MAJALAH ILMIAH
KOLIBASILOSIS PADA AYAM
Heru Suripta
ABSTRAK
Kolibasilosis adalah penyakit menular yang umum, artinya dikenal oleh setiap
peternak, terjadi pada unggas termasuk ayam yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli
galur patogen. Infeksi bersifat primer atau sekunder, menyerang ayam petelur dan pedaging
pada semua umur, tetapi ayam umur muda lebih rentan dibanding yang tua. Penyakit ini sering
terjadi pada kelompok ayam yang dipelihara di lingkungan kandang yang kurang bersih atau
sesudah terjadi serangan penyakit lain penyebab imunosupresi atau penyakit pernafasan. Ada
tiga serotipe E. coli patogen terhadap unggas yaitu, O2:K1, O1:K1, O78:K80 dan serotipe
lainnya yang kurang patogen, yang telah diidentifikasi dari organ tubuh ayam sakit, pakan, air
minum, dan litter, dari peternakan ayam di wilayah Jawa dan Bali. Dalam kondisi normal E.
coli hidup komensal di dalam saluran pencernaan ayam, yang dapat ditularkan melalui
kontaminasi feses, air dan debu. Diagnosa kolibasilosis didasarkan atas gejala klinis, lesi
patognomonis (septikemia, perikarditis, airsacculitis, perihepatitis) dan isolasi E. coli.
Penyakit ini biasanya terjadi secara kompleks bersama organisme lain seperti Chronic
Respiratory Disease (CRD), Swollen Head Syndrome (SHS), Newcastle Disease (ND) dan
sebagainya. Pengobatan akan efektif, bila diberikan pada awal kejadian. Untuk pengendalian
penyakit harus ditujukan pada perbaikan manajemen peternakan, termasuk sanitasi/desinfeksi
mesin penetas, program pencegahan penyakit dan vaksinasi yang sesuai, baik untuk
pencegahan penyakit yang bersifat imunosupresif maupun pernafasan.
Kata kunci: Kolibasilosis, ayam, diagnosa, pengendalian
PENDAHULUAN lama infeksi, organ yang terserang dan
adanya penyakit lain bersamanya (Charlton
Kolibasilosis adalah penyakit et al., 2000). Pada ayam broiler kuman ini
infeksius pada unggas termasuk ayam sering berperan sebagai infeksi sekunder
yang disebabkan oleh bakteri Escherichia sehingga terjadi infeksi kompleks saluran
coli patogen sebagai agen primer ataupun pencernaan dan menimbulkan kematian (
sekunder. Infeksi E. coli atau Anonimus, 2006).
koliseptikemia ini dapat terjadi pada ayam Penularan kolibasilosis biasanya
pedaging dan petelur dari semua kelompok terjadi secara oral melalui pakan, air
umur, serta unggas lainnya seperti kalkun minum atau debu/kotoran yang tercemar
dan itik dengan gejala klinis yang tidak oleh E. coli. Debu dalam kandang ayam
spesifik, dipengaruhi oleh umur ayam, dapat mengandung 105–106 E. coli/gram
807
ISSN : 0853 – 0122 Volume 13 No. 1 Maret 2008
MAJALAH ILMIAH
dan bakteri ini dapat tahan lama, terutama Kasus kolibasilosis telah dilaporkan
dalam keadaan kering. Apabila debu di berbagai negara di dunia. Di Indonesia,
tersebut terhirup oleh ayam, maka dapat penyakit ini ditemukan pada ayam
menginfeksi saluran pernafasannya (Tabbu, pedaging maupun petelur di berbagai
2000). Penyakit kolibasilosis dapat daerah. Bagi industri perunggasan
dimanifestasikan dalam bentuk kelainan kolibasilosis mempunyai arti ekonomi yang
organ, seperti: septikemia, enteritis, penting, karena menyebabkaan tingginya
granuloma, omfalitis, sinusitis, ayam yang diafkir, penurunan kualitas
airsacculitis, arthritis/synovitis, peritonitis, karkas dan telur, serta kualitas anak ayam
pericarditis, selulitis dan Swollen Head (doc). Di samping itu, adanya infeksi E.
Syndrome/SHS (Zanella et al., 2000), coli dapat merupakan faktor pendukung
ovaritis, salphingitis, panopthalmitis dan timbulnya penyakit kompleks pada saluran
bursitis sternalis ( Tabbu, 2000). pernafasan, pencernaan atau reproduksi
Dalam kondisi normal E. coli yang sulit ditanggulangi (Tabbu, 2000,
terdapat di dalam saluran pencernaan Suska, 2007). Di Amerika dan Kanada,
ayam. Sekitar 10−15 persen dari seluruh E. bakteri E. coli dapat mengakibatkan
coli yang ditemukan di dalam usus ayam selulitis yang kasusnya lebih menonjol
yang sehat tergolong serotipe patogen. pada industri perunggasan, khususnya
Bagian usus yang paling banyak ayam pedaging. Kerugian yang
mengandung kuman tersebut adalah ditimbulkan E. coli berupa penurunan
jejunum, ileum dan sekum. Jenis E. coli kualitas karkas dan pengafkiran daging,
yang terdapat di dalam usus tidak selalu mengakibatkan kerugian ekonomi yang
sama dengan jenis yang ditemukan pada diperkirakan mencapai 30−40 juta dollar
jaringan lain. Sebagai agen penyakit setiap tahunnya (Norton, 1997).
sekunder, E. coli sering mengikuti penyakit
lain, misalnya pada berbagai penyakit PENYEBAB
pernafasan dan pencernaan yang
Essherichia coli tergolong bakteri
menyerang ayam. Kenyataan di lapangan
Gram Negatif, berbentuk batang yang
menunjukkan bahwa timbulnya kasus
tidak membentuk spora, tidak tahan asam
kolibasilosis, terutama akibat pengaruh
dan ukurannya 2−3 μm x 0,4-0,6 (Davis
imunosupresif dari Gumboro (ayam
et. al., 1988), motil dengan flagella peritrik
pedaging lebih dominan dibanding petelur)
atau non motil, fakultatif aerob (Brock and
dan sebagai penyakit ikutan pada Chronic
Madigan, 1988) Bakteri ini dapat
Respiratory Disease (CRD), Infectious
ditemukan pada berbagai infeksi pada
Coryza (Snot), Swollen Head Syndrome
hewan dan merupakan agen primer atau
(SHS), Infectious Laryngo Tracheitis (ILT)
sekunder dari infeksi tersebut. Pada
dan koksidiosis (Tabbu, 2000).
808
ISSN : 0853 – 0122 Volume 13 No. 1 Maret 2008
MAJALAH ILMIAH
keadaan normal bakteri banyak terdapat antigen (tempat aktif suatu antigen) O
pada usus bagian belakang berperan terletak pada bagian liposakarida, bersifat
membantu sintesa vitamin, khususnya tahan panas dan dalam pengelompokannya
vitamin K ( Brock and Madigan 1988) dan diberi nomor 1,2,3 dan seterusnya. Antigen
keluar dari tubuh bersama-sama tinja, yang K merupakan polisakarida atau protein,
tahan hingga berminggu-minggu dan bersifat tidak tahan panas dan
menjadi bahan penular bagi ayam lain berinterferensi dengan aglutinasi O,
(Yahya, 1991). Berdasarkan penyakit yang sedangkan antigen H mengandung protein,
ditimbulkannya, dapat digolongkan terdapat pada flagella yang bersifat
menjadi dua kelompok. Pertama, E. coli termolabil. Antigen lain seperti Vi dan
yang bersifat oportunistik, artinya dapat antigen M, kurang penting pada ayam.
menyebabkan penyakit dalam keadaan Serotipe yang banyak menyebabkan
tertentu, misalnya kekurangan makanan penyakit pada unggas adalah O1, O2, O35
atau mengikuti penyakit lain. Kedua, dan O78 (Tabbu, 2000), dan dikenal
bersifat enteropatogenik/ enterotoksigenik, patogenitasnya cukup tinggi. E. coli O111
E. coli yang mempunyai antigen adhesive juga tergolong patogen, karena dapat
memmproduksi enterotoksin sehingga mengakibatkan kematian mendadak pada
dapat menimbulkan penyakit. (Lay dan ayam yang sedang mulai bertelur dengan
Hastowo,1992). ditandai septicemia dan poliserositis
Virulensi E. coli dipengaruhi oleh fibrinosa (Zanella et al., 2000). Selain itu,
ketahanannya terhadap pagositosis, E. coli O111 ini juga merupakan salah satu
kemampuan adhesi terhadap epitel sel jenis serotipe patogen terhadap manusia
pernafasan dan ketahanannya terhadap dan dapat menyebabkan gastroenteritis
daya bunuh oleh serum. E. coli yang pada bayi yang sifatnya fatal (Gupte,
patogen ini mempunyai struktur dinding sel 1990).
yang disebut “pili”, yang tidak ditemukan Tiga serotipe E. coli O1 : K1, O2 :
pada serotype yang tidak patogen (Tabbu, K1 dan O78 : K80 merupakan serotipe
2000), dan “pili” inilah yang berperan yang sering ditemukan pada isolasi
dalam kolonisasi (Lay dan Hastowo,1992). sewaktu ada wabah kolibasilosis pada
Ada tiga macam struktur antigen ayam (Charlton et al., 2000,). Selanjutnya
yang penting dalam klasifikasi E. coli dijelaskan bahwa tiga serotipe tersebut
yaitu, antigen O (Somatik), antigen K merupakan serotipe yang banyak
(Kapsel), dan antigen H (Flagella) (Lay menimbulkan koliseptikemia pada ayam.
dan Hastowo,1992). Pada saat ini telah E. coli masuk ke dalam sirkulasi darah
diketahui ada 173 grup serotype antigen O, ayam, menginfeksi berbagai jaringan
74 jenis antigen K dan 53 jenis antigen H melalui luka usus atau saluran pernafasan.
(Barnes dan Gross, 1997). Determinan Biasanya mengikuti penyakit lain yang
809
ISSN : 0853 – 0122 Volume 13 No. 1 Maret 2008
MAJALAH ILMIAH
menyerang saluran pencernaan ataupun kejadian selulitis ini baru diketahui pada
pernafasan. Poernomo dkk. (1992a) saat inspeksi pemotongan ayam.
melaporkan bahwa, E. coli serotipe O1:
K1, O2: K1 dan O78: K80 terdapat di DIAGNOSIS
Indonesia dan pernah diisolasi dari ayam
penderita koliseptikemia. Isolat E. coli ini Dalam manajemen kesehatan
diperoleh dari sample organ tubuh ayam hewan, diagnosis sangat penting bagi usaha
pedaging dan petelur (hati, jantung, limpa, peternakan ayam. Mengingat hasilnya
kantong hawa, usus buntu dan organ lain sangat diperlukan untuk penanganan
yang mengalami kelainan) dan sampel lain unggas lain dalam kelompok yang sama,
( pakan, air dan litter) yang berasal dari diagnosis suatu penyakit pada unggas harus
peternakan ayam di lima wilayah Jawa dan dilakukan secara cepat dan tepat, guna
Bali. menghindari kerugian yang lebih besar.
Ada saling keterkaitan antara ayam Pada pemeriksaan post mortem, harus
dan lingkungan (sebagai sumber didasarkan perubahan patologi yang
penularannya). Alas kandang (litter), menciri (patognomonis),sehingga
sebagai sumber penularan utama E. coli, di diagnosisnya akan mempunyai ketepatan
samping pakan dan air minum yang yang tinggi. Sebaliknya perubahan patologi
tercemari oleh feses (Yahya, 1991). Tabbu anatomi yang tidak menciri atau tidak
(2000) mengatakan bahwa, E. coli akan spesifik, maka penetapan diagnosa patologi
bermultiplikasi secara cepat di dalam usus ini perlu didukung oleh pemeriksaan
DOC yang baru menetas. Infeksinya akan laboratorium lainnya (identifikasi agen
menyebar secara cepat dari DOC yang satu penyebab dll.).
ke DOC lainnya di dalam indukan buatan Ayam yang terserang kolibasilosis,
(brooder), terutama bila umbilicus belum umumnya memperlihatkan tanda-tanda
tertutup sempurna. Kematian mungkin saja klinis: kurus, bulu kusam, nafsu makan
tidak terjadi, tetapi litternya sudah menurun dan murung (Yahya, 1991),
tercemari oleh bakteri. Bakteri E. coli O78, pertumbuhannya terganggu, diare, bulu
O1 dan O2 juga dapat diisolasi dari ayam kotor atau lengket di sekitar pantatnya
penderita selulitis. Pada ayam pedaging, (Akoso, 1993). Kolibasilosis dapat
bakteri penyebab selulitis ini, berasal dari ditemukan dalam berbagai bentuk, meliputi
litter yang menginfeksi tubuh ayam melalui kematian embrio pada telur tetas, infeksi
luka/goresan pada kulit dada dan yolk sac dan omfalitis, koliseptikemia,
sekitarnya (Macklin et al., 1999; Gomis et airsacculitis, enteritis, infeksi alat
al. 2000 sit. Tarmudji, 2003). Pada waktu reproduksi, koligranuloma, arthritis,
masih hidup, ayam nampak normal dan panopthalmitis dan bursitis sternalis (
Siegmund, 1979, Tabbu, 2000)
810
ISSN : 0853 – 0122 Volume 13 No. 1 Maret 2008
MAJALAH ILMIAH
Infeksi oleh bakteri E. coli galur menurun pada hari ke-6. Walaupun
patogen dapat menimbulkan kelainan demikian kematian anak ayam dapat juga
patologi anatomi yang menciri, antara lain: berlangsung sampai minggu ke−3. Anak
radang kantong hawa, pericarditis, ayam yang dapat bertahan setelah hari
peritonitis, salphingitis dan radang hati ke−4, kemungkinan akan menderita
berat disertai lapisan fibrin yang menutupi perikarditis dan peri hepatitis (di samping
sebagian besar atau seluruh permukaan hati infeksi yolk sac), yang memberi petunjuk
dengan warna putih keabu-abuan atau adanya penyebaran E. coli secara sistemik
kadang-kadang kekuning-kuningan ( melalui yolk sac. Bila sudah terjadi
Siegmund, 1979). Gambaran patologi perikarditis, perihepatitis, airsaculitis yang
anatomi yang demikian dapat ditetapkan hebat dan ada selaput fibrin yang menutupi
diagnosanya sebagai "Kolibasilosis", dan sebagian besar hatinya, itu merupakan
apabila dapat diisolasi agen penyebab tanda spesifik dari infeksi kolibasilosis.
tunggal (E. coli), maka dapat dikatakan Mortalitas biasanya tinggi (bisa mencapai
infeksi murni koli. Namun apabila dalam 10−15%), jika infeksinya terjadi pada
pemeriksaan patologi anatomi dan histo minggu pertama. Tanda-tanda adanya
patologi ditemukan lebih dari satu penyakit infeksi yolk sac dapat diamati dengan
dan perubahan pada penyakit tersebut lebih adanya yolk sac yang belum terserap secara
menonjol, maka biasanya kolibasilosis sempurna dan pertambahan berat badan
tersebut dianggap sebagai ikutan atau yang terhambat. Yolk sac pada anak ayam
sebagai infeksi sekunder (Tarmudji, 2003). yang sehat akan diserap habis sekitar enam
Kelainan patologi anatomi pada hari setelah menetas.
anak ayam yang menonjol adalah infeksi Poernomo dkk. (1983a),melaporkan
yolk sac (kandungan yolk sac menjadi lebih bahwa keberadaan bakteri ini menduduki
encer, berwarna kuning coklat atau ranking pertama, bersama Streptococcus
menyerupai keju dan berbau busuk) dan sp., Staphylococcus sp. dan Pseudomonas
omfalitis (radang umbilicus/tali pusar). Hal sp. yang diisolasi dari debu yang berasal
ini menunjukkan bahwa DOC yang dari mesin tetas dan ruangannya pada 14
dipelihara peternak tersebut berasal dari buah peternakan ayam pembibit di wilayah
bibit yang kurang baik kualitasnya. Tabbu DKI Jakarta dan Jawa Barat. Apabila E.
(2000) menyebutkan bahwa, embrio yang coli patogen ini masuk ke dalam embrio
dapat bertahan dari infeksi E. coli akan ayam, akan berkembang biak sangat cepat
menghasilkan DOC yang kerapkali akan dan mengeluarkan hemolisin serta toksin
mati dalam waktu beberapa hari setelah lain yang dapat menyebabkan jaringan
menetas. Kematian DOC biasanya akan menjadi hemorrhagis. Oleh karena itu,
meningkat pada minggu pertama, terutama debu dari mesin tetas merupakan penyebab
pada hari ke−4 dan ke−5, kemudian utama infeksi kantong kuning telur dan
811
ISSN : 0853 – 0122 Volume 13 No. 1 Maret 2008
MAJALAH ILMIAH
omfalitis. Dalam usaha menghasilkan lanjut dijelaskan bahwa E. coli dapat
anak-anak ayam yang sehat, maka faktor menyebabkan kematian pada ayam
kebersihan kandang ayam pembibitan, pedaging, pullet dan petelur. Berdasarkan
mesin penetasan beserta ruangannya umurnya, omfalitis terjadi pada umur 0−2
memegang peranan penting. minggu, koliseptikemia umur 2−8 minggu
Pada ayam petelur, kolibasilosis dan salpingitis/peritonitis terjadi umur
sering dijumpai pada ayam dara atau lebih 20 minggu.
dewasa, menjelang produksi maupun masa
produksi, dan menyebabkan kelainan pada PENGOBATAN
alat reproduksinya, berupa ovaritis dan
salphingitis yang cenderung bersifat kronis. Berbagai jenis antibiotika dan obat-
Selain itu, kolibasilosis juga menimbulkan obatan telah digunakan untuk pengobatan
kelainan menyerupai tumor (granuloma), kolibasilosis, beberapa diantaranya adalah:
yang disebut koligranuloma (Hjarre’s tetrasiklin, neomisin, obat-obat sulfa,
disease). Perubahan yang spesifik berupa fluoroquinolone dan sebagainya. Menurut
lesi pada hati (membesar, keras dan Tabbu (2000), pengobatan dengan
berwarna belang), juga terdapat bungkul- antibiotik/antibakteri yang sesuai terhadap
bungkul pada duodenum, sekum dan infeksi kolibasilosis yang ringan, mungkin
mesenteriumnya. Hal ini mungkin akibat masih bermanfaat. Namun sebaiknya,
reaksi jaringan bersifat lokal dari sebelum pengobatan perlu dilakukan uji
koliseptikemia. Kolibasilosis pada ayam, sensitivitasnya terlebih dulu, tetapi pada
baik pedaging maupun petelur jarang infeksi yang berat, terutama bila
menyerang secara tunggal, umumnya penyakitnya merupakan masalah yang
bersama-sama penyakit lain ( Suska, 2007). dominan pada suatu flok, maka usaha
Kolibasilosis sering berjangkit bersama pengobatan sangat jarang memberikan
penyakit Newcastle Disease (ND), Swollen hasil yang memuaskan.
Head Syndrome (SHS), Chronic Akoso (1993) mengemukakan
Respiratory Disease (CRD), Salmonellosis, bahwa, pengobatan kolibasilosis dimulai
Malaria dan Aspergillosis. Walaupun dari perbaikan sanitasi lingkungan, pakan
kolibasilosis hanya nimbrung, justru dan air. Apabila terjadi septikemia, dapat
tingkat keparahan yang ditimbulkan jauh digunakan nitrofuran, dan neomisin bila
lebih tinggi dari penyakit lain yang terjadi diare dan radang usus, akan tetapi
mengawalinya. Maka dari itu, Tabbu berdasarkan hasil penelitian Poernomo
(2000), menyebut E. coli sebagai dkk.(1992b), E. coli sudah resisten
“opportunate pathogens”, karena penyakit terhadap neomisin, eritromisin,
yang ditimbulkannya biasanya bersifat oksitetrasiklin, doksisiklin dan
sekunder, mengikuti penyakit lain. Lebih streptomisin. Oleh karena itu, apabila
812
ISSN : 0853 – 0122 Volume 13 No. 1 Maret 2008
MAJALAH ILMIAH
obat-obat tersebut digunakan untuk pada pembibitan, mesin tetas dan sarana
pengobatan, mungkin tidak efektif lagi pemeliharaan anak ayam umur 1 hari (doc).
atau tingkat keberhasilannya rendah. Sanitasi mesin tetas, evaluasi pembibitan
Laporan Zanella et al. (2000) bahwa, E. terhadap kemungkinan adanya [Link]
coli resisten terhadap tetrasiklin, patogen dan penanganan sanitasi telur tetas
linkomisin, khlorampenikol, nadilic acid sebelum dimasukkan ke dalam mesin tetas.
dan kanamisin. Ketidakmampuan Sebab mesin tetas dan telur tetas yang telah
antibiotik tersebut melawan E. coli ini, terkontaminasi oleh kuman patogen dapat
karena obat-obatan itu sering digunakan menjadi sumber infeksi pada embrio ayam
oleh peternak untuk pengobatan penyakit ( Poenomo dkk., 1983)
bakterial pada ayam. Selain itu, jenis obat Kualitas pakan, sumber air minum
tersebut secara umum juga digunakan yang bebas bakteri, sistem perkandangan
sebagai obat anti stres dan imbuhan pakan. yang baik, sanitasi/ desinfeksi yang ketat,
Jadi resistensi E. coli terhadap obat-obatan program vaksinasi yang sesuai dengan
tersebut, sebagai akibat dari E. coli yang situasi dan kondisi peternakan, serta
sering kontak dengan obat yang dimaksud pengaturan pekerja perlu dijaga secara
(Poernomo dkk., 1992b). Untuk mengobati ketat. Pencegahan berbagai penyakit
kolibasilosis dapat digunakan obat pernafasan, pencernaan dan penyakit yang
enrofloxacin, kanamisin, ampisilin, bersifat imunosupresif hendaklah
trimetoprim sulfametoksazol, karena mendapatkan prioritas utama. Sumber air
sebagian besar E. coli masih sensitif minum perlu dijaga terhadap kemungkinan
terhadap obat-obatan tersebut. pencemaran E. coli atau bakteri lain
dengan cara klorinasi, yaitu dengan
PENGENDALIAN menambahkan kaporit ke dalam air (dosis:
150 gram kaporit dalam tiap 10.000
Penerapan program biosekuritas galon/38.000 liter air), untuk mengurangi
yang ketat di suatu peternakan unggas kandungan E. coli dan bakteri lainnya.
komersial merupakan suatu keharusan. (Tabbu, 2000).
Usaha pencegahan lain seperti vaksinasi
dan program kesehatan yang terkoordinasi. KESIMPULAN
Untuk itu, strategi pencegahan infeksi yang
berbasis pengadaan bibit yang bebas Kolibasilosis dapat menyerang
penyakit merupakan suatu hal penting yang ayam pedaging atau petelur pada semua
harus diperhatikan (Suhardi dan Suripta, kelompok umur. Diagnosa dapat
1986; Yahya, 1991). didasarkan atas perubahan patologi
Pengendalian kolibasilosis anatomi yang patognomonis dan isolasi
sebaiknya dimulai dari aspek manajemen kuman. Di Indonesia, ada tiga serotipe E.
813
ISSN : 0853 – 0122 Volume 13 No. 1 Maret 2008
MAJALAH ILMIAH
coli yaitu: O2 : K1, O1 : K1 dan O78 : K80
yang patogen terhadap ayam. Charlton, B.R., A.J. Bermudez, D.A.
Halvorson, J.S. Jeffrey, L.J. Newton,
Pengobatan kolibasilosis dengan J.E. Sander and P.S. Wakernell.
antibiotik hanya bermanfaat bila infeksinya 2000. Avian Diseases Manual. Fifth
masih ringan, sedangkan apabila Edition. American Association of
Avian Pathologist. Poultry Pathology
penyakitnya sudah komplek, pengobatan
Laboratory University of
tidak dianjurkan, karena kurang bermanfaat Pennsylvania. New Bolton Center.
dan tidak ekonomis. USA.
Pengendalian kolibasilosis,
Davis, B.D., R. Dulbecco, H.N. Eisen, H.S.
ditujukan pada perbaikan manajemen yang Ginsberg. 1980. Microbiology. 3th
meliputi sanitasi/ desinfeksi yang ketat, ed. Harper and Row Publiser Inc.
program pencegahan penyakit dan Pensylvania, USA. pp. 647-648
vaksinasi yang sesuai, terutama untuk Gupte. S. 1990. The Short Textbook of
penyakit imunosupresif dan penyakit Medical Microbiology. First Edition.
pernafasan. Selain itu, seleksi ayam yang Jaypee Brothers India. pp. 261-269.
berkualitas baik harus dilakukan secara
Lay, B.W dan S. Hastowo. 1992.
ketat sejak awal pemeliharaan (bibit), Mikrobiologi. Edisi Pertama.
mencegah pencemaran bakteri pada air Rajawali Pers. Jakarta.
minum dan pakan.
Norton, R.A. 1997. The Effects of Early
Exposure of Cellulitis-Associated
DAFTAR PUSTAKA [Link] in 1 day old broiler chickens.
Johnson, L.S.M., S.F Baqili, F.J.
Akoso, B.T. 1993. Manual Kesehatan Hoerr, B.L. Mc Murtry and R.A.
Unggas. Edisi Pertama. Kanisius. Norton. (Eds.). Avian Pathology.
Yogyakarta. 2001. 30: 175–178.
Anonimus. 2006. Munculnya Penyakit Poernomo, S., Supar, S. Hardjoutomo dan
Pencernaan Kompleks. Dalam : Iskandar. 1983. Sanitasi mesin
Invovet ed. 142. hal. 28 penetasan dan ruangannya. I:
Pemeriksaan jenis kuman dari debu
Barnes, H.J. and W.B. Gross, 1997. asal mesin penetasan. Penyakit
Collibacillosis. In: Diseases of Hewan. 15 (25): 87-90.
Poultry. 10th ed B.W. Calnek, H.J.
Barnes, C.W. Beard, L.R. MC Poernomo, S., Sutarma, Jaenuri dan
Dougald and Y.M. Saif. (Eds.). Iskandar. 1992a. Kolibasilosis pada
Ames, I.A.: Iowa State University unggas di Indonesia: I. Isolasi dan
Press. pp. 131-141 penentuan serotipe E. coli dari
Wilayah Peternakan Unggas Jawa-
Brock, T.D., M.T. Madigan. 1988. Biology Bali. Penyakit Hewan. 24 (43A): 33-
of Microorganisms. 5th ed. Prince- 38.
Hall International (UK) Limited,
London. pp. 741-744
814
ISSN : 0853 – 0122 Volume 13 No. 1 Maret 2008
MAJALAH ILMIAH
Poernomo, S., Sutarma, Jaenuri dan Tabbu, C.R. 2000. Penyakit Ayam dan
Iskandar. 1992b. Kolibasilosis pada Penanggulangannya. Vol. I.
unggas di Indonesia: II. Uji Kepekaan Kanisius. Yogyakarta.
E. coli asal peternakan ayam di
beberapa wilayah Jawa dan Bali Tarmudji. 2003. Kolibasilosis Pada Ayam :
terhadap beberapa antibiotika. Etiologi, Patologi dan
Penyakit Hewan 24 (43A): 39-43. Pengendaliannya Dalam Wartazoa.
Vol. 13 No.
Siegmund, O.H. 1979. The Merc
Veterinary Manual. 5th ed. Merck and Yahya, Y. 1992. Penyakit-penyakit Penting
Co., Inc. Rahway, N.J., USA Pada Ayam. PT. Medion. Bandung.
Suhardi dan Suripta, H. 1986. Penyakit Zanella G., A.G. Alboralli, Bardotti, P.
Hewan Menular. Diktat Pegangan Candotti, P.F. Guadagnini, P.A.
Kuliah. Akademi Peternakan Martino and M. Stonfer. 2000. Severe
Karanganyar. Karanganyar. Hal. 24 E. coli O111 septichemia and
polyserositis in hens at the start of
Suska, D. 2007. Koli Tak Kenal Musim. lay. In : Avian Pathology. 29: 311-
Invovet ed. 155. hal. 16 317.
815
ISSN : 0853 – 0122 Volume 13 No. 1 Maret 2008