PERBANDINGAN UJI HI DAN ELISA UNTUK MENGUKUR
MATERNAL ANTIBODI ND PADA ANAK AYAM
COMPARISON OF HI TEST AND ELISA FOR DETECTING
ANTIBODY MATERNAL ND ON DAY OLD CHICK
Oleh : Rahaju Ernawati*
ABSTRACT
This experiment was conducted to compare the sensitivity of
Hemaglutination Inhibition Test (HI) and Enzym Linked Immuno Sorbent Assay
(ELISA) to detect antibody maternal of Newcastle Disease.
Fourty Day Old Chick (DOC) of layer as group I and fourty DOC of
broiler as group II were used in this experiment. They were bled from heart
puncture at 5 days old. All sera were tested by HI test and ELISA.
The ELISA test resulted in higher antibody titres than HI test both in
group I and group II. Sera of group I tested by HI and ELISA showed in a higher
antibody titres than group II.
PENDAHULUAN
Penyakit ND (Newcastle Disease) pada ayam masih merupakan
ancaman bagi para peternak di Indonesia. Kerugian akibat penyakit ini setiap
tahun mencapai 340 milyar rupiah (Sofyan, 1996). Upaya menanggulangi
dengan vaksinasi yang menggunakan berbagai vaksin dan berbagai program
vaksinasi telah dilakukan, namun demikian seringkali titer antibodi yang
dihasilkan tidak seperti yang diharapkan. Hal ini dapat disebabkan oleh
berbagai faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Untuk mengetahui
keberhasilan program vaksinasi, secara berkala perlu dilakukan pemeriksaan
serologik sehingga apabila hasilnya kurang memuaskan dapat segera
dilakukan revaksinasi (Darjono, 1996).
Berbagai uji serologi dapat dilakukan untuk evaluasi titer antibodi
antara lain : Uji Hemaglutinasi Inhibisi (HI). Uji Pengikatan Komplemen (CFT),
uji Virus Netralisasi maupun uji ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay)
(Tizard, 1988). Uji HI lebih banyak dipakai karena selain mudah dan murah, uji
ini spesifik dan dapat menunjukkan status kekebalan pada ayam. Pengalaman
di lapangan menunjukkan bahwa ayam-ayam kebal terhadap serangan ND bila
hasil titer antibodi HI tinggi (Philips, 1973).
——————————————
Lab. Virologi dan Imunologi FKH Unair
Uji ELISA lebih peka karena dapat mendeteksi sejumlah kecil protein
antibodi dalam serum. Hanya membutuhkan serum dalam jumlah sedikit,
namun biaya operasionalnya lebih mahal. Maternal antibodi pada anak ayam
umur 1 minggu dapat dideteksi dengan uji ELISA, sedangkan dengan uji Virus
Netralisasi hasilnya negatif (Gazela, 1980).
Berdasarkan permasalahan tersebut, dikembangkan penelitian ini
untuk mengetahui kepekaan uji HI dibandingkan dengan uji ELISA untuk
mengukur titer antibodi maternal ND pada anak ayam.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada
para peternak dalam memilih uji yang peka, mudah dan murah.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Virologi dan Imunologi Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga.
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan
Randomized Group Posttest Only Design (Zainuddin, 1988). Data yang didapat
dari penelitian ini dinyatakan dalam bentuk Log-2 dan diuji dengan uji Split-Plot
dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur, jika terdapat perbedaan yang
bermakna (Steel and Torrie, 1980).
Anak ayam petelur sebanyak 40 ekor sebagai kelompok I dan anak
ayam pedaging sebanyak 40 ekor sebagai kelompok II digunakan dalam
penelitian ini.
Pada umur 5 hari dilakukan pengambilan serum darah pada semua
kelompok ayam. Serum diperoleh dengan cara mengambil darah langsung dari
jantung pada tiap-tiap ekor ayam. Serum kemudian diperiksa terhadap antibodi
ND dengan uji HI dan ELISA.
Pelaksanaan Uji HI
Uji HI mikroteknik prosedur beta terhadap sampel serum dilakukan
menurut metode Allan (1978). Pada microplate 0.025 ml, serum yang diperiksa
diencerkan dengan kelipatan 2, menggunakan larutan garam fisiologik pada
lubang ke-1 sampai dengan lubang ke-12. Antigen ND 0.025 ml sebanyak 4
HAU ditambahkan pada lubang ke-1 sampai lubang ke-11. Lubang ke-12
digunakan sebagai kontrol eritrosit. Microplate yang sudah berisi serum dan
antigen tersebut selanjutnya diinkubasikan selama 30 menit dalam suhu kamar,
kemudian ditambahkan eritrosit ayam 0.5% sebanyak 0.05 ml pada semua
lubang dan diinkubasikan lagi selama 30 menit pada suhu kamar, baru
kemudian dibaca titernya.
Pelaksanaan Uji ELISA
Prosedur pemeriksaan ELISA : Coating antibodi dilakukan dengan cara
mengisi buffer coating (karbonal 50 mmol/l) pada semua lubang microplate
sebanyak 100 ul tiap-tiap lubang, kemudian serum ayam yang diperiksa
diisikan pada lubang 1 sampai 10 sebanyak 50 ul dan “dibloking” selama 24
o
jam pada suhu 4 C. Selanjutnya antigen ND sebanyak 100 ul diisikan pada
o
semua lubang dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37 C. Microplate
kemudian dicuci dengan buffer pencuci (NaCl 154 mmol/l; 0.05% Triton X-100;
0.02% NaN3) sebanyak 3 kali.
Antiserum ND 1:100 (dibuat dari mencit yang diimunisasi dengan
vaksin ND strain LaSota) dimasukkan ke dalam tiap lubang sebanyak 100 ul
o
dan diinkubasi selama 1 jam pada suhu 37 C kemudian dicuci 3 kali.
Ditambahkan konjugat rabbit antimous Ig-G alkaline phosphatase sebanyak
100 ul pada semua lubang, kemudian dibaca dengan ELISA reader pada
panjang gelombang 405 nm. Sebagai kontrol digunakan antiserum ND positif
yang telah diencerkan dengan kelipatan 2 dan dimasukkan pada lubang 11 dan
1 14
12 tiap baris (pengenceran berurutan dari 2 – 2 ). Kontrol antiserum ND
negatif dimasukkan pada 2 lubang dari baris terakhir.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pemeriksaan rata-rata titer antibodi dari kelompok I (ayam
petelur) dan kelompok II (ayam pedaging) dengan menggunakan uji HI dan uji
ELISA tertera pada Tabel 1 dan 2.
Tabel 1 Hasil Pemeriksaan Titer Antibodi (log-2) Pada kelompok Ayam
Petelur dan Pedaging dengan uji HI dan ELISA
Kelompok Ayam Petelur Kelompok Ayam Pedaging
HI ELISA HI ELISA
Titer f Titer f Titer f Titer f
3 2 8 4 5 16 10 18
5 17 9 17 6 10 11 14
6 19 10 15 7 10 12 8
7 2 11 2 8 4
12 2
Jumlah 40 40 40 40
Keterangan : f = frekuensi besaran titer antibodi
Tabel 2 Rata-rata Titer Antibodi (log-2) Kelompok Ayam Petelur dan
Pedaging yang Diuji dengan Uji HI dan ELISA
Kelompok Ayam HI ELISA
d b
PETELUR 5.475 9.525
c a
PEDAGING 6.050 10.750
Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan adanya perbedaan yang nyata (p<0.05)
Dari hasil analisis varian didapatkan adanya perbedaan yang sangat
nyata (p<0.01) pada jenis ayam, jenis uji, maupun interaksinya. Dengan uji
Beda Nyata Jujur didapatkan bahwa titer tertinggi adalah pada ayam pedaging
yang diuji dengan ELISA dan berbeda nyata (p<0.05) dengan kelompok
lainnya.
Dari Tabel 1 dan 2 terlihat bahwa rata-rata titer antibodi pada kelompok
ayam pedaging secara nyata lebih tinggi dari pada kelompok ayam petelur,
baik dengan uji HI maupun uji ELISA. Perbedaan titer antibodi antara ayam
petelur dengan ayam pedaging menurut standar masih mempunyai nilai
proteksi yang sama apabila dilakukan uji tantang di lapangan. Menurut
4 6
Allan (1978) rata-rata titer antibodi 2 -2 menunjukkan angka mortalitas 0%
bila ditantang dengan virus lapangan.
Adanya perbedaan rata-rata titer antibodi antara dua kelompok ini
diduga disebabkan karena program vaksinasi yang berbeda pada induk ayam
pedaging dan induk ayam petelur. Diduga pada saat ayam bertelur, titer
antibodi induk ayam pedaging lebih tinggi dibanding titer antibodi induk ayam
petelur.
Antibodi asal induk dalam bentuk Ig G ditransfer dari serum induk ke
dalam kuning telur ketika telur masih di dalam ovarium. Ig G dalam kuning telur
sepadan dengan titer Ig G dalam serum induk. Dalam perkembangan embrio,
Ig G dalam kuning telur akan diserap tubuh sehingga dapat dijumpai dalam
sirkulasi darah (Heller, 1977).
Dengan uji ELISA rata-rata antibodi pada kelompok ayam pedaging
dan kelompok ayam petelur lebih tinggi dibanding dengan uji HI. Uji ELISA
lebih peka karena dapat mendeteksi sampai 0.0005 ug protein per-ml antibodi
bila dibandingkan dengan uji HI (0.005 ug protein/ml) (Tizard, 1988).
Meskipun ELISA lebih peka dibandingkan dengan uji HI namun tidak
bisa menggambarkan titer proteksi dan titer yang menyebabkan penurunan
produksi telur (Miers, et al. 1983).
KESIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: 1) Terdapat
perbedaan rata-rata titer antibodi maternal ND bila diuji dengan uji HI dan uji
ELISA, baik pada kelompok ayam pedaging maupun kelompok ayam petelur;
dan 2) Rata-rata titer antibodi bila diuji dengan uji ELISA menunjukkan titer
yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil uji HI pada kedua kelompok ayam.
Adapun saran yang diajukan adalah sebagai berikut: diperlukan
adanya penelitian lanjutan dengan uji tantang untuk mengetahui nilai
proteksivitas uji HI maupun uji ELISA.
DAFTAR PUSTAKA
Allan, W. H., V. E. Lancaster and B. Toth. 1978. Their Production and use ND
Vaccines. FAO. Rome. Italy. 1-159
Darjono. 1996. Kecenderungan Penyakit Unggas di Jawa Tengah tahun 1996.
Poultry Indonesia. 193 : 147-149
Gazela. Z. and R. A. Bankowski. 1980. Comparison of Tissue Culture Virus
Neutralization Test and the Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay for
Measurement Antibodies to Infectious Bronchitis. Avian Dis. Vol. 25 :
121
Heller, E. D. , D. Ben Natman and M. Perek. 1997. The Transfer of Newcastle
Term Antibody from the Laying hen to egg and the chick. Research in
vet. Science. 22 : 376-379
Miers, L.A., R. A. Baanskroski, J. C. Zee. 1983. Optimizing the Enzym Linked
Immuno Sorbent Assay for Evaluating Immunity of Chickens to
Newcastle Disease. Avian Dis. Vol. 27 : 1112-1125
Philips, J. M. 1973. Vaccination Againts Newcastle Disease. An Assesment of
Hemaglutination Inhibition Titres Obtained from Field Samples. Vet.
Rec. 93 : 577 – 583
Sofyan, S. 1996. Peranan Vaksinasi Newcastle Disease (ND) terhadap
Peningkatan Populasi dan Produksi Ayam Buras serta Dampaknya
Ditinjau dari Sudut Ekonomi Veteriner. Poultry Indonesia. 194 : 28
Steel, R. G. D. and J. H. Torrie. 1980. Principles and Produceres of Statistics. A
nd
Biochemical Aprroach. 2 ed. International Student.
Tizard, I. A. dalam Partadireja, M. 1988. Pengantar Immunologi Veteriner. Edisi
2. Airlangga Univ. Press. Surabaya. Indonesia
Zainuddin, M. 1988. Metodologi Penelitian. Diktat Kuliah Pasca Sarjana. Unair.
Surabaya.