyat dan negara serta memberdayakan kehidupan. 22
Madinah lalu bergelimang dengan kebebasan, keamanan, keadilan, dan keterampilan politik
dengan pertumbuhan ekonomi yang mantap dan kehebatan mengatur prinsip dan dasar-dasar
politik, memperlengkap kekuatan bersenjata, dengan ketinggian moral agama yang kokoh
dan menjadi kekuatan raksasa yang kemudian berkembang sedemikian hebat dan cukup cepat
dalam sejarah peradaban manusia.23
Khalifah

Khalifah (bahasa Arab: ; khalīfah) ada dua definisi yaitu gelar makhluk yang akan
diciptakan Allah di bumi, yaitu Manusia, untuk menggantikan makhluk yang ada
sebelumnya. Definisi kedua adalah gelar yang diberikan untuk penerus Nabi Muhammad
dalam kepemimpinan umat Islam. Wilayah kewenangan khalifah disebut kekhalifahan atau
Khilafah (bahasa Arab: ; khilāfah). Gelar lain yang juga melekat dengan khalifah adalah
amīr al-mu'minīn (‫ )ال مؤم ن ن أم ر‬Amirul Mukminin atau "pemimpin orang-orang yang
beriman yang telah dibaiat dengan hukum Kitabillah wa Sunnah", meski pada
keberjalanannya, gelar ini juga disandang oleh pemimpin Muslim selain khalifah.

Sepanjang sejarahnya, peran khalifah dan bentuk kekhalifahan memiliki beragam


corak yang sangat dipengaruhi keadaan politik dan keagamaan pada masa tersebut. Dilihat
dari latar belakang khalifah, kekhalifahan dibagi ke dalam empat periode: Kekhalifahan
Rasyidin (632–661), Kekhalifahan Umayyah (661–750), Kekhalifahan Abbasiyah (750–1258
dan 1261–1517), dan Kekhalifahan Utsmaniyah (1517–1924).

Kekhalifahan dimulai seiring dibaiatnya Abu Bakar sebagai pemimpin umat Islam
tepat setelah meninggalnya Nabi Muhammad pada tahun 632. Abu Bakar dan tiga
penerusnya, semuanya sahabat Nabi dan memiliki hubungan kekerabatan dengan Nabi
Muhammad, dikelompokkan sebagai Khulafaur Rasyidin atau Kekhalifahan Rasyidin.
Pemilihan keempat khalifah pertama ini didasarkan melalui musyawarah dan kepantasan
pribadi calon sehingga Kekhalifahan Rasyidin kerap dipandang sebagai bentuk awal
demokrasi Islam.

Fungsi khalifah sebagai kepala negara lenyap seiring jatuhnya Baghdad oleh Mongol
pada 1258. Keturunan Abbasiyah yang tersisa melanjutkan tampuk kekhalifahan di Mesir
yang saat itu di bawah kekuasaan Kesultanan Mamluk. Tanpa wilayah kekuasaan dan
kekuatan politik yang memadai, khalifah hanya berperan sebagai pemersatu umat Islam
secara simbolis sehingga khalifah pada periode ini dikenal sebagai "khalifah bayangan."

21
Ahmed, Gulzar (1986), The Battles of the Prophet of Allah, Lahore: Islamic Publications, hlm. 219
22
Tuhami, Muhammad Hassan (1992), Suyuf al-Rasul wa Uddah Harbuhu, Kairo: Hajar, hlm. 12
23
Zamani, Ahmad (1991), Buhuth Hawla al-Nizam al-„Askari fi al-Islam, Beirut: Dar Islamiyyah, hlm. 216.

7
Khalifah berbeda dengan sultan. Bila khalifah merupakan pemimpin seluruh umat
Islam (baik secara hierarkis atau hanya sekadar simbolis), sultan merupakan kepala dari suatu
negara Muslim tertentu dan bukan pemimpin umat Muslim secara keseluruhan. Kedua gelar
ini kerap disamakan pada masa-masa sekarang, sangat mungkin lantaran penguasa Utsmani
(negara adidaya Muslim terakhir pada milenium kedua) memegang kedua gelar ini secara
bersamaan. Penguasa Utsmani merupakan seorang sultan dalam kapasitasnya sebagai kepala
negara Utsmaniyah dan sebagai khalifah dalam artian pemimpin simbolis seluruh umat Islam.

Kerajaan

Sultan merupakan gelar dalam dunia Muslim yang digunakan untuk merujuk pada
kedudukan tertinggi dalam pemerintahan, termasuk dalam kerajaan Islam. Dalam kerajaan
bercorak Islam, raja yang berkuasa bergelar sultan. Meskipun sama-sama merujuk pada
kepala monarki, sultan mengandung makna Islam di dalamnya. Sultan berarti kekuatan,
kewenangan, dan kepemimpinan, yang diturunkan dari kata sultah, yang bermakna
wewenang. Wilayah yang dikuasai oleh sultan disebut sebagai kesultanan. Biasanya, sosok
yang diangkat sebagai pemimpin kerajaan Islam masih keturunan bangsawan. Gelar sultan
sendiri pertama kali diberikan kepada Khalifah Al-Mu'tashim (833-842) dari Dinasti
Abbasiyah.

Sistem pemerintahan berdasarkan hukum Islam Selain gelar sultan untuk pemimpin
kesultanan, dalam bidang pemerintahan ciri-ciri kerajaan yang bercorak Islam antara lain
menggunakan ajaran agama Islam berupa Al Quran dan hadis sebagai dasar pelaksanaan
pemerintahan. Al Quran dan hadis merupakan dua hal pokok dalam ajaran Islam yang
digunakan sebagai pedoman hidup umat Muslim. Oleh karena itu, Al Quran dan hadis juga
dijadikan dasar utama dalam membuat kebijakan atau hukum di kerajaan. Kemudian, ketika
mengambil suatu keputusan, baik yang berkaitan dengan agama dan pemerintahan, sultan
biasanya juga meminta pendapat para ulama. Hal ini dilakukan agar keputusan atau kebijakan
yang diterapkan kesultanan dapat diterima rakyat.

Kerajaan sebagai pusat ekonomi dan pengembangan agama Selain mengatur roda
pemerintahan demi keberlangsungan rakyatnya, kerajaan Islam juga berfungsi sebagai pusat
perhatian, ekonomi, dan pengembangan agama. Para sultan, secara langsung ataupun tidak,
akan mengenalkan ajaran Islam kepada penduduk di wilayah kerajaan. Sementara penyebaran
Islam secara luas biasanya dilakukan oleh ulama dengan cara dakwah yang disampaikan ke
daerah-daerah. Dengan demikian, kerajaan Islam tidak hanya sebagai penopang
perekonomian dan pemerintahan, melainkan juga sebagai sarana pengembangan agama
Islam.

Demokrasi

Demokrasi adalah sebuah tema yang banyak dibahas oleh para ulama dan intelektual Islam.
Untuk menjawab dan memosisikan demokrasi secara tepat kita harus terlebih dahulu
mengetahui prinsip demokrasi berikut pandangan para ulama tentangnya.

Prinsip Demokrasi

8
Menurut Sadek, J. Sulaymân, dalam demokrasi terdapat sejumlah prinsip yang menjadi
standar baku. Di antaranya:

 Kebebasan berbicara setiap warga negara.


 Pelaksanaan pemilu untuk menilai apakah pemerintah yang berkuasa layak didukung
kembali atau harus diganti.
 Kekuasaan dipegang oleh suara mayoritas tanpa mengabaikan kontrol minoritas
 Peranan partai politik yang sangat penting sebagai wadah aspirasi politik rakyat.
 Pemisahan kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif.
 Supremasi hukum (semua harus tunduk pada hukum).
 Semua individu bebas melakukan apa saja tanpa boleh dibelenggu.

Maka perlu dirumuskan sebuah sistem demokrasi yang sesuai dengan ajaran Islam. Yaitu di
antaranya:

1. Demokrasi tersebut harus berada di bawah payung agama.


2. Rakyat diberi kebebasan untuk menyuarakan aspirasinya
3. Pengambilan keputusan senantiasa dilakukan dengan musyawarah.
4. Suara mayoritas tidaklah bersifat mutlak meskipun tetap menjadi pertimbangan
utama dalam [Link] kasus Abu Bakr ketika mengambil suara
minoritas yang menghendaki untuk memerangi kaum yang tidak mau membayar
zakat. Juga ketika Umar tidak mau membagi-bagikan tanah hasil rampasan perang
dengan mengambil pendapat minoritas agar tanah itu dibiarkan kepada pemiliknya
dengan cukup mengambil pajaknya.
5. Musyawarah atau voting hanya berlaku pada persoalan ijtihadi; bukan pada
persoalan yang sudah ditetapkan secara jelas oleh Alquran dan Sunah.
6. Produk hukum dan kebijakan yang diambil tidak boleh keluar dari nilai-nilai
agama.
7. Hukum dan kebijakan tersebut harus dipatuhi oleh semua warga

Akhirnya, agar sistem atau konsep demokrasi yang islami di atas terwujud, langkah yang
harus dilakukan:

 Seluruh warga atau sebagian besarnya harus diberi pemahaman yang benar tentang
Islam sehingga aspirasi yang mereka sampaikan tidak keluar dari ajarannya.
 Parlemen atau lembaga perwakilan rakyat harus diisi dan didominasi oleh orang-
orang Islam yang memahami dan mengamalkan Islam secara baik.

Sosialisasi

Secara luas, pengertian sosialisasi adalah suatu proses interaksi dan pembelajaran
yang dilakukan seorang manusia sejak lahir hingga akhir hayatnya di dalam suatu budaya
masyarakat. Sedangkan, pengertian sosialisasi secara sempit berarti sebuah proses

9
pembelajaran dari manusia agar dapat mengenali lingkungan yang kelak akan ia hidupi, baik
lingkungan fisik ataupun sosial.

Secara umum, pengertian sosialisasi adalah suatu proses belajar-mengajar dalam


berperilaku di masyarakat. Beberapa orang juga mengatakan bahwa sosialisasi adalah proses
penanaman nilai, kebiasaan, dan aturan dalam bertingkah laku di masyarakat dari satu
generasi ke generasi lainnya. Dalam proses sosialisasi sendiri, manusia disesuaikan dengan
peran dan status sosial masing-masing di dalam kelompok masyarakat.

Dengan adanya proses sosialisasi, maka seseorang bisa mengetahui, memahami


sekaligus menjalankan hak dan kewajibannya berdasarkan peran status masing-masing sesuai
budaya masyarakat. Selanjutnya, dalam proses pengenalan hak dan kewajiban seorang
manusia dewasa, setiap individu atau manusia perlu melakukan sosialisasi untuk mempelajari
dan mengembangkan pola-pola perilaku sosial bersama anggota masyarakat lainnya.

10
DAFTAR PUSTAKA

Lukman Thaib (1998), Politik menurut Persepektif Islam, Kajang: Synergymate Sdn. Bhd.,
hlm. Xii.
Mawdudi, Abul A‟la (1979), Islamic State and Constitution, London: Islamic Council of
Europe, hlm. 14.
Sakhawi, Syams al-Din Muhammad ibn „Abd al-Rahman (1993), al-Tuhfah al-Latifah fi
Tarikh al-Madinah al-Syarifah, Beirut: Dar Kutub „Ilmiyyah, hlm. 23.
Matta, Muhammad Anis (2002), Model Manusia Muslim, Pesona Abad 21, Syamil Cipta
Media, Bandung, hlm. 5.
Mustafa, Ramadhan (1991), Intisari Serah Muhammad bin Abdullah Saw, Kuala Lumpur:
A.S. Noordeen, hlm. 65.
Khushani, Mas‟ud Muhammad, (1969), Riwayat ibn Hisham, Jilid 1, Diemer, Kairo, hlm.
504.
Umari, Akram Diya‟ (1991), Madinah Society at the Time of the Prophet, Herndon, Virginia:
International institute of Islamic Thought, hlm. 268.
Ali, Rajab Muhammad, (2000) al-Masjid al-Nabawi bi al-Madinah al-Munawwarah wa
Rusumaha fi al-Fann al-Islami, Dar Misry, Kairo, hlm. 140.
Qairuwani, Abdullah ibn Abd al-Rahman (1999), A Madinah view on the Sunnah, Courtesy,
Wisdom Battles and History, London: Taha Publishers, hlm. 12.
Mastu, Muhyiddin (2000), Manahij al-Ta‟lif fi al-Sirah al-Nabawiyya khilal al-Qurun al-
Arba‟ah al-Ula min al-Hijrah al-Nabawiyyah, Damaskus: Dar al-Kalim al-Tayyib,
hlm. 194.
Tabari, Abu Jakfar Muhammad ibn Jarir (1992), Tarikh al-Rasul wa al-Muluk, Jilid 2, Beirut:
Dar al-Fikr, hlm. 571.
Abu Maya al-Hafiz, (2002) Sirah dan Riwayat Hidup Nabi Muhammad Saw, Haraf, Kuala
Lumpur, hlm. 34.
Ella, Tasseron (1998), Biographies of the Prophet‟s Companions and their Successors,
Albany: State Univesity of New York Press, hlm. 259.
Hammadah, Faruk (1998), Kajian Lengkap Sirah Nabawiyah, Jakarta: Gema Insani, hlm.
120.
Ibn al-Athir, „Izz al-Din (1970), Usud al-Ghabah fi Ma‟rifat al-Sahabah, Jilid 2, Syu‟ub,
Kairo, hlm. 56.
Syauqi, „Abdul Mun‟im (1981), Mujtama‟ al-Madinah: al-Ijtima‟ al-Hadari, Beirut: Dar al-
Nahdah al-Arabiyyah, hlm. 329.
Abu Faris, 1995, hlm. 213.
Haykal, Muhammad Husayn (1998), Sejarah Hidup Nabi Muhammad Saw, Singapura:
Pustaka Nasional, hlm. 345.
Taimiyyah, ibn Ahmad „Abd al-Halim, (1992), Fiqh al-Jihad, Beirut: Dar al-Fikr al-„Arabi,
hlm. 126.
Waqidi, Muhammad b. Umar (1856), al-Maghazi, Calcutta: Matba‟ah bibi Mashi, hlm. 241.
Ahmed, Gulzar (1986), The Battles of the Prophet of Allah, Lahore: Islamic Publications,
hlm. 219
Tuhami, Muhammad Hassan (1992), Suyuf al-Rasul wa Uddah Harbuhu, Kairo: Hajar, hlm.
12
Zamani, Ahmad (1991), Buhuth Hawla al-Nizam al-„Askari fi al-Islam, Beirut: Dar
Islamiyyah, hlm. 216.

11

Anda mungkin juga menyukai