PENGARUH KOMUNIKASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN
DINAS LINGKUNGAN HIDUP DAN KEBERSIHAN
KABUPATEN BERAU
Disusun Oleh:
KRISTIANI TUMBASA
NIM : 18610076
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BERAU
TANJUNG REDEB
2023
PENGARUH KOMUNIKASI TERHADAP KINERJA KARYAWAN
DINAS LINGKUNGAN HIDUP DAN KEBERSIHAN
KABUPATEN BERAU
KRISTIANI TUMBASA
NIM: 18610076
Skripsi diajukan sebagai salah satu syarat
Untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
Pada
Universitas Muhammadiyah Berau
FALKUTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BERAU
2023
RINGKASAN
KRISTIANI TUMBASA, Pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja
Karyawan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau.
Dibawah bimbingan Bapak Nahwani Fadelan,SE.,MM sebagai pembimbing
satu dan Bapak Shandy Barkah,[Link],[Link] sebagai pembimbing dua.
Tujuan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis ,
Pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja Karyawan Dinas Lingkungan
Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau. Sampel pada penelitian ini adalah
56 responden.
Berdasarkan hasil penelitian di ketahui bahwa komunikasi berpengaruh
signifikan terhadap kinerja karyawan Dinas Lingkungan Hidup dan
Kebersihan Kabupaten Berau. Nilai R Square sebesar 36,2% sedangakan
sisanya 63,8% dipengaruhi oleh variabel yang tidak diteliti dalam
penelitian.
Kata kunci :Komunikasi , KinerjaKaryawan
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
A. DATA PRIBADI
1. Nama penulis : Kristiani Tumbasa
2. Tempa tLahir : Berau
3. Tanggal Lahir : 31 Agustus 2000
4. Jenis Kelamin : Perempuan
5. Agama : Kristen
6. Pekerjaan :-
7. Alamat : Tanjung Perangat, Jl. Pembanguan I,
RT 05
8. Riwayat Pendidikan : 1. Tamat SD 003 Sambaliung 2012
2. Tamat SMP Negeri 21 Berau 2015
3. Tamat SMA Negeri 12 Berau 2018
4. Kuliah di UM Berau tahun 2018
9. Riwayat Pekerjaan : -
B. DATA ORANG TUA
1. Nama Ayah : Marthen Tumbasa
2. Nama Ibu : Martha Lekbo
vi
vii
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur atas kehadirat Tuhan maha
kuasa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini. Skripsi dengan judul “ Pengaruh
Komunikasi Terhadap Kinerja Kayawan Dinas Lingkungan Hidup dan
Kebesihan Kabupaten Berau.”
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada :
1. Rektor Universitas Muhammadiyah Berau beserta seluruh
dosen dan staf akademik yang mendidik dan membimbing
penulis selama di bangku kuliah.
2. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Muhammadiyah Berau.
3. Ketua Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah
Berau.
4. Bapak Nahwani Fadelan, SE.,MM. dan Bapak Shandy
Barkah,[Link],[Link] selaku dosen pembimbing I dan
pembimbing II yang banyak memberikan arahan dan
bimbingan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
viii
5. Kepada orang tua serta keluarga tercinta yang begitu banyak
memberikan dukungan dan doa dalam penyelesaian penulisan
skripsi ini.
6. Kapada teman-teman terbaik yang selalu ada dan selalu
memberikan dukungan dan semangat akhirnya penulis sampai
disini dan hanya bisa memanjatkan do’a kepada Tuhan yang
Maha Esa atas amal baik dan segala bantuan yang diberikan
kepada penulis mendapatkan balasan-Nya, Amin.
Tanjung Redeb, 19 Januari 2022
Kristiani Tumbasa
ix
DAFTARISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN ..............................................................................ii
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ................................................iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .......................................iv
RINGKASAN ........................................................................................................v
RIWAYAT HIDUP ...............................................................................................vi
KATA PENGANTAR...........................................................................................vii
DAFTAR ISI .........................................................................................................ix
DAFARTABEL .....................................................................................................xii
DAFTARGAMBAR..............................................................................................xiii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................1
A. Latar Belakang ..................................................................................1
B. Rumusan Masalah.............................................................................5
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ......................................................5
D. Sistematika Penulisan .......................................................................6
x
BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................8
A. Kajian Teori ......................................................................................8
1. Manajemen Sumber Daya Manusia ............................................8
2. Kinerja Karyawan .......................................................................13
3. Komunikasi .................................................................................19
B. Kajian Empiris ..................................................................................31
C. Kerangka Pikiran Penelitian .............................................................34
D. Hipotesis ...........................................................................................35
BAB III METODE PENELITIAN ....................................................................36
A. Definisi Operasional .........................................................................36
B. Unit Analisis ,Populasi dan Sampel .................................................38
C. Jenis Data dan Sumber data ..............................................................39
D. Metode Pengumpulan Data ..............................................................41
E. Alat Analisis .....................................................................................41
BAB IV HASIL PENELITIAN ...........................................................................47
A. Gambaran Umum Dinas Lingkungan Hidup dan Kebesihan
Kabupaten Berau ..............................................................................47
B. Struktur Organisasi ...........................................................................51
C. Bidang – Bidang Kerja .....................................................................52
xi
BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN .........................................................100
A. Analisi ...............................................................................................100
B. Pembahasan ......................................................................................108
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ..............................................................109
A. Kesimpulan .......................................................................................109
B. Saran .................................................................................................109
DAFTAR PUSTAKA
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Profil Responden Berdasarkan Golongan ..................... 98
Table 2 : Profil Responden Berdasarkan Pendidikan...................... 98
Tabel 3 : Hasil Uji Validitas Komunikasi ......................................101
Table 4 : Hail Uji Validitas Kinerja Karyawan ..............................101
Table 5 : Hasil Uji Reabilitas...........................................................103
Table 6 : Hasil Uji Analisis Regresi Linier Berganda ..................104
Table 7 : Hasil Uji Kolerasi dan Determinasi ...............................105
Table 8 : Hasil Uji t ..........................................................................107
xiii
DAFTAR GAMBAR
Nomor Tubuh Utama Halaman
1. Kerangka Pikiran Penelitian............................................................... 34
2. Struktur Organisasi Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan
Kabupaten Berau.................................................................................. 51
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sumber daya manusia tidak terpisah dengan manajemen
SDM. Sebagai faktor produksi dan atau aset suatu organisasi.
Sumber daya manusia akan sangat ditentukan oleh manajemen
sumber daya manusia (MSDM) itu sendiri. MSDM kovensional
memandang SDM adalah faktor produksi sedangkan MSDM
strategic melihat SDM adalah aset paling berharga bagi
perusahaan/organisasi. Dengan MSDM yang tepat, oraganisasi
akan berdaya guna dan faktor pada pencapaian tujuan organisasi.
Bicara tentang manajemen SDM kita bicara efektifitas, fisiensi,
produktifitas, kualitas kerja, kompetensi, keunggulan kompetitif,
dan kinerja. Dengan MSDM yang efektif, maka peran-peran
SDM mampu berkinerja tinggi dan menjadikan organisasi
memiliki daya saing berkembang dalam tujuan organisasi
strategik.
Dalam kehidupan organisasi, para anggota organisasi tidak
dapat dan memang tidak mungkin hidup terisolasi baik dengan
rekan kerjanya maupun dari lingkungannya. Berbagai faktor
2
menjadi motif seorang individu dalam menjalankan tugas dalam
organisasi.
Tujuan yang akan dicapai, strategi yang hendak dijalankan,
keputusan yang harus dilaksanakan, rencana yang harus
direalisasikan, program kerja yang harus dilaksanakan, maka
kesemua itu memerlukan komunikasi yang baik antar individu
maupun antar satuan kerja.
Dengan demikian komunikasi dapat dikatakan bagian
penting yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia
sebagai makhluk sosial. Dengan berkomunikasi, manusia dapat
saling berhubungan satu sama lain, baik dalam kehidupan sehari-
hari di rumah tangga, di tempat kerja, di pasar dan dimana saja
manusia berada.
Salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan
suatu organisasi adalah kinerja karyawan. Kinerja karyawan
merupakan suatu tindakan yang dilakukan karyawan dalam
melaksanakan pekerjaan yang diberikan perusahaan (Handoko
2001, h.135). Setiap perusahaan selalu mengharapkan
karyawannya mempunyai prestasi, karena dengan memiliki
karyawan yang berprestasi akan memberikan sumbangan yang
optimal bagi perusahaan. selain itu, dengan memiliki karyawan
3
yang berprestasi perusahaan/organisasi dapat meningkatkan kinerja
perusahaannya.
Masalah sumber daya manusia menjadi tantangan sendiri
bagi manajemen karena keberhasilan manajemen dan yang lain
itu tergantung pada kualitas sumber daya manusia. Apabila
individu dalam perusahaan yaitu SDM-nya dapat berjalan efektif
maka perusahaan tetap berjalan efektif. Dengan kata lain
kelangsungan suatu peusahaan itu di tentukan oleh kinerja
karyawan.
Berbagai upaya dilakukan organisasi/perusahaan dalam
meningkatkan kinerja karyawan. Baik memberikan kompensasi
yang sesuai maupun memberikan kesempatan berkalir yang
lebih baik.
Komunikasi dalam suatu organisasi merupakan faktor yang
sangat penting dalam menjalani interaksi antara satu dengan yang
lainnya, apabila tidak adanya suatu komunikasi seluruh individu
dalam organisasi tersebut tidak dapat mengetahui apa yang harus
mereka lakukan untuk organisasinya, pemimpin tidak dapat
menerima masukkan informasi dan para penyedia tidak dapat
memberikan intruksi. Seorang pemimpin yang baik harus dapat
menyadari bahwa mereka tidak memiliki semua jawaban dan
berusaha melatih kembali dirinya sendiri dan mempertajam
4
keahliannya dalam memimpin dan berkomunikasi dengan
karyawan.
Menurut Siagan (2002) bahwa kinerja karyawan di
pengaruhi beberapa faktor yaitu: gaji, lingkungan kerja, budaya
organisasi, disiplin kerja, kepuasan kerja, komunikasi dan faktor-
faktor lainnya.
Kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan adalah
suatu instansi yang dinaungi langsung oleh kadis dan bergerak di
bagian penataan RTH (Ruang Terbuka Hijau) dan mengumpulkan
data perkecamatan.
Kemampuan SDM dan manajemen SDM yang baik sangat
di butuhkan oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebesihan
Kabupaten Berau. Oleh karena itu meningkatkan kinerja
karyawan menjadi sangat penting demi tercapaintya fungsi dan
tujuan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan. Dinas Lingkungan
Hidup dan Kebersihan selalu berusaha meningkatkan kinerja
karyawan dengan membangun komunikasi yang baik bagi atasan
dan bawahan dalam berkerja. Untuk mengetahui seberapa besar
pengaruh komunikasi terhadap kinerja karyawa Dinas
Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau , maka
penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul:
5
“Pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja Karyawa Dinas
Lingkungan Hidup dan Kebesihan Kabupaten Berau,
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di kemukakan diatas, makan
secara terperinci masalah-masalah di atas maka dapat di peroleh
rumusan penelitian sebagai berikut:
Bagaimana pengaruh komunikasi terhadap kinerja
karyawan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebesihan
Kabupaten Berau,
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
Untuk mengetahui pengaruh komunikasi terhadap kinerja
karyawan pada kantor Dinas Lingkungan Hidup dan
Kebesihan Kabupaten Berau.
Kegunaan penelitian ini adalah :
1. Secara teoritis, hasil penelitian ini di harapkan akan dapat
mengembangkan keilmuan di bidang manajemen sumber
daya manusia terutama di bidang komunikasi kerja dan
kinerja karyawan.
2. Secara praktik, hasil penelitian ini di harapkan dapat
menjadi masukan bagi kantorn Dinas Lingkungan Hidup
6
dan Kebesihan Kabupaten Berau, dalam meningkatkan
kinerja karyawan mengembangkan potensi sumber daya
manusia yang dimiliki.
D. Sistematika Penulisan
Bab satu Pendahuluan, pada bab ini dijabarkan
mengenai latar belakang penelitian, rumusan masalah yang
menjadi pokok bahasa dalam penelitian ini, tujuan dan
kegunaan penelitian serta sistematika penulisan.
Bab dua Kajian Pustaka, pada bab ini memberikan
gambaran secara umum dan menyeluruh mengenai pokok
permasalahan penelitian dengan menyajikan kajian teoritis
dari berbagai sumber yang melandasi penulisan ini,
selanjutnya dikemukakan kajian empiris, karangka piker
penelitian dan hipotesis.
Bab tiga, Metode Penelitian pada bab ini diuraikan
mengenai definisi operasional, unit analisis, populasi dan
sampel, jenis dan sumber data, teknik pengumpulan data
dan alat analisis.
Bab empat Hasil Penelitian, pada bab ini disajikan
data hasil penelitian yang diperoleh peneliti selama
melakukan penelitian pada kantor Dinas Lingkungan Hidup
dan Kebesihan Kabupaten Berau, antara lain gambaran
7
umum perusahaan, struktur organisasi perusahaan, kebijakan-
kebijakan perusahaan/organisasi serta penyajian data lainnya
yang relavan dan berhubungan langsung dengan
permasalahan dalam penelitian ini.
Bab lima Analisis dan Pembahasan, pada bagian
analisisdiuraikan secara rinci mengenai data yang telah
didapatkan dari unit aqnalisi yang menganalisis data hasil
penelitian tersebut guna menguji hipotesis yang telah
diajukan. Pada bagian pembahasan dikemukakan pembahasan
secara panjang lebar tentang hasil dari pengujin hipotesis.
Bab enam Kesimpulan dan Saran, merupakan
kesimpulan dari hasil analisis yang telah dilakukan serta
saran penulis sebagai bahan masukan bagi kantor Dinas
Lingkungan Hidup dan Kebesihan Kabupaten Berau, dalam
upaya untuk meningkatkan kinerja kerja karyawan,.
8
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Manajemen Sumber Daya Manusia
Manajemen adalah ilmu daan seni mengatur proses
pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya
lainnya secara efektif dan efisien unruk mencapai suatu
tujuan tertentu. MSDM adalah suatu bidang manajemen yang
khusus memepelajari hubungan dan peranan manusia dalam
organisasi perusahaan. Unsur MSDM adalah manusia yang
merupakan tenaga kerja pada perusahaan. Dengan demikian
yang dipelajari MSDM ini hanyalah masalah yang
berhubungan dengan tenaga kerja manusia saja.
Menurut prinsip syaiah, kegiatan manajemen harus
dilandasi semnagat beribadah kepada Tuhan Sang Maha
Pencipta, beusaha memaksimal mungkin untuk kesejahteraan
bersama, bukan untuk kepentingan golongan apalagi kepentingan
sendiri.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pemasaran
yang benar dalam islam, sepanjang dalam peroses
transaksinya terpelihara, dari hal-hal terlarang oleh ketentuan
9
syaiah. AL-Quran juga mengatur kegiatan kehidupan atau
muamalah. Islam juga berpendapat bahwa bekerja merupakan
ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah SWT apabila
dilakukan dengan jujur dan ikhlas. Jasad kita diciptakan dari
tanah dan saripati tanah serta ruh berasal dari Allah SWT. Dua
perpaduan ini membuat manusia memiliki dua kebutuhan yang
harus dipenuhi, kebutuhan jasad dan kebutuhan ruh. Allah SWT
berfirman :
Q.S At-Taubah ayat 105:
Artinya: “Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat
pekerjaanmu, begitu juga Rasul-Nya dan orang-orang mukmin,
dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui
yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa
yang telah kamu kerjakan.”
MSDM adalah bagian dari manajemen. Oleh karena itu,
teori-teori manajemen umum menjadi dasar pembahasannya.
MSDM lebih memfokuskan pembahasannya.
10
Menurut Hasibuan (2014:21-23), fungsi manajemen
sumber daya manusia meliputi :
a. Perencanaan
Perencanaan (human resources planning) adalah
merencanakan tenaga kerja secara ektif secara efesien
agar sesuai dengan kebutuhan perusahaan dalam
membantu terwujudnya tujuan. Perencanaan dilakukan
dengan menetapkan program kepegawaian.
b. Pengorganisasian
Pengorganisasian adalah kegiatan untuk
mengorganisasi semua karyawan dengan menetapkan
pembagian kerja, hubungan kerja, delegasi wewenang,
integrasi, dan kordinasi dalam bagan organisasi
(organization chaet). Organisasi hanya merupakan alat
untuk mencapai tujuan. Dengan organisaai yang baik
akan membantu terwujudnya tujuan efektif.
c. Pengarahan
Pengarahan (directing) adalah kegiatan mengarahkan
semua karyawan, agar mau bekerja sama dan bekerja
efektif serta efisien dalam membantu tercapainya tujuan
perusahaan, keryawan, dan masyarakat. Pengarahan
11
dilakukan pimpinan dengan menugaskan bawahan agar
mengerjakan semua tugasnya dengan baik.
d. Pengendalian
Pengendalian (controlling) adalah kegiatan
mengendalikan semua karyawan, agar mentaati peraturan-
peraturan perusahaan dan bekerja sesuai dengan rencana.
Pengendalian karyawan meliputi kehadiran, kedisiplinan,
perilaku, kerja sama, pelaksanaan pekerjaan, dan menjaga
situasi lingkungan pekerjaan.
e. Pengadaan
Pengadaan (procurement) adalah proses penarikan,
seleksi, penempatan, orientasi, dan induksi untuk
mendapatkan keryawan yang sesuai dengan kebutuhan
perusahaan. Pengadaan yang baik akan membantu
terwujudnya tujuan.
f. Pengembangan
Pengembangan (development) adalah proses
peningkatan keterampilian teknis, toretis, konseptual, dan
moral karyawan melalui pendididkan dan pelatihan.
Pendidikan dan pelatihan yang diberikan harus sesuai
dengan kebutuhan pekerjaan masa kini maupun masa
depan.
12
g. Kompensasi
Kompensasi (compensation) adalah pemberian balas
jasa langsung (direct) dan tidak langsung (indirect), uang
atau barang kepada karyawan sebagai imbalan jasa yang
diberikan kepada perusahaan. Prinsip kompensasi adalah
adil dan layak.
h. Pengintegrasian
Pengintegrasian (integration) adalah kegiatan untuk
mempersatukan kepentingan perusahaan dan kebutuhan
karyawan agar, tercipta kerja sama yang serasi dan saling
menuntungkan. Perusahaan memperoleh laba, karyawan
dapat memenuhi kebutuhan dari hasil pekerjaannya.
i. Pemeliharaan
Pemeliharaan (maintenance) adalah kegiatan untuk
memelihara atau meningkatkan kondisi fisik, mental, dan
loyalitas karyawan agar mereka tetap mau berkerja sama
sampai pensiun.
j. Kedisiplinan
Kedisplinan merupakan fungsi MSDM yang
terpenting dan kunci terwujudnya tujuan karena tanpa
disiplin yang baik sulit terwujud tujian yang maksimal.
Kedisplinan adalah keinginan dan kesadaran untuk
13
mentaati peraturan-peraturan perusahaan dan norma-norma
sosial.
k. Pemberhentian
Pemberhentian (separation) adalah putusnya
hubungan kerja seseorang dari suatu perusahaan.
Pemberhentian ini disebabkan oleh keinginan karyawan,
keinginan perusahaan, kontrak kerja berakhir, pensiun,
dan sebab-sebab lainnya.
2. Kinerja Keryawan
a. Pengertian Kinerja Karyawan
Kinerja dalam organisasi merupakan jawaban
berhasil atau tidaknya tujuan organisasi yang telah
ditetapkan. Para atasan dan bawahan sering tidak
memperhatikan kecuali sudah sangat buruk atau segala
sesuatu jadi serba salah.
Kinerja menurut Mangkunegara (2000:67) “Kinerja
( prestasi kerja ) adalah hasil kerja secara kualitas dan
kuantitas yang dicapai seseorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab
yang diberikan kepadanya”.
Hasibuan (2001:34) mengemukakan “ kinerja
(prestasi kerja) adalah suatu hasil kerja yang dicapai
14
seseorang dalam melaksanakan tutus-tugas yang
dibebankan kepadanya yang didasarkan atas kecakapan,
pengalaman dan kesungguhan serta waktu”.
Berdasarkan pengertian beberapa ahli diatas dapat
kita simpulkan bahwa kinerja ialah hasil kerja secara
kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh para pekerja
didasarkan atas kecakapan atau kemampuan, pengalaman,
kesungguhan, dan kecepatan dan ketepatan waktu bekerja.
Kinerja merupakan suatu kondisi yang harus
diketahui dan dikonfirmasikan kepada pihak tertentu
untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil suatu intansi
dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi
atau perusahaan serta mengetahui dampak positif dan
negatif dari suatu kebijakan operasional.
b. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Keryawan
Menurut Robert L, Mathis dan John H Jackson
(2001:82) faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja
individu tenaga kerja, yaitu:
1. Kemampuan mereka.
2. Motivasi
3. Dukungan yang diterima
15
4. Keberadaan pekerjaan yang mereka lakukan, dan
5. Hubungan komunikasi mereka dengan organisasi.
Berdasarkan pengertian diatas, penulis menarik
kesimpulan bahwa kinerja merupakan kualitas dan
kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun
kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan
oleh kemampuan alami atau kemampuan yang diperoleh
dari peroses belajar serta keinginan untuk berprestasi.
David C. Mc Cleland (1997) seperti dikutip
Mangkunegara (2001:68), berpendapat bahwa “ Ada
hubungan yang positif antra motif berprestasi dengan
pencapaian kerja”. Motif berprestasi dengan pencapaian
kerja. Motif berprestasi adalah suatu dorongan dalam diri
seseorang untuk melakukan suatu kegiatan atau tugas
dengan sebaik – baiknya agar mampu mencapai prestasi
kerja (kinerja) dengan predikat terpuji.
Selanjtnya Mc Clelland, mengemukakakan 6
karakteristik dari seseorang yang memiliki motif yang
tinggi yaitu :
1. Memiliki tanggung jawab yang tinggi
2. Berani mengambil resiko
3. Memiliki tujuan yang realistis
16
4. Memiliki rencana kerja yang menyeluruh dan
berjuang untuk merealisasi tujuan
5. Memanfaatkan umpan baik yang konkrit dalam
seluruh kegiatan kerja yang dilakukan
6. Mencari kesempatan untuk merealisasikan
rencana yang telah diprogram
Maka dapat disimpulkan bahwa faktor yang
memengaruhi kinerja antara lain :
1. Faktor Kemampuan
Secara psikologis kemempuan (ability)
pegawai pegawai dari kemampuan potesi (IQ) dan
kemampuan realita (pendidikan). Oleh karena itu
pegawai perlu ditempatkan pada pekerjaan yang
sesuai dengan keahlianya.
2. Faktor Motivasi
Motivasi terbentuk dari sikap (attiude) seorang
pegawai dalam menghadapi situasi (situation) kerja.
Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri
pegawai terarah untuk mencapai tujuan kerja. Sikap
mental merupakan kondisi mental yang mendorong
17
seseorang untuk berusaha mencapai potensi kerja
secara maksimal.
3. Faktor Komunikasi
Dengan adanya komunikasi yang efektif di
dalam organisasi akan timbul jalinan pengertian
antra atasan dan bawahan sehingga apa yang
dikomunikasikan dapat dipahami, di mengerti dan
kemudian dilaksanakan tanpa adanya keterpaksaan
dan dapat mendorong bawahan bekerja lebih
produktif dalam melaksanakan tugas-tugas dari
atasan.
c. Penilaian Kinerja
Penilaian kerja pada dasarnya merupakan faktor
kunci guna mengembangkan suatu organisasi secara
efektif dan efisien, karena adanya kebijakan atau program
yang lebih baik atas sumber daya manusia yang ada
dalam organisasi. Penilaian kinerja individu sanggat
bermanfaat bagi dinamika pertumbuhan organisasi secara
keseluruhan, melalui penilaian tersebut maka dapat
diketahui kondisi sebenarnya tentang bagaimana kinerja
karyawan.
18
Menurut Wahyudi ( 2002: 101 ) “penilaian kinerja
adalah suatu evaluasi yang dilakukan secara priodik dan
sistematis tenaga prestasi kerja / jabatan seorang tenaga
kerja. Termasuk potensi pengembangannya.”
Menurut Henry Simamora ( 338 : 2004 )
“penilaian kinerja adalah proses yang dipakai oleh
organisasi untuk mengevaluasi pelaksanaan kerja individu
karyawan”.
d. Tujuan dan Manfaat Penilaian Kinerja
Menurut Alwi ( 2001 : 187 ) secara teoritis tujuan
penelitian dikategorikan sebagai suatu yang bersifat
evaluation dan development yang bersifat evaluation
harus menyelesaikan : 1. Hasil penilaian digunakan
sebagai dasar pemberian kompensasi 2. Hasil penelitian
digunakan sebagai staffing decision 3. Hasil penelitian
digunakan sebagai dasar mengevaluasi sistem seleksi.
Sedangkan yang bersifat development penilaian harus
menyelesaikan : 1. Presentasi riil yang dicapai individu
2. Kelemahan-kelemahan individu yang menghambat
kinerja 3. Prestasi-prestasi yang dikembangkan
Kontribusi hasil-hasil penilaian merupakan suatu
yang sangat bermanfaat bagi perencanaan kebijakan
19
organisasi adapun secara terperenci penilaian kinerja bagi
organisasi adalah : 1. Penyesuaian-penyesuaian
kompensasi 2. Perbaikan kinerja 3. Kebutuhan latihan
dan pengembangan 4. Pengambilan keputusan dalam hal
penepatan promosi, mutasi, pemecatan, pemberhentian dan
perencanaan tenaga kerja 5. Untuk kepentingan penelitian
pegawai 6. Membantu diagnosis terhadap kesalahan
desain pegawai.
3. Komunikasi
a. Pengertian Komunikasi
Secara harafiah komunikasi yang berasal dari
bahasa Latin yaitu ‘Communis’ berarti ‘sama’ ,
‘Communicatio’ yang berarti ‘membuat sama’. Dapat
dikatakan bahwa komunikasi merupakan suatu proses
upaya membangun pengertian antara yang satu dengan
yang lainnya, agar terjadi kesamaan pemahaman
mengenai suatu hal.
Menurut Achmad S. Ruky, Komunikasi merupakan
proses pemindahan dan pertukaran pesan, dimana pesan
ini dapat terbentuk fakta, gagasan, perasaan, data atau
informasi dari seseorang kepada orang lain. Proses ini
dilakukan dengan tujuan untuk mempengaruhi dan/atau
20
mengubah informasi yang dimiliki serta tingkah laku
orang yang menerima pesan tersebut.
Dengan demikian penulisan menyimpulkan bahwa
komunikasi adalah proses pertukaran pesan, dimana pesan
ini dapat berbentuk fakta, gagasan, perasaan, data atau
informasi baik verbal maupun nonverbal dari seseorang
kepada orang lain dengan tujuan untuk mempengaruhi
dan/atau mengubah informasi yang dimiliki serta tingkah
laku orang yang menerima pesan tersebut.
b. Komunikasi dalam Organisasi
Komunikasi organisasi merupakan bentuk pertukaran
pesan antara unit-unit komunikasi yang berada dalam
organisasi tertentu. Organisasi sendiri terdiri dari unit-unit
komunikasi dalam hubungan-hubungan hirarki antara yang
satu dengan yang lainnya dan berfungsi dalam suatu
lingkungan. Komunikasi organisasi melibatkan manusia
sebagai subyek yang terlibat dalam proses menerima,
menafsirkan, dan bertindak atas informasi.
Menurut Wiryanto, komunikasi organisasi adalah
pengiriman dan penerimaan berbagai pesan organisasi
didalam kelompok formal maupun informal dari suatu
organisasi. Komunikasi formal adalah komunikasi yang
21
disetujui oleh organisasi itu sendiri dan sifatnya
berorientasi kepentingan organisasi. Isinya berupa cara
kerja di dalam organisasi, prodiktivitas, dan berbagai
pekerjaan yang harus dilakukan dalam organisasi.
Misalnya : memo, kebijakan, pernyataan, jumpa pers, dan
surat-surat resmi. Adapun komunikasi informasi adalah
komunikasi yang disetujui secara sosial. Orientasinya
bukan pada organisasi, tetapi lebih kepada anggotanya
secara individual.
Komunikasi organisasi serupa dengan komunikasi
internal. Pengertian dari komunikasi internal adalah
pertukaran gagasan di antara para administrator dan
karyawan dalam suatu perusahaan, dalam struktur lengkap
yang khas disertai pertukaran gagasan secara horizontal
dan vertikal dalam perusahaan. Sehingga pekerjaan dapat
berjalan.
c. Gaya Komunikasi Organisasi
Enam gaya komunikasi menurut Steward I Tubbs
dan Sylvia Moss Sebagai berikut :
1. Gaya Komunikasi Mengendalikan
Gaya komunikasi mengendalikan (dalam bahasa
inggris : The Controlling Style) ditandai dengan adanya
22
satu kehendak atau maksud untuk membatasi, memaksa
dan mengatur perilaku, pikran dan tanggapan orang lain.
Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini
dikenal dengan nama komunikator satu arah atau one-
way communications.
2. Gaya Komunikasi Dua Arah
Dalam gaya komunikasi ini tindak komunikasi
dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap anggota
organisasi The Equalitarian Style dapat mengungkapkan
gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks,
santai dan informal. Dalam suasana demikian,
memungkinkan setiap anggota organisasi mencapai
kesepakatan dan pengertian bersama. Aspek penting gaya
komunikasi ini ialah adanya landasan kesamaan. The
equalitarian style of communication ini ditandai dengan
berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara
lisan maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way
communication).
3. Gaya Komunikasi Berstruktur
Gaya komunikasi yang berstruktur ini,
memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun
lisan guna memantapkan perintah yang dilaksanakan,
23
penjadwalan tugas dan pekerjaan serta struktur
organisasi. Pengirim pesan (sender) lebih memberi
perhatian kepada keinginan untuk memempengaruhi
orang lain dengan jalan berbagi informasi tentang tujuan
organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang
dilakukan dalam organisasi tersebut.
4. Gaya Komunikasi Dinamis
Gaya komunikasi yang dinamis ini memiliki
kecendrungan agrasif, karena pengirim pesan atau sandar
memahami bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi
pada tindakan (action-oriented). The dynamic style of
communication ini sering dipakai oleh para juru
kampanye ataupun supervisor yang membawa para
wiraniaga (salesmen atau saleswomen).
Tujuan utama gaya komunikasi yang agresif ini
adalah menstimulasi atau merangsang pekerja/karyawan
untuk bekerja dengan lebih cepat dan lebih baik. Gaya
komunikasi ini cukup efektif digunakan dalam mengatasi
persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun dengan
persyaratan bahwa karyawan atau bawahan mempunyai
kemampuan yang cukup untuk mengatasi masalah yang
kritis tersebut.
24
5. The Relingushisng Style
Gaya komunikasi ini lebih mencerminkan
kesediaan unuk menerima saran, pendapat ataupun
gagasan orang lain, daripada keinginan untuk memberi
perintah, meskipun pengirim pesan (sender) mempunyai
hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain.
Pesan-pesan dalam gaya komunikasi ini akan
efektif ketika pengirim pesan atau sender sedang bekerja
sama dengan orang-orang yang berpengetahuan luas,
berpengalaman, teliti serta bersedia untuk bertanggung
jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang
dibebankannya.
6. The Withdrawal Style
Akibat yang muncul jika gaya ini digunakan
adalah melehmahnya tindakan komunikasi, artinya tidak
ada keinginan dari orang-orang yang memakai gaya ini
untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena ada
beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang
dihadapi oleh orang-orang tersebut.
Dalam deskripsi yang konkret adalah ketika
seseorang mengatakan: “Saya tidak ingin dilibatkan
25
dalam persoalan ini”. Pernyataan ini bermakna bahwa
ia mencoba melepaskan diri dari tangging jawab, tetapi
juga mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari
berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu gaya
ini tidak layak dipakai dalam konteks komunikasi
organisasi.
d. Arus Komunikasi
Dalam praktek terdapat 4 arus komunikasi
dalam suatu organisasi.
1. Pertama, komunikasi vertikar kebawah
Komunikasi demikian merupakan wahana bagi
manajemen untuk menyampaikan berbagai hal kepada
bawahan. Seperti perintah, intruksi, kebijakan baru,
pengarahan, pedoman kerja, nasihat dan teguran.
Kesemua itu dalam rangka usaha manajemen untuk
menjamin bahwah tindakan, sikap dan perilaku para
karyawan sedemikian rupa sehingga demikian rupa
sehingga kemampuan organisasi untuk mencapai tujuan
dan berbagaisasaran semakin meningkat dan pada
gilirannya memungkinkan organisasi memenuhi
kebutuhannya kewajibannya kepada anggotanya.
26
2. Kedua, Komunikasi Vertikal ke Atas
Anggota organisasi pasti ingin didengar oleh
atasannya keinginan tersebut dimanfaatkan untuk
menyampaikan berbagai hal seperti laporan hasil
pekerjaan, masalah yang dihadapi, baik yang bersifat
kedinasan maupun pribadi, saran-saran yang menyangkut
pelaksanaan tugas masing-masing bahkan kritik
membangun dalam organisasi yang bersifat demokratik.
3. Ketiga, Komunikasi Horizontal
Komunikasi yang berlangsung pada orang-orang
yang memiliki tingkat yang sama dalam sebuah
organisasi namun memiliki kegiatan yang berbeda-beda.
Dalam sebuah organisasi komunikasi antar satuan kerja
yang berbeda sangatlah diperlukan. Oleh karena itu
komunikasi horizontal menjadi wahana untuk
menyampaikan dan bertukar informasi akan berbagai hal
seperti saran dan nasihat sehingga seluruh satuan kerja
tersebut bergerak sebagai suatu kesatuan yang bulat
mempunyai persepsi yang sama dalam menentukan arah
dan langkah yang akan ditempuh dalam menghadapi
masalah yang timbul.
27
4. Keempat, Komunikasi Diagonal
Komunikasi yang berlangsung antara dua satuan
kerja yang berada pada jenjang hirarki oranisasi yang
berbada tetapi meyelenggarakan kegiatan yang sejenis.
Misalnya dalam suatu perusahaan konglomerat, mungkin
dikantor pusat kelompok perusahaan itu terdapat seorang
direktur produksi dan diberbagai anak perusahaan
terdapat manajer produksi. Dalam struktur organisasi,
manajer produksi pada suatu anak perusahaan bukan
bawahan langsung direkrut produksi pada tingkat pusat,
melainkan bawahan salah seorang direktur dilingkungan
anak perusahaan itu. Akan tetapi karena menangani
bidang kegiatan yang sama (dalam hal produksi) antara
mereka perlu terjadi komunikasi diagonal baik untuk
kepentingan penyampaian informasi maupun untuk
pelaporan atau untuk kepentingan lain tergantung
kesepakatan bersama tentang fungsi komunikasi diagonal
itu.
e. Proses Komunikasi
Seluruh proses komunikasi menyangkut hal-hal sebagai
berikut :
28
1. Adanya dua pihak yang terlibat, yaitu subyek dan
obyek komunikasi. Subyek merupakan sumber dan
obyek sebagai sasaran komunikasi.
2. Adanya “pesan” yang hendak disampaikan oleh
subyek kepada obyek.
3. Pemilihan cara atau metode yang di gunakan oleh
subyek untuk menyampaikan pesan, lisan atau tertulis,
dengan alat penyampaian.
4. Pemahaman metode penyampaian pesan oleh obyek
sehingga pesan diterima dalam bentuk yang
diinginkan oleh subyek.
5. Penerimaan oleh obyek.
6. Umpan balik dari obyek ke subyek.
Kenyataan dalam kehidupan organisasional
menunjukkan bahwa sebahagian besar komunikasi yang
terjadi adalah komunikasi yang terikat kebawah antara
seorang pimpinan dengan para bawahannya. Karena itu
logis pula untuk menentukan bahwa komunikasi
demikian menuntut para manajer agar memperhatikan
paling sedikit 10 hal agar komunikasinya dengan para
bawahannya mencapai hasil yang diharapkan, yaitu :
1. Kesedian untuk tidak menominasi pembicaraan
29
2. Mampu menciptakan suasana yang tidak tegang
3. Menunjukan kepada “lawan bicara” pimpinan yang
bersangkutan mau mendengar pihak lain
4. Menghilangkan hal-hal yang dapat mengalihkan
perhatian dari pembicaraan yang sedang berlangsung
5. Mampu menempatkan diri pada posisi orang lain
6. Sabar
7. Mampu mengendalikan emosi
8. Mencegah timbulnya suasana perdebatan
9. Mengajukan berbagai pertanyaan sebagai bukti
perhatian yang diberikan
10. Tidak mendominasi pembicaraan
Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa
beberapa hal berikut yang perlu diperhatikan demi
keterbukaannya atau komunikasi.
1. Pesan yang disampaikan. Apapun jenis pesan yang
akan disampaikan baik secara vertikal kebawah,
vertikal keatas, horizontal maupun diagonal, harus
jelas baik bagi subyek maupun obyek.
2. Metode penyampaian pesan penyampaian pesan baik
melalui lisan ataupun tertulis, yang terpenting adalah
30
gaya bahasa dan istilah-istilah yang digunakan harus
dapat dipahami dengan mudah oleh pihak lain. Hal
ini penting karena dalam komunikasi tertulis,
bahaslah komunikasi utama. Sedangkan dalam
penyampaian pesan secara lisan ada beberapa yang
harus diperhatikan adalah raut wajah, gerak gerik
dan nada suara karena akan sangat berpengaruh
pada jalannya komunikasi.
3. Pemahaman metode oleh obyek. Agar komunikasi
berjalan dengan efektif, subyek dan obyek harus
berada pada “gelombang” yang sama. Sejauh
mungkin berbagai perbedaan harus diperhitngkan
dengan matang.
4. Penerima pesan. Komunikasi dikatakan efektif saat
“pesan” diterima oleh obyek komunikasi dalam
bentuk dan jiwa yang dimaksudkan oleh subyek.
Sehingga pesan tersebut dapat digunakan untuk
kepentingan tertentu yang telah ditentukan.
5. Umpan balik. Hasil komunikasi yang dapat kita
lihat, yaitu berupa umpan balik dari obyek ke
subyek. Misalnya terlaksananya sebuah perintah,
31
perubahan prilaku, meningkatnya kedisplinan dan
kinerja dan lain sebagainya.
Dengan demikan bahwa meningkatkan komunikasi
yang efektif merupakan bagian yang sangat
penting dari pemeliharaan hubungan organisasi
dengan para anggotanya.
B. Kajian Empiris
Penelitian dilakukan oleh Rizky Syahputra (2019) dengan
judul : Pengaruh Komunikasi dan Kepuasan Kerja Terhadap
Kinerja Karyawan NSC Finance Kedaton Bandar Lampung.
Hasil penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Komunikasi
dan Kepuasan Kerja terhadap Kinerja Karyawan NSC
Finance Kedaton Bandar Lampung. Jenis penelitian yang
digunakan adalah penelitian kuantitatif asosiatif dengan
metode analisis regresi linear ganda. Teknik penentuan
sampel menggunakan teknik sampel jenuhdimana seluruh
populasi dijadikan sample sebanyak 35 responden. Teknik
pengumpulan data yanh digunakan adalah studi lapangan
yang dilakukan dengan penyebaran kuesioner penelitian dan
analisis dengan bantuan program SPSS. Berdasarkan hasil uji
t bahwa Komunikasi (X1) berpengaruh signifikan terhadap
32
kinerja (Y) pada karyawan NSC Finance Kedaton Bandar
Lampung dan Kepuasan (X2) berpengaruh signifikan terhadap
kinerja (Y) pada karyawan NSC Finance Kedaton Bandar
Lampung. Sedangkan berdasarkan uji f bahwa Komunikasi
(X1) dan Kepuasan (X2) berpengaruh signifikasi terhadap
kinerja (Y) pada karyawan NSC Finance Kedaton Bandar
Lampung.
Penelitian dilakukan oleh Ari Rizqi Ridwan Arifin (2019)
dengan judul : Pengaruh Komunikasi, Disiplin Kerja, dan
Pengawasan Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT Prima
Usaha Era Mandiri Di Surabaya. Hasil penelitian bertujuan
untuk mengetahui : (1) untuk membuktikan dan menganalisis
apakah variable komunikasi,disiplin kerja dan pengawasan
kerja berpengaruh secara simultan terhadap kinerja karyawan
PT Prima Usaha Era Mandiri di Surabaya. (2)untuk
membuktikan dan menganalisis apakah variabel komunikasi,
disiplin kerja,dan pengawasan kerja berpengaruh secara
parsial terhadap kinerja karyawan PT Prima Usaha Era
Mandiri di Surabaya. (3) untuk membuktikan dan
menganalisis diantara variable komunikasi, disiplin kerja dan
pengawasan kerja variable manakah yang berpengaruh
dominan terhadap kinerja karyawan PT Prima Usaha Era
33
Mandiri di Surabaya. Dalam penelitian ini menggunakan data
primer, sedangkan metode penelitian melibatkan dua variable
(kinerja karyawan) independen, dan variable dependen
(komunikasi, disiplin kerja, dan pengawasan kerja). Populasi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua keryawan
PT Prima Usaha Era Mandiri di Surabaya yang berjumlah 50
orang. Teknik sampel yang digunakan adalah teknik sampling
jenuh. Analisis menggunakan uji validitas, uji reabilitas,
analisis linear berganda, koefisien determinasi, uji f, uji t,
kesimpulan penelitian : komunikasi, disiplin kerja dan
pengawasan kerja berpengaruh simultan terhadap kinerja
keryawan PT Prima Usaha Era Mandiri di Surabaya.
Komunikasi, disiplin kerja dan pengawasan kerja berpengaruh
parsial terhadap kinerja karyawan PT Prima Usaha Era
Mandiri di Surabaya. Diantara variable komunikasi, disiplin
kerja dan pengawasan kerja yang berpengaruh paling
dominan terhadap kinerja karyawan PT Prima Usaha Era
Mandiri adalah variable pengawasan kerja.
Penelitian dilakukan oleh Zulfikar (2020) dengan judul :
Pengaruh Komunikasi Vertikal dan Komunikasi Horizontal
Terhadap Kepuasan Karyawan pada PT BFI Financial
Indonesia TBK Cabang Berau. Hasil tujuan penelitian yang
34
dilakukan adalah untuk menganalisis dan mengetahui lebih
jauh mengenai pengaruh komunikasi vertikal dan komunikasi
horizontal terhadap kepuasan karyawan pada PT BFI Finance
Indonesia Tbk Cabang Berau.
Data penelitian bersumber dari penyebaran kuesioner yang
dibagikan kepada 27 karyawan PT BFI Finance Tbk Cabang
Berau, dengan metode sensus. Alat analisis yang digunakan
adalah uji vadilitas, reabilitas, regresi linear berganda, uji t,
uji f dan koefisien determinas.
Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa ada pengaruh
yang signifikan secara bersama-sama antara komunikasi
vertikal dan komunikasi horizontal terhadap kepuasan
karyawan pada PT BFI Finance Indonesia Tbk Cabang Berau
sebesar 31,9% dan sisanya sebesar 68,1% dipengaruhi oleh
variable lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
C. Kerangka Pemikiran
Komunikasi Kinerja
(X) (Y)
35
D. Hipotesis
Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara
terhadap masalah penelitian, sampai berbukti melalui data
yang terkumpul (Arikunto, 1998:67).
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
Diduga komunikasi berpengaruh signifikan terhadap kerja
karyawan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan
Kabupaten Berau.
36
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Definisi Operasional
Definisi operasional ditunjukan untuk memberikan
penjelasan mengenai variabel yang digunakan dalam penelitian
ini. Adapun definisi operasional yang dimaksud adalah:
1. Kinerja karyawan sebagai variabel terkait ( Y )
dimaksudkan sebagai hasil kerja secara kualitas atas
kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang
diberikan kepadanya (Mangkunegara 2001, h67). Indikator
pada variabel ini adalah:
a. Kualitas kerja, yaitu jumlah kerja yang dilakukan suatu
periode yang ditentukan berdasarkan syarat-syarat
kesesuaian dan kesiapanya.
b. Inisiatif Kerja yaitu sikap dan tindakan-tindakan untuk
menyelesaikan suatu pekerjaan secara cepat dan efisien
(tepat guna).
c. Tingkat kehadiran yaitu usaha karyawan untuk hadir
sesuai waktu yang telah ditetapkan dan menyelesaikan
pekerjaan tepat pada waktunya.
37
2. Komunikasi sebagai variabel (X) dimaksud sebagai proses
dalam pengaturan organisasi untuk memelihara agar
menajemen dan para karyawan tetap tahu tentang bermacam-
macam hal yang relevan. Indicator variabel ini adalah :
a. Kemudahan dalam memperoleh informasi. Kinerja yang
baik dari seseorang dapat tercipta apabila terdapat
kemudahan dalam memperoleh informasi dalam suatu
proses komunikasi maka terwujud kelancaran dalam
pemindahan ide, gagasan maupun pengertian dari
seseorang ke orang lain.
b. Intensitas dan efektifitas komunikasai. Apabila banyaknya
terjadi percakapan yang baik yang dilakukan secara
langsung dengan adanya frekuensi tatap muka untuk
memudahkan orang lain mengetahui apa yang
disampaikan komunikator, maka proses komunikasi
menjadi semakin lancar.
c. Tingkat pemahaman pesan. Seseorang dapat memahami
apa yang ingin disampaikan oleh seorang komunikator
kepada penerima juga tergantung pada tingkat
pemahaman seseorang. Adanya komunikasi yang baik dan
lancar dapat lebih memudahkan seseorang atau penerima
mengerti dan memahami pesan yang akan disampaikan.
38
B. Unit Analisis, Populasi dan Sampel
Unit analisis adalah objek penelitian, dimana pengumpulan
data dilakukan untuk menggambarkan masing-masing unit secara
individual (Sugiyono, 2014:59). Maka berdasarkan definisi
tersebut unit dalam penelitian ini adalah Kantor Dinas
Lingkungan Hidup dan Kebesihan Kabupaten Berau.
Populasi adalah keluhan subjek penelitian dan sampel
adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,
2012:115). Populasi dan sampel dalam penelitian ini adalah
seluruh kayawan kantor Dinas Lingkungan Hidup dan Kebesihan
Kabupaten Berau yang terdiri dari 124 orang. Sampel pada
penelitian ini adalah seluruh karyawan kantor Dinas Lingkungan
Hidup dan Kebesihan Kabupaten Berau.
Menurut Bugin (2005:105) penentuan jumlah sampel dalam
penelitian dapat menggunakan rumus slovin, yaitu :
N
n=
1+Ne2
Keterangan :
n : Ukuran Sampel
N : Ukuran Populasi
1 : Konstanta
e : Tingkat kesalahan yang ditoleransi (error tolerance)
39
Berdasarkan rumus tersebut, maka dapat dihitung besarnya
sampel dari jumlah populasi yang ada dan penelitian
menerapkan error tolerance sebesar 10% berikut perhitungannya:
124
n=
1+124 (0,10 2 )
124
n=
1+124 (0,01 )
124
n=
1+1,24
124
n= = 55,35
2,24
Berdasarkan perhitungan di atas, maka ukuran sampel
minimal dalam penelitian ini ditetapkan e=0,10 (derajat
kepercayan 90%), diperoleh ukuran sampel (n) minimal sebesar
55,35, maka pada penelitian ini ditentukan sampel sejumlah 56
orang(pembulatan)
Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah
Nonprobability Sampling yaitu dengan sampling sensus dimana
semua anggota populasi dijadikan sampel.
C. Jenis dan Sumber Data
1. Data Primer
Data primer atau data pokok adalah data yang
mengacuh pada informasi yang diperoleh dari tangan
pertama oleh peneliti yang berkaitan dengan variabel minat
40
untuk tujuan spesifik studi. Sumber data primer adalah
responden individu, kelompok focus, internet juga dapat
menjadi sumber data primer jika koesioner disebarkan
melalui internet.
Data primer juga merupakan data yang diperoleh dari
sumber pertama baik dari individu atau perseorangan seperti
hasil wawancara, atau hasil pengisian kuensioner yang bisa
dilakukan oleh peneliti. Menurut Ghozali (2006) skala likert
adalah skala yang berisi lima tingkat preferensi dengan
pilihan sebagai berikut interval penilaian untuk setiap
jawaban responden adalah : 1. (saya tidak setuju), 2. (tidak
setuju), 3. (ragu-ragu), 4. (setuju) 5. (sangat setuju).
2. Data Sekunder
Data sekunder atau data penunjang adalah data yang
mengacuh pada informasi yang dikumpulkan dari sumber
yang telah ada. Sumber data sekunder adalah catatan atau
dokumentasi perusahaan, publikasi perusahaan, analisis
industri oleh media, situs web, internet dan seterusnya. Data
yang berkenan dengan lokasi penelitian yang meliputi :
a. Gambaran umum lokasi penelitian
b. Keadan karyawan
c. Keadaan saran dan prasarana perusahaan
41
d. Visi dan misi perusahaan
D. Metode Pengumpulan Data
1. Observasi, yaitu mengadakan pengamatan langsung
terhadap obyek yang diteliti
2. Angket (Kuesioner), yaitu memberi seperangkat
pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk
menjawab.
3. Studi Pustaka, yaitu metode pengumpulan data dengan
cara mengumpulkan data tentang teori-teori yang terdapat
pada buku-buku, literatur-literatur, maupun karya-karya
ilmiah yang berkaitan dengan penelitian ini.
E. Alat Analisis
1. Uji Instrumen
a. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur salah sah
atau valid tidaknya koesioner. Suatu koesioner dikatakan
valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu
mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh koesioner
tersebut. Untuk mengukur validitas dapat dilakukan
dengan melelakukan korelasi antar skor butir pertanyaan
dengan total skor konstruksi atau variable.
42
Uji validitas dapat dilakukan dengan menggunakan
bantuan program Statistical Package for Social Science
(SPSS) Relase Version 20, penelitian ini menggunakan
teknik korelasi, item pertanyaan dinyatakan valid apabila
dari hasil uji diperoleh niali korelasi diantara skor butir
dengan skor total signifikan pada tingkat <0,05
(Ghozali,2005).
b. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas adalah alat untuk megukur suatu
kuesioner yang mempunyai indicator dari variabel. Suatu
kuesioner dinyatakan reliabel atau handal jika jawaban
seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil
dari waktu ke waktu.
Uji reliabilitas dapat dilakukan dengan
menggunakan bantuan program Statistical Package for
Social Science (SPSS), yang akan memberikan fasilitas
untuk mengukur reliabilitas dengan uju stastitik Cronbach
Alpha (α). Reliabilitas sesungguhnya ialah alat guna
mengukur kuisioner yang masuk indikator dari sampel
ataupun kontruk. Sebuah kuisioner dinyatakan handal bila
43
jawaban individu pada pernyataan antar waktu tetap
(Ghozali,2018). Diuji menggunakan teknik alpha Cronbach.
Guna melakukan uji reliabelitas hanyalah
dapat mnggunakan uji statistik Cronbach alpa memiliki
kriteria :
a. Pada nilai Cronbach alpha > 0,60 dikatakan reliabel.
b. Pada nilai Cronbach alpha < 0,60 tidak dapat dikatakan
reliabel.
2. Analisis Regresi Linear Sederhana
Analisis regrsdi linear sederhana adalah hubungan
secara linear antara satu variabel independen (X) dengan
variabel depanden (Y). analisis regresi sederhana dapat
digunakan untuk mengetahui arah dari hubungan antara
variabel bebas dengan variabel terkait, apakah memiliki
hubungan positif atau negatif serta untuk memprediksi
nilai dari variabel terkait apabila nilai variabel bebas
mengalami kenaikan ataupun penurunan Mulyono (2019).
Pada regresi sederhana biasanya data yang digunakan
memiliki skala interval atau rasio.
Rumus regresi linear sederhana sebagai berikut :
Y= a + bX
44
Keterangan :
Y = Variabel dependen (variabel terkait)
X = Variabel independen (variabel bebas)
a = Konstanta (nilai dari Y apabila X = 0)
b = Korfisien regrsi (pengaruh positif dan negatif)
3. Uji Koefisien Korelasi
Analisis ini digunakan untuk mengukur suatu tingkat
kekuatan hubungan linear antara dua variable. Untuk
mengetahui antara dua variable, maka cukup melihat dari
koefisien kolerasi. Koefisien kolerasi merupakan indeks atau
bilangan yang digunakan untuk mengukur keeratan hubungan
antar variable Karena kedua variable mempunyai hubungan
linear sempurna. Artinya variable X mempengaruhi variable
Y secara sempurna jika kolerasi sama dengan (0), maka tidak
terdapat hubungan variable tersebut, dapat terjadi adanya
hubungan sebab akibat atau dapat pula terjadi karena
kebetulan saja. Tingkat keeratan kolerasi diantara variable
menggunakan acuan sebagai berikut :
a. 0,00-0,199 berarti kolerasi memiliki keeratan sangat rendah
b. 0,20-0,399 berarti memiliki keeratan kolerasi rendah
c. 0,40-0,599 berarti memiliki kolerasi sedang
45
d. 0,60-0,799 berarti memiliki keeratan korelasi kuat
e. 0,80-1000 berarti memiliki keeratan korelasi sangat kuat (
Sugiyono, 2015:18
4. Uji Koefisien Determinasi (R Square)
Uji koefisien determinas digunakan untuk mengukur
seberapa besar pengaruh variabel bebas (X) terhadap
variabel terkait (Y). nilai koofisien determinasi adalah
antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti variasi
variabel dependen yang sangat terbatas. Nilai yang
mendekati 1 (satu) berarti variabel-vatiabel independen
sudah dapat memberi semua informasi yang dibutuhkan
untuk memprediksi variabel depanden.
Dalam penelitian ini nilai koefisien determinasi di
tunjukkan dari nailai R square (hasil output SPSS). Nilai R
square (R2) berkisar antara 0-1. Nilai R2= 1 menunjukkan
bahwa 100% total varian variabel terikat diterangkan oleh
veriabel bebas, sebaliknya jika nilai R2 = 0 menunjukkan
bahwa tidak ada total varians terikat yang dapat diterangkan
oleh variabel bebas. Interprestasi dari nilai koefisien
determinasi menurut lind (2022) dalam Suharyadi dan
Purwanto (2009:217), yaitu:
46
a. Nilai R2 > 0,5 = Baik atau Kuat
b. Nilai R2 = 0,5 = Sedang
c. Nilai R2 ,< 0,5 = Kurang baik
5. Uji Hipotesis
a. Uji t
Uji t statistik pada dasarnya menunjukkan seberapa
jauh pengaruh satu variabel penjelas secara individual
dalam menerangkan variasi variabel terikat. Dengan kata
lain Uji t mengukur seberapa berpengaruhnya dan
signifikanya salah satu dari beberapa variabel
independent.
Uji t dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan
program SPSS, yang akan memberikan fasilitas untuk
mengukur signifikan variabel apakah berpengaruh positif
signifikan terhadap kinerja. Untuk mengukur dengan uji
coefficients. Nilai signifikan sebesar Sig hitung <(0,05),
berarti positif signifikan.
47
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan
Kabupaten Berau
Kabupaten Berau merupakan salah satu Kabupaten yang
berada pada bagian utara Propinsi Kalimantan Timur. Wilayah
administrasi Kabupaten di bagi menjadi 13 Kecamatan hingga
saat ini jumlah desa/kelurahan sebanyak 107.
Kabupaten Berau memiliki wilayah 34.127,47 Km². yang
terdiri atas luas daratan mencapai 21.240 Km², dan luas
perairan mencapai sepertiga dari luas wilayah yaitu 12.887,47
Km².
Dengan mempertimbangkan potensi, kondisi,
permasalahan, tantangan dan peluang yang ada di Kabupaten
Berau serta mempertimbangkan budaya yang hidup dalam
masyarakat, Maka visi dan misi pembangunan dalam lima tahun
mendatang harus berdasarkan visi dan misi kepala daerah yang
terpilih sebagai hasil dari pemiihan umum daerah yang dalam
hal ini akan diselenggarakan oleh Kabupaten Berau pada tahun
2016 atau sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Untuk
48
memberikan gambaran tentang bagaimana arah pembangunan
Kabupaten Berau dalam lima tahun mendatang, Bappeda dan
instansi lainnya di Kabupaten Berau telah berupaya untuk
memberikan pedoman visi dan misi secara teknokratik sebagai
rujukan bagi calon kepala [Link] merupakan gambaran
umum apa yang akan diwujudkan oleh Pemerintahan Kabupaten
Berau pada akhir periode. Visi menjadi fokus dan arahan
pembangunan dan program kerja selama lima tahun pelaksanaan
kepemimpinan kepala daerah [Link] Kabupaten Berau
menjadi penting karena akan menyatukan dan mengintegrasikan
setiap aspek pendukung pembangunan daerah yang akan
dilaksanakan oleh seluruh elemen masyarakat Kabupaten Berau
baik aparatur pemerintahan, masyarakat, maupun swasta. Sesuai
dengan permasalah, isu-isu strategis, gambaran umum, hingga
dokumen perencanaan nasional maupun regional, maka arahan
visi Kabupaten Berau untuk periode 2016-2021 sebagai berikut:
Kabupaten Berau merupakan salah satu pintu gerbang
49
pembangunan di wilayah Provinsi Kalimantan Timur yang
terletak disebelah utara dan berbatasan langsung dengan
Provinsi Kalimantan Utara. Sebagai daerah yang memiliki
keindahan wilayah daratan, pesisir pantai, dan lautan dengan
sumber daya alam yang beraneka ragam, visi tersebut sangatlah
tepat,dimana peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten
Berau dilandaskan pada keberhasilan pengembangan agrobisnis
dan pariwisata.
Dalam pelaksanaan pengembangan agrobisnis dan
pariwisata, yang harus menjadi pedoman ialah bagaimana
seluruh lapisan masyarakat terutama kaum marginal dan
masyarakat lokal untuk diberdayakandan diajak untuk ikut
berpartisipasi. Turut berpartisipasinya seluruh lapisan masyarakat
harus diwujudkan yang bertujuan untuk meratakan keuntungan
ekonomi dari pengembangan agrobisnis dan pariwisata tersebut.
Dengan mekanisme tersebut, diharapakan tidak hanya mampu
meningkatkan perekonomian wilayah, namun juga mampu
meningkatkan perekonomian masyarakat secara merata sehingga
dapat tercipta kesejahteraan yang berkeadilan. Selain itu,
dimensi keagamaan masyarakat juga perlu ditingkatkan. Dengan
naiknya kadar religiusitas masyarakat, diharapkan dapat
menjembatani perbedaan yang adadi dalam masyarakat, sehingga
50
perbedaan suku dan agama tidak menjadi halangan yang berarti
dalam membangun kehidupan bersama yang bahagia dan
sejahtera. Disamping itu juga pengembangan wilayah secara
menyeluruh dapat berkelanjutan jika dalam pelaksanaan
pembangunannya selalu memerhatikan keseimbangan ekosistem.
Oleh karena itu maka aspek kualitas lingkungan harus dijadikan
landasan utama pengembangan tersebut.
Maka Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan
Kabupaten Berau akan mendukung terlaksananya visi dan misi
Bupati terpilih terutama di Misi kesatu yaitu : Mewujudkan
Berau Sejahtera unggul, dan Berdaya saing berbasis sumber
daya manusia dan pemanfaatan sumber daya alam secara
berkelanjutan.
Tujuan dari misi kesatu adalah :Mempertahankan kualitas
lingkungan hidup. Adapun sasaran dari misi kesatu adalah :
1). Terjaganya kualitas air sungai
2). Terjaganya kualitas udara,
3). Menurunya itensitas emisi,
4). Tertanganinya pengelolaan sampah di Kabupaten
Berau.
Sedangkan visi dari Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan
adalah Masyarakat Mandiri Lingkungan Hidup Lestari.
51
B. Struktur Organisasi
Dalam rangka kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan
fungsinya, Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK)
Kabupaten Berau telah dilengkapi dengan perangkat organisasi
yang secara struktural berdasarkan Peraturan Daerah Nomor : 7
Tahun 2019 adalah sebagai berikut :
52
C. Bidang - bidang kerja / Job Discription
a) Uraian Tugas dan Jabatan Struktural Dinas
Lingkungan Hidup dan Kebersihan
Berdasarkan peraturan Bupati Berau Nomor 60
Tahun 2016 tentang Susunan Organisasi Tata Kerja Dinas
Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau
adalah sebagai berikut :
1. Kepala Dinas
Kepala Dinas mempunyai tugas pokok membantu
Bupati dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan di
bidang lingkungan hidup dengan memimpin,
merencanakan, mengorganisasikan, mengoordinasikan,
membina, mengendalikan, mengawasi dan
mempertanggungjawabkan semua kegiatan Dinas serta
mengadakan hubungan kerjasama dengan satuan kerja
perangkat daerah lainnya.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud diatas, Kepala Dinas mempunyai rincian tugas:
a. Merencanakan pembangunan di bidang lingkungan
hidup yang sejalan dengan rencana dan strategi
pembangunan Daerah.
53
b. Menggerakkan organisasi Dinas sesuai dengan
rencana dan strategi pembangunan yang telah
disusun untuk tercapainya tujuan.
c. Mengoordinasikan seluruh kegiatan dan program
pembangunan yang menjadi tanggung jawab Dinas;
d. Merumuskan kebijakan teknis pembangunan di
bidang lingkungan hidup dengan berpedoman pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku agar
dapat digunakan sebagai dasar dan pedoman dalam
melaksanakan pekerjaan;
e. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada
bawahan sesuai dengan bidang tugasnya agar
terwujud kinerja yang baik pada bawahan dan tugas
Dinasdapat selesai dengan baik dan tepat waktu.
f. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Dinas
melalui informasi dan sumber data yang adauntuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kerja.
g. Memeriksa, mengecek, mengoreksi dan mengontrol
serta mengesahkan hasil kerja bawahan berdasarkan
ketentuan yang berlaku;
54
2. Sekretariat
Sekretariat mempunyai tugas pokok melaksanakan
sebagian tugas pokok dan fungsi Dinas di bidang
pengelolaan kesekretariatan yang meliputi administrasi
penyusunan program, administrasi umum, kepegawaian,
perlengkapan dan administrasi keuangan untuk mendukung
kelancaran tugas dan kegiatan Dinas dengan memberikan
pelayanan administrasi kepada satuan organisasi Dinas;
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud diatas), sekretaris mempunyai rincian tugas:
a. Mengoordinasikan penyusunan rencana kerja
Sekretariat berdasarkan Renstra, data dan informasi
yang ada serta peraturan yang berlaku sebagai
pedoman dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada Sub
Bagian sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud
kinerja yang baik pada bawahan dan tugas
Sekretariat dapat selesai dengan baik dan tepat
waktu.;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada para
Kepala Sub Bagian agar pekerjaan Sekretariat dapat
55
dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai peraturan
yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan,
kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-
bahan lainnya yang berhubungan dengan tugas
Sekretariat melalui informasi dan sumber data yang
adauntuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan tugas
lingkup Sekretariat dengan berpedoman pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku agar
dapat digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan
pekerjaan;
f. Mengoordinasikan pelayanan teknis administratif baik
intern Dinasmaupun unit kerja lain sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku;
g. Mengoordinasikan penyelenggaraan pengelolaan dan
bimbingan administrasi umum, kepegawaian,
perencanaan dan keuangan di lingkungan Dinas guna
tertib administrasi;
56
➢ Sub Bagian Penyusunan Program
Sub Bagian Penyusunan Program mempunyai tugas
pokok melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi
sekretariat yang meliputi pengelolaan administrasi
penyusunan program pembangunan bidang lingkungan
hidup, mengidetifikasi permasalahan, pengumpulan data,
mengevaluasi dan memonitor kegiatan dan penyusunan
laporan dan pertanggungjawaban pelaksanaan tugas
Dinas.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud diatas, Kepala Sub Bagian Penyusunan
Program mempunyai rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Sub Bagian Penyusunan
Program berdasarkan Renstra, data dan informasi
yang ada serta peraturan yang berlaku sebagai
pedoman dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada
bawahan sesuai dengan bidang tugasnya agar
terwujud kinerja yang baik pada bawahan dan tugas
Sub Bagian Penyusunan Program dapat selesai
dengan baik dan tepat waktu;
57
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada
bawahan agar pekerjaan Sub Bagian Penyusunan
Program dapat dilaksanakan dengan baik dan benar
sesuai peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan,
kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-
bahan lainnya yang berhubungan dengan tugas Sub
Bagian Penyusunan Program melalui informasi dan
sumber data yang adauntuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Sub Bagian Penyusunan Program dengan
berpedoman pada peraturan perundang-undangan
yang berlaku agar dapat digunakan sebagai dasar
dalam melaksanakan pekerjaan;
f. Mengawasi dan memantau proses pengumpulan dan
pengolahan data usulan program dari masing-masing
unit kerja sebagai bahan penyusunan program Dinas;
g. Mempelajari dan menganalisa setiap usulan program
sebagai bahan penyusunan dan pengembangan
program dan kegiatan masing-masing unit kerja;
58
➢Sub Bagian Umum dan Kepegawaian
Sub Bagian Umum dan Kepegawaian mempunyai
tugas pokok melaksanakan sebagian tupoksi sekretariat
yang meliputi pengelolaan administrasi umum,
perlengkapan, kepegawaian, rumah tangga dan
ketatausahaan Badan;
Sub Bagian Umum dan Kepegawaian dalam
menyelenggarakan tugas sebagaimana diatas mempunyai
rincian tugas :
a. Menyusun rencana kerja Sub Bagian Umum dan
Kepegawaian sebagai pedoman kerja sub bagian
dalam melaksanakan tugas;
b. Mempelajari dan mengumpulkan peraturan-peraturan
yang berhubungan dengan administrasi umum,
perlengkapan dan kepegawaian sebagai dasar
pelaksanaan tugas;
c. Membagi tugas dan memberikan petunjuk kepada
bawahan dilingkup Sub Bagian Umum dan
Kepegawaian supaya tercapai kinerja yang baik pada
bawahan;
59
d. Mengevaluasi dan menilai kinerja bawahan
berdasarkan pelaksanaan tugas yang diserahkan untuk
peningkatan kinerja dan sebagai bahan pembinaan
kepegawaian;
e. Menyelenggarakan pelaksanaan urusan surat
menyurat dan kearsipan serta ketatausahaan lainnya
untuk tercapainya tertib administrasi;
f. Merencanakan dan mengadakan kebutuhan
perlengkapan Badan baik berupa sarana prasarana
Badan dan pendukung kerja lainnya;
3. Bidang Tata Lingkungan
Tata Lingkungan sebagaimana dimaksud dalam pasal
3 ayat (1) huruf c mempunyai tugas pokok melaksanakan
sebagian tugas pokok dan fungsi Dinas di bidang tata
lingkungan yang meliputi inventarisasi Rencana
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
(RPPLH) dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis
(KLHS), kajian dampak lingkungan serta pemeliharaan
dan pelestarian lingkungan hidup;
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud
diatas, Kepala Bidang Tata Lingkungan mempunyai
rincian tugas:
60
a. Mengoordinasikan penyusunan rencana kerja Bidang
Tata Lingkungan berdasarkan Renstra, data dan
informasi yang ada serta peraturan yang berlaku
sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Bidang Tata
Lingkungan dapat selesai dengan baik dan tepat
waktu.;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada para
bawahan agar pekerjaan Bidang Tata Lingkungan
dapat dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai
peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Bidang Tata
Lingkungan melalui informasi dan sumber data yang
adauntuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
kerja;
e. Mengarahkan pelaksanaan inventarisasi data dan
informasi sumber daya alam;
f. Mengoordinasikan penyusunan dokumen RPPLH;
61
g. Mengarahkan pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi
pemuatan RPPLH dalam Rencana Pembangunan
Jangka Panjang (RPJP) dan Rencana Pembangunan
Jangka Menegah (RPJM);
Seksi Inventarisasi Rencana Perlindungan dan
Pengelolaan LH dan KLHS
Seksi Inventarisasi Rencana Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kajian Lingkungan
Hidup Strategis mempunyai tugas pokok melaksanakan
sebagian tugas pokok dan fungsi Bidang Tata Lingkungan
di bidang inventarisasi Rencana Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) dan Kajian
Lingkungan Hidup Strategis (KLHS).
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18, Kepala Seksi Inventarisasi
Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis mempunyai
rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Inventarisasi Rencana
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Kajian Lingkungan Hidup Strategis berdasarkan
Renstra, data dan informasi yang ada serta peraturan
62
yang berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan
tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Seksi Inventarisasi
Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup dan Kajian Lingkungan Hidup Strategisdapat
selesai dengan baik dan tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada bawahan
agar pekerjaan Seksi Inventarisasi Rencana
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup dan
Kajian Lingkungan Hidup Strategis dapat dilaksanakan
dengan baik dan benar sesuai peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi
Inventarisasi Rencana Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Kajian Lingkungan Hidup
Strategis melalui informasi dan sumber data yang
adauntuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
kerja;
63
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Inventarisasi Rencana Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Kajian
Lingkungan Hidup Strategis dengan berpedoman pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku agar
dapat digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan
pekerjaan;
f. Mengontrol pelaksanaan inventarisasi data dan
informasi sumber daya alam;
g. Membimbing penyiapan dan penyusunan dokumen
RPPLH;
h. Mengontrol pelaksanaan koordinasi dan sinkronisasi
pemuatan RPPLH dalam RPJP dan RPJM;
i. Membimbing pemantauan dan evaluasi pelaksanaan
RPPLH;
j. Mengontrol penentuan daya dukung dan daya
tampung lingkungan hidup;
k. Melaksanakan koordinasi penyusunan tata ruang yang
berbasis daya dukung dan daya tampung lingkungan
hidup;
64
l. Memeriksa penyusunan instrumen ekonomi lingkungan
hidup (PDB dan PDRB hijau, mekanisme insentif
disinsentif, pendanaan lingkungan hidup);
m. Mengecek sinkronisasi RLPLH Nasional,
Pulau/Kepulauan dan Ekoregion;
Seksi Kajian Dampak Lingkungan
Kajian Dampak Lingkungan mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Bidang
Tata Lingkungan di bidang kajian dampak lingkungan.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud
diatas, Kepala Seksi KajianDampak
Lingkunganmempunyai rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Kajian Dampak
Lingkungan berdasarkan Renstra, data dan informasi
yang ada serta peraturan yang berlaku sebagai
pedoman dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Seksi Kajian
Dampak Lingkungan dapat selesai dengan baik dan
tepat waktu;
65
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada bawahan
agar pekerjaan Seksi Kajian Dampak Lingkungan
dapat dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai
peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi Kajian
Dampak Lingkunganmelalui informasi dan sumber
data yang adauntuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Kajian Dampak Lingkungan dengan berpedoman
pada peraturan perundang-undangan yang berlaku agar
dapat digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan
pekerjaan;
f. Melaksanakan koordinasi penyusunan instrumen
pencegahan pencemaran dan/atau kerusakan
lingkungan hidup yang meliputi Analisa Mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL), Upaya Pengelolaan
Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan
Lingkungan Hidup (UPL), izin lingkungan, audit
lingkungan hidup, analisis resiko lingkungan hidup;
66
g. Melaksanakan Penilaian terhadap dokumen lingkungan
(AMDALdan UKL/UPL);
h. Melaksanakan penyusunan tim kajian dokumen
lingkungan hidup yang transparan (komisi penilai, tim
pakar dan konsultan);
i. Mengevaluasi dan menilai kinerja/prestasi bawahan
berdasarkan pelaksanaan tugas yang diserahkan untuk
peningkatan kinerja dan sebagai bahan pembinaan
kepegawaian;
Seksi Pemeliharaan dan Pelestarian LH
Seksi Pemeliharaan dan Pelestarian Lingkungan
Hidup mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian
tugas pokok dan fungsi Bidang Tata Lingkungan di
bidang pemeliharaan dan pelestarian lingkungan hidup.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud diatas, Kepala Seksi Pemeliharaan dan
Pelestarian Lingkungan Hidup mempunyai rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Pemeliharaan dan
Pelestarian Lingkungan Hidup berdasarkan Renstra,
data dan informasi yang ada serta peraturan yang
berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas;
67
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Seksi
Pemeliharaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup dapat
selesai dengan baik dan tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada bawahan
agar pekerjaan Seksi Pemeliharaan dan Pelestarian
Lingkungan Hidup dapat dilaksanakan dengan baik
dan benar sesuai peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi
Pemeliharaan dan Pelestarian Lingkungan
Hidupmelalui informasi dan sumber data yang
adauntuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Pemeliharaan dan Pelestarian Lingkungan Hidup
dengan berpedoman pada peraturan perundang-
undangan yang berlaku agar dapat digunakan sebagai
dasar dalam melaksanakan pekerjaan;
68
f. Membimbing pelaksanaan perlindungan sumber daya
alam;
g. Membimbing pelaksanaan pengawetan sumber daya
alam;
h. Mengontrol pelaksanaan pemanfaatan secara lestari
sumber daya alam;
i. Membimbing pelaksanaan pencadangan sumber daya
alam;
j. Mengontrol pelaksanaan upaya mitigasi dan adaptasi
perubahan iklim;
4. Bidang Kebersihan, Pengelolaan sampah dan limbah
B3
Bidang Kebersihan, Pengelolaan Sampah dan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Dinas di
bidang kebersihan, pengelolaan sampah dan limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun (B3) yang meliputi kebersihan,
pengelolaan sampah dan pengelolaan limbah B3;
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana diatas,
Kepala Bidang Kebersihan, Pengelolaan Sampah dan
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun mempunyai
rincian tugas:
69
a. Mengoordinasikan penyusunan rencana kerja Bidang
Kebersihan, Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracunberdasarkan Renstra, data dan
informasi yang ada serta peraturan yang berlaku
sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Bidang
Kebersihan, Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracundapat selesai dengan baik dan
tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada para
bawahan agar pekerjaan Bidang Kebersihan,
Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya
dan Beracundapat dilaksanakan dengan baik dan benar
sesuai peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Bidang
Kebersihan, Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun melalui informasi dan sumber
70
data yang ada untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kerja;
e. Mengoordinasikan penyusunan rencana semua
kebutuhan yang berkaitan teknis operasional
kebersihan dan pertamanan kota.
f. Mengoordinasikan penyusunan informasi pengelolaan
sampah tingkat di Daerah;
g. Mengarahkan penetapan target pengurangan sampah
dan prioritas jenis sampah untuk setiap kurun waktu
tertentu;
Seksi Kebersihan
Seksi Kebersihan mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Bidang
Kebersihan, Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun di bidang kebersihan.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana diatas,
Kepala Seksi Kebersihan mempunyai rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Kebersihan berdasarkan
Renstra, data dan informasi yang ada serta peraturan
yang berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan
tugas;
71
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Seksi Kebersihan
dapat selesai dengan baik dan tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada bawahan
agar pekerjaan Seksi Kebersihan dapat dilaksanakan
dengan baik dan benar sesuai peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi
Kebersihanmelalui informasi dan sumber data yang
adauntuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Kebersihan dengan berpedoman pada peraturan
perundang-undangan yang berlaku agar dapat
digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan
pekerjaan;
f. Menyusun informasi pengelolaan sampah di Daerah;
g. Menetapan target pengurangan sampah dan prioritas
jenis sampah untuk setiap kurun waktu tertentu;
h. Merumuskan kebijakan pengurangan sampah;
72
i. Membina pembatasan timbunan sampah kepada
produsen/industri;
j. Membina penggunaan bahan baku produksi dan
kemasan yang mampu diurai oleh proses alam;
k. Membina pendaurulangan sampah;
l. Membimbing penyediaan fasilitas pendaurulangan
sampah;
m. Membimbing pemanfaatan kembali sampah dari
produk dan kemasan produk;
n. Mengontrol pengembangan materi pendidikan/pelatihan
dan penyuluhan lingkungan hidup;
o. Mengontrol pengembangan metode
pendidikan/pelatihan dan penyuluhan lingkungan
hidup;
p. Mengontrol pelaksanaan pendidikan/pelatihan dan
penyuluhan lingkungan hidup;
q. Mengontrol pelaksanaan kegiatan dan program
adiwiyata, adipura dan saka kalpataru;
r. Mengontrol peningkatan kapasitas instruktur dan
penyuluh lingkungan hidup.
73
Seksi Pengelolaan Sampah
Seksi Pengelolaan Sampah mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Bidang
Kebersihan, Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun di bidang pengelolaan sampah.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud
diatas, Kepala Seksi Pengelolaan Sampahmempunyai
rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Pengelolaan Sampah
berdasarkan Renstra, data dan informasi yang ada
serta peraturan yang berlaku sebagai pedoman dalam
melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Seksi Pengelolaan
Sampah dapat selesai dengan baik dan tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada bawahan
agar pekerjaan Seksi Pengelolaan Sampah dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai peraturan
yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
74
lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi
Pengelolaan Sampah melalui informasi dan sumber
data yang adauntuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Pengelolaan Sampah dengan berpedoman pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku agar
dapat digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan
pekerjaan;
f. Merumuskan kebijakan penanganan sampah di Daerah;
g. Mengontrol pemilahan, pengumpulan, pengangkutan
dan pemrosesan akhir sampah serta pengembangan
kegiatan Bank Sampah;
h. Mengontrol penyediaan sarana dan prasarana
penanganan sampah;
Seksi Penanganan Limbah B3
Seksi Penanganan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian
tugas pokok dan fungsi Bidang Kebersihan, Pengelolaan
Sampah di bidang penanganan limbah Bahan Berbahaya
dan Beracun.
75
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud
diatas, Kepala Seksi Penanganan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun mempunyai rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Penanganan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracunberdasarkan Renstra,
data dan informasi yang ada serta peraturan yang
berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Seksi Penanganan
Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun dapat selesai
dengan baik dan tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada bawahan
agar pekerjaan Seksi Penanganan Limbah Bahan
Berbahaya dan Beracun dapat dilaksanakan dengan
baik dan benar sesuai peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi
Penanganan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun
melalui informasi dan sumber data yang adauntuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kerja;
76
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Penanganan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracundengan berpedoman pada peraturan perundang-
undangan yang berlaku agar dapat digunakan sebagai
dasar dalam melaksanakan pekerjaan;
f. Merumuskan dan menyusun kebijakan perizinan
penyimpanan sementara(pengajuan, perpanjangan,
perubahan dan pencabutan) limbah B3 dalam Daerah;
g. Mengontrol pelaksanaan perizinan penyimpanan
sementara limbah B3 dalam Daerah;
h. Melaksanakan pemantauan dan pengawasan
penyimpanan sementara limbah B3 dalam Daerah;
5. Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan
Lingkungan Hidup
Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan
Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3
pada ayat (1) huruf e mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Dinas di
bidang pengendalian, pencemaran dan kerusakan
lingkungan hidup yang meliputi pemantauan lingkungan,
pengendalian pencemaran lingkungan dan kerusakan
lingkungan;
77
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 32, Kepala Bidang Pengendalian
Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup
mempunyai rincian tugas;
a. Mengoordinasikan penyusunan rencana kerja Bidang
Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan
Hidup berdasarkan Renstra, data dan informasi yang
ada serta peraturan yang berlaku sebagai pedoman
dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada
bawahan sesuai dengan bidang tugasnya agar
terwujud kinerja yang baik pada bawahan dan tugas
Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan
Lingkungan Hidup dapat selesai dengan baik dan
tepat waktu.;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada para
bawahan agar pekerjaan Bidang Pengendalian
Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai peraturan
yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan,
kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-
78
bahan lainnya yang berhubungan dengan tugas
Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan
Lingkungan Hidup melalui informasi dan sumber
data yang adauntuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kerja;
e. Membina pelaksanaan pemantauan kualitas air;
f. Membina pelaksanaan pemantauan kualitas udara;
g. Membina pelaksanaan pemantauan kualitas tanah;
h. Membina pelaksanaan pemantauan kualitas pesisir
dan laut;
i. Membina penentuan baku mutu lingkungan;
j. Mengarahkan penyiapan sararana prasarana
pemantauan lingkungan (laboratorium lingkungan);
k. Mengoordinasikan pelaksanaan pemantauan sumber
pencemar institusi dan non institusi;
l. Mengoordinasikan pelaksanaan penanggulangan
pencemaran (pemberian informasi, pengisolasian serta
penghentian) sumber pencemar institusi dan non
institusi;
m. Mengarahkan pelaksanaan pemulihan pencemaran
(pembersihan, remidiasi, rehabilitasi dan restorasi)
sumber pencemar institusi dan non institusi;
79
n. Membina penentuan baku mutu sumber pencemar;
Seksi Pemantauan Lingkungan
Seksi Pemantauan Lingkungan mempunyai tugas
pokok melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi
Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan
Lingkungan Hidup di bidang pemantauan lingkungan.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud
diatas, Kepala Seksi Pemantauan Lingkungan mempunyai
rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Pemantauan
Lingkungan berdasarkan Renstra, data dan informasi
yang ada serta peraturan yang berlaku sebagai
pedoman dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Seksi Pemantauan
Lingkungan dapat selesai dengan baik dan tepat
waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada bawahan
agar pekerjaan Seksi Pemantauan Lingkungan dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai peraturan
yang berlaku;
80
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi
Pemantauan Lingkungan melalui informasi dan sumber
data yang adauntuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Pemantauan Lingkungan dengan berpedoman
pada peraturan perundang-undangan yang berlaku agar
dapat digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan
pekerjaan;
f. Melaksanakan pemantauan kualitas air ;
g. Melaksanakan pemantauan kualitas udara;
h. Melaksanakan pemantauan kualitas tanah;
i. Melaksanakan pemantauan kualitas pesisir dan laut;
j. Membimbing pelaksanaan penentuan baku mutu
lingkungan;
k. Mengontrol penyiapan sarana dan prasarana
pemantauan lingkungan (laboratorium lingkungan);
l. Mengevaluasi dan menilai kinerja/prestasi bawahan
berdasarkan pelaksanaan tugas yang diserahkan untuk
81
peningkatan kinerja dan sebagai bahan pembinaan
kepegawaian;
Seksi Pengendalian Pencemaran Lingkungan
Seksi Pengendalian Pencemaran Lingkungan
mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas
pokok dan fungsi Bidang Pengendalian Pencemaran dan
Kerusakan Lingkungan Hidup di bidang pencemaran
lingkungan.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud diatas, Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran
Lingkungan mempunyai rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Pengendalian
Pencemaran Lingkungan berdasarkan Renstra, data
dan informasi yang ada serta peraturan yang berlaku
sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Seksi
Pengendalian Pencemaran Lingkungan dapat selesai
dengan baik dan tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada bawahan
agar pekerjaan Seksi Pengendalian Pencemaran
82
Lingkungan dapat dilaksanakan dengan baik dan
benar sesuai peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi
Pengendalian Pencemaran Lingkunganmelalui informasi
dan sumber data yang adauntuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Pengendalian Pencemaran Lingkungan dengan
berpedoman pada peraturan perundang-undangan yang
berlaku agar dapat digunakan sebagai dasar dalam
melaksanakan pekerjaan;
f. Melaksanakan pemantauan sumber pencemar institusi
dan non institusi;
g. Mengontrol pelaksanaan penanggulangan pencemaran
(pemberian informasi, pengisolasianserta penghentian)
sumber pencemar institusi dan non institusi;
h. Mengontrol pelaksanaan pemulihan pencemaran
(pembersihan, remidiasi, rehabilitasi dan restorasi)
sumber pencemar institusi dan non institusi;
i. Menentukan baku mutu sumber pencemaran;
83
Seksi Kerusakan Lingkungan
Seksi Kerusakan Lingkungan mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Bidang
Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan
Hidup di bidang kerusakan lingkungan.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud
diatas, Kepala Seksi Kerusakan Lingkungan mempunyai
rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Kerusakan Lingkungan
berdasarkan Renstra, data dan informasi yang ada
serta peraturan yang berlaku sebagai pedoman dalam
melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Seksi Kerusakan
Lingkungan dapat selesai dengan baik dan tepat
waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada bawahan
agar pekerjaan Seksi Kerusakan Lingkungan. dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai peraturan
yang berlaku;
84
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi
Kerusakan Lingkunganmelalui informasi dan sumber
data yang adauntuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Kerusakan Lingkungan dengan berpedoman
pada peraturan perundang-undangan yang berlaku agar
dapat digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan
pekerjaan;
f. Mengontrol penentuan kriteria baku kerusakan
lingkungan;
g. Melaksanakan pemantauan kerusakan lingkungan;
h. Mengontrol pelaksanaan penanggulangan (pemberian
informasi, pengisolasian serta penghentian) kerusakan
lingkungan;
6. Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas
Lingkungan Hidup
Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas
Lingkungan Hidupmempunyai tugas pokok melaksanakan
sebagian tugas pokok dan fungsi Dinas di bidang
85
penaatan dan peningkatan kapasitas lingkungan hidup
yang meliputi pengaduan dan penyelesaian sengketa
lingkungan, penegakan hukum lingkungan dan
peningkatan kapasitas lingkungan hidup;
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud diatas, Kepala Bidang Penaatan dan
Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup mempunyai
rincian tugas:
a. Mengoordinasikan penyusunan rencana kerja Bidang
Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan
Hidup berdasarkan Renstra, data dan informasi yang
ada serta peraturan yang berlaku sebagai pedoman
dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas Bidang Penaatan
dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup dapat
selesai dengan baik dan tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada para
bawahan agar pekerjaan Bidang Penaatan dan
Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup dapat
86
dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai peraturan
yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan, kebijakan
teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-bahan
lainnya yang berhubungan dengan tugas Bidang
Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan
Hidup melalui informasi dan sumber data yang
adauntuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
kerja;
e. Mengarahkan penyusunan kebijakan tentang tata cara
pelayan pengaduan dan penyelesaian pengaduan
masyarakat;
f. Mengoordinasikan fasilitasi penerimaan pengaduan atas
usaha atau kegiatan yang tidak sesuai dengan izin
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
g. Mengarahkan pelaksanaan penelaahan dan verifikasi
atas pengaduan;
h. Mengarahkan penyusunan rekomendasi tindaklanjut
hasil verifikasi pengaduan;
i. Mengoordinasikan pelaksanaan bimbingan teknis,
monitor ingdan pelaporan atas hasil tindak lanjut
pengaduan;
87
Seksi Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa
Lingkungan Hidup
Seksi Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa
Lingkungan Hidup mempunyai tugas pokok
melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi Bidang
Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup
di bidang pengaduan dan penyelesaian sengketa
lingkungan.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud diatas, Kepala Seksi Pengaduan dan
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidupmempunyai
rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Pengaduan dan
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup
berdasarkan Renstra, data dan informasi yang ada
serta peraturan yang berlaku sebagai pedoman dalam
melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada
bawahan sesuai dengan bidang tugasnya agar
terwujud kinerja yang baik pada bawahan dan tugas
Seksi Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa
88
Lingkungan Hidup dapat selesai dengan baik dan
tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada
bawahan agar pekerjaan Seksi Pengaduan dan
Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai peraturan
yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan,
kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-
bahan lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi
Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa Lingkungan
Hidupmelalui informasi dan sumber data yang
adauntuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Pengaduan dan Penyelesaian Sengketa
Lingkungan Hidup dengan berpedoman pada
peraturan perundang-undangan yang berlaku agar
dapat digunakan sebagai dasar dalam melaksanakan
pekerjaan;
f. Menyusun kebijakan tentang tata cara pelayanan
pengaduan dan penyelesaian pengaduan masyarakat;
89
g. Mengontrol pelaksanaan fasilitasi penerimaan
pengaduan atas usaha atau kegiatan yang tidak
sesuai denganizin perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup;
➢ Seksi Penegakan Hukum Lingkungan
Penegakan Hukum Lingkungan mempunyai tugas
pokok melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi
Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas
Lingkungan Hidup di bidang penegakan hukum
lingkungan.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana
dimaksud diatas, Kepala Seksi Penegakan Hukum
Lingkunganmempunyai rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Penegakan Hukum
Lingkungan berdasarkan Renstra, data dan
informasi yang ada serta peraturan yang berlaku
sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada
bawahan sesuai dengan bidang tugasnya agar
90
terwujud kinerja yang baik pada bawahan dan
tugas Seksi Penegakan Hukum Lingkungan dapat
selesai dengan baik dan tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada
bawahan agar pekerjaan Seksi Penegakan Hukum
Lingkungan dapat dilaksanakan dengan baik dan
benar sesuai peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan,
kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk serta
bahan-bahan lainnya yang berhubungan dengan
tugas Seksi Penegakan Hukum Lingkunganmelalui
informasi dan sumber data yang adauntuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Penegakan Hukum Lingkungan dengan
berpedoman pada peraturan perundang-undangan
yang berlaku agar dapat digunakan sebagai dasar
dalam melaksanakan pekerjaan;
f. Menyusun kebijakan pengawasan terhadap usaha dan
atau kegiatan yang memiliki izin lingkungan dan izin
perlindungan dan pengelolaan lingkungan;
91
g. Mengontrol pelaksanaan pengawasan terhadap
penerima izin lingkungan dan izin perlindungan
dan pengelolaan lingkungan;
Seksi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup
Seksi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup
mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas
pokok dan fungsi Bidang Penaatan dan Peningkatan
Kapasitas Lingkungan Hidup di bidang peningkatan
kapasitas lingkungan hidup.
Dalam menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud
diatas, Kepala Seksi Peningkatan Kapasitas Lingkungan
Hidupmempunyai rincian tugas:
a. Menyusun rencana kerja Seksi Peningkatan Kapasitas
Lingkungan Hidup berdasarkan Renstra, data dan
informasi yang ada serta peraturan yang berlaku
sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas;
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada
bawahan sesuai dengan bidang tugasnya agar
terwujud kinerja yang baik pada bawahan dan tugas
92
Seksi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup
dapat selesai dengan baik dan tepat waktu;
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada
bawahan agar pekerjaan Seksi Peningkatan Kapasitas
Lingkungan Hidup dapat dilaksanakan dengan baik
dan benar sesuai peraturan yang berlaku;
d. Mempelajari peraturan perundang-undangan,
kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk serta bahan-
bahan lainnya yang berhubungan dengan tugas Seksi
Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidupmelalui
informasi dan sumber data yang adauntuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kerja;
e. Merumuskan kebijakan teknis pelaksanaan pekerjaan
Seksi Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup
dengan berpedoman pada peraturan perundang-
undangan yang berlaku agar dapat digunakan sebagai
dasar dalam melaksanakan pekerjaan;
f. Menyusun kebijakan pengakuan keberadaan
masyarakat hukum adat, kearifan lokal
ataupengetahuan tradisional dan hak kearifan lokal
atau pengetahuan tradisional dan hak MHA terkait
93
dengan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan
Hidup;
g. Mengontrol pelaksanaan identifikasi, verifikasi dan
validasi serta penetapan pengakuan keberadaan
masyarakat hokumadat,kearifanlocal atau pengetahuan
tradisional dan hak kearifan lokal atau pengetahuan
tradisional dan hak MHA terkait dengan
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup;
7. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas
melaksanakan sebagian tugas Dinas sesuai dengan
keahlian dan kebutuhan.
Kelompok Jabatan Fungsional sebagaimana tersebut
diatas, dipimpin oleh seorang tenaga fungsional senior
yang ditunjuk.
Jumlah tenaga Fungsional ditentukan berdasarkan
kebutuhan dan beban kerja.
94
8. UPTD
Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Dinas
Lingkungan Hidup dan Kebersihan mempunyai satu
kepala UPTD dan satu sub bagian tata usaha dan tugas
pokok melaksanakan sebagian tugas pokok dan fungsi
UPTDLaboratorium, Kebersihan, TPA,Taman dan
Pemakaman.
Kepala UPTD memiliki tugas sebagai berikut :
a. Merencanakan pembagunan yang menjadi kewenangan
UPTD yang sejalan dengan rencana dan strategi
pembangunan pada dinas.
b. Menggerakan organisasi UPTD yang dipimpinnya
sesuai dengan rencana dan strategi pembangunan yang
telah disusun untuk tercapainya tujuan.
c. Mengkoordinasikan seluruh kegiatan dan program
pembangunan yang menjadi tanggung jawab UPTD.
d. Merumuskan kebijakan teknis pembangunan yang
menjadi tanggung jawab UPTD dengan berpedoman
pada peraturan perundang – undangan yang berlaku
agar dapat digunakan sebagai dasar dan pedoman
dalam melaksanakan pekerjaan.
95
e. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas UPTD dapat
selesai dengan baik dan tepat waktu.
f. Menghimpun dan mempelajari peraturan perundang –
undangan kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk serta
bahan-bahan lainya yang berhubungan dengan tugas
UPTD melalui informasi dan sumber data yang ada
untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
kerja.
g. Memeriksa, mengecek, mengoreksi dan mengontrol
serta mengesahkan hasil kerja bawahan berdasarkan
ketentuan yang berlaku.
h. Mengkaji, meneliti dan mengevaluasi program kerja
UPTD berdasarkan realisasi pelaksanaan program untuk
mengetahui tingkat keberhasilan kegiatan dan dalam
rangka merencanakan program lanjutan i. Mengawasi
pelaksanaan tugas UPTD secara berjenjang agar
pelaksanaan tugas UPTD dapat terlaksana sesuai
dengan yang diharpkan.
96
Sub bagian tata usaha UPTD memiliki tugas pokok
sebagai berikut :
a. Menyusun rencana kerja sub bagian tata usaha
berdasarkan renstra dinas, data dan informasi yang ada
serta peraturan yang berlaku sebagai pedoman dalam
melaksanakan tugas.
b. Mengatur dan mendistribusikan tugas kepada bawahan
sesuai dengan bidang tugasnya agar terwujud kinerja
yang baik pada bawahan dan tugas sub bagian tata
usaha dapat selesai dengan baik dan tepat waktu.
c. Memberikan petunjuk dan bimbingan kepada bawahan
agar pekerjaan sub bagian tata usaha dapat
dilaksanakan dengan baik dan benar sesuai peraturan
yang berlaku.
d. Menghimpun dan mempelajari peraturan perundang –
undangan kebijakan teknis, pedoman dan petunjuk serta
bahan – bahan lainya yang berhubungan dengan tugas
sub bagian tata usaha melalui informasi dan sumber
data yang ada untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan kerja.
97
e. Mengatur kegiatan ketatalaksanaan yang meliputi surat
menyurat, penggandaan dan pengelolaan kearsipan
sesuai dengan petunjuk teknis adminiterasi perkantoran.
f. Melaporkan kegiatan sub bagian tata usaha berdasarkan
hasil pelaksanaan tugas sebagai bahan informasi dan
pertanggungjawaban palaksanaan tugas
Sumber Daya Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan
Sumberdaya manusia merupakan salah satu unsur
penting yang harus dimiliki oleh instansi/badan usaha,
karena kinerja para pegawai akan menentukan tingkat
kinerja instansi/badan usaha tersebut.
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten
Berau memiliki Pegawai Negeri Sipil berjumlah 88 orang,
dimana 70 orang diantaranya adalah laki – laki dan 18
orang diantaranya perempuan. Berdasarkan golongan,
Jumlah terbanyak PNS di lingkungan Dinas Lingkungan
Hidup dan Kebersihan Kabupaten Berau adalah Golongan
II yang berjumlah 31 orang atau 35 % dari jumlah
keseluruhan pegawai. Berikut Tabel Pegawai Negeri Sipil
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kabupaten
Berau.
98
Table 1
Rekapitulasi Pegawai Berdasarkan Golongan dan
Gander
Gender
Golongan Jumlah
Laki-laki perempuan
(1) (2) (3) (4)
IV 9 1 10
III 20 9 29
II 32 0 32
I 16 4 20
Jumlah 77 14 91
Sumber : Data Kepegawaian Dinas Lingkungan Hidup dan
Kebersihan Kabupaten Berau 2021
Tabel 2
Rekapan Pegawai Berdasarkan Pendidikan dan Gender
Pegawai
Gender
Usia Jumlah
Laki-laki Perempuan
(1) (2) (3) (4)
STRATA 3 0 0 0
STRATA 2 5 2 7
STRATA 1/D IV 17 8 25
DIPLOMA III 3 1 4
99
DIPLOMA II 0 0 0
DIPLOMA I 0 0 0
STLA 34 0 34
STLP 13 0 13
SD 5 3 8
JUMLAH 77 14 91
Sumber : Data Kepegawaian Dinas Lingkungan Hidup dan
Kebersihan Kabupaten Berau 2021
Dari keseluruhan PNS dilingkungan Dinas Lingkungan Hidup
dan kebersihan Kabupaten Berau, 27 orang.
100
BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Analisis
1. Uji Validitas
Uji validitas item pernyataan dilakukan dengan
menggunakan bantuan program SPSS versi 26. uji
validitas dilakukan dengan membandingkan nilai r-hitung
(nilai Pearson Correlation hasil output SPSS) dengan
r-tabel (α=0,05/uji dua arah, df = n-2 = 56-2 = 54).
Setiap item pernyataan dinyatakan valid jika r-hitung
> r-tabel dan sebaliknya jika r-hitung < r-tabel maka
item pernyataan tidak valid.
a. Komunikasi (X)
Variabel harga terdiri dari 3 item pernyataan.
Pada tabel berikut disajikan rekapan hasil uji validitas
menggunakan program SPSS (hasil output SPSS secara
rinci disajikan pada bagian lampiran).
101
Tabel 5.1.
Validitas Item Pernyataan Mengenai Komunikasi
Nilai
Variabel Nilai r
Indikator r Keterangan
Hitung Tabel
X.1 0,729 0,2632 Valid
Komunikasi
X.2 0,866 0,2632 Valid
(X)
X.3 0,843 0,2632 Valid
Sumber data: Output SPSS, diolah, 2022.
b. Kinerja Karyawan (Y)
Variabel Kinerja Karyawan terdiri dari 3 item
pernyataan. Pada tabel berikut disajikan rekapan
hasil uji validitas menggunakan program SPSS
(hasil output SPSS secara rinci disajikan pada
bagian lampiran).
Tabel 5.2
Validitas Item Pernyataan Mengenai Kinerja Karyawan
Nilai r Nilai r
Variabel Indikator Keterangan
Hitung Tabel
Kinerja Y.1 0,807 0,2632 Valid
Karyawan
Y.2 0,788 0,2632 Valid
(Y)
Y.3 0,774 0,2632 Valid
Sumber data: Output SPSS, diolah, 2022
102
Tabel di atas menunjukan bahwa semua item
pernyataan pada variabel kinerja karyawan adalah valid,
karena korelasi item-item pernyataan terhadap variabel
yang mempunyai nilai r-hitung lebih besar dari r-tabel
merupakan item pernyataan yang valid dalam
menjelaskan variabelnya.
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan
bantuan program Statistical Package for Social Science
(SPSS), yang akan memberikan fasilitas untuk mengukur
reliabilitas dengan uji stastitik Cronbach Alpha (α).
Reliabilitas sesungguhnya ialah alat guna mengukur kuisioner
yang masuk indikator dari sampel ataupun kontruk. Sebuah
kuisioner dinyatakan handal bila jawaban individu pada
pernyataan antar waktu tetap (Ghozali,2018). Diuji
menggunakan tehnik alpha Cronbach. Guna melakukan uji
reliabelitas hanyalah dapat mnggunakan uji statistik Cronbach
alpa memiliki kriteria :
a. Pada nilai Cronbach alpha > 0,60 dikatakan reliabel.
b. Pada nilai Cronbach alpha < 0,60 tidak dapat
dikatakan reliabel.
103
Pada tabel berikut disajikan rekapan hasil uji
reliabilitas menggunakan program SPSS (hasil output
SPSS secara rinci disajikan pada bagian lampira
Tabel 5.3
Reliabilitas Variabel
Croncbach
Variabel Standar Keterangan
Alpha
Komunikasi
0,60 0,746 Reliabel
(X)
Kinerja
Karyawan 0,60 0,689 Reliabel
(Y)
Sumber data: Output SPSS, diolah, 2022
Semua variabel penelitian sebagaimana pada tabel
di atas mempunyai nilai Cronbach’s Alpha lebih besar
dari 0,60 sehingga dapat dikatakan bahwa semua item-
item pernyataan yang digunakan dalam masing-masing
variabel penelitian ini telah memenuhi unsur reliabilitas.
3. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk
melihat sejauh mana pengaruh variabel Komunikasi
Terhadap Kinerja Karyawan Dinas Lingkungan Hidup dan
Kebesihan Kabupaten Berau. Hasil uji yang dilakukan
dengan menggunakan program SPSS disajikan pada
104
tabel berikut (hasil output SPSS secara rinci disajikan
pada bagian lampiran)
Tabel 5.4
Hasil Uji Regresi Linier Berganda
S
u Coefficients a
m
b Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
eModel t Sig.
r Std.
B Beta
Error
d (Constant) 5.082 1.127 4.511 .000
a1
t KOMUNIKASI .536 .097 .602 5.534 .000
aa. Dependent Variable: KINERJA KARYAWAN
:
Output SPSS, diolah, 2022.
Hasil analisis regresi sebagaimana pada Tabel 17,
maka dapat dibuat persamaan regresi linier berganda
sebagai berikut:
Y = a +b1x1+e
Y = 5,082 + 0,536
Persamaan tersebut di atas dapat diinterpretasikan
sebagai berikut:
1. Konstanta Positif berjumlah 5,082 sehingga variabel Kinerja
Karyawan (Y) bernilai positif 5,082.
105
2. Variabel Komunikasi (X)
Nilai koefisien regresi variabel Komunikasi (X) sebanyak
0,536 Sehingga ketika komunikasi meningkat sebanyak 1,
Kinerja Karyawan dapat meningkat sebesar 0,536.
4. Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi berguna untuk mengukur tingkat
korelasi atau keeratan hubungan antara komunikasi
terhadap kinerja karyawan Dinas Lingkungan Hidup dan
Kebesihan Kabupaten Berau. Berikut disajikan hasil
analisis koefisien korelasi (hasil output SPSS secara
rinci disajikan pada bagian lampiran).
Tabel 5.5
Hasil Uji Korelasi dan Determinasi
Model Summaryb
Std.
Error of
Adjusted the
Model R R Square R Square Estimate
1 .602 a 0,362 0,350 1,51189
a. Predictors: (Constant), KOMUNIKASI
b. Dependent Variable: KINERJA KARYAWAN
Sumber data: Output SPSS, diolah, 2022
Hasil analisis dengan program SPSS sebagaimana
Tabel 5.5 di atas menunjukkan bahwa nilai koefisien
korelasi (R) sebesar 0,602. Hal ini menunjukan bahwa
106
komunakasi terhadap kinerja karyawan mempunyai hubungan
korelasi yang kuat, sebagaimana kriteria yang diberikan
oleh Suharyadi dan Purwanto (2011:162) yaitu: Nilai
korelasi 0,60 -0,799.
5. Koefisien Determinasi
Analisis ini digunakan untuk mengetahui besarnya
kemampuan variabel Komunikasi dalam menerangkan
variabel Kinerja Karyawan Dinas Lingkungan Hidup dan
Kebesihan Kabupaten Berau. Hasil analisis dengan
program SPSS sebagaimana Tabel 5.5 di atas
menunjukan bahwa nilai koefisien determinasi atau R
Square sebesar 0,362. Hal ini menunjukan bahwa
Komunikasi mampu menerangkan atau memberi pengaruh
pada Kinerja Karyawan Dinas Lingkungan Hidup dan
Kebesihan Kabupaten Berau sebesar 36,2%. Sedangkan
sisanya sebesar 63,8% diterangkan oleh faktor-faktor
lainnya selain variabel yang digunakan dalam penelitian
ini.
6. Uji t (uji signifikan parsial)
Analisis ini digunakan untuk mengetahui tingkat
signifikan pengaruh Komunikasi terhadap kinerja karyawan
Parfum secara parsial.
107
Tabel 5.6
Hasil Ujian t
Coefficients a
Standardi
zed
Unstandardized Coefficie
Coefficients nts
Std.
Model B Error Beta t Sig.
1 (Constant 5.082 1.127 4.511 .000
)
KOMUN .536 .097 .602 5.534 .000
IKASI
a. Dependent Variable: KINERJA KARYAWAN
Sumber data: Output SPSS, diolah, 2022
Hasil output SPSS sebagaimana pada Tabel 5.6,
selanjutnya dilakukan pengujian masing-masing variabel
bebas terhadap variabel terikat, dengan kriteria sebagai
berikut:
Hipotesis secara parsial pada penelitian yaitu :
1. Pengaruh Komunikasi terhadap Kinerja Karyawan
Ho : Tidak ada pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja
Karyawan.
108
Ha : Ada pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja Karyawan.
Kesimpulan pengujian :
1) Jika t-hitung > t-tabel maka Ha diterima dan Ho
ditolak.
2) Jika t-hitung < t-tabel atau maka Ha ditolak dan
Ho diterima.
B. Pembahasan
Hasil pengujian pengaruh Komunikasi Terhadap Kinerja
Karyawan:
Variabel Komunikasi memiliki hasil uji t yang menunjukkan
nilai signifikan Komunikasi sebesar 0,000, dimana nilai
signifikan ini lebih kecil dari nilai probabilitas (0,05).
Dengan nilai t-hitung yang diperoleh 5,534 sedangkan nilai t-
tabel yaitu 1,67356 . Nilai t-hitung yang lebih besar dari
nilai t-tabel dan nilai signifikan yang lebih kecil dari 0,05,
menunjukkan bahwa komunikasi secara parsial memiliki
pengaruh signifikan terhadap Kinerja Karyawan Dinas Lingkungan
Hidup dan Kebesihan Kabupaten Berau.
Dari hasil uji t diatas dapat diketahui bahwasanya variabel
Komunikasi sangat memberi pengruh terhadap Kinerja Karyawan
Dinas Lingkungan Hidup dan Kebesihan Kabupaten Berau.
109
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Hasil analisis dan pembahasan yang telah diuraikan pada bab
terdahulu, maka dapat diambil kesimpulan dalam penelitian ini sebagai
berikut :
1. Hasil uji t menunjukkan bahwa komunikasi memberikan pengaruh
secara signifikan terhadap kinerja karyawan pada Dinas Lingkungan
Hidup dan Kebesihan Kabupaten Berau.
2. Hasil analisis linear sederhana menunjukkan bahwa komunikasi
memberikan pengaruh terhadap kinerja karyawan pada Dinas
Lingkungan Hidup dan Kebesihan Kabupaten Berau.
B. Saran
Diharapkan para Karyawan yang bekerja di Dinas Lingkungan
Hidup dan Kebesihan Kabupaten Berau selalu saling berinteraksi dan
bertukar informasi, menerima saran dan masukan baik dengan sesama
Karyawan maupun dengan atasan (pemimpin). Selalu kompak dan
solid demi kualitas pada Kinerja Karyawan yang baik kedepannya.