ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PENGELOLAAN
ANGGARAN DANA KAMPUNG (ADK) DI KAMPUNG MALUANG
KECAMATAN GUNUNG TABUR
Disusun Oleh :
DESIANA
19600007
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BERAU
2023
ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PENGELOLAAN
ANGGARAN DANA KAMPUNG (ADK) DI KAMPUNG MALUANG
KECAMATAN GUNUNG TABUR
DESIANA
NIM : 19600007
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk
Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Pada Universitas
Muhammahdiah Berau
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BERAU
2023
i
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI
Judul Skripsi : Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Pengelolaan
Anggaran Dana Kampung(ADK) Di Kampung
Maluang Kecamatan Gunung Tabur
Nama Mahasiswa : Desiana
NIM : 19600007
Jurusan/Program Studi : Ekonomi Pembangunan
Menyetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II
Dr. H. Muhammad Bayu, Drs, MM Diah Riyani, [Link],[Link]
NIP. 19580821 198703 1 008 NIDN. 1124017301
Mengesahkan :
Rektor Universitas Muhammadiyah Berau
Dr. H. Muhammad Bayu, Drs, MM
NIP. 19580821 198703 1 008
ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI
Saya yang bertanda tangan dibawah ini :
Nama : Desiana
Nim : 19600007
Jurusan : Ekonomi Pembangunan
Perguruan : Universitas Muhammadiyah Berau
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi :
Judul : Analisis Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan
Anggaran Dana Kampung (ADK) Di Kampung
Maluang Kecamatan Gunung Tabur
Adalah merupakan hasil penelitian yang telah saya lakukan. Segala kutipan dan
bantuan dari berbagai sumber telah diungkapakan sebagaimana mestinya. Skripsi ini
belum pernah dipublikasikan untuk keperluan lain dan oleh siapapun juga. Apabila ada
dikemudian hari ternyata pernytaan saya ini tidak benar, maka saya bersedia menerima
sanksi dari tidak benaran pernyataan tersebut.
Tanjung Redeb, 23 Februari 2023
Yang membuat pernyataan,
Desiana
Nim 19600007
iii
RINGKASAN
Desiana, Analisis Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Anggaran Dana Kampung
(ADK) Di Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur, di bawah bimbingan Bapak
Dr. H. Muhammad Bayu, Drs, MM sebagai pembimbing satu dan Ibu Diah Riyani,
[Link],[Link] sebagai pembimbing dua.
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis yaitu Analisis
Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Anggaran Dana Kampung (ADK) Di Kampung
Maluang Kecamatan Gunung Tabur. Penelitian ini dilakukan kepada Seksi keuangan
sebagai responden pengambilan data.
Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan, antara Efektivitas dan Efisiensi terhadap pengelolaan anggaran dana
kampung (ADK) di Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur yang di tunjukkan
Efektif sebesar 95,73. Hal ini berarti bahwa pengelolaan anggaran dana kampung di
pengaruhi efisiensi sebesar 49,01 % .
Dengan demikian bahwa hipotesis yang dikemukakan dapat diterima.
Kata kunci : Efektivitas dan Efisiensi, Anggaran Dana Kampung (ADK)
iv
RIWAYAT HIDUP
A. DATA PRIBADI
1. Nama Penulis : Desiana
2. Tempat/Tgl. Lahir : Tarakan, 30 Desember 2000
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Agama : Kristen
5. Pekerjaan : Mahasiswa
6. Alamat : Jl. Poros Bulungan gg. Perjuangan rt.5
Paribau
7. Riwayat Pendidikan : 1. Tamat SD Tahun 2012
2. Tamat SMP Tahun 2015
3. Tamat SMA Tahun 2018
4. Kuliah di Universitas Muhammadiyah
Berau 2019
8. Riwayat Pekerjaan :
B. DATA ORANG TUA
9. Nama Ayah : Julius Songgo
10. Nama Ibu : Martha Pongliku
C. DATA SAUDARA
1. Nama Adik : 1. Julita
2. Michel
3. Jesika
v
KATA PENGANTAR
Dengan mamanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,
karena berkat Rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi dengan judul “ Analisis Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Anggaran
Dana Kampung(ADK) di Desa Maluang Kecamatan Gunung Tabur” merupakan
salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E) Jurusan Ekonomi
Pembangunan pada Universitas Muhammadiyah Berau.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada:
1. Rektor Universitas Muhammadiyah Berau beserta seluruh staf pengajar dan
staf akademik yang telah mendidik dan membimbing penulis salama
dibangku kuliah.
2. Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Berau
3. Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Berau.
4. Bapak [Link] Bayu,Drs,MM dan Ibu Diah Riyani,[Link],[Link]
sebagai pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan
bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.
5. Kepada bapak dan ibu, kakak-kakak serta seluruh keluarga tercinta yang
telah memberikan bantuan baik berupa materi maupun moral yang berupa
do’a restunya.
vi
6. Kepada teman-teman dari Ekonomi Pembangunan yang telah memberikan
bantuan serta dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan
skripsi ini.
7. Kepada teman saya Ervina Apriani yang telah memberikan bantuan yaitu
membantu dalam hal ngeprint kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
8. Kepada teman dekat saya Jimboy yang telah memberikan bantuan dan
dorongan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
Akhirnya penulis memanjatkan do’a kehadirat Tuhan Yang maha Esa
semoga amal baik dan segala bantuan yang diberikan kepada penulis
mendapat balasan-Nya. Amin
Tanjung Redeb,12 Januari 2023
Desiana
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .............................................................................. i
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ................................. iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ........................ iv
RINGKASAN ......................................................................................... v
RIWAYAT HIDUP ............................................................................... vi
KATA PENGANTAR ........................................................................... vii
DAFTAR ISI .......................................................................................... viii
DAFTAR TABEL .................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. x
BAB I : PENDAHULUAN ................................................... 1
A. Latar Belakang..................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................... 9
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ......................... 9
D. Sistematika Penulisan .......................................... 10
BAB II : KAJIAN PUSTAKA ............................................... 12
A. Kajian Teori ......................................................... 12
B. Kajian Empiris ..................................................... 38
C. Kerangka Pikir Penelitian .................................... 40
D. Hipotesis .............................................................. 41
BAB III : METODE PENELITIAN ....................................... 43
A. Definisi Operasional ............................................ 43
B. Unit Analisis, Populasi dan Sampel .................... 44
C. Jenis dan Sumber Data ........................................ 45
D. Metode Pengumpulan Data ................................. 45
E. Alat Analisis ........................................................ 46
viii
BAB IV : HASIL PENELITIAN ............................................ 60
A. Gambaran Umum Objek Penelitian .................... 60
B. Data Hasil Penelitian ........................................... 64
BAB V : ANALISIS DAN PEMBAHASAN ........................ 69
A. Analisis ................................................................ 69
B. Pembahasan ......................................................... 77
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN ............................... 80
A. Kesimpulan .......................................................... 80
B. Saran .................................................................... 81
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ix
DAFTAR TABEL
Nomor Tubuh utama Halaman
1 Kriteria efektivitas pengelolaan ADK ............................... 47
2 Kriteria efisiensi pengelolaan ADK .................................. 48
3 Klasifikasi Tipologi Klassen Pajak/Retrubusi Daerah ...... 51
4 Nama-nama Kepala Kampung Yang Pernah Menjabat..... 62
5 Rincian Anggaran Dana Kampung Maluang .................... 66
6 Realisasi Belanja Kampung ............................................... 67
7 Tingkat Efektivitas Anggaran Dana Kampung ................ 72
8 Tingkat Efisiensi Anggaran Dana Kampung ..................... 76
x
DAFTAR GAMBAR
Nomor Tubuh utama Halaman
1 Kerangka berpikir ..................................................... 41
2 Struktur Organisasi Kantor Lurah Maluang ............. 63
xi
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pemerintah Indonesia saat ini berupaya meningkatkan pelaksanaan
pembangunan nasional agar laju pembangunan daerah dan kampung
berjalan dengan seimbang. Strategi pemerintah untuk mengatasi
ketimpangan pembangunan yaitu dengan melaksanakan pembangunan
nasional yang menaruh perhatian besar terhadap pembangunan kampung.
Pemberian otonomi daerah yang seluas-luasnya berarti pemberian
kewenangan kepada kampung untuk mengelola dan memanfaatkan sumber
daya secara optimal agar dapat menyeimbangkan pembangunan antara
kampung/ kota demi kemajuan negara.
Pemerintah kampung dapat meningkatkan kemampuannya untuk
melakukan pembangunan sesuai dengan sumber daya , dapat meningkatkan
kualitas dan efektifitas pelayanan publik. Dalam pelaksanaan otonomi
daerah dapat memberi dampak positif apabila pemerintah kampung
melibatkan masyarakat dalam pembangunan dan memunculkan identitas
masyarakat lokal yang juga berpengaruh terhadap pelayanan masyarakat .
Selain dampak positif , otonomi memiliki dampak negatif dalam
pelaksanaannya yaitu menimbulkan kesempatan kepada pihak oknum
2
ditingkat kampung untuk melakukan pelanggaran yang berakibat
mempengaruhi kegiatan pembangunan. Agar tidak terjadi penyimpangan
dan penyelewengan tersebut harus dibarengi dengan pengawasan yang kuat
oleh pemerintah serta komponen masyarakat.
Undang – undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang
kampung adalah kesatuan , masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan
pemerintah,kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa
masyarakat, hak asal usul, dan hak tradisional yang diakui dan dihormati
dalam sistem pemerintahanNegara Kesatuan Republik Indonesia. Kampung
mempunyai hak untuk mengurus dan mengatur kepentingan masyarakatnya
sendiri sesuai dengan kondisi serta sosial budaya setempat.
Pengelolaan keuangan kampung memiliki prinsip-prinsip atau azas-
azas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri
Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 113 Tahun 2014 tentang
Pengeloalaan Keuangan Desa pasal 2 ayat (1) yang menyatakan bahwa
“Keuangan desa dikelola berdasarkan asas – asas transparan, akuntabel,
partisipasif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.” Dengan
demikian pemerintahan desa khususnya melalui aparatur desa memiliki
tanggung jawab terhadap pengelolaan keuangan desa secara efektif guna
menjalankan pembangunan yang tepat sasaran, dan efisien.
3
Dilihat dari pembangunan masyarakat kampung pada masa lalu yaitu
di era orde baru, pembangunan kampung merupakan pendekatan
pembangunan yang diprogramkan negara secara sentralistik yang dilakukan
pemerintah dengan kemampuan sendiri ( dalam negeri) yang di dukung oleh
negara – negara maju. Pada masa orde baru pembangunan desa di lakukan
secara seragam oleh pemerintah pusat ,Sedangkan pada masa reformasi
pembangunan desa lebih cenderung diserahkan pada desa itu sendiri
dimana pemerintah pusat dan pemerintah daerah cenderung mengambil
posisi dan peran sebagai fasilitator , memberi bantuan dana, pembinaan dan
pengawasan.
Pembangunan daerah tidak telepas dari prinsip otonomi daerah,
Daerah memiliki hak dan tanggung jawab dalam menyelenggarakan
kepentingan masyarakatnya sesuai prinsip keterbukaan, partisipasi dan
peertanggung jawaban terhadap masyarakat. Undang-undang Nomor 22
tahun 1999 mengenai otonomi daerah lahir berdampingan dengan undang-
undang Nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keungan pusat daerah.
Perimbangan keuangan pusat dan daerah tercantum dalam anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN).
Dengan munculnya undang- undang desa semakin memberi
keleluasan kepada desa untuk melakukan perencanaan, pengawasan,
pengendalian dan mengevaluasi kebijakan yang dikeluarkan desa. Banyak
4
sisi positif yang diharapkan dengan munculnya undang-undang desa
tersebut, akan tetapi di sisi lain juga di khawatirkan akan muncul banyak
masalah ketika pemerintah baik pusat maupun daerah tidak menyikapi
dengan baik konsekuensi dengan munculnya undang -undang desa tersebut.
Kampung diberikan kewenangan dan sumber dana yang memadai
agar dapat mengelola potensi yang dimilikinya guna meningkatkan
ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kampung sebagai pemerintahan
yang langsung bersentuhan dengan masyarakat menjadi fokus utama dalam
pembanguan pemerintah, hal ini dikarenakan sebagian besar wilayah
Indonesia adalah pedasaan khususnya di kampung Maluang.
Dana kampung adalah sejumlah anggaran dana yang diberikan
kepada kampung dari pemrintah, dana tersebut berasal dari Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara yang diterima paling sedikit 10% . Dengan
tujuan penggunaan dana desa ini untuk meningkatan kesejahteraan
masyarakat kampung dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan
kemiskinan. Penggunaan dana kampung diprioritaskan untuk membiayai
pembangunan pemenuhan standar pelayanan minimum kampung dan
pemberdayaan masyarakat.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 58 tahun 2005 tentang
pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan daerah menyatakan
pengelolaan keuangan daerah harus dilakukan secara tertib, saat pada
5
peraturan perundang-undangan yang berlaku efisien,efektif, transparan dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan kepatutan dan
manfaat untuk masyarakat. Pengelolaan keuangan daerah yang efektif dan
efisien harus dilakukan secara optimal, karena seringkali realisasi tidak
sesuai target. Menurut Hidayat (1986) Efektivitas adalah suatu ukuran yang
menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah
tercapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai , maka tinggi
efektifitasnya.
Efektivitas sangat penting karena menjadi tolak ukur atas berhasil
atau tidaknya suatu tindakan yang dilakukan, semakin besar usaha yang
diberikan dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, maka suatu
aktivitas/kegiatan tersebut telah mencapai kata efektif. Menurut
sadarmayanti(2014:22) Efisiensi adalah ukuran tingkat penggunaan sumber
daya dalam suatu proses. Semakin hemat atau sedikit penggunaan sumber
daya, maka prosesnya dikatakan semakin efisien. Proses yang efisien
ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih mudah dan lebih
cepat. Efisiensi sangat penting karena menghemat atau mengurangi
penggunaan sumber daya didalam melakukan suatu aktivitas maupun
kegiatan, selain itu efisiensi juga dapat memaksimalkan penggunaan segala
sumber daya yang ada sehingga tidak ada yang terbuang percuma.
6
Kampung maluang merupakan salah satu kampung yang berada
diwilayah Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten Berau. Penduduk
Kampung Maluang awalnya hanya 7 rumah KK dengan jarak rumah yang
jauh-jauh namun dengan bergulirnya waktu semakin bertambah jumlah
penduduknya sehingga dibentuk suatu kampung/desa yang diberi nama
Kampung/Desa Maluang yang mempunyai arti Meluang-luang (Berpencar-
pencar). Kampung Maluang pertama kali dipimpin oleh Punggawa Sejati
(Alm) pada tahun 1935 sampai dengan tahun 1973 kurang lebih 38 tahun.
Pelaporan realisasi penggunaan dana Kampung dilakukan oleh
kepala Kampung kepada bupati/walikota kemudian bupati/walikota
menyampaikan laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan
dana kampung kepada menteri terkait dengan tembusan-tembusan lain telah
dibuat dalam PP No. 60 Tahun 2014. Namun , risiko pelanggaran masih
sering terjadi akibat minimnya pengawasan dan kemungkinan letak
geografis kampung yang cukup jauh dari pusat ibu kota kabupaten /kota
maupun ibu kota provinsi.
Adapun capaian kinerja merupakan tingkat pencapaian target dari
masing-masing indikator yang telah menetapkan dalam dokumen rencana
kerja dan tertuang dalam DPPA untuk masing-masing program dan
kegiatan. Analisis efektivitas dan efisiensi pengelolaan anggaran dana
7
kampung dalam penelitian ini mencoba menggambarkan efektifitas dan
efisiensi pengelolaan dana kampung di desa Maluang [Link] Tabur.
Dari latar belakang masalah maka alasan ketertarikan penelitian ini
dikarenakan :
1. program Anggaran Dana Kampung memiliki implikasi yang sangat
besar dan juga signifikan terhadap pembangunan sebuah
kampung/kelurahan disetiap kabupaten yang ada di Indonesia.
2. Salah satu permasalahan baru yang muncul dengan adanya dana
kampung yaitu tidak sedikitnya masyarakat yang mengkhawatirkan
tentang pengelolaan dana kampung. Hal ini berkaitan dengan kondisi
perangkat kampung yang dianggap masih rendah kualitas SDM-nya.
Dan belum kritisnya masyarakat atas pengelolaan anggaran
pendapatan belanja kampung(APBkampung) sehingga bentuk
pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat tidak dapat maksimal.
3. Adapun dampak dari beberapa kegiatan yang belum terlaksanakan
dikarenakan keterlambatan agaran tersebut dan anggaran pun belum
sesuai dengan perhitungan yang real terhadap variabel yang
dibutuhkan seperti jumlah penduduk dan angka kemiskinan yang
meningkat, Sehingga terjadinya tidak sesuaian anggaran yang didapat
untuk kebutuhan Kampung.
8
Pentingnya dari penelitian ini yaitu dengan melihat kepada manfaat praktis
nantinya akan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kampung maluang apakah
penggunaan anggaran dana kampung dilakukan dengan benar dan tepat serta
dananya digunakan untuk apa saja yang perlu di perbaiki untuk pembangunan
kampung serta dapat dirasakan manfaatnya khususnya pada pembangunan
khususnya perbaikan jalan dan jembatan. Serta sejauh ini dapat dilihat bahwa
pengelolaan anggaran dana kampung maluang tidak ada masalah sehingga bisa
dikategorikan penggunaan anggaran dana kampung sudah dimanfaatkan dengan
benar. Berikut juga akan membahas penelitian sebelumnya untuk membedakan
penelitian terdahulu yang telah dilakukan.
Jadi kelebihan penelitian ini dari penelitian sebelumnya yaitu terletak pada
lokasi penelitian yang penulis pilih yaitu Anggaran Dana Kampung di Kampung
Maluang Kecamatan Gunung Tabur karena belum pernah ada yang membahas atau
meneliti hal tersebut. Perbedaannya juga pada contoh judul penelitian sebelumnya
yaitu “Efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan daerah di Kabupaten
Ngawai” yang lebih berfokus kepada pengelolaan keuangan daerah sedangkan
penelitian penulis lebih berfokus kepada Anggaran Dana Kampung. Serta dalam
penelitian sebelumnya menggunakan metode kualitatif sedangkan penulis
menggunakan metode kuantitatif dalam penelitian penulis.
9
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas latar belakang tersebut, permasalahan
yang ditemukan dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah tingkat efektivitas terhadap pengelolaan anggaran dana
kampung di kampung Maluang ?
2. Apakah pengelolaan anggaran dana kampung di Kampung Malung
sudah sangat efisien ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Berdasarkan dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian
ini adalah :
untuk mengetahui tingkat efektifitas dan efisiensi dalam
pengelolaan Anggaran Dana kampung di kampung Maluang Kecamatan
Gunung Tabur Kabupaten Berau.
Berdasarkan tujuan penelitian tersebut manfaat dari penelitian ini
adalah :
1. Bagi pemerintah, dapat menjadi bahan pertimbangan dan masukan
dalam mengambil kebijakan terkait pengelolaan dana desa agar
tercapainya tujuan dana desa tersebut serta dapat berjalan secara efektif.
2. Bagi masyarakat umum, dapat menambah wawasan dan pengetahuan
tentang pengelolaan dana desa, sehingga kedepannya masyarakat lebih
10
berperan aktif dalam pengelolaan dana desa tersebut dari mulai
perencanaan sampai pertanggung jawaban.
3. Bagi akademis, penemuan-penemuan dari penelitian ini dapat dipakai
sebagai bahan referensi kepustakaan dan diharapkan dapat menjadi
bahan rujukan dan pertimbangan bagi peneliti berikutnya.
D. Sistematika Penulisan
Untuk mempermudah melihat dan mengetahui pembahsan yang ada
pada skripsi ini secara menyeluruh, maka perlu ditemukan sistematika yang
merupakan kerangka dan pedoman penulisan skripsi, adapun sistematika
penulisannya adalah sebagai berikut :
1. Bagian awal skripsi
Bagian awal membuat halaman sampul depan, halam judul, halaman
persetujuan dosen pembimbing, halaman pengesahan, halaman kata
pengantar, halaman daftar isi, halaman daftar tabel, halaman daftar
gambar, halaman daftar lampiran.
2. Bagian Utama Skripsi
Bagian Utama terbagi atas bab dan sub bab yaitu sebagai berikut :
Bab satu, pendahuluan bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan
masalah, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab dua, tinjauan pustaka pada bagian ini penulis akan di tuntut bisa
menyuguhkan definisi atau pengertian dari Kajian teori, Kajian Empiris,
11
Kerangka pikir penelitian , dan hipotesis apa yang diteliti dan di bahas. pada
bagian ini peneliti bisa mengutip dari berbagai sumber dalam penyusunannya
dan sumber tersebut harus sesuai dengan ketentuan penulisan skripsi.
Bab tiga, metode penelitian pada tahap ini sistematika akan berisi
pembahasan tentang metode dari Definisi Operasional, unit analisis, populasi
dan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, dan alat
analisis.
Bab empat, hasil penelitian berisi deskripsi dan analisis data serta
interprestasinya secara lengkap. Yang terdiri dari Gambaran umum objek
penelitian, dan data hasil penelitian.
Bab lima, analisis dan pembahasan pada bab ini akan diuraikan mengenai
bagaimana mereka berhubungan dengan literatur dan implikasinya untuk
digunakan dimasa depan. Pembahasan yang baik akan menjelaskan mengapa
hasil penelitian dan keseluruhan skrip penting.
Bab enam, kesimpulan dan saran merupakan kesimpulan dan hasil
analisis yang telah dilakukan serta saran penulis sebagai masukan bagi
pemerintahan dalam kajian analisis efektifitas dan efisiensi pengelolaan
Anggaran Dana Kampung di Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Pengertian dan Ruang Lingkup Keuangan Daerah
Dalam arti sempit, keuangan daerah yakni terbatas pada hal -hal yang
berkaitan dengan APBD, Oleh karena itu keuangan identik dengan APDB.
Menurut Mamesah dalam Halim (2004:18 ), keuangan daerah dapat
diartikan sebagai “semua hak dan kewajiban pemerintah yang dapat dinilai
dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun
barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah yang lebih tinggi serta pihak
-pihak lain sesuai peraturan perundangan yang berlaku.”
Berdasarkan PP Nomor 58 Tahun 2005, “Tentang Daerah adalah
semua pihak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan
pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya
segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban
tersebut.” Hak dan kewajiban daerah tersebut dapat dikelola dalam suatu
sistem pengelolaan keuangan daerah. Pengelolaan keuangan daerah
merupakan subsistem dari pengelolaan keuangan negara dan merupakan
elemen pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
13
Menurut Halim (2004:20),” Ruang lingkup keuangan daerah terdiri
dari keuangan daerah yang di kelola langsung dan kekayaan daerah yang
dipisahkan. Yang termasuk dalam keuangan yang dikelola langsung adalah
APBD dan barang- barang inventaris milik daerah. Sedangkan keuangan
derah yang dipisahkan meliputi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)”
2. Pengelolaan Keuangan Daerah
Dalam ketentuan umum pada PP Nomor 58 Tahun 2005, “Pengelolaan
keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi
perencanaan,pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggung
jawaban, pengawasan daerah.” Pengelolaan keuangan daerah dalam hal ini
mengandung beberapa kepengurusan dimana kepengurusan khusus atau
juga sering disebut pengurusan bendaharawan. Dalam pengelolaan
anggaran/keuangan daerah harus mengikuti prinsip-prinsip pokok anggaran
sektor publik. Pada permendagri No.27 tahun 2013 tentang pedoman
penyusunan APBD Tahun Anggaran 2013 menyatakan bahwa “ APBD
harus disusun dengan memperhatikan prinsip – prinsip pokok anggaran
sektor publik, sebagai berikut :
a) Sesuai kebutuhan penyelenggaraan pemerintah daerah,
b) Tempat waktu sesuai yang direncanakan,
c) Transparansi
d) Partisipatif
14
3. Pengertian Efektivitas
Kata efektivitas mempunyai beberapa arti, dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia menyebutkan tiga arti efektivitas, arti pertama adalah
adanya suatu adanya suatu efek , akibat, pengaruh dan kesan. Arti yang
kedua manjur dan mujarab dan arti ke tiga dapat membawa hasil atau hasil
guna. Kata efektif di ambil dari kata efek yang artinya akibat atau
pengaruh dan kata efektif yang berarti adanya pengaruh atau akibat dari
suatu unsur. Jadi efektivitas ialah keberpengaruhan atau keberhasilan
setelah melakukan sesuatu. Menurut John. M. Echols dan Hasan Shadily
dalam kamus bahasa Inggris-indonesia secara etimologi efektivitas dari
kata efek yang artinya hasil guna.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia Efektivitas merupakan
keterangan yang artinya ukuran hasil tugas atau keberhasilan dalam
mencapai tujuan. Dapat sedikit dipahami bahwa efektivitas bermaknakan
juga menunjukkan taraf tercapainya tujuan, usaha dikatakan efektif kalau
usaha itu mencapai tujuan.
Selain pengertian dari sudut bahasa, adapun beberapa pengertian
efektivitas menurut parah ahli.
1. Menurut Agung kurniawan efektivitas adalah kemampuan
melaksanakan tugas, fungsi (Operasi kegiatan program atau misi)
15
suatu organisasi atau sejenisnya tanpa adanya tekanan atau
ketegangan diantara pelaksanaannya.
2. Menurut Hidayat, efektivitas adalah suatu ukuran yang
menyatakan seberapa jauh target berupa kualias, kuantitas, dan
waktu telah tercapai dengan prinsip semakin besar presentase
target yang dicapai maka semakin tinggi efektivitas.
3. Menurut Effendy, efektivitas adalah indikator dalam tercapainya
sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya sebagai
sebuah pengukuran dimana suatu target telah tercapai sesuai
dengan apa yang telah direncanakan tersebut.
Dari beberapa pengertian-pengertian efektivitas diatas dapat
disimpulkan bahwa secara umum efektivitas dapat diartikan sebagai adanya
suatu pengaruh, akibat, kesan. Efektivitas tidak hanya sekedar memberi
pengaruh atau pesan akan tetapi berkaitan juga dengan keberhasilan
keberhasilan tujuan, penetapan standar, profesionalitas, penetapan sasaran,
keberadaan program, materi, berkaitan dengan metode atau cara. Sasaran
atau fasilitas dan juga dapat memberikan pengaruh terhadap tujuan yang
akan dicapai.
Ukuran efektivitas , dapat dilihat dan dimulai dari hasil yang telah
dicapai. Apabila output atau hasil yang dicapai sesuai atau mencapai target
sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, maka hal itu dapat dikatakan
16
afektif. Namun sebaliknya dapat dikatakan tidak efektif apabila hasil yang
didapatkan tidak sesuai dengan target sasaran yang telah ditentukan. Untuk
itu diperlukan suatu indikator atau ukuran untuk melihat tingkat efektivitas.
Ukuran efektivitas bermacam-macam antara lain :
a. Indikator Efektivitas
Menurut pendapat David Krech, Richard S. Cruthfied dan Egerton L.
Ballachey dalam Danim (2012:19-120) menyebutkan Indikator Efektivitas
sebagai berikut :
1. Jumlah hasil yang dapat dikeluarkan
Hasil tersebut berupa kuantitas atau bentuk fisik dari organisasi, program
atau kegiatan. Hasil dimaksud dapat dilihat dari perbandingan (rasio) antara
masukan (input) dengan keluaran (output), usaha dengan hasil, persentase
pencapaian program kerja dan sebagainya.
2. Tingkat kepuasan yang diperoleh
Ukuran dalam efektivitas ini dapat kuantitatif (berdasarkan pada jumlah
atau banyaknya) dan dapat kualitatif (berdasarkan pada mutu).
3. Produk kreatif
Penciptaan hubungan kondisi yang kondusif dengan dunia kerja, yang
nantinya dapat menumbuhkan kreatifitas dan kemampuan.
17
4. Intensitas yang akan dicapai
Artinya memiliki ketaatan yang tinggi dalam suatu intens, dimana
adanya rasa saling memiliki dengan kadar yang tinggi.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa efektivitas merupakan suatu
konsep yang sangat penting karena mampu memberikan gambaran mengenai
keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasarannya atau dapat dikatakan
bahwa efektivitas merupakan tingkat tercapainya tujuan dari aktifitas yang telah
dilaksanakan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
b. Pengukuran Efektivitas
Efektivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai
tujuannya. Apabila suatu organisasi berhasil mencapai tujuan, maka
organisasi tersebut dikatakan telah berjalan dengan efektif. Efektivitas
hanya melihat apakah suatu program atau kegiatan telah mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Menurut Mahmudi (2019:86), efektivitas terkait
dengan hubungan antara hasil yang diterapkan dengan hasil yang
sesungguhnya dicapai. Dengan demikian efektivitas dapat dirumuskan :
𝑹𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏
𝑬𝒇𝒆𝒌𝒕𝒊𝒗𝒊𝒕𝒂𝒔 = × 100%
𝑨𝒏𝒈𝒈𝒂𝒓𝒂𝒏 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏
c. Standar Efektivitas
Standar efektivitas menurut Mahsun (2016:187-188) dapat diketahui
efektif atau tidak dengan memenuhi kriteria sebagai berikut :
18
1. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (x < 100% ) berarti tidak
efektif.
2. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (x = 100%) berarti
efektivitas berimbang.
3. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (x > 100%) berarti efektif.
Standar efektivitas menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri
No. 690.900-327 tahun 1996 tentang kriteria penilaian dan
kinerja sebagai sebagai berikut :
a. Hasil peerbandingan atau tingkat pencapaian diatas
100% berarti sangat efektif
b. Perbandingan antara 90% -100% berarti efektif
c. Hasil perbandingan 80% -90% berati cukup efektif
d. Hasil perbandingan 60%-80% berarti kurang efektif
e. Hasil perbandingan dibawah 60% berarti tidak efektif
4. Pengertian Efisiensi
Efisiensi adalah suatu ukuran keberhasilan sebuah kegiatan yang
dinilai berdasarkan besarnya biaya/sumber daya yang digunakan untuk
mencapai hasil yang diinginkan.
Dalam hal ini, semakin sedikit sumber daya yang digunakan untuk
mencapai hasil yang diharapkan maka prosesnya dapat dikatakan semakin
19
efisien. Suatu kegiatan dapat dikatakan efisien jika ada perbaikan pada
prosesnya, misalnya menjadi lebih cepat atau lebih murah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), efisiensi dapat
diartikan sebagai ketepatan cara dalam melakukan sesuatu, dan kemampuan
melaksanakan tugas dengan baik dan tepat tanpa membuang biaya, waktu,
dan tenaga.
Agar lebih memahami apa arti efisiensi, berikut ini adalah pengertian
efisiensi menurut parah ahli :
1. Menurut Mulyamah (1987;3), pengertin efisiensi adalah suatu
ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan masukan
dengan penggunaan yang direalisasikan atau perkataan lain
penggunaan yang sebenarnya.
2. Menurut S. P. Hasibuan (1984;233-4), pengertian efisiensi adalah
perbandingan yang terbaik anatara input (masukan) dan output
(hasil antara keuntungan dengan sumber-sumberyang digunakan),
seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan
sumber yang terbatas. Dengan kata lain hubungan antara apa yang
telah diselesaikan.
3. Menurut Mahmudi (2010) suatu proses yang dilakukan untuk
mengukur dan membandingkan keluaran dan masukan. Atau
20
mengukur perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap
input yang digunakan.
Efisiensi sering dilakukan pada berbagai bidang kehidupan manusia
yang tentunya memiliki tujuan sebagai alasan dilakukannya efisiensi.
Secara umum, tujuan efisiensi adalah sebagai berikut :
1. Untuk mencapai suatu hasil atau tujuan sesuai dengan yang
diharapkan.
2. Untuk menghemat atau mengurangi penggunaan sumber daya
dalam melakukan kegiatan.
3. Untuk memaksimalkan penggunaan segala sumber daya yang
dimiliki sehingga tidak ada yang terbuang percuma.
4. Untuk meningkatkan kinerja suatu unit kerja sehingga output-nya
semakin maksimal.
5. Untuk memaksimalkan keuntungan yang mungkin didapatkan.
Dari penjelasan diatas kita mengetahui bahwa tujuan dari berbagai
upaya efisiensi adalah untuk mencapai efisiensi optimal. Efisiensi optimal
adalah perbandingan terbaik antara pengorbanan yang dilakukan untuk
mendapatkan suatu hasil yang diharapkan.
Syarat tercapainya efisiensi yaitu, manusia selalu berupaya untuk
melakukan efisiensi dalam berbagai bidang kehidupan. Agar upaya efisiensi
dapat dikatakan berhasil maka harus memenuhi beberapa syarat berikut:
21
a) Berhasil guna, yaitu kemampuan suatu unit kerja dalam
mendatangkan hasil dan manfaat. Misalnya, barang yang
diproduksi bermanfaat bagi masyarakat.
b) Ekonomis, yaitu suatu tindakan untuk mendapatkan input (barang
atau jasa) yang berkualitas dengan tingkat sekecil mungkin.
c) Pelaksanaan kerja dapat dipertanggung jawabkan
d) Pembagian kerja yang nyata
e) Rasionalitas wewenang dan tanggung jawab
f) Prosedur kerja yang praktis.
Adapun beberapa contoh efisiensi adalah sebagai berikut :
1. Efisiensi Optimal
Adalah perbandingan terbaik antara pengorbanan yang
dilakukan mendapatkan suatu hasil yang diharapkan.
a) Ditinjau dari segi hasil. Misalnya seorang manajer dapat
mencapai suatu output (produktivitas, performance) yang
lebih tinggi dibandingkan dengan masukan-masukan (tenaga
kerja, uang, waktu, dan bahan) yang dipakai.
b) Ditinjau dari segi penghematan. Misalnya dengan penggunaan
peralatan yang modern maka proses kerja akan lebih cepat
serta menghemat waktu dan biaya.
22
2. Efisiensi dengan tolak ukur
Adalah perbandingan antara hasil minimum yang ditentukan dengan
hasil reel yang dicapai, dimana dapat dikatakan efisien bila hasil reel lebih
besar dari angka minimum yang ditentukan. Sebagai contoh :
a) Buruh Indonesia dapat menyusun bata sekitar 100-125 bata per hari (8
jam).
b) Buruh Thailand mampu menghasilkan 250 batu bata dalam sehari (8
jam).
Dalam hal ini tolak ukurnya adalah kemampuan masing-masing buruh
bangunan tersebut dalam mencapai hasil minimum yang telah ditentukan
dalam waktu tertentu.
3. Efisiensi dengan titik impas
Efisiensi dengan titik impas sering digunakan pada bidang usaha dimana
titik impas (break even point ) adalah titik batas antara usaha yang efisiensi
dan tidak efisien. Suatu usaha atau bisnis dapat dikatakan efisien jika titik
impasnya diketahui dan bisnis tersebut menghasilkan lebih dari titik impas
tersebut.
a) Indikator Efisiensi
Menurut Mardiasmo (2009:132), Indikator efisiensi
menggambarkan hubungan antara masukan sumber daya oleh suatu unit
organisasi (misalnya : staf, upah, biaya administrasi) dan keluaran yang
23
dihasilkan. Masukan Indikator tersebut memberikan informasi tentang
konversi masukan menjadi keluaran (yaitu : efisiensi dari proses iternal).
b) Tindakan memperbaiki Efisiensi
Menurut Mahmudi (2019 : 85), karena efisiensi merupakan suatu
rasio maka untuk memperbaiki dapat dilakukan tindakan sebagai berikut:
1. Meningkatkan Output untuk jumlah input yang sama.
2. Meningkatkan output dengan proporsi kenaikan output yang lebih
besar dibandingkan proporsi kenaikan input.
3. Menurunkan input untuk jumlah output yang sama.
4. Menurunkan input dengan proporsi penurunan yang lebih besar
dibandingkan proporsi penurunan output.
c) Pengukuran Efisiensi
Menurut Mardiasmo(2009:133), Efisiensi diukur dengan rasio
antara output dengan input. Semakin besar output dibandingkan input,
maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi, dengan demikian
efisiensi dapat dirumuskan sebagai berikut :
𝑹𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝑩𝒊𝒂𝒚𝒂 𝑼𝒏𝒕𝒖𝒌 𝑴𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏
𝑬𝒇𝒊𝒔𝒊𝒆𝒏𝒔𝒊 = × 100%
𝑹𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏
Kriteria mengukur efisiensi pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan
permendagri Nomor 690.900.327 tahun 1996 yaitu :
a) Lebih dari 100% tidak efisiensi
24
b) antara 90% - Kurang 100% kurang efisien
c) Antara 80% - kurang 90% cukup efisien
d) Antara 60% - kurang 80% efisien
e) Dibawah 60% sangat efisien.
d) Standar Efisiensi
Standar efisiensi menurut Mahsun (2016:187) dapat diketahui atau
tidak dengan memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Jika diperoleh nilai kurang 100% (x < 100%) berarti efisien.
2. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (x = 100%) berarti efisien
seimbang.
3. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (x >100%) berarti tidak efisien.
5. Kampung
Definisi universal kampung adalah sebuah aglomerasi permukiman diarea
perkampungan. Sementara diIndonesia, istilah kampung yaitu pembagian wilayah
administratif dibawah kecamatan yang dipimpin oleh seorang Kepala kampung.
Sebuah kampung merupakan kumpulan beberapa unit permukiman kecil yang
disebut juga kampung. Berdasarkan uraian diatas, bisa dikatakan kampung
merupakan suatu kesatuan masyarakat hukum dimana bertempat tinggal suatu
masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri. Kampung terjadi
hanya satu tempat kediaman masyarakat saja, ataupun terjadi dari satu induk
kampung.
25
Pengertian kampung dalam peraturan perundang-undangan nomor 60 tahun
2014 tentang dana desa dari APBN. Kampung adalah kampung dan adat atau yang
dimaksud dengan nama lain, selanjutnya disebut kampung adalah kesatuan
masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur
dan mengukur urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat
berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan/atau tradisional yang diakui
dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemerintahan kampung adalah penyelenggaraan urusan pemerintah dan
kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan negara Kesatuan
Republik Indonesia. Pemerintah desa adalah Kepala kampung atau yang disebut
dengan nama lain dibantu perangkat desa sebagai unsur penyelenggaraan
pemerintah kampung. Setelah diterapkannya otonomi desa dimana kampung
diberikan kebebasan dalam mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri,
pemerintah kampung didorong untuk lebih memberdayakan masyarakat dan
mengoptimalkan sumber daya yang berasal dari dalam dan dari luar kampung.
Salah satu sumber daya dari luar yaitu Anggaran Dana Kampung yang berasal dari
pemerintahan daerah yang diberikan berdasarkan penyelenggaraan pemerintahan
desa dalam pelayanan publik dikampung dan sebagai pendamping dalam
pelaksanaan pembangunan kampung yang melibatkan masyarakat kampung.
Adapun kampung yang dialokasikan oleh pemerintah Kabupaten/kota
untuk kampung, yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat
26
dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/kota untuk kampung paling sedikit 10%
yang dibagi secara merata keseluruh kampung. Tata cara pengalokasian Anggaran
Dana Kampung (ADK ) ditetapkan dengan pereturan Bupati/Walikota dengan
berpedoman pada peraturan meteri.
Pengalokasian Anggaran Dana Kampung (ADK) kepada setiap kampung
mempertimbangkan :
1. Kebutuhan penghasilan tetap kepala kampung dan perengkat
kampung.
2. Jumlah penduduk kampung, angka kemiskinan kampung, luas
wilayah kampung, dan tingkat kesulitan geografis kampung.
Menurut Hanif Nurcholis Anggaran Dana Kampung dibagi berdasarkan
rumus yaitu:
a. Asas merata yaitu berdasarkan bagian Anggaran Dana Kampung
yang sama untuk setiap desa/kampung. Selanjutnya disebut Anggaran
Dana Kampung Minimal ( ADKM).
b. Asas adil yaitu bagian anggaran dana kampung dibagi secara
proposional untuk setiap desa berdasarkan nilai bobot desa (BDx)
yang dihitung dengan rumus variabel tertentu (misalnya kemiskinan,
keterjangkauan, pendidikan dasar, kesehatan dan lain-lain)
selanjutnya disebut Anggaran Dana Kampung Proporsional (ADKP)
berdasarkan perentase perbandingan antara asas merata dan adil
27
adalah ADKM P 60% dari jumlah ADK dan besarnya ADKP adalah
40% dari jumlah ADK.
[Link] Anggaran Dana Kampung
Pelaksanaan ADK diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun
2005 tentang kampung. Peraturan mengenai Anggaran Dana
Kampung(ADK) di tinjak lanjuti melalui surat edaran Menteri Dalam Negeri
Nomor 140/640/SJ Tahun 2005 tentang pedoman Anggaran Dana Kampung
(ADK) dari pemeritah kabupaten/kota kepada pemerintah desa yang intinya
berisi mengenai prosedur pelaksanaan anggaran dana kampung . untuk
menindaklanjuti PP Nomor 72 Tahun 2005 tentang desa serta Surat Edaran
Mendagri Nomor 140/640/SJ tentang pedoman Anggaran Dana Kampung
salah satunya mengatur tentang penggunaan Anggaran Dana Kampung
(ADK) yakni anggaran dana kampung yang diterima pemerintah desa
sejumlah 30% dipergunakan untuk biaya operasional penyelanggraan
pemerintahan desa. Kemudian anggran dana kampung yang diterima
pemerintah desa sejumlah 70% dipergunakan untuk pembangunan fisik dan
pemberdayaan masyarakat Desa/Kampung.
Dana kampung diperuntukkan bagi kampung atau kampung yang
ditransfer melalui APBD Kabupatan/Kota, dialokasikan kepada setiap
kampung secara merata dan berkeadilan.
28
Dana kampung dihitung berdasarkan proporsi; dan bobot formula 90%
porsi yang bagi rata (Anggaran Dasar), 10% porsi berdasarkan formula
(Anggaran Formula), Luas wilayah kampung (10%), dan tingkat kesulitan
geografis kampung (30%).
Dalam permendagri No.113 tahun 2014, pengelolaan keuangan kampung
adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,
penatausahaan dan pertanggungjawaban keuangan kampung. Namun dalam
penelitian ini uang lebih difokuskan adalah pada proses pelaksanaan dan
penatausahaan kampung.
1) Perencanaan
Pemerintah kampung menyusun perencanaan pembangunan
kampung sesuai dengan kewenangannya dengan mengacu pada perencanaan
pembangunan kabupaten/kota. Perencanaan pembangunan kampung
meliputi RPJM Kampung dan RKP Kampung yang disusun berjangka dan
ditetapkan dengan peraturan kampung. Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Kampung (RPJM Kampung) untuk jangka waktu 6 tahun
sedangkan Rencana Pembangunan Tahun Kampung atau yang disebut
Rencana Kerja Pemerintah Kampung (RKP Kampung) untuk jangka waktu
1 tahun. RKP Kampungmerupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Kampung. Perencanaan pembangunan Kampung disusun
29
berdasarkan hasil kesepakatan dalam musyawarah kampung yang
pelaksanaannya paling lambat pada bulan juni tahun anggaran berjalan.
Dalam tahap perencanaan mengedepankan musyawarah kampung
untuk memenuhi kebutuhan real masyarakat. Hal ini tersebut dijalankan
dalam pasal 80 UU kampung yang menyebutkan bahwa :
a. Perencanaan pembangunan kampung sebagaimana dimaksud dalam
pasal 79 diselenggarakan dengan mengikut sertakan masyarakat
kampung.
b. Dalam menyusun perencanaan pembangunan kampung sebagai
mana dimaksud pada ayat (1), pemerintah kampung wajib
menyelenggarakan musyawarah perencanaan pembangunan
kampung.
c. Musyawarah perencanaan pembangunan kampung menetapkan
prioritas, program, kegiatan dan kebutuhan pembangunan kampung
yang didanai oleh anggaran Pendapatan dan Belanja kampung,
swadaya masyarakat kampung, dan/atau anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah Kabupaten/kota.
d. Proritas, program, kegiatan dan kebutuhan pembangunan kampung
sebagaimana dimaksud pada ayat (3).
2) Pelaksanaan
30
Dalam pelaksanaan anggaran kampung yang sudah ditetapkan
sebelumnya timbul transaksi penerimaan dan pengeluaran kampung dalam
rangka pelaksanaan kewenangan kampung dilaksanakan melalui rekening
kampung. Jika kampung yang belum memiliki pelayanan perbankan
diwilayahnya maka pengaturannya ditetapkan oleh pemerintah
kabupaten/kota. Semua penerimaan dan pengeluaran kampung harus
didukung oleh bukti yang lengkap dan sah.
Beberapa aturan dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan kampung
sebagai berikut :
a. Pemrintah kampung dilarang melakukan pengaturan sebagai
penerimaan kampung selain ditetapkan dalam peraturan kampung.
b. Bendahara dapat menyimpan uang kas kampung pada jumlah
tertentu dalam ramgka memeuhi kebutuhan operasional pemerintah
kampung.
c. Pengaturan jumlah uang kas kampung ditetapkan dalam pereturan
bupati/walikota.
d. Pengeluaran kampung yang mengakibatkan beban pada APB
kampung tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan
kampung tentang APB kampung ditetapkan menjadi peraturan
kampung.
31
e. Pengeluaran kampung tidak termasuk untuk belanja pegawai yang
bersifat mengikat dan operasional perkantoran yang ditetapkan
dalam peraturan kepala kampung.
f. Penggunaan biaya tak terduga terlebih dahulu harus dibuat rincian
anggaran biaya yang telah disahkan oleh kepala kampung.
Pelaksanaan dalam pengelolaan keuangan kampung merupakan
implementasi atau eksekusi dari anggran pendapatan dan belanja kampung.
Termasuk dalam pelaksanaan diantaranya adalah proses pengadaan barang
dan jasa serta proses pembayaran. Dalam peraturan pemerintah nomor 43
tahun 2014 ditetapkan dalam APB kampung yang dibiayai menggunakan
sumber dana dari anggaran dana kampung yang dikelola dengan ketentuan :
a. Paling sedikit 70% digunakan untuk pembangunan kampung yang
digunakan untuk mendanai penyelenggaran pemerintahan
kampung, pelaksanaan pembangunan kampung, pembinaan
kemasyarakatan kampung dan pemberdayaan masyarakat kampung.
b. Peling banyak 30% anggaran dana kampung digunakan untuk
Operasional pemerintah kampung yang meliputi :
1. Penghasilan Tetap
1) Kepala kampung
32
a) Anggaran Dana Kampung yang jumlahnya kurang dari Rp.
500.000.00,00 (lima ratus juta rupiah) digunakan maksimal 60% (enam
puluh perseratus);
b) Anggaran Dana Kampung yang berjumlah Rp. 500.000.000,00 (lima
ratus juta rupiah) sampai dengan Rp.700.000.000,00 (tujuh ratus juta
rupiah) digunakan maksimal 50% (lima puluh perseratus);
c) Anggaran Dana kampung yang berjumlah lebih dari
Rp.700.000.000,00 (tujuh ratus juta rupiah ) sampai dengan Rp.
900.000.000,00 (sembilan ratus juta rupiah) digunakan maksimal 40%
(empat puluh perseratus); dan
d) Alokasi dana kampung yang berjumlah lebih dari Rp.
900.000.000,00 (sembila ratus juta rupiah ) digunakan maksimal 30%
(tiga puluh perseratus).
e) Sekretaris kampung paling sedikit 70% (tujuh puluh perseratus) dari
penghasilan tetap kepala kampung perbulan.
f) Perangkat kampung selain sekretaris kampung paling sedikit 50%
(lima puluh perseratus) dari penghasilan tetap kepala kampung
perbulan.
2) Operasional Pemerintah Kampung
3) Tunjangan dan Operasional Badan Permusyawaran Kampung (BPK)
33
4) Insentif Rukun Tetangga dan Rukun Warga yaitu bantuan kelembagaan yang
digunakan untuk operasional RT dan RW.
Dari pasal tersebut bahwa keuangan kampung hanya dibatasi untuk
melaksanakan penyelenggaraan pemrintahan kampung, pelaksanaan
pembangunaan kampung, pembinaan kemasyarakatan kampung,
pemberdayaan kemasyarakatan kampung dan membayar penghasilan maupun
tunjangan insetif bagi perengkat kampung badan permusyawaratan kampung
dan RT/RW.
3) Penatausahaan
Kepala kampung dalam melaksanakan penatanusahaan keuangan
kampung harus menetapkan bendahara kampung, penetapan bendahara
kampung harus dilakukan sebelum dimulainya tahun anggaran
bersangkutan dan berdasarkan keputusan kepala kampung . Menurut Ardi
Hamzah dikutip oleh Sujarwen, bendahara adalah perengkat kampung yang
ditunjuk oleh kepala kampung dalam rangka pelaksanaan APB kampung.
Bendahara wajib lapor pertanggungjawaban disampaikan setiap bulan
kepada kepala kampung dan paling lambat 10 bulan berikutya. Dalam
permendagri No. 113 tahun 2014 laporan pertanggungjawaban yang wajib
dibuat oleh bendahara kampung adalah sebagai berikut :
a. Buku kas umum
34
Buku kas umum digunakan untuk mencatat berbagai aktivitas yang
menyangkut penerimaan dan pengeluaran kas, baik secara tunai
maupun kredit, digunakan juga untuk mencatat mutasi perbankan atau
kesalahan dalam pembukuan, buku kas umum dapat dikatakan sebagai
sumber dikuen transaksi.
b. Buku pembantu pajak
Digunakan membantu buku kas umum, dalam rangka penerimaan
dan pengeluaran berhubungan dengan pajak Buku bank Digunakan
membantu buku kas umum dalam rangka penerimaan dan pengeluaran
yang berhubungan dengan bank.
4. Tahap Pelaporan dan Pertanggung Jawaban
Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajibannya
dalam pengelolaan keuangan kampung, kepala kampung memiliki
kewajiban untuk menyampaikan laporan. Laporan tersebut bersifat
periodik semesteran dan tahunan, yang disampaikan ke Bupati/walikota
dan ada juga yang disampaikan ke BPD. Rincian laporan sebagai berikut:
a.) Laporan kepada Bupati/walikota (melalui camat )
1.) Laporan semesteran Realisasi Pelaksanaan APB Kampung;
2.) Laporan pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APB
Kampung kepada Bupati/Walikota setiap akhir tahun anggaran.
3.) Laporan realisasi Penggunaan Dana Kampung
35
b.) Laporan kepada Badan Permusyawaran Kampung (BPK)
Laporan keterangan pertanggungjawaban Realisasi
Pelaksanaan APB Kampung terdiri dari Pendapatan, Belanja, dan
[Link] pengelolaan Keuangan Kampung perlu adanya
penerapan asas pengelolaan keuangan kampung sesuai yang
tercantum dalam peraturan Mentri Dalam Negeri Republik
Indonesia Nomor 113 Tahun2014 tentang pengelolaan Keuangan
Kampung yang meliputi :
a. Asas Transparansi, dimana pemerintah kampung harus terbuka
terhadap semua kebijakan dan tindakan yang diambil
pemerintah dalam penyelenggaran seluruh program
pemerintah.
b. Asas akuntabilitas yaitu adanya tanggung jawab dari
pemerintah kampung kepada masyarakat terhadap hasil akhir
penyelenggaraan pemerintahan kampung.
c. Asas partisipatif yaitu adanya keikut sertaan lembaga kampung
dan unsur masyarakatan kampung dalam penyelenggaraan
pemerintahan kampung.
d. Asas tertib dan disiplin Anggaran yaitu pengelolaan keuangan
kampung yang harus mengacu pada aturan atau pedoman yang
malandasinya.
36
b) Tujuan Anggaran Dana Kampung
Dalam rangka mengoptimalkan Anggaran Dana kampung,
maka pemerintah kota gunungsitoli melalui peraturan walikota
Gunungsitoli Nomor 3 Tahun 2016 telah menetapkan tujuan Anggaran
Dana Kampung yaitu:
a. Meningkatkan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintah
kampung, pelaksanaan pembangunan kampung, pembinaan
kemasyarakatan kampung dan pemberdayaan masyarakat
kampung sesuai kewenangannya.
b. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan
ditingkat Kampung dan pemberdayaan masyarakat.
c. Meningkatkan pembangunan infrastruktur perkampungan.
d. Meningkatkan pengamalan nilai-nilai agama, sosial budaya dalam
rangka mewujudkan peningkatan kesejahteraan sosial.
e. Meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat
f. Meningkatkan pelayanan pada masyarakat kampung dalam rangka
pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat.
g. Mendorong peningkatan keswadayan dan gotong royong
masyarakat
h. Meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat kampung
memalui Badan Usaha Milik Kampung(BUM Kam)
37
i. Meningkatkan peran dan kemampuan lembaga kemasyarakatan
kampung.
j. Meningkatkan pelayanan masyarakat kampung dalam rangka
pengembangan kegiatan pendidikan, sosial budaya, kesehatan dan
ekonomi masyarakat.
k. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat kampung dan kualitas
hidup masyarakat serta penanggulangan kemiskinan.
c) Prinsip- prinsip Pengelolaan Anggaran Dana Kampung
Dalam mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri
terutama dalam mengurus keuangannya ada beberapa prinsip yang
pengelolaan Anggaran Dana Kampung diterapkan secara baik antara
lain :
a. Pengelolaan kuangan Anggaran Dana Kampung merupakan bagian
yang tidak terpisah dari pengelolaan keuangan kampung dalam
anggaran pendapatan belanja Kampung.
b. Seluruh kegiatan yang didanai oleh Anggaran Dana Kampung
direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara terbuka dengan
melibatkan unsur lembaga kemasyarakatan di kampung.
c. Seluruh kegiatan harus di pertanggung jawabkan secara
administrasi, teknis dan hukum ;
38
d. Anggaran Dana Kampung dilaksanakan dengan menggunakan
prinsip hemat, terarah, dan terkendali serta harus selesai pada akhir
bulan Desember.
B. Kajian Empiris
Saputra (2016) dengan judul “Efektivitas Pengelolaan Alokasi Dana
Desa pada Desa Lembean Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli Tahun
2009-2014”. Variabel yang digunakan adalah target dan realisasi dari
pengelolaan alokasi dana desa. Alat Analisis data menggunakan rasio
efektivitas. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa berdasarkan kreteria rasio
efektivitas, pengelolaan alokasi dana desa pada desa lembean dari tahun
2009-2014 berada pada kategori efektif, karena tingkat efektivitasnya berada
pada angka 90-100%. Hal ini sesuai dengan kriteria rasio efektivitas.
Yunianti (2015) dengan judul “Analisis Efisiensi dan Efektivitas
Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa)”. Variabel yang
digunakan adalah Total Realisasi Belanja Daerah, Total Realisasi dan
Pendapatan Daerah untuk mengukur tingkat efisiensi sedangkan untuk
mengukur tingkat efektifitas menggunakan Target PAD dan Realisasi PAD.
Alat analisisnya menggunakan rasio efisiensi dan efektivitas. Berdasarkan
hasil analisis data terhadap efisiensi dan efektivitas APBDesa Desa Argodadi
tahun anggaran 2010-2013, dapat disimpulkan bahwa efisiensi kinerja
keuangan tahun 2010-2012 memiliki kecendrungan tidak efisiensi,
39
sedangkan pada tahun 2013 pada kriteria kurang efisien. Dan 8 secara
keseluruhan kinerja keuangan tidak efisien dengan rata-rata tingkat efisiensi
diatas 100% yaitu sebesar 103,12%. Efektivitas kinerja keuangan tahun
2010-2013 memiliki kecenderungan sangat efektif yaitu dengan rata-rata
tingkat efektivitas sebesar 123,75.
Siregar, Syam (2017), dengan judul”Analisis Efektivitas dan Efisiensi
Pengelolaan Keuangan Desa (Studi pada desa Di Kabupaten Deliserdang)”.
Menggunakan Variabel realisasi anggaran belanja dan target anggaran
belanja untuk efektivitas, sedangkan untuk efisiensi menggunakan variabel
realisasi anggaran belanja langsung dan anggaran belanja. Alat analisis
menggunakan rasio efektivitas dan rasio efisiensi. Hasil penelitian
menyatakan bahwa keuangan berdasarkan penggunaan Alokasi Dana Desa
tahun 2016 terlihat bahwa terjadi perbedaan tingkat rasio efektivitas, hampir
seluruh desa yang dijadikan sampel penelitian memiliki tingkat rasio 100%
atau efektif, sedangkan untuk hasil analisis efisiensi sangat beragam dimana
rata-rata tingkat efisiensi diatas 60% atau dapat dikatakan efisien.
Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah
sama- sama meneliti efektivitas dan efisiensi anggaran dana kampung dan
pengelolaan keuangan kampung. Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu
dengan penelitian sekarang yaitu :
40
a) Pada penelitian sekarang penulis lebih fokus kepada Anggaran Dana
Kampung
b) Pada lokasi penelitian. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kampung
Maluang Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten Berau.
C. Kerangka Pikir Penelitian
Dalam penelitian ini akan membahas tentang pemanfaatan Dana
Kampung Dalam Pembangunan Kampung. Melalui Anggaran Dana
Kampung, diharapkan Kampung akan mampu menyelenggarakan
otonominya agar dapat tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan
dari kampung itu sendiri. Dimana tujuan UU Kampung adalah
menciptakan masyarakat aktif yang mampu menjadi elemen utama dalam
merencanakan, melaksanakan dan mengawasi setiap kegiatan
pembangunan yang terjadi di kampung.
Untuk itu, dalam proses pemanfaatan dana kampung harusnya
pemerintah kampung tidak hanya fokus pada penyelesaian seluruh
tahapan pengelolaan dana kampung dan hasil akhir berupa terciptanya
pembangunan dikampung. Namun pemerintah kampung harusnya lebih
fokus pada menciptakan sebuah proses pembangunan yang diciptakan
oleh masyarakat kampung setempat, sehingga pembangunan yang
dihasilkan adalah pembangunan yang menggambarkan tujuan, kebutuhan
dan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat kampung setempat.
41
Kondisi inilah yang akan diteliti di Kampung Maluang Kecamatan
Gunung Tabur , terkait dengan bagaimana pemanfaatan Anggaran Dana
Kampung dalam pembangunan di Kampung Maluang Kecamatan
Gunung Tabur Tahun 2020-2022.
Berdasarkan uraian diatas maka kerangka pikir penelitian dapat
digambarkan pada skema dibawah ini :
Gambar 1.1
Kerangka Pikir Penelitian
Anggaran Dana
Kampung (Y)
Efektivitas (X1) Efisiensi (X2)
Kesimpulan
C. Hipotesis
Berdasarkan latar belakang dan permasalahan, maka yang menjadi
hipotesis dari penelitian ini adalah :
42
1. Diduga, bahwa Pengelolaan Anggaran Dana Kampung (ADK) di
Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur Tahun 2020 – 2022
berpengaruh signifikan (Efektif) terhadap pembangunan di kampung
Maluang.
2. Diduga, bahwa pengelolaan Anggaran Dana Kampung (ADK) di
Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur Tahun 2020 – 2022
berpengaruh signifikan ( Sangat Efisiensi) terhadap Anggaran Dana
Kampung.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Definisi Operasional
1. Anggaran Dana Kampung
Dana Kampung adalah alokasi dana untuk membangun kampung
dalam APBN, Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja
Daerah (APBN) yang disalurkan melalui [Link] digunakan untuk
membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan,
dan pembinaan kemasyarakatan. Perioritas penggunaannya di atur oleh
pemerintah. Dana kampung merupakan salah satu bentuk pemasukan
kampung. Terkait dana kampung jumlah alokasi, tujuan, dan prioritas
dari dana tersebut di atur dalam undang – undang No. 6 Tahun 2014
tentang kampung.
2. Efektivitas
Efektivitas adalah hubungan antara Output dengan targat. Dalam
penelitian ini yang disebut output adalah realisasi belanja dari dana
kampung sedangkan yang disebut adalah target belanja dari dana
Kampung Maluang Tahun 2020 -2022.
3. Efisiensi
Efesiensi adalah rasio atau perbandingan antara output dengan input.
Output yaitu realisasi biaya agar mendapatkan penerimaan yang dalam
44
hal ini adalah belanja yang berasal dari dana kampung sedangkan input
yaitu realisasi dari penerimaan daerah yang dalam ini adalah pendapatan
dari dana kampung Maluang Tahun 2020 -2022.
B. Unit Analisis, populasi dan sampel
Unit analisis
Unit analisis dalam penelitian adalah satuan tertentu yang
diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Dalam penelitian yang lain, unit
analisis diartikan sebagai satuan yang berkaitan dengan fokus/kompenen
yang diteliti. Unit analisis dalam penelitian adalah efektivitas dan efisiensi
pengelolaan Anggaran Dana Kampung Di Kampung Maluang.
Populasi
populasi dalam konteks penelitian merupakan objek keseluruhan dalam
sebuah penelitian atau dapat dikatakan populasi adalah jumlah keseluruhan
dari individu – individu yang akan ditelti. Populasi dalam penelitian ini
seluruh masyarakat yang ada di Kampung Maluang serta pembangunannya.
Sampel
Sampel adalah sebagian dari populasi. Penelitian menggunakan
kampung Maluang yang ada di Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten Berau
sebagai sampel penelitian. /
45
C. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti melalui sumber data
yang sudah ada. Data sekunder yang digunakan peneliti berasal dari kantor
Kelurahan Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten
Berau. Data-data yang digunakan oleh peneliti diantaranya :
1. Data APBD Kabupaten Berau tahun anggaran 2020 - 2022. Dana ini
digunakan untuk mengetahui dana transfer yang diperoleh khususnya
dana Kampung dan proporsinya.
2. Dana output dari 1 Kampung di Kecamatan Gunung tabur yang telah
dihasilkan kampung melalui dana kampung tahun 2020 - 2022.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penelitian yaitu dengan
mendatangi secara langsung Kantor Lurah di Kecamatan Gunung Tabur
Kampung Maluang untuk mendokumentasikan data dari laporan realisasi dana
Kampung tahun 2020 -2022. Dalam penelitian ini, terdapat dua metode
dalam pengumpulan data yang terdiri sebagai berikut :
a) Data Primer : data atau informasi yang diperoleh secara langsung yang
diperoleh dari tempat penelitian, untuk mendapatkan data konkrit sesuai
dengan permasalahan.
46
b) Metode Dokumentasi : yaitu mencari data mengenai hal -hal atau
variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, dan sebagainya
(Arikunto, 2006). Metode dokumentasi adalah mengumpulkan data
dengan cara melihat, membaca, mempelajari, kemudian mencatat data
yang sudah adahubungan dengan objek penelitian. Metode ini dilakukan
untuk mengambil dokumentasi atau data yang dibutuhkan dalam
penelitian ini, berupa data Realisasi belanja, realisasi pendapatan dan
target pendapatan.
E. Alat Analisis
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
kuantitatif deskriptif. Dalam metode kuantitatif, peneliti melakukan
perhitungan terhadap data-data yang sudah ada dikumpulkan. Perhitungan yang
dilakukan terdiri dari 2 jenis data analisis efektivitas dan analisis efisiens.
A. Analisis efektivitas
Efektivitas berasal dari kata efektif yang memiliki arti output dapat
sesuai dengan target yang diharapkan. Oleh karena itu efektivitas fokus
pada hasil atau outcome. Efektivitas dapar diartikan sebagai hubungan
antara output pusat tanggungjawabnya dengan targetnya. Yang dimaksud
output dalam konteks ini adalah realisasi belanja sedangkan yang
dimaksud target adalah target belanja. Suatu pengelolaan keuangan
dikatakan sangat efektif apabila kontribusi output terhadap target semakin
47
besar. Untuk menghitung tingkat efektivitas pengelolaan keungan daerah
dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
𝒐𝒖𝒕𝒑𝒖𝒕 (𝒓𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒏𝒋𝒂
Efektivitas = × 100%
𝒕𝒂𝒓𝒈𝒆𝒕 (𝒕𝒂𝒓𝒈𝒆𝒕 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒏𝒋𝒂)
Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900.327 tahun
1996 mengenai kriteria penilaian serta kinerja keuangan, tingkat efektivitas
terdiri dari beberapa kriteria sebagai berikut :
Tabel 1.1
Kriteria Efektifitas Pengelolaan Anggaran Dana Kampung
Tingkat efektivitas Hasil Capaian
>100 % Sangat Efektif
90 – 100 % Efektif
80-90 % Cukup Efektif
60-80% Kurang Efektif
<60% Tidak Efektif
Sumber : Kepmendagri Nomor 690.900.327 Tahun 1996
B. Analisis efisiensi
Efisiensi adalah rasio antara realisasi belanja dengan realisasi
pendapatan yang diukur dalam satuan persen. Ukuran ini digunakan untuk
menganalisis efisiensi dana desa di kacamatan Gunung Tabur Kabupaten
Berau. Berdasarkan pengertian diatas, tingkat efisiensi besar jika biaya
48
yang digunakan untuk merealisasikan pendapatan ditekan paling rendah
agar realisasi pendapatan meningkat. Dengan kata lain, efisiensi yang
semakin meningkat dikatakan dengan cara biaya minimal untuk hasil
yang maksimal.
Efisiensi juga dapat diartikan sebagai perbandingan antara output
dengan input. Output yaitu realisasi biaya agar mendapatkan penerimaan
yang dalam hal ini adalah belanja sedangkan input yaitu realisasi dari
penerimaan daerah yang dalam hal ini adalah pendapatan. Untuk
mengetahui tingkat efisiensi serta menganalisis efisiensi terhadap
pengelolaan keuangan dengan rumus sebagai berikut :
𝑶𝒖𝒕𝒑𝒖𝒕 (𝒓𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒏𝒋𝒂)
Efisiensi = x 100%
𝑰𝒏𝒑𝒖𝒕 (𝒓𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏)
Untuk mengetahui tingkat efisiensi pengelolaan keuangan daerah diatur
dalam Kepmendagri Nomor 690.900.327 tahun 1996 sebagai berikut
Tabel 1.2
Kriteria Efisiensi Pengelolaan Anggaran Dana Kampung
Tingkat Efisiensi Hasil Pencapaian
>100% Tidak Efisiensi
90-100% Kurang Efisiensi
80-90% Cukup efisiensi
60-80% Efisiensi
<60% Sangat efisiensi
Sumber: Kepmendagri Nomor 690.900.327 Tahun 1996
49
C. Pajak Daerah
Pajak atau kontribusi wajib yang diberikan oleh penduduk suatu
daerah kepada pemerintah daeerah ini akan digunakan untuk kepentingan
pemerintahan dan kepentingan umum contohnya seperti pembangunan
jalan, jembatan, pembukaan lapangan kerja baru, dan kepentingan
pembangunan serta pemerintahan lainnya. Berdasarkan pasal 3 Bab III
U.25 tahun 1999 dinyatakan bahwa sumber penerimaan daerah dalam
pelaksanaan desentralisasi adalah dari pendapatan hasil daerah, dana
perimbangan,pinjaman daerah dan lain- lain penerimaan daerah yang sah.
Selanjutnya sumber pendapatan asli daerah terdiri dari hasil pajak daerah,
hasil retribusi daerah,hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan
kekayaan daerah dipisahkan ( rugi-laba, deviden dan penjualan saham)
serta lain-lain pendapatan daerah yang sah.
Seperti yang dinyatakan dalam UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak
Daerah dan Retribusi Daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang
penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan
pembangunan daerah. Adapun yang dimaksud dengan pajak daerah adalah
iuran yang dapat dipaksakan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan
kepada daerah tanpa imbalan langsung sedangkan yang dimaksud dengan
retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pambayaran jasa atau
50
pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan pemerintah
daerah untuk kepentingan pribadi atau badan.
Terdapat tiga macam sistem pemungutan pajak yang biasa digunakan di
Indonesia yaitu :
a) Self Assessment system
Merupakan sistem pemungutan pajak dimana penetapan besaran
pajak yang harus dibayarkan dilakukan oleh wajib pajak. Pemerintah daerah
memberikan kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung,
memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang
dalam menggunakan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD).
b) Official Assessement System
System ini adalah sistem pemungutan pajak dimana kewenangan
dalam penentuan besaran pajak terutang berada pada fiskus. Dengan sistem
official assessment, wajib pajak memiliki sifat pasif dan pajak terutang
timbul setelah terlebih dahulu ditetapkan oleh kepala daerah melalui surat
ketetapan pajak daerah(SKPD) atau dokumenlain yang dipersamakan,
dapat berupa karcis dan nota perhitungan.
c) Withholding system
Pemungitan dengan Withholding system dilakukan malalui pihak
ketiga yang diberikan wewenamg dalam menentukan berapa besar pajak
yang harus dibayar. Besarnya pajak pada withholding system dihitung oleh
51
pihak ketiga bukan wajib pajak dan bukan aparat pajak atau fiskus. Sistem
ini disebut juga dengan jenis pajak potong pungut, seperti pemotongan PPh
Pasal 21 pada pajak pusat.
Demikian juga untuk pajak daerah kabupaten/kota. Dari 11 jenis pajak daerah
kabupaten/kota, tiga diantaranya dipungut berdasarkan official assessment system.
Tiga jenis pajak daerah kabupaten/kota tersebut terdiri dari pajak reklame,pajak
air tanah,pajak bumi dan bangunan perkotaan pedesaan(PBB-P2).
Berikut ini tabel mengenai klasifikasi tipologi klassen Pajak Daerah/Retribusi
Daerah.
Tabel 1.4 klasifikasi Tipologi Klassen Pajak Daerah/Retribusi
Daerah
Rasio Rasio Proporsi (Realisasi/ rata-rata)
𝑿𝒊 𝑿𝒊
pertumbuhan 𝒓𝒂𝒕𝒂−𝒓𝒂𝒕𝒂 >1 𝒓𝒂𝒕𝒂−𝒓𝒂𝒕𝒂 <1
𝑿 𝒙
𝒓𝑷𝑿𝒊 Prima Berkembang
>1
𝒓𝑷𝑿𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍
𝒓𝑷𝑿𝒊 Potensial Terbelakang
<1
𝒓𝑷𝑿𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍
Keterangan :
rPXi = Laju Pertumbuhan Penerimaan Jenis PajakDaerah/
Retribusi Daerah
rPXtotal = Laju pertumbuhan total penerimaan seluruh pajak daerah/
retribusi daerah
52
Xi = Rata-rata penerimaan seluruh pajak daerah / retribusi
daerah
Artinya :
1) Jika Rasio Proporsi > 1 dan Rasio Laju Pertumbuhan >1,
mka penerimaannya, prima atau sangat potensial.
2) Jika Rasio Proporsi > 1 dan Rasio Laju Pertumbuhan <1,
maka penerimaannya potensial.
3) Jika Rasio Proporsi < 1 dan Rasio Laju Pertumbuhan > 1,
maka penerimaannya berkembang atau masih ada potensi
untuk dikembangkan atau masih ada potensi untuk
dikembangkan.
4) Jika Rasio Proporsi < 1 dan rasio Laju Pertumbuhan < 1,
maka penerimaannya terbelakang atau kurang potensial.
Secara umum Pendekatan Mikro ,perhitugan potensi pajak daerah dengan
pendekatan mikri dilakukan dengan menjumlahkan kewajiban pajak dari
semua wajib pajak derah. Besaran kewajiaban pajak tersebut dihitung dari nilai
objek pajak dari setiap wajib pajak dikalikan dengan tarif pajak daerah.
Sedangkan nilai objek pajak tersebut dihitung dengan mengalikan volume
dengan harga barang/jasa objek pajak. Dengan demikian potensi pajak dengan
pendekatan mikri dapat di formulasikan sebagai berikut :
Y = ∑𝑛𝑘=1 Volume × Harga Barang/jasa × Tarif Pajak
53
Dimana :
Y = Potensi Pajak Daerah
k = Wajib Pajak ke 1
n = Wajib Pajak ke n
karena pendekatan mikro ini dihitung untuk semua semua wajib pajak dan
tidak satupun yang luput, maka hasil perhitungan ini menggambarkan kondisi
rill potensi sehingga dapat disebut sebagai Potensi Pajak Daerah.
D. Retribusi
Di samping pajak daerah, sumber pendapatan asli daerah yang cukup
besar peranannya dalam menyumbang pada terbentuknya pendapatan asli
daerah adalah retribusi daerah. Di beberapa daerah pendapatan yang berasal
dari retribusi daerah dapat lebih besar dari pada pendapatan dari pajak daerah.
Yang dimaksud dengan retribusi adalah pungutan daerah sebagai
pemabayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan
atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan yang pribadi atau
badan.
Pungutan retribusi daerah yang berkembang selama ini didasarkan pada
undang-undang No. 12 Drt. Tahun 1957 tentang peraturan retribusi daerah
yang ternyata menunjukkan beberapa kelemahan di antaranya :
1. Hasilnya kurang memadai bila dibandingkan dengan biaya penyediaan
jasa oleh pemerintah daerah.
54
2. Biaya pemungutannya terlalu tinggi.
3. Kurang kuatnya prinsip dasar retribusi terutama dalam hal pengenaa,
penetapan,struktur dan biaya tarif retribusi.
4. Ada beberapa jenis retribusi yang pada hakikatnya bersifat sebagai
pajak karena pemungutannya tidaknya dikaitkan langsung balas jasa
atau pelayanan pemerintah daerah yang diterima oleh pembayar
retribusi.
5. Ada jenis retribusi perijinan yang tidak efektif dalam kaitannya dengan
usaha untuk melindungi kepentingan umum dan kelestarian lingkungan.
Oleh karena itu maka pada tahun 1997 pemerintah merasa perlu untuk
mengklasifikasi berbagai pungutan retribusi itu atas dasar kriteria tertentu
agar memudahkan penerapan prinsip-prinsip dasar pungutan retribusi
sehingga mencerminkan hubungan yang jelas antara tarif retribusi dengan
pelayanan atau jasa ysng diberikan oleh pemrintah daerah.
Yang dapat dipungut jasa retribusinya adalah jasa jasa pelayanan yang
menurut pertimbangan sosial-ekonomi tidak layak untuk dijadikan objek
retribusi. Jasa -jasa pelayanan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Retribusi yang dikenakan jasa umum
2. Retribusi yang dikenakan pada jasa usaha
3. Retribusi yang dikenakan pada perijinan tertentu
55
Penetapan jenis retribusi kedalam retribusi jasa umum dan jasa usaha
dibuat dengan Peraturan Pemerintah agar tercipta ketertiban dalam
penerapannya sehingga dapat memeberikan kepastian kepada masyarakat
serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata didaerah yang bersangkutan.
Selanjutnya retribusi hanya akan berpengaruh pada kesediaan
menggunakan atau permintaan terhadap jasa pelayanan maupun produk yang
dihasilkan oleh [Link] kerena retribusi tidak seperti halnya dengan
pajak, retribusi hanya akan mengurangi konsumsi tetapi tidak mengurangi
kemampuan dan kemauan untuk bekerja, menabung dan berinvestasi. Tetapi
retribusi juga berpengaruh dalam hal distribusi pendapatan, karena retribusi
dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk melindungi yang lemah
dalam perekonomian dan membagikan beban masyarakat itu kepada
kelompok penghasilan tinggi di daerah yang sama. Karena itu sistem retribusi
yang progresif dapat bermanfaat untuk redistribusi pendapatan dalam
masyarakat di daerah.
E. Keuangan Daerah
Keuangan daerah dalam PP No. 58 tahun 2005 adalah semua hak dan
kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemeerintah daerah
yang dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan
yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Tujuan
diaturnya keuangan daerah oleh pemerintah untuk meningkatkan efisiensi
56
dan efektivitas dalam pengelolaan sumber daya keuangan daerah dan
meningkatkan kesejahteraan daerah dan mengoptimalkan pelayanan
kepada masyarakat.
Sumber-sumber pendapatan keuangan daerah yaitu :
1. Pendapatan asli daerah (PAD) meliputi pajak daerah, hasil retribusi
daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang disahkan dan lainnya.
2. Dana perimbangan, meliputi dana bagi hasil, dana alokasi umum dan
dana alokasi khusus.
3. Pendapatan daerah lain yang sah.
Analisis kinerja Pelaksanaan Undang-undang No. 5/1974
Analisis kinerja didasarkan pada konsep yang di kemukakan oleh
Musgrave dan Musgrave, yaitu :
1) Kebutuhan fiskal (fiscal need) dirumuskan sebagai berikut :
NJ = ns Zj, dengan
Nj = kebutuhan fiskal juridiksi j;
Ns = Biaya menyediakan tingkatpelayanan(misalnya
Pendekatan ) setiap satuan Z; dan
Zj = Populasi target
2) Kapasitas fiskal (fiscal Capacity), yaitu
Cj = ts Bj, dengan
Cj = kapasitas fiskal juridiksi j;
57
Ts = tarif fiskal standar; dan
Bj = basis fiskal di j.
3) Upaya fiskal (fiscal effort),yaitu :
𝑡𝑗 𝐵𝑗 𝑡𝑗
Ej = = , dengan
𝑡𝑠 𝐵𝑗 𝑡𝑠
tj = tarif fiskal
ts = standar fiskal
Ej = upaya fiskal
Namun karena data tidak mendukung dipakailaj berbagai pro-xy untuk
melihat kinerja keuangan daerah :
(1) Untuk derajat desentralisasi fiskal antara pemerintah pusat dan daerah
digunakan ukuran
𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐴𝑠𝑙𝑖 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝑃𝐴𝐷)
(a) ;
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝑇𝑃𝐷)
𝐵𝑎𝑔𝑖 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑑𝑎𝑛 𝐵𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝐵𝐻𝑃𝐵𝑃)
(b) ;
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝑇𝑃𝐷)
𝑆𝑢𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝑆𝐵)
(c) ; dengan
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝑇𝑃𝐷)
TPD = PAD + BHPBP + SB
Kalau hasilnya tinggi, derajat desentralisasinya besar(mandiri).
(2) Kebutuhan fiskal (fiscal need) dicari dengan menghitung indeks
pelayanan publik per kapita (IPPP).
𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 𝐴𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑟 𝐾𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑗𝑎𝑠𝑎−𝑗𝑎𝑠𝑎 𝑃𝑢𝑏𝑙𝑖𝑘 (=𝑃𝑃𝑃)
IPP = × 10
𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝐹𝑖𝑠𝑘𝑎𝑙 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (𝑆𝐾𝐹)
58
PPP= Jumlah Pengeluaran Rutin dan Pembangunan Perkapita masing-
Masing daerah.
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ /𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘
SKF=
∑𝐾𝑎𝑏𝑢𝑝𝑎𝑡𝑒𝑛
Kalau hasilnya tinggi, kebutuhan fiskalnya besar.
(3) Kapasitas fiskal (Fiscal Capacity), Cj dicari dengan formula :
𝑃𝑟𝑝𝑑𝑢𝑘 𝐷𝑜𝑚𝑒𝑠𝑡𝑖𝑘 𝐵𝑟𝑢𝑡𝑜 (=𝑃𝐷𝑅𝐵/∑𝑃𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘
Cj = × 100
𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐹𝑖𝑠𝑘𝑎𝑙 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 (=𝐾𝐹𝑠)
∑𝑃𝐷𝑅𝐵 /𝑃𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘
KFs =
∑𝐾𝑎𝑏𝑢𝑝𝑎𝑡𝑒𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑡𝑎
Kalau hasilnya tinggi, kapasitas fiskalnya tinggi.
(4) Upaya fiskal (Tax Effort)dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
𝑃𝐴𝐷𝑗
UPPADj =
𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑛 𝑃𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑃𝐴𝐷
Atau
𝑃𝐴𝐷𝑗
UPPADj =
𝑃𝐷𝑅𝐵 𝑗 (𝑡𝑎𝑛𝑝𝑎 𝑚𝑖𝑔𝑎𝑠)
Selanjutnya dihitung Tingkat PAD Standar (TPADs) yaitu :
∑𝑃𝐴𝐷/𝑃𝐷𝑅𝐵
TPADs =
∑𝐾𝑎𝑏𝑢𝑝𝑎𝑡𝑒𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑡𝑎
Sedangkan Indeks Kinerja PAD
𝑈𝑃𝑃𝐴𝐷
IKPAD = × 100
𝑇𝑃𝐴𝐷𝑠
Makin tinggi hasilnya , makin besar upaya pajaknya. Ini juga
menunjukkan Posisi Fiskal Daerah. Cara lain menentukan posis fiskal
59
daerah adalah dengan mencari koefisien elastisitas PAD terhadap
[Link] elastis PAD suatu daerah, maka struktur PAD didaerah
tersebut makin baik.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Sejarah Umum Berdirinya Kampung Maluang
Kampung Maluang merupakan salah satu kampung yang berada
diwilayah Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten Berau. Penduduk
kampung maluang awalnya hanya 7 Rumah KK dengan jarak rumah
yang jauh – jauh namun dengan bergulirnya waktu semakin bertambah
pnduduknya sehingga dibentuk suatu kampung yang diberi nama
Kampung Maluang yang mempunyai arti Meluang – luang ( Berpencar
– pencar). Kampung maluang pertama kali dipimpin oleh Punggawa
Sejati (Alm) pada tahun 1935 sampai dengan tahun 1973 kurang lebih
38 tahun kepemimpinan beliau dan pada tahun 1975 berdirilah sebuah
mesjid yang pertama yang berada di kampung maluang yang tepatnya
berada di RT 1, kemudian pada tahun 1976 berdiri pula sebuah sekolah
yaitu SD 001 Maluang.
2. Letak Wilayah
Berdasarkan letak wilayah gografis wilayah, kampung maluang
berada antara 6°30’17.40” - 6°31’50’77” LS dan 110°39’54.14” -
110°42’55.37” BT. Dengan batas – batas sebagai berikut :
61
a. Sebelah Utara : Kabupaten Bulungan
b. Sebelah Timur : kampung Samburakat
c. Sebelah Selatan : Sungai Berau
d. Sebelah Barat : Kelurahan Gunung Tabur
3. Luas Wilayah
a. Luas Wilayah Kampung Maluang : 30.000 Ha
b. Sawah : 260 Ha
c. Tanah Bukan Sawah : 308 Ha
d. Pekarangan/pemukiman : 90 Ha
e. Tegal/kebun : 212 Ha
f. Fasilitas Sosial dan Ekonomi : 6 Ha
4. Jumlah Penduduk
a. Jumlah Penduduk : 6.430 jiwa
b. Laki- laki : 3.180 jiwa
c. Perempuan : 3.250 jiwa
d. Jumlah KK : 1.969 KK
62
5. Nama – nama Kepala Kampung
Berikut ini nama – nama kepala kampung yang pernah menjadi
kepala kampung Maluang.
Tabel 1.5 Nama – Nama Kepala Kampung Yang pernah
Menjadi Kepala Kampung
No. Nama Tahun Keterangan
Punggawa sejati 1935-1973, 38 Kepala kampung
1
Tahun (Alm)
Usman DJ 1973-2001, 28 Kepala kampung
2
Tahun (Alm)
Ismail 2001-2003, 2 tahun Kepala Kampung
3
Muchtar, SH 2003 – 2014, 11 Kepala kampung
4
Tahun
Taufiq, SH 2014 – 2015, 1 kepala kampung
5
Tahun
Muchtar, SH 2015-2021, 6 Tahun Kepala kampung
6
Usnadi, S.E 2020 / Masih Kepala Kampung
7
menjabat sebagai
Kepala Kampung
63
6. Struktur Organisasi
BPK Kepala
Kampung
Sekretaris
Ketua
Kepala Urusan Kepala Kepala
Tata Usaha dan Urusan Urusan
Wakil Ketua
Umum Keuangan Perencanaan
Sekretaris
Anggota
Kepala Seksi Kepala Seksi Kepala Seksi
Pemerintahan Kesejahteraan Pelayanan
7. Visi dan Misi
a. Visi
Penyusunan Visi Kampung Maluang ini dilakukan dengan pendekatan
partisipatif, melibatkan pihak – pihak yang berkepentingan dikampung
Maluang seperti pemerintah kampung, BPK, Tokoh masyarakat, Tokoh
Agama, Lembaga Masyarakat Kampung dan Masyarakat Kampung pada
Umumnya. Demi pembangunan yang berkelanjutan selama priode 2021-
64
2027 kedepan, maka berdasarkan pertimbangan diatas dan melihat visi
Kepala Kampung Maluang terpilih maka Visi Kampung Maluang adalah :
“ Bursama Menuju Kampung Maluang Yang Sejahtera, Partisipatif dan
Amanah”
b. Misi
Untuk mencapai visi mewujudkan Masyarakat sejahtera, Paritisipatif dan
Amanah maka Kampung Maluang menetapkan misi sebagai berikut :
1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas,
sejahtera, dan berbudi luhur
2. Meningkatkan ekonomi masyarakat dengan optimalisasi sektor
pertanian, perkebunan, dan perluasan lapangan kerja.
3. Pelaksanaan Yang Berkesinambungan yang pembangunan
mengedepankan partisipasi, Swakelola Dan gotong royong masyarakat.
B. Data Hasil Penelitian
1. Mata Pencaharian penduduk
Dari luasan Kampung Maluang mempunyai Sumber Daya Alam yang
memadai dan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat dan
untuk menciptakan wawasan serta dalam upaya mengembangkan sektor
pertanian di karena kampung Maluang merupakan Kampung Pertanian
maka sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai Petani,
65
sebagian yang lainnya ada yang sebagai Nelayan, Buruh Petani, Karyawan
Swasta dll.
2. Pendidikan
Data yang disajikan dalam bab ini, mencakup berbagai informasi
yang terangkum dalam sub bab pendidikan itu sendiri. Informasi
pendidikan disajikan data antara lain : sebanyaknya Sekolah dari tingkat
TK, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) di
Kampung Maluang. Pada sekolah TK terdapat 1 yaitu Al- insan , pada
tingkat SD terdapat 2 yaitu SD Negeri 001 Maluang, dan SD Negeri 002
Maluang, pada tingkat SMP terdapat 1 yaitu SMP Negeri 3 Gunung
Tabur (kamp. Maluang).
3. Kesehatan
Informasi pada sub bab ini disajikan antara lain, jumlah tempat
pelayanan kesehatan yang terdapat di Kampung Maluang . jumlah tempat
pelayanan kesehatan tercatat sebagai berikut : Puskesmas sebanyak 5
unit, Posyandu 7 unit.
66
4. Rincian Anggaran Dana Kampung tahun 2020 -2022
Berikut di sampaikan data penerimaan Anggaran Dana Kampung
yang diterima oleh Pemerintah kampung Maluang pada tahun Anggaran
2020-2022 dari penerimaan pusat seperti pada tabel 1.6
Tabel 1.6 Rincian Anggaran Dana Kampung Di Kampung
Maluang Tahun 2020-2022 (Rupiah)
Anggaran Dana Kampung (ADK)
Tahun
[Link],00
2020
[Link],00
2021
[Link],00
2022
Jumlah [Link],00
Sumber : Kantor Lurah Kampung Maluang
Pada tabel diatas terlihat adanya perubahan skema dan kebijakan
yang akan diambil oleh pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan
pembangunan dan kesejahteraan dapat di indikatori dengan keterlibatan dan
peren aktif masyarakat dan dirasakan wujudnya oleh masyarakat.
Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Kampung Maluang
dilakukan secara fisik dan non fisik. Adapun realisasi belanja yang telah
dilakukan oleh pemerintah Kampung Maluang pada tabel 1.7.
67
5. Rincian Realisasi Belanja Kampung Maluang tahun 2020 - 2022
Tabel 1.7 Realisasi Belanja Kampung di Kampung Maluang
Tahun 2020-2022
Tahun Kegiatan Realisasi Presentase (%)
2020 Pembangunan [Link],00 76,83
Kampung
Pembinaan 316.763.000,00 23,18
kemasyarakatan
Jumlah [Link] 100
2021 Pembangunan 387.172.000,00 65,02
Kampung
Pembinaan 208.366.000,00 34,99
kemasyarakatan
Jumlah 595.538.000 100
2022 Pembangunan 898.806.000,00 80,92
Kampung
Pembinaan 212.053.000,00 19,09
kemasyarakatan
Jumlah [Link] 100
Sumber : Data Penelitian diolah (2023)
Pada tabel 1.7 merupakan realisasi pengelolaan dan penggunaan dana
Kampung yang digunakan untuk membiayai berbagai program
pembangunan sehingga masyarakat dapat meningkatkan derajat
kesejahteraannya karena pembangunan yang dilakukan merupakan usulan
dan kebutuhan masyarakat sehingga masing-masing kampung memiliki
standar kecukupannya sendiri, yang telah ditetapkan dalam proses
68
musyawarah kampung berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku, tanpa meninggalkan kearifan lokal masyarakat.
BAB V
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
A. Analisis Kuantitatif
Berdasarkan fokus penelitian akan di sajikan analisis kuantitatif
(Rasio Efektivitas dan Rasio Efisiensi) dengan menggunakan Data Sekunder
yaitu data yang diperoleh peneliti berasal dari Kantor Lurah Kampung
Maluang Kec. Gunung Tabur.
Pada analisis data kuantitatif digunakan metode rasio perbandingan,
dengan tujuan untuk membandingakan antara harapan dan realisasi, yang
diukur dengan persentase semakin tinggi persentase tersebut, berarti
penggunaan dana kampung semakin bisa dipertanggung jawabkan. Ukuran
yang digunakan menggunakan Rasio Efektivitas dan Efisiensi yang diatur
oleh Pemerintah Keuangan RI.
1. Analisis Efektivitas
Efektivitas yaitu ukuran yang menyatakan seberapa jauh terget
(kuantitas, kualitas,dan waktu yang telah tercapai ). Dimana semakin besar
persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Indikator
efektivitas adalah rasio antara realisasi penggunaan Dana Kampung dengan
target belanja Dana Kampung. Berikut Pengukuran Efektivitasnya.
70
Dari penjelasan mengenai laporan diatas realisasi anggaran diatas maka
hasil analisis dilakukan sebagai berikut :
Rasio Efektivitas = Realisasi Anggaran Belanja × 100%
Target Anggaran Belanja
a. Perhitungan rasio Efektivitas anggaran belanja 2020 berjumlah
[Link],00 dengan realisasinya sebesar Rp. [Link],00
sehingga perhitungan tingkat efektivitas anggaran belanja Tahun 2020
sebagai berikut :
Efektivitas = [Link],00 × 100% = 94,69 %
[Link],00
Perhitungan diatas menunjukkan efektivitas pelaksanaan Anggaran
Belanja di Kampung Maluang Tahun 2020 memiliki Persentase sebesar
94,69 % yang menunjukkan kriteria Efektif.
b. Perhitungan rasio Efektivitas anggaran belanja 2021 berjumlah
[Link],00 dengan realisasi sebesar Rp. [Link],00
sehingga perhitungan tingkat efektivitas anggaran belanja Tahun 2021
sebagai berikut :
Efektivitas = [Link],00 × 100% = 97,21 %
[Link],00
71
Perhitungan diatas menunjukkan efektivitas pelaksanaan Anggaran
Belanja di Kampung Maluang Tahun 2021 memiliki Persentase sebesar
97,21 % yang menunjukkan kriteria Efektif.
c. Perhitungan rasio Efektivitas anggaran belanja 2022 berjumlah
Rp.[Link],00 dengan realisasi sebesar Rp [Link],00
sehingga perhitungan tingkat efektivitas anggaran belanja Tahun 2022
sebagai berikut :
Efektivitas = [Link],00 × 100% = 95,39 %
[Link],00
Perhitungan diatas menunjukkan efektivitas pelaksanaan Anggaran
Belanja di Kampung Maluang Tahun 2022 memiliki Persentase sebesar
95,39 % yang menunjukkan kriteria Efektif
Berikut di sampaikan data rincian tingkat efektivitas pengelolaan
dana Kampung Maluang pada tahun Anggaran 2020-2022 dari
penerimaan pusat seperti pada tabel 1.8
72
Tabel 1.8 Tingkat Efektivitas Pengelolaan Dana Kampung di Kampung
Maluang 2020-2022
Tahun Realisasi Belanja Target Belanja Efektivitas % Kategori
2020 [Link],00 [Link],00 94,69 Efektif
2021 [Link],00 [Link],00 97,21 Efektif
2022 [Link],00 [Link],00 95,39 Efektif
Jumlah [Link],00 [Link],00 95,73 Efektif
Sumber : Data Penelitian diolah 2023
Tingkat efektivitas dipengaruhi oleh keberhasilan pemerintah kampung
dalam mengelola pendapatan Dana Kampung dan memaksimalkan kebutuhan
yang dibutuhkan masyarakat. Sehingga dari perhitungan tabel di atas dapat
disimpulkan bahwa Pengelolaan Anggaran Dana Kampung Maluang tahun 2020 –
2022 dikategorikan hasilnya signifikan yaitu (Efektif) .
Manfaat analisis efektivitas Pengelolaan Dana Kampung bagi masyarakat adalah
sebagai tolak ukur tentang penyediaan pelayanan yang disediakan oleh aparatur
kampung. Kategori efektif dapat berubah setiap tahunnya. Tujuan adanya Dana
Kampung adalah meningkatkan kesejahteraa warga kampung.
73
2. Analisis Efisiensi
Analisis efisiensi melihat rasio perbandingan antara output dan input atau
realisasi belanja dengan realisasi pendapatan kampung dalam hal ini yaitu dana
kampung. Semakin kecil rasio ini maka semakin efisien. Begitu juga sebaliknya.
Jika di asumsikan bahwa pengeluaran yang dibelanjakan sesuai dengan apa yang
dibutuhkan masyarakat atau apa yang menjadi program kampung, dan memenuhi
apa yang direncanakan. Penyaluran dana kampung disetiap kampung memiliki
besaran anggaran yang berbeda- beda karena pemerintah memperhitungkan
jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan kesulitan geografis setiap
kampung. Dalam mengukur efisiensi lebih menitik beratkan pada kemampuan
suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang diharapakan dengan menggunakan
sumber daya yang lebih hemat.
Dari penjelasan diatas dapat dihitung realisasi anggaran Dana Kampung
Maluang maka hasil analisis dilakukan sebagai berikut :
Rasio Efisiensi = Realisasi Belanja × 100%
Realisasi Pendapatan
a. Berdasarkan rumus diatas maka dapat dilakukan perhitungan Rasio
Efisiensi anggaran belanja tahun 2020. Realisasi anggaran belanja langsung
berjumlah Rp.[Link],00 dengan Realisasi Pendapatan Rp.
74
[Link],00 sehingga perhitungan tingkat efisiensi Anggaran Belanja
Tahun 2020, sebagai berikut :
Efisiensi = [Link],00 × 100 % = 42,71 %
[Link],00
Perhitungan diatas menunjukkan efisiensi pelaksanaan anggaran belanja
pendapatan Kampung Maluang Tahun 2020 memiliki persentase sebesar
42,71 % yang menunjukkan kriteria sangat efisien.
b. Berdasarkan rumus diatas maka dapat dilakukan perhitungan Rasio
Efisiensi anggaran belanja tahun 2021. Realisasi anggaran belanja langsung
berjumlah Rp. [Link],00 dengan Realisasi Pendapatan Rp.
[Link],00 sehingga perhitungan tingkat efisiensi Anggaran Belanja
Tahun 2021, sebagai berikut :
Efisiensi = [Link],00 × 100 %= 56,42 %
[Link],00
Perhitungan diatas menunjukkan efisiensi pelaksanaan anggaran belanja
pendapatan Kampung Maluang Tahun 2021 memiliki persentase sebesar
56,42 % yang menunjukkan kriteria sangat efisien.
c. Berdasarkan rumus diatas maka dapat dilakukan perhitungan Rasio
Efisiensi anggaran belanja tahun 2022. Realisasi anggaran belanja langsung
berjumlah Rp. [Link],00 dengan Realisasi Pendapatan Rp.
75
[Link],00 sehingga perhitungan tingkat efisiensi Anggaran Belanja
Tahun 2022, sebagai berikut :
Efisiensi = [Link],00 × 100 % = 49,62 %
[Link],00
Perhitungan diatas menunjukkan efisiensi pelaksanaan anggaran belanja
pendapatan Kampung Maluang Tahun 2022 memiliki persentase sebesar
49,62 % yang menunjukkan kriteria sangat efisien.
Kategori Efisiensi yang telah dijelaskan membuat kesimpulan jika
penggunaan Anggaran Dana Kampung Maluang masih katakan hemat. Suatu
kerja organisasi dikatakan efisien apabila mecapai keluaran yang lebih tinggi
berupa hasil, produktivitas, performance dibanding masukan – masukan yang
berupa tenaga kerja, bahan, uang, mesin, dan waktu yang digunakan. Manfaat
efisiensi yang dirasakan masyarakat adalah pada sektor pelayanan, jika
masyarakat telah memperoleh hasil yang diinginkan dengan biaya minimal.
Pada tebel 1.9 memperlihatkan tingkat efisiensi penggunaan dana kampung
oleh pemerintah kampung di Maluang.
76
Tabel 1.9 Tingkat Efisiensi Pengelolaan Dana Kampung di Kampung
Maluang
Tahun Realisasi belanja Realisasi pendapatan Efisiensi % Kategori
2020 [Link],00 [Link],00 42,71 Sangat Efisiensi
2021 [Link],00 [Link],00 56,42 Sangat Efisiensi
2022 [Link],00 [Link],00 49,62 Sangat Efisiensi
jumlah [Link],00 [Link],00 49,01 Sangat Efisiensi
Sumber : Data Penelitian di Olah 2023
Dari hasil perhitungan tabel 1.9, menunjukkan bahwa penggunaan dana
Kampung yang dilakukan oleh aparatur pemerintah dan masyarakat
Kampung Maluang Kec. Gunung Tabur Tahun 2020-2022, dikategorikan
hasilnya signifikan yaitu (Sangat Efisiensi).
Hal ini, menandakan bahwa yang diharakan oleh seluruh pemangku
kepentingan kampung Maluang telah sesuai dengan yang direncanakan. Apa
yang telah dilakukan dengan pengelolaan Anggaran Dana Kampung telah
sesuai dengan asas- asas Pengelolaan Anggaran Dana Kampung
sebagaimana tertuang dalam permendagri Nomor 113/2014 yaitu
transparansi, akuntabel, partisipatif, serta dilakukan dengan tertib dan
disiplin anggaran. Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian yang
sebelumnya dilakukan bahwa efisiensi perbandingan antara output dengan
77
[Link] efisiensi dapat dikembangkan dengan menghubungkan antara
biaya yang sesungguhnya. Dengan biaya standar yang telah ditetapkan
sebelumnya (misalnya anggaran). Dari devinisi tersebut maka Efisiensi
adalah berbanding antara keluaran dan masukan.
Kategori Efisiensi yang telah dijelaskan membuat kesimpulan jika
penggunaan Anggaran Dana Kampung Maluang masih katakan hemat. Suatu
kerja organisasi dikatakan efisien apabila mecapai keluaran yang lebih tinggi
berupa hasil, produktivitas, performance dibanding masukan – masukan yang
berupa tenaga kerja, bahan, uang, mesin, dan waktu yang digunakan. Manfaat
efisiensi yang dirasakan masyarakat adalah pada sektor pelayanan, jika
masyarakat telah memperoleh hasil yang diinginkan dengan biaya minimal.
B. Pembahasan
1. Analisis Efektivitas pengelolaan Anggaran Dana Kampung di Kampung
Maluang Kecamatan Gunung Tabur.
Berdasarkan hasil analisis diatas, dapat dilihat efektivitas
pelaksanaan anggaran belanja dari Tahun 2020 – 2022 selalu
mengalami perubahan nilai persentase. Pada tahun 2020 persentase
efektivitas anggaran belanja sebesar 94,69 % (efektif) , selanjutnya
tahun 2021 97,21 % ( efektif) dan pada tahun 2022 memiliki presentase
sebesar 95, 39 % (efektif). Walaupun pada tahun 2020 dan Tahun 2022
78
mengalami penurunan nilai peresentase tetapi tahun 2021 mengalami
kenaikan tetapi tetap di kriteriakan efektif.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Melania Rampengan,
Grece B. Nangoi, Hendrik Manossoh (2016). yang menunjukkan hasil
analisis efektivitas pelaksanaan anggaran belanja pada perencanaan
pembangunan desa dari tahun ke tahun mengalami peningkatan kriteria
meskipun belum mencapai kriteria sangat efektif.
2. Analisis Efisiensi pengelolaan anggaran dana kampung Maluang di
kecamatan Gunung Tabur.
Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat dilihat efisiensi
pelaksanaan anggaran belanja kampung maluang dari tahun 2020-
2022 mengalami peresentase setiap tahunnya namun memiliki
kriteria efisiensi yang sama. Dimana pada tahun 2020 persentase
efisiensi anggaran belanja sebesar 42,71 % ( sangat efisien), tahun
2021 persentase efisiensi anggaran belanja sebesar 56,42 % (Sangat
efisien), dan persentase efisiensi anggaran belanja tahun 2022
sebesar 49,62 % (sangat efisien).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Melania
Rampengan, Grece B. Nangoi, Hendrik Manossoh (2016). yang
menunjukkan hasil analisis efisiensi pelaksanaan anggaran belanja
pada pembangunan kampung maluang dari tahun 2020-2022
79
menunjukkan kriteria ( Sangat Efisien). Karena dari realisasi belanja
yang di keluarkan kampung maluang untuk pembangunannya di
gunakan biaya yang sangat hemat sehingga dari semua realisasi
belanja dari tahun 2020-2022 dalam kriteria Sangat Efisien.
Berdasarkan uraian analisis efektivitas dan Efisiensi diatas
penelitian ini sebaiknya lebih mengenai perencanaan pembangunan
Kampung atau penggalian potensi masyarakat dan gagasan
pembangunan kampung yang menitik beratkan pada peran
masyarakat dalam proses pembangunan serta peran aktif masyarakat
kampung maluang untuk kegiatan pembangunan. Hal ini sangat
diperlukan agar dari setiap program yang dilaksanakan, memang
benar – benar menjadi kebutuhan masyarakat dan sikap masyarakat
setempat , serta menuntut masyarakat agar lebih memiliki rasa
tanggung jawab, terutama terhadap program yang mereka inginkan
sendiri.
Berdasarkan teori tersebut menjelaskan bahwa perencanaan
pembangunan kampung dengan melibatkan lapisan masyarakat yang
menjadi wujud nyata peran masyarakat dalam membangun masa
depan kampung. Peren masyarakat dalam hal ini adalah analisa
mengenai apa saja kebutuhan yang harus terpenuhi, serta menuntut
masyarakat agar lebih memiliki rasa tanggung jawab.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan hasil pembahasan sebelumnya, penulis
memperoleh kesimpulan dari hasil penelitian mengenai Analisis Efektivitas
dan Efisiensi Pengelolaan Anggaran Dana Kampung (ADK) Di Kampung
Maluang Kecamatan Gunung Tabur, adalah sebagai berikut :
1. Tingkat efektivitas dipengaruhi oleh keberhasilan pemerintah kampung
dalam mengelola pendapatan Dana Kampung dan memaksimalkan
kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat. Sehingga perhitungan dari
Anggaran Dana Kampung Maluang dapat disimpulkan bahwa
Pengelolaan Anggaran Dana Kampung Maluang tahun 2020 – 2022
dikategorikan hasilnya signifikan yaitu (Efektif) .
Manfaat analisis efektivitas Pengelolaan Dana Kampung bagi
masyarakat adalah sebagai tolak ukur tentang penyediaan pelayanan
yang disediakan oleh aparatur kampung. Kategori efektif dapat berubah
setiap tahunnya. Tujuan adanya Dana Kampung adalah meningkatkan
kesejahteraa warga kampung.
2. menunjukkan bahwa penggunaan dana Kampung yang dilakukan oleh
aparatur pemerintah dan masyarakat Kampung Maluang Kec. Gunung
81
Tabur Tahun 2020-2022, dikategorikan hasilnya signifikan yaitu
(Sangat Efisiensi).
Hal ini, menandakan bahwa yang diharakan oleh seluruh pemangku
kepentingan kampung Maluang telah sesuai dengan yang direncanakan.
Apa yang telah dilakukan dengan pengelolaan Anggaran Dana
Kampung telah sesuai dengan asas- asas Pengelolaan Anggaran Dana
Kampung sebagaimana tertuang dalam permendagri Nomor 113/2014
yaitu transparansi, akuntabel, partisipatif, serta dilakukan dengan tertib
dan disiplin anggaran.
3. Serta dari penggunaan anggaran dana kampung ini telah diteliti bahwa
dari anggaran yang telah di keluarkan pemerintahan telah membangun
beberapa infrastruktur yaitu pembangunan jalan serta pembanguan
beberapa posyandu di paribau rt 5 dan perbaikan jalan yang di lakukan
di kmpung maluang tepatnya di jl. amir kampung maluang.
B. Saran
Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan yang telah dibahas dalam
penelitian ini , maka dapat diberikan saran sebagai berikut :
1. Dalam penggunaan dana kampung diharapkan bidang
infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat dapat ditingkatkan
lagi. Seperti pembangunan jalan dibangun dengan kuat dan kokoh
supaya ke depannya dapat di bangun infrastruktur yang lain.
82
Selain pembangunan infrastruktur pemberdayaan masyarakat juga
ditingkatkan lagi seperti mengadakan kursus masak atau kursus
menjahit untuk ibu – ibu, mengadakan kursus komputer dan
kursus las bengkel untuk remaja Kampung Maluang.
2. Pemerintah kampung supaya lebih mengarahkan masyarakat
untuk lebih berpartisispasi dalam mengawasi jalannya alokasi
dana kampung untuk kebaikan bersama. Terutama dalam
mengarahkan perempuan untuk ikut serta dalam pelatihan atau
mengadakan pelatihan sehingga dapat membicarakan aspirasinya
untuk kemajuan kampung maluang kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA
Novita, D. (2016). Analisis Efisiensi Dan Efektivitas Pengelolaan Anggaran Dana
Desa Tahun 2015 Di Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor Provinsi
Jawa Barat (Bachelor's thesis, Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta).
SINTIA, E. D. (2019). Efektivitas Pengelolaan Dana Desa Dalam Meningkatkan
Pembangunan Desa Menurut Perspektif Ekonomi Islam (Studi pada Desa
Semuli Raya Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara)
(Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).
Febriyanti, S., & Halmawati, H. (2020). Analisis Efektivitas Dan Efisiensi
Pengelolaan Dana Nagari (Studi Pada Nagari Di Kabupaten Agam).
JURNAL EKSPLORASI AKUNTANSI, 2(1), 2331-2347.
NAZHIROH, R. D. (2019). Analisis Efektivitas Program Alokasi Dana Desa Pada
Pemberdayaan Ekonomi Perspektif Ekonomi Islam (Studi pada Kecamatan
Sumberejo Kabupaten Tanggamus) (Doctoral dissertation, UIN Raden
Intan Lampung).
Azwardi, A., & Sukanto, S. (2014). Efektifitas Alokasi Dana Desa (ADD) dan
Kemiskinan di Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Ekonomi Pembangunan
3(Journal Of Economics And Development), 12(1), 29-41.
Purnamasari, R., Barus, I. N. E., & Kulsum, U. Analisis Efektivitas Dan Efisiensi
Pengelolaan Keuangan Dana Desa Di Desa Gas Alam Badak 1 Kecamatan
Muara Badak Tahun 2018.
Kinaro, M. (2019). Efektivitas Pengelolaan Dana Desa Dalam Pembangunan
Infrastruktur Di Desa Kajhu Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh
Besar. Banda Aceh: Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.
Rouhaty Nur Hikmah, Analisis Struktur Penerimaan Daerah dan Posisi Fiskal
Kotamadya dan Yogyakarta 1996/1997, tesis dipublikasikan, 1999.
M. Suparmoko, Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktik, Edisi 5 , BPFE
Yogyakarta ,2000
84
David N. Hyman , Publik Finance, A Contemporary Application of Theory to
Policy, Sixth Edition, The Dryden Press, Sydney,1999
Eugina Liliawati Mulyono, Peraturan Perundang-undangan tentang Pajak Daerah
dan Retribusi Daerah, Harvarindo, 1998
Nick Devas, “ Keuangan Daerah Di Indonesia : Sebuah Tinjauan Umum”, dalam
Nick Devas, dkk, Keuangan Pemerintah Daerah Di Indonesia, Penerbit
Universitas Indonesia, Jakarta , 1987.
Undang – undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014
Tentang Desa.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 Tentang
Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana
Desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan
Keuangan Desa.
Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 93/PMK.07/2015
Tentang Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan, dan
Evaluasi Dana Desa.