BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Beberapa ayat di dalam Al-Qur’an menunjukkan tanda-tanda akan
keagungan dan kekuasaan Allah Swt., di antaranya adalah dari dunia tumbuhan
yang hasilnya dapat kita gunakan sebagai bahan makanan pokok. Salah satu ayat
di dalam Al-Qur’an yang menerangkan tentang tumbuhan terdapat pada Al-
Qur’an surat Al An’âm ayat 95 yang berbunyi :
4’‾Τr'sù ( ª!$# ãΝä3Ï9≡sŒ 4 Çc‘y⇔ø9$# zÏΒ ÏMÍh‹yϑø9$# ßlÌøƒèΧuρ ÏMÍh‹yϑø9$# zÏΒ ¢‘ptø:$# ßlÌøƒä† ( 2”uθ¨Ζ9$#uρ Éb=ptø:$# ß,Ï9$sù ©!$# ¨βÎ)
∩∈∪ tβθä3sù÷σè?
Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-
buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang
mati dari yang hidup (Yang memiliki sifat-sifat) demikian ialah Allah, Maka
Mengapa kamu masih berpaling? (QS. Al An’âm/6: 95)
Ayat di atas menjelaskan bahwa Allah Swt. menumbuhkan berbagai
macam tumbuhan yang berasal dari butir biji dan buah-buahan. Biji-biji yang
kecil tersebut akan tumbuh menjadi berbagai macam jenis dan buah-buahan dalam
segala bentuk, warna, bau dan rasa. Kekuatan Allah Swt. dalam tumbuh-
tumbuhan terlihat pada modifikasi tumbuhan itu sesuai dengan kondisi
lingkungan. Kelompok tumbuhan itu sebagian besarnya adalah tumbuhan
penghasilan, seperti kacang, kapas, gandum dan jagung (Pasya, 2004).
Kedelai merupakan komoditas pertanian yang cukup penting, karena dapat
untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat disamping sebagai bahan baku
industri dan pakan ternak. Menurut Rukmana (2000), dalam 100 gr biji kedelai
mengandung 31% kalori, 34,9% protein, 18,1% lemak, 34,8% karbohidrat dan
10% air. Kedelai sebagai bahan makanan manusia dapat diolah menjadi tahu,
tempe, kecap, taoco, dan minyak nabati.
Konsumsi kedelai di Indonesia setiap tahun selalu mengalami peningkatan
sesuai dengan pertambahan penduduk. Tetapi kenaikan konsumsi ini tidak dapat
diikuti oleh produksi dalam negeri, sehingga harus mengimpor dari luar. Pada
tahun 1990 konsumsi kedelai dalam negeri 1,9 juta ton sedangkan produksi hanya
mencapai 1,1 juta ton. Banyak faktor yang menyebabkan turunnya produksi
kedelai di Indonesia. Salah satunya yaitu serangan berbagai hama dan penyakit.
Tanaman kedelai merupakan salah satu tanaman yang mempunyai peluang besar
terserang hama sejak mulai tumbuh hingga menjelang panen. Lebih dari 100
spesies hama yang dapat menjadi penyebab dalam penurunan hasil panen kedelai
di Indonesia (Okada et al., 1988).
Lalat kacang (Ophiomiyia phaseoli) merupakan salah satu hama penting
pada pertanaman kedelai muda di Indonesia, yaitu sejak tanaman muncul di
permukaan tanah hingga berumur 1 bulan. Serangan Ophiomyia phaseoli
mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi terhambat, kerdil, dan mati. Hasil
survei Biro Statistik (dalam Djuwarso,1992) tahun 1991-1993, dinyatakan bahwa
tingkat serangan Ophiomyia phaseoli di berbagai daerah di Jawa Timur dapat
mencapai 10,8%-23%.
Serangan lalat kacang pada kulit batang dapat menyebabkan kematian
tanaman kedelai, yang dapat terjadi sejak tanaman berumur 14 sampai 30 HST.
Serangan larva yang berasal dari telur diletakkan imago pada saat tanaman
berumur 14 sampai 30 HST (Tengkano dan Sutarno, 1978; Tengkano dan
Supadmo, 1983). Kematian tanaman selain dipengaruhi oleh fase pertumbuhan,
juga dipengaruhi oleh jenis tanaman, varietas, dan populasi larva per batang.
Hastuti (1984) melaporkan bahwa serangan seekor larva yang berasal dari
telur yang diletakkan pada tanaman berumur 6 HST tidak menyebabkan kematian
tanaman. Serangan larva yang berasal dari telur yang diletakkan di daun tunggal
dan di kotiledon pada 6 HST maupun 8 HST tidak menunjukkan perbedaan
tingkat kematian tanaman. Sebaliknya, meningkatnya populasi (telur larva) per
batang pada 6 HST maupun 8 HST meningkatkan pula tingkat kematian tanaman
kedelai (Pabbage, 1988).
Insektisida nabati memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki oleh
insektisida sintetik. Di alam, Insektisida nabati memiliki sifat yang tidak stabil
sehingga memungkinkan dapat didegradasi secara alami (Arnason et al., 1993;
Isman, 1995). Selain dampak negatif yang ditimbulkan pestisida sintetik seperti
resistensi, resurgensi dan terbunuhnya jasad bukan sasaran (Metcalf dalam
Syahputra, 2001), dewasa ini harga pestisida sintetik relatif mahal dan terkadang
sulit untuk memperolehnya. Di sisi lain ketergantungan petani akan penggunaan
insektisida cukup tinggi. Hal ini menyebabkan orang terus mencari pestisida yang
aman terhadap lingkungan serta mudah memperolehnya. Cara alternatif yang bisa
dilakukan adalah memanfaatkan tumbuhan yang memiliki sifat insektisida
(Schumetterer, 1995) yang mudah diramu petani sebagai sediaan insektisida.
Indonesia memiliki flora yang sangat beragam, mengandung cukup banyak
jenis tumbuh-tumbuhan yang merupakan sumber bahan insektisida yang dapat
dimanfaatkan untuk pengendalian hama. Dewasa ini penelitian tentang famili
tumbuhan berpotensi sebagai insektisida botani dari penjuru dunia telah banyak
dilaporkan. Lebih dari 1500 jenis tumbuhan telah dilaporkan dapat berpengaruh
buruk terhadap serangga (Grainge & Ahmed, 1988). Di Filipina, tidak kurang
dari 100 jenis tumbuhan telah diketahui mengandung bahan aktif insektisida
(Rejesus, 1987). Laporan dari berbagai propinsi di Indonesia menyebutkan lebih
40 jenis tumbuhan berpotensi sebagai pestisida nabati (Direktorat BPTP &
Ditjenbun, 1994). Hamid & Nuryani (1992) mencatat di Indonesia terdapat 50
famili tumbuhan penghasil racun.
Salah satu tumbuhan yang dapat digunakan sebagai insektisida adalah dari
anggota famili Meliaceae, yang paling banyak diteliti adalah nimba atau mimba
(Azadirachta indica) dengan bahan aktif utama azadirachtin
(limonoid). Tanaman ini tersebar di daratan India. Di Indonesia tanaman ini
banyak ditemukan di sekitar provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ekstrak biji
tanaman mimba mengandung senyawa aktif utama azadirachtin. Senyawa aktif
dari tanaman ini memiliki aktivitas insektisida, antifeedant dan penghambat
perkembangan (Scmutterer & Singh 1995) serta berpengaruh terhadap reproduksi
berbagai serangga (Schmutterer & Rembold 1995).
Khana (1992) melaporkan bahwa ekstrak biji mimba efektif
mengendalikan Heliothis armigera, yaitu hama yang menyerang daun dan polong
tanaman kedelai. Keuntungan yang dapat diambil dari penggunaan ekstrak biji
mimba dengan pelarut air disini adalah karena ekstrak biji mimba relatif sulit
menimbulkan resistensi dibandingkan dengan insektisida kimia sintetik.
Keuntungan lainnya, azadirachtin mudah terabsorbsi oleh tanaman, bekerja secara
sistemik, sedikit racun kontak, aman bagi serangga berguna, sehingga sangat
kompatibel digunakan dalam program pengendalian hama terpadu (Isman, 1994).
Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk mengkaji lebih dalam lagi
terhadap masalah tersebut untuk diangkat dalam bentuk skripsi dengan judul:
“Pengaruh Pemanasan dan Frekuensi Aplikasi Ekstrak Biji Mimba
(Azadirachta indica) Terhadap Populasi Lalat Kacang (Ophiomyia phaseoli)
pada Tanaman Kedelai (Glycine max (L.) Merr)”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan permasalahan
dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Adakah pengaruh pemanasan dan frekuensi aplikasi ekstrak biji mimba (A.
indica) terhadap populasi telur, larva, pupa dan imago lalat kacang (O.
phaseoli) pada tanaman kedelai (G. max (L.) Merr)?
2. Pada perlakuan yang mana ekstrak biji mimba lebih berpengaruh terhadap
populasi telur, larva, pupa dan imago lalat kacang (O. phaseoli) pada tanaman
kedelai (G. max (L.) Merr)?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah
1. Untuk mengetahui pengaruh pemanasan dan frekuensi aplikasi ekstrak biji
mimba (A. indica) terhadap populasi lalat kacang (O. phaseoli) pada tanaman
kedelai (G. max (L.) Merr).
2. Untuk mengetahui frekuensi aplikasi ekstrak biji mimba (A. indica) yang lebih
berpengaruh terhadap populasi lalat kacang (O. phaseoli) pada tanaman
kedelai (G. max (L.) Merr).
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi tentang
pengaruh pemanasan dan frekuensi aplikasi ekstrak biji mimba (A. indica)
terhadap populasi telur, larva, pupa dan imago Lalat Kacang (O. phaseoli) pada
tanaman kedelai (G. max (L.) Merr).
1.5 Hipotesis
Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah ada pengaruh
pemanasan dan frekuensi aplikasi ekstrak biji mimba (A. indica) terhadap populasi
lalat kacang (O. phaseoli) pada tanaman kedelai (G. max (L.) Merr).
1.6 Batasan Masalah
1. Kedelai yang digunakan dalam penelitian ini adalah kedelai varietas Wilis
2. Jenis hama utama tanaman kedelai yang dikendalikan pada penelitian ini
adalah lalat kacang (O. phaseoli).
3. Insektisida nabati yang digunakan yaitu ekstrak biji mimba.
4. Pelarut yang digunakan dalam proses ekstraksi berupa air.
5. Pengamatan dilakukan terhadap populasi lalat kacang (O. phaseoli) yang
meliputi populasi imago, telur, larva, pupa dan tanaman mati.
6. Parameter pengamatan yang diamati meliputi:
a. Populasi imago pada umur 5, 6, 7, 8, 9, 10 hari setelah tanam (HST)
pada tiap petak percobaan.
b. Populasi telur pada 5 tanaman sampel umur 7 dan 8 hari setelah tanam
(HST) yang diambil secara diagonal
c. Populasi larva pada 5 tanaman sampel umur 12, 14, 16 hari setelah
tanam (HST) yang diambil secara diagonal.
d. Populasi pupa pada tanaman mati umur 14, 16, 18, 20, 22, 24, 26, 28,
30 hari setelah tanam (HST).
e. Populasi tanaman mati pada petak 3 x 4 m2 umur 14, 16, 18, 20, 22,
24, 26, 28, 30 hari setelah tanam (HST).
7. Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan BALITKABI Desa Kendal
Payak Kecamatan Pakisaji Kabupaten Malang.
8. Aplikasi perlakuan yaitu pada saat tanaman berumur 6 HST dan 8 HST.