0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan23 halaman

Refleksi Diri dan Umpan Balik Konstruktif

Dokumen tersebut membahas tentang peer assessment, constructive feedback, dan self-reflection. Terdapat penjelasan tentang tujuan pembelajaran yaitu mahasiswa dapat memberikan umpan balik konstruktif kepada teman dan melakukan refleksi diri. Juga dijelaskan rencana pembelajaran yang terdiri dari review teori, diskusi kasus, dan penugasan refleksi mandiri."

Diunggah oleh

Surya Dimastiar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
46 tayangan23 halaman

Refleksi Diri dan Umpan Balik Konstruktif

Dokumen tersebut membahas tentang peer assessment, constructive feedback, dan self-reflection. Terdapat penjelasan tentang tujuan pembelajaran yaitu mahasiswa dapat memberikan umpan balik konstruktif kepada teman dan melakukan refleksi diri. Juga dijelaskan rencana pembelajaran yang terdiri dari review teori, diskusi kasus, dan penugasan refleksi mandiri."

Diunggah oleh

Surya Dimastiar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TIM MODUL :

PEER ASSESSMENT, Endang Lestari, MPdKed, PhD


dr. Yani Istadi, MMedEd
dr. Dian Apriliana R, MMedEd
[Link]. Suryani Yulianti, [Link]
CONSTRUCTIVE
FEEDBACK & SELF
REFLECTION
(REFLEKSI DIRI)
PEER ASSESSMENT, CONSTRUCTIVE FEEDBACK
DAN
SELF-REFLECTION (REFLEKSI DIRI)

Semester :5
Modul : Interprofessional Education 1
LBM :1
Tanggal Pelaksanaan : Sabtu, 24 Desember 2022
Materi : Peer Assessment, Constructive Feedback & Self-Reflection
(Refleksi Diri)

A. Sasaran Pembelajaran
- Mahasiswa mampu mendemonstrasikan penyampaian hasil penilaian pribadi berupa
constructive feedback kepada teman dengan model sandwich.
- Mahasiswa dapat melakukan refleksi terhadap pengalaman pembelajaran kolaborasi
interprofesi dalam mengelola kasus simulasi.

B. Rencana Pembelajaran
Waktu Praktikum 100 menit Synchronous, 70 menit tugas terstruktur
Panduan Instruktur Pada 30 menit pertama
• Instruktur mereview Kembali dasar teori constructive
feedback dan self-reflection .
Pada 60 menit ke dua
• Instruktur meminta mahasiswa untuk menceritakan
kesan terhadap pengalaman pembelajaran kolaborasi
interprofesi dalam mengelola kasus simulasi
• Instruktur meminta mahasiswa untuk memberikan
constructive feedback terkait performa masing-masing
profesi
Pada 10 menit ke tiga
• Instruktur menjelaskan tugas individu yaitu menuliskan
refleksi diri.
Panduan Mahasiswa Pada 30 menit pertama
• Mahasiswa mendengarkan penjelasan fasilitator tentang
dasar teori constructive feedback dan self-reflection .
Pada 60 menit ke dua
• Mahasiswa menceritakan kesan terhadap pengalaman
pembelajaran kolaborasi interprofesi dalam mengelola
kasus simulasi secara bergantian
• Mahasiswa memberikan constructive feedback terkait
performa masing-masing profesi
Pada 10 menit ke tiga
• Mahasiswa mendengarkan penjelasan fasilitator tentang
tugas individu yaitu menuliskan refleksi diri.
Pada 70 menit ke empat (Tugas Terstruktur)
• Mahasiswa membuat tugas refleksi secara mandiri dan
diunggah ke Google Classroom
C. Dasar Teori

Keterampilan Memberikan Constructive Feedback

Pendahuluan
Tujuan utama dari penerapan metode pembelajaran dengan pendekatan Problem Based
Learning (PBL) adalah meningkatkan kemampuan siswa bekerjasama dalam tim untuk
memecahkan masalah, dan menunjukkan kemampuan berkoordinasi dalam mengakses
informasi. Mahasiswa belajar dalam satu kelompok yang terdiri atas 7-14 orang. Pada saat
mempelajari suatu masalah yang tertuang dalam scenario kasus, masing-masing mahasiswa
memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi dalam membahas kasus tersebut sesuai dengan
literatur yang telah ia pelajari atau pengetahuan yang dimilikinya. Pengembangan kemampuan
bekerjasama dalam tim tentunya memerlukan umpan balik baik dari teman (peer feedback),
dosen, serta civitas akademik yang lain agar lebih baik.
Pemberian umpan balik yang membangun (constructive feedback) dapat meningkatkan
performa mahasiswa baik dalam melakukan keterampilan klinis, keterampilan pembelajaran
maupun professional behavior (Nofziger et al, 2010; Duffy, 2013) Mahasiswa dapat belajar lebih
efektif dan efisien untuk memperbaiki kekurangannya sehingga tidak mengulangi kesalahan yang
sama di kemudian hari.

Definisi
Feedback adalah Informasi yang diberikan kepada peserta didik terhadap performance peserta
didik yang meliputi: kebenaran, ketepatan dan akurasi (Meyer, 1995). Definisi ini diperjelas oleh
Van de Ridder (2008) menjadi Informasi spesifik mengenai performance peserta didik
berdasarkan perbandingan hasil pengamatan dengan standar (teori) yang diberikan dengan
maksud untuk meningkatkan performance peserta didik.
Sembilan karakteristik feedback (Van de Ridder, 2008):
1. Ada konten informasi yang disampaikan, misal kognitif, evaluative, atau tentang standar,
hasil, perilaku, dsb
2. Memiliki tujuan untuk memotivasi, memperbaiki performa atau mendorong refleksi
3. Ada penerima informasi , yaitu orang yang dituju.
4. Ada bentuk komunikasi penyampaian feedback: tertulis, lisan, specific, non evaluative
5. Persiapan sebelum menyampaikan informasi: mengumpulkan hasil penilaian atau
pengamatan.
6. Sumber informasi: nilai tugas yang dikerjakan, orang yang diamati atau hasil pengamatan
orang lain.
7. Feedback provider: orang yang memberikan/ menyampaikan informasi
8. Kondisi komunikasi: langsung atau tak langsung, batas waktu
9. Contextual (situasi): situasi saat informasi diberikan, misal terkait dengan tempat/ lokasi
dimana informasi itu diberikan.

Macam-Macam Feedback
1. Feedback positif
Feedback positif merupakan feedback yang berisi informasi tentang hal-hal yang sudah baik,
bertujuan untuk memberikan penguatan.
Contoh:
“Peran aktif Andi dalam berdiskusi sudah baik”
“Andi sudah berperan aktif dalam diskusi kelompok, seperti melontarkan pertanyaan,
menyampaikan pendapat atau mengklarifikasi penjelasan teman.”
Kalimat feedback tersebut menunjukkan bahwa apa yang dilakukan Andi saat mengikuti
diskusi sudah benar.
2. Feedback Negatif
Feedback negative merupakan feedback yang berisi informasi tentang hal-hal yang masih
perlu diperbaiki atau masih kurang benar atau salah sama sekali.
Contoh: “Andi sering mendominasi diskusi, tidak memberikan kesempatan kepada temannya
untuk berpendapat. Penjelasan materi yang disampaikan juga tidak ada dasarnya.”
3. Constructive Feedback
Contructive feedback merupakah feedback yang dapat membangun performa penerima
feedback menjadi lebih baik. Ciri-ciri constructive feedback:
- Berdasarkan hasil observasi langsung
- Pemberi feedback adalah orang yang sudah paham tentang konten yang diobservasi
(paham standar baku). Misal: ketika diminta memberikan feedback terkait performa
teman saat melakukan keterampilan cuci tangan dengan standar WHO, maka pemberi
feedback sudah paham bagaimana cara melakukan cuci tangan tersebut.
- Informasi yang disampaikan spesifik yaitu memberikan penguatan area yang sudah baik
dan menunjukkan area yang masih perlu diperbaiki
- Standar yang digunakan untuk membandingkan performa jelas.
- Pengamatan personal
- Memiliki tujuan yang jelas yaitu memperbaiki performa
- Ada rencana observasi ulang untuk melihat perkembangan perbaikan

Tehnik Menyampaikan Feedback


1. Persiapan
Tetapkan terlebih dahulu konten feedback, tujuan, sifat feedback, cara penyapaian dan
lokasinya. Kuasai konten feedback, setidaknya baca terlebih dahulu standar dari konten
feedback. Bila konten feedback terkait dengan sikap atau perilaku dan bersifat pribadi, maka
sebaiknya disampaikan secara personal (empat mata) atau secara tertulis bukan disampaikan
di depan umum atau forum umum maupun media sosial. Pada praktikum kali ini, anda
diminta membuat feedback terkait performa teman anda saat berdiskusi dalam kelompok.
Buatlah daftar aspek yang sudah dilakukan dengan baik dan aspek yang perlu ditingkatkan/
diperbaiki serta solusi/ cara memperbaikinya dengan format berikut:
Aspek yang sudah baik Aspek yang perlu diperbaiki

Kesimpulan secara keseluruhan:

Saran cara perbaikan:

2. Pilih model penyampaian Feedback


Terdapat beberapa model feedback yang cara penyampaiannya adalah secara lisan, yaitu:
- Sandwich model. Feedback yang diberikan diumpamakan seperti roti lapis yang enak
untuk dimakan sehingga penerima feedback akan merasa senang. Urutan lapisan tersebut
adalah:
o Sampaikan terlebih dahulu apa yang sudah baik. Tujuannya adalah untuk
memotivasi penerima feedback
o Sampaikan area/ aspek yang masih perlu ditingkatkan. Dalam menyampaikan
feedback positif dan negatif ini, kita tidak perlu memberikan tambahan kata
penghubung seperti “tetapi, namun, dsb”.
o Berikan solusi cara memperbaikinya
- Pendleton Model
Model ini lazim digunakan dalam konteks guru-murid, bukan peer learning. Pada saat
memberikan feedback, guru akan mendorong siswa untuk melakukan refleksi diri dengan
meminta siswa mengidentifikasi apa yang sudah dilakukan dengan benar, apa yang masih
perlu diperbaiki dan apa solusi/ upaya yang dilakukan untuk memperbaiki diri.
Selanjutnya, guru bisa memberikan persetujuan (setuju/tidak setuju) dengan self-
assessement siswa dan menambahkan hal-hal penting.
3. Penyampaian Feedback
Feedback dapat diberikan secara lisan maupun tertulis.
Pada saat menyampaikan feedback secara lisan, berikut yang harus diperhatikan:
- Lakukan kontak mata. Melakukan kontak mata dengan lawan bicara memberikan
kesan kepercayaan diri dan bersedia membantu, serta dapat digunakan untuk
mengkomunikasikan kepedulian dan kenyamanan. Namun, kontak mata perlu
digunakan dengan hati-hati, karena ada perbedaan yang luas antara budaya
mengenai makna kontak mata. Budaya Barat mengasosiasikan kurangnya kontak
mata dengan ketidakjujuran, ketidakpedulian, atau rasa malu, sedangkan di
kalangan akademis diasosiasikan dengan kurangnya rasa hormat. Sebaliknya,
dalam beberapa budaya kontak mata dapat berarti sebaliknya. Namun demikian
pengartian kontak mata tergantung bagaimana cara dan intensitasnya.
- Bahasa tubuh yang penuh perhatian: orang lain akan merasa bahwa anda
memperhatikan isi pembicaraannya apabila bahasa tubuh anda juga mengatakan
demikian dengan wajah yang ekspresif, serta gerakan tubuh yang mendukung
- Pilihlah kata, Bahasa dan struktur kalimat yang baik serta mudah dipahami. Oleh
karena itu penting bagi kita menuliskan kalimat yang akan disampaikan.
- Kualitas vokal: intonasi suara dan kecepatan bicara merupakan indikator jelas
mengenai perasaan anda terhadap orang lain. Pikirkan mengenai beberapa hal
anda dapat berkata, “ saya sangat tertarik dengan apa yang anda bicarakan” hanya
dengan memodifikasi intonasi dan kecepatan bicara anda.
Suara merupakan instrumen utama dalam berkomunikasi. Perubahan dalam
intonasi bicara, volume, kecepatan bicara memiliki makna yang sama yang
membawa perubahan seperti perubahan kontak mata atau bahasa tubuh

Respon Penerima Feedback


Respon individu dalam menerima feedback dapat dikategorikan menjadi dua kelompok , yaitu:
1. Reaksi kognitif : merasa terbantu, nyaman, terkejut, merasa penting, mengkonfirmasi
beberapa hal yang sudah diketahui, merasa apa yang disampaikan tidak akurat, menolak
feedback.
2. Reaksi emosional:
a. Reaksi positif : senang, mengapresiasi
b. Reaksi negative: sakit hati, mengabaikan, membeladiri, kecewa, marah, dsb
Selain menunjukkan reaksi cognitive dan emosional, respon terhadap feedback dapat
ditunjukkan dengan adanya perubahan performa, misal perubahan perilaku atau sikap,
perubahan terhadap penampilan, peningkatan motivasi, perubahan dalam hubungan
interpersonal, dll. Keterampilan dalam menyampaikan feedback perlu dilatih agar penerima
feedback dapat memberikan reaksi kognitif dan emosional yang positif sehingga terjadi
perubahan performa menjadi lebih baik.

TUGAS
Setiap mahasiswa wajib menyampaikan penilaiannya secara lisan terhadap kinerja kelompok
selama kegiatan pembelajaran kelompok di mata kuliah IPE 1 yang mencakup:
1. Kepemimpinan kelompok
2. Teamwork dalam melaksanakan tugas
3. Komunikasi
4. Manajemen konflik
5. Pembagian tugas dan peran

Selain memberikan feedback kepada teman secara lisan, Anda juga diminta untuk memberikan
feedback mengenai performa teman Anda selama kegiatan IPE. Aspek yang dinilai adalah
aktivitas construksi, aktivitas kolaborasi dan aktivitas motivasi.
Setiap mahasiswa harus menilai satu orang teman dalam kelompok. Akan lebih baik jika kedua
orang yang dinilai dan menilai tersebut berasal dari profesi yang berbeda. Anda diminta untuk
memberikan penilaian secara objektif, apa adanya, karena hasil penilaian terhadap teman
tersebut akan disampaikan kepada yang bersangkutan untuk dipergunakan sebagai rujukan
perbaikan diri dan peningkatan kualitas diri dan kelompok.
Tutor akan memastikan setiap mahasiswa akan menilai satu mahasiswa lain, oleh karena itu
perhatikan baik baik siapa yang Anda nilai.
Berikut adalah link GForm yang di pergunakan untuk menilai dan memberikan feedback kepada
mahasiswa lain. [Link] Link tersebut juga kita attach kan di
Google classroom IPE 1 (2022). Seluruh mahasiswa wajib menilai dan dinilai sesuai form tersebut.
Kuesioner beserta rubriknya terlampir di bagian akhir petunjuk praktikum.

Referensi
Duffy, K., 2013, Providing Constructive Feedback to Students During Mentoring, Nursing Standard
Journal, Vol.27 (31), p: 50-56
Nofziger, A.C., Naumburg, E.H., Davis, B.J., Mooney, C.J., Epstein, R.M., 2010, Impact of Peer
Assessment on Professional Development of Medical Students: A Qualitative Study, Academic
Medicine, Vol. 85 (1), 140-147
Sargeant J., Mann K., Sinclair D., Van der Vleuten C., Metsemakers J., 2006, Understanding the
influence of emotions and reflection upon multi-source feedback acceptance and use, Advances
in Health Sciences Education (2008) 13:275–288
Van de Ridder, J.M.M., Stokking, K.M., McGaghie, W.C., ten Cate, [Link] J., 2008, What is Feedback
in Clinical Education? Medical Education Journal, Vol. 42, p: 189-197
Self-Reflection

Pendahuluan
Experiential learning adalah proses dimana pembelajaran terjadi dengan memiliki
pengalaman. Namun demikianm pengalaman saja tidak cukup untuk membuat belajar terjadi.
Pengalaman harus ditafsirkan dan diintegrasikan ke dalam struktur pengetahuan yang ada untuk
menjadi pengetahuan baru atau diperluas. Konsep experiential learning dapat mudah dipahami
dengan mempertimbangkan bagaimana kita belajar dari berbagai macam peristiwa dan situasi
yang kita alami sehari-hari dalam kehidupan dan profesi/ pekerjaan (Sandars, 2009).
Sejak awal pendidikan yaitu di tahap pre-klinik, mahasiswa sudah diperkenalkan dengan
pembelajaran keterampilan klinik dan simulasi kasus untuk memberikan pengalaman yang
mendekati konteks/ situasi dimana mereka akan bekerja. Pada tahap pendidikan klinik (profesi),
mahasiswa akan dipaparkan pada pengalaman yaitu pasien nyata. Selain itu, perkembangan ilmu
pengetahuan di bidang kedokteran yang demikian pesat, membuat seorang dokter harus dapat
menjadi seorang pembelajar sepanjang hayat agar dapat memberikan pelayanan kesehatan
dengan baik.

Definisi Refleksi
Refleksi berasal dari bahasa latin “reflection” yang berarti menekuk atau kembali. Refleksi dalam
konteks pendidikan merupakan proses mengingat kembali situasi pengalaman yang pernah
dialami untuk diintepretasikan dan dianalisis. Menurut Boud, Keogh dan Walker dalam
Soemantri (2017), refleksi diri adalah sebuah aktivitas yang melibatkan komponen intelektual
dan afektif ketika seseorang melakukan eksplorasi terhadap sebuah pengalaman, yang berujung
pada suatu apresiasi dan pemahaman baru terkait pengalaman tersebut.
Refleksi adalah suatu proses metakognisi sebelum, selama dan sesudah sebuah situasi/
pengalaman yang bertujuan untuk mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang diri dan
situasi yang pernah dihadapi sehingga ketika menghadapi situasi yang sama di masa yang akan
datang akan bercermin pada situasi yang lalu (Sandars, 2009).
Berdasarkan dua definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa refleksi merupakan bagian dari siklus
belajar seperti yang diungkap oleh Kolb dan Fry (1975). Pendekatan siklus experiential learning
memiliki 4 tahap. Tahap pertama, dimana pembelajar dipaparkan dengan pengalaman. Tahap
kedua, dilanjutkan dengan melakukan refleksi yang akan mencetuskan tahap ke tiga yaitu
membentuk konseptual abstrak. Pada fase ke tiga ini, pembelajar dapat mengidentifikasi
kebutuhan belajarnya dalam rangka menyusun langkah/ tindakan yang dilakukan bila
menghadapi situasi yang sama di masa mendatang. Tahap ke empat, aplikasi/ penerapan dari
pengetahuan baru ketika menjumpai situasi yang sama.

Experiencing

Active
Experimen Reflection
tation

Abstract
Conceptualiza
tion
Kolb’s Learning Cycle

Manfaat Refleksi
Secara garis besar, manfaat refleksi dibagi menjadi 3 kelompok (Winkel et al., 2017):
1. Dampak terhadap pembelajaran : meningkatkan pembelajaran dengan meningkatkan
mawasdiri, berpikir kritis, mengklarifikasi tujuan belajar, mengungkapkan emosi, dan
meningkatkan motivasi. Adanya pemaknaan terhadap pengalaman dapat meningkatkan
retensi daya ingat.
2. Dampak terhadap pengembangan professionalism.
Kegiatan refleksi yang dilakukan secara rutin dapat memberikan dampak positif terhadap
pengembangan professionalism melalui cara mendorong mahasiswa untuk membuka
wawasannya, bersikap terbuka terhadap perbedaan pandangan dalam berinteraksi
dengan pasien yang berpotensial meningkatkan pengembangan identitas professional.
3. Dampak terhadap pengembangan kemampuan berempati dan berkomunikasi.

Proses Refleksi Diri


Proses refleksi diri dimulai dari deskripsi pengalaman yang signifikan/ berkesan bagi individu
tersebut (what happened). Pengalaman tersebut kemudian dianalisis untuk menjawab
bagaimana hal tersebut dapat terjadi, perasaan yang terlibat, serta dampak yang ditimbulkan
(how dit happen). Selanjutnya, jika dari analisis sudah menunujukan penyebab, maka yang
menjadi lesson learned atau learning issue adalah bagaimana hal tersebut seharusnya dilakukan
(what have you learned). Selanjutnya susun rencana aksi (action plan) untuk memperbaiki
kelemahan atau kekurangan (what needs to be changed).

Beberapa model melakukan refleksi diri:


A. Gibb’s Reflective cycle merupakan salah satu model refleksi yang popular, meliputi 6
tahap/ siklus refleksi yaitu dimulai dari mendiskripsikan pengalaman yang berkesan,
kemudian mengungkapkan apa yang ia fikirkan dan bagaimana perasaannya terhadap
pengalaman tersebut,
1. Diskripsi.
Ceritakan dan jelaskan pengalaman yang signifikan/ berkesan bagi anda kepada
pembaca. Penjelasan dibuat rinci/detil yang relevan dengan situasi yang dihadapi.
Anda bisa menyebutkan siapa saja yang terlibat, suasananya bagaimana, dll. Kesulitan
yang sering muncul pada tahap ini adalah anda kesulitan mengidentifikasi
pengalaman yang dapat dijadikan pelajaran berharga dan relevan dengan target
kompetensi. Hal ini bisa diatasi dengan meminta orang lain memberikan umpan balik/
tanggapan mengenai performa anda (merujuk pada target kompetensi), misalnya
kemampuan bekerjasama dalam tim, berkomunikasi dengan pasien, kemampuan
belajar mandiri, dll
2. Perasaan
Ungkapkan perasaan anda terhadap pengalaman yang dijumpai. Pertanyaan yang
dapat dikemukaan untuk membantu menulis ungkapan perasaan misalnya,
“bagaimana perasaan anda saat itu” , “apa yang anda pikirkan tentang kejadian itu”.
Pada tahap ini adalah ungkapan perasaan terhadap pengalaman, dan perasaan
masing-masing individu tentunya berbeda-beda, sebaiknya hindari menjiplak tulisan
orang lain.
3. Evaluasi
Diskusikan tentang apa yang anda pikirkan, apa yang menurut anda baik dan buruk
tentang pengalaman tersebut. Ungkapkan bagaimana anda bereaksi terhadap situasi
tersebut dan bagaimana reaksi orang lain. Apabila anda menulis tentang insiden yang
sulit, apakah situasinya pada saat itu dapat segera teratasi? Mengapa bisa atau
mengapa tidak?
Pada tahap ini sangat penting untuk mencantumkan referensi/ literature.
4. Analisis
Lakukan analisis terhadap pengalaman yang anda jumpai. Pertimbangkan apa yang
telah membantu atau menghambat kejadian saat itu. Bandingkan pengalaman anda
dengan literatur yang telah anda baca. Pada tahap ini, anda harus mencari literatur
yang relevan dengan topik yang anda refleksikan. Tujuannya adalah mendapatkan
solusi untuk memperbaiki kekurangan.
5. Kesimpulan
Buatlah kesimpulan terhadap pengalaman yang anda jumpai. Tuliskan pelajaran
berharga yang anda peroleh dari pengalaman tersebut. Sampaikan kepada para
pembaca bila pengalaman tersebut merupakan pengalaman positif, misal: …… saya
akan melakukan hal yang sama bila menjumpai situasi yang serupa. Namun bila yang
anda jumpai adalah pengalaman negatif …. saya berharap tidak akan mengulangi
kesalahan yang sama di kemudian hari.
6. Rencana Tindak Lanjut
Tulislah hal-hal yang ingin anda ketahui dan rencana tindakan perbaikan yang anda
lakukan bila menghadapi situasi yang sama di kemudian hari.

B. Self-regulated Learning Microanalytic Assessment and Training (SRL-MAT)


SRL-MAT ini disusun oleh Durning dkk yang dapat digunakan oleh staf pengajar untuk
membimbing mahasiswa dalam melakukan refleksi diri. Kerangka SRL-MAT tersebut
dikembangkan berdasarkan teori Self-regulated learning.
Berikut serangkaian fase dalam SRL-MAT dan contoh-contoh pertanyaan yang sesuai
untuk setiap fase.

Tabel SRL-MAT
Fase Proses Self Regulation Pertanyaan
Forethought Goal-setting (penetapan tujuan) Apakah anda memiliki tujuan
(before) dalam pikiran anda pada saat
anda mempersiapkan diri untuk
melakukan kolaborasi
interprofesi dalam mengelola
kasus simulasi?
Strategy choice (pemilihan strategi) Apa yang harus anda lakukan
agar anda dapat melakukan
kolaborasi tersebut dengan
sukses?
Self-efficacy (tingkat kepercayaan Seberapa besar percaya diri
diri terhadap kemampuannya anda terhadap kemampuan
melakukan tugas) melakukan kolaborasi
interprofesi pertama kali?
Performance Self-monitoring (pemantauan diri) Apakah menurut anda
(during) pendekatan/ cara yang anda
pakai sejauh ini sudah sesuai
untuk melakukan kolaborasi
interprofesi dengan baik?
Apakah anda merasa melakukan
kesalahan spesifik pada saat
anda melakukan kolaborasi
interprofesi? jika iya, sebutkan
kesalahan tersebut.
Self- Self-evaluation (Evaluasi diri) Apa yang anda gunakan sebagai
reflection patokan atau standar untuk
(after) menentukan bahawa anda
dapat melakukan kolaborasi
interprofesi dengan sukses?
Causal attributions (penilaian Apa yang menjadi alasan utama
terhadap seberapa besar peran/ anda sukses (atau gagal) dalam
pengaruh dirinya dalam penentuan melakukan kolaborasi
akhir tugas) interprofesi?
Adaptive inferences Apa yang harus anda lakukan
(adaptasi/perubahan yang perlu selanjutnya agar lain kali anda
dilakukan) dapat melakukan kolaborasi
dengan sukses?
Dikutip dari Panduan Praktis Bagi Pengajar Klinis, 2017

Kriteria refleksi diri yang baik


Refleksi diri yang dilakukan oleh mahasiswa dinilai baik apabila memenuhi unsur berikut:
1. Terdapat diskripsi pengalaman belajar yang sesuai dengan pemicu yang diberikan.
2. Terdapat lessons learned yang telah teridentifikasi dan dihubungkan dengan bukti
pendukung lesson learned tersebut (justifikasi).
3. Terdapat analisis terhadap pengalaman saat ini untuk mencari upaya pemecahan
masalah/ solusi perbaikan
4. Terdapat rencana tindakan perbaikan ke depan

TUGAS MAHASISWA
1. Buatlah refleksi diri terhadap performa Anda dalam mengikuti kegiatan diskusi kasus dan
simulasi kasus di IPE 1 dengan menggunakan Siklus Gib's. Ceritakan dengan jujur agar
refleksi yang anda lakukan bermanfaat bagi perkembangan profesionalisme Anda.
2. Gunakan panduan berikut dalam menulis refleksi. Tuliskan dalam format Microsoft word.
a. Diskripsi
Ceritakan pengalaman mengikuti kegiatan pembelajaran interprofesi saat
mengelola kasus simulasi (diskusi kelompok dan simulasi dengan PS). Jelaskan
bagaimana kontribusi Anda (pendapat), performa, dan kemampuan komunikasi
pada saat berkolaborasi dalam mengelola kasus simulasi serta rasa respect
terhadap profesi lain.
b. Perasaan
Bagaimana perasaan anda terhadap pengalaman tersebut? Apakah anda merasa
percaya diri atau minder? Jelaskan alasannya mengapa muncul perasaan tersebut.
c. Evaluasi
Jelaskan penilaian anda terhadap performa Anda dengan membandingkan yang
ada pada teori/ artikel ilmiah yang memuat tentang indikator/ karakteristik team
work yang baik, komunikasi yang efektif, kepemimpinan yang baik, dll.
d. Analisis
Jelaskan mengapa pengalaman yang anda temui sesuai atau tidak sesuai dengan
yang seharusnya. Anda bisa mencerita faktor-faktor yang menghambat atau
mendukung kejadian pada saat itu.
e. Kesimpulan
Buatlah kesimpulan terhadap pengalaman melakukan IPE. Apakah menurut Anda
kolaborasi dalam melakukan pengelolaan kasus pada pasien perlu dilakukan atau
tidak? Jelaskan alasannya.
f. Rencana Tindak lanjut
Tuliskan rencana tindak lanjut anda ketika Anda nanti sudah lulus menjadi
Dokter/Perawat/ Bidan. Apakah anda akan menerapkan kolaborasi interprofesi
dalam menangani masalah pasien?
3. Beri identitas file Anda dengan format: Prodi_NIM_Nama. Contoh:
PSPK_30101900001_ACH.IZZAT HAKIM dan unggah ke Google Classroom paling lambat
hari Senin, 26 Desember 2022 pukul 16.00 WIB.

Sebagai tambahan, terdapat 2 kuesioner yang harus Anda isi untuk melengkapi refleksi Anda,
yakni kuesioner teamwork dan kuesioner persepsi terhadap interprofessional education (IPE
dan IPC)
Berikut adalah link untuk kuesioner tersebut. [Link]
Perhatikan, seluruh mahasiswa wajib mengisi kuesioner refleksi tersebut. Link juga akan kami
attach kan di Google Classrom.
Pertanyaannya banyak, terdiri dari beberaa scale. Meskipun demikian kami berharap agar
Anda bersabar dalam mengisi kuesioner tersebut dan isilah sesuai persepsi Anda.
REFERENSI
Findyartini A., Jusuf A., Menaldi SL. Eds, 2017, Panduan Praktis Bagi Pengajar Klinis : Prinsip
Refleksi Diri Sebagai Pengajar Klinis dan Pengajaran Refleksi Diri, hal 45-61, Jakarta, Sagung
Seto
Hmelo-Silver, C. E. (2004). Problem-based learning: What and how do students learn?
Educational Psychology Review, 16(3), 235–266.
[Link]
Sandars, J. (2009). The use of reflection in medical education: AMEE Guide No. 44. Medical
Teacher, 31(8), 685–695. [Link]
Winkel, A. F., Yingling, S., Jones, A. A., & Nicholson, J. (2017). Reflection as a Learning Tool in
Graduate Medical Education: A Systematic Review. Journal of Graduate Medical Education,
9(4), 430–439. [Link]
Zwaal, W., & Otting, H. (2016). Performance of the Seven - step Procedure in Problem - based
Hospitality Management Education. 4(1), 1–15.
FORM PENILAIAN
REFLEKSI DIRI

Komponen Penilaian 1 2 3 4 5
Mampu mendiskripsikan pengalaman dengan jelas dan
rinci saat mengikuti pembelajaran kolaborasi interprofesi.
Mampu menyebutkan kelebihan dan kekurangan diri
dalam melakukan kolaborasi interprofesi baik secara
mandiri maupun menggunakan umpan balik dari orang
lain.
Mampu menganalisis penyebab kesalahan/
kekurangannya dengan merujuk literatur atau standar
yang eksplisit.
Mampu menyebutkan solusi/ pemecahan masalah yang
relevan
Sikap terhadap kolaborasi interprofesi
Lampiran
Maastricht Peer Assessment Rating Scale (MPARS)
1 2 3 4 5
Constructive activity
1 mahasiswa dapat membuat kesimpulan diskusi
2 mahasiswa dapat membedakan topik utama dan topik
tambahan selama diskusi
3 mahasiswa dapat menyampaikan pertanyaan yang kritis
4 mahasiswa dapat meng-koreksi kesalahan konsepsi yang
dibuat oleh mahasiswa lain
5 mahasiswa dapat berkontribusi dalam memperbaiki
pemahaman mengenai topik yang didiskusikan
collaborative activity
6 mahasiswa memberi pengaruh positiff pada kelompok
7 mahasiswa bertanggungjawab terhadap kelompok
8 mahasiswa dapat bekerjasama dengan seluruh anggota
kelompok
9 mahasisw bersedia membagi ilmu / pengetahuan dan
informasi
10 mahasiswa memiliki komitmen terhadap kelompoknya
Motivational activity
11
mahasiswa ini sangat termotivasi dalam menjalankan SGD

12 mahasiswa ini berpartisipasi dengan baik


13
mahasiswa ini berpartisipasi aktif selama sesi brainstorming

14 mahasiswa ini memberikan kontribusi lebih banyak


dibandingkan mahasiswa lainnya
Komponen penilaian
No. constructive activity 1 2 3 4 5

1 mahasiswa dapat membuat 1. jika mahasiswa tidak 2 jika mahasiswa sangat jika mahasiswa kadang- jika mahasiswa sering jika mahasiswa sangat
kesimpulan diskusi pernah membuat simpulan jarang membuat simpulan kadang membuat simpulan membuat simpulan sering membuat simpulan

2 mahasiswa dapat membedakan jika mahasiswa tidak jika mahasiswa jarang jika mahasiswa kadang jika mahasiswa sering jika mahasiswa sangat
topik utama dan topik menunjukkan pendapat menunjukkan pendapat kadang menunjukkan menunjukkan pendapat sering menunjukkan
tambahan selama diskusi membedakan topik utama membedakan topik utama pendapat membedakan membedakan topik utama pendapat membedakan
dan topik tambahan dan topik tambahan selama topik utama dan topik dan topik tambahan topik utama dan topik
selama diskusi diskusi tambahan selama diskusi selama diskusi tambahan selama diskusi

3 mahasiswa dapat mahasiswa tidak pernah mahasiswa jarang mahasiswakadang kadang mahasiswa sering mahasiswa sangat sering
menyampaikan pertanyaan menyampaikan menyampaikan pertanyaan menyampaikan menyampaikan menyampaikan
yang kritis pertanyaan yang kritis yang kritis pertanyaan yang kritis pertanyaan yang kritis pertanyaan yang kritis

4 mahasiswa dapat meng-koreksi mahasiswa tidak pernah mahasiswa jarang meng- mahasiswa kadang kadang mahasiswa sering meng- mahasiswasangat sering
kesalahan konsepsi yang dibuat meng-koreksi kesalahan koreksi kesalahan konsepsi meng-koreksi kesalahan koreksi kesalahan konsepsi meng-koreksi kesalahan
oleh mahasiswa lain konsepsi yang dibuat oleh yang dibuat oleh mahasiswa konsepsi yang dibuat oleh yang dibuat oleh konsepsi yang dibuat oleh
mahasiswa lain lain mahasiswa lain mahasiswa lain mahasiswa lain

5 mahasiswa dapat berkontribusi mahasiswa tidak pernah mahasiswa jarang mahasiswa kadang kadang mahasiswa sering mahasiswa sangat sering
dalam memperbaiki memberikan berkontribusi berkontribusi dalam berkontribusi dalam berkontribusi dalam berkontribusi dalam
pemahaman mengenai topik dalam memperbaiki memperbaiki pemahaman memperbaiki pemahaman memperbaiki pemahaman memperbaiki pemahaman
yang didiskusikan pemahaman mengenai mengenai topik yang mengenai topik yang mengenai topik yang mengenai topik yang
topik yang didiskusikan didiskusikan didiskusikan didiskusikan didiskusikan

collaboratie activity

6 mahasiswa memberi pengaruh mahasiswa tidak memberi mahasiswa jarang memberi mahasiswa kadang-kadang mahasiswa memberi mahasiswa sangat
positiff pada kelompok pengaruh positiff pada pengaruh positiff pada memberi pengaruh positiff pengaruh positiff pada memberi pengaruh positiff
kelompok kelompok pada kelompok kelompok pada kelompok

7 mahasiswa bertanggungjawab mahasiswa tidak mahasiswa kurang mahasiswa kadang-kadang mahasiswa mahasiswa sangat
terhadap kelompok bertanggungjawab bertanggungjawab terhadap bertanggungjawab bertanggungjawab bertanggungjawab
terhadap kelompok kelompok terhadap kelompok terhadap kelompok terhadap kelompok

8 mahasiswa dapat bekerjasama mahasiswa tidak dapat mahasiswa kurang dapat mahasiswa kadang-kadang mahasiswa dapat mahasiswa sangat dapat
dengan seluruh anggota bekerjasama dengan bekerjasama dengan seluruh dapat bekerjasama dengan bekerjasama dengan bekerjasama dengan
kelompok seluruh anggota kelompok anggota kelompok seluruh anggota kelompok seluruh anggota kelompok seluruh anggota kelompok

9 mahasisw bersedia membagi mahasisw tidak bersedia mahasisw kurang bersedia mahasisw kadang-kdang mahasisw bersedia mahasisw sangat bersedia
ilmu / pengetahuan dan membagi ilmu / membagi ilmu / pengetahuan bersedia membagi ilmu / membagi ilmu / membagi ilmu /
informasi dan informasi
pengetahuan dan pengetahuan dan pengetahuan dan pengetahuan dan
informasi informasi informasi informasi

10 mahasiswa memiliki komitmen mahasiswa tidak memiliki mahasiswa kurang memiliki mahasiswa kadang mahasiswa memiliki mahasiswa sangat komit
terhadap kelompoknya komitmen terhadap komitmen terhadap memiliki komitmen komitmen terhadap terhadap kelompoknya
kelompoknya kelompoknya terhadap kelompoknya kelompoknya

Motivational activity

11 mahasiswa ini sangat mahasiswa ini sangat tidak mahasiswa ini kurang mahasiswa ini kadang mahasiswa ini termotivasi mahasiswa ini sangat
termotivasi dalam menjalankan termotivasi dalam termotivasi dalam kadang termotivasi dalam dalam menjalankan SGD termotivasi dalam
SGD menjalankan SGD menjalankan SGD menjalankan SGD menjalankan SGD

12 mahasiswa ini berpartisipasi mahasiswa ini tidak mahasiswa ini kurang mahasiswa ini kadang- mahasiswa ini mahasiswa ini
dengan baik berpartisipasi dengan baik berpartisipasi dengan baik kadang berpartisipasi berpartisipasi dengan baik berpartisipasi dengan
dengan baik sangat baik

13 mahasiswa ini berpartisipasi mahasiswa in tidak pernahi mahasiswa ini kurang mahasiswa ini kadang- mahasiswa ini mahasiswa ini
aktif selama sesi brainstorming berpartisipasi aktif selama berpartisipasi aktif selama kadang berpartisipasi aktif berpartisipasi aktif selama berpartisipasi sangat aktif
sesi brainstorming sesi brainstorming selama sesi brainstorming sesi brainstorming selama sesi brainstorming

14 mahasiswa ini memberikan mahasiswa ini tidak mahasiswa ini kurang mahasiswa ini kadang- mahasiswa ini memberikan mahasiswa ini memberikan
kontribusi lebih banyak memberikan kontribusi memberikan kontribusi lebih kadang memberikan kontribusi lebih banyak kontribusi sangat lebih
dibandingkan mahasiswa lebih banyak dibandingkan banyak dibandingkan kontribusi lebih banyak dibandingkan mahasiswa banyak dibandingkan
lainnya mahasiswa lainnya mahasiswa lainnya dibandingkan mahasiswa lainnya mahasiswa lainnya
lainnya

Anda mungkin juga menyukai