0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan97 halaman

Efektivitas Pengelolaan ADK Kampung Maluang

Dokumen tersebut merupakan skripsi yang menganalisis efektivitas dan efisiensi pengelolaan anggaran dana kampung di Kampung Maluang, Kecamatan Gunung Tabur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh efektivitas dan efisiensi terhadap pengelolaan anggaran tersebut. Penelitian dilakukan dengan mengambil responden dari seksi keuangan k

Diunggah oleh

agus setiawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
13 tayangan97 halaman

Efektivitas Pengelolaan ADK Kampung Maluang

Dokumen tersebut merupakan skripsi yang menganalisis efektivitas dan efisiensi pengelolaan anggaran dana kampung di Kampung Maluang, Kecamatan Gunung Tabur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh efektivitas dan efisiensi terhadap pengelolaan anggaran tersebut. Penelitian dilakukan dengan mengambil responden dari seksi keuangan k

Diunggah oleh

agus setiawan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PENGELOLAAN

ANGGARAN DANA KAMPUNG (ADK) DI KAMPUNG MALUANG

KECAMATAN GUNUNG TABUR

Disusun Oleh :

DESIANA
19600007

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BERAU
2023
ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PENGELOLAAN
ANGGARAN DANA KAMPUNG (ADK) DI KAMPUNG MALUANG

KECAMATAN GUNUNG TABUR

DESIANA

NIM : 19600007

Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk

Memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Pada Universitas

Muhammahdiah Berau

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BERAU

2023

i
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

Judul Skripsi : Analisis Efektivitas Dan Efisiensi Pengelolaan


Anggaran Dana Kampung(ADK) Di Kampung
Maluang Kecamatan Gunung Tabur
Nama Mahasiswa : Desiana
NIM : 19600007
Jurusan/Program Studi : Ekonomi Pembangunan

Menyetujui,
Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Dr. H. Muhammad Bayu, Drs, MM Diah Riyani, [Link],[Link]


NIP. 19580821 198703 1 008 NIDN. 1124017301

Mengesahkan :
Rektor Universitas Muhammadiyah Berau

Dr. H. Muhammad Bayu, Drs, MM


NIP. 19580821 198703 1 008

ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan dibawah ini :


Nama : Desiana
Nim : 19600007
Jurusan : Ekonomi Pembangunan
Perguruan : Universitas Muhammadiyah Berau
Menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi :
Judul : Analisis Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan
Anggaran Dana Kampung (ADK) Di Kampung
Maluang Kecamatan Gunung Tabur
Adalah merupakan hasil penelitian yang telah saya lakukan. Segala kutipan dan
bantuan dari berbagai sumber telah diungkapakan sebagaimana mestinya. Skripsi ini
belum pernah dipublikasikan untuk keperluan lain dan oleh siapapun juga. Apabila ada
dikemudian hari ternyata pernytaan saya ini tidak benar, maka saya bersedia menerima
sanksi dari tidak benaran pernyataan tersebut.
Tanjung Redeb, 23 Februari 2023
Yang membuat pernyataan,

Desiana
Nim 19600007

iii
RINGKASAN

Desiana, Analisis Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Anggaran Dana Kampung


(ADK) Di Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur, di bawah bimbingan Bapak
Dr. H. Muhammad Bayu, Drs, MM sebagai pembimbing satu dan Ibu Diah Riyani,
[Link],[Link] sebagai pembimbing dua.

Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dan menganalisis yaitu Analisis
Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Anggaran Dana Kampung (ADK) Di Kampung
Maluang Kecamatan Gunung Tabur. Penelitian ini dilakukan kepada Seksi keuangan
sebagai responden pengambilan data.

Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh yang


signifikan, antara Efektivitas dan Efisiensi terhadap pengelolaan anggaran dana
kampung (ADK) di Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur yang di tunjukkan
Efektif sebesar 95,73. Hal ini berarti bahwa pengelolaan anggaran dana kampung di
pengaruhi efisiensi sebesar 49,01 % .
Dengan demikian bahwa hipotesis yang dikemukakan dapat diterima.

Kata kunci : Efektivitas dan Efisiensi, Anggaran Dana Kampung (ADK)

iv
RIWAYAT HIDUP
A. DATA PRIBADI
1. Nama Penulis : Desiana
2. Tempat/Tgl. Lahir : Tarakan, 30 Desember 2000
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Agama : Kristen
5. Pekerjaan : Mahasiswa
6. Alamat : Jl. Poros Bulungan gg. Perjuangan rt.5
Paribau
7. Riwayat Pendidikan : 1. Tamat SD Tahun 2012
2. Tamat SMP Tahun 2015
3. Tamat SMA Tahun 2018
4. Kuliah di Universitas Muhammadiyah
Berau 2019
8. Riwayat Pekerjaan :
B. DATA ORANG TUA
9. Nama Ayah : Julius Songgo
10. Nama Ibu : Martha Pongliku
C. DATA SAUDARA
1. Nama Adik : 1. Julita
2. Michel
3. Jesika

v
KATA PENGANTAR
Dengan mamanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa,

karena berkat Rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Skripsi dengan judul “ Analisis Efektivitas dan Efisiensi Pengelolaan Anggaran

Dana Kampung(ADK) di Desa Maluang Kecamatan Gunung Tabur” merupakan

salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E) Jurusan Ekonomi

Pembangunan pada Universitas Muhammadiyah Berau.

Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan

yang setinggi-tingginya kepada:

1. Rektor Universitas Muhammadiyah Berau beserta seluruh staf pengajar dan

staf akademik yang telah mendidik dan membimbing penulis salama

dibangku kuliah.

2. Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Berau

3. Ketua Jurusan Ekonomi Pembangunan Universitas Muhammadiyah Berau.

4. Bapak [Link] Bayu,Drs,MM dan Ibu Diah Riyani,[Link],[Link]

sebagai pembimbing yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan

bimbingan dan arahan kepada penulis dalam penulisan skripsi ini.

5. Kepada bapak dan ibu, kakak-kakak serta seluruh keluarga tercinta yang

telah memberikan bantuan baik berupa materi maupun moral yang berupa

do’a restunya.

vi
6. Kepada teman-teman dari Ekonomi Pembangunan yang telah memberikan

bantuan serta dorongan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan

skripsi ini.

7. Kepada teman saya Ervina Apriani yang telah memberikan bantuan yaitu

membantu dalam hal ngeprint kepada penulis sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi ini.

8. Kepada teman dekat saya Jimboy yang telah memberikan bantuan dan

dorongan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya penulis memanjatkan do’a kehadirat Tuhan Yang maha Esa

semoga amal baik dan segala bantuan yang diberikan kepada penulis

mendapat balasan-Nya. Amin

Tanjung Redeb,12 Januari 2023

Desiana

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................. i


HALAMAN PENGESAHAN ............................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ................................. iii
HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ........................ iv
RINGKASAN ......................................................................................... v
RIWAYAT HIDUP ............................................................................... vi
KATA PENGANTAR ........................................................................... vii
DAFTAR ISI .......................................................................................... viii
DAFTAR TABEL .................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................. x
BAB I : PENDAHULUAN ................................................... 1
A. Latar Belakang..................................................... 1
B. Rumusan Masalah ............................................... 9
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ......................... 9
D. Sistematika Penulisan .......................................... 10
BAB II : KAJIAN PUSTAKA ............................................... 12
A. Kajian Teori ......................................................... 12
B. Kajian Empiris ..................................................... 38
C. Kerangka Pikir Penelitian .................................... 40
D. Hipotesis .............................................................. 41
BAB III : METODE PENELITIAN ....................................... 43
A. Definisi Operasional ............................................ 43
B. Unit Analisis, Populasi dan Sampel .................... 44
C. Jenis dan Sumber Data ........................................ 45
D. Metode Pengumpulan Data ................................. 45
E. Alat Analisis ........................................................ 46

viii
BAB IV : HASIL PENELITIAN ............................................ 60
A. Gambaran Umum Objek Penelitian .................... 60
B. Data Hasil Penelitian ........................................... 64
BAB V : ANALISIS DAN PEMBAHASAN ........................ 69
A. Analisis ................................................................ 69
B. Pembahasan ......................................................... 77
BAB VI : KESIMPULAN DAN SARAN ............................... 80
A. Kesimpulan .......................................................... 80
B. Saran .................................................................... 81

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ix
DAFTAR TABEL
Nomor Tubuh utama Halaman
1 Kriteria efektivitas pengelolaan ADK ............................... 47

2 Kriteria efisiensi pengelolaan ADK .................................. 48

3 Klasifikasi Tipologi Klassen Pajak/Retrubusi Daerah ...... 51

4 Nama-nama Kepala Kampung Yang Pernah Menjabat..... 62

5 Rincian Anggaran Dana Kampung Maluang .................... 66

6 Realisasi Belanja Kampung ............................................... 67

7 Tingkat Efektivitas Anggaran Dana Kampung ................ 72

8 Tingkat Efisiensi Anggaran Dana Kampung ..................... 76

x
DAFTAR GAMBAR
Nomor Tubuh utama Halaman
1 Kerangka berpikir ..................................................... 41
2 Struktur Organisasi Kantor Lurah Maluang ............. 63

xi
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pemerintah Indonesia saat ini berupaya meningkatkan pelaksanaan

pembangunan nasional agar laju pembangunan daerah dan kampung

berjalan dengan seimbang. Strategi pemerintah untuk mengatasi

ketimpangan pembangunan yaitu dengan melaksanakan pembangunan

nasional yang menaruh perhatian besar terhadap pembangunan kampung.

Pemberian otonomi daerah yang seluas-luasnya berarti pemberian

kewenangan kepada kampung untuk mengelola dan memanfaatkan sumber

daya secara optimal agar dapat menyeimbangkan pembangunan antara

kampung/ kota demi kemajuan negara.

Pemerintah kampung dapat meningkatkan kemampuannya untuk

melakukan pembangunan sesuai dengan sumber daya , dapat meningkatkan

kualitas dan efektifitas pelayanan publik. Dalam pelaksanaan otonomi

daerah dapat memberi dampak positif apabila pemerintah kampung

melibatkan masyarakat dalam pembangunan dan memunculkan identitas

masyarakat lokal yang juga berpengaruh terhadap pelayanan masyarakat .

Selain dampak positif , otonomi memiliki dampak negatif dalam

pelaksanaannya yaitu menimbulkan kesempatan kepada pihak oknum


2

ditingkat kampung untuk melakukan pelanggaran yang berakibat

mempengaruhi kegiatan pembangunan. Agar tidak terjadi penyimpangan

dan penyelewengan tersebut harus dibarengi dengan pengawasan yang kuat

oleh pemerintah serta komponen masyarakat.

Undang – undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014 tentang

kampung adalah kesatuan , masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah

yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan

pemerintah,kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa

masyarakat, hak asal usul, dan hak tradisional yang diakui dan dihormati

dalam sistem pemerintahanNegara Kesatuan Republik Indonesia. Kampung

mempunyai hak untuk mengurus dan mengatur kepentingan masyarakatnya

sendiri sesuai dengan kondisi serta sosial budaya setempat.

Pengelolaan keuangan kampung memiliki prinsip-prinsip atau azas-

azas yang sudah ditetapkan oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri

Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 113 Tahun 2014 tentang

Pengeloalaan Keuangan Desa pasal 2 ayat (1) yang menyatakan bahwa

“Keuangan desa dikelola berdasarkan asas – asas transparan, akuntabel,

partisipasif serta dilakukan dengan tertib dan disiplin anggaran.” Dengan

demikian pemerintahan desa khususnya melalui aparatur desa memiliki

tanggung jawab terhadap pengelolaan keuangan desa secara efektif guna

menjalankan pembangunan yang tepat sasaran, dan efisien.


3

Dilihat dari pembangunan masyarakat kampung pada masa lalu yaitu

di era orde baru, pembangunan kampung merupakan pendekatan

pembangunan yang diprogramkan negara secara sentralistik yang dilakukan

pemerintah dengan kemampuan sendiri ( dalam negeri) yang di dukung oleh

negara – negara maju. Pada masa orde baru pembangunan desa di lakukan

secara seragam oleh pemerintah pusat ,Sedangkan pada masa reformasi

pembangunan desa lebih cenderung diserahkan pada desa itu sendiri

dimana pemerintah pusat dan pemerintah daerah cenderung mengambil

posisi dan peran sebagai fasilitator , memberi bantuan dana, pembinaan dan

pengawasan.

Pembangunan daerah tidak telepas dari prinsip otonomi daerah,

Daerah memiliki hak dan tanggung jawab dalam menyelenggarakan

kepentingan masyarakatnya sesuai prinsip keterbukaan, partisipasi dan

peertanggung jawaban terhadap masyarakat. Undang-undang Nomor 22

tahun 1999 mengenai otonomi daerah lahir berdampingan dengan undang-

undang Nomor 25 tahun 1999 tentang perimbangan keungan pusat daerah.

Perimbangan keuangan pusat dan daerah tercantum dalam anggaran

pendapatan dan belanja negara (APBN).

Dengan munculnya undang- undang desa semakin memberi

keleluasan kepada desa untuk melakukan perencanaan, pengawasan,

pengendalian dan mengevaluasi kebijakan yang dikeluarkan desa. Banyak


4

sisi positif yang diharapkan dengan munculnya undang-undang desa

tersebut, akan tetapi di sisi lain juga di khawatirkan akan muncul banyak

masalah ketika pemerintah baik pusat maupun daerah tidak menyikapi

dengan baik konsekuensi dengan munculnya undang -undang desa tersebut.

Kampung diberikan kewenangan dan sumber dana yang memadai

agar dapat mengelola potensi yang dimilikinya guna meningkatkan

ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kampung sebagai pemerintahan

yang langsung bersentuhan dengan masyarakat menjadi fokus utama dalam

pembanguan pemerintah, hal ini dikarenakan sebagian besar wilayah

Indonesia adalah pedasaan khususnya di kampung Maluang.

Dana kampung adalah sejumlah anggaran dana yang diberikan

kepada kampung dari pemrintah, dana tersebut berasal dari Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara yang diterima paling sedikit 10% . Dengan

tujuan penggunaan dana desa ini untuk meningkatan kesejahteraan

masyarakat kampung dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan

kemiskinan. Penggunaan dana kampung diprioritaskan untuk membiayai

pembangunan pemenuhan standar pelayanan minimum kampung dan

pemberdayaan masyarakat.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 58 tahun 2005 tentang

pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan daerah menyatakan

pengelolaan keuangan daerah harus dilakukan secara tertib, saat pada


5

peraturan perundang-undangan yang berlaku efisien,efektif, transparan dan

bertanggung jawab dengan memperhatikan asas keadilan kepatutan dan

manfaat untuk masyarakat. Pengelolaan keuangan daerah yang efektif dan

efisien harus dilakukan secara optimal, karena seringkali realisasi tidak

sesuai target. Menurut Hidayat (1986) Efektivitas adalah suatu ukuran yang

menyatakan seberapa jauh target (kuantitas, kualitas dan waktu) telah

tercapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai , maka tinggi

efektifitasnya.

Efektivitas sangat penting karena menjadi tolak ukur atas berhasil

atau tidaknya suatu tindakan yang dilakukan, semakin besar usaha yang

diberikan dan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan, maka suatu

aktivitas/kegiatan tersebut telah mencapai kata efektif. Menurut

sadarmayanti(2014:22) Efisiensi adalah ukuran tingkat penggunaan sumber

daya dalam suatu proses. Semakin hemat atau sedikit penggunaan sumber

daya, maka prosesnya dikatakan semakin efisien. Proses yang efisien

ditandai dengan perbaikan proses sehingga menjadi lebih mudah dan lebih

cepat. Efisiensi sangat penting karena menghemat atau mengurangi

penggunaan sumber daya didalam melakukan suatu aktivitas maupun

kegiatan, selain itu efisiensi juga dapat memaksimalkan penggunaan segala

sumber daya yang ada sehingga tidak ada yang terbuang percuma.
6

Kampung maluang merupakan salah satu kampung yang berada

diwilayah Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten Berau. Penduduk

Kampung Maluang awalnya hanya 7 rumah KK dengan jarak rumah yang

jauh-jauh namun dengan bergulirnya waktu semakin bertambah jumlah

penduduknya sehingga dibentuk suatu kampung/desa yang diberi nama

Kampung/Desa Maluang yang mempunyai arti Meluang-luang (Berpencar-

pencar). Kampung Maluang pertama kali dipimpin oleh Punggawa Sejati

(Alm) pada tahun 1935 sampai dengan tahun 1973 kurang lebih 38 tahun.

Pelaporan realisasi penggunaan dana Kampung dilakukan oleh

kepala Kampung kepada bupati/walikota kemudian bupati/walikota

menyampaikan laporan realisasi penyaluran dan konsolidasi penggunaan

dana kampung kepada menteri terkait dengan tembusan-tembusan lain telah

dibuat dalam PP No. 60 Tahun 2014. Namun , risiko pelanggaran masih

sering terjadi akibat minimnya pengawasan dan kemungkinan letak

geografis kampung yang cukup jauh dari pusat ibu kota kabupaten /kota

maupun ibu kota provinsi.

Adapun capaian kinerja merupakan tingkat pencapaian target dari

masing-masing indikator yang telah menetapkan dalam dokumen rencana

kerja dan tertuang dalam DPPA untuk masing-masing program dan

kegiatan. Analisis efektivitas dan efisiensi pengelolaan anggaran dana


7

kampung dalam penelitian ini mencoba menggambarkan efektifitas dan

efisiensi pengelolaan dana kampung di desa Maluang [Link] Tabur.

Dari latar belakang masalah maka alasan ketertarikan penelitian ini

dikarenakan :

1. program Anggaran Dana Kampung memiliki implikasi yang sangat

besar dan juga signifikan terhadap pembangunan sebuah

kampung/kelurahan disetiap kabupaten yang ada di Indonesia.

2. Salah satu permasalahan baru yang muncul dengan adanya dana

kampung yaitu tidak sedikitnya masyarakat yang mengkhawatirkan

tentang pengelolaan dana kampung. Hal ini berkaitan dengan kondisi

perangkat kampung yang dianggap masih rendah kualitas SDM-nya.

Dan belum kritisnya masyarakat atas pengelolaan anggaran

pendapatan belanja kampung(APBkampung) sehingga bentuk

pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat tidak dapat maksimal.

3. Adapun dampak dari beberapa kegiatan yang belum terlaksanakan

dikarenakan keterlambatan agaran tersebut dan anggaran pun belum

sesuai dengan perhitungan yang real terhadap variabel yang

dibutuhkan seperti jumlah penduduk dan angka kemiskinan yang

meningkat, Sehingga terjadinya tidak sesuaian anggaran yang didapat

untuk kebutuhan Kampung.


8

Pentingnya dari penelitian ini yaitu dengan melihat kepada manfaat praktis

nantinya akan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kampung maluang apakah

penggunaan anggaran dana kampung dilakukan dengan benar dan tepat serta

dananya digunakan untuk apa saja yang perlu di perbaiki untuk pembangunan

kampung serta dapat dirasakan manfaatnya khususnya pada pembangunan

khususnya perbaikan jalan dan jembatan. Serta sejauh ini dapat dilihat bahwa

pengelolaan anggaran dana kampung maluang tidak ada masalah sehingga bisa

dikategorikan penggunaan anggaran dana kampung sudah dimanfaatkan dengan

benar. Berikut juga akan membahas penelitian sebelumnya untuk membedakan

penelitian terdahulu yang telah dilakukan.

Jadi kelebihan penelitian ini dari penelitian sebelumnya yaitu terletak pada

lokasi penelitian yang penulis pilih yaitu Anggaran Dana Kampung di Kampung

Maluang Kecamatan Gunung Tabur karena belum pernah ada yang membahas atau

meneliti hal tersebut. Perbedaannya juga pada contoh judul penelitian sebelumnya

yaitu “Efisiensi dan efektivitas pengelolaan keuangan daerah di Kabupaten

Ngawai” yang lebih berfokus kepada pengelolaan keuangan daerah sedangkan

penelitian penulis lebih berfokus kepada Anggaran Dana Kampung. Serta dalam

penelitian sebelumnya menggunakan metode kualitatif sedangkan penulis

menggunakan metode kuantitatif dalam penelitian penulis.


9

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas latar belakang tersebut, permasalahan

yang ditemukan dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah tingkat efektivitas terhadap pengelolaan anggaran dana

kampung di kampung Maluang ?

2. Apakah pengelolaan anggaran dana kampung di Kampung Malung

sudah sangat efisien ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Berdasarkan dari rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian

ini adalah :

untuk mengetahui tingkat efektifitas dan efisiensi dalam

pengelolaan Anggaran Dana kampung di kampung Maluang Kecamatan

Gunung Tabur Kabupaten Berau.

Berdasarkan tujuan penelitian tersebut manfaat dari penelitian ini

adalah :

1. Bagi pemerintah, dapat menjadi bahan pertimbangan dan masukan

dalam mengambil kebijakan terkait pengelolaan dana desa agar

tercapainya tujuan dana desa tersebut serta dapat berjalan secara efektif.

2. Bagi masyarakat umum, dapat menambah wawasan dan pengetahuan

tentang pengelolaan dana desa, sehingga kedepannya masyarakat lebih


10

berperan aktif dalam pengelolaan dana desa tersebut dari mulai

perencanaan sampai pertanggung jawaban.

3. Bagi akademis, penemuan-penemuan dari penelitian ini dapat dipakai

sebagai bahan referensi kepustakaan dan diharapkan dapat menjadi

bahan rujukan dan pertimbangan bagi peneliti berikutnya.

D. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah melihat dan mengetahui pembahsan yang ada

pada skripsi ini secara menyeluruh, maka perlu ditemukan sistematika yang

merupakan kerangka dan pedoman penulisan skripsi, adapun sistematika

penulisannya adalah sebagai berikut :

1. Bagian awal skripsi

Bagian awal membuat halaman sampul depan, halam judul, halaman

persetujuan dosen pembimbing, halaman pengesahan, halaman kata

pengantar, halaman daftar isi, halaman daftar tabel, halaman daftar

gambar, halaman daftar lampiran.

2. Bagian Utama Skripsi

Bagian Utama terbagi atas bab dan sub bab yaitu sebagai berikut :

Bab satu, pendahuluan bab ini terdiri dari latar belakang, rumusan

masalah, tujuan penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab dua, tinjauan pustaka pada bagian ini penulis akan di tuntut bisa

menyuguhkan definisi atau pengertian dari Kajian teori, Kajian Empiris,


11

Kerangka pikir penelitian , dan hipotesis apa yang diteliti dan di bahas. pada

bagian ini peneliti bisa mengutip dari berbagai sumber dalam penyusunannya

dan sumber tersebut harus sesuai dengan ketentuan penulisan skripsi.

Bab tiga, metode penelitian pada tahap ini sistematika akan berisi

pembahasan tentang metode dari Definisi Operasional, unit analisis, populasi

dan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, dan alat

analisis.

Bab empat, hasil penelitian berisi deskripsi dan analisis data serta

interprestasinya secara lengkap. Yang terdiri dari Gambaran umum objek

penelitian, dan data hasil penelitian.

Bab lima, analisis dan pembahasan pada bab ini akan diuraikan mengenai

bagaimana mereka berhubungan dengan literatur dan implikasinya untuk

digunakan dimasa depan. Pembahasan yang baik akan menjelaskan mengapa

hasil penelitian dan keseluruhan skrip penting.

Bab enam, kesimpulan dan saran merupakan kesimpulan dan hasil

analisis yang telah dilakukan serta saran penulis sebagai masukan bagi

pemerintahan dalam kajian analisis efektifitas dan efisiensi pengelolaan

Anggaran Dana Kampung di Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur.


BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Pengertian dan Ruang Lingkup Keuangan Daerah

Dalam arti sempit, keuangan daerah yakni terbatas pada hal -hal yang

berkaitan dengan APBD, Oleh karena itu keuangan identik dengan APDB.

Menurut Mamesah dalam Halim (2004:18 ), keuangan daerah dapat

diartikan sebagai “semua hak dan kewajiban pemerintah yang dapat dinilai

dengan uang, demikian pula segala sesuatu baik berupa uang maupun

barang yang dapat dijadikan kekayaan daerah yang lebih tinggi serta pihak

-pihak lain sesuai peraturan perundangan yang berlaku.”

Berdasarkan PP Nomor 58 Tahun 2005, “Tentang Daerah adalah

semua pihak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan

pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya

segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban

tersebut.” Hak dan kewajiban daerah tersebut dapat dikelola dalam suatu

sistem pengelolaan keuangan daerah. Pengelolaan keuangan daerah

merupakan subsistem dari pengelolaan keuangan negara dan merupakan

elemen pokok dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.


13

Menurut Halim (2004:20),” Ruang lingkup keuangan daerah terdiri

dari keuangan daerah yang di kelola langsung dan kekayaan daerah yang

dipisahkan. Yang termasuk dalam keuangan yang dikelola langsung adalah

APBD dan barang- barang inventaris milik daerah. Sedangkan keuangan

derah yang dipisahkan meliputi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)”

2. Pengelolaan Keuangan Daerah

Dalam ketentuan umum pada PP Nomor 58 Tahun 2005, “Pengelolaan

keuangan daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi

perencanaan,pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, dan pertanggung

jawaban, pengawasan daerah.” Pengelolaan keuangan daerah dalam hal ini

mengandung beberapa kepengurusan dimana kepengurusan khusus atau

juga sering disebut pengurusan bendaharawan. Dalam pengelolaan

anggaran/keuangan daerah harus mengikuti prinsip-prinsip pokok anggaran

sektor publik. Pada permendagri No.27 tahun 2013 tentang pedoman

penyusunan APBD Tahun Anggaran 2013 menyatakan bahwa “ APBD

harus disusun dengan memperhatikan prinsip – prinsip pokok anggaran

sektor publik, sebagai berikut :

a) Sesuai kebutuhan penyelenggaraan pemerintah daerah,

b) Tempat waktu sesuai yang direncanakan,

c) Transparansi

d) Partisipatif
14

3. Pengertian Efektivitas

Kata efektivitas mempunyai beberapa arti, dalam Kamus Besar

Bahasa Indonesia menyebutkan tiga arti efektivitas, arti pertama adalah

adanya suatu adanya suatu efek , akibat, pengaruh dan kesan. Arti yang

kedua manjur dan mujarab dan arti ke tiga dapat membawa hasil atau hasil

guna. Kata efektif di ambil dari kata efek yang artinya akibat atau

pengaruh dan kata efektif yang berarti adanya pengaruh atau akibat dari

suatu unsur. Jadi efektivitas ialah keberpengaruhan atau keberhasilan

setelah melakukan sesuatu. Menurut John. M. Echols dan Hasan Shadily

dalam kamus bahasa Inggris-indonesia secara etimologi efektivitas dari

kata efek yang artinya hasil guna.

Dalam kamus umum bahasa Indonesia Efektivitas merupakan

keterangan yang artinya ukuran hasil tugas atau keberhasilan dalam

mencapai tujuan. Dapat sedikit dipahami bahwa efektivitas bermaknakan

juga menunjukkan taraf tercapainya tujuan, usaha dikatakan efektif kalau

usaha itu mencapai tujuan.

Selain pengertian dari sudut bahasa, adapun beberapa pengertian

efektivitas menurut parah ahli.

1. Menurut Agung kurniawan efektivitas adalah kemampuan

melaksanakan tugas, fungsi (Operasi kegiatan program atau misi)


15

suatu organisasi atau sejenisnya tanpa adanya tekanan atau

ketegangan diantara pelaksanaannya.

2. Menurut Hidayat, efektivitas adalah suatu ukuran yang

menyatakan seberapa jauh target berupa kualias, kuantitas, dan

waktu telah tercapai dengan prinsip semakin besar presentase

target yang dicapai maka semakin tinggi efektivitas.

3. Menurut Effendy, efektivitas adalah indikator dalam tercapainya

sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya sebagai

sebuah pengukuran dimana suatu target telah tercapai sesuai

dengan apa yang telah direncanakan tersebut.

Dari beberapa pengertian-pengertian efektivitas diatas dapat

disimpulkan bahwa secara umum efektivitas dapat diartikan sebagai adanya

suatu pengaruh, akibat, kesan. Efektivitas tidak hanya sekedar memberi

pengaruh atau pesan akan tetapi berkaitan juga dengan keberhasilan

keberhasilan tujuan, penetapan standar, profesionalitas, penetapan sasaran,

keberadaan program, materi, berkaitan dengan metode atau cara. Sasaran

atau fasilitas dan juga dapat memberikan pengaruh terhadap tujuan yang

akan dicapai.

Ukuran efektivitas , dapat dilihat dan dimulai dari hasil yang telah

dicapai. Apabila output atau hasil yang dicapai sesuai atau mencapai target

sasaran yang telah ditentukan sebelumnya, maka hal itu dapat dikatakan
16

afektif. Namun sebaliknya dapat dikatakan tidak efektif apabila hasil yang

didapatkan tidak sesuai dengan target sasaran yang telah ditentukan. Untuk

itu diperlukan suatu indikator atau ukuran untuk melihat tingkat efektivitas.

Ukuran efektivitas bermacam-macam antara lain :

a. Indikator Efektivitas

Menurut pendapat David Krech, Richard S. Cruthfied dan Egerton L.

Ballachey dalam Danim (2012:19-120) menyebutkan Indikator Efektivitas

sebagai berikut :

1. Jumlah hasil yang dapat dikeluarkan

Hasil tersebut berupa kuantitas atau bentuk fisik dari organisasi, program

atau kegiatan. Hasil dimaksud dapat dilihat dari perbandingan (rasio) antara

masukan (input) dengan keluaran (output), usaha dengan hasil, persentase

pencapaian program kerja dan sebagainya.

2. Tingkat kepuasan yang diperoleh

Ukuran dalam efektivitas ini dapat kuantitatif (berdasarkan pada jumlah

atau banyaknya) dan dapat kualitatif (berdasarkan pada mutu).

3. Produk kreatif

Penciptaan hubungan kondisi yang kondusif dengan dunia kerja, yang

nantinya dapat menumbuhkan kreatifitas dan kemampuan.


17

4. Intensitas yang akan dicapai

Artinya memiliki ketaatan yang tinggi dalam suatu intens, dimana

adanya rasa saling memiliki dengan kadar yang tinggi.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa efektivitas merupakan suatu

konsep yang sangat penting karena mampu memberikan gambaran mengenai

keberhasilan suatu organisasi dalam mencapai sasarannya atau dapat dikatakan

bahwa efektivitas merupakan tingkat tercapainya tujuan dari aktifitas yang telah

dilaksanakan dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.

b. Pengukuran Efektivitas

Efektivitas adalah ukuran berhasil tidaknya suatu organisasi mencapai

tujuannya. Apabila suatu organisasi berhasil mencapai tujuan, maka

organisasi tersebut dikatakan telah berjalan dengan efektif. Efektivitas

hanya melihat apakah suatu program atau kegiatan telah mencapai tujuan

yang telah ditetapkan. Menurut Mahmudi (2019:86), efektivitas terkait

dengan hubungan antara hasil yang diterapkan dengan hasil yang

sesungguhnya dicapai. Dengan demikian efektivitas dapat dirumuskan :

𝑹𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏
𝑬𝒇𝒆𝒌𝒕𝒊𝒗𝒊𝒕𝒂𝒔 = × 100%
𝑨𝒏𝒈𝒈𝒂𝒓𝒂𝒏 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏

c. Standar Efektivitas

Standar efektivitas menurut Mahsun (2016:187-188) dapat diketahui

efektif atau tidak dengan memenuhi kriteria sebagai berikut :


18

1. Jika diperoleh nilai kurang dari 100% (x < 100% ) berarti tidak

efektif.

2. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (x = 100%) berarti

efektivitas berimbang.

3. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (x > 100%) berarti efektif.

Standar efektivitas menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri

No. 690.900-327 tahun 1996 tentang kriteria penilaian dan

kinerja sebagai sebagai berikut :

a. Hasil peerbandingan atau tingkat pencapaian diatas

100% berarti sangat efektif

b. Perbandingan antara 90% -100% berarti efektif

c. Hasil perbandingan 80% -90% berati cukup efektif

d. Hasil perbandingan 60%-80% berarti kurang efektif

e. Hasil perbandingan dibawah 60% berarti tidak efektif

4. Pengertian Efisiensi

Efisiensi adalah suatu ukuran keberhasilan sebuah kegiatan yang

dinilai berdasarkan besarnya biaya/sumber daya yang digunakan untuk

mencapai hasil yang diinginkan.

Dalam hal ini, semakin sedikit sumber daya yang digunakan untuk

mencapai hasil yang diharapkan maka prosesnya dapat dikatakan semakin


19

efisien. Suatu kegiatan dapat dikatakan efisien jika ada perbaikan pada

prosesnya, misalnya menjadi lebih cepat atau lebih murah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), efisiensi dapat

diartikan sebagai ketepatan cara dalam melakukan sesuatu, dan kemampuan

melaksanakan tugas dengan baik dan tepat tanpa membuang biaya, waktu,

dan tenaga.

Agar lebih memahami apa arti efisiensi, berikut ini adalah pengertian

efisiensi menurut parah ahli :

1. Menurut Mulyamah (1987;3), pengertin efisiensi adalah suatu

ukuran dalam membandingkan rencana penggunaan masukan

dengan penggunaan yang direalisasikan atau perkataan lain

penggunaan yang sebenarnya.

2. Menurut S. P. Hasibuan (1984;233-4), pengertian efisiensi adalah

perbandingan yang terbaik anatara input (masukan) dan output

(hasil antara keuntungan dengan sumber-sumberyang digunakan),

seperti halnya juga hasil optimal yang dicapai dengan penggunaan

sumber yang terbatas. Dengan kata lain hubungan antara apa yang

telah diselesaikan.

3. Menurut Mahmudi (2010) suatu proses yang dilakukan untuk

mengukur dan membandingkan keluaran dan masukan. Atau


20

mengukur perbandingan antara output yang dihasilkan terhadap

input yang digunakan.

Efisiensi sering dilakukan pada berbagai bidang kehidupan manusia

yang tentunya memiliki tujuan sebagai alasan dilakukannya efisiensi.

Secara umum, tujuan efisiensi adalah sebagai berikut :

1. Untuk mencapai suatu hasil atau tujuan sesuai dengan yang

diharapkan.

2. Untuk menghemat atau mengurangi penggunaan sumber daya

dalam melakukan kegiatan.

3. Untuk memaksimalkan penggunaan segala sumber daya yang

dimiliki sehingga tidak ada yang terbuang percuma.

4. Untuk meningkatkan kinerja suatu unit kerja sehingga output-nya

semakin maksimal.

5. Untuk memaksimalkan keuntungan yang mungkin didapatkan.

Dari penjelasan diatas kita mengetahui bahwa tujuan dari berbagai

upaya efisiensi adalah untuk mencapai efisiensi optimal. Efisiensi optimal

adalah perbandingan terbaik antara pengorbanan yang dilakukan untuk

mendapatkan suatu hasil yang diharapkan.

Syarat tercapainya efisiensi yaitu, manusia selalu berupaya untuk

melakukan efisiensi dalam berbagai bidang kehidupan. Agar upaya efisiensi

dapat dikatakan berhasil maka harus memenuhi beberapa syarat berikut:


21

a) Berhasil guna, yaitu kemampuan suatu unit kerja dalam

mendatangkan hasil dan manfaat. Misalnya, barang yang

diproduksi bermanfaat bagi masyarakat.

b) Ekonomis, yaitu suatu tindakan untuk mendapatkan input (barang

atau jasa) yang berkualitas dengan tingkat sekecil mungkin.

c) Pelaksanaan kerja dapat dipertanggung jawabkan

d) Pembagian kerja yang nyata

e) Rasionalitas wewenang dan tanggung jawab

f) Prosedur kerja yang praktis.

Adapun beberapa contoh efisiensi adalah sebagai berikut :

1. Efisiensi Optimal

Adalah perbandingan terbaik antara pengorbanan yang

dilakukan mendapatkan suatu hasil yang diharapkan.

a) Ditinjau dari segi hasil. Misalnya seorang manajer dapat

mencapai suatu output (produktivitas, performance) yang

lebih tinggi dibandingkan dengan masukan-masukan (tenaga

kerja, uang, waktu, dan bahan) yang dipakai.

b) Ditinjau dari segi penghematan. Misalnya dengan penggunaan

peralatan yang modern maka proses kerja akan lebih cepat

serta menghemat waktu dan biaya.


22

2. Efisiensi dengan tolak ukur

Adalah perbandingan antara hasil minimum yang ditentukan dengan

hasil reel yang dicapai, dimana dapat dikatakan efisien bila hasil reel lebih

besar dari angka minimum yang ditentukan. Sebagai contoh :

a) Buruh Indonesia dapat menyusun bata sekitar 100-125 bata per hari (8

jam).

b) Buruh Thailand mampu menghasilkan 250 batu bata dalam sehari (8

jam).

Dalam hal ini tolak ukurnya adalah kemampuan masing-masing buruh

bangunan tersebut dalam mencapai hasil minimum yang telah ditentukan

dalam waktu tertentu.

3. Efisiensi dengan titik impas

Efisiensi dengan titik impas sering digunakan pada bidang usaha dimana

titik impas (break even point ) adalah titik batas antara usaha yang efisiensi

dan tidak efisien. Suatu usaha atau bisnis dapat dikatakan efisien jika titik

impasnya diketahui dan bisnis tersebut menghasilkan lebih dari titik impas

tersebut.

a) Indikator Efisiensi

Menurut Mardiasmo (2009:132), Indikator efisiensi

menggambarkan hubungan antara masukan sumber daya oleh suatu unit

organisasi (misalnya : staf, upah, biaya administrasi) dan keluaran yang


23

dihasilkan. Masukan Indikator tersebut memberikan informasi tentang

konversi masukan menjadi keluaran (yaitu : efisiensi dari proses iternal).

b) Tindakan memperbaiki Efisiensi

Menurut Mahmudi (2019 : 85), karena efisiensi merupakan suatu

rasio maka untuk memperbaiki dapat dilakukan tindakan sebagai berikut:

1. Meningkatkan Output untuk jumlah input yang sama.

2. Meningkatkan output dengan proporsi kenaikan output yang lebih

besar dibandingkan proporsi kenaikan input.

3. Menurunkan input untuk jumlah output yang sama.

4. Menurunkan input dengan proporsi penurunan yang lebih besar

dibandingkan proporsi penurunan output.

c) Pengukuran Efisiensi

Menurut Mardiasmo(2009:133), Efisiensi diukur dengan rasio

antara output dengan input. Semakin besar output dibandingkan input,

maka semakin tinggi tingkat efisiensi suatu organisasi, dengan demikian

efisiensi dapat dirumuskan sebagai berikut :

𝑹𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝑩𝒊𝒂𝒚𝒂 𝑼𝒏𝒕𝒖𝒌 𝑴𝒆𝒎𝒑𝒆𝒓𝒐𝒍𝒆𝒉 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏


𝑬𝒇𝒊𝒔𝒊𝒆𝒏𝒔𝒊 = × 100%
𝑹𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝑷𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏

Kriteria mengukur efisiensi pengelolaan keuangan daerah sesuai dengan

permendagri Nomor 690.900.327 tahun 1996 yaitu :

a) Lebih dari 100% tidak efisiensi


24

b) antara 90% - Kurang 100% kurang efisien

c) Antara 80% - kurang 90% cukup efisien

d) Antara 60% - kurang 80% efisien

e) Dibawah 60% sangat efisien.

d) Standar Efisiensi

Standar efisiensi menurut Mahsun (2016:187) dapat diketahui atau

tidak dengan memenuhi kriteria sebagai berikut :

1. Jika diperoleh nilai kurang 100% (x < 100%) berarti efisien.

2. Jika diperoleh nilai sama dengan 100% (x = 100%) berarti efisien

seimbang.

3. Jika diperoleh nilai lebih dari 100% (x >100%) berarti tidak efisien.

5. Kampung

Definisi universal kampung adalah sebuah aglomerasi permukiman diarea

perkampungan. Sementara diIndonesia, istilah kampung yaitu pembagian wilayah

administratif dibawah kecamatan yang dipimpin oleh seorang Kepala kampung.

Sebuah kampung merupakan kumpulan beberapa unit permukiman kecil yang

disebut juga kampung. Berdasarkan uraian diatas, bisa dikatakan kampung

merupakan suatu kesatuan masyarakat hukum dimana bertempat tinggal suatu

masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri. Kampung terjadi

hanya satu tempat kediaman masyarakat saja, ataupun terjadi dari satu induk

kampung.
25

Pengertian kampung dalam peraturan perundang-undangan nomor 60 tahun

2014 tentang dana desa dari APBN. Kampung adalah kampung dan adat atau yang

dimaksud dengan nama lain, selanjutnya disebut kampung adalah kesatuan

masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur

dan mengukur urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat

berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul dan/atau tradisional yang diakui

dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pemerintahan kampung adalah penyelenggaraan urusan pemerintah dan

kepentingan masyarakat setempat dalam sistem pemerintahan negara Kesatuan

Republik Indonesia. Pemerintah desa adalah Kepala kampung atau yang disebut

dengan nama lain dibantu perangkat desa sebagai unsur penyelenggaraan

pemerintah kampung. Setelah diterapkannya otonomi desa dimana kampung

diberikan kebebasan dalam mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri,

pemerintah kampung didorong untuk lebih memberdayakan masyarakat dan

mengoptimalkan sumber daya yang berasal dari dalam dan dari luar kampung.

Salah satu sumber daya dari luar yaitu Anggaran Dana Kampung yang berasal dari

pemerintahan daerah yang diberikan berdasarkan penyelenggaraan pemerintahan

desa dalam pelayanan publik dikampung dan sebagai pendamping dalam

pelaksanaan pembangunan kampung yang melibatkan masyarakat kampung.

Adapun kampung yang dialokasikan oleh pemerintah Kabupaten/kota

untuk kampung, yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat
26

dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/kota untuk kampung paling sedikit 10%

yang dibagi secara merata keseluruh kampung. Tata cara pengalokasian Anggaran

Dana Kampung (ADK ) ditetapkan dengan pereturan Bupati/Walikota dengan

berpedoman pada peraturan meteri.

Pengalokasian Anggaran Dana Kampung (ADK) kepada setiap kampung

mempertimbangkan :

1. Kebutuhan penghasilan tetap kepala kampung dan perengkat

kampung.

2. Jumlah penduduk kampung, angka kemiskinan kampung, luas

wilayah kampung, dan tingkat kesulitan geografis kampung.

Menurut Hanif Nurcholis Anggaran Dana Kampung dibagi berdasarkan

rumus yaitu:

a. Asas merata yaitu berdasarkan bagian Anggaran Dana Kampung

yang sama untuk setiap desa/kampung. Selanjutnya disebut Anggaran

Dana Kampung Minimal ( ADKM).

b. Asas adil yaitu bagian anggaran dana kampung dibagi secara

proposional untuk setiap desa berdasarkan nilai bobot desa (BDx)

yang dihitung dengan rumus variabel tertentu (misalnya kemiskinan,

keterjangkauan, pendidikan dasar, kesehatan dan lain-lain)

selanjutnya disebut Anggaran Dana Kampung Proporsional (ADKP)

berdasarkan perentase perbandingan antara asas merata dan adil


27

adalah ADKM P 60% dari jumlah ADK dan besarnya ADKP adalah

40% dari jumlah ADK.

[Link] Anggaran Dana Kampung

Pelaksanaan ADK diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun

2005 tentang kampung. Peraturan mengenai Anggaran Dana

Kampung(ADK) di tinjak lanjuti melalui surat edaran Menteri Dalam Negeri

Nomor 140/640/SJ Tahun 2005 tentang pedoman Anggaran Dana Kampung

(ADK) dari pemeritah kabupaten/kota kepada pemerintah desa yang intinya

berisi mengenai prosedur pelaksanaan anggaran dana kampung . untuk

menindaklanjuti PP Nomor 72 Tahun 2005 tentang desa serta Surat Edaran

Mendagri Nomor 140/640/SJ tentang pedoman Anggaran Dana Kampung

salah satunya mengatur tentang penggunaan Anggaran Dana Kampung

(ADK) yakni anggaran dana kampung yang diterima pemerintah desa

sejumlah 30% dipergunakan untuk biaya operasional penyelanggraan

pemerintahan desa. Kemudian anggran dana kampung yang diterima

pemerintah desa sejumlah 70% dipergunakan untuk pembangunan fisik dan

pemberdayaan masyarakat Desa/Kampung.

Dana kampung diperuntukkan bagi kampung atau kampung yang

ditransfer melalui APBD Kabupatan/Kota, dialokasikan kepada setiap

kampung secara merata dan berkeadilan.


28

Dana kampung dihitung berdasarkan proporsi; dan bobot formula 90%

porsi yang bagi rata (Anggaran Dasar), 10% porsi berdasarkan formula

(Anggaran Formula), Luas wilayah kampung (10%), dan tingkat kesulitan

geografis kampung (30%).

Dalam permendagri No.113 tahun 2014, pengelolaan keuangan kampung

adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan,

penatausahaan dan pertanggungjawaban keuangan kampung. Namun dalam

penelitian ini uang lebih difokuskan adalah pada proses pelaksanaan dan

penatausahaan kampung.

1) Perencanaan

Pemerintah kampung menyusun perencanaan pembangunan

kampung sesuai dengan kewenangannya dengan mengacu pada perencanaan

pembangunan kabupaten/kota. Perencanaan pembangunan kampung

meliputi RPJM Kampung dan RKP Kampung yang disusun berjangka dan

ditetapkan dengan peraturan kampung. Rencana Pembangunan Jangka

Menengah Kampung (RPJM Kampung) untuk jangka waktu 6 tahun

sedangkan Rencana Pembangunan Tahun Kampung atau yang disebut

Rencana Kerja Pemerintah Kampung (RKP Kampung) untuk jangka waktu

1 tahun. RKP Kampungmerupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan

Jangka Menengah Kampung. Perencanaan pembangunan Kampung disusun


29

berdasarkan hasil kesepakatan dalam musyawarah kampung yang

pelaksanaannya paling lambat pada bulan juni tahun anggaran berjalan.

Dalam tahap perencanaan mengedepankan musyawarah kampung

untuk memenuhi kebutuhan real masyarakat. Hal ini tersebut dijalankan

dalam pasal 80 UU kampung yang menyebutkan bahwa :

a. Perencanaan pembangunan kampung sebagaimana dimaksud dalam

pasal 79 diselenggarakan dengan mengikut sertakan masyarakat

kampung.

b. Dalam menyusun perencanaan pembangunan kampung sebagai

mana dimaksud pada ayat (1), pemerintah kampung wajib

menyelenggarakan musyawarah perencanaan pembangunan

kampung.

c. Musyawarah perencanaan pembangunan kampung menetapkan

prioritas, program, kegiatan dan kebutuhan pembangunan kampung

yang didanai oleh anggaran Pendapatan dan Belanja kampung,

swadaya masyarakat kampung, dan/atau anggaran Pendapatan dan

Belanja Daerah Kabupaten/kota.

d. Proritas, program, kegiatan dan kebutuhan pembangunan kampung

sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

2) Pelaksanaan
30

Dalam pelaksanaan anggaran kampung yang sudah ditetapkan

sebelumnya timbul transaksi penerimaan dan pengeluaran kampung dalam

rangka pelaksanaan kewenangan kampung dilaksanakan melalui rekening

kampung. Jika kampung yang belum memiliki pelayanan perbankan

diwilayahnya maka pengaturannya ditetapkan oleh pemerintah

kabupaten/kota. Semua penerimaan dan pengeluaran kampung harus

didukung oleh bukti yang lengkap dan sah.

Beberapa aturan dalam pelaksanaan pengelolaan keuangan kampung

sebagai berikut :

a. Pemrintah kampung dilarang melakukan pengaturan sebagai

penerimaan kampung selain ditetapkan dalam peraturan kampung.

b. Bendahara dapat menyimpan uang kas kampung pada jumlah

tertentu dalam ramgka memeuhi kebutuhan operasional pemerintah

kampung.

c. Pengaturan jumlah uang kas kampung ditetapkan dalam pereturan

bupati/walikota.

d. Pengeluaran kampung yang mengakibatkan beban pada APB

kampung tidak dapat dilakukan sebelum rancangan peraturan

kampung tentang APB kampung ditetapkan menjadi peraturan

kampung.
31

e. Pengeluaran kampung tidak termasuk untuk belanja pegawai yang

bersifat mengikat dan operasional perkantoran yang ditetapkan

dalam peraturan kepala kampung.

f. Penggunaan biaya tak terduga terlebih dahulu harus dibuat rincian

anggaran biaya yang telah disahkan oleh kepala kampung.

Pelaksanaan dalam pengelolaan keuangan kampung merupakan

implementasi atau eksekusi dari anggran pendapatan dan belanja kampung.

Termasuk dalam pelaksanaan diantaranya adalah proses pengadaan barang

dan jasa serta proses pembayaran. Dalam peraturan pemerintah nomor 43

tahun 2014 ditetapkan dalam APB kampung yang dibiayai menggunakan

sumber dana dari anggaran dana kampung yang dikelola dengan ketentuan :

a. Paling sedikit 70% digunakan untuk pembangunan kampung yang

digunakan untuk mendanai penyelenggaran pemerintahan

kampung, pelaksanaan pembangunan kampung, pembinaan

kemasyarakatan kampung dan pemberdayaan masyarakat kampung.

b. Peling banyak 30% anggaran dana kampung digunakan untuk

Operasional pemerintah kampung yang meliputi :

1. Penghasilan Tetap

1) Kepala kampung
32

a) Anggaran Dana Kampung yang jumlahnya kurang dari Rp.

500.000.00,00 (lima ratus juta rupiah) digunakan maksimal 60% (enam

puluh perseratus);

b) Anggaran Dana Kampung yang berjumlah Rp. 500.000.000,00 (lima

ratus juta rupiah) sampai dengan Rp.700.000.000,00 (tujuh ratus juta

rupiah) digunakan maksimal 50% (lima puluh perseratus);

c) Anggaran Dana kampung yang berjumlah lebih dari

Rp.700.000.000,00 (tujuh ratus juta rupiah ) sampai dengan Rp.

900.000.000,00 (sembilan ratus juta rupiah) digunakan maksimal 40%

(empat puluh perseratus); dan

d) Alokasi dana kampung yang berjumlah lebih dari Rp.

900.000.000,00 (sembila ratus juta rupiah ) digunakan maksimal 30%

(tiga puluh perseratus).

e) Sekretaris kampung paling sedikit 70% (tujuh puluh perseratus) dari

penghasilan tetap kepala kampung perbulan.

f) Perangkat kampung selain sekretaris kampung paling sedikit 50%

(lima puluh perseratus) dari penghasilan tetap kepala kampung

perbulan.

2) Operasional Pemerintah Kampung

3) Tunjangan dan Operasional Badan Permusyawaran Kampung (BPK)


33

4) Insentif Rukun Tetangga dan Rukun Warga yaitu bantuan kelembagaan yang

digunakan untuk operasional RT dan RW.

Dari pasal tersebut bahwa keuangan kampung hanya dibatasi untuk

melaksanakan penyelenggaraan pemrintahan kampung, pelaksanaan

pembangunaan kampung, pembinaan kemasyarakatan kampung,

pemberdayaan kemasyarakatan kampung dan membayar penghasilan maupun

tunjangan insetif bagi perengkat kampung badan permusyawaratan kampung

dan RT/RW.

3) Penatausahaan

Kepala kampung dalam melaksanakan penatanusahaan keuangan

kampung harus menetapkan bendahara kampung, penetapan bendahara

kampung harus dilakukan sebelum dimulainya tahun anggaran

bersangkutan dan berdasarkan keputusan kepala kampung . Menurut Ardi

Hamzah dikutip oleh Sujarwen, bendahara adalah perengkat kampung yang

ditunjuk oleh kepala kampung dalam rangka pelaksanaan APB kampung.

Bendahara wajib lapor pertanggungjawaban disampaikan setiap bulan

kepada kepala kampung dan paling lambat 10 bulan berikutya. Dalam

permendagri No. 113 tahun 2014 laporan pertanggungjawaban yang wajib

dibuat oleh bendahara kampung adalah sebagai berikut :

a. Buku kas umum


34

Buku kas umum digunakan untuk mencatat berbagai aktivitas yang

menyangkut penerimaan dan pengeluaran kas, baik secara tunai

maupun kredit, digunakan juga untuk mencatat mutasi perbankan atau

kesalahan dalam pembukuan, buku kas umum dapat dikatakan sebagai

sumber dikuen transaksi.

b. Buku pembantu pajak

Digunakan membantu buku kas umum, dalam rangka penerimaan

dan pengeluaran berhubungan dengan pajak Buku bank Digunakan

membantu buku kas umum dalam rangka penerimaan dan pengeluaran

yang berhubungan dengan bank.

4. Tahap Pelaporan dan Pertanggung Jawaban

Dalam melaksanakan tugas, kewenangan, hak, dan kewajibannya

dalam pengelolaan keuangan kampung, kepala kampung memiliki

kewajiban untuk menyampaikan laporan. Laporan tersebut bersifat

periodik semesteran dan tahunan, yang disampaikan ke Bupati/walikota

dan ada juga yang disampaikan ke BPD. Rincian laporan sebagai berikut:

a.) Laporan kepada Bupati/walikota (melalui camat )

1.) Laporan semesteran Realisasi Pelaksanaan APB Kampung;

2.) Laporan pertanggungjawaban Realisasi Pelaksanaan APB

Kampung kepada Bupati/Walikota setiap akhir tahun anggaran.

3.) Laporan realisasi Penggunaan Dana Kampung


35

b.) Laporan kepada Badan Permusyawaran Kampung (BPK)

Laporan keterangan pertanggungjawaban Realisasi

Pelaksanaan APB Kampung terdiri dari Pendapatan, Belanja, dan

[Link] pengelolaan Keuangan Kampung perlu adanya

penerapan asas pengelolaan keuangan kampung sesuai yang

tercantum dalam peraturan Mentri Dalam Negeri Republik

Indonesia Nomor 113 Tahun2014 tentang pengelolaan Keuangan

Kampung yang meliputi :

a. Asas Transparansi, dimana pemerintah kampung harus terbuka

terhadap semua kebijakan dan tindakan yang diambil

pemerintah dalam penyelenggaran seluruh program

pemerintah.

b. Asas akuntabilitas yaitu adanya tanggung jawab dari

pemerintah kampung kepada masyarakat terhadap hasil akhir

penyelenggaraan pemerintahan kampung.

c. Asas partisipatif yaitu adanya keikut sertaan lembaga kampung

dan unsur masyarakatan kampung dalam penyelenggaraan

pemerintahan kampung.

d. Asas tertib dan disiplin Anggaran yaitu pengelolaan keuangan

kampung yang harus mengacu pada aturan atau pedoman yang

malandasinya.
36

b) Tujuan Anggaran Dana Kampung

Dalam rangka mengoptimalkan Anggaran Dana kampung,

maka pemerintah kota gunungsitoli melalui peraturan walikota

Gunungsitoli Nomor 3 Tahun 2016 telah menetapkan tujuan Anggaran

Dana Kampung yaitu:

a. Meningkatkan pelaksanaan penyelenggaraan pemerintah

kampung, pelaksanaan pembangunan kampung, pembinaan

kemasyarakatan kampung dan pemberdayaan masyarakat

kampung sesuai kewenangannya.

b. Meningkatkan perencanaan dan penganggaran pembangunan

ditingkat Kampung dan pemberdayaan masyarakat.

c. Meningkatkan pembangunan infrastruktur perkampungan.

d. Meningkatkan pengamalan nilai-nilai agama, sosial budaya dalam

rangka mewujudkan peningkatan kesejahteraan sosial.

e. Meningkatkan ketentraman dan ketertiban masyarakat

f. Meningkatkan pelayanan pada masyarakat kampung dalam rangka

pengembangan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat.

g. Mendorong peningkatan keswadayan dan gotong royong

masyarakat

h. Meningkatkan pendapatan desa dan masyarakat kampung

memalui Badan Usaha Milik Kampung(BUM Kam)


37

i. Meningkatkan peran dan kemampuan lembaga kemasyarakatan

kampung.

j. Meningkatkan pelayanan masyarakat kampung dalam rangka

pengembangan kegiatan pendidikan, sosial budaya, kesehatan dan

ekonomi masyarakat.

k. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat kampung dan kualitas

hidup masyarakat serta penanggulangan kemiskinan.

c) Prinsip- prinsip Pengelolaan Anggaran Dana Kampung

Dalam mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri

terutama dalam mengurus keuangannya ada beberapa prinsip yang

pengelolaan Anggaran Dana Kampung diterapkan secara baik antara

lain :

a. Pengelolaan kuangan Anggaran Dana Kampung merupakan bagian

yang tidak terpisah dari pengelolaan keuangan kampung dalam

anggaran pendapatan belanja Kampung.

b. Seluruh kegiatan yang didanai oleh Anggaran Dana Kampung

direncanakan, dilaksanakan dan dievaluasi secara terbuka dengan

melibatkan unsur lembaga kemasyarakatan di kampung.

c. Seluruh kegiatan harus di pertanggung jawabkan secara

administrasi, teknis dan hukum ;


38

d. Anggaran Dana Kampung dilaksanakan dengan menggunakan

prinsip hemat, terarah, dan terkendali serta harus selesai pada akhir

bulan Desember.

B. Kajian Empiris
Saputra (2016) dengan judul “Efektivitas Pengelolaan Alokasi Dana

Desa pada Desa Lembean Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli Tahun

2009-2014”. Variabel yang digunakan adalah target dan realisasi dari

pengelolaan alokasi dana desa. Alat Analisis data menggunakan rasio

efektivitas. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa berdasarkan kreteria rasio

efektivitas, pengelolaan alokasi dana desa pada desa lembean dari tahun

2009-2014 berada pada kategori efektif, karena tingkat efektivitasnya berada

pada angka 90-100%. Hal ini sesuai dengan kriteria rasio efektivitas.

Yunianti (2015) dengan judul “Analisis Efisiensi dan Efektivitas

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa)”. Variabel yang

digunakan adalah Total Realisasi Belanja Daerah, Total Realisasi dan

Pendapatan Daerah untuk mengukur tingkat efisiensi sedangkan untuk

mengukur tingkat efektifitas menggunakan Target PAD dan Realisasi PAD.

Alat analisisnya menggunakan rasio efisiensi dan efektivitas. Berdasarkan

hasil analisis data terhadap efisiensi dan efektivitas APBDesa Desa Argodadi

tahun anggaran 2010-2013, dapat disimpulkan bahwa efisiensi kinerja

keuangan tahun 2010-2012 memiliki kecendrungan tidak efisiensi,


39

sedangkan pada tahun 2013 pada kriteria kurang efisien. Dan 8 secara

keseluruhan kinerja keuangan tidak efisien dengan rata-rata tingkat efisiensi

diatas 100% yaitu sebesar 103,12%. Efektivitas kinerja keuangan tahun

2010-2013 memiliki kecenderungan sangat efektif yaitu dengan rata-rata

tingkat efektivitas sebesar 123,75.

Siregar, Syam (2017), dengan judul”Analisis Efektivitas dan Efisiensi

Pengelolaan Keuangan Desa (Studi pada desa Di Kabupaten Deliserdang)”.

Menggunakan Variabel realisasi anggaran belanja dan target anggaran

belanja untuk efektivitas, sedangkan untuk efisiensi menggunakan variabel

realisasi anggaran belanja langsung dan anggaran belanja. Alat analisis

menggunakan rasio efektivitas dan rasio efisiensi. Hasil penelitian

menyatakan bahwa keuangan berdasarkan penggunaan Alokasi Dana Desa

tahun 2016 terlihat bahwa terjadi perbedaan tingkat rasio efektivitas, hampir

seluruh desa yang dijadikan sampel penelitian memiliki tingkat rasio 100%

atau efektif, sedangkan untuk hasil analisis efisiensi sangat beragam dimana

rata-rata tingkat efisiensi diatas 60% atau dapat dikatakan efisien.

Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang adalah

sama- sama meneliti efektivitas dan efisiensi anggaran dana kampung dan

pengelolaan keuangan kampung. Sedangkan perbedaan penelitian terdahulu

dengan penelitian sekarang yaitu :


40

a) Pada penelitian sekarang penulis lebih fokus kepada Anggaran Dana

Kampung

b) Pada lokasi penelitian. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kampung

Maluang Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten Berau.

C. Kerangka Pikir Penelitian

Dalam penelitian ini akan membahas tentang pemanfaatan Dana

Kampung Dalam Pembangunan Kampung. Melalui Anggaran Dana

Kampung, diharapkan Kampung akan mampu menyelenggarakan

otonominya agar dapat tumbuh dan berkembang mengikuti pertumbuhan

dari kampung itu sendiri. Dimana tujuan UU Kampung adalah

menciptakan masyarakat aktif yang mampu menjadi elemen utama dalam

merencanakan, melaksanakan dan mengawasi setiap kegiatan

pembangunan yang terjadi di kampung.

Untuk itu, dalam proses pemanfaatan dana kampung harusnya

pemerintah kampung tidak hanya fokus pada penyelesaian seluruh

tahapan pengelolaan dana kampung dan hasil akhir berupa terciptanya

pembangunan dikampung. Namun pemerintah kampung harusnya lebih

fokus pada menciptakan sebuah proses pembangunan yang diciptakan

oleh masyarakat kampung setempat, sehingga pembangunan yang

dihasilkan adalah pembangunan yang menggambarkan tujuan, kebutuhan

dan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat kampung setempat.


41

Kondisi inilah yang akan diteliti di Kampung Maluang Kecamatan

Gunung Tabur , terkait dengan bagaimana pemanfaatan Anggaran Dana

Kampung dalam pembangunan di Kampung Maluang Kecamatan

Gunung Tabur Tahun 2020-2022.

Berdasarkan uraian diatas maka kerangka pikir penelitian dapat

digambarkan pada skema dibawah ini :

Gambar 1.1

Kerangka Pikir Penelitian

Anggaran Dana
Kampung (Y)

Efektivitas (X1) Efisiensi (X2)

Kesimpulan

C. Hipotesis

Berdasarkan latar belakang dan permasalahan, maka yang menjadi

hipotesis dari penelitian ini adalah :


42

1. Diduga, bahwa Pengelolaan Anggaran Dana Kampung (ADK) di

Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur Tahun 2020 – 2022

berpengaruh signifikan (Efektif) terhadap pembangunan di kampung

Maluang.

2. Diduga, bahwa pengelolaan Anggaran Dana Kampung (ADK) di

Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur Tahun 2020 – 2022

berpengaruh signifikan ( Sangat Efisiensi) terhadap Anggaran Dana

Kampung.
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Definisi Operasional

1. Anggaran Dana Kampung

Dana Kampung adalah alokasi dana untuk membangun kampung

dalam APBN, Dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja

Daerah (APBN) yang disalurkan melalui [Link] digunakan untuk

membiayai penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan,

dan pembinaan kemasyarakatan. Perioritas penggunaannya di atur oleh

pemerintah. Dana kampung merupakan salah satu bentuk pemasukan

kampung. Terkait dana kampung jumlah alokasi, tujuan, dan prioritas

dari dana tersebut di atur dalam undang – undang No. 6 Tahun 2014

tentang kampung.

2. Efektivitas

Efektivitas adalah hubungan antara Output dengan targat. Dalam

penelitian ini yang disebut output adalah realisasi belanja dari dana

kampung sedangkan yang disebut adalah target belanja dari dana

Kampung Maluang Tahun 2020 -2022.

3. Efisiensi

Efesiensi adalah rasio atau perbandingan antara output dengan input.

Output yaitu realisasi biaya agar mendapatkan penerimaan yang dalam


44

hal ini adalah belanja yang berasal dari dana kampung sedangkan input

yaitu realisasi dari penerimaan daerah yang dalam ini adalah pendapatan

dari dana kampung Maluang Tahun 2020 -2022.

B. Unit Analisis, populasi dan sampel

Unit analisis

Unit analisis dalam penelitian adalah satuan tertentu yang

diperhitungkan sebagai subjek penelitian. Dalam penelitian yang lain, unit

analisis diartikan sebagai satuan yang berkaitan dengan fokus/kompenen

yang diteliti. Unit analisis dalam penelitian adalah efektivitas dan efisiensi

pengelolaan Anggaran Dana Kampung Di Kampung Maluang.

Populasi

populasi dalam konteks penelitian merupakan objek keseluruhan dalam

sebuah penelitian atau dapat dikatakan populasi adalah jumlah keseluruhan

dari individu – individu yang akan ditelti. Populasi dalam penelitian ini

seluruh masyarakat yang ada di Kampung Maluang serta pembangunannya.

Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi. Penelitian menggunakan

kampung Maluang yang ada di Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten Berau

sebagai sampel penelitian. /


45

C. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.

Data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti melalui sumber data

yang sudah ada. Data sekunder yang digunakan peneliti berasal dari kantor

Kelurahan Kampung Maluang Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten

Berau. Data-data yang digunakan oleh peneliti diantaranya :

1. Data APBD Kabupaten Berau tahun anggaran 2020 - 2022. Dana ini

digunakan untuk mengetahui dana transfer yang diperoleh khususnya

dana Kampung dan proporsinya.

2. Dana output dari 1 Kampung di Kecamatan Gunung tabur yang telah

dihasilkan kampung melalui dana kampung tahun 2020 - 2022.

D. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penelitian yaitu dengan

mendatangi secara langsung Kantor Lurah di Kecamatan Gunung Tabur

Kampung Maluang untuk mendokumentasikan data dari laporan realisasi dana

Kampung tahun 2020 -2022. Dalam penelitian ini, terdapat dua metode

dalam pengumpulan data yang terdiri sebagai berikut :

a) Data Primer : data atau informasi yang diperoleh secara langsung yang

diperoleh dari tempat penelitian, untuk mendapatkan data konkrit sesuai

dengan permasalahan.
46

b) Metode Dokumentasi : yaitu mencari data mengenai hal -hal atau

variabel berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, dan sebagainya

(Arikunto, 2006). Metode dokumentasi adalah mengumpulkan data

dengan cara melihat, membaca, mempelajari, kemudian mencatat data

yang sudah adahubungan dengan objek penelitian. Metode ini dilakukan

untuk mengambil dokumentasi atau data yang dibutuhkan dalam

penelitian ini, berupa data Realisasi belanja, realisasi pendapatan dan

target pendapatan.

E. Alat Analisis

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

kuantitatif deskriptif. Dalam metode kuantitatif, peneliti melakukan

perhitungan terhadap data-data yang sudah ada dikumpulkan. Perhitungan yang

dilakukan terdiri dari 2 jenis data analisis efektivitas dan analisis efisiens.

A. Analisis efektivitas

Efektivitas berasal dari kata efektif yang memiliki arti output dapat

sesuai dengan target yang diharapkan. Oleh karena itu efektivitas fokus

pada hasil atau outcome. Efektivitas dapar diartikan sebagai hubungan

antara output pusat tanggungjawabnya dengan targetnya. Yang dimaksud

output dalam konteks ini adalah realisasi belanja sedangkan yang

dimaksud target adalah target belanja. Suatu pengelolaan keuangan

dikatakan sangat efektif apabila kontribusi output terhadap target semakin


47

besar. Untuk menghitung tingkat efektivitas pengelolaan keungan daerah

dapat menggunakan rumus sebagai berikut :

𝒐𝒖𝒕𝒑𝒖𝒕 (𝒓𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒏𝒋𝒂


Efektivitas = × 100%
𝒕𝒂𝒓𝒈𝒆𝒕 (𝒕𝒂𝒓𝒈𝒆𝒕 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒏𝒋𝒂)

Menurut Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 690.900.327 tahun

1996 mengenai kriteria penilaian serta kinerja keuangan, tingkat efektivitas

terdiri dari beberapa kriteria sebagai berikut :

Tabel 1.1

Kriteria Efektifitas Pengelolaan Anggaran Dana Kampung

Tingkat efektivitas Hasil Capaian

>100 % Sangat Efektif

90 – 100 % Efektif

80-90 % Cukup Efektif

60-80% Kurang Efektif

<60% Tidak Efektif

Sumber : Kepmendagri Nomor 690.900.327 Tahun 1996

B. Analisis efisiensi

Efisiensi adalah rasio antara realisasi belanja dengan realisasi

pendapatan yang diukur dalam satuan persen. Ukuran ini digunakan untuk

menganalisis efisiensi dana desa di kacamatan Gunung Tabur Kabupaten

Berau. Berdasarkan pengertian diatas, tingkat efisiensi besar jika biaya


48

yang digunakan untuk merealisasikan pendapatan ditekan paling rendah

agar realisasi pendapatan meningkat. Dengan kata lain, efisiensi yang

semakin meningkat dikatakan dengan cara biaya minimal untuk hasil

yang maksimal.

Efisiensi juga dapat diartikan sebagai perbandingan antara output

dengan input. Output yaitu realisasi biaya agar mendapatkan penerimaan

yang dalam hal ini adalah belanja sedangkan input yaitu realisasi dari

penerimaan daerah yang dalam hal ini adalah pendapatan. Untuk

mengetahui tingkat efisiensi serta menganalisis efisiensi terhadap

pengelolaan keuangan dengan rumus sebagai berikut :

𝑶𝒖𝒕𝒑𝒖𝒕 (𝒓𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝒃𝒆𝒍𝒂𝒏𝒋𝒂)


Efisiensi = x 100%
𝑰𝒏𝒑𝒖𝒕 (𝒓𝒆𝒂𝒍𝒊𝒔𝒂𝒔𝒊 𝒑𝒆𝒏𝒅𝒂𝒑𝒂𝒕𝒂𝒏)

Untuk mengetahui tingkat efisiensi pengelolaan keuangan daerah diatur

dalam Kepmendagri Nomor 690.900.327 tahun 1996 sebagai berikut

Tabel 1.2
Kriteria Efisiensi Pengelolaan Anggaran Dana Kampung
Tingkat Efisiensi Hasil Pencapaian
>100% Tidak Efisiensi
90-100% Kurang Efisiensi
80-90% Cukup efisiensi
60-80% Efisiensi
<60% Sangat efisiensi
Sumber: Kepmendagri Nomor 690.900.327 Tahun 1996
49

C. Pajak Daerah

Pajak atau kontribusi wajib yang diberikan oleh penduduk suatu

daerah kepada pemerintah daeerah ini akan digunakan untuk kepentingan

pemerintahan dan kepentingan umum contohnya seperti pembangunan

jalan, jembatan, pembukaan lapangan kerja baru, dan kepentingan

pembangunan serta pemerintahan lainnya. Berdasarkan pasal 3 Bab III

U.25 tahun 1999 dinyatakan bahwa sumber penerimaan daerah dalam

pelaksanaan desentralisasi adalah dari pendapatan hasil daerah, dana

perimbangan,pinjaman daerah dan lain- lain penerimaan daerah yang sah.

Selanjutnya sumber pendapatan asli daerah terdiri dari hasil pajak daerah,

hasil retribusi daerah,hasil perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan

kekayaan daerah dipisahkan ( rugi-laba, deviden dan penjualan saham)

serta lain-lain pendapatan daerah yang sah.

Seperti yang dinyatakan dalam UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak

Daerah dan Retribusi Daerah merupakan sumber pendapatan daerah yang

penting guna membiayai penyelenggaraan pemerintah daerah dan

pembangunan daerah. Adapun yang dimaksud dengan pajak daerah adalah

iuran yang dapat dipaksakan yang dilakukan oleh orang pribadi atau badan

kepada daerah tanpa imbalan langsung sedangkan yang dimaksud dengan

retribusi daerah adalah pungutan daerah sebagai pambayaran jasa atau


50

pemberian ijin tertentu yang khusus disediakan atau diberikan pemerintah

daerah untuk kepentingan pribadi atau badan.

Terdapat tiga macam sistem pemungutan pajak yang biasa digunakan di

Indonesia yaitu :

a) Self Assessment system


Merupakan sistem pemungutan pajak dimana penetapan besaran

pajak yang harus dibayarkan dilakukan oleh wajib pajak. Pemerintah daerah

memberikan kepercayaan kepada wajib pajak untuk menghitung,

memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri pajak yang terutang

dalam menggunakan Surat Pemberitahuan Pajak Daerah (SPTPD).

b) Official Assessement System

System ini adalah sistem pemungutan pajak dimana kewenangan

dalam penentuan besaran pajak terutang berada pada fiskus. Dengan sistem

official assessment, wajib pajak memiliki sifat pasif dan pajak terutang

timbul setelah terlebih dahulu ditetapkan oleh kepala daerah melalui surat

ketetapan pajak daerah(SKPD) atau dokumenlain yang dipersamakan,

dapat berupa karcis dan nota perhitungan.

c) Withholding system

Pemungitan dengan Withholding system dilakukan malalui pihak

ketiga yang diberikan wewenamg dalam menentukan berapa besar pajak

yang harus dibayar. Besarnya pajak pada withholding system dihitung oleh
51

pihak ketiga bukan wajib pajak dan bukan aparat pajak atau fiskus. Sistem

ini disebut juga dengan jenis pajak potong pungut, seperti pemotongan PPh

Pasal 21 pada pajak pusat.

Demikian juga untuk pajak daerah kabupaten/kota. Dari 11 jenis pajak daerah

kabupaten/kota, tiga diantaranya dipungut berdasarkan official assessment system.

Tiga jenis pajak daerah kabupaten/kota tersebut terdiri dari pajak reklame,pajak

air tanah,pajak bumi dan bangunan perkotaan pedesaan(PBB-P2).

Berikut ini tabel mengenai klasifikasi tipologi klassen Pajak Daerah/Retribusi

Daerah.

Tabel 1.4 klasifikasi Tipologi Klassen Pajak Daerah/Retribusi

Daerah

Rasio Rasio Proporsi (Realisasi/ rata-rata)

𝑿𝒊 𝑿𝒊
pertumbuhan 𝒓𝒂𝒕𝒂−𝒓𝒂𝒕𝒂 >1 𝒓𝒂𝒕𝒂−𝒓𝒂𝒕𝒂 <1
𝑿 𝒙

𝒓𝑷𝑿𝒊 Prima Berkembang


>1
𝒓𝑷𝑿𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍

𝒓𝑷𝑿𝒊 Potensial Terbelakang


<1
𝒓𝑷𝑿𝒕𝒐𝒕𝒂𝒍

Keterangan :

rPXi = Laju Pertumbuhan Penerimaan Jenis PajakDaerah/

Retribusi Daerah

rPXtotal = Laju pertumbuhan total penerimaan seluruh pajak daerah/

retribusi daerah
52

Xi = Rata-rata penerimaan seluruh pajak daerah / retribusi

daerah

Artinya :

1) Jika Rasio Proporsi > 1 dan Rasio Laju Pertumbuhan >1,

mka penerimaannya, prima atau sangat potensial.

2) Jika Rasio Proporsi > 1 dan Rasio Laju Pertumbuhan <1,

maka penerimaannya potensial.

3) Jika Rasio Proporsi < 1 dan Rasio Laju Pertumbuhan > 1,

maka penerimaannya berkembang atau masih ada potensi

untuk dikembangkan atau masih ada potensi untuk

dikembangkan.

4) Jika Rasio Proporsi < 1 dan rasio Laju Pertumbuhan < 1,

maka penerimaannya terbelakang atau kurang potensial.

Secara umum Pendekatan Mikro ,perhitugan potensi pajak daerah dengan

pendekatan mikri dilakukan dengan menjumlahkan kewajiban pajak dari

semua wajib pajak derah. Besaran kewajiaban pajak tersebut dihitung dari nilai

objek pajak dari setiap wajib pajak dikalikan dengan tarif pajak daerah.

Sedangkan nilai objek pajak tersebut dihitung dengan mengalikan volume

dengan harga barang/jasa objek pajak. Dengan demikian potensi pajak dengan

pendekatan mikri dapat di formulasikan sebagai berikut :

Y = ∑𝑛𝑘=1 Volume × Harga Barang/jasa × Tarif Pajak


53

Dimana :

Y = Potensi Pajak Daerah

k = Wajib Pajak ke 1

n = Wajib Pajak ke n

karena pendekatan mikro ini dihitung untuk semua semua wajib pajak dan

tidak satupun yang luput, maka hasil perhitungan ini menggambarkan kondisi

rill potensi sehingga dapat disebut sebagai Potensi Pajak Daerah.

D. Retribusi

Di samping pajak daerah, sumber pendapatan asli daerah yang cukup

besar peranannya dalam menyumbang pada terbentuknya pendapatan asli

daerah adalah retribusi daerah. Di beberapa daerah pendapatan yang berasal

dari retribusi daerah dapat lebih besar dari pada pendapatan dari pajak daerah.

Yang dimaksud dengan retribusi adalah pungutan daerah sebagai

pemabayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan

atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan yang pribadi atau

badan.

Pungutan retribusi daerah yang berkembang selama ini didasarkan pada

undang-undang No. 12 Drt. Tahun 1957 tentang peraturan retribusi daerah

yang ternyata menunjukkan beberapa kelemahan di antaranya :

1. Hasilnya kurang memadai bila dibandingkan dengan biaya penyediaan

jasa oleh pemerintah daerah.


54

2. Biaya pemungutannya terlalu tinggi.

3. Kurang kuatnya prinsip dasar retribusi terutama dalam hal pengenaa,

penetapan,struktur dan biaya tarif retribusi.

4. Ada beberapa jenis retribusi yang pada hakikatnya bersifat sebagai

pajak karena pemungutannya tidaknya dikaitkan langsung balas jasa

atau pelayanan pemerintah daerah yang diterima oleh pembayar

retribusi.

5. Ada jenis retribusi perijinan yang tidak efektif dalam kaitannya dengan

usaha untuk melindungi kepentingan umum dan kelestarian lingkungan.

Oleh karena itu maka pada tahun 1997 pemerintah merasa perlu untuk

mengklasifikasi berbagai pungutan retribusi itu atas dasar kriteria tertentu

agar memudahkan penerapan prinsip-prinsip dasar pungutan retribusi

sehingga mencerminkan hubungan yang jelas antara tarif retribusi dengan

pelayanan atau jasa ysng diberikan oleh pemrintah daerah.

Yang dapat dipungut jasa retribusinya adalah jasa jasa pelayanan yang

menurut pertimbangan sosial-ekonomi tidak layak untuk dijadikan objek

retribusi. Jasa -jasa pelayanan tersebut adalah sebagai berikut :

1. Retribusi yang dikenakan jasa umum

2. Retribusi yang dikenakan pada jasa usaha

3. Retribusi yang dikenakan pada perijinan tertentu


55

Penetapan jenis retribusi kedalam retribusi jasa umum dan jasa usaha

dibuat dengan Peraturan Pemerintah agar tercipta ketertiban dalam

penerapannya sehingga dapat memeberikan kepastian kepada masyarakat

serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan nyata didaerah yang bersangkutan.

Selanjutnya retribusi hanya akan berpengaruh pada kesediaan

menggunakan atau permintaan terhadap jasa pelayanan maupun produk yang

dihasilkan oleh [Link] kerena retribusi tidak seperti halnya dengan

pajak, retribusi hanya akan mengurangi konsumsi tetapi tidak mengurangi

kemampuan dan kemauan untuk bekerja, menabung dan berinvestasi. Tetapi

retribusi juga berpengaruh dalam hal distribusi pendapatan, karena retribusi

dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk melindungi yang lemah

dalam perekonomian dan membagikan beban masyarakat itu kepada

kelompok penghasilan tinggi di daerah yang sama. Karena itu sistem retribusi

yang progresif dapat bermanfaat untuk redistribusi pendapatan dalam

masyarakat di daerah.

E. Keuangan Daerah

Keuangan daerah dalam PP No. 58 tahun 2005 adalah semua hak dan

kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemeerintah daerah

yang dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan

yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Tujuan

diaturnya keuangan daerah oleh pemerintah untuk meningkatkan efisiensi


56

dan efektivitas dalam pengelolaan sumber daya keuangan daerah dan

meningkatkan kesejahteraan daerah dan mengoptimalkan pelayanan

kepada masyarakat.

Sumber-sumber pendapatan keuangan daerah yaitu :

1. Pendapatan asli daerah (PAD) meliputi pajak daerah, hasil retribusi

daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang disahkan dan lainnya.

2. Dana perimbangan, meliputi dana bagi hasil, dana alokasi umum dan

dana alokasi khusus.

3. Pendapatan daerah lain yang sah.

Analisis kinerja Pelaksanaan Undang-undang No. 5/1974

Analisis kinerja didasarkan pada konsep yang di kemukakan oleh

Musgrave dan Musgrave, yaitu :

1) Kebutuhan fiskal (fiscal need) dirumuskan sebagai berikut :

NJ = ns Zj, dengan

Nj = kebutuhan fiskal juridiksi j;

Ns = Biaya menyediakan tingkatpelayanan(misalnya

Pendekatan ) setiap satuan Z; dan

Zj = Populasi target

2) Kapasitas fiskal (fiscal Capacity), yaitu

Cj = ts Bj, dengan

Cj = kapasitas fiskal juridiksi j;


57

Ts = tarif fiskal standar; dan

Bj = basis fiskal di j.

3) Upaya fiskal (fiscal effort),yaitu :


𝑡𝑗 𝐵𝑗 𝑡𝑗
Ej = = , dengan
𝑡𝑠 𝐵𝑗 𝑡𝑠

tj = tarif fiskal

ts = standar fiskal

Ej = upaya fiskal

Namun karena data tidak mendukung dipakailaj berbagai pro-xy untuk

melihat kinerja keuangan daerah :

(1) Untuk derajat desentralisasi fiskal antara pemerintah pusat dan daerah

digunakan ukuran
𝑃𝑒𝑛𝑑𝑎𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝐴𝑠𝑙𝑖 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝑃𝐴𝐷)
(a) ;
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝑇𝑃𝐷)

𝐵𝑎𝑔𝑖 𝐻𝑎𝑠𝑖𝑙 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑑𝑎𝑛 𝐵𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑃𝑎𝑗𝑎𝑘 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝐵𝐻𝑃𝐵𝑃)


(b) ;
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝑇𝑃𝐷)

𝑆𝑢𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝑆𝐵)


(c) ; dengan
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑎𝑛 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (=𝑇𝑃𝐷)

TPD = PAD + BHPBP + SB

Kalau hasilnya tinggi, derajat desentralisasinya besar(mandiri).

(2) Kebutuhan fiskal (fiscal need) dicari dengan menghitung indeks

pelayanan publik per kapita (IPPP).

𝑃𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 𝐴𝑘𝑡𝑢𝑎𝑙 𝑃𝑒𝑟 𝐾𝑎𝑝𝑖𝑡𝑎 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑗𝑎𝑠𝑎−𝑗𝑎𝑠𝑎 𝑃𝑢𝑏𝑙𝑖𝑘 (=𝑃𝑃𝑃)


IPP = × 10
𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝐹𝑖𝑠𝑘𝑎𝑙 𝐷𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ (𝑆𝐾𝐹)
58

PPP= Jumlah Pengeluaran Rutin dan Pembangunan Perkapita masing-

Masing daerah.
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟𝑎𝑛 𝑑𝑎𝑒𝑟𝑎ℎ /𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘
SKF=
∑𝐾𝑎𝑏𝑢𝑝𝑎𝑡𝑒𝑛

Kalau hasilnya tinggi, kebutuhan fiskalnya besar.

(3) Kapasitas fiskal (Fiscal Capacity), Cj dicari dengan formula :

𝑃𝑟𝑝𝑑𝑢𝑘 𝐷𝑜𝑚𝑒𝑠𝑡𝑖𝑘 𝐵𝑟𝑢𝑡𝑜 (=𝑃𝐷𝑅𝐵/∑𝑃𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘


Cj = × 100
𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐹𝑖𝑠𝑘𝑎𝑙 𝑆𝑡𝑎𝑛𝑑𝑎𝑟 (=𝐾𝐹𝑠)

∑𝑃𝐷𝑅𝐵 /𝑃𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘
KFs =
∑𝐾𝑎𝑏𝑢𝑝𝑎𝑡𝑒𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑡𝑎

Kalau hasilnya tinggi, kapasitas fiskalnya tinggi.

(4) Upaya fiskal (Tax Effort)dapat dihitung dengan menggunakan rumus :


𝑃𝐴𝐷𝑗
UPPADj =
𝐾𝑎𝑝𝑎𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝑑𝑎𝑛 𝑃𝑜𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖 𝑃𝐴𝐷

Atau
𝑃𝐴𝐷𝑗
UPPADj =
𝑃𝐷𝑅𝐵 𝑗 (𝑡𝑎𝑛𝑝𝑎 𝑚𝑖𝑔𝑎𝑠)

Selanjutnya dihitung Tingkat PAD Standar (TPADs) yaitu :


∑𝑃𝐴𝐷/𝑃𝐷𝑅𝐵
TPADs =
∑𝐾𝑎𝑏𝑢𝑝𝑎𝑡𝑒𝑛 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝑜𝑡𝑎

Sedangkan Indeks Kinerja PAD


𝑈𝑃𝑃𝐴𝐷
IKPAD = × 100
𝑇𝑃𝐴𝐷𝑠

Makin tinggi hasilnya , makin besar upaya pajaknya. Ini juga

menunjukkan Posisi Fiskal Daerah. Cara lain menentukan posis fiskal


59

daerah adalah dengan mencari koefisien elastisitas PAD terhadap

[Link] elastis PAD suatu daerah, maka struktur PAD didaerah

tersebut makin baik.


BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Sejarah Umum Berdirinya Kampung Maluang

Kampung Maluang merupakan salah satu kampung yang berada

diwilayah Kecamatan Gunung Tabur Kabupaten Berau. Penduduk

kampung maluang awalnya hanya 7 Rumah KK dengan jarak rumah

yang jauh – jauh namun dengan bergulirnya waktu semakin bertambah

pnduduknya sehingga dibentuk suatu kampung yang diberi nama

Kampung Maluang yang mempunyai arti Meluang – luang ( Berpencar

– pencar). Kampung maluang pertama kali dipimpin oleh Punggawa

Sejati (Alm) pada tahun 1935 sampai dengan tahun 1973 kurang lebih

38 tahun kepemimpinan beliau dan pada tahun 1975 berdirilah sebuah

mesjid yang pertama yang berada di kampung maluang yang tepatnya

berada di RT 1, kemudian pada tahun 1976 berdiri pula sebuah sekolah

yaitu SD 001 Maluang.

2. Letak Wilayah

Berdasarkan letak wilayah gografis wilayah, kampung maluang

berada antara 6°30’17.40” - 6°31’50’77” LS dan 110°39’54.14” -

110°42’55.37” BT. Dengan batas – batas sebagai berikut :


61

a. Sebelah Utara : Kabupaten Bulungan

b. Sebelah Timur : kampung Samburakat

c. Sebelah Selatan : Sungai Berau

d. Sebelah Barat : Kelurahan Gunung Tabur

3. Luas Wilayah

a. Luas Wilayah Kampung Maluang : 30.000 Ha

b. Sawah : 260 Ha

c. Tanah Bukan Sawah : 308 Ha

d. Pekarangan/pemukiman : 90 Ha

e. Tegal/kebun : 212 Ha

f. Fasilitas Sosial dan Ekonomi : 6 Ha

4. Jumlah Penduduk

a. Jumlah Penduduk : 6.430 jiwa

b. Laki- laki : 3.180 jiwa

c. Perempuan : 3.250 jiwa

d. Jumlah KK : 1.969 KK
62

5. Nama – nama Kepala Kampung

Berikut ini nama – nama kepala kampung yang pernah menjadi

kepala kampung Maluang.

Tabel 1.5 Nama – Nama Kepala Kampung Yang pernah

Menjadi Kepala Kampung

No. Nama Tahun Keterangan

Punggawa sejati 1935-1973, 38 Kepala kampung


1
Tahun (Alm)

Usman DJ 1973-2001, 28 Kepala kampung


2
Tahun (Alm)

Ismail 2001-2003, 2 tahun Kepala Kampung


3

Muchtar, SH 2003 – 2014, 11 Kepala kampung


4
Tahun

Taufiq, SH 2014 – 2015, 1 kepala kampung


5
Tahun

Muchtar, SH 2015-2021, 6 Tahun Kepala kampung


6

Usnadi, S.E 2020 / Masih Kepala Kampung


7
menjabat sebagai

Kepala Kampung
63

6. Struktur Organisasi

BPK Kepala
Kampung
Sekretaris
Ketua

Kepala Urusan Kepala Kepala


Tata Usaha dan Urusan Urusan
Wakil Ketua
Umum Keuangan Perencanaan

Sekretaris

Anggota

Kepala Seksi Kepala Seksi Kepala Seksi


Pemerintahan Kesejahteraan Pelayanan

7. Visi dan Misi

a. Visi

Penyusunan Visi Kampung Maluang ini dilakukan dengan pendekatan

partisipatif, melibatkan pihak – pihak yang berkepentingan dikampung

Maluang seperti pemerintah kampung, BPK, Tokoh masyarakat, Tokoh

Agama, Lembaga Masyarakat Kampung dan Masyarakat Kampung pada

Umumnya. Demi pembangunan yang berkelanjutan selama priode 2021-


64

2027 kedepan, maka berdasarkan pertimbangan diatas dan melihat visi

Kepala Kampung Maluang terpilih maka Visi Kampung Maluang adalah :

“ Bursama Menuju Kampung Maluang Yang Sejahtera, Partisipatif dan

Amanah”

b. Misi

Untuk mencapai visi mewujudkan Masyarakat sejahtera, Paritisipatif dan

Amanah maka Kampung Maluang menetapkan misi sebagai berikut :

1. Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas,

sejahtera, dan berbudi luhur

2. Meningkatkan ekonomi masyarakat dengan optimalisasi sektor

pertanian, perkebunan, dan perluasan lapangan kerja.

3. Pelaksanaan Yang Berkesinambungan yang pembangunan

mengedepankan partisipasi, Swakelola Dan gotong royong masyarakat.

B. Data Hasil Penelitian

1. Mata Pencaharian penduduk

Dari luasan Kampung Maluang mempunyai Sumber Daya Alam yang

memadai dan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat dan

untuk menciptakan wawasan serta dalam upaya mengembangkan sektor

pertanian di karena kampung Maluang merupakan Kampung Pertanian

maka sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai Petani,


65

sebagian yang lainnya ada yang sebagai Nelayan, Buruh Petani, Karyawan

Swasta dll.

2. Pendidikan

Data yang disajikan dalam bab ini, mencakup berbagai informasi

yang terangkum dalam sub bab pendidikan itu sendiri. Informasi

pendidikan disajikan data antara lain : sebanyaknya Sekolah dari tingkat

TK, Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) di

Kampung Maluang. Pada sekolah TK terdapat 1 yaitu Al- insan , pada

tingkat SD terdapat 2 yaitu SD Negeri 001 Maluang, dan SD Negeri 002

Maluang, pada tingkat SMP terdapat 1 yaitu SMP Negeri 3 Gunung

Tabur (kamp. Maluang).

3. Kesehatan

Informasi pada sub bab ini disajikan antara lain, jumlah tempat

pelayanan kesehatan yang terdapat di Kampung Maluang . jumlah tempat

pelayanan kesehatan tercatat sebagai berikut : Puskesmas sebanyak 5

unit, Posyandu 7 unit.


66

4. Rincian Anggaran Dana Kampung tahun 2020 -2022

Berikut di sampaikan data penerimaan Anggaran Dana Kampung

yang diterima oleh Pemerintah kampung Maluang pada tahun Anggaran

2020-2022 dari penerimaan pusat seperti pada tabel 1.6

Tabel 1.6 Rincian Anggaran Dana Kampung Di Kampung


Maluang Tahun 2020-2022 (Rupiah)
Anggaran Dana Kampung (ADK)
Tahun

[Link],00
2020

[Link],00
2021

[Link],00
2022

Jumlah [Link],00

Sumber : Kantor Lurah Kampung Maluang

Pada tabel diatas terlihat adanya perubahan skema dan kebijakan

yang akan diambil oleh pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan

pembangunan dan kesejahteraan dapat di indikatori dengan keterlibatan dan

peren aktif masyarakat dan dirasakan wujudnya oleh masyarakat.

Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Kampung Maluang

dilakukan secara fisik dan non fisik. Adapun realisasi belanja yang telah

dilakukan oleh pemerintah Kampung Maluang pada tabel 1.7.


67

5. Rincian Realisasi Belanja Kampung Maluang tahun 2020 - 2022

Tabel 1.7 Realisasi Belanja Kampung di Kampung Maluang


Tahun 2020-2022

Tahun Kegiatan Realisasi Presentase (%)

2020 Pembangunan [Link],00 76,83


Kampung

Pembinaan 316.763.000,00 23,18


kemasyarakatan

Jumlah [Link] 100

2021 Pembangunan 387.172.000,00 65,02


Kampung

Pembinaan 208.366.000,00 34,99


kemasyarakatan

Jumlah 595.538.000 100

2022 Pembangunan 898.806.000,00 80,92


Kampung

Pembinaan 212.053.000,00 19,09


kemasyarakatan

Jumlah [Link] 100

Sumber : Data Penelitian diolah (2023)

Pada tabel 1.7 merupakan realisasi pengelolaan dan penggunaan dana

Kampung yang digunakan untuk membiayai berbagai program

pembangunan sehingga masyarakat dapat meningkatkan derajat

kesejahteraannya karena pembangunan yang dilakukan merupakan usulan

dan kebutuhan masyarakat sehingga masing-masing kampung memiliki

standar kecukupannya sendiri, yang telah ditetapkan dalam proses


68

musyawarah kampung berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang

berlaku, tanpa meninggalkan kearifan lokal masyarakat.


BAB V

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Analisis Kuantitatif

Berdasarkan fokus penelitian akan di sajikan analisis kuantitatif

(Rasio Efektivitas dan Rasio Efisiensi) dengan menggunakan Data Sekunder

yaitu data yang diperoleh peneliti berasal dari Kantor Lurah Kampung

Maluang Kec. Gunung Tabur.

Pada analisis data kuantitatif digunakan metode rasio perbandingan,

dengan tujuan untuk membandingakan antara harapan dan realisasi, yang

diukur dengan persentase semakin tinggi persentase tersebut, berarti

penggunaan dana kampung semakin bisa dipertanggung jawabkan. Ukuran

yang digunakan menggunakan Rasio Efektivitas dan Efisiensi yang diatur

oleh Pemerintah Keuangan RI.

1. Analisis Efektivitas

Efektivitas yaitu ukuran yang menyatakan seberapa jauh terget

(kuantitas, kualitas,dan waktu yang telah tercapai ). Dimana semakin besar

persentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Indikator

efektivitas adalah rasio antara realisasi penggunaan Dana Kampung dengan

target belanja Dana Kampung. Berikut Pengukuran Efektivitasnya.


70

Dari penjelasan mengenai laporan diatas realisasi anggaran diatas maka

hasil analisis dilakukan sebagai berikut :

Rasio Efektivitas = Realisasi Anggaran Belanja × 100%

Target Anggaran Belanja

a. Perhitungan rasio Efektivitas anggaran belanja 2020 berjumlah

[Link],00 dengan realisasinya sebesar Rp. [Link],00

sehingga perhitungan tingkat efektivitas anggaran belanja Tahun 2020

sebagai berikut :

Efektivitas = [Link],00 × 100% = 94,69 %

[Link],00

Perhitungan diatas menunjukkan efektivitas pelaksanaan Anggaran

Belanja di Kampung Maluang Tahun 2020 memiliki Persentase sebesar

94,69 % yang menunjukkan kriteria Efektif.

b. Perhitungan rasio Efektivitas anggaran belanja 2021 berjumlah

[Link],00 dengan realisasi sebesar Rp. [Link],00

sehingga perhitungan tingkat efektivitas anggaran belanja Tahun 2021

sebagai berikut :

Efektivitas = [Link],00 × 100% = 97,21 %

[Link],00
71

Perhitungan diatas menunjukkan efektivitas pelaksanaan Anggaran

Belanja di Kampung Maluang Tahun 2021 memiliki Persentase sebesar

97,21 % yang menunjukkan kriteria Efektif.

c. Perhitungan rasio Efektivitas anggaran belanja 2022 berjumlah

Rp.[Link],00 dengan realisasi sebesar Rp [Link],00

sehingga perhitungan tingkat efektivitas anggaran belanja Tahun 2022

sebagai berikut :

Efektivitas = [Link],00 × 100% = 95,39 %

[Link],00

Perhitungan diatas menunjukkan efektivitas pelaksanaan Anggaran

Belanja di Kampung Maluang Tahun 2022 memiliki Persentase sebesar

95,39 % yang menunjukkan kriteria Efektif

Berikut di sampaikan data rincian tingkat efektivitas pengelolaan

dana Kampung Maluang pada tahun Anggaran 2020-2022 dari

penerimaan pusat seperti pada tabel 1.8


72

Tabel 1.8 Tingkat Efektivitas Pengelolaan Dana Kampung di Kampung


Maluang 2020-2022

Tahun Realisasi Belanja Target Belanja Efektivitas % Kategori

2020 [Link],00 [Link],00 94,69 Efektif

2021 [Link],00 [Link],00 97,21 Efektif

2022 [Link],00 [Link],00 95,39 Efektif

Jumlah [Link],00 [Link],00 95,73 Efektif

Sumber : Data Penelitian diolah 2023

Tingkat efektivitas dipengaruhi oleh keberhasilan pemerintah kampung

dalam mengelola pendapatan Dana Kampung dan memaksimalkan kebutuhan

yang dibutuhkan masyarakat. Sehingga dari perhitungan tabel di atas dapat

disimpulkan bahwa Pengelolaan Anggaran Dana Kampung Maluang tahun 2020 –

2022 dikategorikan hasilnya signifikan yaitu (Efektif) .

Manfaat analisis efektivitas Pengelolaan Dana Kampung bagi masyarakat adalah

sebagai tolak ukur tentang penyediaan pelayanan yang disediakan oleh aparatur

kampung. Kategori efektif dapat berubah setiap tahunnya. Tujuan adanya Dana

Kampung adalah meningkatkan kesejahteraa warga kampung.


73

2. Analisis Efisiensi

Analisis efisiensi melihat rasio perbandingan antara output dan input atau

realisasi belanja dengan realisasi pendapatan kampung dalam hal ini yaitu dana

kampung. Semakin kecil rasio ini maka semakin efisien. Begitu juga sebaliknya.

Jika di asumsikan bahwa pengeluaran yang dibelanjakan sesuai dengan apa yang

dibutuhkan masyarakat atau apa yang menjadi program kampung, dan memenuhi

apa yang direncanakan. Penyaluran dana kampung disetiap kampung memiliki

besaran anggaran yang berbeda- beda karena pemerintah memperhitungkan

jumlah penduduk, angka kemiskinan, luas wilayah, dan kesulitan geografis setiap

kampung. Dalam mengukur efisiensi lebih menitik beratkan pada kemampuan

suatu organisasi untuk mencapai tujuan yang diharapakan dengan menggunakan

sumber daya yang lebih hemat.

Dari penjelasan diatas dapat dihitung realisasi anggaran Dana Kampung

Maluang maka hasil analisis dilakukan sebagai berikut :

Rasio Efisiensi = Realisasi Belanja × 100%

Realisasi Pendapatan

a. Berdasarkan rumus diatas maka dapat dilakukan perhitungan Rasio

Efisiensi anggaran belanja tahun 2020. Realisasi anggaran belanja langsung

berjumlah Rp.[Link],00 dengan Realisasi Pendapatan Rp.


74

[Link],00 sehingga perhitungan tingkat efisiensi Anggaran Belanja

Tahun 2020, sebagai berikut :

Efisiensi = [Link],00 × 100 % = 42,71 %

[Link],00

Perhitungan diatas menunjukkan efisiensi pelaksanaan anggaran belanja

pendapatan Kampung Maluang Tahun 2020 memiliki persentase sebesar

42,71 % yang menunjukkan kriteria sangat efisien.

b. Berdasarkan rumus diatas maka dapat dilakukan perhitungan Rasio

Efisiensi anggaran belanja tahun 2021. Realisasi anggaran belanja langsung

berjumlah Rp. [Link],00 dengan Realisasi Pendapatan Rp.

[Link],00 sehingga perhitungan tingkat efisiensi Anggaran Belanja

Tahun 2021, sebagai berikut :

Efisiensi = [Link],00 × 100 %= 56,42 %

[Link],00

Perhitungan diatas menunjukkan efisiensi pelaksanaan anggaran belanja

pendapatan Kampung Maluang Tahun 2021 memiliki persentase sebesar

56,42 % yang menunjukkan kriteria sangat efisien.

c. Berdasarkan rumus diatas maka dapat dilakukan perhitungan Rasio

Efisiensi anggaran belanja tahun 2022. Realisasi anggaran belanja langsung

berjumlah Rp. [Link],00 dengan Realisasi Pendapatan Rp.


75

[Link],00 sehingga perhitungan tingkat efisiensi Anggaran Belanja

Tahun 2022, sebagai berikut :

Efisiensi = [Link],00 × 100 % = 49,62 %

[Link],00

Perhitungan diatas menunjukkan efisiensi pelaksanaan anggaran belanja

pendapatan Kampung Maluang Tahun 2022 memiliki persentase sebesar

49,62 % yang menunjukkan kriteria sangat efisien.

Kategori Efisiensi yang telah dijelaskan membuat kesimpulan jika

penggunaan Anggaran Dana Kampung Maluang masih katakan hemat. Suatu

kerja organisasi dikatakan efisien apabila mecapai keluaran yang lebih tinggi

berupa hasil, produktivitas, performance dibanding masukan – masukan yang

berupa tenaga kerja, bahan, uang, mesin, dan waktu yang digunakan. Manfaat

efisiensi yang dirasakan masyarakat adalah pada sektor pelayanan, jika

masyarakat telah memperoleh hasil yang diinginkan dengan biaya minimal.

Pada tebel 1.9 memperlihatkan tingkat efisiensi penggunaan dana kampung

oleh pemerintah kampung di Maluang.


76

Tabel 1.9 Tingkat Efisiensi Pengelolaan Dana Kampung di Kampung


Maluang

Tahun Realisasi belanja Realisasi pendapatan Efisiensi % Kategori

2020 [Link],00 [Link],00 42,71 Sangat Efisiensi

2021 [Link],00 [Link],00 56,42 Sangat Efisiensi

2022 [Link],00 [Link],00 49,62 Sangat Efisiensi

jumlah [Link],00 [Link],00 49,01 Sangat Efisiensi

Sumber : Data Penelitian di Olah 2023

Dari hasil perhitungan tabel 1.9, menunjukkan bahwa penggunaan dana

Kampung yang dilakukan oleh aparatur pemerintah dan masyarakat

Kampung Maluang Kec. Gunung Tabur Tahun 2020-2022, dikategorikan

hasilnya signifikan yaitu (Sangat Efisiensi).

Hal ini, menandakan bahwa yang diharakan oleh seluruh pemangku

kepentingan kampung Maluang telah sesuai dengan yang direncanakan. Apa

yang telah dilakukan dengan pengelolaan Anggaran Dana Kampung telah

sesuai dengan asas- asas Pengelolaan Anggaran Dana Kampung

sebagaimana tertuang dalam permendagri Nomor 113/2014 yaitu

transparansi, akuntabel, partisipatif, serta dilakukan dengan tertib dan

disiplin anggaran. Hasil penelitian ini memperkuat hasil penelitian yang

sebelumnya dilakukan bahwa efisiensi perbandingan antara output dengan


77

[Link] efisiensi dapat dikembangkan dengan menghubungkan antara

biaya yang sesungguhnya. Dengan biaya standar yang telah ditetapkan

sebelumnya (misalnya anggaran). Dari devinisi tersebut maka Efisiensi

adalah berbanding antara keluaran dan masukan.

Kategori Efisiensi yang telah dijelaskan membuat kesimpulan jika

penggunaan Anggaran Dana Kampung Maluang masih katakan hemat. Suatu

kerja organisasi dikatakan efisien apabila mecapai keluaran yang lebih tinggi

berupa hasil, produktivitas, performance dibanding masukan – masukan yang

berupa tenaga kerja, bahan, uang, mesin, dan waktu yang digunakan. Manfaat

efisiensi yang dirasakan masyarakat adalah pada sektor pelayanan, jika

masyarakat telah memperoleh hasil yang diinginkan dengan biaya minimal.

B. Pembahasan

1. Analisis Efektivitas pengelolaan Anggaran Dana Kampung di Kampung

Maluang Kecamatan Gunung Tabur.

Berdasarkan hasil analisis diatas, dapat dilihat efektivitas

pelaksanaan anggaran belanja dari Tahun 2020 – 2022 selalu

mengalami perubahan nilai persentase. Pada tahun 2020 persentase

efektivitas anggaran belanja sebesar 94,69 % (efektif) , selanjutnya

tahun 2021 97,21 % ( efektif) dan pada tahun 2022 memiliki presentase

sebesar 95, 39 % (efektif). Walaupun pada tahun 2020 dan Tahun 2022
78

mengalami penurunan nilai peresentase tetapi tahun 2021 mengalami

kenaikan tetapi tetap di kriteriakan efektif.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Melania Rampengan,

Grece B. Nangoi, Hendrik Manossoh (2016). yang menunjukkan hasil

analisis efektivitas pelaksanaan anggaran belanja pada perencanaan

pembangunan desa dari tahun ke tahun mengalami peningkatan kriteria

meskipun belum mencapai kriteria sangat efektif.

2. Analisis Efisiensi pengelolaan anggaran dana kampung Maluang di

kecamatan Gunung Tabur.

Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat dilihat efisiensi

pelaksanaan anggaran belanja kampung maluang dari tahun 2020-

2022 mengalami peresentase setiap tahunnya namun memiliki

kriteria efisiensi yang sama. Dimana pada tahun 2020 persentase

efisiensi anggaran belanja sebesar 42,71 % ( sangat efisien), tahun

2021 persentase efisiensi anggaran belanja sebesar 56,42 % (Sangat

efisien), dan persentase efisiensi anggaran belanja tahun 2022

sebesar 49,62 % (sangat efisien).

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Melania

Rampengan, Grece B. Nangoi, Hendrik Manossoh (2016). yang

menunjukkan hasil analisis efisiensi pelaksanaan anggaran belanja

pada pembangunan kampung maluang dari tahun 2020-2022


79

menunjukkan kriteria ( Sangat Efisien). Karena dari realisasi belanja

yang di keluarkan kampung maluang untuk pembangunannya di

gunakan biaya yang sangat hemat sehingga dari semua realisasi

belanja dari tahun 2020-2022 dalam kriteria Sangat Efisien.

Berdasarkan uraian analisis efektivitas dan Efisiensi diatas

penelitian ini sebaiknya lebih mengenai perencanaan pembangunan

Kampung atau penggalian potensi masyarakat dan gagasan

pembangunan kampung yang menitik beratkan pada peran

masyarakat dalam proses pembangunan serta peran aktif masyarakat

kampung maluang untuk kegiatan pembangunan. Hal ini sangat

diperlukan agar dari setiap program yang dilaksanakan, memang

benar – benar menjadi kebutuhan masyarakat dan sikap masyarakat

setempat , serta menuntut masyarakat agar lebih memiliki rasa

tanggung jawab, terutama terhadap program yang mereka inginkan

sendiri.

Berdasarkan teori tersebut menjelaskan bahwa perencanaan

pembangunan kampung dengan melibatkan lapisan masyarakat yang

menjadi wujud nyata peran masyarakat dalam membangun masa

depan kampung. Peren masyarakat dalam hal ini adalah analisa

mengenai apa saja kebutuhan yang harus terpenuhi, serta menuntut

masyarakat agar lebih memiliki rasa tanggung jawab.


BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis dan hasil pembahasan sebelumnya, penulis

memperoleh kesimpulan dari hasil penelitian mengenai Analisis Efektivitas

dan Efisiensi Pengelolaan Anggaran Dana Kampung (ADK) Di Kampung

Maluang Kecamatan Gunung Tabur, adalah sebagai berikut :

1. Tingkat efektivitas dipengaruhi oleh keberhasilan pemerintah kampung

dalam mengelola pendapatan Dana Kampung dan memaksimalkan

kebutuhan yang dibutuhkan masyarakat. Sehingga perhitungan dari

Anggaran Dana Kampung Maluang dapat disimpulkan bahwa

Pengelolaan Anggaran Dana Kampung Maluang tahun 2020 – 2022

dikategorikan hasilnya signifikan yaitu (Efektif) .

Manfaat analisis efektivitas Pengelolaan Dana Kampung bagi

masyarakat adalah sebagai tolak ukur tentang penyediaan pelayanan

yang disediakan oleh aparatur kampung. Kategori efektif dapat berubah

setiap tahunnya. Tujuan adanya Dana Kampung adalah meningkatkan

kesejahteraa warga kampung.

2. menunjukkan bahwa penggunaan dana Kampung yang dilakukan oleh

aparatur pemerintah dan masyarakat Kampung Maluang Kec. Gunung


81

Tabur Tahun 2020-2022, dikategorikan hasilnya signifikan yaitu

(Sangat Efisiensi).

Hal ini, menandakan bahwa yang diharakan oleh seluruh pemangku

kepentingan kampung Maluang telah sesuai dengan yang direncanakan.

Apa yang telah dilakukan dengan pengelolaan Anggaran Dana

Kampung telah sesuai dengan asas- asas Pengelolaan Anggaran Dana

Kampung sebagaimana tertuang dalam permendagri Nomor 113/2014

yaitu transparansi, akuntabel, partisipatif, serta dilakukan dengan tertib

dan disiplin anggaran.

3. Serta dari penggunaan anggaran dana kampung ini telah diteliti bahwa

dari anggaran yang telah di keluarkan pemerintahan telah membangun

beberapa infrastruktur yaitu pembangunan jalan serta pembanguan

beberapa posyandu di paribau rt 5 dan perbaikan jalan yang di lakukan

di kmpung maluang tepatnya di jl. amir kampung maluang.

B. Saran

Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan yang telah dibahas dalam

penelitian ini , maka dapat diberikan saran sebagai berikut :

1. Dalam penggunaan dana kampung diharapkan bidang

infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat dapat ditingkatkan

lagi. Seperti pembangunan jalan dibangun dengan kuat dan kokoh

supaya ke depannya dapat di bangun infrastruktur yang lain.


82

Selain pembangunan infrastruktur pemberdayaan masyarakat juga

ditingkatkan lagi seperti mengadakan kursus masak atau kursus

menjahit untuk ibu – ibu, mengadakan kursus komputer dan

kursus las bengkel untuk remaja Kampung Maluang.

2. Pemerintah kampung supaya lebih mengarahkan masyarakat

untuk lebih berpartisispasi dalam mengawasi jalannya alokasi

dana kampung untuk kebaikan bersama. Terutama dalam

mengarahkan perempuan untuk ikut serta dalam pelatihan atau

mengadakan pelatihan sehingga dapat membicarakan aspirasinya

untuk kemajuan kampung maluang kedepannya.


DAFTAR PUSTAKA

Novita, D. (2016). Analisis Efisiensi Dan Efektivitas Pengelolaan Anggaran Dana


Desa Tahun 2015 Di Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor Provinsi
Jawa Barat (Bachelor's thesis, Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta).

SINTIA, E. D. (2019). Efektivitas Pengelolaan Dana Desa Dalam Meningkatkan


Pembangunan Desa Menurut Perspektif Ekonomi Islam (Studi pada Desa
Semuli Raya Kecamatan Abung Semuli Kabupaten Lampung Utara)
(Doctoral dissertation, UIN Raden Intan Lampung).

Febriyanti, S., & Halmawati, H. (2020). Analisis Efektivitas Dan Efisiensi


Pengelolaan Dana Nagari (Studi Pada Nagari Di Kabupaten Agam).
JURNAL EKSPLORASI AKUNTANSI, 2(1), 2331-2347.

NAZHIROH, R. D. (2019). Analisis Efektivitas Program Alokasi Dana Desa Pada


Pemberdayaan Ekonomi Perspektif Ekonomi Islam (Studi pada Kecamatan
Sumberejo Kabupaten Tanggamus) (Doctoral dissertation, UIN Raden
Intan Lampung).

Azwardi, A., & Sukanto, S. (2014). Efektifitas Alokasi Dana Desa (ADD) dan
Kemiskinan di Provinsi Sumatera Selatan. Jurnal Ekonomi Pembangunan
3(Journal Of Economics And Development), 12(1), 29-41.

Purnamasari, R., Barus, I. N. E., & Kulsum, U. Analisis Efektivitas Dan Efisiensi
Pengelolaan Keuangan Dana Desa Di Desa Gas Alam Badak 1 Kecamatan
Muara Badak Tahun 2018.

Kinaro, M. (2019). Efektivitas Pengelolaan Dana Desa Dalam Pembangunan


Infrastruktur Di Desa Kajhu Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh
Besar. Banda Aceh: Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.

Rouhaty Nur Hikmah, Analisis Struktur Penerimaan Daerah dan Posisi Fiskal
Kotamadya dan Yogyakarta 1996/1997, tesis dipublikasikan, 1999.

M. Suparmoko, Keuangan Negara Dalam Teori dan Praktik, Edisi 5 , BPFE


Yogyakarta ,2000
84

David N. Hyman , Publik Finance, A Contemporary Application of Theory to


Policy, Sixth Edition, The Dryden Press, Sydney,1999

Eugina Liliawati Mulyono, Peraturan Perundang-undangan tentang Pajak Daerah


dan Retribusi Daerah, Harvarindo, 1998

Nick Devas, “ Keuangan Daerah Di Indonesia : Sebuah Tinjauan Umum”, dalam

Nick Devas, dkk, Keuangan Pemerintah Daerah Di Indonesia, Penerbit

Universitas Indonesia, Jakarta , 1987.

Undang – undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2014

Tentang Desa.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 Tentang

Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana

Desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan

Keuangan Desa.

Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 93/PMK.07/2015

Tentang Cara Pengalokasian, Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan, dan

Evaluasi Dana Desa.

Anda mungkin juga menyukai